Penerapan Model Pembelajaran Diskusi Kelompok dengan Tutor Sebaya (Ahmad Hakim)
1
Penerapan Metode Pembelajaran Diskusi Ke...
2 Pevote, Vol.095, No.1, Juli 2012 : 1-10
Pendahuluan
Pendidikan merupakan salah satu investasi
jangka panjang yang memerl...
Penerapan Model Pembelajaran Diskusi Kelompok dengan Tutor Sebaya (Ahmad Hakim)
3
pada umumnya digunakan untuk menilai
dan...
4 Pevote, Vol.095, No.1, Juli 2012 : 1-10
mendengarkan, berkonsentrasi dan
memahami apa yang telah ia pelajari.
Penjelasan...
Penerapan Model Pembelajaran Diskusi Kelompok dengan Tutor Sebaya (Ahmad Hakim)
5
pada siklus kedua. Jika guru atau peneli...
6 Pevote, Vol.095, No.1, Juli 2012 : 1-10
dengan subjek penelitian diambil siswa
kelas X TAV ( Audio Video ) 3 semester
ge...
Penerapan Model Pembelajaran Diskusi Kelompok dengan Tutor Sebaya (Ahmad Hakim)
7
Tahap perencanaan, siklus II dilaksanaka...
8 Pevote, Vol.095, No.1, Juli 2012 : 1-10
Siklus I
Dari hasil penilaian pre-test dan post-test
pada awalnya banyak siswa y...
Penerapan Model Pembelajaran Diskusi Kelompok dengan Tutor Sebaya (Ahmad Hakim)
9
Table 1.1 Peningkatan hasil belajar sisw...
10 Pevote, Vol.095, No.1, Juli 2012 : 1-10
berdasarkan penilaian guru kolaborator
terhadap peneliti bahwa peneliti mengala...
Penerapan Model Pembelajaran Diskusi Kelompok dengan Tutor Sebaya (Ahmad Hakim)
11
Zemansky, Mark W, dan Sears Francis.
19...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Jurnal

275 views
206 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
275
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
4
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Jurnal

  1. 1. Penerapan Model Pembelajaran Diskusi Kelompok dengan Tutor Sebaya (Ahmad Hakim) 1 Penerapan Metode Pembelajaran Diskusi Kelompok dengan Tutor Sebaya dalam Upaya Peningkatan Hasil Belajar Dasar-dasar Sinyal Audio Siswa Kelas X TAV SMK Negeri 5 Jakarta Ahmad Hakim Alumni 2008 Pendidikan Teknik Elektronika Bambang Dharmaputra Dosen Universitas Negeri Jakarta Program Studi Pendidikan Teknik Elektronika Mufti Ma’sum Dosen Universitas Negeri Jakarta Program Studi Pendidikan Teknik Elektronika Wenny Safitri Mahasiswi Program Studi Pendidikan Teknik Elektronika No. Reg 5215116384 Abstract Research aim to increase result of learning Dasar-dasar Sinyal Audio with study method Group Discussion with Tutor of the same age. Research is done in SMK Negeri 5 Jakarta in March sd. May 2012. Research is done with Penelitian Tindakan Kelas (PTK), what observed by collaborator teacher as discussion friend, study method Group Discussion with Tutor of the same age. Subject taken is based Signal Audio. Research subject taken is class X Technical Audio Video (TAV) 3 in school year 2011/2012. Researcher takes three cycles in four meetings with three indicators. In cycle I happened two meetings with result in meeting first of class gets value 79,3 (meeting mean value first and second) with 93% completed because there are 2 student assessing below/under Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) value KKM 70. In cycle II gets value 80,3 with 96% completed because there are 1 student assessing below/under KKM, in cycle III gets value 88,4 with 100% completed. Out of student given enquette , result of of 64,29% express agreeing (satisfies) study method Group Discussion with Tutor of the same age can increase result of learning to do based Signal Audio at class X TAV SMK Negeri 5 Jakarta in school year 20111/2012. Counted 31,35% express hardly agreeing as for 13,48%, 3.97% express disagreeing, 0,39% express hardly disagreeing. Result of research concludes that the students agree (satisfies) study method of Group Discussion with Tutor of the same age can increase result of learning Based Signal Audio as according of Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 70 at class X TAV SMK Negeri 5 Jakarta. Kata kunci : peningkatan hasil belajar, metode pembelajaran diskusi kelompok dengan tutor sebaya, KKM sebesar 70, para siswa setuju (merasa puas).
  2. 2. 2 Pevote, Vol.095, No.1, Juli 2012 : 1-10 Pendahuluan Pendidikan merupakan salah satu investasi jangka panjang yang memerlukan usaha dan dana yang cukup besar. Hal ini diakui oleh semua orang tua. Investasi jangka panjang ini harus ditata, disiapkan dan diberikan saran amupun prasarana dalam arti modal material yang cukup besar. SMK Negeri 5 Jakarta merupakan salah satu bagian dari pendidikan formal yang memeliki beberapa program studi diantaranya Audio Video. Program studi Audio Video mempunyai beberapa standar kompetensi salah satu diantaranya adalah Dasar-dasar sinyal Audio, berdasarkan pengamatan peneliti pada saat melakukan program pengenalan lapangan di SMK Negeri 5 Jakarta. Ketika guru menggunakan metode ceramah siswa cenderung bosan atau ketika guru tidak mengadakan praktek menerapkan dasa-dasar sinyal audio membuat siswa jenuh dalam belajar dan data ulangan kelas X TAV 1 kompetensi dasar menjelaskan decibel tahun ajaran 2010/2011 nilai rata- rata siswa 66,17. Ini merupakan suatu permasalahan yang harus diselesaikan Untuk mengatasinya perlu diupayakan suatu penelitian tindakan kelas (action research) yang dilaksanakan oleh peneliti dengan dibantu guru kolaborator yaitu guru yang mengajarkan dasar-dasar sinyal Audio di SMK Negeri 5 Jakarta. Kerangka Teoretis, Keragka Berpikir dan Hipotesis Tindakan Kerangka teoretis Belajar adalah suatu perubahan tingkah laku yang relative menetap yang dihasilkan dari pengalaman masa lalu ataupun dari pembelajaran yang bertujuan / direncanakan . Belajar adalah suatu perubahan didalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi berupa kecakapan sikap, kebiasaan kepribadian, atau suatu pengertian menurut Eveline Siregar (2010:4) Aspek-aspek yang terkandung dalam belajar, 1) bertambahnya pengetahuan, 2) adanya kemampuan mengingat dan mereproduksi, 3) adanya penerapan pengetahuan 4) menyimpulkan makna, 5) menafsirkan dan mengaitkannya dengan realitas dan 6) adanya perubahan personal. Ciri-ciri belajar yaitu 1) adanya kemampuan baru atau perubahan 2) perubahan itu tidak berlangsung sesaat saja melainkan menetap atau dapat disimpan 3) perubahan terjadi tidak begitu saja harus dengan usaha 4) perubahan tidak semata-mata disebabkan oleh pertumbuhan fisik / kedewasaan, tidak karena kelelahan atau penyakit. Seseorang dikatakan telah belajar apabila sudah terjadi suatu perubahan pada dirinya menurut Eveline Siregar (2010:4). Hasil belajar Hasil belajar merupakan indikator dari keberhasilan pencapaian pengajaran yang ditetapkan dalam sistem pendidikan nasional. Penilaian hasil belajar adalah salah satu prosedur yang digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai unjuk kerja (Performance) siswa atau seberapa jauh siswa dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Tes
  3. 3. Penerapan Model Pembelajaran Diskusi Kelompok dengan Tutor Sebaya (Ahmad Hakim) 3 pada umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar siswa, terutama hasil belajar kognitif. Hasil belajar merupakan sebuah perilaku berupa pengetahuan, keterampilan, sikap, informasi dan strategi kognitif yang baru dan diperoleh siswa setelah berinteraksi dengan lingkungan dalam suatu suasana atau kondisi pembelajaran. Penelitian Tindakan Kelas bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran dasar- dasar sinyal Audio pada kompetensi dasar memahami decibel. Berdasarkan teori yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan sebuah perilaku berupa pengetahuan, keterampilan, sikap, informasi, dan strategi kognitif yang baru dan diperoleh siswa setelah berinteraksi dengan lingkungan dalam suatu suasana atau kondisi pembelajaran. Metode pembelajaran diskusi kelompok Diskusi merupakan suatu proses penglihatan dua atau lebih individu yang berinteraksi secara verbal dan saling berhadapan muka mengenai tujuan atau sasaran yang sudah ditentukan melalui cara tukar menukar informasi, mempertahankan pendapat atau pemecahan masalah. Metode Diskusi Metode diskusi adalah salah satu cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mengadakan perbincangan ilmiah. Diskusi yang baik bukan semata timbul dari peran guru akan lebih tepat apabila timbul dari murid setelah memahami masalah dan situasi yang dihadapinya. Guru dapat memberikan arahan dalam diskusi menurut Taniredja (2011:23) Beberapa kelebihan metode diskusi kelompok, 1) memungkinkan adanya interaksi antara guru dengan siswa 2) guru dapat menilai pemahaman siswa terhadap suatu konsep apakah mereka salah mengerti atau memahami konsep tersebut. Maksud metode diskusi dalam proses pembelajaran yaitu 1) melibatkan murid sebagai bagian komponen system 2) menstimulasi dan memotivasi siswa 3) melatih siswa agar berpikir kritis dan menganalisa dan 4) mengembangkan kemampuan bekerja sama. Tutor sebaya ( pemimpin diskusi ) adalah seseorang yang bertugas memimpin diskusi agar dapat berjalan dengan baik dan benar. Metode ini dilakukan dengan cara memberdayakan kemampuan siswa yang memiliki daya serap yang tinggi . Peran guru dalam metode belajar tutor sebaya adalah sebagai pengawas kelancaran pelaksaan metode ini dengan memberikan pengarahan. Tutor sebaya merupakan salah satu strategi pembelajaran untuk membantu memenuhi kebutuhan peserta didik. Tutor sebaya merupakan pendekatan kooperatif bukan kompetitif. Tutor sebaya akan bangga terhadap perannya dan juga belajar dari pengalamannya. Tutor sebaya akan memperkuat apa yang telah dipelajari dan diperolehnya. Atas tanggungjawab yang telah dibebankan kepadanya. Ketika siswa belajar dengan tutor sebaya peserta didik juga mengembangkan kemampuan untuk
  4. 4. 4 Pevote, Vol.095, No.1, Juli 2012 : 1-10 mendengarkan, berkonsentrasi dan memahami apa yang telah ia pelajari. Penjelasan dengan tutor sebaya akan lebih mungkin berhasil daripada guru karena mereka lebih memandang dari sudut pandang mereka dengan bahasa mereka sendiri. Subyek atau tenaga yang memberikan bimbingan tutorial yang biasa disebut tutor. Seorang tutor dapar berasal dari guru atau pengajar, pejabat structural, atau bahkan siswa yang telah dipilih guru yang ditugaskan untuk membantu teman- temannya dalam belajar di kelas. Siswa yang dipilih guru adalah teman sekelas yang memiliki kemampuan lebih cepat memahami materi yang diajarkan, tidak hanya itu tutor tersebut harus bisa menyampaikan materi yang diajarkan kepada teman-temannya. Tutor sebaya adalah seseorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk oleh guru sebagai pembantu guru dalam melakukan bimbingan terhadap kawan sekelas. Untuk menentukan seorang tutor ada beberapa criteria yang harus dimiliki seorang yaitu siswa yang dipilih nilai prestasi belajarnya lebih besar atau sama dengan delapan, dapat memberikan bimbingan dan penjelasan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar dan memiliki kesabaran serta kemampuan memotivasi siswa dalam belajar. Beberapa kriteria yang harus dimiliki seorang tutor di dalam kelas yaitu tutor dapat diterima atau disetujui oleh siswa yang mendapat program perbaikan, sehingga siswa tidak akan takut bertanya, tutor dapat menerangkan bahan perbaikan yang dibutuhkan oleh siswa yang menerima program perbaikan, tutor tidak tinggi hati, kejam atau keras hati terhadap sesama teman,tutor mempunyai daya kreativitas yang cukup untuk memberikan bimbingan yaitu dapat meerangkan pelajaran kepada temannya yang lain. Dalam mata pelajaran dasar sinyal Audio terdapat kompetensi dasar III mengenai Decibel yang terdiri dari 1) menjelaskan Decibel sebagai satuan internasional bunyi. 2) menghitung rasio satuan listrik berdasarkan sinyal output terhadap sinyal input suatu penguat dalam satuan Decibel (dB) 3) mengukur internsitas bunyi dengan Handphone berbasis Android dan komputer menggunakan aplikasi sound meter. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ialah penelitian tindakan (action research) yang dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelas. Penelitian Tindakan Kelas harus tertuju atau mengenai hal-hal terjadi di dalam kelas. Pada intinya PTK bertujuan untuk memperbaiki berbagai persoalan nyata dan praktis dalam peningkatan mutu pembelajaran di kelas yang dialami langsung dalam interaksi antara guru dengan siswa yang sedang belajar adalah pengertian PTK menurut Arikunto (2010:58). Pada umumnya kegiatan yang dilakukan pada siklus kedua mempunyai berbagai tambahan perbaikan dari tindakan terdahulu yang tentu saja ditunjukkan untuk berbagai hambatan atau kesulitan yang ditemukan
  5. 5. Penerapan Model Pembelajaran Diskusi Kelompok dengan Tutor Sebaya (Ahmad Hakim) 5 pada siklus kedua. Jika guru atau peneliti tidak merasa puas maka peneliti dapat melakukan siklus ketiga. Karena tidak ada batasan untuk melakukan siklus yang berulang-ulang, tergantung rasa puas yang telah didapat peneliti setelah melakukan beberapa siklus. Konsep pokok PTK terdiri dari empat komponen yaitu perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing) dan refleksi (reflecting). Hubungan ke- empat komponen itu dipandang sebagai satu siklus. Siklus tersebut dilakukan berulang- ulang untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Siklus pertaman dijadikan patokan perbaikan siklus kedua dan seterusnya dengan konsep PTK yang sama. Gambar 1.1 Tahap-tahap PTK Kerangka Berpikir Metode pembelajaran merupakan salah satu komponen dalam pembelajaran yang mempunyai arti kegiatan-kegiatan guru selama proses pembelajaran berlangsung. Guru perlu untuk memilih metode apa yang sesuai dengan materi yang sedang diajarkan kepada siswa karena jika salah memilih metode pembelajaran yang tepat maka akan berakibat pada kurang efektifnya proses pembelajaran yang berlangsung. Metode pembelajaran kelompok dengan tutor sebaya mempunyai strategi pembelajaran penerapan bimbingan antar teman. Melalui metode ini siswa diajak untuk mandiri, dilatih kemampuan optimalnya untuk menyerap informasi ilmiah yang dicari. Dilatih untuk menjelaskan temuannya kepada pihak lain dan memecahkan masalah sendiri. Jadi metode belajar diskusi kelompok dengan tutor sebaya, siswa diajak berpikir dan memahami materi pelajaran, tidak hanya mendengar, menerima dan mengingat saja Metodologi penelitian Tujuan penelitian tindakan kelas adalah untuk meningkatkan hasil belajar dasar- dasar sinyal audio pada kompetensi dasar decibel dengan metode pembelajaran diskusi kelompok dengan tutor sebaya kelas X TAV 3 di SMK Negeri 5 Jakarta tahun ajaran 2011-2012. Penelitian tindakan kelas dilaksanakan pada bulan Maret-Mei 2012 di SMK Negeri 5 pada kelas X TAV 3 Jakarta semester genap tahun ajaran 2011-2012 Perencanaan Refleksi Tindakan Pengamatan
  6. 6. 6 Pevote, Vol.095, No.1, Juli 2012 : 1-10 dengan subjek penelitian diambil siswa kelas X TAV ( Audio Video ) 3 semester genap tahun ajaran 2011-2012 yang berjumlah 29 siswa yang terdiri dari 27 siswa laki-laki dan 2 siswa perempuan. Prosedur atau siklus penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas metode Kurt Lewin. Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan pada mata pelajaran dasar- dasar sinyal audio yang terdiri dari tiga kali pertemuan dan terdapat tiga indikator sehingga ada tiga siklus yang dilaksanakan. Tahap perencanaan, peneliti membuat perencanaan tindakan meliputi perencanaan umum dan tindakan khusus. Perencanaan umum merupakan perencanaan tindakan yang disusun untuk keseluruhan aspek sedangkan perencanaan khusus merupakan perencanaan untuk masing-masing siklus. Tahap tindakan, peneliti menyusun Rencana Pelaksanan Pembelajaran (RPP). Kegiatan tersebut terdiri dari tiga siklus yang dilakukan dalam pertemuan, setiap pertemuannya dilaksanakan 3 jam pelajaran (135 menit). Tahap pengamatan, kegiatan pengamatan sekaligus melaksanakan tindakan. Peneliti mengumpulkan data dengan IPPP, lembar kerja siswa dan soal-soal yang dikerjakan. Tahap refleksi, setelah melakukan observasi peneliti memproses data yang telah diperoleh kemudian mendiskusikannya dengan guru kolaborator. Tujuan dilaksanakannya refleksi adalah mengingat dan merenungkan kembali suatu tindakan persis seperti yang telah dicatat dalam observasi. Refleksi yang sudah dilakukan berguna untuk siklus berikutnya. Hasil penelitian dan pembahasan Deskripsi data hasil penelitian Siklus I Tahap perencanaan, peneliti melaksanakan siklus I pada tanggal 11 Mei 2012 berdasarkan silabus dan RPP yang telah dibuat. Sebelum melaksanakan kegiatan belajar mengajar peneliti membuat RPP sebagai pedoman mengajar dan menyiapkan pre-test untuk mengetahui kemapuan dasar siswa. Siswa dikatakan berhasil bila siswa mengalami peningkatan dalam mengerjakan mengerjakan soal-soal dan sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 70 Tahap tindakan siklus I dilaksanakan sesuai dengan yang direncanakan, pertemuan tanggal 11 Mei 2012 dan dihadiri oleh 26 siswa serta didampingi guru kolaborator. Tahap pengamatan, selama guru memperhatikan situasi dan kondisi para siswa, guru juga mengamati hasil dari pre- test dan post-test dalam pertemuan ke-1 maupun ke-2 kemudian juga hasil dari tugas kelompok. Tahap refleksi, hasil yang didapatkan siswa mengalami peningkatan dalam hasil belajar. Dalam kerja kelompok belum semua siswa aktif. Dalam mengerjakan tugas siswa belum dapat memanfaatkan waktu semaksimal mungkin. Siklus II
  7. 7. Penerapan Model Pembelajaran Diskusi Kelompok dengan Tutor Sebaya (Ahmad Hakim) 7 Tahap perencanaan, siklus II dilaksanakan tanggal 18 Mei 2012, dengan indikator menghitung rasio satuan listrik berdasarkan sinyal input terhadap sinyal output suatu penguat dalam dengan menambahkan fokus ke siswa yang belum aktif dalam mengerjakan tugas dengan cara diberikan stimulus dalam siklus ke-2 diharapakan siswa mendapat nilai akhir diatas KKM. Tahap tindakan, siklus ke-2 dilaksanakan sesuai dengan rencana pada tanggal 18 Mei 2012. Dalam proses kegiatan belajar megajar berlangsung, guru menggunakan meetode diskusi kelompok dengan tutor sebaya. Diawali dengan pre-test kemudian penjelasan tentang cara menghitung nilai berdasarkan nilai sinyal output dan input. Guru memperhatikan keaktifan siswa dalam berdiskusi dan menanyakan hal-hal yang masih kurang jelas. Diakhiri dengan memberikan post-test kepada siswa. Tahap pegamatan, selama proses kegiatan belajar mengajar berlangsung guru memperhatikan kondisi para siswa dan keaktifan siswa dalam berdiskusi serta mengamati hasil dari pre-test dan post-test dalam kelompok. Tahap refleksi, berdasarkan hasil pengamatan dan diskusi dengan guru kolaborator hasil yang didapat nilai post-test siswa mengalami peningkatan dan hampir semua siswa aktif. Siklus III Tahap perencanaan, siklus III dilaksanakan tanggal 25 Mei 2012 dengan indikator mengukur intensitas bunyi menggunakan aplikasi sound meter yang ada pada handphone berbasis android. Perencanaan siklus III berdasarkan refleksi dari siklus ke I dan siklus ke II yaitu metode diskusi kelompok dengan tutor sebaya tetap dilaksanakan dengan seluruh siswa aktif dalam mengerjakan tugas dan diskusi dengan kelompoknya dan siswa diharapkan dapat memaksimalkan waktu sebaik mungkin dengan nilai akhir seluruh siswa dapat melebihi KKM. Tahap tindakan, siklus III dilaksanakan sesuai dengan rencana pada tanggal 25 Mei 2012 dengan dihadiri 28 siswa. Dalam diskusi kelompok guru menggunakan metode diskusi kelompok dengan tutor sebaya dengan diawali penjelasan mengenai materi selanjutnya dibagi kelompok dan mengerjakan tugas kelompok. Tahap pengamatan, selama proses kegiatan belajar mengajar , guru dan kolaboratot memperhatikan situasi dan kondisi para siswa. Guru juga mengamati hasil pre-test dan post-test. Semua siswa memperoleh nilai post-test melebihi KKM dan semua nilai kelompok diatas KKM. Tahap refleksi, dari pengamatan dan diskusi dengan guru kolaborator didapatkan hasil bahwa terjadi peningkatan nilai pre-test, post-test dan nilai kelompok seluruh siswa. Dan nilai seluruh siswa sudah mencapai KKM yang telah ditentukan, serta semua siswa telah aktif dalam kegiatan kelompok dan dapat memaksimalkan waktu dengan baik. Analisa Data
  8. 8. 8 Pevote, Vol.095, No.1, Juli 2012 : 1-10 Siklus I Dari hasil penilaian pre-test dan post-test pada awalnya banyak siswa yang mendapat nilai dibawah KKM namun setelah diakumulasikan ternyata terdapat 2 orang siswa yang mendapatkan nilai dibawah KKM. Dalam hal ini siswa belum terbiasa belajar dengan menggunakan metode diskusi kelompok, hal ini dapat dilihat dari keaktifan masing-masing individu dalam berdiskusi belum baik. Dari hasil diskusi dengan guru kolaborator setelah Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), guru harus terus berupaya agar siswa memiliki nilai afektif yang lebih baik Siklus II Pada siklus ini rata-rata nilai akhir hasil pengakumulasian dengan nilai post test dan nilai kelompok telah mengalami peningkatan akan tetapi masih terdapat siswa yang mendapat nilai dibawah KKM. Pada siklus ini siswa mulai terbiasa menggunakan metode belajar diskusi kelompok dengan tutor sebaya, hal ini dapat dilihat dari kerja kelompok hampir semua siswa aktif. Siswa memiliki nilai afektif yang baik ditinjau dari cara mereka berdiskusi , bekerja sama, disiplin dalam mengerjakan tugas dan guru harus dapat mempertahankan kondisi yang seperti ini. Siklus III Dari hasil akumulasi nilai akhir antara nilai post test dan nilai kelompok, tidak terdapat siswa yang mendapat nilai dibawah KKM. Siswa sudah terbiasa menggunakan metode diskusi dengan tutor sebaya, hal ini dapat dilihat dari seluruh siswa aktif dalam kerja kelompok terbukti dengan nilai yang jauh diatas KKM. Dalam mengerjakan tugas kelompok siswa sudah dapat menggunakan waktu semaksimal mungkin. Semua siswa merasa puas dengan metode pembelajaran diskusi kelompok dengan tutor sebaya. Dan nilai afektif siswa dapat dipertahankan dengan baik. Pembahasan Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan, hasil belajar siswa kelas X TAV dari siklus I, siklus II hingga siklus III dapat dipresentasikan
  9. 9. Penerapan Model Pembelajaran Diskusi Kelompok dengan Tutor Sebaya (Ahmad Hakim) 9 Table 1.1 Peningkatan hasil belajar siswa selama tiga siklus No Siklus Rata-rata Nilai Presentasi KetuntasanPost Test Kelompok Nilai Akhir 1 Siklus I 85,4 71,9 79,3 93% 2 Siklus II 85,4 74,2 80,3 96% 3 Siklus III 96,6 78,3 88,4 100% Sumber : A.H, 2012 : 40 Gambar 1.2 hasil belajar siswa selama tiga siklus penelitian tindakan kelas Jadi dapat disimpulkan bahwa metode diskusi kelompok dengan tutor sebaya efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Instrumen Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran Penilaian dilakukan oleh guru kolaborator terhadap peneliti dengan memperhatikan tiga hal, pertama criteria penilaian yang meliputi 1) sangat tidak baik 2) tidak baik 3) kurang baik 4) baik 5) baik sekali. Dengan 23 indikator maka total nilai adalah 115. Rincian skor yang didapat peneliti yaitu, pada siklus satu sebanyak 77 poin yang artinya mendapat 3,34 ( kurang baik). Pada siklus kedua peneliti mendapat skor 88 yang artinya peneliti mendapat 3,52 (baik) sedangkan pada siklus ketiga peneliti mendapat skor 102 yang berarti mendapat rata-rata 4,43 (baik). Dapat disimpulkan
  10. 10. 10 Pevote, Vol.095, No.1, Juli 2012 : 1-10 berdasarkan penilaian guru kolaborator terhadap peneliti bahwa peneliti mengalami peningkatan yang baik dalam pembelajaran di dalam kelas. Kendala Beberapa kendala yang ada pada saat melakukan penelitian yaitu 1) ruang kelas yang kurang memadai, didalam satu kelas dibagi menjadi dua kelas, ketika kelas satu melakukan praktik dan menimbulkan suara yang keras kelas yang lain tidak dapat berkonsentrasi dengan baik 2) jika seseorang lewat, maka orang tersebut akan lewat didepan kelas hal tersebut dapat mengalihkan konsentrasi belajar siswa yang lain 3) prasarana yang kurang memadai. Kesimpulan Metode pembelajaran diskusi kelompok dengan tutor sebaya dapat meningkatkan hasil belajar Dasar-dasar siyal Audio siswa kelas X TAV di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 5 Jakarta tahun ajaran 2011-2012. Metode pembelajaran diskusi kelompok dengan tutor sebaya dapat meningkatkan presentasi ketuntasan belajar di kelas X TAV di SMK Negeri 5 Jakarta tahun ajaran 2011-2012. Semua siswa merasa puas (setuju) dengan metode pembelajaran diskusi kelompok dengan tutor sebaya di kelas X TAV SMK Negeri 5 Jakarta tahun ajaran 2011- 2012.Hasil belajar yang berhasil dicapai siswa kelas X TAV di SMK Negeri 5 Jakarta tahun 2011-2012 melebihi KKM yang telah ditentukan Saran Metode pembelajaran diskusi kelompok dengan tutor sebaya dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X TAV di SMK Negeri 5 Jakarta tahun ajaran 2011-2012, maka metode pembelajaran ini perlu dilanjutkan untuk proses belajar mengajar selanjutnya. Dalam melakukan penelitian tindakan kelas perlu adanya kolaboratif artinya antara peneliti dan guru kolaborator perlu berdiskusi untuk langkah yang akan dilakukan selanjutnya. Pihak sekolah perlu memotivasi para guru untuk melakukan penelitian tindakan kelas untuk memperoleh variasi metode pembelajaran untuk digunakan dalam berbagai macam materi pelajaran. Kerjasama antara pihak terkait dengan proses pembelajaran harus ditingkatkan. Daftar Pustaka Arikunto, Suharsimi. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta : Bumi Aksara Arikunto, Suharsimi, Suhardjono, dan Supardi. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara Siregar, Evelin dan Hartini Nara. 2010. Teori Belajar Pembelajaran. Bogor : Ghalih Indonesia Taniredja, Tukiran, Efi, dan Sri. 2011. Model-model Pembelajaran Inovatif. Bandung : Alfabeta
  11. 11. Penerapan Model Pembelajaran Diskusi Kelompok dengan Tutor Sebaya (Ahmad Hakim) 11 Zemansky, Mark W, dan Sears Francis. 1983. Fisika untuk Universitas I Mekanika, Panas dan Bunyi. Bandung : Bina Cipta Dharmaputra, Bambang. 2008. “ Penyusunan Silabus dalam KTSP SMK, “Jurnal Pendidikan. vol-3, No. 4, 1-10

×