0
Sumber & Dalil Dalam Islam (Menggambarkan kedudukan sumber & dalil dalam Agidah ataupun Syariah) Sumber & Dalil  Pemikiran...
Struktur Syara’ (Didasarkan pada sumber dan maknanya) Nas Syara’ Tsubut (Riwayah) Dalalah (Makna) Qath’iyah Dzaniyah Qath’...
Al Quran Dari QS. 3;7, Ada 2 Klasifikasi : Muhkamat & Mutasyabihat وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُواْ أَيْدِيَهُمَا ...
As Sunnah Dari QS. 53;3, 59;50 … Posisi As Sunnah thd Al Quran : <ul><li>Tafsil Al Majmul  (Mendeskripsikan Keglobalan Alq...
…  Ragam As Sunnah : <ul><li>Aspek Kulitas </li></ul><ul><li>Hadis Shahih,  Mata Rantai (Isnad) bersambung melalui orang2 ...
Status Hadis yang diriwayatkan secara kontekstual : Status Hadis yang diriwayatkan firqah Islam : Mengikuti Rasul dalam Ur...
Ijma’ Sahabat <ul><li>Kesepakatan terhadap hukum atau peristiwa bahwa hukum/peristiwa tersebut adalah hukum syara. Dan dal...
Dalil Spekulatif Disamping Al Quran, Sannah, ijma & Qiyas, Ada sebagian Mujtahit yang menganggapnya sebagi sumber hukum sy...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Sumber Dalil Dalam Islam

36,221

Published on

4 Comments
15 Likes
Statistics
Notes
  • good point...sangat bermanfaat
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • materinya bagus nih...
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • like this...
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • daLil tentang ilmu dan amal apa yagh?> please jawab
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
No Downloads
Views
Total Views
36,221
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
4
Actions
Shares
0
Downloads
1,125
Comments
4
Likes
15
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Sumber Dalil Dalam Islam"

  1. 1. Sumber & Dalil Dalam Islam (Menggambarkan kedudukan sumber & dalil dalam Agidah ataupun Syariah) Sumber & Dalil Pemikiran Islam Dalil Aqli <ul><li>Al Quran </li></ul><ul><li>As Sunnah </li></ul><ul><li>Ijma Sahabat </li></ul><ul><li>Qiyas & Istidlal </li></ul>Sahih Tidak Sahih Dalil Aqli <ul><li>Syariat Ummat Sebelumnya </li></ul><ul><li>Mazhab Sahabat </li></ul><ul><li>Istihsan </li></ul><ul><li>Mashalih Mursalah, dll </li></ul>
  2. 2. Struktur Syara’ (Didasarkan pada sumber dan maknanya) Nas Syara’ Tsubut (Riwayah) Dalalah (Makna) Qath’iyah Dzaniyah Qath’iyah Dzaniyah <ul><li>Al Quran </li></ul><ul><li>Hadis Mutawatir </li></ul>Hadis Ahad <ul><li>Kuantitas Perawi : </li></ul><ul><li>Masyhur (Tiga Orang) </li></ul><ul><li>Aziz (Dua Orang) </li></ul><ul><li>Gharib (Satu Orang) </li></ul><ul><li>Kualitas Perawi : </li></ul><ul><li>Shahih </li></ul><ul><li>Hasan </li></ul><ul><li>Dhaif </li></ul><ul><li>Al Quran (Muhkamat) </li></ul><ul><li>Hadis Mutawatis (1 Makna) </li></ul><ul><li>Hadis Ahad (1 Makna) </li></ul><ul><li>Al Quran (Mutasyabihat) </li></ul><ul><li>Hadis Mutawatis (2 Makna) </li></ul><ul><li>Hadis Ahad (2 Makna) </li></ul>
  3. 3. Al Quran Dari QS. 3;7, Ada 2 Klasifikasi : Muhkamat & Mutasyabihat وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُواْ أَيْدِيَهُمَا جَزَاء بِمَا كَسَبَا نَكَالاً مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri potonglah tangan keduanya (QS 5;38) Muhkamat (Maknanya jelas dan nyata tidak ada makna spekulasi dan kemungkinan) Mutasyabihat (Memiliki makna lebih dari satu) أَوْ يَعْفُوَ الَّذِي بِيَدِهِ عُقْدَةُ النِّكَاحِ atau dimaafkan oleh orang yang memegang ikatan nikah (QS 2;237) أ َوْ لاَمَسْتُمُ النِّسَاء atau kamu telah menyentuh perempuan, (QS 4;43)
  4. 4. As Sunnah Dari QS. 53;3, 59;50 … Posisi As Sunnah thd Al Quran : <ul><li>Tafsil Al Majmul (Mendeskripsikan Keglobalan Alquran) ex : merincikan shalat </li></ul><ul><li>Takhsis Al Am (Menspesifikasikan keumuman Al Quran) ex : Menspesifikan masa iddah bagi wanita yang hamil dan yang tidak. </li></ul><ul><li>Taqyid Al Mutlaq (Mengikat/membatasi kemutlakan Al Quran) ex : Yang dipotong tangan adalah yang mencuri diatas ¼ dinar (HR Tirmidzi) </li></ul><ul><li>Ilhaq Far(in) min Furu Al Ahkam bi Ashlih (mengikutkan salah satu derivat hukum dengan pokoknya) ex : Larangan menikahi 2 perempuan bersaudara (QS. 4;23) rinciannya terdapat dalam HR Abu Daud dari Abu hurairah </li></ul>Ragam As Sunnah : <ul><li>Aspek Kuantitas </li></ul><ul><li>Hadis Mutawatir, perawi jumlah min 5 org, Mustahil Berdusta, Diriwayatkan oleh 3 level (Sahabat, tabiin dan murid2 tabiin) yang mustahil berdusta, Sandaran pengindraan bukan aqal ex : saya mendengar. </li></ul><ul><li>Hadis Ahad, perawi kurang dari 5 org </li></ul><ul><ul><li>Masyhur (3-4 orang) </li></ul></ul><ul><ul><li>Aziz (2 orang) </li></ul></ul><ul><ul><li>Gharib (1 orang) </li></ul></ul>
  5. 5. … Ragam As Sunnah : <ul><li>Aspek Kulitas </li></ul><ul><li>Hadis Shahih, Mata Rantai (Isnad) bersambung melalui orang2 yang adil dan kuat hafalan (dhabit) & tidak ada perbedaan riwayat antara orang yang terpercaya dengan orang yang lebih terpercaya. Menolak hadis ini berati Fasik </li></ul><ul><li>Hadis Ahad, Diriwayatkan oleh perawi yang populer dengan matarantai Isnad yang tidak dituduh berdusta & tidak ada perbedaan riwayat antara orang yang terpercaya dengan orang yang lebih terpercaya. </li></ul><ul><li>Hadis Dhaif, Hadis yang tidak ada sifat hadis Shahih dan Hasan. Hadis ini mutlaq tidak bisa digunakan untuk Hujjah </li></ul><ul><ul><li>Hadis Mu’allaq, salah satu perawi atau lebih gugur secara berurutan dari sanad pertama </li></ul></ul><ul><ul><li>Hadis Mu’dhall, dua perawi atau lebih gugur secara berurutan dari sanad pertengahan </li></ul></ul><ul><ul><li>Hadis Munqathi, satu perawi atau lebih gugur secara tidak berurutan dari sanad pertama atau yang lainnya </li></ul></ul><ul><ul><li>Hadis Syadzdz, Hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang terpercaya tapi bertentangan dengan apa yang diriwayatkan oleh banyak orang. </li></ul></ul><ul><ul><li>Hadis Mu’allal, Hadis yag didalamnya ada cacat yang menyebabkan kesahihannya ternodai. Padahal secara eksplisit hadis tersebut selamat dari cacat tadi. </li></ul></ul><ul><ul><li>Hadis Munkar, Hadis yang hanya diriwayatkan oleh orang yang tidak terpercaya. </li></ul></ul><ul><ul><li>Hadis Mursal, Hadis yang diriwayatkan dengan melangkahi sahabat (Mursal sahabi). ada juga mursal Tabiin. “Hadis Mursal Sahabi tetap merupakan hadis sahih dan dapat digunakan, tapi tidak untuk hadis mursal tabiin” </li></ul></ul><ul><ul><li>Hadis Mawdhu’, Hadis Palsu/buatan. </li></ul></ul><ul><li>Aspek Sanad Paling Akhir </li></ul><ul><li>Hadis Marfu’, Hadis yang secara spesifik disandarkan kepada Rasul baik ucapan, perbuatan, pengakuan atau sifat, ex : kami pernah melakukan azl ketika alquran masih turun. </li></ul><ul><li>Hadis Mawkuf, Hadis yang diriwayatkan melalui sahabat baik kata2 ataupun perbuatan. </li></ul><ul><li>Hadis Maqthu’, Hadis yang brehenti sampai tabiin baik kata2 ataupun perbuatan. Tidak bisa menjadi hujjah </li></ul>
  6. 6. Status Hadis yang diriwayatkan secara kontekstual : Status Hadis yang diriwayatkan firqah Islam : Mengikuti Rasul dalam Urusan yang berasal darinya : Hadis yang diriwayatkan secara kontekstual (makna) bukan tekstual (lafdi) tetap sah, dengan catatan perawinya menguasai apa yang dikandung oleh maknanya. Adaaya fitnah kubra (pembunuhan ustman …) bermunculan hadis2 yang bermuatan politis & bertendensi kepentingan, sehingga diperlukan sikap kehati-hatian terhadap hal ini, setidaknya pada hadis ayng diriwayatkan oleh : Ahli Bid’ah, Suka Berbohong atau mengkafirkan orang lain serta mengajak kepada fikrah/mazhabnya. <ul><li>Perbuatan Rasulullah diklasifikasikan menjadi : </li></ul><ul><li>Perbuatan Jibiliyah, Perbuatan yang dilakukan oleh rasulullah dalam kapsitasnya sebagai manusia, seperti ; berdiri, duduk, makan, minum dll. Perbuatan ini hukumnya mubah. </li></ul><ul><li>Perbuatan Khawwash Ar Rasul, Perbuatan yang dilakukan oleh rasulullah sebagai kekhususan beliau.ex : puasa wishal, beristri lebih dari 4. </li></ul><ul><li>Perbuatan Rasul sebagai Bayan (penjelas). Statusnya sebagi dalil (baik wajib, sunah atau mubah). </li></ul><ul><li>Perbuatan Rasul selain ketiga di atas. Ex : Rasul melakukan qunut shalat subuh. Maka hukumnya tidak wajib mengikuti tetapi sunnah saja. </li></ul>
  7. 7. Ijma’ Sahabat <ul><li>Kesepakatan terhadap hukum atau peristiwa bahwa hukum/peristiwa tersebut adalah hukum syara. Dan dalam hal ini ijma’’ sahabat adalah sumber hukum, karena generasi sahabatlah generasi terbaik yang tidak mungkin bersepakat dalam kemaksiatan kepada allah (QS. 9;100) </li></ul><ul><li>Kasifikasi Ijma’ Sahabat : </li></ul><ul><li>Ijma’ Qawli : Ijma Sahabat secara Lisan </li></ul><ul><li>Ijma’ Sukuti : Diamnya sahabat ketika salah seorang dari mereka mengambil hukum tertentu. </li></ul><ul><li>Syarat : - Aktivitas tersebut tidak dinafikan sahabat yang lain </li></ul><ul><li>- Aktivitas tersebut populer dikalangan sahabat bukan urusan pribadi </li></ul><ul><li>- Aktivitas tersebut bukan otoritas Khalifah. </li></ul>Qiyas <ul><li>Menyamakan hukum syara satu katus dengan kasus yang lain krena ada kesamaan ‘ Illat Syari’ Bukan ‘Illat Aqli. </li></ul><ul><li>Rukun Qiyas </li></ul><ul><li>Al Ashl (Kasus sumber) </li></ul><ul><li>Al Far’u (Kasus yang dianalogikan) </li></ul><ul><li>Hukum Syara’ pada Al Ashl </li></ul><ul><li>‘ Illat yang mengikat Al Ashl dan Al Far’u </li></ul>Ragam ‘Illat ‘ Illah Sharahah , ‘Illat yang secara langsung bisa difahami melalui Lafadz. (ex : Min Ajli , Li Ajli dll) ‘ Illat Dalalah , ‘Illat yang bisa difahami melalui Indikasi2. Indikasi2 ini setidaknya ada 4 model …. ‘ Illat Istinbat , ‘Illat yang didapat melalui proses Istinbat setelah melalui komparasi. (ex QS 62;9-10) ‘ Illat Qiyas , “llat yang dinyatakan dalam nash dalam bentuk yanag mufhim. Ex hakim yang marah tidak boleh … Syarat ‘Illat Qiyas : Muqayas-nya Isim Musytaqq, bersifat Mufhim & menginikasikan ‘Illiyyah (sebab Akibat)
  8. 8. Dalil Spekulatif Disamping Al Quran, Sannah, ijma & Qiyas, Ada sebagian Mujtahit yang menganggapnya sebagi sumber hukum syara’, padahal sejatinya bukan Dalil karena hanya 4 dalil di ataslah yang disandarkkan pada dalil Qathi. Untuk yang didalamyan terdapat subhah Ad Dalil tetap dianggap kesimpulan syang syari’ Maka hasilnya dianggap hukum syara’ bagi yang menerimanya dan bukan bagi yang menolaknya. <ul><li>Istihsan (Menganggap sesuatu sebagi perkara yang baik) </li></ul><ul><li>Mashalih Mursalah (kemaslahatan yang diterima dan diakui oleh syara’), kemaslahatan dalam arti menjaga agama, jiwa, akal, harta, kehormatanketurunan, keamanan dan negara. </li></ul><ul><li>Syariat Ummat Terdahulu </li></ul><ul><li>Mazhab Sahabat </li></ul>
  1. A particular slide catching your eye?

    Clipping is a handy way to collect important slides you want to go back to later.

×