Sistem jaminan sosial dalam islam

  • 2,680 views
Uploaded on

Islam menjamin kesejahteraan sosial secara berkembang merata. Inilah antara-lain bukti dan dalilnya. Semoga bermanfaat.

Islam menjamin kesejahteraan sosial secara berkembang merata. Inilah antara-lain bukti dan dalilnya. Semoga bermanfaat.

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
No Downloads

Views

Total Views
2,680
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
155
Comments
0
Likes
1

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide
  • Dana bantuan sosial di tiap kementrian : 61,2 Trilyun (2010)
  • “ Barangsiapa meminta-minta sedang ia dalam keadaan berkecukupan, sungguh orang itu telah memperbanyak (untuk dirinya) bara api jahannam” mereka bertanya, “apakah (batasan) cukup sehingga (seseorang) tidak boleh meminta-minta?” Beliau Shallallahu’alaihi wasallam menjawab, “yaitu sebatas (cukup untuk) makan pada siang dan malam hari” (HR Abu Dawud:2/281, shahihul Jami’ :6280)
  • [1]"Rasulullah SAW melarang menyewakan tanah. Kami bertanya: 'Wahai Rasulullah, kalau begitu kami akan menyewakannya dengan bibit.' Beliau menjawab: 'Jangan.' Bertanya (sahabat): 'Kami akan menyewakannya dengan jerami.' Beliau menjawab: 'Jangan.' Bertanya (sahabat): 'Kami akan menyewakannya dengan sesuatu yang ada di atas rabi' (danau) yang mengalir.' Beliau menjawab: 'Jangan. Kamu tanami atau kamu berikan tanah itu kepada saudaramu.'"[1]
  • Menjawab pertanyaan tentang keberlangsungan kesejahteraan

Transcript

  • 1. Sistem Jaminan Sosial Dalam Islam
  • 2. SJSN
    • UU No. 40 / 2004 tentang SJSN (Sistem Jaminan Sosial Nasional) : negara bertanggung jawab untuk melaksanakan jaminan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
    • Disahkan tanggal 19 Oktober 2004 dan berlaku paling lambat 19 Oktober 2009
    • Siti Fadilah : Biaya SJSN +/- 40 Trilyun, mencakup biaya kesehatan seluruh rakyat
  • 3. SJSN di Negara Lain
    • Social Security (SS) : untuk menjaga penghidupan masyarakat
    • Di AS : sangat minimal, tidak cukup untuk hidup. Di negara Eropa lebih baik, di Skandinavia lebih dari cukup.
    • Cakupan :
      • Tunjangan pengangguran
      • Tunjangan sakit
      • Tunjangan gaji (bagi yang masih di bawah UMR)
  • 4. Alasan SS
    • Melindungi dari komunisme  yang tidak bekerja jangan sampai miskin
      • Itulah mengapa Eropa lebih baik dari AS, karena Eropa lebih dekat dengan komunisme
  • 5. Perdebatan di kalangan kapitalis
    • Karena Komunisme sudah hilang, maka SS harus dicabut  mekanisme pasar lebih berjalan dengan baik dan sehat
      • Lebih giat bekerja
      • Tidak membebani negara
      • Mekanisme pasar berjalan dengan alami
    • Social Security membuat malas :
      • Tingkat pengangguran di AS lebih kecil daripada di Eropa (karena SS di Eropa > AS)
    • Dibiayai oleh hutang, yang pada akhirnya tetap harus dibayar (seperti tagihan Kartu kredit)
  • 6. Apa akibatnya?
    • Sejak jatuhnya komunisme, semakin banyak negara Eropa meninggalkan SS
    • Sistem jaminan kesehatan di AS
      • AS mewajibkan asuransi kesehatan kepada semua warganya, termasuk yang miskin  keluhan dari perusahaan asuransi
      • UU berkata “Setiap warga negara wajib memiliki asuransi”  jika tidak, melanggar hukum
      • Asuransi tidak gratis. Masih harus membayar polisnya  jika tidak, debt collector!
  • 7. BAGAIMANA ISLAM MENGATUR?
    • Selanjutnya...
  • 8. Alternatif sistem ekonomi Ideolog i Kapitalisme Islam Asal Sekulerisme ( pemisahan agama dan kehidupan ) Syahadah Kebutuhan Manusia Hanya materi , unlimited Material ( terbatas ) & Non-material ( tak terbatas ) Keinginan Manusia Sudah dari sana-nya ( tak dapat diubah ) Tergantung dari pemikiran ( dapat diubah ) Masalah Ekonomi Kebutuhan tak terbatas vs. Pemenuhan yang terbatas ( kelangkaan ) Distribusi harta untuk memenuhi kebutuhan manusia Met ode Kebebasan / “ Laissez faire ” Syariah
  • 9. Kebutuhan akan sistem ekonomi
    • Pengembangan ekonomi
        • Apakah sistem ekonomi memungkinkan terjadinya pengembangan?
    • Kesejahteraan ekonomi
        • Apakah sistem memungkinkan masyarakat memperoleh manfaat dari harta?
    • Keberlanjutan
        • Apakah pengembangan dan kesejahteraan tersebut berlangsung seterusnya atau hanya sementara?
  • 10. Pengembangan Ekonomi
    • Memotivasi energi dan kreativitas manusia
      • “ Tidak ada seorang yang memakan makanan yang lebih baik daripada seseorang yang makan dari hasil kerja tangannya sendiri. Dan nabi Daud as. makan dari hasil kerja tangannya” (Bukhari).
      • “ Barangsiapa meminta-minta kepada manusia sementara ia memiliki kecukupan, maka ia akan datang pada hari Kiamat dengan bekas cakaran atau bekas garukan di wajahnya.”(At Tirmidzi)
    • Menyalurkan energi dan kreativitas manusia
        • Tidak boleh terbuang karena menganggur  hukum tentang tanah
        • Tidak boleh terbuang karena kurangnya modal
  • 11. Hukum tentang tanah
    • Hukum tentang tanah : “Barangsiapa memagari tanah (mati), tanah itu menjadi miliknya” (Abu Dawud)
    • “ Siapa saja yang telah menghidupkan sebidang tanah mati, maka tanah itu adalah hak miliknya.” (Imam Bukhori)
    • Perintah untuk memanfaatkan lahan : “Orang yang memagari tanah, tidak berhak (atas tanah yang dipagarinya) setelah (membiarkannya) selama tiga tahun” (ijm’a)
    • Larangan menyewakan tanah : “Rasulullah SAW melarang pengambilan sewa atau bagian atas tanah.” (An Nasai)
  • 12. Motivasi untuk Investasi
    • Larangan menimbun : “ Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih ” (TMQ At Tauba, 34)
    • Larangan riba: “ Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba ” (TMQ Al Baqara, 275)
    • Perintah zakat: “ Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, ” (TMQ At Tauba, 103)
    • Motivasi kpd pemberi hutang : “Seorang muslim tidak pernah memberikan pinjaman dua kali kecuali Allah menghitungnya sebagai satu kali sedekah” (Ibn Majah)
  • 13. Realitas Kesejahteraan
    • Kesejahteraan adalah hasil dari pemerataan ekonomi
      • Distribusi kekayaan adalah kuncinya
        • "Tiada hak bagi seorang anak Adam dalam semua hal ini kecuali rumah tempat tinggal, baju yang menutup auratnya, roti kering dan air." (Tarmidzi)
        • “ Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih” (TMQ At Tauba, 34)
        • “ .. supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu” (Al Hashr, 7)
      • “Kekayaan absolut” adalah kurang penting
  • 14. Islam memastikan bahwa ...
    • Hukum tentang tanah mencegah penumpukan harta
      • Prinsip : one can own what one can work
      • Landowner and laborer depend on each other
        • Prevents effective enslavement of laborer by landowner
    • Hukum tentang uang mencegah penumpukan harga
      • Prohibition of riba prevents concentration of wealth amongst the rich
      • Creativity and capital depend on each other
        • Prevents effective enslavement of creativity (laborer) by capital
  • 15. Keberlanjutan ekonomi Islam
    • Ekonomi Islam tidak menyebabkan krisis
      • Pertumbuhan ekonomi real , bukan berbasis hutang
      • “ Credit crisis” tidak pernah terjadi dalam sistem Islam
      • Teruji selama 1300 tahun
  • 16. KESIMPULAN
  • 17. Sistem Jaminan Sosial dalam Islam
    • Sistem Islam tidak membuat masyarakat menjadi miskin. Sistem ekonomi Islam memastikan bahwa harta berputar secara merata di seluruh warga negaranya.
    • Islam mewajibkan muslim untuk membantu satu sama lain. Jika seseorang tidak dapat bekerja, keluarganya berkewajiban untuk menolongnya.
    • Jika dia tidak dapat bekerja, dan keluarganya tak mampu menolong, maka Negara akan memberikan jaminan dasar : pangan, sandang, papan. Khalifah Umar R.A, yang dikenal pertama kali menerapkan sistem ini.