Sampah menjadi sedekah

1,189 views
1,084 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,189
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
107
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Sampah menjadi sedekah

  1. 1. Mungkinkah Sampah Menjadi Sedekah ?RM. Bagus Irawan, ST. M.Si. IPP, Pemerhati lingkungan, Konsultan, Dosen FT. UNIMUS dan Ketua Majelis Lingkungan Hidup PDM Kota Semarang. Sampah kian hari menjadi masalah yang semakin serius dan menimbulkan berbagaidampak terhadap lingkungan, bilamana tidak ditangani secara baik. Berbagai kota di JawaTengah mengalami hal yang sama dengan sampah ini, bahkan sebagian besar kota-kotatersebut justru terpuruk citranya karena tidak dapat menangani problem sampah yangsemakin komplek dari hari ke hari. Prasarana dan sarana yang ada makin tidak mampumengimbangi produksi sampah atau timbulan sampah yang dihasilkan oleh masyarakat.Sedangkan dana operasional untuk pengelolaan sampah di berbagai kota masih sangatminim sekali. Namum demikian masyarakat sebagai penghasil dan produsen sampah justruantipati dan tidak mau tau bagaimana dan kemana sampah ini dibuang yang merekahasilkan setiap harinya. Fenomena ini terjadi karena masyarakat masih mengganggap sampah sebagaibarang yang sudah tidak berguna dan harus segera dibuang jauh-jauh dari lingkungannya.Lebih-lebih banyak yang masyarakat yang masih menganggap sampah adalah barang yangmenjijikkan, bau dan kotor, sehingga harus segera dilenyapkan agar tidak mengganggulingkungan dan kesehatan. Memang benar adanya bahwa sampah tidak hanyamenimbulkan dampak terhadap lingkungan fisik saja tetapi juga berdampak padalingkungan non fisik seperti kehidupan sosial masyarakat. Sebagaian besar tempat pembuangan sampah yang ada di kota-kota saat ini telahmenimbulkan persoalan lingkungan dan degradasi lingkungan seperti penurunan kualitasair tanah dan kualitas udara tetapi juga menimbulkan konflik sosial antara warga danpemerintah dalam hal ini operator persampahan karena berbeda kepentingan dan jugapemahaman. Penolakan masyarakat terhadap TPA sampah baru menjadi sebuah potretbahwa masyarakat tidak mau hidup berdampingan dengan sampah. Gambaran di atas menunjukkan bahwa masyarakat dewasa ini masih antipatiterhadap sampah dan berpandangan sempit akibat pemahaman yang kurang dan belummembuka hatinya. Dalam pengelolaan sampah dengan paradigma baru dijelaskan bahwasampah perlu diolah atau dikelola sedekat mungkin dari sumbernya yaitu masyarakat dantidak lagi terfokus pada pembuangan sampah ke TPA. Hal inilah yang belum banyakdipahami oleh masyarakat dan kurang adanya sosialisasi yang cukup intens dari berbagaipihak yang berkepentingan. Oleh sebab itu persoalan sampah memang tidak bisa diselesaikan dari aspek hilirnyasaja yaitu dengan pendirian TPA atau tempat pengolahan sampah sejenis, tetapi harusdilakukan melalui pendekatan di hulu juga yaitu melalui upaya penyadaran setiap individu
  2. 2. masyarakat untuk turut serta membantu mengelola sampah yang diproduksinya olehlingkungan terkecilnya. Menurut penulis sampah sebenarnya bisa menjadi barang yang berdaya guna danmemiliki potensi yang cukup signifikan bila dikelola dan diolah dengan baik sedemikian rupa.Gagasan penulis mungkinkah sampah menjadi sedekah memang terkesan aneh bagisebagian masyarakat. Namum bukan tidak mungkin hal ini bisa menjadi kenyataan. Daripotensi sampah yang dikelola secara baik dan bijak akan menghasilkan sedekah-sedekahatau menghasilkan daya guna dan bernilai bagi mereka yang memang sangatmembutuhkannya. Sampah sudah seharusnya menjadi tanggungjawab bersama masyarakat. Mengingatsetiap anggota masyarakat memiliki andil yang besar dalam memproduksi sampah di dalamkehidupannya, baik sampah yang bersifat organik maupun sampah yang an-organik. Setiapindividu dalam masyarakat sesungguhnya bertanggungjawab terhadap sampah yangdiproduksinya, sehingga sampah tidak berdampak buruk bagi kehidupan dan lingkungannya.Setiap individu sudah sepantasnya dan sudah seharusnya berperilaku bijak dan memilikiakhlaq mulia dalam memperlakukan sampah dengan mengelola sampah itu sendiri dantidak membuang sampah yang dihasilkannya di sembarang tempat yang pada akhirnya akanberdampak buruk dan mengganggu kehidupan ekosistem makhluq hidup disekitarnya. Mengelola sampah dengan bijak dan membuang sampah ke tempat yang telahdisediakan merupakan salah satu perbuatan baik dan bisa menjadi sebuah sedekah apabilasampah tersebut sengaja dipilah-pilah dan dikelola untuk digali potensinya lebih dalam yangpada akhirnya memiliki nilai ekonomi dan dapat memperdayakan warga yang memangmembutuhkan rupiah-rupiah dari hasil pengelolaan sampah. Dengan demikian sampah yang dihasilkan oleh masyarakat sudah seharusnyadianggap sebagai benda yang berharga dan bermanfaat apabila dikelola dengan baik danbijak. Namun kenyataan yang terjadi saat ini masih banyak masyarakat yang menganggapsampah sebagai musuh yang harus dijauhi dan diperangi, yang pada akhirnya banyakindividu yang menyia-nyiakan sampah begitu saja bahkan tidak sadar dan tidak jarang justrumematikan potensinya. Dalam kehidupan masyarakat, menghayutkan sampah ke sungai atau drainasesaluran air sudah bukan barang baru lagi. Sampah pada akhirnya akan mencemari sungaidan menyubat saluran drainase saluran air yang berakitat banjir dan gangguan kesehatanlingkungan. Kebiasaan membuang sampah di sembarang tempat masih menjadi kebiasaanburuk warga kota dan menjadi potret buruk perilaku masyarakat. Bahkan kebiasaanmembakar sampah yang dianggap cara paling ampuh dalam memerangi sampah masihsering dilakukan oleh masyarakat padahal perilaku ini sebenarnya hanya memindahkanwujud sampah padat menjadi gas-gas dan partikel yang berbahaya di udara yang dispersiatau penyebarannya lebih luas dibandingkan sampah padat.
  3. 3. Perilaku di atas menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat terhadap sampahmasih sangat rendah sekali meskipun tingkat intelektual dan jenjang kependidikanmasayarakat sudah cukup tinggi. Sampah belum dilirik sebagai barang atau sumberdayayang memiliki nilai cukup tinggi bila diolah dan didayagunakan secara bijak. Sampah yang dihasilkan oleh masyarakat akan menjadi barang berharga bila dapatdipilah atau dipisahkan sejak dihasilkannya. Nilai sedekah mulai muncul saat masyarakatmenjadi lebih cerdas dengan memilah sampahnya, karena masih bisa melihat potensi darisampah itu sendiri. Sampah yang sudah dipilah sebenarnya merupakan bahan baku atauraw materials yang sudah dinantikan oleh perusahaan yang akan memanfaatkan sampahtersebut untuk di daur ulang terutama sampah an-organik. Perusahaan plastik akan membutuhkan sampah plastik, perusahaan logam akanmembutuhkan kaleng-kaleng logam, perusahaan kaca kan membutuhkan sampahkaca/beling demikian juga perusahaan kertas juga sudah semestinya memerlukan bahandasar kertas-kertas bekas, kardus bekas dll. Sedangkan untuk sampah organik dari rumahtangga potensi untuk diolah menjadi pupuk atau kompos juga cukup potensial sekali. Dilihat dari karakteristiknya sampah an-organik yang tersebut di atas dapatdikumpulkan dan dijual ke perusahaan melalui pengepul sehingga bisa berdaya guna dansampah tersebut memiliki harga yang disesuaikan dengan standart harga pasaran. Olehsebab itu setiap individu dalam aplikasi teknisnya setidaknya menyediakan katong sampahatau tempat sampah yang berbeda-beda agar mempermudah untuk pengumpulan sampahke pengepul sampah. Masyarakat yang mengelola sampah dengan baik, benar dan bijaktidak hanya berdampak pada pelestarian ekosistem makhluq hidup semata, tetapi kegiatanyang dilakukannya dalam mengelola sampah dapat dijadikan sebagai sumber kebaikandengan menjadikannya sebagai alat untuk bershodaqoh. Sedekah sampah ini bisa dilakukan oleh individu atau komunitas masyarakat yangtinggal di suatu kawasan seperti RT/RW. Setiap individu bisa memulai menjadi pemberisedekah memulai awalnya dengan memilah-milah sampahnya. Masyarakat juga bisamembentuk semacam pengelola sampah yang bertanggungjawab dan bertugas mengambilsampah dari rumah tangga untuk dikumpulkan terlebih dahulu atau langsung di jual kepengepul sampah yang tersebar di banyak tempat. Dari penjualan sampah tersebut sudahbarang tentu hasilnya dapat digunakan untuk dana perbaikan dan pembangunan desa ataukampung, untuk kegiatan sosial dan keagamaan, beasiswa bagi warga yang kurang mampuatau menyantuni fakir miskin dan anak yatim. Diharapkan dari kegiatan sedekah sampah ini, masyarakat memiliki kekuatanekonomi sosial dan tidak hanya tergantung dari bantuan pemerintah semata. Makadaripada itu sudah semestinya gerakan shodaqoh sampah yang sudah dirintis oleh OrmasMuhammadiyah ini perlu disosialisasikan lebih luas dan menjadi salah satu alternatif dalammenangani sampah di perkotaan di Jawa Tengah termasuk di kota Semarang. Semoga saja...

×