المعتزلة (Mu'tazilah) - @rgesit
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

المعتزلة (Mu'tazilah) - @rgesit

on

  • 141 views

Kelompok pemuja akal ini muncul di kota Bashrah (Irak) pada abad ke-2 Hijriyah, antara tahun 105-110 H, tepatnya di masa pemerintahan khalifah Abdul Malik bin Marwan dan khalifah Hisyam bin Abdul ...

Kelompok pemuja akal ini muncul di kota Bashrah (Irak) pada abad ke-2 Hijriyah, antara tahun 105-110 H, tepatnya di masa pemerintahan khalifah Abdul Malik bin Marwan dan khalifah Hisyam bin Abdul Malik

mu’tazilah adalah aliran teologi yang muncul pada masa Bani Umayyah berkisar antara 115-110 H, dipimpin oleh Washil bin Atho. Yang menganut lima ajaran dasar.

Statistics

Views

Total Views
141
Views on SlideShare
141
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
7
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

المعتزلة (Mu'tazilah) - @rgesit المعتزلة (Mu'tazilah) - @rgesit Presentation Transcript

  • !‫اﻟﻤﻌﺘﺰ‬ R. Gesit Prasasti Alam (13.50.013) Deni Hendriyane Abdul Qodir Jaelani
  • Sec. Etimologi ‫اﻋﺘﺰل‬-‫ﻋﺰل‬ => Menyisihkan / Memisahkan diri (Ahmad Warson) Kaum Mu’tazilah berarti kaum yang menyisihkan / memisahkan diri
  • Sec. Terminologi Mu’tazilah adalah golongan yang timbul pada masa Utsman bin Affan yang tidak memihak salah satu dari pihak utsman atau lawannya. Mereka juga golongan yang tidak mau membai’at Utsman ketika diangkat. (Ahmad Amin) golongan yang muncul pada masa Hasan Bashri yang dipimpin oleh Washil bin Atho (Ali Musthafa) golongan yang mengnut freewill yang menganggap ahlu sunnah dan khawarij salah
  • mu’tazilah adalah aliran teologi yang muncul pada masa Bani Umayyah berkisar antara 115-110 H, dipimpin oleh Washil bin Atho. Yang menganut lima ajaran dasar. Secara Terminolgi
  • Sejarah Kelompok pemuja akal ini muncul di kota Bashrah (Irak) pada abad ke-2 Hijriyah, antara tahun 105-110 H, tepatnya di masa pemerintahan khalifah Abdul Malik bin Marwan dan khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Pelopornya adalah seorang penduduk Bashrah mantan murid Al-Hasan Al-Bashri yang bernama Washil bin Atha’ Al- Makhzumi Al-Ghozzal. Ia lahir di kota Madinah pada tahun 80 H dan mati pada tahun 131 H.
  • Di dalam menyebarkan ajarannya, ia didukung oleh ‘Amr bin ‘Ubaid (seorang gembong Qadariyyah kota Bashrah) setelah keduanya bersepakat dalam suatu pemikiran bid’ah, yaitu mengingkari taqdir dan sifat-sifat Allah. Aliran ini terpengaruh dengan beberapa pemikiran yang ada pada saat itu seperti aliran Jahmiyah, Qodariyah dan Khowarij Sejarah
  • Munculnya Mu’tazilah diawali dengan perselisihan / perdebatan pendapat antara Imam Hasan Al Bashri dengan salah seorang peserta halaqohnya yang bernama Washil bin Atha’ dalam masalah perbuatan dosa besar. Perselisihan itu tidak selesai dan dilanjutkan dengan menyingkirnya / memisahnya Washil bin Atha’ dari halaqoh Imam Hasan Al Bashri, Sejarah
  • Berikutnya Washil bin Atha’ menyebarkan pemikirannya yang bertentangan dengan Imam Hasan Al Bashri tersebut kepada siapa saja. Karena gaya bahasanya yang menarik dan selalu mengedepankan logika, sehingga ajarannya nampak logis maka dalam waktu yang relatif cepat pengikutnya semakin banyak. Pengikutnya ini disebut sebagai golongan Mu’tazilah. Sejarah
  • Asy-Syihristani Asy-Syihristani berkata: (Suatu hari) datanglah seorang laki-laki kepada Al-Hasan Al-Bashri seraya berkata : “Wahai imam dalam agama, telah muncul di zaman kita ini kelompok yang mengkafirkan pelaku dosa besar (di bawah dosa syirik). Dan dosa tersebut diyakini sebagai suatu kekafiran yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama, mereka adalah kaum Khawarij. Sedangkan kelompok yang lainnya sangat toleran terhadap pelaku dosa besar (di bawah dosa syirik), dan dosa tersebut tidak berpengaruh terhadap keimanan. Karena dalam madzhab mereka, suatu amalan bukanlah rukun dari keimanan dan kemaksiatan tidak berpengaruh terhadap keimanan sebagaimana ketaatan tidak berpengaruh terhadap kekafiran, mereka adalah Murji’ah umat ini. Bagaimanakah pendapatmu dalam permasalahan ini agar kami bisa menjadikannya sebagai prinsip (dalam beragama)? “ Sejarah
  • Al-Hasan Al-Bashri pun berpikir sejenak dalam permasalahan tersebut. Sebelum beliau menjawab, tiba-tiba dengan lancangnya Washil bin Atha’ berseloroh: “Menurutku pelaku dosa besar bukan seorang mukmin, namun ia juga tidak kafir, bahkan ia berada pada suatu keadaan di antara dua keadaan, tidak mukmin dan juga tidak kafir.” Lalu ia berdiri dan duduk menyendiri di salah satu tiang masjid sambil tetap menyatakan pendapatnya tersebut kepada murid-murid Hasan Al-Bashri lainnya Sejarah
  • – Al Syahrastani, Al Milal wa Al Nihal, Beirut : Dar al Fikr, hlm. 47-48 Maka Al-Hasan Al-Bashri berkata: ” ً ‫ﻞ‬ ِ‫اﺻ‬ َ ‫و‬‫ﺎ‬َّ‫ﻨ‬ َ ‫ﻋ‬ َ‫ل‬ َ ‫ﺰ‬ َ ‫ﺘ‬ ْ ‫ﻋ‬ِ‫ا‬ “ Washil telah memisahkan diri dari kita”, maka disebutlah dia dan para“ pengikutnya dengan sebutan Mu’tazilah. Pertanyaan itu pun akhirnya dijawab oleh Al-Hasan Al-Bashri dengan jawaban Ahlussunnah Wal Jamaah: “Sesungguhnya pelaku dosa besar (di bawah dosa syirik) adalah seorang mukmin yang tidak sempurna imannya. Karena keimanannya, ia masih disebut mukmin dan karena dosa besarnya ia disebut fasiq (dan keimanannya pun menjadi tidak sempurna).” Sejarah
  • 1. Mu’tazilah
 Disebut demikian karna Washil bin Atho’ (pemimpin Mu’tazilah) meniggalkan/menyingkir dari dari kholaqoh dan madzah Imam Hasan al Bashri (ahlu sunnah wal Jama’ah) dan membentuk ajaran baru 2. Jahmiyah
 Disebut demikian karena banyak nya persamaan- persamaan antara mu’tazilah dengan kelompok jahmiyah. Bahkan Mu’tazilah adalah kelompok yang meng hidupkan kelompok Jahmiyah tetapi tidak semua orang jahmiayah adalah orang mu’tazilah. Penamaan Mu’tazilah
 menurut ulama ahlus sunnah
  • 3. Qodariyah
 Disebut demikian karna persamaan Mu’tazilah dan Qadariyah dalam pengingkaran mereka terhadap “taqdir” an mereka mengatakan bahwa perbuatan manusia sepenuhnya dari manusia itu sendiri tanpa camur tangan Allah SWT. 4. Al Wa’idiyyah
 Disebut demikian karena mereka mengatakan bahwa Allah SWT pasti melaksanakan janji dan ancamannya, karna Allah tidak pernah mengingkari janji dan ancamannya. Maka Allah SWT harus menghukum/menyiksa orang-orang yang berbuat dosa kalau mereka tidak bertaubat. Penamaan Mu’tazilah
 menurut ulama ahlus sunnah
  • 5. Al mu’at-thilah
 Nama Mu’ath-thilah adalah untuk sebutan jahmiyah lalu disebut juga untuk Mu’tazilah karna kesamaan mereka dalam menafikan/ meniadakan sifat untuk Allah SWT atau mereka menta’wilkan sifat- sifat Allah SWT yang tidak sesuai dengan madzhab mereka.
 Penamaan Mu’tazilah
 menurut ulama ahlus sunnah
  • 1. Mu’tazilah
 Mereka bangga dengan nama Mu'tazilah yang mereka artikan sebagai “meninggalkan/menyingkir dari keburukan dan bid'ah menuju kebenaran” atau “Menyingkir dari fitnah dan ahli bid'ah supaya selamat dari fitnah dan bid'ah tersebut, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al Muzammil ayat 10 : ‫ﻴﻼ‬ِ َ6‫ۭا‬ ً‫ﺮ‬ ْ ‫ﺠ‬َ‫ﻫ‬ْ ُ< ْ‫ﺮ‬ ُ ‫ﺠ‬ ْ ‫ٱﻫ‬ َ ‫و‬ َ ‫ﻮن‬ُ‫ﻮﻟ‬ُ‫ﻘ‬ َ ‫ﻳ‬‫ﺎ‬ َ ‫ﻣ‬ٰ َD َ ‫ﻋ‬ ْ ِ‫ﱪ‬ ْ‫ٱﺻ‬ َ ‫و‬
 “Dan jauhilah mereka dengan cara yang baik” (Al Muzammil : 10) 2. Ahlul 'Adli wat Tauhid
 Yang dimaksud adil oleh mereka adalah tidak meyakini adanya taqdir Allah SWT. Sedangkan yang dimaksud Tauhid oleh mereka adalah meniadakan sifat untuk Allah SWT Penamaan Mu’tazilah
 menurut kelompok mu’tazilah
  • 3. Ahlul Haqqi
 Mereka mengklaim bahwa mereka lah yang paling benar sedangkan yang lain adalah salah dan dalam kebathilan 4. Firqoh najiyah
 Mereka mengklaim bahwa merekalah kelompok yang selamat diantara kelompok-kelompok yang ada yang Rasulullah sabdakan dalam hadistnya sedangkan yang lain adalah kelompok sesat dan akan celaka 5. Al MunazzihunAllah
 Mereka mengklaim bahwa dengan meniadakan sifat untuk Allah SWT berarti mereka mensucikan Allah SWT dari sifat-sifat makhluk. Dan menuduh bahwa diluar kelompok mereka terutama ahlus sunnah wal jamaah adalah tidak mensucikan Allah SWT. Penamaan Mu’tazilah
 menurut kelompok mu’tazilah
  • 1. Di Basrah (Iraq) yang dipimpin oleh Washil Ibn Atha` dan Amr Ibn Ubaid dengan murid-muridnya, yaitu Ustman bin Ath Thawil , Hafasah bin Salim dll. Ini berlangsung pada permulaan abad ke 2 H. Kemudian pada awal abad ke 3 H wilayah Basrah dipimpin oleh Abu Huzail Al-Allah (wafat 235), kemudian Ibrahim bin Sayyar (211 H) kemudian tokoh Mu`tazilah lainnya. 2. Di Baghdad (iraq) yang dipimpin dan didirikan oleh Basyir bin Al-Mu`tamar salah seorang pemimpin Basrah yang dipindah ke Bagdad kemudian mendapat dukungan dari kawan-kawannya, yaitu Abu Musa Al- Musdar, Ahmad bin Abi Daud dll. Gerakan Kaum Mu’tazilah
 Gerakan kaum Mu`tazilah pada mulanya memiliki dua cabang
  • Ciri–ciri Faham Mu'tazilah beberapa ciri-ciri faham/pemikiran mu'tazilah Akal merupakan hukum tertinggi , baik dan buruk ditentukan oleh akal. Al manzilah baina manzilahtain yaitu : Jika orang berbuat dosa besar dan tidak bertaubat maka, hukumnya adalah dia tidak mukmin atau tidak kafir, namun diantara keduanya. Bila terjadi perbedaan antara akal dam Al- qutan serta hadis maka yang diambil adalah ketentuan akal. Al-quran adalah makhluk dan bukan kalamullah. Allah SWT tidak dapat dilihat baik didunia ataupun diakhirat. Maka penghuni surge juga tidak dapat melihat Allah SWT.
  • Isra’ mi’raj Nabi Muhammad Saw bukan dengan jasad dan ruh, namun hannya melalui mimpi, sebab mustahil menurut akal bahwa dalam waktu yang sangat relatif singkat manusia dapat menempuh jarak yang luar biasa jauhnya dan penuh rintangan dan resiko. Perbuatan manusia ditentukan oleh manusia itu sendiri baik atau buruknya dan bukan ditentukan oleh Allah SWT. Bahwa Arsh itu tidak ada. Surga dan neraka tidak kekal , sebab yang kekeal hanya Allah SWT semata. Shirat (jembatan yang melintang diatas neraka) itu tidak ada. Ciri–ciri Faham Mu'tazilah beberapa ciri-ciri faham/pemikiran mu'tazilah
  • Mizan (timbangan amal manusia di akhirat) itu tidak ada, sebab amal manusia itu bukan sesuatu yang dapat ditimbang dan tidak perlu ditimbang. Haudh (telaga diakhirat untuk orang-orang yang beriman) itu tidak ada. Siksa dan nikmat kubur juga tidak ada, sebab manusia setelah dikubur sudah menyatu dengan tanah, lalu apa yang disiksa dan yang merasakan nikmat atau adzab? Bahwa manusia yang telah mati didak mendapatkan manfaat apapun dari yang hidup, maka tidak perlu di do’akan, dimintakan ampunan atas dosa-dosanya, atau diberikan hadiah pahala. Hadiah pahala tidak akan sampai karna mereka sudah jadi tanah. Bahwa Allah SWT wajib membuat yang baikdan yang lebih baik untuk manusia. Ciri–ciri Faham Mu'tazilah beberapa ciri-ciri faham/pemikiran mu'tazilah
  • Bahwa Allah tidak memiliki sifat dan nama-nama, maka haram membaca mengaji nama sifat-sifat Allah SWT, sebab Allah mendengar dengan Dzatnya, melihat dengan Dzatnya dan segala sesuatu yang dilakukan oleh Allah SWT dilakukan dengan Dzatnya. Tidak mempercayai mu’jizat nabi Muhammad selain Al-quran. Halal hukumnya mencaci makai sahabat yang salah. Bahwa surga dan neraka saat ini belum ada, dan akan baru dibuat oleh Allah SWT nanti bila kiamat sudah tiba Ciri–ciri Faham Mu'tazilah beberapa ciri-ciri faham/pemikiran mu'tazilah
  • 1. At-tauhid (Tauhid) Yang mereka maksud dengan At-Tauhid adalah mengingkari dan meniadakan sifat-sifat Allah, dengan dalil bahwa menetapkan sifat-sifat tersebut berarti telah menetapkan untuk masing-masingnya tuhan, dan ini suatu kesyirikan kepada Allah, menurut mereka (Firaq Mu’ashirah, 2/832). Oleh karena itu mereka menamakan diri dengan Ahlut-Tauhid atau Al-Munazihuuna lillah (orang-orang yang mensucikan Allah). 5 Prinsip Ajaran Mu’tazilah
 (Al Ushulul Khomsah)
  • 2. Al – ‘Adl (Adil) Yang mereka maksud dengan adil disini adil yang terkait dengan “af’al Allah” (pebuatan Allah). Mereka mengatakan adil manakala Allah tidak campur tangan dengan perbuatan manusia. Terutama perbuatan manusia yang buruk. 5 Prinsip Ajaran Mu’tazilah
 (Al Ushulul Khomsah)
  • 3. Al-Wa’du Wal-Wa’id (Janji & Ancaman) Yang dimaksud janji dan ancaman disini adalah bahwa mu’tazilah mewajibkan Allah untuk melaksanakan janji dan ancaman karena Allah tidak mengingkari janji dan tidak pernah berdusta. Maka orang yang telah berbuat kebaikan harus mendapatkan pahala, dan kebalikannya orsang yang berbuat kejahatan harus mendapatkan dosa dan hukuman dari Allah SWT. Maka mukmin yang ta’at harus masuk surga karena amalannya dan bukan karena rahmat Allah SWT. Dan orang yang banyak berbuat dosa (terutama dosa besar) dan tidak bertaubat harus masuk neraka sebagaimana ancaman Allah SWT (Allah tidak boleh mengampuninya). 5 Prinsip Ajaran Mu’tazilah
 (Al Ushulul Khomsah)
  • 4. Manzilah bainal manzilatain (satu tempat diantara dua tempat) Masalah ini adalah terkait dengan masalah orang muslim yang berbuat dosa besar apakah masih muslim ataukah sudah kafir. Mu’tazilah mengatakan bahwa orang mukmin yang berbuat dosa besar hukumnya dalah tidak muslim tapi juga tidak kafir tapi berada diantara keduannya, inilah yang dimaksud dengan Al manzila baina manzilatain. 5 Prinsip Ajaran Mu’tazilah
 (Al Ushulul Khomsah)
  • 5. Al amru bil ma’ruf wan nahyu ‘anil mungkar
 Ada perbedaan antara ahlusunnah dengan mu’tazilah dalam hukum melaksanakan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar. Hanya saja ada beberapa perbedaan dalam beberapa hal berikut ini : Cara merubah kemungkaran. Mu’tazilah mewajibkan keluar /atau memberontak kepada penguasa “ja-ir”. Mengangkat senjata terhadap orang-orang yang menentang mereka baik dari orang kafir atupun dari orang muslim. 5 Prinsip Ajaran Mu’tazilah
 (Al Ushulul Khomsah)
  • Aliran kaum Mu`tazilah dipandang sebagai aliran yang menyimpang dari ajaran Islam, dan dengan demikian tak disenangi oleh sebagian umat Islam, terutama di Indonesia. Pandangan demikian timbul karena kaum mu`tazilah dianggap tidak percaya kepada wahyu dan hanya mengakui kebenaran yang diperoleh rasio. Namun, Sebagaimana diketahui kaum Mu`tazilah tidak hanya memakai argumen rasional, tetapi juga memakai ayat-ayat Al-Quran dan hadist untuk menahan pendirian mereka. Kesimpulan
  • Mu’tazilah merupakan aliran teologis dalam Islam yang bercorak rasional, dan berpandangan bahwa nash (wahyu) sejalan dengan rasio akal manusia. Namun dalam perjalanan sejarahnya, mereka banyak terpengaruh dengan metode-metode filsafat asing, sehingga hampir saja membawa mereka kepada sikap “ekstrim” dalam menggunakan logika. Sikap “nyaris ekstrim” ini yang berpengaruh dan tampak dalam ide-ide teologis mereka, dan sampai pada titik klimaksnya menimbulkan fitnah besar di dalam perjalanan sejarah umat Islam, yang diistilahkan Mihnah. Kesimpulan
  • Kalaulah akal itu lebih utama dari syariat maka akal siapakah yang dijadikan sebagai tolok ukur? Dan banyak hujjah-hujjah lain yang menunjukkan batilnya kaidah ini. (lihat kitab Dar’u Ta’arrudhil ‘Aqli wan Naqli, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan kitab Ash- Shawa’iq Al-Mursalah ‘Alal-Jahmiyyatil- Mu’aththilah, karya Al-Imam Ibnul-Qayyim.) Dalam hal ini, Ibnu Taimiyah berkata: “Para nabi datang membawa hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh akal dan tidak membawa hal- hal yang diketahui kebatilannya oleh akal. Mereka memberi tahu hal-hal yang tidak diketahui akal bukan yang tidak masuk akal.” Seandainya akal bisa bertahan, maka karena jauh dariwahyu, ia hanya merupakan perkiraan. Tidak jelas didalamnya antara hak dan batil. Kesimpulan
  • Betapa nyata dan jelasnya kesesatan kelompok pemuja akal ini. Oleh karena itu Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ari (yang sebelumnya sebagai tokoh Mu’tazilah) setelah mengetahui kesesatan mereka yang nyata, berdiri di masjid pada hari Jum’at untuk mengumumkan baraa’ (berlepas diri) dari madzhab Mu’tazilah. Beliau melepas pakaian yang dikenakannya seraya mengatakan: “Aku lepas madzhab Mu’tazilah sebagaimana aku melepas pakaianku ini.” Dan ketika Allah beri karunia beliau hidayah untuk menapak manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah, maka beliau tulis sebuah kitab bantahan untuk Mu’tazilah dan kelompok sesat lainnya dengan judul Al-Ibanah ‘an Ushulid-Diyanah. (Diringkas dari kitab Lamhah ‘Anil-Firaq Adh-Dhallah, hal. 44-45). Kesimpulan
  • Berbeda dengan kelompok islam liberal (JIL) terkini, sebab bagaimanapun Mu’tazilah tetap mengakui kewahyuan al-Qur’an, tidak pernah meragukan kedudukan mushaf Usmani, tidak mempermasalahkan bahasa Arab sebagai mediator bahasa wahyu dan (apalagi) menganggapnya sebagai produk budaya maupun teks manusiawi seperti yang telah jamak disuarakan Islam Liberal dan diajarkan di berbagai perguruan tinggi yang terkooptasi paham liberal Kesimpulan
  • Menurut Al Ustadz Ja’far Umar Thalib, Doktor Taqiyudin An-Nabhani (pendiri HTI-Yordania) bukanlah termasuk dari jajaran Ulama Ahlul Hadits. Dia seorang mu’tazili yang sangat ekstrim berpegang teguh dengan pola pikir pemahaman mu’tazilah. Sedangkan pemikiran mu’tazilah itu mempunyai prinsip-prinsip yang sesat dalam pancasila pemikirannya Bila kapasitas dia sebagai rakyat jelata maka wajib untuk menjalankan syari’at Islam dalam batas kerakyatan, dan tidak ada kewajiban atasnya dalam perkara menegakkan syari’at Islam di bidang pemerintahan. Bila kapasitas dia sebagai penguasa maka wajib atasnya untuk menjalankan syari’at Islam dalam pemerintahannya dan wajib pula memimpin rakyatnya untuk menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara menurut tuntunan syari’ah Islamiyah. Kesimpulan
  • Al Syahrastani, Al Milal wa Al Nihal, Beirut : Dar al Fikr Departeman Agama RI. 1971. Al-qur’an dan Terjemahnya, Jakarta : Yayasan Penyelenggara Penterjemah Qur’an Dr.Umar Sulaiman al-Asyqar. 2008. Rasul dan Risalah, Riyadh : International Islamic Publishing House (IIPH) Arif Ma'ruf, Lc. Aqidah Islam III, Jakarta : Al Hikmah Solihin, Ahmad Siregar. 2012. Pertumbuhan dan Perkembangan Mu’tazilah. Jakarta Salim, Abdurrahman. 2007. Al-Mu’tazilah, Mausu’ah al-Firaq wa al- Madzahib fi al-’Alam al-Islami, Kairo: al-Majilis al-A’la li al- Syu’un al-Islamiyah. Daftar Pustaka
  • “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)” Qs. Aali Imraan : 8 Terima Kasih :)