Inovasi Kurikulum

27,124
-1

Published on

1 Comment
3 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total Views
27,124
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
571
Comments
1
Likes
3
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Inovasi Kurikulum

  1. 1. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan pendidikan akan seiring sejalan dengan dinamika masyarakatnya, karenaciri masyarakat selalu berkembang. Terdapat kelompok masyarakat yang berkembang sangatcepat, tetapi ada pula yang lambat. Hal ini karena pengaruh dan perkembangan teknologi,komunikasi dan telekomunikasi. Dalam kondisi seperti ini perubahan-perubahan dimasyarakat terjadi pada semua aspek kehidupan. Efek perubahan di masyarakat akanberimbas pada setiap individu warga masyarakat, pengetahuan, kecakapan, sikap, kebiasaanbahkan pola-pola kehidupan. Mobilitas yang tinggi mempercepat segala aspek kehidupan dan pemerataanpembangunan antara pusat dan daerah. Komunikasi yang sangat cepat, lancar, dan akuratmemudahkan seseorang memperoleh informasi yang sangat berharga bagi kepentingan bisnis,pemerintahan, pendidikan dan hobi. Produk yang sangat nampak terjadi proses pembaruan,pertentangan atau konflik antara sektor budaya, sosial dan agama. Melalui proses akulturasi ,pertentangan, konflik kepentingan seharusnya dapat dikurangi secara perlahan. Inovasi sebagai salah satu bentuk perubahan yang berkembang di masyarakat, inovasiterkait dengan pengambilan keputusan yang diambil, baik menerima bahkan menolak hasildari inovasi. Inovasi diartikan sebagai penemuan dimaknai sebagai sesuatu yang baru bagiseseorang atau sekelompok orang baik berupa discovery maupun invensi untuk mencapaitujuan atau untuk memecahkan masalah tertentu. Dalam inovasi tercakup discovery daninvensi. Inovasi dapat menjadi positif atau negatif apabila inovasi positif didefinisikan sebagaiproses membuat perubahan terhadap sesuatu yang telah mapan dengan memperkenalkansesuatu yang baru yang memberikan nilai tambah bagi pelanggan. Inovasi negatifmenyebabkan pelanggan enggan untuk memakai produk tersebut karena tidak memiliki nilaitambah, merusak cita rasa dan kepercayaan pelanggan hilang. Proses Inovasi berkaitandengan bagaimana suatu inovasi itu terjadi, di sini ada unsure keputusan yang mendasarinya,oleh karena itu proses inovasi dapat dimaknai sebagai proses keputusan Inovasi (Innovationdecision Process). Kita selalu menggunakan kurikulum dalam kehidupan sehari-hari. Setiap menit kitamempunyai tugas-tugas yang harus dikerjakan dan diselesaikan. Tugas itu selalu dilakukandengan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dengan harapan hasilnya memuaskan. Dalam konteks global, khususnya dalam pengembangan kurikulum secara nasional, antarnegara, kurikulum nasional yang akan dianut, kondisi sosial ekonomi, tingkat pendidikan,budaya dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga inovasi kurikulum adalah suatu gagasan atau praktek kurikulum baru denganmengadopsi bagian-bagian yang potensial dari kurikulum tersebut dengan tujuan untukmemecahkan masalah atau mencapai tujuan tertentu. 1
  2. 2. Intinya dalam inovasi kurikulum dilakukan apabila guru benar-benar menyakini bahwapembaharuan itu memang harus dilakukan dan diperlukan. Dalam menyikapi suatuperubahan, setiap sekolah dituntut berperan dalam pembaharuan tersebut sampai pada tahapimplementasinya dan menetapkan perubahan itu sesuai dengan perkembangan sekolahtersebut. Sering terjadi sekolah menerima suatu perubahan tanpa memperhitungkan mengapamereka mengadopsinya, apa dampak perubahan itu bagi guru, siswa, dan masyarakat luas.Kemudian, sekolah yang dijadikan ajang pembaharuan itu digembor-gemborkan sebagaisuatu model yang akan menjadi contoh bagi sekolah lain. B. Rumusan Masalah 1. Merumuskan pengertian inovasi kurikulum. 2. Mendefinisikan karakteristik dalam inovasi kurikulum. 3. Merumuskan substansi perubahan kurikulum. 4. Menguraikan pengembangan kurikulum berbasis masyarakat. C. Tujuan 1. Dapat merumuskan pengertian inovasi kurikulum 2. Dapat mendefinisikan karakteristik dalam inovasi kurikulum 3. Dapat menguraikan pengembangan inovasi kurikulum Dalam penyusunan makalah ini diharapkan dapat membantu dan mempermudahpengembangan inovasi kurikulum yang sesuai dengan substansi yang ada. Adapun metodepenulisan dalam pembuatan makalah ini adalah metode deskiptif, dimana penulismemadukan dari beberapa rekomendasi serta literatur baik melalui situs internet maupunkajian pustaka. 2
  3. 3. BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Inovasi Kurikulum Inovasi dilakukan apabila guru benar-benar menyakini bahwa pembaharuan itu memangharus dilakukan dan diperlukan. Berbicara mengenai inovasi (pembaharuan) mengingatkankita pada istilah invention dan discovery. Invention adalah penemuan sesuatu yang benar-benar baru artinya hasil karya manuasia. Discovery adalah penemuan sesuatu (benda yangsebenarnya telah ada sebelumnya). Dengan demikian, inovasi dapat diartikan usaha menemukan benda yang baru denganjalan melakukan kegiatan (usaha) invention dan discovery. Dalam kaitan ini Ibrahim (1989)mengatakan bahwa inovasi adalah penemuan yang dapat berupa sesuatu ide, barang, kejadian,metode yang diamati sebagai sesuatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang(masyarakat). Inovasi adalah an idea, practice or object thatperceived as new by an individualor other unit of adoption. Menurut Prof. Azis Inovasi berarti mengintrodusir suatu gagasanmaupun teknologi baru, inovasi merupakan genus dari change yang berarti perubahan.Inovasi dapat berupa ide, proses dan produk dalam berbagai bidang. Inovasi yang berbentuk metode dapat berdampak pada perbaikan, meningkatkan kualitaspendidikan serta sebagai alat atau cara baru dalam memecahkan masalah yang dihadapidalam kegiatan pendidikan. Dengan demikian metode baru atau cara baru dalammelaksanakan metode yang ada seperti dalam proses pembelajaran dapat menjadi suatuupaya meningkatkan efektivitas pembelajaran. Sementara itu inovasi dalam teknologi juga perlu diperhatikan mengingat banyak hasil-hasil teknologi yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, sepertipenggunaannya untuk teknologi pembelajaran, prosedur supervise serta pengelolaaninformasi pendidikan yang dapat meningkatkan efisiensi pelaksanaan pendidikan. Inovasidapat berupa hasil dari invention atau discovery. Inovasi dilakukan dengan tujuan tertentuatau untuk memecahkan masalah (Subandiyah, 1992:80). Sehingga inovasi kurikulum adalah suatu gagasan atau praktek kurikulum baru denganmengadopsi bagian-bagian yang potensial dari kurikulum tersebut dengan tujuan untukmemecahkan masalah atau mencapai tujuan tertentu. Inovasi sendiri terkait dengan pengambilan keputusan yang diambil, baik menerimabahkan menolak hasil dari inovasi. Ibrahim (1988: 71-73) menyebutkan bahwa tipekeputusan inovasi pendidikan termasuk didalamnya inovasi kurikulum dapat dibedakanmenjadi empat, yaitu: 1. Keputusan inovasi pendidikan opsional, yang mana pemilihan menerima atau menolak inovasi berdasarkan keputusan yang ditentukan oleh individu secara mandiri tanpa tergantung atau terpengaruh dorongan anggota sosial lain; 3
  4. 4. 2. Keputusan inovasi pendidikan kolektif, yang mana pemilihan menerima dan menolak inovasi berdasarkan keputusan yang dibuat secara bersama atas kesepakatan antar anggota sistem sosial; 3. Keputusan inovasi pendidikan otoritas, yang mana pemilihan untuk menerima dan menolak inovasi yang dibuat oleh seseorang atau sekelompok orang yang mempunyai kedudukan, status, wewenang dan kemapuan yang lebih tinggi daripada anggota lain dalam sistem sosial; 4. Keputusan inovasi pendidikan kontingen, yang mana pemilihan untuk menerima atau menolak keputusan inovasi pendidikan baru dapat dilakukan setelah ada keputusan yang mendahuluinya. Inovasi Kurikulum adalah suatu pembaharuan atau gagasan yang diharapkanmembawa dampak terhadap kurikulum itu sendiri. kurikulum hanyalah alat atau instrumenuntuk mencapai tujuan pendidikan dan pembelajaran yang ditetapkan. Kurikulum bukansebagai tujuan akhir. Seiring dengan perubahan masyarakat dan nilai-nilai budaya, sertaperubahan kondisi dan perkembangan peserta didik, maka kurikulum juga mengalamiperubahan. Perubahan tersebut adalah  Dari sisi bentuk dan organisasi inovasinya berupa perubahan dari kurikulum 1968 menjadi kurikulum 1975 dan dan kurikulum 1975 menjadi kurikulum 1975 yang disempurnakan dan dengan lahirnya Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 tentang sistem pendidikan riasional maka terjadilah perubahan kurikulum pada tahun 1994.  Dan sisi psikologi timbul masalah berkenaan dengan pendekatan belajar-mengajar yang bau, maka muncul berbagai inovasi seperti keterampilan proses, CBSA dan belajar tuntas.  Dari sisi sosiologis timbul masaah berkenaan dengan tuntutan masyarakat modern yang semakin tinggi dan kompleks sehingga muncu1 inovasi berupa masuknya maka peajaran keterampi1an, adanyal kerja dan gagasan muatan lokal.  Dari sisi penyampaian pengajaran, inovasi berupa sistem modul paket untuk pendidikan luar sekolah dan metode SAS (Struktural Analisis Sintesis) untuk belajar membaca Al-Quran. Mengutip pandang Ralph Tyler (1949), almarhum Prof. S. Nasution mengetengahkanempat faktor, landasan ataupun azas utama yang selalu mengambil peran dalampengembangan kurikulum, yakni:  Pertama, azas filosofis, termasuk filsafat bangsa, masyarakat dan sekolah serta guru-guru;  Kedua, azas sosiologis, menyangkut harapan dan kebutuhan masyarakat (orangtua, kebudayaan, masyarakat, pemerintah, ekonomi)  Ketiga, azas psikologis yang terkait dengan taraf perkembangan fisik, mental, emosional dan spiritual anak didik  Keempat, azas epistemologis, berkaitan dengan konsep kita mengenai hakekat ilmu pengetahuan Keempat asas yang menjadi dasar pengembangan kurikulum dapat berkembang ataubahkan berubah sama sekali dan yang demikian itu akan mempengaruhi kurikulum. 4
  5. 5. Kurikulum dan Pengajaran Menurut Hilda Taba dalam bukunya “DevelopmentCurriculum” menyatakan bahwa setiap kurikulum biasanya terdiri dari tujuan, isi, strategi /pola belajar-mengajar, dan evaluasi.  Komponen Tujuan Tujuan kurikulum pada dasarnya merupakan tujuan setiap program pendidikan yangdiberikan kepada anak didik, Karena kurikulum merupakan alat antuk mencapai tujuan, makakurikulum harus dijabarkan dari tujuan umum pendidikan. Ada dua jenis tujuan institusional,yaitu tujuan instruksional umum (TIU) dan tujuan instruksional khusus (TIK). Perbedaankedua tujuan tersebut terletak dalam hal kemampuan yang diharapkan dikuasai anak didik.Pada TIU sifatnya lebih luas dan mendalam, sedangkan TIK lebih terbatas dan harus dapatdiukur pada saat berlangsungnya proses belajar-mengajar. Dengan demikian TIK harus lebihoperasional dan mudah dilakukan pengukuran.  Isi atau Materi Kurikulum Isi kurikulum adaIah berbagai pengetahuan, sikap, ketrampilan dan pengalamanbelajar yang harus diberikan kepada anak untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalammenentukan isi kurikulum baik yang berkenaan dengan pengetahuan maupun pengalamanbelajar diessuaikan dengan tingkat dan jenjang pendidikan, perkembangan masyarakat,(tuntutan, dan kebutuhan) perkembangan iptek. Bila kita harus memilih isi kurikulum, maka kriteria yang bsa digunakan adalah : Isi kurikulurn harus sesuai, dengan tepat dan bermakna bagi perkembangan siswa. Artinya sejalan dengari tahap perkembangan anak. Isi kurikulum harus mencerminkan kenyataan sosial, artinya sesuai dengan tuntutan hidup nyata dalam masyarakat. Isi kurikulum dapat mencapai tujuan yang konprehensif, artinya mengandung aspek intelektual, moral, sosial secara seimbang. Isi kurikulum harus mengandung pengetahuan ilmiah yang tahan uji, artinya tidak cepat lapuk hanya karena perubahan tuntutan hidup sehari-hari. Isi kurikulum mengandung bahan pelajaran yang jelas, teori, prinsip, konsep yang terdapat didalamnya, bukan hanya informasi aktual. Isi kurikulum harus dapat menunjang tercapainya tujuan pendidikan Menurut Tyler kriteria yang digunakan untuk merumuskankurikulum adalah : Berkesinambungan. Artinya saling hubungan atau jalin-menjalin antara berbagai tingkat dan jenis program pendidikan. Berurutan, Artinya kurikulum diorganisasikan dengan memperhatikan tahapan atau urutan bahan. Keterpaduan. Artinya dalam menyusun program pendidikan atau kurikulum sebaiknya memiliki huhungan horisorital pengalaman belajar yang menjadi isi kurikulum, sehingga dapat membantu anak memperoleh pengalaman tersebut dalam suatu kesatuan. 5
  6. 6. Prinsip Fleksibilitas. Artinya kurikulum yang dirumuskan hendaknya memiliki ruang gerak baik bagi guru dalam mengembangkan program pendidikan maupun untuk murid untuk memilih program yang ditawarkan  Strategi Pelaksanaan Kurikulum/ Proses Belajar-Mengajar Strategi pelaksanaan kurikulum atau lebih khusus lagi proses belajar-mengajar adalahcara bagaimana anak memperoleh pengalaman belajar untuk mencapai tujuan Kurikulumsebagai program pendidikan pada dasarnya masih merupakan niat atau rencana, sedangkanbagaimana operasionalisasinya, maka diperlukan strategi pelaksanaan kurikulum, Strategipelaksanaan kurikulum pelaksanaan kurikulum harus memperhatikan: a) tingkat dan jenjang pendidikan, b) proses belajar-mengajar c) bimbingan dan penyuluhan d) administrasi supervise e) sarana kurikuler f) evaluasi atau penilaian. Operasional strategi pelaksañaan kurikulum menerapkan metode dan media yangsesuai dan tepat guna untuk mencapai tujuan kurikulum. Sedangkan proses itu sendiribertalian dengan bagaimana pengalaman belajar atau isi kurikulum diorganisasikan. Setiapbentuk organisasi yang digunakan membawa dampak terhadap proses memperolehpengalaman yang dilaksanakan. Untuk itu perlu ada kriteria pola organisasi kurikulum yangefektif.  Evaluasi Kurikulum Evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk menilai suatu kurikulum sebagai programpendidikan untuk menentukan efisiensi, efektifitas, relevansi dan produktivitas programdalam mencapal tujuan pendidikan. Evaluasi kurikulum harus dilakukan secara terus-menerus.Hal ini sesuai dengan pemikiran Nana Syaodih Sukmadinata (1997) bahwa ada prinsip umumdalam pengembangan inovasi yang perlu dievaluasi kurikulum tersebut antara lain : a) Prinsip relevansi. Kurikulum yang kita rancang dan kembangkan apakah sudah relevan dengan kebutuhan peserta didik untuk menjawab kebutuhan masyarakat. b) Prinsip fleksibilitas. Kurikulum yang kita rancang dan kembangkan apakah sudah bersifat adaptif, mampu menyesuaikan diri dengan konteks pembelajaran. c) Prinsip kontinuitas. Kurikulum yang kita rancang dan kembangkan memungkinkah peserta didik lebih sanggup mengembangkan potensinya kelak dalam rencana belajar berikutnya (prinsip belajar sepanjang hayat). d) Prinsip praktis. Kurikulum sebaiknya mudah digunakan dengan alat sederhana dan biaya relatif murah, terutama dalam situasi ekonmi dewasa ini. Selain itu, apa yang dipelajari mahasiswa seharusnya mampu membentuk dan meningkatkan kompetensi mereka di dalam kehidupan sehari-hari. e. Prinsip efektivitas. Efektivitas sebuah kurikulum harus dilihat dari sejauhmana perubahan peserta didik, sebagaimana nampak dalam kehidupan dan karyanya 6
  7. 7. B. Inovasi Kurikulum Berbasis Kompetensi Dikatakan sebagai salah satu bentuk inovasi kurikulum. Kemunculannya seiringdengan munculnya semangat reformasi pendidikan, diawali dengan munculnya kebijakanPemerintah. Kurikulum berbasis kompetensi dikembangkan untuk memberikan keahlian danketerampilan sesuai dengan standar kompetensi yang diperlukan untuk meningkatkan dayasaing dan daya jual untuk menciptakan kehidupan yang berharkat dan bermartabat ditengah-tengah perubahan, persaingan, dan kerumitan kehidupan sosial, ekonomi, politik dan budaya. Kurikulum berbasis kompetensi dikembangkan untuk memberikan keahlian danketerampilan sesuai dengan standar kompetensi yang diperlukan untuk meningkatkan dayasaing dan daya jual untuk menciptakan kehidupan yang berharkat dan bermartabat ditengah-tengah perubahan, persaingan, dan kerumitan kehidupan sosial, ekonomi, politik dan budaya.Adanya kurikulum berbasis kompetensi memungkinkan hasil lulusan menjadi lebih terampildan kompeten dalam segala tuntutan masyarakat sekitarnya. 1. Pengertian Kurikulum Berbasis Kompetensi Kurikulum adalah sejumlah mata ajaran yang harus ditempuh dan dipelajarai olehsiswa untuk memperoleh sejumlah pengetahuan . Menurut nasution kurikulum adalah segalausaha sekolah untuk mempengaruhi anak belajar apakah dalam ruangan kelas, dihalamansekolah ataupun diluar sekolah termsuk kurikulum. Ada pendapat lain yang menjelaskanbahwa Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diberikan oleh suatu lembagapenyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepadapeserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat matapelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalampenyelenggaraan pendidikan tersebut. Kompetensi merupakan kemampuan mengerjakansesuatu yang berbeda dengan sekedar mengetahui sesuatu. Kompetensi harusdidemonstrasikan sesuai dengan standar yang ada di lapangan kerja (Hamalik, 2000).Kompetensi dapat berupa pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yangmerefleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Kebiasaan berfikir dan bertindaksecara konsisten dan terus menerus setiap saat akan memungkinkan bagi seseorang untukberkompeten, artinya memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untukmelakukan sesuatu. Kompetensi dapat diartikan suatu kemampuan untuk menstrasfer danmenerapkan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki seseorang pada situasi yang baru.Kurikulum berbasis kompetensi merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentangkompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajardan pemberdayaan sumber daya pendidikan dan mengembangkan sekolah (Depdiknas, 2002).Sedangkan pendapat lain mengenai Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) atau Kurikulum2004, adalah kurikulum dalam dunia pendidikan di Indonesia yang mulai diterapkan sejaktahun 2004 walau sudah ada sekolah yang mulai menggunakan kurikulum ini sejak sebelumditerapkannya. Secara materi, sebenarnya kurikulum ini tak berbeda dari Kurikulum 1994,perbedaannya hanya pada cara para murid belajar di kelas.Dalam kurikulum terdahulu, paramurid dikondisikan dengan sistem caturwulan. Sedangkan dalam kurikulum baru ini, parasiswa dikondisikan dalam sistem semester. Dahulu pun, para murid hanya belajar pada isimateri pelajaran belaka, yakni menerima materi dari guru saja. Dalam kurikulum 2004 ini,para murid dituntut aktif mengembangkan keterampilan untuk menerapkan IPTek tanpameninggalkan kerja sama dan solidaritas, meski sesungguhnya antar siswa salingberkompetisi . Jadi di sini, guru hanya bertindak sebagai fasilitator, namun meski begitu 7
  8. 8. pendidikan yang ada ialah pendidikan untuk semua. Dalam kegiatan di kelas, para siswabukan lagi objek, namun subjek. Dan setiap kegiatan siswa ada nilainya. Dari rumusan tersebut, KBK lebih menekankan pada kompetensi atau kemampuanapa yang harus dimiliki oleh siswa setelah mereka melakukan proses pembelajaran tertentu,sedangkan masalah bagaimana cara mencapainya, secara teknis operasional diserahkankepada guru di lapangan. Tidak ada dalam KBK secara tersirat dan tersurat apa yang harusdilakukan guru untuk mencapai kompetensi tertentu. KBK hanyalah memberikan petunjuksecara universal bagaimana seharusnya pola pembelajaran diterapkan oleh setiap guru.Rumusan lain tentang kompetensi menurut McAshan (l981) adalah suatu pengetahuan,keterampilan, dan kemampuan atau kapabilitas yang dimiliki seseorang yang telah menjadibagian dari dirinya sehingga mewarnai perilaku kognitif, afektif, dan psikomotornya. Iniberarti bahwa kompetensi bukan hanya ada dalam tataran pengetahuan akan tetapi sebuahkompetensi harus tergambarkan dalam pola perilaku,Artinya bagaimana implementasipengetahuan itu diwujudkan dalam pola tindakan yang siswa lakukan sehari-hari. Sehinggakompetensi itu pada hakekatnya merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai,sikap yang direfleksikan dalam bentukkebiasaan berfikir dan bertindak. KBK berorientasi bahwa siswa bukan hanya memahami materi pelajaran untukmengembangkan kemampuan intelektual saja, melainkan bagaimana pengetahuan itudipahaminya dapat mewarnai perilaku yang ditampilkan dalam kehidupan nyata.Gordon (l988) menyarankan beberapa aspek yang harus terkandung dalam kompetensisebagai berikut: a) Pengetahuan (knowledge), yaitu pengetahuan untuk melakukan proses berfikir. b) Pemahaman (understanding). Yaitu kedalaman kognitif dan afektif yang dimiliki individu. c) Keterampilan (skill), yaitu sesuatu yang dimiliki individu untuk melakukan tugas yang dibebankan. d) Nilai (value) adalah suatu standar perilaku yang telah diyakini sehingga akan mewarnai dalam segala tindakannya. e) Sikap (attitude), yaitu perasaan atau reaksi terhadap suatu rangsang yang datang dari luar, perasaan senang atau tidak senang terhadap sesuatu masalah f) Minat (interest), yaitu kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu tindakan atau perbuatan untuk mempelajari materi pelajaran. Kompetensi apa saja yang harus dicapai oleh KBK? Wina Sanjaya (2005)memberikan apresiasi terdapat 4 kompetensi dasar yang harus dimiliki siswa sesuai dengantuntutan KBK, yaitu: a) Kompetensi akademik, yaitu peserta didik harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mengatasi tantangan dan persoalan hidup b) Kompetensi okupasional, artinya peserta didik harus memiliki kesiapan dan mampu beradaptasi terhadap dunia kerja c) Kompetensi kultural, artinya peserta didik harus mampu menempatkan diri sebaikbaiknya dalam sistem budaya dan tata nilai masyarakat d) Kompetensi temporal, yaitu peserta didik tetap eksis dalam menjalani kehidupannya sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. 8
  9. 9. 2. Karakteristik Kurikulum Berbasis Kompetensi Sasaran KBK pada penguasaan kompetensi dalam bidang-bidang praktis terutamapekerjaan keahlian baik kompetensi teknis, vokasional maupun profesional. Suatu bidangpekerjaannya tugas utamanya berkenaan dengan kompetensi perbuatan, perilaku,performance yang menunjukan kecakapan, kebisaan, keterampilan melakukan sesuatu tugasatau peranan secara standar seperti yang dituntut oleh suatu okupasi (Nana Syaodih, 2004).Makna yang terkandung dan tersirat dalam KBK terdiri dua hal, yaitu: Pertama KBKmengharapkan adanya hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didikmelalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna, dan kedua KBK memberikanpeluang pada siswa sesuai dengan keberagaman yang dimiliki masing-masing. Dalam KBK siswa tidak sekedar dituntut untuk memahami sejumlah konsep, akantetapi bagaimana konsep yang dipelajari berdampak pada perilaku dan pola pikir danbertindak sehari-hari. Dan dalam KBK pun menghargai bahwa setiap siswa memilikikemampuan, minat dan bakat yang berbeda sehingga diberikan peluang kepada siswatersebut untuk belajar sesuai dengan keberagaman dan kecepatan masing-masing. Olehkarena itu dalam KBK, proses pembelajaran harus didesain agar dapat melayani setiapkeberagaman tersebut.Karakteristik Utama KBK sebagai sebuah Kurikulum: 1. KBK memuat sejumlah kompetensi dasar sebagai kemampuan standar minimal yang harus dikuasai dan dicapai siswa. 2. Implementasi pembelajaran dalam KBK menekankan pada proses pengalaman dengan memperhatikan keberagaman setiap individu. 3. Evaluasi dalam KBK menekankan pada evaluasi dan proses belajar.Depdiknas (2002) mengemukakan karakteristik KBK secara lebih rinci, yaitu: 1. Menekankan pada ketercapaian kompetensi baik secara individual maupun klasikal, artinya isi KBK intinyasejumlah kompetensi yang harus dicapai siswa, dan kompetensi inilah sebagai standar minimal atau kemampuan dasar. 2. Berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman, artinya keberhasilan pencapaian kompetensi adasar diukur oleh indikator hasil belajar. Indikator inilah yang dijadikan acuan kompetensi yang diharapkan. Proses pencapaian tentu saja bergantung pada kemampuan dan kecepatan yang berbeda setiap siswa. 3. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi sesuai dengan keberagaman siswa. 4. Sumber belajar bukan hanya untuk guru, tetapi sumber belajar lain yang memenuhi unsur edukatif, artinya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi. Guru berperan sebagai fasilitator untuk mempermudah siswa belajar dari berbagai macam sumber belajar. 5. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi. KBK menempatkan hasil dan proses belajar sebagai dua sisi yang sama pentingnya. Setelah memahami karakteristik KBK, maka sebenarnya apa yang ingin dicapai olehKBK adalah mengembangkan peserta didik untuk menghadapi perannya di masa mendatangdengan cara mengembangkan sejumlah kecakapan hidup. Kecakapan hidup merupakan 9
  10. 10. kecakapan yang harus dimiliki seseorang untuk terbiasa berani menghadapi problemkehidupan secara wajar kemudian secara kreatif mencari solusi untuk mengatasinya. Adapun tujuan kecakapan hidup ini adalah: Mengaktualisasikan potensi peserta didiksehingga dapat digunakan untuk memecahkan problema yang dihadapi a) Memberikan kesempatan kepada sekolah untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel, sesuai dengan prinsip pendidikan berbasis luas (broad based education) b) Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lingkungan sekolah dengan memberikan peluang pemanfaatan sumber daya yang ada di masyarakat, sesuai dengan manajemen berbasis sekolah (School Based Management) c) Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi Pengembangan kurikulum merupakan suatu proses kompleks dan melibatkan berbagaifaktor terkait. Oleh karena itu dalam proses pengembangan kurikulum berbasis kompetensitidak hanya menuntut keterampilan teknis dari pihak pengembang terhadap pengembanganberbagai komponen kurikulum, tetapi harus pula dipahami berbagai faktor yangmempengaruhinya. Pengembangan KBK memfokuskan kepada kompetensi tertentu berupa paduan:pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat didemonstrasikan peserta didik sebagaiwujud pemahaman terhadap konsep yang dipelajarinya. Penerapan KBK memungkinkan gurumenilai hasil belajar peserta didik dalam proses pencapaian sasaran belajar yangmencerminkan penguasaan dan pemahaman terhadap apa yang dipelajari. Karena itu pesertadidik perlu mengetahui kriteria penguasaan kompetensi yang akan dijadikan sebagai standarpenilaian hasil belajar, sehingga peserta didik dapat mempersiapkan dirinya melaluipenguasaan sejumlah kompetensi tertentu sebagai prasyarat untuk melanjutkan kepenguasaan sejumlah kompetensi berikutnya. Kriteria tersebut bias dikembangkanberdasarkan tujuan khusus yang dipelajari sesuai dengan kompetensi yang harus dikuasai. 3. Asas Pengembangan KBK 1. Asas Filisofis Berkenaan dengan nilai yang berlaku di masyarakat. Sistem nilai erat kaitannya denganarah dan tujuan yang musti tercapai. Itu sebabnya dalam KBK, filsafat sebagai sistem nilaimenjadi sumber utama dalam merumuskan tujuan dan kebijakan pendidikan. Di Indonesiasistem nilai yang berlaku adalah Pancasila. Dengan demikian isi KBK yang disusun harusmemuat dan mencerminkan tentang kandungan nilai-nilai pancasila. 2. Asas Psikologis Berhubungan dengan aspek kejiwaan dan perkembangan peserta didik. Secara psikologisanak didik memiliki perbedaan baikminat, bakat maupun potensiyang dimilikinya. Dengandemikian baik tujuan, isi maupun strategi pengembangan KBK harus memperhatikan kondisitahapan perkembangan dan psikologi belajar peserta didik. 10
  11. 11. 3. Asas Sosiologis Hal ini berdasarkan pada asumsi bahwa sekolah berfungsi untuk mempersiapkan anakdidik agar mereka dapat berperan aktif di masyarakat. Karena itu kurikulum sebagai alat dapedoman dalam proses pendidikan di sekolah harus relevan dengan kebutuhan dan tuntutanmasyarakat. Ketiga asas tersebut merupakan landasan pokok KBK sebagai pedoman dan perangkatperencanaan, implementasi dan pelaksanaan yang dibingkai oleh tiga sisi yang sama-samapenting. 4. Prinsip Pengembangan KBK Proses pengembangan KBK harus dilakukan dengan memperhatikan prinsippengembangan KBK sebagai berikut: 1. Peningkatan keimanan, budi pekerti luhur dan penghayatan nilai-nilai budaya. Sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yaitu membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa, maka peningkatan keimanan dan pembentukan budi pekerti merupakan prinsip utama yang harus diperhatikan pengembang kurikulum 2. Keseimbangan etika, logika, estetika, dan kinestetika. Pembentukan manusia yang utuh merupakan tujuan utama pendidikan. Manusia utuh adakah manusia yang seimbang antara kemampuan intelektual, sikap, moral dan keterampilan. Pengembang KBK harus memperhatikan tiga keseimbangan tersebut. 3. Penguatan integritas nasional. Indonesia adalah negara dengan beraneka ragam suku dan budaya yang sangat majemuk. Pendidikan harus dapat menanamkan pemahaman dan penghargaan terhadap aneka ragam budaya, sehingga menjadi kekuatan yang dapat memberikan sumbangan yang positif terhadap peradaban bangsa di dunia ini 4. Perkembangan pengetahuan dan teknologi informasi. Pengembangan KBK diarahkan agar anak didik memiliki kemampuan berfikir dan belajar dengan cara mengakses berbagai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi. 5. Pengembangan kecakapan hidup yang meliputi keterampilan diri, keterampilan berpikir rasional, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional. Kurikulum mengembangkan kecakapan hidup melalui pembudayaan membaca, menulis, dan berhitung; sikap, dan perilaku adaptif, kreatif, inovatif, kreatif dan kompetitif. 6. Pilar pendidikan. Kurikulum mengorganisasikan fondasi belajar ke dalam empat pilar pendidikan yaitu belajar untuk memahami, belajar untuk berbuat, belajar hidup dalam kebersamaan, dan belajar untuk membangun dan mengekspresikan jati diri yang dilandasi ketiga pilar sebelumnya. 7. Komprehensif dan berkesinambungan. Konprehensif mencakup keseluruhan dimensi kemampuan dan subtansi yang disajikan secara berkesinambungan mulai pendidikan taman kanak-kanak sampai pendidikan menengah. 8. Belajar sepanjang hayat. Pendidikan diarahkan pada proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlanjut sepanjang hayat. 9. Diversifikasi kurikulum. Kurikulum dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. Dari sejumlah prinsip pengembangan kurikulum tersebut pada hakikatnya menekankanbahwa rencana pengembangan kurikulum harus berlandaskan pada kaidah-kaidah budaya 11
  12. 12. local dan nasional. Budaya local seperti mempertimbangkan kebiasaan, adat istiadat,kesepakatan diantara masyarakat baik tertulis maupun tanpa tertulis harus dipatuhi sebagaipengembang kurikulum. Sedangkan budaya nasional yakni apa yang telah menjadi karakterbudaya bangsa kita seperti kehidupan agamis, berpancasilais sejati, belajar sepanjang hayattermasuk pilar pendidikan yang telah disarankan oleh WHO.Implikasi KBK terhadap Pengembangan Aspek Pembelajaran a) Pengembangan Rancangan Pembelajaran Kegiatan pembelajaran dalam KBK diarahkan untuk menggali dan mengembangkanpotensi yang dimiliki anak didik. Oleh karena itu, proses pembelajaran harus berorientasipada siswa sebagai subjek bukan sebagai objek pembelajaran. Untuk itu ada beberapa halyang harus diperhatikan dalam merancang kegiatan pembelajaran, diantaranya: 1. Rancangan kegiatan pembelajaran hendaknya memberikan peluang bagi siswa untuk mencari, mengolah, menemukan sendiri pengetahuan. Kegiatan pembelajaran hendaknya dirancang agar siswa dapat mengembangkan keterampilan dasar mata pelajaran yang bersangkutan. 2. Rancangan pembelajarn harus disesuaikan dengan ragam sumber belajar dan sarana pembelajarn yang tersedia. 3. Pembelajarn harus dirancang dengan mengordinasikan berbagai pendekatan belajar. 4. Pembelajaran harus dapat memberikan pelayanan terhadap kebutuhan individual siswa seperti bakat, minat, kemampuan, latar belakang sosial ekonomi. b) Pengembangan Proses Pembelajaran KBK sebagai sebuah kurikulum yang menekankan kepada pencapaian kompetensi,memiliki implikasi terhadap proses pembelajaran yang musti dilakukan guru dan siswa.Konteks pembelajaran yang diinginkan KBK, guru bertindak dan berusaha menyediakanwaktu dan tempat agar siswa belajar. Belajar itu sendiri bukan menumpuk ilmu pengetahuanakan tetapi merupakan proses perubahan perilaku melalui pengalaman belajar. Melaluipengalaman belajar itulah diharapkan terjadinya pengembangan berbagai aspek yang terdapatdalam individu massing-masing pembelajar. Implikasi ini sangat penting sebab akanmempengaruhi berbagai tindakan guru dalam pengelolaan pembelajaran, baik dalampengembangan strategi pembelajaran maupun dalam menggunakan berbagai sumberbelajar.Proses pembelajarn tidak hanya diarahkan semata-mata agar siswa mampu menguasaisejumlah materi pembelajaran akan tetapi pembelajaran lebih diarahkan kepada penguasaankompetensi tertentu sesuai dengan kurikulum. c) Pengembangan Evaluasi Evaluasi merupakan proses memberikan pertimbangan mengenai nilai dan arti sesuatuyang dipertimbangkan seperti orang, benda, kegiatan, keadaan kesatuan tertentu.Karakteristik evaluasi meliputi, pertama evaluasi merupakan suatu proses atau tindakan,kedua proses tersebut dilakukan untuk memberi makna atau nilai. Evaluasi suatu proses,evaluasi terdiri dari pengumpulan data dan informasi tentang pencapaian hasil belajar siswadan pembuatan keputusan tentang hasil belajar siswa berdasarkan informasi yang telahdiperoleh. Kriteria keberhasilan belajar siswa meliputi : aspek kognitif, afektif dan aspekpsikomotor. Aspek kognitif berhungan dengan kemampuan kecerdasan dan intektual 12
  13. 13. siswa, aspek afektif berhubungan dengan penilaian terhadap sikap dan minat siswa terhadapmata pelajaran dan proses pembelajaran. Aspek psikomotor terdiri dari beberapa kompetensiyang harus dicapai baik tingkat penguasaan gerak awal, tingkatan gerak rutin maupunkemampuan gerak secara menyeluruh. Sebagai bentuk kurikulum yang menghendaki ketercapaian kompetensi, aspek alat danbentuk penilaian harus dilakukan seimbang baik tes maupun non tes sesuai dengan fungsievaluasi sebagai fungsi formatif maupun sumatif. Kedua fungsi evaluasi ini sangat pentingartinya sebagai jawaban penerapan diberlakukannya KBK. Melalui KBK ini, dalam menseting pembelajaran seperti merencanakan, melaksnakansampai menilai meski berorientasi pada aktivitas peserta didik yang beragam agar merekamemiliki banyak pengalaman belajar, sehingga guru bertindak memfasilitasi bagaimanapeserta didik belajar. Pengembangan KBK dilandasi filosofis keimanan dan ketakwaan yangkuat disetai landasan secara psikologis yang handal dan proses secara teknologis yang unggul.Hal ini dalam KBK pengembangan dapat dilakukan dengan perencanaan, implementasipembelajaran, dan evaluasi yang dilakukan guru secara terprogram. C. Inovasi Kurikulum Berbasis Mayarakat Perkembangan pendidikan anak sejalan dengan dinamika masyarakatnya, karena cirimasyarakat selalu berkembang. Ada kelompok masyarakat yang berkembang sangat cepat,tetapi ada pula yang lambat. Hal ini karena pengaruh dari perkembangan teknologi,komunikasi dan telekomunikasi. Dalam kondisi seperti ini perubahan-perubahan dimasyarakat terjadi pada semua aspek kehidupan. Efek perubahan di masyarakat akanberimbas pada setiap individu warga masyarakat, pengetahuan, kecakapan, sikap, kebiasaanbahkan pola-pola kehidupan. 1. Pengertian Kurikulum Berbasis Masyarakat Kurikulum berbasis masyarakat merupakan kurikulum yang menekankan perpaduanantara sekolah dan masyarakat guna mencapai tujuan pengajaran. Kurikulum ini pulamemiliki tujuan memberikan kemungkinan kepada siswa untuk akrab dengan lingkungandimana mereka tinggal, mandiri dan bekal keterampilan. Karakteristik kurikulum berpusatkepada masyarakat ditinjau dari segi pembelajaran baik berorientasi, metode, sumber belajar,strategi pengajaran berpusat pada kepentingan siswa sebagai bekal hidup di masa mendatang.Karakteristik lain dari materi pembelajaran sesuai tuntutan kewilayahan maka disebut jugakurikulum berbasis kewilayahan. Sedangkan kegiatan guru hanyalah sebagai fasilitatorbelajar dan siswa untuk aktif, kreatif untuk memecahkan permasalahan. Pengembangankurikulum bertitik tolak dari tujuan pendidikan, analisis kebutuhan, implementasi kurikulum,seleksi strategi pembelajaran, teknik evaluasi dan evaluasi program kurikulum. Kurikulum berbasis masyarakat, bahan dan objek kajiannya menyesuaikan kebijakan danketetapan yang dilakukan di daerah, disesuaikan dengan kondisi lingkungan alam, sosial,ekonomi, budaya dan disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan daerah yang perludipelajari oleh siswa di daerah tersebut. Bagi siswa berguna untuk memberikan kemungkinandan kebiasaan utnuk akrab dengan lingkungan dimana mereka tinggal. Kemungkinan lainmencegah dari keterasingan lingkungan, terbiasa dengan budaya dan adat istiadat setempatdan beusaha mencintai lingkungan hidup, sehingga sebuta kurikulum ini disebut kurikulum 13
  14. 14. berbasis wilayah. Berdasarkan teori berbasis masyarakat beberapa teori kurikulum ini setujubahwa tingkat sosial harus menjadi titik awal dan penentu utama kurikulum.Tujuan: 1. Memperkenalkan siswa terhadap lingkungannya, ikut melestarikan budaya termasuk kerajinan, keterampilan yang nilai ekonominya tinggi di daerah tersebut. 2. Membekali siswa kemampuan dan keterampilan yang dapat menjadi bekal hidup mereka di masyarakat, seandainya mereka tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. 3. Membekali siswa agar bisa hidup mandiri, serta dapat membantu orang tua dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Kurikulum berbasis masyarakat memiliki beberapa keuntungan antara lain: pertama,kurikulum sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat setempat. Kedua,kurikulum sesuai dengan tingkat dan kemampuan sekolah, baik kemampuan finansial,profesional maupun manajerial. Ketiga, disusun oleh guru-guru sendiri dengan demikiansangat memudahkan dalam pelaksanaannya. Keempat, ada motivasi kepada sekolah khususkepala sekolah dan guru kelas untuk mengembangkan diri, mencari dan menciptakankurikulum yang sebaik-baiknya, dengan demikian akan terjadi semacam kompetisi dalampengembangan kurikulum. Secara filosofis, pendidikan merupakan kebutuhan dan hak setiap manusia dalammempersiapkan kehidupannya yang lebih baik di masa mendatang. Dengan demikianpendidikan bertujuan untuk mengembangkan kepribadian, sikap dan keterampilan dasar yangdiperlukan untuk hidup dan pendidikan lebih lanjut. 2. Karakteristik Kurikulum Berbasis Masyarakat Model pengajaran yang berpusat pada masyarakat adalah suatu bentuk kurikulum yangmemadukan antara sekolah dan masyarakat dengan cara membawa sekolah ke dalammasyarakat atau membawa masyarakat ke dalam sekolah guna mencapai tujuan pembelajaranyang telah ditetapkan.Karakteristik pembelajaran pada kurikulum berbasis masyarakat:- Pembelajaran berorientasi pada masyarakat, di masyarakat dengan kegiatan belajarbersumber pada buku teks.- Disiplin kelas berdasarkan tanggungjawab bersama bukan berdasarkan paksaan ataukebebasan.- Metode mengajar terutama dititikberatkan pada pemecahan masalah untuk memenuhikebutuhan perorangan dan kebutuhan sosial atau kelompok.- Bentuk hubungan atau kerjasama sekolah dan masyarakat adalah mempelajari sumber-sumber masyarakat, menggunakan sumber-sumber tersebut, dan memperbaiki masyarakattersebut. 14
  15. 15. - Strategi pembelajaran meliputi karyawisata, manusia(nara sumber), survei masyarakat,berkemah, kerja lapangan, pengabdian masyarakat, KKN, proyek perbaikan masyarakat dansekolah pusat masyarakat. 1) Karakteristik materi pembelajaran Agar penjabaran dan penyesuaian dengan tuntutan kewilayahan tidak meluas dan melebar,maka perlu diperhatikan kriteria untuk menyeleksi materi yang perlu diajarkan, kriteriatersebut antara lain: validitas telah teruji kebenaran dan kesahihannya. 2) Tingkat kepentingan yang benar-benar diperlukan oleh siswa. 3) Kebermanfaatan, secara akademik dan non akademik sebagai pengembangan kecakapan hidup (life skill) dan mandiri. 4) Layak dipelajarai, tingkat kesulitan dan kelayakan bahan ajar dan tuntutan kondisi masyarakat sekitar. 5) Menarik minat, dapat memotivasi siswa untuk mempelajari lebih lanjut dengan menumbuhkembangkan rasa ingin tahu. 6) Alokasi waktu, penentuan alokasi waktu terkait dengan keleluasan dan kedalaman materi. 7) Saran dan sumber belajar, dalam arti media atau alat peraga yang berfungsi memberikan kemudahan terjadinya proses pembelajaran. 8) Kegiatan siswa dan guru Pengembangan Kurikulum Berbasis Masyarakat Perkembangan teknologi membawa perubahan yang cukup drastis dalam segala bidang dan pekerjaan. Masyarakat perkotaan berubah cepat dibandingkan masyarakat pedesaan. Pola kehidupan agraris berubah menjadi poloa kehidupan industri, dimana kehidupan masyarakatnya menuntut memiliki spesialisasi dan profesionalisme dalam melakukan pekerjaan. Sehingga sifat-sifat kebersamaan, hidup lebih santai diganti oleh sikap individualis dan kerja keras. Pola kerja masyarakat modern menuntut kerja yang tidak teratur melebihi waktu biasa. Banyaknya waktu yang digunakan untuk bekerja akan mengubah citra penghasilan yang diperoleh. Asumsinya penghasilan tinggi akibat suami istri bekerja akan meningkatkan kemampuan ekonomi dan kesejahteraan keluarga. Namun dalam kehidupan keluarga, anak mempunyai masalah selalu ditinggal orang tuanya bekerja maka anak lebih lama bergaul dan hidupnya dengan pembantu daripada dengaa orang tuanya. Kondisi demikian berbagai masalah keluarga timbul dikarenakan pelaksanaan tugas dan fungsi keluarga tidak berjalan, seperti hubungan komunikasi di antara anggota keluarga sangat terbatas malahan mungkin hilang. 3. Kegiatan siswa dan guru Kegiatan siswa, mustinya mempertimbangkan pemberian peluang bagi siswa untukmencari, mengolah dan menemukan sendiri pengetahuan, di bawah bimbingan guru. Danmateri pembelajarnnya pun harus dapat memberikan pembekalan kemampuan ataukecakapan kepada peserta didik dan mempunyai serta dapat hidup mandiri denganmenggunakan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang telah dipelajari. Guru dalam kurikulum berbasis masyarakat berperans sebagai fasilitator, sumber belajar,pembina, konsultan, sebagai mitra kerja yang memfasilitasi siswa dalam pembelajaran.Sehingga menghasilkan lulusan yang memiliki karakter, kecakapan, dan keterampilan yang 15
  16. 16. kuat untuk dignakan dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosialbudaya dan alam sekitar. 4. Penilaian dalam kurikulum berbasis pada masyarakat Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk mengumpulkan, menganalisis danmenaksirkan data tentang proses dan hasil belajar siswa yang dilakukan secara sistematis danberkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengmbilan keputusan.Penilaian ini dilakukan secara terpadu dengan kegiatan belajar mengajar, oleh karena itudisebut penilaian berbasis kelas (PBK). PBK ini dilakukan dengan mengumpulkan kerjasiswa (fortofolio), hasil karya (penugasan), kinerja, dan tes tertulis. Guru menilai kompetensidan hasil belajar siswa berdasarkan tingkat pencapaian prestasi siswa selama dan setelahkegiatan belajar mengajar. Semua sumber di masyarakat sebagai laboratorium untuk praktiksesuai kepentingan pembelajaran siswa. Masyarakat secara keseluruhan memiliki berbagaidimensi seperti: keluarga, teknologi, ekonomi, politik, budaya, sosial dan kehidupan lainnya.Dimensi tersebut masing-masing mengandung aspek manusiawi, kelembagaan, sistemkehidupan, metode kerja dan kondisi situasi dengan karakteristiknya sendiri. 5. Pengembangan Kurikulum Berbasis MasyarakatKomponen-komponen kurikulum berbasis masyarakat: 1. Tujuan dan filsafat pendidikan dan psikologi belajar. 2. Analisis kebutuhan masyarakat sekitar termasuk kebutuhan siswa. 3. Tujuan kurikulum. 4. Pengorganisasian dan implementasi kurikulum. 5. Tujuan pembelajaran. 6. Strategi pembelajaran mencakup model-model pembelajaran. 7. Teknik evaluasi (proses dan produk). 8. Implementasi strategi pembelajaran. 9. Penilaian dalam pembelajaran dan 10. Evaluasi program kurikulum. Penilaian dalam kurikulum berbasis pada masyarakat Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk mengumpulkan menganalisis, danmenaksirkan data tentang proses dan hasil belajar siswa yang dilakukan secara sistematis danberkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilankeputusan. Penilaian ini dilakukan secara terpadu dengan kegiatan belajar mengajar, olehkarena itu disebut penilaian berbasis kelas (PBK). PBK ini dilakukan dengan mengumpulkankerja siswa (portofolio), hasil karya (penugasan), kinerja (performance), dan tes tertulis. Gurumenilai kompetensi dan hasil belajar siswa berdasarkan tingkat pencapaian prestasi siswaselama dan setelah kegiatan belajar mengajar. Inovasi kurikulum berbasis masyarakat dapat dilakukan dengan kajian terus menerusterhadap kebutuhan masyarakat sekitar terhadap sekolah ( khususnya siswa ) dan kebutuhan-kebutuhan siswa terhadap masyarakat dan lingkungannya. Dua hal krusial ini pasti akan terusberubah dan berkembang sesuai dengan perkembangan lingkungan dan masyarakat. Sehinggasekolah penganut kurikulum berbasis masyarakat akan selalu harmonis dengan lingkungandan masyarakatnya, karena akan selalu terjadi simbiosis mutualisme. 16
  17. 17. Berorientasi pada komponen-komponen kurikulum tersebut, maka langkah-langkahpengembangannya terdiri dari:Langkah 1: Penentuan tujuan pendidikan berdasarkan filsafat dan psikologi pendidikan jugaberdasarkan spesifikasi kebutuhan masyarakat dan kebutuhan siswa.Langkah 2: Analisis kebutuhan masyarakat sekitar, siswa dan mata ajar.Langkah 3:Spesifikasi tujuan kurikulum baik tujuan umum maupun tujuan khusus.Langkah 4: Pengorganisasian dan implementasi kurikulum dan struktur program.Langkah 5: Spesifikasi tujuan pengajaran termasuk TPU dan TPK.Langkah 6: Seleksi strategi pembelajaran meliputi kegiatan, model, dan metode pembelajaran.Langkah 7: Seleksi awal teknik evaluasi.Langkah 8: Seleksi final teknik evaluasi (langkah ini dilakukan setelah langkah 5).Langkah 9: Implementasi strategi pembelajaran secara aktual.Langkah 10: Evaluasi pengajaran untuk menilai keberhasilan siswa dan efektivitaspembelajaran dan perbaikan evaluasi.Langkah 11: Evaluasi program kurikulum.Salah satu contoh dari kurikulum berbasis masyarakat: Karena pengaruh perkembangan teknologi terjadi perubahan yang cukup drastisdalam segala bidang termasuk pekerjaan. Masyarakat perkotaan berubah cepat dibandingkanmasyarakat pedesaan. Perubahan kehidupan agraris berubah menjadi pola kehidupan industri,dimana kehidupan masyarakatnya menuntut memiliki spesialisasi dan profesionalisme dalammelakukan pekerjaan. Sehingga sifat-sifat kebersamaan, hidup lebih santai diganti oleh sikapindividualis dan kerja keras. Dari persoalan itulah dapat diupayakan, sikap kita dengankehidupan kita saat ini yang menuntut perkembangan teknologi dengan begitu cepatnya, tetapmembuat kita tidak termakan oleh zaman dan melupakan kebiasaan dahulu yang sudahmenjadi kebiasaan budaya nenek moyang, seperti kehidupan dengan sifat kebersamaan dangotong royong. Dengan perubahan zaman seperti apapun tetap membuat kita berpegang padakebiasaan yang sudah menjadi adat kebiasaan kita. D. Inovasi Kurikulum Berbasis Keterpaduan Kurikulum terpadu merupakan kurikulum yang memungkinkan siswa baik secaraindividual maupun klasikal aktif menggali dan menemukan konsep serta prinsip secaraholistik bermakna dan otentik. Semuanya menekankan pada cara menyampaikan pelajarnyang bermakna dengan melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Melalui pembelajaranterpadu diharapkan para siswa memperoleh pengetahuan secara menyeluruh dengan caramengaitkan satu pelajaran dengan pelajaran lain. 17
  18. 18. 1. Pengertian Kurikulum Berhubungan dan Berisi Keterpaduan Pendekatan keterpaduan merupakan suatu sistem totalitas yang terdiri dari komponenyang saling berhubungan dan berinteraksi baik antar komponen dengan komponen maupunantar komponen dengan keseluruhan, dalam rangka mencapai tujuan yang ditentukansebelumnya. Dengan demikian, pendekatan sistem menitikberatkan pada keseluruhan, lalubagian-bagian dan unsur-unsur dan interaksi antara bagian-bagian dengan keseluruhan.Konsep keterpaduan pada hakekatnya menunjuk pada keseluruhan, kesatuan, kebulatan,kelngkapan, kompleks, yang ditandai oleh interaksi dan interpendensi anatar komponen-komponennya. Ini berarti organisasi kurikulum secara terpadu, suatu bentuk kurikulum yangmeniadakan batas-batas antara berbagai mata pelajaran dan menyajikan bahan pelajarandalam bentuk unit atau keseluruhan. Kurikulum terpadu menyediakan kesempatan dan kemungkinan belajar bagi parasiswa. Kurikulum dirancang berdasarkan sistem keterpaduan yang mempertimbangkankomponen masukan, proses dan produk secara seimbang dan setaraf. Ketiga komponentersebut berinteraksi dalam kurikulum secara terpadu, sehingga tujuan kurikulum terpaduuntuk mengembnagkan kemampuan yang merupakan gejala tingkah laku berkat pengalamanbelajar. 2. Komponen Kurikulum Berbasis Keterpaduan Komponen kurikulum berbasis keterpaduan saling berkaitan yaitu sub sistemmasukan yakni siswa, sub sistem proses yakni metode, materi dan masyarakat, sub sistemproduk yakni lulusan yang dikaitkan komponen evaluasi dan umpan balik. Masing-masingkomponen saling berkaitan, pengaruh mempengaruhi satu sama lain dalam rangka untukmencapai tujuan. Komponen lulusan adalah produk sistem kurikulum yang memenuhi harapankuantitas yakni jumlah lulusan sesuai dengan kebutuhan dan harapan kualitas yakni mutululusan ditinjau dari segi tujuan intrinsik dan ekstrinsik. Komponen metode terdiri dari program pembelajaran, metode penyajian, bahan danmedia pendidikan. Sedangkan komponen materi terdiri dari fasilitas, sarana dan prasarana,perlengkapan dan biaya. Komponen evaluasi untuk menilai keberhasilan proses kurikulumdan ketercapaian tujuan kurikulum. Evaluasi dilaksanakan dalam bentuk evaluasi formatifdan summatif. Komponen balikan berguna untuk memberikan informasi dalam rangka umpanbalik demi perbaikan sistem kurikulum. Komponen masyarakat merupakan masukaneksternal dalam bidang sosial dan budaya, yang berfungsi sebagai faktor penunjang dan turutmewarnai pelaksanaan kurikulum secara keseluruhan. 3. Karakteristik Kurikulum Berbasis Keterpaduan Kurikulum terpadu merupakan bentuk kurikulum yang meniadakan batas-batas antaraberbagai mata pelajaran dan menyajikan bahan pelajaran dalam bentuk unit atau keseluruhan.Dengan demikian, kurikulum terpadu mengintegrasikan komponen mata pelajaran sehinggabatas-batas mata pelajaran tersebut sudah tidak nampak lagi, dikarenakan telah dirumuskandalam bentuk masalah atau unit. 18
  19. 19. Ciri-ciri bentuk organisasi kurikulum terpadu: berdasarkan filsafat pendidikan demokrasipancasila, berdasarkan psikologi belajar Gestalt, berdasarkan landasan sosiologis dan sosiokultural, berdasarkan kebutuhan, minat dan tingkat perkembangan pertumbuhan peserta didik,ditunjang oleh semua mata pelajaran atau bidang studi yang ada, sistem penyampainnyadengan menggunakan sistem pengajaran unit yakni unit pengalaman dan unit mata pelajarandan peran guru sama aktifnya dengan peran peserta didik, bahkan peran siswa lebih menonjoldan guru cenderung berperan sebagai pembimbing atau fasilitator. 4. Prosedur Pengembangan Kurikulum Berbasis Keterpaduan Kurikulum terpadu yang berangkat dari bentuk rencana umum dan dilaksanakan dalambentuk pembelajaran unit. Rencana umum yang dimaksudkan adalah organisasi kurikulumyang berpusat pada bidang masalah, idea, core atau thema tertentu yang dapat digunakanuntuk melaksanakan suatu pengajaran unit. Dengan perkataan lain, resource unit adalah unit-unit yang telah siap dibuat dan disusun secara umum, lengkap dan luas serta merupakanreservoir bagi pengembangan pembelajaran unit.Tujuan Sumber Unit 1. Menyediakan sumber-sumber yang dapat digunakan dalam merencanakan sesuatu unit dan berisi saran-saran, petunjuk-petunjuk tentang kegiatan menentukan lisiswa, baik secara perorangan maupun kolektif. 2. Memberikan bimbingan atau petunjuk dalam menentukan lingkup masalah atau syarat-syarat tentang tingkat tujuan yang hendak dicapai. 3. Memuat hal-hal yang dapat dijadikan petunjuk dan bantuan mengajar secara teratur dan tersusun agar lebih efektif. 4. Memuat saran tentang penilaian. 5. Menunjukkan bermacam-macam pengalaman tertentu yang dapat dipergunakan guru dan mengembangkan satuan pengajaran.Kriteria Penyusunan Rencana Umum 1. Rencana umum bernilai atau dapat digunakan di dalam bnayak situasi dan bersifat fleksibel, baik isi maupun prosedur mengajar dan belajar. 2. Rencana umum dikembangkan oleh kelompok guru dan bukan hanya oleh seorang guru saja. 3. Cara yang paling efektif adalah apabila rencana tersebut dilaksanakan oleh kelompok guru yang telah mempersiapkannya. 4. Rencana umum disusun sedemikian rupa agar mudah dilakukan dan diubah sesuai dengan kondisi dan fasilitas yang tersedia. 5. Program ini menyediakan cukup persiapan fasilitas, waktu bagi peserta pelayanan dan ketatausahaan.Organisasi dan Isi Rencana Umum 1. Filsafat dan tujuan sekolah seharusnya benar-benar dipahami oleh guru yang menyusun dan dirumuskan secara jelas. 2. Tujaun rencana tersebut seharusnya memberikan sumbangan yang bermakna bagi pencapaian tujuan dan memberikan arah bagi pengembangan pembelajaran. 19
  20. 20. 3. Ruang lingkup resource unit berisiskan suatu perumusan scope yang jelas seperti pembatasan istilah yang digunakan. 4. Kediatan yang disarankan meliputi sejumlah kegiatan belajar bagi individu dan kelompok dipilih secara organisir agar dapat digunakan secara efektif. 5. Rencanakan secara lengkap buku-buku sumber dan alat bantu yang akan digunakan. 6. Prosedur evaluasi dan alat-alatnya dipilih sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan dan menjadi bagian integral dari rencana umum. 7. Pengalaman dalam suatu unit kerap kali membantu guru dalam perencanaan unit-unit selanjutnya. Sesuatu rencana umum berisi banyak kemungkinan yang mendorong penyelidikan dan belajar hal-hal baru. 8. Diperlukan diskusi tentang berbagai rencana umum dalam rangka perencanaan secara kooperatif. E. Perkembangan Inovasi-Inovasi Kurikulum di Indonesia1[1] Perkembangan pendidikan di Indonesia ditandai dengan lahirnya berbagai inovasipendidikan yang didalamnya terdapat inovasi kurikulum dan inovasi pembelajaran, yangdiperkuat dengan berbagai kebijakan pada masa inovasi tersebut diterapkan. Secara spesifikmakalan ini menyajikan berbagai inovasi kurikulum dan pembelajaran yang telah dan sedangdilakukan hingga saat ini. Inovasi merupakan suatu ide yang dituangkan dan bersifat baru, walaupunsesungguhnya tidak ada sesuatu hal yang baru seutuhnya tetapi merupakan penyesuaian danperbaikan dari hal yang telah ada. Karakteristik suatu inovasi adalah; kreatif, baru, praktis,perubahan nilai, ekonomis, dan merupakan suatu terobosan. Dan lingkup inovasi terdiri daritiga bagian yaitu inivasi struktur (SD 5 tahun), inovasi materi (materi teknologi informasi dankomunikasi untuk SMU tahun 2004), dan inovasi proses (e-learning) melalui tahapankonwledge, persuasion, decision, implmentation, dan confirmation (Rogers,1983:164) Sebagai gambaran awal, berikut ini akan disajikan mengenai beberapa perkembangankurikulum khususnya di Indonesia dimulai dari tahun 1968 hingga 2004 dan 2006 denganspesifikasi orientasi dari masing kurikulum-kurikulum tersebut, secara garis besarperkembangan tersebut disajikan dalam tabel 1, sebagai berikut: 1[1] ktp09001.files.wordpress.com/2010/07/pertemuan3ktsp.doc/ di akses tanggal 2 mei 2012 20
  21. 21. Perkembangan Kurikulum Di Indonesia NO TAHUN FOKUS ORIENTASI 1 1968 Subject Matter (mata pelajaran) 2 1975 Terminal Objectives (TIU, TIK) 3 1984 Keterampilan Proses (CBSA Project) 4 1994 Munculnya pembagian kamar antara kurikulum nasional dengan kurikulum muatan local 5 2004 Kurikulum Berbasis Kompetensi 6 2006 Kurikulum berbasis lokal (daerah/satuan pendidikan) Dengan melihat pada isi tabel di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa :· perubahan atau penyesuaian kurikulum tersebut relatif dilakukan dalam periode yang relatif konstan yaitu antara 8 hingga 10 tahun,· perubahan mencakup aspek proses dan materi,· perkembangan terakhir menunjukkan konsentrasi pendidikan untuk meningkatkan mutu dan relevansinya bagi masyarakat dan lingkungan. Perkembangan terbaru dalam pendidikan dan kurikulum yaitu lahirnya kurikulum 2006 dengan diikuti populernya istilah KTSP. Persepsi masyarakat pendidikan pada umumnya dalam memandang KTSP sebagai model baru kurikulum sebagai pengganti KBK (kurikulum 2004), secara teoritik model pengembangan kurikulum yang sejalan dengan paradigma KTSP adalah model Tyler (objective model), model grassroot dari Hilda Taba, Model kurikulum transmisi dari Miller-Seller, dan lain sebagainya. Berdasarkan hal tersebut di atas, penulis beranggapan bahwa KTSP adalah sebuah istilah/penamaan dari suatu bentuk pengelolaan dan pengorganisasian kurikulum sebagai implikasi dilaksanakannya otonomi daerah khususnya dalam bidang pendidikan, hipotesa penulis didasari pengertian KTSP, prinsip-prinsip, dan prosedur penyusunan KTSP yang akan diuraikan pada bagian berikutnya dalam makalah ini. Sebagai pengayaan informasi penulis mencoba mendekatkan antara KTSP dengan SBCD (School-Based Curriculum Development) yang diterapkan di Australia melalui tulisan Laurie Brady “Curriculum Development: Third Edition” (1990). Brady mengatakan bahwa SBCD didalamnya “........... school and teacher greater autonomy in curriculum decisions”, pernyataan tersebut didasari pada asumsi bahwa “ ..... that curriculum decisions should be made by the teacher who are implementing them and that decisions should be shared by all who are involved”. 21
  22. 22. Trend munculnya SBCD adalah adanya desentralisasi dalam paradigma pengelolaanbidang kehidupan, tingginya tuntutan terhadap profesionalisme guru, perlunya kebebasansekolah untuk menentukan dan mengembangkan program studi, dan keterlibatan guru secaralangsung dalam proses pengembangan kurikulum. Lebih lanjut Brady mengatakan bahwaperan sekolah dalam proses pengembangan kurikulum adalah “ school must be involved inselecting content, having regard for available resources, to meets its own objectives and tocuter for students of different level of maturation”. Beberapa karakteristik pelaksanaan SBCD di Australia adalah sebagai berikut: 1. Melibatkan sekolah dan guru dalam membuat keputusan pengembangan dan implementasi kurikulum. 2. Menjalin hubungan antara beberapa sekolah dalam proses pengembangan kurikulum. 3. lebih berorientasi pada selective dan adaptive dari pada creative. 4. Merupakan proses kontinu dan dinamis dengan melibatkan guru, siswa dan masyarakat. 5. Membutuhkan dukungan dari berbagai elemen terkait. 6. Mengubah aturan/pola guru yang tradisional (perubahan peran guru kearah profesionalisme). 7. Adanya perpindahan tanggung jawab dalam pembuatan keputusan kurikulum daripada memutuskan hubungan atau jalur dengan pusat. Beberapa reaksi terhadap SBCD seperti ditulis Brady adalah: terasa berat melakukanperubahan peran guru dari pelaksana menjadi pengembang, lemahnya keahlian/kemampuanguru dan kurangnya pengalaman dan pengetahuan mengenai pengembangan kurikulum yangdisediakan di sekolah, masalah usia; karena usia merefleksikan pengalaman mengajar,insentif; yaitu suatu upaya untuk memotivasi guru terlibat dalam SBCD, dan supportstructure; perlunya dukungan sekolah secara hirarkikal. Berdasarkan beberapa kutipan yang penulis ambil dalam bukunya Brady (1990), padahakekatnya terdapat beberapa kesamaan orientasi antara SBCD yang diungkap oleh Bradypada tahun 1990 dengan KTSP yang saat ini merupakan hal yang dianggap “kebaruan” dalammasyarakat pendidikan di Indonesia. Sehingga SBCD dapat menjadi salah satu rujukan dalamdesain, pengelolaan, pemanfaatan, penggunaan, dan evaluasi KTSP yang sekarang sedangdigalakan oleh pemerintah dalam hal ini adalah dinas pendidikan indonesia dari tingkat pusathingga tingkat daerah. 1. Pengertian kurikulum satuan pendidikan (KTSP) KTSP adalah suatu ide tentang pengembangan kurikulum yang diletakan pada posisiyang paling dekat dengan pembelajaran yakni sekolah dan satuan pendidikan. KTSPmerupakan paradigma baru pengembangan kurikulum, yang memberikan otonomi luas padasetiap satuan pendidikan, dan pelibatan masyarakat dalam rangka mengefektifkan prosesbelajar mengajar di sekolah. 2[2]Otonomi diberikan agar setiap satuan pendidikan dan sekolah 2 [2] Mulyasa, E. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan; Sebuah Panduan Praktis. Bandung : PTRemaja Rosdakarya. . 2006. hal 20 22
  23. 23. memiliki keleluasaan dalam mengelola sumber daya, sumber dana, sumber belajar danmengalokasikannya sesuai prioritas kebutuhan, serta lebih tanggap terhadap kebutuhansetempat.3[3] kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dikembangkan sesuai dengansatuan pendidikan, potensi sekolah/daerah, karakteristik sekolah/daerah, sosial budayamasyarakat setempat, dan karakteristik peserta didik. Sekolah dan Komite Sekolah, atauMadrasah dan Komite Madrasah mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dansilabus berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi kelulusan KTSP merupakan upaya untuk menyempurnakan agar lebih familiar dengan guru,karena mereka banyak dilibatkan diharapkan memiliki tanggung jawab yang memadai.Penyempurnaan kurikulum yang berkelanjutan merupakaqn keharusan agar sistempendidikan nasional tersebut selalu relevan dan kompetitive. Hal tersebut juga sejalan denganUU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 35 dan 36 yang menekankan perlunyapeningkatan standar nasional pendidikan sebagai acuan kurikulum secara berencana danberkala dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun, dikembangkan dan dilaksanakanoleh setiap satuan pendidikan yang sudah siap dan mampu mengembangkannya denganmemperhatikan UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 36. 2. Landasan dan Prinsip Pengembangan KTSPKTSP dilandasi oleh UU dan peraturan pemerintah sebagai berikut4[4]: 1) UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas 2) Peraturan pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan 3) Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang standar Isi 4) Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang standar kompetensi kelulusan 5) Permendiknas No. 24 Tahun 2006 tentang pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan No. 23 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) jenjang pendidikan dasar dan menengahdikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah dengan berpedoman pada StandarKompetensi Lulusan (SKL) dan Standar Isi (SI) serta panduan penyusunan kurikulum yangdibuat oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), dengan memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:5[5] 3[3] Ibid. hal 21 4[4] http://budi.student.fkip.uns.ac.id/category/kbk-dan-ktsp. akses 2 mei 2012 5[5] http://www.pdf-tuts.com/download/prinsip-prinsip-pengembangan-ktsp-1.html/akses 2 mei 2012 23
  24. 24. a. Berpusat pada potensi, perkembangan, serta kebutuhan peserta didik dan lingkungannya Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisisentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman danbertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untukmendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikandengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutanlingkungan. Memiliki posisi sentral berarti kegiatan pembelajaran berpusat pada peserta didik. b. Beragam dan terpadu Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik,kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan, serta menghargai dan tidak diskriminatifterhadap perbedaan agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial, ekonomi, dan jender.Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, danpengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yangbermakna dan tepat antarsubstansi. c. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi, danseni yang berkembang secara dinamis. Oleh karena itu, semangat dan isi kurikulummemberikan pengalaman belajar peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkanperkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. d. relevan dengan kebutuhan kehidupan Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan(stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan hidup dan dunia kerja.Oleh karena itu, pengembangan kurikulum harus mempertimbangkan dan memperhatikanpengembangan integritas pribadi, kecerdasan spiritual, keterampilan berpikir (thingking skill),kreatifitas sosial, kemampuan akademik, dan keterampilan vokasional. e. Menyeluruh dan berkesinambungan Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajiankurikulum dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambunganantarsemua jenjang pendidikan. f. Belajar sepanjang hayat Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaanpeserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antaraunsur-unsur pendidikan formal, non formal, dan informal dengan memperhatikan kondisi dantuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya. 24
  25. 25. g. Seimbang antar kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan global, nasional, danlokal untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentinganglobal, nasional, dan lokal harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan denganperkembangan era globalisasi dengan tetap berpegang pada motto Bhineka Tunggal Ikadalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 3. Tujuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Secara umum tujuan diterapkannya KTSP adalah untuk memandirikan danmemberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepadalembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secarapartisipatif dalam pengembangan kurikulum.Secara khusus tujuan diterapkannya KTSP adalah : a. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia. b. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama. c. Meningkatkan kompetisi yang sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai.6[6] 4. Komponen-Komponen Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Bahwa komponen-komponen KTSP terdiri dari sebagai berikut : 7[7] a) Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut: 1) Tujuan pendidikan dasar adalah meletakan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. 2) Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. 6[6] Mulyasa, Op.cit.hlm. 22 7 [7] Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Panduan Penyusunan Tingkat SatuanhPendidikan. 2006 25
  26. 26. 3) Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya. b) Struktur dan Muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh olehpeserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Kedalaman muatan kurikulum setiap matapelajaran pada setiap satuan pendidikan dituangkan dalam kompetensi yang harus dikuasaipeserta didik sesuai dengan beban belajar yang tercantum dalam struktur kurikulum Struktur dan muatan KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang tertuangdalam SI meliputi lima kelompok mata pelajaran sebagai berikut : 1. Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. 2. Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian. 3. Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknlogi. 4. Kelompok mata pelajaran estetika. 5. Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan. Kelompok mata pelajaran tersebut dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatanpembelajaran sebagaimana diuraikan dalam PP 19/2005 pasal 7. Muatan KTSP meliputisejumlah mata pelajaran yang keluasan dan kedalamannya merupakan beban belajar bagipeserta didik pada satuan pendidikan. Di samping itu materi muatan lokal dan kegiatanpengembangan diri termasuk ke dalam isi kurikulum c) Kalender Pendidikan Kurikulum tingkat satuan pendidikan pada setiap jenis dan jenjang diselenggarakan denganmengikuti kalender pendidikan pada setiap tahun ajaran. Kelender pendidikan adalahpengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran yangmencakup permulaan tahun pelajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif danhari libur. Kalender pendidikan untuk setiap satuan pendidikan disusun oleh masing-masingsatuan pendidikan berdasarkan alokasi waktu pada dokumen standar isi denganmemperhatikan ketentuan dari pemerintah. 5. Aspek-Aspek Inovatif yang Terkandung Dalam KTSP8[8] KTSP yang mulai diberlakukan secara nasional pada tahun 2006 jelas berbeda dengan kurikulum sebelumnya. Perbedaan yang paling mendasar adalah bahwa KTSP merupakan produk dari penjabaran Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 yang bernafaskan Undang-undang Otonomi Daerah. Dua hal penting yang membedakan KTSP dengan kurikulum sebelumnya (sebagai dampak dari UU Otonomi 8[8] http://hanckey.pbworks.com/w/page/16454795/Inovasi%20Pendidikan/ di akses 2 mei 2012 26
  27. 27. Daerah) adalah (a) diberlakukannya kurikulum yang berdiversifikasi, dan (b) adanyastandardisasi pendidikan. Sebagaimana diketahui bahwa Indonesia adalah negara yangheterogen, baik dilihat dari aspek geografisnya maupun latar belakang sosial budayanya.Heterogenitas ini membawa dampak bahwa terdapat perbedaan yang cukup bermaknaantara daerah dan pusat. Dengan diberlakukannya Undang-undang Otonomi Daerah makasetiap daerah mempunyai wewenang untuk mengatur urusan dalam negerinya. Dengandemikian, pada aspek pendidikan terjadi hal yang sama. Jika pada masa berlakunyasentralisasi saja sudah menyebabkan adanya perbedaan yang bermakna antara pusat dengandaerah, maka dapat dibayangkan apa yang akan terjadi dengan sistem pendidikan yangdesentralisasi. Untuk mengatasi perbedaan tersebut, maka kurikulum dikembangkan denganmengacu kepada standar nasional, artinya meskipun tiap daerah bahkan tiap sekolah diberikebebasan untuk mengembangkan kurikulumnya sesuai dengan kemampuan masing-masing, tetapi tetap harus mengacu pada standar minimal yang sifatnya nasional. Dengandemikian diharapkan bahwa kurikulum yang dikembangkan (KTSP) dapat mengadopsikebutuhan daerah tetapi tidak melupakan aspek mutu/kualitas pendidikan secara nasional. Aspek-aspek inovatif yang terkandung dalam KTSP di antaranya diterapkannyapendidikan kecakapan hidup; dikembangkannya keunggulan lokal sesuai karakteristik,kebutuhan, dan tuntutan setempat; kurikulum berbasis sekolah, dalam pengertian meskipunkerangka dasar dan struktur kurikulum dikembangkan secara sentralistik, tetapipengembangan perencanaan pembelajaran (silabus & RPP) dan kegiatan belajar mengajardikembangkan secara desentralistik; dan disertakannya peran serta masyarakat. 6. Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan9[9] Dalam pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dapat dilakukanmelalui pengembangan komponen-komponen kurikulum, di antaranya: a) Visi, Misi, dan Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan Visi, dan Misi Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan harus berorientasi ke depan,dikembangkan bersama oleh seluruh warga sekolah, merupakan perpaduan antara langkahstrategis dan sesuatu yang dicita-citakan, dinyatakan dalam kalimat yang padat bermakna,dapat dijabarkan ke dalam tujuan dan indikator keberhasilannya, berbasis nilai, danmembumi (kontekstual). Penyusunan visi dalam KTSP melalui tiga tahap yaitu; tahap 1: hasil belajar siswa,dengan merumuskan apa yang harus dicapai siswa berkaitan dengan pengetahuan,keterampilan, dan sikap setelah mereka menamatkan sekolah. Tahap 2: suasanapembelajaran, dirumuskan dengan mempertimbangkan suasana pembelajaran seperti apa yg 9[9] ktp09001.files.wordpress.com/2010/07/pertemuan3ktsp.doc/ di akses 2 mei 2012 27
  28. 28. dikehendaki untuk mencapai hasil belajar itu, dan tahap 3: suasana sekolah, dimana sekolah ditempatkan sebagai lembaga/organisasi pembelajaran dengan merumuskan seperti apa yang diinginkan untuk mewujudkan hasil belajar bagi siswa. Setiap tahapan dirumuskan dalam kalimat, kemudian dipindai setiap rumusan/kalimat untuk mendapatkan kata kunci, rumusan visi dari kata kunci tersebut secara singkat padat bermakna (kurang lebih tidak lebih dari 25 kata), berdasarkan Visi ini, bisa ditentukan missinya dimana missi dapat diartikan sebagai sejumlah langkah strategis untuk menuju dan mencapai sasaran dari visi yang telah dirumuskan. Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Dan khususnya tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya. b) Struktur dan Muatan KTSP Struktur dan Muatan KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengah seperti tertuang dalam SI meliputi lima kelompok mata pelajaran, yaitu; kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaranjasmani, oleh raga dan kesehatan.Keluasan dan kedalaman pada setiap kelompok mata pelajaran sebagai beban belajar bagi setiap pesera didik pada satuan pendidikan. mata pelajaran, muatan lokal, kegiatan pengembangan diri, pengaturan beban belajar, kenaikan kelas, penjurusan, dan kelulusan, pendidikan kecakapan hidup, pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global. Kalender Pendidikan, untuk setiap satuan pendidikan dapat menyusun kalender pendidikan sesuai dengan kebutuhan daerah, karakteristik sekolah, kebutuhan peserta didik dan masyarakat, dengan memperhatikan kalender pendidikan sebagaimana tercantum dalam Standar Isi. 7. Peluang dan Tantangan yang diberikan oleh KTSP10[10] KTSP memberikan peluang munculnya diversifikasi sekolah, sebab kurikulum yangdikembangkan dalam KTSP sebagaimana yang telah diungkapkan di atas, hanya berisikanstandar kompetensi/kompetensi dasar yang merupakan standar nasional; sedangkanpengembangan selanjutnya sangat ditentukan oleh kebutuhan/karakteristik sekolah atau 10[10] http://hanckey.pbworks.com/w/page/16454795/Inovasi%20Pendidikan/ di akses 2 mei 2012 28
  29. 29. masyarakat yang berada di sekitar sekolah. Peluang ini dapat diterjemahkan sebagaitantangan bagi pihak sekolah (penyelenggara pendidikan) dalam rangka mempercepatpembangunan bangsa. Apakah sekolah sebagai penyelenggara pendidikan akan jalanditempat, “menunggu perintah dari atas” sebagaimana yang selama ini dikondisikan, ataupihak sekolah mengadopsi peluang itu dengan tujuan untuk meningkatkan kualitaspendidikan bangsanya. Diversifikasi ini memungkinkan dikembangkannya sistempersekolahan yang berdaya saing tinggi, sebab pihak sekolah diberi kewenangan penuh untukmengembangkan kurikulumnya sebaik dan semaju mungkin tetapi juga melihat padakebutuhan dan kemampuan pihak penyelenggara pendidikan (sekolah). Dengan adanyakemungkinan diverisifikasi ini maka penyelenggara pendidikan tidak lagi harus seragam,sehingga diharapkan percepatan pembangunan bangsa dapat dicapai. Partisipasi masyarakat yakni peran komite sekolah memberi masukan dan saran tentang keunggulan lokal, menjadi poin berikutnya dalam peluang yang terkandung di KTSP. Keterlibatan pihak masyarakat, yang selama ini dipandang hanya sebagai “user” pasif, memunculkan tantangan yang lebih bermakna, sebab masuknya peran/partisipasi masyarakat akan melibatkan pemikiran-pemikiran baru tentang perlunya peningkatan kualitas yang berasal dari pihak pengguna. Masyarakat dapat mengikutsertakan dirinya untuk pengembangan dan kemajuan sekolah dengan mengedepankan keunggulan- keunggulan yang dimiliki oleh masyarakat sekitar. Artinya pengembangan pendidikan berasal dari kebutuhan wilayah sekitar (lokal) dan membawa warna keunggulan lokal, sehingga produk pendidikan tidak lagi menjadi suatu alieansi sebab kemajuan pendidikan daerah tersebut sangat ditentukan oleh pengembangan keunggulan lokalnya. Peluang lain yang diberikan melalui KTSP adalah bahwa kurikulum berbasis sekolah. Hal ini mengindikasi selain kurikulum akan dikembangkan sesuai kebutuhan dan kemampuan pihak sekolah, juga tidak kalah pentingnya adalah bahwa kurikulum harus dikembangkan oleh guru. Dalam hal ini guru bukan hanya sebagai pelaksana kurikulum, melainkan juga sebagai pengembang kurikulum di kelasnya. Konsekuensinya, guru dituntut untuk siap sebagai pengembang kurikulum, sehingga tidak lagi terdengar bahwa pengembangan perencanaan pembelajaran hanyalah merupakan “pekerjaan administratif belaka”. Konsekuensi lanjutan adalah perlunya pembinaan berkelanjutan yang intensif bagi pihak guru sebagai pengembang kurikulum di tingkat sekolah. Profesionalisasi menjadi suatu kebutuhan, dan guru harus terus meningkatkan dirinya untuk mempercepat pembangunan bangsa. Di tangan gurulah terletak maju atau mundurnya pendidikan kita. 8. Kemungkinan Permasalahan dalam Proses Implementasinya11[11] Penerapan KTSP telah berjalan tiga tahun, dan sampai saat ini tampaknya apa yang dilaksanakan di lapangan masih belum memenuhi tuntutan kurikulum tersebut. Tidak sedikit pengamat pendidikan yang mempertanyakan apa perbedaan antara KTSP dengan 11[11] http://hanckey.pbworks.com/w/page/16454795/Inovasi%20Pendidikan/diakses 2 mei 2012 29
  30. 30. kurikulum sebelumnya, sementara di kalangan guru masih terjadi perbedaan pendapat di dalam menafsirkan tuntutan kurikulum. Guru kembali menggunakan kebiasaan mengajar seperti sebelumnya. Di lain pihak para guru merasa bahwa SK/KD tidak memberi arah dan tuntunan yang jelas (dan detail) sehingga mereka cenderung mencari “contoh silabus/RPP” yang sudah jadi dan meniru nya menjadi silabus/RPP yang akan digunakannya dalam pembelajarannya. Hal-hal yang terjadi seperti dikemukakan di atas dapat diidentifikasi : a. Sudah terlalu lamanya guru menggunakan gaya mengajar yang mengacu kepada posisi guru sebagai user kurikulum (segala sesuatu telah ditetapkan dari atas sehingga guru tinggal melaksanakannya), dan terdapat kecenderungan untuk mempertahankan gaya tersebut (status quo), sedangkan KTSP mensyaratkan guru untuk menjadi curriculum developer. b. Kurangnya proses sosialisasi KTSP yang pada awal berlakunya kurikulum tersebut hanya dilakukan one-shot training. Bagaimana guru dapat memahami isi dan tuntutan kurikulum dengan baik jika pengenalan dilakukan hanya dalam waktu terbatas. Kurangnya pemahaman guru terhadap orientasi kurikulum. Dalam hal ini orientasikurikulum (yang merupakan salah satu dari landasan kurikulum) merupakan dasardikembangkannya bentuk kurikulum, sehingga memahami orientasi kurikulum akanmemudahkan untuk memahami kurikulum secara keseluruhan. Sebagai contoh KTSP padaposisi pencapaian tujuan kurikuler berkiblat pada orientasi Transaction yang artinya siswasebagai pusat sebab orientasi ini menganggap siswa memiliki kemampuan berinteraksidengan lingkungan dan proses ditekankan pada proses (Seller & Miller, 1985 : 62-67) danpengembangan aktivitas siswa merupakan tujuan antara dalam rangka mencapai tujuankurikuler. Dengan demikian apabila guru tidak memahami orientasi kurikulum yang tersiratdalam KTSP, maka kemungkinan yang terjadi adalah guru memberikan sejumlah informasi(faktual) kepada siswa, dan pada akhirnya siswa hanya tinggal menghafal fakta-fakta yangtelah diberikan oleh guru tersebut (pembelajaran satu arah dan siswa pasif - cenderung rotelearning). Tampaknya kelemahan dalam proses implementasi KTSP lebih cenderung kepadakurangnya pemahaman guru terhadap apa yang menjadi tuntutan kurikulum tersebut. Dalamhal ini masalah implementasi tersebut lebih banyak berada pada posisi kekurangan yang adapada guru sebagai pengembang kurikulum. 30
  31. 31. BAB III KESIMPULAN Inovasi kurikulum muncul karena ada masalah yang dirasakan dalam pelaksanaankurikulum. Inovasikurikulum meliputi perencanaan, implementasi dan pengembangankurikulum termasuk kurikulum berbasis kompetensi yang meliputi konsep, karakteristik, danproses pengembangan KBK. Konsep KBK menitikberatkan pada kemampuan di bidangpengetahuan, keterampilan sikap yang diwujudkan dalam bentuk tindakan baik kompetensiakademis, okupasional, kultural maupun temporal. Karakteristik KBK beroreantasi padaketercapaian kompetensi, keberagaman hasil belajar, multi strategi termasuk pendekatan ataumetode dengan menekankan penilaian pada proses dan hasil. Inovasi Kurikulum merupakan suatu gagasan atau praktek kurikulum baru denganmengadopsi bagian-bagian yang potensial dari kurikulum tersebut dengan tujuan untukmemecahkan masalah atau mencapai tujuan tertentu. Inovasi dilakukan apabila guru benar-benar menyakini bahwa pembaharuan itu memang harus dilakukan dan diperlukan. Berbicaramengenai inovasi (pembaharuan) mengingatkan kita pada istilah invention dan discovery.Inovasi sendiri terkait dengan pengambilan keputusan yang diambil, baik menerima bahkanmenolak hasil dari inovasi. Dalam menyikapi suatu perubahan, setiap sekolah dituntut berperan dalampembaharuan tersebut sampai pada tahap implementasinya dan menetapkan perubahan itusesuai dengan perkembangan sekolah tersebut. Sering terjadi sekolah menerima suatuperubahan tanpa memperhitungkan mengapa mereka mengadopsinya, apa dampak perubahanitu bagi guru, siswa, dan masyarakat luas. Kemudian, sekolah yang dijadikan ajangpembaharuan itu digembor-gemborkan sebagai suatu model yang akan menjadi contoh bagisekolah lain. Sampai saat ini telah mengalami perubahan penyempumaan (inovasi) kurikulummulai dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Implernentasi suatu inovasikurikulum dimaksudkan untuk menyahuti perkembangan jaman dan meningkatkan mutusuatu satuan pendidikan. Namun, sering inovasi-inovasi tersebut mengalami kegagalan dantidak pernah diimplementasikan. Inovasi kurikulum ini bukan hanya perubahan pemikiran, tetapi yang paling pentingadalah perubahan perilaku dalam pembelajaran. Dan suatu inovasi tidak begitu saja dapatditerima. Perubahan-perubahan yang dibawa inovasi memerlukan persiapan dan waktu yangpanjang, Kecepatan pelaksanaannya tergantung pada kondisi sekolah dan kesiapan parapelaksana (Hasan, 1995), cepat atau lambatnya suatu inovasi diterima oleh masyarakat atausekolah tergantung pada karakteristik inovasi KTSP adalah suatu ide tentang pengembangan kurikulum yang diletakan pada posisiyang paling dekat dengan pembelajaran yakni sekolah dan satuan pendidikan. KTSPmerupakan paradigma baru pengembangan kurikulum, yang memberikan otonomi luas pada 31
  32. 32. setiap satuan pendidikan, dan pelibatan masyarakat dalam rangka mengefektifkan prosesbelajar mengajar di sekolah. Perbedaan mendasar dari kurikulum 2004 dengan KTSP adalah khususnya dalampenyusunan dan pengembangan indikator pencapaian kompetensi ditentukan oleh satuanpendidikan dalam hal ini guru dengan mengacu pada Standar Isi yang ditetapkan secaranasional. Secara umum konten dan system kompetensi pada kurikulum 2004 masihdigunakan pada kurikulum 2006 atau KTSP, oleh karena itu penguasaan kedua kurikulumtersebut saling berkaitan erat. KTSP memberikan peluang munculnya diversifikasi sekolah, sebab kurikulum yangdikembangkan dalam KTSP sebagaimana yang telah diungkapkan di atas, hanya berisikanstandar kompetensi/kompetensi dasar yang merupakan standar nasional; sedangkanpengembangan selanjutnya sangat ditentukan oleh kebutuhan/karakteristik sekolah ataumasyarakat yang berada di sekitar sekolah. Peluang ini dapat diterjemahkan sebagaitantangan bagi pihak sekolah (penyelenggara pendidikan) dalam rangka mempercepatpembangunan bangsa. Apakah sekolah sebagai penyelenggara pendidikan akan jalanditempat, “menunggu perintah dari atas” sebagaimana yang selama ini dikondisikan, ataupihak sekolah mengadopsi peluang itu dengan tujuan untuk meningkatkan kualitaspendidikan bangsanya. 32
  33. 33. DAFTAR PUSTAKAhttp://dheo-education.blogspot.com/2008/05/kurikulum-berbasis-masyarakat.htmlHamalik, Oemar. 2003, Kurikulum dan pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara.Nasution. 1999, Asas – asas kurikulum. Jakarta: PT Bumi Aksara.Nana Syaodih Sukmadinata 1997, Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek RemajaRosdakarya, Sa’ud, Syaefudin Udin. 2008. Inovasi Pendidikan. Bandung: Alfabetahttp://dreamschool26.blogspot.com/2010/11/makalah-inovasi-kurikulum.htmlhttp://inovendplb2.wordpress.com/2012/01/10/makalah/Mulyasa, E. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan; Sebuah Panduan Praktis. Bandung : PTRemaja Rosdakarya. . 2006. hal 20Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Panduan Penyusunan Tingkat SatuanhPendidikan. 2006http://budi.student.fkip.uns.ac.id/category/kbk-dan-ktsp. akses 2 juni 2010http://www.pdf-tuts.com/download/prinsip-prinsip-pengembangan-ktsp-1.html/akses 2 mei2012http://hanckey.pbworks.com/w/page/16454795/Inovasi%20Pendidikanktp09001.files.wordpress.com/2010/07/pertemuan3ktsp.dochttp://k-youlia.blogspot.com/2012/10/inovasi-pada-kurikulum-tingkat-satuan.html 33

×