Your SlideShare is downloading. ×
  • Like
06110040 nafi-fadilah-hayati
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×

Now you can save presentations on your phone or tablet

Available for both IPhone and Android

Text the download link to your phone

Standard text messaging rates apply

06110040 nafi-fadilah-hayati

  • 1,695 views
Published

 

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
No Downloads

Views

Total Views
1,695
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
48
Comments
0
Likes
1

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. 1MANAJEMEN KELAS DALAM MENINGKATKAN EFEKTIFITAS PROSES BELAJAR MENGAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMA MUHAMMADIYAH 1 KEPANJEN MALANG SKRIPSI Disusun oleh : Nafi’ Fadlilah Hayati 06110040 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG Juli, 2010
  • 2. 2MANAJEMEN KELAS DALAM MENINGKATKAN EFEKTIFITAS PROSES BELAJAR MENGAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMA MUHAMMADIYAH 1 KEPANJEN MALANG SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S.PdI) Oleh: Nafi’ Fadlilah Hayati 06110040 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG Juli, 2010
  • 3. 3 HALAMAN PERSETUJUANMANAJEMEN KELAS DALAM MENINGKATKAN EFEKTIFITAS PROSES BELAJAR MENGAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMA MUHAMMADIYAH 1 KEPANJEN MALANG SKRIPSI Oleh: Nafi’ Fadlilah Hayati 06110040 Telah disetujui oleh: Dosen Pembimbing Marno, M. Ag NIP. 197208222002121001 Tanggal, 31 Juli 2010 Mengetahui Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Drs. Moh. Padil, M. Pd.I
  • 4. 4 NIP. 196512051994031003 HALAMAN PENGESAHANMANAJEMEN KELAS DALAM MENINGKATKAN EFEKTIFITAS PROSES BELAJAR MENGAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMA MUHAMMADIYAH 1 KEPANJEN MALANG SKRIPSI Dipersiapkan dan disusun oleh: Nafi’ Fadlilah Hayati (06110040) telah dipertahankan di depan dewan penguji pada tanggal 31 Juli 2010 dengan nilai A dan telah dinyatakan diterima sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar strata satu Sarjana Pendidikan Islam (S.PdI) pada tanggal: 31 Juli 2010Panitia Ujian Tanda TanganKetua SidangDr. H. Farid Hasyim, M.Ag :NIP. 19520309198303002Sekretaris SidangMarno, M.Ag :NIP. 197208222002121001PembimbingMarno, M.Ag :NIP. 197208222002121001Penguji UtamaDrs. H. A. Fatah Yasin, M.Ag :NIP. 196712201998031002 Mengesahkan,
  • 5. 5 Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Dr. H. M. Zainuddin, MA NIP. 19620507 199503 1 001 HALAMAN PERSEMBAHANKu bersujud di atas sajadah seraya mengucapkan syukur alhamdulillah atas segalayang telah Engkau berikan kepadaku selama ini. Karena, atas kehendak dankeridhloan-Mu maka akan ku persembahkan karyaku ini kepada:Ayahku Amiruddin (alm.) dan Bundaku Hutimah tercinta, yang telah mengayomi danmengasihiku dengan kasih sayang, setulus hati mendoakan putrinya selama studi diUIN MALIKI Malang dan telah menjadikan dan mengajariku menjadi manusiadewasa dan lebih baik sebelumnya.Kakakku Mas Oo dan adik-adikku tersayang, Guling & Dadak, yang selalumemberiku motivasi agar aku selalu bersemangat. Mereka yang selalu menghiburkudi saat aku gundah. Mereka adalah masa depanku dan harapanku.Seluruh keluarga dan saudara-saudaraku, yang tidak mungkin kusebutkan satupersatu, terima kasih atas motivasi dan doa yang telah diberikan untukku.Dosen pembimbingku, Pak Marno, yang senantiasa memberikan dukungan sertamembimbingku dalam penulisan skripsi ini dengan penuh kesabaran. Terima kasihPak Marno……Para guru dan dosen-dosenku, yang selalu menjadi pelita dalam hidupku yang telahmembimbing dan memberikan berbagai ilmu pengetahuan dan pengalaman yangsangat berarti. Jasamu tiada tara……Sahabat-sahabatku (Bahak, Devi, Iqbal, Alfian, Berta, Iqro’, Luluk, Leli, Fidho,Nurul, Lia, Kemplu, Mieng2, Vina, Santi), yang dengan sabar dan setia telah menjaditempat berbagi cerita dan berdiskusi untukku. Kalian telah mengajariku untukmengenal arti kehidupan dan merasakan betapa indahnya sebuah persahabatan. Akuselalu merindukan canda tawa kalian di saat kita masih bersama…….Kawan-kawanku yang ceria di kos “Kavling 8“ (Pipiel, Emi, Iswatik, Mbak Cemcem,Mumuf, Popok, Mbak Rika, Itjah, Chenul, A’yun, Ari Sumi, Bundo Beti, Dwi,Nopreth, Zahra, Yeni, Chiko, Ima, Emak Widya, Fitri, Mbak Lia,), terima kasih atas
  • 6. 6kekompakan dan motivasinya. Di saat aku tergoda oleh keputusasaan, kalian semuayang membangkitkan semangatku kembali.Ya Allah……kuhaturkan ucapan syukur pada-Mu yang telah menghadirkan orang-orang di sampingku yang selalu tulus mencintaiku, mengasihiku dan menyayangikudengan sebening cinta dan sesuci doa. MOTTO  ִ Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan(Departemen Agama RI, 2003. AL-QURAN DAN TERJEMAHANNYA. Bandung: Dipenogoro)
  • 7. 7Marno, M.AgDosen Fakultas TarbiyahUniversitas Islam Negeri (UIN) MALIKI MalangNOTA DINAS PEMBIMBINGHal : Skripsi Nafi’ Fadlilah Hayati Malang, 31 Juli 2010Lamp. : 5 Eksemplar SkripsiKepada Yth.Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malangdi MalangAssalamu’alaikum Wr. Wb. Setelah melakukan beberapa kali bimbingan, baik dari segi isi, bahasamaupun teknik penulisan, dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut di bawahini: Nama : Nafi’ Fadlilah Hayati NIM : 06110040 Jurusan : PAI Judul Skripsi : Manajemen Kelas dalam Meningkatkan Efektifitas Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam di SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen MalangMaka selaku Pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layakdiajukan untuk diujikan.Demikian, mohon dimaklumi adanya.
  • 8. 8Wassalamu’alaikum Wr. Wb. Pembimbing, Marno, M.Ag NIP. 197208222002121001 SURAT PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan, bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karyayang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruantinggi, dan sepanjang pengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapatyang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulisdiacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Malang, 31 Juli 2010 Nafi’ Fadlilah Hayati
  • 9. 9 KATA PENGANTARBismillaahirrahmaanirrahim, Dengan kerendahan dan ketulusan hati yang paling dalam, penulis panjatkansyukur alhamdulillah kehadirat Allah SWT, karena hanya dengan rahmat danhidayah-Nya penulisan skripsi yang berjudul ”Manajemen Kelas dalamMeningkatkan Efektifitas Proses Belajar Mengajar PAI di SMA Muhammadiyah 1Kepanjen Malang” dapat terselesaikan. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan Allah SWT kepadajunjungan kita Nabi besar Muhammad saw, yang telah mengantar umatnya menujujalan kebenaran dan semoga kita diberi kekuatan untuk melanjutkan perjuanganbeliau. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak akan selesai tanpapengarahan dan bimbingan, serta bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulismengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:1. Ayahanda (alm.), Ibunda, kakak serta adik-adikku tercinta, yang dengan kelembutan dan kesabaran hati telah memberikan perhatian, kasih sayang, dan motivasi baik spiritual maupun material yang senantiasa mengiringi langkahku.
  • 10. 102. Bapak Prof. Dr. H. Imam Suprayogo selaku Rektor UIN MALIKI Malang.3. Bapak Dr. H. M. Zainuddin, M.A selaku Dekan Fakultas Tarbiyah UIN MALIKI Malang.4. Bapak Drs. H. Moh. Padil, M.Pd.I selaku Ketua Jurusan Fakultas Tarbiyah UIN MALIKI Malang.5. Bapak Marno, M.Ag selaku Dosen Pembimbing skripsi yang dengan tulus ikhlas dan penuh tanggung-jawab telah memberikan bimbingan di tengah-tengah kesibukannya, petunjuk serta motivasi kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Jazakumullah Khoiron Katsiro.6. Seluruh karyawan dan staf Fakultas Tarbiyah UIN MALIKI Malang, yang telah melayani kami dengan baik.7. Bapak Hari Mulyadi, S.Pd selaku Kepala SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang yang telah mengizinkan dan memberikan informasi dan data yang penulis butuhkan selama penelitian berlangsung.8. Bapak Ro’ufur Rozi, S.PdI selaku Guru Keislaman SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang yang telah memberikan informasi dan data yang penulis butuhkan selama penelitian berlangsung.9. Seluruh Guru dan staf karyawan SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang yang telah berkenan meluangkan waktunya dan mempermudah penulis dalam melakukan penelitian.10. Seluruh siswa-siswi SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang yang telah ikut membantu penulis dalam penelitian.
  • 11. 1111. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah banyak membantu sehingga terselesainya penulisan skripsi ini. Kepada semua pihak tersebut diatas, semoga Allah SWT memberikan imbalanpahala yang sepadan dan balasan yang berlipat ganda di dunia dan di akhirat kelak,amin. Akhirnya dengan kerendahan hati, penulis menyadari bahwa dalam penulisanskripsi ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan. Oleh karenaitu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak. Penulis berharapsemoga penulisan skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan bagi sayapribadi khususnya, amin ya rabbal’alamin. Malang, 31 Juli 2010 Penulis
  • 12. 12 DAFTAR ISIHALAMAN JUDUL .................................................................................... .. iHALAMAN JUDUL ...................................................................................... iiHALAMAN PERSETUJUAN ...................................................................... iiiHALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ ivHALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................... vMOTTO .......................................................................................................... viHALAMAN NOTA DINAS PEMBIMBING .............................................. viiSURAT PERNYATAAN ............................................................................... viiiKATA PENGANTAR .................................................................................... ixDAFTAR ISI ................................................................................................... xiiDAFTAR TABEL .......................................................................................... xviiDAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xviiiABSTRAK ...................................................................................................... xixBAB I : PENDAHULUAN ............................................................................ 1 A. Latar Belakang Masalah .................................................................... 1 B. Rumusan Masalah .............................................................................. 7
  • 13. 13 C. Tujuan Penelitian ............................................................................... 7 D. Manfaat Penelitian ............................................................................. 8 E. Batasan Masalah ................................................................................ 8 F. Penelitian Terdahulu .......................................................................... 9 G. Sistematika Pembahasan .................................................................... 12BAB II : KAJIAN PUSTAKA....................................................................... 15 A. Pendidikan Agama Islam ................................................................... 15 1. Pengertian Pendidikan Agama Islam ............................................ 15 2. Dasar dan Tujuan Pendidikan Agama Islam ................................. 16 3. Kedudukan dan Fungsi Pendidikan Agama Islam ........................ 18 4. Standart Efektifitas Proses Belajar Mengajar PAI ........................ 20 B. Manajemen Kelas............................................................................... 22 1. Pengertian Manajemen Kelas ........................................................ 22 2. Pendekatan Dalam Manajemen Kelas ........................................... 26 3. Prosedur Manajemen Kelas ........................................................... 31 4. Tujuan Manajemen Kelas.............................................................. 38 5. Hambatan-hambatan Manajemen Kelas........................................ 39 6. Perencanaan Manajemen Kelas ..................................................... 41 7. Pelaksanaan Manajemen Kelas ..................................................... 55 8. Evaluasi Manajemen Kelas ........................................................... 64 C. Efektifitas Proses Belajar Mengajar................................................... 65 1. Pengertian Efektifitas Proses Belajar Mengajar ............................ 65
  • 14. 14 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi Efektifitas Proses Belajar Mengajar ........................................................................... 67 3. Unsur-unsur Efektifitas Proses Belajar Mengajar ......................... 73 4. Komponen Belajar Mengajar ........................................................ 75 5. Manajemen Kelas dalam Efektifitas Proses Belajar Mengajar ..... 81BAB III : METODE PENELITIAN ............................................................. 84 A. Lokasi Penelitian ............................................................................. 84 B. Pendekatan dan Jenis Penelitian ...................................................... 84 C. Kehadiran Peneliti ........................................................................... 86 D. Jenis Data......................................................................................... 87 E. Teknik Pengumpulan Data .............................................................. 87 F. Teknik Analisis Data ....................................................................... 90 G. Pengecekan Keabsahan Data ........................................................... 91 H. Tahap-tahap Penelitian .................................................................... 92BAB IV : LAPORAN HASIL PENELITIAN.............................................. 94 A. Latar Belakang Objek Penelitian .................................................... 94 1. Identitas Objek Penelitian ........................................................... 94 2. Sejarah Berdirinya Objek Penelitian........................................... 94 3. Visi, Misi, dan Tujuan SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen ........ 95 4. Struktur Organisasi SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen ............. 98 5. Keadaan Guru & Personil SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen ... 99 6. Keadaan Siswa-siswi SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen .......... 100
  • 15. 15 7. Daftar Mata Pelajaran SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen ......... 100 8. Sarana dan Prasarana SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen .......... 101B. Paparan dan Analisis Data ............................................................... 102 1. Perencanaan Manajemen Kelas dalam Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang........................................................................ 102 a. Analisis Masalah Manajemen Kelas ...................................... 102 b. Desain Kegiatan Belajar Mengajar ........................................ 105 2. Pelaksanaan Manajemen Kelas dalam Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang ........................................................................ 111 a. Tindakan-tindakan dalam Manajemen Kelas ......................... 112 b. Iklim/Suasana Kelas ............................................................... 113 c. Metode Pembelajaran ............................................................. 116 d. Penggunaan Media ................................................................. 117 e. Pola Interaksi .......................................................................... 118 3. Evaluasi Manajemen Kelas dalam Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang........................................................................ 119 a. Tujuan Evaluasi ...................................................................... 120 b. Bentuk Evaluasi ..................................................................... 122 c. Tindak Lanjut Setelah Diadakan Evaluasi ............................. 123
  • 16. 16BAB V : PEMBAHASAN .............................................................................. 124 A. Perencanaan Manajemen Kelas dalam Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang............................................................................. 125 B. Pelaksanaan Manajemen Kelas dalam Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang............................................................................. 133 C. Evaluasi Manajemen Kelas dalam Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang............................................................................. 140BAB VI : PENUTUP ...................................................................................... 143 A. Kesimpulan ...................................................................................... 143 B. Saran-saran ...................................................................................... 145DAFTAR PUSTAKALAMPIRAN-LAMPIRAN
  • 17. 17 DAFTAR TABELTabel 1 : Struktur Organisasi SMA Muhammadiyah 1 Malang........................... 98Tabel 1 : Keadaan Guru dan Personil SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen ......... 99Tabel 2 : Keadaan Siswa-siswi SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen ................... 100Tabel 3 : Daftar Mata Pelajaran SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen .................. 100Tabel 4 : Keadaan Sarana dan Prasarana SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen .... 101
  • 18. 18 DAFTAR LAMPIRANLampiran 1 : Bukti KonsultasiLampiran 2 : Surat Penelitian dari FakultasLampiran 3 : Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian dari SekolahLampiran 4 : Perangkat Pembelajaran Kelas XILampiran 5 : Daftar Nilai Kelas XILampiran 6 : Instrumen PenelitianLampiran 7 : DokumentasiLampiran 8 : Daftar Riwayat Hidup Penulis
  • 19. 19 ABSTRAKHayati, Nafi’ Fadlilah. Manajemen Kelas dalam Meningkatkan Efektifitas Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam di SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri (UIN) MALIKI Malang. Dosen Pembimbing: Marno, M.Ag Untuk meningkatkan mutu pendidikan, diperlukan peningkatan danpenyempurnaan dalam pendidikan, yang berkaitan erat dengan peningkatan mutuProses Belajar Mengajar secara operasional yang berlangsung di dalam kelas. Olehkarena itu, diperlukan Manajemen kelas yang baik agar tujuan pembelajaran dapattercapai. Manajemen Kelas merupakan upaya mengelola siswa di dalam kelas yangdilakukan untuk menciptakan suasana atau kondisi kelas yang menunjang programpengajaran, agar siswa ikut terlibat dan berperan serta dalam proses pendidikan disekolah. Di samping itu, Proses Belajar Mengajar dapat terwujud dengan baik apabilaterdapat interaksi yang komunikatif antara guru dengan siswa, sesama siswa maupundengan sumber belajar lainnya. Dalam Manajemen Kelas, guru sebagai pemeranutama yang sangat menentukan berhasil tidaknya siswa dalam belajar, harussenantiasa memperhatikan dan menciptakan suasana kondusif di dalam kelas. Denganadanya guru yang berkompeten dan berkualitas diharapkan mampu dalammenciptakan suasana belajar yang efektif dan efisien di dalam kelas, khususnya padamateri PAI. Berpijak dari latar belakang di atas, maka penulisan skripsi ini bertujuanuntuk mengetahui Perencanaan Manajemen Kelas dalam Proses Belajar MengajarPAI di SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen, untuk mengetahui PelaksanaanManajemen Kelas dalam Proses Belajar Mengajar PAI di SMA Muhammadiyah 1Kepanjen, dan untuk mengetahui evaluasi Manajemen Kelas dalam Proses BelajarMengajar PAI di SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen.
  • 20. 20 Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitiandeskriptif. Dalam rangka memperoleh data yang dibutuhkan, peneliti menggunakanteknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Penelitimenganalisis data dengan memaparkan dan menafsirkan data yang diperoleh darihasil wawancara dengan pihak-pihak yang terkait kemudian data dianalisis lebihlanjut secara intensif. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: 1.Perencanaan ManajemenKelas dalam Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam SMAMuhammadiyah 1 Kepanjen adalah: a. Analisis Masalah Manajemen Kelas: 1)Masalah individual: siswa tidak mempunyai buku pegangan sendiri; kurangnyakonsentrasi siswa terhadap pelajaran; siswa kurang aktif; menarik perhatian oranglain, 2)Masalah kelompok: sebagian siswa mereaksi negatif terhadap salah seoranganggotanya, beberapa kelompok siswa cenderung mudah dialihkan perhatiannya daritugas yang tengah dikerjakan dan semangat belajar rendah. b. Desain KegiatanBelajar Mengajar: 1) menyusun silabus disesuaikan dengan karakteristik materi; 2)menyusun RPP disesuaikan dengan karakteristik, potensi,, kebutuhan dan keinginansiswa, 3) Strategi pembelajaran: a) memilih cara belajar mengajar yang efektif; b)menggunakan metode yang bervariasi; c) memberikan contoh yang baik terhadapsiswa, 4) pengembangan sumber belajar: memanfaatkan kelas dan masjid. 5)pengembangan bahan ajar: membuat buku diklat/rangkuman. 2.PelaksanaanManajemen Kelas dalam Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam SMAMuhammadiyah 1 Kepanjen adalah: a.tindakan-tindakan dalam manajemen kelas: 1)membuat buku diklat/rangkuman; 2) memotivasi siswa agar konsentrasi padapelajaran; 3) merangsang siswa agar aktif di kelas. b. Iklim/suasana kelas: 1) ruangkelas cukup memadai; 2) pengaturan tempat duduk dibuat bervariasi. 3) ventilasi,pengaturan cahaya serta penyimpanan barang-barang di dalam kelas baik. c.Metode:ceramah, drill, tanya jawab interaktif, dan peragaan, disesuaikan dengan kondisiwaktu itu d. Media: buku, Lembar Kerja Siswa (LKS), LCD, dan OHP, memfasilitasisiswa dalam belajar. e. Pola interaksi: interaksi edukatif antara personal. 3. EvaluasiManajemen Kelas dalam Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam SMAMuhammadiyah 1 Kepanjen adalah: meningkatkan hasil belajar siswa. Dari hasil penelitian ini, saran-saran yang diharapkan penulis adalah: (1) Bagiseluruh warga SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen, baik Kepala Sekolah, para guru,dan siswa hendaknya selalu berupaya untuk ikut serta dalam meningkatkan kualitaspendidikannya semaksimal mungkin. (2) Bagi peneliti lanjutan, hendaknya hasilpenelitian ini dapat dijadikan sebagai tambahan referensi dan diharapkan dapatmelakukan penelitian yang lebih baik dan lebih sempurna tentang Manajemen Kelasdalam meningkatkan Efektifitas Proses Belajar Mengajar PAI.Kata Kunci: Manajemen Kelas, Efektifitas Proses Belajar Mengajar, PAI
  • 21. 21 BAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang Masalah Upaya meningkatkan kualitas pendidikan terus-menerus dilakukan, baik secara konvensional maupun inovatif. Hal tersebut lebih terfokus lagi dalam Undang-undang RI No. 20 Th. 2003 pada BAB II, Pasal 3 yang berbunyi: Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung-jawab.1 1 Redaksi Sinar Grafika, UU Sistem Pendidikan Nasional (UU RI No.20 Tahun. 2003) (Jakarta:Sinar Grafika, 2008), hlm. 7
  • 22. 22 Untuk meningkatkan mutu pendidikan diperlukan peningkatan dan penyempurnaan pendidikan, yang berkaitan erat dengan peningkatan mutu proses belajar mengajar secara operasional yang berlangsung di dalam kelas. Oleh karena itu, diperlukan manajemen kelas yang baik sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Karenanya, manajemen kelas memegang peranan yang sangat menentukan dalam proses belajar mengajar. Manajemen kelas menurut Sunaryo adalah masalah tingkah laku yang kompleks, dan guru menggunakannya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas sedemikian rupa, sehingga siswa dapat mencapai tujuan pengajaran secara efisien dan memungkinkan mereka dapat belajar.2 Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan formal dengan guru sebagai pemeran utama. Guru sangat menentukan suasana belajar-mengajar di dalam kelas. Guru yang kompeten akan lebih mampu dalam menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan efisien di dalam kelas, sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat yang optimal. Keberhasilan tersebut, dipengaruhi banyak faktor terutama terletak pada pengajar (guru) dan yang diajar (siswa), yang berkedudukan sebagai pelaku dan subyek dalam proses tersebut. Adapun kegiatan manajemen kelas dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu (1) yang memfokuskan pada hal-hal yang bersifat fisik, dan 2 Sunaryo, Strategi Belajar Mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial (Malang: IKIP Malang, 1989), hlm.62
  • 23. 23(2) yang memfokuskan pada hal-hal yang bersifat non-fisik. Kedua hal tersebutperlu dikelola secara baik dalam rangka menghasilkan suasana yang kondusifbagi terciptanya pembelajaran yang baik pula. Hal-hal fisik yang perlu diperhatikan dalam manajemen kelasmencakup pengaturan ruang belajar dan perabot kelas, serta pengaturanpeserta didik dalam belajar. Sedangkan hal-hal yang bersifat non-fisik lebihmemfokuskan pada aspek interaksi peserta didik dengan peserta didik lainnya,peserta didik dengan guru dan lingkungan kelas maupun kondisi kelasmenjelang, selama, dan akhir pembelajaran. Atas dasar inilah, maka hal-halyang perlu diperhatikan dalam Manajemen Kelas adalah tingkah laku siswa(aspek psikologis), susana belajar di kelas yang menyenangkan (sosial) danhubungan interpersonal yang baik antara guru dan siswa, dan siswa dengansiswa. Hal ini merupakan prasyarat mutlak bagi terjadinya proses belajarmengajar yang efektif.3 Menurut Mulyadi bahwa manajemen kelas adalah seperangkatkegiatan untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan danmengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan,mengembangkan hubungan interpersonal dan iklim sosio emosional yang positif3 Moh. Uzer Usman, Mejadi Guru Profesional (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), hlm. 97
  • 24. 24 serta mengembangkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif dan produktif.4 Usaha guru dalam menciptakan kondisi yang diharapkan akan efektif, apabila: Pertama; diketahui secara tepat faktor-faktor mana sajakah yang dapat menunjang terciptanya kondisi yang menguntungkan dalam proses belajar mengajar. Kedua; diketahui masalah apa sajakah yang biasa timbul dan dapat merusak suasana belajar mengajar. Ketiga; dikuasainya berbagai pendekatan dalam manajemen kelas dan diketahui pula kapan dan untuk masalah mana suatu pendekatan tersebut digunakan.5 Oleh karena itu, pengelola sekolah perlu menciptakan suasana gembira/menyenangkan di lingkungan sekolah melalui manajemen kelas. Karena, dengan menjalin keakraban antara guru-siswa, maka guru dapat mengarahkan siswa dengan lebih mudah untuk mendorong dan memotivasi semangat belajar siswa. Disamping itu, juga dimaksudkan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas secara kondusif yang memberi kemungkinan tujuan proses belajar mengajar berjalan secara efektif dan efisien.6 Proses pembelajaran merupakan serangkaian kegiatan yang 4 Mulyadi, Classroom Management (Malang: UIN-PRESS MALANG, 2009), hlm. 4 5 Ahmad Rohani & Abu Ahmadi, Pedoman Penyelenggaraan Administrasi Pendidikan Sekolah(Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hlm. 116 6 Syaiful Bahri Djamarah & Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2006),hlm. 184
  • 25. 25dilaksanakan oleh guru dan siswa dengan memanfaatkan sarana yang tersediauntuk memperoleh hasil belajar secara optimal. Jadi, proses belajar mengajar dapat terwujud dengan baik apabila adainteraksi antara guru dan siswa, sesama siswa atau dengan sumber belajarlainnya. Dengan kata lain “belajar dikatakan efektif apabila terjadi interaksi yangcukup maksimal”. Namun, adapula kendala atau kesulitan yang dialami gurudalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar, misalnya keadaan siswa,jumlah siswa, fasilitas yang kurang memadai, letak sekolah, dsb. Sehingga,seorang guru dituntut mempunyai kemampuan/keahlian tertentu untuk dapatmenciptakan suasana kelas yang mendukung efektifitas belajar mengajar, agartercipta suasana/iklim belajar yang nyaman, kondusif, komunikatif, sertadinamis yang diharapkan akan menghasilkan hasil belajar yang optimal dansemaksimal mungkin sesuai dengan tujuan dari pada pendidikan itu sendiri.Manajemen kelas merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh setiap gurudalam rangka menciptakan suasana yang kondusif, agar proses belajar mengajardapat berjalan efektif. Implementasi manajemen kelas melibatkan siswa di dalam kelasuntuk menentukan prinsip, prosedur, dan aturan bersama demi tujuanbersama. Siswa dilibatkan melalui aktivitas-aktivitas belajar yang positif sepertidiskusi, laporan lisan, penelitian, simulasi, field trip, studi kasus, permainan
  • 26. 26peran, penyajian multi-media, dan sebagainya. Melalui aktivitas belajar tersebutdimaksudkan agar siswa termotivasi untuk berpikir aktif, kritis dan kreatif. Selainitu, aktivitas tersebut dapat meningkatkan interaksi antara siswa yang satudengan yang lainnya semakin baik. Kecenderungan manajemen kelas sebagai upaya untuk meningkatkanmotivasi belajar siswa ini terlihat pada aspek potensi, bakat, dan minat siswadalam belajar. Dalam hal ini, potensi, bakat dan minat siswa akan berkembangdengan optimal sesuai dengan yang diinginkan. Bahkan Manajemen Kelas yangmemotivasi siswa yang semakin aktif dalam belajar akan semakin baik prestasiyang diraih. Karena betapa pentingnya manajemen kelas dengan serangkaianmanfaatnya dalam kegiatan proses belajar mengajar, maka SMAMuhammadiyah 1 Kepanjen mencoba mengimplementasikan manajemen kelasini, khususnya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Meskipunsiswanya banyak yang minim tentang pengetahuan agama dan minimnyaalokasi waktu pembelajaran, guru PAI SMA Muhammadiyah 1 Kepanjenbersikeras dalam me-manage kelas agar pembelajaran sesuai dengan tujuanyang diharapkan. Kegiatan proses belajar mengajar dilakukan dengan berbagai metodedan media yang bervariasi sesuai dengan materi yang diberikan pada saat itu.
  • 27. 27 Selain itu, suasana kelasnya pun tidak monoton. Sekali waktu pengaturan tempat duduk dibuat bervariasi agar suasana kelas menyenangkan sehingga membantu siswa dalam belajar di kelas. Pola interaksi antara guru PAI dan siswa pun terlihat harmonis. Hal ini terbukti, di dalam dan di luar kelas komunikasi antara keduanya seperti berjalan dengan baik. Berpijak dari latar belakang masalah di atas, maka penulis ingin meneliti lebih lanjut mengenai upaya mengembangkan efektifitas pembelajaran yang dilakukan guru dan aktivitas belajar yang dilakukan oleh siswa melalui prosedur pengelolaan kelas dengan mengambil judul: “Manajemen Kelas dalam Meningkatkan Efektifitas Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam di SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang”.B. Rumusan Masalah Berdasarkan masalah tersebut di atas, penulis akan merumuskan masalah yang menjadi dasar pokok pembahasan skripsi ini. Adapun rumusan masalah tersebut adalah : 1. Bagaimana Perencanaan Manajemen Kelas dalam Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam di SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang ?
  • 28. 28 2. Bagaimana Pelaksanaan Manajemen Kelas dalam Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam di SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang ? 3. Bagaimana Evaluasi Pelaksanaan Manajemen Kelas dalam meningkatkan Efektifitas Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam di SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang ?C. Tujuan Penelitian Dalam pembahasan skripsi ini, tujuan yang ingin dicapai adalah sebagai berikut: 1. Untuk mendeskripsikan tentang Perencanaan Manajemen Kelas dalam Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam di SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang. 2. Untuk mendeskripsikan Pelaksanaan Manajemen Kelas dalam Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam di SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang. 3. Untuk mendeskripsikan bagaimana Evaluasi Pelaksanaan Manajemen Kelas dalam meningkatkan Efektifitas Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam di SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang.D. Manfaat Penelitian
  • 29. 29 Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi secara teoritis dan praktis. Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan teori tentang manajemen kelas berikut inovasi yang terkait dengan Manajemen Kelas. Secara praktis hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi: 1. Sekolah Lainnya Sebagai contoh pemikiran dan pelaksanaan bagi perkembangan mutu kegiatan proses belajar mengajar secara efektif melalui manajemen kelas yang baik. 2. Peneliti Berikutnya Sebagai dasar pengembangan penelitian berikutnya dengan meneliti dimensi yang berbeda terkait dengan manajemen kelas yang dapat menciptakan proses belajar mengajar secara efektif.E. Batasan Masalah Penelitian ini dibatasi pada masalah-masalah yang berkaitan dengan manajemen kelas dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang mencakup analisis masalah manajemen kelas, desain kegiatan belajar mengajar, tindakan- tindakan manajemen kelas, pengaturan suasana kelas, penggunaan metode dan media, pola interaksi, dan evaluasi hasil belajar manajemen kelas.
  • 30. 30F. Penelitian Terdahulu Dalam pendidikan, manajemen dapat diartikan sebagai aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan, agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya. Disamping itu, manajemen bertugas memadukan sumber-sumber pendidikan secara keseluruhan dan mengontrol/mengawas agar tepat dengan tujuan pendidikan. Dalam proses manajemen terlibat fungsi-fungsi pokok manajemen yang terdiri dari: Planning, Organizing, Leading/Actuating, dan Controlling.7 Planning (perencanaan) adalah proses penentuan tujuan atau sasaran yang hendak dicapai dan menetapkan jalan dan sumber yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu seefisien dan seefektif mungkin.8 Organizing (pengorganisasian) adalah suatu proses penentuan, pengelompokan, dan pengaturan bermacam-macam aktivitas yang diperlukan untuk mencapai tujuan, menempatkan orang-orang pada setiap aktivitas ini, menyediakan alat- alat yang diperlukan, menetapkan wewenang yang secara relatif didelegasikan kepada setiap individu yang akan melakukan aktivitas tersebut. Leading/Actuating/ Directing adalah pelaksanaan/pengarahan kepada semua anggota, agar mau bekerja sama dan bekerja efektif untuk mencapai tujuan. 7 Nanang Fatah, Landasan Manajemen Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), hlm. 1 8 Ibid., hlm. 49
  • 31. 31Controlling (pengawasan/pengendalian) merupakan pengukuran dan perbaikanterhadap pelaksanaan kerja anggota, agar rencana yang telah dibuat untukmencapai tujuan dapat terselenggara. Setelah diketahui deskripsi singkat beberapa fungsi manajemendiatas, serta mengingat penelitian yang dilakukan oleh penulis, yaitu terkaitdengan Manajemen Kelas, maka penulis menunjukkan permasalahan yangberkaitan dengan perencanaan (planning), pelaksanaan (actuating), evaluasi(controlling) dalam manajemen kelas. Permasalahan tersebut terkait denganperencanaan manajemen kelas dalam proses belajar mengajar PendidikanAgama Islam. Selanjutnya, tentang pelaksanaan manajemen kelas dalam prosesbelajar mengajar Pendidikan Agama Islam dan yang terakhir evaluasipelaksanaan manajemen kelas dalam meningkatkan efektifitas belajarmengajar Pendidikan Agama Islam. Pembahasan tentang manajemen kelas, belum terlalu banyak dibahasdalam penelitian sebelumnya, sehingga penulis mengambil judul: ”ManajemenKelas dalam Meningkatkan Efektifitas Proses Belajar Mengajar PendidikanAgama Islam di SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang”. Penelitian tentang manajemen kelas yang akan penulis bahas, masihsangat jarang diteliti oleh peneliti-peneliti sebelumnya, walaupun ada itu hanyabeberapa peneliti saja dengan obyek yang berbeda. Salah satunya adalah
  • 32. 32Husnul Khotimah, 2006, dalam skripsinya yang berjudul “Manajemen Kelasdalam Meningkatkan Efektifitas Pembelajaran PAI Siswa (Studi Kasus di SMKNegeri 1 Batu)”. Penulis tersebut membahas tentang implementasi manajemen kelasPendidikan Agama Islam dan faktor-faktor penghambat pelaksanaanmanajemen kelas Pendidikan Agama Islam di SMK Negeri 1 Batu. Hasil daripenelitian tersebut adalah manajemen kelas yang diterapkan dalammeningkatkan efektifitas pembelajaran di SMK Negeri 1 Batu meliputiperencanaan pembelajaran, pengorganisasian pembelajaran, disiplin kelas,konflik kelas, evaluasi pembelajaran. Untuk faktor penghambatnya: kurangnyakesadaran dan tanggung jawab siswa dalam melakukan efektifitas pembelajaranPAI, kurangnya fasilitas dan media pembelajaran PAI yang ada di SMK N 1 Batu,keadaan ekonomi orang tua yang kurang cukup, lingkungan siswa yang kerasserta keadaan keluarga yang broken home. Dan usaha-usaha yang dilakukandalam manajemen kelas terkait dengan pembelajaran PAI di SMK Negeri 1 Batu,adalah: mempersiapkan tugas administratif, memberi motivasi kepada siswa,membuat modul sesuai dengan materi, mengatasi setiap permasalahan siswa,memilih metode, membentukan kelompok diskusi, meningkatkan kedisiplinansiswa.
  • 33. 33 Dari hasil penelitian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa penelitian terdahulu yang dilaksanakan oleh Husnul Khotimah, sama halnya dengan yang akan peneliti laksanakan, yaitu membahas tentang manajemen kelas. Namun terdapat beberapa perbedaan dan beberapa alasan tentang pengambilan judul ini, antara lain: a. Lokasi Lokasi penelitian yang telah dilaksanakan oleh peneliti terdahulu terletak di SMK Negeri 1 Batu, sedangkan lokasi yang akan diobservasi oleh peneliti pada kali ini terletak di SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang. b. Peneliti melihat pelaksanaan manajemen kelas belum seluruhnya menyeluruh dan terlaksana dengan baik di setiap sekolah. Sehingga peneliti ingin mengkaji lebih dalam dan mengkomparasikan pelaksanaan Manajemen Kelas di kedua tempat tersebut. Dengan alasan berbagai faktor yang mempengaruhi pelaksanaan Manajemen Kelas di kedua tempat tersebut sangat berbeda. Untuk mengetahui pembahasan tentang judul tersebut maka penulis akan menjelaskan mengenai Manajemen Kelas dalam Efektifitas Proses Belajar Mengajar PAI.G. Sistematika Pembahasan
  • 34. 34 Untuk memberi gambaran yang jelas mengenai isi penelitian ini,maka pembahasan ini dibagi menjadi lima bab. Uraian masing-masing bab inidisusun sebagai berikut: Bab Pertama, berisi tentang Pendahuluan. Yang menggambarkantentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaatpenelitian, batasan masalah, penelitian terdahulu, dan sistematikapembahasan. Bab Kedua, berisi tentang Kajian Pustaka. Yang memaparkan tentangPendidikan Agama Islam terdiri dari; pengertian PAI, dasar dan tujuan PAI,kedudukan dan fungsi PAI dan Standart Efektifitas Proses Belajar Mengajar PAI.Untuk Manajemen Kelas meliputi; pengertian Manajemen Kelas, prosedurManajemen Kelas, pendekatan dalam Manajemen Kelas, tujuan ManajemenKelas, hambatan-hambatan Manajemen Kelas, Perencanaan Manajemen Kelas,Pelaksanaan Manajemen Kelas dan Evaluasi Manajemen Kelas. SedangkanEfektifitas Proses Belajar Mengajar meliputi; pengertian Efektifitas ProsesBelajar Mengajar, faktor-faktor yang mempengaruhi Efektifitas Proses BelajarMengajar, unsur-unsur efektifitas Proses Belajar Mengajar, komponen belajar-mengajar dan Manajemen Kelas dalam Efektifitas Proses Belajar Mengajar. Bab Ketiga, berisi tentang Metode Penelitian. Dalam Bab ini, penulismenjelaskan tentang lokasi penelitian, pendekatan dan jenis penelitian,
  • 35. 35kehadiran peneliti, jenis data, teknik pengumpulan data, teknik analisis data,pengecekan keabsahan data dan tahap-tahap penelitian. Bab Keempat, berisi tentang Laporan Hasil Penelitian. Pada bab inipenulis mengemukakan masalah-masalah yang diperoleh dari penelitian padaobyek, meliputi: latar belakang obyek penelitian, penyajian data dan analisisdata. Bab Kelima, Pembahasan. Pada bab ini penulis membahas tentanglaporan hasil penelitian. Bab Keenam, Penutup. Pada akhir pembahasan, penulis akanmengemukakan kesimpulan hasil penelitian dan saran-saran yang berkaitandengan realita hasil penelitian, kata penutup serta pada bagian terakhir penuliscantumkan Daftar Pustaka dan Lampiran-lampiran.
  • 36. 36 BAB II KAJIAN PUSTAKAA. Pendidikan Agama Islam 1. Pengertian Pendidikan Agama Islam Menurut Zakiah Daradjat, pengertian Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan dengan melalui ajaran-ajaran agama Islam yang dilakukan secara sadar untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh, serta menghayati tujuan, yang
  • 37. 37 pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup.9 Dalam Kurikulum PAI tahun 2002 seperti yang telah dikutip oleh Abdul Majid, mengatakan bahwa Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani, ajaran agama Islam yang dibarengi dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.10 Sedangkan menurut Azizy, Pendidikan Agama Islam merupakan proses transfer nilai, pengetahuan dan keterampilan dari generasi tua kepada generasi muda yang mencakup dua hal yaitu, mendidik siswa untuk berperilaku sesuai dengan nilai-nilai atau akhlak Islam dan mendidik siswa- siswi untuk mempelajari materi ajaran Islam.11 Sejalan dengan pendapat Ahmad Tafsir yang menyatakan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran 9 Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, Konsep danImplementasi Kurikulum 2004 (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 130 10 Ibid.. 11 Ibid., hlm. 131
  • 38. 38 Islam. Bila disingkat, Pendidikan Agama Islam adalah bimbingan terhadap seseorang agar ia menjadi Muslim semaksimal mungkin.12 Jadi, Pendidikan Agama Islam merupakan usaha sadar yang dilakukan pendidik dalam rangka mempersiapkan peserta didik untuk meyakini, memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pembelajaran atau pelatihan yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 13 2. Dasar dan Tujuan Pendidikan Agama Islam a. Dasar Hukum Dasar pelaksanaan pendidikan agama yang berasal dari peraturan perundang-undangan. Yang secara langsung maupun tidak langsung dapat dijadikan pegangan dalam melaksanakan pendidikan agama, di sekolah- sekolah ataupun di lembaga-lembaga pendidikan formal di Indonesia. b. Dasar Religi Dasar religius ini bersumber dari agama Islam yang tertera dalam ayat Al-Qur’an dan Hadits, yaitu: 1) Sumber dari al-Qur’an. Antara lain: 12 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007),hlm. 32 13 Abdul Majid dan Dian Andayani. Op. Cit., hlm. 132
  • 39. 39 a) Surat Al-Mujadalah ayat 11: (11 :‫ﺠﺕ. . .)ﺍﻝﻤﺠﺎﺩﻝﻪ‬ ‫ﻥ ﹸﻭ ﹸﻭﺍ ﺍﻝﹾﻌﻠﹾﻡ ﺩ‬‫ﺍﻝﺫﻴ‬ ‫ﺍ ﻤﻨﹾﻜﻡ‬‫ﻥ ﺍﻤﻨﻭ‬‫ﻓﻊ ﺍﷲ ﺍﻝﺫﻴ‬‫. . . ﻴﺭ‬  ‫ﺭ‬   ‫ ﺍ ﺘ‬  ‫ ﹸ ﻭ ﹼ‬ ‫ﹸ‬   ‫ ﹶ ﹺ ُ ﹼ‬ “. . . niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (Q.S. Al-Mujadalah: 11) b) Hadist Riwayat Baihaqi: (‫ﻪ )ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻝﺒﻴﻬﻘﻰ‬ ‫ﺎ‬ ‫ ﻴﻤﺠ‬‫ﻪ ﺍﻭ‬ ‫ﺍ‬ ‫ﻴﻨﺼ‬‫ﻪ ﺍﻭ‬ ‫ﺍ‬ ‫ﺍﻩ ﻴﻬﻭ‬ ‫ﻠﻰ ﺍﻝﹾﻔﻁﹾﺭﺓ ﻓﺎﺒ‬ ‫ﻭﻝﺩ‬‫ﺩ ُﻴ‬‫ﻝﻭ‬‫ﻜل ﻤﻭ‬ ‫ﺴ ﻨ‬   ‫ﺭ ﻨ ﹶ‬ ‫ ﹶ‬ ‫ﺩ ﻨ ﹶ‬    ‫ﻭ‬ ‫ ﹶ ﹶ‬   ‫ ﻋ‬‫ ﹶ‬ ‫ ﹸ‬ ‫ﹸ ﱡ‬ “Setiap anak yang dilahirkan itu telah membawa fitrah beragam (perasaan percaya kepada Allah) maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut beragam Yahudi, Nasrani atau Majusi”. (HR. Baihaqi) c. Dasar Sosial-Psikologi Semua manusia di dunia ini selalu membutuhkan adanya suatu pegangan hidup, yaitu agama. Mereka merasakan, bahwa dalam jiwanya ada suatu perasaan yang mengakui adanya Dzat Yang Maha Kuasa, tempat mereka berlindung dan meminta pertolongan. Hal semacam ini terjadi pada masyarakat yang masih primitif maupun modern. Mereka akan merasa tenang dan tenteram hatinya kalau mereka dapat mendekatkan dan mengabdi kepada Zat Yang Maha Kuasa.14 14 Zuhairini dan Abdul Ghofir, Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Malang:Universitas Negeri Malang, 2004), hlm. 12
  • 40. 40 Adapun tujuan dari Pendidikan Agama Islam secara umum adalah meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.3. Kedudukan dan Fungsi Pendidikan Agama Islam Pendidikan Agama Islam mempunyai kedudukan dan peranan penting dalam pembangunan negara dan masyarakat Indonesia. Sedangkan fungsinya adalah untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan peserta didik kepada Allah SWT yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga dan digunakan sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Secara khusus kurikulum Pendidikan Agama Islam untuk sekolah berfungsi sebagai berikut: a. Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik kepada Allah SWT yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga. b. Penanaman nilai, sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
  • 41. 41 c. Penyesuaian mental, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya baik fisik maupaun sosial dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran Islam. d. Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangan- kekurangan dan kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pemahaman dan pengalaman ajaran dalam kehidupan sehari-hari. e. Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungannya atau budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia Indonesia seutuhnya. f. Pengajaran, tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum, sistem dan fungsionalnya. g. Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat khusus di bidang Agama Islam agar bakat tersebut dapat berkembang secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan orang lain.1515 Ibid., hlm. 134-135
  • 42. 424. Standart Efektifitas Proses Belajar Mengajar PAI a. Dapat melibatkan siswa secara aktif Menurut William Burton mengajar adalah membimbing kegiatan belajar siswa sehingga ia mau belajar.16 Dengan demikian, aktivitas murid sangat diperlukan dalam proses pembelajaran, sehingga muridlah yang seharusnya banyak aktif sebab murid sebagai subyek didik adalah yang merencanakan dan ia sendiri yang melaksanakan belajar. b. Dapat menarik minat dan perhatian siswa Kondisi belajar yang efektif adalah adanya minat dan perhatian siswa dalam belajar. Minat merupakan suatu sifat yang relatif menetap pada diri seseorang. Minat ini besar sekali pengaruhnya terhadap belajar sebab dengan minat seseorang akan melakukan sesuatu yang diminatinya. Keterlibatan siswa dalam belajar erat kaitannya dengan sifat-sifat siswa, baik yang bersifat kognitif, afektif maupun psikomotorik. Sehingga hal itu akan menjadikan pembelajaran Pendidikan Agama Islam berjalan secara efektif. c. Dapat membangkitkan motivasi siswa Motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan16 Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), hlm. 21
  • 43. 43 mencapai tujuan, atau kesadaran dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam bisa dikatakan efektif apabila dapat membangkitkan motivasi siswa yang sedang belajar. d. Prinsip individualitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam akan berjalan efektif jika guru selalu memperhatikan keragaman karakteristik setiap siswa. Dengan kata lain hendaknya guru mampu menyesuaikan proses belajar mengajar dengan kebutuhan-kebutuhan siswa secara individual tanpa harus mengajar siswa secara individual.17 Dengan demikian, maka siswa akan merasakan perhatian guru dan pembelajaran juga akan terlaksana dengan maksimal. e. Peragaan dalam pengajaran Belajar yang efektif harus mulai dengan pengalaman langsung atau pengalaman konkrit dan menuju kepada pengalaman yang lebih abstrak. Dan apabila pembelajaran dilaksanakan dengan melaksanakan peragaan yang sesuai maka akan dapat membantu siswa dalam pengajaran.18 f. Pembelajaran yang dapat menjadikan siswa antusias17 Ibid., hlm. 3018 Ibid., hlm. 31
  • 44. 44 Keantusiasan siswa dalam pembelajaran khususnya Pendidikan Agama Islam akan berpengaruh pada efektifitas proses pembelajaran yang dilakukannya.B. Manajemen Kelas 1. Pengertian Manajemen Kelas Manajemen Kelas berasal dari dua kata, yaitu dari kata manajemen dan kelas. Manajemen dari kata Management, yang diterjemahkan pula menjadi pengelolaan, berarti proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran.19 Dengan kata lain arti dari Manajemen adalah pengelolaan usaha, kepengurusan, direksi, ketatalaksanaan penggunaaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran yang diinginkan.20 Sedangkan pengelolaan adalah proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan dan pencapaian tujuan. Maka, dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah suatu proses penyelenggaraan atau pengurusan sekaligus pengawasan pada sesuatu yang terlibat dalam 19 Mulyadi, Classroom Management (Malang: UIN-PRESS MALANG, 2009), hlm. 2 20 Pius A.Partanto dan M.Dahlan al-Barry, Kamus Ilmiah Populer (Surabaya: Arkola, 1994), hlm.434
  • 45. 45 pelaksanaan dan pencapaian tujuan agar sesuatu tersebut berjalan dengan lancar, efektif dan efisien. Sedangkan kelas menurut pengertian umum dapat dibedakan atas dua pandangan, yaitu pandangan dari segi fisik dan pandangan dari segi siswa. Hadari Nawawi juga memandang kelas dari dua sudut, yakni : a. Kelas dalam arti sempit: ruangan yang dibatasi oleh empat dinding, tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar. Kelas dalam pengertian tradisional ini, mengandung sifat statis karena sekedar menunjuk pengelompokan siswa menurut tingkat perkembangannya, antara lain berdasarkan pada batas umur kronologis masing-masing. b. Kelas dalam arti luas: suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah, yang sebagai satu kesatuan diorganisir menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan.21 Dalam bidang pendidikan dan pengajaran, yang dimaksud dengan istilah kelas adalah sekelompok siswa yang belajar dalam waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula.22 21 Syaiful Bahri Djamarah & Aswan Zain, Op. Cit., hlm. 176 22 Suharsimi Arikunto, Suhardjono & Supardi, Penelitian Tindakan Kelas (Jakarta: Bumi Aksara,2007), hlm. 3
  • 46. 46 Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa kelas diartikan sebagai ruangan belajar dan atau sekelompok siswa yang belajar (rombongan belajar), dimana guru mengajar, peserta didik belajar, dan tingkatan (grade) sebagai satu kesatuan diorganisir menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan. Setelah berbicara tentang pengertian dari manajemen dan kelas di atas, maka di bawah ini para ahli pendidikan mendefinisikan manajemen kelas, antara lain: a. Made Pidarta mengatakan, manajemen kelas adalah proses seleksi dan penggunaan alat-alat yang tepat terhadap problem dan situasi kelas. Guru bertugas menciptakan, memperbaiki, dan memelihara sistem/organisasi kelas. Sehingga anak didik dapat memanfaatkan kemampuannya, bakatnya, dan energinya pada tugas-tugas individual.23 b. Moh. Uzer Usman mengatakan bahwa manajemen kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar.24 23 Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif (Jakarta: Rineka Cipta,2000), hlm. 172 24 Moh. Uzer Usman, Op. Cit., hlm. 97
  • 47. 47 c. Syaiful Bahri Djamarah berpendapat bahwa manajemen kelas adalah suatu upaya memberdayagunakan potensi kelas yang ada seoptimal mungkin untuk mendukung proses interaksi edukatif mencapai tujuan pembelajaran.25 d. Johanna Kasin Lemlech, dalam bukunya Cecep Wijaya & A. Tabrani Rusyan mengatakan bahwa Classroom management is the orchestration of classroom life: planning curriculum, organizing procedures and resources, arranging the environment to maximize efficiency, monitoring student progress, anticipating potential problems.26 Menurut definisi ini, yang dimaksud dengan manajemen kelas adalah usaha dari pihak guru untuk menata kehidupan kelas dimulai dari perencanaan kurikulumnya, penataan prosedur dan sumber belajarnya, pengaturan lingkungannya untuk memaksimumkan efisiensi, memantau kemajuan siswa, dan mengantisipasi masalah-masalah yang mungkin timbul. e. Menurut Mulyadi, bahwa manajemen kelas adalah seperangkat kegiatan untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan, mengembangkan hubungan interpersonal dan iklim sosio emosional yang 25 Syaiful Bahri Djamarah, Op. Cit., hlm. 173 26 Cece Wijaya, A.Tabrani Rusyan, Kemampuan Dasar Guru Dalam Proses Belajar Mengajar(Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994), hlm. 113
  • 48. 48 positif serta mengembangkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif dan produktif.27 Dari beberapa pendapat para ahli di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa manajemen kelas merupakan upaya mengelola siswa di dalam kelas yang dilakukan untuk menciptakan dan mempertahankan suasana/kondisi kelas yang menunjang program pembelajaran dengan jalan menciptakan dan mempertahankan motivasi siswa untuk selalu ikut terlibat dan berperan serta dalam proses pendidikan di sekolah. Jadi manajemen kelas harus mengacu pada penciptaan suasana atau kondisi kelas yang memungkinkan siswa dalam kelas tersebut dapat belajar dengan efektif.282. Pendekatan Dalam Manajemen Kelas Pendekatan yang dilakukan oleh seorang guru dalam manajemen kelas akan sangat dipengaruhi oleh pandangan guru tersebut terhadap tingkah laku siswa, karakteristik, watak dan sifat siswa, dan situasi kelas pada waktu seorang siswa melakukan penyimpangan. Di bawah ini ada beberapa pendekatan yang dapat dijadikan sebagai alternatif pertimbangan dalam upaya menciptakan disiplin kelas yang efektif, antara lain sebagai berikut:27 Mulyadi., Op.Cit., hlm. 428 Ibid., hlm. 2
  • 49. 49a. Pendekatan Manajerial Pendekatan ini dilihat dari sudut pandang manajemen yang berintikan konsepsi tentang kepemimpinan. Dalam pendekatan ini, dapat dibedakan menjadi : 1) Kontrol Otoriter Dalam menegakkan disiplin kelas guru harus bersikap keras, jika perlu dengan hukuman-hukuman yang berat. Menurut konsep ini, disiplin kelas yang baik adalah apabila siswa duduk, diam, dan mendengarkan perkataan guru. 2) Kebebasan Liberal Menurut konsep ini, siswa harus diberi kebebasan sepenuhnya untuk melakukan kegiatan apa saja sesuai dengan tingkat perkembangannya. Dengan cara seperti ini, aktivitas dan kreativitas anak akan berkembang sesuai dengan kemampuannya. Akan tetapi, sering terjadi pemberian kebebasan yang penuh, ini berakibat terjadinya kekacauan atau kericuhan di dalam kelas karena kebebasan yang didapat oleh siswa disalahgunakan. 3) Kebebasan Terbimbing
  • 50. 50 Konsep ini merupakan perpaduan antara kontrol otoriter dan kebebasan liberal. Di sini siswa diberi kebebasan untuk melakukan aktivitas, namun terbimbing atau terkontrol. Di satu pihak siswa diberi kebebasan sebagai hak asasinya, dan dilain pihak siswa harus dihindarkan dari perilaku-perilaku negatif sebagai akibat penyalahgunaan kebebasan. Disiplin kelas yang baik menurut konsep ini lebih ditekankan kepada kesadaran dan pengendalian diri-sendiri. b. Pendekatan Psikologis Terdapat beberapa pendekatan yang didasarkan atas studi psikologis yang dapat dimanfaatkan oleh guru dalam membina disiplin kelas pada siswanya. Pendekatan yang dimaksud antara lain sebagai berikut: 1) Pendekatan Modifikasi Tingkah Laku (Behavior-Modification)29 Pendekatan ini didasarkan pada psikologi behavioristik, yang mengemukakan pendapat bahwa: a) Semua tingkah laku yang baik atau yang kurang baik merupakan hasil proses belajar.30 b) Ada sejumlah kecil proses psikologi penting yang dapat digunakan untuk menjelaskan terjadinya proses belajar yang dimaksud, yaitu29 Ibid., hlm. 3530 Ibid..
  • 51. 51 diantaranya penguatan positif (positive reinforcement) seperti hadiah, ganjaran, pujian, pemberian kesempatan untuk melakukan aktivitas yang disenangi oleh siswa, dan penguatan negatif (negative reinforcement) seperti hukuman, penghapusan hak, dan ancaman.31 Penguatan tersebut masih dibagi lagi menjadi dua bagian, yaitu: 1. Penguatan Primer, yaitu penguatan yang tanpa dipelajari seperti makan, minum, menghangatkan tubuh, dsb. 2. Penguatan Sekunder, yaitu penguatan sebagai hasil proses belajar. Penguatan sekunder ini ada yang dinamakan penguatan sosial (pujian, sanjungan, perhatian, dsb), penguatan simbolik (nilai, angka, atau tanda penghargaan lainnya) dan penguatan dalam bentuk kegiatan (permainan atau kegiatan yang disenangi oleh siswa yang tidak semua siswa dapat mempraktekkannya). Dilihat dari segi waktunya, ada penguatan yang terus-menerus (continue) setiap kali melakukan aktivitas, ada pula penguatan yang diberikan secara periodik (dalam waktu-waktu tertentu), misalnya setiap satu semester sekali, setahun sekali, dsb. 2) Pendekatan Iklim Sosio-Emosional (Socio-Emotional Climate)3231 Ibid., hlm. 3632 Ibid., hlm. 46
  • 52. 52 Pendekatan ini berlandaskan psikologi klinis dan konseling yang mempradugakan: a) Proses Belajar Mengajar yang efektif mempersyaratkan keadaan sosio-emosional yang baik dalam arti terdapat hubungan inter personal yang harmonis antar guru dengan guru, guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa merupakan kondisi yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar mengajar yang efektif.33 b) Guru merupakan unsur terpenting bagi terbentuknya iklim sosio-emosional yang baik. Guru diperlukan bersikap tulus di hadapan siswa, menerima dan menghargai siswa sebagai manusia, dan mengerti siswa dari sudut pandang siswa sendiri. Dengan cara demikian, siswa akan dapat dikuasai tanpa menutup perkembangannya. Sebagai dasarnya, guru dituntut memiliki kemampuan untuk melakukan komunikasi yang efektif dengan siswa, sehingga guru dapat mendeskripsikan apa yang perlu dilakukannya sebagai alternatif penyelesaian. c. Pendekatan Proses Kelompok (Group Process)3433 Ibid..34 Ibid., hlm. 55
  • 53. 53 Pendekatan ini berdasarkan pada psikologi klinis dan dinamika kelompok. Yang menjadi anggapan dasar dari pendekatan ini ialah: 1) Pengalaman belajar sekolah berlangsung dalam konteks kelompok sosial. 2) Tugas pokok guru yang utama dalam manajemen kelas ialah membina kelompok yang produktif dan efektif.35 d. Pendekatan Elektif (Electic Approach) Ketiga pendekatan tersebut, mempunyai kebaikan dan kelemahan masing-masing. Dalam arti, tidak ada salah satu pendekatan yang cocok untuk semua masalah dan semua kondisi. Setiap pendekatan mempunyai tujuan dan wawasan tertentu. Dengan demikan, guru dituntut untuk memahami berbagai pendekatan. Dengan dikuasainya berbagai pendekatan, maka guru mempunyai banyak peluang untuk menggunakannya bahkan dapat memadukannya. Pendekatan Elektik disebut juga dengan pendekatan pluralistik, yaitu manajemen kelas yang berusaha menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki potensi untuk dapat menciptakan dan mempertahankan suatu kondisi yang memungkinkan proses belajar mengajar berjalan efektif dan efisien. Dimana guru dapat memilih dan35 Ibid..
  • 54. 54 menggabungkan secara bebas pendekatan tersebut, sesuai dengan kemampuan dan selama maksud dari penggunaannya untuk menciptakan proses belajar mengajar berjalan secara efektif dan efisien.36 3. Prosedur Manajemen Kelas Upaya untuk menciptakan dan mempertahankan suasana yang diliputi oleh motivasi siswa yang tinggi, perlu dilakukan langkah-langkah tertentu untuk me-manage kelas dengan baik. Langkah-langkah ini disebut sebagai prosedur manajemen kelas. Adapun prosedur manajemen kelas ini dapat dilakukan secara preventif (pencegahan) maupun kuratif (penyembuhan).37 Perbedaan kedua jenis pengelolaan kelas tersebut, akan berpengaruh terhadap perbedaan langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh seorang guru dalam menerapkan kedua jenis manajemen kelas tersebut. Dikatakan secara preventif apabila langkah-langkah/upaya yang dilakukan atas dasar inisiatif guru untuk mengatur siswa, peralatan (fasilitas) atau format belajar mengajar yang tepat yang dapat mendukung berlangsungnya proses belajar mengajar.38 Sedangkan yang dimaksud dengan manajemen kelas secara kuratif adalah langkah-langkah tindakan 36 Syaiful Bahri Djamarah & Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2006),hlm. 184 37 Mulyadi. Op. Cit, hlm. 19 38 Ibid., hlm. 20
  • 55. 55 penyembuhan terhadap tingkah laku menyimpang yang dapat mengganggu kondisi-kondisi optimal dan proses belajar mengajar yang sedang berlangsung.39 a. Prosedur Manajemen Kelas yang bersifat Preventif meliputi : 1) Peningkatan Kesadaran Pendidik Sebagai Guru Suatu langkah yang mendasar dalam strategi manajemen kelas yang bersifat preventif adalah meningkatkan kesadaran diri pendidik sebagai guru. Dalam kedudukannya sebagai guru, seorang pendidik harus menyadari bahwa dirinya memiliki tugas dan fungsi yaitu sebagai fasilitator bagi siswanya yang sedang belajar,40 serta bertanggung-jawab terhadap proses pendidikan. Ia yakin bahwa apapun corak proses pendidikan yang akan terjadi terhadap siswa, semuanya akan menjadi tanggung-jawab guru sepenuhnya. 2) Peningkatan Kesadaran Siswa Kesadaran akan hak dan kewajibannya dalam proses pendidikan ini baru akan diperoleh secara menyeluruh dan seimbang jika siswa itu menyadari akan kebutuhannya dalam proses pendidikan. Dalam hal proses pembelajaran, siswa harus menyadari bahwa dia belajar adalah dengan tujuan tertentu. Keefektifan siswa dalam39 Ibid., hlm. 2540 Muhammad Saroni, Manajemen Sekolah (Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2006), hlm. 112
  • 56. 56 proses pembelajaran sebenarnya bergantung pada tingkat kesadaran siswa tersebut di dalam proses. Semakin tinggi tingkat kesadarannya semakin tinggi pula keefektifannya. Kondisi ini selanjutnya berdampak pada tingkat penguasaan kemampuan dari siswa yang bersangkutan.41 Adakalanya siswa tidak dapat menahan diri untuk melakukan tindakan yang menyimpang, karena ia tidak sadar bahwa ia membutuhkan sesuatu dari proses pendidikan itu. Untuk membangkitkan kesadaran siswa dalam peran sertanya dalam proses pembelajaran kelas, tidak cukup hanya guru yang harus berkutat pada metode-metode pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi kelas. Proses tersebut memerlukan keikutsertaan siswa yang sebenarnya merupakan subyek yang sedang belajar,42 agar dapat menimbulkan suasana kelas yang mendukung untuk melakukan proses belajar mengajar. 3) Penampilan Sikap Tulus Guru Guru mempunyai peranan yang besar dalam menciptakan kondisi belajar yang optimal. Guru perlu bersikap dan bertindak secara wajar, tulus dan tidak pura-pura terhadap siswa.43 Penampilan sikap41 Ibid., hlm. 10042 Ibid., hlm. 111-11243 Mulyadi. Op. Cit, hlm. 23
  • 57. 57 guru diwujudkan dalam interaksinya dengan siswa yang disajikan dengan sikap tulus dan hangat. Yang dimaksud dengan sikap tulus adalah sikap seorang guru dalam menghadapi siswa secara berterus- terang tanpa pura-pura, tetapi diikuti dengan rasa ikhlas dalam setiap tindakannya demi kepentingan perkembangan dan pertumbuhan siswa sebagai si terdidik. Sedangkan yang dimaksud dengan hangat adalah keadaan pergaulan guru kepada siswa dalam proses belajar mengajar yang menunjukkan suasana keakraban dan keterbukaan dalam batas peran dan kedudukannya masing-masing sebagai anggota masyarakat sekolah. Dengan sikap yang tulus dan hangat dari guru, diharapkan proses interaksi dan komunikasinya berjalan wajar, sehingga mengarah kepada suatu penciptaan suasana yang mendukung untuk kegiatan pendidikan.4) Pengenalan Terhadap Tingkah Laku Siswa Tingkah laku siswa yang harus dikenal adalah tingkah laku baik yang mendukung maupun yang dapat mencemarkan suasana yang diperlukan untuk terjadinya proses pendidikan. Tingkah laku tersebut bisa bersifat perseorangan maupun kelompok. Identifikasi akan variasi tingkah laku siswa itu diperlukan bagi guru untuk menetapkan pola
  • 58. 58 atau pendekatan manajemen kelas yang akan diterapkan dalam situasi kelas tertentu. 5) Penemuan Alternatif Manajemen Kelas Agar pemilihan alternatif tindakan manajemen kelas dapat sesuai dengan situasi yang dihadapinya, maka perlu kiranya pendidik mengenal berbagai pendekatan yang dapat digunakan dalam manajemen kelas. Dengan berpegang pada pendekatan yang sesuai, diharapkan arah manajemen kelas yang diharapkan akan tercapai. Selain itu, pengalaman guru yang selama ini dilakukan dalam mengelola kelas waktu mengajar, baik yang dilakukan secara sadar maupun tidak sadar perlu pula dijadikan sebagai referensi yang cukup berharga dalam melakukan manajemen kelas.44 6) Pembuatan Kontrak Sosial Kontrak sosial pada hakekatnya berupa norma yang dituangkan dalam bentuk peraturan atau tata tertib kelas baik tetulis maupun tidak tertulis, yang berfungsi sebagai standar tingkah laku bagi siswa sebagai individu maupun sebagai kelompok. Kontrak sosial yang baik adalah44 Ibid., hlm. 24
  • 59. 59yang benar-benar dihayati dan dipatuhi sehingga meminimalkanterjadinya pelanggaran. Dengan kata lain, kontrak sosial yang digunakan untuk upayamanajemen kelas, hendaknya disusun oleh siswa sendiri denganpengarahan dan bimbingan dari pendidik.a) Prosedur Manajemen Kelas yang bersifat Kuratif meliputi : 1) Identifikasi Masalah Pertama-tama guru melakukan identifikasi masalah dengan jalan berusaha memahami dan menyidik penyimpangan tingkah laku siswa yang dapat mengganggu kelancaran proses pendidikan didalam kelas, dalam arti apakah termasuk tingkah laku yang berdampak negatif secara luas atau tidak, ataukah hanya sekedar masalah perseorangan atau kelompok, ataukah bersifat sesaat saja ataukah sering dilakukan maupun hanya sekedar kebiasaan siswa. 2) Analisis Masalah Dengan hasil penyidikan yang mendalam, seorang guru dapat melanjutkan langkah ini yaitu dengan berusaha mengetahui latar belakang serta sebab-musabbab timbulnya tingkah laku siswa
  • 60. 60 yang menyimpang tersebut. Dengan demikian, akan dapat ditemukan sumber masalah yang sebenarnya. 3) Penetapan Alternatif Pemecahan Untuk dapat memperoleh alternatif-alternatif pemecahan tersebut, hendaknya mengetahui berbagai pendekatan yang dapat digunakan dalam manajemen kelas dan juga memahami cara-cara untuk mengatasi setiap masalah sesuai dengan pendekatan masing-masing.45 Dengan membandingkan berbagai alternatif pendekatan yang mungkin dapat dipergunakan, seorang guru akan dapat memilih alternatif yang terbaik untuk mengatasi masalah pada situasi yang dihadapinya. Dengan terpilihnya salah satu pendekatan, maka cara-cara mengatasi masalah tersebut juga akan dapat ditetapkan. Dengan demikian, pelaksanaan manajemen kelas yang berfungsi untuk mengatasi masalah tersebut dapat dilakukan. 4) Monitoring Hal ini diperlukan, karena akibat perlakuan guru dapat saja mengenai sasaran, yaitu meniadakan tingkah laku siswa yang45 Ibid., hlm. 26
  • 61. 61 menyimpang, tetapi dapat pula tidak berakibat apa-apa atau bahkan mungkin menimbulkan tingkah laku menyimpang berikutnya yang justru lebih jauh menyimpangnya. Langkah monitoring ini pada hakekatnya ditujukan untuk mengkaji akibat dari apa yang telah terjadi.5) Memanfaatkan Umpan Balik (Feed-Back) Hasil Monitoring tersebut, hendaknya dimanfaatkan secara konstruktif, yaitu dengan cara mempergunakannya untuk: a) Memperbaiki pengambilan alternatif yang pernah ditetapkan bila kelak menghadapi masalah yang sama pada situasi yang sama. b) Dasar dalam melakukan kegiatan manajemen kelas berikutnya sebagai tindak lanjut dari kegiatan manajemen kelas yang sudah dilakukan sebelumnya. Yakni untuk lebih menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal, dengan diusahakannya pencapaian tujuan melalui kegiatan pengaturan siswa, bahan/alat pelajaran dan format belajar mengajar yang kesemuanya difokuskan pada penciptaan
  • 62. 62 kondisi belajar mengajar yang menunjang cara belajar siswa aktif.46 4. Tujuan Manajemen Kelas Tujuan manajemen kelas pada hakikatnya telah terkandung dalam tujuan pendidikan, baik secara umum maupun khusus. Secara umum tujuan manajemen kelas adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa untuk belajar dan bekerja, terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional dan sikap, serta apresiasi para siswa. Adapun tujuan dari manajemen kelas adalah sebagai berikut: a. Agar pembelajaran dapat dilakukan secara maksimal, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. b. Untuk memberi kemudahan dalam usaha memantau kemajuan siswa dalam pelajarannya. Dengan manajemen kelas, guru mudah untuk melihat dan mengamati setiap kemajuan/perkembangan yang dicapai siswa, terutama siswa yang tergolong lamban. 46 Burhanuddin, Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan (Jakarta: BumiAksara, 1994), hlm. 49
  • 63. 63 c. Untuk memberi kemudahan dalam mengangkat masalah-masalah penting untuk dibicarakan di kelas demi perbaikan pembelajaran pada masa mendatang. Jadi, manajemen kelas dimaksudkan untuk menciptakan kondisi di dalam kelompok kelas yang berupa lingkungan kelas yang baik, yang memungkinkan siswa berbuat sesuai dengan kemampuannya. Kemudian, dengan manajemen kelas produknya harus sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.5. Hambatan-hambatan Manajemen Kelas a. Faktor guru, faktor penghambat yang datang dari sini berupa hal-hal, seperti: tipe kepemimpinan guru yang otoriter, format belajar mengajar yang tidak bervariasi (monoton), kepribadian guru yang tidak baik, pengetahuan guru yang kurang, serta pemahaman guru tentang peserta didik yang kurang.47 b. Faktor peserta didik. Kekurangsadaran peserta didik dalam memenuhi tugas dan haknya sebagai anggota kelas atau suatu sekolah akan menjadi masalah dalam pengelolaan kelas.47 Ahmad Rohani & Abu Ahmadi, Op. Cit., hlm. 151-152
  • 64. 64 c. Faktor keluarga. Tingkah laku peserta didik di dalam kelas merupakan pencerminan keadaan keluarganya. Sikap otoriter orang tua akan tercermin dari tingkah laku peserta didik yang agresif atau apatis. Di dalam kelas sering ditemukan ada peserta didik penganggu dan pembuat ribut, mereka itu biasanya dari keluarga yang broken-home. d. Faktor fasilitas. Faktor ini meliputi: jumlah peserta didik dalam kelas yang terlalu banyak dan tidak seimbang dengan ukuran kelas, besar dan kecilnya ruangan tidak disesuaikan dengan jumlah peserta didiknya, ketersediaan alat yang tidak sesuai dengan jumlah peserta didik yang membutuhkannya.48 e. Faktor sekolah sebagai lembaga pendidikan. Faktor ini meliputi: pembagian ruangan yang adil untuk setiap tingkat atau jurusan, pengaturan upacara bendera pada setiap hari Senin dan masalah-masalah yang bertalian dengan disiplin.49 Misalnya, menegur peserta didik yang selalu terlambat pada saat apel bendera, mengingatkan peserta didik yang tidak mau memakai seragam sekolah, menasehati peserta didik yang rambutnya gondrong, memberi peringatan keras kepada peserta didik yang merokok di kelas atau sekolah dan suka minum-minuman keras,48 Ibid., hlm. 153-15449 Cece Wijaya dan Tabrani Rusyan, Op.Cit., hlm. 135
  • 65. 65 sampai kepada mendamaikan peserta didik jika terjadi perselisihan antar sekolah. f. Faktor yang ada di luar wewenang guru bidang studi dan sekolah. Dalam mengatasi masalah semacam ini mungkin yang harus terlibat adalah orang tua, lembaga-lembaga yang ada dalam masyarakat seperti karang taruna, bahkan para pengusaha dan lembaga pemerintahan setempat.6. Perencanaan Manajemen Kelas a. Analisis Masalah Manajemen Kelas Masalah pengelolaan kelas dapat dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu masalah individual dan masalah kelompok.50 Meskipun seringkali terjadi perbedaan antara kedua kelompok itu hanya merupakan perbedaan tekanan saja. Tindakan pengelolaan kelas seorang guru akan efektif apabila ia dapat mengidentifikasi dengan tepat hakikat masalah yang dihadapi, sehingga pada gilirannya ia dapat memilih strategi dengan penanggulangan yang tepat pula. 1) Masalah Individual50 Ahmad Rohani, Op. Cit., hlm. 124
  • 66. 66 Dalam konteks ini dapat dibedakan menjadi empat kelompok masalah manajemen kelas yang bersifat individual, yaitu: a) attention-getting behaviors (tingkah laku menarik perhatian orang lain). b) power-seeking behaviors (tingkah laku mencari kekuasaan). c) revenge-seeking behaviors (tingkah laku menuntut balas). d) peragaan ketidakmampuan, yaitu dalam bentuk sama sekali menolak untuk mencoba melakukan apa pun karena yakin hanya kegagalanlah yang menjadi bagiannya. 2) Masalah Kelompok Louis V Johson dan Mary A. Bany mengemukakan tujuh kategori masalah kelompok dalam manajemen kelas,51 yaitu: 1) kelas kurang kohesif lantaran alasan karena jenis kelamin, suku, tingkat sosial ekonomi, dan sebagainya. 2) penyebalan terhadap norma-norma tingkah laku yang telah disepakati sebelumnya, misalnya sengaja berbicara keras-keras di ruang baca perpustakaan.51 Mulyadi, Classroom Management (Malang: UIN-PRESS MALANG, 2009), hlm. 15
  • 67. 67 3) kelas mereaksi negatif terhadap salah seorang anggotanya, misalnya mengejek anggota kelas yang dalam pengajaran seni suara, menyanyi dengan suara sumbang. 4) membimbing anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok, misalnya pembinaan semangat kepada badut kelas. 5) kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah dikerjakan. 6) semangat kerja rendah atau melakukan semacam aksi protes kepada guru karena menganggap yang diberikan kurang fair. 7) kelas kurang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan baru, seperti gangguan jadwal, guru kelas terpaksa diganti sementara oleh guru lain dan sebagainya.b. Desain Kegiatan Belajar Mengajar Desain kegiatan belajar mengajar/desain pembelajaran merupakan suatu perencanaan atau persiapan yang sistematis dalam suatu aktivitas pembelajaran dengan menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran serta melalui langkah-langkah pembelajaran yang akan dimanifestasikan bersama-sama pada peserta didik. Singkat kata, desain pembelajaran merupakan alat yang dapat membantu guru dalam melaksanakan
  • 68. 68 kegiatan pembelajaran secara efektif dan efisien.52 Kegiatan ini merupakan tugas guru sebagai desainer dalam menyusun perangkat dan instrumen pembelajaran. 1) Menyusun Silabus Istilah silabus dapat didefinisikan sebagai ”Garis besar, ringkasan, ikhtisar, atau pokok-pokok isi/materi pelajaran”. Silabus digunakan menyebut suatu produk pengembangan kurikulum berupa penjabaran lebih lanjut dari standart kompetensi dan kemampuan dasar yang ingin dicapai, dan pokok-pokok serta uraian materi yang perlu dipelajari siswa dalam mencapai standart kompetensi dan kemampuan dasar. Silabus adalah ancangan pembelajaran yang berisi rencana bahan ajar mata pelajaran tertentu pada jenjang dan kelas tertentu, sebagai hasil dari seleksi, pengelompokan, pengurutan, dan penyajian materi kurikulum, yang dipertimbangkan berdasarkan ciri dan kebutuhan daerah setempat.52 Ibid,, hlm. 69
  • 69. 69 Dalam kurikulum 2004 yang dimaksud dengan silabus adalah:53 • Seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran, pengelolaan kelas, dan penilaian hasil belajar. • Komponen silabus menjawab: kompetensi apa yang akan dikembangkan pada siswa?; bagaimana cara mengembangkannya?; bagaimana cara mengetahui bahwa kompetensi sudah dikuasai oleh siswa?. • Tujuan pengembangan silabus adalah membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya dalam menjabarkan kompetensi dasar menjadi perencanaan belajar mengajar. • Sasaran pengembangan silabus adalah guru, kelompok guru mata pelajaran di sekolah/madrasah kelompok guru, musyawarah guru mata pelajaran dan dinas pendidikan. Pada umumnya suatu silabus paling sedikit harus mencakup unsur-unsur: tujuan mata pelajaran yang diajarkan; sasaran-sasaran mata pelajaran; keterampilan yang diperlukan agar dapat menguasai mata pelajaran tersebut dengan baik; urutan topik-topik yang53 Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), hlm. 39
  • 70. 70 diajarkan; aktivitas dan sumber-sumber belajar pendukung keberhasilan pembelajaran; berbagai teknik evaluasi yang digunakan. Contoh Format Silabus54 Nama Sekolah : (diisi nama sekolah) Mata Pelajaran : (diisi nama mata pelajaran) Kelas : (diisi kelas berapa standar kompetensi tersebut harus dicapai melalui proses belajar mengajar) Semester : (diisi semester berapa standar kompetensi tersebut harus dicapai melalui proses belajar mengajar) Standar Kompetensi : (diisi rumusan standar kompetensi yang akan dikembangkan silabusnya) Kompe Materi Pengalaman Indikator PENILAIAN Alokasi Sumber tensi Pokok Belajar Contoh Waktu Bahan/ Alat Jenis Bentuk Dasar Rumusan (menit) Tagihan Instrumen Instrumen Memu Memu Memuat Berisi Berisi Instumen Diisi Memu Memuat at at alternatif penjabar jenis- dikategorikan contoh at nomor atau kompe materi kegiatan an jenis menjadi dua, rumusan alokasi kode jenis tensi pokok siswa dalam kompete tagihan yaitu tes dan sesuai yang sumber dasar yang berinteraksi nsi dasar untuk nontes. Tes dengan diperlu bahan yang hasil diambil secara yang mencapai meliputi pilihan bentuk kan digunakan penjab /dikuti langsung dirumusk indikator. ganda,uraian instrume untuk beserta aran p dari dengan an Jenis objektif, n yang mengu halaman dari buku objek/sumber dengan tagihan jawaban digunaka asai yang standa KBK. belajar. kata yang singkat, n masing dirujuk. r Kemud Misalnya kerja dapat menjodohkan, - kompe ian tugas operasio digunaka benar salah, masing tensi diuraik mandiri, nal yang n antara portofolio. kompe yang an tugas bisa lain: kuis, Nontes meliput: tensi telah secara kelompok, diukur pertanya wawancara, dasar. dirumu agak melakukan dan an lisan, angket, 54 Marno, Siti Kusrini & Sutiah, Ketrampilan Dasar Mengajar (PPL 1) (Malang: Fakultas Tarbiyah,2009), hlm. 146
  • 71. 71 skan rinci observasi. dibuat ulangan inventori, dan dalam dalam instrume harian pengalaman. KBK. bentuk n blok, materi penelitia tugas pembel nnya. individu, ajaran. tugas kelompo k, ujian praktik, laporan kerja praktik. 2) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Pembelajaran atau proses belajar mengajar adalah proses yang diatur dengan langkah-langkah tertentu, agar pelaksanaannya mencapai hasil yang diharapkan. Langkah-langkah tersebut biasanya dituangkan dalam bentuk perencanaan mengajar. Proses penyusunan perencanaan memerlukan pemikiran-pemikiran sistematis untuk memproyeksikan/memperkirakan mengenai apa yang akan dilakukan dalam waktu melaksanakan pembelajaran. Secara sistematis rencana pembelajaran dalam bentuk satuan pelajaran adalah sebagai berikut:55 • Identitas mata pelajaran (nama pelajaran, kelas, semester, dan waktu atau banyaknya jam pertemuan yang dialokasikan).55 Abdul Majid, Op. Cit., hlm. 97-98
  • 72. 72• Standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator yang hendak dicapai atau dijadikan tujuan dapat dikutip/diambil dari kurikulum dan hasil belajar yang telah ditetapkan oleh pemerintah.• Materi pokok (beserta uraiannya yang perlu dipelajari siswa dalam rangka mencapai kompetensi dasar).• Media (yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran)• Strategi pembelajaran/skenario/tahapan-tahapan proses belajar mengajar yaitu kegiatan pembelajaran secara konkret yang harus dilakukan oleh guru dan siswa dalam berinteraksi dengan materi pembelajaran dan sumber belajar untuk menguasai kompetensi. Tahapan-tahapan kegiatan pembelajaran meliputi: a) Kegiatan awal Kegiatan pendahuluan dimaksudkan untuk memberikan motivasi kepada siswa, memusatkan perhatian, dan mengetahui apa yang telah dikuasai siswa berkaitan dengan bahan yang akan dipelajari. Kegiatan pendahuluan ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, antara lain: • Melaksanakan apersepsi atau penilaian kemampuan awal Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan awal yang dimiliki siswa. Seorang guru perlu
  • 73. 73 menghubungkan materi pelajaran yang telah dimiliki siswa dengan materi yang akan dipelajari siswa dan tidak mengesampingkan motivasi belajar terhadap siswa. • Menciptakan kondisi awal pembelajaran melalui upaya: Menciptakan semangat dan kesiapan belajar melalui bimbingan guru kepada siswa dan menciptakan suasana pembelajaran yang demokratis dalam belajar, melalui cara dan teknik yang digunakan guru dalam mendorong siswa untuk berkreatif dalam belajar dan mengembangkan keunggulan yang dimilikinya.b) Kegiatan inti Kegiatan inti adalah kegiatan utama untuk menanamkan, mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan berkaitan dengan bahan kajian yang bersangkutan. Kegiatan ini setidaknya mencakup: 1) pencapaian tujuan pembelajaran; 2) penyampaian materi/bahan ajar dengan menggunakan pendekatan dan metode, sarana dan alat/media yang sesuai dll.; 3) pemberian bimbingan bagi pemahaman siswa; 4) melakukan pemeriksaan/pengecekan tentang pemahaman siswa.
  • 74. 74c) Penutup Kegiatan penutup ini adalah kegiatan yang memberikan penegasan atau kesimpulan dan penilaian terhadap penguasaan bahan kajian yang diberikan pada kegiatan inti. Kesimpulan ini dibuat oleh guru dan atau bersama-sama dengan siswa. Kegiatan yang harus dilaksanakan dalam kegiatan akhir dan tindak lanjut ini adalah melaksanakan penilaian akhir dan mengkaji hasil penelitian; melaksanakan kegiatan tindak lanjut dengan alternatif kegiatan diantaranya memberikan tugas atau latihan- latihan, menugaskan mempelajari materi pelajaran tertentu, dan memberikan motivasi/bimbingan belajar; dan mengakhiri proses pembelajaran dengan menjelaskan atau memberi informasi materi pokok yang akan dibahas pada pelajaran berikutnya.d) Menentukan jenis penelitian dan tindak lanjut Tujuannya adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari tahapan pembelajaran yang telah dilaksanakan dan alternatif tindakan yang akan dilakukan. Beragam jenis penilaian yang dapat digunakan misalnya tes tulis, kinerja, produk, proyek/penugasan dan lain sebagainya tergantung dari aspek apa
  • 75. 75 yang hendak diukur. Teknik penyampaiannya dapat diajukan kepada siswa baik secara lisan maupun tertulis. e) Sumber bahan (yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai dicantumkan). Format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran56 I. Identitas Mata Pelajaran 1. Mata Pelajaran 2. Materi Pokok 3. Kelas/Semester 4. Pertemuan minggu ke 5. Alokasi Waktu II. Standar Kompetensi/Kompetensi Dasar III. Materi Pembelajaran IV. Indikator (mencakup ranah kognitif, psikomotorik, dan afektif) V. Tujuan Pembelajaran VI. Media/alat Pembelajaran Alat-alat56 Marno, Siti Kusrini & Sutiah, Op. Cit., hlm. 147
  • 76. 76VII. Strategi Pembelajaran/Tahapan Pembelajaran No. Kegiatan Belajar Waktu Aspek life skill yang (menit) dikembangkan 1. Pendahuluan Contoh: a. Prasyarat: - Kesadaran diri (kesadaran menanyakan tentang eksistensi diri dan b. Motivasi: kesadaran potensi diri) mengapa manusia memerlukan? 2. Kegiatan inti - Kecakapan sosial (kecakapan kerjasama) - Kecakapan akademik (melakukan percobaan) - dst 3. Penutup a. Menyimpulkan - Kesadaran potensi diri b. Pemberian tugas - Kecakapan akademik pokokbahasan berikutnyaVIII. Kriteria Keberhasilan IX. Penilaian atau Tindak Lanjut 1. Prosedur Penilaian 2. Jenis Penilaian 3. Alat Penilaian (cantumkan alat penilaian yang digunakan secara utuh, misalnya soal, tugas, atau lembar observasi) X. Sumber Bacaan
  • 77. 773) Menyusun Perangkat dan Instrumen Lain Selain menyusun silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran, seorang guru sebagai manajer dalam kegiatan belajar mengajar, maka perlu mengetahui sekaligus menyusun instrumen lain. Instrumen tersebut dapat berwujud keras (hardware), seperti gedung perlengkapan belajar, alat-alat praktikum, perpustakaan, dsb dan juga lunak (software), seperti kurikulum, bahan/program yang harus dipelajari, pedoman belajar, prota, promes, dsb.4) Analisis Strategi Pembelajaran dalam Manajemen Kelas Keputusan untuk menskenariokan serangkaian kegiatan pembelajaran secara tertentu merupakan keputusan strategis. Maksudnya dilakukannya pengaturan pelbagai faktor yang komplek guna pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Banyaknya faktor yang harus dipertimbangkan di dalam mengambil keputusan pembelajaran, secara sadar dilatarbelakangi oleh estimasi dampak yang harus dicapai dan/atau dihindarkan adalah profesionalitas pekerjaan mengajar yang mesti dipikul oleh guru sebagai seorang manajer pembelajaran sekaligus sebagai desainer pembelajaran.
  • 78. 78 Dalam pendidikan, strategi merupakan cara-cara atau teknik yang dikembangkan oleh guru guna menunjang berlangsungnya proses belajar mengajar. Dalam pembelajaran, istilah strategi diartikan sebagai suatu pola umum tindakan guru-peserta didik dalam manifestasi kegiatan pembelajaran.57 Pandangan strategi menekankan pada perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas. Strategi pembelajaran ini berkaitan dengan kemungkinan variasi pola dan karakteristik yang berbeda macamnya dan sekuensinya secara prinsipil antara yang satu dengan yang lain. 5) Pengembangan Sumber Belajar dan Bahan Ajar58 Sumber belajar ditetapkan sebagai informasi yang disajikan dan disimpan dalam berbagai bentuk media, yang dapat membantu siswa dalam belajar sebagai perwujudan dari kurikulum. Sumber belajar dapat dikategorikan sebagai berikut: a) Tempat atau lingkungan alam sekitar, misalnya perpustakaan, pasar, museum, sungai, gunung, kolan ikan, dll.57 Ahmad Rohani, Pengelolaan Pengajaran (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hlm. 3258 Abdul Majid, Op. Cit, hlm. 169
  • 79. 79b) Segala benda yang memungkinkan terjadinya perubahan tingkah laku terhadap peserta didik, misalnya internet, candi, benda-benda peninggalan sejarah, dll.c) Manusia/orang, yaitu siapa saja yang memiliki keahlian tertentu dimana peserta didik dapat belajar sesuatu kepadanya, misalnya guru, dokter, ahli geologi, polisi, ibu rumah tangga, dll.d) Buku bacaan, misalnya buku pelajaran, kamus, ensiklopedi, buku teks, buku fiksi, dll.e) Peristiwa dan fakta yang sedang terjadi, misalnya peristiwa kriminal, peristiwa bencana, peristiwa pemilu, dll. Sumber belajar akan menjadi bermakna bagi peserta didikmaupun bagi guru jika sumber belajar diorganisir melalui saturancangan yang memungkinkan seseorang dapat memanfaatkannyasebagai sumber belajar. Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untukmembantu guru dalam kegiatan proses belajar mengajar. Bahan yangdimaksud bisa berupa bahan tertulis dan bahan tidak tertulis. Denganbahan ajar memungkinkan siswa dapat mempelajari suatu kompetensiatau kompetensi dasar secara runtut dan sistematis sehingga secara
  • 80. 80 akumulatif mampu menguasai semua kompetensi secara utuh dan terpadu. Bentuk bahan ajar dapat dikelompokkan menjadi empat59, yaitu: a) Bahan cetak (printed) antara lain handout, buku, modul, lembar kerja siswa, foto/gambar, brosur, model, leaflet, dll. b) Bahan ajar dengar (audio) seperti kaset, radio, piringan hitam, dan compact disk audio. c) Bahan ajar pandang dengar (audio visual) seperti video compact disk, film,dll. d) Bahan ajar interaktif (interactive teaching material) seperti compact disk interaktif.7. Pelaksanaan Manajemen Kelas a. Analisis Tindakan-tindakan dalam Manajemen Kelas Tindakan pengelolaan kelas adalah tindakan yang dilakukan oleh guru dalam rangka penyediaan kondisi yang optimal agar proses belajar mengajar berlangsung efektif. Tindakan guru tersebut dapat berupa pencegahan yaitu dengan jalan menyediakan kondisi baik fisik59 Ibid, hlm. 174
  • 81. 81 maupun kondisi sosio-emosional sehingga terasa benar oleh peserta didik rasa nyaman dan aman untuk belajar.60 Tindakan lain dapat berupa tindakan korelatif terhadap tingkah laku peserta didik yang menyimpang dan merusak kondisi optimal bagi proses belajar mengajar yang sedang berlangsung. Dimensi korelatif dapat terbagi menjadi dua yaitu tindakan yang seharusnya segera diambil guru pada saat terjadi gangguan (dimensi pencegahan dan tindakan) dan tindakan penyembuhan terhadap tingkah laku yang menyimpang yang terlanjur terjadi agar penyimpangan tersebut tidak berlarut-larut. Dimensi pencegahan dapat berupa tindakan guru dalam mengatur lingkungan belajar, mengatur peralatan, dan lingkungan sosio-emosional. b. Iklim/Suasana Kelas Kondisi gedung sekolah, tata ruang kelas, dan alat-alat belajar sangat mempunyai pengaruh pada kegiatan belajar. Disamping kondisi fisik tersebut, suasana pergaulan di sekolah juga sangat berpengaruh pada kegiatan belajar. Karena guru memiliki peranan penting dalam menciptakan suasana belajar yang menarik bagi siswa.60 Ibid,, hlm. 127
  • 82. 82 Suasana kelas ini mempunyai pengaruh positif terhadap pencapaian tujuan pembelajaran. Suasana kelas ini terkait dengan hal-hal sebagai berikut:61 1) Ruang Tempat Berlangsungnya Proses Belajar Mengajar Ruangan tempat berlangsungnya proses belajar mengajar harus memungkinkan siswa bergerak leluasa, tidak berdesak-desakan dan saling mengganggu antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya saat melakukan aktivitas belajar. Besarnya ruang kelas tergantung pada jenis kegiatan dan jumlah siswa yang melakukan kegiatan. Jika ruangan tersebut mempergunakan hiasan, hendaknya menggunakan hiasan-hiasan yang mempunyai nilai pendidikan. Dalam pengaturan ruang kelas harus diusahakan memenuhi ukuran 8 m x 7 m.62 2) Pengaturan Tempat Duduk Dalam mengatur tempat duduk yang penting adalah memungkinkan terjadinya tatap muka. Dengan demikian, guru dapat mengontrol tingkah laku siswa. Pengaturan tempat duduk akan mempengaruhi kelancaran proses belajar mengajar di kelas. Ada61 Abdul Majid, Op. Cit, hlm. 16762 Ibid,, hlm. 169
  • 83. 83berbagai macam bentuk pengaturan tempat duduk yang disesuaikandenga kebutuhan aktivitas dalam proses belajar mengajar yaitu o-shape, u-shape, v-shave, theater, dan acak. O-shape, bentuk tempat duduk di dalam kelas dimaksudkanagar peserta didik dapat mendengarkan informasi dari guru secarautuh, karena suara guru lebih mudah dijangkau dan memudahkan guruberinteraksi dengan semua siswa. U-shape, bentuk pengaturan tempat duduk ini biasanyadigunakan pada saat diskusi panel dengan dibagi menjadi tigakelompok. Gunanya agar diskusi menjadi lebih efektif dan efisien. V-shape, bentuk tempat duduk seperti ini cocok untukpembelajaran yang membutuhkan kreatifitas siswa, misalnya pelajaranmembaca al-Quran, seni lukis dan seni musik. Dengan pengaturanseperti ini diharapkan siswa dapat mengikutinya dengan baik. Theater, model tempat duduk ini model yang sering dijumpaidi dalam kelas. Model tempat duduk ini juga dapat digunakan dalamujian, karena memungkinkan siswa bekerja dengan hasil sendiri. Acak, tempat duduk seperti ini digunakan pada saat kegiatanbelajar mengajar yang berlangsung tidak membutuhkan konsentrasitinggi, misalnya melihat film dan video (mempunyai nilai pendidikan).
  • 84. 84 Hal ini dimaksudkan agar ada variasi suasana kelas sehingga siswa tidak bosan dalam belajar. U-SHAPE SETTING KELAS O-SHAPE V-SHAPE THEATER ACAK3) Ventilasi dan Pengaturan Cahaya Suhu, ventilasi dan penerangan merupakan aset penting untuk terciptanya suasana belajar yang nyaman. Oleh karena itu, ventilasi harus cukup menjamin kesehatan siswa.4) Pengaturan Penyimpanan Barang-barang Barang-barang hendaknya disimpan pada tempat khusus yang mudah dicapaibila diperlukan dan akan dipergunakan bagi kepentingan
  • 85. 85 belajar. Selain itu, barang-barang seperti buku pelajaran, alat peraga, pedoman kurikulum, jurnal kelas ditempatkan pada tempat yang tidak mengganggu gerak kegiatan siswa. Penataan ruang dan fasilitas yang ada di dalam kelas harus mampu membantu siswa meningkatkan motivasi siswa untuk belajar, sehingga siswa merasa senang untuk belajar. c. Metode Pembelajaran Metode adalah suatu cara atau jalan yang harus dilalui/dipergunakan untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan. Dalam konteks pendidikan, metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mentransformasikan isi atau bahan pendidikan dari guru kepada peserta didik.63 Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru dan penggunaannya yang bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pembelajaran berakhir. Seorang guru tidak akan dapat melaksanakan tugasnya, bila tidak menguasai metode mengajar. Oleh karena itu, di sinilah kompetensi guru diperlukan dalam pemilihan metode 63 A. Fatah Yasin, Dimensi-dimensi Pendidikan Islam (Malang: UIN-PRESS MALANG, 2008), hlm.131
  • 86. 86 yang tepat. Dengan menguasai dari berbagai macam metode dan bisa menempatkan pada situasi dan kondisi yang sesuai dengan keadaan siswa. d. Penggunaan Media Kata media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara, atau pengantar. Dalam bahasa Arab, media berarti perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Dalam pengertian ini, guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Dalam proses belajar mengajar, media cenderung didefinisikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.64 Adapun penggunaan media dalam pembelajaran sebagai berikut: 1) Media Berbasis Manusia Media berbasis manusia merupakan media tertua yang digunakan untuk mengkomunikasikan informasi. Media ini bermanfaat khususnya bila tujuan kita adalah mengubah sikap atau ingin secara langsung terlibat dengan pemantauan pembelajaran siswa.64 Azhar Arsyad, Media Pembelajaran (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008), hlm. 3
  • 87. 872) Media Berbasis Cetakan Materi pembelajaran berbasis cetakan yang paling umum dikenal adalah buku teks, buku penuntun, jurnal, majalah, dan lembaran lepas. Teks berbasis cetakan menuntut enam elemen yang perlu diperhatikan pada saat merancang, yaitu konsisten, format, organisasi, daya tarik, ukuran huruf, dan penggunaan ruang (spasi) kosong.3) Media Berbasis Visual Media berbasis visual memegang peran sangat penting dalam KBM. Media visual dapat memperlancar pemahaman dan membantu memperkuat ingatan. Visual dapat pula menumbuhkan minat siswa dan dapat memberikan hubungan antara isi materi dan dunia nyata. Bentuk visual bisa berupa (a) gambar representasi, misal gambar lukisan, foto; (b) diagram; (c) peta; (d) grafik seperti tabel, grafik, bagan. Lebih baik lagi, mengusahakan visual itu sesederhana mungkin agar mudah diproses dan dipelajari.4) Media Berbasis Audio-Visual Media visual yang menggabungkan penggunaan suara memerlukan pekerjaan tambahan untuk memproduksinya. Salah satu pekerjaan penting yang diperlukan dalam media audio-visual adalah
  • 88. 88 penulisan naskah dan stroryboard yang memerlukan persiapan yang banyak, rancangan, dan penelitian. 5) Media Berbasis Komputer Dewasa ini komputer memiliki fungsi yang berbeda-beda dalam bidang pendidikan dan latihan. Komputer berperan sebagai manajer dalam proses pembelajaran yang dikenal dengan nama Computer-Managed Instruction (CMI). Ada pula peran komputer sebagai pembantu tambahan dalam belajar; pemanfaatannya meliputi penyajian informasi isi materi pelajaran, latihan, atau kedua-duanya. Modus ini dikenal sebagai Computer-Assisted Instruction (CAI).65 e. Pola Interaksi Interaksi merupakan bentuk komunikasi guru dan siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Interaksi yang terjadi haruslah interaksi edukatif66 yang menarik dan menyenangkan sehingga kegiatan belajar mengajar berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Dalam pengkomunikasian harus selalu terjalin antara guru dan wali kelas dengan siswa di dalam kelas, agar tercipta situasi kelas yang dinamis. Komunikasi antar personal di kelas dapat berlangsung secara65 Ibid., hlm. 96-9766 Ahmad Rohani. Op. Cit., hlm. 93
  • 89. 89 formal dalam acara rapat, musyawarah, diskusi dan dapat berlangsung secara informal melalui kontak antar pribadi dalam setiap kesempatan di dalam dan di luar sekolah. Iklim hubungan erat antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, guru dengan guru, dan antara pimpinan sekolah akan menciptakan gairah dan kegembiraan belajar siswa sehingga mereka memiliki motivasi kuat dan keleluasaan mengembangkan cara belajar masing-masing. Selain interaksi antar personal, harus terjalin pula pola interaksi/hubungan yang baik antar guru dengan materi pelajaran, yakni guru berkompeten dalam mengajar sehingga proses belajar mengajar berlangsung efektif, dan interaksi antra siswa dengan materi pelajaran, yakni siswa aktif dan rajin belajar. Tingkat keberhasilan proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan formal di sekolah sangat bergantung pada kondisi yang tercipta pada interaksi antarpersonal. Oleh karena itu, interaksi antarpersonal tersebut harus dikondisikan dengan kondusif.6767 Muhammad Saroni. Op. Cit., hlm. 111
  • 90. 90 8. Evaluasi Manajemen Kelas Arti dari Evaluasi adalah penaksiran, penilaian, perkiraan keadaan, dan penentuan nilai.68 Jadi, evaluasi dalam pendidikan dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau suatu proses untuk mengetahui perubahan perilaku dan pembentukan kompetensi peserta didik, yang dapat dilakukan dengan penilaian kelas, tes kemampuan dasar, penilaian akhir satuan pendidikan dan sertifikasi, benchmarking (standar untuk mengukur kinerja yang sedang berjalan, proses, dan hasil untuk mencapai suatu keunggulan yang memuaskan), serta penilaian program.69 Berbeda dengan pendapat tersebut Ny. Roestiyah N.K., mengatakan bahwa evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya, sedalam-dalamnya, yang berkaitan dengan kapabilitas siswa guna mengetahui sebab-akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar.70 68 Pius A. Partanto dan M. Dahlan al-Barry, Op. Cit., hlm. 163 69 E. Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008),hlm. 108 70 Syaiful Bahri Djamarah & Aswan Zain, Op. Cit., hlm. 50
  • 91. 91 Dari kedua pengertian evaluasi tersebut, dapat pula diketahui tujuanpenggunaan evaluasi, yang dilihat dari dua segi, yaitu tujuan umum dantujuan khusus.a. Tujuan Umum dari Evaluasi adalah: 1) Mengumpulkan data-data yang membuktikan taraf kemajuan murid dalam mencapai tujuan yang diharapkan. 2) Memungkinkan pendidik/guru menilai aktivitas/pengalaman yang didapat. 3) Menilai metode mengajar yang digunakan.b. Tujuan Khusus dari Evaluasi adalah: 1) Merangsang kegiatan siswa. 2) Menemukan sebab-sebab kemajuan atau kegagalan. 3) Memberikan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan, perkembangan dan bakat siswa yang bersangkutan. 4) Memperoleh bahan laporan tentang perkembangan siswa yang diperlukan orang tua dan lembaga pendidikan.
  • 92. 92 5) Untuk memperbaiki mutu pelajaran/cara belajar dan metode mengajar.71C. Efektifitas Proses Belajar Mengajar 1. Pengertian Efektifitas Proses Belajar Mengajar Jika dilihat dari istilah tersebut, maka terdapat dua suku kata yang berbeda, yakni efektifitas dan pembelajaran. Makna dari efektifitas itu sendiri adalah ketepatgunaan, hasil guna, menunjang tujuan.72 Sedangkan Pembelajaran merupakan komunikasi dua arah, dimana kegiatan guru sebagai pendidik harus mengajar dan murid sebagai terdidik yang belajar. Dari sisi siswa sebagai pelaku belajar dan sisi guru sebagai pembelajar, dapat ditemukan adanya perbedaan dan persamaan. Hubungan guru dan siswa adalah hubungan fungsional, dalam arti pelaku pendidik dan pelaku terdidik. Dari segi tujuan akan dicapai baik guru maupun siswa sama- sama mempunyai tujuan sendiri-sendiri. Meskipun demikian, tujuan guru dan siswa tersebut dapat dipersatukan dalam tujuan instruksional. Organisasi (pembelajaran di kelas) yang betul-betul efektif adalah organisasi yang mampu menciptakan suasana kerja dimana para pekerja 71 Ibid., hlm. 50-51 72 Pius A. Partanto dan M. Dahlan al-Barry, Op.Cit., hlm. 128
  • 93. 93 tidak hanya melaksanakan tugas yang telah dibebankan kepadanya, tetapi juga membuat suasana supaya pekerja lebih bertanggung jawab, bertindak secara kreatif demi peningkatan efisiensi dalam usaha mencapai tujuan.73 Apabila pembelajaran dirancang untuk mencapai suatu tujuan belajar tertentu (a specific learning objective), maka pembelajaran itu mungkin akan lebih berhasil atau lebih efektif dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai. Secara singkat, dapat kita katakan bahwa pembelajaran merupakan serangkaian peristiwa yang dapat mempengaruhi si belajar sedemikian rupa, sehingga akan mempermudah ia dalam belajar, atau belajar yang dilakukan oleh si belajar dapat dipermudah/difasilitasi. Maka pembelajaran dapat dikatakan efektif, apabila dapat memfasilitasi pemerolehan pengetahuan dan keterampilan si belajar melalui penyajian informasi dan aktivitas yang dirancang untuk membantu memudahkan siswa dalam rangka mencapai tujuan khusus belajar yang diharapkan. Selain itu pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang mampu melahirkan proses belajar mengajar yang berkualitas, yaitu proses 73 Aan Komariah dan Cepi Triatna, Visionary Leadership: Menuju Sekolah Efektif (Jakarta: BumiAksara, 2006), hlm. 8
  • 94. 94 belajar mengajar yang melibatkan partisipasi dan penghayatan peserta didik secara intensif.742. Faktor-faktor yang mempengaruhi Efektifitas Proses Belajar Mengajar a. Faktor raw input (yakni faktor murid itu sendiri), dimana tiap anak memiliki kondisi yang berbeda-beda dalam : 1) kondisi fisiologis (tonus jasmani pada umumnya dan keadaan fungsi- fungsi jasmani tertentu terutama fungsi-fungsi pancaindera)75 2) kondisi psikologis (kondisi kejiwaan) b. Faktor environmental input (yakni faktor lingkungan), baik itu lingkungan alami maupun lingkungan sosial. c. Faktor instrumental input, yang di dalamnya antara lain terdiri dari: 1) kurikulum 2) program/bahan pembelajaran 3) sarana dan fasilitas 4) guru (tenaga pengajar). Faktor pertama disebut sebagai faktor dari dalam, sedangkan faktor kedua dan ketiga sebagai faktor dari luar.74 Wiji Suwarno, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan (Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2006), hlm. 16175 Sumardi Suryabrata, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2008), hlm. 235
  • 95. 95 Adapun uraian mengenai faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut : a. Faktor dari luar (Eksternal) 1) Faktor Environmental Input (Lingkungan)76 Kondisi lingkungan sangat mempengaruhi proses dan hasil belajar. Lingkungan ini dapat berupa lingkungan fisik/ alam dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik/ alami termasuk didalamnya adalah seperti keadaaan suhu, kelembaban, kepengapan udara, dsb. Belajar pada keadaan udara yang segar, akan lebih baik hasilnya daripada belajar dalam keadaan udara yang panas dan pengap. Lingkungan sosial, baik yang berwujud manusia maupun hal-hal lainnya juga dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar. Seseorang yang sedang belajar memecahkan soal yang rumit dan membutuhkan konsentrasi tinggi, akan terganggu jika ada orang lain keluar-masuk, bercakap-cakap didekatnya dengan suara keras,dsb. 2) Faktor-faktor Instrumental Faktor-faktor instrumental adalah faktor yang keberadaan dan penggunaannya dirancang sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan. 76 Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasetya, Strategi Belajar Mengajar (Bandung: Pustaka Setia, 2005),hlm. 105
  • 96. 96 Faktor-faktor ini diharapkan dapat berfungsi sebagai sarana untuk tercapainya tujuan belajar yang telah dicanangkan. Faktor-faktor instrumental dapat berwujud faktor-faktor keras (hardware), seperti gedung perlengkapan belajar, alat-alat praktikum, perpustakaan, dsb dan juga faktor-faktor lunak (software), seperti kurikulum, bahan/ program yang harus dipelajari, pedoman belajar, dsb.b. Faktor dari dalam (Internal) Diantara faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar adalah faktor individu siswa, baik kondisi fisiologis maupun psikologis anak. 1) Kondisi Fisiologis Anak Secara umum, kondisi fisiologis ini seperti kesehatan yang prima, tidak dalam keadaan capai, tidak dalam keadaan cacat jasmani, dsb akan sangat membantu dalam proses dan hasil belajar. Disamping kondisi yang umum tersebut, yang tidak kalah pentingnya dalam mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa adalah kondisi pancaindera, terutama indera penglihatan dan pendengaran.
  • 97. 97 Karena pentingnya penglihatan dan pendengaran inilah, maka dalam lingkungan pendidikan formal, orang melakukan berbagai penelitian untuk menemukan bentuk dan cara menggunakan alat peraga yang dapat dilihat sekaligus didengar (audio-visual aids). Guru yang baik, tentu akan memperhatikan bagaimana keadaan pancaindera, khususnya penglihatan dan pendengaran anak didiknya. 2) Kondisi Psikologis Anak Di bawah ini akan diuraikan beberapa faktor psikologis, yang dianggap utama dalam mempengaruhi proses dan hasil belajar77: a) Minat Minat sangat mempengaruhi dalam proses dan hasil belajar. Kalau seseorang tidak berminat untuk mempelajari sesuatu, ia tidak dapat diharapkan akan berhasil dengan baik dalam mempelajari hal tersebut. Begitu pula sebaliknya, jika seseorang mempelajari sesuatu dengan minat, maka hasil yang diharapkan akan lebih baik. Maka, tugas guru adalah untuk dapat menarik minat belajar siswa, dengan menggunakan berbagai cara dan usaha mereka. b) Kecerdasan77 Ibid., hlm. 107
  • 98. 98 Telah menjadi pengertian relatif umum, bahwa kecerdasan memegang peran besar dalam menentukan berhasil-tidaknya seseorang mempelajari sesuatu atau mengikuti suatu program pendidikan. Orang yang lebih cerdas, pada umumnya akan lebih mampu belajar daripada orang yang kurang cerdas. Kecerdasan seseorang biasanya dapat diukur dengan menggunakan alat tertentu. Hasil dari pengukuran kecerdasan, biasanya dinyatakan dengan angka yang menunjukkan perbandingan kecerdasan yang terkenal dengan sebutan Intelligence Quetient (IQ).c) Bakat Disamping intellegensi, bakat merupakan faktor yang besar pengaruhnya terhadap proses dan hasil belajar siswa. Secara definitif, anak berbakat adalah anak yang mampu mencapai prestasi yang tinggi, karena mempunyai kemampuan-kemampuan yang tinggi. Anak tersebut adalah anak yang membutuhkan program pendidikan berdiferensiasi dan pelayanan di luar jangkauan program sekolah biasa, untuk merealisasikan sumbangannya terhadap masyarakat maupun terhadap dirinya. Seorang guru berkewajiban memberikan bimbingan kepada
  • 99. 99 peserta didik secara rutin dan berkesinambungan terkait dengan bakat yang dimiliki peserta didik.78 d) Motivasi Motivasi merupakan dorongan yang terbentuk di dalam individu, tetapi munculnya motivasi yang kuat atau lemah, dapat ditimbulkan oleh rangsangan dari luar. Artinya, motivasi terbentuk oleh tenaga-tenaga yang bersumber dari dalam dan dari luar individu.79 Oleh karena itu, dapat dibedakan menjadi dua motif, yaitu motif intrinsik dan motif ekstrinsik. Motif Intrinsik adalah motif yang ditimbulkan dari dalam diri orang yang bersangkutan, tanpa rangsangan atau bantuan orang lain. Sedangkan motif ekstrinsik adalah motif yang timbul akibat rangsangan dari luar. Pada umumnya, motif intrinsik lebih efektif dalam mendorong seseorang untuk lebih giat belajar daripada motif ekstrinsik. e) Kemampuan-kemampuan Kognitif Walaupun diakui bahwa tujuan pendidikan yang berarti juga tujuan belajar itu meliputi tiga aspek, yaitu aspek kognitif, aspek 78 E. Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008),hlm. 113 79 Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), hlm. 131
  • 100. 100 afektif, dan aspek psikomotorik. Namun tidak dapat diingkari, bahwa sampai sekarang pengukuran kognitif masih diutamakan untuk menentukan keberhasilan belajar seseorang. Sedangkan aspek afektif dan aspek psikomotorik lebih bersifat pelengkap dalam menentukan derajat keberhasilan belajar anak disekolah. Oleh karena itu, kemampuan kognitif akan tetap merupakan faktor penting dalam belajar siswa/peserta didik. Kemampuan kognitif yang paling utama adalah kemampuan seseorang dalam melakukan persepsi, mengingat, dan berpikir. Setelah diketahui berbagai faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar seperti diuraikan di atas, maka hal penting yang harus dilakukan bagi para pendidik, guru, orang tua, dsb adalah mengatur faktor-faktor tersebut agar dapat berjalan seoptimal mungkin.803. Unsur-unsur Efektifitas Proses Belajar Mengajar a. Bahan Belajar Bahan belajar adalah bahan fisik yang diperlukan untuk menunjang terjadinya proses pembelajaran di sekolah guna membentuk siswa80 Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasetya, Op. Cit., hlm. 111
  • 101. 101 seutuhnya.81 Bahan belajar dapat berwujud benda dan isi pendidikan. Isi pendidikan tersebut dapat berupa pengetahuan, perilaku, nilai, sikap dan metode pemerolehan. b. Suasana Belajar Kondisi gedung sekolah, tata ruang kelas, dan alat-alat belajar sangat mempunyai pengaruh pada kegiatan belajar. Disamping kondisi fisik tersebut, suasana pergaulan di sekolah juga sangat berpengaruh pada kegiatan belajar. Karena guru memiliki peranan penting dalam menciptakan suasana belajar yang menarik bagi siswa. c. Media dan Sumber Belajar Dewasa ini media dan sumber belajar dapat ditemukan dengan mudah. Sawah percobaan, kebun bibit, kebun binatang, tempat wisata, museum, perpustakaan umum, surat kabar, majalah, radio, sanggar seni, sanggar olah raga, televisi dapat ditemukan didekat sekolah. Disamping itu, buku pelajaran, buku bacaan, dan laboratorium sekolah juga telah tersedia semakin baik dan berkembang maju. Secara singkat, dapat dikemukakan bahwa guru dapat membuat program pembelajaran dengan memanfaatkan media dan sumber belajar81 Aan Komariah dan Cepi Triatna, Op. Cit., hlm. 3
  • 102. 102 diluar sekolah. Pemanfaatan tersebut, dimaksudkan untuk meningkatkan kegiatan belajar-mengajar, sehingga mutu hasil belajar semakin meningkat. d. Guru sebagai Subyek Pembelajar Guru adalah subyek pembelajar siswa. Sebagai subyek pembelajar, guru berhubungan/berinteraksi secara langsung dengan siswa. Sebagaimana mestinya setiap individu mempunyai karakteristik, motivasi belajar siswa yang berbeda-beda. Atas hal tersebut, maka guru dapat menggolongkan motivasi belajar siswa dengan melakukan penguatan- penguatan pada motivasi instrumental, motivasi sosial, motivasi berprestasi, dan motivasi intrinsik siswa. Selain itu, seorang guru perlu memahami perannya di dalam pembelajaran. Peran-peran tersebut diantaranya sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, penasihat, pelatih, innovator dan tentunya sebagai suri tauladan bagi siswa-siswinya.824. Komponen Belajar Mengajar a. Tujuan Tujuan dalam pendidikan dan pembelajaran adalah suatu cita-cita yang bernilai normatif. Dengan kata lain, dalam tujuan terdapat sejumlah82 E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), hlm. 36
  • 103. 103 nilai yang harus ditanamkan kepada anak didik, baik dalam lingkungan sosialnya maupun di luar sekolah. Tujuan adalah suatu komponen yang dapat mempengaruhi komponen pembelajaran lainnya seperti, bahan pelajaran, Kegiatan Belajar Mengajar, pemilihan metode, alat, sumber, dan alat evaluasi. Dari semua komponen tersebut, harus sesuai dan didayagunakan untuk mencapai tujuan yang efektif dan efisien. Tujuan pembelajaran adalah deskripsi tentang penampilan perilaku (performance) siswa yang kita harapkan setelah mereka mempelajari bahan pelajaran yang kita ajarkan.b. Bahan Pelajaran Bahan pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Tanpa bahan pelajaran, maka proses belajar mengajar tidak akan berjalan. Ada dua persoalan dalam penguasaan bahan pelajaran ini, yakni penguasaan bahan pelajaran pokok, dan bahan pelajaran pelengkap. Bahan pelajaran pokok adalah bahan pelajaran yang menyangkut bidang studi yang dipegang oleh guru sesuai dengan profesinya (disiplin keilmuannya). Sedangkan bahan pelajaran pelengkap/ penunjang adalah bahan pelajaran yang dapat membuka wawasan
  • 104. 104 seorang guru agar dalam mengajar dapat menunjang penyampaian bahan pelajaran pokok. Bahan pelajaran ini merupakan segala bentuk bahan yang tertulis maupun tidak tertulis yang menjadi salah satu informasi atau sumber belajar bagi siwa.83 Bahan yang disebut sebagai sumber belajar (pembelajaran) ini adalah sesuatu yang membawa pesan untuk tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, kepada guru khususnya atau pengembang kurikulum umumnya, harus memikirkan sejauh mana bahan-bahan yang topiknya tertera dalam silabi berkaitan dengan kebutuhan anak didik pada usia tertentu dan juga lingkungan tertentu pula. Minat anak didik, akan bangkit bila suatu bahan diajarkan sesuai dengan kebutuhan yang mereka inginkan. c. Kegiatan Belajar Mengajar Kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan. Dalam kegiatan belajar mengajar akan melibatkan semua komponen pembelajaran, dan akan menentukan sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru dan anak didik terlibat dalam sebuah interaksi dengan bahan pelajaran sebagai83 Abdul Majid, Op. Cit., hlm. 173
  • 105. 105 mediumnya. Dalam interaksi itulah, siswa yang lebih aktif dan guru hanya berperan sebagai motivator dan fasilitator. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru sebaiknya memperhatikan perbedaan individual anak didik, yaitu pada aspek biologis, intelektual, dan psikologis. Kerangka demikian, dimaksudkan agar guru mudah dalam melakukan pendekatan kepada setiap anak didik secara individual. Pemahaman terhadap ketiga aspek tersebut, akan merapatkan hubungan guru dengan anak didik, sehingga memudahkan melakukan pendekatan Mastery Learning yang merupakan salah satu strategi belajar-mengajar pendekatan individual.84 d. Metode Pembelajaran Metode adalah suatu cara atau jalan yang harus dilalui/dipergunakan untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan. Dalam konteks pendidikan, metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mentransformasikan isi atau bahan pendidikan dari guru kepada peserta didik.85 Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru dan penggunaannya yang bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pembelajaran berakhir. Seorang guru tidak akan dapat 84 E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional, Op. Cit, hlm. 132 85 A. Fatah Yasin, Dimensi-dimensi Pendidikan Islam (Malang: UIN-PRESS MALANG, 2008), hlm.131
  • 106. 106 melaksanakan tugasnya, bila tidak menguasai metode mengajar. Oleh karena itu, di sinilah kompetensi guru diperlukan dalam pemilihan metode yang tepat. Dengan menguasai dari berbagai macam metode dan bisa menempatkan pada situasi dan kondisi yang sesuai dengan keadaan siswa. e. Alat Alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan guru ketika mengajar untuk membantu memperjelas materi pelajaran yang disampaikannya kapada siswa dan mencegah terjadinya verbalisme pada diri siswa.86 Sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan dalam mencapai tujuan pembelajaran, alat mempunyai fungsi, yakni sebagai perlengkapan, pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan, dan alat sebagai tujuan. Alat dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu alat dan alat bantu pembelajaran. Yang dimaksud dengan alat adalah berupa suruhan, perintah, larangan, dsb. Sedangkan alat bantu pembelajaran adalah berupa globe, papan tulis, kapur tulis, gambar, diagram, slide, video, dsb. f. Sumber Belajar Drs. Sudirman N, dkk mengemukakan macam-macam sumber belajar sebagai berikut:86 Moh. Uzer Usman, Op. Cit., hlm. 31
  • 107. 107 1) Manusia (people) 2) Bahan (materials) 3) Lingkungan (setting) 4) Alat dan Perlengkapan (tool and equipment) 5) Aktivitas (activities) meliputi: pembelajaran berprogram, simulasi, karyawisata, sistem pembelajaran modul. Sedangkan aktivitas sebagai sumber belajar, biasanya meliputi: tujuan khusus yang harus dicapai oleh siswa, materi (bahan pelajaran) yang harus dipelajari, aktivitas yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.87 g. Evaluasi Arti dari Evaluasi adalah penaksiran, penilaian, perkiraan keadaan, dan penentuan nilai.88 Jadi, evaluasi dalam pendidikan dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau suatu proses untuk mengetahui perubahan perilaku dan pembentukan kompetensi peserta didik, yang dapat dilakukan dengan penilaian kelas, tes kemampuan dasar, penilaian akhir satuan pendidikan dan sertifikasi, benchmarking (standar untuk mengukur87 Syaiful Bahri Djamarah, Op. Cit., hlm. 4988 Pius A. Partanto dan M. Dahlan al-Barry, Op. Cit., hlm. 163
  • 108. 108 kinerja yang sedang berjalan, proses, dan hasil untuk mencapai suatu keunggulan yang memuaskan), serta penilaian program.89 Berbeda dengan pendapat tersebut Ny. Roestiyah N.K., mengatakan bahwa evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data seluas- luasnya, sedalam-dalamnya, yang berkaitan dengan kapabilitas siswa guna mengetahui sebab-akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar.90 Dari kedua pengertian evaluasi tersebut, dapat pula diketahui tujuan penggunaan evaluasi, yang dilihat dari dua segi, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. 1) Tujuan Umum dari Evaluasi adalah: a) Mengumpulkan data-data yang membuktikan taraf kemajuan murid dalam mencapai tujuan yang diharapkan. b) Memungkinkan pendidik/guru menilai aktivitas/pengalaman yang didapat. c) Menilai metode mengajar yang digunakan. 2) Tujuan Khusus dari Evaluasi adalah: a) Merangsang kegiatan siswa. 89 E. Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008),hlm. 108 90 Syaiful Bahri Djamarah & Aswan Zain, Op. Cit., hlm. 50
  • 109. 109 b) Menemukan sebab-sebab kemajuan atau kegagalan. c) Memberikan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan, perkembangan dan bakat siswa yang bersangkutan. d) Memperoleh bahan laporan tentang perkembangan siswa yang diperlukan orang tua dan lembaga pendidikan. e) Untuk memperbaiki mutu pelajaran/cara belajar dan metode mengajar.915. Manajemen Kelas dalam Efektifitas Proses Belajar Mengajar Organisasi (pembelajaran di kelas) yang betul-betul efektif adalah organisasi yang mampu menciptakan suasana kerja dimana para pekerja tidak hanya melaksanakan tugas yang telah dibebankan kepadanya, tetapi juga membuat suasana supaya pekerja lebih bertanggung jawab, bertindak secara kreatif demi peningkatan efisiensi dalam usaha mencapai tujuan.92 Ada asumsi bahwa manajemen kelas yang baik merupakan hasil sadar atas peranan guru untuk mengintegrasikan manajemen interaksi (belajar mengajar) dengan perencanaan interaksi pembelajaran. Perpaduan ini seringkali menghasilkan persoalan dalam masalah disiplin. Interaksi belajar mengajar dan manajemen hakikatnya tidak terpisah, tetapi lebih merupakan91 Ibid., hlm. 50-5192 Aan Komariah & Cepi Triatna, Op. Cit., hlm. 8
  • 110. 110 dua komponen utama yang harus dibangun satu dengan lainnya jika menginginkan tercapainya kelas yang harmonis. Dengan kata lain, manajemen kelas merupakan keterampilan guru dalam menciptakan kegiatan-kegiatan yang dapat menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar. Yang termasuk dalam hal ini misalnya penghentian tingkah laku siswa yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran bagi ketepatan waktu penyelesaian tugas oleh siswa, atau penetapan norma kelompok yang produktif. Suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur siswa dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pengajaran. Juga hubungan interpersonal yang baik antara guru dan siswa, dan siswa dengan siswa merupakan syarat keberhasilan pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat mutlak bagi terjadinya proses belajar mengajar yang efektif.93 Jadi keterampilan guru yang efektif yaitu akan mengawasi perilaku siswa dengan waktu yang baik, dengan memberikan pertanyaan yang baik, atau jenis pengalaman pembelajaran. Pengawasan itu justru bisa efektif93 Moh. Uzer Usman. Op. Cit., hlm. 97
  • 111. 111sebagai tindakan manajemen kelas secara langsung. Meskipun pembelajarandan manajemen dilakukan berbeda, keduanya saling melengkapi danberinteraksi dalam cara-cara yang produktif. Guru juga menyusunperencanaan pembelajaran. Selanjutnya memimpin dalam prosespembelajaran, memotivasi dalam belajar, dan selanjutnya mengawasi ataumengevaluasi hasil belajar. Semua itu adalah tindakan manajemen kelas yangdipadukan untuk mencapai efektifitas pembelajaran.
  • 112. 112 BAB III METODE PENELITIANA. Lokasi Penelitian 1. Nama Sekolah : SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang Status : Swasta ( terakreditasi ) 2. Alamat Sekolah Provinsi : Jawa Timur Kabupaten/Kota : Malang Kecamatan : Kepanjen Desa : Kepanjen Jalan : Jl. K.H.Akhmad Dahlan 34 Kepanjen Kode Pos : 65163 Telpon/Fax : ( 0341 ) 395284 E-mail/Website: muha_kpjn@yahoo.com/wwwsmamuhammadiyahkepanjenB. Pendekatan dan Jenis Penelitian
  • 113. 113 Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Bogdan & Taylor mendefinisikan metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menggunakan data deskriptif berupa kata-kata tertulis/lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.94 Selanjutnya, penelitian deskriptif digunakan untuk memecahkan atau menjawab permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang. Dilakukan dengan menempuh langkah-langkah menghimpun informasi/pengumpulan data, klasifikasi, dan analisis data, interpretasi, membuat kesimpulan dan laporan.95 Hal ini dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran tentang sesuatu keadaan secara obyektif dalam suatu deskripsi situasi. Berdasarkan hal tersebut, maka dalam penelitian ini digunakan metode deskriptif, yaitu penelitian yang berusaha untuk menuturkan pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data-data. Disamping itu juga menyajikan data, menganalisis dan menginterpretasi, serta bersifat komperatif dan korelatif. Maka, peneliti akan menggambarkan/memaparkan data-data yang telah diperoleh berkaitan dengan “Manajemen Kelas dalam Meningkatkan Efektifitas Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam di SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang”. 94 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), hlm.4 95 Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya,2007), hlm. 76
  • 114. 114C. Kehadiran Peneliti Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai instrumen utama, yaitu sebagai pelaksana, pengamat, dan sekaligus sebagai pengumpul data. Sebagai pelaksana, peneliti melaksanakan penelitian ini di SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang pada manajemen kelas dalam proses belajar mengajar. Peneliti berperan sebagai pengamat untuk mengamati bagaimana perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada manajemen kelas dalam proses belajar mengajar. Dalam penelitian kulitatif, peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data utama. Sebagaimana dikatakan oleh Lexy Moleong, kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif cukup rumit. Ia sekaligus merupakan perencana, pelaksana pengumpulan data, analisis, penafsir data, dan pada akhirnya ia menjadi pelapor hasil penelitiannya.
  • 115. 115 Pengertian instrumen atau alat penelitian di sini tepat karena ia menjadi segalanya dari keseluruhan proses penelitian.96 Dalam penelitian kuantitatif, peneliti sebagai human instrument, berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuannya.D. Jenis Data Dalam penelitian ini, peneliti memperoleh data-data dari dua sumber, yaitu: 1. Data primer adalah data yang langsung dan diperoleh dari sumber data oleh peneliti untuk tujuan yang khusus.97 Data ini merupakan sumber asli yang dapat memberikan data secara langsung dari tangan pertama, baik berbentuk dokumen maupun sebagai peninggalan lain. Dalam hal ini, peneliti memperoleh data secara langsung, mengamati dan mencatat kejadian/ peristiwa melalui observasi (pengamatan), interview (wawancara), serta dokumentasi. 96 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), hlm.168 97 Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah (Bandung: Tarsito, 1994), hlm. 163
  • 116. 116 2. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari tangan kedua atau dari tangan yang kesekian.98 Data ini sebagai hasil penggunaan sumber-sumber lain, tidak langsung merupakan dokumen historis yang murni, ditinjau dari kebutuhan penyelidikan. Maka, dalam hal ini peneliti memperoleh data dari data-data yang telah ada dan mempunyai keterkaitan dengan masalah yang akan diteliti lebih lanjut, melalui literature atau bibliografi.E. Teknik Pengumpulan Data Dalam pelaksanaan pengumpulan data, penulis menggunakan Field Research (penelitian lapangan). Adapun dalam penelitian ini, penulis menggunakan Observasi (pengamatan), Interview (wawancara), serta Dokumentasi. 1. Observasi (Pengamatan) Metode observasi adalah studi yang disengaja dan sistematis tentang fenomena-fenomena sosial, dan gejala-gejala alam dengan jalan pengamatan dan pencatatan. Di dalam pengertian psikologik, observasi (pengamatan) meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap suatu obyek dengan menggunakan seluruh alat indera, baik itu melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba dan pengecap. Dalam artian penelitian observasi dapat 98 Ibid., hlm. 163
  • 117. 117 dilakukan dengan tes, kuesioner, rekaman gambar, maupun rekaman suara.99 Secara garis besar, dalam penelitian ini peneliti/pengamat sebagai partisipan, artinya bahwa peneliti merupakan bagian yang integral dari situasi yang dipelajarinya, sehingga kehadirannya tidak mempengaruhi situasi tersebut dalam kewajarannya.100 Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang manajemen kelas dalam proses belajar mengajar PAI di SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang.2. Interview (Wawancara) Metode interview merupakan suatu percakapan, tanya-jawab lisan antara dua orang atau lebih yang duduk berhadapan secara fisik dan diarahkan pada suatu masalah tertentu. Interview (wawancara) dapat dikatakan pula sebagai bentuk komunikasi verbal semacam percakapan yang bertujuan memperoleh informasi.101 Wawancara dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.102 Maka, dengan interview tersebut diharapkan dapat memperoleh jawaban/keterangan dari responden sesuai dengan tujuan penelitian. Ditinjau99 Suharsimi Arikunto, Op. Cit., hlm. 128100 S. Nasution, Metode Research Penelitian Ilmiah (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), hlm. 107101 Ibid., hlm. 113102 Lexy J. Moleong, Op. Cit., 186
  • 118. 118 dari pelaksanaannya, peneliti menggunakan model interview bebas terpimpin, yang merupakan kombinasi antara interview bebas dan interview terpimpin, dimana pewawancara bebas menanyakan apa saja tetapi juga mengingat akan data apa yang akan dikumpulkan dengan membawa sederetan pertanyaan, serta berupaya untuk menciptakan suasana santai tapi tetap serius dan sungguh-sungguh.103 Peneliti menggunakan metode ini untuk mendapatkan informasi mengenai manajemen kelas dari Kepala Sekolah, Guru PAI, serta siswa kelas XI yang mewakili.3. Dokumentasi Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang berarti barang-barang tertulis. Maka, metode dokumentasi dapat dikatakan sebagai teknik pengumpulan data dengan cara mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa transkrip, buku-buku, majalah, dokumen, surat kabar, prasasti, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya.104 Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang latar belakang SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang, yang meliputi sejarah singkat berdirinya, visi-misi dan tujuan, struktur organisasi, keadaan guru dan staf, keadaan siswa-siswi, serta keadaan sarana dan prasarana yang tersedia.103 Suharsimi Arikunto, Op. Cit., hlm. 128104 Ibid., hlm. 131
  • 119. 119F. Teknik Analisis Data Analisis data adalah suatu metode yang digunakan untuk menganalisa data-data yang diperoleh dari penelitian. Menganalisis data merupakan suatu langkah yang sangat kritis dalam penelitian. Peneliti harus memastikan pola analisis mana yang akan digunakan, apakah analisis statistik ataukah analisis non-statistik. Pemilihan ini tergantung pada jenis data yang dikumpulkan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan analisis non-statistik sesuai untuk data deskriptif atau data textular yang tidak diwujudkan dalam bentuk angka. Dalam penerapannya, metode deskriptif ini melalui beberapa tahapan, yaitu identifikasi, klasifikasi, kemudian diinterpretasikan. Metode deskriptif kualitatif, diartikan sebagai metode dengan memaparkan dan menafsirkan data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan pihak-pihak yang terkait serta pengamatan tentang situasi yang dialami berkaitan dengan kegiatan, pandangan, sikap yang tampak maupun proses yang sedang bekerja. Dalam hal ini, peneliti akan terjun secara langsung di lapangan dan mengalami situasi yang terjadi selama proses belajar mengajar PAI berlangsung, berkaitan dengan manajemen kelas di SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang. Disamping itu, juga dilakukan beberapa kali dalam pengumpulan data, dimana semua data yang telah diperoleh di lapangan dibaca, dipahami, kemudian dibuat ringkasannya. Setelah data terkumpul, kemudian data
  • 120. 120 dianalisis lebih lanjut secara intensif. Maka, dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif ini, penulis dapat menyajikan data yang ada, baik dengan informasi maupun analisis tanpa perlu merumuskan hipotesis.G. Pengecekan Keabsahan Data Pengambilan data-data melalui tiga tahapan, diantaranya yaitu tahap pendahuluan, tahap penyaringan dan tahap melengkapi data yang masih kurang. Dari ketiga tahap itu, untuk pengecekan keabsahan data banyak terjadi pada tahap penyaringan data. Oleh sebab itu, jika terdapat data yang tidak relevan dan kurang memadai maka akan dilakukan penyaringan data sekali lagi di lapangan, sehingga data tersebut memiliki kadar validitas yang tinggi. Moloeng berpendapat bahwa: Dalam penelitian diperlukan suatu teknik pemeriksaan keabsahan data105. Sedangkan untuk memperoleh keabsahan temuan perlu diteliti kredibilitasnya dengan mengunakan teknik sebagai berikut: 1. Presistent Observation (Ketekunan pengamatan) yaitu mengadakan observasi secara terus menerus terhadap objek penelitian guna memahami gejala lebih mendalam terhadap berbagai aktivitas yang sedang berlangsung di lokasi penelitian. 105 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif ( Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), hlm.324.
  • 121. 121 2. Triangulasi yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain dari luar data untuk keperluan pengecekan atau pembanding terhadap data. 3. Triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber data dengan cara membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. 4. Peerderieting (Pemeriksaan sejawat melalui diskusi), bahwa yang dimaksud dengan pemeriksaan sejawat melalui diskusi yaitu teknik yang dilakukan dengan cara mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi analitik dengan rekan-rekan sejawat.H. Tahap –Tahap Penelitian 1. Tahap Pra Lapangan Pada tahap ini peneliti melakukan analisis kebutuhan atau evaluasi diri. Artinya peneliti mengamati kenyataan yang ada di lapangan. Dalam analisis kebutuhan ini dilakukan pendataan mengenai mengapa, bagaimana dan apa saja yang diperlukan. 2. Tahap Pelaksanaan Penelitian a. Pengumpulan Data
  • 122. 122 Pada tahap ini yang dilakukan peneliti dalam mengumpulkan data adalah: 1) Wawancara dengan Kepala Sekolah. 2) Wawancara dengan Guru Keislaman. 3) Wawancara dengan siswa kelas XI yang mewakili. 4) Observasi langsung dan pengambilan data langsung dari lapangan. 5) Menelaah teori-teori yang relevan. b. Mengidentifikasi Data Data yang sudah terkumpul dari hasil wawancara dan observasi diidentifikasikan agar memudahkan peneliti dalam menganalisa sesuai dengan tujuan yang diinginkan.3. Tahap Akhir Penelitian a. Menyajikan data dalam bentuk deskripsi. b. Menganalisa data sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
  • 123. 123 BAB IV LAPORAN HASIL PENELITIANA. Latar Belakang Objek Penelitian 1. Identitas Objek Penelitian a. Nama Sekolah : SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang Status : Swasta ( terakreditasi ) b. Alamat Sekolah : Provinsi : Jawa Timur Kabupaten/Kota : Malang Kecamatan : Kepanjen Desa : Kepanjen Jalan : Jl. K.H.Akhmad Dahlan 34 Kepanjen Kode Pos : 65163 Telpon/Fax : ( 0341 ) 395284 E-mail/Website :muha_kpjn@yahoo.com/wwwsmamuhammadiyahkepanjen 2. Sejarah Berdirinya Objek Penelitian
  • 124. 124 Pada tahun 1977 pendidikan tingkat lanjutan (SMA) di wilayah Kepanjen sangat minim. Lembaga pendidikan yang saat itu ada adalah SMA Negeri Kepanjen dan SMAK. Melihat kondisi yang seperti itu maka muncul keinginan atau gagasan dari PCM Kepanjen untuk mendirikan sekolah tingkat menengah yaitu SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen yang terletak di Jl. KH. A. Dahlan No. 34. Walau sebenarnya di Kepanjen sudah berdiri SPG Muhammadiyah di perguruan Efendi. Namun berkat usaha yang maksimal maka SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen dapat berdiri dan membuka pendaftaran siswa baru pada tahun 1978. Adapun Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen: 1. Periode 1978/1989 : Moh. Fadjer Syuaib, BA 2. Periode 1989/1994 : Drs. Samlah 3. Periode 1994/1996 : Drs. Wahyu Sutrisno,M.Pd 4. Periode 1996/2000 : Dra. Niniek Emawatie 5. Periode 2000/2004 : Drs. Moch. Nurfadholi 6. Periode 2004/…… : Hari Mulyadi, S.Pd Itulah sejarah singkat berdirinya SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen,yang terus berkembang seiring waktu berjalan dan kini SMA Muhammadiyah 1Kepanjen telah ditetapkan menjadi Rintisan Sekolah Standar Nasional (RSSN)mulai tahun ajaran baru 2009-2010.
  • 125. 1253. Visi, Misi, dan Tujuan SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen a. Visi Perkembangan dan tantangan masa depan seperti: perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; globalisasi yang sangat cepat, era informasi, dan berubahnya kesadaran masyarakat dan orang tua terhadap pendidikan memicu sekolah untuk merespon tantangan sekaligus peluang itu. SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen memiliki citra moral yang menggambarkan profil sekolah yang diinginkan di masa datang yang diwujudkan dalam visi sekolah sebagai berikut: ”Semangat Berinovasi Kompetitif Melalui Keseimbangan Penguasaan Iptek dan lmtaq”. b. Misi Visi tersebut di atas mencerminkan cita-cita sekolah yang berorientasi ke depan dengan memperhatikan potensi kekinian, sesuai dengan norma dan harapan masyarakat. Untuk mewujudkannya, Sekolah menentukan langkah-langkah strategis yang dinyatakan dalam misi menyelenggarakan pendidikan yang seimbang baik di bidang IPTEK maupun IMTAQ dengan mewujudkan: 1) Lingkungan pembelajaran yang kondusif, bersih, asri, nyaman, dan agamis, dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran.
  • 126. 126 2) PBM yang berorientasi pada Student Active Learning, Fullday Learning dan bimbingan belajar serta efektifitas pembinaan ekstrakurikuler. 3) Pemberdayaan masjid sebagai laboratorium keagamaan, pembiasaan sholat berjamaah, dan tartil Al-Qur`an. 4) Perilaku sopan dan kekeluargaan serta menjalin kerjasama dengan perserikatan dan masyarakat. 5) Menumbuh kembangkan semangat keunggulan dan bernalar sehat kepada para peserta didik, guru dan karyawan sehingga berkemauan kuat untuk terus maju. 6) Meningkatkan profesionalisme, dan komitmen guru. 7) Mengembangkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran dan administrasi sekolah. 8) Mengembangkan kewirausahaan sebagai keterampilan siswa.c. Tujuan Sekolah Tujuan sekolah sebagai bagian dari tujuan pendidikan nasional adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Adapun tujuan tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut: 1) Mempersiapkan sarana dan prasarana serta peserta didik yang bertaqwa kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia.
  • 127. 127 2) Mempersiapkan peserta didik agar menjadi manusia yang berkepribadian, cerdas, berkualitas dan berprestasi. 3) Membekali peserta didik agar memiliki keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 4) Membekali peserta didik agar memiliki etika pergaulan baik kepada guru dan lingkungan masyarakat. 5) Membekali peserta didik agar memiliki keterampilan teknologi informasi dan komunikasi serta mampu mengembangkan diri secara mandiri. 6) Menanamkan sikap ulet dan gigih dalam berkompetisi 7) Membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan dan teknologi agar mampu bersaing dan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. 8) Meningkatkan dan mengembangkan Sofskill siswa secara maksimal.4. Struktur Organisasi SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Diknas Yayasan Muhammadiyah Kepala Sekolah Komite Hari Mulyadi, S.Pd
  • 128. 128 Tata Usaha Wk. Wk. Wk. Humas Wk. Sapras BendaharaKurikulum Kesiswaan Dra. Titik Sri Drs. Julianto Sigit DwiDrs. Moch. Mas’amah, Endahwati Purwanto, S.Pd Fadholi S.Pd Guru Siswa-siswi 5. Keadaan Guru & Personil SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen NAMA TUGAS MENGAJAR STATUS NO 1 Hari Mulyadi, S.Pd Bahasa Indonesia GTY 2 Drs. Edy Wiyono PPkn GTY 3 Roufur Rozi, S.PdI Al Islam GTY 4 Drs. Moch. Nurfadloli Matematika PNS 5 Masamah, S.Pd Bahasa Inggris GTY 6 Gianto,S.Pd Penjaskes GTY 7 Dra. Titik Sri Endahwati Sosiologi GTY 8 Dra. Endang Sriwinarti Biologi GTY 9 Pribadi Luhur, S.Ag Bahasa Arab GTY 10 Nurul Rochmarini, S.Pd. Bahasa Indonesia GTY 11 Dra. Nyariati Geografi GTY 12 Sigit Dwi Purwanto, S.Pd PKn GTY 13 Drs. Suwardi, M.Pd Fisika GTY 14 Subekti Andarbeni, S.Pd. Matemaika GTY 15 Drs. Julianto Kimia GTY 16 Muh. Ibrahim, S.Ag Kemuhammadiyahan GTY 17 Dra. Jubaidah Efiati Ekonomi GTY 18 Mulyono TIK GTY 19 Drs. Moh. Sugeng W. Penjaskes GTY
  • 129. 129 20 Rini Astini, S.Pd Seni Budaya GTY 21 Wildan Hamidy, S.Sn TIK GTY 22 Ai Mulyani Az zahra, S.Hum Bahasa Inggris GTY 23 Vickin Lukmanto, S.Pd Ekonomi GTY 24 Rupiani TU PTY 25 Putranto Arif TU PTY 26 Sarkam Adiono Pesuruh PTY 27 Amin Pesuruh PTY 28 Irul Muhaiminim Petugas Koperasi PTY 29 Diah Ayu Ermawati Petugas Perpustakaan PTY 30 Muhammad Hasanuddin Petugas Bank SMUMDA PTY6. Keadaan Siswa-siswi SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Kelas Jumlah Jumlah Laki-laki Perempuan X 16 27 43 XI-IPA 2 29 31 XI-IPS 22 19 41 XII-IPA 15 19 33 XII-IPS 11 18 29 JUMLAH 64 109 1787. Daftar Mata Pelajaran SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen MATA PELAJARAN KKM Pendidikan Agama a. Al - Islam 80 b. Kemuhammadiyahan 80
  • 130. 130 Pendidikan Kewarganegaraan 75 Bahasa Indonesia 75 Bahasa Inggris 75 Matematika 70 Fisika 70 Biologi 70 Kimia 70 Sejarah 70 Geografi 75 Ekonomi 75 Sosiologi 75 Seni Budaya 80 Penjaskes 80 TIK 75 Muatan Lokal 1. Bahasa Arab 75 2. Desaingrafis 80 Pengembangan Diri )* 75 8. Keadaan Sarana dan Prasarana SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen106 a. Tanah dan Halaman Tanah sekolah sepenuhnya milik amal usaha. Luas areal seluruhnya 6.350 m2. Sekitar sekolah dikelilingi oleh pagar sepanjang 667 m. Keadaan Tanah SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Status : Milik Yayasan Luas Tanah : 6.350 m2 Luas Bangunan : 2768 m2 Pagar : 667m 106 Data diperoleh dari Kepala Sekolah, Hari Mulyadi, S.Pd (Kamis, 18 Maret 2010, pukul12.45-13.00 WIB)
  • 131. 131 Halaman : 450 m2 Lapangan Olah Raga : 324 m2 Lain – lain : 2,808 m2 b. Gedung Sekolah Bangunan sekolah pada umumnya dalam kondisi baik. Jumlah ruang kelas untuk menunjang kegiatan belajar memadai. Keadaan Gedung SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Luas Bangunan : 2768 m2 Ruang Kepala Sekolah : 1 Baik Ruang TU : 1 Baik Ruang Guru : 1 Baik Ruang Kelas : 7 Baik Ruang Lab. IPA : 1 Baik Ruang Perpustakaan : 1 Cukup Ruang Serba Guna : 1 Baik Masjid : 1 Baik Ruang Lab. Komputer : 1 Baik Ruang Multimedia : 1 Cukup Ruang Musik : 1 CukupB. Paparan dan Analisis Data 1. Perencanaan Manajemen Kelas dalam Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang
  • 132. 132 Manajemen kelas merupakan keterampilan yang harus dimilikioleh seorang guru dalam merumuskan, memahami, mendiagnosis, dankemampuan bertindak menuju perbaikan suasana kelas yang dinamis dengantujuan agar proses belajar mengajar berlangsung secara efektif. Manajemenkelas sangat identik dengan salah satu fungsinya, yaitu perencanaan(Planning) pembelajaran yang sangat membantu berlangsungnya prosesbelajar mengajar. Adapun perencanaan pembelajaran Pendidikan AgamaIslam di SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen sebagai berikut:a. Analisis Masalah Manajemen Kelas Tindakan pengelolaan kelas seorang guru akan efektif apabila ia dapat mengidentifikasi dengan tepat hakikat masalah yang dihadapi, sehingga pada gilirannya ia dapat memilih strategi dengan penanggulangan yang tepat pula. 1) Masalah individual Berdasarkan observasi yang dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 11 Maret 2010 dan hari Senin tanggal 15 Maret 2010 pukul 07.00-08.15 WIB, diperoleh hasil observasi mengenai masalah-masalah yang terkait dengan individu masing-masing siswa, yaitu siswa tidak
  • 133. 133 mempunyai buku pegangan sendiri sehingga ia bergabung dengan siswa lain yang mempunyai buku pegangan. Ada juga yang terpaksa berdiam saja sambil mendengarkan penjelasan dari guru di bangku tempat ia duduk. Masalah ini juga ditemukan dalam teori T. Raka Joni yang menyatakan bahwa salah satu masalah individu yang terjadi di dalam kelas ialah peragaan ketidakmampuan, yaitu dalam bentuk sama sekali menolak untuk mencoba melakukan apa pun karena yakin hanya kegagalanlah yang menjadi bagiannya. Yang kedua, kurangnya konsentrasi/fokus siswa terhadap pelajaran yang sedang dibahas. Ada yang melamun, ada juga yang memainkan alat tulisnya dengan pelan-pelan. Kemudian selanjutnya, siswa kurang aktif dalam mengajukan pertanyaan saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Singkat kata, siswa pasif saat pembelajaran berlangsung. Masalah-masalah ini sama halnya dengan yang diungkapkan oleh Bapak Ro’ufur Rozi, S.PdI yaitu: ”Faktor-faktor penghambat yang ada di kelas ketika pelaksanaan proses belajar mengajar yang paling utama adalah kurangnya buku-buku pegangan dan penunjang, kurangnya konsentrasi/fokus siswa terhadap pelajaran dan siswa kurang aktif dalam mengajukan pertanyaan”.107 107 Wawancara dengan guru PAI, Ro’ufur Rozi, S.PdI (Kamis, 25 Maret 2010 pukul 14.30-16.05 WIB)
  • 134. 134 Selain itu, ada juga yang berusaha menarik perhatian teman sebangkunya untuk ikut kegiatan kecil yang dia lakukan saat itu. Entah diajak berbincang-bincang, berbisik-bisik, menggoda teman sebangkunya dengan menggelitik, mengajak temannya bercanda, sengaja menjatuhkan alat tulis ke lantai sehingga dapat menarik perhatian orang lain, dan sebagainya. 2) Masalah kelompok Berdasarkan observasi yang dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 11 Maret 2010 dan hari Senin tanggal 15 Maret 2010 pukul 07.00-08.15 WIB, diperoleh hasil observasi mengenai masalah-masalah kelompok di kelas, diantaranya sebagian siswa mereaksi negatif terhadap salah seorang anggotanya, misalnya saja mengejek ketika salah satu seorang yang membaca buku salah melafalkan pengucapannya. Selain itu, terkadang beberapa kelompok siswa cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah dikerjakan dan semangat kerja rendah, artinya siswa malas mengerjakan tugas dari guru.b. Desain Kegiatan Belajar Mengajar
  • 135. 135 Pemaparan Bapak Ro’ufur Rozi terkait dengan perencanaan kegiatan belajar mengajar sebagai berikut: ”Sebelum mengajar seorang guru sebaiknya menyusun perangkat pembelajaran, khususnya silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Hal ini dilakukan untuk mempermudah guru dalam mengajar dengan alasan ada pedoman pembelajaran yang dijadikan alat bantu dalam pembelajaran. Selain itu guru harus membuat prota, promes dll”.108 1) Menyusun Silabus Silabus merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran, pengelolaan kelas, dan penilaian hasil belajar. Pembuatan silabus ini disesuaikan dengan karakter materi yang sesuai kurikulum dan dipertimbangkan berdasarkan ciri dan kebutuhan daerah setempat. Kemudian disesuaikan pula dengan karakteristik, potensi, dan kebutuhan peserta didik. Silabus ini dibuat oleh masing-masing guru mata pelajaran untuk membantu guru yang bersangkutan dalam menjabarkan kompetensi dasar menjadi perencanaan belajar mengajar, yakni menyangkut kompetensi apa yang akan dikembangkan pada siswa?; 108 Wawancara dengan guru PAI, Ro’ufur Rozi, S.PdI (Kamis, 18 Maret 2010 pukul 10.50-11.45 WIB)
  • 136. 136 bagaimana cara mengembangkannya?; bagaimana cara mengetahui bahwa kompetensi sudah dikuasai oleh siswa?.2) Menyusun RPP Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) terlebih dahulu sebelum mengajar merupakan bagian yang penting dalam proses belajar mengajar. Dengan adanya RPP ini, seorang guru merasa lebih percaya diri dan berwibawa dalam berinteraksi dengan siswa di dalam kelas, karena mempunyai pedoman/panduan dalam mengajar. Penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran ini disesuaikan dengan karakter materi yang sesuai kurikulum dan dipertimbangkan berdasarkan ciri dan kebutuhan daerah setempat. Kemudian disesuaikan pula dengan karakteristik, potensi, dan kebutuhan peserta didik. Hal ini dilakukan sebelum pelaksanaan pengelolaan kelas demi memperoleh dan mencapai tujuan pembelajaran yang sebaik- baiknya.3) Menyusun Perangkat dan Instrumen Lain (kurikulum, prota, promes, bahan/program yang harus dipelajari, pedoman belajar, dsb) Hal-hal yang juga dapat mempengaruhi pembelajaran PAI adalah penyusunan perangkat pembelajaran diantaranya kalender
  • 137. 137pendidikan, prota, promes, dan pedoman belajar. Berbicara terkaitdengan kurikulum yang digunakan, di SMA Muhammadiyah 1 Kepanjenmenggunakan kurikulum yang baik dan seimbang yaitu KurikulumTingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dianggap sesuai dengankebutuhan siswa zaman sekarang. Pengembangan Kurikulum TingkatSatuan Pendidikan yang mengacu pada standar nasional pendidikandimaksudkan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional.Standar nasional pendidikan terdiri atas: standar isi, standar proses,standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenagakependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan,standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Dua dari kedelapan standar nasional pendidikan tersebut, yaitu Standar Isi (SI) danStandar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagisatuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum. Melalui KTSP ini sekolah dapat melaksanakan programpendidikannya sesuai dengan karakteristik, potensi, dan kebutuhanpeserta didik. Untuk itu, dalam pengembangannya melibatkan seluruhwarga sekolah dengan berkoordinasi kepada pemangku kepentingan dilingkungan sekitar sekolah.
  • 138. 138 KTSP SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen disusun mengarah pada kondisi sekolah dengan melibatkan seluruh komponen sekolah mulai dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru, komite sekolah, siswa, dan Dinas terkait. Keterlibatan semua komponen tersebut dengan harapan agar KTSP yang sudah disusun dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.109 4) Analisis Strategi Pembelajaran dalam Manajemen Kelas Suatu pembelajaran dapat dikatakan efektif, apabila terjadi interaksi yang baik antara guru dengan siswa dan bertujuan untuk mencapai suatu tujuan belajar tertentu dengan cara memfasilitasi pengetahuan dan keterampilan siswa melalui kegiatan/aktivitas yang dapat membantu dan memudahkan siswa dalam belajar. Maka, untuk menciptakan suasana yang harmonis, dan komunikatif, tugas guru adalah meningkatkan prestasi belajar serta senantiasa memberikan bimbingan dan pengarahan pada siswa dengan menggunakan berbagai strategi pembelajaran. Tindakan pengelolaan kelas seorang guru akan efektif apabila ia dapat mengidentifikasi dengan tepat hakikat masalah 109 Wawancara dengan Kepala Sekolah, Hari Mulyadi, S.PdI (Kamis, 18 Maret 2010 pukul12.45-13.00 WIB)
  • 139. 139 yang dihadapi, sehingga pada gilirannya ia dapat memilih strategi pembelajaran yang tepat pula. Menurut Bapak Ro’ufur Rozi, S.PdI, selaku guru PAI SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen mengatakan bahwa: ”Strategi pembelajaran yang efektif yakni menggunakan teknik-teknik yang disesuaikan dengan karekter siswa, keinginan dan kebutuhan siswa yakni dengan cara memilih cara belajar mengajar yang efektif dan menggunakan metode yang bervariasi, serta memberikan contoh yang baik terhadap siswa, misalnya disiplin dan datang di kelas tepat waktu”.110 Dari uraian di atas tergambar bahwa tiga hal penting yang dapat dijadikan pedoman untuk pelaksanaan Manajemen Kelas agar kegiatan belajar mengajar berhasil sesuai dengan yang diharapkan. Pertama, memilih cara belajar mengajar yang efektif. Bagaimana guru memandang suatu persoalan dan teori apa yang digunakan dalam memecahkan suatu kasus, akan mempengaruhi hasilnya. Kedua, menggunakan metode yang bervariasi. Seorang guru dituntut untuk memiliki kemampuan tentang penggunaan berbagai metode atau mengombinasikan beberapa metode yang relevan supaya kegiatan belajar mengajar yang berlangsung tidak membosankan. Perlu 110 Wawancara dengan guru PAI, Ro’ufur Rozi, S.PdI (Kamis, 18 Maret 2010 pukul 10.50-11.45 WIB)
  • 140. 140 diingat, bahwa dalam pemilihan metode pembelajaran juga harus memperhatikan kondisi emosional dan sosial siswa pada saat itu. Ketiga, memberikan contoh yang baik terhadap siswanya. Misalnya, datang di kelas tepat waktu. Hal ini senada dengan yang dikatakan oleh Denik, Defri, Saiful Anwar, Agung, Widya, Riska, Kholil, Elis, Irjila, dan Imam Zarkasih, yang mengatakan bahwa: ”Saat pengajaran Keislaman menyenangkan karena gurunya asyik dan tidak cerewet, juga terbuka jika diajak sharing. Selain itu, Pak Rozi selalu tepat waktu dan tidak bohong dengan apa yang beliau katakan”.111 Penanaman sikap yang baik dimaksudkan untuk meningkatkan perubahan tingkah laku siswa dimana tingkah laku siswa menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dengan demikian strategi yang ketiga ini menjadi sarana spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku yang diinginkan sebagai hasil belajar mengajar yang dilakukan itu. Misalnya, datang di kelas tepat waktu. 5) Pengembangan Sumber Belajar dan Bahan Ajar Menurut Bapak Ro’ufur Rozi, S.PdI, selaku guru PAI SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen bahwa: 111 Wawancara dengan guru PAI, Ro’ufur Rozi, S.PdI (Kamis, 18 Maret 2010 pukul 09.45-10.10 WIB)
  • 141. 141 ”Sumber belajar yang selama ini digunakan dalam pembelajaran Keislaman terdiri dari kelas dan masjid, penjelasan-penjelasan dari guru, dan buku diklat/rangkuman. Untuk informasi dari internet, siswa dapat mengaksesnya sendiri di ruang multimedia. Sedangkan bahan ajarnya berupa buku, materi dari LKS dan penjelasan dari guru”.112 Pemanfaatan kelas dan masjid sebagai sumber belajar sangat berperan aktif dalam pengelolaan kelas yang menunjang kegiatan belajar mengajar PAI. Dengan adanya kelas sebagai ruang belajar setiap hari dan masjid sebagai tempat untuk melaksanakan sholat dhuha berjamaah sekaligus sebagai tempat peragaan/praktik sholat dari teori yang telah didapat di dalam kelas. Keduanya saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling melengkapi kekurangan yang satu dengan yang lainnya. Untuk bahan ajarnya, berupa buku, materi dari LKS, dan penjelasan dari guru. Ketiga bahan ajar ini dapat dispesifikasikan dalam bentuk-bentuk bahan ajar pembelajaran. Buku dan materi dari LKS sebagai bahan cetak (printed). Penjelasan guru sebagai bahan ajar dengar (audio). 112 Wawancara dengan guru PAI, Ro’ufur Rozi, S.PdI (Kamis, 18 Maret 2010 pukul 10.50-11.45 WIB)
  • 142. 1422. Pelaksanaan Manajemen Kelas dalam Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang Pelaksanaan Manajemen Kelas yang efektif dalam pembelajaran ketika dimana mewujudkan kondisi kelas sebagai lingkungan pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan kemampuan seoptimal mungkin, menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi interaksi pembelajaran, menyediakan dan mengatur fasilitas serta media pembelajaran yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional dan intelektual siswa, serta dapat membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar sosial, ekonomi, budaya dan sifat/karakter siswa yang berbeda. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan pembelajaran perlu diketahui kondisi dan masalah yang terjadi pada siswa pada saat pembelajaran berlangsung. a. Tindakan-tindakan dalam Manajemen Kelas Setiap ada permasalahan yang terkait dengan sikap siswa dan masalah ekstern lainnya, guru PAI berusaha untuk mencari solusinya agar tanggung jawab guru berfungsi dengan maksimal. Dengan diterapkannya konflik kelas maka akan mengurangi masalah yang terjadi dalam pembelajaran PAI.
  • 143. 143 Bapak Ro’ufur Rozi, S.PdI, selaku guru PAI SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen mengatakan bahwa: ”Setiap pembelajaran berlangsung masalah itu selalu ada saja. Jadi perlu adanya usaha-usaha preventif yang dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Usaha-usaha yang paling utama yang perlu diberikan adalah membuat buku diklat/rangkuman yang dijadikan hand out, memotivasi siswa agar konsentrasi pada pelajaran dan merangsang siswa agar bertanya dan aktif di kelas”.113 Tindakan guru tersebut dapat berupa pencegahan yaitu dengan jalan menyediakan kondisi baik fisik maupun kondisi sosio- emosional sehingga terasa benar oleh peserta didik rasa nyaman dan aman untuk belajar. Sekaligus tindakan penyembuhan terhadap tingkah laku yang menyimpang yang terlanjur terjadi agar penyimpangan tersebut tidak berlarut-larut. Guru juga perlu menyediakan dan mengatur fasilitas serta media pembelajaran yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional dan intelektual siswa, serta membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar sosial, ekonomi, budaya dan sifat/karakter siswa yang berbeda dengan sikap tulus dan hangat. Dengan sikap yang tulus dan hangat dari guru, diharapkan proses 113 Wawancara dengan guru PAI, Ro’ufur Rozi, S.PdI (Kamis, 25 Maret 2010 pukul 14.30-16.05 WIB)
  • 144. 144 interaksi dan komunikasinya berjalan wajar, sehingga mengarah kepada suatu penciptaan suasana yang mendukung untuk kegiatan pendidikan. b. Iklim/Suasana Kelas Lingkungan fisik tempat belajar dalam pengelolaan kelas mempunyai pengaruh penting terhadap hasil pembelajaran. Lingkungan fisik yang menguntungkan dan memenuhi syarat minimal mendukung meningkatnya intensitas proses pembelajaran dan mempunyai pengaruh positif terhadap pencapaian tujuan pembelajaran. Lingkungan fisik yang dimaksud meliputi: 1) Ruang Kelas Menurut pernyataan yang dikemukakan Bapak Ro’ufur Rozi, S.PdI bahwa: ”Keadaan kelas sebagai ruang tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar cukup memadai, memungkinkan siswa bergerak leluasa, tidak berdesak-desakan sehingga suasana kelas kondusif, tertib dan tenang saat kegiatan belajar mengajar berlangsung”.114 Ruangan tempat berlangsungnya proses belajar mengajar harus memungkinkan semua siswa bergerak leluasa tidak berdesak- 114 Wawancara dengan guru PAI, Ro’ufur Rozi, S.PdI (Kamis, 25 Maret 2010 pukul 14.30-16.05 WIB)
  • 145. 145 desakan dan saling mengganggu antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya pada saat melakukan aktivitas belajar. Besarnya ruangan kelas tergantung pada jenis kegiatan dan jumlah siswa yang melakukan kegiatan. Jika ruangan tersebut mempergunakan hiasan, hendaknya menggunakan hiasan-hiasan yang mempunyai nilai pendidikan. 2) Pengaturan Tempat Duduk Menurut pernyataan yang dikemukakan Bapak Ro’ufur Rozi, S.PdI bahwa: ”Variasi tempat duduk siswa di dalam kelas perlu dilakukan pada saat-saat tertentu, agar tidak monoton, sehingga siswa tidak bosan. Terkadang pengaturan tempat duduk dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin. Yang perempuan duduk di deretan depan sedang yang laki-laki duduk di deretan belakangnya. Atau yang laki-laki duduk di deretan sebelah kanan sedang yang perempuan duduk di deretan sebelah kiri”.115 Dalam mengatur tempat duduk yang penting adalah memungkinkan terjadinya tatap muka. Dengan demikian, guru dapat mengontrol tingkah laku siswa. Pengaturan tempat duduk yang bervariasi, tidak monoton, dimaksudkan agar ada variasi suasana kelas 115 Wawancara dengan guru PAI, Roufur Rozi, S.PdI (Kamis, 25 Maret 2010 pukul 14.30-16.05 WIB)
  • 146. 146 sehingga siswa tidak bosan dalam belajar. Pengaturan tempat duduk akan mempengaruhi kelancaran proses belajar mengajar di kelas. 3) Ventilasi, Pengaturan Cahaya serta Penyimpanan Barang-barang di dalam Kelas Bapak Ro’ufur Rozi mengatakan bahwa: “Ventilasi, pengaturan cahaya dan peletakan barang-barang di dalam kelas yang cukup baik akan menciptakan suasana kelas yang kondusif untuk proses belajar mengajar yang efektif, karena tidak mengganggu gerak kegiatan guru maupun siswa”.116 Ventilasi dan penerangan adalah aset penting untuk terciptanya suasana belajar yang nyaman. Oleh karena itu ventilasi harus cukup menjamin kesehatan siswa. Penataan ruangan yang baik apabila menunjang efektifitas proses belajar mengajar yang salah satu petunjuknya adalah bahwa anak-anak belajar dengan aktif dan guru dapat mengelola kelas dengan baik. Penataan ruang tersebut bersifat fleksibel sehingga perubahan dari satu tujuan ke tujuan yang lain dapat dilakukan sedemikian rupa sehingga sesuai dengan sifat kegiatan yang dituntut oleh tujuan yang akan dicapai pada waktu itu. Penataan ruang dan 116 Wawancara dengan guru PAI, Ro’ufur Rozi, S.PdI (Kamis, 25 Maret 2010 pukul 14.30-16.05 WIB)
  • 147. 147 fasilitas yang ada di kelas harus mampu membantu siswa meningkatkan motivasi siswa untuk belajar sehingga mereka merasa senang belajar. Indikator ini tentu tidak dengan segera diketahui, tetapi guru yang berpengalaman akan dapat melihat apakah siswa belajar dengan senang atau tidak. c. Metode Pembelajaran Menurut pemaparan Bapak Ro’ufur Rozi, S.PdI, selaku guru PAI SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen bahwa: ”Metode yang digunakan pada kegiatan belajar mengajar PAI adalah ceramah, drill, tanya jawab interaktif, dan peragaan. Metode-metode ini diterapkan untuk merangsang siswa dalam belajar. Penggunaan metode disesuaikan dengan bahan pelajaran yang akan disampaikan dengan tidak mengabaikan keinginan siswa sehingga metode yang digunakan mampu mencapai sasaran yang komprehensip yaitu dari ranah kognitif, afektif dan psikomotorik”.117 Dalam pengelolaan kelas, metode diperlukan oleh guru dan penggunaannya yang bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pembelajaran berakhir. Seorang guru tidak akan dapat melaksanakan tugasnya, bila tidak menguasai metode mengajar. Oleh 117 Wawancara dengan guru PAI, Ro’ufur Rozi, S.PdI (Kamis, 25 Maret 2010 pukul 14.30-16.05 WIB)
  • 148. 148 karena itu, di sinilah kompetensi guru diperlukan dalam pemilihan metode yang tepat. Dengan menguasai dari berbagai macam metode dan bisa menempatkan pada situasi dan kondisi yang sesuai dengan keadaan siswa. Penggunaan metode harus mampu mencapai sasaran yang komprehensip, yaitu menyentuh ranah kognitif, afektif dan psikomotorik siswa, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai sesuai dengan yang diharapkan. d. Penggunaan Media Menurut pemaparan Bapak Ro’ufur Rozi, S.PdI, selaku guru PAI SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen bahwa: ”Media yang digunakan pada proses belajar mengajar PAI adalah Lembar Kerja Siswa (LKS), LCD, dan OHP. Penggunaan media ini sangat membantu dalam mengajar. Penggunaan media juga membuat kondisi kelas kondusif saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Dengan penggunaan media yang bervariasi siswa menjadi aktif dan antusias”.118 Penggunaan media memang memang turut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru. Pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi 118 Wawancara dengan guru PAI, Ro’ufur Rozi, S.PdI (Jumat, 26 Maret 2010 pukul 15.35-16.40 WIB)
  • 149. 149 dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membantu pengaruh- pengaruh psikologis terhadap siswa. Media yang digunakan sebaiknya tidak monoton agar siswa tidak merasa bosan dan jenuh dalam belajar. Adapun media yang digunakan dalam Manajemen Kelas PAI di SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen dapat digolongkan menjadi beberapa media, media berbasis manusia yaitu guru itu sendiri, media berbasis cetakan yaitu berupa buku dan LKS, media berbasis visual yaitu berupa OHP, dan media berbasis komputer yaitu LCD. Media-media ini digunakan untuk memfasilitasi siswa dalam proses belajar mengajar di kelas.e. Pola Interaksi Dalam Manajemen Kelas, suatu pembelajaran dapat dikatakan efektif, apabila terjadi interaksi yang baik antara guru dengan siswa dan bertujuan untuk mencapai suatu tujuan belajar tertentu dengan cara memfasilitasi pengetahuan dan keterampilan siswa melalui kegiatan/aktivitas yang dapat membantu dan memudahkan siswa dalam belajar. Interaksi yang baik adalah interaksi yang terjadi tidak hanya di dalam kelas, akan tetapi juga terjadi di luar kelas, karena keduanya dapat membangkitkan semangat/motivasi belajar siswa.
  • 150. 150 Berdasarkan penuturan Bapak Ro’ufur Rozi, S.PdI, selaku guru PAI SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen menyatakan bahwa: ”Interaksi antara guru dan siswa yang terjadi saat pembelajaran di kelas maupun di luar kelas berjalan dengan baik, sehingga hal ini dapat membangkitkan semangat/motivasi belajar siswa”.119 Iklim hubungan erat antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, guru dengan guru, dan antara pimpinan sekolah akan menciptakan gairah dan kegembiraan belajar siswa sehingga mereka memiliki motivasi kuat dan keleluasaan mengembangkan cara belajar masing-masing. Selain interaksi antar personal yang edukatif, harus terjalin pula pola interaksi/hubungan yang baik antar guru dengan materi pelajaran, yakni guru berkompeten dalam mengajar sehingga proses belajar mengajar berlangsung efektif, dan interaksi antra siswa dengan materi pelajaran, yakni siswa aktif dan rajin belajar. 3. Evaluasi Manajemen Kelas dalam Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang Sebagai alat penilaian hasil pencapaian tujuan dalam Manajemen Kelas, evaluasi harus dilaksanakan secara terus menerus. Evaluasi tidak hanya sekedar menentukan angka keberhasilan belajar. Tetapi 119 Wawancara dengan guru PAI, Ro’ufur Rozi, S.PdI (Jumat, 26 Maret 2010 pukul 15.35-16.40 WIB)
  • 151. 151yang lebih penting adalah sebagai dasar untuk umpan balik (feed back) dariproses interaksi edukatif yang dilaksanakan dalam pembelajaran. Dengandemikian, dengan adanya evaluasi akan memberikan tujuan kepastianmengenai keberhasilan belajar dan memberikan masukan kepada gurumengenai pengajaran yang dia lakukan dalam pembelajaran melaluiManajemen Kelas. Setelah diadakan evaluasi pelaksanaan Manajemen Kelasmemang menunjukkan peningkatan terhadap hasil belajar siswa. Di bawahini akan diuraikan mengenai tujuan dari evaluasi.a. Tujuan Evaluasi Evaluasi pembelajaran dilaksanakan untuk mengetahui efektifitas pembelajaran dan pemahaman setiap siswa terhadap materi yang telah disampaikan oleh guru. Dengan begitu maka efektifitas pembelajaran akan terlihat. Di sana juga mengandung tujuan dari evaluasi itu sendiri. Adapun tujuan dari evaluasi mata pelajaran PAI dikelompokkan menjadi dua, yakni tujuan umum dan tujuan khusus. Berikut ini tujuan umum dan tujuan khusus dari evaluasi pembelajaran PAI di SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen. 1) Tujuan Umum Menurut Bapak Ro’ufur Rozi, S.PdI, selaku guru PAI SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen mengatakan bahwa:
  • 152. 152 ”Tujuan umum diadakannya evaluasi mata pelajaran Keislaman adalah memberikan informasi terhadap pihak- pihak yang terkait tentang hasil yang dicapai siswa baik dari segi kognitif, afektif maupun psikomotorik”.120 Pendapat tersebut sesuai dengan beberapa tujuan evaluasi yang menyatakan bahwa tujuan diadakannya evaluasi adalah untuk memperoleh bahan laporan tentang perkembangan siswa yang diperlukan orang tua dan lembaga pendidikan yang pada akhirnya akan diketahui data-data yang membuktikan taraf kemajuan siswa dalam mencapai tujuan yang diharapkan, yakni untuk memperbaiki mutu pelajaran, khususnya dalam pembelajaran PAI. 2) Tujuan Khusus Demikian pula dengan tujuan khusus diadakannya evaluasi, Bapak Ro’ufur Rozi, S.PdI mengatakan bahwa: “Tujuan khusus evaluasi Keislaman adalah untuk bahan instrospeksi/umpan balik bagi siswa maupun guru. Tujuan khusus ini dibedakan menjadi dua evaluasi yaitu evaluasi bagi siswa dan evaluasi bagi guru. Bagi siswa ialah untuk mengetahui kemampuan dan kekurangannya sehingga siswa dapat memperbaiki diri dan sebagai motivasi belajar agar lebih baik. Bagi guru ialah untuk melihat hasil belajar siswa dan untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan cara/metode mengajar”.121 120 Wawancara dengan guru PAI, Ro’ufur Rozi, S.PdI (Jumat, 26 Maret 2010 pukul 15.35-16.40 WIB) 121 Wawancara dengan guru PAI, Ro’ufur Rozi, S.PdI (Jumat, 26 Maret 2010 pukul 15.35-16.40 WIB)
  • 153. 153 Bila kita lihat kembali, tujuan khusus tersebut senada dengan tujuan evaluasi yaitu sebagai penilaian hasil belajar siswa dan metode guru yang digunakan saat kegiatan proses belajar mengajar berlangsung, sehingga guru mampu memberikan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan, perkembangan dan bakat siswa yang bersangkutan.b. Bentuk Evaluasi Dari pelaksanaan Manajemen Kelas, maka perlu diadakan evaluasi untuk mengetahui apakah pembelajaran yang efektif dapat diraih. Evaluasi ini digunakan untuk mengevaluasi perilaku dan evaluasi pembentukan kompetensi siswa, yang dapat dilakukan dengan pengamatan perilaku, penilaian kelas, dan tes kemampuan dasar. Disamping itu, Bapak Ro’ufur Rozi, S.PdI menambahkan bahwa: ”Bentuk evaluasi yang saya terapkan ketika mengajar bisa tertulis dan praktik. Keduanya ada kelebihan dan kekurangannya. Untuk evaluasi yang tertulis bisa hemat
  • 154. 154 waktu, namun kurang meratanya pemahaman siswa. Sedangkan kelebihan dari evaluasi praktik siswa secara langsung dapat meragakan apa yang mereka pelajari, tetapi banyak menggunakan waktu”.122 Meskipun dalam evaluasi tertulis dan evaluasi praktik terdapat beberapa kekurangan dan perbedaan, kedua bentuk evaluasi tersebut tidak dapat dipisahkan. Sebelum praktik membutuhkan teori. Teori pun juga perlu dipraktikkan agar bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Evaluasi juga tidak boleh dilakukan dengan sekehendak hati guru, siswa yang cantik diberikan nilai tinggi dan siswa yang tidak cantik diberikan nilai rendah. Evaluasi dilakukan dengan pertimbangan-pertimbangan yang arif dan bijaksana, sesuai dengan hasil kemajuan belajar yang ditunjukkan oleh siswa. Menurut Bapak Ro’ufur Rozi, S.PdI, ”Evaluasi tersebut juga sesuai dengan sistem evaluasi terprogram berdasarkan program semester yang ada”.123 Artinya evaluasi yang dilaksanakan berdasarkan kriteria tertentu, untuk mendapatkan evaluasi yang meyakinkan dan objektif dimulai dari dari informasi-informasi kuantitatif dan kualitatif. Dalam 122 Wawancara dengan guru PAI, Ro’ufur Rozi, S.PdI (Jumat, 26 Maret 2010 pukul 15.35-16.40 WIB) 123 Wawancara dengan guru PAI, Ro’ufur Rozi, S.PdI (Jumat, 26 Maret 2010 pukul 15.35-16.40 WIB)
  • 155. 155 kaitan ini penilaian dan pengukuran turut berperan di dalamnya. Pengukuran terarah pada tindakan atau proses untuk menetukan kuantitas sesuatu, karena itu biasanya diperlukan alat bantu. Sedangkan penilaian terarah pada penentuan kualitas atau nilai sesuatu. c. Tindak Lanjut Setelah Diadakan Evaluasi Bapak Ro’ufur Rozi, S.PdI mengatakan bahwa: ”Setelah diadakan evaluasi, jika ada kekurangan, hasil evaluasi tersebut perlu diperbaiki. Bagi siswa tindak lanjut dari evaluasi adalah remidi/memperbaiki lagi hasil belajar. Sedangkan bagi guru, setelah evaluasi perlu memperbaiki metode mengajar yang telah diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar”.124 Perbaikan adalah salah satu langkah yang perlu dilakukan setelah diadakan evaluasi. Perbaikan tidak hanya sekedar dilakukan sekali atau dua kali saja. Namun perbaikan harus dilakukan secara terus menerus sama halnya denga evaluasi. Dengan terus menerus berusaha memperbaiki kekurangan, sedikit demi sedikit sesuatu tersebut akan menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Tindak lanjut ini juga dapat dilakukan dengan istilah Monitoring yaitu pengawasan yang objektif terhadap hasil evaluasi. 124 Wawancara dengan guru PAI, Roufur Rozi, S.PdI (Jumat, 26 Maret 2010 pukul 15.35-16.40 WIB)
  • 156. 156 Langkah monitoring ini pada hakekatnya ditujukan untuk mengkaji akibat dari apa yang telah terjadi. Apakah ada perkembangan setelah diadakan evaluasi, ataukah sebaliknya. Maka dari itu, guru harus terus memantau dan memberikan perhatian kepada siswa agar mengetahui perubahan dan perkembangan kondisinya dengan memberikan bimbingan, pengarahan dan memilih pendekatan yang dianggap paling sesuai. BAB V PEMBAHASANA. Perencanaan Manajemen Kelas dalam Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang
  • 157. 1571. Analisis Masalah Manajemen Kelas a. Masalah Individual Pertama, siswa tidak mempunyai buku pegangan sendiri dan siswa yang terpaksa berdiam saja sambil mendengarkan penjelasan dari guru di bangku tempat ia duduk. Masalah ini juga ditemukan dalam teori T. Raka Joni yang menyatakan bahwa salah satu masalah individu yang terjadi di dalam kelas ialah peragaan ketidakmampuan, yaitu dalam bentuk sama sekali menolak untuk mencoba melakukan apa pun karena yakin hanya kegagalanlah yang menjadi bagiannya. Kedua, kurangnya konsentrasi/fokus siswa terhadap pelajaran yang sedang dibahas. Siswa dapat berkonsentrasi/memusatkan pikirannya pada pelajaran dengan baik, tergantung dari cara guru dalam mengelola kelas baik secara fisik maupun non-fisik. Sehingga, apabila siswa sudah merasa nyaman, tenang dan senang berada di dalam kelas dengan sendirinya akan melupakan hal lain dan mulai berkonsentrasi pada pelajaran. Ketiga, siswa kurang aktif dalam mengajukan pertanyaan saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Sikap siswa yang seperti ini biasanya didukung dengan kondisi yang tidak bersahabat dengannya. Selain itu, kurangnya motivasi dari dalam dirinya bahwasanya dia belajar di bangku sekolah membawa segudang harapan. Kalau bermalas-malasan apa kata dunia?.
  • 158. 158 Keempat, menarik perhatian orang lain, misalnya berusaha menarik perhatian teman sebangkunya untuk ikut kegiatan kecil yang dia lakukan saat itu. Entah diajak berbincang-bincang, berbisik-bisik, menggoda teman sebangkunya dengan menggelitik, mengajak temannya bercanda, sengaja menjatuhkan alat tulis ke lantai sehingga dapat menarik perhatian orang lain, dan sebagainya. Tingkah laku pencari perhatian ini tergolong aktif. Tingkah laku ini dapat dijumpai pada anak-anak yang suka pamer, membikin onar, melawak, terus menerus bertanya, memperlihatkan kenakalan dan sebagainya.b. Masalah Kelompok Kurangnya kohesifnya kelompok dalam suatu kelas ditandai dengan adanya konflik di antara para anggota kelompok. Misalnya konflik antara siswa-siswi dan kelompok yang disebabkan perbedaan jenis kelamin, suku, dan agama. Dapat dibayangkan bahwa kelas terdiri dari siswa-siswi yang tidak kompak akan beriklim tidak sehat yang diwarnai adanya ketegangan, kekerasan dan konflik. Masalah-masalah kelompok tersebut diantaranya sebagian siswa mereaksi negatif terhadap salah seorang anggotanya, misalnya saja mengejek ketika salah satu seorang yang membaca buku salah melafalkan pengucapannya. Selain itu, terkadang beberapa kelompok siswa cenderung
  • 159. 159 mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah dikerjakan dan semangat kerja rendah, artinya siswa malas mengerjakan tugas dari guru.2. Desain Kegiatan Belajar Mengajar a. Menyusun Silabus Silabus merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran, pengelolaan kelas, dan penilaian hasil belajar. Pembuatan silabus ini disesuaikan dengan karakter materi yang sesuai kurikulum dan dipertimbangkan berdasarkan ciri dan kebutuhan daerah setempat. Kemudian disesuaikan pula dengan karakteristik, potensi, dan kebutuhan peserta didik. Silabus ini dibuat oleh masing-masing guru mata pelajaran untuk membantu guru yang bersangkutan dalam menjabarkan kompetensi dasar menjadi perencanaan belajar mengajar, yakni menyangkut kompetensi apa yang akan dikembangkan pada siswa?; bagaimana cara mengembangkannya?; bagaimana cara mengetahui bahwa kompetensi sudah dikuasai oleh siswa?. b. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
  • 160. 160 Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) terlebih dahulu sebelum mengajar merupakan bagian yang penting dalam proses belajar mengajar. Dengan adanya RPP ini, seorang guru merasa lebih percaya diri dan berwibawa dalam berinteraksi dengan siswa di dalam kelas, karena mempunyai pedoman/panduan dalam mengajar. Penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran ini disesuaikan dengan karakter materi yang sesuai kurikulum dan dipertimbangkan berdasarkan ciri dan kebutuhan daerah setempat. Kemudian disesuaikan pula dengan karakteristik, potensi, dan kebutuhan peserta didik. Hal ini dilakukan sebelum pelaksanaan pengelolaan kelas demi memperoleh dan mencapai tujuan pembelajaran yang sebaik-baiknya.c. Menyusun Kalender Pendidikan, Prota dan Promes Selain menyusun silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran, seorang guru sebagai manajer dalam kegiatan belajar mengajar, maka perlu mengetahui sekaligus menyusun perangkat dan instrumen lain. Sebab, perangkat-perangkat pembelajaran tersebut juga mempengaruhi pembelajaran. Perangkat pembelajaran tersebut diantaranya kalender pendidikan, prota, promes, dan pedoman belajar.d. Strategi Pembelajaran Secara khusus, dalam kaitannya dengan belajar mengajar, istilah strategi merupakan daya upaya guru dalam menciptakan suatu sistem
  • 161. 161lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses mengajar. Maksudnyaagar tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dapat tercapai secaraberdaya guna dan berhasil guna. Strategi berupa pilihan pola kegiatan belajarmengajar yang diambil untuk mencapai tujuan secara efektif. Suatu pembelajaran dapat dikatakan efektif, apabila di dalampembelajaran tercipta suasana yang harmonis dan komunikatif, yang dapatmembangkitkan motivasi belajar siswa sehingga siswa senang belajar. Halini merupakan tugas seorang guru terkait dengan prestasi belajar sertasenantiasa memberikan bimbingan dan pengarahan pada siswa denganmenggunakan berbagai strategi pembelajaran. Tindakan pengelolaan kelasseorang guru akan efektif apabila ia dapat mengidentifikasi dengan tepathakikat masalah yang dihadapi, sehingga pada gilirannya ia dapat memilihstrategi pembelajaran yang tepat pula. Adapun strategi pembelajaranPendidikan Agama Islam di SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen adalahsebagai berikut:1) Memilih Cara Belajar Mengajar yang Efektif Pemilihan cara belajar mengajar yang paling efektif dimaksudkan untuk mencapai sasaran. Bagaimana seorang guru memandang suatu masalah dan teori apa yang digunakan dalam memecahkan masalah tersebut guna mencapai hasil yang diharapkan. Dalam memilih cara belajar mengajar yang efektif harus dapat memotivasi siswa untu mau berfikir, ia mampu menerapakan
  • 162. 162 pengetahuan dan pengalamannya untuk memecahkan suatu topik permasalahan, mendorong siswa mampu berfikir bebas dan cukup keberanian untuk mengemukakan pendapatnya sendiri. Dalam hal ini, seorang guru dituntut untuk mampu memilih cara belajar mengajar yang efektif dan tentunya relevan dengan masa sekarang.2) Menggunakan Metode yang Bervariasi Cara atau pendekatan dalam belajar mengajar yang bervariasi harus disesuaikan dengan materi yang diperbincangkan saat itu. Suatu topik materi tertentu dipelajari atau dibahas dengan cara menghafal, akan berbeda hasilnya kalau dipelajari atau dibahas dengan caca diskusi atau seminar, juga akan lain hasilnya andai kata topik materi yang sama dibahas dengan menggunakan kombinasi berbagai teori. Perlu digaribawahi, dalam memilih cara belajar yang efektif memang disesuikan dengan topik materi yang dipelajari, akan tetapi hal itu dilakukan dengan tanpa mengabaikan karekteristik siswa. Jika beberapa tujuan pembelajaran ingin diperoleh, maka guru dituntut memiliki kemampuan tentang penggunaan berbagai metode atau mengkombinasikan beberapa metode yang relevan. Cara penyajian yang satu mungkin lebih menekankan kepada peranan siswa, sementara metode yang lain lebih terfokus kepada peranan guru atau pada alat-alat pengajaran seperti buku, atau mesin komputer, dan lain-lain. Ada pula metode yang lebih berhasil bila dipakai untuk siswa dalam jumlah
  • 163. 163 terbatas atau dalam mempelajari topik materi tertentu. Demikian juga bila kegiatan balajar mengajar berlangsung di dalam kelas, di perpustakaan, di laboratorium, di masjid, atau di kebun, tentu metode yang diperlukan berbeda. 3) Memberikan Contoh yang Baik terhadap Siswa Pada dasarnya, di dalam mengajar dan mendidik, guru harus menekankan hal-hal positif dan menghindarkan pemusatan perhatian siswa pada hal-hal yang negatif. Salah satu caranya memberikan contoh yang baik terhadap siswa. Semua itu dapat diterapkan dengan penanaman sikap disiplin dengan datang di kelas tepat waktu. Penanaman sekaligus pengembangan sikap disiplin siswa ini merupakan tujuan akhir dari pengelolaan kelas. Untuk itu, guru harus selalu mendorong siswa untuk melaksanakan disiplin diri sendiri, dan guru sendiri hendaknya menjadi contoh atau teladan tentang pengendalian diri dan pelaksanaan tanggung jawab.e. Pengembangan Sumber Belajar Sumber belajar berfungsi sebagai informasi yang disajikan dan disimpan dalam berbagai bentuk media, yang dapat membantu siswa dalam belajar sebagai perwujudan dari kurikulum. Salah satu contoh pengembangan sumber belajar memanfaatkan kelas dan masjid sebagai sumber belajar.
  • 164. 164 Memanfaatkan kelas dan masjid sebagai sumber belajar sangat berperan aktif dalam menunjang kegiatan belajar mengajar. Dengan adanya kelas sebagai ruang belajar setiap hari dan masjid sebagai tempat untuk melaksanakan sholat dhuha berjamaah sekaligus sebagai tempat peragaan/praktik sholat dari teori yang telah didapat di dalam kelas. Keduanya saling berkaitan dan tidak dapat dipisahan. Keduanya saling melengkapi kekurangan yang satu dengan yang lainnya.f. Pengembangan Bahan Ajar Bahan ajar berfungsi sebagai bahan yang digunakan untuk membantu guru dalam kegiatan proses belajar mengajar. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis dan bahan tidak tertulis. Dengan bahan ajar memungkinkan siswa dapat mempelajari suatu kompetensi atau kompetensi dasar secara runtut dan sistematis sehingga secara akumulatif mampu menguasai semua kompetensi secara utuh dan terpadu. Salah satu pengembangan bahan ajar ini dapat dilakukan dengan membuat buku diklat/rangkuman sebagai materi tambahan. Dalam pengembangan bahan ajar ini, seorang guru dituntut kreatif memanfaat sarana dan prasarana yang ada sesuai denga situasi dan kondisi lingkungan belajar mengajar.
  • 165. 165B. Pelaksanaan Manajemen Kelas dalam Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang Pelaksanaan manajemen kelas yang efektif dalam pembelajaran ketika dapat mewujudkan kondisi kelas sebagai lingkungan pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan kemampuan seoptimal mungkin, menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi interaksi pembelajaran, menyediakan dan mengatur fasilitas yang mendukung siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional dan intelektual siswa, serta dapat membimbing siswa sesuai dengan latar sosial, ekonomi, budaya dan sifat/karakter siswa yang berbeda. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan pembelajaran perlu diketahui kondisi dan masalah yang terjadi pada siswa pada saat pembelajaran berlangsung. Adapun upaya-upaya yang dilakukan guru dalam manajemen kelas adalah: 1. Tindakan-tindakan dalam Manajemen Kelas Setiap ada permasalahan yang terkait dengan sikap siswa dan masalah ekstern lainnya, seorang guru berusaha untuk mencari solusinya agar tanggung jawab guru berfungsi dengan maksimal. Dengan diterapkannya konflik kelas maka akan mengurangi masalah yang terjadi dalam pembelajaran. Beberapa usaha preventif yang dilakukan untuk mengatasi masalah adalah sebagai berikut:
  • 166. 166a. Membuat Buku Diklat/Rangkuman yang Dijadikan Hand Out Guru perlu menyediakan dan mengatur fasilitas serta media pembelajaran yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional dan intelektual siswa, serta membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar sosial, ekonomi, budaya dan sifat/karakter siswa yang berbeda dengan sikap tulus dan hangat. Dengan membuat buku diklat/rangkuman yang dijadikan hand out diharapkan dapat memudahkan siswa dalam belajar.b. Memotivasi Siswa agar Konsentrasi pada Pelajaran Siswa dapat berkonsentrasi/memusatkan pikirannya pada pelajaran dengan baik, tergantung dari cara guru dalam mengelola kelas baik secara fisik maupun non-fisik. Jadi, seorang guru harus selalu memberi semangat terhadap siswanya agar konsentrasi dalam belajar.c. Merangsang Siswa agar Bertanya dan Aktif di Kelas Dalam hal ini, seorang guru dengan berbekal kesabaran, harus senantiasa membuat siswa belajar lebih aktif, artinya guru memberikan kebebasan bagi siswa untuk melakukan aktivitas yang disenanginya dalam proses belajar mengajar. Guru tidak menuntut suasana kelas harus sepi, tenang dan siswa hanya diam saja mendengarkan penjelasan dari guru, akan tetapi dengan melibatkan seluruh siswa dalam kelas akan jauh lebih efektif untuk menggali potensi yang dimiliki masing-masing siswa.
  • 167. 1672. Iklim/Suasana Kelas a. Ruang Kelas Ruangan tempat berlangsungnya proses belajar mengajar harus cukup memadai, memungkinkan semua siswa bergerak leluasa tidak berdesak- desakan dan saling mengganggu antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya pada saat melakukan aktivitas belajar. Besarnya ruangan kelas tergantung pada jenis kegiatan dan jumlah siswa yang melakukan kegiatan. Jika ruangan tersebut mempergunakan hiasan, hendaknya menggunakan hiasan-hiasan yang mempunyai nilai pendidikan. b. Pengaturan Tempat Duduk dibuat Bervariasi agar Tidak Monoton Dalam mengatur tempat duduk yang penting adalah memungkinkan terjadinya tatap muka. Dengan demikian, guru dapat mengontrol tingkah laku siswa. Pengaturan tempat duduk yang bervariasi, tidak monoton, dimaksudkan agar ada variasi suasana kelas sehingga siswa tidak bosan dalam belajar. Pengaturan tempat duduk akan mempengaruhi kelancaran proses belajar mengajar di kelas. c. Ventilasi, Pengaturan Cahaya serta Penyimpanan Barang-barang Ventilasi dan penerangan adalah aset penting untuk terciptanya suasana belajar yang nyaman. Oleh karena itu ventilasi harus cukup menjamin kesehatan siswa. Penataan ruangan yang baik apabila menunjang efektifitas proses belajar mengajar yang salah satu petunjuknya adalah
  • 168. 168 bahwa anak-anak belajar dengan aktif dan guru dapat mengelola kelas dengan baik. Penataan ruang tersebut bersifat fleksibel sehingga perubahan dari satu tujuan ke tujuan yang lain dapat dilakukan sedemikian rupa sehingga sesuai dengan sifat kegiatan yang dituntut oleh tujuan yang akan dicapai pada waktu itu. Penataan ruang dan fasilitas yang ada di kelas harus mampu membantu siswa meningkatkan motivasi siswa untuk belajar sehingga mereka merasa senang belajar. Indikator ini tentu tidak dengan segera diketahui, tetapi guru yang berpengalaman akan dapat melihat apakah siswa belajar dengan senang atau tidak.3. Metode Pembelajaran Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru dan penggunaannya yang bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pembelajaran berakhir. Seorang guru tidak akan dapat melaksanakan tugasnya, bila tidak menguasai metode mengajar. Oleh karena itu, di sinilah kompetensi guru diperlukan dalam pemilihan metode yang tepat. Dengan menguasai dari berbagai macam metode dan bisa menempatkan pada situasi dan kondisi yang sesuai dengan keadaan siswa. Penggunaan metode harus mampu mencapai sasaran yang komprehensip, yaitu menyentuh ranah kognitif, afektif dan psikomotorik siswa, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai sesuai dengan
  • 169. 169yang diharapkan. Di bawah ini beberapa metode yang digunakan dalampembelajaran, yaitu:a. Ceramah Ceramah adalah suatu penjelasan secara verbal yang bersifat satu arah. Dalam aplikasinnya sebagai metode pengajaran, metode ceramah merupakan sebuah interaksi melalui penerangan dan penuturan secara lisan oleh guru. Dalam penerapan metode ceramah ini guru merupakan sumber yang sangat penting dalam belajar mengajar, karena kedudukan guru sebagai seorang informan yang pertama didalam kelas, sehingga dalam metode cermah ini seorang guru harus mengetahui informasi-informasi yang berhubungan dengan materi yang akan disampaikan kepada siswa, sehingga diharapkan akan menguasai, memahami materi yang disampaikan oleh guru dengan mengetahui perubahan yang terjadi pada siswa-siswanya.b. Driil Metode drill adalah satu kegiatan melakukan hal yang sama, berulang- ulang secara sungguh-sungguh dengan tujuan untuk memperkuat suatu asosiasi atau menyempurnakan suatu ketrampilan agar menjadi bersifat permanen. Ciri yang khas dari metode ini adalah kegiatan berupa pengulangan yang berkali-kali dari suatu hal yang sama. Dengan demikian terbentuklah pengetahuan-siap atau ketrampilan-siap yang setiap saat siap untuk dipergunakan oleh yang bersangkutan.
  • 170. 170c. Tanya Jawab Interaktif Metode tanya jawab adalah suatu cara mengajar dimana guru mengajukan beberapa pertanyaan dan siswa memberikan jawaban sebagaimana yang telah diajarkan. Penggunaan metode tanya jawab dapat dinilai sebagai metode yang cukup wajar dan tepat, karena suasana/situasi akan lebih hidup, karena siswa dirangsang untuk berfikir aktif. Kelebihan dari metode tanya jawab ini adalah sebagai berikut: 1) Sebagai positif untuk melatih keberanian siswa mengemukakan pendapatnya dengan lisan. 2) Memberikan dorongan aktifitas dan kesungguhan siswa, dalam arti siswa yang biasanya segan mencurahkan perhatian akan lebih berhati-hati dan aktif mengikuti pelajaran. 3) Walaupun prosesnya agak lambat namun secara pasti guru dapat mengontrol pemahaman atau pengertian siswa sesuai pada masalah yang dibicarakan. 4) Bila dibanding dengan metode ceramah, metode tanya jawab dapat membangkitkan aktifitas siswa.d. Peragaan/Praktik Metode peragaan/praktek adalah metode pengajaran dimana guru atau orang lain sengaja diminta atau siswa sendiri memperlihatkan kepada
  • 171. 171 seluruh kelas suatu proses atau suatu cara melakukan sesuatu. Dengan menggunakan metode ini, siswa dapat menghayati dengan sepenuh hati mengenai pelajaran yang diberikan, perhatian anak dapat terpusat pada hal penting yang di demonstrasikan, mengurangi kesalahan dalm mengambil kesimpulan dari apa yang diterangkan guru secara lisan maupum tulisan karna siswa memperoleh gambaran melalui pengamatan langsung perhadap suatu proses, masalah yang mungkin timbul dalam hati siswa dapat langsung terjawab.4. Penggunaan Media Penggunaan media memang memang turut mempengaruhi iklim, kondisi dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru. Pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, bahkan membantu pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Media yang digunakan sebaiknya tidak monoton agar siswa tidak merasa bosan dan jenuh dalam belajar. Beberapa media yang digunakan dalam pembelajaran dapat digolongkan menjadi media berbasis manusia yaitu guru itu sendiri, media berbasis cetakan yaitu berupa buku dan LKS, media berbasis visual yaitu berupa OHP, dan media berbasis komputer yaitu LCD.
  • 172. 172 5. Pola Interaksi Suatu pembelajaran dapat dikatakan efektif, apabila terjadi interaksi yang baik antara guru dengan siswa dan bertujuan untuk mencapai suatu tujuan belajar tertentu dengan cara memfasilitasi pengetahuan dan keterampilan siswa melalui kegiatan/aktivitas yang dapat membantu dan memudahkan siswa dalam belajar. Interaksi yang baik adalah interaksi edukatif yang terjadi tidak hanya di dalam kelas, akan tetapi juga terjadi di luar kelas, karena keduanya dapat membangkitkan semangat/motivasi belajar siswa.C. Evaluasi Manajemen Kelas dalam Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang Sebagai alat penilaian hasil pencapaian tujuan dalam pengajaran, evaluasi harus dilaksanakan secara terus menerus. Evaluasi tidak hanya sekedar menentukan angka keberhasilan belajar. Tetapi yang lebih penting adalah sebagai dasar untuk umpan balik (feed back) dari proses interaksi edukatif yang dilaksanakan dalam pembelajaran. Dengan demikian, dengan adanya evaluasi akan memberikan tujuan kepastian mengenai keberhasilan belajar dan memberikan masukan kepada guru mengenai pengajaran yang dia lakukan dalam pembelajaran. Di bawah ini akan diuraikan mengenai tujuan dari evaluasi. 1. Tujuan Evaluasi Evaluasi pembelajaran dilaksanakan untuk mengetahui efektifitas pembelajaran dan pemahaman setiap siswa terhadap materi yang telah
  • 173. 173 disampaikan oleh guru. Dengan begitu maka efektifitas pembelajaran akan terlihat. Di sana juga mengandung tujuan dari evaluasi itu sendiri. a. Tujuan Umum Tujuan umum evaluasi untuk memperoleh bahan laporan tentang perkembangan siswa yang diperlukan orang tua dan lembaga pendidikan yang pada akhirnya akan diketahui data-data yang membuktikan taraf kemajuan siswa dalam mencapai tujuan yang diharapkan, yakni untuk memperbaiki mutu pelajaran. b. Tujuan Khusus Sebagai penilaian hasil belajar siswa dan metode guru yang digunakan saat kegiatan proses belajar mengajar berlangsung, sehingga guru mampu memberikan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan, perkembangan dan bakat siswa yang bersangkutan.2. Bentuk Evaluasi Bentuk evaluasi yang sudah umum adalah tertulis dan praktik. Keduanya baik evaluasi tertulis maupun evaluasi praktik terdapat beberapa kekurangan dan perbedaan, kedua bentuk evaluasi tersebut tidak dapat dipisahkan. Sebelum praktik membutuhkan teori. Teori pun juga perlu dipraktikkan agar bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari- hari. Evaluasi juga tidak boleh dilakukan dengan sekehendak hati guru, siswa yang cantik diberikan nilai tinggi dan siswa yang tidak cantik diberikan
  • 174. 174 nilai rendah. Evaluasi dilakukan dengan pertimbangan-pertimbangan yang arif dan bijaksana, sesuai dengan hasil kemajuan belajar yang ditunjukkan oleh siswa.3. Tindak Lanjut setelah Diadakan Evaluasi Perbaikan adalah salah satu langkah yang perlu dilakukan setelah diadakan evaluasi. Perbaikan tidak hanya sekedar dilakukan sekali atau dua kali saja. Namun perbaikan harus dilakukan secara terus menerus sama halnya denga evaluasi. Dengan terus menerus berusaha memperbaiki kekurangan, sedikit demi sedikit sesuatu tersebut akan menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Tindak lanjut ini juga dapat dilakukan dengan istilah monitoring yaitu pengawasan yang objektif terhadap hasil evaluasi. Langkah monitoring ini pada hakekatnya ditujukan untuk mengkaji akibat dari apa yang telah terjadi. Apakah ada perkembangan setelah diadakan evaluasi, ataukah sebaliknya. Maka dari itu, guru harus terus memantau dan memberikan perhatian kepada siswa agar mengetahui perubahan dan perkembangan kondisinya dengan memberikan bimbingan, pengarahan dan memilih pendekatan yang dianggap paling sesuai.
  • 175. 175 BAB VI PENUTUPA. Kesimpulan Dari hasil penelitian yang telah dipaparkan, maka penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa: Manajemen kelas (yang terdiri dari perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran) di SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen terealisasi dengan baik sehingga dapat meningkatkan efektifitas proses belajar mengajar Pendidikan Agama Islam. 1. Perencanaan Manajemen Kelas dalam Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen adalah: a. Analisis Masalah Manajemen Kelas: 1) Masalah Individual: siswa tidak mempunyai buku pegangan sendiri; kurangnya konsentrasi siswa terhadap pelajaran; siswa kurang aktif; menarik perhatian orang lain. 2) Masalah Kelompok: sebagian siswa mereaksi negatif terhadap salah seorang anggotanya, beberapa kelompok siswa cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah dikerjakan dan semangat kerja/belajar rendah. b. Desain Kegiatan Belajar Mengajar: 1) menyusun silabus yang disesuaikan dengan karakteristik materi; dipertimbangkan berdasarkan ciri dan kebutuhan daerah setempat;
  • 176. 176 2) menyusun RPP disesuaikan dengan karakteristik, potensi, kebutuhan dan keinginan siswa. 3) strategi pembelajaran: a) memilih cara belajar mengajar yang efektif; b) menggunakan metode yang bervariasi; c) memberikan contoh yang baik terhadap siswa, 4) pengembangan sumber belajar: memanfaatkan kelas dan masjid, 5) pengembangan bahan ajar: membuat buku diklat/rangkuman.2. Pelaksanaan Manajemen Kelas dalam Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen adalah: a. Tindakan-tindakan dalam Manajemen Kelas: 1) membuat buku diklat/rangkuman; 2) memotivasi siswa agar konsentrasi pada pelajaran, 3) merangsang siswa agar aktif di kelas. b. Iklim/suasana kelas: 1) ruang kelas cukup memadai; 2) pengaturan tempat duduk dibuat bervariasi; 3) ventilasi, pengaturan cahaya serta penyimpanan barang-barang di dalam kelas baik, c. Metode Pembelajaran: ceramah, drill, tanya jawab interaktif, dan peragaan, disesuaikan dengan kondisi pada saat itu. d. Media Pembelajaran: buku, Lembar Kerja Siswa (LKS), LCD, dan OHP, memfasilitasi siswa dalam belajar. e. Pola interaksi: baik (interaksi edukatif antara personal).3. Evaluasi Manajemen Kelas dalam Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen adalah: meningkatkan hasil belajar siswa.
  • 177. 177B. Saran-saran Berdasarkan hasil penelitian, penulis memberikan saran-saran sebagai berikut: 1. Bagi SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Penulis mempunyai harapan agar pelaksanaan manajemen kelas yang ada di SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen di masa yang akan datang akan menjadi lebih baik dari masa sekarang yaitu dapat meningkatkan penerapan pelaksanaan manajemen kelas yang lebih efektif lagi sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu. 2. Bagi Siswa-siswi Diharapkan agar lebih meningkatkan kesadaran pada dirinya masing- masing untuk dapat belajar dengan giat dan sungguh-sungguh sesuai dengan cara/metode yang diberikan guru melalui bimbingan atau pengarahan. Sebagai siswa yang baik, harus ikut bertanggung-jawab dan berperan aktif dalam proses pendidikan agar manajemen kelas dapat berjalan efektif sesuai dengan apa yang kita harapkan bersama.
  • 178. 178 3. Bagi Sekolah Lainnya Diharapkan bagi sekolah lain menjadikannya sebagai contoh pemikiran dan pelaksanaan bagi perkembangan mutu kegiatan proses belajar mengajar secara efektif melalui manajemen kelas yang baik. DAFTAR PUSTAKAAhmadi, Abu & Joko Tri Prasetyo. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia.Arikunto, Suharsimi. 1993. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.____________, Suhardjono & Supardi. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.Arsyad, Azhar. 2008. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.Bahri, Syaiful Djamarah. 2005. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta._________ & Aswan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.Fattah, Nanang. 2009. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.Komariah, Aan & Cepi Triatna. 2006. Visionary Leadership: Menuju Sekolah Efektif. Jakarta: Bumi Aksara.Majid, Abdul. 2008. Perencanaan Pembelajaran: Mengembangkan Standart Kompetensi Guru. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  • 179. 179Majid, Abdul & Dian Andayani. 2006. Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi: Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004. Bandung: Remaja Rosdakarya.Marno, Siti Kusrini & Sutiah. 2009. Ketrampilan Dasar Mengajar (PPL 1). Malang: Fakultas Tarbiyah.Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.Mulyadi. 2009. Classroom Management. Malang: UIN-MALANG PRESS.Mulyasa. E. 2008. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.________. 2008. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung: Remaja Rosdakarya.Nasution S. 2006. Metode Research Penelitian Ilmiah. Jakarta: Bumi Aksara.Partanto, Pius A & M. Dahlan Al Barry. 1994. Kamus Ilmiah Populer. Surabaya: Arkola.Redaksi Sinar Grafika. 2008. UU Sistem Pendidikan Nasional (UU RI No.20 Tahun. 2003). Jakarta: Sinar Grafika.Rohani, Ahmad. 2004. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.__________& Abu Ahmadi. 1991. Pedoman Penyelenggaraan Administrasi Pendidikan Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara.Saroni, Muhammad. 2006. Manajemen Sekolah. Yogyakarta: Ar-Ruzz.Sunaryo. 1989. Strategi Belajar Mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial. Malang: IKIP Malang.Surachmad, Winarno. 1994. Pengantar Penelitian Ilmiah. Bandung: Tarsito.
  • 180. 180Suryabara, Sumadi. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.Suwarno, Wiji. 2006. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz.Syaodih, Nana Sukmadinata. 2007. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.Tafsir, Ahmad. 2007. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya.Uzer, Moh. Usman. 2010. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.Wijaya, Cece. 1994. Kemampuan Dasar Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. cet.IV.Yasin, A. Fatah. 2008. Dimensi-dimensi Pendidikan Islam. Malang: UIN-PRESS MALANG.Zuhairini & Abdul Ghofir. 2004. Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Malang: Universitas Negeri Malang.
  • 181. 181LAMPIRAN-LAMPIRAN
  • 182. 182 KEMENTERIAN AGAMA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG FAKULATS TARBIYAH Jln. Gajayana 50 Tlpn. (0341) 551354 Faks (0341) 572533 Malang 65144 BUKTI KONSULTASINama : Nafi’ Fadlilah HayatiNIM/ Jurusan : 06110040/ PAIPembimbing : Marno, M.AgJudul Skripsi : Manajemen Kelas Dalam Meningkatkan Efektifitas Proses Belajar Mengajar PAI di SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang. No. Tanggal Materi Konsultasi Ttd Pembimbing
  • 183. 1831 4 Maret 2010 Konsultasi Awal (Proposal)2 9 Maret 2010 Konsultasi Bab I, Bab II, Bab III3 16 Maret 2010 Konsultasi Revisi Bab I, Bab II, Bab III4 17 Maret 2010 Konsultasi Revisi Bab I, Bab II, Bab III5 23 Maret 2010 Konsultasi Revisi Bab I, Bab II, Bab III6 24 Maret 2010 ACC Bab I, Bab II, Bab III7 29 Maret 2010 Konsultasi Bab IV8 30 Maret 2010 Konsultasi Revisi Bab IV9 31 Maret 2010 Konsultasi Revisi Bab IV10 8 April 2010 Konsultasi Bab V11 9 April 2010 Konsultasi Revisi BabV12 28 Mei 2010 Konsultasi Bab VI13 12 Juni 2010 Konsultasi Revisi Bab VI14 9 Juli 2010 Konsultasi Skripsi Keseluruhan15 12 Juli 2010 ACC Malang, Juli 2010 Dekan
  • 184. 184 Dr. H. M. Zainuddin, MA NIP. 196205071995031001 KEMENTERIAN AGAMA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG FAKULTAS TARBIYAH Jalan Gajayana No. 50 Telepon (0341) 552398 Faksimile (0341) 552398Nomor : Un. 3.1/TL.00/114/2010 19 Pebruari 2010Lampiran : 1 (satu) berkas proposalPerihal : Penelitian Kepada Kepala SMA Muhamadiyah I Kepanjen-Malang di Malang
  • 185. 185Assalamu’alaikum Wr. Wb.Dengan ini kami mengharap dengan hormat agar mahasiswa dibawah ini:Nama : Nafi’ Fadlilah HayatiNIM : 06110040Jurusan : Pendidikan Agama IslamSemester/ Th. Ak : Genap, 2009/2010Judul Skripsi : Implementasi Manajemen Kelas dalam Meningkatkan Efektifitas Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam di SMA Muhamadiyah 1 Kepanjen Malangdalam rangka menyelesaikan skripsinya, yang bersangkutan mohondiberikan izin/kesempatan untuk mengadakan penelitian dilembaga/instansi yang menjadi wewenang Bapak/Ibu.Demikian atas perkenan dan kerjasama Bapak/Ibu disampaikan terimakasih.Wassalamu’alaikum Wr. Wb. Dekan, Dr. H. M. Zainuddin, MA NIP. 19620507 199503 1 001
  • 186. 186KELAS XI IPA / Semester 1 AL ISLAM No NILAI RAPOR KKM L/PNO Nama Induk / C SKM A B agk hrf1 2 3 4 5 6 7 8 91 Agung Dwi Pamungkas L 3441 85 80 80 B 802 Alen Anggraeni P 3443 86 85 85 B 803 Anisa Kasih Abadi P 3445 85 85 85 B 804 Arsita Fitri Suhartanti P 3448 85 85 85 B 805 Atik Wijayanti P 3449 81 80 80 B 806 Defri Sherujadi Felani L 3450 83 85 80 B 807 Denik Eva S P 3451 91 90 90 B 80
  • 187. 1878 Devi Lestari P 3507 80 80 80 B 809 Eka Fasi Agustina P 3454 84 85 85 B 8010 Elys Setyorini P 3456 80 80 80 B 8011 Enis Elok Ainun Nisa P 3457 84 80 85 B 8012 Farida Riska P 3458 84 85 85 B 8013 Fifit Triani P 3459 91 90 85 B 8014 Girlya Riki Rinenci P 3463 88 85 85 B 8015 Kusti Chotimah P 3471 88 85 85 B 8016 Linda Aprilia Setiorini P 3473 86 85 85 B 8017 Linda Laila P 3474 82 85 85 B 8018 Mega Himatul Habiba P 3476 86 90 90 B 8019 Nita Anggraini P 3459 87 85 85 B 8020 Nur Holilah P 3463 83 80 80 B 8021 Prisma Anisa Sari P 3486 80 80 80 B 8022 Reni Eka Purwanti P 3487 93 90 90 B 8023 Rica Armilia P 3488 90 90 90 B 8024 Rida Irjila P 3509 96 90 90 B 8025 Sinta Winda Khotimah P 3494 88 90 85 B 8026 Siti Robianida P 3496 93 90 90 B 8027 Siti Rohima P 3497 93 90 90 B 8028 Siti Rohma P 3498 93 90 90 B 8029 Umi Nurjanah P 3501 86 85 85 B 8030 Vokalia Meygawati P 3502 84 85 85 B 8031 Widya Astutik P 3504 92 90 90 B 80KELAS XI IPS / Semester 1 AL ISLAM No NILAI RAPOR KKM L/PNO Nama Induk / C SKM A B agk hrf1 2 3 4 5 6 7 8 91 Ahmad Asrori Wibowo L 3442 81 80 86 B 802 Ana Rosdiana P 3444 82 85 84 B 80
  • 188. 1883 Andri Setyo Suyono L 80 80 75 B 804 Ara Osiris P 3511 82 80 80 B 805 Arief Efendi L 3447 80 75 75 B 806 Ari Darmawangsyah L 3446 82 80 80 B 807 Desinta Putri Amalia P 3452 85 85 85 B 808 Diana Indrawati P 3453 85 80 85 B 809 Elok Eka Pertiwi P 3455 90 80 85 B 8010 Farid Permana L 3510 80 75 70 C 8011 Fitri Aprolia P 3461 87 80 85 B 8012 Gatut Pringgo Utomo L 3462 80 75 75 B 8013 Iga Maya Sari P 3465 86 85 80 B 8014 Ika Kristiana P 3466 84 85 80 B 8015 Ilham Bahrudin R L 3467 83 80 80 B 8016 Imam Dzakarsih L 3468 80 70 70 C 8017 Irfan Ardiansyah L 3469 85 85 80 B 8018 Khoirul Rizal Imami L 3470 80 80 75 B 8019 Lia Wulandari P 3472 85 85 80 B 8020 Moh. Atok Illah L 3477 85 85 80 B 8021 Murni Diah Puspita Sari P 3478 83 80 80 B 8022 Nensi Wulandari P 3479 82 80 80 B 8023 Nur Susilo Wati P 3483 84 85 85 B 8024 Nurhadi Wijianto L 3481 80 70 70 C 8025 Perri Setyopurnomo L 3484 84 80 80 B 80 Rega Randa L 348526 Kurniawan 80 75 75 B 8027 Rosi Lestiawan L 3489 80 85 80 B 8028 Rudi Santoso L 3490 80 80 75 B 8029 Sabti Desy Wulansari P 3491 87 85 85 B 8030 Saiful Anwar L 3492 80 75 75 B 8031 Siska Nurhayati P 3495 84 80 80 B 8032 Sulistyowati P 3499 83 85 85 B 8033 Tantyo Prawirahadi L 3500 80 80 75 B 8034 Wawan Harianto L 3503 80 80 75 B 8035 Yuli Prihandini P 3506 83 85 80 B 80
  • 189. 189 36 Zulfatul Khoiriyah P 3508 83 85 80 B 80 37 Satria Bagus L 80 70 70 C 80 38 Wahyu Ika P 85 85 85 B 80 39 Alif Safitri P 81 80 80 B 80 Sandi Prasetya L 40 Arisona 80 70 70 C 80 41 Yusufa Ita Kumala P 3562 KS 80 INSTRUMEN PENELITIANA. INTERVIEWa. Informan: Kepala Sekolah 1. Bagaimana profil SMA Muhamadiyah 1 Kepanjen? 2. Bagaimana visi dan misi SMA Muhamadiyah 1 Kepanjen? 3. Bagaimana struktur organisasi SMA Muhamadiyah 1 Kepanjen? 4. Bagaimana keadaan guru SMA Muhamadiyah 1 Kepanjen? 5. Bagaimana keadaan siswa-siswi SMA Muhamadiyah 1 Kepanjen? 6. Bagaimana keadaan sarana dan prasarana SMA 1 Muhamadiyah Kepanjen?
  • 190. 190 7. Kurikulum seperti apa yang digunakan pada pengelolaan kelas Pendidikan Agama Islam? 8. Apa faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan proses belajar mengajar Pendidikan Agama Islam? 9. Bagaimana mengatasi setiap kendala yang muncul dalam pelaksanaan proses belajar mengajar Pendidikan Agama Islam?b. Informan: Guru PAI Rumusan Masalah 1 1. Bagaimana perencanaan manajemen/pengelolaan kelas Pendidikan Agama Islam di SMA Muhamadiyah 1 Kepanjen? 2. Bagaimana perencanaan strategi mengajar Pendidikan Agama Islam? 3. Bagaimana desain proses belajar mengajar terkait dengan penyusunan silabus? 4. Bagaimana desain proses belajar mengajar terkait dengan penyusunan RPP? 5. Bagaimana desain proses belajar mengajar terkait dengan penyusunan perangkat dan instrumen lainnya yaitu instrumen keras (hardware), seperti gedung perlengkapan belajar, alat-alat praktikum, perpustakaan, dsb dan lunak (software), seperti kurikulum, prota, promes, bahan/program yang harus dipelajari, pedoman belajar, dsb.? 6. Bagaimana pengembangan sumber belajar dan bahan ajar Pendidikan Agama Islam? Rumusan Masalah 2 1. Bagaimana pelaksanaan manajemen/pengelolaan kelas Pendidikan Agama Islam? 2. Apa saja masalah siswa yang terjadi ketika berlangsungnya proses belajar mengajar di dalam kelas?
  • 191. 1913. Bagaimana usaha preventif yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut?4. Metode apa yang digunakan ketika proses belajar mengajar berlangsung?5. Apakah metode yang digunakan mencapai sasaran yang komprehensip siswa?6. Media apa yang digunakan ketika proses belajar mengajar berlangsung?7. Bagaimana respon & reaksi siswa ketika proses belajar mengajar berlangsung?8. Kurikulum seperti apa yang dipergunakan pada pengelolaan kelas Pendidikan Agama Islam?9. Apa faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan proses belajar mengajar?10. Bagaimana mengatasi setiap kendala yang muncul dalam pelaksanaan proses belajar mengajar?11. Bagaimana suasana kelas ketika proses belajar mengajar berlangsung?12. Bagaimana keadaan ruang tempat berlangsungnya proses belajar mengajar?13. Bagaimana pengaturan tempat duduk siswa ketika proses belajar mengajar berlangsung?14. Bagaimana ventilasi dan pengaturan cahaya serta pengaturan penyimpanan barang-barang di dalam kelas?15. Bagaimana pola interaksi yang terjadi di dalam kelas ketika proses belajar mengajar berlangsung?16. Bagaimana pula pola interaksi yang terjadi di luar kelas?17. Apakah kedua interaksi tersebut dapat membangkitkan semangat/motivasi belajar siswa?Rumusan Masalah 31. Bagaimana sistem evaluasi manajemen/pengelolaan kelas Pendidikan Agama Islam?2. Jenis evaluasi apa yang Anda gunakan untuk mengevaluasi hasil belajar siswa? Apa kelebihan dan kekurangannya?
  • 192. 192 3. Apakah tujuan umum diadakannya evaluasi?Mengapa? 4. Apakah tujuan khusus diadakannya evaluasi?Mengapa? 5. Bagaimana tindak lanjut dari hasil evaluasi?Informan: Siswa Kelas XI 1. Bagaimana proses belajar mengajar Pendidikan Agama Islam di kelas? 2. Apakah metode, sarana & prasarana yang digunakan guru mampu membantu kelancaran proses belajar mengajar Pendidikan Agama Islam di kelas? 3. Bagaimana pola interaksi antara siswa dan guru selama berlangsungnya pelaksanaan proses belajar mengajar? 4. Apakah pola interaksi tersebut dapat membangkitkan semangat/motivasi belajar? 5. Apa faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan proses belajar mengajar? 6. Kendala-kendala apa saja yang muncul selama berlangsungnya pelaksanaan proses belajar mengajar? 7. Bagaimana mengatasi setiap kendala yang muncul dalam pelaksanaan proses belajar mengajar?B. DOKUMENTASI 1. Profil SMA Muhamadiyah 1 Kepanjen 2. Visi dan misi SMA Muhamadiyah 1 Kepanjen 3. Struktur organisasi SMA Muhamadiyah 1 Kepanjen 4. Daftar guru SMA Muhamadiyah 1 Kepanjen 5. Daftar siswa-siswi SMA Muhamadiyah 1 Kepanjen 6. Daftar sarana dan prasarana SMA Muhamadiyah 1 Kepanjen 7. Daftar mata pelajaran
  • 193. 1938. Kalender pendidikan9. Perangkat pembelajaran (prota, promes, RPP, Silabus)10. Kegiatan ekstrakurikuler11. Daftar nilai siswa DOKUMENTASI
  • 194. 194 Foto Wawancara dengan Kepala SekolahFoto Wawancara dengan Guru PAI/Keislaman
  • 195. 195Foto Wawancara dengan Siswa Kelas XIFoto Wawancara dengan Siswa Kelas XI
  • 196. 196Foto Wawancara dengan Siswa Kelas XIFoto Wawancara dengan Siswa Kelas XI
  • 197. 197Foto Wawancara dengan Siswa Kelas XI Foto Proses KBM di Kelas XI
  • 198. 198Foto Proses KBM di Kelas XIFoto Proses KBM di Kelas XI
  • 199. 199Foto Proses KBM di Kelas XIFoto Proses KBM di Kelas XI
  • 200. 200 DAFTAR RIWAYAT HIDUP PENULIS Nafi’ Fadlilah Hayati, S.PdI., lahir di Candipuro-Lumajang, Lumajang, 27 September 1987. Mahasiswi yang tengah menempuh S-1 S semester akhir ini merupakan anak kedua dari empatbersaudara, dari pasangan Amiruddin (alm.) dan Hutimah. Jenjang pendidikannya ra,dimulai pada taman sekolah anak anak, TK Dharma Wanita pada tahun 1992 sampai anak-anak,tahun 1994. Dilanjutkan ke sekolah dasar di SDN Sumberejo 1 kecamatan Candipuropada tahun 1994 sampai tahun 2000. Sekolah menengah pertama, SMP N 1 Pasiriankecamatan Pasirian pada tahun 2000 2003, dilanjutkan pada tahun 2003-2006 di 2000-2003, 2003SMA N 1 Lumajang. Pendidikan sarjana diselesaikan di jurusan Pendidikan AgamaIslam Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang pada tahu 2006-2010. tahun Mahasiswi yang menetap selama dua tahun di Ma’had Sunan Ampel Al Al-AlyUIN Maliki Malang ini pernah aktif di JDFI devisi kaligrafi Ma’had selama satusemester. Saat menempuh semester tiga dan empat, aktif di omik jurnalistik,INOVASI UAPM (Unit Aktivitas Pers Mahasiswa) UIN MALIKI Malang. Setelah lulus S- t S1, mahasiswi yang kemudian menetap di Jl. Simpang Sunan Kalijaga Kavling 8Malang ini akan kembali ke tanah kelahiran dengan membawa misi untuk kemajuanpendidikan, khususnya Pendidikan Islam.