8.1.+global+warming
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

8.1.+global+warming

on

  • 100 views

 

Statistics

Views

Total Views
100
Slideshare-icon Views on SlideShare
100
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
2
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    8.1.+global+warming 8.1.+global+warming Document Transcript

    • GLOBAL WARMING (Tulisan Kak Jana Anggadirdja) I. PENDAHULUAN KTT Bumi di Rio de Janeiro Tahun 1992, di mana Indonesia menjadi salah satu negara yang turut menyepakati Konvensi PBB tentang perubahan iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change). Sebagai tindak lanjut, Indonesia menerbitkan UU No. 6 Tahun 1994 tentang Ratifikasi Konvensi Perubahan Iklim yang berisikan 3 (tiga) hal utama: 1) Tercapainya stabilitas konsentrasi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) pada tingkat yang aman, 2) Adanya tanggung jawab bersama sesuai kemampuan (common but differentiated responsibilities), dan 3) Negara maju akan membantu negara berkembang (pendanaan, asuransi dan alih teknologi). Milestones di atas memberikan dasar pentingnya perubahan iklim menjadi salah satu pertimbangan dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan pembangunan nasional dan daerah di berbagai sektor. II. MATERI POKOK 1. Awal tahun 2000-an, suatu panel ilmiah yang terdiri dari 100 ahli dari berbagai disiplin ilmu diminta UNEP untuk membuat peringkat berbagai permasalahan lingkungan hidup yang timbul berdasarkan skala dampaknya pada abad 21. Ternyata peringkat teratas dari permasalahan lingkungan tersebut adalah Perubahan Iklim (climate change). Kini, apa yang diramalkan para ahli tersebut bukan lagi sekedar wacana tetapi telah menjadi nyata dalam skala kejadian, dampaknya, serta intensitasnya 135 MODUL: 8.1.MODUL: 8.1.
    • bukan lagi bersifat linier dari waktu ke waktu tetapi bisa mendadak menjadi bencana dengan skala yang tak teramalkan. 2. Perubahan iklim telah secara ilmiah terbukti diakibatkan oleh apa yang kita namakan pemanasan global (global warming) sebagai akibat terjadinya efek rumah kaca pada atmosfer kita. Efek rumah kaca terjadi akibat adanya gas-gas rumah kaca (GRK) yang memerangkap panas radiasi matahari yang dipantulkan kembali ke angkasa oleh permukaan bumi. Pada dasarnya GRK ini dapat bersumber dari alam itu sendiri maupun dari aktivitas manusia. Namun berbagai data yang ada menunjukkan bahwa emisi GRK dari aktivitas manusialah yang meningkatkan konsentrasinya di atmosfer. 3. Emisi karbon dioksida (CO2) – sebagai GRK terbesar secara persentase – akibat aktivitas manusia (anthropogenic) terus meningkat dari level yang kurang signifikan pada dua abad lalu hingga mencapai lebih dari 25 Milyar Ton di seluruh dunia saat ini. Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) non-CO2 (methane, nitrous oxides dan fluorocarbon refrigerants) juga terus meningkat mencapai 30 Milyar Ton di tahun 2004 lalu (CDIAC USA, 2004). Jumlah GRK di atmosfer ini terbilang meningkat tajam jika dibandingkan dengan level di masa pra-revolusi industri. Peningkatan konsentrasi GRK ini diikuti pula meningkatnya suhu atmosfer bumi. Laporan ke-4 Working Group II – International Panel on Climate Change (IPCC), April 2007, telah membuktikan adanya beberapa “climate proof” dengan tingkat keyakinan yang tinggi mengenai perubahan temperatur regional yang telah memberikan dampak nyata secara fisik dan biologis. Hasil kajian IPCC menunjukkan bahwa 11 dari 12 tahun terpanas sejak tahun 1850 terjadi dalam waktu kurun 12 tahun terakhir. Kenaikan temperatur rata-rata sejak 1850–1899 sampai 2001–2005 adalah 0,76 o C dan muka air laut global telah meningkat dengan laju rata-rata 1,8 mm/tahun dalam rentang waktu 40 tahun terakhir, kenaikan total muka air laut yang berhasil dicatat pada awal abad-20 diperkirakan sebesar 17 cm. 4. Rata-rata temperatur permukaan bumi yang terjaga secara alami sekitar 15°C (59°F) dan besarnya temperatur tersebut sangat nyaman bagi kehidupan. Selama seratus tahun terakhir, rata-rata temperatur ini telah 136
    • meningkat sebesar 0,6 derajat Celsius (1 derajat Fahrenheit). Para ilmuwan memperkirakan pemanasan lebih jauh hingga 1,4 - 5,8 derajat Celsius (2,5 - 10,4 derajat Fahrenheit) pada tahun 2100 apabila manusia tetap melakukan aktifitasnya untuk memproduksi GRK dengan laju seperti sekarang ini. 5. Sebagian besar air tawar di bumi atau 68.9% berada di glasier, dan lapisan es permanen seperti di kutub. Apabila terjadi pemanasan global dan peningkatan temperatur air laut dan atmosfir, maka es di kutub dapat mencair yang memberikan kontribusi yang relatif besar terhadap peningkatan volume air laut dan berarti naiknya tinggi muka air laut. Peningkatan muka air laut ini merupakan ancaman nyata bagi komunitas yang tinggal di tepi pantai, misalnya timbulnya banjir di daerah pantai, bahkan tenggelamnya pulau-pulau. 6. Dengan asumsi bahwa manusia tetap melakukan aktifitas tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan (business as usual) IPCC memperkirakan bahwa pada tahun 2030, permukaan air laut akan bertambah antara 8 – 29 cm dari permukaan air laut saat ini. Dampaknya akan sangat nyata bagi negara kita, sebagai negara dengan lebih dari 13.600 pulau dan dengan garis pantai sepanjang lebih dari 80.000 km, di mana lebih dari separuhnya adalah pantai yang landai. Apabila ‘skenario’ IPCC tersebut terjadi maka Indonesia diperkirakan akan kehilangan 2.000 pulau. Selain itu masyarakat nelayan yang bertempat tinggal di sepanjang pantai akan semakin terdesak, bahkan kehilangan tempat tinggal serta infrastruktur pendukungnya yang telah terbangun. 7. Dampaknya pada perubahan iklim, Indonesia dikhawatirkan akan mengalami penurunan volume curah hujan tahunan dan penurunan hari hujan. Hal ini juga berakibat semakin banyaknya hari dengan intensitas hujan tinggi yang membawa resiko banjir lebih besar. Dengan berkurangnya hari hujan maka resiko kekeringan juga terus mengancam wilayah Indonesia. Salah satu dampak yang sering dirasakan akhir-akhir ini adalah peningkatan frekuensi kebakaran hutan akibat tingginya tingkat kekeringan udara. Perubahan pola iklim tersebut tentu berakibat perubahan pula terhadap pola iklim tahunan dimana diperkirakan akan terjadi 137
    • perlambatan masuknya musim hujan dan datangnya musim kering. Selain itu perioda musim hujan juga diperkirakan akan lebih pendek. 8. Beberapa daerah dengan temperatur tinggi akan menerima curah hujan yang lebih tinggi, tetapi kondisi tanah juga akan lebih cepat kering. Kekeringan tanah ini akan merusak tanaman bahkan menghancurkan persediaan makanan di beberapa tempat di dunia. Hewan dan tanaman akan bermigrasi ke arah kutub yang lebih dingin dan spesies yang tidak mampu berpindah akan musnah. 9. Secara umum, fenomena-fenomena besar diatas, telah dan akan memberikan dampak pada masyarakat (termasuk kesehatan), dan permukiman (termasuk infrastruktur), kegiatan sosial-ekonomi (pertanian, perkebunan, kehutanan, pariwisata) dan ekosistem (lingkungan: tanah dan air). Potensi kerusakan yang ditimbulkan oleh pemanasan global ini sangat besar sehingga para ilmuan dan ahli dunia menyerukan perlunya kerjasama internasional serta reaksi yang cepat untuk mengatasi masalah ini. 10.Jika pada awalnya banyak ahli iklim skeptis terhadap laporan IPCC ini, namun kini justru para ahli menjadi khawatir akan laju pemanasan global yang tidak terkendali ini. Sejumlah bukti kuantitatif juga makin mempertegas andilnya GRK ini sebagai biang pemanasan global. Kita simak sebagian data-data dari Working Group I to Fourth Assessment Report of the IPCC (2007) berikut. 11.Konsentrasi CO2 di atmosfer meningkat dari pra- industri 280 ppm menjadi 379 ppm di tahun 2005. Laju peningkatan konsentrasi CO2 ini selama masa 10 tahun (1995 – 2005) rata-rata 1,9 ppm/ tahun. Konsentrasi global CH4 (metan) di atmosfer pada pra-industri sebesar 715 ppb menjadi sekitar 1732 ppb di awal tahun 1900-an dan 1774 ppb di tahun 2005. Konsentrasi N2O di atmosfer global sebesar 270 ppb menjadi sekitar 319 ppb di tahun 2005. Sumber-sumber GRK anthropogenic ini antara lain dari perubahan fungsi lahan, deforestasi, pertanian, penggunaan energi fosil untuk pembangkit listrik, transportasi maupun industri, selain itu sektor limbah juga mulai diperhitungkan sebagai sumber emisi GRK. 138
    • 12.Dampak yang paling nyata adalah perubahan iklim yang sangat berpengaruh pada sektor pertanian (terutama mengenai ketahanan pangan), kesehatan (berupa timbulnya berbagai penyakit baru), timbulnya bencana yang lebih sering (topan, banjir dan kekeringan), krisis sumberdaya air, rusaknya ekosistem seperti pantai akibat naiknya muka air laut dan ancaman pada keanekaragaman hayati. 13.Solusi. Mengingat dampak yang begitu besar dan nyata, maka 164 negara melalui PBB menandatangani traktat United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) guna menstabilkan konsentrasi GRK di atmosfer pada tingkat aman. Namun hingga kini melalui serangkaian negosiasi dalam Conference On Parties (COP) yang diselenggarakan belum juga terdapat titik temu akan angka konsentrasi aman CO2 ini. James Hansen salah satu pakar cuaca terkenal mengatakan bahwa CO2 dalam jumlah 350 ppm mungkin mencerminkan ambang atas dari zona aman yang sebenarnya – dan kita telah berada 10% melampaui angka itu (National Geographic, 2008). Penurunan kadar CO2 di atmosfer dapat ditempuh melalui kebijakan dan juga teknis enjinering (iptek). Saat ini baik negara yang tergabung dalam ANNEX I (harus menurunkan emisi CO2 dengan target waktu) maupun Non-ANNEX I (Indonesia termasuk di dalamnya) telah berupaya membagun mekanisme antar pihak maupun mengkaji dan menerapkan berbagai teknologi yang mampu menahan emisi karbon ke udara maupun meningkatkan kemampuan sumber-sumber penyerap karbon (sink activation). 14.Walaupun Indonesia termasuk dalam negara Non-ANNEX I, namun bukan berarti kita tidak perlu mengembangkan teknologi-teknologi pereduksi emisi karbon maupun penyerapan karbon. Pengembangan teknologi mitigasi dan adaptasi pemanasan global menjadi penting mengingat Indonesia memiliki luasan hutan dan lautan yang cukup besar khususnya terkait perannya sebagai sink. Tetapi hutan juga merupakan emitor terbesar bagi Indonesia mengingat perubahan fungsi lahannya (land use change) dianggap sumber pelepasan karbon. Deforestation menyumbang 18% dari emisi global, dan 75% berasal dari negara sedang berkembang (Stern, 2007). 139
    • 15.Di luar sektor kehutanan dan laut, ada sektor energi, transportasi, industri, pertanian dan limbah yang juga merupakan source karbon dan perlu teknologi pengendalian guna menekan angka emisi. Ini penting tidak semata-mata menurunkan angka emisi nasional tetapi juga bagi kepentingan kita sendiri, misalnya menjadi berperilaku hemat energi, efisiensi di industri, pertanian yang ramah lingkungan maupun pengelolaan limbah yang berorientasi memaksimalkan keuntungan side product (misal Waste to Energy). 16.Angka-angka kenaikan konsentrasi karbon di atmosfer berkorelasi juga dengan berkembangnya teknologi proses produksi dan teknologi transportasi yang intensif menggunakan bahan bakar fosil. Ini berarti dengan teknologi, kenyamanan hidup meningkat dan mengubah pola hidup kita. Pelan tapi pasti teknologi (yang tidak ramah lingkungan) juga menyimpan potensi bencana berupa ‘sisa’ proses (spent resources) di atmosfer kita. Kalau teknologi sebagai pemicunya, lalu kitapun juga berharap teknologi juga menjadi pengerem laju atau meminimalisir meningkatnya GRK di atmosfer kita. Dalam UNFCCC Art.2 dikatakan tentang perlunya stabilisasi konsentrasi GRK di atmosfer, masalahnya berapa konsentrasi GRK yang dianggap nyaman? IPCC merekomendasikan antara 450 ppm – 550 ppm, namun ada beberapa pihak yang tidak sepakat. Kenapa? Tentu penurunan konsentrasi GRK identik dengan penurunan aktivitas ekonomi negara bersangkutan. Kita ingat bagaimana Amerika Serikat dibawah Goerge W. Bush pernah menolak meratifikasi Kyoto Protocol yang tentu tidak terlepas dari politik ekonominya. 17.Namun berita gembira setidaknya apa yang kita dengar sekarang ini, bahwa Amerika di bawah Obama mengajukan RUU Clean Energy and Security Act yang bertujuan mengurangi GRK sebesar 17% pada tahun 2020 di bawah level emisi tahun 2005. Obama juga mengusulkan pada tahun 2020 energi yang digunakan AS 15%-nya berasal dari energi terbarukan seperti energi surya, angin, geothermal dan biomassa (Kompas, 25 Mei 2009). 140
    • 18.Bagaimana dengan Indonesia, kita tidak termasuk dalam negara non- Annex I yang berarti tidak dikenai kewajiban penurunan per target waktu, tetapi mengingat kondisi negara kita yang rentan terhadap terhadap perubahan iklim maka kita harus turut melakukan upaya baik mitigasi maupun adaptasi (khususnya disektor energi dan LULUCF). Untuk itu pada akhir tahun 2007 yang lalu Presiden RI telah mengeluarkan dokumen Rencana Aksi Nasional Perubahan Iklim (RAN-MAPI), sebagai instrumen kebijakan yang berfungsi sebagai panduan bagi implementasi kebijakan perubahan iklim di instansi terkait. 19.Sebagai negara sedang berkembang upaya mitigasi dan adaptasi penting untuk ditindaklanjuti dengan kebijakan dan dukungan teknologi yang tepat. Melalui Subsidiary Body for Scientific and Technological Advice (SBSTA) – UNFCCC, Indonesia membuat Technology Needs Assessment (TNA) dalam rangka isu transfer teknologi. TNA Indonesia telah dilaunching awal 2009 lalu dan berisi berbagai kebutuhan teknologi mitigasi (teknologi adaptasi direncanakan dalam TNA fase berikutnya). 20.Iptek strategis yang perlu kita kembangkan dalam upaya mitigasi, adaptasi dan monitoring untuk mencegah dan mengantisipasi dampak perubahan iklim ini. Peran pengembangan dan implementasi iptek ini bukan hanya dari pihak Pemerintah saja tetapi juga pihak Universitas/PT serta pelaku industri pada umumnya. Kita lihat dari sektor-sektor utama. a. Sektor Energi Tahun 2003 komposisi konsumsi energi di Indonesia adalah: bahan bakar minyak (54,4%), gas alam (26,5%) , batubara (14,1%) dan energi terbarukan (5%). Akibat krisis energi tahun 2005, Pemerintah mengeluarkan Perpres no. 5/2006 tentang kebijakan nasional energi, dengan menurunkan penggunaan bahan bakar minyak dan menaikkan penggunaan batubara dari 14% menjadi 33% dan energi terbarukan dari 5% menjadi 17% (SNC, 2008). Implikasi kebijakan ini teknologi yang diperlukan antara lain teknologi energi terbarukan untuk pembangkitan seperti panas bumi (geothermal), turbin angin, small hydro (< 2 MW), hydro, 141
    • mini hydro, fuel cell, gelombang laut, biofuel dan biomass (limbah dan sampah). Dari sisi pertambangan energi (eksplorasi & eksploitasi) diperlukan teknologi yang terus menekan angka kebocoran (peningkatan efisensi), mengurangi emisi dan teknologi penangkap karbon (Carbon Capture & Storage). Sedangkan dari sisi pengguna eneri (end use technology), diperlukan teknologi yang makin hemat energi baik dalam segala peralatan rumah tangga, komersial dan industri serta teknologi proses yang low carbon fuels. Aplikasi peralatan rendah emisi karbon/hemat energi ini dapat diterapkan untuk penerangan (lampu), alat memasak, alat pemanas, pendingin ruangan, motor dll. b. Sektor Kehutanan Dari berbagai data emisi nasional yang dirilis sejak tahun 90-an maupun terkini, hutan hampir pasti selalu menjadi kontributor utama GRK di Indonesia. Mengingat peran besar hutan sebagai penyerap karbon maka sangat diperlukan beberapa teknologi yang berbasis pada ‘penurunan emisi’ dan peningkatan kemampuan penyerapan (sink enhancement). Teknik-teknik pengelolaan hutan yang baik meliputi hutan produksi, hutan konservasi dan hutan lindung akan mampu menekan emisi. Sedangkan sink enhancement melalui penanaman kembali (HTI, HTR, HR) dan rehabilitasi hutan lindung dan hutan konservasi. Hutan produksi mampu menyerap karbon hampir 200 ton/ha (̴ 736 ton CO2/ha). Untuk itu teknologi monitoring yang real time terhadap emisi karbon di hutan juga sangat diperlukan. c. Sektor Pertanian Emisi GRK khususnya CH4 dari pertanian umumnya berasal dari lahan sawah (paddy field) dan peternakan (enteric fermentation & manure management). Emisi N2O umumnya berasal dari pemupukan lahan 142
    • pertanian dengan pupuk nitrogen. Berdasar perhitungan tim SNC, emisi metan dari persawahan di Indonesia mencapai 1.723 Gg CH4/tahun. Sektor pertanian khususnya padi paling rentan terhadap perubahan iklim, oleh karena itu pengembangan teknologi prediksi iklim menjadi penting untuk mengantisipasi kegagalan panen. Selain itu dari sisi adaptasi perlu diteliti ketersediaan bibit tanaman yang lebih tahan perubahan iklim serta penerapan integrated crop management. Sedangkan pengelolaan sumberdaya air yang tepat, appropriate fertillizing dan no tillage farming juga turut berperan dalam mitigasi pemanasan global. Untuk peternakan, pengurangan emisi hanya dapat dilakukan melalui penerapan teknologi pakan ternak dan manajemen peternakan terpadu serta pengelolaan kotoran dengan memanfaatkannya sebagai biogas atau pupuk. Adaptasi dapat dilakukan dengan menerapkan communal livestock sheltering dan integrated crop livestock management. d. Sektor Industri Emisi GRK dari industri umumnya bersumber pada penggunaan energi bahan bakar (fosil) dan pada proses produksinya. Ada beberapa jenis industri yang sangat intensif menggunakan energi fosil ini seperti industri semen, pulp & kertas, besi & baja, pupuk dan keramik. Dengan mengurangi emisi dari industri-industri di atas sudah cukup signifikan dalam menekan angka emisi CO2. Teknologi yang diperlukan adalah peningkatan efisiensi boiler dan furnace. Sementara dari proses di industri umumnya menghasilkan emisi gas perfluorocarbons, PFCs (CF4 dan C2F6), HFCs (HFC-125 dan HFC-134a), sulphur hexafluoride (SF6), direct GHG (CO2, CH4, dan N2O), ozon dan aerosol precursors (SO2, NOx, CO, dan NMVOC). Penerapan teknologi produksi bersih akan dapat menekan emisi gas-gas polutan tersebut. e. Sektor Limbah Pembahasan sektor limbah di IPCC ditujukan untuk mitigasi emisi dari sub sektor persampahan kota (di TPA, dibakar dan dikomposkan) dan limbah 143
    • cair (domestik dan industri). Sesuai semangat UU no 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah, maka pengurangan sampah disumber , daur ulang dan guna ulang merupakan cara yang sangat dianjurkan untuk mengurangi sampah di TPA. Sampah di TPA merupakan sumber emisi CH4 yang dapat dimitigasi hanya dengan mengumpulkannya untuk kemudian di bakar atau dimanfaatkan lebih lanjut. Untuk itu teknologi persampahan yang prospektif untuk menekan emisi GRK adalah 3R untuk intermediate treatment plant dan sanitary landfill ( + LFG recovery) untuk final disposal. Untuk limbah cair domestik penerapan teknologi yang bersifat komunal sangat baik untuk upaya mitigasi pencemaran. Sedangkan kontrol gas metan akan efektif diterapkan pada IPAL dengan skala besar. Untuk limbah cair industri khususnya agroindustri banyak sekali ditemui kolam-kolam penampungan limbah yang stagnan yang menjadi sumber emisi GRK. Industri kelapa sawit dan tapioka memiliki potensi pengemisi CH4 terbesar di Indonesia. f. Sektor Laut Laut merupakan wahana CO2 sink yang cukup potensial di samping hutan. Di forum internasional menyangkut perubahan iklim, sektor laut relatif belum banyak dibicarakan, namun Indonesia beserta beberapa negara kepulauan berusaha mengangkat wacana sektor ini. Laut sebagai penyerap CO2 juga paling rentan terhadap pemanasan global menyangkut kehidupan ekosistemnya. Sayangnya hingga saat berdasar laporan IPCC tentang carbon flux global dari laut ke atmosfer dan sebaliknya belum ada dari wilayah laut Indonesia. Beberapa teknologi mitigasi yang perlu dikembangkan dalam sektor ini antara lain bagaimana mengoptimalkan kemampuan laut menyerap CO2, atau yang dikenal dengan fertilisasi laut dan juga teknologi biopumping. Teknologi monitoring emisi-sink karbon di lautan juga belum kita kembangkan serta kemampuan inderaja untuk menghetahui net primary production di laut. Teknologi adaptasi diperlukan antara lain untuk 144
    • mengantisipasi naiknya suhu permukaan laut misalnya dengan artificial reef and fish apartment technology. Selain itu naiknya muka air laut (sea level rise) juga harus diantisipasi misalnya dengan model penataan kawasan pesisir yang adaptif. Teknik-teknik pemodelan sea level rise untuk wilayah Indonesia harus terus ditingkatkan akurasinya, demikian pula model response ekosistem pesisir akibat SLR perlu dikembangkan untuk mendukung pengambilan kebijakan. III. PENUTUP Indonesia telah meratifikasi Protol Kyoto tentang pengurangan emisi GRK melalui UU no. 17 tahun 2004 dan dapat berperan dalam mengurangi emisi global melalui Mekanisme Pembangunan Bersih (CDM) hingga 2012. Selain itu kita juga mulai mengusulkan suatu mekanisme mitigasi perubahan iklim di sektor kehutanan berupa Reduction Emissions from Deforestation and Degradation (REDD). REDD adalah mekanisme internasional yang dimaksudkan untuk memberikan insentif bagi negara berkembang yang berhasil mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan. a. Terlepas dari apapun mekanismenya menghadapi post Protokol Kyoto (pasca 2012), penguasaan teknologi mitigasi dan adaptasi tetaplah perlu dan harus. b. Mengingat neraca karbon di bumi Indonesia merupakan ‘rona lingkungan awal’ bagi riset-riset pemanasan global selanjutnya, maka sejak tahun lalu telah dilakukan studi penyusunan neraca karbon yang meliputi 5 sektor yakni kehutanan & pertanian, energi, industri, laut dan limbah. Kegiatan ini saling melengkapi dengan apa yang dilakukan tim SNC khususnya Working Group for National GHGs Inventory. Hasil-hasil studi penyusunan neraca karbon juga dijadikan masukan dalam penyusunan TNA Indonesia. c. Mengingat luas lautan Indonesia, sangatlah penting untuk mengetahui dan mengoptimasi perannya sebagai sink bagi CO2. Penelitian awal kemampuan mikroalgae dari laut Indonesia dalam menyerap CO2 diteliti melalui fotobioreaktor dan sejauh ini hasilnya 145
    • memperlihatkan kemampuan mikroalgae tersebut sangat baik/efisien dalam menyerap CO2 (80 – 90%). Model sink enhancement ini dapat pula disebut Biologically Based Carbon Capture and Storage. Di tahun mendatang riset ini akan ditingkatkan dengan aplikasi pada industri pengemisi CO2 dan kemungkinan pemanfaatan hasil panen mikroalgae sebagai sumber energi alternatif. d. Bentuk lain wahana penyerap CO2 adalah pembuatan model ‘pohon buatan’ dengan meniru prinsip pohon yang memanfaatkan CO2 untuk bernapas. Walau cukup efektif menyerap CO2, namun pada penerapannya masih perlu dikaji dari sisi kepraktisan dan keekonomiannya. Setidaknya kita maju selangkah dalam peningkatan kemampuan dan kepercayaan diri peneliti dan perekayasa kita dalam bidang ini. Daftar Singkatan CDM : Clean Development Mecanism GHGs : Green House Gases (Gas Rumah Kaca) LPND : Lembaga Pemerintah Non Departemen LULUCF : Land Use and Land Use Change Forestry IPCC : Intergovernmental Panel on Climate Change REDD : Reduction Emissions fron Deforestation and Degradation SBSTA : Subsidiary Body for Scientific and Technology Advice SNC : Second National Communication TNA : Technology Needs Assessment UNFCCC : United Nation Daftar Pustaka 1. BPPT, PTL, Pengembangan Teknologi Mitigasi dan Dampak Perubahan Iklim, Laporan Akhir, 2008 146
    • 2. KNLH & UNDP, Enabling Activities for the Preparation of Indonesia’s Second National Communication to the UNFCCC, Technical Report 1 – 6, 2008 3. KNLH & GTZ, Technology Needs Assessment, WG for TT Report, 2008 4. KNLH, Rencana Aksi Nasional dalam Menghadapi Perubahan Iklim, 2007 5. KNLH, Kontribusi Sampah Terhadap Pemanasan Global, 2007 6. National Geographic, Perubahan Iklim, Edisi Spesial 7. Riemers, Smith & Thambimuthu, Greenhouse Gas Mitigation 8. UNEP & WMO, Climate Change 2007 – The Physical Science Basics, Summary for Policymakers, Technical Summary and FAQ, 2007 147