Your SlideShare is downloading. ×
Dampak globalisasi bagi kesehatan dan lingkungan
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Dampak globalisasi bagi kesehatan dan lingkungan

22,066
views

Published on


2 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
  • makasih banget ini uda bantuin ngerjain tugas makalah pkn ^^ oiya kalo baleh tau, sbnernya maksud dari regulasi pemerintah lebih memihak ke perusahaan asing dibanding masyarakat itu apa ya?
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • mantaps gan, nice article .. for visitors, maybe you need to add your reference, try to visit here and hopefully can help you .. :)

    http://wa1tips.blogspot.com/2014/07/dampak-globalisasi-terhadap-kehidupan-berbangsa-dan-bernegara.html

    thanks--
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
No Downloads
Views
Total Views
22,066
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
304
Comments
2
Likes
3
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Merambahnya budaya asing ke Indonesia melalui media massa (elektronik, cetak) serta media dunia maya (internet) sangat mempengaruhi perkembangan budaya Indonesia sekaligus perkembangan lingkungan hidup. Proses saling mempengaruhi adalah gejala yang wajar dalam interaksi antar masyarakat. Melalui interaksi dengan berbagai masyarakat lain, bangsa Indonesia ataupun kelompok-kelompok masyarakat yang mendiami nusantara (sebelum Indonesia terbentuk) telah mengalami proses dipengaruhi dan mempengaruhi. Pada hakekatnya bangsa Indonesia, juga bangsa-bangsa lain, berkembang karena adanya pengaruh-pengaruh luar. Kemajuan bisa dihasilkan oleh interaksi dengan pihak luar, hal inilah yang terjadi dalam proses globalisasi. Oleh karena itu, globalisasi bukan hanya soal ekonomi namun juga terkait dengan masalah lingkungan hidup dimana nilai dan makna yang terlekat di dalamnya masih tetap berarti. Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk dalam berbagai hal, seperti anekaragaman budaya, lingkungan alam, dan wilayah geografisnya. Keadaan lingkungan Indonesia yang sangat beranekaragam menjadi suatu kebanggaan sekaligus tantangan untuk mempertahankan serta mewarisi kepada generasi selanjutnya. Lingkungan hidup Indonesia sangat membanggakan karena memiliki keanekaragaman yang sangat bervariasi serta memiliki keunikan tersendiri. Seiring berkembangnya zaman, menimbulkan perubahan pola hidup dan pola pikir masyarakat yang lebih modern. Akibatnya, masyarakat lebih memilih memanfaatkan sumber daya alam secara berlebihan sehingga lupa akan kelestariannya. Banyak faktor yang menyebabkan kelestarian lingkungan hidup tersebut dilupakan dimasa sekarang ini, misalnya masuknya investor asing yang menanamkan modal di Indonesia dengan memanfaatkan lingkungan hidup Indonesia dengan kata lain mengeksploitasi SDA. Masuknya investor asing ke suatu negara sebenarnya merupakan hal yang wajar dan menguntungkan, asalkan investor tersebut memiliki kecintaan terhadap alam sehingga pemanfaatannya tidak merugikan Indonesia terutama dalam hal lingkungan. 1
  • 2. Namun pada kenyataannya investor asing mulai mendominasinya dengan cara eksploitasi secara besar-besaran yang berlebihan, pelestarian alam Indonesia semakin dilupakan. Faktor lain yang menjadi masalah adalah kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya lingkungan hidup terhadap kehidupan sekarang dan yang akan datang. Lingkungan hidup adalah aset atau kekayaan bangsa. Sebagai aset bangsa, lingkungan hidup harus terus dijaga keasrian maupun keanekaragamannya agar tidak dibabat habis oleh investor asing. Walaupun demikian, tidak menutup kemungkinan investor asing masuk asalkan pemanfaatannya tidak merugikan alam serta bangsa Indonesia itu sendiri karena suatu negara juga membutuhkan investor asing untuk dapat membantu menaikkan pendapatan devisa negara. B. Rumusan masalah 1. Bagaimana globalisasi mempengaruhi lingkungan hidup di negara berkembang? 2. Apa dampak positif dan negatif dari pengaruh Globalisasi bagi lingkungan hidup? 3. Bagaimana Dampak Globalisasi terhadap kesehatan? 4. Apa faktor-faktor yang menyebabkan mudahnya terjadi eksploitasi lingkungan dinegara berkembang? 5. Apa upaya yang dilakukan pemerintah dan masyarakat dalam menanggulangi dampak negatif global lingkungan hidup? 6. Bagaimana MDGs di indonesia ? C. Tujuan 1. Mengetahui pengaruh globalisasi bagi lingkungan hidup di negara berkembang. 2. Mengetahui dampak positif dan negatif dari pengaruh Globalisasi bagi lingkungan hidup. 3. Dampak globalisasi terhadap kesehatan. 4. Mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan mudahnya terjadi eksploitasi lingkungan dinegara berkembang 5. Mengetahui upaya yang dilakukan pemerintah dan masyarakat dalam menanggulangi dampak negatif global lingkungan hidup. 6. MDGs Di indonesia. 2
  • 3. BAB II PEMBAHASAN A. Dampak Globalisasi Bagi Lingkungan Negara Berkembang Globalisasi, mungkin kata itu sering kita dengarkan di televisi, radio, suratkabar ataupun percakapan sehari-hari. Kata globalisasi muncul pada abad ke-20. Globalisasi telah menjadikan pertukaran barang dan jasa dengan mudah terjadi melewati batas-batas territorial negara. Globalisai menjadikan dunia seperti global village. Dengan adanya globalisasi, negara-negara dapat dengan mudah melakukan suatu interaksi, baik dalam hal komunikasi, pertukaran informasi, dan lainnya. Hal tersebut menjadikan globalisasi sebagai arah baru bagi perkembangan negara selanjutnya. Globalisasi layaknya seperti keping uang logam, yang memiliki 2 sisi yang sangat bertolak belakang satu sama lain. Globalisasi disatu sisi memberikan dampak positif dan disisi lain memberikan dampak negatif. Dan salah satu dari dampak negatif globalisasi berimbas pada masalah lingkungan. Ada serangkaian proses yang harus dilewati untuk menuju pada tahap perusakkan lingkungan akibat globalisasi, yang pada umumnya terjadi di negara-negara berkembang. Dengan semakin menipisnya batas-batas negara karena dotrin kepahaman globalisasi yang menuntut setiap negara jika hendak menjadi negara maju, maka harus membuka selebarlebarnya terhadap bantuan-bantuan dan kerjasama dengan pihak asing, maka hal inilah yang kemudian menjadi pintu masuk bagi para investor-investor asing untuk berlomba masuk dan menanamkan sahamnya di negara-negara berkembang. Sehingga kemudian menginisiasi maraknya indusrialisasi, privatisasi, serta deregulasi di negara-negara berkembang. Dalam dunia industri, bahan mentah adalah salah satu hal penting untuk menjalankan suatu roda perindustrian. Dan bahan-bahan mentah ini, banyak ditemukan di negara-negara berkembang yang memang dalam segi geografinya berada pada jalur lintang dan bujur yang subur. Namun, negara berkembang terkendala dalam melakukan pengelolaan akan sumber daya alam yang melimpah tersebut akibat keterbatasan modal dan teknologi yang dimilikinya. 3
  • 4. Sehingga negara-negara berkembang membutuhkan suntikkan dana dan jasa dari negara-negara maju. Adapun bentuknya bisa berupa hutang, pinjaman, ataupun hibah. Namun sangat disayangkan bahwa berbagai bantuan dana dalam bentuk pinjaman maupun hibah oleh negara maju tersebut sebagian besar digunakan untuk membeli teknologiteknologi dari negara maju. Dengan kata lain pinjaman dari negara maju, kembali masuk ke saku negara maju lagi dalam bentuk pembelian teknologi oleh negara berkembang, di lain waktu negara berkembang masih harus melunasi hutang-hutang kepada negara maju beserta dengan bunganya. Ini adalah satu dari sekian banyak bentuk kerjasama di era globalisasi antara negara maju dan negara berkembang yang mana secara tidak langsung merugikan negara-negara berkembang. Teknologi yang telah dibeli oleh negara berkembang (umumnya merupakan negara tropis) memungkinkan mereka untuk memanfaatkan kekayaan hutan alamnya dalam rangka meningkatkan sumber devisa negara dan berbagai pembiayaan pembangunan, tetapi akibat yang ditimbulkannya kemudian adalah terjadinya perusakkan hutan tropis. Terlepas dari berbagai keberhasilan pembangaunan yang disumbangkan oleh teknologi dan sektor industri. Sesungguhnya telah terjadi kemerosotan sumber daya alam dan peningkatan pencemaran lingkungan, bahkan seringkali wilayah-wilayah yang tidak menjadi pusat industri mendapat imbasnya seperti peningkatan suhu udara. Untuk persoalan industri, pada umumnya indutri didirikan di negara-negara berkembang dengan tujuan untuk efisiensi biaya produksi dan transportasi serta mengingat letak negara berkembang sebagai pasar dari komoditi industri negara maju. Dalam prosesnya kemudian, industri-industri yang didirikan oleh negara-negara maju melakukan eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan ditambah lagi proses kerja industri-industri tersebut tidak berwawasan lingkungan. Hal ini dilihat melalui berbagai bentuk kerusakkan akibat aktifitas pertambangan, selain itu juga limbah yang dihasilkan tidak ditaktisi oleh negara maju. Dengan masuknya perusahaan tambang asing, maka pencemaran lingkungan pasti tidak akan bisa dihindarkan. Kebijakan pemerintah mengiizinkan operasi pertambangan pada kawasan hutan lindung dan konservasi, sudah pasti akan mempercepat lenyapnya berbagai sumber daya alam yang tadinya melimpah di negara-negara berkembang seperti Filipina, Indonesia, Vietnam, Sri Lanka dan lainlain. 4
  • 5. B. Dampak Positif Dan Negatif Globalisai Bagi Lingkungan Hidup Dalam perkembangan globalisasi di dunia terdapat hasil dari pengaruh tersebut, baik dari segi positif maupun negatif. Dampak yang ditimbulkan gerakan globalisasi di negara-negara berkembang selain bentuk-bentuk kerusakkan lingkungan akibat eksploitasi yang diakibatkan oleh perusahaan-perusahaan pertambangan di negara-negara berkembang oleh negara maju, terdapat pula kerusakkan lingkungan akibat industrialisasi di negara berkembang sebagai contoh di negara Indonesia seperti: 1. Terjadinya penurunan kualitas air permukaan di sekitar daerah-daerah industri 2. Konsentrasi bahan pencemar yang berbahaya bagi kesehatan penduduk seperti; merkuri, cadmium, timah hitam, pestisida, pcb, meningkat tajam dalam kandungan air permukaan dan biota lainnya 3. Kelangkaan air tawar semakin terasa, khususnya di musim kemarau, sedangkan di musim penghujan cenderung terjadi banjir yang melanda banyak daerah yang berakibat merugikan akibat kondisi ekosistemnya yang telah rusak 4. Temperature udara maksimal dan minimal sering berubah-ubah, bahkan temperatur tertinggi di beberapa kota seperti Jakarta sudah mencapai 37 derajat celcius pada musim kemarau di hari terpanasnya 5. Terjadi peningkatan konsentrasi pencemaran udara seperti;CO, NO2r SO2, dan debu akibat polusi asap pabrik dan kendaraan bermesin 6. Sumber daya alam yang di miliki bangsa Indonesia terasa semakin menipis, seperti minyak bumi dan batu bara yang diperkirakan akan habis pada tahun 2020 akibat eksploitasi yang berlebihan 7. Luas hutan Indonesia semakin sempit akibat tidak terkendalinya perambahan yang disengaja atau oleh bencana kebakaran 8. Kondisi hara tanah semakin tidak subur, dan lahan pertanian semakin menyempit dan mengalami pencemaran akibat polusi tanah dan polusi permukaan Contoh lainnya adalah kasus penolakkan rakyat Filipina terhadap pertambangan nikel berskala besar dipulau Mindoro oleh perusahaan pertambangan Norwegian Intex sebab sifatnya 5
  • 6. yang merusak karena bisa menyebabkan banjir dan erosi, selain itu pula mengganggu sumber air irigasi terbesar disana. Irigasi itu mengairi sawah seluas 40 ribu hektar. Selama ini, Mindoro memang dikenal sebagai limbung padi bagi Manila. Hal tersebut, bisa terjadi sebab UU pertambangan Filipina yang ada memihak terhadap perusahaan tambang asing dan memberi mereka 100% keuntungan dan pembebasan pajak. Dengan pemerintah yang lemah, kita tidak bisa bergantung pada mekanisme monitoring karena pemerintahnya korup. Melalui contoh-contoh tersebut, maka dapat kita simpulkan bahwa yang menjadi sumber utama dari perusakkan dan segala bentuk eksploitasi lingkungan yang terjadi yang dipelopori oleh industri yang notabene dikuasai sepenuhnya oleh negara-negara maju. Sesungguhnya, negara berkembang lebih banyak dirugikan atas upaya kerjasama tersebut mengingat selain telah dikuras kekayaan alamnya oleh negara maju, pembagian hasil yang tidak merata, serta dampak dari eksploitasi aktifitas industry ditambah lagi dengan permaslahan limbah yang dihasilkan. Karena limbah industri dibuang ke lingkungan, maka masalah yang ditimbulkannya merata dan menyebar di lingkungan yang luas. Limbah industri baik berupa gas, cair, maupun padat umumnya termasuk kategori atau dengan sifat limbah B3. Limbah bahan berbahaya dan beracun yang sangat ditakuti adalah limbah dari indutri kimia. Limbah dari industri bahan kimia pada umumnya mengandung berbagai macam unsur logam berat yang mempunyai sifat akumulatif dan beracun (toxic) sehingga berbahaya bagi kesehatan manusia. Limbah padat akan mencemari tanah dan sumber air tanah. Limbah gas yang dibuang ke udara umumnya mengandung senyawa kimia berupa Sox, NOx, CO, dan gas-gas lain yang tidak diinginkan. Adanya SO2 dan NOx di udara dapat menyebabkannya terjadinya hujan asam yang dapat menimbulkan kerugian karena merusak bangunan, ekosistem perairan, lahan pertanian dan hutan. Limbah cair yang dibuang ke perairan akan mengotori air yang dipergunakan untuk berbagai keperluan dan mengganggu kehidupan biota air. Untuk itu, limbah dari hasi industri benar-benar menjadi ancaman kerusakkan lingkungan di negara-negara berkembang yang menjadi pusat industri negara maju. Keseluruhan permasalahan yang terjadi di negara-negara berkembang menjadi layaknya sebuah penyakit menggerogoti tubuh negara-negara berkembang dari ke hari. Namun, nampaknya negara-negara berkembang belum menyadari sepenuhnya dengan kondisi mereka yang tidak baik-baik saja akibat terlena dengan bualan “globalisasi’ yang dikatakan mampu meningkatkan perekonomian dan mampu mensejahterahkan masyarakat. 6
  • 7. Adapula dampak positif dari globalisasi yang mempengaruhi lingkungan hidup manusia, seperti; 1. Seperti kesadaran manusia akan mulai tercemarnya lingkungan hidup mereka, sehingga menumbuhkan kesadaran dalam diri untuk berbenah, memulai hidup dengan cara yang baik untk menjaga, menyelaraskan serta merawat lingkungan hidup guna menciptakan hidup yang lebih baik 2. Munculnya teknologi canggih ramah lingkungan 3. Munculnya organisasi-organisasi pecinta alam yang senantiasa menjaga dan meenyebarkan pengaruh terhadap kesadaran menjaga lingkungan hidup Dalam prakteknya, sedikit demi sedikit mulai bermunculan kesadaran manusia untuk menjaga lingkungan hidup yang semakin terancam ini. Hal itu diwujudkan secara bertahap guna menjaga kelestarian lingkungan hidup yang menunjung performa manusia dalam kehidupannya dibumi. C. Dampak Globalisasi terhadap kesehatan Pada era globalisasi semenjak memasuki abad 21 ini. Era globalisasi ini mempengaruhi banyak sektor, termasuk di dalamnya sektor kesehatan. Ada beberapa contoh mengenai dampak globalisasi pada sektor kesehatan, seperti:  Meningkatnya mobilitas profesional kesehatan dari suatu negara ke suatu negara lain  Meningkatanya mobilitas konsumen kesehatan (pasien) yang pergi ke luar negri untuk mendapatkan perawatan medis  Meningkatnya perusahaan asing dan perusahaan asuransi asing di dalam negri Fenomena ini juga terjadi di Indonesia. Salah satu faktor pemicu globalisasi kesehatan di Indonesia adalah dengan adanya AFTA 2010. AFTA merupakan singkatan dari ASEAN Free Trade Area yang dibuat pada Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke IV di Singapura pada tahun 1992. Tujuan dibuatnya AFTA, tentu saja baik adanya, bagaimana tidak, negara – negara di kawasan Asia Tenggara telah bersepakat untuk membentuk suatu kawasan bebas perdagangan dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional Asia Tenggara sekaligus menjadikan Asia Tenggara menjadi salah satu pihak yang berpengaruh pada perdagangan dunia. AFTA pada kenyataannya tidak hanya mengedepankan satu aspek saja, setidaknya ada lebih dari 12 sektor yang disentuh AFTA, termasuk sektor kesehatan. 7
  • 8. Kembali kita dihadapkan pada fakta, bahwa banyak masyarakat Indonesia yang memilih berobat ke luar negri. Sebut saja Singapura. Bahkan saya cukup terkejut ketika salah seorang dosen saya bercerita bahwa lebih dari 50% pasien dari salah satu rumah sakit di Singapura adalah orang Indonesia. Bahkan, saya juga sempat terkejut ketika menemukan sebuah brosur General Medical Check Up berkonsep wisata yang ditawarkan salah satu biro perjalanan ke Singapura. Belum lagi maraknya rumah sakit asing atau praktek pelayanan kesehatan asing yang menjamur di negri kita. Selain memperbaiki kualitas sumber daya manusianya, perlu juga diperbaiki kualitas sistemnya, seperti sistem Rumah Sakit misalnya, terdapat pergeseran mengenai konsep dan kebijakan rumah sakit pada fase pra globalisasi dan di era globalisasi sebagai berikut: Pra Globalisasi Era Globalisasi RS adalah Lembaga Sosial RS adalah industri jasa Anggaran dari Pemerintah Anggaran dari masyarakat Pembayaran Langsung Pembayaran dari masyarakat Sistem Pembayaran fee for service Sistem pembayaran kapitasi Upaya lebih ditekankan pada kuratif Upaya paripurna dari promotif sampai dan rehabilitatif dengan rehabilitatif Terpisah dari sistem pelayanan medik wilayah Dati II Merupakan dari sistem pelayanan medik Dati II Kebijakan standar untuk semua RS Manajemen mutu bukan inti kegiatan bagiaan Kebijakan standar berbeda untuk urban dan rural Manajemen Berorientasi pada dokter mutu menjadi inti kegiatan rumah sakit Berorientasi pada konsumen Dengan adanya reorientasi tersebut, diharapkan bahwa terdapat pula pergeseran mekanisme pasar yang berujung pada berkurangnya angka pengobatan atau rujukan ke luar negeri serta pengembangan dunia kedokteran dalam negeri yang memungkinkan untuk Go International. 8
  • 9. D. Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Eksploitasi Berlebihan Dalam perkembangan globalisasi dinegara berkembang, terjadinya eksploitasi SDA yang berlebihan sering dikaitkan guna meningkatkan mutu kemajuan negara tersebut, padahal dalam prakteknya hasil dari eksploitasi SDA yang berlebihan tersebut malah menghantarkan negara dalam keterpurukan yang semakin menjadi akibat kerusakkan lingkungan hidup. Faktor-faktor yang kemudian yang melatarbelakangi mengapa negara-negara berkembang sangat mudah untuk dieksplotasi antara lain ; 1. Keterbatasan modal yang dimiliki oleh negara-negara berkembang menjadikan negra berkembang merasa butuh untuk mendapatkan suntikkan dana ataupun bantuan asing tanpa memperhitungkan untung dan rugi yang akan dihadapi kemudian 2. Lemahnya hukum domestic yang diterapkan pemerintah dalam membatasi jumlah eksploitasi SDA oleh perusahaan asing di negara berkembang 3. Regulasi yang diberlakukan oleh pemerintah seringkali hanya memihak kepada perusahaan asing dibandingkam memihak kepada masyarakat 4. Perkembangan budaya konsumtif akibat globalisasi dan untuk memenuhi permintaan konsumen yang kian banyak akibat budaya konsumtif tsdi, maka industri merasa wajib untuk meningkatkan jumlah produksinya dengan melakukan eksploitasi secara besar-besaran E. Upaya Penanggulangan Dampak Globalisasi Bagi Lingkungan Hidup Dari dampak yang hadir akibat merebaknya globalisasi di dunia memberikan akibat maupun dampak yang perlu ditanggulangi. Diantaranya, merupakan dampak negatif bagi lingkungan hidup. Adapun solusi-solusi terhadap permasalahan lingkungan di negara berkembang antara lain ; 1. Solusi yang kemudian ditawarkan oleh negara maju ke negara berkembang untuk menangani permasalahan lingkungan yang ada yaitu terjadi saat 9
  • 10. pertemuan negara-negara yang mempunyai wilayah 5% jatah hutan dunia (seperti Brazil, Indonesia, Venezuela, dan negara-negara Afrika), Amerika Serikat, dan sekutunya datang menawarkan hibah, tanpa bunga dan tanpa pengembalian dengan kompensasi negara-negara tersebut harus menghijau hutannya kembali. 2. Pada pelita V, berbagai upaya pengendalian pencemaran lingkungan hidup dilakukan dengan memperkuat sanksi dan memperluas jangkauan peraturanperaturan tentang pencemran lingkungan hidup, dengan lahirnya Kappres 77/1994 tentang Organisasi Bapedal sebagai acuan bagi pembentukan Bapeda Wilayah ditingkat provinsi, yang juga bermanfaat bagi arah pembentukan Bapeda/Daerah. Perturan ini dikeluarkan untuk memperkuat UU no. 4 tahun 1982 tentang pengelolaan lingkungan hidup yang dianggap perlu untuk diperbaharui 3. Berdasarkan strategi penanganan limbah tahun 1993/1994, yang ditetapkan oleh pemerintah, maka proses pengolahan akhir buangan sudah harus dimulai pada tahap pemilihan baku, proses produksi, hingga pengolahan akhir limbah buangan (lampiran pidato presiden RI, 1994 :II/27) 4. Disamping itu, untuk mengembangkan tanggungjawab bersama dalam menanggulangi masalah pencemaran sungai terutama dalam upaya peningkatan kualitas air, dilaksanakan program kali bersih (prokasih) yang memprioritaskan penanganan lingkungan pada 33 sungai di provinsi F. Millenium Development Goals (MDGs) Deklarasi Millennium PBB yang ditandatangani pada September 2000 menyetujui agar semua negara: 1. Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan  Pendapatan populasi dunia sehari $10000.  Menurunkan angka kemiskinan. 2. Mencapai pendidikan dasar untuk semua  Setiap penduduk dunia mendapatkan pendidikan dasar. 3. Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan 10
  • 11.  Target 2005 dan 2015: Mengurangi perbedaan dan diskriminasi gender dalam pendidikan dasar dan menengah terutama untuk tahun 2005 dan untuk semua tingkatan pada tahun 2015. 4. Menurunkan angka kematian anak  Target untuk 2015 adalah mengurangi dua per tiga tingkat kematian anak-anak usia di bawah 5 tahun. 5. Meningkatkan kesehatan ibu  Target untuk 2015 adalah Mengurangi dua per tiga rasio kematian ibu dalam proses melahirkan. 6. Memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya  Target untuk 2015 adalah menghentikan dan memulai pencegahan penyebaran HIV/AIDS, malaria dan penyakit berat lainnya. 7. Memastikan kelestarian lingkungan hidup  Mengintegrasikan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan dalam kebijakan setiap negara dan program serta mengurangi hilangnya sumber daya lingkungan.Pada tahun 2015 mendatang diharapkan mengurangi setengah dari jumlah orang yang tidak memiliki akses air minum yang sehat.  Pada tahun 2020 mendatang diharapkan dapat mencapai pengembangan yang signifikan dalam kehidupan untuk sedikitnya 100 juta orang yang tinggal di daerah kumuh. 8. Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan  Mengembangkan lebih jauh lagi perdagangan terbuka dan sistem keuangan yang berdasarkan aturan, dapat diterka dan tidak ada diskriminasi. Termasuk komitmen terhadap pemerintahan yang baik, pembangungan dan pengurangan tingkat kemiskinan secara nasional dan internasional.  Membantu kebutuhan-kebutuhan khusus negara-negara kurang berkembang, dan kebutuhan khusus dari negara-negara terpencil dan kepulauan-kepulauan kecil. Ini termasuk pembebasan-tarif dan -kuota untuk ekspor mereka; meningkatkan pembebasan hutang untuk negara miskin yang berhutang besar; pembatalan hutang bilateral resmi; dan menambah bantuan pembangunan resmi untuk negara yang berkomitmen untuk mengurangi kemiskinan. 11
  • 12.  Secara komprehensif mengusahakan persetujuan mengenai masalah utang negaranegara berkembang.  Menghadapi secara komprehensif dengan negara berkembang dengan masalah hutang melalui pertimbangan nasional dan internasional untuk membuat hutang lebih dapat ditanggung dalam jangka panjang.  Mengembangkan usaha produktif yang layak dijalankan untuk kaum muda.  Dalam kerja sama dengan pihak "pharmaceutical", menyediakan akses obat penting yang terjangkau dalam negara berkembang  Dalam kerjasama dengan pihak swasta, membangun adanya penyerapan keuntungan dari teknologi-teknologi baru, terutama teknologi informasi dan komunikasi. G. MDGs Dindonesia MDGs di Indonesia Upaya Pemerintah dalam merealisasikan MDGs pada tahun 2015 akan banyak mengalami hambatan karena pada saat yang sama pemerintah juga harus menanggung beban pembayaran utang yang sangat besar. Program-program MDGs seperti pendidikan, kemiskinan, kelaparan, kesehatan, lingkungan hidup, kesetaraan gender, dan pemberdayaan perempuan membutuhkan biaya yang cukup besar. Padahal, menurut Sekertaris Nasional (Seknas) Fitra Uchok Sky Khadafi, hutang luar negeri Indonesia pada tahun 2010 sebesar Rp1.677 triliun. Pada tahun anggaran 2011 utang luar negeri Indonesia sebesar Rp1.803 triliun dan pada tahun 2012 utang luar negeri Indonesia mencapai Rp1.937 triliun. Berdasarkan rasio utang tersebut, terdapat gejala bertambahnya utang luar negeri yang dapat mengakibatkan rendahnya dukungan keuangnegara dalam merealisasikan MDGs. Sampai dengan pertengahan tahun 2012 ini, batas akhir untuk mencapai target pencapaian MDGs semakin dekat. Dalam pidato resmi Presiden SBY pada pertemuan PBB untuk pembangunan berkelanjutan atau dikenal juga dengan forum Rio+20 di Riocentro Convention Center, Rio De Janeiro, Presiden SBY menyebutkan bahwa: "Ekonomi dunia telah tumbuh dari 34 triliun USD sampai lebih dari 64 triliun USD pada saat ini. Perdagangan internasional telah tumbuh tiga kali lipat menjadi 28 triliun USD. Banyak negara telah menyeberang melewati status penghasilan menengah, termasuk Indonesia. Dan bersama dengan ini kemiskinan seluruh dunia telah 12
  • 13. berkurang secara signifikan dari 1,9 miliar pada tahun 1990 menjadi 1,29 miliar tahun 2008. Di Indonesia pun, kemiskinan telah menurun dari 24 persen pada tahun 1998 menjadi 12,5 persen beberapa hari ini." Lebih lanjut SBY memaparkan bahwa "upaya Indonesia mencapai MDGs pada tahun 2015 juga menghadapi tantangan. Telah ada beberapa kemajuan, tetapi juga beberapa tantangan dalam mencapai target. Sebagai contoh, kita membuat kemajuan pada angka kematian bayi dan ibu, kemiskinan, harapan hidup, tetapi kita belum mencapai target MDGs untuk peningkatan gizi bagi anak-anak, sanitasi."Secara umum, perkembangan yang telah dicapai oleh bangsa Indonesia sampai saat ini menunjukkan kemajuan yang cukup berarti. Beberapa indikator MDGs secara nasional telah tercapai dan sebagian besar target MDGs secara nasional diperkirakan akan tercapai (on track). Pemerintah mendapatkan apresiasi dari PBB atas capaian sampai saat ini dan komitmennya untuk mencapai sasaran MDGs pada akhir tahun 2015. Menurut Prof. Armida, "pencapaian sasaran MDGs di tingkat nasional perlu didukung capaian di tingkat daerah, dan seluruh pemangku kepentingan yang terdiri dari Pemerintah, dunia usaha, masyarakat luas termasuk masyarakat madani, serta para tokoh agama. Meskipun beberapa sasaran MDGs telah tercapai dan on track, upaya-upaya khusus perlu tetap dilakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan kinerja capaian MDGs. Selain itu, diperlukan upayaupaya yang lebih keras lagi untuk mencapai sasaran MDGs seperti untuk penurunan angka kematian ibu melahirkan, pencegahan HIV/AIDS dan peningkatan tutupan lahan. Sementara itu, kesenjangan antardaerah dalam pencapaian sasaran MDGs perlu terus diperkecil, antara lain dengan memberikan perhatian yang lebih besar bagi daerah-daerah yang kinerja pencapaian MDGs-nya masih di bawah rata-rata nasional. Seluruh upaya untuk mencapai sasaran MDGs tersebut perlu didukung dengan penguatan sinergi antarkementerian/lembaga dan antara pusat dan daerah." H. Pencapaian Indikator MDGs MDGs (Millennium Development Goals) atau biasa disebut sebagai tujuan pembangunan di era millennium adalah sebuah indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasilan suatu pembangunan yang bersifat global oleh setiap negara di dunia. MDGs ini pertama kali dicetuskan pada acara Konferensi Tingkat Tinggi Millennium yang diselenggarakan di New York pada tahun 2000 dan diikuti oleh 189 negara anggota PBB diseluruh dunia termasuk Indonesia. 13
  • 14. Seluruh negara yang mengikuti konferensi MDGs ini mempunyai komitmen untuk menetapkan MDGs sebagai acuan program pembangunan nasional yang menangani permasalahan-permasalahan dasar yang dialami oleh negara-negara maju dan berkembang di seluruh dunia. Di dalam konferensi ini telah disepakati 8 tujuan pembangunan millennium yaitu: 1) Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan 2) Mencapai Pendidikan Dasar Untuk Semua 3) Mendorong Kesetaraan Gender dan Kesehatan Ibu 4) Menurunkan Angka Kematian Anak 5) Meningkatkan Kesehatan Ibu 6) Memerangi HIV/AIDS, Malaria, dan Penyakit Menular Lainnya 7) Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup 8) Membangun Kemitraan Global untuk Pembangunan. Indonesia sebagai salah satu negara yang menandatangani deklarasi MDGs, mempunyai kewajiban untuk melaksanakan tujuan-tujuan tersebut dalam jangka pendek, menengah, dan panjang sampai tenggang waktu yang ditentukan yaitu pada tahun 2015. Secara global telah ditetapkan 18 target dan 48 indikator tetapi untuk indikator tergantung kebijakan dari masingmasing negara. Seperti Indonesia halnya yang menetapkan 59 indikator sebagai acuannya. Indonesia termasuk negara berkembang oleh karena itu Indonesia wajib melaksanakan indikator tersebut dan tugas negara-negara maju yaitu, sebagai pendukung dan sukarelawan terhadap keberhasilan indikator pada negara berkembang. Salah satu permasalahan yang sangat merisihkan penduduk Indonesia adalah masalah Lingkungan Hidup. Moderenisasi dan Industrialisasi disegala aspek bidang yang sangat berkembang pesat di Indonesia kebanyakan dari mereka tidak memperhatikan amdal (analisis dampak lingkungan). Salah satu kejadian yang paling umum yaitu perusakan lingkungan dengan pembukaan lahan hutan secara besar-besaran tanpa memperhatikan keseimbangan lahan dan lingkungan. Pembukaan lahan biasanya akan digunakan untuk membangun pemukiman dan kawasan industri. Pabrik-pabrik yang muncul tak jarang banyak mengakibatkan polusi udara akibat asap yang dihasilkannya yang berdampak pada kondisi udara dan dapat menyebabkan gangguan sistem pernafasan. Selain itu kawasan industri pabrik juga terkenal sebagai penghasil limbah yang berupa logam-logam berat yang dapat menyebabkan gangguan pada kulit dan pencemaran air di bantaran-bantaran sungai sehingga menyebabkan air tidak layak konsumsi. 14
  • 15. Semua perubahan ini yang berawal dari adanya proses globalisasi dan pastinya berdampak negatif bagi kelangsungan hidup manusia dan lingkungan hidupnya. Oleh sebab itu MDGs mengadvokasikan pembangunan kawasan ramah lingkungan, dan menggalakkan program cinta lingkungan agar tidak menimbulkan dampak yang lebih parah pastinya. Mulai dari air bersih bagi semua, membantu masyarakat membangun pabrik yang minim buangan, hingga program reboisasi untuk mengembalikan hutan yang gundul. Setiap manusia perlu terlibat dalam MDGs ini, termasuk Indonesia. Tujuan utamanya agar menjamin fungsi jasa dan manfaat alam Indonesia masih dapat dinikmati generasi berikutnya. Faktanya di Indonesia sekarang ini banyak sekali masyarakatnya yang sangat tidak peduli dengan lingkungan karena mereka terlalu egois dan mengikuti hawa nafsu. Seperti halnya yang sedang marak saat ini pembalakan dan penebangan hutan secara liar untuk mengeksploitasi kekayaan alam yang ada di dalamnya. Padahal dilihat dari fungsinya hutan di Indonesia adalah sebagai paru-paru dunia dan sebagai plasma nutfah. Bayangkan setiap tahunnya Indonesia mesti kehilangan 1,8 juta hektar hutan akibat dari ulah manusia yang tidak bertanggung jawab. Betapa malunya Indonesia setiap tahunnya selalu mengirim asap akibat pembalakan hutan secara liar ke negara-negara tetangga hingga banyak dari mereka yang protes terhadap pemerintahan Indonesia. Hal ini tanpa disadari selain menimbulkan pencemaran udara dan gangguan sistem pernafasan sehingga dapat mengganggu keseimbangan ekosistem makhluk hidup yang ada di dalamnya serta dapat menyebabkan bencana alam, seperti banjir dan tanah longsor. Banjir yang terjadi di Indonesia pada umumnya disebabkan oleh hujan yang turun terusmenerus di kawasan yang hanya mempunyai sedikit daerah resapan air dan di dalamnya banyak masyarakat yang sering buang sampah sembarangan. Kurangnya daerah resapan air itu sendiri disebabkan oleh pembukaan lahan besar-besaran untuk pemukiman warga. Selain itu kurangnya kesadaran masyarakat akan buang sampah pada tempatnya juga menjadi masalah yang tak kunjung usai. Setiap harinya menurut kajian Kementrian Lingkungan Hidup, Indonesia memproduksi kurang lebih 625 meter kubik sampah dan jumlahnya bisa saja bertambah, bayangkan saja jika semua masyarakat Indonesia membuang sampah sembarangan bisa jadi Indonesia menjadi negara dengan lautan sampah. Perlu diketahui, sebagian besar sampah yang ada di Indonesia adalah sampah plastik dan sampah plastik itu sangat membutuhkan waktu yang lama untuk terurai. Sangat disayangkan budaya membuang sampah sembarangan di Indonesia 15
  • 16. menjadi tren tersendiri saat ini. Banyaknya sampah yang tersumbat dan pemukiman kumuh di bantaran sungai sehingga tidak heran hal itu menjadi penyebab utama banjir tahunan di Jakarta. Banyaknya pemukiman kumuh di daerah ibukota juga banyak menimbulkan masalah baru seperti masalah sanitasi dan air bersih hal ini berdampak sangat buruk bagi kehidupan masyarakat yang tinggal dipermukiman kumuh. Di kawasan permukiman kumuh fasilitas kamar mandi juga sangat jarang ditemukan dan sekalinya ada sangat tidak memenuhi standard oleh sebab itu mereka sangat kekurangan jumlah air bersih dan mereka sangat rentan sekali terkena penyakit seperti diare dan gatal-gatal. Sebagai masyarakat yang baik kita juga bisa ikut ambil andil dalam masalah permukiman kumuh yang berada di bantaran-bantaran sungai hal yang mudah dilakukan dan bermanfaat yaitu dengan cara membantu petugas yang terkait untuk menertibkan bangunan dan membantu mengevakuasi warga yang tinggal di daerah tersebut untuk pindah ke tempat yang lebih layak. Hal tersebut lambat laun akan membawa dampak yang positif seperti, lingkungan yang tadinya kumuh menjadi lebih enak dipandang karena bersih dan pastinya bisa mengurangi penyakitpenyakit yang sering dilanda oleh warga seperti gatal-gatal dan diare. Kita memang sudah sepantasnya ikut berpartisipasi dalam aksi menyelamatkan lingkungan dengan gencar mengikuti kegiatan-kegiatan sosial yang bertemakan lingkungan. Mulailah dari hal yang kecil dulu dengan peduli terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan sekitar rumah kita pastinya hal ini akan membawa dampak positif bagi kehidupan masyarakat di masa yang akan datang. Hal-hal lain yang dapat kita lakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan yaitu, sebisa mungkin membawa tempat minum jika berpergian, lakukan aksi penanaman pohon di daerah sekitar rumah agar ada media untuk resapan air, menggunakan transportasi umum jika berpergian hal ini dapat mengurangi pencemaran udara akibat asap dari kendaraan bermotor, dan sebisa mungkin menggunakan barang-barang olahan hasil daur ulang. I. Pada Tujuan atau Sasaran Ketujuh dan Kedelapan. 1. Menjamin kelestarian fungsi lingkungan hidup Mengintegrasikan prinsip pembangunan berkelanjutan ke dalam kebijakan dan programprogram di tingkat nasional serta mengurangi perusakan sumber daya alam 16
  • 17. Mengurangi sampai setengah jumlah penduduk yang tidak memiliki akses kepada air bersih yang layak minum Berhasil meningkatkan kehidupan setidaknya 100 juta penghuni kawasan kumuh pada tahun 2020 Di Indonesia ancaman terhadap hutan hujan semakin menjadi-jadi, apalagi pada era desentralisasi dan otonomi daerah lebih banyak lagi hutan yang dieksploitasi,pembalakan liar semakin menjadi-jadi dan batas kawasan lindung sudah tidak diperdulikan lagi. Panyebab utamanya adalah lemahnya supresmasi hukum dan kurangnya pengertian dan pengetahuan mengenai tujuan pembangunan jangka panjang dan perlindungn biosfer. Akses dan ketersediaan informasi mengenai sumberdaya alam dan lingkungan merupakan aspek yang perlu ditingkatkan. Program yang seperti ini dapat membantu memperkaya pengetahuan dan wawasan kelompok masyarakat yang hidup di daerah perdesaan dan daerah terpencil mengenai pentingnya perlindungan terhadap lingkungan. Hal ini tidak tertutup harus diketahui juga oleh kaum bisnis dan masyarakat kota yang semakin tidak peduli akan lingkungan. Selain itu, Kualitas air yang sampai ke masyarakat dan didistribusikan oleh PDAM sebagian ternyata tidak memenuhi persyarat air minum aman yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan. Masalah ini disebabkan oleh kualitas jaringan distribusi dan perawatan yang tidak baik yang menyebabkan terjadinya kontaminasi. Oleh karena itu, promosi lingkungan juga harus disandingkan dengan promosi mengenai kesehatan dan kebersihan, sehingga masyarakat akan lebih mengerti petingnya air bersih dan dapat berpartisipasi aktif menjaga dan merawat fasilitas air bersih yang ada. Berdasarkan data terahir yang tersedia, akses masyrakat secara umum terhadap fasilitas sanitasi adalah 68%. Akan tetapi, tampaknya sanitasi tidak menjadi prioritas utama pembangunan, baik di tingkat nasional, regional, badan legislative maupun sektor swasta. Hal ini tampak dari relatif kecilnya anggaran yang disediakan untuk sanitasi. Oleh karena itu, kampanye mengenai pentingnya sanitasi juga perlu dilakukan kepada pemerintah, pembuat kebijakan, dan badan legislatif, termasuk juga kapada masyarakat. Diperlukan investasi dan prioritisasi yang lebih besar untuk meningkatkan akses terhadap air bersih dan pelayanan sanitasi untuk masyarakat di seluruh Indonesia. 17
  • 18. Harus disadari bahwa pembangunan berkelanjutan di Indonesia banyak sudah mengorbankan lingkungan alam. Salah satu masalah utama adalah penebangan liar. Mungkin hampir sebagian besar kayu-kayu yang tersedia di Jakarta adalah hasil dari penebangan ilegal. Selain itu permasalahan air bersih (sanitasi) pun menjadi masalah utama di beberapa daerah. Bisa bayangkan, kondisi lingkungan ketika tidak memiliki akses untuk memperoleh air bersih. 2. Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan mengembangkan lebih lanjut sistem perdagangan dan keuangan terbuka yang berdasar aturan, dapat diandalkan dan tidak diskriminatif. Termasuk komitmen melaksanakan tata pemerintahan yang baik, pembangunan dan pemberantasan kemiskinan – baik secara nasional maupun internasional menangani kebutuhan khusus negara-negara yang kurang berkembang. Mencakup pemberian bebas tarif dan bebas kuota untuk ekspor mereka; keringanan pembayaran hutang bagi negara-negara miskin yang terjerat hutang; pembatalan hutang bilateral; dn pemberian bantuan pembangunan yang lebih besar untuk negara-negara yang berkomitmen untuk mengurangi kemiskinan c) menangani kebutuhan khusus negaranegara yang terkurung daratan dan negara-negara kepulauan kecil yang sedang berkembang. Pada akhirnya, setiap negara yang berkomitmen dan menandatangani perjanjian MDGs dapat memberikan harapan besar bagi warganya untuk memperoleh kehidupan yang lebih layak lagi dan hal ini menjadi tanggung jawab besar bagi pemerintah Indonesia untuk mewujudkannya. Kini MDGs telah menjadi referensi penting pembangunan di Indonesia, mulai dari tahap perencanaan seperti yang tercantum pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) hingga pelaksanaannya. Namun demikian, upaya Pemerintah Indonesia dalam merealisasikan Tujuan Pembangunan Milenium pada tahun 2015 akan sulit karena pada saat yang sama pemerintah juga harus menanggung beban pembayaran utang yang sangat besar. Programprogram MDGs seperti pendidikan, kemiskinan, kelaparan, kesehatan, lingkungan hidup, kesetaraan gender, dan pemberdayaan perempuan membutuhkan biaya yang cukup besar. Merujuk data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan, per 31 Agustus 18
  • 19. 2008, beban pembayaran utang Indonesia terbesar akan terjadi pada tahun 2009-2015 dengan jumlah berkisar dari Rp97,7 triliun (2009) hingga Rp81,54 triliun (2015) rentang waktu yang sama untuk pencapaian MDGs. Jumlah pembayaran utang Indonesia, baru menurun drastis (2016) menjadi Rp66,70 triliun. tanpa upaya negosiasi pengurangan jumlah pembayaran utang Luar Negeri, Indonesia akan gagal mencapai tujuan MDGs. Mari kita sama-sama mulai merubah mindset kita yang tadinya adalah ”self-center” menjadi berpaham sosialis dengan mulai mengedepankan isu-isu sosial demi mewujudkan MDGs tersebut. Jika melihat keadaan saat ini di berbagai daerah pedalaman di Indonesia, mungkin boleh dikatakan MDGs sudah berjalan namun belum menyebar dan merata, kita mungkin bisa tidak perduli dengan MDGs karena kita hidup di kota besar, masih dapat menggunakan internet, masih bisa menikmati listrik, masih dapat menemukan apotek dimana-mana, masih dapat membeli BBM cuma dengan harga Rp 6500/liter. Tapi bagaimana dengan mereka? Bahkan kanan-kiri tempat tinggal mereka hanyalah sawah dan bukit, daerah tandus, kekurangan air bersih, akses jalan susah dan harus membeli BBM subsidi dengan harga mahal sekitar Rp 10.000/liter, serta tidak memiliki listrik di malam hari. Lalu, apa yang sudah kita perbuat bagi bangsa dan negara ini, sebagai masyarakat yang gemar mengeluh terhadap apa yang negara berikan. 19
  • 20. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Pada dasarnya segala hal yang diciptakan manusia mempunyai efek baik dan buruk bagi manusia itu sendiri. Globalisasi juga mempunyai sifat seperti itu. Globalisasi disatu sisi menawarkan kebaikan, tetapi disisi lai juga kita akan terjebak dalam keterpurukan jika tidak mewaspadainya. Pengaruh globalisasi juga harus dilihat dari “siapa yang memprakarsainya’ yaitu negara-negara barat. Hal ini perlu diwaspadai karena SDA kita yang melimpah dan bukan tidak mungkin negara-negara tersebut juga mengincarnya dengan mempengaruhi masyarakat kita tentang “betapa baiknya globalisasi’. Rakyat (elit penguasa dan rakyat biasa) harus meng-counter efek buruk dari globalisasi. Jika hanya rakyat biasa saja yang mencoba meng-counternya, maka hal itu akan hanya sia-sia mengingat kekuatan dan legitimasi yang dimiliki oleh negara-negara maju cukup untuk menjadikan mereka betah untuk melakukan eksploitasi terhadap lingkungan di negara berkembang. Baik dampak negatif maupun positif dari globalisasi yang mempengaruhi lingkungan hidup tentunya memberikan dampak perubahan besar bagi kehidupan alam serta kemajuan suatu bangsa. Dengan adanya dampak yang terjadi akibat globalisai bagi lingkungan hidup, manusia dituntut untuk melakukan perbaikan dengan cara-cara sederhana, program-program pemerntah, serta gerakan global seperti hutan dunia 20

×