Perkampungan+hantu+bag+6

232
-1

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
232
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
1
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Perkampungan+hantu+bag+6

  1. 1. Perkampungan HANTUOleh : Hiu KhuBag 6Siau-hong tidak sempat berpikir, sebab didengarnya di luar ada suara kaki yangsangat perlahan. Hanya telapak kaki yang berkulit tebal seperti harimau atausinga saja yang dapat berjalan tanpa menimbulkan suara keras.Biasanya juga cuma orang Kangouw ulung yang punya Ginkang tinggi saja yangdapat berjalan seringan binatang buas semacam ini. Di perkampungan hantu inimasa juga terdapat tokoh sehebat ini?Selagi Siau-hong tercengang, segera terdengar suara pintu diketuk, sungguh iaingin tahu siapakah pendatang ini, bagaimana bentuknya? Maka cepat iamembuka pintu.Sesudah pintu terbuka, ia jadi melongo.Yang mengetuk pintu ternyata memang bukan manusia melainkan benar-benarseekor binatang yang bertelapak kaki tebal. Seekor anjing.Anjing hitam mulus, hitam gilap sehingga di tengah malam gelap serupa seekorharimau kumbang.Namun anjing ini tidak buas terhadap manusia, jelas anjing yang telah terlatihdengan baik sehingga sudah lenyap rasa permusuhannya terhadap manusia.Anjing ini tidak menyalak, sebab pada mulutnya menggigit sehelai kertas. Diatas kertas hanya tertulis empat huruf yang berbunyi; “Silakan ikut padaku!”Kiranya anjing inilah yang datang mengundang Liok Siau-hong makan malam.Siau-hong tertawa. Apapun juga, kalau dapat makan nasi kan juga urusan yangmenggembirakan. Lebih-lebih sekarang, sungguh dia sangat menghendakimakan malam yang enak.Ang-sio-ti-te, bebek Peking, udang cah kailan ....Bilamana teringat nama-nama santapan yang disebut Yu-hun tadi, hampir saja iamenitikkan air liur.
  2. 2. Anjing itu sedang menggoyang ekor padanya, ia pun membelai kepala anjingitu, katanya dengan tersenyum, “Kau tahu, aku lebih suka mendapatkanpetunjuk jalan seperti kau, sebab anjing di sini sesungguhnya lebihmenyenangkan daripada manusianya.”Malam tambah gelap, kabut juga tebal, meski di tengah kabut terkadang juganampak beberapa titik cahaya api, tapi makin menambah seram suasana yanggelap.Anjing hitam berjalan di depan dan Siau-hong mengikut dari belakang. Waktupandangannya sudah terbiasa dalam kegelapan baru diketahui dirinya sedangberjalan di suatu jalan kecil yang berliku-liku.Pada kedua tepi jalan tumbuh beraneka macam pohon, ada juga bunga danrumput yang tidak dikenal namanya.Pada waktu sang surya memancarkan cahayanya dengan gemilang, lembahpegunungan ini pasti sangat permai.Akan tetapi di lembah pegunungan ini apakah juga pernah disinari oleh cahayamatahari?Tiba-tiba Siau-hong merasakan yang benar-benar sangat ingin dilihatnyabukanlah Ang-sio-ti-te yang lezat, melainkan cahaya matahari. Cahaya yangdapat menghangatkan badan dan membangkitkan semangat.Seperti orang lain umumnya, dia juga pernah mengutuki smai matahari, yaitubilamana sinar sang surya sedang memancar dengan teriknya sehingga diamandi keringat dengan napas terengah, maka dia lantas mencaci-maki sinarmatahari yang tidak kenal ampun ituAkan tetapi yang sangat diharapkannya sekarang justru sinar matahari semacamitu.Banyak urusan di dunia memang begitu, hanya pada waktu engkau kehilangandia barulah kau tahu betapa berharganya dia.Tanpa terasa Siau-hong menghela napas, tiba-tiba didengarnya di tempat dekatjuga ada orang menghela napas, malahan seorang lantas berkata, “Liok Siau-hong, kutahu akan kedatanganmu, maka sudah kutunggu kedatanganmu disini.”
  3. 3. Tempat ini adalah Yu-leng-san-ceng, perkampungan arwah, dalam kegelapanentah bersembunyi betapa banyak badan halus, suara orang ini juga serupahantu yang mengambang dan sukar dilihat. Tangan Siau-hong sampaiberkeringat dingin. Jelas didengarnya orang yang bicara itu berada di dekatnya,tapi justru tidak terlihat sesosok bayangan apapun.“Tak dapat kau lihat diriku,” suara tadi bergema pula, “bilamana setan hendakmenagih nyawa betapapun takkan dapat dilihat ofang.”“Memangnya aku berhutang jiwa padamu?” Siau-hong coba bertanya.“Ya,” sahut suara itu.“Jiwa siapa?”“Jiwaku.”“Siapa engkau?”“Aku si jenggot biru yang mati di tanganmu itu.”Siau-hong tertawa, bergelak tertawa.Seorang kalau kelewat tegang, terkadang juga bisa tertawa secara aneh.Meski keras suara tertawa Siau-hong, tapi sangat singkat. Sebab tiba-tibadiketahuinya yang bicara padanya bukanlah manusia, juga bukan setan, tapianjing hitam tadi.Anjing hitam yang semula berjalan di depan sekarang telah berpaling ke sini dansedang melotot padanya dengan sinar mata“Akulah si jenggot biru yang mati di tanganmu.” ucapan ini juga keluar darimulutanjing itu.Sungguh aneh, anjing masa bisa bicara? Apakah roh si jenggot biru telahhinggap di badan anjing hitam ini?Betapa besar nyali Liok Siau-hong tidak urung juga merinding. Pada saat itulahanjing hitam lantas meraung dan menubruknya.
  4. 4. Selagi Siau-hong hendak mencengkeram kaki anjing, siapa tahu dari perut anjingmendadak terjulur sebuah tangan. Tangan manusia yang berpisau, sekalibergerak, pisau menyambar ke depan, mengincar perut Siau-hong.Serangan ini sungguh jauh di luar dugaan, berapa orang yang sanggupmenghindarkan serangan tak terduga ini.Tapi sedikitnya ada satu orang. Mendadak perut Siau-hong mendekuk, secepatkilat kedua jarinya menjepit dan tepat mata pisau terjepit olehnya.Pada saat itu juga anjing hitam tadi lantas melompat ke udara lantas melayangjauh ke belakang, hanya sekejap saja lantas menghilang dalam kegelapan.Siau-hong memandang kegelapan di kejauhan sana, lalu memandang pisau yangmasih dipegangnya dan menyengir sendiri.Sungguh rasanya seperti dalam mimpi, tapi justru kejadian nyata. Di Yu-leng-san-ceng yang serupa alam mimpi ini, sesuatu peristiwa memang sukardibedakan dengan jelas apakah terjadi dalam mimpi atau terjadi benar-benar.Cuma satu hal lantas dimengerti lagi oleh Liok Siau-hong, yaitu: “Anjing di sinitoh tidak lebih menyenangkan daripada manusia.”

×