• Like

Loading…

Flash Player 9 (or above) is needed to view presentations.
We have detected that you do not have it on your computer. To install it, go here.

Buku Pendidikan Menuju Manusia Mandiri

  • 4,522 views
Uploaded on

 

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
No Downloads

Views

Total Views
4,522
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1

Actions

Shares
Downloads
213
Comments
0
Likes
2

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. 1 Kata Pengantar Tulisan ini dibuat sebagai upaya menyumbangkan pemikiran mengenai tujuan pendidikan di Indonesia. Walaupun, penulis membaca banyak buku tentang pendidikan dan mengenal seluk beluk kehidupan pendidik, namun ia tidak merasa dirinya sebagai pakar. Kerinduannya hanyalah satu, agar generasi berikutnya, terutama putra bungsunya sendiri mendapatkan proses pendidikan yang tepat dalam konteks bangsa besar yang terus menerus dirundung masalah ini. Gagasan dasar buku ini hadir ketika ia mengamati cara istrinya mendidik ketiga anak- anak mereka. Kata kunci yang selalu dikemukakan istrinya kepada putra putri mereka adalah: “Kamu harus berani mandiri dalam menentukan pilihanmu serta juga menanggung konsekuensinya. Kata- kata ini terus memicunya untuk merefleksikan sistem pendidikan yang telah mengalami berbagai perubahan sejak ia menjadi guru TK di Jakarta pada tahun 1976. Kemandirian adalah titik berangkat untuk menghasilkan produktifitas dan pemaknaan yang mendalam. Inilah inti pemikiran yang diharapkan agar menjadi bahan diskusi di antara pendidik, orang tua, dan pengamat serta ahli- ahli agama. Semoga, demi bangsa yang tercinta ini, dunia pendidikan ditata dengan lebih tepat. Jakarta, November 2005
  • 2. 2 MENUJU MANUSIA MANDIRI: SUMBANGAN PEMIKIRAN Untuk MEMBANGUN FALSAFAH PENDIDIKAN DI TENGAH DUNIA YANG BERUBAH CEPAT Robby I Chandra
  • 3. 3 PASAL I ARENA SAAT INI: DUNIA YANG BERUBAH CEPAT Pendahuluan Hadi sudah menjadi guru SLP di Surabaya sejak tahun 1995. Mulanya, profesi pendidik bukan merupakan idamannya, namun semakin lama, ia semakin menyukai keberadaan di tengah siswa-siswinya. Selain itu, di malam hari ia dapat memberikan les piano, sehingga penghasilannya cukup besar. Namun, sejak tahun lalu ia mulai merasakan kerisauan. Semua ilmu yang dikuasainya untuk proses mendidik seakan menjadi tumpul. Siswa- siswi lebih suka ber-sms daripada menyimkan uraiannya. Pekerjaan rumah merekapun dikerjakan dengan asal jadi. Kemudian, mereka sering mempertanyakan kebijakannya, serta menentang informasi yang ia berikan tentang suatu topik. Ketika ia menguping percakapan mereka, ia mendengar istilah-istilah aneh, “Star Craft, Ragnarok, dan Warhammer.” Rekan-rekan Hadi juga mengeluh bahwa, para siswa cuma ingin kenyamanan dan hal-hal yang mudah. Mereka segan berpikir kritis dan sangat tidak tekun. Apa yang terjadi disini? Sementara Hadi dibingungkan juga dengan tuntutan sekolah swastanya agar pendidik menjadi lebih ramah pada orang tua siswa, mengenal internet, dan mengenal metode ajar-belajar yang terus menerus berubah.
  • 4. 4 Di bumi tidak ada satu hal pun yang tetap, kecuali perubahan. Di dalam dunia pendidikan, murid-murid berubah, orang-tuanya pun berubah, bahkan guru-guru juga berubah. Hal itu terjadi karena dunia berubah. Perubahan itu menuntut solusi baru dan proses pendidik yang baru. Bukti perubahan tadi ada yang kentara namun ada pula yang samar. Dua puluh tahun yang lalu, tidak terbayang oleh kita bahwa di desa-desa sudah ada TV berwarna. Tidak pula terbayang bahwa, di kota-kota kecilpun, warnet dan wartel merajalela, walaupun banyak orang sudah membawa hand-phone. Siapa pula yang membayangkan bahwa, anak- anak kecilpun mengenal Play Station dan sejenisnya. Apalagi yang dikenal dengan nama proses demokratisasi. Kita juga tidak mengenal flu burung atau pemilihan kepala daerah oleh rakyat. Ada banyak cara untuk menjelaskan atau memetakan perubahan tadi. Salah satu cara adalah dengan melihat bahwa kesadaran manusia modern mengalami perubahan yang dahsyat. Kalau dimasa lalu manusia menjalani hidupnya dengan tekun namun tanpa menyadari dirinya secara tajam, kini manusia modern sangat sadar diri. Bukan saja ia membedakan dirinya dan dunia dimana dia berada, namun dunia menjadi arena tempat ia mengungkapkan pengaruhnya. Ia semakin sadar apa yang ia ingin capai dan apa yang harus ia dapatkan. Dengan kata lain, manusia modern melihat hidup bukan saja sebagai hal yang harus ia jalani, namun terutama sebagai sesuatu yang ia harus gunakan, kuasai, dan bahkan taklukkan. Kesadaran serupa itu bukanlah hal yang sepenuhnya baru, Mungkin, kesadaran diri itu dimulai ketika budaya Yunani Romawi lahir dan filsafat Yunani mulai muncul serta menjadi cara manusia memandang realitanya. Kita tahu bahwa dalam filsafat Asia, manusia memandang dirinya sebagai bagian dari alam semesta. Karena itu dalam keberadaannya, manusia berupaya menemukan keseimbangan atau
  • 5. 5 harmoni dengan alam semesta. Bermacam-macam mitologi lahir untuk menunjang pandangan itu. Sebagai lawannya, dalam filsafat Yunani manusia dipandang sebagai mahkluk yang memiliki kuasa untuk mengelola dan mengendalikan semesta alam dan hidupnya. Jadi tujuan keberadaannya adalah, bukan mencari harmoni, tetapi mencari kemampuan mengendalikan semesta. Ketika agama Kristen mengadopsi pola pandang tadi, maka manusia semakin menyadari kuasa dan dorongan untuk mengendalikan semesta. Di Eropa kesadaran tadi menjadi pendorong untuk terjadinya perubahan- perubahan yang dahsyat, terutama setelah masa abad pertengahan yang, dimana sempat terjadi stagnasi. Di dalam jaman modern kesadaran manusia akan pengaruhnya itu semakin berkembang karena manusia modern hidup di kota ciptaannya, dan memiliki teknologi, terutama teknologi komunikasi yang sangat canggih. Jadi, manusia modern bukan hanya ingin mengendalikan alam semesta dan menaklukkannya, namun juga memiliki peranti dan kemampuan untuk mewujudkan hal itu. Ia menjadi semakin yakin bahwa, waktu dan ruangpun dapat ia kuasai. Handphone sebagai salah satu teknologi ciptaannya lebih membuat orang sederhanapun menyadari kuasa tadi. Kita akan menguraikan bagaimana kehadiran kota dan teknologi komunikasi telah mengubah dunia sehingga semakin dikendalikan manusia. Sekaligus sebagai efek samping, juga kedua hal tadi –kota dan teknologi komunikasi- mengubah manusia. Sebagai akibat perubahan tadi, bermacam-macam masalah baru muncul. Solusi-solusi yang manusia berikan terhadap masalah di abad lalu tidak lagi menjadi efektif dan relevan di abad ini. Dunia pendidikan merupakan bagian hidup yang juga mengalami masalah-masalah baru tadi. Suatu solusi yang baru dalam dunia pendidikan perlu dilahirkan.
  • 6. 6 Aku pasti bisa .. Aku pasti bisa mendapatkan apa yang kumau ... Aku pasti mampu mengejar cita-citaku ... Ku tahu yang ku mau Ku tak tahu bahwa aku bisa kena stroke ... Litani Mr. Stroke, manusia modern Memetakan perubahan di Indonesia dan dampaknya Bila dalam dekade yang lalu tulisan-tulisan yang merupakan kajian-kajian tentang trend perubahan seringkali memberikan perhatian yang sangat besar pada perkembangan ekonomi dan teknologi canggih, seperti yang dibuat oleh John Naisbitt. Namun, ternyata untuk konteks Indonesia, aspek budaya dan sosial menjadi aspek-aspek yang lebih dominan untuk dikaji, khususnya dalam masa transisi yang berkepanjangan kini. Di tengah kenyataan serupa ini banyak orang-orang yang bergerak di bidang pendidikan bekerja kadangkala dengan tidak menyadari betapa mendasarnya perubahan yang sedang terjadi bahkan, mereka tidak mampu memperkirakan arahnya.
  • 7. 7 Suatu hal adalah pasti, Proses perubahan yang besar tidak bisa tidak akan terimbas ke dalam dunia pendidikan entah melalui melalui eksponen- eksponen dalam jajaran pimpinannya atau para pengelola, para pendidik, bahkan, orang tua siswa dan para siswa sendiri. Di bawah ini akan coba dipaparkan apa yang sedang terjadi di Indonesia, baik di kota besar, menengah, dan kecil . Tentunya dampak perubahan tadi ada dalam gradasi dan intensitas yang berbeda, namun dapat berguna untuk memberikan pemetaan sehingga kita menyadari bahwa kita membutuhkan suatu sudut pandang yang baru dalam mendidik. Mungkin kelengkapan analisisnya masih perlu ditambah, namun sejauh ini prakiraan ini dibuat sebagai kerangka kerja (working framework) dan platform program (dasar program). Walaupun sudah berkali-kali disampaikan, secara umum dapat disimpulkan bahwa pada saat ini sekurangnya, ada dua pengaruh yang besar sedang melanda Indonesia di samping pergulatan sosial politik. Pengaruh yang pertama datang dari kehadiran budaya kota di Indonesia. Pengaruh kedua muncul dari merebaknya teknologi komunikasi dan media massa. Kedua pengaruh tadi menghasilkan beragam perubahan dan kombinasinya di dalam hidup masyarakat dan khususnya di dalam dunia pendidikan.
  • 8. 8 Budaya Kota DUNIA MODERN, Termasuk Dunia Pendidikan Teknologi komunikasi Pengaruh Budaya kota Memasuki abad XXI kehidupan umat manusia beranjak ke dalam suatu arena yang baru. Hidup modern ditandai dengan menjamurnya kota-kota besar dan budayanya yang terus menjadi pemberi pengaruh yang dahsyat. Jabotabek, Manila, Singapore, Tokyo dan berbagai kota Asia yang berada di bibir samudra Pacific dipadati dengan belasan ribu orang per kilometer persegi. Kalau kita tinggal di Jakarta, berarti kita berdesak-desakan mencari sepetak tanah untuk dijadikan rumah bersama lebih dari 13 ribu orang dalam satu kilometer persegi. Surat Kabar Suara Pembaharuan 19 Februari _____ mencatat bahwa jumlah penduduk di perkotaan Indonesia, terus meningkat, menimbulkan semakin banyak masalah sosial. Salah satu masalah serius yang semakin sulit adalah penyediaan rumah, terutama bagi penduduk yang berpenghasilan rendah. Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Ir Erna Witoelar menyatakan hal itu dalam sambutan tertulis di depan peserta seminar nasional quot;Pengembangan Perumahan dan Permukiman dalam Rangka Menunjang Pembangunan Berkelanjutan di Indonesiaquot;, di Bandung, Sabtu (17/2). Sambutan menteri
  • 9. 9 disampaikan Ir Endang Widayati, Direktur Perumahan Wilayah Tengah, Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah Jakarta. Dia mengungkapkan, pada tahun 1980, hanya 17,42 persen penduduk Indonesia yang bermukim di kota. Namun tahun 1990 jumlahnya meningkat drastis menjadi 31 persen. Bahkan, pada tahun 2020 diperkirakan separo penduduk Indonesia akan berdiam di perkotaan. Pada tahun itu akan terdapat 23 wilayah perkotaan dengan penduduk lebih dari satu juta jiwa, empat di antaranya merupakan megacity yang berpenduduk lebih dari lima juta jiwa. Hal tersebut senada dengan apa yang dituliskan oleh Sarjono Herry Warsono, dalam makalah yang dimuat dalam website Depnakertrans (www.nakertrans.go.id/majalah_buletin/majalah_balitfo/volume_2_1) sebagai berikut: Berdasarkan data SP 1980, SP 1990 dan SP 2000, maka dapat dihitung proporsi tingkat keurbanan di Indonesia yang relatif mengalami peningkatan yang berarti. Secara nasional berturut-turut adalah 22,3 persen pada tahun 1980, menjadi 30,9 persen pada tahun 1990, meningkat 34,3 persen pada 1994 dan menjadi 42,0 persen pada tahun 2000. Data tersebut mendeskripsikan bahwa selama duapuluh tahun terakhir, peningkatan presentase penduduk kota mencapai lebih dari 163 persen secara nasional, yaitu dari jumlah penduduk kota 32,845 juta jiwa pada tahun 1980 menjadi 86,40 juta jiwa pada tahun 2000 atau secara proporsi dari 22,3 pada 1980 menjadi 42,0 pada tahun 2000. Peningkatan proporsi tersebut berdasarkan data per provinsi, dominan terjadi di perkotaan wilayah Jawa yang rata-rata mencapai 8,57 persen dalam waktu duapuluh tahun terakhir, sedangkan wilayah luar jawa relatif kecil, yaitu rata-rata hanya 3,37 persen dalam waktu yang sama. Dari makalah itu dapat dibuat grafik yang diletakkan di bawah ini:
  • 10. 10 50 40 30 20 Laju peningkatan Penduduk Perkotaan dalam 3 dekade Terakhir 10 0 1 2 3 22.3 30.9 40.2 Laju peningkatan Penduduk Perkotaan dalam 3 dekade Terakhir Akibat kehadiran kota, maka suatu budaya yang baru muncul, kita mengenalnya dengan nama budaya kota. Budaya kota ini merebak sejalan dengan pertumbuhan dahsyat kota-kota di Indonesia dan di dunia tadi. Mengapa kota bertumbuh dan desa ditinggalkan? Mengapa kota-kota besar semakin bertambah jumlahnya? Salah satu sebabnya ialah orang berpindah ke kota karena kota merupakan simpul-simpul ekonomi, kehidupan sosial, politik, ilmu pengetahuan, perawatan kesehatan, dan rekreasi. Kota-kota menawarkan hidup yang memiliki banyak pilihan-pilihan, serta hidup yang senantiasa menawarkan hal-hal baru. Kota juga menawarkan budaya yang menekankan ekplorasi pilihan- pilihan dan kebebasan berekspresi yang desa tidak banyak berikan.
  • 11. 11 Manusia kota: Kami punya banyak pilihan yang dulu tidak kita miliki… Namun, hidup di kota juga membuat orang harus membayar mahal. Untuk menyadari dan memahami setiap pilihan, orang harus menonton televisi atau membaca surat kabar. Keduanya bukan merupakan hal yang gratis. Untuk mampu memilih dengan baik dan mengekspresikan diri melaluinya, orang harus memiliki keterampilannya. Keterampilan memilih tadi juga perlu didapatkan dengan membayar. Bahkan sekedar untuk berada dan hidup di kota besar, orang harus membayar dengan mahal. Apakah ciri dari budaya kota? Agar tidak salah memahami, perlu dicatat disini sebelum memasuki pemaparan bahwa budaya kota tidak selalu dimonopoli oleh orang kota. Budaya kota juga seringkali sudah menjadi acuan dari kehidupan di desa di berbagai lokasi di Indonesia. Misalnya, desa-desa di kabupaten Klaten, mungkin lebih dipengaruhi oleh budaya kota daripada kota-kota kecil di tempat lain. Ciri--ciri budaya kota terlihat dari beberapa hal, baik yang bersifat kasat mata, yaitu artifak atau benda-benda yang dipergunakan sehari-hari dan perilaku orang atau interaksinya, serta dari hal yang tidak kasat mata yaitu, nilai-nilai dan keyakinan yang orang kota miliki. Dari perilaku dan interaksi orang yang menganut budaya kota, terlihat beberapa hal yang menonjol, Hidup dijalani dengan tergesa-gesa • Hidup dianggap sebagai hal yang penuh persaingan •
  • 12. 12 • Orang kota bersikap dan bertindak pragmatis dalam mengatasi masalah-masalah mereka • Hidup dengan mobilitas tinggi Hidup dijalani dengan interaksi atau hubungan anonim alias tidak • terlalu saling mengenal dengan orang lain. Akibat keseluruhan hal-hal di atas ialah hidup dalam budaya kota menjadi hidup yang tidak mendukung upaya refleksi atau perenungan dan pencarian makna yang mendalam mengenai keberadaan manusia. 1. Secara umum orang dalam budaya kota harus mengambil lebih banyak keputusan setiap harinya, menjumpai lebih banyak orang baru dalam tiap hari dibandingkan apa yang dialami orang desa dalam setahun, serta lebih banyak mengalami keadaan baru. Hal ini membuat orang kota merasa optimis dengan hidupnya, namun membuatnya harus mengejar sesuatu, bersaing dengan orang lain, dan selalu tidak merasa memiliki cukup waktu. Di dalam pengambilan keputusan karena orang kota juga dipenuhi oleh info dari berbagai media, maka orang kota cenderung mengambil keputusan yang cepat, singkat, dapat dipergunakan dan diaplikasikan, tanpa memusingkan diri dengan penyebab yang terlalu mendasar dan rumit serta solusi yang utuh dan berjangka panjang. 2. Selanjutnya, karena kota merupakan masyarakat yang cair atau berubah-ubah, maka orang perlu merebut kesempatan atau mencipta kesempatan baru, bila perlu dengan berpindah-pindah. Perpindahan ini dilakukan secara sosial dan geografis. Artinya, orang kota yang terburu-buru juga bergerak kian kemari dalam tempat kerja dan hidupnya, namun secara kelas sosial juga mengubah-ubah
  • 13. 13 posisinya, umumnya tentu mereka berupaya naik ke kelas yang lebih tinggi. Karena gejala di atas, maka orang kota juga harus membatasi siapa yang akan menjadi “relasinya.” Ia mengadakan hubungan dengan orang, terutama bersandar pada fungsi mereka. Hanya kepada sekelompok kecil manusia, hubungan mereka dikembangkan sampai pada taraf hubungan antar pribadi yang mendalam. Maka orang kota cenderung tidak ambil pusing dengan urusan pribadi orang lain dan cenderung tidak juga menyukai hubungan antar pribadi yang terlalu mendalam, kecuali dengan sejumlah kecil manusia lain yang dianggapnya memiliki fungsi yang bermanfaat bagi hidupnya. Keseluruhannya menunjukkan bahwa orang yang hidup dalam budaya kota menjadi manusia yang berlari, risau, lelah, dan kurang kesempatan atau dukungan untuk merenung dengan mendalam. Bahkan, mungkin hubungannya dengan sang Pencipta cenderung bersifat fungsionil atau hanya emosionil. Tidak heranlah bahwa di kota-kota, justru kegiatan agama menjadi marak dan spektakuler, namun terutama yang bersifat ritual dan simbolis atau tidak mendasar, sekedar untuk menyenangkan hati dan memberikan ketenangan sesaat. Orang merasa punya identitas, kesepiannya teratasi sementara, dan merasa nyaman karena sudah menjadi manusia saleh beragama, walaupun hal itu terjadi ketika ia berada di dalam ruang ibadahnya saja. Tantangan pelayanan pendidikan modern dalam menghadapi dampak budaya kota ini adalah bagaimana mengajak siswa, orangtuanya, dan sesama pendidik dengan bersama-sama mengadakan refleksi atau perenungan secara mendalam atau secara berkala. Pendidik patut membuat hal ini menjadi hal yang dinikmati. Tantangan terbesar terntunya adalah bagaimana agar pilihan-pilihan, pengejaran-
  • 14. 14 pengejaran, dan pembelajaran-pembelajarn yang menjadi keniscayaan di budaya kota mendapatkan makna secara spiritual. Selain itu, tantangan pelayanan pendidikan di dunia perkotaan adalah bagaimana menyiapkan para siswa untuk mampu menyadari, memahami, dan mengambil pilihan-pilihan yang tersedia. Hal tersebut tidak merupakan tantangan yang terlalu besar di masa lalu, karena pilihan yang tersedia memang tidak terlalu banyak. Lebih dari pada itu, dimasa lalu sebagian besar warga masyarakat membatasi atau memasung dirinya sendiri. Jadi, pilihan-pilihan dan memaknainya merupakan tantangan dasar dunia perkotaan bagi siswa-siswa dan pendidiknya. Tidak lagi mungkin dalam hal ini siswa “diajari” bagaimana memilih, karena pilihan-pilihan baru dan situasi memilih yang baru terus hadir serta tidak dapat diantisipasi oleh pendidik. Konsekuensinya ialah hanya satu cara untuk mencapai hal itu, yaitu menyiapkan siswa yang terbiasa mandiri mengenali pilihan yang ada, memiliki acuan nilai yang tepat untuk memilih, dan mampu melakukan pilihan secara mandiri. Kemandirian ini menjadi fitur yang harus dicapai oleh siswa-siswa sebelum mereka memasuki masa dewasanya. Pertanyaan yang besar ialah, apakah para pendidik modern siap untuk melayani mereka untuk mendapatkan fitur serupa itu? Apakah kurikulum yang ada, dan apakah suasana atau iklim pendidikan yang ada memungkinkan siswa bertumbuh menjadi siswa yang mandiri dalam melakukan pilihannya?
  • 15. 15 Pengaruh teknologi komunikasi dan media massa Pakar komunikasi, Tony Schwartz menyampaikan bahwa media massa adalah Tuhan yang kedua. Artinya seperti Yang Maha Kuasa, pengaruh media hadir dimana-mana, kapan saja dan untuk siapa saja. Sementara itu Jacques Ellul menyampaikan bahwa media massa modern mendefiniskan atau menentukan realita yang disuguhkan kepada kita. Lebih awal lagi, begawan ilmu komunikasi yaitu Marshall McLuhan bahkan mengatakan, media komunikasi sudah menjadi pesan tersendiri. Ahli-ahli itu menunjukkan kepada kita bahwa, teknologi komunikasi dan media massa berubah dengan dahsyat dalam lima dekade terakhir ini. Dimasa lalu, media massa adalah media dimana komunikasi dikirimkan dari satu sumber kepada sejumlah besar penerima proses komunikasi tadi. Jadi media massa pada waktu itu harus dipahami mencakup surat kabar, radio dan televisi. Kini dengan hadirnya internet dan handphone, maka muncullah proses komunikasi yang memungkinan seorang pengirim pesan menyampaikan berita kepada beberapa penerima komunikasi. Namun karena kecanggihan teknologinya, dimungkinkan juga dalam proses ini, berbagai pihak mengirim pesan ke berbagai pihak atau ke satu individu. Untuk internet, proses serupa itu dapat berjalan serempak sedangkan untuk handphone prosesnya terjadi bergantian. Jadi, handphone dan internet harus tercakup juga sebagai media massa, karena mengandung fitur yang serupa dengan fitur media masa di masa lalu.
  • 16. 16 Peran media massa yang demikian kuat pada massa kini disebabkan karena media massa modern menjalin berita atau informasi dengan analisis serta hiburan dalam kombinasi yang berbeda-beda. Apapun juga bentuknya, baik MTV, TV, SMS, VCD atau komik menentukan gambaran kita tentang dunia dan opini masyarakat dimana kita berada. Hampir semua komunikasi yang disampaikan media massa, terutama televisi sangat membiasakan kita dengan • kekerasan, • hubungan seksual bebas dan • pola hidup nyaman. Media massa membuat juga kesadaran global menjadi semakin kuat. Jumlah informasi yang didapatkan seseorang menjadi sangat banyak. Hal tadi memungkinkan munculnya wawasan yang lebih luas. Format media massa yang semakin beragam terasa memenuhi tuntutan kemahalan, sehingga orang dibiasakan untuk melihat segala sesuatu yang tergesa-gesa, tak lengkap, cepat, dan harus disimpulkan sendiri. Maka, kemampuan orang-orang terutama anak-anak kecil untuk menyimak untuk waktu yang panjang semakin berkurang. Semua komunikasi yang rumit tidak dianggap menarik dan kalau tidak menarik akan tidak diperhatikan. Tanpa disadari kita menjadi orang yang hiduo dengan mengutamakan kesan lebih dari pada membahas pesannya. Walaupun media massa memperkaya informasi dan wawasan, secara umum dengan menekankan kesan, maka orang tidak lagi dibiasakan berpikir kritis. Salah satu bentuk ketidakkritisan adalah munculnya konsumerisme: belilah apa yang ditawarkan bukan karena kau membutuhkannya tetapi karena sudah banyak orang yang menggunakannya. Dalam negara dimana kebenaran dan kejujuran bisa dinegosiasikan, maka media massa dapat menjadi alat pembentuk opini
  • 17. 17 terhadap seorang tokoh, segolongan manusia, atau suatu pendapat tertentu. Secara sederhana saja dampak bagi pelayanan pendidikan akibat gaya hidup dimana media massa mempengaruhi orang dari pagi sampai tengah malam akan besar. Pertama, cara orang berkomunikasi semakin singkat padat dan menyentuh kesan. Dalam proses pendidikan, sesuatu yang berbobot namun tidak dikomunikasikan secara atraktif tidak akan mendapat perhatian apalagi diterima. Kedua, banyaknya informasi dan opini yang beredar membuat seorang pendidik harus terus menerus mengenali apa yang dibicarakan dan relevan bagi siswanya atau siapa yang dilayaninya. Ia tidak bisa tertinggal terlalu jauh. Ketiga, media massa, khususnya internet dan handphone, di awal milenium baru membuat orang terbiasa dengan informasi dan opini yang majemuk. Generasi N, yaitu para remaja yang hidup bersama internet, semakin terbiasa mencari sumber info, meramunya, menganalisisnya, serta memperdebatkannya dengan mereka yang sejenis, sementara orang tuanya membiarkan mereka bertualang di dunia virtual tanpa pengawasan. Semakin lama semakin handal mereka dan semakin tertinggal orang tuanya atau pendidiknya. Untuk petama kali di dalam sejarah manusia, para anak dan remaja memiliki akses dan kehandalan teknologis yang terus bertambah dibandingkan dengan orang tuanya, dan karenanya pertama kali di dalam sejarah, sebuah generasi tumbuh dan hadir tanpa pengawasan yang memadai dari orang tuanya. Karenanya, sangat dibutuhkan suatu paradigma pendidikan yang dapat menjawab tantangan ini. Suatu pengkomunikasian yang tidak dialogis dari pihak pendidik atau pengelola lembaga pendidikan yang sangat otoriter akan
  • 18. 18 memancing penolakan dari mereka yang terbiasa dengan pluralitas pandangan. Simaklah apa yang disampaikan artikel yang dimuat di tahun 2002 di www.coldfusion.web.id yang dikutip di bawah ini: Pengguna Internet Indonesia Mencapai 4,2 Juta User posted: 04 Jan 02 [ Sunaryo Hadi ] Reporter: Sigit Widodo Pengguna internet di Indonesia saat ini diperkirakan mencapai 4,2 juta user. Angka ini naik lebih dari dua kali lipat dibanding akhir 2000 sebesar 1,9 juta. Demikian diungkapkan Ketua Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Heru Nugroho, kepada detikcom, Kamis (3/1/2002). 4,2 juta pengguna internet ini menurut Heru berasal dari sekitar 550 ribu pelanggan perumahan, 26 ribu pelanggan corporate, 2.500 lembaga pendidikan dan 2.500 warung internet (warnet). Untuk pelanggan perumahan, Heru membagi dalam dua kategori: pelanggan yang hanya menggunakan akses internetnya sendiri dan pelanggan yang menggunakan bersama keluarganya. Jumlah pelanggan yang menggunakan akses internetnya sendiri diperkirakan mencapai angka 100 ribu. Sedangkan pelanggan yang mempergunakannya bersama keluarganya mencapai 450 ribu. Dengan asumsi satu account ini dipergunakan oleh empat orang anggota keluarga, berarti total pengguna internet dari pelanggan perumahan dari dua kategori ini mencapai 1,9 juta user.
  • 19. 19 Sedangkan untuk pelanggan corporate, Heru membaginya dalam tiga kategori: perusahaan besar, sedang dan kecil. Perusahaan besar dengan jumlah komputer rata-rata sebanyak 50 pc diperkirakan mencapai seribu pelanggan. Perusahaan sedang dengan jumlah komputer rata-rata sebanyak dua puluh pc diperkirakan berjumlah 5 ribu. Sedangkan perusahaan kecil dengan jumlah PC rata-rata sepuluh buah mencapai 20 ribu perusahaan. Dari sini Heru mengasumsikan jumlah pengguna internet dari pelanggan corporate mencapai 350 ribu user. 2.500 lembaga pendidikan menurut Heru terbagi menjadi 2 ribu sekolah dan 500 institusi pendidikan tinggi. Sebuah sekolah rata-rata memiliki 500 orang siswa dan sebuah institusi pendidikan tinggi rata- rata memiliki seribu mahasiswa. Karena itu dari 2.500 lembaga pendidikan ini diperkirakan terdapat 1,5 juta pengguna. Keempat, karena daya kritis siswa yang menurun, maka diperlukan suatu sikap pendidik untuk menghadapi hal ini, karena akan mudah siswa dan orang tuanya yang tidak kritis terbuai oleh tawaran pendidikan populer dan informasi media massa yang memberikan pemuasan “psikologis” yang dangkal. Sulit untuk pendidik menangani siswanya pada masa kini tanpa kesediaan membimbing mereka melalui jalan pengetahuan serta sentuhan emosi dan keteladanan sekaligus. Pendidik ditantang mengemas kekayaan pengetahuan, kebijaksanaan dan insight spiritualnya dalam bahasa yang atraktif dan dapat dipahami siswa dan orang tuanya.
  • 20. 20 Gabungan Pengaruh Keduanya Gabungan pengaruh antara budaya kota dan teknologi media sangat nyata dalam bentuk proses globalisasi yang juga mempengaruhi Indonesia, dimana dunia semakin tanpa batas. Dengan demikian sistem pendidikan yang ada di Indonesia pun tidak luput dari pengaruh globalisasi. Karena globalisasi yang terjadi dimotori oleh kekuatan teknologi dan ekonomi, maka sistem pendidikan mendapat dorongan agar terutama menghasilkan manusia-manusia yang bermanfaat maksimum bagi dunia teknologi dan ekonomi. Tidak mengherankan karenanya, di negara-negara berkembang yang berupaya mengejar ketertinggalan ekonomi, pendidikan di bidang humaniora, tergeser. Tentu dapat dipertanyaan apakah di sebuah negara di Asia tenggara, arus perubahan dimana budaya kota, globaliasasi, dan media memang berdampak sebesar itu, terutama dengan kuatnya budaya pedesaan dan tradisinya. Dari pengamatan, terlihat bahwa orang-orang desapun menggunakan budaya kota sebagai rujukan yang bernilai bagi mereka, Anak-anak desa ingin pindah ke kota, televisi menjadi idaman banyak keluarga, bahkan sampai pulau yang jauh sekalipun. Demikian juga dengan telekomunikasi melalui wartelnya. Dengan kata lain, budaya kota, globalisasi dan media tidak menghadapi tantangan budaya dan sosial yang berarti. Kesimpulan Ada dua tantangan yang dihadapi oleh pendidik di masa kini. Dunia perkotaan dan budayanya yang merebak dan mulai dianut bahkan oleh mereka yang tinggal di desa-desa, membuat siswa dan orang tuanya hidup berlari, tidak tenang, dan tidak mencari makna. Selain itu mereka
  • 21. 21 mengejar beragam pilihan yang kota tawarkan. Pendidik ditantang untuk menolong mereka menghadapi hal baru ini. Tantangan kedua adalah terbiasanya orang tua dan siswa yang menganut budaya media untuk berpikir tidak kritis, lebih berdasar kesan, serta gandrung hal-hal yang atraktif. Mereka yang sudah mengenal internet juga terbiasa untuk kebenaran atau informasi yang saling bertentangan dan majemuk. Para pendidik ditantang untuk berkomunikasi dengan bahasa kalangan ini serta berdialog dengan siswa dan orang tua mereka.
  • 22. 22 PASAL 2 DAMPAK: PETA KONTEKS PENDIDIKAN DI INDONESIA Mendidik di dunia yang stabil? Tiga puluh tahun yang lalu, dalam suatu kelas filsafat, dosen kami yang datang dari Belanda dan menguasai bahasa Indonesia dengan sangat baik menjelaskan makna istilah “ada dan keberadaan.” Dengan tenang lalu ia bertanya, “Darimana kalian tahu bahwa, pohon mangga itu ada,” sambil menunjuk ke sebuah pohon mangga di halaman tadi. Kami menjawab dengan tenang, “Pohon itu ada karena jelas terlihat.” Sang dosen meminta kami menutup mata, lalu ia bertanya, “Apakah sekarang pohon mangga itu tidak lagi ada karena kalian tidak dapat melihatnya?” Kami terdiam sejenak, lalu menjawab dengan yakin, “Pohon itu masih ada, walaupun kami tidak melihatnya.” Ia tersenyum dan berkata lagi, “Jadi, ada atau tidak adanya sebuah benda tidak tergantung pada pembuktian berdasarkan indera kalian. Setuju? Kalau begitu, bergantung pada apa?” Seorang mahasiswa dengan tenang menjawab, “Salah satu jawaban ialah bahwa sesuatu ada karena memang ia ada.” Sang dosen agak terperanjat, dan semakin lanjut kuliah berjalan, semakin terperanjat ia karena sang mahasiswa terus menerus menjawab dengan tepat dan seakan mengantisipasi topik berikutnya.
  • 23. 23 Apa yang terjadi disana? Ternyata sang dosen menggunakan cerita yang sama, metode yang sama dan rangkaian pertanyaan yang sama untuk tiap pelajarannya dalam 10 tahun terakhir. Mungkin cara untuk mengajarkan ilmu filfasat pada waktu itu memang tidak membutuhkan perubahan-perubahan. Namun tanpa ada yang mengetahui, sang mahasiswa memiliki seorang kakak yang sepuluh tahun sebelumnya mencatat dengan setia kuliah sang dosen dan kini adiknya menggunakan catatan kakaknya tersebut untuk menjawab pertanyaan- pertanyaan sang dosen. Mendidik di dunia yang berubah cepat Dalam lingkungan yang statis, maka seorang pendidik mungkin akan menjalankan tugasnya dengan mudah. Mungkin proses belajar yang telah diciptakan 15 tahun silam masih tetap dapat dipergunakan. Gaya mengajar yang dianggap canggih pada 10 tahun yang lalu mungkin pula masih dapat diminati siswa-siswinya. Namun dengan adanya berbagai perubahan yang dipaparkan pada pasal pertama, jelaslah bahwa para siswa, orang tua mereka, konteks hidup mereka serta para pendidik sendiri sedang mengalami perubahan yang mendasar. Jadi, kita harus kembali ke pertanyaan sederhana. Metode pendidikan yang bagaimana yang cocok untuk jaman sekarang? Suasana belajar seperti apa yang harus diciptakan dan dipelihara kini? Karena dalam proses pendidikan, peran dan diri pengajar sangat berperan di samping peran siswa-siswi dan peran pengelola lembaga pendidikan, maka kita dapat menajamkan pertanyaan tadi dengan menyoroti peran pendidik. Jadi, pertanyaan yang sangat mendasar adalah apakah peran utama dari seorang pendidik yang baik di jaman ini?
  • 24. 24 Dari pengamatan dan percakapan dengan berbagai pendidik mengenai peran dan tugasnya di lapangan, sekurangnya terdapat pergeseran pemahaman ke salah satu dari tiga paradigma yang berbeda tentang peran pendidik sejalan dengan pemahaman tentang pendidikan yang juga berubah-ubah. 1. Paradigma pertama menganggap proses pendidikan adalah proses menolong siswa-siswi agar potensi terpendam mereka menjadi berkembang penuh. Jadi metafor yang dapat dipergunakan untuk menjelaskan paradigma ini adalah dengan memandang siswa-siswi sebagai bunga yang belum mekar atau bibit tanaman yang belum bertumbuh. Jadi tujuan proses pendidikan adalah menolong siswa-siswi yang dianggap sebagai subjek pendidikan untuk mencapai aktualisasi potensi mereka. Tentunya, dalam pandangan ini mereka ditolong berkembang demi suatu tujuan yang lebih luas, yaitu menjadi manusia yang utuh. Dalam paradigma ini, peran pendidik adalah seperti peran bidan yang memfasilitasi proses belajar, menstrukturkan pengalaman belajar yang akan dialami siswa-siswi, menjaid teladan serta inspirasi, dan melayani siswa-siswi sebagai kelompok dan secara individual. Teori psikologi perkembangan menjadi kerangka untuk menyusun kurikulum bagi proses pendidikan yang berdasar paradigma ini. 2. Dalam paradigma yang kedua, pendidikan dipandang sebagai proses membekali dan melatih siswa-siswi dengan kompetensi umum yang dapat dipergunakan mereka di dalam hidup sehari-hari atau profesi mereka kelak. Asumsi di balik paradigma ini adalah bila sekelompok kompetensi dimiliki,
  • 25. 25 maka situasi yang beragam yang akan dialami siswa-siswi akan dapat mereka tangani dengan baik. Peran pendidik adalah pembentuk kompetensi siswa. 3. Dalam paradigma yang ketiga, pendidikan dipandang sebagai proses menyiapkan para siswa-siswi untuk dapat melakukan suatu rangkaian tugas-tugas tertentu. Semakin jelas rumusan keluaran atau output dari tugas-tugas tadi, semakin tajam dan kuat proses pendidikan tersebut dirancang. Dengan demikian tugas pendidik adalah menolong siswa-siswi menguasai keterampilan dan sikap yang cocok dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu di dalam dunia kerja kelak. Paradigma yang mana yang cocok untuk jaman sekarang untuk konteks Indonesia? Kita perlu menyadari bahwa, Indonesia sendiri tidak merupakan suatu konteks pendidikan yang homogen atau sama. Tiap daerah merupakan suatu konteks yang khas, maka paradigma tentang peran pendidik yang cocok untuk tiap konteks tadi juga tentu berbeda- beda. Namun, sekurangnya ada dua variabel dapat dijadikan penentu dalam memetakan konteks pelayanan yang dihadapi pendidik. Pertama, kecepatan sang pendidik sendiri dalam menyerap perubahan dan kedua, para siswa, siswa atau keluarga mereka dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan yang terjadi.
  • 26. 26 Secara sederhana, pendidik pada masa kini dapat diklasifikasi berdasarkan tingkat kecepatan atau keluwesan mereka dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Ada pendidik yang dengan cepat menyesuaikan diri dengan budaya kota yang merebak kemana-mana dan dengan teknologi komunikasi yang tinggi. Sebaliknya ada di antara mereka yang sangat ‘gagap’ dalam menghadapi budaya dan teknologi yang baru. Di pihak lain, jenis kelompok siswa-siswi yang dididik dapat juga dimasukkan ke dalam tiga kelompok, yaitu kelompok mereka yang menyerap perubahan dengan cepat, menyerap perubahan secara bertahap, atau dan mereka yang berubah dengan lambat. Kombinasi dari kedua variabel ini (pendidik dan siswa) akan menentukan konteks pendidikan yang ada sebagaimana diperlihatkan dari matriks dengan sembilan sel di bawah ini.
  • 27. 27 Daya adaptasi Pendidik: Dampak perubahan TINGGI MENENGAH RENDAH bagi siswa: Konteks I: Konteks II Konteks III CEPAT Suasana lapangan Suasana pemain Main basket di bola basket basket lapangan tembak di lapangan bola kaki Konteks IV Konteks V Konteks VI BERTAHAP Guru menentukan Serupa dalam Guru agak ditolerir arah dan pilihan tingkat penengenalan dan minat LAMBAT Konteks VII Konteks VIII Konteks IX Guru menyeret Stabil tertinggal Stabil tertinggal Rincian kondisi hubungan antar pendidik dan siswa dalam berbagai konteks di atas adalah sebagai berikut: Konteks Pertama (I) Konteks pertama adalah konteks dimana pendidik menyesuaikan diri dengan cepat perubahan teknologi komunikasi dan budaya kota. Ciri-ciri pendidik serupa ini antara lain ialah banyak membaca atau menonton
  • 28. 28 segala sesuatu yang terkait dengan teknologi baru, gaya hidup baru atau masalah masa depan. Pendidik serupa ini seringkali memiliki minat yang luas. Walaupun mungkin mereka tidak mampu membeli atau memiliki berbagai peralatan teknologi seperti palm top, hi-speed modem, atau parabola, namun mereka mengikuti perkembangan yang ada dan diam-diam berfantasi kalau-kalau Yang Mahakuasa memberikan rejeki tak terduga sehingga mereka dapat mengenyam teknologi serupa itu. Ciri-ciri lain dari pendidik serupa ini adalah keluasan hati mereka untuk berdialog dengan siswa-siswinya. Merekapun tidak merasa tersinggung bila pendapat mereka dipertanyakan, serta mereka mengenali berbagai jenis kecerdasan yang terdapat pada siswa-siswinya. Mereka juga bersikap pragmatis, tidak terlalu suka menggunakan waktu untuk percakapan yang tidak perlu, dan memandang kehidupan dengan optimis, lebih dari orang lain. Pada konteks ini, para siswa siswi yang dihadapi sang pendidik juga merupakan mereka yang sangat eksploratif, mempertanyakan banyak hal, mungkin juga konsumtif, dan sangat menyesuaikan diri dengan teknologi komunikasi tinggi. PlayStation, Video Game di Mal, computer game, majalah game dan animasi, internet, handphone dan sebagainya merupakan bagian dari gaya hidup mereka. Siswa-siswi juga menjadi kritis, serta berani berargumentasi, terutama di luar kelas. Sebaliknya mereka merasa tidak berminat mengikuti pelajaran yang bersifat doktrinal atau dogmatik. Selain itu, mereka menceburkan diri ke dalam berbagai aktifitas di luar sekolah sesuai minat mereka. Dua pemeran utama dalam proses pendidikan yaitu pendidik dan siswa sama-sama beradaptasi dengan cepat dan entusias terhadap perubahan bagaikan para pemain bola basket di lapangan. Masing-masing memiliki kepekaan yang tinggi pada rekannya dan lingkungannya. Akibatnya adalah sebagai berikut pada suasana ajar-belajar:
  • 29. 29 o mereka menikmati kehadiran masing-masing pihak o mereka bersama-sama belajar sebagai mitra dan masing-masing pihak merasa entusiasme yang tinggi o sang pendidik memiliki kepekaan dan toleransi yang besar untuk keunikan tiap-tiap siswa o siswa mengagumi pengajarnya dan menjadikannya (diam-diam) sebagai idolanya. Konteks Kedua (II) Konteks kedua merupakan situasi ajar belajar dimana siswa siswi sangat cepat beradaptasi dengan dunia perkotaan dan teknologi komunikasi, namun para pendidiknya tertinggal, walaupun mereka cukup menyadari perubahan yang sedang terjadi. Sang pendidik hanya membaca sedikit tentang teknologi, namun tidak cukup memahami dan tidak berminat mengenal penggunaan alat-alat seperti palm top, kalaupun kesempatan untuk memilikinya ada.. Mereka menyadari adanya PlayStation II, namun hanya berpikir bahwa benda itu adalah benda mahal berteknologi tinggi yang tidak terkait dengan dirinya. Sama sekali tidak terpikir olehnya bahwa alat itu berpotensi menggantikan komputer dalam mengakses internet atau VCD player di rumahnya. Internetpun dianggap sebagai barang mewah dan yang menyebabkan pembuangan waktu saja. Terhadap budaya kota, mereka menyukai mal, film, beragam jenis makanan, pakaian, dan rekreasi, namun mereka tidak menggunakan keragamanan buku di perpustakaan-perpustakaan canggih, gallery, atau pameran-pameran sebagai sumber ilmu dan metode belajar. Mereka masih cenderung untuk berbicara dengan panjang lebar dan sesekali bergossip. Untuk mengambil keputusan mereka cenderung meneliti dengan seksama berbagai hal sehingga pengambilan keputusannya merupakan suatu proses yang panjang.
  • 30. 30 Dengan konteks serupa itu, maka siswa merasakan bahwa pendidik bukanlah mitra mereka dalam proses belajar. Bila siswa bergerak secepat pemain basket, pendidik bergerak seperti pemain sepak bola. Pendidik tidaklah menjadi sumber utama mereka dalam menelusuri minat belajar mereka. Walaupun pendidik masih diterima baik dan dihormati, namun bukan menjadi sumber utama. Akibatnya, berbagai kebutuhan belajar siswa tidak terpenuhi. Karenanya, seringkali, mereka mencari sumber-sumber pengetahuan dan rujukan gaya hidup serta idola dari kalangan teman mereka, tetangga, atau lingkungan lain. Maka ada potensi dimana siswa mendapatkan pengaruh yang tidak terkendali dari pihak yang tidak diketahui. Dalam suasana itu, bila sang pendidik tidak memiliki daya toleransi yang besar dan tertekan oleh beban-beban kurikuler dan administratif, maka siswa diharapkan mematuhi apa yang diberikan sekolah. Pengembangan minat dan kemampuan siswa yang lain dan yang juga berharga bagi hidup di dunia modern dan budaya kota malah terabaikan. Dialog antara siswa dan pendidik terjadi hanya terbatas pada tingkat yang semu. Siswa lebih suka bergaul dengan sesama teman-temannya daripada dengan pendidiknya, walaupun mereka masih bersedia memenuhi tuntutan sekolah. Jadi, mereka yang sangat cepat beradaptasi dengan teknologi dan budaya kota cenderung melihat sekolah hanya sebagai salah kegiatan belajar, bukan sebagai satu- satunya sumber atau pusat kegiatan dan perhatian mereka. Konteks ketiga (III) Konteks ketiga merupakan situasi ajar belajar dimana siswa siswi sangat cepat beradaptasi dengan dunia perkotaan dan teknologi komunikasi, namun para pendidiknya amat tertinggal karena mereka masih hidup di masa lalu sehingga tidak menyadari perubahan yang sedang terjadi. Sang pendidik tidak memahami dan tidak berminat
  • 31. 31 mengenal penggunaan alat-alat seperti palm top, kalaupun kesempatan untuk memilikinya ada. Mereka cenderung mencurigai PlayStation II, Internet, atau handphone. Terhadap budaya kota, mereka tidak merasa nyaman dengan mal, film, beragam jenis makanan, pakaian, dan rekreasi. Mereka masih cenderung untuk berbicara dengan panjang lebar dan sesekali bergossip serta mengeluh tentang dunia yang terlalu modern dan dekaden.. Dengan konteks serupa itu, maka siswa merasakan bahwa pendidik sama sekali bukanlah mitra mereka dalam proses belajar. Bila siswa bergerak secepat pemain basket, pendidik bergerak perlahan seperti seorang atlet di lapangan tembak. Walaupun pendidik dihormati secara terbatas, umumnya mereka masih ditoleransi karena para siswa tidak memiliki pilihan lainnya. Akibatnya, berbagai kebutuhan belajar siswa tidak terpenuhi dan ras frustrasi mereka pada suasana belajar menjadi tinggi. Karenanya, seringkali, merekapun berhenti mencari sumber- sumber pengetahuan dan rujukan gaya hidup serta idola. Maka dalam konteks ini ada suatu kemungkinan dimana siswa mengembangkan sikap apatis atau memberontak. Dalam suasana itu, sang pendidik cenderung mengendalikan proses belajar dengan cara otoriter dan komunikasi satu arah. Siswa dituntut menyimak dan menghafal dengan tekuntidak memiliki daya toleransi yang besar dan tertekan oleh beban-beban kurikuler dan administratif, maka siswa diharapkan mematuhi apa yang diberikan sekolah. Konteks ke empat (IV) Konteks ke empat merupakan situasi belajar dimana pendidik lebih maju selangkah daripada siswa-siswinya. Biasanya hal serupa ini terjadi di sekolah-sekolah milik perusahaan di pedalaman atau di kota kecil. Misalnya, di Pangkalan Kerinci, terdapat sekolah Patricia yang didirikan oleh perusahaan Riau Andalan Pulp and Paper. Para pendidik
  • 32. 32 didatangkan dari kota besar dan diberikan jaminan hidup yang memadai. Merekapun memiliki akses ke peralatan dan suasana kerja yang profesional di perusahaan yang menjadi induk sekolah itu. Para siswa datang dari anak-anak karyawan dan staf, seringkali mengikuti budaya kota dan teknologi media walaupun tidak secepat pendidiknya. Dalam situasi serupa itu maka tugas pendidik adalah menentukan pilihan-pilihan dalam hal yang akan disampaikan pada siswa-siswinya, membangun minat mereka, serta melatih mereka agar memiliki skil yang memadai untuk dunia modern. Konteks ke lima (V) Dalam konteks kelima, pendidik dan siswa-siswinya serupa dalam tingkat pengenalan, minat, dan penguasaan skil untuk menyesuaikan diri terhadap arus budaya kota dan pengaruh teknologi media. Mereka menyadari adanya hal baru, namun belum membangun komitmen yang mendalam untuk mendalami hal tadi. Disini, peran pengurus sekolah atau seorang kepala sekolah akan menentukan ke arah mana proses pendidikan akan ditujukan. Konteks ke enam (VI) Dalam konteks ke enam, siswa-siswi lebih mengenal budaya kota dan pengaruh media, walaupun kedua hal tadi tidak digandrungi. Namun, para pendidik tertinggal di dalam mengenali dan memahami hal ini. Mereka cenderung menilai negatif kedua hal tadi. Secara umum dampak kesenjangan adaptasi terhadap pengaruh tadi tidak sebesar seperti pada konteks ke tiga atau ke dua, karena pengaruhnya bagi siswa-siswi tidak terlalu kuat.
  • 33. 33 Konteks ke tujuh (VII) Dalam konteks ke tujuh, situasinya serupa dengan konteks ke empat, namun pada umumnya siswa-siswi sangat tertinggal, sehingga guru harus agak menyeret mereka. Siswa-siswi dapat terpesona karena penguasaan pendidiknya akan hal baru, dan mengikuti teladan mereka. Sebaliknya mereka juga dapat hanya memilih menjadi pemirsa. Konteks ke delapan (VIII) Dalam konteks ke delapan, situasinya mirip dengan konteks ke empat, namun, karena pendidik maupun muridnya tidak mengalami imbas yang kuat dari ke dua pengaruh yang ada, maka diperkirakan tidak ada perubahan apa-apa yang terjadi. Namun, secara umum, pendidik dan siswa-siswinya akan jauh tertinggal masyarakat modern. Konteks Kesembilan (IX) Merupakan konteks yang tenang dan stabil, namun membuat baik pendidik maupun siswa merasa tidak perlu berubah. Kedua belah pihak cocok, namun mungkin mereka merasa tertinggal dan tidak berdaya mengejar ketertinggalan menonton TV. Namun dari sudut hubungan, maka keakraban masih terjadi secara tradisional. Dengan peta di atas, maka dapat dibuat berbagai prakiraan-prakiraan lainnya. Siswa dapat menjadi siswa yang entusias atau hanya mentolerir gurunya tergantung pada daya adaptasi guru. Namun dalam kasus dimana sang pendidik merupakan pihak yang sangat “maju” dapat terjadi siswa terbawa maju, namun bila sang siswa sangat tertinggal, maka yang terjadi adalah siswa malah menolak kehadiran gurunya. Dengan demikian, profil pendidik yang baik dalam dunia modern ditentukan oleh strategi penempatan pendidik yang harus
  • 34. 34 memperhitungkan kesenjangan atau kecocokan antara “budaya pendidik” dan “budaya siswa” serta daya adaptasi masing-masing. Kesimpulan Dengan adanya berbagai konteks di atas, maka suatu upaya peningkatan proses pendidikan membutuhkan kesadaran bahwa upaya tadi tidak dimulai di titik nol. Kegagalan banyak upaya, perubahan kurikulum dan sistem belajar diduga terjadi karena kegagalan memperhitungkan perbedaan konteks yang ada seperti di atas. Akibatnya, semua yang ditawarkan hanya memuaskan kebutuhan tiap- tiap konteks secara terbatas.
  • 35. 35 PASAL 3 SEJARAH: UPAYA MEMBANGUN BERBAGAI SISTEM PENDIDIKAN Guru yang ditakuti Kelas yang tadi ribut tanpa guru, kini menjadi sunyi. Guru Bahasa Indonesia yang paling ditakuti dan disegani oleh semua murid, telah masuk ke dalam ruang kelas. Wajahnya garang seperti harimau kelaparan. Murid-murid : Selamat pagi, Bu Guru! Bu Guru (dengan suara melengking) : Mengapa bilang selamat pagi saja? Kalau siang say a datang tidak pernah mengatakan apa-apa. Kalau begitu setiap siang, sore dan malam kalian mendoakan saya tidak selamat ya? Murid-murid : Selamat pagi, siang dan sore Bu Guru..... Bu guru : Kenapa panjang sekali? Tidak pernah orang mengucapkan selamat seperti itu! Katakan saja selamat sejahtera, bukankah lebih bagus didengar dan penuh makna? Lagipula ucapan ini meliputi semua masa dan keadaan. Murid-murid : Selamat sejahtera Bu Guru! Bu guru : Sama-sama, duduk! Kini dengar sini baik-baik. Hari ini Bu Guru mau menguji kalian semua tentang lawan kata atau antonim kata. Kalau Bu Guru sebutkan perkataannya, kamu semua harus cepat menjawab dengan lawan katanya, mengerti? Murid-murid : Mengerti Bu Guru... Guru: Baiklah, kita mulai! Murid-murid: Jeleklah, mereka akhiri! Guru: Bodoh benar kalian! Murid-murid: Pandai benar ibu! Guru: Berhenti!
  • 36. 36 Murid-murid: Lanjut! Guru: Kalian mengejekku?! Murid-murid Mereka memujimu? Guru: Salah itu! Murid-murid: Betul ini! Guru (geram): Bodoh! Murid-murid: Pandai! Guru: Bukan! Murid-murid: Ya! Guru (mulai pusing): Ya, Tuhan! Murid-murid: Tidak, Iblis. Guru: Dengar dulu . Murid-murid: Bicara nanti. Guru: Diam!!!!! Murid-murid: Ribut!!!!! Guru: Itu bukan pertanyaan, bodoh!!! Murid-murid: Ini adalah jawaban, pandai!!! Guru: Mati aku! Murid-murid: Hidup kami! Guru: Saya tampar baru tau rasa!! Murid-murid: Kita belai lama tak tau rasa!! Guru: Malas aku ngajar kalian! Murid-murid: Rajin kami belajar,bu guru... Guru: Kalian gila semua!!! Murid-murid: Kami waras sebagian!!! Guru: Cukup! Cukup! Murid-murid: Kurang! Kurang! Guru: Sudah! Sudah!
  • 37. 37 Murid-murid: Belum! Belum! Guru: Mengapa kamu semua bodoh sekali? Murid-murid: Sebab saya seorang pandai! Guru: Oh! Melawan, ya??!! Murid-murid: Oh! Mengalah, tidak??!! Guru: Kurang ajar! Murid-murid: Cukup mengajar! Guru: Mati aku..ketemu murid seperti ini Murid-murid: Kekal kamu berpisah dengan guru seperti itu.. Guru (putus asa): O.K. Pelajaran sudah habis! Murid-murid: K.O. Pelajaran belum mulai! Guru: Sudah, bodoh! Murid-murid: Belum, pandai! Guru: Berdiri! Murid-murid: Duduk! Guru: Bego kalian ini! Murid-murid: Cerdik kami itu! Guru (stres) : Kamu semua ditahan siang hari ini!!! Murid-murid : Dilepaskan tengah malam itu!!! Bu Guru mukanya merah padam dan tanpa bicara lagi mengambil buku-bukunya dan keluar ruangan. Sebentar kemudian, loceng pun berdering. Murid-murid merasa lega karena guru yang paling ditakuti oleh mereka telah keluar. Walau bagaimanapun, mereka merasa bangga karena telah dapat menjawab semua pertanyaan tadi setelah beberapa hari saling membantu untuk belajar. Tetapi masih ada hari esok. Guru itu pasti akan datang lagi.. Hanya ketika orang tua mereka bertanya apa yang mereka dapatkan dari pelajaran, mereka tersenyum dan berkata “Pokoknya, sudah lolos …kami berhasil menjawab semua pertanyaannya.” Orang tua mereka tersenyum dan berkata dalam hati “Tidak sia-sia pemerintah mengeluarkan dana yang besar untuk biaya pendidikan nasional. Anakku mendapatkan sistem pendidikan yang baik.”
  • 38. 38 Kalau ada orang yang bertanya apakah ciri-ciri sistem pendidikan yang terbaik, maka mungkin sulit untuk menjawab pertanyaan serupa itu. Mengapa? Sejak dulu, sudah ada berbagai-bagai sistem pendidikan yang telah dikembangkan umat manusia di masa lalu. Bahkan masih ada bagian-bagian dari sistem kuno yang terus dipergunakan sejak dulu sampai kini dengan perubahan-perubahan yang terbatas. Dalam bagian ini akan dipaparkan perbedaan sistem-sistem tadi. Terutama akan dipertajam hasil akhir yang ingin dicapai oleh tiap-tiap sistem serta asumsi dasar tentang manusia yang mereka miliki. Metode Pendidikan dari Timur 1. India Sebagai bangsa, India memiliki sejarah yang panjang dalam pendidikan yang terorganisir baik. Sistem yang dikenal dan merupakan salah satu sistem yang tertua di dunia adalah sistem Gurukul, Sistem ini dibentuk untuk menghasillan pendidikan manusia seutuhnya yaitu mencakup aspek jasmani, mental, dan spiritual. Di dalam sistem tradisional ini, umumnya siswa tinggal bersama gurunya di dalam rumah sang guru atau di biara. Sistem pendidikan ini tidak memungut bayaran dari siswa-siswi, namun setelah seseorang lulus dan ia datang dari keluarga yang mampu, maka ia wajib membayar gurudaksina atau sumbangan untuk kemajuan endidikan. Dengan sistem yang terarah pada pendidikan manusia seutuhnya, maka siswa- siswi belajar agama, kitab-kitab suci, filsafat, sastra, ilmu perang, ilmu kenegaraan, pengobatan dan astrologi. Karena India pada waktu sistem gurukul lahir sangat menekankan hidup sebagai siklus, maka pembelajaran tentang sejarah tidak masuk ke dalam kurikulum gurukul. Sistem tradisional ini kemudian dihapuskan dan digantikan oleh pemerintah kolonial Inggris yang menjajah India dengan pendidikan barat. 2. Cina Pendidikan di Cina merupakan hal yang sangat dihargai. Karena sejarah Cina merupakan suatu proses yang panjang dan di tiap dinasti kerajaan terjadi
  • 39. 39 perubahan-perubahan, agak sulit untuk menggambarkan sistem pendidikan di Cina. Namun di masa awalnya, pendidikan diarahkan agar orang memahami naskah- naskah klasik Cina yang ditulis oleh para pemikir-pemikir. Pemerintah- pemerintah pada dinasti-dinasti Cina mengadakan pendidikan dan seleksi yang ketat para lulusan untuk mereka dapat menjadi pejabat pemerintah. Pada jaman dinasti Han, yaitu sekitar dua abad sebelum Masehi, Cina berhasil menciptakan suatu sistem ujian kekaisaran untuk mengevaluasi dan memilih pejabat pemerintah. Dengan demikian, pemegang jabatan dipilih berdasarkan kompetensi dan bukan koneksi. Sekaligus juga di dalam sistem pendidikan Cina, tekanan pada kompetisi sangat kuat. Sistem ini membuat muncullah berbagai aliran sekolah yang mengajarkan pengetahuan klasik dan bertahan selama dua ribu tahun. Di tahun 1911, Cina memutuskan untuk mengadopsi dan menggunakan pendidikan barat sehingga terhapuslah sistem pendidikan lama walaupun sampai saat ini bangsa Cina merupakan satu-satunya bangsa di dunia yang memelihara naskah-naskah dan urutan pengetahuan serta pustakanya selama lebih dari 2000 tahun. Metode Pendidikan di Barat Bila kita meneliti metode dan muatan pendidikan di budaya Junani dan Romawi yang menjadi landasan pendidikan barat, ada beberapa hal yang kentara dan berbeda dari metode pendidikan di Asia Timur. Tekanan pada individu lebih terasa di Barat, termasuk perasaan individual dan keunikannya. 1. Europa Di Barat, pendidikan terkait erat dengan agama. Para biarawan dan iman-iman sangat menyadari pentingnya menolong orang-orang muda memahami kebajikan, sehingga mereka menciptakan sistem pendidika. Di Eropa, sekolah-sekolah yang terorganisir baik berakar pada gereja Roma Katholik. Setelah masa reformasi di awal abad XVI, salah satu gereja reformasi, yaitu
  • 40. 40 gereja di Skotlandia menyiapkan guru-guru untuk setiap gereja dan juga pendidikan yang tidak memungut bayaran bagi orang miskin. Pada tahun 1633 dewan perwakilan rakyat setempat bahkan menentukan penggunaan dana yang diperoleh dari pajak untuk program pendidikan. Sebagai hasilnya pada akhir abad XVII, hampir seluruh rakyat terbebas dari buta huruf. Setelah abad XVIII, hubungan antara pendidikan dan agama merenggang. Di dalam jaman itu Jean-Jacques Rousseau menawarkan konsep pendidikan alternatif. Pemikirannya menghasilkan situasi dimana orang semakin menyadari tahap-tahap dan proses pengembangan manusia yang harus disadari dalam penyusunan metode pendidikan. Di Polandia pada tahun 1773 dibentuk Komisja Edikacji Narodowej atau Komisi Pendidikan alias kementerian pendidikan pertama di dunia barat. Dengan munculnya revolusi industri di barat, dunia mulai melihat pabrik-pabrik dan masyarakat perkotaan sebagai pemandangan yang dominan. Kondisi ini mendorong standardisasi pendidikan dan kompetensi minimum para pekerja. Pemerintah-pemerintah mulai mengharuskan orang menghadiri dan memasuki sistem pendidikan. Semakin lama masa kehadiran di dalam proses pendidikan semakin bertambah. Pendidikan menjadi bagian dari sistem industri dan ekonomi. 2. Konsep pendidikan modern yang dikembangkan Kominsky, (1592- 1670) Sementara itu, muncullah suatu pemahaman tentang manusia dan perkembangannya dari seorang Eropa Timur, yaitu Kominsky (Comenius). Kominsky hidup sebagai seorang pendeta gereja Kristen di wilayah Moravia (Cekoslovakia kini). Pendeta ini belajar di berbagai tempat, baik di Ceko, Jerman, juga sempat di Belanda. Pada masa hidupnya, Kominsky dan bangsanya menjadi korban dari percaturan politik pada abad 17 di Eropa.
  • 41. 41 Corak iman Protestan yang dianut orang Moravia tidak diakui oleh pihak yang berkuasa di wilayah mereka. Akibatnya, mereka dianiaya dan ditindas. Kominsky sendiri mengalami bagaimana berbagai tulisan yang dibuatnya dengan susah payah, dibakar. Beberapa kali pendeta ini hidup dalam pengungsian. Sempat pada suatu saat ia berada lama di pengungsian dan terus menerus menulis surat kepada istrinya, padahal istri yang ditinggalkan di tanah kelahirannya tadi sudah beberapa lama meninggal tanpa ia ketahui. Keadaan hidup yang terus menerus didera kesusahan dan malapetaka tidak membuat iman dan kerajinan Kominsky berkurang. Ia terus menulis, mempraktekkan metode ajar belajar yang baru, serta memenuhi undangan di berbagai negara. Salah satu tulisannya yang hebat adalah kumpulan Karya Didaktika yang terdiri dari 4 jilid. Menurut Kominsky, teologi adalah dasar utama untuk membangun pendidikan agama Kristen. Dasar kedua adalah pengalaman pribadi. Kemudian, dasar ketiga adalah gaya berpikir yang bersifat analogis atau mencari persamaan. Menurut Kominsky, pendidikan merupakan kehendak Allah. Ia menyatakan bahwa: “.. agar mereka tidak kehilangan kemuliaan Allah, maka semua orang harus diajar agar tidak berbuat dosa..” Sumbangsih pemikiran dan praktek dari Kominsky begitu besar sehingga PBB menamakannya sebagai bapak pendidikan modern (bukan cuma pendidikan agama). Beberapa cuplikan pemikiran Kominsky agaknya masih perlu diperhatikan dalam konteks pendidikan modern, dalam dunia perkotaan, dan dalam derasnya perubahan teknologi yang melanda masyarakat.
  • 42. 42 Beberapa Metode Dasar yang Dikembangkan Kominsky 1. Orang harus belajar dengan menggunakan pengalaman nyata selain memahami teori-teori 2. Siswa harus diberi bimbingan terarah untuk mengambil pertimbangan dan keputusan secara kritis melalui pengamatan dan pengalaman 3. Mereka juga harus dididik untuk menjadi orang yang murah hati dan berbudi luhur secara bertahap 4. Sangat penting untuk menentukan saat yang tepat bagi seseorang untuk mempelajari suatu hal. Kominsky juga lebih menekankan overview dan pemahaman serta praktek penerapan daripada sekedar memprekuat hafalan. Pada jaman itu, ketika pendidikan seringkali merupakan monolog dari guru kepada murid dimana mereka hanya perlu mendengarkan dan menyalin, gagasan Kominsky sangat radikal. Bukan saja pemikiran dan praktek ajar belajarnya sangat berbeda tapi juga merupakan terobosan yang mewarnai dunia pendidikan, baik pendidikan umum dan pendidikan agama Kristen. Kini, ternyata dalam budaya modern metode yang dikembangkan Kominsky justru sangat digemari oleh siswa yang lebih menyukai dialog, diskusi, dan proses komunikasi yang tidak melulu bersifat satu arah dari pihak guru. Analisis dan Perbandingan Jelaslah bila kita menggunakan India dan Cina sebagai titik berangkat memahami pendidikan di Asia, maka di bandingkan dengan dunia barat, 1. manusia di Asia timur dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat. Masyarakat komunal timur menekankan pentingnya seorang manusia untuk menempatkan diri secara tepat di dalam tatanan masyarakatnya. Tanpa hal itu, manusia dianggap cenderung akan hidup
  • 43. 43 tersesat. Pandangan ini memang cenderung melihat manusia secara pesimis. 2. Dengan demikian seorang akan dianggap sebagai manusia yang baik dan terdidik bila ia dapat menempatkan diri dengan pas di masyarakatnya. Artinya, sebagai anggota komunitas masyarakatnya, ia tidak menonjolkan individualitas melebihi kebersamaannya. Kalaupun ada konflik biasanya ia akan menanganinya secara tidak langsung dan sejauh mungkin ia berupaya tidak mempermalukan orang lain atau menjaga muka orang. 3. Dengan pandangan tentang manusia serupa itu, maka pendidikan sangat menekankan proses mendisiplinkan diri dalam aspek fisik dan mental, menghafalkan pengetahuan yang diturunkan turun menurun, serta proses mengendalikan perasaan dan ekspresi diri. Namun, tekanan pada spiritualitas juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan. Manusia yang dianggap terdidik adalah manusia yang memiliki pengetahuan, pemahaman, kebijaksanaan dan mampu menempatkan diri di masyarakat atau di tatanan semesta. 4. Di Cina, sengaja atau tidak, metode pendidikan serupa itu cenderung mengabaikan pertumbuhan perasaan karena pertumbuhan muatan pengetahuan dan pemahaman dianggap sebagai hal yang lebih penting. Peneladanan juga dianggap sebagai proses yang vital di dalam metode pendidikan ini. Selanjutnya, kepatuhan pada tatanan ditekankan, sedangkan kreatifitas pribadi diletakkan di bawah kepatuhan tersebut. 5. Di Barat, ada saat-saat dimana pendidikan terkait dengan agama dan ada saat dimana pendidikan terkait dengan konsep manusia yang lebih romantik. Pandangan barat tentang manusia semakin lama semakin optimis dan tidak sepesimis di Timur. Karenanya, tekanan pada kreatifitas dan individualitas juga lebih besar daripada di Timur. 6. Dalam pemikiran modern, proses pendidikan semakin di arahkan pada berpikir kritis, kemampuan mengambil keputusan dan menyelesaikan
  • 44. 44 masalah, serta pada pengenalan diri, termasuk pengenalan perasaan individual. Kesimpulan Upaya membangun berbagai sistem pendidikan dipengaruhi oleh konteks dimana sistem tadi dilahirkan. Di balik setiap sistem terdapat pandangan tentang hidup dan peran manusia serta hakekat manusia. Bila di Barat, dilahirkan pandangan yang optimis tentang manusia, di Timur, manusia dilihat secara pesimistis. Karena, itu pengkajian tentang pandangan yang sudah ada tentang hakekat manusia di tengah dunia yang berubah cepat merupakan titik berangkat dalam membangun sistem pendidikan yang tepat untuk suatu konteks.
  • 45. 45 Pasal 4 TUJUAN PENDIDIKAN: MENUJU MANUSIA MANDIRI Kemandirian Sekelompok peneliti memasukkan enam ekor kera ke dalam sebuah ruang percobaan. Di langit-langit ruang itu tergantung setandan pisang. Sebuah tangga lipat didirikan dan memungkinkan para kera memanjatnya sehingga dapat meraih pisang tadi. Namun, di langit- langit itu dipasang 20 keran yang dapat memancurkan air dingin ke ruang tadi. Setelah memasuki ruangan, seekor kera melihat suasana yang ada dan segera menujukan perhatiannya pada pisang yang tergantung. Otaknya bekerja dan iapun mengenali adanya tangga yang memungkinkan ia mencapai pisang tadi. Segera sang kera beringsut mendekati tangga. Setelah anak tangga kedua diinjaknya, ke duapuluh keran memancurkan air sehingga seluruh ruangan menjadi basah. Memang secara otomatis para ilmuwan yang merancang percobaan itu membuat sebuah pegas tersembunyi di anak tangga kedua membuat air mancur bila anak tangga tadi diinjak. Bagaimana respon para kera? Mereka berlari kian kemari karena memang pada dasarnya kera tidak menyukai air dingin. Namun, sesaat kemudian seekor kera lainnya mencoba kembali menaiki tangga tadi.
  • 46. 46 Peristiwa yang sama terjadi. Setengah jam berlalu, lambat laun para kera belajar setelah mereka diguyur air dan menjadi basah kuyup bahwa menginkak anak tangga akan menimbulkan air mancur. Maka kera manapun yang mendekati tangga akan disergap bersama, digigit dan diseret pergi. Dalam waktu satu jam, suasana stabil tercapai. Tidak ada seekor kerapun berani mendekati tangga yang ada. Pisang tetap tergantung di atas, namun tidak ada seekor kerapun yang menemukan jalan mengatasi masalah mereka. Tidak ada seekorpun kera yang mencari jalan terobosan. Mereka menuruti intuisi bersama dan peraturan tak tertulis: “Yang mencoba mendekati tangga akan kita sergap dan gigit.” Tak lama kemudian salah satu kera yang basah tadi diambil, dan digantikan oleh seekor kera yang baru. Sang kera baru ini segera mendekati tangga dan mulai memanjatnya. Ia terkejut karena tiba-tiba kera-kera yang lain menjerit, menyergap dan menggigitnya. Berulang kali ia mencoba dan berulang kali ia mengalami keadaan yang tidak enak tadi. Dalam waktu pendek ia belajar untuk mengikuti peraturan yang tak tertulis: Jangan dekat-dekat tangga. Bila sejam kemudian, seekor kera baru dimasukkan ke tengah ruang tadi untuk menggantikan seekor kera yang sudah basah, maka peristiwa serupa akan muncul lagi. Namun akan sangat mengherankan bahwa kera yang masih kering dan baru mendahuluinya, juga akan
  • 47. 47 berpartisipasi untuk mencegahnya. Budaya kelompok kera tadi sudah terbentuk. Akhirnya, bila satu persatu semua kera yang basah digantikan dengan kera-kera baru yang masih kering, kebiasaan untuk mencegah seekor kera mendatangi tangga akan tetap terpelihara, walaupun tidak jelas alasannya. Tidak akan ada seekor kerapun akan mencoba secara mandiri mengatasi keadaan tadi. Mengapa? Pertama, mungkin, mereka hanya mengikuti naluri untuk mencegah hal yang tidak menyenangkan terjadi dengan mereka. Kedua, tidak ada seekor kerapun mampu berefleksi tentang kebiasaan yang sudah terpelihara. Demikian juga terjadi dengan banyak manusia dalam proses pendidikan walaupun dunia sudah berubah. Dunia kini yang dipengaruhi budaya kota dan media serta diperkokoh oleh arus globalisasi membuat manusia modern harus memiliki suatu fitur yang berbeda dengan manusia di jaman yang lalu. Untuk hidup layak, dimasa lalu, seorang manusia modern harus terus menerus mengambil berbagai pilihan di dalam hidup sehari-harinya. Dari memilih trayek bus, menentukan makan siang, membeli surat kabar, membalas sms, atau bertemu dengan siapa dan dimana, manusia kota modern harus menentukan pilihan-pilihan. Ada pilihan-pilihan yang berdampak untuk jangka pendek, namun ada pilihan-pilihan yang berdampak panjang bahkan bersifat fatal. Sebagai contoh, sekali seseorang memilih untuk menjadi pecandu obat bius, besar sekali kemungkinannya bahwa ia akan merusak banyak hal di dalam hidupnya di masa kini dan masa depan. Demikian juga, sekali seseorang memilih karir yang keliru bagi dirinya, sulit untuk ia keluar dari alur yang ada dan memasuki jalur karir yang lain. Kini di dalam dunia modern, pilihan-pilihan ini hadir lebih beragam dan hadir lebih cepat serta menuntut perhatian terus menerus.
  • 48. 48 Untuk menghadapi pilihan-pilihan yang beragam, maka manusia modern lebih mungkin bertahan hidup dan berkontribusi maksimum bagi masyarakatnya bila ia memperoleh kemampuan dan sikap yang tepat untuk membuat pilihan-pilihan yang jitu sejak dini dalam proses pendidikannya. Bagaimana cara agar siswa-siswi memiliki kemampuan memilih dan sikap berani memilih dengan tepat? Kita harus lebih dulu memahami apakah yang dimaksud dengan memilih. Membuat pilihan dapat kita pahami sebagai proses o mengenali apa yang akan dicapai, o menyadari kemungkinan-kemungkinan atau pilihan-pilihan yang tersedia, o memiliki tolok ukur untuk menentukan pilihan, atau mengetahui apa yang dianggap bernilai dan apa yang harus ditinggalkan, o memahami apa yang menjadi resiko di dalam mengadakan pilihan, o memperhitungkan hasil pilihan dengan resiko yang akan diambil o dan mampu melaku evaluasi dari pilihan yang diambil tadi. Milih nich, ye Jadi ada sejumlah prasyarat yang harus dipenuhi agar seseorang mampu mengambil pilihan-pilihan. Seseorang tidak akan dapat memilih bila ia tidak mengenali kemana ia akan pergi atau apa yang menjadi tujuannya. Kemudian, seseorang juga tidak akan mampu memilih bila ia
  • 49. 49 tidak memahami apa yang menjadi nilai-nilai acuannya. Nilai adalah hal-hal berharga yang ia ingin hadir atau dicapai di dalam hidupnya. Kemudian, tidak mungkin seseorang berani mengambil pilihan bila ia tidak memiliki gambar diri yang sehat dan kokoh serta gambaran dunia yang realistis. Tanpa gambaran yang sehat dan realistis tadi, seorang juga tidak akan mampu melakukan pengamatan terhadap dunia sekitarnya dengan seksama. Kemampuan memilih Kejelasan tujuan yang ingin dicapai Memiliki nilai-nilai yang jadi acuan Gambaran diri yang sehat
  • 50. 50 Gambaran realistis tentang dunia Bagaimana menghasilkan orang yang dapat mengenali adanya pilihan- pilihan dan berani mengambil pilihan dengan cara yang tepat? Bukankah di Asia, pada umumnya orang lebih terbiasa menerima pilihan-pilihan yang diambilkan oleh orang tuanya, gurunya, atau pemerintah? Bukankah orang juga takut memilih karena takut mengambil keputusan memilih yang keliru? Pemikiran sementara adalah, pendidikan yang cocok untuk menghasilkan manusia yang hidup di dunia modern adalah pendidikan yang diarahkan untuk menghasilkan manusia-manusia yang mandiri. Apa artinya? Mandiri artinya memiliki kebebasan batin di dalam mengenali pilihan-pilihan, mengambil pilihan-pilihan yang ada dan menanggung akibatnya, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan. Mandiri berarti orang modern harus berani, siap dan mampu menentukan pilihan-pilihan. Sekali lagi, tanpa kemandirian, ia hanya dapat patuh pada pilihan yang dibuat orang lain, kemudian mempersalahkan orang lain bila pilihan tadi membawa konsekuensi buruk. Disisi lain, tanpa kemandirian, ia juga hanya memilih apa yang secara intuitif dirasanya akan menguntungkan dirinya tanpa acuan nilai- nilai yang lebih luhur, tepat seperti kera yang dipaparkan di awal bagian ini.
  • 51. 51 Aku mahluk mandiri, dapat memilih. Yang merah, ungu, hijau, atau biru muda mau kuapakan, ya? Sayang, buku ini tidak berwarna... Apakah seorang yang mandiri menjadi seorang yang egois dan tidak perduli orang lain? Seorang yang mandiri bukan berarti tidak mau tunduk kepada otoritas siapapun. Seorang yang mandiri bukanlah seorang pemberontak, anarkis, atau seorang yang asosial. Justru karena kemandiriannya, ia dapat memilih secara sadar dan sengaja untuk menjalani hidup dengan disiplin tinggi, untuk mengalah, untuk hidup sederhana, atau hidup mengabdikan diri atau patuh kepada pihak yang dipilihnya serta menjadi bagian dari suatu komunitas. Seorang yang mandiri bahkan dapat memilih untuk mengabdikan diri bagi Sang Pencipta semesta, atau mengabdikan diri bagi suatu pekerjaan bagi orang lain. Tanpa kemandirian, seseorang tidak ada dapat mencapai keputusan serupa itu dan mempertahankan kesetiaan komitmennya pada pilihan tadi. Mengapa demikian? Seorang yang mandiri dapat mempertahankan komitmennya karena, ia telah menyadari pilihan-pilihan yang ada dan menentukan pilihannya sendiri secara bebas serta, kemudian ia berani memikul tanggung jawab untuk akibat dari keputusannya. Ia tidak selalu berhasil mengambil pilihan yang tepat, namun ia selalu dapat belajar dari kesalahannya. Menjadi mandiri berarti membuka peluang
  • 52. 52 seluas-luasnya untuk ia menemukan pengenalan yang lengkap dan utuh atas aspek-aspek dirinya dan dunia dimana ia hidup. Tidaklah mengherankan bahwa di dunia ada orang-orang yang mandiri bagaikan Martin Luther King Jr yang rela mengurbankan diri untuk tujuan yang dipilihnya demi menghasilkan kesamaan hak. Seorang yang mandiri seperti KH Dewantara berani untuk berbeda dengan banyak orang lain. Demikian juga dengan RA Kartini, Multatuli, Ho Chi Min, U Than, Mathatir, Sukarno dan sebagainya. Kita juga dapat menyoroti hidup Bunda Teresa yang rela meninggalkan kenyamanan dan kestabilan hidup membiara agar secara mandiri berada di tengah kaum yang terabaikan. Sebaliknya seorang yang mandiri juga dapat memilih untuk meletakkan dirinya sebagai pusat pengabdiannya. Jenghis Khan yang menguasai kerajaan yang sangat luas dan membuat puluhan ribu orang tewas adalah seorang yang sangat mandiri. Demikian juga sang pembunuh bayaran, the Jackal. Masih ada juga nama-nama lain, seperti Hittler, Pol Pot, atau Westerling. Karena hal itu kemandirian bagaikan sebilah pisau yang dapat dipergunakan untuk membedah atau menikam. Kemandirian menghasilkan tokoh-tokoh yang luhur, seperti Edmund Hillary yang membangun desa-desa di Himalaya, namun juga menghasilkan tokoh- tokoh seperti, Mengele dan Stalin. Jadi, hal yang terutama membedakan seorang yang mandiri daripada seorang yang bergantung pada orang lain, aturan, kebiasaan, tingkat kenyamanan tertentu dan sebagainya terletak pada keberanian orang- orang yang mandiri untuk memikul tanggung jawab dari pilihannya, baik ketika ia memilih dengan tepat maupun ketika ia keliru memilih. Untuk itu biasanya memiliki gambar diri yang kokoh.
  • 53. 53 Agar mencegah munculnya Pol Pot, Stalin, dan Idi Amin, serta menghasilkan manusia mandiri yang berguna bagi umat manusia, maka pendidikan manusia mandiri harus menekankan penularan nilai-nilai yang luhur pada proses ajar belajarnya, peneladanan tentang percaya diri yang sehat, serta penceburan siswa pada keragaman aspek dunia secara nyata sehingga mereka dapat berinteraksi dengan dunia itu dengan nyata. Jadi, pendidikan modern memerlukan suatu falsafah dan desain proses yang mungkin sangat berbeda dari yang ada sebelumnya agar menghasilkan orang-orang yang berani memilih dan bertanggung jawab untuk pilihannya. Seluruh proses dan isi pelajaran harus dijalin untuk menghasilkan kemandirian serupa itu. Peran pengajar terutama akan menjadi sahabat yang menyiapkan rancangan proses dan pilihan-pilihan yang disediakan bagi siswa. Hal ini harus dilaksanakan secara konsisten dari tingkat pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Hal ini tidak mudah karena siswa-siswa membutuhkan proses adopsi nilai yang luhur setelah kemandirian menjadi kebiasaannya, dan sebelum proses itu tercapai dengan memadai akan ada banyak saat dimana kemandirian digunakan secara salah. Peran pendidik adalah menjadi pembimbing yang memahi dan bersahabat pada masa-masa itu. Mereka sangat membutuhkan kesabaran dan ketenangan dalam berkarya. Kemandirian dan Penyelesaian masalah Dengan semakin kompleksnya hidup modern, maka bukan saja dibutuhkan orang-orang yang mampu memilih, namun juga agar pilihan yang diambil tidak hanya demi penciptaan atau pengembangan wacana utuh. Pilihan-pilihan yang menyangkut nalar dan emosi, harus
  • 54. 54 senantiasa dikaitkan dengan tindakan penyelesaian masalah yang nyata dan yang dapat diterapkan. Tanpa persepektif serupa itu, maka pendidikan yang menghasilkan manusia mandiri akan menghasilkan manusia-manusia yang mampu mengenali masalah, menganalisisnya, namun tidak mampu memberikan solusi nyata pada masalah tadi. Jadi, semakin rumitnya hidup modern, semakin banyak masalah yang timbul di dalam konteks hidup pribadi, keluarga, kerja dan masyarakat, karenanya pendidikan juga harus menghasilkan orang-orang yang bukan hanya mampu mengenali namun juga dapat menjawab masalah- masalah yang ada secara produktif tanpa bertele-tele. Masih ada satu aspek lain dalam orientasi pada pemecahan masalah. Bila pada sifat mandiri, seseorang terlihat dari ciri kesediaannya memikul tanggung jawab, pada orientasi pada penyelesaian masalah, salah satu ciri utamanya adalah ia memahami keseluruhan aspek masalah yang dihadapinya secara sistemik serta memahami tujuan yang ia ingin capai. Semakin jelas ia merumuskan apa yang akan ia capai, semakin jelas masalah- masalah yang akan dihadapinya dan yang harus diabaikan atau dihindarinya. Selanjutnya, untu memberikan solusi pada masalah yang ada, diperlukan kemampuan menganalisis secara keseluruhan atau sistemik, sehingga pemecahan masalah yang diberikan tidak bersifat parsial atau pragmatis saja. Aspek yang lain yang tidak kalah penting dalam penyelesaian masalah adalah konsistensi diri. Hal ini akan tercapai bila seseorang terbiasa
  • 55. 55 untuk menggali makna dari masalah-masalah yang dihadapi sebelum menyelesaikannya. Kera dapat menyelesaikan masalah dengan alat- alat yang tersedia, namun kera tidak akan pernah mampu menggali makna tentang kehadiran masalah tadi dan keberadaannya. Manusia merupakan mahluk yang mampu berabstraksi sampai menggali makna kehadirannya di bumi ini serta makna kehadiran masalah-masalah bagi dirinya. Hanya dengan cara itu maka konsistensi penyelesaian masalahnya terjaga. Kemandirian dan Tindakan nyata Manusia memerlukan kemampuan menghasilkan tindakan nyata setelah ia merumuskan apa yang ia ingin capai dan membuat rancangan penyelesaian masalah. Pemahaman orang terhadap apa yang ingin ia capai dapat berupa rumusan umum atau abstrak. Dapat juga hal tadi berbentuk konkrit dan jelas. Pendidikan modern perlu untuk membiasakan siswa agar mampu membuat rumusan tujuan yang jelas dan konkrit. Konkrit dan jelas, berarti tujuan yang ingin dicapai dapat dievaluasi atau bahkan diukur. Bila suatu tujuan tidak dapat dirumuskan dengan konkrit, maka dapat dicari aspek-aspek konkritnya untuk dijadikan petunjuk atau tonggak pengukuran keberhasilan pencapaiannya. Misalnya, untuk mencapai manusia yang bertanggung jawab sebagai suatu tujuan pendidikan, dapat dibuat rumusan bahwa manusia yang bertanggung jawab tadi dapat teramati dari caranya menggunakan waktu, alat, pemeliharaan kesehatan, dan uangnya. Pada aspek selanjutnya, tujuan yang ingin dicapai harus terkait dengan tenggang waktu, entah tujuan tadi berupa tujuan jangka panjang atau jangka pendek. Manusia modern perlu memahami perbedaan di antara
  • 56. 56 keduanya. Selain itu, diperlukan juga keterampilan untuk memperkirakan tahap-tahap untuk mencapai tujuan jangka panjang. Selanjutnya, bila tujuan tadi terlalu besar, manusia modern perlu belajar untuk mampu memilah atau memecah-mecah tujuan yang besar tadi ke dalam tujuan-tujuan yang lebih kecil. Kemampuan serupa itu tidak dapat diperoleh dengan cepat, namun harus dibiasakan sejak dini. Akhirnya, untuk mampu menghasilkan karya nyata, manusia modern harus mampu merincikan agar tujuan yang mau dicapai juga harus memiliki kejelasan biaya, waktu, tenaga, cara dan dana yang diperlukan untuk mencapai hal tadi. Penyelesaian Masalah KEMANDIRIAN Berani Keluar dari Ruang Nyaman Tindakan Nyata Berani keluar dari ruang nyaman Bagaimana dengan kebiasaan lain seorang manusia mandiri? Seorang mandiri tidak akan berhenti belajar seumur hidupnya karena ia menyadari bahwa solusi-solusi yang ia berikan pada suatu masalah di saat tertentu tidak lagi merupakan solusi yang memadai untuk masa depan. Ia terus menerus memeriksa diri dan meninggalkan hal-hal usang yang tidak lagi bermanfaat sehingga ia memiliki ruang untuk mendapatkan hal-hal yang baru.
  • 57. 57 Sebagai konsekuensinya seorang manusia mandiri rela kehilangan ketenangan. Dengan kata lain, seorang yang mandiri juga tidak takut untuk memaksa dirinya keluar dari ruang-ruang kenyamanan yang dibuatnya sendiri. Artinya ia tidak akan menikmati hidup saja, memegang suatu kebiasaan saja, atau memegang suatu paradigma saja. Keragaman pengalaman dan hubungan merupakan suatu ciri seorang mandiri karena melalui hal-hal tadi ia membuka diri untuk menerima masukan-masukan baru untuk perkembangan dirinya. Inilah yang sangat membedakan manusia mandiri dari manusia yang hidupnya hanya berada di dalam lingkaran kecil dimana ia mengulang-ulang ingatan akan sukses yang pernah ia dapatkan di masa lalu dan merasa nyaman dengan hal tadi. Rintangan bagi kemandirian Ada banyak rintangan yang dapat hadir di dalam hidup seseorang yang berupaya menjadi mandiri. Pertama, rintangan dapat datang dari budaya dimana ia hidup. Salah satu komponen budaya yang terkuat adalah sistem nilai. Di Asia, nilai-nilai yang paling dijadikan acuan adalah nilai keseimbangan atau harmoni, pemeliharaan pada tradisi- tradisi, serta nilai yang menekankan pencegahan kesalahan. Nilai-nilai tadi terwujud di Asia dalam bentuk sikap feodal, paternalistik, dan sikap kompromistis. Dengan demikian di dalam sistem pendidikan Asia, hampir semua pendidik dan subjek didik secara sengaja atau tidak mulai dengan nilai dan sikap-sikap seperti di atas. Pendidik lebih suka bila siswa-siswinya tampil tertib, menyimak dengan baik, patuh, dan berpikir secara runtut serta berkomunikasi secara
  • 58. 58 santun. Pendidik lebih suka bila siswa-siswinya tidak banyak menentang pandangannya atau mempertanyakan sumber informasi yang ia ketengahkan, bahkan memberikan pandangan tandingan. Pendidik lebih suka bila siswa-siswi menahan diri dalam mengekspresikan perasaan mereka dan tidak menampilkan individualitas mereka. Istilah kunci yang sering didengung-dengungkan adalah “murid yang sopan, tekun, patuh dan tahu diri.” Nilai-nilai dan sikap-sikap tadi hanya memberi ruang yang kecil pada kemandirian. Kemandirian justru dilihat sebagai pemberontakan pada tatanan yang ada, adat istiadat, kewajaran, dan keluhuran. Bila sikap feodalis bergabung dengan agama, maka kemandirian bahkan dinilai sebagai pemberontakan manusia terhadap sang Pencipta. Dengan kata lain, nilai-nilai dalam budaya Asia yang menyebut dirinya sebagai budaya yang komunal memang cenderung bertentangan dengan kemandirian. Kedua, rintangan kedua dari kemandirian datang dari potret diri sendiri yang berkembang di Asia. Seorang yang tumbuh dengan rasa percaya diri yang lemah dan rapuh, akan sulit berani mengambil resiko dan menjadi mandiri. Secara umum, dalam budaya yang menekankan kompromistis, hidup dimulai dengan asumsi atau potret diri bahwa “manusia adalah lemah.” Kalimat yang akan sering didengung- dengungkan adalah “Kita tidak memiliki daya..”, “Kita tidak bisa berbuat apa-apa..”, “Sulit sekali...” dan sebagainya. Potret diri yang lemah ini berakar pada potret yang keliru tentang dunia dimana kita hidup. Umumnya mereka memandang dunia sebagai hutan rimba yang berbahaya dan mengancam. Karena itu, manusia harus berhati-hati dan membatasi diri dalam berinteraksi di dalam rimba ini. Pandangan yang terakhir ini membuat manusia semakin memiliki gambar diri yang pesimis. Semakin pesimis potret diri tadi, semakin sulit baginya untuk mandiri karena ia merasa bahwa resiko dalam berhadapan dengan dunia ini jadi harus ditanggungnya sendiri.
  • 59. 59 Dapat kita catat bahwa, sebenarnya, ada pilihan lain dalam manusia memandang dirinya dan dunianya. Pertama, manusia dapat memandang dunia sebagai suatu mal besar dimana manusia dapat menelusuri berbagai-bagai hal. Secara mandiri manusia dapat mempelajari pilihan-pilihan yang ada serta mengenali konsekuensi- konsekuensinya. Tujuan penelusuran adalah peningkatan kompetensi dan kearifan diri. Jadi dunia dilihat sebagai kesempatan-kesempatan dimana manusia lain dapat dipandang sebagai kesempatan untuk sinergi dalam mengambil peluang yang ada. Kesulitan dapat dipandang sebagai kesempatan belajar dan mengasah diri sehingga seseorang dapat mencapai kemampuan dan sikap yang lebih tepat untuk dunia yang terus berubah. Kemandirian merupakan suatu bagian dari dunia seperti itu, khususnya kemandirian di dalam mengenali atau membuat peluang-peluang kesempatan. Selanjutnya, manusia dapat pula memandang dunia sebagai arena dimana ia berburu, bertani, atau mendirikan bangunan secara berbeda. Dunia dapat dipandang sebagai suatu kesempatan yang harus direbut. Di dalam pandangan ini, manusia lain dapat dipandang sebagai suatu sumber-sumber yang memungkinkannya mengelola hidup dengan lebih utuh dan efektif atau sebagai saingan yang harus dikalahkan. Kemandirian adalah bagian di dalam hidup ini terutama dalam aspek pemupukan keunggulan diri. Jadi, masyarakat Asia memang merupakan masyarakat yang mengembangkan gambaran yang pesimis tentang hidup, manusia lain, dan diri sendiri. Akibatnya, dorongan untuk memilih pendidikan yang menekankan kepatuhan dan tahu diri serta harmoni merintangi tumbuhnya kemandirian. Ketiga, rintangan dalam memupuk kemandirian terletak pada praktek pendidikan. Pendidik di Indonesia pada umumnya hidup dalam tingkat kesejahteraan yang terbatas, kecuali bila mereka bekerja di sekolah unggulan atau sekolah internasional. Tidak heran banyak pendidik mengambil beban tambahan untuk memenuhi kebutuhan finansial mereka, seperti memberi les, atau mengajar di berbagai tempat. Sementara itu jumlah rasio antara pendidik dan siswa serta jumlah kelas
  • 60. 60 sangat tidak memungkinkan pengajar mengamati perkembangan kemandirian tiap siswa dan menolongnya secara pribadi seperti terbaca dalam statistik DepDiknas pada tahun 1994-1995. Dua lajur yang paling kiri menunjukkan bahwa jumlah kelas dibandingkan murid adalah rata- rata 39,45 murid per kelas. Di DKI Jakarta sendiri rasionya adalah sekitar 44 murid per kelas. Pernahkah kita bayangkan bagaimana menangani setiap hari 44 individu yang sedang berkembang dengan kecepatan dan gaya yang berbeda-beda? JUMLAH KELAS DAN MURID SLTP MENURUT TINGKAT TIAP PROVINSI TAHUN AJARAN: 1994/1995 Kelas I Kelas. II Kelas III Jumlah Provinsi No. Kelas Murid Kelas Murid Kelas Murid Kelas Murid 1 DKI Jakarta 3,701 160,940 3,603 153,249 3,365 139,912 10,669 454,101 2 Jawa Barat 9,413 368,796 8,891 344,625 7,540 273,820 25,844 987,241 3 Jawa Tengah 8,712 385,361 7,799 334,431 7,143 288,554 23,654 1,008,346 4 DI Yogyakarta 1,348 52,778 1,288 48,919 1,205 44,697 3,841 146,394 5 Jawa Timur 8,445 367,919 7,753 326,276 7,176 285,506 23,374 979,701 6 DI Aceh 1,282 48,680 1,166 41,576 1,025 35,216 3,473 125,472 7 Sumatera Utara 4,677 200,345 4,367 179,125 3,915 153,918 12,959 533,388 8 Sumatera Barat 1,678 64,337 1,532 53,551 1,383 48,259 4,593 166,147 9 Riau 1,199 47,551 1,076 40,464 948 33,584 3,223 121,599 10 J a m b i 740 27,876 653 23,620 586 19,890 1,979 71,386 11 Sumatera Selatan 2,116 87,061 1,989 77,612 1,819 68,544 5,924 233,217 26 Bengkulu 559 21,855 493 18,169 438 14,738 1,490 54,762 12 Lampung 2,115 86,370 1,919 74,648 1,757 65,829 5,791 226,847 13 Kalimantan Barat 888 39,384 797 35,156 745 32,091 2,430 106,631 14 Kalimantan Tengah 491 19,786 439 17,627 402 13,078 1,332 50,491 15 Kalimantan Selatan 715 26,705 638 21,861 587 19,120 1,940 67,686 16 Kalimantan Timur 797 32,500 741 29,212 713 27,153 2,251 88,865 17 Sulawesi Utara 1,150 37,385 1,084 32,135 1,009 28,119 3,243 97,639 18 Sulawesi Tengah 649 23,049 548 18,432 531 17,283 1,728 58,764 19 Sulawesi Selatan 2,427 93,286 2,230 81,437 2,119 71,885 6,776 246,608 20 Sulawesi Tenggara 631 23,883 598 19,203 567 16,478 1,796 59,564 21 Maluku 982 35,269 893 30,161 823 25,739 2,698 91,169 22 B a l i 1,122 44,076 1,077 42,407 1,028 37,820 3,227 124,303 Nusa Tenggara 23 954 35,079 826 29,834 709 25,096 2,489 90,009 Barat Nusa Tenggara 24 1,102 42,038 982 37,435 820 27,953 2,904 107,426 Timur 25 Irian Jaya 641 26,720 610 25,611 513 19,756 1,764 72,087 27 Timor Timur 231 8,575 215 7,405 197 6,594 643 22,574 Indonesia 58,765 2,407,604 54,207 2,144,181 49,063 1,840,632 162,035 6,392,417
  • 61. 61 Catatan / Notes: Hanya Kelas dan Murid di Lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Classes and Pupils under Ministry of Education and Culture only Situasi itu membuat pengajar tidak memiliki cukup enerji untuk mengembangkan proses ajar belajar rumit, canggih dan yang memakan tenaga. Mereka lebih menyukai komunikasi satu arah dalam proses belajar. Keempat, rintangan untuk menghasilkan pendidikan yang mandiri terletak pada kenyataan sulitnya proses dalam menghasilkan anak-anak yang mandiri secara dewasa. Siapa yang berupaya menghasilkan siswa- siswi yang mandiri, tentu akan menghadapi kenyataan bahwa, kemandirian dalam kecerdasan, tata krama, nilai yang dianut, dan tujuan hidup tidak berjalan secara paraleldan sinkron. Seringkali anak- anak yang telah menunjukkan kemandirian dalam mengenali masalah belum memiliki kemandirian untuk berkomunikasi dengan tepat di masyarakatnya. Seringkali mereka yang telah mandiri dalam kecerdasan masih belum mandiri dalam menganut nilai-nilai yang luhur, sehingga tampil seakan siswa-siswi yang tidak sopan, pemberontak dan egois. Selain itu, setiap individu memiliki kecepatan yang berbeda-beda Kondisi kemandirian dalam berkembang. pada titik “t” dimana tidak terjadi sinkronisasi perkembangan yang terjadi Siklus pengembangan kemandirian di dalam gambar diri, gambar dunia, nilai, tujuan hidup, dan perilaku tidak hadir dengan kecepatan dan keteraturan yang sama. Umumnya, proses pengembangan nilai dan gambar diri merupakan hal yang paling lambat, sedangkan pengembangan pengenalan masalah dan berpikir kritis mungkin muncul lebih mencolok dan terlebih dulu. Kemandirian Kemandirian Kemandirian Kemandirian Kemandirian di dalam di dalam di dalam dalam dalam memilih cara menentukan menentukan mengenali menentukan melakukan tujuan gambar diri masalah solusi masalah komunikasi hidupnya dan nilai
  • 62. 62 Dengan kata lain, siapa yang menjalankan proses pendidikan untuk menghasilkan kemandirian akan menghadapi asynkronisasi yang membuat orang dapat menilai secara negatif proses yang ada. Menghasilkan manusia mandiri adalah proses panjang serupa dengan pertumbuhan sebatang pohon jati. Kemandirian dan Produktifitas serta Spiritualitas Menjadi mandiri dan senantiasa berani keluar dari ruang nyaman akan membuat banyak manusia mandiri memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk menjadi manusia yang produktif bagi masyarakat dimana ia berada dan bagi umat manusia pada umumnya. Kemandirian tanpa menghasilkan perubahan nyata pada tatanan sosial, pada teknologi
  • 63. 63 yang manusia kembangkan dan pada kedalaman makna yang didapatkan akan menjadi kemandirian yang semata-mata memenuhi kebutuhan pribadi saja. Tujuan menghasilkan manusia mandiri adalah agar mereka dapat mengevaluasi, mengoreksi dan mengembangan secara terus menerus, baik biosfer atau dunia ciptaan Yang mahakuasa dimana manusia hidup serta teknofer, yaitu dunia teknologi, perkotaan, ilmu pengetahuan, dan apa yang peradaban manusia hasilkan. Dengan kata lain, manusia mandiri harus menjadi manusia produktif alias menghasilkan sesuatu yang dapat digunakan manusia lain dan dunianya. Menjadi mandiri dan produktif adalah merupakan aspek yang penting dari tujuan proses pendidikan. Pendidikan yang menghasilkan manusia yang mandiri dan produktif dapat menjadi suatu proses yang berjalan terus menerus demi kepentingan manusia saja dan berakibat mengurbankan bahkan merusak berbagai mahluk lainnya. Tidak mustahil juga manusia- manusia yang memiliki kemandirian dan produktifitas mengeksplorasi dunia dan alam dimana ia hidup sampai rusak. Planet bumi dimana ia tinggal dirusak binasakan tanpa ia sadari karena sudut pandang berjangka pendek dan materialistis saja. Adanya polusi besar-besaran di laut dan darat, adanya pencemaran air tanah karena bakteri colii, dan banjir musiman di Jakarta merupakan ilustrasi dari kemandirian dan produktifitas semata. Karenanya, pendidikan modern membutuhkan proses yang tidak hanya menghasilkan kemandirian dan produktifitas namun juga menghasilkan manusia yang memiliki kepekaan diri, hati yang bijak dan penuh welas asih, serta pribadi yang mensyukuri serta menyayangi bumi, sesama mahluk, sesama manusia, dan terutama hati yang memuja sang PenciptaNya. Inilah dimensi spiritual dari tujuan suatu proses pendidikan.
  • 64. 64 Dengan kata lain pendidikan akan menghasilkan manusia yang mempertanyakan dengan kritis makna keberadaannya, manusia yang mengevaluasi diri terus menerus mengenai sumbangsihnya bagi kehidupan, dan manusia yang menghargai sesama mahluk serta semesta. Dengan kata lain, secara terus menerus ia mengolah mata bathinnya sehingga tidak hanya mengejar keberhasilan material saja. Secara terus menerus, ia mencerahkan kesadarannya agar ia tidak didorong oleh persepsi-persepsinya yang keliru tentang kehidupan. Akhirnya, secara terus menerus ia juga mengingat pada proses jangka panjang dari kehidupan ini yang pada akhirnya tiba pada titik puncaknya. Dengan kata lain, kemandirian tanpa diiiringi dengan produktifitas hanyalah menjadi kemandirian pada tahap wacana saja. Produktifitas tanpa kemandirian akan membuat manusia menjadi alat bagi manusia lainnya dan menjadi pelaksana teknis saja. Kemandirian dan produktifitas tanpa spiritualitas yang mendalam membuat manusia menjadi materialistis saja dan akan menghancurkan diri dan semesta alam. Sebaliknya, kemandirian, produktifitas dan spiritualitas yang berjalan bersama akan membuat manusia menjadi mahkluk yang memberi sumbangsih bermakna bagi kehidupan. Pendidikan harus menghasilkan manusia serupa itu. Dengan kata lain pendidikan ditujukan agar menghasilkan manusia yang secara pribadi berani dan mampu memilih, yang secara sendiri dan bersama dapat mengubah dan mengembangkan dunia, serta manusia yang secara sendiri atau bersama dapat menemukan makna dari seluruh keberadaan dan tindakannya. Semakin kedua hal tadi tercapai, yaitu spiritualitas dan produktifitas, maka semakin mandiri dirinya, karena percaya dirinya kian meningkat dan ia memiliki gambar diri yang sehat.
  • 65. 65 Spiritualitas Produktifitas Kemandirian Kesimpulan Setiap manusia dilahirkan dengan potensi untuk menjadi manusia mandiri. Pola asuh yang keliru menghasilkan suatu gambaran tentang dunia, gambar diri, dan persepsi-persepsi yang keliru sehingga orang dipengaruhi habis-habisan oleh ketiga hal tadi. Akibatnya ia tidak mengenal pilihan-pilihan yang tersedia baginya. Selanjutnya ia meragukan kemampuan dirinya mengambil pilihan yang ada. Karena itu secara emosional ia terikat pada suatu sumber pengaruh tertentu. Tugas mendidik adalah menolong seorang manusia untuk memiliki pemahaman yang sehat mengenai hidup, gambar diri yang sehat, serta persepsi-persepsi yang akurat tentang lingkungannya sehingga ia mengenali pilihan-pilihan yang ada dan mampu mengambil pilihan yang tepat. Seiring dengan proses tadi, sang manusia juga mendapatkan keterampilan atau skil untuk menjadi produktif atau mengubah serta mengembangkan berbagai hal yang peradaban manusia sudah capai. Akhirnya, manusia juga harus mandiri dan produktif dengan pengawalan
  • 66. 66 spiritualitas yang mendalam, artinya memahami makna keberadaannya dan bagaimana ia berperan memberikan sumbangsih jangka panjang bagi kehidupan.
  • 67. 67 PASAL 5 PEMERAN: PENGAJAR IDAMAN, ENGKAULAH SAHABAT KAMI Fakta Nyata Tawuran antar siswa bukanlah hal yang langka di negeri ini. Pada umumnya penyebab tawuran tadi sangat sepele. Di Jakarta timur, pada tahun 2003, seorang siswa sekolah kejuruan di daerah Pulo Asem, ditikam dari belakang dalam suatu tawuran. Anak seorang pegawai kecil itu yang baru berusia 16 tahun tewas setelah mengalami perdarahan yang berkepanjangan. Peristiwa itu bukan unik, cermatilah apa yang dimuat di tulisan di www.serojasatu.com/news/Tawuran yang di kutip bawah ini Tawuran Pelajar Tetap Marak. Sebanyak 26 Tewas, 56 Luka Berat, dan 109 Luka Ringan Media Indonesia - Jabotabek JAKARTA (Media): Perkelahian antarpelajar di DKI tetap marak dan korban jiwa sudah cukup banyak. Sejak 1999 hingga kini, sedikitnya 26 siswa tewas, 56 luka berat, dan 109 luka ringan akibat terlibat tawuran. quot;Pelaku yang terlibat dalam tawuran pelajar itu sebanyak 1.369 orang. Artinya 0,08% dari 1.685.084 orang jumlah siswa di Jakarta,quot; ujar kata Kepala Bidang Pengumpulan dan Pengolahan Data (Kabid Pullahta) Pusdalgangsos DKI Raya Siahaan di Balai Kota DKI, Rabu (8/3). Raya yang juga dosen Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta itu mengungkapkan, dari jumlah siswa
  • 68. 68 korban perkelahian pelajar di DKI, terbanyak di Jakarta Timur yakni 10 meninggal, 12 luka berat, dan 30 luka ringan. Sedangkan di wilayah Jakarta Selatan, tujuh meninggal, lima luka berat, dan 35 luka ringan. Di Jakarta Pusat, empat meninggal, 28 luka berat, 33 luka ringan. Di Jakarta Barat, empat meninggal, empat luka berat, dan empat luka ringan. Disusul Jakarta Utara, satu meninggal, luka berat dan luka ringan masing-masing tujuh siswa, jelas Raya. Sementara itu, Kepala Kanwil Depdikbud DKI Alwi Nurdin mengutarakan guna mencegah dan menangani perkelahian siswa, pihaknya mengembangkan pola penanganan secara integratif, koordinatif, dan nonaktraktif. Ketika ditanya tentang strategi penanganannya, menurut Nurdin, ada lima cara. Pertama, Kanwil Depdikbud DKI mengeluarkan kebijakan menyangkut peta kerawanan kelas sekolah. Hasilnya diperoleh data sebanyak 137 sekolah dianggap rawan tawuran yakni di Jakarta Pusat 40 sekolah, Jakarta Utara 9 sekolah, Jakarta Barat 11 sekolah, Jakarta Selatan 35 sekolah, dan Jakarta Timur 42 sekolah. Kedua, jelas Nurdin, pihaknya melakukan pengidentifikasian simpul rawan perkelahian. Tercatat 253 titik simpul rawan perkelahian di wilayah DKI dengan rincian di Jakarta Pusat 50 simpul, Jakarta Utara 35, Jakarta Barat 50, Jakarta Selatan 58, dan Jakarta Timur 60 simpul. Di Amerika, suatu negeri yang makmurpun, kekerasan yang dilakukan oleh siswa-siswi bukanlah hal aneh. Beberapa tahun yang lalu, dunia digemparkan oleh sebuah berita yang mengejutkan. Dua orang siswa bernama Eric dan Dylan membunuh 15 orang siswa di Colorado’s Columbine High School. Apa yang dilakukan oleh kedua siswa tersebut membuat para guru, orang tua bertanya-tanya: “mengapa hal itu dapat terjadi”; “bagaimana kehidupan keluarga mereka”; dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain yang sulit diungkapkan pada saat itu. Jelaslah, setiap orang ingin tahu apa yang mendorong Eric dan Dylan nekat melakukan perbuatan keji tersebut.
  • 69. 69 Stephen Yip, seorang pekerja sosial yang berpengalaman menangani anak-anak sekolah yang drop-out di Singapore, mengutip statistik, bahwa jumlah siswa yang drop out tidak mencapai 5 persen dari jumlah anggota masyarakat, namun mereka menghasilkan 95 persen dari kekerasan dan kejahatan yang ada di negara itu. Beberapa gejala di atas hanyalah sebagian kecil dari kekerasan dan kejahatan yang setiap hari terjadi. Dari pengamatan sekilas, semakin lama semakin banyak kejahatan dilakukan oleh orang-orang yang masih berada dalam usia belajar. Apa yang terjadi? Apa suara pada siswa-siswi mengenai proses belajar mereka? Elita Jessamine, siswi sebuah sekolah Kristen di Jakarta mencatat dalam tahun 2001 “Sekolah membosankan, guru-guru harus dikasihani dan ditolerir karena umumnya mereka tidak bahagia dengan hidup mereka.” Gabriel dengan tertawa menyindir sekolahnya “Aku menjadi anak yang terkenal, karena tidak naik kelas.” Selpi, seorang pekerja sosial mencatat “Guru-guru tidak memahami dunia pelajarnya. Mereka hanya butuh kepatuhan dan memaksakan pendapat serta nilai mereka pada murid-muridnya. Kasihan, anak-anak itu kesepian.” Apakah hal-hal itu yang membuat siswa-siswi menjadi tidak bahagia, pengajar tidak berbahagia dan masyakarat ikut trenyuh? Salah satu jawaban ialah bahwa banyak di antara siswa-siswi merasa kesepian karena tidak memiliki sahabat yang lebih dewasa dari mereka.
  • 70. 70 Jawaban lainnya ialah bahwa apapun perilaku yang dilakukan oleh seseorang, entah itu yang mempunyai dampak positif atau negatif, tidaklah terlepas dari kematangan orang tersebut dalam mengelola emosinya. Tidak dapat disangkal lagi, keterampilan mengelola emosi bagi sebagian orang seringkali dipakai sebagai penilaian karakternya. Bisa saja orang menilai Eric dan Dylan adalah anak-anak yang mempunyai watak kasar, emosional, dan sebagainya. Untuk mengetahui apa yang melatar belakangi perbuatan Eric, Dylan, dan yang lainnya tidaklah sulit. Ahli-ahli ilmu jiwa, dalam upaya untuk mengetahui latar belakangnya, menapaktilasi kehidupan keluarga anak tersebut. Memang, hasil dari survey telah membuktikan, bahwa 80% pendidikan yang diterima oleh seorang anak di dalam keluarga ikut membentuk karakter dan masa depan si anak. Bila anak tidak tumbuh dalam keluarga yang bersahabat, maka akibatnya mereka akan melihat dunia sebagai dunia yang tidak ramah dan perlu dilawan. Siswa-siswi yang kemudian terlempar keluar dari sistem pendidikan tercatat di dalam statistik. Apa penyebabnya tentu bukan hanya karena latar belakang keluarga dan suasana sekolah. Namun, untuk konteks Indonesia kedua hal tadi tentu memegang peranan besar, yang sampai saat ini belum diteliti. Dari data di atas terlihat bahwa, angka drop out di perguruan tinggi terus berkurang sejak tahun 1983, sedangkan angka drop out yang menunjukkan kegagalan siswa-siswi SD memasuki SLP terus meningkat. Selanjutnya, angka drop out selama SLP dan SLA cenderung turun naik dengan kecenderung turun bertahap.
  • 71. 71 TABEL PERKEMBANGAN ANGKA BERTAHAN KASAR MENURUT JENIS SEKOLAH TAHUN AJARAN: 1983/1984--1994/1995 Perguruan Tahun Ajaran SLA kls. 3- SD Tk.6 Ke SLTP Kls.3 Ke Tinggi Kls 1 SLP.kls 1 SLA Kls.1 Thn.ke4/Dari Thn.1 1983/1984 62.27 93.24 91.19 18.23 1984/1985 61.62 92.58 94.23 20.69 1985/1986 67.60 90.77 92.61 24.52 1986/1987 66.52 91.87 94.55 28.29 1987/1988 68.81 93.28 94.76 31.10 1988/1989 67.61 92.82 88.87 43.94 1989/1990 65.88 82.69 86.16 44.14 1990/1991 67.22 80.66 92.35 47.01 1991/1992 66.51 85.05 85.55 49.28 1992/1993 67.37 84.30 86.09 52.23 1993/1994 69.15 86.37 86.40 54.36 1994/1995 71.23 90.94 87.89 69.68
  • 72. 72 Catatan / Notes: 1) Hanya murid sekolah di lingkungan Depdikbud 2) Angka Bertahan Kasar dihitung dari - SD Murid tk. VI tahun t dibagi dengan murid tk. I tahun (t-5) - SLTP, SM, dan SMU idem. Apapun alasan yang dikemukakan, peran keluarga tidak bisa diabaikan dalam menghasilkan warga masyarakat yang berkualitas. Keluarga adalah masyarakat pertama yang dikenal oleh seorang manusia. Ketika seorang manusia masih dalam kandungan ibunya, sebenarnya ia sudah dapat merasakan, apakah kehadirannya disambut atau ditolak. Seorang ibu yang merasa bahagia karena dirinya dikaruniai janin, akan memberikan respon-respon emosi yang tentu positip, misalnya: rasa senang/bahagia yang diungkapkan dengan memberi perhatian terhadap gizi makanan, mempersiapkan perlengkapan bayi dengan membeli yang terbaik, dan sebagainya. Emosi-emosi inilah yang juga dirasakan oleh si bayi. Harapan sang ibu kelak “buah hatinya” akan menjadi anak yang pandai dan berhasil dalam hidupnya. Tidaklah demikian bila kenyataan sebaliknya. Bila seseorang hamil dan tidak menghendakinya, tentu respon emosi si ibu negatif, seperti sikap acuh tak acuh terhadap makanan yang dimakan, mudah menjadi stres karena terjadi perubahan pada bentuk fisiknya, dan sebagainya. Hal itupun berdampak pada janin yang bertumbuh di rahimnya. Selanjutnya, dalam lima tahun setelah seseorang dilahirkan, ia belajar dengan sangat aktif. Apa yang didengar, dilihat dan dirasakannya amat mewarnai bahkan, menentukan caranya memandang hidup, orang lain dan dirinya sendiri. Seringkali justru di masyarakat kita, banyak anak- anak pada usia awalnya telah mengalami luka di bathin mereka karena kata-kata, sikap, perlakuan, dan keputusan orang tuanya. Tidak bekelebihan bila diperkirakan bahwa lebih banyak anak-anak yang
  • 73. 73 setelah tiba di masa remaja, sudah banyak menanggung beban kesedihan, kemarahan, ketakutan, atau kesepian dan kebencian pada diri sendiri akibat pola asuh yang keliru. Karena itu, mereka tidak berani menjadi mandiri karena luka-luka membuat mereka terintang mengenali pilihan-pilihan yang tersedia di dalam hidup mereka. Orang yang terluka dalam batinya, cenderung terus menerus untuk mengenal dan memandang dunia sebagai lingkungan yang memusuhi dan mengancam mereka, bukan sebagai tempat dimana mereka menemukan sahabat. Orang yang terluka meragukan nilai-nilai yang luhur. Mereka juga meragukan keberhargaan dirinya. Lingkungan pendidikan di sekolah dapat entah memperparah luka itu, atau sebaliknya dapat mengatasi atau menguranginya. Hal tadi akan tergantung pada bagaimana para pendidik memainkan peran mereka. Bila mereka berperan sebagai sahabat siswa-siswinya, maka terbuka peluang agar luka dan gambar tentang dunia yang diperoleh di keluarga direvisi. Sebagai sahabat, seorang pendidik dapat menolong siswa- siswinya untuk merasa diterima, dihargai, dan dianggap penting. Kemudian sebagai sahabat, pendidik dapat menolong para siswa mengenali pilihan-pilihan yang tersedia dalam keadaan yang paling sulitpun. Akhirnya sebagai sahabat, pendidik dapat menolong mereka mengambil salah satu pilihan sehingga mereka mencapai kemandirian. Apakah Seorang Sahabat itu?
  • 74. 74 “Sahabat” adalah sebuah kata yang tidak asing dalam hidup manusia. Kata ini mempunyai makna yang sangat mendalam. Setiap orang pasti membutuhkannya dan senantiasa berusaha mendapatkan sahabat, bahkan bila orang tersebut telah memilikinya, ia akan senantiasa memeliharanya. Menjadi sahabat bagi orang lain dan mempunyai seorang sahabat adalah sesuatu yang sangat berarti dan berharga dalam hidup seseorang, karena memang Sang pencipta menata manusia untuk hidup bersama dengan orang lain. Bagaimana dengan para pendidik, dapatkah mereka menjadi sahabat bagi siswa-siswinya? Bagi orang Inggris, arti seorang sahabat diungkapkan dalam sebuah pepatah: a friend in need is a friend indeed, artinya sahabat yang sejati ialah sahabat yang selalu siap menolong ketika seseorang memerlukannya. Seorang pendidik dapat mengkomunikasikan penerimaan mereka seadanya terhadap siswa-siswinya. Ia dapat pula mengungkapkan penghargaannya pada keunikan diri mereka, bahkan ia dapat menciptakan suasana saling mempercayai sehingga siswa akan menjadikannya tempat mencurahkan isi hati mereka. Selanjutnya, ia dapat meneladani sikap pantang menyerah. Ia dapat menolong siswa-siswi sebagai sahabat, bahwa untuk berbagai situasi selalu tersedia berbagai pilihan-pilihan dalam kita berespon terhadapnya. Siswa-siswi dapat belajar untuk mengenali pilihan tadi dan memiliki kemampuan mengambil pilihan yang tepat serta menanggung konsekuensinya. Dengan demikian, siswa-siswi dapat mengembangkan gambaran tentang dunia sebagai suatu kesempatan, dan gambaran tentang dirinya sebagai seorang yang dapat menentukan pilihan-pilihan dalam situasi apapun. Dengan kata lain, melalui persahabatan dengan seorang yang lebih dewasa dan yang selalu berada bersama mereka, siswa-siswi belajar untuk menjadi manusia mandiri.
  • 75. 75 Kebutuhan akan adanya sahabat yang lebih dewasa ini merupakan kebutuhan yang tidak terpenuhi di dalam kota-kota besar, sehingga semakin melebar gap antara orang dewasa dan remaja atau anak-anak. Dimasa lalu, seorang guru silat menjadi sahabat dan panutan bagi muridnya. Seorang pengajar menjadi panutan dan orang tua ketiga di luar rumah. Seorang rohaniwan atau ulama menjadi tempat berteduh dalam pencarian jari diri. Kini, orang dewasa dan siswa-siswi sibuk dengan dunia masing-masing dan mengembangkan budaya serta bahasa yang terpisah. Lebih dalam lagi, ketiadaan sahabat yang diperlukan serta justru tidak lagi tersedia berakibat lebih dalam. Mengapa? Seorang penulis, Adnand Krishna, menyebutkan bahwa seseorang disebut sahabat adalah jika orang tersebut dapat mendorong kehidupan spiritual sahabatnya. Kehidupan spiritual bukanlah berarti kehidupan beragama. Kehidupan spiritual berarti kehidupan yang dijalani sambil menggali makna dari berbagai peristiwa yang seseorang alami. Seorang pendidik justru dapat memainkan peran serupa itu. Ia dapat mengajukan pertanyaan, mengusik pola pikir siswa-siswinya, atau menghadirkan masalah- masalah yang saling bertentangan sehingga mereka diajak menggali sendiri secara mandiri untuk menemukan makna dari segala yang terjadi termasuk ambiguitas yang dilihatnya. Langkah menuju persahabatan “Mengerti Lebih Dahulu” adalah suatu langkah yang perlu diambil sebelum persahabatan dimulai. Untuk itu, persahabatan hanya dapat dimulai bila ada waktu yang dilalui bersama, ada saat saling menyimak, dan ada saat saling mengamati. Mengapa hal itu menjadi prasyarat?
  • 76. 76 Kita senang jika orang lain menunjukkan keperdulian pada diri kita. Kita lebih senang bila ada orang yang dapat memahami siapakah diri kita atau apa yang terjadi pada kita. Artinya, kita merasa senang jika ada seseorang yang membuat kita merasa berharga dan dipahami. Siswa- siswi juga lebih membutuhkan hal itu karena usia mereka yang masih muda. Di dalam teori Emotional Quotient, kunci dari kecerdasan emosi bukannya terletak pada bagaimana orang lain memahami diri kita, tetapi pada bagaimana kita memahami orang lain. Memahami orang lain adalah respon yang kita sebagai pendidik berikan kepada orang lain dengan menempatkan paradigma orang lain atau paradigma siswa-siswi pada paradigma orang dewasa. Artinya, ketika seorang pendidik berbicara dengan seorang siswa atau siswi, ia berusaha masuk ke dalam kerangka berpikir siswa atau siswi tersebut, sehingga dapat mengetahui apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh lawan bicaranya. Di dalam kehidupan sehari-hari istilah untuk menggambarkan proses ini disebut dengan proses ber empati . Untuk dapat berempati dengan seseorang tidaklah mudah, karena bagi kebanyakan orang pada umumnya dan di Asia pada khususnya, emosi jarang diungkapkan dengan kata-kata. Untuk itulah memahami emosi diperlukan waktu, pengalaman, dan kepekaan yang akhirnya membawa kita lebih terampil membaca emosi seseorang dibalik kata-katanya. Untuk itu kemampuan untuk mengenali ungkapan melalui gerak gerik, air muka, dan nada suara sangat menentukan dalam pendidik meningkatkan empatinya. Didalam kehidupan sehari-hari, emosi biasanya diungkapkan melalui isyarat, seperti: mata yang melihat ke bawah ketika sedang berbicara,
  • 77. 77 nada suara tinggi/keras, meremas-remas tangan, atau ekspresi wajah yang cemberut. Daniel Goleman menuliskan komunikasi non-verbal mempunyai peranan yang besar (90%). Jadi, ketika seseorang berkomunikasi dengan orang lain komunikasi non-verbal sangatlah penting. Dari hasil penelitian di Amerika dan di negara-negara lain, orang yang mampu membaca secara non-verbal biasanya lebih pandai menyesuaikan diri, lebih populer, dan lebih mudah bergaul. Dalam hal ini empati berhubungan dengan kemampuan orang memahami orang lain secara non-verbal. Selanjutnya, selain sang pendidik memulai berempati, iapun dapat menolong para siswa untuk belajar mengenai dunia emosi. Di sekolah, pendidik adalah orang yang paling tepat mengajarkan kepada siswa- siswinya mengenali emosi-emosinya. Pertama, siswa-siswi belajar mengenali bagaimana pola ia mengekspresikan emosinya. Kemudian mereka dapat belajar bagaimana seharusnya mereka mengelola emosinya ketika sedang merasa jengkel, marah, atau ketika sedang merasa takut. Dalam proses belajar mengajar di kelas dan situasi pada waktu beristirahat, adalah moment yang dapat dipakai pendidik untuk mengamati atau berdialog dengan siswa-siswinya. Kemudian, mereka dapat mendiskusikan keberhasilan-keberhasilan siswa-siswi mengelola emosi mereka dan pengembangan-pengembangan yang dapat dilakukan mereka dalam praktek. Konsekuensi bila keterampilan empati dipraktekkan: o Siswa-siswi dapat diajak bekerjasama, dengan teman sebaya atau dengan pendidiknya.
  • 78. 78 Di antara sesama siswa-siswi, atau antara pendidik dan mereka o timbul saling pengertian dan percaya. o Bagi pendidik-pendidik sendiri, hubungan di antara mereka lebih terbuka, mendukung, dan dapat saling menguatkan. o Pendidik dapat mengekspresikan cerita atau pengajaran dengan lebih leluasa bahkan untuk menolong siswa mempelajari berbagai keterampilan dan mendalami spiritualitas. o Pendidik menjadi orang yang perlu diteladani, sedangkan tanpa disadari ia kemudian mengasah pengelolaan emosinya sendiri untuk menjadi lebih peka. Jadi dengan kata lain, pendidik dapat menjadi sahabat bagi anak-anak, demikian sebaliknya siswa-siswi dapat menjadi sahabat bagi pendidiknya. Wibawa pendidik justru muncul bukan karena ia bersikap seperti sipir penjara dan ditakuti, tapi karena ia dihormati dan dicintai oleh siswa-siswinya sebagai pemandu perjalanan hidup dan sahabat dewasa yang menjadi tempat mereka berteduh di dalam hidup yang kerap kali keras dan tak ramah ini. Peran-peran yang patut diperankan oleh pendidik Dalam kehidupan sehari-hari di sekolah, ada empat peran yang sering diperankan oleh para pendidik, yaitu: 1. Peran Orang tua yang Mengabaikan. Ciri-ciri peran ini: o Melepaskan diri atau mengabaikan perasaan si siswa o Berharap agar emosi-emosi negatip siswa cepat hilang o Mengalihkan perhatian siswa untuk menutupi emosi-emosi anak
  • 79. 79 Akibat-akibatnya: a) Siswa belajar bahwa perasaan-perasaan mereka itu tidak tepat atau tidak benar b) Siswa mengalami kesulitan untuk mengatur emosi- emosinya karena dilatih untuk mengabaikan atau menekan gejolak emosi mereka dan bukan mengelola atau menyalurkannya. 2. Peran Orang tua yang Tidak Menyetujui. Ciri-ciri peran ini: o Mengecam ungkapan emosi siswa o Menekankan agar selalu muncul kepatuhan dan bertingkah laku yang baik dari siswa o Menghardik, menertibkan atau menghukum siswa ketika ia mengungkapkan emosi yang spontan Akibat-akibatnya: Akibat yang terjadi adalah serupa dengan akibat dari peran orang tua yang mengabaikan. 3. Peran Orang tua yang Laissez-Faire o Bebas menerima semua ungkapan dari siswa o Sedikit petunjuk mengenai tingkah laku siswa o Tidak mengajar tentang dinamika emosi kepada siswa Akibatnya: o Siswa tidak belajar mengenal emosinya o Siswa tidak belajar mengelola emosinya
  • 80. 80 o Suasana belajar sulit menimbulkan konsentrasi dan upaya menjalin persahabatan 4. Peran Orang tua yang Dewasa o Menghargai emosi-emosi negatif siswa o Menunjukkan kesabaran dan, bersama siswa menghadapi rasa marah, takut, dan sedih mereka o Emosi negatif pada siswa merupakan arena yang penting untuk dipelajari bersama o Tidak memaksa siswa untuk merubah perasaan o Menghargai dan mendiskusikan cara-cara yang baik ketika siswa menghadapi kemarahan, ketakutan atau kesedihan mereka seraya menunjukkan kegagalan-kegagalan dalam menangani emosi dengan baik. Akibatnya: a) Siswa belajar untuk mengenali cara mereka mengungkapkan perasaannya b) Siswa dapat menerima kegagalan dan keberhasilan ketika mereka mencoba mengungkapkan perasaan-perasaannya c) Siswa belajar mengelola perasaan-perasaannya dan cara mengungkapkannya dengan lebih efektif d) Siswa akan memiliki penerimaan diri sendiri yang tinggi karena mengenali keberhasilan dan kegagalannya e) Siswa memiliki harga diri yang tinggi f) Siswa menjadi lebih bertanggung jawab g) Siswa menjadi lebih efektif dalam bergaul dan mempunyai banyak teman Dengan demikian jelaslah bahwa peran keempat merupakan peran terbaik yang harus dimiliki pendidik kini dalam konteks apapun. Namun, apa rincian prasyarat untuk dapat melakukan hal tadi?
  • 81. 81 Mengembangkan kemandirian siswa melalui peningkatan kecerdasan emosi pendidik Untuk mencapai hasil yang diinginkan yaitu bahwa pendidik dapat berperan sebagai sahabat dan mengakibatkan siswa mampu mengembangkan diri menjadi manusia mandiri, maka diperlukan beberapa langkah. Secara nalar tidak mungkin pendidik yang gagal mandiri dan tidak berminat untuk menjadi sahabat siswa akan mencapai tujuan di atas. Untuk menjadi mandiri dan menjadi sahabat tadi, seorang pendidik membutuhkan berbagai prasyarat, salah satunya ialah kemampuan pengelolaan emosi pribadi yang efektif. Dengan kata lain, pendidik diharapkan memiliki kecerdasan emosi yang tinggi. Bagi seorang pendidik yang ingin mengembangkan kecerdasan emosi, ada lima langkah yang perlu diperhatikan. Lima langkah untuk mengembangkan kecerdasan emosi ialah 1. Pendidik perlu mengenali pola dinamika emosi diri sendiri. Pengenalan pendidik akan perasaannya sendiri sewaktu perasaan itu berkecamuk, merupakan dasar kecerdasan emosi. Seorang pendidik perlu menyadari mengapa ia mudah marah, atau mengapa tiba-tiba merasa takut, dan sebagainya. Satu kata yang perlu diingat ialah kata “waspada”, kata ini dapat mengingatkan agar seseorang tidak dikendalikan oleh emosi. 2. Mengelola dan mengekspresikan emosi.
  • 82. 82 Mengelola emosi bukanlah hal yang mudah, seringkali seseorang membuat kesalahan fatal karena tidak dapat mengendalikan diri. Keterampilan menguasai emosi sering memberi dampak positif bagi diri sendiri atau orang lain. Pendidik sebagai orang yang diteladani oleh siswa-siswinya perlu bijaksana menentukan kapan ia harus mengendalikan emosinya dan kapan ia harus mengekspresikan emosinya. 3. Mengenali emosi orang lain Pendidik juga perlu belajar untuk peka akan emosi siswa yang ia didik, bahkan ikut merasakan apa yang dirasakan siswanya. Itulah yang dimaksud dengan empati. 4. Memotivasi diri Seseorang memiliki motivasi, karena ia sadar betul apa yang menjadi tanggungjawabnya dan apa yang ingin ia capai dalam hidup ini. Pendidik bukan saja diharapkan dapat menyelesaikan target kurikulum, tetapi juga memikirkan perubahan perilaku seperti apa yang diharapkannya terjadi pada anak didiknya. 5. Membina hubungan Seorang pendidik juga perlu pandai membina hubungan dengan orang-orang di sekitarnya, yaitu dengan sesama pendidik, siswa, atau orangtua siswa.
  • 83. 83 Kesimpulan Emosi yang merupakan anugerah Sang Pencipta, telah membentuk sesorang dewasa untuk menjadi orang-orang yang dapat ikut berperan dalam membimbing siswa-siswinya dalam menjalani hidup yang mandiri di dunia ini. Mengelola emosi sama pentingnya dengan mengembangkan intelektual, karena melalui keduanya seorang pendidik dapat menjadi sahabat bagi anak didiknya, teman bagi orang lain, dan bagi keluarganya. Mengelola emosi juga membuat orang merasakan kemandirian karena ia tidak menjadi wayang yang dipengaruhi dan ditentukan oleh tarikan dari lingkungannya saja. Ia tidak juga dipengaruhi oleh persepsinya tentang dunia, atau dipengaruhi oleh orang lain dan berbagai kesulitan hidup yang ia alami.
  • 84. 84 PASAL 6 ALAT BAGI PENDIDIK: PERTANYAAN YANG MENGHASILKAN KEMANDIRIAN Dunia modern memacu para pendidik untuk menghasilkan anak-anak bangsa yang sanggup menempatkan diri di tengah deru perubahan yang cepat, pilihan-pilihan jamak dan hidup yang cepat serta penuh tekanan. Lebih dari itu, para pendidik berkewajiban moril untuk menolong mereka menjadi orang-orang yang hidupnya mampu menggali makna dan memiliki akar pada nilai-nilai yang luhur, gambar diri yang kokoh, dan ambisi-ambisi yang bermanfaat bagi manusia lain selain dirinya sendiri. Ia harus menghasilkan manusia-manusia yang mandiri yang artinya, mampu memilih berdasarkan nilai-nilai, gambar diri yang kokoh dan ambisi yang tepat. Dalam proses ajar mengajar, salah satu keterampilan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan di atas dan memungkinkan proses komunikasi dua arah antara pendidik dengan siswa-siswi adalah cara bertanya yang kreatif. Kreatif adalah karakteristik yang menunjukkan bahwa seseorang memiliki daya cipta yang tinggi, tidak mudah puas dengan hasil yang dicapai, menekankan
  • 85. 85 baik proses dan hasil usaha, serta memiliki keberanian untuk tampil beda atau menempuh terobosan yang tidak biasa. Tujuan Pertanyaan Proses berkomunikasi, khususnya pengajuan pertanyaan-pertanyaan yang tepat dan kreatif seharusnya menghasilkan beberapa hal: 1. gambar diri si siswa menjadi lebih kokoh, lebih utuh, dan lebih kuat karena siswa merasa bahwa pengajarnya menghargai dirinya dengan pertanyaan yang disajikan 2. siswa terdorong “bertanya dan menggali” lebih jauh topik yang disajikan atau dipertanyakan, yaitu siswa menjadi semakin ingin tahu dan berpikir kritis 3. pengajar tidak merampas kemungkinan dan kegairahan siswa untuk menemukan sendiri jawaban dari permasalahan yang mereka hadapi, termasuk kemungkinan siswa mengalami kegagalan memecahkan masalah, sehingga memperkaya perbendaharaan pengalaman mereka. Tegasnya, pengajar memungkinkan siswa menjadi semakin kreatif. 4. siswa memahami adanya kecerdasan jamak/multiple intelligence dan dalam jenis kecerdasan mana mereka lebih kuat atau lebih lemah (semakin kenal diri) 5. pengajar dapat mengetahui kedalaman proses nalar dan afeksi si siswa. Untuk mencapai tujuan-tujuan di atas, maka pengajar perlu mengenali jenis-jenis pertanyaan yang dapat diajukan serta kecenderungan pribadinya untuk menggunakan dengan sering beberapa jenis pertanyaan yang ada.
  • 86. 86 Klasifikasi Pertanyaan Menurut Robert Sun dan Arthur Carin klasifikasi jenis-jenis pertanyaan dapat dilakukan menurut berbagai cara: 1. berdasarkan tingkat konvergensi atau divergensinya 2. berdasarkan tingkat kedalaman nalar atau afeksinya 3. berdasarkan tingkat kedalaman proses berpikir kritis 1. Berdasarkan Tingkat Konvergensi atau Divergensi Pertanyaan yang konvergen atau divergen dibedakan berdasarkan besarnya kemungkinan jawaban yang disodorkan kepada siswa ketika pertanyaan tadi diajukan. Ada pertanyaan yang hanya memungkinan jawaban tunggal, ada yang memungkinan dua jawab, bahkan ada yang mungkin dijawab dari beberapa sudut pandang. Jenis yang terakhir disebut sebagai pertanyaan divergen. Pertanyaan divergen akan memacu siswa untuk mengenali adanya beberapa kemungkinan jawaban, menelusuri berbagai kemungkinan tadi, bertanggung jawab untuk menentukan satu atau dua kemungkinan sebagai pilihannya, serta akhirnya menyampaikan pendapatnya dengan jernih. Tepatnya, pertanyaan-pertanyaan yang divergen membuat siswa memiliki berbagai kemungkinan berespon serta pendekatan yang kritis dan kreatif. Siswa terbiasa untuk memilih dan bertanggung jawab atas pilihan mereka baik pada saat prosesnya maupun pada saat hasilnya disampaikan. Bahaya penggunaan pertanyaan jenis divergen adalah kelas kehilangan benang merah atau alur topik, hubungan satu topik dengan topik lain, atau malah keseluruhan alur pelajaran tidak selesai ditangani pada jam yang tersedia.
  • 87. 87 Pertanyaan konvergen memaksa siswa menentukan pilihan, terkadang digunakan untuk memaksa mereka mengklarifikasi pendapat mereka di antara pilihan-pilihan yang sama benarnya. Bahaya dari pertanyaan konvergen adalah membuat siswa terdorong untuk menerka jawaban yang paling dikehendaki oleh pengajarnya. Pengajar yang baik akan mampu mengkombinasikan pertanyaan divergen dan konvergen untuk situasi yang pas sesuai dengan materi pelajaran dan waktu yang tersedia. Latihan bagi pendidik Kita dapat mengajak siswa-siswi menentukan tingkat konvergensi dan divergensi pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan memberi rating dari angka 1 (sangat konvergen) sampai angka 5 (sangat divergen): o Menurut kalian, apa yang akan saya lakukan dengan benda ini (memperlihatkan sepotong karton atau paper clip)? o Apakah ada sesuatu yang dapat dilakukan lebih lanjut untuk meningkatkan desain ini? o Apakah ragi merupakan unsur terpenting dalam membuat roti? o Binatang apa yang kamu sukai kalau kamu harus menjadi dirinya? o Dari foto ini, apa yang dapat kamu simpulkan mengenai polusi di Jakarta Barat? o Apakah kamu rasa bahwa kamu telah memiliki informasi yang cukup untuk menarik kesimpulan yang benar? o Apakah kelembaban merupakan penyebab utama dari basinya sepiring nasi?
  • 88. 88 2. Klasifikasi Berdasarkan Tingkat Nalar dan Afeksi Pada tahun 1948 dihasilkan apa yang kini kita kenal dengan nama Taxonomi dari Bloom untuk menentukan tujuan-tujuan pendidikan pada lingkup kognisi/nalar dan lingkup afeksi. LINGKUP NALAR LINGKUP AFEKSI/ RASA = Evaluasi = = Memberikan Menyimpulkan/Generalis penilaian asi = Sintesa = Menyatukan = Menilai lebih mendalam Analisis = Breakdown = Mengorganisir/Menata Aplikasi= Menerapkan pada situasi Menilai Pengertian= konkrit Memadukan Merespon data terpadu, Pengetahuan= recall Menyerap informasi yang dikaitkan Contoh dari pertanyaan-pertanyaan yang dapat diklasifikasikan berdasarkan taxonomi Bloom di atas adalah:
  • 89. 89  Berapa banyak negeri penghasil minyak ? (pengetahuan)  Perkiraan-perkiraan apa yang kau dapat tarik dari masalah ini? (sintesa)  Mengenal peran panas sebagai enerji, bagaimana kamu menggunakannya untuk melepaskan tutup botol yang tidak mudah dibuka dari botolnya? (aplikasi)  Jelaskan bagaimana operasi sebuah air condition ? (pemahaman)  Apa pandanganmu tentang Megawati? (Menilai) Perlu diingat bahwa Bloom membuat hierarki dari tingkat kedalaman pertanyaan baik nalar maupun lingkup rasa. Semakin tinggi tingkatnya, semakin siswa dipaksa bekerja keras untuk mencari jawab, berkreasi secara mandiri serta berpikir kritis. 3. Berdasarkan Proses Berpikir Kritis Berdasarkan proses berpikir kritis, maka terdapat berbagai jenis pertanyaan sebagai berikut: Pengamatan : Apa yang dapat kau amati mengenai ayam itu? Membuat : Apa yang terjadi bila jumlah hipotesa penduduk Jakarta meningkat 100 persen dalam 3 tahun kedepan? Merancang : Bagaimana kalian menentukan penyelidikan dampak polusi air ikan brenyit? Membuat : Bagaimana membuat grafik hubungan
  • 90. 90 skema/ antara tinggi orang dengan ukuran grafik lebar pinggangnya? Inferensi : Apakah kesimpulanmu dari kedua data tadi? Mengevaluasi : Bila kamu adalah seorang dokter bedah dan hanya memiliki sebuah jantung untuk dicangkokkan, sedangkan kamu memiliki 10 pasien yang menanti cangkok jantung tersebut, bagaimana kamu menentukan siapa yang akan menerima cangkok tadi? Analisis : Apakah penyebab Perang Dunia ke dua? Cara Menyampaikan Pertanyaan Dalam menghadapi siswa-siswinya, seringkali para pengajar menemukan situasi yang aneh. Siswa-siswi mengungkapkan bahwa mereka memahami apa yang diajarkan, namun ketika pertanyaan diajukan, merekapun tidak menjawab. Apa yang jadi masalah di sini? Umumnya, seringkali mereka merasa segan, takut, atau tak terbiasa bersikap dan berekspresi jujur dan terbuka kepada pengajarnya. Merekapun takut untuk mengajukan pertanyaan. Alasan mereka pada umumnya adalah: o takut membayangkan reaksi negatif yang mungkin timbul dari pengajarnya
  • 91. 91 o takut dinilai negatif oleh rekan-rekan sekelasnya o tidak tahu dan tidak biasa mengajukan pertanyaan yang tepat o tidak mendapatkan cukup kesempatan Dengan kata lain, ada budaya yang muncul di kelas tanpa kita sengaja, yaitu, budaya takut, segan, atau ragu untuk mengungkapkan diri sehubungan dengan pelajaran. Bagaimana Kemungkinan Mengatasinya? Pertama , bangunlah budaya bertanya dan berekspresi (buat daftar siapa penanya terbaik, siapa penanya terbanyak, dan sebagainya). Kedua , ciptakan sistem yang menghargai dan memberikan imbalan bagi pertanyaan-pertanyaan Ketiga , berikan teladan/kepemimpinan untuk menanyakan pada siswa hal-hal yang memang sang pengajar tidak ketahui. PENELADANAN Sistem dan Prosedur bertanya Budaya Bertanya
  • 92. 92 Selanjutnya, mengenai pertanyaan, perlu dilakukan beberapa hal seperti : 1. Beri perhatian khusus mengenai waktu jeda atau menanti jawaban, pengajar tidak perlu takut menanti agak lama 2. Gunakan air muka, mata, tangan, sikap badan untuk mengundang jawaban 3. Anggukan kepala akan berguna untuk mengundang jawaban lebih lanjut 4. Bila jawaban terhadap pertanyaan ternyata salah, jangan cepat mengoreksi, tapi ulangi jawaban tadi atau paraphrasing dan tawarkan pada siswa lain ikut menilai 5. Bila siswa menjawab seakan hanya pada Anda, katakanlah “coba ulangi jawaban tadi agar sekelas bisa mendengar” 6. Jangan menyebut nama salah satu siswa untuk menjawab, berikan pertanyaan pada seluruh kelas terlebih dulu 7. Layangkan pandang ke seluruh kelas sambil tersenyum. 8. Gunakan pertanyaan yang membuat siswa mengungkapkan pengalaman, perasaan pribadi, kegembiraan, keraguan, dan hal-hal yang terkait dengan gambar diri mereka, bila perlu berilah teladan lebih dulu. Telitilah mengapa tiap-tiap langkah di atas perlu dilakukan, jelaskan atau perkirakan alasannya. Kemudian, latihlah diri dengan menyusun lima pertanyaan untuk tiap jenis pertanyaan menurut Bloom. Kemudian, bandingkan pertanyaan yang dihasilkan dengan hasil karya orang lain. Bila pengajar membiasakan diri memberikan pertanyaan yang beragam pada siswa, maka dapat diharapkan bahwa siswa akan terpacu untuk berpikir kreatif dan menjadi mandiri. Pada akhirnya proses belajar
  • 93. 93 adalah proses yang menyenangkan, baik pengajar maupun siswa sama- sama diajak berpikir keras untuk memperoleh ilmu seluas-luasnya. Penutup Mengajar seringkali harus dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan yang tepat sebelum memberikan berbagai jawaban. Mungkin para siswa tidak tertarik pada uraian-uraian, namun bila mereka berhadapan dengan tantangan pertanyaan-pertanyaan, maka mereka akan lebih siap dan aktif mendengarkan jawaban-jawaban. Mereka juga akan belajar mandiri untuk memilih jawaban terhadap berbagai pertanyaan yang mereka hadapi. Selanjutnya mereka juga akan belajar untuk mengenali proses-proses ketika dirinya mendalami penguasaan berbagai keterampilan agar ia dapat produktif di dalam hidup. Akhirnya, mereka yang terbiasa mengajukan pertanyaan akan tiba pada pertanyaan-pertanyaan spiritual yang mengusik mereka untuk menelusuri makna keberadaan dan karya mereka di dalam hidup ini. Untuk menghasilkan manusia-manusia serupa itu sangat dibutuhkan kehadiran sinergis dari berbagai faktor, antara lain, faktor adanya pengajar yang terlebih dulu berani bersikap mandiri dan mempertanyaan makna karya serta keberadaannya sebelum mengajarkannya pada siswa. Semoga, hal itu dapat tercapai.
  • 94. 94 Kepustakaan BiOGRaFi Robby Chandra lahir di tahun 1953. Sejak lulus SMA di Jakarta, ia terus menerus tertarik tentang manusia, baik sebagai individu, kelompok dan sebagai bagian dari organisasi dan masyarakat. Selama mendalami dunia konseling muda-mudi pada akhir tahun 1975-1977 di STT, Jakarta, ia sempat mengajar sebagai guru SD, di SD Lemuel jalan Petamburan, Jakarta. Menurutnya, SD Lemuel adalah sekolah yang memiliki suasana kekeluargaan dan proses belajar yang paling utuh pada waktu itu. Kemudian, di tahun 1979 ia juga sempat mengajar sebagai guru di SMA Negeri di kompleks BDN, Pesing.
  • 95. 95 Di tahun 1980-1991, ia menjadi pengajar luar biasa di Fakultas Sastra dan Antropologi, UI. Selepas masa itu, ia mendapatkan beasiswa Wheaton Graduate School, Illinois, USA di bidang Komunikasi. Selama belajar ini ia mengunjungi berbagai sekolah di Illinois, selain menyerap berbagai proses belajar di kampusnya. Pengembaraannya di USA berlangsung sampai tahun 1989, ketika ia menyelesaikan studi Strata tiga. Selama itu ia mendalami berbagai bidang ilmu, antara lain, manajemen, komunikasi lintas budaya, dan pendidikan rekonsiliasi serta sejarah Barat di abad pertengahan, teologi, khususnya etika, dan memasak. Sekembalinya, minat akademisnya disalurkan di Sekolah Tinggi Manajemen Prasetiya Mulya yang memperkenalkannya pada dunia konsultasi dan pendidikan Strata Dua. Tulisan ini merupakan buku ke 15nya, suatu hasil refleksi yang datang dari hati seorang ayah, yang tidak khusus mendalami bidang pendidikan. Harapannya adalah pemikiran ini menghasilkan diskusi yang menjadi pengembangannya dan berguna bagi para pendidik. Kini Chandra terutama menggunakan waktunya dalam bidang pengembangan manusia, pelatihan, dan konsultasi-konsultasi, bila ia tidak melakukan tugas utamanya yaitu, menjelajahi alam bebas, melaut, main musik, menulis, dan berdebat dengan ketiga anak serta satu istrinya. Buku-bukunya, antara lain: Konflik dalam hidup Sehari-hari 1990 Teologi dan Komunikasi 1992 Etika dalam dunia bisnis 1995 Kerangka Kepemimpinan 1996 Pemimpin yang komunikatif 1997 Pemimpin dan team work 1998 Menatap Benturan Budaya 1999
  • 96. 96 Transformasi: dari Kepompong menuju langit biru 2000 Landasan Pacu Kepemimpinan 2005 Bahan Bakar Kepemimpinan 2005 Kepemimpinan dan Perubahan 2005 Kepemimpinan dan Mentoring 2006 Menuju Manusia Mandiri 2006