sistem sosial
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Like this? Share it with your network

Share

sistem sosial

on

  • 822 views

 

Statistics

Views

Total Views
822
Views on SlideShare
822
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
20
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

sistem sosial Document Transcript

  • 1. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem sosial merupakan suatu sinergi antara berbagai subsistem sosial yang saling mengalami ketergantungan dan keterkaitan. Suatu sistem sosial dirumuskan sebagai suatu sistem dari unsur-unsur sosial atau seperti dikemukakan oleh Hugo F. Reading “the system of social element” Perumusan arti sistem sosial ini sangat sederhana, dan memerlukan penjelasan yang memadai terutama sistem dan unsur-unsur sosial. Di dalam suatu sistem sosial, paling tidak harus terdapat (1) dua orang atau lebih, (2) terjadi interaksi antara mereka, (3) mempunyai tujuan, dan (4) memiliki struktur, simbol dan harapan–harapan bersama yang dipedomaninya. Unsur-unsur dalam sistem sosial adalah satuan dari interaksi sosial, yang kemudian membentuk struktur, artinya unsur-unsur itu merupakan bagian- bagian yang saling bergantungan dan menyatu dalam sistem sosial. Dan sistem sosial pada dasarnya terbentuk dari interaksi antar individu yang berkembang menurut standar penilaian dan kesepakatan bersama, yaitu perpedoman pada norma-norma sosial. Oleh karena itu, di dalam makalah ini, kami akan membahas tentang hal- hal yang berkaitan dengan sistem sosial, termasuk di dalam makalah ini terdapat pengertian dan unsur-unsur sistem sosial, interaksi sosial, status sosial, nilai dan norma sosial, sosialisasi dan perubahan sosial. 1.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dari latar belakang di atas adalah: 1. Apa pengertian sistem sosial? 2. Apa unsur sistem sosial? 3. Apa pengertian interaksi sosial? 4. Apa syarat terjadinya interaksi sosial? 5. Bagaimana proses interaksi sosial? 6. Apa pengertian status sosial? 7. Apa pengertian nilai sosial? 8. Apa fungsi nilai sosial?
  • 2. 2 9. Apa pengertian norma sosial? 10. Apa pengertian sosialisasi? 11. Apa pengertian perubahan sosial? 12. Apa penyebab perubahan sosial? 13. Apa saja bentuk-bentuk perubahan sosial? 1.3 Tujuan Adapun tujuan dari makalah ini adalah: 1. Untuk mengetahui pengertian sistem sosial. 2. Untuk mengetahui unsur sistem sosial. 3. Untuk mengetahui pengertian interaksi sosial. 4. Untuk mengetahui syarat terjadinya interaksi sosial. 5. Untuk mengetahui proses interaksi sosial. 6. Untuk mengetahui pengertian status sosial. 7. Untuk mengetahui pengertian nilai sosial. 8. Untuk mengetahui fungsi nilai sosial. 9. Untuk mengetahui pengertian norma sosial. 10. Untuk mengetahui pengertian sosialisasi. 11. Untuk mengetahui pengertian perubahan sosial. 12. Untuk mengetahui perubahan sosial. 13. Untuk mengetahui bentuk-bentuk perubahan sosial.
  • 3. 3 BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Sistem Sosial Istilah sistem bagi masyarakat umum biasanya diartikan sebagai suatu cara yang menyangkut teknis melakukan sesuatu. Apabila ditinjau dari sudut sosiologis, istilah ini mengandung pengertian sebagai kumpulan dari berbagai unsur (komponen) yang saling bergantungan antara satu sama lainnya dalam satu kesatuan yang utuh. Dalam buku Pokok-pokok Teori Sistem yang disusun oleh Tatang M. Amirin (1986) menyatakan bahwa istilah sistem berasal dari bahasa Yunani yaitu “systema” yang mempunyai arti sebagai berikut: 1. Suatu keseluruhan yang hubungan yang tersusun dari sekian banyak bagian (“whole compounded of several parts”-Shrode dan Voich, 1974:115). 2. Hubungan yang berlangsung di antara satuan-satuan atau komponen secara teratur (“an organized, functioning relationship among units or component”-Awad, 1979:4”). Secara lengkap Shrode dan Voich mendefinisiskan sistem adalah himpunan dari bagian-bagian yang saling berkaitan, masing-masing bagian bekerja sendiri dan bersama-sama saling mendukung yang semuanya dimaksudkan untuk mencapai tujuan bersama, dan terjadi pada lingkungan yang kompleks.1 Atas dasr pendapat tersebut kemudian Amirin menyimpulkan bahwa istilah sistem mengandung arti sehimpunan bagian atau komponen yang saling berhubungan secara teratur dan merupakan satu keseluruhan (a whole).2 1 Abdulsyani,Sosiologi Skematika,Teori,dan Terapan,PT Bumi Aksara,Jakarta,2002,hlm 124 2 Ibid
  • 4. 4 Istilah sistem mempunyai banyak pengertian, di antaranya: 1. Mengandung pengertian sebagai himpunan benda-benda yang saling bergantungan satu sam lain, misalnya hubungan abtara platina, karbulator, busi dan bensin pada kendaraan bermotor. 2. Sistem yang menunjuk pada hubungan antar organ tubuh manusia, misalnya sistem syaraf. 3. Mengandung pengertian sebagai himpunan unsur-unsur kebudayaan, yaitu himpunan gagasan (ide), perasaan dan karsa yang terorganisir. 4. Mengandung pengertian sebagai cara atau metode tertentu yang biasanya dipergunakan dalam rangka memecahkan masalah tertentu yang berhubungan dengan pembuktian suatu hipotesis. Misalnya, metode penelitian dengan sistem wawancara. 5. Mengandung pengertian struktur atau skematika, pengelompokan dan sebagainya. Misalnya, pengorganisasian (pembagian kerja dalam suatu organisasi). Dalam telaah tentang hubungan antar manusia dalam kehidupan bermasyarakat, digunakan istilah sistem sosial. Sistem merupakan konsep yang paling umum dipakai oleh kalangan ahli sosiologi dalam mempelajari dan menjelaskan hubungan manusia dalam kelompok atau dalam organisasi sosial. Sama halnya dengan kesatuan komponen dalam pengertian sistem, kelompok masyarakat merupakan kesatuan utuh yang terdiri dari individu-individu sebagai bagian-bagian yang saling bergantungan. Menurut Alvin L. Bertrand (1980), menyatakan bahwa dalam suatu sistem sosial paling tidak harus terdapat dua orang atau lebih yang mana di antara keduanya terjadi interaksi yang mempunyai tujuan dan memiliki struktur, simbol, dan harapan-harapan bersama yang dipedominya. Sistem sosial pada dasarnya terbentuk dari interaksi antar individu yang berkembang menurut standar penilaian dan kesepakatan bersama, yaitu pedoman pada norma-norma sosial. Menurut Robert M.Z. Lawang (1985), bahwa inti dari setiap sistem sosial adalah selalu ada hubungan timbal balik yang konstan.
  • 5. 5 Konstaan artinya apa yang terjadi kemarin merupakan perulangan dari yang sebelumnya dan besok akan diulang kembali dengan cara yang sama. Di dalam sistem sosial terdapat prinsip-prinsip tertentu yang berhubungan dengan keseragaman anggapan tentang kebenaran sehingga keseimbangan hubungan sosial kelompok dapat lebih terjamin. 2.2 Unsur-unsur Sistem Sosial Secara umum, unsur-unsur sosial terdiri dari status, peranan, dan perbedaan sosial. Menurut Alvin L. Bertrand (1980), ada sepuluh unsur yang terkandung dalam sistem sosial, yaitu: 1. Keyakinan (pengetahuan) Keyakinan merupakan unsur sistem sosial yang dianggap sebagai pedoman dalam melakukan penerimaan suatu pengetahuan dalam kehidupan kelompok sosial dalam masyarakat. Keyakinan ini secara praktis biasanya digunakan dalam kelompok masyarakat yang masih tergolong terbelakang segi pengetahuannya sehingga dalam menilai suatu kebenaran dirumuskan melalui keyakinan bersama. Misalnya, dalam menilai berbahaya atau tidak dalam menerima anggota baru pada sutau kelompok atau organisasi sosial dinilai berdasarkan kekuatan keyakinan. 2. Perasaaan (sentimen) Perasaan menurut Alvin, menunjuk pada bagaimana perasaan pada anggota suatu sistem sosial (anggota kelompok) tentang hal-hal, peristiwa-peristiwa serta tempat-tempat tertentu. Jika di dalam suatu sistem terdapat banyak anggota yang saling menaruh dendam antara satu sama lainnya maka bisa dikaetahui bahwa hubungan kerja samanya tidak akan berhasil dengan baik. 3. Tujuan, Sasaran, dan Cita-cita Cita-cita, tujuan atau sasaran di dalam suatu sistem sosial merupakan pedoman bertindak agar program kerja yang telah ditetapkan dan disepakati bersama dapat tercapai secara efektif.
  • 6. 6 4. Norma Unsur norma merupakan komponen sistem sosial yang dianggap paling kritis untuk memahami serta meramalkan aksi atau tindakan manusia. Apabila tingkah laku seseorang dipandang wajardan sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam kelompoknya maka interaksi dalam kelompok tersebut akan berlangsung dengan wajar sesuai dengan ketetapan-ketetapan bersama. 5. Status dan peranan Status merupakan serangkaian tanggung jawab, kewajiban serta hak-hak yang sudah ditentukan dalam suatu masyarakat. Sedangkan, pola tingkah laku yang diharapkan dari orang-orang pemangku status dinamakan peranan. Peranan-peranan sosial saling berpadu sedemikian rupa sehingga saling tunjang-menunjang secara timbal balik di dalam hal yang menyangkut tugas, hak, dan kewajiban. Oleh karena itu, suatu penampilan peranan status adalah proses penunjukan atau penampilan dari statuss dan peranan sebagai unsur struktural di dalam sistem sosial. 6. Tingkatan atau pangkat (rank) Tingkatan atau pangkat merupakan unsur sistem sosial yang berfungsi menilai perilaku-perilaku anggota kelompok yang dimaksudkan untuk memberikan kepanngkatan atau status tertentu sesuai dengan prestasi- prestasi yang telah dicapai. Orang yang dianggap berhasil dalam melaksanakan tugasnya bisa dinaikkan status ke jenjang yang lebih tinggi. Begitu seterusnya sehingga berbagai aktivitas nampak saling bergantungan sehingga dengan demikian dapat dikategorikan sebagai sistem sosial. 7. Kekuasaan atau pengaruh (power) Dalam analisis sistem sosial, suatu kekuasaan merupakan patokan bagi para anggota suatu kelompok atau organisasi dalam menerima berbagai perintah dan tugas. 8. Sanksi Sanksi merupakan ancaman hukum yang ditetapkan oleh masyarakat terhadap anggota-anggotanya yang melanggar norma sosial
  • 7. 7 kemasyarakatan. Penerapan sanksi ini ditujukan agar pelanggarnya dapat emngubah perilakunya ke arah yang lebih baik sesuai dengan norma sosial yang berlaku. 9. Sarana atau fasilitas Sarana merupakan cara yang digunakan untuk mencapai tujuan dari sistem sosial. Yang paling penting dari unsur sarana terletakdari kegunaannya bagi suatu sistem sosial. Dalam analisis sistem sosial pada prinsipnya mengutamakan fungsi dari suatu sarana agar dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin meskipun sederhananya sarana tersebut. 10. Tekanan ketegangan (Stress-strrain) Di dalam sistem sosial senantiasa terjadi ketegangan karena dalam kehidupan masyarakat tidak ada satu pun anggotanya yang mempunyai perasaan dan interpretasi sama terhadap kegiatan dan masalah yang sedang dihadapi bersama. Ketegangan terjadi karena adanya konflik peranan sebagai akibat dari proses sosial yang tidak merata. 2.3 Pengertian Interaksi Sosial Sebelum mebahas tentang definisi interaksi sosial, sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan proses sosial. Proses sosial merupakan aspek dinamis dari kehidupan masyarakat.3 Di mana di dalamnya terdapat suatu proses hubungan antara manusia satu dengan yang lainnya. Proses hubungan tersebut berupa interaksi sosial yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk umum proses sosial adalah interaksi sosial, sedangkan bentuk khususnya adalah aktivitas-aktivitas sosial. Sedangkan definisi interaksi sosial menurut para ahli, yaitu: 1. Roucek dan Warren mendefinisikan interaksi adalah satu proses melalui tindak balas tiap-tiap kelompok berturut-turut sehingga menjadi unsur penggerak bagi tindak balas dari kelompok yang lain.4 3 Ibid,hlm 151 4 Ibid,hlm 153
  • 8. 8 2. Menurut Soerjono Soekanto, interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis menyangkut hubungan antara orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia.5 Dapat disimpulkan bahwa interaksi sosial merupakan hubungan sosial antara individu dengan individu, antara kelompok dengan kelompok maupun antara individu dengan kelompok yang terjadi akibat adanya proses sosial. 2.4 Syarat Terjadinya Interaksi Sosial Dalam proses sosial, baru dapat dikatakan terjadi interaksi sosial apabila telah memenuhi persyaratan sebagai aspek kehidupan bersama, yaitu: 1. Adanya Kontak Sosial Kontak sosial adalah hubungan antara satu orang atau lebih melalui percakapan dengan saling mengerti tentang maksud dari tujuan masing-masing dalam kehidupan masyarakat.6 Sedangkan menurut Soerjono Soekanto (2002:65), kontak sosial berasal dari bahasa latin “con” atau “cum” yang artinya bersama-sama dan berasal dari kata “tango” yang artinya menyentuh. Jadi, arti kontak sosial secara harfiah adalah bersama-sama menyentuh. Secara fisik, kontak sosial terjadi bukan semata-mata hubungan badaniyah karena hubungan sosial terjadi tidak saja secara menyentuh seseorang, namun orang dapat berhubungan dengan orang lain tanpa harus menyentuhnya.7 Menurut Soedjono, kontak sosial dapat terjadi secara primer (langsung) ataupun sekunder (tidak langsung) antara satu pihak dengan pihak lainnya. 8 Kontak sosial tidak langsung adalah kontak sosial yang menggunakan alat sebagai perantara, misalnya melaui telepon, radio, surat, dan lain-lain. Sedangkan, kontak sosial langsung adalah kontak sosial melalui suatu pertemuan dengan bertatap muka dan berdialog di antara kedua belah pihak 5 Soerjono Soekanto,Sosiologi Suatu Pengantar,CV Rajawali,Jakarta,2002,hlm 62 6 Abdulsyani,Sosiologi Skematika,Teori,dan Terapan,PT Bumi Aksara,Jakarta,2002,hlm 154 7 Prof.Dr.H.M.Burhan Bungin.S.Sos.M.Si,Sosiologi Komunikasi,Kencana,Jakarta,2011,hlm 55 8 Abdulsyani,Sosiologi Skematika,Teori,dan Terapan,PT Bumi Aksara,Jakarta,2002,hlm 154
  • 9. 9 tersebut. Yang paling penting dalam interaksi sosial tersebut adalah saling mengerti antara kedua belah pihak. Sedangkan, kontak badaniyah bukan lagi merupakan syarat utama dalam kontak sosial karena hubungan demikian belum tentu terdapat saling pengertian. Kontak sosial terjadi tidak semata-mata oleh karena adanya aksi belaka, akan tetapi harus memenuhi syarat pokok kontak sosial yaitu reaksi (tanggapan) dari pihak lain sebagai lawan kontak sosial. Dalam kontak sosial, dapat terjadi hubungan yang positif dan hubungan negatif. Kontak sosial positif terjadi karena hubungan antara kedua belah pihak terdapat saling pengertian dan saling menguntungkan, sehingga biasanya hubungan dapat berlangsung lebih lama atau mungkin dapat berulang-ulang dan mengarah pada suatu kerja sama. Sedangkan, kontak negatif terjadi karena hubungan antara kedua belah pihak tidak melahirkan saling pengertian dan merugikan masing-masing pihak maupun salah satu pihak, sehingga mengakibatkan suatu pertentangan atau perselisihan. 2. Adanya Komunikasi Komunikasi sosial adalah syarat pokok lain daripada proses sosial. Komunikasi sosial mengandung pengertian persamaan pandangan antara orang-orang yang berinteraksi terhadap sesuatu. Menurut Soerjono Soekanto, komunikasi adalah penafsiran seseorang terhadap perilaku orang lain (yang berwujud pembicaraan, gerak-gerak badaniyah atau sikap) perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang lain tersebut.9 Dalam komunikasi ada tiga unsur penting yang selalu hadir dalam setiap komunikasi, yaitu: a. Sumber informasi (receiver) adalah seseoraang atau institusi yang memiliki bahan informasi (pemberitaan) untuk disebarkan kepada masyarakat luas. b. Saluran (media) adalah media yang digunakan untuk kegiatan pemberitaan oleh sumber berita berupa media interpersonal yang digunakan secara tatap muka maupun media massa yang digunakan untuk khalayak umum. 9 Ibid,hlm 155
  • 10. 10 c. Penerima informasi (audience) adalah per orang atau kelompok dan masyarakat yang menjadi sasaran informasi atau yang menerima informasi. Contoh, Dewi berjabat tangan kepada Rina. Jabatan tangan yang dilakukan oleh Dewi kepada Rina bisa ditafsirkan sebagai kesopanan, persahabatan, kerinduan, sikap kebanggaan, dan lain-lain. Dengan demikian, hal penting dalam komunikasi yaitu bagaimana seseorang memberikan tafsiran atau pemaknaan terhadap perilaku orang lain. Pemaknaan kepada informasi ada yang bersifat subjektif dan ada yang bersifat konstektual. Subjektif artinya masing-masing pihak (sumber informasi dan audience) memiliki kapasitas untuk memaknakan informasi yang disebarkan atau yang diterimanya berdasarkan pada apa yang ia rasakan, ia yakini, dan ia mengerti serta berdasarkan pada tingkat pengetahuan kedua pihak. Sedangkan, sifat konstektual adalah bahwa pemaknaan itu berkaitan erat dengan kondisi waktu dan tempat di mana informasi itu ada dan di mana kedua belah pihak itu berada. Dengan adanya komunikasi, maka sikap dan perasaan di satu pihak orang atau sekelompok orang dapat diketahui dan dipahami oleh pihak orang atau sekelompok orang lain. Hal ini berarti apabila suatu hubungan sosial tidak terjadi komunikasi atau tidak saling mengetahui dan tidak slaing memahami maksud masing-masing pihak maka dalam keadaan demikian tidak terjadi kontak sosial. 2.5 Proses-Proses Interaksi Sosial Menurut Gillin dan Gillin dalam Soekanto, menjelaskan bahwa ada dua golongan proses sosial sebagai akibat dari interaksi sosial, yaitu:10 1. Proses Asosiatif Proses asosiatif adalah sebuah proses yang terjadi saling pengertian dan kerja sama timbal balik antara orang per orang atau kelompok satu dengan 10 Prof.Dr.H.M.Burhan Bungin.S.Sos.M.Si,Sosiologi Komunikasi,Kencana,Jakarta,2011,hlm 58
  • 11. 11 yang lainnya, di mana proses ini menghasilkan pencapaian tujuan-tujuan bersama. Yang termasuk proses asosiatif, yaitu: a. Kerja sama (cooperation) Kerja sama (cooperation) adalah usaha bersama atara individu atau kelompok untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama. Proses terjadinya cooperation lahir apabila di antara individu atau kelompok tertentu menyadari adanya kepentingan dan ancaman yang sama. Tujuan- tujuan yang sama akan menciptakan cooperation di antara individu dan kelompok yang bertujuan agar tujuan-tujuan mereka tercapai. Begitu pula apabila individu atau kelompok merasa adanya ancaman dan bahaya dari luar, maka proses cooperation ini akan bertambah kuat di antara mereka. Ada beberapa bentuk cooperation, di antaranya: (1) Gotong royong dan kerja bakti Gotong royong adalah sebuah proses cooperation yang terjadi di masyarakat pedesaan, di mana proses ini menghasilkan aktivitas tolong- menolong dan pertukaran tenaga serta barang maupun pertukaran emosional dalam bentuk timbal balik di antar mereka. Baik yang terjadi di sektor keluarga maupun di sektor produktif. Sedangkan, kerja bakti adalah proses cooperation yang mirip dengan gotong-royang namun kerja bakti terjadi pada proyek-proyek publik atau program-program pemerintah. (2) Bargaining Bargaining adalah proses cooperation dalam bentuk perjanjian pertukaran kepentingan, kekuasaan, barang-barang maupun jasa antara dua organisasi atau lebih yang terjadi di bidang politik, budaya, ekonomi, hukum, maupun militer. (3) Cooptation Cooptation adalah proses cooperation yang terjadi di antara individu dan kelompok yang terlibat dalam sebuah organisasi atau negara di mana terjadi proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi untuk menciptakan stabilitas.
  • 12. 12 (4) Coalition Coalition adalah dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan- tujuan yang sama kemudian melakukan kerja sama satu dengan lainnya untuk mencapai tujuan tersebut. (5) Joint venture Joint venture yaitu kerja sama dua atau lebih organisasi perusahaan di bidang bisnis untuk pengerjaan proyek-proyek tertentu. Misalnya, eksplorasi tambang batu bara, penangkapan ikan, pengeboran minyak, penambangan emas, perkapalan dan eksploitasi sumber-sumber mineral lainnya, di mana kegiatan ini membutuhkan modal SDM yang besar sehingga perlu kerja sama di antara perusahaan-perusahaan tersebut. b. Accomodation Accomodation adalah proses sosial dengan dua makna, pertama adalah proses sosial yang menunjukkan pada suatu keadaan yang seimbang (equilibrium) dalam interaksi sosial antara individu dan antarkelompok di dalam masyarakat, terutama yang ada hubungannya dengan norma-norma dan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Pengertian kedua adalah menuju pada suatu proses yang sedang berlangsung, di mana accomodation menampakkan suatu proses untuk meredakan suatu pertentangan yang terjadi di antara individu, kelompok dan masyarakat, maupun dengan norma dan nilai yang ada di masyarakat itu. Menurut Soedjono, akomodasi adalah suatu keadaan di mana suatu pertikaian atau konflik mendapat penyelesaian sehingga terjalin kerja sama yang baik.11 Tujuan akomodasi menurut Soerjono Soekanto, dapat berbeda-beda sesuai dengan situasi yang dihadapinya, yaitu:12 1. Untuk mengurangi pertentangan antara orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia sebagai akibat perbedaan paham. 2. Untuk mencegah meledaknya suatu pertentangan untuk sementara waktu atau temporer. 11 Abdulsyani,Sosiologi Skematika,Teori,dan Terapan,PT Bumi Aksara,Jakarta,2002,hlm 159 12 Ibid
  • 13. 13 3. Untuk memungkinkan kerja sama antara kelompok-kelompok sosial yang hidupnya terpisah karena sebagai akibat dari faktor-faktor sosial psikologis dan kebudayaan. Misalnya, seperti dijumpai pada masyarakat-masyarakat yang mengenal sistem berkasta. 4. Mengusahakan peleburan antara kelompok-kelompok sosial yang terpisah, misalnya dengan melalui perkawinan campuran. Bentuk-bentuk akomodasi adalah sebagai berikut:13 (1) Koersi (coersion), yaitu bentuk akomodasi yang terjadi karena adanya paksaan maupun kekerasan secara fisik atau psikologis. (2) Kompromi (compromise), yaitu bentuk akaomodasi yang dicapai karena masing-masing pihak yang terlibat dalam proses ini saling mengurangi tuntutannya agar tercapai penyelesaian oleh pihak ketiga atau badan yang kedudukannya lebih tinggi dari pihak-pihak yang bertentangan. (3) Mediasi (mediation), yaitu bentuk akomodasi yang dilakukan melalui penyelesaian oleh pihak ketiga yang netral. (4) Konsoliasi (conciliation), yaitu bentuk akomodasi yang terjadi melalui usaha untuk mempertemukan keinginan-keinginan dari pihak-pihak yang berselisih. (5) Toleransi (toleration), yaitu bentuk akomodasi secara tidak formal dan dikarenakan adanya pihak-pihak yang mencoba untuk menghindari diri dari pertikaian. (6) Stalemate, yaitu pencapain akomodasi di mana pihak-pihak yang bertiaki dan mempunyai kekuatan yang sama berhenti pada stu titik tertentu dan masing-masing di antara mereka menahan diri. (7) Ajudikasi (adjudication), yaitu bentuk akomodasi yang penyelesaiannya menggunakan jalan pengadilan. c. Asimilasi Asimilasi adalah suatu proses percampuran dua atau lebih budaya yang berbeda sebagai akibat dari proses sosial kemudian menghasilakn budaya tersendiri yang berbeda dengan budaya asalnya. Misalnya, orang Jawa yang 13 Prof.Dr.H.M.Burhan Bungin.S.Sos.M.Si,Sosiologi Komunikasi,Kencana,Jakarta,2011,hlm 61
  • 14. 14 bertransmigrasi ke Papua akan berasimilasi dengan penduduk setempat sehingga batas-batas antara k elompok masyarakat tidak begitu jelas lagi terlihat satu dengan lainnya. Banyak di antara mereka yang menikah dengan penduduk setempat. Proses asimilasi terjadi apabila ada: (a) Kelompok-kelompok yang berbeda kebudayaan. (b) Individu sebagai warga kelompok bergaul dengan satu dengan lainnya secara intensif untuk waktu relatif lama. (c) Kebudayaan dari masing-masing kelompok saling menyesuaikan terakomodari satu dengan lainnya. (d) Menghasilkan budaya baru yang berbeda dengan budaya induknya. Proses asimilasi ini menjadi penting dalam kehidupan masyarakat yang individunya berbeda secara kultural, sebab asimilasi yang baik akan melahirkan budaya-budaya yang dapat diterima oleh semua anggota kelompok dalam masyarakat. d. Akulturasi (acculturation) Akulturasi adalah proses sosial yang timbul apabila terjadi percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling memengaruhi. Dalam akulturasi, sebagian menyerap secara selektif sedikit atau banyak unsur kebudayaan asing itu, sebagian berusaha menolak pengaruh itu. Contoh akulturasi yang mudah ditemui ialah dalam perbauran kebudayaan Hindu-Buddha dan kebudayaan Islam dengan kebudayaan asli Indonesia. Bentuk-bentuk akulturasi yang masih ditemukan saat ini misalnya upacara Sekaten, Gerebeg Maulid, dan lainnya. 2. Proses Disasosiatif Proses sosial disasosiatif merupakan proses perlawanan (oposisi) yang dilakukan oleh individu-individu dan kelompok dalam proses sosial di antara mereka pada suatu masyarakat. Oposisi diartikan sebagai cara berjuang melawan seseorang atau kelompok tertentu atau norma dan nilai yang dianggap
  • 15. 15 tidak mendukung pereubahan untuk mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan. Bentuk-bentuk proses disasosiatif adalah: a. Persaingan (competition) adalah proses sosial di mana indivisu atau kelompok-kelompok berjuang dan bersaing untuk mencari keuntungan pada bidang-bidang kehidupan yang menjadi pusat perhatian umum dengan cara menarik perhatian publik atau dengan mempertajam prasangka yang telah ada, namun tanpa mempergunakan ancaman atau kekerasan. Misalnya, persaingan antara dua juara kelas di satu sekolah untuk membuktikan siapa yang layak dapat bintang sekolah. Kedua juara kelas itu akan belajar dengan sungguh-sungguh untuk mencapai gelar tersebut. Persaingan yang terjadi antara dua orang merupakan persaingan pribadi. Ada juga persaingan yang bersifat kelompok. Misalnya, persaingan antara Persipura Jayapura dan Persib Bandung dalam memperebutkan tempat di putaran final Liga Indonesia. b. Kontroversi (controvertion) adalah proses sosial yang berada antara persaingan dan pertentangan atau pertikaian. Kontroversi adalah proses sosial di mana terjadi pertentangan pada tataran konsep dan wacana, sedangkan pertentangan atau pertikaian telah memasuki unsur-unsur kekerasan dalam proses sosialnya. c. Konflik (conflict) adalah proses sosial di mana individu ataupun kelompok menyadari memiliki perbedaan-perbedaan. Misalnya, dalam ciri badaniah, emosi unsur-unsur kebudayaan, pola-pola perilaku, prinsip, politik, ideologi maupun kepentingan dengan pihak lain. Perbedaan ciri tersebut dapat mempertajam perbedaan yang ada hingga menjadi suatu pertentangan atau pertikaian di mana pertikaian itu sendiri dapat menghasilkan ancaman dan kekerasan fisik. 2.6 Pengertian Status Sosial Menurut Mayor polak (1979), status dimaksudkan sebagai kedudukan sosial seorang oknum dalam kelompok serta dalam masyarakat. Menurut Soerjono Soekanto mengartikan status sebagai tempat atau posisis seseorang dalam suatu kelompok sosial, sehubungan dengan orang-orang lain dalam kelompok tersebut atau tempat suatu kelompok berhubungan dengan kelompok-kelompok lainnya di
  • 16. 16 dalam kelompok yang lebih besar lagi. Sedangkan, status sosial diartikan sebgai tempat seseorang secra umum dalam masyarakatnya sehubungan orang lain dalam arti lingkungan pergaulannya, prestisenya dan hak-hak serta kewajiban- kewajibannya. Secara sederhana, status sosial dapat diartikan sebagai kedudukan seseorang dalam suatu kelompok dan hubungannnya dengan anggota yang lain dalam kelompok yang sama. Kedudukan-kedudukan tersebut diperbandingkan menurut nilai dan kuantitasnya sehingga terlihat ada perbedaan antara kedudukan yang rendah dan yang tinggi. Sementara itu sebagai acuan dari status sosial adalah status yang berhubungan erat dengan lingkungan sosial, martabat bersama dengan hak dan kewajibannya. Status sosial biasanya didasarkan pada berbagai unsur kepentingan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yaitu status pekerjaan, status dalam sistem kekerabatan, status jabatan dan status agama yang dianut. Dengan status seseorang dapat berinteraksi dengan baik terhadap sesamanya, bahkan banyak dalm pergaulan sehari-hari seseorang tidak mengenal orang lain secara individu, melainkan hana mengenal statusnya saja. Menurut proses perkembangannya, status sosial dapat dibedakan atas: 1. Ascribed Status Ascribed status merupakan status yang diperoleh atas dasar keturunan. Pada umumnya, status ini banyak dijumpai pada masyarakat-masyarakat yang menganut stratifikasi tertutup. Contoh ascribed status seperti jenis kelamin, ras, kasta, golongan, keturunan, suku, usia, dan lain sebagainya. 2. Achieved Status Achieved status merupakan status yang diperoleh atas dasar usaha yang disengaja. Status ini dalam perolehannya berbeda dengan status atas dasar kelahiran, kodrat atau keturunan. Status ini bersifat lebih terbuka yaitu atas dasar cita-cita yng direncanakan dan diperhitungkan dengan matang. Contoh achieved status yaitu seperti harta kekayaan, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan lain-lain.
  • 17. 17 3. Assigned Status Assigned status merupakan status yang diberikan kepada seseorang yang dianggap telah berjasa dan telah memperjuangkan sesuatu untuk memenuhi kepentingan masyarakat. Contohnya seperti seseorang yang dijadikan kepala suku, ketua adat, sesepuh, dan sebagainya. 2.7 Pengertian Nilai Sosial Menurut Horton dan Hunt, nilai adalah gagasan tentang apakah pengalaman itu berarti atau tidak.14 Nilai pada hakikatnya mengarahkan perilaku dan pertimbangan seseorang, tetapi ia tidak menghakimi apakah sebuah perilaku tertentu salah atau benar. Nilai merupakan bagian penting dari kebudayaan. Suatu tundakan dianggap sah ( secara moral dapat diterima ) jika harmonis atau selaras dengan nilai-nilai yang disepakati dan dijunjung oleh masyarakat dimana tindakan tersebut dilakukan. Ketika nilai ynag berlaku menyatakan bahwa kesalehan beribadah adalah sesuatu yang dijunjung tinggi, maka jika terdapat orang yang tidak beribadah tentu akan dianggap sebagai bentuk penyimpangan. Demikian pula seseorang yang dengan ikhlas menyumbangkan sebagian harta bendanya untuk kepentingan ibadah dan rajin mengamalkan ibadah, maka ia akan dinilai sebagai orang yang terhormat dan menjadi teladan bagi masyarakat. Menurut W.J.S Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia disebutkan bahwa nilai diartikan sebagai berikut:15 1. Harga (dalam arti taksiran harga). 2. Harga sesuatu (misalnya uang), jika diukur atau ditukarkan dengan yang lain. 3. Angka kepandaian. 4. Kadar, mutu, banyak sedikitnya isi. 5. Sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan. 14 Elly M. Setiadi:Usman Kolip.Pengantar Sosiologi.Jakarta:Kencana,2011.hlm 119 15 Abdulsyani,Sosiologi Skematika,Teori,dan Terapan,PT Bumi Aksara,Jakarta,2002,hlm 49
  • 18. 18 Menurut Andrain nilai-nilai itu memiliki enam ciri atau karakteristik, yaitu:16 1. Umum dan Abstrak Umum dan abstrak, karena nilai-nilai itu berupa patokan umum tentang sesuatu yang di cita-citakan atau yang dianggap baik. Nilai dapat dikatakan umum sebab tidak akan ada masyarakat tanpa pedoman umum tentang sesuatu yang dianggap baik, patut, layak, pantas sekaligus sesuatu yang menjadi larangan atau tabu bagi kehidupan masing-masing kelompok. 2. Konsepsional Artinya bahwa nilai-nilai itu hanya diketahui dari ucapan-ucapan, tulisan, dan tingkah laku seseorang atau sekelompok orang. Sebagaimana dijelaskan di depan bahwa nilai sosiologi bukanlah benda fisik yang dapat dilihat dengan mata, diraba dengan indera peraba atau difoto, sebab nilai hanyalah konsepsi tentang tata kelakuan masyarakat yang berupa pedoman antara perilaku yang diperolehkan dan yang tidak boleh dilakukan oleh anggota masyarakat. 3. Mengandung Kualitas Moral Mengandung kualitas moral karena nilai-nilai selalu berupa petunjuk tentang sikap dan perilaku yang sebaiknya atau yang seharusnya dilakukan. Artinya moral manusia dalam kehidupan sosial sangat berkaitan dengan nilai-nilai moralitas yang berlaku dalam kelompok tersebut. 4. Tidak Selamanya Realistik Artinya bahwa nilai itu tidak akan selalu dapat direalisasikan secara penuh di dalam realitas sosial. Hal itu di sebabkan oleh kemunafikan manusia, tetapi juga karena nilai-nilai itu merupakan hal yang abstrak sehingga untuk memahaminya diperlukan tingkat pemikiran dan penafsiran tertentu. 5. Bersifat Campuran Artinya, dalam situasi kehidupan masyarakat yang nyata, tidak ada masyarakat yang hanya menghayati satu nilai saja secara mutlak. Yang terjadi adalah campuran berbagai nilai dengan kadar dan titik berat yang berbeda. 16 Elly M. Setiadi:Usman Kolip.Pengantar Sosiologi.Jakarta:Kencana,2011.hlm 120-122
  • 19. 19 6. Cenderung Bersifat Stabil Suatu nilai dalam masyarakat cenderung bersifat stabil, sukar berubah, karena nilai-nilai yang di hayati telah melembaga atau mendarah daging dalam masyarakat. Perubahn akan terjadi jika struktur sosial berubah atau jika nilai-nilai baru timbul di dalam struktur masyarakat tersebut. Dengan demikian, nilai sosial adalah nilai-nilai kolektif yang dianut oleh masyarakat kebanyakan. Nilai-nilai sosial merupakan hal yang dituju oleh kehidupan sosial itu sendiri. Dalam hal ini Notonegoro membedakan nilai menjadi tiga macam, yaitu:17 1. Nilai Material, yaitu meliputi berbagai konsepsi tentang segala sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia. 2. Nilai Vital, yaitu meliputi berbagai konsepsi yang berkaitan dengan segala sesuatu yang berguna bagi manusia dalam melaksanakan aktifitas. 3. Nilai Kerohanian, yaitu meliputi berbagai konsepsi yang berkaitan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan rohani manusia. 2.8 Fungsi Nilai Sosial Nilai-nilai sosial memiliki fungsi bagi kehidupan masyarakat, diantaranya:18 1. Faktor Pendorong Cita-Cita atau Harapan bagi Kehidupan Sosial. Misalnya dalam pemukaan UUD 1945 dicanangkan nilai-nilai yang merupakan tujuan dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai tersebut yaitu ; (1) melidungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, (2) memajukan kesejahteraan umum, (3) mencerdaskan kehidupan bangsa, (4) ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial. Empat poin ini merupakan tujuan dan cita-cita luhur bangsa Indonesia dalam rangka kehidupan berbangsa dan bernegara. 2. Petunjuk Arah Seperti cara berfikir, berperasaan, dan bertindak dan pansuam dalam menimbang penilaian masyarakat,penentu, dan terkadang sebagai penekan 17 Ibid,hlm124-125 18 Ibid,hlm 126-127
  • 20. 20 para individu untuk berbuat sesuatu dan bertindak sesuai dengan nilai yang bersangkutan, sehingga sering menimbulkan perasaan bersalah bagi para anggota yang melangarnya. Konsep operasional dalam mencapai empat poin cita-cita luhur ini ialah norma-norma yang tertulis dalam batang tubuh UUD 1945. 3. Alat Perekat Solidaritas Sosial di dalam Kehidupan Kelompok Bangsa Indonesia memiliki nilai-nilai falsafah hidup bangsa, yaitu Pancasila. Melalui Pancasila bangsa Indonesia berpedoman untuk menjalin persatuan dan kesatuan bangsa. 4. Benteng Perlindungan atau Penjaga Stabilitas Budaya Kelompok atau Masyarakat Dalam hal ini, bangsa Indonesia menempatkan Pancasila sebagai nilai- nilai luhur bangsa sekaligus filter bagi masuknya budaya asing, terutama sesuai atau tidak sesuasinya budaya asing yang masuk wilayah negeri ini. Proses sosialisasi ini dilakukan melalui serangkaian proses pendidikan kepada generasi penerus agar tidak meninggalkan Pancasila sebagai perjanjian luhur bangsa. 2.9 Pengertian Norma Sosial Nilai dan norma tidak dapat dipisahkan dan selalu berkaitan. Bedanya secara umum, norma mengandung sanksi yang relatif tegas terhadap pelanggarnya. Norma lebih banyak penekanannya sebagai peraturan-peraturan yang selalu disertai oleh sanksi-sanksi yang merupakan faktor pendorong bagi individu ataupun kelompok masyarakat untuk mencapai ukuran nilai-nilai sosial tertentu yang dianggap terbaik untuk dilakukan.19 Alvin L. Bertrand mendefinisikan norma sebagai suatu standar tingkah laku yang terdapat di dalam semua masyarakat. Ia mengakatan bahwa norma sebagai suatu bagian dari kebudayaan non-materi, norma-norma tersebut menyatakan konsepsi-konsepsi teridealisasi dari tingkah laku.20 Menurut pandangan sosiologis, norma sosial dititikberatkan pada kekuatan dari serangkaian peraturan 19 Dr.Basrowi,M.S.Pengantar Sosiologi.Bogor:Ghalia Indonesia,2005.hlm 88 20 Abdulsyani,Sosiologi Skematika,Teori,dan Terapan,PT Bumi Aksara,Jakarta,2002,hlm 54
  • 21. 21 umum, baik tertulis maupun tidak tertulis, mengenai tingkah laku atau perbuatan manusia yang menurut penilaian anggota kelompok masyarakatnya sebagai sesuatu yang baik atau buruk, pantas atau tidak pantas.21 Norma-norma tersebut biasanya oleh masyarakat dinyatakan dalam bentuk- bentuk kebiasaan, tata kelakuan dan adat istiadat atau hukum adat. Pada awalnya norma terbentuk tidak disengaja, akan tetapi dalam proses sosial yang lam tumbuhlah berbagai aturan yang kemudian diakui bersama secara sadar. Kekuatan daya ikat suatu norma tidak sama adanya dalam masyarakat, ada yang lemah dan ada pula yang kuat sampai anggota masyarakat tidak berani melanggarnya. Norma dimaksudkan agar dalam suatu masyarakat terjadi hubungan-hubungan yang lebih teratur anatar manusia sebagaimana yang diharapkan bersama. Norma sosial di dalam kehidupan masyarakat sehari-hari dianggap sebagai alat kendali atau batasan-batasan tindakan anggota masyarakat untuk memilih peraturan yang diterima tau atau tidak dalam suatu pergaulan. Fungsi norma sosial di antaranya adalah sebagai petunjuk arah bagi tingkah laku di dalam kehidupan sosial. Bagi seseorang, norma tidak hanya sekedar membuat perasaan takut untuk melanggar aturan perilaku tetapi juga dapat membuat perasaan bersalah jika melanggar norma-norma tersebut. Secara sosiologis, norma dibedakan menjadi:22 1. Cara (Usage) Usage merupakan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku sebagai produk dari hubungan sosial antar-individu di dalam masyarakat yang tidak mengakibatkan sanksi yang berat bagi pelanggarnya. Bagi seseorang yang melanggar norma ini mendapatkan sanksi berupa cemoohan atau celaan. Perbuatan seseorang yang melanggar norma ini dianggap orang lain sebagai perbuatan yang tidak sopan, misalnya makan berdiri. 2. Kebiasaan (Folkways) Folkways merupakan aktifitas yang dilakukan secara berulang-ulang dalam bentuk yang sama, karena dirasakan kebiasaan itu dianggap baik, 21 Ibid,hlm 55 22 Ibid
  • 22. 22 enak dirasakan ada manfaatnya dan sebagainya, sehingga banyak orang yang menyukainya. Misalnya, bertutur sap lembut (sopan santun) terhadap orang lain yang lebih tua. 3. Tata Kelakuan (Mores) Mores mencerminkan sifat-sifat yang hidup dari kelompok manusia yang dilaksanakan sebagai alat pengawas, baik secara sadar maupun tidak sadar oleh masyarakat terhadap anggotanya. Tata kelakuan mempunyai kekuatan pemaksa untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Jika terjadi pelanggaran dapat mengakibatkan jatuhnya sanksi berupa pemaksaan terhadap pelanggarnya untuk kembali menyesuaikan diri dengan tata kelakuan umum sebagaimana telah digariskan. 4. Adat Istiadat (Custom) Adat istiadat merupkan pola-pola kelakuan yang tidak tertulis, tetapi memiliki kekuatan mengikat kepada para anggotanya, sehingga bagi yang melanggar adat istiadat tersebut akan mendapat sanksi hukum, baik formal maupun informal. Misalnya, seseorang menjual kehormatannya dengan dalih usaha mencari kerja maka ia akan mendapat sanksi sosial berupa pengucilan untuk selamanya atau diusir dari tempat tinggalnya. 5. Hukum (Laws) Hukum merupakan tata kelakuan sosial yang dibuat secara formal dengan sanksi yang tegas bagi pelanggarnya. Misalnya, orang yang berkendara sepeda motor tidak mempunyai surat izin mengemudi maka ia akan mendapatkan tilang dari polisi sesuai undang-undang yang berlaku. 2.10 Pengertian Sosialisasi Sosialisasi menunjuk pada semua faktor dan proses yang membuat setiap manusia menjadi selaras dalam hidupnya di tengah-tengah masyarakat. Seorang anak dikatakan telah melakukan sosialisasi dengan baik, apabila ia bukan hanya menampilkan kebutuhannya sendiri saja, tetapi juga memerhatikan kepentingan dan tuntutan orang lain. Pengertian sosialisasi secara umum dapat diartikan sebagai proses belajar individu untuk mengenal dan menghayati norma-norma serta nilai-nilai sosial
  • 23. 23 sehingga terjadi pembentukan sikap untuk berperilaku sesuai dengan tuntutan atau perilaku masyarakatnya. Proses pembelajaran berlangsung secara bertahap, perlahan tapi pasti dan berkesinambungan. Pada awalnya, proses itu berlangsung dalam lingkungan keluarga, kemudian berlanjut pada lingkungan sekitarnya, yaitu lingkungan tetangga, kampung, kota, hingga lingkungan negara dan dunia. Di samping itu, individu mengalami proses enkulturasi (pembudayaan), yaitu individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran dan sikapnya dengan adat istiadat, sistem norma, dan peraturan yang berlaku dalam kebudayaan masyarakatnya. Manusia lahir ke dunia sebagai bayi yang penuh dengan segala macam kebutuhan fisik. Kemudian ia menjadi seorang manusia dengan seperangkat nilai dan sikap, kesukaan dan ketidaksukaan, tujuan serta maksud, pola reaksi dan konsep yang mendalam, serta konsisten dengan dirinya. Setiap orang memperoleh semua itu melalui suatu proses belajar yang kita sebut sebagai sosialisasi, yakni proses belajar yang mengubahnya menjadi seorang pribadi yang manusiawi. Sosialisasi adalah suatu proses di mana seseorang menghayati (internalize) norma-norma kelompok di mana ia hidup sehingga timbullah „diri‟ yang unik. Definisi sosialisasi ialah proses mempelajari kebiasaan dan tata kelakuan untuk menjadi suatu bagian dari suatu masyarakat, sebagian adalah proses mempelajari peran. Sedangkan, pengertian sosialisasi menurut para ahli yaitu:23 1. Soerjono Soekanto Sosialisasi adalah proses sosial tempat seorang individu mendapatkan pembentukan sikap untuk berperilaku yang sesuai dengan perilaku orang- orang di sekitarnya. 2. Peter L. Berger Sosialisasi ialah proses pada seorang anak yang sedang belajar menjadi anggota masyarakat. Adapun yang dipelajarinya ialah peranan pola hidup dalam masyarakat yang sesuai dengan nilai dan norma-norma maupun kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. 23 http://hedisasrawan.blogspot.com/2013/01/pengertian-sosialisasi-artikel-lengkap.html
  • 24. 24 3. Charlotte Buhler Sosialisasi adalah proses yang membantu individu-individu belajar dan menyesuaikan diri terhadap bagaimana cara hidup dan bagaimana cara berpikir kelompoknya, agar ia dapat berperan dan berfungsi dalam kelompoknya. 4. Koentjaraningrat Sosialisasi adalah seluruh proses di mana seorang individu sejak masa kanak-kanak sampai dewasa, berkembang, berhubungan, mengenal, dan menyesuaikan diri dengan individu-individu lain yang hidup dalam masyarakat sekitarnya. 5. Irvin L. Child Sosialisasi adalah segenap proses yang menuntut individu mengembangkan potensi tingkah laku aktualnya yang diyakini kebenarannya dan telah menjadi kebiasaan serta sesuai dengan standar dari kelompoknya. 6. Kamus Besar Bahasa Indonesia Sosialisasi artinya suatu proses belajar seorang anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat di lingkungannya. 7. Bruce J. Cohen Sosialisasi adalah proses-proses manusia mempelajari tata cara kehidupan dalam masyarakat untuk memperoleh kepribadian dan membangun kapasitasnya agar berfungsi dengan baik sebagai individu maupun sebagai anggota. 8. Paul B. Horton Sosialisasi adalah suatu proses dimana seseorang menghayati serta memahami norma-norma dalam masyarakat tempat tinggalnya sehingga akan membentuk kepribadiannya. 9. Prof. Dr. Nasution, S.H. Sosialisasi adalah proses membimbing individu ke dalam dunia sosial (sebagai warga masyarakat yang dewasa).
  • 25. 25 10. Sukandar Wiraatmaja Sosialisasi adalah proses belajar mulai bayi untuk mengenal dan memperoleh sikap, pengertian, gagasan dan pola tingkah laku yang disetujui oleh masyarakat. 11. Jack Levin dan James L. Spates Sosialisasi adalah proses pewarisan dan pelembagaan kebudayaan ke dalam kepribadian individu. 12. John C. Macionis Sosialisasi adalah pengalaman sosial seumur hidup di mana individu dapat mengembangkan potensinya dan mempelajari pola-pola kehidupan. Berdasarkan pengertian sosialisasi yang dikemukakan di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan berikut: a. Sosialisasi ditempuh seorang individu melalui proses belajar untuk memahami, menghayati, menyesuaikan, dan melaksanakan suatu tindakan sosial yang sesuai dengan pola perilaku masyarakatnya. b. Sosialisasi ditempuh seorang individu secara bertahap dan berkesinambungan, sejak ia dilahirkan hingga akhir hayatnya. c. Sosialisasi erat sekali kaitannya dengan enkulturasi atau proses pembudayaan, yaitu suatu proses belajar seorang individu untuk belajar mengenal, menghayati, dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya terhadap sistem adat dan norma, serta semua peraturan dan pendirian yang hidup dalam lingkungan kebudayaan masyarakatnya. Menurut pendapat Soejono Dirdjosisworo (1985), bahwa sosialisasi mengandung tiga pengertian, yaitu : a. Proses sosialisasi adalah proses belajar, yaitu suatu proses akomodasi dengan mana individu menahan, mengubah impuls–impuls dalam dirinya dan megambil alih cara hidup atau kebudayaan masyarakat. b. Dalam proses sosialisasi itu individu mempelajari kebiasaan, sikap, ide– ide, pola–pola nilai dan tingkah laku, dan ukuran kepatuhan tingkah laku di dalam masyarakat di mata ia hidup.
  • 26. 26 c. Semua sifat dan kecakapan yang dipelajari dalam proses sosialisasi itu disusun dan dikembangkan sebagai suatu kesatuan sistem dalam diri pribadinya. Sosialisasi dapat terjadi secara langsung bertatap muka dalam pergaulan sehari –hari, dapat juga terjadi secara tidak langsung, seperti melalui telepon, surat atau melalui media massa. Sosialisasi dapat berlangsung lancar dan biasanya dengan sedikit saja kesadaran bahwa seseorang sedang disosialisasikan atau sengaja mensosialisasikan diri terhadap kebiasaan kelompok masyarakat tertentu. Dapat pula terjadi sosialisasi secara paksa, kasar dan kejam karena adaanya kepentingan tertentu, misalnya segolongan atau kelompok tertentu memaksakan kehendaknya terhadap individu agar ia bergabung dan mengikuti kebiasaannya. Sebaliknya dapat ia bergabung dan mengikuti kebiasaannya. Sebaliknya dapat juga individu yang memiliki status dan pengearuh tertentu memaksakan kehendak dan kebiasaannya agar anggota masyarakat yang lain menerima dan memetuhinya. Ada beberapa kecenderungan sosialisasi dalam proses ini yaitu: pertama; individu menolak salah satu kebiasaan kelompok dan masuk dalam kelompok lainnya, kedua; individu menolak kebiasaan kedua kelompok yang bersaing (sosialisasi yang tidak berlanjut), ketiga; individu mengikuti kebiasaan kedua kelompok yang sedang bersaing. Kecenderungan yang terakhir ini biasanya individu lebih bersifat marginal. Jika individu telah memiliki kebiasaan tertentu sebagai akibat dari sosialisasi pada lingkungan asalnya; kemudian pada waktu yang berbeda kebiasaannya, maka ada kecenderungan individu menolak menyatuhkan diri atau mungkin bersifat toleran terhadap masyarakat dimana ia tinggal. Menurut Dirdjo Siswora pengembangan social manusia itu meliputi dua aspek yaitu: a. Proses belajar social atau proces of social learning atau proses sosialisasi. b. Proses pembentukan kesetiaan sosial atau formation of social loyalties. Proses sosialisasi dan perkembangan kesetiaan social itu berjalan simultan
  • 27. 27 dan terjalin satu sama lain. Proses belajar social disebut juga proses sosialisasi, yaitu : a) Sifat ketergantungan manusia kepada manusia lain mulai sejak bayi yang dilahirkan dalam keadaan sangat tergantung kepada orang tuanya baik secara biologis maupun social. b) Sifat adaptabilita dan intelegensi manusia. Karena sifat adaptabilita dan intelegensi itu, maka manusia mampu mempelajari berbagai macam bentuk tingah laku, memanfaatkan pengalamnnya, dan mengubah tingkah lakunya. Selanjutnya dijelaskan bahwa dalam proses sosialisasi ini, individu mendapatkan pengawasan, pembatasan atau hambatan dari manusia lain atau masyarakat, di samping itu juga mendapatkan bimbingan, dorongan, stimulasi, dan motovasi dari manusia lain atau masyarakatnya. Dengan demikian dalam proses sosialisasi itu individu bersikap reseptif maupun kreatif terhadap pengaruh individu lain dalam pergaulannya. Proses sosialisasi itu terjadi dalam kelompok atau institusi social dalam masyarakat, individu yang sudah dikembangkan dalam proses sosialisasi tidak mustahil akan mendapatkan status tertentu dalam masyarakat. Jika tanpa melalui sosialisasi seorang tidak dapat tumbuh dengan wajar. 2.11 Pengertian Perubahan Sosial Pengertian secara umum perubahan sosial adalah proses sosial yang dialami oleh anggota masyarakat serta semua unsur–unsur budaya dan sistem–sistem sosial, di mana semua tingkat kehidupan masyarakat secara sukarela atau di pengaruhi oleh unsur–unsur budaya eksternal meninggalkan pola–pola kehidupan, budaya, dan sitem sosial lama kemudian menyesuaikan diri atau menggunakan pola–pola kehidupan, budaya, dan sistem sosial yang baru.
  • 28. 28 Beberapa definisi perubahan sosial yang dikemukakan oleh para ahli sebagai berikut :24 1. Gillin dan Gillin, mengatakan bahwa perubahan–perubahan sosial adalah suatu variasi dari cara–cara hidup yang telah diterima, yang disebabkan baik karena perubahan–perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi maupun karena adanya difusi ataupun penemuan–penemuan baru dalam masyarakat. 2. Samuel Koening, mengatakan bahwa perubahan–perubahan sosial menunjukan pada modifikasi–modifikasi yang terjadi dalam pola – pola kehidupan manusia. 3. Kingsley Davis, mengartikan perubahan–perubahan sosial sebagai perubahan–perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat. 4. Bruce J. Cohen, mengemukakan bahwa perubahan sosial adalah perubahan struktur sosial dan perubahan pada organisasi sosial. 5. Roucek dan Warren, mengemukakan bahwa perubahan sosial adalah perubahan dalam proses sosial atau dalam struktur masyarakat. 6. Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, berpendapat bahwa perubahan–perubahan sosial adalah segala perubahan–perubahan pada lembaga–lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai–nilai, sikap– sikap dan pola–pola perikelakuan di antara kelompok–kelompok dalam masyarakat. 7. Soedjono Dirdjosisworo, merumuskan definisi perubahan sosial sebagai perubahan fundamental yang terjadi dalam struktur sosial, sistem sosial dan organisasi sosial. Perubahan sosial terjadi ketika ada kesediaan anggota masyarakat untuk meninggalkan unsur – unsur budaya dan sistem sosial lama dan mulai beralih menggunakan unsur – unsur budaya dan sitem sosial yang baru. Perubahan sosial dipandang sebagai konsep yang serba mencakup seluruh kehidupan masyarakat baik pada tingkat individual, kelompok, masyarakat, negara, dan dunia yang mengalami perubahan. 24 Abdulsyani,Sosiologi Skematika,Teori,dan Terapan,PT Bumi Aksara,Jakarta,2002,hlm 163
  • 29. 29 2.12 Faktor – faktor Penyebab Perubahan Sosial Pada dasarnya perubahan – perubahan sosial terjadi, oleh kerna anggota masyarakat pada waktu tertentumerasa tidak puas lagi terhadap keadaan kehidupannya yang lama. Norma – norma dan lembaga – lembaga sosial, atau sarana penghidupan yang lama dianggap tidak memadai lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup yang baru. Ada tiga faktor penyebab utama dalam perubahan sosial, yaitu :25 1. Timbunan Kebudayaan dan Penemuan Baru Timbunan kebudayaan, merupakan faktor penyebab sosial yang penting. Kebudayaan dalam kehidupan masyarakat senantiasa terjadi penimbunan, yaitu suatu kebudayaan semakin lama semakin beragam dan bertambah secara akumulatif. Bertimbunannya kebuyaan ini oleh karena adanya penemmuan baru dari anggota masyarakat pada umumnya. Menurut Koentjaraningrat, faktor – faktor yang mendorong individu untuk mencari penemuan baru adalah sebagai berikut : a. Kesadaran dari orang peroragan akan kekurangan dalam kebudayaan. b. Kualitas dari ahli – ahli dalam suatu kebudayaan. c. Perangsang bagi aktivitas –aktivitas penciptaan dalam masyarakat. 2. Perubahan Jumlah Penduduk Perubahan jumlah penduduk juga merupakan penyebab terjadinya perubahan sosial, seperti pertmabhan atau berkuragya penduduk pada suatu daerah tertentu. Bertambahnya pendududk pada suatu daerah, dapat mengakibatkan perubahan pada struktur masyarakat, terutama mengenai lembaga – lembaga kemasyarakatannya. Sementara pada daerah yang lain terjadi kekosongan sebagai akibat perpindahan penduduk tadi. Ditinjau dari sudut pertambahan penduduk misalnya tranmigrasi, jika berjalan secara ideal dengan memperhatikan aspek – aspek, ekonomi, politik, budaya dan keamanan mungkin akan terjadi perubahan yang positif. Artinya dengan adanya endatang baru yangg terampil dan siap bekerja di tempat yang baru, maka besar kemungkinan justru tidak hanya sekedar 25 Ibid, hlm 164
  • 30. 30 menguntungkan bagi pihak transmigran belaka, melainkan juga dapat berpengaruh terhadap penduduk asi untuk ikut serta pula bekerja dengan pola ynag menguntungkan sama dengan penduduk pendatang. Kehidupan masyarakat pun kana berubah karena percampuran antara berbagai macam pola perilaku sosial dan kebudayaa, begitu juga ekonomi, politik dan keamanan. Sementara itu, perubahan sosial disebabkan oleh berkurangnya penduduk, mengakibatkan kekosongan pada daerah pemukiman yang lama. Jika tempat tersebut sebelumnya dibangun fasilitas pasar atau peralihan pada bidang industri, maka terjadi perubahan terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat, seperti, pola pekerjaan, sistem perekonomian, kebudayaan dan seterusnya. Roucek dan Waren menggambarkan perubahan sosial yang disebabkan oleh adanya penduduk yang heterogen. Dikatakan bahwa masyarakat yang terdiri dari berbagai latar belakang etnik yang berbeda yang bercampur gaul dengan bebas dan mendifusikan adat, penegtahuan teknologi dan ideologi, biasanya mengalai kadar perubahan yang pesat. Konflik budaya, mores, dan ideologi selalu menghasilkan ketidaksesuaian dan juga keresahan sosial, dan memudahkan terjadinya perubahan sosial. 3. Pertentangan (conflict) Pertentangan natar anggota – anggota masyarakat dapat terjadi karena perubahan masyarakat yang pesat, sebagaimana dijelaskan oleh Roucek dan Warren. Masyarakat yang heterogen biasanya ditandai kurang dekatnya hubungan antara oarng satu dengan orang atau kelompok lainnya, individu cenderung mencari jalannya sendiri – sendiri. Sementara itu kondisi sumber pemenuhan kebutuhan semakin terbatas, sehingga persaingan tidak dapat dihindari, jika proses ini memuncak, maka pertentanaga akan terjadi pada , masyarakat yang bersangkutan. Pada saat masyarakat dalam keadaan konflik, dapat timbul kekecewaan dan keresahan sosila, maka pada saat itu pula individu – individu pada umumnya sangat mudah terpengaruh terhadap hal – hal yang baru. Contoh konkret, tentang pengangguran sebagai akibart dari kurang tersedianya lapangan kerja, di samping karena rendahnya mutu pendidikan, pada saat
  • 31. 31 demikian para penganggur resah dan kecewa, padahal proses kehidupan tetap menuntut keras agar mereka tetap dapat hidup wajar. Dalam keadaan demikian, apabila ada ide baru atau ada tawaran pekerjaan baru, maka biasanya tidak ada pikir dua kali langsung respons, meskipun pekerjaan itu tidak terpuji seperti membunuh atau memberontak pada pemerintah misalnya. Hal ini menimbulkan pertentangan struktural dan lebih luas sifatnya, tidak hanya menyangkut pertentangan secara fisik, akan tetapi juga pertentangan nurani lantaran pesan kejujuran tidak lagi dapat membuktikan keampuhannya melawan kenyataan kehidupan ini. 2.13 Bentuk – bentuk Perubahan Sosial Perubahan–perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat dapat dibedakan atas beberapa bentuk, yaitu perubahan evolusi dan perubahan revolusi, perubahan tak berencana dan perubahan berencana.26 1. Perubahan Evolusi dan Perubahan Revolusi Yang dimaksud dengan perubahan evolusi adalah perubahan - perubahan sosial yang terjadi dalam proses yang lambat, dalam waktu yang cukup lama dan tanpa ada kehendak tertentu dari masyarakat yang bersangkutan. Perubahan – perubahan ini berlangsung mengikuti kondisi perkembangan masyarakat, yaitu sejalan dengan usaha – usaha masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari – hari. Dengan kata lain, bahwa perubahan sosial itu terjadi oleh karena dorongan dari usaha – usaha masyarakat dalam rangka menyesuaikan diri terhadap kebutuhan – kebutuhan hidupnya dengan perkembangan masyarakat pada waktu tertentu. Suatu masyarakat pada masa tertentu bentuknya sangat sederhana, namun oleh karena masyarakat mengalami perkembangan, maka kemudian bentuk sederhana berubah menjadi bentuk yang kompleks. Tahapan perubahan itu biasanya berlangsung secara siklus dan berulang– ulang, sehingga sampai pada tahapan tertentu, sementara merupakan struktur. Menurut Petirim A. Sorokin, bahwa masyarakat berkembang melalui tahap–tahap yang masin–masing didasarkan pada suatu sistem 26 Ibid, hlm 167
  • 32. 32 kebenaran. Dalam tahap pertama dasarnya kepercayaan, tahap kedua dasarnya adalah indera manusia, dan tahap ketiga dasarnya adalah kebenaran. Pada tahapan – tahapan perubaha sebagaimana dinyatakan oleh Sorokin sebernarnya menunjukkan adanya proses yang tidak berlangsung secara cepat, melainkan cenderung bersifat evolusi. Menurut Soerjono, syarat – syarat terjadinya suatu revolusi adalah sebagai berikut : a. Ada keinginan umum untuk mengadakan suatu perubahan. Di dalam masyarakat harus ada perasaan tidak puas terhadap keadaan, dan harus ada suatu keinginan untuk mencapai perbaikan dengan perubahan keadaan tersebut. b. Adanya seorang pemimpin atau sekelompok orang yang di anggap mampu memimpin masyarakat tersebut. c. Pemimpin tersebut dapat menampung keinginan – keinginantersebut, untuk kemudian merumuskan serta menegaskan rasa tidak puas dari masyarakat, untuk dijadikan program dan arah bagi geraknya masyarakat. d. Pemimpin tersebut harus dapat menunjukkan suatu tujuan pada masyarakat. Artinya adalah bahwa tujuan tersebut terutama sifatnya konkret dan dapat dilihat oleh masyarakat. Di samping itu diperlukan juga suatu tujuan yang abstrak, misalnya perumusan sesuatu ideologi tersebut. e. Harus ada momentum untuk revolusi, yaitu suatu saat di mana segala keadaan dan faktor adalah baik sekali untuk memulai dengan gerakan revolusi. Apabila momentum (pemilihan waktu yang tepat) yang dipilih keliru,maka revolusi dapat gagal. 2. Perubahan yang Direncanakan dan Perubahan yang Tidak Di Rencanakan. Perubahan yang direncanakan adalah perubahan – perubahan terhadap lembaga – lembaga kemasyarakatan yang didasarkan pada perencanaan yang matang oleh pihak – pihak yang menghendaki perubahan – perubahan tersebut.
  • 33. 33 Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, perubahan yang direncanakan adalah perubahan yang diperkirakan atau yang telah direncanakan terlebih dahulu sebelumya oleh pihak–pihak yang hendak mengadakan perubahan di dalam masyarakat. Pihak–pihak yang menghendaki suatu perubahan dinamakan agent of change, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mendapat kepercayaan dari masyarakat sebagai pemimpin satu atu lebih lembaga-lembaga kemasyarakatan. Sementara itu perubahan yang tidak direncaakan, merupakan perubahan–perubahan yang berlangsung di luar kehendak dan pengawasan masyarakat. Perubahan–perubahan yang tidak dikehendaki ini biasanya lebih banyak menimbulkan pertentangan–pertentangan yang merugikan kehidupan masyarakat yang bersangkutan.
  • 34. 34 BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Adapun kesimpulan dari makalah sistem sosial ini adalah: 1. Sistem adalah himpunan dari bagian-bagian yang saling berkaitan, masing- masing bagian bekerja sendiri dan bersama-sama saling mendukung yang semuanya dimaksudkan untuk mencapai tujuan bersama, dan terjadi pada lingkungan yang kompleks. Apabila pengertian sistem diterapkan pada sistem sosial, maka suatu sistem sosial dapat diartikan sebagai suatu keseluruhan dari unsur- unsur sosial yang berkaitan dan berhubungan satu sama lain dan saling pengaruh- mempengaruhi dalam kesatuan untuk mencapai tujuan bersama. 2. Secara umum, unsur-unsur sosial terdiri dari status, peranan, dan perbedaan sosial. Namun, menurut Alvin L. Bertrand unsur-unsur sosial terdiri dari keyakinan (pengetahuan), perasaan (sentimen), tujuan, sasaran dan cita-cita yang ingin dicapai, norma, status dan peran, tingkatan atau peringkat (rank), kekuasaan atau pengaruh (power), sanksi, sarana atau fasilitas, dan tekanan ketegangan (stress-strrain). 3. Interaksi sosial merupakan hubungan sosial antara individu dengan individu, antara kelompok dengan kelompok maupun antara individu dengan kelompok yang terjadi akibat adanya proses sosial. 4. Syarat terjadinya interaksi sosial adalah adanya kontak sosial dan komunikasi antara individu dengan individu, antara kelompok dengan kelompok maupun antara individu dengan kelompok. 5. Di dalam interaksi sosial terjadi proses asosiatif dan proses disasosiatif. Bentuk proses asosiatif berupa kerjasama, akomodasi, asimilasi dan akulturasi. Yang termasuk bentuk-bentuk kerjasama yaitu gotong royong atau kerja bakti, bargaining, cooptation, coalition, dan joint venture. Sedangkan, yang termasuk bentuk akomodasi adalah koersi (coersion), kompromi (compromise), mediasi (mediation), konsoliasi (conciliation), toleransi (toleration), stalemate, dan
  • 35. 35 ajudikasi (adjudication). Bentuk proses disasosiatif berupa persaingan (competition) , kontroversi (controvertion), dan konflik (conflict). 6. Status sosial dapat diartikan sebagai kedudukan seseorang dalam suatu kelompok dan hubungannnya dengan anggota yang lain dalam kelompok yang sama. Kedudukan-kedudukan tersebut diperbandingkan menurut nilai dan kuantitasnya sehingga terlihat ada perbedaan antara kedudukan yang rendah dan yang tinggi. Sementara itu sebagai acuan dari status sosial adalah status yang berhubungan erat dengan lingkungan sosial, martabat bersama dengan hak dan kewajibannya. Menurut proses perkembangannya, status sosial dapat dibedakan atas ascribed status, achieved status, dan assigned status. 7. Nilai sosial adalah nilai-nilai kolektif yang dianut oleh masyarakat kebanyakan. Nilai-nilai sosial merupakan hal yang dituju oleh kehidupan sosial itu sendiri. Dalam hal ini Notonegoro membedakan nilai menjadi tiga macam, yaitu nilai material, nilai vital, dan nilai kerohanian. Menurut Andrain nilai sosial memiliki ciri atau karakteristik, yaitu umum dan abstrak, konsepsional, mengandung kualitas moral, tidak selamanya realistik, bersifat campuran, dan cenderung bersifat stabil. 8. Nilai-nilai sosial memiliki fungsi bagi kehidupan masyarakat, diantaranya sebagai faktor pendorong cita-cita atau harapan bagi kehidupan sosial, petunjuk arah, alat perekat solidaritas sosial di dalam kehidupan kelompok, benteng perlindungan atau penjaga stabilitas budaya kelompok atau masyarakat. 9. Norma sosial merupakan serangkaian peraturan umum, baik tertulis maupun tidak tertulis, mengenai tingkah laku atau perbuatan manusia yang menurut penilaian anggota kelompok masyarakatnya sebagai sesuatu yang baik atau buruk, pantas atau tidak pantas. Norma sosial di dalam kehidupan masyarakat sehari-hari dianggap sebagai alat kendali atau batasan-batasan tindakan anggota masyarakat untuk memilih peraturan yang diterima tau atau tidak dalam suatu pergaulan. Secara sosiologis, norma dibedakan menjadi norma cara (usage), kebiasaan (folkways), tata kelakuan (mores), adat istiadat (custom), dan hukum (laws).
  • 36. 36 10. Sosialisasi sosialisasi secara umum dapat diartikan sebagai proses belajar individu untuk mengenal dan menghayati norma-norma serta nilai-nilai sosial sehingga terjadi pembentukan sikap untuk berperilaku sesuai dengan tuntutan atau perilaku masyarakatnya. 11. Perubahan sosial adalah proses sosial yang dialami oleh anggota masyarakat serta semua unsur–unsur budaya dan sistem–sistem sosial, di mana semua tingkat kehidupan masyarakat secara sukarela atau di pengaruhi oleh unsur– unsur budaya eksternal meninggalkan pola–pola kehidupan, budaya, dan sitem sosial lama kemudian menyesuaikan diri atau menggunakan pola–pola kehidupan, budaya, dan sistem sosial yang baru. Sosialisasi dapat terjadi secara langsung bertatap muka dalam pergaulan sehari –hari, dapat juga terjadi secara tidak langsung, seperti melalui telepon, surat atau melalui media massa. 12. Ada tiga faktor penyebab utama dalam perubahan sosial, yaitu timbunan kebudayaan dan penemuan baru, perubahan jumlah penduduk, pertentangan (conflict). 13. Perubahan–perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat dapat dibedakan atas beberapa bentuk, yaitu perubahan evolusi dan perubahan revolusi, perubahan tak berencana dan perubahan berencana.
  • 37. 37 DAFTAR PUSTAKA Abdulsyani; 2002; Sosiologi Skematika,Teori,dan Terapan, Jakarta: PT Bumi Aksara Basrowi; 2005; Pengantar Sosiologi, Bogor:Ghalia Indonesia Bungin, Burhan; 2011; Sosiologi Komunikasi, Jakarta: Kencana Setiadi , Elly M, dkk; 2011; Pengantar Sosiologi, Jakarta:Kencana Soekanto, Soerjono; 2002; Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: CV Rajawali http://hedisasrawan.blogspot.com/2013/01/pengertian-sosialisasi-artikel- lengkap.html