Skripsi%20 andi%20jayanti.

528 views
374 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
528
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
15
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Skripsi%20 andi%20jayanti.

  1. 1. i SKRIPSIPERLAKUAN AKUNTANSI KREDIT BERMASALAH (NONPERFORMING LOAN) KESESUAIANNYA SEBELUM DAN SESUDAH PERNYATAANSTANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NO. 31 EFEKTIF DICABUT PADA PT. BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk. DISUSUN OLEH: NAMA : ANDI JAYANTI NIM : A311 07 731 JURUSAN : AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2012
  2. 2. iiLembar Pengesahan PERLAKUAN AKUNTANSI KREDIT BERMASALAH (NONPERFORMING LOAN) KESESUAIANNYA SEBELUM DANSESUDAH PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NO.31 EFEKTIF DICABUT PADA PT. BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk. OLEH: NAMA : ANDI JAYANTI NIM : A31107731 Skripsi Sarjana Lengkap untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin Makassar, Oktober 2011 Disetujui Oleh, Pembimbing I Pembimbing IIDr. Syarifuddin., SE., M.Soc, Sc.,Ak Drs. Syahrir, M.Si., Ak 196312101990021001 196603291994031003 ii
  3. 3. iii PERLAKUAN AKUNTANSI KREDIT BERMASALAH (NONPERFORMING LOAN) KESESUAIANNYA SEBELUM DAN SESUDAH PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NO.31 EFEKTIF DICABUT PADA PT. BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk. OLEH: ANDI JAYANTI A311 07 731 TELAH DIUJI DAN LULUS TANGGAL 19 JANUARI 2012 TIM PENGUJI Nama Penguji Jabatan Tanda Tangan1. DR. Syarifuddin, SE, M.Soc, Sc, Ak (Ketua, FE-UH) 1. ......................2. Drs. Syahrir, M.Si, Ak (Sekretaris, FE-UH) 2. ......................3. Drs. M. Natsir Kadir, M.Si, Ak (Anggota, FE-UH) 3. ......................4. Drs. Agus Bandang, M.Si, Ak (Anggota, FE-UH) 4. ......................5. Drs. Syamsuddin, M.Si, Ak (Anggota, FE-UH) 5. ...................... DISETUJUI OLEH,Jurusan Akuntansi Tim PengujiFakultas Ekonomi Jurusan AkuntansiUniversitas Hasanuddin Fakultas Ekonomi dan BisnisKetua KetuaDR. H. Abdul Hamid Habbe, SE, M.Si. DR. Syarifuddin, SE, M.Soc, Sc, Ak iii
  4. 4. iv ABSTRAKAndi Jayanti. 2012. Perlakuan Akuntansi Kredit Bermasalah (NonperformingLoan) Kesesuaiannya Sebelum dan Sesudah Pernyataan Standar AkuntansiKeuangan No. 31 Efektif Dicabut pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero)Tbk, (Dibimbing oleh Dr. Syarifuddin., SE., M.Soc, Sc.,Ak dan Drs. Syahrir,M.Si., Ak). Jurusan Akuntansi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. UniversitasHasanuddin.Kata kunci: kredit, nonperforming loan, historical cost, fair value.Kredit bermasalah atau nonperforming loan adalah kredit yang dalampelaksanaannya belum mencapai/memenuhi target yang diinginkan oleh pihakbank kemudian memiliki kemungkinan timbulnya risiko kemudian hari bagi bankdalam arti luas, juga mengalami kesulitan dalam penyelesaian kewajiban-kewajiban baik dalam bentuk pembayaran kembali pokoknya dan ataupembayaran bunga, denda keterlambatan serta ongkos-ongkos bank yang menjadibeban debitur yang bersangkutan. Penelitian ini dilakukan pada PT. Bank NegaraIndonesia Tbk. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptifkomparatif dimana membandingkan perlakuan akuntansi nonperforming loansebelum dan setelah Pernyataan Akuntansi Standar Keuangan No. 31 Revisi 2000efektif dicabut pada PT. Bank Negara Indonesia sejak tanggal 1 Januari 2010.Sebelum PSAK No.31 dicabut, PT. Bank Negara Indonesia Tbk, perlakuanakuntansi nonperforming loan menggunakan konsep historical cost namun setelahPSAK No. 31 dicabut menggunakan konsep fair value sesuai dengan PernyataanStandar Akuntansi Keuangan No. 50 dan 55 revisi 2006 yang telah disesuaikandengan standar internasional yaitu IFRS (International Financial ReportingSystem). Berdasarkan hasil penelitian, perbedaan yang paling mendasar dalamperlakuan akuntansi nonperforming loan pada PT. Bank Negara Indonesia yaitusebelum 1 Januari 2010 pembentukan cadangan kerugian atau PenyisihanPenghapusan Aktiva Produktif menggunakan ekspektasi kerugian kredit(expectation loss) yang ditentukan oleh pihak bank. Namun, setelah tanggal 1Januari 2010 untuk pembentukan cadangan kredit atau Cadangan KerugianPenurunan Nilai berdasarkan kerugian kredit yang telah terjadi (incured loss)yang diambil dari data debitur tiga tahun sebelumnya. Pembentukan cadangandengan menggunakan incured loss dinilai lebih efektif sebab memakai sumberdata yang diambil dari data-data transaksi minimal tiga tahun sebelumnya,sehingga bank sulit untuk mempercantik laporan keuangannya. iv
  5. 5. v KATA PENGANTARAssalamu Alaikum Wr.Wb Alhamdulilllah, puji dan syukur kehadirat Allah SWT, berkat rahmat danhidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini guna melengkapipersyaratan akademik untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi JurusanAkuntansi di Universitas Hasanuddin. Diawali dengan doa dan sebentuk perjuangan, memulai studi hinggapenyusunan tugas akhir dengan melewati berbagai kendala, semuanyamemberikan pengalaman tersendiri bagi penulis. Pengalaman yang menjaditenaga pendorong bagi penulis untuk meraih cita-cita. Penulis telah mencurahkan segala kemampuan dalam menyelesaikanskrispsi ini, tetapi lepas dari semuanya itu mengingat penulis juga masih dalamtahap belajar, tentunya tidak luput dari berbagai kekurangan danketidaksempurnaan, namun inilah hasil maksimal yang dapat penulis berikan. Dalam penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukunganberbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini dengan segala kerendahanhati penulis menyampaikan terima kasih kepada:1. Allah SWT yang merupakan sumber segala ilmu pengetahuan dan telah memberikan kesehatan sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.2. Kepada kedua orang tua saya, Ayahanda Alm. Drs. H. Andi Mappatoba Rusdy dan Ibunda Hj. Andi Nurhidayah, S.Sos, serta kepada kakak-kakak v
  6. 6. vi saya dan adik saya yang atas segala pengorbanan, doa, dan motivasi yang telah diberikan3. Bapak Prof. DR. H. Muh. Ali, SE., M.S selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin dan seluruh Pembantu Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin.4. Bapak DR. H. Abdul Hamid Habbe, SE., M.Si selaku Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin.5. Bapak Dr. Syarifuddin, SE.,M.SOC, Sc., Ak selaku pembimbing skripsi satu yang senantiasa sabar dan ikhlas dalam membimbing dan meluangkan waktunya dalam penyelesaian skripsi ini.6. Bapak Drs. Syahrir, M.Si., Ak selaku pembimbing skripsi dua yang senantiasa sabar dan ikhlas dalam membimbing dan meluangkan waktunya dalam penyelesaian skripsi ini.7. Bapak Drs. Mushar Mustafa, MM., Ak elaku Penasehat Akademik yang telah mengarahkan dan memberikan nasehat dalam perkuliahan.8. Pimpinan dan staf PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk yang telah membantu dan mengijinkan untuk mengadakan penelitian terutama buat Kak Dirham.9. Buat teman-teman angkatan 2007 khususnya Yunita, Pio, Fitri, Nana, Dian, dan Dhana yang telah membantu dan memberikan semangat dalam penyusunan skripsi.10. Buat para staf akademik antara lain Pak Aso, Pak Safar, Pak Ichal, Pak Asmari, Pak Umar, dan lain-lain. vi
  7. 7. vii11. Semua pihak yang telah memberikan bantuan yang tak sempat disebutkan satu per satu, penulis mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan yang diberikan. Harapan penulis semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis danbagi para pembaca, dan menjadi bagian dari ibadah untuk mendapatkankeridhoan Allah SWT. Amin Yaa Rabbal Alamiin…..! Makassar, Oktober 2011 Andi Jayanti vii
  8. 8. viii DAFTAR ISIHalaman Judul ..................................................................................................... iLembar Pengesahan ............................................................................................. iiLembar Pengesahan Penguji ............................................................................. iiiAbstrak ................................................................................................................. ivKata Pengantar ..................................................................................................... vDaftar Isi ............................................................................................................ viiiDaftar Tabel ......................................................................................................... xiDaftar Lampiran ................................................................................................ xiiBAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang .................................................................................. 1 1.2 Rumusan Masalah ............................................................................. 3 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ......................................................... 4 1.4 Sistematika Penulisan ....................................................................... 4BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Akuntansi ............................................................................ 6 2.2 Standar Akuntansi Keuangan ............................................................ 6 2.3 Kredit ................................................................................................ 7 2.3.1 Definisi Kredit ....................................................................... 8 viii
  9. 9. ix 2.3.2 Pengakuan dan Pengukuran Kredit ..................................... 10 2.3.3 Penetapan Kualitas Kredit menurut BI .............................. 11 2.3.4 Jenis Kredit Sesuai dengan Kolektibilitasnya ..................... 16 2.4 Kredit Bermasalah (Nonperforming Loan) ..................................... 17 2.4.1 Definisi Kredit Bermasalah ................................................. 17 2.4.2 Akuntansi Kredit Bermasalah ............................................. 19 2.4.3 Penyelesaian Kredit Bermasalah .......................................... 19 2.4.4 Struktur Penyelesaian Kredit Bermasalah ........................... 21 2.7 Restrukturisasi Kredit ..................................................................... 22BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian ............................................................................. 27 3.2 Metode Pengumpulan Data.............................................................. 27 3.3 Jenis dan Sumber Data .................................................................... 27 3.3.1 Jenis Data ............................................................................... 27 3.3.2 Sumber Data ........................................................................... 28 3.4 Metode Analisis Data ...................................................................... 29BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Kredit Bermasalah (Nonperforming Loan) ..................................... 33 a. Pengakuan Kredit Bermasalah .................................................... 33 b. Pengukuran Kredit Bermasalah .................................................. 34 4.2 Pendapatan Bunga ........................................................................... 35 ix
  10. 10. x a. Pengakuan Pendapatan Bunga .................................................... 35 b. Pengukuran Pendapatan Bunga ................................................... 36 c. Penyajian Pendapatan Bunga ...................................................... 37 4.3 Penyajian Kredit Bermasalah .......................................................... 37 4.4 Penyisihan Kredit Bermasalah ........................................................ 38 4.5 Pinjaman yang Direstrukturisasi ..................................................... 44 4.6 Penghapusbukuan Kredit ................................................................ 46BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ..................................................................................... 48 5.2 Saran ............................................................................................... 52DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 53 x
  11. 11. xi DAFTAR TABELTabel 4.1 Pinjaman yang Diberikan Berdasarkan Jenis, Mata Uang dan Transaksi dengan Pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa dan Pihak Ketiga ......................................... 36Tabel 4.2 Rasio Pinjaman Bermasalah PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. ............................................................................... 37Tabel 4.3 Kategori Golongan Berdasarkan Tunggakan Angsuran Bulanan Kredit .............................................................................. 39Tabel 4.4 Penyisihan Minimum sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia ............................................................................. 44Tabel 4.5 Perubahan Penyisihan Kerugian Penurunan Nilai ........................ 48Tabel 4.6 Pinjaman yang Direstrukturisasi Berdasarkan Kolektibilitas ....... 50 xi
  12. 12. xii DAFTAR LAMPIRANNeraca Konsolidasian PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. dan Anak Perusahaan 31 Desember 2010 dan 2009Laporan Laba Rugi Konsolidasian PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. dan Anak Perusahaan 31 Desember 2010 dan 2009Laporan Perubahan Ekuitas Konsolidasian PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. dan Anak Perusahaan 31 Desember 2010 dan 2009Laporan Arus Kas Konsolidasian PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. dan Anak Perusahaan 31 De sember 2010 dan 2009 xii
  13. 13. 1 BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Masalah Kegiatan perekonomian suatu negara tidak terlepas dari pembayaran uang,dimana industri perbankan memegang peranan yang sangat penting dan strategisdalam sistem perekonomian. Menurut Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998tentang perbankan menyebutkan bahwa fungsi utama perbankan Indonesia adalahsebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat yang bertujuan menunjangpelaksanaan pembangunan nasional ke arah peningkatan kesejahteraan rakyatbanyak. Bank berfungsi untuk menjembatani kedua kelompok masyarakat yangsaling membutuhkan. Masyarakat yang memiliki kelebihan dana dapatmenyimpan uang mereka dalam bentuk tabungan, deposito atau giro pada bank,sedangkan masyarakat yang membutuhkan dana untuk modal usaha atau untukmemenuhi kebutuhan lainnya dapat memperoleh pinjaman dalam bentuk kredityang disalurkan oleh bank. Pendapatan terbesar bank berasal dari bunga, imbalan atau pembagianhasil usaha atas kredit yang disalurkan. Semakin banyak jumlah kredit yangdisalurkan berarti potensi pendapatan semakin besar. Akan tetapi, dalampelaksanaannya tidak semua dana yang dihimpun dari masyarakat bisa disalurkandengan baik sesuai dengan tolak ukur yang telah ditetapkan dan penyaluran kreditkepada masyarakat biasanya mengalami hambatan dalam hal pengembalianpinjaman kepada pihak bank dan nyaris semua bank yang beroperasi di Indonesiamengalami kredit bermasalah. Kredit bermasalah atau kredit macet memberi 1
  14. 14. 2dampak yang kurang baik bagi negara, masyarakat, dan perbankan Indonesia.Kemudian risiko yang ditimbulkan atas kredit macet yakni tidak terbayarnyakembali kredit yang diberikan baik sebagian maupun seluruhnya. Semakin besar kredit macet yang dihadapi, maka makin menurun pulatingkat kesehatan bank tersebut atau menurunnya profitabilitas yang diharapkan.Hal ini mempengaruhi kepercayaaan terhadap nasabah. Semakin besar jumlahkredit bermasalah, makin besar pula jumlah cadangan yang harus disediakan sertamakin besar pula tanggungan bank untuk mengadakan dana cadangan tersebutkarena kerugian bank akan mengurangi modal sendiri. Salah satu ruang lingkup kegiatan PT. Bank Negara Indonesia (Persero)Tbk. adalah memberikan fasilitas kredit kepada sektor usaha, dimana kredittersebut bersumber dari dana yang dihimpun dari giro, deposito, dan tabungan.Dalam menjalankan fungsinya sebagai bank umum, kebijaksanaan perkreditanPT. Bank Negara Indonesia senantiasa diarahkan pada semua sektor usaha denganpemberian kredit jangka pendek dan menengah serta prioritas sektor-sektor yangdapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Untuk tujuan perkreditan tersebut, PT.Bank Negara Indonesia telah ikut serta secara aktif dalam menyalurkan kreditkepada masyarakat atau sektor usaha yang pembiayaannya bersumber dari danayang dihimpun dari masyarakat itu sendiri. Di Indonesia, prinsip akuntansi yang berlaku adalah Standar AkuntansiKeuangan (SAK) yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).Sebelum tanggal 1 Januari 2010, industri perbankan merupakan suatu perusahaanyang memiliki suatu karakteritik tersendiri dibuat suatu standar khusus untuk
  15. 15. 3pelaporan keuangan yang dituang dalam Pernyataan Standar Akuntansi KeuanganNo. 31 (revisi 2000) mengenai perbankan. Namun, sejak 1 Januari 2010, BankIndonesia mewajibkan seluruh perbankan di Indonesia menyusun laporankeuangannya berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 50 (revisi2006) “Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan”, berisi persyaratanpenyajian dari instrumen keuangan dan pengidentifikasian informasi yang harusdiungkapkan, dan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 55 (revisi 2006)“Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran”, yang mengatur prinsip-prinsip dasar pengakuan dan pengukuran aset keuangan, kewajiban keuangan, dankontrak pembelian dan penjualan item non-keuangan. Kedua standar tersebuttelah sesuai dengan International Financial Reporting System (IFRS) yangsebelumya telah diterapkan oleh perbankan internasional. Hal ini mengakibatkansejak tanggal 1 Januari 2010 pula Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.31efektif dicabut. Keputusan ini diambil agar perbankan Indonesia bisa diakui secaraglobal untuk dapat bersaing dan menarik investor secara global. Berdasarkan uraian di atas, maka penulis memilih judul “PerlakuanAkuntansi Kredit Bermasalah (Nonperforming Loan) KesesuaiannyaSebelum dan Sesudah Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 31Efektif Dicabut pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka yangmenjadi pokok masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana perlakuanakuntansi terhadap kredit bermasalah (nonperforming loan) pada PT. Bank
  16. 16. 4Negara Indonesia (Persero) Tbk. sebelum dan sesudah Pernyataan StandarAkuntansi Keuangan No. 31 efektif dicabut?1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan penelitian Membandingkan kesesuaian antara perlakuan akuntansi yang diterapkan oleh PT. Bank Negara Indonesia (Persero) terhadap kredit bermasalah (nonperforming loan) dan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.31 sebelum dan sesudah efektif dicabut. 2. Manfaat penelitian Untuk memberikan informasi tentang perlakuan akuntansi terhadap kredit bermasalah (nonperforming loan) kesesuaiannya dengan sebelum dan sesudah Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.31 efektif dicabut.1.4 Sistematika Penulisan Sistematika yang akan digunakan dalam penulisan skripsi ini adalahsebagai berikut:BAB I Pendahuluan Menguraikan tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, serta sistematika penulisan.BAB II Tinjauan Pustaka Bab ini menguraikan tentang teori-teori yang relevan dengan penelitian yang dilakukan.
  17. 17. 5BAB III Metode Penelitian Dalam bab ini terdiri dari lokasi penelitian, metode pengumpulan data, jenis dan sumber data, serta metode analisis data.BAB IV Pembahasan Menjelaskan hasil penelitian dan pembahasannya.BAB V Kesimpulan dan Saran Menjelaskan mengenai kesimpulan dan saran mengenai hasil penelitian.
  18. 18. 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA2.1 Definisi Akuntansi Menurut Ismail (2010:2), akuntansi dapat diartikan sebagai seni dalammelakukan pencatatan, penggolongan, dan pengikhtisaran, yang mana hasilakhirnya tercipta sebuah informasi seluruh aktivitas keuangan perusahaan. Tujuanakuntansi yang digambarkan dalam laporan keuangan adalah untuk memberikaninformasi yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan para pemakai. American Institute of Certified Public Accounting (AICPA) yang dikutipoleh Harahap, (2005:4), akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan, danpengiktisaran dengan cara tertentu dan dengan ukuran moneter, transaksi dankejadian-kejadian yang umumnya bersifat keuangan dan termasuk menafsirkanhasil-hasilnya. Dunia (2005:3) mengemukakan definisi akuntansi sebagai suatu sisteminformasi yang memberikan laporan kepada berbagai pemakai atau pembuatkeputusan mengenai aktivitas bisnis dari suatu kesatuan ekonomi. Akuntansimenghasilkan informasi yang berguna bagi pemakai, bagi pihak-pihak intern atauyang mengelola perusahaan dan bagi pihak-pihak luar perusahaan. Menurut Kusnadi (2000 : 7) mengemukakan bahwa: “Akuntansi adalah suatu seni atau keterampilan mengolah transaksi atau kejadian yang setidak-tidaknya dapat diukur dengan uang menjadi laporan keuangan dengan cara sedemikian rupa sistematisnya berdasarkan prinsip yang diakui umum sehingga para pihak yang berkepentingan atas perusahaan dapat mengetahui posisi keuangan dan hasil operasinya pada setiap waktu diperlukan 6
  19. 19. 7 dan daripadanya dapat diambil keputusan maupun pemilihan berbagai alternatif dibidang ekonomi.” Menurut Committee on Terminology of The American Institute of CertifiedPublic Accountants dalam buku Bastian dan Suharjono (2006), akuntansi adalahseni mencatat, menggolongkan, dan mengikhtisarkan transaksi serta peristiwayang bersifat keuangan dengan suatu cara yang bermakna dan dalam satuan uangserta menginpretasikan hasil-hasilnya. Accounting Princple Board (APB) Statement 4 mendefinisikan akuntansisebagai suatu kegiatan jasa. Fungsinya adalah memberikan informasi kuantitatif,umumnya dalam ukuran uang, mengenai suatu badan ekonomi yang dimaksudkanuntuk digunakan dalam pengambilan keputusan ekonomi yang digunakan dalammemilih keputusan terbaik di antara beberapa alternatif keputusan. Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa akuntansiadalah sebagai alat ukur yang memberikan informasi umumnya dalam ukuranuang mengenai suatu badan ekonomi yang berguna bagi pihak-pihak internmaupun ekstern perusahaan dalam mengambil keputusan.2.2 Standar Akuntansi Keuangan (SAK) Maria (2007:12) mendefinisikan Standar Akuntansi Keuangan yangberisi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) adalah: “Standar yang digunakan pedoman pokok penyusunan dan penyajian laporan keuangan bagi perusahaan, dana pensiun, dan unit ekonomi lainnya agar laporan keuangan lebih berguna, dapat dimengerti dan dapat dibandingkan serta tidak menyesatkan. Standar akuntansi keuangan (SAK) yang dibuat oleh IAI selalu mengikuti perkembangan International Accounting Standards
  20. 20. 8 Committee (IASC). Selain mengikuti IAS, SAK juga mempertimbangkan berbagai faktor lingkungan usaha yang ada di Indonesia sehingga di harapkan SAK yang diterbitkan dapat sesuai dengan tuntutan kebutuhan dunia usaha di Indonesia juga sejalan dengan standar akuntasi internasional.”2.3 Kredit2.3.1 Definisi Kredit Kata Kredit berasal dari kata Romawi yaitu Credere yang artinya percaya.Sedangkan dalam bahasa Belanda istilahnya Vertrouwen, dalam bahasa Inggrisyaitu Believe atau trust or confidence yang artinya sama yaitu kepercayaan.Dengan kata lain, kredit mengandung pengertian adanya suatu perkataan dariseseorang atau badan yang diberikan kepada seseorang atau badan lainnya yaitubahwa yang bersangkutan pada masa yang akan datang akan memenuhi segalasesuatu kewajiban yang telah diperjanjikan terlebih dahulu. Menurut Pasal 1 angka 11 Undang-undang Nomor 10 Tahun 2008 tentangperbankan bahwa kredit adalah penyediaan uang dan tagihan yang dapatdisamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjammeminjam antara bank dan pihak lain yang mewajibkan pihak meminjammelunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. Dari pengertian di atas dapatlah dijelaskan bahwa kredit atau pembiayaandapat berupa uang atau tagihan yang nilainya diukur dengan uang, misalnya bankmembiayai kredit untuk pembelian rumah atau mobil. Kemudian adanyakesepakatan antara bank (kreditur) dengan nasabah penerima kredit (debitur)bahwa mereka sepakat sesuai dengan perjanjian yang telah dibuat. Dalamperjanjian kredit tercakup hak dan kewajiban masing-masing pihak, termasuk
  21. 21. 9jangka waktu serta bunga yang ditetapkan bersama. Demikian pula denganmasalah sanksi apabila debitur mengingkari janji yang telah dibuat bersama. Menurut Mulyono ( 2002:12 ) mendefinisikan kredit sebagai: “ Suatu penyerahan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara Bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan bunga jumlah imbalan atau pembagian hasil keuntungan”. Bastian dan Suharjono (2006:65) mendefinisikan kredit adalahpeminjaman uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu berdasarkanpersetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dan pihak lain yangmewajibkan pihak meminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktutertentu dengan jumlah bunga, imbalan atau pembagian hasil keuntungan. Ikatan Akuntan Indonesia (2000) mendefinisikan kredit dalam PernyataanStandar Akuntansi Keuangan adalah: “Peminjaman atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dan pihak lain yang mewajibkan pihak meminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga, imbalan atau pembagian hasil keuntungan. Hal ini yang termasuk dalam pengertian kredit yang diberikan adalah kredit dalam rangka pembiayaan bersama, kredit dalam restrukturisasi, dan pembelian surat berharga nasabah yang dilengkapi dengan Note Purchase Agreement (NPA)”. Menurut Ensiklopedia Umum, kredit adalah sistem keuangan untukmemudahkan pemindahan modal dari pemilik kepada pemakai denganpengharapan memperoleh keuntungan. Kredit diberikan berdasarkan kepercayaanorang lain yang memberikannya terhadap kecakapan dan kejujuran si peminjam.
  22. 22. 10 Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kredit adalahpenyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu berdasarkanpersetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dan pihak lain yangmewajibkan pihak meminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktutertentu dengan jumlah bunga, imbalan atau pembagian hasil keuntungan.2.3.2 Pengakuan dan Pengukuran Kredit Ikatan Akuntansi Indonesia dalam PSAK No. 31 (2000:12) menyatakankredit diakui pada saat pencairannya sebesar pokok kredit. Kredit dalam rangkapembiayaan bersama diakui sebesar pokok kredit yang merupakan porsi tagihanbank yang bersangkutan. Pada saat bank menandatangani perjanjian kredit dengan debitur, bankmengakui kewajiban komitmen fasilitas kredit yang diberikan kepada debitursebesar plafon kredit yang diperjanjikan atau yang dapat ditarik sesuai jadwalpenarikan/penggunaan kredit yang disepakati dengan debitur untuk penerusanatau kredit kelolaan. Kredit diakui sebesar pokok kredit atau debet. Pada umumnya, kredit diukur menggunakan biaya historis (historical cost)dimana asset dicatat sebesar pengeluaran kas (atau setara kas) yang dibayar atausebesar nilai wajar dari imbalan (consideration) yang diberikan untukmemperoleh asset tersebut pada saat perolehan.
  23. 23. 11 2.3.3 Penetapan Kualitas Kredit Menurut Bank IndonesiaKOMPONEN LANCAR DALAM PERHATIAN KURANG LANCAR DIRAGUKAN MACET KHUSUSPotensi Kegiatan usaha Kegiatan usaha memiliki Kegiatan usaha menunjukkan Kegiatan usaha menurun. • Kelangsungan usahapertumbuhan memiliki potensi potensi pertumbuhan yang potensi pertumbuhan yang sangat diragukan,usaha pertumbuhan yang terbatas. sangat terbatas atau tidak dansulit untuk pulih baik. mengalami pertumbuhan. kembali. • Kemungkinan besar kegiatan usaha akan terhenti.Kondisi pasar • Pasar yang stabil dan • Posisi di pasar baik, tidak • Pasar dipengaruhi oleh • Pasar sangat dipengaruhi • Kehilangan pasar sejalandan posisi tidak dipengaruhi oleh banyak dipengaruhi oleh perubahan kondisi oleh perubahan kondisi dengan kondisidebitur dalam perubahan kondisi perubahan kondisi perekonomian. perekonomian. perekonomian yangpersaingan perekonomian. perekonomian. • Posisi di pasar cukup baik • Persaingan usaha sangat menurun. • Persaingan yang • Pangsa pasar sebanding tetapi banyak pesaing, ketat dan operasional • Operasional tidak terbatas, termasuk dengan pesaing. namun dapat pulih kembali perusahaan mengalami kontinyu. posisi yang kuat dalam • Beroperasi pada kapasitas jika melaksanakan strategi permasalahan yang serius. pasar. yang hampir optimum. bisnis yang baru. • Kapasitas tidak pada level • Beroperasi pada • Tidak beroperasi pada yang dapat mendukung kapasitas yangoptimum. kapasitas optimum. operasional.Kualitas • Manajemen yang sangat • Manajemen yang baik. • Manajemen cukupbaik. • Manajemen kurang • Manajemen sangatmanajemen baik. berpengalaman. lemah.dan • Tenaga kerja yang • Tenaga kerja pada • Tenaga kerja berlebihanpermasalahan memadai dan belum umumnya memadai, dan terdapat perselisihan/ • Tenaga kerja berlebihan • Tenaga kerja berlebihantenaga kerja pernah tercatat pernah mengalami pemogokan tenaga kerja dalam jumlah yang cukup dalam jumlah yang besar mengalami perselisihan perselisihan/ pemogokan dengan dampak yang besar sehingga dapat sehingga menimbulkan atau pemogokan tenaga tenaga kerja yang telah cukup material bagi menimbulkan keresahan keresahan dan terdapat kerja, atau pernah diselesaikan dengan baik kegiatan usaha debitur. dan terdapat perselisihan/ perselisihan/pemogokan mengalami perselisihan/ namun masih ada pemogokan tenaga kerja tenaga kerja dengan pemogokan ringan kemungkinan untuk dengan dampak yang dampak yang material namun telah terulang kembali. cukup material bagi bagi kegiatan usaha terselesaikan dengan kegiatan usaha debitur. debitur. baik.
  24. 24. 12Dukungan dari Perusahaan afiliasi atau Perusahaan afiliasi atau Hubungan dengan Perusahaan afiliasi atau grup Perusahaan afiliasigrup atau grup stabil dan grup stabil dan tidak perusahaan afiliasi atau grup telah memberikan dampak sangat merugikanafiliasi mendukung usaha. memiliki dampak yang mulai memberikan dampak yang memberatkan debitur. memberatkan terhadap yang memberatkan terhadap debitur. debitur. debitur.Upaya yang Upaya pengelolaan Upaya pengelolaan Upaya pengelolaan Perusahaan belum Perusahaan belumdilakukan lingkungan hidup baik lingkungan hidup kurang lingkungan hidup kurang melaksanakan upaya melaksanakan upayadebitur dalam dan mencapai hasil yang baik dan belum mencapai baik dan belum pengelolaan lingkungan pengelolaan lingkunganrangka sekurang-kurangnya persyaratan minimum yang mencapai persyaratan hidup yang berarti atau telah hidup yang berarti ataumemelihara sesuai dengan persyaratan ditentukan sebagaimana minimum yang ditentukan dilakukan upaya telah dilakukan upayalingkungan minimum yang ditentukan diatur dalam perundang- sebagaimana diatur dalam pengelolaan namun belum pengelolaan namun belumhidup (bagi sebagaimana diatur dalam undangan yang berlaku. peraturan perundang- mencapai persyaratan yang mencapai persyaratandebitur peraturan perundang- undangan yang berlaku, ditentukan sebagaimana minimum yang ditentukanberskala besar undangan yang berlaku. dengan penyimpangan yang diatur dalam peraturan sebagaimana diatur dalamyang memiliki cukup material. perundang-undangan yang peraturan perundang-dampak berlaku, dengan undangan yang berlaku,penting penyimpangan yang material. dan memiliki kemungkinanterhadap untuk dituntutlingkungan dipengadilan.hidup)Perolehan laba Perolehan laba tinggi dan Perolehan laba cukup baik Perolehan laba rendah. • Laba sangat kecil atau • Mengalami kerugian stabil. namun memiliki potensi negatif. yang besar. menurun. • Kerugian operasional • Debitur tidak mampu dibiayai dengan penjualan memenuhi seluruh aset. kewajiban dan kegiatan usaha tidak dapat dipertahankan.Struktur Permodalan kuat. Permodalan cukup baik Rasio utang terhadap modal Rasio utang terhadap modal Rasio utang terhadap modalpermodalan dan pemilik mempunyai cukup tinggi. tinggi. sangat tinggi. kemampuan untuk memberikan modal tambahan apabila diperlukan.
  25. 25. 13Arus kas • Likuiditas dan modal • Likuiditas dan modal • Likuditas kurang dan • Likuiditas sangat rendah. • Kesulitan likuiditas. kerja kuat. kerja umumnya baik. modal kerja terbatas. • Analisis arus kas • Analisis arus kas • Analisis arus kas • Analisis arus kas • Analisis arus kas menunjukkan menunjukkan bahwa menunjukkan bahwa menunjukkan bahwa menunjukkan bahwa ketidakmampuan debitur tidak mampu debitur dapat meskipun debitur mampu debitur hanya mampu membayar pokok dan menutup biaya produksi. memenuhikewajiban memenuhi kewajiban membayar bunga dan bunga. • Tambahan pinjaman baru pembayaran pokok serta pembayaran pokok serta sebagian dari pokok. • Tambahan pinjaman digunakan untuk bunga tanpa dukungan bunga namun terdapat baru digunakan untuk memenuhi kewajiban sumber dana tambahan. indikasi masalah tertentu memenuhi kewajiban yang jatuh tempo, secara yang apabila tidak diatasi yang jatuh tempo. material. akan mempengaruhi pembayaran dimasa mendatang.Sensitivitas Jumlah portofolio yang Beberapa portofolio sensitif Kegiatan usaha terpengaruh Kegiatan usaha terancam Kegiatan usaha terancamterhadap risiko sensitif terhadap terhadap perubahan nilai perubahan nilai tukar valuta karena perubahan nilai tukar karena fluktuasi nilai tukarpasar perubahan nilai tukar tukar valuta asing dan suku asing dan suku bunga. valuta asing dan suku bunga valuta asing dan suku valuta asing dan suku bunga tetapi masih bunga bunga relatif sedikit atau terkendali. telah dilakukan lindung nilai (hedging) secara baik.Ketepatan Pembayaran tepat waktu, • Terdapat tunggakan • Terdapat tunggakan • Terdapat tunggakan Terdapat tunggakan pokokpembayaran perkembangan rekening pembayaran pokok dan pembayaran pokok dan pembayaran pokok dan dan atau bunga yang telahpokok dan baik dan tidak ada atau bunga sampai atau bunga yang telah atau bunga yang telah melampaui 270 (dua ratusbunga tunggakan serta sesuai dengan 90 (sembilan melampaui 90(sembilan melampaui 180 (seratus tujuh puluh) hari. dengan persyaratan kredit. puluh) hari. puluh) hari sampai dengan delapan puluh) hari sampai • Jarang mengalami 180 (seratus delapan puluh) dengan 270 (dua ratus cerukan. hari. tujuh puluh) hari. • Terdapat cerukan yang • Terjadi cerukan yang berulang kali khususnya bersifat permanen untuk menutupi kerugian khususnya untuk menutupi operasional dan kerugian operasional dan kekurangan arus kas. kekurangan arus kas.Ketersediaan • Hubungan debitur • Hubungan debitur dengan Hubungan debitur dengan Hubungan debitur dengan Hubungan debitur dengandan keakuratan dengan bank baik, bank cukup baik dan bank memburuk dan bank semakin memburuk dan bank sangat buruk dan
  26. 26. 14informasi debitur selalu debitur selalu informasi keuangan tidak informasi keuangan tidak informasi keuangan tidakkeuangan menyampaikan menyampaikan informasi dapat dipercaya atau tidak tersedia atau tidak dapat tersedia atau tidak dapatdebitur informasi keuangan keuangan secara teratur terdapat hasil analisis Bank dipercaya. dipercaya. secara teratur dan dan masih akurat. atas laporan keuangan/ akurat. • Terdapat laporan informasi keuangan yang • Terdapat laporan keuangan terkini dan disampaikan debitur. keuangan terkini dan adanya hasil analisis adanya hasil analisis Bank atas laporan Bank atas laporan keuangan/informasi keuangan/informasi keuangan yang keuangan yang disampaikan debitur. disampaikan debitur.Kelengkapan Dokumentasi kredit Dokumentasi kredit Dokumentasi kredit kurang Dokumentasi kredit tidak Tidak terdapat dokumentasidokumentasi lengkap. lengkap. lengkap. lengkap. kredit.kreditKepatuhan Tidak terdapat Pelanggaran perjanjian Pelanggaran terhadap Pelanggaran yang prinsipil Pelanggaran yang sangatterhadap pelanggaran perjanjian kredit yang tidak prinsipil. persyaratan pokok kredit terhadap persyaratan pokok prinsipil terhadapperjanjian kredit. yang cukup prinsipil. dalam perjanjian kredit. persyaratan pokok dalamkredit perjanjian kredit.Kesesuaian • Penggunaan dana sesuai • Penggunaan dana kurang • Penggunaan dana kurang • Penggunaan dana kurang • Sebagian besarpenggunaan dengan pengajuan sesuai dengan pengajuan sesuai dengan pengajuan sesuai dengan pengajuan penggunaan dana tidakdana pinjaman. pinjaman, namun pinjaman, dengan jumlah pinjaman, dengan jumlah sesuai dengan pengajuan • Jumlah dan jenis jumlahnya tidak material. yang cukup material. yang material. pinjaman. fasilitas diberikan • Jumlah dan jenis fasilitas • Jumlah dan jenis fasilitas • Jumlah dan jenis fasilitas • Jumlah dan jenis fasilitas sesuai dengan diberikan lebih besar dari diberikan lebih besar dari diberikan lebih besar dari diberikan lebih besar dari kebutuhan. kebutuhan, namun kebutuhan, dengan jumlah kebutuhan, dengan jumlah kebutuhan, dengan • Perpanjangan kredit jumlahnya tidak material. yang cukup material. yang material. jumlah yang sangat sesuai dengan analisis • Perpanjangan kredit • Perpanjangan kredit tidak • Perpanjangan kredit tidak material. kebutuhan debitur. kurang sesuai dengan sesuai dengan analisis sesuai dengan analisis • Perpanjangan kredit tanpa analisis kebutuhan kebutuhan debitur kebutuhan debitur analisis kebutuhan debitur. (perpanjangan kredit untuk (perpanjangan kredit untuk debitur. menyembunyikan kesulitan menyembunyikan kesulitan keuangan). keuangan), dengan penyimpangan yang cukup material.
  27. 27. 15Kewajaran • Sumber pembayaran • Sumber pembayaran • Pembayaran berasal dari • Sumber pembayaran tidak • Tidak terdapat sumbersumber dapat diidentifikasi dapat diidentifikasi dan sumber lain dari yang diketahui, sementara pembayaran yangpembayaran dengan jelas dan disepakati oleh bank dan disepakati. sumber yang disepakati memungkinkan.kewajiban disepakati oleh bank debitur. • Sumber pembayaran sudah tidak • Sumber pembayaran dan debitur. • Sumber pembayaran kurang sesuai dengan memungkinkan. tidak sesuai dengan • Sumber pembayaran kurang sesuai dengan struktur/jenis pinjaman • Sumber pembayaran struktur/jenis pinjaman. sesuai dengan struktur/jenis pinjaman. secara cukup material. kurang sesuai dengan struktur/jenis pinjaman. struktur/jenis pinjaman secara material.Kewajaran • Skema pembayaran • Skema pembayaran • Skema pembayaran • Skema pembayaran • Skema pembayaransumber kembali yang wajar kembali yang cukup kembali yang kurang wajar kembali yang kurang wajar kembali yang tidak wajarpembayaran (termasuk dalam wajar (termasuk dalam dan terdapat pemberian dan terdapat pemberian dan terdapat pemberiankewajiban pemberian grace pemberian grace period). grace period yang tidak grace periode yang tidak grace period yang tidak period). • Pendapatan valas kurang sesuai dengan jenis kredit. sesuai dengan jenis kredit sesuai dengan jenis kredit • Pendapatan valas mencukupi untuk • Pendapatan valas tidak dengan kurun waktu yang dengan kurun waktu yang mencukupi untuk mendukung mencukupi untuk cukup panjang. cukup panjang. mendukung pengembalian kredit mendukung pengembalian • Pendapatan valas tidak • Tidak terdapat pengembalian kredit valas. kredit valas, secara cukup mencukupi untuk penerimaan valas untuk valas. material. mendukung pengembalian mendukung kredit valas secara pengembalian kredit material. valas. Sumber: Bank Indonesia
  28. 28. 162.3.4 Jenis Kredit Sesuai dengan Kolektibilitasnya Menurut Ismail (2010: 219), kredit dapat dibedakan sesuai dengankolektibilitas/kualitas/penggolongan kredit, yaitu performing loan dannonperforming loan. Penggolongan kredit menjadi performing loan dannonperforming loan didasarkan pada kriteria kualitatif dan kuantitatif. Penilaianpenggolongan kredit secara kualitatif didasarkan pada prospek usaha debitur dankondisi keuangan usaha debitur. Kondisi keuangan debitur dapat dilihat darikemungkinan kemampuan debitur untuk membayar kembali pinjamannya darihasil usahanya. Penggolongan kredit sesuai kuantitatif didasarkan padapembayaran angsuran oleh debitur yang tercermin dalam catatan bank.Pembayaran angsuran kredit mencakup pembayaran pinjaman pokok dan bunga. Performing loan merupakan penggolongan kredit atas kualitas kreditnasabah yang lancar dan/atau terjadi tunggakan sampai dengan 90 hari.Performing loan dibagi menjadi dua yaitu kredit lancar dan kredit dalam perhatiankhusus. Dalam hal kredit angsuran (installment loan), maka yang tergolong dalamkredit lancar yaitu kredit yang tidak terdapat tunggakan. Setiap tanggal jatuhtempo angsuran, debitur dapat membayar pinjaman pokok dan bunga. Kreditdalam perhatian khusus adalah penggolongan kredit yang tertunggak baikangsuran, pinjaman pokok dan pembayaran bunga, akan tetapi tunggakannyasampai dengan 90 hari (tidak melebihi 90 hari kalender). Nonperforming loan merupakan kredit yang menunggak melebihi 90 hari.Nonperforming loan dibagi menjadi tiga yaitu kredit kurang lancar, kredit
  29. 29. 17diragukan, dan kredit macet. Menurut ketentuan Bank Indonesia, kreditbermasalah digolongkan menjadi tiga yaitu kredit dengan kualitas kurang lancar,diragukan dan macet. Dalam hal kredit angsuran (installment loan), maka kreditkurang lancar terjadi bila debitur tidak dapat membayar angsuran pokok dan/ataubunga antara 91 hari sampai dengan 180 hari. Kredit diragukan terjadi dalam haldebitur tidak dapat membayar angsuran pinjaman pokok dan/atau pembayaranbunga antara 181 hari sampai dengan 270 hari. Kredit macet terjadi bila debiturtidak mampu membayar berturut-turut setelah 270 hari.2.4 Kredit Bermasalah (Nonperforming Loan)2.4.1 Definisi Kredit Bermasalah (Nonperforming Loan) Pemberian kredit tanpa analisis terlebih dahulu akan sangatmembahayakan bank. Nasabah dalam hal ini ada kalanya memberikan data-datafiktif, sehingga mungkin saja kredit sebenarnya tidak layak, akan tetapi tetapdiberikan. Kemudian apabila salah menganalisa, maka kredit yang disalurkanyang sebenarnya tidak layak menjadi layak sehingga akan berakibat sulit untukditagih atau macet (kredit bermasalah). Kredit bermasalah yaitu kredit yang dalam pelaksanaannya belummencapai/memenuhi target yang diinginkan oleh pihak bank kemudian memilikikemungkinan timbulnya risiko kemudian hari bagi bank dalam arti luas, jugamengalami kesulitan dalam penyelesaian kewajiban-kewajiban baik dalam bentuk
  30. 30. 18pembayaran kembali pokoknya dan atau pembayaran bunga, denda keterlambatanserta ongkos-ongkos bank yang menjadi beban debitur yang bersangkutan. Menurut Tjoekam (1999:264) mengungkapkan bahwa: “Kredit bermasalah adalah gambaran dari suatu kondisi kredit berupaprincipal, bunga, biaya-biaya, dan overdraft akan mengalami kegagalan karenatanda-tanda penyimpangan dibiarkan berakumulasi sehingga menurunkan mutukredit dan cenderung menimbulkan kerugian potensial bagi bank.” Menurut Siamat (2001:174) menjelaskan kredit bermasalah /problem loandapat diartikan sebagai pinjaman yang mengalami kesulitan pelunasan akibatadanya faktor kesengajaan dan atau karena faktor eksternal diluar kemampuankendali debitur. Menurut Ikatan Akuntan Indonesia PSAK No.31 (2000), kreditbermasalah (nonperforming loan) pada umumnya merupakan kredit yangpembayaran angsuran pokoknya dan atau bunganya telah lewat 90 hari atau lebihsetelah jatuh tempo, atau kredit yang pembayarannya secara tepat waktu sangatdiragukan. Kredit nonperforming terdiri atas kredit yang digolongkan kuranglancar, diragukan, macet. Jadi dapat disimpulkan, kredit bermasalah adalah suatu keadaan dimananasabah sudah tidak sanggup membayar sebagian atas seluruh kewajibannyakepada bank seperti yang telah diperjanjikan dan dapat menimbulkan kerugianpotensial kepada bank.
  31. 31. 192.4.2 Akuntansi Kredit Bermasalah (Nonperforming Loan)Menurut Ismail (2010:224), akuntansi kredit bermasalah terdiri dari: a. Pengakuan pendapatan bunga kredit nonperforming Nonperforming loan terjadi bila debitur tidak membayar angsuran pinjaman pokok maupun bunga setelah 90 hari. Pendapatan bunga kredit untuk kredit nonperforming diakui atas dasar cash basis, yaitu pengakuan pendapatan kredit pada saat adanya pembayaran dari debitur. Pendapatan bunga kredit nonperforming diakui sebagai pendapatan bunga dalam penyelesaian yang tidak dicatat dalam laporan laba rugi akan tetapi dicatat dalam tagihan kontijensi. b. Pembayaran kewajiban kredit nonperforming. Dalam hal terdapat pembayaran kredit nonperforming, maka bila kredit termasuk golongan kredit kurang lancar, maka prioritas pembayarannya adalah pembayaran bunga, denda, dan lain-lain, kemudian sisanya digunakan untuk pembayaran pinjaman pokok. Golongan kredit diragukan dan kredit macet, prioritas pembayaran adalah untuk pembayaran pokok dan sisanya digunakan untuk pembayaran bunga, denda, dan biaya lainnya.2.4.3 Penyelesaian Kredit Bermasalah (Nonperforming Loan) Menurut Hariyani (2010:41), apabila penyelamatan kredit yang dilakukanoleh bank ternyata tidak berhasil, maka bank dapat melakukan tindakan lanjutanberupa penyelesaian kredit macet melalui program penghapusan kredit macet
  32. 32. 20(write-off). Penghapusan kredit macet terbagi dalam dua tahap yaitu hapus bukuatau penghapusan secara bersyarat atau conditional write-off, dan hapus tagih ataupenghapusan secara mutlak atau absolute write-off. Jika kemudian program hapus buku dan hapus tagih juga belum berhasilmengembalikan dana kredit yang disalurkan kepada debitur, maka bank dapatmenyelesaikan portofolio kredit macet tersebut melalui jalur litigasi (prosesperadilan) maupun jalur non-litigasi (diluar proses peradilan).
  33. 33. 21 2.4.4 Struktur Penyelesaian Kredit Bermasalah Kredit Bermasalah Penjadwalan kembali (Reschedulling) Persyaratan Kembali (Reconditioning) Penataan Kembali (Restructuring)/Restrukturisasi Gagal Berhasil Hapus Buku Kualitas kredit membaik Hapus Tagih 1. Bank bertambah sehat 2. Debitur tambah maju 3. Sektor riil berkembang Penyelesaian KreditLitigasi Nonlitigasi Sumber: Hariyani; Restrukturisasi dan Penghapusan Kredit Macet; 2010
  34. 34. 222.5 Restrukturisasi Kredit Restrukturisasi kredit diberikan kepada debitur yang tidak dapat memenuhikewajibannya atau debitur yang diperkirakan tidak dapat memenuhi kewajibanpembayaran angsuran pokok dan/atau bunga sesuai dengan jadwal yangdiperjanjikan. Bank melakukan restrukturisasi kredit kepada debitur berdasarkanpertimbangan ekonomi dan hukum yang pemberiannya terbatas pada adanyakesulitan keuangan debitur sehingga perlu dibantu oleh bank dalammenyelesaikannya. Bank memiliki keyakinan bahwa dengan dilakukanrestrukturisasi kredit kepada debitur, maka kondisi keuangan debitur akan menjadilebih baik, sehingga kualitas kredit debitur meningkat. Menurut PSAK (2000:34), kredit nonperforming yang telahdirestrukturisasi, dengan cara memberi keringanan kepada peminjam yang sedangmengalami kesulitan keuangan, tetap diklasifikasikan sebagai nonperformingsampai dengan kredit tersebut menjadi performing, yaitu pada saat pembayaranpokok/bunga sudah dilakukan secara teratur selama jangka waktu tertentu Menurut Ismail (2010:228), restrukturisasi kredit dapat dilakukan denganberbagai cara antara lain; modifikasi syarat-syarat kredit, penambahan fasilitaskredit, pengambilalihan agunan/aset, konversi kredit. 1. Modifikasi persyaratan kredit Restrukturisasi kredit yang paling umum dilakukan oleh bank adalah dengan melakukan modifikasi persyaratan kredit. Persyaratan kredit yang perlu diperbaharui dalam rangka restrukturisasi adalah penurunan suku
  35. 35. 23bunga kredit, perpanjangan jangka waktu kredit, pengurangan tunggakanbunga kredit, pengurangan jumlah pokok kredit. Dengan melakukankombinasi atas perubahan persyaratan kredit, diharapkan kondisi keuangandebitur menjadi lebih baik dan pada akhirnya debitur mampu memenuhikewajiban pembayaran pokok kredit maupun bunga. Menurut Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (2001),perhitungan nilai tunai penerimaan kas masa depan dan kerugianrestrukturisasi kredit yang dilakukan dengan mengubah/memodifikasipersyaratan kredit adalah sebagai berikut:a. Bila nilai tunai penerimaan kas masa depan yang ditentukan dalam persyaratan baru sama dengan nilai tercatat kredit, maka bank mencatat dampak restrukturisasi secara prospektif, dan tidak mengubah nilai tercatat kredit pada tanggal restrukturisasi karena bank tidak mengalami kerugian restrukturisasi.b. Bila nilai tunai penerimaan kas masa depan yang ditentukan dalam persyaratan baru lebih kecil dari nilai tercatat kredit maka bank mengakui kerugian restrukturisasi sebesar selisih antara nilai tercatat kredit dengan nilai tunai penerimaan pokok dan bunga.c. Faktor pendiskonto yang digunakan dalam perhitungan nilai tunai penerimaan kas masa depan atas kredit yang direstrukturisasi adalah tingkat suku bunga pasar, yaitu tingkat bunga efektif dari kredit sebelum direstrukturisasi. Tingkat bunga tersebut dilakukan evaluasi secara triwulanan sesuai dengan tingkat bunga pasar.
  36. 36. 24 d. Dalam penentuan kerugian restrukturisasi, jumlah pembayaran kontingen dari debitur (misalnya peningkatan pembayaran angsuran dimasa depan sesuai dengan perbaikan usaha debitur) dapat diperhitungkan sebagai bagian dari nilai tunai penerimaan kas masa depan, hanya jika njumlah kontingen tersebut lebih besar kemungkinannya untuk dapat direalisasi (probable) dan jumlahnya dapat ditentukan secara wajar serta telah diperjanjikan sebelumnya. Restrukturisasi kredit dengan pengurangan pokok dan/atau bunga, maka selain perhitungan nilai tunai penerimaan kas masa depan dan kerugian restrukturisasi kredit perlu juga diperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. Pengurangan pokok dan/atau bunga secara absolut, maka perngurangan pokok kredit dibebankan ke penyisihan kerugian kredit. Pengurangan bunga dilakukan dengan melakukan jurnal balik atas tagihan kontijensi dan tidak mengakui kerugian. b. Pengurangan pokok dan/atau bunga secara kontijen/bersyarat, pengurangan pokok kredit dibebankan ke penyisihan kerugian kredit dan bank mengakui tagihan kontijensi pokok. Pengurangan bunga dilakukan dengan melakukan jurnal balik atas tagihan kontijensi dan bank tidak mengakui kerugian.2. Penambahan fasilitas kredit Dalam kasus tertentu, debitur bermasalah justru akan mendapat tambahan kredit dengan tujuan agar usahanya menjadi lancar dan dapat
  37. 37. 25 mengembalikan kewajibannya. Tambahan kredit ini diberikan untuk debitur yang memperoleh kredit investasi dan/atau kredit modal kerja. Misalnya usaha debitur tidak dapat berjalan bila tidak diikuti dengan investasi peralatan baru atau ditambah modal kerja. Bank dapat memberikan tambahan kredit untuk investasi dan/atau modal kerja.3. Pengambilalihan agunan/aset debitur Pengambilalihan agunan kredit/aset debitur dilakukan bila debitur sudah tidak sanggup membayar kewajibannya dengan menyerahkan agunannya. Agunan yang dimiliki oleh bank adalah berupa surat/bukti kepemilikan, sementara fisik aset yang diagunkan masih dikuasai oleh debitur. Dalam hal penguasaan bisa dilakukan bila debitur kooperatif dan ikut membantu menyelesaikan kreditnya. Restrukturisasi kredit dengan pengambilalihan agunan/aset debitur dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut: a. Agunan kredit atau aset lain yang diambil alih seperti tanah, bangunan, dan surat berharga diakui sebesar nilai bersih yang dapat direalisasi, yaitu nilai wajar agunan/aset setelah dikurangi estimasi biaya untuk menjual agunan/aset tersebut. b. Sisa kredit setelah dikurangi nilai bersih agunan/aset lain yang diambil alih merupakan kredit yang direstrukturisasi yang perlakuannya sebagaimana diatur dalam restrukturisasi dengan modifikasi persyaratan.
  38. 38. 264. Konversi Kredit Konversi kredit merupakan konversi pinjaman dalam bentuk penyertaan modal pada perusahaan debitur. Dengan dilakukannya konversi kredit, maka outstanding kredit debitur yang telah dikonversi dikurangkan dari akun kredit. Konversi kredit dilakukan dengan mendapat saham perusahaan debitur. Dalam hal saham yang diserahkan nilainya lebih rendah dibanding total kewajibannya, maka sisanya masih menjadi kredit debitur. Sebaliknya bila nilai wajar saham lebih tinggi dibanding dengan total kewajiban debitur, maka selisihnya dicatat sebagai pendapatan yang ditangguhkan.
  39. 39. 27 BAB III METODE PENELITIAN3.1 Lokasi Penelitian Untuk memperoleh data yang berhubungan dengan penulisan ini dilakukanpenelitian yang bertempat pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. KantorWilayah Makassar yang berlokasi di jalan Jend. Sudirman No. 1 Makassar.3.2 Metode Pengumpulan Data1. Metode penelitian kepustakaaan (library research) Yaitu pengumpulan data dan informasi lainnya dari berbagai literatur , buku- buku dan teori yang berhubungan dengan masalah yang dibahas pada penelitian ini. Hal tersebut dimaksudkan sebagai sumber acuan untuk membahas teori yang mendasari pembahasan masalah dan analisis data dalam penelitian ini, serta menelaah penelitian ini.2. Penelitian lapangan (field research) Penelitian ini dilakukan dengan mengadakan pengamatan langsung dan wawancara dengan pihak-pihak yang terkait dengan PT. BNI khususnya divisi kredit dan divisi akuntansi.3.3 Jenis dan Sumber Data3.3.1 Jenis DataAdapun jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 27
  40. 40. 28 a. Data kualitatif, yaitu data yang terdiri dari kumpulan data non angka yang sifatnya deskriptif yang teridiri dari: - Gambaran umum perusahaan, struktur organisasi, dan sebagainya. - Buku pedoman perusahaan yang berisi pelaksanaan perlakuan akuntansi dan pelaksanaan proses pemberian kredit pada tempat penelitian. - Peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia yang ditetapkan oleh BNI, yaitu Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI). b. Data kuantitatif, yaitu data berupa angka-angka yang diperoleh dari laporan keuangan tahun yang telah diaudit selama periode 2010.3.3.2 Sumber Data 1. Data primer. Data yang diperoleh langsung dari perusahaan/instansi terkait melalui hasil wawancara dengan pegawai yang bertugas pada divisi kredit khususnya yang menangani masalah kredit. 2. Data sekunder. Data yang diperoleh dari sumber di luar bank , yaitu Bank Indonesia dalam bentuk literatur-literatur akuntansi perbankan yang berhubungan dengan penelitian ini. Situs resmi Bank Indonesia yaitu www.bi.go.id
  41. 41. 293.4 Metode Analisis Data Metode analisis yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini adalahmetode deskriptif dan komparatif dimana akan dipaparkan metode perlakuanakuntansi atas kredit bermasalah yang diterapkan oleh PT. Bank Negara Indonesia(Persero) Tbk. sebelum Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 31 revisi2000 tentang Akuntansi Perbankan dicabut dan setelah Pernyataan StandarAkuntansi Keuangan No. 31 revisi 2000 efektif dicabut pada tanggal 1 Januaridan digantikan oleh Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 50 tentangInstrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan dan 55 revisi 2006 tentangInstrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran.
  42. 42. 30 BAB IV PEMBAHASAN Mulai pada tanggal 1 Januari 2010, PT. Bank Negara Indonesia (Persero)Tbk. secara efektif menerapkan PSAK No. 50 (Revisi 2006), “InstrumenKeuangan: Penyajian dan Pengungkapan”, dan PSAK No. 55 (Revisi 2006),“Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran”, dimana PSAK No. 31,“Akuntansi Perbankan”, yang telah diterapkan Bank Negara Indonesia dalammembuat laporan keuangan konsolidasian tahun 2009 telah dicabut. Untuk mengetahui perlakuan akuntansi yang diterapkan oleh PT. BankNegara Indonesia (Persero) Tbk, dapat dilihat dari penerapan kebijakan akuntansiBank Negara Indonesia yang berdasarkan Buku Laporan Tahunan 2010, PedomanAkuntansi Perbankan Indonesia, Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan, sertamelakukan wawancara dengan pihak-pihak terkait tentang perlakuan akuntansipada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Sebelum 1 Januari 2010, pinjaman yang diberikan dinyatakan sebesarsaldo pinjaman dikurangi dengan penyisihan kerugian penurunan nilai. Sedangkansejak tanggal 1 Januari 2010, pinjaman yang diberikan pada awalnya diukurdengan nilai wajar ditambah dengan biaya transaksi yang dapat diatribusikansecara langsung dan biaya tambahan untuk memperoleh aset keuangan tersebutdan setelah pengakuan awal diukur pada biaya perolehan diamortisasimenggunakan metode suku bunga efektif dikurangi dengan penyisihan kerugian 30
  43. 43. 31penurunan nilai. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel pemberian kreditberikut ini: Tabel 4.1 Pinjaman yang Diberikan Berdasarkan Jenis, Mata Uang dan Transaksi dengan Pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa dan Pihak Ketiga(Disajikan dalam jutaan rupiah) 2010 2009Pihak-pihak yang mempunyaihubungan istimewaRupiah Investasi 421.337 351.168 Konsumen 76.189 156.933 Modal kerja 15.523 22.086Jumlah pihak-pihak yangmempunyai hubungan istimewa 513.049 530.187Pihak Ketiga Modal kerja 54.729.962 52.279.076 Investasi 26.153.680 24.696.566 Konsumen 24.407.377 17.350.042 Sindikasi 9.193.549 7.662.089 Karyawan 1.168.431 1.991.787 Program pemerintah 388.619 320.378Jumlah rupiah 116.491.618 104.299.938Mata uang asing Modal kerja 11.492.197 7.748.598 Sindikasi 4.260.617 4.180.610 Investasi 3.577.902 3.992.816 Konsumen 13.353 71.653 Program pemerintah 8.223 19.338
  44. 44. 32Jumlah mata uang asing 19.352.292 16.013.015Jumlah pihak ketiga 135.843.910 120.312.953Jumlah 136.356.959 120.843.140Penyisihan kerugian penurunannilai (6.957.392) (6.920.455)Bersih 129.399.567 113.922.685Sumber: PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Berdasarkan tabel di atas, disimpulkan bahwa jumlah pinjaman yangdiberikan oleh Bank Negara Indonesia mengalami peningkatan. Pada tahun 2010,mengalami peningkatan sebesar 13,58 %. Adanya peningkatan kredit pada tahun2010 menunjukkan tekad Bank Negara Indonesia untuk meningkatkan perannyasebaga lembaga intermediasi. Pada tanggal 31 Desember 2010 dan 2009, rasio kredit bermasalah bruto(rasio NPL-bruto) Bank Negara Indonesia terhadap jumlah pinjaman yangdiberikan adalah sebesar 4,28% dan 4,68%. Sedangkan rasio kredit bermasalahbersih (rasio NPL-bersih) terhadap total pinjaman adalah sebesar 1,11% dan0,84%. Seperti diuraikan pada tabel berikut: Tabel 4.2 Rasio Pinjaman Bermasalah PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. TahunRasio Kredit Bermasalah 2010 2009Rasio NPL Bruto 4,28% 4,68%Rasio NPL Bersih 1,11% 0,84%Sumber : PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.
  45. 45. 33 Berdasarkan tabel diatas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwajumlah nonperforming loan pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbkmengalami penurunan pada tahun 2010.4.1 Kredit Bermasalah (Nonperforming Loan)a. Pengakuan Kredit Bermasalah (Nonperforming Loan) Kategori kredit pada Bank Negara Indonesia berdasarkan tunggakanangsurannya dibagi atas 5 golongan. Golongan I kredit lancar yaitu kredit yangtidak terdapat tunggakan. Setiap tanggal jatuh tempo angsuran, debitur dapatmembayar pinjaman pokok dan bunga, Golongan II Kredit dalam perhatiankhusus adalah penggolongan kredit yang tertunggak baik angsuran, pinjamanpokok dan pembayaran bunga, akan tetapi tunggakannya sampai dengan 90 hari(tidak melebihi 90 hari kalender). Golongan III kredit kurang lancar terjadi biladebitur tidak dapat membayar angsuran pokok dan/atau bunga antara 91 harisampai dengan 180 hari. Golongan IV Kredit diragukan terjadi dalam hal debiturtidak dapat membayar angsuran pinjaman pokok dan/atau pembayaran bungaantara 181 hari sampai dengan 270 hari. Golongan V kredit macet yang Kreditmacet terjadi bila debitur tidak mampu membayar berturut-turut setelah 270 hari.Kredit bermasalah atau NPL diakui pada saat tunggakan angsuran masukGolongan III dan seterusnya atau lebih dari 91 hari. Sedangkan untuk Golongan Idan II merupakan Performing Loan. Apabila terjadi perubahan kualitas suatukredit atau perubahan golongan kredit yang diakibatkan adanya keterlambatanpembayaran angsuran bunga dan pokok yang tidak sesuai dengan jadwal
  46. 46. 34angsuran. Perubahan tersebut dalam pemberian kredit disebut dengan perubahankolektibitas kredit. Tabel 4.3 Kategori Golongan Berdasarkan Tunggakan Angsuran Bulanan Kredit Golongan Lama tunggakan Kategori angsuran Golongan I 0 hari Lancar Golongan II 1-90 hari Dalam perhatian khusus Golongan III 91 – 180 hari Kurang lancar Golongan IV 181 – 270 hari Diragukan Golongan V Lebih dari 270 hari MacetSumber: PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.b. Pengukuran Kredit Bermasalah (Nonperforming Loan) Sebelum 1 Januari 2010, Bank Negara Indonesia menggunakan dasarpengukuran kredit bermasalah dengan konsep historical cost, dimana aset dicatatsebesar pengeluaran kas (setara kas) yang dibayar atau sebesar nilai wajar yangdibayar atau sebesar nilai wajar imbalan yang diberikan untuk memperoleh asettersebut pada saat perolehan. Sejak 1 Januari 2010, kredit bermasalah diukurdengan penurunan nilai yaitu suatu kondisi dimana terdapat bukti obyektifterjadinya peristiwa yang merugikan akibat satu atau lebih peristiwa yang terjadisetelah pengukuran awal aset tersebut dan peristiwa merugikan yang berdampak
  47. 47. 35pada estimasi arus kas masa datang aset keuangan yang dapat diestimasi secarahandal. Pengukuran tersebut dilakukan secara individual maupun kolektif.4.2 Pendapatan Bungaa. Pengakuan Pendapatan Bunga Sebelum 1 Januari 2010, pendapatan bunga atas pinjaman yang diberikanatau aktiva produktif lainnya diklasifikasikan sebagai sebagai bermasalah diakuipada saat bunga tersebut diterima (cash basis). Pada saat pinjamandiklasifikasikan sebagai kredit bermasalah, tagihan bunga yang telah diakuisebelumnya sebagai pendapatan, tetapi belum diterima akan dibatalkanpengakuannya. Selanjutnya bunga yang dibatalkan tersebut diakui sebagai tagihankontijensi. Penerimaan pembayaran atas pinjaman yang diklasifikasikan sebagaidiragukan atau macet dipergunakan terlebih dahulu untuk mengurangi pokokpinjaman. Kelebihan penerimaan dari pokok pinjaman diakui sebagai pendapatanbunga dalam laporan laba rugi konsolidasian. Pendapatan bunga dari kredit yangdirestrukturisasi hanya dapat diakui apabila telah diterima secara tunai sebelumkualitas kredit menjadi lancar. Sejak 1 Januari 2010, pendapatan dan beban bunga untuk semuainstrumen keuangan yang interest bearing diakui pada laporan laba rugikonsolidasian dengan menggunakan metode suku bunga efektif. Suku bungaefektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi pembayaranatau penerimaan kas di masa datang selama perkiraan umur dari aset keuanganatau kewajiban keuangan atau kewajiban keuangan (atau, jika lebih tepat,digunakan periode lebih singkat) untuk memperoleh nilai tercatat bersih dari aset
  48. 48. 36keuangan atau kewajiban keuangan. Pada saat menghitung suku bunga efektif,Bank mengestimasi arus kas dimasa datang dengan mempertimbangkan seluruhpersyaratan kontraktual dalam instrumen keuangan tersebut, tetapi tidakmempertimbangkan kerugian kredit di masa mendatang. Perhitungan inimencakup seluruh komisi, provisi, dan bentuk lain yang diterima oleh para pihakdalam kontrak yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari suku bunga efektif,biaya transaksi, dan seluruh premi atau diskon lainnya. Jika aset keuangan atau kelompok aset keuangan serupa telah diturunkannilainya sebagai akibat kerugian penurunan nilai, maka pendapatan bunga yangdiperoleh setelahnya diakui berdasarkan suku bunga yang digunakan untukmendiskonto arus kas masa datang dalam menghitung kerugian penurunan nilai.Kredit yang pembayaran angsuran pokok atau bunganya telah lewat 90 hari ataulebih setelah jatuh tempo, atau kredit yang pembayarannya secara tepat waktudiragukan, secara umum diklasifikasikan sebagai kredit yang mengalamipenurunan nilai (impairment). Bunga yang telah diakui tetapi belum tertagih akandibatalkan pada saat kredit diklasifikasikan sebagai kredit yang mengalamipenurunan nilai.b. Pengukuran pendapatan bunga Sebelum 1 Januari 2010, konsep pengukuran pendapatan bunga yangditerapkan oleh Bank Negara Indonesia yaitu dengan menggunakan konsepHistorical Cost dimana aktiva dicatat sebesar pengeluaran kas (setara kas) yangdibayar atau sebesar nilai yang wajar dari imbalan (consideration) yang diberikan
  49. 49. 37untuk memperoleh aktiva tersebut pada saat perolehan. Sejak 1 Januari 2010,Pendapatan diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau dapat diterima .Jika arus masuk dari kas atau setara kas ditangguhkan, maka nilai wajar dariimbalan tersebut mungkin kurang dari jumlah nominal kas yang diterima ataudapat diterima penerimaan antara nilai wajar dan jumlah nominal dari imbalantersebut diakui sebagai pendapatan bunga sesuai dengan paragrap 28 dan 29 dansesuai dengan PSAK 55(Revisi 2006).c. Penyajian Pendapatan Bunga Pendapatan bunga dari kredit yang performing disajikan dalam laporanlaba rugi sebagai pendapatan Operasional Utama. Sedangkan, bunga dari kredityang diklasifikasikan nonperforming (kurang lancar, diragukan, dan macet) yangtidak diakui sejak kredit dinyatakan nonperforming diungkapkan dalam catatanatas laporan keuangan mengenai komitmen dan kontijensi sebagai PendapatanBunga Dalam Penyelesaian. Pendapatan bunga dari kredit bermasalah merupakankelebihan penerimaan pokok pinjaman setelah penerimaan pembayaran ataspinjaman yang diklasifikasikan sebagai diragukan dan macet digunakan terlebihdahulu untuk mengurangi pokok pinjaman.4.3 Penyajian Kredit Bermasalah Penyajian kredit bermasalah (nonperforming loan) pada laporankeuangan disajikan di neraca atau on balanced sebagai komponen aktiva dengannama rekening “pinjaman yang diberikan´setelah dikurangi penyisihan kerugian
  50. 50. 38penurunan nilai. Secara lebih detail, kredit bermasalah disajikan pada padacatatan atas laporan keuangan konsolidasian dengan nama kredit yang diberikan(kredit yang di berikan berdasarkan sektor ekonomi dan kolektibilitas setelah dikurangi dan penyisihan kerugian penurunan nilai).4.4 Penyisihan Kerugian Kredit Sebelum 1 Januari 2010, bank membentuk Penyisihan PenghapusanAktiva Produktif (PPAP) dan estimasi kerugian komitmen dan kontijensiberdasarkan review dan evaluasi terhadap eksposur tiap debitur. Atau dengan katalain penentuan cadangan menggunakan konsep ekspektasi (expectation loss).Dalam kaitan tersebut, ketentuan Bank Indonesia tentang pembentukanPenyisihan Penghapusan Aktiva dan Estimasi Kerugian Komitmen danKontijensi yang mempunyai risiko kredit digunakan sebagai acuan. Jumlahminimum penyisihan kerugian penurunan nilai aset serta komitmen dan kontijensiyang memiliki risiko kredit dihitung dengan memperhatikan PBI No.7/2/PBI/2005tanggal 20 Januari 2005 (PBI) 7 tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umumyang telah diubah dengan PBI No. 8/2/PBI/2006 tanggal 30 Januari 2006 tentangPerubahan atas PBI 7 yang diuabh kembali dengan PBI No. 9/6/PBI/2007 tanggal30 Maret 2007 tentang perubahan kedua atas PBI 7, yang mengatur tingkatpenyisihan minimum dari penyisihan penghapusan aktiva serta estimasi kerugiankomitmen dan kontijensi yang memiliki risiko kredit. Adapun penyisihanminimum yang harus dibentuk sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia tersebutadalah sebagai berikut:
  51. 51. 39 Tabel 4.4 Penyisihan Minimum sesuai dengan Peraturan Bank IndonesiaKlasifikasi Persentase penyisihan kerugian penurunan nilaiLancar Minimum 1,00 %Dalam perhatian khusus Minimum 5,00 %Kurang lancar Minimum 15,00 %Diragukan Minimum 50,00 %Macet 100,00%Sumber: Bank Indonesia Persentase penyisihan kerugian penurunan nilai aset diatas diterapkanterhadap saldo aktiva produktif setelah dikurangi dengan nilai agunan sesuaidengan Peraturan Bank Indonesia, kecuali untuk aktiva produktif yangdiklasifikasikan lancar dan tidak dijamin atau yang dijamin dengan agunan non-tunai, dimana persentase penyisihan kerugian penurunan nilai aset diterapkanterhadap saldo aktiva produktif yang bersangkutan dan komitmen dan kontijensi.Adapun penggunaan nilai agunan sebagai faktor pengurang dalam penyisihankerugian nilai aset tidak dapat dilakukan untuk aktiva non produktif. Penyisihankerugian penurunan nilai atas aset untuk komitmen dan kontijensi yang dibentukdisajikan sebagai Kewajiban (“Estimasi Kerugian atas Komitmen danKontijensi”) pada neraca konsolidasian. Sejak 1 Januari 2010, bank membentuk Cadangan Kerugian PenurunanNilai (CKPN) berdasarkan data kerugian kredit yang telah terjadi (incured loss)
  52. 52. 40yang diambil dari data tiga tahun sebelumnya, bank pada setiap tanggal neraca,bank mengevaluasi apakah terdapat bukti terdapat bukti objektif bahwa asetkeuangan yang tidak dicatat pada nilai wajar melalui laporan laba rugi telahmengalami penurunan nilai. Aset keuangan mengalami nilai jika bukti objektifmenunjukkan bahwa peristiwa yang merugikan telah terjadi setelah pengakuanawal aset keuangan dan peristiwa tersebut berdampak pada arus kas masa datangatas aset keuangan yang dapat diestimasi secara handal. Kriteria yang digunakanuntuk menentukan bukti objektif dari penurunan nilai adalah sebagai berikut:a. Kesulitan keuangan signifikan yang dialami penerbit atau pihak peminjam;b. Pelanggaran kontrak, seperti terjadinya wanprestasi atau tunggakan pembayaran pokok atau bunga.c. Pihak pemberi pinjaman dengan alasan ekonomi atau hukum sehubungan dengan kesulitan keuangan yang dialami oleh pihak peminjam, memberikan keringanan pada pihak peminjam yang tidak mungkin diberikan jika pihak peminjam tidak mengalami kesulitan tersebut.d. Terdapat kemungkinan bahwa pihak peminjam akan dinyatakan pailit atau melakukan reorganisasi keuangan lainnya.e. Hilangnya pasar aktif dari aset keuangan akibat kesulitan keuangan.f. Data yang dapat diobservasi mengindikasikan adanya penurunan yang dapat diukur atas estimasi arus kas masa datang dari kelompok aset keuangan sejak pengakuan awal aset dimaksud, meskipun penurunannya belum dapat diidentifikasi terhadap aset keuangan secara individual dalam kelompok aset tersebut termasuk:
  53. 53. 41 1. Memburuknya status pembayaran pihak peminjam dalam kelompok tersebut, dan 2. Kondisi ekonomi nasional atau lokal yang berkorelasi dengan wanprestasi atas aset dalam kelompok tersebut. Bank pertama kali menentukan apakah terdapat bukti obyektif penurunannilai secara individual atas aset keuangan yang signifikan secara individual ataukolektif untuk aset keuangan yang tidak signifikan secara individual. Jika bankmenentukan tidak terdapat bukti objektif mengenai penurunan nilai atas asetkeuangan yang dinilai secara individual, terlepas aset tersebut signifikan atautidak, maka bank memasukkan aset tersebut kedalam kelompok aset keuanganyang memiliki karakteristik risiko kredit yang serupa dan menilai penurunan nilaikelompok tersebut secara kolektif. Aset keuangan yang penurunan nilainyadilakukan secara individual, dan untuk itu kerugian penurunan nilai telah diakuiatau tetap diakui tidak termasuk dalam penilaian penurunan nilai secara kolektif. Bank menetapkan kredit yang harus dievaluasi penurunan nilainya secaraindividual, jika memenuhi salah satu kriteria dibawah ini:a. Kredit yang secara individual memiliki nilai signifikan dan memiliki bukti objektif penurunan nilai.b. Kredit yang distrukturisasi yang secara individual memiliki nilai signifikan.Berdasarkan kriteria diatas, Bank melakukan penilaian secara individual untuk:
  54. 54. 42a. Pinjaman dalam segmen pasar korporasi dan usaha menengah dengan kolektibilitas kurang lancar, diragukan, dan macet; ataub. Pinjaman dalam segmen pasar korporasi dan usaha menengah yang direstrukturisasi.Bank menetapkan kredit yang harus dievaluasi penurunan nilainya secara kolektif,jika memenuhi salah satu kriteria dibawah ini:1. Kredit yang secara individual memiliki nilai signifikan namun tidak memiliki bukti obyektif penurunan nilai.2. Kredit yang secara individual memiliki nilai tidak signifikan.3. Kredit yang direstrukturisasi yang secara individual memiliki nilai tidak signifikan.Berdasarkan kriteria diatas, penilaian secara kolektif dilakukan untuk:a. Pinjaman dalam segmen pasar korporasi dan usaha menengah dengan kolektibilitas lancar dan dalam perhatian khusus serta tidak direstrukturisasi; ataub. Pinjaman dalam segmen pasar usaha kecil dan konsumen. Sesuai dengan Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia No. 11/33/DPNPtanggal 8 Desember 2009 (SE-BI), Bank menentukan penyisihan kerugianpenurunan nilai kredit secara kolektif dengan mengacu pada pembentukanpenyisihan umum dan penyisihan khusus sesuai dengan ketentuan Bank Indonesiamengenai penilaian kualitas aktiva bank umum. Penyisihan kolektif untuk kredityang dikelompokkan sebagai dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan
  55. 55. 43dan macet, dihitung setelah dikurangi dengan nilai agunan yang diperkenankansesuai dengan ketentuan Bank Indonesia. Perhitungan penyisihan kerugianpenurunan nilai berdasarkan nilai tercatat (biaya perolehan amortisasi). Jikapersyaratan kredit yang diberikan dinegosiasi ulang atau dimodifikasi karenadebitur atau penerbit mengalami kesulitan keuangan, maka penurunan nilai diukurdengan suku bunga efektif awal yang digunakan sebelum persyaratan diubah. Tabel 4.5 Perubahan Penyisihan Kerugian Penurunan Nilai(Disajikan dalam jutaan rupiah) 2010 2009Saldo awal 6.920.455 5.652.046Penyesuaian saldo awal sehubungan dengan penerapan PSAK No. 55 (Revisi 2006) 315.125 -Penyisihan kerugian selama tahun berjalan 3.883.718 3.263.472Penerimaan kembali pinjaman yang telah dihapusbukukan 357.861 741.919Penghapusan selama tahun berjalan (4.449.090) (3.330.629)Penyesuaian karena penjabaran mata uang asing (70.677) 593.647Saldo akhir 6.957.392 6.920.455Sumber: PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.
  56. 56. 444.5 Pinjaman yang Direstrukturisasi Kemampuan BNI dalam merestrukturisasi kredit berdampak kepadatingkat dan hasil operasi BNI. BNI memiliki restrukturisasi kredit yang dapatdisesuaikan untuk debitur berdasarkan negosiasi dan perjanjian antara debitur danBNI. Untuk kredit-kredit berjumlah besar, BNI dapat menggunakan jasakonsultan internasional atau pihak ketiga yang ahli dalam melakukan due-dilligence atas kinerja keuangan, bisnis dan operasional debitur dan membuatlaporan rekomendasi skema pembayaran kredit oleh debitur tersebut. Setelahstrategi restrukturisasi telah disetujui, maka BNI akan mempersiapkan dokumen-dokumen untuk mengimplementasikan restrukturisasi tersebut. Sebelum 1 Januari 2010, restrukturisasi kredit pada PT. Bank NegaraIndonesia (Persero) Tbk. meliputi modifikasi persyaratan kredit, modifikasi kreditmenjadi saham atau instrumen keuangan lainnya dan/atau kombinasi darikeduanya. Kerugian yang timbul dari restrukturisasi kredit yang berkaitan denganmodifikasi persyaratan kredit hanya diakui bila nilai tunai penerimaan kas masadepan yang telah ditentukan dalam persyaratan kredit baru, termasuk penerimaanyang diperuntukkan sebagai bunga maupun pokok adalah lebih kecil dari nilaikredit yang diberikan yang tercatat sebelum direstrukturisasi. Untuk restrukturisasi kredit bermasalah dengan cara konversi kredit yangdiberikan menjadi saham atau instrumen keuangan lainnya, kerugian darirestrukturisasi kredit diakui hanya apabila nilai wajar penyertaan saham atau

×