Tugas kmr

879 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
879
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
7
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Tugas kmr

  1. 1. Tugas KMR<br />D<br />I<br />S<br />U<br />S<br />U<br />N<br />Oleh : RahayuKelas : IX.8<br />Putri Kaca Mayang<br />Pada zaman dahulu kala, di tepi Sungai Siak berdirilah sebuah kerajaan yang bernama Gasib. Kerajaan ini sangat terkenal, karena mempunyai seorang panglima yang gagah perkasa dan disegani, Panglima Gimpam namanya. Selama ia menjadi penglima Kerajaan Gasib, tiada satu pun kerajaan lain yang dapat menaklukkannya. Selain itu, Kerajaan Gasib juga mempunyai seorang putri yang kecantikannya sudah masyhur sampai ke berbagai negeri, "Putri Kaca Mayang" namanya. Meskipun demikian, tak seorang raja pun yang berani meminangnya. Mereka merasa segan meminang sang Putri, karena Raja Gasib terkenal mempunyai Panglima Gimpam yang gagah berani itu.<br />Pada suatu hari, Raja Aceh memberanikan dirinya meminang Putri Kaca Mayang. Ia pun mengutus dua orang panglimanya untuk menyampaikan maksud pinangannya kepada Raja Gasib. Sesampainya di hadapan Raja Gasib, kedua panglima itu kemudian menyampaikan maksudkedatangan mereka.<br />“Ampun, Baginda!<br />Kami adalah utusan Raja Aceh. Maksud kedatangan kami adalah untuk menyampaikan pinangan raja kami,” lapor seorang utusan.<br />“Benar, Baginda!<br />Raja kami bermaksud meminang Putri Baginda yang bernama Putri Kaca Mayang,” tambah utusan yang satunya.<br />“Maaf, Utusan!<br />Putriku belum bersedia untuk menikah. Sampaikan permohonan maaf kamikepada raja kalian,” jawab Raja Gasib dengan penuh wibawa.<br />Mendengar jawaban itu, kedua utusan tersebut bergegas kembali ke Aceh dengan perasaan kesal dan kecewa. Di hadapan Raja Aceh, kedua utusan itu melaporkan tentang penolakan Raja Gasib. Raja Aceh sangat kecewa dan merasa terhina mendengar laporan itu. Ia sangat marah dan berniat untuk menyerang Kerajaan Gasib. Sementara itu, Raja Gasib telah mempersiapkan pasukan perang kerajaan untuk menghadapi serangan yang mungkin terjadi, karena ia sangat mengenal sifat Raja Aceh yang angkuh itu. Panglima Gimpam memimpin penjagaan di Kuala Gasib, yaitu daerah di sekitar Sungai Siak. Rupanya segala persiapan Kerajaan Gasib diketahui oleh Kerajaan Aceh. Melalui seorang mata-matanya, Raja Aceh mengetahui Panglima Gimpam yang gagah perkasa itu berada di Kuala Gasib. Oleh sebab itu, Raja Aceh dan pasukannya mencari jalan lain untuk masuk ke negeri Gasib. Maka dibujuknya seorang penduduk Gasib menjadi penunjuk jalan.“Hai, orang muda!<br />Apakah kamu penduduk negeri ini?, tanya pengawal Raja Aceh kepada seorang penduduk Gasib.<br />“Benar, Tuan!” jawab pemuda itu singkat.<br />“Jika begitu, tunjukkan kepada kami jalan darat menuju negeri Gasib!” desak pengawal itu.<br />Karena mengetahui pasukan yang dilengkapi dengan senjata itu akan menyerang negeri Gasib, pemuda itu menolak untuk menunjukkan mereka jalan menuju ke Gasib. Ia tidak ingin menghianati negerinya.<br />“Maaf, Tuan! Sebenarnya saya tidak tahu seluk-beluk negeri ini,” jawab pemuda itu.<br />Merasa dibohongi, pengawal Raja Aceh tiba-tiba menghajar pemuda itu hingga babak belur. Karena tidak tahan dengan siksaan yang diterimanya, pemuda itu terpaksa memberi petunjuk jalan darat menuju ke arah Gasib.<br />Berkat petunjuk pemuda itu, maka sampailah prajurit Aceh di negeri Gasib tanpa sepengetahuan Panglima Gimpam dan anak buahnya. Pada saat prajurit Aceh memasuki negeri Gasib, mereka mulai menyerang penduduk. Raja Gasib yang sedang bercengkerama dengan keluarga istana tidak mengetahui jika musuhnya telah memporak-porandakan kampung dan penduduknya. Ketika prajurit Aceh menyerbu halaman istana, barulah Raja Gasib sadar, namun perintah untuk melawan sudah terlambat. Semua pengawal yang tidak sempat mengadakan perlawanan telah tewas di ujung rencong (senjata khas Aceh) prajurit Aceh. Dalam sekejap, istana berhasil dikuasai oleh prajurit Aceh. Raja Gasib tidak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menyaksikan para pengawalnya tewas satu-persatu dibantai oleh prajurit Aceh. Putri Kaca Mayang yang cantik jelita itu pun berhasil mereka bawa lari.<br />Panglima Gimpam yang mendapat laporan bahwa istana telah dikuasai prajurit Aceh,ia bersama pasukannya segera kembali ke istana. Ia melihat mayat-mayat bergelimpangan bersimbah darah. Panglima Gimpam sangat marah dan bersumpah untuk membalas kekalahan Kerajaan Gasib dan berjanji akan membawa kembali Putri Kaca Mayang ke istana. Pada saat itu pula Panglima Gimpam berangkat ke Aceh untuk menunaikan sumpahnya. Dengan kesaktiannya, tak berapa lama sampailah Panglima Gimpam di Aceh. Prajurit Aceh telah mempersiapkan diri menyambut kedatangannya. Mereka telah menyiapkan dua ekor gajah yang besar untuk menghadang Panglima Gimpam di gerbang istana. Ketika Panglima Gimpam tiba di gerbang istana, ia melompat ke punggung gajah besar itu. Dengan kesaktian dan keberaniannya, dibawanya kedua gajah yang telah dijinakkan itu ke istana untuk diserahkan kepada Raja Aceh.<br />Raja Aceh sangat terkejut dan takjub melihat keberanian dan kesaktian Panglima Gimpam menjinakkan gajah yang telah dipersiapkan untuk membunuhnya. Akhirnya Raja Aceh mengakui kesaktian Panglima Gimpam dan diserahkannya Putri Kaca Mayang untuk dibawa kembali ke istana Gasib. Setelah itu, Panglima Gimpam segera membawa Putri Kaca Mayang yang sedang sakit itu ke Gasib. Dalam perjalanan pulang, penyakit sang Putri semakin parah. Angin yang begitu kencang membuat sang Putri susah untuk bernapas. Sesampainya di Sungai Kuantan, Putri Kaca Mayang meminta kepada Panglima Gimpam untuk berhenti sejenak.<br />“Panglima! Aku sudah tidak kuat lagi menahan sakit ini. Tolong sampaikan salam dan permohonan maafku kepada keluargaku di istina Gasib,”<br />ucap sang Putri dengan suara serak. Belum sempat Panglima Gimpam berkata apa-apa, sang Putri pun menghembuskan nafas terakhirnya. Panglima Gimpam merasa bersalah sekali, karena ia tidak berhasil membawa sang Putri ke istana dalam keadaan hidup. Dengan diliputi rasa duka yang mendalam, Panglima Gimpam melanjutkan perjalanannya dengan membawa jenazah Putri Kaca Mayang ke hadapan Raja Gasib. Sesampainya di istana Gasib, kedatangan Panglima Gimpam yang membawa jenazah sang Putri itu disambutoleh keluarga istana dengan perasaan sedih. Seluruh istana dan penduduk negeri Gasib ikut berkabung. Tanpa menunggu lama-lama, jenazah Putri Kaca Mayang segera dimakamkan di Gasib. Sejak kehilangan putrinya, Raja Gasib sangat sedih dan kesepian. Semakin hari kesedihan Raja Gasib semakin dalam. Untuk menghilangkan bayangan putri yang amat dicintainya itu, Raja Gasib memutuskan untuk meninggalkan istana dan menyepi ke Gunung Ledang, Malaka.<br />Untuk sementara waktu, pemerintahan kerajaan Gasib dipegang oleh Panglima Gimpam. Namun, tak berapa lama, Panglima Gimpam pun berniat untuk meninggalkan kerajaan itu. Sifatnya yang setia, membuat Panglima Gimpam tidak ingin menikmati kesenangan di atas kesedihan dan penderitaan orang lain. Ia pun tidak mau mengambil milik orang lain walaupun kesempatan itu ada di depannya. Akhirnya, atas kehendaknya sendiri, Panglima Gimpam berangkat meninggalkan Gasib dan membuka sebuah perkampungan baru, yang dinamakanPekanbaru. Hingga kini, nama itu dipakai untuk menyebut nama ibukota Provinsi Riau yaitu Kota Pekanbaru. Sementara, makam Panglima Gimpam masih dapat kita saksikan di Hulu Sail, sekitar 20 km dari kota Pekanbaru.<br /><ul><li> Lancang Kuning</li></ul>Alkisah tersebutlah sebuah cerita, didaerah Kampar pada zaman dahulu hiduplah si Lancang dengan ibunya. Mereka hidup dengan sangat miskin. Mereka berdua bekerja sebagai buruh tani. <br />Untuk memperbaiki hidupnya, maka Si Lancang berniat merantau. Pada suatu hari ia meminta ijin pada ibu dan guru ngajinya. Ibunya pun berpesan agar di rantau orang kelak Si Lancang selalu ingat pada ibu dan kampung halamannya. Ibunya berpesan agar Si Lancang jangan menjadi anak yang durhaka.Si Lancang pun berjanji pada ibunya tersebut. Ibunya menjadi terharu saat Si Lancang menyembah lututnya untuk minta berkah. Ibunya membekalinya sebungkus lumping dodak, kue kegemaran Si Lancang.Setelah bertahun-tahun merantau, ternyata Si Lancang sangat beruntung. Ia menjadi saudagar yang kaya raya. Ia memiliki berpuluh-puluh buah kapal dagang. Dikhabarkan ia pun mempunyai tujuh orang istri. Mereka semua berasal dari keluarga saudagar yang kaya. Sedangkan ibunya masih tinggal di Kampar dalam keadaan yang sangat miskin.Pada suatu hari, Si Lancang berlayar ke Andalas. Dalam pelayaran itu ia membawa ke tujuh isterinya. Bersama mereka dibawa pula perbekalan mewah dan alat-alat hiburan berupa musik. Ketika merapat dikampar, alat-alat musik itu dibunyikan riuh rendah. Sementara itu kain sutra dan aneka hiasan emas dan perak digelar. Semuanya itu disiapkan untuk menambah kesan kemewahan dan kekayaan si Lancang.<br />Berita kedatangan Si Lancang didengar oleh ibunya. Dengan perasaan terharu, ia bergegas untuk menyambut kedatangan anak satu-satunya tersebut. Karena miskinnya, ia hanya mengenakan kain selendang tua, sarung usang dan kebaya penuh tambalan. Dengan memberanikan diri dia naik ke geladak kapal mewahnya Si Lancang. Begitu menyatakan bahwa dirinya adalah ibunya Si Lancang, tidak ada seorang kelasi pun yang mempercayainya. Dengan kasarnya ia mengusir ibu tua tersebut. Tetapi perempuan itu tidak mau beranjak. Ia ngotot mintauntuk dipertemukan dengan anaknya Si Lancang. Situasi itu menimbulkan keributan. Mendengar kegaduhan di atas geladak, Si Lancang dengan diiringi oleh ketujuh istrinya mendatangi tempat itu. Betapa terkejutnya ia ketika menyaksikan bahwa perempuan compang camping yang diusir itu adalah ibunya. Ibu si Lancang pun berkata, "Engkau Lancang ... anakku! Oh ... betapa rindunya hati emak padamu. Mendengar sapaan itu, dengan congkaknya Lancang menepis. Anak durhaka inipun berteriak, "mana mungkin aku mempunyai ibu perempuan miskin seperti kamu. Kelasi! usir perempuan gila ini."<br />Ibu yang malang ini akhirnya pulang dengan perasaan hancur. Sesampainya di rumah, lalu ia mengambil pusaka miliknya. Pusaka itu berupa lesung penumbuk padi dan sebuah nyiru. Sambil berdoa, lesung itu diputar-putarnya dan dikibas-kibaskannya nyiru pusakanya. Ia pun berkata, "ya Tuhanku ... hukumlah si Anak durhaka itu." Dalam sekejap, turunlah badai topan. Badai tersebut berhembus sangat dahsyatnya sehingga dalam sekejap menghancurkan kapal-kapal dagang milik Si Lancang. Bukan hanya kapal itu hancur berkeping-keping, harta benda miliknya juga terbang ke mana-mana.Kain sutranya melayang-layang dan jatuh menjadi negeri Lipat Kain yang terletak di Kampar Kiri. Gongnya terlempar ke Kampar Kanan dan menjadi Sungai Oguong. Tembikarnya melayang menjadi Pasubilah. Sedangkan tiang bendera kapal Si Lancang terlempar hingga sampai di sebuah danau yang diberi nama Danau Si Lancang.<br />Hang Tuah<br />Alkisah, Di pantai barat Semenanjung Melayu, terdapat sebuah kerajaan bernama Negeri Bintan. Waktu itu ada seorang anak lakik-laki bernama Hang Tuah. Ia seorang anak yang rajin dan pemberani serta sering membantu orangtuanya mencari kayu di hutan. Hang Tuah mempunyai empat orang kawan, yaitu Hang Jebat, Hang Lekir, Hang Lekiu dan Hang Kesturi. Ketika menginjak remaja, mereka bermain bersama ke laut. Mereka ingin menjadi pelaut yang ulung dan bisa membawa kapal ke negeri-negeri yang jauh.<br />Suatu hari, mereka naik perahu sampai ke tengah laut. “Hei lihat, ada tiga buah kapal!” seru Hang Tuah kepada teman-temannya. Ketiga kapal itu masih berada di kejauhan, sehingga mereka belum melihat jelas tanda-tandanya. Ketiga kapal itu semakin mendekat. “Lihat bendera itu! Bendera kapal perompak! “Kita lawan mereka sampai titik darah penghabisan!” teriak Hang Kesturi. Kapal perompak semakin mendekati perahu Hang Tuah dan teman-temannya. “Ayo kita cari pulau untuk mendarat. Di daratan kita lebih leluasa bertempur!” kata Hang Tuah mengatur siasat. Sesampainya di darat Hang Tuah mengatur siasat. Pertempuran antara Hang Tuah dan teman-temannya melawan perompak berlangsung sengit. Hang Tuah menyerang kepala perompak yang berbadan tinggi besar dengan keris pusakanya. “Hai anak kecil, menyerahlah… Ayo letakkan pisau dapurmu!” Mendengar kata-kata tersebut Hang Tuah sangat tersinggung. Lalu ia melompat dengan gesit dan menikam sang kepala perompak. Kepala perompak pun langsung tewas. Dalam waktu singkat Hang Tuah dan teman-temannya berhasil melumpuhkan kawanan perompak. Mereka berhasil menawan 5 orang perompak. Beberapa perompak berhasil meloloskan diri dengan kapalnya.<br />Kemudian Hang Tuah dan teman-temannya menghadap Sultan Bintan sambil membawa tawanan mereka. Karena keberanian dan kemampuannya, Hang Tuah dan teman-temannya diberi pangkat dalam laskar kerajaan. Beberapa tahun kemudian, Hang Tuah diangkat menjadi pimpinan armada laut. Sejak menjadi pimpinan armada laut, negeri Bintan menjadi kokoh dan makmur. Tidak ada negeri yang berani menyerang negeri Bintan. Beberapa waktu kemudian, Sultan Bintan ingin mempersunting puteri Majapahit di Pulau Jawa. “Aku ingin disiapkan armada untuk perjalanan ke Majapahit,” kata Sultan kepada Hang Tuah. Hang Tuah segera membentuk sebuah armada tangguh. Setelah semuanya siap, Sultan dan rombongannya segera naik ke kapal menuju ke kota Tuban yang dahulunya merupakan pelabuhan utama milik Majapahit. Perjalanan tidak menemui hambatan sama sekali. Pesta perkawinan Sultan berlangsung dengan meriah dan aman.<br />Setelah selesai perhelatan perkawinan, Sultan Bintan dan permaisurinya kembali ke Malaka. Hang Tuah diangkat menjadi Laksamana. Ia memimpin armada seluruh kerajaan. Tetapi hal ini tidak berlangsung lama karena para perwira istana menjadi iri hati. Para perwira istana menghasut Sultan. Mereka mengatakan bahwa Hang Tuah hanya bisa berfoya-foya, bergelimang dalam kemewahan dan menghamburkan uang negara. Akhirnya Sultan termakan hasutan mereka. Hang Tuah dan Hang Jebat di berhentikan. Bahkan para perwira istana mengadu domba Hang Tuah dan Hang Jebat. Mereka menuduh Hang Jebat akan memberontak. Han Tuah terkejut mendengar berita tersebut. Ia lalu mendatangi Hang Jebat dan mencoba menasehatinya. Tetapi rupanya siasat adu domba oleh para perwira kerajaan berhasil. Hang Jebat dan Hang Tuah bertengkar dan akhirnya berkelahi. Naas bagi Hang Jebat. Ia tewas ditangan Hang Tuah. Hang Tuah sangat menyesal. Tapi bagi Sultan, Hang Tuah dianggap pahlawan karena berhasil membunuh seorang pemberontak. “Kau kuangkat kembali menjadi laksamana”, kata Sultan pada Hang Tuah. Sejak saat itu Hang Tuah kembali memimpin armada laut kerajaan.<br />Suatu hari, Hang Tuah mendapatkan tugas ke negeri India untuk membangun persahabatan antara Negeri Bintan dan India. Hang Tuah di uji kesaktiannya oleh Raja India untuk menaklukkan kuda liar. Ujian itu berhasil dilalui Hang Tuah. Raja India dan para perwiranya sangat kagum. Setelah pulang dari India, Hang Tuah menerima tugas ke Cina. Kaisarnya bernama Khan. Dalam kerajaan itu tak seorang pun boleh memandang langsung muka sang kaisar. Ketika di jamu makan malam oleh Kaisar, Hang Tuah minta disediakan sayur kangkung. Ia duduk di depan Kaisar Khan. Pada waktu makan, Hang Tuah mendongak untuk memasukkan sayur kangkung ke mulutnya. Dengan demikian ia dapat melihat wajah kaisar. Para perwira kaisar marah dan hendak menangkap Hang Tuah, namun Kiasar Khan mencegahnya karena ia sangat kagum dengan kecerdikan Hang Tuah.<br />Beberapa tugas kenegaraan lainnya berhasil dilaksanakan dengan baik oleh Hang Tuah. Hingga pada suatu saat ia mendapat tugas menghadang armada dari barat yang dipimpin seorang admiral yang bernama D Almeida. Armada ini sangat kuat. Hang Tuah dan pasukannya segera menghadang. Pertempuran sengit segera terjadi. Saat itulah Hang Tuah gugur membela tanah airnya. Ia tewas tertembus peluru sang admiral.Sejak saat itu, nama Hang Tuah menjadi terkenal sebagai pelaut ulung, laksamana yang gagah berani dan menjadi pahlawan di Indonesia dan di Malaysia. Sebagai bentuk penghormatan, salah satu dari kapal perang Indonesia diberi nama KRI Hang Tuah. Semoga nama itu membawa ‘tuah’ yang artinya adalah berkah.<br />SENAPELAN<br /> Pekanbaru, Metropolis si jantung Sumatra dulunya adalah sebuah kampong kecil ditepian Sungai Siak yang bernama Payung Sekaki. Ketika itu letaknya menjadi persimpangan antara hulu dan hilir. Pedagang dari pedalaman Minangkabau (Tanah Datar, Limapuluh, dll), Kampar, melintasi kampung ini tentunya membawa serta barang dagangan semisal emas dan rempah-rempah. Selanjutnya daerah ini berkembang pesat dan naik status dari kampung kecil menjadi “kebathinan” dan berganti nama menjadi “Senapelan”.<br /> Konon nama ini berasal dari suku asli yang mendiami Payung Sekaki yakni suku Senapelan. Pemimpin Bandar Senapelan adalah seorang Bathin. Daerah ini kemudian hari dilirik oleh Sultan Abdul Jalil Alamudinsyah (Marhum Bukit) dari Kesultanan Siak di Mempura. Beliau ingin mengembangkan Bandar ini dengan melengkapinya dengan jalur perdagangan berupa “pekan” yang ramai dikunjungi setiap minggunya. Adalah suatu kebiasaan dihampir setiap kampung di Sumatra untuk menggelar hari pekan tiap minggunya. Sultan Alamudinsyah telah menciptakan master plan gagasannya itu dengan memindahkan ibukota Kesultanan Siak di Bandar Senapelan tersebut. Setelah beliau wafat, gagasan pembuatan Pekan ini dilanjutkan oleh anak laki-lakinya yakni Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzamsyah (Marhum Pekan) dengan membuka secara resmi Pekan yang baharu tersebut pada 23 Juni 1784.<br /> Pada akhirnya nama Bandar Senapelan berubah menjadi Pekan Baharu yang kemudian menjadi Pekanbaru. Sepeninggal Marhum Pekan, ibukota kesultanan Siak dipindahkan ke Siak Sri Inderapura. Jejak sejarah kota ini tersisa antara lain Masjid Raya Nur Alam yaitu masjid pertama yang berdiri di Pekanbaru pada masa Sultan Alamudinsyah berkuasa. Disebelah utara terdapat makam para pendiri kota yakni makam Marhum Bukit dan Marhum Pekan beserta makam permaisuri,panglima,qadi dan keraat kesultanan. Disebelah selatan terdapat sumur tua yang diyakini berkhasiat magis. Disebelah timur berdiri Pasar Bawah yang konon bekas Pekan yang Baharu tersebut. Istana kesultanan diyakini berada di sekitar daerah tersebut namun hingga kini sulit dibuktikan dimana letaknya. Daerah old town ini berada di seputaran Jalan Senapelan, Jalan Perdagangan, Jalan Panglima Undan, Jalan Juanda, Jalan H. Sulaiman (Pasar Tengah/Pasar Babi), Jalan M.Yatim & Jalan Saleh Abbas (Pasar Bawah), Pelabuhan Pasa Bawah, Kampung Bukit, Jalan Riau dan sekitarnya. Di Jalan Kesehatan terdapat Lapangan Bukit yang ujungnya terdapat pemakaman umum, di Jalan Riau tepatnya disebelah Rumah Mantan Gubernur Soebrantas terdapat Mushalla Senapelan yang kini telah menjadi Masjid Senapelan.<br /> Konon inilah mushalla pertama di Pekanbaru. Di seputaran jalan Juanda masih terdapat bangunan ruko tua yang masih terawat.<br /> <br />Kisah 3 Kakak Beradik<br /> Konon di daerah Riau tepatnya di kerajaan paying sekaki, ada sebuah kisah 3 bersaudara. Mereka tidak memiliki ayah dan ibu lagi, anak sulung bernama Suman yang merupakan abang pertama yang mencukupi kebutuhan adik adiknya, anak kedua bernama taslim dan si bungsun bernama sulaiman. Disuatu hari suman mengajak adik-adiknya untuk bercakap-cakap.<br />Suman : wahai adik-adik ku, abang nak tanye pade kalian. Taslim, bile besar nanti kau nak apa? Taslim : Kalau aku, nak beli banyak makanan yang sedap-sedap bang Suman : Kalau kamu nak apa sulaiman? Sulaiman : Kalau aku bang, nak meminang putri raja nan cantik jelita buat ku jadikan istri bang Taslim : Hahahahaha,,serius kau sulaiman? Kau yang miskin tu tinggi betol khayalan nya. Tengok kau sekarang ni, buat makan je susah nak minang putrid raje?? Mimpi… Sulaiman : di dunia tak adek yg tak mungkin wahai abangku. Mungkin sekarang aku orang miskin tak punya apa apa, tapi lihat nanti. Aku akan berusaha agar impian ku itu tercapai. Suman : Sudah lah jangan kelahi adik-adik ku.<br /> Di kamarnya sulaiman termenung, perkataan abangnya taslim ada benar nya juga, ia berfikir akan terus maju ke depan dan berusaha keras. Dapat lah ia ide bahwa ia harus pergi merantau agar merubah kehidupan nya sekarang. Kehendak nya itu disampaikan nya pada abang abang nya dengan terpaksa mereka mengizinkan kemauan sulaiman.<br /> Pergilah sulaiman merantau ke negri payung sekaki. Di perjalanan bertemu ia dengan 2 pasang suami istri yang ternyata tidak mempunyai anak dan diangkat lah sulaiman sebagai anak mereka. Sulaiman sangat rajin membantu ibu dan bapak angkat nya tersebut.<br /> Pada suatu hati berceritalah orang tua angkat sulaiman bahwa di negeri itu sedang ada gajah raksasa yang selalu meresahkan warga. Gajah tersebut sangatlah kebal tidak bias di matikan. Sampai sampai Raja Payung Sekaki mengadakan sayembara barangsiapa yang dapat membunuh gajah tersebut dia akan di nikahkan pada anak raja yang sangat cantik dan jelita. Betapa senang nya sulaiman apabila berhasil membunuh gajah tersebut sehingga impian yang dia idamkan saat ini terwujud.<br /> Suatu hari ibu dan bapak nya akan pergi ke undangan di luar negri payung sekaki dan berpesan lah bapaknya agar menjaga diri dari gajah tersebut. Setelah ibu bapak nya pergi tidak sengaja sulaiman tertidur dengan pula nya dan bermimpi ada seorang datuk tua yang memberitahu cara agar bias membunuh gajah itu dengan menusuk kan keris kepunyaan bapak angkat nya yang ada di gentong di belakang halaman rumahnya.<br /> Tersentak sulaiman terbangun dan bergegas ke belakang halaman untuk membuktikan perkataan datuk tersebut. Ternyata setelah di cari memang ada keris tersebut. Tiba tiba datang guncangan keras dari tanah yang menunjukkan kedatangan gajah. Berlarilah sulaiman ke hutan yang ada lubang besar untuk memancing gajah kesitu, setelah disana bersiap siap lah sulaiman dengan keris ditangan nya dibawah lubang besar untuk menusukkan keris ke kaki gajah, setelah gajah hampir terjatuh bergegas sulaiman naik keatas dan tidak di sangka gajah pun mati. Ternyata di dekat hutan tersebut kerajaan payung sekaki terletak dan tidak di duga putri raja mengawasi dari atas menara melihat sulaiman berhasil membunuh gajah.<br /> Sulaiman melihat putri yang cantik dan dengan genit nya sulaiman memicing kan mata pada putri bermaksud untuk menggoda putri, putri pun membalas dengan tersenyum manis dan melemparkan cincin nya ke arah sulaiman, lalu sulaiman mengambil dan memasangkan cincin tersebut di jari manisnya, dan pulang lah ia kerumah dengan perasaan senang dan lega.<br /> Setelah sulaiman berlalu datang lah prajurit lewat tempat gajah terbunuh, dengan akal cerdik dan beranggapan bahwa raja akan percaya bahwasanya dia yang sudah membunuh gajah dan akan mendapat hadiah dari raja untuk menikahi putri nya. Dengan mencabut keris yang berlumuran darah pergilah prajurit pembohong itu untuk menunjukkan pada raja, selang beberapa menit lewat lagi lelaki tua dan melihat gajah telah mati dengan akal cerdik pula iya mengambil gading gajah itu untuk membuktikan pada rajaia yang telah membunuh gajah dengan tujuan yang sama untuk dapat menikahi putri raja, lalu pergilah ia ke kerajaan, tapi tidak beberapa lama lewat lagi pemuda kampung dan ia memotong kulit gajah untuk memperlihatkan pada raja dia lah pembunuh gajah.<br /> Tiba lah ketiga lelaki pembohong ini ke kerajaan untuk bertemu gajah. Saat diperlihatkan bukti bukti nya sang raja sangat bingung di antara 3 orang ini mana yang sebenarnya pembunuh gajah yang asli. Keluarlah putri raja dan menceritakan pada raja siapa yang sebenarnya membunuh gajah tersebut. Putri mengatakan bahwa yang membunuh gajah tersebut ialah pemuda tampan yang mengenakan cincin nya di jari manis pemuda tersebut. Diperintahkan lah pengawal kerajaan untuk mencari pemuda tersebut, dan hanya sulaiman yang memakai cincin putri di jari manis nya dipanggil lah ia ke kerajaan dan menemui raja.<br /> Raja sangat berterimakasih pada sulaiman dan menepati janjinya untuk mengadakan pesta perkawinan sulaiman dan putri nya. Akhirnya impian sulaiman terwujud dan setelah itu raja pun mengangkat sulaiman untuk menggantikan nya menjadi raja payung sekaki. Sulaiman adalah raja yang sangat arif dan bijaksana, semua rakyat sangat mensegani nya dan menghormatinya.<br /> Nasib abang abang sulaiman di kampung masih tidak ada perubahan. Sulaiman masih mengingat abang abang nya tersebut dan akhirnya memerintahkan pengawal untuk pergi ke kampung mencari abang nya untuk di undang ke kerajaan setelah itu sulaiman jugak menyuruh pengawal lainnya untuk menyiapkan kamar yang harus rapi dan bersih untuk mengundang abang abangnya dan harus melayani dengan baik dan sopan. Lalu pergilah pengawal untuk menemukan suman dan taslim , maka pergilah mereka ke kerajaan. Suman dan Taslim bingung kenapa Raja Payung Sekaki mengundangnya untuk datang ke kerajaan.<br /> Setelah disuguhkan makanan yang sedap, mewah dan banyak, taslim menjadi teringat keinginannya di masa lalu terwujud. Di dalam hati nya ia bertanya apakah yang memberinya makanan tersebut adalah adik nya taslim yang tau keinginannya tapi setiap memikirkan itu ia menepis bahwa bukan adik nya bukanlah seorang raja. Begitu juga abang nya suman juga berpikir yang sama dengan taslim, daripada saling bertanya tanya suman dan taslim memberanikan diri untuk bertanya kepada pengawal siapa yang menjadi raja payung sekaki yang baik yang telah member mereka kemewahan tersebut.<br />Suman : pengawal, apakah saya boleh bertanya? . Siapa kah raja yang memerintahkan kalian untuk mengundang kami dan melayani kami dengan baik ini?<br />Pengawal : Yang menjadi raja di payung sekaki saat ini adalah seorang pemuda yang sangat arif,bijaksana dan sangat ramah pada penduduk. Dia bernama tuan ku raja sulaiman<br />Taslim : Sulaiman??? ( berbisik pada suman ) Abang, benarkah sulaiman yang dimaksud adelah adik kita bang? Jike benar dia betapa malu kita bang, dulu kita pernah menghina impian nya untuk menjadi menantu seorang raja.<br /> <br /> Suman dan taslim berfikir keras untuk berusaha keluar dari istana karena tidak mau malu bertemu raja bila ternyata sulaiman yang dimaksud adalah sulaiman adik nya. Saat berusaha keluar pengawal nya mencegah dan membawa suman dan taslim bertemu raja sambil tersenyum kecil dan berkata “kenapa kalian takut dan berusaha keluar? Bukankah kalian telah diberi hal hal yang mewah di kerajaan ini?” Suman dan taslim hanya diam saja.<br /> Suman dan Taslim pun pergi untuk bertemu sulaiman, setelah sampai mereka memperhatikan baik baik wajah raja yang arif dan bijaksana itu, lalu suman dan taslim spontan menangis karena malu setelah mengenali wajah tersebut benar sulaiman adik nya yang telah berhasil mewujudkan impian nya.<br />Sulaiman : wahai abang abang ku, inilah aku sulaiman.Mengapa kalian menangis? Apa kalian tidak suka aku berhasil mewujudkan mimpi ku dahulu?<br />Suman : bukan adik ku, aku dan taslim sangat lah malu Karen telah meremehkan impian mu dulu<br />Sulaiman : sudahlah bang, mari abang tinggal bersama ku saja di kerajaan ini.<br /> Akhirnya sulaiman mengajak abang-abangnya untuk tinggal bersama nya di kerajaan, sungguh mulia sifat dari sulaiman ini.<br /><ul><li>Pesan moral : mimpi adalah suatu hal yang bisa diwujudkan dengan usaha dan pikiran positif bisa meraih mimpi tersebut, jangan pernah jatuh bila mimpi kita di hina karena dari hinaan itu lah yang jadi motivasi untuk maju.

×