Your SlideShare is downloading. ×
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Memasuki rumah cahaya by putu yudiantara (ebook gratis)

5,779

Published on

Ebook Memasuki rumah cahaya dari Putu Yudiantara www.putuyudiantara.net

Ebook Memasuki rumah cahaya dari Putu Yudiantara www.putuyudiantara.net

Published in: Education
0 Comments
30 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
5,779
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
64
Comments
0
Likes
30
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Memasuki Rumah Cahaya Memasuki Rumah Cahaya Putu Yudiantara 3
  • 2. Memasuki Rumah Cahaya Memasuki Rumah Cahaya © Putu Yudiantara, 2012 Layout : Surya Saputra Desain Sampul: Putu Yudiantara www.putuyudiantara.net www.twitter.com/LahirHidupMati 4
  • 3. Memasuki Rumah Cahaya Ucapan Terima Kasih Tuhanku, Yang Sempurna Guru-guruku yang Kesederhanaanya Menyejukan Kedua Orang Tuaku yang Mulia dan Bercahaya Kedua Adikku yang Aku Kasihi Sahabat-sahabatku yang Berharga, Kalian Sangat Berharga Dan Terakhir, Buku ini bisa diterbitkan dengan dorongan dan dukungan luar biasa dari Bpk. Wijaya Dharma, yang kehadiranya saja cukup untuk meneduhkan. 5
  • 4. Memasuki Rumah Cahaya Cahaya Mengundang Cahaya (Pengantar sederhana Gede Prama) Kegelapan di mana-mana, mungkin itu ungkapan tepat zaman ini. Banyak pribadi tenggelam dalam kegelapan kemarahan, kedengkian, permusuhan. Tidak sedikit keluarga ditelan kegelapan perselingkuhan dan perceraian. Bangsabangsa di dunia serupa, semenanjung Korea nyaris berperang, perbatasan India-Pakista membara, demikian juga perbatasan Israel-Palestina. Bahkan di negara-negara yang lama menjadi tauladan peradaban pun, kegelapan menelan banyak korban. Mantan presiden AS George W. Bush dilempari sepatu tatkala pidato, perdana menteri Italia Beluschoni dilempar patung mukanya hingga berdarah, presiden AS Barack 0bama diserang dengan isu-isu rasialis. Digabung menjadi satu, kegelapan seperti menerjang keras, cepat dan tanpa ampun. Untuk itu, peradaban memerlukan kehadiran sebanyak mungkin cahaya. Terutama sebelum peradaban manusia runtuh jatuh ke jurang mengerikan. Sebagaimana cahaya mentari pagi yang terbit mengusir kegelapan malam, demikian juga dengan cahaya pandangan 6
  • 5. Memasuki Rumah Cahaya mendalam yang bergandengan dengan cahaya kasih sayang, ia juga mengusir kegelapan peradaban. Dalam pandangan mendalam, kehidupan adalah sebuah jejaring makna kebahagiaan yang tetangga tidak ada bisa dipisahkan. kebahagiaan kita, Dalam dalam penderitaan semut ada penderitaan kita. Ia yang sudah membadankan ini dalam-dalam, kemudian amat takut menyakiti, sekaligus amat lapar menyayangi. Terutama karena setiap rasa sakit yang diciptakan ke pihak lain akan balik ke diri ini sebagai rasa sakit. Setiap rasa sayang yang ditujukan ke mahluk lain akan balik kembali sebagai rasa sayang. Inilah cahaya yang dibutuhkan peradaban kekinian, yang secara pelan perlahan sekaligus meyakinkan mengusir kegelapan-kegelapan kehidupan. Bila ini ancangan yang digunakan, kehadiran buku ini layak diperhatikan orang. Terutama karena datang dari generasi muda yang akan mewarisi peradaban kemudian. Disamping itu, di tengah gelombang kecenderungan generasi muda yang ditelan kegelapan narkoba, perkelahian, permusuhan, maka kehadiran buku ini seperti kehadiran sebuah cahaya. Sekecil apa pun cahayanya, bila digunakan menyalakan lenteralentera lain, lama-lama akan berkontribusi dalam menerangi peradaban. Semacam cahaya yang mengundang datangnya 7
  • 6. Memasuki Rumah Cahaya cahaya. Mungkin itu sebabnya, salah satu autobiografi Bunda Teresa (2007) berjudul indah: Come Be my Light. ☺ … Compassion is my only present … ☺ Gede Prama 8
  • 7. Memasuki Rumah Cahaya ISI SEDERHANA Knowing Your True Nature … (21) Analogi sederhana yang mengingatkan pada KITA akan kekuatan dan kuasa dalam diri kita. Analogi ini disusun untuk membentuk citra diri sebagai manusia yang kuat dan bercahaya, bukan manusia yang gampang mengeluh dan menyerah dengan kehidupan. Cara kita memandang diri sendiri, akan menjadi bingkai bagaimana kita menjalani kehidupan kita, dan kumpulan analogi ini akan memberikan “sudut pandang lain” tentang bagaimana memandang diri. Raising Your Inner Power … (202) Pertanyaan yang tepat akan menuntun pada jawaban yang tepat, jawaban yang menguatkan, membangkitkan kebijaksanaan dan ketahanan dalam menghadapi apa pun rintangan kehidupan. Kumpulan pertanyaan socratic ini akan mengantarkan KITA pada apa yang para psikotherapist sebut sebagai TDS (trasderivational search) atau pencarian ke dalam diri. Dan saat KITA menyelam ke dalam diri, mungkin kita akan kaget dengan apa yang akan kita temukan. 9
  • 8. Memasuki Rumah Cahaya Catatan : Saya menulis buku ini hampir 3 tahun silam, dan sekarang akhirnya diterbitkan untuk menjadi bahan pembelajaran bersama dan pengumpulan donasi bagi kegiatan amal Alaka Foundation. Saya menulis buku ini sebagai hasil pembelajaran akan beratnya kehidupan yang saya jalani waktu itu, dan saat ini saya tidak melakukan editing apa pun terhadap isi buku ini, kecuali beberapa tambahan lain (di luar isi). 10
  • 9. Memasuki Rumah Cahaya Tujuan Buku Ini Dihadiahkan untuk Anda Sebuah Pengantar Hampir sebagian besar dari kita percaya bahwa kita, manusia, adalah mahluk yang bebas. Kita merasa kita bebas melakukan apa saja dalam hidup kita, kita bebas berbuat, berpikir dan bertindak apa saja. Kita bebas menjadi apa dan siapa saja yang kita inginkan. Apakah keyakinan ini dibenarkan? Sebelumnya, mari lepaskan kebiasaan kita untuk menilai benar-salah sejenak. Buku ini bukan hakim yang memutuskan satu hal sebagai salah dan hal lain benar, bukan, sama sekali bukan. Buku ini, dengan sangat rendah hati bertujuan untuk menghadirkan alternatif. Semoga dengan buku ini kita bisa melihat cakrawala luas bernama manusia untuk kemudian mendefinisikan siapa anda, dan mau menjadi apa anda? Manusia itu bebas mau menjadi apa saja. Mari kita simpan sejenak pendapat ini. Banyak sekali orang dengan yakin mengaktualisasikan prinsip ini ke 11
  • 10. Memasuki Rumah Cahaya dalam kehidupanya. Namun banyak orang yang hidup sangat biasa, hidup penuh ketakutan untuk mencoba menghadapi tantangan, tidak berani untuk melakukan hal-hal baru, terkungkung dalam zona nyaman yang jika diamati sebenarnya adalah zona tidak nyaman. Intinya, hidup sebagai orang yang berjiwa kerdil (maaf saya harus sekasar ini). Jika pun anda ingin menjadi diri sendiri, diri seperti itukah yang anda ingin menjadi? Jika anda memang ingin berkehendak bebas, itu kebebasan anda. Namun apakah anda akan menggunakan kebebasan anda untuk mengungkung dan mengurung jiwa anda? Apakah kebebasan anda hendak anda gunakan untuk menistakan diri anda sendiri? Jika pun anda ingin menjadi diri sendiri, jadilah diri yang baik, diri yang mulia, diri yang dengannya anda bisa merasa bahagia. Diri yang benar-benar pantas untuk anda. Jika anda ingin hidup secara bebas, apakah tidak lebih baik jika kebebasan itu kita gunakan untuk memuliakan diri kita? Tidakah lebih pantas jika anugerah Tuhan berupa kebebasan berkehendak dan berlaku itu kita jadikan sebagai sarana berkehendak dan berlaku yang sesuai dengan jalan-jalan Mulia Tuhan? Namun kehidupan anda, sekali lagi, adalah kehendak anda. Terserah anda mau anda gunakan sebagaimana. Namun di sanalah buku ini sangat saya harapkan 12
  • 11. Memasuki Rumah Cahaya berperan dalam kehidupan anda. Yaitu memberikan pada anda wawasan yang lebih luas terkait menjadi manusia. Menjadi manusia yang benar-benar anda inginkan dari lubuk Jiwa. Namun tentu saja buku ini bukan malaikat, yang setelah membacanya anda langsung menjadi mulia. Namun setidaknya buku ini bisa menambah referensi dalam mengambil tiap keputusan. Karena tiap keputusan yang anda ambil akan meneguhkan status anda sebagai manusia, tepatnya manusia yang bagaimana dan seperti apa. Satu hal yang juga dengan rendah hati saya harus akui, bahwa buku ini bukan tuntunan untuk anda saja, namun buku ini juga untuk mengingatkan saya akan kemanusiaan saya. Saya masih harus terus menerus mendefinisikan diri saya, karena yang namanya manusia, semasih ia menjadi manusia biasa seperti saya, dan semasih saya belum memperoleh kebijakan yang menjadikan saya Buddha, Nabi, Mesiah, Maharsi, Siddha Yogi dan sebagainya yang sudah benar-benar memahami kehidupan, maka saya masih akan terus menerus mendefinisikan diri saya, siapa dan mau menjadi apa saya. Salah satu sarana yang membantu saya adalah buku ini. Buku ini saya tulis melalui serangkaian renungan dan catatan dari apa yang saya alami, dan usaha saya untuk melihat perspektif yang meneduhkan dari setiap kejadian tersebut. Jadi, buku ini bukanlah sebuah petuah 13
  • 12. Memasuki Rumah Cahaya bijak dari seorang Guru Besar. Namun hanya renungan seorang anak manusia yang sedang berusaha menjadi manusia yang lebih baik. Saya mencatat apa yang saya pelajari dari kehidupan dan terus bejar dari apa yang saya catat. Dalam perspektif saya, bukanlah seberapa banyak pengalaman yang kita punyai yang penting, namun seberapa banyak kita belajar dari pengalaman kita. Ide dari buku ini sebenarnya satu, yaitu bagaimana menghadapi dunia dan dengan segala permasalahannya dengan cara-cara yang lebih “bercahaya”, dan menjadi seorang manusia sesuai fitrah. Untuk mengungkapkan semua itu saya menggunakan banyak perumpamaan dan analogi yang memperindah perspektif tersebut. Kemudian, di bagian kedua saya menggunakan rangkaian pertanyaan socratic yang akan merangsang anda untuk bangkit juga membangkitkan kekuatan terpendam dalam diri anda. Dengan rendah hati, saya persembahkan catatan sederhana saya pada anda. Semoga renungan sederhana ini dapat memberi perspektif yang berbeda tentang bagaimana menjalani kehidupan, bagaimana melihat penderitaan dan kesedihan dengan mata yang lebih jernih. Dan terlebih, melalui buku ini, anda dan saya bisa merenungi sudut-sudut berbeda dari kehidupan. .. 14
  • 13. Memasuki Rumah Cahaya BAGAIMANA MEMANFAATKAN SECARA OPTIMAL BUKU INI Bagaimana hanya sebuah buku saja bisa menjadi “terapist” dan Mentransformasikan diri anda? mungkin itu pertanyaan yang pertama muncul dalam benak anda (sadar atau tidak) sehingga muncul bermacam keraguan, sikap sinis dan sebagainya, yang bisa jadi membuat anda urung membaca buku ini, atau sekedar membacanya saja. Dan tugas pertama anda sebelum mulai membaca buku ini yaitu, menghilangkan sikap skeptis semacam itu, dan mulai membuka pikiran anda untuk menerima informasi yang disediakan buku ini. Setelah membulatkan tekad untuk membaca buku sederhana ini, hal berikutnya yang perlu anda renungkan yaitu, Apa tujuan anda dalam membaca buku ini? Tujuan yang jelas akan membimbing alam bawah sadar anda untuk menemukan “hal-hal penting” dalam buku ini yang berkaitan dengan tujuan anda tersebut. Apakah anda ingin mendapatkan “obat” bagi luka batin anda, mencari ide dan inspirasi bagi kemajuan hidup atau karir anda, atau mendapatkan sebuah motivasi yang akan membakar semangat anda untuk mengejar kemajuan, atau apa pun tujuan personal anda. 15
  • 14. Memasuki Rumah Cahaya renungkanlah, dan lepaskan tujuan itu, yang artinya anda tidak terlalu terobsesi untuk mendapatkan apa yang ingin anda capai dalam buku ini. Melepaskan tujuan anda akan membuat pikiran bawah sadar anda mudah mengkomunikasikan apa yang anda dapatkan dalam buku ini ke pikiran sadar anda. Kemudian, kondisi ideal untuk membaca buku ini (dan buku apa pun) adalah kondisi yang disebut relaxed alertness. Kondisi ini ditandai dengan tubuh yang nyaman dan pikiran anda yang tenang sekaligus terfokus dengan penuh konsentrasi. Jika anda masih “ngos-ngosan” atau pikiran ngelantur ke sana-sini, latihlah metode pernafasan sederhana untuk menurunkan gelombang otak anda (menjadi alpha). Sekilas berita saja, setiap orang jenius pasti tahu bagimana mengakses kondisi ini dalam belajar atau bahkan dalam hal melamun, itulah kenapa Sir Isaac Newton bisa melahirkan Teori Gravitasi saat melihat sebuah apel terjatuh. Kondisi relaxed alertness adalah kondisi penuh sumber daya (resouceful) dan kondisi dimana anda terhubung dengan sumber kecerdasan tertinggi (super conciousness). Cara sederhana mengakses kondisi relaxed alertness yaitu, biarkan nafas anda normal dan apa adanya, namun perhatikan dengan penuh konsentrasi masuk dan keluarnya nafas, rasakan sentuhan udara di lubang 16
  • 15. Memasuki Rumah Cahaya hidung anda, rasakan hangatnya udara yang keluar dan sejuknya udara yang masuk. Bagi anda yang sudah terbiasa melatih Vipasana atau Mindfulness, maka prosesi ini akan menjadi mudah. Anda boleh menambahkan afirmasi sederhana, “alam bawah sadarku, dengan seijin Tuhan, akan memberikanku manfaat optimal saat membaca buku ini”. Setelah anda menyusun tujuan anda untuk membaca buku ini, tubuh dan pikiran anda perlahan menjadi nyaman dan tenang, kemudian konsentrasi dan fokus anda makin tajam, barulah mulai membaca, dan kalimat yang anda baca dalam buku ini akan tersimpan dalam pikiran bawah sadar anda. Ritual sederhana ini pasti berguna untuk anda… 17
  • 16. Memasuki Rumah Cahaya PINTU KANAN: Knowing your true nature 21
  • 17. Memasuki Rumah Cahaya Manusia Adalah Mahluk Hidup (?) Saya rasa kita semua sepakat kalau dikatakan bahwa kita adalah satu dari jutaan spesies mahluk hidup. Namun kenapa ada TANDA TANYA di akhir kalimat itu? Yah, karena tidak semua dari kita benar-benar hidup. Sungguh disayangkan bahwa sebagai mahluk hidup yang dipercayai dan mengklaim diri sebagai yang paling cerdas, kita malah sering kali tidak mengetahui irama kehidupan. Dengan kata lain, kita tidak benar-benar hidup. “Omong kosong!” mungkin ego anda spontan menanggapi dengan tanggapan sinis macam itu. Tapi mari kita renungi lagi, apakah kita memang mahluk hidup yang benar-benar mengerti kehidupan dan hidup dengan irama kehidupan itu? Apa yang menurut anda menjadikan diri anda pantas untuk dianggap hidup? Banyak yang akan menjawab; makan, tidur, bernafas, tumbuh, berkembang biak, bla, bla, bla… dari pelajaran Biologi di SD kita semua tahu bahwa mahluk lain seperti binatang juga memiliki ciri seperti itu. Yang saya maksudkan adalah ciri hidup yang lebih bijak. Sebelum membahas lebih lanjut mengenai kebenaran apakah kita ini mahluk hidup, mari kita buat daftar yang 22
  • 18. Memasuki Rumah Cahaya membedakan antara manusia yang masih hidup dengan ia yang sudah meninggal. Manusia hidup masih bernafas, yang mati tidak, yang hidup berpikir dengan otaknya yang mati tidak, yang hidup terus berkembang yang mati tidak, yang hidup melakukan banyak aktifitas, yang mati tidak, yang hidup fleksibel dan yang mati tidak. Baik, cukup! Itu saja dulu. Mari kita mulai dengan membicarakan ciri pertama manusia hidup, yaitu berpikir. Pikiran adalah master key yang memungkinkan kita hidup, dan memungkinkan kehidupan benar-benar berjalan. Buku yang sedang anda baca ini lahir dari pikiran, laptop yang digunakan untuk mengetik buku ini lahir dari pikiran, mesin cetak yang digunakan untuk mencetak buku ini juga dulunya hanya ada dalam pikiran manusia yang kemudian mewujud menjadi nyata. Berpikir benar-benar menjadikan manusia memiliki kehidupan seperti yang kita lihat ini. Namun sayangnya, tidak selamanya kita menggunakan pikiran untuk hidup. Tidak selamanya kita yang mengendalikan pikiran. Sering, pikiran yang malah mengendalikan kita. Apakah anda memiliki semacam stop kontak yang membuat anda memiliki kuasa untuk berkata “stop berpikir” dan kemudian anda benar-benar berhenti berpikir? Banyak orang yang malah tidak tahu 23
  • 19. Memasuki Rumah Cahaya bagaimana berhenti berpikir. Hal ini seolah menunjukan bahwa ciri kehidupan bukanlah berpikir, namun dikendalikan oleh pikiran. Menciptakan sebuah computer yang sangat canggih merupakan satu karya pikiran yang tak terbantahkan. Berhasil mendaratkan manusia di bulan, mengorbitkan satelit di angkasa luar, robot-robot yang makin mirip saja dengan manusia, dan banyak hal lagi yang pikiran ciptakan untuk kehidupan kita. Namun ada satu hal yang tak terkendalikan dari pikiran, yaitu menciptakan kesengsaraan untuk anda (yang masih dikendalikan pikiran). Ada kalanya kita tidak bisa berhenti memikirkan masa lalu yang menyisakan kepedihan yang sangat mendalam. Ada kalanya kita tidak bisa berhenti memikirkan satu hal untuk kita miliki. Ada kalanya kita tidak bisa berhenti memikirkan hal-hal yang malah menyebabkan derita. Ada kalanya, malah sering kali, kita tidak bisa mengendalikan arus pikiran. Kita yang dikendalikan oleh pikiran. Dan oleh karenanya, apakah kita benarbenar hidup? Albert Einstein mengawali terciptanya bom nuklir. Satu kecanggihan yang sangat brilian. Namun ada segelintir orang yang tidak bisa mengendalikan pikiranya kemudian menggunakan bom itu untuk memusnahkan manusia secara masal di Hirosima dan Nagasaki. Adolf 24
  • 20. Memasuki Rumah Cahaya Hitler yang tak mampu mengendalikan pikiranya membuat ia memusnahkan nyawa jutaan Bangsa Yahudi. Tetapi dari Pikiran Mahatma Gandhi yang telah dimuliakan, lahir kemerdekaan Bangsa India dengan penuh kedamaian. Dari pikiran seorang Dalai Lama yang cerah berhasil menerangi begitu banyak manusia di bumi ini. Saya rasa poinnya tertangkap oleh kita; untuk hidup, kitalah yang harus mengendalikan pikiran, bukan kita yang dikendalikan oleh pikiran. Lalu hal-hal apa yang membuat pikiran kita menjadi tak terkendali, atau tercemar? Beberapa “iblis” mungkin bisa kita mintai pertanggung jawaban, iblis itu bernama Ego. Ego adalah cermin dalam diri anda yang merefleksikan diri anda sebagai pusat kehidupan, sehingga anda merasa sah-sah saja melakukan sesuatu asalkan hal itu bisa terus menjamin kehidupan anda, menjadikan anda bahagia dan memberi anda kenikmatan. Dari ego lahir dua mahluk lagi, yang satu adalah kecintaan berlebih untuk apa yang anda senangi dan kebencian terhadap apa yang tidak menyenangkan. Dari sana kemudian muncul lagi ketakutan kehilangan halhal yang menyenangkan dan kekawatiran mendapat kesengsaraan (mengalami atau mendapatkan hal-hal yang tidak anda senangi). 25
  • 21. Memasuki Rumah Cahaya Dengan mindset yang telah ditentukan oleh kuasa Ego itulah kita kemudian menyerahkan kendali kehidupan kepada Ego, yang telah meliputi pikiran kita dengan kuasanya. Dorongan untuk kenikmatan dan kesengsaraan ini merupakan dorongan yang sangat kuat dalam diri manusia. Dorongan untuk mengejar kenikmatan memotori John D. Rockefeller untuk menguasai sebagian besar uang yang ada di dunia. Dorongan untuk mengejar kenikmatan mendorong Alexander Agung untuk menaklukan daratan di dunia. Sementara dorongan untuk menjauhi kesengsaraan (yang bersahabat dengan rasa takut dan kekawatiran) mendorong Amerika menyerang Afganistan dan Negara- Negara Timur Tengah untuk memerangi terorisme. Dorongan untuk menjauhi kesengsaraan di sisi lain malah mendorong banyak orang barat belajar meditasi dan berguru ke Timur. Ada banyak variasi yang dapat muncul dari dorongan nikmat-sengsara ini, mulai dari setting personal, local, nasional sampai global. Lalu bagaimana kita dapat benar-benar mengendalikan pikiran? Saya sudah menjabarkan bahwa yang membuat pikiran kita liar adalah adanya kuasa Ego dalam pikiran kita. Dan eksekutor dari ego adalah dorongan-dorongan tentang nikmat dan sengsara. Jadi yang harus kita kendalikan adalah dorongan untuk mencari kenikmatan dan menjauhi penderitaan. Jika kedua dorongan ini 26
  • 22. Memasuki Rumah Cahaya dikejar dengan cara-cara liar, maka berarti ego yang berkuasa atas pikiran kita, atas diri kita. Namun jika kehendak-kehendak mulia yang melandasi pemenuhan dorongan-dorongan ini, berarti kita sedang menguasai pikiran kita dan sedang memuliakanya. Atas dasar Kasih Sayang Universal, maka Tuhan kemudian menurunkan Agama, orang-orang yang bijak dan jiwa dalam diri kita. Dengan mengikuti tuntunan dari semua cahaya penerang ini, maka kita dapat menaklukan kuasa ego atas pikiran, dan kemudian memurnikanya dengan kesucian jiwa. Dan oleh karenanya kita bisa memiliki dorongan untuk mengejar kenikmatan dengan cara-cara yang membahagiakan, dan kita tidak lagi dicengkeram oleh ketakutan akan kesengsaraan. Intinya, dengan memuliakan dorongan sengsara-nikmat ini maka andalah yang benar-benar menguasai pikiran anda, dan oleh karenanya anda baru bisa dikatakan mahluk hidup. Ada satu latihan yang sangat manjur yang disarankan banyak guru spiritual untuk mendiamkan keributan yang terjadi dalam pikiran. Pergilah di pekarangan anda, dengan bertelanjang kaki. Lalu melangkahlah di atas rumput atau kerikil-kerikil di taman anda. Saat berjalan itu rasakan tiap langkah, rasakan bagaimana rasanya saat telapak kaki anda menginjak rumput atau kerikil. Rasakan sensasi dingin 27
  • 23. Memasuki Rumah Cahaya atau panas yang muncul di sana. Mungkin ada rasa sakit, perih, atau geli. Rasakan semuanya. Rasakan pula setiap otot anda berkontraksi, rasakan setiap getaran dalam tubuh anda namun jangan memberikan PENILAIAN terhadap rasa yang muncul. Jangan berpikir tentang apa pun, hanya rasakan saja rasa apa yang muncul. Sambil anda mendengarkan suara-suara di sekitar anda, sambil mengikuti alur keluar masuknya nafas. Dalam beberapa menit, pikiran anda akan diam karena kesadaran anda sedang berada dalam tubuh. Jika latihan pertama telah cukup anda pahami, dan siap untuk anda praktekan, mari melanjutkan ke latihan kedua, yang bisa anda lakukan dimana pun dan kapan pun. Ego dan pikiran paling takut jika diamati. Ego beraninya hanya sembunyi-sembunyi. Ia memberikan dorongan dan pemikiran untuk anda ikuti, dan jika anda mengikutinya melalui pertimbangan-pertimbangan dan penilaian (yang sebenarnya juga dimotori ego), habislah anda! Oleh karena demikian, maka senjata paling ampuh untuk menghadapi ego adalah dengan mengamatinya. Jika dalam pikiran anda muncul pemikiran-pemikiran tertentu yang mengganggu anda, banyangkanlah anda sedang duduk di suatu ruangan dan sedang mengamati pikiran anda yang seolah muncul dan berjalan di sebuah monitor besar yang ada di depan anda. Biarkan tiap pemikiran datang dan pergi apa adanya, namun jangan mengikuti alurnya dengan memberikan penilaian dan 28
  • 24. Memasuki Rumah Cahaya pertimbangkan. Alih-alih terlibat dalam pemikiran itu, bayangkan saja anda sedang menonton TV yang menyiarkan pemikiran anda. Jangan menolak satu pemikiran dan menahan pemikiran lainnya. Biarkan saja apa adanya dan amati saja. Lalu, tiba-tiba anda akan melihat pemikiran itu menguap dan otak anda menjadi tenang. Latihan yang sangat sederhana bukan? Namun sangat efektif untuk melatih pikiran anda agar sekali-sekali bisa diam. Dan oleh karenanya juga mengendorkan tali kekang ego yang mengikat pikiran. Okey, kembali ke laptop! Setelah membahas paradigma berpikir atau dikuasai pikiran, sekarang kita melangkah ke ciri signifikan lain yang menjadikan manusia benarbenar hidup. Ciri itu yaitu FLEKSIBILITAS. Mayat itu kaku dan tak dapat menggerakan tubuhnya. Tetapi anda tidak. Dalam tubuh anda ada gerakan dan getaran, aliran darah dan pergerakan energy yang menjamin anda tetap hidup. Jika darah di sekujur tubuh anda membeku, anda tak lagi bisa dikatakan hidup, dan memang tidak akan hidup lagi. Sayangnya banyak manusia yang masih hidup, namun tak lagi bergerak, dan menjadi kaku. Tak ada lagi fleksibilitas. Dan di sini, kembali pertanyaan yang sama diajukan, “apakah anda benar-benar hidup?”. Maaf, 29
  • 25. Memasuki Rumah Cahaya tetapi jika anda tidak lagi bergerak seiring arus kehidupan, maka anda tidak benar-benar hidup. Angga (sebut saja begitu), adalah seorang pengusaha sukses yang bergerak di bidang property. Ia punya istri yang telah menjadi sahabat yang sangat setia dan teramat mencintainya, juga sangat dia cintai. Anak tunggalnya adalah mahasiswa perguruan tinggi ternama di Indonesia, calon dokter yang sebentar lagi akan lulus. Tidak ada alasan untuk pria 50 tahun ini untuk tidak bahagia. Dan semua ini diawali saat ia mulai merintis bisnisnya sejak usia 25 tahun, dan semenjak itu tidak ada pergerakan kecuali terus melonjak naik. Tetapi roda kehidupan berjalan, di usinya yang mulai sore, ia mendapat kejutan. Istri yang sangat dia cintai itu tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat. Ia sangat terpukul oleh hal itu. Namun deritanya belum berakhir, ia ditipu oleh rekan bisnisnya yang selama bertahuntahun menjadi mitranya, dan kini ia bangkrut dengan hutang milyaran. Sementara anaknya yang di puncak studinya memerlukan banyak uang, tidak pernah benarbenar bisa menjadi seorang dokter, ia sangat kecewa dan malah terjerumus dalam narkoba dan premanisme. Langit Pak Angga runtuh begitu saja. Kini ia merasa tak punya alasan untuk berbahagia. Bahkan untuk hidup pun ia tak lagi memiliki alasan. 30
  • 26. Memasuki Rumah Cahaya Tadinya pak Angga memiliki kehidupan, ia mengalir dalam arus kebahagiaan. Ia sangat menikmati kehidupan itu. Namun saat semua berubah, kehidupan Pak Angga berhenti. Ia menjadi KAKU, ia tak lagi memiliki gairah. Dia hanya memiliki hujatan tiada henti pada Tuhan yang dianggapnya Sang Maha Kejam. Ia menyesalkan kenapa ia harus mengalami semua kejadian itu dan kenapa ia tak bisa tetap hidup berbahagia. Pak Angga tetap dikungkung oleh masa lalunya, dan ia tak pernah lagi bergerak maju, tak lagi mengikuti arus kehidupan. Ia mati (dalam arti kiasan). Beberapa tahun kemudian, Pak Angga yang tak lagi memiliki tanda kehidupan berupa gerakan dan flesibelitas ditemukan tewas menggantung dirinya di kamarnya, tempat terakhir nya menikmati kematian dalam arti kiasan dan kematian dengan arti sebenarnya. Perhatikan ini. Mungkin anda tak mengalami kisah setragis kisah Pak Angga, namun banyak dari kita yang kehilangan kehidupan karena beberapa hal dalam hidup kita telah berubah, karena sesuatu tak berjalan sesuai yang kita harapkan, karena hari ini tak seindah kemarin. Banyak dari kita yang tak lagi bergerak bersama arus kehidupan karena arus yang dulunya tenang dan menyejukan tiba-tiba berubah menjadi berbatu, deras dan liar dan kita tak lagi mampu mengendalikan perahu kehidupan kita. 31
  • 27. Memasuki Rumah Cahaya Namun ia yang tetap bertahan, tetap menghadapi badai besar yang menggoncang kapalnya akan tiba di pesisir indah bernama kebijaksanaan dan kebahagiaan. Salah satu orang yang benar-benar hidup bernama Suichiro Honda. Ia terus bergerak dengan arus kehidupan yang mengganas. Ia terus hidup dan terus hidup, dengan terus bergerak fleksibel. Suichiro Honda menjual semua yang ia miliki bahkan perhiasan isterinya untuk memproduksi cincin piston. Namun saat ia menawarkan cincin itu pada Toyota, ia ditolak. Namun ia terus bergerak fleksibel. Ia kemudian kuliah lagi untuk bisa memproduksi cincin piston yang lebih baik. Akhirnya setelah dua tahun menekuninya dengan terus menerus menyempurnakan diri, Toyota memberinya kontrak. Namun karena Jepang sedang bersiap menghadapi perang, maka ia tak bisa mendapat beton untuk membangun pabriknya. Akhirnya Honda harus memproduksi sendiri beton-beton untuk pembangunan pabrik. Sayangnya pabrik itu terbakar, bukan hanya sekali, tetapi dua kali. Dan Honda terus menjalani arus dengan fleksibel. Namun saat pabrik itu selesai lagi, gempa bumi besar menghancurkanya. Akhirnya Honda terpaksa menjual pabrik itu pada Toyota. Bukan karena putus asa, namun karena ia menyelaraskan diri dengan keadaan. Perang antara Jepang dengan Amerika saat itu juga membawa banyak 32
  • 28. Memasuki Rumah Cahaya bencana, yang untuk sebagian besar orang membawa kuputusasaan. Karena banyak alat transportasi yang hancur oleh perang, banyak orang Jepang harus berkendara dengan sepeda. Dengan terus menjadikan dirinya fleksibel dan selaras, Honda kemudian menemukan mesin motor untuk dipasang di sepeda. Masyarakat Jepang menyambut dengan antusias penemuan ini, dan ia mulai menerima banyak tawaran untuk memasang Motor di sepeda mereka. Tidak berhenti di sana, ia terus menyempurnakan mesin motornya, terus dan terus. Suichiro Honda juga membeli mesin motor terbaik eropa, membongkarnya, lalu menciptakan motornya sendiri. Lalu dengan segera motor balap Honda menjuarai Grand Prix. Belum cukup sampai di sana. Suichiro Honda kemudian mendirikan Honda Motor Company. Meski Pemerintah Jepang menentangnya, ia tetap memproduksi mobil, melawan pendahulunya seperti Nissan, , Toyota dan Mazda. Dengan yakin ia memasukan mobil produksinya ke persaingan formula one, dan salah satu mobilnya mengalahkan Ferrari dan Lotus. Saat Amerika didera krisis minyak tahun 1970an, mobil kecil Honda, yaitu Honda Civic menjadi primadona. Dan hal ini membuat orang Amerika memerlukan 10 tahun untuk mengambil kembali tempatnya di pasaran. 33
  • 29. Memasuki Rumah Cahaya Honda adalah orang pertama yang melengkapi pabriknya dengan anti polusi. Dan saat keluar peraturan pemerintah tentang lingkungan, ia bisa terus melanjutkan produksi, sementara pesaingnya harus mempersiapkan diri dulu. Dan tahukan anda salah satu prinsip kerja Suichiro Honda? “TERUSLAH mencari ritme kerja yang lancar dan harmonis”. Harmonis dengan segala perubahan, fleksibel dan terus bergerak selaras. Itu yang menandakan anda hidup. Dan tak sekedar hidup, namun memiliki kehidupan yang indah dan menawan. Jika satu kegagalan membekukan anda, maka saat itu juga sebenarnya anda telah mati. Terus hidup berarti terus selaras dengan ritme perubahan kehidupan, setiap saat. Mari kita beranjak ke dalam ciri kehidupan berikutnya, yaitu terus bertumbuh dan berkembang. Pertumbuhan dan perkembangan adalah ciri mutlak untuk kehidupan. Namun demikian banyak yang tidak bertumbuh, dan banyak yang malah berhenti berkembang. Tubuh fiisik anda mungkin terus bertumbuh, namun apakah Jiwa anda juga bertumbuh? Pemikiran anda mungkin terus berkembang, tetapi apakan anda juga terus mengembangkan kesadaran spiritual anda? Bagaimana pun, manusia adalah mahluk holistic yang terdiri dari pikiran, tubuh dan Jiwa. Tidak satu pun dari 34
  • 30. Memasuki Rumah Cahaya ketiga aspek itu yang boleh untuk tidak ditumbuhkan dan dikembangkan. Ketiganya harus terus menerus ditumbuhkan dan dikembangkan, sebagaimana kita juga terus menjadikan diri kita selaras dan fleksibel dengan kehidupan. Guru Spiritual Eckhart Tolle mengatakan bahwa kehidupan akan memberi kita semua keadaan dan kondisi yang kita perlukan untuk membantu kita mengembangkan kesadaran kita (kesadaran kita mewakili perkembangan jiwa atau perkembangan spiritual kita). Namun sayang, kita hidup dengan mahluk culas bernama ego. Ego kita menghalangi kita untuk memanfaatkan segala kesempatan yang diberikan oleh kehidupan untuk mengembangkan kesadaran kita, malah kita membuangnya dengan sia-sia. Bagaimana hal ini dapat terjadi? Awal dari segalanya adalah kebiasaan ego untuk memberikan penilaian. Menilai satu hal sebagai buruk, dan hal lain baik. Lalu hal yang dianggap buruk akan dibuang, tidak diterima dan sebagainya, demikian sebaliknya dengan hal yang ego anggap baik. Tetapi bukan di sana letak kekeliruan kita, letak kekeliruan kita adalah saat kita mempercayai dan hidup dengan penilaian ego itu. Sedangkan, masih ada orang tua bijaksana dalam diri kita yang disebut Jiwa. Mungkin saja apa yang ego anggap buruk adalah sarana bagi Jiwa untuk mengembangkan kesadaranya, 35
  • 31. Memasuki Rumah Cahaya tepatnya mengembangkan kehadiran Jiwa. kesadaran kita akan Mari kembali pada cerita mengenai Suichiro Honda di atas. Ia adalah satu orang yang bisa hidup dengan memanfaatkan setiap momen yang disediakan kehidupan untuk menyempurnakan hidupnya. Bukan hanya secara materiil, namun jauh melangkah menuju ranah-ranah spiritual. Saat cincin pistonya ditolak Toyota, saat pabriknya terbakar lalu dihancurkan gempa bumi, saat-saat itu adalah saat dimana ego memberikan sinyal untuk menyerah. Ini sesuai dengan karakter ego yang suka mengasihani dirinya dan menghindari apa yang ia anggap penderitaan. Namun Suichiro Honda tidak menenggelamkan diri dalam penilaian yang dilakukan ego, ia malah memanfaatkan semua itu untuk menyempurnakan pikiranya (untuk dapat menghasilkan produk yang lebih baik), menyempurnakan tubuhnya (ingat, ia membuat beton sendiri untuk membangun pabriknya), dan tentu saja Jiwanya (sikap pantang menyerah dan selalu selaras dengan kehidupan, hal itu jauh dari kehendak Ego, dan tentu saja mendekatkan kita pada kesadaran Jiwa yang lebih tinggi). Saat ego berkata, “sudahlah, kau tidak akan sukses, berhenti saja melakukan usaha sia-sia ini. Tidak ada 36
  • 32. Memasuki Rumah Cahaya alasan lagi untuk maju!”, Suchiro Honda berkata, “Tidak”. Lihat, sahabat? Satu kejadian bisa membawa kita pada berbagai macam tempat. Tergantung dari apa yang hendak kita lakukan terhadap semua kejadian itu. Kita bisa memanfaatkanya untuk benar-benar mengembangkan kesadaran kita sebagaimana yang dilakukan oleh Suichiro Honda, atau kita juga boleh melemahkan diri dengan menuruti kehendak ego untuk mengasihani diri sendiri, mengeluh pada keadaan, atau malah menangis tersedu-sedu. Namun ingat, syarat untuk menjadikan kita mahluk hidup adalah terus tumbuh dan berkembang, secara holistic atau menyeluruh. Dalam pertumbuhan kesadaran kita, akan ada banyak kejadian yang membantu kita terus-menerus mendefinisikan diri sebagai manusia, terus menerus mengembangkan kesadaran kita, terus menerus belajar dari kehidupan. Inilah yang sebenarnya menjadi inti kehidupan, yaitu menemukan hakekat kehidupan kita sendiri melalui semua yang kita pilih untuk alami dalam kehidupan. Setiap saat kita menentukan pilihan, setiap saat itu pula melakukan satu kegiatan, dan setiap saat itu pula kita memiliki pengalaman. Jadi, pengalaman adalah hasil 37
  • 33. Memasuki Rumah Cahaya pilihan kita. Kita yang memilih untuk mengalami suatu pengalaman. Dan dari setiap pengalaman itu, kita memiliki satu lagi sarana yang diperlukan untuk mengembangkan kesadaran kita. Kita juga akan sering dihadapkan pada pengalaman yang kita tidak pilih (tepatnya, tidak sadar telah kita pilih). Dari referensi tersebut, dari pengalaman yang kita pilih dan dari pengalaman yang datang pada kita, kita lalu memiliki referensi untuk menentukan pilihan berikutnya. Dan pilihan berikutnya menentukan pengalaman kita berikutnya. Inilah yang dimaksud bahwa kehidupan adalah proses pembelajaran, dan kita adalah sang pembelajar. Dengan wawasan seperti itu, bagaimana kemudian kita bisa mengutuk satu pengalaman dan memuja pengalaman lainya? Jika semua adalah referensi untuk mengembangkan kesadaran kita? Maaf sekali lagi harus saya katakan, bahwa jika anda menolak untuk memanfaatkan semua kejadian dalam hidup anda, entah yang anda anggap baik atau buruk, maka anda juga menolak pertumbuhan kesadaran anda, selain merugikan anda, hal itu juga akan menampik anggapan bahwa kita adalah mahluk hidup, karena kita menolak untuk terus tumbuh dan berkembang, secara holistic. 38
  • 34. Memasuki Rumah Cahaya siapakah manusia ? 39
  • 35. Memasuki Rumah Cahaya Manusia Adalah Ulat yang Memasuki Kepompong Untuk Bermetamorfosis Seekor ulat, pada satu saat dalam kehidupannya akan memasuki fase untuk berada dalam kepompong yang ia buat sendiri. Masa-masa menjadi ulat mungkin adalah masa-masa yang biasa saja dalam kehidupan ulat. Namun kehidupan yang biasa itu kemudian berubah menjadi begitu mengikat, menyakitkan, mengerikan, diliputi kegelapan dan menekan. Masa itulah masa saat ulat telah masuk ke dalam kepompongnya. Kemudian, setelah masa-masa dalam kepompong itu berlalu, sang ulat akan keluar dalam wujud dan rupa yang berbeda. Jauh berbeda dari sebelum ia memasuki kepompong itu. Ia bisa menjelma menjadi kupu-kupu yang demikian indah dan menawan tiap mata yang memandang, namun bisa juga menjadi serangga yang mengerikan. Proses yang ia lalui dalam kepompong itu sangat menentukan menjadi apakah sang ulat setelah keluar dari kepompong. Jika apa yang terpapar di atas adalah kisah kehidupan ulat setelah memasuki kepompong, maka sesungguhnya kehidupan manusia juga tidak jauh beda. Ya, manusia juga akan memasuki kepompong, bahkan mungkin berkali-kali. Jika ulat hanya bermetamorfosis sekali, maka manusia melalui proses metamorfosis berkali-kali, berkali-kali memasuki “kepompong”. 40
  • 36. Memasuki Rumah Cahaya Akan ada saat didalam kehidupan manusia dimana ia akan memiliki kondisi kehidupan yang sangat memilukan, menyedihkan, dan penuh rasa sakit. Akan ada saat dalam kehidupan setiap manusia dimana segala apa yang ia tahu sebelumnya, apa yang ia percayai sebelumnya, apa yang ia jalani sebelumnya kemudian dijungkir-balikan. Kehidupan tiba-tiba tampak berbeda, menjadi mengerikan. Inilah saat dimana anda sedang ditempatkan dalam kepompong anda. Waktu dimana anda akan bermetamorfosis. Anda memiliki seseorang yang sangat anda cinta, lalu tiba-tiba dia pergi bersama orang lain. Sangat menyakitkan. Anda sedang berada dalam kepompong. Bermetamorfosislah. Keluarga bahagia dan harmonis yang selalu membuat anda bahagia tiba-tiba hancur berantakan? Kepompong. Bermetamorfosislah. Bisnis yang anda bangun sejak puluhan tahun silam, yang kini telah mencapai kejayaan tiba-tiba tumbang dalam kebangkrutan? Kepompong. Bermetamorfosislah! Atau diantara anda ada yang memiliki satu kondisi yang sangat menyakitkan dan menyedihkan? Kehidupan sedang mengundang anda untuk bermetamorfosis. Apa sebenarnya yang dimaksud bermetamorfosis dalam kehidupan 41 dengan manusia?
  • 37. Memasuki Rumah Cahaya Bermetamorfosis artinya melalui serangkaian kondisi yang menyedihkan dan menyakitkan (baca: kepompong), anda mengolah, menempa dan membentuk diri anda menjadi manusia yang lebih baik, lebih mulia dan lebih sesuai dengan fitrah anda. Seperti ulat yang setelah berada dalam kepompong tidak selalu bermetamorfosis menjadi kupu-kupu, demikian juga halnya dengan manusia. Setelah melalui serangkaian peristiwa pahit yang menyakitkan, tidak semua manusia akan menjadi lebih bijak atau lebih mulia. Terkadang kekeliruan dalam memaknai dan menghadapi suatu kejadian membuat kita malah mengambil pilihan buruk (menjadi manusia yang lebih buruk). Padahal tujuan Tuhan atas kita, melalui setiap rasa sakit yang kita alami adalah untuk memuliakan kita. Dan semoga kita yang pernah salah mendefinisikan diri, salah bermetamorfosis bisa memperbaikinya saat ada kesempatan lain untuk berada dalam kepompong (dan pasti selalu ada kesempatan lain). Apa contoh metamorfosis manusia ini? Dalai Lama, pemimpin Tibet, mengalami proses panjang berada dalam kepompong (baca: rasa sakit dan penderitaan); negerinya diserang dan ia harus hidup di pengungsian. Namun ia keluar dari kepompong ini dan menjadi seorang ikon spiritual dunia yang sangat dihormati dan ditauladani. Ia dikenal sebagai seorang 42
  • 38. Memasuki Rumah Cahaya yang ramah, selalu bahagia dan bahkan tidak pernah membenci Negeri Cina atau orang-orangnya yang telah memberikan penderitaan besar bagi Tibet dan dirinya. Ada juga kisah tentang Mila Repa. Dia adalah seorang penjahat yang kemudian karena satu proses panjang penderitaan kemudian menjadi Bhikku dan guru spiritual yang sangat disegani. Pema Chodron. Ia memiliki kehidupan yang bahagia sebagai seorang istri maupun ibu. Namun seketika segalanya berakhir dan ia kehilangan suami yang pergi bersama wanita lain. Kepompong yang sangat menyakitkan, bukan? Namun ia mengolah diri dengan belajar meditasi, dan ia kini menjadi salah satu orang paling bahagia, paling dihormati sebagai pengajar meditasi dan guru spiritual, dan menjadi inspirasi bagi jutaan orang. Saya sangat tersentuh dengan cerita mengenai seorang ibu yang kehilangan putrinya karena Demam Berdarah, kemudian menjadi aktifis yang mengkampanyekan penanggulangan demam berdarah. Ada juga seorang yang memiliki anak cacat, kemudian tumbuh dalam dirinya suatu kepedulian pada para penderita cacat dengan membangun yayasan. Sungguh kupu-kupu indah keluar dari kepompong yang menyakitkan. Masih banyak lagi contoh-contoh orang yang berhasil memuliakan dirinya dengan mengolah penderitaan yang ia alami. 43
  • 39. Memasuki Rumah Cahaya Sayangnya, tak jarang juga orang malah keluar dari kepompong dan menjadi mengerikan. Misalkan saja seorang pengusaha yang merugi lalu beralih profesi menjadi penipu. Seorang pria yang ditinggal pacar lalu menjadi pemerkosa. Atau orang-orang yang setelah mengalami penderitaan malah menjadi pasien di rumah sakit jiwa, dan sebagainya. Anda lihat bagaimana setelah serangkaian rasa sakit dan penderitaan seseorang bisa berubah menjadi sesuatu yang sangat berbeda? Lalu, jika sekarang (atau nanti) anda dihadapkan pada penderitaan dan rasa sakit, menjadi apakah anda akan bermetamorfosis? Inilah kelebihan yang diberikan Tuhan pada manusia, bahwa kita bisa memilih hendak bermetamorfosis menjadi apa setelah memasuki kepompong (baca: penderitaan, rasa sakit, kepedihan). Dunia akan mencatat dan menyediakan taman dan bunga-bunganya untuk kupukupu. Namun juga menyediakan tempat yang mengerikan untuk serangga yang lahir. Pilihan ada di tangan anda. Setiap manusia, sekali lagi, akan mengalaminya. Setiap manusia pada suatu saat akan ditempatkan dalam kepompongnya. Kehidupan yang biasa-biasa saja, atau apa yang masyarakat umum sebut sebagai zona nyaman akan tergantikan oleh sesuatu yang memedihkan. Lalu jika anda bisa memilih untuk menjadi mulia, kenapa harus menjadi hina? Jika anda bisa memilih untuk 44
  • 40. Memasuki Rumah Cahaya menjadi kupu-kupu, kenapa harus menjadi serangga yang menyedihkan dan mengerikan? Bagaimana anda mengolah penderitaan yang anda alami, bagaimana anda menjadikanya pelajaran dan pupuk bagi jiwa anda, bagaimana anda memaknainya dengan penuh kebijakan dan bagaimana anda menjalaninya dengan penuh keikhlasan akan sangat mempengaruhi proses metemorfosis anda untuk menjadi kupu-kupu. Mungkin ada diantara anda yang bertanya, “kenapa saya sering kali dan terus menerus mengalami penderitaan dan masalah ?” Jawabannya sederhana, karena kehidupan memberi anda kesempatan yang berulang-ulang untuk memuliakan diri anda. Jika ulat setelah menjadi kupukupu ia tidak bermetamorfosis lagi, namun mati, maka manusia tidak demikian. Manusia yang terus menerus menjalani penderitaan (baca: terus ada dan berulangulang dalam kepompong) memiliki kesempatan untuk bisa menjadi manusia yang semakin mulia, semakin bijak, semakin mulia dan semakin bijak lagi. Jadi, ketimbang harus menyesalkan lebih baik berterimakasihlah pada penderitaan yang anda alami atas segala kesempatan yang ia berikan. 45
  • 41. Memasuki Rumah Cahaya Mungkin di awal terasa menyakitkan. Namun pada akhirnya, jika anda terus konsisten terhadap jalan-jalan kemuliaan, semua akan menjadi indah. Tuhan tidak akan membiarkan manusia yang menapaki jalan kemuliaan terus menerus menderita. Jalan berduri yang anda lewati pasti akan berakhir di taman indah surgawi. Dan lebih-lebih anda telah menjadi mahluk mulia yang pantas berada di sana. Namun, hidup adalah sebuah pilihan. Dan pilihan ada di tangan anda… 46
  • 42. Memasuki Rumah Cahaya Manusia Adalah Pelaut yang Menggunakan Rakit untuk Mengarungi Samudera … Hidup adalah perjalan, demikian banyak orang berkata. Namun saya lebih meyukai perumpamaan bahwa hidup adalah sebuah pelayaran. Dalam berlayar kita tentu menggunakan satu wahana; entah itu sampan, perahu, kapal layar atau malah kapal pesiar. Umumnya jenis kapal disesuaikan dengan luas ‘air’ yang hendak kita arungi. Tentu sebuah kebodohan jika kita berlayar dengan rakit untuk mengarungi samudera. Bahkan perahu pun bukan sarana yang cukup pantas untuk mengarungi samudera. Hidup manusia juga serupa itu. Kita tentunya memiliki tujuan-tujuan tertentu dalam hidup. Kita semua sedang berlayar, dan kita sedang mengarungi samudera entah untuk berlabuh di pesisir mana. And that’s it! Anda sedang berlayar kemana? Anda sedang menggunakan wahana apa? Tahukah tujuan hidup anda? Kemana anda akan berlabuh? Dan apakah anda sudah punya sarana yang dapat mendukung pelayaran anda itu? Jangan sampai anda berlayar dengan sampan ke samudera luas! Mungkin diantara anda ada yang memiliki tujuan untuk menjadi kaya, tujuan untuk memperoleh hidup yang penuh kelimpahan dan berbagai kesenangan. Bolehboleh saja. Namun yang sekarang harus anda tanyakan adalah, apakan anda telah mempersiapkan sebuah kapal 47
  • 43. Memasuki Rumah Cahaya yang besar dan tangguh untuk menghadapi pelayaran itu? Atau apakah anda masih berada di atas rakit dan memegang sampan? Jika anda hanya memiliki rakit, maka tunda dulu pelayaran anda, kecuali jika anda ingin tenggelam di tengah perjalanan. Jika anda ingin kaya, maka ada harus memiliki wahana yang tepat untuk memperoleh kekayaan itu; mental kaya, pikiran yang berdiri di atas keyakinan bahwa anda mampu meraih kekayaan, dan kemauan yang keras untuk bekerja dan menjadikan diri anda kaya. Jika anda ingin sukses, maka anda harus memiliki pikiran dan perilaku yang dapat mendukung cita-cita anda itu. Jika tidak, berarti anda baru memiliki rakit untuk menyeberangi lautan. Sikap, prinsip, nilai-nilai, dan jaringan sosial adalah awak kapal yang dengan setia akan mendampingi pelayaran anda. Visi adalah nahkoda yang akan membimbing anda menuju pelabuhan yang bernama kesuksesan. Komitmen, ketetapan hati dan gairah adalah layar atau bahan bakar selama anda berlayar. Semua aspek itu adalah pendukung anda, yang akan memastikan anda berlayar dengan nyaman dan selamat sampai di tempat tujuan. Pertama-tama pastikan awak kapal anda adalah awak yang memiliki kapasitas untuk membantu anda berlayar dengan selamat; nilai-nilai yang anda anut haruslah nilai 48
  • 44. Memasuki Rumah Cahaya positif berupa kejujuran, kesetiaan, saling menguntungkan, dan nilai lain yang mendukung perjalanan anda. Sikap anda juga haruslah positif, penuh optimisme dan semangat juang yang tinggi. Begitu pula kemampuan untuk membangun jaringan sosial, merupakan aspek yang tak kalah pentingnya dalam membangun kesuksesan. Yang terpenting dari sebuah pelayaran adalah nahkodanya; visi dan tujuan anda harus jelas. Apa yang anda inginkan? Sukses? Sukses macam apa? Kesuksesan di bidang apa? Dan, apa barometer yang anda gunakan untuk mengukur kesuksesan? Ambilah contoh anda ingin sukses sebagai seorang pengusaha property. Itulah tujuan tertinggi anda, dan setiap hal dalam hidup anda haruslah hal-hal yang akan mengantarkan anda pada tujuan anda itu. Nahkoda tanpa layar juga tidak bisa berlayar. Layarnya adalah komitmen dan gairah; komitmen dan gairah akan memastikan anda untuk selalu berjalan dan mengejar tujuan anda. Dengan semua perlengkapan tadi, maka anda siap untuk berlayar mengarungi samudera. Kini anda memiliki sebuah kapal yang akan mengantarkan anda menuju pelabuhan bernama kesuksesan. Sederhana, bukan? Memang sederhana. Namun kesederhanaan ide tidak akan memiliki dampak yang 49
  • 45. Memasuki Rumah Cahaya juga sederhana (baca: tidak menguntungkan), jika anda tidak berkomitmen terhadapnya. 50
  • 46. Memasuki Rumah Cahaya Manusia Adalah Mahluk yang Berdasarkan Gambar Dan Citra Tuhan Diciptakan Manusia adalah mahluk yang diciptakan Berdasarkan Gambar dan Citra Tuhan, demikian salah satu Ajaran yang sangat terkenal dari The Bible. Namun, maaf sekali, saya tidak sedang menulis naskah teologi atau kajian religius. Saya hanya akan memaparkan bagaimana kalimat tersebut dapat menjadi Filosofi yang meneduhkan dan sebuah nilai hidup yang sangat menguntungkan untuk anda. Tuhan, dalam pandangan setiap agama atau kitab suci mana pun adalah kesempurnaan dan keagungan yang berada dibalik semua yang tercipta ini. Tuhan, adalah Sang Pencipta. Tuhan adalah Sang Pencipta. Jika manusia diciptakan berdasarkan gambar dan citra Tuhan, apakah itu artinya manusia juga adalah pencipta? Bagaimana mungkin? Tuhan Maha Sempurna, sedangkan manusia penuh kekurangan. Bagaimana kita bisa menjadi pencipta seperti Beliau jika kita tidak Sempurna? Jika penjelasan sempurna tidak sempurna ini dijelaskan bisa menjadi sangat panjang. Ada filosofi mendalam mengenai kesempurnaan manusia dari berbagai sumber komprehensif filosofi ataupun mistis, sedangkan ada juga kerendahan hati dengan berbagai 51
  • 47. Memasuki Rumah Cahaya bukti yang menyatakan ketidak sempurnaan manusia. Manakah yang benar? Kita simpan dulu sejenak prokontra tersebut, dan mari mengikuti apa yang berusaha saya paparkan, dengan pikiran terbuka. Dimanakah letak “manusia adalah pencipta? Bukankah Tuhan yang menciptakan manusia dan segala kondisinya? Bagaimana bisa manusia disebut pencipta? Tuhan menciptakan manusia dan semua kondisi atau keadaan yang ada di dunia. Inilah faktanya. Namun itu tidak berarti Tuhanlah yang menciptakan kondisi atau keadaan mana yang harus kita alami, kan? Oke, mari kita perjelas. Manusia menciptakan segala kondisi dan keadaan mana yang hendak ia alami melalui pemikiran dan sikapnya, atau sebagai konsekuensi dari segala keputusan yang ia ambil. Tuhan menciptakan kemungkinan atas sesuatu, dan manusia menciptakan (merealisasikan) pengalaman atas sesuatu itu dalam KEHIDUPANNYA SENDIRI. Anggap sajalah Tuhan adalah seorang programmer game. Programmer tersebut menciptakan kemungkinan menang, kalah, bonus atau hukuman dalam game yang diciptakannya. Sang gamer, yang bermain game, kemudian menciptakan pengalamannya atas segala kemungkinan yang telah diciptakan Sang Programmer. Jadi, gamers (baca: kita), yang menciptakan kekalahan 52
  • 48. Memasuki Rumah Cahaya atau kemenangan ATAS DIRINYA, tidak ada urusannya dengan Sang Programmer. Anda mungkin protes, “tetapi saya tidak pernah memilih untuk mengalami patah hati, bangkrut atau mendapatkan kesengsaraan? “bukankah Tuhan yang telah menciptakan semua itu dalam kehidupan saya?” Mari kita telusuri lebih lanjut. Tuhan menciptakan kondisi, kondisi dimana anda ditinggalkan oleh pacar anda. Namun apakah Tuhan menyebut itu penderitaan? Kita yang memberi label bahwa ditinggalkan oleh orang yang kita sayang adalah penderitaan, padahal mungkin yang Tuhan maksudkan hanya agar kita bisa mandiri dan tidak menggantungkan kebahagiaan pada orang lain. Kitalah, kita, yang menciptakan realitas berupa penderitaan itu. Tuhan menciptakan kondisi dimana usaha kita bangkrut. Tuhan memaksudkan agar kita belajar rendah hati sehingga siap untuk kesuksesan berikutnya, yang lebih besar dan menyeluruh. Namun realitas yang kita ciptakan dalam kehidupan kita terhadap kondisi tersebut adalah “kebangkrutan ini adalah kutukan! Aku tidak akan melakukan apa pun lagi karena semua itu hanya akan mengacu pada kegagalan lain.” Mungkin setelah itu anda bunuh diri. Mau apa lagi? 53
  • 49. Memasuki Rumah Cahaya Tuhan menciptakan kondisi (realitas eksternal), kita menciptakan realitas internal (apa yang kita alami dalam pikiran dan hati kita), sekaligus mengalami realitas eksternal yang kita pilih untuk alami. Dan bagi orang yang tidak melihat maksud baik Tuhan, maka realitas internal yang diciptakan terhadap kondisi negative pasti akan selalu negative. Sekali lagi, tujuan Tuhan atas semua kondisi yang diciptakan-Nya dalam kehidupan kita adalah untuk memuliakan kita. Kita selalu mempertanyakan dan meragukan apakah kita memiliki kekuasaan untuk menentukan atau merubah kehidupan kita. Tuhan itu Maha Kuasa, kita semua mengakuinya. Dan manusia memang tidak semaha kuasa Tuhan, namun itu tidak berarti Tuhan tidak sama sekali memberikan kekuasaan pada manusia, bukan? Bukankah kita tercipta berdasar Gambaran dan Citra Tuhan? Tuhan, oleh karena Kemahakuasaan-Nya mampu memberikan kekuasaan untuk kita, untuk menentukan hidup kita melalui sikap, perilaku, dan pemikiran yang mendominasi kita. Pertanyaannya sekarang, bukan seberapa besar kekuasaan yang Tuhan berikan untuk kita, namun seberapa besar kekuasaan itu kita gunakan? 54
  • 50. Memasuki Rumah Cahaya Kita cenderung percaya dengan betapa lemah dan tak berdayanya kita dalam mengarungi samudra kehidupan, dan oleh karenanya kita menjadi mudah menyerah. Para ahli sendiri telah mengakui betapa besar kemampuan yang dimiliki manusia, namun yang baru kita gunakan hanya 10% saja dari kemampuan tersebut. Jadi pertanyaannya sekarang, manusia tidak memiliki kekuasaan atau tidak menggunakan kekuasaannya? Tuhan tahu, kita terlalu malas untuk menggunakan kekuasaan dan kekuatan yang Dia berikan untuk kita, karena itu tuhan menciptakan kondisi-kondisi yang menekan agar kita bisa bangkit dan menggunakan segenap kekuatan yang kita miliki. Jika Tuhan terus memanjakan kita dengan membiarkan kita “dudukduduk santai” maka otot-otot kita tidak akan menguat bahkan akan melemah. Oleh karenanya Tuhan mengirimkan “beban” untuk kita angkat agar kita menyadari dan mulai menggunakan kekuatan kita. Untuk seseorang yang telah mendayagunakan kekuatannya secara optimal, maka hidup tidak akan terasa berat lagi, karena dia memiliki kekuatan untuk menghadapi semua tantangan, kuasa untuk menaklukan semua kesusahan, dan ia memiliki serta menggunakan semua potensi yang ia miliki untuk mengarungi badai kehidupan, sehingga sebesar apa pun badai yang dia hadapi tidak akan mampu menenggelamkannya, karena kekuatan yang dia miliki untuk menghadapi badai itu 55
  • 51. Memasuki Rumah Cahaya jauh lebih besar. Beban seberat 10 kilogram tidak aka nada artinya untuk orang yang memiliki kemampuan untuk mengangkat beban 10 ton. Kita semua memiliki kekuatan dan kemampuan untuk itu, hanya saja tidak semua dari kita menyadari dan menggunakan kemampuan itu. Orang seperti Napoleon Bonaparte adalah orang yang percaya bahwa dia memiliki kekuatan dan kekuasaan, karenanya dia bisa menguasai dataran Eropa. Orangorang Mesir yang menyadari kekuatan dan kekuasaannya mampu menciptakan kemegahan raksasa yang disebut Piramida. Sementara orang-orang di masa kini yang menyadari kekuatan dan kekuasaan yang ada dalam dirinya membuat kita bisa terbang di udara, membuat kita mampu melihat benua lain dari rumah, mampu berbicara dengan orang yang jaraknya ratusan mil, mampu membuat manusia terbang ke angkasa dan sebagainya. Sementara itu ada juga para pencipta keajaiban (miracle makers) yang memiliki kekuatan yang sangat mengagumkan. Manusia memilih. Kita, memilih. Ada yang memilih untuk mempercayai, mengembangkan lalu menggunakan kekuatan dan kekuasaan itu, ada yang tidak. Ada yang memilih mengendalikan kehidupanya dengan segenap kekuatan yang ia miliki, ada yang memilih menyerahkan kehidupanya untuk dikendalikan orang lain dan keadaan. 56
  • 52. Memasuki Rumah Cahaya Tuhan itu Maha Pengasih dan penyayang, dan kita diciptakan berdasarkan gambaran tersebut. Bunda Teresa meyakini hal tersebut, dan oleh karenanya ia menjadi malaikat penolong bagi para penderita kusta di Kalkuta yang ia rawat dengan penuh cinta. Paus Johanes Paulus II meyakini hal tersebut, karenanya ia datang ke penjara untuk memberi maaf pada orang yang telah menembaknya dan nyaris membuat ia kehilangan nyawa. Yang Mulia Dalai Lama XIV meyakini hal itu, karenanya ia tetap menjaga cinta kasihnya pada Cina dan tentaranya yang telah menginvasi dan merusak Tibet, dan membuat ia yang tadinya seorang pemimpin menjadi pengungsi. Jika ditinjau dari berbagai sudut pandang dan perspektif, manusia memiliki semua sifat-sifat Tuhan. Hanya saja, tidak semua dari sifat itu kita kembangkan, tidak semua dari sifat itu kita perkuat dalam kehidupan kita. Menjadikan diri kita “makin mirip” dengan Tuhan adalah ajaran inti semua agama. Oleh karenanya kita diajarkan bagaimana mengembangkan sifat-sifat mulia, bijak dan bajik. Saya tidak menghimbau siapa pun untuk naik ke atas gedung lalu berteriak “akulah Tuhan Yang Kuasa” lalu terjun bebas tanpa parasut (karena percaya, “toh Tuhan bisa terbang”). Atau mengumpulkan masyarakat dan berkata, “Akulah Tuhan, ikutilah Aku”. Hal-hal semacam itu hanya tindakan egosentris yang dimotivasi 57
  • 53. Memasuki Rumah Cahaya oleh keinginan untuk menjadi “berbeda” dengan orangorang lainnya dan menjadi lebih dihargai. Orang yang menyadari ketuhanan dalam dirinya akan melihat persamaan dan kesamaan (tanpa egoisme), bukan perbedaan. Di India, ada seorang suci yang pengikutnya tersebar dari seluruh dunia. Beliau bukan hanya dikenal dari ajaran-ajarannya yang sangat indah, namun juga dari keajaiban-keajaiban yang beliau bagikan, yang membuat Beliau sangat dihaormati dan dikagumi, bahkan beberapa kalangan menyebut Beliau Avatara (perwujudan Tuhan). Namanya adalah Bhagavan Sri Sathya Sai Baba. Saat seorang wartawan bertanya pada Beliau, “apakah anda Tuhan?” Dengan senyum ramah Beliau menjawab, “Iya.” Lalu melanjutkan lagi, “dan anda juga. Hanya saja, saya menyadari ketuhanan saya, dan anda tidak.” Kita tidak menyadari kualitas ketuhanan kita. Itulah inti masalahnya. Tidak menyadari bukan berarti tidak ada, bukan? Bahkan para ilmuan telah menemukan bahwa dalam otat kita ada sebuah titik yang disebut titik ketuhanan (titik spiritual) yang mereka sebut God-Spot. Bahkan dalam kitab-kitab suci hal itu juga telah dikumandangkan, bahwa kita tercipta dengan gambar 58
  • 54. Memasuki Rumah Cahaya dan citra Tuhan, bahwa dalam diri kita ada percikan kecil dari Tuhan, bahwa kita ini lahir dengan Fitrah yang sempurna. Hanya saja, sekali lagi, kita tidak menyadarinya dan karenanya tidak menggunakannya. Anda mungkin belum bisa menghidupkan orang yang telah meninggal atau terbang ke angkasa (namun ada beberapa orang yang mampu melakukannya). Namun anda dan saya bisa belajar untuk mengamalkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Tuhan (pengasih, penyayang, adil, pemurah, pemaaf, dan sebagainya) meski pun dalam kadar yang sangat kecil sekali pun. Karena meski pun kita tidak mampu melakukan segalanya, kenapa kita tidak mencoba melakukan hal-hal yang masih bisa kita lakukan? 59
  • 55. Memasuki Rumah Cahaya Manusia Adalah Mahluk Yang Dapat Menjadikan Dirinya Keajaiban Bagi Orang Lain Keajaiban adalah salah satu kata yang dapat membangkitkan gairah, membangkitkan semangat, harapan dan tentu saja membuat kita merasa ada sesuatu yang memberikan kesegaran untuk diri kita. Keajaiban adalah sesuatu yang diharapkan oleh begitu banyak orang. Kita berharap Tuhan akan memberi kita keajaiban. Kita berharap bahwa akan ada keajaiban dari para malaikat atau dewa-dewa. Namun adakah diantara anda yang berharap MENJADI keajaiban untuk orang lain? Menjadi keajaiban. Frase yang saya ungkapkan tadi mungkin agak mengagetkan, aneh atau malah terdengar sebagai penghinaan. Tapi percayalah, memang itu yang saya maksudkan, agar anda bisa menjadikan diri anda keajaiban bagi orang lain; buatlah orang lain merasa beruntung pernah kenal dengan anda. Buatlah seseorang merasa bahwa hidup mereka menjadi berarti karena anda. Buatlah seseorang berani tersenyum bahkan tertawa, karena anda. Buat sebanyak mungkin orang bahagia, itulah makna keajaiban yang saya maksudkan. Lihatlah dunia kita sedang carut marut oleh berbagai masalah; mulai dari amukan alam, kecelakaan, penyakit sampai masalah-masalah sosial. Lihat masyarakat kita 60
  • 56. Memasuki Rumah Cahaya yang hidupnya dihantui kecemasan, yang hidup dalam ketakutan dan ketidak tenangan. Ambisi dan keinginan tak terkendali adalah sumber masalah yang dengan senang hati memperburuk kehidupan manusia. Lalu apa? Lalu dari semua hal yang membuat kita sesak dan mengerutkan kening itu, kita berucap “Tuhan, tolong berikan hamba keajaiban-Mu, dan akhiri semua ini” atau “tolonglah saya mengakhiri semua ini, saya benar-benar sudah tidak mampu”, “tolong saya, saya tidak ingin sendiri”. Kita menggantungkan diri pada harapan-harapan macam itu. Kita memiliki semacam system kepercayaan yang membuat kita secara yakin memiliki keyakinan bahwa penyelesaian atas masalah kita dan pertolongan ada di luar diri kita. Tidakah anda ingin keluar dari siklus keluhan ini, dan memjadikan diri anda wakil Tuhan dalam menjawab doa-doa orang-orang itu? Tidak kah anda tergerak untuk menjadikan diri anda terang di tengah kegelapan itu? Tidak kah anda ingin menjadi permata bagi mereka? Apakah anda tidak ingin menjadikan diri anda tangantangan Tuhan yang dengan sadar dan senang hati menebar senyuman, tawa dan kesegaran di hati orangorang yang sedang berduka? Jika tidak, maka sebaiknya anda memiliki keinginan untuk itu. Sesekali berhentilah berdoa untuk memohon keajaiban. Berdolah semoga anda menjadi keajaiban itu. Berdoalah 61
  • 57. Memasuki Rumah Cahaya pada Tuhan agar anda dipilih sebagai wakilnya dalam menebar kebahagiaan. Salah satu orang yang menjadikan dirinya keajaiban adalah Santo Fransiskus dari Asisi, doanya yang terkenal yaitu… “Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai-Mu. Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih Bila terjadi luka, jadikanlah aku pembawa kesembuhan, Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian, Bila terjadi keputusasaan, jadikanlah aku pembawa harapan, Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang, Bila terjadi kebahagiaan, kesedihan, jadikanlah aku sumber Tuhan, semoga aku lebih ingin menghibur dari pada dihibur, Memahami dari pada dipahami, Mencintai dari pada dicintai, 62
  • 58. Memasuki Rumah Cahaya Sebab dengan memberi kami menerima, Dengan mengampuni kami diampuni, Dengan mati suci kami bangkit lagi dalam keabadian” Seperti itulah orang yang hidupnya menjadi keajaiban untuk orang lain. Orang yang menjadikan dirinya keberuntungan dan cinta kasih universal. Mungkin sebelum sempat mencoba anda sudah berkata bahwa semua itu sangat sulit. Jika pun itu memang sulit, anda tidak harus berhenti sebelum melakukan sebisa anda, kan?. Mungkin sulit membuat orang tertawa, namun setidaknya berusahalah membuat orang tersenyum. Jika pun orang itu belum tersenyum, jangan berputus asa, mungkin ia hanya tidak menunjukanya, namun hatinya telah terhibur. Lagi pula anda tidak melakukan ini dengan tujuan tertentu, anda melakukan ini sebagai wakil Tuhan, sebagai wujud pengabdian anda pada Tuhan dan Kemanusiaan. Lihatlah kerabat anda, kenalan anda, keluarga atau teman-teman anda, apakah diantara mereka ada yang sedang murung atau bersedih. Jadilah malaikat keajaiban yang mengukir senyum di bibir mereka. Sebuah cara sederhana untuk membuat diri anda 63
  • 59. Memasuki Rumah Cahaya sendiri lebih bahagia. Lihatlah siapa yang sedang membutuhkan teman untuk berbagi segala duka cita? Jadikan diri ada keajaiban dengan menjadi teman bagi mereka. Jadilah orang yang bersedia diajak berbagi dalam kebimbangan, dan jika memungkinkan berikanlah solusi. Apa gunanya untuk anda manjadikan diri sebagi keajaiaban bagi orang lain? Anda ibarat sedang menanam sebuah benih. Dimana-mana anda menanam benih itu di kebun anda; maka suatu saat anda akan memetik hasilnya. Mungkin anda tidak dapat menikmati hasilnya secara instan, namun cepat atau lambat anda pasti memetik hasilnya. Jadikanlah diri anda keajaiban bagi orang lain selama satu bulan penuh, maka anda akan menyaksikan sendiri betapa hal itu adalah keajaiban untuk anda. dan pada akhirnya anda akan mengerti, bahwa dengan menjadi keajaiban anda menerima begitu banyak keajaiban. 64
  • 60. Memasuki Rumah Cahaya Manusia Adalah Mahkluk yang Diciptakan Dengan Akar dan Sayap Akar dan sayap adalah dua hal yang berbeda. Yang satunya membuat sebatang pohon menjadi kuat berdiri, yang satunya membuat burung terbang tinggi. Dua mahluk yang berbeda, dengan anugerah yang berbeda. Namun kenapa manusia dikatakan tercipta dengan akar dan sayap, sekaligus? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita renungkan keadaan manusia kebanyakan (manusia yang tidak menyadari akar dan sayapnya). Ada manusia yang sangat rapuh, rentan dan sangat lemah dalam menjalani kehidupanya. Dia tidak memiliki pandangan yang benar tentang dirinya, tidak memiliki image yang positif untuk dirinya, self-concept dan citra dirinya sangat merendahkan dan melemahkan dirinya sendiri. Dia menganggap diri sebagai orang yang lemah, tidak berdaya dan memiliki keyakinan yang sangat teguh bahwa dia tidak akan pernah berhasil melakukan apa pun. ”Segalanya akan menjadi buruk dan penuh kegagalan, karena memang itu yang pantas saya dapatkan”, demikian katanya. Dia bukan hanya sama sekali tidak mempercayai dirinya, namun juga tidak mempercayai 65
  • 61. Memasuki Rumah Cahaya keagungan yang kita sebut Tuhan. Hidupnya rapuh, tanpa keyakinan pada apa pun. Di sisi lain, ada manusia yang sedang bertarung matimatian dengan kenyataan yang tengah dihadapinya dalam hidup. ”ini tidak boleh terjadi!!!”, ”ini tidak adil!!!”, ”aku tidak akan pernah membiarkan semua ini terjadi!!” demikian kata-kata orang di tipe ke dua ini. Dia bukanya optimis, namun tidak bisa menghadapi realita yang tidak sesuai dengan keinginannya. Ia demikian percaya dengan kekuatan dalam dirinya untuk melakukan apa pun yang ingin ia lakukan, meski tenaganya telah mulai habis. Keyakinannya pada diri begitu membabi buta sehingga mengabaikan fakta bahwa dalam dibalik keyakinan harus ada kepasrahan terhadap hasil. Tebak kemudian apa yang terjadi pada kedua orang ini? Orang yang selalu merendahkan dirinya akan menjadi orang gagal yang menyedihkan. Sementara orang yang selalu melawan realita kehidupan akan menjadi seorang yang mati kelelahan dalam perjuangan kosongnya. Keduanya sangat jauh dari kebahagiaan. Tulisan ini saya buat untuk mereka yang tidak ingin memiliki takdir seperti kedua karakter tersebut (dan saya salah satu orang yang tidak ingin bernasib seperti itu). Dan jika anda termasuk dalam salah satu orang 66
  • 62. Memasuki Rumah Cahaya tersebut, maka bacalah tulisan ini, siapa tahu bisa membantu. Akar menjadikan pohon kuat berdiri. Akar tidak tumbuh ke luar, namun ke dalam tanah. Makin mendalam akar sebuah pohon, maka makin kokoh juga pohon tersebut berdiri dan menghadapi angin atau badai. Lalu apakah yang menjadi akar bagi manusia, yang menjadikanya kokoh menghadapi badai kehidupan? KEYAKINAN! Keyakinan adalah akar yang akan membuat anda demikian kokoh dan kuat dalam menghadapi kehidupan. Keyakinan terhadap apa? Keyakinan terhadap segala keagungan dan kemuliaan yang ada dalam diri anda, dan keyakinan terhadap Keagungan yang menciptakan keagungan dalam diri anda itu (Tuhan). Dan yang terakhir, meyakini bahwa bukan hanya anda yang memiliki keagungan tersebut, namun juga semua yang pernah dan akan diciptakan oleh Yang Maha Agung. Citra diri adalah hal yang sangat penting. Jika anda mencitrakan diri anda negatif, maka kehidupan yang anda jalani pun akan negatif. Sebaliknya jika citra diri ada demikian bersinar, maka sinarnya juga akan memancar keluar, menyinari anda dan dunia anda. 67
  • 63. Memasuki Rumah Cahaya Entah apa agama anda, saya yakin pasti anda meyakini akan keagungan Tuhan. Beliau memiliki sifat-sifat yang Maha Mulia, Maha Pemurah, Maha Pengasih dan sebagainya. Kemudian, Tuhan menciptakan manusia berdasarkan gambaran Diri-Nya. Lalu bagaimana bisa manusia meyakini dirinya sebagai mahluk yang rendah? Saat anda tidak meyakini kemuliaan yang ada dalam diri anda, itu juga berarti anda tidak meyakini Tuhan, yang telah menciptakan anda. Secara fisik, kita mungkin masih memiliki begitu banyak kekurangan dan keterbatasan, kita semua mengetahui hal tersebut. Namun jika karena keterbatasan fisik anda membatasi keangungan jiwa, maka anda sedang menghina Tuhan. Dalam ilmu psikologi, penelitian membuktikan bahwa bahkan anda tidak menggunakan sepenuhnya kemampuan yang ada dalam diri anda. Hanya 10% saja yang orang kebanyakan manfaatkan dari kemampuan otaknya. Anda memiliki 90% kekuatan tidak terpakai, dan anda menganggap diri anda lemah? J.K. Rowling mengatakan bahwa tidak ada orang yang kuat dan lemah, hanya orang yang menyadari dan menggunakan kekuatanya, dan orang yang belum sadar dan sehingga belum menggunakan kekuatan dalam dirinya. 68
  • 64. Memasuki Rumah Cahaya Dalam perspektif Psikoanalisa, kemampuan terbesar manusia terletak dalam alam bawah sadarnya, sedangkan perbandingan antara alam sadar (yang dipakai manusia dalam keseharian) dan alam bawah sadar adalah seperti gunung es. Ujungnya yang tampak adalah alam sadar, sedangkan bagian bawahnya yang demikian luas adalah alam bawah sadar. Lalu masihkah anda menilai diri lemah? Berakar ke dalam berarti meyakini kemuliaan yang ada dalam diri anda, dan meyakini Tuhan yang telah menciptakan kemuliaan tersebut. Jika anda tidak mengingat hal ini, maka bahkan anda tidak akan berani memimpikan kehidupan yang baik. Sedangkan, segala kesuksesan berawal dari keberanian untuk bermimpi dan lalu menggunakan segenap potensi untuk mewujudkanya. Keyakinan adalah energi yang membuat anda melangkah. Jika anda meyakini diri anda, maka anda akan yakin kaki anda akan terus melangkah dan mengantarkan anda ke tempat yang anda tuju. Dan jika anda meyakini Tuhan, maka anda akan terus melangkah dalam keyakinan bahwa Tuhan akan mengantarkan dan membimbing jalan anda, bahkan memastikan anda untuk sampai dengan selamat di tempat yang anda tuju tersebut. 69
  • 65. Memasuki Rumah Cahaya Dalam pola keyakinan macam ini, tidak ada satu hal pun yang mampu membuat anda jatuh atau menyerah. Suichiro Honda berakar kuat ke dalam, ia MEYAKINI dirinya bahkan di saat semua hal menghadirkan keputus-asaan, dia meyakini Tuhan saat semua hal mencoba menjatuhkanya. Dia tetap berdiri dengan kokoh di atas keyakinannya, hingga akhirnya keyakinan itu berbuah. Ia berhasil mendirikan Honda Corporation yang mendunia. Abraham Lincoln juga serupa. Kegagalan demi kegagalan terus menderanya. Kebangkrutan demi kebangkrutan menghajarnya bahkan ia sampai masuk penjara. Namun ia terus melangkah dalam KEYAKINANNYA terhadap Tuhan dan dirinya. Alhasil, ia adalah presiden Amerika paling populer sepanjang masa. Mahatma Gandhi tidak sedang bertengkar dengan tetangga sebelah rumahnya, namun ia sedang berjuang memerdekakan bangsanya dan berdiri menghadapi Kerajaan Ingggris Raya (salah satu kekuatan terbesar dunia di masa itu) sebagai musuhnya. (Seorang lelaki tua yang hanya berbekal keyakinan terhadap dirinya dan Tuhannya, berani berdiri menantang salah satu negara terkuat dan paling ditakui!). Namun orang tua sederhana ini begitu MEYAKINI apa yang dirinya perjuangkan, dan ia juga berkata, ”seandainya aku tidak 70
  • 66. Memasuki Rumah Cahaya selalu meyakini Tuhan dan berdoa pada-Nya, mungkin aku sudah menjadi gila”. Ia meyakini mimpinya yang mulia, dan ia yakin Tuhan akan membantunya mewujudkan mimpi itu. Lalu Tuhan menggerakan selururuh masyarakat India dan dunia sebagai penolong bagi Gandhi. Mereka berakar begitu kuat ke dalam, dan mereka tetap berdiri kokoh di tengah badai macam apa pun. Dan pada akhirnya keyakinan mereka berbuah (berhasil mencapai apa yang diinginkan). Pohon yang berakar kuat ke dalam akan berdiri dengan kokoh bahkan di tengah badai, sedangkan pohon yang akarnya lemah dan rapuh akan mati bahkan di alam yang tenang. Pohon yang tetap kokoh itupun lamakelamaan akan berbuah. Demikian pula dengan manusia yang selalu melangkahkan kakinya dalam keyakinan yang benar, maka suatu saat keyakinan tersebut pasti berbuah. Cukup dulu untuk membicarakan tentang akar. Silakan anda renungi apa yang saya tulis itu (jika anda mau). Anda juga boleh mencari referensi di mana pun, dan anda akan melihat bahwa mereka yang mencapai kesuksesan dalam hidup pasti adalah orang-orang yang meyakini kemuliaan dalam dirinya dan meyakini kemuliaan Tuhan. 71
  • 67. Memasuki Rumah Cahaya Setelah mengetahui akar yang membuat anda berdiri kokoh dan berbuah, lalu seperti apakah sayap yang dianugerahkan Tuhan untuk manusia? Sebelum membahas mengenai hal itu, saya ingin sedikit berbagi cerita untuk anda. Saya memiliki seorang kenalan, sebut saja namanya Made. Dia sedang dihadapkan pada realita kehidupan yang sangat memilukan. Satu-satunya orang tua yang dia miliki, ibu yang sangat ia cintai dan sayangi meninggal karena kanker payudara. Anda pasti bisa merasakan betapa sakit dan perih derita yang ia alami. Berbagai emosi berkecamuk dalam diri Made. Sedih, takut, marah dan sebagainya, bahkan Made hampir depresi karena hal itu. Namun beberapa waktu kemudian Made terlihat tidak lagi seperti orang yang frustasi, malah dia tampak lebih baik. Apa gerangan yang membuatnya kembali bangkit? Saat pertanyaan ini diarahkan padanya, dia menjawab ”saya menerima dengan iklas bahwa ibu saya telah meninggal dan tidak ada hal yang dapat saya lakukan untuk merubah hal tersebut”. Kata-kata tersebut memang sangat sederhana, bahkan terdengar terlalu sederhana untuk bisa menjadi obat bagi segala sakit hati dan kesedihan yang dia alami. Namun dalam kata-kata yang diucapkan oleh Made tersebut, ada 72
  • 68. Memasuki Rumah Cahaya satu kekuatan yang berhasil dia gali untuk menghadapi realitasnya yang menyedihkan, keikhlasan. Keikhlasan berarti menerima dengan sepenuh hati segala hal yang tidak dapat kita rubah lagi. Menerima tanpa kompromi, protes atau semacamnya; menerima bahwa hal itu terjadi dan tidak ada yang dapat kita lakukan untuk merubahnya. Namun ada perbedaan signifikan antara ikhlas dengan malas. Orang yang ikhlas adalah orang yang menerima hal yang tidak dapat dirubahnya, sedangkan orang lemah yang pemalas adalah orang yang bahkan tidak pernah mencoba merubah hal-hal yang masih bisa ia rubah. Keikhlasan, penerimaan terhadap realitas dan kenyataan tanpa banyak mengeluhkanya, merupakan salah satu sayap yang dimiliki manusia. Sayap berikutnya yaitu kepasrahan, menyerahkan dan meyakinkan semua hal pada Tuhan; karena Tuhan yang Maha Pengasih akan menguatkan kita saat kita lemah, karena Tuhan akan membangkitkan kita saat kita terjatuh, karena Tuhan akan menghibur kita saat kita sedih, karena Tuhan akan menuntun kita saat kita tersesat. Dengan berbekal keyakinan tersebutlah, maka kita memasrahkan segala hal pada Tuhan yang Maha Pengasih atas apa pun yang kita alami dalam kehidupan. 73
  • 69. Memasuki Rumah Cahaya Kepercayaan pada diri adalah hal yang sangat penting, seperti yang kita bahas di depan. Namun jika kita terlalu percaya pada diri sendiri sehingga menganggap bahwa segala hal dalam kehidupan kita dapat kita kendalikan sendiri, maka itu disebut arogan. Manusia, dalam batasan tubuhnya di dunia ini memiliki keterbatasanketerbatasan yang mau tidak mau harus kita akui. Namun Tuhan tidak memiliki batasan apa pun, Beliau demikian Sempurna, dan dengan menghubungkan diri dengan Kesempurnaan inilah kita dapat mengisi kekurangan dan keterbatasan manusiawi kita. Bagaikan setetes air sungai yang menjadi lautan saat ia menyatukan diri dengan lautan. Wayne W. Dyer mengatakan bahwa satu-satunya masalah yang kita hadapi sekarang adalah keterpisahan kita dengan Tuhan, bukan terpisah dari sudut pandang ruang dan waktu, namun keterpisahan dari sudut pandang kesadaran. Saat kita tidak sadar dengan keterhubungan kita dengan Tuhan maka kita seperti sebongkah es yang memisahkan diri dari gunung esnya, sehingga kita akhirnya hanya akan meleleh dan menguap. Tidak menyadari keterhubungan kita dengan Tuhan membuat kita mengalami banyak masalah. Bukan karena Tuhan menuntut kita untuk memuja-Nya dan akan marah jika Dia tidak dipuja. Kita mengalami 74
  • 70. Memasuki Rumah Cahaya banyak masalah saat jauh dari Tuhan persis seperti saat kita mengalami kegelapan saat kita menjauhi cahaya. Masalahnya tidak terletak pada cahayanya, namun pada kita. Dalam keseharian, kita sering kali demikian arogan sehingga menganggap segala keberhasilan yang kita capai adalah hasil jerih payak kita semata. Namun sebaliknya saat terjadi hal-hal buruk yang berada di luar kendali kita, maka dengan mudahnya kita menyalahkan Tuhan. Sungguh hubungan yang buruk dengan Pencipta kita sendiri, bukan? Keikhlasan dan kepasrahan adalah sepasang sayap yang membawa kita terbang menuju kebahagiaan. Namun keduanya harus digunakan dengan bijak. Perhatikan ego dan pemikiran negatif dalam diri anda, yang sering kali menyamarkan dirinya menjadi keikhlasan dan kepasrahan, padahal itu hanya bentuk kemalasan, ketidak bertanggung jawaban dan penghindaran sementara atas realitas yang tak mampu kita hadapi. Keikhlasan dan kepasrahan adalah tanda kekuatan dan kebijakan yang datang dari hati, bukan bentuk perlindungan pikiran untuk menghindarkan kita dari kecemasan dan ketakutan (dalam istilah Psikologi disebut ego defence mecanism). 75
  • 71. Memasuki Rumah Cahaya Dengan kedua sayap ini kita menjadi terbang sangat tinggi dari berbagai permasalahan dan keruetan hidup di dunia, seperti burung yang menikmati kehidupanya diantara indahnya awan dan langit, meninggalkan polusi dan kebisingan bumi. Dalam penelitian mutakhir yang dilakukan oleh David Hawkins, keikhlasan (acceptance) merupakan salah satu tingkat kesadaran level tinggi yang memberikan manusia kekuatan, bukan malah menjadi serangan. Dalam penelitian spiritual-science ini dikatakan bahwa saat manusia memiliki emosi seperti kemarahan, rasa bersalah, keinginan, kesedihan dan sebagainya, maka manusia sedang DISERANG oleh dirinya sendiri. Hal ini bukan hanya melemahkan, namun juga merugikan. Namun saat dalam diri kita tumbuh keikhlasan, penerimaan, kenyamanan, dan emosi positif lain, maka kita mendapatkan KEKUATAN. Betapa lengkapnya anugerah yang dimiliki manusia. Pertama, ia memiliki akar yang memungkinkanya yakin untuk melakukan apapun dengan kekuatanya, kemudian dia melakukan hal tersebut tanpa obsesi yang tidak sehat, namun tetap ikhlas dengan segala hasilnya dan menyerahkan semua itu secara pasrah pada Tuhan. Sukses dan bahagia adalah akhir kisah manusia macam ini. Dan meski pun tidak sukses, kita tetap bahagia, tenteram dan nyaman dengan kehidupan kita. 76
  • 72. Memasuki Rumah Cahaya 77
  • 73. Memasuki Rumah Cahaya Manusia Adalah Elang yang Menganggap Diri Sebagai Ayam karena Hidup di Lingkungan Ayam. Semua manusia memiliki potensi; semua manusia memiliki semacam kotak ajaib dalam hati mereka yang berisi berbagai macam sumber daya yang memungkinkan manusia mana pun mencapai segala pencapaian luar biasa. Bahkan Helen Keler yang legendaries adalah seorang yang buta dan tuli; namun dia tetap menjadikan dirinya luar biasa dan dikenang dunia. Meski pun semua manusia memiliki suatu potensi untuk menjadi luar biasa, namun toh tidak semua manusia menjadi luar biasa. Kenapa demikian? Karena sesuatu tidak lagi luar biasa jika semua orang mencapainya. Namun, banyak orang menjadi terkekang potensinya karena ia hidup di lingkungan orang-orang yang tidak pernah mengaktualisasikan potensi-potensi yang mereka miliki. Hanya karena anda hidup di lingkungan ayam, bukan berarti anda juga adalah ayam; bisa jadi anda adalah elang yang belum diijinkan menjadi elang. Anda tentu tahu, ayam-ayam itu pasti tidak kuasa lagi menghadapi anda jika mereka anda telah sadar akan hakekat anda sebagai elang. 78
  • 74. Memasuki Rumah Cahaya Banyak orang akan berkata, “kamu tidak akan berhasil melakukan pekerjaan itu! Kamu terlalu lemah untuk itu. Aku sudah berkali-kali mencobanya namun tetap tidak berhasil juga”. Lalu anda membeli label negative itu, dan anda bahkan tidak pernah mencoba untuk melakukan pekerjaan itu. Padahal, anda dan orang itu berbeda, karena anda berniat melakukan pekerjaan itu dengan segenap kekuatan yang anda miliki, dan orang itu tidak maka wajarlah orang itu gagal (dan mungkin andalah yang akan berhasil). Dengan cara kerja dan gairah yang berbeda, maka sudah pasti hasil yang diperoleh pun berbeda. Jangan pernah mau menerima bujukan ayam-ayam macam tadi. Sadarilah bahwa anda adalah elang, anda bisa melakukan apa yang mereka tidak mampu lakukan. Karena anda berbeda. Pilihan ada di depan anda; tetap percaya bahwa anda adalah ayam, ataukah anda akan mengepakan sayap dan terbang tinggi sebagai elang? Anda memiliki potensi yang sama dengan yang orang lain miliki, namun tidak semua orang mau memakai seluruh potensi mereka. Mereka terlalu nyaman berada di kandang ayam sehingga enggan mengepakan sayap dan terbang sebagai elang. Apakah anda ingin bernasib sama dengan orangorang macam demikian? Saya harap tidak. Orang lain gagal bukan jaminan anda juga akan gagal; bisa saja 79
  • 75. Memasuki Rumah Cahaya orang lain gagal karena Tuhan sedang mempersiapkan keberhasilan untuk anda. Dan syarat keberhasilan itu hanya satu, anda berani mengepakan sayap dan terbang tinggi sebagai elang. Cukup anda berada dalam kenyamanan kandang ayam, itu bukanlah tempat yang tepat untuk anda. Terbanglah tinggi! Saat anda telah terbang tinggi, jangan lupa daratan. Turunlah juga ke bumi. Banyak elang lain yang masih percaya bahwa mereka adalah ayam, dan sudah menjadi tugas untuk anda (elang yang telah tersadar) untuk menyadarkan elang-elang lain. Terbanglah tinggi bersama-sama. Anda, bersama mereka adalah raja-raja langit. Hidup akan menjadi demikian agung dan luhur, jika anda berani mengepakan sayap untuk pertama kalinya dan meninggalkan kandang ayam itu. Ayam-ayam lain, yang takut dengan kebangkitan mereka, yang ingin mengajak sebanyak mungkin elang menjadi elang, tentu akan menentang anda, mereka akan mengatakan bahwa anda hanya seorang pemimpi, anda hanya seorang yang senang berhayal. Jangan hiraukan mereka, tetaplah terbang. Saat anda terbang untuk pertama kalinya, mungkin anda akan terjatuh, kesakitan dan terluka, namun jangan kemudian percaya bahwa anda memang ayam dan berhenti mencoba terbang. Tetaplah terbang, 80
  • 76. Memasuki Rumah Cahaya melayanglah tinggi. Berani jatuh, berani berbeda, itulah kuncinya. Dan yang paling penting, jangan samakan diri anda dengan ayam, karena anda adalah elang. 81
  • 77. Memasuki Rumah Cahaya Manusia Adalah Samudera yang Menganggap Diri Sebagai Embun Banyak sekali diantara kita yang ketika dihadapkan pada satu masalah, pada satu tantangan hidup, pada satu keadaan yang menuntut kita untuk mengambilnya, kemudian kita berkata “tidak mungkin aku bisa menyelesaikan semua ini”, “aku terlalu lemah untuk menghadapi semua ini”, “aku tidak bisa, tidak mampu, tidak akan”. Lalu apa yang terjadi setelah semua proses negative self-labeling itu? Ya, anda menjadi apa yang anda yakini. Anda tak akan pernah menyelesaikan pekerjaan atau menghadapi tantangan yang langsung anda tolak karena anda mengira tidak akan mampu menyelesaikanya. Inilah salah satu cara manusia memperlemah dirinya. Ia memberikan dirinya label negative dan akhirnya ia menjadi seperti apa yang ia yakini itu. Jadi, apakah Kita ini lemah atau kuat? Apakah kita mampu atau tidak? Itu tergantung bagaimana kita memberikan label untuk diri kita, bagaimana keyakinan yang kita miliki; karena semua itu akan menjadi prinsip yang kita yakini dan hidupi. Lalu muncul sebuah tawaran, kenapa anda harus menganggap diri anda sebagai embun, jika anda mampu menenggelamkan dunia layaknya ombak tsunami? 82
  • 78. Memasuki Rumah Cahaya Kenapa anda harus mencap diri jelek jika anda bisa mencap diri sebagai suatu keagungan? Kenapa anda tidak serta merta mengatakan “saya mampu!” dan mencoba semua hal, menghadapi semua tantangan dan menyelesaikan semua pekerjaan. Kita ini samudra, namun menganggap diri lemah layaknya embun. Kini saatnya untuk sadar. Tony Buzan, seorang pakar kecerdasan dan otak, mengatakan bahwa hampir 90% kemampuan dan potensi kita belum kita gunakan. Kenapa? Karena kita menganggap diri kita hanya memiliki 10% potensi, dan akhirnya kita tidak melakukan apa pun untuk mengembangkan 90% potensi yang tersisa, akhirnya kita malah memperlemah diri sendiri. Inilah keahlian kita yang paling mematikan. Lalu, apakah setelah membaca tulisan ini anda akan berlari keluar rumah dan mengatakan “saya mampu melakukan semua hal!!!”? boleh juga, jika anda memang sudah segila itu. Untuk mengatakan pada dunia bahwa anda adalah samudra, anda tidak perlu berteriak dengan berbagai omong kosong, anda menjadi orang besar saat anda melakukan hal-hal besar. Anda menjadi super hebat saat anda melakukan hal yang tidak mampu orang hebat lakukan. Biarkan perbuatan anda membuktikan siapa diri anda, sebagaimana sedari dulu perbuatan anda telah membuktikan siapa diri anda kini. Anda embun ataukah 83
  • 79. Memasuki Rumah Cahaya samudra? Pilihlah satu keyakinan, dan biarkan perbuatan anda yang menjadi pembuktian! Itu saja. Itulah hukum kehebatan. Lalu apakah anda akan dengan serta merta berkata “biarkan saya berperang melawan seluruh tentara di dunia, karena saya mampu”? silakan jika anda memang cukup bodoh untuk melakukan hal itu. Yang harus anda lakukan untuk menadi seorang hebat adalah dengan setiap hari menghebatkan diri anda. Persiapkan diri anda untuk layak menerima semua keajaiban dan anugerah. Anugerah datang pada mereka yang layak menerimanya. Hadiah nobel tidak diberikan pada orang biasa, tetapi pada mereka yang melakukan hal-hal luar biasa. Jadi persipakan diri anda untuk layak menerima semua anugerah di dunia in, dengan setiap hari menghebatkan diri anda, dengan senantiasa melatih diri anda. Jangan buru-buru mengatakan “saya akan maju berperang”. Pertama-tama, berlatihlah teknik perang, kemudian milikilah senjata yang tajam, pelajari taktik yang hebat, pelajari tiap kekalahan dan tiap kemenangan, perkuatlah otot-otot anda, karena anda tidak bisa hanya bergantung pada pedang. Setelah itu baru anda boleh turun ke medan tempur. Saat anda memiliki keyakinan bahwa anda adalah orang hebat, maka anda harus selalu memperhebat diri anda, 84
  • 80. Memasuki Rumah Cahaya karena orang hebat yang puas dengan kehebatan yang sedang dimilikinya segera akan menjadi orang biasa saat kehebatan itu dimiliki semua orang. Jika sudah demikian, maka angkatlah senjata anda dan teriakan “saya akan berperang” (saya harap anda mengartikan kalimat ini secara kiasan semata. Anda adalah samudra. benar! Namun samudra yang luas membutuhkan Bumi untuk menjadi penopangnya. Samudra yang agung membutuhkan Ibu Pertiwi sebagai pangkuannya. Berpangkulah pada Tuhan. Jangan karena keyakinan, latihan dan karya yang anda lakukan kemudian anda menjadi sombong dan takabur. Tinggikan diri anda, namun rendahkan hati anda. Hebatkan karya anda, tetapi sederhanakan sikap anda. Diamlah dalam Tuhan, dalam sumber sejati dari kehebatan. Embun yang menganggap diri lemah namun berdiam dalam keyakinan akan Tuhan sebenarnya akan segera menyadari dirinya sebagai samudera. Embun yang meneteskan dirinya ke samudera akan menjadi samudera. Jika anda telah menjadi samudra dan menjadi lupa pada Tuhan, samudra itu segera akan kering dan surut. Layaknya samudra yang tak dipangku bumi, maka ia akan musnah, hancur di ruang kehampaan. Yakini bahwa anda samudra, perlakukan diri anda layaknya samudra dengan memperhebat diri anda selalu, lalu terimalah segala tantangan yang ada di depan anda 85
  • 81. Memasuki Rumah Cahaya untuk membuktikan bahwa anda memang samudra. Dan terakhir (dan saya ulang lagi), samudra pun membutuhkan Bumi untuk menampungnya, jadi jangan pernah menjadi idiot dengan melupakan Tuhan. Rendah hatilah. Anda Adalah Samudra, bukan embun! 86
  • 82. Memasuki Rumah Cahaya Manusia Adalah Burung Phoenix yang Terlahir Kembali Dari Abunya Phoenix adalah salah satu mahluk legenda yang unik (dan mahluk legenda favorit saya). Phoenik dikatakan dapat terlahir kembali dari abu mayatnya. Saat ia mati, tubuh lamanya menjadi abu, lalu dari abu itu ia terlahir kembali sebagai mahluk yang baru dan muda. Sungguh ajaib! Lalu apakah manusia dapat seperti itu? Secara fisik, manusia tidak dapat berlaku seperti phoenix, namun secara mental bisa. Kita mati, lalu menjadikan mayat kita abu, dan dari abu itu kita terlahir kembali. Sering kali kita dihadapkan pada persoalan-persoalan pelik dan susah. Sering kali kita dihadapkan pada permasalahan hidup yang tampak tak teratasi. Sering kali pula kita tampak terjebak dalam bencana yang membuat kita tak berdaya. Semua itu bagai kematian untuk kita. Namun kita tidak boleh berlama-lama tinggal dalam “tubuh lama” kita, dalam bangkai. Bangkai itu ibarat pola pikir lama kita; yang merasakan kesengsaraan dalam menghadapi semua permasalahan itu. Kita harus meninggalkan cara-cara lama dalam menghadapi permasalahan itu. Kita bakar tubuh lama itu menjadi abu. Hanya setelah itulah kita bisa terlahir kembali. 87
  • 83. Memasuki Rumah Cahaya Albert Einstein mengatakan bahwa kita tidak dapat menyelesaikan masalah dalam kondisi atau level pikiran yang sama dengan level pikiran saat kita menciptakan permasalahan itu. Kita harus menaikan taraf berpikir kita, cara berpikir kita. Jika cara pikir anda saat menciptakan masalah mendapat nilai 10, maka anda baru bisa menyelesaikan permasalahan anda dalam nilai pikiran 10 keatas. Bagaimana langkah awal untuk menciptakan level pikiran baru? Kuncinya adalah KETENANGAN. Saat anda tenang, maka kekuatan pikiran anda akan bertambah. Saat anda tenang anda kemudian memiliki satu kesempatan untuk mengumpulkan tenaga baru dan kekuatan baru dalam menyelesaikan permasalahan anda. Tony Buzan mengatakan bahwa saat kita tenang, maka pikiran kita dapat memilah-milah suatu permasalahan berdasarkan prioritasnya. Ketenangan merupakan satu kunci untuk membuka kekuatan pikiran. Ilmiahnya, anda memiliki masalah dalam level otak beta, maka dengan memindahkan level pikiran ke alpha anda memiliki perspektif dan kekuatan baru. Dan ketenangan yang dalam adalah kondisi saat otak berada dalam gelombang alpha.. 88
  • 84. Memasuki Rumah Cahaya Namun justru ketenangan inilah yang sulit orang dapatkan. Ketenangan bagai meng-abu-kan tubuh lama, dan dari sana anda dapat terlahir kembali menjadi phoenix yang baru. Dan saat anda telah menjadi phoenix yang baru, yang lebih muda dan kuat, maka anda kemudian dapat menyelesaikan permasalahan apa pun. Menghadapi masalah orang justru makin gentar, menghadapi suatu persoalan seseorang malah sering menjadi tidak percaya pada kekuatanya; dan semua emosi negative yang anda ciptakan dalam menghadapi permasalahan anda justru menjadikan diri anda makin lemah dalam menghadapi permasalahan. Dengan pikiran yang sudah lemah, malah makin anda perlemah, bahkan masalah kecil pun tidak akan dapat anda selesaikan. Jadilah orang baru, orang yang lebih kuat dan lebih hebat setelah menghadapi suatu permasalahan. Caranya yaitu miliki kekuatan pikiran yang baru, kekuatan yang lebih besar yang akan mempersiapkan anda menghadapi apa pun. Dan sumber kekuatan itu akan dapat diakses dengan satu media sederhana yang disebut KETENANGAN. Sederhana, bukan? Apakah hanya ketenangan saja yang dapat kita gunakan untuk mengakses kekuatan baru dalam pikiran itu? 89
  • 85. Memasuki Rumah Cahaya Masih ada metode lain yang berhubungan; DOA. Doa memiliki satu keistimewaan khusus untuk menghubungkan anda dengan sumber kekuatan terbesar; TUHAN. Guru Bijak dari India, Sai Baba, mengatakan bahwa bersama Tuhan kita dapat bertahan dalam permasalahan apa pun. Namun lagi-lagi manusia menunjukan keanehanya, manusia malah meninggalkan Tuhan di saat-saat kita sangat membutuhkan Beliau. Entah apakah kita bodoh atau sombong, namun kita memang sering kali berlaku seperti itu. Apakah itu salah? Tidak, namun sebagai konsekuensinya kita jadi lemah dalam menjalani kehidupan. Kita tidak mampu terlahir kembali menjadi orang baru, menjadi phoenix baru. Untuk terlahir menjadi phoenix yang baru, anda harus meninggalkan tubuh lama, pola pikir lama, dan masuki pola pikir baru, kekuatan baru dalam pikiran melalui Ketenangan atau Keheningan pikiran, dan dengan DOA! Masukilah alam sederhana ini, dan dapatkanlah efeknya yang tidak sederhana. Tidak heran, kalau sangat sering terdengar cerita bahwa orang yang sedang dalam kondisi terpuruk tiba-tiba menjadi kuat dan mampu menyelesaikan masalahmasalahnya setelah melatih meditasi, rajin ber-zikir, yoga, atau retret-retret. Hal itu karena, setelah mereka menguasai pikirannya, menjadikannya tenang, 90
  • 86. Memasuki Rumah Cahaya didominasi oleh gelombang alpha, mereka menjadi phoenix yang terlahir kembali dari abunya. 91
  • 87. Memasuki Rumah Cahaya Manusia Adalah Alchemist yang Mampu Mengubah Logam Menjadi Emas Mungkin anda pernah mendengar legenda mengenai para alchemist yang mampu merubah logam apa pun menjadi logam mulia yang mahal dan berharga, emas. Melalui serangkaian prosesi, pencampuran dan pengetahuan, para alchemist mampu menciptakan emas. Sungguh luar biasa. Apakah anda tertarik untuk menjadi satu dari para Alchemist tersebut? Sesungguhnya kita semua, manusia adalah para alchemist itu sendiri. Kita dapat MEMILIH menjadikan diri kita seorang alchemist, jika kita mau dan menguasai metodenya. Namun alchemist yang dibahas di sini bukanlah alchemist-alchemist yang mampu membuat emas dalam arti sesungguhnya, namun kita mampu membuat “emas-emas” dalam arti lainya, arti kiasan. Kita mungkin mengalami berbagai permasalahan, mengalami bencana dan berbagai macam duka cita. Semua itu awalnya bagai logam-logam yang tak berharga. Namun dalam tempaan seorang alchemist, “logam” yang awalnya tak berharga itu kemudian dapat menjadi “emas”. Bagaimanakah menjadikan masalah dan kesedihan itu menjadi emas? Anda hanya memerlukan satu sarana; 92
  • 88. Memasuki Rumah Cahaya kebijaksanaan! Kebijakan yang saya maksud tidaklah menuntut anda menjadi seorang Plato, Aristoteles, Rumi, Buddha, Confusius, Krishna atau para mercusuar kebijakan lainya. Anda cukuplah menjadi diri anda sendiri. Anda hanya cukup memiliki KEPEKAAN dalam mengolah berbagai permasalahan itu menjadi untaian HIKMAH dan PELAJARAN yang MEMPERKUAT diri anda, yang anda jadikan modal untuk menjalani kehidupan berikutnya, dan latihan bagi anda untuk memperkuat jiwa anda. Saat anda telah mampu mendayagunakan permasalahan dan duka cita itu untuk kemajuan dan perkembangn pribadi anda, maka saya mengucapkan selamat untuk anda, karena anda telah menjadi seorang alchemist. Sayangnya, jangankan menjadikan diri seorang alchemist, kebanyakan orang malah menjadikan dirinya korban dan bulan-bulanan atas berbagai permasalahan yang kita alami. Namun semua itu adalah pilihan. Pilihan yang sangat nista, melihat kita memiliki kemungkinan untuk mengambil pilihan lain yang jauh lebih mulia. Dan anda juga telah melihat konsekuensi dari pilihan anda itu, anda melihat bahwa anda terjebak dalam kesedihan dan duka cita yang lebih mendalam saat anda memilih dijadikan korban oleh keadaan, bukanya mengambil alih keadaan dan menempa keadaan macam apapun menjadi emas yang demikian berharga untuk jiwa anda. 93
  • 89. Memasuki Rumah Cahaya Pilihan anda adalah kehendak bebas anda, namun ijinkan saya menyarankan, agar anda memilih pilihan yang terbaik untuk diri anda; memilih menjadi seorang alchemist. Saya yakin anda juga pasti bosan dan sengsara terus menerus menjadi korban keadaan. Oliver dan Wilbur Wright, penemu pesawat terbang adalah para alchemist sejati. Saat mereka berencana membuat alat yang mampu menerbangkan manusia ke langit, para agamawan menentang mereka habishabisan, mengecam mereka menentang kodrat Tuhan. Lalu dihadapkan pada logam macam itu, Wright bersaudara alih-alih menyerah, mereka menempa kecaman dan tentangan itu menjadi motivasi dan cambuk yang membuat mereka berusaha lebih keras. Mereka menempa logam itu menjadi emas. Dan sebagai hasilnya, mereka menciptakan alat yang memungkinkan manusia mengelilingi dunia dengan waktu yang demikian singkat. Jika saja Wright bersaudara memilih menjadi korban keadaan, menyerah pada kecaman para agamawan, maka kita saat ini tentu tidak akan mengenal pesawat terbang. Satu hal yang perlu dicatat disini; para alchemist tidak hanya menyimpan emas untuk diri mereka sendiri, namun juga untuk dinikmati orang lain. Sekarang renungkanlah diri anda, tanyakanlah pada diri anda, apakah anda sedang mengalami satu situasi dan 94
  • 90. Memasuki Rumah Cahaya kondisi yang membuat anda kecewa dan sedih. Bangkitlah dari kekecewaan dan kesedihan itu, lalu rubahlah situasi atau kondisi itu menjadi semacam fitamin untuk jiwa anda; yang menguatkan dan memberdayakan anda. Lihatlah apa keuntungan yang bisa anda ambil dari hal yang paling merugikan sekali pun, lalu beranjaklah maju ke sana. Orang yang membenci anda sedang melatih anda untuk bersabar. Orang yang merugikan anda sedang mempersiapkan anda menjadi orang yang lebih jeli dan teliti. Kondisi atau situasi yang menekan sedang melatih pikiran anda agar lebih kuat. Orang yang menipu ada sedang menjadikan anda orang yang lebih berhati-hati. Semua keadaan itu sedang menunggu untuk dijadikan emas oleh sentuhan seorang alchemist sejati, seperti anda. Tapi jangan sampai kita jadi seorang alchemist yang “gagal”, yang bukanya menempa logam menjadi emas, namun malah menjadikanya tumpukan sampah. Salah satu contoh nyatanya, saat anda dihadapkan dalam situasi yang penuh tekanan, bukanya anda berlatih menjadi makin kuat, anda malah frustasi, depresi lalu bunuh diri (atau jika anda beruntung hanya akan masuk RSJ). Saat ada seorang yang membenci anda, bukanya anda menjadi lebih sabar dan penuh cinta, anda malah menjadi makin kasar dan pemarah. 95
  • 91. Memasuki Rumah Cahaya Masukilah dunia para alchemist, dunia yang penuh keajaiban dari para pencipta keajaiban. Hanya saja untuk menjadi seorang mulia seperti alchemist anda memerlukan latihan dan pembiasaan. Kita tak bisa bijak seketika saja; perlu proses dan latihan yang harus kita jalani. Namuan sesulit dan selama apapun proses yang anda lalui, anda akhirnya pasti menjadi seorang alchemist sejati. Sekarang, tepat di tempat anda duduk membaca buku ini anda juga bisa berlatih menjadi seorang alchemist, dengan mengekstrak sebaik mungkin isi buku ini untuk anda jadikan sarana perkembangan diri. 96
  • 92. Memasuki Rumah Cahaya Manusia adalah Mahluk yang suka membatasi Keagungan Tuhan Mungkin saat pertama membaca judul bab ini, anda akan merasa agak “janggal” dengan kalimatnya. Tetapi kalimat “membatasi” kehendak Tuhan hanya kalimat kiasan. Anda tidak mungkin bisa melakukan hal sekurang ajar itu. Hanya saja, anda sadari atau tidak, kadang anda memang tidak membiarkan Tuhan benarbenar menunjukan kuasa-Nya atas kita. Luar biasa bukan? Namun hal itu bukanlah hal yang pantas dijadikan alasan untuk berbangga. Karena dengan membatasi kehendak Tuhan atas diri anda, anda telah menghilangkan kesempatan yang demikian berharga untuk hidup dalam kebahagiaan yang melimpah. Dan, mau tidak mau harus anda akui, ini adalah salah anda sendiri. Sudah menjadi kodrat bagi manusia TERLAHIR dengan ego. Namun hidup dengan DIKUASAI ego bukanlah kodrat bagi mansia. Anda punya kuasa untuk menaklukan ego anda. Apa Perlunya hal ini dilakukan? Karena kekuasaan ego atas diri anda adalah sebab utama kenapa anda bersedih dan sengsara. Kabut tebal jiwa bernama ego adalah sebab utama anda tidak dapat melihat betapa indahnya senyuman Tuhan dan betapa indah kehendaknya atas diri anda. Ego membuat anda berpikir bahwa anda tahu yang “terbaik” untuk 97
  • 93. Memasuki Rumah Cahaya hidup anda. Ego membuat anda merasa bahwa apa yang anda minta dan apa yang anda inginkan adalah sesuatu yang secara mutlak harus menjadi kenyataan. Anda menutup diri atas segala kumungkinan dan segala hal termasuk yang datang dari Tuhan. Entah sudah menjadi kodrat atau bukan, entah ini naluriah atau hasil pembelajaran, namun manusia adalah mahluk yang senang mengklasifikasikan segalanya, terkadang sesuai dengan keinginanya. Manusia membagi sesamanya dalam klasifikasi baik dan buruk, jahat dan bajik dan sebagainya. Yang memperparah kemudian bukanlah klasifikasi ini, namun bagaimana kita menyikapi klasifikasi ini. Saat kita mengklasifikasikan sesama kita yang satu sebagai baik dan satunya sebagai buruk, maka pikiran kita secara otomatis akan menyukai orang yang kita anggap baik dan kemudian menaruh kebencian pada orang yang kita anggap buruk. Lalu dalih kita yang terkenal adalah, “Tuhan menyukai orang baik, dan membenci orang jahat!”. Dari kalimat itu saja anda bisa melacak betapa tidak rasionalnya kita. Pertama, kita seolah telah memahami Tuhan, dengan pikiran mansia yang terbatas ini, dan menyaman Tuhan dengan kita yang memiliki banyak tabiat buruk untuk membenci apa yang tidak kita sukai. Kedua, melalui keyakinan seperti itu, kita sedang membatasi kuasa 98
  • 94. Memasuki Rumah Cahaya Tuhan, dimana kita menganggap orang jahat seolah adalah bukan ciptaan Tuhan, sehingga Tuhan membencinya. Aneh, bukan? Renungilah sejenak, orang yang mungkin anda benci, orang yang tidak anda sukai dan orang yang anda anggap berperilaku sangat buruk. Tanyakanlah pada diri anda sendiri, siapakah yang menciptakan orang itu? Tuhan, bukan? Lalu jika demikian kenapa anda sangat lancang membenci ciptaan Tuhan. Atau kenapa anda menganggap Tuhan membenci ciptaan-Nya sendiri? Banyak sikap dan kepercayaan kita yang sangat “melecehkan” Tuhan. Jika kita percaya bahwa Tuhan ada dimana-mana, lalu kenapa kita tidak mengakui Tuhan ada di neraka? Jika kita menyakini Tuhan adalah Cinta, kenapa anda lalu mengira Tuhan dapat membenci? Tuhan tidak pernah membatasi diri-Nya dengan hal yang disebut kebencian, Beliau hanya memiliki cinta, namun kita yang kemudian mendefinisikan Cinta dari Tuhan sebagai kebencian, hanya karena Cinta itu belum dapat kita sadari. Saat seorang ibu memukul anaknya yang bertingkah nakal, hal itu bukan disebabkan karena sang ibu membenci anak itu, namun karena Cinta sang ibu itu. Jika anda ingin mengijinkan kuasa Tuhan mengalir atas anda sesuai kehendak-Nya, maka yang harus anda lakukan adalah menyingkirkan kebencian sejauh 99
  • 95. Memasuki Rumah Cahaya mungkin. Jika pun anda membenci kejahatan, kenapa anda harus membenci orang jahat? Membenci orangnya? Jika anda belum mengetahui apa yang baik, benar-benar baik dalam benak Tuhan, maka jangan buru-buru menghakimi satu hal sebagai baik atau buruk, apa lagi dengan mengatas namakan Tuhan. Hanya karena kita melihat tali sebagai ular dalam kegelapan, bukan berarti tali itu adalah ular. Kita juga sangat sering memaksakan kehendak pribadi kita atas Tuhan. Satu perbuatan yang saya rasa pasti kita sepakati sebagai perbuatan yang sangat durhaka. Kita memaksakan kehendak kita, memaksakan doa-doa kita agar terkabul, benar-benar sesuai keinginan kita. Padahal mungkin saja Tuhan memiliki satu hal yang lebih indah untuk kita. Ingatlah satu filosofi, yaitu filosofi Puzle; hidup itu sudah sempurna, tiap kepinganya sudah lengkap; ada baik ada buruk, ada jahat ada bijak, ada cinta ada benci. Hanya saja kita tidak mengetahui pola-pola susunannya, bagaimana menyusun semua kepingan itu menjadi satu gambaran indah bernama kehidupan. Tuhanlah yang mengetahui susunanya, namun kita tidak cukup terbuka untuk menerima gambaran yang diberikan Tuhan itu. Saya punya beberapa cerita untuk anda. Pertama, tentang seorang peziarah yang kepanasan. 100
  • 96. Memasuki Rumah Cahaya Saat ia tidak lagi mampu menahan teriknya sinar matahari, maka sang peziarah berdoa pada Tuhan, “Tuhan, tolong padamkanlah sinar matahari, karena hamba tak lagi mampu menahan terik matahari ini”. Namun setelah lama sang peziarah berjalan, matahari tetap saja terik. Sampai sang peziarah melihat sebuah pondok untuk beristirahat. Di sana ia bisa meminta sedikit minuman untuk menghilangkan dahaganya dan berteduh dari panasnya siang itu. “Tuhan, kau telah mengecewakanku!” umpatnya kemudian, “kau tahu aku sangat kepanasan, tetapi kau tetap tidak mau memadamkan matahari!” Padahal, Tuhan yang telah memberinya sesuatu yang lebih berharga, pondok dan air. Banyak diantara kita yang bersikap tidak realistis seperti itu, berdoa yang bukan-bukan tanpa tahu apa yang sebenarnya kita inginkan. Tapi Tuhan tahu. Tuhan tahu yang sebenarnya diinginkan oleh peziarah itu adalah keteduhan, bahkan juga penghilang dahaga, bukan padamnmya matahari. Dan Tuhan mengabulkan apa yang menjadi keinginan terdalam peziarah itu. Jika doa anda tidak terkabul, maka kembalilah ke dalam diri anda, tanyakanlah pada jiwa anda, apa yang sebenarnya anda inginkan, dan apakah anda sudah benar-benar berdoa untuk hal itu. Jika yang anda 101
  • 97. Memasuki Rumah Cahaya inginkan adalah kesejukan dan keteduhan, jangan minta agar matahari padam. Banyak diantara kita yang meminta kekayaan, ketenaran dan kesuksesan. Dan saat keinginan itu tidak tewujud, kita mengeluh pada Tuhan, seolah kita lebih pintar dari Beliau. Untuk apa anda kaya? Agar bahagia! Kenapa anda meminta kesuksesan? Agar bahagia! Lalu apa fungsinya ketenaran? Agar kita bahagia! Lalu kenapa kita tidak sekalian saja meminta akar dari apa yang kita inginkan, yaitu kebahagiaan, lalu serahkan pada Tuhan entah bagaimana cara Beliau membuat kita bahagia. Lagi pula, siapa yang menjamin kalau saat anda kaya, tenar, sukses, kemudian anda akan bahagia? Mulai sekarang, biarkan kehendak Tuhan terjadi atas anda. Jangan melangkahi keagungan Beliau. Karena kita sangat sering berlaku salah, namun tentu saja Tuhan tidak. Biarkan pikiran anda terbuka untuk melihat keagungan kehendak Tuhan. Jangan turuti ego anda yang buntut-buntutnya anda hanya akan kecewa dan bersedih. 102
  • 98. Memasuki Rumah Cahaya Manusia adalah ikan-ikan di laut yang sibuk mencari air Secara pribadi, saya sangat menyukai analogi ini. Ikan yang hidup di tengah lautan, namun sibuk pergi kesanakemari mencari air. Dimanakah air? Dimanakah air? Pertanyaan yang sangat bodoh. Meski kita tidak sebodoh itu (saya harap semoga tidak), namun kita kadang bertindak serupa itu. Hal umum yang kita cari adalah satu hal yang diimpikan dan dicari oleh begitu banyak orang di dunia ini; KEBAHAGIAAN. Kita sibuk mencari uang, agar uang itu bisa menjadikan kita bahagia. Kita sibuk melakukan ini itu, dengan tujuan yang sama, untuk membuat kita bahagia. Namun dari mana datangnya kepercayaan, bahwa anda harus memiliki uang, popularitas, harta dan sebagainya untuk bahagia? Siapa yang mengatakan pada anda bahwa kebahagiaan itu memiliki ALASAN? Sebagaimana ikan yang hidup di laut akan berlimpah air, maka kita yang hidup di dunia ini juga berlimpah kebahagiaan. Dan kabar baiknya adalah, kita dapat merasa bahagia meski tidak ada alasan untuk itu. Apa ada papan di langit yang bertuliskan “kamu akan bahagia jika kamu memiliki…”? Saya belum pernah membaca papan seperti itu. Jika pun ada satu alasan untuk berhagia, alasanya adalah karena anda memilih 103
  • 99. Memasuki Rumah Cahaya untuk berbahagia. Ya, bahagia adalah masalah pilihan. Apa yang anda pilih untuk rasakan dalam diri anda. Jika rumus kebahagiaan sesederhana itu, lalu kenapa demikian banyak orang tidak berbahagia? Alasanya sederhanya; karena rumusan itu tidak digunakan dengan anggapan bahwa rumus itu terlalu baik untuk menjadi nyata. Orang-orang, kita pada umumnya, percaya bahwa jika kita ingin berbahagia maka kita harus memiliki alasan untuk itu; kita harus punya uang melimpah, emas murni, rumah megah, pasangan yang ideal dan sebagainya. Jika tidak memiliki hal itu, maka kita tidak akan bahagia (di sisi lain malah ada bukti yang tidak sedikit kalau orang yang telah memiliki semua itu pun tetap saja tidak bahagia). Proses yang selama ini kita anut adalah having-being. Jika kita memiliki sesuatu (uang yang melimpah, pasangan ideal dan sebagainya), maka kita akan merasakan emosi yang kita inginkan (bahagia, senang dan sebagainya). Namun proses kreatif yang sebenarnya adalah BEING-HAVING. Jika kita menjadikan diri kita bahagia (memilih untuk menjadi bahagia, merasakan kebahagiaan diman pun dan kapan pun), maka semua yang kita miliki akan membahagiakan. Uang kita jadi seolah melimpah, pasangan yang sama menjadi pasangan yang sangat ideal untuk kita. Segala yang kita 104
  • 100. Memasuki Rumah Cahaya memiliki tiba-tiba berubah menjadi indah saat kita memilih merasakan kebahagiaan. Namun, kita sering kali sangat sulit menjadi bahagia tanpa alasan. Maka itu akan saya tunjukan alasan kenapa anda harus berbahagia. Satu jalan pintas untuk merasakan kebahagiaan yang melimpah… jalan itu bernama SYUKUR. Saya tahu jika pikiran kita masih dipenuhi berbagai macam keinginan, akan sangat sulit untuk bersukur. “apa yang harus saya syukuri jika saya belum mendapatkan apa yang saya inginkan?”, demikian biasanya kita berdalih. Tapi pasti ada satu hal yang bisa anda syukuri jika saja anda cukup membuka pikiran untuk itu. Kenyataan bahwa anda masih hidup dan bisa membaca buku ini adalah hal yang tentu saja sangat patut disyukuri. Sarapan, makan siang dan makan malam, semua adalah anugerah. Pakaian yang anda kenakan juga sudah sepatutnya untuk anda syukuri. Lihat bukan? Hal-hal sesederhana itu saja bisa disyukuri, apa lagi yang lebih dari itu. Hal-hal sederhana yang bisa anda syukuri adalah; angin yang membelai wajah anda, sinar mentari yang menghangatkan anda, langit yang tampak biru, hujan, 105
  • 101. Memasuki Rumah Cahaya awan… semua adalah ciptaan Tuhan yang bisa anda syukuri dan nikmati sepuasnya. Dengan memupuk syukur seperti ini, maka anda akan terbiasa untuk mensyukuri apa pun dalam hidup anda. Dan makin terbiasa anda dengan syukur, makin murah kebahagiaan untuk anda. Mulai sekarang lakukanlah sebuah latihan sederhana ini: lihatlah jam tangan anda, atau jam di handphone anda, yang sifatnya digital. Kapan pun anda melihat jam (satu jam sekali) dan ada angka kembar (12:12,13:13, 20:20 dst) maka pikirkan lah satu hal untuk anda syukuri. Mudah bukan? Namun anda harus menyukuri satu hal, tak perduli itu hal yang sederhana atau satu anugerah istimewa. Anda juga bisa membeli sebuah notebook sederhana (di bagian cover anda boleh memberi judul “the book of gratitude” agar tampak lebih gagah), dan setiap kali ada sesuatu yang membuat anda senang, menggugah anda atau menyentuh anda, maka catatlah hal itu sebagai salah satu hal yang patut disyukuri. Di ujung hari, sebelum anda tidur, bacalah kembali catatan yang telah anda buat seharian dan anda akan mendapati banyak hal yang memang bisa anda syukuri, lalu bersyukurlah sekali lagi untuk semua anugerah itu. 106
  • 102. Memasuki Rumah Cahaya Atau anda juga boleh mengaitkan syukur dengan senyum. Setiap ada orang yang tersenyum anda akan mensyukuri satu hal, dan senyum itu. Atau saat ada lonceng berbunyi, saat anda mendengar suara andzan, suara mantra dan sebagainya. Lakukan apa saja agar anda menjadi semakin terbiasa dengan syukur. Lalu lihat apa kah hidup anda mengalami perubahan atau tidak. Air yang saya maksud dalam judul tulisan ini yaitu KEBAHAGIAAN. Kenapa kita harus berbahagia dengan syukur? Karena syukur adalah wujud keterhubungan kita dengan Tuhan. Tuhan memiliki satu wajah manis yang disebut kebahagiaan. Jadi saat anda menyadari Tuhan, anda akan berbahagia. Bagaimana cara paling sederhana untuk bahagia dengan menyadari Tuhan? syukur! Sederhana, bukan? (atau malah muter-muter? hehe) Rabindranath Tagore mengatakan bahwa untuk menjadi bahagia adalah demikian sederhana. Sayangnya justru untuk menjadi sederhana kita malah susah. Kemana pun anda mengaitkan kebahagiaan, maka anda akan mencari hal tersebut agar anda merasa bahagia. Jika anda mengaitkan kebahagiaan dengan kemewahan, maka anda akan mengejar kemewahan dulu sebelum (menganggap diri anda) bisa merasa bahagia. Jika anda mengaitkan kebahagiaan dengan pasangan yang ideal, maka anda akan menutup pintu hati anda untuk merasakan kebahagiaan sampai anda memiliki pasangan yang ideal. 107
  • 103. Memasuki Rumah Cahaya Dengan konsepsi seperti itu, alangkah mudahnya kita berbahagia jika kita mengaitkan kebahagiaan dengan KESEDERHANAAN. Kita dengan sangat mudah menjadi bahagia karena kita terbiasa bersyukur atas halhal kecil. Hal besar yang mendatangkan ketidak puasan tidak akan membahagiakan, dan justru hal kecil yang dibumbui syukur yang mendalam yang akan mendatangkan suka cita. Catatan terakhir saya, kebahagiaan adalah kondisi pikiran yang bisa anda alami dan rasakan kapan pun dan dimana pun, sesuai dengan keinginan anda. Jangan membiasakan menjadikan kebahagiaan sebagai komoditi mewah. Anda boleh-boleh saja menginginkan sesuatu dalam hidup anda, namun jangan lupa, anda juga harus mensyukuri apa yang telah ada. Karena tiap untaian syukur yang anda ucap pada Tuhan mengantarkan anda lebih dekat dengan Tuhan, dan makin dekat anda dengan Tuhan, makin berbahagia jadinya anda. Sesederhana itu… 108
  • 104. Memasuki Rumah Cahaya Manusia Adalah Gelas Yang Tidak Bisa Menyimpan Susu dan Anggur Sekaligus Yang kali ini kita bicarakan adalah isi pikiran yang sangat menentukan kehidupan kita. Isi pikiran yang akan mengarahkan hidup kita, memilihkan jalan mana yang harus kita lalui, menentukan orang seperti apa yang ingin kita jadikan pendamping hidup kita, rumah seperti apa yang ingin kita tinggali, dan kehidupan macam apa yang ingin kita jalani. Isi pikiran itu adalah mindset. Kata mindset mungkin sudah demikian familiar untuk anda. Anda telah banyak membaca dan mendengar tentangnya. Namun sayangnya, banyak dari orang yang telah lama mendengar dan mengetahui tentang mindset, malah mengabaikanya. Serupa dengan wacana global warming, kita semua tahu seserius apa ancaman global warming untuk kelangsungan hidup kita, namun kebanyakan dari kita toh tidak melakukan apa-apa untuk mencegahnya. Mindset yang terdiri dari nilai-nilai dan kepercayaankepercayaan yang kita anut (beliefs system). Dan nilainilai serta keyakinan-keyakinan itu sudah pasti adalah arah yang akan menunjukan kemana kehidupan kita akan melangkah. Kita bisa meramalkan apakah seseorang akan sukses atau tidak melalui mindsetnya. 109
  • 105. Memasuki Rumah Cahaya Melalui kepercayaan dan nilai yang disimpanya dalam alam bawah sadarnya. jika anda tidak memiliki kepercayaan, keyakinan dan nilai yang dapat mendukung visi anda untuk menjadi sukses, maka kemungkinan besar anda tidak akan menjadi sukses. Sayang sekali. Jadi jika anda ingin sukses, maka anda harus membuang keyakinan yang bertentangan dengan hal itu, lalu menggantikanya dengan keyakinan-keyakinan baru. “Jika anda ingin menggunakan sebuah gelas untuk menyimpan anggur, maka buanglah dulu susunya,” demikian Meister Eckhart mewejangkan. Mari kita merenung sejenak, suatu hari anda ditawari satu peluang (yang juga adalah sebuah tantangan), untuk memimpin sebuah perusahaan yang diambang kebangkrutan. Anda ditantang agar mampu membuat perusahaan yang sedang koma itu bertahan dari kebangkrutan, bahkan jika bisa malah lebih maju dari dulu. Apa yang akan dilakukan oleh orang yang menerima tantangan itu? Tergantung dari apa yang tersimpan dalam gelasnya. Jika ia memiliki keyakinan bahwa ia bisa, mampu, melakukanya, maka ia akan menerima tantangan itu. Jika keyakinan dalam dirinya adalah ketidak mampuan dan kelemahan untuk melakukan hal 110
  • 106. Memasuki Rumah Cahaya besar seperti itu, maka sudah pasti ia akan kehilangan peluang dengan menolak tawaran itu. Apa yang anda yakini terhadap diri anda, demikianlah jadinya anda. Jika anda mengatakan anda bisa, ada kemungkinan anda bisa dan tetap ada kemungkinan anda tidak akan bisa. Namun jika anda mengatakan tidak bisa, maka anda tentu tidak akan mencoba dan oleh karenanya entah apakah anda bisa atau tidak, karena anda sudah mengambil keputusan untuk tidak melakukan apa-apa, ujung-ujungnya anda tidak akan bisa. Jika anda menganut kepercayaan-kepercayaan yang membatasi, maka anda juga sedang membatasi kuasa Tuhan atas diri anda (baca juga tulisan sebelumnya). Jika dulu tiga ratus tentara Sparta meyakini dirinya tidak mampu menghadapi pasukan Persia, maka mereka tidak akan maju berperang, dan tentu pasukan Persia bisa masuk ke wilayah Sparta dengan mudah. Namun tiga ratus pasukan itu mengijinkan kuasa Tuhan mengalir atas diri mereka dengan maju berperang yang akhirnya mampu menahan Pasukan Persia yang jumlahnya ratusan ribu. Jika anda menanamkan keyakinan-keyakinan negative seperti tidak mampu, tidak kompeten, lemah, enggan mencoba, kaya adalah hak orang berpendidikan, sukses hanya miliki orang beruntung, blab la bla… maka 111
  • 107. Memasuki Rumah Cahaya terjadilah seperti itu. Namun jika anda berusaha sekuat anda melakukan apa pun yang anda bisa (bahkan mencoba apa yang anda PIKIR tidak bisa anda lakukan), dengan penuh keyakinan di satu sisi dan keiklasan di sisi lain, maka Tuhan akan mengalirkan kuasanya atas diri anda. Keyakinan juga dapat mempengaruhi sikap anda. Jika anda mengangkap orang miskin tidak berhak bergaul dengan orang kaya, maka setiap ada orang kaya anda akan menunjukan sikap anti pati (jika anda miskin), dan menjauhi orang miskin (jika anda kaya). Jika anda orang yang berpendidikan rendah, dan anda percaya orang dengan pendidikan lemah tidak berhak membangun usaha, maka orang itu tidak akan pernah memulai apa pun. Coba ambil selembar kertas dan tanyakan pada diri anda, apa yang anda yakini pada diri anda? Apakah anda membatasi diri dengan meyakini bahwa anda tidak bisa ini, tidak mungkin melakukan itu dan sebagainya? Apa pula yang anda yakini terhadap orang-orang di sekeliling anda? Apakah anda memiliki keyakinan bahwa tidak akan ada orang yang dapat memahami anda? Memiliki keyakinan bahwa orang lain tidak akan pernah bisa membantu anda? Bagaimana pula keyakinan anda terhadap kehidupan dan dunia? Apa anda percaya bahwa anda tidak akan pernah menemukan kebahagiaan sejati di dunia ini? Apa anda percaya dunia tidak akan 112
  • 108. Memasuki Rumah Cahaya pernah menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk ditempati? Tulis dalam selembar kertas sebuah kalimat “saya percaya bahwa saya…(isi sendiri)”. “saya percaya orang lain (istri, suami, teman, atasan, dll) akan … (isi sendiri).. menjadikan saya … (isi lagi)”. “saya percaya bahwa kehidupan ini adalah…(isi sendiri)”, “saya percaya dunia adalah…(isi sendiri)”. Isi dan tulis sebanyak mungkin yang anda bisa. Lalu setelah proses penulisan keyakinan-keyakinan anda selesai, pertanyakan kembali keyakinan itu pada diri anda sendiri “apakah keyakinan ini dapat membantuku menjadi lebih bahagia?”. Jika jawaban yang keluar adalah “tidak”, maka anda boleh saja tidak merubah keyakinan itu jika anda ingin tetap tidak bahagia. Saya memiliki dua syair yang sekiranya perlu anda renungkan dalam-dalam dalam diri anda, dan anda gunakan sebagai prinsip pribadi yang sangat menguatkan. Refleksi Spiritual Bunda Teresa Apabila engkau berbuat baik, orang lain mungkin akan berprasangka bahwa ada maksud-maksud buruk di balik perbuatan baik yang 113
  • 109. Memasuki Rumah Cahaya kau lakukan itu. Tetapi, tetaplah berbuat baik selalu. Terkadang orang berpikir secara tidak masuk akal dan bersikap egois. Tetapi, bagaimanapun juga, terimalah mereka apa adanya. Apabila engkau sukses, engkau mungkin akan mempunyai musuh dan juga teman-teman yang iri hati atau cemburu. Tetapi teruskanlah kesuksesanmu itu. Apabila engkau jujur dan terbuka, orang lain mungkin akan menipumu. Tetapi, tetaplah bersikap jujur dan terbuka setiap saat. Apa yang telah engkau bangun bertahun-tahun lamanya, dapat dihancurkan orang dalam satu malam saja. Tetapi, janganlah berhenti dan tetaplah membangun. Apabila engkau menemukan kedamaian dan kebahagiaan di dalam hati, orang 114
  • 110. Memasuki Rumah Cahaya lain mungkin akan iri hati kepadamu. Tetapi, tetaplah berbahagia. Kebaikan yang kau lakukan hari ini, mungkin besok dilupakan orang. Tetapi, teruslah berbuat baik. Berikan yang terbaik dari apa yang kau miliki dan itu mungkin tidak akan pernah cukup. Tetapi, tetap berikanlah yang terbaik. Sadarilah bahwa semuanya itu ada di antara engkau dan Tuhan. Tidak akan pernah ada antara engkau dan orang lain. Jangan pedulikan apa yang orang lain pikir atas perbuatan baik yang kau lakukan. Tetapi percayalah bahwa mata Tuhan tertuju pada orang-orang jujur dan Dia sanggup melihat ketulusan hatimu. 115
  • 111. Memasuki Rumah Cahaya Optimist Creed Christian D.Larson Aku Berjanji Pada Diriku Akan … menjadi begitu kuat sehingga tak ada yang mampu menggoyahkan kedamaian pikiranku. Membicarakan hanya tentang kesehatan, kebahagiaan dan kesejahteraan pada tiap orang yang aku temui. Membuat semua temanku merasa bahwa ada sesuatu yang berharga dalam diri mereka, Melihat sisi baik segala sesuatu dan membuat semangat optimisku menjadi nyata. Hanya memikirkan hanya yang terbaik, bekerja untuk yang terbaik dan mengharapkan yang terbaik. Menjadi sama antusiasnya tentang kesuksesan orangv lain seperti kesuksesanku sendiri. Melupakan kesalahan masa lalu dan menekankan pencapaian yang lebih baik di masa depan. 116
  • 112. Memasuki Rumah Cahaya Memasang ekspresi ceria setiap waktu dan tersenyum pada siapa saja yang aku temui. Menggunakan waktuku untuk memperbaiki diri sehingga tak ada waktu untuk mengkritik orang lain. Menjadi terlalu besar untuk kawatir, terlalu mulia untuk marah,terlalu kuat untuk takut, dan terlalu bahagia untuk mengijinkan kehadiran kesedihan. Berpikir positif tentabng diri sendiri dan menunjukkannya pada dunia, bukan dengan kata-kata sombong namun dalam karya besar. Hidup dalam keyakinan bahwa seluruh dunia ada dalam pihakku, selama aku yakin bahwa yang terbaik ada dalam diriku. Dengan besarnya kuasa keyakinan, terhadap diri anda dan kehidupan anda serta orang di sekitar anda, maka pastikan anda memiliki keyakinan yang mendukung anda. Keyakinan yang mengijinkan kuasa Tuhan mengalir melalui anda; keyakinan yang menunjukan usaha, gairah, semangat, kerja keras, keyakinan pada kekuatan dan kemuliaan diri, Tuhan dan Semesta. Maka yakinlah pula, saat anda mengijinkan diri untuk 117
  • 113. Memasuki Rumah Cahaya memiliki keyakinan yang positif, maka kuasa Tuhan akan mengalir melalui anda. 118
  • 114. Memasuki Rumah Cahaya Manusia Adalah Budak Dari Waktu Satu hal yang menjadi ciri manusia adalah kemampuanya untuk berpikir tentang masa lalu dan masa depan. Manusia memang adalah mahluk yang demikian cerdas, sebab ia bisa menganalisa setiap kejadian di masa lalu dan kemudian dijadikanya referensi untuk menjalani masa depan. Manusia juga demikian lihai merencanakan masa depan dengan detail seolah hal itu sudah terjadi. Briliant! Tetapi benarkah manusia secerdas itu (dalam memanfaatkan waktu)? Sayangnya, tidak juga. Kita menganggap diri kita mengatur waktu atau memiliki perencanaan kronologis yang sangat jelas. Tetapi seringnya malah kita lah yang diatur oleh waktu. Kita yang dikuasai oleh waktu. Pujian saya terhadap manusia di paragraph pertama menjadi tidak berlaku, sebab kita (sebagian besar dari kita) ternyata bukalah penguasa atas waktu, namun hanya dijadikan budak oleh waktu. Ada orang yang terus dibayangi oleh hatu masa lalu, dan ada orang yang terus diganggu oleh bayangan masa depan. Dan semua itu membuat mereka lupa akan satusatunya waktu yang nyata, yaitu SAAT INI. Kahlil Gibran mengatakan bahwa masa lalu telah mati, dan masa depan belum lahir. 119
  • 115. Memasuki Rumah Cahaya Seorang pemuda pernah melakukan satu kesalahan yang ia sebut dosa di masa lalu. Ia sering mempermainkan wanita, memanfaatkan mereka lalu membuangnya begitu saja. Dan saat ia benar-benar mencintai seorang wanita, justru wanita itu yang menghianatinya dan mencampakanya begitu saja. Setelah itu ia terus saja menyesali masa lalunya yang buruk, terus mengutuk dirinya sebagai pendosa. “jika dulu aku tidak sejahat itu pada wanita, pastinya aku tidak akan diperlakukan seperti ini” demikian ia terus menghukum dirinya, dengan masa lalunya. Namun pemuda itu memiliki satu kesadaran yang konstruktif. Ia sadar kalau ia harus berubah. Ia tidak mau lagi diperlakukan dengan cara yang buruk oleh wanita. Karena itu ia mati-matian memperbaiki perilaku dan sifatnya. Meski pun, dengan terus mengutuk masa lalunya. Banyak orang yang bersikap seperti pemuda itu. Ia memiliki masa lalu yang agak suram dan kini ia sadar bahwa semua itu begitu buruk. Namun kesadaran itu membuatnya mengutuk dan menyiksa masa lalu yang telah ia alami. Ia tidak pernah memaafkan dirinya atas apa yang dilakukanya di masa lalu. Namun ia lupa, masa lalu yang ia alami adalah ibunya. Masa lalu yang ia kutuk dan hujat itu yang memberinya kesadaran bahwa berperilaku buruk ternyata adalah buruk. Masa lalu yang 120
  • 116. Memasuki Rumah Cahaya ia sesalkan adalah ibu yang menyusuinya hingga ia tumbuh menjadi lebih bijak. Banyak sekali diantara kita yang berlaku sangat tidak rasional dengan menyesalkan masa lalu. Satu waktu yang sudah tidak bisa kita ubah lagi. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk apa yang sudah tidak bisa kita rubah? Memanfaatkanya! Manfaatkan masa lalu itu untuk mengantarkan anda pada kebijakan yang lebih tinggi dalam menjalani hari ini dan masa depan yang lebih baik. Untuk menjadikan anda pribadi yang lebih mulia. Dan bukan hanya itu, dengan memanfaatkan waktu, manusia masih memiliki cara lain untuk menyiksa dirinya. Hari ini, saat ini, kadang terasa sangat berat, suram dan menyedihkan. Dan kita kadang tak sadar, apa yang menyebabkan semua itu. Penyebabnya, sering, adalah karena anda membebani hari ini dengan bebanbeban kemarin dan beban dari hari esok. Kita kubur hari ini dalam kenangan suram yang terjadi kemarin, dan harapan suram akan hari esok. Dan, yah, memang suram jadinya hari ini. Mulai sekarang, kapan pun anda merasa suram, segera lakukan tindakan pertolongan pertama terhadap diri anda. Jangan biarkan hari ini berlalu dengan menyesali hari esok, karena akibatnya anda akan melewatkan hari esok dengan menyesalkan hari ini. Jangan bebani diri anda dengan kenangan suram yang terjadi kemarin, atau 121
  • 117. Memasuki Rumah Cahaya harapan suram di hari esok; sebaliknya ingatlah hal buruk yang semapat terjadi kemarin, lalu tarik pelajaran apa yang bisa diambil, bagaimana anda bisa memanfaatkan hari kegagalan kemarin untuk mencapai keberhasilkan esok yang brilian. Bayangkan betapa anda akan bahagia, berhasil, sukses dan sebagainya esok dengan memanfaatkan kegagalan yang terjadi kemarin. Namun semua harus ditindaklanjuti HARI INI, bahkan saat ini juga. Dan segera kondisi emosional anda akan berubah, bahkan juga kondisi-kondisi eksternal anda. Sekaranga, mari kita lakukan sedikit latihan. Saya harap latihan sederhana ini akan membantu anda bebas dari siksaan masa lalu. Duduklah di suatu tempat yng anda anggap nyaman dengan punggung lurus. Duduk, atau bahkan tidur juga tidak apa, dengan senyaman mungkin. Bernafaslah melalui hidung dan Sadarilah nafas anda saat masuk dan keluar. Betapa sejuk saat anda menghirup nafas, dan betapa hangat saat ada mengeluarkan nafas. Berbafaslah yang dalam dan perlahan, serta dengan penuh kesadaran. Sekarang bayangkan satu kejadian atau orang di masa lalu yang anda sesali. Entah itu kejadian yang membuat anda marah, merasa bersalah atau kecewa. Bayangkanlah satu kejadian yang spesifik. Banyangkan kejadian atau orang itu ada di hadapan anda namun berada dalam 122
  • 118. Memasuki Rumah Cahaya sebuah layar (layar TV atau layar proyektor, terserah anda saja). Lihatlah detail warna dan semua detailnya. Bayangkan Perlahan demi perlahan layar yang menayangkan kejadian atau orang itu warnanya berubah, menjadi hitam putih dan tampak gambarnya seperti TV rusak, lalu perlahan menjauh dari hadapan anda. Dan dengan demikian rasakan pula rasa sakit hati, amarah, kecewa dan sebagainya juga makin tidak terasa dalam diri anda, digantikan ketenangan dan kenyamanan. Ucapkanlah kalimat afirmasi, “aku memang telah dibuat marah (atau kecewa, sdih, sakit hati, atau apapun yang sesuai dengan kondisi masa lalu anda) oleh kejadian itu (atau jika orang, sebutkan namanya), TETAPI AKU MEMAAFKANNYA. Aku juga memaafkan diriku yng telah mengalami kejadian itu”. Ucapkan berulang-ulang ke dalam diri anda sambil terus membayangkan kejadian atau orang itu menjauh dari anda. Dua point penting dari afirmasi ini adalah; anda benar-benar memaafkan diri anda yang telah mengalami masa lalu itu, dan anda bisa memaafkan kejadian atau orang di masa lalu itu. Kemudian saat orang atau kejadin itu telah menjauh, bayangkanlah anda dilindungi sebuah gelembung dengan warna yang indah, gelembung yang mana anda berada di dalamya dengan penuh kebahagiaan dan kedamaian. Rasakan kebahagiaan, kedaaian dan kebebasan itu. 123
  • 119. Memasuki Rumah Cahaya Ucapkan lagi kimat afirmasi, “Aku berada dalam kasih Tuhan. Tak ada masa lalu yng dapat menyakitiku lagi (akan lebih baik jika anda sebutkan secara spesifik masa masa lalu itu apa, misalnya “aku berada dalam perlindungan kasih Tuhan, rasa sakit hati karena dihianati oleh kekasihku tak akan menyiksaku lagi”). Bayangkan masa lalu itu kini lenyap dan anda sepenuhnya merasakan kebahagiaan, kedamaian dan kebebasan. Ulangi juga latihan ini untuk kejadian-kejadian atau orang-orang di masa lalu yang anda sesalkan telah terjadi. Dan anda akan merasakan, betapa nikmatnya bebas dari cengkeraman masa lalu yang menyakitkan. Hal yang sering menjadi masalah dengan upaya untuk melepaskan masa lalu adalah banyak orang cenderung enggan melepaskanya. Mereka berpikir bahwa masa lalu itu adalah satu bagian kehidupan yang penting. Namun ingat, kita sedang berupaya melepaskan rasa sakit dan penyesalan dari masa lalu itu, bukan melepaskan kebijakannya. Lagi pula jika anda sudah menyesali apa yang anda alami dulu, itu artinya anda tidak mampu menangkap kebijakan yang dibawa masa itu, namun anda hanya menyiksa diri sendiri. Kabar baiknya adalah, semua rasa sakit itu otomatis bisa dilepaskan saat ada sudah benar-benar MEMAAFKAN 124
  • 120. Memasuki Rumah Cahaya masa lalu yang anda alami dan diri anda sendiri yang telah mengalami masa lalu itu. Dan dengan memaafkan masa lalu anda, anda akan memiliki kedamaian pikiran yang memungkinkan anda untuk menemukan kebijakan dibalik semua yang pernah anda alami. Yang saat ini anda bawa dari masa lalu anda adalah penilaian anda. Anda membawa pendapat-pendapat anda, membawa penilaian atas apa yang seharusnya terjadi dan harusnya tak terjadi. Melabeli masa lalu itu (masa lalu yang anda sendirilah yang menciptakanya dulu) dengan buruk, penuh dosa dan sebagainya sehingga anda menyesalinya. Ada terlalu banyak pasir penyesalan dan karenanya emasnya jadi tidak kelihatan. Singkirkan pasir-pasir itu maka anda akan langsung melihat butiran emasnya. Inilah satu-satunya cara memiliki kedamaian batin untuk anda yang tersiksa oleh masa lalu.jika anda belum berdamai dengan apa yang pernah anda alami, maka anda tidak akan pernah mendapatkan hidup yang penuh kedamaian. Kedamaian internal adalah syarat mutlak bagi kedamaian eksternal. Sebagaimana yang dikatakan Yang Mulia Dalai Lama, “ia yang belum berdamai dalam dirinya, tidak akan memiliki kedamaian di luar”. Sekarang mari kita bicarakan tentang masa depan. Tidak ada yang bisa diprediksi dengan secara mutlak tepat terkait masa depan. Apa pun bisa saja terjadi. Bahkan 125
  • 121. Memasuki Rumah Cahaya kita yang telah secara matang mempersipakan masa depan yang matang pun dapat saja mendapatkan hasil yang busuk. Kita bahkan tidak dapat menebak apa yang pastinya terjadi setelah anda selesai membaca buku ini. Kita tidak tahu apakah besok matahari masih bersinar, atau beberapa jam lagi akan ada meteor yang jatuh dan membakar bumi. Hanya Tuhan yang tahu pasti. Tapi ada satu kepastian yang dilimpahkan Tuhan untuk kita. Kita memiliki hari ini, dan kita memiliki hak untuk melakukan apa saja terhadap hari ini. Ini lah waktu sejati dimana kita hidup. Dan inilah waktu sejati benar-benar kita miliki. Dalam ketidak pastian masa depan Tuhan telah menetapkan satu hukum alam yang pasti, hukum sebab akibat. Hari ini adalah sebab dari masa depan, dan hari ini juga adalah akibat dari masa lalu. Ketidak mampuan kita untuk mengerti bagaimana pastinya hukum ini bekerja lah yang menjadikan masa depan tidak dapat kita prediksi. Masa depan pasti terjadi. Yang tidak pasti adalah kepastian apa yang akan terjadi di masa depan. Hal lain yang perlu diingat juga, masa depan adalah hasil akumulatif, hari ini ditambah hari-hari sebelum hari ini. Sebagai manusia kita harus bersikap rendah hati. Biarkan masa depan menjadi urusan Tuhan. Hiduplah secara penuh di masa kita yang sedang kita jalani ini. 126
  • 122. Memasuki Rumah Cahaya Manfaatkan masa lalu untuk kebaikan hari ini, dan biarkan hari ini menjadi baik agar kita memiliki harapan terhadap kebaikan masa depan. Salah satu buku spiritual paling laris dalam daftar New York Times adalah buku karya Guru Spiritual Kontemporer, Eckhart Tolle, buku yang mengupas betapa berharganya hari ini dalam “The Power Of Now”. Tolle mengatakan bahwa kita cenderung terbawa oleh waktu psikologis, yaitu waktu yang hanya ada dalam pikiran kita, yaitu masa lalu dan masa depan. Dan oleh karenanya kita sering malah menyia-nyiakan waktu realistis, waktu yang sebenarnya, yaitu hari ini. Ada satu latihan spiritual yang sangat universal, sederhana namun juga berdaya guna yang ditulisnya dalam buku itu. Kita biasa mengenalnya dengan mindfulness. Hidup dalam rangkaian kekinian yang sejati. Saat anda membaca buku ini, apa yang anda pikirkan? Apakah anda memikirkan apa yang harus anda kerjakan nanti? Atau anda memikirkan apa yang kemarin malam terjadi? Jika iya, berarti anda telah diperbudak oleh waktu. Tepatnya oleh waktu psikologis. Sering kali pikiran berada di masa depan dan masa lalu sementara tubuh anda ada di masa kini. Dan ketidak selarasan ini mengakibatkan anda memiliki mood yang sering tak terkontrol. Dalam mindfulness, anda diajak untuk sepenuhnya berada di saat ini, now and here. 127
  • 123. Memasuki Rumah Cahaya bukan hanya tubuh anda yang berada di sini, tetapi juga pikiran dan jiwa anda. Bagaimana cara paling sederhana untuk mempraktikan mindfulness ini? Rasakan sensasi-sensasi yang muncul dalam tubuh anda, tanpa menghakiminya dengan penilaian baik, buruk, menyenangkan, melelahkan dan sebagainya. Rasakan pegal (tapi jangan mengasihani diri dan mengatakan “aduh, pegalnya”) yang muncul di pantat anda karena lelah duduk. Rasakan aliran nafas anda, rasakan tiap kedipan mata, rasakan kaki, tangan dan semua bagian tubuh anda. Lalu seketika itu juga pikiran anda akan terdiam dan anda akan diliputi kedamaian batin yang sangat indah. Tolle juga mengatakan bahwa latihan ini membantu memperkuat antibody anda dan oleh karenanya memperkuat anda dari penyakit. Saat anda membaca, membacalah. Saat anda berjalan, biarkan anda merasakan sepenuhnya tiap langkah dan tiap sensasi dalam berjalan. Saat anda mandi, biarkan anda merasakan tiap guyuran air terasa dengan sepenuhnya dalam tubuh anda. Makin sering anda makin mahir anda jadinya, makin pendiam jadinya pikiran anda, dan kedamaian batin yang anda rasakan pun akan makin dalam…makin dalam…dan makin dalam… 128
  • 124. Memasuki Rumah Cahaya Biarkan jam anda yang menunjukan waktu, bukan pikiran anda. Biarkan kalender yang menunjukan hari, minggu, bulan dan tahun, bukan pikiran anda. Sesederhana itu. Kita adalah anak-anak dari masa lalu, jadi jangan durhaka pada ibu kita. Dan di sisi lain kita juga adalah ibu dari masa depan, jadi jaga kondisi dan stamina ada agar melahirkan dengan anak yang sehat. 129
  • 125. Memasuki Rumah Cahaya Manusia Adalah Langit Yang Mengira dirinya Awan Inilah satu analogi yang sangat indah yang menggambarkan tentang manusia. Setiap kali mengalami satu permasalahan, saya suka membaca metaphora indah ini. Yang Suci Sri Satya Sai Baba lah yang memperkenalkanya pada saya. Dan entah dari mana datangnya, saya merasa selalu memperoleh semangat saat menginternalisasi wawasan indah ini. Namun suatu kali, saya lupa akan beautiful belief ini. Dan Tuhan mengingatkan saya kembali tentangnya melalui pertemuan tidak sengaja saya dengan Bapak Gede Prama. Ia mengingatkan lagi pada saya, bahwa manusia adalah langit, bukan awan (kebetulan yang indah dan manis, bukan?) Namun kebanyakan dari kita menganggap diri sebagai awan, bukan langit. Kita, entah disadari atau tidak, mengidentifikasi diri dengan awan, padahal harusnya kita mengidentifikasikan diri dengan langit. Langit yang selalu biru dan indah. Langit memang selalu biru, namun ada kalanya ia terlihat gelap, bukan karena ia memang gelap, namun karena ia ditutupi awan gelap. Awan tidak pernah menetap demikian lama. Tak jarang awan sangat putih dan indah, namun ada kalanya awan menjadi gelap dan menakutkan, malah beriringan dengan petir. 130
  • 126. Memasuki Rumah Cahaya Serupa dengan kejadian-kejadian dalam hidup kita. Suka-duka, senang-sedih, tak ada yang menetap cukup lama, apa lagi selamanya. Kahlil Gibran bahkan mengatakan, saat kita sedang bercengkrama dengan kebahagiaan di ruang tamu, kesedihan sedang menunggu kita di kamar tidur. Senang sedih tinggal dalam satu rumah, bagaimana mungkin kita bisa menolak satu dan menghendaki hanya salah satunya saja. Karenanya yang harus kita tanamkan dalam pikiran adalah, setiap kejadian dalam hidup entah itu suka atau duka tidak akan menetap selamanya dalam hidup kita. Bagaikan awan, ia akan datang, terbentuk menutupi langit untuk beberapa saat, lalu ia akan pergi lagi. Digantikan oleh awan lain, dan mengulangi proses yang sama. Namun diri anda, manusia, adalah langit. Langit tidak pernah terpengaruh oleh awan, ia tetap biru meski pun ditutupi oleh awan kelabu.. Kenapa kemudian kita harus demikian meratapimendung lalu sangat memuja awan putih? Karena demikian senang dengan awan putih, kita jadi paranoid dengan awan hitam. Saat awan hitam menutupi langit, kita jadi cemas dan takut seolah seluruh dunia sedang tertutup awan yang sama. Padahal mungkin yang tertutup awan hanya satu wilayah, satu kabupaten, bukan seluruh dunia. 131
  • 127. Memasuki Rumah Cahaya Demikianlah sikap kita saat menghadapi masalah. Saat satu aspek dalam kehidupan kita bermasalah (misalkan social), kita menjadi terpuruk seolah hidup kita sudah hancur dan melupakan aspek lain yang tidak bermasalah (financial, emosional, spiritual, fisikal dan sebagainya). Mari kita coba sedikit latihan. Pergilah keluar rumah, atau tempat yang memungkinkan anda melihat langit. Lihatlah apakah langit itu sedang berawan mendung, berawan putih ataukah malah tanpa awan? Jika kebetulan sedang ada awan gelap, bayangkanlah bahwa di awan itu adalah masalah yang sedang anda alami. Masalah itu sedang menutupi langit. Namun lihatlah bahwa anda bukanlah awan itu, namun anda adalah langit yang demikian luas yang ada di balik awan itu. Ingat, hanya setitik mendung tak membuat seluruh langit di dunia menjadi gelap. Kemudian perhatikan awan itu sedikit demi sedikit terpencar. Karena kita sedang mengaitkan awan gelap itu dengan masalah, maka bayangkan pula masalah anda sedikit demi sedikit musnah. Lalu rasakan ketenangan yang merasuki rongga-rongga tulang rusuk anda. Bayangkan sebaliknya bahwa awan putih adalah kesenangan yang sedang anda alami saat ini, dan sadari bahwa suatu saat anda akan kehilangan kesenangan itu, terimalah dengan ikhlas. Apa-apaan ini? Demikian mungkin anda akan bertanya. Latihan ini memang sederhana, namun sangat berdaya 132
  • 128. Memasuki Rumah Cahaya guna. Sifat kita umumnya adalah demikian terikat dengan baik kesenangan maupun kesedihan. Kita sering kali merasa bahwa kesedihan yang kita alami tak akan pernah berakhir, sebaliknya kita mengharapkan kesenangan yang kita alami benar-benar tak akan berakhir. Dan keyakinan rasional macam ini hanya akan menenggelamkan kita dalam kekawatiran dan neurotisme (gangguan jiwa). Dengan latihan menatap awan ini, kita belajar berhadapan dengan pada realitas. Realitas yang telah, sedang atau akan terjadi. Realitas bahwa baik kesenangan atau kesedihan bukanlah sesuatu yang akan menetap secara permanen. Andalah yang permanen, karena andalah langitnya. Kesedihan, betapa pun kelihatan sangat gelap dan tanpa ujung, suatu hati pasti berakhir. Kesenangan, betapa pun kelihatanya seolah tak akan pernah sirna, juga akan berakhir. Inilah realitas, yang mau tak mau akan kita hadapi. Namun banyak dari kita yang bersikap seolah kita adalah awan. Kita menistakan kekuatan yang diberikan pada kita. Mulai sekarang, melalui latihan menatap awan, cobalah untuk menanamkan keyakinan baru ke dalam diri anda, bawa anda adalah langit luas dan tak terbatas. Jika suka-duka digambarkan sebagai awan, berarti keduanya tak ada yang abadi. Namun adakah satu 133
  • 129. Memasuki Rumah Cahaya kebahagiaan yang abadi? Mungkin anda memiliki pertanyaan seperti itu. Dan jawabanya adalah, ADA!. Seperti apakah bentuk kebahagiaan tanpa akhir itu? Sebelumnya mari kita lihat apa yang membentuk awan. Awan merupakan satu gumpalan yang terbentuk dari titik-titik air. Ada alasan dibalik terbentuknya awan. Sebagaimana juga suka-duka kita, pasti ada alasanya. Dan oleh karena itu satu bentuk kebahagiaan yang tak akan berakhir adalah, BAHAGIA TANPA ALASAN. Saat mendapat promosi kerja kita bahagia. Saat dipecat dari pekerjaan, pastinya berduka. Saat kita memiliki kekasih yang demikian menyayangi kita, maka kita merasakan suka cita surga. Namun saat kekasih kita menyayangi orang lain dan meninggalkan kita, pastinya senyum kebahagiaan berubah menjadi tangisan. Satu kesenangan yang timbul oleh satu alasan akan berakhir pula saat alasannya sirna. Sebut saja bahwa kesenangankesenangan semacam itu adalah kesenangan bersyarat. Dan akuilah dengan jujur, bahwa tak pernah ada alasan yang menetap abadi untuk menjadikan kita berbahagia secara abadi. Namun, satu bentuk kebahagiaan yang tak memiliki alasan dapat terus menetap meski pun bagaimana. Bentuk kebahagiaan seperti itu adalah kebahagiaan yang abadi, karena berkaitan dengan Sang Keabadian, Tuhan. Bahagia tanpa alasan itu dapat diraih dengan syukur. 134
  • 130. Memasuki Rumah Cahaya Syukur adalah kabel yang menjaga kita senantiasa berada dalam kesadaran Ilahi. Satu kesadaran yang mengantarkan kita pada energi tingkat tinggi yang bernama kebahagiaan (baca buku Wayne W Dyer “there is a spiritual solution to every problem” untuk mengetahui lebih jelas tetang tingkat-tingkat energ dan pengaruhnya terhadap kondisi kita dan buku David Hawkins yang berjudul “Power VS Force”). Apakah yang harus kita syukuri? Semua hal, mulai dari hal-hal sederhana seperti rumput sampai rumitnya tubuh anda. Syukuri semua itu, karena saya tahu kita tidak akan bisa bahkan membuat sehelai rumput pun. Syukuri tiap hal, dan tiap hal akan menjadi membahagiakan. Jaga terus keterhubungan anda dengan Tuhan. Syukur dan kekaguman pada tiap hal, makin dibiasakan akan makin mengakar dalam diri kita, dan makin besar kekaguman kita pada tiap aspek kehidupan, makin murah kebahagiaan dalam hidup kita. Lalu bagaiman cara lain untuk memiliki kebahagiaan yang lebih permanen, kalau tidak (boleh disebut abadi)? Dengan menjadi langit. Dengan mengidentifikasikan diri anda sebagai seorang yang kuat, satu keberadaan yang terlepas dari pengaruh suka-duka dunia. Anda selama ini terpengaruh oleh suka-duka dunia karena anda mengidentifikasikan diri KE DALAMNYA, bukan menjadi sesuatu DI BALIKNYA. Namun kita, melalui 135
  • 131. Memasuki Rumah Cahaya wawasan lagit-awan, anda dan saya bisa memiliki kebahagiaan yang lebih permanen. Kebiasaan untuk menilai dan memvonis segala hal, mengikuti ego, adalah penyakit yang sangat parah. Satu hal akan ego cap buruk jika ia membencinya, dana hal lain dianggap baik jika disenangi, tanpa memanfaatkan semua itu untuk perkembangan kesadaran spiritual kita. Benar apa yang Epictetus katakan, kita tidak terganggu oleh hal-hal yang terjadi, namun oleh pendapat kita terhadap hal-hal yang terjadi. Pendapat dan penilaian itu perlu, namun selama pendapat dan penilaian itu menyengsarakan anda, kenapa harus anda pertahankan. Mungkin filosofi Puzzle bisa anda jadikan patokan untuk menyadari bahwa semua hal adalah berharga, selama anda bisa menggunakaya untuk mengembangkan kesadaran anda secara holistic, kita telah membahas hal itu di awal buku ini. 136
  • 132. Memasuki Rumah Cahaya Manusia Adalah Pelaut di tengah Badai Mari kita buat sebuah analogi sederhana lain tentang kehidupan. Hidup adalah sebuah pelayaran, dan entah bagaimana anda telah berada di tengah lautan. Bahkan sering malah di tengah badai. Anda adalah pelayar, yang ditantang untuk bisa sampai di pesisir pantai. Setelah melewati badai demi badai dalam lautan kehidupan, anda akan tiba bisa di pesisir yang sangat indah, pesisir kebahagiaan. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimanakah anda akan melewati lautan itu? Memang kadang badainya demikian besar, kadang seolah lautan tak berbatas dan anda tak akan menemukan satu pesisir pun. Kadang anda akan didera keputusasaan, kadang demikian marah, kadang kecewa, kadang merasa tak berdaya. Dihadapkan pada keadaan macam demikian, beberapa pelaut memilih untuk menyerah dan membiarkan dirinya mati dihantam badai. Namun beberapa masih terus dengan penuh semangat menjaga kapalnya tetap mengambang sampai ia tiba di pesisir. Tetapi apakah rahasia para pelaut yang berhasil itu? Mereka meneyesuaikan arah layar dengan arah angin. Mereka menghadapi badai dengan kekuatan, bukan keluhan. Mereka menjadikan tiap badai sebagai sarana untuk terus menerus menguatkan diri, bukan malah melemahkan. Dan, mereka menikmati badai 137
  • 133. Memasuki Rumah Cahaya sebagaimana menikmati saat-saat cerahnya matahari. Mereka menghadapinya dengan fleksibilitas, bukan dengan kekakuan. Perubahan adalah hukum kekal kehidupan, dan senantiasa berubah adalah syarat mutlak yang menjadikan kita hidup (sebagaimana telah kita bahas). Seorang yang dalam bisnis, dalam percintaan, dalan relasi dan dalam kehidupan berhasil adalah orang-orang yang menjadikan dirinya selaras dengan perubahan, memanfaatkan perubahan untuk perkembangan kesadaranya, bukan malah dilindas perubahan. Kita memang tidak bisa merubah arah angin, namun kita bisa menyesuaikan arah layar. Keluhan hanya akan mengantarkan kita pada keputus asaan. Keluhan adalah sarana yang sangat hebat yang bisa kita manfaatkan untuk memperlemah kita. Dengan keluhan, jangankan badai, angin sepoi pun tak akan mampu kita hadapi. Semakin sering pelaut menghadapi badai, makin banyak ia belajar, makin mahir ia jadinya, dan makin kuat saat dihadapkan pada badai yang lebih besar. Badai, oleh para pelaut dijadikan sebagai sarana untuk menguatkan otot dan otak serta kemahirannya sebagai pelaut. Benar apa yang dikatan John Maxwell, badai besar membentuk pelaut hebat. 138
  • 134. Memasuki Rumah Cahaya Namun lautan tak akan selamanya dihantam badai, tak juga setiap hari. Sebagaimana langit yang tak akan setiap saat hanya ditutupi mendung. Badai pasti berlalu. Dan saat matahari bersinar cerah, nikmatilah sinar matahari itu. Bersantailah sejenak. Bukan bermalas-malasan, hanya mengumpulkan tenaga untuk menghadapi badai yang datang lagi nanti. “Wow… ! Badai lagi,” seru sang pelaut tangguh, “aku olah raga lagi nih…” 139
  • 135. Memasuki Rumah Cahaya Manusia Adalah Orang Tua yang Tak Pernah Muda, Dan anak Kecil yang Tak Pernah Dewasa Difinisi yang panjang, bukan? Ya memang cukup panjang untuk sebuah judul tulisan di buku sederhana ini. Dalam judul tulisan ini, saya mengklasifikasikan manusia sebagai dua orang yang sangat berlawanan. Ada di antara kita yang seperti orang tua yang tak pernah muda, dan ada juga sebagian bersikap seperti anak kecil yang tak pernah menjadi dewasa. Namun sebenarnya ini bukan klasifikasi manusia, namun lebih tepatnya dua kecenderungan yang ada dalam diri masing-masing dari kita. Mari kita memasuki ruang dalam hati kita untuk mencari tahu melalui serangkaian pengalaman dan pemahaman kita, siapa sebenarnya kita ini atau tepatnya siapakah yang paling mendominasi dalam diri kita? Orang tua yang tak pernah muda, adalah replika seorang yang selalu menuntut, perfectionist, tidak menerima perkecualian dan sangat tegas. Sesuatu yang harusnya berjalan harus berjalan seperti itu (seperti apa yang dikonsepkan dalam pikirannya), hal-hal seperti perubahan dan kelenturan tidak akan ditolenransi. Pernahkah anda merasa dalam diri anda ada yang menuntut, “Dia tidak boleh begitu! Ini harusnya begini! Itu tidak baik, harusnya kan begini…harusnya…harusnya…harusnya”. 140
  • 136. Memasuki Rumah Cahaya Tiap kali kata HARUSNYA berkumandang dengan lantang, menuntut setiap orang dan setiap keadaan, maka setiap saat itu juga anda akan kehilangan kedamaian pikiran dan mulai dimasuki kekecewaan. Kenapa? kecewa Karena, sebagaimana yang kita bahas di depan, anda bukan sutradara dan penulis skenario dari orang lain, jadi mereka tidak harus tunduk pada tirani keharusan anda. Anda boleh saja terus menerus bertindak dan bersikap sebagai seorang penuntut, namun itu hanya akan berarti anda makin kecewa dan marah setiap tuntutan yang anda ajukan tak dipenuhi. Psikoterapis Albert Ellis mengatakan bahwa makin banyak tirani keharusan ini bersarang dalam diri kita, makin rentan kita dengan gangguan jiwa. Sementara itu, di sisi lain, ada sikap dan sifat khas seorang anak kecil dalam diri kita. Kita menjadi manja, haus akan kasih sayang, dan menjadikan diri kita pusat dunia, dimana setiap orang kita anggap tercipta hanya untuk membuat kita senang dan memanjakan kita. Jangankan mengerti orang lain, mengerti diri kita sendiri saja tidak. Dan sebagaimana seorang anak kecil, kita akan mudah “menangis” tiap kali keinginan kita tidak terpenuhi. Sifat manusia macam ini adalah alami, namun segera akan berubah menjadi neurosis saat satu dari dua kecenderungan ini tak terkendali dan sangat 141
  • 137. Memasuki Rumah Cahaya mendominasi kita. Inilah hasil temuan psikoterapis Eric Berne. Sekarang, mari kita hadapi satu tantangan. Tantangan yang sebenarnya banyak orang telah berhasil taklukan, tantanganya yaitu memudakan si orang tua, dan mendewasakan si anak. Mari hentikan sedikit tuntutan dari dalam diri kita bahwa ini harus begini, ini harus begitu. Biarkan predikat Maha Tahu tetap menjadi milik Tuhan dan kita jangan berusaha menyamainya dengan egoisme. Saya sudah sangat sering menyinggung mengenai kelenturan dan keselarasan kita dengan perubahan. Biarkan apa yang terjadi terjadi sebagaimana adanya, bukan sebagai mana seharusnya (terlebih bagaimana seharusnya sesuai apa yang kita inginkan) Keharusan tidak penting, yang penting adalah kelenturan dalam kebijakan sebagaimana yang tertuang dalam serenity prayer Santo Fransiskus dari Asisi,” Tuhan, berikanlah hamba kekuatan untuk merubah halhal yang dapat hamba rubah. Berikan hamba keiklasan untuk menerima hal-hal yang tidak dapat hamba rubah, dan kebijaksanaan untuk membedakan keduanya”. Biarkan hal itu menjadi aliran kehidupan anda. Jika sesuatu sudah tidak lagi dapat anda rubah, ya sudah ambil saja maknanya dan jadikan guru. Namun jika 142
  • 138. Memasuki Rumah Cahaya masih bisa dirubah, jangan katakan harus berubah, namun ambilah langkah-langkah perubahan. Biarkan hidup menjadi sederhana, karena letak kebahagiaan, menurut Rabindranath Tagore, adalah dalam kesederhanaan. Sementara terkait anak kecil dalam benak kita, harus mulai kita hadapkan dengan kenyataan, bahwa ia bukanlah pusat dunia, dia bukan kiblat dari semua orang. Terimalah kenyataan bahwa setiap orang memiliki hak atas hidupnya sendiri. Dan jika anak kecil itu ingin memiliki kuasa atas orang lain, ada hal-hal dewasa yang bisa dilakukanya; membuat diri sebagai wujud nyata dari cinta, jadikan diri berharga dimata orang lain dengan kebaikan, atau buatlah hidup anda sebagai keberuntungan bagi orang lain. Jika kita ingin semua orang memuja kita, maka jadikanlah diri kita pantas untuk dipuja. Si orang tua tidak akan mentolerir kesalahan yang orang lain lakukan, karena ia berpandangan bahwa ia adalah sempurna dan semua hal atau orang seharusnya juga sempurna (namun ini hanya anggapan, bukan kenyataan). Sementara si anak dengan manjanya mengharapkan semua orang akan mencintainya, memenuhi apa yang ia inginkan dan angankan. Si anak kecil tak akan menerima kenyataan bahwa ada kalanya dalam hidup 143
  • 139. Memasuki Rumah Cahaya kita akan mengalami masalah dan ada kalanya hal-hal berjalan tidak seperti apa yang kita inginkan. Sementara si orang dewasa, hidup hanya dengan kenyataan dan realitas. Si dewasa menerima bahwa ada kalanya hidup berjalan di luar apa yang kita harapkan dan inginkan, dan ia akan tetap menghadapinya meskipun demikian. Namun ia juga mengikuti prinsip yang diajarkan Santo Fransiskus dari Asisi. Senantiasa menuruti keharusan si orang tua, atau terus menuruti sikap manja si anak kecil, hanya akan memberi anda satu masa depan, yaitu kekecewaan dan kemarahan. Namun, terserah anda kehidupan seperti apa yang anda ingin jalani, kecenderungan mana yang ingin anda ikuti. 144
  • 140. Memasuki Rumah Cahaya Manusia adalah Penulis Skenario… Ada satu analogi lain yang menggambarkan bagaimana kita suka hidup di alam idealisme. Salah satu peran yang dijalankan manusia dalam hidupnya adalah sebagai seorang penulis skenario. Layaknya seorang penulis scenario, kita menentukan jalan hidup setiap orang, apa yang harus dia lakukan dan bagaimana dia sebaiknya bersikap. Kita menuntut orang lain sesuai jalan cerita yang telah kita tulis secara batin dalam pikiran kita. Kita menulis scenario untuk pasangan kita, contohya istri. Seorang istri harusnya menuruti apa pun yang suaminya katakan. Tidak boleh menolak atau menyanggah sekalipun. Seorang istri harus selalu sehat, sigap dan siaga untuk melayani suaminya. Seorang istri adalah orang yang harus selalu ada kapan pun suaminya membutuhkan. Seorang istri tidak boleh bersikap seolah ia lebih berwenang disbanding suaminya. Demikian scenario kita, penokohan dan karakter istri yang ideal menurut kita. Kita menulis scenario untuk orang yang bahkan tidak kita kenal sekalipun. “orang itu seharusnya begini!”, “dia tidak boleh bersikap begitu. Seharusnya dia begini!” dan banyak tuntutan peran yang kita harapkan dari orang lain. Kita bertindak laksana seorang penulis scenario yang merangkap sebagai sudradara yang mengetahui apa saja yang harusnya orang lakukan, bagaimana orang lain 145
  • 141. Memasuki Rumah Cahaya bersikap atau bereaksi. Jika mereka tidak menuruti scenario yang kita tulis tersebut? Sudah pasti kita jadi kesal dan bahkan marah. Tetapi seberapa seringkah orang lain akan berlaku dan bersikap sesuai dengan tuntutan peran yang kita berikan? Jawaban yang keluar biasanya bervariasi dan relatif. Jika kita bisa mengkomunikasikan tuntutan peran kita pada orang lain, maka mungkin orang itu bisa berperan sebagai mana yang kita inginkan. Namun jika kita bertindak rasional dengan begitu saja memaksakan peran yang kita ingin orang mainkan, maka kemungkinan besar anda akan kecewa. Apalagi jika anda bersikap rasional dengan menuntut orang lain berperan sesuai yang kita tulis tanpa pernah mengkomunikasikan peran tersebut, kita malah akan lebih marah dan bahkan kecewa. Lalu apakah peran sebagai seorang penulis scenario ini adalah peran yang baik ? kita tidak sedang membicarakan tentang baik-buruk. Saya sedang membuka kemungkinan atas berbagai pilihan lain dalam hidup, yang saya harap dapat membantu anda memilih satu sikap yang benar-benar anda inginkan dari hati anda yang paling dalam. Jika anda ingin tetap menuntut orang lain bersikap dan berperilaku sebagaimana yang anda inginkan, maka anda harus mengetahui metode-metode persuasi dan 146
  • 142. Memasuki Rumah Cahaya komunikasi yang efektif dan produktif. Namun meskipun anda memiliki satu metode komunikasi yang paling mutahir pun, saya ragu anda dapat menjadikan orang lain 100% melakukan apa yang anda inginkan. Lalu bagaimanakah sikap paling bijak yang dapat anda ambil untuk mendukung kehidupan yang lebih tebteram dan bahagia? Sebelum menjawab pertanyaan itu, mari kita renungkan sejenak refleksi berikut ini: Anda adalah seorang penulis scenario sekaligus sutradara untuk kehidupan, kehidupan anda maupun kehidupan orang lain. Namun, orang lain pun pastinya demikian, mereka menulis scenario dan menyutradarai dirinya serat orang lain, termasuk anda. Pasti ada satu waktu dimana orang lain (entah atasan, pasangan, orang tua atau siapa saja) menuntut anda bersikap seperti apa yang mereka inginkan: atasan anda menuntut anda untuk berdisiplin, orang tua anda menuntut anda agar menjauhi hal hal yang terlampau menyenangkan, pasangan anda menginkan anda untuk menjadi lebih romantis, dan sebagainya. Dan dengan tuntutan dari orang lain (para penulis scenario dan sutradara lainnya), anda biasanya menuntut balik, terutama jika tuntutan peran yang diajukan pada anda adalah peran yang tidak anda inginkan. Lalu apa yang kemudian terjadi dengan sikap saling menuntut semacam itu? Sudah pasti, KONFLIK. Entah itu konflik batin, atau tidak jarang malah konflik eksternal. 147
  • 143. Memasuki Rumah Cahaya Itulah konsekuensi alami jika banyak manusia mengambil satu peran yang sama, yaitu sama-sama ingin menjadi penulis scenario dan sutradara untuk kehidupan setiap orang. Lalu sekarang apa hal terbaik yang dapat anda lakukan? Jika anda ingin kehidupan yang lebih baik dari sekarang, sebaiknya anda hentikan profesi anda senagai penulis scenario dan sutradara (tentu dalam arti kiasan). Anda harus mulai menyadari bahwa tiap orang memiliki hak atas hidupnya, bebas memilih sikap apa pun yang mungkin ia ingin lakukan. Tidak ada seorang pun yang terlahir hanya untuk menuruti keinginan anda. Setiap orang hidup dengan emosi dan perilakunya sendiri, dan ia menanggung konsekuensinya sendiri terhadap perilaku dan emosi tersebut. Saya tanya, apakah Tuhan pernah melimpahkan kuasaNya pada anda? Sehingga anda menganggap diri anda berhak mengatur dan menuntut kehidupan atas semua orang? Apakah anda akan merasa senang jika ada seorang yang memegang kuasa atas diri anda, mengatur dan menentukan apa saja yang harus dan harusnya tidak anda lakukan? Sudah pasti jawabanya “tidak”, dan demikian juga dengan orang lain. Mungkin orang lain akan tetap menuntut anda memainkan peran yang sesuai dengan apa yang telah ditentukanya. Namun anda akan mampu menghadapi 148
  • 144. Memasuki Rumah Cahaya tuntutan peran itu tanpa menuntut balik, dan oleh karenanya juga mengurangi potensi konflik, baik internal maupun eksternal. “lakukan semua ini dengan lebih baik!” atasan anda mulai menuntut anda sesuai scenario yang telah ditulisnya. “jika dia ingin begitu, saya akan mengerjakan ini dengan lebih baik, lagi pula dengan mengerjakan ini secara lebih baik, saya yang akan untung”. Dengan sikap macam itu, maka jiwa anda tetap damai tenteram, pekerjaan selesai dengan lebih baik, dan anda juga akan mendapatkan hal-hal lain yang mungkin saja tak terduga. Mari berhenti sejenak berhenti membahas peran anda sebagai penulis scenario dan sutradara bagi kehidupan orang lain. Ijinkan saya bertanya sedikit, siapakah yang sebetulnya menulis scenario hidup anda? Apakah disaat anda sibuk menulis scenario untuk orang lain, anda telah menulis scenario kehidupan anda sendiri dengan baik? Wahhh.. jangan-jangan tidak. Sekarang renungkan, apakah ada orang yang secara semena-mena mengatur kehidupan anda, menentukan apa yang harus anda lakukan dan apa yang tidak boleh anda lakukan? Apakah dengan aturan semacam itu anda menjadi tidak bahagia? Apakah ada orang yang menentukan jalan hidup anda, mengenai apa yang harus anda tuju dan lakukan? Apakah ada orang yang menjadi semacam “tombol emosi” yang menetukan kapan anda 149
  • 145. Memasuki Rumah Cahaya merasa bahagia dan kapan anda marah dan kapan anda sedih? Terkadang kita memang bertemu seseorang yang hanya dengan melihat wajahnya saja kita sudah menjadi demikian muak, marah kesal atau marah. Orang itu melakukan hal-hal yang membuat kita marah. Saat ia melakukan hal yang membuat kita marah, ia sedang menulis sebuah peran untuk anda, yaitu menjadi marah. Namun jika pun orang itu melakukan sesuatu yang membuat anda marah, namun anda tidak marah, maka ia gagal menentukan jalan cerita anda. Ia sedang menjadi seorang sutradara dan penulis scenario yang gagal. Ada suatu waktu di masa lalu, yaitu penghianatan yang dilakukan oleh kekasih kita. Setiap mengingat penghianatan itu, kita menjadi sedih dan sangat kecewa layaknya yang terjadi dalam sinetron TV. Dan saat anda bertemu kembali dengan kekasih anda yang dulu menghianati anda, anda jadi makin sedih atau marah. Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Yang terjadi sebenarnya si kekasih itu sedang menulis sebuah jalan cerita, dan anda memerankanya dengan penuh penghayatan (atau dalam bahasa lain, si kekasih sedang menulis scenario yang harus anda perankan, sebagai orang yang depresi karena dihianati). 150
  • 146. Memasuki Rumah Cahaya Apakah memerankan scenario yang ditulis orang lain adalah hal yang mutlak perlu? Yang jelas, Tuhan menciptakan anda ke dunia dengan penuh kebebasan, entah anda mau menggantungkan kebebasan itu pada orang lain atau tidak, itu juga menjadi bagian dari kebebasan anda. Namun satu hal perlu anda renungi sejenak, jika dengan mengikuti alur cerita yang dituliskan orang lain untuk anda, anda merasa tidak bahagia dengan arti yang seluas-luasnya, maka anda pantas merenunginya kembali. Merenungi kembali akan membatu anda memutuskan ulang apakah anda ingin menuruti alur cerita tersebut ataukah tidak. Dan keputusan yang akan anda ambil, tentulah harus dibarengi dengan kesadaran dan kemauan untuk menanggung segala konsekuensi atas segala keputusan itu. Wawasan mengenai manusia adalah penulis scenario bagi kehidupanya memberikan satu angin segar. Ada kalanya scenario yang kita tulis, jalan hidup yang kita tentukan tidaklah bisa berjalan sesuai apa yang kita telah tulis. Kenapa demikian? Karena scenario yang kita tulis secara tidak sadar ternyata lebih kuat dari apa yang kita tulis secara sadar. Anda mungkin menulis satu scenario berupa hubungan yang bahagia dengan pasangan anda, namun anda tidak memerankan isi scenario anda dengan baik (anda tidak 151
  • 147. Memasuki Rumah Cahaya menjadikan diri anda layak untuk memiliki hubungan romantic itu), maka mungkin anda gagal meraih apa yang anda tulis. Ingat, yang anda perlukan bukan hanya memiliki alur cerita yang indah, namun bagaimana memerankanya dengan seindah mungkin. Ambil satu contoh, bahwa anda menuliskan satu kisah indah tenang hubungan romantis dengan seseorang. Sekarang bagaimana anda memerankanya? Akan ada sederetan ktriteria romansa, entah itu makan malam yang diterangi lilin, kejutan kecil untuk sang kekasih, perhatian yang penuh, rasa penghargaan yang memadai. Intinya, perankan semua alur yang anda tulis dengan indah (bukan menuntut kekasih anda yang memerankan semuanya untuk anda). Lalu bagaimana jika setelah anda memerankan semuanya dengan baik, tapi lawan main kita actingnya tidak baik? Setelah anda menjadikan diri layak diperlakukan romantic oleh pasangan, dihargai lingkungan social anda dan sebagainya, namun yang orang lain lakukan malah jauh dari harapan anda? Kadang memang ada actor yang tidak berbakat, jadi gunakan kemampuan komunikasi anda untuk mengajari mereka “acting” atau cari actor lain. Jangan gunakan tuntutan tidak karuan dengan komunikasi yang burukl. Komunikasi yang baik mendatangkan hasil yang baik pula. 152
  • 148. Memasuki Rumah Cahaya “Tulis satu kisah yang indah, tetapi jangan lupa perankan juga dengan indah” Sementara kaitan “profesi” kita sebagai penulis scenario dengan satu situasi atau kondisi yang “buruk” adalah sebaga berikut: Satu cerita yang buruk yang muncul dalam hidup anda bukanlah kiamat atau akhir dari segalanya. Itu hanya satu bagian, satu bab dalam kehidupan anda yang bagaimana pun tetap harus anda alami. Namun untuk bab berikutnya adalah kertas kosong yang bisa anda isi dengan kisah atau cerita apa saja. Sekarang mari kita lakukan sedikit latihan. Coba renungkan satu kejadian di masa lalu yang telah anda alami, namun tak mau anda alami. Tuliskan detil cerita itu, lalu setelah cerita anda selesai, jangan berhenti dulu. Sekarang tuliskanlah cerita yang ingin anda alami mulai dari waktu ini (present) hingga nanti mencapai akhir. Lalu renungkan bagaimana anda harus berperan untuk membuat cerita indah itu diperankan dengan indah. Seburuk apapun kisah yang telah anda jalani di masa lalu, kisah berikut yang ingin anda alami adalah kehendak anda sepenuhnya, kuasa andalah untuk menuliskanya. Jangan takut atau ragu menuliskan kisah itu, namun tulis saja apa yang ingin anda alami, lalu 153
  • 149. Memasuki Rumah Cahaya renungi bagaiman cara anda akan memerankanya dengan sempurna. Dana adalah seorang pemuda yang masih tenggelam dalam depresinya. Depresi yang diakibatkan oleh penghianatan yang dilakukan oleh kekasihnya, berkalikali. Berkali-kali dibohongi dan ditipu oleh orang yang paling dicintainya, benar-benar sebuah cobaan berat untuk Dana. Setiap kali pacarnya itu selingkuh, Dana bisa saja memaafkanya. Namun satu kali dia harus menyaksikan satu pemandangan yang sangat mengerikan, dimana pasanganya ada dalam satu ranjang yang sama dengan lelaki lain. Ia benar-benar tak bisa lagi mengerti apa yang harus ia lakukan. Hal itu membuatnya jatuh depresi. Namun satu hari ia mengambil satu keputusan yang sangat berani. Ia sadar jika ia terus dalam keterpurukan seperti ini, tak ada orang lain yang akan membantunya untuk berbahagia. Ia menulis dalam selembar kertas apa-apa yang ia inginkan di masa depan. Ia menuliskan satu esay tentang apa yang akan dialaminya di masa depan. Berikut esay yang ditulisnya: Masa lalu yang aku alami memang buruk. Aku telah ditipu dan dihianati oleh orang yang sangat aku cintai. Namun aku memaafkannya, dan aku bangga pernah mencintai dengan setulus itu. Hanya saja kali ini aku 154
  • 150. Memasuki Rumah Cahaya tidak akan hidup dengan dia lagi. Aku akan belajar untuk mencintai diriku, sepenuhnya. Aku akan menemukan seorang wanita yang lebih baik untuk aku jadikan pendamping hidupku. Aku tahu aku pantas untuk itu. Dan meskipun aku belum menemukan wanita macam itu aku masih dapat mencintai diriku dengan mengoptimalkan pekerjaanku. Aku akan bekerja dengan sangat serius, dan aku akan mendapatkan promosi karenanya. Aku tahu hal itu akan sangat membahagiakan. Dan aku tak akan lagi terpuruk karena wanita itu. Dan tebak, setelah ia menuliskan kisah indah itu, ia tahu apa yang harus ia lakukan, bekerja lebih keras dan lebih baik. Setahun kemudian ia memang mendapatkan promosi jabatan. Ia belum memiliki kekasih yang ideal, namun selalu terbuka untuk wanita. Sikap hidupnya yang positif yang telah dituliskanya itu dijalani dengan baik, dan mengantarkanya keluar dari keterpurukan. Siapa pun yang menulis scenario kehidupan anda, entah diri anda sendiri atau orang lain, anda harus merenunginya dengan berbagai pertanyaan kritis dan analitis: apakah saya akan menjadi bahagia dengan mengikuti alur cerita yang ditulis ini? Apakah lalu saya akan mengikuti alur cerita ini? 155
  • 151. Memasuki Rumah Cahaya Saat anda telah menulis scenario kehidupan anda pun, tetap ada beberapa hal yang perlu kita renungi. Ada kalanya scenario atau jalan cerita yang ditulis oleh orang lain malah lebih baik dari scenario buatan kita. Banyak orang yang menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja, dengan berbagai macam dalih dan alasan. Namun sering kali malah dalih dan alasan itu hanya sarana untuk kita menyembunyikan ketakutan kita untuk menulis scenario atau jalan cerita yang lebih baik untuk diri kita hanya karena dalam cerita itu memungkinkan adanya banyak tantangan. Baik, ambilah sebuah contoh. Seorang pemuda telah menuliskan satu jalan cerita yang panjang untuk hidupnya; dia akan kuliah sampai sarjana, lalu akan melamar pekerjaan di suatu instansi pemerintah yang akan menjamin ia hidup dengan cukup. Lalu ia akan menikahi seorang wanita yang dalam semua hal lebih rendah dari ia, karena ia tidak mau mengambil kemungkinan untuk dilecehkan istri jika istrinya lebih baik dari dia. Lalu ia bisa melewatkan masa tua tanpa anak, hanya dengan pensiunan yang pasti cukup untuk ia makan. Bagaimana menurut anda alur cerita yang disusun itu? Terlepas dari apakah itu baik atau buruk, namun pemuda itu bisa saja menyusun cerita yang lebih besar dari itu. Seandainya saja ia tidak takut. Jika ia tidak takut 156
  • 152. Memasuki Rumah Cahaya tidak mampu membiayai kuliah, ia pasti berani menulis untuk kuliah lebih tinggi. Seandainya saja ia berani mengambil peluang untuk menjadi pengusaha atau mengambil sector lain yang berpotensi menjadikanya kaya, ia pasti mengambil peluang itu. Seandainya ia tidak takut dilecehkan istri, mungkin ia bisa mengimpikan untuk menikahi Avril Lavigne (lagi pula segala kemungkinan menjadi mungkin saat kemungkinan itu diletakan di hadapan Tuhan). Sekarang ijinkan saya mengajukan satu permohoan yang rendah hati ke hadapan anda, periksa kembali alur cerita yang telah anda susun untuk kehidupan anda. Siapa yang paling berperan dalam mempengaruhi penyusunan scenario tersebut? Orang-orang di sekitar andakah? Atau malah ketakutan-ketakutan dalam diri anda? Dan terakhir, renungi kembali apakah anda benar-benar ingin menjalani seluruh susunan scenario tersebut beserta seluruh konsekuensinya? Scenario panjang kehidupan anda ditulis oleh penulis scenario, yang entah dia itu adalah anda sendiri atau bukan. Namun dalam kehidupan sehari-hari anda, ada saatnya muncul seorang yang beran sebagai sutradara yang menentukan apakah anda harus bersikap baik, apakah anda harus bersedih atau bergenbira. Namun sutradara tersebut tidak memiliki kekuasaan atas anda kecuali jika anda mengijinkanya. 157
  • 153. Memasuki Rumah Cahaya Manusia Adalah Pemain Puzzle Semua diantara anda pastinya mengenal puzzle. Satu permainan yang telah mengubah sudut pandang saya terhadap kehidupan, tanpa saya pernah sekali pun memainkanya. Satu permainan yang saya gunakan untuk menganalogikan kehidupan. Kehidupan itu seperti puzzle, dan kita para manusia adalah para pemainya. Satu prinsip yang mungkin bisa anda ingat-ingat. Sebagaimana puzzle yang memiliki begitu banyak bagian atau kepingan, maka demikian juga dengan kehidupan. Dalam sebuah gambaran sempurna dari sebuah puzzle, pasti terdapat satu kepingan yang demikian indah, namun ada juga kepingan lain yang sangat sederhana (jika tidak boleh disebut jelek). Ada satu kepingan yang tampak besar, dan ada satu kepingan yang hanya terdiri dari kepingan putih polos yang kecil. Namun SEMUA kepingan itu jika disusun dengan benar, akan menghasilkan satu gambaran yang indah. Dalam penyusunan kepingan-kepingan puzzle itu, ada dua hal yang harus benar-benar diperhatikan; pertama seluruh kepingan harus terkumpul dengan lengkap, bahkan meski pun hanya kepingan putih kecil (bayangkan jika kepingan putih polos itu ternyata adalah gambar gigi depan seorang presiden), dan kedua 158
  • 154. Memasuki Rumah Cahaya kepingan-kepingan itu harus disusun dengan pola susunan yang benar. Kehidupan kita juga demikian. Ada orang yang kaya, ada yang miskin, ada yang baik hati ada yang demikian jahatnya. Ada pengusaha, penulis, pedagang dan pengemis. Ada orang yang hidup dengan cinta mendalam seperti Bunda Teresa, dan ada juga yang kejam seperti Hitler. Ada yang berperang dengan kedamaian seperti Mahatma Gandhi, ada yang menghancurkan dengan nafsu menjajah seperti Inggris. Namun karena penjajahan yang dilakukan oleh Inggris makanya muncul sosok pahlawan seperti Gandhi. Karena penderitaan yang dibawa China untuk Tibet, tampak sosok Yang Mulia Dalai Lama yang memberikan dunia tauladan tentang sifat pemaaf dan pengasih . Sering dalam kehidupan ini kita memiliki pemikiran yang sempit, sebut saja “pola pikir sebagian”. Kita hanya melihat sesuatu sebagai sesuatu itu, tanpa mencari tahu keterkaitan yang mungkin muncul dari satu kejadian dengan kejadian lain (pola pikir menyeluruh). Segala sesuatu di dunia ini tidak terjadi begitu saja tanpa memiliki arti atau keterkaitan dengan hal lainya. Dan menemukan keterkaitan antara satu hal dengan hal lain, menemukan pengaruh satu hal terhadap hal lain berarti anda menemukan pola-pola susunan puzzle kehidupan. 159
  • 155. Memasuki Rumah Cahaya Pencipta gambar kehidupan ini kita percayai sebagai Tuhan. Dan saat menciptakan gambaran bernama kehidupan ini, Tuhan menciptakan gambaran yang sangat indah dan menawan (secara keseluruhan), namun gambar indah itu dipecah menjadi kepingan-kepingan kecil yang bervariasi, untuk kita susun. Hanya karena satu bagian puzzle tampak sederhana, bukan berarti gambaranya tidak indah. Jadi saat anda merasa hidup anda tidak seindah itu, berarti ada belum menemukan susunan atau keterkaitan antara satu kepingan kehidupan dengan kepingan kehidupan yang lain. Lebih tepatnya anda belum menyusun puzzlenya dengan tepat. Ada kalanya satu kepingan memang tidak indah, atau sederhana. Namun ia tampak demikian hanya jika ia berdiri sendiri, atau tidak disusun dengan kepingankepingan lain dengan pola yang tepat. Sesederhana apa pun sebuah kepingan, kepingan itu tetap akan melengkapi kepingan lain dalam penyusunan gambar kehidupan. Kunci dalam menyusun kepingan-kepingan kehidupan anda yaitu terus menyusun tanpa menyerah, dan terus merubah pola-pola yang kurang tepat dengan pola baru. Jangan bersikukuh dengan satu pola susunan, apa lagi yang telah terbukti tidak tepat. Anda harus bersikukuh dengan gambaran menyeluruh. Gambaran menyeluruh itu bernama kebahagiaan. 160
  • 156. Memasuki Rumah Cahaya Mari kita bicarakan bagaiman Abraham Lincoln menyusun kepingan kehidupanya sampai menjadi sangat indah. Ada begitu banyak kepingan “jelek” yang muncul di awal permaian Abraham Lincoln. Ia gagal berbisnis pada usia 21 tahun. Ia kalah dalam pencalonan legislatif saat bermur 22 tahun, dua tahun kemudian gagal lagi dalam bisnis, dua tahunya lagi ia ditinggal oleh kekasihnya, setahun kemudian ia mengalami kekacauan syaraf. Di usia 34 tahun ia kalah dalam pencalonan Kongres. Kalah lagi dua tahun kemudian, dan kalah dalam pencalonan Senat saat berusia 45 tahun, dua tahun kemudian gagal menjadi wakil presiden, dua tahunya lagi kalah lagi dalam pencalonan senat. Ya, Tuhan, benar-benar kepingan yang pastinya membuat orang mudah putus asa untuk menyusunya. Seandainya ia bersikap seperti kebanyakan orang, ia akan menyerah dan tak akan terpilih menjadi salah serorang Presiden Amerika yang mengubah jalanya sejarah pada usia 52 Tahun. Namun Abraham Lincoln terus menyusun kepingankepingan itu dengan keyakinan ia akan mendapatkan gambaran menyeluruh bernama Kebahagiaan. Ia jadikan satu kegagalan sebagai acuan untuk mencapai keberhasilan. Satu kegagalan adalah satu kesempatan untuk belajar, satu kesempatan untuk melatih jiwa menjadi makin kuat. Satu kesalahan dalam menyusun 161
  • 157. Memasuki Rumah Cahaya Gambar Kebahagiaan tidak menjadikanya berhenti menyusun. Abraham Lincoln yang menjadi kuat karena mengalami serangkain kegagalan, saat terpilih menjadi presiden ia beradi melakukan perubahan besar yang tak akan berani dilakukan oleh seorang yang lemah, dia menghapus perbudakan dan apartheid. Maksud dibalik setiap kegagalan yang pernah dialaminya adalah untuk melatih kekuatan jiwanya agar saat ia terpilih menjadi presiden ia mampu melakukan gebrakan besar. Jika dilihat separuh atau sebagian-sebagian kegagalan mencalonkan diri sebagai Anggota Kongres adalah hal yang “buruk”, kegagalan dalam berbisnis juga “buruk”. Namun akumulasi kegagalan itu jika disusun ternyata menyajikan gambaran utuh yang indah, Lincoln Sang Presiden yang merubah sejarah dengan berani dan kuat. Lalu apakah hal itu berarti setiap kegagalan yang dialaminya di awal itu ada gunanya? Tentu saja. Tetapi bahkan kata kegagalan adalah kata yang kurang tepat dalam Permaian Menyusun Puzzle. Saya lebih sependapat dengan apa yang diutarakan oleh Anthony Robbins, tidak ada kegagalan, yang ada hanya hasil; entah hasil yang sesuai harapan atau yang tidak. Saat Thomas Alpha Edison mengalami 999 kegagalan menyusun filament untuk bola lampu ia tetap mencari 162
  • 158. Memasuki Rumah Cahaya susunan lain, hingga ia berhasil. Namun ia tidak menyebut kesalahan yang jumlahnya 999 itu sebagai kegagalan, namun hasil yang tidak sesuai harapan. “satu lagi cara yang keliru telah saya dapatkan”. Dan setiap kali ia mendapatkan satu kekeliruan, maka ia makin dekat dengan kemungkinan berhasil (karena ia tahu satu lagi cara yang tidak efektif dan mencatatnya agar tidak ia gunakan lagi). Saat Abraham Lincoln gagal dalam satu usaha, ia mencoba usaha lain, saat ia gagal dalam satu susunan, ia mencoba cara lain untuk menyusun gambaran kebahagiaan dan kemuliaan. Serupa dengan apa yang Alexander Graham Bell katakan, jika satu pintu tertutup jangan menangisi pintu itu, temukan pintu lain yang mungkin terbuka. Ketidak berhasilan yang dialami Abraham Lincoln dimanfaatkan untuk menjadikanya kuat dan lebih pintar dalam berpolitik. Ia akhirnya menjadi Presiden Amerika yang menggugah dunia. Hasil tak sesuai harapan yang didapatkan oleh Thomas Edison ia manfaatkan untuk selangkah lagi menmendapatkan hasil sesuai yang ia harapkan. Seperti itulah mereka memanfaatkan tiap kepingan dalam kehidupan, disusun sedemikian rupa hingga mereka mendapatkan Gambar bernama Kebahagiaan dalam arti yang seluas-luasnya. 163
  • 159. Memasuki Rumah Cahaya Satu susunan yang keliru jangan membuat kita berhenti menyusun. Satu kepingan yang tampak buruk jangan membuat kita menghakimi gambarnya juga buruk. Itu lah initi yang harus kita ingat. Penyusunan personal yang dilakukan oleh Abraham Lincoln dan Thomas Edison membuat mereka mendapatkan gambaran yang indah untuk diri mereka sendiri. Namun gambaran itu juga mempengaruhi penyusunan puzzle yang dilakukan secara global. Mereka berdua juga mempengaruhi kehidupan manusia secara global. Itu makna lain dari penyusunan kepingan puzzle-puzle kehidupan. Bangsa Kulit Hitam Amerika bisa lepas dari perbudakan atas prakarsa Abraham Lincoln, dan dengan demikian mempercepat proses Amerika menjadi Negara adi kuasa. Gambaran sempurna yang dihasilkan oleh Lincoln membuat banyak orang mendapatkan kepingan yang juga indah untuk disusun. Keberhasilan Edison dalam menyusun gambaranya membuat saya mampu menulis buku ini dengan penerangan yang memadai, dan oleh karenanya buku ini sampai kepada anda dengan hasil yang optimal. Lalu buku ini akan membawa pengaruh pada orang untuk melakukan sesuatu yang juga mempengaruhi hal lain. Satu kepingan mempengaruhi kepingan lain. Jadi jangan buru-buru menghakimi sesuatu sebagai buruk apa lagi 164
  • 160. Memasuki Rumah Cahaya tidak berguna. Hanya karena anda tidak dapat menyusun sesuatu hal hingga menjadi berguna dalam gambaran personal anda atau gambaran global, bukan berarti kepingan itu tidak berguna. Semua berguna dan bermanfaat, tinggal sekarang bagaimana anda mendayagunakan dan memanfaatkanya dalam kehidupan anda. Orang jahat memang jahat, namun sebagaimana yang dikatakan Confusius, orang jahat membuat kita mengerti bagaiman berperilaku baik. Jadi, daya guna sesuatu hal tergantung keterampilan kita mendayagunakanya saja, seperti kepingan-kepingan puzzle. Terkadang ada seseorang muncul, memberikan rasa sakit hati dan masalah untuk anda. Tanyakan pada diri anda “bagaiman saya bisa memanfaatkan semua ini untuk kebahagiaan personal saya, bahkan berdampak positif secara global?”. Semakin sering anda bertanya seperti itu, maka akan semakin mahir anda dalam menyusun kepingan-kepingan puzzle kehidupan, hingga menjadi demikian indah dan menawan. 165
  • 161. Memasuki Rumah Cahaya Manusia adalah Para Kartunis Anda pastinya tahu seorang kartunis, bukan? Seorang yang membuat gambaran manusia, alam dan apa pun menjadi tampak demikian lucu, lebih lucu dari seharusnya. Sehingga suatu tragedi pun menjadi lelucon di tangan seorang kartunis. Dan sekarang, pernahkah anda melihat dunia dengan cara seorang kartunis melihatnya? Melihat sesuatu menjadi tampak sebagai lelucon? Pernah? Yang menungkinan anda perankan bukanlah sebagai seorang kartunis, namun seorang penulis drama tragedy, alihalih melihat sesuatu sebagai semacam lelucon, anda melihatnya sebagai tragedi menyedihkan. Seorang tiba-tiba terjatuh dan kakinya terkilir. Di tangan seorang kartunis, kejadian ini sangat lucu. Jalan-jalan kok bisa jatuh? Mengerang kesakitan dengan mimic dan nada yang juga lucu… hingga tak terasa ada rasa sakit dalam kejadian itu. Namun untuk seorang penulis drama tragedy, akan muncul dialog dalam kejadian sederhana itu,”Ya ampun. Betapa sialnya aku. Apa salah dan apa dosaku, sampai-sampai aku tertimpa musibah macam ini. Aku memang sial…aduh sakit sekali rasanya’. Dan tebak, ia mengalami kesakitan jah lebih besar dari yang seharusnya ia alami. 166
  • 162. Memasuki Rumah Cahaya Apakah analogi seorang kartunis dan penulis drama tragedy ini hanya sebatas anology yang memperindah bahasa? Tidak. Ini adalah cara kita menyikapi kehidupan, dalam keseharian atau dalam keseluruhan. Sering kali ada orang-orang yang tangguh yang mampu menertawakan dirinya sendiri, atas segala hal buruk yang ia alami. Namun selera humor itu sangat sehat, orang yang bisa menertawakan dirinya segera akan memiliki kekuatan untuk pulih dari keterpurukan. Namun orang yang menangisi dirinya dengan penuh rasa kasihan cenderung akan makin terpuruk dalam jurang-jurang gelap kesedihan. “ha ha ha… bodohnya aku sampai salah mengedit laporan” segera setelah itu semangat anda untuk memperbaiki laporan anda akan segera muncul, dengan penuh vitalitas dan enegi macam itu, laporanya akan jadi lebih baik. “ya Tuhan, bodohnya aku sampai melakan kesalahan seperti ini. Harusnya aku bisa mengerjakan laporan itu dengan lebih sempurna. Aduh…” dan segera setelah penyiksaan diri yang dilakukan seperti itu, maka energy makin melemah, pikiran jadi tak berdaya, dan tentu saja pekerjaanya pun makin hancur. Humor benar-benar memiliki kekuatan. Semua orang tahu itu. Namun akan lebih mudah menertawakan kejadian orang lain dan menganggapnya lucu dibanding 167
  • 163. Memasuki Rumah Cahaya menertawakan diri sendiri dengan penuh humor (dan hal ini sebenarnya agak kurang baik). Tertawa sekeras dan selepas mungkin. Anda bisa menjadi kartunis untuk orang lain, namun menjadi penuh tragedy untuk diri sendiri. Dan ini adalah cara yang sangat manjur untuk menyiksa diri. Sekarang mari kita rubah peran ini. Jadilah kartunis untuk diri sendiri, dan ajak pula orang lain untuk bisa menertawakan dirinya. Namun jangan lupa, miliki pula rasa simpati dan empati seorang penulis drama untuk ditunjukan pada orang lain. Mari kita lakukan sedikit latihan. Jika anda memiliki bakat menggambar, latihan ini akan sangat mudah. Namun untuk anda yang tidak memiliki bakat dalam bidang itu, tidak perlu kawatir, gambar saja sesuai selera anda, selucu yang anda bisa. Ingatlah satu kejadian dimana anda sangat mengasihani diri sendiri, mungkin saat anda dimarahi oleh seseorang. Pastinya sekarang emosi anda agak suram dengan membayangkan kejadian itu. Sekarang bayangkan orang yang memarahi anda itu memiliki hidung panjang yang lucu, perut buncit dan karakter lucu apa pun yang sesuai selera humor anda (entah hanya dalam imajinasi anda atau anda juga boleh menggambarkannya di atas selembar kertas). Ingat-ingat kata-kata yang diucapkanya, lalu ganti suara menyakitkan itu dengan 168
  • 164. Memasuki Rumah Cahaya suara salah seorang tokoh kartun yang anda anggap lucu. Cium juga baunya yang buruk. Ulangilah sesering mungkin latihan ini, dan perhatikan, pasti intensitas emosi anda mulai menurun. Jika anda bisa merubah suasana hati hanya dengan membayangkan secara visual dalam pikiran anda sambil mendengarkan suara, mencium bau dan memperhatikan perasaan anda, akan sangat bagus. Namun akan lebih baik jika anda menggambarkan ulang kejadian itu dengan selucu mungkin dalam selembar kertas. Dan anda lihat, keajaiban terjadi. Sederhana memang kedengaranya, namun tidak sederhana dampaknya untuk kehidupan anda. Karena hanya-orang yang benar-benar memiliki kekuatan jiwa yang dapat menertawakan dirinya dengan penuh humor. Cara pandang seperti ini selain akan menambah energy dan vitalitas anda, juga akan membuat anda lebih sehat dan produktif. Namun perlu dicatat sekali lagi, ada saatsaat dimana empati diperlukan, dan bedakan lah dengan biijak. Jangan tertawa dengan cara yang akan membuat orang lain menangis. Namun jika dalam menertawakan diri sendiri? Itu hak anda sepenuhnya bahkan jika anda mau tertawa sampai keluar air mata. Lakukan kebiasaan ini selama seminggu saja, dan jangan lanjutkan membaca buku ini jika ternyata terbukti tidak 169
  • 165. Memasuki Rumah Cahaya efektif. Ini adalah jaminan yang saya berikan terhadap kekuatan tawa untuk hidup anda. Dengan melakukan latihan ini sesering mungkin, anda mulai terbiasa dengan humor dan peran seorang kartunis. Hidup yang tadinya tampak menyedihkan, berubah menjadi lucu. Mungkin anda berpikir “ini benar-benar menyedihkan! Bagaimana saya bisa tertawa?”. Ya, tiap hal itu menjadi menyedihkan jika anda memakai sudut pandang seorang penulis drama. Tetapi hal yang paling menyedihkan pun pasti memiliki sisi lucu atau humor. Sedalam apa pun anda telah jatuh ke dalam jurang kepedihan, coba analisa ulang dan cobalah untuk menertawakan semua itu. Dan perhatikan, sekali lagi, keajaiban akan terjadi. 170
  • 166. Memasuki Rumah Cahaya Manusia Adalah Seorang Penyair Dalam analogi ini, saya menggambarkan satu aspek keberadaan kita sebagai seorang penyair. Seorang penyair adalah seorang pengagum; ia mengagumi setiap detail dari kehidupan. Ia memuji sehelai rumput dengan kekaguman yang demikian besar, ia mengagumi kecantikan dengan ketulusan, ia memuja helaian daun, angin yang berhembus, ombak yang menggulung, langit yang menghampar luas, pokoknya semua hal. Dalam definisi sederhana ini saya tidak ingin menyarankan anda untuk merubah profesi anda menjadi seorang penyair. Bukan, sama sekali bukan. Namun saya ingin agar anda mulai memiliki selera bagai seorang penyair, agar mata anda bisa menjadi mata seorang penyair, agar hati anda bisa menjadi hati seorang penyair. Seorang yang mengagumi keindahan setiap hal, sekali lagi setiap hal. Apa gunanya ini untuk anda? Kekaguman itu adalah salah satu ciri dari rasa syukur, rasa syukur yang sangat mendalam terhadap segala yang Tuhan telah ciptakan, sehingga kita bisa menikmatinya. Syukur itu mengantarkan kita pada satu keagungan yang sangat menawan, yaitu cinta. Namun kenapa banyak orang tidak mensyukuri keagungan yang terletak dalam hamparan alam yang 171
  • 167. Memasuki Rumah Cahaya menyimpan kerumitan luar biasa di balik kesederhanaanya itu? Karena, sayang sekali, banyak orang yang tidak mampu mengagumi dan menikmati keindahan yang terletak di balik hamparan Anugerah Tuhan itu. Hanya untuk menikmati saja tidak mau, padahan untuk membuat sehelai rumput dengan tangan sendiri saja tidak mampu. Aneh memang. 172
  • 168. Memasuki Rumah Cahaya Manusia adalah Mahluk yang Suka Memperlakukan Tuhan Seperti Manusia Manusia adalah mahluk yang terkadang sombong, merasa demikian hebat dan superior, sehingga tidak ada hal yang luput dari penilaian dan aturan mental yang ia ciptakan. Ambilah contoh saat anda menonton TV. Pikiran anda tidak mau berhenti berkomentar “harusnya ia tidak begitu…harusnya ia begini…” dan semacamnya. Bahkan para menteri dan presiden pun tidak luput dari penilaian. Seolah dunia akan menjadi tenteram jika sudah berjalan sesuai dengan apa yang kita gariskan. Sungguh angkuh. Yang lebih parah dari itu adalah, Tuhan pun tidak luput dari protes dan caci maki manusia, Kita semua sepakat kalau Tuhan itu Maha Tahu, dan kita hanyalah mahlukNya yang sangat kecil. Namun kok bisa ya, kita memprotes Tuhan yang Maha Tahu itu? Bukan hanya protes atas segala kebijakan dan ketentuan Tuhan, kita juga merasa seoleh lebih tahu dari Tuhan dalam mengatur dunia atau pun menjawab doa. Saya memiliki sebuah cerita yang sangat indah yang saya petik dari sebuah buku: Suatu hari seorang hamba Tuhan yang sangat beriman melakukan sebuah pelayaran di sebuah kapal besar. Namun di tengah samudra kapal tersebut diterjang 173
  • 169. Memasuki Rumah Cahaya badai, dan terancam akan tenggelam. Maka kapten kapal pun memerintahkan agar seluruh penumpang diamankan. Namun hamba Tuhan ini merasa sangat yakin bahwa Tuhan lah yang akan menyelamatkanya. Ia yakin Tuhan akan membantunya, jadi ia menolak saat hendak dipindahkan ke sekoci. Makin lama kapal makin tenggelam, namun si hamba Tuhan ini masih menunggu pertolongan Tuhan. Tidak lama kemudian datang sebuah helicopter untuk mengevakuasinya, namun ia menolak karena ia yakin bahwa Tuhan sendiri yang akan menolongnya. Sesaat sebelum kapal hampir tenggelam sebuah kapal penolong datang untuk menyelamatkanya, namun ia menolak karena ia yakin Tuhan yang akan menolongnya. Tebak apa yang kemudian terjadi? Hamba Tuhan ini tenggelam dan meninggal. Dan di surga ia protes pada Tuhan, “Tuhan, kenapa Engkau membiarkanku tenggelam? Padahal aku sangat yakin Engkau akan datang menolongku!” Mendengar protes itu, Tuhan menjawab ,”Aku sudah menjawab doamu, nak. Aku mengirimkan sekoci untuk menyelamatkanmu, namun kau tolak. Aku kirimkan kemudian helicopter untuk menolongmu, tetapi kau tolak juga. Aku juga akhirnya mengirimkan sebuah kapal penolong, dan itu pun kau tolak”. Cerita usai. 174
  • 170. Memasuki Rumah Cahaya Dari cerita pendek ini kita dapat mengintrospeksi diri, betapa kita suka berlaku semau kita pada Tuhan. Kasarnya kita perlakukan Tuhan sama seperti manusia, yang menanggapi doa, berpikir dan bersikap sama seperti manusia. Sama seperti kita ini. Bukan hal yang salah, namun agak keliru. Berhubungan dengan Tuhan membutuhkan sedikit kepekaan. Untuk dapat mengikuti alur kebijakan Tuhan, bukan keinginan egoistis kita. Seandainya hamba Tuhan dalam cerita di atas sedikit peka, maka ia akan melihat bahwa helicopter dan lain sebagainya yang datang padanya adalah cara Tuhan untuk menolongnya. Namun dalam setting pikiranya, Tuhan akan dating sendiri dan mengulurkan tangan lalu menyelamatkanya dari bencana. Kita harus sadar bahwa Tuhan memiliki cara-caranya sendiri untuk berkomunikasi dengan hamba-hambaNya. Dan hambaNya yang cukup peka untuk merasakan kehadiran Beliau, maka akan dapat berkomunikasi dengan intens dengan Tuhan. Namun jika yang kita ikuti adalah persepsi-persepsi egoistis kita, maka kita hanya akan tenggelam. Jangan buru-buru memvonis Tuhan bahwa ia tidak menjawab doa-doa anda. Mungkin saja Beliau sedang mempersiapkan sesuatu, dengan cara Beliau yang Illahi untuk kita. Jangan berharap Tuhan akan menjawab doa 175
  • 171. Memasuki Rumah Cahaya kita dengan cara yang dapat kita bayangkan dan persepsikan. Biarkan Kemahatahuan dan Kemahakuasaan Tuhan bekerja dengan alurNya sendiri. Sering kali kita memohon cinta pada Tuhan, namun yang datang pada kita justru kebencian. Kawan yang membenci kita atau kekasih yang malah meninggalkan kita. Apakah Tuhan tidak mengabulkan doa kita akan cinta? Justru Tuhan sedang mengabulkanya. Cinta bukanlah kata benda sehingga tidak mungkin dapat diserah terimakan. Cinta adalah sebuah kata sifat, jadi saat kita memohon cinta, kita diberikan kesempatan untuk mencintai. Dalam kasus ini, kita diberi kesempatan untuk mencintai teman yang membenci kita, kita juga diberi kesempatan untuk mencintai kekasih yang menghianati kita. Dan dalam kebencian atau penghianatan, cinta tampak makin terang dan makin terasa, seperti cercah cahaya lilin di kegelapan. Demikian pula dengan kesabaran. Saat kita memohon kesabaran, bukan segumpal kesabaran yang Tuhan anugerahkan, namun kesempatan untuk bersabar. Mungkin anak yang nakal, teman yang culas dan sebagainya. Semua itu menuntut kesabaran, dan di sana kita bisa memiliki kesempatan untuk benar-benar melatih kesabaran. Bukalah mata hati anda, maka anda akan melihat dunia yang sangat indah dan menawan, yang mata anda tidak 176
  • 172. Memasuki Rumah Cahaya mapu lihat. Biarkan hati anda merasakan sedikit kepekaan yang menyejukan dari Tuhan. Biarkan nyanyian seruling Tuhan terperdengarkan dengan merdu dari sudut hati. Lalu bagaimana dengan komunikasi, dalam arti yang sebenarnya bersama Tuhan? Apakah Tuhan berkomunikasi dengan kita? Jawabanya adalah IYA. Namun jangan membatasi cara Tuhan berkomunikasi hanya dengan kata atau symbol atau huruf seperti yang manusia lakukan. Tuhan memiliki cara berkomunikasi yang sangat luas, melalui berbagai media, melalui semua mulut, melalui semua mahluk. Tuhan senantiasa berkomunikasi dengan kita, namun kita yang tidak selalu mendengarkan Beliau (karena kita menganggap cara Beliau berkomunikasi hanya sebatas kata, seperti yang kita lakukan dengan sesame manusia). Pernahkan anda menonton sebuah acara TV yang membuat hati anda demikian tergetar? Menonton tayangan mengenai anak jalanan yang membuat anda langsung ingin bersedekah? Itulah saat dimana Tuhan berkomunikasi dengan kita. Pernahkah anda membaca sebuah bait atau paragrap buku yang demikian berkesan dan membekas dalam hati anda? Itu juga cara Tuhan berkomunikasi. Pernahkah anda mendaki puncak gunung lalu melihat langit dan tanah luas yang membuat kita tampak demikian kecil (hingga kita secara otomatis 177
  • 173. Memasuki Rumah Cahaya mengagumi Tuhan)? berkomunikasi. Itu juga cara Tuhan Ada berjuta cara untuk Tuhan menyampaikan pesan Beliau pada kita. Kapan pun anda merasa ada satu hal yang membuat anda (atau memberi anda kesempatan) mengembangkan kesadaran anda akan hakekat diri anda, maka saat itu Tuhan sedang membisikan satu pesanNya untuk kita. Dengarkanlah dengan seksama, lalu ikutilah dengan yakin. Mungkin diantara anda ada yang sangat beruntung karena menjadi demikian peka terhadap pesan-pesan Tuhan. Ada yang beruntung memiliki intuisi yang sangat tajam, ada juga secara langsung dapat berkomunikasi dengan suara-suara Tuhan. Namun kebanyakan tidak. Dan dari kita yang tidak memiliki keberuntungan seperti itu, maka kita harus selalu melatih kepekaan untuk senantiasa berkomunikasi dengan Tuhan. Menyingkirkan ego dan kepicikan adalah syarat mutlaknya. 178
  • 174. Memasuki Rumah Cahaya Manusia adalah Mahluk Yang suka mengkambing Hitamkan Tuhan Salah satu ciri manusia yang paling buruk, dan sekaligus paling cepat mengantarkanya pada satu kondisi yang disebut neurosis (gangguan jiwa) adalah ketidak bertanggung jawaban. Sikap tidak bertanggung jawab merupakan gumpalan debu yang menghalangi manusia dari kebijaksanaan. Seorang yang tidak bertanggung jawab atas hidupnya dan segala hal yang terjadi dalam kehidupan tersebut tidak akan pernah melihat dirinya sebagai penyebab, langsung atau tidak, yang menjadikan hidupnya sebagaimana yang dialaminya. Ia akan mencari penyebab-penyebab di luar dirinya, siapa pun bisa disalahkan, asal bukan dirinya. “Kalau saja bukan karena orang tuaku”, “kalau saja pasanganku tidak bersikap demikian”, “kalau saja atasanku bisa bersikap sedikit lebih pengertian”, “kalau saja guruku bisa sedikit memahamiku”, “kalau saja… kalau saja… kalau saja…” Bahkan salah satu bentuk ketidak bertanggung jawaban yang paling tidak berbudi adalah menyalahkan Tuhan, “kalau saja Tuhan tidak sekejam ini padaku”. Tuhan yang Maha Agung dan Maha Mulia pun bisa juga dijadikan kambing hitam, bisa juga disalahkan atas apa 179
  • 175. Memasuki Rumah Cahaya yang terjadi dalam kehidupan kita. Tuhan kita tempatkan dalam satu posisi yang memegang otoritas atas nasib dan takdir kita, sehingga kita menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi dalam kehidupan kita. Jika anda (semoga saja tidak) termasuk dalam salah satu orang yang suka menjadikan Tuhan sebagai kambing hitam atas apa yang terjadi dalam kehidupan anda, mari kita merenung sejenak. Kenapa Tuhan harus menggunakan kuasa-Nya untuk menyakiti anda? Bukankah kita sama-sama percaya kalau Tuhan itu Maha Pengasih? Mari kita berkenalan sejenak dengan Tuhan, agar dari lubuk hati anda yang paling dalam muncul kesadaran baru akan Tuhan, Mahluk Adi Kodrati yang memang pantas kita jadikan kambing hitam atau bukan? Mari kita buka dengan pertanyaan sederhana, apakah dasar utama Tuhan Yang Maha Adil menentukan takdir atau nasib manusia? Karena Tuhan Maha Adil, tidak mungkin semua itu ditentukan secara acak, bukan? Dan berhubung kita tidak memiliki apa pun lebih dari Tuhan, berarti tidak mungkin ada mahluk yang dilahirkan kaya oleh Tuhan karena menyuap Tuhan, bukan? Salah satu hal yang paling mungkin untuk menjawab pertanyaan tersebut yaitu, dasar yang dijadikan Tuhan 180
  • 176. Memasuki Rumah Cahaya (yang kita asumsikan sebagai penentu takdir kita) yaitu PERBUATAN KITA SENDIRI. Bukan sekedar apa yang kita ingat telah kita lakukan, namun AKUMULASI dari sseluruh perbuatan-perbuatan, pikiran, kata, dan keputusan kita. Semua itulah yang membentuk takdir kita. Semua itu terbentuk dengan hukum alam, hukum yang telah diciptakan Tuhan. Jadi bukan Tuhan yang menentukan takdir kita, namun hukum alam yang Tuhan ciptakan. Lalu saat hal buruk terjadi dalam kehidupan kita, dengan sangat bangga dan yakin kita menyalahkan Tuhan. Memang menyenangkan saat mengandaikan bahwa kita adalah korban dari sesuatu yang tak bisa kita kendalikan lagi, sesuatu diluar batas kemampuan dan kekuasaan kita. Namun sikap kekanak-kanakan seperti itulah yang juga menghambat perkembangan spiritual dan mental kita. Saat kita secara pasti menyalahkan Tuhan untuk apa yang kita alami, saat itu juga kita telah memungkiri tanggung jawab kita terhadap apa yang terjadi. Dan saat kita telah memungkiri semua yang terjadi tersebut, kita tidak akan melakukan perbaikan apa pun yang diperlukan. Saat kekasih kita meninggalkan kita, gampang saja mengatakan bahwa kita tidak ditakdirkan berjodoh oleh Tuhan, bahwa ini sudah di luar batas kemampuan kita. 181
  • 177. Memasuki Rumah Cahaya Bagus memang keyakinan semacam ini, untuk menghibur diri. Namun kita tidak akan banyak belajar dari realitas yang dihadapkan pada kita itu; kita jadi lupa apa yang telah kita lakukan dan telah tidak kita lakukan pada pasangan kita sehingga ia memutuskan untuk pergi meninggalkan kita. Tuhan memang tidak akan ternoda oleh sikap mengkambing hitamkan yang kita lakukan. Namun perkembangan dan evolusi kesadaran kitalah yang jadi terhambat. Dan inilah kerugian dari sikap tidak bertanggung jawab macam ini: kesadaran spiritual kita tidak berkembang. Mungkin anda memiliki keyakinan bahwa segala yang terjadi dalam hidup anda memang sudah kehendak Ilahi. Saya tidak akan mengganggu keyakinan tersebut. Namun satu pesan saya, jangan sampai keyakinan itu menjadikan anda lepas tanggung jawab terhadap kehidupan anda dan keenakan menyalahkan Tuhan. Entah siapa yang menetukan takdir kita, dan entah bagaimana takdir kita ditentukan (mungkin topic ini bisa kita bahas belakangan). Namun yang ingin saya tekankan adalah; apa pun yang terjadi dalam kehidupan anda, tantangan apa pun yang dihadapkan pada anda, dan seperti apa pun kondisi kehidupan anda, SEMUA ITU ADALAH TANGGUNG JAWAB ANDA. Semua itu terjadi karena anda, dan oleh karenanya andalah 182
  • 178. Memasuki Rumah Cahaya yang juga bertanggung jawab untuk merubahnya (jika anda menginginkan perubahan). Hidup adalah tentang sebab-akibat, stimulus-respon, keputusan-konsekuensi. Tiap sebab yang anda lakukan, tiap stimulus yang anda berikan, setiap keputusan yang anda ambil dan tentukan, anda juga yang akan menanggung akibat, respond an konsekuensinya. Kenapa juga anda yang mengambil keputusan (atas berbagai hal dalam hidup anda), kemudian orang lain, hal-hal lain, atau malah Tuhan yang anda salahkan? Hal penting yang juga anda perlu ingat adalah, tidak selamanya anda melakukan hal-hal secara sadar. Tidak semua keputusan anda ambil secara sadar. Namun jika ada hal “buruk” terjadi pada anda, pasti ada “hal buruk” yang anda lakukan, sadar atau tidak sadar. Mungkin anda perlu sering-sering introspeksi diri, merenungi apa yang pernah anda lakukan dan bagaimana kira-kira dampaknya terhadap orang lain. Semua hal yang anda lakukan pasti mendatangkan feedback, jadi berhatihatilah terhadap pikiran, perkataan, perasaan dan perilaku anda. Topic yang belakangan booming yaitu pembahasan mengenai The Law Of Attraction (hukum tarik menarik). Mungkin anda telah demikian familiar dengan istilah ini. Apa yang anda pikirkan akan mewujud dalam kehidupan anda, secara nyata. Pikiran ini kemudian bisa 183
  • 179. Memasuki Rumah Cahaya diperkuat atau diperlemah oleh perasaan anda tentang itu, apa yang anda katakana tentang itu dan bagaimana anda menyikapinya. Terlepas dari bagaimana anda menyikapi The Law Of Attraction ini, namun saya melihatnya dari perspektif berbeda. Kita, manusia diajarkan untuk lebih bertangung jawab atas kehidupan kita. Sebab dalam perspektif The Law Of Attraction, semua kondisi yang ada dalam kehidupan anda adalah hasil ciptaan pikiran anda. Satu lagi filosofi yang menuntut anda untuk bertanggung jawab atas hidup anda. Anda, bukan Tuhan atau yang lain. Lalu salahkah saat kita yang lemah ini memohon bantuan Tuhan yang Maha Agung? Ada perbedaan yang sangat signifikan antara minta tolong dengan menyalahkan. Anda boleh saja memohon dan berdoa pada Tuhan, jika hal tersebut mampu mendamaikan hati anda. Nah, kalau dengan minta tolong dan berdoa pada Tuhan anda jadi lebih tenang, kenapa harus menyalahkan Dia? 184
  • 180. Memasuki Rumah Cahaya Manusia Adalah Emas Yang Bisa Bercahaya Setelah Menyingkirkan Pasir-Pasirnya Saya sangat menyukai sebuah kalimat yang dibuat oleh salah satu Guru Spiritual India yang sangat dihormati di seluruh dunia, Sri Nisargadatta Maharaj. Beliau mengatakan, “untuk mengetahui siapa anda sebenarnya, maka temukanlah siapa yang bukan anda.” Manusia diciptakan dengan fitrah yang mulia. Namun sayangnya manusia tidak selamanya hidup dengan fitrahnya tersebut. Kenapa? Karena ia mengira bahwa sesuatu yang bukan dirinya adalah dirinya. Karena terlalu banyak pasir , butiran emas jadi tidak murni. Ali bin Abu Thalib mengatakan bahwa tersimpan kekuatan tak terbatas dalam diri kita. Sementara orang bijak lain yang hidup di dataran India dan mencerahkan begitu banyak orang dari berbagai belahan dunia bernama Sri Svami Vivekananda. Beliau mengatakan, semua kekuatan dalam alam semesta adalah sudah menjadi miliki kita. Adalah kita sendiri yang mengangkat tangan dan menutupi mata kita sendiri lalu berteriak bahwa bumi gelap. Ketahuilah tidak ada kegelapan di sekitar kita. Enyahkan tangan dari penglihatan, dan di sana ada cahaya sejak awal semula. Kegelapan tidak pernah ada, kelemahan tidak pernah ada. Kita berlagu tolol berteriak kita adalah lemah; berlagu tolol berteriak kita bergelimang kotor 185
  • 181. Memasuki Rumah Cahaya Apa artinya semua itu? Artinya, orang-orang besar, cahaya-cahaya kebijakan dunia mengetahui dan menyadari tentang betapa mulianya manusia. Beliaubeliau itu ingin kita menyadari bahwa sesungguhnya kita ini adalah mahluk yang mulia dan menolak pendapat apa pun selain itu. Kita (seperti yang telah kita bicarakan sebelumnya) diciptakan berdasarkan gambar dan citra Tuhan. Namun, jika suatu saat nanti (bahkan besok atau satu jam lagi) anda dihadapkan pada satu kondisi yang menuntut anda untuk mengingat tentang fitrah anda, apakah anda akan berani berkata, “this is not me!”? Cara Tuhan untuk mengingatkan kita akan fitrah kita, diri kita yang sejati adalah dengan menyediakan satu kondisi dimana kita dimungkinkan untuk memilih menjadi hina atau mulia. Kebanyakan dari kita awalnya akan memilih sesuatu yang bukan kita, namun seperti yang dikatakan oleh Sri Nisargadatta Maharaj, dengan pengalaman menjadi yang bukan kita lah kita akhirnya bisa mendefinisikan siapa kita sesungguhnya. Saat kita dihadapkan pada satu tantangan, kita akan mendengar pikiran kita berbisik, “menyerah saja lah!”. Namun hati kita, yang senantiasa mengingat fitrah kita akan berkata, “kenapa harus menyerah?”. 186
  • 182. Memasuki Rumah Cahaya Sekarang, tinggal memilih yang mana yang akan anda turuti. Tidak ada pilihan benar-salah di sini. Setiap pilihan adalah pilihan yang memberikan hasil, memberikan konsekuensi. Dari hasil yang kita dapat, dari konsekuensi yang kita terima dari pilihan kita kemudian kita bisa mengevaluasi diri untuk mengingat lagi siapa kita. Inikah saya? Banyak orang yang menyesalkan “kesalahan” yang pernah dilakukan, dan menyiksa diri karenanya. Namun, menyiksa diri dengan sesal tidak lah berguna. Apa yang kita sebut “kesalahan” masa lalu bukan lah hal yang tak berguna, karena dari “kesalahan” tersebut lah kita kemudian dapat mendefinisikan kita yang “sebenarnya”. Untuk mendapatkan emas murni, maka pasir-pasirnya harus disingkirkan dahulu. Itulah hukumnya. Untuk mengetahui dan mendapatkan pengalaman tentang siapa diri sejati anda, anda harus menyingkirkan siapasiapa yang bukan anda. Saat anda memiliki kesempatan untuk menggelapkan uang perusahaan, tanyakan pada diri anda, “inikah saya?”. Saat anda memiliki kesempatan untuk mendapatkan pasangan anda karena hadirnya orang yang lebih baik, tanyakan pada diri anda, “beginikah 187
  • 183. Memasuki Rumah Cahaya saya?”. Saat anda bisa saja naik pangkat dengan mengorbankan teman anda, bertanyalah ke dalam, “inikah saya?”. Sesungguhnya setiap kejadian yang terjadi dalam kehidupan anda sedang member anda kesempatan, kesempatan untuk menyingkirkan butiran pasir dari butiran emasnya. Namun sayangnya yang sering kali kita singkirkan adalah butiran emasnya. Namun memilih untuk tidak menjadi mulia bukanlah hal yang hina. Karena pada waktunya nanti, kehidupan akan membawa kita pada pilihan yang tepat. Hanya saja, apakah anda harus menunggu serangkaian proses panas pemurnian jika anda bisa memurnikan sendiri emas tersebut? Setiap pilihan yang kita ambil akan membawa kita pada pengalaman. Dan setiap pengalaman yang kita dapatkan akan mengantarkan kita pada kemampuan yang lebih baik untuk mengambil keputusan. Dan semakin baik cara pengambilan keputusan kita, makin baik pengalaman kita, makin dekat juga kita dengan diri kita yang sebenarnya. Setiap orang besar adalah orang yang memiliki keyakinan bahwa dirinya memiliki kapasitas untuk menjadi besar. Namun kebanyakan orang besar menjadi besar setelah menyadari kelemahan-kelemahan (dalam 188
  • 184. Memasuki Rumah Cahaya dirinya dan kebanyakan menyingkirkannya. orang), dan lalu Namun jika anda lebih memilih untuk menyingkirkan butiran emas (kekuatan dalam diri anda) ketimbang butiran pasirnya (kelemahan-kelemahan anda), apa boleh buat… 189
  • 185. Memasuki Rumah Cahaya Manusia Adalah Seruling yang Menyenandungkan Kepedihan Dalam pembahasan sebelumnya, kita telah membicarakan tentang bagaimana mengelola penderitaan dan masalah yang kita alami demi kebaikan kita sendiri. Kita telah mengumpamakan manusia sebagai ulat yang masuk ke dalam kepompong penderitaan untuk mentransformasi diri kita. Kita juga telah membicarakan perumpamaan bahwa manusia adalah sang alchemist yang mampu mengolah derita menjadi emas berharga bagi jiwa. Dalam kedua perumpamaan di atas, kita senantiasa mengarahkan diri kita untuk memiliki pertanyaan yang benar. Alih-alih bertanya “kenapa”, kita lebih memilih untuk bertanya “apa”. Mungkin perlu, namun tidak akan banyak membantu dalam menghadapi permasalahan hidup jika otak kita ini kita isi dengan pertanyaanpertanyaan semacam, “kenapa ini harus terjadi padaku?”, “kenapa aku harus mengalami semua ini?”, “kenapa aku harus menderita dan mereka tidak?”. Pertanyaan macam ini malah akan MELEMAHKAN jiwa kita, dan menjauhkan kita dari kemajuan dan perkembangan spiritual. Pertanyaan yang menguatkan, pertanyaan yang memberikan kita energi untuk menghadapi segala permasalahan, pertanyaan yang mengantarkan kita 190
  • 186. Memasuki Rumah Cahaya untuk menjadi alchemist dan kupu-kupu adalah pertanyaan “apa?”. “apakah mahsud dari semua kejadian ini?”. “apakah manfaat yang dapat aku petik dari semua kejadian ini?”, “menjadi apakah aku setelah kejadian ini?”, “kemuliaan macam apakah yang aku dapatkan setelah semua ini?”, dan pertanyaan-pertanyaan “apa” positif yang lain. Segera setelah anda mengajukan pertanyaan ini pada diri anda sendiri, maka cahayacahaya kemuliaan mulai bersinar dan memberi anda energi yang mengangkat anda dari keterpurukan. Menjadi apakah saya setelah semua penderitaan ini? Menjadi manusia yang jiwanya lebih kuat, menjadi manusia yang lebih bijak, menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya, yang lebih dewasa dan memahami hidup. Namun semua itu hanya pemahaman ke dalam diri, keuntungan yang kita raih secara pribadi. Setelah kita mendapatkan keuntungan dan kemuliaan pribadi setelah menghadapi berbagai permasalahan, maka sekarang saatnya kita bertanya, “apakah keuntungan yang dapat orang lain dapatkan dari masalah yang saya alami ini?”. Masalah anda, penderitaan anda memang memiliki sisi mujizat yang dapat anda ambil sebagai mujizat pribadi anda. Namun, orang lain, entah kerabat anda, teman, keluarga, atau orang yang bermil-mil jauhnya dari anda 191
  • 187. Memasuki Rumah Cahaya dapat juga menuai “keuntungan” dari penderitaan yang sedang anda alami. Ada tanda petik (“…”) dalam kata keuntungan karena yang sedang saya bicarakan tidak hanya sekedar keuntungan material semata. Namun satu keuntungan yang bias membantu orang lain untuk menjalani kehidupannya dengan jalan kemuliaan dan kekuatan yang sama dengan jalan anda, keuntungan itu adalah INSPIRASI. Setelah memanfaatkan penderitaan anda sebagai fitamin bagi jiwa anda, maka perlu juga dipikirkan bagaimana menjadikan penderitaan anda sebagai sumber inspirasi bagi orang lain, dengan menunjukan pada mereka bagaimana anda menghadapi penderitaan anda dengan bijak, dan bagaimana anda menjadi lebih mulia dan dewasa setelah anda melalui penderitaan tersebut. Inilah yang saya maksud dengan menjadi seruling yang mengidungkan kepedihan dengan nyanyian merdu yang mengilhami tiap jiwa yang mendengarnya, bukan katakata sumbang yang hanya akan melemahkan orang lain. Seruling yang nyanyiannya begitu merdu tidak melalui proses yang sederhana, namun proses menyakitkan dan penuh kepedihan. Hidupnya sebagai bamboo yang biasa-biasa saja begitu saja dirampas dengan tebangan kapak. Lalu daun-daun dan kulitny dilucuti hingga ia menjadi bersih. Tidak cukup sampai disana, ia masih harus dilubangi berkali-kali dengan pisau yang tajam. Namun setelah semua kepedihan itu, ia akhirnya dihiasi 192
  • 188. Memasuki Rumah Cahaya sedikit demi sedikit oleh tangan yang sama, dan dijadikan sebuah alat musik yang demikian indah, yang jauh lebih berharga dibandingkan dengan bambubambu lain yang hidup secara biasa di pinggir sungai atau di tengah hutan. Demikian juga anda akan diproses oleh kepedihan, menjadi sesuatu yang jauh lebih berharga dibandingkan sebelumnya. Pertama-tama, kehidupan anda yang biasabiasa saja akan dirampas. Lalu, kulit-kulit lama anda akan dilucuti, anda akan diubah menjadi sesuatu yang baru. Dan anda akan dilubangi agar mampu menyenandungkan lagu-lagu yang indah. Hanya setelah melalui proses yang penuh kepedihan itulah bamboo menjadi seruling, dan hanya dengan proses penuh kepedihan yang nyaris samalah anda akan dijadikan lebih mulia. Hadapi semua kepedihan itu dengan cara terbijak yang bias anda lakukan. Lalui proses penuh kepedihan tersebut dengan penuh keikhlasan dan cahaya cinta yang tak pernah padam. Serahkan diri anda pada TanganTangan Yang Maha Kuasa untuk diolah dan diproses. Setelahnya, Tangan Yang Sama akan menghias anda dengan keindahan, dan bernafas melalui anda untuk menyanyikan lagu-lagu indah tentang cinta, keikhlasan dan kemuliaan. 193
  • 189. Memasuki Rumah Cahaya Apakah anda tega menolak tawaran mulia seperti ini dari Yang Kuasa? Apakah anda yakin, tidak menginginkan promosi jabatan kemanusiaan yang demikian tingginya di korporasi kehidupan? Salah satu Seruling Tuhan yang demikian indah terlahir dengan nama Tendzin Gyatzo, atau yang dikenal sebagai Yang Mulia Dalai Lama ke-XIV. Kita semua tahu bagaimana besar kepedihan hidup yang ia hadapi saat Tibet diinfasi oleh Cina. Ia yang tadinya adalah seorang raja terpaksa harus hidup sebagai pengungsi di dataran India. Kemerdekaan rakyatnya, kemerdekannya serta ketenteraman Tibet direnggut dengan paksa oleh Cina. Namun Dalai Lama memaafkan Cina. Ia mengatakan bahwa ia tak membenci rakyat atau Negara Cina, dan ia malah takut kehilangan cinta dan keikhlasannya menerima semua ini. Dalai Lama bukan hanya sekedar memaafkan Cina, namun ia juga menerima semua kejadian ini dengan ikhlas, sebagai bagian dari kehidupan yang akan mengantarkannya pada kemuliaan. Kini, Dalai Lama dihormati oleh jutaan manusia dari berbagai Negara karena inspirasi yang diberikannya tentang cinta kasih. Kita semua tahu bagaimana kisah hidup Suichiro Honda dan Abraham Lincoln yang penuh dengan pahitnya kegagalan demi kegagalan. Namun mereka tetap berjuang menghadapi dan akhirnya berhasil menaklukan kegagalan itu, dan akhirya mencapai 194
  • 190. Memasuki Rumah Cahaya puncak gunung kesuksesan. Dari nyanyian merdu mereka tentang keuletan, ketekunan dan sikap pantang menyerahlah manusia di masa kini banyak belajar tentang betapa menyedihkannya jika kita terjatuh dan tak bangkit lagi. Paus Johanes Paulus II juga telah menginspirasi banyak orang dengan lagu mengenai pemaafan dan cinta kasih. Saat ia ditembak oleh seorang, yang beliau lakukan bukanlah menuntut atau mengutuk orang yang menembaknya (meski pun beliau bias saja melakukannya), namun menjenguk penembak yang nyaris membunuhnya ke penjara dan memaafkannya dengan penuh kasih serta menerima pertobatannya. Bukan hanya orang-orang besar yang kini menjadi mercusuar dunia itu kita bias belajar. Di sekeliling kita, di sekitar lingkungan hidup kita, kita juga bias menemukan banyak orang yang telah ditempa menjadi seruling lalu menyanyikan lagu yang demikian menginspirasi kita. Seorang teman kuliah saya adalah seruling yang menyenandungkan lagu kebijakan dengan sangat indahnya. Dia bukanlah seorang religius atau spiritualis, bukan orang yang banyak mendengar ceramah mengenai kebijaksanaan atau membaca berbagai buku tuntunan hidup. Dia hanya seorang pemuda biasa yang 195
  • 191. Memasuki Rumah Cahaya pola hidupnya tak banyak berbeda dengan anak muda lainnya. Namun betapa mulia, kuat dan bijaksananya dia baru terlihat setelah ia dihadapkan pada sebuah permasalahan yang cukup rumit dan menyakitkan. Pacarnya yang baru ia ajak berhubungan selama dua bulan tiba-tiba membawa kabar yang mengejutkan, ia hamil. Parahnya, dokter menyatakan bahwa wanita ini telah hamil selama tiga bulan. Wah, bonus satu bulan untuk sahabat saya. Setelah diajak ngomong baik-baik, akhirnya si wanita mengakui bahwa janin yang ada di perutnya bukanlah milik teman saya. Setelah beberapa kali ketahuan seingkuh dan setelah tahu pacarnya punya bayi bukan dari dia,tebak apa yang teman saya rasakan. Sakit hati, sudah pasti. Namun dengan mengabaikan rasa sakitnya itu teman saya tetap menghibur wanita ini. Kedua orang tua wanita ini merasa nama keluarga mereka akan tercoreng, dan karenanya menuntut agar kehamilan anaknya digugurkan! Dan parahnya, baik dalam keseharian maupun dalam usaha pengguguran ini kedua orang tuanya sama sekali tidak mau ikut campur. Tebak siapa yang dengan setia, dengan mengorbankan banyak pikiran, waktu, tenaga dan uang membantu wanita ini? Sahabat saya. Setelah dihianati dan diperdaya 196
  • 192. Memasuki Rumah Cahaya oleh si wanita ini, teman saya masih memiliki kebaikan untuk mengurus wanita ini dengan penuh cinta dan tak membiarkan ia menjadi stress atau sendiri. Saya, demikian juga teman-teman yang lain kadang gregetan dengan kebaikan teman saya ini yang malah membawakannya banyak masalah (bahkan nyaris di-DO karena orang tua si wanita ini menjelek-jelekkan teman saya pada pihak kampus). Bahkan kedua orang tuanya nyaris mengusir teman saya ini karena di hadapan kedua orang tua teman saya, si wanita ini malah menuduh bahwa kehamilannya adalah hasil dari perbuatan teman saya. Lama setelah semua kejadian itu. Teman saya masih memaafkan mantan pacarnya, meski janin yang akhirnya ditakdirkan lahir itu tidak diakuinya sebagai anak, namun mereka tetap berhubungan baik sebagai sahabt. Saya secara pribadi sangat mengagumi ketenangan dan kebesaran jiwa sahabat saya dalam menghadapi semua ini. Dia tidak membiarkan hatinya diisi kebencian meski dengan berbagai permasalahan lain. Dia benar-benar menginspirasi saya saat saya butuh pertimbangan untuk memaafkan dan saat saya tergoda untuk membenci. Kebanyakan dari hidup saya baru bias TERINSPIRASI dari kehidupan orang lain, belum mampu sepenuhnya 197
  • 193. Memasuki Rumah Cahaya menjadikan hidup saya sebagai SUMBER INSPIRASI bagi orang lain. Namun, saya adalah manusia yang masih dalam proses pendefinisian jati diri, masih on becoming person. Demikian juga (mungkin) anda. Saat menghadapi masalah, kepedihan, mari kita berusaha menghadapi semua itu dengan cara yang akan memberikan kita manfaat yang sebesar-besarnya, dan memberikan keuntungan bagi orang lain. Jika pun kita tidak mampu menjadi matahari, maka cukuplah menjadi mercusuar. Dan jika menjadi mercusuar pun terlalu berat, maka tak apalah menjadi lampu. Namun jika menjadi lampu juga tak bias, tak apalah menjadi pelita. Tak perduli kita mampu menjadi cahaya sebesar apa, namun jauh lebih baik menjadi bagian dari cahaya kecil dari pada menjadi bagian dari kegelapan. Jangan terlalu perduli siapa yang akan mendengarkan lagu-lagu kita. Pertama, jadilah seruling dahulu, lalu bernyanyi sajalah. Jika Tuhan memberi kita kesempatan untuk menjadi seruling, maka Tuhan pasti juga memberikan orang lain kesempatan untuk mendengarkan lagu-lagu kita. 198
  • 194. Memasuki Rumah Cahaya Lentera Kecil di Rumah Cahaya: Identitas, Sumber segala perilaku Dalam kehidupanya, manusia banyak melakukan berbagai aktifias, berbagai pekerjaan dan berbagai rencana. Manusia, seperti yang telah dijelaskan di depan sebagai mahluk yang dinamis, selalu bergerak, selalu beraktifitas. Kenapa manusia harus senantiasa melakukan sesuatu? Bahkan saat ia telah pensiun? Jawabanya, karena manusia membutuhkan identitas. Manusia memerlukan sesuatu yang membuatnya merasa benar-benar hidup, yang membuatnya merasa memiliki satu eksistensi di dunia. Manusia perlu merasa bahwa ia adalah bagian dunia, bagian yang eksis dari lingkungannya, yang memiliki arti bagi sesamanya. Memperjuangkan eksistensi adalah salah satu aktifitas yang tak terhindarkan dari manusia. Dapat kita perhatikan beberapa pengusaha sukses yang gajinya lebih besar dari pejabat, namun lebih memilih untuk menjadi pejabat. Kenapa? Karena menjadi pejabat yang dihormati public dan sering muncul di tv lebih memberikan kebanggaan dan rasa bahwa ia eksis. Atau ada juga contoh lain, seorang yang telah menjadi anggota DPR-RI kembali mencalonkan diri untuk 199
  • 195. Memasuki Rumah Cahaya menjadi seorang Bupati. Kenapa? Menjadi orang nomor satu di kabupaten lebih membanggakan dari pada menjadi orang nomor sekian di lingkup Negara. Namun ada hal penting yang perlu diperhatikan. Cara seseorang memperjuangkan eksistensinya akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana citra dirinya, identitas yang ia lekatkan pada dirinya. Hitler dipengaruhi oleh identitas sebagai kaum mulia, yang membawanya merasa fine untuk memusnahkan kaum lain yang ia anggap lebih rendah. Bunda Teresa lain lagi, ia mencitrakann dirinya sebagai pelayan Tuhan, dan karenanya ia mewujudkan pelayanannya pada Tuhan dengan melayanin sesamanya. Seseorang yang dalam dirinya tertanam citra dan identitas sebagai orang sukses, akan sangat yakin bahwa ia mampu sukses, memperjuangkannya dengan gigih, dan kebanyakan mampu mencapainya. Sementara orang yang dalam dirinya tertanam citra dan identitas bahwa ia lemah dan rapuh, jangankan berani menghadapi badai, ia bahkan akan menyerah di hadapan angin sepoi. Ingatlah hal ini, apa yang akan anda lakukan dan apa yang akan anda dapatkan akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana anda memandang diri anda sendiri. Dalam keseluruhan buku ini, saya berusaha menyampaikan tentang “siapa anda sesungguhnya”. 200
  • 196. Memasuki Rumah Cahaya Menyampaikan fitrah mulia sebagai manusia. Menyampaikan identitas dan citra yang mengantarkan anda jauh pada kemuliaan dan kebahagiaan. Citra diri yang selama ini mungkin anda lupakan. Saat anda mengingat semua itu, renungkanlah siapa anda… Bertanyalah, “inikah saya?”, dan jika lubuk hati anda menjawab “bukan”, maka semoga kehadiran buku sederhana ini mampu mengingatkan anda tentang siapa anda berdasarkan fitrah yang telah diciptakan Tuhan. Karena sesungguhnya anda tercipta berdasarkan gambar dan citra Tuhan… 201
  • 197. Memasuki Rumah Cahaya PINTU KIRI: Raising your inner power 202
  • 198. Memasuki Rumah Cahaya Pertanyaan Anda, Melemahkan atau Memperkuat Diri? Apakah anda merasa bahwa anda sedang berada dalam keadaan yang hanya memberikan anda keputuasasaan? Apakah anda merasa bahwa tidak ada alternatif lain yang anda miliki kecuali “menyerah”? Atau apakah anda sedang merasa sangat lemah dan lelah, bahkan anda tak lagi memiliki kekuatan untuk mengeluh? Apakah anda merasa demikian tidak berdaya dan kalah? Jika demikian, lebih baik lanjutkan dulu membaca buku ini, dan pikirkan lagi! Ada satu sarana yang sangat powerfull dalam kehidupan ini yang, sayangnya, kekuatan tersebut lebih sering kita gunakan untuk melemahkan diri dibanding untuk memperkuat diri sendiri. Kekuatan macam apakah itu? Bukan hal yang spesial, namun hal yang bisa menjadi sangat berdaya guna jika anda mampu menggunakanya dengan sebagaimana mestinya. Kekuatan tersebut adalah BERTANYA. Bertanya bisa menjadi hal yang sangat biasa, namun bisa juga menjadi hal yang luar biasa. Tergantung dari apa 203
  • 199. Memasuki Rumah Cahaya yang kita tanyakan, bagaimana kita bertanya dan kepada siapa pertanyaan tersebut diajukan. Bertanya bisa menjadi hal yang memperkuat anda, membuat anda makin bijaksana, menumbuhkan kembali semangat anda, atau sebaliknya, menghancurkan anda dan meruntuhkan seluruh kekuatan yang anda miliki. Saat anda mengalami masa-masa yang sulit, saat hidup terasa berat dan beban tak lagi mampu dipikul, mungkin anda mengajukan pertanyaan ke dalam diri anda, “kenapa ketidak adilan ini harus terjadi padaku?”, maka otak anda akan mengumpulkan informasi dari alam bawah sadar yang berkaitan dengan “ketidak adilan” dan “kelemahan”. Dan tebak apa hasilnya! Keputusasaan yang makin dalam. Namun jika di saat sama anda bertanya jauh ke dalam diri anda, “apakah yang harus aku lakukan untuk tetap kuat dan tegar menghadapi semua ini?”, maka pikiran anda secara otomatis akan mencari dan mengumpulkan serta mengolah berbagai macam informasi yang berkaitan dengan “bertahan” dan “tegar”. Maka otak anda dalam seketika akan dipenuhi berbagai hal yang membantu anda untuk tetap bersemangat dan berbagai hal yang membantu anda untuk tetap kuat dan tegar. 204
  • 200. Memasuki Rumah Cahaya Atau di saat yang sama juga, anda bertanya, “apakah keuntungan yang bisa aku ambil dari semua perkara ini?”, lalu dengan sangat sigap dan cepat otak kita mengeluarkan berbagai macam referensi dan informasi yang berkaitan dengan “keuntungan” yang bisa anda peroleh dari perkara atau kejadian tersebut. Sederhana, bukan? Yah, memang sederhana. Namun banyak dari kita yang terkadang lupa dengan kesederhanaan yang dahsyat tersebut, kemudian melemparkan pertanyaan yang bukannya menguatkan, tetapi malah melemahkan kita. Pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan (terhadap diri sendiri, kehidupan dan Tuhan) sering kali adalah pertanyaan yang alih-alih mendatangkan kekuatan dan optimisme, namun malah pertanyaan yang mengikis kekuatan kita dan mengantarkan kita pada kepputusasaan. Kita tidak menggunakan PERTANYAAN dan BERTANYA sebagai media motivasi, namun sebagai sarana untuk mengeluh. Anthony Robbins mengatakan, bahwa bertanya adalah salah satu media yang sangat dahsyat untuk mengakses berbagai hal positif di alam bawah sadar kita. 205
  • 201. Memasuki Rumah Cahaya Nah, jika demikian, pertanyaanya sekarang adalah, pertanyaan yang bagaimana yang akan mengantarkan kita pada kekuatan, dan bukannya kelemahan? Neale Donald Walsch, seorang guru spiritual yang telah sering bercakap-cakap dengan Tuhan mengatakan, jangan bertanya “mengapa”, tetapi bertanyalah “apa”! namun sejatinya baik “mengapa” atau “apa” bisa sama bergunanya jika jawabannya bagus. Saat kita mengalami hal yang buruk dalam hidup kita, kita cenderung melemparkan pertanyaan, “mengapa semua ini harus terjadi padaku?”, “kenapa aku?” dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sejenis. Lalu, alam bawah sadar kita segera memberikan berbagai argumentasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Alhasil? Berbagai macam argumentasi yang hanya akan menambah beban di otak dan pikiran anda. Pertanyaan “mengapa” mengantarkan anda pada pencarian akan alasan di balik semua hal yang terjadi. Dan apa yang kemudian anda dapatkan, jawaban yang muncul di benak anda, tergantung dari referensi dan informasi yang telah anda miliki sebelumnya (baik dari pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, ceramah atau nasehat yang pernah anda dengar, buku yang pernah anda baca dan sebagainya). Jika anda berhasil mengumpulkan informasi positif, rasionalisasi yang positif, maka mungkin pertanyaan “mengapa” ini bisa 206
  • 202. Memasuki Rumah Cahaya membimbing anda pada penyelesaian. Namun tak jarang, karena referensi yang anda miliki negatif, maka anda hanya akan terjerumus dalam “kesesatan”. Alasan atas apa yang terjadi dalam kehidupan kita adalah hal yang sangat subjektif. Menurut anda bisa begini, menurut saya akan lain lagi. Dan akan sangat berbahaya jadinya jika pertanyaan yang salah mendapat jawaban yang yang salah. “kenapa kehidupan saya menderita?” tanya benak anda. lalu jawaban yang keluar adalah, “karena Tuhan membenci kita”. Berbahaya, bukan, jadinya? Namun jika jawabannya adalah “karena Tuhan sedang berusaha melatih kita menjadi kuat”, maka efek yang dihasilkan dalam otak akan lain lagi. Saya merekomendasikan beberapa pertanyaan fundamental yang mungkin bisa anda gunakan sebagai “keluhan wajib” saat anda mengalami berbagai hal buruk (?). pertanyaan pertama adalah, “apa maksud baik yang tersimpan dalam kejadian ini?” Saat anda ditinggalkan oleh orang yang anda cintai, bertanyalah “apa maksud baik yang tersimpan dalam kejadian ini?” 207
  • 203. Memasuki Rumah Cahaya Saat usaha yang sedang anda jalankan mengalami kegagalan, bertanyalah “apa maksud baik yang tersimpan dalam kejadian ini?” Saat anda dipecat atau gaji anda tidak kunjung dinaikkan atasan, bertanyalah “apa maksud baik yang tersimpan dalam kejadian ini?” Apa pun yang anda alami, bagaimana pun anda diperlakukan, dan apa pun yang anda capai, selalu bertanya “apa maksud baik yang tersimpan dalam kejadian ini?” Pertanyaan ajaib ini akan merangsang otak anda untuk selalu mencari maksud baik di balik apa yang terjadi, dan karenanya selalu membimbing anda untuk berada dalam kebaikan. Perspektif yang anda miliki akan sangat positif, dan demikian pula cara anda menyikapi kehidupan. Pertanyaan kedua yang ingin saya rekomendasikan adalah, “INGIN MENJADI APAKAH AKU SETELAH SEMUA INI?” Pertanyaan ini akan secara ajaib menggali alam bawah sadar anda untuk menunjukan pada anda berbagai hal positif yang bisa anda capai setelah mengalami semua yang anda sedang alami, juga membantu anda untuk tetap bertahan memikul beban kehidupan yang mungkin 208
  • 204. Memasuki Rumah Cahaya terasa berat dan memberi anda kekuatan untuk tetap bertahan di tengah badai atau dalam penderitaan. Anda sedang “dipaksa” untuk menghadapi situasi yang sangat sulit, situasi yang rumit dan menyakitkan, situasi yang seolah-olah hanya meninggalkan “menyerah’ dan “putus asa” sebagai pilihan akhirnya. Bertanyalah ke dalam diri, “Ingin menjadi apakah aku setelah semua ini?” Maka, pikiran anda akan menciptakan gambarana seorang “pemenang” dan orang “mulia” dalam benak anda, serta berbagai macam hal yang bisa anda gunakan untuk mencapai hal tersebut. Jika anda memang harus bertanya pada kehidupan, kenapa anda tidak mengajukan pertanyaan yang jawabannya berguna untuk anda? kenapa tidak meninggalkan pertanyaan-pertanyaan keluhan yang hanya akan membuat jiwa anda menjadi kerdil? Keseluruhan buku ini saya susun dengan dasar dua pertanyaan di atas. Saya pernah mengalami masa-masa yang sangat sulit. Saya pernah dihadapkan pada situasisituasi yang penuh air mata dan luka. Dan, dalam situasi semacam itu, saya dipaksa untuk menanyakan berbagai hal. Saya dipaksa untuk melemparkan berbagai macam pertanyaan yang saya harap bisa mengakhiri kebingungan saya. 209
  • 205. Memasuki Rumah Cahaya Namun, tiap kali saya bertanya “kenapa?”, saya mendapati diri saya makin bingung, semua hal makin rumit dan saya makin terpuruk. Jawaban yang saya dapat dari pertanyaan tersebut hanya memberikan hiburan sesaat saja. Tetapi setelah saya mulai bertanya “apa?” sebagaimana saran yang saya terima dari email Neale Donald Walsch, saya mulai menemukan hal-hal yang tadinya terkubur begitu jauh dari saya. Saya mulai merasakan ada sesuatu yang bisa saya lakukan, saya mulai merasa ada kekuatan yang bisa menolong saya. Keputusasaan yang tadinya menjadi pilihan satu-satunya tiba-tiba didampingi alternatif lain. Semoga rangkaian pertanyaan yang ada dalam buku ini bisa membantu anda untuk menyelam jauh ke dalam hati anda, untuk mendapatkan berbagai macam harta terpendam yang ada di sana. Saya memberikan deskripsi jawaban di tiap bab-nya, dengan sangat rendah hati saya akui bahwa itu hanya hasil perenungan saya. Jangan gunakan jawaban saya untuk menjawab pertanyaan yang anda ajukan ke dalam diri anda. Gunakan pertanyaan-pertanyaan temukanlah jawabannya sendiri. ini, Bersiaplah dengan keajaiban…. 210 namun
  • 206. Memasuki Rumah Cahaya Jika anda pernah mengalami begitu banyak rasa sakit, menjadi apakah semua itu sekarang? Masalah, rasa sakit dan penderitaan adalah bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan manusia. Makin lama kita hidup, makin banyak pengalaman yang kita miliki dalam hal menghadapi masalah, rasa sakit dan penderitaan. Namun, satu pertanyaan yang agaknya perlu anda pertanyakan pada diri sendiri adalah, menjadi apakah semua masalah, rasa sakit dan penderitaan yang pernah anda hadapi itu? Apakah semua itu berlalu begitu saja? Apakah semua itu meninggalkan luka yang tak kunjung sembuh? Atau apakah semua masalah, rasa sakit dan penderitaan itu mengantarkan anda pada tingkat kedewasaan dan kebijaksanaan yang lebih tinggi? Jawaban dari semua pertanyaan itu bisa menjadi begitu beragam. Begitu berbeda antara satu orang dengan orang yang lainnya. Sekarang, mari kita buat pertanyaan ini lebih personal. Silahkan anda renungkan semua masalah, rasa sakit dan penderitaan yang pernah anda hadapi dulu, lalu tanyakan pada diri anda, “menjadi apakah semua itu sekarang?” Begitu banyak orang yang masih merasakan rasa sakit dari luka-luka yang pernah dihadapinya dulu. Masih 211
  • 207. Memasuki Rumah Cahaya tersiksa oleh rasa sakit dari masalah yang telah lama berlalu, dan masih terbebani oleh penderitaan yang telah bertahun-tahun lewat. Namun ada juga orang yang pernah mengalami begitu banyak masalah, rasa sakit dan penderitaan, namun melupakan baik kejadiannya, maupun pelajaran yang disimpannya. Beberapa orang yang sama memprihatinkannya adalah orang-orang yang sikap dan sifatnya berubah menjadi sangat negative karena salah menarik pelajaran dari pengalaman masa lalunya. Beberapa yang bijak menjadi makin bijak dan jiwanya semakin matang karena mampu mengolah setiap rasa sakit, masalah dan penderitaan sebagai vitamin bagi batin. Lihat saja seperti apakah situasi hidup anda sekarang. Apakah anda bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, atau malah menjadi orang yang digerogoti begitu banyak gangguan kepribadian, bahkan mungkin gangguan jiwa. Semua hal itu sangat ditentukan oleh kemampuan anda dalam mengolah apa yang dulu pernah anda alami. Apakah anda menarik pelajaran yang baik, atau menyimpulkan dengan keliru. Kemudian, apa yang sekarang anda alami (rasa sakit, masalah dan penderitaan), dan bagaimana anda mengolahnya akan menentukan menjadi apakah semua itu nanti. 212
  • 208. Memasuki Rumah Cahaya Dalam sebuah komik popular jepang, Naruto, ada seorang tokoh yang sangat jahat. Namanya Pain. Sewaktu kecil dia mengalami begitu banyak rasa sakit, begitu banyak masalah dan penderitaan. Namanya saja sudah Pain (rasa sakit). Dia kehilangan orang tuanya, sahabat-sahabatnya dan kerabatnya dalam perang. Kini, bersama beberapa orang teman dia menjadi gelandangan. Kemudian dia bertemu dengan seorang Ninja sakti bernama Jiraiya. Pain sadar, dia banyak mendapatkan kesengsaraan karena dia lemah, lalu dia berlatih Ilmu Ninjutsu pada Jiraiya. Dia berlatih dengan sangat giat dan tekun, hingga tumbuh menjadi seorang yang sangat sakti. Namun, setelah dia menjadi sakti dan kuat, dia malah menebarkan terror dan membuat semua orang merasakan sakit seperti yang pernah dia rasakan sebelumnya. Menurutnya, rasa sakit akan membuat orang-orang menjadi sadar. Naruto hanyalah salah satu komik anak-anak, namun pelajaran yang dibawa salah satu tokohnya, Pain, benarbenar mengingatkan kita akan betapa pentingnya keterampilan yang benar dalam mengolah rasa sakit dan penderitaan dengan cara yang benar. Kenapa? Karena kekeliruan dalam belajar bisa menjadikan kita seperti Pain (meski pun tidak 100% mirip) yang memiliki obesesi-obsesi gila karena pengaruh penderitaan yang pernah dialaminya. 213
  • 209. Memasuki Rumah Cahaya Kegagalan bisa menumbuhkan trauma yang membuat kita berhenti berusaha dan menyerah sebelum mencoba, namun bisa juga menjadi semangat dan pemicu yang membuat kita berusaha makin keras. Perpisahan dengan pasangan bisa menjadi alas an yang sangat kuat untuk menjadi depresi, namun bisa juga menjadikan kita orang yang bisa menikmati kesendirian dan memperbaiki caracara kita dalam membangun hubungan interpersonal. Kebangkrutan bisa menjadi alas an yang tepat untuk mengutuk kebodohan kita dalam berbisnis, atau alasan untuk terus belajar dan belajar menjadi businessman yang lebih baik. Semua tergantung pada bagaimana kita menyikapinya. Masalah, rasa sakit dan penderitaan yang dapat diumpamakan seperti masa-masa seekor ulat berada dalam kepompong. Keluar dari kepompong itu, sang ulat bisa menjadi kupu-kupu yang indah atau malah jenis ulat bulu yang mengerikan. Jika ulat tak bisa secara sadar memilih hendak menjadi apa dia, maka manusia dapat menetukan hendak menjadi apa dia setelah semua masa berada dalam kepompong itu, dengan daya piker dan hatinya. Jangan menyia-nyiakan semua penderitaan, masalah dan rasa sakit yang pernah kita hadapi, tanpa memetik manfaat dan keuntungan yang berharga darinya untuk perkembangan kepribadian kita. Pelajaran adalah buah manis dari masalah, rasa sakit dan penderitaan, yang 214
  • 210. Memasuki Rumah Cahaya bisa anda petik sebanyak mungkin. Anda masih belum terlambat untuk mengambil manfaat dari segala masalah, rasa sakit dan penderitaan yang dulu anda hadapi, dan tentu saja untuk penderitaan yang anda hadapi sekarang, buah hikmah dan pelajaran yang dihasilkannya masih sangat segar dan manis. Jangan keluar menjadi ulat setelah berlama-lama berada dalam sebuah kepompong, keluarlah menjadi kupu-kupu yang indah dan cantik. 215
  • 211. Memasuki Rumah Cahaya Ketika hari ini berlalu, warisan apa yang akan anda tinggalkan untuk dikenang besok? Waktu tak ubahnya seperti aliran sungai, yang terus mengalir dan berjalan, dan tiap tetes yang mengalir tak akan sama, juga tak akan kembali. Aliran tersebut terus bergerak. Dalam hal waktu, jangankan untuk mengembalikan hari kemarin yang telah berlalu, untuk mengembalikan datik yang baru saja lewat pun kita tak akan mampu. Karena tak perduli anda menggunakanya dengan baik atau membiarkanya lewat tanpa makna, waktu akan terus bergerak, bersama anda atau meninggalkan anda. Jadi? Jadi satu-satunya pilihan yang ada untuk kita adalah ingin melewatkan hari ini dengan cara yang akan membuat anda berbangga esok hari, atau ingin melewatkan hari ini dengan cara-cara yang akan membuat anda melewatkan hari esok dengan sesal yang mendalam akan sia-sianya hari ini. Berapakah umur anda sekarang? Jika umur anda 30 tahun,berarti anda telah melewatkan 360 bulan, 1440 minggu, 10800 hari, dan 241920 jam dalam hidup anda. dan apakah yang anda lakukan untuk 216
  • 212. Memasuki Rumah Cahaya mengisi waktu tersebut? Berapa banyak kah kebanggaan yang disisakan oleh kebanggaan itu? Jika bahkan setiap detik dalam kehidupan demikian berharga, maka berapa kah harga yang telah anda berikan untuk 241920 jam kehidupan anda (yang baru saja berumur 30 tahun)? Sayangnya, banyak sekali orang yang mengisi kehidupan dengan hal-hal yang tak menyisakan kebanggaan apaapa. Saya mengenal banyak teman yang menggantungkan hidupnya di bawah baying-banyang orang tuanya yang sukses, yang menjadikannya demikian manja, hingga semakin banyak waktu yang anda lewatkan, semakin banyak pula sesal yang membebaninya. Apakah anda juga demikian? Jika anda mengenang waktu yang telah anda lewatkan, apakah anda menyesalkan waktu yang telah lewat tersebut dengan penyesalan, Karena tak banyak kontribusi yang anda berikan, tak banyak warisan yang anda tinggalkan untuk hari ini? Saya harap, tidak. Berapa pun banyaknya waktu yang telah anda lewatkan, yang menjadi kan anda layak disebut eksis di dunia ini bukan hanya kesuksesan financial yang telah anda capai, namun kontribusi anda terhadap kehidupan itu sendiri. 217
  • 213. Memasuki Rumah Cahaya Kehidupan tidak hanya memiliki nilai-nilai financial, namun juga mencakup aspek-aspek social, emosional, personal dan spiritual. Dan yang menjadikan anda bisa dianggap eksis dalam kehidupan adalah kontribusi anda dalam semua bidang itu. Dalam bidang personal, seberapa banyakkah anda telah menyenangkan diri anda? seberapa banyak waktu yang anda sediakan untuk menyenangkan diri anda? Apakah anda termasuk orang yang demikian terobsesi dengan karir atau hal lain sehingga lupa untuk sekali-sekali memanjakan diri? Atau anda termasuk orang yang hanya sibuk memanjakan diri sehingga lupa kalau ada aspek financial, social dan spiritual yang juga perlu anda pikirkan? Apakah dalam bidang personal anda sudah mempersiapkan anda menghadapi hari tua dengan tetap sehat dengan menjaga kesehatan yang masih nada miliki saat ini? Apakah telah mengisi otak anda dengan kapasitas intelektual yang dapat secara signifikan membantu kehidupan anda? saya sangat mengharapkan, jawabannya, “sudah”. Kemudian dalam bidang emosional, apakah anda telah mengumpulkan keyakinan yang positif terhadap diri anda? Apakah anda telah menumbuhkan kedewasaan berpikir melalui serangkaian kejadian yang pernah anda hadapi? Apakah secara emosional anda telah 218
  • 214. Memasuki Rumah Cahaya bertumbuh, atau anda masih dalam kondisi emosi yang sama dengan pada saat anda lulus SMA dulu? Yang tak kalah pentingnya, apakah dalam bidang social anda telah menunjukan eksistensi anda? apakah anda memiliki hal-hal yang dikenang oleh teman-teman lama anda? apakah anda meninggalkan sesuatu yang berharga untuk pertumbuhan mereka? Ada kah anda mewariskan sesuatu yang membuat merekan merasa layak untuk hidup, dikasihi dan dicintai? Atau malah mereka sama sekali tak mengingat anda hari ini, saat anda tak lagi bersama mereka? Sekarang, di lingkungan baru anda, hal-hal apakah yang menjadikan diri anda akan dikenang nanti? Jika belum ada, maka wariskan lah pada mereka tentang bagaimana mencintai, mengasihi dan berkorban, dengan menunjukan tauladan yang sesuai. Tunjukkan dukungan anda, kasih sayang anda dan cinta anda yang tanpa syarat pada sebanyak mungkin orang di sekitar anda, yang memungkinkan mereka menebarkan kemuliaan yang sama pada orang-orang lainnya. Maka, anda sedang menjadikan diri anda sebagai wakil Tuhan dalam membawakan pesan damai dan cinta. Salah satu pertumbuhan yang tak seharusnya dilupakan adalah pertumbuhan spiritual. Kita, mahluk agung yang tak menyadari keagungan kita, seperti yang dinyatakan oleh begitu banyak guru besar kehidupan. Kita mengejar 219
  • 215. Memasuki Rumah Cahaya dengan obsesi tinggi hal-hal yang berkaitan dengan financial dan material, namun melupakan kalau kita memiliki aspek-aspek spiritual yang juga sangat penting dalam kehidupan kita. Kita lupa menumbuhkan jiwa kita seperti kita menumbuhkan otak kita. Dan akhirnya, kita menyesalkan kenapa kita begitu tidak bijaksana dan jauh dengan Tuhan. Kita melewatkan begitu banyak waktu, dengan begitu banyak pengalaman kehidupan, namun dengan begitu sedikit makna yang kita ambil darinya sehingga kita tak bertambah bijak seiring bertambahnya umur kita. Dan, jangan sampai saat kita sadar kita telah tua, namun belum memiliki tabungan spiritual yang memungkinkan para penghuni akhirat menyapa kita dengan ramah. Dari kesemua aspek kehidupan tersebut, dalam hal apakah anda masih belum meninggalakan warisan yang layak? Bebarapa, sebagian, atau malah dalam keseluruhan aspeknya? Tidakkah kita iri pada tokoh seluhur Mahatma Gandhi? Yang meninggalkan warisan yang membuatnya dikenang sebagai bapak kemerdekaan bangsanya, sekaligus suami dan ayah yang penuh kasih, guru spiritual dengan prinsip-prinsip suci dan hubungannya yang sangat dekat dengan Tuhan? Dikenang pula karena 220
  • 216. Memasuki Rumah Cahaya kebijaksanaan dan kesabarannya, serta keluhuran perilakunya. Dan seluruh dunia mengenang Mohandas Karamchand Gandhi sebagai Mahatma (Sang Jiwa Agung). Mungkin kita tak meninggalkan nama sebesar Gandhi yang eksis secara luas dalam setiap aspek kehidupannya, namun setidaknya kita bisa menjadikan beliau model tentang orang yang waktunya dilewatkan dengan caracara yang membuatnya dikenang secara bangga. Namun, adalah terserah anda ingin melewatkan waktu anda dengan cara bagaimana. Namun bagaimana anda melewatkan waktu anda adalah penentu yang menjadikan anda dikenang dengan cara bagaimana. Jangan berfokus untuk meninggalkan warisan besar untuk diri anda dan dunia anda, namun fokuslah pada hal-hal kecil (yang jika dikumpulkan akan menjadi besar). Seperti yang dinasehatkan Bunda Teresa, yang meninggalkan warisan tentang kasih sayang tak bersyarat dan cinta universal, bahwa kita tak harus melakukan hal-hal besar, cukup hal-hal kecil dengan cinta yang besar. Mulailah dengan kesedrhanaan sebagai orang yang selalu menjadi penebar senyum di lingkungan anda, orang yang memberikan dukungan saat orang terpuruk, orang yang selalu menyediakan pertolongan saat orang 221
  • 217. Memasuki Rumah Cahaya membutuhkan bantuan. Mulailah dengan orang yang belajar mensyukuri hal-hal yang kecil dengan rasa terima kasih yang besar pada Tuhan, orang yang belajar begitu banyak bahkan dari pengalaman yang begitu sedikit. Mulailah dengan menjadi orang yang senantiasa menjadi contoh untuk berbagai sifat dan sikap yang menunjukan keluruhan fitrah kita sebagai manusia. Sebuah permulaan kecil tak akan menyesaikan pekerjaan besar, namun tanpa sebuah permulaan, pekerjaan kecil pun tak akan selesai. Sebuah warisan besar tak akan mampu dihasilkan dari karya kecil, namun biarlah karya kecil menjadi permulaan untuk sebuah warisan yang besar. Berkacalah pada mereka yang hidupnya demikian dikenang, entah karena karya intelektualnya seperti Abert Einstein, kerja sosialnya yang luhur seperti Bunda Teresa, tingkat spiritualitasnya yang tinggi seperti Svami Krishnamurti, kondisi emosionalnya yang stabil dan meneduhkan seperti Dalai Lama atau kuantitas finansialnya yang mencengangkan seperti Donald Trump. Namun jangan menjadi the next Einstein, Bunda Teresa, Krishnamurti, Dalai Lama atau Donald Trump. Ambillah seluruh kualitas yang mereka miliki, dan jadikan satu, jadilah lebih dari mereka. 222
  • 218. Memasuki Rumah Cahaya Ketika kehidupan berubah, apakah cara pikir anda juga berubah? Kehidupan itu seperti arus sungai. Ia terus mengalir, terus berubah dan terus bergerak. Begitu juga halnya dengan manusia. Mau tak mau, sadar atau tidak, manusia ikut berubah bersama aliran kehidupan. Namun, tidak semua manusia mengarahkan sendiri perubahannya kea rah yang ia inginkan, manusia lebih suka dirubah secara paksa oleh kehidupan, dari pada harus terus bergerak secara suka rela dan fleksibel dengan kehidupan. Anda, yang sedang membaca buku ini adalah salah satu komponen kehidupan, salah satu manusia. Anda pasti telah mengalami banyak perubahan dalam hidup, dari semenjak anda lahir sampai sekarang. Namun renungkan baik-baik, seberapa banyak perubahan yang anda alami adalah perubahan yang anda kendalikan sendiri? Seberapa banyak perubahan yang anda alami adalah perubahan yang memang anda inginkan? Saying sekali jika anda harus menjawab, “tidak banyak”. Perubahan adalah hukum kehidupan, yang tak seorang pun bisa lepas darinya. Masalahnya, apakah anda akan menggunakan hukum ini untuk mendapatkan keuntungan, ataukah terlindas hukum universal yang Maha Kuasa itu? 223
  • 219. Memasuki Rumah Cahaya Grafitasi adalah sebuah hukum alam, yang memaksa anda, saya dan semua orang lainnya untuk tunduk di bawahnya. Dengan mengatakan “saya tidak percaya hukum grafitasi” atau “perduli setan dengan hukum grafitasi” kemudian anda meloncat dari lantai 30 sebuah gedung, yah tetap saja tulang-tulang anda akan patah dan kemungkinan besar anda akan mati. Namun hukum grafitasi yang dimanfaatkan bisa dipakai landasan untuk bermain lempar bola, concat-loncat dan sebagainya. Dan dengan mengakui kekuasaan hukum grafitasi, namun mencari cara untuk menyesuaikan dengannya maka Oliver dan Wilbur Wright tetap bisa menciptakan pesawat terbang. Ada sebuah pepatah yang sangat bagus, yang mungkin bisa anda gunakan sebagai acuan, anda tidak bisa merubah arah angin, namun anda bisa merubah arah layar. Pepatah tersebut sangat cocok digunakan untuk menanggapi hukum perubahan. Anda tidak selamanya bisa mengendalikan perubahan, namun anda selalu bisa mengendalikan cara anda menanggapi perubahan tersebut. Jika anda masih diam dalam kekakuan pikiran, sementara dunia berubah, maka mungkin sekali anda 224
  • 220. Memasuki Rumah Cahaya seperti orang yang sok tidak perduli dengan hukum grafitasi dan meloncat dari lantai 30 sebuah gedung. Dalam menanggapi perubahan hidup, apa pun itu (dipecat dari tempat kerja, ditinggalkan pasangan, atau anda tiba-tiba lumpuh), anda memiliki dua alternative, anda bergerak bersama perubahan tersebut, ikut berubah dengannya dengan menyesuaikan kehidupan anda dengan semua yang telah berubah dengan diawali merubah cara pikir anda, atau alternative kedua anda diam dan menggerutu pada apa yang telah berubah dengan menyalahkan, protes, atau cara-cara destruktif lain. Jika anda memilih cara pertama, anda seperti orang yang meloncat dari lantai 30 dengan terjun paying, naik heli atau lift. Tapi tidak apa-apa juga jika anda ingin meloncat langsung jika anda memilih alternative pertama. Merubah cara pikir adalah prasyarat serius dalam menghadapi perubahan. Karena hal itu yang akan menentukan bagaimana cara anda menanggapi perubahan yang sedang terjadi. Bayangkan bagaimana jika seorang pelatih sepak bola tiba-tiba kehilangan kedua kakinya karena sebuah kecelakaan. Karirnya berakhir. Ia tidak mungkin bisa melatih orang untuk bermain sepak bola lagi. Arah 225
  • 221. Memasuki Rumah Cahaya angin tiba-tiba berubah. Apa jadinya jika dengan arah angin yang berubah ini ia tidak merubah arah layarnya untuk menyesuaikan dengan arah angin? Alternative yang paling popular, depresi! Tidak bisa melatih sepak bola tidak harus berarti mati, kan? Dia, jika merubah cara pikirnya dalam menghadapi perubahan, lebih menyesuaikan dan lebih terbuka akan tetap bisa “berkarir” di dunia sepak bola. Menjadi editor majalah bola, menjadi penulis segala sesuatu tentang bola (entah menulis buku atau artikel di majalah), atau jika tidak buka toko perlengkapan olah raga. Karir berlanjut, live goes on. Menyesalkan atau menolak perubahan telah terbukti dengan sangat benar tidak akan memberikan anda apaapa kecuali penyesalan, kesedihan dan keterpurukan. Menyesuaikan cara pikir anda dengan perubahan yang sedang terjadi, sebaliknya, membuka kan jalan baru bagi anda ke dunia-dunia yang mungkin tidak berani anda jajaki sebelumnya. Saat pacar saya pergi meninggalkan saya, dengan selingkuhannya, tentu reaksi awal saya adalah kesedihan dan penolakan yang sangat keras terhadap realitas itu. Namun saya berusaha mengalihkan semua pikiran dan focus saya kea rah lain, peningkatan prestasi kepemimpinan saya, menulis dan mencoba hal-hal lain. Saya beruasaha berpikir, “Tuhan menentukan jalan lain, 226
  • 222. Memasuki Rumah Cahaya mau apa lagi”. Saya jadi belajar banyak tentang ilmu ikhlas (total acceptance), berbagai metode psikoterapi dan self-help untuk menolong diri saya sendiri dan mengisi waktu saya dengan lebih banyak bersama keluarga dan sahabat. Bukan hanya itu, saya refleksikan dan renungi secara mendalam hal-hal apa saja yang bisa saya pelajari dari kegagalan hubungan ini yang bisa saya gunakan untuk memperbaiki hubungan saya ke depannya. Kemudian, saat muncul “orang lain” dalam hidup saya, saya telah memiliki modal yang cukup untuk menjalin hubungan yang lebih baik. Perubahan tiba-tiba itu kini menjadikan saya lebih dewasa dan mengerti tentang hubungan interpersonal. Saya akui, dulu saya sempat stress karena hal itu. Namun kini, hal itu adalah hal yang sangat saya syukuri. Tuhan menumpahkan air dari gelas saya, dan DIA menuangkan susu setelahnya. Cara kita merespon perubahan, cara pikir kita terhadap perubahan adalah layar yang bisa kita kendalikan. Meski hembusan angin tidak bisa kita kendalikan, namun Tuhan member kita kewenangan penuh untuk mengendalikan layar kita sendiri. Mungkin peta yang tadinya kita ikuti harus ikut berubah, jalur yang kita tempuh menjadi agak berkelok kemana-mana, namun 227
  • 223. Memasuki Rumah Cahaya anggap saja itu sebagai cara Tuhan agar kita bisa menambah wawasan kita tentang laut, dan mengenal daerah yang lebih luas disbanding apa yang telah kita tentukan dalam “peta” kita. Ikuti saja alur kehidupan. Serahkan rencana anda (yang tetap harus anda buat dengan sematang mungkin) pada rencana Illahi. Siapkan diri anda ketika anda terpaksa harus merubah jalur anda ketika terjadi kemacetan di jalan yang telah anda rencanakan untuk lalui. Jika anda mempersiapkan diri dengan berbagai perubahan dalam hidup, maka perubahan tidak akan mengagetkan anda, apa lagi sampai membuat sakit jantung anda kumat. Mempersiapkan diri terhadap kemungkinan-kemungkinan perubahan yang akan terjadi juga memungkinkan anda menyusun “jalur alternative” yang bisa anda lalui. Namun jika tetap saja terjadi perubahan yang sama sekali di luar perkiraan anda, mau apa lagi. Anda terpaksa harus membuat penyesuaian mendadak dan membuat rencana accidental jika anda masih ingin terus bergerak bersama kehidupan, bukan terbujur kaku dalam kematian. Inilah seni kehidupan yang sangat penting untuk anda kuasai. Dan sebuah seni tidak bisa anda kuasai dari buku 228
  • 224. Memasuki Rumah Cahaya atau kuliah, namun latihan yang terus menerus dan perbaikan tiada henti. Pilihan ada di tangan anda. Terus bergerak bersama kehidupan, atau terbujur kaku dalam kematian. 229
  • 225. Memasuki Rumah Cahaya Ketika masalah datang, anda hadapi atau anda lari? Masalah. Sebuah kata yang mungkin kebanyakan orang hindari, namun juga sebuah bekal yang kebanyakan orang miliki dalam kesehariannya. Tak ada orang yang bisa menghindari masalah, meski kebanyakan orang berusaha menghindarinya. Berusaha lari dari masalah adalah hal yang, bagaimana pun harus diakui sangat memprihatinkan. Sebuah istilah terkenal yang menggambarkan hal ini adalah fight or flight?. Lari atau menghadapinya? Banyak ungkapan yang biasa saya pakai (dan mungkin kebanyakan orang pakai) saat berusaha menghindari masalah yang sedang kita hadapi, “ingin hilang ingatan”, “ingin lari dari semua ini”, “ingin pergi dari dunia” dan sebagainya dan sebagainya. Bunuh diri, misalnya, adalah sebuah trend yang sangat popular di berbagai kalangan dan berbagai tingkatan umur yang digunakan untuk menghindari masalah. Saat kebanyakan orang biasa bertanya pada dirinya sendiri “kenapa saya harus menghadapi masalah ini?”, orang-orang besar yang menjadi mercusuar dunia bertanya pada dirinya, “kenapa saya harus lari dari masalah ini?”, kenapa say tidak menghadapi dan menaklukannya?”. 230
  • 226. Memasuki Rumah Cahaya Jika ada pertanyaan yang berbunyi “kenapa saya harus menghadapi masalah ini?” maka inilah beberap jawaban agar anda kemudian bertanya “kenapa saya tidak menghadapinya saja?” Alasan pertama dan palin jelas, karena masalah sangat bermanfaat untuk anda. Apa manfaat masalah? Masalah mendewasakan cara piker anda, masalah menambah timbunan kebijakan anda, masalah menambah referensi anda dalam problem solving skills. Ingatkah anda apa yang membuat anda menguasai matematika dengan lebih cepat? Masalah! Anda diberikan begitu banyak soal, begitu banyak masalah yang membutuhkan pemecahan. Semakin mahir anda dalam menjawab soal, semakin dalam pemahaman dan penguasaan anda terhadap matematika. Hidup juga serupa. Masalah sedang membentuk kita, memproses kita menjadi sesuatu yang lebih berharga. Apakah yang membuat butiran emas yang ditambang di pegunungan menjadi emas murni yang berharga, lalu menjadi perhiasan yang demikian mahalnya? Panas api dalam proses pembakaran yang sangat menyakitkan. Masalah dan rasa sakit membuat emas menjadi berharga. Apakah yang membuat kembang kol yang tadinya tumbuh di ladang menjadi enak, layak dihidangkan di 231
  • 227. Memasuki Rumah Cahaya atas meja restoran berkelas dan berharga mahal? Karena kembang kol itu dicabut dari tempatnya tumbuh, dipotong, dicincang, direndam lalu dimasak dalam penggorengan yang sangat panas. Rangkaian prose situ sangat menyakitkan, namun proses menyakitkan itulah yang membuat kol menjadi sop yang nikmat. Masalah memang menyakitkan, namun rasa sakit itu sangat berguna untuk kita. Memproses manusia menjadi manusia. Jadi, kenapa anda harus repot-repot menghindari masalah jika masalah itu memiliki anugerah di dalamnya? Emas yang menghindari proses pemanasan hanya akan menjadi buturan emas yang tidak seberharga emas yang di pajang di toko. Kol yang menghindari proses pemasak-an hanya akan menjadi kol yang layu dan mati di lading, tanpa pernah dihidangkan di restoran. Sudah menjadi fitrah butiran emas itu untuk menjadi perhiasan (dan proses pembakaran harus dilalui). Sudah menjadi fitrah kembang kol untuk menjadi lauk (dan proses pe-masak-an harus dilalui). Sudah menjadi fitrah manusia juga untuk menjadi mulia (dan diproses oleh serangkaian masalah harus dilalui). Jadi, masihkah anda ingin menghindari masalah? 232
  • 228. Memasuki Rumah Cahaya Namun anda bukanlah butiran emas atau kembang kol. Anda jauh lebih berharga dari itu. Anda bisa memproses diri anda, dalam masalah menjadikan diri anda semulia yang anda bisa gambarkan. Tidak ada batasan untuk anda, kecuali batasan yang anda tentukan sendiri untuk diri anda. Hanya saja, apakah anda telah cukup membuka diri anda untuk melihat manfaat masalah yang sedang anda hadapi? Dan lebih dari itu, apakah anda telah cukup ahli untuk memanfaatkan seoptimal mungkin masalahmasalah anda? Mengingat bukan seberapa banyak masalah yang anda hadapi yang akan menentukan seberapa dewasa dan bijaksana anda, namun seberapa banyak anda belajar dan memanfaatkan masalah yang anda hadapi. Tidak semua orang cukup bijak untuk dapat memanfaatkan masalah dengan seoptimal mungkin. Kebanyakan orang seperti saya, dari pada menyibukkan diri mencari keuntungan yang bisa diraih dari suatu masalah, malah sibuk mencari cara untuk kabur dari semua masalah itu. Oleh karenanya Tuhan menciptakan mercusuar untuk pelayar kehidupan yang sedang berada dalam kegelapan. Tuhan menciptakan orang-orang besar yang sikap, cara hidup, prinsip dan kepribadiannya demikian menginspirasi banyak orang. Orang-orang itulah yang bisa kita gunakan sebagai model dan anutan. 233
  • 229. Memasuki Rumah Cahaya Salah satu contoh idola saya adalah Suichiro Honda. Founding father Honda Corporation yang tersebar di seluruh dunia. Namun Suichiro Honda tidak membangun Honda Corporation dengan berusaha lari dari masalah, namun dengan memecahkan semua masalahnya dan memanfaatkan semua itu untuk kesuksesannya. Kenapa tidak semua orang meraih kesuksesan sebesar yang diraih Suichiro Honda? Karena tidak semua orang memanage masalah seperti yang dilakukan Suichiro Honda? Apa anda ingin menjadi pribadi seunggul Suichiro Honda? Maka jadilah seperti dia dalam menghadapi dan menaklukan tantangan hidup. 234
  • 230. Memasuki Rumah Cahaya Ketika tantangan menghadang, apakah anda telah mengumpulkan sumber-sumber kekuatan? Saat sebuah masalah datang, apakah anda melihatnya sebagai penghadang? Ataukah tantangan? Jika anda melihat masalah sebagai penghadang, ada dua kemungkinan yang akan anda ambil. Jika anda cukup optimis, anda akan mencari jalan lain atau menghancurkan penghadang tersebut. Namun jika anda pesimis, anda akan duduk dan menyerah dengan topeng kepasrahan. Lalu bagaimana jika masalah dilihat sebagai tantangan? Jika masalah dilihat sebagai tantangan, maka yang akan terpikir di benak kebanyakan orang adalah “hadapi, dan taklukan”. Menghadapinya dulu, menaklukannya kemudian. Langkah pertama yang diambil saat sebuah tantangan menghadang adalah menghadapinya. Memutuskan untuk menghadapi tantangan adalah sebuah langkah yang berani. Dengan kata lain, anda telah memiliki modal awal berupa keberanian. Namun untuk menaklukan sebuah tantangan, sebuah keputusan berani saja tidak cukup. Diperlukan serangkain strategi untuk kemudian dapat menaklukan tantangan tersebut. Dan bukan hanya strategi, anda juga 235
  • 231. Memasuki Rumah Cahaya harus mempersiapkan sumberdaya yang diperlukan untuk menghadapi tantangan tersebut. Jika semua komponen ini telah terpenuhi, maka anda akan menjadi salah seorang kandidat untuk menduduki kursi pemenang. Kandidat belum berarti pemenang, bukan? Anda masih harus menghadapi kandidatkandidat lain yang (mungkin saja) lebih hebat dari anda. Jadi, tinggal siapa kandidat terhebat, dialah pemenangnya. Tantangan seperti apakah yang dimaksud? Apa saja yang perlu anda taklukan. Entah untuk memenangkan suatu kompetensi, mendamaikan hubungan yang rusak, mencapai target penjualan, dan semua yang anda anggap menantang anda dan perlu anda taklukan. Mari kembali ke persoalan kedua, yaitu memiliki strategi dan sumber daya yang dibutuhkan. Strategi dan Sumber daya apakah yang dimaksud? Pertama, kita biacaran strategi dulu. Dalam menghadapi sebuah tantangan, anda memerlukan jawaban dari pertanyaan “how?” bagaiman tantangan tersebut akan anda taklukan? Bagaimana caranya? Ada rencana A? dan jika rencana A gagal apakah anda telah memiliki rencana B? Dalam menghadapi sebuah tantangan, mungkin anda telah memiliki satu pendekatan atau strategi tertentu. 236
  • 232. Memasuki Rumah Cahaya Namun ternyata strategi yang anda gunakan tersebut gagal. Dan, karena saking semangatnya anda terus menerus mencoba strategi yang sama dan mengharapkan hasil yang berbeda. Saya menghargai semangat anda. Memang anda perlu mencoba lagi, mencoba lagi, mencoba lagi dan mencoba lagi. Namun jika masih saja gagal, saya menyarankan anda untuk mengecek ulang strategi yang anda terapkan. Jika memang terbukti tidak efektif, maka anda harus mengadakan evaluasi, jika bukan CARA menjalankan strateginya yang salah, pasti strateginya itu sendiri yang salah. Kepekaan dan kejelian anda adalah factor yang menentukan kemenangan anda. Jadi jangan tutup pikiran dan hati anda. Cukup dulu dengan strategi, mari lanjutkan pembicaraan ke sumber daya. Sumber daya apa sih? Semua investasi yang anda miliki yang berguna untuk ada menghadapi segala macam tantangan. Sumber daya utama apakah yng paling diperlukan untuk menghadapi segala macam tantangan? INFORMASI. Inilah sumber daya yang merupakan sejata pamungkas bagi anda. Anthony Robbins bahkan mengatakan bahwa Informasi di jaman sekarang ini merupakan komoditi para raja. 237
  • 233. Memasuki Rumah Cahaya Jika anda memiliki banyak informasi, maka anda telah memiliki investasi yang berharga. Informasi tentang bagaimana sebuah masalah diselesaikan, informasi tentang memotivasi diri dengan berbagai macam metode, informasi tentang bagaimana mengelola energy dan sebagainya. Semua informasi itu, dengan sangat mudah anda dapatkan dari buku, seminar-seminar pengembangan diri, dan tentu saja teman-teman. Ambil saja sebuah contoh. Anda menghadapi sebuah tantangan, dan telah menentukan strategi yang akan anda gunakan untuk menghadapi tantangan tersebut. Namun tanpa and tahu, telah ada 10 orang yang menghadapi masalah atau tantangan yang sama, menggunakan strategi yang sama, dan GAGAL. Saat anda tidak tahu informasi ini, lalu berusaha menerapkan strategi itu, kemungkinan anda hanya akan menambah daftar panjang nama-nama para pecundang. Setelah anda memiliki berbagai macam informasi dan ilmu, anda telah berada di jalur yang benar. Sumber daya lain yang anda perlukan adalah jaringan social yang luas. Anda tidak bisa hidup sendiri, dan meski pun bisa, anda akan merasakan kemudahan hidup yang jauh lebih mudah saat anda memiliki jaringan social yang luas. Banyak hal yang bisa dilakukan oleh orang lain dengan mahir, namun anda malah sama sekali tidak bisa melakukannya. 238
  • 234. Memasuki Rumah Cahaya Banyak, sangat banyak malah, manfaat yang dapat anda peroleh dari memperluas jaringan social. Bayangkan, jika anda memiliki teman seorang psikolog, pasti saat anda down anda memiliki penyemangat, mungkin gratis atu bayar lebih murah (hehehe). Semakin banyak masalah yang anda hadapi, makin banyak juga investasi anda. Karena masalah atau tantangn yang pernah anda taklukan sebelumnya akan memberikan anda kekuatan untuk menghadapi tantangan yang akan datang, dengan lebih mudah. Kedewasaan mental dan kebijakan berpikir tentu sudah menjadi akibat pasti dari keberhasilan (bahkan juga kegagalan) menghadapi suatu tantangan. Bayangkan ini. Anda memiliki sebuah Negara, dan suatu hari Negara anda diserang oleh Negara lain. Hal apakah yang akan mempertahankan Negara anda dari penyerang itu (bahkan juga keberhasilan mengusir sang penjajah)? Pertama, kemauan untuk maju berperang. Kedua strategi perang yang jitu, senjata yang hebat, prajurit yang tangguh dan benteng yang kokoh. Menghadapi tantangan hidup juga serupa itu. Keberanian untuk maju menghadapi segala tantangan, dan memiliki segala sumber daya yang diperlukan untuk menghadapi serta menaklukan tantangan tersebut, ditambah kecerdasan untuk selalu menyesuaikan rencana atau strategi yang dibuat dengan bukti 239
  • 235. Memasuki Rumah Cahaya efektifitasnya setelah dicobakan. Penggabungan dari semua itu akan secara signifikan memperbesar presentase kesuksesan dan keberhasilan. 240
  • 236. Memasuki Rumah Cahaya Ketika segalanya menjadi rumit, apakah anda telah belajar menyederhanakan? Ada sebuah petikan yang sangat saya sukai, namun sempat saya lupakan saat saya tenggelam dalam kehidupan saya yang penuh kerumitan. Petikan tersebut berasal dari Rabindranath Tagore yang berbunyi, “menjadi bahagia itu sederhana, namun menjadi sederdana itu sulit”. Memang, menjalani kehidupan yang sederhana itu sulit, dan menjalani kehidupan yang serba rumit malah tampak gampang. Gampang karena kita telah demikian terbiasa dengan kerumitan. Kita diajarkan bagaimana menjadi rumit dan ruet, kita dibiasakan dengan hal-hal yang rumit dan ruet, dan akhirnya kita lupa dengan kesederhanaan. Sayangnya, melupakan kesederhanaan adalah salah satu perilaku fatal yang membuat kita makin jauh dengan kebahagiaan. Sebab, sebagaimana yang dikatakan Rabindranath Tagore, kebahagiaan erat sekali hubunganya dengan kesederhanaan. Orang yang telah demikian terbiasanya dengan kerumitan, bahkan akan menjadikan hal yang paling sederhana pun menjadi rumit. Bayangkan, jika ada 100 pertimbangan yang harus anda pikirkan hanya untuk memilih baju mana yang cocoknya anda pakai untuk 241
  • 237. Memasuki Rumah Cahaya pergi kondangan. Wah, bisa-bisa setelah mengambil keputusan, pestanya juga telah usai. anda Dalam mengambil satu keputusan misalnya, sering sekali kita terjebak dalam satu kerumitan yang (sering kali) tidak perlu. Dalam mengambil keputusan, memiliki banyak pertimbangan adalah hal yang sangat penting. Namun jika karena saking banyaknya pertimbangan yang dimiliki sehingga jadi bingung sendiri, wah itu tidak terlalu penting. Serupa dengan memasak nasi, jika anda mematikan rice-cooker sebelum nasi matang, maka tak enaklah jadinya. Namun jika anda membiarkan ricecooker menyala selama berhari-hari, buburlah jadinya. Jadi, selain mempertimbangkan aspek-aspek yang terkait dengan keputusan yang akan anda ambil, pertimbangkan juga agar waktu yang anda pergunakan tidak berlarut-larut. Karena waktu, sering kali menambah kerumitan. Keputusan sesempurna apa pun yang anda ambil, taka kan menjadi keputusan yang diterima baik oleh semua orang, dan tak akan menjadi keputusan yang bertahan tetap baik pada setiap waktu. Hidup itu dinamis. Jadi, ambillah ketusan yang memang terbaik untuk sebanyak mungkin orang dengan daya tahan, tetap menjadi baik di selama mungkin waktu. Tentunya, dengan konsekuensi yang juga paling bisa anda tanggung. 242
  • 238. Memasuki Rumah Cahaya Bukan hanya dalam mengambil keputusan kita suka terjebak dalam lerumitan, dalam menjalani kehidupan sehari-hari pun kita sering kali dirugikan oleh suatu kerumitan. Pikiran yang terbiasa dengan kerumitan tidak akan memiliki kejernihan dalam menentukan pilihan atau menghadapi sesuatu, namun akan sibuk dengan pertimbangan yang hanya akan menghasilkan kebingungan. “aduh, bagaimana jika nanti begini?”, “aduh, janganjangan ini bisa begini, lalu jadinya begitu deh”. Dan berbagai kerumitan lain biasanya sangat sering menggerogoti otak kita. Salah satu kebiasaan yang menyebabkan hal menjadi rumit adalah efek bola salju pikiran. Anda tahu, kan, bola salju akan menjadi semakin besar jika dibiarkan menggelinding semakin jauh. Demikian juga halnya dengan pikiran, akan menjadi semakin rumit jika semakin banyak hal yang dipikirkan. Kenapa? Karena berbagai hal tidak dipikirkan sebagai sebuah pertimbangan dengan otak yang jernih, namun otak lebih dipengaruhi oleh berbagai persepsi dan “ramalan” yang ia kumpulkan dan tebak sendiri. Ketakutan adalah racun yang bisa membuat pikiran menjadi sangat rumit. Karena dengan ketakutan, kita tidak memikirkan konsekuensi wajar dari sebuah keputusan, namun berbagai hal yang kita takutkan dan 243
  • 239. Memasuki Rumah Cahaya tidak inginkan untuk terjadilah yang akan mendominasi pikiran kita. Al hasil, tak ada keputusan yang dihasilkan, tak ada hal yang dilakukan, namun sudah sedemikian banyak dan jauh pikiran kita melayang dalam fantasi negatifnya. Seseorang mungkin baru hanya berjalan beberapa kilometer, namun pikirannya bisa telah bermil-mil jauhnya, melayang dengan fantasi-fantasi yang dipengaruhi ketakutan. Namun jika ketakutan anda itu diberi suntikan anti virus bernama “rasionalitas”, maka anda akan melihat, hanya orang gila yang memiliki ketakutan sebesar itu. Hal lain yang menyebabkan segala sesuatu menjadi rumit adalah penundaan. Hal inilah yang saya maksud dengan, waktu sering kali menambah kerumitan. Semakin lama anda menunda untuk melangkah, semakin jauh pikiran anda melayang untuk memikirkan jalan yang hendak dilalui dan bahaya apa yang mungkin ditemui, dan semakin takut juga anda untuk benarbenar bisa melangkah. Pertimbangkanlah segala sesuatu dengan konsekuensi wajar yang nanti akan ditimbulkannya, dan ambil langkah di jalan yang jalannya bisa anda lalui. Jangan biarkan pikiran terus menggelinding dalam fantasi dan ketakutan yang tak wajar, karena hal itu hanya akan menghasilkan kerumitan yang tidak perlu, bukan 244
  • 240. Memasuki Rumah Cahaya pertimbangan yang matang. Dan ingat, tergesa-gesa bukanlah hal yang baik, namun terlalu lama menunda lebih tidak baik lagi. Ambilah waktu yang sesuai dimana nasinya “benar-benar matang”, jangan sebelum atau sesudahnya. Inilah yang saya maksud dengan kesederhanaan yang membahagiakan. Kesederhanaan pola piker makin kuat jika makin dilatih dan dibiasakan. Kerumitan juga serupa, makin sering mempengaruhi pikiran, makin sering pula akan datang lagi dan lagi. Sekarang, evaluasilah diri anda, apakah anda membiarkan pikiran anda dikendalikan oleh kesederhanaan atau kerumitan? Kadang kala muncul pertanyaan-pertanyaan tak terjawab dalam pikiran kita, yang membebani dan membingungkan. Parahnya lagi, kadang kala semua pertanyaan itu tak perlu dijawab, atau memang tidak memiliki jawaban, malah sering pula jawaban yang ada tidaklah terlalu penting, namun pertanyaan-pertanyaan itu kita biarkan menghabiskan energy pikiran kita. Untuk pertanyaan-pertanyaan semacam itu, saya sarankan, buang saja. Namun untuk pertanyaan yang jawabannya memang memiliki dampak penting (tidak hanya menghasilkan stress yang tidak perlu), harus tetap dieksplorasi. 245
  • 241. Memasuki Rumah Cahaya Keterampilan membedakan mana yang penting untuk dipikirkan dan mana yang hanya akan menghasilkan stress adalah keterampilan yang sangat penting jika anda ingin keseharian anda memiliki kesederhanaan yang membahagiakan. Menjadi stress adalah hal yang biasa, namun jangan biasakan diri untuk stress terhadap hal-hal yang tidak perlu. Memikirkan segala sesuatunya adalah hal yang penting, namun jangan lebih mementingkan pemikiran yang tidak penting dibandingkan dengan pertimbanganpertimbangan rasional yang diperlukan. Seni menyederhanakan kehidupan yang telah menjadi demikian parah oleh racun kerumitan adalah seni yang sangat diperlukan, untuk mendamaikan batin dan memperoleh kebahagiaan. 246
  • 242. Memasuki Rumah Cahaya Ketika Berhadapan Dengan Iblis, Apakah Anda Juga Akan Menjadi Iblis? Dalam setting kehidupan social dan interaksi antar individu, ada kalanya kita berhadapan dengan orangorang yang memiliki karakter dan peringai negative. Apakah ada yang salah dengan kenegatifan sifat orang lain? Tidak! Yang kemudian menjadi masalah dan berbahaya adalah saat kenegatifan itu ditransfer pada kita. Friedrich Nietzche memiliki satu ungkapan yang sangat indah, saat anda berperang melawan iblis, berhatihatilah anda juga ikut menjadi iblis. Ungkapan itu sepatutnya menjadi rambu dan lampu kuning untuk kita saat kita dihadapkan pada orang-orang dengan perangai dan karakter serta sifat yang cenderung negative. Bukan kenegatifan orang itu yang perlu kita waspadai (apa lagi sampai menjadikan kita menjauh dan menghindar darinya), namun kemungkinan kita juga ikut menjadi negative jika berhadapan dengan dialah yang harus kita waspadai. Mungkin sebagian besar dari kita pernah mengalami kalau kita dengan sangat mudah terjerumus dalam kemarahan saat kita tanpa henti dimarahi atau diumpat habis-habisan. Mungkin anda juga dapat mengamati contoh yang lebih rumit, saat seseorang, atau bahkan sebuah Negara diserang, maka hamper selalu ada proyek 247
  • 243. Memasuki Rumah Cahaya balas dendam. Saat pasangan anda berselingkuh, mungkinm belum klop rasanya kalau anda belum membalas dengan perselingkuhan juga. Tidak kah anda dapat melihat kemungkinan lain yang lebih mulia saat anda berhadapan dengan “setan”? kemungkinan untuk menunjukan bahwa anda bukanlah bagian darinya, dan bahkan anda adalah “malaikat” yang memiliki derajat dan kualitas berbeda darinya. Saat anda dimarahi tanpa sebab, atau dengan sebabsebab yang hanya berupa pembenaran perilaku marah itu sendiri, cobalah untuk melihat orang itu sebagai sedang menjadi “setan”. Dan saat anda membalasnya dengan kemarahan hanya akan membuat anda menjadi setan lain. Hanya saja, anda setan yang lebih kuat jika anda marah-marah lebih keras dibandingkan orang tadi. Jika anda mau mengambil perspektif lain, anda dapat mengatakan pada diri sendiri, “saya akan menghadapi perilaku “kesetanan” ini dengan sikap seorang “malaikat, karena memang itulah saya”. Menghadapi segala macam perlakuan buruk dengan perilaku yang malah positif mungkin akan menyakitkan bagi anda pada mulanya, namun percayalah, buah dari semua “kemalaikatan” itu sangat manis. Lagi pula jika anda begitu konsisten dengan kebaikan anda, tidak 248
  • 244. Memasuki Rumah Cahaya mungkin Tuhan akan sampai hati membiarkan anda terus ditindas. Salah satu contoh brilian, contoh malaikat hidup yang hidup dengan prinsip “kemalaikatan” ini adalah Yang Mulia Dalai Lama XIV. Beliau menghadapi keganasan dan kesetanan yang mungkin tak banyak alami, namun cara beliau menghadapi semua permasalahan itu menempatkan beliau pada kemuliaan yang tak juga banyak orang tempati. Saat Cina menginfasi Tibet, beliau mendapat perlakuan yang sangat buruk. Seorang raja yang dipaksa untuk meninggalkan negaranya setelah melihat budaya, kuil, rumah, pemuda dan berbagai macam aspek lain dari negaranya tercinta dihancurkan. Namun saat ditanya bagaimana pendapatnya tentang Cina, beliau menyatakan, “saya takut akan kehilangan welas asih dan malah membenci Cina”. Perilaku mulia lain ditunjukkan oleh Paus Johanes Paulus II. Pada saat beliau sedang berparade, tiba-tiba seorang yang sedang “kesetanan” menembaknya. Sang Paus pun terjatuh dan segera dilarikan ke rumah sakit. Namun begitu keluar dari rumah sakit, tebak apa yang beliau lakukan! Mengunjungi penjara tempat penembaknya ditahan lalu memaafkan serta memberkatinya. 249
  • 245. Memasuki Rumah Cahaya Dapat anda amati sendiri di dunia ini, orang-orang yang mulia dikenang dan dihormati dengan kemuliaan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang mampu membalas dendam atas semua perlakuan buruk yang didapatkanya. Dalam masalah yang lebih personal, kata MAAF kadang menjadi komoditas yang sangat mahal dan tidak terjangkau, namun sayangnya hal pentingnya adalah, kalau dengan memaafkan segala perlakuan buruk yang anda dapatkan dan menerimanya dengan tingkat keikhlasan yang tinggi, maka segera luka-luka di hati anda akibat perlakuan buruk tersebut akan sembuh, dan segera juga Tuhan akan menunjukan keadilan-Nya. Saat mendapat perlakuan buruk dan merasa bahwa anda tidak pantas diperlakukan seperti itu serta mencari cara membela diri apalagi membalas dendam, maka anda sedang membawa beban berat di pundak anda. Hal itu pastilah sangat melelahkan, bahkan mungkin menyakitkan. Namun dengan memaafkan segala perlakuan buruk itu, memaafkan orang yang telah berlaku buruk itu, serta memaafkan diri anda yang telah diperlakukan secara buruk, maka anda sedang melepaskan semua beban dan menikmati semua kelegaan. Dan lebih dari itu, anda sedang membiarkan Tuhan membuat proses peradilan yang akhirnya akan memuliakan anda. 250
  • 246. Memasuki Rumah Cahaya Kini, pilihan ada di tangan anda, apakah anda ingin membalas perlakuan buruk yang anda terima dan menjadi sama rendahnya dengan orang yang sedang “kesetanan” yang memperlakukan anda secara buruk itu, atau ingin memancarkan cahaya kemuliaan anda dengan menunjukan bahwa anda adalah “malaikat” bukan “setan”. 251
  • 247. Memasuki Rumah Cahaya Ketika ada kegelapan, anda mengutuknya atau menyalakan cahaya? Salah satu bentuk paling sederhana dari kesederhanaan yang membahagiakan adalah, mencari solusi saat masalah datang. Solusi yang tepat dan memang diperlukan, bukan malah sibuk mempertimbangkan berbagai aspek yang (kadang) tidak terlalu penting. Ada sebuah cerita Bhuddis yang bisa dengan sangat tepat menggambarkan hal ini. Suatu hari, ada seorang yang terkena panah dan jatuh terkulai karenanya. Ada orang di sampingnya yang dengan sangat detail menanyakan siapa yang memanah, bagaimana ciricirinya, dari arah mana datangnya dan berbagai pertanyaan sejenis. Ada juga dengan penuh rasa ingin tahu menanyakan besi dan kayu yang digunakan untuk membuat anak panah tersebut. Lalu ada juga yang dengan penuh rasa amarah mengutuk ketidak hatihatian sang pemanah sehingga salah sasaran, dan berbagai opnini lain. Namun, yang akhirnya menyelamatkan sang korban adalah seorang yang mencabut anak panah itu, lalu mengobati luka-lukanya. Solusi, bukan interogasi, yang diperlukan oleh masalah. Dalam contoh cerita singkat di atas, jika solusi (orang yang mencabut anak panah dan mengobati luka) datang setelah semua pertanyaan tidak penting terjawab dengan detail, maka satu-satunya kemungkinan yang ada adalah 252
  • 248. Memasuki Rumah Cahaya kematian. sebaliknya setelah lukanya diobati, maka seribu pertanyaan pun akan bisa dicari jawabannya kemudian. First thing first. Mengutamakan hal yang memang utama adalah hal yang sangat penting. Dalam satu waktu, satu kesempatan, mungkin satu hal sangat utama dan sangat diperlukan, sementara hal lainnya boleh saja menunggu. Namun pada kesempatan lain, hal yang tadinya utama itu bisa saja menjadi nomer dua. Karena itu, sangat diperlukan fleksibilitas dalam menerapkan kesederhanaan. Fleksibilitas dalam menentukan mana yang utama pada satu masa, dan mana yang boleh menunggu. Kemampuan memanage pikiran dan mengarahkannya untuk memikirkan dan berfokus pada hal yang seharusnya adalah salah satu keterampilan yang sangat signifikan untuk dimiliki. Karena demikian banyak orang yang hidupnya menjadi rusak dan buruk hanya karena ketidak mampuannya untuk mengarahkan pikiran dan berfokus pada hal-hal yang seharusnya. Misalkan saja saat menghadapi kegelapan, banyak orang yang bukannya menyalakan cahaya untuk mengakhiri kegelapan tersebut, namun malah sibuk mengutuk kegelapan. Sebuah analogi sederhana yang menyatakan banyak orang yang sibuk mengutuk masalah dibanding mencari solusi, orang yang sibuk mengutuk luka 253
  • 249. Memasuki Rumah Cahaya dibandingkan mencari obat, orang yang sibuk mengutuk kejatuhan dibandingkan berusaha untuk bangun lagi. Jika anda memiliki sebuah masalah, lalu yang anda lakukan adalah mengutuknya, menyesalkan kenapa semua itu terjadi, menyalahkan keadaan dan orangorang lain, dan bahkan Tuhan, serta perilaku destruktif lain, lalu apakah yang anda dapatkan? LEBIH BANYAK MASALAH! Pikiran memiliki kecenderungan untuk menarik hal-hal terkait saat kita memikirkan satu hal. Misalkan saja, saat kita memikirkan bunga mawar, maka pikiran tidak akan berhenti hanya dengan memikirkan bunga mawar itu, namun juga akan memikirkan daunnya, tempat tumbuhnya, taman tempatnya hidup, wanginya, warnanya, dan segala hal terkait dengannya. Lalu saat anda memfokuskan pikiran pada apa yang tidak mau anda hadapi, apa yang tidak mau anda alami dan semua hal yang tidak anda inginkan. Lalu, pikiran yang memiliki kecenderungan untuk mencari pemikiran-pemikiran yang sama kemudian menghadirkan lebih banyak hal yang tidak anda inginkan, kemudian suasana hati anda makin buruk dan batin anda makin terpuruk. Itulah yang terjadi. Sebaliknya, jika saat menghadapi masalah anda memfokuskan pikiran anda untuk menemukan solusi 254
  • 250. Memasuki Rumah Cahaya dan penyelesaian, maka pikiran yang punya kecenderungan untuk mencari pemikiran-pemikiran yang sama akan mencari hal-hal terkait, atau dengan kata lain, alternative-alternatif solusi yang lebih banyak. Jangan berfokus pada masalahnya, agar anda tidak mendapatkan lebih banyak masalah. Berfokuslah pada solusinya, agar pikiran anda membawakan lebih banyak alternatif solusi. Sesederhana itu. Suasana hati anda, kondisi batin anda, keadaan emosi anda, dan kualitas kehidupan anda, semua sangat dipengaruhi oleh kemampuan anda memfokuskan pikiran pada hal yang benar. Dalam hal apa pun, selalu lah berfokus pada cahaya, bukan kegelapan. Jika anda bisa menyederhanakan kehidupan dengan cara demikian, maka kesederhanaan itu akan mengantarkan anda pada kualitas kehidupan yang lebih baik, dan yang pasti, lebih membahagiakan. 255
  • 251. Memasuki Rumah Cahaya Jika anda tahu bahwa dalam diri setiap orang ada bagian dari diri anda yang menyerupainya, apakah anda masih membenci orang lain? Apakah anda adalah orang yang suka mengutuk dan mencemooh kekurangan orang lain? Atau apakah anda adalah orang yang selalu sulit menerima ketidak sempurnaan orang lain? Atau dengan kata lain, apakah anda selalu menuntut orang lain bisa menjadi malaikat yang segala sikap dan sifatnya sempurna? Terkadang saya seperti itu. Inilah salah satu karakter dasar manusia yang agaknya agak menggelikan. Kita hidup dalam ketidak sempurnaan di dunia yang serba “tidak sempurna”, dan kita menerima ketidak sempurnaan kita sebagai manusia tatkala kita melakukan kesalahan yang menunjukan kekurangan kita itu, namun saat orang lain yang melakukan kesalahan, kita dengan cepat akan mengutuk dan mencemoohnya. Hal ini terjadi dalam berbagai tingkatan, mulai dari hal-hal kecil sampai pada kesalahan besar. Salah satu praktek irasionalitas manusia ini paling sering diterapkan dalam lingkup social. Dalam berinteraksi dengan orang lain kita cenderung (entah sering atau hanya kadang-kadang saja) memiliki tuntutan-tuntutan yang irasional terhadap orang lain agar orang tersebut 256
  • 252. Memasuki Rumah Cahaya bersikap sempurna, kekurangan. bebas dari kesalahan dan Saat orang lain melakukan kesalahan atau menunjukan kekurangannya, maka kita mulai mengutukl, “tidak seharusnya kamu seperti itu.”, “kamu harusnya bisa begini, bukan malah begitu.”, “kamu benar-benar orang yang mengecewakan, selalu saja berbuat salah.” Dan berbagai tuntutan lain. Setiap kali anda melihat kekurangan orang lain, dan sulit untuk menerimanya, kembalilah ke dalam diri anda dan tanyakan, “sesempurna apakah saya sehingga saya berhak menuntut orang lain untuk bisa berlaku sempurna?”. Bahkan, sebaliknya, orang yang benarbenar telah mencapai kesempurnaan tidak akan menuntut orang lain untuk bisa sempurna. Misalkan saja Sang Buddha, Beliau tidak pernah mencemooh ketidak sempurnaan orang lain, meski pun Beliau telah mencapai kesempurnaan. Sebaliknya, Beliau menuntun manusia untuk bisa meraih kesempurnaan yang sama. Orang yang tidak mampu memaafkan kesalahan orang lain, orang yang selalu menjauhi bahkan mengecam sifat-sifat negative orang lain dan orang yang memilih untuk bergaul adalah tipe-tipe orang yang sulit untuk menerima ketidak sempurnaan orang lain. 257
  • 253. Memasuki Rumah Cahaya Namun, pernahkan anda sadar, bahwa kekurangankekurangan orang lain yang ada di sekitar kita juga terkadang ada dalam diri kita? Meski pun dengan kuantitas yang berbeda. “Istri saya adalah seorang yang egois, dia selalu mau menang sendiri dan tidak pernah memikirkan orang lain!” demikian kecam seseorang misalnya. Jika keluhan seperti itu muncul dalam pikiran anda, bertanyalah “apakah saya benar-benar mampu menyingkirkan ego dan bisa melakukan segalanya hanya untuk orang lain (tanpa pernah SEKALI PUN memikirkan diri sendiri)? Jika anda memang seperti itu, tentunya anda tidak akan mengecam atau mengeluhkan perilaku egois orang lain, bukan? Atau benarkan anda benar-benar bisa mengalah dalam SETIAP situasi? Sepertinya tidak akan demikian dalam SETIAP situasi. Mungkin pasangan anda lebih egois dibandingkan dengan anda, namun ingat, anda juga pasti memiliki keegoisan yang sama, meski pun hanya SEKALISEKALI, dan dengan intensitas yang TIDAK LEBIH BESAR jika dibandingkan dengan pasangan anda itu. Intinya, anda juga memiliki sisi-sisi egois. Mengutuk atau mencemooh orang lain yang memiliki sifat negative hanya menunjukan seolah-olah anda memang bebas dari sifat semacam itu. Padahal, dengan 258
  • 254. Memasuki Rumah Cahaya kuantitas dan intensitas yang berbeda, semua manusia juga memilikinya, dan hal itu adalah manusiawi. Lao Tzu memiliki sebuah kalimat yang sangat indah terkait topic ini. Orang baik ada untuk menunjukan pada kita apa yang harusnya kita lakukan, dan orang jahat menunjukan pada kita apa yang tidak seharusnya kita lakukan. Jadi, dalam perspektif semacam ini, orang baik atau pun orang jahat, keduanya sama-sama membawa pesan kebijakan. Saat anda berhadapan dengan orang yang memiliki sisi negative yang lebih besar dibanding anda, yang sebaiknya anda lakukan adalah bertanya pada hati anda, “kapan saya pernah menunjukan kenegatifan yang sama? Apakah sisi negative ini juga ada dalam diri saya? Seberapa besarkah jika dibandingkan dengan sisi negatifnya?”Saat anda menjadikan sisi negative orang lain sebagai media untuk menyelami diri anda, maka tidak aka nada lagi keluhan atau cemohan, namun semua akan berubah menjadi guru-guru yang membuat anda menjadi semakin bijak dan bertumbuh. Dalam perspektif semacam ini, bukankah anda akan mampu memanfaatkan kotoran sebagai pupuk? Dan bukankah itu lebih baik dibandingkan dengan anda harus terus menggerutu tentang adanya kotoran? Ambil, dan jadikan pupuk untuk membuat tanaman anda tumbuh lebih subur. 259
  • 255. Memasuki Rumah Cahaya Bukan hal yang susah jika hanya mengeluhkan dan mencemooh sisi negative seseorang, seperti emosi yang meledak-ledak, keegoisan, dan semacamnya. Namun orang-orang yang ingin memuliakan dirinya tidak akan melakukan hal seperti itu, namun ia akan menggunakan sisi negative setiap orang yang ditemuinya sebagai cermin yang akan membantunya menunjukan “wajah saya yang sesungguhnya”. Anda tidak bisa menunjukan sisi penyabar dalam diri anda sebelum muncul orang-orang yang dengan kenegatifannya menguji kesabaran anda. Dan anda tidak bisa menilai seberapa mulia diri anda sebelum anda melihat orang-orang yang memiliki ketidak muliaan dan anda jadi tahu, kalau anda BENAR-BENAR telah bebas dari ketidak muliaan itu. Orang lain, negative atau pun positif perilakunya, adalah cermin yang sangat berguna untuk anda. Anda bisa melihat kotoran di wajah anda, lalu membersihkannya, dan anda bisa melihat seberapa rapi penampilan anda. Jika orang lain, bahkan orang yang paling negative sekali pun demikian berdaya guna dalam hidup anda (jika anda mampu menggunakanya sebagai cermin), maka kenapa anda harus mengeluhkan sikap negative orang lain? 260
  • 256. Memasuki Rumah Cahaya Memandang orang lain sebagai cermin mengingatkan saya pada satu pepatah, buruk muka cermin dibelah. Anda melihat sisi negative orang lain, lalu memepermasalahkanya, tanpa anda sadar sifat yang sama juga ada dalam diri anda dan tiap manusia lainnya (sekali lagi, meski dengan intensitas yang berbeda). Orang yang mengeluhkan sifat negative orang lain adalah orang yang masih belum bisa memanfaatkanya. Berhentilah mengeluh (karena, toh, semua itu tidak ada gunanya), dan gunakan orang lain sebagai cermin untuk memperbaiki penampilan anda. 261
  • 257. Memasuki Rumah Cahaya Ketika Tuhan berbicara pada anda, apakah anda mendengarkan? Kadang, muncul sebuah pertanyaan yang tidak sering berani ditanyakan orang, kenapa Tuhan hanya berbicara pada orang-orang tertentu? Kenapa hanya segelintir orang yang bisa mendengarkan Beliau dan menjadi pembawa pesan-Nya? Namun, pernahkah anda bertanya, jika Tuhan berbicara pada anda, apakah anda mendengarkan-Nya? Terkadang, yang menjadi masalah bukanlah kepada siapa Tuhan mau berbicara, namun siapa yang mau mendengarkan. Demikian yang dikatakan Neale Donald Walsch. Dan jika kondisi yang ada adalah seperti apa yang dikatakan Neale Donald Walsch, maka bertanyalah lagi, apakah anda mendengarkan saat Tuhan berbicara? Mungkin terbersit pertanyaan dalam kepala anda, kapan Tuhan berbicara? Dengan bahasa apa Tuhan berbicara? Dimanakah Tuhan berbicara? Pernahkah anda, pada suatu waktu lewat di depan seorang fakir miskin, lalu hati anda berbisik, “berbagilah”? jika ia, maka anda sedang mendengarkan saat Tuhan berbicara. 262
  • 258. Memasuki Rumah Cahaya Pada suatu waktu, saat melihat orang demikian memerlukan pertolongan anda, muncul suara dalam pikiran anda (sebelum diserang berbagai logika dan rasionalisasi), “menolonglah”? jika iya, maka anda sedang mendengarkan saat Tuhan berbicara. Pernahkan anda mengalami suatu ketrpurukan atau kebuntuan pikiran, lalu sebuah kalimat dalam sebuah buku yang kebetulan and abaca member anda cahaya kesadaran, dan membuat anda seolah mengalami pencerahan, sehingga anda hanya mendesah “ah…begitu rupanya”? jika iya, maka Tuhan sedang berbicara kepada anda. Menonton suatu tayangan di televise, anda merasa anda sedang diberi nasehat yang sepertinya secara personal ditunjukan kepada anda. Anda kemudian merasa seperti mendapat semangat baru, mendapat cahaya pencerahan. Itulah saat dimana Tuhan sedang berbicara kepada anda. Kapan pun hati anda tersentuh, kapan pun batin anda tersentak entah oleh sebuah kalimat dalam sebuah buku atau majalah yang kebetulan and abaca, entah oleh sebuah cerita dari seorang kawan yang telah lama tak anda temui, entah oleh lagu yang sedang anda putar di radio mobil anda, entah karena orang yang kebetulan lewat atau acara televisi yang kebetulan anda tonton. Saat itulah Tuhan sedang berbicara pada anda, pada hati anda. 263
  • 259. Memasuki Rumah Cahaya Namun tak semua orang mendengarkan. Jika ada yang mendengarkan, maka tak akan diperdulikan, malah diacuhkan sebagai angin lalu. Atau jika diperhatikan, tak akan ditindak lanjuti sebagai sebuah “tugas suci” dari Tuhan. Atau jika sedikit mendapatkan tindak lanjut, maka tak aka nada komitmen untuk terus melaksanakan “tugas suci” itu. Hati kita telah menjadi demikian keras dan bahkan tak lagi memiliki empati yang membantu kita untuk merasakan apa yang orang lain rasakan, bagaimana mungkin kita mendengar apa yang Tuhan katakan. Kita bahkan telah terbiasa menutup telinga terhadap kepedulian terhadap sesama, maka bagaimana hati kita akan mendengar kata-kata yang Tuhan ucapkan. Kita mencari pembenaran dengan menganggap Tuhan hanya berbicara pada orang-orang suci, dengan para nabi-Nya atau siapa saja asalkan bukan kita. Kita menganggap diri kita tidak layak untuk mendengarkan pesan dari Tuhan, padahal kita hanya tidak mau mendengarkan pesan kemuliaan karena kemuliaan itu terkadang memiliki konsekuensi AWAL yang menyakitkan. Tapi tak apalah, toh Tuhan tidak akan memaksa agar kita menjadi semulia itu, jika kita belum mau. Kita mengharap, jika Tuhan mau berbicara pada kita maka Beliau akan muncul di hadapan kita dalam satu 264
  • 260. Memasuki Rumah Cahaya wujud yang bisa kita mengerti, lalu berbicara dengan kata-kata yang sama dengan yang kita pakai dalam kosa kata kita, dan bahkan dengan logat yang sama dengan kita. Namun jika memang Tuhan ternyata muncul dengan sosok seorang pria tua dengan rambut, kumis, jambang, baju dan jubah putih, berbicara dengan bahasa Indonesia yang bisa dipahami, tidakkah akan muncul keraguan dalam pikiran anda lalu mengangap bahwa yang muncul di hadapan itu adalah setan, bukan Tuhan. Akhh… memang sulit jika hati anda belum terlatih untuk mendengarkan dengan kepekaan yang benar. Dan ingat, saya tidak sedang menyerukan agar anda kemudian mengumumkan bahwa anda telah biasa berbicara dengan Tuhan, dan anda adalah Nabi baruNya. Saya sarankan jangan melakukan itu. Dan jika memang anda benar-benar merasa bahwa anda memiliki kualitas kemuliaan yang sama dengan para Nabi, jangan umumkan hal itu dengan suara lantang dan penuh arogansi, namun dengan sikap dan perilaku yang mencerminkan kemuliaan itu. Namun, jika anda mau mengasah telinga hati anda, maka mulailah dengan mendengarkan pesan dari sekuntum bunga, atau sehelai daun. Mungkin sehelai daun itu tiba-tiba menggetarkan hati anda, 265
  • 261. Memasuki Rumah Cahaya membangkitkan satu rasa kagum dan takjub akan satu keagungan yang menciptakan sehelai daun tersebut. Ingat, Tuhan tidak selalu berbicara dengan kata-kata, karenanya jangan berharap Tuhan akan mengirimkan pesan-Nya dalam sehelai daun sehingga daun berkata, “halo, apa kabar?”. Saya takut anda justru akan lari pontang-panting karenanya. Dan jangan pula mengharap anda akan bisa menjadi seperti Prabu Angling Dharma yang bisa berbicara dan ngobrol dengan cicak. Yang saya maksud dengan “mendengarkan pesan-pesan Tuhan” hanyalah membuka hati agar menjadi peka dengan pesan-pesan kehidupan, tentang apa yang sebaiknya anda lakukan. Pesan tersebut mulai dari hal kecil, dari solusi yang anda butuhkan untuk masalah kehidupan anda, sampai ke pada bagaimana anda bisa berkontribusi untuk membuat dunia lebih baik. Hati anda menyimpan jawaban bahkan dari pertanyaan yang belum ditanyakan, karena melalui hati andalah Tuhan berbicara. Dan, anda hanya perlu mendengarkan. Semakin hati anda peka, semakin banyak pesan yang anda dengarkan. Jangan panic atau bingung saat anda menghadapi masalah dan belum menemukan jawabannya. Serahkan saja pada Tuhan (agar telinga hati anda lebih terbuka), 266
  • 262. Memasuki Rumah Cahaya dan Tuhan akan mengirimkan jawaban yang anda perlukan, entah melalui acara televisi yang anda tonton, buku yang anda baca, lintasan berita di siaran radio, lagu yang anda dengarkan atau malah melalui sehelai daun. Hanya saja, dengarkanlah! Jika anda (saya juga, lho) belum siap untuk mendengarkan pesan-pesan Tuhan untuk mebuat dunia lebih baik, maka setidaknya pesan-pesan Tuhan akan membantu membuat hidup anda jauh lebih baik. Hanya saja, dengarkanlah! 267
  • 263. Memasuki Rumah Cahaya Jika masalah anda belum terselesaikan, bisakah anda mengelolanya? Masalah adalah satu kondisi dimana tidak seorang pun bisa lepas darinya. Mulai dari masalah kecil yang dengan mudahnya bisa dilupakan, sampai pada masalah besar yang membuat pikiran buntu dan ingin bunuh diri (mengerikan, kan?). Masalah. Bahkan seorang bayi pun memiliki masalah. Misalkan, saat perutnya lapar dan tak tahu bagaimana mengungkapkannya, ia hanya menangis. Namun sang ibu tak mengerti dan mengira sang bayi mungil kesakitan. Masalah seorang bayi. Saat beranjak menjadi anak-anak, masalahnya berubah di sekitaran bagaimana memiliki mainan yang sama canggihnya dengan yang dimiliki oleh teman-temannya. Lalu saat beranjak remaja, masalahnya mulai melibatkan hati secara lebih dalam, masalah cinta, cemburu dan segala macam kompleksitasnya. Saat menjadi manusia dewasa, tentu dalam banyak aspek kehidupan yang bermasalah. Lalu apakah hidup adalah sebuah masalah? Namun, masalah yang kita hadapi tidaklah harus menyebabkan kita menderita. Bagaimana mungkin jika hidup kita penuh masalah kita bisa untuk tidak 268
  • 264. Memasuki Rumah Cahaya menderita? Bisa saja, jika anda mau dan berlatih untuk bisa seperti itu. Masalah adalah suatu kondisi yang sedang kita alami, suatu kondisi yang memerlukan penyelesaian, dan pemecahan. Masalah, jika diumpamakan seperti kepingan-kepingan puzzle yang perlu untuk kita susun. Apa pun masalah anda, selalu ada penyelesaiannya. Karena seperti sebuah kepingan puzzle yang selalu memiliki pola untuk menyelesaikan susunannya, masalah juga selalu memiliki solusinya. Hanya saja, kita tidak selalu bisa menemukan solusi atas masalah kita, dan jika kita menemukannya, kita tak selalu bisa menjalankannya. Belum menemukan solusi bukan berarti tidak ada solusi. Belum bisa menjalankan solusi bukan berarti masalahnya tidak terselesaikan. Terus membuka hati untuk menerima tuntunan Tuhan, terus berdoa untuk memohon kekuatan dari Tuhan, maka cepat atau lambat “pertanyaan akan terjawab”. Namun, apa yang harus kita lakukan di masa-masa prasolusi? Di masa-masa sebelum masalah kita terselesaikan. Apa yang kita lakukan di masa-masa pra-solusi atau masa-masa sebelum datangnya solusi adalah hal yang sangat penting. Karena, apa yang anda lakukan pada 269
  • 265. Memasuki Rumah Cahaya masa-masa ini bisa menentukan bagaimana kita bisa menghadapi masalah itu. Hal-hal yang dilakukan dalam masa-masa pra-solusi ini juga dengan sangat signifikan mempengaruhi apakah masalah yang belum terselesaikan itu makin jelas titik terangnya, atau malah makin rumit, ruet dan suram. Jika yang anda lakukan dalam masa-masa pra-solusi adalah mengelola masalah, maka masalah anda akan menjadi seperti remang-remang subuh, yang makin lama makin jelas dan terang. Namun jika sebelum masalah anda terselesaikan anda menerapkan tingkah laku yang destruktif, maka masalah anda akan menjadi remang-remang senja, makin lama makin gelap dan tak jelas. Anda mungkin dengan mudah dapat mengamati orangorang yang karena belum menemukan solusi atas masalah yang dihadapinya, kemudian malah melakukan hal-hal yang membuat masalah tersebut makin rumit, dan tentu saja, jauh dari solusi. Teman-teman saya akan dengan mudah memakai saya sebagai orang yang seperti itu. Baiklah, mungkin anda sudah tidak sabar, dan bertanya lagi “apa yang harus kita lakukan dalam masa-masa sebelum kita menemukan pemecahan dari masalah kita agar kita tidak malah membuat keadaan makin sulit?” 270
  • 266. Memasuki Rumah Cahaya Masalah yang belum terselesaikan dengan baik, harus dikelola dengan baik. Itulah jawabannya. Ini pula alasan dari kalimat saya tadi, bahwa bermasalah tidak harus berarti menderita. Sekarang, ambillah contoh dalam diri anda sendiri. Apakah anda memiliki sebuah masalah? Jika iya, apakah anda telah menemukan solusinya dan mampu untuk menjalankannya? Jika belum, maka lupakan dulu sejenak masalah itu. Istirahatkan pikiran dan serahkan semua pada Tuhan. Jangan menghiasi pikiran dengan menyesalkan, menyalahkan atau mendramatisir masalah tersebut. Membiarkan masalah tetap berada di luar diri anda, dan menjaga pikiran anda tetap tenteram adalah kunci untuk tetap tidak menderita meski bermasalah. Menjaga jarak antara DIRIKU dan MASALAHKU bisa jadi adalah salah satu cabang seni paling penting yang perlu kita kembangkan. Dalam jarak yang telah kita tetapkan ini, kita memiliki satu kesempatan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin kedamaian pikiran, kekuatan dan kebijakan yang kita butuhkan untuk menghadapi segala macam masalah kita. Salah satu kesalahan fatal yang kita lakukan saat kita menghadapi masalah adalah menanamkan masalah itu begitu kuat mengakar dalam pikiran kita, sehingga SEOLAH-OLAH kita dikuasai oleh masalah itu dan tak mungkin bisa lepas darinya. Akhirnya, hal ini turut aktif 271
  • 267. Memasuki Rumah Cahaya menghabiskan energi kita, membuat kita makin lemah, menderita dan tak berdaya. Menyadari dan mengakui ada masalah dalam salah satu aspek kehidupan kita, dan berusaha menjaga pikiran dan batin kita tetap tenang dan tenteram dalam menghadapi dan bereaksi terhadap masalah tersebut adalah satu hal yang sangat perlu untuk dilatih. Ingat, masalahnya ada di luar diri kita, bukan di pikiran kita, jadi pikiran tidak harus bereaksi berlebihan terhadapnya dengan improvisasi penuh penderitaan. Bahkan dalam salah satu teks spiritual paling popular, A Course In Miracle dinyatakan, bahwa kita tidak memiliki masalah, pikiran kitalah yang bermasalah. Memang sejatinya tidak ada masalah atau penderitaan, kecuali yang kita ciptakan sendiri. Yang ada hanya tantangan yang perlu untuk kita hadapi untuk membuat kita bertumbuh. Jadi kenapa anda harus menderita karena pertumbuhan? Anda mungkin saja bangkrut dan kehilangan seluruh harta yang anda miliki (kondisi eksternal), namun bisa saja anda tetap tenang dan nyaman dalam batin anda(kondisi internal). Ingat, masalah adalah kondisi eksternal kita, sedangkan penderitaan adalah kondisi internal. Keduanya dapat secara signifikan saling mempengaruhi, namun saat muncul pengaruh negative, maka garis pengaruhnya bisa saja diputus. 272
  • 268. Memasuki Rumah Cahaya “akh…terlalu mengawang-awang. Mana ada manusia seperti itu.” Mungkin pikiran anda (yang senang dan terbiasa dengan penderitaan) akan berkata seperti itu. Namun ijinkan saya menberikan sebuah contoh. H.H. Dalai Lama XIV adalah orang yang memiliki banyak masalah, namun tidak sedikitpun menderita. Beliau kehilangan negaranya, melihat rakyatnya ditindas, harus mengungsi dengan jalan kaki dari Tibet ke India melewati pegunungan Himalaya. Belum lagi berbagai penderitaan lain yang diakibatkan oleh Cina. Namun, beliau juga adalah orang yang selalu murah senyum, ceria dan selalu tampak tenang. Namun hal itu bukan berarti beliau tidak memikirkan Tibet dan rakyatnya. Beliau mencoba berbagai pendekatan solusi, namun sambil menunggu pendekatan lain atau menungu pendekatan tersebut berhasil, beliau mengisi masa-masa tersebut dengan kedamaian, bukan penderitaan (bukan hanya untuknya sendiri, namun juga diajarkan dan disebarkan ke seluruh dunia). Salah satu contoh pengelola masalah yang sangat patut untuk ditauladani. Apakah ada diantara anda yang memiliki masalah lebih besar dibandingkan Dalai Lama? Mungkin tidak. Namun adakah diantara anda yang malah lebih menderita dari Dalai Lama? Mungkin banyak. Dan hal itu adalah contoh ketidak mampuan kita dalam 273
  • 269. Memasuki Rumah Cahaya mengelola masalah hingga jangankan untuk membersihkan pikiran dari penderitaan, untuk menyeimbangkan antara kuantitas masalah dengan kuantitas penderitaannya pun kita sering kali tidak mampu. Saya pernah mengalaminya. Saya pernah putus cinta, kehilangan SATU ORANG yang mencintai saya dan saya cintai. Hal itulah masalahnya (kondisi eksternal). Namun saya bereaksi dengan sangat negative terhadap masalah itu. Saya membuat diri menderita dengan dramatisasi keadaan, membiarkan pikiran kemanamana berkeliling dunia mencari kemungkinankemungkinan terburuk untuk mebuat saya lebih menderita, menutup diri, menyalahkan keadaan, menyalahkan Tuhan, menyesalkan semua yang terjadi, dan berbagai hal lain. Wahhh… saya hanya kehilangan satu orang, namun saya membuat diri menderita (kondisi internal) seolah saya kehilangan seluruh penduduk bumi. Padahal, bisa saja saya bersikap seperti beberapa orang teman saya, yang kehilangan pacar (bermasalah), namun menganggap itu hal yang biasa, dia tetap santai dan tenang (tidak menderita). Mungkin untuk sebagian dari anda, hal ini tampak terlalu muluk. Namun, seni management pikiran adalah keahlian yang perlu dilatih melalui serangkaian metode 274
  • 270. Memasuki Rumah Cahaya untuk dapat benar-benar dikuasai. Dalai Lama memiliki kemampuan mengelola pikiran sehebat itu bukan karena pemberian malaikat, namun melalui serangkaian latihan meditasi yang intens selama berthun-tahun. Di jaman yang serba canggih seperti sekarang, efek meditasi yang mendamaikan dan menenangkan pikiran hingga berada dalam gelombang Alpha dapat diperoleh melalui mendengarkan CD tertentu yang dikembangkan khusus untuk memanage gelombang otak. “saya tidak pernah berlatih meditasi dan tidak memiliki CD semacam itu. Jadi tidak ada harapan lagi untuk saya”. Mungkin pikiran anda yang putus asa berkata seperti itu. Namun saya akan menjawab, harapan tetap ada. Mulailah berlatih meditasi, sekarang. Namun jika anda merasa tidak cocok dengan seni meditasi, maka gunakan logika anda. bertanyalah ke pikiran anda, “apakah masalah ini sedemikian beratnya sehingga saya harus menjadi demikian menderita karenanya?”, “apakah saya harus menanggapi masalah ini dengan cara-cara yang merugikan jika ada cara untuk menghadapinya dengan cara-cara yang menguntungkan?”, “jika ada masalah, pasti ada solusi. Dari pada memikirkan berbagai kemungkinan negatif yang bisa terjadi, kenapa saya tidak memikirkan solusinya saja?” 275
  • 271. Memasuki Rumah Cahaya Einstein berkata, hal yang terpenting yang harus dilakukan adalah jangan berhenti bertanya. Pertanyaan yang tepat yang anda ajukan ke dalam pikiran anda akan dengan lembut menuntun anda pada pemahamanpemahaman yang lebih dalam, terang dan meneduhkan tentang kehidupan. Hal penting pertama dalam mengelola masalah hingga anda tidak perlu menderita meski memiliki masalah telah saya ungkapkan, yaitu membiarkan masalah tetap berada di luar diri anda dan menjaga batin anda tetap tenang tenteram. Hal kedua adalah, membiarkan masalah berada dalam proporsinya, jangan sampai lumer seperti tinta yang menetes di atas kapas. Menyebar kemana-mana jauh melampaui yang seharusnya. Jika mengambil contoh masalah putus cinta saya (maaf, saya belum memiliki pengalaman pergi berperang yang bisa saya ceritakan), masalah itu selain membuat saya menderita secara irasional, juga menyebar kemanamana mempengaruhi berbagai aspek dalam kehidupan saya. Saya tidak bisa konsentrasi kuliah, tugas-tugas jurnalistik saya terbengkalai, dan hubungan saya dengan teman-teman jadi tidak seharmonis dulu. Wahhh… saya sejatinya hanya memiliki satu masalah kecil, kehilangan pacar, tetapi saya begitu akhli dalam membuat masalah itu menjadi menyebar luas dalam keseluruhan aspek 276
  • 272. Memasuki Rumah Cahaya kehidupan saya. Satu lagi keahlian manusia yang mematikan dirinya sendiri. Salah satu cara yang saya gunakan untuk menjaga masalah tetap berada dalam proporsinya adalah dengan mengambil kertas dan pensil. Tulis masalah anda (entah itu dalam bidang social, financial, spiritual, emosional atau fisikal), lihat seberapa besar maslahnya, dan tulis pula aspek-aspek lain yang tak tersentuh oleh masalah itu, atau yang seharusnya tidak tersentuh oleh masalah itu. Dan jika ada aspek-aspek lain yang terkena efek dari masalah tersebut, maka bersihkan dengan segera. Mengetahui bahwa ternyata masalah anda tak sebesar yang anda bayangkan, akan menghadirkan kedamaian yang sangat meneduhkan dalam batin anda. Bahkan masalah putus cinta yang menbuat saya sangat menderita, dan mempengaruhi keseluruhan aspek kehidupan saya sebagai remaja, setelah saya tuliskan dengan obyektif kuantitas rasionalnya, sebenarnya hanya 10% dari keseluruhan hidup saya. Namun saya telah membuatnya menyebar begitu luas hingga berkembang menjadi 90%. Saya kemudian mulai membersihkan 80% aspek kehidupan saya yang tak seharusnya bermasalah itu, lalu menggunakan energy yang saya dapat dari “rasionalitas yang mendamaikan” untuk menghadapi masalah yang tertinggal, yang sebenarnya hanya 10%. 277
  • 273. Memasuki Rumah Cahaya Jika masalah anda belum terselesaikan, maka kelola dengan baik pikiran dan masalah itu sendiri. Dengan demikian anda lebih siap untuk menerima solusi atau untuk melakukan langkah-langkah penyelesaian. Dan jangan kaget jika ternyata anda telah menyelesaikan 50% dari masalah anda. karena masalah yang dikelola dengan baik adalah masalah yang setengahnya selesai. Dua arah pengelolaan masalah adalah, pertama mengelola pikiran anda agar bisa menempatkan masalah sebagai kondisi eksternal sehingga pikiran anda tetap dalam kondisi nyaman dan tetang. Dengan kata lain, tetap bermasalah tanpa menjadi menderita. Kedua, mengelola masalah dengan menempatkan masalah dalam proporsinya sehingga aspek-aspek kehidupan yang harusnya tidak bermasalah tidak terkena imbas masalah itu. Kesimpulan yang passs, kan? Seni mengelola masalah dengan cara seperti ini adalah seni yang perlu dilatih, terus menerus, sedikit demi sedikit. Bercerminlah pada orang-orang yang strategi pengelolaan masalahnya sangat canggih, karena dengan memodel mereka yang telah berhasil akan mendekatkan anda pada keberhasilan. 278
  • 274. Memasuki Rumah Cahaya Jika hidup adalah sebuah perjalanan, akankah anda terus melangkah? Hidup adalah sebuah perjalanan. Demikian salah seorang guru kehidupan pernah berkata. Dan karena hidup adalah sebuah perjalanan, maka tugas kita hanya berjalan dan terus berjalan, hingga kita sampai di tempat tujuan. Perjalanan macam apakah kehidupan? Berjalan kemanakah kehidupan kita? Bagaimanakah kita menjalani kehidupan kita? Pertanyaan seperti itulah yang akan muncul jika kita menganalogikan kehidupan seperti sebuah perjalanan. Perjalanan kehidupan kita dimulai dari awal kedatangan kita di dunia ini, keluar dari rahim seorang ibu, dan mulai mendapatkan kasih saying serta bermacammacam berkah. Kemudian kita sedikit demi sedikit bertumbuh menjadi seorang manusia yang memiliki kepribadiannya sendiri. Kita mulai menentukan pilihan kita, mulai berputar dalam perilaku baik buruk, mulai terbingungkan oleh realita dan idealism, mulai tidak mengerti, mulai menyerah, lalu mulai tercerahkan lagi. Banyak hal yang kita alami dalam kehidupan. Sangat banyak. Apa pun yang kita alami, bagaimana pun kehidupan kita, yang harus kita lakukan adalah tetap 279
  • 275. Memasuki Rumah Cahaya berjalan, terus berjalan melangkah dalam kehidupan kita. Namun terkadang kita dipaksa untuk menyerah, dipaksa untuk berhenti melangkah. Ada kalanya kita menjadi demikian putus asa, merasa tak berdaya dan tak mampu lagi melakukan apa-apa. Ada saat-saat dimana kita berada dalam titik nadir, berada dan tenggelam begitu jauh di lembah keperpurukan. Entah apa masalah atau alasan dibalik keterpurukan itu, namun kebanyakan kita pasti pernah mengalami hal semacam itu. Dalam kondisi atau keadaan itu, pikiran kita yang telah sama lelahnya dengan berbagai aspek dalam kehidupan kita mungkin berbisik, “aku menyerah. Aku tak sanggup untuk berjalan lagi”. Saya pernah mengalami masa dimana satu-satunya pilihan yang tersedia untuk saya hanya berhenti melangkah, menyerah karena saking tidak berdayanya. Saya telah mencoba semua cara, semua pendekatan, namun saya tak bisa membuat keadaan lebih baik. Karena itu, saya tak akan menyalahkan siapa pun diantara anda yang hendak menyerah. Namun kemudian saya sadar. Saya telah melangkah begitu jauh. Terlalu jauh malah. Saya tidak mungkin kembali (dan perjalanan hidup adalah sama seperti perjalanan waktu, dimana sekali kita melangkah kita tak 280
  • 276. Memasuki Rumah Cahaya akan mampu lagi untuk mundur atau kembali), namun energi saya untuk terus melangkah juga telah habis. Di pikiran saya hanya satu, saya harus berhenti melangkah dan duduk menunggu mati, atau mengumpulkan sisa-sisa tenaga saya untuk terus melangkah. Harapan membuat saya lebih kuat. Harapan memberikan cahaya penerangan diantara gelapnya situasi yang saya alami. Saya melangkah sedikit demi sedikit, terus berjuang menghadapi masalah yang tidak bisa saya selesaikan, sambil berharap akan muncul pertolongan, akan muncul sesuatu yang bisa menambah energy saya. Saya melangkah, dan terus melangkah. Namun saya tidak berani mengharapkan keadaan akan benar-benar sama seperti apa yang saya harapkan. Mengharapkan semua tak pernah terjadi, dan mengharapkan yang terjadi adalah apa yang kita inginkan, pada waktu itu terasa begitu menakutkan. Takut untuk kecewa membuat saya berhenti berharap. Saya hanya menjaga harapan untuk berada dalam proporsi yang sesuai. Agar saya bisa terus melangkah, tanpa terrlalu banyak kecewa. Namun ternyata, setelah melangkah dan terus melangkah sekian lama, saya masih belum sampai di tempat tujuan (terselesaikannya masalah tersebut). Setiap kali harapan menipis, maka godaan untuk menyerah menjadi makin besar. 281
  • 277. Memasuki Rumah Cahaya Dan dalam perjalanan itu. Perjalanan yang menyakitkan itu, saya melupakan satu hal. Bahwa bukan tujuannya yang mutlak penting, namun juga bagaimana berjalan, bagaimana menikmati kelelahan dalam perjalanan, bagaiaman memanfaatkan segala sumber energi yang tersedia kaya raya di sekitar kita (yang selama ini saya menutup diri darinya), dan bagaimana menikmati tiap langkah agar tidak terasa sebagai beban. Saya melupakan kebijakan yang tersimpan di balik situasi yang tengah saya alami. Saya hanya cenderung berpikir bahwa “perjalanan” saya adalah kutukan, beban dan penderitaan. Padahal, darinya, dari situasi yang menyesakkan tersebut, saya belajar begitu banyak hal. Bahkan saya menulis buku ini melalui serangkaian renungan itu. Tiba-tiba saja, perjalanannya terasa lebih menyenangkan, karena ada hal-hal yang bisa dinikmati dan disyukuri. Meski tujuannya masih jauh (atau mungkin malah sudah dekat), saya masih bisa menikmati perjalanannya. Dan semua ini membuat saya tetap melangkah. Saat kita belum tahu kemana kehidupan akan menuntun kita, maka menikmati perjalanan ddan segala hal yang disajikannya adalah sesuatu yang sangat membantu, agar perjalanan kita tidak terasa seperti beban atau kutukan. Saya belajar satu hal yang sangat penting, menikmati 282
  • 278. Memasuki Rumah Cahaya kondisi keterpurukan, sambil terus mencari kebijakan yang tersimpan di dalamnya agar semua itu tidak lewat begitu saja. Jadi, untuk pertanyaan “kemanakah kehidupan menuntun kita?” tidak ada jawaban yang pasti. Semua begitu variatif. Namun yang pasti, melangkahlah dan terus melangkah bersama kehidupan. Nikmati segala hadiah yang disediakan dalam perjalanan itu sampai kita nanti sampai di tempat tujuan. Semakin anda peka dan tenteram dalam melangkah, semakin banyak sumber daya yang bisa anda dapatkan untuk membantu anda terus melangkah. Lalu, kita sampai pada pertanyaan yang sangat penting, bagaimanakah kita harusnya menjalani perjalanan kehidupan kita itu? Pertanyaan yang sangat sulit, namun jawabannya sangat sederhana: TERSERAH ANDA! Lha? Kok bisa? Ya, bisa saja. Dan memang demikian. Tuhan telah memberikan kebebasan pada manusia. Manusia boleh terus melangkah, dan boleh menyerah. Dan kalau memutuskan untuk terus melangkah pun terserah dengan cara bagaimana. 283
  • 279. Memasuki Rumah Cahaya Namun ada hal-hal yang perlu kita pertimbangkan. Cara anda berjalan menentukan energi yang bisa anda simpan selama berada dalam perjalanan. Kehati-hatian anda dalam melangkah akan membuat anda tetap berada di jalur yang benar, bukan malah menyesatkan anda ke hutan terlarang yang menyimpan banyak bahaya. Dan seni anda dalam menikmati perjalanan tersebut akan sangat menentukan seberapa nikmat dan menyenangkan jadinya perjalanan kehidupan anda. Jika hidup adalah sebuah perjalanan, maukah anda tetap melangkah? Saya yakin jawabannya pasti “mau”, asalkan anda tahu bagaimana melangkah dengan benar, bagaimana menjaga agar anda tetap berada di jalur yang benar, dan tahu bagaimana menikmati perjalanan anda itu. Lalu, pertanyaan lain yang sama pentingnya, “bagaimanakah caranya untuk menikmati sebuah perjalanan yang jauh dan kadang tak tentu arah dan tujuannya?”. Santai saja, kawan… Jika anda terlalu serius, terlalu terburu-buru, bagaimana mungkin anda bisa menikmati perjalanan anda? belajarlah membuat hidup menjadi sedikit santai. Bernyanyilah sesekali, lakukan hobi yang bisa membuat anda flow. Lakukan apa saaj yang bisa membuat otak 284
  • 280. Memasuki Rumah Cahaya anda fresh. Latihan meditasi dan Yoga bisa jadi adalah alternative yang bagus untuk anda. Kemudian, anda harus menemukan maksud dan tujuan dibalik perjalanan anda. cobalah untuk mengungkapkan maksud baik Tuhan dibalik semua yang anda alami, maka segalanya akan menjadi lebih meneduhkan. Hal yang membuat kita begitu terbebani dalam berbagai situasi yang kita alami adalah ketidak mampuan kita dalam mengungkapkan maksud baik Tuhan dibalik semua yang sedang kita alami itu. Lalu, kita berprasangka seolah semua yang kita alami adalah tanda kebencian Tuhan dan ketidak beruntungan nasib kita. Jadi teruslah melangkah dengan terus menikmati perjalanan dengan cara membuat perjalanan jadi “santai”, dan mengungkap maksud baik Tuhan dibalik perjalanan yang sedang kita tempuh. 285
  • 281. Memasuki Rumah Cahaya Jika hidup adalah sebuah lelucon, bisakah anda menertawakannya? Ijinkan saya mengungkapkan salah satu anugerah terbesar yang Tuhan anugerahkan untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, untuk membuat kehidupan menjadi lebih menyenangkan: TAWA. Dan ijinkan saya menyampaiakan salah satu metode untuk menikmati keadaan yang paling mengerikan sekali pun, yang mana sekali anda melakukannya, maka seluruh beban anda akan terangkat dan anda merasakan kedamaian yang tak anda bayangkan sebelumnya. Bagaimanakah metodenya: menjadikan semua itu lelucon. Tahukah anda, bahwa keadaan yang paling menyedihkan ternyata juga adalah lelucon yang paling lucu dan menggelikan? Jika anda menjawab “tidak”, berarti anda belum mampu menertawakan keadaan tersebut. Anda terlalu terperangkap dalam peran sebagai seorang “pemain drama tragedy” sehingga lupa kalau hidup ini sesuangguhnya adalah sebuah lelucon. Bukankah akan lebih membahagiakan menjadi seorang “comedian” disbanding pemain “drama komedi”? “Hidup saya terkutuk! Saya telah mengalami penderitaan yang begitu besar. Dan saya tahu, saya 286
  • 282. Memasuki Rumah Cahaya hanya layak menderita. Sama sekali tak layak untuk dicintai atau memperoleh kasih saying. Kehidupan adalah kutukan bagi saya. Bahkan Tuhan pasti membenci saya.”. itulah kata-kata favorit seorang yang telah terbiasa mendramatisir kehidupannya. Itulah katakata dari orang yang lebay dan terbiasa menanggapi kejadian kecil seolah adalah kiamat. Namun, bagi seorang yang memiliki selera humor yang “mencerahkan” akan dengan sepenuh hati menrtawakan kejadian yang paling mengerikan sekali pun. Saya telah memberikan kesetiaan saya pada pacar saya. Saya bahkan tetap memilih dia saat muncul orang yang lebih baik dari dia. Saya menyayanginya dan memberikan dia seluruh cinta saya. Namun setelah bertahun-tahun menjalani kesetiaan cinta itu, dia malah meninggalkan saya demi orang lain yang lebih baik dari saya. Tadinya saya menganggap semua itu adalah ketidak adilan yang sangat menyedihkan untuk saya. Namun, saat saya merenungi semua itu, saya jadi tertawa sendiri dengan realita yang menggelikan itu. Saya benarbenar menertawakan kebodohan saya yang bisa ditipu sampai seperti itu, dan menertawakan semua kejadian yang saya alami. Lucu memang, jika seorang yang memperlakukan pasangannya dengan semena-mena mendapatkan cinta 287
  • 283. Memasuki Rumah Cahaya yang tulus, bagaiamana bisa saya yang memberikan ketulusan malah dihianati? Saat menganggap kejadian yang saya alami sebagai sebuah tragedy yang tak adil, saya merasakan beban yang sangat berat, kesedihan yang mendalam, dan luka yang menyakitkan. Namun saat saya merubah perspektif saya, menempatkan kejadian itu sebagai kejadian yang sangat menggelikan, saya mulai TERTAWA. Saya merasakan sebuah ketenangan yang sangat meneduhkan, yang entah dari mana datangnya. Semua suasana suram khas sinetron tiba-tiba berubah menjadi ceria seperti acara lawak. Saya menganggap semua ini sebagai sebuah cara Tuhan menolong saya. Namun setelah mulai mengenal ilmu olah pikiran ala Neuro Linguistic Programming™ (NLP™), saya mulai terbiasa menerapkan keterampilan menertawakan kehidupan dengan metode NLP™. Meski dalam situasi yang sangat berat, hal ini sulit untuk diterapkan, namun semakin dibiasakan, ternyata otototot tawa saya menjadi semakin besar. Apakah anda tertarik untuk membuat perubahan dalam kehidupan anda? apakah anda ingin merubah suasana suram kehidupan anda yang dihiasi air mata, keluhan dan keputus asaan menjadi ceria, penuh warna dan semarak? Jika anda menjawan “iya”, maka mungkin cara berikut ini dapat membantu anda. 288
  • 284. Memasuki Rumah Cahaya Bayangkan kembali situasi atau kondisi yang mengganggu anda. apakah yang terlintas dalam pikiran anda? apakah warna yang suram? Suasana yang sendu dan gambar-gambar menyedihkan? Atau suara-suara haru, suara mengerikan penuh tangis, suara sendu yang menunjukan kesedihan mendalam? Atukah anda merasakan dada menjadi sesak, merasa berat dan terbebani? Apakah tubuh anda tiba-tiba menjadi terkulai seolah mengekspresikan kesedihan itu? Sekarang, cobalah untuk membuat perubahan suasana. Ubahlah warna-warna suram menjadi penuh warna yang cerah dan ceria. Buatlah seakan-akan anda telah menerangi suatu senja kelambu yang penuh awan mendung menjadi pagi cerah berhiaskan cahaya matahari terbit. Lalu ubahlah suara-suara yang tadinya mengekspresikan kesedihan menjadi penuh keceriaan dan suka cita. Ubah suara “betapa malangnya saya” yang menggunakan intonasi ala sinetron menjadi “betapa menyedihkannya saya” dengan intonasi seperti yang diucapkan oleh tokoh kartun favorit anda atau tokoh lawak yang selalu mengatakan segalanya dengan nadanada yang lucu. Jangan lupa, lakukan juga perubahan fisiologis anda. ubahlah posisi tubuh anda yang tadinya memperlihatkan beban berat dan masalah menjadi seakan-akan anda sedang mendramatisir sesuatunya bukan seperti seorang pemain sinetron, namun seperti yang dilakukan oleh 289
  • 285. Memasuki Rumah Cahaya para pelawak dengan bahasa tubuh yang lucu dan menggelikan. Nah, setelah melakukan sedikit permak yang dalam ilmu NLP™ disebut Representational System Mapping Accros ini, anda siap untuk menertawakan semua pengalaman anda. ungkapkan apa yang ingin anda ungkapkan seakan-akan semua itu adalah sebuah lelucon. “hahaha… lucu sekali setelah saya memberikan seluruh kesetiaan dan cinta saya, ternyata akhirnya saya dihianati (ingat dengan nada dan intonasi yang lucu)”. “wah…wah… aneh, setelah saya bertahun-tahun bekerja dan menemukan kemapanan financial yang membanggakan, eh… dengan mudahnya saya sekarang jadi gelandangan”. Semakin anda pintar berfantasi dan mengimprovisasi, semakin baik efek yang anda dapatkan dari acara inner jokes ini. Dan semakin cepat juga anda pulih dari luka serta penderitaan, mendapatkan kekuatan-kekuatan baru untuk menghadapi kehidupan. Jangan meremehkan metode sederhana ini sebelum anda mencobanya hingga berhasil. Terlebih lagi, jangan mengabaikan efektifitas tawa dalam membantu anda mendapatkan energi yang luar biasa besar untuk menghadapi segala macam tantangan. 290
  • 286. Memasuki Rumah Cahaya Satu hal yang anda perlu ingat baik-baik, tragedy paling menyedihkan adalah lelucon paling menggembirakan, bagi seorang comedian. Selamat tertawa… 291
  • 287. Memasuki Rumah Cahaya Jika anda mengenal Tuhan, Tuhan seperti apakah yang anda kenal? Apakah anda menganggap bahwa anda telah demikian dekat dengan Tuhan? Apakah anda meyakini bahwa anda mengenal Tuhan dengan segala kebesaran-Nya? Jika anda benar-benar mengenal Tuhan, dari mana anda mengenal-Nya? Dan, Tuhan seperti apakah yang anda kenal? Benarkah anda telah mengnal Tuhan sebagaimana adanya Beliau? Atau anda malah salah mengenali sesuatu yang bukan Tuhan sebagai Tuhan? Setelah sebelumnya membahas tentang bagaimana berbicara dengan Tuhan, sekarang, mari kita diskusikan bagaimana mengenal Tuhan. Bukan Tuhan sebagaimana yang anda persepsikan, namun Tuhan sebagaimana adanya Beliau. Tuhan sebagaimana adanya Beliau? Seperti apakah Beliau sejatinya? Namun sebelumnya, mari renungkan kembali, Tuhan seperti apakah yang anda kenal? Sayangnya, banyak orang yang mengaku mengenal Tuhan sebenarnya hanya meliki persepsi-persepsi tentang Tuhan. Persepsi yang dapat membantunya 292
  • 288. Memasuki Rumah Cahaya merasa tenang, terbantu dan persepsi-persepsi yang dapat menghiburnya. Contohnya? Misalkan anda sedang menghadapi masalah, maka anda akan memiliki persepsi seolah Tuhan adalah Sang Problem Solver yang akan menyingkirkan semua masalah yang anda hadapi. Celakanya lagi, bukan hanya mempersepsikan Tuhan sebagai Mahluk Agung yang akan menyelesaikan semua masalah anda, namun penyelesaian yang Tuhan gunakan untuk menyelesaikan masalah anda juga harus sesuai dengan bayangan anda. “Tuhan akan menyelesaikan masalahku. Dia pasti akan melakukan ini, itu, begini, begitu dan sebagainya untuk menyelesaikan masalah-masalahku”. Lalu apa yang kemudian terjadi saat harapan-harapan tersebut tidak dipenuhi oleh Tuhan? Kita mulai merasa bahwa Tuhan tidaklah seperti apa yang sebelumnya kita bayangkan. “Akh… ternyata Tuhan tidaklah Maha Pengasih. Dia tidak melakukan tugas-Nya untuk menolongku, dia tega melihat aku tetap dalam kesengsaraan begini”. Atau di lain kesempatan seseorang akan berkata, “Tuhan akan membalas semua kebaikan yang aku lakukan, meski orang yang aku berikan kebaikan itu tak tahu terima kasih”. Apakah yang melandasi semua kata-kata 293
  • 289. Memasuki Rumah Cahaya itu? Harapan bahwa Tuhan akan memberikan balasan dari kebaikan yang pernah kita lakukan, dan itu juga adalah cara kita menghibur diri setelah sakit hati mendapatkan perlakuan tidak tahu terima kasih seseorang. “Ingat, Tuhan akan membalas semua sumbangan yang kamu berikan berkali lipat. Karena itu menyumbanglah” kata orang lain yang memerlukan sumbangan. Dapat anda lihat, bahwa kita tidak benar-benar mengenal Tuhan. Kita hanya MEMPERSEPSIKAN Tuhan berdasar kepentingan dan pemikiran kita sendiri. Namun hal itu bukanlah hal yang salah. Saya menganggap semua itu hanya ekspresi dari orang yang begitu rindu untuk mengenal Tuhannya (untuk sebagian orang). Dan sekaligus Tuhan adalah cara yang sangat efektif untuk membujuk seseorang dalam melakukan sesuatu (untuk sebagian yang lain). Yang kemudian menjadi salah adalah, saat kita meyakini satu kebenaran tentang Tuhan, dan menganggap Tuhan yang kita kenal adalah Tuhan yang sebenarnya lalu menyalahkan orang lain yang mengenal Tuhan dengan “sosok” lain. Hal ini seolah menjadikan Tuhan hanya komoditas untuk kelompok tertentu saja. Lalu seperti apakah sejatinya Tuhan itu? 294
  • 290. Memasuki Rumah Cahaya Sabar… Sebelum membahas hal itu, sekali lagi, kita diskusikan dulu tentang persepsi negative kita terhadap Tuhan. Pertama, kebiasaan yang sangat buruk yang kita lakukan untuk melabel Tuhan adalah menjadikan-Nya kambing hitam atas segala hal yang terjadi dalam kehidupan kita. Jika mengkambing hitamkan orang lain saja adalah perilaku yang demikian tidak terpujinya, bagaimana mungkin kita terbiasa menjadikan Tuhan Yang Maha Mulia yang menciptakan kita dan seluruh kehidupan sebagai kambing hitam? Jawabannya sederhana. Tuhan menjadi objek pengkambing hitaman yang strategis karena toh Tuhan tidak akan muncul dan membela diriNya atas tuduhan kita itu, apa lagi akan menuntut balik kita ke pengdilan dengan tuduhan pencemaran nama baik. Namun sadarlah, bahwa apa yang kita lakukan terhadap Tuhan akan sangat menghambat pertumbuhan spiritual kita, bukan malah akan membuat Tuhan marah atau tercemar kesucian-Nya. “Tuhan, kenapa Kau setega ini padaku?”, protes kita pada Tuhan, “kenapa kau membuat hidupku menjadi begitu sengsara?”. 295
  • 291. Memasuki Rumah Cahaya Kita mengakui bahwa Tuhan Maha Pengasih, namun kita juga menyalahkan Tuhan atas segala ketidak adilan yang kita alami. Aneh, bukan? Jika Tuhan memang Maha Pengasih, maka Tuhan tidak akan memberikan kita kesengsaraan dengan alasan apa pun. Mulailah mengambil tanggung jawab terhadap kehidupan kita dengan mengakui bahwa segala yang terjadi pada kita adalah karena akumulasi dari apa yang kita pikirkan, ucapkan dan lakukan. Kebiasaan kedua kita yang juga sama negatifnya yaitu menjadikan Tuhan sebagai komoditi dagang. Kita menjadikan Tuhan sebagai salah satu cara yang sangat menguntungkan untuk memperoleh keuntungan pribadi. Kita “menjual” nama Tuhan untuk memperoleh apa yang kita inginkan. Apa pun bentuknya, anda dapat menilai sendiri realisasinya dalam kehidupan anda. Kebiasaan ketiga yaitu, menjadikan Tuhan sebagai alasan untuk MENYERAH. Kita bersikap seolah begitu yakin akan pertolongan Tuhan, kita bersembunyi di balik kata suci “keikhlasan” untuk menyerah dari segala tantangan hidup yang sedang kita hadapi. Kita menganggap hal itu “keikhlasan” padahal sejatinya semua itu hanya “kemalasan” yang mengekspresikan kelemahan kita dan keengganan kita untuk terus berusaha dan berjuang. 296
  • 292. Memasuki Rumah Cahaya Semua perilaku ini, sekali lagi, tidak akan mempengaruhi Tuhan. Tidak akan mengurangi kesucian Tuhan atau membuat Beliau marah. Kita terlalu kecil untuk dapat mempengaruhi keagungan Beliau. Namun, sekali lagi, perkembangan spiritual kitalah yang akan terhambat. Kitalah yang akan menerima kerugian dari semua perilaku itu. Terlalu membiasakan diri dengan sosok Tuhan seperti yang ada dalam persepsi kita akan menjadikan kita jauh dari sosok Tuhan yang sebnarnya. Nah, sekarang kita bisa mulai membicarakan sosok Tuhan yang misterius itu, seperti apa adanya Beliau. Seperti kalimat saya tadi, Tuhan adalah sosok yang misterius. Misterius sekaligus special. Misterius karena tak banyak yang mampu benar-benar mengenal Beliau (kecuali guru-guru spiritual yang telah benar-benar memperoleh pencerahan). Special karena pengalaman satu orang dengan orang lain dalam mengenal Tuhan akan berbeda. Hal pertama yang ingin saya tekankan adalah, apa pun persepsi kita akan Tuhan adalah Tuhan itu sendiri. Namun ingat, Tuhan jauh melampaui apa yang mampu kita pahami dan persepsikan. Karena Tuhan adalah segalanya. 297
  • 293. Memasuki Rumah Cahaya Saya tidak mungkin memperkenalkan Tuhan pada anda. namun, jika anda ingin mengenal Tuhan dengan segala Kebenaran Beliau, maka langkah pertama yang harus kita lakukan adalah menyingkirkan segala persepsi dan ekspektasi kita terhadap Beliau. Berhentilah bersikap seolah anda telah mengnal Beliau dengan baik, dan berhentilah mengharapkan Beliau akan menjadi seperti apa yang kita harapkan sesuai dengan persepsi kita. Biarkan Tuhan mengungkapkan misteri-Nya sendiri pada anda. Bukan orang lain atau buku-buku yang berhak member tahu anda tentang siapa sejatinya Tuhan. Tetapi Beliau sendirilah yang berwenang memperkenalkan diri-Nya sendiri pada anda. Namun sebagaimana yang dikatakan oleh seorang mistikus Jerman, Meister Eckhart, jika gelas hendak diisi dengan susu, maka airnya harus dituangkan dulu. Jika anda ingin Tuhan mengisi hati anda dengan “wujud beliau” yang sebenar-benarnya, maka singkirkan dulu segala persepsi dan ekspektasi kita terhadap Beliau. Namun, agaknya sulit menyingkirkan persepsi dan ekspektasi kita terhadap Tuhan, karena semua persepsi dan ekspektasi kita itu telah terlanjur melekat kuat dalam pikiran kita. Namun ingat, sulit bukan berarti tidak mungkin. 298
  • 294. Memasuki Rumah Cahaya Hal penting yang perlu kita lakukan adalah menyingkirkan segala motivasi-motivasi personal kita dalam menjalin hubungan dengan Tuhan. Cintailah Tuhan apa adanya, tanpa motif atau alas an apa pun. Tanpa mengharap dengan menjalin kedekatan dengan Tuhan kita akan selamat dari segala bahaya, mendapat peruntungan yang lebih baik dan perlindungan dari bencana. Cintailah Tuhan tanpa alasan apa pun. Semakin bersih hati anda dari persepsi dan ekspektasi, semakin cepat Tuhan akan mengungkapkan Diri-Nya pada anda. Beliau akan menghadirkan sebuah pengalaman yang special hanya untuk anda. pada saat itu, anda tidak akan memerlukan lagi buku atau guru mana pun yang bisa memperkenalkan anda pada-Nya, karena anda telah Tuhan sendirilah yang telah “memperkenalkan” Diri-Nya sendiri pada anda, dengan pengalaman yang sangat personal dan special. 299
  • 295. Memasuki Rumah Cahaya Jika orang baik selalu menderita, apakah anda masih akan menjadi orang baik? Salah satu guru yang sangat saya hormati pernah mengatakan, bahwa menjadi orang baik adalah hal yang berbahaya. Salah satu dosen yang mengajar saya di kampus juga kerap kali mengatakan bahwa menjadi orang baik itu susah. Namun keduanya juga mengatakan, bahwa kesusahan dan bahaya tersebut akan mengantarkan kita pada satu tempat yang penuh kemuliaan. Saya sangat menyukai salah satu petikan cerita dalam kehidupan Yesus Kristus. Seperti yang kita tahu, Beliau mendapatkan begitu banyak perlakuan tidak adil. Kadang dicela, kadang dihina, kadang malah difitnah. Padahal Beliau hanya menebarkan ajaran luhur tentang cinta kasih, sambil terus menjadi tauladan dan contoh sempurna dari cinta kasih tersebut, dengan terus membalas celaan, makian dan fitnah dengan cinta dan kebaikan. Hal ini tentu membuat muridnya heran, kenapa kok bisa Beliau sebaik itu. Dan saat sang murid menanyakannya langsung pada Beliau, Yesus berkata, “seseorang hanya dapat memberikan apa yang ada dalam kantong mereka. Isi kantong-Ku hanya cinta kasih, jadi aku hanya mampu memberikan cinta kasih meski pun bagaimana mereka memperlakukan Aku”. 300
  • 296. Memasuki Rumah Cahaya Dalam pengalaman pribadi saya, saya juga mendapatkan kesempatan untuk merasakan bagaimana pahitnya menjadi orang baik. Namun, ada yang pengalaman salah seorang teman saya yang kiranya lebih ingin saya ceritakan di sini, untuk menghormati kebaikan hatinya itu. Teman saya itu pernah memiliki pengalaman dipermainkan hati dan perasaannya oleh orang yang sangat dia cintai. Namun, dia memendam sendiri lukanya dan tetap menunjukan sikap yang penuh cinta pada orang yang dicintainya, meski dia diperlakukan seperti apa pun. Lama setelah dia akhirnya ditinggalkan oleh orang yang sangat dicintainya ke pelukan lelaki lain, dia tetap tidak membiarkan hatinya dikotori oleh sampah-sampah seperti kebencian atau dendam. Dan suatu saat dia menemukan wanita lain untuk dicintai. Sayangnya, nasibnya tak jauh berbeda dengan apa yang dulu-dulu dia alami. Saat hubungan telah berjalan lebih dari dua tahun, dia mendapatkan fakta yang mengejutkan. Pacarnya yang ini juga meninggalkannya bersama lelaki lain. Namun pacarnya itu enggan melepaskan dia karena dia masih bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal. Dan parahnya lagi, dia telah diselingkuhi berkali-kali oleh wanita itu. 301
  • 297. Memasuki Rumah Cahaya Saat pacarnya selingkuh, dia tentu merasa kecewa dan sedih, namun dia tetap memaafkan dan memberinya kesempatan. Saat perselingkuhan yang sama terulang, dia memaafkan lagi. Hingga akhirnya si wanita jelasjelas memilih lelaki lain (yang adalah teman dari teman saya), teman saya itu hanya bisa merestui semoga hubungan mereka selalu bahagia. Dia begitu merelakan orang yang sangat dia cintai pergi bersama orang lain, yang adalah temannya sendiri, meski dia merasa sakit. Secara pribadi, saya sangat mengagumi kebesaran jiwa teman saya itu. Saya terkadang iri dengan kemulianya itu, kenapa dia terus saja menanam kebaikan dan kasih sayang, meski perlakuan yang dia dapatkan adalah perlakuan yang tak adil seperti itu. Dia tetap menjadi orang baik, meski kebaikannya telah banyak menyakitkannya. Tokoh-tokoh kaliber dunia pun banyak yang kebaikannya patut kita tauladani. Misalkan satu kejadian saat Paus Johannes Paulus II ditembak oleh orang yang tidak dikenal, beliau bukannya mengumpulkan banyak argumen dan tuntutan agar sang penembak dapat dihukum seberat mungkin, namun malah datang ke penjara untuk merestui dan memaafkan orang yang telah menembaknya. 302
  • 298. Memasuki Rumah Cahaya Salah satu cerita kesukaan saya adalah cerita yang pernah disampaikan oleh Yang Mulia Dalai Lama XIV. Konon ada seorang bikku Tibet yang telah lama mendapatkan siksaan dan perlakuan yang tidak sepantasnya dari pemerintah Cina. Namun, saat ditanya apa yang paling dia takutkan dari Cina, jawaban sang Bikku teraniaya tersebut sangat menggetarkan hati, “saya hanya takut nanti saya membenci Cina atas perlakuannya ini”. Saya yakin, masih banyak lagi orang-orang baik yang bertebaran di dunia ini, dan di sekitar anda, yang meski mereka mendapatkan perlakuan yang tidak adil seperti apa pun, mereka tetap menjaga hatinya agar senantiasa diisi oleh kebaikan. Mereka seolah tak perduli dengan comohan orang yang menganggap kebaikan mereka sebagai kebodohan, mereka bahkan tak perduli saat kebaikan yang mereka lakukan berbalas perlakuan yang malah menyakitkan hati, mereka tidak mengutuk penderitaan yang mereka dapat sebagai balasan atas kebaikannya sebagai ketidak adilan. Mereka seolah merefleksikan kata-kata Yesus, bahwa orang hanya akan memberikan apa yang mereka miliki dalam kantong hati mereka. Mereka akan memberi cinta jika dalam hati mereka diisi oleh cinta, dan menberi kebencian jika isi dalam hati mereka adalah kebencian. 303
  • 299. Memasuki Rumah Cahaya Nah, sekarang mari kita merenung sejenak. Kira-kira apakah yang mengisi kantong hati anda? Apakah anda bisa tetap mempertahankan kebaikan hati anda meski balasan yang anda dapatkan adalah ketidak adilan? Mungkin dalam pikiran anda yang kritis, terbisik tertanyaan, “kenapa saya harus terus berbuat baik jika saya diperlakukan secara tidak adil?”. Pertanyaan tersebut sangat wajar untuk dilontarkan oleh orang yang menjadi korban ketidak adilan. Dan ijinkan saya menjawab pertanyaan tersebut, “karena anda sedang diberikan sebuah KESEMPATAN untuk memuliakan diri”. Dan bukan hanya itu, “anda juga sedang mendapat tugas untuk menginspirasi dunia anda dengan kemuliaan tersebut”. Hanya orang-orang yang demikian mulianya yang akan bisa membalas kejahatan dengan kebaikan. Atau dalam bahasa Yesus, menunjukan bahwa isi kantongnya adalah cinta. Namun bagaimanakah kita dapat memiliki kesempatan untuk menunjukan bahwa kita adalah mahluk mulia yang dapat menanggapi ketidak adilan dengan cinta? Tentu saja dengan mengalami ketidak adilan! Sebab, saat mengalami ketidak adilan anda akan benarbenar diberikan kesempatan untuk menunjukan SIAPA ANDA sejatinya. Anda adalah orang jahat saat anda 304
  • 300. Memasuki Rumah Cahaya membalas kebaikan dengan kejahatan, anda adalah orang biasa jika anda membalas kejahatan dengan kejahatan, dan anda adalah seorang yang mulia jika anda membalas kejahatan dengan kebaikan. Kapan pun anda mengalami ketidak adilan, kapan pun kebaikan anda diuji daya tahan dan ketulusannya, saat itulah Tuhan sedang memberikan anda kesempatan untuk menunjukkan pada dunia tentang sifat-sifat mulia. Dan kemuliaan itu menular. Karena saat anda menunjukan satu sifat mulia, anda juga akan menginspirasi seseorang untuk melakukan kemuliaan yang sama. Di dunia dimana kejahatan dan kenegatifan menjadi hal biasa seperti sekarang ini, hanya kemuliaan yang akan mebawa keteduhan. Dan keteduhan itu akan sangat berarti meski anda belum mampu bersikap seluhur teman saya tadi, Paus Johannes Paulus II, atau Bhikku yang diceritakan Yang Mulia Dalai Lama. Teman saya tidaklah seterkenal Paus Johannes Paulus II, sehingga kebaikan dan ketulusan hatinya bisa dikenal oleh seluruh dunia. Namun kebaikan dan kemuliaan yang dilakukan teman saya, yang meski pun tampak sederhana jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan orang-orang besar, juga begitu menginspirasi dan menyentuh hati kerabat dan orang-orang di sekitarnya. 305
  • 301. Memasuki Rumah Cahaya Dunia telah memiliki begitu banyak orang biasa dan orang jahat. Dunia merindukan orang-orang mulia yang bisa menebarkan keteduhan. Dunia merindukan anda untuk menjadi salah satu orang mulia tersebut. Apakah anda akan mengambil kesempatan untuk memuliakan diri ini? Dan ingat, kebaikan yang anda lakukan tidak lah memiliki tujuan atau motif apa pun. Anda hanya perlu melakukan kebaikan-kebaikan itu sebagai ekspresi sifat dasar atau fitrah anda sebagai mahluk mulia. Dan tak perlu ada orang yang tahu atau memuji kebaikan anda, sebab semua yang anda lakukan hanyalah tentang anda dengan Tuhan, seperti yang dinasehatkan Bunda Teresa. Jika anda tahu bahwa besok anda akan mati, apakah yang akan anda lakukan hari ini? Menikmati kehidupan, menikmati ksederhanaan. Membuat orang tersenyum, mensyukuri hal-hal kecil, menikmati hal-hal sederhana, menebar kebajikan, kebahagiaan dan keceriaan Apakah anda tahu kapan anda akan meninggalkan dunia ini? Saya yakin kebanyakan dari anda pasti akan menjawab “tidak”. Lalu bagaimana jika ternyata besok pagi anda ditakdirkan untuk meninggal? Apakah yang akan anda 306
  • 302. Memasuki Rumah Cahaya lakukan untuk mengisi hari ini yang adalah hari terakhir dalam kehidupan anda? Saya tidak menulis bab ini dengan tujuan untuk menakut-nakuti anda atau membuat mood anda menjadi buruk. Namun, saya ingin anda mulai memikirkan hal-hal sederhana yang tadinya anda anggap tidak penting, agar bisa mendapatkan perhatian lebih dari anda. Jadi, saya mohon anda memikirkannya dengan serius, jika ternyata besok anda harus meninggalkan dunia ini, apakah yang akan anda lakukan untuk melewatkan hari terakhir dalam kehidupan anda ini? Jika anda memiliki respon yang positif terhadap pertanyaan tadi, maka anda pasti langsung memikirkan berbagai hal positif untuk mengisi hari-hari terakhir anda. Namun jika respon anda negatif, maka the last day anda pun akan deprogram oleh aktifitas atau hal-hal negatif. Apakah anda ingin kelak dikenang sebagai orang yang negatif? Jika tidak, maka mari kita program the last day kita dengan hal-hal positif. Pertaman-tama, mari kita mulai dengan kata yang merupakan salah satu kata paling dahsyat dalam kehidupan, “terimakasih”. Seberapa seringkah anda menghargai segala yang orang lain lakukan (entah istri, 307
  • 303. Memasuki Rumah Cahaya suami, anak, sahabat, atau pembantu rumah tangga, atau petugas pom bensin)? Banyak orang yang sangat beruntung, menerima begitu banyak kebaikan dari orang lain sehingga menganggap kebaikan itu adalah hal yang biasa, lalu lupa hanya untuk mengatakan “terimakasih”. Menjadi tidak terbiasa dengan rasa terimakasih terhadap apa yang orang lain lakukan adalah hal yang biasa kita jumpai, namun bukan hal yang baik untuk dibiasakan. Kita menganggap bahwa hal-hal sederhana memang tidak perlu mendapat ucapan terimakasih. Namun anda pasti lupa, bahwa dengan rasa terimakasih tersebut orang yang tadinya hanya melakukan kebaikan sederhana akan termotivasi untuk melakukan lebih dari sebelumnya. Rasa terimakasih seperti pupuk yang akan membuat bibit kebaikan tumbuh makin lebat dan subur. Lalu, kata dahsyat kedua yang sebaiknya anda gunakan untuk memprogram hari terakhir anda yaitu, “maaf”. Manusia adalah mahluk yang belum sempurna. Anda dan saya belum sempurna, dan orang lain belum sempurna. Dan karena ketidak sempurnaan tersebut, maka anda pasti pernah melakukan kesalahan pada orang lain, demikian juga orang lain pasti pernah melakukan kesalahan pada anda. 308
  • 304. Memasuki Rumah Cahaya Saat secara tidak sengaja (atau mungkin tidak sengaja melakukan kesengajaan) anda melakukan kesalahan pada orang lain, apakah anda ingat untuk meminta maaf dengan tulus pada mereka? Atau anda pura-pura lupa dengan kesalahan anda karena anda terlalu gengsi untuk minta maaf? Atau malah anda hanya sekedar meminta maaf hanya untuk memutus perkara agar tidak berlanjut, bukan karena ketulusan hati anda? Kemudian, saat orang lain secara tidak sengaja berbuat kesalahan pada anda karena ketidak sempurnaannya, apakah anda akan memaafkan? Apakah anda hanya memaafkan karena terpaksa? Atau apakah anda memaafkan asalkan anda telah memperoleh balasan yang setimpal? Atau anda harus menunggu orang tersebut memohon-mohon dan menyembah kaki anda dulu sebelum bisa memaafkan? “Maaf” adalah kata yang mengandung energi kesembuhan. Terutama dari berbagai macam penyakit emosional. Maaf akan dengan signifikan mengeliminir stress, frustasi, dendam, amarah, kecewa dan berbagai emosi negative lainnya. Namun dibutuhkan kata maaf yang memang benar-benar tulus. Apakah anda mengalami satu kekecewaan yang besar terhadap seesorang? Atau dendam dan kebencian yang malah menyakitkan anda? jika iya, maka anda memerlukan obat berupa maaf yang dilandasi ketulusan. 309
  • 305. Memasuki Rumah Cahaya Sering kali kita membuat diri kita mengalami penderitaan yang tidak perlu dengan menyimpan tumpukan rasa kecewa, benci dan dendam baik terhadap orang lain maupun dan diri sendiri. Dan obat bagi semua itu hanyalah dengan “memaafkan”. Memaafkan akan menghadirkan keteduhan dan kesembuhan bagi setiap penderitaan emosional yang anda alami. Berhentilah menuntut agar setiap orang bisa bersikap sempurna sehingga tidak pernah melakukan hal-hal yang dapat mengecewakan anda. maafkanlah ketidak sempurnaan mereka. Berhenti pula menganggap diri anda sempurna sehingga anda akan menghukum dan menyiksa diri saat anda melakukan kesalahan. Maafkanlah diri anda atas semua yang pernah dilakukannya dan atas semua yang pernah dialami. Saat anda menyirami jiwa anda dengan maaf, maka hidup secara drastis menjadi lebih tenang, tenteram, dan kebahagiaan hadir dengan lembut. Sedalam apa pun kekecewaan dan kebencian yang anda simpan karena sesuatu yang pernah anda alami, toh semua itu sudah berlalu. Anda hanya akan merugikan diri sendiri dengan tetap menyimpan kekecewaan dan amarah tersebut. Lupakan pengalaman tersebut, maafkan semua yang pernah terlibat (diri anda sendiri, orang lain dan keadaan itu sendiri), lalu jadikan kejadian 310
  • 306. Memasuki Rumah Cahaya atau pengalaman tersebut sebagai guru yang akan memperbijak anda. Sekarang, mulailah menghubungi orang yang kepadanya anda perlu untuk meminta maaf (entah karena kesalah besar atau kesalahan kecil yang anda anggap tidak penting, karena mungkin saja kesalahan kecil yang anda lakukan menorehkan luka yang mendalam untuk orang lain). Mungkin orang tersebut adalah sahabat lama yang telah lama tidak anda jumpai, tetangga anda, pembantu rumah tangga anda, anak-anak anda atau malah mungkin orang tua anda. Lalu, bayangkan sebuah situasi atau keadaan di masa lalu di mana anda merasa sangat kecewa dan marah karena suatu hal. Visualisasikan hal itu seolah hadir lagi di masa kini dan anda mengalaminya lagi. Dan, dengan tulus maafkanlah semua orang yang telah mengecewakan anda, maafkanlah diri anda yang telah mengalami kekecewaan tersebut, dan maafkan situasi atau kondisi yang menghadirkan kekecewaan tersebut. Terlepas dari pengalaman menyedihkan dan mengecewakan tersebut, mungkin ada satu saat dimana anda harus memberikan waktu khusu untuk membawa kembali ke masa dimana ada orang yang sangat mengecewakan anda. luangkan waktu secara khusus untuk memberinya maaf. Lalu mungkin ada juga saatsaat dimana anda merasa sangat kecewa dan marah pada 311
  • 307. Memasuki Rumah Cahaya diri sendiri. Luangkanlah waktu untuk secara khusus memaafkanlah diri anda secara tulus. Anda akan merasakan kedamaian yang lembutu mulai menerobos masuk ke sela-sela tulang rusuk anda setelah melakukan latihan sederhana tersebut. Setelah anda menebarkan kedamaian dan kebahagiaan pada diri anda dan lingkungan anda dengan “terimakasih” dan “maaf”, sekarang waktunya untuk menjalin keakraban dengan Tuhan melalui kata “syukur”. Banyak kita telah menerima anugerah dalam kehidupan kita. Namun sebanyak itu pula kita lupa untuk mensyukurinya. Sedari lahir kita telah mendapat anugerah berupa kehidupan di dunia ini, kemudian kita mendapat keberuntungan untuk dibesarkan dengan kasih sayang. Belum lagi berbagai anugerah kecil yang kadang kala lupa anda syukuri karena anda menganggapnya terlalu biasa. Renungkan, jika anugerah yang biasa saja lupa anda syukuri, bagaimana Tuhan akan memberikan anda anugerah yang luar biasa? Seseorang dengan rasa syukur yang melimpah adalah orang dengan anugerah yang melimpah. Namun seseorang yang kurang rasa syukurnya, maka dia akan tetap merasa kekurangan meski dalam keberlimpahan. 312
  • 308. Memasuki Rumah Cahaya Kenapa orang yang penuh syukur hidupnya senantiasa bahagia? Karena hal-hal sederhana ia syukuri dengan penuh rasa haru terhadap Tuhan yang menganugerahkannya. Dan kenapa orang yang kurang rasa syukurnya tidak bisa tersenyum dalam keberlimpahan? Karena dia senantiasa merasa kurang dan kurang. Jangan menunda syukur sampai anda mendapatkan mujizat yang luar biasa. Belajarlah dengan mensyukuri hal-hal sederhana, yang kadang anda lupakan. Karena saat anda terbiasa mensyukuri hal-hal sederhana, maka Tuhan akan dengan senang hati menunjukan keberlimpahan-Nya pada anda. Tanpa bermaksud membandingkan Tuhan Yang Maha Mulia dengan apa pun (karena memang aidak ada apa pun yang mampu membandingi-Nya), bayangkan jika Tuhan adalah seorang manager, yang jika anda disuruh mengelola uang sejuta saja tidak bisa, bagaimana bisa anda akan dipercaya untuk mengelola satu millyar? Terlepas dari ketiga kata luar biasa tersebut, sekarang mari kita lakukan hal-hal yang lebih sederhana untuk mengisi the last day kita. Pernahkah anda membuat seseorang tersenyum girang dan melupakan semua bebannya? Jika ‘tidak’, maka mulailah melakukan hal tersebut, mulai dari orang 313
  • 309. Memasuki Rumah Cahaya terdekat anda, sampai pada orang yang paling jauh dari lingkungan anda. Kembangkan sejauh mungkin bibitbibit senyum tersebut. Pernahkah anda menjadi orang yang senantiasa disyukuri kehadirannya oleh orang lain? Jika tidak, bagaimanakah anda dapat membuat kehadiran anda mengundang rasa syukur di hati orang lain, bukan malah membuat orang jadi “bad mood”? Anda tidak perlu melakukan hal-hal besar (namun tentu tidak dilarang juga jika anda hendak melakukan hal-hal besar), cukup lakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar, sebagaimana dinasehatkan Bunda Teresa. Mulailah dengan menebarkan senyum kedamaian di bibir setiap orang (dengan memulainya dari bibir anda), mulailah berbicara dengan kata-kata yang santun dan meneduhkan, mulailah berjalan dengan anggun dan sopan, mulailah hal apa pun yang bisa membuat orang lain merasa teduh berada di dekat anda. jadilah pendengar yang baik saat ada rekan anda berbicara, jadilah pembicara yang bijak saat rekan anda membuutuhkan nasehat. Wah… wah… secara garis besar, telah ada empat program yang kita susun untuk mengisi the last day kita. Kita tidaklah benar-benar tahu apakah besok kita masih hidup ataukah telah “pergi”. Dan karena kita tidak tahu 314
  • 310. Memasuki Rumah Cahaya pasti, kenapa kita tidak mulai melakukan semua hal yang telah kita programkan tadi? Seorang penceramah pernah mengeluarkan lelucon yang sangat bijak. Beliau berkata, cara paling mudah untuk mengecek apakah setelah seseorang meninggal akan masuk surga atau neraka adalah dengan mengecek seberapa banyak orang yang menangis atas kematiannya. Semakin banyak orang yang menangis untuk anda, semakin kudah jalan untuk anda masuk surga. Tentu saja agar banyak orang menangisi kematian anda kelak, berikan lah mereka alas an untuk menangis karena kehilangan anda (bukan malah mensyukuri kematian anda) dengan menjadi pribadi yang senantiasa dirindukan kehadirannya. Semakin sukses anda menerapkan program-program di atas, maka akan semakin dirindukan kehadiran anda di hati orang-orang di sekitar anda, karena semakin berarti kehadiran anda di tengah-tengah mereka. 315
  • 311. Memasuki Rumah Cahaya Saat anda merasa bahwa hidup tidaklah seindah yang anda bayangkan, maukah anda memperindahnya? Apakah anda menginginkan kehidupan yang bergelimang keindahan? Dan jika “iya”, apakah kehidupan anda kini seindah yang anda impikan? Jika “tidak”, maukah anda memperindahnya dan menjadikannya seindah yang anda inginkan? Kebanyakan dari kita menginginkan kehidupan yang indah dan nyaman, namun tidak banyak dari kita yang dengan aktif mewujudkan impian kita untuk menjadikan kehidupan seindah itu. Kita hanya menunggu keajaiban yang akan merubah kehidupan kita yang tadinya suram menjadi cerah dan ceria. Kita menunggu pertolongan malaikat, Tuhan, atau siapa saja, yang penting bukan kita sendiri yang menolong diri sendiri. Namun saya tanya kepada anda yang sekarang hidupnya tidak seindah yang anda angan-angankan, akankah anda menunggu pertolongan Tuhan (yang entah kapan datangnya) atau berusaha membantu Tuhan menolong diri anda dengan mulai menolong diri anda sendiri? Umpama anda sedang tersesat dalam sebuah labirin, apakah anda akan menunggu seseorang membawakan anda peta, atau anda akan memberanikan diri mencoba mencari jalan-jalan yang siapa tahu saja mengantarkan anda keluar? 316
  • 312. Memasuki Rumah Cahaya Menerima kenyataan bahwa kita adalah orang yang paling bertanggung jawab untuk hidup kita adalah hal yang mengerikan. Mengerikan karena kita takut dengan semua konsekuensi yang nanti timbul dari tanggung jawab tersebut. Takut jika nanti kita bertanggung jawab untuk perbaikan hidup kita, maka kita akan menggunakan begitu banyak waktu dan tenaga, hal itu akan melelahkan dan mungkin menyakitkan. Kita takut tidak mampu melakukannya, bahkan sebelum kita mencobanya. Dan, bagi anda yang telah bosan MENUNGGU segalanya menjadi baik dan hendak melakukan langkahlangkah perbaikan untuk MEMBUAT kehidupan anda menjadi lebih indah, maka bersiaplah untuk sebuah PERUBAHAN. Hal pertama yang harus kita tahu adalah, kenapa ada perbedaan tingkat kebahagiaan hidup antara satu orang dengan orang lainya? Dan jawabanya adalah, karena ada perbedaan tingkat kebersyukuran antara satu orang dengan orang lainya. Semakin seseoraang itu bersyukur ats hidup dan kehidupanya, maka akan semakin bahagia hidupnya (saya telah menyinggung hal ini sebelumnya). Dengan pernyataan seperti di atas, berarti orang yang paling bahagia di dunia adalah orang yang paling bersyukur atas hidup dan kehidupanya? Jawabanya, iya! Apakah itu berarti merekan mereka memiliki banyak 317
  • 313. Memasuki Rumah Cahaya alas an untuk bersyukur, seperti harta, pasangan hidup yang ideal dan sebagainya? Jawabanya, tidak! Seseorang yang paling bisa bersyukur bukanlah orang yang punya banyak alas an untuk bersyukur, setidaknya bukan alas an-alasan seperti yang anda piker harus anda syukuri. Beberapa dari mereka begitu mensyukuri halhal sederhana, begitu tergerak hatinya bahkan oleh sehelai daun yang gugur dengan anggun dari pepohonan ke tanah. Sedangkan beberapa yang lainya, yang telah terbiasa mensyukuri hal-hal sederhana, mereka mensyukuri satu hal, kesempurnaan hidup. Baik, pertama mari kita bahas mengenai jenis orang pertama, yang senantiasa mensyukuri hal-hal sederhana. Jika hal sederhana saja disyukuri, bagaimana mungkin mereka bisa lupa untuk mensyukuri hal-hal besar? Dan jika hal-hal sederhana yang Tuhan berikan saja sudah demikian mereka syukuri, Tuhan pasti tergerak untuk memberikan anugerah yang lebih besar. Jika setelah satu hari yang penuh kesibukan, hati anda kemudian terhibur karena secara tidak sengaja melihat senja yang indah, dengan langit keemasan dan matahari emas yang nyaris tenggelam, ingatkah anda untuk bersyukur? Jika di suatu waktu, dimana anda tidak memiliki kegiatan, tidak ada hal yang harus anda lakukan sesuai 318
  • 314. Memasuki Rumah Cahaya dengan agenda anda, apakah anda tergerak untuk pergi ke taman, menikmati indahnya bunga yang sedang mekar, mensyukuri indahnya segala yang Tuhan ciptakan? Ingat, anda tidak bisa menciptakan sekuntum bunga yang sederhana itu! Sementara orang bahagia dengan syukur jenis kedua, yang tidak perlu lagi melatih mensyukuri sesuatu yang sederhana atau sebuah maha karya, yang tidak perlu lagi membiasakan otaknya dengan kata “syukur”, adalah orang yang paling bahagia. Kehidupan adalah satu system yang sempurna, dan kesempurnaan itu sendirilah yang mendatangkan kebahagiaan. Kesempurnaan itulah yang mendatangkan syukur. Satu alas an untuk mensyukuri segalanya. “Bagaiamana bisa kehidupan itu sempurna jika banyak penyakit, kemiskinan, distorsi social dan perilakuperilaku amoral?” Tanya sebagian orang. Dan, jawabanya, “apa yang membuat anda berpikir bahwa perilaku-perilaku amoral, kemiskinan, kejahatan, dan penyakit merupakan ketidak sempurnaan?” Justru kesemuanya itu (perilaku-perilaku amoral, kemiskinan, kejahatan, dan penyakit ) memang bagian dari satu kesempurnaan. Apa yang anda anggap “tidak sempurna” dalam perspekstif pribadi anda sejatinya adalah bagian dari satu kesempurnaan. 319
  • 315. Memasuki Rumah Cahaya Kebiasaan kita berpikir dalam bagian-bagian, membuat apa yang anda lihat tampak tidak sempurna. Seperti jika anda hanya memandang satu keeping puzzle, maka anda akan mendapati satu yang tidak indah. Namun jika keseluruhan kepingan puzzle itu disusun menjadi satu, maka akan terbentuk satu gambaran yang sempurna. Memandang dalam keseluruhan akan menampakan kesempurnaan pada anda, bahwa apa yang ada memang adalah sesuatu yang indah karena menjadi bagian dari keseluruhan yang sempurna tersebut. Ketidak mampuan kita dalam “menyusun” kepingankepingan puzzle kehidupan lah yang menjadikan kita tidak mampu juga menikmati kesempurnaan hidup (karena kita tidak melihat gambaran menyeluruhnya, atau dalam bahasa lain, maksud sejati kenapa semuanya tercipta). Namun, kemampuan melihat kesempurnaan hidup, yang menjadi alas an sangat kuat untuk anda menjadi bahagia dan sangat mensyukuri hidup anda akan datang seiring proses, proses dimana anda belajar mensyukuri semua hal yang anda lihat, semua rasa yang anda rasakan, semua suara yang anda dengar, semua aroma yang anda hirup, semua hal. Tanpa satu pun membuat penilaian atau penghakiman. Kebiasaan kita untuk membuat penilaian atau label terhadap apa yang kita lihat, dengar, rasakan dan hirup 320
  • 316. Memasuki Rumah Cahaya adalah alas an kita tidak bisa bersyukur. Sebab pastilah sulit mensyukuri hal yang menurut kita adalah “jelek”. Hentikan penilaian, dan syukuri saja sesuatu itu ada. Jadi, jika disimpulkan, bagaimanakah cara kita memperindah kehidupan kita (di dunia dan kehidupan yang memang sejatinya SUDAH INDAH DARI SANANYA)? Pertanyaanya terdengar sama seperti, bagaiamankah cara kita melihat wajah kita yang cantik di cermin? Caranya adalah, bersihkan cerminya. Jika anda melihat wajah anda yang indah dari cermin hitam yang rusak dan pecah, maka cermin tersebut justru akan memperlihatkan wajah anda seolah buruk rupa. Hati anda tak ubahnya cermin itu. Kehidupan yang indah hanya akan mampu dilihat oleh hati yang telah bersih dan bebas dari debu-debu keserakahan, penilaian, penghakiman, keegoisan dan keangkuhan. Jika hati anda telah menjadi indah dan dibersihkan oleh untaian syukur, maka kehidupan yang memang indah itu akan tampak indah dengan sendirinya. Sederhana, bukan? Namun untuk mampu menguasai kesederhanaan ini, anda memerlukan proses pembiasaan. Anda perlu sedikit melatih hati anda agar sedikit lebih sensitif dalam melihat dan menikmati segala hal yang ada dalam hidup anda, dan lalu mensyukurinya. 321
  • 317. Memasuki Rumah Cahaya Mulailah latihan syukur anda dengan bersyukur telah diberi kesempatan oleh Tuhan untuk membaca buku ini… 322
  • 318. Memasuki Rumah Cahaya Jika Ternyata Tuhan Telah Menolong Anda, Apakah Anda Menyadari Pertolongan Itu? Saat saya mengalami tekanan yang sangat besar dalam hidup saya, dimana seluruh aspek hidup saya sedang berubah, menjadi penuh derita, saya pergi ke sebuah center meditasi. Di center meditasi itu saya melakukan semacam retreat yang berlangsung selama satu minggu, tanpa bicara, tanpa membaca, menulis, memakai alatalat komunikasi, makanan vegetarian, dan jadwal meditasi rata-rata 8 jam setiap harinya. Saat itulah saya mendengarkan sebuah ceramah dari guru meditasi saya. Beliau menyampaikan cerita dari Anthony De Mello, yang sebenarnya telah sering saya dengar sebelumnya. Namun saat itu saya benar-benar tersentuh kembali karena cerita tersebut. Dan saya ingin berbagi (lagi) cerita itu sekarang. Karena pada saat cerita itu disampaikan lagi pada saya, saya tidak begitu berminat untuk mendengarkan, sampai kemudian saya tersentak karena merasa benar-benar dinasehati dengan cerita itu, lagi. Di sebuah tempat, hiduplah seorang pria religious dan sangat taat serta memiliki keyakinan yang demikian besarnya pada Tuhan. Pria tersebut tidak pernah melewatkan waktunya tanpa berdoa, bersyukur dan mengadakan hubungan dengan Tuhan. Orang-orang memanggilnya religious man. 323
  • 319. Memasuki Rumah Cahaya Suatu hari di tempat itu, terjadi banjir besar yang mengancam seluruh penduduk desa. Maka, para penduduk pun bersiap untuk mengungsi dan menyelamatkan diri. Sementara religious man tetap berdiam di rumahnya, berdoa dan menunggu pertolongan Tuhan. Seorang warga, yang adalah kerabat religious man teringat bahwa religious man masih tertinggal di desa dan belum menyelamatkan diri. Maka dia pun pergi dan menjemput religious man. Lama penduduk desa tersebut mengetuk pintu dan mengajak religious man untuk pergi menyelamatkan diri, namun religious man menjawab, “pergilah! Tuhan akan menyelamatkan aku”. Maka sang penduduk pun pergi, dan religious man melanjutkan doanya. Saat air telah menenggelamkan seluruh kaki religious man, dating bantuan ke dua, sebuah kapal boat yang sengaja berkeliling untuk mencari kalau-kalau masih ada penduduk yang belum pergi menyelamatkan diri. Maka saat regu penyelamat di kapal boat tersebut menemukan religious man masih berada di rumahnya, mereka memanggil religious man untuk ikut dan menyelamatkan diri. Namun religious man kembali menjawab, “pergi saja kalian! Tuhan akan menyelamatkan aku”. Maka regu penyelamat itu pun pergi, dan meninggalkan religious man yang masih melanjutkan doanya. 324
  • 320. Memasuki Rumah Cahaya Saat religious man sedang khusuk berdoa, memohon Tuhan agar meyelamatkan dia, dating lagi regu penyelamat yang menggunakan helicopter. Regu penyelamat itu berteriak-teriak memanggil religious man untuk menyelamatkan diri, dan sekali lagi religious man menjawab, “tahu apa kalian! Tuhan akan dating menyelamatkan aku, jadi pergi saja kalian”. Kemudian, air semakin meninggi dan religious man tenggelam lalu meninggal. Di akhirat, religious man yang merasa sangat kecewa dengan Tuhan bertanya pada malaikat, “kenapa Tuhan tidak dating menyelamatkan aku? Padahal aku telah sedemikian yakin pada Tuhan!” Malaikat pun menjawab, “Tuhan telah melakukan tiga upaya penyelamatan untukmu. Pertama, Tuhan menyuruh penduduk desa untuk mengingatkanmu tentang bahaya banjir, namun kamu tidak mau pergi. Kedua, Tuhan mengirimkan kapal penyelamat untukmu, namun kamu tidak mau ikut. Ketiga, saat Tuhan mengirimkan helicopter, kamu juga menolak”. Sang malaikat melanjutkan, “memangnya menurut kamu Tuhan harus menyelamatkan kamu dengan cara bagaimana?” 325
  • 321. Memasuki Rumah Cahaya Cerita klasik ini benar-benar menyentuh hati saya, karena saat itu saya benar-benar menunggu pertolongan Tuhan untuk menguatkan saya dan memberikan solusi atas masalah-masalah yang saya hadapi. Namun saya tidak kunjung “melihat” penyelesaian atas masalah itu. Namun, ternyata setelah saya merenungi cerita tersebut, saya sadar, Tuhantelah berulang kali mencoba memberikan saya solusi dan jalan untuk menguatkan diri. Tuhan telah memberikan pertanda, dan berbagai macam kejadian yang mengisyaratkan bagaimana masalah saya seharusnya selesai, dan Tuhan telah memberikan saya banyak guru spiritual, teknik meditasi dan pengelolaan emosi, namun tidak pernah benarbenar saya berdayakan. Lalu, saya masih berdoa, “tolonglah saya, Tuhan”. Setelah merenungi cerita tersebut, dan merenungi aplikasinya dalam hidup saya, saya bertanya pada diri sendiri, “memangnya harus dengan cara bagaimana Tuhan menolong saya?”. Tuhan telah mengirimkan sahabat, pesan, petunjuk, cara dan teknik, namun saya masih saja menunggu pertolongan Tuhan. Syukurnya, Tuhan berkenan menyadarkan saya akan bantuan yang saya dapat, sebelum banjir menenggelamkan saya. Namun, saya yakin, bukan hanya saya yang seperti itu, kebanyakan dari kita juga seperti itu. Kita dengan yakin meminta pertolongan Tuhan akan masalah yangsedang 326
  • 322. Memasuki Rumah Cahaya kita hadapi, namun kita lupa untuk membuka hati dan kepekaan kita yang memungkinkan kita untuk “melihat” dan “mendengar” saat bantuan tersebut telah dating. Lalu kita membiarkan semua bantuan tersebut lewat, dan kita masih berdoa, “Tuhan, tolong hamba”. Saya tidak ingin berpanjang lebar dengan tulisan ini. Saya ingin anda bersama dengan saya untuk merenungkan kalau-kalau di tengah banjir yang sedang kita hadapi kita telah dikirimkan berbagai macam bantuan, namun kita masih tetap berdoa dan memohon bantuan. Lihatlah, bantuan apa yang telah dikirimkan Tuhan sebagai jawaban atas doa-doa kita (bahkan Tuhan menolong orang-orang yang tidak pernah berdoa sekali pun). Lihatlah pertanda yang anda dapat, nasehat yang anda dengan, inspirasi yang anda rasakan entah di jalan raya, di super market atau dimana saja, menjadi pekalah terhadap berbagai hal, entah acara televise, siaran radio, berita di Koran, apa pun itu. Ingat, Tuhan berkomunikasi dengan segala cara. Dan saat anda telah mendapatkan pertolongan tersebut, ingatlah untuk tersenyum dan bersyukur. 327
  • 323. Memasuki Rumah Cahaya Saat anda berada dalam kesendirian, apakah anda belajar bagaimana mencintai diri sendiri? Apakah anda pernah merasakan kesendirian? Pernahkah anda merasa kesepian? Saya rasa pasti pernah. Namun pernahkah anda merasakah kesepian dan kesendirian itu bahkan di tengah-tengah keramaian? Jika anda menjawab “iya”, saya rasa anda wajib melanjutkan membaca bab ini. Banyak sekali dapat kita jumpai orang-orang di sekeliling kita (terutama anak muda) yang merasa sangat kekurangan kasih saying, yang menjadi bingung dan tidak terkontrol emosinya karena masalah-masalah cinta atau pasangan hidup, dan kadang kekuarangan cinta itu mengantarkan pada perilaku-perilaku negatif serta destruktif. Orang yang tidak mendapatkan cinta serta kasih sayang dari orang lain memang wajar merasa kesepian atau merasa sendirian. Namun jika saja anda mampu untuk memberikan diri anda sendiri cinta dan kasih saying yang cukup, oleh diri anda sendiri, maka kesepian dan kesendirian itu hanya akan menjadi sebuah kondisi biasa, bukan siksaan. Saya pernah mengalami masa-masa kesendirian yang sangat menyiksa setelah saya menerima penghianatan dan penolakan dari orang-orang yang saya cintai. 328
  • 324. Memasuki Rumah Cahaya Namun, dari kondisi yang sangat menyakitkan itu saya kemudian belajar satu hal yang sangat penting, bagaimana mencintai diri sendiri. Mustahil seseorang yang di sakunya tidak ada uang bisa mengeluarkan uang dari sakunya itu. Sama dengan seseorang yang di hatinya tidak ada cinta, dia tidak mungkin bisa memberikan cinta. Yang terjadi dengan orang-orang yang di hatinya tidak ada cinta adalah kebutuhan untuk dicintai, bukan kebutuhan untuk memberikan cinta. Seperti yang saya inginkan dulu, selalu ingin dicintai. Satu bentuk cinta yang benar-benar tulus dan tanpa pamrih adalah cinta pada diri sendiri. Kemampuan untuk mencintai diri sendiri bukanlah satu hal yang berkaitan dengan egoisme, namun satu tahapan dasar untuk dapat menjadi seseorang yang bisa benar-benar mencintai orang lain. Hanya orang yang telah mampu memberikan cintanya secara penuh pada dirinya sendiri yang akan mampu mencintai orang lain. Orang yang telah mampu mencintai dirinya sendiri secara penuh, berarti memiliki cinta yang melimpah, telah cukup memperhatikan dan mengasihi dirinya sendiri, maka dia siap untuk membagikan cinta itu pada orang lain. 329
  • 325. Memasuki Rumah Cahaya Sekarang, ijinkan saya mengajukan sebuah pertanyaan sederhana, “apa yang telah anda lakukan untuk menunjukan bahwa anda mencintai diri anda sendiri?” Pernahkan anda meluangkan waktu untuk menghibur diri dengan berjalan-jalan sendiri? Pernahkan anda meluangkan waktu untuk tidak berbicara dan bergaul dengan siapa-siapa selama satu minggu penuh, dan hanya berkomunikasi dengan diri anda sendiri? Atau berapa menit setiap harinya anda meluangkan waktu untuk merawat dan menyayangi diri anda sendiri? Saya harap muncul jawaban positif dari pertanyaanpertanyaan tersebut. Lalu, ijinkan saya bertanya lagi, “apakah anda menuntut begitu banyak perhatian, cinta dan kasih saying dari pasangan anda?” jika jawaban yang muncul adalah “iya”, maka itu adalah sebuah indikasi sederhana bahwa anda kurang memnerikan cinta, kasih saying, dan perhatian pada diri anda sendiri. Apa yang tidak anda miliki akan anda cari dari orang lain. Apa yang anda miliki akan anda bagikan pada orang lain. Itulah hukumnya. Jika anda tidak memiliki cinta dan kasih saying pada diri sendiri, maka anda akan menuntut orang lainuntuk memberikan anda cinta dan perhatian. Namun jika anda memiliki cinta dan 330
  • 326. Memasuki Rumah Cahaya perhatian pada diri sendiri, maka anda akan membagi semua itu dengan sebanyak mungkin orang. Dalam suatu hubungan antar pribadi, jika anda ingin membahagiakan pasangan anda, maka yang perlu anda lakukan bukanlah berpura-pura bahagia dan memberikan cinta pada pasangan dengan melupakan diri sendiri. Sebaliknya, anda harus meluangkan lebih banyak waktu untuk memperhatikan dan menyayangi diri hingga tabungan cinta anda penuh, lalu anda bisa membagikanya pada pasangan anda. Mulai sekarang, lakukanlah langkah-langkah yang akan menambah tabungan cinta anda. ikutilah programprogram seperti meditasi dan Yoga, karena semua latihan itu akan membangkitkan kesadaran dan perhatian yang lebih besar pada diri anda sendiri, member peluang untuk anda mengistirahatkan tubuh dan relaksasi. Aturlah jadwal untuk melakukan perawatan, mengunjungi tempat-tempat yang menyenangkan, dan mencicipi makanan yang enak. Jika anda berada di depan cermin, taruhlah minat dan kekaguman yang demikian besar pada setiap detail tubuh anda. kagumilah mata anda, hidung, pipi dan rambut anda. berikanlah pujian pada lekuk tubuh anda, seperti apa pun tampaknya, karena toh hanya anda yang memiliki bentuk tubuh dan wajah seperti anda ini. 331
  • 327. Memasuki Rumah Cahaya Lakukan apa saja (asal tidak merugikan orang lain dan diri sendiri), dan bersenang-senanglah dengan diri anda sendiri. Lalu perhatikan perubahan yang terjadi, cinta lebih yang anda berikan pada diri sendiri ternyata membuat anda bisa mencintai orang lain secara lebih. Dan ternyata, saat anda mulai belajar mencintai diri sendiri, menerima diri apa adanya, dan memperhatikan diri anda sendiri, anda tidak lagi tersiksa oleh kesepian dan kesendirian atau pun menuntut cinta dan perhatian dari orang lain. 332
  • 328. Memasuki Rumah Cahaya Jika anda melihat penampilan anda sehari-hari, apakah anda tampak seperti seorang pengemis? Mungkin anda terkejut dengan judul bab ini. Namun saya serius, apa anda tampak seperti seorang pengemis? Yah, memang bukan pengemis dalam arti sebenarnya, namun tetap seorang pengemis. Pengemis belas kasihan orang lain. Hal inilah yang biasanya terjadi jika kita mengalami masalah dan tekanan hidup. Kita mengharapkan orangorang, atau beberapa orang untuk bisa memperhatikan kita, menghibbur dan menemani kita. Karenanya, kita memasang wajah yang dramatis, berkata-kata dengan sendu, dan berakting sehebat mungkin seperti artis-artis sinetron yang sedang mendramatisir keadaan untuk menarik minat penonton. Sekarang, saya tanya, apakah anda pernah bersikap seperti itu? Atau sekurang-kurangnya, setiap orang dari kita pasti pernah ingin dikasihani dan diperhatikan saat mengalami keterpurukan. Namun, salahkah semua itu? Tentu tidak. Hanya saja, kecenderungan semacam itu kurang positif jika dibiasakan. Dan saat kecenderungan tersebut telah menjadi kebiasaan, maka banyak hal yang kemudian harus anda waspadai. 333
  • 329. Memasuki Rumah Cahaya Waspada terhadap apa? Terhadap kemandekan anda dalam berkembang dan bertumbuh sebagai manusia. Keinginan untuk dikasihani adalah hal yang normal, namun terlalu sering mengharapkan belas kasihan orang lain dapat mengikis kekuatan kita, memudarkan motivasi dan optimism serta kemandirian kita. Kaki yang jarang dipakai berjalan karena menggantungkan perjalanan dengan digendong orang lain akan secara perlahan namun pasti menjadi semakin lemah. Namun, kaki yang terus berjalan dan kuat berdiri, akan semakin kuat. Sayangnya, sisi lemah manusia selalu menggerogoti kita, menggoda kita untuk berhenti berusaha dan berjuang. Suara dalam pikiran kita berkata, “sudahlah, biarkan orang lain yang menolong aku. Aku lelah dan lemah. Aku ingin dia yang melakukan sesuatu untukku”. Dan saat kita menuruti kata-kata itu, maka kita otomatis akan melemah. Jika kita memiliki seseorang yang karena demikian cintanya dengan kita kemudian selalu menolong dan menemani kita di setiap masa, maka tentu hal itu adalah anugerah yang patut disyukuri. Namun, jika karena kasih saying itu kita menjadi manja sehingga terusmenerus mengharap pertolonganya, terus mengharap dia yang melakukan segalanya untuk kita, maka hal itu adalah suatu proses pelemahan pribadi. Bahkan 334
  • 330. Memasuki Rumah Cahaya anugerah pun jika tidak dikelola dengan baik akan menjadi kutukan. Menjadi semakin kuat dan bertumbuh semakin hebat adalah visi yang harus kita pegang. Namun, menjadi kuat tidaklah sama dengan menjadi arogan. Karena menganggap diri terlalu kuat kemudian anda berkata, “aku tidak ingin dikasihani!” dengan nada angkuh. Tentu hal itu kurang baik juga. Sebab ada kalanya kita memang memerlukan bantuan orang lain, namun itu tidak berarti kita menggantungkan diri pada orang lain. Saat anda berjalan demikian jauh, lalu di tengah-tengah kondisi anda yang demikian lemah dating seseorang yang bersedia merangkul anda, maka terimalah bantuanya. Namun, saat kaki anda telah kembali kuat dan energy anda telah pulih, jangan tetap berada di rangkulanya, namun berjalanlah bersama dia. Lalu, saat di perjalanan berikutnya anda melemah lagi, jangan sekali-kali memasang harapan bawa dia aka nada lagi untuk merangkul anda. Bergantung pada kekuatan sendiri, berdiri di atas kaki sendiri, dan mengandalkan diri sendiri, kesemua hal itu adalah asensi untuk menjadi semakin kuat di tengah penderitaan. namun demikian, kebijaksanaan untuk mengatur kapan saat untuk berjalan sendiri, dan kapan kita menerima (atau meminta) bantuan orang lain juga adalah hal yang tidak boleh diabaikan. 335
  • 331. Memasuki Rumah Cahaya Ketika ada peluang untuk putus asa, anda menyerah atau bertahan? Beban, masalah, dan tekanan, semua itu adalah fenomena yang biasa dalam kehidupan kita. Entah kita sendiri, keluarga, kerabat, lingkungan, semua orang pasti mengalami beban, masalah, dan tekanan. Namun tidak semua dari orang yang mengalami beban, masalah dan tekanan tersebut bisa melampaui dan menaklukanya serta menjadikanya asset yang berharga dan menguntungkan. Kebanyakan (namun tidak semua) orang yang mengalami masalah dan tekanan hidup akan mengeluh, mengeluh dan mengeluh. Tanpa merekan sadari mereka sedang memperlemah dirinya sendiri. Yang kita butuhkan saat menghadapi tantangan dan tekanan adalah kekuatan dan motivasi, namun yang kita lakukan malah memperlemah diri sendiri. Aneh, bukan? Lalu apa akibatnya jika kita rajin memperlemah diri sendiri saat menghadapi tantangan dan tekanan dengan keluhan? Hampir bisa dipastikan, anda akan tergiur dan sangat tergoda untuk menyerah. Hal yang kemudian anda lihat bukanlah peluang-peluang untuk mencapai kesuksesan dan kemenangan, namun peluang-peluang untuk menyerah dan berhenti. 336
  • 332. Memasuki Rumah Cahaya Ada begitu banyak peluang dalam kehidupan, namun beberapa peluang dan kesempatan sering kali lluput dari perhatian anda karena anda sedang berfokus pada halhal yang bertentangan denganya. Kemudian, hal yang menyebabkan anda melihat peluang yang mana adalah focus dan sikap anda. Jika anda berfokus pada kelemahan dan hanya mengeluh, maka peluang-peluang untuk menyerahlah yang akan anda lihat. Jika anda berfokus pada kekuatan dan terus membakar semangat, mka aka nada begitu banyak peluang untuk menang dan sukses. Menyerah bukanlah pilihan, hanya indikasi kalau anda telah lama memperlemah diri sendiri dan telah memfokuskan diri pada hal yang melemahkan. Sebelum memutuskan untuk menyerah, sebaiknya periksa dulu kedua hal tersebut. Cermati dengan sejelas mungkin, lalu ubah arah layar anda. saya teringat pada sebuah kalimat indah, jika kita menyerah hari ini, maka kita tidak akan tahu apa yang terjadi esok. Begitulah. Jika kita sudah berhenti, sudah memutuskan untuk menyerah, bukannya memperbaiki keadaan dan mengumpulkan optimism lagi, maka kita tidak akan pernah tahu apa yang bisa kita dapatkan nanti, saat perjalanannya usai. 337
  • 333. Memasuki Rumah Cahaya Mungkin anda kembali mengeluh, “tetapi saya telah begitu lelah dan lemah. Saya ingin berhenti saja. Saya menyerah”. Dan saya akan menjawab, “anda lelah dan lemah karena anda telah memperlemah diri sendiri dan memfokuskan diri pada hal yang melemahkan”. Coba saja ubah focus anda, ubah sikap anda (aduh, saya mengatakanya lagi), maka kondisi anda juga akan berubah. Jika anda telah memfokuskan diri pada hal yang melemahkan, maka anda akan sangat pintar untuk mencari pembenaran untuk bisa menyerah. Anda akan memiliki pemikiran seolah-olah menyerah adalah visi hidup anda, dan menyerah adalah satu-satunya hal yang bisa anda lakukan. Kembali saya ulang, itu pengaruh dari focus yang terus menerus terhadap hal-hal yang melemahkan seperti ketidak mampuan kita menghadapi sesuatu, tidak adanya bantuan atau pertolongan, kelelahan atau kebosanan dan sebagainya, serta melemahkan diri dengan keluhan-keluhan yang tak berujung pangkal, seolah-olah langit runtuh hanya di hadapan anda! Sebaliknya, jika dalam tantangan dan rintangan, di saatsaat beban dan hambatan anda memelihara optimisme di satu sisi dan kepasrahan di sisi lainnya, memegang teguh keyakinan di satu sisi dan keikhlasan di sisi lainnya, maka anda akan menjadi seorang yang tidak 338
  • 334. Memasuki Rumah Cahaya mudah dikalahkan. Pastikan anda memastikan diri untuk kemuliaan itu. Ciptakan sebanyak mungkin peluang untuk melihat peluang kesuksesan dan keberhasilan, dengan berfokus pada kekuatan dan senantiasa menguatkan diri, jangan sebaliknya rajin melemahkan diri sendiri, lalu menangis tidak berdaya dan mengemis pertolongan kemanamana. 339
  • 335. Memasuki Rumah Cahaya Jika Anda Melihat Kehidupan Orang-orang Besar, Ingin Menjadi Siapakah Anda Diantara Mereka? Pernahkan anda membayangkan anda menjadi satu diantara orang-orang besar yang dikenal luas oleh dunia? Pernahkah anda berharap anda bisa menjadi Donald Trump yang demikian kaya rayanya? Atau inginkah anda menjadi Dalai Lama yang demikian penuh cinta kasih? Oprah Winfrey yang dermawan? Albert Einstein yang cerdas? Atau segudang orang besar lainnya? Saran saya, milikilah mimpi seperti itu. Atau anda malah tidak mengenal sosok-sosok agung tersebut? Saran saya, dalamilah kisah kehidupan mereka. Kehidupan orang-orang besar seperti mercusuar, yang cahayanya memberikan tuntunan arah agar para pelaut tidah tersesat atau mengalami bahaya. Orang-orang besar itu sengaja ada, agar kita bisa mentauladani jejak kehidupan mereka, semangat dan prinsip hidup mereka, serta nilai-nilai dan keyakinan yang mereka anut. Kehidupan mereka yang luar biasa seolah berkata, “jadilah seperti saya.” Dalam kehidupan saya, kehidupan orang-orang besar semacam itu benar-benar menjadi inspirasi dan motivasi yang sangat berharga. Saat saya terjebak dalam temperamen dan emosi, saya berpikir, “Gandhi dan 340
  • 336. Memasuki Rumah Cahaya Dalai Lama memiliki alas an untuk marah yang lebih besar, namun mereka tetap bersabar. Kenapa saya yang hanya memiliki alas an kecil untuk marah-marah harus menunjukan kemarahan sebesar ini?”. Saat semangat dan optimism dalam diri saya mulai redup, saat semangat yang saya miliki mulai surut, saya berpaling pada orang-orang yang semasa hidupnya menjadi contoh sempurna dari semangat dan optimism. Saya merenungi kehidupan Suichiro Honda, Abraham Lincoln dan motivator pribadi saya yang lain. Saat emosi-emosi negative mulai menyeruak, menyusup dan perlahan berusaha menguasai hati saya, maka saya melihat orang-orang yang selama hidupnya menjadi contoh nyata dari kasih saying dan cinta. Saya benarbenar mengagumi sifat Bunda Teresa yang benar-benar memiliki cinta kasih universal, atau Paus Johanes Paulus II, yang penuh toleransi dan bahkan bisa memaafkan orang yang telah menembaknya. Terkadang, saya membaca ulang kisah kehidupan Jack Canfield dan Success Principle-nya saat saya kehilangan keyakinan akan kesuksesan dan keberhasilan. Saya benar-benar mengagumi pemikirannya, kesuksesannya, dan tentu saja semua pencapaian yang dia peroleh. Saya berpikir, “saya harus mencapai semua itu”. 341
  • 337. Memasuki Rumah Cahaya Jika kemalasan mulai menggoda saya dan membuat saya menginginkan “liburan” dari rutinitas meditasi yang sangat berguna, saya kemudian menengok salah satu guru saya yang hidupnya berubah karena latihan meditasi dan dedikasi yang sangat kuat terhadap latihannya tersebut. Dalam hati, kadang-kadang saya berpikir, “wah, beruntung sekali rasanya, seluruh tokoh dunia bersatu untuk menjadi guru dan motivator pribadiku”. Mungkin anda menganggap semua ini mengawang-awang atau hanya sebatas khayalan kosong. Namun, hidup saya benar-benar sangat banyak terbantu dengan menjadikan keseluruh orang besar itu sebagai motivator dan guru “pribadi” saya. Namun, ada satu hal penting yang ingin saya tekankan. Dunia telah memiliki satu orang Dalai Lama, satu orang Donald Trump, Satu Jack Canfield, dan hanya satu orang besar lainnya. Dunia tidak memerlukan the next Trump atau the next Canfield. Sebaiknya anda jangan menjadi copy-an dari mereka. Ambillah semangat, nilai dan prinsip dari setiap orang besar yang pernah hidup, namun jangan berusaha menjadi mereka, jadilah lebih dari mereka. Bukan mengambil alih kehidupan mereka atau menjalani kehidupan yang sama dengan mereka yang penting. Namun, memiliki semangat, cara hidup, 342
  • 338. Memasuki Rumah Cahaya prinsip, nilai, sikap dan keyakinan yang seperti merekalah yang uatama. Karena kesemua hal itu akan mengantarkan anda pada pencapaian yang lebih dari mereka sekali pun. Hal kedua yang penting untuk diingat adalah, orang besar bukan hanya mereka yang dikenal luas lewat paparazy, bukan hanya mereka yang telah menulis bukubuku best-seller, bukan hanya mereka yang demikian terkenal dan sering muncul di televise. Orang-orang besar juga ada di sekitar anda, di lingkungan anda, diantara komunitas dan mungkin salah satu diantara teman atau kenalan anda. hanya saja, apakah anda menyadari kehadiran orang-orang tersebut? Mungkin diantara orang-orang yang anda kenal, ada orang yang memiliki prinsip hidup yang demikian luhur. Mungkin ada diantara kenalan anda yang cara hidupnya demikian menggugah, atau mereka memiliki nilai-nilai yang sangat hebat. Mungkin juga di sekitar kita ada orang yang memiliki semangat dan optimisme yang demikian membara. Mereka-mereka itu adalah orang besar yang juga patut anda jadikan panutan. Saya sendiri memiliki seorang teman yang benar-benar memiliki kekuatan dan ketegaran yang membuat saya sangat kagum. Dia mengalami masalah yang, bisa dikatakan sangat besar, sebab seluruh aspek kehidupannya terancam hancur, terancam masuk 343
  • 339. Memasuki Rumah Cahaya penjara, diusir dari rumah dan dikeluarkan dari kampus. Namun, dia tak pernah kehilangan senyum, masih tetap bisa menghibur atau mendengaran teman yang ingin sekedar berbagi beban padanya. Intinya, saya mungkin belum bisa bersikap setenang dan setegar itu seandainya saya mengalami masalah yang sama dengan dia. Langkah pertama untuk menjadi orang hebat adalah dengan mempelajari kehidupan orang-orang hebat. Menganut prinsip, nilai dan keyakinan mereka dan memiliki sikap-sikap positif mereka. Kemudian, saat kita telah menjadi sehebat mereka, jangan berpuas diri, teruslah berkembang dan lampaui orag-orang yang tadinya menjadi model kesuksesan kita. Mungkin anda menganggap visi ini terlalu tinggi. Namun lebih baik gagal mencapai visi yang tinggi dari pada berhasil mencapai visi yang rendah. Jika anda suka bertinju, lebih baik anda kalah bertinju dengan Mike Tyson dari pada menang melawan anak tetangga anda yang jauh lebih kecil dari anda. Apa anda tahu alas an kenapa tidak banyak orang yang bisa mencapai kesuksesan seperti orang-orang besar yang saya sebutkan di atas tadi? Karena tidak banyak orang yang memiliki nilai, prinsip, keyakinan, semangat dan sikap seperti mereka. 344
  • 340. Memasuki Rumah Cahaya Orang-orang besar tersebut menjadi luar biasa tidak dengan berdiam diri dan puas dengan kebiasaankebiasaan yang biasa, namun berani meninggalkan halhal biasa dan memegang visi yang luar biasa. Orang hebat, sehebat apa pun mereka, mereka tetap hanyalah seorang manusia (meski mereka memiliki kualitas yang hebat). Yang perlu kita tekankan bukanlah menilai dan melihat kekuarangan yang mereka miliki, namun mengambil semua hal positif dari mereka, dan mempelajri bagaimana mereka mengelola kenegatifan. Orang-orang besar tersebut bukanlah orang-orang yang tidak pernah gagal, namun orang yang bisa dan pintar mengelola kegagalan mereka sehingga berubah menjadi keberhasilan yang lebih besar. Semua soft skills dan keterampilan unik tersebutlah yang sangat perlu kita pelajari dari mereka. 345
  • 341. Memasuki Rumah Cahaya Ketika ada hal-hal yang tak dapat dirubah, apakah anda berlapang dada untuk mengiklaskannya? Sejak pertama kali membaca, sampai sekarang, doa kedamaian Santo fransiskus dari Asisi masih sangat menggugah hati saya. Karena, ketiga poin doa tersebut memang adalah poin utama dalam menjalani kehidupan. Tuhan, berikanlah hamba kekuatan untuk mengubah hal-hal yang bisa hamba rubah. Keihlasan untuk menerima hal-hal yang tidak dapat saya rubah, dan kebijaksanaan untuk membedakan keduanya. Hal pertama yang harus anda miliki adalah, kebijaksanaan untuk membedakan manakah hal yang dapat anda rubah, dan mana yang tidak. Sebab kebijakan untuk membedakan kedua hal tersebutlah yang akan menentukan sejauh mana anda harus melangkah, dan kapan anda harus berhenti. Kebijakan untuk membedakan mana yang bisa dirubah dan mana yang tidak akan sangat menentukan anda mau menghabiskan seberapa banyak energy sebelum anda menyerah. Berusahalah dan terus berusaha. Apa kata-kata tersebut masih anda percayai? Anda harus percaya! Namun di tengah-tengah usaha tersebut, anda harus tahu, apakah anda masih bisa berharap atau tidak terhadap apa yang anda usahakan. 346
  • 342. Memasuki Rumah Cahaya Jika anda berusaha keras untuk merubah sesuatu (berusaha mencapai sesuatu, atau mendapatkan sesuatu), namun anda gagal memperoleh semua itu setelah mengorbankan tetes terakhir darah anda, apakah anda masih bisa tetap bersyukur dan berbahagia? Lalu, apakah barometer yang menunjukan kapan harus berusaha terus dan kapan harus berhenti? Gampang, energy maksimal. Jika anda telah mengunakan energy maksimal anda, dan belum terjadi apa-apa, maka terimalah kenyataan bahwa hal tersebut memang tidak dapat dirubah. Namun jangan sekali-kali menilai suatu hal tidak dapat dirubah sebelum anda mencoba menggunakan seluruh energy yang anda miliki untuk merubahnya. Terkadang, kita memang suka berhenti bahkan saat kaki kita masih bisa untuk melangkah. Kita berkata pada diri sendiri, “sudahlah, saya lelah. Sudah cukup saya berusaha dan mencoba. Toh saya tidak sampai dimanamana”. Ijinkan saya mengatakan pada anda, bahwa tidak ada kata tidak sampai dimana-mana, yang ada adalah belum sampai di tempat tujuan yang sesuai. Saat kita memutuskan untuk terus berusaha, mencapai apa pun yang kita targetkan, maka berusahalah dengan menggunakan 100% tenaga yang kita miliki. Kenapa? 347
  • 343. Memasuki Rumah Cahaya Karena saat tenaga kita kosonglah Tuhan akan dating dan mengisinya dengan tenaga baru dari Beliau Sendiri. Jika memang hal yang kita targetkan adalah suatu yang memberikan kebaikan pada kita, maka kita pasti berhasil. Namun, jika hal tersebut hanya memberikan kebaikan sesaat dengan lebih banyak ketidak baikan, maka Tuhan pasti bermurah hati untuk tidak mengijinkan kita untuk berhasil. Jadi, hal-hal yang tidak dapat dirubah memang tidak akan bisa kita rubah, karena perubahan yang akan terjadi hanya akan membawa ketidak baikan bagi kita. Namun, hal yang memang bisa untuk kita rubah, akan berubah pada waktunya setelah kita menggunakan seluruh kemampuan dan tenaga yang kita miliki. Jadi, saat pikiran anda yang telah lelah dengan segala usaha tanpa hasil berkata, “kenapa saya masih belum juga berhasil mencapai….?”, jawablah dengan segera, “karena mencapai hal ini adalah sesuatu yang tidak membawa kebaikan pada saya, dan Tuhan sengaja mempersiapkan saya untuk sesuatu yang lebih besar”. Kita cenderung berpikir bahwa saat kita gagal mencapai sesuatu, berarti kita seseorang yang sepenuhnya gagal. Namun ada sebuah perspektif yang mungkin perlu anda adopsi ke dalam cara berpikir anda, Tuhan menggagalkan usaha saya untuk mengisi “gelas” saya dengan air karena Beliau ingin menjaga gelas saya tetap 348
  • 344. Memasuki Rumah Cahaya kosong, dan pada waktunya akan Beliau isi dengan susu”. Dengan perspektif seperti ini, apa yang membuat anda sulit menerima kenyataan? Kenapa anda harus menyesalkan hal-hal yang tidak dapat anda rubah, jika dengan berubahnya hal tersebut justru memberikan ketidak baikan pada anda? Saya memiliki sebuah cerita yang mengisyaratkan hal ini. Seorang teman saya menceritakan bagaimana perjuangannya dulu untuk mendapatkan lelaki yang sangat dicintainya. Lelaki yang menurutnya adalah lelaki idamannya, sosok lelaki yang sangat dia cintai. Berkalikali lelaki ini berseilngkuh (wah, lelaki idaman nih), dan berkali-kali mereka putus, namun berkali-kali pula si wanita memaafkan dan menjalin kembali hubungan dengan orang yang sangat dicintainya ini. Hingga, akhirnya mereka menikah. Proses pernikahan ini memakan perjuangan yang sangat berat, menentang orang tua, proses penyamaan karakteristik (mereka berasal dari budaya, suku dan agama yang berbeda). Apa yang terjadi saat mereka menjadi suami-istri? Si lelaki hanyalah seorang pengangguran yang tidak punya minat dan tanggung jawab terhadap masa depan 349
  • 345. Memasuki Rumah Cahaya keluarga dan seorang penjudi dan seorang pemain wanita dan seorang pemabuk. Menyatukan hubungan mereka tadinya tampak seperti hal yang tidak mungkin dirubah. Namun, usaha yang terus menerus, menolak segala pertanda yang telah diberikan Tuhan, menentang semua yang menentang, akhirnya teman saya ini bisa melakukan perubahan untuk hal yang tadinya tidak mungkin. Namun setelah dia mencapai semua yang dia inginkan, segala pemenuhannya itu malah mengantarkannya pada kesengsaraan. Melalui kisah semacam ini, Tuhan sedang menasehatkan pada kita, agar kita menjadikan hati kita peka terhadap segala pertanda yang Tuhan berikan, terkait hal apa yang harus kita berusaha untuk rubah, dan hal mana yang sebaiknya kita ikhlaskan. Hati yang tinggi tingkat intuisinya, yang peka terhadap pertanda yang diberikan Tuhan, sehingga bijak membedakan mana yang bisa dirubah dan mana yang (meski pun bisa) sebaiknya jangan dirubah. Dari semua yang saya sampaikan di atas, sudah jelas, bahwa intinya yaitu kebijakan untuk membedakan mana yang bisa dirubah dan mana yang tidak, bukan?.jawabannya, “tidak”! Lalu, apa? Kebijaksanaan memang hal yang penting yang dapat member kita kemampuan pembedaan. Namun, kebijaksanaan tidak 350
  • 346. Memasuki Rumah Cahaya muncul dengan sendirinya, kebijaksanaan harus dilatih dengan terus-menerus melatih hati untuk menjadi lapang, terbuka, tenteram dan damai dengan KEIKHLASAN. Hati yang dilapangkan oleh keikhlasan dan kedamaian terus menerus akan menjadi hati yang bisa dengan peka menerima “instruksi” dari Tuhan kapan kita harus terus melangkah, dan kapan kita harus berhenti. Biasakanlah hati untuk menjadi kuat dengan usaha terus menerus, namun tanpa harapan apa lagi obsesi. Menjadilah lembut dan kuat sekaligus, berusahalah dengan keras sekaligus menjaga hati tetap tenang dan tenteram . Dengan sikap dan sifat seperti ini, anda akan menikmati perjalanan anda untuk merubah sesuatu, dan jika anda berhasil melakukan perubahan, maka anda memperoleh keberhasilan di perjalanan juga di tujuan. Namun, jika ternyata anda tidak berhasil melakukan perubahan, toh anda telah menikmati prosesnya (karena anda melalui proses tersebut tanpa ambisi atau obsesi, hanya usaha yang dibarengi keikhlasan). Entah hal tersebut bisa berubah atau tidak, entah anda tahu anda akan berhasil atau tidak, sebelum anda melangkah, hal yang perlu anda ingat yaitu berusahalah dengan 100% energy yang anda miliki, sekaligus jaga 351
  • 347. Memasuki Rumah Cahaya hati anda agar tetap tenang dan ikhlas tanpa obsesi atau ambisi. Lalu, jika pada akhirnya hal tersebut berubah atau tidak, keduanya akan tetap membahagiakan. 352
  • 348. Memasuki Rumah Cahaya Selamat Datang Di Rumah Cahaya! Selamat datang di rumah cahaya. Itulah yang ingin sekali saya ucapkan sekarang. Setelah membaca untaian-untaian dari “pintu depan” “pintu belakang” rumah cahaya ini, sekarang anda berada di dalamnya, dan merasakan terangnya. kata anda dan telah Namun apakah anda juga telah merasa diterangi oleh sinar-sinar dari rumah cahaya ini? Dan apakah anda akan tetap bertahan dalam rumah cahaya ini dan mempergunakan cahayanya untuk menerangi hidup anda? semua kembali pada diri anda sendiri. Perjalanan saya untuk bisa menemukan rumah cahaya saya ini sangat panjang, melelahkan, dan menyakitkan. Untuk bisa menemukan dan menyadari terang yang sedang anda baca ini, saya melalui serangkaian kegelapan yang hampir membuat saya berputus asa. Serangkaian kejadian menyedihkan yang mungkin lain kali bisa saya share dengan anda. dan inilah hasilnya. Namun jangan menghakimi emas yang saya buat dari logam , karena saya baru belajar menjadi seorang alchemist. Kegelapan yang saya alami, seperti analogi singkat, sederhana dan mendalam yang diungkapkan Neale Donald Walsch dalam bukunya “Little Soul and The Sun” sangat saya syukuri, sebab membawa saya ke 353
  • 349. Memasuki Rumah Cahaya dalam pencarian dan penghargaan mendalam tentang cahaya. Kegelapan anda pun merupakan pembawa pesan yang sangat berharga, yang mengungkapkan arti penting dan pemaknaan terhadap indahnya cahaya. Harapan terbesar saya adalah, cahaya ini bisa menerangi anda, dan bisa anda bagikan atau anda sempurnakan. Baiklah, jika pun anda tidak mau membawa cahaya rumah ini keluar, beristirahatlah sejenak…. Tuhan memberkati kita semua… selalu. 354

×