Your SlideShare is downloading. ×
Ada 13 sop dalam pelayanan rumah sakit
Ada 13 sop dalam pelayanan rumah sakit
Ada 13 sop dalam pelayanan rumah sakit
Ada 13 sop dalam pelayanan rumah sakit
Ada 13 sop dalam pelayanan rumah sakit
Ada 13 sop dalam pelayanan rumah sakit
Ada 13 sop dalam pelayanan rumah sakit
Ada 13 sop dalam pelayanan rumah sakit
Ada 13 sop dalam pelayanan rumah sakit
Ada 13 sop dalam pelayanan rumah sakit
Ada 13 sop dalam pelayanan rumah sakit
Ada 13 sop dalam pelayanan rumah sakit
Ada 13 sop dalam pelayanan rumah sakit
Ada 13 sop dalam pelayanan rumah sakit
Ada 13 sop dalam pelayanan rumah sakit
Ada 13 sop dalam pelayanan rumah sakit
Ada 13 sop dalam pelayanan rumah sakit
Ada 13 sop dalam pelayanan rumah sakit
Ada 13 sop dalam pelayanan rumah sakit
Ada 13 sop dalam pelayanan rumah sakit
Ada 13 sop dalam pelayanan rumah sakit
Ada 13 sop dalam pelayanan rumah sakit
Ada 13 sop dalam pelayanan rumah sakit
Ada 13 sop dalam pelayanan rumah sakit
Ada 13 sop dalam pelayanan rumah sakit
Ada 13 sop dalam pelayanan rumah sakit
Ada 13 sop dalam pelayanan rumah sakit
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Ada 13 sop dalam pelayanan rumah sakit

47,398

Published on

0 Comments
5 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
47,398
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
705
Comments
0
Likes
5
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Ada 13 SOP dalam Pelayanan Rumah SakitJune 17, 2009 · Filed under OthersSelasa, 16 Juni 2009 15:06Berikut wawancara SH dengan Komisaris Rumah Sakit Krakatau Medika, Serang, Banten, DR Dr H TbRachmat Sentika Sp.A, MARS.Berkaca dari kasus Prita Mulyasari versus Rumah Sakit Omni Internasional Alam Sutera, Tangerang,sebenarnya Standar Operasional Prosedur (SOP) sebuah rumah sakit dalam menangani pasien itu sepertiapa?Sebuah rumah sakit wajib menyusun standard operating procedure. Setidaknya ada 13 jenis standaryang diperlukan. Di antaranya adalah untuk pelayanan medis, penunjang medis, keperawatan, sumberdaya manusia, keuangan dan adminitrasi, pelayanan umum, pemasaran, manajemen infus, QUMR,kebersihan dan keselamatan kerja, perinasia/kamar bayi, dan penyebaran bahan-bahan berbahaya darirumah sakit. Jadi rumah sakit yang tidak punya standar seperti ini tidak bisa keluar surat izinsementaranya.Penjelasannya seperti apa?Ada pula untuk pelayanan medis bagaimana penerimaan pasien di UGD, penerimaan pasien di poliklinikdan unit rawat jalan, bagaimana menangani pasien di rawat inap. Untuk penunjang medis ada farmasi,laboratorium, radiologi, instalasi medik. Sementara untuk laboratorium medis ada beberapa tindakan,cara memilih kreagen, kesesuaian hasil, ketidaksesuaian hasil bagaimana cara penanganannya.Apakah pihak rumah sakit sudah memberi tahu pasien tentang hak-haknya?Ada Undang-Undang No 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, dalam Pasal 47 dikatakan bahwasetiap pasien berhak untuk menerima informasi mengenai penyakitnya, hasil pemeriksaan dirinya, danrencana pengobatannya. Setiap kejadian ditulis di medical record. Medical record kepunyaan rumahsakit, tapi isinya kepunyaan pasien. Dan pihak yang berhak mengetahui hanya dokter dan pasien itusendiri, bahkan pihak manajemen rumah sakit tidak boleh mengetahuinya. Selanjutnya, hak-hak pasienlainnya ialah berhak mendapat informasi dari ahli/dokter lainnya. Setiap pasien berhak mengemukakanpendapatnya, tetapi dokter tidak boleh.
  • 2. Tetapi pasien sering tidak tahu hak-haknya?Rumah sakit yang memiliki penyuluhan kesehatan masyarakat rumah sakit (PKMRS) wajibmemberitahukan mengenai hak-hak pasien. Di setiap rumah sakit pasti ada tulisan mengenai hak-hakpasien. Untuk itu, diperlukan SOP di setiap rumah sakit, yang setidaknya ada 13 standar itu.Bagaimana dengan rumah sakit yang tidak memberi tahu hak-hak pasien?Sekarang yang diperlukan ialah kepercayan pasien dan dokter, begitu pula sebaliknya. Ketika diamenyerahkan jiwa raganya kepada dokter, memang terkadang ada dominasi dari pihak rumah sakit yangkadang membuat pasien menderita. Untuk menghilangkan hal seperti itu, kami di rumah sakit dilatihbagaimana supaya bukan pasien yang membutuhkan kami, tetapi kami yang membutuhkan mereka.Kalau falsafah ini diterapkan, maka tidak akan ada masalah di kemudian hari.Apakah setiap rumah sakit harus memiliki falsafah seperti itu?Rumah sakit yang memberikan pelayan prima bukanlah mengatur. Seperti yang tertulis di UU PraktikKedokteran, setiap dokter harus menjunjung tinggi sifat humanitas. Jika tidak memiliki sifat seperti itu,jangan menjadi dokter. Dan rumah sakit harus menganggap setiap pasien yang datang untuk berobatadalah mitra rumah sakit, karena secara tidak langsung pasien akan mengeluarkan uang untuk sembuh,kenapa kami tolak?Dalam kasus Prita Mulyasari, bagaimana dengan soal rekaman medis itu?Prita meminta rekaman medisnya dari dokter di gawat darurat (emergency), padahal dia harusnyameminta rekaman medis pada dokter penyakit dalam yang memeriksanya. Prita memang tidakdiberikan hasil rekaman medis yang pertama karena hasilnya belum valid.Hasil pemeriksaan trombosit belum bisa dijadikan alat diagnostik yang menunjukkan seseorangmenderita demam berdarah dengue (DBD). Berdasarkan WHO, ada enam substansi yang bisa dijadikanalat diagnostik seseorang terserang DBD, di antaranya adalah panas tubuh 39 derajat Celcius selama tigahari berturut-turut, ada rasa nyeri di ulu hati, disertai dengan bintik-bintik merah dan pendarahan,pembesaran hati dan limpa, ada pengentalan hemotoklit serta trombosit.Namun orang selalu mengartikan kalau trobositnya kurang dari normal, langsung mencap dia terserangDBD. Itu tidak bisa serta merta dijadikan alat diagnostik. Dalam kasus Prita ini, terjadi kesalahankomunikasi antara dokter dengan pasiennya.(heru guntoro /
  • 3. stevani elisabeth)Sumber : http://www.sinarharapan.co.id/http://purnamawati.wordpress.com/2009/06/17/ada-13-sop-dalam-pelayanan-rumah-sakit/KODE ETIK KDOKTERAN INDONESIAdari http://library.usu.ac.iddengan kesalahan ketik diabaikan.Kalau perlu Pedoman Pelaksanaan KODE ETIK KDOKTERAN INDONESIA,saya bisa bantu kirim, tapi perlu waktu u/ mempersiapkannya.,Salam,PUJI HPerhimpunan INTIJl. Roa Malaka Utara No. 5 C-DJakarta 11230Phone: +62 21 6915891Fax. + 62 21 691 5893www.inti.or.id----- Original Message -----From: "imcw" <[EMAIL PROTECTED]>
  • 4. To: <dokter_umum@yahoogroups.com>Sent: 08 May, 2007 20:24 PMSubject: RE: [Dokter Umum] Re: dokter bintang iklan> Silakan Pak, untuk etika kedokteran, saya punya hard copy-nya, sayangnya> masih dipinjam ama teman. :)> --> i made cock wirawan> http://dekock.wordpress.com> http://www.ikayanafk.org> ------------------------------------->> -----Original Message-----> From: dokter_umum@yahoogroups.com [EMAIL PROTECTED] On> Behalf Of Ivan Purba> Sent: Selasa 08 Mei 2007 11:06> To: dokter_umum@yahoogroups.com> Subject: Re: [Dokter Umum] Re: dokter bintang iklan>> Gimana kalau kita bahas Kode Etik Kedokteran di forum> ini, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan> oleh seorang dokter disaat dia berperan sebagai> seorang dokter, ada yang punya salinan kode etik tsb ?>
  • 5. http://library.usu.ac.idKODE ETIK KDOKTERAN INDONESIAKEWAJIBAN UMUMPasal 1Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpahdokter.Pasal 2Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuaidengan standar profesi yang tertinggi.
  • 6. Pasal 3Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak bolehdipengaruhi oleh sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dankemandirian profesi.Pasal 4Setiap dokter harus menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat memujidiri.Pasal 5Tiap perbuatan atau nasehat yang mungkin melemahkan daya tahan psikis maupunfisik hanya diberikan untuk kepentingan dan kebaikan pasien, setelahmemperoleh persetujuan pasien.
  • 7. Pasal 6Setiap dokter harus senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan dan menerapkansetiap penemuan teknik atau pengobatan baru yang belum diuji kebenarannyadan hal-hal yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat.Pasal 7Seorang dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telahdiperiksa sendiri kebenarannya.Pasal 7aSeorang dokter harus dalam setiap praktik medisnya memberikan pelayananmedis yang kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya, disertairasa kasih sayang (compassion) dan penghormatan atas martabat manusia.Pasal 7 b
  • 8. Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dansejawatnya, dan berupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang dia ketahuimemiliki kekurangan dalam karakter atau kompetensi, atau yang melakukanpenipuan atau penggelapan, dalam menangani pasien.Pasal 7cSeorang dokter harus menghormati hak-hak pasien, hak-hak sejawatnya, dan haktenaga kesehatan lainnya, dan harus menjaga kepercayaan pasien.Pasal 7dSetiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidupmakhluk insani.Pasal 8Dalam melakukan pekerjaannya seorang dokter harus memperhatikan kepentinganmasyarakat dan memperhatikan semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh
  • 9. (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif), baik fisik maupunpsiko-sosial, serta berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yangsebenar-benarnya.Pasal 9Setiap dokter dalam bekerja sama dengan para pejabat di bidang kesehatan danbidang lainnya serta masyarakat, harus saling menghormati.Pasal 10Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala ilmu danketrampilannya untuk kepentingan pasien. Dalam hal ini ia tidak mampumelakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan, maka atas persetujuan pasien,ia wajib merujuk pasien kepada dokter yang mempunyai keahlian dalam penyakittersebut.Pasal 11
  • 10. Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada pasien agar senantiasadapat berhubungan dengan keluarga dan penasehatnya dalam beribadat dan ataudalam masalah lainnya.Pasal 12Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentangseorang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia.Pasal 13Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugasperikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain bersedia dan mampumemberikannya.KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP TEMAN SEJAWAT
  • 11. Pasal 14Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingindiperlakukan.Pasal 15Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dari teman sejawat, kecualidengan persetujuan atau berdasarkan prosedur yang etis.Pasal 16Setiap dokter harus memelihara kesehatannya, supaya dapat bekerja denganbaikPasal 17Setiap dokter harus senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan danteknologi kedokteran/kesehatan.
  • 12. PENJELASAN KODE ETIK KEDOKTERAN INDONESIAPASAL DEMI PASALPasal 1Sumpah dokter di Indonesia telah diakui dalam PP No. 26 Tahun 1960. Lafalini terus disempurnakan sesuai dengan dinamika perkembangan internal daneksternal protesi kedokteran baik dalam lingkup nasional maupuninternasional. Penyempurnaan dilakukan pada Musyawarah Kerja Nasional EtikKedokteran II tahun 1981, pada Rapat Kerja Nasional Majelis Kehormatan EtikaKedokteran (MKEK) dan Majelis Pembinaan dan Pembelaan Anggota (MP2A) tahun1993, dan pada Musyawarah Kerja Nasional Etik Kedokteran III, tahun 2001.Pasal 2
  • 13. Yang dimaksud dengan ukuran tertinggi dalam melakukan protesi kedokteranmutakhir, yaitu yang sesuai dengan perkembangan IPTEK Kedokteran, etikaumum, etika kedokteran, hukum dan agama, sesuai tingkat/jenjang pelayanankesehatan, serta kondisi dan situasi setempat.Pasal 3Perbuatan berikut dipandang bertentangan dengan etik1. Secara sendiri atau bersama-sama menerapkan pengetahuan dan ketrampilankedokteran dalam segala bentuk.2. Menerima imbalan selain dari pada yang layak, sesuai dengan jasanya,kecuali dengan keikhlasan dan pengetahuan dan atau kehendak pasien.3. Membuat ikatan atau menerima imbalan dari perusahaan farmasi/obat,perusahaan alat kesehatan/kedokteran atau badan lain yang dapat mempengaruhipekerjaan dokter.4. Melibatkan diri secara langsung atau tidak langsung untuk mempromosikanobat, alat atau bahan lain guna kepentingan dan keuntungan pribadi dokter.
  • 14. Pasal 4Seorang dokter harus sadar bahwa pengetahuan dan ketrampilan profesi yangdimilikinya adalah karena karunia dan kemurahan Tuhan Yang Maha Esa sematadengan demikian imbalan jasa yang diminta harus di dalam batas-batas yangwajar.Hal-hal berikut merupakan contoh yang dipandang bertentangan dengan Etika. Menggunakan gelar yang tidak menjadi haknya.b. Mengiklankan kemampuan, atau kelebihan-kelebihan yang dimilikinya baiklisan maupun dalam tulisan.Pasal 5Sebagai contoh, tindakan pembedahan pada waktu operasi adalah tindakan demikepentingan pasien.
  • 15. Pasal 6Yang dimaksud dengan mengumumkan ialah menyebarluaskan baik secara lisan,tulisan maupun melalui cara lainnya kepada orang lain atau masyarakat.Pasal 7 Cukup jelas.Pasal 7a Cukup jelas.Pasal 7b Cukup jelas.Pasal 7c Cukup jelas.Pasal 7d Cukup jelas.
  • 16. Pasal 8 Cukup jelas.Pasal 9 Cukup jelasPasal 10Dokter yang mempunyai keahlian dalam penyakit tersebut adalah dokter yangmempunyai kompetensi keahlian di bidang tertentu menurut dokter yang waktuitu sedang menangani pasien.Pasal 11 Cukup jelas.Pasal 12
  • 17. Kewajiban ini sering disebut sebagai kewajiban memegang teguh rahasiajabatan yang mempunyai aspek hukum dan tidak bersifat mutlak.Pasal 13Kewajiban ini dapat tidak dilaksanakan apabila dokter tersebut terancamjiwanyaPasal 14 Cukup jelas.Pasal 15Secara etik seharusnya bila seorang dokter didatangi oleh seorang pasienyang diketahui telah ditangani oleh dokter lain, maka ia segera memberitahudokter yang telah terlebih dahulu melayani pasien tersebut.Hubungan dokter-pasien terputus bila pasien memutuskan hubungan tersebut.
  • 18. Dalam hal ini dokter yang bersangkutan seyogyanya tetap memperhatikankesehatan pasien, yang bersangkutan sampai dengan saat pasien telahditangani oleh dokter lainhttp://www.mail-archive.com/dokter_umum@yahoogroups.com/msg02898.htmlMemulihkan Hubungan Pasien & Dokter yang Retak Januari 1, 2010Posted by teknosehat in Bioetik & Biohukum, HUKUM KESEHATAN, Pelayanan Kesehatan, TenagaKesehatan.trackbackMemulihkan Hubungan Pasien & Dokter yang RetakBilly N. <billy@hukum-kesehatan.web.id>Dalam kolom ‘Surat Pembaca’ di beberapa harian, mungkin kita membaca surat-surat yang berisipertentangan antara pasien dengan rumah sakit (RS) yang pernah merawatnya mengenai kepemilikan isirekam medik. Pasien menganggap isi rekam medik adalah miliknya, sementara RS menganggap pasienhanya berhak atas isi resume/ringkasannya saja. Dalam kasus Prita Mulyasari, masalah rekam medik punmenjadi pertentangan ketika pihak RS menolak memberikan rekam medik dengan lengkap.Kedua pendapat ini memiliki dasar hukum masing-masing. Pasal 47 UU no.29/2004 dengan jelasmenyebutkan bahwa isi medik milik pasien, sementara pasal 12 Permenkes no.269/2008 mereduksi hakpasien tersebut menjadi hanya isi ringkasannya saja. Menurut azas preferensi hukum, peraturan yanglebih tinggi mengalahkan yang lebih rendah (lex superiori derogat legi inferiori).Masalah ini sebenarnya bukan semata masalah hukum, tetapi adalah ‘puncak dari gunung es’ retaknyahubungan antara masyarakat sebagai pasien dengan dokter/RS. Ini mengakibatkan adanya perbedaancara pandang mengenai hubungan pasien dengan dokter/RS. Di satu sisi, masih banyak dokterberanggapan bahwa hubungannya dengan pasien adalah seperti hubungan orangtua-anak(paternalistik), dokter lebih mendominasi sehingga pasien dianggap tidak tahu apa-apa & cukupmenurut saja, sedangkan dokter dianggap ‘manusia setengah dewa’ yang tahu segalanya. Dalam polaini, dokter menganggap wajar jika pasien hanya berhak atas ringkasan rekam mediknya saja.
  • 19. Di sisi lain, sudah banyak pasien yang menganggap hubungannya dengan dokter adalah seperti klien-teknisi atau konsumen-produsen, di mana konsumen pelayanan kesehatan adalah ‘raja’. Dokter cukup‘memperbaiki’ tubuh & melayani kehendak pasien, karena telah dibayar mahal termasuk untuk mengisirekam medik. Sehingga wajar jika pasien berhak meminta semua isi rekam mediknya dalam pola ini.Kedua jenis hubungan tersebut sebenarnya bukan tipe hubungan yang tepat untuk pasien-dokter,karena tidak menjadi hubungan yang setara di antara keduanya. Pada hubungan paternalistik, dokterterkesan seenaknya dalam melayani pasien, pasien sering dianggap masalah yang harus cepatdiselesaikan atau semata makhluk biologis yang harus diobati. Pasien hanya dapat pasrah apalagi dalampola ini banyak yang biaya pengobatannya ditanggung oleh perusahaan atau negara.Sedangkan pada hubungan konsumen-produsen, pasien menjadi konsumen yang senang ‘berbelanja’dokter, mencari mana yang paling memuaskannya, jika diperlukan yang paling ahli sampai ke luarnegeri. Jika tidak sembuh atau dianggap kurang memuaskan pelayanannya, dokter dapat dituduhmelakukan malapraktik. Dalam pola ini, dokter pun menjadi penyedia jasa yang selektif, hanya maumelayani pasien yang mampu membayar sesuai tarif yang ditentukannya & berlomba menyediakanberbagai fasilitas yang diingini pasien.Dalam buku ‘Matters of Life and Death‘, pakar etika kedokteran John Wyatt menyatakan bahwa polahubungan yang baik untuk pasien & dokter sebenarnya adalah suatu hubungan ‘ahli-ahli’ (the expert-expert relationship), di mana terjadi suatu hubungan sejajar yang saling menghormati & percaya. Dasarpemikiran pola ini adalah dokter sebagai ahli dalam bidang kesehatan sementara pasien tentu ‘ahli’(yang paling mengetahui) keluhan, riwayat kesehatan, sampai gaya hidup pribadinya. Dalam pola ini,pasien tidak dianggap masalah atau kumpulan trilyunan sel sakit yang dapat diobati penyakitnya sesuaiprosedur standar atau perkembangan teknologi kedokteran terbaru. Namun pasien adalah manusiaseutuhnya yang unik sehingga diperlukan pendekatan pribadi untuk kondisi kesehatan yang mungkinsama dengan banyak pasien lain.Hubungan pasien & dokter dalam pola ini terjadi karena adanya aspek filantropis (mengasihi orang lain)dari dokter, bukan didasarkan pada aspek finansial belaka seperti pada pola konsumen-produsen.Sedangkan pasien dalam pola ini tidak hanya mencari pertolongan dokter ketika dalam kondisi sakit sajaseperti pada pola paternalistik, tetapi juga dalam kondisi sehat untuk mencegah penyakit, menjaga &meningkatkan derajat kesehatannya.Dengan pola ini, kepemilikan isi rekam medik bukanlah suatu hal yang perlu dipertentangkan & menjadirahasia bagi pasien yang kondisi tubuhnya tercatat di dalamnya. Karena dalam hubungan ini, isi rekammedik menjadi salah satu pengikat hubungan pasien-dokter, yaitu sejarah hubungan keduanya dalamusaha untuk menjaga & mencapai kesehatan pasien.Pola hubungan yang baik ini tentu bukan hanya menjadi kepentingan pasien & dokter semata, tetapimenjadi kepentingan pemerintah juga dalam usaha peningkatan kesehatan masyarakat. Pemerintahharus ikut mendukungnya dengan membuat peraturan perundangan yang tentunya tidak salingbertentangan, kebijakan yang mengutamakan pencegahan penyakit & peningkatan kesehatan, tidakmenjadikan bidang kesehatan sebagai usaha populis semata untuk mendapat dukungan di pemilu, &
  • 20. memasukkan pola hubungan yang baik ini dalam inti kurikulum pendidikan dokter di Indonesia. Denganhubungan pasien & dokter yang lebih baik, maka masyarakat dapat tetap sehat dalam membangunnegeri ini.(c)Hukum-Kesehatan.web.idhttp://hukumkes.wordpress.com/2010/01/01/memulihkan-hubungan-pasien-dokter-yang-retak/HAK PASIEN TERHADAP DOKTER ATAU RUMAH SAKITHAK PASIEN TERHADAP DOKTER ATAU RUMAH SAKITAkhir-akhir ini banyak dibicarakan di media massa masalah dunia kedokteran yang dihubungkan denganhukum. Bidang kedokteran yang dahulu dianggap profesi mulia, seakan-akan sulit tersentuh oleh orangawam, kini mulai dimasuki unsur hukum. Gejala ini tampak menjalar ke mana-mana, baik di dunia baratyang mempeloporinya maupun Indonesia. Hal ini terjadi karena kebutuhan yang mendesak akan adanyaperlindungan untuk pasien maupun dokternya.Salah satu tujuan dari hukum adalah untuk melindungi kepentingan pasien di samping mengembangkankualitas profesi dokter atau tenaga kesehatan. Keserasian antara kepentingan pasien dan kepentingantenaga kesehatan, merupakan salah satu penunjang keberhasilan pembangunan sistem kesehatan. Olehkarena itu perlindungan hukum terhadap kepentingan-kepentingan itu harus diutamakan.Di satu pihak pasien menaruh kepercayaan terhadap kemampuan profesional tenaga kesehatan. Di lainpihak karena adanya kepercayaan tersebut seyogianya tenaga kesehatan memberikan pelayanankesehatan menurut standar profesi dan berpegang teguh pada kerahasiaan profesi.Kedudukan dokter yang selama ini dianggap lebih "tinggi" dari pasien disebabkan keawaman pasienterhadap profesi kedokteran. Dengan semakin berkembangnya masyarakat, hubungan tersebut secaraperlahan-lahan mengalami perubahan. Kepercayaan kepada dokter secara pribadi berubah menjadikepercayaan terhadap keampuhan ilmu kedokteran dan teknologi.Agar dapat menanggulangi masalah secara proporsional dan mencegah apa yang dinamakan malpraktekdi bidang kedokteran, perlu diungkap hak dan kewajiban pasien. Pengetahuan tentang hak dankewajiban pasien diharapkan akan meningkatkan kualitas sikap dan tindakan yang cermat dan hati-hatidari tenaga kedokteran.
  • 21. Klien mempunyai hak legal yang diakui secara hukum untuk mendapatkan pelayanan yang aman dankompeten. Perhatian terhadap legal dan etik yang dimunculkan oleh konsumen telah mengubah sistempelayanan kesehatan.Kesadaran masyarakat terhadap hak-hak mereka dalam pelayanan kesehatan dan tindakan yangmanusiawi semakin meningkat, sehingga diharapkan pihak pemberi pelayanan kesehatan dapatmemberikan pelayanan yang aman, efektif dan ramah terhadap mereka. Jika harapan ini tidakterpenuhi, maka masyarakat akan menempuh jalur hukum untuk membela hak-haknya.Hubungan Antara Pasien Dengan Tenaga MedisMenurut Kartono, hubungan pasien dan dokter saat ini tidak lagi feodalistik di mana pasien biasanyapasrah dan menyerah pada dokter. Kini pasien semakin sadar bahwa dirinya sebagai konsumenmengeluarkan biaya untuk mendapat pelayanan yang baik dari dokter sehingga ketika hasilnya tidaksesuai dengan harapan maka konflik sangat mungkin terjadi.Dalam era kesadaran konsumen sekarang selain pasien yang semakin sadar akan haknya, dokter punmembutuhkan pasien walau mereka lebih sering membantah hal ini.Pasien pada umumnya ingin cepat sembuh dan mendapatkan pelayanan seperti yang diharapkan. Selainitu pasien juga ingin agar setiap pertanyaannya dijawab tuntas. Sementara dokter punya harapanpasiennya akan menurut dan tidak banyak bertanya. Perbedaan ini, menurut dia, merupakan salah satupenyebab terjadinya konflik antara dokter dan pasien.Menghadapi hal tersebut, lanjut Kartono, satu hal yang harus disadari dokter adalah keadaan emosipasien. Setiap pasien yang datang ke dokter, apalagi ke rumah sakit, akan merasa stres. Hal inidisebabkan keadaan penyakitnya dan lingkungan rumah sakit yang berbeda dengan dirinya. Denganbegitu pasien lebih cenderung memakai emosi dalam bertindak. Dan jika sikap dokter tidak tepat, makapasien akan mudah marah dan tersinggung.Konsep sakit yang berbeda, menurut Kartono, merupakan faktor lain penyebab konflik. Bagi pasien, adayang menganggap sakit itu sebagai ancaman serius, namun ada juga yang menganggap sakit itu sebagaipeluang untuk mendapatkan perhatian lebih dari teman atau keluarga. Bahkan ada yang menganggapsakit kesempatan untuk bolos kerja. Sementara bagi dokter, penyakit seorang pasien hanyalah salahsatu problem di antara sekian banyak pasien lainnya. Sehingga pendekatan yang dipakai dokterumumnya teknikal rasional. Jika pasien panik melihat darah keluar dari tubuhnya dan ingin segeramasuk ICU, dokter belum tentu berpikir serupa.Semua perbedaan tersebut, kata Kartono, dapat diselesaikan melalui komunikasi dan itu harus dimulaidari dokter. Kadang klaim seorang pasien itu bukan berpangkal dari masalah benar atau salah, tapi darirasa ketidakpuasan. Untuk itu tidak ada jalan selain berusaha mengerti dan berkomunikasi denganpasien dengan baik.Konflik antara dokter dan pasien tidak perlu terjadi seandainya dokter benar-benar memahami hakpasien. Menurut salah seorang anggota dewan pembina RS Honoris, Doktor Herkutanto, hanya ada dua
  • 22. dasar yang membuat dokter bisa menolak memberi informasi medis pada pasiennya. Pertama jikamembahayakan jiwa sang pasien dan kedua jika pasiennya tidak cakap, misalnya sakit jiwa atau masihanak-anak.Kasus hukum dalam hubungan dokter dan pasien terjadi karena adanya ketidaksesuaian antarakeharusan dan kenyataan. Disanalah letak pentingnya medical record untuk penyesuaian. Sayangnyahingga kini persepsi tentang medical record itu masih salah, banyak dokter yang beranggapan bahwarekam medis hanyalah catatan pengingat bagi dirinya. Untuk menghindari hal tersebut maka hubungandokter dengan pasien perlu dibina dengan baik.Pola hubungan pasien dengan dokter secara umum dapat dibagi atas tiga macam bentuk :1.Priestly model (paternalistic), dalam hubungan ini dokter menjadi lebih dominan dibanding denganpasien.2.Collegial model, dalam hubungan antara pasien dengan dokter lebih bersifat sebagai mitra.3.Engineering model, dalam hubungan ini pasien menjadi lebih dominan dibanding dengan dokter.Hak PasienBerdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Pasien sebagaikonsumen kesehatan memiliki perlindungan diri dari kemungkinan upaya kesehatan yang tidakbertanggungjawab seperti penelantaran. Pasien juga berhak atas keselamatan, keamanan, dankenyamanan terhadap pelayanan jasa kesehatan yang diterima. Dengan hak tersebut maka konsumenakan terlindungi dari praktik profesi yang mengancam keselamatan atau kesehatannya.Hak pasien yang lainnya sebagai konsumen adalah hak untuk didengar dan mendapatkan ganti rugiapabila pelayanan yang didapatkan tidak sebagaimana mestinya. Masyarakat sebagai konsumen dapatmenyampaikan keluhannya kepada pihak rumah sakit sebagai upaya perbaikan rumah sakit dalampelayanannya. Selain itu konsumen berhak untuk memilih dokter yang diinginkan dan berhak untukmendapatkan opini kedua (second opinion), juga berhak untuk mendapatkan rekam medik (medicalrecord) yang berisikan riwayat penyakit pasien.Hak-hak pasien juga dijelaskan pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Pasal 14undang-undang tersebut mengungkapkan bahwa setiap orang berhak untuk mendapatkan kesehatanoptimal. Pasal 53 menyebutkan bahwa setiap pasien berhak atas informasi, rahasia kedokteran, dan hakopini kedua. Pasal 55 menyebutkan bahwa setiap pasien berhak mendapatkan ganti rugi karenakesalahan dan kelalaian petugas kesehatan.Ikatan dokter Indonesia (IDI) pada akhir Oktober 2000 juga telah berikrar tentang hak dan kewajibanpasien dan dokter, yang wajib untuk diketahui dan dipatuhi oleh seluruh dokter di Indonesia. Salah satuhak pasien yang utama dalam ikrar tersebut adalah hak untuk menentukan nasibnya sendiri, yang
  • 23. merupakan bagian dari hak asasi manusia, serta hak atas rahasia kedokteran terhadap riwayat penyakityang dideritanya.Hak menentukan nasibnya sendiri berarti hak memilih dokter, perawat dan sarana kesehatannya danhak untuk menerima, menolak atau menghentikan pengobatan atau perawatan atas dirinya, tentu sajasetelah menerima informasi yang lengkap mengenai keadaan kesehatan atau penyakitnya.Sementara itu, pasien juga memiliki kewajiban, yaitu memberikan informasi yang benar kepada dokterdengan i’tikad baik, mematuhi anjuran dokter atau perawat, baik dalam rangka diagnosis, pengobatanmaupun perawatannya, dan kewajiban memberi imbalan jasa yang layak. Pasien juga mempunyaikewajiban untuk tidak memaksakan keinginannya agar dilaksanakan oleh dokter apabila ternyataberlawanan dengan kebebasan dan keluhuran profesi dokter.Proses untuk ikut menentukan tindakan apa yang akan dilakukan terhadap pasien setelah mendapatkancukup informasi, dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah kesepakatan yang jelas (informedconsent). Di Indonesia ketentuan tentang informed consent ini diatur lewat Peraturan PemerintahNomor 18 tahun 1981 dan Surat Keputusan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Nomor319/PB/A4/88. Pernyataan IDI tentang informed consent ini adalah :Manusia dewasa sehat jasmani dan rohani berhak sepenuhnya menentukan apa yang hendak dilakukanterhadap tubuhnya. Dokter tidak berhak melakukan tindakan medis yang bertentangan dengankemauan pasien, walaupun untuk kepentingan pasien sendiri.Semua tindakan medis memerlukan informed consent secara lisan maupun tertulis.Setiap tindakan medis yang mempunyai risiko cukup besar, mengharuskan adanya persetujuan tertulisyang ditandatangani pasien, setelah sebelumnya pasien memperoleh informasi yang cukup tentangperlunya tindakan medis yang bersangkutan serta risikonya.Untuk tindakan yang tidak termasuk dalam butir 3, hanya dibutuhkan persetujuan lisan atau sikap diam.Informasi tentang tindakan medis harus diberikan kepada pasien, baik diminta maupun tidak dimintaoleh pasien. Tidak boleh menahan informasi, kecuali bila dokter menilai bahwa informasi tersebut dapatmerugikan kepentingan kesehatan pasien. Dalam hal ini dokter dapat memberikan informasi kepadakeluarga terdekat pasien. Dalam memberi informasi kepada keluarga terdekat dengan pasien, kehadiranseorang perawat atau paramedik lain sebagai saksi adalah penting.Isi informasi mencakup keuntungan dan kerugian tindakan medis yang direncanakan akan diambil.Informasi biasanya diberikan secara lisan, tetapi dapat pula secara tertulis.http://www.m2pc.web.id/2010/06/hak-pasien-terhadap-dokter-atau-rumah.htmlhttp://ppnsdepkes.blogspot.com/search?q=PASAL-PASAL+PENYIDIKAN+DAN+KETENTUAN+PIDANA+UU+KESEHATAN+2009
  • 24. MUKADIMAH KODE ETIK KEDOKTERAN GIGIMengingat bahwa profesi dokter gigi merupakan tugas yang mulia yang tidak terlepas dari fungsikemanusiaan dalam bidang kesehatan, Maka memiliki kode etik yang dijiwai oleh nilai-nilai Pancasiladan Undang-Undang Dasar 1945.Seorang dokter gigi dalam menjalankan profesinya perlu membawa diri dalam sikap dan tindakan yangterpuji. Ia harus bertindak dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab, baik dalam hubungannyaterhadap penderita, masyarakat,teman sejawat, maupun profesinya.Dengan rakhmat Tuhan Yang Maha Esa serta didorong oleh keinginan luhur untuk mewujudkanmartabat, wibawa dan kehormatan [rofesi dokter gigi, maka dokter gigi yang tergabung dalam wadahPersatuan Dokter Gigi Indonesia dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab merumuskan Kode EtikKedokteran Gigi Indonesia yang wajib dihayati, ditaati, dan diamalkan, oleh setiap dokter yangmenjalankan profesinya di wilayah hukum Indonesia.Mukadimah merupakan kode etik uang dijiwai oleh nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945Setiap dokter gigi harus bertindak dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab, baik dalam hubunganapapunPara dokter gigi di wilayah hukum Indonesia dan tergabung dalam wadah Persatuan Dokter GigiIndonesia wajib menghayati, mentaati, dan mengamalkan Kode Etik Kedokteran Gigi Indonesia.BAB 1KEWAJIBAN UMUMSebagai tenaga medis, kita wajib untuk mengamalkan sumpah/janji dokter gigi Indonesiamemaksimalkan kemampuan yang dimiliki dalam melaksanakan kewajiban sebagai dokter gigi.
  • 25. menjunjung tinggi martabat, harga diri sebagai seorang dokter gigi.setiap dokter dalam melaksanakan prakteknya harus sesuai dengan SPMsegala tindakan yang dilakukan seorang dokter harus dapat dipertanggungjawabkan.mampu bekerja sama dengan tenaga medis yang lain untuk mempermudah dalam melakukan rujukandan konsultasikita wajib untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa motivasi dan pendidikanikut berperan aktif dalam meningkatkan kesehatan masyarakat.BAB IIwajib memberikan pelayanan semaksimal mungkin kepada panderita.dokter dalam ketidakmampuanya wajib berkonsultasi kpd teman sejawat yang lebih ahli (Bila kitamelakukan pencabutan dan terjadi kecelakaan seperti akar teringgal kita wajib untukmerujuk/berkonsultasi kepada dokter yang lebih ahli.)seorang dokter wajib menjaga kerahasiaan pasien (menjaga rekam medik)kita wajib untuk memberikan bantuan darurat yang diperlukanBAB IIIKEWAJIBAN DOKTER GIGI TERHADAP TEMAN SEJAWATNYASetiap dokter gigi harus saling menghormati dan menghargai dokter gigi lain, sebagaimana ia ingindiperlakukan.Contoh: Tidak menyebarkan fitnah mengenai teman sejawatnya kepada orang lain demi kepentingansendiri.Setiap dokter gigi tidak diperkenankan mengambil alih suatu kasus dari seorang pasien tanpapersetujuan.
  • 26. BAB IVKEWAJIBAN DOKTER GIGI TERHADAP DIRI SENDIRISetiap dokter gigi wajib meningkatkan kemampuannya sesuai kemajuan teknologi yang berkembangsaat ini.Contoh: Dengan aktif mengikuti dalam seminar yang diadakan.Setiap dokter gigi harus peduli akan kesehatan dirinya, agar dapat bekerja dengan baik.Bab VPenutupKODEKI merupakan jiwa dan perbuatan untuk segala zaman yang menjadi landasan kehidupan danlansadan dalam melaksanakan pekerjaan. Serta untuk setiap insan yang selalu mengumandangkan “APAYANG TIDAK KAU INGINKAN ORANG LAIN PERBUAT TERHADAPMU, JANGAN PERBUAT ITU TERHADAPORANG LAIN”.Karena itu setiap dokter gigi Indonesia harus menjaga nama baik profesi dengan menjauhkan diri dariperbuatan yang bertentangan dengan ilmu, moral, dan etik.http://littleaboutmyworld.wordpress.com/2009/07/18/mukadimah-kode-etik-kedokteran-gigi/SUARA PEMBARUAN DAILYIlmu Kedokteran TransparanIlmu kedokteran adalah ilmu yang "transparent", "accountable", dan "auditable". Jika ada dokter yangmarah atau tidak mau menjawab jika diminta untuk menjelaskan mengenai obat atau tindakan medis
  • 27. yang diberikan kepada pasien, itu suatu tanda bahwa dokter tersebut menjalankan prakteknya secaratidak profesional.Demikian salah satu pernyataan yang dikeluarkan Iwan Darmansjah, Guru Besar Farmakologi FKUI,sewaktu memberikan presentasinya di hadapan sekitar 130 hadirin dari FKUI (dekan, guru besar, alumni,mahasiswa), dokter (praktisi, perusahaan farmasi, lembaga konsumen kesehatan, rumah sakit, klinik),masyarakat awam dan pers.Sebagai insan profesional, dokter harus mengedepankan penggunaan obat secara lege artis. Lege artisyang dimaksud mengandung unsur-unsur etika dan moral, kejujuran dalam diri sendiri, sertakerasionalan. Demikian dikemukakan guru besar bidang obat-obatan dari FKUI, sewaktu memberikanceramah tunggal di Aula FKUI, 23 Januari 2002, selama sekitar 1 jam 20 menit.Mengutip pernyataan dari George W Merck, bekas CEO dan anak pendirinya pabrik obat Merck (AS) itu,profesor yang berusia 71 tahun tersebut menyitir bahwa obat adalah untuk umat manusia, sedangkankeuntungan (profit) akan mengikutinya. Semakin diingat prinsip itu semakin besar rezekinya akanmengikuti. Merck dijuluki sebagai industri yang paling etis oleh majalah Fortune.Seyogianya para profesional juga meletakkan kepentingan penderita di atas kepentingan diri sendiri,dan memberikan yang terbaik bagi pasiennya. Namun menurut pengamatan Prof Iwan, dasar itu telahdilanggar di seluruh dunia. Dengan nada penyesalan, kata Prof Iwan, Indonesia merupakan pelanggaryang tergolong "sangat" bila nilai-nilai Indonesia dibandingkan dengan nilai universal. Sehingga misalnyaUniversalhttp://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache%3AhWvULHZ3Y0kJ%3Awww.iwandarmansjah.web.id%2Fmiscellaneous.php%3Fid%3D29+pengertian+lege+artisIlmu Farmasi Kedokteran (IFK) merupakan suatu disiplin ilmu yang mengkaji penerapan pengobatankepada penderita secara komprehensif yang tertulis dalam resep yang lege artis dan rasional. Yangdimaksud dengan lege artis adalah benar/ baik (jelas dan lengkap) dan mematuhi kaidah/ pedomanpenulisannya.

×