Makalah pai kelas 1 a

3,516 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
3,516
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
43
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Makalah pai kelas 1 a

  1. 1. BAB I<br />PENDAHULUAN <br /><ul><li>Latar Belakang
  2. 2. Arti Taubat Nashuha </li></ul>Makna Taubat menurut pengertian bahasa ialah kembali. Maksudnya ialah kembali pulang mengikuti jalan yang benar dengan meninggalkan jalan yang sesat. Allah SWT, berfirman yang artinya : <br />“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan Taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukan kamu kedalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai”.(QS. At-Tahrim : 8) <br />Ayat diatas merupakan seruan kepada orang-orang yang beriman agar kembali kepada Allah dari perbuatan-perbuatan dosa dengan Taubat yang benar-benar murni dan tulus, yaitu dengan niat sungguh-sungguh tidak mengulangi perbuatan maksiat itu kembali, sesudah menyesalatas perbuatan yang terlanjur dilakukan. Sebab Taubat yang Nashuha akan menghapus dosa dan memasukannya kedalam surga.<br />Ubay bin Ka’ab Ra. Mengatakan, “Kami telah diberitahu bahwa akan terjadi pada umat ini saat mendekati hari kiamat yaitu :<br /><ul><li>Orang yang berhubungan badan dengan istri atau budaknya pada dubur,
  3. 3. Pelacuran sesama wanita. Haram hukumnya dimurka oleh Allah dan Rasul-Nya.
  4. 4. Pelacuran sesama laki-laki. Inipun haram hukumnya dimurka oleh Allah dan Rasul-Nya.</li></ul>Mereka ini tidak diterima shalatnya terkecuali dengan bertaubat yang nashuha. <br />Zir bertanya kepada Ubay bin Ka’ab, “Apakah taubat nashuha itu?” <br />Jawab Ubay, “Saya telah bertanya kepada Nabi SAW, dan beliau bersabda, ‘menyesal atas dosa yang diperbuat, lalu meminta ampun kepada-Nya dan tidak akan mengulangi perbuatan itu untuk selama-lamanya’.”<br />Ditanya Umar tentang taubat nashuha. Ia menjawab “Taubat Nashuha itu adalah tidak kembali kepada perbuatan dosa sebagaimana tidak kembalinya air susu pada payudara ibu yang menyusui anaknya”. <br />Para Ulama bersepakat, yang dimaksud Taubat Nashuha itu terdiri dari tiga syarat, yaitu :<br /><ul><li>Menghentikan Maksiat.
  5. 5. Menyesal atas perbuatan yang terlanjur dilakukan.
  6. 6. Niat sungguh-sungguh tidak mengulangi perbuatan itu kembali. Dan apabila dosa yang dilakukan berhubungan dengan manusia, maka taubatnya ditambah dengan syarat keempat, yaitu :
  7. 7. Menyelesaikan urusan dengan orang yang berhak.</li></ul>Salah satu nama surat dalam Al-Qur’an ialah At-Taubah (Pengampunan). Surat kesembilan ini dikenal pula dengan nama Bara’ah, yang artinya berlepas diri. Maksudnya, sebagian besar pokok pembicaraan surat ini tentang pernyataan berlepas dirinya orang-orang yang beriman terhahadap orang-orang musyrik yang diwujudkan dengan jihad melawan mereka sebagai bukti taubat yang nashuha. Dan, disinilah tampak jelas bahwa hakikat taubat yang sebenarnya senantiasa menuntut pelakunya berlepas diri secara totalitas terhadap segala sesuatu yang mempersekutukan Allah SWT, sebagai akidah orang yang bertaubat.<br /><ul><li>Taubat Itu Hijrah </li></ul>Keterkaitan Taubat dengan Hijrah adalah laksana ruh di dalam jasad. Tiada arti ruh tanpa jasad dan tiada arti jasad tanpa ruh. Keberadaan keduanya itulah hidup dan perpisahannya adalah maut.<br />Arti Hijrah berasal dari bahasa Arab, yang artinya meninggalkan suatu perbuatan, ataubberpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain. Adapun arti Hijrah menurut syari’at ada tiga macam, yaitu :<br />Pertama : Hijrah dari semua perbuatan yang dilarang oleh Allah ke perbuatan yang tidak dilarang oleh Allah. Hijrah ini adalah diharuskan dikerjakan oleh tiap-tiap orang yang telah mengaku beragama islam. Nabi SAW telah bersabda yang artinya : “Orang-orang yang berhijrah itu ialah orang yang meninggalkan segala yang Allah telah melarang daripadanya.”(diriwayatkan Al-Bukhary dan lainnya dari shahabat Abdullah bin Umar Ra.).<br />Jadi, siapa saja dari orang-orang Islam, telah meninggalkan semua perbuatan yang dilarang oleh Allah, maka ia termasuk daripada orang yang mengerjakan hijrah yang pertama.<br />Kedua : Hijrah (mengasingkan) diri dari pergaulan orang-orang musyrik atau orang-orang kafir yang memfitnah orang-orang yang telah memeluk agama islam. Maka hijrah ini adalah diharuskan juga dikerjakan tiap-tiap orang islam karena untuk menjauhi fitnah-fitnah dari orang-orang musyrik dan kafir yang memusuhi islam. Yang pada prinsipnya dapat dipergunakan untuk mengerjakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya. Dizaman Nabi SAW hijrah ini pernah dikerjakan oleh kaum muslimin, yakni hijrah sebagian kaum Muslimin diwaktu itu ke Negeri Habsyi sampai terjadi dua kali. <br />Ketiga : Hijrah (berpindah) dari negeri atau daerah orang-orang kafir atau musyrik ke negeri atau daerah orang-orang muslimin. Seperti hijrah Nabi SAW dan kaum Muslimin dari Makkah ke Madinah. <br /><ul><li>Rumusan Masalah</li></ul>Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :<br /><ul><li>Apa saja syarat-syarat Taubat Nashuha ?
  8. 8. Apa saja macam-macam Taubat ?</li></ul>BAB II <br />PEMBAHASAN <br />Empat Syarat Taubat Nashuha<br /><ul><li>Syarat Pertama : Menghentikan Maksiat</li></ul>Untuk memenuhi syarat yang pertama ini sangat diperlukan sikap bara’ah (sikap tegas yang disertai tindakan berlepas diri atau pemutusan hubungan dari segala perkara yang dapat menimbulkan perbuatan maksiat). Karena mana mungkin seseorang dikatakan telah bertaubat dengan sebenar-benarnya bila masih bertoleransi dan berhubungan baik dengan kemaksiatan. Perbuatan semacam ini merupakan pernyataan berloyalitas pada jalan-jalan syaitan dan syiar-syiarnya. Bukan saja tertolak taubatnya, bahkan lambat laun menyeret pelakunya kepada kekufuran. Diantara ciri-ciri orang yang menghentikan maksiat, ialah sebagai berikut :<br /><ul><li> Mencampakan Sifat Sombong</li></ul>Segala kemegahan dan kenikmatan dunia seringkali membuat orang lupa dan sombong, hingga tercatatlah ia dalam golongan orang-orang yang sombong. Allah SWT berfirman yang artinya :<br />“Dan apabila dikatakan kepadanya : ‘bertaqwalah kepada Allah’, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahanam. Dan sesungguhnya neraka Jahanam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya”. (QS. Al-Baqarah : 206) <br />“Tiga orang yang pada hari kiamat tidak akan diampuni dan tidak akan dilihat dengan pandangan rahmat Allah dan untuk mereka tetap disediakan siksa yang pedih. Pertama, orang tua renta yang berzina; kedua, raja pendusta; dan ketiga, orang melarat yang sombong”. (Diriwayatkan Muslim)<br />Untuk itu hendaklah setiap orang yang ingin bertaubat dengan sebenar-benarnya mencampakan jauh-jauh sifat sombong. Tiada satu kemaksiatan pun dapat dihentikan bila sifat ini masih ada di hati seorang muslim.<br /><ul><li>Hijrah </li></ul>Taubat yang dapat menghentikan maksiat harus disertai dengan hijrah. Simaklah berita dari Abu Said Al-Khudry Ra. Bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya :<br />“Dahulu pada umat-umat yang terdahulu, terjadi seseorang telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, kemudian ia ingin bertaubat, maka mencari seorang alim, dan ditunjukan pada sorang pendeta, maka ia bertanya, ‘saya telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, apakah ada jalan untuk bertaubat ?’ Jawab pendeta,’ maka segera dibunuh pendeta itu, sehingga genap seratus orang yang telah dibunuhnya. Kemudian mencari orang alim lainnya, dan ketika telah ditunjukan maka ia menerangkan bahwa ia telah membunuh seratus orang, apakah ada jalan untuk bertaubat ?Jawab si Alim, ya ada, dan siapakah yang dapat menghalanginya untuk bertaubat ? pergilah ke dusun itu karena disana banyak orang yang taat kepada Allah, maka berbuatlah sebagaimana perbuatan mereka, dan jangan kembali ke negerimu ini, karena tempat penjahat’. Maka pergilah orang itu. Tatkala dalam perjalanan ia meninggal dunia. Maka bertengkarlah Malaikat Rahmat, ‘ia telah berjalan untuk bertaubat kepada Allah dengan sepenuh hatinya’. Berkata Malaikat Siksa, ‘ia belum penah berbuat kebaikan sama sekali’. Maka datanglah seorang malaikat berupa manusia dan dijadikannya sebagai juri (hakim) diantara mereka. Maka ia berkata’. Ukur saja antara dua dusun yang yang ditinggalkan dan yang dituju, maka ke mana ia lebih dekat masukkanlah ia kepada golongan orang sana.’ Kemudian diukur, dan didapatkan lebih dekat kepada dusun baik yang ditujunya, kira-kira sejengkal, maka dipegang ruhnya oleh Malaikat Rahmat.” (Diriwayatkan Al-Bukhary dan Muslim).<br />Dari hadits di atas, jelas bahwa hijrahnya si Pembunuh dari negerinya yang penuh kemaksiatan dan orang-orangnya yang jahat ke dusun yang banyak orang-orang baik, menjadi jawaban diterima taubatnya si pembunuh tadi.. Sekalipun ia belum pernah berbuat kebaikan. Dan disini terlihat pula peran niat ikhlas karena Allah sebagai Aqidah orang-orang yang bertaubat sekalipun hijrahnya belum sampai kedusun yang dituju,- maka telah tetap pahalanya disisi Allah.<br /><ul><li>Tidak Berputus Asa dari Rahmat Allah </li></ul>Orang yang bertaubat tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Semestinya orang yang bertaubat dan bertekad menghentikan kemaksiatannya memiliki sikap optimis terhadap Allah SWT. Allah SWT, berfirman yang artinya :<br />“katakanlah : ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampui batas terhadap diri mereka sendiri, jangan lah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang”. (QS. Az-Zumar : 53).<br />Dari Anas Ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya :<br />“Telah berfirman Allah Ta’ala, ‘wahai Anak Adam ! Selagi engkau meminta dan berharap daripada-Ku, maka Aku akan ampunkan apa-apa dosa yang telah terlanjur dan tidak Aku perdulikan lagi. Wahai Anak Adam ! walaupun sampai dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampun kepada-Ku, niscaya Aku beri ampunan kepadamu. Wahai Anak Adam ! Jika engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan yang lain dengan Aku, niscaya Aku datang padamu dengan ampunan sepenuh bumi pula’.” (Diriwayatkan At-Tirmidzy dan ia berkata ini hadits hasan shahih).<br />Tapi banyak orang berkeyakinan bahwa dosanya tidak akan diampuni oleh Allah dan dirinya hanya layak menjadi bahan bakar api neraka. Yang pada akhirnya dia berputus asa untuk bertaubat dan melakukan perbuatan-perbuatan maksiat.<br /><ul><li>Tidak berprasangka buruk kepada Allah</li></ul>Tidak mungkin dapat menghentikan kemaksiatan seseorang yang berprasangka buruk kepada Allah. Karena sebagian prasangka adalah dosa yang menjerumuskan kepada fitnah. Allah SWT berfirman yang artinya :<br />“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian dari kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat : 12).<br />Bagaimana pula kiranya seseorang yang ingin bertaubat dan menghentikan kemaksiatanya berprasangka buruk kepada Allah. Bukankah akan tertolak taubatnya. <br />Dari jabir bin Abdillah Ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya : “janganlah mati salah satu dari kamu, melainkan dalam keadaan baik sangka kepada Allah azza wa jalla.” <br />Sudah semestinya orang yang mau bertaubat dan menghentikan kemaksiatannya berbaik sangka kepada Allah. Karena pada dasarnya sangka Allah mengikuti sangka hamba-Nya.<br />Dari Abu Hurairah Ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya :<br />“Allah telah berfirman, ‘Aku selalu mengikuti sangka hamba-Ku......’.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).<br /><ul><li>Syarat Kedua : Menyesal Atas Perbuatan Yang Terlanjur Dilakukan </li></ul>Ini adalah syarat taubat nashuha yang kedua. Bukan dinamakan taubat bila rasa penyesalan atas suatu perbuatan dosa yang dilakukan saja tidak ada. Dan, bagaimana pula akan menghentikan kemaksiatan dan sadar untuk bertaubat ? karena itu rasa penyesalan termasuk syarat taubat yang nashuha.<br />Adapun ciri-ciri orang yang menyesal atas kemaksiatan yang terlanjur dilakukannya ialah sebagai berikut :<br /><ul><li>Melafadzkan Taubat dan Berdo’a </li></ul>Penyesalan selain terletak di hati juga harus dilafadzkan dengan lisan. Pelafadzan akan menguatkan hati dan memeliharanya dengan janji yang telah diikrarkan dihadapan Allah. Dan Istighfar adalah lafadz bagi orang-orang bertaubat yang berisikan do’a-do’a memohon ampunan kepada Allah Ta’ala. Sedemikian pentingnya kedudukan pelafadzan istighfar sampai-sampai Rasulullah setiap hari melakukan sebanyak tujuh puluh hingga seratus kali.<br />Dari Abu Hurairah Ra. Bahwa Rasulullah bersabda yang artinya :<br />“Demi Allah, sesungguhnya saya membaca istighfar dan bertaubat kepada Allah tiap hari lebih dari tujuh puluh kali.” (Diriwayatkan Al-Bukhary).<br /><ul><li>Tidak Menangguhkan Taubat</li></ul>Ciri lain orang yang menyesal atas kemaksiatan yang dilakukan ialah tidak menangguhkan taubat, tapi menyegerakannya. Bila taubat ditangguhkan terlihattiada kesungguhan. Penangguhan disebabkan oleh keraguan sedang penyegeraan dikarenakan takut dan penyesalan. Allah SWT berfirman yang artinya :<br />“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (Ali Imran : 133).<br /><ul><li>Mengganti Keburukan Dengan Kebaikan</li></ul>Penyesalan baru terlihat nyata setelah si Pelakunya mengadakan perbaikan. Sesal atas kemaksiata yang melekat di hati dan dikuatkan dengan lafadz taubat, baru terbukti dengan praktek amal shaleh sebagai langkah mengadakan perbaikan. Allah SWT berfirman yang Artinya :<br />“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan : 70).<br /><ul><li>Syarat Ketiga : Niat Sungguh-sungguh Tidak Mengulangi Perbuatan Itu Kembali</li></ul>Syarat ketiga taubat nashuha ini pun memiliki ciri-ciri yang menunjukan bahwa seseorang berniat bersungguh-sungguh tidak mengulangi kemaksiatannya setelah bertaubat. Diantara ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut :<br /><ul><li>Wara’ (berhati-hati) </li></ul>Sikap berhati-hati termasuk perkara yang dapat membentengi taubat dari kerusakan akibat mengulangi perbuatan maksiatnya kembali. Keberadaan wara’ bagi orang yang bertaubat menjadi pemelihara dan motor penggerak aktivitas-aktivitas ibadah sebagai manifestasi taubat yang nashuha menuju tingkat muttaqin. Dari Athiyah bin Urwah Assa’dy Ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya : “seorang hamba tidak dapat mencapai tingkat muttaqin, hingga meninggalkan apa-apa yang tidak berdosa, karena khawatir terjerumus pada apa yang berdosa.” (Diriwayatkan At-Tirmidzy). <br /><ul><li>Menganjurkan Kebaikan dan Mencegah Kemungkaran </li></ul>Niat sungguh-sungguh tidak mengulangi perbuatan dosa, juga terlihat dari adanya kemauan yang kuat dari orang yang bertaubat menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran kepada orang lain. Ini adalah wujud pernyataan dirinya perang secara terbuka terhadap segala kemungkaran yang ia penah terjerumus kedalamnya dan telah merasakan langsung kemudharatannya. Kembalinya orang yang bertaubat ialah dengan mengikuti jalan Allah. <br /><ul><li>Menyadari Ujian Sebagai Peringatan Agar Bertaubat</li></ul>Banyak orang-orang yang bertaubat cepat merasa puas dan menganggap dirinya telah bersih. Mereka lupa bahwa syaitan tidak pernah berputus asa menjerumuskan manusia ke lembah dosa hanya dengan menggunakan satu umpan. Boleh jadi taubat seseorang atas suatu perbuatan dosa mencapai tingkat nashuha dan tidak dilakukannya lagi; tetapi itu bukan berarti ia telah bebas sepenuhnya dan lolos begitu saja dengan umpan-umpan syaitan lainnya dengan tingkat godaan yang lebih berat. Taubat terakhir dari keimanan, sedang keimanan tidak diakui sebelum mengalami ujian.<br /><ul><li>Syarat Keempat : Menyelesaikan Urusan dengan Orang Yang Berhak</li></ul>Syarat taubat keempat ini harus ditunaikan apabila perbuatan dosa yang dilakukan melanggar hak manusia. Seperti mencuri barang milik orang lain, berhutang yang tidak dilunasi, ghibah, mencaci maki, mengolok-olok, sumpah palsu, ingkar janji, merusak nama baik orang, menyakiti badan, dan segala perkara dosa yang terkait dengan hak manusia. Selain harus melakukan tiga syarat taubat sebelumnya, maka orang yang melakukan perbuatan dosa yang berhubungan dengan hak manusia harus melengkapi taubatnya dengan syarat keempat ini. Ada-pun cara menyelesaikan urusan dengan orang yang dilanggar haknya adalah :<br /><ul><li>Mengembalikan Apa Yang Harus Dikembalikan
  9. 9. Meminta Ma’af Atau Halalnya Kepada Orang Yang Dilanggar Haknya</li></ul>Allah berfirman yang artinya :<br />“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubatlah kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberikan kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.” (QS. Huud : 3)<br />Dari Abu Hurairah Ra, bahwa Rasulullah bersabda yang artinya :<br /> “Siapa yang merusak nama baik atau harta benda orang lain, maka minta ma’aflah kepadanya sekarang ini, sebelum datang hari dimana mata uang tidak berlaku lagi. Kalau ia mempunyai amal baik, sebagian dari amal baiknya itu akan diambil sesuai dengan kadar aniaya yang telah dilakukannya. Kalau ia tidak mempunyai amal baik, maka dosa orang lain itu diambil dan ditambahkan kepada dosanya.”*(Diriwayatkan Al-Bukhary) *(dosa orang yang dilanggar haknya akan ditimpakan kepada orang yang melanggarnya).<br />Selain menunjukan pentingnya minta ma’af, hadits diatas berisikan pula ancaman atas mereka yang enggan meminta ma’af atau halalnya orang yang telah dilanggar haknya. <br />Macam-macam Taubat<br />Dalam hal ini Imam Ghazali membagi taubat menjadi tiga tingkatan yaitu :<br /><ul><li>Taubat Orang Awam, taubat ini dilakukan atas dosa-dosa yang nyata atau kelihatan seperti dosa berzina, mencuri, korupsi, membunuh, minum-minuman keras, dan lainnya.
  10. 10. Taubat Khusus, taubat ini dilakukan atas dosa-dosa batin atau tidak kelihatan mata seperti dengki, riya’, ujub, takabur, dan lainnya. Sikap-sikap ini secara langsung tidak diketahui oleh orang lain. Namun demikian, akibat sikap ini bisa dirasakan oleh pihak lain.
  11. 11. Taubat Lebih Khusus, taubat ini dilakukan atas dosa/kasalahan lalai mengingat Allah. Taubat inilah yang dimaksudkan dalam Sabda Nabi Muhammad SAW yang menyatakan : “Aku beristighfar dan bertaubat lebih dari 70 kali dalam sehari”. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).</li></ul>BAB III<br />PENUTUP<br /><ul><li>Kesimpulan</li></ul>Dari pembahasan di atas, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :<br /><ul><li>Taubat merupakan ruh dan jasadnya adalah hijrah. Karena hijrah manifestasi dari taubat.
  12. 12. Orang yang mengembalikan secara totalitas fitrah dirinya selaku insan kepada Allah selaku pencipta, Al-Khalik. Dengan kata lain, tidak mempersekutukan Allah dengan segala sesuatunya. Maka konsekwensinya, ia akan menjadi hamba yang rela, puas, dan taat diatur dengan aturan Allah dan Rasul-Nya. Sudah barang tentu ia pula yang menjadipemelihara dan pembela bagi agama Allah yang setia darigangguan apapun yang akan merusak fitrah manusia dari penghambaan kepada Khaliknya.
  13. 13. Hijrah adalah manifestasi taubat nashuha. Dengan hijrah hidup fitrah dimulai, praktek-praktek amal shaleh didukung dan para pelanggarnya ditindak dengan hukum Allah yang universal ditegakkan.
  14. 14. Niat ikhlas adalah syarat pokok semua ibadah yang diterima disisi Allah SWT. tidak dikatakan seseorangf melakukan taubat yang nashuha bila telah rusak niatnya.
  15. 15. Berniat yang bersungguh-sungguh tidak akan mengulangi maksiat yang pernah dia lakukan.
  16. 16. Macam-macam Taubat menurut Imam Ghazali dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu, Pertama : Taubat Orang Awam, Kedua : Taubat Khusus, Ketiga : Taubat Lebih Khusus.</li></ul>Alhamdulillah, dengan pertolongan-Nya akhirnya penulisan makalah yang berjudul “Taubat Nashuha” ini bisa selesai. Karena itu, diharapkan kita bisa merealisasi diri dan bersegera bertaubat kepada allah Ta’ala sebelum terlambat. Wassalam.<br />(Kelompok 3_kelas 1a_matematika) <br />DAFTAR PUSTAKA <br /><ul><li>Amin, Mubin Ahmad.2002. “Empat Syarat Taubat Nashuha”.Jakarta : Darul Falah.
  17. 17. Rahardjo, M. Dawan.2002. “Ensiklopedi Al-Qur’an”. Yogyakarta : Paramadina.
  18. 18. Chalil, KH. Moenawar.1993. “Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam”. Jakarta : PT. Bulan Bintang.
  19. 19. Al-Afifi, Thoha Abdullah.1994. “Tobat”. Surabaya : Risalah Gusti.
  20. 20. www.google.com

×