• Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
No Downloads

Views

Total Views
11,843
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1

Actions

Shares
Downloads
157
Comments
0
Likes
5

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM “Potensi-Potensi Dasar Manusia dan Tugas Hidup Manusia dalam Islam” Dosen : Fitriliza, M.A Disusun oleh : Nurul Alfiah Rakhmi Vegi Arizka (Kelompok 1/ PAI 1B) FAKULTAS AGAMA ISLAM UNIVERSITAS MUHAMMADIYYAH PROF. DR. HAMKA JAKARTA SELATAN 2013
  • 2. 1 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya kepada kami dalam menyusun dan menyelesaikan makalah ini. Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi persyaratan Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam. Selain itu, isi makalah dapat dijadikan sarana dalam memahami apa potensi-potensi dasar manusia dan tugas manusia dalam Islam. Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih kepada pihak yang terlibat dalam pembuatan makalah. Terutama kepada dosen kami Ibu Fitriliza. M.A yang telah memberi kami kesempatan untuk menyusun dan membahas makalah ini. Kami sangat menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kata sempurna terutama mengenai masalah dalam penyampaian bahasa dan struktur isi makalah ini. Untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan dari pembaca. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin Jakarta, 1 Oktober 2013 Kelompok 1
  • 3. 2 DAFTAR ISI ……...…………………………………………………………. 1 ……………...…………………………………………………………. 2 Kata Pengantar Daftar Isi Bab I Pendahuluan .………………………………………………………… 3 ………..………………………………………………………… 3 I.1. Latar Belakang I.2. Tujuan Bab II Pembahasan II.1. Potensi-potensi dasar manusia dalam Islam……………………………… 4-18 II.2. Tugas Hidup Manusia dalam Islam …………………………………….. 18-21 Bab III Penutup III.1. Kesimpulan ….…………………………………………………………. 21 Daftar Pustaka …………….………………………………………………………….. 22
  • 4. 3 BAB I I. PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Manusia merupakan makhluk yang paling istimewa yang diciptakan oleh Allah Ta‟ala di muka bumi ini. Dalam sudut pandang Islam, manusia mempunyai potensi-potensi dasar yang sangat mendukung dalam kemajuan pendidikan terutama pendidikan Agama Islam. Karena Allah ta‟ala telah menciptakan manusia sebagaimana mulianya, maka Allah mempunyai tujuan dari penciptaan manusia itu sendiri yang sudah terdapat dalilnya di dalam Al-qur‟an. Pada zaman ini realita yang kita dapat adalah manusia banyak yang membuat kerusakan di muka bumi ini. Sebagai contoh adanya bencana banjir, polusi udara dan lainlain. Semua kejadian tersebut ada kaitannya antara potensi dasar manusia, tugas manusia dan pendidikan Islam. Oleh karena itu, materi ini butuh dibahas secara tuntas. I.2 Tujuan Dalam penulisan makalah ini, kami selaku penulis berniat untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang potensi-potensi dasar manusia dan tugas hidup manusia dalam Islam. Sehingga, rekan mahasiswa dapat memahami dengan baik hakekat manusia dalam islam.
  • 5. 4 BAB II II. PEMBAHASAN II.1 Potensi-Potensi Dasar Manusia dalam Islam Allah menciptakan manusia dengan memberikan kelebihan dan keutamaan yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya. Kelebihan dan keutamaan itu berupa potensi dasar yang disertakan Allah atasnya, baik potensi internal (yang terdapat dalam dirinya) dan potensi eksternal (potensi yang disertakan Allah untuk membimbingnya). Potensi ini adalah modal utama bagi manusia untuk melaksanakn tugas dan memikul tanggung jawabnya. Oleh karena itu, ia harus diolah dan didayagunakan dengan sebaik-baiknya, sehingga ia dapat menunaikan tugas dan tanggung jawab dengan sempurna. Potensi Internal Ialah potensi yang menyatu dalam diri manusia itu sendiri, terdiri dari : A. Potensi Fitriyah Ditinjau dari beberapa kamus dan pendapat tokoh islam, fitrah mempunyai makna sebagai berikut : 1. Fitrah berasal dari kata (fi‟il) fathara yang berarti “menjadikan” secara etimologi fitrah berarti kejadian asli, agama, ciptaan, sifat semula jadi, potensi dasar, dan kesucian1 2. Dalam kamus B. Arab Mahmud Yunus, fitrah diartikan sebagai agama, ciptaan, perangai, kejadian asli.2 3. Dalam kamus Munjid kata fitrah diartikan sebagai agama, sunnah, kejadian, tabi‟at. 4. Fitrah berarti Tuhur yaitu kesucian3 5. Menurut Ibn Al-Qayyim dan Ibn Katsir, karena fatir artinya menciptakan, maka fitrah artinya keadaan yang dihasilkan dari penciptaannya itu4 1 Hasan Langgulung, Pendidikan dan peradaban Islam, (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1985), h.215 Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penerjemah Penafsir Al-Qur’an, 1973) h.319 3 Al-Qurthubi, Ibn ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad Anshari, Tafsir Al-Qurthuby (Kairo: Dar al Sa’ab) Juz VI h.5106 4 Muis Said Iman, Pendidikan Partisipatif, (Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2004) h.17 2
  • 6. 5 Apabila di interpretasikan lebih lanjut, maka istilah fitrah sebagaimana dalam Ayat Alqur‟an, hadits ataupun pendapat adalah sebagai berikut : 1. Fitrah berarti agama, kejadian. Maksudnya adalah agama Islam ini bersesuaian dengan kejadian manusia. Karena manusia diciptakan untuk melaksanakan agama (beribadah). Hal ini berlandaskan dalil Al-qur‟an surat Adz-Dzariyat (51:56)5 2. Fitrah Allah untuk manusia merupakan potensi dan kreativitas yang dapat dibangun dan membangun, yang memilliki kemungkinan berkembang dan meningkat sehingga kemampuannya jauh melampaui kemampuan fisiknya. Maka diperlukan suatu usahausaha yang baik yaitu pendidikan yang dapat memelihara dan mengembangkan fitrah serta pendidikan yang dapat membersihkan jiwa manusia dari syirik, kesesatan dan kegelapan menuju ke arah hidup bahagia yang penuh optimis dan dinamis. Ini sesuai dengan Al-Qur‟an surat Ar-Rum ayat : 30 yaitu : Artinya : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui Pada ayat ini Allah telah menciptakan semua makhluknya berdasarkan fitrahnya. Surat ini telah menginspirasikan untuk mengembangkan dan mengaktualisasikan fitrah atau potensi itu dengan baik dan dan lurus.6 3. Fitrah berarti ikhlas. Maksudnya manusia lahir dengan berbagai sifat, salah satunya adalah kemurnian (keikhlasan) dalam menjalankan suatu aktivitas. Berkaitan dengan makna ini ada hadits yaitu : “Tiga perkara yang menjadikannya selamat adalah ikhlas, berupa fitrah Allah, di mana manusia diciptakan darinya, sholat berupa agama, dan taat berupa benteng penjagaan” (HR. Abu Hamdi dari Mu‟adz) 5 6 Al-Qur’an dan Tafsirnya h.571 Maimunah Hasan, Membangun Kreativitas Anak Secara Islami (Yogyakarta: Bintang cemerlang, 2002) h.9
  • 7. 6 Dengan demikian, pada diri manusia sudah melekat (menyatu) satu potensi kebenaran (dinnullah). Kalau ia gunakan potensinya ini, ia akan senantiasa berjalan di atas jalan yang lurus. Karena Allah telah membimbingnya semenjak dalam alam ruh (dalam kandungan). B. Potensi Ruhiyah Ialah potensi yang dilekatkan pada hati nurani untuk membedakan dan memilih jalan yang hak dan yang batil, jalan menuju ketaqwaan dan jalan menuju kedurhakaan. Bentuk dari roh ini sendiri pada hakikatnya tidak dapat dijelaskan. Potensi ini terdapat pada surat AsySyams ayat 7 yaitu : Artinya : dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya) kemudian Asy-Syams ayat 8 : Artinya : maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Di dalam hati setiap manusia telah tertanam potensi ini, yang dapat membedakan jalan kebaikan (kebenaran) dan jalan keburukan (kesalahan). Menurut Ibn „Asyur kata „nafs‟ pada surat Asy-Syams ayat ke-7 menunjukan nakiroh maka arti kata tersebut menunjukan nama jenis, yaitu mencakup jati diri seluruh manusia seperti arti kata „nafs‟ pada surat Alinfithar ayat 5 yaitu : Artinya : maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya. Menurut Al-Qurthubi sebagian ulama mengartikan „nafs‟ adalah nabi Adam namun sebagian lain mengartikan secara umum yaitu jati diri manusia itu sendiri. Pada arti kata „nafs‟ ini terdapat tiga unsur yaitu : a. Qolbu : menurut para ulama salaf adalah nafs yang terletak di jantung b. Domir : bagian yang samar, tersembunyi dan kasat mata c. Fuad : mempunyai manfaat dan fungsi
  • 8. 7 Dengan demikian, dalam potensi ruhaniyyah terdapat pertanggungjawaban atas diberinya manusia kekuatan pemikir yang mampu untuk memilih dan mengarahkan potensipotensi fitrah yang dapat berkembang di ladang kebaikan dan ladang keburukan ini. Karena itu, jiwa manusia bebas tetapi bertanggung jawab. Ia adalah kekuatan yang dibebani tugas, dan ia adalah karunia yang dibebani kewajiban. Demikianlah yang dikehendaki Allah secara garis besar terhadap manusia. Segala sesuatu yang sempurna dalam menjalankan peranannya, maka itu adalah implementasi kehendak Allah dan qadar-Nya yang umum.7 C. Potensi Aqliyah Potensi Aqliyah terdiri dari panca indera dan akal pikiran (sam‟a basar, fu‟ad). Dengan potensi ini, manusia dapat membuktikan dengan daya nalar dan ilmiah tentang „kekuasaan‟ Allah. Serta dengan potensi ini ia dapat mempelajari dan memahami dengan benar seluruh hal yang dapat bermanfaat baginya dan tentu harus diterima dan hal yang mudharat baginya tentu harus dihindarkan. Potensi Aliyah juga merupakan potensi yang dianugerahkan Allah kepada manusia agar manusia dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil dan mapu berargumen terhadap pemilihan yang dilakukan oleh potensi ruhiyah. Allah berfirman dalam Al-qur‟an surat An-Nahl ayat 78 : Artinya : Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. Ayat ini menurut Tafsir Al-maraghi mengandung penjelasan bahwa setelah Allah melahirkan kamu dari perut ibumu, maka Dia menjadikan kamu dapat mengetahui segala 7 Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an (Jakarta: Gema Insani, 2007) h.377-382
  • 9. 8 sesuatu yang sebelumnya tidak kamu ketahui. Dia telah memberikan kepadamu beberapa macam anugerah berikut ini : 1. Akal sebagai alat untuk memahami sesuatu, terutama dengan akal itu kamu dapat membedakan antara yang baik dan jelek, antara yang lurus dan yangs esat, antara yang benar dan yang salah 2. Pendengaran sebagai alat untuk mendengarkan suara, terutama dengan pendengaran itu kamu dapat memahami percakapan diantara kamu 3. Penglihatan sebagai alat untuk melihat segala sesuatu, terutama dengan penglihatan itu kamu dapat mengenal diantara kamu. 4. Perangkat hidup yang lain sehingga kamu dapat mengetahui jalan untuk mencari rizki dan materi lainnya yang kamu butuhkan, bahkan kamu dapat pula meilih mana yang terbaik bagi kamu dan meninggalkan mana yang jelek.8 Menurut An-Nawawi menafsirkan ayat ini bahwa agar kamu (manusia) menggunakan ni‟mat Allah itu untuk kebaikan, maka kamu mendengar akan nasihat Allah, dan melihat tanda-tanda Allah dan memikirkan kebesaran Allah.9 Selain ayat tersebut, surat Al-Israa ayat 36 juga menjelaskan tentang potensi ini yang berbunyi : Artinya : Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. Pada ayat ini Qatadah mengatakan bahwa makna yang dimaksud adalah janganlah kamu mengatakan bahwa kamu melihatnya, padahal kamu tidak melihatnya, atau kamu katakana kamu mendengarnya padahal kamu tidak mendengrnya, atau kamu katakana bahwa kamu mengetahuinya, padahal kamu tidak mengetahui. Karena sesungguhnya Allah kelak akan meminta pertanggungjawaban darimu tentang hal itu secara keseluruhan, sehingga inti dari ayat ini adalah bagaimana kita mengolah potensi yang terdapat dalam ayat ini dengan 8 9 Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi h.118 jilid 5 Syaikh Muhammad An-nawawi, Tafsir An-Nawawi h.461 jilid 1
  • 10. 9 sebaik-baiknya karena ketika kita menggunakan potensi ini, maka cara kita menggunakannya akan mendapat pertanggungjawaban kelak di akhirat dan Allah melarang sesuatu tanpa pengetahuan, bahkan melarang pula mengatakan sesuatu dengan dzan (dugaan) yang bersumber dari sangkaan atau ilusi. Termasuk dalam surat Al-„Araf tentang potensi Aqliyah ini pada ayat 179 yang berbunyi : Artinya: “Dan sesungguhnya telah kami sediakan untuk mereka jahannam banyak dari jin dan manusia; mereka mempunyai hati (tetapi) tidak mereka gunakan memahami, dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak mereka gunakan untuk melihat dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak mereka gunakan untuk mendengar, mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai”. Dalam ayat ini, kekuatan dan kesuksesan bersumber dari-Nya, aktifitas akal dan juga ruh berada di tangan-Nya. Oleh karena itu, manusia tidak dapat menyembunyikan sesuatu apa pun dari-Nya, melainkan dalam setiap kesempatan dan keadaan senantiasa memohon taufik dari-Nya dan menjadikan Allah sebagai penolong-Nya dan tidak mencari penolong selainNya.10 Sehingga dapat kita ketahui bahwa akal merupakan potensi yang besar yang iberikan oleh Allah sehingga kita bisa melaksanakan tugas sebagai ciptan-Nya dengan baik dan benar. D. Potensi Jasmaniyyah Ialah kemampuan tubuh manusia yang telah Allah ciptakan dengan sempurna, baik rupa, kekuatan dan kemampuan. Sebagaimana pada firman Allah Al-Qur‟an surat At-Tin ayat 4 yaitu Artinya : sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya 10 Muhsin Qira’ati, Tafsir Nur hal.313 jil. 4
  • 11. 10 Kata insan dijumpai dalam Al-Qur‟an sebanyak 65 kali. Penekanan kata insan ini adalah lebih mengacu pada peningkatan manusia ke derajat yang dapat memberinya potensi dan kemampuan untuk memangku jabatan khalifah dan meikul tanggung jawab dan amanat manusia di muka bumi, karena sebagai khalifah manusia dibekali dengan berbagai potensi seperti ilmu, persepsi, akal dan nurani. Dengan potensi-potensi ini manusia siap dan mampu menghadapi segala permasalahan sekaligus mengantisipasinya. Di samping itu, manusia juga dapat mengaktualisasikan dirinya sebagai makhluk yang mulia dan memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari makhluk lain dengan berbekal potensi-potensi tadi.11 Dan dalam surat ini manusia diberikan oleh Allah potensi jasmani. Potensi ini juga terdapat disurat At-Taghabun ayat 3 yang berbunyi : Artinya: Dia menciptakan langit dan bumi dengan hak, Dia membentuk rupamu dan membaguskan rupamu itu, dan hanya kepada-Nya-lah kembali(mu). Oleh karena itu, patutnya manusia sebagai ciptaan Allah yang sangat mulia dan banyak keutamaan, agar mempergunakan potensi jasmaninya dengan baik sebagai modal utama untuk menjalankan tugas sebagai ciptan-Nya. Potensi Eksternal Disamping potensi internal yang melekat erat pada diri manusia, Allah juga sertakan potensi eksternal sebagai pengarah dan pembimbing potensi-potensi internal itu agar berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Tanpa arahan potensi eksternal ini, maka potensi internal tidak akan membuahkan hasil yang diharapkan. Potensi eksternal ini dibagi menjadi dua yaitu : A. Potensi Huda Ialah petunjuk Allah yang mempertegas nilai kebenaran yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya untuk membimbing umat manusia ke jalan yang lurus. Allah SWT berfirman pada surat Al-Insaan ayat 3 : 11 Marzuki, Dosen FIS UNY, Makalah tentang Konsep manusia dan agama, h.13
  • 12. 11 Artinya : Sesungguhnya Kami telah menunjukinnnya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. Ayat ini menerangkan bahwa sesungguhnya Allah, telah menunjuki ke jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. Maka dengan bimbingan wahyu-Nya yang disampaikan lewat Nabi Muhammad SAW manusia telah ditunjuki jalan yang lurus dan mana pula jalan yang sesat Allah. Dari perkataan "Sabil" yang terdapat dalam ayat ini tergambar keinginan Allah terhadap manusia yakni membimbing manusia kepada hidayah-Nya sebab Sabil lebih tepat diartikan sebagai petunjuk" dari pada jalan. Hidayah itu berupa dalil-dalil keesaan Allah dan kebangkitan Rasul yang disebutkan dalam kitab suci. Sabil (hidayah) itu dapat Sabil (hidayah) itu dapat ditangkap dengan pendengaran, penglihatan dan pikiran. Tuhan hendak menunjukkan kepada manusia bukti-bukti kewujudan Nya melalui penglihatan terhadap diri (ciptaan) manusia sendiri dan melalui penglihatan terhadap alam semesta, sehingga pikirannya merasa puas untuk mengimani-Nya. Akan tetapi memang sudah merupakan kenyataan bahwa terhadap pemberian Allah itu, sebagian manusia ada yang bersyukur tetapi ada pula yang ingkar (kafir). Tegasnya ada yang menjadi mukmin yang berbahagia, ada pula yang kafir. Dengan sabil itu pula manusia bebas menentukan pilihannya.12 Dan maksud dari ayat ini juga telah dijelaskan bahwasanya kami (Allah) telah menjelaskan kepadanya (manusia) jalan hidayah dengan menutus rasul-rasul kepada manusia (ada yang bersyukur) yaitu menjadi orang mukmin (dan ada pula yang kafir) kedua lafal ini, yakni Syakiraan dan Kafuuran merupakan haal dari maf‟ul; yakni Kami telah menjelaskan jalan hidayah kepadanya, baik sewaktu ia dalam keadaan bersyukur atau pun sewaktu ia kafir sesuai dengan kepastian Kami. Sehingga ketika manusia tidak menggunakan potensi eksternal ini yaitu, hidayah dengan baik, maka ia tidak dapat menjalankan tugas sebagai ciptan-Nya dengan baik. Potensi eksternal ini juga terdapat dalam firman Allah surat Al-Baqarah ayat 38 : 12 Al-qur’an dan tafsir Depag Indonesia
  • 13. 12 Artinya : “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjukKu kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. Pada ayat ini dijelaskan dalam konteks potensi eksternal yaitu, ketika seseorang mengikuti dan menjalankan yaiu petunjuk Allah maka bagi orang tersebut niscaya tidak ada kekhawatiran ataupun kesedihan hati. A. Potensi Alam Alam semesta adalah merupakan potensi eksternal kedua untuk membimbing umat manusia melaksanakan fungsinya. Setiap sisi alam semesta ini merupakan ayat-ayat Allah yang dengannya manusia dapat mencapai kebenaran. Hal ini terdapat dalam firman Allah surat Al-Imraan ayat 190 dan 191 yang berbunyi : Artinya : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Pada ayat ini ditafsirkan bahwa memikirkan penciptaan Allah terhadap makhluk-Nya, merenungkan kitab alam-alam semesta yang terbuka, dan merenungkan kekuasaan Allah yang menciptakan dan menggerakan alam semesta ini, merupakan ibadah Allah kepada diantara pokok-pokok ibadah, dan merupakan zikir kepada Allah diantara dzikir-dzikir pokok. Seandainya ilmu-ilmu kealaman yang membicarakan desain alam semesta, undanganundangan dan sunnahnya, kekuatan dan kandungannya, rahasia-rahasianya dan potensipotensinya berhubungan dengan dzikir dan mengingat Pencipta ala mini, dari merasakan keagungan-Nya dan karunia-Nya niscaya seluruh aktifitas kelimuannya itu akan berubah
  • 14. 13 menajdi ibadah kepada Sang Pencipta alam semesta ini, akan luruslah kehidupan ini, dan akan terarah kepada Allah Ta‟ala13 Pada ayat ini juga ditafsirkan bagaimana Allah Ta‟ala tidak menampakkan hakikat alam yang mengesankan keculai pada hati yang selalu berdzikir dan beribadah. Mereka yang selalu ingat kepada Allah pada waktu berdiri, duduk dan berbaring, sembari memikirkan penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam maka, mereka adalah yang terbuka pandangannya terhadap penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang. Dan yang seperti itulah, ketika mereka menggunakan potensi internal (akal dan hati) yang seimbang dengan potensi eksternal yaitu potensi Alam. Ayat lain yang mendukung potensi eksternal ini yaitu surat Al-baqarah ayat 21-22 : Artinya : Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orangorang yang sebelummu, agar kamu bertakwa (21) Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui(22) Di dalam ayat tersebut dijelaskan bagaimana Allah memerintahkan beribadah pada hambaNya, dengan menggambarkan latar belakang, seputar penciptaan, fungsi bumi dan langit, kemakmuran akibat yang ditimbulkan bumi dan langit, dan rizki dibalik penciptaan itu. Namun, manusia terhalangi pandangannya sehingga merasa bahwa langit dan bumi seisinya itulah yang bisa diandalkan sebagai tempat berpijak, tempat bergantung dan sumber rizki. Padahal semua itu dari Allah swt. Artinya, Allah Ta'ala-lah yang mengerjakan semua itu, menciptakan semua itu dan memanage semuanya. Berarti tidak benar beribadah, kecuali hanya untukNya dan kepadaNya. Allah-lah yang berhak disembah, sehingga manusia hanya menyembah kepadaNya. Ibadah hanya sah bagi hamba, dan tertuju kepada Pencipta hamba. Karena itu sang hamba harus mengenal Penciptanya, dimana, Allah bertajalli melalui ciptaanNya. Tajallinya Allah 13 Sayyid Authub, Tafsir Fi Zhilalil-Qur’an, (Jakarta, Gema Insani 2006) h. 633
  • 15. 14 bukan penyatuan WujudNya dengan wujud makhlukNya yang disebut dengan pantheisme. Tetapi, Tajallinya Allah adalah penampakan yang disaksikan oleh Jiwa Terdalam dari para hambaNya, dan karena itu, seperti dalam hadits, "Siapa yang mengenal jiwanya maka ia mengenal Tuhannya." Secara lebih jelas, keistimewaan dan kelebihan manusia, diantara-nya berbentuk daya dan bakat sebagai potensi yang memiliki peluang begitu besar untuk dikembangkan. Dalam kaitan dengan pertumbuhan fisiknya, manusia dilengkapi dengan potensi berupa kekuatan fisik, fungsi organ tubuh dan panca indera. Kemudian dari aspek mental, manusia dilengkapi dengan potensi akal, bakat, fantasi maupun gagasan. Potensi ini dapat mengantarkan manusia memiliki peluang untuk bisa menguasai serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan sekaligus menempatkannya sebagai makhluk yang berbudaya. Di luar itu manusia juga dilengkapi unsur lain, yaitu kalbu. Dengan kalbunya ini terbuka kemungkinan manusia untuk menjadi dirinya sebagai makhluk bermoral, merasakan keindahan, kenikmatan beriman dan kehadiran ilahi secara spiritual. Sebagai makhluk ciptaan, manusia pada dasarnya telah dilengkapi dengan perangkat yang dibutuhkan untuk menopang tugas tugas pengabdiannya. Sudah cukup persyaratan yang ia miliki, sehingga manusia merupakan makhluk yang „layak mengabdi‟ Perpaduan daya daya tersebut membentuk potensi, yang menjadikan manusia mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, serta mampu meghadapi tantangan yang mengancam kehidupannya. Dengan menggunakan akalnya, manusia dapat berkreasi membuat berbagai peralatan guna mempertahankan diri dari gangguan musuh dan alam lingkungannya. Selain itu manusia juga mampu berinovasi dan berkarya dalam meningkatkan kualitas hiduppnya. Manusiapun dapat mempertahankan kelangsuangan generasinya dari kepunahan, melalui kemampuan nalar dan kreatifitasnya Dr. Abdul Mujib, M.Ag menuturkan potensi-potensi dasar manusia adalah sebagai berikut : 1. Al-Fithrah Fitrah merupakan citra asli manusia yang berpotensi baik atau buruk di mana aktualisasinya tergantung pilihannya. Fitrah baik merupakan citra asli primer sedangkan yang buruk sekunder. Sekalipun potensi fitriyah manusia itu merupakan gambaran asli yang suci,
  • 16. 15 bersih, sehat dan baik namun dalam aktualisasi dapat mengaktual dalam bentuk perbuatan buruk, sebab fitrah manusia itu dinamis yang aktualisasinya sangat tergantung keinginan manusia dan lingkungan yang memengaruhinya. 2. Struktur Manusia Struktur manusia terdiri dari enam yaitu jasmani, rohani, nafsani, kalbu, akal, hawa nafsu. I. Ciri-ciri jasmani yaitu : a. Bersifat materi yang tercipta karena adanya proses (tahap) b. Adanya bentuk berupa kadar dan bisa disifati c. Ekstetensinnya menjadi wadah roh d. Terikat oleh ruang dan waktu e. Hanya mampu menangkap yang kongkret bukan yang abstrak f. Substansinya temporer dan hancur setelah mati II. Ciri-ciri rohani yaitu : a. Adanya di alam arwah (immateri) b. Tidak meiliki bentuk, kadar dan tidak bisa disifati c. Ada energy rohaniah yang disebut al-amanah d. Ekstitensi energi rohaniah tertuju pada ibadah e. Tidak terikat oleh ruang dan waktu f. Dapat menangkap beberapa bentuk konkret dan abstrak g. Substansinya abadi tanpa kematian h. Tidak dapat dibagi karena merupakan satu keutuhan III. Ciri-ciri nafsani yaitu : a. Adanya di alam jasad dan rohani terkadang tercipta dengan proses bisa juga tidak b. Antara berbentuk atau tidak c. Memiliki energy rohaniyah dan jismiyyah d. Ekstitensi energy nafsani tergantung ibadah dan gizi (makanan) e. Ekstitensi realisasi atau aktualisasi diri f. Antara terikat atau tidak oleh ruang dan waktu g. Dapat menangkap antara yang konkret dan abstrak h. Antara dapat dibagi-bagi atau tidak
  • 17. 16 IV. Ciri-ciri kalbu yaitu : a. Secara jasmaniyyah berkedudukan di jantung b. Daya yang dominan adalah emosi (rasa) a c. Bersifat Dzawqiyyah (cita rasa) dan hadsiyah (intuitif) sifatnya spiritual d. Mengikuti natur roh yang ketuhanan atau ilahiyyah e. Berkedudukan pada alam super sadar atau dasar manusia f. Intinya religiositas, spiritualitas, dan transedensi g. Apabila mendominasi jiwa manusia maka akan menimbulkan kepribadian yang tenang (Nafs Mutma‟innah) V. Ciri-ciri akal yaitu : a. Secara Jasmaniyyah berkedudukan di otak (al-dimagh) b. Daya yang dominan adalah kognisi (cipta) sehingga adanya intelektual c. Mengikuti antara natur roh dan jasad d. Potensinya bersifat istidhlaliyyah 9argumentatif) dan aqliyah (logis) yang bersifat rasional e. Berkedudukan pada alam kesadaran manusia f. Intinya isme-isme seperti : humanism, kapitalisme, dan lain-lain. g. Apabila mendominasi jiwa maka akan terwujud jiwa yang labil (Nafs Al-lawwamah) VI. Ciri-ciri hawa nafsu yaitu : a. Secara jasmaniyyah terdapat di perut dan alat kelamin b. Daya yang dominan adalah konarsi (karsa) atau psikomotorik c. Mengikuti natur ajsad yang hayawaniyyah baik jinak maupun buas (bahimiyyah dan subu‟iyyah) d. Bersifat hisiyyah (indrawi) yang sifatnya empiris e. Kedudukannya terdapat pada alam pra/ bawah sadar manusia f. Intinya adalah produktivitas, kreativitas dan komsumtif g. Apabila mendominasi jiwa maka akan terwujud nafs al-ammarah 3. Al-Hayyah (Vitality) Yaitu merupakan energi, daya, tenaga atau vitalitas manusia yang karenanya manusia dapat bertahan hidup. Al-hayyah dibagi menjadi dua yaittu, nayawa (al-hayya) dan fisik (atthaqat atau al-jismiyyah) sehingga adanya fungsi organ.
  • 18. 17 4. Al-Khuluq Akhlaq yaitu kondisi batiniah (dalam) bukan kondisi lahiriah (luar) individu yang mencakup al-thab‟u dan a-sajiyyah. 5. Al-Thab‟u (Tabiat) Citra batin individu yang melekat (al-sukun). Menurut Ikhwan Al-Shafa tabiat adalah daya dari daya nafs kuliyyah yang menggerakan jasad manusia.14 6. Al-Sajiyyah (bakat) Yaitu kebiasaan („aadah) individu yang berasal dari hasil integrasi antara karakter individu (fardiyyah) dengan aktifitas-aktifitas yang diusahakan (Al-Muktasab). Dalam terminology psikologi bakat yaitu akapasitas kemampuan yang bersifat potensial. Bakat ini bersifat karakter (tersembunyi dan bisa berkembang) sepanjang hidup manusia dan dapat diaktualisasikan potensinya. 7. Al-Sifat (sifat-sifat) Ciri khas individu yang relative menetap secara terus-menerus dan konsekuen yang diungkapkan dalam suatu deretan keadaan sifat-sifat totalitas yaitu deferensiasi, regulasi dan integrasi 8. Al-„Amal (perilaku) Tingkah laku lahiriah individu yang tergambar dalam bentuk perbuatan nyata. Potensi Negatif Manusia Pada realitanya, tidak semua potensi manusia hanya bernilai positif seperti yang kami jealaskan sebelumnya. Manusia pun mempunyai potensi yang negatif. Hal ini sesuai dengan ayat al qur‟an yaitu seperti : a. Melampaui batas QS (Yunus : 12) b. Zalim (bengis, kejam, dll) QS (Ibrahim : 34) c. Tergesa-gesa QS (Al-Isra‟ : 11) d. Suka membantah QS (Al-Kahfi : 54) 14 Ikhwan Al-Shafa, Rasail Ikhwan Al-Shafa wa Kalam Al-Wafa (Beirut Dar Sadir 1957) Juz II h.63
  • 19. 18 e. Berkeluh kesah dan kikir QS (Al-ma‟arij : 19-21) f. Ingkar dan tidak berterima kasih QS (Al-„Adiyat :6) II.2 Tugas Hidup Manusia dalam Islam Manusia dalam pandangan agama Musa Asy‟ari (Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam Al-qur‟an) menunjukkan dengan jelas tentang betapa agama telah memberikan potret yang utuh, apik dan komprehensif tentang sosok manusia melalui tiga istilah yang ada: 1. Insan dari kata „anasa‟ yang mempunyai arti melihat,mengetahui dan meminta izin, mengandung pengertian adanya kaitan kemamampuan penalaran. Kata „insan‟ menunjuk pada suatu pengertian adanya kaitan dengan sikap yang lahir dari adanya kesadaran penalaran. Manusia pada dasarnya jinak, dapat menyesuaikan dengan realitas hidup dan llingkungan yang ada. Sejalan dengan pengertian ini, tugas manusia yaitu : a. Untuk mengatakan bahwa manusia menerima pelajaran dari tuhan tentang apa yang tidak diketahuinya QS (Al-Alaq 1-5) b. Manusia mempunyai musuh nyata yang nyata yaitu setan QS (12:5) c. Manusia sebagai makhluk yang memikul amanah dari tuhan QS (33:72) d. Makhluk yang harus pandai menggunakan waktu untuk beriman dan beramal baik QS (1-3 e. Sebagai makhluk yang hanya akan mendapatkan bagian dari apa yang dia kerjakan (53:39) f. Punya keterikatan dengan moral dan sopan santun 2. Penggunaan kata „basyar‟ yaitu manusia seperti apa yang tampak pada lahiriyyahnya, mempunyai bangunan tubuh yang sama, makan dan minum dari bahan yang sama, semakin bertambah usianya, kondisi tubuhnya akan menurun, menjadi tua dan akhirnya ajal pun menjemputnya, pada kata „basyar‟ ini disebutkan 36 kali di Alqur‟an. 3. An-nas yaitu untuk menyatakan adanya sekelompok orang atau masyarakat yang mempunyai berbagai kegiatan untuk mengembangkan kehidupannya yaitu : a. Melakukan kegiatan peternakan QS (28:23) b. Kemampuan untuk mengelola besi atau logam QS (52:25) c. Kemampuan untuk pelayaran dan mengadakan perubahan social QS (2:164)
  • 20. 19 d. Kepatuhan dalam beribadah QS (2:21)15 Al-Ghazali memandang manusia sebagai proses hidup yang bertugas dan bertujuan yaitu bekerja, beramal shaleh, mengabdikan diri dalam mengelola bumi untuk memperoleh kebahagiaanabadi sejak di dunia hingga di akhirat. Pada aspek keduniaan manusia berperan sebagai khalifah di bumi dan aspek akhirat manusia sebagai „hamba‟ atau „al-„abdu‟ Allah Ta‟ala. Seperti yang beliau katakna tentang tugas manusia yaitu “Segala tujuan manusia itu terkumpul dalam agama dan dunnia. Dan agama tidak terorganisasikan selain dengan terorganisasinya dunia. Dunia adalah alat yang menyampaikan kepaada Allah bagi orang yang mau memperbuatnya menjadi tempat tetap dan tanah air abadi.16 Sehingga dapat kita ketahui bahwa manusia mempunyai dua peran sebagai tujuan diciptakan oleh Allah Ta‟ala yaitu : a. Manusia sebagai „Abd Allah (Hamba Allah) Manusia dalam kehidupannya di muka bumi ini tidak bisa terlepas dari kekuasaan yang transdental (Alaah). Hal ini disebabkan, karena manusia adalah makhluk yang memiliki potensi untuk beragama sesuai dengan fitrahnya. Allah Ta‟ala memperkenalkan dan menunjukkan kepada manusia bagaimana tata cara yang harus dilakukannya dalam melakukan peribadatan, sebagai bukti kepatuhan kepada Allah Ta‟ala melalui perantara Al-qur‟an. Pada aspek ini manusia diharapkan mampu mengenal Khaliqnya lewat pengabdian yang ditunjukannya dalam semua spek kehidupan. Dalil yang mendasari pada tugas manusia sebagai hamba Allah terdapat di QS (51:56) b. Manusia sebagai makhluk yang mulia, menempati posisi yang istimewa yang diberikan Allah di muka bumi. Hal ini karena manusia diciptakan dalam “citra Allah”, sehingga selayaknya manusia disebut sebagai “mahkota ciptaan-Nya” atau sebagai “khalifah Allah di bumi” yang mewakili Pencipta dalam ciptan-Nya. Hal ini sesuai dengan firman Allah QS (2:30) Bila kita memperhatikan ayat tersebut, maka akan terlihat bahwa manusia bukan sekedar hiasan, akan tetapi, jauh dari itu manusia diberi kekuasaan untuk memelihara ciptaan-Nya sehingga dapat mengolah dan memakmurkan alam ini 15 16 H. Abaddin Nata, Paradigma Pendidikan Islam Drs. Abidin Ibnu Kusn, Pemikiran Al-Ghazali Tentang pendidikan
  • 21. 20 dalam rangka beribadah kepada Allah, dengan begitu manusia terlihat berbeda dengan makhluk lainnya dalam kedudukan dan tanggung jawab. Secara umum, para filosuf Islam sepakat dalam mengartikan kata khalifah dengan pengertian mengganti. Hanya saja mereka berbeda pendapat dalam mendefinisikan pengertian pengganti tersebut. BAB III PENUTUP Kesimpulan : Potensi-Potensi Dasar Manusia dalam Islam dibagi menjadi dua yaitu potensi internal yang meliputi fitriyah, ruhiyah, aqliyah dan jasmaniyah dan potensi eksternal meliputi potensi huda (petunjuk) dan potensi alam. Potensi terbagi dua yaitu : a. Potensi positif yang meliputi : 1. Bentuk manusia yang terdiri dari jasmaniyyah dan jasadiyyah, kedua potensi ini terbentuk karena adanya proses 2. Fithriyyah yang terdiri dari diniyyah (agama) dan khairiyyah (kebaikan) 3. „Aqliyyah yang terdiri dari fuadiyyah dan qolbiyyah 4. Ruhiyyah b. Potensi Negatif yang meliputi : 1. Melampaui batas 2. Zalim (bengis, kejam, dll) 3. Tergesa-gesa 4. Dan lain-lain Peran dan tugas utama manusia di muka bumi dibagi menjadi dua : 1. Manusia sebagai „aabid yaitu hamba Allah yang memiliki tugas mengabdi kepada Allah dan bertanggung jawab di muka bumi 2. Manusia sebagai khalifah yaitu pemimpin di muka bumi. Manusia dilahirkan sebagai khalifah yang harus mampu mengubah dunia menjadi alam „Abdiyah yang terang benderang
  • 22. 21 Urgensi Pendidikan Islam dalam menangani potensi-potensi dasar manusia dan tugas manusia dalam Islam adalah dengan adanya pendidikan islam manusia dapat mengolah atau mempergunakan potensi dasarnya dengan baik sehingga dapat menjalankan tugas atau fungsinya sebagai hamba Allah dan Khalifah di bumi dengan baik. Ketika manusia mempergunakkan potensi dasarnya tanpa pendidikan islam maka manusia tidak dapat menjalankan tugas atau fungsinya dengan baik dan akan terpacu kepada perbuatan negatif. Agama islam menggambarkan bahwa kehidupan manusia itu diartikan untuk mengembangkan potensinya terutama tiga potensi yang dimilikinnya yaitu potensi fisik biologisnya, intelektual dan rohaninya, sosiologisnya. Ketika potensi ini harus dikembangkan secara harmonis dan seimbang.
  • 23. 22 DAFTAR PUSTAKA Drs. Abidin Ibnu Rusn, Pemikiran Al-Ghazali tentang pendidikan H. Abaddin Nata, Paradigma Pendidikan Islam Dr. Abdul Mujib, M.Ag dan Dr. Jusuf Mudzakir, M.Si, Ilmu Pendidikan Islam Dr. Abdul Mujib. Kepribadian dalam Psikologi islam (Jakarta: Rajawali Press, 2006) h. 43-48 Prof.Dr. H.Jalaluddin, Teologi Pendidikan Dr. Samsul Nizar, M.A, Dasar-Dasar Pemikiran Pendidikan Islam Al-Qur‟an dan terjemahannya (Depag RI)