PERAN AGROFORESTRI DALAM MENANGGULANGI              BANJIR DAN LONGSOR DAS   Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas pada...
BAB I                                      PENDAHULUAN1.1   Latar Belakang       Indonesia merupakan negara yang dijadikan...
bermanfaat dalam mencegah perluasan tanah terdegradasi, melestarikan sumber daya hutan,meningkatkan mutu pertanian, serta ...
BAB II                                   TINJAUAN PUSTAKA2.1 Sejarah, perkembangan, dan agroforestri secara umum di Indone...
penggunaan lahan, yang secara terencana dilaksanakan pada satu unit lahan denganmengkombinasikan tumbuhan berkayu (pohon, ...
sistem taungya pada waktu itu lebih banyak disebabkan keadaan atau keterpaksaan, bukankeuntungan yang dapat diperolehnya.c...
BAB III                                       PEMBAHASANKasus : Peran Agroforestri Dalam Menanggulangi Banjir Dan Longsor ...
Hendaknya semangat satu sungai, satu perencanaan dan pengelolaan tidak lekang karenapelaksanaan OTDA (otonomi daerah), dan...
struktur tanah, d) meningkatkan daya guna tanah sehingga pendapatan petani akan meningkatpula, e) menghemat tenaga kerja, ...
agroforestri. Pola agroforestri yang merupakan pola tumpang sari antara       tanaman tahunan(hutan) dengan tanaman pertan...
jati, mahoni, pinus dan lainnya. Jika tanaman pohon sebagai tanaman pokok sudah semakin rapatpenutupan tajuknya, maka dica...
sangat tinggi yang mengguyur sepanjang malam            menyebabkan masa tanah di permukaanmenjadi jenuh air, sehingga ler...
kemiringan ≥ 80% atau ≥ 40o) sebaiknya penghijauan dengan tanaman yang sistem perakaranyadalam, dan diselingi dengan tanam...
pemanfaatan kembali hara di bawah zone eksploitasi akar tanaman dengan bantuan pepohonanberakar dalam, dikenal dengan isti...
juga dapat berperan sebagai kebun dapur yang memasok bahan makanan pelengkap (sayuran,buah, rempah, bumbu). Keanekaragaman...
BAB IV                                          KESIMPULAN        Konsep pengelolaan DAS hendaklah berpedoman pada satu su...
DAFTAR PUSTAKAAtmojo, Suntoro Wongso. 2009. Peran Agroforestri Dalam Menanggulangi Banjir Dan Longsor       DAS. Diakses m...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Peran agroforestri dalam menanggulangi banjir dan longsor das

5,378 views
5,245 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
5,378
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
112
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Peran agroforestri dalam menanggulangi banjir dan longsor das

  1. 1. PERAN AGROFORESTRI DALAM MENANGGULANGI BANJIR DAN LONGSOR DAS Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas pada Mata Kuliah Sistem Pertanian Berkelanjutan II semester Ganjil (VII) Disusun oleh : Kelompok 8 Martha Cristy D. 150110080209 Rizki Hadi R. 150110080211 Imam Mukti F. 150110080218 Redy Aditya P. 150110080220 UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS PERTANIAN JATINANGOR 2011
  2. 2. BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang dijadikan sebagai paru-paru dunia, karena wilayahIndonesia memiliki banyak pulau dan masih terdapat hutan yang cukup terjaga. Tetapi,eksploitasi hutan dan konversi lahan dalam skala massal saat ini telah berimbas kepadakerusakan lingkungan yang sangat parah. Kerusakan lingkungan yang menyebabkan perubahaniklim dunia, pemanasan global, bencana alam banjir, longsor, kekeringan yang datang silihberganti adalah fenomena turunan yang harus dirasakan umat manusia. Berbagai usaha untuk memperbaiki lingkungan selalu terganjal oleh tuntutan ekonomiyang dirasa jauh lebih penting, karena menyangkut pemenuhan kebutuhan sandang, pangan danpapan. Ketidakmampuan pemerintah dalam menciptakan stabilitas ekonomi yang diiringi makinmeroketnya harga-harga kebutuhan pokok masyarakat, adalah kenyataan pahit lainnya yangharus dihadapi dalam usaha pelestarian alam dan lingkungan. Oleh karena itu, perlu adanyakeseriusan untuk memperbaiki kerusakan lingkungan, agar kelestarian lingkungan dapat tercapai.Solusi yang ditawarkanpun harus dapat bersifat win-win solution, sehingga mampumengakomodir antara kepentingan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan konservasi sumberdayaalam dan lingkungan yang sama-sama krusialnya sehingga konsep “Hutan Lestari danMasyarakat Sejahtera” dapat terwujud dalam arti yang sebenarnya. Salah satu solusi yang saat inimenjadi fokus pembicaraan adalah pola agroforestri (Agung Pambudi,2008) . Agroforestri merupakan suatu sistem yang mengkombinasikan antara komponen hutandengan komponen pertanian. Sehingga akan dihasilkan suatu bentuk pelestarian alam yang dapatmemberikan nilai ekonomi bagi pelakunya serta dapat menjaga pelestarian alam. Agroforestrimerupakan ilmu baru dengan teknik lama, maksudnya bahwa sebenarnya agroforestri sudahdiaplikasikan oleh masyarakat pada jaman dahulu dan sekarang tehnik ini digunakan kembali,karena dirasa sangat bermanfaat bagi alam dan masyarakat sekarang. Agroforestri telah banyakmenarik perhatian peneliti-peneliti teknis dan sosial yang mempelajari pentingnya pengetahuandasar pengkombinasian antara pepohonan dengan tanaman tidak berkayu pada lahan yang sama,serta segala keuntungan dan kendalanya. Penyebaran ilmu agroforestri diharapkan dapat
  3. 3. bermanfaat dalam mencegah perluasan tanah terdegradasi, melestarikan sumber daya hutan,meningkatkan mutu pertanian, serta meningkatkan kesejahteraan petani.1.2 Identifikasi Masalah Adapun permasalahan yang kami temukan dalam penulisan makalah adalah: 1. Bagaimana karakteristik dan potensi agroforestri? 2. Apa yang dimaksud dengan sistem pertanaman wanatani atau agroforestri? 3. Bagaimana penerapan sistem agroforestri di Indonesia ?1.3 Tujuan Penulisan Tujuan penulisan kami ini adalah: 1. Mengetahui karakteristik dan potensi sistem pertanian wanatani agroforestri. 2. Mengetahui pengertian dari definisi dan manfaat sistem pertanaman wanatani atau agroforestri. 3. Mengetahui bagaimana penerapanya di daerah lahan marjinal di Indonesia.
  4. 4. BAB II TINJAUAN PUSTAKA2.1 Sejarah, perkembangan, dan agroforestri secara umum di Indonesia Agroforestri merupakan suatu sistem yang mengkombinasikan antara komponen hutandengan komponen pertanian. Sehingga akan dihasilkan suatu bentuk pelestarian alam yang dapatmemberikan nilai ekonomi bagi pelakunya serta juga dapat digunakan untuk pelestarian alam.Agroforestri merupakan ilmu baru dengan teknik lama, maksudnya bahwa sebenarnyaagroforestri sudah diaplikasikan oleh masyarakat pada jaman dahulu dan sekarang tehnik inidigunakan kembali, karena dirasa sangat bermanfaat bagi alam dan masyarakat sekarang. Agroforestri telah banyak menarik perhatian peneliti-peneliti teknis dan sosial yangmempelajari pentingnya pengetahuan dasar pengkombinasian antara pepohonan dengan tanamantidak berkayu pada lahan yang sama, serta segala keuntungan dan kendalanya. Penyebaran ilmuagroforestri diharapkan dapat bermanfaat dalam mencegah perluasan tanah terdegradasi,melestarikan sumber daya hutan, meningkatkan mutu pertanian, serta meningkatkankesejahteraan petani. Manusia merupakan subjek utama dalam perkembangan jaman. Dibidang pertanian,manusia memiliki fungsi yang sangat komplek. Selain manusia dianggap sebagai perusaklingkungan, manusia juga berperang dalam perkembangan pertanian. Karena, manusia memilikisifat untuk selalu mencari sesuatu yang lebih dalam hidupnya. Sifat inilah yang selalumendorong manusia untuk berfikir dan berusaha mencari ataupun merubah sesuatu hal untukmendapatkan hasil sesuai yang diinginkannya, meskipun terkadang tidak memperhatikan bahkantidak memperdulikan dampak lingkungan yang akan terjadi. Pada areal hutan misalnya, terjadiperubahan yang signifikan, yaitu perubahan dari areal hutan yang tidak produktif menjadi arealhutan yang produktif, areal yang dapat memberikan hasil produksi maupun nilai ekonomi. Perubahan fungsi hutan tersebut sudah terjadi sejak dahulu, yaitu dengan carapembabatan hutan untuk dijadikan lahan pertanian secara total atau dengan carapengkombinasikan komponen hutan dengan pertanian yang saat ini dikenal dengan istilahagroforestri. Definisi agroforestri sendiri sangat banyak, karena setiap ahli memiliki definisisendiri-sendiri yang berbeda satu dengan yang lainnya. Salah satu definisi agroforestri yang dikemukakan oleh Lundgren dan Raintree (1982)yaitu, Agroforestri adalah istilah kolektif untuk sistem-sistem dan teknologi-teknologi
  5. 5. penggunaan lahan, yang secara terencana dilaksanakan pada satu unit lahan denganmengkombinasikan tumbuhan berkayu (pohon, perdu, palem, bambu dll.) dengan tanamanpertanian dan/atau hewan (ternak) dan/atau ikan, yang dilakukan pada waktu yang bersamaanatau bergiliran sehingga terbentuk interaksi ekologis dan ekonomis antar berbagai komponenyang ada. Sistem agroforestri ini berkembang melalui beberapa tahap, yaitu :a) Fase Agroforestri Klasik Pada jaman dahulu, untuk mencukupi kebutuhan hidupnya manusia melakukan perburuan(hunting) dan mengumpulkan makanan (food gathering), sehingga kehidupannya selaluberpindah-pindah (nomaden). Tetapi pada suatu saat pola hidup tersebut berubah ke carabercocok tanam dan berternak (plant and animals domestication). Sebagai bagian dari cara ini,mereka melakukan penebangan pohon, pembersihan dan pembakaran serasah dan kemudianmelakukan budidaya tanaman pangan pada areal bekas hutan tersebut. Dari sinilah awal lahirnyasistem agroforestri.b) Pra-agroforestri Modern Pada akhir abad XIX, pembangunan hutan tanaman (pepohonan sengaja ditanam – man-made forest) menjadi tujuan utama. Agroforestri dipraktekkan sebagai sistem pengelolaan lahan.Pada tahun 1800-an mulai ditanam tanaman jati dengan diselingi tanaman pangan semusim,penanaman ini menggunakan sistem “Taungya”. Kelebihan dari sistem ini, yaitu tidak hanyamenghasilkan bahan pangan, tetapi juga dapat mengurangi biaya pembangunan dan pengelolaanhutan tanaman. Di Indonesia sistem ini dikenal dengan nama tumpangsari. Sistem taungya inilahyang menurut para ahli merupakan cikal bakal agroforestri modern. Dalam perkembangan sistemtaungya selama lebih dari seratus tahun sejak diperkenalkan (periode 1856 hinga pertengahan1970-an), hanya sedikit atau bahkan sama sekali tidak ada perhatian terhadap komponenpertanian, petani ataupun produk-produknya. Pada saat itu sistem taungya memang dirancangdan dilakukan untuk kehutanan saja. Tidak heran bila waktu itu ada yang berpendapat, bahwadibeberapa bagian dunia, masyarakat setempat telah dieksploitasi untuk kepentingan kehutanan.Kesuksesan sistem taungya dikatakan karena adanya masyarakat yang „lapar tanah‟ (akibat dariketerbatasan penguasaan lahan dibandingkan dengan jumlah penduduk yang sangat tinggi),pengangguran dan kemiskinan (King, 1987). Dengan kata lain, keikutsertaan masyarakat dalam
  6. 6. sistem taungya pada waktu itu lebih banyak disebabkan keadaan atau keterpaksaan, bukankeuntungan yang dapat diperolehnya.c) Agroforestri modern Sejak awal tahun 70-an ada pendapat yang menyatakan pentingnya peran pepohonan dalammengatasi berbagai problema petani kecil dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, khususnyakebutuhan bahan pangan. Tujuan peningkatan produksi pangan melalui program “RevolusiHijau” yang dilaksanakan pada waktu itu memang dapat dicapai. Akan tetapi sebagian besarpetani tidak punya cukup modal untuk dapat berpartisipasi dalam program tersebut, karenabesarnya biaya untuk irigasi, pemupukan, pestisida dan bahkan untuk penyediaan lahannyasendiri. Selain itu status kepemilikan lahan sebagian petani masih belum pasti. Dilain pihak, permasalahan mengenai berkurangnya areal hutan akibat bertambahnyajumlah penduduk menyebabkan Bank Dunia (world bank) menggalakkan program perhutanan-sosial (social forestry), yang dalam pelaksanaannya dirancang khusus untuk peningkatanproduksi pangan dan konservasi lingkungan tanpa mengabaikan kepentingan pihak kehutananuntuk tetap dapat memproduksi dan memanfaatkan kayu. Dari agroforestri modern ini, mulaiberkembanglah beberapa hal mengenai agroforestri, baik pada lembaga penelitian, polapemikiran, sampai konsep-konsep mengenai sistem agroforestri ini. Dalam aplikasinya, sistemagroforestri memiliki sasaran dan tujuan.
  7. 7. BAB III PEMBAHASANKasus : Peran Agroforestri Dalam Menanggulangi Banjir Dan Longsor DAS3.1 Konsep Pengelolaan DAS Menyadari keterkaitan antara daerah hulu, tengah dan hilir, maka konsep perencaan danpengelolaan daerah aliran sungai hendaklah berpedoman pada satu sungai satu perencanaan dansatu pengelolaan. Hendaknya masing masing daerah dalam satu kawasan DAS tidaklahmementingkan kepentingan sendiri sesaat (untuk mengejar PAD semata di era OTDA), namunharus memikirkan kepentingan bersama agar kelangsungan fungsi DAS secara optimal danlestari. Oleh karena itu, perencaan dan pengelolaan suatu kawasan hendaknya berbasis padaDAS. Permasalahan yang timbul adalah batas adminitrasi daerah sangat berbeda dengan batasDAS, mengingat DAS adalah bingkai wilayah alami dari lahan. Daerah aliran sungai (DAS)merupakan suatu hamparan wilayah/kawasan yang dibatasi oleh pembatas topografi (punggung /igir bukit) yang berfungsi sebagai satuan tangkapan air hujan yang berakhir pada satu muarasungai. Mungkin dalam satu kawasan DAS melintas beberapa daerah kabupaten atau propinsi.Atau sebaliknya, dalam satu propinsi/kabupaten dilintasi beberapa DAS, sehingga cukup sulitdalam praktek pengelolaanya (misalnya penganggaran). Oleh karena itu, perlu adanya koordinasiantar daerah dalam satu kawasan DAS. Pengelolaan daerah hulu misalnya, apakah merupakan tanggung jawab pemerintah daerahyang mewilayahinya saja, tentunya tidak, ini merupakan tanggung jawab semua wilayah yangada dalam kawasan DAS seluruhnya. Mengingat baik dan buruknya pengelolaan daerah hulu,dampaknya akan dirasakan semua yang ada di dalam kawasan DAS tersebut, maka timbulpemikiran perlunya kompensasi daerah hilir dan tengah untuk daerah hulu, selanjutnyakompensasi apa yang harus diberikan. Semuanya tadi perlu koordinasi dan duduk bersama dalamperencanaan pengelolaan, yang diikuti oleh semua daerah dalam kawasan DAS, dan BP DAStentunya sangatlah berkepentingan. Setiap daerah (baik di hulu, tengah dan hilir) mempunyaikewajiban masing-masing untuk mengelola wilayahnya, agar DAS dapat berfungsi secaraoptimal. Ringkasnya baik dan tidaknya DAS sangat tergantung dari perencanaan danpengelolaannya, yang merupakan tanggung jawab bagi semua daerah di kawasan DAS tersebut.
  8. 8. Hendaknya semangat satu sungai, satu perencanaan dan pengelolaan tidak lekang karenapelaksanaan OTDA (otonomi daerah), dan tidak rapuh karena target PAD.3.2 Peran Agroforestri Dalam Konservasi DAS Kondisi ekosistem DAS yang kondusif akan mampu menggerakan sendi-sendiperekonomian kawasan. Untuk mencapai kondisi tersebut perlu upaya konservasi dan rehabilitasitanah dan air di kawasan tersebut. Konservasi tanah dan air bertujuan untuk meningkatkanproduktivitas lahan serta menurunkan atau menghilangkan dampak negatip pengelolaan lahanseperti erosi/longsor, sedimentasi dan banjir. Upaya konservasi tanah dan air dapat dilakukansecara sipil teknik (mekanis) dan secara vegetatif. Pengendalian erosi secara vegetatif merupakanpengendalian erosi yang didasarkan pada peran tanaman sehingga mengurangi daya pengikisandan penghanyutan tanah oleh aliran permukaan. Tanaman dapat berfungsi melindungipermukaan tanah terhadap pukulan air hujan, melindungi daya transportasi aliran permukaan,dan menambah infiltrasi tanah, sehingga pasokan dan cadangan air dalam tanah meningkat.Pangkasan dan seresah tanaman dapat memasok bahan organik dan hara, serta dapatmenyediakan pakan untuk ternak. Cara vegetatif dapat dilakukan dengan penanaman tanamanpenutup tanah, penanaman sistem lorong, dan penghijauan. Untuk meningkatkan efisiensi penggunaan lahan sekaligus menekan laju erosi, upayakonservasi dapat dilakukan secara terpadu antara pendekatan sipil teknik (mekanis) dan secaravegetatif seperti pembuatan teras dengan penanaman ganda (Multiple cropping), termasuk sistemagroforestri yang memadukan tanaman pertanian dengan ternak. Sistem penanaman gandamerupakan sistem bercocok tanam dengan menanam lebih dari satu jenis tanaman dalamsebidang tanah secara bersamaan atau digilir, seperti pada sistem tumpangsari (Intercropping)yang membudidayakan dua atau lebih jenis tanaman pada sebidang tanah dalam waktu yangbersamaan. Sistem pertanian ganda sangat cocok bagi petani di daerah tropis dengan lahan sempitsehingga dapat memaksimalkan produksi dengan input luar yang rendah, sekaligusmeminimalkan resiko gagal panen dan melestarikan sumberdaya alam. Sistem penanaman gandamemiliki beberapa keuntungan, antara lain: a) mengurangi erosi tanah atau kehilangan tanah-olah, b) memperbaiki tata air dan meningkatkan pasokan (infiltrasi) air ke dalam tanah sehinggacadangan air untuk pertumbuhan tanaman akan lebih tersedia, c) menyuburkan dan memperbaiki
  9. 9. struktur tanah, d) meningkatkan daya guna tanah sehingga pendapatan petani akan meningkatpula, e) menghemat tenaga kerja, f) menghindari terjadinya pengangguran musiman karena tanahbisa ditanami secara terus menerus, g) pengolahan tanah tidak perlu dilakukan berulang kali, h)mengurangi populasi hama dan penyakit tanaman, dan i) memperkaya kandungan unsur haraantara lain nitrogen dan bahan organik, dan j) pemanfaatan sumber daya air, sinar matahari danunsur hara yang ada akan lebih efisien. Agar diperoleh hasil yang maksimal maka dalampenerapan sistem tumpang sari tanaman yang diusahakan harus dipilih sedemikian rupa sehinggamampu memanfaatkan ruang dan waktu seefisien mungkin, dan pengaruh kompetitif yangsekecil-kecilnya. Jenis tanaman yang dibudidayakan harus memiliki pertumbuhan yang berbeda,bahkan bila memungkinkan dapat saling melengkapi. Salah satu bentuk tumpang sari yang banyak diterapkan dan sangat efektif dalammenunjang konservasi tanah dan air adalah sistem agroforestri. Agroforestri merupakan polatumpang sari yang memadukan tanaman tahunan (hutan) dengan tanaman pertanian (tanamanpangan, hortikultura atau perkebunan). Pola ini cukup efektif dalam pengendalian erosi danbanjir, rehabilitasi lahan, dan melalui pola tanam secara khusus cukup efektif dalam konservasilereng rawan longsor.3.3 Peran agroforestri dalam pengendalian erosi dan banjir Pengaturan luas hutan menjadi sangat penting dalam mengurangi resiko banjir dikawasan DAS, mengingat hutan merupakan penutupan lahan yang paling baik dalam mencegaherosi. Hutan pada kawasan DAS juga berperan sebagai penyimpan air tanah pada saat intensitascurah hujan yang tinggi, yang biasa terjadi pada awal musim penghujan. Hutan sangat efektifdalam mengendalikan aliran permukaan karena laju infiltrasi hutan di daerah hulu DAS sangatbesar, sehingga dapat mengatur fluktuasi aliran sungai dan cukup signifikan dalam mengurangibanjir (Nana Mulyana et al., 2007). Oleh karena itu, penetaptan luasan hutan minimum 30% dariluas DAS merupakan satu langkah yang tepat dalam menanggulangi erosi dan banjir, disampingupaya konservasi lainnya. Program penghijauan dan penghutanan kembali perlu terus dilakukan dalam rangkaupaya pengendalian erosi dan banjir baik di lahan petani maupun di kawasan hutan. Sistempenanaman penghutanan kembali baik di dalam dan di luar kawasan dapat dilakukan dengan duapola, yaitu murni tanaman kayu (bisa satu jenis tanaman kayu atau campuran) maupun
  10. 10. agroforestri. Pola agroforestri yang merupakan pola tumpang sari antara tanaman tahunan(hutan) dengan tanaman pertanian, mampu menutup tanah dengan sempurna sehinggaberpengaruh efektif terhadap pengendalian erosi dan peningkatan pasokan air tanah. Menyadari keberadaan masyarakat sekitar hutan sangat menentukan baik dan buruknyahutan, maka dalam pembangunan hutan dipandang perlu melibatkan masyarakat sekitar hutan,seperti yang dilakukan Perhutani. Perhutani dalam rangka pelaksanaan program pembangunanhutan, menerapkan pola agroforestry dengan melibatkan masyarakat sekitar hutan untuk ikutberpartisipasi, seperti program pembangunan hutan bersama masyarakat (PHBM). Pada saattanaman tahunan masih kecil petani sekitar hutan dapat mengusahakan lahan untuk budidayatanaman semusim. PHBM yang dulu dikenal sebagai perhutanan sosial, akan berdampak positipganda, disamping dapat membantu masyarakat secara ekonomis (dari hasil tanaman semusimdan rumput untuk pakan ternak) juga kelestarian tanaman hutan akan terjamin, karena tumbuhkesadaran petani untuk memeliharanya. Selain itu, penghijauan di lahan petani (pembangunanhutan rakyat) sangat efektif dilakukan melaui pola agroforestri, karena petani tertopangkebutuhan hidupnya dari usaha pertaniannya sekaligus sebagai upaya penghijauan. Secara teknis konservasi, adanya variasi antara tanaman pertanian (pangan, hortikultura)dengan rumput di antara tegakan tanaman tahunan, akan meningkatkan penutupan lahan secarasempurna. Variasi tanaman tahunan dan tanaman pertanian ini akan mengurangi pengaruhpukulan butir hujan secara langsung ke permukaan tanah (terhindar dari rusaknya struktur tanah),melindungi daya transportasi aliran permukaan, menahan sedimen, meningkatkan pasokan air kedalam tanah dan mengurangi evaporasi sehingga meningkatkan ketersedian air tanah, danmeningkatkan cadangan air di musim kemarau. Dalam rangka meningkatkan efektivitas menekan laju erosi, penerapan pola agroforestridapat dipadukan dengan upaya-upaya konservasi lainnya, seperti pembuatan teras bangku,saluran pembuangan, pembuatan terjunan air dan pembuatan bangunan lainnya, sehinggasedimentasi dapat ditekan. Selain tumpang sari tanaman tahunan dan tanaman semusim (pangan)juga dapat dimasukan tanaman hortikultura dan rumput pakan ternak, sehingga tercipta polausahatani terpadu dengan ternak. Tanaman pangan (semusim) dilakukan pada bidang terasseperti padi, kacang tanah, kedelai, jagung dan kacang panjang sebagai tanaman sela. Disamping itu pada bidang teras yang sama dilakukan penanaman tanaman tahunan sebagaitanaman pokok dengan jarak tanam antara 6-8 m (sesuai kondisi lokasi) dengan tanaman seperti
  11. 11. jati, mahoni, pinus dan lainnya. Jika tanaman pohon sebagai tanaman pokok sudah semakin rapatpenutupan tajuknya, maka dicarikan tanaman yang lebih tahan terhadap naungan seperti empon-empon. Pada tepi teras disamping diperkuat dengan batuan, dapat ditanami dengan tanamanpenguat teras yang terdiri dari tanaman rumput, lamtoro dan dapat ditanami tanaman hortikulturaseperti srikaya, nanas dan pisang. Tanaman rumput pada tepi teras disamping berfungsi sebagaipenguat teras juga sebagai sumber pakan ternak (sapi atau kambing). Limbah ternak yang berupakotoran ternak dapat dikembalikan ke lahan usaha untuk memperbaiki tingkat kesuburan tanah.Dalam rangka pengembangan bioenergi dan mewujudkan desa mandiri energi, memasukantanaman jarak yang ditanam pada teras sangat tepat karena perakarannya mampu berfungsisebagai penguat teras.3.4 Peran agroforestri terhadap konservasi daerah rawan longsor Peristiwa tanah longsor di Karanganyar dan daerah lain baru-baru ini merupakan bencanaalam yang harus diminimalisasi. Bencana alam tanah longsor sering terjadi karena polapemanfaatan lahan yang tidak mengikuti kaidah kelestarian lingkungan, seperti gundulnya hutanakibat deforesterisasi, dan konversi hutan menjadi lahan pertanian dan pemukiman di lahanberkemiringan lereng yang terjal. Penutupan lahan yang rendah akibat konversi hutan merupakansalah satu faktor yang menyebabkan daerah menjadi rawan longsor. Longsor adalah peristiwa meluncurnya material tebing atau bidang tanah yang lerengnyasangat miring. Penyebab utama dan pemicu peristiwa longsor ini curah hujan yang tinggi, selainkondisi lahan yang tidak mendukung. Hal ini diakibatkan tanah jenuh air dan pengikat agregattanah tidak berfungsi, sehingga tanah dan material meluncur ke bagian bawah lereng. Pengikatagregat tanah pada umumnya berupa perakaran pohon. Selain itu, tanah longsor terjadi karenapada lereng curam terdapat bidang peluncur di bawah permukaan tanah yang kedap air, danterdapat jenuh air dalam tanah di atas lapisan kedap (Sukresna, 2007). Kejadian longsor di beberapa tempat di Karanganyar akhir-akhir ini, diduga disebabkankondisi lahan dengan kemiringan lebih 40o dengan permukaan lahan relatif terbuka, digunakanuntuk budidaya jagung, ketela, pisang dan bambu. Kondisi tanah lapisan permukaan berupatanah gembur dengan tekstur didominasi liat dan debu, terdapat lapisan kedap air sebagai bidangluncur dengan kemiringan kurang lebih sejajar kemiringan lereng. Curah hujan saat kejadian
  12. 12. sangat tinggi yang mengguyur sepanjang malam menyebabkan masa tanah di permukaanmenjadi jenuh air, sehingga lereng tidak stabil lagi, dan terjadi longsor. Peran vegetasi hutan dalam mengendalikan stabilitas tanah pada lereng sangat besarmelaui peran secara hidromekanik dan bioteknik. Vegetasi berperan dalam aspek hidrologi yaitumenurunkan kelembaban air tanah melaui proses evapotranspirasi dan aspek mekanis perkuatanikatan akar pada partikel tanah pada lereng (jaringan akar dan penjangkaran akar sampai lapisankedap) (Sukresna, 2007). Diantara faktor yang berpengaruh pada longsor, faktor vegetasimerupakan faktor yang dapat kita kelola, baik melalui pemilihan jenis tanaman maupunpengaturan kerapatan tanaman. Upaya penutupan lahan atasan dengan pohon penghijauan perludilakukan terutama di lahan atas yang rentan longsor. Keberadaan pohon di sepanjang tebing sangat mempengaruhi stabilitas tebing melaluifungsi perakaran yang melindungi tanah sehingga mempengaruhi ketahanan geser (shearstrength) tanah. Besarnya ketahanan geser tanah ditentukan oleh karakteristik sifat fisik tanah(yang melputi kandungan liat dan debu, porositas, dan kadar air). Akar pohon dapat berfungsidalam mempertahankan stabilitas tebing melalui dua mekanisme yaitu : (1) mencengkeram tanahlapisan atas (0-5 cm), dan (2) mengurangi daya dorong masa tanah akibat pecahnya gumpalantanah. Peran perakaran pohon dalam meningkatkan ketahanan geser tanah ditentukan oleh umurtanaman, total panjang akar, diameter akar, dan kandungan lignin perakaran. Pohon yang berperakaran intensif di lapisan atas sangat efektif membantu mengurangihanyutnya lapisan atas, sedang pohon berperakaran dalam akan berfungsi sebagai jangkar(anchor), memperkuat tegaknya batang sehingga pohon tidak mudah tumbang pada saat terjadilongsor sehingga tebing tetap stabil (Kurniawan et al., 2007). Peran vegetasi dalammengendalikan stabilitas lereng sangat ditentukan oleh sifat-sifat dari akarnya, antara lain: 1)bentuk sistem perakarannya (tunggang-serabut), 2) kedalaman akar (dangkal-dalam menembusbedrock), 3) sebaran perakaran (perbandingan dengan luas tajuk), 4) susunan akar (nisbah akar :tanah atau berat biomasa akar per satuan volume akar), dan 5) kekuatan akar (nilai kuat tarikakar pada berbagai diameter akar dan spesies vegetasi). Hairiah et al., (2007) menyatakan bahwa strategi yang paling tepat untuk meningkatkanstabilitas tebing adalah dengan meningkatkan diversitas pohon yang ditanam dalam suatu lahanuntuk meningkatkan jaringan akar-akar yang kuat baik pada lapisan tanah atas maupun bawah.Oleh karena itu untuk konservasi daerah tebing rawan longsor (berlereng curam dengan
  13. 13. kemiringan ≥ 80% atau ≥ 40o) sebaiknya penghijauan dengan tanaman yang sistem perakaranyadalam, dan diselingi dengan tanaman-tanaman yang lebih pendek dan ringan, dan bagian dasarditanami rumput. Perbaikan dan pemeliharaan drainase perlu dilakukan untuk menjauhkan airdari lereng, menghindarkan air meresap ke dalam lereng, atau menguras air dalam lereng keluarlereng sehingga air jangan sampai tersumbat atau meresap ke dalam tanah agar stabilitas lerengtetap terjaga.3.5 Peran agroforestri dalam perbaikan kuailitas lahan Tegakan agroforestri memiliki dampak positif dalam memperbaiki dan meningkatkankualitas lahan, antara lain tegakan pohon/tanaman yang intensif akan menekan laju evaporasi danmengurangi intensitas sinar matahari, sehingga akan terbentuk iklim mikro yang kondusif bagikehidupan mikroorganisme dan tanaman terutama pada musim kering. Keragaman tajuk (multistrata) berbagai spesies pohon, tanaman semusim bersama seresahnya di permukaan tanahdisamping dapat berfungsi mengurangi energi kinetik pukulan butir hujan pada permukaan tanah,juga dapat mempertahankan iklim mikro akibat meningkatnya penutupan tanah. Tajuk tanaman dan seresah yang berada di permukaan lahan akan mengurangi suhu tanahdan berpengaruh dalam proses dekomposisi dan mineralisasi (pelepasan hara). Keanekaragamanspesies tanaman dengan tajuk dan perakaran yang berbeda, dapat meningkatkan pemanfaatansumberdaya yang tersedia secara efisien, baik dalam pemanfatan sinar matahari, unsur hara danair. Keragaman tanaman akan mengurangi pelindian N dalam tanah, dan juga penting dalammempertahankan pasokan subtrat bagi ekosistem tanah-tanaman secara berkelanjutan. Sebagaiimbalannya, komunitas biota tanah akan memberikan layanan lingkungan yang akanmenguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. Sistem agroforestri meningkatkan kualitas tanah, yang ditunjukan oleh perbaikan stukturtanah (peningkatan berat volume tanah), lengas tanah, kesuburan kimia yang ditunjukan olehnisbah C/N, dan kesuburan biologi tanah yang ditunjukan oleh peningkatan aktivitas dandiversitas biota tanah (Solehani dan Suwarji, 2007). Masuknya tanaman tahunan (hutan) dalamsistem agroforestri mempunyai potensi mampu mengeksploitasi hara yang tak terjangkau olehperakaran semusim, menangkap hara yang bergerak turun maupun yang bergerak lateral dalamprofil tanah, dan melarutkan bentuk hara recalsitrant yang tidak tersedia bagi tanaman semusim.Pada tanaman tahunan lebih efisien memanfaatkan N dan pengendalian pelindian NO3 melaui
  14. 14. pemanfaatan kembali hara di bawah zone eksploitasi akar tanaman dengan bantuan pepohonanberakar dalam, dikenal dengan istilah nutrient pumping (Purwanto, 2007). Dengan memasukanternak dalam usaha tani agroforestri, menambah pasokan pupuk organik dalam usaha taninyasehingga pengelolaan kesuburan tanahnya akan lebih terjamin. Dalam sistem agroforestri melalui keragaman masukan seresah dan keragamanperakarannya, mampu mempertahankan aktifitas dan keragaman biota tanah. Seresah yangberada di permukaan tanah akan mendorong aktivitas biota tanah yang termasuk soil ecosystemengineers sehingga memperbaiki pori tanah. Pertanian yang berbasis pohon lebih mampumerawat diversitas cacing tanah dari pada pertanian semusim (Dewi, et al., 2007). Biodiversitasdalam tanah berperan penting dalam keberlanjutan fungsi ekosistem, antara lain sebagai agenpendorong primer dalam siklus keharaan, mengatur dinamika bahan organik tanah danpenyerapan C. Penetrasi berbagai perakaran tanaman ke dalam profil tanah pada sistem agroforestridapat menciptakan lapisan subsoil yang granuler dan menciptakan pori yang tidak mudahtersumbat sehingga memacu perkembangan mikro morfologi tanah. Kombinasi antara adanyapenetrasi akar tanaman, bahan organik tanah, aktivitas biota tanah dan stabilitas sifat fisik tanahakan memperbaiki porositas dan ekosistem mikro tanah. Pengembangan sistem agroforestri dilahan marginal masam (Ultisol dan Oxsisol) yang kahat hara P, menunjukan bahwa penerapansistem ini mampu meningkatkan kandungan P-total tanah, peningkatan P-labil yang didominasioleh P-organik labil (Utami et al., 2007). Kemampuan agroforestri untuk meningkatkan kualitas fisik, biokimia, morfologi tanahdan air tanah merupakan hal yang penting dan vital mengingat hal-hal tersebut merupakan faktorpembatas utama bagi produktivitas lahan kering. Beberapa keuntungan yang diperoleh melaluipenerapan sistem agroforestri meliputi : 1) mampu mengoptimalkan input lokal, 2)meningkatkan pendapatan petani dan mengurangi resiko kegagalan total, 3) menyediakanlapangan pekerjaan bagi masyarakat, 4) sifatnya yang tidak bertentangan dengan kondisi sosialmasyarakat, dan 5) mempunyai peran penting dalam upaya rehabilitasi lahan kritis danpeningkatan kualitas lahan. Agroforestri dapat mengurangi resiko petani mengalami gagal panen total. Jika salah satujenis tanaman gagal akibat musim atau hama penyakit, atau resiko perkembangan pasar yangsulit diperkirakan, maka tanaman yang lain masih bisa diharapkan untuk panen. Agroforestri
  15. 15. juga dapat berperan sebagai kebun dapur yang memasok bahan makanan pelengkap (sayuran,buah, rempah, bumbu). Keanekaragaman sumber nabati dan hewani dalam sistem agroforestridapat mennyerupai peran hutan alam dalam menyediakan beragam hasil yang akhir-akhir inisemakin langka dan mahal seperti kayu, bahan pangan, bahan atap, tanaman obat, dan lain-lain.
  16. 16. BAB IV KESIMPULAN Konsep pengelolaan DAS hendaklah berpedoman pada satu sungai satu perencanaandan satu pengelolaan, dalam implementasinya merupakan tanggung jawab semua daerah dikawasan DAS tersebut. Hendaknya konsep ini tidak lekang karena pelaksanaan OTDA (otonomidaerah), tidak rapuh karena target PAD. Agroforestri sangat tepat untuk dikembangkan dalam pengelolaan DAS (pengendalianbanjir dan longsor) dengan petimbangan: (1) mampu menutup permukaan tanah dengansempurna, sehingga efektif terhadap pengendalian erosi/longsor dan peningkatan pasokan dancadangan air tanah, (2) variasi tanaman membentuk jaringan perakaran yang kuat baik padalapisan tanah atas maupun bawah, akan meningkatkan stabilitas tebing, sehingga mengurangikerentanan terhadap longsor (pengaturan pola tanam tersendiri), (3) terkait rehabilitasi lahan,mampu meningkatkan kesuburan fisika (perbaikan struktur tanah dan kandungan air), kesuburankimia (peningkatan kadar bahan organik dan ketersediaan hara) dan biologi tanah (meningkatkanaktivitas dan diversitas), morfologi tanah (pembentukan solum), (4) secara ekonomimeningkatkan pendapatan petani dan menekan resiko kegagalan panen, dan (5) mempunyaiperan penting dalam upaya rehabilitasi lahan kritis. Khusus konservasi daerah tebing rawan longsor dapat dilakukan melalui penghijauandengan pola tanam, variasi tanaman yang sistem perakaranya dalam yang diselingi dengantanaman yang lebih pendek dan ringan, permukaan tanah ditanami rumput, dan disertaiperbaiakan drainase (menjauhkan air dari lereng dan menghindari air meresap ke dalam lereng)agar stabilitas lereng tetap terjaga.
  17. 17. DAFTAR PUSTAKAAtmojo, Suntoro Wongso. 2009. Peran Agroforestri Dalam Menanggulangi Banjir Dan Longsor DAS. Diakses melalui : suntoro.staff.uns.ac.id/files/2009/04/3-agroforestri-banjir-dan- longsor-das.docDewi, W.S., Kurniatun H., Didik S. 2007. Layanan ekologi cacing jenis penggali tanah dalam mempertahankan makroporositas tanah lahan pertanian bekas hutan. Prosiding HITI IX. Yogyakarta.Prayogo, C. 2007. Karakteristik lahan wilayah bencana longsor di SubDAS Kaliputih. Jember. Prosiding HITI. IX. YogyakartaKurniatun, H. 2002. Akar pertanian sehat (konsep dan pemikiran). UNIBRAW. Malang.

×