Tentang sumber filsafat

4,886 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
4,886
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
54
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Tentang sumber filsafat

  1. 1. Tentang Sumber-Sumber Pengetahuan: Antara Baratdan IslamDi 1 dalam November 17, 2008 pada 6:46 amPerjumpaan antar peradaban merupakan sesuatu yang niscaya dalam era globalisasi. Setiapperadaban membawa cara pandangnya masing-masing. Cara pandang yang kemudiandipengaruhi—dan berpengaruh kepada—banyak hal, diantaranya sikap ilmiah. Peradaban Islammisalnya, yang cara pandang dan pola hidupnya dipengaruhi oleh wahyu.Dalam konteks ilmiah, Islam yang disokong oleh wahyu tentu akan memiliki sikap yang berbedadengan peradaban Barat yang memandang wahyu sebagai sesuatu yang tidak saintifik. Dalamtataran epistemologis, perbedaan cara pandang ini jelas terlihat ketika dihadapkan pada persoalansumber-sumber pengetahuan. Makalah sederhana ini mencoba membandingkan pandangan Baratdan Islami menyangkut sumber-sumber pengetahuan manusia.Pandangan-Pandangan Barat Tentang Sumber IlmiahDalam sejarah filsafat Barat, sekurang-kurangnya terdapat empat kecenderungan besar dalammenyikapi proses ilmiah; yakni tentang sumber ilmu pengetahuan. Keempat aliran itu adalah:rasionalisme, empirisisme, kritisisme, dan intuisionisme. Kemunculan aliran rasionalismebiasanya dikaitkan filosof abad ke-17 dan 18, seperti Rene Descartes, Baruch Spinoza, danGottfried Leibniz, walaupun sebenarnya akar dari pemikiran ini dapat dilacak sampai filsafatYunani. Paham ini berpendapat bahwa pada hakikatnya ilmu itu bersumber dari akal budimanusia. Dalam penjelasannya, Descartes mengatakan bahwa dalam jiwa manusia terdapat idebawaan (innate ideas) yang dinamakan substansi yang sudah tertanam. Lebih lanjut Descartesmenyebut tiga hal yang disebut sebagai ide bawaan; pemikiran, Tuhan, dan keluasan (ekstensi).Adapun ilmu-ilmu lain yang dicapai manusia pada hakikatnya adalah derivasi dari ketiga prinsipdasar tersebut. Menurut aliran ini sumber ilmu adalah akal melalui deduksi ketat serayamengabaikan pengalaman. Hal ini, menurut mereka, karena ilmu adalah sesuatu yang sudah„built in‟ dalam jiwa manusia dan tugas kita adalah mencapainya melalui deduksi. Karenanya,ilmu yang dihasilkan oleh aliran ini—biasanya dianggap—bersifat universal.Mazhab kedua adalah empirisisme yang menekankan pentingnya pengalaman sebagai saranapencapaian pengetahuan. Aliran ini dipelopori oleh Francis Bacon, sekalipun dalam pengertiantertentu pemikiran yang mengutamakan pendekatan empirik dapat terlacak pula dalam filsafatYunani. Puncak pemikiran aliran ini terdapat pada pemikiran David Hume yang dalam karyanyaA Treatise of Human Nature mengupas persoalan-persoalan epistemologis penting. Berbandingterbalik dengan rasionalisme, mazhab ini, seperti yang dijelaskan oleh Hume, mengatakan bahwaseluruh isi pemikiran manusia berasal dari pengalaman, yang kemudian diistilahkan denganpersepsi. Persepsi, kemudian, dibagi menjadi dua macam, yaitu kesan-kesan (impressions) dangagasan (ideas). Yang pertama adalah persepsi yang masuk melalui akal budi, secara langsung,sifatnya kuat dan hidup. Yang kemudian adalah persepsi yang berisi gambaran kabur tentangkesan-kesan. Derivasi ilmiah yang diakui oleh aliran ini adalah induksi terhadap fakta-faktaempiris. Tapi hal ini tidak berarti mereka mengklaim univesalitas induksi. Alih-alih, merekajustru menekankan keterbatasan induksi yang hal ini berarti mereka menolak generalisasi.Aliran ketiga adalah kritisisme yang merupakan usaha untuk menyintesiskan dua kutub ekstrim
  2. 2. sebelumnya; rasionalisme dan empirisisme. Tokoh utama aliran ini adalah Immanuel Kant.Pemikiran yang disampaikan oleh Kant berusaha untuk mengakhiri perdebatan yang terjaditentang objektivitas pengetahuan antara rasionalisme Jerman, yang diwakili Leibniz dan Wolff,dan Empirisisme Inggris. Dalam usahanya, Kant berusaha menunjukkan unsur mana saja dalampikiran manusia yang berasal dari pengalaman dan unsur mana yang berasal dari akal. Berbedadengan aliran filsafat sebelumnya yang memusatkan perhatian pada objek penelitian, Kantmengawali filsafatnya dengan memikirkan manusia sebagai subjek yang berpikir. Dengandemikian fokus perhatian Kant adalah pada penyelidikan rasio manusia dan batas-batasnya.Kecenderungan berbeda pada mazhab keempat, yakni intuisionisme. Aliran ini dimulai olehHenry Bergson. Jika ketiga aliran sebelumnya menekankan pentingnya akal dalam mencapaipengetahuan, aliran ini justru mementingkan intuisi. Penekanan terhadap intuisi ini tidak berartibahwa mereka menafikan sama sekali peran akal dan indera. Mazhab ini menyatakan bahwapengetahuan yang diperoleh melalui penghayatan langsung lebih superior dan sempurna. Secaraepistemologis, pengetahuan melalui intuisi ini diperoleh melaui pe‟rasa‟an langsung (dzawq)mengenai hakikat sebuah objek, bukan aspek lahiriah dari objek itu. Henry Bergson membagipengetahuan menjadi dua macam; „pengetahuan mengenai (knowledge about)‟ dan pengetahuantentang (knowledge of). Yang pertama bersifat diskursif-simbolis, sementara yang kedua bersifatlangsung.Perspektif IslamBahwa ada persamaan penting antara Barat dan Islam tidaklah dapat disangkal. Hal ini misalnyadalam hal sumber dan metode pengetahuan; yang meliputi cara mengetahui rasional-empiris;gabungan antara realisme, idealism, dan pragmatisme sebagai dasar kognitif filsafat ilmu; danfilsafat dan sains tentang proses. Tapi persamaan ini hanya terkait dengan aspek-aspek eksternaldan tidak menafikan, sama sekali, perbedaan-perbedaan mendasar yang timbul dari perbedaancara-pandang dan pemahaman tentang Realitas. Keimanan muslim terhadap Wahyu sebagaisumber pengetahuan tentang realitas akhir dan kebenaran tentang makhluk dan Sang Penciptamemungkinkan pembentukan kerangka metafisik untuk pengelaborasian filsafat ilmu integralyang menjelaskan realitas dan kebenaran yang tidak memungkinkan keterlibatan metode-metoderasionalisme filosofis dan empirisisme filosofis dari filsafat dan sains modern.Berlawanan dengan pandangan filsafat dan sains modern, dalam Islam, ilmu berasal dari Tuhandan diperoleh melalui indera yang sehat, berita yang benar (khabar shadiq) berdasar otoritas, akalsehat, dan intuisi. Indera yang sehat merujuk pada persepsi dan observasi, yang, hal ini,mencakup panca indera luar dan panca indera dalam. Akal sehat yang dimaksud disini tidaklahterbatas pada elemen-elemen sensibel saja; atau fakultas mental yang mensistematisasi danmenafsirkan fakta dari pengalaman inderawi menurut susunan logis; atau fakultas yangmemahami data dari pengalaman inderawi; atau yang mengabstraksi fakta dan data inderawiserta hubungannya; dan yang mengatur itu semua menjadi sesuatu yang bisa dipahami. Akalsehat adalah semua hal diatas yang berfungsi secara harmonis dan tidak bertentangan. Akal(intellect) adalah substansi spiritual yang inheren dengan organ spiritual yang kita sebut hati,yang berfungsi menerima pengetahuan intuitif. Dengan demikian akal dan intuisi salingberhubungan.Karena itu, berbeda dengan yang dipahami dalam peradaban Barat, intuisi bukan sekedarpemahaman langsung, oleh subjek, tentang dirinya; kesadarannya; „diri‟ lain selain dirinya;„dunia luar‟ (external world), yang universal, nilai-nilai, dan kebenaran rasional. Disamping
  3. 3. semua itu, intuisi, juga, adalah pemahaman langsung tentang kebenaran-kebenaran agama,realitas dan eksistensi Tuhan, realitas eksistensi-eksistensi sebagai kebalikan dari esensi; dankarenanya, pada tingkatan yang lebih tinggi intuisi adalah intuisi tentang eksistensi itu sendiri.Sedangkan berita yang benar (khabar shadiq) terbagi menjadi dua jenis. Berita yang dibawa olehorang banyak yang memustahilkan terjadinya kebohongan (khabar mutawatir) dan berita yangdisampaikan oleh RasuluLlah saw. Otoritas pada jenis yang pertama—yang memasukkankesepakatan ulama, ilmuwan, dan orang-orang terpelajar—dapat dipertanyakan dengan metode-metode rasional dan eksperimen. Namun, otoritas jenis kedua adalah mutlak. Hal ini karena,sebagaimana terdapat tingkatan pada rasio dan pengalaman, dalam otoritas pun terdapattingkatan. Dalam keyakinan muslim, otoritas tertinggi adalah Al-Quran dan Sunnah Nabi saw,yang mencakup pribadinya. Dalam pengertian bahwa kedua bukan hanya menjelaskankebenaran, tapi keduanya adalah kebenaran itu sendiri yang merupakan representasi otoritasberdasar tingkatan tertinggi intelektualitas, pencerapan spiritual dan pengalaman transendental,sehingga keduanya tidak bisa direduksi pada tingkatan rasio dan pengalaman normal manusia.SimpulanBeberapa simpulan yang dapat dihasilkan dari uraian ringkas diatas diantaranya bahwapenjelasan mengenai sumber pengetahuan dalam Islam lebih komprehensif dan menyeluruh;bahwa sekalipun secara sepintas tampak ada persamaan-persamaan antara uraian filsafat Baratdan Islam, namun hal itu tidak menegasikan perbedaan-perbedaan fundamental antar keduanya.WaLlahu a‟lamBacaanAl-Attas, Syed Muhammad Naquib. Prolegomena to the Metaphysics of Islam. 2001. KualaLumpur: ISTAC.Muslih, Muhammad. Filsafat Ilmu. 2005. Jogjakarta: Belukar.▶ Belum Ada TanggapanFilsafat ilmu merupakan suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah.Filsafat ilmu adalah pembandingan atau pengembangan pendapat-pendapat masa lampau terhadappendapat-pendapat masa sekarang yang didukung dengan bukti-bukti ilmiah.Filsafat ilmu merupakan paparan dugaan dan kecenderungan yang tidak terlepas dari pemikiran parailmuwan yang menelitinya.Filsafat ilmu dapat dimaknai sebagai suatu disiplin, konsep, dan teori tentang ilmu yang sudah dianalisisserta diklasifikasikan.Filsafat ilmu adalah perumusan pandangan tentang ilmu berdasarkan penelitian secara ilmiah.
  4. 4. Inti sari filsafat ilmuI. PEMBAGIAN PENGETAHUANSaat ini pembagian pengetahuan yang dianggap baku boleh dikatakan tidak ada yang memuaskan danditerima semua pihak. Pembagian yang lazim dipakai dalam dunia keilmuan di Barat terbagi menjadi duasaja, sains (pengetahuan ilmiah) dan humaniora. Termasuk ke dalam sains adalah ilmu-ilmu alam(natural sciences) dan ilmu-ilmu sosial (social sciences), dengan cabang-cabangnya masing-masing.Termasuk ke dalam humaniora adalah segala pengetahuan selain itu, misalnya filsafat, agama, seni,bahasa, dan sejarah.Penempatan beberapa jenis pengetahuan ke dalam kelompok besar humaniora sebenarnya menyisakanbanyak kerancuan karena besarnya perbedaan di antara pengetahuan-pengetahuan itu, baik dari segiontologi, epistemologi, maupun aksiologi. Kesamaannya barangkali terletak pada perbedaannya, ataubarangkali sekadar pada fakta bahwa pengetahuan-pengetahuan humaniora itu tidak dapat digolongkansebagai sains. Humaniora itu sendiri, pengindonesiaan yang tidak persis dari kata Inggris humanities,berarti (segala pengetahuan yang) berkaitan dengan atau perihal kemanusiaan. Tetapi kalau demikian,maka ilmu-ilmu sosial pun layak dimasukkan ke dalam humaniora karena sama-sama berkaitan dengankemanusiaan.Perlu diketahui bahwa akhir-akhir ini kajian epistemologi di Barat cenderung menolak kategorisasipengetahuan (terutama dalam humaniora dan ilmu sosial) yang ketat. Pemahaman kita akan suatupermasalahan tidak cukup mengandalkan analisis satu ilmu saja. Oleh karena itu muncullah gagasanpendekatan interdisiplin atau multidisplin dalam memahami suatu permasalahan. Bidang-bidang kajianyang ada di perguruan tinggi-perguruan tinggi Barat tidak lagi hanya berdasarkan jenis-jenis keilmuantradisional, tetapi pada satu tema yang didekati dari gabungan berbagai disiplin. Misalnya program studiTimur Tengah, studi Asia Tenggara, studi-studi keislaman (Islamic studies), studi budaya (culturalstudies), dll.Tema-tema yang dahulu menjadi monopoli satu ilmu pun kini harus didekati dari berbagai macamdisiplin agar diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif. Wilayah-wilayah geografis tertentu,misalnya Jawa, suku Papua, pedalaman Kalimantan, atau Maroko dan Indian, yang dahulu dimonopoliilmu antropologi, kini harus dipahami dengan menggunakan berbagai macam disiplin (sosiologi,
  5. 5. psikologi, semiotik, bahkan filsafat).Pendekatan interdisiplin ini pun kini menguat dalam kajian-kajian keislaman, termasuk dalam fikih.Untuk menentukan status hukum terutama dalam permasalahan kontemporer, pemakaian ilmu fikihmurni tidak lagi memadai. Apalagi jika fikih dimengerti sebagai fikih warisan zaman mazhab-mazhab.Ilmu-ilmu modern saat ini menuntut untuk lebih banyak dilibatkan dalam penentuan hukum suatumasalah. Sekadar contoh, untuk menentukan hukum pembuatan bayi tabung, diperlukan pemahamanakan biologi dan kedokteran. Untuk menghukumi soal berbisnis di bursa saham, ilmu ekonomi harusdipahami. Dll.II. TIGA ASPEK PENGETAHUANAda tiga aspek yang membedakan satu pengetahuan dengan pengetahuan lainnya, yakni ontologi,epistemologi, dan aksiologi.1) OntologiOntologi adalah pembahasan tentang hakekat pengetahuan. Ontologi membahas pertanyaan-pertanyaan semacam ini: Objek apa yang ditelaah pengetahuan? Adakah objek tersebut? Bagaimanawujud hakikinya? Dapatkah objek tersebut diketahui oleh manusia, dan bagaimana caranya?2) EpistemologiEpistemologi adalah pembahasan mengenai metode yang digunakan untuk mendapatkan pengetahuan.Epistemologi membahas pertanyaan-pertanyaan seperti: bagaimana proses yang memungkinkandiperolehnya suatu pengetahuan? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agarkita mendapatkan pengetahuan yang benar? Lalu benar itu sendiri apa? Kriterianya apa saja?3) AksiologiAksiologi adalah pembahasan mengenai nilai moral pengetahuan. Aksiologi menjawab pertanyaan-pertanyaan model begini: untuk apa pengetahuan itu digunakan? Bagaimana kaitan antara carapenggunaan pengetahuan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yangditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara metode pengetahuan dengannorma-norma moral/profesional?Perbedaan suatu pengetahuan dengan pengetahuan lain tidak mesti dicirikan oleh perbedaan dalamketiga aspek itu sekaligus. Bisa jadi objek dari dua pengetahuan sama, tetapi metode danpenggunaannya berbeda. Filsafat dan agama kerap bersinggungan dalam hal objek (sama-samamembahas hakekat alam, baik-buruk, benar-salah, dsb), tetapi metode keduanya jelas beda. Sementaraperbedaan antar sains terutama terletak pada objeknya, sedangkan metodenya sama.
  6. 6. III. SUMBER PENGETAHUAN1) InderaIndera digunakan untuk berhubungan dengan dunia fisik atau lingkungan di sekitar kita. Indera adabermacam-macam; yang paling pokok ada lima (panca indera), yakni indera penglihatan (mata) yangmemungkinkan kita mengetahui warna, bentuk, dan ukuran suatu benda; indera pendengaran (telinga)yang membuat kita membedakan macam-macam suara; indera penciuman (hidung) untuk membedakanbermacam bau-bauan; indera perasa (lidah) yang membuat kita bisa membedakan makanan enak dantidak enak; dan indera peraba (kulit) yang memungkinkan kita mengetahui suhu lingkungan dan kontursuatu benda.Pengetahuan lewat indera disebut juga pengalaman, sifatnya empiris dan terukur. Kecenderungan yangberlebih kepada alat indera sebagai sumber pengetahuan yang utama, atau bahkan satu-satunyasumber pengetahuan, menghasilkan aliran yang disebut empirisisme, dengan pelopornya John Locke(1632-1714) dan David Hume dari Inggris. Mengenai kesahihan pengetahuan jenis ini, seorang empirisissejati akan mengatakan indera adalah satu-satunya sumber pengetahuan yang dapat dipercaya, danpengetahuan inderawi adalah satu-satunya pengetahuan yang benar.Tetapi mengandalkan pengetahuan semata-mata kepada indera jelas tidak mencukupi. Dalam banyakkasus, penangkapan indera seringkali tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Misalnya pensil yangdimasukkan ke dalam air terlihat bengkok, padahal sebelumnya lurus. Benda yang jauh terlihat lebihkecil, padahal ukuran sebenarnya lebih besar. Bunyi yang terlalu lemah atau terlalu keras tidak bisa kitadengar. Belum lagi kalau alat indera kita bermasalah, sedang sakit atau sudah rusak, maka kian sulitlahkita mengandalkan indera untuk mendapatkan pengetahuan yang benar.2) AkalAkal atau rasio merupakan fungsi dari organ yang secara fisik bertempat di dalam kepala, yakni otak.Akal mampu menambal kekurangan yang ada pada indera. Akallah yang bisa memastikan bahwa pensildalam air itu tetap lurus, dan bentuk bulan tetap bulat walaupun tampaknya sabit. Keunggulan akal yangpaling utama adalah kemampuannya menangkap esensi atau hakikat dari sesuatu, tanpa terikat padafakta-fakta khusus. Akal bisa mengetahui hakekat umum dari kucing, tanpa harus mengaitkannyadengan kucing tertentu yang ada di rumah tetangganya, kucing hitam, kucing garong, atau kucing-kucingan.Akal mengetahui sesuatu tidak secara langsung, melainkan lewat kategori-kategori atau ide yanginheren dalam akal dan diyakini bersifat bawaan. Ketika kita memikirkan sesuatu, penangkapan akal atassesuatu itu selalu sudah dibingkai oleh kategori. Kategori-kategori itu antara lain substansi, kuantitas,kualitas, relasi, waktu, tempat, dan keadaan.
  7. 7. Pengetahuan yang diperoleh dengan akal bersifat rasional, logis, atau masuk akal. Pengutamaan akal diatas sumber-sumber pengetahuan lainnya, atau keyakinan bahwa akal adalah satu-satunya sumberpengetahuan yang benar, disebut aliran rasionalisme, dengan pelopornya Rene Descartes (1596-1650)dari Prancis. Seorang rasionalis umumnya mencela pengetahuan yang diperoleh lewat indera sebagaisemu, palsu, dan menipu.3) Hati atau IntuisiOrgan fisik yang berkaitan dengan fungsi hati atau intuisi tidak diketahui dengan pasti; ada yangmenyebut jantung, ada juga yang menyebut otak bagian kanan. Pada praktiknya, intuisi muncul berupapengetahuan yang tiba-tiba saja hadir dalam kesadaran, tanpa melalui proses penalaran yang jelas, non-analitis, dan tidak selalu logis. Intuisi bisa muncul kapan saja tanpa kita rencanakan, baik saat santaimaupun tegang, ketika diam maupun bergerak. Kadang ia datang saat kita tengah jalan-jalan di trotoar,saat kita sedang mandi, bangun tidur, saat main catur, atau saat kita menikmati pemandangan alam.Intuisi disebut juga ilham atau inspirasi. Meskipun pengetahuan intuisi hadir begitu saja secara tiba-tiba,namun tampaknya ia tidak jatuh ke sembarang orang, melainkan hanya kepada orang yang sebelumnyasudah berpikir keras mengenai suatu masalah. Ketika seseorang sudah memaksimalkan daya pikirnyadan mengalami kemacetan, lalu ia mengistirahatkan pikirannya dengan tidur atau bersantai, pada saatitulah intuisi berkemungkinan muncul. Oleh karena itu intuisi sering disebut supra-rasional atau suatukemampuan yang berada di atas rasio, dan hanya berfungsi jika rasio sudah digunakan secara maksimalnamun menemui jalan buntu.Hati bekerja pada wilayah yang tidak bisa dijangkau oleh akal, yakni pengalaman emosional danspiritual. Kelemahan akal ialah terpagari oleh kategori-kategori sehingga hal ini, menurut Immanuel Kant(1724-1804), membuat akal tidak pernah bisa sampai pada pengetahuan langsung tentang sesuatusebagaimana adanya (das ding an sich) atau noumena. Akal hanya bisa menangkap yang tampak daribenda itu (fenoumena), sementara hati bisa mengalami sesuatu secara langsung tanpa terhalang olehapapun, tanpa ada jarak antara subjek dan objek.Kecenderungan akal untuk selalu melakukan generalisasi (meng-umumkan) dan spatialisasi (meruang-ruangkan) membuatnya tidak akan mengerti keunikan-keunikan dari kejadian sehari-hari. Hati dapatmemahami pengalaman-pengalaman khusus, misalnya pengalaman eksistensial, yakni pengalaman riilmanusia seperti yang dirasakan langsung, bukan lewat konsepsi akal. Akal tidak bisa mengetahui rasacinta, hatilah yang merasakannya. Bagi akal, satu jam di rutan salemba dan satu jam di pantai caritaadalah sama, tapi bagi orang yang mengalaminya bisa sangat berbeda. Hati juga bisa merasakanpengalaman religius, berhubungan dengan Tuhan atau makhluk-makhluk gaib lainnya, dan jugapengalaman menyatu dengan alam.Pengutamaan hati sebagai sumber pengetahuan yang paling bisa dipercaya dibanding sumber lainnyadisebut intuisionisme. Mayoritas filosof Muslim memercayai kelebihan hati atas akal. Puncaknya adalah
  8. 8. Suhrawardi al-Maqtul (1153-1192) yang mengembangkan mazhab isyraqi (iluminasionisme), danditeruskan oleh Mulla Shadra (w.1631). Di Barat, intuisionisme dikembangkan oleh Henry Bergson.Selain itu, ada sumber pengetahuan lain yang disebut wahyu. Wahyu adalah pemberitahuan langsungdari Tuhan kepada manusia dan mewujudkan dirinya dalam kitab suci agama. Namun sebagian pemikirMuslim ada yang menyamakan wahyu dengan intuisi, dalam pengertian wahyu sebagai jenis intuisi padatingkat yang paling tinggi, dan hanya nabi yang bisa memerolehnya.Dalam tradisi filsafat Barat, pertentangan keras terjadi antara aliran empirisisme dan rasionalisme.Hingga awal abad ke-20, empirisisme masih memegang kendali dengan kuatnya kecenderunganpositivisme di kalangan ilmuwan Barat. Sedangkan dalam tradisi filsafat Islam, pertentangan kuat terjadiantara aliran rasionalisme dan intuisionisme (iluminasionisme, ‘irfani), dengan kemenangan pada aliranyang kedua. Dalam kisah perjalanan Nabi Khidir a.s. dan Musa a.s., penerimaan Musa atas tindakan-tindakan Khidir yang mulanya ia pertanyakan dianggap sebagai kemenangan intuisionisme. Penilaianpositif umumnya para filosof Muslim atas intuisi ini kemungkinan besar dimaksudkan untuk memberikanstatus ontologis yang kuat pada wahyu, sebagai sumber pengetahuan yang lebih sahih daripada rasio.IV. LOGIKALogika adalah cara berpikir atau penalaran menuju kesimpulan yang benar. Aristoteles (384-322 SM)adalah pembangun logika yang pertama. Logika Aristoteles ini, menurut Immanuel Kant, 21 abadkemudian, tidak mengalami perubahan sedikit pun, baik penambahan maupun pengurangan.Aristoteles memerkenalkan dua bentuk logika yang sekarang kita kenal dengan istilah deduksi daninduksi. Logika deduksi, dikenal juga dengan nama silogisme, adalah menarik kesimpulan daripernyataan umum atas hal yang khusus. Contoh terkenal dari silogisme adalah:- Semua manusia akan mati (pernyataan umum, premis mayor)- Isnur manusia (pernyataan antara, premis minor)- Isnur akan mati (kesimpulan, konklusi)Logika induksi adalah kebalikan dari deduksi, yaitu menarik kesimpulan dari pernyataan-pernyataanyang bersifat khusus menuju pernyataan umum. Contoh:- Isnur adalah manusia, dan ia mati (pernyataan khusus)- Muhammad, Asep, dll adalah manusia, dan semuanya mati (pernyataan antara)- Semua manusia akan mati (kesimpulan)V. TEORI-TEORI KEBENARAN1) Korespondensi
  9. 9. Sebuah pernyataan dikatakan benar bila sesuai dengan fakta atau kenyataan. Contoh pernyataan“bentuk air selalu sesuai dengan ruang yang ditempatinya”, adalah benar karena kenyataannyademikian. “Kota Jakarta ada di pulau Jawa” adalah benar karena sesuai dengan fakta (bisa dilihat dipeta). Korespondensi memakai logika induksi.2) KoherensiSebuah pernyataan dikatakan benar bila konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggapbenar. Contoh pernyataan “Asep akan mati” sesuai (koheren) dengan pernyataan sebelumnya bahwa“semua manusia akan mati” dan “Asep adalah manusia”. Terlihat di sini, logika yang dipakai dalamkoherensi adalah logika deduksi.3) PragmatikSebuah pernyataan dikatakan benar jika berguna (fungsional) dalam situasi praktis. Kebenaranpragmatik dapat menjadi titik pertemuan antara koherensi dan korespondensi. Jika ada dua teorikeilmuan yang sudah memenuhi kriteria dua teori kebenaran di atas, maka yang diambil adalah teoriyang lebih mudah dipraktikkan. Agama dan seni bisa cocok jika diukur dengan teori kebenaran ini.Agama, dengan satu pernyataannya misalnya “Tuhan ada”, adalah benar secara pragmatik (adanyaTuhan berguna untuk menopang nilai-nilai hidup manusia dan menjadikannya teratur), lepas dariapakah Tuhan ada itu sesuai dengan fakta atau tidak, konsisten dengan pernyataan sebelumnya atautidak.***Setelah mengemukakan hal-hal penting yang menjadi dasar pengetahuan, berikutnya kita akanmeninjau aspek ontologis, epistemologis, dan aksiologis dari tiga macam pengetahuan yang palingberpengaruh dalam kehidupan manusia, yakni filsafat, agama, dan sains.VI. FILSAFATSering dikatakan bahwa filsafat adalah induk segala ilmu. Pernyataan ini tidak salah karena ilmu-ilmuyang ada sekarang, baik ilmu alam maupun ilmu sosial, mulanya berada dalam kajian filsafat. Padazaman dulu tidak dibedakan antara ilmuwan dengan filosof. Isaac Newton (1642-1627) menulis hukum-hukum fisikanya dalam buku yang berjudul Philosophie Naturalis Principia Mathematica (terbit 1686).Adam Smith (1723-1790) bapak ilmu ekonomi menulis buku The Wealth of Nations (1776) dalamkapasitasnya sebagai Professor of Moral Philosophy di Universitas Glasgow. Kita juga mengenal IbnuSina (w.1037) sebagai bapak kedokteran yang menyusun ensiklopedi besar al-Qanun fi al-Thibb sekaligussebagai filosof yang mengarang Kitab al-Syifa’.
  10. 10. Definisi filsafat tidak akan diberikan karena para ahli sendiri berbeda-beda dalam merumuskannya.Cukup di sini disinggung mengenai ciri-ciri dari filsafat, sebagaimana diuraikan Suriasumantri (1998),yaitu menyeluruh (membahas segala hal atau satu hal dalam kaitannya dengan hal-hal lain), radikal(meneliti sesuatu secara mendalam, mendasar hingga ke akar-akarnya), dan spekulatif (memulaipenyelidikannya dari titik yang ditentukan begitu saja secara apriori). Spekulatif juga bermakna rasional.Objek kajian filsafat sangat luas, bahkan boleh dikatakan tak terbatas. Filsafat memelajari segala realitasyang ada dan mungkin ada; lebih luas lagi, segala hal yang mungkin dipikirkan oleh akal. Sejauh ini,terdapat tiga realitas besar yang dikaji filsafat, yakni Tuhan (metakosmos), manusia (mikrokosmos), danalam (makrokosmos). Sebagian objek filsafat telah diambil-alih oleh sains, yakni objek-objek yangbersifat empiris.Objek-objek kajian filsafat yang luas itu coba dikelompokkan oleh para ahli ke dalam beberapa bidang.Berbeda-beda hasil pembagian mereka. Jujun Suriasumantri (1998) membagi bidang kajian filsafat itu kedalam empat bagian besar, yakni logika (membahas apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah),etika (membahas perihal baik dan buruk), estetika (membahas perihal indah dan jelek), dan metafisika(membahas perihal hakikat keberadaan zat atau sesuatu di balik yang fisik). Empat bagian ini bercabang-cabang lagi menjadi banyak sekali. Hampir tiap ilmu yang dikenal sekarang ada filsafatnya, misalnyafilsafat ilmu, filsafat ekonomi, filsafat hukum, filsafat pendidikan, dan filsafat sejarah.Epistemologi filsafat adalah rasional murni (bedakan dengan rasionalisme). Artinya pengetahuan yangdisebut filsafat diperoleh semata-mata lewat kerja akal. Sumber pengetahuan filsafat adalah rasio atauakal. Sumber pengetahuan lain yang mungkin memengaruhi pikiran seorang filosof ditekan seminimalmungkin, dan kalau bisa hingga ke titik nol. Atau pengetahuan-pengetahuan itu diverifikasi oleh akalnya,apakah rasional atau tidak. Misalnya seorang filosof yang beragama Islam tentu telah memerolehpengetahuan dari ajaran agamanya. Dalam hal ini ada dua hal yang bisa ia lakukan: menolak ajaranagama yang menurutnya tidak rasional, atau mencari pembenaran rasional bagi ajaran agama yangtampaknya tidak rasional.Filsafat bertujuan untuk mencari Kebenaran (dengan K besar), artinya kebenaran yang sungguh-sungguhbenar, kebenaran akhir. Sifat aksiologis filsafat ini tampak dari asal katanya philos (cinta) dan sophia(pengetahuan, kebijaksanaan, kebenaran). Seorang filosof tidak akan berhenti pada pengetahuan yangtampak benar, melainkan menyelidiki hingga ke baliknya. Ia tidak akan puas jika dalam pemikirannyamasih terdapat kontradiksi-kontradiksi, kesalahan-kesalahan berpikir, meskipun dalam kenyataannyatidak ada seorang filosof pun yang filsafatnya bebas dari kontradiksi. Dengan kata lain, tidak ada filosofyang berhasil sampai pada Kebenaran atau kebenaran akhir itu. Semuanya hanya bisa disebutmendekati Kebenaran.Kebenaran yang diperoleh dari filsafat itu sebagian ada yang berkembang menjadi ajaran hidup, isme.Filsafat yang sudah menjadi isme ini difungsikan oleh penganutnya sebagai sumber nilai yang menopangkehidupannya. Misalnya ajaran Aristotelianisme banyak dipakai oleh kaum agamawan gereja; ajaranneoplatonisme banyak dipakai oleh kaum mistik; materialisme, komunisme, dan eksistensialisme
  11. 11. bahkan sempat menjadi semacam padanan agama (the religion equivalen), yang berfungsi layaknyaagama formal.VII. AGAMAAgama kerap “berebutan” lahan dengan filsafat. Objek agama dalam banyak hal hampir sama denganfilsafat, hanya lebih sempit dan lebih praktis. Seperti filsafat, agama juga membahas Tuhan, manusia,dan alam. Seperti filsafat, agama juga menyoal metafisika, namun jawabannya sudah jelas: hakikatsegala sesuatu adalah Tuhan. Selain Tuhan, objek pokok dari agama adalah etika khususnya yangbersifat praktis sehari-hari.Yang membedakan agama dari filsafat terutama adalah epistemologi atau metodenya. Pengetahuanagama berasal dari wahyu Tuhan yang diberikan kepada Nabi, dan kita memerolehnya dengan jalanpercaya bahwa Nabi benar. Pada agama, yang harus kita lakukan adalah beriman, baru berpikir. Kitaboleh memertanyakan kebenaran agama, setelah menerima dan memercayainya, dengan cara lain(rasional atau empiris). Tapi ujung-ujungnya kita tetap harus percaya meskipun apa yang disampaikanagama itu tidak masuk akal atau tidak terbukti dalam kenyataan.Jawaban yang diberikan agama atas satu masalah bisa sama, berbeda, atau bertentangan denganjawaban filsafat. Dalam hal ini, latar belakang keberagamaan seorang filosof sangat memengaruhi. Jikaia beragama, biasanya ia cenderung mendamaikan agama dengan filsafat, seperti tampak pada filsafatskolastik, baik filsafat Yahudi, Kristen, maupun Islam. Jika ia tidak beragama, biasanya filsafatnyaberbeda atau bertentangan dengan agama.Secara praktis, agama sangat fungsional dalam kehidupan manusia. Fungsi utama agama adalah sebagaisumber nilai (moral) untuk dijadikan pegangan dalam hidup budaya manusia. Agama juga memberikanorientasi atau arah dari tindakan manusia. Orientasi itu memberikan makna dan menjauhkan manusiadari kehidupan yang sia-sia. Nilai, orientasi, dan makna itu terutama bersumber dari kepercayaan akanadanya Tuhan dan kehidupan setelah mati. (Coba perhatikan, dalam Alquran, objek iman yang palingbanyak disebut bahkan selalu disebut beriringan adalah iman kepada Allah dan hari kemudian).VIII. SAINS1) OntologiSains (dalam bahasa Indonesia disebut juga ilmu, ilmu pengetahuan, atau pengetahuan ilmiah) adalahpengetahuan yang tertata (any organized knowledge) secara sistematis dan diperoleh melalui metodeilmiah (scientific method). Sains memelajari segala sesuatu sepanjang masih berada dalam lingkuppengalaman empiris manusia.
  12. 12. Objek sains terbagi dua, objek material dan objek formal. Objek material terbatas jumlahnya dan satuatau lebih sains bisa memiliki objek material yang sama. Sains dibedakan satu sama lain berdasarkanobjek formalnya. Sosiologi dan antropologi memiliki objek material yang sama, yakni masyarakat.Namun objek formalnya beda. Sosiologi memelajari struktur dan dinamika masyarakat, antropologimemelajari masyarakat dalam budaya tertentu.Sains atau ilmu dibedakan secara garis besar menjadi dua kelompok, yaitu ilmu-ilmu alam (naturalsciences) dan ilmu-ilmu sosial (social sciences). Ilmu-ilmu alam memelajari benda-benda fisik, dan secaragaris besar dibedakan lagi menjadi dua, yaitu ilmu alam (fisika, kimia, astronomi, geologi, dll) dan ilmuhayat (biologi, anatomi, botani, zoologi, dll). Tiap-tiap cabang ilmu itu bercabang-cabang lagi menjadibanyak sekali. Ilmu kimia saja, menurut Jujun Suriasumantri, memiliki 150 disiplin.Ilmu-ilmu sosial memelajari manusia dan masyarakat. Perkembangan ilmu sosial tidak sepesat ilmualam, dikarenakan manusia tidak seempiris benda-benda alam, juga karena benturan antara metodologidengan norma-norma moral. Namun saat ini pun ilmu-ilmu sosial sudah sangat beragam dan canggih.Yang paling utama adalah sosiologi, antropologi, psikologi, ekonomi, dan politik.2) EpistemologiSains diperoleh melalui metode sains (scientific method) atau biasa diterjemahkan menjadi metodeilmiah. Metode ini menggabungkan keunggulan rasionalisme dan empirisisme, kekuatan logika deduksidan induksi, serta mencakup teori kebenaran korespondensi, koherensi, dan pragmatik. Karenapenggabungan ini, sains memenuhi sifat rasional sekaligus empiris. Sains juga bersifat sistematis karenadisusun dan diperoleh lewat suatu metode yang jelas. Bagi kaum positivis, sains juga bersifat objektif,artinya berlaku di semua tempat dan bagi setiap pengamat. Namun sejak munculnya teori relativitasEinstein, apalagi pada masa postmodern ini, klaim objektivitas sains tidak bisa lagi dipertahankan.Secara ringkas, metode ilmiah disusun menurut urutan sebagai berikut:• Menemukan dan merumuskan masalah• Menyusun kerangka teoritis• Membuat hipotesis• Menguji hipotesis dengan percobaan (observasi, eksperimen, dll).• Menarik kesimpulan.Kesimpulan yang diperoleh itu disebut teori. Untuk benar-benar dianggap sahih dan bisa bertahan,sebuah teori harus diuji lagi berkali-kali dalam serangkaian percobaan, baik oleh penemunya maupunoleh ilmuwan lain. Pengujian ini disebut verifikasi (pembuktian benar). Sebuah teori bisa juga diujidengan cara sebaliknya, yaitu sebagaimana diusulkan Karl Popper, falsifikasi (pembuktian salah). Denganfalsifikasi, jika untuk sebuah teori dilakukan 1000 percobaan, 1 saja dari 1000 percobaan itumenunjukkan adanya kesalahan, maka teori itu tidak perlu dipertahankan lagi. Contoh, jika dinyatakankepada kita bahwa semua burung gagak hitam, dan di suatu tempat kita menemukan satu burung gagak
  13. 13. yang tidak hitam, berarti pernyataan itu salah.Namun dalam sebuah teori, sebetulnya yang lebih penting bukanlah ketiadaan salah sama sekali, karenaitu sangat berat bahkan tidak mungkin untuk teori ilmu sosial, namun seberapa besar kemungkinan teoriitu benar (probabilitas). Probabilitas benar 95 persen dianggap sudah cukup untuk men-sahihkan sebuahteori dan memakainya untuk memecahkan masalah.3) AksiologiPengetahuan yang diperoleh lewat metode sains bukanlah terutama untuk pengetahuan itu sendiri,melainkan sebagai alat untuk membantu manusia dalam memecahkan masalah sehari-hari. Kegunaanini diperoleh dengan tiga cara, description (menjelaskan), prediction (meramal, memerkirakan), dancontroling (mengontrol). Penjelasan diperoleh dari teori. Dihadapkan pada masalah praktis, teori akanmemerkirakan apa yang akan terjadi. Dari perkiraan itu, kita memersiapkan langkah-langkah yang perludilakukan untuk mengontrol segala hal yang mungkin timbul, entah itu merugikan atau menguntungkan.Satu sisi yang sering diperdebatkan adalah menyangkut netralitas sains, kaitannya dengan agama atauideologi tertentu. Pada dasarnya sains itu netral, atau setidaknya bermaksud untuk netral, dalam arti iahanya bermaksud menjelaskan sesuatu secara apa adanya. Tetapi sains dapat mengilhami suatupandangan dunia tertentu, dan ini tidak netral. Misalnya teori evolusi Darwin dapat menjadi pandangandunia yang mekanistik dan ateistik. Dan hal ini sangat mencemaskan bagi kaum agamawan.Lahirnya suatu teori juga ternyata tidak bisa dilepaskan dari konteks tempat teori itu dilahirkan. Konteksmeliputi pandangan dunia yang dianut ilmuwan, latar belakang budaya, bahasa, dll. Pengaruh konteksini terutama sangat terasa pada sains sosial sehingga suatu sains bisa menghasilkan beragam aliran danperspektif. []Referensi pokok:Kartanegara, Mulyadhi, Menyibak Tirai Kejahilan: Pengantar Epistemologi Islam, Bandung: Mizan, 2003.Suriasumantri, Jujun S., Filsafat Ilmu Suatu Pengantar Populer, Jakarta: Sinar Harapan, 1998.
  14. 14. Dimensi Filsafat dalam WahyuDalam tradisi filsafat Islam, wahyu bahkan bertindak sebagai sumber pengetahuan (Bakar,1997). Pengetahuan manusia yang diperoleh melalui wahyu memiliki status yang spesifik,karena seorang penerima pengetahuan melalui wahyu adalah orang yang memiliki otoritaskeagamaan tinggi yang sering diistilahkan dengan Nabi. Sementara manusia biasa menerimakeberadaan wahyu sebagai rukun iman yang harus dipercayai secara taken for granted, parafilosof berusaha untuk mendudukkan wahyu sebagai realitas keilmuan yang bisa dikaji secarateoretis.POSISI wahyu dalam Islam sangatlah sentral. Berdasarkan kondisi historis maupun normatif,posisi wahyu itu demikian penting dalam mengarahkan, membimbing, dan meletakkan dasarrelasi antara manusia dengan realitas transenden yang diyakininya. Wahyu pulalah yang mampumenjadi mediasi strategis bagi proses komunikasi ilahiyah antara manusia dengan Tuhannya.Dalam tradisi filsafat Islam, wahyu bahkan bertindak sebagai sumber pengetahuan (Bakar,1997). Pengetahuan manusia yang diperoleh melalui wahyu memiliki status yang spesifik,karena seorang penerima pengetahuan melalui wahyu adalah orang yang memiliki otoritaskeagamaan tinggi yang sering diistilahkan dengan Nabi. Sementara manusia biasa menerimakeberadaan wahyu sebagai rukun iman yang harus dipercayai secara taken for granted, parafilosof berusaha untuk mendudukkan wahyu sebagai realitas keilmuan yang bisa dikaji secarateoretis. Atas dasar asumsi inilah, tulisan ini bermaksud mengkaji dimensi-dimensi filsafat dalamwahyu.Dalam filsafat ilmu terdapat dua aliran yang sering dianggap sebagai cara yang dikotomik dalammemperoleh pengetahuan: rasionalisme di satu sisi, dan empirisisme di sisi yang lain. Aliranpertama lebih menekankan pada dominasi akal dalam memperoleh pengetahuan, sementara yangkedua lebih mengakui pengalaman sebagai sumber otentik pengetahuan (Bahm, 1990). Keduaaliran ini, dengan sendirinya, secara ekstrim tidak mengakui realitas lain di luar akal danpengalaman atau fakta. Wahyu sebagai sebuah realitas di luar realitas itu, dengan demikian, tidakdiakui sebagai sumber pengetahuan.Islam sebagai sebuah agama yang menekankan keseimbangan, tidak memihak atau menolaksalah satu aliran itu secara ekstrim. Bahkan, Islam menawarkan satu konsep epistemologimoderat yang sering disebut oleh Kuntowijoyo (1997) sebagai epistemologi relasional. Konsepini, jelas Kunto, bermaksud menggabungkan akal, pengalaman dan wahyu dalam satu hubungandialektik yang tidak pernah putus. Wahyu sebagai respon ilahiyah terhadap persoalankemanusiaan, lahir dalam satu kondisi historitas tertentu (Zaid, 2001). Tesis ini juga dengansangat optimis dipegang oleh Thaha Hussein yang membagi wahyu kepada dua dimensi: the firstmassage di satu sisi, dan the second massage, di sisi lain.Semua penjelasan ini mengemukakan bahwa wahyu tidak berdiri sendiri dalam mengatasipersoalan kemanusiaan. Intervensi akal menjadi hal yang tidak bisa dihindari dalammenerjemahkan “kemauan” wahyu yang seringkali -atau bahkan selalu- turun dengan rumusan-rumusan bahasa langit. Intervensi akal kemanusiaan inilah yang menghubungkan wahyu dengan
  15. 15. fakta dan realitas historis yang dihadapi. Peristiwa Tahkim yang mengakhiri peperangankelompok Ali dan Mu‟awiyah, yang kemudian diselewengkan oleh Muawiyah sebagai bentukpenyerahan kekuasaan oleh Ali kepadanya, menjadi satu bukti historis bahwa wahyu sangatterbuka terhadap interpretasi kemanusiaan, bahkan ketika interpretasi itu menyesatkan. Itulah al-Qur‟an, kata Ali, yang hanya bisa bicara ketika manusia menafsirkannya.Al-Farabi ketika menjelaskan tentang wahyu menuliskan bahwa ketika seorang Nabi menerimawahyu, setidaknya ada tiga jenis intelek yang dilibatkan: Pertama, intelek aktif, yakni satu entitaskosmik yang bertindak sebagai perantara transenden antara Tuhan dan manusia. Kedua, adalahintelek perolehan (al-‟aql al-mustafad) yang diperoleh Nabi hanya jika jiwanya bersatu denganintelek aktif. Dalam persenyawaan ini, tulis Osman Bakar, intelek perolehan menerimapengetahuan transenden dari intelek aktif. Ketiga, adalah intelek pasif (al-aql al-munfail) yangmerupakan kondisi intelek penerimaan wahyu secara umum.Wahyu yang diterima oleh para Nabi, menurut Abdul Kalam Azad, bukanlah sesuatu yang baru,melainkan pesan-pesan yang pernah diberikan kepada para Nabi pendahulunya. Muhammad,tulis Azad, tidak datang dengan pesan-pesan baru, melainkan dengan pesan-pesan yang samaseperti yang pernah diterima oleh Nabi Adam, Nuh, Ya‟kub, Ismail, Yusuf, Sulaiman, Daud,Musa, Isa dan Nabi-nabi lain yang diutus di seantero dunia ini. Meskipun ada di antara Nabi-nabiitu yang disebutkan dalam al-Qur‟an dan tidak, tetapi pesan yang mereka bawa adalah sama,yakni kepercayaan kepada Tuhan dan melakukan kebaikan (ma‟ruf) serta menghindarikemungkaran (munkar) dan agama adalah jalan yang tepat untuk menuju semuanya.Tesis Azad ini, mengingatkan kepada konsep kekekalan ide dalam filsafat. Bahwa konsep-konsep filosofis yang pernah digagas oleh Aristoteles misalnya, memberikan pengaruh yangcukup kuat dalam tradisi pemikiran umat Islam. Para filosof Muslim yang menganggapAristoteles sebagai “guru pertama” (al-mu‟allim al-awwal) menunjukkan pengaruhnya yangbesar kepada jalan pikiran para filosof Muslim (Nurcholish, 2000: 226). Kuatnya pengaruhAristoteles dalam tradisi pemikiran filosof muslim itu makin tegas ketika, Al-Farabi dikukuhkansebagai “guru kedua” (al-mu‟allim al-tsani) setelah Aristoteles.Dengan demikian, wahyu sebagai guidance bagi umat beragama dalam kehidupannya harusselalu terbuka terhadap intervensi kemanusiaan dan penjelasan akal. Tradisi hermeneutikasebenarnya lahir untuk menjembatani manusia membongkar dimensi-dimensi filosofis yangterkandung dalam wahyu. Wahyu tidak tertutup bagi penjelasan-penjelasan filosofis yangmemihak manusia, justru akan menjadi persoalan ketika penjelasan filosofis wahyumemenangkan kehendak Tuhan dengan mengabaikan kepentingan kemanusiaan.Walaupun wahyu sering disepadankan dengan agama, dan akal disepandankan dengan filsafat,bukan berarti tidak ada kemungkinan untuk mempertemukannya. Dalam hal ini, al-Farabibahkan meyakini bahwa agama adalah tiruan dari filsafat. Ketika seseorang memperolehpengetahuan tentang wujud atau memetik pelajaran darinya, jika dia memahami sendiri gagasan-gagasan tentang wujud itu dengan inteleknya, dan pembenaran atas gagasan tersebut dilakukandengan bantuan demonstrasi tertentu, maka ilmu yang tersusun dari pengetahuan-pengetahuanini disebut dengan filsafat. Tetapi jika gagasan-gagasan itu diketahui dengan membayangkannyalewat kemiripan-kemiripan yang merupakan tiruan dari mereka, dan pembenaran atas apa yang
  16. 16. dibayangkan atas mereka disebabkan oleh metode-metode persuasif, maka pengetahuan yangdihasilkannyadisebut dengan agama.Tantangan menyelaraskan penafsiran wahyu dengan dinamika zaman yang makin mekanistis ini,jelas menuntut satu penelusuran serius terhadap dimensi-dimensi filosofis dalam wahyu.Penelusuran inilah yang akan mengantarkan umat Islam memandang adil terhadap wahyu:menjadikan wahyu sebagai pedoman kehidupan beragama, sekaligus sebagai sumber inspirasipembangunan keilmuan dan peradaban Islam yang saat ini tengah dirindukan kembalikejayaannya. Wallahu a‟lam bi al-Shawwab.[]

×