Ghadhdhul bashar

2,049 views
1,814 views

Published on

menjelaskan tentang perintah menjaga pandangan

2 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
2,049
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
151
Comments
2
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Ghadhdhul bashar

  1. 1. Ghadhdhul Bashar Menjaga Pandangan
  2. 2. Dalil-dalil dari Quran <ul><li>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, </li></ul><ul><li>“ Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menundukkan pandangannya.’.” [ An- Nur: 31 ] </li></ul><ul><li>Ayat ini menunjukkan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada wanita-wanita mu’minah untuk menundukkan pandangannya dari apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah haramkan, maka jangan mereka memandang kecuali apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah halalkan baginya. </li></ul><ul><li>Berkata Ibnu Katsir rahimahullah, “Kebanyakan para ulama menjadikan ayat ini sebagai dalil tentang haramnya wanita memandang laki-laki selain mahramnya, baik dengan syahwat maupun tanpa syahwat.” ( Tafsir Ibnu Katsir 3/345). </li></ul>
  3. 3. <ul><li>Berkata Imam Al-Qurthuby rahimahullah dalam menafsirkan ayat ini, “Allah Subhanahu wa Ta’ala memulai dengan perintah menundukkan pandangan sebelum perintah menjaga kemaluan, karena pandangan adalah pancaran hati. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memerintahkan wanita-wanita mu’minah untuk menundukkan pandangannya dari hal-hal yang tidak halal. Oleh karena itu, tidak halal bagi wanita-wanita mu’minah untuk memandang laki-laki selain mahramnya.” ( Tafsir Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur`an 2/227). </li></ul><ul><li>Berkata Imam Asy-Syaukany rahimahullah, “Ayat ini menunjukkan haramnya bagi wanita memandang kepada selain mahramnya.” ( Tafsir Fathul Qadir 4/32). </li></ul>
  4. 4. <ul><li>Berkata Muhammad Amin Asy-Syinqithy rahimahullah, “Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa yang menjadikan mata itu berdosa karena memandang hal-hal yang dilarang, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, </li></ul><ul><li>“ Dia mengetahui khianatnya (pandangan) mata dan apa yang disembunyikan oleh hati.” [ Ghafir: 19 ] </li></ul><ul><li>Ini menunjukkan ancaman bagi yang menghianati matanya dengan memandang hal-hal yang dilarang.” </li></ul><ul><li>Al-Imam Al-Bukhary rahimahullah berkata, “Makna dari ayat (31 surah An-Nur) adalah memandang hal yang dilarang, karena hal itu merupakan penghianatan mata dalam memandang.” ( Adhwa` Al-Bayan 9/190). </li></ul>
  5. 5. Dalil-Dalil dari Sunnah <ul><li>Pertama , dari Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu riwayat Bukhary-Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda, </li></ul><ul><li>“ Berhati-hatilah kalian dari duduk di jalan-jalan, mereka bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah ada apa-apanya (bahayanya) dari majelis-majelis yang kami berbicara di dalamnya?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam menjawab, ‘Apabila kalian tidak mau kecuali harus bermajelis maka berikanlah bagi jalanan haknya,’ mereka bertanya, ‘Dan apa haknya?’ Rasulullah menjawab, ‘Menundukkan pandangan, menahan diri dari mengganggu, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi mungkar.’.” </li></ul><ul><li>Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bary (11/11), “Dalam hadits ini terdapat petunjuk bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam melarang duduk di jalan, hal ini untuk menjaga timbulnya penyakit hati dan fitnah dari memandang laki-laki ataupun wanita selain mahramnya.” </li></ul><ul><li>Berkata Syamsuddin Al-‘Azhim Al-Abady sebagaimana dalam ‘Aunul Ma’bud (13/168), “Ghadhdhul bashar ‘menundukkan pandangan’ yaitu menahan pandangan dari melihat yang diharamkan.” </li></ul>
  6. 6. <ul><li>Kedua , dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Bukhary-Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam menegaskan, </li></ul><ul><li>“ Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi setiap anak Adam bagiannya dari zina, ia mengalami hal tersebut secara pasti. Kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lisan zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang dan kaki zinanya adalah berjalan dan hati berhasrat dan berangan-angan dan hal tersebut dibenarkan oleh kemaluan atau didustakannya.” </li></ul><ul><li>Imam Bukhary, dalam menjelaskan hadits ini, menyatakan bahwa selain kemaluan, anggota badan lainnya dapat berzina, sebagaimana beliau sebutkan dalam sebuah bab bahwa selain kemaluan, anggota badan lainnya dapat berzina. </li></ul><ul><li>Al-Hafizh Ibnu Hajar telah menukil dari Ibnu Baththal bahwa beliau berkata, “Mata, mulut, dan hati dinyatakan berzina karena asal sesungguhnya dari zina kemaluan itu adalah memandang kepada hal-hal yang haram.” ( Fathul Bary 11/26). </li></ul><ul><li>Maka dari pernyataan ini menunjukkan bahwa hukum memandang kepada selain mahram adalah haram karena memandang adalah wasilah ‘jalan’ yang mengantar kita untuk berbuat zina kemaluan yang hal itu termasuk dosa besar. </li></ul>
  7. 7. <ul><li>Ketiga ,dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,“Seseorang dari satu celah mengamati kamar-kamar Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam ada sisir yang beliau menggaruk kepalanya, maka beliau berkata, ‘Sekiranya saya tahu engkau memandang (ke kamarku) maka akan kutusukkan sisir ini ke matamu. Sesungguhnya diberlakukannya meminta izin itu karena alasan pandangan.’.” (diriwayatkan oleh Bukhary-Muslim) </li></ul><ul><li>Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Hadits ini menunjukkan disyariatkannya meminta izin disebabkan oleh hal memandang, dan adapun larangan memandang ke dalam rumah orang tanpa memberitahu pemiliknya karena dikhawatirkan ia akan melihat hal-hal yang haram.” ( Fathul Bary 11/221). </li></ul>
  8. 8. <ul><li>Keempat ,dari Jarir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, </li></ul><ul><li>“ Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tentang memandang secara tiba-tiba, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam memberi perintah kepadaku, ‘Palingkanlah pandanganmu.’.” (diriwayatkan oleh Muslim). </li></ul><ul><li>Syaikh Salim Al-Hilaly hafizhahullah berkata, “Hadits ini menjelaskan bahwa tidak ada dosa pandangan kepada selain mahram secara tiba-tiba (tidak disengaja), akan tetapi wajib untuk memalingkan pandangan berikutnya, karena hal itu sudah merupakan dosa.” ( Bahjatun Nazhirin 3/146). </li></ul><ul><li>Imam An-Nawawy mengatakan, “Pandangan kepada selain mahram secara tiba-tiba tanpa maksud tertentu, pada pandangan pertama, maka tak ada dosa. Adapun selain itu, bila ia meneruskan pandangannya, maka hal itu sudah terhitung sebagai dosa.” ( Syarh Shahih Muslim 4/197). </li></ul>
  9. 9. Hikmah Menundukkan Pandangan <ul><li>Membersihkan diri dari derita penyesalan </li></ul><ul><li>        Siapa yang suka mengumbar pandangan matanya maka penyesalan yang dia rasakan tiada henti-hentinya. Pandangan akan menyusup ke dalam hati seperti anak panah  yang meluncur saat dibidikkan.Jika  tidak membunuh tentu anak panah akan membuat luka .atau pandangan  itu seperti bara api yang dilemparkan kedahan-dahan kering.jika tidak membakar semuanya,tentu ia akan membakar sebagian diantaranya. Ada pula sebuah Hadis yang serupa dengan ini,dan bahkan merupakan bagian darinya,&quot; Pandangan mata itu (laksana)anak panah beracun dari berbagai macam anak panah iblis.Barang siapa menahan pandanganya dari keindahan-keindahan wanita,maka Allah mewariskan kelezatan di dalam hatinya,yang akan dia dapatkan hingga dari dia bertemu dengan-Nya&quot;. </li></ul>
  10. 10. <ul><li>Mendatangkan kekuatan firasat yang benar </li></ul><ul><li>       Menahan pandangan bisa mendatangkan kekuatan firasat,karena firasat itu termasuk cahaya dan buah dari cahaya. Jika hati bercahaya,maka firasat juga tidak akan meleset,sebab hati itu kedudukanya seperti cermin yang memperlihatkan seluruh data seperti apa adanya,Sedangkan orang yang mengumbar pandangan matanya,maka seperti orang yang menghembuskan nafas di cermin hatinya,sehingga cahayanya menjadi pudar. Syuja' Al-Karmany berkata, &quot;jika zhahir seseorang mengiktui sunnah,bathinya merasakan pengawasan Allah,dia menahan pandangan dari hal-hal yang diharamkan,menahan diri dari syahwat dan memakan makanan yang halal,tentu firasatnya tidak akan meleset&quot;. Syuja' ini dikenal sebagai orang yang firasatnya tidak pernah meleset. </li></ul>
  11. 11. <ul><li>Membuka pintu dan jalan ilmu serta memudahkan untuk mendapatkan sebab-sebab ilmu </li></ul><ul><li>    Hal ini terjadi karena adanya hati.Jika hati bersinar terang,maka akan muncul hakikat-hakikat pengetahuan di dalamnya dan mudah dikuak,sehingga sebagian demi sebagian ilmu itu bisa diserap. Namun siapa yang mengumbar pandangan matanya,maka hatinya akan menjadi kelam dan gelap.Jalan dan pintu ilmu menjadi tertutup. </li></ul>
  12. 12. <ul><li>Mendatangkan kekuatan hati,keteguhan dan keberanian </li></ul><ul><li>      Dengan begitu seseorang yang menahan pandangan matanya bisa menguasai pandangan itu yang disertai dengan Hujjah. Di dalam atsar disebutkan,&quot;Siapa yang menentang hawa nafsunya,maka setan merasa takut kepadanya. &quot;Oleh karena itu,diantara orang yang mengikuti hawa nafsunya ada yang hatinya menjadi hina dan lemah,jiwanya kerdil dan tak ada harganya,karena Allah juga menjadikanya orang yang mementingkan hawa nafsunya dari pada Keridhaan-Nya&quot;. </li></ul>
  13. 13. <ul><li>Mendatangkan kegembiraan,kesenangan dan kenikmatan </li></ul><ul><li>       Tidak dapat diragukan,jika seseoramh menentang hawa nafsunya,tentu kesudahanya adalah kegembiraan,kesenangan dan kenikmatan yang jauh lebih besar dari pada kenikmatan mengikuti hawa nafs. Oleh karena itulah akal lebih menonjol dari pada hawa nafsu </li></ul>
  14. 14. <ul><li>Membebaskan hati dari tawanan syahwat </li></ul><ul><li>         Sesungguhnya orang yang layak disebut tawanan adalah orang yang bisa ditawan oleh syahwat dan hawa nafsunya,seperti yang dikatakan didalam pepatah &quot;Orang yang mengumbar pandangan matanya adalah seorang tawanan.&quot;Jika syahwat dan nafsu sudah menawan hati manusia ,maka memungkinkan bagi musuh dari rivalnya untuk melancarkan siksaan kepadanya,sehingga dia seperti anak burung ditangan anak kecil yang memainkanya sesuka hati. </li></ul>
  15. 15. <ul><li>Menutup pintu neraka jahannam </li></ul><ul><li>       Pandangan mata adalah pintu syahwat yang menuntut pelaksanaanya. Pengharaman Allah dan syariat-Nya merupakan tabir penghalang untuk mengumbar pandangan.Siapa yang merusak tabir ini ia akan berani melanggar larangan.Dia tidak akan berhenti pada satu tujuan saja.Jiwa manusia tidak akan menentang tujuan yang sudah diperoleh,lalu ia ingin mendapatkan kesenangan dalam hal yang baru lagi. Orang yang terbiasa dengan sesuatu yang pernah ada,tidak menolak untuk menerima sesuatu yang baru,apalagi sesuatu yang baru itu tampak lebih indah,Menahan mata bisa menutup pintu ini,yang karenanya banyak raja-raja tidak mempu mewujudkan apa yang didinginkanya. </li></ul>
  16. 16. <ul><li>Menguatkan dan mengokohkan akal </li></ul><ul><li>    Mengumbar pandangan tidak akan dilakukan kecuali oleh orang yang lemah akalnya,gegabah dan tidak mempedulikan akibatnya di kemudian hari. Orang yang cemerlang akalnya adalah orang yang bisa mmempertimbangkan akibat. Andaikata orang yang mengumbar pandangan mengetahui akibat dari perbuatanya,tentu tidak akan berani lancang mengumbar pandanganya. </li></ul>
  17. 17. <ul><li>Membebaskan hati dari syahwat yang memabukkan dan kelalaian yang melenakan. </li></ul><ul><li>        Mengumbar pandangan mata pasti akan membuat pelakunya lalai terhadap Allah dan memikirkan hari akhirat serta membuatnya mabuk kepayang dalam tawanan cinta. Pandangan mata adalah segelas arak dan cinta yang dapat mabuk bila meminumnya. Mabuk cinta jauh lebih parah dari pada mabuk karena arak,Orang yang mabuk karena arak bisa segera sadar kembali,tapi jika mabuk karena cinta jarang yang bisa sadar kembali,kecuali jika dia sudah diambang kematian. </li></ul>

×