Yayasan Pertanian Mandiri (YAPARI)                     Samarinda 17 Desember 201225/12/2012                               ...
RAWAN PANGAN NASIONAL  Pada dua dekade terakhir sangat dirasakan   bahwa situasi pangan nasional sangat rawan.  Realitas...
Gambar 1: Indeks Kemandirian Pangan Indonesia 1980-2009 120.00 100.00  80.00  60.00  40.00  20.00    0.00             1980...
KEMANDIRIAN PANGAN NASIONAL MENURUN  Impor komoditi pangan selama 2011 mencapai USD 15,5   Milliar, dimana hampir semua j...
TABEL 1. PERDAGANGAN TANAMAN PANGAN DAN                          HORTIKULTURA 2011.                                Nilai  ...
TABEL 2. PERDAGANGAN KOMODITI PERKEBUNAN DAN                        PETERNAKAN 2011                                       ...
ALIH FUNGSI LAHAN SAWAH DI JAWASANGAT MEMPERBURUK POSISI PANGAN NASIONAL     Walaupun dicoba dihalangi oleh berbagai kese...
ALIH FUNGSI LAHAN TIDAK DIIMBANGIPEMBUKAAN LAHAN SAWAH BARU  Badan Pertanahan Nasional memberi izin prinsip   konversi la...
PERKEMBANGAN PRODUKSI PANGANDUNIA TIDAK MEMBANTU  Laju pertumbuhan produksi pangan dunia pada saat   ini sangat lambat, y...
KENAIKAN HARGA PANGAN DUNIA  Impor pangan untuk mengimbangi kekurangan   produksi akan makin mahal dan sulit dilakukan   ...
DIPERLUKAN TEROBOSAN  Walaupun peningkatan pengelolaan dan kualitas dari   sistem produksi yang sekarang masih menjanjika...
DIPERLUKAN UPAYA NASIONAL  Penanggulangan rawan pangan nasional yang sudah   sangat gawat hanya dapat dicapai apabila did...
PERAN KALIMANTAN TIMUR  Kalimantan Timur yang kaya sumberdaya alam dapat   saja mengandalkan ekspor kayu, minyak, mineral...
“RICE /FOOD ESTATE”TEROBOSAN KALIMANTAN TIMUR  Kalimantan Timur telah mengundang 14 investor   untuk membangun “rice/food...
MASALAH YANG DIHADAPI PENGEMBANGAN“RICE/FOOD ESTATE”  Besarnya biaya pembukaan dan biaya pembangunan irigasi   untuk mema...
MENYIKAPI KENDALA DAN MASALAHPENGEMBANGAN “RICE/FOOD ESTATE”  Diperlukan keberanian untuk menerobos “mind set”   bahwa me...
LANJUTAN MENYIKAPI KENDALA  Dari sejarah, pembangunan irigasi oleh Belanda   sebenarnya hanya memanfaatkan persawahan   p...
LANJUTAN MENYIKAPI KENDALA  Mendatangkan tenaga kerja melalui program transmigrasi   masih tetap dalam “mind set” bahwa “...
LANJUTAN MENYIKAPI KENDALA  Untuk jangka pendek dan menengah perlu pemberdayaan   dan pengembangan tanaman pangan di laha...
PEMBANGUNAN “FOOD ESTATE” LAHANKERING  Apabila dirancang dengan cermat membangun   pertanian terintegrasi dengan “food es...
PENGEMBANGAN “FOOD ESTATE”LAHAN KERING, LANJUTAN  Diperlukan kajian untuk merumuskan pola usahatani   dan kemitraan antar...
POTENSI GERAKAN PENINGKATANPRODUKSI PADI MELALUI KORPORASI  Gerakan P3K yang diprakarsai oleh Menteri BUMN   yang disempu...
PENYEMPURNAAN POLA KEMITERAANGP3K  Petani peserta adalah petani setempat yang sudah   aktif berproduksi.  Kemiteraan mel...
TUMPANGSARI SAWIT/KARET DENGANTANAMAN PANGAN  Gerakan tumpangsari tanaman perkebunan dengan   tanaman pangan mempunyai po...
GERAKAN TUMPANGSARI, LANJUTAN  Dari total area perkebunan sawit dan karet sekitar 15 juta   Ha. Seluruh Indonesia, sekita...
GERAKAN TUMPANGSARI, LANJUTAN  Diperlukan kajian mengenai jarak tanaman   perkebunan dan komposisi tanaman   pangan, sayu...
GERAKAN TUMPANGSARI,LANJUTAN  Pola tumpangsari tanaman perkebunan dengan   tanaman pangan sudah diterapkan dengan berhasi...
CATATAN PENUTUP  Untuk jangka pendek diperlukan peningkatan   produktivitas, efektivitas, dan intensitas panen lahan   pa...
CATATAN PENUTUP LANJUTAN  Perlu terobosan alokasi lahan (konservasi lahan)     untuk kemandirian pangan nasional.    Dip...
DEMIKIANLAH, TERIMA KASIHATAS PERHATIANNYA DANSEMOGA BERMANFAAT25/12/2012                  30
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

KALIMANTAN TIMUR TERDEPAN MENGHADAPI RAWAN PANGAN NASIONAL

1,179

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
1,179
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
34
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide
  • Add notes
  • KALIMANTAN TIMUR TERDEPAN MENGHADAPI RAWAN PANGAN NASIONAL

    1. 1. Yayasan Pertanian Mandiri (YAPARI) Samarinda 17 Desember 201225/12/2012 1
    2. 2. RAWAN PANGAN NASIONAL  Pada dua dekade terakhir sangat dirasakan bahwa situasi pangan nasional sangat rawan.  Realitas kenaikan produksi pangan yang lamban tidak dapat mengimbangi dinamika peningkatan permintaan pangan.  Kecepatan pertumbuhan penduduk yang masih tinggi, peningkatan pendapatan dan urbanisasi, menyebabkan permintaan konsumsi pangan pokoknya melebihi kemampuan produksi dalam negeri.25/12/2012 2
    3. 3. Gambar 1: Indeks Kemandirian Pangan Indonesia 1980-2009 120.00 100.00 80.00 60.00 40.00 20.00 0.00 1980 1982 1984 1986 1988 1990 1992 1994 1996 1998 2000 2002 2004 2006 2008 INDEK DAGING SAPI (%) INDEKS GULA (%) INDEKS KEDELAI (%) INDEKS SUSU SAPI (%) INDEKS KACANG TANAH (%)25/12/2012 3
    4. 4. KEMANDIRIAN PANGAN NASIONAL MENURUN  Impor komoditi pangan selama 2011 mencapai USD 15,5 Milliar, dimana hampir semua jenis komoditi pangan di impor, termasuk singkong dan kacang tanah  Harga komoditi pangan dalam negeri mencapai sekitar 2 kali harga import, terutama untuk beras dan daging sapi, kedelai dan gula 1,5 kali harga import.  Kerawanan pangan dan tingginya harga komoditi pangan mengindikasikan terjadinya krisis pengelolaan lahan dan air dalam dua dekade terakir ini.  Lahan sawah yang ada saat ini diperkirakan hanya tinggal 6,5 juta ha menurun dari 7,5 juta ha tahun 1990, dalam periode yang sama lahan perkebunan meningkaat dari 9,0 juta ha menjadi sekitar 16,0 juta ha disaat ini.25/12/2012 4
    5. 5. TABEL 1. PERDAGANGAN TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA 2011. Nilai Vulume Nilai Vulume Golongan Komoditi Eksport Ekport Import Import (US $ 1000) ( Ton) (US $ 1000) (Ton) Komoditi Tanaman Pangan 1. Beras 1,272 1,752 1,513,164 2,750,476 2. Jagung 9,464 12,717 1,028,527 3,207,657 3. Kedelai 5,886 4,757 1,245,963 2,088,616 4. Gandum dan Tepungnya 18,297 31,657 2,883,954 6,310,577 5. Tanaman Pangan Lainnya 111,666 188,263 200,901 895,846 Hortikultura 1. Sayuran 109,672 613,619 959,093 2. Buah-Buahan dan 257,197 894,458 856,289 Olahannya TOTAL NILAI 513,454 8,380,58425/12/2012 5
    6. 6. TABEL 2. PERDAGANGAN KOMODITI PERKEBUNAN DAN PETERNAKAN 2011 Vulume NilaiGolongan Komoditi Nilai Eksport Vulume Ekport Import (US $ 1000) Import (Ton) ( Ton) (US $ 1000)Komoditi Perkebunan1. Karet dan Olahannya 11,941,224 2,631,643 1,132,319 337,8702. Minyak Kelapa Sawit 19,375,125 17,878,8683. Minyak Makan 1,238,586 1,050,291 169,899 92,5774. Kopi dan Olahannya 1,036,671 346,493 128,5265. Kakao dan Olahannya 1,453,387 453,930 175,5076. Gula dan Olahannya 84,246 546,293 1,872,994 2,718,0207. Komoditi Perkebunan lainnya 1,067,375 829,032 401,415Komoditi Peternakan1. Ternak Hidup 65,066 328,6612. Daging dan olahannya 86,214 331,8543. Susu dan Olahannya 83,600 1,148,957Makanan Olahan dan Minuman1. Makanan Olahan 886,192 641,3102. Minuman 96,632 822,315TOTAL NILAI 37,414,316 7,153,758 25/12/2012 6
    7. 7. ALIH FUNGSI LAHAN SAWAH DI JAWASANGAT MEMPERBURUK POSISI PANGAN NASIONAL  Walaupun dicoba dihalangi oleh berbagai kesepakatan dan peraturan seperti UU No.41 Tahun 2009 Tentang Perlidungan Lahan Pangan Berkelanjutan, disisi lain UU No. 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum, alih fungsi lahan sawah di Jawa tampaknya sulit untuk terbendung.  Apalagi dengan adanya Rencana MP3EI yang menjadikan Jawa wilayah industri, perdagangan, dan jasa.  Pada saat ini kontribusi Jawa kepada produksi padi dan pangan nasional adalah sekitar 60 %.25/12/2012 7
    8. 8. ALIH FUNGSI LAHAN TIDAK DIIMBANGIPEMBUKAAN LAHAN SAWAH BARU  Badan Pertanahan Nasional memberi izin prinsip konversi lahan sawah di Jawa dan Bali seluas 1,8 juta Ha dan diluar Jawa dan Bali seluas 1,7 juta Ha  Tidak ada perencanaan untuk pembukaan lahan sawah baru kecuali di Merauke seluas 1,3 juta Ha untuk pangan dan enerji, itupun masih menghadapi banyak masalah. Dari data yang didapat ternyata sebagian besar areal diperuntukan bagi pengembangan Energi utamanya perkebunan besar Kelapa Sawit. Untuk Padi sangat kecil.25/12/2012 8
    9. 9. PERKEMBANGAN PRODUKSI PANGANDUNIA TIDAK MEMBANTU  Laju pertumbuhan produksi pangan dunia pada saat ini sangat lambat, yaitu -1,7 %, dibandingkan dengan laju pertumbuhan penduduk dunia terutama dinegara berkembang.  Khusus untuk beras prosentase yang ditawarkan di pasar dunia sangat kecil sekitar 7 % dari produksi dibandingkan dengan jagung 11 % , gandum 19 %, dan gula 28 % total produksi masing-masing komoditi.  Semakin mencuat urgensi untuk menghasilkan bio- energi yang berpotensi mengkonversi lahan pangan untuk pengembangan komoditi energi terbarukan.25/12/2012 9
    10. 10. KENAIKAN HARGA PANGAN DUNIA  Impor pangan untuk mengimbangi kekurangan produksi akan makin mahal dan sulit dilakukan dimasa yang akan datang karena Indonesia adalah negara dengan penduduk nomor 4 dunia, semua negara besar surplus pangan pokoknya.  Pertanda tentang gawatnya ketersediaan pangan dunia adalah langkah negara kaya untuk menguasai lahan di negara miskin untuk memproduksi pangan.  Gejala itu disebut “Land Grabbing” yang oleh FAO disebut sebagai penjajahan bentuk baru.25/12/2012 10
    11. 11. DIPERLUKAN TEROBOSAN  Walaupun peningkatan pengelolaan dan kualitas dari sistem produksi yang sekarang masih menjanjikan, sulit untuk mengharapkan bahwa target-target yang dikumandangkan akan dapat tercapai (Swasembada lima komoditi pangan utama, beras, jagung, kedelai, gula, dan daging sapi).  Ketepatan angka produksi pangan yang disajikan kurang meyakinkan, diperkirakan angka produksi “Over Estimate” sebesar 25 %.  Diperlukan keberanian melakukan terobosan untuk mengatasi kerawanan pangan yang sudah gawat.  Keberanian untuk meninggalkan “zone kenyamanan” berupa perubahan “Mind Set” bahwa pembangunan hendaklah didasarkan pada, data yang tepat, dan potensi sumberdaya domestik dan nasional.25/12/2012 11
    12. 12. DIPERLUKAN UPAYA NASIONAL  Penanggulangan rawan pangan nasional yang sudah sangat gawat hanya dapat dicapai apabila didukung oleh semua wilayah dan semua pihak.  Wilayah di luar Jawa yang tidak terkena alih fungsi lahan sawah separah di Jawa tidak dapat mengandalkan penerimaan ekspor untuk mengimpor pangan karena mahal dan terbatasnya suplai di pasar dunia, dan Indonesia adalah Negara Besar.  Wilayah Sumatera dan Kalimantan menunjukan konversi lahan pangan untuk Kelapa Sawit cukup tinggi dan mengkawatirkan, perlu di-imbangi dengan alokasi lahan untuk pengembangan pangan nasional.25/12/2012 12
    13. 13. PERAN KALIMANTAN TIMUR  Kalimantan Timur yang kaya sumberdaya alam dapat saja mengandalkan ekspor kayu, minyak, mineral dan hasil tambang untuk membeli dan mengimpor pangan, ternyata memilih untuk sepenuhnya mendukung upaya nasional mengatasi rawan pangan.  Dalam konteks itulah : “Kalimantan Timur Terdepan Menghadapi dan Mengatasi Rawan Pangan Nasional” dengan upaya pengembangan lahan pangan baru.25/12/2012 13
    14. 14. “RICE /FOOD ESTATE”TEROBOSAN KALIMANTAN TIMUR  Kalimantan Timur telah mengundang 14 investor untuk membangun “rice/food estate”, diantaranya 3 BUMN yaitu PT Sang Hyang Seri, PT Pertani dan PT Pusri Holding.  Untuk itu 10 Kabupaten menyediakan areal seluas 234.734 Ha untuk pengembangan “rice/food estate”.  Walaupun demikian merealisasikannya menghadapi masaalah yang cukup berat dan memakan waktu, akan tetapi upaya harus dimulai dari sekarang.  Untuk ini diperlukan adanya terobosan dalam mempertimbangkan alokasi lahan potensial yang ada.25/12/2012 14
    15. 15. MASALAH YANG DIHADAPI PENGEMBANGAN“RICE/FOOD ESTATE”  Besarnya biaya pembukaan dan biaya pembangunan irigasi untuk mematangkan lahan sawah , kelangkaan tenaga kerja, Hak Pakai Lahan yang tidak “laku” di bank, dan kelangkaan infrastruktur penunjang merupakan kendala- kandala utama yang dihadapi.  Diperlukan waktu melakukan SIDCOM (Survey, Investigation, Design, Construction, Operation, a nd Maintenance) yang cukup lama, 10 sampai 15 tahun sebelum investasi pembukaan sawah baru dapat menghasilkan, dengan terobosan SIDCOM untuk dapat diperpendek menjadi 5 – 10 tahun.  Apabila “Food Estate” dikelola Swasta/BUMN maka investasi prasarana haruslah oleh investor ini, seperti pengalaman dalam Pengembangan pola PIR.25/12/2012 15
    16. 16. MENYIKAPI KENDALA DAN MASALAHPENGEMBANGAN “RICE/FOOD ESTATE”  Diperlukan keberanian untuk menerobos “mind set” bahwa membangun “rice/food estate” adalah membangun sawah di areal yang luas secara Monokultur, menjadi pembangunan pertanian terintegrasi Aneka usaha pertanian dan Agribisines.  Biaya sebesar Rp.40 juta per Ha yang sempat disebut oleh seorang investor adalah relatif kecil karena memanfaatkan kedekatan dengan sungai dan hanya membangun sistem saluran irigasi terbuka. Biaya membangun irigasi dan mematangkan lahan sawah jauh lebih tinggi sekitar Rp. 110 juta/ha.25/12/2012 16
    17. 17. LANJUTAN MENYIKAPI KENDALA  Dari sejarah, pembangunan irigasi oleh Belanda sebenarnya hanya memanfaatkan persawahan penduduk yang sudah ada.  Demikian pula pembangunan irigasi periode 1968- 1998 memerlukan bantuan Bank Dunia dan Bank Pembangnan Asia hingga sekitar 15 tahap, yang hanya mampu meningkatkan areal irigasi sekitar 1,0 juta ha.  Pembangunan “Rice Estate” pasang surut oleh Pertamina pada tahun 1980an di Sumatera Selatan gagal, antara lain karena budidaya padi sawah adalah intensif tenaga kerja, dan pendekatan monokultur.25/12/2012 17
    18. 18. LANJUTAN MENYIKAPI KENDALA  Mendatangkan tenaga kerja melalui program transmigrasi masih tetap dalam “mind set” bahwa “rice/food estate” adalah areal sawah yang luas, sementara itu belum jelas status yang akan dimiliki transmigran yang didatangkan.  Keberanian yang diperlukan adalah membangun areal luas untuk pertanian pangan terpadu dengan sistem Agribisinesnya dilahan basah dan lahan kering.  Penduduk lokal haruslah dilibatkan secara aktif dalam kegiatan ini, bukan hanya sebagai buruh, sehingga mereka mendapat manfaatnya (sesuai dengan pasal 33 UUD 1945), dan menghindari konflik sosial yang mungkin timbul seperti belakangan ini.25/12/2012 18
    19. 19. LANJUTAN MENYIKAPI KENDALA  Untuk jangka pendek dan menengah perlu pemberdayaan dan pengembangan tanaman pangan di lahan sawah yang sudah ada sekarang dengan meningkatkan produktivitas dan intensitas panen serta mengembangkan pola diversivikasi sistem budidaya dan Agribisines sehingga mampu menigkatkan produksi dan pendapatan petani.  BUMN/Swasta bisa berperan dalam penyediaan sarana produksi benih, pupuk, pasca panen, pengolahan, dan pemasaran hasil serta pemberdayaan petani dengan kemitraan, seperti yang telah dilakukan oleh PT BJR.  Perlu dirumuskan Perbaikan GP3K BUMN dengan perbaikan kemitraan dengan petani lokal, termasuk mengolah dan memasarkan hasil.25/12/2012 19
    20. 20. PEMBANGUNAN “FOOD ESTATE” LAHANKERING  Apabila dirancang dengan cermat membangun pertanian terintegrasi dengan “food estate” lahan kering bisa lebih menguntungkan dari “rice/food estate” bebasis sawah  Diperlukan penelitian untuk menetapkan tanaman pangan termasuk padi, palawija, sayuran, dan ternak yang akan diusahakan dalam pertanian terintegrasi dengan “food estate” lahan kering  Waktu menghasilkan relatif singkat, dan lahan tersedia untuk ini.25/12/2012 20
    21. 21. PENGEMBANGAN “FOOD ESTATE”LAHAN KERING, LANJUTAN  Diperlukan kajian untuk merumuskan pola usahatani dan kemitraan antara investor dan penduduk setempat yang saling menguntungkan.  Diperlukan kajian biaya dan keterlaksanaan (feasibility) investasi dan untuk mendapatkan dana dari bank.  Kaltim dapat menjadi model pengembangan “food estate” lahan kering.25/12/2012 21
    22. 22. POTENSI GERAKAN PENINGKATANPRODUKSI PADI MELALUI KORPORASI  Gerakan P3K yang diprakarsai oleh Menteri BUMN yang disempurnakan dapat dikembangkan di lahan kering berpotensi di Kalimantan Timur seluas 1.040.443 ha.  Penyempurnaan GP3K : merumuskan pola usahatani, Agribisines dan kemiteraan petani- swasta/BUMN di ikuti sosialisasi intensif kepada petani peserta.  GP3K yang disempurnakan meliputi padi gogo, jagung, kedelai, sayuran, dan ternak.25/12/2012 22
    23. 23. PENYEMPURNAAN POLA KEMITERAANGP3K  Petani peserta adalah petani setempat yang sudah aktif berproduksi.  Kemiteraan meliputi kewajiban swasta/BUMN menyalurkan pupuk, insecticida, benih langsung kepada petani yang merupakan hutang petani yang dibayar setelah panen.  Disamping itu swasta/BUMN juga berperan dalam mengolah dan memasarkan hasil.  Penetapan pembagian laba disepakati bersama dan dikawal pemerintah daerah.25/12/2012 23
    24. 24. TUMPANGSARI SAWIT/KARET DENGANTANAMAN PANGAN  Gerakan tumpangsari tanaman perkebunan dengan tanaman pangan mempunyai potensi untuk menanggulangi masalah rawan pangan nasional.  Tumpangsari dilakukan pada areal peremajaan perkebunan atau pada areal perkebnunan baru.  Pola ini dapat diterapkan pada pengembangan perkebunan kelapa sawit dan karet.  Apabila dilakukan oleh perusahaan besar dengan kewajipan mengalokasikan 20 % areal plasma, maka pada petani plasma pola pertanian terintegrasi dapat diterapkan.25/12/2012 24
    25. 25. GERAKAN TUMPANGSARI, LANJUTAN  Dari total area perkebunan sawit dan karet sekitar 15 juta Ha. Seluruh Indonesia, sekitar 750.000 Ha (5%) harus diremajakan setiap tahun artinya setiap tahun terdapat sekitar 750.000 Ha areal peremajaan yang dapat ditanami tumpangsari dengan tanaman pangan.  Potensi ini harus dimanfaatkan, dan untuk perkebunan rakyat upaya peremajaan ini dilakukan paling tidak dengan pola kridit bersubsidi untuk pengembangan pangan dan energi.  Terobosan yang mungkin juga adalah membiayai peremajaan perkebunan rakyat dari dana pajak eksport (Semacan dana CESS, seperi yang berhasil di Malaysia) .25/12/2012 25
    26. 26. GERAKAN TUMPANGSARI, LANJUTAN  Diperlukan kajian mengenai jarak tanaman perkebunan dan komposisi tanaman pangan, sayuran, dan ternak untuk memperoleh laba optimal.  Gerakan tumpangsari dapat memanfaatkan tenagakerja dari penduduk setempat dan tidak terkendala oleh status hak atas tanah.25/12/2012 26
    27. 27. GERAKAN TUMPANGSARI,LANJUTAN  Pola tumpangsari tanaman perkebunan dengan tanaman pangan sudah diterapkan dengan berhasil di beberapa negara, antara lain di Thailand dan Sri Langka.  Masih diperlukan ketetapan pemerintah Pusat dan Daerah untuk landasan hukum pelaksanaannya  Untuk perkebunan rakyat diperlukan dukungan kredit.25/12/2012 27
    28. 28. CATATAN PENUTUP  Untuk jangka pendek diperlukan peningkatan produktivitas, efektivitas, dan intensitas panen lahan pangan yang sudah ada sehingga mampu memberikan lonjakan pendapatan petani.  Diperlukan keberanian poltik untuk mengkonservasi lahan pangan yang sudah dikembangkan.  “Food Estate Lahan Kering”, mungkin dapat diawali dengan GP3K yang disempurnakan dan Gerakan Tumpang Sari Perkebunan dengan Tanaman Pangan, potensial bagi Kaltim.  “Food Estate” lahan basah memerlukan Investasi yang cukup besar dan waktu yang relatif lama (5 – 10 tahun) serta kendala ketersediaan lahan, akan tetapi upaya perlu dilanjutkan.25/12/2012 28
    29. 29. CATATAN PENUTUP LANJUTAN  Perlu terobosan alokasi lahan (konservasi lahan) untuk kemandirian pangan nasional.  Diperlukan Kajian Inventarisasi secara terinci Potensi Lahan basah dan lahan kering yang ada.  Diperlukan juga inventarisasi dan pemetaan kepemilikan lahan potensial ini.  Perlu dirumuskan dengan rinci Program Pengembangan Pertanian Terintegrasi termasuk pola kemitraan dan pemberdayaan penduduk lokal.  YAPARI tetap bersedia untuk bersama Pemerintah Daerah untuk melaksanakan kajian yang diperlukan.25/12/2012 29
    30. 30. DEMIKIANLAH, TERIMA KASIHATAS PERHATIANNYA DANSEMOGA BERMANFAAT25/12/2012 30
    1. A particular slide catching your eye?

      Clipping is a handy way to collect important slides you want to go back to later.

    ×