Kinescope Magazine Edisi 2.. :-)
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Kinescope Magazine Edisi 2.. :-)

on

  • 2,114 views

Majalah Kinescope Edisi 2.. Silakan didownload dan dibaca.. :-)

Majalah Kinescope Edisi 2.. Silakan didownload dan dibaca.. :-)

Statistics

Views

Total Views
2,114
Views on SlideShare
2,106
Embed Views
8

Actions

Likes
0
Downloads
30
Comments
0

1 Embed 8

https://twitter.com 8

Accessibility

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Kinescope Magazine Edisi 2.. :-) Kinescope Magazine Edisi 2.. :-) Document Transcript

  • F F li m m - S e n i & & E E d u k a is i i l - S e n i d u k a s F F F i li l mmm - - S S e e n n i i & & & E E E d d u u k k a a s is i i i l - S e n i d u k a s FREE MAGAZINE - EDISI 2 - SEPTEMBER 2013 2013 FREE MAGAZINE - EDISI 2 - SEPTEMBER FREE MAGAZINE - EDISI 2 -2 -2 - SEPTEMBER 2013 FREE MAGAZINE - EDISI SEPTEMBER 2013 FREE MAGAZINE - EDISI SEPTEMBER 2013 MUSIC REPORT MUSIC REPORT MUSIC REPORT MUSIC REPORT MUSIC REPORT LIPUTAN LIPUTAN LIPUTAN LIPUTAN LIPUTAN IMPAS IMPAS IMPAS IMPAS IMPAS INDONESIAN INDONESIAN INDONESIAN INDONESIAN INDONESIAN MOTION MOTION MOTION MOTION MOTION PICTURE PICTURE PICTURE PICTURE PICTURE ASSOCIATION ASSOCIATION ASSOCIATION ASSOCIATION ASSOCIATION MANCANEGARA MANCANEGARA MANCANEGARA MANCANEGARA MANCANEGARA VENICE FILM FESTIVAL VENICE FILM FESTIVAL VENICE FILM FESTIVAL VENICE FILM FESTIVAL VENICE FILM FESTIVAL KOMUNITAS KOMUNITAS KOMUNITAS KOMUNITAS KOMUNITAS Rudi Soedjarwo Rudi Soedjarwo Rudi Soedjarwo Rudi Soedjarwo Rudi Soedjarwo INTERVIEW INTERVIEW interview INTERVIEW INTERVIEW INTERVIEW September 2013 l Kinescope l 1
  • 2 l Kinescope l September 2013
  • September 2013 l Kinescope l 3
  • Daftar isi Cover Story 70 Metallica 10 ARKIPEL International Documentary & Experimental Film Festival 2013 REVIEW 74 16 CINTA/MATI Rom-Com ‘Bunuh Diri’ 18 The CONJURING Kengerian Exorcism yang Repetitif Kinescope Launching 40 Denok & Gareng FESTIVAL 20 Venice Film Festival The Venice Film Festival atau Venice International Film Festival adalah festival film internasional tertua di dunia. 34 Opini Publik 23.59 Sebelum Mati 28 Film Bagus? Ini Cara Menentukannya “Sebuah bencana bagi struktur kebudayaan sebuah masyarakat dan peradaban ketika para produser dan pembuat film hanya memikirkan dan mementingkan orientasi profit saja dari karya filmnya.” 30 Wahai Para Kritikus Film “Mengapa para penikmat film tak membaca tulisan kritikus film karena para kritikus ini kekurangan humor, asyik sendiri menelaah dengan katakata yang membuat pembacanya harus selalu sedia kamus bahasa Indonesia.” 32 Apa Itu Sebenarnya Bintang Film? Begitu charming dan berpengaruhnya seorang aktor atau BINTANG FILM, hingga bisa membatalkan sebuah produksi film, jika dia menolak untuk terlibat. On Location 36 Wanita tetap wanita Wanita Tetap Wanita merupakan tanda cinta bagi seluruh perempuan Indonesia. Disutradarai oleh 4 orang sutradara muda Indonesia, Irwansyah, Teuku Wisnu, Didi Riyadi dan Reza Rahadian. 4 l Kinescope l September 2013 SPOTLIGHT 38 Bintang-Bintang Film Indonesia yang berkiprah Internasional “Dengan menggunakan Indonesia sebagai lokasi syuting, tentu ini membuka kesempatan bintangbintang film lokal untuk terlibat dalam produksi film luar”sutradara dan juga ­ enyanyi. p SEJARAH 44 Kisah Seniman Peranakan, Si Item Tan Tjeng Bok Kita mungkin sudah lupa dengan seorang seniman besar peranakan Tionghoa yang begitu terkenal di dunia perfilman Indonesia selama tiga dekade, terutama di era tahun 70-an. liputan 48 DRUPADI PANDAVA DIVA “Ini merupakan kerumitan tersendiri” 50 MUSLIHAT OK .VIDEO Pameran 91 Karya Video dan Seni Media yang Mengakali Teknologi 50 IMPAS Para pekerja perfilman Indonesia dari berbagai profesi TEATER 66 Teater Miss TijTjih Yang Megah Yang Tergerus Zaman tokoh dunia 56 Roger Ebert Pada tanggal 4 April 2013, perfilman dunia kehilangan salah satu sosok kritikus terbaiknya. Roger Joseph Ebert meninggal dunia pada usia 70 tahun dan mengakhiri perjuangannya selama 11 tahun enghadapi cancer. teknologi 58 Mengenal IMax INTERVIEW 66 Rudi Soedjarwo Sebuah pagelaran festival musik rock. KOMUNITAS 70 Forum Lenteng Saat ini Forum Lenteng adalah satu dari sekian komunitas yang berkomitmen dan berdedikasi tinggi mengamati, mengembangkan dan mengkaji isu-isu sosial dan budaya masyarakat.v
  • www.kinescopeindonesia.com info@kinescopeindonesia.com iklan@kinescopeindonesia.com redaksi@kinescopeindonesia.com langganan@kinescopeindonesia.com @KinescopeMagz September 2013 l Kinescope l 5
  • f i l m , s e n i & Salam Redaksi e d u k a s i Penasehat Redaksi Farid Gaban Wanda Hamidah Andibachtiar Yusuf Biem T Benjamin Pemimpin Umum Hasreiza Pemimpin redaksi Reiza Patters Redaktur Pelaksana Muhammad Adrai Redaktur Doni Agustan Sekretaris Faisal Fadhly Kontributor Shandy Gasella Deddy Setyadi Ahmad Hasan Yuniardi Desain Grafis & Tata Letak al Fian adha Artistik & Editor Foto Rizaldi Fakhruddin Fotografer Hery Yohans Arista Kusumastuti Penjualan & Pemasaran Ollivia Selagusta pengembangan & komunitas Jusuf Alin Lubis Distribusi & Sirkulasi Faisal Fadhly subScriptions Gedung Graha Utama Jl. Raya Pasar Minggu KM 17 No. 21 Jakarta Selatan “Kendala terbesar adalah konsistensi. Konsistensi untuk berjuang bersama dan terus menerus melakukan evaluasi dan introspeksi.” P eluncuran secara resmi edisi perdana Kinescope telah berjalan dengan cukup sukses. Keriuhan dan kemeriahan pada saat acara mewarnai acara peluncuran tersebut. Dengan hadirnya banyak orang dari berbagai kalangan, sahabat, handai taulan, cukup menjadi pelecut semangat agar Kinescope bisa terus bergerak sebagai tanda keberadaan akan visi dan tujuan yang mulia. Bergerak dan bisa ditemui dengan mudah oleh publik agar pesan dan misi yang ada betul-betul bisa membumi. Namun kami menyadari bahwa semangat saja tidaklah cukup. Diperlukan usaha yang keras dan doa yang tiada berputus, agar Kinescope bisa terus menerus menyapa pembaca, menyentuh para penikmat seni, menegur para praktisi seni dan pengambil kebijakan agar pola peradaban bangsa bisa terus menerus diperbaiki hingga mencapai taraf relevansi yang sesuai dengan situasi dan perkembangan zaman. Untuk itu, kendala terbesar adalah konsistensi. Konsistensi untuk berjuang bersama dan terus menerus melakukan evaluasi dan introspeksi. Integritas sudah bukan persoalan bagi Kinescope, karena ini sudah menjadi komitmen awal yang kuat. Akuntabilitas pun begitu, karena sistem kepemilikan bersama yang menjadi tonggak kebersamaan. Konsistensilah yang masih harus teruji di dalam kebersamaan itu. Ujian konsistensi tersebut akan ada terus sepanjang Kinescope masih mampu bertahan. Dan itu perjuangan. Untuk itu, dukungan semua pihak agar gagasan dan visi besar ini bisa terus bergulir dan terwadahi di dalam Kinescope, sangat dibutuhkan. Mulai dari dukungan semua individu yang ada di dalam wadah ini sebagai sebuah tim yang solid, hingga dukungan dari pihakpihak di luar sana yang memiliki visi yang sama serta mengamini gagasan besar yang kami coba bangun dan dibumikan. Doakan kami agar mampu menjaga konsistensi perjuangan, mampu terus menerus memperbaiki diri dan usaha-usaha membumikan gagasan besar ini, untuk dunia sinema dan seni Indonesia yang lebih baik. Salam! Cover Story International Documentary & Experimental Film Festival ARKIPEL | Pertama diluncurkan www.kinescopeindonesia.com info@kinescopeindonesia.com iklan@kinescopeindonesia.com redaksi@kinescopeindonesia.com langganan@kinescopeindonesia.com @KinescopeMagz 6 l Kinescope l September 2013 di Jakarta. Secara resmi, ARKIPEL Documentary & Experimental Film Festival dibuka pada 24 Agustus 2013 di GoetheHaus, menteng Jakarta, dengan pemutaran empat film yang diikutkan dalam kompetisi, yaitu Climax (Shinkan Tamaki – Jepang), Les fantones de l’escarlate (Julie Nguyen Van Qui – Perancis), Momentum (Boris Seewald – Jerman) dan Hermeneutics (Alexei Dmitriev – Russia).
  • September 2013 l Kinescope l 7
  • ON PRODUCTIONS Produser Iwan Tjokro Saputro Roy A Steven Sutradara Dwi Ilalang Penulis Robert Ronny Maruska Bath Dwi Ilalang Pemeran RoziHerdian Gita Sinaga Arick Pramana Daniel ED Rombot Irwan Gardiawan Baron Hermanto Gevangenis K isah cinta Herlam (Rozi Herdian) dan Anita (Gita Sinaga) yang terpisah selama 10 tahun karena herlam harus masuk penjara demi membela cintanya. Tak banyak yang tahu kalau dalam waktu dekat, sebuah film Indonesia berjudul “Gevangenis” akan segera tayang di layar lebar. Film yang disutradarai oleh Dwi Ilalang dan dibintangi oleh Rozi Herdian, Gita Sinaga, Arick Pramana, Daniel ED Rombot, Irwan Gardiawan, serta Baron Hermanto ini bahkan sudah merilis trailer mereka. Ada dua trailer yang bisa Criters tonton di bawah ini; Pre-Trailer yang sudah ditonton oleh 55 ribu orang, dan trailer yang baru rilis 17 Oktober lalu. Hingga berita ini diturunkan, trailer penuh film tersebut telah disaksikan oleh 11,749 orang penonton. “Gevangenis” yang berarti ‘Penjara’ dalam bahasa Belanda bercerita tentang kisah cinta Herlam (Rozi Herdian) dan Anita (Gita Sinaga) yang terpisah selama 10 tahun karena herlam harus masuk penjara demi membela cintanya. Film produksi Humalang ini menawarkan nuansa yang berbeda dari film-film Indonesia pada umumnya. Film yang naskahnya ditulis oleh Robert Ronny, Maruska Bath, dan Dwi Ilalang ini tak hanya akan menampilkan kisah drama dan action, tapi juga cerita kelam dibalik jeruji penjara dan serbaserbi kehidupan seorang narapidana. Belum ada tanggal pasti mengenai kapan film ini akan rilis. Kalau criters penasaran, bisa langsung follow akun twitter mereka di @GevangenisMovie untuk informasi lebih lanjut. Merry Go Round D ewo menjadi pecandu sejak kuliah. Akibat terjerat dalam dunia hitam itu, Dewo dikeluarkan dari kampusnya di luar negeri. Tasya, adik Dewo juga jadi korban. Orangtua mereka hanya bisa menutupnutupi sejarah hitam anak-anaknya agar tidak dianggap gagal dalam mendidik anak. Tasya mulai frustasi dengan sikap orangtuanya. Apalagi ia pernah ditukar dengan sepaket narkoba oleh Dewo. Beruntung siswi SMA ini masih bisa diselamatkan Andika, teman SMA Tasya. Cinta antara Tasya dan Andika tidak dapat terlaksana karena kehancuran keluarga Tasya. Tasya pun bolak-balik masuk rehab. Akhirnya ia menikah dengan Rama yang ternyata juga pecandu. Dewo juga belum pulih. Semua kejadian ini membuat mereka bisa membaca tipuan dan gejala sakit psikis dan psikologis para pecandu. Produser Nanang Istiabudi Pemeran Tya Arifin, Guiliano Mathino Lio, Dwi AP, Reza ‘The Groove’, Poppy Sovia, Bucek Depp, Ray Sahetapy, Dewi Irawan Ditunggu! A Something in the Way Produser Teddy Soeriaatmadja, Indra TamoronMusu Sutradara Teddy Soeriaatmadja, Penulis Teddy Soeriaatmadja, Pemeran RezaRahadian Ratu FelishaRenatya VerdiSolaiman Yayu AW Unru Daniel Rudi Haryanto 8 l Kinescope l September 2013 hmad (Reza Rahadian) adalah seorang supir taksi di Jakarta. Dia kecanduan bacaan maupun video seks, namun tak bisa melampiaskan keinginannya karena tak mampu. Yang bisa dilakukan adalah menikmati sendirian di depan televisi, atau lewat masturbasi diam-diam dalam taksinya. Setiap malam, ia sering mendengar komentar rekan-rekannya sesama supir taksi tentang pelacur atau istri mereka. Siangnya, ia rajin mengunjungi masjid, di mana ia belajar tentang pentingnya kesucian, moral, dan Al-Quran. Sepercik harapan tumbuh ketika Ahmad jatuh cinta dengan tetangganya, Kinar (Ratu Felisha), seorang pekerja seks komersial dan menjadi pengantarnya ke tempat kerja. Hubungan mereka sayangnya terhambat oleh mucikari Kinar. Konflik antara seks sebagai produk dan tekanan moral agama membingungkan Ahmad, yang hanya ingin membebaskan Kinar dan dirinya dari hidup penuh moda. Film ini diputar perdana di Berlinale (Berlin International Film Festival) 2013 dalam program Panorama.
  • Film Schedule September 2013 Film Indonesia September Rumah Angker Pondok Indah Sejak terjadi pembunuhan sekeluarga di rumah yang kemudian terkenal sebagai Rumah Angker Pondok Indah, setiap penghuni baru yang menempati rumah itu selalu diteror oleh arwah/hantu yang menempati rumah itu. Beberapa tahun kemudian, sebuah keluarga baru menempati rumah itu. Kejadian yang sama terulang kembali. 1. umah Angker Pondok Indah R Tayang 12 September 2013 2. anita Tetap Wanita W Tayang 12 September 2013 3. Kemasukan Setan Tayang 19 September 2013 4. alam Seribu Bulan M Tayang 19 September 2013 5. Cahaya Kecil Tayang 26 September 2013 6. Pantai Selatan Tayang 26 September 2013 7. ir Mata Terakhir Bunda A Tayang 3 Oktober 2013 Wanita Tetap Wanita Wanita Tetap Wanita dibagi dalam 5 plot cerita yang memiliki 1 benang merah,bahwa Perempuan adalah superwomen jika ditelisik melalui berbagai sisi, bukan hanya lewat sisi simpati. Terdapat 5 judul cerita, yaitu “Cupcakes”, “With or Without”, “First Crush”, “Reach The Star”, dan “In Between.” Malam Seribu Bulan Ujang dan Pujono terjerumus ke dunia hitam demi meningkatkan taraf hidup mereka. Pertemuan Ujang dan Pujono berawal ketika sama-sama dibekuk warga atas tindakan kejahatan yang mereka lakukan. Ujang kepergok saat menghipnotis orang, sedangkan Pujono ditangkap saat tertangkap basah sedang menjambret. September 2013 l Kinescope l 9
  • COVER STORY ARKIPEL Award: Old Cinema, Bologna Melodrama (2011) Davide Rizzo (Italia) ARKIPEL, International Documentary & Experimental Film Festival secara resmi dibuka pada 24 Agustus 2013 di GoetheHaus, Menteng, Jakarta. Festival dibuka dengan pemutaran empat film yang diikutkan dalam kompetisi, yaitu Climax (Shinkan Tamaki – Jepang), Les fantones de l’escarlate (Julie Nguyen Van Qui – Perancis), Momentum (Boris Seewald – Jerman) dan Hermeneutics (Alexei Dmitriev – Russia). Festival yang digelar untuk pertama kalinya ini, diselenggarakan oleh Forum Lenteng. Acara pembukaan diawali dengan pemutaran film kuratorial, yaitu Authorship in Documentary Film dan pemutaran khusus film Forgotten Tenor di Kineforum, Taman Ismail Marzuki pada pukul 13.00 dan 15.00. 10 l Kinescope l September 2013 ARKIPEL Award diberikan kepada filem yang bereksperimentasi dengan kompleksitas tematik dan bereksplorasi dengan estetika yang menghasilkan pertanyaan mendalam, serta berpotensi terhadap dampak sosial. Filem Old Cinema, Bologna Melodrama menelusuri jejak-jejak historis sinema sembari mengungkap kehidupan sosial budaya yang diwarnai oleh benturan politik, jender, kelas, dan ras. Filem ini merefleksikan kenangan juga sebagai kenyataan hari ini berkaitan dengan sinema Italia. Filem ini juga merekam dan merekonstruksi ingatan warga tentang kota dan sejarah bioskop untuk melihat kembali sejarah politik sebuah negara. Filem ini berbicara tentang sinema populer dalam konteks global. Kota Bologna, merepresentasikan dominasi global filem-filem Amerika, dengan membebaskan suara-suara lokal merespon dan bernegosiasi dengan hegemoni budaya. Filem ini tidak perlu mengambil footage Italia tahun 40-an untuk menggambarkan suasana perang, melainkan hanya dengan menampilkan gedung bioskop yang terbengkalai. Cara ini menghasilkan gambar yang nostalgi tentang budaya sinema di Italia pada masa lalu dan, sekaligus juga menawarkan pandangan kritis terhadap masyarakat baik di masa lalu dan sekarang, dengan menggunakan idiom-idiom budaya populer. http://arkipel.org/old-cinema-bolognamelodrama/
  • erhelatan festival ini secara keseluruhan berlangsung selama enam hari, dari tanggal 24 Agustus sampai dengan 30 Agustus 2013, di lima tempat di Jakarta, yaitu GoetheHaus, Kineforum, Teater Studio (Teter Jakarta – TIM), Sinematek Indonesia dan Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail. Total, ada 75 buah film dokumenter dan eksperimental dari 29 negara yang diputar. Semua pemutaran film tersebut gratis dan terbuka untuk umum. Pihak penyelenggara festival ini, Forum Lenteng, mengaku bahwa mereka menggagas ARKIPEL ini sebagai refleksi atas fenomena global dalam konteks sosial, politik, ekonomi dan budaya melalui sinema. “Gagasan festival ini adalah menyuarakan bagaimana pesoalanpersoalan kebudayaan dapat dibaca dalam kurun waktu tertentu. Idealnya, festival film dapat menjadi event yang akan menghadirkan capaian puncak sutradara-sutradara dari berbagai kalangan, baik secara estetika dan kontennya,” jelas Hafiz Rancajale selaku Direktur Artistik festival ini. Festival Arkipel ini memang dirancang agar sejalan dengan visi-misi Forum Lenteng sejak perintisannya tahun 2003, yaitu menjadikan pengetahuan media dan kebudayaan bagi masyarakat untuk hidup yang lebih baik, terbangunnya kesadaran bermedia, munculnya inisiatif, produksi pengetahuan dan terdistribusikannya pengetahuan tersebut secara luas. Nama ARKIPEL sendiri diambil dari kata archipelago yang merujuk pada istilah bahasa Indonesia, ‘nusantara’ yang muncul sejak awal abad ke-16. Nusantara yang merupakan gugusan ribuan pulau ini menyimpan sejarah panjang tentang globalisasi baik secara politik, budaya dan ekonomi. Lebih dari 500 tahun lalu, wilayah ini menjadi tujuan utama bagi para penjelajah Barat untuk menemukan wilayah-wilayah baru untuk dikuasai atau sebagai rekanan dunia dagang. Selain bangsa Eropa, bangsa Timur (Cina, Arab dan India) telah menjadikan kawasan Nusantara ini sebagai tujuan penjelajahan dalam misi-misi dagang mereka seperti rempah-rempah dan sutra. FORUM LENTENG Award: Les Fantômes de L’escarlate (The Ghosts and The Escarlate) (2012) Julie Nguyen van Qui (Prancis) Forum Lenteng Award adalah penghargaan untuk filem terbaik di dalam festival filem ARKIPEL tahun ini berdasarkan polllng pilihan kawan-kawan Forum Lenteng, juri, dan kurator selama festival berjalan. Tidak ada batasan tahun produksi filem. Forum Lenteng Award is given to the best filem screened during the ARKIPEL film festival, based on the polling of Forum Lenteng members, the juries, and curators. No year of production restriction. http://arkipel.org/the-ghosts-and-the-escarlate/ foto : Agung Natanael (Abe) - ARKIPEL ©2013 - Andrie Sasono (Andre) - ARKIPEL ©2013 P “Gagasan festival ini adalah menyuarakan bagaimana pesoalan-persoalan kebudayaan dapat dibaca dalam kurun waktu tertentu.” - Hafiz Rancajale - September 2013 l Kinescope l 11
  • Dalam festival ARKIPEL ini, diharapkan terjadi proses “penjelajahan”. Penjelajahan yang diharapkan terjadi selama ARKIPEL adalah penjelajahan gagasan sinematik. “Film dokumenter yang dimaksud Forum Lenteng adalah film dokumenter yang merujuk pada bahasa film yang berlaku pada tradisi sinema, bukan film dokumenter televisi. Dalam tradisi sinema, film dokumenter juga dapat menghadirkan drama, konflik, imajinasi dan ruang kritik bagi penonton. Hal ini tentu berkaitan dengan bagaimana eksperimentasi bahasa sinema yang dilakukan oleh sutradara dalam mengemas kenyataan,” tutur Hafiz. Hafiz menambahkan bahwa film eksperimental yang dimaksud Forum Lenteng adalah bagaimana eksperimentasi medium dan konten dalam film menghadirkan kebaruan secara estetika. Hal ini merujuk pada sejarah sinema avant-garde dalam sejarah sinema dunia. “Eksperimentasi di sini, bukan hanya dalam konteks filmnya saja, namun juga 12 l Kinescope l September 2013 bagaimana film digunakan dalam tindakan yang mengaktivasi persoalan-persoalan sosial di ranah publik,” jelasnya. Yuki Aditya, Direktur Festival, mengharapkan ARKIPEL bisa menjadi titik temu antara khalayak dan film-film yang tak biasa ditemukan khalayak. “Niat kami membuat festival selain untuk mencari ‘suara-suara’ baru berbakat dalam membuat film dan bereksperimentasi dengan mediumnya, juga sebagai ruang diskusi yang lebih luas,” jelasnya pada Kinescope saat ditemui di Sekretariat Forum Lenteng, Lenteng Agung, Jakarta. Dia menjelaskan bahwa luas dalam hal ini adalah menyebarluaskan pengetahuan tentang film dokumenter dan eksperimental ke khalayak, dan juga eksposur terhadap film-film yang selama ini belum banyak diketahui banyak orang. “Dengan kata lain, menyediakan alternatif tontonan dan menyediakan ruang diskusi alternatif untuk orang-orang yang suka menonton film,”jelasnya. Jury Award: Suitcase of Love and Shame (2013) Jane Gilooly (Amerika Serikat) Jury Award adalah penghargaan kepada filem yang mendapatkan perhatian dan penilaian khusus dari juri. Filem Suitcase of Love and Shame melebarkan konsep voyeurism dengan menempatkan kita (penonton) sebagai penguping, serta menghadapkan penonton kepada situasi yang tidak nyaman atas akses kehidupan privat para tokohnya. Bertaut pada wilayah privat, filem ini bicara tentang politik jender 60-an (di Amerika Serikat), dan mengungkap tegangan antara seksualitas dan moralitas. Suitcase of Love and Shame memunculkan teks baru dari jukstaposisi imaji dan audio dalam struktur dramatik yang rapi. Filem ini mengolah memori, visual dan suara, secara lintas media. Dalam sejarah sinema, aspek suara seringkali dianggap merusak struktur visual. Namun filem ini berada dalam wilayah sinema yang berkontribusi terhadap perspektif baru tentang estitika suara dalam filem. Visual menjadi metafor dari tabu, represi seksualitas, dan sensor diri dalam hubungannya dengan nilai-nilai dominan masyarakat. Teks yang menempel pada obyekobyek menjadi unsur naratif di filem ini. Filem ini kaya akan unsur estetik, kesempurnaan teknisnya tak terelakkan.
  • Atas niat dan gagasan ini, kerangka festival perlahan diarsir dan diwujudkan. Pendaftaran karya dari beragam penjuru dunia, yang kemudian diseleksi kawan-kawan Forum Lenteng untuk masuk seksi International Competition. Beriringan dengan proses seleksi film, sejumlah program kuratorial mulai disiapkan oleh para kurator. Total ada 22 film, baik film nasional maupun internasional, klasik maupun kontemporer, yang akan diputar dan didedah dalam sepuluh program kuratorial. Masingmasing membahas film-film dalam suatu kerangka pembacaan sosial, politik, budaya, sejarah maupun estetika sinema. Harapannya, pembacaan ini bisa menjadi pemantik diskusi tersendiri baik di kalangan penonton maupun pembuat film. Forum Lenteng turut menyiapkan forumforum diskusi untuk membahas isu-isu terkini dalam perfilman nasional. Setelah berdiskusi panjang, disepakati tiga topik yang dirasa penting dan mendesak untuk diangkat: aktivisme, pengarsipan dan kritisisme film. Diskusi tentang aktivisme menghadirkan dua pegiat film senior, Bowo Leksono (Festival Film Purbalingga) dan Abduh Aziz (Koalisi Seni Indonesia), dengan Forum Lenteng sebagai moderator. Perihal pengarsipan film, Forum Lenteng mengajak Intan Paramaditha, penulis dan peneliti, dan Andhy Pulung, penyunting film, untuk berbagi pendapat dengan kawan-kawan dari Sahabat Sinematek sebagai moderator. Kritisisme film akan dikupas oleh Hikmat Darmawan, pemerhati film dan komik serta Riri Riza, sutradara film. Kerjasama dengan pihak-pihak bervisi-misi serupa pun dijalin, seperti Bangkok Experimental Film Festival, yang akan mempresentasikan kompilasi film pendek Acts of Memory dan film dokumenter An Escalator in World Order karya Kim KyungMan (2011). Kemudian Images Festival dari Toronto, Kanada, yang membawa kompilasi video Ways of Seeing dan film dokumenter River and My Father karya Luo Li (2010). Ada pula DocNet Southeast Asia dab In-Docs yang akan mengadakan diskusi meja bundar, mengundang pihak-pihak kunci dalam perkembangan film dokumenter di Indonesia, untuk membahas pendanaan dan distribusi dokumenter kreatif di GoetheHaus, Jakarta. Dalam kegiatan ARKIPEL ini, mereka juga mengadakan tiga pemutaran film khusus, salah satunya adalah pemutaran perdana dokumenter terbaru Forum Lenteng, Elesan deq a Tutuq (Jejak yang Tidak Berhenti), yang disutradarai Syaiful Anwar, Gelar Agryano Soemantri dan Muhammad Sibawaihi. Ini adalah film mini yang bercerita tentang pergaulan sosial masyarakat Sasak di Desa Pemenang, Lombok, saat menghadapi budaya baru yang dibawa wisatawan-wisatawan asing beberapa tahun belakangan. Ada pula Parts of a Family karya Diego Gutiérrez (2012) yang telah memenangkan penghargaan di Festival Film Dokumenter Thessaloniki – Yunani tahun ini dan Forgotten Tenor karya Abraham Ravett, dua film yang didukung langsung oleh pembuatnya untuk diputar secara khusus di ARKIPEL. Peransi Award: (Polazište za cekanje) The Waiting Point (2013) Maša Drndic (Kroasia) Peransi Award adalah penghargaan untuk sebuah karya yang muncul secara menonjol oleh sutradara yang namanya belum begitu dikenal namun berkontribusi dalam festival ini dengan ide yang segar dan memprovokasi persoalan kepublikan dalam film dokumenter dan eksperimental. The Waiting Point adalah sebuah film yang berbicara tentang identitas, terkait dengan perubahan-perubahan yang terjadi di tengah persiapan masukanya Kroasia ke dalam Uni Eropa. Gaya bertutur film disampaikan dengan puitis dan tidak bertele-tele. Film ini bereksperimentasi dengan teknik voyeurism atau mengamati (memata-matai), yang merupakan pengembangan dari cinema verite. Pilihan sutradara menggunakan teknik pewarnaan hitam-putih, secara mengejutkan mampu mendekatkan penonton pada kenyataan sehari-hari yang berwarna. Melalui karya-karyanya, D.A. Peransi seperti menganjurkan bahwa sebuah karya untuk selalu memiliki hubungan-hubungan sosial, politik, budaya, dengan publik. Dalam The Waiting Point, kamera hadir untuk mendiskusikan kembali keputusan-keputusan negara dan korporasi terhadap rakyat. http://arkipel.org/the-waiting-point/ Pada tanggal 15 Juli 2013, proses seleksi film mencapai kata sepakat. Forum Lenteng mengumumkan 37 film dari 19 negara sebagai peserta International Competition. Tiga diantaranya film Indonesia: Perampok Ulung (Marjito Iskandar Tri Gunawan), Canggung (Tunggul Banjarsari) dan The Flaneurs #3 (Aryo Danusiri). September 2013 l Kinescope l 13
  • PREVIEW CAHAYA KECIL Kemasukan Setan E ddy mempunyai hobi cukup aneh: mencari setan dan ingin bertemu dengan setan. Eddy selalu berfikir secara logis dan tidak percaya sekadar omongan. Semua harus dengan bukti nyata. Hampir dua tahun usahanya mencari bukti tentang keberadaan setan selalu menuai hasil nihil. Suatu hari Eddy merasa jenuh. Akhirnya dia memilih jalan ekstrem untuk bisa berkomunikasi dengan mahluk “gaib”. Produser M Zainudin Sutradara Muhammad Yusuf Penulis Muhammad Yusuf Pemeran Aldi Taher Vivi Sofia Yofani Farah DibaYofani G ilang Krishna (Petra Sihombing) tidak melanjutkan kuliah musiknya di Amerika karena ayahnya, Arya Krisna, (Andy /rif) masuk penjara akibat narkoba. Gilang marah pada ayahnya yang begitu ia cintai dan kagumi. Abraham (Verdi Solaiman), mantan manajer Arya, mengajak Gilang terjun ke dunia musik. Ia memanfaatkan momen kesedihan itu, mendramatisirnya dan menjualnya. Gilang tampil tanpa nama belakang Krisna. Sukses, Ia juga pacaran dengan Saskia (Taskya Namya), model. Arya keluar dari penjara. Gilang tak mau menerima ayahnya. Hubungan ayah-anak ini jadi sorotan media. Sikap gilang nyaris menjatuhkan namanya. Gilang berbalik sikap. Di depan umum ia jadi anak yang baik, tapi di belakang ia tetap belum bisa memaafkan ayahnya. Gilang bersikap demikian demi popularitas, Arya demi dekat anaknya. Sebuah lagu, Cahaya Kecil, mempertemukan cinta ayah-anak itu. MALAM SERIBU BULAN D ua orang pemuda bernama Ujang dan Pujono terjerumus ke dunia hitam demi meningkatkan taraf hidup mereka. Pertemuan Ujang dan Pujono berawal ketika sama-sama dibekuk warga atas tindakan kejahatan yang mereka lakukan. Ujang kepergok saat menghipnotis orang, sedangkan Pujono ditangkap saat tertangkap basah sedang menjambret. Mereka lalu sadar dan berjanji untuk memulai hidup baru di luar Jakarta. Untuk mengumpulkan modal usaha, Ujang dan Pujono tetap melakukan yang tidak halal meski berjanji akan mengembalikan hasilnya jika sudah sukses nanti. Di luar dugaan, warga desa yang mereka singgahi dipenuhi dengan orang-orang baik. Mereka berfikir ulang untuk melakukan kejahatan disana. 14 l Kinescope l September 2013 Produser AB Iwan Azis Sutradara Wibi Aregawa Pemeran Tora Sudiro Kawakibi Mutaqien Oka Soemantaredja Dhea Imut
  • AIR MATA TERAKHIR BUNDA S ebuah kisah keluarga korban lumpur Lapindo, Sidoarjo. Seluruh hidup Delta Santoso (Ilman Lazulva, Vino G Bastian) diabadikan untuk berterimakasih pada ibundanya, Sriyani (Happy Salma), apapun situasi dan konflik hidup yang ia hadapi. Bencana yang menghampiri Sriyani bukan hanya lumpur Lapindo, tapi juga suami yang melarikan diri ke wanita lain tanpa mem- beri kejelasan status. Akibatnya, kemiskinan membuat Sriyani harus memenuhi kebutuhannya sehari-hari dan membiayai sekolah kedua anaknya, Delta dan Iqbal (Reza Farhan Bariqi, Rizky Hanggono). Ia menjadi buruh cuci setrika sambil berjualan lontong kupang, yang ia jajakan sendiri dengan sepeda tuanya RUMAH ANGKER PONDOK INDAH Produser Erna Pelita Sutradara  Endri Pelita Penulis Endri Pelita Danial Rifk Kirana Kejora Pemeran Happy Salma Vino G Bastian Rizky Hanggono Ilman Lazulva Reza Farhan Bariqi S MANUSIA SETENGAH SALMON K etika ibunya (Dewi Irawan) memutuskan pindah dari rumah masa kecil, Dika (Raditya Dika), penulis, justru berusaha pindah dari halhal yang selama ini susah dilepaskan: cintanya dengan Jessica (Eriska Rein) hingga hubungannya dengan bapaknya (Bucek). Dika membantu mencari rumah baru. Rumah yang mereka kunjungi ternyata tidak ada yang cocok. Akhirnya Dika menemukan sebuah rumah, yang menurut ibunya sempurna. Bersamaan dengan itu, Dika bertemu dengan Patricia (Kimberly Ryder) nan cantik. Pendekatan dimulai. Ketika sudah pindah ternyata Dika tidak menyukai rumah barunya. Kenangan akan rumah lama masih membekas. Sementara itu, hubungan Dika dengan Patricia juga terganggu, karena Jessica masih membayang-bayangi. Dika pada akhirnya menyadari bahwa perjalanannya untuk pindah rumah, juga merupakan perjalanan berpindah dari hal-hal yang selama ini menahannya menuju kedewasaan. ejak terjadi pembunuhan sekeluarga di rumah yang kemudian terkenal sebagai Rumah Angker Pondok Indah, setiap penghuni baru yang menempati rumah itu selalu diteror oleh arwah/hantu yang menempati rumah itu. Beberapa tahun kemudian, sebuah keluarga baru menempati rumah itu. Kejadian yang sama terulang kembali. Produser Chand Parwez Servia Fiaz Servia Sutradara Herdanius Larobu Penulis Raditya Dika Pemeran Raditya Dika Kimberly Ryder Eriska Rein Bucek Dewi Irawan Mosidik Insan Nur Akbar Produser Ravi Pridhnani Sutradara Dede Ferdinand Penulis Andhy Ramdhan, Nicho AP Pemeran Bella Shofie, Nabila Putri, Ferly Putra September 2013 l Kinescope l 15
  • REVIEW Rom-Com ‘Bunuh Diri’ Cinta Mati C inta/Mati memiliki premis yang sama dengan film Before Sunrise (1993) karya Richard Linklater. Kisah tentang dua sejoli yang tidak saling kenal, bertemu pada satu malam, larut dengan pikiran dan tujuan masing-masing, hingga kemudian saling memerlukan satu sama lain, yang selanjutnya beranjak pada rasa saling butuh, hingga kemudian muncul benih-benih cinta. Premis yang sangat menarik. Apalagi dalam Cinta/ Mati kedua karakternya sama-sama memiliki keinginan untuk bunuh diri. Cinta/Mati bercerita tentang Acid dan Jaya yang bertemu pada satu malam. Jaya menolong Acid yang gagal bunuh diri. Karena menggagalnya usahanya, Acid menuntut Jaya untuk membantunya bunuh diri. Jaya awalnya menolak, tetapi desakan demi desakan dari Acid akhir meluluhkan Jaya. Maka dimulailah berbagai macam ide Jaya untuk membantu Acid memenuhi keinginan terakhirnya tersebut. Sampai kemudian terungkap bahwa Jaya pun memilki maksud yang sama dengan Acid, bunuh diri. Film dengan konsep pertemuan satu malam sudah banyak dibuat. Selain Before Sunrise seperti yang telah disinggung di atas, ada beberapa judul lagi yang mau tidak mau menjadi perbandingan terhadap Cinta/Mati 16 l Kinescope l September 2013 Doni Agustan yang ternyata sudah diproduksi sejak dua tahun yang lalu ini. Sebut saja misalnya Once (2007) debutan dari sutradara John Carney, atau yang dari era film klasik ada Roman Holiday (1953) yang mempertemukan Audrey Hepburn dan Gregory Peck. Ketiga film ini mengangkat tema yang sama saat takdir mempertemukan 2 orang yang tidak saling kenal dan membuat mereka intim, kemudian memberikan mereka cinta. Sebuah pakem yang sudah sangat biasa. Konsep yang banyak digunakan oleh semua filmmakers untuk membuat komedi romantis atau yang lebih dikenal dengan akronim rom-com Formula film rom-com tersebut juga digunakan oleh Cinta/Mati. Konsep yang diberi bumbu-bumbu dengan keinginan kedua karakter utama film ini untuk bunuh diri mestinya justru menjadi daya tarik film ini. Tetapi kemudian terasa ada yang kurang. Naskahnya yang apik justru menjadi tidak bergerak sebagai mana mestinya karena kendala teknis, akting pemain dan beberapa hal minor yang cukup menganggu. Naskah menjadi komoditi kuat film ini terutama pada 30 menit awal film. Romansa pertemuan awal mereka hingga kemudian berlanjut pada adu mulut karena usaha Jaya untuk membantu Acid yang kerap kali gagal cukup menarik untuk dinikmati. Apalagi
  • Alexandria (2005), Selamanya (2007), Kawin Kontrak (2008) dan Punk In Love (2009) adalah deretan film-film paling berkesan karya sutradara Ody C. Harahap. Walaupun film debutnya dengan produser Erwin Arnada adalah film horor, Bangsal 13 (2003), tetapi deretan film di atas menjadikan Ochay, panggilan akrab sutradara ini, dikenal dengan sutradara khusus film-film drama-komedi-romantis. Cinta/Mati kemudian makin melengkapi predikatnya tersebut. dialog–dialog yang keluar dari adu mulut mereka sangat mengelitik dan berhasil membuat penonton tertawa. Perhatikan kata-kata umpatan dan ledekan yang kerap kali diucapkan oleh Jaya pada Astrid karena sering kali gagal untuk bunuh diri karena ketakutan Acid pada hal-hal yang menurut Jaya tidak masuk akal atau berlebihan. Misalnya Acid yang takut ketinggian atau mudah pingsan jika melihat darah. Kelucuan demi kelucuan atas kegagalan Acid untuk bunuh diri ini pada awalnya cukup beragam dan kreatif. Sayangnya menjelang ke tengah durasi, film mulai terasa agak membosankan. Pengulangan demi pengulangan atas kegagalan usaha mereka untuk menuntaskan keinginan tersebut menjadi terbaca. Pada saat Acid akhirnya tahu bahwa Jaya juga ingin bunuh diri, yang mestinya menjadi salah satu bagian kejutan dari film ini, justru terasa sangat datar. Kedodoran dari naskah semakin terasa menjelang akhir film. Interaksi antara Acid dan Jaya yang sudah terbangun bagus di awal film, justru malah menjadi kaku. Perhatikan adegan saat Jaya memberikan buku dan CD-nya untuk Acid. Adegan yang harusnya menjadi romantis ini justru berjalan dengan ritme yang lambat, kaku dan sangat membosankan. Mestinya editor film memotong durasi untuk adegan ini supaya kekakuan ini tidak berlangsung lama dan akhirnya tidak menganggu keutuhan keseluruhan film. Setelah Jaya dengan sangat mudah membuat Acid mengurungkan niat untuk bunuh diri, keadaan berbalik saat Acid yang kemudian mati-matian membantu Jaya untuk mengurungkan niatnya. Keadaan yang diputar balik ini sebenarnya cukup unik. Tetapi kemudian tidak terlalu dijelaskan apa sebenarnya latar belakang Acid sehingga dia bisa dengan percaya diri sanggup membuat permasalahan ‘kejantanan’ Jaya terselesaikan. Adegan Jaya yang harus mengikuti keinginan Acid untuk mengetes hasil eksperimennya tersebut dengan seorang PSK rasanya tidak terlalu perlu, karena kita tahu permasalahan Jaya tidak bisa terselesaikan dengan cara instan. Apalagi Jaya sendiri juga telah melakukan apa yang dilakukan Acid untuknya. Pengulangan demi pengulangan seperti bagian awal film kembali terjadi. Ini memberikan kesan bahwa pengulangan sengaja dilakukan untuk memperpanjang durasi filmnya. Adegan flashback juga sangat tidak perlu. Ini seperti menempatkan penonton sebagai pelupa atau bahkan mungkin bodoh. Kita semua juga tahu bahwa sejak awal film telah ada rasa cinta di antara mereka, tidak perlu lagi untuk diingatkan akan hal itu. Yang tadinya bermaksudnya untuk membuat penonton ingat malah jadinya sangat membosankan. Pada bagian ini Cinta/Mati terjebak dalam drama-drama ala sinetron-sinetron yang segalanya harus selalu dijelaskan secara verbal dan kemudian menjadi cengeng. Inilah kemudian yang menjadikan Cinta/Mati terjebak dalam pengulangan semua cerita drama romantis baik di film dan televisi kita selama ini. Padahal tanpa adegan yang menye-menye tersebut film ini bisa menjadi tontonan yang berbeda, baru dan mungkin mestinya bisa menjadi salah satu yang terbaik. Untungnya kemudian sebuah akhir yang tidak diprediksi telah disiapkan untuk menutup film ini dengan cukup baik. Vino G. Bastian sebagai Jaya tampil maksimal. Sama seperti peran-peran sebelumnya, karakter Jaya ini sepertinya memang ditulis buatnya. Jaya ini mengingatkan kita pada Vino sebagai Ipang dalam Realita Cinta dan Rock n Roll (2007) juga Radit dalam (Radit dan Jani (2008) dan juga perannya sebagai Mika (2013). Pengulangan karakter yang kerap kali hampir sama ini justru membuat akting Vino terlihat cukup matang dalam film ini. Meskipun akhirnya kita bisa menarik kesimpulan bahwa Vino tidak berani keluar dari zona nyamannya dalam berakting. Astrid Tiar sebagai Acid terlihat sangat berusaha mengimbangi Vino. Pada bagian awal-awal film terlihat sekali Vino sangat membantu Astrid untuk bisa natural mengimbanginya. Tanpa sadar justru Jaya yang dibawakan Vino menjadi daya tarik film ini. Satu lagi yang cukup menganggu dari penampilan Tiar sebagai Acid adalah artikulasi dialog yang tidak jelas, terutama pada bagian dia harus menampilkan akting marah-marah dan emosional, pada beberapa bagian terasa seperti orang yang kumur-kumur, buru-buru dan tidak terlalu jelas apa yang diucapkannya. Perhatikan adegan ketika Acid marah-marah di stasiun kereta. Penonton akan mengeryitkan kepala kemudian akan bertanya pada penonton sebelah, “dia bilang apa?’ Dengan setting film yang hampir semuanya malam ini, kualitas gambar pada beberapa bagian terlihat tidak maksimal. Beberapa kali kita akan menemukan gambar yang tidak jelas atau blur. Untungnya suasana malam Jakarta dengan lokasi-lokasi yang bagus menjadi daya tarik film ini. Semua yang berhasil direkam dengan rasa romantis. Seperti Lovely Man karya Teddy Soeriaatmadja yang juga merekam Jakarta dalam satu malam, secara teknis, gambar dan rasa film yang dihasilkan Lovely Man setingkat di atas Cinta/Mati. Terlepas dari segala kekurangan tersebut Cinta/Mati mempersembahkan sebuah karya dari sederatan pekerja film dengan semangat independen dan kerjasama yang luar biasa. Dua tahun dari sejak film ini mulai diproduksi, semua yang terlihat berdedikasi dan berusaha supaya film ini bisa dirilis ke bioskop. Semangat membuat film dengan segala aspek yang minor ini membuat film ini terasa diperjuangankan dengan semangat kesederhanaan dan kebersamaan. Sesuatu yang harusnya selalu dimiliki oleh semua pembuat dan pekerja film kita. September 2013 l Kinescope l 17
  • REVIEW Kengerian Exorcism yang Repetitif Doni Agustan The CONJURING | Diangkat dari kisah nyata ten- tang pasangan paranormal investigator, Ed (Patrick Wilson) dan Lorraine Harren (Vera Farmiga), dengan berbagai macam kasus menyeramkan yang telah mereka hadapi. Ed dan Lorraine kemudian bertemu keluarga Perron, Roger (Ron Livingston) dan Carolyn (Lily Taylor). Carolyn mendatangi kuliah terbuka Ed dan Lorraine, dia bercerita mengenai rumah baru mereka di pedalaman Rhode Island yang menjadi tempat munculnya sosoksosok menyeramkan dan mulai menganggu kenyamanan semua anggota keluarga. Ed dan Lorraine kemudian mengklaim bahwa kasus keluarga Perron ini adalah kasus paling mengerikan yang pernah mereka hadapi. T he Conjuring karya James Wan berhasil ini mengumpulkan 100 juta dolar AS, hanya dalam waktu satu minggu untuk rilis Amerika Utara saja. Film horor exorcism berbiaya hanya 20 juta dollar AS menjadi film horor pertama yang meraih pendapatan lebih dari 100 juta dollar AS, sejak tahun 2011 (Paranormal Activity 3). The Conjuring meraih rating 86 persen di Rotten Tomatoes, New York Times melabeli The Conjuring sebagai film horor terbaik tahun 2013, menerima A - dalam jajak pendapat yang diadakan oleh Cinescore dan memiliki rating 7,7 di IMDb. Kesuksesan The Conjuring ini membuat James Wan berencana memproduksi sekuel lanjutannya. The Conjuring menggunakan hampir semua treatment yang telah digunakan oleh film-film horor sebelumnya. Sama seperti halnya Mama (2013) atau 4 film Paranormal Activity, sosok menyeramkan dalam film-film horor akan datang perlahan, 18 l Kinescope l September 2013
  • kemudian dijaga intensitasnya dengan kemunculan-kemunculan selanjutnya, hingga menjadi klimaks saat sosok menyeramkan ini terlihat utuh. Selain itu biasanya sosok menyeramkan tidak akan muncul paling tidak 30 menit sejak dari film dimulai, penonton akan disuguhkan terlebih dahulu latar belakang karakter utama. Biasanya bagian ini akan sangat membosankan karena penonton pastinya sudah sangat tidak sabar untuk diteror oleh sosok-sosok menyeramkan. Tetapi untungnya The Conjuring tidak menjebak penonton dengan rasa kebosanan pada bagian awalnya. Vera Farmiga dan Lily Taylir yang telah tampil sejak awal, dengan penampilan terbaik mereka mampu melenyapkan kehampaan tersebut, dan tunggu setelah 30 menit opening film ini, Farmiga dan Taylor semakin memperlihatkan bahawa mereka adalah aktris-aktris terbaik Hollywood saat ini. The Conjuring juga tidak bisa lepas dari semua stereotype film horor Hollywood lainnya. Apa sajakah stereotype tersebut? Kebodohan orang dewasa yang tidak tajam pada tanda-tanda yang jelas-jelas telah memperlihatkan sesuatu yang tidak beres. Boneka yang sangat menyeramkan. Sebuah basement yang gelap dan menakutkan serta penuh dengan barang-barang antik. Sosok hantu yang hanya dapat lihat oleh anakanak. Flash back mengenai motivasi dari sosok-sosok menyeramkan yang berusaha meraih simpati penonton. Karakter-karakter dalam film horor seperti selalu memiliki IQ seperti di bawah standar orang biasa, ketegangan yang lamban, logika penonton yang terkadang tidak dipedulikan oleh pembuat film. Deretan hal-hal yang telah kerap kali kita tonton dalam banyak filmfilm horor sebelumnya ini, menjadikan The Conjuring tidak lagi terasa terlalu spesial. Film ini hanya melakukan pengulangan dari format yang mungkin sudah terasa basi tetapi kemudian dikemas sedemikian rupa sehingga terasa menjanjikan. Bagaimana cara pembuat film mengemasnya menjadi sedemikian rupa tadi? Seperti yang telah disebut di atas, dengan menggunakan dua aktris watak Vera Farmiga dan Lily Taylor yang memang dengan kapasitas mereka sebagai peraih nominasi Oscar dan Emmy Awards ini memberikan hasil yang maksimal. Pemilihan embel-embel based on true story yang menjadi daya tarik sangat kuat untuk membuat orang berduyun-duyun, melihat senyata apa kejadian tersebut hingga perlu dijadikan sebuah karya film. Dan tentu nama James Wan menjadi jaminan bahwa kemasan film ini pasti menjanjikan. Wan yang lahir di Kuching, Malaysia ini adalah sutradara yang memperkenalkan Saw (2004), dan Insidious (2010). Dua film horor/thriller yang sempat menjadi bahan perbincangan karena mampu membius penonton pada masa rilisnya. The Conjuring juga seperti dijadikan pemanasan untuk film Insidious: Chapter II yang juga dibuat Wan dan akan rilis 13 September 2013 ini. Begitu banyak horor yang sangat mengecewakan belakangan ini karena tidak mampu menakut-nakuti dengan maksimal, biasanya banyak penonton datang ke bioskop dengan ekspektasi yang sudah sangat rendah serta siap untuk kecewa. Dengan segala stereotype yang telah disebutkan di atas tadi, The Conjuring ternyata tidaklah terlalu mengecewakan, satu hal yang membuat film ini masih sangat bisa untuk dinikmati adalah gerak kamera yang hampir semua handheld. Treatment ini berhasil membawa penonton masuk ke dalam film dan merasakan kengerian demi kengerian yang terjadi dalam berhantu tersebut. Perhatikan setiap adegan kemunculan sosok-sosok menyeramkan dalam film ini, gerak kamera yang provokatif dan misterius siap membuat kita meloncat kapan saja dari tempat duduk. Seperti misalnya adegan seprai putih yang terbang, membentuk bayangan menyeramkan dan memasuki dan merasuki raga Carolyn yang diperankan Lily Taylor. Bagaimana dengan tema besar exorcism yang di angkat? Kita sudah melihat banyak film-film dengan tema exorcism. The Exorcist karya William Friedkin produksi 1973 adalah yang terbaik. Sampai saat ini film yang meraih dua piala Oscar (menerima total 10 nominasi termasuk film dan sutradara terbaik), masih menjadi salah satu film horor/thriller paling menakutkan yang pernah dibuat. Linda Blair memerankan sosok Regan yang kesurupan, selalu menjadi referensi akting kesurupan terbaik, tidak salah jika Blair menerima nominasi Oscar untuk perannya ini. Selain The Exorcist, satu lagi film exorcism yang juga sangat berkesan adalah The Exorcism of Emily Rose, karya Scott Derrickson, produksi 2005. Jennifer Carpenter menerima beberapa penghargaan untuk peran debutnya sebagai Emily Rose. Tidak berbeda dengan kedua film ini, The Conjuring juga menampilkan proses exorcism yang menengangkan dan mampu membuat nafas penonton berhenti, tetapi sayangnya kengerian exorcism ini menjadi terasa repetitif. Jika dalam The Exorcit dan The Exorcism of Emily Rose korban keserupan banyak berteriak-teriak, maka dalam The Conjuring, melalui adegan kursi yang melayang-layang, Lily Taylor tidak hanya berteriak tetapi juga melakukan olah suara menyeramkan sehingga kita sebagai penonton percaya bahwa Lily benar-benar sedang kesurupan. September 2013 l Kinescope l 19
  • FESTIVAL Ven ice F ilm Fes tiva l Don i Agusta n- FOTO : A hma d Ha san Yun iard i “Kami ingin mengenalkan filmfilm terbaru yang berisi budaya tradisional maupun kontemporer. Kami berharap festival ini akan berjalan sukses dan terus disukai di Indonesia” Kim Young-Sun 20 l Kinescope l September 2013
  • atern e m in n al fil posizio tiv Es fes Sep “ alah ebagai u awal t s al ad pa ta estiv un 1932 ustus a da tem tarnya. F pa Ag eki tah Film nal i pada p akhir ngsung ain di s atio l p tern ppe Vol an setia an berla empat In tar nice at-t dak use u Ve ount Gi ang dia . Pemu di temp y l ata C lia n stiva dirikan rafica” , ice, Ita coni da e F n i enice Film Festival merupakan bagian Mar Film ia. D atog o, Ve dari Venice Biennale selama lebih nice di dun Cinem lau Lid gomare e dari satu abad (Venice Biennale he V tertua ’ Arte di pu i Lun T didirikan pada tahun 1895), lembaga d l ya ma d a le ini menjadi salah satu kegiatan kebudayaan sion aziona tahunn Cine yang paling bergengsi di dunia. Selain terkenal p rn el Inte er, setia lazzo d dengan festival filmnya, lembaga ini juga memiliki kegiatan budaya lain seperti pameran mb rah Pa te seni dan arsitektur internasional, festival musik ja e kontemporer, festival teater, dan juga festival bers V tari kontemporer. Penghargaan utama pada Venice adalah Leone d’ Oro atau yang lebih populer dengan nama Golden Lion, diberikan kepada film terbaik yang diputar untuk kategori kompetisi. Leone d’ Argento atau Silver Lion diberikan untuk kepada sutradara terbaik, dan Coppa Volpi atau Volpi Cup, yang diberikan kepada aktor dan aktris terbaik. Golden Lion diperkenalkan pada tahun 1949 oleh panitia penyelenggara dan sekarang dianggap sebagai salah satu penghargaan yang paling terkemuka dalam industri film. Sebelum Golden Lion diberikan, penghargaan untuk film terbaik disebut Venice Grand International Prize yang diberikan pada tahun 1947 dan 1948. Sebelum itu, dari tahun 1934 sampai tahun 1942, penghargaan tertinggi adalah Coppa Mussolini untuk Italia Film Terbaik dan Film Asing Terbaik. Dan tidak ada penghargaan Golden Lion antara tahun 1969 dan 1979. Pada tahun 1970, Golden Lion Honorary diperkenalkan, ini merupakan penghargaan kehormatan bagi orang-orang yang telah membuat kontribusi penting untuk dunia sinema. Orang pertama yang menerima adalah Orson Welles. Selain itu ada juga penghargaan Horizons, September 2013 l Kinescope l 21
  • yang merupakan penghargaan terbuka untuk semua film dengan pandangan yang lebih luas terhadap trend dan hal-hal baru dalam mengekpresikan karya film. Horizons ini diberikan untuk film panjang dan film pendek. Venice juga memiliki kategori khusus untuk film-film produksi Italia, kategori Controcampo Italiano. Kategori ini menyajikan panorama pada sinema Italia dengan 7 narasi film panjang, 7 film pendek, 7 film dokumenter. Perancis menjadi negara terbanyak yang mengumpulkan Golden Lion, 14 kali. Lima pembuat film Amerika telah memenangkan Golden Lion. Mereka adalah John Cassavetes, Robert Altman, Ang Lee (untuk film Brokeback Mountain yang adalah produksi Amerika), Darren Aronofsky dan Sofia Coppola. Sebelum tahun 1980 , hanya 3 dari 21 pemenang non-Eropa. Setelah tahun 1980, Golden Lion telah diberikan kepada sejumlah pembuat film Asia. Golden Lion telah diberikan kepada sepuluh orang Asia, dan Ang Lee menjadi orang Asia pertama yang memenangkan dua Golden Lion hanya dalam kurun waktu tiga tahun saja, untuk Brokeback Mountain dan Lust, Caution. Zhang Yimou juga telah menang dua kali. Sutradara Asia lainnya yang memenangkan Golden Lion sejak tahun 1980 adalah Jia Zhangke, Hou Hsiao-hsien, Tsai Ming-liang, Anh Hung Tran, Takeshi Kitano, Kim Ki Duk, ​​ Jafar Panahi, dan Mira Nair. Namun, sampai saat ini 33 dari 54 pemenang adalah orang-orang Eropa. Sejak 1949 hanya empat perempuan yang pernah memenangkan Golden Lion; Mira Nair, Sofia Coppola, Margarethe von Trotta dan Agnès Varda. Venice Film Festival tahun ini diadakan dari tanggal 28 Agustus hingga 7 September 2013. Festival dibuka dengan terbaru karya Alfonso Cuaron yang berjudul Gravity. Film ini dibintangi oleh Sandra Bullock dan George Clooney. Gravity dengan setting antariksa adalah sebuah science fiction tentang survival di luar angkasa. Film Amazonia karya Thierry Ragobert dipilih untuk menutup festival. 22 l Kinescope l September 2013
  • Berikut daftar film peraih Golden Lion; Tahun Judul Sutradara Negara 1949 Manon Henri-Georges Clouzot * France 1950 Justice Is Done (Justice est faite) André Cayatte France 1951 Rashomon Akira Kurosawa * Japan 1952 Forbidden Games (Jeux interdits) René Clément France 1953 No award 1954 Romeo and Juliet Renato Castellani * Italy 1955 The Word (Ordet) Carl Theodor Dreyer * Denmark 3 1956 No award 1957 The Unvanquished (Aparajito) Satyajit Ray * India 1958 Rickshaw Man (Muhomatsu no issho) Hiroshi Inagaki Japan 1959 General della Rovere Roberto Rossellini Italy (Il generale della Rovere) (tie) Italy The Great War (La grande guerra) (tie) Mario Monicelli Italy 1960 The Crossing of the Rhine André Cayatte France (Le passage du Rhin) 1961 Last Year in Marienbad Alain Resnais France (L’année dernière à Marienbad) 1962 Family Diary (Cronaca familiare) (tie) Valerio Zurlini Italy Ivan’s Childhood (Ivanovo detstvo) (tie) Andrei Tarkovsky * Soviet Union 1963 Hands Over the City (Le mani sulla città) Francesco Rosi Italy 1964 Red Desert (Il deserto rosso) Michelangelo Antonioni Italy 1965 Sandra of a Thousand Delights Luchino Visconti Italy (Vaghe stelle dell’Orsa) 1966 The Battle of Algiers Gillo Pontecorvo Italy (La battaglia di Algeri) 1967 Beauty of the Day (Belle de jour) Luis Buñuel France 1968 Artists under the Big Top: Perplexed Alexander Kluge * West Germany (Die Artisten in der Zirkuskuppel: Ratlos) 1969-79 No award 1980 Atlantic City (tie) Louis Malle * Canada/ France Gloria (tie) John Cassavetes * United States 1981 Marianne and Juliane Margarethe von Trotta West Germany (Die Bleierne Zeit) 1982 The State of Things Wim Wenders West Germany (Der Stand der Dinge) 1983 First Name: Carmen Jean-Luc Godard France (Prénom Carmen) 1984 The Year of the Quiet Sun Krzysztof Zanussi * Poland (Rok spokojnego slonca) 1985 Vagabond (Sans toit ni loi) Agnès Varda France 1986 The Green Ray (Le rayon vert) Éric Rohmer France 1987 Au revoir, les enfants Louis Malle France 1988 The Legend of the Holy Drinker Ermanno Olmi Italy (La leggenda del santo bevitore) 1989 A City of Sadness Hou Hsiao-Hsien * Taiwan (Bei qing cheng shi) 1990 Rosencrantz & Guildenstern Tom Stoppard * United Kingdom/ United States Are Dead 1991 Urga Nikita Mikhalkov Soviet Union 1992 The Story of Qiu Ju Zhang Yimou * China (Qiu Ju da guan si) 1993 Short Cuts (tie) Robert Altman United States Three Colours: Blue Krzysztof Kie (Trois couleurs: Bleu) (tie) Klowski France/ Poland 1994 Vive L’Amour Tsai Ming-liang Taiwan (Ai qing wan sui) (tie) Before the Rain (tie) Milco Mancevski * Republic of Macedonia 1995 Cyclo (Xich lo) Anh Hung Tran France/* Vietnam 1996 Michael Collins Neil Jordan * Ireland 1997 Fireworks (Hana-bi) Takeshi Kitano Japan 1998 The Way We Laughed Gianni Amelio Italy (Così ridevano) 1999 Not One Less Zhang Yimou China (Yi ge dou bu neng shao) 2000 The Circle (Dayereh) Jafar Panahi * Iran 2001 Monsoon Wedding Mira Nair India/ United States/ Italy France/* Germany 2002 The Magdalene Sisters Peter Mullan Ireland 2003 The Return (Vozvrashcheniye) Andrey Zvyagintsev * Russia 2004 Vera Drake Mike Leigh United Kingdom 2005 Brokeback Mountain Ang Lee United States 2006 Still Life (Sanxia haoren) Jia Zhangke China 2007 Lust, Caution (Se, jie) Ang Lee United States/ China/ Taiwan 2008 The Wrestler Darren Aronofsky United States 2009 Lebanon Samuel Maoz * Israel 2010 Somewhere Sofia Coppola United States 2011 Faust Alexander Sokurov Russia 2012 Pietà Kim Ki-duk * South Korea 2013 Sacro GRA Gianfranco Rosi Italy Berikut daftar Film yang ikut berkompetisi dan diputar selama festival berlangsung; Competition • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Ana Arabia, Dir: Amos Gitai Child of God, Dir: James Franco Die Frau des Polizisten, Dir: Philip Groning L’intrepido, Dir: Gianni Amelio La Jalousie, Dir: Philippe Garrel Jiaoyou, Dir: Tsai Ming-liang Joe, Dir: David Gordon Green Kaze Tachinu, Dir: Hayao Miyazaki Miss Violence, Dir: Alexandros Avranas Night Moves, Dir: Kelly Reichardt Parkland, Dir: Peter Landesman Philomena, Dir: Stephen Frears Sacro GRA, Dir: Gianfranco Rosi Es-Stouh, Dir: Merzak Allouache Tom at the Farm, Dir: Xavier Dolan Tracks, Dir: John Curran Under the Skin, Dir: Jonathan Glazer The Unknown Known: the Life and Times of Donald Rumsfeld, Dir: Errol Morris Via Castellana Bandiera, Dir: Emma Dante The Zero Theorem, Dir: Terry Gilliam Out of competition • • • • • • • • • • • • • • • Die Andere Heimat, Dir: Edgar Reitz The Armstrong Lie, Dir: Alex Gibney At Berkeley, Dir: Frederick Wiseman The Canyons, Dir: Paul Schrader Che strano chiamarsi Federico Scola racconta Fellini, Dir: Ettore Scola Feng Ai, Dir: Wang Bing Locke, Dir: Steven Knight Moebius, Dir: Kim Ki Duk Pine Ridge, Dir: Anna Eborn Space Pirate Captain Harlock, Dir: Aramaki Shinji Summer 82 When Zappa Came to Sicily, Dir: Salvo Cuccia Ukraina ne Bordel, Dir: Kitty Green Walesa. Czlowiek z nadziei, Dir: Andrzej Wajda, Ewa Brodzka Wolf Creek 2, Dir: Greg McLean Yurusarezaru mono, Dir: Lee Sang-Il Horizons strand - new trends in film-making • • • • • • • • • • • • • • • • • Algunas Chicas, Dir: Santiago Palavecino Bauyr, Dir: Serik Aprymov Eastern Boys, Dir: Robin Campillo Jigoku de naze warui, Dir: Sono Sion Mahi Va Gorbeh, Dir: Shahram Mokri Je m’appelle Hmmm…, Dir: Agnes B. Medeas, Dir: Andrea Pallaoro Il terzo tempo, Dir: Enrico Maria Artale Palo Alto, Dir: Gia Coppola Piccola Patria, Dir: Alessandro Rossetto La prima neve, Dir: Andrea Segre Ruin, Dir: Amiel Courtin-Wilson, Michael Cody The Sacrament, Dir: Ti West Still Life, Dir: Uberto Pasolini Vi ar bast!, Dir: Lukas Moodysson La vida despues, Dir: David Pablos Wolfskinder, Dir: Rick Ostermann September 2013 l Kinescope l 23
  • DISKUSI Foto : Lulu Ratna / www.docnetsoutheastasia.net Dalam rangka mendorong perkembangan film dokumenter Indonesia, DocNet Asia Tenggara, bermitra dengan In-Docs dan Arkipel International Documentary Film Festival & Eksperimental, menjadi tuan rumah diskusi meja bundar pada pendanaan dan distribusi film dokumenter kreatif. Diskusi berlangsung pada tanggal 27 Agustus di Goethe-Institut Jakarta dan membawa pemangku kepentingan film dokumenter Indonesia, seperti lembaga pemerintah, lembaga nonpemerintah, distributor, peserta pameran, penyelenggara festival, dan pembuat film untuk membahas bagaimana untuk mendanai dan mendistribusikan dokumenter Indonesia. 24 l Kinescope l September 2013
  • FORMULIR BERLANGGANAN Dengan ini, mohon dicatat sebagai pelanggan majalah Kinescope dengan data sebagai berikut : Nama : …………………………………………………………………………….. No.KTP/ SIM : …………………………………………………………………………….. Alamat Rumah/ Kantor : …………………………………………………………………………….. ………………… …………………………………………………………....................................................... ………………… …………………………………………………………....................................................... Kode Pos : Telepon : …………………………………………………………………………….. Mobile Phone : …………………………………………………………………………….. Email : …………………………………………………………………………….. Berlangganan : 3 bulan 6 bulan 12 bulan ……….../……………………………./20…….. __________________________ (Tanda tangan & nama lengkap) Syarat & Ketentuan : • • • • • • • • • • • • • Biaya Registrasi P. Jawa Rp. 20.000,Biaya Pengiriman 3 bulan Rp. 35.000,- 6 bulan Rp. 65.000,- 12 bulan Rp. 100.000,Pembayaran ditransfer ke PT. Kinescope Indonesia CIMB Niaga Cabang Bintaro 080.010.135.5009 Bukti pembayaran kirim ke email langganan@kinescopeindonesia.com Majalah akan dikirimkan pada bulan berikut setelah bukti pembayaran diterima Untuk informasi atau pertanyaan lebih lanjut mengenai Kinescope dapat di email ke info@kinescopeindonesia.com atau klik www.kinescopeindonesia.com Registrasi akan terputus secara otomatis setelah habis periode masa berlangganan Untuk perpanjangan masa berlangganan dapat langsung melakukan pembayaran dan mengkonfirmasi pembayaran sebelum habis periode berlangganan Selama bukti pembayaran belum kami terima maka registrasi & pengiriman tidak kami proses. Nilai registrasi & biaya berlangganan sewaktu-waktu dapat berubah tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Harga berlaku hanya di P. Jawa. Biaya Registrasi Sumatra, Kalimantan Rp. 25.000,-/Edisi Sulawesi Rp.30.000,-/Edisi Biaya Pengiriman 3 bulan Rp. 75.000,- 6 bulan Rp. 105.000,- 12 bulan Rp. 135.000,September 2013 l Kinescope l 25
  • STATISTIK filmindonesia.or.id Cinta Brontosaurus 2 892.915 Coboy Junior The Movie 683.144 3 Get M4rried Data Penonton 6 1 La Tahzan 234.918 7 Sang Kiai 219.734 8 306.416 4 Refrain 9 280.707 5 308 26 l Kinescope l September 2013 Agustus 2013 Air Terjun Pengantin Phuket 215.161 Cinta Dalam Kardus 212.974 10 270.821 Mika 169.151
  • September 2013 l Kinescope l 27 www.simponi10.blogspot.com
  • OPINI PUBLIK Film Bagus? Ini Cara Menentukannya F Hasreiza ilm adalah satu dari sekian hasil karya seni yang sangat berpengaruh dalam membuat realitas di kepala para penikmat seni. Pesan yang terdapat dalam film sangat kuat dan mudah untuk bertransformasi ke dalam pikiran dan imaginasi penontonnya dan sangat mungkin membuat realitas baru yang dianggap kebenaran yang bisa diikuti dalam diri penonton. Film juga menjadi salah satu hiburan terbaik yang bisa didapatkan di waktu senggang. Masalah umum yang selalu muncul dan dihadapi seseorang, dengan pengetahuan tentang film yang terbatas, dalam memilih film adalah film terbaik apa yang harus ditonton di luar filmfilm yang mereka tahu. Di saat seperti ini, tak jarang bagus atau tidaknya poster film atau sampul CD atau DVD film, menjadi cara terbaik seseorang untuk menentukan pilihan tentang film mana yang akan ditonton. Dan tak jarang juga, beberapa dari penggemar film lari pada situs online yang menyediakan informasi tentang rating dan ulasan sebuah film. Beberapa situs besar (berbahasa Inggris) yang sering dijadikan acuan adalah RottenTomatoes.com, IMDB.com, Metacritic.com, atau MovieReviews.com dan masih banyak lagi yang lainnya. Situs rating film tersebut 28 l Kinescope l September 2013 “Sebuah bencana bagi struktur kebudayaan sebuah masyarakat dan peradaban ketika para produser dan pembuat film hanya memikirkan dan mementingkan orientasi profit saja dari karya filmnya.” bisa dikatakan sebagai “pembimbing” yang memberikan rekomendasi film terbaik dengan cara memasang nilai (angka) dari sebuah film pada pengunjung. Sebetulnya, kualitas sebuah film sangat menentukan tingginya antusiasme masyarakat terhadap film tersebut. Kualitas film yang semakin baik dari segi cerita, sinematografi, juga teknis, secara idealnya seharusnya akan menentukan tingginya antusiasme penonton untuk berbondong-bondong menyaksikannya. Aktor senior Didi Petet yang pernah mengatakan bahwa sebuah film harus mampu mengedukasi masyarakat justru menjadi dilema sendiri bagi penonton dan pembuat film. “Ini yang selalu menjadi dilema pembuat dan penontonnya,” katanya. Apakah sebuah film harus mengedukasi masyarakat, menurut Didi, jangan hanya dibebankan kepada orang-orang film. Biarkan masyarakat yang menilai sendiri. Karena film adalah refleksi dari keadaan masyarakat pada zamannya, maka biarkan masyarakat mengedukasi dirinya sendiri. “Film itu mencerminkan masyarakat pada zamannya. Perkembangannya bisa kita lihat lewat film. Film bisa mengungkapkan semua, latar belakang budaya, pendidikan, dan sebagainya,” ungkap pemain film yang juga menjadi dosen di Institut Kesenian Jakarta tersebut. Lebih lanjut ia menambahkan, penonton harus cerdas dalam menonton sebuah sajian film. “Penonton harus
  • seperti sudut kamera yang kreatif, pencahayaan yang baik dan menjaga detil-detil visual yang tidak penting yang hanya menjadikan kekonyolan, ketidaksesuaian dengan adegan dan keseluruhan film. cerdas, kita semua harus cerdas. Kalau tidak perlu ditonton ya tidak usah ditonton. Kita nonton film yang bisa membuat kita menjadi cerdas,” katanya. Lola Amaria juga pernah mengatakan mengatakan bahwa dalam sebuah film, etika, estetika, dan logika sangat penting. Ia mencontohkan hal-hal yang tidak logis yang masih ada di film dan sinetron Indonesia, seperti dandan berlebihan di dalam rumah dan memakai bulu mata palsu saat sedang tidur. Lalu bagaimana menentukan kriteria sebuah film yang dianggap baik atau tidak? Beberapa kritikus film sering menggunakan kriteria yang sederhana. Buat mereka, ketika sebuah film membuat kita berpikir tentang sebuah hal yang baru, mengubah perspektif dan cara pandang kita tentang sesuatu hal, mampu mempengaruhi dan menggerakkan, mampu membawa respon emosional penontonnya, itulah sebetulnya kriteria bahwa sebuah film dapat dikatakan bagus. Secara sederhana, sebetulnya bisa disimpulkan bahwa sebuah film dapat dikatakan bagus adalah jika memenuhi beberapa kriteria seperti; Misalnya, jika kita menonton film komedi, seharusnya kita bisa tertawa karena kelucuankelucuan dalam adegan film pada saat kita menontonnya. Pemeran film yang baik harus mencurahkan perasaannya dalam tiap adegan pada alur cerita film. Mereka mengikuti arahan dan juga menambahkan inisiatif dengan sentuhan mereka sendiri kepada film yang sedang dimainkan. Hal ini untuk memperkuat pengaruh emosional pada setiap adegan untuk mempengaruhi penonton. 3. Teknik sinematografi juga memainkan peran yang sangat penting dalam proses pembuatan sebuah film untuk menyempurnakan proses pembuatan film secara visual. Sinematografi yang baik, mempersiapkan dan menyuguhkan suasana hati dan emosional pada keseluruhan film, mengisi transisi antara adegan-adegan yang efektif dan kreatif, Jadi, saat penonton film sudah mulai memiliki pemahaman bahwa sebuah film itu sangat bisa mempengaruhi cara pandang dan pemikiran penontonnya, maka sudah saatnya penonton film mampu memilih film-film yang dianggap layak tonton dan memang memiliki pesan dan cerita yang baik. Untuk itu memang, kecerdasan emosional dan intelektual menjadi penting. Hanya saja, ini bukan hanya menjadi tanggung jawab penonton film untuk menjadi cerdas, ketika justru pembuat film dan pengambil kebijakan tidak terlalu memperdulikan hal ini. Sebuah bencana bagi struktur kebudayaan sebuah masyarakat dan peradaban ketika para produser dan pembuat film hanya memikirkan dan mementingkan orientasi profit dari karya filmnya dan tidak lagi memikirkan pengaruh pesan di dalam film pada pola budaya masyarakat yang menontonnya. Sebuah bencana bagi struktur kebudayaan sebuah masyarakat dan peradaban ketika para distributor dan pengimpor film selalu membandingkan film-film produksi Indonesia dengan film-film produksi Hollywood dan tidak pernah mau memberikan tempat yang sedikit layak bagi produksi dalam negeri. Sebuah bencana bagi struktur kebudayaan sebuah masyarakat dan peradaban ketika pemerintah sebagai pengambil kebijakan tidak pernah mau membuat aturan main yang bisa dijadikan pijakan dan landasan bagi industri film untuk bergerak secara adil agar bisa memberikan pencerahan bagi penontonnya dan pada akhirnya membangun proses pencerdasan pada pola budaya sebuah masyarakat. 1. Sebuah film harus memiliki alur cerita yang kuat. Walaupun sebuah film hanya menceritakan sebuah cerita yang sederhana dengan cara yang tepat, film tersebut bisa jadi lebih baik daripada sebuah film yang berisikan cerita yang penuh intrik dengan terlalu banyak ploting cerita yang tidak berkesinambungan. Sebuah cerita yang baik adalah cerita yang mampu menghubungkan cerita film dan isi pesan di dalamnya dengan penonton secara emosional. Inilah tugas utama dari seorang penulis cerita dan skenario, di mana mereka harus menciptakan dialog yang baik yang alami dan dapat dipercaya untuk karakter-karakter yang terdapat dalam sebuah cerita. 2. Sebuah film yang baik harus mampu membangkitkan emosi para penontonnya. September 2013 l Kinescope l 29
  • OPINI PUBLIK Wahai Para Kritikus Film Shandy Gasella B ila menilik ke belakang perihal awal mula kritik film di Indonesia -- khususnya yang menyoal film buatan negeri sendiri, kita tak perlu menengok jauh hingga ke tahun 1926 pada saat film cerita pertama ‘Loetoeng Kasaroeng’ dibuat. Pada  awal sejarah perfilman Indonesia, kritik film belumlah ada. Pada masa itu film merupakan media baru dan hanya dipandang sebagai produk hiburan semata. Ia masih belum terjamah oleh kepentingan-kepentingan politik pemerintah kolonial atau pun kepentingan lain yang dapat saja dipakai oleh si pembuat film untuk menyampaikan pesan tertentu pada masyarakat (baca: khalayak penonton). Pada masa itu film masih berproses menemukan bentuknya, dan belum ada seorang pun yang menganggapnya sebagai satu cabang seni pertunjukan yang layak diapresiasi secara serius. Pada akhir tahun 1950an ada Misbach Yusa Biran yang selain baru menapaki karirnya sebagai sineas, ia pun sebagai seorang wartawan aktif menulis kritik film. Ia pernah menjadi ketua redaksi ‘Mingggu Abadi’ (1958 - 1960), ‘Majalah Purnama’ (1962 - 1963), Redaktur ‘Ahad Muslimin’ dan ‘Lembaran Kebudayaan’ dari harian ‘Duta Masyarakat’ (1964-1965). Pada masanya dan hingga sekarang ia adalah salah satu tokoh perfilman Indonesia yang paling dihormati. Namun kini timbul pertanyaan; siapa pula generasi sekarang yang pernah membaca kritik film tulisannya? JB Kristanto bisa jadi lebih populer ketimbang Misbach Yusa Biran, ini pun tentu saja hanya di kalangan para penikmat film Indonesia garis keras, karena bagi masyarakat umum toh keduanya sama-sama tak populer. JB Kristanto pernah menjadi jurnalis ‘Harian Kompas’, dan lewat perannya sebagai jurnalis ini kritik film di media massa jadi memiliki bobot, atau setidaknya ia merangsang para jurnalis lain memberi perhatian lebih akan penulisan berita mau- “Mengapa para penikmat film tak membaca tulisan kritikus film karena para kritikus ini kekurangan humor, asyik sendiri menelaah dengan kata-kata yang membuat pembacanya harus selalu sedia kamus bahasa Indonesia.” 30 l Kinescope l September 2013
  • pun ulasan film. Selain itu ia pun layak dipuji dan diberi penghormatan karena  menulis buku Katalog Film Indonesia yang amat berharga itu. Kritik-kritik film dari buah pikirannya selalu mendalam khas tulisan akademisi, padahal ia menulis untuk media cetak arus utama. Dari tahun 70an hingga kini ia masih aktif menulis kritik film, yang terbaru darinya dapat ditemui di laman ‘filmindonesia.or.id’, di situs yang menyajikan data dan informasi lengkap tentang perfilman Indonesia itu ia mengulas film ‘Kisah 3 Titik’ karya Lola Amaria yang dirilis pada awal Mei tahun ini. Sudah tak seproduktif dulu, namun jelas terlihat bahwa semangat dan minatnya terhadap kajian film masihlah menggebu. Masih ada nama lain seperti Eric Sasono dan Lisabona Rahman misalnya yang serius mengkaji film lewat cara yang mirip dilakukan oleh JB Kristanto, yaitu mengulas film dengan sudut pandang tertentu, menelaah secara mendalam dengan teori-teori disiplin ilmu tertentu pula. Kritik yang mereka hasilkan sangat mumpuni dan bisa jadi masukan yang amat berarti tak hanya bagi para sineas yang filmnya mereka kritik, namun juga dapat menjadi catatan penting dokumentasi bagi kepentingan pendidikan, khususnya soal kajian film di Indonesia. Sejatinya fungsi kritikus film adalah sebagai penghubung si pembuat film dengan penontonnya. Merekalah yang menjembatani penyampaian gagasan-gagasan si pembuat film agar dapat lebih dipahami oleh penonton. Maka, peran kritikus film sebagai perantara tersebut menarik untuk dicermati. Kini di era media sosial yang kian ramai dipadati warga, saat akses kepada informasi berseliweran tak terbendung, setiap orang bisa menjadi kritikus film, dan bahkan mereka bisa menjadi kritikus apapun yang mereka kehendaki. Setiap hari kita selalu menjumpai tweet seseorang yang mengomentari sebuah film yang baru saja ditontonnya, lengkap disertai tautan ke alamat blog pribadinya untuk mengetahui ulasan lengkap yang ditulisnya. Dan ini terjadi tak hanya di Indonesia, namun juga di seluruh dunia. Untuk menyampaikan informasi, gagasan, opini, dan lain sebagainya kepada khalayak ramai, kini kita tak perlu lagi menitipkan tulisan kepada kolom surat pembaca, atau kepada media-media online jurnalisme warga yang tak memberi kompensasi sepeser pun kepada kontributornya itu, kita hanya cukup mempostingnya di blog pribadi dan setiap orang memiliki akses untuk membacanya. Berbicara soal blog, kenyataannya tak sedikit blog-blog yang khusus mengulas film ditulis oleh anak-anak berumur belasan tahun atau awal 20an, umumnya ditulis dengan amat serampangan seolah mereka tak pernah mendapatkan pendidikan bahasa Indonesia di sekolahnya, dan yang paling mengejutkan blog mereka ternyata dikunjungi oleh banyak sekali pembaca. Hal yang lumrah sekali dijumpai. Movie blogger -- begitu mereka biasa disebut, alih-alih membantu penikmat film lebih memahami film yang ditontonnya, terkadang mereka malah menyesatkan atau setidaktidaknya tak memberi informasi berharga apa pun. Tentu tak semua movie blogger demikian, ada beberapa yang cukup berdedikasi dan mampu menulis ulasan filmnya secara mendalam. Internet telah memberi rumah baru bagi dunia kritik film, dan mereka bebas menulis apa pun sesuka hati. Masalahnya, memiliki kebebasan penuh untuk menulis apa pun dengan sesuka hati dibutuhkan disiplin ilmu yang memadai. Mikael Johani, seorang penyair sekaligus pemerhati budaya pop lewat blognya di ‘oomslokop.tumblr.com’ sering pula mengulas film. Dalam salah satu postingannya ia menelaah, membandingkan film ‘Negeri di Bawah Kabut’ karya Salahuddin Siregar dengan ‘The Act of Killing’-nya Joshua Oppenheimer. Menarik bukan? Dan kajiannya terhadap kedua film tersebut tak hanya mendalam, namun juga memberi perspektif unik yang tak tercetus dari (katakanlah) pengulas film lain di media arus utama baik cetak maupun online. Lalu ada Mumu Aloha -- nama beken dari Is Mujiarso, seorang managing editor salah satu media berita online terbesar di Indonesia ini, seperti Mikael Johani, ia pun kerap kali berbagi opini soal film yang telah ditontonnya lewat blognya di ‘penyinyiran.tumblr.com’. Pada salah satu postingannya ia mengulas film ‘Finding Srimulat’ karya Charles Gozali dengan gaya bahasa yang santai namun juga sarat analisis yang tajam. Membaca tulisan mereka berdua selalu menyegarkan dan menutrisi akal pikiran, juga tak jarang saya dibuat tertawa karena keduanya orang yang jenaka, selalu tak pernah kekurangan humor, dan sarkasme -- satu hal yang jarang dimiliki oleh para penulis lain di negeri ini. Secara umum kritik film dibedakan menjadi dua, kritik jurnalistik dan kritik akademis. Kritik jurnalistik biasanya ditulis oleh jurnalis atau penikmat film, dipublikasikan lewat media massa. Kritik ini biasanya dimuat sebagai panduan bagi calon penonton dalam memilih film yang baru rilis di bioskop. Pada media cetak dan beberapa media online kritik jurnalistik sangat dibatasi oleh ruang halaman, dan terkadang harus berkompromi dengan aturan-aturan redaksional tertentu. Sedangkan kritik akademis lazimnya ditulis oleh kalangan akademisi dari perguruan tinggi, dimuat dalam jurnal ilmiah atau majalah berbobot yang mengulas film. Berbeda dengan kritik jurnalistik yang mengutamakan informasi aspek-aspek dasar sebuah film -- seperti sinopsis, bintang film, hingga genre dan mutu film, kritik akademis bertujuan mendalami makna sebuah film dan efeknya bagi penonton. Yang satu enteng dibaca, satu lagi terasa berat. Eric Sasono dan Lisabona Rahman masuk kedalam golongan terakhir. Amerika dengan Hollywood sebagai kiblat perfilman dunia, selain memiliki banyak movie blogger yang handal seperti Dennis Cozzalio (Sergio Leone), Kim Morgan (Sunset Gun), dan ratusan movie blogger lainnya, ya ratusan -- bahkan situs film terkemuka TotalFilm.com pernah memuat artikel tentang 600 blog film yang layak dikunjungi, mereka pun memiliki banyak sekali kritikus film handal yang bekerja di media arus utama. Ada Vincent Canby (The New York Times), Richard Corliss (majalah Time), mendiang Roger Ebert (Chicago-Sun Times), Todd McCarthy (Variety, The Hollywood Reporter), dan masih banyak lagi yang lainnya. Media-media arus utama tersebut masih menjadi acuan bagi para penikmat film yang hendak mencari tontonan di akhir pekan atau bagi yang sudah menonton dan ingin sekedar menambah wawasan akan film yang telah ditontonnya. Rubrik ulasan film di media-media arus utama tadi memang diasuh oleh para ahli, para penikmat film yang dibekali ilmu yang memadai -- satu hal yang jarang terjadi di negeri ini. Hampir sebagian besar media massa di negeri ini dalam mengulas film masih berkutat soal menceritakan kembali sinopsis film, seputar siapa bintang film dan sutradaranya, lalu menjustifikasi filmnya sebagai tontonan yang baik atau buruk dengan memberi skor bak guru di sekolah yang memberi nilai ujian terhadap siswanya. Mereka masih belum menganggap penting rubrik film dengan tidak mempekerjakan pengasuh rubrik dari lulusan Kajian Film misalnya, atau setidak-tidaknya lulusan Sastra Indonesia atau Sastra Inggris yang telah mengenyam pendidikan soal apresiasi sastra dan turunannya beserta teori-teori pendukungnya. Lewat cara ini setidak-tidaknya ulasan film di media massa dapat dipertanggungjawabkan, serta memiliki kredibilitas. Ade Irwansyah adalah satu dari sedikit pengulas film di media massa arus utama yang memiliki kredibilitas itu. Tulisan-tulisannya biasanya tak begitu panjang, enak diikuti, ditulis dengan gaya yang santai namun mendalam dengan misalnya menelaah simbol-simbol tersirat dari suatu film. Tak jarang ia memberi peringatan “spoiler alert” di awal artikel. Karena konsekuensi dari menelaah film secara mendalam, memang terkadang pengulas harus membeberkan semua cerita dalam film, termasuk unsur kejutan yang selalu ada di penghujung sebuah film. Kita sebagai penikmat film memiliki banyak sekali alternatif bacaan pendamping selepas menonton film, ada ulasan “berat” dari Eric Sasono yang panjang-panjang, ulasan cerdas namun penuh nyinyir khas Mumu Aloha, atau ulasan dari Ade Irwansyah yang enak diikuti itu, belum lagi ulasan dari sejumlah movie blogger berhati mulia -- bagaimana tidak, tanpa dibayar, mereka dengan segala keikhlasan hati selalu menulis ulasan-ulasan film terkini secara berkala. Atau lewat majalah yang sedang anda pegang ini, makin memperkaya khasanah dunia kritik film di Indonesia bukan? Satu catatan kecil tentang kritik film di negeri ini bahwa mengapa para penikmat film tak membaca tulisan sejumlah kritikus film tertentu adalah karena para kritikus ini kekurangan humor, asik sendiri menelaah dengan mengolah kata-kata yang membuat pembacanya harus selalu sedia kamus bahasa Indonesia sebagai pendamping. Rasanya hanya angan-angan saja kita dapat menemukan seorang kritkus film setajam Eric Sasono namun juga seasik Mumu Aloha. Bila memang ada kritikus film yang seperti ini, insyaallah, dunia kritik film Indonesia akan semakin asyik saja untuk diikuti. September 2013 l Kinescope l 31
  • OPINI Begitu charming dan berpengaruhnya seorang aktor atau BINTANG FILM, hingga bisa membatalkan sebuah produksi film, jika dia menolak untuk terlibat. Produser Tinker Taylor Soldier Spy (Tomas Alfredson, UK, 2011) dan There Will Be Blood (Paul Thomas Anderson, USA, 2007) berniat membatalkan produksinya, jika Gary Oldman dan Daniel Day Lewis menolak untuk main. Oldman dan Day Lewis tentu menyesal jika menolak, Oldman akhirnya mendapat nominasi Oscar pertamanya sebagai aktor terbaik dan Lewis meraih Oscar keduanya. Doni Agustan B eberapa aktor juga punya ‘power’ untuk menentukan lawan mainnya. Elizabeth Taylor menolak main dalam A Little Night Music karya Ingmar Berman produksi 1977, jika produser tetap menawarkan salah satu karakter utama film tersebut pada Bette Davis. Bette Davis adalah bintang film klasik yang menjadi diva perfilman Hollywood sejak 1930-an hingga awal tahun 60an. Davis meraih 11 nominasi Oscar dan memenangkan dua diantaranya, untuk Jezzebel (1938) dan Dangerous (1936). Liz (nama panggilan Elizabeth Taylor) yang juga telah memiliki dua piala Oscar ini (untuk Butterfield 8 dan Who’s Afraid Virginia Woolf), tidak ingin spotlightnya sebagai bintang senior saat itu harus dibaginya dengan kehadiran Davis. Lindsay Lohan terlibat langsung dalam pemilihan aktor yang akan memerankan Richard Burton untuk film televisi yang diangkat dari kisah hidup Elizabeth Taylor, Liz and Dick (2012). Begitu juga dengan Jennifer Lawrence, setelah tampil bersama dalam Silver Linings Playbook (2012) dan menang Oscar, dia bisa dengan mudah meminta Bradley Cooper berperan sebagai pasangannya lagi, untuk film terbaru karya Susanne Bier yang rencana akan rilis akhir 2013 ini. Bagaimana dengan urusan jualan? Will Smith, Tom Cruise, Julia Roberts, Tom Hanks, Meg Ryan dan Leonardo DiCaprio pernah dicap sebagai aktor-aktor yang dijamin membuat film laris. Begitu dipercayanya pesona mereka, masing-masing nama di atas ini bahkan pernah dibayar hingga 20 juta dollar Amerika per film. Will Smith misalnya, sejak berhasil membawa Independence Day menjadi salah satu film terlaris sepanjang masa, honornya meningkat pesat. Pesona Will juga terbukti mampu menarik jutaan ratusan juta dollar. Selama hampir 10 tahun, sejak 1997-2006, film-film yang dibintanginya hampir selalu meraih pemasukan di atas 100 juta dollar AS. Setali tiga uang dengan Smith, Tom Cruise adalah raja film-film box office era tahun 1990an. Hampir semua filmnya laris di pasaran. Bahkan Cruise juga menerima penghasilan dari persentase penjualan film-filmnya. Bagaimana dengan tahun 2013 ini untuk urusan jualan? Majalah Forbes terbitan bulan Juli 2013 merilis daftar aktris Hollywood dengan 32 l Kinescope l September 2013 Apa Itu a narny Sebe g Bintan Film?
  • bayaran termahal, nama Angelina Jolie berada di posisi paling atas. Penghasilan bintang yang meraih Oscar untuk aktris pendukung terbaik dalam Girl, Interupted (1999) ini dilansir mencapai 33 juta dollar AS untuk periode Juni 2012 sampai Juni 2013. Jumlah tersebut 13 juta dollar AS lebih besar dari tahun sebelumnya. Sepak terjang tunangan aktor Brad Pitt ini sebagai penulis dan sutradara diyakini sebagai penyumbang pemasukannya selama setahun belakangan ini. Untuk menyutradarai film In the Land of Blood and Honey, Jolie dibayar 2,5 juta dollar AS. Film tersebut merain nominasi Golden Globe untuk film berbahasa asing terbaik 2012. Spekulasinya untuk film terbarunya Unbroken, Jolie dibayar 2 kali lipat dari honornya menyutradarai film In the Land of Blood and Honey. Tahun ini Jolie juga terlibat dalam film produksi Disney Maleficent, yang dispekulasi memberinya honor puluhan juta dollar AS. Sementara itu, bintang Twilight dan On the Road, Kristen Stewart yang pada tahun lalu berada di urutan teratas tahun ini berada di posisi ketiga dengan penghasilan 22 juta dollar AS. Di urutan kedua ada aktris muda berbakat Jennifer Lawrence. Penghasilan bintang Hunger Games ini untuk periode yang sama mencapai 26 juta dollar AS. Jennifer berhasil mengesar posisi Stewart karena berhasil meraih piala Oscar untuk perannya sebagai Tiffany dalam Silver Linings Playbook. Mantan istri Brad Pitt, Jennifer Aniston, berada pada posisi keempat dengan penghasilan 20 juta dollar AS, diikuti aktris Emma Stone dengan 16 juta dollar AS. Robert Downey Jr. menerima 75 juta dollar AS terhitung dari bulan Juni 2012 hingga Juli 2013. Hugh Jackman berada pada posis kedua dengan penghasilan 55 juta dollar AS. Diikuti dengan Channing Tatum pada posisi ketiga dan Mark Wahlberg pada posisi keempat. Tetapi bayaran mahal untuk bintang-bintang ini tidak selalu menjamin kesuksesan film-film yang mereka bintangi. Banyak juga film-film yang jeblok dipasaran walaupun sudah memanfaatkan nama-nama besar mereka. Cruise dan Diaz sudah pernah bekerja sama di Vanilla Sky, tetapi kehadiran mereka di film Knight and Day yang berbujet 117 juta dollar AS ini tidak membantu sama sekali. Karena Knight and Day hanya mampu mengumpulkan 20 juta dollar AS di minggu pertama penayangan. Untung saja, popularitas mereka di kancah internasional berhasil mengumpulkan 185 juta dollar AS. Selama lebih dari dua dekade, Tom Hanks menjadi jaminan box office. Sebut saja Forrest Gump, Sleepless in Seattle, dan masih banyak judul lainnya. Tapi kesuksesannya sebagai tokoh utama tidak diikuti oleh kiprahnya sebagai sutradara. Ia membintangi sekaligus menyutradai film Larry Crowne dan film ini hanya menghasilkan 35 juta dollar AS di pasar Amerika dan hanya meraih satu juta dollar lebih banyak di pasar Internasional. Julia Roberts gagal membawa Duplicity meraih sukses. Film berkisah tentang mata-mata ini meraup 40 juta dollar AS di Amerika Utara saja, dan 38 juta dollar AS untuk rilis internasional. Dengan total pendapatan 78 dollar AS, dibandingkan biaya produksi yang mencapai 60 juta dollar, film ini masuk kategori gagal. Film Julia lainnya, Eat, Pray, Love juga mengalami kegagalan di box office dan hanya meraup 80 juta dollar AS, tidak sesuai dengan bagaimana film ini banyak ditunggu-tunggu. Setahun sebelum Batman Begins, muncul film Catwoman dibintangi Halle Berry, yang sebelumnya sudah sangat dikenal sebagai Storm di X-Men. Dengan biaya produksi lebih dari 100 juta dollar AS, seharusnya ini merupakan tugas mudah baginya. Tapi total pendapatan film ini hanya 82 juta dollar AS. The Adventure of Pluto Nash yang dibintangi oleh Eddie Murphy disebut-sebut sebagai salah satu kegagalan luar biasa dalam sejarah film Hollywood. Biaya produksi yang mencapai 100 juta dollar AS, tetapi film fiksi ilmiah ini hanya berhasil meraup 7 juta dollar AS, untuk pasar Amerika dan internasional. Bagaimana dengan film lokal? Seberapa kuatkah pengaruh aktor? Untuk tahun 1980an kita punya The Big Five seperti Roy Marten, Robby Sugara, Yati Octavia, Doris Callebaut dan Jenny Rachman yang dibayar paling minimal 5 juta rupiah per film dan memang berhasil membuat film-film mereka laris pada waktu itu. Kita semua tahu, tahun 1970-1980an adalah era paling sukses film Indonesia. Era sekarang? Era film setelah bangkit lagi dari mati suri. Belum ada lagi bintang seperti Roy Marten atau Jenny Rachman. Mari kita sebut beberapa nama bintang film Indonesia saat ini, Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra misalnya. Dian dan Nicholas dulu disebut-sebut sebagai calon dua bintang besar, keduanya memang cukup berhasil menjadi ‘besar’ tetapi film-film yang mereka bintangi setelah Ada Apa Dengan Cinta (AADC) belum adalagi yang mencapai penghasilan AADC sebanyak 2 juta penonton. Kesimpulannya adalah bahwa ‘Industri’ film Indonesia belum punya bintang lagi. Belum ada ‘leading lady’ seperti Yati Octavia dan Doris Callebaut pada tahun 1970-1980an.  Bisa juga disimpulkan, kita belum punya bintang lagi! Pada kenyataannya, bahwa kejadian seorang aktor lokal menggagalkan sebuah produksi film pernah terjadi. Tinggal satu minggu menjelang syuting, semua sudah siap, sampai kemudian produser mengagalkan produksi film remake dari sebuah serial televisi tersebut , dengan rumour ‘aktor utamanya tidak deal’. Apakah aktor ini bisa kita sebut bintang? Silahkan putuskan sendiri. September 2013 l Kinescope l 33
  • BEHIND THE SCENE 23.59 Sebelum Mati F ilm pertama dari komunitas Underdog Kick Ass berjudul 23:59 Sebelum Mati direncanakan akan tayang secara resmi pada 17 Oktober 2013 mendatang. Begitu lah yang tertulis pada akun resmi mereka, @2359SebelumMati: It’s official. Oct 17, 2013. Akan tayang di bioskop terdekat. Para pemain dalam film ini berasal dari berbagai macam latar belakang dan usia yang telah dilatih selama 6 bulan oleh para pembimbing yang sudah tidak diragukan lagi kemampuannya seperti sutradara besar Rudi Soedjarwo, pemain - penulis dan sutradara teater Adri Prasetyo, dramawan Erry Petrucci serta seorang sript supervisor Syahril Ismanto. Berkisah tentang 45 orang dalam momen 23:59 sebelum menghadapi kejadian penting dalam hidup mereka masing-masing yang dapat merubah, atau bahkan mengakhiri. Digarap oleh 2 sutradara baru, 10 penulis skenario baru, 2 penata fotografi baru, 2 musik baru yang diambil di 25 lokasi selama 90 hari. Teaser resminya sudah dirilis beberapa waktu lalu di youtube dan bisa dicari dengan kata kunci 23:59 Sebelum Mati - Official Teaser Trailer. Untuk mengetahui lebih lanjut silahkan klik http://www. underdogkickass.com 34 l Kinescope l September 2013
  • Sinopsis Foto courtesy of Underdog KickAss & 23:59 Kisah sekitar 40 karakter memasuki phase 23 jam 59 menit sebelum menemui kejadian penting dalam hidupnya. Kematian juga merupakan bagian dari kejadian penting beberapa karakter di film ini. Seorang pria yang masa hidupnya penuh dengan perbuatan keji dimotori oleh rasa benci, memasuki masa 23:59 sebelum menemui ajalnya, memasuki masa-masa hidup lalunya, bertemu dengan sosok yang membawa misi akhir, apa yang terjadi di periode waktu tersebut. Kematian bukan hanya kejadian dalam hidup yang terlihat di film ini. Bahkan banyak hal-hal dalam kehidupan yang sangat berarti, tanpa kita sadari terjadi setelah melalui ruang waktu 23 jam 59 menit. Termasuk dua manusia yang ditemukan tanpa rencana, saling mengisi ruang waktu di masa 23:59 sebelum menghadapi moment penting dalam hidupnya yang terpisah. September 2013 l Kinescope l 35
  • ON LOCATION Produser Irwansyah Raffi Ahmad Furqy Tayang 12 September 2013 Produksi R1 Pictures Pemeran ZaskiaSungkar ShireenSungkar Revalina S. Temat Renata Kusmanto Fahrani Empel, Irwansyah Teuku Wisnu Didi Riyadi Ganindra Bimo Marcell Domits Wanita tetap Wanita Wanita Tetap Wanita merupakan tanda cinta bagi seluruh perempuan Indonesia. Disutradarai oleh 4 orang sutradara muda Indonesia, Irwansyah, Teuku Wisnu, Didi Riyadi dan Reza Rahadian. F ilm ini bertutur tentang kehidupan 5 orang perempuan berbeda latar-belakang pekerjaan, kehidupan sosial, dan inisiasi memperjuangan hidup, namun memiliki satu misi yaitu ‘membahagiakan hati yang butuh bahagia dengan segala kekisruhan prahara dunia’. Sederhana, namun menjiwa. Wanita Tetap Wanita bercerita tentang kekuatan perempuan menghadapi segala konflik yang ada di sekitar kita. Banyak orang menganggap perempuan lemah dan hanya menggantungkan hidup pada Lelaki. Tapi, tidakbanyak yang menyadari betapa hebatnya perempuan. Di atas bahu kecilnya, bahkan perempuan sanggup menanggung beban dunia. Di kedua mata sendunya, perempuan 36 l Kinescope l September 2013 menyimpan jutaan cerita yang ingin dibagi kepada dunia. Di kedua tangannya, dunia akan direngkuh dalam damai penuh cinta dan harapan. Tidak ada yang tidak mungkin dilakukan perempuan, karena perempuan memiliki otak, akal, mata, dan jiwa yang kuat, namun dengan hati yang lembut penuh kasih. SINOPSIS Wanita Tetap Wanita dibagi dalam 5 plot cerita yang memiliki 1 benang merah, bahwa Perempuan adalah superwomenjika ditelisik melalui berbagai sisi, bukan hanya lewat sisi simpati. Terdapat 5 judul cerita yaitu “Reach The Star”, “First Crush”, “In Between”, “Cupcakes” dan “WithorWithout”.
  • With or Without Sutradara: RezaRahadian Penulis: Lily NailufarMahbob Cupcakes Sutradara: Didi Riyadi Penulis: IlmaFathnurfirda Shana merasa terpuruk setelah ditinggal oleh calon suaminya, Rangga di hari pernikahannya. Didukung sahabatnya, Jasmine, ia berusaha bangkit dengan memanfaatkan keahliannya, Shana membuka gerai cupcake. Usaha cupcakeShana melejit perlahan tapi pasti, seperti hati Shana yang diam-diam berusaha membuka diri untuk kehadiran Fauzan, abang Jasmine yang diam-diam menaruh hati pada Shana. DisaatShana sudah siap untuk move on, Rangga mendadak muncul dihadapannya. Shana berusaha kuat, ada sakit hati bernama cinta yang kembali menyeruak, namun Shana berusaha meyakinkan diri ada kalanya manusia jatuh agar belajar berdiri dengan dua kaki. Trauma pada masa lalu membuat Adith menutup diri dari kehadiran laki-laki. Adith berjuang keras untuk membuat dirinya bangga bisa bertumpu pada kemampuan dirinya sendiri sebagai perempuan. Menulis banyak novel tentang empower perempuan, membuat Adith seakan berada di atas angin kalau hidup perempuan tidak harus bersanding dengan laki-laki. Hingga dalam satu kali perjalanan, Adith bertemu Rangga, supir taksi yang merupakan sarjana filsafat dengan pemikirannya yang filosofis. Tanpa sadar, Adith jatuh cinta. Rangga menyimpan kharisma sendiri di mata Adith dan membuat Adith kembali percaya bahwa pria dan wanita diciptakan untuk saling mencinta. Kebersamaan mengantarkan mereka pada satu komitmen pernikahan. First Crush Sutradara: Teuku Wisnu Penulis: Hotnida Harahap Reach The Star Sutradara: Irwansyah | Penulis: Wina Aswir Cinta masa remaja berada di depan mata saat Nurma dewasa dan sudah bertunangan dengan Iko. Cinta itu masih melekat pada Andy, mantan guru les Nurma saat SMP. Tidak disangka, Nurma yang baru menyandang gelar Sarjana Hukum, diterima bekerja di kantor advokat milik Andy. Seiring dengan intensitas pertemuan Nurma dan Andy dalam menangani kasus KDRT terhadap perempuan, hubungan mereka terus berkembang. Nurma menemukan kebahagiaan saat bersama Andy yang sudah berkeluarga. Nurma memutuskan pertunangannya dengan Iko, mencoba memenangkan hatinya yang berkecamuk saat bersama Andy. Sampai akhirnya, Nurma tersadar pada satu titik, saat menempatkan dirinya sebagai Istri Andy, sebagai jutaan perempuan lain diluar sana yang suaminya ‘main gila’ dengan perempuan lain. Janji adalah hutang yang harus dilunasi sampai mati, begitulah ucap bakti Kinan tertuju bagi kedua orang tuanya, walaupun Ayah Kinan sudah meninggal. Kinan berjuang sekuat tenaga untuk bisa menyandangkan gelar Hajj di nama Ayah dan Ibunya. Impiannya sudah di In Between Sutradara: Irwansyah | Penulis: Yunialarasati P Menjadi kepala keluarga, sekaligus kakak bagi Lola dan Teddy bukanlah pilihan Vanya. Apalagi, Lola yang mengidap Autis membutuhkan perhatian khusus. Vanya terus berupaya agar Lola bisa diterapi sesuai kebutuhannya. Biaya terapi yang tidak sedikit, membuat Vanya memaksa dirinya untuk tetap eksis di dunia model. Namun, usaha itu dijengkal Dion yang ingin sekali bercinta dengan Vanya. Karena mendapat penolakan, Dion mengumbar pemberitaan miring tentang Vanya, yang membuat karirVanya berada di ujung tanduk. Vanya memiliki taktiknya sendiri hingga Dion terjebak. Vanya membersihkan namanya dari fitnah Dion dan dengan keahliannya, menjadi model dan DJ. Vanya mampu memenuhi harapannya sendiri, memasukkan Lola ke terapi lanjutan. Inilah yang disebut Vanya sebuah pencapaian saat mimpi tidak hanya dibiarkan mengendap di dasar impian. depan mata, saat Kinan lolos satu-per-satutest di Maskapai Penerbangan Internasional. Namun, berita tidak enak menyeruak ke infotainment sejak Iko, seorang Selebritas yang terkenal playboy berusaha mendekati Kinan. Muncul berita pedas kalau Kinan merupakan Pramugari simpanan Pilot. Hati Kinan terluka saat segala daya dan upaya dikerahkan untuk membahagiakan Ibunya, malah penolakan yang didapat. Di tengah perasaannya yang tercabik-cabik, Kinan menyandarkan harapannya pada kekuatan yang tersisa, menepis Iko yang terus berusaha mendapat sedikit tempat di hati Kinan. September 2013 l Kinescope l 37
  • SPOTLIGHT Doni Agustan Bintang-Bintang Film Indonesia yang berkiprah Internasional “Dengan menggunakan Indonesia sebagai lokasi syuting, tentu ini membuka kesempatan bintang-bintang film lokal untuk terlibat dalam produksi film luar” 38 l Kinescope l September 2013 B elakangan kebijakan Pemerintah Indonesia memberikan keleluasaan dan kemudahan untuk pihak asing termasuk industri film Hollywood untuk syuting di Indonesia. Walaupun sejak dulu sebenarnya sudah ada beberapa film yang menggunakan Indonesia sebagai lokasi syuting, tetapi baru belakangan berita seputar hal ini diekspose oleh media. Michael Mann dan team, baru-baru ini memilih Indonesia sebagai lokasi untuk film terbarunya yang berjudul Cyber. Cyber yang berisah tentang hacker ini mengambil beberapa lokasi di Jakarta seperti Kampung Ambon dan Lapangan Banteng. Sebelumnya, Oliver Stone memanfaatkan pantai-pantai Bali untuk lokasi syuting filmnya, Savages, yang dibintangi oleh Aaron Johnson dan Blake Lively. Dengan menggunakan Indonesia sebagai lokasi syuting, tentu ini membuka kesempatan bintang-bintang film lokal untuk terlibat dalam produksi film luar tersebut. Eat Pray Love karya Ryan Murphy yang dibintangi Julia Roberts yang memanfaatkan Bali sebagai lokasi syutingnya, membuka pintu karir Christine Hakim ke Hollywood. Christine mendapatkan peran penting dalam film ini. Nama Christine Hakim tentu menjadi sosok paling utama untuk kita berbicara tentang bintang-bintang film Indonesia yang berkiprah pada dunia film internasional. Festival Film Cannes 2002 menjadi pembuka pamor Christine Hakim di peta perfilman dunia. Ia menjadi orang Indonesia pertama yang menjadi juri di salah
  • satu festival film tertua di dunia tersebut. Christine Hakim menjadi juri bersama Sharon Stone dan bintang film asal Malaysia, Michelle Yeoh. Hubungan Christine dengan Cannes telah dimulai sejak tahun 1998 saat film Daun di Atas Bantal karya Garin Nugroho diputar pada festival tersebut untuk kategori Un Certain Regard. Film ini juga mengantarkannya meraih popularitas di Asia karena meraih penghargaan pemeran utama wanita terbaik pada Festival Film Asia Pasifik 1998. Dua tahun sebelumnya, Christine juga telah terlibat dalam sebuah film drama produksi Jepang yang berjudul Sleeping Man karya Kohei Oguri. Sleeping Man juga dibintangi oleh aktor watak terkenal Jepang saat ini, Koji Yakusho. Selain nama Christine Hakim, jangan lupakan Willy Dozan. Saat ini mungkin kita hampir lupa bahwa kita punya seorang aktor laga seperti Willy Dozan yang telah berkarir pada salah pusat perfilman dunia yaitu Hong Kong. Dalam kurun waktu 3 tahun, 1979-1982, Willy yang memiliki nama lahir Chuang Cen Li, terlibat dalam 8 film produksi Hong Kong. Filmfilm tersebut adalah Hard Way to Die (1979), Super Power (1979), Black Belt Karate (1979), Crystal Fist (1979), Black Jim Smashes All (1980), A Fistful of Talons (1981), Kung Fu from Beyond the Grave (1982) dan Kung Fu Zombie (1982). Yang paling baru tentu Joe Taslim dan Iko Uwais. Dua bintang dari film The Raid Redemption karya sutradara Garreth Evans ini, mendapatkan kesempatan berkarir untul film produksi Hollywood. The Raid mendapatkan respon positif saat rilis di Amerika Serikat membuka pintu bagi Joe dan Iko untuk mempertinggi jam terbang mereka sebagai aktor. Joe Taslim mendapatkan peran dalam salah satu franchise film Hollywood, The Fast and the Furious 6. Selama beberapa bulan, Joe Taslim bersama bintang-bintang besar Hollywood digembleng dalam workshop untuk keperluan adegan action dalam film tersebut. Film yang rilis summer 2013 lalu ini menjadi salah satu film paling laris tahun ini. Bukan tidak mungkin Joe Taslim akan mendapatkan tawaran menarik selanjutnya dari Hollywood. Man of Taichi adalah sama-sama karya debut untuk Keanu Reeves dan Iko Uwais. Film ini adalah debut karir Iko di Hollywood dan debut Reeves sebagai sutradara. Selain menyutradarai, Reeves juga tampil sebagai pemain utama dalam film yang rilis Indonesia pada tangga 11 Juli 2013 ini. Selain beradu akting dengan Reeves, Iko juga dipertemukan dengan dua mega star Hong Kong, Simon Yam dan Karen Mok. Film yang mengambil setting di Beijing ini mengisahkan tentang perjalanan spiritual Tiger Chen yang adalah seorang petarung martial arts. Agnes Monica yang lebih dikenal sebagai penyanyi juga telah berhasil merambah dunia film dan televisi Asia. Agnes yang sukses sebagai salah satu bintang televisi terpopuler di Indonesia ini terlibat dalam beberapa drama seri produksi televisi Taiwan yaitu The Hospital dan Romance In the White House. Agnes juga terlibat dalam sebuah film produksi Singapura yang berjudul 3 Peas in a Pod yang baru akan rilis 14 November 2013. Bagaimana dengan bintang-bintang film kita yang terlibat dalam Java Heat? Tentu keberuntungan bagi Tio Pakusadewo, Atiqah Hasiholan, Aryo Baru, Rio Dewanto, dan Mike Muliardo bisa beradu akting dengan Kellan Lutz dan Mickey Rourke. Tetapi sayangnya Java Heat hanya rilis terbatas di Amerika Serikat, peluang bintang-bintang ini untuk mendapatkan kesempatan seperti Christine Hakim, Joe Taslim dan Iko Uwais memang lebih kecil, tetapi kemungkinan tersebut tentunya tetap ada. Bagaimana kabar dengan keterlibatan Cinta Laura dalam film The Philosopher? Kita tunggu saja film yang rencana baru akan rilis tahun 2014 ini. September 2013 l Kinescope l 39
  • dokumenter Denok & Gareng Doni Agustan Merekam Realita Apa Adany a, 89 Menit Yang Sangat Mencengangkan D enok kabur dari rumah saat berusia 14 tahun, tinggal di jalanan dan menghidupi diri dengan berdagang narkoba. Denok hamil dari pacarnya yang justru kemudian meninggalkannya. Tiga tahun kemudian nasib mempertemukannya dengan Gareng. Gareng berbesar hati menerima Denok apa adanya. Berdua mereka mumutuskan menikah dan mencoba untuk hidup lebih baik. Cerita kemudian lompat beberapa tahun setelah mereka menikah, dengan usaha ternak babi berusaha memperbaiki hidup. Mereka tinggal bersama ibu dan 3 orang adik Gareng, Soesan, Pur dan Nur. Masalah tidak pernah selasai dari hidup mereka. Bapak Gareng meninggalkan mereka dengan beban hutang 40 juta rupiah. Begitulah sekelumit pembuka film Denok & Gareng yang menerima penghargaan terbaik kedua pada Chop Shots Documentary Film Festival, yang digelar di Jakarta, Desember 2012 lalu. Film ini kemudian diputar juga pada Arkipel International Documentary and Experimental Film Festival, yang diadakan oleh Forum Lenteng, 24 – 30 Agustus 2013. Denok dan Gareng diputar untuk program kuratorial Mobilitas Sosial untuk Pemula. Seperti yang dituliskan Adrian Jonathan, kurator program ini bahwa menonton Denok & Gareng akan mengingatkan kita kalau tantangan terbesar sinema Indonesia saat ini bukanlah menjadi orisinil, tapi menjadi otentik. Mitos mobilitas sosial hanyalah satu di antara jutaan perkara negeri ini yang belum 40 l Kinescope l September 2013 terartikulasi secara jujur oleh sinema kita. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah merekam realita apa adanya. Menggaris bawahi merekam realita apa adanya, tepat sekali apa yang dilakukan oleh Dwi Sujanti Nugraheni, sutradara film ini. Apa yang kita lihat dalam film debutnya ini adalah realita apa adanya dan terasa begitu dekat dengan penonton. Terasa dekat karena cara kerja kamera terhadap filmnya seperti tidak ada. Jadi hubungan antara penonton dengan keluarga Denok & Gareng sangat intens, dekat dan intim. Kita sebagai penonton bisa langsung merasakan bagaimana fluktuatifnya hidup mereka, segala kesusahan, dan kesenangan yang mereka alami. Treatment yang juga digunakan oleh Negeri di Bawah Kabut karya Shalahuddin Siregar, yang juga di putar untuk program yang sama pada Arkipel 2013 ini. Dwi Sujani Nugraheni memaksimalkan gerak kamera pada setiap polemik hidup Denok & Gareng. Sebagai orang yang mengamati dan merekam kehidupan keluarga kecil ini, sutradara yang pernah bekerja untuk UNESCO ini patut kita nobatkan sebagai seorang pengamat yang baik. Keberadaannya sebagai pembuat film pada keseharian keluarga kecil yang diwakilkan dari rekaman kameranya, menguliti detail kesusahan, keluguan, interaksi antara Denok & Gareng dengan setiap anggota keluarganya dan orangorang yang terlibat dalam kehidupan mereka, tanpa adanya rasa kikuk, atau akting, terasa sangat alami dan natural. Mereka seperti tidak melihat ada kamera mengikuti kemanapun mereka pergi dan merekam apapun yang mereka lakukan. Aktivitas apapun yang mereka lakukan layaknya hidup mereka sehari-hari, seperti tidak ada kamera yang merekam kegiatan mereka. Dua jempol untuk hal ini. Seperti misalnya adegan Denok & Gareng saling pukul dengan bantal. Cinta dan romantisme pasangan ini sangat terasa hangatnya. Tanpa kikuk mereka bermesraan dengan bantal tersebut bak dua aktor profesional, dan bahkan ketika romantisme mereka itu berubah menjadi serius dan pertengkaran, tidak ada rasa jenggah, malu atau kikuk terhadap kamera yang berjarak sangat dekat dengan pertengkaran mereka. Perhatikan juga adegan Gareng meraungraung menangisi beban yang dia hadapi setelah Soesan, salah satu adiknya, kecelakaan dengan motor pinjaman, atau perhatikan juga ketika Gareng menertawakan ibunya yang tidak bisa tulis baca untuk mengurus asuransi kecelakaan Soesan, atau aktivitas Denok, Gareng dan ibunya yang setiap pagi harus mengais-ngais sampah masyarakat Gamping, Kota Gede, Yogyakarta, guna mengambil sisa-sisa makanan yang masih bisa mereka gunakan untuk makanan ternak. Sangat terasa realitanya. Meskipun mereka adalah mantan anak jalanan, yang biasanya sudah tidak terlalu peduli pada tatanan norma, tetapi keputusan mereka untuk hidup lebih baik membuat Denok & Gareng harus menjadi contoh yang
  • baik untuk adik-adik dan anaknya, Frida. Frida yang baru berusia taman kanakkanak (TK), tinggal bersama orang tua Denok. Dalam kurun waktu tertentu, Denok mendatangi Frida, bersikap sebagai ibu pada mestinya, memandikan Frida, mengajaknya bermain, bercerita dan menuntunnya pada hal-hal yang baik. Salah satu adegan yang cukup menyentuh adalah bagaimana Denok meminta Frida untuk berbohong jika sekolah menanyakan apa yang dikerjakan oleh orang tuanya. Denok mengajarkan Frida untuk tidak menyebut bahwa orang tuanya adalah peternak babi, tetapi bebek. Dalam hal ini terlihat sekali bahwa Denok memikirkan kondisi anaknya jika orang di sekitarnya tahu kenyataan bagaimana mereka mencari nafkah. Ada norma sosial kemasyarakatan yang menyentil hidup mereka dan demi tetap berada pada tatanan masyarakat pada umumnya, mereka mengajarkan Frida untuk berbohong. Selain kepedulian mereka pada normanorma masyarakat tempat mereka tinggal, isu pendidikan juga menjadi salah satu yang sangat vokal dalam film ini. Denok & Gareng peduli terhadap pendidikan orangorang yang mereka sayangi. Perhatikan adegan Gareng memarahi adiknya Pur yang kabur dari pesantren. Bagaimana Gareng menekankan pada adiknya, bahwa dia tidak ingin Pur bernasib sama sepertinya, hidup susah sampai usia tua. Denok juga melakukan hal yang sama, dia membuat berbagai produk kerajinan tangan, untuk biaya tambahan sekolah Frida. Atau kepedulian orang tua Denok terhadap pendidikan mengaji Frida ketika Denok meminta untuk membawanya tinggal bersama mereka di Gamping. Ini sangat menyentil sekali, karena hidup susah secara ekonomi tidak membuat keluarga ini luput dari pemikiran bahwa pendidikan adalah salah satu hal yang penting dan menjadi prioritas hidup. Satu hal lagi yang menjadi daya tarik film ini adalah bahwa tidak ada satupun interaksi semua karakter ke arah kamera. Fungsi kamera seperti dalam film-film fiksi. Tidak ada wawancara yang biasanya selalu ada dalam film-film dokumenter. Sepanjang menyaksikan film ini hanya sekali kejadian interaksi ke arah kamera. Adegan polisi yang mendatangi kediaman mereka di Gamping karena kecelakaan motor yang dialami Soesan, ketika akan berpamitan polisi bersalaman dengan kameramen. Pilihan untuk membiarkan satu-satunya adegan interaksi ke arah kamera ini adalah untuk menyadarkan penonton bahwa kamera memang sebenarnya selalu ada dimanapun. Bahwa realita yang ditangkap oleh kamera dari kehidupan keluarga ini tetap menjadi sebuah karya film. Tidak ada habisnya jika kita membahas momen-momen berharga yang meninggalkan kesan mendalam dari film ini, hampir semua adegan dalam film ini berkesan. Salah satu adegan yang juga cukup menarik adalah saat Gareng mengikuti atraksi kuda lumping. Kelucuan demi kelucuan kerap hadir karena Gareng kesurupan (atau mungkin sebenarnya mabuk anggur merah yang dia minum?). Selama hampir 6 bulan, Dwi Sujanti Nugraheni dan tim melalukan pendekatan terhadap keluarga Denok dan Gareng, guna membiasakan mereka dengan keberadaan kamera di sekitarnya. Setelah terbiasa hidup dengan kamera selama 6 bulan, proses pengambilan gambar dilakukan dan memakan waktu 2 tahun. Tidak salah kemudian jika keluarga Denok dan Gareng menjadi sangat natural, apa adanya dan memberikan realita demi realita hidup mereka dengan jujur serta bersahaja. Bersahaja dalam hal ini dilihatkan dalam adegan mereka merayakan Idul Fitri bersama dan saling minta maaf antara satu sama lain, sangat menyentuh. Usaha sutradara film ini dan team memang luar biasa dan sangat boleh kita sebut mereka juga telah menghasilkan karya yang juga luar biasa. Isu-isu yang diselipkan dalam film ini menjadi menarik karena tidak disampaikan dengan cara yang berceramah tetapi melalui kepedulian-kepedulian yang tumbuh dari Denok & Gareng yang terekam kamera apa adanya. Dan sangat pas dengan tema mobilitas sosial yang menjadi salah satu program dari Arkipel tahun ini. Denok & Gareng mencoba merintis hidup ke arah yang benar, menjaga norma-norma di sekitarnya, serta kepedulian mereka terhadap pendidikan untuk masa depan yang lebih baik. Kesusahan hidup yang membuat mereka mengencangkan ikat pinggang, pengeluaran keperluan untuk sekolah yang mahal, dan berbagai masalah hidup dengan tanpa henti datang silih berganti, Denok & Gareng hadapi dengan sabar, arif, dengan cinta dan gelak tawa, penonton dengan mudah terenyuh dengan semua kesederhanaan ini. Film ini menjadi saksi dan merupakan satu dari sekian banyak kenyataan bahwa betapa negara kurang peduli dan gagal memberikan yang terbaik untuk penduduknya. Bagaimana dengan generasi masa depan jika saat ini masalah demi masalah yang seperti lingkaran setan tidak pernah bisa diputus karena tidak tahu lagi dimana sumbernya. Satu-satunya cara untuk bisa bertahan adalah dengan kearifan. Sungguh 89 menit yang sangat mencengankan. Bukti bahwa Denok & Gareng sangat spesial adalah dengan resminya film ini berkompetisi di Festival Film dokumenter Amsterdam (IDFA) yang ke-25 pada 14-25 November mendatang. Denok dan Gareng akan bersaing dengan film-film dokumenter dari 15 negara lainnya. September 2013 l Kinescope l 41
  • 10 PANDUAN MENILAI FILM YANG HA RUS DI PERHATIK AN DALAM M E N IL L I FI A M Sebuah film yang bagus haruslah memiliki plot cerita yang baik yang menceritakan tentang intrik-intrik, konflik-konflik dalam alur cerita sekaligus cerita yang tidak biasa, atau mencuri perhatian. Mencuri perhatian ini tidaklah harus membuat efekefek khusus yang mencengangkan, namun ketika sebuah adegan bisa membawa penonton merasakan adegan itu bisa dipercaya dan mempengaruhi emosi penonton sesuai dengan alur adegan yang ada, maka itu dapat dianggap berhasil. CERITA 10 N NDUNGA KA Beberapa elemen dalam film harus mampu membuat penonton terus merasakan ketegangan atau perasaan emosional di mana mereka terus menerus merasa bahwa alur cerita sedang menuju ke arah klimaksnya. Dan penonton bisa terbawa arus emosional dalam mengantisipasi alur cerita dalam adegan demi adegan. KETEGANGAN / EMOS I ORISINALITAS Sebuah film harus merepresentasikan konsep dan ide-ide baru yang belum pernah dieksplorasi oleh pendahulunya. Namun bukan berarti sebuah film tidak boleh mengangkat sebuah tema yang sama dengan film yang pernah dirilis, namun dari sisi yang lain, harus mampu mengangkat orisinalitas dari sisi yang berbeda dengan pendahulunya. Ini menjadi penting karena kreatifits sineas yang bisa menentukan kualitas film tersebut justru ada pada bagian ini. PEMAIN & SINEMATOGR AFI Sebagus apapun penulian skenario dalam membuat sebuah cerita, tetap saja harus dieksekusi dalam adegan-adegan yang baik pula. Pemain harus mampu meyakinkan penonton bahwa mereka benar-benar menyatu dengan karakter yang sedang mereka mainkan. Sudut dan teknis pengambilan gambar dengan kamerapun harus mampu merekam adegan-adegan yang memperkuat dan menggambarkan alur cerita sebagai sebuah realitas dalam film tersebut. ISI CERIT A YAN PES G BAGU AN Y S A NG D ALAM Dalam sebuah cerita, sebaiknya membawa dan menyebarkan pesan moral dan etika tertentu. Namun isi pesan moral dan etika yang disajikan tidak harus disepakati oleh penonton, dinyatakan secara langsung, tergambarkan sebagai sebuah kebenaran dalam film atau masuk akal. Tapi isi pesan tersebut diharapkan bisa terus terngiang dan terekam dalam pikiran penonton. 42 l Kinescope l September 2013
  • M VERSI Kinescope REALISME DAN AKURASI FUNC.1 FUNC.2 Sebuah film yang baik perlu untuk memotret sebuah kejadian, tokoh dan lain sebagainya dengan baik dan sesuai fakta. Aksi dan interaksi yang terjadi dalam sebuah film seharusnya dapat dipercaya, masuk akal dan paling tidak harus terkait dengan tema dan alur skenario film. SETTING Karakter-karakter yang dimainkan dalam sebuah film sebaiknya ditempatkan di dalam lingkungan yang memberikan pengaruh dan pengetahuan terhadap aksi dan interaksi dalam pengambilan adegan dan juga menegaskan motif dan suasana hati yang terbentuk dari film tersebut. Pengambilan adegan juga seharusnya disesuaikan dengan sudut pandang yang baik namun mengganggu atau mengurangi fokus utama dari adegan. SOUNDTRACK Musik adalah bahasa jiwa. Suara atau musik seharusnya tidak hanya memberikan tambahan nilai pada visual namun juga memberikan tekanan emosi pada tiap adegan. Kedua aspek tersebut, yaitu sound dan visual, tidak boleh bertolak belakang, artinya antara sound dan visual harus senada, sehingga setiap adegan bisa benar-benar memberikan pengaruh emosional pada penonton. KOMPOSISI Semua hal dalam proses pembuatan film sebiknya diatur sedemikian rupa secara komprehensif dan terkait satu sama lain, sehingga alur film dari awal hingga akhir tidak memiliki kelebihan beban di hanya satu atau beberapa adegan untuk menjelaskan alur film keseluruhan atau tidak hanya terfokus pada satu scene yang diangap utama, namun tidak mampu menggambarkan keseluruhan alur cerita. Film yang baik harus dibuat dalam sebuah kualitas yang profesional secara visual agar mampu menstimulasi penonton. Efek khusus bisa diberikan namun tetap harus sesuai agar mampu memberikan pengaruh emosional pada tiap adegan dan mendukung seting yang dibutuhkan dalam alur film. EFEK KHUSUS September 2013 l Kinescope l 43
  • SEJARAH Kisah Seniman Peranakan, Si Item Tan Tjeng Bok Kita mungkin sudah lupa dengan seorang seniman besar peranakan Tionghoa yang begitu terkenal di dunia perfilman Indonesia selama tiga dekade, terutama di era tahun 70-an. Seorang anak tunggal yang terkenal sangat badung, anak dari pasangan Tan Soen Tjiang dan gadis betawi asli Jembatan Lima bernama Darsih. Namun karena pernikahan itu tidak direstui orang tua mereka, Tan Soen Tjiang menikah lagi dengan reiza seorang gadis Tionghoa. W aktu kecilnya, di rumah ia belajat silat dibawah asuhan ayahnya sendiri, yang konon murid kedua guru persilatan Siauw Lim Shi. Ia sangat senang, namun bukan senang karena silatnya. Ia senang karena akibat dari kepatuhannya itu, sewaktu-waktu ia mendapat kesempatan bermain di luar rumah. “Tapi jangankan diizinkan, tanpa izin pun saya senang keluyuran,” katanya mengenang masa kecilnya. Karir aktingnya sebetulnya sudah dimulai sejak Indonesia belum merdeka, dengan tiga buah film yang dimainkannya pada tahun 1941. Bagi penikmat dan pecinta dunia akting, dia dikenal sebagai orang yang lucu dan jenaka. Dengan memulai karier sebagai biduan ketika umurnya baru 12 tahun di Bandung, anak Tionghoa berkulit gelap ini sering bolos dari Hollands Chinese School atau Sekolah dasar 7 tahun di Jalan Braga, Bandung. Berkali-kali gurunya melapor kepada orang tuannya, hingga akhirnya, sampai kelas tiga, dia disuruh berhenti sekolah oleh ayahnya. Karena kulit gelapnya, maka anak Tionghoa ini sejak kecil mendapat panggilan Si Item dan kemudian Pak Item atau Oom Item. Setelah berhenti dari sekolah, ia  ikut rombongan  sandiwara De Goudvissen sebagai kasung atau pesuruh. Di situ ia mengerjakan apa saja, menyapu,  mengepel, menimba air, membersihkan alat musik dan apapun yang diperintahkan kepadanya. Dengan tanpa menerima gaji, dia hanya mendapatkan jatah makan dan pondokan gratis. Saat itu umurnya baru 13 tahun, sudah lebih dari cukup untuk dia jika boleh menikmati alunan suara Beng Oeng. Si Item kecil ini memang menyenangi dunia tarik suara, dan Ben Oeng adalah penyanyi pujaannya. Pernah suatu waktu dia dipaksa naik panggung menggantikan Beng, yang kebetulan berhalangan. Tidak sempat berlatih dan hanya diberikan kursus cepat dalam menyanyi dan ilmu panggung, penampilan perdana dalam karir keartisannya ini ternyata sukses. Tepuk tangan membahana, sedangkan si Item menjauh ke satu pojok terisak-isak. Tanpa disadari, detik itu, awal kariernya sebagai artis sudah dimulai. Dialah Tan Tjeng Bok, seorang seniman keturunan Tionghoa yang sejak kecil menyenangi seni akting, seperti sandiwara, wayang China, atau tonil. Seorang seniman 44 l Kinescope l September 2013
  • yang darah seninya memang mengalir hebat dalam dirinya yang membuatnya menjadi seorang seniman serba bisa. Bernyanyi dan berakting merupakan kemampuan terbaiknya dalam dunia keartisannya. Dengan berkarier hingga menjelang akhir hayatnya, Tan Tjeng Bok menunjukkan konsistensinya sebagai seorang seniman dan kecintaannya pada dunia seni tersebut. Dalam dunia tarik suara, dia pernah bergabung dengan berbagai grup Keroncong di Jakarta. Hal ini terdorong karena kegemarannya akan musik keroncong dan salah satu lagu yang terkenal sering sekali dia bawakan adalah lagu keroncong Mauritsco. Selain sebagai seniman orkes keroncong, ia juga keranjingan Wayang Cina. Di Jakarta, ia juga pernah bergabung dengan perkumpulan sandiwara Miss Tjitjih. Ia ikut rombongan Sui Ban Lian di Jakarta, yang waktu itu bermain tetap di Sirene Park, jalan Hayam Wuruk. Namun ayahnya yang tinggal di Bandung, marah besar. Di marah karena memandang nista dunia tarik suara yang identik dengan mengamen. Akhirnya dia dipaksa pulang ke Bandung. Setelah tinggal di Bandung, itu tidak menghentikan langkahnya untuk tetap bergabung dengan rombongan Lenong Si Ronda pimpinan Ladur. Saat itu, rombongan berkeliling ke perkebunan-perkebunan di daerah Jawa Barat dan karena itu, akhirnya ayahnya tak sabar lagi. Ia diusir dan sejak saat itu ia tak berjumpa lagi dengan ayahnya. Sampai di tahun 1920-an, ketika ia hanya mendengar kabar si ayah meninggal, sedangkan Ibunya meninggal tahun 1930-an. Setelah 6 bulan ia kembali ke Bandung, Tjeng Bok memutuskan bergabung dengan Stambul Indra Bangsawan untuk meneruskan hasrat seni dan keartisannya. Awalnya, ia hanya diberikan peran sebagai tukang untuk membenahi panggung. Belakangan, ia akhirnya bisa dipercaya menjadi seorang toneel directeur (pemimpin pentas). Saat itu, Djaffar Toerki memintanya bermain sebagai pemain pembantu dan ia pun puas. Merasa tak betah di Stambul, ia kemudian bergabung dengan orkes Hoetfischer pimpinan Gobang dan ikut pentas berkeliling Pulau Jawa. Dengan tetap membawakan lagu kroncong kesukaannya, Mauritsco, namanya pun mulai tenar sebagai seorang artis dan seniman. Namun saat ia berada di Bangil, dia kemudian justru keluar dari orkes Hoetfischer dan bergabung dengan opera Dardanella pimpinan Pedro atau Pyotr Litmonov, seorang keturunan Rusia. Dardanella adalah grup tonil (sandiwara) terkemuka saat itu di Indonesia. Reputasinya terkenal tidak hanya di Indonesia, namun juga internasional.  Dardanella yang berdiri pada 21 Juni 1926, merupakan kelompok kesenian Indonesia pertama yang memiliki pengakuan Internasional. Mereka pernah pentas menjelajahi empat benua, dari Singapura, Rangoon, Madras, Calcuta, New Delhi, Bombay, Baghdad, Basra, Kairo, Roma, Muenchen, Warsawa, Amsterdam, hingga kota-kota di Amerika. Bahkan pertunjukan mereka di Rangoon dan New Delhi sempat ditonton tiga tokoh besar politik  modern India: Mahatma Gandhi, Jawaharlal Nehru, dan Rabindranath Tagore. Belum lagi, saat menggelar pertunjukan di Muenchen, pimpinan besar Jerman kala itu, Adolf Hitler, sempat berniat datang menyaksikan. Akan tetapi, karena alasan kedaruratan rencana itu dibatalkan. Grup opera ini bermain di setiap kota di Indonesi selama berbulan-bulan dengan membawakan cerita yang hebathebat. Seringkali opera ini membawakan karya Shakespeare, seperti cerita Hamlet, Romeo and Juliet. Mereka juga sering membawakan cerita-cerita tentang 1001 Malam, seperti Pencuri dari Baghdad atau cerita film seperti Tiga Orang Tamtama penembak karangan Alexander Dumas Pere atau yang dikenal dengan terjemahan Tiga Orang Panglima Perang. Mengenang Almarhum Pedro, ia berkata, “Karena dialah saya dulu pandai main anggar. Lalu sukses dalam karier saya, sampai-sampai digelari’ Douglas Fairbanks van Java.” Douglas Fairbanks Sr (1883-1939) adalah bintang film dan produser Hollywood yang terkenal sebagai pahlawan dalam film-filmnya. Di Dardanella inilah Tan Tjeng Bok alias Oom Item, merengkuh puncak karirnya dalam dunia kesenimanannya. Ia ikut berkeliling Indonesia, memonopoli satu kurun zaman yang bisa disebut sebagai masa keemasan tonil di Indonesia. Tan Tjeng Bok dan Devi Dja, salah satu pemain wanita Dardanella yang lain, hidup dan berkarir tak ubahnya superstar, yang terkenal dan digandrungi oleh banyak penggemarnya. Dalam periode ini, Tan Tjeng Bok hidup bagaikan dalam negeri dongeng. Di Dardanella, dia memperoleh bayaran paling tinggi, namun tetap dianggap seimbang dengan kualitas permainannya. Sebagai September 2013 l Kinescope l 45
  • bintang, ia hidup mewah hingga ia memiliki mobil sedan 8 silinder merk Studebaker seharga 2.000 Gulden. Sementara teman sepermainannya Dewi Dja, belakangan menjadi tokoh wanita yang dikagumi banyak orang. Dewi Dja adalah orang Indonesia pertama yang bisa menembus keras dan ketatnya persaingan di Hollywood. Sebagai anak bangsa yang merasakan hidup dalam keadaan terjajah oleh bangsa lain, Dewi Dja juga pernah ikut demonstrasi di depan kantor PBB di New York untuk menyuarakan kemerdekaan Indonesia. Sebagai salah seorang seorang seniman besar Indonesia, Dewi dja juga pernah menari atau menjadi koreografer untuk film Road to Singapore (1940), Road to Morocco (1942), The Moon and Sixpence (1942), The Picture of Dorian Gray (1945), Three Came Home (1950) dan Road to Bali (1952). Anaknya yang bernama Ratna Assan, bahkan pernah menjadi salah satu pendukung film terkenal Papillon (1973), yang dibintangi Dustin Hoffman dan Steve McQueen. Tapi seperti dalam tonil yang sering dia mainkan, sebuah ‘sandirawa hidup’ pasti akan berakhir. Keemasan Dardanella akhirnya berhenti dan tutup layar pada awal tahun 1940-an. Tan Tjeng Bok lalu memutuskan untuk ikut sandiwara keliling Orpheus pimpinan Manoch. Kemudian juga kelompok sandiwara Star pimpinan Afiat. Tercatat beberapa kali Tjeng Bok berpindah-pindah grup, namun tak satupun grup-grup itu berhasil mengulang sukses Dardanella. Sejak Dardanella bubar, praktis hampir tak ada grup tonil atau sandiwara yang bisa mengulang kejayaannya. Namun di masa itu pula, dunia perfilman mulai merambah Indonesia meski masih dengan hasil gambar hitam putih. Dan menjelang Jepang masuk ke Indonesia, di Jakarta berdiri perusahaan Java Industri Film (JIF) milik The Theng Tjoen. Bersama JIF inilah Si Item masuk babak baru dunia perfilman. Pada tahun 1941, hanya dalam waktu satu tahun, Tan Tjeng Bok membintangi tiga buah film berjudul “Si Gomar”, “Srigala Item” dan  Tengkorak Hidup”. Namun saat Jepang masuk ke Indonesia dan perang dunia kedua mulai berkobar, dunia film Indonesia sempat terhenti sebelum menggeliat lagi pada dekade 1950an.  Dan pada dekade itulah, Tan Tjeng Bok menancapkan hegemoninya di panggung layar lebar Indonesia dan ia berhasil membintangi sepuluh judul film selama tahun 1950-an. Tak berhenti sampai di situ, memasuki tahun 1970-an, nama Tan Tjeng Bok semakin berkibar sebagai seorang seniman dunia akting. Dalam kurun waktu sepuluh tahun, antara 1970 sampai 1980, Tan Tjeng Bok tak kurang membintangi 25 judul film.  Suatu 46 l Kinescope l September 2013 jumlah yang luar biasa pada masa itu. Seperti yang tercatat dalam tinta sejarah perfilman Indonesia, film-film yang dibintangi oleh Tan Tjeng Bok banyak disutradarai oleh Tan Tjoei Hock, antara lain “Melarat Tapi Sehat” dan “Si Bongkok dari Borobudur”, di mana dia bermain dengan aktris Sofia WD. Lalu ada film “Si Gomar”, “Singa Laoet”, “Srigala Item”, dan “Tengkorak Hidoep”. Dalam beberapa filmnya itu, Tjeng Bok banyak bermain berpasangan dengan aktris Hadijah. Namanya sejajar dengan aktris top pada zaman itu, antara lain Fifi Young, Aminah Cendrakasih, dan WD. Mochtar. Namun dasar jiwa artis dan merasa tenar, selama hidupnya, Tan Tjeng Bok mengaku kawin cerai hingga 100 kali. Istrinya yang terakhir adalah Sarmini berasal Bojonegoro yang memberinya dua anak, Nawangsih dan Sri Anami. Sampai akhit hayatnya, ia tinggal dan menempati sebuah rumah sederhana di Bandengan Utara, Gang Makmur, Jakarta Kota. Yang menarik, pada saat menjelang akhir karirnya,  dalam film “Syahdu”, ia masih sanggup memaksa produser untuk memberikannya honor Rp. 1 Juta, yang sangat besar pada saat itu.   Namun pada akhirnya, karena situasi, gaya hidup dan usia tuanya, Tan Tjeng Bok kemudian jatuh melarat dan pada tanggal 27 November 1979 ia jatuh sakit dan dirawat di R.S Husada. Keluarganya bahkan tak punya cukup uang untuk membayar biaya perawatannya di rumah sakit. Banyak yang menyayangkan bahwa ketika masa kejayaannya, Tan Tjeng Bok dikenal suka berfoya-foya dan berpesta. Bahkan beberapa temannya menyebut dia angkuh dan sombong. Namun, seiring masa tuanya, sikap ini kemudian disesali oleh Tjeng Bok dan berusaha memperbaikinya dengan menghentikan semua gaya hidup yang tidak sesuai lagi dengan kondisi fisik akibat termakan usia. Sebagai bentuk penghargaan dan perasaan senasib sebagai sesama seniman, pada tahun 1980, seorang pelukis Oto Suastika membuat lukisan potret Tan Tjeng Bok dan di jual. Kemudain uang hasil penjualan lukisan tersebut diberikan kepada Tjeng Bok untuk biaya perawatannya. Ketika dirawat di rumah sakitpun, surat kabar Sinar Harapan juga sempat membuka Dompet Tan Tjeng Bok dan berhasil menghimpun dana lebih dari dua puluh juta rupiah untuk membiayai perawatan Oom Item. Namun, setelah enam tahun sakit-sakitan dan dirawat intensif, pada 15 Februari 1985, Tan Tjeng Bok meninggal dunia. Dirinya wafat tanpa meninggalkan harta benda yang berarti bagi keluarga yang ditinggalkannya, kecuali nama besarnya di dunia perfilman Indonesia. Filmografi : • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Si Gomar 1941 Srigala Item 1941 Tengkorak Hidoep 1941 Djula Djuli 1954 Melarat Tapi Sehat 1954 Rela 1954 Bapak Bersalah 1955 Djudi 1955 Si Bongkok Dari Borobudur 1955 Neng Atom 1956 Peristiwa 10 Nopember 1956 Peristiwa Surabaja Gubeng 1956 Badai Selatan 1960 Honey, Money, And Djakarta Fair 1970 Bengawan Solo 1971 Kisah Fanny Tan 1971 Pendekar Sumur Tudjuh 1971 Aku Tak Berdosa 1972 Ketemu Jodoh 1973 Napsu Gila 1973 Si Comel 1973 Tabah Sampai Akhir 1973 Drakula Mantu 1974 Raja Jin Penjaga Pintu Kereta 1974 Ratu Amplop 1974 Si Bagong Mujur 1974 Si Rano 1974 Tarsan Kota 1974 Arwah Penasaran 1975 Syahdu 1975 Kisah Cinta 1976 Menanti Kelahiran 1976 Ranjang Siang Ranjang Malam 1976 Bang Kojak 1977 Donat Pahlawan Pandir 1977 Gaun Hitam 1977 Yoan 1977 Melati Hitam 1978 Gadis Telepon 1983 Mandi Dalam Lumpur 1984
  • September 2013 l Kinescope l 47
  • LIPUTAN Eksebisi Patung Keramik F. Widayanto DRUPADI PANDAVA DIVA M. adrai - foto : Rizaldi Fakhruddin “Ini merupakan M kerumitan tersendiri” Setelah 30 tahun berkarya dan berkesenian dalam medium keramik, F. Widayanto mengadakan pameran tunggal ke-16 yang bertajuk “Drupadi Pandava Diva” di Galeri Nasional Indonesia, 22-30 Agustus 2013. Pameran ini terinspirasi dari kisah Drupadi, tokoh pewayangan di India dan Jawa. 48 l Kinescope l September 2013 alam acara pembukaan 22 Agustus di Galeri Nasional yang hanya berlaku untuk undangan ini, dibuka dengan pertunjukan Drupadi Puppet Show. Pertunjukan yang memadukan bayangan dua dimensi dari wayang kulit Jawa dengan Bunraku, boneka wayang dari Jepang yang disutradarai oleh Marky Jahjali. Lakon dalam pertunjukkan Drupadi Puppet Show tersebut merupakan bagian dari tema besar eksibisi keramik Widayanto, yakni perjalanan hidup Drupadi sebagai tokoh utama yang diwujudkan dalam bentuk boneka wayang tiga dimensi. Sementara tokoh lain seperti Kresna, Kurawa dan Pandawa Lima ditampilkan dalam dua dimensi wayang kulit. “Setiap pameran, saya selalu mengadakan pertunjukan dan kali ini saya ingin menghadirkan sesuatu yang beda. Di pertunjukkan ini penceritaannya lebih mengandalkan musik dan gerak tanpa dialog,” ujar Widayanto. Dari segi musik, diisi oleh ilustrasi musik orkestra, gamelan, hingga vokal dan perkusi. Dalam pamerannya tersebut, Widayanto menampilkan 30 patung Drupadi yang dibuat menggunakan medium berjenis stoneware, tanah liat dicampur dengan batuan. “Patung dibuat setelah pembakaran stoneware selesai kemudian baru disatukan,” terangnya. Seperti karya-karya sebelumnya yang menilik fenomena sosial, Drupadi karya F. Widayanto ini juga terinspirasi dari kehidupan sosial yang dianggapnya memiliki beberapa kesamaan kisah dan karakter dengan istri para Pandawa ini. Judul-judul karyanya menggabungkan kata-kata
  • bahasa Jawa dengan bahasa Inggris dan bahasa gaul yang dipakai dalam percakapan sehari-hari dewasa ini. Dalam karyanya ini, F. Widayanto berkolaborasi dengan desainer perhiasan muda Indonesia berbasis di London, Alston Stephanus, yang mengkreasikan aksesoris bergaya Jawa kuno berbahan dasar perak murni. Aksesoris-aksesorisnya kebanyakan berupa anting dan tusuk konde yang melekat di tubuh Drupadi, dan aksesoris tersebut tampil mempercantik setiap patung Drupadi karya Widayanto. F. Widayanto menunjukan kepiawaiannya dalam mengolah keramik dengan menghasilkan tidak hanya patung dalam ukuran besar, tetapi juga memperhatikan detil serta kedinamisan bentuk stagen dan kemben Drupadi. Dalam konferensi pers yang digelar di galeri miliknya di daerah Setiabudi Jakarta Selatan pada hari Kamis 15 Agustus 2013, Widayanto menerangkan, Drupadi, tokoh wanita dalam pewayangan yang berasal dari api, berhasil menjerat pikiran dan imajinasinya. “Drupadi merupakan tokoh yang sangat berkarakter, kuat, cantik, dimaui banyak pria, juga sosok perempuan yang bisa tertawa lebar menertawai orang,” ujarnya. “Contohnya, ketika Drupadi menertawai Duryodana yang tercebur ke kolam di istana Indraprastha,” tambahnya. Sosok Drupadi kemudian ia tangkap dalam karya keramiknya kali ini. Pengerjaan keramik Drupadi yang memadukan bahan kayu, besi, kain, hingga perak ini memberikan tantangan tersendiri untuk Widayanto. Selain kerumitan detailnya, ukuran patung-patung yang dibuatnya cukup besar, bahkan mencapai dua meter. “Padahal oven saya hanya 1,1 meter,” ujarnya. Jalan keluarnya, ujar Widayanto, memotong dan mengelem kembali potongan patung tersebut. “Ini merupakan kerumitan tersendiri, apalagi cukup banyak gerak tubuhnya yang tidak simetri,” ujarnya menambahkan. Beberapa poin yang patut disimak dari karyakaryanya yaitu adanya beberapa yang bersifat instalatif. Kontinuitas karya melalui figur wanita yang ia hadirkan melalui karakter Drupadi, seolah haus akan ornamen-ornamen yang menjadi elemen pendukung kedetilan karyanya. PAMERAN TUNGGAL 1987 WADAH AIR Erasmus Huis Jakarta 1990 LORO BLONYO Mercantile Club Jakarta 1990 TOPENG Bank Universal Jakarta 1993 GANESHA GANESHI Bentara Budaya Jakarta 1995 UKELAN The Regent Hotel Jakarta 1996 TOPENG 16th National Craft Acquisition Award Museum and Art Gallery of the Northern Terittory Darwin Australia 1997 GOLEKAN Bentara Budaya Jakarta 2000 MOTHER & CHILD Galeri Nasional Indonesia Jakarta 2000 KENDI-KENDI Restoran & Gallery Koi Jakarta 2001 CERAMIC INSPIRATION Hotel Sari Pan Pacific Jakarta 2003 DEWI SRI Galeri Nasional Indonesia Jakarta 2005 WANITA KIPAS Galeri Nasional Indonesia Jakarta 2007 NARCISSUS – NARCISSUS Galeri Nasional Indonesia Jakarta 2009 SEMARAK 30 SEMAR Geleri Nasional Indonesia Jakarta 2010 CHINA DREAM Galeri Widayanto Jakarta 2011 WANITA JEPANG Galeri Widayanto Jakarta 2013 DRUPADI PANDAWA DIVA Galeri Nasional Jakarta Berikut ini adalah biografi singkat dari sang seniman keramik tersebut F. Widayanto lahir 23 Januari 1953 di Jakarta, lulus pada tahun 1981 dari Bagian Keramik Fakultas Seni Rupa dan Desain, Intitut Teknologi Bandung. Karyanya dianggap sebagai patung figuratif dengan penggunaan elemen dekoratif. Di lain waktu, ia menggunakan media lain dan dikombinasikan dengan keramik. Ia banyak terinspirasi dari cerita-cerita tradisional Jawa, seperti Ganesha, Loro Blonyo, Dewi Sri, Semar, dll. Dalam karyanya, ia tampaknya kembali menafsirkan karakter termasuk cerita di belakang mereka dan mencoba untuk menghubungkan cerita dari karakter-karakter dengan isu-isu di masyarakat dalam cerita. Oleh karena itu, karya-karyanya tidak hanya berakar dari cerita tradisional masa lalu, tetapi juga terkait dengan saat ini. • • • Tahun 1983 mendirikan Studio Keramik “ Marryan’s Clay Work ” , Ciawi, Bogor Tahun 1990 mendirikan Studio Keramik “ F. Widayanto Clay Statement “, Tapos, Bogor Tahun 1990 – 1996 mengajar di Jurusan Keramik di Institut Kesenian Jakarta September 2013 l Kinescope l 49
  • LIPUTAN MUSLIHAT OK .VIDEO Pameran 91 Karya Video dan Seni Media yang Mengakali Teknologi. Doni Agustan - foto: Deddy Setyadi OK.VIDEO kembali digelar untuk yang keenam kalinya. OK.VIDEO adalah festival video internasional yang diadakan setiap dua tahun sekali oleh Divisi Pengembangan Seni dan Video ruangrupa. Festival ini memberikan ruang bagi karya-karya video dan seni media yang berfokus pada isu dan fenomena sosial budaya di Indonesia dan mancanegara. Selain mengelar festival video, Divisi ini juga mengadakan lokakarya, produksi karya, dokumentasi, serta distribusi karya seniman video Indonesia. 50 l Kinescope l September 2013
  • T ema yang diangkat tahun ini adalah Muslihat. Melalui tema ini, OK.Video mencoba mengamati dan menyoroti praktik-praktik ‘mengakali’ teknologi yang banyak ditemukan di negara-negara ‘no-produsen’ seperti Indonesia. Muslihat yang memiliki arti daya upaya, siasat atau taktik dianggap mampu mempresentasikan fenomena praktik mengakali teknologi yang dilakukan oleh masyarakat sebagai konsumen. Dengan muslihat diharapkan produk teknologi yang diciptakan dapat berfungsi sesuai dengan hasrat maupun kebutuhan si pengguna. MUSLIHAT OK.VIDEO diselenggarakan pada 5 – 15 September 2013 di Galeri Nasional. Kurator yang dipercaya adalah Irma Chantily, manajer arsip dan dokumentasi Komunitas Salihara, Julia Sarisetiati yang pernah bekerja sebagai manajer ruangrupa dan fotografer lepas, dan Rizki Lazuardi yang bekerja di Goethe Institute dan menjadi kurator/ programmer dan seniman dalam berbagai festival film-video di Indonesia dan luar negeri. Festival kali ini memamerkan 91 karya video dan seni media yang berasal dari 29 negara. Selain dari hasil kurasi tiga kurator di atas, terdapat 29 karya pilihan dari Open Submission. Tiga karya terbaik Open Submission diumumkan pada malam pembukaan MUSLIHAT OK.VIDEO, 4 September 2013 di Galeri Nasional. Ketiga karya terbaik itu adalah E-Ruqyah (2013) karya Arya Sukapura Putra dari Indonesia, When a Circle Meets The Sky (2012) karya Chan HoChoi dari Hong Kong, dan Return (2013), seni instalasi karya Marek Kucharski dari Polandia. Festival yang telah dimulai sejak tahun 2003 ini juga bekerja sama dengan Japan Foundation dalam sesi Media/Art Kitchen. Sebanyak 23 karya seni media dari Jepang dan Asia Tenggara dipamerkan di Galeri Nasional. Ade Darmawan (founder/Direktur ruangrupa dan Direktur Artistik Jakarta Biennale) dan M.Sigit Budi S. (kordinator pameran ruangrupa dan kurator) dipercaya sebagai kurator sesi ini. Sesi Media/Art Kicthen ini selanjutnya akan dipamerkan juga di Kuala Lumpur, Manila dan Bangkok. MUSLIHAT OK.VIDEO festival kali ini juga memiliki serangkaian jadwal pameran dan pemutaran (Video Out) serta program publik seperti lokakarya, diskusi dan bincang seniman, tur festival dengan kurator yang diselenggarakan pada 5 – 25 September 2013 di galeri dan ruang-ruang alternatif di Jakarta. Selain itu ada juga presentasi spesial dari dua festival video internasional ternama, IMPAKT Festival dari Belanda dan Videobrasil dari Brazil. Festival resmi dibuka Rabu, 4 September 2013 di Galeri Nasional Indonesia,oleh Mahardika Yudha, selaku direktur festival, bersama dengan Ade Darmawan, para kurator dan perwakilan dari Japan Foundation. September 2013 l Kinescope l 51
  • LIPUTAN IMPAS Madskiadrai Indonesian Motion Picture Association Para pekerja perfilman Indonesia dari berbagai profesi secara bersama-sama mendeklarasikan 9 (Sembilan) asosiasi profesi pada tanggal 2 September 2013 di  Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Acara itu dihadiri oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu beserta para pekerja film seperti sutradara, produser, penulis skenario, aktor film, sinematografer, editor, sound designers, production designers dan casting directors. 52 l Kinescope l September 2013
  • A sosiasi-asosiasi baru itu adalah: Indonesian Film Directors Club (IFDC), Rumah Aktor Indonesia (RAI), Indonesian Motion Picture and Audio Association (IMPAct), Penulis Indonesia untuk Layar Lebar (PILAR), Asosiasi Produser Sinema Indonesia (APSI), Sinematografer Indonesia (SI), Indonesian Film Editors (INAFed), Indonesian Production Designers (IPD), dan Asosiasi Casting Indonesia (ACI). Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang memfasilitasi terbentuknya IMPAS sebagai  wadah baru bagi insan perfilman Indonesia. Pembentukan IMPAS ini bertujuan untuk memudahkan segala bentuk kerja sama antar pekerja film. “Ini merupakan salah satu pekerjaan rumah bagi kami di kementerian untuk mengembangkan mimpi-mimpi perfilman Indonesia,” ujar Mari Elka Pangestu. Menurut Mari, pembentukan IMPAS adalah salah satu jalan menuju terbentuknya BPI (Badan Perfilman Indonesia). Program kerja asosiasi akan meliputi pengembangan sumber daya manusia sehingga bisa meningkatkan kualitas hasil kerja. “Saya merasa terharu, merasakan apa yang disuarakan 9 perwakilan setelah, hampir 2 tahun kita berproses membahasnya,” kata Mari Elka Pangestu. “Ini hari yang berbahagia. Deklarasi ini adalah mimpi kita bersama. Visi dan misi 9 asosiasi adalah bagaimana kita bisa berkarya bersama untuk film Indonesia yang sehat dan kuat. Mudah-mudahan kita bisa menjamin kesejahteraan dari orang kreatif, orang film dan kualitas film Indonesia bisa maju terus,” tambahnya. “Berdirinya asosiasi ini didasari pemikiran bahwa para pekerja film harus ikut serta secara aktif dan independen untuk memajukan perfilman Indonesia,” kata Lasja Susanto. Lasja juga menambahkan bahwa asosiasi-asosiasi ini akan mencari bentuk kerja sama secara sinergis dan setara dengan semua stake holder perfilman Indonesia yaitu para pekerja film, pemerintah dan masyarakat. Ketua RAI, Lukman Sardi mengatakan bahwa yang menjadi anggota asosiasi-asosiasi ini adalah para pekerja film yang sedang aktif bekerja di perfilman Indonesia sehingga tahu masalah-masalah yang dihadapi dan potensi-potensi yang dimiliki. Menurut Adrianto Sinaga, Ketua IPD, program kerja asosiasi juga akan meliputi pengembangan sumber daya manusia sehingga bisa meningkatkan kualitas hasil kerja. Ketua IMPAct, Tya Subiyakto, pun menegaskan perlunya standarisasi teknis film sehingga masyarakat bisa menikmati karya film dengan kualitas yang terjaga. Sastha Sunu sebagai ketua INAFed menambahkan pentingnya program kerja untuk memastikan regenerasi berjalan dengan baik sehingga SDM yang berkualitas di perfilman semakin banyak. “Untuk itu, standar kompetensi dibutuhkan segera,” sambung Agni Ariatama, anggota presidium SI. Perdana Kartawiyudha sebagai ketua PILAR juga ikut menambahkan bahwa peningkatan kesejahteraan anggota akan menjadi salah satu hal yang paling diperhatikan. Wah, kalau yang ini redaksi Kinescope mendukung banget nih! Bila kesejahteraan para pekerja film meningkat harusnya sih kualitas perfilman Indonesia juga ikut meningkat dong! Semoga saja ya, pembaca. Berikut ini redaksi suguhkan nama-nama anggota dari kesembilan asosiasi yang sudah terdaftar hingga saat ini. INDONESIAN FILM DIRECTORS CLUB (IFDC) RUMAH AKTOR I NDONESIA (RAI) Adrianto Sinaga Affandi Abdul Rachman Agung Sentausa Ardy Octaviand Ario Rubbik Chandra Endroputro Dimas Jayadiningrat Edwin Erwin Arnada Faozan Rizal Gareth Evans Hanung Bramantyo Helfi Kardit Ifa Isfansyah Joko Anwar Kamila Andini Kimo Stamboel Lance Mengong Lasja Fauzia Susatyo Lola Amaria Lucky Kuswandi Monty Tiwa Mouly Surya Nanang Istiabudi Nia Dinata Ody C Harahap Paul Hayanto Agusta Putrama Tuta Richard Oh Riri Riza Robby Ertanto Soediskam Robert Ronny Robin Moran Salman Aristo Teddy Soerjaatmaja Timothy Tjahjanto Upi Viva Westi Yadi Sugandi Abdurahman Adul Abimana Agus Kuncoro Agus Ringgo Alexandro Gottado Alex Komang Anjasmara Arifin Putra Ario Bayu Astri Nurdin Baim Wong Darius Sinatrya Davina Dewi Irawan Didi Petet Dimas Harry Ence Bagus Fachri Albar Gary Iskak Happy Salma Ihsan Tarore Indra Birowo Inong Ayu Jajang C Noer Joe Taslim Kenes Andari Khiva Iskak Lukman Sardi Luna Maya Mario Irwinsyah Marsha Timothy Maudy Koesnaedi Mayki Wongkar Nirina Zubir Oka Antara Patty Sandya Rangga Djoned Reuben Elishama Ria Irawan Rifnu Wikana Sophia Latjuba Vino G. Bastian Tegar Satria Tora Sudiro Verdy Soelaiman Winky Wiryawan Wulan Guritno Yama Carlos INDONESIAN MOTION PICTURE AND AUDIO SOCIETY (IMPAct) Adityawan Susanto Clauss Marinest David Poernomo Hadrianus Eko Sunu Khikmawan Santosa Satrio Budiono Tommy Fahrizal Wahyu Tri Purnomo Adi Molana Abdul Malik Aufa Rahmat Decky Nelwan Dwi Budi Priyanto Handi Ilfat Jantra Suryaman Trisno Indrasetno Vyatrantra M. Ichsan Rachmaditta Madun Aska Mangaraja Sutan Siagian Muh. Yusuf Pattawari Pupung Shaf Daultsyah Aghi Narottama Aksan Sjuman Andi Rianto Anto Hoed Bemby Gusti Candil Dian HP Iman Fattah Indra Perkasa Indra Q Yovia Virgi Ricky Lionardi Tya Subiakto Satrio Thoersi Argeswara Yudhi Arfandi PENULIS INDONESIA UNTUK LAYAR LEBAR (PILAR) Adi Nugroho Anggoro Saronto Ari Syarif Baskoro Adi Charles Gozali Dennis Adhiswara Gina S Noer Haqi Achmad Harry Dagoe Ifan Ismail Jazzy MU Joko Anwar Jujur Prananto Laila Nurazizah M. Rino Sardjono Musfar Yasin Novia Faizal Oka Aurora Perdana Kartawiyudha Priesnanda Prima Rusdi Puguh S Admaja Rachmania Arunita Raditya Dika Robby Ertanto Soediskam Salman Aristo Sekar Ayu Asmara Titien Watimena Tumpal Tampubolon Ve Handojo INDONESIAN FILM EDITORS (INAFed) Andy Pulung Aline Jusria Cesa David Luckmansyah Dewi Alibasah Robby Barus Sastha Sunu Wawan I. Wibowo Waluyo Ichwandono Yoga Krispratama SINEMATOGRAFER INDONESIA (SI) Agni Ariatama Agung Dewantoro Amelia Angela A Rikarastu Anggi Friska Arif R Pribadi Arya Tedja Ayi Achmad Batara Goempar Barly Dicky R Maland Enggong Soepardi Faozan Rizal German Mintapraja Gunnar Nimpuno Ical Tanjung Ipung Rachmat Syaiful Mochamat Firdaus Nurhidayat Monod Padri Nadeak Rendra Yusworo Riski Dinihari Roni Arnold Roy Lolang Rudy Kurwet Sidi Saleh Yadi Sugandi Yunus Pasolang Vera Lestafa ASOSIASI PRODUSER SINEMA INDONESIA (APSI) Abduh Aziz Ajish Dibyo Aora Chandra Avesina Soebli Bernhard Subiyakto Delon Tio Dewi Umaya Eko Kristianto Erwin Arnada Fauzan Zidni Garin Nugroho Kemal Arsjad Kimo Stamboel Kristo Damar Alam Leny Lolang Marcella Zalianty Maya Barack Evans Meiske Taurisia Mira Lesmana Ninin Musa Parama Wirasmo Reza Hidayat Salman Aristo Sari Mochtan Shanty Harmayn Sheila Timothy Sophia Latjuba Tia Hasibuan Uwie Balfas WIlza Lubis Wulan Guritno Yanti Kristianto INDONESIAN PRODUCTION DESIGNERS (IPD) Adrianto Sinaga Allan Sebastian Wencislaus Rozari Eros Eflin Benny Lauda Oscar Firdaus Frans XR Paat Iqbal Marjono Fauzi ASOSIASI CASTING INDONESIA (ACI) Arief Havidz Bowie Budianto Faradila Ikhsan Samiaji Juandini Liesmita Melisa Hana Nanda Giri Ollies Masaid Riri Pohan Rully Lubis Sanca Khatulistiwa Sapto Soetardjo Soflintasia Stanley Sagala Syaiful Rachman Widhi Susila Utama Widhi Wicaksono Wyan Sonata Yuya Er Zamrud Lazuardi Zaskia Bramantyo *nama-nama yang dicetak tebal adalah ketua September 2013 l Kinescope l 53
  • TEATER Teater Miss Tijtjih: Yang Megah Yang Tergerus Zaman J ika kita berkendara menuju daerah Jakarta pusat tepatnya dari atau ke arah sebuah pusat perbelanjaan di bilangan Cempaka Putih, kita akan melewati bangunan Hotel Grand Cempaka  disamping hotel  terdapat sebuah gang kecil. Dari gapura gang kecil tersebut kita akan melihat tulisan “Teater Miss Tjitjih”.  Dari gang menuju gedung pertunjukan teater Miss Tjitjih jarak sekitar 10-15 meter, gedung berdiri kokoh di samping kiri jalan. Gedung Teater Miss Tjitjih saat ini sudah mengalami renovasi sehingga kita bisa melihat begitu kukuhnya gedung pertunjukan teater ini, sebelumnya di kisaran tahun 1997, gedung teater Miss Tjitjih di lokasi yang sama pernah mengalami kebakaran hebat sehingga menghanguskan seluruh area gedung. Musibah ini juga yang mengakibatkan banyak kalangan menganggap kelompok teater Miss Tjitjih telah usai. Banyak orang yang berkecimpung dalam dunia teater, sebut misalnya Jakob Sumardjo, selalu mengatakan bahwa grup teater yang dibintangi Miss Tjitjih ini sebagai salah satu tonggak teater modern di tanah air. Grup ini pastilah “megah” dan selalu meriah pada masanya. Kemegahannya kini masih tersisa pada gedungnya, yang nampak angkuh bertembok beton. Ruang pertunjukannya cukup besar, tak kalah dengan ruang bioskop kelas mewah. Luas panggungnya 54 l Kinescope l September 2013 Gumanti Syakib & Reiza mencapai 15 x 8 meter. “Sudah sepi. Kalau dulu rame. Bangku bisa penuh. Sekarang mah, ada yang nonton kayak begini, sudah syukur,” kata Rohidin, lelaki berusia 47 tahun dengan logat Sunda yang cukup kental. Sudah 18 tahun ia ikut mengelola gedung teater Miss Tjitjih. Dari beberapa literatur sejarah terungkap bahwa eksistensi Miss Tjitjih sudah ada sejak puluhan tahun lamanya. Di tahun 1928 saat pergolakan kemerdekaan mewarnai negeri ini, kelompok sandiwara Miss Tjitjih sudah ada dan menghibur masyarakat dengan ceritacerita tradisional khas masyarakat Sunda. Kelompok sandiwara Miss Tjitjih tidak bisa dilepaskan dari sosok perempuan bernama Nyi Tjitjih. Nama Miss Tjitjih memang terukir dalam sejarah seni pertunjukan di Nusantara. Perempuan ini lahir di Sumedang, Jawa Barat, pada 1908. Usia 15 tahun, ia sudah berkesenian, dan dikenal dengan panggilan Nyi Tjitjih. Nyi Tjitjih kemudian pernah tergabung dalam pementasan teater yang terkenal di zamannya bernama Opera Valencia, milik seorang keturunan Arab yang belakangan akhirnya menjadi suaminya. Setelah menikah, barulah nama perkumpulan kesenian mereka pun diganti menjadi Miss Tjitjih Tonell Gezelschap pada 1928. Kedekatan dengan asal daerah, yaitu Jawa Barat,
  • membuat kelompok teater Miss Tjitjih menampilkan banyak cerita mengenai budaya Sunda dan sedikit disisipkan dengan ceritacerita Jakarta. Ini yang membuat keunikan tersendiri dari teater Miss Tjitjih dengan kelompok teater lainnya. Cerita-cerita tradisional masyarakat Jawa Barat menjadi keunggulan utama teater Miss Tjitjih dalam membawakan pementasan cerita sandiwara. Hal ini memang menjadi misi utama berdirinya kelompok sandiwara Miss Tjitjih yaitu melestarikan seni budaya tanah kelahiran, tanah Jawa Barat. Di era modern saat ini, teater tradisional memang sedikit terlupakan oleh banyak orang, terutama generasi muda. Kelompok teater Miss Tjitjih yang juga berasal dari seni tradisional pun terlupakan dengan begitu banyaknya alternatif hiburan, seperti TV, Bioskop, Konser Musik dan lain-lain. Ini bisa kita lihat dari jarangnya pementasan Miss Tjitjih. Selain dikarenakan kurangnya dana untuk pengembangan teater ini, namun juga sulitnya mencari penonton dan generasi muda baru untuk bermain di kelompok teater ini. “Sulit untuk mencari penonton sekarang, udah banyak sinetron-sinetron di TV, film-film di Bioskop, orang jadi malas untuk menonton teater yang menceritakan cerita-cerita tradisional,”  tutur Imas Darsih generasi kedua dari kelompok teater Miss Tjitjih yang juga saat ini berperan sebagai sutradara. Ini menjadi ironi untuk perkembangan dunia seni khususnya seni teater. Keberlangsungan kelompok teater menjadi sangat mengkhawatirkan jika hal ini terus terjadi. Namun asa untuk tetap bertahan masih ada di dalam diri para pemain kelompok teater Miss Tjitjih ini. Mereka menunjukkan semangat juangnya dengan terus melakukan pementasan walau sudah tidak sesering saat mereka baru muncul. Dengan harga tiket sebesar Rp.10.000 sebenarnya masih dapat terjangkau oleh masyarakat kebanyakan. Namun lagi-lagi, arus modernisasi yang begitu banyak menampilkan hiburan instan, membuat generasi muda lebih memilih untuk menikmati hiburan instan tersebut dibandingkan menonton pertunjukan teater dengan cerita-cerita tradisional. Sekarang manajemen sudah kami perbaiki. Ke depannya, kami ingin Teater Miss Tjitjih bisa kembali eksis seperti awal berdiri. Kami akan terus tampil dan akan kami usahakan tiap bulannya nanti kami terus mentas,” tutur Dadang Badoet, asisten sutradara kelompok teater Miss Tjitjih. Komunitas Miss Tjitjih kini masih bertahan walau seni tradisi sedang digusur jaman. Para awak panggung tetap bermain dengan profesional. Mereka tak kecil hati, walau jumlah penonton yang hanya hitungan jari. Pilihan ada di tangan kita sebagai generasi muda, apakah kita mau untuk menikmati ceritacerita tradisional di Kota Jakarta dengan segala macam kemajuannya atau kita nyaman dengan hiburan-hiburan modern yang sekarang begitu menjamur di Jakarta Begitu banyak kelompok-kelompok teater yang ada di wilayah Jakarta, sebut saja kelompok Teater Koma yang namanya sudah tidak asing lagi bagi pencinta teater tanah air. Namun dari sekian banyak kelompok teater yang ada di jakarta, sedikit yang mampu bertahan dari gerusan perkembangan dunia seni akting yang semakin modern. Adalah kelompok Teater Miss Tjitjih, kelompok teater yang sudah puluhan tahun berdiri dan sampai detik ini masih eksis dalam menampilkan seni teater tradisional. September 2013 l Kinescope l 55
  • Roger Ebert TOKOH DUNIA Doni Agustan E bert lahir di Urbana, Illinois pada tanggal 18 Juni 1942. Dia menyelesaikan sekolahnya dari University of Illinois dan University of Chicago, kemudian bekerja sebagai kritikus film pada the Chicago Sun-Times hingga dia meninggal tahun 2013. 8 tahun setelah menjadi kritikus film, tahun 1975 Ebert menerima Pulitzer Award yang juga merupakan Pulitzer pertama untuk karya tulisan kritik. Terhitung sampai 2010, Ebert telah menulis review untuk 200 surat kabar dan menerbitkan 20 buku. Ebert bersama Gene Siskel, salah satu kritikus terkenal untuk Chicago Sun-Times juga, memperkenalkan frasa untuk mengomentari film “Two Thumbs Up”. Frasa ini kemudian menjadi terkenal dan trademark semua orang di seluruh dunia untuk memberi komentar singkat pada sebuah film. Bersama Siskel, Ebert juga terkenal dengan dua acara televisi Sneaks Previews dan At the Movies yang ditayangkan stasiun TV PBS. Tahun 1999 Siskel meninggal dunia, Ebert meneruskan acara televisi tersebut bersama Richard Roeper. Tahun 2005, Ebert menjadi kritikus film pertama yang menerima penghargaan bintang dari Hollywood Walk of Fame. Robert Ebert dibesarkan dalam keluarga katolik yang taat. Ibunya adalah seorang pengoleksi buku dan ayahnya bekerja sebagai teknisi listrik. Semasa usia sekolah dasar, Ebert aktif di gereja sebagai altar boy. Dalam tubuhnya mengalir darah Jerman, Belanda dan Irlandia. Minatnya pada bidang penulisan dimulai saat dia dipercaya untuk menjadi penulis topik olahraga untuk The 56 l Kinescope l September 2013 Pada tanggal 4 April 2013, perfilman dunia kehilangan salah satu sosok kritikus terbaiknya. Roger Joseph Ebert meninggal dunia pada usia 70 tahun dan mengakhiri perjuangannya selama 11 tahun menghadapi cancer. Ebert dimakamkan pada tanggal 8 April 2013 di pemakaman massal Holy Name Cathedral di Chicago. News Gazzet. Kemudian dia dipercaya untuk menulis topik science fiction untuk Fanzines. Semasa masih sekolah, Ebert juga menjadi pemimpin dari koran sekolahnya yang bernama The Echo. Semasa kuliah di University of Illinois, Ebert bekerja sebagai reporter pada the Daily Illni dan juga masih menjadi penulis dan reporter untuk The News Gazzet. Film pertama yang dia review adalah La Dolce Vita karya Federico Fellini yang diterbitkan oleh the Daily Illni edisi oktober 1961. Setelah menyelesaikan pendidikannya di University of Cape Town dan menjadi kandidat gelar doktor di University of Chicago, Ebert diterima bekerja sebagai penulis dan reporter untuk the Sun-Times pada tahun 1966. Selama kurang lebih satu tahun Ebert menghabiskan masa kerja di the Sun-Times sembari menyelesaikan gelar doktornya. Setelah Eleanor Keane meninggalkan the Sun-Times pada April 1967, Ebert mendapatkan hak penuh untuk menulis kritik film untuk koran berbasis di Chicago tersebut. Tahun 1967, Ebert memulai karir profesionalnya sebagal kritikus film untuk the Chicago Sun-Times. Dia juga bertemu dengan Pauline Kael pada festival film New York dan mendapatkan pujian dari Kael sebagai kritik film terbaik pada masa itu. Tahun yang sama juga Ebert merilis buku pertamanya dengan judul Illini Century: One Hundred Years of Campus Life, yang diterbitkan oleh University of Illinois. Tahun 1969, reviewnya untuk film Night of the Living Dead karya master horor, George A. Romero dimuat di Reader’s Digest. Bersama dengan sutradara Russ Meyer, Ebert menulis skenario film Beyond the Valley of the Dolls. Film ini tidak mendapatkan respon baik saat rilis tahun 1970. Tetapi saat ini dicari banyak penikmat film karena menjadi film cult classic. Ebert dan Meyer juga membuat Beneath the Valley of the Ultra-Vixens, Up! Dan Who Killed Bambi?. Pada bulan April 2010, Ebert merilis naskah film Who Killed Bambi? di blog pribadinya. Sejak tahun 1970, Ebert juga bekerja sebagai dosen tamu untu kelas malam jurusan film di University of Chicago. Seperti yang telah disinggung di atas, tahun 1975, Ebert menjadi pembawa acara review film televisi yang bernama Sneak Previews yang ditayangkan oleh televisi lokal Chicago, WTTW. Tiga tahun kemudian, Gene Siskel menjadi co-host bersamanya. Acara ini kemudian dibeli hak ciptanya oleh stasion televisi PBS untuk diputar secara nasional. Tahun 1982 nama acaranya diganti menjadi At The Movies With Gene Siskel & Roger Ebert. “Roger was the movies, the movies wont be the same without Roger.” -Barrack Obama-
  • Tahun 1986 diubah menjadi Siskel & Ebert & The Movies dan menjadi bagian Buena Vista Television yang adalah bagian dari the Walt Disney Company. Tahun 1999, Siskel meninggal dunia. Nama acara kembali diganti menjadi Rogert Ebert & the Movies dengan co-host yang bergantiganti. September 2000, Richard Roeper yang memiliki kolom tulisan di the Chicago Sun-Times menjadi penganti Siskel. Dan judul acara review film kemudian diganti lagi menjadi At The Movies With Ebert & Roeper. July 2008, Ebert menyelesaikan kontrak kerjanya dengan Walt Disney untuk At The Movies. 18 Februari 2009, Ebert bersama Roeper mengumumkan bahwa mereka sedang menyiapkan program review film terbaru. 31 Januari 2009, Ebert menerima kehormatan menjadi anggota the Directors Guild of America. Review film terakhir yang ditulisnya untuk the Chicago Sun-Times adalan To the Wonder karya Terrence Mallick. Review tersebut diterbitkan pada 6 April 2013. Citizen Kane karya Orson Welles adalah film favoritnya. Dia memilih Citizen Kane sebagai film favoritnya karena menurut Ebert, Citizen Kane adalah film paling penting yang pernah dibuat. Tetapi film favoritnya yang sebenarnya adalah La Dolce Vita karya Federico Fellini dan Robert Mitcum adalah aktor idolanya. Dan Werner Herzog adalah sutradara film favoritnya. Padat dan berisinya ulasan dari Roger Ebert bisa dibilang dipengaruhi dari prinsip sederhana, “Kecerdasan masih mungkin membingungkanmu, tetapi tidak dengan emosi,” yang digunakan kritikus film ini saat menikmati sebuah film. Tetapi apa yang membuat sosok ini begitu dikenal publik? Obituari dalam The New York Times menyebut Roger Ebert sebagai “kritikus film bagi awam”. Sedangkan Time menyebutnya sebagai “sumber daya budaya bagi masyarakat”. Selain rekomendasi film terbaik dalam situsnya, dari dalam buku-buku yang ditulisnya seperti “Great Movies,” “Life Itself,” dan juga “I Hated, Hated, Hated This Movie,” pembaca juga dapat menemukan tulisantulisannya tentang film. Sudah lebih dari 10.000 review tentang film yang dia buat. Lebih dari 3.000 tulisan lainnya dan juga esai telah dia buat. 500 film dia tonton dalam satu tahun, selama dia hidup, dan setengah dari itu dia ulas dalam tulisannya. Lebih dari itu, dalam mesin pencarian Google nama Roger Ebert juga lebih terkenal dari petenis dunia asal Swiss, Roger Federer, aktor pemeran James Bond, Roger More, ataupun juga Roger Williams, seorang ahli ilmu agama Katolik dari Inggris. 10 Film Favorit Roger Ebert • 2001 : A Space Odissey (Stanley Kubrick, 1968 • Aguirre, the Wrath of God (Werner Herzog, 1972) • Apocalypse Now (Francis Ford Coppola, 1979) • Citizen Kane (Orson Welles, 1941) • La Dolce Vita (Federico Fellini, 1960) • The General (Clyde Bruckman & Buster Keaton, 1926) • Raging Bull (Martin Scoresese, 1980) • Tokyo Story (Yasujiro Ozu, 1953) • The Tree of Life (Terrence Malick, 2011) • Vertigo (Alfred Hitchcock, 1958) September 2013 l Kinescope l 57
  • TEKNOLOGI Mengenal IMax Wahyu Purnomo B egitu masuk ruang bioskopnya, sesuai dugaan saya sebelumnya, layarnya lebih kecil dari layar teater IMAX Keong Emas. Teater IMAX Gandaria City menggunakan Aspect-Ratio 16:9 (1:1,78 – sama seperti TV layar datar Plasma, LCD dan LED). Layar Keong Emas menggunakan Aspect-Ratio 1:1,34 (hampir kotak seperti TV tabung jaman baheula). Memang terlihat tidak ada bedanya dengan bioskop, Saya lihat ke arah belakang ruang teater, ada 2 kaca, dibalik 2 kaca itu ada 2 proyektor IMAX Digital. Sambil menunggu, beberapa menit sebelum film mulai, saya sempatkan memotret interior ruang bioskop. Dengan sembunyisembunyi tentunya. Kemudian saya bertanya-tanya dalam hati, ‘hmmm..speaker surround-nya dimana? Kok di tembok samping teater nggak ada deretan speaker?’ Saya tengok ke pojok belakang, ternyata disana speakernya. Tenyata penempatan speaker surround-nya hanya di pojokan teater. Sama seperti di IMAX Keong Emas. 58 l Kinescope l September 2013 Studio IMAX di Gandaria City, Jaksel, resmi dibuka untuk umum pada 4 Mei 2012. Harga tiketnya paling murah sedunia. Untuk memenuhi rasa penasaran, saya pergi menonton pertunjukan perdana The Avengers yang ditayangkan di studio IMAX Gandaria City. Sound-wise: Picture-wise: • • • • • Akustik oke banget, tidak ada reverberation. Dialog terdengar jelas. Theater Isolation agak kurang, karena sebelum film mulai saya dengar bocoran dentuman bass dari studio sebelah. Bass yang dikeluarkan agak kurang nendang dikit, tidak sampai bikin bangku bergetar seperti eX pada jaman keemasan ketika baru buka, tahun 2004 lalu. Posisi duduk AMAT SANGAT menentukan terasa atau tidaknya efek surround. Karena disini Surround Speaker-nya hanya menggunakan 1 speaker besar per-channel surround, jadi kalau misalnya kita duduknya di bangku deretan kanan belakang, efek surround yang terdengar dominan adalah yang keluar dari speaker kanan belakang. Dan dominan-nya itu yang bener-bener dominan banget, karena suara yang keluar dari 1 speaker itu kuenceng banget. • • Layar lebih besar dari bioskop biasa, tapi tidak sebesar teater IMAX Keong Emas. Dengan penggunaan 2 proyektor untuk menerangi layar yang besar, saya tidakmerasakan ada perbedaan dengan bioskop biasa. Seperti nya terang nya sama saja, resolusinya juga tidak terasa bedanya (iya lah, proyektor nya 2K!). Tapi memang lebih terang dibanding Keong Emas, karena waktu terakhir saya menonton di Keong Emas Maret 2012 lalu, lampu proyektor-nya agak redup. Sementara waktu saya nontonTransformers 2, September 2010 lalu, itu gambarnya terang banget. Mungkin karena sudah harus diganti. Efek 3D lebih enak dinikmati dibanding dengan Dolby 3D yang dipakai di XXI nonIMAX. Kalau kita menonton film 3D dengan Dolby 3D, ketika kita menengokkan kepala sedikit saja, efek 3Dnya berantakan. Warna gambarnya juga berantakan.
  • Perbedaan format antara 35mm (format yang dipakai di bioskop konvensional), IMAX dan IMAX Digital. Pita seluloid 35mm vs pita seluloid IMAX Ukuran 1 frame 35mm: 21mm X 17,5mm Ukuran 1 frame IMAX: 70mm X 52mm. masih jarang film yang menggunakan resolusi ini untuk pengerjaan post - productionnya, masih terlalu mahal karena menyangkut Computer-Power dan Data Storage. Film-film Hollywood pada umumnya dikerjakan pada resolusi 4K. Sementara resolusi 1 frame pita IMAX secara teroritis adalah 12.000 pixel x 8.700 pixel. Nah, resolusi yang dipakai pada proyektor IMAX Digital adalah 2K, tapi saya baca di beberapa artikel bahwa di tahun 2012 ini IMAX akan mulai menggunakan proyektor 4K. IMAX Konvensional (seluloid) vs IMAX Digital IMAX seluloid (15/70 – 15perf 70mm) Atas pita seluloid 35mm, bawah pita seluloid IMAX Sekarang ini Post-Production film dikerjakan secara digital. Bahkan materi seluloid pun akan di “digitize” agar dapat dikerjakan dan di distribusikan secara digital. Resolusi video di dunia broadcast berdasarkan resolusi dibagi menjadi 3.SD (Standard Definiton), HD (High Definition) dan DATA. Resolusi SD • • NTSC 720 x 480 (resolusi TV dan DVD di Amerika, Jepang dan beberapa negara Asia) PAL 768 x 576 (Resolusi TV dan DVD di Indonesia dan beberapa negara Asia) Resolusi HD • • • 1280 x 720 1440 x 1080 1920 x 1080 (resolusi BluRay) Resolusi DATA • • • • 2K 2048 x 1365 4K 4096 x 2731 6K 6144 x 4668 8K 8192 x 5462 Mengapa resolusi 2K-8K disebut DATA, karena hasil scan pada resolusi tersebut hanya bisa di output dalam bentuk sequencefile (Targa Sequence, Cineon Sequence,dll), sementara resolusi SD dan HD masih bisa di output ke tape digital. 35mm vs IMAX vs IMAX Digital Untuk merekam semua informasi yang ada di 1 frame 35mm, dibutuhkan resolusi 6K. Tapi Dikembangkan oleh IMAX Corp pada 1970, menggunakan pita seluloid 70mm yang dijalankan secara horizontal, sehingga lebar pita tersebut merupakan bagian tinggi dari frame. Pada format 70mm lainnya, lebar pita tersebut adalah lebar dari frame gambar. Setiap frame lebarnya 15 perforasi (lubang-lubang pada bagian pinggir pita seluloid). Area gambar pada format IMAX lebarnya 70mm dan tingginya 52mm. Aspect-ratio-nya 1:1,44 (hampir sama dgnaspectratio TV tabung yg 1:1,33 atau 4:3). Ukuran frame 15/70 hampir sembilan kali frame 35mm. Proyektor IMAX 15/70 menggunakan lampu Xenon 15.000 watt agar dapat menerangi layar berukuran amat-sangat besar. IMAX Digital Mulai tahun 2008, IMAX Corp mengeluarkan sistem IMAX Digital, yang menggunakan dua proyektor Digital merk Christie ber-resolusi 2K. Aspect-ratio yang digunakan adalah 1:1,9 (hampir sama dengan TV layar datar, 16:9). Penggunaan dua proyektor dimaksudkan agar dihasilkan intensitas cahaya yang cukup untuk menerangi layar yang ukurannya 2 atau 3 kali ukuran layar bioskop konvensional. 1 proyektor IMAX Digital menggunakan lampu Xenon 6.500 watt. IMAX Gandaria City XXI vs IMAX Keong Emas vs KrungSri IMAX (Bangkok) Gandaria XXI IMAX Jumlah bangku: 391 bangku Ukuran layar: 20m x 11m Aspect Ratio layar: 1:1,78 Akustik oke. Reverberasi Oke. Theater Isolation kurang. Low Freq Effect kurang dikit. Channel Surround menggunakan 1 speaker ukuran besar per-channel. Kotak persegi panjang yang di proyeksikan di layar IMAX diatas ini adalah ukuran layar bioskop konvensional pada umumnya. Perbandingan layar IMAX 15/70 vs IMAX Digital Sebenarnya IMAX GanCit itu bukanlah palsu. Sayangnya sekarang ini memang teknologi itu yang dijual oleh IMAX. Yaitu menggunakan proyektor digital dgn resolusi jauh dari resolusi seluloid 70mm.. Tapi saya yakin, sejalan dengan waktu, akan ada proyektor degan resolusi yg sama degan pita 70mm. MAX GanCit memang menggunakan teknologi terbaru IMAX, dengan seat yang lebih nyaman dan sound system yang lebih memukau. Tapi Keong Emas itulah sebenarnya “THE REAL IMAX” karena disana masih pakai pita seluloid 70mm yang resolusinya jauh melebihi resolusi proyektor yang saat ini dipakai di IMAX GanCit. Seandainya ada pihak yang mau merenovasi Keong Emas dalam hal Akustik, Sound System dan juga seat yang lebih baik, IMAX GanCit akan kalah jauh. Bila dibandingkan dengan studio IMAX di KrungSri. Sangat berbeda JAUH! Karena resolusi pita seluloid IMAX jauh diatas resolusi proyektor yang dipake IMAX GanCit. KrungSri IMAX punya 2 proyektor. Digital dan Seluloid. September 2013 l Kinescope l 59
  • Kusen Dony Hermansyah MISE EN SCENE Secara sederhana setting dipahami sebagai keseluruhan latar peristiwa bersama dengan benda-benda yang ada di dalamnya (properti) yang bisa menjadi petunjuk ruang dan waktu. Dengan kata lain setting adalah dimana dan kapan sebuah peristiwa terjadi. Setting bisa berada di luar ruang (eksterior) maupun di dalam ruang (interior). Setting S etting eksterior bisa menggunakan alam pegunungan, sungai, sebuah gang perkampungan, pantai dan lain sebagainya. Bila melibatkan alam bebas, penonton bisa memahami tempat kejadiannya saja, namun seringkali sulit menebak kapan waktu terjadinya, misalkan di hutan, pantai di sebuah pulau ataupun pegunungan kapur di mana yang tampak hanya warna putih. Contohnya (Gbr. 1) di mana penonton tidak akan bisa menentukan kapan kejadian sebenarnya. Namun bila setting eksterior itu ada di perkotaan, maka akan mudah dikenali kapan peristiwa tersebut terjadi. Hal ini dikarenakan adanya properti yaitu segala macam benda yang melengkapi setting, misalnya mobil, tiang listrik, pot tanaman dan lain sebagainya. Bila penonton tidak bisa memastikan betul kejadiannya, properti membuat rentang waktunya menjadi semakin pendek, misalnya antara tahun 1990-an sampai dengan 2000- 60 l Kinescope l September 2013 an, seperti yang tampak pada (Gbr. 2). Untuk setting interior, hampir seperti yang ada pada setting eksterior di perkotaan, di mana penonton akan dengan mudah menebak kapan dan dimana peristiwanya terjadi karena adanya properti yang menyertainya. Pada (Gbr. 3.1) penonton akan menduga bahwa terjadi di masa lalu sebab seluruh propertinya menggunakan gerabah, sedangkan (Gbr. 3.3) terjadi pada masa kini dan (Gbr. 3.2) penonton bisa menaksir rentang waktunya juga pada masa kini ataupun beberapa tahun sebelumnya. Hal ini karena panci yang digunakan pada (Gbr. 3.2) dibuat dari alumunium. Gambar 1 Gambar 2 Dilihat dari gambaran yang ada, setting memiliki fungsi untuk memberi informasi ruang dan waktu sebuah peristiwa dalam film, namun sebenarnya setting masih mungkin untuk difungsikan lebih dari itu sebab bila
  • Gambar 3 Gambar 4 kita melihat gambar di atas, maka sebenarnya penonton bisa menduga status sosial (stratifikasi sosial) tokohnya, tanpa harus diucapkan dalam dialog. Misalnya saja kalau membandingkan ruang tidur pada (Gbr. 4), maka penonton akan menganggap bahwa tokoh pada (Gbr. 4.1) dari kalangan menengah–bawah dan tokoh dari (Gbr.4.2) dari kalangan atas. Untuk (Gbr. 4.1) memang tidaklah mutlak sebab bisa saja ketika tokohnya ingin mendapatkan suasana perkampungan maka dia membangun kamar tidurnya seperti itu namun dapurnya tetap menggunakan setting seperti yang tampak pada (Gbr. 3.3). Selain tiga fungsi di atas, setting juga bisa menjadi motif penggerak bagi tokohnya atau dengan kata lain setting menunjukan motif tertentu, yaitu ketika sebuah setting baik latar secara utuh ataupun hanya sebuah properti menjadi tujuan JENIS-JENIS SETTING tokohnya. Contohnya, dalam The Mummy (1999) karya Stephen Sommers menggunakan sebuah kota kuno bernama Hamunaptra sebagai tujuan dari para tokohnya. Pada film Indiana Jones and The Last Crusades (1989) yang menjadi tujuan tokohnya adalah cawan suci (holly – grail) Yesus Kristus. Dua fungsi lainnya adalah pendukung aktif adegan seperti yang dilakukan oleh Jackie Chan dalam film-filmnya, di mana dia sering menggunakan benda-benda di sekitarnya sebagai senjata ataupun sesuatu yang melindungi, seperti dalam Rumble In The Bronx (1995) dia menggunakan kulkas untuk melindungi diri pukulan para berandalan. Yang terakhir, setting sebagai pembangun suasana (mood) dan contoh paling mudahnya adalah pada film–film ber-genre horor biasanya akan menggunakan setting yang kusam dan kumuh agar terasa menyeramkan bagi penonton. Gambar 5 Ada dua jenis setting yang biasa digunakan dalam produksi film, yaitu setting yang dibuat di dalam studio (baik setting yang realis maupun setting yang virtual) dan setting otentik yang langsung digunakan sebagai lokasi (shot on location). Shot On Studio Studio yang dimaksud di sini tidak terbatas pada indoor studio – seperti gambar film Das Cabinet Des Dr. Caligari (1920) yang terlihat di (Gbr. 5.1) dan sebuah shooting acara televisi (Gbr. 5.2) –, namun juga outdoor studio seperti setting film western (Gbr. 5.3) ataupun film Water World (1995) yang menggunakan laut untuk membangun setting-nya. Selain berwujud realis seperti pada (Gbr. 5.3), setting juga bisa menggunakan wujud virtual (virtual setting) seperti yang ada dalam film Water World (1995) dan Star Wars (1977). Keuntungan menggunakan setting di dalam studio, pembuat film dapat leluasa mengarahkan seluruh elemen visualnya termasuk pemain tanpa harus diganggu oleh penonton. Bahkan, misalnya adegan sebuah sudut kota seperti dalam adegan akhir film The Untouchables (1987) karya Brian de Palma, seluruh orang yang ada di kota tersebut adalah pemain walaupun hanya sekedar lewat. Namun menggunakan setting jenis ini bukannya tidak ada kerugian, sebab harus cermat sekali dalam membuatnya, sehingga memerlukan biaya yang tidak sedikit. Shot On Location Pembuat film biasanya tidak perlu membangun lokasi yang akan dijadikan setting-nya sebab biasanya justru keotentikan tempat tersebut yang menjadi tujuan agar bisa mendapatkan keaslian ataupun kedekatan realismenya. Walaupun pada umumnya tetap saja diperlukan beberapa sentuhan yang tujuannya mempercantik setting tersebut (set dressing). Keuntungan menggunakan setting ini, selain menuntut biaya yang relatif lebih murah dibanding harus membangun, juga seperti yang sudah dikatakan di atas bahwa pembuat film bisa lebih mudah mendapatkan keaslian dan keotentikannya. Sedangkan kerugiannya, harus berhadapan dengan persoalan alam (bila lokasi outdoor) seperti hujan, angin dan sebagainya. Selain itu juga sering juga harus berhadapan dengan masyarakat yang menonton shooting tersebut. Pada lokasi indoor juga ada kerugiannya, yaitu harus menyesuaikan dengan posisi ruangan yang tidak bisa dipindah ataupun digeser seperti dalam studio. Gambar6 (Virtual Setting) September 2013 l Kinescope l 61
  • POJOK KREATIF ya janji “di bunderan H.I kita pun u untuk kedua kali bertem g pertama Walau aku merasa ini yan pa ingin kembali.” seperti pergi tan nama Astuti Winata Alkisah seorang wanita ber n Jakarta cukup jelita untuk ukura dal sarjana sastra dengan mo baca ini itu pengetahuan seni rupa dan dan menawan jadilah ia intelek sterius bersahabat sekaligus mi asaran ada alasan untuk tidak pen tak el Ritz Tak sengaja bertemu di Hot lah magrib uah acara yang dibuka sete pada seb bangku disitu Astuti duduk di u. di belakang meja penuh buk nomor alu malu untuk tanyakan Karena terl telepon kuminta kartu nama di dunia maya dan petualangan berlanjut berhubungan Lewat dunia maya kami cintaan mang penting dalam per komputer me modern dirinya muncul di layar berupa gambar kadang berupa kata kadang dari layar hanya dari layar, hanya as? ah, kapan rindu ini lun tu untuk bertemu di Maka sampailah pada wak dunia nyata batasan rasa karena komputer punya berdua dengan Astuti kubayangkan deran H.I duduk minum kopi di bun pu mobil lewat Kubayangkan cahaya lam ergap cahaya lampu jalan meny gah kota yang ramai dan kita duduk di ten terang g masing-masing sambil berbincang tentan Maka kukirimkan pesan temu sebuah ajakan untuk ber bahasa Inggris s secara romantis dalam dituli kata kata sugestif disertai humor dan esif kuharap aku tak terlalu agr Astuti memang sensitif karena tronikku berhasil Diluar dugaan surat elek ju bertemu diluar dugaan Astuti setu ya janji di bunderan H.I kita pun i bertemu untuk kedua kal merasa ini yang pertama Walau aku kembali seperti pergi tanpa ingin Aku Khawatir Ini Terlalu Seperti di Film jantung hati Astuti menusuk tepat di di TV seperti Meriam Bellina yang menegangkan Malam pertemuan malam tapi apa salahnya sedikit aku ingin terlihat cuek dandan celana sepatu dan jam sinkronisasi warna baju tangan pan beserta doa dan segala macam psikologi tera harapan sudah disiapkan n sisanya biarkanlah sponta a bertemu wanita Ah, memang beda rasany idaman penting hal kecil mendadak jadi g dulu n kini hal pada wanita yan kuperhatika kuabaikan warna bibir sampai model rambut, kulit wajah, warna ketiak yang buat sinting dan segala macam detail cara bicara seperti cara jalan dan dan prestasi akademik latar belakang keluarga ra estetik lingkungan sosial dan sele ya memang Segala sesuatu tentangn mkam mengagu an sampai hobi ke mulai dari pilihan makan pameran han pakaian topik pembicaraan dan pili a hidup di pantai, Ia katakan “ cita-citaku bis bertemu diri sendiri mati “ dan menulis novel sampai ehlah kuceritakan Tentang dunia Astuti bol sedikit k ia tumbuh di sekolah Katoli aik liah di perguruan negri terb ku baik baik lahir dari keluarga i Murakami skripsinya tentang Takash sashimi makanan favorit sushi dan ng baik dan cemerlang berteman dengan ora ala jenis pelanggaran jauh dari narkoba dan seg terlalu seperti di film Aku khawatir karena ini langkahkan kaki maka cepat ku menuju bunderan H.I kutunda penulisan puisi nanti mungkin Astuti sudah me ya sekian sampai disini dan ceritan oleh: xRay 62 l Kinescope l September 2013 #1
  • TOP 10 1 LALA Between Us - Sinjitos Records 2 Andien #Andien - Catz Records 3 Adrian Adioetomo Karat & Arang - My Seeds Records/demajors 4 Ayushita Morning Sugar - Ivy League Music 5 Endah N Rhesa Escape - Reiproject/demajors 6 White Shoes And The Couples Company Menyanyikan Lagu2 Daerah - demajors 7 Morfem Hey, Makan Tuh Gitar! - MRFM Records/demajors 8 Monkey to Millionaire Inertia - demajors 9 The S.I.G.I.T. Detourn - FFWD Records 10 Maliq & D’essentials Sriwedari - Organic Records September 2013 l Kinescope l 63
  • MUSIC Industri Musik Indonesia Di Persimpangan Setelah sekian tahun terakhir, dominasi aliran lagu-lagu semi melayu yang kuat pada dunia musik di Negeri ini, akhirnya para pecinta musik bisa menikmati genre musik yang lebih bervariasi dengan bermunculannya para penyanyi-penyanyi muda berkualitas yang mulai muncul menunjukkan kemampuannya. B eberapa penyanyi muda berbakat yang muncul seperti  Chakra Khan, Rumor dan sederetan penyanyi single muda yang saat ini mulai menggeliat, ditambah dengan kembalinya Peterpan dengan nama barunya NOAH, kembali memberikan harapan baru untuk lagu-lagu berkualitas khas Indonesia. Penampilan mereka di kancah industri musik Indonesia cukup signifikan karena selain memiliki kekuatan lirik yang baik pada single hit masing-masing, kualitas suara juga menjadi faktor utama. Hal ini cukup melegakan pecinta musik Indonesia yang mungkin sudah mulai merasa jenuh dengan dominasi lagu-lagu sendu mendayu ala semi melayu. Memang selama ini, para penikmat musik Indonesia mungkin cukup bosan dengan dominasi kuat warna-warna musik yang sendu mendayu ala melayu yang dengan komposisi musik dan lirik yang sederhana dan kualitas suara penyanyi yang agak pas-pasan.  Apalagi ditambah semakin maraknya duplikasi boy band-boy 64 l Kinescope l September 2013 reiza band ala Korea yang banyak mengandalkan tampang dan mengesampingkan kualitas suara. Hal ini cukup membuat dahi berkerut, karena musik Indonesia seolah gamang dan kehilangan pegangan ketika berhadapan dengan dominasi genre musik seperti itu yang justru didukung kuat oleh kondisi industri yang dikendalikan oleh pemilik modal perusahaan label. Sebetulnya, banyak yang berharap di tahun 2013 ini merupakan langkah pembaruan dunia musik kita dan sebuah langkah baru untuk musik-musik berkualitas bisa bermunculan, sehingga para penikmat musik tidak terus menerus dijejali dengan lagu-lagu sendu mendayu dan boyband-boyband yang notabene meniru ketenaran boyband diluar negeri tanpa menyajikan kualitas yang mumpuni. Awal-awal tahun 2010 lalu, band-band melayu terus bermunculan di tengah-tengah industri musik Indonesia yang seolah telah terbutakan oleh materi dan “selera pasar”. Namun sepertinya tidak pernah ada survey atau penelitian yang mengungkap masalah ini, apakah memang perkembangan industri musik seperti itu, memang berdasarkan “selera pasar” sebenarnya, ataukah memang dipaksakan oleh pemilik modal dengan tidak memberikan alternatif genre musik yang lain yang sengajaja tidak dilepas ke pasar. Anggapan bahwa mereka lebih mementingkan uang semata ketimbang kreatifitas dalam bermusik seolah menjadi mendapatkan pembenaran. Kondisi kegelapan seolah meliputi Industri musik di Indonesia. Seolah lupa bahwa di Indonesia banyak aliran-aliran musik atau genre-genre musik yang lain, seperti Rock, SKA, Reggae, Punk,dan semacamnya. Memang tidak ada yang bisa menjamin bila genre-genre musik tadi di eksploitasikan lebih oleh media masyarakat akan menyukainya, tapi paling tidak masyarakat di beri opsi lebih dalam memilih aliran musik. Hersinta, M.Si, pengajar di The London School of Public Relations, Jakarta, pernah
  • menulis sebuah tulisan ilmiah tentang ini. Di tahun 2010, lembaga riset Synovate melakukan penelitian terhadap kebiasaan menggunakan telepon seluler di kalangan muda Asia, termasuk Indonesia. Hasilnya menyebutkan, kegiatan paling sering dilakukan oleh anak muda (populasi usia 8-24 tahun) saat ini dalam menggunakan telepon genggam selain untuk komunikasi, adalah untuk mendengarkan musik, bermain game dan mengambil gambar. Hal senada juga dikemukakan oleh Adib Hidayat, Managing Editor majalah Rolling Stone Indonesia, yang bercerita tentang hasil riset Synovate di tahun sebelumnya (2009), bahwa 55% pendengar musik di Asia menikmati musik melalui TV. Di peringkat kedua adalah melalui smart phone, sebagai perangkat yang dapat berfungsi untuk MP3 player. Ketiga, melalui real MP3 player, seperti iPod, menyusul radio. “CD dan kaset menduduki peringkat terakhir, hanya sekitar 4%. Dan mungkin saat ini malah semakin menurun, penjualan CD dan kaset sudah semakin jatuh,”  ungkapnya. Menurut Adib, saat ini distribusi dan konsumsi musik di Indonesia mengalami perubahan yang sangat besar. Salah satunya ditandai dengan banyak tutupnya toko-toko musik yang menjual CD dan kaset, tidak hanya di Jakarta, juga di daerah-daerah. Dan yang saat ini banyak bisa ditemui adalah layanan pengunduhan MP3 untuk telepon seluler. Bisnis ini sangat diminati karena saat ini masyarakat sudah beralih mendengarkan musik melalui perangkat telepon genggam. Layanan ini pun sangat murah, misalnya dengan Rp. 10.000 pembeli dapat memperoleh ratusan, bahkan mungkin ribuan lagu berformat MP3 yang diunduh ke ponselnya. Masalahnya, lagu-lagu ini merupakan kategori lagu ilegal, karena diedarkan tanpa membayar royalti pada si musisi maupun perusahaan rekaman yang memegang hak cipta lagu tersebut. Salah satu strategi yang dilakukan label dalam menghadapi pembajakan dan penurunan penjualan adalah dengan meluncurkan single (lagu), sebagai alternatif selain rilisan dalam bentuk album. Strategi ini diakui lebih menguntungkan oleh perusahaan rekaman, dibanding jika mereka merilis satu album yang kemudian dibajak dengan cepat (Rolling Stone Indonesia, Maret 2009). Terkait dengan fenomena pembajakan karya musik ini, beberapa pandangan berbeda juga diungkapkan oleh beberapa praktisi musik. Seperti yang diungkapkan oleh Addie MS, bahwa fenomena ini lebih banyak terjadi akibat proses pembiaran dan kurangnya perhatian oleh pengambil kebijakan di negeri ini. Sehingga proses pembajakan bisa berlangsung terus menerus dan semakin massif, khususnya di ranah teknologi digital dan internet. Pandangan berbeda diungkapkan oleh Cholil Machmud, vokalis dan gitaris Efek Rumah Kaca, bahwa fenomena pembajakan ini sudah sulit dibendung dan merupa- kan keniscayaan dari kemajuan teknologi yang sangat cepat. Justru pemusik harus mampu membuat terobosan kreatif agar mampu bertahan dalam industri musik, bagaimanapun caranya. Piyu, gitaris PADI pun mengatakan hal yang sama, bahwa sekarang ini strateginya berbisnis dalam menyikapi industri musik yang seperti ini adalah dengan membangun bisnis merchandise dan justru lagu-lagu yang dihasilkan menjadi seperti komplimen yang dia berikan dalam memasarkan bisnis merchandise yang dia kerjakan. Memang, menghasilkan profit itu penting, bukan hanya untuk mencari penghidupan yang lebih baik, namun justru kemampuan bertahan hidup praktisi musik, seniman dan sebagainya, justru ketika ada penghargaan terhadap hasil karya musik dari para penikmat dan pecinta musik. Sehingga proses kreatif menciptakan karya musik bisa berjalan terus tanpa mengorbankan kehidupan yang lebih baik para praktisinya. Untuk itu, maju atau tidaknya dunia musik di tanah air ini, bukan hanya tanggung jawab para praktisinya, namun juga semua pecinta musik tanah air dan penikmat seni musik kita. Majulah dunia musik Indonesia! “CD dan kaset menduduki peringkat terakhir, hanya sekitar 4%. Dan mungkin saat ini malah semakin menurun, penjualan CD dan kaset sudah semakin jatuh.” – Adib Hidayat - September 2013 l Kinescope l 65
  • INTERVIEW Di sela kesibukannya yang sangat padat dan banyaknya kegiatan terkait dengan proses pembinaan sebuah gerakan komunitas bernama Underdog Kick Ass, Kinescope mendapat kesempatan bertemu dengan Mas Rudi Soedjarwo di sebuah café di daerah Cilandak, Jakarta Selatan pada akhir Agustus 2013 lalu. Berikut petikan wawancara Kinescope dengan salah satu Sutradara senior di Indonesia ini. Rudi Soedjarwo Saat ini kondisi perfilman di Indonesia belum ada banyak kesempatan bagi orang-orang yang dianggap “kurang menjual” untuk bermain dalam wawancara : Reiza PENULIS: MUHAMMAD Adrai sebuah film Setelah film Garuda Di Dadaku, kami dengar kabar Mas Rudi sedang menyiapkan satu film bersama komunitas Underdog KickAss! Apa nama judul film itu? Film kami berikutnya kami beri judul 2359. Mungkin agak susah dimengerti karena memang edgy banget. Baik dari segi cerita, teknis film, semuanya. Kita tidak perduli film ini laku atau nggak. Yang penting kami coba hadirkan yang tidak mungkin. Laku apa nggak nanti saja dulu. Pokoknya kita bikin terus. Kapan mulai naik dan tayang di bioskop? Filmnya akan release Oktober nanti tapi tanggal fix-nya kami belum dapat. Apa sebenarnya Underdog KickAss ini, mas? Ini adalah sebuah gerakan yang bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada semua orang yang mau bermain dan membuat film. Khusus untuk yang mau bermain dan berakting di film, gerakan ini menerima semua kalangan dari semua umur, dari mulai umur 5 tahun sampai 70 tahun, untuk berlatih bersama-sama sampai bisa bermain di film yang kami bikin sendiri. Saat ini kondisi perfilman di Indonesia belum ada banyak kesempatan bagi orang-orang yang dianggap “kurang menjual” untuk bermain dalam sebuah film. Misalnya kesempatan untuk orang yang sudah berumur untuk bisa jadi pemeran utama. Saya dan beberapa teman mendirikan Underdog KickAss salah satunya untuk itu. Bayangkan, umur saya sekarang 40 tahun, saya tidak ingin bikin film cerita remaja terus, kan. Saya ingin juga bikin film cerita yang seumuran saya. Saya ingin mencari pemain utama yang usianya 50 tahun sampai 70 tahun. Memangnya orang yang umurnya 50 tahun sampai 70 tahun itu tidak punya cerita? Justru lebih banyak ceritanya karena menjelang ajal. Siapa pemain utama orang tua saat ini? Tidak banyak pilihan. Masak Slamet Rahardjo lagi? Sayang, kan. 66 l Kinescope l September 2013 Saya bilang ke teman-teman di Underdog KickAss, kalau film kalian mau laku mulai dari sekarang kalian cari penonton kalian sendiri. Karena yang mau bikin film, kan kalian bukan saya. Yang mau main film juga kalian. Ya sudah, mulai dari sekarang kalian perkenalkan diri kalian masing-masing. Jangan tunggu sampai film kalian jadi. Dari sekarang saja kalian sosialisasikan diri kalian masing-masing. Kan yang penting bagaimana caranya dari tidak dikenal menjadi dikenal. Jadi, kalau nanti filmnya tidak laku tapi kalau dari awal kalian sudah dikenal malah bagus. Kalau filmnya tidak laku, kalian tetap lebih dikenal. Untuk apa kalian main film kalau orang-orang tidak tahu kalian main film? Apa gunanya kalian capek-capek latihan segala macam tapi orang tidak tahu? Percuma kan. Bagaimana itu bisa dilakukan oleh orang-orang yang baru saja mengenal dunia film? Untuk bisa seperti itu sebenarnya sederhana. Pertama kali yang paling mudah untuk memperkenalkan diri misalnya menggunakan sosial media. Misalnya si A, dia mau share apapun di twitter orang belum tentu akan perduli dengannya, kan. Tapi kalau si A ini sedang berjuang dengan Underdog KickAss untuk mewujudkan mimpinya, mungkin orang akan lebih perduli dibanding dengan si A yang bukan siapa-siapa. Bayangkan kalau ada banyak orang yang share seperti si A. Mungkin orang akan lebih merasakan kehadiran mereka dibanding dengan si A sendirian. Selain Film, apalagi media yang digunakan untuk mensosialisasikan gerakan Underdog KickAss ini? Kami juga akan segera meluncurkan digital magazine dengan konten yang berbeda. Kalau di Underdog KickAss semua orang bisa main film, di digital magazine ini semua orang bisa jadi foto model! Semua orang di usia 5 sampai 70 tahun! Kalau yang dari daerah mau ikutan cukup kirim foto saja, nanti kami kirimkan referensi. Untuk yang di wilayah Jakarta bisa kami foto langsung. Di dalam Digital Magazine ini, apakah hanya terkait dengan permodelan? Tidak. Saya ini sangat tertarik dengandunia wirausaha. Maka itu, selain urusan permodelan, di laman itu juga akan ada pembahasan mengenai kewirausahaan. Kalau mereka punya usaha yang mau dipamerin seperti usaha sepatu, kos-kosan dan lain-lain, apapun usaha mereka kalau mau diangkat monggo, kalau mau dibetulin juga monggo. Maksudnya begini, dari dulu saya memang lebih suka menjadi entrepreneur. Jadi saya senang kalau misalnya ada orang datang ke saya terus bilang, “kok bengkel gue sepi ya, bro?” Saya bisa berbagi dengan mereka supaya mindset-nya berubah. Saya bisa mulai dari pertanyaan simpel aja dulu seperti, “lu betulinnya bener nggak?” ha.. ha..ha..! Kemudian pertanyaan kedua adalah, “kenapa orang harus datang ke bengkel lu sementara bengkel-bengkel yang lain juga ada?” Nah yang ini biasanya banyak yang nggak bisa jawab. WHY people have to go to your place? Kebanyakan orang sibuk dengan APA. Gue mau bikin ini ah! Nah, orang butuh apa yang kalian bikin nggak? Kalau nggak kan percuma aja. Seperti majalah Kinescope ini. Selain itu sibuk apa lagi, mas? Saya sama partner saya juga sedang riset titik bioskop di seluruh Indonesia. Di tingkat Kotamadya, Kabupaten dan Provinsi. Harusnya renovasi berjalan tahun ini. Tujuannya agar kita tidak tergantung sama bioskop besar yang sudah ada. Teknologi kan semuanya sama. Untuk memulai kita butuh 50 film tapi di tahun yang sama harus 100 film supaya kita punya bargaining power. Supply content juga kita bisa tidak tergantung dengan Hollywood dan film-film luar lain. Kalau mau dihitung, dari saya sendiri saja bisa 20 film, belum dari temanteman yang lain. Artinya, untuk setahun stok film
  • aman. Yang terpenting bukan bioskopnya sebenarnya. Bioskop itu karena saya orang film aja sebenarnya jadi saya memulainya dengan bioskop. Sebenarnya yang sedang kami bikin itu adalah community center dimana bioskop ada di dalamnya. Tujuan community center ini untuk memberdayakan masyarakat di sekitarnya. Semua kegiatan dan lapangan pekerjaan ada di situ. Sekalian, kalau misalnya, ada film yang bisa dibilang “aneh”. Sebelum film itu ditayangkan, kita bisa membuat agar masyarakat di sekitar community center untuk bisa memahami film itu dengan cara yang agak beda. Tidak usah memaksa penonton untuk menonton film itu sebagai hiburan. Kalau kita mengadakan workshop-workshop di situ kan gampang sebenarnya. Anak-anak muda bisa ikutan. Kemudian, mungkin, orang tuanya juga bisa ikutan. Dan tidak harus film. Seni dan budaya lainnya juga bisa. Rencananya, setiap film akan diputar, penonton akan diajak menyanyikan Indonesia Raya dulu. Kenapa kita bikin itu? Karena di setiap Kabupaten dan Provinsi-provinsi kecil yang “pinggiran” ada satu masalah, di tempat itu orang-orang datang sendiri-sendiri, individualis. Kalau sudah agak malam listrik mati, banyak nongkrong, mabuk, selesai. Kemudian ekonomi rakyat yang sebenarnya bisa hidup sampai malam kan mati juga akibat listrik mati. Dengan pola yang akan kami bangun itu, nantinya diharapkan ekonomi rakyat itu akan lebih hidup dan semuanya bisa terjawab. Jadi nanti saya bersama teman-teman tidak memikirkan bioskopnya. Bioskop hanya sekedar alat komunikasi kita untuk kita bisa melakukan itu semua. Kalau kita menjadikan bioskop sebagai dasarnya, problemnya adalah kita akan mencari uang dari bioskop. Padahal kita mencari uang dari sekitar bioskop. Bioskop jelas ada uangnya, tapi revenue stream kita tidak melulu dari situ. Kalau ada itu, orang-orang akan berinteraksi di situ. Artinya, desain dan segala macamnya bisa disesuaikan ya, mas? Ya, pasti. Harga tiket pun juga. Misalnya perkapita hanya bisa 30 ribu, 25 ribu atau bahkan 15 ribu ya kita sesuaikan. Dan semuanya pakai satelit. Jadi cost distribusi dan segala macamnya bisa lebih efisien. Kemudian real time. Jadi produser bisa dapat mobile apps dan setiap per show langsung dapat update-nya. Bagaimana dengan quota tayang di Indonesia? Di Indonesia dulu sempat ada. Jamannya Departemen Penerangan yang menerapkan itu. Darimana saya tahu? Waktu saya mau bikin titik bioskop, saya berdiskusi dahulu dengan para pemilik bioskop lama. Departemen Penerangan memberikan quota sebanyak 30% waktu itu. Sekarang tidak ada. Ketika saya ke 21, saya bertanya ke mereka, “film saya sehari harus memenuhi berapa quota supaya tidak diturunin?” Hal ini saya tanyakan karena saya ingin menutupi sendiri biaya yang pasti agar film saya tidak diturunkan. Tapi mereka tidak bisa jawab. Padahal tujuan kita adalah strategi promosi. Karena pihak 21 tidak menjelaskan berapa, kita jadi bingung. Promosi kan butuh waktu. Untuk Jakarta saja, segila-gilanya tidak bisa hanya berharap dari on air. Kadang-kadang justru direct-selling yang sangat membantu. Itu baru di Jakarta. Apalagi di seluruh Indonesia. Untuk contoh suksesnya film Habibie & Ainun menurut Mas Rudi bagaimana? Apakah juga karena promosi yang bagus? Kalau menurut saya Habibie & Ainun bisa sukses utamanya bukan dari promosi tetapi karakter yang diceritakan. Saya yakin itu. Karena film saya Langit Ketujuh tidak sukses padahal di TV bisa satu spot. Justru kalau di TV tidak ada, tapi kalau karakter yang diceritakan itu kuat, penonton sudah perduli dengan karakter yang akan diceritakan, itu sudah bisa menjamin film akan laku. Kemudian direct-selling. Kedua faktor itu menurut saya yang paling menentukan. Membujuk orang itu lebih mudah daripada kita bikin iklan dan berharap orang datang. Ya iklan kadang hanya dapat awareness saja. Betul. Kalau saya kan mendingan tidak ada awareness, tapi orang datang. Dan ketika orang datang menonton film kemudian mereka suka, otomatis awareness akan terbangun, itu otomatis saja. Untuk Film dan TV sekarang menurut mas gimana? Masih butuh waktu. Sekarang ini pendidikan dari TV makin tidak karuan. Referensi yang ada di kepala orang dari yang muda sampai yang tua bisa dibilang tipis. Ketika ada film yang tidak ada dialognya, masih banyak yang bingung. Di Korea sudah tidak begitu karena dari kecil balancing TV sudah benar. Selama TV masih seperti sekarang akan susah karena tidak ada penyeimbang. Buat orang-orang seperti saya yang agak nekat akan bertanya, penonton suka tayangan suatu program itu karena mereka suka atau karena setiap hari disuguhi tayangan itu? Karena sudah terbukti. Orang yang tadinya sebel dan tidak suka akhirnya menjadi terbiasa. Jadi sebenarnya ini masalah niat aja kan. Kalau memang mau seimbang, misalnya, untuk yang jual rating sama yang tidak jual rating, itu bisa bagus sebenarnya. Aman lah. Paling tidak setiap hari penonton juga melihat. Kenapa saya bisa bilang begitu? Di Underdog KickAss, ketika orang masuk dan latihan akting, yang mereka tahu akting yang bagus dan tepat itu adalah yang di sinetron. Kan gue pusing. Saya tidak bisa menyalahkan mereka karena yang mereka tonton itu. Mampus dah! Dan itu hampir 80%. Akhirnya terpaksa saya bilang begini, sekarang nonton sinetron Hanam! Tonton yang kalian tidak pernah tonton! Pergi ke tempat yang kamu tidak pernah datangi! Bergaul sama orang-orang yang kamu tidak pernah bergaul. Kenapa? Menurut pribadi saya sendiri, kalau saya hanya bergaul di kalangan film saja, saya pasti jadi tolol. Karena yang saya lihat, saya dengar dan saya hadapi problemnya akan selalu sama. Tapi ketika saya keluar dari itu dan saya bergaul dan berbisnis di bidang yang lain, sudut pandang saya menjadi lebar. Jadi saya tidak melihat film sebagai film. Seperti yang saya bilang ke teman-teman Underdog KickAss, buat kita film adalah alat komunikasi. Selama kita taruh film di tempat umum artinya kita ingin mengkomunikasikan sesuatu. Kalau soal seni itu proses. Anak-anak Underdog KickAss yang sekarang lagi bikin film 2359 pun saya ingatkan. Boleh saja bikin film yang aneh tapi harus ingat bahwa penonton kita melihat ini adalah orang Indonesia yang bikin. Jangan sok bule karena kalian bukan orang bule. Kalau belum bisa mengemas sesuatu yang aneh itu dengan baik, mereka akan melihat hal yang aneh ini sesuatu yang cacat padahal tidak. Saya juga bilang ke teman-teman Underdog KickAss. Kenapa saya lebih memilih untuk fokus memberdayakan kalian dibanding saya bikin film? Karena kalau saya hanya capek-capek bikin film pada akhirnya hanya akan masuk lemari. Tapi kalau saya memberdayakan kalian, melatih kalian, saya membuat karya sumber daya manusia. Kalian bawa sampai mati. Itu bisa saya wariskan ke anak-anak saya. Itu worth it buat saya. Ada alasan lain selain yang mas bilang barusan? Oh, satu lagi. Saya pernah punya pengalaman waktu film Mengejar Matahari. Jamannya saya mulai ‘menggila’ saat itu. Saya pernah kasar membentak figuran, seorang bapak-bapak. Setelah saya pikir-pikir, figuran kan manusia yang sama-sama nyari duit juga. Artinya, cara ngomongnya nggak usah gitu meskipun kita lagi stress. Karena ketika kita di luar shooting kita bisa bertemu dengan mereka dalam kondisi yang berbeda. Bisa saja kita butuh mereka. Dan kebetulan setelah shooting saya bertemu dengan bapak itu di tempat sosial. Nggak enak rasanya. Itu yang akhirnya saya sadari. Saya minta maaf sama dia. Saya bilang, saya membenci diri saya justru ketika saya di atas. Jadi sekarang gimana caranya ketika saya sedang di atas atau pun sedang tidak di atas, saya harus selalu merasa underdog! Karena ketika kita di atas, justru kekurangan kita akan semakin terlihat menggila. Pengalaman dan kesalahan saya itu yang sebenarnya saya bagi ke Underdog KickAss. Bukan kepintaran saya yang saya share sebenarnya. Justru kesalahankesalahan saya di masa lalu supaya mereka tidak bikin kesalahan yang sama seperti saya. Sebelum menutup pertemuan sore itu, Kinescope juga memberikan majalah edisi perdana ke Rudi Soedjarwo dan dia berpesan bahwa setiap kritik itu jangan sampai justru mematikan para pembuat film. Karena bagaimanapun, perkembangan film Indonesia ke arah yang lebih baik, itu tetap ada di tangan para pemuat film juga. Mereka perlu dikawal, diingatkan dan diberikan masukan, bukan dibunuh dan dimatikan karir dan mata pencahariannya, karena apapun itu, sutradara adalah sebuah profesi untuk bekerja dan mencari nafkah. Terakhir Rudi Soedjarwo mengucapkan selamat atas lahirnya Majalah Kinescope dan berharap bahwa majalah ini bisa mengambil peran untuk terus kritis namun membangun dan bisa memberikan pendidikan serta pencerahan bagi para pecinta film Indonesia. September 2013 l Kinescope l 67
  • KOMUNITAS Underdog Kick Ass D i dalam manifestonya, Underdog Kick Ass mengatakan bahwa kesempatan untuk menjadi seseorang di dalam dunia akting itu dirampas oleh dogma industri yang menjadikan seseorang itu tidak dinilai lebih. Untuk itulah Underdog Kick Ass memiliki misi untuk memberikan kesempatan yang dirampas ini kembali kepada setiap individu. Kesempatan ini tersedia bila setiap orang setidaknya memenuhi dua syarat, yaitu ketekunan dan kegigihan. Kesempatan untuk tampil di layar lebar pada film-film unik, bagus dan Out of the box, diberikan melalui metode yang unik dan terbukti keberhasilannya. Keunikan gerakan ini adalah, semua 68 l Kinescope l September 2013 elemen dari film yang akan dibuat berasal dari massa yang tergerak untuk mengubah dogma industri yang berkuasa selama ini. Semua aktor berasal dari berbagai lapisan masyarakat tanpa melihat hal yang selalu dijadikan sebagai alasan seseorang tampil di sebuah film, yaitu “tampang yang menjual”. Underdog KickAss melihat semua orang memiliki kesempatan yang sama dari usia 5-70 tahun. Anggota dari Underdog KickAss akan menjadi target mereka untuk mengisi film yang mereka buat sendiri. Keunikan lainnya, cerita yang akan dibangun akan didasarkan oleh karakter yang tersedia di depan sutradara. Pergerakan ini diisi oleh beberapa pendidik yang sudah cukup lama berada di dunia industrinya, diantaranya Rudi
  • Underdog KickAss didirikan atas dasar keprihatinan terhadap kondisi sekitar industri perfilman yang ada saat ini Komunitas Underdog Kick Ass ialah sebuah gerakan yang berbeda dengan yang lain yang pernah kamu temukan. Fokus dari Underdog Kick Ass ialah Pembentukan Karakter melalui kurikulum yang mencakup pendidikan akting, penulisan script dan directing. Bagian dari proses pembentukan ini ialah sebuah film layar lebar yang akan dibintangi oleh semua siswa dan anggotanya. Film ini merupakan media aplikasi dari kemampuan yang telah didapatkan selama masa pendidikan. Soedjarwo, sutradara film di Indonesia, yang telah membuat karya-karya film berupa Ada Apa dengan Cinta, 9 Naga, Rumah Ketujuh, Pocong, Garuda di Dadaku 2, dan sebagainya. Film yang telah diproduksinya telah mencapai 20 lebih film. Kemudian ada Adri Prasetyo, salah satu pengajar yang berkecimpung dalam dunia akting sejak tahun 1997. Ia, yang juga tergabung dalam teater KOMA di angkatan 2005 hingga saat ini, pun menjadi pengajar di berbagai sekolah dan universitas-universitas lain. Lalu Syahril Ismanto, atau lebih dikenal dengan panggilan Acho, seorang Script Supervisor dan juga Asisten Sutradara dalam dunia film di Indonesia. Film-film yang ia turut berpartisipasi di dalamnya diantaranya adalah Langit Ketujuh, Pasukan Kapiten, Garuda di Dadaku 2, Sang Pencerah, dan masih banyak lagi. Di Underdog KickAss, Acho berperan sebagai salah satu Sutradara. Dan masih banyak professional lain yang turut berpartisipasi di dalam Underdog KickAss. Salah satu program dalam Underdog Kick Ass ini adalah Acting, Writing dan Directing. Program ini ditujukan bagi semua orang yang memiliki keinginan untuk memiliki kemampuan akting, scriptwriting dan Directing yang handal. Untuk program ini dilaksanakan selama 6 bulan masa belajar termasuk pembuatan film. Untuk hari latihan, mereka melakukannya di hari minggu, setiap pukul 10.00 hingga 16.00. Film yang nantinya dibuat dan diperani oleh semua anggota, akan tayang di layar lebar seperti XII, dan sebagainya. Dan tidak akan ada casting untuk film yang akan dibuat, semua yang masuk akan langsung main film tanpa pengecualian. Untuk program-program yang lain dari Underdog Kick Ass, silahkan buka website mereka http://underdogkickass.com dan silakan bergabung dengan mereka untuk bersama berjuang menembus industry film Indonesia dengan mengasah kemampuan terbaik di sana, tidak hanya mengandalkan bawaan lahiriah, namun betul-betul mengasah kemampuan dengan belajar dan terus belajar, untuk mencapai kemampuan terbaik dari setiap individu. September 2013 l Kinescope l 69
  • KOMUNITAS Doni Agustan Forum Lenteng K Saat ini Forum Lenteng adalah satu dari sekian komunitas yang berkomitmen dan berdedikasi tinggi mengamati, mengembangkan dan mengkaji isu-isu sosial dan budaya masyarakat. omitmen Forum Lenteng ini jelas terlihat dari kutipan sepenggal teks yang disampaikan oleh salah satu pendiri Forum Lenteng yaitu Hafiz Rancajale “Filem ini didedikasikan untuk sinema Indonesia yang lebih baik, seluruh penggerak komunitas filem, dan aktivitas  gerakan sosial di Indonesia. Sinema adalah pengetahuan, bukan hanya barang dagangan”. Kutipan tersebut dibacakan ketika film Dongeng Rangkas, salah satu film dokumenter panjang yang diproduksi Forum Lenteng, meraih penghargaan internasional di Copenhagen International Documentary Film Festival 2011 atau yang lebih dikenal dengan nama CHP:DOX. Forum Lenteng adalah Organisasi nirlaba egaliter sebagai sarana pengembangan studi sosial dan budaya. Forum Lenteng berdiri sejak tahun 2003 yang didirikan oleh mahasiswa (ilmu komunikasi/jurnalistik), pekerja seni, periset dan pengamat kebudayaan. Komunitas ini didirikan guna menjadi alat pengkajian berbagai permasalahan budaya dalam masyarakat, guna mendukung dan memperluas peluang bagi terlaksananya pemberdayaan studi sosial dan budaya Indonesia. Forum Lenteng bekerja dengan merangkum serta mendata aspek-aspek sosial dan budaya yang mencakup kesejarahan dan kekinian di dalam kerangka kajian yang sejalan dengan perkembangan jaman dengan mengadakan pendekatan solusif bagi keberagaman permasalahan sosial dan budaya di Indonesia serta dunia internasional. Salah satu medium yang digunakan Forum Lenteng adalah medium audio visual (film dan video). Saat ini terdapat 4 program utama yang sedang dijalankan oleh Forum Lenteng; Akumassa, Senin Sinema Dunia, Doc Files, dan Arkipel. Akumassa adalah program pemberdayaan dan pengembangan komunitas dalam bentuk lokakarya (workshop) yang difasilitasi oleh Forum Lenteng. Secara mendasar, program akumassa adalah tentang penggunaan medium video, teks dan media online di komunitas-komunitas pekerja kreatif muda (mahasiswa, seniman muda, pelaku budaya lokal) di Indonesia guna mendorong kemandirian dalam masyarakat. Senin Sinema Dunia adalah program menonton sinemasinema dunia dengan subteks ber-Bahasa Indonesia diselingi 70 l Kinescope l September 2013 obrol santai tiap senin malam di perpustakaan Forum Lenteng. Sedangkan Doc-Files adalah program menonton dan ruang untuk membicarakan karya-karya dokumenter lintas media yang diadakan setiap Kamis malam di Forum Lenteng. Selain itu, Forum Lenteng juga memiliki Jurnal Footage, sebuah wadah untuk berdiskusi, beradu gagasan dan bertukar pikiran seputar sinema dari sisi akademis atau praktis. Dalam Jurnal Footage ini, banyak artikel-artikel yang dibuat sebagai opini dari para praktisi dan akademisi terkait dunia sinema dan seni secara umum, yang memang bertujuan untuk terus memberikan pencerahan, analisis dan bertukar gagasan untuk kemajuan dunia sinema dan seni secara umum di Indonesia. Arkipel adalah festival film dokumenter dan eksperimental bertaraf internasional, untuk pertama kalinya yang diadakan oleh Forum Lenteng. Festival ini diadakan di Jakarta dari tanggal 24 Agustus hingga 30 Agustus 2013. Festival ini adalah ruang terbuka untuk diskursus sinema dan media secara umum, khususnya genre dokumenter dan film eksperimental (simak ulasan Arkipel pada rubrik cover story). Seperti yang telah disinggung di atas bahwa Forum Lenteng memproduksi film panjang dokumenter. Selama berdiri sejak tahun 2003, Forum Lenteng telah memproduksi tiga buah film dokumenter panjang yaitu Dongeng Rangkas (2011), Naga Yang Berjalan di Atas Air (2012), dan Elesan Deq a Tutuq atau Jejak yang Tidak Berhenti (2013) Film Dongeng Rangkas adalah sebuah dokumenter panjang yang berkisah tentang dua pemuda yang hidup paska Reformasi 1998. Iron dan Kiwong adalah dua pemuda yang memilih hidup sebagai pedagang tahu, sementara mimpi-mimpinya tetap dipegang teguh. Kiwong bermimpi menjadi pemuda yang lebih baik, yang menjadikan keluarga hidup lebih baik dari sebelumnya. Sedangkan Iron, percaya musik adalah anugerah dari Tuhan, dan ia ingin terus mengembangkan fantasi musiknya di jalur Underground. Dongeng Rangkas diproduksi Forum Lenteng yang bekerjasama dengan Komunitas Saidjah Forum, Lebak. Kerja produksi dokumenter ini merupakan bagian dari peningkatan
  • Film Dongeng Rangkas kapasitas komunitas akumassa yang diprakarsai oleh Forum Lenteng. Kerja-kerja dalam program akumassa adalah melakukan pendidikan media kepada komunitas dalam rangka membangun kesadaran “media” kepada masyarakat sebagai bagian dari pengembangan diri dan masyarakat sekitar. Film ini juga didukung oleh The Ford Foundation. Dongeng Rangkas meraih penghargaan film dokumenter terbaik dari perhelatan festival film dokumenter CHP:DOX yang diadakan di Copenhagen, Denmark, 2011. Dongeng Rangkas dipilih menjadi yang terbaik dengan alasan bahwa film ini mengangkat isu yang berani, dengan treatment yang subtil, halus dan cermat. Ritme film yang apik, dan yang paling penting adalah bahwa film ini berhasil memberikan contoh sebuah kerja kolaboratif yang baik dalam dokumenter. Film ini adalah hasil kolaborasi 4 sutradara yaitu Andang Kelana, Badrul “Rob” Munir, Fuad Fauji, Hafiz & Syaiful Anwar. Dongeng Rangkas juga diputar pada DMZ Korean International Documentary Festival yang ketiga tahun 2011. Naga Yang Berjalan Di Atas Air adalah sebuah film dokumenter panjang yang diproduksi oleh Forum Lenteng bekerjasama dengan Komunitas Djuanda, Tangerang Selatan, dalam program Monitoring – Upgrading, akumassa. Film ini disutradari oleh Otty Widasari dengan ide cerita oleh Renal Rinoza Kasturi. Film Naga Yang Berjalan Diatas Air merupakan sebuah film dokumenter panjang yang diproduksi sebagai bagian dari proses perekaman kronik sejarah sosio-kultural yang ada di Kota Tangerang Selatan. Film ini berkisah tentang cerita kecil dari perbatasan kota Tangerang dan Kabupaten Bogor, di mana hiduplah Kang Sui Liong, sang penjaga kuil, bersama istri dan anak-anaknya. Zaman berganti. Kang Sui Liong menjadi saksi kejayaan kaum Cina Benteng yang hidup dari hilir di Tangerang ke hulu di Bogor, hingga proses asimilasi menghitamkan kulit mereka. Kang Sui Liong hidup selama puluhan tahun di daerah Babakan Pocis, Tangerang Selatan bersama anak istri dan orang-orang sekitarnya. Setiap harinya ia bertemu dengan berbagai macam kalangan baik jemaah klenteng maupun orang-orang yang ingin bersilaturahmi. Film ini berusaha untuk menyampaikan informasi dan sebagai sarana untuk menyembatani kesepahaman bersama akan nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Perpaduan sistem religi dan budaya mendapatkan corak akulturatif dan kaya akan ornamentasi. Perpaduan inilah yang menghidupi klenteng dengan latar kultural berdasarkan perpaduan ketiga unsur yakni Betawi, Sunda dan Tionghoa yang lebur secara bersamaan dalam penggalan waktu. Elesan Deq a Tutuq atau Jejak yang Tidak Berhenti (20130) adalah film dokumenter panjang ketiga produksi akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng berkerja sama dengan Komunitas Pasir Putih yang berdomisili di kecamata Pemenang, Lombok Utara. Film ini disutradarai oleh Syaiful Anwar dengan Gelar Agryano Soemantri dan Muhammad Sibawaihi sebagai co-sutradara. Film ini pertama kali diputar pada perhelatan Arkipel 2013. Film ini mengangkat topik mengenai sosok Tuan Guru yang memiliki kedudukan sosial tinggi dalam struktur masyarakat suku Sasak. Tuan Guru selalu tampil kharismatik, taat, alim, serta memiliki pengetahuan keislaman yang luas dan dalam, tetepi juga ditampilkan sebagai sosok tokoh yang sangat cair dalam lingkungan keluarga dan masyarakat suku Sasak, Lombok. September 2013 l Kinescope l 71
  • MUSIC REPORT Konser Metallica di Jakarta al fian adha - reiza K onser ini merupakan bagian dari rangkaian tur Asia Metallica di tahun 2013 dan merupakan lawatan kedua bagi Metallica, setelah sebelumnya pernah tampil di Stadion Lebak Bulus, Jakarta, pada tahun 1993 silam. Puluhan ribu penonton yang datang dan memadati stadion utama GBK Senayan untuk menyaksikan konser ini nampaknya sangat mengesankan bagi empat pemain yang jejingkrakan di panggung. Apalagi konser kali ini berlangsung lancar dan aman. Mungkin dikarenakan Metallica adalah grup lawas yang penggemarnya di Indonesia juga umurnya tak lagi muda. “Kami masih ingat ada kerusuhan di luar stadion sampai akhirnya diungsikan dengan ambulans,” kenang gitaris Kirk Hammet dalam sesi konferensi pers beberapa saat sebelum manggung. Grup musik keras yang sudah sembilan kali diganjar penghargaan Grammy di AS ini sebetulnya sudah pernah konser di Jakarta 20 tahun lalu. Saat itu, dua hari konser di Stadion Lebak Bulus diwarnai dengan rusuh massa, yang ditandai dengan pembakaran dan perusakan ratusan bangunan dan kendaraan. Namun waktu itu kerusuhan berhenti 72 l Kinescope l September 2013 ketika panitia konser membuka pintu stadion Lebak Bulus walaupun pertunjukan baru berjalan 30 menit. James Hetfield, vokalis gaek sekaligus gitaris Metallica di sela-sela konser, mengungkapkan kekagumannya terhadap antusiasme publik Indonesia, dan mengenang konser perdana mereka pada 20 tahun lalu, dimana saat itu sempat terjadi kericuhan dan diharapkan tidak ada kekacauan pada konser kali ini. “Setelah 20 tahun, akhirnya kami kembali kesini lagi, dan saya terpukau masih dapat bermain di depan massa sebanyak ini, apakah kalian masih bersama kami,” seru James, yang disambut teriakan antusiasme puluhan ribu penonton. Jejak kerusuhan tahun 1993 itu sama sekali tak nampak dalam konser yang terutama dipadati kelompok fans usia diatas 30 tahun, mereka yang sejak bocah menggemari jenis musik riuh ini. Puluhan ribu penggemar musik metal Indonesia menjadi saksi bagaimana band pengusung musik cadas ini mengguncang Jakarta. Metallica yang beranggotakan James Hetfield (vocal, gitar), Lars Ulrich (drum), Kirk Hammett (gitar), dan Robert Trujillo (bass) terbukti masih memiliki energi dan tidak
  • menunjukkan kelelahan pada konser yang berdurasi lebih dari dua jam itu, walaupun sebetulnya umur mereka sudah tidak lagi muda. Energi dari lagu-lagu, antusiasme penonton dan suasana lighting yang bagus, seolah menyuntikkan energy dahsyat pada diri setiap personil band ini, hingga sama sekali tidak terlihat tanda-tanda kelelahan. Ayunan ribuan kepala penonton mewarnai jalannya konser dan mengiringi lagu-lagu andalan band yang pertama kali merilis album pada 1983 ini, seperti “The Lightning”, “Sad But True”, “For Whom the Bell Tolls”, “Blackened”, Fuel`, “Fade To Black”, “Sanitarium” hingga “Nothing Else Matters” Dan “One”. Dua layar besar dipasang di sisi panggung raksasa dan berhasil menuntaskan kerinduan puluhan ribu pasang mata terhadap band yang dianggap legenda hidup musik heavy metal dunia tersebut. Ribuan penonton, dari remaja hingga orang tua, tidak ragu untuk berjingkrak-jingkrak dan bernyanyi bersama dengan James di seluruh lagu, tak terkecuali ketika mereka memainkan lagu-lagu dengan tempo cepat yang memekakkan telinga. Dalam setiap lagu yang dimainkan, koor yang dibuat penonton, menggema dan seakan mampu mengguncang Stadion Gelora Bung Karno yang berkapasitas hampir 100 ribu penonton tersebut dan malam itu, dipenuhi lebih dari setengahnya. Yang menarik, dalam barisan penonton kelas festival, Gubernur Jokowi, yang dikenal sangat menggemari musik keras, juga tampil Konser Metallica di Jakarta, Minggu malam (25/8) memuaskan kerinduan penonton terhadap kehadiran James Hetfield, Lars Ulrich, Kirk Hammet, dan Robert Trujillo. Konser grup musik cadas asal California, AS, ini mendapat banyak pujian dan berlangsung aman. Pertunjukan musik hingar-bingar ini berlangsung dua jam tanpa jeda, menampilkan nomor-nomor terbaik Metallica dalam sedikitnya 18 lagu. berkaos hitam menonton konser ini dan terlihat sangat menikmati jalannya pertunjukan. Dengan RTA LIVE IN JAKA sangat simpatik, berkalikali Hetfield melontarLights Hit the pets kan kalimat sapaan dan of Pup candaan yang disambut Master tepuk sorak barisan Fuel tning Ligh penonton fanatiknya. ide the R Black Hetfield tak nampak n ade to F seme beranjak tua, atau ur Hor The Fo kelelahan, meski mee rium) ita Cy anid nyanyi non-stop. e (San e Hom Dari 18 lagu Welcom rue ut T yang menjadi setSad B list pertunjukan, Orion hampir seluruhne ell Tolls O eB nya dimainkan hom th For W dengan musik dan ned s Blacke vokal yang sangat Matter g Else bertenaga, Nothin man and termasuk saat nter S E Death Master of Pupreeping ire C ith F pets, Creping Fire w Fight y Death, Seek Destro Seek & and Destroy dilantunkan dan disambut penonton dengan head bang dan acungan jari yang membentuk tanduk ke udara. Tercatat hanya Nothing Else Matters nomor relatif lembut yang dibawakan oleh Metallica. Dengan usia awak band rata-rata mendekati setengah abad, termasuk Hetfield yang genap 50 tahun, penampilan penuh tenaga ini dipuji fans. “Keren mereka itu, kok bisa enggak ada bedanya penampilan mereka sekarang dengan 20 tahun lalu,” komentar Indra Gunawan, 38, sambil geleng kepala. Indra mengaku menonton aksi panggung Metallica di Lebak Bulus tahun 1993 dan ia nampak sangat senang menyaksikan konser kali ini. “Hampir tidak ada perbedaan berarti dari rekaman asli dengan permainan di atas panggung. Metallica band yang disiplin,” ucapnya memuji. Secara umum konser yang dijaga sekitar 3.000 ribu aparat ini berlangsung mulus tanpa insiden berarti. Dan Metallica nampaknya merasakan aliran energi positif dari para pecintanya selama di Jakarta. Dari mulai tata panggung dengan tinggi 20 meter dan lebar 60 meter, pencahayan hingga sound system yang berkapasitas 200.000 watt ini betul-betul memanjakan para penggemarnya di Indonesia. “Kalian hebat Jakarta, we’ll be back soon,” janji Hetfield di akhir acara untuk menutup konser megah ini dari atas panggung. September 2013 l Kinescope l 73
  • Launching Reiza Patters Diskusi Publik Launching Kinescope: Industri Film Indonesia Butuh Perhatian reiza Pada tanggal 30 Agustus 2013 lalu, diadakan sebuah Diskusi Publik bertajuk “Peran dan Kontribusi Seni Dalam Peradaban Bangsa” yang diadakan dalam rangka Grand Launching edisi perdana Majalah Kinescope Indonesia. Acara diadakan di atrium F3, mal FX Sudirman, Jakarta. 74 l Kinescope l September 2013 A cara yang dipandu oleh host cantik, Citra Nasution ini dibuka dengan diskusi publik yang dimoderatori oleh Andi Bachtiar Yusuf, seorang sutradara muda dan menghadirkan pembicara seperti Angga Sasongko, Wanda Hamidah, Faisal Basri, Sam D Putra, Wakil Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, Dr Tinia Budiati dan Shandy Gasella, seorang kritikus film yang sering menulis review film untuk beberapa media. Dalam diskusi tersebut terungkap bahwa memang masih banyak hal yang menjadi kendala dalam membangun industri perfilman yang ideal. Dari mulai perhatian pemerintah yang kurang, khususnya dalam penganggaran dan pembuatan tata aturan yang lebih berpihak pada film nasional, monopoli distribusi film dan kompetisin film lokal dengan film produksi mancanegara, hingga budaya masyarakat yang menjadi pangsa pasar film nasional. Salah satu pembicara yang sekaligus selebriti dan politikus Wanda Hamidah berujar, “Saya banyak berteman dengan beberapa kawan yang berkecimpung dalam dunia seni, mulai dari desainer hingga komikus. Mereka rata-rata mengeluhkan kurangnya perhatian dan dukungan dari pemerintah.” Wanda juga menambahkan bahwa tanpa dukungan
  • Pemerintah yang kuat, salah satu industri yang strategis ini akan sulit berkembang dan akan terus tertatih-tatih dalam melawan hegemoni film-film asing di dalam negerinya sendiri. “Dukungan pemerintah itu mutlak diperlukan, khususnya dalam membuat aturan-aturan yang berpihak pada kepentingan film nasional. Ini yang belum ada. Pemerintah seharusnya sadar betapa pentingnya film nasional dalam mempengaruhi peradaban bangsa,” ujarnya bersemangat. Hal ini diamini oleh ekonom sekaligus pengamat budaya, Faisal Basri. Dirinya mengatakan bahwa anggaran untuk Dinas Pariwisata & Kebudayaan DKI Jakarta misalnya, dari ratusan milyar, tidak sepeserpun dilokasikan untuk dunia film. “Ini cukup memprihatinkan, padahal kita sama-sama tau bahwa film itu sangat powerful untuk mempengaruhi budaya sebuah kelompok masyarakat. Film dapat mempengaruhi pola budaya, apakah lebih baik atau justru menjadi semakin buruk,” tegasnya. Faisal juga mengatakan harapannya agar Kinescope bisa membantu film-film Indonesia dalam perjuangannya melawan hegemoni film mancanegara, khususnya produksi Hollywood di negerinya sendiri dan terus mengingatkan Pemerintah tentang kewajibannya dalam mendukung industry film nasional. Begitu pula dengan Angga Sasongko, yang mengatakan bahwa dunia sinema Indonesia belum bisa disejajarkan dengan negara lain. “Kita hanya memiliki 770 gedung pertunjukan film untuk jutaan orang. Ini tidak seimbang jika dibandingkan dengan negara lain, seperti Can, Australia atau Korea yang memiliki lebih dari seribu gedung pertunjukan film,” tegasnya dalam acara diskusi tersebut. Menurutnya, ini bisa terjadi karena kita lebih suka menempatkan gedung pertunjukan film kita di dalam mal-mal daripada sebuah gedung tersendiri yang menyebabkan berkurangnya keinginan orang untuk menonton film, apalagi film produksi dalam negeri. “Kritik film itu adalah jembatan yang efektif antara para pembuat film dan publik, khususnya karena sebagian besar kritik film hanya menyentuh film-film Hollywood daripada filmfilm lokal,” ujarnya. Hal serupa juga diutarakan sutradara Andi Bactiar Yusuf. Ia malah menyoroti bagaimana penonton Indonesia masih berkiblat pada film-film Hollywood. Ia pun memberikan perbandingan beberapa negara dunia yang menerapkan sistem proteksi perfilmannya dari film-film luar. “Beberapa negara memiliki kebijakan screen quota. Misalkan di Korea, sebuah film lokal bisa bertahan di bioskop minimal 21 hari dan di Amerika 11 hari. Screen quota itu dilakukan sebuah negara guna memproteksi perfilman negeri sendiri dari invasi negara lain. Sayangnya di kita enggak ada. Maka itu, enggak mengherankan kalau ada film Indonesia yang hanya mampu bertahan dua hari saja di bioskop karena kalah pamor dari film luar,” jelasnya. Tino Saroengallo, sutradara senior yang merupakan sutradara film Petualangan Sherina, Quickie Express dan Setelah 15 Tahun, juga menyatakan keprihatinan yang sama. Menurutnya Jakarta adalah satu dari lokasi syuting film yang akan dating karya Michael Mann. Dia melihat lokasi seperti Tanah Abang, pasar tradisional Pasar Rumput dan Lapangan Banteng dan hanya akan menghabiskan satu minggu untuk proses pengambilan gambar di sana. Di lain sisi, Michael Mann akan menghabiskan 25 hari di Kuala Lumpur dan membuat setting yang dibuat mirip dengan Jakarta. Hal ini bisa terjadi karena pemerintah Malaysia menawarkan pengembalian pajak untuk para pembuat film luar negeri sementara pemerintah di sini belum memikirkannya, apalagi membuat aturan yang sama. Di sisi lain, Wakil Kepala Dinas Pariwisata DKI DR. Tina Budiati memberikan alasan tersendiri. “Para pembuat film sering kali tidak paham bahwa mereka harus menjalani mekanisme yang ada dahulu sebelum akhirnya bisa diberikan bantuan oleh kami,” katanya. Menurutnya, selama ini pihak perfilman nasional kerap meminta bantuan secara dadakan. “Padahal, bantuan semisal dana harus diajukan satu tahun sebelumnya sehingga Dinas Pariwisata dan Kebudayaan bisa menyiapkannya dahulu melalui suatu mekanisme,” jelasnya. Karena, lanjutnya, bantuan yang diberikan itu adalah uang rakyat sehingga pihaknya mestilah melakukan penelitian dahulu terhadap sebuah proyek film, apakah memang pantas diberikan bantuan atau tidak. “Permintaan yang masuk ke kami pun tidak sedikit. Dan, bantuan yang diminta memang tidak selalu dana. Seringnya minta ijin syuting dan pengurangan pajak. Kalau itu mungkin bisa segera ditangani. Namun, kalau dana mereka harus mengajukan jauh-jauh hari. Uang negara tidak seperti CSR, harus ada mekanisme yg harus dipahami,” tandasnya. Hal menarik muncul dari kritikus film Shandy Gasella. Menurutnya, resensi film di media arus utama baik itu cetak atau online, belum bisa dijadikan acuan bagi pecinta film untuk menentukan pilihannya. Biasanya ulasan resensi film di media itu tidak diasuh oleh orang-orang yang kompeten. Sebaiknya media mainstream, menghire orang yang serius yang memahami film. Orang-orang yang mempunyai latar belakang sastra, karena menurutnya film adalah masih turunannya. “Efeknya apa, para penonton film akan mencari informasi lain yang lebih bisa dipercaya, misalnya dari movie blogger berkualitas, yang jumlahnya masih belum banyak juga,” tegasnya. September 2013 l Kinescope l 75
  • Launching Kinescope Indonesia: Informasi Edukatif Sejatinya Gratis Untuk Publik 76 l Kinescope l September 2013
  • A cara yang berlangsung selama hampir 2 jam nonstop itu berjalan dengan cukup meriah dan dihadiri berbagai kalangan dunia film, juga aktivis dan komunitaskomunitas praktisi seni lainnya. Seperti Teguh Esha, Tino Saroengallo, Emil Kusumo, salah seorang pemeran dalam film “Sang Kiai” bersama dengan komunitas Underdog Kick Ass asuhan Rudi Soedjarwo, Komunitas Cinema Poetica, Film Indonesia, Nontoners dan lainnya. Dalam acara yang dipandu oleh Host Citra Nasution dan dimoderatori oleh Andi Bachtiar Yusuf, seorang sutradara muda, diawali dengan Diskusi Publik bertajuk “Peran dan Kontribusi Dunia Seni Dalam Peradaban Bangsa”. Diskusi publik ini berlangsung cukup seru dengan dihadiri oleh oleh narasumber yang cukup kompeten, seperti Angga Sasongko, Wanda Hamidah, Faisal Basri, Wakil Kepala Dinas Pariwisata & Kebudayaan DKI Jakarta, DR Tinia Budiati. Tampil juga sebagai narasumber, seperti Sam D Putra, komedian Stand Up Comedy dan Shandy Gasella, seorang kritikus film dan budayawan dari Komunitas Kopdar Budaya. Acara launching ini juga dihadiri oleh komunitas Underdog Kick Ass, sebuah komunitas pelatihan seni akting, tari, musik dan penyutradaraan yang diasuh oleh Rudy Soedjarwo. Dalam presentasinya, komunitas ini diwakili oleh Emil Kusumo, angkatan pertama dari pelatihan Underdog Kick Ass yang berhasil menjadi salah satu pemeran dalam film “Sang Kiai”, garapan sutradara Rako Prijanto. Dalam presentasinya, Emil menjelaskan tentang apa itu komunitas Underdog Kick Ass, tujuan dibangunnya komunitas itu, siapa-siapa orang besar yang idealis yang berada di belakangnya dan orang-orang seperti apa yang sekarang ini menjadi anggotanya. “Anggota kami sekarang kurang lebih 200 orang. Terdiri dari orang-orang yang memiliki kelebihan fisik dan juga kekurangan fisik. Buat kami, kelebihan dan kekurangan fisik itu harusnya tidak menjadi ukuran dari apa yang dibutuhkan dalam industri film dan seni lainnya, melainkan kemampuan dan talenta. Ini yang diasah secara keras di dalam Underdog Kick Ass untuk mengejar mimpi-mimpi kami,” jelasnya dalam presentasinya. Sebagai penambah semarak acara ini, tampil pula band simponi band pop-rock juara 2 Kompetisi Musik Internasional Anti-Korupsi di Belgia/ Brazil, 2012, meraih Rekor MURI untuk tur diskusi musikal Global Warming (2011) dan juga peserta Asia Pacific Environmental Youth Forum di Korea Selatan, pada 2011 dan 2012. Sejak 2010, Simponi melakukan tur diskusi musical, seperti presentasi materi, music dan diskusi interaktif ke 170 sekolah/kampus/pesantren yang melibatkan kurang lebih 18.788 peserta pelajar/mahasiswa/ santri, dengan tema lingkungan hidup, antikorupsi, stop kekerasan terhadap perempuan dan cinta lagu anak. Dalam penampilannya di acara malam itu, mereka membawakan lagu-lagu bertemakan kampanye tentang melawan korupsi, anti kekerasan terhadap perempuan dan menyelamatkan terumbu karang. Dengan vokal yang prima dan alunan musik akustik yang apik, mereka bermain dengan sangat rapi dan cukup menghibur orang yang hadir malam itu. Akhirnya, setelah melalui proses dan perjuangan panjang mempersiapkan kelahiran media baru ini, baik secara konten maupun acara peluncurannya sendiri, pada tanggal 30 Agustus 2013 lalu, Majalah Kinescope Indonesia secara resmi diluncurkan, di Atrium F3, FX Sudirman. Kemudian acara puncak peluncuran akhirnya terlaksana. Reiza Patters, selaku pemimpin redaksi majalah Kinescope Indonesia mendapat kesempatan untuk menjelaskan kepada hadirin mengenai latar belakang, visi misi dan siapasiapa dibalik gagasan besar dan idealism majalah Kinescope Indonesia ini. Menurut Reiza, majalah yang digawangi para anak muda yang memiliki latar dan pengalaman keilmuwan yang berbeda-beda, mencoba untuk dapat menyatukan mereka semua dengan visi, misi, dan idealisme yang sama, yaitu berusaha membuat perubahan bersifat membangun bagi peradaban bangsa. Menrutnya, gagasan besar ini muncul sebagai reaksi atas kondisi stagnan dari kehidupan dan perkembangan dunia sinema Indonesia yang seharusnya memberikan pengaruh positif terhadap budaya dan peradaban bangsa Indonesia. Karena itulah maka muncul keinginan untuk memberikan kontribusi pemikiran, wadah diskusi dan polemik sebagai upaya membangun dunia sinema dan seni Indonesia secara umum yang lebih positif dan produktif dalam membangun pola pemikiran, budaya dan peradaban Indonesia yang lebih maju. “Kami mencoba utk memberi muatan edukasi yang kritis namun tetap menghibur agar mudah diterima masyarakat. Dengan muatan kritis dan edukatif, kami ingin memberikan wacana dari perspektif publik dan mendorong perfilman Indonesia utk lebih berkualitas,” jelasnya dalam presentasinya. Film dan karya seni lainnya memiliki kekuatan untuk mengubah dan membentuk pola budaya dalam masyarakat, maka itu semua perlu digawangi. Dan kami hadir sebagai salah satu usaha menggawangi agar budaya masyarakat yang terbentuk sebagai pengaruh dari film dan karya seni lain menjadi selalu positif. “Karena sejatinya film dan semua karya seni memiliki kekuatan membentuk pola budaya di semasyarakat,” terangnya. Muhammad Adrai, Redaktur Pelaksana Majalah ini menjelaskan perihal pemberian nama majalah ini. Kinescope adalah alat yang digunakan untuk menterjemahkan sinyal menjadi gambar. “Kami ingin mendorong majalah Kinescope ini menjadi penterjemah nilai-nilai seni, sinema, musik dan lainnya, menjadi acuan nilainilai yang baik dan bermanfaat dalam kemajuan peradaban bangsa ini,” terangnya. Adrai juga menambahkan bahwa mereka juga mengharapkan para pelaku seni, baik seni peran, seni musik, seni rupa, seni tari dan lain sebagainya juga bisa terus memberikan kontribusi terbaik bagi negerinya. Kesadaran bahwa karya seni yang dinikmati publik itu akan selalu mempengaruhi pola budaya masyarakat, yang kita sama-sama perjuangkan untuk bisa lebih maju dan lebih beradab. Menurut Ollivia Selagusta, Manager Penjua- lan dan Pemasaran Kinescope, walaupun majalah ini adalah majalah bulanan GRATIS, namun tetap ingin memberikan yang terbaik untuk masyarakat, baik dari sisi konten, tata letak dan kualitas cetak yang baik. “Karena bagi kami, informasi edukatif itu sejatinya GRATIS untuk publik dan disajikan dengan kualitas yang baik,” ujarnya di sela-sela acara. Acara pun dilanjutkan dengan pemotongan kue yang didesain khusus mewakili visi dan misi majalah ini dengan bertuliskan Kinescope di bagian depannya. Pemotongan kue ini dilambangkan sebagai simbol dimulainya sebuah perjuangan besar dan pecahnya gagasan besar Kinescope menjadi kenyataan. Pemotongan kue ini dilakukan bersamaan oleh Reiza Patters, selaku pemimpin redaksi bersama dengan pembicara dalam diskusi publik sebelumnya, yaitu Faisal Basri, Wanda Hamidah dan DR. Tinia Budiati. Panitia juga memberikan door prize bagi para pengunjung yang dilakukan langsung setelah acara pemotongan kue tersebut dan menghasilkan tiga pemenang. Dua pemenang mendapatkan Voucher Excelso Café senilai masing-masing Rp. 250 ribu rupiah dan satu pemenang mendapatkan Grand Door Prize yaitu sebuah kamera yang juga bisa digunakan di dalam air. Selain itu, panitia juga membagikan paper bag gift bagi para undangan dan partisipan yang hadir malam itu. Selain itu, panitia yang juga bekerjasama dengan produsen Ice Cream “Gentong”, yang juga merupakan produksi anak negeri, membagikan ice cream gratis pada para undangan dan yang menghadiri acara tersebut. Acara ditutup dengan penampilan grup band pendatang baru, STELA BAND. Sebuah band Indie yang digawangi oleh Tita (vocal), Aswin batara (Guitar), Achenk (bass) dan Gendoy (drum), mereka menciptakan karya-karya lagu yang sederhana, dan seiring waktu dan dukungan dari berbagai pihak, mereka mampu membuat rekaman dan menggandakan lagu-lagu mereka dengan kemampuan mereka yang sederhana. Dengan pengalaman panggung yang cukup banyak, prestasi juara festival dan pengalaman menjadi home band di sebuah acara televisi, band ini berusaha merambah ke dalam industri musik Indonesia yang sekarang kondisinya cukup memprihatinkan. Dan di akhir laporan peliputan ini, Redaksi Kinescope menegaskan bahwa majalah yang akan dibagikan secara gratis ini mempunyai mimpi besar, yakni ingin memberikan kontribusi pemikiran, wadah diskusi dan polemik sebagai upaya membangun dunia sinema dan seni Indonesia secara umum yang lebih positif dan produktif dalam membangun pemikiran, budaya dan peradaban Indonesia yang lebih maju. MAJULAH SINEMA DAN SENI INDONESIA! “Free ideas spread better than non-free ideas” – Seth Godin September 2013 l Kinescope l 77
  • INDIE Berjuang Dengan Kekuatan Sendiri Menembus Industri reiza STELA BAND | Nama Stela diambil dari bahasa Yunani yang artinya Bintang. Bintang menurut mereka memiliki arti yg mendalam dan ini yang menginspirasi mereka untuk terus berkarya di tengah kondisi industri musik yang sedang kesulitan. Buat mereka, Bintang akan selalu bersinar dan selalu berada diatas, dalam kondisi apapun, segelap dan semendung apapun. 78 l Kinescope l September 2013
  • M contact: Marina 081806866606 085218181892 021 91379340 Pin BB 277547E4 ereka memulai berjuang untuk mencoba masuk ke industri musik dengan membentuk STELA di sebuah Studio Musik di bilangan tangerang selatan, BLUE studio. Dengan alat-alat yang sederhana, mereka mencoba memulai karir di bidang musik. Dengan genre musik yang variatif, pop melayu, pop rock dan pop popular, mereka mencoba menembus pasar musik Indonesia dengan membuat rekaman sendiri dan mengedarkan sendiri. Mereka juga terus bergerak dan berjuang dari panggung ke panggung untuk memperkenalkan diri serta lagu-lagu mereka sendiri sambil membawakan lagu-lagu cover yang telah lebih dulu popular. Secara bertahap, band yang digawangi oleh Tita (vocal), Aswin batara (Guitar), Achenk (bass) dan Gendoy (drum), mereka menciptakan karya-karya lagu yang sederhana, dan seiring waktu dan dukungan dari berbagai pihak, mereka mampu membuat rekaman dan menggandakan lagu-lagu mereka dengan kemampuan mereka yang sederhana. Dalam perkembangannya, mereka juga terus mendapatkan saran serta kritik yang membangun untuk selalu lebih baik lagi dalam berkarya dan menciptakan lagu. Dan tak lepas daripada itu, kemampuan teknik bermusik mereka juga terus dikembangkan. Sekilas perjalanan karir mereka yang sebetulnya cukup panjang dalam berjuang menembus industri musik Indonesia. Dan perjuangan musik Indie di Indonesia memang cukup mengkhawatirkan di tengah industri musik yang memang sedang dilanda kesulitan dalam memasarkan hasil karya mereka. Hal ini tidak hanya menerpa band-band Indie, namun juga sebetulnya menerpa juga band-band yang sudah memiliki nama besar. Kebanyakan mereka justru tidak lagi mampu menjual penggandaan dari album mereka, namun lebih banyak menggantungkan diri dari acara-acara panggung, di luar penjualan hasil karya mereka. Untuk itu, jangan biarkan industri musik Indonesia berjuang sendirian. Pemerintah, para praktisi, pemodal dan pengusaha serta para penikmat seni musik di Indonesia harus terus menghargai dan memberikan penghargaan terhadap hasil karya mereka, agar mereka bisa terus bertahan dan terus memperkaya seni musik di Indonesia. Berikut pengalaman dari panggung ke panggung Stela Band yang dipaparkan oleh Managernya, Marina: • Guest Star- Parade Band Tangerang selatan @Metro mall Tangerang, 2008 • Guest Star- Gebyar Akustik KPJ @ wapres Bulungan, 2008 • Kontestan A Mild Most Wanted @setIabudi Building, 2008 • Home Band @Takuy Cafe – Ciputat, 2009 • Guest Star Indie Community Festival Pamulang @Pamulang Square, 2009 • Juara 1 Festival Band Indie Se-Jabotabek, region-Tangsel by Djarum super @lapangan kec. Ciputat, 2010 • Guest Star Hari sumpah pemuda, Komunitas Band Pondok cabe, 2010 • Guest Star Dari Kita Untuk Kita, Indie Community Jakarta @Blok M plaza, 2011 • Guest Star HUT LP31 Ciledug, 2012 • Guest Star @Parade Akustik @Pejaten Village, 2012 • PKPU Brand Image Band dalam Produk Jangan Ditahan, 2012 • Home Band dalam Program Ramadhan Sindo TV @ATMShow MNC Tower, 2013 • Home Band Grand Launching KINESCOPE Magz @FX Sudirman, 2013 September 2013 l Kinescope l 79
  • flashback Golden Age Sinema Indonesia The Big Five doni agustan The Big Five dalam sinema Indonesia adalah Jenny Rachman, Roy Martein, Robby Sugara, Yatie Octavia, dan Doris Callebaut. Kelima bintang ini pada tahun 1970an dan 1980an adalah magnet yang dijamin mampu melariskan film-film yang mereka bintangi. Produser film pada masa itu berani membayar mahal kelima bintang ini, karena mereka percaya pamor dan popularitas bintang-bintang rupawan ini adalah daya tarik utama yang membuat orang berbondong-bondong ke bioskop. P ada masa itu perfilman Indonesia memang sedang menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Lima bintang ini dibayar mencapai 5 juta rupiah per film, honor yang terdengar sangat besar untuk ukuran tahun itu. Tentu bukan proses yang mudah bagi kelima bintang ini untuk sampai pada posisi tersebut. Jenny Rachman misalnya, pada masa awal karirnya pernah menjadi figuran dalam film Si Mamad karya Sjuman Djaya. Roy Marten merintis karier sebagai model dan peragawan di kota kelahirannya, Salatiga. Yatie Octavia menjadi peran pendukung dalam film Intan Berduri. (1972). Beruntung bagi Robby Sugara dan Doris Callebaute yang langsung mendapatkan peran utama dalam film debut mereka. Daya tarik bintang-bintang ini membuat pada produser dan sutradara film pada masa itu ‘berebutan’ menggunakan jasa mereka untuk terlibat dalam filmfilm yang mereka produksi. Dalam satu tahun saja kelima bintang bisa membintangi lebih dari 5-6 film. 80 l Kinescope l September 2013 Jenny Rachman membintangi 13 judul film sepanjan tahun 1977 dan 1978. Pada tahun 1977 saja, Roy Marten membintangi 12 judul film. Robby Sugara membintangi 21 judul film dalam kurun waktu 19761978. Doris Callebaute membintangi 24 judul film dalam kurun waktu 3 tahun saja, 1976-1978. Yatie Octavia memiliki rekor yang paling tinggi, dalam kurun waktu hanya 3 tahun saja, 1976-1978, dia terlibat dalam 37 judul film. Tetapi dari kelima bintang ini hanya Jenny Rachman yang dianggap mampu menyatukan kuantitas dan kualitas film. Aktris berdarah Tionghoa, Aceh, dan Madura ini terbukti terlibat dalam film-film dengan kualitas Festival Film Indonesia (FFI)/Piala Citra. Hanya Jenny dari kelima bintang ini yang pernah mendapatkan Piala Citra untuk hasil kerja kerasnya. Jenny menerima Citra untuk perannya dalam film karya Sjuman Djaya, Kabut Sutra Ungu (1979) dan film Gadis Marathon (1981), karya Chaerul Umam.
  • Jenny Rachman Jenny lahir 18 Januari 1959. Wanita berdarah Tionghoa, Aceh dan Madura ini mengawali karirnya sebagai bintang iklan, foto model dan peragawati sejak usia 14 tahun. Setelah tampil sebagai figuran dan pemeran pendukung dalam beberapa film, tahun 1973, dipilih oleh sutradara Frank Rorempandey untuk bermain dalam film Ita, Si Anak Pungut (1973) mendampingi Mieke Wijaya dan Dicky Zulkarnaen. Setelah sukses dengan Ita, Si Anak Pungut, Jenny kemudian dikenal sebagai aktris yang banyak main dalam film-film bertemakan remaja seperti Secerah Senyummu (1977), Akibat Pergaulan Bebas (1977), Kugapai Cintamu (1977) dan Pengalaman Pertama (1977). Akhir era 70an, Jenny mulai bermain di film-film ‘serius’, seperti November 1828 (1979), garapan Teguh Karya, dan Binalnya Anak Muda (1978) yang memberinya nominasi Piala Citra pertama untuk pemeran utama wanita terbaik. Jenny akhirnya meraih Piala Citra pertamanya untuk pemeran utama wanita terbaik di FFI 1980, untuk film yang diadaptasi dari novel karya Ike Soepomo, Kabut Sutra Ungu (1979) karya Sjuman Djaya. Film ini juga mengantarkannya meraih penghargaan Best Actress di Festival Film Asia Pasifik. Gadis Marathon (1981) karya Chaerul Umam kembali mengantarkannya meraih Piala Citranya yang kedua, pada saat ini Jenny mengalahkan Lenny Marlina, Ita Mustafa, Suzanna, dan Tanti Josepha. Setelah meraih Piala Citra kedua, Jenny bermain sebagai RA Kartini, karya Sjuman Djaya RA Kartini (1982), bermain bagus sebagai Jugun Ianfu dalam Budak Nafsu (Fatima) (1983) yang juga adalah karya Sjuman Djaya dan tampil mengesankan dalam film Teguh Karya, Doea Tanda Mata(1984). Kedua film ini memberikan nominasi Piala Citra untuk aktris terbaik. Jenny Rachmana diakui sebagai salah satu aktris yang memadukan mutu dan komersil. Dia bisa menjadi magnet yang menghasilkan box office bagi film-filmnya, sekaligus memiliki akting prima yang mendapat apresiasi dari kritikus dan pengamat film. Karena itulah, Jenny Rachman diberi gelar “The Queen of Indonesian Cinema.” Setelah membintangi film Hatiku Bukan Pualam di tahun 1985, Jenny Rachman vakum dari dunia akting. Sempat bermain sebuah drama lepas televisi di tahun 1994, kemudian kembali menghilang. Tahun 2011, setelah vakum puluhan tahun, Jenny Rachman kembali tampil di depan layar dengan bermain film Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Hanny R. Saputra. Jenny juga menjadi associate producer untuk film karya Aditya Gumay, Emak Ingin Naik Haji (2010). Filmografi; Di Bawah Lindungan Ka’bah 2011 Hatiku Bukan Pualam 1985 Doea Tanda Mata 1984 Budak Nafsu (Fatima) 1983 R.A. Kartini 1982 Hati Selembut Salju (Garis-garis Cakrawala) 1981 Gadis Marathon 1981 Bukan Sandiwara 1980 Busana dalam Mimpi 1980 Kembang Padang Kelabu 1980 Kecupan Pertama 1979 Romantika Remaja 1979 Kabut Sutra Ungu 1979 Laki-Laki Binal 1978 Akibat Godaan 1978 November 1828 1978 Binalnya Anak Muda 1978 Perempuan Tanpa Dosa 1978 Pahitnya Cinta Manisnya Dosa 1978 Pengalaman Pertama 1977 Akibat Pergaulan Bebas 1977 Kekasih 1977 Secerah Senyum 1977 Semau Gue 1977 Christina 1977 Kugapai Cintamu 1977 Rahasia Gadis 1975 Jangan Biarkan Mereka Lapar 1974 Susana 1974 Prahara (Betinanya Seorang Perempuan) 1974 Rama Superman Indonesia 1974 Ita Si Anak Pungut (Nobody’s Child) 1973 September 2013 l Kinescope l 81
  • Robby Sugara Roy Marten Setelah menang pada ajang King Boutique, Jawa Tengah, Wicaksono Abdul Salam memutuskan untuk hijrah ke Jakarta. Aktor kelabiran Salatiga, 1 Maret 1952 ini kemudian menganti namanya menjadi Roy Salam, yang kemudian diganti lagi menjadi nama tenarnya hingga saat ini, Roy Marten. Roy merupakan anak ketiga dari enam bersaudara, dari pasangan Abdul Salam dan Nora. Selain Roy, dua saudara prianya yaitu Rudy Salam dan Chris Salam juga terjun ke dunia akting. Tahun 1977 pula tercatat sebagai tahun paling produktifnya Roy Membintangi 12 film, termasuk dua film yang terkenal hingga saat ini yaitu Badai Pasti Berlalu, karya Teguh Karya dan Kugapai Cintamu, karya Wim Umboh. Setelah industri film nasional mati suri, Roy beralih ke layar kaca dan membintangi beberapa sinetron, antara lain Bella Vista I, II, dan III serta Kupu-Kupu Kertas dan Hanya Kamu. Tahun 2007 Roy kembali ke layar lebar membintangi Mengejar MasMas, karya Rudy Soejarwo. Aktor yang pernah dua kali terlibat kasus narkoba ini masih aktif berakting hingga saat ini. Untuk tahun 2012 saja, Roy membintangi empat film, Misteri Pasar Kaget, Sampai Ujung Dunia, Dilemma dan Jakarta Hati. Sepanjang karirnya sebagai aktor, Roy hanya sekali menerima nominasi pemeran utama pria terbaik FFI, yaitu untuk film Tapak – Tapak Kaki Wolter Monginsidi (1983). Roy menerima Piala Djamaluddin Malik untuk perannya dalam film Sesuatu Yang Indah (1976) dan diberi gelar Pemain Muda Penuh Harapan. Roy juga meraih penghargaan dari Kedutaan Besar Indonesia untuk Belanda untuk film Roda-Roda Gila (1977). 82 l Kinescope l September 2013 Robby terkenal sebagai Pria Brisk pada tahun 1970an. Robby lahir di Malang pada tahun 1954 dengan nama Robert Kaihena, berdarah Ambon, Jawa dan Belanda. Sebelum terjun ke dunia film, Robby sempat bekerja sebagai pengurus restoran. Tahun 1975, Ali Shahab menemukannya dan memberinya peran utama dalam film Rahasia Perawan. Setelah membintangi film Ke Ujung Dunia (1983), Robby menghilang dari dunia film. Robby kembali berakting setelah Ali Shahab kembali mengajaknya terlibat dari sinetron Nyai Dasima (1995). Melalui pernikahannya dengan Bertha Suwegas, aktor yang saat ini kembali aktif main dalam beberapa produksi sinetron ini dikaruniai 7 orang anak. Filmografi; Dilema 2012 Sampai Ujung Dunia 2012 18++ Forever Love 2012 Misteri Pasar Kaget 2012 Jakarta Hati 2012 KTPnya Sih Islam Bro… 2012 Catatan Harian Si Boy 2011 Selimut Berdarah 2010 In The Name Of Love 2008 Mengejar Mas Mas 2007 d’Trex 2004 Pertempuran Segi Tiga 1990 Nyoman Cinta Merah Putih 1989 Jeram Cinta 1989 Biarkan Aku Cemburu 1988 Pemburu Berdarah Dingin 1988 Suami 1988 Langit Takkan Runtuh 1987 Boleh Rujuk Asal... 1986 Takdir Marina 1986 Madu dan Racun 1985 Hatiku Bukan Pualam 1985 Kontraktor 1984 Kerikil-Kerikil Tajam 1984 Seandainya Aku Boleh Memilih 1984 Musang Berjanggut 1983 Budak Nafsu (Fatima) 1983 Rahasia Buronan 1983 Tapak-tapak Kaki Wolter Monginsidi 1982 Pasukan Berani Mati 1982 Fajar yang Kelabu 1981 Lembah Duka 1981 Bila Hati Perempuan Menjerit 1981 Bawalah Aku Pergi 1981 Tiga Dara Mencari Cinta 1980 Bukan Sandiwara 1980 Beningnya Hati Seorang Gadis 1980 Di Sini Cinta Pertama Kali Bersemi 1980 Gema Hati Bernyanyi (Setitik Embun) 1980 Kecupan Pertama 1979 Romantika Remaja 1979 Bayang-bayang Kelabu 1979 Wanita Segala Zaman 1979 Antara Dia dan Aku 1979 Kabut Sutra Ungu 1979 Akibat Godaan 1978 Dewi Malam 1978 Napas Perempuan 1978 Rahasia Perkawinan 1978 Musim Bercinta 1978 Si Genit Poppy 1978 Pembalasan Guna-Guna Istri Muda 1978 Badai Pasti Berlalu 1977 Kembang-kembang Plastik 1977 Pengalaman Pertama 1977 Jangan Menangis Mama 1977 Kekasih 1977 Christina 1977 Kampus Biru 1976 Rahasia Gadis 1975 Bobby 1974 Filmografi; Ke Ujung Dunia 1983 Dalam Lingkaran Cinta 1981 Amalia SH 1981 Nila di Gaun Putih 1981 Dr. Karmila 1981 Detik-detik Cinta Menyentuh 1981 Ratapan Anak Tiri II 1980 Cantik 1980 Nikmatnya Cinta 1980 Senggol-senggolan 1980 Bukan Sandiwara 1980 Permainan Bulan Desember 1980 Sejoli Cinta Bintang Remaja 1980 Romantika Remaja 1979 Kabut Sutra Ungu 1979 Anna Maria 1979 Petualang Cinta 1978 Pulau Cinta 1978 Akibat Godaan 1978 Pandangan Pertama 1978 Si Genit Poppy 1978 Perempuan Tanpa Dosa 1978 Buaya Deli 1978 Marina 1977 Nasib Si Miskin 1977 Selimut Cinta 1977 Sorga 1977 Papa 1977 Akibat Pergaulan Bebas 1977 Cowok Komersil 1977 Gaun Hitam 1977 Widuri Kekasihku 1976 Liku-liku Panasnya Cinta 1976 Ciuman Beracun 1976 Kisah Cinta 1976 Ranjang Siang Ranjang Malam 1976 Wajah Tiga Perempuan 1976 Sentuhan Cinta 1976 Rahasia Perawan 1975
  • Yatie Octavia Yatie Octavia lahir di Jakarta, 20 Oktober 1954. Filmnya yang paling menghebohkan adalah debutnya sebagai Intan dalam Intan Perawan Kubu (1973) dan film Rahasia Perkawinan (1978) karena dia tampil botak plontos. Yatie yang hanya mengecap bangku sekolah hingga kelas II SMA ini, bergabung dengan Pyrus Group sebagai foto model. Sama halnya seperti Roy Marten, Yatie masih aktif hingga saat ini, terlibat dalam banyak produksi sinetron. Filmografi; Warisan Terlarang 1990 Di Sana Senang di Sini Senang 1990 Menggapai Matahari 1986 Menggapai Matahari II 1986 Kemilau Cinta di Langit Jingga 1985 Gadis Berdarah Dingin 1984 Terjebak Dalam Dosa 1983 Pengorbanan 1982 Buaya Putih 1982 Lima Cewek Jagoan 1980 Perjalanan Cinta 1980 Dari Mata Turun ke Hati 1979 Remaja di Lampu Merah 1979 Karena Dia 1979 Si Ayub dari Teluk Naga 1979 Akibat Bercinta 1979 Wanita Segala Zaman 1979 Benci tapi Rindu 1979 Demi Anakku 1979 Rhoma Irama Berkelana II 1978 Rhoma Irama Berkelana I 1978 Begadang 1978 Senapas Tiga Cinta 1978 Roda-Roda Gila 1978 Rahasia Perkawinan 1978 Si Genit Poppy 1978 Satu Malam Dua Cinta 1978 Laki-laki dalam Pelukan 1977 Noda dan Asmara 1977 Kembang-kembang Plastik 1977 Pengalaman Pertama 1977 Gitar Tua Oma Irama 1977 Akibat Pergaulan Bebas 1977 Ali Topan Anak Jalanan 1977 Macan Terbang 1977 Aula Cinta 1977 Gara-gara Isteri Muda 1977 Darah Muda 1977 Cowok Komersil 1977 Cinta Putih (Bidan Aminah) 1977 Yang Muda Yang Bercinta 1977 Antara Surga dan Neraka 1976 Rintihan Gadis Buta 1976 Gadis Simpanan 1976 Cinta Kasih Mama 1976 Oma Irama Penasaran 1976 Perempuan Histeris 1976 Kampus Biru 1976 Gadis Panggilan 1976 Ranjang Siang Ranjang Malam 1976 Si Doel Anak Modern 1976 Sentuhan Cinta 1976 Setan Kuburan 1975 Rahasia Perawan 1975 Bunga Roos dari Cikembang 1975 Ali Baba 1974 Butet Patah Tumbuh Hilang Berganti) 1974 Hamidah 1974 Intan Perawan Kubu 1972 Dosa Siapa 1972 Intan Berduri 1972 Doris Callebaute Doris Callebaute yang mengaku pernah bekerja sebagai pramuria dan juga menjadi guru sekolah taman kanakkanak ini, lahir di Jakarta, 22 Desember 1952. Namanya tiba-tiba saja populer setelah membintangi Inem Pelayan Seksi (1976) karya Nyak Abas Acup. Selama karirnya sebagai aktris, Doris pernah menggunakan nama Doris Trissyanthy untuk film pertamanya Embun Pagi (1976), dia juga pernah menggunakan nama Doris Aprodita. Kesuksesan film dan perannya sebagai Inem, membuat Doris melanjutkan dalam dua sekuelnya Inem Pelayan Seksi II dan Inem Pelayan Seksi III, yang keduanya dirilis tahun 1977. Pada tahun yang sama juga, Doris melanjutkan perannya sebagai Inem dalam Inem Nyonya Besar karya Mochtar Soemodimedjo. Selain itu kesuksesan Inem Pelayan Seksi juga membuat Doris menjadi rebutan pada pembuat film. Sepanjang tahun 1977, Doris membintangi 15 judul film, tahun paling produktif sepanjang karirnya. Pada tahun 1978, Doris membuat rumah produksi sendiri dengan nama PT. Doristi Film. Setelah membintangi film Kejamnya Ibu Tiri Tak Sekejam Ibukota (1981), Doris berhenti main film. Sama halnya seperti Roy Marten dan Yatie Octavia, saat ini walaupun tidak seaktif Roy Marten dan Yatie Octavia, Doris terlibat dalam beberapa produksi sinetron. Filmografi; Kejamnya Ibu Tiri Tak Sekejam Ibu Kota 1981 Si Pitung Beraksi Kembali 1981 Akibat Bercinta 1979 Kuda-Kuda Binal 1978 Wadam 1978 Godaan Siluman Perempuan 1978 Bahaya Penyakit Kelamin 1978 Salah Kamar 1978 Mat Peci (Pembunuh Berdarah Dingin) 1978 Kekasih Binal 1978 Marina 1977 Rosita 1977 Nasib Si Miskin 1977 Dua Pendekar Pembelah Langit 1977 Darah Daging 1977 Hujan Duit 1977 Warung Pojok 1977 Garis-garis Hidup 1977 Akibat Pergaulan Bebas 1977 Gara-gara Isteri Muda 1977 Cowok Komersil 1977 Sejuta Duka Ibu 1977 Inem Nyonya Besar 1977 Inem Pelayan Sexy II 1977 Inem Pelayan Sexy III 1977 Boss Bagio dalam Gembong Ibukota 1976 Embun Pagi 1976 Inem Pelayan Sexy 1976 Namun, seiring waktu dan usia, menjelang pertengahan tahun 1980an, pamor bintang The Big Five ini mulai redup. Selain usia yang sudah tidak muda lagi, banyak bermunculan bintangbintang baru dengan wajah yang lebih fresh. Akhir 1980an kita mulai mengenal Meriam Bellina, Rano Karno, Dedi Mizwar, Paramitha Rusady, dan Onky Alexander. Tetapi kemudian pamor bintang-bintang di era awal 1990an ini tidak mampu mengimbangi kesuksesan luar biasa yang pernah diraih oleh bintang The Big Five di atas. Setelah itu film Indonesia mati suri dan bangkit lagi pada tahun 2000an, bintang-bintang muda pendatang baru bermunculan. Film Ada Apa Dengan Cinta (2002) meledak di pasarann, pasangan Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo pada waktu itu diprediksi akan menjadi bintang masa depan film Indonesia. Nicho dan Dian disebut-sebut berhonor sangat tinggi, tetapi belum mampu menjadi magnet untuk membuat film laris manis seperti film era 1970an dan 1980an. Sampai saat ini belum ada lagi pamor bintang film Indonesia yang secemerlang Jenny, Roy, Robby, Yatie dan Doris. sumber : filmindonesia.or.id September 2013 l Kinescope l 83
  • kineforum adalah ruang pemutaran film alternatif di Jakarta, yang dikelola oleh Dewan Kesenian Jakarta dan para relawan muda. Kami menawarkan ragam program meliputi film klasik maupun kontemporer, dari film lokal sampai internasional, untuk mengajak publik menjadi bagian dari sinema dunia – dulu dan sekarang. Selain itu, ruang ini diharapkan menjadi ruang eksibisi dan dialog bagi para pembuat film dan penonton Jakarta, juga ruang bagi penikmat film, terutama untuk karya-karya non-arus utama. Taman Ismail Marzuki (belakang Galeri Cipta 3) - Jl Cikini Raya 73, Jakarta Pusat 10330, Indonesia 021-3162780 84 l Kinescope l September 2013 [E] kineforumdkj@yahoo.co.id - [W] www.kineforum.org / www.dkj.or.id [TW] @kineforum - [FB] facebook.com/kineforum
  • September 2013 l Kinescope l 85
  • VOICE OVER S Seni, Budaya dan Peradaban “Bahwa pesan dan proses komunikasi di dalam setiap hasil karya seni menjadi penting pada saat sebuah karya seni mampu mempengaruhi pola pikir dan perilaku penikmatnya secara masal.” HASREIZA eni, memiliki peran yang sangat kuat dalam segala sendi kehidupan masyarakat. Berbagai ide, gagasan dan pemikiran yang lahir dalam ranah ekspresi seni selalu melengkapi warna-warni pola kehidupan sosial masyarakat di berbagai sendi. Seni adalah kegiatan untuk menciptakan sesuatu yang dapat dipahami oleh perasaan manusia. Bentuknya dapat berupa lukisan, patung, arsitektur, musik, drama, tari, film, dan sebagainya (Langer, 1994). Pernyataan ini dapat diasumsikan bahwa karya seni pada dasarnya adalah hasil ciptaan karya manusia yang memuat segala macam obsesi atas penglihatan terhadap fenomena alam yang ada di sekitarnya, dan dalam eksekusinya, diperlukan suatu keahlian khusus seperti hasrat seni atau jiwa seni dari sang penciptanya, termasuk cara pengolahan unsur-unsur yang menyertainya. Medium seni telah lahir dengan banyak sekali ragam dan bentuk sebagai wujud nyata ide dan gagasan seni para penciptanya. Hasilnya akan selalu membentuk suatu klasifikasi tersendiri dari setiap karakter yang akan ditampilkan atau divisualisasikan kepada para penikmat seni. Seperti seni tari, seni musik, seni karawitan, seni rupa-desain dan seni teater, dimana kesemuanya itu akan selalu bersinggungan dengan proses kehidupan manusia dalam melahirkan dan mempengaruhi peradaban sebuah komunitas masyarakat. Hakekat seni, sebagai sebuah medium komunikasi yang efektif, semakin nyata dibutuhkan dalam proses berjalannya suatu kehidupan di masyarakat, khususnya dalam perspektif karya seni Audio Visual. Para pembuatnya pun akan selalu dituntut untuk lebih kreatif dalam menciptakan karya-karya yang lebih dinamis dan menarik, seiring dengan kemudahan yang diberikan oleh perkembangan sangat cepat dari teknologi yang menyertainya. Bahkan karya seni jenis ini mendapat posisi utama oleh media sebagai unsur yang dapat mempengaruhi publik atau penikmatnya. Hingga pada akhirnya, karya jenis ini dapat dengan mudah mempengaruhi audiens untuk mau mengikuti pesan apa di balik deretan gambar berkesinambungan melalui media audio visual ke tengah-tengah masyarakat. Peranan seni semakin diakui eksistensinya ketika industri media menjadi bagian penting dalam proses kehidupan manusia pada era modern. Eksistensi industri media semakin dipercaya fungsinya ketika teknologi informasi yang mengusung dengan kecanggihan teknologi berada di belakangnya. Industri media makin berkibar peranannya ketika melahirkan gambar-gambar yang spektakuler hasil perekayasaan yang mengusung imajinasi tinggi para perancangnya baik secara Visual (statis/diam) dalam bentuk majalah, tabloid, koran, billboard dan display maupun secara Audio Visual (dinamis/bergerak) dalam bentuk video, televisi dan film. Dari kedua media tersebut, media Audio Visuallah yang paling digemari oleh masyarakat hingga peran televisi tak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat, meskipun bentuk lain semacam karya film dan karya video tidak 86 l Kinescope l September 2013 Agustus 2013 lepas dari penglihatannya. Film misalnya, bahwa setiap film mengandung pesan yang ingin disampaikan oleh pembuatnya kepada para penonton. Semakin baik film tersebut secara kualitas dan pengemasannya, maka semakin baik pula pesan itu tersampaikan kepada penontonnya. Begitupun setiap bentuk karya seni lainnya. Bahwa pesan dan proses komunikasi di dalam setiap hasil karya seni menjadi penting untuk diperhatikan pada saat sebuah karya seni mampu mempengaruhi pola pikir dan perilaku penikmatnya secara masal. Dan saat itu terjadi, maka pesan yang terdapat dalam setiap karya seni tersebut bisa mempengaruhi pola budaya sebuah masyarakat. Film selain sebagai alat untuk mencurahkan ekspresi bagi penciptanya, juga merupakan alat komunikasi yang efektif. Pada dasarnya sebuah film diciptakan untuk dapat menghibur, mendidik, melibatkan perasaan, merangsang pemikiran dan memberikan dorongan, serta pengalaman-pengalaman baru yang tersirat dalam makna lewat visualisasi gambar-gambar menarik untuk publik yang menontonnya. Sebuah film diciptakan dengan harapan dapat dipahami pesannya lewat dinamisasi gambar hingga menimbulkan suatu gerak ilusi dan masyarakat dapat merasakan, mencernah serta mengambil manfaat dari pesan moral dari film tersebut. Nilai pendidikan dalam film bermakna sebagai penyampaian pesan moral dari isi cerita film tersebut. Kalau seandainya nilai pendidikannya ini dikerjakan secara baik menurut dasar nilai dan etika yang berlaku, maka pesan yang tersampaikan ke dalam pikiran masyarakat akan mudah dicerna. Bagaimana caranya nilai pendidikan yang memacu orang untuk berbuat lebih baik dapat tercermin dalam proses pembuatan film, sehingga film tersebut tidak hanya enak ditonton melainkan juga berfungsi sebagai alat “pencerahan” hidup masyarakat. Bagaimanapun juga penyajian sebuah karya seni harus menyeimbangkan antara unsur hiburan dan pendidikan di dalamnya. Jika konsep rancangan tersebut tidak tepat dan terkesan asal-asalan serta tidak argumentatif dalam penyajiannya, maka kehadiran sebuah karya seni hanyalah menjadi produk sampah sebagai tontonan dan hiburan, sehingga pada akhirnya nanti dapat menjerumuskan masyarakat luas, bahkan menjadi alat penyesatan dan pembodohan dalam kehidupan masyarakat. Sudah menjadi kewajiban kita bersama, khususnya kalangan yang berpendidikan tinggi agar saling mengingatkan, bahwa tak semua karya seni mempunyai nilai kebaikan dan makna kebenaran. Bahkan ada, misalnya isi tayangan televisi maupun, hanya mendorong proses penyesatan kehidupan masyarakat dan hal itu dibiarkan oleh yang berwenang hingga menimbulkan polemik berkepanjangan. Kini, tergantung kita semua bagaimana menyikapinya.
  • Datang ya... JAKARTA TEMA Jakarta Big Kampung Minggu,3november2013 parkir timur senayan Gelora Bung Karno 1 Hari 15 Jam 20 Sekolah Seni 100 Stand Kuliner 500 Seniman 1000 Artis 8000 Peserta Parade Seni 100.000 Pengunjung LOMBA-LOMBA Parade Jalan Santai Rally Photo Lomba Desain Poster Marching Band SD&SMP Rumah Alumni IA ITB JAKARTA Jl.TB Simatupang No 7 Cilandak Timur, Jakarta Selatan phone/fax 021 7804533 rumah.alumni.itb@gmail.com www.pasarsenijakarta.com pasarsenijakArt pasarsenijakarta Dipersembahkan oleh September 2013 l Kinescope l 87
  • 88 l Kinescope l September 2013