metode dakwah

773 views
602 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
773
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
6
Actions
Shares
0
Downloads
91
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

metode dakwah

  1. 1. DAKWAH PADA PENGUASA Harus menggunakan sebuah metode (thoriqoh) yang tepat Yaitu metode yang dapat menjamin keberhasilan penegakan syari’ah
  2. 2. BAGAIMANA METODE (THORIQOH) YANG DAPAT MENJAMIN KEBERHASILAN? 1. Metode (thoriqoh) tersebut harus bersifat nyata. 2. Metode (thoriqoh) tersebut harus shohih (benar). Metode (thoriqoh) tersebut harus memenuhi 2 kriteria:
  3. 3. Bagaimana sebuah metode itu dapat dikategorikan bersifat “nyata”?
  4. 4. Jika ada seorang pemuda yang membutuhkan calon istri…bagaimana metode untuk mendapatkannya…?
  5. 5. • Metode untuk mendapatkannya adalah: setiap malam harus bangun jam 12, kemudian sholat 2 rakaat, membaca al-fatihah 40 kali, kemudian sebut namanya sampai 70 kali. • Ulangi terus menerus sampai 40 malam berturut-turut. BAGAIMANA METODENYA?
  6. 6. KRITERIA METODE (THORIQOH) Langkah-langkahnya harus bersifat nyata Langkah-langkahnya harus menghasilkan perubahan yang bersifat fisik Aqal harus dapat mengaitkan hubungan sebab-akibatnya
  7. 7. BAGAIMANA METODE PENEGAKAN SYARI’AT ISLAM?
  8. 8. DENGAN THORIQOH DAKWAH RASUL
  9. 9. 1. Langkah dakwah yang hukumnya wajib. 2. Rasul melaksanakannya secara terus menerus, walaupun rintangannya berat. 3. Bersifat baku (tetap). 4. Tidak berubah sepanjang masa. Yang termasuk Thoriqoh :
  10. 10. Untuk langkah yang hukumnya mubah, bersifat tidak tetap dan dapat mengikuti perubahan jaman dan tempatnya disebut uslub
  11. 11. THORIQOH DAKWAH ROSUL 1. Marhalah tatsqif wa takwin. • Tahap Pembinaan dan Pembentukan • Pembinaan kader dakwah dan pembentukan kerangka gerakan 2. Marhalah tafa’ul wal kifah. • Tahap Interaksi dan Perjuangan • Berinteraksi di tengah masyarakat dan melakukan perjuangan politik • Melakukan thalabun nushroh 3. Marhalah tathbiq ahkamul Islam. • Tahap Penerapan Hukum-hukum Islam • Menerapkan hukum Islam di dalam negeri dan mengemban dakwah dan jihad ke luar negeri
  12. 12. 1. Marhalah tatsqif wa takwin • Rasul memulai dakwah dengan mengajak manusia memeluk Islam. • Rasul membina mereka dengan pemikiran-pemikiran dan hukum- hukum Islam. • Rasul menghimpun mereka dalam satu kutlah (kelompok). • Pembentukan kutlah dakwah dilakukan secara rahasia. • Rasul membina di rumah-rumah mereka, terkadang di bukit-bukit, terkadang di rumah al-Arqam. • Tahap ini berakhir setelah turun perintah untuk berdakwah secara terang-terangan (QS. Al-Hijr: 94)
  13. 13. 2.Marhalah tafa’ul wal kifah. • Tahap ini dimulai dengan menampakkan kutlah secara terang- terangan. • Uslub yang digunakan Rasul yaitu dengan keluar bersama shahabat dalam 2 kelompok. • Mereka keluar dengan barisan rapi mengitari Ka’bah. • Aktivitas yang dilakukan kutlah ini adalah: shiro’ul fikri, kifahus siyasy, kasyful khuthath, tabanny masholihul ummah. • Ketika dakwah terus meluas, tekanan dakwahpun semakin menghebat, Rasul menyelesaikan tahap ini aktivitas tholabun nushroh. • Puncak dari tahap ini ditandai dengan Bai’at Aqobah 2.
  14. 14. 3. Marhalah tathbiq ahkamul Islam. • Di Madinah Rasul memulai dengan membangun masjid sebagai tempat shalat, bermusyawarah dan mengatur urusan masyarakat. • Rasul mengangkat Abu Bakar dan Umar sebagai wazir. • Rasul menjadi pemimpin negara, hakim dan komandan pasukan. • Rasul mengatur urusan pemerintahan dan menyelesaikan pertikaian dan perselisihan dengan hukum Islam. • Rasul juga mengangkat komandan- komandan pasukan dan mengirimkannya ke luar madinah untuk mengemban dakwah dan jihad. • Ketika Rasul wafat wilayah kekuasaan Rasul sudah meliputi seluruh jazirah Arab.
  15. 15. BAGAIMANA APLIKASINYA?
  16. 16. MARHALAH I • Dakwah dimulai dengan menyampaikan Islam secara ideologi kepada ummat. • Mereka yang tertarik akan dibina secara intensif (halqah murakkazah). • Pembinaan dilakukan dengan materi dan metode tertentu untuk membentuk kader yang bersyakhshiyyah Islamiyyah. • Kader yang siap akan bergabung dalam kelompok (kutlah) dakwah. • Keberadaan kutlah dakwah ini masih dirahasiakan (sirriyah li tandzim, bukan sirriyah li da’wah).
  17. 17. MARHALAH II • Tahap ini diawali dengan mengenalkan kutlah secara terbuka kepada masyarakat. • Kader dakwah diterjunkan di tengah masyarakat untuk melakukan pembinaan umat (tatsqif jamaiy), dengan cara: shiro’ul fikri, kifahus siyasy, kasyful khuthath, tabanny masholihul ummah untuk mewujudkan kesadaran politik. • Massa umat yang memiliki kesadaran politik akan menuntut perubahan ke arah Islam. • Didukung oleh ahl-quwwah (polisi, militer, politisi, pengusaha, tokoh dsb), yang setuju dan mendukung perjuangan kutlah. • Kekuatan politik yang didukung oleh berbagai pihak, Insya Allah tidak akan terbendung. • Diselesaikan dengan melakukan thalabun nushroh.
  18. 18. • Tahap ini akan diawali dengan diterapkannya hukum-hukum Islam untuk mengatur seluruh urusan kehidupan di dalam negeri. • Dilanjutkan dengan penyatuan negeri-negeri Islam di seluruh dunia. • Dilanjutkan pula dengan melaksanakan dakwah dan jihad (futuhat) ke seluruh penjuru dunia. MARHALAH III
  19. 19. Imam al-Lughah al-Fairus Abadi dalam Qamus al-Muhiith: ‫اإلمامة‬‫في‬‫اللغة‬‫مصدر‬‫من‬‫الفعل‬(َّ‫أم‬)‫تقول‬:(‫أ‬‫هم‬‫م‬ َّ‫أم‬‫و‬‫بهم‬:‫هم‬َ‫م‬ّ‫تقد‬،‫وهي‬‫اإلمامة‬،‫اإلمام‬‫و‬:‫كل‬‫ما‬‫ا‬‫ئتم‬ ‫به‬‫من‬‫ئيس‬‫ر‬‫أو‬‫ه‬‫ر‬‫غي‬). “Secara bahasa imamah merupakan masdar dari kata kerja “amma”, (maka) anda menyatakan: ammahum dan amma bihim artinya adalah taqaddamahum (yang mendahului (memimpin) mereka; yakni, imamah (kepemimpinan). Sedangkan imam adalah setiap orang yang harus diikuti baik pemimpin maupun yang lain”.[al-Fairuz Abadi, al-Qaamus al- Muhith, juz IV hal 78]
  20. 20. Imam Ibnu Mandzur, dalam Lisaan al-’Arab menyatakan; ‫اإلمام‬‫كل‬‫من‬‫ائتم‬‫به‬‫قوم‬‫ا‬‫و‬‫كان‬‫على‬‫اط‬‫ر‬‫الص‬‫الم‬‫ستقيم‬ ‫أو‬‫ا‬‫و‬‫كان‬‫ضالين‬..‫الجمع‬‫و‬:‫أئمة‬،‫مام‬‫ا‬‫و‬‫كل‬‫شيء‬ ‫مه‬‫قي‬‫المصلح‬‫و‬‫له‬،‫آن‬‫ر‬‫الق‬‫و‬‫إمام‬‫المسلمين‬،َّ‫و‬‫سيدنا‬ ‫محمد‬‫رسول‬‫هللا‬r‫إمام‬‫األئمة‬،‫الخليفة‬‫و‬‫إمام‬‫عية‬‫الر‬ ،‫أممت‬‫و‬‫القوم‬‫في‬‫الصالة‬‫إمامة‬،‫ائتم‬‫و‬‫به‬:‫اقت‬‫دي‬‫به‬ . “Imam adalah setiap orang yang diikuti oleh suatu kaum baik mereka berada di atas jalan yang lurus maupun sesat… Bentuk jama’nya adalah “a’immah”. Dan imam itu adalah setiap hal yang meluruskan dan yang memperbaiki dirinya, (maka) al-Qur’an adalah imam bagi kaum Muslim; Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW adalah imamnya para imam. Khalifah adalah imamnya rakyat. Anda mengimami suatu kaum dalam shalat sebagai imam; maknanya adalah i’tamma bihi: memberi contoh di dalamnya”. [Imam Ibn Mandzur, Jamaluddin Muhammad bin Makram, Lisan al-Arab, juz XII hal 24]
  21. 21. Tentang Imamah Imam Al Mawardi Asy-Syafi’i menyatakan: (‫اسةَّالدي‬‫ر‬‫اإلمامةَّموضوعةَّلخالفةَّالنبوةَّفيَّح‬َّ‫ن‬ َّ‫وسياسةَّالدنياَّبه‬)َّ‫أ‬.ََّّ‫ـ‬‫ه‬. “Imamah itu menduduki posisi untuk khilafah nubuwwah dalam menjaga agama serta politik yang sifatnya duniawi”.[Imam Al Mawardi, Ali bin Muhammad, Al-Ahkaam Al Sulthaniyyah, hal 5]
  22. 22. Para Ulama’ mengklasifikasikan kata imam, khalifah, sebagai bentuk sinonim (taraaduf). Imam Al Hafidz Al Nawawi. Beliau menyatakan: (َّ‫يجوزَّأنَّيقالَّلإلمام‬:‫أميرَّالمؤمن‬‫و‬َّ،َّ‫اإلمام‬‫و‬َّ،َّ‫الخليفة‬َّ‫ين‬) “Imam boleh juga disebut dengan khalifah, imam atau amirul Mukminin”. [Syeikhul Islam Imam Al Hafidz Yahya bin Syaraf An Nawawi, Raudhah Ath Thalibin wa Umdah Al Muftiin, juz X hal 49; Syeikh Khatib Asy Syarbini, Mughnil Muhtaj, juz IV, hal 132]
  23. 23. Al ‘Allamah Abdurrahman Ibnu Khaldun berkata: ‫وإذ‬‫قد‬‫ا‬َّ‫ن‬َّ‫ي‬‫ب‬‫حقيقة‬‫هذا‬‫المنصف‬‫وأنه‬‫ني‬‫ابة‬‫عن‬ ‫صاحب‬‫الشريعة‬‫في‬‫حفظ‬‫الدين‬‫وسياسة‬‫الد‬‫نيا‬ ‫به‬‫تسمى‬‫خالفة‬‫وإمامة‬‫والقائم‬‫به‬‫خليفة‬‫وإ‬‫مام‬ ‫أ‬.‫هـ‬ “Dan ketika telah menjadi jelas bagi kita penjelasan ini, bahwa imam itu adalah wakil pemilik syariah dalam menjaga agama serta politik duniawi di dalamnya disebut khilafah dan imamah. Sedangkan yang menempatinya adalah khalifah atau imam”. [ Abdurrahman Ibn Khaldun, Al Muqaddimah, hal 190]
  24. 24. Syeikh Al-Islam Al Imam Al Hafidz Abu Zakaria An Nawawi berkata: ‫الفصل‬‫الثاني‬‫في‬‫وجوب‬‫اإلمامة‬‫وبيان‬‫قها‬‫ر‬‫ط‬‫ال‬‫بد‬‫ل‬‫ألمة‬‫من‬ ‫إمام‬‫يقيم‬‫الدين‬‫وينصر‬‫السنة‬‫وينتصف‬‫للمظلومين‬َّ‫و‬‫يستوفي‬ ‫الحقوق‬‫ويضعها‬‫اضعها‬‫و‬‫م‬.‫قلت‬‫تولي‬‫اإلمامة‬‫فرض‬‫كف‬‫اية‬… “…Pasal kedua tentang wajibnya imamah serta penjelasan mengenai metode (jalan untuk mewujudkannya). Adalah suatu keharusan bagi umat adanya seorang imam yang bertugas menegakkan agama, menolong sunnah, membela orang yang didzalimi, menunaikan hak, dan menempatkan hak pada tempatnya. Saya nyatakan bahwa mengurusi urusan imamah itu adalah fardhu kifayah”.[Imam Al Hafidz Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Marwa An Nawawi, Raudhatuth Thalibin wa Umdatul Muftin, juz III hal 433].
  25. 25. Imam Abul Qasim An Naisaburi Asy Syafi'i berkata: ...َّ‫أجمعتَّاألمةَّعلىَّأنَّالمخاطبَّبقوله‬{َّ‫ا‬‫و‬‫فاجلد‬}َّ‫هو‬ ‫اَّبهَّعلىَّوجوبَّنصبَّاإلمامَّفإنَّماَّال‬‫و‬‫اإلمامَّحتىَّاحتج‬َّ‫يتم‬ ‫اجب‬‫و‬َّ‫اجبَّإالَّبهَّفهو‬‫و‬‫ال‬. “…umat telah sepakat bahwa yang menjadi obyek khitab pada firmanNya: ("maka jilidlah") adalah imam; sehingga mereka berhujjah dengan ayat ini atas wajibnya mengangkat seorang imam. Sebab, apabila suatu kewajiban itu tidak sempurna tanpa adanya sesuatu maka sesuatu tersebut menjadi wajib pula”. [Imam Abul Qasim Al Hasan bin Muhammad bin Habib bin Ayyub Asy Syafi‘iy An Naisaburi, Tafsir An Naisaburi, juz 5 hal 465 ]
  26. 26. Imam 'Alauddin Al Kasani Al Hanafi berkata: “..َّ‫َن‬‫أ‬‫أل‬َ‫و‬ََّ‫ب‬ ْ‫ص‬َ‫ن‬َّ‫أ‬‫ام‬َ‫م‬‫أ‬ْ‫اإل‬َّ‫أ‬‫م‬َ‫ظ‬ْ‫َع‬ْ‫األ‬َّ‫ض‬ْ‫ر‬َ‫ف‬،ََّ‫ال‬‫أ‬‫ب‬َّ‫ف‬ َ‫ال‬‫أ‬‫خ‬ََّ‫ن‬ْ‫ي‬َ‫ب‬َّ‫أ‬‫ل‬ْ‫َه‬‫أ‬َّْ‫ل‬‫ا‬َّ‫أ‬ّ‫ق‬َ‫ح‬، ََّ‫ال‬َ‫و‬ََّ‫ة‬َ‫ر‬ْ‫ب‬‫أ‬‫ع‬-َّ‫أ‬‫ف‬ َ‫ال‬‫أ‬‫خ‬‫أ‬‫ب‬َّ‫أ‬‫ض‬ْ‫ع‬َ‫ب‬َّ‫أ‬‫ة‬‫ي‬‫أ‬‫ر‬َ‫د‬َ‫ق‬ْ‫ل‬‫ا‬-‫؛‬َّ‫أ‬‫اع‬َ‫م‬ْ‫ج‬‫أ‬‫أ‬‫إل‬َّ‫أ‬‫ة‬َ‫اب‬َ‫ح‬‫الص‬َّ‫أ‬‫ض‬َ‫ر‬َّ َ ‫ي‬َّ‫ه‬‫اّلل‬ َّْ‫م‬‫ه‬‫ه‬ْ‫ن‬َ‫ع‬‫ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬ََّ‫ك‬‫أ‬‫ل‬َ‫ذ‬،َّ‫أ‬‫اس‬َ‫س‬‫أ‬‫م‬‫أ‬‫ل‬َ‫و‬َّ‫أ‬‫ة‬َ‫اج‬َ‫ح‬ْ‫ل‬‫ا‬َّْ‫ي‬َ‫ل‬‫إ‬َّ‫أ‬‫ه‬‫؛‬َّ‫أ‬‫د‬ُّ‫ي‬َ‫ق‬َ‫ت‬‫أ‬‫ل‬َّ‫أ‬‫ام‬َ‫ك‬ْ‫َح‬ْ‫األ‬،َّ‫أ‬‫اف‬ َ‫ص‬ْ‫أن‬‫ا‬َ‫و‬ َّ‫أ‬‫وم‬‫ه‬‫ل‬ْ‫ظ‬َ‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬َّْ‫ن‬‫أ‬‫م‬َّ‫أ‬‫م‬‫أ‬‫ال‬‫الظ‬،َّ‫أ‬‫ع‬ْ‫ط‬َ‫ق‬َ‫و‬َّ‫أ‬‫ات‬َ‫ع‬َ‫از‬َ‫ن‬‫ه‬‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬‫ي‬‫أ‬‫ت‬‫ال‬َّ َ ‫ي‬‫أ‬‫ه‬َّ‫ه‬‫ة‬‫اد‬َ‫م‬ََّ‫س‬َ‫ف‬ْ‫ل‬‫ا‬َّ‫أ‬‫اد‬، َّ‫أ‬‫ر‬ْ‫ي‬َ‫غ‬َ‫و‬ََّ‫ك‬‫أ‬‫ل‬َ‫ذ‬َّْ‫ن‬‫أ‬‫م‬َّ‫أ‬‫ح‬‫أ‬‫ال‬ َ‫ص‬َ‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬‫ي‬‫أ‬‫ت‬‫ال‬ََّ‫ال‬َّ‫ه‬‫ق‬َ‫ت‬َّ‫ه‬‫وم‬َّ‫إال‬َّ‫ام‬َ‫م‬‫أ‬‫إ‬‫أ‬‫ب‬،... “ …dan karena sesungguhnya mengangkat imam agung itu adalah fardhu. Tidak ada perbedaan pendapat diantara ahlul haq mengenai masalah ini. Khilafah sebagian kelompok Qadariyyah sama sekali tidak perlu diperhatikan, berdasarkan ijma' shahabat ra atas perkara itu, serta kebutuhan terhadap imam yang agung tersebut; serta demi keterikatan dengan hukum; dan untuk menyelamatkan orang yang didzalimi dari orang yang dzalim; memutuskan perselisihan yang menjadi sumber kerusakan, dan kemaslahatan-kemaslahatan lain yang tidak akan terwujud kecuali dengan adanya imam…” [Imam 'Alauddin Al-Kassani Al Hanafi, Bada'iush Shanai' fii Tartibis Syarai', juz 14 hal. 406
  27. 27. Imam Al Hafidz Abul Fida' Ismail ibn Katsir ketika menjelaskan firman Allah surah Al Baqarah ayat 30 beliau berkata[1]: ...‫وقد‬‫استدل‬‫القرطبي‬‫ه‬‫ر‬‫وغي‬‫بهذه‬‫اآلية‬‫على‬َّ‫و‬‫جوب‬ ‫نصب‬‫الخليفة‬‫ليفصل‬‫بين‬‫الناس‬‫فيما‬‫يخت‬‫لفون‬،‫فيه‬ ‫ويقطع‬،‫عهم‬‫تناز‬‫وينتصر‬‫لمظلومهم‬‫من‬،‫ظالمهم‬‫ويقيم‬ ،‫الحدود‬‫ويزجر‬‫عن‬‫تعاطي‬،‫احش‬‫و‬‫الف‬‫إلى‬‫غير‬‫ذلك‬‫من‬ ‫األمور‬‫المهمة‬‫التي‬‫ال‬‫يمكن‬‫إقامتها‬‫إال‬،‫باإلمام‬‫وم‬‫ا‬‫ال‬ ‫يتم‬‫اجب‬‫و‬‫ال‬‫إال‬‫به‬‫فهو‬‫اجب‬‫و‬. “…dan sungguh Al Qurthubi dan yang lain berdalil berdasarkan ayat ini atas wajibnya mengangkat khalifah untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi diantara manusia, memutuskan pertentangan mereka, menolong pihak yang didzalimi dari yang mendzalimi, menegakkan had- had, dan mengenyahkan kerusakan, serta urusan-urusan penting lain yang tidak mungkin ditegakkan tersebut kecuali dengan adanya seorang imam, dan ‫ما‬‫اليتم‬‫الواجب‬‫اال‬‫به‬‫فهو‬‫واجب‬ ( apabila suatu kewajiban tidak akan sempurna kecuali dengan suatu maka sesuatu tersebut menjadi wajib pula)”. [ Imam al-Hafidz Abu Al-fida' Ismail Ibn Katsir, Tafsirul Qur'anil Adzim, juz 1 hal 221)]
  28. 28. Imam Al Bahuti Al Hanafi berkata: ...(َّ‫ه‬‫ب‬ ْ‫ص‬َ‫ن‬َّ‫أ‬‫ام‬َ‫م‬‫أ‬ْ‫اإل‬َّ‫أ‬‫م‬َ‫ظ‬ْ‫َع‬ْ‫األ‬)‫ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬َّ‫ه‬‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬ََّ‫ين‬‫أ‬‫م‬‫أ‬‫ل‬ ْ‫س‬(َّ‫ه‬‫ض‬ْ‫ر‬َ‫ف‬ََّ‫ف‬‫أ‬‫ك‬َّ‫ة‬َ‫اي‬ )َّ‫َن‬‫أ‬‫أل‬َّ‫أ‬‫اس‬‫الن‬‫أ‬‫ب‬َّ‫ة‬َ‫اج‬َ‫ح‬‫ى‬َ‫ل‬‫إ‬ََّ‫ك‬‫أ‬‫ل‬َ‫ذ‬ََّ‫م‬‫أ‬‫ح‬‫أ‬‫ل‬َّ‫أ‬‫ة‬َ‫اي‬َّ‫أ‬‫ة‬ َ‫ض‬ْ‫ي‬َ‫ب‬ْ‫ل‬‫ا‬َّ‫أ‬ّ‫ب‬‫الذ‬َ‫و‬َّْ‫ن‬َ‫ع‬ َّ‫أ‬‫ة‬َ‫ز‬ْ‫و‬َ‫ح‬ْ‫ل‬‫ا‬َّ‫أ‬‫ة‬َ‫ام‬َ‫ق‬‫أ‬‫ا‬َ‫و‬َّ‫أ‬‫ود‬‫ه‬‫د‬‫ه‬‫ح‬ْ‫ل‬‫ا‬َّ‫أ‬‫اء‬َ‫يف‬‫أ‬‫ت‬ْ‫اس‬َ‫و‬َّ‫أ‬‫ق‬‫و‬‫ه‬‫ق‬‫ه‬‫ح‬ْ‫ل‬‫ا‬َّ‫أ‬‫ر‬ْ‫َم‬ْ‫األ‬َ‫و‬ََّ‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬‫أ‬‫ب‬َّ‫أ‬‫وف‬‫ه‬‫ر‬ْ‫ع‬ َّ‫أ‬‫ي‬ْ‫ه‬‫الن‬َ‫و‬َّْ‫ن‬َ‫ع‬‫ر‬َ‫ك‬ْ‫ن‬‫ه‬‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬... “…(mengangkat Imam yang agung itu) atas kaum Muslimin (adalah fardhu kifayah). Karena manusia membutuhkan hal tersebut untuk menjaga kemurnian (agama), menjaga konsistensi (agama), penegakan had, penunaian hak serta amar ma'ruf dan nahi munkar…”. [Imam Mansur bin Yunus bin Idris Al Bahuti Al Hanafi, Kasyful Qanaa' ‘an Matnil Iqnaa', juz 21 hal. 61]
  29. 29. Terima Kasih WASSALAMU’ALAIKUM

×