SYEKH SITI JENARNAMANYA MELARISKAN BUKUSiapakah Syekh Siti Jenar? Meskipun setidaknya Intisari telah menjejaki -yang diseb...
“Dalam benak khalayak ramai, Siti Jenar dikenang sebagai patron wongcilik. Garis besar kisah hidupnya menggarisbawahi kete...
sungguh-sungguh terjadi. Dugaan ini wajar, karena antara kedua tokohhistoris Sunan Ngampel Denta dan Sunan Kudus terdapat ...
Itu hanya impian yang sama sekali tidak mengandung kebenaran dansebentar lagi akan lenyap. Gilalah orang yang terikat pada...
sini, bernafaskan suasana India. Dengan menutup sendiri semua pintudengan dunia luar ia membiarkan nafas kehidupan keluar ...
ketegasan terhadap penghujah Allah Syekh Lemah Abang (atauPangeran Siti Jenar) sendiri. Syekh itu adalah guru ilmu kebatin...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Syekh+siti+jenar

609 views
499 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
609
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
5
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Syekh+siti+jenar

  1. 1. SYEKH SITI JENARNAMANYA MELARISKAN BUKUSiapakah Syekh Siti Jenar? Meskipun setidaknya Intisari telah menjejaki -yang disebut sebagai - dua kuburan Syekh Siti Jenar, masing-masing diKemlaten, Cirebon maupun Gedong Ombo, Tuban, agaknya Syekh SitiJenar tidak bisa dipastikan keberadaan historisnya secara ilmiah dalamkategori positivistik. Keberadaan Syekh Siti Jenar adalah keberadaansebuah makna, baik dalam bentuk suatu ajaran yang tercatat padaberbagai naskah, maupun makna keberadaan dalam penafsiran politis,sebagai tokoh oposisi terhadap hegemoni kekuasaan rohani para wali.Suatu konstelasi yang sebetulnya juga merupakan tipologi konstelasipolitik duniawi, ketika kerajaan-kerajaan Islam di Jawa telah menjadidominan, tetapi pusat-pusat kekuasaan pra-Islam dengan segenap alirankepercayaannya, belum sepenuhnya terleburkan - bahkan sampai hariini.Wali yang mencemaskanDalam ziarah pustaka ini, gambaran Nancy K. Florida tentang Tiga GuruJawa (Syekh Siti Jenar, Syekh Malang Sumirang, Ki Ageng Pengging)dalam disertasinya, Menyurat Yang Silam Menggurat Yang Menjelang(1995) akan dikutip sebagai pengantar:“Di antara ketiga empu tersebut, Syekh Siti Jenarlah yang paling dikenal,dengan ketenarannya sebagai wali pembangkang yang paling utama diJawa bahkan hingga saat ini. Berbagai versi kisahnya, baik lisan maupuntulisan, melimpah. Dialah tokoh yang mewakili penyebarluasan, danyang disebarluaskannya adalah pengetahuan esoteris eksklusif yangkeluar dari kalangan elite politik-spiritual ke dalam budaya khalayakramai. Atas penyebarluasan inilah maka para wali merasa terpanggiluntuk memusnahkan Syekh Siti Jenar. Mereka melihat ancaman politikyang benar-benar nyata dalam dirinya; lantaran sebagai sosokpenyebarluasan dan populisme dia dengan sendirinya menentangpemusatan dan penyatuan kekuasaan.
  2. 2. “Dalam benak khalayak ramai, Siti Jenar dikenang sebagai patron wongcilik. Garis besar kisah hidupnya menggarisbawahi keterkaitan organisnyadengan lapis terendah masyarakat. Dalam versi kisahnya yang palingtersebar luas, Siti Jenar diceritakan sebagai seekor cacing tanah yangsecara ajaib berubah menjadi manusia. Pengubahan ini terjadi karenasang cacing secara kebetulan menerima pengetahuan esoteris yangmengantarnya menuju Hakikat Sejati. Sekali menjadi manusia, dia yangsemula cacing ini kemudian berani untuk membuka tabir PengetahuanMakrifat ini kepada khalayak ramai. Barangkali anggapan bahwapenyampaian pengetahuan semacam itu akan dapat mengubahmartabat “cacing-cacing” yang lain adalah kecemasan elite spiritual-politik di ibu negeri Demak.“Selain dosanya ‘menyingkap sang Rahasia’ kepada khalayak ramai, SitiJenar juga dipersalahkan karena menyepelekan syariat, hukum suciIslam. Dan di dalam banyak penuturan kisahnya, dia dituduh sebagaiorang yang mengaku dirinya Allah. Bagaimanapun juga, yang palingmencuat dan diberitakan adalah dosanya menyebarluaskan Ilmu Gaib;dan lantaran dosa inilah sang wali diadili dan dijatuhi hukuman mati.Terdapat berbagai versi tentang ‘pengadilan’ dan eksekusinya. Masing-masing versi perlu untuk dipahami dengan latar belakang ingatan kolektifmasyarakat tentang kisahnya dan dalam bandingan dengan versilainnya. Yang terpenting untuk diperhatikan adalah keragaman kisahatas apa yang terjadi dengan jasad sang wali; berkisar dari ekstrem yangsatu bahwa jasadnya berubah menjadi bangkai busuk seekor anjinghingga ke ekstrem yang lain (yakni pada versi Babad Jaka Tingkir) bahwasang wali akhirnya mikraj ke surga.”Adapun asal nama Kemlaten, kuburan Syekh Siti Jenar di Cirebon,terasalkan dari kisah dalam Babad Cerbon, bahwa ketika para walimembongkar kuburan Siti Jenar setelah dihukum mati, untukmembuktikan kebenaran ajarannya: bahwa jika ia mati di dunia iniartinya hidup abadi di dunia yang sebenarnya -ternyata memang takmenemukan jasad, melainkan sekuntum bunga melati. Seperti juga telahsering ditemukan dalam riwayat wali yang sembilan, istilah “politikdongeng” menegaskan terdapatnya kepentingan ideologis di baliksegenap “sejarah” tersebut. Kesadaran tentang perlu diabaikannyakeberadaan dongeng-dongeng tersebut sebagai fakta historis, jugatersurat dalam catatan sejarawan Graaf dan Pigeaud dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Mataram (1974),seperti ketika memberi catatan atas keberadaan Dewan Walisanga:“Sudah jelas bahwa Musyawarat orang-orang suci menurut ceritalegenda ini, yang dihadiri oleh mereka semua, sukar kiranya dapat
  3. 3. sungguh-sungguh terjadi. Dugaan ini wajar, karena antara kedua tokohhistoris Sunan Ngampel Denta dan Sunan Kudus terdapat jarak waktubeberapa generasi (dari pertengahan abad ke-15 sampai dekade-dekade pertama abad ke-16).”Ajaran tentang adaLantas, ajaran macam apa sebetulnya, yang dianggap “benar tapiberbahaya”, sehingga penyebarnya begitu patut menerima hukumanmati dalam pandangan Walisanga? Dalam kenyataannya, buku-bukuyang memuat dan menyebarkan teks yang disebut sebagai “ajaran”Syekh Siti Jenar ini beredar luas pada masa kini, beberapa di antaranyabahkan berpredikat best seller alias laris manis tanjung kimpul, yangbukan hanya tidak mengundang kecaman apa pun dari para pemelukteguh syariat, melainkan justru ditulis oleh para ahli agama itu sendiri.Untuk menyebut beberapa, bisa diperiksa dua buku laris Abdul MunirMulkhan, Syekh Siti Jenar: Pergumulan Islam-Jawa (1999) dan Ajaran danJalan Kematian Syekh Siti Jenar (2001), Muhammad Sholikhin, SufismeSyekh Siti Jenar: Kajian Kitab Serat dan Suluk Siti Jenar (2004), SudirmanTebba, Syaikh Siti Jenar: Pengaruh Tasawuf Al-Hallaj di Jawa (2003), danyang ditulis dengan sapaan hangat serta indah karya Achmad Chodjim,Syekh Siti Jenar: Makna “Kematian” (2002). Namun untuk mengintip apayang disebut “ajaran rahasia” tersebut, pustaka yang akan diziarahimasih dari karya ilmiah P.J. Zoetmulder, Manunggaling Kawula Gusti:Pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa (1935).Tidak mungkin memindahkan ulasan panjang lebar dalam disertasiZoetmulder tersebut, tapi kita mulai saja dengan petikan atas kutipan dariSerat Siti Jenar yang diterbitkan oleh Tan Khoen Swie, Kediri, pada 1922:Kawula dan gusti sudah ada dalam diriku, siang dan malam tidak dapatmemisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya saat ini nama kawula-gustiitu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti, kalau saya sudah hidup lagi,gusti dan kawula lenyap, yang tinggal hanya hidupku, ketenteramanlanggeng dalam Ada sendiri.Hai Pangeran Bayat, bila kau belum menyadari kebenaran kata-katakumaka dengan tepat dapat dikatakan, bahwa kau masih terbenamdalam masa kematian. Di sini memang banyak hiburan aneka warna.Lebih banyak lagi hal-hal yang menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kautidak melihat, bahwa itu hanya akibat pancaindera.
  4. 4. Itu hanya impian yang sama sekali tidak mengandung kebenaran dansebentar lagi akan lenyap. Gilalah orang yang terikat padanya, tidakseperti Syeh Siti Jenar. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi tersesat dalamkerajaan kematian. Satu-satunya yang kuusahakan, ialah kembalikepada kehidupan.Dalam disertasi filsafat ini Zoetmulder menekankan, bahwa dengan tekssemacam ini Syekh Siti Jenar dan murid-muridnya telah ditafsirkanmemberi kesan seolah-olah Tuhan itu tidak ada, padahal, “Menuruthemat kami ucapan-ucapan serupa hendaknya ditafsirkan sebagaisebuah polemik serta penolakan terhadap ide mengenai seorang Tuhanyang berpribadi; sebaliknya Siti Jenar mengetengahkan ide mengenaisuatu Jiwa Semesta, ia manunggal dengan Hyang Suksma, manunggaldengan hidup yang tunggal, yakni dirinya sendiri.”Bukan Al-Hallaj, tapi IndiaSyekh Siti Jenar begitu sering dihubung-hubungkan dengan al-Husain ibnuMansur al-Hallaj atau singkatnya Al-Hallaj sahaja, sufi Persia abad ke-10,yang sepintas lalu ajarannya mirip dengan Siti Jenar, karena ia memohondibunuh agar tubuhnya tidak menjadi penghalang penyatuannyakembali dengan Tuhan. Adalah Al-Hallaj yang karena konsep satunyaTuhan dan dunia mengucapkan kalimat, “Akulah Kenyataan Tertinggi,”yang menjadi alasan bagi hukuman matinya pada 922 Masehi diBaghdad. Seperti Syekh Siti Jenar pula, nama Al-Hallaj menjadi monumenkeberbedaan dalam penghayatan agama, sehingga bahkandiandaikan bahwa jika secara historis Syekh Siti Jenar tak ada, makadongengnya adalah personifikasi saja dari ajaran Al-Hallaj, bagi yangmendukung maupun yang menindas ajaran tersebut. Tepatnya personaSyekh Siti Jenar memang dihidupkan untuk dimatikan.Namun karena penelitiannya tentang segenap pengaruh terhadapsastra suluk Jawa, Zoetmulder berpendapat lain tentang ajaran Syekh SitiJenar. “Jelaslah betapa besar pengaruh dari ide-ide India. Pengaruh itutampak juga dari sikap terhadap nilai dan kenyataan dunia, yangdianggap hanya suatu permainan pancaindera, sebuah impian,segalanya hanya bersifat semu dan tak ada sesuatu yang nyata, suatugodaan, sebuah sulapan yang menimbulkan keinginan manusia dandengan demikian mengurungnya. Singkatnya, di mana-mana kitamengenal kembali pandangan dari India.“Akhirnya, juga kematian Siti Jenar - menurut logatnya sendiri, masuknyake dalam kehidupan -seperti dilukiskan dalam versi yang kami bahas di
  5. 5. sini, bernafaskan suasana India. Dengan menutup sendiri semua pintudengan dunia luar ia membiarkan nafas kehidupan keluar dari badannyayang lalu mempersatukan diri dengan Suksma semesta. Dalam segalauraian ini hanya sedikit sekali pengaruh dari dunia Islam, sekalipunkadang-kadang disebut sebuah kutipan dalam bahasa Arab sekadarbahan pendukung. Sebaliknya menonjol sekali, betapa ajaran ini serasidengan suatu bagian dari Arjunawiwaha yang melukiskan bagaimanaBhatara Indra dalam wujud seorang resi tua menyampaikan ajarankesempurnaan kepada Arjuna yang sedang bertapa.“Bila akhirnya tokoh Siti Jenar kita bandingkan dengan apa yang kitaketahui mengenai Al-Hallaj, maka tampak, bahwa keserasian hanyaberkaitan dengan beberapa sifat dari kisah itu, tetapi kesamaan dalamhal ajaran jarang kita jumpai.”Setelah menguraikan konsep ajaran Al-Hallaj yang dirujuknya dari penelitisufisme terkenal Louis Massignon, hanya satu hal dianggap Zoetmulderagak mirip, yakni tentang permintaan maaf telah mengungkap rahasiailahi (ifsa-al-asrar) - itu pun menurutnya Siti Jenar tidak minta maaf.Dijelaskannya, “Tidak mengherankan, bahwa dalam ajaran Siti Jenar takterdapat bekas-bekas ajaran otentik Al-Hallaj.”Ia pun merumuskan, “Perbedaan pokok antara kedua tokoh itu ialah Al-Hallaj selalu ditampilkan sebagai seorang sufi yang terbenam dalamcinta akan Tuhan, sedangkan dalam diri Siti Jenar sifat tadi hampir tidaktampak. Siti Jenar terutama dikisahkan sebagai seorang yang mandiri,akal bebas yang tidak menghiraukan raja maupun hukum agama; takada sesuatu pun yang menghalanginya menarik kesimpulan dariajarannya. Dengan demikian ia menjadi wali yang paling digemari rakyatdan yang riwayatnya masih hidup di tengah-tengah orang Jawa.”Lemah Abang serba pinggiranDengan konteks pengaruh India dan bukan Islam da lam ajaran Syekh SitiJenar, menjadi jelas konteks duniawi yang terpadankan dengannya,seperti teruraikan oleh Graaf dan Pigeaud mengenai kedudukan politisPengging sebagai kerajaan “kafir” terhadap kekuasaan Demak. Dalamlegenda, Kebo Kenanga atau Ki Ageng Pengging adalah murid Syekh SitiJenar yang membangkang dan tidak bersedia tunduk maupun melawanSultan Demak - yang membuat kedudukannya sulit diatasi meski SunanKudus ia izinkan untuk membunuhnya. “Tindakan Sunan Kudus yangsangat terkenal terhadap ’si bid’ah’ Kebo Kenanga itu sesuai dengan
  6. 6. ketegasan terhadap penghujah Allah Syekh Lemah Abang (atauPangeran Siti Jenar) sendiri. Syekh itu adalah guru ilmu kebatinan empatbersaudara: Yang Dipertuan di Pengging, di Tingkir, di Ngerang, dan diButuh.” Bahwa Pengging sebelumnya disebut-sebut sebagai kerajaan“kafir” yang masih berdiri setelah Majapahit runtuh, jelas menunjukkanpersonifikasi Syekh Siti Jenar sebagai representasi perlawanan, terhadapdominasi Demak sebagai representasi hegemoni kekuasaan rohanisekaligus duniawi.Mungkinkah bisa dipahami sekarang, mengapa banyak wilayah di Jawabernama Lemah Abang, dan selalu terletak di pinggiran?

×