i         PERSEPSI GURU SEKOLAH DASAR     TERHADAP PROGRAM SERTIFIKASI GURU    DI KECAMATAN JIWAN KABUPATEN MADIUNSEBAGAI ...
ii           HALAMAN PERSETUJUANJudul          :   Persepsi Guru Sekolah Dasar Terhadap                   Program Sertifik...
iii                                  TESIS                       Dipersiapkan dan disusun oleh                            ...
iv                             PERNYATAANDengan ini saya menyatakan bahwa Tesis ini tidak terdapat karya yang pernahdiajuk...
v                         MOTTO” Bacalah atas nama Tuhanmu, gunakan hidupmu untuk terus membaca,     karena membaca adalah...
vi                         HALAMAN PERSEMBAHANTesis ini kupersembahkan untuk :1. Istriku tercinta TIK SOEHINDRARTI EH, yan...
vii                              KATA PENGANTAR     Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpaha...
viii8. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian tesis ini yang tidak dapat   disebutkan satu persatu.     Penuli...
ix                                                   DAFTAR ISI                                                           ...
xBAB II.    KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI           A. Kajian Pustaka ………………………………………….                               ...
xiBAB V.    PENUTUP         A. Kesimpulan .......................................................................        7...
xii                                   DAFTAR TABEL                                                                        ...
xiii                                     ABSTRACTSudarman. 2007. The Elementary Teacher Perception on Teacher’s Certificat...
xiv                                    ABSTRAKSISudarman, 2007. Persepsi Guru Sekolah Dasar Terhadap Program Sertifikasi  ...
1                                    BAB I                              PENDAHULUANA. Latar Belakang          Pendidikan m...
2kehidupan setiap individu.        Jika di bidang-bidang lain seperti ekonomi,pertanian dan perindustrian berperan mencipt...
3bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yangberiman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa,...
4belajar, melek terhadap teknologi informasi, sehingga mampu mengikutiperkembangan zaman.       Tuntutan profesionalisme g...
5profesional seperti yang dimaksudkan di atas dibuktikan dengan sertifikasipendidik (UU No. 14/2005 : pasal 2).       Prof...
6kompetensi sosial dan kompetensi profesional yang diperoleh melaluipendidikan profesi.       Sertifikasi pendidik diperol...
7                                  Tabel 1.               Data Guru dan Kualifikasi Akademik di Indonesia                 ...
8           Kepekaan,    penafsiran   dan    kemampuan       membedakan   terhadap   rangsang yang berupa informasi tentan...
9   1. Bagaimanakah tanggapan positif guru Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan      terhadap program sertifikasi ?   2. Bagai...
102. Manfaat Praktis   a. Bagi sekolah, dapat memberikan gambaran dan masukan dalam rangka      pelaksanaan sertifikasi gu...
11                                    BAB II               KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORIA. Kajian Pustaka1. Penelitian...
12       Sertifikasi pendidik diberikan kepada guru yang telah memenuhipersyaratan (UU No. 14 Tahun 2005 pasal 11). Sertif...
13B. Landasan Teori1. Konsep Persepsia. Pengertian Persepsi          Persepsi dalam Psikologi diartikan sebagai salah satu...
14         Persepsi, menurut Jalaludin (1998: 51), adalah pengalaman tentangobjek,      peristiwa,   atau   hubungan-hubun...
15   telah diorganisasi dengan cara yang dapat mempengaruhi perilaku dan   membentuk sikap, sehingga orang dapat cenderung...
16       Faktor dari obyek stimulus terdiri dari (1) nilai dari stimulus (2) artiemosional orang yang bersangkutan (3) fam...
17   2). Faktor-Faktor Struktural              Faktor struktural merupakan pengaruh yang berasal dari sifat      stimulus ...
18penilaian terhadap suatu obyek yang terjadi, kapan saja, dimana saja, jikastimulus mempengaruhinya. Persepsi yang melipu...
192. Konsep Guru dan Peranannyaa. Pengertian Guru          Guru secara sederhana dapat diartikan sebagai orang yang member...
201). Guru Sebagai Pendidik          Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan dan   identifikasi bagi para pesert...
21   murah dan peserta didik dapat belajar melalui internet dengan tanpa   batasan waktu dan ruang, belajar melalui televi...
224). Guru Sebagai Pengarah           Guru adalah seorang pengarah bagi peserta didik, bahkan bagi   orang tua. Sebagai pe...
23   6). Guru Sebagai Penilai                Penilaian atau evalusi merupakan aspek pembelajaran yang paling      kompleks...
24mengabdikan dirinya pada suatu jabatan atau pelayanan karena orang tersebutmerasa terpanggil untuk menjabat pekerjaan it...
25dengan layanan yang diberikan (langsung bertanggung jawab terhadap apayang diputuskannya, tidak pindah ke atasan atau in...
26   sama, dapat memecahkan masalah-masalah teknik dalam bidang kerjanya),   tetapi seorang yang profesional dituntut meng...
27          Di dalam Undang Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen   pasal 1 menyebutkan bahwa guru adalah pendid...
28   mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia, (3) memiliki   kualitas akademik dan latar belakang pendidikan...
29       Sertitifikasi adalah pemberian sertifikat kompetensi atau suratketerangan sebagai pengakuan terhadap kemampuan se...
30          Sertifikasi guru dapat diartikan sebagai suatu proses pemeberian   pengakuan bahwa seseorang telah memiliki ko...
31   profesionalisme guru, (3) meningkatkan proses dan hasil pendidikan, (4)   mempercepat terwujudnya tujuan pendidikan n...
32        Kerangka pelaksanaan sertifikasi kompetensi guru baik lulusan sarjanakependidikan maupun lulusan sarjana nonkepe...
33          Kelima, peserta uji kompetensi yang berasal dari guru yang sudah   melaksanakan tugas dalam interval waktu ter...
34dan perilaku guru yang harus dikuasai agar dapat menjalankan tugas secaraprofesional.       Kompetensi guru meliputi kom...
35   membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan   dalam standar nasional pendidikan.            ...
36       Kualifikasi akademik yaitu tingkat pendidikan formal yang telahdicapai sampai dengan guru mengikuti sertifikasi, ...
37dari sub komponen ini berupa dokumen perencanaan pembelajaran ( RP / RPP/ SP ) yang diketahui / disahkan oleh atasan.   ...
38yang dilampirkan berupa surat penghargaan, surat keterangan atau sertifikatyang dikeluarkan oleh lembaga/panitia penyele...
39ketua jurusan, kepala lab, kelapa bengkel, kepala studio, ketua asosiasi gurubidang studi, asosiasi profesi, dan pembina...
40           Portofolio juga berfungsi sebagai : (1) wahana guru untuk   menampilkan dan/atau membuktikan unjuk kinerjanya...
41                                     BAB III                            METODE PENELITIANA. Rangcangan Penelitian       ...
42   Madiun. Jumlah dan penentuan informan dilakukan dengan teknik Snowball   sampling yaitu teknik pengambilan sampel sum...
43   dilaksanakan oleh pemerintah. Daftar pertanyaan yang ada dalam angket   bersifat terbuka dan dapat diisi sesuai denga...
44Dengan pengamatan yang terus menerus tersebut mengakibatkan variasi datatinggi sekali. Data yang diperoleh pada umumnya ...
45a. Data Collection (Pengumpulan Data)          Data dikumpulkan dengan berbagai teknik pengumpulan data   (Triangulasi),...
46   lain yang dipandang ahli, misalnya Kepala Cabang Dinas Pendidikan, Kepala   Dinas Pendidikan atau para Pengawas pada ...
47                                  BAB IV               HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYAA. Gambaran Umum Pendidikan di ...
48       Melihat jumlah sekolah yang ada di Kecamatan Jiwan sebenarnyasudah sangat memadai, tetapi masyarakat Jiwan lebih ...
49            Potensi tenaga kependidikan pada Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan     seperti terlihat pada Tabel 4.        ...
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru

6,370 views

Published on

tesis

Published in: Education
0 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
6,370
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
5
Actions
Shares
0
Downloads
167
Comments
0
Likes
3
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

4770849 persepsi-guru-sekolah-dasar-terhadap-program-sertifikasi-guru

  1. 1. i PERSEPSI GURU SEKOLAH DASAR TERHADAP PROGRAM SERTIFIKASI GURU DI KECAMATAN JIWAN KABUPATEN MADIUNSEBAGAI DASAR PENGUATAN KEBIJAKAN PEMERINTAH TENTANG SERTIFIKASI GURU TESIS Untuk memenuhi sebagian persyaratan Untuk mencapai derajad Sarjana S-2 Program Studi Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan Oleh SUDARMAN NIM 05370056 PROGRAM PASCA SARJANAUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2007
  2. 2. ii HALAMAN PERSETUJUANJudul : Persepsi Guru Sekolah Dasar Terhadap Program Sertifikasi Guru di Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun Sebagai Dasar Penguatan Program Pemerintah Tentang Sertifikasi Guru.Nama Mahasiswa : SUDARMANNIM : 05370056 Telah disetujui Oleh : Pembimbing Utama Dr. Arif Budi Wurianto, Drs,M.Si. Pembimbing Pendamping Dra. Siti Fatimah Sunaryo, M.Pd. ii
  3. 3. iii TESIS Dipersiapkan dan disusun oleh SUDARMAN NIM : 05370056 Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji Pada tanggal 30 September 2007 SUSUNAN DEWAN PENGUJI Pembimbing Utama Anggota Dewan Penguji, Dr. ARIF BUDI WURIANTO, M.Si. Dr. DWI PRIYO UTOMO, M.Pd. Pembimbing Pendamping,Dra. SITI FATIMAH SUNARYO, M.Pd. Drs. HARTONO, M.Pd. Tesis ini telah diterima sebagai salah satu persyaratan untuk mencapai derajat gelar Magister Pendidikan Tanggal 30 September 2007 Dr. H. ACHMAD HABIB, MA Direktur Program Pasca Sarjana iii
  4. 4. iv PERNYATAANDengan ini saya menyatakan bahwa Tesis ini tidak terdapat karya yang pernahdiajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dansepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernahditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalamnaskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Malang, 30 September 2007 SUDARMAN NIM. 05370056 iv
  5. 5. v MOTTO” Bacalah atas nama Tuhanmu, gunakan hidupmu untuk terus membaca, karena membaca adalah kunci dari segala kesuksesan hidup” v
  6. 6. vi HALAMAN PERSEMBAHANTesis ini kupersembahkan untuk :1. Istriku tercinta TIK SOEHINDRARTI EH, yang telah memberikan dukungan untuk menyelesaikan Program Pasca Sarjanaku.2. Anakku tercinta TYAR JATU ALMIRA dan ABHITAH NOVIAR JANITRA yang telah ikut memberikan inspirasi dalam menyelesaikan kuliah. vi
  7. 7. vii KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahanrahmat, taufiq serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tesis yangberjudul ”Persepsi Guru Sekolah Dasar Terhadap Program Sertifikasi Guru diKecamatan Jiwan Kabupaten Madiun Sebagai Dasar Penguatan Program PemerintahTentang Sertifikasi Guru” dengan lancar. Dalam menyelesaikan tesis ini penulis banyak mendapatkan bantuan baik secaramoral maupun secara material yang tidak mungkin penulis sebutkan satu persatu.Untuk itu sebagai ungkapan rasa terima kasih yang setinggi-tingginya penulissampaikan kepada yang terhormat Bapak/Ibu :1. Drs. H. Muhadjir Effendy, M.AP, selaku rektor Universitas Muhammadiyah Malang2. Dr. H. Achmad Habib, MA, sebagai Direktur Program Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Malang3. Dr. Dwi Priyo Utomo, M.Pd, selaku Ketua Program Studi Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan Program Pasca Sarjana UMM Malang4. Dr. Arif Budi Wurianto, Drs. M.Si, sebagai dosen pembimbing Utama5. Dra. Siti Fatimah Sunaryo, M.Pd, sebagai pembimbing pendamping6. Drs. Suwito, sebagai Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Jiwan7. Seluruh Kepala Sekolah Dasar se Kecamatan Jiwan vii
  8. 8. viii8. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian tesis ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Penulis menyadari dengan sepenuh hati, bahwa tesis ini masih jauh darikesempurnaan dan sudah barang tentu masih terdapat banyak kekurangan dankelemahan yang disebabkan oleh dangkalnya pengetahuan penulis dan keterbatasanwaktu. Untuk itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulisharapkan. Mudah-mudahan tesis ini dapat bermanfaat bagi pembaca, terutama parapemerhati di bidang kebijakan dan pengembangan pendidikan. Malang, September 2007 Penulis viii
  9. 9. ix DAFTAR ISI Hal.HALAMAN JUDUL .................................................................................. iHALAMAN PERSETUJUAN .................................................................... iiHALAMAN PENGESAHAN .................................................................... iiiHALAMAN PERNYATAAN .................................................................... ivHALAMAN MOTTO ................................................................................. vHALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................. viKATA PENGANTAR ................................................................................ viiDAFTAR ISI ............................................................................................... ixDAFTAR TABEL ....................................................................................... xiiABSTRAK .................................................................................................. xiiiBAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang …………………………………………... 1 B. Fokus Penelitian ………………………………………… 8 C. Tujuan Penelitian ……………………………………….. 9 D. Manfaat Penelitian ……………………………………… 9 1. Manfaat Teoritis ……………………………………. 9 2. Manfaat Praktis …………………………………….. 10 E. Penegasan Istilah ………………………………………... 10 ix
  10. 10. xBAB II. KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI A. Kajian Pustaka …………………………………………. 11 1. Penelitian Terdahulu ……………………………….. 11 2. Kebijakan Pemerintah ……………………………… 11 B. Landasan Teori …………………………………………. 13 1. Konsep Persepsi …………………………………… 13 2. Konsep Guru dan Peranannya …………………….. 19 3. Profesi Guru........................ ……………………….. 23 4. Sertifikasi Guru …………………………………….. 28BAB III. METODE PENELITIAN A. Rangcangan Penelitian ………………………………….. 41 B. Lokasi Penelitian dan Informan Penelitian ...................... 41 C. Teknik Penelitian ……………………………………….. 42 1. Teknik Pengumpulan Data …………………………. 42 2. Teknik Pengolahan Data …………………………… 43BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYA A. Gambaran Umum Pendidikan di Kecamatan Jiwan ……. 47 B. Tanggapan Positif Guru Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan Terhadap Program Sertifikasi …………................. 50 C. Tanggapan Negatif Guru Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan Terhadap Program Sertifikasi ........……………….. 64 D. Temuan-Temuan Penelitian................................................ 69 x
  11. 11. xiBAB V. PENUTUP A. Kesimpulan ....................................................................... 72 B. Saran ................................................................................. 73DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 75LAMPIRAN……………………………………………………………… 77 xi
  12. 12. xii DAFTAR TABEL Hal.Tabel 1. Daftar Guru dan Kualifikasi Akademik di Indonesia.............. 7Tabel 2. Data Sekolah di Kecamatan Jiwan ………………………….. 47Tabel 3. Data Penyebaran Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan ............ 48Tabel 4. Data Guru, Kepala Sekolah dan Penjaga................................. 49 xii
  13. 13. xiii ABSTRACTSudarman. 2007. The Elementary Teacher Perception on Teacher’s Certification in Jiwan Sub district Madiun Regency the Strengthen Base of Government Policy on Teacher’s Certification. The Education Development and Policy Study Program. Post Graduate Program UMM Malang. Advisor (I) Dr. Arif Budi Wurianto, Drs. M.Si, (II) Dra. Siti Fatimah, M,Pd. This study aims at sharing informations both positive and negativeopinions of the Elementary Teacher in Jiwan Sub district on teacher’s certificationprogram and to get some findings which can explain the Elementary teacher’sperception in Jiwan Sub district about teacher’s certification. This study is designed and analyzed with qualitative method orpospositivistic based on pospositivism philosophy. There are three kinds of datacollection held to support to each other, those are observation, questionnaire andfurther interview of some respondents. The data analyzing of the study usesInteractive Model of Miles and Huberman started by collecting, reducing, presentingand verifying data. Positive respond from the teachers of Elementary School in Jiwansubdistrict to the program of teachers certification are (1) Fourteenth law, 2005 as abasic of law to increase teachers quality, (2) Undergraduate Degree? Four – yeardiploma prgram as the academic qualification is appropriate with nowadays periodand the progress of knowledge and technology, (3) Four of basic competence has tobe owned by teacher, (4) Portfolio model certification is good for teacher, (5)Teachers conviction of professions subsidy. Negative respond from the teachers of Elementary School in Jiwansubdistrict to the program of teachers certification are (1) Fourteenth law, 2005 seemshard to be realized, (2) Teacher should not has an academic qualification ofUndergraduate Degree / Four – year diploma, (3) Lack of socialization on portfoliomodel certification, (4) Hard to get subsidy for profession. Result of the research which are connect to the teachers certificaton are (1)It needs much effort to get minimal score of governments requirement, (2) Deceit oncollecting documents, (3) Innappropriate in choosing participants of portfoliocertification. xiii
  14. 14. xiv ABSTRAKSISudarman, 2007. Persepsi Guru Sekolah Dasar Terhadap Program Sertifikasi Guru di Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun Sebagai Dasar Penguatan Kebijakan Pemerintah Tentang Sertifikasi Guru. Program Studi Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan, Program Pasca Sarjana UMM Malang. Pembimbing (I) Dr. Arif Budi Wurianto, Drs. M.Si, (II) Dra. Siti Fatimah, M.Pd. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan penjelasan tentang tanggapanpositif dan tanggapan negatif guru Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan terhadapprogram sertifikasi guru dan memperoleh temuan-temuan yang dapat menjelaskanpersepsi guru Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan terhadap sertifikasi guru. Penelitian ini dirancang dan dianalisis secara kualitatif atau postpositivistikyang berlandaskan pada filsafat postpositivisme. Pengumpulan data dilakukandengan tiga cara yang saling mendukung yaitu observasi, kuisioner dan wawancarayang mendalam dengan sejumlah informan. Pengolahan data pada penelitian inimenggunakan Model Interactive dari Miles and Huberman dimulai dari pengumpulandata, reduksi data, penyajian data dan verifikasi data. Tanggapan positif guru Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan terhadapprogram sertifikasi guru adalah (1) UU No.14 Tahun 2005 merupakan landasanhukum dalam meningkatkan kualitas guru, (2) kualifikasi akademik Sarjana/D IVbagi guru sudah sesuai dengan tuntutan jaman dan perkembangan ilmu pengetahuandan teknologi, (3) Guru wajib memiliki empat kompetensi dasar, (4) sertifikasi modelportofolio sangat menguntungkan bagi guru, (5) tunjangan profesi diyakini guru akandapat terealisasi. Tanggapan negatif guru Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan terhadapprogram sertifikasi guru adalah (1) UU No. 14 Tahun 2005 hanya merupakan janjiyang sulit untuk terealisasi, (2) guru tidak harus berkualifikasi Sarjana/ D IV, (3)sertifikasi model portofolio kurang sosialisasi, (4) tunjangan profesi guru tidak akandapat terealisasi. Temuan-temuan dalam penelitian yang terkait dengan sertifikasi guru adalah(1) Guru kurang yakin dapat mencapai skor minimal yang ditetapkan olehpemerintah, (2) masih ada guru yang bermoral kurang baik dalam melengkapidokumen, (3) penentuan peserta sertifikasi portofolio masih belum sesuai denganaturan yang berlaku.. xiv
  15. 15. 1 BAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang Pendidikan mempunyai peranan yang sangat strategis dalam pembangunan suatu bangsa. Berbagai kajian di banyak negara menunjukkan kuatnya hubungan antara pendidikan dengan tingkat perkembangan bangsa- bangsa tersebut yang ditunjukkan oleh berbagai indikator ekonomi dan sosial budaya. Pendidikan yang mampu memfasilitasi perubahan adalah pendidikan yang merata, bermutu, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Menyadari peran strategis pendidikan tersebut, pemerintah Indonesia senantiasa mendukung ide yang menempatkan sektor pendidikan, khususnya pendidikan dasar, sebagai prioritas dalam pembangunan nasional. Bahkan dalam masa krisis ekonomi sekalipun, pendidikan tetap mendapatkan perhatian meskipun fokusnya dibatasi pada upaya penanggulangan dampak krisis ekonomi terhadap pendidikan. Agar pembangunan pendidikan dapat berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia, terdapat tiga syarat utama yang harus diperhatikan yaitu : (1) sarana gedung, (2) buku yang memadai dan berkualitas serta (3) guru dan tenaga kependidikan yang profesional (Mulyasa, 2005 : 3). Pengaruh pendidikan dapat dilihat dan dirasakan secara langsung dalam perkembangan serta kehidupan masyarakat, kehidupan kelompok dan 1
  16. 16. 2kehidupan setiap individu. Jika di bidang-bidang lain seperti ekonomi,pertanian dan perindustrian berperan menciptakan sarana dan prasarana bagikepentingan manusia, maka pendidikan berurusan langsung denganpembentukan manusia. Pendidikan menentukan model manusia yang akandihasilkannya. Pendidikan juga memberikan kontribusi yang sangat besarterhadap kemajuan suatu bangsa dan merupakan wahana dalammenterjemahkan pesan-pesan konstitusi serta sarana dalam membangun watakbangsa. Masyarakat yang cerdas akan memberikan nuansa kehidupan suatubangsa yang cerdas pula dan secara progresif akan membentuk kemandiriandan kreatifitas. Untuk mewujudkan masyarakat madani dalam Negara KesatuanRepublik Indonesia yang lebih demokratis, transparan dan menjujung tinggihak azasi manusia hanya dapat dilakukan melalui pendidikan. Hanya melaluipendidikan yang benar bangsa ini dapat membebaskan diri dari krisismultidimensi yang berkepanjangan. Pendidikan yang berkualitas juga dapatmembebaskan masyarakat dari belenggu kemiskinan dan keterpurukan hidup. Pendidikan yang benar dan berkualitas adalah pendidikan yang dapatmengembangkan potensi masyarakat, mampu menumbuhkan kemauan, dapatmembangkitkan generasi muda untuk menggali potensi danmengembangkannya secara optimal bagi kepentingan pembangunan bangsa(Mulyasa : 2005). Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentangSistem Pendidikan Nasional mengemukakan bahwa pendidikan nasional
  17. 17. 3bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yangberiman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yangdemokratis serta bertanggungjawab dalam rangka mencerdaskan kehidupanbangsa. Untuk mencapai tujuan tersebut pemerintah telah menetapkan tigarencana strategis yaitu (1) perluasan dan peningkatan akses, (2) peningkatanmutu, relevansi dan daya saing serta (3) peningkatan tata kelola pendidikan,transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan pendidikan. Salah satu komponen pendidikan yang sangat penting dalam rangkapelaksanaan rencana strategis tersebut adalah guru. Guru merupakankomponen pendidikan yang sangat menentukan dalam membentuk wajahpendidikan di Indonesia. Ujung tombak dari semua kebijakan pendidikanadalah guru. Gurulah yang akan membentuk watak dan jiwa bangsa, sehinggabaik dan buruknya bangsa ini sangat tergantung pada guru. Banyaknyakejahatan, pencurian, kerusuhan, pengangguran disebabkan oleh guru yangsalah dalam menerapkan pendidikan. Demikian juga bangsa yang malas,kurang kreatif, kurang berani mengambil resiko, kurang inovatif, culas,berjiwa korup, sering meyalahkan orang lain, semua itu sangat ditentukan olehperan guru. Karena peran guru yang begitu besar, maka diperlukan guru yangprofesional, kreatif, inovatif, mempunyai kemauan yang tinggi untuk terus
  18. 18. 4belajar, melek terhadap teknologi informasi, sehingga mampu mengikutiperkembangan zaman. Tuntutan profesionalisme guru terus didengungkan oleh berbagaikalangan di masyarakat kita, termasuk kalangan guru sendiri melalui berbagaiorganisasi guru yang ada, di samping tuntutan perbaikan taraf hidup guru.Mereka berharap, untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan diIndonesia, diperlukan seorang guru yang profesional dalam mendidik siswa-siswinya di sekolah. Sejalan dengan tuntutan profesionalisme guru itulah, maka pemerintahmengeluarkan Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru danDosen. Dengan dikeluarkannya Undang-Undang tersebut guru diposisikansebagai suatu profesi sebagaimana profesi dokter, hakim, jaksa, akuntan danprofesi-profesi lain yang akan mendapat penghargaan sepadan sesuai denganprofesinya masing-masing. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik,mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasipeserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal,pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (UU No. 14/2005 : pasal 1).Guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjangpendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan anak usia dini padajalur formal yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan (UUNo. 14/2005 : pasal 2). Pengakuan kedudukan guru sebagai tenaga
  19. 19. 5profesional seperti yang dimaksudkan di atas dibuktikan dengan sertifikasipendidik (UU No. 14/2005 : pasal 2). Profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang tentunya tidakbisa dilakukan oleh sembarangan orang dan hanya bisa dilaksanakan olehorang-orang terdidik yang sudah disiapkan untuk menekuni bidangpendidikan. Pekerjaan khusus tersebut dilaksanakan dengan prinsip-prinsip(1) memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme, (2) memilikikomitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, danakhlak mulia, (3) memiliki kualitas akademik dan latar belakang pendidikansesuai dengan bidang tugasnya, (4) memiliki kompetensi yang diperlukansesuai dengan bidang tugasnya, (5) memiliki tanggungjawab atas pelaksanaantugas keprofesionalan, (6) memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuaidengan prestasi kerja, (7) memiliki kesempatan untuk mengembangkankeprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat, (8)memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugaskeprofesionalan dan (9) memilik organisasi profesi yang mempunyaikewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas profesi guru. Sebagai profesi guru wajib memiliki kualifikasi akademik,kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memilikikemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kualifikasiakademik yang disyaratkan bagi guru adalah guru harus mempunyaipendidikan sarjana atau diploma empat. Sedangkan kompetensi guru yangdipersyaratkan adalah kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian,
  20. 20. 6kompetensi sosial dan kompetensi profesional yang diperoleh melaluipendidikan profesi. Sertifikasi pendidik diperoleh melalui program pendidikan profesiyang diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki programpengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan olehpemerintah. Syarat dan materi sertifikasi ditetapkan dengan PeraturanPemerintah Tentang Guru yang saat ini masih menunggu verifikasi danpengesahan dari pemerintah. Karena Peraturan Pemerintah Tentang Guru belum selesai danprogram sertifikasi guru sudah dicanangkan sejak tahun 2006, makapelaksanaan sertifikasi guru kemungkinan menggunakan Peraturan MenteriPendidikan Nasional (www.depdiknas.go.id diakses : 9 Pebruari 2007 ).Menurut Mendiknas, sertifikasi guru pada APBN 2006 disediakan anggaransebesar 35,8 miliar untuk mensertifikasi 20.000 guru, sedangkan pada APBN2007 disediakan anggaran sebesar 380,9 miliar untuk mensertifikasi 190.450guru (www.depdiknas.go.id diakses : 9 Pebruari 2007 ). Pelaksanaansertifikasi akan mendahulukan 20.000 guru yang berasal dari kuota tahun 2006yaitu 14.000 guru Sekolah Dasar (SD) dan 6.000 guru Sekolah MenengahPertama (SMP). Menurut data dari Depdiknas tahun 2007 jumlah guru di Indonesiasebanyak 2.224.721 orang guru dengan kualifikasi pendidikan seperti terlihatdalam Tabel 1.
  21. 21. 7 Tabel 1. Data Guru dan Kualifikasi Akademik di Indonesia Kualifikasi Pendidikan No Jenjang Jumlah S1 D3 D2 D1 1. TK 137.069 5.318 - 7.539 124.143 2. SLB 8.304 3.886 467 - 3.951 3. SD 1.234.927 103.116 26.798 495.700 609.189 4. SMP 466.748 197.621 117.154 999.557 52.416 5. SMA 230.114 168.167 55.043 4.349 2.531 6. SMK 147.559 95.161 44.533 2.641 5.297 Jumlah 2.224.721 573.269 243.995 609.786 797.527 Sumber : Depdiknas 2007 Dari data tersebut di atas menunjukkan bahwa jumlah guru SekolahDasar menduduki peringkat pertama diantara jenjang pendidikan lainnya.Dari 1.234.927 orang guru SD, hanya 103.116 (8,35 %) orang yangberpendidikan Sarjana dan sebanyak 609.189 (49,33 %) orang guru yangberpendidikan D1. Karena jumlahnya yang cukup banyak dan rata-ratatingkat pendidikan guru rendah, maka guru SD mengahadapi permasalahanyang sangat komplek. Persepsi mencakup kemampuan untuk mengadakan diskriminasi yangtepat antara dua perangsang atau lebih, berdasarkan pembedaan antara ciri-cirifisik yang khas pada masing-masing rangsangan (Winkel 1996 : 249).Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam suatu reaksi yang menunjukkankesadaran akan hadirnya rangsangan (stimulus) dan perbedaan antararangsangan-rangsangan yang ada. Persepsi termasuk ranah psikomotorikmenurut klasifikasi Simpson, dengan kemampuan internal individu yaitumenafsirkan suatu rangsangan, kepekaan terhadap suatu rangsangan dankemampuan untuk membedakan suatu rangsangan.
  22. 22. 8 Kepekaan, penafsiran dan kemampuan membedakan terhadap rangsang yang berupa informasi tentang aturan dan perundang-undangan sangat diperlukan oleh guru, sehingga pada saat guru melaksanakan dan menjalani aturan tersebut benar-benar paham sesuai dengan aturan yang dikehendaki. Bearangkat dari situasi itulah maka persepsi terhadap program sertifikasi guru sangat penting bagi setiap guru. Di lain pihak belum semua guru di setiap jenjang pendidikan memahami terhadap sertifikasi guru. Bagaimana aturan main dan persyaratan sertifikasi guru, peraturan-peraturan yang melandasi sertifikasi guru, Lembaga penyelenggara sertifikasi guru, belum banyak dimengerti oleh guru. Apalagi guru-guru yang berada di daerah terpencil yang belum terjangkau oleh arus informasi dan komunikasi. Bertitik tolak dari hal tersebut di atas , maka penulis ingin melakukan penelitian yang berjudul “Persepsi Guru Sekolah Dasar Terhadap Program Sertifikasi Guru Di Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun Sebagai Dasar Penguatan Kebijakan Pemerintah Tentang Sertifikasi Guru”B. Fokus Penelitian Dalam pandangan penelitian kualitatif gejala dari suatu obyek bersifat holistik (menyeluruh, tidak dapat dipisah-pisahkan), oleh karena itu perlu ditetapkan suatu fokus. Fokus penelitian dalam penelitian kualitatif merupakan batasan masalah. Dalam penelitian ini yang menjadi fokus penelitian adalah sebagai berikut :
  23. 23. 9 1. Bagaimanakah tanggapan positif guru Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan terhadap program sertifikasi ? 2. Bagaimanakah tanggapan negatif guru Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan terhadap program sertifikasi ? 3. Temuan-temuan apakah yang dapat menjelaskan tanggapan positif dan negatif guru Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan terhadap program sertifikasi ?C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan penjelasan tentang : 1. Tanggapan positif guru Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan terhadap program sertifikasi. 2. Tanggapan negatif guru Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan terhadap program sertifikasi. 3. Temuan-temuan yang dapat menjelaskan tanggapan positi dan negatif guru Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan terhadap sertifikasi.D. Manfaat Penelitian1. Manfaat Teoritik a. Penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam pengembangan ilmu pengetahuan terutama di bidang pengembangan kebijakan pendidikan. b. Bagi para peneliti, penelitian ini dapat diajdikan referensi dalam penelitian lanjutan di bidang pengembangan kebijakan pendidikan
  24. 24. 102. Manfaat Praktis a. Bagi sekolah, dapat memberikan gambaran dan masukan dalam rangka pelaksanaan sertifikasi guru sekolah dasar di Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun. b. Bagi Dinas Pendidikan dan para pengambil kebijakan, penelitian ini dapat dijadikan cermin tentang pelaksanaan sertifikasi guru sekolah dasar di Kabupatren MadiunE. Penegasan Istilah1. Persepsi Persepsi secara umum merupakan suatu tanggapan berdasarkan suatu evaluasi yang ditujukan terhadap suatu obyek yang berupa program sertifikasi guru dan dinyatakan secara verbal.2. Tanggapan Positif Tanggapan positif yaitu pandangan terhadap suatu obyek dan menuju pada suatu keadaan dimana subyek yang memberikan tanggapan cenderung menerima obyek (program sertifikasi guru) yang ditangkapnya sesuai dengan pribadinya.3. Tanggapan Negatif Tanggapan negatif yaitu pandangan terhadap suatu obyek dan menunjukkan pada keadaan dimana subyek yang memberikan tanggapan cenderung menolak obyek (program sertifikasi guru) yang ditangkapnya karena tidak sesuai dengan pribadinya.
  25. 25. 11 BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORIA. Kajian Pustaka1. Penelitian Terdahulu Penelitian yang membahas tentang persepsi guru terhadap pelaksanaan program sertifikasi belum banyak dilakukan oleh para peneliti, hal ini disebabkan sertifikasi guru baru akan dilaksanakan oleh pemerintah di seluruh Indonesia setelah dikeluarkan Peraturan Pemerintah tentang Sertifikasi Guru. Hasil penelitian yang agak relevan yaitu Basri ( 2002 ) menyatakan bahwa pada umumnya belum ada kesamaan persepsi guru SMK Negeri di Kotamadya Banjarmasin terhadap implementasi Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Demikian juga dengan Hendarman (2003) menyimpulkan dalam penelitiannya yang berjudul Persepsi Guru dan Institusi Pasangan Tentang Kendala-Kendala Implementasi Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan Kelompok Pariwisata bahwa antara guru dan institusi pasangan mempunyai persepsi yang berbeda terhadap implementasi kurikulum.2. Kebijakan Pemerintah Kebijakan pemerintah yang mendasari Sertifikasi Guru adalah Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Di dalam pasal 8 disebutkan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikasi pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. 11
  26. 26. 12 Sertifikasi pendidik diberikan kepada guru yang telah memenuhipersyaratan (UU No. 14 Tahun 2005 pasal 11). Sertifikasi pendidik diperolehmelalui program pendidikan profesi yang diselenggarakan oleh perguruantinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yangterakreditasi dan ditetapkan oleh pemerintah. Beban belajar pendidikanprofesi untuk guru pada satuan pendidikaan TK dan SD atau yang sederajatadalah 18 sampai 20 satuan kredit semester. Sedangkan untuk satuanpendidikan setingkat SMP dan SMA atau yang sederajat adalah 30 sampai 40satuan kredit semester. Muatan pendidikan profesi meliputi kompetensi pedagogik,kepribadian, sosial dan profesional. Bobot muatan kompetensi disesuaikandengan latar belakang pendidikan yaitu untuk lulusan program sarjana (S1)atai diploma empat (D-IV) kependidikan dititik beratkan pada penguatankompetensi profesional. Sedangkan untuk lulusan sarjana (S1) atau diplomaempat (D-IV) non-kependididkan dititik beratkan pengembangan kompetensipedagogik. Program sertifikasi profesi diakhiri dengan uji sertifikasi pendidikyaitu melalui ujian tertulis dan ujian kinerja. Ujian kinerja dilaksanakansecara holistik yang mencakup ujian kompetensi pedagogik, kepribadian,sosial dan profesional. Sertifikat pendidik dianggap sah setelah mendapatkannomor registrasi unik dari Departemen Pendidikan Nasional
  27. 27. 13B. Landasan Teori1. Konsep Persepsia. Pengertian Persepsi Persepsi dalam Psikologi diartikan sebagai salah satu perangkat psikologis yang menandai kemampuan seseorang untuk mengenal dan memaknakan sesuatu objek yang ada di lingkungannya. Menurut Scheerer persepsi adalah representasi phenomenal tentang objek distal sebagai hasil dari pengorganisasian dari objek distal itu sendiri, medium dan rangsangan proksinal. Dalam persepsi dibutuhkan adanya objek atau stimulus yang mengenai alat indera dengan perantaraan syaraf sensorik, kemudian diteruskan ke otak sebagai pusat kesadaran (proses psikologis). Selanjutnya, dalam otak terjadilah sesuatu proses hingga individu itu dapat mengalami persepsi (proses psikologis). Persepsi merupakan suatu proses dimana seseorang mengorganisasikan dalam pikirannya, menafsirkannya, mengalami, dan mengelola pertanda atas segala sesuatu yang terjadi di lingkungannya (Hammer dan Morgan dalam Ibrahim, 1983 : 33). Sedangkan menurut Abizar (1988 : 18) mengatakan bahwa persepsi adalah suatu proses dengan mana seseorang individu memilih, mengevaluasi dan mengorganisasi stimulus dari lingkungannya. Persepsi juga menentukan cara kita berperilaku terhadap suatu obyek atau permasalahan, bagaimana segala sesuatu itu mempengaruhi persepsi seseorang nantinya akan mempengaruhi perilaku yang dipilihnya.
  28. 28. 14 Persepsi, menurut Jalaludin (1998: 51), adalah pengalaman tentangobjek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh denganmenyimpulkan informasi dan menafslrkan pesan. Menurut Ruch (1967: 300), persepsi adalah suatu proses tentangpetunjukpetunjuk inderawi (sensory) dan pengalaman masa lampau yangrelevan diorganisasikan untuk memberikan kepada kita gambaran yangterstruktur dan bermakna pada suatu situasi tertentu. Senada dengan haltersebut Atkinson dan Hilgard (1991: 201) mengemukakan bahwa persepsiadalah proses dimana kita menafsirkan dan mengorganisasikan pola stimulusdalam lingkungan. Gibson dan Donely (1994: 53) menjelaskan bahwapersepsi adalah proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh seorangindividu. Dikarenakan persepsi bertautan dengan cara mendapatkan pengetahuankhusus tentang kejadian pada saat tertentu, maka persepsi terjadi kapan sajastimulus menggerakkan indera. Dalam hal ini persepsi diartikan sebagaiproses mengetahui atau mengenali obyek dan kejadian obyektif denganbantuan indera (Chaplin, 1989: 358) Sebagai cara pandang, persepsi timbul karena adanya respon terhadapstimulus. Stimulus yang diterima seseorang sangat komplek, stimulus masukke dalam otak, kernudian diartikan, ditafsirkan serta diberi makna melaluiproses yang rumit baru kemudian dihasilkan persepsi (Atkinson dan Hilgard,1991 : 209). Dalam hal ini, persepsi mencakup penerimaan stimulus (inputs),pengorganisasian stimulus dan penerjemahan atau penafsiran stimulus yang
  29. 29. 15 telah diorganisasi dengan cara yang dapat mempengaruhi perilaku dan membentuk sikap, sehingga orang dapat cenderung menafsirkan perilaku orang lain sesuai dengan keadaannya sendiri (Gibson, 1986: 54).b. Pembentukan Persepsi dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses pembentukan persepsi sebagai pemaknaan hasil pengamatan yang diawali dengan adanya stimuli. Setelah mendapat stimuli, pada tahap selanjutnya terjadi seleksi yang berinteraksi dengan "interpretation", begitu juga berinteraksi dengan "closure". Proses seleksi terjadi pada saat seseorang memperoleh informasi, maka akan berlangsung proses penyeleksian pesan tentang mana pesan yang dianggap penting dan tidak penting. Proses closure terjadi ketika hasil seleksi tersebut akan disusun menjadi satu kesatuan yang berurutan dan bermakna, sedangkan interpretasi berlangsung ketika yang bersangkutan memberi tafsiran atau makna terhadap informasi tersebut secara menyeluruh. Menurut Asngari (1984: 12-13) pada fase interpretasi ini, pengalaman masa silam atau dahulu. memegang peranan yang penting. Bagaimana seseorang melakukan persepsi serta bagaimana suatu rangsangan dipersepsi banyak faktor yang mempengaruhinya. Suatu stimulus yang sama bisa dipersepsi berbeda oleh orang lain yang berbeda juga. Ada beberapa karakteristik yang mempengaruhi suatu persepsi seseorang yaitu (1) faktor ciri khas dari obyek stimulus (2) faktor-faktor pribadi (3) faktor pengaruh kelompok dan (4) faktor perbedaan latar belakang.
  30. 30. 16 Faktor dari obyek stimulus terdiri dari (1) nilai dari stimulus (2) artiemosional orang yang bersangkutan (3) familiaritas dan (4) intensitas yangberhubungan dengan derajad kesadaran seseorang mengenai stimulus tersebut. Termasuk di dalam faktor pribadi yaitu ciri khas individu seperti tarafkecerdasan, minat, emosional dan sebagainya. Respon orang lain dapatmemberi kearah suatu tingkah laku konform. Studi Flamen (1961)menemukan bahwa adanya kohesi dalam kelompok yang berpengaruh dapatmenyebabkan perubahan persepsi pada anggota. Perbedaan latar belakangseseorang juga sangat berpengaruh terhadap persepsi seseorang terhadap suatustimulus. Secara umum ada beberapa faktor yang mempengaruhi persepsi yaitu :1). Faktor-Faktor Fungsional Faktor-faktor fungsional ini juga disebut sebagai faktor personal atau perseptor, karena merupakan pengaruh-pengaruh di dalam individu yang mengadakan persepsi seperti kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal-hal lainnya. Berarti persepsi bersifat selektif secara fungsional sehingga obyek-obyek yang mendapatkan tekanan dalam persepsi biasanya obyek-obyek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi. Termasuk dalam faktor fungsional ini adalah pengaruh kebutuhan, kesiapan mental, suasana emosional dan latar belakang sosial budaya. Jadi yang menentukan persepsi bukan jenis atau bentuk stimulus tetapi karakteristik orang menentukan respon atau stimulus.
  31. 31. 17 2). Faktor-Faktor Struktural Faktor struktural merupakan pengaruh yang berasal dari sifat stimulus fisik dan efek-efek yang ditimbulkan pada sistem syaraf individu. Prinsip yang bersifat struktural yaitu apabila kita mempersepsikan sesuatu, maka kita akan mempersepsikan sebagian suatu keseluruhan. Jika kita ingin memahami sutau peristiwa, kita tidak dapat meneliti faktor-faktor yang terpisah, tetapi harus mendorongnya dalam hubungan keseluruhan. Sebagai contoh dalam memahami seseorang kita harus melihat masalah-masalah yang dihadapinya, konteksnya maupun lingkungan sosial budayanya. Dalam mengorganisasi sesuatu, kita harus melihat konteksnya. Walaupun stimulus yang kita terima tidak lengkap, kita akan mengisinya dengan interpretasi yang konsisten dengan rangkaian stimulus yang kita persepsi. Oleh karena manusia selalu memandang stimulus dalam konteksnya, maka manusia akan mencari struktur pada rangkaian stimulus yang diperoleh dengan jalan mengelompokkan berdasarkan kedekatan atau persamaan, sehingga dari prinsip ini berarti obyek atau peristiwa yang berdekatan dalam ruang dan waktu atau menyerupai satu sama lain, cenderung ditanggapi sebagai bagian dari struktur yang sama.c. Bentuk-Bentuk Persepsi Persepsi secara umum merupakan suatu tanggapan berdasarkan suatu evaluasi yang ditujukan terhadap suatu obyek dan dinyatakan secara verbal, sedangkan bentuk-bentuk persepsi merupakan pandangan yang berdasarkan
  32. 32. 18penilaian terhadap suatu obyek yang terjadi, kapan saja, dimana saja, jikastimulus mempengaruhinya. Persepsi yang meliputi proses kognitif mencakupproses penafsiran obyek, tanda dan orang dari sudut pengalaman yangbersangkutan. Oleh karena itu dalam menerima suatu stimulus kemampuan manusiasangatlah terbatas, sehingga manusia tidak mampu memproses seluruhstimulus yang ditangkapnya. Artinya meskipun sering disadari, stimulus yangakan dipersepsi selalu dipilih suatu stimulus yang mempunyai relevansi danbermakna baginya. Dengan demikian dapat diketahui ada dua bentuk persepsiyaitu yang bersifat positif dan negatif.1). Persepsi Positif Persepsi positif yaitu persepsi atau pandangan terhadap suatu obyek dan menuju pada suatu keadaan dimana subyek yang mempersepsikan cenderung menerima obyek yang ditangkap karena sesuai dengan pribadinya.2). Persepsi Negatif Yaitu persepsi atau pandangan terhadap suatu obyek dan menunjuk pada keadaan dimana subyek yang mempersepsi cenderung menolak obyek yang ditangkap karena tidak sesuai dengan pribadinya.
  33. 33. 192. Konsep Guru dan Peranannyaa. Pengertian Guru Guru secara sederhana dapat diartikan sebagai orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik (Anwar Q & Sagala S, 2004 : 120). Karena tugasnya itulah, guru dapat menambah kewibawaannya dan keberadaan guru sangat diperlukan masyarakat, mereka tidak meragukan lagi akan urgensinya guru bagi anak didik. Menurut Undang Undang No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.b. Peran Guru Menurut Manan dalam Mulyasa (2005) sedikitnya ada 19 peran guru yaitu sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penasehat, pembaharu, model dan teladan, pribadi, peneliti, pendorong kreatifitas, pembangkit pandangan, pekerja rutin, pemindah kemah, pembawa cerita, aktor, emansipator, evaluator, pengawet dan kulminator. Sedangkan menurut Undang Undang No. 20 Tahun 2003 dan Undang Undang No. 14 Tahun 2005 peran guru adalah sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pengarah, pelatih, penilai dan pengevaluasi dari peserta didik.
  34. 34. 201). Guru Sebagai Pendidik Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi para peserta didik dan lingkungannya. Oleh karena itu guru harus mempunyai standar kualitas pribadi tertentu, yang mencakup tanggungjawab, wibawa, mandiri dan disiplin. Guru harus memahami nilai-nilai, norma moral dan sosial, serta berusaha berperilaku dan berbuat sesuai dengan nilai dan norma tersebut. Guru juga harus bertanggung jawab terhadap tindakannya dalam proses pembelajaran di sekolah. Sebagai pendidik guru harus berani mengambil keputusan secara mandiri berkaitan dengan pembelajaran dan pembentukan kompetensi, serta bertindak sesuai dengan kondisi peserta didik dan lingkungan.2). Guru Sebagai Pengajar Di dalam tugasnya, guru membantu peserta didik yang sedang berkembang untuk mempelajari sesuatu yang belum diketahuinya, membentuk kompetensi dan memahami materi standar yang dipelajari. Guru sebagai pengajar, harus terus mengikuti perkembangan teknologi, sehinga apa yang disampaikan kepada peserta didik merupakan hal-hal yang uptodate dan tidak ketinggalan jaman. Perkembangan teknologi mengubah peran guru dari pengajar yang bertugas menyampaikan materi pembelajaran menjadi fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan belajar. Hal itu dimungkinkan karena perkembangan teknologi menimbulkan banyak buku dengan harga relatif
  35. 35. 21 murah dan peserta didik dapat belajar melalui internet dengan tanpa batasan waktu dan ruang, belajar melalui televisi, radio dan surat kabar yang setiap saat hadir di hadapan kita. Derasnya arus informasi, serta cepatnya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan telah memunculkan pertanyaan terhadap tugas guru sebagai pengajar. Masihkah guru diperlukan mengajar di depan kelas seorang diri , menginformasikan, menerangkan dan menjelaskan. Untuk itu guru harus senantiasa mengembangkan profesinya secara profesional, sehingga tugas dan peran guru sebagai pengajar masih tetap diperlukan sepanjang hayat.3). Guru Sebagai Pembimbing Guru sebagai pembimbing dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya yang bertanggungjawab. Sebagai pembimbing, guru harus merumuskan tujuan secara jelas, menetapkan waktu perjalanan, menetapkan jalan yang harus ditempuh, menggunakan petunjuk perjalanan serta menilai kelancarannya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik. Sebagai pembimbing semua kegiatan yang dilakukan oleh guru harus berdasarkan kerjasama yang baik antara guru dengan peserta didik. Guru memiliki hak dan tanggungjawab dalam setiap perjalanan yang direncanakan dan dilaksanakannya.
  36. 36. 224). Guru Sebagai Pengarah Guru adalah seorang pengarah bagi peserta didik, bahkan bagi orang tua. Sebagai pengarah guru harus mampu mengarkan peserta didik dalam memecahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi, mengarahkan peserta didik dalam mengambil suatu keputusan dan menemukan jati dirinya. Guru juga dituntut untuk mengarahkan peserta didik dalam mengembangkan potensi dirinya, sehingga peserta didik dapat membangun karakter yang baik bagi dirinya dalam menghadapi kehidupan nyata di masyarakat.5). Guru Sebagai Pelatih Proses pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan ketrampilan, baik intelektual maupun motorik, sehingga menuntut guru untuk bertindak sebagai pelatih, yang bertugas melatih peserta didik dalam pembentukan kompetensi dasar sesuai dengan potensi masing-masing peserta didik. Pelatihan yang dilakukan, disamping harus memperhatikan kompetensi dasar dan materi standar, juga harus mampu memperhatikan perbedaan individual peserta didik dan lingkungannya. Untuk itu guru harus banyak tahu, meskipun tidak mencakup semua hal dan tidak setiap hal secara sempurna, karena hal itu tidaklah mungkin.
  37. 37. 23 6). Guru Sebagai Penilai Penilaian atau evalusi merupakan aspek pembelajaran yang paling kompleks, karena melibatkan banyak latar belakang dan hubungan, serta variabel lain yang mempunyai arti apabila berhubungan dengan konteks yang hampir tidak mungkin dapat dipisahkan dengan setiap segi penilaian. Tidak ada pembelajaran tanpa penilaian, karena penilaian merupakan proses menetapkan kualitas hasil belajar, atau proses untuk menentukan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran peserta didik. Sebagai suatu proses, penilaian dilaksanakan dengan prinsip- prinsip dan dengan teknik yang sesuai, mungkin tes atau non tes. Teknik apapun yang dipilih, penilaian harus dilakukan dengan prosedur yang jelas, yang meliputi tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan dan tindak lanjut. Mengingat kompleksnya proses penilaian, maka guru perlu memiliki pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang memadai. Guru harus memahami teknik evaluasi, baik tes maupun non tes yang meliputi jenis masing-masing teknik, karakteristik, prosedur pengembangan, serta cara menentukan baik atau tidaknya ditinjau dari berbagai segi, validitas, reliabilitas, daya beda dan tingkat kesukaran soal.3. Profesi Gurua. Pengertian Profesi Pengertian profesi adalah suatu pernyataan atau suatu janji terbuka (to profess artinya menyatakan), yang menyatakan bahwa seseorang itu
  38. 38. 24mengabdikan dirinya pada suatu jabatan atau pelayanan karena orang tersebutmerasa terpanggil untuk menjabat pekerjaan itu. (Sahertian, 1994 : 26) Pengertian profesi menurut Hornby dalam Roestiyah (1982 : 176)“accuption is one reguiring, advanced educational and special training “Profesi adalah suatu pekerjaan yang memerlukan pendidikan lanjut dan latihankhusus. Sutisna (1983 : 302) mengemukakan bahwa profesi adalah suatupekerjaan yang meminta pendidikan tertentu dalam liberal arts atau sciencedan biasanya meliputi pekerjaan mental, seperti : mengajar, pekerja Sosial,pengarang dan seterusnya terutama kedokteran, hukum / teologi. Sejalan dengan itu, Ornstein dan Levine dalam Soetjipto dan Kosasi.(1999:15) menyatakan bahwa profesi adalah jabatan yang mengandungpengertian ; 1) melayani masyarakat, merupakan karier yang akandilaksanakan sepanjang hayat (tidak berganti-ganti pekerjaan), 2) memerlukanbidang ilmu dan ketrampilan tertentu diluar jangkauan khalayak ramai (tidaksetiap orang dapat melakukannya) 3) menggunakan hasil penelitian danaplikasi dari teori ke praktek (teori baru di kembangkan dari hasil penelitian)4) memerlukan latihan khusus dengan waktu yang panjang, 5) terkendaliberdasarkan lisensi baku dan/atau mempunyai persyaratan masuk (untukmenduduki jabatan tersebut memerlukan izin tertentu atau persyaratan khususyang ditentukan untuk dapat mendudukinya), 6) otonomi dalam membuatkeputusan tentang ruang lingkup kerja tertentu atau adanya persyaratantertentu (tidak teratur orang lain), 7) menerima tanggung jawab terhadapkeputusan yang diambil dan unjuk kerja yang ditampilkan yang berhubungan
  39. 39. 25dengan layanan yang diberikan (langsung bertanggung jawab terhadap apayang diputuskannya, tidak pindah ke atasan atau instansi yang lebih tinggi).Mempunyai sekumpulan untuk kerja yang baku, 8) mempunyai komitmenterhadap jabatan dan klien; dengan penekanan terhadap layanan yang akandiberikan, 9) menggunakan administrator untuk memindahkan profesinya;relatif bebas dari supervisi dalam jabatan (misalnya: dokter memakai tenagaadministrator untuk mendata klien, sementara tidak ada supervisi dari luarterhadap pekerjaan dokter itu sendiri), 10) mempunyai organisasi yang diaturoleh anggota profesi sendiri, 11) mempunyai profesi dan atau kelompok elituntuk mengetahui dan mengakui keberhasilan, 12) mempunyai kode etikuntuk menjelaskan hal-hal yang meragukan atau menyaksikan yangberhubungan dengan layanan yang diberikan, 13) mempunyai kadarkepercayaan yang tinggi dari publik kepercayaan diri setiap anggotanya(anggota masyarakat selalu meyakini dokter lebih tahu tentang penyakit pasienyang dilayani). 14) mempunyai status sosial dan ekonomi yang tinggi (bila dibanding dengan jabatan lainnya). Pengertian jabatan profesional perlu dibedakan dari pekerjaan yangmenuntut dan dapat dipenuhi lewat pembiasaan melakukan ketrampilantertentu (magang, keterlibatan langsung dalam situasi kerja dilingkungannya,dan ketrampilan kerja sebagai warisan orang tua atau pendahulunya). Seorangpekerja profesional perlu dibedakan dari: pertama, seorang teknisi, kedua(pekerja profesional dan teknisi) dapat saa tampil dengan unjuk kerja yangsama (misalnya: menguasai tehnik kerja sama, menguasai prosedur yang
  40. 40. 26 sama, dapat memecahkan masalah-masalah teknik dalam bidang kerjanya), tetapi seorang yang profesional dituntut menguasai visi yang mendasari ketrampilan yang menyangkut wawasan filosofis, pertimbangan rasional, dan memiliki pola yang positif dalam melaksanakan serta mengembangkan mutu karyanya ( Joni: 1980:6) Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi (UU No. 14/2005).b. Profesi Guru Guru sebagai profesi, bukan lagi dianggap sebagai pekerjaan biasa, tetapi suatu pekerjaan yang memerlukan pendidikan dan keahlian tertentu yang tidak dapat dilakukan oleh sembarangan orang. Guru mengemban tugas sebagaimana dinyatakan dalam Undang- Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003, dalam pasal 39 ayat 1. Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. Sedangkan ayat 2 berbunyi pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.
  41. 41. 27 Di dalam Undang Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 1 menyebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Pengakuan guru sebagai tenaga profesional dibuktikan dengan sertifikat pendidik.c. Syarat – Syarat Menjadi Guru Profesional Menjadi seorang guru bukanlah pekerjaan gampang, seperti yang dibayangkan sebagian orang, dengan bermodal penguasaan materi dan menyampaikannya kepada peserta didik, hal ini belum cukup untuk dikatakan sebagi guru yang memiliki pekerjaan profesional. Guru harus memiliki berbagai ketrampilan, kemampuan khusus, mencintai pekerjaannya dan menjaga kode etik guru. Menurut Oemar Hamalik dalam Yamin (2006 : 7) guru profesional harus memiliki persyaratan yang meliputi (1) memiliki bakat sebagai guru, (2) memiliki keahlian sebagai guru, (3) memiliki keahlian yang baik dan terintegrasi, (4) memiliki mental yang sehat, (5) berbadan sehat, (6) memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas, (7) berjiwa Pancasila, (8) merupakan warga negara yang baik. Sedangkan menurut Undang Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 7, profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai berikut : (1) memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme, (2) memiliki komitmen untuk meningkatkan
  42. 42. 28 mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia, (3) memiliki kualitas akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas, (4) memilik kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas, (5) memiliki tanggungjawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan, (6) memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja, (7) memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat, (8) memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan dan (9) memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.4. Sertifikasi Gurua. Pengertian Sertifikasi Guru merupakan kunci dalam peningkatan mutu pendidikan dan mereka berada di titik sentral dari setiap usaha reformasi pendidikan yang diarahkan pada perubahan-perubahan kualitatif. Setiap usaha peningkatan mutu pendidikan seperti pembaharuan kurikulum, pengembangan metode- metode mengajar, penyediaan sarana dan prasarana hanya akan berarti jika melibatkan guru. Artinya titik total pembangunan pendidikan tergantung dari bagaimana membangun mutu guru ke arah yang profesional. Dalam kenyataannya mutu guru di Indonesia sangat beragam dan rata- rata masih di bawah standar yang telah ditentukan. Banyak guru yang belum memenuhi standar kualifikasi pendidikan dan belum mempunyai kompetensi yang telah disyaratkan.
  43. 43. 29 Sertitifikasi adalah pemberian sertifikat kompetensi atau suratketerangan sebagai pengakuan terhadap kemampuan seseorang dalammelakukan suatu pekerjaan setelah lulus uji kompetensi. Sertifikasi berasaldari kata certification yang berarti diploma atau pengakuan secara resmikompetensi seseorang untuk memangku sesuatu jabatan profesional.Sertifikasi guru dapat diartikan sebagai surat bukti kemampuan mengajardalam mata pelajaran, jenjang dan bentuk pendidikan tertentu seperti yangditerangkan dalam sertifikat kompetensi tersebut (depdiknas, 2003). Dalam Undang Undang No. 14/2005 pasal 2, disebutkan bahwapengakuan guru sebagai tenaga yang profesional dibuktikan dengan sertifikasipendidik. Selanjutnya pasal 11 menjelaskan bahwa sertifikasi pendidikdiberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan. Sertifikasi pendidikdiselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaantenaga kependidikan yang terakreditasi. Menurut Samani (2006 : 8) sertifikat pendidik adalah bukti formaldari pemenuhan dua syarat, yaitu kualifikasi akademik minimum danpenguasaan kompetensi minimal sebagai guru. Sedangkan menurut Triantodan Tutik (2007 : 9) Sertifikat pendidik adalah surat keterangan yangdiberikan suatu lembaga pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasisebagai bukti formal kelayakan profesi guru, yaitu memenuhi kualifikasipendidikan minimum dan menguasai kompetensi minimal sebagai agenpembelajaran.
  44. 44. 30 Sertifikasi guru dapat diartikan sebagai suatu proses pemeberian pengakuan bahwa seseorang telah memiliki kompetensi untuk melaksanakan pelayanan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu, setelah lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh lembaga sertifikasi (Mulyasa, 2007 : 34). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Sertifikasi pendidik adalah suatu bukti pengakuan sebagai tenaga profesional yang telah dimiliki oleh seorang pendidik dalam melaksanakan pelayanan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu, setelah yang bersangkutan menempuh uji kompetensi yang dilakukan oleh lembaga sertifikasi.b. Tujuan dan Manfaat Sertifikasi Menurut Wibowo dalam Mulyasa (2007 : 35) mengungkapkan bahwa tujuan sertifikasi guru adalah (1) melindungi profesi pendidik dan tenaga kependidikan, (2) melindungi masyarakat dari praktik-praktik yang tidak kompeten, sehingga merusak citra pendidik dan tenaga kependidikan, (3) membantu dan melindungi lembaga penyelenggara pendidikan, dengan menyediakan rambu-rambu dan instrumen untuk melakukan seleksi terhadap pelamar yang kompeten, (4) membangun citra masyarakat terhadap profesi pendidik dan tenaga kependidikan, (5) memberikan solusi dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dan tenaga kependidikan. Sedangkan menurut Departemen Pendidikan Nasional mengungkapkan bahwa tujuan sertifikasi guru adalah (1) menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran, (2) meningkatkan
  45. 45. 31 profesionalisme guru, (3) meningkatkan proses dan hasil pendidikan, (4) mempercepat terwujudnya tujuan pendidikan nasional. Manfaat sertifikasi pendidik dan kependidikan menurut Mulyasa (2007: 35) yaitu untuk pengawasan dan penjaminan mutu tenaga kependidikan dalam rangka pengembangan kompetensi, pengembangan karir tenaga kependidikan secara berkelanjutan dan peningkatan program pelatihan yang lebih bermutu.c. Kerangka Sertifikasi Sertifikasi guru merupakan amanat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Sertifikasi dapat berbentuk ijazah dan sertifikat kompetensi, tetapi bukan sertifikat yang diperoleh melalui pertemuan ilmiah seperti seminar, diskusi panel, lokakarya dan simposium (UU RI No. 20/2003 pasal 61). Sertifikat kompetensi diperoleh dari penyelenggara pendidikan dan lembaga pelatihan setelah lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi atau lembaga sertifikasi. Sertifikasi guru dikenakan terhadap calon guru lulusan LPTK, maupun yang berasal dari perguruan tinggi nonkependidikan bidang ilmu tertentu yang ingin memilih guru sebagai profesi. Bagi lulusan dari perguruan tinggi nonkependidikaan sebelum mengikuti uji sertifikasi dipersyaratkan mengikuti program pembentukan kemampuan mengajar di LPTK.
  46. 46. 32 Kerangka pelaksanaan sertifikasi kompetensi guru baik lulusan sarjanakependidikan maupun lulusan sarjana nonkependidikan, menurut Mulyasa(2007: 40) dapat dijelaskan sebagai berikut : Pertama, lulusan program sarjana kependidikan sudah mengalamipembentukan kompetensi menmgajar, sehingga mereka hanya memerlukan ujikompetensi yang dilaksanakan oleh pendidikan tinggi yang memeliki ProgramPengadaan Tenaga Kependidikan (PPTK) terakreditasi dan ditunjuk olehDitjen Dikti Departemen Pendidikan Nasional. Kedua, lulusan program sarjana nonkependidikan harus terlebih dahulumengikuti proses pembentukan kompetensi mengajar pada perguruan tinggiyang memiliki Program Pengadaan Tenaga Kependidikan (PPTK) secaratersetruktur. Setelah dinyatakan lulus dalam pembentukan kompetensimengajar, baru mengikuti sertifikasi. Ketiga, penyelenggara program Pembentukan Kompetensi Mengajardipersyaratkan adanya status lembaga LPTK yang terakreditasi. Sedangkanuntuk pelaksanaan uji kompetensi sebagai bentuk audit atau evaluasikompetensi mengajar guru harus dilaksanakan oleh LPTK terakreditasi yangditunjuk dan ditetapkan oleh Ditjen Dikti Depdiknas. Keempat, peserta uji kompetensi yang telah dinyatakan lulus, baikyang berasal dari lulusan program sarjana pendidikan maupun sarjananonkependidikan diberikan sertifikat kompetensi sebagai bukti yangbersangkutan memiliki kewenangan untuk melakukan praktik dalam bidangprofesi guru pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
  47. 47. 33 Kelima, peserta uji kompetensi yang berasal dari guru yang sudah melaksanakan tugas dalam interval waktu tertentu sebagai bentuk kegiatan penyegaran dan pemutakhiran kembali sesuai dengan tuntutan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta persyaratan dunia kerja. Disamping itu uji kompetensi juga diperlukan bagi yang tidak melakukan tugas profesinya sebagai guru dalam jangka waktu tertentu.d. Standar Kompetensi Guru dalam Sertifikasi Menurut Broke and Stone dalam Mulyasa (2007 : 25) kompetensi guru sebagai .. descriptive of qualitative nature of teacher behavior appears to be entirely meaningful (kompetensi guru merupakan gambaran kualitatif tentang hakekat perilaku guru yang penuh arti). Menurut UU RI No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dijelaskan bahwa kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Sedangkan menurut Mulyasa (2007 : 26) menyatakan bahwa kompetensi mengacu pada kemampuan melaksanakan sesuatu yang diperoleh melalui pendidikan. Kompetensi guru menunjuk kepada performance dan perbuatan yang rasional untuk memenuhi spesifikasi tertentu di dalam pelaksanaan tugas-tugas pendidikan. Dari uraian di atas, nampak bahwa kompetensi guru merupakan gambaran tentang kemampuan guru yang mencakup pengetahuan, ketrampilan
  48. 48. 34dan perilaku guru yang harus dikuasai agar dapat menjalankan tugas secaraprofesional. Kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensikepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional (UUGD No. 14/2005 : pasal 10 ). Empat kompetensi guru seperti yang diamanatkan dalamUndang-Undang tersebut merupakan standar kompetensi yang harus dikusaioleh guru. Dengan kompetensi tersebut diharapkan guru dapat melaksanakantugas sebagai tenaga kependidikan yang profesioanal yaitu sebagai agenpembelajaran. Kompetensi pedagogik yaitu kemampuan mengelola pembelajaranpeserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangandan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembanganpeserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Kompetensi kepribadian yaitu kemampuan kepribadian yang mantap,stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik danberakhlak mulia. Guru dalam melaksanakan tugasnya harus bersikap terbuka,kritis dan skeptis untuk mengaktualisasi penguasaan isi bidang studi. Kompetensi sosial merupakan kemampuan pendidik sebagai bagiandari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif denganpeserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali pesertadidik, dan masyarakat sekitar. Kompetensi profesional yaitu kemampuan penguasaan materipembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkannya
  49. 49. 35 membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam standar nasional pendidikan. Keempat standar kompetensi guru tersebut dijabarkan dalam bentuk kisi-kisi standar kompetensi guru dalam sertifikasi seperti terdapat dalam Lampiran.e. Sertifikasi Guru dengan Portofolio Guru dalam jabatan atau guru yang sudah memiliki pengalaman mengajar proses sertifikasi guru dilakukan dengan berlandaskan pada Permendiknas No. 18 Tahun 2007. Uji kompetensi untuk memperoleh sertifikat pendidik dilakukan dalam bentuk penilaian portofolio. Portofolio adalah bukti fisik (dokumen) yang menggambarkan pengalaman berkarya/prestasi yang dicapai dalam menjalankan tugas profesi sebagai guru dalam interval waktu tertentu. Dokumen ini terkait dengan unsur pengalaman, karya dan prestasi selama guru yang bersangkutan menjalankan peran sebagai agen pembelajaran (kompetensi kepribadian, pedagogik, profesional dan sosial). Dalam Permendiknas No. 18 Tahun 2007 tentang sertifikasi bagi guru dalam jabatan komponen portofolio meliputi: (1) kualifikasi akademik, (2) pendidikan dan pelatihan, (3) pengalaman mengajar, (4) perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, (5) penilaian dari atasan dan pengawas, (6) prestasi akademik, (7) karya pengembangan profesi, (8) keikutsertaan dalam forum ilmiah, (9) pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial, serta (10) penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.
  50. 50. 36 Kualifikasi akademik yaitu tingkat pendidikan formal yang telahdicapai sampai dengan guru mengikuti sertifikasi, baik pendidikan gelas ( S1,S2 atau S3 ) maupun non gelas ( D4 atau Post Graduate diploma ), baik didalam maupun di luar negeri. Bukti fisik yang terkait dengan komponen iniberupa ijazah atau sertifikat diploma. Pendidikan dan Pelatihan yaitu pengalaman dalam mengikuti kegiatanpendidik dan pelatihan dalam rangka pengembangan dan/atau peningkatankompetensi dalam melaksanakan tugas sebagai pendidikan, baik pada tingkatkecamatan, kabupaten/kota, propinsi, nasional, maupun internasional. Buktifisik komponen ini dapat berupa sertifikat, piagam, atau surat keterangan darilembaga penyelnggara diklat. Pengalaman mengajar yaitu masa kerja guru dalam melaksanakantugas sebagai pendidik pada satuan pendidikan tertentu sesuai dengan surattugas dari lembaga yang berwenang (dapat dari Pemerintah, dan/ataukelompok masyarakat penyelenggara pendidikan). Bukti fisik dari komponenini dapat berupa surat keputusan / surat keterangan yang sah dari lembagayang berwenang. Perencanaan Pembelajaran yaitu persiapan mengelola pembelajaranyang akan dilaksanakan dalam kelas pada setiap tatap muka. Perencanaanpembelajaran ini paling tidak memuat perumusan tujuan / kompetensi,pemilihan dan pengorganisasian materi, pemilihan sumber / mediapembelajaran, skenario pembelajaran, dan penilaian hasil belajar. Bukti fisik
  51. 51. 37dari sub komponen ini berupa dokumen perencanaan pembelajaran ( RP / RPP/ SP ) yang diketahui / disahkan oleh atasan. Pelaksanaan pembelajaran yaitu kegiatan guru dalam mengelolapembelajaran di kelas. Kegiatan ini mencakup tahapan pra pembelajaran (pengecekan kesiapan kelas dan apersepsi ), kegiatan inti ( penguasaan materi,strategi pembelajaran, pemanfaatan media / sumber belajar, evaluasi,penggunaan bahasa), dan penutup ( refleksi, rangkuman, dan tindak lanjut ).Bukti fisik yang dilampirkan berupa dokumen hasil penilaian oleh kepalasekolah dan/atau pengawas tentang pelaksanaan pembelajaran yang dikelolaoleh guru. Penilaian dari atasan dan pengawas yaitu penilaian atasan terhadapkompetensi kepribadian dansosial, yang meliputi aspek-aspek ketaatanmenjalankan ajaran agama, tanggung jawab, kejujuran, kedisiplinan,keteladanan, etos kerja, inovasi dan kreativitas, kemampuan menerima kritikdan saran, kemampuan berkomunikasi dan kemampuan bekerjasama denganmenggunakan format penilaian. Prestasi akademik yaitu prestasi yang dicapai guru, utamanya yangterkait dengan bidang keahliannya yang mendapat pengakuan darilembaga/panitia penyelenggara, baik tingkat kecamatan, kabupaten/kota,provinsi, nasional, maupun internasional. Komponen ini meliputi lomba dankarya akademik ( juara lomba atau penemuan karya monumental di bidangpendidikan atau non kependidikan ), dan pembimbingan teman sejawatdan/atau siswa ( instruktur, guru inti, tutor atau pembimbing ). Bukti fisik
  52. 52. 38yang dilampirkan berupa surat penghargaan, surat keterangan atau sertifikatyang dikeluarkan oleh lembaga/panitia penyelenggara. Karya pengembangan profesi yaitu suatu karya yang menunjukkanadanya upaya dan hasil pengembangan profesi yang dilakukan oleh guru.Komponen ini meliputi buku yang dipublikasikan pada tingkatkabupaten/kota, propinsi atau nasional; artiket yang dimuat dalam mediajurnal/majalah/buletin yang tidak terakreditasi, terakreditasi dan internasionalmenjadi reviewer buku, penulis soal EBTANAS/UN; modul/buku cetak lokal( Kabupaten / Kota ) yang minimal mencakup materi pembelajaran selama 1(satu) semester ; media / ata pembelajaran dalam bidangnya; laporanpenelitian tindakan kelas ( individu / kelompok ); dan karya seni (patung,rupa, tari, lukis, sastra, dll). Bukti fisik yang dilampirkan berupa suratketerangan dari pejabat yang berwenang tentang hasil karya tersebut. Keikutsertaan dalam forum ilmiah yaitu partisipasi dalam kegiatanilmiah yang relevan dengan bidang tugasnya pada tingkat kecamatan,kabupaten / kota, provinsi, nasional atau internasional; baik sebagaipemakalah maupun sebagai peserta. Bukti fisik yang dimapirkan berupamakalah dan sertifikat / piagam bagi nara sumber, dan sertifikat / piagam bagipeserta. Pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial yaitupengalaman guru menjadi pengurus, dan bukan hanya sebagai anggota disuatu organisasi kependidikan dan sosial. Pengurus organisasi di bidangkependidikan antara lain pengawas, kepala sekolah, wakil kepala sekolah,
  53. 53. 39ketua jurusan, kepala lab, kelapa bengkel, kepala studio, ketua asosiasi gurubidang studi, asosiasi profesi, dan pembina kegiatan ekstra kurikuler(pramuka, drumband, mading, karya ilmiah remaja – KIR). Sedangkanpengurus di bidang sosial anatara lain menjabat ketua RW, Ketua RT, KetuaLMD, dan pembina kegiatan keagamaan. Bukti fisik yang dilampirkan adalahsurat keputusan atau surat keterangan dari pihak yang berwenang. Penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan yaitupenghargaan yang diperoleh karena guru menunjukkan dedikasi yang baikdalam melaksanakan tugas dan memenuhi kriteria kuantitatif (lama waktu,hasil, lokasi/geografis), kualitatif (komitmen, etos kerja), dan relevansi (dalambidang/rumpun bidang), baik pada tingkat kabupaten/kota, provinsi, nasional,maupun internasional. Bukti fisik yang dilampirkan berupa fotocopysertifikat, piagam, atau surat keterangan. Fungsi portofolio dalam sertifikasi guru (khususnya guru dalamjabatan) untuk menilai kompetensi guru dalam menjalankan tugas danperannya sebagai agen pembelajaran. Kompetensi pedagogik dinilai antaralain melalui dokumen kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatihan,pengalaman mengajar, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran.Kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial dinilai antara lain melaluidokumen penilaian dari atasan dan pengawas. Kompetensi profesional dinilaiantara lain melalui dokumen kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatihan,pengalaman mengajar, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran danprestasi akademik.
  54. 54. 40 Portofolio juga berfungsi sebagai : (1) wahana guru untuk menampilkan dan/atau membuktikan unjuk kinerjanya yang meliputi produktivitas, kualitas, dan relevansi melalui karya-karya utama dan pendukung, (2) informasi/data dalam memberikan pertimbangan tingkat kelayakan kompetensi seorang guru, bila dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan, (3) dasar menentukan kelulusan seorang guru yang mengikuti sertifikasi (layak mendapatkan sertifikat pendidik atau belum) dan (4) dasar memberikan rekomendasi bagi peserta yang belum lulus untuk menentukan kegiatan lanjutan sebagai representasi kegiatan pembinaan dan pemberdayaan guru.f. Mekanisme Pengujian Sertifikasi Pengujian sertifikasi terutama pengujian dengan portofolio dilakukan dengan dua tahapan, yaitu harus menempuh tes tertulis dan tes kinerja yang dipadukan dengan self appraisal, portofolio dan dilengkapi dengan peer appraisal. Adapun materi tes tertulis dan tes kinerja, portofolio dan peer appraisal didasarkan pada indikator esensial kompetensi guru sesuai dengan tuntutan minimal sebagai agen pembelajaran. Menurut Trianto dan Tutik (2007 : 83), mekanisme pengujian sertifikasi guru mengikuti tiga alur yaitu : (1) para guru harus memenuhi persyaratan administrasi yang telah ditetapkan dan baru menempuh ujian tulis; (2) jika lulus dalam ujian tertulis, guru diwajibkan mengikuti uji kinerja; (3) guru wajib mencatat dan mengumpulkan semua aktivitas yang dilakukan baik saat pembelajaran maupun di luar pembelajaran dalam bentuk portofolio.
  55. 55. 41 BAB III METODE PENELITIANA. Rangcangan Penelitian Penelitian ini pada dasarnya akan memberikan penjelasan tentang persepsi guru sekolah dasar di Kecamatan Jiwan terhadap program sertifikasi melalui kegiatan analisis secara kualitatif. Penelitian ini dirancang dan dianalisis secara kualitatif, dimana realitas dipandang sesuatu yang holistik, kompleks, dinamis, penuh makna dan dengan menggunakan pola pikir yang induktif. Fokus penelitian kualitatif belum begitu jelas dan akan berkembang pada waktu penelitian berlangsung. Hubungan antara peneliti dengan yang diteliti bersifat interaktif dengan sumber data supaya memperoleh makna. Metode Penelitian kualitatif juga dinamakan metode postpositivistik karena berlandaskan pada filsafat postpositivisme dan juga dinamakan metode artistik karena bersifat seni, serta dinamakan metode alamiah atau natural setting (Sugiyono, 2006 : 8).B. Lokasi dan Informan Penelitian Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar se Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun tahun 2007. Informan dalam penelelitian kualitatif merupakan nara sumber atau partisipan yang menjadi teman dan guru dalam penelitian. Informan dalam penelitian ini adalah guru Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan Kabupaten 41
  56. 56. 42 Madiun. Jumlah dan penentuan informan dilakukan dengan teknik Snowball sampling yaitu teknik pengambilan sampel sumber data yang pada awalnya jumlahnya sedikit, lama-lama menjadi besar seperti bola salju yang menggelindingC. Teknik Penelitian1. Teknik Pengumpulan Data Teknik Pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian. Menurut Sugiyono (2006 : 253) pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting, berbagai sumber dan berbagai cara. Ditinjau dari settingnya, pengumpulan data dapat dilakukan pada setting alamiah (natural setting), pada laboratorium (eksperimen), pada suatu seminar, di rumah dan dapat juga pada waktu diskusi. Berdasarkan sumber data, pengumpulan data dapat menggunakan sumber primer dan sumber skunder. Sedangkan ditinjau dari cara pengambilan data, pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara Observasi, interview, kuisioner dan dokumentasi. Pada penelitian ini pengumpulan data dilakukan pada setting alamiah dengan sumber data primer dan dengan cara kuisioner, dokumentasi, dan wawancara.a. Teknik Angket (kuesioner) Angket digunakan untuk mengumpulkan data tentang persepsi guru terhadap program sertifikasi guru. Angket ini digunakan untuk memperoleh data bagaimana persepsi guru terhadap program sertifikasi yang akan
  57. 57. 43 dilaksanakan oleh pemerintah. Daftar pertanyaan yang ada dalam angket bersifat terbuka dan dapat diisi sesuai dengan pendapat informan penelitian.b. Teknik Dokumentasi Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen dapat berupa tulisan, gambar, atau karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan berupa catatan harian, cerita, biografi,monografi, peraturan dan kebijakan. Dokumen yang dikumpulkan dalam penelitian ini berbentuk dokumen tulisan yang berupa monografi, peraturan dan kebijakan pemerintah.c. Teknik Wawancara Teknik pengumpulan data dengan wawancara dimaksudkan untuk mengetahui hal-hal yang lebih mendalam dari informan. Wawancara digunakan untuk memperoleh data yang lebih valid dari informan dan memperkuat data yang sudah diperoleh dari hasil angket dan dokumentasi. Wawancara terhadap informan dilakukan dengan semiterstruktur (semistructure interview), dimana dalam pelaksanaan wawancara dilakukan secara terbuka, bebas tetapi masih berpedoman pada pedoman wawancara yang sudah disiapkan.2. Teknik Pengolahan Data Dalam penelitian kualitatif, data diperoleh dari berbagai sumber, dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang bermacam-macam (triangulasi), dan dilakukan secara terus menerus sampai datanya jenuh.
  58. 58. 44Dengan pengamatan yang terus menerus tersebut mengakibatkan variasi datatinggi sekali. Data yang diperoleh pada umumnya adalah data kualitatif(walaupun tidak menolak data kuantitatif), sehingga teknik pengolahan datayang digunakan belum ada polanya yang jelas. Oleh karena itu seringmengalami kesulitan dalam melakukan pengolahan data. Pengolahan data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelummemasuki lapangan, selama di lapangan, dan setelah selesai di lapangan.Pengolahan data telah mulai sejak merumuskan dan menjelaskan masalah,sebelum terjun ke lapangan, dan berlangsung terus sampai penulisan hasilpenelitian. Dalam penelitian kualitatif, pengolahan data lebih difokuskanselama proses di lapangan bersamaan dengan pengumpulan data. Model pengolahan data yang digunakan dalam penelitian inimenggunakan Model Interactive dari Miles and Huberman yaitu analisis datadilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesaipengumpulan data dalam periode tertentu. Aktivitas dalam analisis datameliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan verifikasi dataseperti dilukiskan pada Gambar 1. Data Collection Data Disply Data Reduction Verifying Gambar 1. Pengolahan data Model Interactive ( Miles and Huberman )
  59. 59. 45a. Data Collection (Pengumpulan Data) Data dikumpulkan dengan berbagai teknik pengumpulan data (Triangulasi), yaitu merupakan penggabungan dari berbagai macam teknik pengumpulan data baik wawancara, observasi maupun dengan menggunakan angket. Semakin banyak data yang terkumpul, maka hasil penelitian yang didapat semakin bagus.b. Data Reduction (Reduksi Data) Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu maka data perlu dicatat secara teliti dan rinci. Kemudian data dirangkum, dipilih hal-hal yang pokok, difokuskan pada hal-hal yang penting dan dicari tema serta polanya. Data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencari data berikutnya jika diperlukan. Data-data yang tidak terpakai dibuang, sehingga peneliti lebih fokus pada data yang telah tereduksi. Dalam penelitian ini data-data yang tereduksi adalah data-data yang ada kaitannya dengan tujuan penelitian yaitu persepsi positif dan persepsi negatif guru terhadap sertifikasi guru serta temuan-temuan di lapangan yang ada kaitanya dengan sertifikasi guru. Data yang tidak ada kaitannya dengan persepsi positif dan persepsi negatif guru terhadap sertifikasi guru dibuang. Karena reduksi data merupakan proses berfikir sensitif yang memerlukan kecerdasan dan keluasan serta kedalaman wawasan, maka reduksi data dapat dilakukan dengan mendiskusikan pada teman atau orang
  60. 60. 46 lain yang dipandang ahli, misalnya Kepala Cabang Dinas Pendidikan, Kepala Dinas Pendidikan atau para Pengawas pada Dinas Pendidikan Kabupaten Madiun. Dari hasil diskusi akan diperoleh data yang benar-benar penting dan sesuai dengan tujuan.c. Data display (Penyajian Data) Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendispaykan data. Display data dapat dalam bentuk tabel, grafik, chard dan sejenisnya. Melalui penyajian data dalam bentuk display, maka data dapat terorganisir, tersusun dalam pola hubungan, sehingga akan semakin mudah dipahami. Display data dalam penelitian ini dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori dan flowchart. Penyajian data dengan menggunakan teks yang bersifat naratif.d. Verifying (Verifikasi) Langkah berikutnya dalam analisis data adalah verifikasi yaitu memverifikasi data dan menarik kesimpulan. Kesimpulan yang diambil harus didukung oleh data-data yang valid dan konsisten, sehingga kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel. Kesimpulan yang diperoleh merupakan jawaban dari fokus penelitian yang telah dirumuskan sejak awal dan dapat berkembang sesuai dengan kondisi yang berada di lapangan. Kesimpulan yang diperoleh juga dapat berupa temuan baru yang belum pernah ada sebelumnya.
  61. 61. 47 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYAA. Gambaran Umum Pendidikan di Kecamatan Jiwan Kecamatan Jiwan merupakan salah satu bagian dari lima belas kecamatan yang ada di Kabupaten Madiun. Kecamatan Jiwan terletak di sebelah barat daya wilayah Kabupaten Madiun. Batas wilayah Kecamatan Jiwan yaitu sebelah timur Kota Madiun, sebelah barat dan selatan berbatasan dengan Kabupaten Magetan dan disebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Sawahan. Perkembangan pendidikan di Kecamatan Jiwan ditinjau dari kuantitas menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Data jumlah sekolah di Kecamatan Jiwan dapat di lihat pada Tabel 2. Tabel 2. Data Sekolah di Kecamatan Jiwan No. Jenis Sekolah Jumlah 1. Sekolah Dasar (SD) 28 2. Sekolah Menengah Pertama (SMP) 2 3. Sekolah Menengah Atas (SMA) 1 4. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 2 5. Sekolah Luas Biasa (SLB) 1 6. Madrasah Tsanawiyah 1 Jumlah sekolah 35 47
  62. 62. 48 Melihat jumlah sekolah yang ada di Kecamatan Jiwan sebenarnyasudah sangat memadai, tetapi masyarakat Jiwan lebih banyak mengacu padaperkembangan pendidikan yang ada di Kota Madiun. Masyarakat lebihbanyak menyekolahkan anaknya di Kota Madiun, bahkan sejak Sekolah Dasarmereka menyekolahkan anaknya di kota. Apalagi sejak pendidikan di KotaMadiun memberlakukan kuota anak luar kota yang bisa masuk hanya 10persen, maka sebagian besar anak-anak Jiwan sejak Sekolah Dasar sudahsekolah di kota. Penyebaran Sekolah Dasar hampir merata di semua desa di KecamatanJiwan. Data Penyebaran Sekolah Dasar berdasarkan wilayah seperti terlihatpada Tabel 4. Tabel 3. Data Penyebaran Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan Jumlah Jumlah No. Nama Desa Guru SD 1. Jiwan 2 23 2. Sukolilo 2 19 3. Kwangsen 2 15 4. Bibrik 2 16 5. Teguhan 3 24 6. Grobogan 2 16 7. Klegen Serut 2 12 8. Ngetrep 1 9 9. Wayut 2 18 10. Sambirejo 2 19 11. Kincang 3 29 12. Bedoho 1 7 13. Bukur 2 18 14. Metesih 2 18 Jumlah sekolah 28 243
  63. 63. 49 Potensi tenaga kependidikan pada Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan seperti terlihat pada Tabel 4. Tabel 4. Data Guru, Kepala Sekolah dan Penjaga Jenis Guru Kepala Sekolah Jumlah Guru PenjagaNo. Nama Sekolah Olah Raga Kristen Agama Agama Umum 1 Wayut 01 7 Islam 1 8 1 2 Wayut 03 7 1 1 9 0 2 3 Jiwan 01 10 1 1 12 1 1 4 Jiwan 02 7 1 1 1 10 1 5 Sukolilo 01 8 1 1 1 11 1 1 6 Sukolilo 03 7 1 1 9 1 7 Kincang 01 8 2 1 11 1 1 8 Kincang 02 6 1 1 1 9 1 1 9 Kincang 03 7 1 1 9 110 Metesih 01 8 1 1 10 1 111 Metesih 03 6 1 1 8 1 112 Teguhan 01 6 1 1 8 1 113 Teguhan 02 7 1 1 9 1 114 Teguhan 03 6 1 1 8 115 Kwangsen 01 6 1 7 116 Kwangsen 02 6 1 1 8 117 Ngetrep 6 2 8 1 118 Grobogan 01 5 1 1 7 1 119 Grobogan 02 6 2 1 9 020 Sambirejo 01 7 1 1 9 121 Sambirejo 02 8 1 1 10 122 Bukur 01 6 2 1 9 123 Bukur 02 6 2 1 9 1 124 Klagenserut 01 8 3 1 12 1 125 Klegenserut 02 0 0 1 1 026 Bibrik 01 6 1 7 127 Bibrik 02 6 2 1 9 128 Bedoho 6 1 8 1 1 182 35 3 23 243 25 15 Jumlah

×