Wangi Kaki IbuKETIKA bibir dan hidungnya menyentuh punggung kaki yangcokelat keriput itu, ia merasakan air matanya menetes...
Ini wajah kota kelahiran, yang pernah memberikan keindahanmasa kanak-kanak. Ketika Janti masih berupa jalan tanahberbatu. ...
akan dipenuhi oleh hati orang-orang sabar, jiwa-jiwa yangmemaafkan. Bukan untuk menyimpan tanda tanya.Maka ia memberanikan...
Lelaki itu tampak tercenung. Seperti sedang mengumpulkanseluruh kesadaran, mengusir sisa-sisa mimpi berkarat."Membawanya k...
Lelaki itu memburunya. Dipeluknya perempuan yang limbungitu, jatuh memberat ke dadanya. Ia melihat matanya terkatuprapat, ...
Ia tertunduk. Jemari tangannya mengusap rambut dan keningPeni. Matanya basah. Hatinya terguncang. Apa yang harus iakatakan...
"Kamu telah melakukan sesuai dengan kemampuanmu," perempuantua itu kembali bicara. Tidak gemetar seperti yangdiharapkan. K...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Wangi+kaki+ibu

1,100 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,100
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
2
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Wangi+kaki+ibu

  1. 1. Wangi Kaki IbuKETIKA bibir dan hidungnya menyentuh punggung kaki yangcokelat keriput itu, ia merasakan air matanya menetes.Membasahi permukaan kulit yang kisut. Terguling daritonjolan otot menuju lingir telapak kaki, sebagian ke selajemari."Aku tahu, bukan kamu yang membunuhnya," bisik serakseorang perempuan tua, yang kedua mata-kaki kanan dankirinya sedang ia dekap.Entah siapa yang memberi kabar indah itu ke telinga yangmungkin tak sepenuhnya berfungsi. Atau ada yang langsungmembisikkan ke ceruk hatinya? Membuat lelaki itu teringatperjalanan yang sesungguhnya tak panjang, namun dirasakansangat berlarut-larut. Semata oleh pikiran yang kalang-kabut.SUBUH retak melahirkan fajar. Takbir menggema di telinga,dari pelbagai surau, yang terletak jauh maupun dekat.Dipantulkan oleh bening embun. Membubung ke awan-gemawanyang parasnya sedang dipulas rona lembayung. Angin reda,membuat pohonan yang belum menjelaskan warna daunnyaterdiam tunduk, seperti sabar menanti perintah berikutnya.Di dalam rongga dadanya yang kurus, tampak dari kemejanyayang terasa demikian longgar, ada sebersit ngilu berdesir.Ia baru saja meninggalkan stasiun Tugu. Dengan langkahbimbang, tak ubahnya selembar daun kering yang terseretangin, ia merasa harus mengenali kembali setiap ruang danbenda yang dilalui. Toko-toko yang berderet memanjang keMalioboro masih menutup pintu. Atau mungkin hari ini takakan membuka dagangan, karena tiba Lebaran. Jalan aspalyang memiliki beberapa lubang akibat genangan air, takberbeda dari kota yang ia tinggalkan. Trotoar dengan warnapaving-block yang tak sama antara satu dengan yang lain,tentu lantaran pernah terbongkar di sana-sini. Dan yangterhirup ke dalam paru-parunya adalah udara yang menebarkanaroma tersendiri: sisa malam yang tersangkut dan terlambatsirna.
  2. 2. Ini wajah kota kelahiran, yang pernah memberikan keindahanmasa kanak-kanak. Ketika Janti masih berupa jalan tanahberbatu. Ketika Hotel Ambarukmo berdiri paling megah danbergaya di Jalan Solo. Dan Demangan merupakan pusat jajandengan bakso, es buah, sate, dan limun berwarna-warni. Laluia, dulu sekali, mengendarai sepeda ringkih, selalumenghabiskan hari-hari Ramadan dengan menyewa komik ataumembacanya di kios persewaan itu sambil menunggu magrib.Terbayang dalam kenangan: Barda Mandrawata sebagai Si Butadari Gua Hantu. Pendekar Bambu Kuning. Gundala Putera Petirkarya Hasmi dari kota ini. Peni sudah Mati. Ah, Peni! Itutokoh utama dalam komik roman karya Jan Mintaraga. Tokohyang sesungguhnya telah mati. Dan seorang perempuan laintelah menyamar sebagai Peni, seolah-olah masih hidup, takberdaya di atas kursi roda, namun sanggup membongkarkematian Peni yang dilatari ketamakan atas harta warisan...Dan Peni, seseorang yang seharusnya sangat dicintai, kinijuga telah mati. Sejenak jemari tangan kanannya bergetarbagai diserang tremor. Ia menggigil bukan oleh dingin pagiyang mengusap dada kerempengnya. Tapi oleh ingatan yangmembuatnya harus pulang ke kota kelahiran.Matanya memandang ke segala arah. Ia mencari becak. Adabeberapa becak teronggok di ruas jalur lambat JalanPangeran Mangkubumi, tapi pemiliknya masih meringkuk dengansarung lusuh. Ah, apakah mereka tak mendengar suara takbirdari pengeras suara masjid di sana-sini? Ini hari Lebaran.Seharusnya mereka berkumpul dengan istri dan anak di rumahsumpek masing-masing. Atau jika masih bujangan, boleh jugasesekali begadang di surau demi hari yang istimewa ini.Tapi, kadang-kadang, Lebaran memang memberikan ironi kepadasejumlah orang. Ketika seharusnya sebuah hati digenangikebahagiaan, ada sebagian yang mendapati dirinya tenggelamdalam duka paling dalam. Dia, barangkali, menjadi salahseorang di antara mereka.Apakah sebaiknya berjalan kaki ke Janti? Tentu akan tibakesiangan di rumah, yang separo dindingnya masih bertahandengan papan kayu. Sepanjang perjalanan tentu akanberpapasan dengan rombongan jamaah shalat Ied. Tentu akanbanyak mata memandangnya dengan raut muka bertanya-tanya.Siapakah lelaki yang melangkah gontai seperti tanpa tujuanitu? Sebuah pertanyaan yang tak mungkin terucapkan dariwajah-wajah gembira, yang bersinar oleh cahaya kemenanganRamadan. Sebuah pertanyaan yang lebih baik sembunyi dalamhati mereka, ketimbang menyinggung perasaan. Ini hari yang
  3. 3. akan dipenuhi oleh hati orang-orang sabar, jiwa-jiwa yangmemaafkan. Bukan untuk menyimpan tanda tanya.Maka ia memberanikan diri untuk menggugah seorang tukangbecak yang kebetulan sedang menggeliat. Orang itu tampakkaget, serentak mengucek mata, dan memandang langit yangmulai semburat kuning."Antarkan aku ke Janti."Penarik becak itu sedikit termangu. Memandang lurus kewajah tirus."Apakah Sampean merasa mengenalku, Mas?"Penarik becak itu tergesa menggeleng. Kemudian turun untukberpindah tempat ke belakang dan mempersilakan calonpenumpangnya naik. Udara pagi mengiringi kayuhan yang masihberat oleh beban kantuk. Seperti sebuah pena yang menggariskertas kosong, becak itu meluncur dalam sunyi. Kesunyianyang sebentar lagi pecah oleh para jamaah dari banyak gangperumahan.Sepanjang jalan, lelaki di dalam becak itu berpikir: apakahini keputusan yang benar? Mengunjungi Ibu untukmenyampaikan kegagalan? Ia gemetar bagai demam, dan ingatantentang sebuah malam jahanam melintas begitu keras dibenaknya.CAHAYA bolam lima belas watt sejenak terhalang bayang,seperti padam seketika. Membuat matanya mendadak terbuka.Menyadari ada seseorang masuk ke dalam kamarnya yang takpernah dikunci, ia segera bangkit duduk. Waspada."Maaf, aku mengganggu. Tapi ini sungguh penting. Akumenemukan Peni!""Oh," lelaki tuan rumah itu mengusap matanya. Kata "Peni"terdengar sangat penting di telinganya. Ia meraih gelas disamping tempat tidur dan segera minum air putih yangtersisa."Di mana?""Maaf, jangan membuatmu kaget. Di sebuah kliniktersembunyi, tempat aborsi.""Astaghfirullah.""Apa yang harus aku lakukan?"
  4. 4. Lelaki itu tampak tercenung. Seperti sedang mengumpulkanseluruh kesadaran, mengusir sisa-sisa mimpi berkarat."Membawanya kemari," ujarnya dengan suara serak.Si pembawa berita tampak ragu-ragu."Aku kakak kandungnya, Bung! Jadi aku berhak memanggilnya.""Jika dia tak mau?""Paksa!""Jika dia ternyata punya suami...""Masya Allah, aku masih ingat kata-katamu. Dia kaulihatberganti-ganti lelaki. Kudengar darimu juga, dia pernahdigerebek polisi saat pesta shabu-shabu, dan ditebus olehseseorang..."Mereka berdua terdiam. Waktu merambat menuju saat makansahur. Mereka menyadari, suara keras percakapan akanterdengar di bilik kiri dan kanan."Mungkin yang terpenting adalah bahwa kamu tahu, dia laridari rumahku, tapi tidak pulang ke Yogya untuk merawat Ibuyang sudah sepuh. Berbulan-bulan aku mencarinya, tanpaberani menyampaikan secara jujur kepada Ibu. Akumencarinya!""Tapi... dia telah membuatmu terusir dari jamaah di Al-Hidayah, mencoreng namamu sebagai pengurus majelistalim...""Itu tidak penting," Lelaki itu menahan napas. Sebersitrasa sedih melintas ngilu. "Adalah dosaku jika sampai Peniterseret ke jurang gelap. Itu sebabnya aku ingin menemuinyadalam bentuk apa pun.""Baik, aku akan mencobanya.""Atau...," Lelaki itu tampak berpikir. "Begitu kamumendapatkannya, teleponlah aku. Biar aku yangmendatanginya."Sang tamu mengangguk lalu berpamitan. Suara televisi dibilik sebelah menyiarkan fragmen tematik Kampung Lele.Terdengar tawa penghuninya yang tergelitik oleh perdebatanantara Opie, Mali, dan Bolot...SUASANA begitu tegang saat ia tiba di klinik yangtersembunyi dalam gang. Perempuan dengan rambut masaimemaksakan diri bangkit dari pembaringan, menyibak gordenpembatas dan bergegas keluar dari kamar. Langkahnyatertegun di pintu, tangannya memegang erat kusen kayu,menahan rasa sakit entah di mana. Dalam pandangan kabur, iamelihat lelaki yang sangat dikenalnya. Rasa takut membuatkepalanya berkunang-kunang.
  5. 5. Lelaki itu memburunya. Dipeluknya perempuan yang limbungitu, jatuh memberat ke dadanya. Ia melihat matanya terkatuprapat, bulu matanya bergetar. Barangkali darah mengaliribetis, ke lantai, basah dan terasa lengket di telapak kakiyang terlepas dari sandal."Peni...," Lelaki itu panik. Lalu tatapannya mengandungnyala marah kepada seorang suster yang menciut ketakutan."Mana dokternya?!"Suster itu menggeleng dengan paras seputih kertas."Panggil dia! Segera!""Dia sudah pergi. Satu jam yang lalu.""Aku perlu namanya!" Ia memanggil temannya. "Hazri! Tolongcatat, juga alamat praktiknya yang lain."Hazri merobek bungkus rokok, mencabut pulpen dari sakunya,dan memandang penuh tuntutan kepada suster yang merapat kedinding. Terbata-bata bibir perempuan itu mengucapkanserangkai nama dan alamat."Peni, bertahanlah," lelaki itu berbisik di telingaperempuan yang begitu lemas dalam pelukan. Lalu ia kembalimeradang. "Suster, kamu pasti tahu cara memanggil ambulans.Di sini ada telepon, kan? Cepat, minta ambulans sekarang!"Hazri dengan sigap menuju ke meja yang memiliki kabeltelepon. Ditelusuri jalur kabel itu dan menemukan pesawattelepon tersembunyi dalam laci. Ia mengangkat gagangtelepon, dan ketika yakin ada nada aktif, diberikannyakepada suster. "Panggil ambulans!"Peni dibaringkan di kursi ruang tunggu yang berjajar tiga.Terkulai tak sadarkan diri. Darah masih mengalir dari sela-sela paha. Mencemaskan. Sekaligus membuat lelaki itumenyesal. Seharusnya ia tak perlu selekas itu datang,sehingga Peni masih punya waktu untuk memulihkan diri.Rasanya berjam-jam waktu berlalu sampai terdengar sirineambulans. Dua orang lelaki membawa tempat tidur berodamemasuki gang. Hazri menolong sampai Peni naik ke dalamambulans. Dan di dalam kabin dilakukan pertolongan pertama,termasuk memasang jarum infus ke punggung tangan Peni. Daritabung plastik yang tergantung, tetes-tetes cairan mengalirmelalui selang mungil.Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, lelaki itu tidakbicara apa-apa. Mulutnya hanya mendesahkan doa. Berulangkali Hazri memegang lengannya, mencoba menenteramkan.Sesekali mengucapkan: "Aku berjanji akan mencari dokternyadan melaporkannya kepada polisi."
  6. 6. Ia tertunduk. Jemari tangannya mengusap rambut dan keningPeni. Matanya basah. Hatinya terguncang. Apa yang harus iakatakan kepada ibunya? Saat membawa Peni ke Jakarta, kerumah kontrakannya, tiga tahun yang lalu, ia berjanji:"Peni memang susah diatur. Di sini dia hanya akanmerepotkan Ibu. Biar aku yang mengajarnya. Agar dia tahubahwa hidup itu berat dan harus dilalui dengan perjuangan.Agar dia bisa mandiri."Tapi...apa yang kemudian terjadi? Lelaki itu menggelengsendiri dengan rasa sakit, seolah ribuan duri menusukisetiap permukaan jantungnya. Ia hanya memperoleh kegagalan.Kini seluruh tenaga yang dicurahkan di tempat kerja, dipelabuhan yang panas dan keras, dan sisa waktunya yangdihabiskan untuk mencari keteduhan di lingkungan masjid,seperti sia-sia saja. Kenyataannya ia tak pernah tahu, apayang dilakukan Peni sehari-hari selain menjadi pegawaiadministrasi di sebuah pabrik sepatu. Terutama setelah enambulan yang lalu bersikeras pindah tempat tinggal, berpisahdengannya, demi mendekati tempat kerja. Namun tak berapalama berita tak pantas itu merebak hingga ke wilayah Al-Hidayah.Selanjutnya sungguh perih untuk diceritakan. Hanya Hazri,sahabatnya yang masih dapat memahami perasaannya.Lamunannya membuyar saat ambulans berhenti di teras UnitGawat Darurat. Semua berjalan lekas, mirip potongan filmyang disunting sembarangan. Apa pun yang dia lakukansekarang, termasuk menandatangani perjanjian penggantiandarah dari PMI, seluruhnya demi Peni.TAPI Peni sudah mati. Tanpa percakapan panjang. Hanyapermohonan maaf, juga kepada Ibu yang wajib disampaikan.Inilah amanat yang sedang ia bawa ke kampung halaman.Ia terisak perlahan. Ditahannya agar tak terdengar. Tapidadanya penuh oleh benda padat bernama kesedihan. Ataumungkin rasa sesal."Bangunlah," meski desis itu tertangkap lemah, sesungguhnyabegitu tegar. Hanya seorang ibu yang dapat memadukan antarasakit hati dan kasih sayang dengan nyaris sempurna.Lelaki yang bersimpuh itu tak bergerak. Sejakkeberangkatannya dari Jakarta, ia berharap ada hukumanuntuknya. Bukan ucapan yang akan membuatnya merasa bersalahberkepanjangan.
  7. 7. "Kamu telah melakukan sesuai dengan kemampuanmu," perempuantua itu kembali bicara. Tidak gemetar seperti yangdiharapkan. Kesunyian merambat.Sesungguhnya hanya tiga tahun dia tak pulang. Sebelumnya,hampir setiap tahun ia mengunjungi Ibu dan adik satu-satunya, sejak ayahnya meninggal. Tapi, tak pernahperasaannya terusik oleh indahnya masa kanak-kanak di kotaini. Kenangan itu kini memanggilnya. Panggilan yang begituderas. Sederas air matanya."Maafkan aku, Ibu," bisiknya tanpa berani mengangkat wajah.Ia merasa amat tenteram di kaki ibunya. Merasa sangatterlindungi dari segala marabahaya. Tercium harum aromakasih sayang dari kaki ibunya, yang mengalahkan seluruhhawa busuk di luar sana. Dan ia bagai kembali ke masakanak-kanak."Ibu sudah memaafkan kamu sebelum kamu mengetuk pintu.Sekarang kamu ambil air wudlu, dan segera berangkat shalatIed."Kedua tangan perempuan tua itu meraih bahu anak lelakinya.Ketika wajah tirus itu tengadah, dilihatnya penuh air mata.Perlahan ia mencium dahi lelaki itu, persis di antara keduamatanya..

×