Perkampungan HANTUOleh : Hiu KhuBag 5Dan begitulah, secara tidak jelas apa sebabnya dari orang hidup ia telah berubahmenja...
“Kau sendiri sakit!” semprot orang itu hingga tulang ayam yang berada dalammulut tersembur keluar memenuhi lantai, terunju...
Siapa pun harus mengakui bahwa biasanya Liok Siau-hong sangat pintarbergaul, semua sahabatnya juga sangat suka padanya. Ba...
“Setiap hari begitu?”“Tidak, setiap bulan paling-paling cuma empat-lima kali.”“Dalam waktu bagaimana?”“Ce-it Cap-go (tangg...
Hanya sempat nama empat orang disebutnya lalu ia melayang pergi.Padahal jendela rumah sangat kecil, tapi sekali tangannya ...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Perkampungan+hantu+bag+5

308 views
174 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
308
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
1
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Perkampungan+hantu+bag+5

  1. 1. Perkampungan HANTUOleh : Hiu KhuBag 5Dan begitulah, secara tidak jelas apa sebabnya dari orang hidup ia telah berubahmenjadi ‘orang mati’, secara tidak jelas duduknya perkara ia pun mendapatkansebuah rumah.Dia masih punya kaki, tapi tempat mana pun tidak dapat didatangi.Tahu-tahu dia sudah tertidur dan mulai bermimpi, mimpi dirinya terbungkusoleh sehelai daun besar yang dingin, lalu melihat seekor anjing betina budukansedang menggerogoti tulangnya, sampai suara menggerogotnya terdengardengan jelas.Dan segera dapat dilihatnya di dalam rumahnya benar-benar ada seorangsedang menggerogoti tulang. Tapi bukan tulangnya, melainkan tulang ayam.Yang duduk sambil menggerogoti tulang ayam itu juga bukan anjing betinamelainkan satu orang.Begitu Siau-hong mendusin, segera orang itupun merasa waswas, serupakewaspadaan seekor binatang buas.Orang itu berpaling dan menatap Liok Siau-hong, sorot matanya penuh rasapermusuhan. Namun mulutnya tetap menggerogoti tulang ayam.Siau-hong tidak pernah merlihat orang berminat sebesar ini terhadap tulangayam, juga tidak pernah melihat orang sekurus ini. Pada hakikatnya dagingpada tubuh orang ini pasti lebih banyak daripada daging tulang ayam yangdigerogotinya itu.Namun pakaiannya justru sangat perlente, sama sekali tiada tanda-tandaseorang miskin yang perlu menggerogoti tulang ayam. Hanya pengemis yangmau menggerogoti tulang ayam.Siau-hong coba menegur, “He, apakah kau sakit?”
  2. 2. “Kau sendiri sakit!” semprot orang itu hingga tulang ayam yang berada dalammulut tersembur keluar memenuhi lantai, terunjuk barisan giginya yang putih,ia menatap Siau-hong dengan benci.“Kau kira aku sakit apa? Sakit lapar?” damprat pula orang itu.“Masa engkau tidak lapar?” tanya Siau-hong.“Kenapa aku lapar? setiap hari aku makan tiga kali, belum lagi ditambah jajansekian kali.”“Apa yang kau makan?”“Nasi, mi, daging, ikan, sayur, apa yang dapat kumakan sudah kumakan.”“Dan apa yang kau makan hari ini?“Pagi tadi kumakan bubur ayam yang sedap. Siang tadi kumakan masakan alautara, ada Ang-sio-ti-te (kaki babi), ada bebek Peking, ada kuah tahu masakkepala ikan, ada udang goreng kailan, ada burung dara goreng dan banyaklagi.” Siau Hong tertawa.“Kau tidak percaya?” orang itu mendelik. “Aku cuma heran,” kata Siau-hong,“seorang yang mengaku biasa makan serba enak, mengapa perlu menyusup kerumah orang untuk menggerogoti tulang ayam.”“Sebab aku suka,” kala orang itu.Siau-hong tcrtawa pula, “Asalkan kau suka, selanjutnya jika di tempatku adatulang ayam, setiap saat kusambut kedatanganmu dengan senang hati.”Tapi sorot mata orang itu berbalik menampilkan rasa curiga, tanyanya, “Kausambut kedatanganku dengan senang hati? Sebab apa?”“Sebab untuk pertama kalinya aku punya rumah, sebab engkau tamu pertamarumahku, sebab aku suka berkawan.”Tapi orang itu tambah beringas dan berteriak, “Aku bukan kawanmu.”“Sekarang mungkin bukan, selanjutnya tentu.”Meski orang itu masih menatapnya dengan tajam, tapi sikapnya mulai tenang.
  3. 3. Siapa pun harus mengakui bahwa biasanya Liok Siau-hong sangat pintarbergaul, semua sahabatnya juga sangat suka padanya. Baik sahabat lelakimaupun kawan perempuan.Siau-hong sudah bangun dan berduduk, tiba-tiba ia berkata pula denganmenyesal, “Sayang di sini tidak ada arak lagi, kalau tidak, tentu kuminum duacawan bersamamu.”Sorot mata orang itu seketika mencorong terang, “Kalau tidak ada arak lagi,kenapa tidak kau cari keluar?”“Belum ada setengah hari kudatang kemari, tempat ini belum hapal bagiku,”tutur Siau-hong. ‘Tapi dapat kujamin, tidak sampai tiga hari, apapun yang inginkau minum pasti dapat kusuguhkan.”Kembali orang itu menatapnya sekian lama, akhirnya meng-heia napas, segalarasa was-was juga lantas mengendor, ucapnya, “Aku adalah Yu-hun (arwahgentayangan), bisa jadi setiap saat kumasuk ke sini dan benar-benar tidakmenjadi soal bagimu?”“Tidak, pasti tidak,” jawab Siau-hong.Persahabatan memang tidak menjadi soal baginya. Sering pada tengah malambuta dia menyeret teman dari kolong selimutnya untuk diajak minum arak. Dantemannya tidak pernah memusingkan tindakannya itu.Sebab semua teman tahu bilamana orang lain tengah malam buta mencari dia,sama sekali dia udak marah, sebaliknya kegirangan setengah mati.Sementara itu han sudah mulai gelap, angin malam membawa kumandangsuara genta.“Itulah genta tanda makan malam.” kala orang yang mengaku sebagai Yu-hunatau arwah gentayangan itu.Siau-hong tidak paham, maka Yu-hun memberi penjelasan pula, “Genta tandamakan malam artinya semua orang harus berkumpul dan makan bersama diruangan pendopo.”“Setiap orang harus hadir?” tanya Siau-hong.“Ya,” Yu-hun mengagguk.
  4. 4. “Setiap hari begitu?”“Tidak, setiap bulan paling-paling cuma empat-lima kali.”“Dalam waktu bagaimana?”“Ce-it Cap-go (tanggal satu bulan lima belas) dan hari besi, atau kalaukedatangan orang ternama.”Lalu dia mengamat-amati Liok Siau-hong dari atas ke bawah dan sebaliknya,kemudian berucap pula, “Kau pasti juga orang ternama, apakah engkau LiokSiau-hong yang beralis empat itu?”Siau-hong menyengir, “Tapi sayang Liok Siau-hong sekali ini bukan Liok Siau-hong yang dulu itu.”Yu-hun hendak bicara pula, tapi urung, mendadak ia berhari kit dan berkata,“Segera akan datang orang membawamu ke ruangan makan, aku harus pergi,sebaiknya jangan kau katakan kepada orans lain tentang kedatanganku ke sini.”Siau-hong tidak bertanya apa sebabnya. Maklum, bilamana orang lain mintatolong kepadanya, jika dia menyanggupi, selamanya ia tidak pernah tanya sebabmusababnya.Justru lantaran inilah maka pantas dia mempunyai banyak sahabat.Agaknya Yu-hun juga sangat puas terhadap hal ini, tiba-tiba ia mendesis pula,“Setiba di ruangan makan nanti, mereka pasti akan memberi hajar adatpadamu.”“Oo?!” Siau-hong melengak.“Kau tahu, orang di sini sedikitnya ada separohnya orang gila, satu-satunya hobimereka adalah memperlakukan orang lain dengan sadis,” tutur Yu hun.“Mereka suka melihat orang tersiksa, malahan ada enam tujuh orang diantaranya terlebih gila lagi.”“Siapa siapa saja?” tanya Siau-hong.“Seorang bernama Koan keh-po (nenek pengurus rumah tangga), seorang lagidisebut Tayciang-kun (panglima besar), seorang dipanggil Piauko (kakakmisan), seorang bernama Kaucu (si kait).
  5. 5. Hanya sempat nama empat orang disebutnya lalu ia melayang pergi.Padahal jendela rumah sangat kecil, tapi sekali tangannya menahan ambangjendela, segera orangnya menerobos keluar.Tampaknya bukan cuma Ginkangnya tinggi, dia juga mahir Sok-kut-kang atauilmu menyusutkan tulang.Kedua macam kungfu itu adalah kungfu andalan Sukong Ti-seng? Apakahorang ini ada hubungan dengan Sukong Ti-seng.

×