Prospek pengembangan bisnis pariwisata di Kota Bandung

8,639 views
8,458 views

Published on

Presentasi ini di presentasikan di UNPAR. Dipresentasikan oleh Bapak Herman Muchtar sebagai kapasitasnya selaku Ketua PHRI Jawa Barat

Published in: Technology, Business
0 Comments
6 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
8,639
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
48
Actions
Shares
0
Downloads
338
Comments
0
Likes
6
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Prospek pengembangan bisnis pariwisata di Kota Bandung

  1. 1. PROSPEK PENGEMBANGAN BISNIS PARIWISATA DI KOTA BANDUNG Herman Muchtar
  2. 2. Daya Tarik / Potensi Kota Bandung S ebagai P enunjang U saha B isnis Pariwisata.
  3. 3. <ul><li>PAD Kota Bandung bersumber dari sektor pariwisata + 35 %. </li></ul><ul><li>Bandung merupakan Kota penyangga Ibu Kota Jakarta yang memiliki iklim yang sejuk. </li></ul><ul><li>Bandung dapat ditempuh dengan waktu 2 sampai 2,5 jam dari Jakarta sehingga memudahkan orang untuk datang ke Bandung. </li></ul><ul><li>Bandung mempunyai akses penerbangan, Bandung kuala lumpur, Bandung Singapur dan Bandung menuju kota-kota besar lainnya di Indonesia, dan secara bertahap akan berkembang akses penerbangan ke kota-kota besar lainnya di Indonesia . </li></ul><ul><li>Bandung memiliki fasilitas yang mendukung menjadikan Bandung sebagai Kota Jasa </li></ul><ul><li>Bandung memiliki berbagai fasilitas pariwisata; W isata Belanja dan Kuliner , Wisata Rekreasi dan Hiburan, Wisata MICE, Wisata Perhotelan, Wisata A lam, W isata P endidikan, W isata S ejarah, dll. </li></ul>
  4. 4. Beberapa Prospek P engembangan Bisnis Kepariwisataan di Kota Bandung Antara Lain :
  5. 5. <ul><li>Wisata Belanja dan Kuliner (jajanan) antara lain : Sentra perbelanjaan, Factory Outlet (181), F actory Museum (6), Departement Store (101), Belanja Makanan Khas Bandung dan Restoran (121), Rumah Makan (440), Pujasera dan tempat penjual makanan khas lainnya . </li></ul><ul><li>Wisata Rekreasi / Hiburan; Wisata Agro, Wisata T aman S kala Kota (11), Galeri (25), Gedung Pertunjukan (7), Taman lalu lintas, Gedung Bersejarah (13), Lingkung seni-budaya (342), Olahraga Khusus (Billyar, Bowling), dan tempat-tempat hiburan lainnya. </li></ul>
  6. 6. <ul><li>Wisata MICE; ( Meeting, Incentive, Conference, Exhibition ) / Rapat-rapat, Insentif, Konferensi, dan Pameran. Usaha Perjalanan Wisata (116), Agen Perjalanan Wisata (12), Penyelenggaraan MICE (4). Wisata MICE dapat memberi dampak peningkatan pada pengunjung ya n g datang ke K ota B andung dan memberi income kepada pusat-pusat perbelanjaan , peningkatan hunian H otel , Restoran, Tempat-tempat Hiburan, dan lain sebagainya. </li></ul>
  7. 7. <ul><li>Wisata Perhotelan; banyak tersedia Hotel di Bandung dengan berbagai pilihan baik tingkatan maupun variasi harga, Hotel Berbintang (52), 3.137 kamar Hotel Melati (160), 3.311 kamar lainnya. Jumlah kamar yang tersedia tersebut pada kondisi sekarang ini masih cukup memadai. </li></ul><ul><li>Akupesi hotel pada saat week end mencapai 80 % - 85 % dan week day 45% - 60%, terkecuali pada saat hari libur khusus bisa mencapai 100%. </li></ul>
  8. 8. <ul><li>Permasalahan Yang Dihadapi Wisata Belanja dan Kuliner </li></ul><ul><li>Kurangnya Zona dan Sentra Belanja dan Jajanan Khas untuk kemudahan wisatawan. </li></ul><ul><li>Kurangnya kreasi dan Inovasi produk belanja dan kuliner (jajanan) sehingga membuat kejenuhan wisatawan terhadap produk yang ditawarkan. </li></ul><ul><li>Kurangnya promosi potensi pariwisata belanja sehingga kurang mewarnai produk wisata dengan sumber daya lokal. </li></ul><ul><li>Kurangnya optimalisasi p emerintah daerah dalam merevitalisasi kawasan wisata perbelanjaan yang lama dan mengalami penurunan pengunjung seperti kawasan Cibaduyut dan Cigondewah. </li></ul><ul><li>Permasalahan kemacetan yang terja d i akibat persebaran fasilitas belanja ( factory outlet ) dan makan minum ( cafe-cafe ) secara spontan perlu diperhatikan dengan mempertimbangkan kelestarian lingkungan. </li></ul>
  9. 9. Alternatif Pemecahan M asalah : <ul><li>Perlu ditetapkan pemilahan atau zonasi untuk fasilitas belanja, jajanan/ makanan khas untuk kemudahan wisatawan, sehingga tidak mengeluarkan energi dan waktu untuk mengakses produk belanjaan dan kuliner. Contohnya, wisata belanja fashion/FO di Jalan Martadinata, Cihampelas; dan jajanan khas malam hari di Jalan Cisangkuy, Cibadak, Astana Anyar, dan lain-lain. </li></ul><ul><li>Perlu kemudahan dalam memberikan perizinan sesuai dengan lokasi yang telah ditetapkan </li></ul><ul><li>Perlu dorongan kepada para pelaku bisnis dalam bentuk penambahan wawasan dan pengetahuan untuk menumbuhkembangkan proses pembelajaran sehingga tercipta kreasi dan inovasi produk belanja dan kuliner. </li></ul><ul><li>Mempercepat optimalisasi dan revitalisasi kawasan wisata belanja yang lama (Cibaduyut, Cigondewah, Cihampelas) dan sentra produk lainnya dengan cara penataan kawasan melalui peningkatan kebersihan, ketertiban, dan keindahan hingga terbentuknya kelompok-kelompok penggerak pariwisata. </li></ul><ul><li>Meningkatkan promosi wisata perbelanjaan yang lama sehingga dapat menyampaikan pesan informasi produk wisata belanja bersumber pada potensi lokal yang dimiliki Kota Bandung yang membedakannya dengan kota yang lain. </li></ul><ul><li>Perlunya penataan kawasan belanja ( factory outlet ) dan makan minum (cafe-cafe) untuk mengurangi kemacetan terutama pada saat weekend dan peak season . </li></ul>
  10. 10. <ul><li>Pemanfaatan kondisi fisik alam dan budaya di Kota Bandung belum dilakukan secara optimal. </li></ul><ul><li>Keberadaan taman hutan raya dan kawasan konservasi hutan lindung, pertamanan kota belum dikelola dengan baik sebagai sarana rekreasi wisata alam. </li></ul><ul><li>Kebudayaan Sunda yang menjadi karakteristik sosial ekonomi dan budaya masyarakatnya belum dapat mencerminkan karakteristik tradisional sunda yang mana kesenian dan adat istiadat budaya Sunda hanya ditampilkan pada acara atau event-event khusus yang juga tidak masuk dalam calendar of event kota Bandung. </li></ul><ul><li>Pengelolaan tempat hiburan dan berbagai fasilitas hiburan yang ada di Bandung belum dikelola dengan profesional sehingga menjadikan ciri khas Bandung dan menjadi daya tarik pariwisata. </li></ul><ul><li>Kurangnya tempat hiburan yang mempunyai daya tarik dan kenyamanan dan rutinitas acara pertunjukan yang dapat menjadi agenda rutin bagi pengunjung atau wisatawan lokal dan mancanegara seperti saung Mang Ujo </li></ul><ul><li>Permasalahan Wisata Rekreasi dan Hiburan </li></ul>
  11. 11. Alternatif Pemecahan Masalah <ul><li>Perlunya optimalisasi pemanfaatan kondisi fisik alam dan budaya di Kota Bandung dengan cara, untuk kondisi : </li></ul><ul><li>- Fisik: pengembangan dan penataan wilayah dengan penekanan pada </li></ul><ul><li>aspek-aspek estetis bisa berkesan nilai seni yang tinggi tanpa harus </li></ul><ul><li>mengorbankan aspek kelestarian lingkungan </li></ul><ul><li>- Budaya: memperbanyak event-event kegiatan yang bersifat pertunjukan </li></ul><ul><li>seni budaya secara reguler sehingga jelas pelaksanaan kegiatannya. </li></ul><ul><li>Pemerintah Kota Bandung perlu meningkatkan pengembangan potensi taman hutan raya dan kawasan konservasi hutan lindung, pertamanan yang dimilikinya sehingga menjadi sarana rekreasi wisata alam. </li></ul><ul><li>Kebudayaan Sunda yang menjadi karakteristik sosial, ekonomi dan budaya masyarakatnya harus dapat mencerminkan karakteristik tradisional Sunda. Hal ini dapat diwujudkan melalui peningkatan intensitas event penyelenggaraan kesenian dan adat istiadat budaya Sunda selain yang terselenggara dalam calendar of event budaya Sunda Kota Bandung </li></ul><ul><li>Perlu adanya penataan dan kualitas tempat hiburan yang nyaman bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. </li></ul>
  12. 12. Tantangan utama yang dihadapi dalam wisata MICE adalah kurangnya sarana dan prasarana berskala besar, akibatnya Kota Bandung kurang diminati untuk penyelenggaraan event MICE yang besar, kalah dibandingkan Jakarta, Jogjakarta, atau Bali <ul><li>P ermasalahan Wisata MICE </li></ul>Meeting, Incentive, Conference, Ex-hibition
  13. 13. <ul><li>Ke depan perlu dipikirkan satu sarana MICE yang lengkap dengan kapasitas cukup besar untuk memfasilitasi kegiatan MICE berskala menengah dan besar, seperti penyelenggaraan kegiatan nasional atau internasional. </li></ul><ul><li>Pemerintah perlu mendorong pertumbuhan PCO atau EO baik dalam hal kuantitas maupun dalam hal kualitas (profesionalisme-nya) </li></ul>Alternatif Pemecahan Masalah
  14. 14. <ul><li>Para pengusaha perhotelan merasakan terlalu banyak retribusi-retribusi dan perijinan yang memberatkan, selain izin bangunan dan izin kepariwisataan, masih banyak lagi izin-izin yang lain : izin reklame, izin usaha restoran, izin kolam renang, izin minuman, izin KCI, izin Cafe, izin pembuangan air kotor, tenaga kerja, lahan parkir, penangkal petir, lift, dll. </li></ul><ul><li>Masih kurangnya SDM di bidang perhotelan yang berdampak kepada pelayanan yang kurang memadai terhadap para tamu hotel. </li></ul><ul><li>Permasalahan Wisata Perhotelan </li></ul>
  15. 15. <ul><li>P emerintah perlu memikirkan sistem penarikan retribusi dan mengkaji ulang Perda-Perda yang seharusnya tidak perlu dan yang memberatkan pengusaha. Proses perijinan sudah seharusnya dilakukan satu pintu dengan waktu yang telah ditentukan. </li></ul><ul><li>Perlunya kerjasama dan koordinasi dari pihak perhotelan, pemerintah, dan kepolisian. </li></ul><ul><li>Perlu adanya program-program pelatihan bagi karyawan perhotelan baik yang dilaksanakan oleh lembaga pendidikan, asosiasi di bidang perhotelan maupun adanya kemauan daripada masing-masing hotel untuk melakukan program pelatihan khusus bagi karyawannya masing-masing. </li></ul>Alternatif Pemecahan Masalah
  16. 16. SEKIAN & TERIMAKASIH

×