• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Rasionalisasi islam
 

Rasionalisasi islam

on

  • 993 views

Rasionalisasi islam

Rasionalisasi islam

Statistics

Views

Total Views
993
Views on SlideShare
993
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
20
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Rasionalisasi islam Rasionalisasi islam Document Transcript

    • P E R B A N D I N G A N M A Z H A B S J I A H RASIONALISME DALAM ISLAM Oleh H. ABOEBAKAR ATJEH Diterbitkan oleh : Jajasan Lembaga Penjelidikan Islam Djakarta 1965.
    • BIBLIOTHEEK KITLV 0288 1314 PENGARANG. H. Aboebakar Atjeh lahirdi Kutaradja (Atjeh) pada 28April 1909. Sesudah menamat-kan pendidikannja pada bebe-rapa sekolah menengah, ia be-kerdja padc pemerintah dalamurusan agama, masa Belanda,Djepang dan Rep. Indonesia.Disamping sekolah ia beladjaragama dipesantren dan diMekkah, pernah ke Mesir danbeberapa kali keluar negeri,diantaranja dim. urusan men-tjetak Quran di Djepang. Sekarang ia mendjadi dosendalam filsafat dan agama. Di-antara karangannja ialah Se-djarah Quran, Sedjarah Ka-bah, Sedjarah Mesdjid, Peng-antar Sedjarah Sufi dan Ta-sauwuf,, dan Pengantar IlmuTarekat. Dalam rangka ilmu Perban-dingan Mazhab, ia mengarang "Sjiah. rationalisme dalam Is lam", sahrnja kitab jang leng-kap daiam bahasa Indonesia mengenai mazhab Sjiah. Fwerkit.
    • IA*.*P E R B A N D I N G A N M A Z H A B S J I A H RASIONALISME DALAM ISLAM Oleb H. A B O E B A K A R ATJEH Diterbitkan oleh : jajasan Lembaga Penjelidikaa Isi«su Djakarta 1965.
    • 18 1 KITABSedjarah kedjadian dan perkembangan.1. Islam dan Muslim 32. Aliran dalam Islam 63. Perkataan Sjiah 104. Sebab-sebab dan masa kelahiran 135. Wasiat Nabi kepada Ali 176. Keimanan pada Sjiah 227. Itikad Sjiah Imamijah 26Nabi Muhammad dan Ali.1. Ali bin Abi Thalib 332. Nabi Muhammad dan Ali 393. Mengapa Ali ditjintai Sjiah 434. Ali dan anak-anaknja 515. Ali dan dawah Islam 55Keturunan Ali.1. Hasan tjutju Nabi 612. Perdjandjian Hasan — Muawijah 653. Bani Umajjah dan Hukum Agama 714. Hasan dan Muawijah 745. Jazid bin Muawijah dan Muawijah bin Jazid 786. Husain dan Karbala 807. Bani Marwan dan Ibn Zubair 858. Umar bin Abdul Aziz dan Sjiah 889. Bani Abbas dan Sjiah 92Sjiah Imamijah.1. Sjiah Imamijah 992. Imam Djafar Shadiq I 1043. Imam Djafar Shadiq II 1084. Djafarijah 111Mazhab Ahli] Bait.1. Pendirian aliran* dalam Islam 1192. Ahlil Hadis dan Ahlir Raji 1243. Ahlus Sunnah dan Sjiah 1284. Sedjarah Mazhab Ahlil Bait 1315. Tjinta Ahli Bait 136
    • VX Qwr*«a daa Hmdia. 1. Masa-masa pengumpulaa Al-Quxaa 2. Ali dan Quran ..... 3. Ahli Tafsir Sjiah 4. Hadis dan Djafar Shadiq 5. Seratus perawi Sjiah dalam Kitab Enam 6. Tarich Tasjri Sjiah I 6. Tarich Tasjri Sjiah IIVa Idjtihad dan Taqlid. I. Idjtihad dan Taqlid I 1. Idjtihad dan Taqlid II 2. Sjiah dan ilmu pengetahuan 3. Sjiah dan rationalisme 4. Hukum Sjara dan penguasaTUI. Ahlus Sunnah dan Sjiah. 1, Murid-murid Djafar Shadiq jang terpenting I ... 1. Murid-murid Djafar Shadiq jang terpenting II 2. Mazhab Empat thp. Sjiah 3. Persoalan Chilafiah I 3. Persoalan Chilafijah II ,. 4. Asj-Sjafii dan Sjiah 5. Sjaltut dan Sjiah L PVsntot».
    • H. Aboebakar AtjehSJIAH DAN MAZHAB-MAZHABNJA ^
    • > . _ »»Mf^Ufi xf* t * » ** »". » ! v *»- v v "-C- . *N*»ffetoli**W - >**^*«U"OSÄ.Ä A..i"
    • M O T O i I^I < » « *,.- -r -Lebih indah lebih merdu,Dari suara kuda patjuan,Dari gemertjing pedang serdadu,Bertetak tak tentu lawan dan kawan. Dari semua keindahan jang ada, Jang dapat membuat mataku terkedip, Tak ada jang indah dari pada Mentjintai Ali bin Abi Thalib.Djikalau dadaku mereka buka,Pasti terdapat dua baris,Tak ada penulis, tak ada pereka.Terukir sendiri terguris. Pertama adil, kedua tauhid. Tertulis disebelah dadaku, Jang lain mentjintai Ahlil Bait, Tergambar disebelah terpaku. Asj-Sjafii.
    • Kepada guru guruku dao ganarasi muda tilam ku- persembahkan risalah ke- titi Ini.VS
    • S A M B U T A N J.M. M E N T E R I P T I P Didalam rangka melengkapi kepustakaan buku-buku tentangberbagai agama sebagai salahsatu langkah penjempurnaan pendi-dikan agama di Perguruan-perguruan Tinggi, saja sambut dengangembira disertai penghargaan setinggi-tingginja, diterbitkannja ki-tab "SJIAH, RASIONALISME DALAM ISLAM"jang ditulis oleh sdr. H. Aboebakar Atjeh. Mengingat betapa mutlaknja pendidikan agama dalam rangkanation dan character-building. Dept. P T I P senantiasa berusahamenjempurnakan pendidikan agama di Perguruan-perguruan Ting-gi, baik negeri maupun swasta. Didalam melaksanakan usaha ini, salahsatu kesukaran jangdihadapi, terutama oleh para pengadjar pendidikan agama, adalahkurangnja buku-buku jang tersedia, jang dapat didjadikan bahanuntuk kuliah-kuliahnja. Oleh karena itu, setiap usaha untuk melengkapi kepustakaanbuku-buku pendidikan agama, merupakan bantuan jang sangatberharga. Semoga para tjendekiawan alim ulama berbagai agama meng-intensifkan usaha-usaha penulisan buku-buku untuk penjemp-rm-an pendidikan agama jang vitaal itu. Djakarta. 29 Desember 1965. Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan ( DR. SJARIF THAJEB ) Brig. Djen. T.N.I.
    • KATA SAMBUTAN DARI PROF. DR. HAZAIRIN S.H.Saudaraku H. Aboebakar Atjeh jang kutjintai, Kembali saudara mengagumkan saja kali ini, dengan karangansaudara mengenai Sjiah. Saja telah batja naschah saudara itu,walaupun, berhubung dengan kesibukan saja, barulah sepintaslalu. Karja saudara ini sangat penting bagi perkembangan ilmupengetahuan Islam ditanah air kita ini, Mudahan Allah S.W.T. memandjangkan usia saudara, se-hingga saudara berkesempatan meneruskan karangan 2 saudarasebagaimana sekarang telah saudara rantjang a kan. Demi Allahmelihat hasil 2 usaha saudara sampai dewasa ini dalam mengabdikepada ilmu pengetahuan, telah lebih dari sepatutnja djika kepadasaudara dihadiahkan gelar Doctor dalam Islamologi, bukan hanjadalam rti penghormatan pribadi sadja, tetapi sungguh dalam artiberdjasa bagi penjiaran ilmu pengetahuan. Karja saudara mengenai Sjiah sangat penting bagi bangsakita, istimewa bagi mereka jang tidak berkesanggupan untukmembatja langsung kitab 1 jang berbahasa Arab, ja malahan me-reka jang tahu bahasa Arab belum tentu berkesempatan memasukibidang ilmu jang saudara djeladjahi mi. Pengetahuan tentang Sjiah memang bukan hanja pentinguntuk memperoleh pandangan jang menjeluruh mengenai Islam,istimewa bagi bangsa kita jang menganut mazhab Sjafii jangsangat rapat perhubungannja dengan Sjiah, tetapi mengenalSjiah itu ada pula pertaliannja jang langsung dgn. sedjarah per-kembangan agama Islam di Indonesia sendiri. Sebab bukankah Pa-sei merupakan keradjaan Islam pertama di Indonesia jg. didirikanoleh kaum Fathimijah dan beberapa lama beraff.lias i denganKeradjaan Mesir Fathimijah. Dari Pasei mendjalar adjaran Sjiahkeseluruh Atjeh, Atjeh kemudian menguasai daerah jang tjukupluas di Sumatra dan Malaya, sehingga mengakibatkan keradjaanMinangkabau berpindah agama dari ke-Hindu 2 an mendjadi Islamaliran Siiah lebih kurang 3 abad lamanja. Dengan pengalahanPadri (Imam Bondjol es.) jang berafiliasi dengan gerakan Han-bali Suudi (Wahabi) barulah tumbang Sjiah dialam Minang-
    • kabau dan dengan hantjurnja pula gerakan Hanbali Suudi diSumatra itu barulah mazhab Sjafii menguasai Sumatra. Tentanghal itu telah keluar sebuah karangan jang sangat menarik perha-tian, dari tangan M.D. Perlindungan berdjudul ,.Tuanku Rao"(penerbit Tandjung Pengharapan, pertjetakan Fasco, Djakarta,1965). Mudah3an karangan saudara baik jang telah mendahului, baikjang sekarang ini, maupun jang akan datang mengambil tempatdalam perpustakaan 2 universitas 2 kita dan mendapat perhatian,bukan sadja dari tunas muda bangsa kita, tetapi djuga dari go-longan tua, terutama mereka jang hanja mempunjai ilmu Islamsetjara jang sepihak sadja.
    • KATA SAMBUTAN KOL. DRS. HADJI BAHRUM RANGKUTI, KA PUSROH ALRI, DJAKARTA Saudaraku Hadji Aboebakar jang mulia. Dengan bukumu jang baru ini, "Sjiah, Rasionalisme dalamIslam," anda telah menjumbangkan suatu karya jang amat bernilaibagi chazanah perpustakaan Islam. Tidaklah ber-lebih*an djikakulukiskan, bahwa karanganmu ini membukakan mata Indonesia,teristimewa para sardjana, alim dan ulama Islam kepada salahsuatu aspek daripada Islam, jang selama ini agak suram tjaha-janja dibumi dan langit tjita2 Indonesia. Oleh sebab betapa mungkin kita dapat memahami rona rinar-wan Islami dihidang kesenian, kesusasteraan dan kebudajaanumumnja, tanpa mengetahui tjita dan tjita2 Sjiah sebagai disiar-kan oleh tokoh 2 Islam di Atjeh, meluas kewilajah jang lebih lebar :Minangkabau, Djawa dan daerah lainnja. Bagaimana dapat kitamemahami se-dalam 2 nja latar belakang Sjiah, sebagaimana berkem-bang di Minangkabau dan jang kemudian menimbulkan GerakanIslam Putih, ditjptakan oleh Datuk Nan Rentjeh, ber-sama* denganImam Bondjol, Tuanku Rao alias Pongki Na Ngolngolan dan paraperwira didikan Kamang. Ja, bahkan pada hemat saja seluruhsedjarah Nasonal Indonesia tidak mungkin kita wudjudkan kem-bali dengan luas mendalam, tanpa memperhatikan mplikasi tjitadan tjita2 Sjiah di Indonesia berabad* lamania. Malahan ruang*gelap dalam sedjarah Sumatra, Djawa dan Malaya hanjalah mung-kin kita tierahkan kembali dengan menjiasati peranan historis parapendukung tjta Sjiah di Indonesia beberapa abad jang lalu. De-mikian djuga mengenai berbagai matjam sandiwara rakjat, seperti Djula Djuli Bintang Tiga, dimana diharapkan kedatangan seorang Pemimpin Islam jang akan membebaskan kembali ummat Islam daripada tiengkeraman malapetaka dan musibat, hanjalah dapat dipahami djika diketahui bahwa dalam tjita8 Sjiah diharapkan da- tangnja seorang Imam Mahdi jang akan rnendjajakan ummat Islam kembali. Maka unsur* seni, kesusasteraan dan kebudajaan sebagai jang di-idam*kan oleh Sjiah, dengan wadjar saudara telah kupas se- luas*nja dalam bukumu ini, disamping me.ieliti sebab 2 muntjulnja naham rasionalisme dalam Islam ini.
    • Saja mengharapkan karya selandjutnja dari karangan saudaraini, misalnja integrasi tjita* madzhab Sjafii dan Sjii dihidang ke-budajaan dan bagaimana masalahnja dalam sedjarah, demikiandjuga timpa-menimpanja tjita Sjiah dan Sjafii di Minangkabaudan di Djawa Tengah, jang mengakibatkan lintasan sedjarah jangamat gemilang. Djika mungkin djuga ikut sertanja pengintegrasianmadzhab dan tjita* Hanafi, sebagai telah dimasjhurkan oleh Lak-samana Hadji Cheng Ho di Mandailing dan Semarang. Dalamhal inilah unik sekali pantjaran Islam di Indonesia, oleh sebabberbagai madzhab dan aliran ke-Islaman beroleh paduan jang barudibumi Indonesia. Saja ingin mengachiri kata sambutan saja inidengan sebuah sjair pendek : Saudara hadji Aboebakar djadilah kau penaka tjahaja berpendar membina malam jang baru dan merah fadjar mengadjak ummat Islam Indonesia mendekatkan kita sekitar Chatulistiwa ditaburi oleh malaikat dengan kembang kesturi Allahu Akbar ! Djakarta" 15 Desamber 196$ ( k o l d r s Had.1l Bahrum R a n p k u t i ) KA lait.A.L» Nrp 2 / P t .
    • PENDAHULUAN Tudjuan saja menulis kitab ini ialah untuk memperkenalkankepada masjarakat Indonesia, jang sedikit sekali mengetahuitentang mazhab Sjiah. Mereka hanja mengetahui tentang mazhabini dari keterangan-keterangan orang Barat, jang disisipkan d a -lam kitab-kitab mengenai Islam, terutama dalam encyclopedy,merupakan uraian jang tidak lengkap. Oleh karena itu banjaksekali timbul salah faha-m dalam kalangan umat Islam Indonesia,jang mengkafirkan semua golongan Sjiah dan apa jang bernamaSjiah. Hal ini tentu tidak benar, karena disamping terdapatdalam mazhab Sjiah itu aliran-aliran jang dianggap oleh AhlusSunnah wal Djamaah tersesat, seperti aliran Sabaijah, Chawa-ridj, dll., jang oleh Sjiah sendiri djuga dianggap menjeleweng,terdapat aliran-aliran dalam Sjiah jang tidak dapat begitu sadjakita kafirkan, karena mereka djuga orang Islam dan mempunjaipokok-pokok kejakinan agama (usuluddin), jang sama dengankita, seperti aliran Isnaasjar Imamijah, Zaidijah, jang merupakansebahagian besar daripada penduduk Irak dan Persi, Jaman,Pakistan, India, dan daerah-daerah lain, tidak kurang daripada30% daripada djumlah orang Islam jang sekarang ditaksir 900djuta banjaknja. Dalam saja melakukan penjelidikan tentang sjiah ini, sajamenempuh djalan Sjaltut, Sjeichul Azhar, jang telah wafat danjang pernah mengundjungi negeri kita, jaitu mempeladjari mazhabSjiah ini daripada kitab-kitab mereka sendiri, dari sumber-sum-ber pokok jang mereka jakini. Kemudian saja bandingkan denganpendapat-pendapat jang terdapat dalam kitab-kitab Ahlus Sunnahwal Djamaah, kitab-kitab sedjarah dan karangan-karangan gu-bahan pengarang Barat dan Timur. Memang banjak terdapatdjuga pengarang-pengarang Sjiah jang kadang-kadang sentimen,terutama terhadap kekedjaman jang dilakukan Bani Umajjah danBani Abbas, tetapi djuga sumber-sumber Ahlus Sunnah wal Dja-maah, bukan tidak dipengaruhi oleh sentimen-sentimen, karenadiantara kitab-kitab jang lama itu kebanjakan ditulis dalam masapemerintahan Bani Umajjah dan Bani Abbas oleh ulama-ulamajang memegang djabatan pemerintah atau oleh pengarang-penga-rang jang tentu terbatas dalam mengeluarkan tjara berpikir me-nurut pendapat jang sebenarnja. vn
    • Ketjaman-ketjaman dan tuduhan terhadap Sji ah, baik olehpengarang-pengarang barat, maupun oleh pengarang-pengarangdari golongan jang menamakan dirinja Ahli Salaf, bahkan uraian-uraian jang terdapat dalam kitab-kitab Ahlus Sunnah, mengenaipersoalan-persoalan jang aneh, seperti hadis jang menjuruh me-muliakan keturunan Nabi Muhammad, nikah mutah, kawin ber-senang 2 atau kawin dalam waktu jang terbatas, Sjiah mempu-njai Quran tersendiri, Sjiah banjak mentjiptakan hadis palsu,Sjiah mengafirkan dan membentji Sahabat Nabi, Sjiah mengakuAli bin Abi Thalib sebagai seorang Nabi, dll., membangkitkankeinginan saja mempeladjari golongan ini dengan mazhab-mazhabnja. untuk mengetahui sampai dimana kebenaran tuduhan itu,terutama dalam rangka niat saja menulisi perbandingan mazhab,jang terdiri dari tiga karangan mengenai Ahlus Sunnah, Salafdan Sjiah. Dalam mempeladjari Sjiah saja menempuh djalan sebagai-mana jang pernah ditempuh oleh Sjajltut, jaichul Azhar, bekaspemuka „Darat Taqrib bajnal Mazahibil Islamijah", suatu orga-nisasi Islam di Mesir, jang bertudjuan mempersatukan kembalimazhab-mazhab Islam, jang sekarang bersaingan satu sama lain.„Damit Taqrib bainal Muzahibil Islamilah", itu pernah diketuaioleh Sjeich Sjaltut dan ulama-ulama Azhar kaliber besar, serta me-nerbitkan suatu madjalah ilmijah, bernama „Risalatul Islam" jangsudah bertahun-tahun lamanja berisi kupasan 2 dari segala bidang.Kerdjasama itu kemudian membuahkan hasil demikian hebatnja,sehingga sekarang ini dalam universitas Al-Azhar diwadjibkanmempeladjari fiqh Sjiah Djafarijah, dan Sjaltut sendiri sebagaiSjeichul Azhar dimasa hidupnja mengeluarkan fatwa bahwa tiaporang Islam dibolehkan beribadat menurut mazhab Sjiah IsnaAsjar Imamijah, karena hampir tidak berbeda dengan ilmu fiqhAhli Sunnah wal Djamaah. Seorang tokoh ulama Sjiah terbesar pada masa ini, Muham-mad bin Muhammad Mahdi Al-Chalishi Al-Kazimi, dalam mu-qaddimah kitab "Ar-Rihlah al-Muqaddasah" (New York, 1961),karangan Ahmad Kamal, berkata, bahwa orang mempertengkar-kan antara Sjiah dan Sunnah, sedang kitab Ahmad Kamal inimemperlihatkan persesuaiannja, dan memperlihatkan, bahwa per-bedaan antara mazhab Sjafii dan Sjiah lebih dekat daripada anta-ra mazhab Sjafii dan Hanafi. Kitab saja ini merupakan sebuah daripada tiga serangkaidalam rangka sumbangan saja kepada masjarakat Islam Indonesia,jang saja namakan „Perbandingan Mazhab", terdiri dari kitabMazhab Salaf, kitab Mazhab Ahlus Sunnah wal Djamaah dankitab ini, jang saja beri bernama Sjiah Ali serta mazhab-mazhabnja.vra
    • Sjiah tidak taassub mazhab, penganut Sjiah dapat meneri-ma mazhab Sjafii. Djuga dalam prinsip tidak anti penganutmazhab lain. Hal ini ternjata dari utjapan Sajjidina Ali bin AbiThalib seperti tersebut dibawah ini :Artinja : Adapun ketjintaan Nabi Muhammad adalah orang jangmenthaati Allah, meskipun djauh hubungan dagingnja. Dan musuhMuhammad ialah orang jang mendurhakai Allah, meskipun dekathubungan keluarganja (Nahdjul Balaghah). Tidak lain maksud saja supaja karangan ini mendjadi amalkebadjikan jang dapat diterima oleh Tuhan dan dihargakan olehbangsa saja Indonesia. Kepada semua mereka jang telah memberi-kan bantuannja kepada saja, dibidang tenaga, pikiran dan ilmiah,saja utjapkan terima kasih, terutama Sdr. Asad dan Ahmad Sha-hab, pengurus Lembaga Penjelidikan Islam dengan perpustakaan-nja, Sdr. Dhija Shahab dll. dengan doa, moga 2 amal saudara 2 itudibalas Tuhan dengan balasan jang berlipat ganda. Djakarta, tangga! 28 Desember 1965. Pengarang. H. Abodbakar Atjeh v
    • I. SEDJARAH KEDJADIAN DAN PERKEMBANGAN
    • 1. ISLAM D A N M U S L I M Islam adalah agama Allah, jang disampaikan denganperantaraan Nabi Muhammad kepada seluruh umat manusia.Perkataan Islam terambil dari aslama jang berarti menjerah dirikepada peraturan-peraturan Allah, satu-satunja zat jang wadjibdisembah dan ditaati. Muslim jaitu penganut agama Islam, orang, jang tunduk kepadapokok-pokok, usul dan tjabangntjabang , furu, kejakilnan Islam.Adapun jang dinamakan pokok- Islam itu jaitu. mengenai tauhid,nubuwah, dan maad. Barangsiapa jarig ragu dan bimbang tentangpokok-pokok Islam fni, menentang atau menjia-njiakan. bukanlahia seorang .muslim, sebaliknja seorang muslim pertjaja sungguh-suragguih dengan kejakiinan jang tidak ragu-ragu akan ketiga pokokIslam itu, dengan tidak memperhatikan, apakah imainnija itudidasarkan ikepada pikiran dan kesungguhan, nazar- dan idjtihad,atau berdasarkan ikutan dan kebiasaan, taqlid dan adawi, asal sadja kesemua kejakiinan itu tidak bertentangan dengan kebenaran dan tudjuan jang sebenarnja dari Islam. Adapun pikiran, bahwa mentjari alasan dan mempergunakan akal dalam aqfclah, dan tidak boleh bertaqlid. itu hanja sekedar menundjukkan, bahwa sesuatu taqlid tidak diterima, djikalau tidak sesuai dengan hakikat jang sebenarnja. tidaklah ragu-ragu jang demikian itu dapat dibenarkan didalam Islam, karena djika tidak muslim. Al-Anshari menerangkan dalam kitabnja. Al-Faraid, bah- wa pendirian umum jang terbanjak dalam Islam mengatakan, bahwa taqlid jang berdasarkan djazam dan berdasarkan adjaran jang sebenarnja dalam Islam dibolehkan. Mengenai usul agama jang diwadjibkan bagi semua orang Islam adalah sbb. I. Mengenai tauhid, tjukuplah kalau seseorang beriman,bahwa Allah Taala itu satu. berkuasa, berilmu dan berhikmahT.fctak diwadjibkan dalam tingkat pertama ini mengetahui setjaraperintjian, bahwa Tuhan bersifat zatijah dan bersifat salabijah,sebagaimana trdak diwadjibkan seseorang mengetahui denganmendalam ain zat Tuhan atau lainnja. II. Mengenai nubuwah, tjukup djika seseorang muslim mengetahui. d a n beriman, bahwa Muhammad itu pesuruh Allah, benarsegala beritanja dalam menjampaikan segala hukum, terpelihara 3
    • daripada segala kedustaan. Adapun apa jang atjapkali djuga terda-pat, bahwa Rasulullah itu mentjeriterakan djuga tentang sesuatusifat chusus mengenai pribadinja, bahwa dia manusia biasa dansebagainja, tidaklah diwadjibkan mempertjajainja. Sebaliknja,bahwa ia pesuruh Allah dan adjaran jang disampaikannja itumerupakan hukum-hukum agama jang datang dari Tuhan, wadjibdipertjajai dan dilaksanakan sebagai ibadat. Selandjutnja membenarkan tjeritera, bahwa Nabi selalumendengar dan melihat meskipun dalam tidur atau dalam waktuterdjaga, dapat melihat apa jang terdjadi dibelakangnja sebagaima-na ia dapat melihat apa j ang terdjadi didepannja, bahwa iamengetahui semua bahasa-bahasa, semua itu memang termasuktasdiq terhadap kebenaran Nabi, tetapi tidak termasuk kedalamkewadjiban pokok agama dan mazhab. III. Mengenai maad diterangkan, bahwa seorang muslimwadjib itikad dan pertjaja. d.i. bahwa tiap 2 manusia jang sudahsampai umur akan dihisab oleh Tuhan sesudah ia mati tentang âpajang dilakukannja pada waktu hidupnja, bahwa tiap manusia akanmenghadapi balasan perbuatannja. djika baik akan dibalas denganbaik, djika buruk akan dibalas dgn buruk pula. Adapun persoalan-persoalan mengenai bagaimana Tuhan menghisab hambanja,bagaimana Tuhan menjediakan pahala bagi manusia jang berbuatbaik, bagaimana Tuhan menjiksa orang-orang jang berbuat djahat,termasuk kedalam persoalan-persoalan agama jang bebas, jangtidak ditentukan tjorak kewadfibannja. Oleh karena itu pokok-pokok adjaran Islam itu dapat dikem-balikan kepada tiga perkara tersebut, pertama tauhid, pengakuanmen-esakan Tuhan, kedua nubuwah, mengaku Nabi Muhammadmendjadi Rasul Tuhan, dan ketiga maad, pertjaja kepada haripembalasan jang disediakan Tuhan bagi manusia. Barang siapajang menentang salah satu daripadanja, atau tidak mengetahui akanketiga pokok-pokok adjaran itu, tidaklah lajak ia dinamakanmuslim, baik menurut mazhab Ahli Sunnah, maupun menurut salahsatu mazhab lain jang terdapat didalam Islam. Selain itu ada djuga pokok-pokok agama jg memang termasukdjuga unsur-unsur jang wadjib diketahui, jang biasanja hampirsemua mazhab dalam Islam tidak bertentangan satu sama laindengan perßTdaan jang menjolok, seperti wadjib sembahjang,wadjib puasa, wadjib hadji, wadjib zakat, terlarang kawin denganibu atau saudara, dan lain-lain masaalah. Tidak ada perselisihanterdapat antara satu sama lain jang pokok, tetapi hanja dalamperintjiannja, jang didjamin kemerdekaannja oleh Islam, jang satuagak berlainan daripada jamg. lain. Sebabnja, menentang salah satuhukum daripada hukum-hukum itu sama artinja dengan menenlang4
    • nubuwah, menentang pengakuan kebenaran dari Muhammad, sertamendustakan apa jang sudah ditetapkan didalam Islam. Dengan ringkas dapat kita simpulkan, bahwa perbedaanantara usul dan furu dalam Islam itu ialah, bahwa j a ng pertama,barangsiapa jang, tidak mendjalankan usul Islam itu ia keluar daiiIslam, baik ia tidak imendjalankannja karena tidak mengerti ataukarena sebab jang lain; kedua barangsia jang tidak mendjalankanfuru2 jang wadjib dalam Islam, seperti dalam sembahjang da zakat,meskipnu diakui dalam hatinja berasal dari Nabi. maka ia tetaporang Muslim, tetapi Muslim jang berbuat dosa besar dan fasik. Batja kitab "Maasj Sjiah", karangan M. Djawad Mughnijah.
    • 2. ALIRAN DALAM ISLAM Umat Islam dalam masa Nabi Muhammad bersatu bulat dalamsegala-galanja. Tidak ada terdapat mazhab dan aliran ketika itu.Nabi Muhammad merupakan kesatuan sumber dalam ilmu danamal, dalam perintah dan kethaatan, suri teladan untuk seluruhkehidupan. Sumber itu ialah imengenal agama dan mempeladjariwahju Tuhan jang disampaikannja, jang tidak ada sesuatupundapat mengatasinja dalam kebenaran. Djika terdjadi sesuatuperbantahan dan perbedaan faham, utjapan Nabi adalah hakimjang memutuskan, jang harus dithaati, dan tidak ada pendapat laindari pada itu. Dalam Quran diperintahkan djclas : "Apabila kamuberbeda faham tentang sesuatu persoalan, kembalikan keputusannjakepada Allah dan Rasul" (Quran, An-Nisa, 58). Tidak adaterdapat ketika itu dua matja.m fikiran jang bertentangan, melainkandikembalikan untuk mendapat keputusannja kepada Allah danRasul dalam masa Nabi Muhammad itu masih hidup dan dapatditjapai oleh umatnja. Sesudah Nabi Muhammad wafat, umat Islam tetap bersatudalam kejakinan dan perkataannja, bahwa Tuhan Allah itu satu,bahwa Muhammad itu Rasul Allah, bahwa Quran itu datang daripada Allah, baihwa hari kebangkitan itu benar, bahwa hisab itubenar, dan sorga dan neraka pun benar ada dan akan terdjadi,sebagaimana tidak terdapat perselisihan faham diantara merekatentang sesuatu hukum agama jg sudah ditetapkan dan diperintah-kan mendjalankannja oleh Rasulullah, seperti sembahjang. zakat,hadji, puasa dll. perintah agama jang diwadjibkan dengan djelas. Mereka hanja berselisih faham dan tentang pandangan danidjtihad, baik mengenai usul pokok agama dan kejakinan. maupunmengenai urusan hukum fiqh dan tasjri, tetapi tidak mengenaipokok-pokok dasar Islam, jang dapat mengeluarkan salah seorangjang berbeda faham itu dari agamanja. Mereka tidak berselisihtentang ada dan satu Tuhan, tetapi berselisih tentang sifatnja,apakah sifat itu merupakan zat Tuhan atau tidak. Mereka tidakberselisih tentang Nabi Muhammad benar Rasul Tuhan, tetapiberbeda faham tentang terpelihara dosanja sebelum atau sesudahdbangkitkan atau sebelum dan sesudah dibangkitkan. Mereka tidakberselisih bahwa Quran itu wahju Tuhan, tetapi berbeda faham,apakah ia qadim atau hadits. Mereka tidak berselisih tentangpokok kejakinan mengenai kebangkitan manusia pada hari kemu-6
    • dian tetapi berbeda fikiran, apakah jang dibangkitkan itu tubuhdjasmaninja atau tubuh rohaninja. Mereka tidak berselisih tentang sembahjang itu wadjib, tetapi kadang-kadang berbeda faham dalam menentukan hukum mengenai ibahagian-bahagiannja, apakah masuk rukun sembahjang jang wadjib dikerdjakan atau tidak.Mengenai perintjian inilah mereka berbeda faham, dan oleh karenaitu terdapat dalam kalangan umat Islam beberapa aliran agama mengenai perintjian itu jang berbeda-beda. Sesudah wafat Nabi, umat Islam itu berbeda-beda fahamnjamengenai beberapa pokok agama jang kembali kepada iman dankejakinan dalam hatinja, sebagaimana mereka berbeda fahamdalam beberapa masalah perintjian atau furu dan tasjri dalammenetapkan sesuatu hukum jang belum djelas dalam agamamengenai amal seseorang, apakah wadjib, haram atau djaiz. Laluterbahagilah umat Islam itu dalam beberapa aliran, seperti golonganAsjari dan golongan Mutazilah, jang, mempunjai pandangan jangberbeda-beda mengenai aqidah dan usul agama, jang merupakaniman dan i tiqad orang Islam, meskipun mereka tidak berbedadalam masalah furu dan tasjri mengenai amal perbuatan. Semen-tara itu ahli-ahli hukum fiqh, seperti Hanafi, Maliki, Sjafjj danHanbali, berbeda-beda fahamnja dalam menetapkan hukum furu,meskipun mereka sepakat mengambil pokok-pokok usul mazhabAsjari untuk dasar kejakinan mereka. Demikianlah keadaannja dengan ulama-ulama Sjiah, jangkadang-kadang sepaham mengenai usul agama, tetapi berselisihpendapat dalam masalah hukum fiqh. Kesepakatan dalam usul-usulpokok kejakinan agama, tidak memestikan sepakat dalam hukumfiqh dan furu, serta sebaliknja. Demikian pendirian seorang ulamaSjiah terkemuka Muhammad Djawad Mughnijah dalam kitabnja"Asj-Sjiah wal Hakimun" (Beirut. 1962) jang kita djadikanbahan pembitjaraan dalam bahagian ini. Aliran dalam Islam itu banjak, sebagai jang pernah digambar-kan oleh Nabi semasa hidupnja dalam sebuah Hadis, dikatakanumat Islam akan berpetjah sampai tudjuh puluh tiga firqah, demi-kian katanja : "Jahudi akan berpetjah atas tudjuh puluh satu aliran,Nasrani akan berpetjah atas tudjuh puluh dua aliran, sedang umat-ku akan terbagi-bagi dalam tudjuh puluh tiga aliran" (Al-Hadis).Apa jang disabdakan Nabi itu mungkin terdjadi, sudah atau akanterdjadi, tetapi dalam sedjarah Islam dapat kita golongkan mazhab-imazhab jang banjak itu atas empat aliran besar jarig pokok, jangakan kita perkatakan disini dengan menjebut dasar-dasar penditi-annja jang utama. Pertama Sjiah. Sjiah ini berbeda pendapatnja dengan aliranlain diantaranja dalam pendirian, bahwa penundjukan imamsesudah wafat Nabi ditentukan oleh Nabi sendiri dengan na«h. ?
    • Nabi tidak boleh melupakan nash ini terhadap pengangkatanchalifahnja, sehingga menjerahkan pekerdjaan pengangkatan itusetjara bebas kepada umatnja dan ehalajak ramai. SelandjutnjaSjiah berpendirian bahwa seseorang imam jang diangkat itu harusmasum atau terpelihara dari pada dosa besar atau dosa ketjil, danbahwa Nabi Muhammad dengan nash meninggalkan wasiatnjauntuk mengangkat Ali bin Abi Thalib mendjadi chalifahnja, bukanotang lain. dan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah seorang saha-batnja jang pertama dan utama. Kedua Chawaridj. Pokok-pokok pendirian aliran ini diantaralain dapat kita katakan, bahwa chalifah orang Islam tidak mestiseorang jang berasal dari suku Quraisj, bahkan tidak mesti dariseorang Arab. Semua manusia sama. Seorang mumin jangmengerdjakan dosa adalah kafir. Kesalahan dalam berfikir danber.djtihad adalah dosa apabila terdapat bertentangan denganfikiran mereka, oleh karena itu mereka mengkafirkan Ali karenamenerima tahkim, meskipun tahkim damai antara Muawijah danAli tidak dikemukakan setjara merdeka. Mazhab Azraqijah darialiran ini berkejakinan, bahwa tiap orang Islam jang menjalahipendiriannja, dihukum musjrik. tetap dalam api neraka, wadjib dibu-nuh dan diperangi. Ketiga Mutazilah, jang mempunjai lima pendirian : 1. At-Tauhid, kejakinan bahwa Allah itu satu dalam zatnja dan sifatnja,dan sifat Allah itu adalah zat Allah sendiri. 2. Al-Adl, bahwa Tuhan itu adil. jaitu bahwa manusia itu diberi kemauan merdekauntuk bertindak dan tidak digerakkan oleh kodrat dan iradatTuhan sadja.3. Al-Manzilah bajnal Manzllatain, memberikankedudukan diantara dua kedudukan mumin dan kafir. Orang Islamjang mengerdjakan dosa besar akan ditempatkan pada suatu tempatantara orang mumin dan kafir. Ia bukan orang imumin karenatidak menjempurnakan sifat kebadjikan, dan bukan pula orangkafir karena sudah mengutjapkan dua kalimat sjahadat. Ia tetapabadi dalam neraka, karena diachirat itu tjuma ada satu sorga dansatu neraka, tetapi diringankan azabnja dan masih disebut orangIslam. 4. Al-Waad wal waid. Dimaksudkan dengan istilah inibahwa djika Allah mendjandjikan pahala atas sesuatu kebadjikan,mesti dikerdjakannja, dan apabila ia mendjandjikan siksaaan atassesuatu kedjahatan. maka djandjinja itu pun wadjib ditepati, tidakberhak Tuhan memberi ampunan atas djandji jang sudah ditetap-kan. 5. Amar maruf nahi rrtunkar. Pekerdjaan ini wadjib berda-sarkan akal manusia, bukan berdasarkan kepada perintah Allah danRasulnja. Keempat Al-Asjari, jang menentang pendirian-pendirianMutazilah jang lima itu. Aliran ini berkata, bahwa sifat Allah itubukan zatnja, tetapi sesuatu tambahan atas zatnja. Tiap manusia8
    • berbuat atas kehendak Tuhan, tidak mempunjai kemauan jangbebas. Allah tidak wadjib memenuhi djandji atas kebadjikan danatas kedjahatan, dengan memberi pahala kepada jang berbuat baikdan menjiksa jang berbuat djahat. Balasan jang berlainan dengandjandji ini boleh dilakukan Tuhan, karena tidak ada sesuatupunjang mewadjibkan dia menetapi djandji itu. Selandjutnja aliran iniberpendapat, bahwa orang jang berbuat dosa besar tidak diletakkanpada tempat diantara orang mumin dan orang kafir, dan bahwaia tidak abadi dalam neraka. Mereka berpendapat, bahwa amarmaruf dan nahi munkar itu diwadjibkan karena Quran dan Sunnahbukan karena penetapan akal manusia. Demikianlah empat aliran besar, dan dari aliran ini lahirlahmazhab-mazhab jang banjak itu. jang berbeda satu sama lain dalampendirian mengenai usul dan furu. Aliran Sjiah sedjala n dengan Mutazilah mengenai tauhid dankeadilan, dan mcnjalahinja dalam tiga pendirian jang lain. Orang-orang Sjiah sepaham dengan Asjiari dalam masaalah dosa besardan dosa ketjil, amar maruf dan nahi munkar. Mereka berbedadengan Mutazilah dan Asjiari dalam persoalan waad dan waidkarena mereka berkejakinan bahwa Allah selalu menepati djandjibagi mereka jang berbuat kebadjikan, dan tidak wadjib mendjalan-kan djandjinja kepada hambanja jang berbuat djahat, baginjaterserah kurnia mengampuninja. Tidak berhak diputuskan denganhukum akal, bahwa Tuhan menjalani djandjinja akan memberipahala kepada hambanja jang berbuat baik. u
    • 3. P E R K A T A A N SJIAH Perkataan Sjiah itu sudah dikenal dan dipergunakanorang dalam masa Nabi, bahkan terdapat beberapa kali dalamQuran, jang berarti golongan, kalangan atau pengikutan sesuatupaham jang tertentu. Dalam kamus, perkataan Sjiah itu atjapkali diartikan orangpengikut, pembantu, firqah, terutama pengikut dan pentjinta Alibin Abi Thalib serta Ahlil Bait Rasulullah. Dalam K«mus Tad,ulArus. perkataan Sjiah itu diartikan suatu golongan jg mempunjaikejakinan paham Sjiah, dalam bantu membantu antara satu samalain, begitu djuga dalam kamus besar Lisanul Arab. Dalam Azhariditerangkan bahwa arti Sjiah itu ialah pengikut satu aliran, jangmentjintai keturunan Nabi Muhammad dan mentaati pemimpin-pemimpin jang diangkat daripada keluarganja dan keturunannja Dalam Quran tersebut : "Ini dari Sjiahnja dan itu darimusuhnja". (Quran). Dalam ajat jang lain disebut : ,.DiantaraSjiahnja ada jang berpihak kepada Ibrahim" (Quran). Begitudjuga tersebut dalam Quran : ..Bahwa Firaun itu meninggikan,dirinja diatas muka bumi, dan mendjadikan keluarganja djadiSjiahnja atau pengikutnja" (Quran). Djadi dapat kita simpulkan,bahwa Sjiah itu tidak lebih dan tidak kurang artinja daripadamazhab, sebagaimana kata ini digunakan untuk mazhab Sjarfi,Hanafi, begitu djuga perkataan Sjiah Ali tidak lain artinja daripadamazhab Ali dan keturunannja. Dalam masa Nabi penggunaan kata Sjiah dalam pengertian berpihak atau memilih golongan Ali sudah terdapat, baik sebelum maupun sesudah wafat Nabi, sebagaimana jang diterangkan oleh An-Nubachti, pengarang dalam abad hidjrah ke IV, dalam kitabnja Al-Firaq wal Maqalat. Ia menerangkan, bahwa seluruh golongan jang terdapat dalam Islam tidak keluar dari empat aliran paham, jaitu Sjiah, Mutazilah, Murdjiah dan Chawaridj. Sjiah itu Hlah suatu golongan aliran paham, jang berpegang pada Ali bin Abi Thalib, baik dalam masa Nabi, maupun sesudah wafat Nabi, dikenal dengan ketaatannja dalam keputusan dan keimanannja, seperti jang diperbuat oleh Miqdad bin Aswad, Salman Farisi, Abu Zar, Djundub bin Djanadah al-Ghaffari, Ammar bin Jassar. dan orang-orang jang bersimpati kepada kepribadian Ali bin Thalib. Orang-orang inilah jang mula-mula menggunakan nama Sjiah, sebagaimana dimasa jang silam orang menggunakan kata Sjiah itu 10
    • bagi pengikut Nabi Ibrahim, Musa, Isa dan N a b r N a b i lam. Dalam kitab Az-Zinah, karangan Abu Hatim Sahi bin Muham-mad Sadjastani (mgl. 205 H ) , sebagaimana d jug a dalam kitabKasjfuz Zunun, djuz III, tersebut uraian tentang perkataan Sjiahitu seperti berikut. Lafad Sjiah dalam masa Rasulullah digunakanuntuk menamakan empat orang sahabat Nabi jaitu Salman al-Farisi,Abu Zar al-Ghaffari, Miqdad bin Aswad al-Kindi dan Ammar binJassar. Kemudian sesudah pembunuhan atas diri Usman dan pemberontakan Muawijah serta pengikutnja menghadapi Ali binAbi Thalib. begitu djuga sesudah dikemukakan penagihan darah Usman maka banjaklah orang-orang Islam memilih golongan- golongannja, dan dikala itu pengikut-pengikut paham jang membe- narkan Usman dinamakan Usmanijah. dan sebahagian pula jang berpihak kepada Ali bin Abi Thaib dinamakan Alawijah. meskipun perkataan Sjiah itu masih terpakai sampai masa pemerintahan Bani Umajjah. Tetapi dalam masa pemerintahan Bani Abbas atau jang dinamakan Abbsasijah, pemakaian nama Alawijah dan Usmanijah dihapuskan, lalu timbul dua nama b a ru bagi golongan-golongan Islam itu, jaitu nama Sjiah dan nama Sumpah, dengan pengertian s a mpai sekarang masih digunakan untuk mereka jang mentjintai Ali dan mereka jang mentjintai Usman, ketjuali untuk golongan Chawaridj. Menurut Firhrasat Ibn Nadim, perkataan Sjiah utk. pengikut Ali itu mulai dipakai sedjak perang Djamal, tetapi keterangan Ibn Nadim ini banjak disangkal orang, jang benar ialah sudah diguna- kan sedjak zaman Nabi. Dalam sebuah kitab jang bernama Ghajatul Ichtisar fi Achbaril Bujutil Alawiijah al-Mahfuzah minal Ghubbar, karangan Ibn Hamzah al-Hussaini, ketua Madjlis Sjari di Halb, jang ditjetak di Mesir pada pertjetakan pemerintah Bulaq, ada disebut sedjarah .perkataan Sjiah itu sebagai berikut : Tiap golongan jg. mengikuti paham seseorang pemknpinnja dinamakan Sjiah. dan Sjiah itu berarti mengikuti, dan membantu imam itu dalam segala perintah dan itikadnja. Tatkala pemerintahan dipegang oleh Bani Umajjah. banjaklah orang Islam jang tidak menjukai siasatnja. satu persatu lari dari Bani Umajjah itu kepada Bani Hasjim. lalu mengikat dinnja dala m suatu persaudaraan, dalam bantu membantu dan dalam taat-mentaati imamnja. sedjak itu mereka menamakan dirinja Sijah Muhammad, art.nja golongan Muhammad. Ketika itu tidak terdapat antara Bani Ali dan Bani Abba s perbedaan paham dan perbedaan mazhab. Tetapi tatkala Bani Abbas berkuasa da n melaku kan beberapa banjak kesalahan seperti jang pernah dilakukan oleh Bani Umajjah, terdjadilah perselisihan paham antara Bani Ali dan Bani Abbas itu. sedjak itu berdirilah golongan chusus jg. dinamakan Sjiah, sangat tjondong kepada Bani Ali, mereka menganggap 11
    • bahwa Bani Ali itu lebih berhak, lebih utama dan lebih adil daripadagolongan jang lain itu. Maka oleh karena itu golongan Sjiah itumend jadikan imam-imamnja dari keturunan Ali, lalu menamakanmazhabnja itu Ainuriah al-Imamijah, sampai kepada Al-MahdiMuhammad bin Hasan, tidak mau berimam kepada Bani Abbas. Sjii adalah petjahan dari kata Sjiah, jang berarti penganutSjiah dan Tasjaijju, artinja menganut paham sebagaimana jangterdapat dalam Sjiah jang telah berbentuk mazhab tertentu itu. Semua keterangan ini selain daripada jg. sudah kita paparkandiatas dapat dibatja orang kembali dalam Lisanul Arab, sebuahencyclopaedi Arab jang lengkap, dalam kitab Basjarat Sjiah,karangan Al-Mazandrani, tertulis 1155 H. dalam Madjmau] Bajan,dan lain-lain kitab, seperti karangan Sajuthi.12
    • 4. SEBAB-SEBAB D A N MASA KELAHIRAN Muhammad Djawad Mughnijah menjangkal pendapat penulisBarat jàng mengatakan bahwa sebab-seb a b jang melahirkan Sjiahitu ialah politik jang ditudjukan untuk menguasai pemerintahan bagiAli bin Abi Thalib sesudah wafat Nabi Muhammad. Pandanganjang demikian itu tidak benar, karena sebab-sebab mengemukakanAli bin Abi Thalib sebagai chalifah pertama tidak berdasarkanse-mata 2 atas hasrat dan perdjuangan politik, tetapi jang pertamadan utama berdasarkan kepada nash Nabi Muhammad jg. mengu-tamakan Ali sbg. penggantinja sesudah ia wafat. Nash ini adajang merupakan perbuatan, dan ada jang merupakan perkateanNabi Muhammad sebelum wafat. Dalam perbuatan Nabi memilih Ali mendjadi saudaranja, sekali di Mekkah dan sekali lagi sesudah pindah ke Madinah. Nabimendidik dan mengadjar Ali dari ketjil dalam adjaran Islam, danpernah mengangkatnja mendjadi pembantunja untuk mengadjarkanagama Islam itu dalam kalangan keluarganja jang sutji. Alimendampingi Rasulullah sedjak ketjil sampai mati dalam segalaurusan-urusan penting, sedjak dari urusan dawah, urusan rumah tangga sampai kepada urusan peperangan jang besar-besar danberbahaja, Nabi pernah menjerahkan pandji-pandji peperangan dantugas-tugas jang utama dalam peperangan, seperti tugas memerangiUmar bin W u d d dan Marhab, mengurus orang-orang NasraniNadjrau dll. Nabi Muhammad memungut Ali mendjadi menantunya,mendjadi suami Fathimah, jang ditjintainja. Nabi mentjintai keduaanak Ali. Hasan dan Husain, jang dinamakan dua keharumannja,dan jang vvadjahnja lebih banjak mirip kepada Nabi daripadakepada Ali, sebagaimana jang pernah diutjapkan oleh chalifah AbuBakar. Djadi korban Ali kepada Nabi Muhammad tidak sedikit,dibandingkan dengan sahabat-sahabat jang lain. Dihari-hari jangsangt sukar di Mekkah, Ali adalah temannja jang setia, Ali pernahmenggantikan Nabi ditempat tidur tatkala ia dikepung oleh orangQuraisj jang mendengar Nabi mau hidjrah ke Madinah. Sesudahkemenangan Islam tertjapai. tugas-tugas jang berat itu dilandjutkan,misalnja tugas membasmi berhala-berhala kepunjaan beberapakabilah Arab jang kuat dalam perlawanannja. Banjak lagi jang lainlain sikap dan perbuatan Nabi terhadap Ali, sebagaimana jangdisebut orang dalam sedjarab hidup pahlawan Islam ini. Dalam perkataannja tidak terhitung banjak Nabi mengutjapkan 13
    • perkataan-perkataan jang menundjukkan tjinta, kepertjajaan dankedudukan Ali sebagai wazirnja dan chalifahnja. Dalam QuranTuhan memerintahkan kepada Nabi untuk memberi pengadjarankepada keluarganja jang terdekat, dan dalam suatu pertemuanmakan minum jang diselenggarakan dua kali atas ongkos Ali danajahnja. Nabi -mengatakan kepada semua keluarganja terhadapAH : "Ini pewarisku, wazirku, wasiatku dan chalifahku untukmusesudah aku mati, dengarlah perkataannja taatilah segala perintah"nja". Dalam sebuah hadis jang lain Nabi berkata : "Barangsiapajang mengambil aku mendjadi pemimpinnja. maka Ali-lah pemim-pinnja itu". Diantara dua hadis ini banjak sekali hadis-hadis janglam jang menundjukkan kepada keangkatan Ali disamping Nabi.Misalnja hadis jang berbunji. diutjapkan kepada Ali sendiri :"Engkau terhadap aku adalah sebagai kedudukan Harun terhadapMusa", dan hadis : "Ali beserta haq dan haq bersama Ali". Terha-dap umum tjukup diperingatkan kepada hadis jg biasa dinamakan"Hadis Saqalain". dimana Nabi mengutjapkan menurut riwajatSj.ah : "Kutinggalkan kepadamu dua perkara jang berat, pertamaQuran dan kedua keturunanku dan Ahli rumahku", sebuah hadisjang djuga dibenarkan oleh perawi-perawi Ahli Sunnah. Keterangan-keterangan mengenai wasiat Nabi terhadap Alidibitjarakan oleh hampir semua kitab-kitab Sjiah, diantaranjadalam kitab Ajanusj Sjiah", karangan Al-Amin. dalam kitab"Al-Muradjaat", karangan Sjarfuddin dan dalam kitab "Dailailus-Shidiq" karangan Al-Muzaffar. Tidak ada seorangpun diantaraulama Ahli Sunnah jang meragu-ragui akan kebenaran hadis 2 itu,diutjapkan oleh Nabi sebagai wasiat kepada Ali. banjak diantaramereka jang mentawilkan hadis-hadis itu dengan tjinta dan ichlasNabi kepada Ali. bukan dengan hukum penetapan dan keangkatanmendjadi chalifah. Orang Sjiah mentawilkan hadis-hadis itu, bahwa Nabi telahmenentukan wilajah dan chalifahnja kepada Ali, tidak kepadaorang lain, sebagaimana jang telah diutjapkan dalam Hadis: „Tidakada_ pedang lain ketjuali Zulfiqar dan tidak ada pemuda ketjualiAli", diriwajatkan oleh Thabari dalam kitab sedjarahnja. III : 17,dan oleh Ibn Asir dalam kitabnja, III : 74, begitu djuga hadis :„Ali beserta haq dan haq bersamaan Ali," sebagaimana diriwajat-kan oleh Ibn Abui Hadid. Tarmizi dan Hakim. Keterangan-keterangan Nabi ini dipegang oleh Sjiah tidakdengan menggunakan tawil, tidak karena dhan, taassub atau taqlid,dan oleh karena itu sebab-sebab terdjadinja Sjiah adalah berdasar-kan kejakinan agama, bukan karena politik atau hawa nafsu. Mengenai hadis-hadis wasiat ini katai persilahkan membatjaketerangan ja n g lebih landjut dalam kitab jang sudah disebutkandiatas. dan djuga dalam kitab "Isbahil Washiah lil Imam Ali bin14
    • Ali Thalib" (Nedjef, 1955 , karangan Al-Mas*udi, pengarang kitabsedjarah jang terkenal "Murudjuz Zahab", jang meninggal tahun346 H. Abu Zahrah menerangkan tentang masa lahir Sjiah dalamkitabnja "Al-Mazahibul Islamijah". Dan berkata, bahwa Sjiah ituadalah suatu mazhab politik Islam jang paling tua, lahir pada achirmasa pemerintahan Usman, tumbuh dan bertambah tersebar dalammasa pemerintaha n Ali bin Abi Thalib. Selandjutnja ia menerang-Kan, bahwa mazhab Sjiah itu lahir pada waktu peperangan Djamal.Djuga ia menerangkan, bahwa Sjiah itu lahir bersamaan denganiahirnja golongan Chawaridj. Thaha Husain dalam kitabnja "Aliwa Banuhu", menerangkan, bahwa mazhab Sjiah ini adalah sebuahmazhab siasat jang teratur dibelakang Ali dan anak-anaknja, lahirdal^m masa pemerin-taheri Hasan bin Ali. Tetapi orang-orang Sjiah, diantaranja Muhammad DjawadMughnijah jang kita sudah sebutkan diatas, berpendapat bahwasedjarah Iahirnja Sjiah bersamaan dgn. lahir Nash Nabi menge-nai keangkatan Ali mendjadi chalifah. Sahabat-Sahabat Nabi jangiterbaik sudah melihat bahwa Ali adalah tangan kanan NabiMuhammad. Jang berpendapat demikian itu diantara lain ialah IbnAbui Hadid. Ammar bin Jasir, Miqdad bin Aswad, Abu Zar,Salman Farisi, Djabir bin Abdullah, Ubaj bin Kaab, Huzaifab akJamani, Buraidah, Abu Ajjub al-Anshari, Sahal bin Hanif, Usmanbin Hanif, Abui Haisam bin Tahan Abu Thufail, dan semua Ba-ni Hasjim. Dalam kitab „Tarichusj-Sjiah, karangan Muhammad Hussainal-Muzaffar tersebut, bahwa Muhammad Kurd Ali dalam kitabnjamengenai Sjam memperkatakan segolongan sahabat-sahabat besarjang telah mengakui perwalian Ali dalam masa Rasulullah, sepertiSalman Farisi. jang berkata : "Kami membuat baiat kepada Ra-sulullah untuk menasihatkan orang Islam dalam agamanja dan kamimengakui Ali bin Abi Thalib sebagai imam dan wali Nabi". SaidakChudri pernah berkata : „Orang Islam diperintahkan limaperkara, jang dikerdjakan tjuma empat dan ditinggalkan satuperkara". Tatkala ditanjakan kepadanja tentang empat perkarajang dikerdjakan. ia menundjukkan pertama shalat, kedua zakat,ketiga puasa dan keempat hadji. Tatkala ditanja lagi kepadanja,apakah jang seperkara lagi jang ditinggalkan oleh orang Islam.Said mendjawab : „Mendjadikan Alin bin Abi Thalib wali Nabi".Orang berkata kepadanja, apakah itu mendjadi sesuatu jg fardhu.Djawabnja : „Betul, jang demikian itu mendjadi sesuatu jangwadjib". Adapun keterangan, bahwa jang mengadakan Sjiah itu ialahAbdullah bin Saba, pikiran ini berdasarkan faham semata-mata.Sedikit sekali orang mengetahui tentang Abdullah bin Saba dan 15
    • mazhabnja. Dalam kalangan Sjiah Abdullah bin Saba tidak dike-nal, dan orang-orang Sjiah menjatakan berlepas tangan tentangutjapannja dan amalnja (Muhammad Djawad Muqhnijah Asi-Siiahwal Hakimun, (hal. 2). Pendapat tentang Abdullah bin Saba ini berasal dari penga-rang Barat. Dalam salah satu bahagian lain akan kita singgungkembali mengenai persoalan ini. /
    • 5. W A S I A T NABI KEPADA ALI Salah satu perbedaan paham jang besar antara Sjiah dan AliSunnah ialah, bahwa Ahli Sunnah tidak mau mengaku ada nashmengenai wasiat Nabi Muhammad tentang pengangkatan Ali binAbi Thalib mendjadi chalifahnja sesudah ia wafat. Sudah kitaterangkan, bahwa meskipun seseorang Islam mau mejakini chalifahatau Imamah Ali atau tidak, ia tidak keluar dari agama Islam,karena persoalan ini merupakan persoalan mazhab. Tetaoi olehkarena kejakinan imamah ini merupakan dasar perdjuangan pokokdaripada gerakan Sjiah, ada baiknja djika kita ketahui alasan-alsan agamanja mengenai persoalan itu dan perlainan alasan darigerakan Ahli Sunnah. jang selalu menentang adanja nash, jangmewadjibkan Ali bin Abi Thalib diangkat sebagai chalifah jangpertama sesudah wafat Nabi. Ahli Sunnah wal Djamaah menolak adanja wasiat Nabimengenai Ali, berdasarkan diantara lain kepada sebuah hadis, jangdiriwajatkan oleh Buchari dalam Sahihnja daripada Al-Aswad.Kata Al-Aswad bahwa Aisjah pada suatu hari ditanjakan orangtentang wasiat Nabi kepada Ali, lalu ia mendjawab dengankeheranan : „Siapa jang mengatakannja ? Pada waktu Nabi akanwafat, ia bersandar kepada dadaku dan ia meminta air untuk membersihkan mukanja, lalu ia wafat. Bagaimana ia meninggalkan wasiat kepada Ali ?" Hadis ini dikeluarkan Buchari dalam kitab wasiat, hal 83. djuz jang ke-II dari kitab Sahihnja. djuga disinggungnja dalam bab Nabi Sakit dan wafat hal 64 djuz ke III dari kitab jang sama sebagaimana Muslim mengemukakannja dalam djuz ke II. hal 14 dari kitab Sahihnja. Hadis jang sematjam ini banjak diriwajatkan Buchari dari bermatjam sumber dan dengan bermatjam lafadh. Dalam kitab Hadis Muslim dikemukakan sebuah hadis dari Aisjah. jang berkata : „Rasulullah tidak meninggalkan satu dinar atau satu dirham, atau seekor kambing atau seekor kuda, serta tidak mewa- siatkan sesuatu". Dalam dua kitab Sahih Buchari dan Muslim dimuat sebuah hadis berasal dari Thalhah bin Masraf. katanja : „Saja tanjakan kepada Abdullah bin Abi Aufa, apakah Nabi pernah meninggalkan wasiat T. Katanja : „Tidak". Lalu kataku : „Bagaimana ia menulis wasiat kepada manusia, kemudian ia meninggalkannja ?". Djawab- nja : „Ia berwasiat dengan kitab Allah". Dengan alasan-alasan ini Ahli Sunnah wal Djamaah menolak 17 i
    • adanja wasiat Nabi, j a ng menjuruh mengangkat Ali sebagai chalifah sesudah wafatnja. Tetapi orang Sjiah mempunjai alasan-alasan jang tjukup kuat pula untuk menundjukkan nash-nash mengenai wasiat itu dan mempertahankan pendiriannja, bahwa Nabi Muhammad memang sudah berkali-kali mewasiatkan agar Ali bin Abi Thalib mendjadi oicJifah, jang akan meneruskan urusan agama Islam. Wasiat itu katanja tidak dapat disangkal lagi. sesudah Nabi mewariskan kepadanja ilmu dan chidmat (Al-Musawi. Al-Muradjaat, no 66, hal 234), sesudah Nabi memerintahkan Ali dikala mati memandi- Kannja. mengafaninja serta menguburkannya (Ibn Saad dj. II, bg. 2 hal, 61, dan djuga hadis-hadis lain, sesudah Nabi meneruskan penjiaran agamanja, melaksanakan djandjinja dan tjita-tjitanja (Hadis Thabrani, Abu Jula, Ibn Mardawaih. Dailumi dll . sesudah Nabi menerangkan kepada umatnja. apa jang akan mereka pertengkarkan dan menjuruh Ali menjelesaikannja (Dailumi Abu Zar, Dailumi bin Anas, lih. Kanzul Ummal, V I : 156), sesudah di- j e l a s k a n bahwa Ali saudaranja (Hadis Ummu Sulaim dim Masnad imam Ahmad V : 31. ajah anaknja Abu Jula (sesudah dinjata- kan djadi wazirnja (Ahmad, Nasai. Hakim. Zahabi dll), sesudah dinjatakan pemenangnja (Hakim, Mustadrak II : 472), sesudah dinjatakan mendjadi walinja dan orang jang diwasiatkan (Ibn Abbas), sesudah disebutkan Ali djadi pintu gudang ilmunja (Thabrani Ibn Abbas. Hakim-Djabir). sesudah digelarkan kampung hikmahnja (Tarmizi, Ibn Djarir), sesudah Ali dinjatakan mendjadi pintu perlindungan umat (Darquthnrlbn Abbas), sesudah dinjata- kan mendjadi ketjintaanja, sesudah dinjatakan mendjadi penghulu orang Islam, Imam Aulia Allah, sesudah ditempatkan seperti tempat Nabi Harun dan Musa, sesudah diterangkan semisal kepala dan badan dengan dia, dan sesudah dinjatakan Ali itu dipilih Tuhan untuk dunia ini dsb. Orang Sjiah menganggap semua hadis-hadis itu merupakan wasiat atau penundjukan Ali sebagai gantinja. Mazhab Empat menolaknja, hanjalah karena dianggap tidak sesuai dengan sesudah kedjadian keangkatan tiga chalifah sebelum Ali dan keputusan Sjiah diambil lama sesudah kedjadian itu. Orang Sjiah menerangkan, bahwa pendapat Ibn Abi Aufa. bahwa Nabi ada meninggalkan wasiatnja berupa Kitabullah benar adanja. tetapi sebagaimana disebutkan dalam hadis "Saqalain", kitab itu ditinggalkan bersama-sama dengan „Itrah". keluarganja. jang terpenting Ali bin Abi Thalib. Djuga orang Sjiah tidak menjangkal. bahwa Sitti Aisjah adalah salah seorang isteri Nabi jang afdhal. tetapi bukan jang utama dan pertama, karena banjak hadis (diantaranja dari Aisjah sendiri)menerangkan, bahwa Nabi pernah berkata : "Wanita utama ialahChadidjah binti Chuwailid. Fatihimah binti Muhammad, Asjahbinti Mazahim dan Marjam binti Imran, semuanja wanita utama ini18
    • isi sorga" (Buchari). Selain daripada itu tatkala Safijah binti Hujaj menangis karena diedjek Aisjah dan Hafsah, N ab; menjuiuh mengatakan kepada kedua isterinja jang lain itu, bahwa ia leb,h baik daripada mereka, karena ajahnja Harun, pamannja Musa dan suaminja Muhammad (Tarmizi). Dengan tidak mengurangi kelebihan Aisjah sebagai ibu orang mumin dan isteri Nabi jang disajanginja, orang Sjiah menundjukkan beberapa perkara, dimana Aisjah kelihatan agak tidak . sangat keistimewaannja Ali dalam utjapannja. Salah satu sikapnja jang dapat menggambarkan suasana ini ialah tindakannja dalam peperangan Djamal Besar, dimana Aisjah dengan tenteranja menghadapi pasukan Ali bin Abi Thalib. sebagaimana jang diterangkan oleh Ibn Djarir dan Ibn Asir dalam kitab 2 sedjarahnja. Selain daripada itu, pada waktu ia menerangkan kisah Rasulullahsakit dan digotong dua orang kiri-kanannja, ia hanja menjebut jang menggotong itu seorang bernama Abbas bin Abdul Muttalb sedang jang lain disebut sadja seorang laki-laki, padahal ia kenalnamanja. menurut Ibn Abbas, Aisjah tahu bahwa orang itu adalahAli bin Abi Thalib. Lain tjontoh lagi tentang sikap Aisjah ini terhadap Ali ialah,bahwa ia lebih banjak berbitjara tentang Ammar daripada Ali, tai-kala kedua-duanja datang kepada Aisjah (Masnad Imam AhmadVI : 113). Pada waktu itu Aisjah tidak m a u berbitjara tentang Alidan ia menerangkan, apa jang harus dikerdjakan oleh Ammar. Penjembunjian jang sematjam ini dari Aisjah tentu digerakkanoleh rasa kurang senang terhadap Ali. dan oleh karena itu orijiah menganggap, bahwa banjak hal-hal jang tidak disampaikanoleh Aisjah mengenai Ali. Nas 2 mereka mengenai wasiat dianggapiebih kuat daripada beberapa hadis umum jang diriwajatkan olehAisjah. Saja peringatkan disini akan suatu perkara antara Sitti Aisjahdan Ali, dikala Aisjah mendapat tuduhan dari kaum muniMadinah, karena ketinggalan kafilah dalam sesuatu peperangan,perkara j a ng dikenal dalam sedjarah Islam dengan Hadis Ifki.Dikala itu Ali mengeluarkan pendapatnja kepada Nabi, jang rupan,amenjinggung perasaan Sitti Aisjah. Kemudian ada pula perkaratanah jang oleh Sitti Fathinvah dianggap berhak menerimanjasebagai pusaka, tetapi oleh Abu Bakar, jang ketika itu mendjadichalifah diputuskan, bahwa Nabi tidak meninggalkan harta pusakakepadanja. Rupanja kedjadian-kedjadian ketjil ini djuga mempenga-ruhi sikap sebagian golongan Sjiah terhadap mereka jg mendudukisinggasana sesudah wafat Nabi. dengan-akibatjang berlarut-larut Kembali kepada wasiat Nabi kepada Ali, Sjiah berpendapat,bahwa hadis-hadis jang digunakan oleh Ahli Sunnah, sebagai jangkita sebutkan diatas, tidak tjukup sah dan kuatnja untuk menolak
    • sekian banjak berita utjapan Rasulullah, jang telah membajangkanAli sebagai chalifahnja. Hadis-Hadis Aisjah itu menundjukkankeadaan umum, bahwa Rasulullah tidak meninggalkan harta benda,emas dan perak, karena kita ketahui tak ada penghargaannjakepada kekajaan duniawi, tet2p; ada wasiat 2 jang lebih penting, jaitumengenai penjelenggaraan agamanja, jang ditinggalkannja berupa„Kitabullah dan keluarganja jang sutji. jang tidak dapat dipisahkansampai hari kiamat." Rasulullah telah mewasiatkan kepada Ali pada permulaandawah Islam sebelum lahir, sebelum kuat Islam itu di Mekkah..dengan perintah Tuhan : "Berikanlah peladjaran kepada keluarga-mu jang dekat" (Quran). dan tidak putus-putusnja wasiat inidiulang-ulang dalam berbagai bentuk dan bermatjam utjapan. ImamAbdul Husain Sjarfuddin al-Musawi dalam kitabnja "Al-Munadjat" (Nedjef 1963), dalam Mabhas ke II, Muradjaat 20. hal. 144,membitjarakan pandjang lebar ajat-ajat Quran dan hadis-hadisjaag bersangkut-paut dengan Chilafah Imamah ini, tidak kita ulanglagi disini, tetapi tjukup kita mempersilahkan pembatja mempela-djarinja disana. Ada sebuah kedjadian jang penting pang dikemukakan olehgolongan Sjiah jang menarik perhatian kita dalam pemberianalasan wasiat ini, jaitu kedjadian dikala Nabi akan wafat,sebagaimana jang dikemukakan oleh Buchari (II : 18), Muslim dim.Sahih, Ahmad bin Hanbal dim Masnad, dan hampir semua ahli ha-dis. Tatkala itu Nabi berkata : "Berikan daku kertas, aku akanmenuliskan bagimu sesuatu wasiat jang dapat mentjegahkan kamudari kesesatan !" Nabi tidak djadi melakukannja, tetapi jangmendjadi pertanjaan, apa wasiat jang akan ditinggalkan Nabi.Setengah sahabat menerangkan, bahwa wasiat jang akan ditulisitu terdiri dari tiga perkara, pertama bahwa Nabi akan mendjadi-kan Ali sebagai wali atau penggantinja. kedua bahwa semua oranguausjrik harus dikeluarkan dari tanah semenandjung Arab, danketiga bahwa utusan-utusan jang datang hendaklah diperlakukan,sebagaimana jang sudah pernah dilakukan. Tetapi keadaan politik dan perimbangan kekuatan ketika itutidak mengizinkan, wasiat jang pertama itu diumumkan. Sjiahmenuduh, bahwa banjak sahabat jang melupakannja. Buchariberkata pada penutup hadis wafat Rasulullah itu, bhw. ia berwasiattiga perkara, jaitu mengeluarkan orang musjrik dari djazirah Arab,menerima utusan sebagaimana jang diterima, kemudian ia berkata,bahwa ia lupa w a siat jang ketiga. Demikian djuga pengakuanMuslim dan pengakuan semua pengarang Sunnan dan Masnad (lih.Al-Muradjaat hal. 255). Banjak pengarang Sjiah djuga menolak pengakuan Sitti20
    • Aisjah, bahwa Nabi Muhammad meninggal dalam pangkuannja,sebagaimana jang diakui dalam hadis-hadisnja. Menurut pengarangSjiah, Nabi Muhammad itu wafat dan melepaskan nafas jangpenghabisan dalam pangkuan saiudaranja dan penggantinja (wali),jaitu Ali bin Abi Thalib. Jang demikian itu menurut ketetapanulama-ulama hadis Sjiah jang mutawatir dan kitab-kitab Sahihnjajang mutamad. meskipun Ahli Sunnab berpendapat lain daripadaitu (Al-Muradjaat, h#l. 255-256). 21
    • 6. K E I M A N A N PADA SJIAH Mazhab Sjiah mewadjibkan kejakinan berpegang kepadaimam, jang selalu harus ada ditengah-tengah m a sjarakat Islam,sebagaimana jang pernah terdjadi dalam masa Rasulullah, bahwasemua orang Islam berimam kepadanja. Imam itu harus merupakanpemimpin dalam urusan dunia dan urusan agama, seolah-olah iapengganti Nabi dalam kekuasaan dan kesempurnaannja, iamenguruskan peradilan, mengepalai masjarakat. memimpin keten-teraan, mengimami salat, mengurus keuangan negara, menjeleng-garakan kepentingan negara, jang semua perkara-perkara itud.atur dengan peraturan-peraturan jang chusus jang disiarkan dandijalankan oleh pembantu-pembantunja. Semua ini terdjadi padadiri Nabi dalam masa hidupnja. Dan oleh karena itu mazhab Sjiah, terutama Imamijah, tidakmau meninggalkan kesempurnaan itu. Mengenai masaalah pengangkatan imam sesudah wafat Nabibagi masjarakat Islam seluruhnja, ada bermatjanrmatjam pendapatorang. Orang Sjiah berkata, kewadjiman itu dikembalikan kepadaAllah, ialah jang akan mengkat seseorang imam bagi manusia. Ahli Suivnah berpendapat, kewadjiban itu tidak dapat dikembalikan kepada Tuhan, tetapi kewadjiban itu tetap terletak diataspundak manusia. Orang-orang Chawaridj mengatakan, bahwa mengangkat imamitu tidak perlu sama sekali, tidak merupakan suatu kewadjiban jangdikembalikan kepada Tuhan, dan tidak pula merupakan suatukewadjiban jang dipikulkan kepada manusia. Seorang ulama Ahli Sunnah, Alauddin Ali bin MuhammadAl-Qarasi (mgl. 879 H ) , berkata dalam kitabnja bernama "Sjarhai-Tadjrid" mengenai sedjarah perkembangan kewadjiban pengang-katan imam sebagai berikut. Dalam menetapkan kewadjibanpengangkatan imam itu, Ahli Sunnah menetapkan dalilnja atasldjma sahabat Nabi, sehingga mereka itu menganggap pengangka-tan penggantian Nabi itu. jang dinamakan imam atau chalifahitu suatu kewadjiban jang penting. Mereka mengadakan penetapanini dikala Rasulullah hendak dikuburkan, dan meneruskan adat itup^da tiap-tiap kematian seorang imam. Sebagaimana diriwajatkan,bahwa tatkala Nabi wafat, Abu Bakar lalu berchutbah : "Wahaimanusia ! Barangsiapa menjembah Muhammad, Muhammad itu22
    • sudah mati, tetapi barangsiapa menjembah Tuhan Muhammad,Tuhan Muhammad itu tidak akan mati-mati, oleh karena itu mestikita selesaikan pekerdjaan ini, keluarkanlah pendapat danpandanganmu, moga-moga Tuhan memberi rahmat kepadamu ! Maka sesudah utjapan Abu Bakar ini, dari segala alirandatanglah mereka mengemukakan pengetahuannja. jang membenar-kan pendapat Abu Bakar, bahwa harus ada penjelesaian tentangimam itu, dan tidak ada seorangpun jang mengatakan tidak wadjibpengangkatan imam penggantian Nabi itu. Chawandj mendasarkan pendiriannja tidak wadjib mengang-Kat imam, atas kejakinan, bhw. pengangkatan itu akan menimbulkanfitnah dan peperangan, karena tiap-tiap suku dan golongan akanmengemukakan tjalon sendiri, dengan demikian tidaklah akandidapati persesuaian pendapat diantara golongan-golongan itu.Dengan al a san demikian Chawaridj menganggap lebih baik menutuppintu pengangkatan itu. Tetapi djika didapati kata persesuaianmengenai sjarat-sjarat kesempurnaan imam dan persetudjuan pengangkatannja, barulah mereka membolehkan mengangkat imamitu. Alasan-alasan Sjiah Imamijah didasarkan kepada kanjataan, bahwa pengangkatan imam itu diserahkan kepada Tuhan JangMaha Kuasa dan Maha Esa. Ada tiga sebab mereka berbuat demikian. Pertama penentuan itu tidak terdjadi dengan ichtiarmanusia, tetapi atas kemurahan Tuhan dan belas kasihannja terhadap hambanja, karena imam itulah jang mendekatkan manusia itu mentaati Tuhannja, dengan memberikan penerangan danpertundjuk, dan dialah jang mendjauhkan pengikutnja daripada masiat, melarang mereka dan mempertakutinja mengerdjakan Kedjahatan-kedjahatan dengan segala akibatnja. Dan oleh karena itu penundjukan ini sebenarnja wadjib daripada Tuhan sendiri. Pendirian Sjiah jang demikian itu didjelaskan pula oleh Ah Ardabli (mgl. 993 H ) , seorang ulama Sjiah Imamijah terbesar, menerangkan, bahwa alasan kemurahan Tuhan ini. jang dipakai oleh Imamijah itu tepat, karena dialah jang setepat-tepatnja memil h imam itu, mendjadikannja. memberikan kekuasaan dan ilmu kepadanja. dengan taufik Tuhan ia dapat memilih njash jang didjalankan atas namanja. semua ini terdjadi dengan iradah Tuhan, jang menentukan perkara-perkara dan kewadjiban. ada jang diperuntukkan buat imam dan ada jang diperutukkan buat rakjat. jang mentaati imam itu. Kedua, bahwa Allah dan Rasulnja telah menjatakan semuahukum-hukumnja, jg. ketjil dan jg. besar, tidak ada pekerdjaandan perkataan seseorang manusiapun. jang terluput dimasukkankedalam lingkaran hikmah hukum-hukumnja itu. Maka oleh karenaitu, bagaimana mungkin manusia mengangkat seorang imamnja 23
    • dengan meninggalkan kekuasaan Tuhan itu baik jang berkenaan dengan urusan keduniaan, maupun jang bersangkutan dengan kehidupan achiratnja. Ketiga maka oleh karena itu Sjiah membuat perbandingan dengan diri Nabi Muhammad sendiri, jang tidak seorang djuapun mengangkatnja ketjuali dengan nubuwah, jang hanja berada dalam caugan Tuhan sendiri, baru diketahui oleh Nabi p ada waktu diangkatnja mendjadi Rasul, ia sendiri tidak berdaja upaja. Oleh karena itu orang Sjiah menjimpulkan. bahwa ichtiar memilih imam itu dikembalikan sadja kepada Allah, tidak ada jang dapat mengetahui rahasia imam itu, melainkan Allah, hanja Allah jang dapat melihat kesanggupannja. Meskipun demikian orang-orang Sjiah menetapkan sifat-sifat imam sebagai sjarat, diantara lain, hendaklah ia masum, karena tudjuan daripada keimaman itu ialah memberi pertundjuk kepada manusia atas djalan jang benar dan melarang mereka berbuat jang salah. Oleh karena itu kalau ia sendiri dibolehkan berbuat salah dalam hukum, bagaimana dapat membersihkan sesuatu dengan kekotoran. Lain daripada itu seorang imam harus lebih mulia dan utama dalam mata rakjatnja melebihi rakjatnja dalam ilmu pengetahuan dan aohlak, karena djika dalam hal ini dia tidak lebih afdhal, tentu ada orang lain jang melebihinja, atau jang menjamainja sehingga tidak lajak ia mendjadi orang utama bersamaan dengan mengutama- kan «murid daripada guru, jang tentu ditjela oleh agama. Lalu orang Sjiah mendasarkan pendapatnja kepada firman Tuhan, ajat 35 surat Junus, jang berbunji : "Katakanlah, bahwa Allah jang menundjuki kepada kebenaran. Manakah jang lebih patut diikut, jg. menundjuki kepada kebenarankah atau jang tidak dapat pertundjuk melainkan djika ditundjuki ? Mengapa kamu ini ? Bagaimanakah kamu ? mendjatuhkan hukum ?" Ada satu persoalan mengenai keimanan Sjiah ini, jaitupersoalan sesudah Nabi, mengapa Ali ? Sesudah Sjiah menetapkan nash kewadjiban imam daripada Allah, mereka berkata, bahwa menurut hukum imam sesudah Nabi wadjib djatuh kepada Ali bin Thalib, karena dua alasan, menurut alasan Quran dan menurut alasan Snnah. Pertama, sebagai alasan dari Quran, diketemukan dim ajat 58dari surat al-Maidah jg kalau diterdjemahkan berbunji sebagaiberikut : ,,Adapun imam kamu itu Allah dan Rasulnja, kemudianmereka jang beriman, jang mendirikan sembahjang. membajar zakatdan mereka itu sedang ruku". Ajat ini turun dengan disepakati olehsemua ahli tafsir mengenai Ali bin Abi Thalib, jang konon ketikaitu sedang ruku, sebagai mend jawab pertanjaan orang, siapa pangharus ditaati.2
    • Kedua, sebagai alasan dari Sunnah orang-orang Sjiahmengemukakan sebuah hadis, dimana Rasulullah sedang berbitjaradengan Ali bin Abi Thalib, jang berbunji demikian : „Engkauterhadapku seperti Harun dan Musa. Barangsiapa jang inginmentjari wali (imam), maka Ali-lah jang akan djadi walinjaEngkau saudaraku, engkau tempat wasiatku, dan engkau akandjadi chalifahku dikemudian hari ", dan banjak lagi hadishadis j a ng lain. Begitulah selandjutnja, orang Sjiah mempergunakan hadis-hadis, jang menundjukkan ketjintaan Nabi kepada Hasan danHusain serta keturunannja Ali jang lain, untuk alasan mereka h imam dari Ahlil Bait dan keturunan Nabi dari perkawinanAl dengan Fatimah itu. 25
    • 7. I T I K A D SJIAH IMAMIJAH Sjiah Imamijah adalah penganut mazhab Djafarijah, mejakini,bahwa mereka orang Islam ahli tauhid, pertjaja bahwa TuhanAllah Satu tunggal dan Muhammad Nabi dan Rasulnja, danpertjaja djuga semua apa jang disampaikan oleh Rasul Tuhan itu.Mereka pertjaja bahwa agama Islam harus dilaksanakan denganmengutjapkan dua kalimat sjahadat dan mendjalankan semuahukum sjara, diantara lain mengenai hukum waris, hukum nikah.iVIereka pertjaja, bahwa iman itu lebih tinggi tingkatnja daripadaIslam, sesuai dengan djawaban jang pernah dberikan oleh NabiMuhammad atas pertanjaan seorang Arab, jang datang kepadanjamenerangkan, bahwa ia telah beriman, tetapi Nabi Muhammadmenjuruh dia mengatakan, bahwa ia sudah masuk Islam, karenaiman itu adalah kejakinan jang meresap kedalam hati, tidak terlihatkeluar (Quran). Mengenai pokok 2 agama, usuluddin, mereka menerangkan,harus diketahui dengan dalil jang kuat, ilmu jang benar dankejakinan jang teguh, tidak tjukup dengan taqlid. dan dhan (was 2dan ragu-ragu). Mengenai sifat-sifat Tuhan, mereka berkejakinan, bahwaTuhan itu bersifat dengan segala sifat kesempurnaan, bersihdaripada segala sifat-sifat kekurangan, karena jang bersifatkekurangan itu adalah sesuatu jang baharu, hadis, sedang Tuhanbersifat qadim dan abadi, berkuasa setjara bebas, mengetahui,hidup, berkehendak, berbitjara dan benar. Dialah jg. mentjiptakan,jang memberi rezeki kepada machluknja, Tuhanlah jang menghidup-kan dan mematikan segala machluk. Orang-orang Sjiah pertjaja,bahwa Tuhan itu adil, jang berbuat baik diberinja pahala, dan jangberbuat dosa disiksanja. Manusia berbuat sesuatu tidak terpaksa,tetapi dengan ichtiarnja sendiri, dan atas ichiarnja inilah Tuhanmengambil tindakan jang bidjaksana. memberi pahala ataumenjiksanja. Wadjib bagi Allah mengirimkan Rasul-Rasu] kepada hambanjamanusia untuk mengadjarkan matjam-matjam hukum dan peraturan,untuk menerangkan jang halal dan jang haram, untuk memerintah-kan berbuat adil dan bersikap lemah lembut sesama manusia.Tuhan menurunkan perintah-perintah itu kepada Rasulnja denganperantaraan Malaikat atau setjara langsung, dan bahwa Nabi-Nabiitu terpelihara daripada dosa besar dan ketjil, memupnjai sifat-sifat jang baik, jang dapat mendjadi tjontoh dan suri teladan bagi26
    • tumainja. Sjiah Imamijah pertjaja, bahwa Muhammad itu adalahpenutup daripada segala Nabi, tidak ada lagi Nabi sesudahnja, dantidak ada jang memperserikatkannja dalam kenabiannja, ia Nabijang lebih afdhal dari Nabi-Nabi jang lain, wadjib beriman kepada -nja dan membenarkan apa jang disampaikannja daripada Tuhannja. Segala utjapan dan perbuatan Nabi merupakan hudjdjah atau dasar hukum, wadjib ditaati dan dipatuhi, tidak diutjapkannja sesuatu dari hawa nafsunja. melainkan dalam bentuk wahju Tuhan, hukum-hukum jang disampaikannja bukanlah dari hasil pikiran atau idjtihadnja sendiri, tetapi dari sjari at Tuhan semata-mata. Nabi Muhammad adalah orang jang mula-mula beriman kepada Tuhan, semua isterinja orang-orang jang beriman, jang sesudah wafatnja haram dikawini oleh orang lain. Sjariatnja menghapuskan semua sjariat Nabi-Nabi terdahulu, dan berlaku sampai hari kiamat. Dalam pendiriannja terhadap persoalan Iniamah dan Chilafah, Imamijah berkejakinan wadjib adanja kepertjajaan kepada imam- imam itu. karena mereka merupakan pemimpin umum dalam segala urusan agama dan dunia, sesudah wafat Nabi, mereka menganggap, bahwa imam-imam itu dapat mendjalankan dan mengawasi sjari at jang ditinggalkan Nabi, mereka merupakan mursjid jang harus ditjontoh dan diteladani. Oleh karena itu maka hendaklah imam itu merupakan seorang .pemimpin jang taat kepada Tuhan, seorang jang terdjauh daripada perbuatan fasad dan munkar, bukan seorang jang mengikuti djalan hawa nafsunja sendiri, imam itu harus masum daripada dosa besar dan dosa ketjil. Jang berhak mendjadi imam sesudah wafat Nabi ialah anak pamannja, Ali bin Thalib, jang telah diwasiatkan dan ditundjuk oleh Nabi Muhammad sendiri, kemudian anaknja Hasan bin Ali, kemudian saudaranja. Husain bin Ali, kemudian anknja. Ali Zainul Abidin kemudian anaknja Muhammad al-Baqir, kemudian anaknja Djafar as-Sfcadiq, kemudian anaknja Musa al-Kazim, kemudian anaknja Ali ar-Ridha kemudian anaknja Muhammad al Djawad, kemudian anaknja Ali al-Hadi, kemudian anaknja Hasan al-Askari, kemudian anaknja Muhammad bin Hasan al-Mahdi, semuanja berlaku dengan wasiat. Orang jang menolak kenabian Nabi Muhammad dengan menga- takan bahwa ada Nabi lagi sesudah wafatnja atau ada jang memperserikatkannja dalam kenabian, orang itu keluar dari agama Islam dan tidak berhak menamakan dirinja muslim. Tetapi seorang jang mengingkari keimaman dua belas keturunan jang disebut tadi. tidak keluar dari Islam menurut orang-orang Sjiah karena jang demikian itu bukan suatu kewadjiban agama, tetapi hanja suatu kewadjiban mazhab sadja. 27
    • Sjiah Isnaasjar Imamijah pertjaja, bahwa ada hari kemudiansesudah hidup manusia sekarang ini, ada soal Munkar wa Nakirdalam kubur, ada azab kubur, ada sirath, ada mizan atutimbangan dosa dan pahala, ada hisab, jaitu perhitungan salah danbenar, ada pengakuan anggota badan tentang perbuatan djahat danbaik, ada pembahagian surat mengenai amal buruk dan baik, adapengumpulan manusia dipadang mahsjar, ada sorga dan nerakasebagai tempat balasan, tidak ada lagi umur tua, sakit dan matidiachirat, apa jang diingini oleh orang jang berbuat baik sampa,ada ampunan Tuhan, ada sjafaat Nabi Muhamad dan lain-lainurusan hari kemudian. Mereka pertjaja djuga dalam garis besar ada Luh Mahfud, adaQalam, ada Arasj, ada Kursi, tetapi menurut penafsiran merekasendiri, jang kadang-kadang sedikit berlainan dengan pendirianAsjari atau Ahli Sunnah wal Djamaah atau dengan penafsiranaliran-aliran Islam jang lain. Sebagaimana kita lihat, itikad Sjiah Imamijah sama denganitikad Ahli Sunnah wal Djamaah, bahkan sama mengenai persoa-lan chalifah sesudah wafat Nabi, jang semua mazhab mengatakanberdasarkan idjtihad, ketjuali mereka memilih chalifah itu dariketurunan Nabi Muhammad, karena tidak ada keturunan dari laki-laki, maka dipilihnja dari keturunan Ali bin Abi Thalib, jangsudah diakui saudara, pengganti dan menantunja Nabi, sehinggamereka terus-menerus berimam kepada keturunan Ali bin Abi Thalib itu, dan lantaran itu mereka dinamakan Sjiah Ali ataudengan ringkas Sjiah. Pernah seorang ulama besar Sjiah, Imam Abdul HusainSjarfuddin al"Musawi, ditanjai apa sebab-sebab Sjiah tidak maumengikuti salah sebuah mazhab djamhur Islam, dalam usuluddinmazhab Al-Asjiari dan dalam masaalah furu (fiqh) salah satudaripada Mazhab Empat, Hanafi, Sjafii, Maliki atau Hanbali. Al-Musawi mendjawab dalam kitabnja jang terkenal "Al-Mu^adjaaf" (Nedjef, 1963), dengan alasan-alasan Quran "dan Hadisjang menurut pendapat saja tidak dapat dibantah oleh seorangulama Sunni-pun dalam masanja, bahwa ibadat golongan Sjiahdalam usul tidak berpegang kepada Asjiari dan dalam furu tidakberpegang kepada salah satu Mazhab Empat, bukanlah karenamenjendiri dalam golongan atau taassub mazhab, dan bukan pulakarena ada keraguan tentang kebenaran idjtihad daripada imam-imam besar itu, bukan karena tidak adilnja, tidak ada amanahnja,tidak mendalam ilmunja dan sebagainja, terdjauh semuanja daripadapersangkaannja-persangkaan jang djahat itu. Tetapi katanja orang-orang Sjiah dikala ada perselisihan paham antara imam-imammazhab itu, sesuai dengan adjaran Quran dan pertundjuk Muham-mad, berpegang kepada perdjalanan atau mazhab Nabi Muhammad28
    • sendiri dan keluarga rumahaja, sumber tempat kedatangan risalah,sumber tempat kundjungan malaikat, tempat turun wahju Tuhankepadanja. Maka baik dalam furu, maupun dalam aqaid baikdalam usul fiqh maupun dalam kaidah-kaidahnja, baik dalammengenal sunnah maupun dalam mendalami isi Kitab Allah, dalamilmu achlak dan adab. dalam tjara menggunakan dasar dan alasanhukum, semua orang-orang Sjiah kembali kepada sumber pokok itu,dan beribadat dengan sunnah Nabi dan keluarganja (hal. 40Murtadjaat no. 4 ) . Kemudian Al-Musawi ini membahas alasan-alasan, mengapaSjiah harus berbuat demikian, diantara lain dikemukakannja,bahwa idjtihad, amanah, keadilan dan kebesaran, tidaklah teruntukbagi imam2 Sunni sadja. tetapi djuga, sebagaimana jang ditundjukKan oleîi Nabi sendiri djuga terdapat dari kalangan keluarganja.Dj.ka orang menuduh bahwa Sjiah rrienjeleweng daripada adjaranSale f as-Salih, karena tidak mengikuti imam-imam itu al-Musawjlaiiigatakan, bahwa selain daripada tingkat sahabat, sudah tidakada lagi orang mentjontoh djedjak Salf as-Salih, dan inilah pulasebabnja maka Sjiah ingin menghidupkan kembali adjaran itu agardekat kepada pengertian pesan Rasulullah, bahwa ,,sebaik-baikumatku adalah dim tiga kurun sesudah wafatku" (hadis) .Apakahdasar adjaran itu terikat kepada masa sadja atau tjara bertindakdalam menjelesaikan persoalan Islam ? Al-Musawi menerangkan nama 2 ulama jang hidup dalam tigakurun ini jang tidak berpegang kepada adjaran Salaf. Asjari dilahirkan tahun 270 H dan mati kira2 tahun 330 H. Ibn Hanbaldilahirkan tahun 164 H, dan mati tahun 241 H. Sjafii lahir tahun 150 H. mati tahun 204 H., Malik lahir th. 95 H. dan mati tahun 179 H. Abu Hanifah lahir tahun 80 H. dan mati tahun 150 H.Adakah mereka bersatu dalam pendirian mengenai furu dan men- dekai Salaf ? Oleh karena itu Sjiah mengambil mazhab imam-imam Ahlil Bait, sedang ummat Islam jang. lain beramal dengan mazhab Sahabat dan Tabiin. Al-Musawi bertanja : "Darimanakah alasan jang mewadjibkan ummat Islam bermazhab kepada mazhab mere- ka, dan tidak memperkenankan orang bermazhab kepada AhlilBait. Sedang mazhab Ahlil Bait ini djuga berpegang kepada Kitab Allah, kepada Sunnah Nabinja, kepada keluarga-keluarganja jang diwasiatkan harus ditaati, jang merupakan sampan jang dapat me- njelamatkan ummat, pemimpinnja, orang jang dapat dipertjajainja dan pintu ilmu pengetahuannya" (hal. 42). Perbedaan-perbedaan antara satu mazhab dengan mazhab lain dari Ahlus Sunnah wal Djamaah dalam masaalah furu tidakkurang banjaknja, disaksikan oleh ribuan kitab-kitab, bahkan ka- uang-kadang lebih banjak daripada perbedaan jang ada pada maz- hab Sjiah dengan salah satu daripada Mazhab Empat itu. misal- 29
    • nja dengan Sjafii. Mengapa orang ingin memaksakan kepadaummat Islam hanja Empat Mazhab itu sadja dan tidak Lima Maz-hab, jaitu ditambah dengan mazhab Ahlil Bait, mazhab jang di-anut oleh keluarga Nabi sendiri dan jang mereka landjutkan seka-rang ini. Demikian tanja Al-Musawi dalam kitabnja jang kita se-butkan namanja diatas ini. Baginja jang dimaksudkan dengan Ah-lil Bait, semua imam dari mazhab manapun djuga, jang sesuai amalibadahnja dengan Rasulullah dan keluarganja. Lllama-ulama, jangtidak sempit hatinja membenarkan pendirian ini, diantaranja lbnHadjar, jang pernah menerangkan, bahwa mazhab Ahlil Bait ituadalah mazhab jang dipimpin oleh ulama-uamanja jang piawai danaman, jang dapat memberikan pertundjuk sebagai bintang dil a ngit,jang apabila sewaktu-waktu ummat sesat dan meraba-raba, bin-tang-bintang itulah jang akan mendjadi perfundjuknja (Al-Mura -djaat hal. 53).30
    • II NABI MUHAMMAD DAN ALI
    • ta
    • ALI BIN ABI THALIB Ali bin Abi Thalib adalah anak paman Nabi, jang mengurusaan membela Nabi sedjak ketjil sampai ia diangkat mendjadiRasul dari pada penghinaan dan serangan Quraisj, bernama Abu Thalib anak Abdul Muttalib. Ibunja bernama Fathimah bintiAsad bin Hasjim, wanita Bani Hasjim jangi mula-mula masukIslam. Ali termasuk salah seorang dari rombongan sepuluh sahabat,lang sedjak masih hidup sudah didjamin Nabi masuk sorga. OlehNabi Muhammad, Ali didjadikan saudara angkatnja. Nabi me-ngawinkan Ali dengan anaknja jang bernama Fathimah Zahra,d]uga salah seorang wanita terdahulu masuk Islam, anak Nabijang ditjintainja dari perkawinan dengan Sitti Chadidjah. BaikAli maupun Sitti Chadiidjah, kedua-duanja merupakan modal per-djuangan dan kemenangan Nabi dalam menegakkan agama Islam.Nabi pernah berkata : "Islam berdiri karena pedang Ali danlarta Chadidjah" (Hasjim Maruf Al-Hasani, T a r k h u l FiqbilDjafari, t. tp. dan t. th., hal. 63). Ali bin Abi Thalib seorang jang banjak ilmunja, baik menge-nai rahasia ketuhanan (alim Rabbani), maupun mengenai segalapersoalan Islam dan umum. Bagaimana alimnja diterangkan da-lam sebuah hadis Nabi jang berbunji : "Aku kota ilmu pengeta-huan dan Ali pintunja." Tatkala hadis ini didengar oleh golonganChawaridj, mereka mendjadi dengki dan tjemburu, terhadap Ali.Bermufakatlah sepuluh orang alimnja masing-masing hendak ber-anjakan satu persoalan mengenai ilmu, untuk mengudji apakahAli betul-betul alim seperti jang dikatakan Nabi. I. bertanja : Manakah jang lebih utama, ilmu atau harta ? Ali : Ilmu lebih utama daripada harta karena imu itu pusaka Nabi-Nabi, sedang harta, pusaka Karun, Sjaddad dan Firaun. II. bertanja : Manakah jang lebih utama ilmu atau harta ? Ali : Ilmu, karena ilmu memelihara engkau, sedang- kan harta, engkaulah jang harus memeliharanja. III. bertanja : Manakah jang lebih utama ilmu atau harta ? Ali : Ilmu, karena harta menjebabkan banjak musuh, ilmu menjebabkan banjak teman sahabat. V
    • IV. bertanja Manakah jang lebih utama, ilmu atau harta ? Ali Ilmu, karena harta makin dikeluarkan makin kurang, sedang ilmu makin dikeluarkan makin bertambah. V. bertanja Manakah jang lebih utama, ilmu atau harta ? Ali Ilmu, karena orang punja harta kadang-ka- dang dapat dipanggil dengan nama kikir dan chizit. Sedang orang jang punja ilmu selalu dipanggil dengan nama megah dan mulia. VI. bertanja Manakah jang lebih utama, ilmu atau harta ? Ali Ilmu, karena harta banjak pentjurinja dan ilmu tidak ada pentjurinja. VII. bertanja Manakah jang lebih utama, ilmu atau harta ? Ali Ilmu, karena orang jang punja harta dihisab pada hari kiamat, sedang orang jang punja ilmu diberi sjafaat pada hari kiamat. VIII. bertanja Manakah jang lebih utama, ilmu atau harta ? Ali Ilmu, karena harta bisa habis karena lama ma- sanja, sedang ilmu tidak bisa habis meskipun tidak ditambah. IX. bertanja Manakah jang lebih utama, ilmu atau harta ? Ali Ilmu, karena ilmu membuat hati jang punja terang benderang, sedangkan harta membuat kasar hati jang punja. X. bertanja Manakah jang lebih utama ilmu, atau harta ? Ali Ilmu, sebab orang jang mempunjai ilmu terma- suk ubudijah. jang diberi pahala oleh Tuhan, sedangkan orang mempunjai harta termasuk rubudijah. Demikianlah kita batja tjeriteranja dalam "Mawaiz al-Usfu-rijah" jang menerangkan selandjutnja, bahwa orang-orang jangbertanja pada Ali itu jang achirnja mengakui akan luasnja ilmupengetahuan Ali dan bidjaksananja dalam memberikan djawabanatas satu-satu pertanjaan. Ali terkenal salah seorang sahabat Nabi jang paling beranidan gagah perkasa dalam peperangan. Hampir pada seluruh pe-perangan dalam masa Nabi dihadiri oleh Ali bin Abi Thal bdengan pedangnja jang terkenal, bernama Zulfikar. Ia terkenalpula sebagai seorang pahlawan jang diserahi tugas membawapandji-pandji Nabi. Dalam dunia tasawwuf dan tarekat Ali terkenal sebagai wa-liullah, jang selalu dipudji-pudji oleh orang-orang Sufi, karenamutiara hikmahnja jang pelik-pelik.34
    • Dalam hal berpidato dan sastera Ali terkenal sebagai salahseorang sasterawan jang lantjar dan sangat petah lidahnja. Pida- to-pidatonja ditjatat dan dikumpul orang mendjadi buku jang ber-djilid-djilid diantaranja bernama "Nahdjul Baliaghah". Disamping memangku djabatan Chalifah, jang diakui sah,Laik oleh Sjiah maupun oleh Ahli Sunnah wal Djamaah, Ali adalah seorang jang termasuk kedalam golongan penulis wahju,jang disampaikan oleh Nabi kepada umatnja, salah seorang pe-ngumpul Al-Quran dan penuils tafsirnja. Ali djuga adalah salahseorang chalifah jang pertama dari Bani Hasjim. Menurut penetapan Ibn Abbas, Anas bin Malik, Zaid binArqam, Salman Al-Farisi dan lain-lain sahabat jang banjak, bah-wa dialah orang jang mula-mula masuk Islam dan beriman padaNabi. Mengenai Ali banjak sekali ditulis orang riwajat hidupnja,jang ditindjau dari bermatjam-matjam segi hidup. Banjak hadis-hadis jang menerangkan keutamaan Ali melebihi sahabat jangkin-lain. Semua sahabat Nabi, besar dan ketjil segan kepadanja,dan tidak mau memutuskan perkara-perkara besar sebelum berun- I.ng dengannja. Ibn Taimijah mengatakan, bahwa tidak dapat disamakansirna sekali Muawijah dengan Ali dalam haknja mendjadi chali-fah. Muawijah tidak berhak mendjadi chalifah, karena dia tidakdapat menjamai Ali dalam ilmu pengetahuannja, dalam persoalanagamanja dan dalam keberaniannja, begitu djuga. dalam kelebihan-kelebihan jang lain dan keutamaannja jang hanja sama dengankeutamaan saudara-saudaranja Abu Bakar, Umar dan Usman.Tidak ada ketinggalan daripada teman-teman Nabi bermusjawa-rat sesudah Usman selain Ali. Ada Saad (bin Abi Waqqash ?)tetapi Saad telah melepaskan kesediaannja mendjadi chalifah,sehingga seluruh kesempatan ini kembali kepada Ali dan Usman,dan sesudah Usman terbunuh, bulat segala pikiran umum menge-nai kedudukan chalifah hanja untuk Ali. Muawijah jang menganggap dirinja chalifah sebenarnja be-lum diakui orang, dan diberikan sumpah setia tatkala ia memera-ngi Ali, dan Ali-pun tidak memerangi dia karena kedudukanMuawijah sebagai chalifah karena ia tidak berhak mendjadichalifah itu. Peperangan dimulai krena kezaliman, bukan karenarebutan chalifah, karena seluruh kesatuan pendapat, hanjalah Alijang diakui sebagai chalifah sesudah Usman. Demikian kita batja dalam kitab "Lawaihul Anwar", kara-ngan As-Safarini al-Hanbali. Dalam kitab itu kita batja lebihLndjut pendapat Ibn Taimijah, bahwa ia menolak segala fitnahdan sangka-menjangka ada perselisihan antara Ali dan Usman,ia menuduh dusta pendapat orang jang mengatakan, bahwa Ali 55
    • memerintah membunuh Usman bin Affan, jang sekali-kali tidakmasuk dalam akal jang waras. Ali bersumpah, bahwa ia tidakmembunuh Usman dan tidak rela atas pembunuhan itu, dan sum-pah Ali itu dalam sedjarah hidupnja benar dan tidak diperselisih-kan orang. Ibn Taimijah menerangkan bahwa ada -dua golonganmanusia, golongan jang mentjintai Ali dan golongan jang mem-bentjinja. Golongan jang mentjintainja mengandung niat menen-tang Usman dan berpendapat bahwa Usman berhak dibunuh.Golongan jang membentjinja menentang Ali dan menuduhnja,bahwa ia sekurang-kurangnja membantu atas pembunuhan Usmandan tidak mentjegah pertumpahan darah. Perbedaan paham inilalu menimbulkan dua golongan, dalam Islam, jaitu golonganUsmanijah dan golongan Sjiah. Bagaimanapun djuga perbe-daan pahamnja, kedua golongan ini berpendirian, bhwa Muawi-jah bukan saingan Ali untuk mendjadi chalifah Nabi sesudahwafat Usman. Ibn Taimijah melandjutkan tjeriteranja, bahwa sesudah pem-bunuhan Usman, segera pada keesokan harinja dilakukan sumpahsetia serempak terhadap Ali. Orang datang berdujun-dujun ke-padanja dan berkata : "Bentangkan tanganmu, kami akan ber-sumpah setia kepadamu !" Begitu besar tjinta umat Islam ketikaitu kepada Ali. Tetapi Ali masih menampik desakan massa itudengan utjapannja : "Penetapan ini bukan urusanmu. Hanja AhliBadarlah jang berhak menetapkan aku mendjadi chalifah atautidak mendjadi chalifah." Semua Ahli Badar ketika itu menda-tangi Ali dan berkata : "Kami tidak melihat seorangpun selainengkau jang berhak mendjadi chalifah. Bentangkan tanganmu dankami akan memberikan sumpah setia kami kepadamu !" Makaberlakulah sumpah setia jang sah terhadap keangkatan Ali men-djadi chalifah (hal. 11:326). Disini terdjadilah pokok permusuhan. Marwan dan anaknjalari dari orang banjak itu untuk membuat onar. Sesudah Ali diangkat mendjadi chalifah, barulah ia berasaberhak memeriksa perkara-pembunuhan atas diri Usman, melaluiisterinja dan orang-orang jang dianggap mendjadi saksi atau me-lihat dan mengetahui kedjadian itu. Ia memukul anaknja Hasan,mengetjam Muhammad bin Thalhah karena dianggapnja kurangrapi mendjalankan tugas dalam mendjaga keselamatan diri Us-man. Ada orang mengatakan bahwa Thalbah dan Zubair tjumamelakukan sumpah setia karena terpaksa, kemudian mereka pergike Mekkah mengadjak Aisjah pergi ke Basrah menuntut bela atasdarah Usman. Maka terdjadilah peperangan Djamal dalam bulanDjumadil Achir tahun 36 H. Dalam peperangan ini tidak kurangterbunuh manusia dari tiga belas ribu djiwa banjaknja. Muawijahdan tentara-tentaranjapun keluar dari Sjam menuntut bela kema-36
    • tian Usman kepada Ali. Tjeritera tentang perbedaan dan perseli-sihan ini akan kita bahas dalam bahagian tersendiri setjara terpe-rintji. Orang membitjarakan dalam hukum tentang keutamaan sa-habat, mana jang lajak mendjadi chalifah lebih dahulu sesudahwafat Nabi. Ahli Sunnah wal Djamaah, jang terdiri dari golo-ngan Asarijah, Asjarijah dan Maturidijah, menetapkan tertibchaliffah sebagai berikut : Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali.Semua ulama sepaham dan sependirian, bahwa jang berhak men-djadi chalifah sesudah Nabi ialah Abu Bakar sebagai chlifah Idan Umar sebagai chaliffah ke II. Dibelakang itu terdapat perse-lisihan paham. Ahmad dan Imam Sjafii, begitu djuga pendapatjang masjhur dari Imam Malik, jang terutama sesudah Abu Ba-kar dan Umar ialah Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.Ulama-ulama Kufi, diantaranja Sufjan As-Sauri, mengutamakanAli lebih dahulu daripada Usman. Ada ulama jang memutuskan,tidak boleh membitjarakan, mana jang lebih utama daripada Us-man dan Ali. Ditjeriterakan orang, bahwa Abu Abdullah al-Mazari pernahmenerangkan, bahwa pada suatu hari Malik ditanjai orang mana-kah orang-orang jang utama sesudah Nabi. Ia mendjawab AbuBakar, sesudah itu Umar, kemudian ia diam. Lalu orang katakan,bahwa Imam Malik ragu dan minta kepastian antara Ali dan Us-man. Dengan terpaksa Imam Malik mengatakan : "Saja belumpernah mendapati seorang sahabat jang membeda-bedakan ke-utamaan antara Usman dan Ali. Susunan keutamaan sebagai jang disebut diatas tentu dilihatdari sudut hukum, tapi djika dilihat dari sudut kekeluargaan dannasab, tidak ada seorangpun jang berani mengatakan, bahwakeutamaan Ali tidak melebihi daripada segala sahabat jang ada.Abu Bakar sendiri jang menurut kebulatan pikiran umum seorangsahabat Nabi jang utama sekali, masih mengakui Ali lebih afdhaldari dia. Ditjeriterakan orang, bahwa Nabi pada suatu hari menge-mukakan pengadjaran kepada sahabat-sahabatnja. Karena penga-djaran itu sangat penting semua orang ber-desak 2 duduk dekatNabi, agar dapat mendengar dengan baik. Ali datang kemudian,den oleh karena tidak ada tempat lagi dekat Nabi ia terpaksaberdiri djauh. Tidak ada seorangpun jang mau mengalah membe-rikan tempat duduk dekat Nabi kepadanja. Abu Bakar melihatAli dalam keadaan demikian, lalu segera ia bangun dan membe-rikan tempat duduknja jang dekat kepada Nabi kepada Ali. Nabi,jang dengan matanja jang tadjam melihat keadaan Abu Bakarmenghormati Ali, lalu berkata : "Tidak mengerti akan keutamaan,melainkan orang jang utama djuga." 37
    • Ulama-ulama Sjiah melihat Ali bin Abi Thalib sebagai sa-habat Nabi jang paling utama, dan menetapkannja dengan nashNabi berhak mendjadi chalifah sesudah Nabi. Mughnijah mene-rangkan, bahwa sedjarah Sjiah adalah sedjarah keterangan Nabi,bahwa jang berhak mendjadi chalifah sesudah wafatnja ialah Alibin Abi Thalib. Dan banjak sekali sahabat-sahabat besar jangmelihat keutamaannja dan kechalifahannja itu mutlak. Ibn AbilHadid menjebut diantara sahabat-sahabat besar itu ialah Ammarbin Jasar, Miqdad bin Aswad, Abu Zarr, Salman al-Farisi, Djabiibin Abdullah, Ubay bin Kaab, Huzaifah al-Jamani, Buraidah,Abu Ajjub al-Anshari. Sahal bin Hanief, Usman bin Hanief, AbuiHaisam bin Taihan, Abu Thufai, dan semua Bani Hasjim, semua-nja mengatakan bahwa keutamaan mutlak bagi Ali dan chalifahpertamapun baginja. Ditjeriterakan bahwa Salman al-Farisi pernah menerangkan:"Kami bersumpah kepada Rasulullah untuk memberi nasihat ke-pada kaum muslimin dan mengimami Ali bin Abi Thalib sertamenganggapnja wali. Abu Said al-Chudri pernah berkata : "Ma-nusia diperintahkan Tuhan mengerdjakan lima perkara, tetapijang dikerdjakannja hanja empat, sedang jang satu perkara lagiditinggalkan." Tatkala orang menanjakan kepadanja, apa empatperkara jang dikerdjakan orang itu, ia mendjawab : "sembahjang,zakat, puasa dan hadji". Tatkala ditanjakan orang apakah jangsatu perkara jang tidak dikerdjkan, ia mendjawab : "Mengakupimpinan kepada Ali bin Abi Thalib". Tatkala orang bertanjakepadanja, apakah itu diwadjibkan dalam Islam, ia mendjawab :"Memang itu diwadjibkan, sebagaimana diwadjibkan shalat, za-kat, puasa dan hadji". Sahabat-sahabat jang sependapat dengan itu dapat kita se-butkan misalnja Abu Zar al-Ghiffari. Ammar Jasir, Huzaifah al-Jamani, Abu Ajjub al-Anshari, Chalid bin Said dan Qais binUbbadah Ada orang berpendapat, bahwa Sjiah itu lahir pada hari pe-perangan Djamal, ada jang mengatakan, bahwa ia lahir pada haritimbulnja golongan Chawaridj. Thaha Hussain dalam kitabnja"AU wa Banuhu", mengatakan bahwa Sjiah itu tersusun sebagaiSiiatu partai politik jang teratur untuk mempertahankan Ali dananak-anaknja, terdjadi dalam masa Hasan bin Ali. Mughnijah dalam kitabnja "Asj-Sjiah wal Hakimyn" (Beirut,1962) menerangkan, bahwa pendapat jang mengatakan, bahwaSjiah itu didirikan oleh Abdullah bin Saba, adalah tidak benar,dan utjapan ini dikeluarkan oleh mereka jang tidak memahamiSjiah serta sedjarahnja (hal. 18).38
    • 2. NABI M U H A M M A D D A N ALI Orang-orang Sjiah mengemukakan hadis-hadis jang dapatmendjelaskan persaudaraan djiwa antara Nabi Muhammad danAli bin Abi Thalib. Dan sampai dimana pula Ali dapat mewarisisifat-sifat Nabi jang ditjintai. Dapat pula kami menarik kesimpul-an, bahwa Nabi meratakan djalan chalifah bagi Ali dalam batas -batas dan sjarat-sjarat jang ditetpkan dalam Islam. Nabi bersabda: "Memandang muka Ali adalah suatu ibadat" 1), dan djugasabda Nabi : "Siapa jang mengganggu Ali, maka berarti ia menggangguaku." Al-Jaqubi dalam sedjarahnja bahagian ke II mengatakanbahwa Nabi sewaktu kembali dari menunaikan ibadah hadjinjajang penghabisan pada suatu malam, menudju ke Medinah. Se-sampainja ditelaga Chum, pada tanggal 18 Zulhidjdjah, dimanaNabi berpidato seraja memegang tangan Ali. Diantaranja beliaubersabda : "Siapa jang mengaku bahwa aku sebagai walinja, maka Aliinilah Walinja. Hai Allah, sokonglah seseorang jang menjokong-n)a dan musuhilah seseorang jang memusuhinja" 2). Dikatakan dalam Tafsir Fachru ar-Razi bahwa setelah ituUmar bin Chattab mengatakan pada Ali sebagai berikut : "Aku memberi selamat kepadamu. Karena engkau sekarangtelah mendjadi wali bagi tiap-tiap Mumin." Hadis ini disebut oleh ahli sedjarah jang banjak dan disebutpula oleh ulama-ulama seperti Turmudzi, Nasaie dan Ahmad binHanbal dan diriwajatkan oleh 16 sahabat Nabi. Djuga disebut-sebut oleh ahli-ahli sedjarah dan sastera sebagai Hasan bin Tsa-bit, Abu Taman al-Thaie dan Al-Kumait al-Asadi. Dalam kitab Al-Aal karangan Ibnu Chalweh mengisahkanbahwa Nabi pernah mengatakan kepada Ali : "Mentjintaimu itu adalah iman, dan membentjimu itu sifatmunafik, dan pertama-tama orang jang masuk sorga ialah jangrientjintaimu, dan jang pertama-tama masuk neraka ialah jangmembentjimu."1) Thabari dari Ibnu Masud.2) Diriwajatkan oleh Saad bin Abi Waqas. 39
    • Dan semua ahli hadis bersatu paham dan sepakat untuk me-njalakan bahwa Nabi sering mengulang-ngulangi utjapan : "Inilah saudaraku " Dalam hadis jang diriwajatkan oleh Abu Hurairah bahwaNabi bersabda dihadapan sahabat-sahabatnja : "Djika kamu ingin melihat pengetahuan Nabi Adam, kesu-sahan pikiran Nuh, sifat-sifat Ibrahim, ibadat doanja Musa, umurIsa dan suluh ilmunja Muhammad, lihatlah kepada jang datangini." Maka sekalian sahabat-sahabatnja mengangkat kepalanja un-tuk melihat jang datang itu maka nampaklah ia Imam Ali. Padasuatu ketika, datanglah seorang sahabatnja untuk menjampaikansebuah pengaduan kepada Nabi tentang Ali. Maka mendengar ini Nabi bersabda : "Apakah jang kamu ingini dari Ali ? (diutjapkannja tigakali). "Dia sebahagian daripadaku. Dan dia wali bagi tiap-tiapmumin, sesudahku." Inilah sebahagian dari utjapan-utjapan Nabi, dari utjapan-utjapan ini dapat dimengerti bahwa Nabi merasai suatu matjampersaudaraan jang sangat istimewa dengan Ali. Dan bahwa Alimerasakan persaudaraan ini djuga. Selain daripada itu Nabi hen-dak menarik perhatian orang-orang kepada sifat-sifat kemanusia-an agung jang nampak bersinar pada pribadi Ali dan menundjuk-kan bahwa hanja ia sendiri jang dapat menjempurnakan sjarat-sjarat seruannja djika Nabi sudah wafat. Ali dilahirkan dalamKabah, kiblat jang mendjadi kerinduan umat Islam. Mula-mulajang dilihatnja ialah Muhammad dan Chadidjah sedang bersem-bahjang, waktu ia ditanjakan bagaimana ia memeluk agama Islamtanpa izin ajahnja, ia mendjawab : "Apa perlunja aku bermusjawarah untuk mengabdi pada Tu-han !" Selang beberapa lama. Islam hanja berkembang dirumah Mu-hammad sadja. Jakni berkisar pada Muhammad, isterinja Chadi-djah, Ali dan Zaid bin Haritsah. Tatkala Nabi mengundangsanak-keluarganja pada suatu djamuan dirumahnja. Nabi mulaimenerangkan tentang Islam. Maka Abu Lahab memutuskan pem-bitjaraannja dan menjuruh hadirin jang lain supaja meninggalkandjamuan makan itu. Pada keesokan harinja Nabi mengadakanpula djamuan makan, setelah selesai bersantap maka berkatalahNabi: "Saja rasa tak ada seorang jang membawa kepada sesuatujang lebih mulia daripada jang kubawa sekarang. Maka siapakahdaripada kamu jang mendampingiku untuk ini ?"40
    • Semua mereka marah dan akan meninggalkan rumah itu.Tetapi Ali jang pada waktu itu masih belum baligh, bangkit laluberkata : Hai, Rasulullah, aku menjokongmu. Aku akan memerangisiapapun jang memerangimu," maka disambut oleh hadirin dengantertawaan sambil melihat-lihat Abu Thalib dan anaknja itu. Se-landjutnja mereka meninggalkan tempat itu sambil mengedjek-edjek. Pada tiap-tiap peperangan jang dikepalai Nabi, bendera se-lalu ditangan Ali, ia mengerahkan kepandaian naik kudanja hanjasemata-mata untuk Nabi dan untuk memenangkan risalahnja da-lam medan keperwiraan. Dan musuh-musuhnja mengakui kepah-lawanannya. Pada peperangan Chandaq ia tetap sebagai gunungraksasa, dimana berdebar-debar hati kawan-kawannja hinggamusuh dapat dikalahkan. Ali pada peperangan Chaibar telah dapat mengalahkan mu-suhnja — sesudah Nabi mengepung kota Chaibar beberapa saattetapi penduduk Chaibar berteguh membela kotanja sekuat-kuat-nja, karena djika kota ini dikuasai Muhammad tentu tak mungkinlagi bangsa Jahudi mengadakan gerakan-gerakan rahasianja untukmembunuh Nabi. Dan pedagang-pedagang merekp akan musnah.Berturut-turut Abu Bakar dan Umar bin Chattab mengadakanserangan-serangan terhadap kota itu, tetapi serangan-seranganitu gagal sama sekali. Setelah itu Nabi menjerahkan tentarapada Ali jang menjerang kota Chaibar, mentjabut pintu ger-bangnja jang besar itu dan kemudian didjadikan sebagai ta-meng. Hingga dengan demikian kota Chaibar ini djatuh ke-tangan tentara Islam. Disini ada terdapat suatu keanehan. Ka-rena sedjarah mengenal pahlawan-pahlawan jang gugur dalamperdjuangan untuk menegakkan suatu îdiologi, walaupun merekamemilih perdamaian djika mungkin dan dapat serta ingin men-djelmakannja keadaan normal, jang sudah barang tentu merekatiada ingin menempuh peperangan. Sedjarah mengenal pahlawan-pahlawan jang gugur dalammenuntut tudjuan-tudjuan jang mulia. Tetapi kepahlawanan dankeagungan itu tidak berupa suatu perbuatan dalam djangka janglama, jang dapat membajangkan betapa gambar-gambar dari mautdan kesedihan jang mengintainja. Karena terdjadinja itu terbataskala semangat berkobar-kobar dan kadang-kadang dibawah per-lindungan kawan-kawan dan pengawasan mereka. Tetapi Aliberlainan lagi, ia berdjuang untuk menegakkan idiologi. jaituidiologi Muhammad — untuk kebenaran dan persaudaraan, de-ngan perdjuangan jang tak ada bandingannja alam sedjarah.Karena perdjuangan itu merupakan persatuan dua buah tubuhmanusia. Dua pribadi besar. -n
    • Sewaktu manusia ini hendak meninggalkan kota Makkah,mereka selalu berkejakinan bahwa tentara Quraisj akan menjusul-nja, oleh karena Muhammad mendjalani djalanan jang tidak per-nah dilalui orang biasa, apalagi pada waktu-waktu jang tiadatersangka-sangka pula. Pada suatu malam Muhammad bersiap-siap untuk meninggalkan Mekkah. Kaum Quraisj menjediakanorang dan pemuda-pemuda jan£ kuat-kuat untuk membunuhnya.Mereka mengepung rumahnja sepandjang malam supaja Nabitidak berkesempatan untuk melarikan diri. Tetapi pada malam itupula Muhammad meminta supaja Ali tidur ditempat tidur Nabidengan memakai selimut hidjaunja. Dan Ali untuk sementaratetap taat untuk menjampaikan amanat-amanat kepada orang-o:ang jang menjimpan sesuatu pada Nabi. Perintah itu dilaksana-kan oleh Ali dengan gembira dan bersenang hati,, seperti biasa-r]a pada tiap-tiap pembelaannja. Pemuda-pemuda Quraisj menge-pung ruiVah Nabi. Dan menunggu-nunggu seraja melihat-lihat darilobang pintu. Pada malam jang agak larut mereka melihat sese-orang sedang rebah ditempat tidur Nabi, orang ini ialah Ali.Tetapi mereka menjangka bahwa jang sedang tidur itu ialahMuhammad. Nabi sudah berada dirumah Abu Bakar — akan keluar me-ridju gua Tsaur. Kedua mereka disusul oleh pasukan berkudaQuraisj, tetapi tiada pernah menemukannja. Ini suatu pengorbananjang akan didjalankan oleh Ali — ia tidur ditempat tidur sese-orang jang akan dibunuh. Ia insaf dan mengetahui, bahwa mautsedang mengintai dihadapan matanja. Tetapi betapapun ia akanrnenjambutnja dengan gembira untuk menjelamatkan saudara se-pupunja Muhammad. Pertalian batin antara Muhammad dan Ali berlangsung de-roan teguhnja. Mereka berdua bahu-membahu untuk mentjapaitjita-tjitanja. Tali kebatinan ini — jang memang sudah dimulaipada masa Abu Thalib dan masa perhubungan Ali dengan Mu-hammad, semendjak mereka bertiga berdiam dalam sebuah rumah.Rumah inilah jang dapat menjaksikan keunggulan Muhammad.Tang dalam pada itu reaksinja nampak pada pembelaan Abu Tha-lib, dan pada pikiran jang besar, serta perasaan mendalam.42
    • 3. M E N G A P A ALI D I T J I N T A I SJIAH Abdul Halim Mahmud dalam bukunja "At-Tafkirul Falsafifil Islam" (Mesir, 1955) menerangkan, bahwa ketaatan Sjiahkepada Ali tidaklah bertentangan dengan adjaran Islam umum,jang mewadjibkan taat kepada Allah, taat kepada Rasulnja dantaat kepada Ulil Amri, sehingga golongan Sjiah ini memasukkansebagai salah satu kejakinannja, bahwa mentaati imam itu adalahsalah satu rukun jang wadjb dalam Islam. Sebab-sebab terdjadinja kejakinan Sjiah ini sudah berlakusedjak zaman Rasulullah. Perdjalanan hidup Rasulullah baik se-belum maupun sesudah mendjadi Nabi tidak terlepas daripadakepribadian Ali bin Abi Thalib. Ketika mentjeriterakan asal ke-djadian Sjiah, Abdul Halim Mahmud menerangkan, bahwa orangtidak boleh lupa hubungan kekeluargaan antara Muhammad de-ngan Abi Thalib, bahkan dengan Abdul Muttalib. Kita batja se-djarah, apa jang diperbuat oleh Abdul Muttalib terhadap Muham-mad, apa jang diperbuat oleh Abi Thalib terhadap kehidupan danpembelaan atas diri Muhamad, bagaimana memelihara Muham-mad itu lebih daripada anaknja sendiri Ali, ketika ia mengawin-kannja dengan Chadidjah, beban kekeluargaan ini hampir-hampirtidak terpikul olehnja. Achirnja Muhammad, sesudah berumahtangga dan berpenghidupan, segera meringankan beban itu de-ngan mengambil Ali, jang diakui adiknja, dan Abbas mengambiltanggung djawab tentang Djafar. Tatkala Nabi diangkat mendjadi Rasul, Ali masih berumurdua belas tahun, dan Nabi melihat bahwa Ali belum pernahdahinja kotor karena sudjud kepada berhala, karena berbuatsesuatu kemaksiatan, sebagaimana jang terdjadi dengan anak-anakQuraisj jang lain. Ali memeluk agama Islam setjara jang sangatmurni dan bersih. Mundur madju Ali sebelum memasuki Islam, semalam-mala-nian ia berpikir, sehingga tidak dapat memedjamkan matanja.Achirnja ia memutuskan dan menerangkan kepada Nabi memelukagama Islam, dengan tidak bermusjawarat lebih dahulu denganajahnja. Katanja : "Memang Tuhan sudah mentakdirkan tidakberunding lebih dahulu, karena tidak ada keperluan bermusjawa-rat dalam beribadat kepada Tuhan." Ibn Hisjam mentjeritakan,tatkala Rasulullah keluar ke Siiab Mekkah mau sembahjang, Alibin Abi Thalib mengikutinja dengan diam-d:am. dengan tidak 43
    • setahu ajahnja, paman-pamannja dan seluruh keluarganja, lalusembahjang oerdua dengan Nabi Muhammad. Sesudah selesaidan istirahat sebentar, kembali pulang berdua-dua (Sirah, hal.263). Tatkala turun ajat jang berbunji : "Berilah chabar pertakutkepada keluargamu jang terdekat," Nabi Muhammad mengun-dang keluarganja makan dirumahnja dan berbitjara dihadapanmereka itu, mengadjak menerima adjaran Tuhan. Abu Lahab me-mutuskan pembitjaran Nabi, dan mengadjak pengikutnja mening-galkan pertemuan itu. Nabi Muhammad mengadakan lagi esokharinja undangan makan. Sesudah habis makan, Nabi berkata :Tidak ada kuketahui orang-orang jang lebih baik daripada kamuditanah Arab, jang datang pada hari ini. Moga-moga ketabahan-mu itu membawa kebadjikan dunia achirat. Sesungguhnja Tuhan-ku telah memerintahkan kepadaku untuk mengadjak kamu seka-liannja kepada adjarannja. Siapakah diantara kamu jang akanmembantuku (Juwasiruni) aku dalam meneruskan pekerdjaan ini?Sunji senjap, tidak ada sahutan, tidak ada djawaban jang dapatraenampungnja. Semua mereka itu membalik kebelakang, mening-galkan pertemuan itu. Tetapi Ali lalu bangun tegak berdiri ber-kata dengan lantang : "Aku ja Rasulullah jang akan membantu-mu. Aku sedia memerangi siapa jang akan memerangimu !" BaniHasjim jang hadir itu semuanja tertawa terbahak-bahak, panda-ngan mereka itu berpindah dari Abu Thalib kepada anaknja jangmasih ketjil. Kemudian mereka itupun meninggalkan tempat itusambil mengedjek (Dr. Haikal, Hajat Muhammad, hal. 140). Siapa jang menolong djiwa Nabi pada waktu hidjrah keMadinah ? Rasulullah menjuruh Ali pada malam hidjrah itu tidurdiatas tempat tidurnja, dan berselimut dengan selimutnja burdahhadrahmi jang hidjau, dan menjuruh dia tinggal beberapa waktudi Mekkah ? Di Madinah Nabi mempersaudarakan sahabat-sahabatnjaMuhadjirin dengan Anshar, agar tidak tjanggung dan merasaasing, agar bersatu dalam kekeluargaan sebagai saudara kandungsebiran tulang, tjinta mentjintai, setia dan kasih sajang. Makaterdjadilah persaudaraan jang belum pernah dikenal sedjarahmanusia, ikatan kekeluargaan jang lebih daripada saudara kan-dung. Nabi mengambil tangan Ali bin Abi Thalib dan ber-kata kepada umum : "Ini saudaraku !" Maka mendjadilah pulapersaudaraan antara Rasulullah dan Ali bin Abi Thalib (Ibn Hi-sjam, Sirah, hal 18). Memang bukan ikatan lahir sadja jang memperkokohkan hu-bungan antara Rasulullah dengan Ali, tetapi djuga ikatan bathinjang tidak bisa dipetjah tjeraikan antara satu sama lain. Rasulul-lah mendidik Ali itu sedjak ketjil, dan Ali itu hidup dirumahnja44
    • sebagai salah seorang anaknja. Ali adalah orang laki-laki jangmula-mula masuk Islam, saudaranja, menantunja jang dikawinkandengan anaknja Fathimah jang sangat ditjintainja. Ali seorangjang perkasa dan berani, seorang pembela Rasulullah jang tidakada taranja, seorang jang ichlas, seorang jang takwa, seorangzahid jang tidak usah diperpandjangkan lagi tjeritanja. Tiap ma-ta orang Islam, baik dahulu dan sekarang, baik ia pernahmendjadi sahabat Nabi atau hanja mengenal kehidupan Nabidalam sedjarah hidupnja mengakui jang demikian itu. Inilah jang menjebabkan Dr. Thaha Husain berkata dengansegala kebenaran : "Djikalau ada orang Islam sesudah wafat Na-bi mengatakan, bahwa Ali itu adalah orang jang terdekat kepada-nja, seorang asuhannja, seorang chalifah dalam bentuk adjaranjang dituangnja, seorang saudaranja jang ditjap demikian, seorangmenantunja, seorang bapak pengikutnja, seorang petugas jangkebanjakan kali membawa pandji-pandjinja, seorang kepala ru-mah tangganja, seorang jang dipanggil Rasulullah dalam Hadis-nja bahwa ia mengambil tempat kedudukan kepadanja sebagaiHarun terhadap Musa, djikalau orang-orang Islam itu berkataterang-terangan jang demikian itu semua dan memilih Ali sebagaichalifah jang tepat sesudah Nabi Muhammad, mereka jang ber-kata itu tidak memutar balikkan apa jang terdjadi" (Usman, hal. 152), Demikian kata Dr. Thaha Husain, bukan dalam memperta-hankan pendirian Sjiah, tetapi dalam mendjelaskan kebenaranjang terkandung dalam kejakinannja, apa sebab orang-orangSjiah itu mentjintai Ali demikian rupa, sehingga ketjintaan itutermasuk kedalam adjarannja. Kata Dr. Abdul Halim Mahmud,bahwa jang demikian itu tidak mengherankan, karena semua sa-habat Nabi melihat bahwa Ali bin Abi Thalib lebih mulia dariAbu Bakar, Umar dan lain-lain. Jang berpendapat demikian itudiantara lain ialah Ammar, Salman Farisi, Djabir bin Abdullah,Abbas dan anaknja, Ubaj bin Kaab, Hanifah dan lain-lain. Inidapat dibatja orang dengan djelas dalam kitab Fadjarul Islam pa-da hal. 327. Ketjintaan ini berubah mendjadi fanatik, tatkalaorang jang merupakan mutiara dalam mata Rasulullah dan saha-bat-sahabat terkemuka itu dibunuh oleh Ibn Muldjam setjara ke-d;i, dan anak tjutjunja ditjela dan dihinakan setjara kotor. Memang pergeseran ini sudah terasa djuga oleh Ali sendiripada waktu perundingan memutuskan memilih Abu Bakar men-djadi chalifah ganti Nabi. Sudah kelihatan ketika itu bahwa Alimerasa dirinja lebih berhak. Kedjadian ini ditjeriterakan dalamsebuah hadis jang diriwajatkan oleh Buchari dari Jahja bin Bu-diair dari Aisjah, jang menerangkan bahwa Fathimah anak Nabi 45
    • mengirimkan seorang utusannja kepada Abu Bakar untuk memin- takan bahagiannja dari peninggalan Rasulullah di Madinah dan di Fidak, begitu djuga ketinggalan pembajaran chumus daripada rampasan chaibar. Abu Bakar mendjawab, bahwa Rasulullah per- nah berkata : "Kami Nabi 2 tidak waris-mewarisi, apa jang kami nah berkata: "Kami Nabi 2 tidak waris-mewarisi, apa jg. kami ting- galkan adalah sedekah". Dan oleh karena itu Abu Bakar menetap- kan : "Demi Tuhan, aku tidak berani mengubah sesuatu daripada kedudukannja sedekah Rasulullah itu, begitu keadaannja diza- nannja, begitu pula aku laksanakan sekarang ini. Abu Bakar ti- dak memberikan apa-apa kepada Fathimah, sehingga kedjadian itu menimbulkan rasa sedih hati Fathimah terhadap Abu Bakar jang tidak habis-habis. Ia meninggalkan Abu Bakar tidak berbi- tjara dengan dia lagi sampai ia mati. Enam bulan Fathimah hidup sesudah wafat Nabi, kemudian ia meninggal dunia. Ia dikuburkanoleh suaminja Ali dengan tidak memberi tahukan kepada AbuBakar. Kelihatan kepada orang- perobahan air muka Ali tatkala ia menjembahjangkan isterinja. Kemudian menghendaki biat ter- hadap keangkatan Abu Bakar, tetapi Ali tidak mau melakukan-nja. Kita tidak tahu. apakah jang terdjadi, djika Abu Bakar tidak mendatangi Ali dan berkata : "Kami akui kemuliaan- mu, kami melihat apa jang diberikan Tuhan kepadamu, kami tidak iri hati melihat kebadjikan jang pernah dikurniakan Allah kepa- damu, tetapi engkau bersifat keras kepada kami, kami termasuk keluarga Rasulullah jang menerima nasib sematjam ini." Abu Ba-kar mengeluarkan air matanja tatkala mendengar utjapan jang sedih itu, seraja berkata : "Demi Allah, sesungguhnja keluargaRasulullah itu lebih aku tjintai daripada keluargaku sendiri. Ada-pun perasaan jang tumbuh antaramu dengan daku mengenai hartabenda itu, tidaklah merusakkan kebadjikan. Aku tidak akan me-ninggalkan mengerdjakan suatu perkara jang kulihat dikerdjakanoleh Rasulullah sendiri." Maka kata Ali kepada Abu Bakar, bah-wa ia akan menangguhkan biatnja. Setelah Abu Bakar sembah-jang lohor, ia lalu naik kemimbar menghadapi umum, menerang-kan keadaan Ali jang mengundurkan biat, dan meminta kepadaumum mengundurkan diri. Kemudian ia mengutjapkan istighfar.Tatkala itu Ali bangkit dan mengutjapkan biat sumpah setia,sehingga naiklah kembali kebesaran dan kekuasaan Abu Bakaritu. Keterangan Ali, bahwa ia tidak menghilangkan kebesaran AbuBakar. Dan tidak iri hati terhadap kelebihan jang dikurniakanAllah kepadanja, tetapi Ali melihat untuk dirinja memang telahmendjadi nasib sebagai keluarga Nabi, membuat orang 2 Islam janghadir ketika itu bergembira sangat, sambil berkata : "Kebenarandisampingmu, dan orang muslimin menjusun diri kepada Ali, se-ll ngga kembalilah Ammar Maruf sebagai biasa."46
    • Demikian ini hadis Buchari tersebut. Bagaimanapun disem-bunjikan, kelihatan ada apa-apa antara Ali dan Abu bakar padawaktu menetapkan chaliiah jang pertama sesudah wafat Nabi.Sebagai orang Sunnah dapat kita memahami, bagaimana kesulitanAbu Bakar ketika itu tak ubah sebagai menating minjak penuh,dari satu sudut ia ingin melakukan kebidjaksanaan menerima dir.i-nja diangkat dan disetudjui oleh orang Anshar dan Muhadjirin,cari lain sudut ia mengakui kehormatan ada pada keluarga Nabi,dan dari lain sudut pula sukar memenuhi permintaan Fathimahdan Ali mengenai harta pusaka, karena ia hendak mendjalankanscpandjang wasiat Nabi. Tetapi orang-orang Sjiah lebih dahulumelihat hal-hal jang merusakkan perasaan keluarga Nabi jangterdekat, dan oleh karena itu sebagai manusia barang pasti iaberpihak kepada Ali. Dengan demikian Ali memberikan sumpah setianja kepadaAbu Bakar sebagai seorang mumin jang ichlas, jang imannjabenar, jang ketaatannja dalam segala urusan Islam dapat diudji.Dengan menekan perasaan ia mendjalankan hidupnja sebagaijang terdapat pada pembawaannja, ia tetap zahid, ia tetap takwa,ia tetap mempergunakan pikiran sebagai seorang jang melimpah-limpah ilmunja, ia tetap hidup wara, tulus ichlas dalam mendja-lankan agamanja. Ali tetap menundjukkan tjontoh jang tinggidalam mentjapai keridhaan Allah lebih daripada kepentingandirinja. Masa berdjalan terus. Abu Bakar wafat, pimpinan berpindahcan chalifah beralih kepada Umar. Dan Umar mendjalankantugasnja dengan segala kekuatan jang ada padanja untuk mentja-pai keridhaan Tuhan. Ali tetap sebagaimana nasibnja dalam masaAbu Bakar, tetapi ia tetap pula memantjarkan sinarnja jang ge- milang serta memberikan tjontoh jang utama. Tidak ada jang lebih lajak diserahi chalifah sesudah Umar melainkan Ali. Suasana menantikan kedjadian ini, karena ia ter- masuk ahli kerabat Nabi, karena ia termasuk orang-orang jang mula-mula masuk Islam, karena kedudukan Ali dalam mata kaum muslimin, dan kalau dilihat pertjobaan-pertjobaan atas dirinja dalam menempuh djihad fi sabilillah, kalau dilihat perdjalanan hidupnja jang belum pernah menjimpang, kesungguhan dalam me- lakukan agama, keistimewaannja dalam memegang kitab dan sun- nah, ketetapan hatinja dalam menghadapi segala kesukaran. Da- lam segala keadaan ia terkemuka, dalam segala suasana ia mele- bihi orang lain. Tetapi meskipun demikian banjaklah suara untuk- nja, dipilih orang djuga Abu Bakar, karena dianggap lebih tinggi kedudukannja pada Nabi karena dianggap dialah salah satu sa- habat setia dalam gua Hira, dan karena dialah jang diperintah- kan Nabi mengimami salat untuk kaum muslimin beberapa saat 47
    • sebelum Nabi wafat. Meskipun ia dikemukakan lebih dari Umar,Umar djuga jang diangkat djadi chalifah, karena ia dianggap le-bih tjakap dan karena wasiat jang ditinggalkan Abu Bakar untukmemilih Umar itu. Djika sekiranja Ali dipilih dan diangkat ketika itu, pastiorang tidak mendapat kesukaran, karena Umar sendiri telah me-njatakan kepentingan tersebut, dan karena kedudukan pribadi Alisendiri dalam mata umat membenarkannja. Apalagi djika ditjin-djau dari sudut tjinta suku dan asabijah Arab umum, tjinta suku-suku Quraisj, jang melebihkan kedudukannja daripada Abdur-rachman bin Auf. Ali lebih dapat diterima oleh Quraisj, Ali lebihdapat diterima oleh Mudhar, Ali lebih dapat diterima oleh Rabi-ah, Ali lebih dapat diterima oleh suku-suku Jaman, karena adahubungan keluarga dengan bermatjam-matjam kabilah itu. DjikaAli menduduki singgasana chalifah sebelum ada terdjadi perpe-tjahan, pasti ia akan merupakan seorang tokoh jang dapat mem-perdekatkan rasa dari suku2 Arab jang djauh itu, pasti Ali dapatmengumpulkan semua suku-suku itu untuk mentaatinja dan mem-bawa suku2 itu kepada kedjajaan. Tetapi sebagaimana kata Umarada sebab2nja orang tidak memilih dia mendjadi chalifah : pertamaketakutan Quraisj, bahwa kechalifahan itu akan tetap dimonopolioleh Bani Hasjim, djika dimulai dengan salah seorang dari tokohBani Hasjim itu. Padahal kenjataan menundjukkan, bahwajang demikian itu tidak akan terdjadi, sebagaimana Umar, Alipunakan mengikuti djedjak Nabi, jang tidak akan mendjadikan cha-lfah itu pangkat warisan. Dan dengan alasan-alasan itu Ali tidak djadi dipilih mendja-di chalifah, jang diangkat orang lain lagi, jaitu Usman bin AffanAli tetap dalam keadaannja, dalam keadaan murni, dalam keada-an menekan diri mengikuti petundjuk dan memberi tjontoh utama. Suasana makin sehari-makin mendjadi katjau. Perasaan suku-suku bangsa Arab timbul meluap-luap, jang achirnja berkesudah-an dengan suatu pembunuhan kedjam atas diri Usman. Barulaherang sadar mentjari suatu tokoh jang dapat mengatasinja, baru-lah orang melihat kembali kepada kedudukan Ali dan pengaruhnja.Memang Ali diangkat mendjadi chalifah, dan meskipun tidak di-angkat mendjadi chalifah, akan terdjadi dengan sendirinja karenasuasana, tetapi kekatjauan sudah memuntjak. Meskipun sebagai chalifah, Ali tidak berubah pembawaannja.Sebagaimana ia hidup sebelum kemenangan-kemenangan Islam,begitu djuga ia hidup sesudah kemenangan-kemenangan itu. Iahidup demikian sederhananja, hingga mendekati hidup kemiskinandan djelata. Tidak ada keluasaan, tidak ada kemakmuran dalamrumah tangganja. Apa jang diperoleh dari usahanja di Janbu,48
    • itulah jang merupakan satu-satu penghidupannja, tidak berlebihdan tidak bertambah. Tatkala ia mati, ia tidak meninggalkan ri-buan, djika dibanding dengan orang lain jang meninggalkan hartapusakanja lipat sepuluh, lipat seratus dan lipat mibunan. Orangbesar ini dikala wafatnja hanja meninggalkan untuk keluarganjasebagaimana keterangan Hasan anaknja dalam chotbah, hanjatudjuh ratus dirham, jang disediakan untuk membeli seorang budakjang akan dimerdekakannja. Memang Ali terkenal sederhana, bahkan ia terkenal denganhidup sufi, pada waktu ia memangku djabatan chalifah dalamwaktu jang singkat itu, semua mata dapat melibat bahwa ia di-ancara chalifah Islam jang memakai badju kasar dan bertambal,jang mengepit kendi dan berdjalan dipasar, jang mengadjar danmendidik keluarganja seperti pernah dilakukan oleh Umar bin Chattab. Keadaan itu semua menundjukkan kepada Umar kebe-naran firasatnja, tatkala ia berkata : "Djika orang mengangkat sigundul djambang, tentu kedjajaan akan berkembang" (Usman,Thaha Husain, hal 154). Sungguh tak dapat dipungkiri, bahwa Ali adalah tjontoh jang murni dalam agama dan achlak, orang baru melihat kemudian sesudah ia diangkat mendjadi chalifah sesudah wafat Usman, dikala keadaan sudah katjau, peraturan-peraturan sudah banjak dianggar. Ali disuruh menghadapi suasana jang genting itu. Dan me- mang Ali meskipun sudah terlambat, ingin membawa manusia itu kedjalan achirat, karena suasana ketika itu penuh dengan kedu- niaan jang merusakkan, ia ingin membawa manusia itu kembali kepada Tuhan, meskipun kehidupan mereka telah sangat dikuasai oleh harta benda. Masa pemerintahannja dalam arti jang sedapat- dapatnja penuh dengan sabar dan merendah diri, menentang ha- wa nafsu sjahwat, kegemaran kemabukan dunia. Tetapi sajang pada achir pemerintahannja ia djatuh tersungkur dalam tangan Abdurrahman bin Muldjam. Ketika itu menanglah kembali bahwa nafsu sjahwat kegemaran dunia itu bersama dengan kemenangan Muawijah. Dunia menang untuknja, tetapi achirat menang untuk Ali, sebagai orang jang asjik dan ditjintai Tuhan. Kemenangan ini belum pernah didapat Ali dalam masa hidupnja, barulah tat- kala ia kembali kepada Tuhannja dapat beroleh kekajaan dan kemakmuran jang tidak terbatas. Sampai disaat ia dibunuh, sam- pai disaat ia melepaskan darah dan djiwanja jang sutji murni, ia tetap berbuat amal salih. ia tetap sutji, ia tetap bersih, ia tetap hendak mendekati Tuhan, apa jang lebih baik daripada itu baginja. Kehidupan inilah jang membuat Sjiah mentjintai Ali, seba-gaimana Salman Farisi mentjintai sanak keluarganja Rasulullah.Kelemah-lembutan dan penderitaan Ali menjebabkan tjinta jang 49
    • tidak terbatas, dan kekedjaman jang dilakukan orang terhadapdirinja menimbulkan golongan-golongan, seperti golongan Sjiahdalam bermatjam^matjam bentuknja; jang masih dapat menahandirinja dalam batas-batas ke-Islaman hanja mentjintainja sebagaiseorang sahabat dan keluarga Nabi jang istimewa, jang tidak da-pat menahan perasaannja jang meluap-luap mengangggapnja ber-diiwa sutji. Maka timbullah didalam Sjiah itu golongan-golonganitu, seperti Sjiah Imamijah, Sjiah Zaidijah, Sjiah Ismailijah, SjiahChurabiah, Sjiah Kisanijah dll. Maka dalam menentukan pendirian golongan-golongan ituperlulah bagi kita pengetahuan jang luas tentang Sjiah itu, untukmengetahui mana golongannja jang benar, jang dekat denganAhli Sunnah, dan mana golongan 2 jang salah, jang tidak da-pat diterima itikadnja oleh adjaran iman dan Islam jang kitaanut. Pada pendapat saja setelah mempeladjarr beberapa bukuSjiah, baik jang dikarang oleh alim ulamanja sendiri maupunjang disusun oleh pengarang-pengarang diluar aliran ini, tidakdapat begitu sadja kita mengkafirkannja seluruh aliran Sjiah,sebagaimana jang pernah dilakukan oleh Tgk. Abdussalam Me-raksa dalam bukunja "Firqah-firqah Islam", jang pernah ditjetakdengan huruf Arab dan disiarkan setjara luas di Atjeh.50
    • 4. ALI D A N ANAKANAKNJA Dua buah kedjadian dipeperangan di Shiffin ini patut men-dapat perhatian. Jang pertama ialah dimana Muawijah untuk per-tama kali dapat menguasai lembah Furat, dimana kemudian diadengan sombongnja melarang lawannja untuk mengambil setitikairpun dari sungai itu. Namun setelah Ali dapat menguasai sungaiitu kembali, dia membolehkan, malah mengandjurkan untuk me-ngmbil air disungai* itu bagi lawan-lawannja. Kemudian Ali mendaki sebuah bukit untuk memanggil Mua-v.ijah supaja dia tampil kemuka untuk bertanding. Maka Amr al-As menegur Muawijah dengan utjapan : panggilan itu adalahadil ! Tetapi Muawijah mendjawab : Tamaklah kau pada kekua-saan, maksudnja ialah, djika aku bertanding, pasti aku terbunuh,dan engkau akan menggantikan kedudukanku. Seterusnja Amrtampil sendiri kehadapan Ali. Ali dapat mengalahkan Amr. Untukmelindungi dirinja dari pedang Ali, Amr membuka auratnja, Alimemalingkan mukanja dan meninggalkan Amr, karena dia tidakmau melihat aurat lawannja, aurat jang mendjadi perisai bagidirinja. Ali mendapat kritikan jang hebat, mengapa djustru dia mem-bolehkan musuhnja untuk mengambilkan air, sesudah mereka di-usir dari lembah sungai itu. Dan mengapa pula dia meninggalkanAan r ?. Sepintas lalu kritikan-kritikan itu memang dapat dimengerti.Tetapi betapapun harus pula diingat bahwa Ali adalah seorangjang memiliki sifat kemanusiaan achlak jang ulung dan djiwajang besar sekali. Sifat ini ada padanja disembarang waktu. Baikdia dimasa damai ataupun dimasa perang. Sebagai sebuah tjermin daripada ketjerdikan hatinja dia per-nah berkata, bahwa : "Sebaik-baiknja orang jang memberikan ampun, ialah janglebih berkuasa dalam memberikan hukuman." Demikianlah adanja. bahwa mereka jang tidak menjetudjuiperundingan di Shiffin dan mengantjam akan berontak, telahmeninggalkan Ali dan mereka menudju kepedusunan Harura.Mereka inilah jang mendjadi asal mula kaum Charidji. Ali kemudian mengandjurkan pada mereka agar sudi bertu-kar pikiran. Dari hati kehatî ! Siapa jang salah harus mengakuikesalahannja. Dan sudah barang tentu harus mengikuti jang benar. 51
    • NASAB I M A M D U A BELAS. NABI M U H A M M A D (wafat 11 H) IFathimah binti Rasul + (1) ALI (wafat 40 H) (2) Hasan (wafat 50 H) (3) Husain (wafat 61 H ) (penganutnja jaitu kaum Idrisi di Afrika Utara dan Sjarif dari (4) Ali Zainal Abidin Marokko) (w. 94 H) Zaid (w. 122 H) (penganutnja jaitu kaum Zaidi di Jaman dan Parsi Utara) (5) Muhammad A 1-Baqir (w. 113 H) I (6) Djafar Ash-Shadiq (w. 148 H ) (7) Ismail (7) Musa Al-Kazim (pengikutnja chalifah-chalifah (w. 183 H) Fathimijah) I (8) AliAr-Ridha Al-Musransir (chalifah ke-VIII dari dinasti (w. 202 H) Fathimijah, w. 147 H) I (9) Muhammad Al-Djawad (w. 220 H)Nizar Al-Mustali I (chakfah ke-IX dari dinasti (10) Ali Al-Hadi (w. 254 H) Fathimijah, w. 495 H) (11) Hasan Al-Askari (w. 260 H) Pengikutnja disebut MustaM atau Isrroailijah Barat di Ja- (12) Muhammad Al-Muntazar man, Siria dan India. lenjap 260 H) " Pengikutnja disebut Nazari Pengikut dua belas imam ici atau Isaniaili Tilrjur di Pakis- dinamai Tmamijah afflau Isna tan, India, Rusia Selatan dll. Asjarijab. Aliran Ismaili ini dinamakan djuga Sabijah, penjaja kepa- da frudjuh imam,.
    • Mereka memang mengirimkan utusan. Utusan itu ialah Abdullahbin al-Kawa. Setelah bertukar pikiran dengan Ab, dia setjaradjudjur kemudian, mengakui kesalahan kaum Charidji. Tetapiapa boleh buat pengakuan dari utusan ini kemudianternjata tiada dapat diterima oleh kaum Charidji dan malah be-gitu djauh berani mengkafirkan Ali. Dalam pada itu, memang me-reka mengakui kepandaian, ketjerdasan serta kelintjahan Ali. Kembali Ali memperlihatkan kegiatannja jang telah terkenaluntuk menghindarkan pertumpahan darah dengan mentjoba me-ngadakan permusjawaratan. Namun untuk kesekian kalinja puladia menghadapi kegagalan lagi. Achirnja Ali terpaksa pula meng-hunus pedangnja, karena dari sehari-kesehari golongan ini me-nampakkan gedjala-gedjala jang sangat merugikan masjarakatbanjak, krena mereka tiada segan-segan melakukan pembegalan,pembunuhan dan penggarongan dimana-mana. Kaum Charadjipunmengadakan perlawanan dan serangan jang tiada boleh dikatakanenteng pula. Perang telah petjah. Tetapi sangat singkat kedjadian-nja. Dimana achirnja kemenangan diperoleh Ali dengan sangatgampangnja. Kaum Charidji mati terbunuh. Dari sekian banjakdjumlah gerombolan mereka, hanja empat ratus orang jang ter-tawan atau luka-luka, kemudian dirawat dengan baik sekali olehAli. Setelah peristiwa ini selesai, maka Ali mulai mempersiapkantentaranja untuk memerangi Muawijah. Tetapi apa hendak dika-ta, Al-Asjath bin Quis menentang, dan malah mengandjurkansebagian tentara supaja meninggalkan Ali. Alasan jang dikemu-kakan ialah bahwa tentara perlu diberikan istirahat dahulu untuksementara waktu. Keadaan ini sangat menguntungkan Muawijah lang pada hakikatnja sudah sangat terdjepit oleh tumpasan mala- petaka Shiffin jang menimpa diri dan pengikut-pengikutnja. Dia dapat mempergunakan waktu terluang ini untuk kembali ke Sjam dan menjusun kembali balatentaranja jang telah mendjadi porak- peranda. Sedjak itu terdjadilah peristiwa-peristiwa jang tiada mengun- tungkan dan tiada diinginkan oleh Ali. Malah lebih djauh, dengan diam-diam terbentuklah gerakan bawah tanah oleh kaum Chari- dji jang akan membunuh Ali. Ali kemudian terbunuh oleh Abdur- rachman bin Muldjam. Kedjadian tentang peristiwa pembunuhan terhadap Ali, ter- d;adi dimesdjid Kota Kufah. Lukanja teramat berat oleh tusukan pedang beratjun. Pada saat itu djuga pembunuhnja dapat tertang- kap hidup-hidup. Tetapi Ali dalam pada itu berpesan, berikanlah kepadanja makanan dan tempat tidur dalam tawanannja. Salah seorang tabib jang didatangkan memberikan pertolong- an tentang nasib Ali, mengatakan bahwa luka itu sudah tiada 53
    • dapat disembuhkan lagi. Perihal ini djangan terus terang diberi-tahukannja kepada Ali. Mendengar ini, Ali tiada membajangkan rasa gentar sedikit-r.un nampak diwadjahnja, hanja dia berpesan kepada kedua orangputeranja, jakni Hasan dan Husain, bahwa kematiannja ini dja-ngan sampai terdjadi kegaduhan dan huru hara. Dia berkata : "Djika engkau mengampuninja, maka itu sebenarnja lebihmendekati takwa !" Sebenarnja pesanan dan amanat Ali kepada kedua orangputera dan para pengikutnja sangat pandjangnja. Dibawah inilagi kami kutipkan seketjak daripadanja, bahwa : "Djagalah tetanggamu baik-baik. Berikan zakat atas hartabendamu. Kasihlah zakat itu kepada fakir dan miskin. Hiduplahengkau bersama-sama mereka. Berkatalah baik kepada sesamamanusia, sebagaimana diperintahkan Allah kepadamu. Djanganlahbosan dan meninggalkan kelakuan jang baik, dan mengandjurkanorang berbuat baik. Rendahkan hatimu dan suka tolong-menolongsesama manusia. Djagalah, djangan sampai engkau mendjadi ter-petjah-belah. Dan djangan sekali bermusuh-musuhan." Ali menderita luka parah — teramat parahnja — pada hariDjumat pagi. Dan beliau wafat pada malam Ahad, 21 Ramadhan40 H.54
    • 5. ALI D A N D A W A H ISLAM Bahan untuk bahagian ini saja petik dari karangan seorangjang netra] dalam aliran Islam, jang tidak memihak kesana dankemari, bahkan seorang Kristen jang tjinta Arab, jaitu DjirdjiZaidan, dalam kitabnja "Tarichut Tamaddumil Islami" (Mesir,1935), djuz ke I. Djirdji Zaidan mentjenterakan tanpa tedengaing-aling, bahwa perselisihan antara Bani Hasjim dengan Umai-jah sudah terdjadi djauh sebelum lahir Islam, dikala membicara-kan, siapa jang mengurus Kabah dan berkuasa dikota Mekkah.Sesudah Qusaj, jang mendirikan Mekkah dan memakmurkannja,berkuasa dalam kota itu, ia meninggalkan anaknja Abdu Manaf.Abdu Manaf ini meninggalkan dua orang anak, jang sangat ber-lainan sifat dan tabiatnja, pertama Hasjim, seorang jang salih,kedua Abdu Sjams, jang mempunjai sifat keduniaan. Tatkala AbduManaf ini meninggal, ia menjerahkan urusan kabah itu kepadakedua anaknja. Tetapi anak Abdu Sjams, jang bernama Umaijjah,jaitu neneknja Bani Umaijah tidak menjenangi kekuasaan itu dibe-rikan kepada pamannja, dan akan memutuskan perhubunganaengan Hasjim. Rapat kekeluargaan memutuskan bahwa hal jangdemikian itu tidak diperkenankan. Hasjimpun tidak ingin mening-galkan anak saudaranja. ketjuali dengan menjediakan lima puluhekor unta dan meninggalkan Mekkah duapuluh tahun. Umaijahmenjetudjui keputusan ini dan mendjadikan hakim seorang darisuku Chuzait, jang akan menjelesaikan perkara itu. Hakim ini me-mutuskan, bahwa kemenangan djatuh kepada Hasjim, jang lalumenjembelih unta itu semuanja dan memberi makan seluruh pen-duduk Mekkah. Dengan demikian Umaijah, jang sangat tersinggung perasaannjameninggalkan Mekkah selama 20 tahun dan pergi melenjap-kan dirinja ke Sjam. Inilah permusuhan jang pertama terdjadi anta-ra Hasjim dan Umaijiih, jang kemudian diteruskan turun-temurunsampai kepada masa Islam dan masa sesudah Islam zaman Nob*dan Chalifah Abu Bakar dan Umar. Maka tetaplah jang mendjadipenguasa dalam urusan kabah ialah Hasjim, sesudah wafafnjakekuasaan itu djatuh kedalam tangan Abdul Muttalib, nenek NabiMuhammad saw.(20). i Quraisj tetap dalam agamanja menjembah berhala, jang ditabur-kan disekitar kabah sampai Nabi Muhammad berumur 40 th. jniludiangkat mendjadi Nabi dalam th. 609 M., dan mengadakan da- 55
    • DJALAN T J E R I T E R A ABDULLAH BIN SABA O L E H SAIF BIN U M A R A T - T A M I M I («n. 170 H ) AT-THABARI, IBN DJARIR IBN ASAK (310) (570) Ibn Athir (630) Orientalis Barat Abul Fida (730) Encycl. des Ibn Chaldun Ibn Kathir Islam (808) (774) V a n Vloten Ibn Abi BakarNicholson Mir (741) Chwand (903) Ibn Badran Rasjid Ridha (1346) (1356) Ghijathuddin (940)Donaldson Said Al-Afg Farid Wadjdi Ahmad Amin Hasan Ibrahim
    • wah untuk membasmi penjembahan berhala dan mengemba-likan orang Arab itu kepada tauhid. Sebagaimana diketahui, bahwasesudah mati neneknja Abdul Muttalib, ia dipelihara oleh AbuThalib, jang lebih mentjintainja daripada anaknja sendiri, sampaiia dikawinkan dengan Chadidjah anak Chuwailid, jang membuatkedudukannja mendjadi lebih mulia dalam kalangan orang Quraisj. Maka turunlah wahju jang pertama jang mengandung perintahmembatja dan menjuruh meninggalkan penjembahan berhala. Djir- dji Zaidan mentjeritakan, bagaimana kesukaran Nabi Muhammad dalam menghadapi golongan Quraisj mengenai penjiaran adjaran tauhid itu. Tiga tahun lamanja ia mengalam^, kesukaran itu dalam dirinja dan achirnja ia djaja dalam memperoleh pengikut-pengikut dari orang 2 besar Quraisj. Jang pertama sekali iman kepadanja ialah Ali bin Abi Thalib, kemenakannja dan jang sudah diakui mendjadi siudaranja seperdjuagan dan sehidup semati dengan dia. Ali telah masuk Islam sedjak ia masih anak 2 . Kemudian menjusu! Abu Bakar, salah seorang jang disegani Quraisj, kemudian Abu Ubaidah bin Djarrah serta lain-lain. Djirdji Zaidan menerangkan, bahwa Nabi Muhammad ingin mengadakan penjiaran Islam terang-terangan. Dimiiainja dalam kalangan keluarganja sendiri. Pada suatu hari, ia perintahkan Ali menjediakan makanan dan djamuan dan memanggil keluarganja untuk berkumpul, diantaranja paman 2 nja, anak 2 nja, semuanja tidak kurang dari 40 orang. Pertemuan itu diadakan dirumah Abu Tha- lib. dan sudah selesai makan Nabi Muhammad berbitjara dengan kata 2 jang 1 emah lembut, menjuruh meninggalkan penjembahan berhala dan menjcmbah Allah Jang Maha Esa. Pamannja Abu Lahab meninggalkan pertemuan itu, dan sedjak itu ia mengadakan pertentangan dan perpetjah belah menghadapi Muhammad. Djirdji Zaidan menerangkan, bahwa kemauan N. Muhammad tidak lemah karena pemboikotan itu. I amengadakan perdjamuan jang kedua, dimana ia djelaskan kembali maksudnja jg baik untuk mentjari persatuan dalam kalangan Quraisj dan mengadjak orang 5 Quraisj itu meninggalkan penjembahan berhala. Ia berkata : ,,Aku belum pernah mengetahui, bahwa ada orang Arab jang datang menasihatkan bangsanja lebih baik daripada adjaran jg. aku bawa ini untukmu, jang baik untuk dunia dan untuk achiratmu. Tuhan memerintahkan daku untuk menjampaikan adjaran itu kepadamu. Aku ingin tahu, siapa jang akan ingin membantu aku dalam per- soalan ini, sehingga ia mendjadi saudaraku, mendjadi ahH warisku chalifahku di-tengah 2 kamu ?" Semua jang hadir diam, dan tidak berbitjara sepatah kafcapun. Maka bangunlah Ah anak pamannja 57
    • seraja berkata : "Aku ini, wahai Nabi Allah, akulah jang sanggupmendjadi penggantimu, untuk menjampaikan amanat ini kepadamereka". Nabi lalu memeluk lehernja dan berkata : "Inilah saudaraku,inilah ahli warisku dan inilah chalifahku untukmu, dengarlah apajang diutjapkannja, taatilah apa jang diperintahkannja !" Maka bangunlah orang 2 Quraisj itu, terutama dari keturunanBani Umaijah, dan berkata sambil mengedjek serta tersenjumkepada Abu Thalib : "Dengar wahai Abu Thalib ! Dia telah me-njuruh engkau mengikut dan taat kepada anakmu sendiri !" (28) Dalam sedjarah kebudajaan Islam tersebut karangan DjirdjiZaidan kita batja selandjutnja apa jang biasa kita ketahui dari se-djarah Nabi Muhammad, bahwa orang Quraisj mendjadi sangatmarah kepadanja dan akan membunuhnja karena ia mengedjekagama dan Tuhan 2 nenekmojangnja. Dalam tahagian jang lainDjirdji Zaidan melandjutkan pembitjaraan tenttng pertentanganantara Bani Umaijah dan Bani Abbas dalam menghantjurkan ketu-runan Ali atau Bani Hasjim jang akan melandjutkan adjaran NabiMuhammad membawa manusia kepada adjaran agama Islam jangsebenarnja.58
    • III. KETURUNAN ALI
    • 1. H A S A N T J U T J U NABI Hasan bin Ali bin Abi Thalib adalah salah seorang daripadadua tjutju Nabi jaitu Hasan dan Husain, anak Fathimah, jangsangat ditjintainja. Dalam kalangan Sjiah ia lebih terkenal denganImam Al-Hasan, dilahirkan di Madinah pada pertengahan bulanRamadhan tahun ke III H. dan wafat pada tahun ke XIX H.Pada waktu lahirnja Nabi mengutjapkan azan pada telinga kanan-nja dan sesudah selesai lalu berdiri pada telinga kiri dan membe-rikan namanja Hasan. Pada hari jang ketudjuh Nabi memotongdua ekor kibas sebagai akikah, mentjukur rambutnja dan melepohkepalanja dengan harum-haruman, kemudian memberi sedekahdengan emas seberat rambutnja. Sampai umur tudjuh tahun ia dipelihara oleh neneknja NabiMuhammad sendiri. Nabi tidak sanggup berpisah dengan Hasan,maupun dengan saudaranja Husain, sebagaimana tidak dapat di-pisahkan antara tjahaja matahari dengan matahari sendiri, tidakpernah ditinggalkannja baik malam ataupun siang pada waktu iasembahjang atau sedang melakukan ibadat dihadapan Tuhan,bahkan kadang-kadang pada waktu ia menerima wahju, jangdisampaikan Djibrail, Hasan pernah mendengarnja dan pernahmengapalkan dan menjampaikan pada ibunja Fathimah, jangpernah mentjeriterakan hal itu pada suaminja Ali. Bahkan Hasan pernah menaiki kuduk Nabi ketika ia sedangsudjud dalam sembahjang, ,sehingga terpaksa memandjangkansudjudnja dan kemudian menurunkan anak itu perlahan-lahandan dengan lemah-lembut. Pada suatu kali datang pula Hasan kepada Nabi sedangruku dalam sembahjang. Nabi terpaksa membuka dua belahkakinja untuk memberi kesempatan tjutjunja keluar masuk dian-tara tjelah pahanja. Orang berkata kepada Nabi : "Ja Rasulullah,engkau perbuat sesuatu jang belum pernah dikerdjakan orang.""Djawabnja : "Karena ia wangi-wangianku !" Pada suatu hari Nabi mendjulang Hasan diatas bahu kanan-nja dan Husain diatas bahu kirinja. Ia bertemu dengan Abu Ba-kar, jang berkata kepada kedua anak itu : "Tunggangan jang pa-ling nikmat jang kamu tunggangi, wahai anak 2 ". Nabi mendjawab:"Djuga penunggangnja merupakan nikmat jang sangat mesia,karena kedua-duanja merupakan harum-haruman didunia." 61
    • Lebih d a n satu kali Nabi berkata kepada H a s a n : "Baiklubuhmu maupun prilakumu serupa dengan tubuhku dan prila-kuku." Baik menurut paham ahli Sunnah atau Sjiah, Hasan danHusain adalah pemuda ahli sorga." Nabi berkata : "Aku mentjin-tai keduanja, tjintailah kedua anak ini wahai manusia. Barangsiapa mentjintai keduanja, ia sebenarnja mentjintai daku, barang-siapa membentji keduanja, ia sebenarnja membentji daku. Orangjang mula-mula masuk sorga ialah aku, Fathimah, Hasan danHusain. Kedua tjutjuku ini Hasan dan Husain imam dikala berdiridan duduk." Imam Ahmad meriwajatkan dari Muawijah, bahwa satu hariRasulullah pernah mengulum bibir dan lidah Hasan dan oleh ka-rena itu Tuhan tidak akan mengazab lidah dan bibir jang pernahdikulum oleh Nabi, demikianlah banjak hadis-hadis jang kitadapati dalam kitab 2 Masnad Imam Ahmad, Zachairul UqbahAl-Hanah, karangan Ibn Battah, Hiljatul Aulia, karangan IbnNuaina, Al-Asabah, Sahih Buchari, Muslim, Al-Aqdul Farid,Murudjuz Zahab, dll. Ahmad bin Abdullah At-Thabari menerangkan dalam Z a -chairul Uqbah, bahwa Hasan mempunjai bibir jang- merah, keduamatanja hitam laksana bertjelak, pipinja laksana pauh dilajang,bulu dadanja jang hlus, lebat djanggutnja, rambut andamnja men-tjapai kupingnja, tinggi tulang pelipisnja, k b a r bahunja, awak ba-dannja jang sedang, tidak pandjang dan tidak pendek, memptu-njai wadjah jang sangat tjantik, rambut jang berombak, bentukbadan jang sangat indah, tidak ada seorang jang menjerupai Nabiselain daripadanja. Dalam sahih Buchari masih dapat kita batja, bahwa ChalifahAbu Bakar mendekati Hasan jang sedang bermain dengan anak 2lain, lalu memanggil dan memanggulnja, seraja berkata : "DemiAllah rupamu lebih mirip kepada Nabi daripada kepada Ali." Iatersenjum. Hasan adalah seorang jang sangat kuat ibadatnja dalammasa dan zamannja. Apabia ia mengambil air sembahjang, mukania mendjadi putjat. Dan apabila ia sampai kedalam mesdjid iaberkata : " W a h a i ahli perbaikan, telah datang kepadamu seorangdjahat, hilangkan segala kedjahatan apa jang engkau ketahuidaripadaku dan gantikan ia dengan sifat-sifat jang indah, kelim-pahan daripadamu, o Tuhan jang Maha Pemurah !" Dan apabilaia teringat akan mati, akan kubur atau ia mentjeriterakan harikebangkitan dan Sirath, ia menangis tersedu-sedu. Ia pernah naikhadji dua puluh lima kali setjara berdjalan kaki. Ditjeriterakan orang bahwa Hasan sangat pemurah. Ia pernahmemberikan uang sedekah kepada seoranq peminta-minta seba-62
    • njak lima puluh ribu dirham, dan lima ratus dinar, jang kebetulan ada ditangannja. Pernah datang seorang Arab meminta-minta, ia perintahkan memberikannja, semua apa jang ada dalam lemarinja. Dihitung, tidak kurang dari seratus lima puluh ribu dirham. Kehebatan Hasan ini membuat Muawijah djadi takut. Mu- awijah pernah berkata : "Tiap-tiap aku melihat Hasan selalu timbul ketakutan dalam diriku tentang kehidupannja, dan aku merasa terhina." Marwan bin Hakam berkata : "Kemurahan ta- ngan Hasan seimbang dengan sebuah gunung." Lebih aneh, bahwa Hasan tidak bersifat tekebur, ia ber- djalan dan bergaul dengan orang-orang miskin, ia pernah turun dari kenderaannja dan makan bersama-sama dengan rakjat djembel jang kemudian diadjak kerumahnja untuk makan bersa- ma-sama. Ia berkata : "Tuhan tidak menjukai orang jang tekebur." Meskipun demikian pembawaan berani ada padanja. Ia per- nah menegur Abu Bakar jang sedang berchotbah berdiri atas tangga mimbar neneknja. Tatkala Muawijah menerima sumpah kesetiaan daripada pengikutnja atas keangkatannja mendjadi chalifah dan merembet nama Ali dan Hasan, jang ketika itu Husain ingin berdiri men- djawab, tapi Hasan menjuruh Husain duduk dan ia sendiri men- djawab : " W a h a i penjebut nama Ali. Iniah aku Hasan, ajahku Ali, engkau Muawijah dan bapakmu tukang tjatut, ibuku Fathi- mah, sedang makmu Hindun, nenekku Chadidjah, sedangkan ne- nekmu jang mati terbunuh. Kakekku Rasulullah, sedang kakekmuHarab. moga-moga Tuhan melanati tukang pidato jang djelek,keturunan jang buruk, orang terkemuka jang. djahat dan orang-orang terdahulu bersifat kufur dan munafik." Orang-orang jang hadir menjambut dengan seruan amien.Orang-orang Sjiah jang mendengar kembali utjapan ini menje-but : "Amien, ja Rabbal alamien". Tidak ada djawab jang lebih tepat atas sikap Muawijah.Sesudah keradjaan diserahkan kepadanja, dalam pidatonja masihhendak mentjatji keturunan jang lelah menjerahkan keradjaan ituuntuk perdamaian. Demikian kata Abui Faradj Al-Asfahani dalamkitabnja "Mugatilut Thalibin". Memang Hasan membawa sifat petah lidah dalam berbitjara.agaknja sebahagian pusaka dari kakeknja Rasulullah jang palingpasih bahasa Arabnja, dan sebahagian pusaka dari ajahnja Alisebagai penjair Islam jang terkenal. Sedjak umur tudjuh tahun ialantjar menghafal firman Allah dan melatih lidahnja dengan sa-djak-sadjak kalimat dan susunan bahasa Quraisj. Mengapa ia memilih damai daripada berperang terus denganMuawijah, jang mengakibatkan ia sampai hantjur sebagai Sjuha-da ? Mengenai pertanjaan ini, bermatjam 2 djawaban orang. Janci 63
    • terbanjak, berpendapat bahwa sebagian besar daripada orang" jangtelah bersumpah setia kepadanja, berchianat, karena tertarik ke-pada djandji-djandji dan kekajaan serta kedudukan jang akandiberikan oleh Muawijah. Selain daripada itu adalah pribadiHasan sendiri jang suka damai dan jang suka baik sangka kepadaorang lain, termasuk Muawijah, jang diharapkan akan djudjurmenepati djandji perdamaian jang ditanda tanganinja. Hasan tidak menjangka-njangka sedjak semula, bahwa djan- dji itu akan dichianati oleh Muawijah dan dia sendiri akan dibu- nuh dengan ratjun. Kitab-kitab Salaf menjebut nama-nama Sahabat dengan pe- nuh kehormatan dan tjinta, begitu djuga terhadap Ahlil Bait, dan melarang membeda-bedakan Sahabat-Sahabat itu antara satu sama lain. Dengan idjma mereka menetapkan urutan Chulafaur- Rasjidin, Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali, jang berhak sebagai chalifah sesudah wafat Nabi. Tetapi djuga kitab-kitab Salaf mengakui Imam Hasan sebagai chalifah dan termasuk dalam rangkaian chalifah jang pernah disebut Nabi dalam hadisnja, di- antaranja jang diriwajatkan oleh Safinah, bunjinja : "Zaman cha- lifah itu tiga puluh tahun, kemudian tidak ada lagi chalifah, jang ada hanjalah radja-radja jang berkelahi satu sama lain." Batja kitab "Lawaihul Anwar" (Mesir, 1323 H. I I : 339-341), karang- an As-Safarini Al-Hanbali. Dalam kitab itu dikemukakan sebuah hadis, jang diriwajatkan oleh Bazzar dari Abu Ubaidah bin Djarrah, bahwa Nabi pernah berkata : "Permulaan agama ini ke- nabian dan rahmat lalu disambung dengan chalifah dan rahmat, dan sesudah itu datanglah masa keradjaan dan paksaan." dan pengarang kitab itu memberi komentar bahwa dengan :ni dapat ditetapkan dengan nash, bahwa masa empat orang chalifah me- rupakan rahmat dan masa pemerintahan Sajjidina Hasan jang lamanja enam bulan sehari. Dan kemudian itu orang tidak berhak lagi memakai gelaran chalifah Rasulullah. 64
    • 2. PERDJANDJIAN HASAN - MUAWIJAH Sesudah Ali bin Abi Thalib sjahid, dibunuh oleh Abdurrah-man bin Muldjam, dan Muawijah serta Ibn As terlepas daripadaremjana pembunuhan itu, Hasan bin Ali diangkat mendjadi chali-fah. dan diakui tidak sadja oleh golongan Sjiah Ali, tetapi djugaoleh Sunnah wal Djamaah, sebagai chalifah jang diakui olehNabi dalam hadisnja dalam masa tiga puluh tahun (lih. As-Safa-rini Al-Hanbal, "Lawaihul Anwar"" (Mesir, 1323. 11:339). Tetapi Imam Hasan tidak dapat mendjalankan pemerintahandesman baik, karena dari satu pihak banjak pcngikut-pengikutnjajang telah bersumpah setia kepadanja, berbalik tertarik kepadakekajaan dan kedudukan jang baik, jang didjandjikan Muawijah.Dari lain pihak Muawijah dengan golongan 2 nja terus mengin-tai-ngintai dan membunuh menghantjurkan siapa sadja ßuefdianggap musuh, termasuk sahabat dan Tabiin jang hanja karenasimpati dan tidak mau menentang Sjiah Ali dan memaki-makinja. Dalam pada itu sebahagian dari Sjiah, jang telah "keluar",meninggalkan induk "alirannja," karena tidak dapat menjetudjuiAli berdamai dengan Muawijah dengan bertahkim kepada Qur- an, merupakan djuga musuh jang bcrbahaja jang seiaiu mengiurtai-intai untu1 membunuh dan menghantjurkan, siapa sadja jan™tidak setudju dengan pendiriannja dinamakan kafir Islam, dan ter-masuk orang Mumin jang mengerdjakan dosa besar, jang tempat-nja dalam neraka. Golcngan ini ialah Chawaridj. Memang Hasan tak dapat disangkal mendapat kepertjajaandan ketjintaan dari rakjat umum karena salihnja, djudjur, pemu-rah dan baik hati, tetapi apa artinja rakjat umum jang tidakbersendjata itu, sesudah amir-amirnja sebagian besar telah menje-belah kepada Muawijah. Memang betul sebahagian besar daripada ulama-ulama, sahabat dan tabiin tnenjebelah pada ImamHasan, tetapi merekapun tidak dapat berbuat apa-apa, bahkandibentji oleh radja-radja dan amir-amir, karena fatwa-fatwa danadjaran-adjarannja selalu menentang hidup keduniaan jang ka-dang-kadang banjak menjinggung kebidiaksaan radja-radja danhidup amir-amir itu dilua r Islam. Desakan fakta-fakta diatas itu, menjebabkan Hasan mening-galkan singgasana kechlifahannja dan mengadakan perdamaiandengan Muawijah untuk sementara waktu. 65
    • Sebagai jang dikatakan Ibn Chaldun, bermatjam-matjampendapat ahli sedjarah tentang permintaan damai ini. Ada jangmengatakan, bahwa jang mula-mula meminta damai ialah Hasan,jang mengirimkan Amar bin Salmah Al-Arhabi kepada Muawijah(Ibn Chaldun), ada jang mengatakan, bahwa Hasan menulis su-rat kepada Muawijah tentang itu (Ibn Abil Hadid). Tetapi Ibn Al-Djauzi menerangkan, bahwa jang memulaiminta damai itu ialah Muawijah jang mengirim seorang utusan-nja dengan diam-diam kepada Hasan meminta diadakan damaidengan segera (Tizkarul Chawas, hal. 206, Ahmad Affandi,Fadhailis Sababah, hal. 157). Sepandjang jang dapat diselidiki, jang terachir inilah jangbenar, jaitu Muawijah jang mendesak segera diadakan perdamai-an, karena takut orang-orang Irak, jang sangat mentjintai ketu-runan Ali akan segera berontak dan melawan. Alasan jang lainjang, membenarkan keterangan ini ialah bahwa dalam pidatoHasan jang diutjapkan di Madain, tersebut "Bukankah Muawijahmeminta kepada kami untuk menjerahkan urusan chalifah ini"(Baqir Sjarif Al-Qurasji, "Haj&tu Al-H&ssui bin Ali", Nedjef,1956, I I : 186). Sebagaimana orang berselisih tentang siapa jang memintadamai lebih dahulu, begitu djuga banjak perselisihan pahammengenai masa kedjadian perdamaian. Diriwajatkan orang, bah-wa tatkala Imam Hasan menjetudjui perdamaian, ia mengirimkandua orang kepada Muawijah jaitu Amar bin Salmah Al-Hamdanidan Muhammad bfn Asjas Al-Kindi, untuk meneqaskan apa jangharus dilakukan. Muawijah menjerahkan djawaban kepadanja, jang berbunji :"Dengan nama Allah jang pengasih lagi penjanjang. Surat iniuntuk Hasan bin Ali dari Muawijah bin Abu Sufjan. Aku ber-damai dengan engkau bahwa urusan pemerintahan ini sesudahaku, akan kukembalikan kepadamu, diperbuat dengan djandjiAllah dan Rasulnja Muhammad. Sangatlah tidak benar orangmenqambil sesutu dari seorang hambanja jang sudah didjandji-kan Tuhan, aku tidak akan membentji lagi engkau dan mengetjam-mu. Aku berkewadjiban memberikan kepadamu saban tahun se-ribu dirham dari Baita? Mal, dan bagimu tetap memiliki tjukai dae-rah Basa dan daerah sekitarnja, janq kamu boleh ataur sesukanja"(Baqir Sjarif AlrQurasji, II : 186-187). Surat pendjandjian ini disaksikan oleh Abdullah bin Amir,Amar bin Salmah Al-Kindi, Abdurrahman bin Samrah danMuhammad bin Asjas Al-Kindi, termaktub pada bulan RabiulAchir, tahun 41 H. Lain daripada itu Muawijah mendjandjikan, sebaqaimanadiuga dalam t dan dengan lisan, bahwa ia mendjadikan Hasanft
    • putera mahkota, djaminan hidup dengan keluarganja dengan djum-lah tersebut dan menguasai dua daerah di Persi untuk diperintahseQukanja. Saja tidak perpandjang kalam tentang hal ini, jang soalnjaberbelit-belit, dimana banjak sekali debat mendebat dan suratmenjurat, dan dimana kelihatan, bahwa Muawijah dengan djandjiperdamaian ini memang berniat melakukan politik jang litjik untukmenjingkirkan Hasan dengan keturunannja daripada seluruh pe-merintahan dan daerah jang sudah dikuasainja. Perletakan sendjata tidak dihiraukan, pembunuhan diterus-kan dan tjutji maki terhadap keluarga Ali tidak terhenti-hentinja.Lain daripada itu ada jang lebih menjakitkan hati Hasan, jaitupemerintahan Muawijah merupakan keduniaan, penuh denganpekerdjaan-pekerdjaan jang bertentangan dengan agama Islam,tidak sesuai dengan Kitab Allah dan Sunnah Rasulnja, penuhdengan kezaliman dan sewenang-wenang, sama dengan pem2rin-tahan masa djahiliah sebelum datang Islam, bersifat kapitalistis,feodalistis dan imperialistis jang memeras bangsa-bangsa jangbukan Arab. Hasan terpaksa membuat perdjandjian lagi dengan Muawi-jah untuk menjelamatkan kepentingan Islam. Bunji perdjandjianjnng penting ini adalah sebagai berikut : "Dengan nama Allah jang pengasih dan lagi penjaiang. Ini-lah perdjandjian jang sudah disetudjui bersama oleh Hasan binAli bin Abi Thalib dengan Muawijah bin Abu Sufjan. Kedua-duanja berdjandji akan menjelamatkan pemerintahan orang Islam,berbuat dan bertindak sepandjanq Kitab Allah dan Sunnah Ra-sulnja. serta djedjak chalifah-chalifah janq salh. Muawijah binAbu Sufjan berdjandji sesudahnja tidak akan memberikan peme-rintahan ini kepada orang lain, ketjuali kepada orang jang ditun-diukkan oleh sebuah musjawarah kaum muslimin. "Kedua-duanja berdjandji akan memberikan keamanan ke-nada semua warganegara jang diam diatas bumi Allah, di Sjam,Irak, Hidiaz dan Jaman, Muawijah berdiandii akan memberi ke-amanan kepada semua Sahabat Ali dan Sjiahnja, baik mengenaikeamanan dirinja, harta bendanja, wanita-wanitanja dan anakpenaknja. Jang demikian itu didjandjikan Muawijah bin AbuSufjan dengan nama Allah. "Muawijah berdjandji dengan nama Allah untuk tidak me-ngantjam dan membentji Hasan bin Ali, tidak pula saudaranja,dan tidak pula mengetjam dan membentji salah seorang daripadaAhli Bait Rasulullah s.a.w., tidak setjara diam-diam dan tidak se-tjara terang-terangan, dan tidak pula membiarkan orang lain ber-buat demikian. ,.Perdjandjian ini disaksikan oleh (nama-namaorang janq menjaksikan. diantara lain janq sudah kita sebut di-
    • atas, dan ditutup dengan ajat Quran dan tjukuplah Tuhan Allahmendjadi saksi dalam perdjandjian ini). Perdjandjian ini dipetik dari kitab Ibn Sibagh, "Al-Fusul al-MSuhimmah, hal. 145. 170, Kasjful Ghummah, hal. 170, Al-Bihar,X : 115, Fadhailus Sahabah, hal. 157 dan As-Sawaiq Al-Muhri-qah, hal. 71. Perdjandjian ini penting sekali, karena ia berisi, bahwa pe- njerahan pemerintahan kepada Muawijah itu dengan sjarat, bah- wa ia memerintah sepandjang Kitab Allah, Sunnah Nabinja dan perdjalanan chalifah-chalifah jang salih, bahwa Muawijah sesu- dahnja tidak boleh menjerahkan pemerintahan ini kepada orang lain selain kepada Hasan, djika terdjadi sesuatu, maka pemerin- tahan itu hanja boleh diserahkan kepada Hussain, bahwa harus terdjamin keamanan umum bagi semua manusia dari segala warna kulit, bahwa Muawijah tidak boleh mengusik-usik daerah Irak dan penduduknja, bahwa ia tidak boleh memakai gelar „Amirul Muminin," bahwa ia tidak boleh mengubah peradilan agama mendjadi peradilan duniawi, bahwa Muawijah dan orang-orang-nja harus meninggalkan memaki-maki Ali bin Abi Thalib dankeluarganja, tidak menjebut tentang mereka melainkan jang baik-baik sadja, mendjamin hak-hak penduduk sebagaimana mestinja,bahwa Muawijah mendjamin keamanan bagi Sjiah Ali, dan tidakmenjatakan kebentjian terhadap mereka, tidak membalas dendamkepada anak-anak jang ajahnja mati melawan Muawijah dalamperang Djamal dan memberikan djaminan hidup kepada mereka,bahwa tjukai dalam daerah Abdjard, suatu daerah jang luas diPersia dekat Ahwaz, jang pernah dibuka oleh orang Islam diatursetjara Islam dan tidak boleh diganggu gugat, bahwa ia melepas-kan harta benda jang ada dalam Baital Mal di Kufah diatur setja-ra mestinja dan dibajar hutang-hutang serta pada tiap tahun di-serahkan kepada Hasan seratus ribu dinar untuk mengurus halitu. Dan selandjutnja Muawijah tidak boleh menanam kebentjianuntuk Hasan bin Ali, tidak pula untuk saudaranja Husain danuntuk semua Ahli Bait Rasulullah, baik setjara diam-diam maupunsetjara terang-terangan serta tidak boleh menanam ketakutandalam kalangan umat manusia jang diperintahnja. Dimana perdjandjian ini diperbuat, ahli sedjarah tidak ber-samaan pendapatnja, ada jang mengatakan ditengah-tengah ten-tara jang sedang bertempur antara Irak dan Sjam. lain mengata-kan terdjadi di Baital Maqdis (Tarich al-Chamis, II : 323; E n c y cHustani, VIII : 38) bahkan ada jang mengatakan terdjadi diAzrah, suatu tempat dekat Sjam (Tazkiraful Chawas, hal. 206). Perdjandjian ini, sebagaimana jang diduga oleh banjakorang, tidak ditepati oleh Muawijah. Begitu kekuasaan djatuh68
    • kedalam tangannja, menurut Ibn Abui Hadid, begitu berlaku da-lam tahun itu djuga kezaliman, jang dilakukan terhadap orangIslam bekas mereka jang pernah pro Ali atau menentang Mu-awijah. Tidak seorang Islam jang tidak takut akan djiwanja,jang tidak ngeri akan pertumpahan darahnja akan ditjulik, dan takada tempat minta tolong. Keselamatan umum tidak terdapat. Bai-tal Mal Kufah diganggu, beramal dengan Kitab Allah dan Rasuldilanggar, kedudukan putera mahkota tidak diindahkan, keamananumum tidak terdapat, larangan memakai gelar "Amirul Muminin"tidak diindahkan, hakim-hakim tidak adil dan berbuat semena-mena, mentjutji-maki keluarga Ali diteruskan dimana-mana, ke-amanan umum bagi Sjiah Ali tidak diperdulikan, tjukai daerahAbdjard diambil, sehingga Baital Mal didaerah itu tidak dapatdigunakan untuk kemaslahatan umum. untuk dawah, untuk men-dirikan agama, untuk memperbaiki keadaan masjarakat, untuk menggadji tentara, zakat dan sedekah tidak dapat dilakukan de-ngan sempurna. Keadaan ini menimbulkan pertjektjokan antara Hasan dansaudaranja Husain. Husain tidak setudju memperbuat perdjandjiandengan Muawijah. Ia berkata : "Moga-moga engkau diberi pe-tundjuk oleh Tuhan. Engkau membenarkan perkataan Muawijah,dan mendustakan utjapan ajahmtt". Hasan menjabarkannja danberkata : "Aku lebih tahu dengan urusan ini daripada engkau"(Assaddul Ghabah d î t ) . Ketjaman Husain ini menjebabkan Hasan mentjari pendapat-pendapat orang-orang besar jang mendampinginja, tetapi hampirsemuanja menjalankan Hasan membuat perdjandjian dengan Mu-awijah itu, dan hampir semunja setudju dengan Husain, bahwaperkara itu harus diselesaikan dengan pedang terhunus. Abdullahbin Djafar jang diminta pikirannja oleh Hasan, menjetudjui pen-dapat Hasan tetapi banjak djuga orang lain jang mendampingi pen-dapat Husain. apalagi setelah melihat, bahwa orang-orang Mu-awijah meneruskan tjutji-maki Siiah Ali dimana-mana, terutamadiatas mimbar-mimbar Djumat, Qais bin Saad, jang terkenal de-ngan pahlawan besi, berkata : "Tidak, demi Tuhan, tidak engkaumendapati daku dengan Muawijah melainkan diantara kilat pe-dang dan tjelah-tjelah tembakan. Semua orang-orang besar antiMuawijah dan mengetjamnja dengan kata-kata jang pedas, sertatidak mau melepaskan pengakuan, bahwa Imam Hasan masihchalifah umat Islam, diantaranjja. Hadjar bin Adi, Adi bin Hatim.Musajjab bin Nudjbah. Malik bin Dhamrah, Basjir Al-HamdanSulaiman bin Sharat, beberapa banjak pemuka-pemuka Sjiah.sahabat-sahabat dan tabiin-tabiin. Seluruh Irak menjala perangtiutii-maki dan ketjam-mengetjam petiah. dan Husain seakan-akan 61
    • didorong oleh orang banjak untuk madju kedepan menjerbu ke-dalam medan perang menghadapi Muawijah Imam Husain jang baik hati dan manusia jang paling sabaiseakan-akan tidak berdaja dan tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Tjeritera pertempuran ini akan kita uraikan dalam satu ba-hagian chusus, karena perdjuangan Husain dan sjahidnja meru-pakan kedjadian jang sutji bagi orang-orang Sjiah.
    • 3. BANI UMAJJAH D A N H U K U M AGAMA. Kita ketahui bahwa kehidupan Bani Umajjah dalam masadjahilijah adalah hidup keduniaan. Agamanja hanja terdiri daripada penjembahan berhala disekitar Kabah, jang hanja didatangiapabila ada sesuatu kesusahan dan kesukaran. Pembasmian pe-njembahan berhala ini oleh Bani Umajjah dilakukan oleh NabiMuhammad dengan adjaran Islam. Kemenangan jang djatuh dalamtangan Nabi dalam usahanja mengembalikan manusia kepadapenjembahan Tuhan jang maha esa, kepada pergaulan manusiajang tidak bertingkat dan berderadjat, baik dalam masa Nabi,maupun Abu Bakar dan Umar, membuat Bani Umajjah putu s asadan tidak ada djalan untuk bergerak kembali menentang BaniHasjim. * C Pembunuhan atas diri Usman bin Affan membuka pintu bagiBani Umajjah, untuk merebut kembali kekuasaannja dan memba-las dendam kepada Bani Hasjim dengan menjerang Ali bin AbiThalib dan keturunannja jang ingin meneruskan pemerintahandan adjaran setjara Islam itu. Permusuhan Bani Umajjah terhadap Alawijah dianggap olehorang Sjiah tidak lain daripada permusuhan jang ditudjukan ke-pada Nabi dengan memakai bungkusan jang lain bentuknja. Kitab-kitab Sjiah diantara lain "Hajafti Hasan bin Ali" (Ne-djef, 1955), karangan Baqir Sjarif Al-Quraisj, menerangkan usa-ha-usaha Bani Umajjah, dimulai dengan Muawijah, mengubahhukum-hukum agama Islam, jang sudah ditetapkan, sesuka-suka-nja dan memberi sifat duniawi kepada tjorak pemerintahannja. Ia membentji Rasulullah, menukarkan namanja dalam azan,pada permulaan amarahnja, ia tidak sembahjang Djumat empatpuluh kali (An Nasaih Al-Kafijah, hal. 97), melebih-lebihi batashukum Islam, misalnja pada suatu kali menjuruh memotong se-djumlah besar tangan manusia dengan tidak mengadakan peme-riksaan lebih dahulu setjara bidjaksana dan memberi ampunan(AI-Bidajah wan Nihajah, V I I I : 136), Islam mentjegah riba.sedang Muawijah membolehkan riba. Atta bin Jassar mentjerite-rakan, bahwa Muawijah mendjual fcedjana mas jang lebih ba-njak timbangannja, sedang Abu Darda memperingati akan hadisRasulullah jang mentjegah menukarkan barang jang serupa lebih-melebihi (An-Nasaih, hal. 94). Sebagaimana kita ketahui bahwa diperintahkan azan untuksembahjang lima waktu iang wadiib dan sembahjang djumat tidak n
    • pada sembahjang sunat atau sembahjang dua hariraja. Tegas Ra-sulullah mengatakan, bahwa untuk dua hari raja tidak ada azandan qamat (Sjarani Kasjful Ghummah, 1:123), dan peraturan iniditeruskan oleh semua chalifah sesudah wafat Nabi (Sunan AbuDawtod, 1:79). Tetapi Muawijah mengubah tjara azan dan qa-mat ini pada hari raja jang diperintahkan melakukannja, dan de-ngan demikian menjalani Sunnah Rasul dan Sahabat (Siarah IbnAbil Hadid, 1 : 470). Kemudian sebagaimana kita ketahui, bahwa Islam memerintah-kan chotbah hari raja sesudah selesai sembahjang, Nabi mengcr-djakan demikian dan sahabatnjapun mengcrdjakan demikian (Su-nan Abu Dawud I : 178), tetapi Muawijah mengcrdjakan sebalik-nja, ia berchotbah lebih dahulu dan sembahjang hari raja kemu-dian (Abui Hadid II : 470). Sedang Islam mewadjibkan zakat atas modal jang berkeuntungan, Muawijah memungut zakat atas pemberian orang (Taricb Al- Jakubi 11:207). Kita ketahui bahwa wadjib meninggalkan harum-haruman pada waktu ihram hadji, tetapi Muawijah menjalahnja dan mam- fatv/akan memakai harum-haruman dalam ihram pada waktu hadji (Ai?-Nasaih, hal. 100). Dalam Islam diharamkan memakai bedjana perak dan emas, tetapi Muawijah memerintahkan perabot makan diperbuat dari emas dan perak. Tatkala orang memperingatkan kepada hadis Nabi jang mengharamkan semua itu, ia mendjawab : ,,Aku tidak melihat haram" (An-Nasaih, hal 101). Menurut adjaran Islam tidak diperkenankan laki- memakai pa- kaian sutera, ketjuali pada waktu peperangan, sedang Muawijah saban saat memakai pakaian sutera, dikala damai (Tariert Al-Ja- kubi, 11:27). Lain daripada itu ada jang dianggap Sjiah lebih kedji lagi. jaitu Muawijah mendjual agama dipasar, digadjinja untuk itu Ah- naf bin Qais, Djarijah bin Quddamah dan Djun bin Qatadah. tatkala Hatat bin Jazid tidak mau diupahi seribu dinar, Muawijah menambah upah itu dan berkata dengan bangga: „Aku telah mem- beli dari mereka agamanja untuk kepentingan daku sendiri" (Al- KamilIII:180). Pernah anak Muawijah menjuruh membunuh Abdurrahman bin Hasan bin Sabit Al-Anshari Al-Chazradji, jang lahir dalam masa Nabi dan penjair terkenal, disuruh bunuh oleh anaknja, kare- na dalam sjairnja ia menjinggung nama saudaranja perempuan jang belum dapat dipahami betul 2 sadjak iang mendaam itu. Untung Muawijah menolak dendam dan keangkuhan keluarga ini, sehing- ga Abdurrahman jang oleh Ibn Hajjan disebut seorang Tabiin jang sangat djudiur, terlepas dari pada hukuman. Ia meninggal dalam tahun 104 H. :
    • Demikian beberapa tjontoh tentang pelanggaran Muawijahterhadap hukum Islam, jang didalam kitab 2 Sjiah dibeberkan pan-djang lebar fakta 2 , disisip dengan ajat8 Quran jang telah meng-gambarkan pelanggaran 2 itu. Sjiah menjebutkan ajat Quran di-samping idjtihad2 jang menjeleweng daripada pokok 8 agama, misal-nja : ,,Orang 2 jang menggemari dusta, adalah orang 2 jang tidak per-tjaja ajat2 Allah dan mereka itu adalah pendusta 2 " (Surat Anhal),ajat 105). Memang Bani Umajjah banjak sekali mengadakan hadis 2 dustauntuk mendjelaskan buruk keturunan Ali, sebaliknja menjuruhmengumpulkan hadis 2 tentang keutamaan Usman. Dalam sebuahsurat siaran kepada semua pembesar 3 dalam keradjaannja, ber-bunji demikian : „Tjari daripada orang" jang mentjintai Usmanuraian 2 jang mentjeriterakan keutamaan atau kelebihannja, hormatiorang 2 jang demikian itu dan kirimkan kepadaku utjapan 8 jangdikemukakannja dengan menjebutkan riwajat hidup orang 2 itu". Surat ini disusul lagi : „Banjak tjeritera sudah tersiar tentang Usman dalam banjak ko.ta dan bandar, apabila engkau mendengar-nja, hubungkanlah dengan riwajat Abu Bakar dan Umar, karena kelebihan keduanja lebih kutjintai, untuk menolak hudjdjah Ahli Bait, jang kebanjakan mendjelek 2 -kan Usman" (Bagir Sjarif Al- Quraisji, Ha jat u Hasan bin Ali, 11:143—145. Maka dengan demikian lahirlah kegiatan dari pihak Sjiah mentjari hadis 2 mengenai keutamaan Ali bin Abi Thalib, dan dari pihak Muawijah mengumpulkan hadis 8 mengenai kelebihan Us- man, masing 2 untuk didjadikan peluru dalam peperangan jang hebat antara keturunan Bani Hasjim dan Bani Umajjah itu.
    • 4. H A S A N D A N M U A W I J A H Apapun matjamnja kitab Sjiah, baik dalam bidang agama,bidang sedjarah atau ilmu pengetahuan, pasti berisi didalamnjaketjaman 2 terhadap Bani Umajjah, jang dianggapnja sangat kedjamdalam utjapan dan perbuatannja terhadap keturunan Ali dan Sjiah-nja dan jang dianggap menentang Nabi Muhammad dan adjarannja.Dan hal ini dapat kita pahami, karena permusuhan antara BaniHasjim dan Bani Umajjah sudah terdjadi sebelum Islam, dalammasa kebangkitan Islam dan sambung-menjambung sesudah Islam. Meskipun dari satu mojang, sifat8 Bani Hasjim itu berbedasekali dengan sifat2 Bani Umajjah. Sedjarah Islam telah memperli-hatkan perbedaan sifat2 ini. Sifat2 Nabi Muhammad menurun ke-pada anak tjutjunja melalui Fathimah dan Ali, dan sifat8 Abu Suf-jan menurun kepada Muawijah, Utbah dengan segala keturunan-nja, meskipun sesudah berubah kejakinannja mendjadi Islam, darisatu pihak, lebih menerangkan hidupnja kepada achirat, dari lainpihak kelihatan dalam hidupnja keduniaan. Dendam Abu Sufjan jang tidak dapat ditudjukan kepada NabiMuhammad dimasa hidupnja, karena kekalahannja jang total, dile-paskan oleh anak tjutjunja dengan sepuasnja kepada keturunan Alibin Abi Thalib dan Sjiahnja. Menurut orang Sjiah, Abu Sufjanmasuk Islam hanja karena terpaksa untuk menjelamatkan dirinjadari kehantjuran, tetapi ia masih mendendam dalam hatinja. Halini ternjata sesudah wafat Nabi, dikala Abu Sufjan mendatangikubur Hamzah dan berkata : „Bangkitlah engkau dan lihat bah-wa kekuatan sudah kembali kedalam tangan kami." Pertama kaliia menggunakan kelemahan Usman bin Affan, salah seorang Bani Umaijah jang mendjadi sahabat besar dan menantu Nabi, untuk memasukkan anak s nja kedalam susunan pemerintahan, diantara-nja Muawijah. Nabi tahu akan kelakuan Abu Sufjan ini, djika tidak, Nabi tidakakan melanat atau mengutuknja pada suatu hari, tatkala AbuSufjan duduk diatas unta merah menuntun unta jang diatasnja duduk Muawijah dan Utbah. Nabi berkata : „Ja Tuhanku ! Lak- natilah orang jang mengenderai dan jang menuntun !" Rupanja utjapan kutukan ini diingat oleh Muawijah, dan ia menanti datangnja kesempatan untuk melepaskan dendamu ia dikala berkuasa. Maka dimakinja Ali, jang menurut orang Sjiah tidak lain dikehendakinja melainkan Nabi Muhammad sendiri. Sedang Nabi tahu akan hal itu dimasa hidupnja dan pernah berkata : „Ba- 74
    • rang-siapa memaki Ali, ia sebenarnja memaki daku, dan barang-siapa memaki daku, ia sebenarnja memaki Allah (Hakim, Al-Mus-tadrak). Memang benar sebagaimana dikatakan Sjiah (Ibn Abil Hadid,Mughnijjah) bahwa sedjak berkuasa Muawijah menghmburkan tjatji-makian terhadap Ali dengan keturunannja. Di Kufah Muawijahnaik diatas mimbar dan dalam chotbahnja itu dikatakannja bahwasjarat 2 perdjandjian jang sudah diperbuat dengan Hasan tidak ber-laku lagi dan sudah diindjak 2 nja, meskipun sjarat 2 itu sudah ditan-da tanganinja. Pengakuannja dalam perdjandjian itu, bahwa Mu-awijah akan beramal sepandjang Kitabullah dan Sunnah Nabinja,bahwa ia tidak berbuat sesuatu djandji baru dengan seseorang lainketjuali dalam musjawarah dengan orang Islam, bahwa ia mendja-min keamanan tiap penduduk keradjaannja daripada pertumpahandarah, kehormatan dan harta benda, dan bahwa ia meninggalkanmemaki-maki Ali bin Abi Thalib, semua perdjandjian itu dilanggar-nja dan dinjatakan pelanggaran itu dalam chotbah Djumat di Ku-fah. Muwijah tidak sadja sendiri memaki Ali, tetapi memerintah-kan semua pegawai-nja dan chatib* Djumat diseluruh keradjaannja,malanati Ali diatas mimbar dan memutuskan semua perhubungandengan anak tjutjunja (Ibn Abil Hadid, Dalailus Sidiq III, 15).Bertahun lamanja orang menggunakan tjara ini dalam ibadah,sehingga orang melupakan firman Tuhan jang berbunji : „Allah menghendaki membersihkan segala ketjemaran ahli rumahmu dan mengurniai kesutjian jang sebenar 2 nja kepadamu" (Al-Quran). Berbeda sekali dengan sifat Rasulullah jang tidak ingin mem- balas dendam kepada Abu Sufjan. Kita ketahui dari sedjarah, bah- wa Abu Sufjan dan isterinja Hindun sangat kedjam menghadapi nja dalam politik dan peperangan, tetapi keduanja diampuni pada hari Fath Mekkah dan rumah Abu Sufjan sama dengan Madjidil Haram dinjatakan sebagai tempat jang aman bagi semua orang jang merasa dirinja bersalah. Dalam pada itu keturunan Abu Sufian berbuat sebaliknja kepada anak tjutju Nabi. Tatkala Hasan bin Ali pada suatu hari masuk kerumah Muawi- jah dimana terdapat Amr bin Ash, Walid bin Uqbah, Uqbah bin Abi Sufjan, Mughirah bin Sjubah, bukan sadja ia tidak menghor- mati, tetapi mengetjam dan memberi aib kepada tjutju Nabi jang sangat ditjintai itu. Dikala itu Hasan tidak dapat menguasai dirinja. Maka iapun mengeluarkan utjapan janq tadiam jang kemudian mendjadi bahan oeledak memetjahkan perkelahian turun-temurun dan ber-tahun" Saja tidak ingin menterdjemahkan seluruh pidato ini. tetapi tidak dapat saja elakkan beberapa kalimat janq berisi kebenaran dan jang menggambarkan sikap orang 2 besar Bani Umajjah ketika itu 7Z
    • Hasan berkata kepada Muawijah : ,,Wahai Muawijah! Tidakada artinja ketjaman dan edjekan mereka, tetapi ketjamanmu lebihlagi kedji terhadap kami, jang merupakan permusuhan denganMuhammad dan keluarganja. Moga Tuhan memberi petundjukkepadamu. Ketahuilah bahwa mereka jang mengetjam itu pernahsembahjang kearah dua kiblat, sedang engkau ketika itu menentang,engkau melihat sembahjang itu suatu kesesatan dan menjembahLata dan Uzza itu suatu kebadjikan ! Engkau mengetahui, bahwamereka jang mengedjek daku pernah bersumpah dua kali, jaitubaiat Fatah dan baiat Ridhwan, siedang engkau ketika itu masihkafir. Tahukah engkau, bahwa ajahku jang engkau maki itu ada-lah orang jang mula 2 iman, sedang engkau hai, Muawijah, danajahmu adalah muallaf, jang menjembunjikan kekufuran danmelahirkan ke-islamannja. Kemudian apakah tidak engkau tahu bahwa ajahku jang eng-kau tjela itu adalah pemegang pandji 2 Rasulullah dalam perangBadar, sedang pandji orang musjrik ditanganmu dan ditanganajahmu ? Siapa jang membawa pandji2 Nabi dalam perang Uhud,dalam perang Ahzab dan dalam perang Chaibar ?" Hasan melandjutkan : „Tidakkah engkau ketahui, bahwa Ra-sulullah pernah melanati ajahmu Abu Sufjan tudjuh kali, pertama pada waktu ia keluar dari Mekkah ke Thaif membawa seruan Is- lam, sedang ajahmu mendustainja, kedua pada hari Badar, ketiga pada hari Uhud, dikala Abu Sufjan meneriakkan sandjungan kepa- da Hubal, dan Nabi melanati Hubal itu, keempat pada hari Ahzab, kelima pada hari Hudaibijah, keenam pada hari Aqbah dan ketu- djuh pada hari Rasulullah melihat ajahmu mengendarai unta merah. Memang sudah njata permusuhanmu terhadap Nabi Muhammad dan keluarganja" (As-Sjiah wal Hakimun, hal. 72—73). Letusan kata 2 ini mengakibatkan peperangan kutuk mengutuk jang berlarut-larut. Dendam dari dua belah pihak bertambah men- dalam, dendam antara keluarga dengan keluarga, antara Bani Ha- sjim dan Sjiahnja dengan Bani Umajah, jang gemanja sampai seka- rang ini masih terdapat dalam lisan dan tulisan dari kedua pihak. Ditjeriterakan orang, bahwa pada suatu hari Muawijah men- datangi orang* Quraisj. Semua orang berdiri menghormatinja, ke- tjuali Ibn Abbas. Muawijah berkata : „Usman dibunuh setjara za- lim". Ibn Abbas mendjawab : Umar bin Chattab dibunuh setjara zalim". Muawijah berkata : "Umar dibunuh oleh seorang kafir". Ibn Abbas bertanja : „Siapa jang membunuh Usman ?" Djawab Muawijah : „Dibunuh oleh orang Islam." Kata Ibn Abbas : „Itu lebih tjelaka lagi, karena kedua"nja mendjadi kafir." Muawijah menulis surat kesegala sudut keradiaannia untuk membeikot Sjiah Ali dan membantu serta mentjintai Sjiah Usman. Pernah Muawijah menerangkan dalam sebuah surat kepada guber- nurnja, menjuruh mengumpulkan riwajat 3 keutamaan sahabat 3 dan7o
    • mengemukakan tentang riwajat Abu Turab (Ali bin Abi Thalib)dengan tjorak mengurangi nilainja. Djuga usaha* mendjatuhkan Ali ini tidak hanja tinggal dalamutjapan tetapi dilaksanakan dalam hukuman jang berat, kepadamereka 2 jang dianggap bersekutu dengan keluarga Ali.Kita ambil sebagai tjontoh Hadjar bin Adi, salah seorang sahabatRasulullah, sahabat Ali dan Hasan, seorang zahid dan ahli ibadat,seorang pahlawan jang gagah perkasa, jang pernah menundjukkankeberaniannja daiam perang mendjatuhkan Sjam dan Qadisijah.turut dalam perang Djamal, Sjiffin dan Nahrawan. Kemudian iaberbaik dengan Muawijah dan mendjadi seorang pegawainja jangtaat. Hanja satu perkara ia tidak ingin mengerdjakannja, jaitu me-maki Ali diatas mimbar, hal ini ketahuan, lalu diputuskan sebagaidosa besar dan dia dengan temannja dibunuh. Shifi bin Fusail diperintahkan memaki Ali, tetapi tidak inginmengerdjakannja. Oleh karena itu ia disuruh pukul sampai djatuhter-sungkur 2 kebumi, kemudian ditanjakan kepadanja : „Apa kata-mu tentang Ali ?" Djawabnja, bahwa ia tidak akan mengatakan lain,ketjuali apa jang sudah diketahui tentang keutamaannja. Shifi men-djadi korban kekedjaman Zijad. Dr. Taha Husain menulis dalamkibabnja „Ali wa Banuh", bahwa Shifi itu adalah anggota golonganHadjar, jang terdiri dari orang 2 Islam jang saleh dan banjak mem-bantu Nabi dalam menjiarkan agama Islam. Banjak anggota golo-ngan ini jang dibunuh. Banjak lagi korban" jang lain jang disiksa dan dibunuh atasperintah Muawijah oleh Zijad atau algodjo2nja, hanja karena tidakmau mentjertja Ali didepan umum atau dianggap simpati denganketurunan Ali. Hal ini kita bitjarakan dalam suatu bahagianchusus. 77
    • 5. JAZID BIN M U A W I J A H D A N M U A W I J A H BIN JAZID Kekedjaman Muawijah sampai kepada anaknja, Jazid bin Muawijah, dalam sikapnja terhadap Sjiah. Sedjarah Jazid harus ditulis dengan air mata darah, karena dalam masa pemerintahan- nja jang hanja berlaku tiga tahun delapan bulan, tidak sedikit pertumpahan darah dan air mata jang dilakukannja untuk melan- djutkan pembalasan dendam terhadap keturunan Ali, jang sudah dimulai oleh ajahnja Muawijah. Kekedjaman Jazid dalam membunuh Husain, menjembelih anak-anak dan pembantu-pembantunja, begitu djuga memberi aib kepada wanita-wanitanja, ditambah dalam tahun kedua dengan memperkosa kota Madinah jang sutji serta membunuh ribuan penduduknja, tidak kurang dari tudjuh ratus orang dari Muhadji- rin dan Anshar serta sahabat-sahabat besar Nabi, dengan keke- djian sebagai penutup pada tahun jang ketiga dari pemerintahan- nja, jaitu menembak Kabah dengan meriam, untuk menghancur- kan rumah sutji itu. Kitab-kitab Sjiah mentjeriterakan kedjadian-kedjadian ini de- ngan ngeri dan penuh rasa dendam. Diantara pengarang ada jang berkata, bahwa djika Muawijah dimasa-masa itu masih hidup dan melihat apa jang diperbuat oleh Jazid, nistjaja ia akan berkata : "Engkau sama dengan daku dan aku sama dengan di- kau, sama-sama dari anak Hindun, jang pernah mengunjah hati Hamzah!" (Mughnijah dalam Asj-Sjiah wal Hakimun, hal. 88). Memang djika kita perhatikan djalan sedjarah dan tjeritera- tjeritera jang terdjadi disekitar zaman pemerintahan Muawijah dan Jazid, tak dapat tidak djantung kita berdebar-debar melihat permusuhan jang sangat kedjam diperbuat Muawijah dan anak- nja terhadap keturunan Bani Hasjim. Meskipun kita bukan orang Arab, tidak termasuk kesana dan tidak termasuk kemari, hati kita diketok oleh perasaan Islam, lalu mengukur kedjadian-kedjadian itu tidak selajaknja terdjadi demikian rupa diantara sesama pe- meluk Islam. Sesudah kedjadian jang ngeri dan menjeramkan bulu romadi Karbala, di Madinah dan di Mekkah, diangkatlah Ubaidillahbin Zijad penguasa di Kufah. Kekedjaman Ubaidillah ini disaksi-kan pula oleh sedjarah, tidak kalah dengan kekedjaman ajahnjaZijad dalam membasmi sisa-sisa Sjiah Ali, memendjarakannja,mentjuliknja, membunuhnja, menjulanja, memotong tangan dankakinja, kekedjaman-kekedjaman jang sebenarnja tidak diperke-7%
    • nankan dalam adjaran hukum peperangan Islam. Kesalahan-kesa-lahan jang didjadikan sebab adalah persoalan jang ketjil-ketjil,misalnja masih memudji-mudji Ali bin Abi Thalib, mengetjamIbn Zijad atau salah seorng pegawai Bani Umaijjah. kesalahanini sudah tjukup untuk mendjatuhkan hukuman berat kepada pen-duduk Kufah, diantaranja terdapat sahabat Nabi atau Tabiin. Masih diingat orang kalimat-kalimat jang ditulis Jazid kepa-da penglimanja Umar bin Saad jang berbunji : "Kepung Husaindan sahabat-sahabatnja, bunuh mereka dan robek-robek tubuhnjabiar mereka rasai. Djika Husain sudah terbunuh, indjak-indjak dada dan pung-gungnja dengan tapak kaki kuda. Aku tidak melihat tidak lajakperbuatan sematjam itu bagi pembalasan. Djika engkau langgarperintahku engkau akan menerima balasan, atau serahkan peker-djaan ini kepada Sjamar bin Zil Djaus, jang akan melakukannja." Hal ini tersebut dalam kitab "Al-Madjalisul Husainijah". Kengerian ini mulai reda dalam masa pemerintahan anakJazid, jang bernama Muawijah II atau Muawijah bin Jazid, te-tapi belum habis sama sekali. Menurut Abui Mahasin dalam kitabnja "An-Nudjumul Zahi-rah" (1929, 1: 164), Muawijah bin Jazid dalam chotbah pertamamulai menggunakan nama Ali bin Abi Thalib dengan kehormatandan mengakui kesalahan-kesalahan orang tuanja. Dengan air ma-ta bertjutjuran ia mengaku do^a orang tuanja mengadakan pem-bunuhan jang kedjam atas keluarga Rasulullah, menghalalkanjang haram dan merusakkan Kabah, serta ia berdjandji, tidakakan mengikuti lagi djedjak itu (lih. Asj-Sjiah wtal Hakimun,hal. 90). Demikianlah kita lihat perang saudara jang hebat ini, jangmula-mula tidak mengenal lagi prikemanusiaan, lama-kelamaanberangsur reda, tetapi gema dendam masih sampai sekarang ber-ombak dalam kitab-kitab Sjiah. 79
    • 6. H U S A I N DAN KARBALA. Orang bertanja kepada ketua Mahkamah Sjarijah AgungDjafarijah di Beirut, Sjeih Muhammad Djawad Mughnijah, jangpada waktu ini merupakan tokoh penting dalam mazhab Sjiahmengapa perajaan Karbala itu dichususkan untuk memperingatiImam Husain sadja, mengapa tidak neneknja Muhammad atauajahnja Ali, apakah Husain itu lebih penting daripada neneknjadan ajahnja itu. Dalam djawaban Sjeih Muhammad Djawad Mughnijah, jangdimuat pandjang lebar dalam madjalah „Risalah Al-Islam" tahun 1959, Djuli, dengan kepala „Sjiah dan Hari Asjlura", didjelaskanduduk perkaranja jang sebenarnja menurut paham Sjiah. Orang 2Sjiah tidak melebihi seorang djuapun lebih daripada Rasulullah.Mereka menganggap Nabi Muhammad itu dalam Islam se-baikmachcluk Tuhan dengan tidak ada ketjualinja. Sesudah NabiMuhammad tidak ada jang lebih mulia daripada Ali bin Abi Tha-lib. Ali bin Abi Thalib itu pernah membanggakan dirinja denganberkata : „Aku adalah seorang tukang tambal sepatu Rasulullah"Dan ia berkata : „Apa bila peperangan sudah selesai, maka kegem-biraan jang sebesar-besarnja bagi kami ialah bergaul denganRasulullah". Memang Sjiah Imamijah menganggap bahwa Mu-hammad itu tidak ada jang menjainginja dalam keagungan, ma-laikat tidak, rasul 2 lainpun tidak, bahwa Ali bin Abi Thalib ha-njalah chalifah jang berhak sesudah ia wafat, bahwa Ali bin AbiThalib adalah keluarganja dan sahabatnja jang terbaik. Adapunpenghormatan Husain pada tiap 2 tahun selama sepuluh hari ber-turut-turut di Karbala, jang terkenal dengan Asjura, tidak lainmaksudnja ialah untuk mempertahankan dan mengabadikan pen-dirian itu serta melaksanakannja dalam bentuk tindakan jangkelihatan. Hal ini akan lebih djelas, djika diketahui rahasia 8 jang di-kandung peringatan tersebut, sebagai berikut. t: Sebagaimana diketahui Rasulullah kawin tatkala dia ber-umur 25 tahun dan wafat pada waktu berumur 63 tahun. SetahunRasulullah tidak beristeri setelah wafatnja Chadidjah. Kemudian iakawin dan banjak isrrinja, sehingga ia pernah mengalami perka-winan dengan sembilan isteri dalam suatu masa hidup. Masaperkawinan itu tidak kurang dari 37 tahun. Dari perkawinandengan Chadidjah ia beroleh dua orang anak laki2, jang tjantikdan sutji, seorang bernama Qasim dan seorang bernama Abdullah,80
    • ke-dua 2 nja mati diwaktu masih ketjil. Dari perkawinan denganChadidjah itu djuga dia beroleh-empat anak -perempuan,--masing*bernama Zainab, Ummu Kalsum, Ruqajjah dan Fatimah. Semua-nja masuk Islam, semuanja kawin dan semuanja wafat dikalahiddupnja, ketjuali hanja tinggal seorang mainan mata dan ke-n a n g a n kepada keluarganja jang sudah tidak ada jaitu Fatimah.Memang Rasulullah dikurniai lagi seorang anak laki" dari isterinjajang bernama Marijah Qubtijah jang diberi nama Ibrahim, anaknjainipun diwaktu ketjil diambil Tuhan, ia meninggalkan ajahnjadalam keadaan sepi dan sunji itu, dalam keadaan ia mentjutjur-kan air mata karena sedihnja, berpulang kerchmatullah dalamumur hanja setahun sepuluh bulan dan delapan hari. Tidak adalagi tunasnja, tidak ada lagi keturunannja, jang dapat menghibur-kan dia dalam keluarga, jang menjambungnja dalam keturunan,ketjuali dengan Fatimah dan dua orang anaknja jang diperolehnjadari perkawinan dengan Ali jaitu Hassan dan Husain. Merekalahjang merupakan keluarganja, merekalah jang merupakan harapandan kemenangan, mainan mata dan hiasan rumah tangganja. Fatimah, Ali, Hasan dan Husain itulah satu 2 empat tunggalketurunan Nabi, satu 2 nja ketenangan dan kebanggaan kaummuslimin sesudah wafat Nabi. Jang lain tidak ada, tidak ada ke-luarganja dan tidak ada keturunan jang ditinggalkan dalambentuk rumah tangganja jang sebenarnja. Tetapi Fatimah wafatpula, hanja sesudah 72 hari ajahnja kembali kepada Tuhan. Ting-gallah rumah tangga Nabi jang gelap gulita itu, djika tidakditerangi oleh tiga sumber tjahaja dan sumber hiasan, jaitu Ali,Hasan dan Husain. Kemudian Ali dibunuh orang pula, dan ha-nja tinggal dua „Ketjantikan", dua Hasanah. Ketjintaan kaumMuslimin berkumpul pada kedua anak ini, dahulu mereka dapatmenumpahkan tjinta dan ichlas kepada Nabinja jang mulia, se-karang tak ada lagi salurannja ketjuali kepada tjutjunja itu, ke-pada kedua tjutjunja, jang hanja merupakan keturunan dan janghanja merupakan Ahli Baitnja. Tidak berapa lama kemudian Hasan pergi pula menemuiTuhannja, sehingga dari Ahli Baitnja hanja tinggal satu 2 nja jaituHusain. Seluruh bentuk rumah Rasulullah kembali kepada kepri-badiannja. Satunja tempat melihat Nabi ialah Husain, satu2njajang dapat merupakan kenang 2 an kepada keluarganja ialah Hu-sain, hanja Husain jang dapat menampung seluruh ketjintaankaum Muslimin karena dialah satu*nja jang mewakili Ahli BaitNabi, jang mewakili Nabi, jang mewakili Ali, jang mewakiliHasan dan jang nrewakili dirinja sendiri. Tjinta akan tidak dapatterpentjar kepada jang lain. sebagaimana seluruh kenangan 2 ke-pada keluarga Nabi akan berpusat kepadania . 81
    • Tjobalah kenangkan djika saudara mempunjai lima orang anakjang sama ditjintai kemudian mati satu persatu sehingga tinggalseorang sadja. Akan tak dapat tidak tjinta kepada jang seorangitu berlipat ganda, karena kepadanja berkumpul seluruh tjintakepada jang sudah tidak ada itu. Djika kita mengerti jang demikian itu, barulah, kita pahamakan utjapan Zainab. jang meratapi saudaranja Husain, dikeluar-kan pada hari jang kesepuluh dalam bulan Muharram : „Padahari ini wafat nenekku Rasulullah, pada hari ini pula mati ibukuFatimah, pada hari ini ajabku Ali dibunuh dan pada hari inisaudaraku Hasan diratjuni". Dengan pengertian diatas itu djugabaru dapat kita memahami apa jang pernah diutjapkan Husain,beberapa saat sebelum djiwanja ditjabut musuh katanja kepadatentara Jazid : „Demi Tuhan tidak ada lagi ditimur dan dibaratpunputera anak perempuan lagi ketjuali aku jang berdiri didepanmu,tidak pula ada keturunannja didepan orang selain kamu semua." Pintu rumah Rasulullahpun tertutuplah dengan pembunuhanatas diri Husain, tidak ada lagi tinggal dari keluarganja barangseorangpun, sedang ia itu merupakan perlambang bagi rumahNabi seluruhnja dan kenangan hidupnja kepada semua umatIslam. 2. Matinja keturunan Nabi ini tak dapat tidak merupakansuatu kedjahatan besar jang tidak ada taranja. Hari itu tidak da-part diartikan hari peperangan dan hari pembunuhan jang biasa,hari itu adalah hari pertumpahan darah dan hari pembasmian se-luruh keluarga Nabi besar dan ketjil. Dari seluruh pendjuru di-adakan serangan, dari seluruh pendjuru dihadapkan dendam jangdipuaskan sepuas-puasnja kepada keluarga Nabi. Mereka diboikotmakan dan minum berhari 2 dengan tidak ada rasa belas kasihankepada manusia. Tatkala keluarga Nabi itu sudah dilumpuhkan,karena mereka laki 2 dan perempuan lebih mengutamakan matikelaparan dan dahaga daripada menjerah diri kepada musuh jangkotor, diserbulah dari segala djurusan dengan pelepasan panah,pelemparan beling dan batu, ditetak dan drtjentjang dengan pedangdan ditikam ditusuk dengan tombak sepuas a nja dengan kedjam-nja. Tatkala semua sudah djatuh kepalanja lalu dipenggal, badan-nja disuruh indjak dengan kaki kuda, diseret kesana dan kemarisebagai mainan. Kekedjaman ini belum memuaskan tentara Jazid,sebelum anak 2 ketjil jang mendjerit 3 karena kematian ibunja di-indjak perutnja, sebelum mereka dengan tempik sorak kegembi- raan melemparkan api jang me-njala 3 ke-tengah 2 perempuan jang panik dan tidak berdaja itu. Kita tidak mengetahui, apakah pekerdjaan ini dianggap baik oleh orang jang mentjintai Nabinja, dapat disetudjui oleh orang jang membesarkan Nabinja serta keluarganja itu. Apakah hal ? 1
    • itu tidak menegakkan buluroma menghadapi kedjadian itu denganpenuh ketakutan. Kedjadian jang berlumuran darah ini tak akandapat dilupakan selama hajat dikandung badan. Tatkala Jazid membasmi pemberontakan Husain itu denganmenggunakan pedang terhunus, ada seorang utusan Kaesar Mase-hi datang kepadanja dan berkata : „Ditempat kami masih terdapatseorang tukang mengurus keledai Isa, jang sampai sekarang kamibiarkan dia hidup bahagia. Dari seluruh sudut bumi orang datangziarah kepadanja, pergi melepaskan nazar dan mengantarkan ha-diah. Kami menghormati tukang keledai itu sebagaimana kamumenghormati kitab sutjimu. Sekarang nampaklah padaku bahwakamu itu berada diatas djalan jang salah". Mughnijah mengatakanmoga3 Tuhan mendjadikan kedjadian di Karbala ini suatu kedja-dian jang tersebar dalam sedjarah, suatu kedjadian jang abadi,jang pernah dikenal oleh kitab 3 tarich dibumi, karena kedjadianitu memang merupakan kedjahatan jang sangat menghinakan danmenjakitkan diantara kedjahatan jang pernah berlaku diatas mukabumi ini. Husain dalam kalangan Sjiah dan orang 2 arif jang bidjak-sana, jang mengetahui sedjarah dan maksud tjutju Rasulullahtidaklah merupakan suatu nama orang sadja. Husain merupakanbagi mereka simbul dan perlambang jang lebih dalam, simbulkepahlawanan, kemanusiaan dan kesempurnaan tjita", suluh danpenerangan bagi agama dan sjariat, tjontoh perlawanan danpengorbanan dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Dalampada itu adalah Jazid bagi golongan Sjjiah tidak lain daripadasuatu perlambang kedjahatan, perbudakan dan pendjadjahan,tjontoh jang kedji dan rendah, tjontoh kerusakan budi jang tidakada taranja dari satu pihak kedjahatan, kerendahan budi, kehan-tjuran kehormatan, pertumpahan darah manusia, kesombongandan keangkuhan, perampasan hak dan pelanggaran hukum, semuaitu adalah nama Jazid dan perbuatannja. Sebaliknja ketenangan,keichlasan, keagungan dan keutamaan, ketinggian budi, inilahnama Husain dan prinsip hidupnja. Seorang penjair Sjiah memu-dji Husain dalam gubahannja dan mengatakan, bahwa tiap tempatitu Karbala dan tiap zaman itu Asjura untuk kenangan kepadaHusain. Maka oleh karena itu orang 2 Sjiah menganggap, bahwamenghidupkan kepahlawanan Husain serta mengabadikan djihadnja dan prinsip hidupnja sama dengan menghidupkan kebenaran,kebadjikan dan kemerdekaan, pengorbanan dirinja, keluarganjadan sahabatnja terhadap kezaliman Jazid dan teman 2 nja adalahwadjar. Anak Muawijah itu hendak menghantjjurkan Ahli Bait Nabidan memadami tjahaja Tuhan serta menggunakan Kalimatul Uljauntuk menaburkan kedjahatan dan kezaliman dan dia menjangka 83
    • bahwa dia akan menang serta hendak menjudahi tampuk keme-nangannja itu dengan membunuh "Husain, ketahuilah bahwa ke-menangannja itu gagal dan hantjur. Disamping kehantjuran BaniUmajjah, timbul peringatan Karbala dan peringatan Husain jangberdjalan sampai hari kebangkitan. Demikian pendirian Sjiah. Hal ini sudah diperingatkan Zainab kepada Jazid tatkala iaberpidato menerangkan : „Hai Jazid, engkau menjangka bahwaengkau dengan memangkas diri kami akan menguasai bumi Tuhanjang luas dan langit Tuhan jang membumbung keangkasa dandengan menghinakan kami sebagai engkau menghinakan tawanan 2 ,bahwa kami akan dihinakan Tuhan dan engkau akan dimuljakan-nja ? Tidak, tjamkanlah. Tuhan tidak akan mengubak ketjuali da-gingmu. Meskipun pidatomu ber-api 2 , aku tidak merasa ketjilmenjerahkan diri kepada kekuasaanmu, engkau tidak akan dapatmembesarkan perkosaan, engkau tidak dapat merampas kami.Kemegahanmu boleh engkau perbesarkan, kekajaanmu bolehengkau timbun 2 dan perlawanan boleh engkau perbesar dan eng-kau perkuat, tetapi demi Tuhan engkau tidak dapat menghilang-kan semangat jang ada pada kami, engkau tidak dapat menghi-langkan djiwa kami, engkau tidak dapat merendahkan kami daripada kedudukan kami. Pendapatmu hanja merupakan chajal, za-man kekuasaanmu hanja merupakan bilangan hari dan kesatuan-mu hanja merupakan kekuatan sementara." Utjjapan Zainab ini segera terbukti. Jazid dan chalifahnjadfatuh satu persatu. Dinasti Umajjah tidak ada setengah abadsesudah pembunuhan Husain hntjur lebur. Orang 3 Islam melak-natkan Jazid, dan berkumpul memperingati Imam Husain padahari pembunuhannja dan hari kelahirannja pada tiap 2 tahun. Me-sir bangkit memukul rebananja pada hari lahir Imam dan hariwafat Imam Husain dan hari lahir saudaranja sebagai pahlawan 2Karbala. Bukanlah hanja orang 3 Sjiah sadja jang merajakanperingatan Husain itu, tetapi semua orang Islam, baik Adjam atauArab, pada tiap sempat dan tempat. Kadang 2 berlainan tjaranja,tapi tudjuan dan maksudnja satu dan bersamaan. Mughnijah mentjeritakan, bahwa ia pernah membatja dalammadjalah „Al-Ghadi", jang terbit di Mesir, Pebruari tahun 1959,sebuah karangan jang berkepala „Maulid Sajjidah (Zainab danhari-hari besar umat Arab".84
    • 7. BANI M A R W A N D A N IBN ZUBAIR Dengan hantjurnja Jazid hantjur pulalah keturunan BaniSufjan dan berpindah pemerintahan Bani Umajjah kedalam tanganBani Marwan, jang dimulai dengan Marwan bin Hakam, jangpemerintahannja berumur hanja sembilan bulan. Sementara ia si-buk menjelesaikan peperangannja, dari satu pihak melawan sisa-sisa Bani Sufjan, dari lain pihak menentang perlawanan IbnZubair, diteruskannja sikap Muawijah dan Jazid memusuhi Alidan pengikutnja dengan setjara tjutji maki diatas mimbar danmenjuruh algodjonja menghukum ulama-ulama Sjiah, sepertiSulaiman bin Sjarad Al-Chuzai, Hasib bin Nudjban Al-Chuzari,Abdullah Al-Azdi d.U. pengikutnja jang tidak kurang dari limaribu orang terbunuh. Sebagaimana ajahnja, begitu djuga anaknja Abdul Malik jangmemerintah Sjam tidak sedikit membasmi orang-orang Sjiah danmenggunakan Ubaidillah bin Zijad melawan dan merantai pengi-kut-pengikut Ali itu, kebanjakan sampai mati. Begitu Abdul Malik diangkat mendjadi radja, ia segera me-nulis surat kepada Al-Hadjdjadj : "Pelihara darah Bani AbdulMuttalib, kalau perlu lindungi, karena kulihat, bahwa keturunanAbu Sufjan dikala mereka menelan habis, mereka sendiri mendja-di susut kehabisan." Demikian amanat Abdul Malik hanja men-tjegah pertumpahan darah Bani Abdul Muttalib, karena ketaku-tan tertumbang singgasananja, sedang darah keurunan Ali halalditumpahkan. Sementara Abdul Malik membunuh orang-orang jang sudahmenjerah, atas perintah Ibn Zubair, Masab membunuh golonganjang dinamakan muchtarin, tidak kurang tudjuh ribu orang, terma-suk perempuan dan anak-anak ketjil. Wanita-wanita pahlawanini sampai kepada saat terachir menjalakan kesetiaannja kepadaAli bin Abi Thalib. Keberanian orang-orang Sjiah dikagumi. Muhammad bin Hanifah berani menaiki mimbar dan menolak keluar Ibn Zubair jang sedang mentjatji maki keluarga Rasulullah, dan meneruskan chotbahnja dengan mentjatji maki Ibn Zubair,dan achirnja mendjadi korban pula. Abdul Malik menggunakan Al-Hadjdjadj sebagai pelaksana dedamnja jang kedjam. Tidak ada seorang Sjiah jang aman dalam tangannja, meskipun sudah menjerah, dan hukumannja diluar prikemanusiaan, seperti potong lidah, potong tangan dan kaki dan disula hidup-hidup. Qambar, pelajan Saidina Ali disembelihnja :
    • seperti menjembehh kambing dan Kumail bin Zijad, seorang Sji-»*s,v<ah jang saieh dan sudah terlalu tua, dikedjar diuber-uber achir-nja dibunuh. Said bin Zubair seorang Tabiin jang zahid, ahliibadat, ahli Ilmu tafsir, murid Imam Zainul Abidin, ditangkapoleh Qusri dan dikirimkan kepada Al-Hadjdjadj, jang dihukum bu-nuh, hanja karena menerangkan bahwa Abubakar dan Umarmasuk sorga sebagai chalifah. Ibn Asir menerangkan, bahwaSaid bin Zubair dikala kepalanja putus dari badannja, masihkedengaran mulutnja mengutjapkan sjahadat. Pada malam hariAl-Hadjdjadj bermimpi, bahwa Said bertanja kepadanja : "Apasalahku engkau bunuh, wahai musuh Allah ?" Al-Hadjdjadj djuga merusakkan kehormatan wanita-wanitabangsawan. Ia pernah memaksakan dengan pedangnja gadis Asmaanak kepala suku Bani Fazarah dan gadis Said bin Qais Al-Hamdani, radja Al-Jamanijah, dengan Abdullah bin Hani, se-orang pesuruhnja jang biasa, seorang jang berlaku buruk dandjelek mukanja. Baik Al-Masudi, maupun Ibn Asir mengetjamAl-Hadjdjadj habis-habisan atas kekedjamannja dan durhakanja. Apa jang diperbuatnja atas Ibn Zubair di Mekkah, semuaorang dapat membatja dalam sedjarah Islam. Dan kekedjamannjaitu dilakukan disekitar Masdjidil Haram dan disaksikan olehKabah, ditanah Haram, dimana menurut adjaran Islam seekorsemutpun tidak boleh dibunuh. Sesudah selesai dengan Ibn Zubair, ia meneruskan kekedja-mannja ke Madinah dan menghabiskan sisa-sisa Sahabat danAnshar Nabi, diantaranja Djabir bin Abdullah Al-Anshari danSanal bin Saad (Thabari). Menurut Ibn Masud dalam kitabnja "Murudjuz Z a h a b " (1948I I I : 175) selama Al-Hadjdjadj mendjadi panglima perang dua pu-luh lima tahun ia telah membunuh rakjat biasa sebanjak dua puluhribu «rang, tidak termasuk kedalam djumlah ini orang-orang jangterbunuh dalam peperangan dan pemberontakan dimana-mana.Tatkala Al-Hadjdjadj mati, masil* didapati orang lima puluh ributawanan perempuan, jang diantara mereka enam belas ribu telan-djang bulat. Kebiasaan Al-Hadjdjadj menawan laki5 dan perem-puan dalam sebuah pendjara, jang terbuka musim panas dandingin dan tidak ketahuan makan dan minumnja. Mughnijah menerangkan : "Ini adalah tjontoh-tjontoh ketjildaripada kezaliman Al-Hadjdjadj, jang disebut-sebut oleh ahli se-djarah dalam kitab-kitabnja. Apa jang aku batja dan aku dengartentang Al-Hadjdjadj ini, meniperbuat aku memperbandingkannjadengan Nero, jang pernah menjuruh membakar kota Roma, ke-mudian ia duduk terbahak-bahak, melihat kepada lidah-lidah apijang menjala-njala membakar wanita-wanita, orang-orng tua dananak jang putus asa lari kesana-kemari. Al-Hadjdjadj adalah
    • musuh Allah dan prikemanusiaan pada umumnja dan musuh NabiMuhammad serta keturunannia pada chususnja. Hari-hari peme-rintahannja adalah hari-hari jang merupakan azab jang tersukarbagi golongan Sjiah, dalam masa pemerintahan Muawijah danJazid, ketjuali hari-hari ketenangan dibelakangnja. Bagaimana ti-dak, karena Al-Hadjdjadj lebih suka menamakan Ali itu zindiqdan kafir daripada mejiamakannja Sahabat. Hanja karena ketu-runan Ali ini sadja Sjiah dianggap orang djahat dan berhak di-hukum berat (Asj-Sjiah wal Hakimun, 1962, hal. 98—99). Meskipun agak tenang mengenai permusuhan, sikap Walidbin Abdul Malik mentjemaskan, karena ketika itu jang diangkatmendjadi gubernur di Mekkah ialah Chalid bin Abdullah Al-Qus-ri, jang masih mempermainkan nama chalifah diatas mimbar. Cha-lid menjuruh membawa air sungai Eufrat ke Mekkah untuk me-nilai dengan air zam-zam. Diantara edjekan-edjekannja ialah,bahwa ia memudji-mudji chalifah Walid dari Bani Marwan danmengatakan, bahwa djika perlu akan dipindahkannja Kabah ke Sjam, atas perintahnja, dan bahwa chalifahnja itu mulia pada Allahdaripada Nabi-Nabinja. Chalid Al-Qusri ini adalah seorang kafir zindiq, ibunja ada- lah seorang Nasrani, ia memasukkan banjak adjaran-adjaran Nasrani kedalam Islam. Tatkala ia mendjadi gubernur di Kufah, ia mendirikan sebuah geredja untuk ibunja didepan mesdjid (Terich Datotafctl Artobijàh, hal. 319). &Î
    • 8. U M A R BIN ABDUL A Z I Z D A N SJIAH, Diantara kekedjaman Bani Umajjah terhadap Sjiah ialahapa jang dinamakan malanat atau mengutuk Ali diatas mimbardan dalam chotbah-chotbah Djumat jang mula pertama dimulaioleh Muawijah bin Abi Sufjan sendiri, kemudian diikuti olehJazid, Marwan, Abdul Malik dan Walid, jang lalu merupakaninstruksi umum diseluruh keradjaan Bani Umajjah. Segala isi da-da dan dendam kepada Ali bin Abi Thalib ditjurahkan dalamsegala matjam susunan kalimat jang kedji. Walid pernah menje-but nama Ali dengan menjusulkan dibelakangnja kutukan "lanatul-lah", "anak pentjuri", sehingga orang mendjadi heran, apakahutjapan fang demikian itu lajak ditudjukan kepada kemenakan danmenantu Nabi serta seorang sahabat besar daripada chulafaurrasjidin (M. Djawad Mughnijjah, Asj-Sjiah wal Hakimun, Bei-rut 1962, hal. 105). Mughnijjah mentjeriterakan djuga, bahwa Chalid bin Abdul-lah al-Qusri, salah seorang ulama besar Bani Umajjah djuga per-nah melantjarkan kata-kata jang kedji kepada Ali di MesdjidMekkah sebagai doa dalam chotbahnja : "Ja Tuhanku, lanatilahAli bin Abi Thalib anak Abdul Muttalib anak Hasjim, menantuNabi, ajah Hasan dan Husain !" Semua orang jang hadir mene-teskan air mgta dan menekan perasaan ketika mendengar kata*jang tidak lajak dalam chotbah itu, karena orang tahu! bahwamembeda-bedakan sahabat Nabi, apalagi mentjatji makinja dida-lam chotbah Djumat, tidak lajak diutjapkan oleh mulut seorangIslam. Chotbah ini membuat Ubaidillah Ass&hmi menjerang dengansjair-sjairnja jang berirama sbb. :Tuhan melanat pengutuk Ah,Pentjatji maki anak tjutjunja,Sedangkan neneknja tali-temali,Hubungan bapak serta pamannja. Demikian kelakuan bangsawan, Kotor hati serta mulutnja, Mentjintai burung terbang diawan, Tetapi mendendam keluarga nabinja
    • Indah budimu wahai djundjungan,Serta keturunan semuanja,Selalu mengeluarkan kata sandjungan.Mengutjapkan salam tanja menanja. (Dalailus Shidiq, karangan Ibn Abil Hadid djuz III, hal. 476, djuz I. hal. 366). Kazaliman Bani Umajjah itu, meskipun digunakan sebagaitopeng politik, berachir pada masa pemerintahan Umar bin AbdulAziz, jang melarang menggunakan chotbah Djumat untuk serang-menjerang. SebaVknja dialah jang mula-mula memperdekatkankembali antara Bani Umajjah dan Sjiah serta menghapuskansuasana permusuhan antara dua keturunan jang sebenarnja satumojang dan seasal. Perubahan sikap Umar bin Abdul Aziz bukan tidak ada latarbelakangnja. Sedjak ia mendjadi gubernur di Madinah, ia sudahmenundjukkan pembawaan bentji kepada kezaliman dan atjapkalimengeluh tentang kekedjaman Al-Hadjdjadj. Tetapi saja berpendapat, bahwa bukan pembawaannja sadjajang mempengaruhi sifatnja, tetapi djuga pendidikannja. Meski-pun ia seorang pangeran keturunan Bani Umajjah jang. hidupdalam istana, dimasa ketjil ia menerima pendidikan dari seorang ulama jang baik, tjutju dari Ibn Masud, sahabat Nabi jang ter-kenal itu. Umar -bin Abdul Aziz mentjeriterakan pengalamannja dengan gurunja itu sbb. : "Aku beladjar membatja Quran pada anak Utbah bin Mas- ud. Pada suatu hari sedang aku bermain-main dengan anak-anak lain dan sedang sibuk, kami mengutuk Ali, ia lalu dekat aku dengan muka jang masam tidak menegur, terus masuk kedalam mesdjid. Melihat sikapnja jang kurang senang itu, aku tinggalkan anak-anak sepermainan segera aku datanginja untuk menerima peladjaran. Tatkala ia melihat aku, ia terus berdiri sembahjang, dan diperpndjangkannja sembahjang itu seolah-olah ia hendak menghindarkan pertemuannja dengan aku, sehingga akupun mera- sakan sesuatu dalam hatiku. Kutunggu sampai ia selesai sembah- jang. Dan sesudah ia selesai, ia menghadapi daku dengan muka- nja jang murung. Aku bertanja kepadanja mengapa ia bersikap demikian menghadapi daku. Ia mendjawab : "Karena engkau me- lanati Ali, bukankah demikian ?" Sahutku : "Ja, benar". Maka iapun berkata : "Apakah engkau mengetahui bahwa Allah pernah marah kepada pengikut perang Badar dan peserta Sumpah Rid- wan, sesudah Tuhan mengurniai mereka keridhaannja V Kataku: "Apakah Ali seorang dari pedjuang Badar ?" Djawabnja : "Tjis. semua kemenangan Badar atas usahanja !" -
    • Lalu aku berkata : " W a h a i tuan guru, aku tidak akan ulangilagi." Ia bertanja kepadaku : "Apakah engkau berdjandji dengannama Allah bahwa engkau tidak mengulanginja kutuk terhadapAli ?" Aku mendjawab, bahwa aku berdjandji dan sedjak itu akutidak pernah lagi melanati Abi bin Abi Thalib." Latar belakang jang lain adalah sbb. : Umar bin Abdul Azizmentjeriterakan, bahwa ia pernah hadir, tatkala ajahnja berchot-bah di Madinah pada hari Djumat. Ia lihat ajahnja mengatjaudalam chotbahnja dengan menjerang dan mengutuk Ali, jangmembuat ia heran. Pada suatu hari ia berkata kepada bapaknja :"Ajah, engkau seorang chatib jang paling baik dan paling fasih,tjuma djika engkau sudah mulai mengutuk orang dalam chotbah-mu, mungkin djauh nilaimu dalam mata orang." Ajahnja berasabahwa anaknja melihat jang demikian itu, lalu udjarnja : "Haianakku djika penduduk Sjam dan orang 2 lain mengetahui tentang keutamaan Ali, sebagaimana jang kita ketahui, pasti seorangpun tidak ada jang mengikuti kita, semuanja akan meninggikan kita dan menjebelah kepehak tjutju Ali." Umar menerangkan, bahwa keterangan bapaknja itu termasuk dalam hati ketjünja, sebagaima- na telah melekat kepadanja utjapan gurunja pada waktu ia masih ketjil. Katanja : "Aku lalu berdjandji dengan Tuhan, akan me- ngubah keadaan ini, djika pada suatu masa aku dianugerhi Tuhan memegang kendali pemerintahan" (Mughnijjah, Asj-Sjiah wal Hakimun, hal. 106). Umar menepati djandjinja dan melenjapkan penggunaan ku- tuk dan serangan terhadap Ali dalam chotbah. Ditempat orang mengutjapkan kutuk dan ketjaman, diperintahkan membatja ajat Quran, jang berbunji : "Tuhan Allah menjuruh berbuat adil dan menjuruh berbuat kebadjikan dan menjuruh mentjintai sanak ke- rabat dan menjuruh mentjeoah perbuatan jjanq kedji dan, munkar serta segala kedjahatan. Tuhan Allah memperingatkan hal itu kepadamu, semoga engkau mengingatnja" (Quran). Perintah ini disiarkan kesebiruh keradiaan Bani Umajjah dan semua mesdjid menerima dengan rasa siukur, sehingqa umat ma- nusia memudii-mudji sikap Umar Ibn Abdul Aziz atas kebidjak- sanaannja (Ibn Asir, Hawadis Sanah 69). Memang dalam sedjarah Islam dua Umar jang terpudji. Umar ibn Chattab, Chalifah janq kedua dan Umar bin Abdul Aziz. dari Bani Umajjah, kedua-duanja adalah pentjiota daripada kera- djaan Islam jang adil, dimana rakiat hidup makmur dan damai. Pernah kita mendengar tjeritera bahwa Umar bin Abdul Aziz memerintahkan sekretarisnja untuk membagi-baai zakat ke- oada orangmiskin dalam pemerintahannja. Sebulan lamanja se- kretaris itu keliling, tetapi tidak ada seorangoun jang merasa ber- hak menerima zakat itu denqan alasan : "Kami sudah mendjadi kaja karena keadilan Umar bin Abdul Aziz". 90
    • Sikap Umar jang bidjaksana itu tak dapat tidak didorongdan dipupuk oleh gurunja Ibn Utbah bin Masud, seorang jang te-guh imannja dan mendalam tjintanja kepada Allah dan Rasulnjaserta ahli rumahnja. Beberapa waktu ketjintaan ini disembunjikan,karena berbahaja djika dilahirkannja tetapi dimana ada kesempa-tan dimasukkannja adjaran jang baik itu kepada Umar bin AbdulAziz, jang menurut penglihatannja mempunjai pembawaan kearahdamai. Usaha ini tidak sia-sia, dan Umar bin Abdul Aziz mendja-di seorang besar dalam sedjarah Islam. Keutamaan Umar kem-bali kepada gurunja jang merahasiakan niat baiknja dari detik-kedetik, dan menelan air mata dari tetes ketetes tatkala mendengartjutji maki terhadap Ali. Tetapi sajang rahasia ini kemudian terbuka, dan dengan tu-duhan, bahwa ia kaki tangan Sjiah, ia dihukum bunuh dan dikuburkan hidup-hidup.
    • 9. BANI ABBAS D A N SJIAH. Sebenarnja Bani Abbas lebih dekat kepada Sjiah daripadaBani Umajjah, Tetapi kekuasaan dan keduniaan jang djatuh ke-tangannja membuat mereka tamak, ditambah pula oleh fitnah 2jang dimasukkan oleh manteri-manteri dan pembesar-pembesarnja.Mereka mendjadi hasad dan mendendami golongan Sjiah, teruta-ma dalam masa Abui Abbas As-Safah (749—754 M.) dalam ma-sa Abu Djafar Al-Mansur (754—775 M.), dimana kaumSjiah di Hedjaz mulai memberontak menentang kekuasaan Abbas-sijah. Pada masa Musa Al-Hadi (785—786 M.) terdjadi lagipemberontakan kaum Alawijjin di Hedjaz, dibawah pimpinanHusain bin Ali bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Oleh pendudukMadinah Husain diangkat mendjadi chalifah. Tetapi Husain de-ngan para pengikutnja dapat dikalahkan oleh tentara Abbasijjahdi W a d i Fuch, antara kota Madinah dan Mekkah. Dikala-kala Bani Abbas dalam pemerintahannja mendekatiSjiah, seperti jang terdjadi dalam masa Abu Muslim Al-Churasa-ni dan Harun-Ar-Rasjid (786—809 M.), tenteranja mendjadi kuatdan dengan mudah dapat menentang sisa-sisa kekuatan Bani Umajjah. Dengan demikian kita lihat kerdjasama ini pernah di-tjoba setjara resmi oleh Al-Mamun, terutama untuk menarik hati Parsi jang kebanjakannja bermazhab Sjiah, tetapi dalam djalan sedjarah selandjutnja selalu kita dapati hasad dan dengki terha- dap golongan Sjiah itu. Saja tjari-tjari sebabnja. Kitab-kitab sedjarah hania mene- rangkan, bahwa sebab-sebabnja itu ialah karena orang Sjiah lebih mengutamakan agama dan kehidupan achirat, sedang Bani Abbas kebanjakannia mengutamakan kehidupan duniawi dan tamak da- lam memperluaskan daerah pemerintahan Arabnja. Tetapi apakah tidak ada sebab jang lain, jang mendjadi pokok dendam jang lebih mendalam. Apakah pokok dendam ini tidak dimulai dari masa, ketika dalam salah satu peperangan Abbas tertawan dan diikat pada sebatang tiang, dimana Ali bin Abi Thalib lalu dan mengedjeknja sebagai seorang musjrik penjembah berhala, meskipun Abbas mengemukakan djasa-djasanja dalam memperbaiki Kabah. Kedua bukankah hasad ini ditimbulkan karena orang-orang jang merupakan imam Sjiah Ali itu adalah orang-orang jang sangat ditjintai oleh Sahabat-Sahabat dan T a - biin, serta umat banjak, sehingga kehormatan jang diberikan kepada imam-imam keturunan Ali ini djauh melebihi kehormatan rakjat terhadap chalifah-chalifah Abbasijjah
    • Satu diantara tjontoh jang banjak ialah kedjadian dalammasa Chalifah Mamum (809—833 M . ) , dimana Imam Ali Ar-Ridha demikian besar kedudukannja dalam mata rakjat, sehinggamentjemaskan chalifah dan seluruh pembesarnja. Mughnijah men-tjeriterakan dalam kitabnja "Asj-Sjiah wal Hakimun" (Beirut,1962, hal. 166) tentang imam Ali bin Musa bin Djafar, jangdisebut Imam Ridha, sebagai berikut : "Imam Ali bin Musa bin Djafar adalah manusia jang sebaik-baiknja dalam masanja, seorang jang mempunjai kedudukantinggi dan terhormat dalam agama dan dalam pandangan manu-sia ketika itu. Ahli-ahli sedjarah menerangkan, bahwa Imam Ri-dha apabila ia melalui djalan raja berbondong-bondong manusia,rakjat dan jang berpangkat, mengikutinja. Ia diikuti oleh ulama-ulama dan ahli fiqh dengan kenderaan dan tunggangan, untukmenanjakan betmatjam-matjam masaalah, jang melimpah-limpahdari ilmunja. Orang-orang memudjinja dan memudji keturunannja.Pernah ia melalui djalan besar di Naisabur, untuk mengimamisembahjang Hari Raja. Ditempat ia berdjalan itu penuh sesakmanusia, segala djalan dan lorong padat, begitu djuga tingkat-tingkat rumah dan atap penuh dengan laki-laki perempuan dananak-anak. Tatkala ia melihat kelangit dan mengutjapkan takbir,seakan-akan djawaban takbirnja oleh lautan manusia itu meng-gontjangkan gedung-gedung langit dan bumi disekitarnja. Ke- tjintaan manusia kepadanja tidak dapat ditahan-tahan, jang mem-buat pengaruhnja begitu besar dalam kalangan umat, sehinggapengaruh jang demikian itu tidak pernah ditjapai oleh seorang radja Abbasijahpun, meskipun jang terbesar dalam sedjarahnja seperti Harunur Rasjid. Kepergiannja kesembahjang hari raja pa- da waktu itu disaksikan oleh Al-Fadhal bin Sahal, pembesar dari Chalifah Mamun, jang menjampaikan berita itu kepada madjikan- nja dengan penuh takdjub, sambil menjatakan pendapatnja dengan segera, bahwa, djika Imam Ridha pada hari itu dibiarkan meng- imami shalat untuk lautan manusia jang sekian banjaknja, pasti akan menimbulkan fitnah sebagai akibatnja. Ia minta agar Cha- lifah Mamum segera melarang Imam Ridha meneruskan perdja- lanannja dan memerintahkan balik kembali." (hal. 166). Maka pulanglah orang besar ini dengan taat kepada perin- tah radja meninggalkan sembahjangnja, sedang rakjat disekitarnja mengikutinja dengan teriak dan tjutjuran air mata. Bagaimanakah tidak mendjadikan hasad bagi radja-radja Abbasijah ketjintaan orang banjak jang meluap-luap kepada ke- turunan Ali, dan hasad ini lama-kelamaan berubah mendjadi haqad, dendam chasumat dan iri hati, jang lalu disalurkan^ dalam tindakan-tindakannja untuk menghantjurkan keluarga Ahlil Bait ini. Sedang sebaliknja segala tantangan itu selalu didjawab dengan 93
    • lunak lembut, sopan santun penuh dengan sabar dan taat, sesuaidengan achlak-achlak terpudji, jang terdapat pada golongan ini. Oleh karena Mamun tahu, bahwa pengaruh umum ada samaImam Ridha, pernah ia menanjakan Imam ini pada suatu haridengn kasar, dan pertjakapan itu kita salinkan dibawah ini.Mamun : Aku ingin turun dari singgasana chalifah, dan kedudu- kan kehormatan ini kuserahkan kepadamu.Ridha : Djika singgasana Chalifah itu hakmu, dan engkau menganggap dirimu tjakap untuk itu, lebih baik djangan engkau tinggalkan dan djangan engkau serahkan ke- pada orang lain.Mamun : Mesti engkau terima penjerahan ini.Ridha : Aku lebih bangga dan merasa beruntung dalam ibadah, dan dengan zuhud dalam dunia aku ingin terlepas dari pada kedjahatan duniawi, terbebas daripada segala jang diharamkan Tuhan, dan dengan tawadhu aku meng- harapkan tingkat jang lebih mulia pada sisi Allah.Mamun : Djika engkau tidak mau menerima kedudukan chalifah ini, aku mengharap engkau terima kedudukan putera mahkota.Ridha : Sekali-kali aku tidak akan memilih tawaran itu.Mamum dengan menjindir : Sebenarnja engkau bermaksud dengan zuhudmu kedudukan duniawi dalam mata umum.Ridha : Demi Allah aku tak pernah berdusta sedjak aku dila- hirkan Tuhan, dan belum pernah aku zuhud didunia untuk kepentingan dunia. Aku tidak mengerti maksud- mu.Mamun : Apa jang kau maksudkan ?Ridha : Barangkali engkau maksudkan, agar manusia berkata, bahwa Ali bin Musa ar-Ridha, tidak zuhud jang sebe- narnja tetapi aku berlaku pura-pura zuhud didunia. Apakah engkau tidak melihat ha] jang demikian itu, djika kesempatan mendjadi putera mahkota ini aku terima ? Maka Mamunpun marah dan berkata dengan kedjam: Demi Allah ! Djika engkau tidak mau menerima tawa- ranku ini, aku akan tebaskan lehermu.Ridha : Allah telah melarang kepadaku untuk meletakkan ta- nganku turut dalam kebinasaan. Djika engkau telah mempunjai niat demikian, teruskan niatmu, aku terima94
    • dengan pendirian, aku tidak menjuruh, aku tidak me- larang, aku tidak bertindak dan aku tidak mengubah sesuatu. Siapa jang menjangka, bahwa pertjakapan ini merupakanpantjingan pertentangan, jang mengakibatkan pembunuhan atasdiri Imam Ridha, dengan menggunakan ratjun. Segala apa jangdapat dilakukan, telah dikerdjakan oleh imam ini sedjak pemerin-tahan Rasjid, ajahnja Mamun jang tidak kurang melakukan ke-kedjaman kepada Imam Ridha itu. Sajid Al-Amin dalam kitab"Ajan.usj Sjiah" ( 1 : 6 0 ) , mentjeriterakan, bahwa sesudah wafatImam Al-Kazim, Rasjid mengirimkan suatu kekuatan tentara keMadinah dengan perintah menghantjurkan seluruh perkampunganketurunan Abu Thalib dan merampasi semua harta benda wanita-nja, meskipun sepotong kain dibadannja. Konon dikatakan, bahwatentara itu sampai kekampung Imam Ridha, jang mengetahui ke-datangannja dan mengumpulkan semua wanita-wanita itu dalamsebuah rumah, sedang ia sendiri berdiri didepan pintu rumah itu. Kepala tentara itu berkata : "Berikan kami masuk akan mengam- bil semua barang wanita itu." Imam tidak memberikan ia masuk, tetapi ia sendiri pergi mengambil semua harta benda dan pakaian jang ada pada diri wanita-wanita itu, jang diangkutnja untuk di- serahkan kepada Rasjid. Konon Mamun membawa perobahan, ia mengantjam kepada tentara itu akan membunuhnja atas perbuatan jang kedjam. Imam Ridha jang kebetulan hadir ketika itu meminta ampun untuk ke- selamatan kepala tentara itu. Kelakuan-kelakuan jang seperti ini membuat rakjat dalam masa Bani Abbas lebih mentjintai keturunan Ali. Selain daripada itu ulama-ulama hampir semuanja berpihak kepada imamJ itu, jang terdiri daripada orang-orang alim dan zahid, sebaliknja daripada keadaan radja-radja dan pangeran-pa- ngeran Bani Abbas, jang terdiri daripada orang-orang jang ku- rang pengetahuannja tentang agama dan banjak diantaranja jang tidak mendjalankan agama itu dalam kehidupan sehari-hari. Mere- ka memusuhi ulama-ulama besar jang hidup ketika itu, hanja karena fatwa-fatwanja jang sesuai dengan hukum Islam, kelihatan seakan-akan membela pendirian Sjiah. Kita lihat, bagaimana ula- ma-ulama beroleh kedudukan selama mereka ta"at kepada peme- rintahan Abbasijah dan bagaimana siksaan atau hukuman jang didjatuhkan kepada mereka jang tidak mau kerdjasama dengan Bani Abbas itu, seperti Malik, Abu Hanifah, Sufjan as-Sauri, Ahmad bin Hanbal dll., jang semuanja berguru kepada ulama-ula- ma keturunan Ali bin Abi Thalib, seperti Imam Djafar Ash- Shadiq. 95
    • Saja sangka, bahwa dendam Bani Abbas kepada Sjiah itulebih banjak terletak dalam iri hati terhadap pengaruh jang besardan ilmu pengetahuan jang melimpah-limpah, jang diperolehimam-imam merupakan ketjintaan rakjat umum kepadanja, sehing-ga djika dibandingkan dengan pengaruh dan kekuasaan jang di-tjapai oleh Bani Abbas jang memerintah itu, tidak ada artinjasama sekali. Dalam pandangan rakjat radja-radja Bani Abbas ituhanja orang-orang jang tamak kepada kekuasaan duniawi dan ke-pada harta benda serta kekajaan, jang dikumpulkan dari bangsa-bangsa jang ditaklukkannja dengan pertumpahan darah, baikbangsa-bangsa Arab. maupun bangsa-bangsa Parsi atau bangsaAdjam jang lain. Dendam chasumat dari radja-radja Bani Abbas ini terhadapkepada imam-imam dan orang-orangnja akan kita bitjarakan da-lam perintjian berikut ini.96
    • 1. SJIAH IMAMIJAH Salah satu daripada mazhab Sjiah jang terdekat kepadamazhab Sunnah ialah mazhab Sjiah Imamijah atau Djafarijah.Perbedaannja diantara lain terletak dalam kewadjiban berimandan imam itu harus masum, jaitu terpelihara dari segala perbua-tan masiat, ketiga jang terachir dan terpenting ialah kewadjibanmemegang kepada nash, jaitu Quran dan Hadis sebagai sumberhukum, dan kemudian menggunakan akal untuk beridjtihad, jangmenurut kejakinan mereka tidak pernah tertutup pintunja sampaisekarang. Samani mentjeriterakan, bahwa Imamijah itu merupakan sua-tu golongan Sjiah dan kuat, mereka dinamakan demikian karenamereka itu menumpahkan iman atau kepertjajaan jang sepenuh-penuhnja kepada Ali bin Abi Thalib dan anak-anaknja, begitudjuga mereka mempunjai itikad jang teguh bahwa manusia itutidak boleh tidak harus mempunjai imam atau menantikan seorangimam, jang akan lahir pada achir masa, membawa keadilan jangpenuh untuk dunia ini. Pengarang Sjiah jang terkenal, SajjidMuhsin Al-Amin, dalam kitabnja Ajanusj Sjiah (Beirut, 1960 M.)menerangkan bahwa Imamijah atau Isna Asjarijah tidaklah seba- gaimana jang dituduh orang demikian fanatiknja kepada AhlilBait, sehingga mereka memasukkan kejakinan itu kedalam peker- djaan ubudijah, tetapi kejakinan itu hanja merupakan suatu tjita- tjita mazhabnja, jang tidak termasuk bertentangan dengan usul Islam, jang tiga, jaitu tauhid, nubuwah dan maad, hanja meru- pakan adjaran furu dalam mazhabnja, jang kebebasannja tidak menolak prinsip ke-Islaman. Mazhab Imamijah ini menurut Al-Amin masih terbagi puladalam beberapa aliran lain, jang tidak sama pendiriannja antarasatu sama lain. Imamijah itu umumnja dapat dibagi atas IsnaAsjarijah, jang sedjarahnja dan perkembangan adjaran kejakinan-nja terbanjak akan kita bitjarakan dalam risalah ini, tetapi dapatkita simpulkan bahwa mereka mejakini kesutjian dua belas ortamgimam, jaitu Ali bin Abi Thalib, Hasan anak Ali bin Abi Thalib,Husain anak Ali bin Abi Thalib, Ali biii Husain atau ZainalAbidin, Muhammad Al-Baqir, Djafar Shadiq, Musa al-Kazim, Ali Ridha, Muhammad al-Djawad, Ali al-Hadi, Hasan al-Askari dan Muhammad bin Hasan al-Mahdi, semuanja anak tjutju dan tjitjit dari Ali bin Abi Thalib 99
    • Àliran Kisanijah, (jang kun sudah tidak ada lagi) jang men-djatuhkan pilihan imim Muhammad bin Hanafiah, semua merekaitu sahabat 2 nja, jang digelarkan djuga Kisan. Diantaxa aliran ituialah Zaidijah, jang memilih imamnja Zaid bin Ali bin Husain, de-ngan alasan dialah jang terberani dan selalu keluar dengan pe-dang, dan dialah anak dari Ali dengan Fathimah, satu 2 imam jangalim dan berani. Maqrizi menambahkan sebab 2 pemilihan Zaidijahdjatuh kepadanja ialah karena Zaid itu mempunjai enam perkarapada dirinja, jaitu ilmu, zuhud. berani, kebadjikan, berbuat baikdan tidak ada kedjahatan. Aliran jang lain ialah aliran Ismailijah, jang mendjatuhkanpilihan imair|nja kepada Ismail anak Djafar Shadiq, sesudah ba-paknja, golongan ini kebanjakan terdapat di India, sangat banjakamalnja, diantaranja membuat asrama-srama bagi orang miskin,orang mengerdjakan hadji dan orang jang datang ziarah daridjauh-djauh. Mereka itu berlainan dengan aliran, jang dinamakanIsmailijah Bathinijah, pengikut Aga Khan. Aliran jang lain lagi dinamakan Fathahijah, jang mendjatuh-kan pilihan imamnja kepada Abdullah al-Al-Fath, anak Imam Dja-far Shadiq jang menurut mereka berhak mendjadi imam sesudahbapaknja. Ada aliran dju^ga jang bernama Waqifah, jang inginmelihat pemilihan imam hanja djatuh kepada Ali al-Kazim. Ada-pun aliran Nawusijah menurut Sjahrastani dalam bukunja Al-Mi-lal wal Nihal, adalah suatu golongan jang berkejakinan, bahwapemilihan imam hanja tertentu bagi Djafar bin MuhammadShadiq, dan kata Nawusijah berasal dari nama desa Nawusa.Penganut-penganut aliran ini berkejakinan, bahwa Shadiq itubelum mati dan tidak akan mati, ia akan lahir kembali dibumi inidan akan mengatur masjarakat, dan dialah jang berhak digelar-kan Al-Mahdi. Semua aliran-aliran :"tu sudah tidak ada lagi, aliran-aliranjang tinggal sekarang ini dari Sjiah Imamijah itu hanjalah aliranIsna Asjarijah, jang terbanjak djumlahnja, aliran Zaidijah dan ali-ran Ismailijah Bathinijah dari Aga Khan. Dalam mazhab Isnaasjarijah ada dua perkara jang terpen-ting kita ketahui, jang bagi mazhab ini merupakan pokok keja-kinannja. Pertama mengenai usul atau kejakinan dasar, jaitu kejakinanharus mempunjai imam, imamah, sehingga tiap penganut aliranSjiah ini diwadjibkan mengakui kedua belas orang jang tersebutdiatas. Dengan demikian, barangsiapa meninggalkan kejakinanterhadap kedua belas imam itu, baik sesudah mengetahui atautidak, disengadja atau tidak disengadja, meskipun ia iman kepadatiga pokok adjaran atau usul Islam, jaitu tauhid, nubuwwah danmiad, menurut mazhab ini, ia bukan orang Sjiah, hanja orang100
    • Islam biasa. Djadi kejakinan kepada imam itu menentukan, apaseorang oleh aliran ini dianggap seorang muslim biasa atau mus-lim Sjiah, Orang Sjiah aliran ini mendasarkan kewadjiban inikepada sebuah hadis Nabi, jang berbunji : "Ahli Bait-ku adalahsebagai kapal, barangsiapa mneumpang kapal itu ia akan djajatetapi barangsiapa jang tidak ikut ia akan tenggelam." Kpdua pokok jang terpenting bagi aliran ini, ,jang mengenaifuru atau tjabang Islam, ialah tidak menjeleweng dan taassub,wadjib ada saksi pada waktu mendjatuhkan talak, dan terbukabab idjtihad, dan lain-lain masaalah jang tidak terdapat padaaliran Islam jang lain. Mengenai persoalan ini ditetapkan, bahwabarangsiapa jang menentang hukum furu itu dengan mengetahuisungguh-sungguh adanja hukum itu dalam mazhab Sjijah, makaia keluar dari Sjiah. Dengan keterangan diatas ini djelaslah, bahwa Sjiah Isna Asjarijh ini tidak pernah menolak hukum-hukum jang tersebut dalam kitab-kitab hadis, jang sahih, dan tidak pernah menolak kitab-kitab fiqh jang dikarang oleh ulama-ulama Islam jang lain, ketjuali beberapa masaalah jang tersebut diatas. Tidak ada sebuah kitabpun, jang dijakini kebenarannja oleh Imamijah itu benar dari awal sampai keachirnja ketjuali Quran dan tidak ada hadis jang chusus jang dijakini benarnja oleh orang Sjiah aliran ini ketjuali jang termuat dalam kumpulan kitab-kitab hadis biasa. Tentu sa- dja tiap pribadi Sjiah jang memenuhi sjarat 2 idjtihad merdeka memilin ajat-ajat Quran dan hadis-hadis itu untuk menetapkan sesuatu hukum, karena pintu idjtihad itu tidak pernah tertutup menurut prinsip alirannja. Dengan terbukanja pintu idjtihad ini baginja, terdjadilah hu- kum-hukum fiqh sebagaimana jang terdiadi dengan mazhab-ma- zhab jang lain, seperti Hanafi,, Sjafii, Maliki, Hanbali; dan se- bagainja, dan lahirlah pula kitab-kitab fiqh, baik jang rimigkas maupun jang pandjang lebar, lengkap dengan bahagian ibadat dan muamalat, dan persoalan-persoalan jang lain. Dengan demikian kita bertemu dalam aliran Sjiah Imamijahini kitab-kitab pokok jang dikarang oleh Muhammad al-Kulaini.Muhammad as-Sadiq dan Muhammad at-Thusi, seperti kitab Al-Istibsar, Man la jahdhuruhul Faqih, Al-Hafi, dan At-Tahzàb, jangbagi mereka merupakan kitab-kitab Sahih seperti dalam golonganSunnah. Seorang ulama besar Sjiah Djafar Kasjiful Ghitha (mgl. 1228 H ) , dalam kitabnja, bernama Kasjful Ghitha, hal. 40, berka-ta tentang kitab-kitab ini sebagai berikut : "Ketiga Muhammaditu bukan kepalang bersungguh-sungguh mengumpulkan ilmu ten- tang riwajatnja antara hadis itu, tetapi masih ragu-meragui ten- tang riwatnja antara satu sama lain Pada permulaan ke- 101
    • empat kitab itu mereka terang tidak mengatjuhkan ketjurigaan,jang mendjadi pokok baginja mentjari hadis jang dapat didjadi-kan hudjdjah antaranja dengan Tuhan atau sekedar ang dapatditegaskan dengan ilmu bukan dengan sangkaan belaka, karenapenegasan jang lahir tidak membuahkan ilmu pada pendapatkami, ilmu mereka jang demikian itu tidak menggagalkan penge-tahuan kami." Djika ahli pengetahuan sebagai mereka keempat itu demikianpendapatnja mengenai dalil pengambilan sanad hadis, bagaimana- kah mengenai diri mereka jang sama sekali tidak pertjaja kepadaSjiah. Apabila seorang penulis ingin berpegang kepada pokok dan tjabang hukum (usul dan furu) sesuatu mazhab, hendaklah ia mengetahui sungguh-sungguh tiap kata, tiap istilah dan tjara ula- ma mazhab itu menetapkan usul atau furu hukum, kemudian memperbandingkan kejakinan mazhab itu dengan tidak ada rasa sentimen dengan pendapat mazhab lain. Pada ketika itu barulah djelas kepadanja, bahwa usul hukum mazhab Sjiah Imamijah itu tidak hanjak didasarkan kepada perkataan rawi ini dan rawi itu sadja, setjara dungu dan setjara sentimen, tetapi melalui djalan-dja- lan jang sah dan sudah ditentukan. Sebagai tjontoh kita kemukakan, bagaimana seorang Sjiah mengupas sesuatu hukum Islam, misalnja mengenai tarif agama Islam sendiri, Sjech Djafar tersebut pada hal. 398 dari kitabnja jang sudah kita perkenalkan, berkata : "Diperoleh hakikat Islam itu dengan mengutjapkan "Asjhadu an lailaha illallah, Muham- madun Rasulullah" atau dengan utjapan jang sama maksudnja dalam bahasa apap;in djuga dan dengan susunan pengakuan janq demikian itu, ia telah dianggap masuk Islam, dengan tidak usah ditanja tentang keadaan sifat Tuhan, baik mengenai Subutijah maupun mengenai Selabijah, dan tidak diminta dalil-dalil tauhid atau alasan-alasan kenabian" (lihat djuga Risalatul Aqaid Al- Djafarijah). Mengenai iman didjelaskannja, bahwa iman itu "membenar- kan dengan hati dan lidah bersama-sama, tidak tjukuo dengan salah satu daripada keduanja", (Muhammad Djawad Mughnijah, Maasj Sjiah Imamijah, Beirut, 1956). Seperkara jang atjapkali sukar dipahami mengenai kejakinan aliran ini ialah tentang pengertian Isrnah. Biasa disebut orang ismah itu berarti terpelihara daripada semua dosa, dan orang jang demikian itu dinamakan masum. Orang bertanja, apakah bisa manusia itu selain dari Nabi, masum ? Orang Sjiah aliran ini mempunjai beberapa penqertian jang chusus mengenai perkataan ismah itu. lang diika diikuti denqan seksama, akan ternjata, bahwa kwalifikasi ini dapat diterima akal. 102
    • Ada ulama Sjiah jang mengartikan masum itu artinja mengerdja-kan taat dengan tidak ada kemampuannja mengerdjakan masiat,sehingga ia terpaksa mengerdjakan perbuatan jang baik dan me-ninggalkan jang buruk. Ada ulama Sjiah jang menerangkan, bah-wa masum itu ialah suatu naluri jang mentjegah seseorang mem-buat sesuatu kemasiatan, seperti pembawaan keberanian mentje-gah seseorang lain dari perkelahian, naluri kemurahan tanganmentjegah seseorang dari memberi hadiah. Nasiruddin at-Thusidalam kitabnja "At-Tadjrid, hal 228 mengatakan: "Masum ituartinja berkuasa berbuat masiat, karena djika tidak berkuasa jangdemikian itu, maka seseorang tidak dipudji dikala ia meninggal-kan masiat itu, dan tidak diberi pahala, karena djika memang diatak berkuasa, maka ia sudah keluar daripada sesuatu hukumtaklif". Nasiruddin at-Thusi adalah seorang ulama besar dalammazhab Imamijah, djuga seorang ahli filsafat jang terkemuka, (mgl. 672 H ) . Sjeich Al-Mufid, salah seorang ulama Imamijah jang lain, (mgl. 413 H , dalam kitabnja "Sjarh Aqaid as-Sudduq", mene-rangkan tentang ismah itu sebagai berikut : "Ismah itu tidak dapatmentjegah kekuasaan mengerdjakan jang buruk, tidak pula dapatmendorong mengerdjakan jang baik, dan oleh karena itu manaismah dalam aliran Imamijah ialah, bahr/a orang jang masum ituberbuat jang wadjib dengan ada kebenarannja meninggalkannja, meninggalkan jang haram dengan ada kekuasaannja melakukan- nja, dengan demikian orang jang masum itu tidak meninggalkanjang wadjib dan tidak memperbuat jang diharamkan." Pengarang Tafsir Mudjmaul Bajan, dalam mengulas ajat 68, surat Al-Anam, menerangkan : "Imamijah itu tidak dibolehkan lupa atau lengah terhadap kepada pengikut-pengikutnja dalam menjampaikan perintah Allah taala, adapun selain daripada itu, artinja selain dari perintah Tuhan, mereka diperkenankan lupa atau terlengah, selama tidak menjeleweng daripada akal jang be- nar. Bagaimana tidak diperkenankn jang demikian itu kepadanja? Karena stmua orang tidak dianggap berdosa karena ketiduran atau pitam, meskipun ini adalah merupakan permulaan lupa. Maka inilah jang membuat orang-orang menuduh jang bukan-bukan ter- hadap kepada sjarat jang ditentukan bagi imam Sjiah. jaitu ma- sum". Tafsir tersebut memang sebuah tafsir Quran janq terbesar dan jang terhebat, jang pernah sampai ketangan saja. Saja seba- gai pemeluk mazhab Sunnah kaaum melihatnja. Penqarangnja ia- lah At-Tabrasi, saah seorang ulama Sjiah Imamijah janq terbe- sar, (mgl. 548). 103
    • 2. I M A M DJAFAR SHADIQ t Asad Haidar menulis tentang Imam Djafar As-Shadiq danmazhab empat dalam enam djilid kitab besar, diterbitkan di Nedjefdalam th. 1956, jang saja anggap sebuah kitab jang sangat pen-ting tidak sad ja untuk penganut-penganut mazhab Sjiah, tetapidjuga untuk penganut-penganut mazhab Ahlus Sunnah wal Dja-maah, terutama penganut-penganut mazhab Hanafi, Sjajfii, Mali-ki dan Hanbali, karena kitab tersebut meriwajatkan sedjarah tum-buhnja mazhab-mazhab Fiqh dalam Islam dan imam-imam mazhabitu, jang hampir semuanja langsung atau tidak langsung adalahmurid-murid daripada Djafar bin Muhammad As-Shadiq, anakAli, anak Husain, anak Ali bin Abi Thalib. Sebelum kitab ini keluar orang hanja mengenal Imam As-Shadiq anak Muhammad Al-Baqir, guru Abu Hanifah, orang ha-nja kenal dia sebagai Imam Mazhab Ahlil Bait, jang dalam masaperkembangan ilmu fiqh dan ilmu pengetahuan umum turut di-ketjam atau dilenjapkan namanja untuk kepentingan suasana po-litik anti Ali dan keluarganja dalam masa Bani Umajjah dan da-lam masa Bani Abbas. Ulama-ulama pemerintah, qadhi-qadhiradja dalam kedua masa pemerintahan itu untuk kepentingan ke-dudukannja sengadja memperketjil nama Djafar Shadiq, danulama-ulama jang bebas, meskipun tidak menghilangkan namaorang besar ini tetapi tidak membesar-besarkan dan memudji-mu-djinja, karena tentu takut dituduh "supersip", bersimpati dengangolongan Sjiah jang dimusuhi, sebagaimana pernah terdjadi de-ngan Muhammad bin Idris As-Sjafii, jang pernah ditarik keha-dapan pengadilan Abbasijah karena dalam penetapan hukumnjalebih mengutamakan hadis jang diriwajatkan oleh Ahlil Bait danpernah beladjar di Jaman pada beberapa ulama Sjiah. Hanja Abu Hanifah dan Malik bin Anas jang kedua-duanjamurid Imam Djafar berani menjebut dan memudji gurunja disa-na-sini dalam kitabnja. Begitu djuga Imam Ahmad ibn Hanbaljang berani mempertahankan kemurnian Ahlil Bait, dan menge-luarkan pendapatnja, bahwa Hasan bin Ali termasuk dalam go-longan jang diperkenankan memakai gelar "chalifah" sebagai jangtersebut dalam sebuah hadis Nabi (Bazzar Abu Ubaidah ibnDjarrah, Lawaihul Anwar, karangan As-Safarini al-HanbaliMH
    • 11:939) dan karena pengakuannja jang kuat bahwa Quran bu-kan machluk. Baik Ahmad bin Hanbai baik Abu Hanifah,kedua-duanja termasuk ulama jang ditjurigai oleh radja-radjaBani Abbas, dipukul dan dipendjarakan. Maka dengan demikianhilang lenjaplah kebenaran dan kehormatan, djika ia berasal dariAli bin Abi Thalib. Sampai Ibn Chaldun, seorang ahli sedjarah jang paling be-rani mengemukakan pendapatnja, untuk keselamatannja sendiridan kitab-kitabnja, terpaksa mengetjam mazhab Ahlil Bait danmenuduhnja berbuat bidah, karena Sanjak mengemukakan hadis-hadis, jang berlainan atau tidak sesuai dengan pendapat umumulama-ulama Bani Umajjah dan Bani Abbas itu. Ketjaman-ketjaman ini membuat Asad Haidar membantingtulang dan mengadakan penjelidikan bertahun-tahun setjara men- dalam untuk mengarang sedjarah hidup dan perdjuangan Imam Djafar As-Shadiq, sehingga lahirlah djilid besar kitab "Al-ImamAs-Shadiq wal Mazahibil Arbaah" (Nedjef, 1956), jang terletak didepan saja sekarang ini sebagai kitab pindjaman dari Asad Shahab, pengurus Lembaga Penjelidikan Islam, jang saja guna- kan sebagai salah satu sumber untuk menulis tentang Djafar Shadiq dan mazhab jang dinamakan sekarang ini mazhab Djafa- rijah, jang merupakan suatu mazhab fiqh jang resmi diakui dan anut oleh semua aliran Sjiah dan fiqh. Mazhab ini sekarang di- adjarkan dalam Universitas AI-Azhar di Mesir. Tentu sadja saja tidak akan membahas berdalam-dalam masalah ini berhubung dengan lembaran jang dapat disediakan oleh risalah ketjil untuk perkenalan ini. Kita baru dapat memahami kehidupan Imam Djafar Shadiq. djika kita ketahui kekatjauan jang terdjadi sekitar masa lahirnja Pembunuhan atas diri Chalifah Usman didjadikan alasan oleh Bani Umajjah untuk bertengkar dengan Ali chususnja dan Bani Hasjim umumnja, untuk merebut kekuasaan dalam pemerintahan. Usman bin Affan bin Ash bin Umajjah bin Abdusj Sjams, adalah orang jang terkemuka dari Bani Umajjah, masuk Islam dan di- pungut mantu oleh Nabi, mendjadi chalifah ketiga sesudah wa- fatnja. Kebidjaksanaan sahabat 2 menundjukkan keadilan, bah- wa Usman dari Bani Umajjah mendjadi chalifah lebih dahulu dari Ali bin Abi Thalib, jang berasal dari Bani Hasjim. Sebenarnja suasana politik ketika itu sudah baik. Tetapi dengan takdir Tu- han Usman dibunuh, dan pembunuhan ini dituduhkan oleh Ban; Umajjah kepada Ali, jang tidak mungkin masuk diakal turut melakukan kediahatan atau membiarkan berlaku kedjahatan itu atas diri sahabatnja Usman. Usman mendjadi chalifah tahun 23 H., dibunuh pagi Dirmat tanggal 18 Zulhidjdjah tahun 35 dalam masa umurnja 63 ihun. 105
    • Pembunuhan ini menjebabkan kekatjauan tidak sadja dalam urusan politik, tetapi merembet-rembet kepada permusuhan antara Bani Umajjah (Muawijah dan keturunannja) dengan Bani Ha- sjim (Ali dan keturunannja). Pemerintahan Muawijah disambung oleh Jazid, pemerintahan Jazid disambung lagi oleh anaknja, sam- pai generasi Bani Sufjan hantjur sama sekali, diganti oleh Bani Marwan. Marwan tidak lama mendjadi radja, ia mati tahun 65 H., di- bunuh oleh Ibn Chalid bin Jazid. Kematiannja diganti oleh Abdul Malik bin Marwan. Pergantian semua radja 2 itu tidak ada memba- wa perbaikan dalam urusan agama Islam dan dalam hubungan antara Bani Umajjah dan Bani Hasjim. Kekatjauan terus menerus, kehidupan agama rusak, ibadat dan muamalat katjau, hukum fiqh jang harus didjalankan untuk mengatur umat Islam belum ada, fatwa sahabat-sahabat jang sudah bertjerai-berai sukar didapat dan kadang-kadang bertentangan antara satu sama lain dan se- bagainja. Dalam masa pemerinahan Abdul Malik bin Marwan inilah lahir Imam Djafar Shadiq. Ia lahir pada malam Djumat, bulan Radjab, tahun 80 H., dikala umat Islam mengalami kekatjauan dalam hukum dan pemerintahan, dikala pemerintah dan pem-besar-pembesarnja melakukan kezaliman dengan sewenang-we- nang, tidak ada djiwa terdjamin, tidak ada kemerdekaan berpikir dan berbitjara dihormati, siapa jang kuat menang dan siapa jangkalah hantjur. Keadaan umat Isam pada waktu itu dibandingkandengan masa Rasulullah dan sahabat-sahabatnja, seperti siangdengan malam, sedang daerah Islam jang luas dengan umatnjaiang banjak menanti-nanti hukum Islam jang terkenal adil danlengkap itu dalam segala bidang. Imam Diafar Shadiq ahir sebagai suatu bantuan Tuhan ke-pada umat Islam janq bincrunq itu. Ia dididik oleh ajahnja Al-Ba-qir dan kakeknia Zainal Abidin, dua belas tahun lamanja mera-sakan asuhan kakeknia Ali bin Husam. Dari orang-orang besarinilah beroleh pengadiaran dan pendidikan, terutama dalam pem-bentukan diiwanja. Tidak dapat disangkal bahwa kakeknia ZainalAbidin adalah anqqota Bani Hasjim janq utama dan tokoh ter-penting dari Ahlil Bait, seorang jang sangat alim. wara. dansanoat dipertiaia perkataannja d?n mempunjai achlak dan budipekerti jang bersih. Sesudah mati kakeknia ini ia didid-k oleh aiahnia Al-Baair.seoranq jang luas pengetahuannya dan salih jang oleh oranq Sji-ah dianaoao salah seorano Imam Dua Belas. Sembilan belas ta-hun ia bproaul denoan aiah dan kakeknja. Ia hiduD ketika itu dalam bersembunii dengan ketakutan, tetanidengan segala kegiatan dikumpulkan ilmu-ilmu dari aiah, kakek106
    • dan mojangnja dan disiarkannja kepada umum dalam masa per-petjahan, kezaliman, zindiq dan ilhad itu. Jang paling menderitakezaliman ketika itu ialah keluarga rumah tangga Rasulullah,keturunan Ali dan pembantu-pembantunja, dan oleh karena itumereka djarang kelihatan dalam mesdjid-mesdjid, karena chotbah-chotbah Djumat itu isinja tidak lain dari ketjaman dan tjutjimakiterhadap mereka. Djafar Shadiq hidup setjara sederhana, tetapiorang tahu dan umat Islam setjara diam-diam berdujun-dujun da-tang kepadanja untuk mengambil ilmunja dan mengakuinja seba-gai Imam. Diantara peralihan pemerintahan Bani Umajjah danBani Abbas, orang menaksir muridnja tidak kurang dari empatribu orang. Rumahnja merupakan perguruan tinggi untuk ulama-ulama besar dalam ilmu hadis, tafsir, filsafat dan lain-lain ilmupengetahuan, ulama-ulama jang kemudian memimpin mazhab-ma-zhab dan perguruan-perguruan jang ternama dalam Islam. Murid- murid itu jang merupakan rawi-rawi hadis jang terpenting, berasaldari bermatjam-matiam kabilah, seperti Bani Asad, Muchariq, Su- laim, Ghathafan, Ghiffar, Al-Azdi, Chuzaah; Chazam; Machzum; Bani Dhabbah, Quraisj. Banil Haris dan Banil Hasan. Semua mereka itu mengambil hadis dan ilmu daripada ImamDjafar, dan kemudian mendjadi guru-guru besar, dan imam-imammazhab jang terpenting, seperti Jahja ibn Said al-Anshari, IbnDjuraidj, Malik bin Anas, As-Sauri, Ibn Ujajnah, Abu Hanifah,Sjubah, Abu Ajjub As-Sadjastani dan lain-lain, jang kemudianmendapat kehormatan dan keutamaan dalam Islam karena ber-oleh ilmu daripada Imam Djafar As-Shadiq (Asad Haidar.1:9-30). 107
    • 2. I M A M DJAFAR-SHADIQ n Penting kita bitjarakan agak pandjang mengenai tokoh As-Shadiq ini karena ia merupakan tokoh terpenting dalam duniaSjiah dalam bidang fiqh jang mendjadi pokok-pokok ibadat danmuamalat mereka. Nama jang sebenarnja ialah Abu AbdillahDjafar bin Muhammad Ash-Shadiq. Ajahnja Muhammad Al-Baqir, anak Ali Zainal Abidin, anak Husain, anak Ali bin AbiThalib. Menurut Ar-Rafii ia lahir tahun 80 H. di Madinah, me-ninggal dalam usia 65 tahun pada tahun 148 di Madinah dandikuburkan di Baqi. Ada jang mengatakan, diantaranja Abui Fa-tah al-Arabi dan Ahmad bin Hadjar al-Hatami, bahwa ia dila-hirkan dalam tahun 83 H. Ia anak terbesar dari Imam Muham-mad al-Baqir dan pada waktu ketjil ia beladjar pada ajahnja itudalam segala ilmu pengetahuan dan achlak. Pengaruh kemurniandan kehalusan budi pekerti ajahnja Zainal Abidin berbekas sangatkepada dirinja, terutama dalam zuhud, taqwa dan qinaah. Dina-makan Ash-Shadiq karena ia sangat djudjur dan bersikap benardalam segala keadaan. Ibunja bernama Farwah anak Al-Qasim, anak Muhammad,anak Chalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Djumlah anaknja tudjuhorang laki 2 dan tiga perempuan. Oleh golongan Sjiah Isna-Asja-rijah ia dianggap Imam, jang keenam. Al-Muqaddasi menerang-kan, bahwa ia termasuk Tabiin terbesar dan tinggi kedudukan-nja daam ilmu pengetahuan. Diantara muridnja ialah Abu Hani-fah, Malik bin Anas dan Djabir ibn Hajjan. Djabir bin Hajjanadalah muridnja jang mula-mula menulis sedjarah hidup dan per-djuangannja sebanjak seribu halaman, bernama "Rasail al-ImamDjafar ash-Shadiq". Diantara orang-orang jang mengakui keistimewaannja ialahMalik bin Anas, jang berkata : ,.Apabila aku melihatterasa kepadaku bahwa aku melihat kepada Djafar binMuhammad terasa kepadaku bahwa ia dari keturunan Nabi-nabi". (Tahzib I I : 104: Abu Hanifah berkata : "Djikalautidak ada dua tahun, pasti Nukman binasa", dengan maksud bah-wa djika Abu Hanifah tidak beladjar pada Djafar selama duatahun, pasti ia tidak akan berhsil dalam menuntut ilmu agamaIslam (At-Tuhfah Isna Asjarijah VIII : t - l ) . Ar-Rifai menerang-108
    • kan bahwa Ash-Shadiq ahli dalam ilmu Kimia, ilmu Angka dankitab ketika atau fal. lbnal W a r d i menegaskan dalam kitab ta-richnja, bahwa Djafar pernah digelarkan orang jang sabar,orang jang terutama dan orang jang sutji. Berita ini diperolehnjadari Abu Hanifah, Ibn Djuraidj, Sjubah, kedua Sufjan, Malikdll. Demikian masjhurnja Imam Shadiq ini dalam masa hidupnja,sehingga Al-Mansur, Chalfah Abbasijah kedua, selalu mengun-dangnja dengan hormat keistana, memuliakannja, menanjakanpikiran-pikirannja, nasihatnja dan beberapa pertundjuknja. AbuMuslim al-Churasani, pentjipta keradjaan Abbasijjah, pernah me-nawarkan kedudukan chalifah kepada Imam Djafar, tetapi di-tampiknja (Qamusul Alam, karangan Sami, I I I : 1821, terdj. bah.Turki). Selandjutnja Zaid bin Ali menerangkan, bahwa Imam Djafarbanjak meninggalkan tulisannja jang dapat membersihkan ibadat Sjiah, ia orang jang terpilih dalam kebadjikan dan ahli hadis da- lam golongannja. Ad-Dawaniqi menerangkan, bahwa ia tiap mengundjungi Imam Djafar selalu menemuinja dalam tiga hal, dalam sembahjang, dalam puasa atau dalam membatja Quran dan bahwa dia seorang jang alim, ahli ibadat dan wara, semen- tara Ibn al-Muqaddam tatkala ia mentjeriterakan keadaan Imam Djafar mendjelaskan bahwa Imam tersebut adalah seorang jang sangat ahli dalam hukum fiqh. Katanja, bahwa Abu Hanifah pernah pada suatu hari mengemukakan empat puluh persoalan fiqh, jang didjawabnja dengan lantjar, kemudian ia berkata : "Engkau berkata begini, ahli Madinah berkata begitu dan kami berkata sebagai pendirian jang kami kemukakan ini. Barangkali ada orang jang mengikut kami, ada orang jang mengikut mereka atau orang jang menjalani kita semuanja". Abu Hanifah mendja- wab : "Bukankah orang jang dianggap alim ialah jang banjak mengetahui tentang perselisihan (ichtilaf) diantara manusia. Menurut kitab "Al-Milal wan Nihal" ( 1 : 272 , Ibn Abil Au- dja mentjeriterakan, bahwa Imam Ash-Shadiq adalah seorang jang banjak ilmunja, sempurna adabnja dalam kebidjaksanaan, zuhud dan wara, terdjauh dari sjahwat, pernah tinggal di Medi- nah mengadjar golongannja Sjiah, pernah masuk ke Irak dalam masa berkobar perselisihan paham tentang persoalan Imamah, sedang Abui Fatah As-Sjaharastani menambah keterangan, bah- wa Imam Ash-Shadiq memang seorang jang ahli tentang hadis, banjak diriwajatkan daripadanja oleh Jahja bin Said, Ibn Dju- raih, Malik bin Anas, Ibn Ujajnah, Abu Ajjub as-Sadjastani dll. Al-Qarmani, seorang ahli sedjarah menerangkan, bahwa Imam Djafar adalah merupakan seorang pangeran dari Ahlil Bait, baniak ilmunja, terutama pribadinja dan ahli dalam hukum, sedang Ibn Hibban mejakini bahwa keterangan-keterangan Imam Djafar 109
    • tinggi kebenarannja, djarang terdapat tjontoh janq seperti itu (Tahzib, 11:104). Pandjang sekali Abu Hatim bertjeritera tentang Imam Dja-far, diantaranja bahwa ia seorang ulama jang terkemuka dariAhlil Bait banjak ilmunja, ahli ibadat, ahli wirid jang masur,zahid, banjak tawil jang indah-indah tentang arti Quran, meng-habiskan waktunja untuk mengerdjakan taat, orang-orang akanmendjadi zahid djika mendengar utjapan-utjapannja, akan berolehsorga dengan pertundjuknja, ia keturunan Nabi, jang mendjadiikutan bagi banjak imam-imam dan orang-orang alim, sepertiJahja bin Said al-Anshari, Ibn Djuraih, Malik dan Anas, As-Sau-ri, Ibn Ujajnah, Ajjub as-Sadjastani dll., semuanja disebutkan da-lam kitab "Mathalibus Suul," II : 55, sedangkan Abu Muain ber-pendapat, bahwa Imam Djaafar tidak suka pudjian dan kedudu-kan. Abui Mudhaffar mentjeriterakan, bahwa ia di Kufah pernahmendapat? sembilan ratus ulama-ulama jang semuanja sering me-njampaikan hadis jang diriwajatkan dari Djafar (Al-Madjalis,karangan Sajjid Amin, V : 209). Diantara orang lain jang me-ngeluarkan pudjian saja sebutkan Ibn Djauzi, Al-Wisja, Al-Bis-thami, Al-Djahiz, Ibn Hadjar al-Asqalani, Ibn Zuhrah, Abdul Ma-hasin, Az-Zarkali As-Salami, As-Suwaidi, Ad-Dawardi, SajjidMir Ali, Ibn Sjaraf, Al-Chafadji, Az-Zahabi, Az-Zurqani, IbnChalkan, Al-Jafii Asj-Sjabrawi, Al-Djazari, Al-Chudhari, Dr.Ahmad Amin, Faridj Wadjdi Bathras al-Bustani, dll, jang semua-nja memudji pribadi Imam Ash-Shadiq, jang ditindjau dari segalasudut (Batja "Al-Imam Ash-Shadiq wal Mazahibul Arbaah,karangan Asad Haidar, Nedjef, 1956, 1:41—57).110
    • 3. DJAFARIJAH. Mazhab ini didirikan oleh Imam Djafar Sadiq, seorangTabiin tokoh besar, ahli Hadis dan mudjtahid mutlak, menurutKulajni antara 83 — 148 H. sebagai jang sudah kita tjeriterakan.Ibunja bernama Farwah anak Al-Qasim anak tjutju dari AbuBakar As-Siddiq, Chalifah I ses. Nabi. Konon itu sebabnja ma-ka Djafar memakai nama dibelakangnja Sadiq, dan tidak pernahmenjerang tiga Chalifah sebelum Ali bin Abi Thalib. Bahkan per-nah ia berkata, sepandjang jang diriwajatkan Sajuti : „Aku berle-pas tangan dari orang-orang jang mengatakan sesuatu sesudahNabi tentang Abu-Bakar dan Umar ketjuali jang baik (SajiutiTarichul Chulafa). Konon pula itulah sebabnja, maka ia tidakpernah diganggu oleh chalifah Umajjah, seperti Hisjam, Walid,Ibrahim dan Marwan dan oleh Chalifah Abbasijah, seperti As-Safah dan Al-Mansur. Baik Sjiah maupun Ahli Sunnah menghormati Djafar Sadiq.Orang Sjiah mempunjai banjak tjerita mengenai keistimewaanDjafar Sadiq, Kulajni mentjeritakan, bahwa konon Chalifah Al-Mansur pernah memerintahkan membakar rumahnja di Madinah,tetapi Imam Djafar memadami api itu hanja dengan menendangdan berkata, bahwa ia anak tjutju Ibrahim Chalilullah, jang tidakdimakan api. Ibn Chalkan mentjeriterakan, bahwa Al-Mansurpernah memerintahkan Imam Djafar pindah dari Madinah keIrak dengan teman-temannja. Ia tidak sudi pindah dan ingintinggal bersama keluarganja, karena ia mendengar melalui ajahdan neneknja Rasulullah berkata, bahwa barang siapa keluarmentjari rezeki, Tuhan akan mengurniai rezekinja, tetapi barangsiapa tinggal tetap pada keluarganja, Tuhan akan memandjang-kan umurnja. Dengan demikian Al-Mansur tidak djadi mengusirdia ke Irak. Memang Imam Djafar Sadiq seorang jang mulia hati, tjer-das, alim dan salih, dan ditjintai orang. Ia mengadjar dan mene-rima tamu dalam suatu kebun jang indah dekat rumahnja di Ma-dinah. Banjak orang 2 alim dari bermatjam 8 mazhab datang me-ngundjungi pengadjian itu, jang merupakan seakan-akan sekolahSocrates. Memang Imam Djafar dikagumi oleh mairid-muridnja,terutama dalam ilmu fiqh dan ilmu kalam. Diantara muridnjaterdapat Abu Hanifah dan Malik bin Anas, jang turut mengambil 111
    • ilmu fiqh dari padanja, begitu djuga Wasil bin Atha, kepala kaumMutazilah dan Djabir bin Hajjan, ahli kimia jang masjhur. Adaorang jang mengatakan bahwa Abu Hanifah tidak pernah bela-djar padanja, hanja pernah bersoal djawab dalam beberapa per-soalan mengenai pemakaian kijas dan akal dalam masalah fiqh. Bagaimanapun djuga hubungan Imam Djafar dengan Abu Hani- fah sangat rapat, terutama dalam masa Abu Hanifah mengadjardi Kufah dan Imam Djafar di Madinah kelihatan benar perse-suaian pendapat, sedang masa itu adalah masa jang terlalu sukar. Ronaldson dalam karangannja mengenai kejakinan Sjiahmengatakan, bahwa djika tidak karena tiga buah pendapat ImamDjafar jang berlainan dengan Abu Hanifah, Abu Hanifah sudahmenerima seluruh adjaran Imam Djafar itu. Tiga buah pendapatjang berlainan itu ialah: Imam Djafar berpendapat, bahwa ke-baikan itu berasal dari Tuhan, sedang kedjahatan berasal dariperbuatan manusia sendiri, Abu Hanifah berpendirian bahwasegala jang baik dan jang djahat itu berasal dari Tuhan. KeduaDjafar berkata, bahwa setan itu dibakar dalam api neraka padahari kiamat. Abu Hanifah berpendapat, bahwa api tidak dapatmembakar api, dan setan itu ditjiptakan Tuhan daripada api.Ketiga Imam Djafar mengatakan, bahwa melihat Tuhan diduniadan achirat mustahil. Abu Hanifah berpendirian, bahwa tiap jangmaudjud mungkin melihat Tuhan djikalau tidak didunia, ia akanmelihat nanti diachirat. Konon perdebatan ini didengar olehpenganut-penganut adjaran Imam Djafar jang fanatik, jang lalu melempari kepala Abu Hanifah dengan sepotong batu tembok.Tatkala orang itu ditanjaj mengapa, ia mendjawab, bahwa ia tidakberbuat kedjahatan itu, dan kedjahatan itu datang dari Tuhandan bukan dari manusia dan bukan dari ichtiar, bahwa ia tidakdapat menjakitkan Abu Hanifah dengan tanah tembok itu. karena Abu Hanifah terbuat daripada tanah, dan ia minta Abu Hanifah memperlihatkan kesaktian, pada kepala, kalau benar ia dapat me- lihat Tuhan didunia dan diachirat. Dalam pada itu banjak pengikut-pengikut Imam Djafar jangsedang pada Abu Hanifah, karena ia turut mengetjam Al- Man-sur dan chalifah-chalifah jang lain daripada Bani A t b a s danBani Umajjah. Katanja bahwa mereka betul mendirikan mesdjid,dan oleh karena itu mereka fasik tidak lajak mendjadi imam.Konon utjapan ini terdengar oleh Al-Mansur. jang menjuruh me-nangkap Abu Hanifah dan memasukkannja kedalam pendjarasampai mati. Hal ini sesuai dengan firman Tuhan kepada Ibra-him : "Aku akan mendjadikan dikau Imam bagi manusia." KataNabi Ibrahim : ..Apakah anak tjutjuku djuga ? Firman Tuhan : 112
    • "Djandjiku itu tidak akan meliputi orang 2 jang zalim" (Al-Baqa-rh, 124). Lalu pengarang-pengarang Sjiah, seperti Madjlisi se-nang terhadap Baidhawi, Zamachsjari dan Abu Hanifah karenasepaham dengan mereka dalam menafsirkan ajat itu. Golongan Djafar Sadiq ini biasa dinamai Imamijah IshnaAsjarijah, jaitu suatu golongan Sjiah jang mengaku, bahwa imammereka jang sah terdiri dari 12 orang, sebagaimana jang sudahkita sebutkan dalam pembitjaraan mengenai golongan Sjiah ini. Prof. T.M. Hasbi Ash Shiddieqj dalam kitabnja „Hukum Is-lam" (Djakarta, 1962 banjak menulis tentang Sjiah, dan berkatatentang Djafar Sadiq sbb. : "Orang-orang Sjiah jang menobat-kan dia mendjadi imam, tiada memperoleh kepuasan hati dari pa-danja, karena ia tidak menghendaki dan tidak menjukai dirinjadinobatkan itu. Ia ini adalah seorang ulama jang sangat berbaktikepada Allah. Ia tidak suka diperbudak-budakan kaum Sjiah. Lantaran demikian, ia dapat mengarungi samudera hidupnja de-ngan aman dan tenang, tidak mendjadi kebentjian chalifah2 jang menguasai negeri. Dan jang perlu ditegaskan, bahwa ia ini pemu- ka dan pentasis fiqh Sjiah jang kemudian petjah kepada beberapa mazhab." Tentng fiqh dan hukumnja, Hasbi menerangkan sbb. : Fiqh Sjiah walaupun berdasarkan Al-Quran dan As Sunnah djuga, namun melaini fiqh djumhur dari beberapa djurusan. a. Fiqh mereka berdasar kepada tafsir jang sesuai dengan pokok pendirian mereka. Mereka tidak menerima tafsir orang lain, dan tidak menerima Hadits jang diriwajatkan oleh selain Imam ikutannja. b. Fiqh mereka berdasarkan Hadiets, Qaedah, atau Furu jang mereka terima dari imam-imamnja. Mereka tidak menerima segala rupa qaedah jang dipergunakan oleh djumhur Ahli Sunnah. c. Fiqh mereka tidak mempergunakan Idjma dan tidak mempergunakan qijas. Mereka menolak idjma, adalah karena la- zim dari pengikut-pengikut idjma, mengikuti faham lawan, jaitu Sahabat, Tabiin dan Tabiit tabiien. Mereka tidak menerima qijas sekali-sekali, karena qijas itu fikiran. Agama diambil dari Allah dan Rasulnja, serta dari imam-imam jang mereka ikuti sahadja. d. Fiqh mereka tidak memberi pusaka kepada perempuan kalau jarg dipusakai itu tanah dan kebun. Perempuan itu hanja mempusakai bendaé jang dapat dipindah-pindah sahadja. Lebih landjut diterangkan, bahwa : Terkadang-kadang apa- bila disebut golongan Sjiah, maka jang dikehendaki, Imamijah. 113
    • Imamijah ini berkembang di Iran dan Irak, Madzhab merekadalam soal fiqh, lebih dekat kepada mazhab Asj Sjafii walaupunmereka dalam beberapa masalah menjalahi Ahlus Sunnah jangempat. Mereka serupa dengan Zaidijah, berpegang dalam soal Fiqhkepada Al-Quran dan kepada Hadiest-Hadiest jang diriwajatkanoleh imam-imam mereka dan oleh orang-orang jang semazhabdengan mereka. Mereka berpendapat, bahwa Babul Idjitihad ma-sih terbuka; dan mereka menolak qijas selama masih ada besertamereka imam-imam mereka jang mengetahui hukum-hukum sja-riat. Demikian tersebut dalam kitab „Hukum Islam.", karanganProf. T.M. Hasbi Ash Shiddieqj, hal. 43 — 44. Memang dalam masalah usul dan ibadah hampir tidak ber-beda antara Sjiah Djafarijah dan Ahli Sunnah, disana sini berbe-da tentang furu agama dan muamalat. Hal ini dapat kita lihatdalam sebuah kitab karangan Muhammad Djawwad Mughnijah,jang bernama, Al-Fiqh Ala Mazahibil Chamsah (Berirut, 1960)suatu kitab mengenai perbandingan lima mazhab, jaitu mazhabDjafari, Hanafi, Maliki, Sjafii dan Hambali, jang perbedaannjaantara satu sama lain sedikit sekali. Oleh karena itu Ahmad Hasan Al-Baquri, pernah djadimenteri urusan wakaf dalam salah satu kabinet pemerintah Me-sir, berkata dalam pendahuluan kitab fiqh Sjiah, ,,A1-Muchtasaran-Nafi," jang pendahuluan kitab fiqh Sjiah, ,,A1-MuchtasarIslam pada Universitas Al-Azhar, bahwa (golongan Sunnah danSjiah itu) kedua-duanja berpokok kepada Islam dan kepadaiman dengan Kitab Allah dan Sunnah Rasul, kedua-duanja ber-sama benar dalam pokok-pokok umum mengenai agama kita.Djika ada perlainan pendapat dalam furu fiqh dan penetapanhukum-hukum, hal ini terdapat pada semua mazhab kaum mus-limin, dan hal ini adalah hal jang biasa bagi tiap-tiap mudjtahid,jang dalam idjtihadnja beroleh pahala baik salah atau benar. (Al-Hillfi (mgl. 676 H) Al-Muchtasar An-Nafi fil fiqhil Imamijah,Mesir, 1376 H . Mahmassani menerangkan bahwa Imam Djafar Saddiq itumasjhur dalam kalangan Sjiah Imamijah itu, jang menganggapnjasebagai mudjtahid besar, jang dikagumi karena kedjudjurannja,karena kemuliaannja dan karena ilmu pengetahuannja. Olehkarena itu mazhab Imamijah itu atjap kali dinamakan mazhabDjafariah, meskipun asalnja nama mazhab ini hanja mengenaimazhab ilmu fiqh.114
    • Imam Djafar tidak hanja terkenal dalam masalah 2 fiqh, il-mu kalam, ilmu kimia dll. tetapi djuga dalam ilmu tasawwuf, ba-njak hadis-hadis jang diriwajatkannja mengenai ilmu-ilmu itu,misalnja mengenai teori Nur Muhammad, ia mendengar dariajahnja, bahwa Ali bin Abi Thalib pernah menerangkan : „Allahmendjadikan Nur Muhammad sebelum ia mendjadikan Adam,Nuh, Ibrahim, Ismail, dll. Dan Tuhan mendjadikan bersama nuritu dua belas Hidjab, Hidjab Qudrah, Hidjab Uzmah, HidjabMumah, Hidjab Rahmah, Hidjab Saadah, Hidjab Karamah, Hi-djab Manzilah, Hidjab Hidajah, Hidjab Nubuwah, Hidjab Rafaah,Hidjab Haibah, dan Hidjab Sjafaah, kemudian Muhammad itudipendjarakan dalam Hidjab selama 7 ribu tahun dan membatja :„Maha Sutji Tuhan jang kaja, tidak pernah miskin", kemudiandiselubungi dengan Hidjab Manzilah selama 6 ribu tahun sertadiperintahkan membatja „Maha Sutji Tuhan jang Tinggi danAgung", kemudian dipendjarakan pula dalam Hidjab Hidajahselama 5 ribu tahun serta diperintahkan membatja : „Maha SutjiTuhan jang mempunjai Arasj jang agung," kemudian diselubungi lagi dengan Hidjab Rafah selama 4 ribu tahun serta diperintah- kan membatja : „Maha Sutji Tuhan jang dapat mengubah dan tidak berubah", kemudian dimasukkan djuga kedalam Hidjab Mawrah selama tiga ribu tahun serta diperintahkan membatja : „Maha Sutji Tuhan jang mempunjai malak dan malakut" dan kemudian diselubungi lagi dalam Hidjab Haibah selama 2 ribu tahun serta diperintahkan membatja : „Maha Sutji Allah dengan segala pudjiannja." Kemudian barulah Tuhan menjatakan nama Muhammad itudiatas luh, dan luh itu bertjahja selama empat ribu tahun, kemu-dian ditaruh diatas Arasj (langit jang ke sembilan) dan tetapdisana selama 7 ribu t^hun, kemudian barulah Tuhan meletak-kannja dalam sulbi Adam, jang berpindah kemudian kedalam sul-bi Nuh dan nabi-nabi jang lain turun-temurun hingga sampaikepada sulbi Abdul Muthalib dan dari sana ke sulbi Abdullahajah Nabi Muhammad. Selandjutnja tjerita ini menerangkan, bahwa tatkala Tuhan itu mengirimkan ruh Muhamad kemudian melengkapkannja de- ngan luar keramat, jaitu mengenakan badju Ridha, memberikan sandang selendang Haibah, memberikan tjelana Marifah, mem- berikan tali pingang Mahabbah, memberikan terompah Chauf, kemudian menjerahkan kepadanja tongkat Manzilah, lalu Tuhan berkata : „Hai Muhammad, pergi menemui manusia dan perin- tahkan kepadanja: "Utjapkan : tidak ada Tuhan melainkan Allah! Tjerita ini pandjang dan disulam dengan bermatjam-matjam kdndahan mengenai badju dan lain-lain jang diperbuat dari pada 115
    • jakut dan lukluk dan mardjan, sampai kemudian kepada melukis-kan badju nabi dalam pengertian Sufi, suatu tjerita jang digam-barkan setjara luas oleh Donaldson dalam kitabnja „Aqidah Sji-ah" (Mesir 1933. hal. 146 — 149). Saja dapati tjerita Nur Muhammad ini dengan keteranganjang lebih luas dan riwajatnja jang lebih teratur dalam kitabSjiah jang paling penting, bernama Isbatul Wasjjah Lil ImamAli bin Abi Thalib", karangan Al-Masudi, pengarang „Muru-djuz Z a h a b " (mgl. 346 H) jang berisi riwajat-riwajat danpetundjuk bagi golongan Sjiah mengenai Imam Ali dan Imam-imam jang lain. Kitab ini ditjap dan ditjetak di Nedjef, kota sutjiSjiah, dalam tahun 1374 H atau 1955 M, dengan tjetakan jangkeempat. Bagi mereka jang akan mempeladjari djiwa berpikir dankehidupan Sjiah kitab ketjil ini sangat penting artinja.116
    • V. M A Z H A B AHLIL BAIT
    • 1. ALIRAN DALAM ISLAM Ketjuali ulama-ulama dan ahli-ahli hadis djarang di Indone-sia orang mengetahui, bahwa ada mazhab jang dinamakan Ma-zhab AhÜl Bait. Hanja dalam ilmu kalam dan filsafat Islam ada-terdapat keterangan-keterangan jang menguraikan sedjarah tum-buhnja aliran-aliran paham jang bersimpang siur sesudah wafatNabi dan sesudah pemerintahan Chalifah Abu Bakar dan Umar.Adanja aliran-aliran ini, sebahagian lahirnja dalam masa BaniUmajjah dan sebahagian berkembang biak dalam masa kemerde-kaan berpikir pemerintahan Bani Abbas, menjebabkan orangIslam katjau balau dalam memegang dan mendjalankan hukumagamanja. Diantara aliran-aliran jang banjak itu dapat kita sebutkantiga golongan besar, jaitu Mutazilah, Chawaridj dan Sjiah. Dalam garis-garis besar Mufazilah itu mempunjai lima pokokpendirian terpenting : 1. At-Tiajuhid, artinja bahwa Allah itu satu dengan zatnja dan sifatnja, dan bahwa sifatnja itu adalah zat Allah itu sendiri. 2. Al-Adai, bahwa Allah itu adil, tidak mungkin Allah itu menggerakkan manusia mengerdjakan jang djahat, hanja baik-baik sadja. Oleh karena itu manusia itu mempunjai ichtiar sendiri dalam perbuatannja. tidak bergantung kepada kodrat dan iradat Tuhan sadja. 3. Manzilah handal M^mzilatain, menetapkan suatu tempat bagi orang-orang jang berbuat dosa besar diantara tempat orang mumin dan tempat orang kafir, ia bukan orang mumin karena tidak menjempurnakan kebadjikan, ia bukan orang kafir karena sudah mengutjapkan dua kalimah sjahadat, tetapi djuga diazab dalam neraka un- tuk selama-lamanja. 4. Al-Waad wal Waid, artinja bahwa Allah, apabila ber- djandji dengan pahala untuk kebadjikan. ditepatinja. dan apabila ia mendjandjikan siksaan untuk kedjahatan- pun mesti ditepatinja, tidak berhak memberi ampunan. 11»
    • 5. A m t e Martif dan, Nahi Munkar, menjuruh berbuat baik dan melarang berbuat djahat bagi Mutazilah wadjib karena akal, bukan karena nash Q u r a n dan hadis. Chawaridj mempunjai pokok-pokok pendirian jang terpenting,diantara lain bahwa Chalifah sesudah Nabi tidak mesti dari orangQuraisj, djuga tidak mesti dari orang Arab, semua manusia dalampandangan Tuhan sama, jang berbuat dosa besar djadi kafir,salah dalam berpikir dan beridjtihad mendjadi dosa besar, djikamenjebabkan petjah-belah, oleh karena itu mereka mengkafirkanAli bin Abi^ Thalib karena menerima usul Muawijah bertahkimkepada Quran. Diantara aliran ini terdapat Azragijah, jang lebihkeras pendiriannja, bahwa tiap orang Islam jang bersalahan pen-diriannja dengan Chawaridj djadi musjrik, abadi dalam neraka,wadjib diperangi dan dibunuh. Sjiah mempunjai pendirian diantara lain, bahwa Ali bin AbiThalib telah ditundjukkan Nabi dengan nash untuk mendjadichalifahnja sesudah ia wafat, bahwa tiap orang jang mendjadiimam wadjib masum, artinja terpelihara dari pada dosa besardan dosa ketjil, bahwa Ali bin Abi Thalib ialah sahabat Nabi jangpaling afdhal dan utama sesudah Nabi Muhammad sendiri. Daripada tiga golongan ini lahirlah bermatjam-matjam aliran,seperti Djabbarijah, Qadarijah, dll., dan aliran-aliran itu meski-pun berselisih satu sama lain dalam perkara aqidah atau kejaki-nan, tetapi tidak membawa akibat kepada penetapan hukum fiqh. Maka lahirlah aliran Asjarijah, jang menentang Mutazilahdalam lima pokok pendirian. Asjarijah, jang dikepalai oleh ImamAsjari, berkata, bahwa sifat Allah itu bukan zatnja, tetapi tam-bahan atas zat, bahwa manusia berbuat menurut qadha danqadar Tuhan, tetapi djuga menurut ichtiarnja, bahwa Allah bebasdalam melaksanakan djandji untuk kebadjikan dengan pahala danuntuk kedjahatan dengan dosa, Allah dapat mënjiksa orang jangberbuat baik dan dapat memberi ampunan kepada orang jangberbuat djahat, bahwa orang jang berbuat dosa besar tidak di-letakkan pada suatu kedudukan antara orang mukmin dan kafir,tetapi djika ia orang jang beriman akan dikeluarkan dari neraka,manakala siksaannja sudah habis, bahwa perkara amar marufdan nahi mungkar diwadjibkan karena nash daripada wahju Tu-han dan sunnah rasulnja, bukan karena ukuran akal manusia. Sjiah sepaham dengan Mutazilah dalam dua masalah, jaitumasalah tauhid dan keadilan Tuhan, tetapi menjalahinja dalamtiga pendirian jang lain, jang mengikuti paham Asjarijah dalampendiriannja. Dalam persoalan chalifah Sjiah mengikuti hadis120
    • Nabi jang mengutamakan Ali, dengan utjapannja : "Ini penggan-tiku, wazirku, orang jang aku beri wasiat dan chalifahku untuk-mu sesudah daku." Dan hadis-hadis lain jang sama pengertian-nja dengan itu, banjak diriwajatkan oleh ulama-ulama Sjiah.Lihat misalnja kitab "Asj-Sjiah wal Hakümin" (Beirut, 1962).karangan Muhammad Djawad Mughnijah. Dalam persoalan lain Sjiah berselisih paham mengenai "as-s&qalain", peninggalan Rasulullah kepada umat Islam dua perka-ra jang berat, jang tersebut dalam hadisnja terachir, dan jangdisuruh pegang teguh-teguh kepada umat Islam sesudah ia wafat,apakah dua jang berat itu, Quran dan Sunnah atau Quran danKeturunannja ? Sjiah mengemukakan hadis-hadis, jang menerang-kan perkara tersebut dibelakang ini, oleh karena itu mengutama-kan keluarga Nabi termasuk kejakinan jang disuruh pegang oleh-nja sebagai dua perkara jang berat. Asad Haidar dalam kitabnja jang besar dan terpenting bagipenganut mazhab Sjiah, bernama „Imam As-Shadiq wal Maza-hibil Arbaah" mengupas persoalan "as-saqalain" ini setjara pan- djang lebar, dan menekankan lebih banjak disamping berpegang kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul, ialah berpegang kepada fatwa-fatwa keluarga atau Ahlil Bait Rasulullah, terutama dalam masa kekatjauan mengenai persoalan-persoalan Islam. Zaid bin Arqam jang menjampaikan is chotbah Nabi, menerangkan bahwa Nabi pernah berkata : "Aku meninggalkan kepadamu dua jang berat, Kitabullah jang didalamnja ada petundjuk dan tjahaja, ambil kitab itu dan pegang teguh-teguh". Kemudian seelah ia mengandjurkan kitab Allah itu dan kegemaran mempeladjarinja ia berkata : "Dan Ahli Baitku, aku peringatkan kamu kepada Allah tentang keluarga rumahku" (Sahih Muslim, VII : 122). Ha- dis sematjam ini djuga disebut oleh Tarmizi dalam kitabnja, dj. II hal. 308. Imam Ahmad bin Hanbal dalam Masnadnja, djuz II, hal. 14, menjebutkan djuga sebuah hadis jang diriwajatkan oleh Zaid bin Arqam, jang menerangkan bahwa Rasulullah pernah berkata : "Aku meninggalkan kepadamu dua perkara jang berat, selama engkau berpegang kepadanja, engkau tidak sesat sesudah aku. seperkara lebih besar daripada jang lain, jaitu Kitabullah, jang merupakan tali dari langit kebumi, d.an kedua keturunanku. Ahli Bait-ku, keduaduanja tidak bertjerai satu sama lain, hingga didja- dikan untukku sebuah tteltaga. Awasilah djangan kamu memperse- lisihkan keduanja." Abu Said al-Chudri meneranpjcan djuga hadis jang sema- tjam itu bunjinja, sampai menqulang beberapa kali. Dan Chatib al-Bagdadi dalam kitabnja d j. VIII, hal. 443 menerangkan sebuah 12!
    • hadis dari Huzaifah bin Usaid, bahwa Rasulullah s.a.w. pernahmengutjapkan hadis sematjam itu djuga, begitu djuga Hakim darihadis Zaid bin Arqam dalam Al-Mustadrak ( I V : 109), sedangSajuthi meriwajatkan hadis itu dari tiga djalan, dari Zaid binArqam, Zaid ibn Sabit dan Abu Said al-Chudri. Selain daripadaitu didapat djuga hadis sematjam itu diriwajatkan oleh Muham-mad bin Jusuf Asj-Sjafii dalam kitabnja "Kifajatut Thalib", diri-wajatkan djuga oleh At-Thabari dalam kitab "Az-Zachair", olehIbn Had jar dalam kitab "As-Sawaiq al-Muhriqah", hal. 136 daribermatjam-matjam rawi, oleh As-Sjabrawi, oleh Al-Adawi, olehAl-Alusi, oleh Ibn Kasir dalam tafsirnja (111:486) dll. uama da-lam kitabnja masing-masing. An-Naqsjabandi dalam kitabnja "Al-Aqdul W a h i d " sesudahmemudji-mudji Ahlil Bait (hal. 78) sebagai bintang agama Islam,sumber sjara dan tiang Islam dan sahabat-sahabat Nabi, menje-but kembali hadis itu dengan penuh hormat. Asj-Sjafii-pun mengatakan, bahwa umat Islam diandjurkanmentjintai keluarga Nabi dengan mewadjibkan salawat dan salamkepada keluarganja itu dalam tasjahhud achir pada tiap-tiap sem-bahjang, dan ia menjanjikan sebuah sadjak, jang kalau saja ter-djemahkan bebas dalam bahasa Indonesia sebagai berikut : Oh Ahli Bait Rasulullah, Mentjintai kamu diwadjibkan, Didjadikan fardhu oleh Allah, Didalam Quran diturunkan. Tjukup mendjadi ukuran besarmu, Dengan hukum ibadat jang ada, Siapa tidak salawat atasmu, Sembahjangnja bathal, dianggap tiada. Pernah muntjul sebuah karangan dalam madjallah "Al-Mus-lim", jang terbit di Mesir tahun 1271 H., jang berturut-turutmengupas kedudukan Ahli] Bait ini dalam agama, dan memberiketerangan pandjang lebar tentang hadis jang kita bitjarakandiatas itu. Penafsiran "as-saqalain" ini begitu luas sampai masukkedalam kamus-kamus dengan hadis jang mengandung kitabAllah dan keluarga Nabi, misalnja dalam At-Tadj oleh Muhibud-din, Lisanul Arab oleh Ibn Abi Manzur, An-Nihajah oleh IbnAsir, dll. keterangan, jang memberi bukti kepada orang Sjiah,bahwa jang dimaksudkan dengan "as-saqalain" ialah Kitabullahdan keluarga Nabi atu Ahlil Bait.122
    • Oleh krena itu mereka merasa ketjewa terhadap Bucharisebagai imam Hadis terbesar tidak memasukkan hadis ini kedalamkitab sahihnja, dan banjak menghilangkan hadis-hadis Ahlil Baitjang tidak disebut dalam karangannja. Banjak orang Sjiah me-ngetjam Imam Buchari ini dalam kitab-kitabnja untuk menundjuk-kan sikapnja jang berat sebelah, dan mengemukakan "sunnali"lebih banjak daripada "itrati", tetapi saja menjangka, bahwaImam Buchari karena itu tidak untuk memperketjilkan arti AhlilBait, tetapi sebab alasan-alasan jang lain. Kita ketahui ulama-uiama jang banjak memudji-mudji keturunan Ali dalam masaAbbasijah segera ditjap pro Alawijjin, ditahan dan dihukum. Olehkarena itu banjak ulamiv-ulama dan pengarang-pengarang dalarrmasa itu untuk keselamatan dirinja dan karangannja, menghindai-kan hal-hal jang dapat membawa kepada tuduhan sematjam itu. 123
    • 2. AHLIL HADIS D A N AHLIR RAJI Sudah kita katakan dalam bahagian pertama dari pokok per-soalan ini, bahwa timbulnja aliran-aliran jang banjak menjebab-kan djuga kekatjauan dalam peraturan hukum Islam, jang dina-makan hukum fiqh Islam, karena bermatjam-matjam penafsiran,mengenai ajat-ajat Quran dan berbagai bentuk hadis, dirajahdan riwajahnja, sehingga mempengaruhi sumber-sumber pokokpenetapan hukum itu. Dengan demikian lahirlah dua aliran besar dalam kalanganulama Islam, jaitu golongan jang berpegang kepada Sunnah jangdinamakan AhluI Hadis, terutama dalam daerah jang banjak ter-dapat sahabat-sahabat Nabi jang masih hidup, seperti Madinahdan Mekkah dan golongan janq banjak menggunakan pikiran danqijas, jang dinamakan Ahhir Raji, jang banjak terdapat di Irakdan daerah-daerah jang tidak banjak terdapat sahabat-sahabatNabi, jang dapat mentjeriterakan keadaan hukum dalam masa Ra-sulullah. Mengenai dirajah dan riwajah hadis itu djuga menghadapikesukaran, karena banjak riwajat jang tidak dapat dipertjaja,karena sudah dipengaruhi oleh politik dan perkembangan aliran-aliran paham itu. Kemudian perbedaan riwajat dan penafsiran mengenai hadis"as-saqalain", jang sepihak menerangkan peninggalan dua jangberat oleh Rasulullah itu ialah Quran dan Sunnah, pihak janglain mengatakan Quran dan Ahlil Bait Rasulullah. Perbedaan inimengakibatkan dua golongan dalam penetapan hukum fiqh, per-tama bernama Mazhab Ahlus Sunnah w&l Dj|am»ah, kedua ber-nama Mazhab Ahlil Bait Dengan sendirinja Sjiah Ali, memilih dan mengutamakanMazhab Ahlil Bait dalam memegang hukum-hukum ibadat danmuamalatnja, karena mereka lebih banjak bergaul dengan ulama-ulama anggota keluarga Nabi dan lebih mempertjajainja dalamdirajah dan riwajah, terlepas daripada pengaruh pemerintahanBani Umajiah dan Bani Abbas. Kota Madinah, jang untuk sementara waktu tidak diganggu-gugat oleh pemerintahan itu, merupakan temoat berfatwa menge-nai dasar-dasar tasjri Islam, karena kota Nabi itu baniak di-diami oleh sahabat-sahabat Nabi. Ahlil Baitnja dan Tabiin jangbaik.124
    • Sedjak permulaan pemerintahan Bani Umajjah, sudah mem-perhatikan kota ini dengan penuh ketjemasan, karena ia merupa-kan perkampungan sekolah tinggi Islam, dan oleh karena itu iamembudjuk banjak ulama-ulama dengan kekajaan dan djandji-djandji untuk membantunja dalam pentjiptaan kodifikasi hukum-hukum Islam dan dengan demikian djuga ia membendung meluas-nja pengaruh golongan Ali bin Abi Thalib. Dalam masa Bani Abbas terdjadi kemadjuan penuntutan ilmupengetahuan jang luas, ,dan sudah mendjadi kebiasaan, bahwailmu pengetahuan itu berkembang dalam pimpinan dan penga-wasan pemerintah, sehingga radja-radja Bani Abbas itu berolehkedudukan dalam mata rakjat dan menganggap mereka imam,apalagi mereka berasal dari keturunan keluarga Nabi dari pihakpamannja. Tjuma sajang kedudukan ini achiroja membawa me-reka menjeleweng memadjukan ilmu-ilmu pengetahuan dunia sadjaatjapkali melupakan achirat, mempermain-mainkan Sunnah Nabidan hukum agama Tuhan. Pengadjaran dan pendidikan agamamendjadi tersia-sia. Maka bangunlah Ahlil Bait dan ulama-ulama lain bekerdjakeras menjiarkan ilmu Islam ditengah-tengah kemadjuan pengeta-huan duniawi itu menjelamatkan umat jang sedang menggunakankemerdekaan berpikir jang luas. Adjaran mereka disambut olehrakjat. Djafar As-Shadiq adalah orang jang pertama melihat ke-pentingan ini dan memimpin kemadjuan ilmu pengetahuan itudalam batas-batas kejakinan Islam jang benar. Dibukanja sebuahsekolah besar, jang dikundjungi oleh umat Islam dari seluruhpendjuru daerah, hingga djumlah muridnja tidak kurang dari empat ribu orang, sebagaimana sudah kita sebutkan diatas. Kemadjuan ini pada mula pertama tidak begitu memusingkanBani Abbas, tetapi sesudah mereka mempunjai kekuasaan, timbul-lah tjuriganja, kalau-kalau pengadjaran agama berpengaruh untukmelemahkan kedudukannja. Mereka tidak ahli dalam persoalanagama, hanja memerintah dengan kekuasaan dan mengumpulkanharta benda dari rakjat-rakjat jang telah dikalahkannja. Djiwadan iman rakjat tertumpah kepada ulama-ulama, jang mengadjar-kan mereka Islam dengan keadilan hukum-hukumnja. Mulailah Bani Abbas mengambil tindakan terhadap merekajang merupakan pengikut Ahlil Bait dan ulama-ulama serta rakjatumum jang merupakan pengikutnja. Meskipun mereka mengambiltindakan kekerasan, tetapi penduduk kota Madinah tetap taat,karena mereka sudah melakukan sumpah setia kepada keluargaAli, bukan keluarga Bani Abbas. Untuk sementara mereka dapat memerintah bangsa Persi,tetapi tidak dapat mengambil hati mereka, jang telah terlekattjintanja kepada Alawijjin, meskipun bukan orang Arab. Konon 125
    • dimulailah siasat melakukan sewenang-wenang, sampai membu- nuh orang-orang di Persi sendiri jang menggunakan bahasa Arab, Kekedjaman ini dilakukan turun-temurun. Sesudah As-Safah datang Al-Mansur, jang terkenal dengan tangan besi dan orang jang haus kepada pertumpahan darah. Maka dipetjah-belahkan ulama itu dalam dua golongan, golongan fiqh di Irak jang meng- gunakan qijas, jang dibantunja, dan golongan ulama-ulama di Madinah, jang lebih mengutamakan hadis dan memeliharanja, terdiri daripada ulama-ulama Sahabat jang baik dan dipertjajai. Hadis sedikit di Irak. Oleh karena itu dalam penetapan hu- kum agama mereka memakai dasar pikiran dan qijas, dimulai oleh Hummad, jang menuruti Ibrahim An-Nachai (mgl. 95 H.), dandari Hummad diperkembangkan oleh Abu Hanifah (mgl. 150 H ) .Bahkan demikian beraninja, sehingga kadang-kadang lebih maumereka menggunakan qijas daripada mengambil hadis uhad, se-hingga sikap mereka itu mendjadi edjekan oleh ulama-ulama ahlihadis. Ulama-ulama ahli hadis tidak mau menggunakan pikiran danqijas dalam hal sematjam itu, artinja djika mereka masih menemuihadis, meskipun sifatnja uhad, karen takut mengadakan sesuatuhukum agama hanja berdasarkan kepada pikiran manusia. Dian-tara pemuka ulama-ulama sematjam ini ialah Imam Zaid bin Ali(mgl. 122 H ) , Imam Djafar bin Muhammad As-Shadiq, ImamMalik (mgl. 179 H) dan Amir Asj-Sjubi (mgl. 105 H) seorangahli hadis terkenal di Kufah dalam masanja. Lalu terdjadi edjekmengedjek dan serang menjerang antara Ahli Qijas atau raji diIrak dan Ahli Hadis di Madinah. Dengan sendirinja pemerintahAbbasijah jang bersifat keduniaan membantu golongan Ahli Rajipada hari-hari pertama dan menekan kepada Ahli Hadis, jangkemudian bernama Ahli Sunnah wal Djamaah. Kedalam golongan Ahli Sunnah wal Djamaah ini termasukMazhab Sjafii jang dikepalai oleh Muhammad bin Idris, jangbanjak mempeladjari hadis dari Malik dan sahabat-sahabatnja,Mtizhab H&nbteui, jang didirikan oleh Ahmad bin Hanbal (mgl.241 H.) jang banjak mempeladjari hadis dari Imam Sjafii (mgl.204 H ) . Mazhab Maliki, jang terdiri dari pengikut-pengikutImam Malik (mgl. 179 H ) . Semua dinamakan Ahli Hadis, karenamereka berusaha mentjari hadis dan dasar Sunnah Nabi untukmenetapkan hukum-hukum jang didasarkan atas nash, lebih da-hulu daripada menggunakan qijas. Sjafii mengatakan : "Apabilaengkau mendapati sebuah penetapan mazhab jang didasarkanatas hadis jang lebih sah daripada penetapanku, ketahuilah bah-wa mazhabku jang sebenarnja adalah jang berdasarkan hadisiang lebih sah i t u "126
    • Banjak orang jang mendjadi pengikut Sjafii, diantaranjaIsmail oin Janja Al-Mazani, Kabi bin ùulaiman al-Djizi, riar-malah bin Jahja, Abu Jakub al-Buwaithi, ibn Shaibah, lbn AbdulHakam al-Mishri, Abu Saur, dll. Kemudian masuk kedalam ikatan Ahlus Sunnah ini Abu Ha-nifah an-Numan bin Sabit (mgl. 150 H ) , jang meskipun seorangtokoh Ahli Qijas, tetapi keterangan .akal itu digunakan untukmenguatkan. Pengikut-pengikutnja ialah Muhammad bin Hasanasj-Sjaibani, Abu Jusuf al-Qadhi, Zafar bin Huzaidi, Hasan binZijad al-Lului, Abu Muthi al-Balchi, Basjar al-Muraisi, dll. jangsemuanja mengaku bahwa Sjariat itu disudahi dengan akal, da-lam penetapan hukum mereka tidak melampaui batas nash, mere-ka gemar mengemukakan alasan dan tudjuan hukum, danbersedia mengembalikan hadis-hadis jang berbeda satu sama lainkepada dasar-dasar pokok agama Islam. Anggota Ahlus Sunnah ini bertambah luas dengan mazhab-mazhab sebagai berikut : Mazhab Sufjan as-Sauri (mgl. 161 H ) . Mazhab Sufjan bin Ujainah (mgl. 198 H ) . Mazhab Hasan al-Basri (mgl. 110 H ) . Mazhab Al-Auzai (mgl. 157 H ) . Mazhab Muhammad bin Djarir (mgl. 310 H ) . Mazhab Umar bin Abdul Aziz (mgl. 101 H ) . Mazhab Al-Amasj (mgl. 147 H ) . Mazhab Asj-Sjubi (mgl. 105 H ) . Mazhab Ishak (mgl. 238 H ) . Mazhab Al-Lais (mgl. 920 H ) . Mazhab Abu Saur (mgl. 240 H ) . Mazhab Daud az-Zahiri (mgl. 270 H ) . Ada orang memasukkan lagi kedalamnja Mazhab Aisjäh,Mazhab Ibn Um&r, Mazhab Ibn Masud, Mazhab Ibrahim an-Nachai, dan lain-lain Imam Mazhab ketjil-ketjil, jang uraiannjasemuanja tidak saja bitjarakan disini pandjang lebar, tetapi sajatangguhkan untuk mengisi karangan saja jang lain, jang sajanamakan Ahlüs Sunnah wal Djamaah, dalam rangka serie guba-han saja Perbandingan mazhab dalam Islam, disamping kitabSjiah Ali dan Perdjuangan Salaf. Dengan demikian dapat kita lihat, bahwa ulama-ulama fiqhsesudah berpetjah belah karena politik dan perlainan tjra berpi-kir, dari ulama-ulama Madinah, Irak dan Kufah, kemudian kem-bali bersatu kedalam ikatan Ahli Sunnah wal Djamah, jangsebagaimana kita lihat sedjarahnja tumbuh daripada MazhabAhlil Bait. 127
    • 3. A H L U S S U N N A H D A N SJIAH Atjapkali kita mendengar pertanjaan : apa perbedaan mazhabAhlus Sunnah wal Djamaah dengan mazhab Ahlil Bait ? Dalam pengertian hukum fiqh kedua mazhab ini hampir tidakberbeda. Kedua-duanja bersumber pokok pada Quran dan Hadis,Kita sudah melihat dalam sedjarah pendidikan dan pengadjaran,imam-imam mazhab Ahlus Sunnah jang terpenting adalah murid-murid daripada ulama-ulama Ahlil Bait. Jang tertarik kepadahadis "as-saqalain" jang menerangkan "Kitabullah w a Sunnati"menamakan ikatan ini Ahlus Sunnah, jang tertarik kepada hadisjang menerangkan "as-saqalain" itu ialah "Kitabullah wbItrati,Ahli Baiti," meneruskan nama ikatan ini dengan Ahlil Bait, teru-tama Sjiah Ali bin Abi Thalib. Orang-orang Sjiah menggunakan istilah ini, karena istilah itutelah terdapat dalam sebuah ajat Quran, jang berbunji : "Allahsesungguhnja menghendaki menghilangkan ketjemaranmu AhliBait, dan membersihkan kamu dengan sebersih-bersihnja" (QuranX X X : 33). Lalu digunakan perkataan Ahlil Bait, jang pernahdihadapkan Tuhan kepada Nabi Muhammad dalam firmannja,untuk nama mazhab jang mereka anut dan amalkan. Orang Sjiah menganggap, bahwa mazhab Ahlil Bait ituadalah mazhab jang tertua dan jang tergiat memperdjuangkanIslam, sedjak agama ini lahir, dengan berpedoman kepada Qur-an dan Sunnah Nabinja. Nabi sedjak keangkatannja bersungguh-sungguh menanamkan bibit-bibit ke-Islaman itu kepada keluarg?.-nja dan kepada semua orang Islam i>nn mengamalkan tjara ber-ibadat sematjam itu dalam masa sahabatnja. Usaha ini diteruskan djuga oleh keturunannja, terutama ImaniAsh-Shadiq, sebagai jang sudah kita djelaskan. Dalam keadaansusah dan senang ia meneruskan menanam bibit-bibit hukum Tu-han ini, sebagaimana ditanamkan oleh kakeknja kedalam djiwa-n;.a, bagaimanapun pertentangan jang dihadapi dari Bani Umaj-jah dan Bani Abbas, dan tantangan dari pengadjaran-pengadja-ran dan tjara berpikir jang sesat. Maka lahirlah beribu-ribu mu-ridnja jang menjiarkan adjaran-adjarannja itu dan mendirikanmazhab-mazhabnja pula. Mazhab Ahhil Bait atau dalam fiqh dinamakan djuga Ma-zhab A-Djafariah, tidak sama sedjarah pertumbuhannja dan per-128
    • djuangannja dengan mazhab-mazhab Islam jang lain, la mempu-njai dasar-dasar dan kekeluargaan jang kuat, sehingga ia denganbantuan Tuhan djaja dalam perdjuangannja. Sementara mazhab-mazhab jang lain mengalami pasang surut penganutnja, mazhabAhlil Bait ini berdjalan terus setiap masa dan zaman sampai ter-siar keseluruh negara Islam diatas muka bumi ini. Pemerintah Bani Umajjah menentang perkembangannja de-ngan tiga sebab; Pertama, sifat permusuhannja terhadap keluargaNabi jang tidak kundjung padam,, turun-temurun dari ajah kepa-da anak dan tjutjunja. Agama Islam, jang telah mendjadi anutantidak dapat mengubah dendam Bani Umajjah itu terhadap keluar-ga Nabi, Kedua, perkembangan mazhab Ahlil Bait jang begitupesat, merupakan pukulan terhadap hukum-hukum peradilan danmerupakan pertentangan antara siasat Ahlil Bait dengan siasatBani Umajjah. Ketiga, Bani Umajjah tahu betul akan pengaruhAhlil Bait dan tjinta rakjat kepadanja, sehingga tidak merupakanperbandingan lagi dalam persoalan chalifah antara Bani Umajjahdan Ahlil Bait, bukan dari Bani Umajjah. Dalam dua perkara terachir sama sikap Bani Abbas denganBani Umajjah, hanja Bani Abbas berbeda dalam perkara permu-suhan terhadap keluarga Nabi. Pada hari-hari jang pertama me-reka tidak memusuhi Ahlil Bait, karena senenek dan masih ber-keluarga, tetapi tatkala mereka melihat, bahwa seluruh ummatIslam datang menjokong Ahlil Bait itu, rnerekapun mendjadichawair dan kemudian mengambil sikap jang sama seperti BaniUmajjah. Dengan demikian Ah! ; ! Bait dan penganut-penganutnja men-derita kesukaran. Meskipun begitu penjiaran mazhab ini tidakdapat dibendung. Adjarannja tersiar terus sampai keibu negerikeradjaan Bani Umajjah. Jang mula-mula menjiarkan mazhab inidi Sjam ialah sahabat besar Abu Z a r al-Ghiffari. Sebagai orangjar.g djudjur dan tjinta kepada rakjat djelata, ia menjampaikandengan tervs-terang adjaran" Islam jang bersifat sosiali dandemokrasi. Dengan tidak segan-segan ia mengetjam sikap Muawi-jah, jang bersifat feodal dan tidak sesuai dengan adjaran sosialdalam Islam. Demikian fcerbahajanja adjaran-adjaran Abu Zarini, Jang membuka mata rakjat untuk melihat pemerintahan Islamjang sebenarnja, sehingga Muawijah meminta tolong kepadaChalifah Usman bin Affan jang ketika itu memegang tampukpemerintahan Islam di Madinah, untuk mengeluarkan sosialis AbuZ a r ini. Abu Zar diperintahkan berangkat ke Rabzah dan matidisana. Hadjar bin Adi, seorang sahabat Nabi jang ichlas, mengemu-kakan adjaran ini di Kufah dan dalam pengadjtannja di Pusat 129
    • Kemadjuan Islam itu, ia mengetjam kemungkaran-kemungkaranjang dikerdjakan oleh pemerintah Bani Umajjah, membuktikanbahwa mereka telah meninggalkan adjaran Islam jang sebenarnja,memprotes tjutji maki terhadap Ali dan keluarganja diatas mim-bar Djumat dan membuktikan bahwa Ali bin Abi Thalib ituadalah pahlawan Islam jang terbesar, penjiar agama jang ulungorang dan keluarga jang terdekat kepada Rasulullah. Utjapan-utjapan itu menjebabkan Hadjar menemui nasib dan adjalnja.Sedjarah mentjeriterakan, bahwa Hadjar bin Adi adalah seorangpembela Ali jang sangat berani, ia pernah hadir dalam perangShiffin, Nahrawan, dengan dua belas orang temannja jang gagahperkasa, dan berdjasa djuga untuk Muawijjah dalam mengaman-kan keadaan di Maradj Uzara. Sebagai pembalasan djasa, kemu-dian ia dengan teman-temannja dihukum ditempat itu smpai mati. Saja tidak ingin turut mengetjam kekedjaman Bani Umajjahterhadap kepada penjiar-penjiar mazhab ini jang berlaku terusterang dalam mengemukakan adjaran Islam sebenarnja. Kitab-ki-tab Sjiah memuat tjeritera-tjeritera pandjang lebar jang menjeram-kan bulu roma. Jang perlu saja kemukakan, bahwa mazhab AhlilBait ini meskipun dalam keadaan demikian penjiarannja berdjalanterus, sebagai terusnja Imam As-Shadiq mentjetak murid dankadernja jang ribuan banjaknja dengan ribuan pula karangan-karangannja tersiar dan mengalir sebagai air bah ketiap podjokbumi. Memang disana-sini kita mendengar ketjaman terhadap ma-zhab Ahli-Bait, jang menggunakan hadis-hadis tersendiri danberbuat banjak bidah, misalnja oleh pengarang sedjarah jangterkenal Ibn Chaldun (Muqaddimah, hal. 274), tetapi atjapkaliorang lupa, bahwa dibelakang tuduhan-tuduhan itu terdapat poli-tik propaganda Bani Umajjah atau Bani Abbas, jang membentjimazhab ini, karena ia teruntuk chusus bagi Sjiah Ali bin AbiThalib. Untuk kemaslahatan dan keselamatan diri serta karangan-karangannja, banjak penjusun-penjusun kitab dalam segala bidang,meninggalkan kemegahan bagi Sjiah, meskipun pada batinnja ka-dang-kadang mereka membenarkannja. Mengenai djawaban ilmijah atas ketjaman Ibn Chaldun, ba-tjalah kitab "Al-Imam as-Shadiq wal Mazahibil Arbaaib", kara-ngan Asad Haidar, diantara lain djilid kesatu, hal. 216—218.130
    • 4. SEDJARAH M A Z H A B AHLIL BAIT Sebenarnja bukan tidak beralasan, baik Bani Umajjah mau-pun Bani Abbas, menuduh Sjiah Ali senantiasa kalah mengge-rakkan pemberontakan rakjat terhadap pemerintahan mereka.Djiwa pengadjaran Islam dalam daerahnja banjak dititik beratkankepada kehidupan duniawi, melalui djalan kasar atau djalan ha-lus terhadap ulama-ulamanja, sedang adjaran Islam menurutmazhab Ahlil Bait lebih banjak ditekankan kepada kehidupandunia dan achirat. Djiwa pengadjaran Imam As-Shadiq diantara lain adalah kemerdekaan roh, jang sangat dihargakan tinggi oleh Islam, dan dengan demikian pengikut-pengikutnja selalu berdaja upaja me-lepaskan kemerdekaan djiwanja itu daripada belenggu kekuasaanjang dianggap zalim ketika itu. Sedjak berdirinja mazhab initerikat dengan dua peninggalan Nabi jang kuat "as-saqalain"jaitu Kitabullah dan Itrah Rasulnja, Quran dan keluarga Nabi,jang berpadu keduanja, tidak bertjerai dalam penunaian kewadji-bannja untuk memberi pertundjuk dan hidajat kepada umat.Quran mentjegah memberi bantuan kepada orang jang berbuatzalim dan mempertjajainja. Dalam sebuah firman Tuhan berseru :"Djangan kamu lekatkan kepertjajaanmu kepada mereka jangberbuat zalim, karena pasti kamu akan masuk neraka. Tidak adalain pemimpinmu ketjuali Allah, jang lain tidak akan dapat me-nolongmu" (Quran. surat Hud, ajat 113), Adjaran seperti dalam masa Nabi ini sudah tidak sesuai lagidengan masa Bani Umajjah dan Bani Abbas jang tamak kekajaandan bertindak setjara kekerasan. Mereka menganggap adjaran-adjaran Imam as-Shadiq itu ditudjukan kepadanja. Dengan penuh keberanian Imam mendjalankan terus adjaransematjam ini. Pengikut-pengikutnja diadjar meresapkan rasa adil,jang merupakan pokok terpenting daripada dasar-dasar penetapanhukum Islam. Murid-muridnja hanja mematuhi peraturan-peratu-ran jang tidak melampaui batas Tuhan, jaitu Quran dan mentaatiimam-imam jang adil serta memelihara agama, imam-imam jangingin damai, bermutu tinggi dalam achlak dan budi pekerti. Sebagai akibatnja rakjat tidak mau mentjari penjelesaiandalam urusannja kepada hakim-hakim pemerintah jang dianggap 131
    • zalim itu, mendjauhkan dirinja dari ulama-ulama jang ditunggangioleh pemerintah (Abu Naim, Hiljatul Aulia, 111:194). Dengandemikian Chalifah Mansur As-Saffah dan Hadjdjadj bin Jusuflalu mengambil tindakan, dan gugurlah ulama-ulama hadis danfiqh dalam mempertahankan agamanja itu. Imam As-Shadiq menghendaki, agar disamping pemerintahdunia, terdapat pimpinan agama, jang betul-betul mendjalankankebidjaksanaannja menurut hukum Tuhan, berdasarkan kepadadawah jang benar kebadjikan, keadilan, persamaan uchuwahIslamijah umum, peradaban jang baik dan kebudajaan jang benar,membasmi hawa nafsu, membasmi bidah dan kesesatan, jangsemuanja itu dapat diperoleh hanja dari keturunan sutji, pemim-pin-pemimpin mazhab ini. Karena merekalah jang sanggup me-mimpin umat kepada agamanja, membawanja kepada kebahagia-an, kepada tudjuan-tudjuan jang mulia dan tinggi, kepada tjontoh-tjontoh jang tinggi. Mazhab Ahlil Bait ini adalah mazhab jang terdahulu lahirdalam sedjarahnja, karena sebenarnja bukan Imam As-Shadiqjang meletakkan batu pertama dan menaburkan benihnja, tetapiialah Rasulullah sendiri. Nabilah jang meletakkan sumber-sumberdan peraturan-peraturannja dengan utjapannja menjuruh berpe-gang kepada Quran dan keluarganja, agar umat djangan terse-sat (Hadis). Mazhab ini terlahir dalam masa Nabi dan Imam jang per-tama ialah Ali bin Abi Thalib, Imam jang paling tinggi nilainjadan paling banjak ilmunja. Ia merupakan diri Nabi Muhammad,mengikutinja dalam segala waktu, menampung ilmu langsung da-sung daripadanja, memperoleh tasjriamali sahabatnja dikampungdan dalam perdjalanan, ia duduk djika Nabi duduk, ia bekerdjadjika Nabi bekerdja. Rasulullah adalah guru langsung dari Ali,pendidik dan pengasuhnja. Penjair Mutanabbi menggambarkan keindahan pewarisanilmu itu kepada Ali sebagai berikut : Kuletakkan sandjunganku kepada pewaris, Pewaris Nabi, wasiat Rasul, Karena ia nur tjahaja berbaris. Sambung menjambung, susul menjusul. Sesuatu jang tetap terus-menerus, Pasti achirnja berdiri sendiri, Busah lenjap karena arus, Laksana sifat matahari.132
    • Tatkala Ali wafat, gerakan ilmijah dan pimpinan mazhab inidipimpin oleh puteranja, Imam Hasan, tjutju Rasulullah danmainan hatinja. Dialah tempat rakjat mengembalikan urusannjadan segala persengketaan. Tetapi urusan mazhab itu tidak ber-djalan dengan lantjar, karena tekanan beberapa kedjdian dansaling sengketa dengan Muawijah. Ketjurangan-ketjurangan Mu-awijah terhadap keluarga Ali dan kekedjaman-kekedjamannjajang banjak menumpahkan darah, menghambat kemadjuan per-kembangan hukum. Kita ketahui bahwa perdjandjian antaraHasan dan Muawijah untuk menjelamatkan perkembangan hu-kum dan adjaran Islam, jang sebenarnja, tidak ditepati olehMuawijah. Masa Imam Husain jang menggantikan saudaranja, lebih ka-tjau lagi. Tidak sadja peperangan-peperangan sudah terbuka,tetapi kekuasaan jang telah ditjapai oleh Muawijah digunakannjadengan sengadja untuk merusakkan kedudukan hukum kaummuslimin. Urusan peradilan diserahkan kepada anaknja Jazid,seorang fasik dalam berbuat dosa dan kufur jang tidak adataranja. Kemudian ia mendjadi chalifah buat orang Islam, men-djadi imam jang duduk diatas singgasana kechalifahan Islam. Siapa Jazid ? Dalam "As-Sar al-Anwal fil Islam", karanganMuhammad Abdul Baqi (hal. 79) kita batja, bahwa ia seorangfasik jang durhaka, ia membolehkan meminum-minuman keras,membolehkan berzina, memperkenankan njanji-njanjian dalammadjelis-madjelis kehormatan, mendjadikan adat kebiasaan me-minum anggur dalam sidang-sidang pengadilan, memberikanrantai dan kalung andjing dan monjet mainannja dengan emas,sedang ratusan orang Islam disekeliling tempat itu mati kelaparan. Lalu mendiadilah kedudukan hukum Islam ketika itu sangatburuk. Imam Husain tidak dapat berdiam diri, ia terpaksa bang-kit membela kebenaran, melakukan amar-maruf nahi munkar.hingga terpaksa ia mengobarkan djiwanja dengan tjara jang sa-ngat menjedihkan sebagai pahlawan Islam. Urusan peradilan Islam dan pimpinan mazhab bernindahkepada anaknja Imam Ali bin Husain, jang bergelar Zainal Abi-din, seorang jang sangat wara dan takwa dalam masania, tetapidiuqa seorang alim dalam segala bidang ilmu Islam. Dengan tjaradiam-diam ia meneruskan usaha aiahnia, janq meskipun suasanaketika itu sanaat buruk, melahirkan banjak ulama-ulama ahlihukum dan ahli hadis. Masa anaknia Imam Al-Baoir, memimpin mazhab Ahlil Baitini. suasana politik sudah aoak berubah, pemerintah Bani Umri-jah sudah mulai lemah, diserang kanan kiri dan dibentii olehrakiat karena sfat feodalnia. Penaadiaran-penaadiaran Ah<l Baitdigiatkan kembali dimana-mana. ulama-ulamanja memantjar pergi ! 33
    • menjiarkan adjaran Kitabullah dan Sunnah Nabi di Madinah dandalam Masdjidil Haram, terutama ruang jang terkuat dengan na-ma "Ruang Ibn Mahil." Kemadjuan jang sangat pesat ditjapai dalam masa Imam As«Shftdiq, Ditiap negeri sudah ada orang alim jang mengadjäfmazhab ini. Madrasah Imam As-Shadiq di Madinah merupakansebuah universitas jang besar, jang dikundjungi oleh mahasiswadari seluruh podjok bumi Islam. Banjak jang mengirimkan utusan-utusannja. Sedjarah pendidikannja menerangkan, bahwa ia seorangmudjtahid besar. Tidak ada pertanjaan jang tidak didjawabnja,dan djawabannja itu mendjadi sumber hukum pula bagi murid-muridnja. Terkenal sebuah utjapannja : "Tanjakanlah kepadaku,sebelum aku mati, tidak akan ada seorangpun dapat memberikankepadamu pendjelasan seperti jang engkau dengar daripadaku"(Tarkiracul Huffaz, II : 157). Mengapa tidak demikian, karenadialah pewaris ilmu kakeknja jang masjhur itu. Mengenai Ali binAbi Thalib, Nabi berkata : "Aku ini gudang ilmu dan Ali pintu-nja" (hadis). Maka oleh karena itu sebuah hadis jang diriwajatkan olehImam As-Shadiq dari ajahnja Al-Baqir, dari ajahnja Zainal Abi-din, dari Husain bin Ali dan dari Nabi, dianggap sanad jangpaling baik dan paling kuat. Riwajat sematjam ini dinamakan"silsilah zahabijah", urutan keemasan demikian tersebut dalamkitab "Marifah Ulumjul Hadis", karangan Hakim An-Naisaburi,hal. 55. Djelaslah kepada kita mengapa ulama-ulama mengutamakanmazhab ini dalam sesuatu penetapan hukum. Tidak lain sebabnjamelainkan karena salurannja sangat bersih. Pemerintah melihat bahajanja orang banjak lari mentjanhukum kepada Imam As-Shadiq, dan tidak mau mendatangi ha-kim-hakim dan pengadilan resmi. Lalu diambil siasat, menjuruhulamanja mengeluarkan fatwa, bahwa pintu idjtihad hukum Islamsudah tertutup. Mazhab Ahlil Bait, jang kemudian terkenal dengan MazhabAl-Djafari, tidak mau mentaati siasat pemerintah ini, pertamakarena rakjat tidak mau mematuhinja, kedua karena menjebabkanorang Islam mendjadi beku, tidak mau berpikir dan menggunakanakal, satu-satunja anugerah Tuhan jang sangat mulia kepadamanusia. Sebagai akibat keputusan ini, pemerintah menganggapmazhab itu menentang kebidjaksanaannja dan menghukum orang-orang jang tidak taat itu. Dengan alasan ini pemerintah menganggap mazhab AhlilBait musuhnja, lalu dinjatakan sebagai suatu golongan jang diang-H
    • gap keluar dari Islam karena salah itikadnja, padahal ulama-ula-ma Ahlil Bait tidak mau mentaatinja karena hakim-hakimnja ituzalim, dan umat Islam diperintahkan meninggalkan orang-orangjang zalim itu dan radjanja. Sebagaimana terdjadi dalam salah satu permusuhan, peme-rintahan Bani Abbas lalu mentjari-tjari dan membuat-buat alasanuntuk memburuk-burukkan mazhab ini dan Sjiah Ali jang me-meluknja. Mereka menggunakan uang untuk menggadji muballigh-muballigh jang menjampaikan ketjaman-ketjaman mereka dalammesdjid-mesdjid, menggunakan ahli-ahli pidato jang ulung didja-lan-djalan, mengumpulkan ulama-ulama untuk mengeluarkan fat-wa jang sesuai dengan hawa nafsu mereka untuk menjerang Sji-ah sebagai musuh negara dan sebagai musuh Islam. Mereka menjiarkan berita bohong, bahwa Sjiah mengkafir-kan semua sahabat Nabi, bahwa mereka tidak bermal menurutQuran dll. Dengan demikian diratjuni pikiran rakjat dan dige-rakkan untuk membasmi golongan jang disebut salah itu. Batja-lah kitab "Imam As-Shadiq wal Mazhahibil Arbaah", karanganAsad Haidar, terutama djilid ketiga, hal. 21—23. Dengan demikian pula tuduhan-tuduhan jang bukan-bukankepada Sjiah ini berlarut-larut dari generasi kegenerasi, dari ula-ma keulama dari kitab kekitab, sebagaimana jang akan kita sing-gung djuga dimana ada kesempatan.
    • 5. T J I N T A AHLIL BAIT Tjinta kepada Nabi dan keluarganja lahir sudah sedjak hari 2pertama dalam sedjarah Islam, baik oleh Quran oleh Hadismaupun oleh achlak dan tingkah laku Nabi dan karena pergaulanjang mesra dengan Rasulullah. Hubungan ketjintaan ini dikuat-kan oleh rasa senasib dan seperdjuangan dalam membela Islam.Adjaran-adjaran Nabi menghilangkan asabijah, rasa kebanggaansuku dan keturunan, sudah berganti dengan persaudaraan jangkokoh dan meresap sepandjang adjaran iman dan tauhid. Sahabat-sahabat Nabi. merasa lebih bangga disebut muslimdaripada sebutan nama sukunja. Semua mereka mentjintai Nabisebagai pemimpin dan Ahlil Bait sebagai pengasuh, sehingga iste-ri-isteri Nabi digelarkan "ibu orang-orang jang beriman." Tidak ada seorang Islam jang dapat menundjukkan tjintanjakepada Nabi dan keluarganja lebih dari Chalifah Abu Bakar. Tjinta Umar bin Chattab djuga memberi bekas jang dalamkepada semua orang Islam. Ia pernah memberi tundjangan ke-pada tiap-tiap anak pedjuang Badr dua ribu dinar dalam setahun,tetapi kepada Hasan dan Husain masing-masing diberikan limaribu dinar setahun. Dalam kitab sedjarah ditjeriterakan, bahwaHusain bin Ali pernah bertjeritera sbb. : "Aku datangi Umar di-masa kanak-kanak, sedang ia berchutbah diatas mimbar. Akunaik keatas mimbar mesdjid itu dan berkata : "Turun engkau darimimbar ajahku dan pergi berchutbah diatas mimbar ajahmu."Umar mendjawab : "Ajahku tidak mempunjai mimbar", seraja di-dudukkannja aku disampingnja bermain-main dengan tongkatku.Tatkala aku turun ia membawa daku kerumahnja dan bertanja :"Siapa mengadjarkan engkau berbuat jang demikian itu V. Dja-wabl u : "Demi Allah tidak ada seorangpun jang mengadjar da-ku !". Keadaan bertukar sesudah pemerintahan dari Chulafa ur-Rasjidin kepada Bani Umajjah, jang memang sedjak sebelum Is-lam menentang Nabi dan keluarganja, begitu djuga sesudahpemerintahan berpindah kedalam tangan Bani Abbas, jang mes-kipun satu nenek mengambil tindakan jang sama terhadap ketu-runan Nabi dalam penangkapan dan pembunuhan. Tetapi rakjatIslam jang banjak tidaklah sepaham dengan politik radja-radjanjadalam membentji anak tjutju dan keturunan Nabinja. Merekatetap mentjintai keluarga Nabinja jang dianggap bersih.136
    • Bukan sadja orang Islam umum, sampai kepada rakjat jangdikerahkan untuk memerangi Husain di Karbala, tidak berubahpendiriannja terhadap keluarga Nabi, mereka hanja melakukankewadjiban karena takut sadja kepada Jazid dan Ibn Zijad dankepada mereka jang zalim terhadap Husain, sedang tjinta dankasih sajang kepada anak tjutju Nabi ma*ih melekat dihatinja.Demikian kata seorang pengarang ternama Farazdaq, jang men-tjeriterakan, bahwa sampai kepada pegawai-pegawai dan pembe-sar radja-radja itu dalam hatinja masih pertjaja dan mempunjaibelas kasihan terhadap anak-anak Fathimah Zuhra. Farazdaqmenerangkan hal ini dengan menjebut nama-nama jang tidakterhitung banjaknja. Beberapa banjak amir-amir jang memerintah di Churasansebelum Mamun menaruh ketjintaan kepada Ahlil Bait, sampaiSulaiman bin Abdullah bin Thahie berhasil dalam usahanja me-ratjuni hati mereka, sehingga dapat digerakkan memerangi Hasanbin Zaid di Thabristan. Ditjeriterakan orang bahwa ada seseorang dari Raiji menje-belah Sjiah Ali, sedang ia seorang kaja raja. Serta hal ini dike-tahui oleh kepala negara ditempat itu, dalam kedudukan pegawairadja Bani Abbas, merampas harta bendanja semuanja. Temannjamenerangkan kepadanja, bahwa kepala negara itu sebenarnjamenjebelah kepada Sjiah Ali djuga, tetapi dirahasiakannya. Iamenjuruh pergi kepadanja dan mentjeriterakan keadaan jang se-benar-benarnja, tentu ia akan berubah sikapnja. Oleh karena orang itu ketakutan, ia tidak berani melakukanjang demikian itu. Ia pergi kepada Imam Musa bin Djafar danmengeluh kepadanja. Imam ini memberikan seputjuk surat kepa-danja jang berbunji : "Dengan nama Allah jang Pengasih danPenjajang. Ketahuilah, bahwa Allah mempunjai Arasj, tidak ada jang berlindung dibawahnja ketjuali orang-orang jang ber-buat baik kepada saudaranja, orang jang menghilangkan kesuka- ran orang lain atau mendjadikan orang lain itu gembira." Orang itu mentjeriterakan bahwa ia pada malam itu djuga menemui kepala negara dan meminta izin masuk kerumahnja. Sikap kepala negara itu berubah terhadapnja seperti siang dengan malam, tatkala ia mengatakan bahwa ia utusan dari Imam Musa Al-Kazim. Kepala negara lalu memeluk dia dan mentjfumnja. menjuruh ia duduk pada tempat jang terhormat, dan kemudian datang menghadapinja. Tatkala surat itu diberikan kepadanja, ia menjium surat itu dan membatjanja sambil berdiri dengan hormat. Kemudian dikeluarkan uangnja dan pakaiannja, diberikan orang itu dinar demi dinar, dirham demi dirham, pakaian sepotong demi sepotong. Kepala negara lalu bertanja : "Waha i saudara, adakah pe- kerdjaanku ini menggembirakan engkau T Djawab orang itu - 13?
    • "Ai, demi Allah perbuatanmu itu lebih daripada menggembirakan". Lalu orang itu membawa harta benda tersebut kepada ImamMusa, dan mentjeriterakan segala sesuatu kepadanja. Imam Mu-sa dengan muka jang berseri-seri mengutjap sjahadat, seraja ber-kata : "Tuhan memberi kemudahan kepadanja dibawah Arasnja,dan Nabi Muhammadpun akan memberi kegembiraan kepadanjadalam kubur !" Ada seorang ulama besar jang diperintahkan Al-Mutawakkildalam masanja mengadjarkan anaknja, Al-Mutaz, perkara aga-ma dan adab. Ulama ini bernama Ibnal Sakit, seorang besarSjiah jang menjembunjikan alirannja, untuk menghindarkan diridaripada Chalifah Al-Mutawakkil jang terkenal ini, didjerumus-kan kedalam kerdjasama dengan tjara paksaan dan didjadikanalat pemerintahannja untuk memusuhi Ali serta anak tjutjunja. Pada suatu hari Al-Mutawakkil bertanja kepada ulama itu :"Mana jang lebih engkau tjintai, kedua anakku Al-Mutaz danAl-Muajjad inikah atau Hasan dan Husain ?" Ulama itu tidakmenjangka, bahwa kepadanja dihadapkan pertanjaan jang mengu-kur tjinta hatinja. Lalu ia menerangkan dengan keberan ; an danterus terang : "Demi Allah, Qambar, budak pelajan Ali bin AbiThalib, lebih baik daripada engkau dan kedua anak engkau !" Al-Mutawakkil memerintahkan memotong lidahnja, sehinggaulama besar Ibnal Sakit itu mati ketika ku djuga. Beberapa tjontoh daripada sekian banjak manusia jang me-njembunjikan tjintanja kepada Ahlil Bait, dan menderita dengan penuh kesabaran untuk melindungi tjinta itu berabad-abad lama-nja dalam masa Bani Abbas. Memang demikianlah s ; kap orang-orang jang besar djiwanja, ia berdjuang terus, meskpun bahajadidepannia. Tiontoh-tjontoh sematjam ini kita dapati dalam masaFiraun dan dalam masa Musa. Demikian kita lihat dalam perdjalanan Imam mazhab fiqh,jang karena ia mengambil ilmu dari ulama-ulama Ahll Bau dan mentjintainja, menderita nasib iang sama dalam masa Bani Umaj- jah dan Bani Abbas. Ahmad Mughniiah m e n c e d e r a k a n dalam kitabnia "Imam Musa al-Kazim wa Ali Ar-Ridba" /Beirut,t. thi) nasibnja beberapa orang ulama ianq mentjintai Ahlil Bait. Ia meniebut nama Abu Hanifah, janq sanaat mentjintai Ahlil Bait, mengeluarkan baniak harta bendanja untuk pertolonaan.berfatwa tentang wadjib menolonq Zaid bin Ali, mengirimkan harta benda kepadanya, dan berari diuoa herfatwa harus mem-bantu Ibrahim bin Abdullah al-Hiisain dalam memeranqi Chali- fah Al-Mansur. Sebagai akibatnia Ab» Hanifah dihukum tjambnk, diazab, dan achirnja diratjuni oleh Al-Mansur sampai mati. Se- mua azab itu hania karena mentjintai keturunan Imam Ali dan membentji musuh-musuhnia. Setenaah ahli sedjarah mentjeritera- kan, bahwa Abu Hanifah ini dipukul dan diazab karena ia me.-138
    • nolak diangkat mendjadi hakim. Ini adalah suatu uraian jangtidak dapat diterima akal, karena kedudukan mendjadi hakimadalah kehormatan, sedang memukul dan memendjarakannja ada-lah penghinaan. Oleh karena itu jang lebih tepat dan dekat ke-pada kebenaran ialah, bahwa Abu Hanifah menolak mendjadiqadhi untuk tetap merdeka diam dan tidak mentjela atau menghi-nakan Ahlil Bait. Penolakan inilah jang membuat Al-Mansur ma-rah dan menghukum dia, karena siasat terachir daripadanja ialahmentjapjian Abu Hanifah sebagai pengikut Ali dan Sjiahnja. Imam Malik pernah mengandjurkan rakjat untuk meninggal-kan Chalifah Al-Mansur dan berontak terhadapnja. Ia berfatwa,bahwa sumpah setia rakjat kepadanja batal karena mereka mela-kukan baiat itu bukan karena sukarela tetapi karena dipaksa.Imam Malik dipukul dengan tjambuk sebagaimana Abu Hanifah.Baik Imam Malik maupun Abu Hanifah diketahui orang, bahwakedua-duanja adalah murid Imam Djafar as-Shadiq, salah seorangketurunan Ali. Ketjintaan Imam Sjafii kepada Ahlil Bait umum dikenalorang. Ia mabuk didalam ketjintaan ini demikian rupa, sehinggaatjapkali ia dinamakan Rafdhi, diantara lain karena beberapa gu-bahan sadjaknja, jang saja terdjemahkan merdeka sbb. : W a h a i Ahlil Bait Rasulullah, Mentjintai kamu diwadjibkan Tuhan. Tingkatmu agung sudah djelaslah. Dalam Quran terdapat bahan. Siapa meninggalkan salawat untukmu, Sembahjang tidak sah, begitu hukumnja, Tinggi kedudukan, tinggi deradjatmu, Merupakan kurnia Allah semuanja.Lain gubahan berbunji : Djika Ali serta Fathimah, Dipudji orang dengan sandjungan, Pasti ada orang amarah. Menamakan Rafdhi dalam kenangan. Lalu kutanjai orang berbudi, Jang kuat imannja kepada Allah, Mentjintai Fathimah bukan Rafdhi, Sebaliknja mentjintai Rasulullah. Salawat Tuhan tidak terhingga. Kepada Ahlil Bait serta salam. Lanat Tuhan turun tangga, Kepada djahilijah masa jang silam 155
    • Sjair-sjair Imam Sjafii jang seperti ini isinja, banjak sekali,mempertahankan kehormatan Ahlil Bait dan menjerang merekajang menganggap perbuatan itu sebagai suatu perbuatan golonganRafdhi atau Rawafid, suatu golongan jang membentji kepadasahabat 2 Nabi jang lain, menganggap mereka tidak berhak mendjadi chalifah sebelum Ali serta mengetjamnja sebagai perampas hak,sedang membeda-bedakan ketjintaan antara sahabat-sahabat Nabiitu, haram hukumnja dalam Islam. Imam Sjafii berpendapat bah-wa mentjintai keluarga Nabi tidak usah diartikan membentji,apalagi mendendam kepada sahabat-sahabat Nabi jang lain. Olehkarena itu ia bersjair demikian : Kata mereka aku Rafdhijah, Sungguh bukan, sungguh bukan, Bagaimana mnolak itikad dinijah, Djika amar tidak dikerdjakan. Aku hanja mengikuti perintah, Apa disampaikan oleh Nabiku, Amar kudjundjung, nahi kutjegah, Kutjintai imam menundjuki daku, Pernah ditanja Imam Sjafii tentang Ali bin Abi Thalib da-lam masa pantjaroba itu. Ia lalu mendjawab : "Aku tidak akanberbitjara tentang seorang tokoh, jang oleh teman-temannja dira-hasiakan sedjarah hidupnja, dan oleh musuh-musuhnja disimpankarena amarah, Apa inikah sebahnja, maka petjintanja dengansetjara diam-diam memenuhi Timur dan Barat ?" Mengenai Imam Ahmad ibn Hanbal tjukup disebut, bahwaMasnadnja penuh dengan uraian-uraian mengenai keutamaan Ali.Ditjeriterakan orang bahwa ia pernah mengaranq sebuah kitabbesar mengenai keutamaan Ahlil Bait, dan naskah ini sampaisekaranq masih tersimpan dalam perpustakaan Masjhad ImamAli di Nedjef. Ditinriterakan diuqa, bahwa Imam Ahmad pernahmendiadi murid Imam Musa al-Kazim. Serjadah menerangkan, bahwa tidak ada suatu keluargaatau mazhab jang begitu baniak ditjintai orang seperti Ahlil Bait,ditjintai oleh orang hdup sampai kepada orana mati. Baniakulama-ulama menulis kitab-kitab tentang kedudukan dan kebe-sarannja, tidak terhituna banjak peniair jang membuat gubahan-gubahan ianq indah, pudjian dan sandiungan jg. mesra dan terasa,baniak ahli-ahli pidato iang mengeluarkan keutamaan dan ketjin-taannja ditengah orana ramai dan diatas mimbar, dan berdujun-duiun manusia setian tahun menziarahi kuburan-kuburannja, ri-buan bahkan ribu-ribuan.140
    • Tidak ada seorang muslim, baik di Barat maupun di Timurtidak, jang melakukan shalat kepada Tuhan ketjuali menjebutMuhammad dan keluarganja dalam salawat dan salamnja. Em-pat buah nama tidak terpisah dari hati seorang muslim, Muham-mad, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Nama 2 ini memasuki se-gala matjam utjapan hanja untuk beroleh berkat dan ketjintaanAhlil Bait, baik ia diutjapkan oleh orang kuat, orang daif, kulitputih atau kulit hitam, semuanja mengetuk djantung mereka ter-hadap Ahlil Bait. Kejintaan ini meluap-luap tiap masa dan tempat bahkan ter-dapat dalam kalangan mereka jang memusuhinja seperti Bani Umajjah, jaitu Umar bin Abdul Aziz, jang menukarkan tjutjimaki dalam chutbah Djumat terhadap Ahlil Bait dengan ajat Quran jang menjuruh berbuat adil dan baik sesama keluarga dansesama manusia. Kita akan perpendek uraian ini hanja dengan menjebut nama nama orang jang sadar dalam mengakui keutamaan Ahlil Bait itu, seperti Abui Faradj al-Asfahani dalam kumpulan sjair-sjairnja jang terkenal seluruh dunia, jaitu kitab "Al-Aghani", jang pulu-han djilid itu. Ia memudji Ahlil Bait, sedang ia seorang dari BaniUmajjah. Kita Wdak sebutkan nama penjair Abdullah Abu Adijang terkenal dengan nama Al-Ubali, kita tidak sebutkan Muawi- jah bin Jazid bin Muawijah, jang menumpahkan air mata diatasmimbar karena kesalahan ajah dan kakeknja terhadap keluarga Ali, kita tidak sebutkan Umar bin Hamaq, seorang sahabat besar jang dibunuh oleh Muawijah karena mentjintai Ahlil Bait, kitasengadja singkirkan Hadjar bin Adi jang mengorbankan dirinjadengan sahabat-sahabatnja, bahkan kita singkirkan semua namasekian ribu manusia, laki-laki perempuan dan anak-anak, jangmendjadi korban pedang Al-Hadjdjadj, hanja karena mereka ti-dak dapat melepaskan tjinta hatinja kepada keluarga Rasul Allah. 141
    • VI. QURAN DAN HADIS 143
    • 1. MASA-MASA P E N G U M P U L A N QURAN Ada tiga kali diusahakan orang menuliskan Al-Quran. Pertama mengumpulkan ajat2, baik dikala turunnja dan di-sampaikan Nabi, maupun dari mereka jang telah mentjacat atau menghafal wahju itu, dan pengumpulan ini, jang terdjadi sedjakmasa Nabi masih hidup, merupakan kepingan batu, tulang belu-lang dan pelepah korma kering. Penulisan itu diperlihatkan kepadaNabi sebelum disimpan dalam bungkusan mashaf, sebagaimanahafalan-hafalan sahabat itu djuga didengar dan diawasi oleh Nabi. Dismping orang-orang Anshar jang giat menjalin Al-Quran itu mendjadikan suhufnja, seperti Ubaj bin Kaab, Muaz bin Djabal, Zaid bin Sabit, dan Abu Zaid, kita dapati djuga menurutAbu Daud, Muhammad bin Kaab Al-Qarthi, Abu Darda, Ub-badah ibn Samit, Abu Ajjub, dan menurut Baihaqi djuga Saad binUbaid, Madjma bin Djari, terdapat banjak sekali sahabat-sahabatjang menghafal Quran atau wahju-whju itu sedjak hidup Rasul-ullah, seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Thalhah; Saad; IbnMasud; Huzaifah; Salim; Abu Hurairah, Abdullah bin Said,Abdullah bin Umar bin Chattab, Abdullah bin Umar bin As,Abdullah bin Abbas, Sitti Aisjah, Hafsah, Ummu Salmah, dardari Anshar seperti Ubbadah bin Samit, Muaz Abu Halimah,Madjma bin Djari, Fudhalah bin Ubaid dan Muslimah binMuchlid, serta banjak jang lain. Abu Daud menjebut nama-namaTamim nd-Dari dan Uqbah bin Amir, agar tidak dilupakan. Bagaimana rapinja Nabi mengawasi batjaan mereka ternjatadari sebuah tjeritera dari Ummu W a r q a h anak Abdullah binHaris, jang menerangkan, bahwa Rasulullah sering mendatanginjadan mendengar batjaannja, Nabi memudjinja dengan nama sja-hidah dan mengangkat wanita itu mendjadi imam dalam sukunja. Kedua, pengumpulan Quran dalam masa Abu Bakar danUmar jang disalin kembali keatas loh atau keatas barang 2 janglebih baik didjadikan tempat menulis wahju itu. Pengumpulan jangkedua ini, jang terdjadi karena perang Jamamah menentang Mu-sailamah, jang banjak membuat ajat-ajat Quran palsu, untukuntuk merusakkan wahju Tuhan jang sebenarnja berlaku dalamtahun pertama pemerintahan Chalifah Abu Bakar. Perang Jama-mah ini banjak mengorbankan sahabat-sahabat jang hafal Quran,dan oleh karena itu Umar ibn Chattab mengusulkan kepada AbuBakar, agar dimulai menulis dan mengumpulkan Al-Quran dalam Î45
    • sebuah mashat, jang terdiri daripada potongan kulit binatang jangsudah disamak. Zaid ibn Sabit mentjeriterakan, bahwa Abu Ba-kar mengirimkan seorang sahabat kepadanja, untuk mengumpul-kan ajat-ajat Quran atau menjalinnja dari hafalan-hafalan saha-bat jang terdapat belum mati itu (Buchari). Maka terdjadilahpengumpulan ini, meskipun masih banjak diantara ajat-ajat Quranitu jang diutjapkan dalam salah satu daripada tudjuh dialek ataulogat. Pengumpulan jang ketiga berlaku dalam masa Usman binAffan. Jang perlu kita tjeriterakan dalam masa pengumpulan iniialah usaha Usman mempersatukan batjaan-batjaan atau logat itudalam qiraah. Dalam ketiga masa pengumpulan ini Ali bin Abi Thalib mem-berikan sumbangannja jang besar, terutama untuk mentjegah ke-palsuan, jang mungkin diselundupkan orang kedalam wahju Tu-han itu. Ia hanja menerima wahju-wahju untuk ditulis, djika di-benarkan oleh dua orang saksi, dan dalam perbedaan bahasa iamengandjurkan mengambil bahasa Quraisj. Usman meminta mashaf jang ada pada Hafsah, anak Umarbin Chattab, dan memerintahkan Zaid bin Sabit, Abdullah binZubair dan Said bin As serta Abdurrahman bin Haris bin Hisjam menjalin mashaf itu. Usman berkata kepada tiga orang Quraisj itu, bahwa apabila mereka berselisih tentang bahasa de- ngan Zaid bin Sabit, ambil bahasa Quraisj, karena Quran itu di-turunkan dalam bahasa mereka (Az-Zandjani, hal. 44). Ada jang mengatakan, bahwa sebelum Usman memulai me-nuliskan Quran, dikumpulkan dua belas orang sahabat dari orang Quraisj dan Anshar untuk menegaskan kebenarannja. (Abu Daud- Ibn Sirin). Ali bin Muhammad At-Thaus dalam kitabnja "Sadus Suud",berdasarkan keterangan Abu Djafar ibn Mansur dan Muhammadbin Marwan, berkata, bahwa pengumpulan Quran dalam masaAbu Bakar oleh Zaid bin Sabit gagal, karena banjak dikeritik olehUbaj, Ibn Masud dan Salim, dan kemudian terpaksalah Usmanmengadakan usaha mengumpulkan ajat2 Quran lebih hati* dan sek-sama, dibawah pengawasan Ali bin Abi Thalib (Az-Zandjani, hal45). Maka pengumpulan Quran dengan pengawasan Ali bin AbiThalib inilah jang berhasil, karena pengumpulan itu, tidak sadja di-setudjui oleh Ubaj, Abdullah bin Masud dan Salim Maula AbuHuzaifah, tetapi djuga oleh sahabat 2 jang lain. Mashaf Usman ini-lah jang kita namakan Quran umat Islam sekarang ini, jang tidaksadja wahjua-nja benar seperti jang disampaikan Nabi, tetapi baha-sanja dan bunji utjapannja sesuai dengan aslinja. Usman membuatbeberapa buah diantara mashaf ini, sebuah untuk dirinja, sebuahuntuk umum di Madinah, sebuah untuk Mekkah, sebuah untuk146
    • Kufah, sebuah untuk Basrah dan sebuah untuk Sjam. ibn FaziuHah al-Umri pernah melihat mashaf Usman ini pada pertengahan abad ke-VIII H. dalam mesdjid Damsjiq (batja Maslikul Absar, 1: 195, t j. Mesir), dan banjak orang menjangka, bahwa naschah mashaf ini pernah disimpan dalam perpustakanan di Liningrad, jang kemu- dian dipindahkan kesalah satu perpustakaan di Inggeris (Az-Zan- djani, 46). Pengarang sedjarah Quran jang terkenal Abu Abdullah Az- Zandjani ini dalam kitabnja "Tarichul Quran", hal 46, menerang- kan bahwa ia pernah melihat dalam bulan Zulhidjdjah, tahun 1353 H. dalam perpustakaan, jang bernama "Darul Kutub Al-Alawijah", di Nedjef sebuah mashaf dengan chat Kufi, dan tertulis pada achir nja "Ditulis oleh Ali bin Thalib dalam tahun 40 Hidjrah". Al-Amadi At-Tughlabi, seorang ulama fiqh dan ilmu kalam, mgl. 617 H., menerangkan dalam kitabnja "AJ-AfkUrul Akbar", bahwa mashaf2 jang masjhur dalam zaman sahabat itu dibatjakankepada Nabi dan diperlihatkan kepadanja, Usman bin Affan adalahorang jang terachir memperlihatkan mashafnja kepada Nabi. IbnSirin mendengar Ubaidah As-Salmani berkata, bahwa batjaan jangdiperdengarkan kepada Nabi mengenai Quran pada saat 2 hampirwafatnja, adalah batjaan jang sampai sekarang dipergunakan orang. Djika ada pembitjaraan mengenai "Quran Ali" (jang sebenarnja mashaf Ali), jang berbeda dengan mashaf2 Ubaj bin Kaab (mgl. 20 H ) , Abdullah bin Masud (mgl. 32 H ) , mashaf Abdullahbin Abbas (mgl. 68 H) dan mashaf Abu Abdullah Djafar bin Mu-hammad As-Shadiq, adalah perbedaan mengenai susunan bahagianQuran, jang dinamakan "Surat", bukan perbedaan mengenai ajar2dan dialeknja, jang sesudah Ali dengan aktip turut menjusun mas-haf itu dalam masa Usman sudah tidak berbeda lagi. Djika ada perkataan jang menjebut "Quran Sjiah", jang dimaksudkan ialah mashaf asli Ali bin Abi Thalib atau mashaf asli imam Djafar Shadiq,jang sekarang tidak ada lagi sudah mendjadi mashaf Usmandengan idjma sahabat 2 Nabi ketika itu. Orang 2 Sjiah memakaiQuran Usman itu sebagaimana kita memakainja. Djadi tuduhan, bahwa Ali mempunjai Quran jang berlainanajat2-nja dari pada wahju jang diturunkan Tuhan kepada Muham-mad, dengan disaksikan oleh Sahabat, dan bahwa Quran itu,sesudah ditambah atau dikurangi, digunakan chusus oleh golonganSjiah, tidak benar sama sekali adanja. Tuduhan ini ditolak olehsedjarah dan oleh ulama 2 Sjiah sendiri, diantara lain oleh AbuiQasm Al-Chuli, pengarang tafsir Sjiah Imamijah jang terkenal"Al-Bajan fi Tafsiril Quran (Nedjef, 1957). Dalam djuz jangpertama, pada halaman 171 dan berikutnja, dikupas pandjang lebar,bahwa Ali bin Abi Thalib tidak mempunjai mashaf jang berlainanajata-nja dari mashaf2 Sahabat lain, ketjuali berlainan susunan Su- 117
    • ratnja. Mashaf Àii jang dipusakai dari Nabi, penuh diberi tjatatan 2mengenai tanzil, .masa dan sebab turun ajat, mengenai tawil, pe-ngertian dan maksud jang pelik, jang berasal dari keterangan Nabisendiri, selandjutnja mengenai ajat2 nasich dan mansuch, ajat2ahkam dan mutasjabihah (Tafsir As-Shafi, muk. V I : 11), menge-nai halal dan haram, mengenai had atau hukum sampai kepada tetekbengek (Muk. Tafsir Al-Burhan hal 27), ditolak semua oleh Al-Chuli tuduhan jang tidak benar itu (172-175). Al-Chuli mengatakan sebagai chulasah, bahwa penambahandalam mashaf Ali bukan ajat2 Quran, jang disuruh sampaikan olehNabi kepada ummatnja, dan bahwa tuduhan sematjam ini adalahtidak berdasarkan kepada dalil jang benar, karena dengan idjmadalam masa Usman sudah dihilangkan semua penjelewengan atautahrif. Lain halnja dengan tertib Surat atau pembahagian Quran atasSurat atau bab, jang sebagaimana kita sudah katakan diatas me-mang ada perlainannja antara satu mashaf dengan mashaf lainSahabat. Sebelum ada idjma Sahabat dan koreksi-mengoreksi,begitu djuga sebelum ada keputusan terachir pada pengumpulanpenghabisan oleh Usman bin Affan, jang Ali djuga turut aktif dida-lamnja, memang susunan tertib Surat agak menjolok dan berlain-lainan. Ali membahagi mashafnja atas tudjuh golongan Surat, kare-na disesuaikan dengan keterangan Nabi dan ajat Quran sendiri,bahwa Quran itu diturunkan dalam "saba masani", jang dalammemahaminja perkataan ini ber-beda 2 pendapat. Ada jang menga-takan, bahwa artinja itu tudjuh huruf, ada jang mengartikan tudjuhmatjam batjaan, ada jang mengatakan dalam tudjuan matjam dialekatau logat suku Arab, ada jang mengartikan dalam tudjuh matjamtudjuan, dan ada jang mengatakan dalam tudjuh Surat jang pan-djang atau tudjuh surat jang berisi pokok kejakinan Islam. Oleh karena itu Ali bin Abi Thalib membahagi surat 2 dalammashafnja kepada tudjuh penggolongan, sedang Usman lebihmengutamakan pembahagian surat itu dalam bentuk didahulukansurat 2 pandjang, ketjuali Fatihah, jang memang merupakan penda-huluan dari Quran, kemudian ber-angsur 2 disusul dengan surat 2jang makin lama makin pendek sampai kepada achir Quran. Pem-bahagian Quran dalam tiga puluh djuz mungkin diperbuat denganmenghitung huruf dan mungkin pula untuk memudahkan membatjaannja dalam tiga puluh hari, tiap 2 djuz dibagi dua, nisfu namanja,tiap 2 nisfu dibahagi empat, rubu namanja, dan tiap 2 rubu dibagidua pula, sumun namanja, semuanja untuk memudahkan merekajang mengambil batjaan Quran itu sebagai wirid pagi dan petang,dan djuga untuk memudahkan mereka jang mempeladjarinja ataujang menghafalnja.148
    • Ali bin Abi Thalib rupanja lebih mendasarkan pembahagiannjakedalam tudjuh djuz, jang kedalam tiap 2 djuz dimuat surat 2 menurutterdahulu dan terkemudian turunnja. Sebagaimana sahabat lain,seperti Ubaj bin Kaab, Ibn Masud, Ibn Abbas dan Djafar binMuhammad As-Shadiq, pembahagian Ali ini didasarkan atas idjti-had sendiri, karena Nabi tidak menentukan tertib surat itu, hanjaada ia menentukan ajat2 dalam masing 2 surat, baik jang turun diMekkah atau jang turun di Madinah. Pembahagian Ibn Abbas dan Imam Djafar hampir sama de-ngan pembahagian mashaf Ali, karena Ibn Abbas itu menurut IbnThaus adalah murid dari Ali bin Abi Thalib. Ibn Abbas adalah se-orang jang sedjak ketjilnja sudah dipastikan Nabi mendjadi seorangahli Quran dan ahli tafsir, jang sangat boleh dipertjajai. Sudah kita djelaskan, bahwa mashaf Ali termasuk mashaf jangtertua, karena sudah terkumpulkan dalam masa hidup Nabi, meskipun belum sempurna. Mungkin mashaf inilah jang terdapat padaImam Djafar, jang pernah dilihat oleh pengarang sedjarah QuranAz-Zandjani pada Abu Jala Hamzah al-Husaini dgn. chat tanganAli sendiri, jg. kemudian mendjadi hak waris Banu Hasan, dan jg.tertib suratnja dimuat ke/ibali dim. kitab Az-Zandjani tsb., jangdalam naschah jang ditjetak di Leipzig dari th. 1871-1872 kelupaanmenjebut tertib suratnja. Tetapi untunglah Jakubi (mgl. 278 H.),dalam kitab sedjarahnja, jang disiarkan oleh Houtsma, djuz ke I,halaman 152-154 (tj. Brill di Leiden), menjebutnja kembali, sehingga kita dapat memperbandingnja. Pada pemulaannja mashaf Ali tidak memuat surat fatihah, teta-pi mashaf Ubaj memuatnja, jang agaknja kemudian oleh idjma sa-habat dalam masa Usman lalu ditetapkan memang ada disampaikanNabi surat Fatihah itu,.lalu dimuat dalam Quran atau mashaf Us-man sebagai surat pertama, dan Ali menjetudjuinja. Demikianlah beberapa tjatatan sedjarah sebelum mashaf Us-man ditetapkan, dan sebagaimana jang kita katakan, sesudah m a -haf ini, jang sampai saat ini terpakai oleh semua orang Islam drnaliran Islam sebagai Kitabullah, ditetapkan dengan idima sahabat 2besar dan qurra 2 jang diakui, baik Ali maupun Imam Djafar, mau-pun Sjiah umumnja, menganggap mashaf Usman itu satu2nja mas-haf jang mutamad dan sah, serta digunakan oleh mereka sampaisekarang ini. Tentang masa dan tempat turun ajat dan surat, di Mekkahatau di Madinah, tidak banjak terdapat perselisihan paham dianta-ra sahabat 2 Nabi, karena banjak jang mengetahuinja. Nöldekebanjak menulis tentang hal ini.
    • Ibn Isjtah dan Ibn Ali Sjaibah, jang pernah mendengar dari IbnSirin dan Ubaidah As-Salmani, menerangkan, bahwa mashaf Us-man itu ditulis dengan batjaan sebagaimana jang didengar dari mulut Nabi, dan batjaan atau qiraat itu adalah sesuai dengan batjaanatau qiraat jang digunakan orang sekarang ini (Az-Zandjani, 17). Perbedaan jang ketjiF, jang biasa terkenal dengan "qiraat to-djuh", tidak penting dibitjarakan, dan tidak mengubahkan arti sertapengertian. Qiraat Nafi dan murid2nja Qalun dan W a r a s , begitudjuga Ibn Kasir, Qumbul, Abu Umar, Dauri, Saudi, Ibn Amir;Hisjam, Ibn Zakwan, Abu Bakar Sjubah, Hafas, Hamzah, Chalaf;Chulad, Kasai dan Abui Haris a!-Laisi, hanja berbeda satu samalain tentang pandjang pendek batjaan, hubungan kalimat dengankalimat, bunji beberapa huruf hidup dan mati, dan sama sekali tidakmengubahkan batjaan atau tahrif.un
    • 2. ALI D A N Q U R A N Salah satu propaganda anti Sjiah jang berhasil dalam zamankekatjauan aliran Islam, dan jang gemanja djuga sampai sekarangmasih terdengar, bahkan djuga di Indonesia dalam kalangan jangtidak kenal sedjarah Islam, ialah bahwa Sjiah mempunjai Qurantersendiri jang berbeda isinja dengan Quran jang dipakai olehorang Islam umum. Dengan demikian dinjatakan, bahwa Quranjang didjadikan sumber hukum oleh orang-orang Sjiah itu adalahpalsu. Bukan maksud saja dengan uraian ini membela golonganSjiah dalam segala alirannja, tetapi sebagai penulis sedjarah inginmenerangkan duduk perkara jang sebenarnja. Pendjelasan ini ter-utama bagi Indonesia saja angap perlu, karena penggunaan kataQuran dan Mashaf di Indonesia ditjampur adukkan orang. Qur-an adalah kumpulan wahju Tuhan, sedang mashaf adalah kum-pulan tulisan mengenai wahju Tuhan dalam bentuk lembarankertas. Sebenarnja segala sesuatu mengenai Quran, baik sedjarahturunnja wahju, sedjarah pengumpulannja dan penjusunan Qur-an dan penulisan mashaf, penterdjemahan serta penafsirannja,sudah saja bitjarakan dalam sebuah kitab chusus mengenai per-soalan ini, jang saja namakan "Sedjar>ah Al-Quran," tjetakanterachir di Djakarta 1953, tetapi belum saja tindjau dari sudutpendirian golongan Sjiah. Bahwa Als bin Abi Thalib mempunjai bahagian dan kedudu-kan penting dalam penjusunan Al-Quran bukanlah suatu perso-alan jang mesti dipertengkarkan, baik ulama-ulama Sjiah, ulam -ulama Ahlus Sunnah, maupun ulama 2 aliran lain dalam Islam, se-muanja mengakui, bahwa Ali-lah jang mengetahui paling lengkrptentang turunnja wahju-wahju Tuhan kepada Nabi MuhammaJ,karena dialah jang mengikuti Nabi sedjak permulaan keangkatan-nja mendjadi Rasul dan selalu berdampingan dengan Rasulullahsebagai keluarga terdekat dalam segala keadaan. Disampng ituia termasuk penulis-penulis wahju, jang ditundjuk oleh Nabi un-tuk mentjatat tiap-tiap ada wahju turun, baik siang ataupuimalam hari. Sahabat-sahabat dalam masa Nabi banjak jang sudah talmmenulis, dan kesenian menulis ini oleh Rasulullah sangat diper-kembangkan. Bangsa Arab jang sudah tinggi kebudajaannja sebi- i 51
    • lum Islam, sudah menggunakan huruf Hiri, suatu kota kebudajaanjang letaknja kira-kira tiga mil dari Kufah, dekat Nedjef sekarangini, dan oleh karena itu dinamakan djuga huruf Kufi, begitu djugahuruf Anbari, suatu kota dekat sungai Eufrat, tiga puluh mil se-belah barat Baghdad, semuanja berasal dari kemadjuan kebuda-jaan Arab Kindah. Dari sebuah riwajat dari Ibn Abbas diterang-kan asal-usul huruf ini masuk ketanah Hedjaz dari Jaman (Kin-dah), bahkan sedjarah pemakaian huruf ini sampai kepada Thari,kepada Chafladjan, penulis wahju jang diturunkan kepada NabiHud. Abu Abdullah az-Zandjani menerangkan, bahwa chat ini di-masukkan oleh Nabi Muhammad ke Madinah melalui orang-orangJahudi, jang mengadjarkan anak-anak Islam menulis. Ada sepuluhorang diantara kaum muslimin jang ahli dalam huruf ini diantara-nja Said bin Zararah, Munzir bin Umar, Llbaj bin W a h a b , Zaidbin Sabit, Rafi bin Malik dan Aus bin Chuli, jang kemudianditambah dengan tawanan Badr, jang mengadjarkan huruf-hurufini kepada anak-anak Islam. Bahwa wahju-wahju jang turun kepada Nabi ditulis dan di-tjatat orang merupakan mashaf simpanannja masing-masing, ti-daklah mengherankan, karena ada empat puluh tiga orang jangditugaskan menulis wahju itu dengan chat Nasach, diantaranjajang termasjhur ialah Chalifah Empat Abu Bakar, Umar, Usmandan Ali, selandjutnja Abu Sufjan dengan dua anaknja Muawijahdan Jazid, Said ibn Ash dan anaknja Aban dan Chalid, Zaid binSabit, Zubair bin Awam, Thalhah bin Ubaidillah, Saad bin AbiWaqqas, Amir bin Fahirah, Abdullah ibn Arqam, Abdullah binRawahah, Abdullah bin Saad bin Abi Sarah, Ubaj bin Kaab,Sabit ibn Qais, Hanzalah ibn Rabi, Sjurahbil bin Hasanah, Ulabin Hadrami, Chalid ibn Walid, Amr ibn Ash, Mughirah binSjubah, Muaiqib bin Abi Fathimah Ad-Dausi, Huzaifah ibnJaman, Huwaithib bin Abdul Uzza AI-Amiri, baik dalam masaNabi maupun sesudah wafatnja. Meskipun demikian jang tetap mengikuti Nabi dan jang di-perti; janja adalah tjatatan dua orang, jaitu Zaid bin Sabit danAli bin Abi Thalib. Demikian kata Az-Zandjani, dan menambah-kan, bahwa banjak riwajat-riwajat menerangkan, kedua orangitulah jang dengan sungguh-sungguh menghadapi penulisan daApengumpulan wahju itu. Buchari meriwajatkan dari Barra, bahwa tatkala turun wahju "tidak sama orang mumin jang diam dengan mereka jang menderita kemelaratan dan jang berdjihad diatasdialan Allah" (Surat An-Nisa), Nabi dengan segera berkata: "Panggil Zaid datang kepadaku, membawa luh, tinta dan tulang belikat unta", dan sesudah Zaid datang, ia berkata: "Tulislah selengkapnia ajat ini" (Zandjani, hal. 20).152
    • Dalam sebuah tjeritera, Umar diperingatkan orang bahwaadiknja Fathimah telah masuk Islam. Umar marah dan pulangkerumahnja, didapatinja pada adiknja itu wahju tertulis diatasperkamen sedang dibatjanja. Hal ini terdjadi dikala Umar belummasuk Islam, dan karena membatja wahju jang tertulis itu, ia lalumasuk Islam. Semua itu menundjukkan, bahwa Rasulullah menghendakiQuran itu ditulis dan penulisan itu sudah dimulai dalam masa hi-dupnja dan dengan petundjuk serta pengawasannja. Dalam masa Rasulullah Quran itu ditulis diatas tulang-be-lulang, kepingan batu, potongan daun atau kain, atjapkali djugadiatas kain sutera atau kulit kering dan diatas tulang belikat unta.Sudah mendjadi kebiasaan bangsa Arab menulis tjatatan demikiandan menamakannja "suhuf", bungkusannja dinamakan "mashaf".Sahabat-sahabat penting mempunjai mashaf itu setjara lengkapatau tidak. Djuga untuk Nabi diperbuat mashaf itu dan disimpandirumahnja. Muhammad ibn Ishak menerangkan dalam "Fihrist"-nja, bahwa Quran jang ditulis dihadapan Rasulullah itu adalahdiatas batu, tulang dan belikat unta. Buchari menerangkan, bah-wa Zaid bin Sabit pernah mengatakan : "Kutjahari Quran itudan kukumpulkannja dari batu, tulang dan dari hafalan orang." Al-Isjasji, seorang ahli Tafsir Imamijah, menerangkan da-lam Tafsirnja, bahwa Ali bin Abi Thalib pernah berkata : "Ra- sulullah mewasiatkan kepadaku, bahwa sesudah kukuburkan dia aku tidak keluar dari rumahku hingga aku menjusun Kitab Allah itu, jang tertulis pada pelepah korma dan pada tulang belikat unta". Sebuah riwajat dari Ali bin Ibrahim bin Hasjim Al-Qummi, seorang ahli Hadis Imamijah jang termasjhur, menerangkan, bah- wa Abu Bakar Al-Hadhrami pernah mendengar Abu Abdillah Djafar bin Muhammad bertjeritera, bahwa Nabi ada berpesan kepada Alim bin Abi Thalib; "Hai, Ali ! Quran itu ada dibelakang tempat tidurku dalam suhuf, sutera dan kertas. Ambil dan susun- lah baik-baik, diangan engkau hilangkan sebagaimana Jahudi menghilangkan Taurat". Ali memungut Quran itu dan mengum- pulkannia dalam satu bungkusan kain kuning kemudian ditjapnja. Al-Haris Al-Muhasibi menerangkan, bahwa mengumpulkan Quran itu bukanlah suatu perbuatan bidah tetapi terdjadi atas perintah Nabi, dan djuga meletakkan ajat-ajat pada tempatnja atas petundjuk Nabi sendiri. Meskipun jang menulis wahju banjak dalam zaman Nabi. tetapi jang mengumpukannja hingga lengkap merupakan mashaf tidak berapa oranq. Jang dianqaap pengumpul ianq aqak lenqkap oli>h Muhammad bin Ishak ialah AK bin Abi ThMib. Saad bin UHvd bin Nnman Al-Ausi, wafat dalam perang Qadisiiah tahun 15 H., Abb Dferda Uw&imir bin Zaid, beroleh langsung dari Nabi. 153
    • wafat tahun 32 H., Muaz bin Djabal bin Aus, jang dinamakanNabi imam ulama, wafat tahun 18 H., Abu Zaid Sabit ibn Zaidbin Numan, Ubaj bin Kaab bin Qais, seorang jang sangat dipu-dji Nabi Nabi batjaannja, mgl. di Madinah tahun 22 H., Ubaidbin Muawijiab., dan Zaid bin Sabit, penulis wahju Rasulullah dandjuru bahasanja, mngl. tahu n 45 H. Zaid bin Sabit adalah seorangjang sangat ditjintai oleh Nabi dan dihormati oleh Ahlil Baitnja. Demikian bunji satu riwajat tentang mereka jang mengumpul-kan Quran dalam masa Nabi, jang kurang sempurna disempur-nakan sesudah wafat Nabi. Banjak riwajat lain jang berbedadjumlah dan namanja, tetapi Al-Chawarizmi berdasarkan ketera-ngan Ali bin Rijah menerangkan, bahwa jang lengkap mengum-pulkan Quran dalam masa Rasulullah ialah Ali bin Abi Thalibdan Ubaj bin Kaab. Riwajat-riwajat menundjukkan, bahwa Ali bin Abi Thalibadalah orang jang mula-mula menulis Quran menurut tertib turunajat, mentjatat ajat mansuch terlebih dahulu dari nasich danmemberikan tjatatan 2 lain dalam mashafnja. Hal ini ditjeriteritera-kan diuga oleh Ibn Sirin. Djucw dibenakan oleh Ibn Hadjar, bah-wa Ali menjusun Quran menurut tertib turun ajat. beberapawaktu dibelakang wafat Nabi Muhammad. Dalam kitab SjarhAl-Kafi Salih Al-Qazw ; ni dari Ibn Qais A!-Hilali menerangkan,bahwa Ali bin Abi Thalib sesudah wafat Nabi tidak keluar darirumahnja karena menjusun Quran dan mengumpulkannja sampaiselesai semuanja. Kemudian ia menulis tjatatan aiat-aiat nasichdan mansuch. aiat-aiat muhkamah dan mutasiabih. Kata ImamMuhammad bin Muhammad bin Numan, salah seorang ulamaSjiah terbesar, dalam kitabnja "Al-Irsjad". bahwa Ali dalammashafnja mendahulukan aiat-aiat mansuch dari aiat-aiat nasich.dan menulis tawil aiat-aiat serta fats-rnia dengan terperintji. Siahrastani dalam mukaddimah Tafsirnia menernakan. bah-wa semua sahabat sepakat ilmu Quran itu chusus buat Ahlil Bait.Beberapa sahabat bertanja kepada Ali bin Abi Thalib. apakahilmu penoetahuan Ouran hania dchususkan keDada Ahlil Bait.Ali mendiawab, bahwa ilmu tentanq Quran, masa dan sebab-se-bab turunnia, begitu djuqa tawilnja, chusus buat Ahlil Bait.karena merekalah orang-nrano iann terdekat dennan Nabi Mu-hammad (Az-Zandjani, Tarichul Quran, Cairo. 1935. hal. 26).!54
    • 3. AHLI TAFSIR SJIAH Baik orang Sjiah maupun orang Ahli Sunnah menganggapAli bin Abi Thalib adalah ahli tafsir Quran jang pertama dalamsedjarah Islam, karena ia masih mendapati Nabi jang selalumemberi petundjuk dalam pengertian dan tarif daripada wahju-wahju Tuhan jang mengatasi paham manusia biasa. Sudah kitakatakan, bahwa Ali tidak sadja berdjasa mengawasi pengumpulanajat-ajat Quran, tetapi djuga mempunjai pengetahuan tentangsedjarah turunnja ajat dan surat, tentang ajat hukum dan mutasja-bih, ajat nasich dan mansuch, bahkan ada riwajat jang mengata-kan, bahwa ia mempunjai enam puluh matjam ilmu Quran, dansebagaimana jang sudah kita katakan, mashafnja penuh dengandengan tjatatan 2 , seperti masih dapat dilihat beberapa lembar daripadanja dalam perpustakaan di Nedjef. Seperti sudah kita terangkan bahwa Ali bin Abi Thalib ada-lah salah seorang sahabat jang paling banjak meriwajatkan ten-tang Quran, sedang Ibn Abbas iang mendiadi murid Ali, pernahbertieritera, bahwa Ali bin Abi Thalib adalah orang jang sangattahu tentang ilmu lahir dan ilmu ghaib dari Al-Quran jang mulia.Sedjarah hidup Ali tidak kita ulang lagi disini. Salah seorang dari Ahli Tafsir Sjiah adalah Ubaj bin Kaabdari golongan Anshar. Sajuti menghitungnja dalam karangannjajang terkenal "Al-Itqan" termasuk djumlah sepuluh orang ahlitafsir dari sahabat kurun pertama, dan Nabi sangat mentjintai-nja. Ia meninggal tahun 30 H. Abdullah bin Abbas adalah anak paman Nabi, jang sedjakketjil sudah diramalkan oleh Nabi mendjadi seorang ahli ilmuQuran, dan djuga jang oleh Sajuthi dimasukkan sahabat sepuluhkurun pertama, jang hafal dan ahli Quran. Ada orang mengata-kan bahwa ia orang jang ahli tentang tafsir daripada TabiinMekkh. Tafsirnia sampai sekarang masih didapat orang dan ter-kenal dengan "Tafsir Ibn Abbas", ia meninggal tahun 68 H.Orang 2 Sjiah menganggap tafsir itu mutamad dan banjakdigunakan untuk menguatkan pendirian 2 nja. Dari golongan Tabiin sesudah itu kita sebutkan namanama Maisam bin Jahja at-Tamanar (mgL 60 H . ) , seorang chatibSjiah janq terkenal di Kuffah dan seorang ahli ilmu Kalam :Said bin Zubair (mgl. 94 H.) jang pernah menjusun sebuah tafsirQuran dan banjak dipetik orang pendapatnja. Abu Saleh Miran 153
    • dari Basrah (mgl. sesudah abad pertama hidjrah), murid IbnAbbas, Thaus Al-Jamani (mgl. 106 H.) djuga murid Ibn Abbas,jang oleh Ibn Tajmijah, Ibn Quthaibah dall sangat dipudji ketjer-dasannja dan dimasukkan kedalam golongan sahabat Ali. Kemudian dapat kita sebutkan sebagai ahli-ahli jang ulungialah Imam Muhammad al-Baqir (mgl. 114 H . ) . Ibn Nadim ba-njak menjebutkan nama-nama kitabnja mengenai tafsir dan ilmu-ilmu Quran jang lain. Abdul Djarud, seorang Sjiah jang terkenalbanjak meriwajatkan sesuatu dari Al-Baqir mengenai Quran. Ti-dak kurng pentingnja kita sebutkan nama Djabar bin Jazid Al-Djufi, jang menulis djuga sebuah tafsir dan ia meninggal tahun127 H. Suda Al-Kabir, nama jang sebenarnja Ismail bin Abdur-rahman, djuga mempunjai sebuah tafsir jang oleh banjak orangdidjadikan sumber keterangan mengenai ilmu Quran. Untuk dja-ngan keliru kita bedakan antara Suda As-Saghir bukan seorangSjiah dan Suda Al-Kabir adalah seorang ahli tafsir Sjiah jangterkenal (mgl. 127 H ) . Saja tidak ingin menjebutkan semua ahli tafsir Sjiah itu di-sini dengan perintjian sedjarah hidupnja, karena terlalu banjak.Dari penjelidikan saja dan dibenarkan oleh beberapa keteranganahli sedjarah Islam, ternjata orang-orang Sjiah banjak terkenalsebagai ulama dalam segala bidang, dan giat mengarang dalambermatjam-matjam ilmu sedjak hari-hari pertama atau kurun per-tama. Terutama dalam ilmu Quran jang pada waktu itu merupakanpersoalan jang sangat penting, banjak terdapat pengarang-penga-rang Sjiah jang terkemuka. Sedangkan selandjutnja sebagai ahlitafsir kita sebutkan Abu Hamzah As-Samali, Tabiin dan mening-gal 150 H., Abu Djunadah As-Saluli (mgl. pada pertengahan abadke II H.), Abu Ali Al-Hariri (mgl. idem), Abu Alin bin Faddal,Abu Thalib bin Shalat (mgl. achir abad ke II), Muhammad binChalid Al-Barqi (mgl. idem), Hisjam bin Muhammad As-SaidAl-Kalbi (mgl. 206 H.), Al-Waqidi (mgl. 207 H ) , Junus bin Ab-durrahman Ali Yathin, Hasan bin Mahbub As-Sarfad (mgl. 224H.), Abu Usman Al-Mazani (mgl. 248 H ) , Muhammad bin Mas-ud Al-Ajasji, Farrad bin Ibrahim, Ali bin Mahzïar Al-Ahwazi,Husain bin Said Al-Ahwazi, Hasan bin Ahwazi, Hasan bin Cha-lid Al-Barqi, Ibrahim As-Saqafi (mgl. 283 H ) , Ahmad bin Asadi,hampir semua keluarga Al-Qummi mengarang tafsir, Al-Djaludi,As-Suli, Al-Diurdjani, Al-Musawi, Ibn Numan, At-Thusi, At-Tabrasi, Ar-Rawandi (mgl. 573 H ) , Al-Fatral Asi-Siirazi (mgl.948 H ) , As-Sabzawari (mgl. 910 H ) , Azäwari, Al-Masjadi, Al-Hamdani, Al-Bahrani (mgl. 1107 H ) , Djawad bin Hasan Al-Ba-laghi (mgl. 1302 H ) , dll, masing-masing mengarang tafsir Quran156
    • jang ditindjau dari segala sudut ilmu. Ada jang lutju, kadang-ka-dang orang Salaf jang menamakan diri anti Sjiah, menggunakantafsir Sjiah dengan tidak mengetahui pengarangnja. Sebagaimana dalam ilmu tafsir, kita dapati pengarang-penga-rang Sjiah jang ulung dalam ilmu Quran jang lain, misalnjadalam ajât-ajat hukum chusus mengenai mazhab Sjiah sepertipengarang Al-Kalbi, (mgl. 146 H ) , Ar-Rawandi (mgl. 573 H ) ,As-Sajuri (mgl. 792 H ) , Al-Ardabli (mgl. 993 H ) , Al-Kazimi (mgl. abad ke II H ) , Astrabadi (mgl. 1026 H ) , Al-Djazuiri (mgl.1151 H ) , dll. jang kitabnja sekarang dipakai diseluruh dunia. Djuga dalam ilmu Quran lain terkenal ulama-ulama Sjiah,misalnja mengenai ajat-ajat Mutasjabih, seperti Hamzah bin Habib (mgl. 156 H ) , meskipun menurut Sajuthi orang jang mula-mulamengarang dalam ilmu ini ialah Al-Kasai |mgl. 182 H ) , kedua-duanja adalah djuga Ahli Qiraat Tudjuh. Kemudian terkenalnamanja Muhammad bin Ahmad AI-Wazir (mgl. 433 H ) , IbnSjahras-sjaub al-Mazandra (mgl. 588 H) dll. Dalam Gharibul Quran adalah Aban Ibn Tughlab (mgl. 141H ) . Ada orang mengatakan Abu Ubaidah (bukan Sjih), tetapiAbu Ubaidah meninggal tahun 200 H, kemudian dari masa IbnTughlab. Selandjutnja iang menqarann dalam bidang ini ialahMuftadhal Salmah, Ibn Darid (mgl. 321 H),Abui Hasan al-AdawiAsj-Sjamsjathi (mgl. permul. abad ke I V ) , semuanja ulama Sjiah. Karangan-karangan mengenai Asbabun Nuzul dihari-hari per-tama djuga diperbuat oleh golongan Sjiah, seperti Ibn Abbas(mgl. 67 H ) , Muhammad bin Chalid al-Barqi (mgl. achir abadke II H ) , Ibrahim bin MuhammUd As-Sakaji (mgl. 283 H ) , Ab-dul Aziz bin Jahja al-Djaludi (mgl. 330 H ) , Ibnul Hidjam dalamabad jang ke IV, djuga semuanja ulama Sjiah. Selandjutnja mengenai nasich dan mansuch djuga jang mula2dan banjak mengarang orang-orang Sjiah, seperti Abdurrahmanal-Asam (abad ke II), Ad-Darimi (abad ke II), Ibnal Kadri (mgl.146 H) atau anaknja Hisjam (mgl. 206 H ) . Ibnal Fadhal mem-punjai kitab nasich dan mansuch, sebagaimana Al-Qummi, baikAhmad bin Muhammad maupun Ali bin Ibrahim, selandjutnja pe-ngarang Sjiah jang ternama djuga didalam bidang ini ialah Al-Djaludi (mgl. 330 H ) , dan Suduq bin Babuwaih al-Qummi (mgl.381 H ) . Dalam ilmu Madjazul Quran jang memulainja ialah ulamaSjiah, seperti Ibn al-Mustanir (mgl. 206 H ) , pendeknja dalamsegala bidang ilmu Quran, seperti ilmu mengenai pembahagianQuran, ilmu mengenai ajat Quran, ilmu mengenai maksudQuran jang aneka warna dengan asal-usulnja, ilmu me-ngenai perhentian membatja dan menjambung ajat Quran. 157
    • iimu mengenai wakaf, ilmu mengenai irab, ilmu menge-nai sedjarah titik dan baris, ilmu mengenai fadilat mem-batja Quran (ada jang mengatakan Ubai bin Kaab jangmeninggal 30 H ) , ada jang mengatakan Muhammad Idris Asj-Sjafii (mgl. 204 H ) , ilmu bermatjam-matjam qiraat, ilmu tadjwid,dan ilmu-ilmu lain mengenai kitab sutji, jang terbanjak ditulis olehulama-ulama Sjiah dan mereka djuga jang memulainja. Mengenainama-nama kitabnja saja tidak sebutkan disini, karena sangat ba-njaknja. Saja hanja mempersilahkan saudara membatjanja dalamkitab "Ajanusj Sjiah", djuz I, bahagian ke 2, halaman 53—74(Beirut, 1960).158
    • 4. HADIS D A N DJAFAR SADIQ Dalam uraian-uraian jang telah sudah, telah kita djjelaskan,bahwa kedudukan Imam Dja far As-Shadiq mengenai pendidikanulama-ulama Ahlul Hadis dan Ahlur Raji atau Ahlul Qijas, janglama kelamaan merupakan imam-imam mazhab jang terpenting,seperti Malik bin Anas dan Abu Hanifah dll. Mazhab-mazhab ituada jang menggabungkan dirinja dalam ikatan Ahlus Sunnah, adajang dalam ikatan mazhab Ahlul Bait, karena dalam hukum fiqhingin melandjutkan tjara berpikir Imam Djafar As-Shadiq, jangmereka namakan Figh Al-Djafari, dengan mengutamakan hadis-hadis riwajat Ahlul Bait atau perawi-perawi dari ulama-ulama Sjiah sendiri. Dalam salah satu bahagian kita sudah djelaskan, bahwa tidak kurang dari empat ratus orang muridnja jang mengarang kitab-kitab fiqh menurut djalan ini. Usul fiqh untuk mazhab Al- Djafari ini, jang terkenal dengan pokok persoalan empat ratus, dikumpulkan dalam empat buah kitab besar, jang masing-masing bernama Al-Kafi, Al-Istibsar, At-Tahzib dan M a La JahdhuruhuI Faqih. Inilah kitab-kitab hadis jang terbesar dan mendjadi pokok bagi ulama-u?ama Sjiah jang terkenal dengan Kitab Empat se- bagaimana terkenal dengan Kitab Enam dalam pengumpulan ha- dis bagi penganut Ahlus Sunnah. Imam Djafar As-Shadiq sangat bidjaksana sekali dalammentjiptakan ulama-ulamanja, jang kemudian disiarkan keseluruhnegara Islam untuk membasmi kejakinan-kejakinan jang salah,memerangi sifat ilhad dan zindiq, berdebat tentang aqidah jangtidak benar, mengalahkan firqah-firqah jang menjeleweng dariadjaran Islam dalam masa pantjaroba dan zaman kekatjauan po-litik dan agama itu. Ulama-ulamanja terdapat di Irak, Churasan,Hamas, Sjam, Hadramaut, dll., terutama di Kufah dan Madinahdimana bibit kejakinan Sjiah ini sudah tertanam dan tumbuhdengan suburnja. Imam Djafar mempersiapkan ulama-ulama muridnja menurutpembawaannja masing-masing dan menurut kebutuhan daerah,jang mengirimkan utusan kepadanja. Oleh karena pengetahuan-nja sangat luas dalam segala bidang, mudah baginja melakukanhal jang demikian itu. Ulama-ulamanja ada jang diuntukkan me-ngadjar, ada jang diuntukkan buat berdebat dsb. Aban ibn Tughlab dichususkan pendidikannja untuk ilmu 159
    • hqh, dan diperintahkan duduk dalam mesdjid memberi fatwa kepada orang bânjak dalam hukum fiqh, Hanaran bin Ajun di- tugaskan mendjawab masalah-masalah jang bertali dengan ilmu Quran, Zararah bin Ajun untuk berdebat dalam fiqh, Mumin at-Thaq dalam masalah ilmu kalam, Thajjar dalam perkara amal ketaatan, Hisjam bin Hakam dalam berdebat mengenai immamah dan itikad Sjiah dsb. Maka mengalirlah orang-orang itu ketiap- tiap kota untuk menghadapi manusia dan berdawah menurut mazhab Ahlil Bait. Tidak tjukup tempat untuk menjebutkan nama ulama-ulama itu satu persatu, serta sedjarah perdjuangannja. Meskipun demi- kian beberapa tokoh terpenting akan kita bitjarakan dibawah ini. Aban bin Tughlab bin Ribah, jang digelarkan Abu Said al- Bakri al-Djariri (mgl. 141 H ) , adalah ulama jang sangat terhor- mat dalam kalangan Sjiah. Ia pernah beladjar pada Imam Zainal Abidin, Al—Baqir dan As-Shadiq. Ia mempunjai madjlis penga- djaran chusus dalam mesdjid. Ia ulama fiqh Imamijah jang terke- nal menurut pendapat Jaqut, meriwajatkan banjak hadis dari Ali bin Husain, Abu Djafar dan Abu Abdullah, fasih bahasa Arab, banjak mengetahui tentang pengertian Al-Quran, menurut Ahmad ibn Hanbal boleh dipertjajai benar utjapannja, seorang jang tinggi adabnja, hadis riwajatnja banjak diambil oleh Muslim, Tarmizi, Abu Daud, An-Nasai dan Ibn Madjah. Diantara gurunja djuga ialah Al-Hakam bin Utaibah al-Kin-di (mgl. 115 H ) , salah seorang perawi dalam Kitab Enam hadisAhlus Sunnah, Fudhail bin Umar al-Fuqaimi (mgl. 110 H ) , janghadisnja banjak dipetik oleh Muslim, dan Abu Ishaq Umar binAbdullah al-Hamdani (mgl. 127 H ) , salah seorang ulama Tabiindan perawi hadis dalam Kitab Enam. Banjak muridnja tersiar dimana-mana dan mendjadi ulama-ulama besar, seperti Musa bin Uqbah al-Asadi (mgl. 141 H ) ,salah seorang jang riwajat hadisnja banjak dimuat dalam KitabEnam, Sjubah bin al-Hadjdjadj, Hammad bin Zaid al-Azadi,seorang ahli hadis jang terkenal (mgl. 197 H ) , mendapat pudjiandari Ibn Mahdi dan Imam Ahmad tentang kedjudjurannja, Sufjanbin Ujajnah, jang riwajat hidupnja sudah dimuat dimana-mana.Muhammad bin Chazim at-Tamimi (mgl. 195 H ) , djuga banjakdigunakan orang riwajat hadis-hadisnja, termuat dalam KitabEnam, oleh Ahmad Ibn Hanbal, oleh Ishak bin Rahuwaih, IbnMadani dan Ibn Muin, terutama hadis-hadisnia jang d : hafalnjadari Al-Amasj, dan Abdullah ibn Mubarak al-Hanzali (mgl. 181H ) , seorang ulama besar jang sangat dipertjajai, pernah menje-lidiki hadis dan menulisnja dari empat ribu ulama. Semua ulama-ulama hadis ini dipudji oleh Ibn Hadjar danAl-Chazradji d a l a * kitab-kitabnja jang terkenal.160
    • Àban bin Tughlab menghafai tidak kurang dari tiga ribu ha-dis dari Imam As-Shadiq, ahli dalam fiqh Al-Djafari atau mazhabAhlil Bait, termasuk tokoh Sjiah jang terpenting. Atas pertanjaanAbu Balad, Aban menerangkan, apa arti Sjiah padanja. Katanja:"Sjiah itu ialah golongan manusia jang memegang kepada utja-pan Ali, apabila tentang sesuatu masalah dari Nabi dipertengkar-kan orang, dan memegang kepada utjapan Djafar bin Muhammad,apabila orang sudah mempertengkarkan utjapan dan sikap Ali"(Asad Haidar, 111:57). Diantara kitab-kitabnja ialah Gharibul Quran, mengenaiKitabul Fadhail, Kitab Ma&nil Quran, Kitabul Qiraat, danKitabul Usul mengenai riwajat mazhab Sjiah, dan banjak lagijang lain-lain, sebagaimana jang disebut dalam Fihrasat, karang-an At-Thusi. Diantara ulama jang terbesar djuga, kita sebutkan Aban binUsman al-Lului (mgl. 200 H ) , berasal dari Kufah, pernah ting-gal lama di Basrah, banjak hadis-hadisnja mengenai sjair, keturu-nan dan hari-hari penting bangsa Arab, berguru pada Abu Abdul-lah, Abui Hasan, Musa bin Djafar dll. Diantara kitabnja, jangdisebutkan orang disana-sini ialah Al-Mabda, Al-Mabas, Al-Maghazi, AI-Wafah, As-Saqiftih dan Ar-Ridah (batj. MudjamuiUdaba 1 : 108—109, Lisanul Mizan I : 24, Fihrasat At-Tusi, hal.18, dll.). Banjak sekali murid-muridnja jang menjiarkan pahamnjakesana-sini, tidak kita sebutkan disini seorang demi seorang. Ulama-ulama Sjiah jang lain dalam fiqh diantaranja Baridbin Muawijah al-Adjali (mgl. 150 H ) , sahabat Al-Baqir danAs-Shadiq, ahli hadis dan fiqh, mempunjai kedudukan istimewadalam mazhab Ahlil Bait, termasuk golongan enam orang jangsangat ahli dalam hukum fiqh, jaitu Zararah bin Ajun, Maruf binCharbuz, Barid Al-Adjali, Abu Basir al-Asadi, Fudhil bin Jassardan Muhammad bin Muslim At-Thaifi. la banjak meriwajatkanhadis dari Imam Baqir dan Imam As-Shadiq, jang sangat memu-dji-mudji dia. Barid adalah salah seorang penulis jang terkenaldalam masa Imam As-Shadiq. Kemudian kita sebutkan pula Dja-mil bin Darradj an-Nachai, termasuk sahabat Imam As-Shadiqdan anaknja Abu Hasan Musa, banjak mengarang dan meriwajat-kan hadis-hadis, begitu djuga Djamil bin Salih al-Aasadi, ditjintaioleh Imam As-Shadiq dan anaknja Musa. Lain dari pada itu djuga kita sebutkan Hammad bin Usman(mgl. 190 H) dan Hammad bin Isa al-Djuhni, kedua-duanja saha-bat Imam As-Shadiq dan Imam Al-Kazim dan kedua-duanja ahlifiqh dan hadis Ahlil Bait. Tidak kurang pentingnja kita sebut Hubaib bin. Sabit al-Kia-hili, berasal dari Kufah (mgl. 122 H ) , salah seorang daripada 161
    • labiin dan perawi Kitab hadis Enam, banjak meriwajatkan hadisdari Zainal Abidin, Imam Al-Baqir dan anaknja As-Shadiq, begi-tu djuga tidak kurang pentingnja kita peringatkan Hamzäh binThajjjar, salah seorang ulama fiqh Sjiah dan tokohnja dalam ilmukalam, memperdebatkan persoalan-persoalan jng menguntungkanmazhab Ahlil Bait, banjak sekali murid-muridnja tersiar dimana-mana. Meskipun demikian jang lebih penting lagi kita bitjarakan disini adalah dua tokoh ulama Sjiah jang terbesar, jang dalam banjak persoalan mendjadi djiwa perkembangan paham mazhab Al-Djafari dalam segala bidang, jaitu Mumin Thèq dan Hisjiam bin Hakam. Mwmin Thaq adalah Muhammad bin Ali bin Numan al- Badjali, berasal dari Kufah, sahabat kental dari Imam Djafar dan pentjintanja. Mumin Thaq adalah gelarannja jang berarti mumin jang serba sanggup, demikian kesanggupannja dalam segala ilmu, sehingga ia dapat mengalahkan Imam Abu Hanifah dalam banjak persoalan, dan sehingga Abu Hanifah ini menamakannja Sjaithan Thaq, setan jang kesanggupannja luar biasa. Ulama-ulama Cha- waridj oleh Mumin Thaq ini dikalahkan semuanja, tidak ada se- orangpun diantara mereka jang berdebat dengannja dapat berta- han. Hisjam pernah menemui Zaid ibn Zainal Abidin, Ali bin Husain Zainal Abidin. Ilmunja banjak sekali, terutama sangat alim dalam ilmu fiqh, ilmu kalam, hadis dan gubahan sadjak. Ia sangat pandai*dalam berdebat dan menggunakan kata-kata, tadjam pandangan dan pikirannja dalam menindjau persoalan agama. Sambil berniaga ia mengundjungi banjak kota-kota Islam dan menjiarkan mazhab Ahlil Bait. Sebagai tjontoh kita sebutkan perdebatan antaranja dan Abu Hanifah. Abu Hanifah : Apa hukum nikah mutah padamu ? Mumin Thaq : Halal. Abu Hanifah : Apakkah boleh anakmu dan saudara-saudara- mu Semikah mutah dengan orang lain ? Mumin Thaq : Jang demikian adalah sesuatu jang dihalalkan Tuhan, apa boleh buat. Tetapi, sobat bagai- mana hukum bier padamu ? Abu Hanifah : Halal. Mumin Thaq : Apakah engkau akan girang , djika anakmu dan saudaramu mendjadi pemabuk bier ? Mumin Thaq menulis kitab berisi perdebatan antaranja de-ngan Abu Hanifah. Meskifun isi buku itu merupakan senda gurau162
    • dan penggeli hati, tetapi berisi hukum-hukum fiqh dan tjara ber-fikir antara seorang ulama Ahlur Raji dengan ulama Ahlil Bait.Ibn Nadim menjebut bahwa dia adalah ulama kurun keempat,karena ia meninggal dalam tahun 385 H. Diantara kitab-kitab jang dikarangnja ialah mengenai perso-alan Imamah, Marifat, penolakan terhadap Mutazilh mengenaiImam Mafdhul, mengenai kehidupan Thalhah, Zubair dan Aisjah,mengenai penetapan wasiat, sebuah kitab jang bergelar "Kerdja-kan dan Djangan Kerdjakan." Sebagaimana sudah kita katakan bahwa ia termasuk orangjang sangat ditjintai oleh Imam As-Shadiq, jang pernah berkata :"Ada ampat orang manusia jang kutjintai hidup dan matinja,jaitu Barid bin Muawijah al-Adjali, Zararah bin Ajun, Muham-mad bin Muslim dan Abu Djafar al-Ahwal." Gelaran senda gurau Sjaithan Thaq oleh Abu Haniffah ke-pada Muhammad Al-Badjali oleh musuh-musuhnja disiar-siarkansetjara sebaliknja sehingga musuh-musuh Sjiah memakai namanama itu untuk membuktikan kesesatannja. Belum dapat kita tutup karangan ini sebelum kita sebutkanHisjäm bin Hakam, al-Kindi (mgl. 197 H ) , lahir di Kufah, bebe-rapa waktu berdagang di Bagdad, kemudian ditinggalkannjausahanja dan pergi beladjar kepada Imam As-Shadiq sampaimendjadi seorang alim dan sahabat Imam Musa Al-Kazim. Hisjam adalah seorang jang banjak sekali pengetahuannjatentang mazhab-mazhab dalam Islam, sangat luas ilmunja dalamfilsafat, seorang ahli ilmu kalam Sjiah jang ulung, seorangjang petah lidahnja dalam mempertahankan persoalan ima-mah bagi Sjiah. Zarkali mengatakan, bahwa Hisjam binHakam adalah seorang ahli hukum fiqh, ahli imu kalam danmanthik. Dr Ahmad Amin mengatakan bahwa Hisjam bin Ha-kam adalah tokoh ilmu kalam Sjiah terbesar, murid dari DjafarShadiq, seorang jang tidak dapat dipatahkan alasannja, sehinggaImam Shadiq pernah memudji kepribadiannja : "Hai Hisjam,engkau selalu dikuatkan pendapatmu dengan roh sutji." ImamRidha mengatakan : "Moga-moga Allah memberi rahmat kepadaHisjam, karena ia adalah seorang hamba jang salih." Harun ar-Rasjid memudji Hisjam demikian : "Lidah Hisjam lebih dapatmenghantjurkan djiwa manusia daripada seribu pedang." Tatkala ia mendekati Imam Shadiq, orang besar ini segeramelihat bahwa Hisjam seorang jang tjerdas otaknja, seorangichlas dan seorang jang beriman, oleh karena itu lalu dididiknjaHisjam sampai mendjadi seorang besar dalam ilmu pengetahuanmenurut mazhabnja, seorang tokoh filsafat, seorang jang bersihaqidahnja, jang dapat mempertahankan mazhab Ahlil Bait dari-pada serangan-serangan aliran-aliran Islam lain jang memusuhi- 163
    • nja, jaitu aliran-aliran jang sudah banjak dipengaruhi oleh filsafatJunani. Hisjam ahli dalam ilmu fiqh, hadis dan tafsir dan banjakmeriwajatkan hadis-hadis dalam segala bidang hukum. Didalamkitab-kitab hadis dan fiqh banjak disebutkan riwajatnja, diantaralain oleh As-Sirfi, Al-Adjali, Al-Jaqthain dll. Ia banjak sekalimengarang kitab-kitab dalam segala bidang ilmu, diantara lain,sebagaimana jang disebutkan oleh Ibn Nadim, mengenai imamah,mengenai falsafat, mengenai penolakan terhadap orang-orangzindiq, penolakan-penolakan terhadap musuh Sjiah, mengenaiDjabarijah dan Qadarijah dll. jang tinggi nilai dan mutunja. Jang lebih aneh tentang dirinja ialah bahwa ia dapat mem-bawa dirinja diterima oleh Harun ar-Rasjid dan oleh golonganSjiah. Untuk mengetahui, betapa hati-hati ia mengeluarkan pen-dapat-pendapatnja agar orang-orang mengerti tetapi tidak ter-singgung perasaannja, kita sebut suatu pertjakapan antara Harunar-Rasjid dengan Hisjam sebagai dibawah ini :Harun ar-Rasjid : Hai Hisjam, tahukah engkau bahwa Ali pernah mengadukan Abbas kepada Abu Bakar ?Hisjam : Sungguh ada.Harun ar-Rasjid : Mana jang zalim terhadap sahabatnja, Ali-kah atau Abbas ? (Hisjam sadar akan dirinja, bahwa perso- alan ini untuk memantjing sikapnja. Djika ia mengatakan Abbas jang zalim, ia dianggap menghinakan Rasjid, djika ia mengatakan Ali jang zalim, ia merusakkan kejakinannja sebagai orang Sjiah. Kemudian Hisjam berpikir dan mengeluarkan pendapatnja).Hisjam : Kedua-duanja tidak zalim.Harun ar-Rasjid : Djika tidak ada jang zalim, bagaimana masuk diakal, kedua-duanja datang mengadu pada Abu Bakar ?Hisjam : Boleh sadja daulat tuanku. Dua orang malaikat pernah mengadu nasibnja kepada Nabi Daud, sedang tak ada seorang diantgranja jang zalim, tetap ikedua-duanja ingin hendak memperingat- kan suatu kedjadian. Demikian pula Abbas dan Ali datang kepada Abu Bakar, datang hendak memperingatkan suatu kedjadian, sedang ke- dua-duanja tidak ada jang zalim. Djawaban ini rupanja sangat mendapat penerimaan padaChalifah Harun ar-Rasjid, dan oleh karena itu ia termasuk orang164
    • jang disenanginja, meskipun dalam batinnja ia tetap mentjintaiAli dan keturunannja. Demikian beberapa patah kata tentang keistimewaan Hisjamsebagai ulama terbesar dan tokoh terpenting dalam Mazhab Ah-lil Bait. Ia ditjintai oleh ulama-ulama dari aneka mazhab danaliran, baik oleh musuh maupun oleh kawannja. Tuduhan-tuduhanDjahiz, dan dibelakang ini Dr. Ahmad Amin, bahwa Hisjam binHakam adalah penganut aliran Rafdhi dan membentji semua saha-bat Nabi, oleh golongan Sjiah tidak dapat diterima. Jang djelasadalah, bahwa Hisjam mentjintai Ahlil Bait dan menjiarkan ke-tjintaan ini dalam adjaran-adjarannja.
    • 5. S E R A T U S P E R A W I SJIAH D A L A M KITAB E N A M Kekeruhan politik tidak membawa perpetjahan dalam ilmupengetahuan mengenai Islam. Inilah suatu rahmat Tuhan jangdianugerahkan kepada kaum muslimin. Bagaimanapun umat Islamberselisih dan berbeda paham, bahkan kadang-kadang berpetjahbelah sampai menumpahkan darah, pada suatu masa ia bersatudjuga, pertjaja-mempertjajai dalam menghadapi persoalan ilmiahmengenai agamanja. Jang demikian itu disebabkan karena umatIslam tidak pernah berselisih paham tentang pokok-pokok kejaki-nan agamanja, jang dinamakan Usuluddin, mengenai tauhid, nu-buwwah dan maad, ketuhanan, kenabian dan kejakinan kepadahari kemudian. Keadaan inilah jang mengherankan Barat Kristen tidak habis-habisnja. Bukan suatu rahasia lagi, bahwa Eropah bergiat meme-tjah belahkan umat Islam dari dalam dengan menjokong gerakanAhmadijah Qadijan, Amerika dengan gerakan Bahai, tetapi ge-rakan-gerakan jang memetjah-belahkan umat Islam kedalam tau-hid inipun kadang-kadang berdjabat salam pula dengan saudara-saudaranja seagama dan melepaskan politik orang Barat itu. Sudah kita bentangkan bahwa antara Ahli Sunnah dan Sji-ah dalam masalah furu (idjiihad) berbeda hebat sekali, tetapidalam ilmu pengetahuan Islam dan dalam membela kemurnianQuran dan Sunnah atjapkali mereka tolong-menolong dan bantu-membantu. Sebagai tjontoh kita sebutkan dibawah ini nama se-ratus orang Sjiah, terdapa dalam kitab-kitab pokok pengetahuanhadis, karangan ualma-ulama Ahli Sunnah jang disamping mem-benarkan anutan Sjiahnja, mempertjajai perawi-perawi hadis itu,sehingga hadis-hadis jang diriwajatkannja dimasukkannja kedalamkitab-kitab Sahih dan Sunnannja, iang dikenal dalam kesusaste-raan hadis dengan nama Kufeubus Sittah atau Kitab Enam. Keterangan ini saja petik dari uraian Imam Abdul HusainSjarfuddin al-Musawi, tatkala ia ditanja ditengah-tengah perte-muan alim ulama di Mesir dalam tahun 1330 H. oleh SiaichulAzhar Salim al-Bisjri, mengenai sanad Sjiah dalam dirajah danriwajah hadis. Uraian itu demikian mengagumkan ulama-ulamaAhli Sunnah di Mesir, sehingga kemudian diterbitkan dalam kitab"Al-Muradiaat" (Nedjef. 1963), sebagai Al-Muradjaah no. 16(hal. 78—130), keringkasannja saja tuturkan sebagai dibawah ini. Diantara orang-orang jang disebutkan seratus orang itu ter-166
    • dapat nama Aban bin Tüghlab (mgl. 141 H ) , jang oleh Az-Zahab:dalam kitabnja Al-Mizan disebut seorang Sjiah berasal dariKufah, tetapi disebut djuga seorang jang djudjur, dan kedjudjuranini dibenarkan oleh Ahmad bin Hanbal, Ibn Muin, Abu Hatim,sedang hadis-hadis riwajatnja didjadikan hudjdjah atau dasaralasan agama oleh Muslim dan pengarang Sunan, jaitu AbuDaud, Tarmizi, Nasai dan Ibn Madjah. Banjak hadis-hadis riwa-jatnja tersebut dalam Sahih Muslim dan Sunan Empat, diriwajat-kan oleh Hakam, Amasj, Fudhail bin Umar, Sufjan bin Ujajnah,Sjubah, Idris al-Audi dll. Setjara perintjian seperti ini Al-Musawi mengemukakan na-ma tokoh Sjiah Ibrahim bin Jazid, jang oleh pengarang KitabEnam sebagai perawi hadis jang sangat dipertjajai, Ahmad binMufadhal, jang meskipun seorang ulama Sjiah, hadis-hadis riwa-jatnja banjak terdapat dalam Sunan Abu Daud dan Nasai,Ismail bin Aban jang oleh Buchari dianggap gurunja, oleh T a r -mizi banjak dipetik hadis-hadisnja, dianggap sah meskipun tidakdengan riwajat perantaraan orang lain, mgl. 286 H. Ismail bin Chalifah al-Mulai dinamakan Az-Zahabi seorangSjiah pemarah, jang pernah mengkafirkan Sajjidina Usman, te-tapi hadisnja diriwajatkan oleh Tarmizi dim. Sunannja, dan Ahmaddalam kitab hadisnja. Ibn Muin menjebut dia djudjur, demikiandjuga Abu Zarah dan Al-Fallas. Hadisnja jang banjak terdapatdalam Sahih Tarmizi berasal dari Hakam bin Utaibah dan Athi-jah, diantara orang jang meriwajatkan hadisnja ialah Al-Badjari. Nama-nama lain misalnja Ismail bin Zakaria al-Chalqani,Ismail bin Ubbad, seorang jang sangat terkenal dalam masa pe-merintahan Ibn Buwaih, seorang pengarang jang terkenal, jangkonon mempunjai kitab perpustakaan sebanjak beban 400 unta,Ismail bin Abi Karimah, jang terkenal dengan nama Suda (mgl.245 H ) , Talid bin Sulaiman, Sabit bini Dinar (mgl. 150 H ) . Sau-bar bin Abi Fachitah, Djabir bin Jazid (mql. 127 H) Dlarir binAbdul Hamid Ad-Dhabbi (mgl. 187 H ) , Djafar bin Zijad (mgl. 167 H ) , Djafar bin Sulaiman Ad-Dhabai (mql. 178 H ) . Djamibin Amirah, salah seorang Tabiin, Haris bin Hasirah, Haris binAbdullah al-H&mkiani (mgl. 65 H ) , sahabat Ali bin Abi Thalib,Hubaib bin Abi Sabit al-Kahili, seorang tabiin (mgl. 119 H ) .Hasan bin Haj al-Hamdani (mgl. 169 H ) , Hakam bin, Uthaibah, jang dipudji-pudji oleh Buchari dan Muslim (mgl. 115 H ) ,Hummad bin Isa al-Djnhni, Hamran bin Ajun, Chalid bin Mu-challad. Daud bin Abi Auf, Sabit bin Haris (mql. 124 H ) , Zaidbin al-Hubabv Salim bin Abui Dfudi (mal. 98 H ) , Salim bin AbiHafsah al-Adiali (mgl. 137 H ) , Saad bin Tharif al-Askaf. Saidbin Asjwla, Said bfln Chaisam al-Hilali, Salman bin Fadhal, 16
    • Salmah bin Kukail, Sulaiman bin Sarad, Sulaim bin Tharhan (mgl. 143 H ) , Sulaiman bin Qaram, Sulaiman bin Uchran.Sjuraik bin Abdullah bin Sjubah (mgl. 198 H ) , Sjubah bin Hdj-djadj (mgl. 160 H ) . Sasaah bin Sauban, Thaus bin Qisam, Salimbin Amar, Amir bin Wailah, Ubbad bin Jakub, Abdullah bînDaud (mgl. 212 H ) , Abdullah bin Sjäddad, Abdullah bin Umar (mgl. 237 H ) , Abdullah bin Luhaiah (mgl. 274 H ) . Selandjutnja kita bertemu dengan sahabat Imam Djafar,Abdurrahman bin Saleh al-Azadi (mgl. 235 H ) , Abdur Razzagbin Humam (m. 211 H ) , Abdul Malik bin Ajan, Ubaidillah binMusa Al-Abbasl (m. 213 H ) , Usman bin Umair, Adi bin SabitAthijah bin Saad, Al-Ula bin Salih, Alqamah bin Qais (m. 62H ) , Ah bin Al-Djudi (m. 203 H ) , AU bin Badinah, Ali bin JazidAt-Tajmi (m. 131 H ) , Ali bin Salih (m. 151 H ) , Ali bin Ghurab (m. 184 H ) , Ali bin Qadim (m. 213 H ) , Ali ibnal Munzir (m. 256H ) , Ali bin Hasjim Al-Chazzaz (m. 181 H ) , Ammar bin Zuraiq,Ammar bin Muawijah (m. 133 H ) , Umar bin Abdullah Asabii (m. 138 H ) dan Auf bin Abi D<jamilah (m. 146 H ) . Termasuk perawi-perawi Sjiah jang terbesar diuga ialahAl-Fadhal bin D&kkin, Fudhail bin Mazruq (m. 158 H ) , Fatharbin Chalifah (m. 153 H ) , Malik bin Ismail An-Nahdi (m. 195 H ) ,Muhammad bin Abdullah Ad-Dhabi At-Thahani (m. 145 H ) .Muhammad bin Ubaidillah bin Abi Rafi, Muhammad bin Fudhailbin Ghazwan (m. 194 H ) , Muhammad bin Muslim bin Tbaifi (m. 127 H ) , Muhammad bin Musa Al-Fithri, Muawijah bin Am-mar Ad-Duhni (m. 175 H ) , Maruf bin CKarbuz (m. 200 H ) ,terkenal dengan nama Maruf Al-Karachi dan muridnia bernamaSirri As-Saqathi, kedua-duanja tokoh terkenal dalam Tasawwuf,Mansur ibn Muiamar (m. 132 H ) , Al-Munhal bin Ammar, se-orang tabiin, Musa bin Q a i s Al-Hadhrami (m. dim. masa peme-rintahan Al-Mansur). Nafi, bin Haris Al-Hamdani, Nuh Qais,Harun bin Saad Al-Adiali, Hasüm bin Barid. Habirah bin Barin,Hisjam bin Züad, Hisialm bin Ammar (m. 245 H ) , Hisiam binHasjim bin Bazir (m. di Baghdad 283 H ) . W a k i bin Diarrah (m. 197 H ) . T&hja bin Diazzar AI-Arni, Jahia bin Said Al-Qat-tam (m. 198 H ) , Jazid bin Abi Zijad (m. 136 H) dan Abu Ab-dullah Al-Djadali. Semua tokoh-tokoh ulama jang kita sebutkan diatas termasukgolongan Salaf, dilihat wafatnja sebelum tahun 300 H., merupakanoerawi-perawi Hadis janq tcrpentinq dari golongan Siiah, jangbagaimanapun polhvknja d a n sympathi-anti-pathinia terhadao pe-ngangkatan Chalifh Empat, diangqap diudjur terpertaia. bolehdipertjaiai dalam riwajah dan dirajah Hadis, dan oleh karenaitu baniak Hadis-Hadis riwajatnia terdaoat dan didiadikan hud)-djah dalam Sahih dan Sunan dari Ahli Sunnah wa Djamaah.16S
    • Oleh Ahli Sunnah wal Djamaah, jang prinsipnja berbedadengan Sjiah, sanad-sanad ulama jang tersebut diatas diannggapsah dan digunakan untuk menetapkan sesuatu hukum furu fiqh(istinbath)t sebagaimana djuga orang-orang Sjiah tidak berkebe-ratan memakai fiadis-Hadis jang isnadnja berasal dari golonganAhli Sunnah wal Djamaah. S
    • Banjak orang menjangka, bahwa Sjiah menetapkan hukum-hukum fiqh dari sumber-sumber jang berlainan daripada AhlusSunnah wal Djamaah. Baik Ahlus Sunnah wal Djamaah maupunSjiah menganggap sebagai sumber-sumber hukum Islam jang ter-utama dan pertama ialah Kitabullah dan Sunnatur Rasul, jaituQuran dan Hadis dalam utjapan sehari-hari. Idjma dan qijasdjuga digunakan oleh kedua golongan Islam ini, tetapi dalambermatjam-matjam istilah. Ada jang menganggap bahwa idjmajang dapat didjadikan dasar hukum itu ialah idjma Sahabat, adajang menganggap djuga idjma alim ulama dibelakang sahabat itudalam masa jang tidak habis-habis, sebagaimana tidak habis-ha-bisnja timbul dalam masjarakat Islam persoalan-persoalan hukum,jang harus diputuskan. Mengenai qijas djuga digunakan olehmazhab-mazhab fiqh dalam bermatjam-matjam istilah, ada jangmenggunakan perkataan qijas (memutuskan sesuatu hukum denganmemperbandingkan kedjadian), ada jang menggunakan perkataanakal, tentu sesudah diudji dan tidak terdapat dalam dua pokokpertama, ada jang menggunakan istilah raji, ada jang mengguna-kan istihsan, memilih jang terbaik untuk umat, ada jang menggu-nakan istilah maslahatul mursalah. Pendeknja, djika kita ringkas-kan, bahwa tidak ada golongan dalam Islam dalam menetapkansesuatu hukum agama jang keluar daripada empat pokok, jaituOjjrhn, Hadis, Idjma dan Qijas. Orang Sjiah meringkaskan pokok-pokok dasar hukum aga-ma dengan istilah Nash dan Idjtihad, nash terdiri daripada Qur-andan Hadis (sebenarnja lebih tepat dikatakan sunnah, karenasunnah itu terdiri daripada hadis, perbuatan, penetapan Rasulullahdan asar, keterangan atau perbuatan sahabat), dan idjtihad terdi-ri dari idjma dan qijas, kedua-duanja dipimpin oleh imam jangmashum, artinja imam jang tidak kelihatan mengerdjakan dosabesar dan ketjil atau jang dinamakan fasiq, mengabai-abaikankehidupan agama. Mengapa Quran dan Sunnah diterima oleh semua golonganIslam sebagai pokok pangkal hukum ? Dalam kitab "FalsafatutTasjri fil Islam" (Beirut, 1952), karangan Dr. Subhi Mahmassani,dapat kita batja, bahwa dalam masa pertama selama hidup Nabi170
    • dan menjampaikan wahjunja (610—632 M ) , hanja Quranlahsatu-satunja sumber hukum dan hidup umat Islam. Bahkan Nabipernah melarang Sahabat-Sahabatnja mentjatat keterangannjaselain wahju Tuhan. Quran meletakkan dasar-dasar agama dandasar-dasar penetapan hukum (fasjri) Islam, ia mengandung po-kok-pokok iman dan ibadat, pokok-pokok dawah Islam, peraturanhidup berkeluarga, peraturan muamalat, hidup bergaul dalam ma-sjarakat, dan hukum-hukum pidana dan perdata umumnja. Tentusadja dalam garis-garis besar, dan garis-garis besar jang disam-paikan oleh Quran itu ialah : 1. Peraturan bermusjawarat dalam hukum, wadjib hakimmenggunakan dan mendahulukan kepentingan umum dan nashQuran jang sutji itu. 2. Perintah berbuat adil, berbuat baik kepada manusia, me-nyamaratakan kedudukan manusia dalam hukum, dan menanampersaudaraan jang berdasarkan prikemanusiaan. 3. Menolak peperangan jang bersifat permusuhan, dan me-merintahkan peperangan jang bersifat pertahanan, mengandjurkanmanusia untuk berdamai. 4. Memperbaiki kedudukan wanita dan orang jang tidakmempunjai apa-apa atau tertindas dalam hukum. 5. Menghormati hak milik perseorangan, mewadjibkan me-nepati djandji dan perdjandjian antara negara dengan negara,mentjegah ketjurangan dalam segala bidang hidup, dan 6. Mengadakan perbedaan antara hak Tuhan, jaitu kepen-tingan umum dan hak manusia, jaitu kepentingan pribadi danperseorangan dalam persoalan pidana dan perdata. Demikian keringkasan isi Quran jang didjadikan sebagaisumber hukum pertama dalam Islam, diterima oleh semua mazhabjang ada dalam Islam. Dalam masa kedua, masa sahabat, dikala Islam sudah meluaskesegala pendjuru dunia dan persoalan-persoalan hidup sudahbertambah banjak serta bertjorak aneka warna, chalifah-chalifahmulai menggunakan idjma dan qijas tatkala hukum itu tidak ber-temu dalam nash. Sunnah Nabi dikumpulkan dan hadis-hadisnjadibukukan dan digunakan sebagai pokok hukum jang kedua se-sudah Quran. Apabila sesuatu hukum tidak tersua dalam Qurandan Sunnah, maka sahabat-sahabat lalu berkumpul bermusjawaratmemutuskan sesuatu hukum, atau memperbandingkan hukum jangakan diputuskan itu dengan kedjadian-kedjadian jang sudah per-nah diputuskan dalam masa Rasulullah. Maka fatwa-fatwa danpendirian-pendirian Chalifah Empat jang utama, jaitu Abu Bakar,Umar, Usman dan Ali djuga mendjadi pokok-pokok dasar untukmemutuskan sesuatu hukum dalam Islam m
    • Dalam masa sahabat dan tabiin, sahabat-sahabat Nabi mu-lai bertjerai-berai untuk melakukan tugasnja masing-masing di-negara-negra baru jang termasuk kedalam pemerintahan Islam.Jang terutama diantara mereka misalnja Abdullah bin Abbas diMekkah, Zaid bin Sabit dan Abdullah bin Umar di Madinah,Abdullah ibn Masud di Kufah, dan Abdullah bin Umar bin Ashdi Mesir. Dalam masa ini timbullah pertikaian paham antara Ahli Sun-nah wal Djamaah dan Sjiah. Jang pertama berpendirian, bahwasusunan chalifah sesudah wafat Nabi ialah Abu Bakar, kemudianUmar, kemudian Usman dan kemudian Ali bin Abi Thalib. Sjiahberpendapat bahwa jang lebih berhak mendjadi chalifah lebihdahulu daripada tiga pertama disebutkan tadi sesudah wafat Na-bi, ialah Ali bin Abi Thalib. Dalam masa itu terdengarlah istilahmenamakan suatu golongan mazhab dengan nama Sjiah Ali, ataudiringkaskan dengan Sjiah sadja. Perpetjahan ini tidak hanja membawa perbedaan paham po-litik, tetapi djuga paham dalam menetapkan dasar-dasar hukumfiqh. Diantara lain jang menjolok ialah bahwa mazhab Sjiah inidalam memilih hadis, mengutamakan riwajat-riwajat dari golong-an jang dinamakan Ahlil Bait, Mereka menganggap Ahlil Baitinilah jang lebih dekat kepada Nabi dan lebih mengetahui tentangsegala utjapan, penetapan dan perbuatannja. Kita ketahui, bahwa Ali bin Abi Thalib termasuk salah se-orang penulis wahju dan oleh karena ia selalu berdampingandengan Nabi, lebih banjak mengetahui penafsiran-penafsiran daripada wahju itu, dan lebih banjak mempunjai ilmu tentang sunnahNabi. Nabi sendiri pernah mengatakan, bahwa "aku ini gudangilmu dan Ali adalah pintunja" (Al-Mawaiz al-Usfurijah, hal. 4 ) . Hasjim Maruf Al-Hasani dalam kitabnja "Tarichul FiqhilDjafari" menerangkan, bahwa sesudah kedjadian perpetjahan danlahirnja perbedaan paham diantara mazhab-mazhab Islam, Sjiahtakut orang menjiar-njiarkan hadis palsu untuk mempertahankanpendiriannja masing-masing. Kedjadian ini sudah pernah berlakudalam masa sahabat, Ali pernah menjuruh bersumpah seorangjang menjampaikan hadis dari Nabi, Umar pernah memukulorang jang membuat hadis dusta, dan Abu Hurairah pernah di-selidiki hadisnja, meskipun ia seorang sahabat jang sangat diper-tjajai. Oleh karena itu terdjadilah kesukaran dalam memilih hadisdan tjeritera ini, dan dalam meaksanakan serta menetapkan dasarhukum jang empat tersebut diatas, jaitu Kitab, Sunnah, Qijas danIdjma. Bahwa idjma dapat diterima sebagai dasar hukum, Al-Hasanimenerangkan, hal ini berdasarkan utjapan Nabi kepada Ali :ft
    • "Apabila engkau menghadapi sesuatu perkara, jang tidak adakeputusannja dalam Quran dan Sunnah, kumpulkanlah orang-orang alim, dan suruhlah mereka bermusjawarat, dan djangankamu memutuskan perkara dengan pikiran seorang sadja" (hal.114). Tentang idjma dan qijas ini banjak sekali dipertengkarkanorang, sebagai tersebut didalam kitab "Tarichut Tasjri," karanganAl-Chudhari. Ada jang menganggap idjma itu, idjma sahabatmenurut pendapat bersama, sebagaimana terdjadi dengan idjmadalam kalangan Anshar. Pendapat seorang sahabat bukan idjma. Menurut kitab-kitab Sjiah ketjemasan inilah jang menjebab-kan Ali bin Abi Thalib, sesudah wafat Nabi segera membukukanhadis dan fiqh. Ali-lah jang mula-mula setjara lengkap mengum-pulkan Quran dan memberikan tafsir-tafsir jang mendalam, ter-utama dalam menerangkan ajat-ajat mustasjabihah. Ia menulisQuran itu setjara lengkap diatas kepingan-kepingan papan jangteratur, jang tidak pernah dikerdjakan oleh sahabat lain seleng-kap dia kerdjakan. Ibn Sjahrasjub berkata dalam kitab "AjdnusjSjiah", karangan Al-Amin, djilid ke I, bahwa orang jang mula-mula mengarang dalam Islam ialah Amirul Muminin Ali bin AbiThalib, dialah jang mula-mula mengumpulkan kitab Quran. IbnNadim menerangkan dari bermatjam-matjam „riwajat, bahwa sesu-dan wafat Nabi, Ali berhari-hari tinggal dirumah dan mengum-pulkan Quran mendjadi sebuah mashaf, daripada ajat-ajat jangdihafalnja, dan Quran itu tersimpan pada keluarga Djafar(Fihrasat Ibn Nadim). Sajuthi menerangkan dalam Al-Itqan,bahwa Ibn Hadjar pernah menerangkan, Ali mengumpulkan Qur- an menurut tertib turunnja wahju, beberapa waktu sesudah wafatNabi (Abu D a u d ) . Demikian pula tjeritera Muhammad bin Sirin,Sjirazi, Abu Jusuf Jakub, dll ulama. Dalam sebuah tjeritera Abi Rafi diterangkan bahwa Nabidikala sakit jang membawa maut pernah memanggil Ali danberkata : "Hai Ali, inilah kitabullah, ambil untukmu". Maka Alimengumpulkan wahju-wahju itu dalam sebuah bungkusan dandibawa kerumahnja. Tatkala Rasulullah wafat Ali memilih danmenjusun wahju-wahju itu menurut tertib turunnja, dan ialah orangjang sangat mengetahui tentang Quran dan tafsirnja. Berkata Al-Allamah Sjarfuddin, bahwa Ali mengumpulkanQuran menurut tertib turunnja wahju, memberi tanda-tanda jangumum dan jang chusus, pengertian jang mutlak dan jang terbatas,menafsirkan ajat-ajat jang muhkamah dan mutasjabihah, mene-rangkan ajat-ajat jang nasich dan mansuch, begitu djuga mentjatatsebab-sebab turunnja wahju dan ajat Quran itu. Dalam tjatatanitu dimuat tidak kurang dari enam puluh matjam ilmu Quran(Al-Muradjaat, karangan Sajjid Abdul Husain Sjarfuddin). Lihatdjuga "Tarichul Fiqhü Djafari", karangan Hasjim Maruf AI- 173
    • Hasani, hal. 116—i 17. Oleh karena itu orang-orang Sjiah dalam mentjari tafsirajat Quran, lebih dahulu ia mentjari dan memegang kepada tafsir-nja sendiri, jaitu tafsir jang berasal daripada Ali bin Abi Thalib. Menurut hadis-hadis jang berasal daripada Ahlus Sunnah.Quran itu baru dikumpulkan dalam sebuah mashaf pada tahunjang ke 25 sesudah hidjrah Nabi ke Madinah. Sedang Sjiahmenetapkan daripada hadis-hadis jang berasal dari Ahlil Baitdan dujga dari Ahli Sunnah, bahwa Quran itu sudah dikumpulkanoleh Ali lebih dahulu dalam sebuah mashaf, lebih dari lima belastahun daripada tahun tersebut diatas.171
    • 6. T A R I C H TASJRI SJIAH II Memang benar pada masa hidup Nabi dianggap terlarangmenulis hadis Nabi dan keterangan-keterangan lain jang diutjap-kan Nabi selain wahju Tuhan jang ditjatat orang diatas tulangbelulang, kulit kambing, pelepah korma dll. Nabi sendiri mela-rang : "Djangan kamu menulis sesuatu daripadaku ketjuali Qur-an, barangsiapa jang menulis sesuatu daripadaku selainnja, hen-daklah dihapusnja" (hadis sahih). Tetapi banjak sahabat menganggap, bahwa larangan ini ha-nja sekedar menghindarkan orang mentjampur dukkan antarawahju Tuhan dengan utjapan Rasulullah pribadi, jang dianggapnanti dibelakang hari dapat menimbulkan silang sengketa jangmerugikan Quran sebagai kitab tuntunan pokok. Tetapi sedjakRasulullah masih hidup sudah terasa mentjatat hadis-hadisnja,pertama karena banjak lafadh-lafadh Quran jang menghendakipendjelasan lebih landjut, kedua sebab-sebabnja turun wahju Tu-han itu, kapan dan dimana, karena apa dan bagaimana penger- tiannja. Oleh karena itu banjak djuga jang mentjatat kedjadian jangpenting-penting, meskipun dalam masa Nabi masih hidup dandalam masa pendapat umum sahabat menganggup terlarang. Nabisendiri pernah memerintahkan seorang Jaman menulis chotbahnjapada hari Fatah Makkah (Buchari dalam Sahihnja, pada kitabIlmu). Ditjeriterakan orang bahwa Abdullah bin Umar bin Ashmempunjai beberapa lembar tjatatan, jang dinamakan "Ash-Sha-digah", jang diakuinja semua jang ditulisnja dalam kitab itu adalahapa jang didengar telinganja sendiri daripada Rasulullah. Bucharidjuga mentjeriterakan dalam kitab Sahihnja, bahwa Rasulullahsesudah hidjrah ke Madinah pernah memerintahkan menulis se-buah tjatatan mengenai hukum zakat, kewadjibannja dan takaran-nja. Risalah dua lembar ini tersimpan kemudian dalam rumahchalifah Abu Bakar dan Abu Bakar bin Umar bin Hazm, demi-an tjeritera Dr. Muhammad Jusuf dalam kitabnja "Tarichul FiqhilIslami", haL 173, Dr. Muhammad Jusuf ini menguatkan pendapatSajjid Salman An-Nawawi, seorang ulama besar Hindi, dalammentjeriterakan pembukuan hadis pada masa Rasulullah dan padamasa sesudahnja. Dr. ini membagi penulisan h^Jis itu dalam tiga 175
    • masa, pertama jang dikerdjakan oleh hanja beberapa orang jangmempunjai ilmu pengetahuan, kedua jang dikerdjakan oleh penga-rang-pengarang dalam kota-kota besar Islam, sebagaimana jangdidengar dari ulama-ulama sahabat jang terdapat disana, danketiga jang dikumpulkan sebagai ilmu agama Islam dari semuakota-kota itu dan didjadikan kitab-kitab besar, jang sampai se-karang ada dalam masa kita (Risalah al-Muhammadijah, hal. 60). Masa jang pertama sampai tahun 100 H., masa jang keduasampai tahun 150 H. dan masa jang ketiga dari tahun 150 sampaiabad jang ke III H. Pembukuan jang pertama dimulai sedjak wa-fat Nabi dan diachiri pada penghabisan masa sahabat. Sebagai-mana jang diterangkan kedua pengarang jang tersebut diatas,dalam masa ini belum ada pembukuan hadis-hadis mengenai hu-kum, pembukuan hadis-hadis mengenai hukum ini, sebagaimanajang dikatakan oleh Al-Chudhari, terdjadi dari tahun 100 sampai150 H. (Tarichut Tasjriil Islami, hal. 147). Sampai dalam masa Tabiin belum ada orang jang beranimenulis hadis dalam sebuah kitab sebagai tuntunan Islam jangkedua. Barulah pada tahun 200 H. Umar bin Abdul Aziz menulissurat kepada gubernurnja di Madinah, Abu Bakar bin Muham-mad bin Umar bin Hazm, untuk mengumpulkan hadis-hadis Ra-sulullah, dan utjapan-utjapan keluarganja, ditulis mendjadi sebuahbuku, karena ia takut akan hilang dengan banjaknja meninggalulama-ulama dan lenjap ilmu pengetahuan jang ada padanja. Ma-ka diantara mereka jang menjusun kitab hadis ini dalam masa ituterkenal Muhammad ibn Muslim bin Sjihab az-Zuhri (Al-Chu-dhari). Sudah kita sebutkan bahwa usaha menuliskan kitab hadis inisudah dimulai dalam zaman sahabat, jang merupakan tjatatanIbn Ash. Dr. Muhammad Jusuf menerangkan, bahwa Chalifah jangke IV, Imam Ali bin Abi Thalib, jang pada waktu itu ditangannjasudah terdapat sebuah tjatatan mengenai beberapa hukum-hukumIslam. Buchari menerangkan, bahwa Abu Djuhfah pernah berta-nja kepada Ali : „Apakah ada kitab padamu ?" Ali mendjawab :dengan segera : "Tidak ada, ketjuali Kitabullah, atau paham jangdiberikan padaku atau apa jang kutuliskan dalam tjatatan "As-Sahifah". Ibn Abbas mentjeriterakan bahwa Ali mempunjai sebuahkitab mengenai urusan hukum. Memang Ali-pun pada mula pertama enggan menuliskan danmengumpulkan hadis-hadis, tetapi kemudian terasa sangat perlu,terutama untuk membedakan hadis-hadis jang benar datang daripada Rasulullah dan hadis-hadis jang dibuat-buat orang. Mulai-lah orang mentjatat sesudah Ali memberikan tjontoh. Baik dari keterangan-keterangan Sjiah atau dari keterangan-keterangan Ahli Sunnah, dapat ditetapkan bahwa beberapa saha-176
    • bat dari golongan Àhiii Bait pada masa pertama sudah mentjatatperkara-perkara mengenai Lgn. bahkan banjak nwajat menerang-kan, oanwa Ali sudah menulis sematjam kitab fiqh dengan chat-nja sendiri, jang didiktekan oleh Rasulullah. Demikian pendapatorang Sji ah dan pemukanja. Dalam dua buah kitab bji ah ter-penting, pertama "Ajanusj Sjiah", karangan Sajjid Muhsin al-Amin, terutama djilid pertama, dan kitab "Al-Muradjaat", kara-ngan Sajjid Abdul Husain Sjarfuddin, terdapat banjak keterangan-keterangan dan riwajat jang mengatakan, bahwa Ali bin AbiThalib pada hari-hari pertama sudah mempunjai karangan-kara-ngan, diantaranja sebuah kitab jang pandjangnja konon tudjuhhasta, ditulis dengan petundjuk-petundjuk dari Rasulullah, diataskulit riq, mungkin perkamen, jang biasa digunakan orang peng-ganti kertas pada waktu itu. Dalam kitab ini terkumpul segalamatjam bab iiqh, hadis-hadis jang diriwajatkan oleh Ahlil bait,sekali dinamakan "kitab", sekali dinamakan "djamiah"v Banjakorang-orang jang dapat dipertjajai pernah melihat kitab ini adapada Imam Al-baqir dan pada Imam As-Shadiq, diantaranja Su-waid bin Ajjub, Abi Bashir dll., sebagaimana pernah ditjeriterakanoleh seorang pengarang Muhammad bin Hasan As-Shaifar dalamkitabnja "Bashairud Ltaradjat". Suwaid mengatakan, bahwa iapada suatu hari datang kepada Abu Djafar bertanjakan sesuatu,maka diperlihatkannja kitab Al-Djamiah itu. Abu Nashar djugapernah datang kepada Abu Djafar, ia memperlihatkan beberapalembar jang tertulis diatasnja hukum-hukum halal dan haram ser-ta hukum-hukum faraid. Ia berkata, tatkala ditanjakan, apa ini.Abu Djafar mendjawab : "Ini adalah beberapa lembar dari Al-Djamiah, jang diisi atas petundjuk Rasulullah. Dalam sebuahtjeritera jang sangat pandjang riwajatnja sampai kepada AbuMarjam, Abu Djafar pernah berkata : "Kami menjimpan Al-Dja-dalamnja sampai kepada perkara ars/ul chadasj (tetek bengekmiah, jang pandjangnja tudjuh puluh hasta, semu hukum ada di-pen.), diisi atas petundjuk Rasulullah oleh Ali dengan chatnja sen-diri." Tjeritera ini kita dengarkan lagi dari Abu Ubaidah dan dariImam As-Shadiq, dan pada achirnja dari Abu Bashir jang mene-rangkan : "Aku masuk kerumah Abu Abdullah as-Shadiq. Iaberkata kepadaku : "Hai Abu Muhammad kami mempunjai Al- Djamiah, apakah engkau tahu, apa itu Al-Djamiah ? Al- Djami- ah itu sebuah karangan, jang pandjangnja tudjuh puluh ukuran hasta Nabi, diisi dengan petundjuk Nabi oleh Ali dengan chatnja, dan Ali membenarkan hal jang demikian itu dengan sumpah, di-dalamnja terdapat semua perkara mengenai hukum Islam halal dan haram dan terdapat segala jang dibutuhkan manusia sampai kepada perkara tetek bengek". Imam Shadiq mengulangi ketera- ngan ini beberapa kali dihadapaa manusia banjak dan mengata- m
    • kan, bahwa apa jang diperlukan manusia mengenai hukum ter-dapat didalam kitab itu jang dibutuhkanuja sampai kepada harikiamat. Abu Djafar at-Thusi mendengar dari Abu Ajjub dan AbuAbdullah bahwa Ali djuga mempunjai kitab mengenai hukum wa-risan, Tjeritera ini dibenarkan oleh Al-Kulaini dalam sebuahhadis jang benar berasal dari Imam As-Shadiq. Imam Al-Baqirmengenal chat Ali bin Abi Thalib dan membenarkan kitab-kitabjang ditulis oleh Ali mengenai bermatjam-matjam hukum, diantaralain sebuah kitab jang berisi hukum peradilan* kewadjiban ibadatdan hadis-hadis, begitu djuga mengenai pembahagian harta pusaka. Buchari membenarkan bahwa Ali pernah menulis sebuah ki-tab mengenai Qadhi dan hukum peradilan jang cbusus, dan bahwakitab itu beberapa lama disimpan oleh Abdullah ibn Abbas. Dalam kitab "Ajanusj Sjiah" kita batja nama-nama karanganAli bin Abi Thalib, diantara lain jang disebut kitab "Al-Djafar".Ibn Chaldun pernah menjebut kitab ini dalam Muqaddimahnja,dan djuga ditabini pernah dibitjarakan dalam risalah "Kasjfur-Zu-min" dan "Miftabus Saadah", karangan Ahmad ibn Mustafa,begitu djuga kitab ini pernah dipudji oleh Al-Maarri dalam sa-djak-sadjaknja jang indah, karena isinja dan susunan kalimatnja. Baik hadis-hadis jang berasal dari orang-orang Sjiah ataudari Ahli Sunnah atau jang tersebut dalam kitab "MadjmaulBahrain" mengakui bahwa kitab Al-Djafar dan Al-Djamiah di-tulis Ali dengan chatnja atas petundjuk Rasulullah. Kitab Al-Dja-miah tertulis diatas perkamen dan Al-Djafar terbungkus dalamsebuah bungkusan kulit besar. Didalam kedua-duanja terdapatpokok2 hukum mengenai halal dan haram jang lengkap sekali. Lain daripada itu Sjarfuddin menerangkan dalam karangan-nja, bahwa Ali bin Abi Thalib pernah menulis sebuah kitab me-ngenai dijat, hukum pidana, kitab ini djuga pernah dibitjarakanoleh Buchari dan Muslim dalam pengumpulan hadisnja. Lain daripada itu Ibrahim At-Tamimi mendengar ajahnja bertjeritera, bah-wa AH pernah mempunjai kitab jang berisi ilmu pengetahuanmengenai penjakit, luka dan segala sesuatu jang bertali denganunta. Ahmad ibn Hanbal mentjeriterakan kitab ini dalam Mas-nadnja, daripada sebuah hadis jang diriwajatkan oleh Thariqibn Shihab. Jang tersebut diatas ini hanjalah beberapa tjontoh daripadausaha Ali bin Abi Thalib dalam mengumpulkan hadis dan menju-sun fiqh pada hari-hari pertama sebagai pokok-pokok hukumIslam dan pendjelasannja. Al-Hasani menerangkan, bahwa jangdemikian itu memang sudah selajaknja, karena Ali adalah sahabatjang terpintar daripada Rasulullah dalam bidang tasjri Islam,maka disusunlah hadis-hadis dan ditetapkanlah hukum-hukum178
    • serta disiarkan ïimu-ümu Uu kepada umat islam, terutama tatkaladia memegang djabatan chalifah, sementara sahabat-sahabat dantabiin lain masih mempunjai anggapan tidak boleh menuliskandan membukukan hadis-hadis itu. Ali mengikut Nabi sedjak iamula-mula menerima wahju, dan oleh karena itu seluruhnja ia ke-tahui sampai kepada perintjian persoalan-persoalan dalam Islam. Ali bin Abi Thalib telah melihat lebih dahulu, bahwa sahabat-sahabat dan tabiin akan bertikaian paham dalam meriwajatkanhadis dan meletakkan hukum-hukum seperti jang dikatakanSujuthi, bahwa sahabat-sahabat dan tabiin dalam masa Salafbersalahan paham antara satu sama lain, seorang menjenangi ini,sedang jang lain membentji itu. Tetapi Ali dan anaknja Hasanmengikat semua hadis-hadis dan hukum-hukum itu dalam tulisan,agar tjutjunja tidak bertikai-tikaian lagi mengenai persoalan. Dalam penjusunan hadis, Ali meletakkan kepertjajaannjakepada sahabat 2 jang dianggap benar oleh semua orang Islam, olehkarena itu banjak ia mengambil riwajat dari Salman, Ammar, AbuZar, Abdullah bin Abbas dll., kemudian disusunnja dan dibuku-kannja dengan menjebutkan nama-nama orang-orang jang men-tjintai Sjiah Ali itu. Sumber ini diperluas pada kemudian hari. Abu Rafi menga-rang kitab Sunan, hukum, peradilan, jang mengandung semuaperkara mengenai sembahjang, puasa, hadji; zakat dan hukumpidana dan perdata. Begitu djuga anaknja, Ali bin Abi Rafi,seorang tabiin dan pemuka Sjiah, sahabat dan penulis Ali binAbi Thalib, mengarang sebuah kitab dalam semua fan fiqh. wu-dhu, sembahjang, dan segala bab ibadat jang lain. Ubaidillah mengarang sebuah kitab sedjarah, karena ia ha-dir bersama-sama Ali dalam peperangan Shiffin, jang pernah di-bitjarakan oleh Ibn Hadjar dalam kitab "Ishabah". Abu Djafar At-Thusi, An-Nadjasji, Ibn Sjahrasjaub dll.mengupas dalam kitabnja masing-masing ulama-ulama Sjiah jangmenulis kitab fioh dalam masa Islam pertama, dan menerangkan,bahwa Salman Farisi pernah menulis sebuah kitab sedjarah me-ngenai Katholiek-Romawi, Abu Z a r pernah mengarang sebuah ki-tab jang dinamakannja "Al-Chutbah", jang didalamnja diberi ba-njak keterangan-keterangan agama sesudah wafat Nabi. Al-As-bagh bin Nabatah menulis dua buah kitab, satu bernama "MaqtalHusain", sebuah lagi bernama "Kitab Adjaib Ahkam Amiril Mu-minin". Sulaim bin Qais mengarang kitab tentang "Imamah",berisi hadis-hadis mengenai persoalan ini dari Ali dan dari saha-bat-sahabat besar. Misam At-Tammar mengarana sebuah penqum-pulan hadis, jang kemudian dibitjarakan oleh At-Thusi, Al-Kasjsjidan At-Thabari dalam kitabnja masing-masino. Muhammad binQais Al-Badjari, sahabat kental Ali bin Abi Thalib menqarangsebuah kitab, jang berisi riwajat-riwajat daripada Ali. Tatkala 179
    • kitab ini, menurut At-Thusi, diperlihakan oleh Muhammad binQais al-Badjari kepada Abu Djafar al-Baqir, Al-Baqir berkata :"Ini adalah perkataan Amirul Muminin Ali bin Abi Thalib." Sesudah zaman itu berturut-turutlah sampai sekarang ulama-ulama Sjiah mengarang kitab-kitab fiqh dalam segala bentuk danpersoalan, bahkan tidak kalah banjaknja dan besarnja dengankarangan-karangan ulama-ulama Ahli Salaf (penganut Hanbali)dan Ahli Sunnah wal Djamaah. Ulama-ulama Sjiah lebih sukadalam memetapkan sesuatu hukum menggunakan hadis-hadis jangberasal dari Ahlil Bait, tetapi Ahli Sunnah wal Djamaah tidakkurang jang berbuat demikian jang menganggap hadis-hadis jangdiriwajatkan oleh Ahlil Bait lebih didahulukan daripada hadis-ha-dis riwajat sahabat-sahabat lain, misalnja Imam Malik bin Anasdan Imam Muhammad bin Idris Asj-Sjafii.m
    • VIL IDJTIHAD DAN TAQLID
    • L IDJTIHAD D A N T A Q L I D I Sebelum kita bitjarakan persoalan idjtihad dan taqlid dalammazhab Sjiah, baik kita djelaskan duduknja persoalan ini dalampengertian umum Islam. Idjtihad umumnja diartikan berusahabersungguh-sungguh mengetahui duduknja sesatu perkara danberfikir menetapkan suatu hukum dari sumber pokok fiqh Islam.Kebalikannja dinamakan taqlid jaitu menuruti pikiran seorangulama dengan tidak mengetahui alasan sumbernja, atau sebagaijang ditetapkan oleh Amadi, jaitu beramal dengan utjapan seorangulama dengan tidak memakai alasan jang diwadjibkan mengeta-huinja. Oleh karena hukum Islam itu adalah sjariat ketuhanan, jangberdasarkan kepada pokok-pokok hukum jang sudah ditentukan,seperti Quran, Sunnah, jang hanja diterima untuk diamalkan,atau seperti idjma, qijas dan istihsan, jang kemudian dipikirkansebagai dasar tambahan, adalah idjtihad itu suatu djalan untukmenetapkan hukum-hukum jang berkembang dalam masjarakatpergaulan manusia. Idjtihad merupakan usaha jang berfaedahsekali dalam sedjarah perkembangan hukum Islam. Orang jangmelakukan idjtihad, mudjtahid, menetapkan sesuatu hukum dengannas Quran dan Hadis, apabila ia berhasil memperolehnja, tetapidjuga menetapkan dengan pikirannja, raji, apabila ia tidak men-dapati nas itu. Kadang-kadang ia memperbandingkan sesuatu per-kara dengan perkara jang sudah terdjadi, qijas, memilih suatuhukum jang lebih baik dan lebih tjotjok dengan masa dan tempat.istihsan, atau mendasarkan pertimbangannya kepada sesuatu ke-maslahatan, muslahatul mursalah. Semua djalan-djalan jang ditempuh ini tidak sama, dan de-ngan demikian hasilnjapun berlain-lainan, sehingga terdjadilahperbedaan pendapat dalam idjtihad, dan perbedaan mazhab-ma-zhab, terutama dalam zaman keemasan Abbasijah, dalam zamanmana sebagai jang kjta kenal lahirlah empat kuh mazhab AhliSunnah, jang besar sekali kemadjuannja dalam ilmu fiqh dan ilmuusul. Perselisihan paham dan kemerdekaan berpikir serta debat-mendebat sangat menguntungkan peradaban fiqh. Tetapi sajangkemadjuan ini berachir tatkala Bagdad diserbu oleh Hulagu Khan
    • dalam pertengahan abad ke VII H. atau abad ke XIII M., suatupenjerbuan jang kedjam dan merusak binasakan hampir seluruhkebudajaan Islam jang dibentuk berabad-abad. Mungkin untukmenutup kesempatan Hulagu Khan menggunakan ulama-ulamaIslam memberi fatwa-fatwa jang merugikan Islam, mungkin djugakarena alasan lain, ulama-ulama Sunnah menjatakan pintu idjtihaditu tertutup pada waktu itu dan menganggap tjukup beramal de-ngan peraturan-peraturan jang telah ditetapkan oleh empat ma-zhab besar, jaitu Hanafi, Maliki dn Hanbali, dalam urusan ibadatdan muamalat. Banjak orang menjajangkan, bahwa dengan tertutup pintuidjtihad itu, tertutup pula kemerdekaan berfikir dalam kalanganorang Islam, sehingga umat Islam itu mendjadi beku dalam segalasegi kehidupannja. Dr. Sobhi Mahmassani termasuk salah seorang jang menja-lakan keketjewaannja tentang kebekuan itu. Hal ini didjelaskanpandjang lebar dalam kitabnja "Falsafatul Tasjri* fil Islam" (Bei-rut 1952). Ia berpendapat, bahwa keadaan inilah jang menjebab-kan timbulnja banjak taqlid, banjak bidah jang berdasarkan ataskebodohan dan sjak wasangka dan tersiarlah churafat bikin-bi-kinan dari zaman kezaman, jang membuat Islam itu mendjadimundur. Banjak orang-orang Islam jang bertaqlid kepada perkara-perkara agama dalam ibadat, jang sesudah diselidiki tidak adahubungan sama sekali dengan fiqh. Keadaan ini lebih merugikan, karena ahli ketimuran dari Ba-rat, jang menjelidiki Islam pada waktu jang achir, menetapkanbahwa Islam itu deiigan sjariat-sjariatnja sudah mundur dantidak dapat lagi mengikuti zaman peradaban baru sekarang ini. Kita ketahui, demikian Mahmassani lebih landjut, bahwadalam abad ke XIX lahirlah gerakan-gerakan dalam beberapatempat, jang berichtiar hendak memperbaiki kembali tjara berpikirdalam kehidupan Islam itu. Maka lahirlah jang dinamakan MazhabSalaf, dan lahir pula taqlid buta itu dan mempropagandakan un-tuk tidak berpegang kepada salah satu mazhab tertentu, begitudjuga ia menjeru umat Islam untuk mempersatukan mazhab-ma-zhabnja dan kembali kepada pokok hukum sjariat serta semangat-nja jang sebenarnja, agar umat Islam madju dalam peradabannja. Dapat kita terangkan disini, bahwa menurut pendapat umumdalam dunia Islam tidaklah idjtihad itu dibolehkan bagi semba-rang orang, tetapi seorang mudjtahid jang ingin menetapkan se-suatu hukum, istinbath, atau menetapkan dalil2 bagi sesuatu ke-djadian, istidlal, harus merapunjai beberapa sjarat, jaitu tjerdas,berakal, adil, bersifat dengan sifat-sifat dan achlak jang baik,alim dalam hukum dengan mengetahui alasan-alasan sjara, me-ngetahui benar tentang bahasa f Ar ab), ahli dalam tafsir Quran. ..
    • mengetahui sebab-sebab turunnja ajat Quran, mengetahui sedja-rah perawi-perawi, baik dan buruk sifat mereka dan djalan hadis,mengetahui ajat-ajat jang nasich dan mansuch, sebagaimana jang pernah dibitjarakan oleh Asj-Sjathibi dalam kitabnja "Al-Muwa-raqai", I V : 106. Sjarat-sjarat jang dikemukakan itu terutama bagi orang jangdinamakan mudjtahid mutlak, jang ingin beridjtihad dalam selu- ruh masalah fiqh, tidak diwadjibkan bagi mudjtahid matjam lain.Mudjtahid jang hendak menetapkan sesuatu hukum mengenaisebuah masalah agama, tjukup baginja sebagai sjarat alim dalampokok-pokok hukum fiqh jang empat itu dan mengetahui sungguh-sungguh akan perkara jang dihadapinja. Mudjtahid mutlak atau jang dinamakan djuga mudjtahid da-lam hukum sjara, adalah orang jang istimewa keahliannja dalamsesuatu mazhab atau djalan tertentu, seperti imam-imam mazhabempat Abu Hanifah, Malik Sjafii dan Ahmad ibn Hanbal, atauseperti imam-imama mazhab lain, seperti Auzai, Daud Dhahiri,Thabari, Imam Djafar As-Shadiq, d.U. Mudjtahid mazhab adalah mudjtahid jang tidak mentjiptakan suatu mazhab sendiri, tetapi ia dalam mazhabnja menjalani imamjang diikutinja dalam idjtihadnja mengenai beberapa perkara po-kok atau tjabang hukum Islam. Sebagai tjontoh kita sebutkanAbu Jusuf dan Muhammad bin Hasan dalam mazhab Hanafi, danMazani dalam mazhab Sjafii, jang keputusan-keputusan idjtihad-nja tidak selalu sedjalan dengan tjara berpikir imam-imamnja. Mudjtahid fatwa ialah seorang jang beridjtihad dalam se-suatu masalah, jang tidak merupakan atau mengenai pokok-pokokumum bagi sesuatu mazhab. Misalnja Thahawi dan Sarchasi da-lam mazhab Hanafi, Imam Ghazali dalam mazhab Sjafii, merekaatjapkali beridjtihad dan menetapkan hukum sesuatu masalah jangtidak menjalani pokok-pokok asal daripada mazhab jang dianutnja. Mudjtahid muqajjîd dikatakan orang jang mengikatkan sesua-tu penetapan hukum dengan tjara berpikir Salaf dan mengikutiidjtihad mereka, kemudian menjatakan hukum ini untuk diamalkan.Dengan sendirinja mudjtahid ini keluar daripada tjara berpikirmazhab jang ada, dan oleh karena itu mereka dimasukkan keda-lam golongan jang dinamakan Ashab Tachridj, dan mereka sang-gup mengatasi pendapat-pendapat mazhab-mazhab jang sudah di-akui kekuasaannja, mengistimewakan paham-paham salaf, men-djelaskan perbedaan riwajat jang kuat dan jang dhaif, riwajatjang umum dan riwajat jang djarang tersua, dan dengan demiki-an mentjiptakan suatu hukum baru dalam sesuatu persoalan.Sebagai tjontoh kita sebutkan Al-Karachi dan Al-Quduri dalammazhab Hanafi, jang dalam pendirian sesuatu masalah ia berpi-sah sama sekali dengan imam mazhabnja. lalu berpegang kepadatjara-tjara berpikir orang Salaf. 185
    • I. IDJTIHAD D A N T A Q L I D II Daam Quran, Sunnah dan Idjma sahabat, begitu djugapendapat imam mazhab empat, terdapat banjak keterangan-kete-rangan, jang menundjukkan bahwa idjtihad itu untuk orang-orangjang memenuhi sjarat mudjtahid wadjib hukumnja, dan tak bolehditinggalkan. Demikian pendapat umum dalam dunia Islam. Jang didjadikan alasan untuk mewadjibkan itu diantara lainialah ajat Quran. jang bunjinja : "Gunakanlah pikiranmu, wahaiorang jang mempunjai akal" (Al-Hasjar, 59), dan aat Quranjang berbunji : "Djika engkau berbantahan dalam sesuatu perka-ra, kembalikanlah perkara itu kepada Allah dan Rasulnja" (An-Nisa, 59). Dalam Sunnah terdapat keterangan jang lebih njata.diantara lain sabda Nabi : "Bcridjtihadlah kamu, segala sesuatujang didjadikan Tuhan mudah adanja" (Amadi, Al-Ahkam, III :170), sabdanja : "Apabila seorang hakim hendak mendjatuhkansuatu hukum dan ia beridjtihad, kemudian ternjata hukumnja itubenar, maka ia beroleh dua pahala, dan apabila ternjata bahwahukumnja itu salah, maka ia mendapat suatu pahala" (Buchari-Muslim). Dan banjak lagi hadis-hadis jang lain, jang menjuruhmenuntut ilmu, jang menerangkan, bahwa ulama itu amanatRasul, pelita bumi, pengganti nabi-nabi atau ahli waris nabi-nabi,jang semuanja mengandjurkan berfikir, mentjari ilmu dan ber-idjtihad. Chalifah Abu Bakar pernah melakukan idjtihad mengenaiperkara warisan kalalah dan Chalifah Umar bin Chattab punbanjak kali beridjtihad, sambil berkata : "Umar tidak tahu, apa-kah ia mentjapai kebenaran atau tidak, tetapi ia tidak mau me-ninggalkan idjtihad" (Amdi dan Imam Al-Ghazali). Menurut Ibn Qajjim Abu Hanifah dan Abu Jusuf pernahberkata : "Tidak diperkenankan bagi seseorang berkata menggu-nakan perkataan kami. hingga ia tahu dari sumber mana kamiberkata itu." Muin bin Isa pernah mendengar Imam Malik ber-kata : Aku ini hanja seorang manusia, dapat berbuat salah dandan dapat djuga berbuat jang benar. Lihatlah kepada pendapatku.djika ia sesuai dengan Kitab dan Sunnah, gunakanlah pendapatitu, tetapi djika tidak sesuai dengan Kitab dan Sunnah tinggalkan-lah pendapat itu." Imam Sjafii pernah berkata : "Meskipun aku186
    • sudah mengatakan pikiranku, tetapi djika engkau dapati Nabiberkata berlainan dengan kataku itu, maka jang benar adalahutjapan Nabi, dan djanganlah engkau bertaqlid kepadaku. Apa-bila ada sebuah Hadis jang menjalani perkataanku dan Hadis itushah, ikutilah Hadis :tu, ketahuilah, bahwa itulah mazhab ku."Djuga Imam Ahmad bin Hambal, seorang Imam jang terkenalkuat memegang Sunnah dan sedapat mungkin menghindarkandirinja dari menggunakan pikiran, berkata kepada muridnja :"Djangan kamu bertaqlid kepadaku, djangan kepada Malik, dja-ngan kepada Sjafii dan djangan pula kepada Sauri, ambillah se-suatu dari sumber tempat mereka menqambil pikiran itu." Dari semua uraian diatas ternjata, bahwa taqlid buta, taqlidulama dalam agama dilarang, dan bahwa beridjtihad itu wadjibhukumnja bagi orang alim jang berkuasa. Uraian itu menundjuk-kan djuga, bahwa seorng mudjtahid mungkin mengalami saahdan benar. Mereka berfikir setjara merdeka. Berlainan denganpendapat Mutazilah, jang berkata bahwa tiap-tiap mudjtahidjang menggunakan akalnja pasti benar, dengan demikian aliranini seakan-akan memaksa seseorang manusia apa jang tidaksanggup diperbuatnja. Tentu hal ini tidak diperkenankan padasiara, dengan alasan firman Tuhan dalam Quran : "TuhanAllah tidak memberatkan seseorang melainkan sekuasanja" (Al-Baqarah, 286). Disamping wadjib beridjtihad dan haram taqlid ada satuperkara jang harus diperhatikan, jaitu bahwa seorang mudjtahidatau qadi tidak terikat kepada keputusn idjihadnja dimasa jangtelah lampau, apabila keputusan ternjata kurang benar. Dalamhal ini Umar ibn Chattab pernah memperingatkan dalam suratnjakepada Abu Musa Al-Asjari sbb. : "Tidak ada sesuatu jang da-pat mentjegahkan engkau memeriksa kembali keputusan idjtihad-mu dalam sesuatu hukum. Mudah-mudahan engkau beroleh pe-tundjuk dan engkau pulang kepada jang hak. karena hak itu asli(qadim), tidak dapat dibathalkan oleh sesuatu, dan kembali kepadajang hak lebih baik dari pada berpegang kepada jang bathil" (Mawardi, Al-Ahkamus Sulthanijah, dll.). Mengenai taqlid pendapat umum mengatakan, bahwa menu-ruti pendapat orang lain dengan tidak mengetahui hudjdjah jangdiwadjibkan. tidak diperkenankan bagi orang jang berkuasaberidjtihad. Taqlid hanja dibolehkan kepada orang jang tidaksanggup beridjtihad, jaitu orang awam. orang jang belum menge-tahui apa-apa, murid jang belum dapat beridjtihad. Bagi merekaberlaku hukum : fatwa untuk orang djahil sama kekuatannja de-ngan idjtihad bagi mudjtahid, atau fatwa mudjtahid untuk orangawam sama dengan dalil sjara bagi orang mudjtahid. Demikiantersebut dalam kitab Al-Djami dan Al-Muwafaqat. 187
    • Pendapat ini masuk diakal, karena hidup bermasjarakat sosiadan ekonomi sekarang ini sibuk dengan urusan-urusan tersendiri,sehingga tidak setiap orang dapat membuat dirinja ahli dalamhukum fiqh dan usul. Orang jang sematjam itu dibolehkan meng-ikuti periataan mudjtahid, sesuai dengan firman Tuhan dalamQuran : "Tanjaiah kepada orang alim djika kamu sendiri tidakmengetahui !" (An-Nahal, 43). Demikianlah perkembangan tjara berfikir dalam dunia ulamaAhli Sunnah. Sekarang mari kita tindjau pendirian golonganSjiah, jang sebagaimana dapat dilihat hampir tidak berbeda de-ngan itu, ketjuali mengenai idjtihad, jang oleh Sjiah dianggaptetap terbuka selama-lamanja. Pendirian inipun sesuai denganpendirian sebahagian ulama Ahlus Sunnah. Tentang mengubah sesuatu idjtihad, sebagaimana pendapatUmar bin Chattab, tidak sadja terdjadi dalam golongan Sjiah,tetapi djuga dalam golongan Ahli Sunnah. Ingat akan mazhabSjafii, jang mempunjai dua aliran berfikir, jang biasa dikenaldengan Qaul Qadim masa Baghdad, dan Qaul Djadid masa Mesir. Dr. Mahmassani mengatakan, bahwa kemerdekaan idjtihaddalam mazhab Sjiah Isna Asjar Imamijah lebih luas dari AhliSunnah. Pada mereka pintu idjtihad itu selamanja terbuka sampaizaman sekarang ini. Mereka melekatkan penghargaannja kepadaidjtihad lebih tinggi dari Idjma dan Qijas. Imam pada merekaberkedudukan sebagai kepala mudjtahid, sajjidul mudjtahidin, tem-pat mereka memperoleh ilmu pengetahuan agama. Imam itu di-anggap masum dari pada segala kesalahan; berlainan sekali de-ngan kedudukan seorang chalifah dalam kalangan Ahli Sunnah(Falsafat dst., hal. 141). Tentu sadja Imam itu boleh beridjtihad dalam hukum-hukumfuru dan bukan dalam sesuatu jang bertentangan dengan Qurandan Sunnah. Menurut Sjiah tiap-tiap orang Islam jang mukallaf diwadjib-kan mengerdjakan segala hukum Islam jang dipikulkan kepadanjadengan jakin, dan jakin itu menurut mereka diperoleh melaluisalah stftu djalan idjtihad, taqlid dan ihtijath. Pengertian ketigamatjam djalan ini didjelas-kan dalam kiab-kitab Sjiah sebagaiberikut. Idjtihad jaitu menetapkan hukum sjara dengan pendapatnjajang sudah ditetapkan. Taqlid jaitu berpegang kepada fatwa se-orang mudjtahid dalam mengerdjakan segala amal ibadat. Ihtijathjaitu beramal dengan suatu tjara jang jakin dari kebiasaan jangbelum diketahui sungguh-sungguh duduk perkara jang sebenarnja. Bagi orang-orang Sjiah beridjtihad itu wadjib kifajah danapabila ada segolongan manusia mengerdjakan pekerdjaan ini,terbebaslah manusia jang lain dari pada kewadjiban itu, tetapi188
    • apabila tidak ada jang sanggup melakukan idjtihad itu, makaseluruh masjarakat Islam berdosa kepada Tuhan. Orang jangsanggup melakukan idjtihad dinamakan mudjtahid. Mudjtahid ituada dua matjam, pertama mudjtahid mutlak dan kedua mudjtahidmuttadjiz. Jang dinamakan mudjtahid mutlak ialah orang Islamjang sanggup menetapkan hukum mengenai seluruh persoalanfiqh, sedang mudjtahid muttadjiz ialah orang jang berkuasa me-netapkan sesuatu hukum sjara dalam beberapa hukum furu öqh.Seorang mudjtahid mutlak diwadjibkan beramal dengan hasilidjtihadnja. Ia boleh djuga beramal setjara ihtijath. Mudjtahidmuttadjiz djuga diwadjibkan beramal dengan hasil idjtihadnjadjika ia mungkin dalam mentjiptakan hukum furu. Tetapi djikaia tidak mungkin, maka ia dihukum bukan mudjtahid, dan bolehia memilih salah satu djalan antara taqlid dan beramal denganihtijath. Mengenai taqlid diterangkan, bahwa taqlid itu ialah menurutitjara berfikir seseorang mudjtahid karena tidak sanggup beridjtihadsendiri. Amal seorang awam jang tidak didasrkan kepada taqlidatau ihtijath dianggap bathal. O r a n g , jang bertaqlid dinamakanmuqallid dan terbahagi atas dua bahagian, pertama awam semata-mata, jaitu seseorang jang tidak mengenal sama sekali hukumsjara. Kedua muqallid berilmu, jaitu seseorang jang mempunjaiilmu tentang Islam dalam garis-garis besarnja, tetapi tidak sang-gup menetapkan sesuatu hukum dengan idjtihad. Dalam bertaqlid disjaratkan dua perkara sebagai berikut :pertama amalnja sesuai dengan fatwa mudjtahid jang diikutinjadalam bertaqlid, kedua benar kasad ibadatnja untuk berbakti ke-pada Tuhan dengan setjara jang diputuskan mudjtahid itu. Seorang muqallid dapat mentjapai fatwa mudjtahid jang di-ikutinja dengan salah satu dari pada tiga djalan : pertama iamendengar langsung hukum sesuatu masalah pada mudjtahid itu sendiri, kedua bahwa ada dua orang jang adil dan dapat diper-tjajai menjampaikan fatwa mudjtahid itu kepadanja, boleh djugahanja oleh seorang sadja ang dipertjajainja sungguh-sungguh dandapat menteramkan kejakinannja, ketiga ia membatja sebarantertulis, dimana diuraikan fatwa mudjtahid itu dan keputusan itu hendaknja dapat menenteramkan djiwanja tentang sahnja dan benarnja penetapan hukum tersebut. Apabila seorang mudjtahid mati, sedang muqallid tidak me- ngetahuinja melainkan sesudah beberapa waktu kemudian, amal muqallid jang sesuai dengan mudjtahid jang wafat itu sah dalam taqlidnja. Bahkan dihukum sah dalam beberapa perkara jang ber- lainan, asal iang berlainan itu mengenai persoalan-persoalan jng dapat diampuni dalam agama karena uzur, seperti antara satu kali atau tiga kali mengutjapkan tasbih, jang fawanja berbeda antara 189
    • mudjtahid pertama jang sudah mati dengan mudjtahid jang dibe-lakangnja. jang berlaku fatwanja dalam masa itu. Djadi berlainandjumlah kali tasbih karena berlainan fatwa mudjtahid tidak me-rusakkan sahnja sembahjang seorang muqallid dalam mazhabSjiah. Seorang muqallid harus bertaqlid kepada mudjtahid jang lebihalim dari jang lain. Djika ia mendengar utjapan dua jang berlai-nan dari dua orang mudjtahid, dan orang tundjukkan kepadanja,bahwa mudjtahid jang seorang itu lebih alim dari jang lain, makamuqallid itu harus mengikuti mudjtahid jang alim itu. Seoranganak boleh bertaqlid, dan apabila mudjtahid jang diikutinja, itumati sebelum sampai umurnja, anak itu boleh bertaqlid teruskepadanja dengan tidak usah memilih mudjtahid jang lebih alim. Orang-orang jang dibolehkan bertaqlid kepadanja, harusmempunjai sjarat-sjarat tertentu, seperti bahwa ia sudah baligh,berakal, seorang laki-laki, seorang jang teguh imannja (dalamhal ini dimaksudkan Sjiah penganut-penganut mazhab isna Asja-rijah), adil. bersih keturunannja. ahli agama, mempunjai kekuatanihtijath dan masih hidup. Tidak dibolehkan bertaqlid pada umum-nja kepada mudjtahid jang sudah mati, meskipun diketahui bahwaia pada waktu hidupnja adalah seorang mudjtahid jang lebih adildari jang lain. Dalam memilih mudjtahid jang lebih alim ditentukan dua buahsjarat. Djika ada seorang mudjtahid mengadjarkan perselisihanpendapat dalam fatwanja, baik setjara garis besar atau setjaraperintjian. seorang muqallid wadjib memilih mudjtahid jang lebihalim. Djika seorang mudjtahid dalam memberikan fatwa tidakmengadjarkan perselisihan faham sama sekali, kepadanja diboleh-kan taqlid dengan tidak usah mentjahari orang lain jang lebihalim. Djika seorang muqallid memerlukan sebuah fatwa, ia bolehmemilih seorang mudjtahid jang sanggup memberikan fatwa itukepadanja, meskipun ad.a disampingnja mudjtahid lain jang lebihalim. IhtFjath artinja boleh mengerdjakan, boleh meninggalkan danboleh mengulang sesuatu amal jang tidak diketahui tjaranja tetapidijakini dapat melepaskannja dari suatu perintah agama. Jangmasuk bahagian pertama ialah hukum-hukum jang diragu-raguiantara wadjib dan tidak haram, mazhab Sjiah dalam keadaanjang demikian memerintahkan mengerdjakannja. Mengenai ma-tjam kedua, djika diragu-ragui antara perintah dan tidak wadjib,ihtijath dalam hal ini menghendaki agar pekerdjaan jang demikianitu ditinggalkan dan djangan dikerdjakan. Dalam perkara jangketiga misalnja mengenai suatu hukum jang diragu-ragui wadjib-nja mengenai dua matjam ibadat, seperti pertanjaan, apakah sem-190
    • bahjang jang dilakukannja harus lengkap atau dipendekkan dalambentuk qasar, maka ihtijath dalam keadaan begini diulang duakali, sekali setjara qasar dan sekali setjara tamam atau lengkap. Mungkin terdjadi seorang awam tidak pernah dapat membe-dakan tjara ihtijath sematjam itu, misalnja karena hli fiqh berbedapaham mengenai harus berwudhu atau mandi dengan air musta-mal dalam menghilangkan hadas besar. Ihtijath dalam keadaanseperti ini ialah meninggalkan seluruh matjam itu. Djika orangawam itu mempunjai air jang tidak mustamal, maka boleh dila-kukannja ihtijath, jaitu berwudhu atau mandi dengan air itu.Boleh djuga ia tajammum djika ia mungkin melakukan pekerdjaanini. Demikianlah beberapa tjontoh jang kita ambil dari kitabSjiah sendiri, jaitu kitab "Al-Masail al-Muntachabah" (Nedjef,1382 H ) , karangan seorang ulama Sjiah terkenal Sajjid AbuiQasim Al-Chui. 191
    • 2. S J I A H D A N I L M U PENGETAHUAN Dalam segala bidang ilmu pengetahuan terdapat orang-orangSjiah sebagai pudjangga-pudjangga jang terkemuka. Dalam bi-dang ilmu mantik dan logika, dalam bidang ilmu filsafat, dalambidang ilmu djiwa dan pendidikan, dalam bidang ilmu pasti dansegala pengetahuan jang bertali dengan perhitungan, kita dapatikarangan-karangan penting, jang kadang berdjilid-djilid tebalnjasebagai buah tangan pudjangga-pudjangga Sjiah. Bahkan dalambeberapa bidang ilmu tidak sadja mereka sebagai tokoh-tokohpenting dan pengarang, tetapi pentjipta, pembentuk dan peletakdasar-dasar dalam bahasa Arab, jang dengan demikian memper-kaja perpustakaan, jang berfaedah sekali untuk kemadjuan Islamdalam menghadapi dunia luar. Kita membangga-banggakan Farabi sebagai ahli filsafat Is-lam jang pertama, jang disebut orang meletakkan dasar-dasar ke-jakinan Islam dalam filsafat dan jang disandjung-sandjungkanorang sebagai mahaguru kedua, sesudah Aristoteles. Farabi jangbesar ini tidak lain dari Abu Nassar Muhammad bin Ahmad Al-Farabi. seorang penganut aliran Sjiah. Siapa Ibn Maskawaih, jang mengarang ilmu mantik, ilmuachlak dan ilmu filsafat, serta karangan-karangan jang lain jangbanjak dipeladjari oleh Al-Ghazali ? Tidak lain dari seorang Sjiah.Dengan demikian kita dapati tokoh-tokoh Sjiah ini dalam ilmupasti, seperti Qudamah bin Djafar, jang meletakkan djuga dasar-dasar ilmu berhitung dan ilmu jang mempergunakan angka-angkapelik. Ibn Sina, seorang Sjiah Ismailijah, jang terkenal dalam il-mu filsafat Islam sebagai mahaguru ketiga, dan dalam ilmu keta-biban. ilmu djiwa, dan ilmu hukum Islam dan perbandingan hu-kum Islam, seperti kitabnja Bidajatu) Mudjtahid, iang belum dapatdiganti orang karena padat dan lengkap sampai sekarang ini. Djika kita mentjari dalam bidang sedjarah dan ilmu perkem-bancian aoama-agama tak dapat tidak kita akan bertemu dengankitab-kitab jang terpenting, buah tangan Nasiruddin MuhammadAt-Thusi. Demikianlah dapat kita sebutkan sebagai tokoh-tokoh terke-muka dari Siiah itu. Hasan bin Daud Al-Hilli, ahli dalam mantia.Hasan bin Jusuf. Al-Hilli, ahli pengetahuan alam dan tasawuf,Muhammad Ar-Razi dalam logika, ahli dalam hukum Islam. Dia-laluddin Ad-Duwani, tokoh jang terkemuka dalam pengupasanmantik, Daud bin Umar Al-An Ahaki, ahli filsafat dan ilmu djiwa,192
    • Bahruddin Al-Amilli, ahli ilmu pasti, ilmu falak, ilmu berhitung,sebagaimana masjhur djuga kemudian seorang muridnja Sjaich Dja-wad Al-Kazimi. Semuanja meninggalkan karangan-karangannjajang penting. Pada achirnja dapat kita sebutkan sebagai pudjangga-pudjang-ga Sjiah adalah Nimatullah Al-Djazairi Sadrudin Asj-Sjirazi,Mulahaddi As-Sibzawari, Sjaich Hadi Al-Bagdadi, Anibathi, Isa-ghudji, dan lain-lain, semuanja adalah djago-djago dan pengarang-pengarang Sjiah dalam mantik, filsafat, ilmu djiwa, ilmu pasti,ilmu hukum dan ilmu alam. Terutama dalam ilmu bintang dan ilmu falak sangat banjakterdapat pengarang-pengarang Sjiah Imamijah seperti An-Nu-bachti, Al-Barqi, Al-Masudi, Al-Djakedi, Asj-Sjamsjathi, An-Na-djasi; dan banjak sekali djika kita sebut seorang-seorang. IbnThaus mengarang chusus sebuah kitab jang menjebutkan berpuluhdan beratus orang ulama Sjiah sebagai ahli ilmu bintang.. Bahkan dalam ilmu-ilmu jang ketjil-ketjilpun kita dapati pe-ngarang-pengarang terkemuka, jang djarang diketahui orang,bahwa mereka itu penganut Sjiah seperti jang dikemukakan na-manja dalam kitab Fahrasat Ibn Nadim dalam bidang ilmu tabirmimpi, diantaranja Al-Barqi, An-Nadjasi, Al-Ijasi, Al-Kulaini danlain-lain. Lebih penting dari itu kita ingin mengemukakan beberapanama dalam bidang ilmu kedokteran, jang telah dimulai oleh salahseorang Imam dua belas, jaitu Imam Ali bin Musa Ar-Ridha.Selandjutnja Ibn Fudhal, Al-Qummi, dengan sebuah kitab besarmengenai ilmu kedokteran. Selandjutnja Al-Thai, Al-Barqi, Al-Ijasi, Ibn Sina, jang sudah kita sebutkan diatas An-Nafisi, Al-Asbahani tabib An-Nadjadi dan keluarganja, Al-Miraz, KarmanaSjahi, jang mengarang kitab penjakit anak-anak, sudah diterdje-mahkan beberapa kali dalam bahasa Perantjis. Mengenai ilmu bahasa dan sastra Arab, pudjangga-pudjang-ga Sjiah telah mentjapai puntjaknja. Darah Ali bin Abi Thalib.jang tidak dapat disangkal adalah seorang pudjangga dan penjai*kebanggaan Islam, jang nada iramanja masih tersimpan sampaisekarang dalam beberapa djilid kitab Nahdjul Balaghah, mengalirkepada penganut-penganut Sjiah. Orang jang mula2 meletakkanilmu Nahu adalah Abui Aswad Ad-Duali, salah seorang tabiiniang terpenting, adalah seorang jang memihak kepada Ali bin AbiThalib. dan jang banjak mengambil ilmu sadjak dan Sjair Arabdari chalifah keempat ini. Pengakuan, bahwa jang mula-mulamenjusun ilmu Nahu itu Abdulrahman bin Harmuz atau Nasarbin Asim, sebagaimana tertjatat dalam kitab Ibn Nadim, tidakbenar semua orang itu mengambil dari Abui Aswad Ad-Duali. Jang mula-mula menjiarkan ilmu Nahu di Basrah dan Kufah 193
    • pun ulama Sjiah. Di Basrah terdapat Chalil bim Ahmad Al-Farahi-di seorang jang ahli tentang ilmu alat itu, ia mendjadi guru darjSibawaihi, seorang pudjangga dalam ilmu Nahu jang tak adabandingannja. Dalam pada itu di Kufah terdapat Abu DjafarMuhammad bin Hasan Ar-Ruasi, anak paman Muaz bin Salimbin Abi Sarah, termasuk keluarga ahli bait Nabi. Sedang pudjang-ga jang kedua di Kufah disebut Al-Kasai, jang ahli dalam ilmuke-Araban, berguru kepada Ar-Ruasi. Dalam ilmu saraf djugakehormatan kembali kepada Sjiah. Bukankah peletak batu per-tama dalam ilmu ini Al-Harra?. Meskipun kehormatan ini dibe-rikan kepada Al-Mazani dan As-Sajuti, atau kepada jang lain,seperti Ibn Duraid, Ibn Chaluwaihi, An-Nadjah, Al-Alwi, Al-Huseini, Al-Asrabadi, Al-Amili, semuanja adalah pengarang-pengarang Sjiah. Demikianlah kita batja, bahwa jang mula-mula raemperbuatdan menjusun ilmu balaghah ialah Al-Marzabani Al-Churasani diBaghdad, djuga ulama Sjiah, jang kemudian disusul oleh Al-Djurdjani dalam ilmu maani dan bajan, sebagaimana djuga pe-letak batu pertama untuk ilmu badi, jaitu penjair Ibrahim bin Alibin Harmah. Saja tidak ingin menjebutkan semua nama-namapenjair jang terkemuka sedjak zaman Nabi, sebagaimana telah)didaftarkan oleh Sajjid Muhsin Al-Amin, dalam bukunja "Aja-misj Sjiah" Beirut, 1960, jang memakan berpuluh-puluh halamankitabnja, sampai kepada Hamzah paman Nabi, karena kita jangbukan Sjiahpun menganggap semua mereka adalah penjair-penjairjang ulung dalam Islam. Siapa jang tidak mau mengaku penjairAli bin Abi Thalib, Fatimah Zuhra, Fadhal bin Abbas, Rabiahbin Haris, Abbas bin Abdul Muthalib, Hasan bin Ali, Husein binAli, Abdullah bin Abi Sufjan, Abdullah bin Abbas, Ummu Hakim,Al-Djudi Abui Haisam, Qais bin Saad bin Ubbadah, dan seba-gainja, semuanja adalah penjair-penjair jang ulung pada hari-haripertama Islam, bukan hanja kepunjaan Sjiah, tapi kepunjaanIslam umumnja. Lebih penting saja akui, bahwa ulama-ulama Sjiah dan pu-djangganja memang telah djflja dalam menjusun ilmu dan kitab-kitab Hadis tersendiri, ilmu dan kitab-kitab fiqh tersendiri, ilmudan kitab-kitab tafsir tersendiri, kitab-kitab besar dan penting,jang tidak kalah mutunja dengan karangan-karangan Ahli Sunnah.Tetapi persoalan ini tidak saja masukkan kedalam pasal ini, tetapisaja bitjarakan pada waktu memperkatakan Sjiah dan Tafsir,Sjiah dan Hadis, Sjiah dan Fiqh. 194
    • 3. SJIAH D A N RATIONALISME. Dalam bahagian ini akan. kita singgung suatu sifat Sjiahjang penting, jaitu penggunaan akal atau rationalisme dalam me-netapkan sesuatu hukum. Dalam hal ini kadang-kadang merekasedjalan tjara berfikir dengan Mazhab Az-Zahiri atau Mutazilah. Sementara Ahli Sunnah berpegang kepada empat pokok hu-kum, adillatul ahkam atau usul fiqh, jaitu Quran, Sunnah, Idjmadan Qijas, Sjiah hanja mengakui Quran dan Sunnah sebagaipokok hukum Islam jang tidak dapat diganggu gugat lagi. Me-reka mengakui, bahwa Quran sudah lengkap segala-galanja danSunnah menambah menjempurnakannja, sehingga kedua-duanjamerupakan sumber Islam dalam masa Nabi jang harus dilaksana-kan oleh semua orang Islam. Orang-orang Islam berpedomankepada kedua sumber ini, baik dalam ibadat maupun dalam per-kara jang lain. Nabi mengirimkan ketempat-tempat jang baharumenganut Islam orang-orang jang akan mengadjarkan hukumsebagaimana jang tersebut dalam Quran, ditambah dgn. ilmu jangmereka ketahui dari utjapan dan fatwa Nabi. Atjapkali djuga N a -bi mengirimkan surat-surat jang berisi sebahagian dari pada hu- kum Islam kenegara-negara, daerah-daerah dan penduduk-pen-duk suatu tempat, radja-radja. penguasa dan orang-orang jang tertentu. Ia pernah mengirimkan surat ke Jaman dan Hamdan mengenai hukum zakat, sedekah dan beberapa hal mengenai nikah dan perkawinan (Al-Husaini, „Tarich Fiqh Al-D^fari". hal. 1 8 1 - 1 8 2 ) . Sesudah wafat Nabi terdjadi banjak perkara jang tidak ter-sua dalam masa hidupnja. terutama karena bertambah luasnjadaerah Islam. Kebutuhan kepada hukum bertambah besar, danoleh karena orang Islam tidak sanggup mengeluarkan hukum itudari Quran dan Sunnah, mereka lari kepada dua sumber lain.jaitu Idtma dan Qijas. Ibn Chaldun menerangkan dalam "Muqad-dimah"nja, bahwa Idima dan Qijas ini sudah terdapat dalam masaSahabat. Tjara menghasilkan Idjma ini ialah, bahwa Chalifah bermu-sjawarat dengan sebahagian orang Islam mengenai sesuatu ma-salah hukum, mereka menjatakan pikirannja, dan kemudian clrn-lifah menetapkan sesuatu fatwa, janq dinamakan Idjma. Lih. "Tarich Tasjri al-Islami", karangan Chudhari, hal. 115. Disanadisebut, bahwa kadang-kadang orang-orang jang berkumpul itudalam mengambil keputusan Idjma tidak meniebut nas dari Qur- 195
    • an dan Hadis. Dalam sebuah surat Umar ibn Chattab kepadaQadi Sjuraih tersebut susuatu mengenai Idjma sebagai pokokhukum sesudah Quran dan Sunnah. Amir Asj-Sjubi mentjeritera-kan, bahwa Umar mengirim surat kepada Qadi itu, jang bunji-nja : "Apabila engkau menghadapi sesuatu perkara, hukumlahdengan Quran, tetapi djika tidak terdapat sesuatu dalam Qurn,djuga tidak dalam Sunnah Nabi dan tidak ada pembijaraan sese-orang mengenai itu, djika engkau suka, gunakanlah pikiranmusendiri." Idjma jang disebut oleh Chudhari dan Ibn Chaldun itu sudahmenimbulkan pembitjaraan jang hebat antara Malik dan pengi-kutnja dengan Al-Lais bin Saad, ahli fiqh Mesir, dan pengikut-nja. Malik berpendapat, bahwa Idjma jang didjadikan pokokhukum itu ialah Idjma orang Madinah, sedang pihak jang lainberpendirian boleh djuga idjma orang lain Madinah, asal tidakbertentangan dengan ajat Quran, diantaranja Surat An-Nisa I Hdan Surat Al-Baqarah 143. Mereka jang berpegang kepada Idj-ma sebagai pokok hukum, mendasarkan djuga pendiriannja kepa-da utjapan Nabi jang diriwajatkan oleh Ibn Masud, bunjinja :"Ada tiga perkara jang tidak dapat membelenggu hati umat Islam,jaitu ichlas amalnja bagi Allah, memberi nasihat kepada semuaorang Islam, dan selalu hidup dalam djamaah." Begitu djugakepada utjapan Umar bin Chattab dikala ia berchutbah : "Merekajang berhasrat sorga, selalu bersatu padu dalam djamaah, sjetandekat kepada perseorangan dan djauh kepada orang jang ingintetap bersama teman-temannja." Ahli Sunnah mendasarkan pen-diriannja kepada H a d i s : "Ummatku tidak akan seia sekata dalamkesesatan, dan tangan Tuhan bersama djamaah." Berdasarkan kepada alasan ini Malik menetapkan, bahwaIdjma jang wadjib diturut ialah Idjma Ahli Madinah, karena Ma-dinah itu adalah tempat Hidjrah Nabi, tempat turun wahju, tempatIslam sudah kokoh dan merupakan negara, dimana garis 2 Sjariatsudah mendjadi satu, dimana berkumpul sahabat 2 Muhadjirindan Ansar dalam masa jang lama, jang mengetahui sebab-sebabturun wahju dan mengamalkannja. Penduduk Madinah itu terdiridari orang-orang jang mengenal sungguh-sungguh akan Nabi danakan tjara ia mendjatuhkan hukum açjama, dan dengan demikianmereka ahli dalam agama dan pokok-pokoknja. Sedjarah pokok hukum jang keempat jaitu Qijas atau jangatjapkali dinamakan djuga Raji, adalah sebagai berikut. MenurutChudhari jang mula-mula menggunakannja ialah Umar bin Chat-tab. Sahabat-sahabat jang menghadapi perkara jang tak ada pe-nyelesaian dalam Quran dan Sunnah, achirnja lari kepada Qijas.Diantara keterangannja, bahwa Umar pernah menulis surat "kepa-da Abu Musa Al-Asjari : "Peladjari perkara-perkara dan tjontoh-196
    • tjontoh, kemudian qijaskan atau perbandingkan perkara itu antarasatu sama lain". Barangkali hal inilah jang menjebabkan IbnChaldun berkata, bahwa Idjma dan Qijas sudah terdapat dalammasa Sahabat, dan kemudian pokok hukum fiqh itu mendjadi em-pat, jaitu Quran, Sunnah, Idjma dan Qijas. Dr. Muhammad Jusuf dalam kitabnja "Tarichul Fiqhil Is-lami" (hal. 242) mengemukakan pendapat Imam Abu Bakar As-Sarchasi, bahwa mazhab Sahabat, kemudian diikuti oleh Tabiin,membolehkan Qijas untuk beroleh penetapan hukum Sjara. Bah-kan Dr. Muhammad Jusuf tsb. berpendapat lebih tjondong, bah-wa Nabi Muhammad sendiri-lah jang mula-mula meletakkan da-sar Qijas, jaitu tatkala ia mengirimkan Muaz memimpin peradilandi Jaman. Konon Nabi bertanja : "Bagaimana pendapatmu, djikakepadamu dihadapkan perselisihan antara dua orang ?" DjawabMuaz : "Aku akan mengadilinja menurut Kitab Allah." Nabi ber-tanja pula : "Djika tidak terdapat dalam Kitab Allah ?" DjawabMuaz : "Aku tjahari dalam Sunnah." Nabi kemudian bertanjalagi : "Djika tidak ada dalam Sunnah ?" Kata Muaz : "Aku ber-idjtihad dengan pikiranku." Nabi menepuk dada Muaz dengantangannja, seraja mengutjapkan : "Segala pudji bagi Tuhan, jangtelah membuat sepakat antara Rasul dan pesuruhnja sebagaimanajang disukai oleh Rasul itu." Ibn Qajjim menerangkan dalam kitabnja Tlamul Muwaqqiin",bahwa Muharriz Al-Mudladji sudah menggunakan Qijas dalammasa Nabi dan menghukumkan dengan djalan Qijas, bahwaUsamah benar anak Zaid bin Harisah. Djuga diterangkan, bahwadalam Quran banjak terdapat hukum jang dihadapkan kepadalaki-laki, tetapi dapat diqijaskan untuk perempuan, misalnja me-ngenai tuduhan zina terhadap djanda dsb. Begitu djuga, djikaQuran tidak membolehkan utjapan "oh !" kepada orang tua, apa-lagi "tjis" atau „bedebah", djika darah babi sadja tidak diboleh-kan, apalagi gemuknja dan dagingnja, dsb. Bagaimanakah pendirian Sjiah terhadap Idjma dan Qijasjang diterima oleh Ahli Sunnah sebagai dua pokok hukum sesu-dah Quran dan Sunnah itu ? Sjiah sepakat menerima Quran dan Sunnah sebagai pokokdasar hukum-hukum agama atau fiqh. Dari zaman Nabi sampaisekarang ini Quran itu diterima sebagai sumber pertama untukpenetapan hukum, karena peraturan-peraturan jang ada dalamQuran itu dianggap sudah lengkap mengenai ibadat, muamalat,perorangan, pidana dan perdata jang tidak kurang dari limaratus ajat, semuanja dapat mengisi hukum fiqh. Al-Djazairidan Al-Miqdadi telah menielidiki hal ini dan mengarana sebuahbuku bernama "Kanaul Irfan fi Fiqhil Quran" dan "QalaididDurar". Dan oleh karena itu djuga Tuhan berkata dalam Surat 197
    • Àn-Nahal ajat 44 : "Kami turunkan kepadamu Quran ini, agar engkau terangkan kepada manusia apa jang diperintahkan kepada mereka dan agar mereka berpikir." Sunnah bagi orang-orang Sjiah adalah penjempurnaan bagi Quran, merupakan satu sumber, jang tidak boleh diragu-ragui lagi akan kebenarannja, ia hampir tidak berbeda dengan Quran, karena Tuhan mengakui, bahwa Nabi Muhammad "tidak menu- turkan sesuatu karena hawa nafsunja, ketjuali firman jang diwah-jukan Tuhan kepadanja" ( Q u r a n ) . Sjiah menganggap Sunnah itu sebagai pokok dasar hukum jang kedua, jang diwadjibkan ke-pada tiap orang Islam mengamalkannja, sebagaimana diperintah-kan oleh Tuhan dalam Quran : "Apa jang disampa/kan oleh Ra- sul laksanakan, dan apa jang dilarangnja djauhi" (Quran, AlrHasfcir, 7 ) . Kedua pokok ini dikerdjakan dalam masa sahabat dan sesu-dahnja. Oleh karena itu Sjiahpun kembali kepada kedua pokokdasar ini. Meskipun orang lain menambah dasar agama itu de-ngan Raji dan Idjma, Istihsan dsb. karena mereka mengharuskan-nja, Sjiah tetap berpegang hanja kepada dua pokok jang asal ini,serta menggunakan akal dalam menggali hukum-hukumnja. De-ngan demikian terdapatlah sedikit perbedaan mengenai masalahSjiah, seperti kawin mutah, menjapu atau mengusap kaki denganair, mengenai tatak tiga jang diutjapkan sekaligus dll. Adapun Idjma, baik jang didasarkan kepada pendapat bebe-rapa orang Sahabat, sebagaimana jang dikatakan Chudhari, ataujang dibatasi oleh Malik kepada Ahli Madinah sadja, karena ka-tanja satu 2 tempat turun wahju dan satu tempat banjak Saha-bat-sahabat bergaul dengan Nabi serta memahami rahasia-rahasiawahju itu, maupun jang membolehkan idjma itu digunakan olehsemua orang Islam lain Ahli Madinah, sebagaimana dikemukakanoleh Al-Lais bin Saad, seorang ahli fiqh Mesir, semua idjmamatjam itu tidak dapat diterima oleh orang Sjiah. Pendapat-pen-dapat Ahli fiqh jang diambil dengan idjma sematjam itu tidakmendjadi dasar hukum bagi orang Islam, karena semuanja berda-sarkan kepada persangkaan atau dhan semata-mata. sedang dhanitu tidak dapat menjinggjung kebenaran ( Q t o r W ) . Mereka meng-anggap idjma jang seperti itu hanja sebagai suatu pendapat jangtidak mengikat dengan wadjib. Orang-orang Sjiah mengakui, bahwa ahli-ahli fiqh dan ahli-ahli hadis mereka dalam masa Sahabat dan Tabi-tabiin menje-but perkataan idjma. tetapi idjma jang dimaksudkan itu ialah idj-ma jang disepakati oleh semua ulama atas sesuatu hukum, danImam Ali turut bersama mereka. Idjma jang seperti itu tidak lainsifatnja melainkan suatu pendjelasan daripada kedua sumber hu-kum pertama, jaitu Quran dam Sunnah. Sedjalk hari-hari pertamagolongan Sjiah tidak mau berpegang selafu kepada Q u r a a dan198
    • Sunnah itu dalam menetapkan sesuatu hukum agama, karena aga-ma itu adalah peraturan Tuhan, oleh karena itu tidak boleh di-tambah dengan peraturan jang ditetapkan oleh manusia, jang ha-rus dipisahkan daripada peraturan Tuhan itu. Mengenai Qijas, jang oleh Ahli Sunnah dibenarkan sebagaisumber hukum agama jang keempat, jang dikatakan pernah ter-djadi dalam masa Sahabat, jang diberi sifat dengan memperban-dingkan suatu perkara dengan perkara jana sudah terdapat hu-kumnja dalam masa Nabi dan Sahabat itu, oleh orang Sjiah tidakdapat diterima dan dianggap suatu bidah dalam agama. Merekatidak mau beramal dengan hukum jang berdasarkan qijas. Dian-tara alasan-alasannja mereka kemukakan sebuah utjapan dari Alibin Abi Thalib, jang berkata : "Djikalau diperkenankan menggu-nakan qijas, maka dalam perkara air sembahjang lebih dipenting-kan menjapu kaki dalam chuf daripada diluarnja." Pernah ImamDjafar Shadiq berkata kepada Abu Hanifah: "Takutilah Tuhan- mu daripada engkau menggunakan qijas dengan pikiranmu. Pada hari kemudian kita akan berhadapan dengan Tuhan. Aku berkata "telah bersabda Rasulullah", sedang engkau berkata "begini pikiranku dan begini qijasku." Tjobalah pikir, hai Abu Hanifah, apa jang akan diperbuat Allah terhadap kita ?" Orang Sjiah mempunjai alasan, tidak mempergunakan qijas sebagai sumber hukum agama, karena sjari jang membuat agama hanjalah Allah sendiri, sedang sjari dalam hukum qijas adalah manusia. Mereka menolak kebenaran keterangan-keterangan jang dikemukakan diatas, bahwa qijas itu sudah ada dalam masa Nabi dan diperkenankan menggunakannja. Penetapan Nabi kpd. Muaz bukanlah alasan adanja qijas, tetapi alasan harus menggunakan akal dalam mendjelaskan Kitab dan Sunnah, karena menggunakan akal itu diwadjibkan kepada qadi, mufti, jang akan menjele- saikan perkara-perkara, dan akan mendjelaskan kepada orang banjak persoalan halal dan haram. Orang Sjialh tidak dapat menerima qijas itu pernah terdjadi dalam masa Saha- bat dan merupakan suatu pikiran umum jang sudah disetudjui oleh semuanja. Selain daripada utjapan Ali bin Abi Thalib, Sjiah me- ngemukakan utjapan Ibn Masud, jang menolak qijas demikian : "Djika kamu gunakan qijjas itu dalam agamamu, nistjaja kamu akan menghalalkan banjak daripada apa jang diharamkan Allah, dan mengharamkan banjak daripada apa jang dihalalkan Allah bagimu". Djuga mereka kemukakan utjapan Sjubi jang berbunji demikian : "Apabila engkau ditanjai tentang sesuatu masalah, ma- ka djanganlah engkau pergunakan qijas dengan memperbanding- bandingkan persoalan, karena engkau akan menghalalkan ba- njak jang haram dan mengharamkan banjak jang halal, sc<*ang engkau akan binasa, djika engkau meninggalkan perdjalanan Nabi 199
    • dan Sahabat, lalu menggunakan ukuran qijas atau perbandingandalam agama". Jang menolak Idjma ini bukan sadja Sjiah, tetapi djuga Mu-tazilah dan Ibrahim an-Nizam menolak mengamalkannja, sebagai-mana djuga Daud bin Ali al-Asfahani, jang terkenal dengan namaAz-Zahiri (mgl. 370 H ) , Djafar bin Harb, Djafar bin Misjah,Muhammad bin Abdullah al-Askafi, dll. semuanja mengemukakanalasan tidak membolehkan beramal dengan idjma dan qijas sema-tjam itu. Keterangan-keterangan mengenai sikap Sjiah terhadap Idj-ma dan Qijas ini, saja abil dari kitab "Tarichul Fiqhil Djbrari" (hal. 181 — 192), karangan Hasjim Maruf al-Husaini. Saja per-silahkan pembatja melihat kesana lebih djauh.200
    • 4. HUKUM SJARA DAN PENGUASA. Sudah kita terangkan, bahwa fiqh Islam itu mengandung dua unsur peraturan, jaitu peraturan agama dan peraturan hukum tata tertib keamanan. Pembuat hukum atau Sjari pertama ialah Allah S.W.T., jang menetapkan peraturan ini dalam Quran dan melalui Sunnah dari pada Nabi Muhammad S.A.W. Oleh karena ituperaturan-peraturan itu dapat dianggap peraturan ketuhanan,jang berbeda dasar dan sifatnja dari peraturan-peraturan Baratdan peraturan-peraturan jang diperbuat oleh manusia. Meskipun demikian sedjarah hukum Islam menundjukkan,bahwa chalifah atau penguasa bukan tidak turut dalam mentjipta-kan peraturan-peraturan untuk masjarakat Islam. Mereka diberi-kan kemerdekaan beridjtihad tiap-tiap ada kebutuhan akan ber-tindak dalam menjelesaikan sesuatu kemaslahatan umum bagi ma-sjarakatnja. Keistimewaan mengadakan hukum kesempurnaan inidan kewadjiban jang dipikulkan kepada rakjat untuk mendjalan-kannja didasarkan atas dan berpedoman kepada Quran, Sunnahdan Idjma. Dalam Quran tersebut : "Thaatlah kepada Allah, thaatlahkepada Rasul dan orang-orang jang diserahi urusan dari pada-mu" (Surat An-Nisa I V : 59). Dan jang dimaksudkan denganorang-orang jang diserahi urusan itu ialah chalifah dan sulthanatau penguasa-penguasa negeri. Dalam Sunnah terdapat Hadis-Hadis jang sahih, diantaranjaberbunji : "Barang siapa thaat kepadaku (Nabi Muhammad), se-benarnja ia thaat kepada Allah. Barang siapa menentang kepada-ku (masijat), maka sebenarnja ia menentang kepada Allah. Ba-rang siapa thaat kepada pemerintah atau penguasa, sebenarnja iathaat kepadaku, barang siapa menentang pemerintah, sebenarnjaia menentang daku. Semua perintah harus kamu dengar dan thaati,meskipun dikeluarkan untukmu oleh seorang budak Habsji jangkepalanja hitam sekalipun. Barang siapa jang bentji kepada pe-merintahnja, ia harus sabar, karena tidak seorangpun meninggal-kan pemerintah, meskipun sedjengkal, djika mati, nistjaja ia matiseperti orang djahilijah. Bukankah dapat seseorang jang diperin-tahkan sesuatu masiat terhadap Allah dapat ia membentji masiatitu dengan tidak usah melepaskan tangan menthaatinja ?" (Bûchari-Muslim). Demikian djuga sesuai dengan Idjma Sahabat, karena Saha-bat-Sahabat Nabi hampir semuanja beridjtihad, jang hasilnja ine- 201
    • rupakan sebahagian dari pada pokok hukum agama. Dr. Sobhi Mahmassani dalam kitabnja "The Philosophy ofJurisprudence in Islam" (Beirut, 1952), menganggap perlu kemer-dekaan Idjtihad ini diberikan kepada penguasa, karena merekamembutuhkan alat dalam mendjalankan peraturan-peraturan Sja-ra dari persoalan-persoalan baru jang hidup dalam masjarakat.Djuga Idjtihad ini dapat digunakan sebagai siasat agama olehpenguasa, imam, wali negeri, guna mendjaga kemaslahatan umum,mengurus kepentingan manusia dalam persoalan muamalat dalamurusan sitaan, pendidikan bagi orang-orang jang mengerdjakankedjahatan sesuai dengan berat ringannja dosa mereka disesuai-kan dengan berat ringannja hukuman siksa, buangan dan huku-man mati. Maka kita lihat tjontoh-tjontoh dari zaman Sahabat dalamkeberanian mengubahkan tafsir nas jang sudah tetap, apabilamereka menghadapi sesuatu perkara jang mengenai siasat sjariatatau kemaslahatan umum. Dalam perkara-perkara sematjam ituselalu mereka menggunakan kebidjaksanaan jang sedjalan denganmasa dan zaman dalam mentafsirkan ajat-ajat Quran dan Sun-nah. Tjontoh-tjontoh ini banjak kita dapati dalam masa pemerin-tahan Umar bin Chattab, misalnja dalam mentjatuhkan hukum hadhagian muallaf, jang penerimanja sudah bertahun-tahun belummasuk Islam, dalam membuang orang berzina keluar negeri kare-na salah seorang dari padanja tidak tersua untuk didengar kete-rangannja, dll. Semuanja dilakukan Umar berdasarkan nas Qurandan Hadis jang sama, tetapi dengan tafsir dan idjtihad jang sesuaidengan keperluan masa. Ada sesuatu persoalan jang sukar bagi seorang Chalifah un-tuk berlaku adil dalam mendjatuhkan hukuman sjariat ini, jaitudjika ia terlalu fanatik menganut mazhab tertentu atau idjtihadtertentu dalam mengadili sesuatu perkara. Sedjarah Islam banjakmengemukakan hakim-hakim atau qadi radja-radja jang demikian,jang akibatnja bukan mentjapai keadilan tetapi bahkan menimbul-kan kezaliman-kezaliman jang sangat menjedihkan. Chalifah-chalifah Bani Umajjah dan Bani Abbas menjerangsemua mazhab lain jang bertentangan dengan pendiriannja dansiasatnja. Abu Djafar Al-Mansur dan Harun Ar-Rasjid hampirmemaksa seluruh warga negaranja menganut mazhab Malik, dji-kalau Imam ini tidak menolak keangkatannja. Keadaan jang sematjam ini pada zaman itu telah mendjaditurutan jang ditjontoh diteladani oleh keradjaan-keradjaan Islampada waktu itu. Keradjaan Fathimijah mengambil Ismailijah se-bagai aiaanA Imtmüah mengambil Djafatrijab atau Sjafii, Jamanmengambil mazhab Zafaüjab, Ajjubijah mengambil Sjafii, Wabka-habi mengambil HanbaU. Ustmanijah atau Turki mengambil Hanafisebagai mazhab.20Î
    • Pemiuhan mazhab tertentu dalam ibadat dan muamalat tentubaik, djika tidak dilakukan setjara paksaan oleh penguasa dalamhukum perdata dan pidana kepada anggota masjarakatnja. Maka oleh karena itu konon Sjiah membuka dua kesempatandalam mentjahari keadilan ini : Pertama membuka pintu idjtihadseluas-luasnja dan kedua membuat suatu peraturan dalam peng-angkatan imam, bahwa ia hendaklah bersifat masum, termasuktidak melakukan sesuatu jang tidak adil. Dalam anggapan Sjiah Idjma itu ialah kesepakatan jangbulat atas perkataan imam jang masum, bukan hanja kesepakatanbeberapa ulama atas suatu maalah jang tertentu. Idjma Sahabatdianggap terikat dan wad jib dithaati, apabila semua Sahabat se-paham mengenai keputusan sesuatu persoalan. Djika masih adaSahabat jang berlainan fahamnja mengenai keputusan itu, makakesepakatan atau idjma tersebut tidak dianggap terikat, meskipunjang membuat idjma itu Sahabat Nabi. Dalam kitab-kitab Sjiah kita dapati keterangannja, bahwaorang tidak terikat kepada idjihad seorang imam jang sudah mati,boleh diturutnja dan boleh tidak. Kemerdekaan memilih dan ber-fikir ada padanja, meskipun ia merupakan penganut mazhabSjiah jang dipimpin oleh Imam itu. Demikian kita batja dalamkitab "AI-Masaik! Mun«achablah" (Nedjef, 1382 H ) , karanganAbui Qasim AI-Chui, jang barangkali akan kita bitjarakan lagidalam salah satu bahagian tersendiri. Rupanja Sjiah sangat tertarik kepada tjara-tjara Ali binThalib mengambil kebidjaksanaannja dalam memutuskan sesuatuhukum. Kita kemukakan beberapa tjontoh sebagai berikut. Pernah dihadapkan kepada Umar bin Chattab seorang perem-puan jang sudah melakukan zina. Sesuai dengan hukum jangberlaku Umar menjuruh meradjamnja. Tatkala Ali tahu akankeadaan perempuan itu, bahwa ia gila, lalu disuruhnja membebas-kannya dari pada hukum radjam, seraja berkata kepada ChalifahUmar : "Perempuan ini gila dan Rasulullah berkata : Telah di-angkat qalam dari tiga golongan manusia (artinja tidak termasukhitungan), jaitu orang tidur sampai ia terdjaga kembali, kanak-kanak sampai ia bermimpi dan orang gila sampai ia sadar akandirinja." Tjontoh jang lain ialah bahwa pernah dibawa kedepan Cha-lifah Abu Bakar seorang laki-laki jang sudah minum arak. Cha-lifah Abu Bakar mendjatuhkan hukuman had. Tetapi orang itumengaku, bahwa ia belum mengetahui haramnja minuman itu.karena ia hidup dalam keluarga jang menghalalkannja. Abu Bakarbingung, bagaimana menghukumnja. Perkara itu diserahkannjakepada Ali. Ali memeriksanja, apa ada diantara orang Muhadjirindan Anshar jang pernah membatjakan, kepada peminum itu ajat 209
    • Quran tentang haramnja chamar. Tatkala temjata, bahwa pemi-«num itu menurut Muhadjirin dan Anshar belum pernah mendengarajat Quran jang mengharamkan chamar, peminum itu lalu dibe-baskan dari hukuman. Tjontoh-tjontoh kebidjaksanaan Ali, jang selalu menggunakanfikirannja dalam menetapkan sesuatu hukum, banjak sekali, dapatdibatja kembali dalam kitab "Tarichol Fiqhil Djafari", karanganAl-Husaini, terutama bab mengenai fiqh Islam sesudah wafat N a -bi, halaman 152—181.20$
    • VIII. AHLUS SUNNAH DAN SJIAH
    • 1. M U R I D - M U R I D DJAFAR S H A D I Q J A N G T E R P E N T I N G I Abdul Abbas bin Uqbah mengarang sebuah kitab sedjarahhidup rawi-rawi hadis, jang berasal daripada murid-murid DjafarShadiq, dan menjebut didalamnja, bahwa murid-murid jang ter-penting itu tidak kurang dari empat ribu orang. Sjech Al-Mufidmenerangkan dalam kitabnja "Al-Irsjad", bahwa pengarang-penga-rang hadis pernah mengumpulkan rawi-rawi Imam As-Shadiq,jang telah dipertjajai dari bermatjam tjorak dan ragam, djumlahmereka empat ribu orang banjaknja. Djumlah empat ribu ini darimurid jang tetap dan penting, tidak dapat disangkal lagi, beritaini dibenarkan oleh pengarang-pengarang jang terkenal dalamkitabnja masing-masing, seperti Muhammad bin Ah al-Fattal, Alibin Abdul Hamid an-Nabli, At-Thabrisi, Ibn Sjarasjaub, Al- Muhaqqiq, Asj-Sjahid, jang menerangkan djuga bahwa Djafar Shadiq pernah mendjawab empat ratus masalah agama dalam se-buah karangan jang disiarkan kepada empat ribu orang, tersebardiseluruh Irak, Sjam dan Hidjaz. Selandjutnja Sjech Husain ajah Allamah al-Bahbani jang mentjeriterakan, bahwa Imam As-Shadiqdisamping mengadjar sebagai seorang guru besar jang dihormati, djuga mengarang karangan-karangan jang dikagumi oleh ulama- ulama dan ahli fiqh jang terkemuka ketika itu. Imam As-Shadiq dianggap besar sekali djasanja dalam me- nanam pokok-pokok agama jang sah dan melenjapkan itikad—iti- kad jang salah jang timbul dalam masa kekatjauan tjara berpikir umat Islam ketika itu. Kehebatan dan kehormatan jang diperoleh Imam As-Shadiq. ketjintaan umat dan pengaruhnja dalam kalangan rakjat, menje- babkan Bani Abbas takut akan kedudukannja dalam pemerinta- han. Maka lalu ditutupnja perguruan Imam Djafar Shadiq, untuk menghambat manusia jang mengalir sebagai bandjir kekota Madi- nah, untuk beroleh ilmu jang disiarkannja. Tuhan lebih berkuasa, dan kakeknja Rasulullah menghendaki sebaliknja. Pintu rumah perguruan dapat ditutup dengan kekuatan perintah radja, tetapi murid-muridnja bertebaran kesana-sini lak- sana peluru jang sudah dilepaskan, untuk meneruskan perdjuangan gurunja dan menumbuhkan bibit-bibit jang telah ditanam disemai- kan dalam djiwanja. Maka lahirlah dftengah-tengah masjarakat Malik bin Anas
    • al-Asbahi, Imam dari mazhab Maliki, jang melahirkan pula rawi-rawi daripadanja, seperti Zuhri, Jahja Al-Ausari, Ibn Djuraih,Sjubah, As-Sauri, Ibn Ujajnah, Qattan dll. Malik adalah muriddaripada Imam Djafar, dan diantara utjapan-utjapan jang pernahdikeluarkan terhadap gurunja : "Tidak pernah mata melihat, tidakpernah telinga mendengar dan tidak pernah hati tertekuk oleh se-seorang jang lebih afdhal dan utama dari pada Djafar bin Mu-hammad, baik mengenai ibadahnja maupun luas ilmunja." AHu Hanifiah jang dilahirkan tahun 80 H. dan meninggal ta-hun 150 H., djuga seorang murid jang ditjintai, kemudian mendja-di Imam mazhab Hanafi. Banjak sekali orang mengambil riwajatdaripadanja, dan dia sendiri mengambi! banjak ilmu dari As-ShadiqiIa berkata : "Djika tidak dua tahun bersama Imam Djafar, akanbinasalah Numan. Aku belum pernah melihat seseorang jang lebihahli dalam ilmu fiqh daripada Djafar bin Muhammad". Sufjan bin Said bin Masi^uq as-Sauri, berasal dari Kufahmempunjai mazhab tersendiri, diantara pengikutnja Muhammadbin Adjlan, Auzai, Hummad bin Salmah, Jahja bin Said al-Qattan, Fudhail bin Ijadh. Ia banjak sekali mengambil dari As-Shadiq, ilmu-ilmu, terutama mengenai adab, achlak dan peladja-ran-peladjaran lain. Sufjan bin Ujajnah bin Abi Imran, meninggal tahun 198 H.Banjak orang meriwajatkan dari padanja, seperti Amasj, Asani,Humam, Jahja bin Said, Asj-Sjafii dan Ibn Madini. Asj-Sjafii ber-kata : "Djikalau tidak ada Malik dan Sufjan. akan lenjaplah ilmudi Hedjaz". Sufjan adalah salah seorang Imam mazhab. Sjubah bin Al-Hadjdjadj, dilahirkan tahun 80 H., meninggaltahun 160 H. Diantara pengikutnja jang terkenal ialah Ajjub danIbn Mubarak. Fudhil bin Ijadh at-Tamimi, meninggal tahun 187 H. Al-Dja-zari mengatakan, bahwa ia adalah seorang imam Sunnah jang baik.Nasai, Buchari, Tarmizi, Muslim dll. banjak mengambil hadisdaripadanja. Hatim bin Isimail, meninggal tahun 180 H., berasal dari Ku-fah adalah tempat Buchari, Muslim dan Tarmizi mengambil ha-disnja, jang dipeladjarinja dari As-Shadiq. Haf as bin Ghijas al-Kafi, banjak pengikutnja, diantara lainAhmad, Ishaq, Abu Nuaim, Jahja bin Muin dll. ulama besar,pernah mendjadi kadhi di Bagdad dan Kufah, penghafal hadisjang banjak, janq pernah ditulis sadja daripadanja lebih dari empatribu buah. Zkihair bin Muhammad at-Tamind, jang bergelar Abui Mun- zir, berasal dari Churasan, meninggal tahun 162 H., menerimabanjak ilmu dari Imam As-Shadiq, dan oleh karena itu banjak jang meriwajatkan kembali daripadanja, diantaranja Abu Daud208
    • at-Thijallisi, Ruh bin Ubbadah, Abu Am:r al-Aqli, Abdurrahmanbin Mahdi, Al-Walid bin Muslim, Jahja bin Bukair, Abu Asim,membenarkan kcdjudjurannja Ahmad, Jahja dan Usman Ad-Darmi. Jahja bin Said bin Faruch al-Qattan,, ahli hadis dari Basrah,lahir tahun 120 H. dan meninggal tahun 198 H. Diantara pengi-kutnja Ibn Mahdi, Affan, Masad, Ahmad, Ishaq, dan Ibn Muin. Ismail bin Djafar bin Abi Kasir al-Anshari, meninggal diBagdad tahun 180 H. dengan pengikutnja Muhammad bin Djah-dham, Jahja bin Jahja as-Saburi, Abu Rabi az-Zahrani, Al- Ha-zali dlï. Ia berasal dari Madinah dan pergi ke Bagdad, tinggal di-sana sampai mati. Buchari dan Muslim banjak meriwajatkan hadisnja. Ibrahim bin Muhammad al-Aslani, jang terkenal dengan namaAhi Ishaq al-Madanj, tahun 91 H. banjak mempekdjari hadisdari Imam As-Shadiq. Ia pernah mengarang sebuah kitab iang diberi berbab-bab tentang hukum halal dan haram, pernah ditje- riterakan oleh At-Thus. Dantara jang meriwajatkan hadis jang dikumoulnja ialah Ibrahim bin Thahman, As-Sauri, Ibn Djuraih,Asi-Sjafii, Abu Nuaim dll., ia terhitung salah seorang guru Imam Siafii, jang banjak disebut-sebut dalam kitabnja. orang Salaf ba- njak mengetjamnja, karena ia suka meriwajatkan hadis-hadis AhlilBait. Ad-Dhahhak An-Nabil dari Basrah, lahir tahun 122 H. dan meninogal tahin 214 H„ salah seorano murid Imam As-Shadiq nnq terkenal. Diantara iann meriwaiatkan hadis-hadisnia ialah Bnrhari. Ahmad bin Hanbal, Ibnal Madini, Ishak bn Rawahaih. Ia dn"d" nleh Tbn Siabah. Muhammad bin Ffd : h al-Madani, meninqqal tahun 177 H. Dantara »ano m-eriwaiatkan hadisnia Buchari. An-Nasai. Ibn Madiah Ibn Shalaf. ianq men ; nqna1 tahun 194 H., As-Sjafii, Ahmad bin Hanbal dll. Ia dalancr ke Bagdad pada hari-hari pe- merintahan Al-Mansur. terkenal sebugai seorang iann sangat pe- murah dalam memadiuknn ilmu hadis. Usman bin Faroad, ianq terkenal dengan nama AN>x Mnaz, berasal dari Basrah. R*ni«k hadisnja dihitjarnkan dalam kitab Bu- chari, Tarnvzi dan Abu Haiban. Abdul Azid bin Umar As-7>thri. meninqoal tahun 197 H. Ba- njak had ; e nwaiafnia terdanat dalam kitab Tarmizi. Abdnlluh bin Dakki»r>- bprasal dari Kufah. ahV hadis, terita- mn m e n u n a i Adak. dan Zaid h<n A,*hn ibi S**h Masab bin Sa- lam at-Ta,mimi, diuaa murid-murid Imam As-Shadici. Lain dar-pada itu diantara murid Imam As-Shadia ialah Bas- sam as-Shirfi Basjir bin MaV|rm dhri ChuriaSan. Al-Haris bin Umair dari Basrah, Al-Mufaddal bin Salih al-Sadi, Aiiub f -Sa-
    • djastani dan Abdul Malik bin Djunaih al-Qursji, semuanja murid-murid Imam Djafar jang masjhur dan banjak pengikutnja. Ditje-riterakan orang, bahwa Abdul Malik bin Djuraih termasuk orangjang mula-mula mengarang kitab dalam Islam, dilahirkan tahun 80H. dan meninggal tanuh 149 H. Semua orang-orang besar jang tersebut diatas adalah pengi-kut-pengikut aliran Imam Djafar, tetapi kemudian berdiri sendiri-sendiri, ada jang memimpin mazhab tersendiri, ada jang merupa^kan ulama hadis jang bebas, tidak termasuk golongan Sjiah. Murid-murid Imam Djafar jang termasuk golongan Sjiah akan kita bitjarakan dalam bahagian berikut. 210
    • 1. M U R I D - M U R I D DJAFAR S H A D I Q JANG T E R P E N T I N G II Diantara ulama-ulama besar, bekas murid Imam. Djafar jangtermasuk golongan Sjiah dan menganut paham aliran ini, kitasebutkan sebagai berikut. Aban bin Tughlab, jang biasanja digelarkan Abu Saad, ber-asal dari Kufah, banjak meriwajatkan hadis dari Zainal Abidin,Al-Baqir, As-Shadiq, semua imam-imam besar Sjiah. Aban me-ninggal pada masa Imam As-Shadiq. Dalam kitab Fihrasat tersebut bahwa Aban bin Tughlab anakRijah, digelarkan Abu Saad al-Bakri al-Hariri, teman-teman Dja- rir bin Ubbad, adalah seorang jang sangat dipertjajai dan berke- dudukan terhormat. Ia pernah menemui Abu Muhammad Ali bin Husain dan Abu Djafar al-Baqir dan banjak meriwajatkan hadisdari kedua anggota Ahlil Bait ini, Al-Baqir pernah menjuruh dia pada suatu kali duduk mengadjar dalam mesdjid Madinah, seraja berkata : "Aku mentjintai engkau demikian rupa, sehingga manu- sia melihatmu sebagai tjontoh jang baik dari Sjiahku." Aban sangat alim dalam segala bidang ilmu, dan Ibn Nadim mengatakan dalam kitab "Fihrasafnja, bahwa ia mempunjai ka- rangan mengenai mana dan tafsir Quran, mempunjai kitab mengenai qiraat tudjuh, dan mempunjai kitab mengenai pokok- pokok kejakinan mazhab Sjiah. Ahmad ibn Hanbal, Ibn Muin, Abu Daud, semuanja meng- anggap dia djudiur dalam menjampaikan riwajat-riwajat hadis, sedang Muslim. Abu Daud, Tarmizi dan Ibn Madjah banjak me- ngutip riwajatnja itu untuk kitab-kitabnja. Abhn bSn Usraan bin Ahmar nl-Badiari, berasal dari Kufah, pernah tinggal di Basrah, banjak beroleh peladjaran hadis dari Abu Abdullah as-Shad q dan Abu! Hasan Musa, kedua-duanja imam dari mazhab Sjiah. Riwajat-riwajatnja banjak disampaikan oleh Ibn Musanna dan Abu Abdullah bin Salam. Ia baniak menga- rang kitab-kitab, diantarania bernama kitab "Al-Mubtadi", Al- Baas," Al-Mlaqhazi" dan "Al-Wafa." Ibn Hibban memasukkan- nia kedalam qolongan Siqqat, artinja oranq-orang jang dipertjaja dalam meriwajatkan hadis. Aban bin Usman adalah salah seoranq enam Sahabat kental dari Imam Abu Abdullah, jang berusaha mengumpulkan hukum- hukum mengenai ahli waris jang berhak menerima pusak^ dan 211
    • menetapkan setjara hukum fiqh. Sahabat-sahabat jang enam orangitu ialah Djamil bin Darradj, Abdullah bin Muskan, Abdullah bmBukair, Hummad bin Isa, Hummad bin Usman dan Aban binUsman, jang baru kita bitjarakan. Bukair bin Ajjun asj-Sjaihani, saudara dari Zararah, muridAl-Bakir dan As-Shadiq, meninggal dalam masa As-Shadiq. Tat-kala Imam ini mendengar chabar kematiannja, ia berkata : "DemiAllah, Tuhan menempatkan dia kiranja berdekatan dengan Ra-sulullah dan Amirul Muminin Ah bin Abi Thalib", dan pernah iamenjebut, bahwa Bukair itu dapat dipertjajai. Djamil birç Darradj bin Abdullah an-Nachai, banjak berolehpeladjaran hadis dari Imam As-Shadiq dan Imam Al-Kazim, me-ninggal pada masa Imam Ar-Ridha, termasuk sahabat enam jangmengumpulkan hadis-hadis Ahlil Bait. Hummd bin Usman bin Zijadar-Rawasi, berasal dari Kufah,banjak meriwajatkan hadis dari Imam Shadiq, Al-Kazim dan Ar- Ridha,. iapun termasuk sahabat enam orang jang terpenting, me-ninggal tahun 190 H. Al-Haris bin Al-Mugirah an-Nashri, ulama ini djuga banjakmeriwajatkan hadis dari Imam Al-Baqir, As-Shadiq dan Al-Ka-zim, mempunjai kedudukan jang disegani dalam bidang dirajahdan riwajah. Diantara ulama Sjiah jang terpenting ialah Hüsjarn Ibnol Ha-kam al-Kindi, berasal dari Bagdad, dari tawanan Bani Sjaiban, digelarkan djuga Abui Hakam, seorang ulama Sjiah jang luar bia- sa alimnja. ahli tidak sadja dalam ilmu agama, tetapi djuga dalam filsafat. Ibn Nadim menqatakan, bahwa ia sahabat kental Imam Djafar as-Shadiq, seorang jang ahli dalam ilmu kalam Sjiah pernah mengupas tentang persoalan imamah dengan kupasan jang luar biasa, banjak membersihkan mazhab Sjiah daripada panda- ngan-pandangan jang salah. Muawijah menerangkan, bahwa Hi- sjam turut dalam perang Badar, ia meninggal dalam masa fitnah Barmaki, tetapi ada jang mengatakan dalam masa pemerintahan chalifah Mamun. Diantara karanqannja ialah jang termasjhur "Kitabul Imamah", "Kitabud Dilalal" dll.. jang lebih dari pada dua puluh karangan-karangan penting. Didepan saja terletak sebuah kitab, ianq ditulis oleh Abdullah Nimah, bernama "Hisjam Ibnal Hakam" (t. tp.. 1959 M ) , berisi sedjarah hidupnja sebagai professor dalam abad ke II Hidjrah dalam ilmu kalam dan manthik. Kupasan-kupasannja dan pan- dangan -oandar.qannia janq tadiam mengena 1 kedua ilmu ini me- nqaqi.mkan, sehinqga sajapun beroendapat, bahwa ia adalah se- n r r n r terpeladar ja">g luas sekali ilmunja. Hkiam mendapat nenohargaan tingai dalam pandangan go- longan Sjiah. Imam As-Shadici oernah berkata tentang pribadi- nia : "Engkau selalu diilhamkan Tuhan dalam membantu golongan212
    • kami dengan lidahmu." Ia pernah djuga berkata : "Orang inipembantu kita dengan hatinja, lidahnja dan tangannja, memper-tahankan hak-hak kita dan membela golongan kita daripada mu-suh-musuh kita." Benar pada mula pertama ia mendjadi sahabatDjaham bin Safwan, kemudian ia taubat dan kembali kepada ke-jakinan Sjiah jang benar. Al-Kulaini. seorang Imam Hadis jang terpenting dalam ma-zhab Sjiah, mcinudji Hisjam Ibnal Hakam tentang banjak ilmunjamengenai dirajah dan rawajah hadis-hadis Rasulullah ang sahih,dan tentang kuat serta teguh pegangannja kepada kitab dansunnah. Diantara sahabat Imam As-Shadiq jang selalu mengiringinjadan banjak mengetahui perdjalanannja, ialah Al-Mala bin Cha-nis, seorang jang luar biasa mentjintai keluarga Nabi, jang me-njebabkan ia diazab dan dibunuh oleh Amir Daud bin Ali dandisita semua harta bendanja, tatkala Amir ini memerntah Madinah,dan mengetahui bahwa Al-Mala sangat ditjnitai oleh Imam As-Shadiq. Saja hindarkan memasukkan kedalam kitab ini tjeriterajang sangat pandjang, diantara lain termuat dalam karangan AsadHaidar, "Imam As-Shadiq" jang ditjeriterakan oleh orang-orang Sjiah tentang kekedjaman jang dilakukan orang atas diri orang alim dan salih ini. Demikianlah kita sebutkan beberapa tjontoh daripada tokoh- tokoh ulama Sjiah, jang berasal daripada murid-murid Imam As- Shadiq, jang kemudian mendjadi rawi-rawi hadis jang terkemuka dalam golongan Sjiah. Murid-muridnja jang lain, seperti Abdul Mal-k bin Ajun, Zararah dan anaknja, Ali bin Jaqthin, Ammar Ad-Duhni, Umar bin Hanzalah, Fudhail bin Jassar, Abu Basir, Mumin Atthaq, Muhammad bin Muslim, Muawijah bin Ammar, Mufadhdhal ibn Umar, Hisjam bin Salim d.U. tidak kita perpan- djangkan sedjarahnja dalam kitab jang terbatas halamannja ini. Bagi mereka jang ingin mengadakan penjelidikan lebih djauh, kita persilahkan membatja riwajat-riwaja t ulama-ulama Sjiah dalam segala bidang dengan sedjarah hidupnja pandjang lebar dalam serie kitab-kitab pahlawan Sjiah, jang dinamakan "Ajäiwsj Sji- ah", jang terbit dalam djilid jang besar-besar terus menerus sampai sekarang ini. 213
    • 2. M A Z H A B E M P A T T H P SJIAH Banjak orang menjangka bahwa imam-imam mazhab AhliSunnah wal Djamaah menentang Sjiah. Persangkaan ini saja rasatidak benar. Bagaimana imam-imam mazhab itu bentji kepada Sji-ah, sedang kebanjakan mereka adalah murid-murid daripadaulama-ulama Sjiah jang terkemuka seperti Imam Djafar Shadiq,imam mazhab Sjiah jang d.namakan Djafarijah, Imam Musa al-Kazim, jang pernah mengadjar Ahmad bn Hanbal, jang kemudi-an mendirikan mazhab Hanbali. Imam Djafar Shadiq adalah gu-ru dari Imam Malik bin Anas, jang kemudian mendirikan mazhabMaliki, dan guru Abu Hanifah, jang kemudian mendirikan mazhabHanafi. Imam Abu Hanifah sangat mentjintai Ahlil Bait, banjak me- ngeluarkan harta bendanja untuk membantu mereka dalam keseng- saraan dan kemiskinan sebagai pemboikotan dari pembesar-pem- sar Abbasijah. Ia pernah mengeluarkan fatwa untuk menolong Zaid bin Ali, dan menghamburkan wang disana-sini untuk penje- lesaian soal ini. Begitu djuga dia pernah mengeluarkan fatwa membolehkan keluar dengan Ibrahim bin Abdullah al-Husain, un- tuk memerangi Al-Mansur. Rahasia ini kemudian terbuka dan Abu Hanifah dhukum tjambuk, diazab dalam tutupan dan pada achirnja Al-Mansur memerintahkan dia meminum ratjun sampai mati. Semua tindakannja itu adalah oleh karena mentjintai keturu- nan Ali bin Abi Thalib dan turut memarahi serta membentji orang-orang jang dimarahinja dan dibentjinja. Ahli-ahli sedjarah mentjeriterakan bahwa Abu Hanifah pernah dipukul dan diazab, karena chalifah Abbasijah, jang memerlukan tenaganja dan ingin mengangkat dia mendjad1 kadhi, menganggap dia menentang, ti- dak mau menerima keangkatan itu. Keterangan ini tidak benar dan tidak masuk akal, karena keangkatan mendjadi kadhi itu ada- lah kehormatan jang sesuai dengan pembawaan Abu Hanifah da- lam keahlian hukum, sedang mentjambuk dan menghukumnia ada- lah penghinaan kepada orang besar ini. Jang benar ialah bahwa Abu Hanfah tidak mau menerima keangkatan mendiad kadhi itu, karena ia ingin diam dalam memberikan hukum-hukum jang sesuai dengan sentimen radja-radja Abbasijah terhadap Süah Ali. dan oleh karena ia tidak mau menghinakan Ahlil Bait, ia ditangkap dan dihukum. Bukan hanja Abu Hanifah segan sadja membantu radja Ab- 214
    • basijah dalam membuat-buat hukum menghina Sjiah, agaknja ialebih segan lagi membuat hukum jang berlainan dengan adjarangurunja, jaitu Djafar Shadiq, jang pernah dipudji-pudjinja denganutjapan : "Djikalau tidak ada Ash-Shadiq, akan binasalah Niman.Aku belum pernah melihat seorang jang lebih ahli dalam fiqh daripada Djafar bin Muhammad (Asad Haidar, Imam Ash-Shadiq walMazalribul Arbaah, Nedjef, 1956, 1:90). Abu Hanifah lahir tahun 80 H. dan meninggal 150 H. Sebagaimana Abu Hanifah, begitu djuga Imam-imam jang lain djarang jang dapat membantu Chalifah Abbasijah dalam me- ngetjam dan menganiaja Sjiah Ali. Kita lihat misalnja Imam Malik, jang menjiarkan pidato disana-sini mengetjam kebidjaksanaan Al- Mansur, dan mengandjurkan kepada rakjat untuk meninggalkan- nja. Pada suatu kali ia pernah mengeluarkan fatwanja, bahwa sum- pah setia jang pernah diberikan rakjat kepada Al-Mansur bathal dan melanggar hukum sjara, karena mereka membuat ba-iat untuk radja-radja jang dibentjinja, sedang baiat harus dilakukan karena ketjintaan. Malikpun diseret kedalam pendjara dan ditjambuk se- perti mentjambuk dan menghukum Abu Hanifah. Malik dan Anas lahir di Madinah pada tahun 93 H. dan meninggal 179 H. Muhammad bin Idris Asj-Sjafii terkenal tjinta kepada AhlilBait, dan tidak bisa lain djalan, karena nenek-neneknja masih adahubungan dengan nenek-nenek Nabi. Dari mulut Sjafii orangbanjak mendengar kata-kata tjinta kepada keluarga Ali ini, de-mikian banjaknja sehingga ia dituduh Rafidhi, artinja orang jangtidak menjukai sahabat lain mendiadi chalifah sesudah wafat Na-bi. Tuduhan ini tentu tidak benar, karena Sjafii termasuk AhliSunnah wal Djamaah, jang mengaku kebenaran pengangkatandan tertibnja chalifah sesudah Nabi dari Abu Bakar, Umar, Usmandan Ali. Atas tuduhan ini Sjafii merasa sangat tergontjang perasaan-nja, sehingga ia banjak sekali membuat sjair-sjair untuk menolak ketjaman itu, diantaranja saja terdjemahkan dari kitab "Imaman al-Kazim wa Ali Ridha", Beirut, t. th., hal. 8, sbb. : W a h a i Ahlil Bait Rasulullah. Tjmta kepadamu diwadjibkan Allah, Didalam Quran Kalamullah, Kewadjiban tertulis, tak ada helah. Keluargamu begiku tinggi nilainja, Ditinggikan Allah serta Rasulnja, Djika tak ada salawat dan salamnja, Sembahjang tidak sah begitu hukumnja.
    • Mengapa orang mengatakan daku Rafdhi, Sedangkan aku ingin berbudi, Membela agama dan itikadi, Engkaulah jang salah sedjadi-djadi. Tatkala pada suatu kali ia diseret kedepan pengadilan, danditanja untuk memantjing, apa katanja tentang Ali, ia mendjawab:"Aku idak akan berbitjara tentang seseorang, jang beg.tu indahdirahasiakan orang sedjarah hidupnja, tetapi diketjam dan ditjelaoleh musuhnja." Sjafii meninggal tahun 204 H. Sjafii dan Hanbali adalahmurid daripada Malik bin Anas, sedang Malik bin Anas adalahsalah seorang murid daripada Djafar Shadiq. Sjafii lebih meng-utamakan hadis jang dirawajatkan oleh Ali bin Abi Thalib danumumnja jang berasa] dari Ahlil Bait, sehingga Jahja bin Muinmenuduhnja Rafdhi sebagaimana jang kita sebutkan diatas Kitab Masnad Imam Ahmad ibn Hanbal penuh dengan hadishadis jang meriwajatkan keutamaan Ali bin Abi Thalib. Orangmentjeriterakan, bahwa ia pernah mengarang sebuah kitab besar,berisi fadhilat-fadhilat dan keutamaan Ahlil Bait, sebuah naschablama diantara kitab itu sampai sekarang masih tersimpan dalamperpustakaan Masjhahadul Imam di Nedjef. Imam Ahmad pernahbeladjar sama Musa al-Kazim, salah seorang imam besar dalamkalangan Sjiah. Sepandjang sedjarah Islam kita dapati orang-orang jangmentjintai Ahlil Bait, baik jang masih hidup maupun jang sudahmeninggal, dan ulama-ulama besar banjak mengarang manaqib-manaqibnja dan kemuliannja, mengarang sjair-sjair, kasidah-kasi-dah jang penuh pudjian dan sandjungan, begitu djuga chatib-cha-tib diatas mimbar tidak kurang menjebut-njebut Ahlil Bait itu de-ngan penuh kehormatan. Nama Muhammad, Ali, Fathimah, Ha-san dan Husain adalah nama-nama jang mewakili Ahlil Bait itu.Dalam masa Abbasijah semua orang alim dan semua rakjat djelatamentjintai dan berpihak kepada Ahlil Bait, lebih banjak daripadamendekati Bani Umaijah dan Abbasijah, jang hanja dikerdjakankarena ketakutan atau untuk mentjapai sesuatu keuntungan. Ahmad ibn Hanbal mengutamakan Ah lebih daripada saha-bat 2 jang lain. Gilran memikat perasaan dalam masa Abbasijahsampai djuga kepadanja, ia ditanja orang tentang sahabat-sahabat jang utama, ia hanja mendjawab Abu Bakar, Umar danUsman. Orang bertanja lagi tentang Ali jang disangka orang di-lupakan menjebutnja. Ahmad ibn Hanbal mendjawab : "Engkaubertanja tentang sahabat Nabi, sedang Ali adalah diri Nabi sen-diri" (Asad Haidar 1:231).216
    • Ahmad bin Hanbal meninggal 241 H. Ulama-ulama mazhab jang lain, meskipun sebahagian tidakhidup adjarannja lagi sekarang diatas muka bumi ini, hanja ter-simpan pendapat-pendapatnja dalam kitab-kitab besar ilmu tiqn,ialah Sufjan bin Said As-Sauri, berasal dari Kufah, lama ia bela-djar pada Imam Dja far Shadiq, dan banjak mengambil hadis-ha-dis daripadanja mengenai adab, achlalk dan peladjaran-peladjaranibadat. Begitu djuga Sufjan bin Ujainah (mgl. 198 H ) , adalahmur.d Imam Dja far Shadiq, jang beladjar pula padanja banjaksekali ulama-ulama lain. Imam Sjafii pernah berkata : "Djikalautidak ada Malik dan Sufjan, akan lenjaplah ilmu-ilmu jang adaiterdapat di Hedjaz." Lain daripada itu banjak sekali murid-murid Imam Sji ahDjafar Ash-Shadiq, seperti Sjubah bin Hadjdjadj (80—160 H . ) ,jang oleh Sjafii disebutkan seorang jang sangat ahli tentang ha-dis di Bagdad, Fudhail bin Ijadh (mgl. 187 H.), Hatim bin Ismail (mgl. 180 H ) , Haf as bin Ghijas, jang pernah menghafal tiga ribuatau empat ribu hadis, Zuhair bin Muhammad At-Tamimi, jangdigelarkan djuga Abui Munir (mgl. 162 H.), Jahja bin Said ( 120—198 H.), Ismail bin Djafar (mgl. 180 H.) Ibrahim bin Muhammad,iang digelarkan Abu Isha al-Madani, jang meninggal tahun 91 H.,pernah mengumumpulkan hadis dari Djafar mendjadi sebuah bu-ku jang digelarkan "Halal dan Haram", Dhahhak ( 122—214 H.),Muhammad bin Falih (mgl. 177 H.), Usman bin Farqad, AbdulAziz bin Umar Az-Zuhri (mgl. 197 H.), Abdullah bin Dakki,Zaid bin Atha, Masab bin Salam, Bassam bin Abdullah As-Sirfi,Basjir bin Maimun, Al-Haris bin Umair, Al-Mufadhdhal bin Sa.lihal-Asadi, Ajjub As-Sadjastani, Abdul Malik b n Djuraih al-Qu-rasji (80—149 H.), dll. Semua murid-murid Djafar Shadiq jangkemudian merupakan guru-guru imam mazhab, imam hadis danimam tafsir, sebagai jang pernah djuga kita singgung dalam fasallain. Dengan ringkas dapat dikatakan, bahwa mazhab-maz-habkemudian adalah lahir daripada mazhab Ahlil Bait jang ditjtpta-kan oleh Djafar Shad ; q, Imam fiqh jang terbesar dalam kalangan ^h. Demikian kta batja dalam Asad Haidar "Al-Imam ash- ler whl Vhzaliibil Arbaah" (Nedjef, 1956. I-VI). Bagaimana tidak, karena Quran menjuruh berlunak lembutterhadap Ahli Bait dan menjuruh menjanjanginja. Dap mazhabAbui Bait adalah mazhab, sebagaimana dikatakan dalam Qurandari orang-orang janq sudah dibersihkan kekotorannja dan disu-tiikan sesutji-sutiinja, termasuk mazhab jang pertama daJam se-djarah Islam, dikala orang menggunakan kata-kata "Mazhab",untuk membeda-bedakan tiara berpikir dalam ilmu hukum. Orang-ora,ng dari Ahli] Bait ini lebih kenal akan kehidupan Nabi. baikdalam rumah tangga, dalam mesdjid maupun dalam masjarakat 217
    • manusia jang mendjadi pengikutnya. Mazhab ini mula-mula tersiar dikota Bani Umaijah dikalamereka mulai memerintah, dan kemudian tersiar keman-mana.Orang jang mula-mula menjiarkan mazhab ini di Sjam jaitu se-orang sahabat Nabi jang besar dan dibjintainja, Abu Zarr al-Ghiffari, jang tidak henti-hentinja dia menjiarkan adjaran Islamditempat itu dan mengeritik Muawijah, jang dalam tjara peme-rintahannja dan tjara hidupnja dilihatnja telah menjimpang dariadjaran Nabi. Oleh karena itu orang-orang tidak senang, mulai-lah menanam bibit-bibit kebentjian terhadap kepada mazhab AhlilBait itu. Lebih pandjang dan luas tentang Imam Djafar dan mazhab-nja akan kita bitjarakan dalam bahagian lain. 218
    • 3. P E R S O A L A N CHILAFIJAH I Meskipun sama-sama, bersumber kepada Quran dan Sunnah,dalam beberapa pandangan hukum Sjiah berbeda dari Ahlus Sun-nah. Sebagaimana antara mazhab 3 dalam ikatan Ahlus Sun-nah sendiri kita dapati perbedaan paham itu. Kesukaran mema-hami arti ajat-ajat Quran, persoalan-persoalan hidup jang selalutumbuh dalam berbagai bentuk menurut tempat, masa dan tjaraberpikir manusia, begitu djuga berlainan penangkapan apa jangdidengar daripada hadis-hadis Rasulullah, menjebabkan lahir per-bedaan paham itu. Dalam masa hidup Nabi, perselisihan paham dapat diselesai-kan dengan membawa perselisihan itu kehadapan Nabi dan ber-tanja kepadanja, dgn. demikian pintu Sunnah atau hadis itu selaluterbuka. Tetapi sesudah Rasulullah wafat, dua sumber hukumagama, jang penting ini tertutup, sahabat hanja dapat tanja mena-njai satu sama lain dan dengan demikian lahirlah dua sumber hu-kum lagi dalam Islam jaitu Idjma dan Qijas, dalam masa sahabat itu. Kedua sumber hukum ini lahirnja dalam mada chalifah Abu Bakar dan Umar dan dengan demikian lahir pula apa jang dina- makan fatwa, jang menetapkan suatu hukum baru dalam Islam. Tjara berpikir sematjam ini dilandjutkan sampai kepada masa Tabiin, Tabi-Tabiin dan oleh imam-imam Mazhab Empat jang terkenal sampai sekarang ini. Konon Sjiah tidak mau mengikuti tjara sematjam itu. Kata- nja bahwa Ali bin Abi Thalib dan ahli-ahli fiqh Sjiah dalam masa sahabat tidak mau mendasarkan penetapan sesuatu hukum Islam, ketjuali mengembalikannja kepada dua sumber pokok asli jaitu Quran dan Sunnah. Ali berbeda pendiriannja dengan Abu Bakar dan Umar, jang berani beridjtihad untuk melahirkan sesuatu tin- dakan hukum, meskipun berlainan dengan nash jang terdapat da- lam Quran dan Sunnah, Umar berani menolak pemberian zakat kepada muallaf, meskipun hak ini sudah ditetapkan dalam ajat Quran, surat An-Nur, ajat 61, dan berani melarang nikah mutah dalam masa pemerintahannia, sedang nikah ini dalam masa Nabi diperkenankan, dan Abu Bakar tidak berani melarangnja. Chalid Muhammad Chalid dalam kitabnja "Ad-Dimuqrathi- jah", hal. 151, menerangkan, bahwa Umar bin Chattab berani1 meninggalkan nash Quran dan Sunnah, djika la melihat perlu ?19
    • menetapkan setjara lain karena ada kemuslahatan umum. Idjtihadsematjam ini ditakuti oleh Sjiah, karena pada achirnja maslahatulmursalah dan istihsan, kepentingan umum dan memilih jang baikpada akal, mendjadi djuga sumber penetapan hukum Islam, jangdapat membawa keluar sesuatu hukum dari agama, seperti jangterdapat pada masa Bani Umaijah dan Ban; Abbas. Dalam masa Tabiin djuga ulama-ulama fiqh Sjiah tidak maumelepaskan dua sumber pokok Quran dan Sunnah untuk menge-tahui sesuatu hukum Islam. Sesudah wafat Ali, mereka mengikutidjedjak anak-anak keturunannja, jang setia memegang tjara ber-pikir dari orang tuanja. Mereka dinamakan Imam, dipilih dariorang jang terpelihara hidupnja, masum dari dosa. Merekalah jangberhak melakukan idjtihad dan menggunakan akal, djika tidak adalagi sama sekali terdapat alasan dalam Quran dan Sunnah. Maka dengan berbeda tjara berpikir jang demikian itu terda-patlah perbedaan ketjil-ketjil, jang dinamakan hukum furu, antaraSjiah dan Ahlus Sunnah, baik dalam ibadat, maupun dalam mu-amalat. Mari k ; ta tindjau perbedaan ini dari beberapa tjontoh ierse-but dibawah. 1. Sjiah Imamijah hanja menganggap wadjib mengfusap (ma-sah) daa kaki dengan wudhu sebagai ganti mentjutjinja padamazhab lain. Perbedaan paham ini sudah lahir sedjak masa sha-habat. Ali dn Ibn Abbas menetapkan tjra berwudhu demikian.Ibn Abbas menerangkan, bahwa Rasulullah hanja mengusap ka-kinja dengan air wudhu, bukan membasuh. Quran surat Maidah-pun menerangkan jang demikian itu. Sjiah berpegang kepada ke-putusan ini, meskipun mazhab lain memerintahkan membasuhkedua kaki dengan air dikala berwudhu. 2. Sjiah Imamijah membolehkan nikah mutah jang dinama-kan djuga nikah jang terbatas waktunja, jang disetudjui oleh bakalsuami dan isteri. Perbedaan paham mengenai nikah inipun sudahterdjadi sedjak zaman sahabat. Semua orang Islam mengaku, bah-wa nikah ini pernah dibolehkan Nabi, tjuma berselisih pahamtentang ada atau tidak ada larangan sesudah itu oleh Nabi. Ada riwajat dari Jahja, dari Malik, dari Ibn Sjihab, dariAbdullah dan Hasan, dari ajahnja Ali, jang menerangkan, bahwaRasulullah melarang nikah mutah pada hari Chaibar (Muwath-tha Imam Malik, hal. 74). Tetapi banjak djuga sahabat-sahabatjang membolehkannja, diantaranja Abdullah bin Masud, Ubajbin Kaab, Suda, Abdullah bin Abbas, Ali bin Abi Thalib danbeberapa banjak ulama Tabiin. Tatkala Abu Nasrah bertanja kepada Ibn Abbas tentang ni-kah mutah, Ibn Abbas menerangkan, bahwa nikah itu dibolehkandengan berdasarkan Quran, surat An-Nisa, jang berbunji :220
    • "Djika kamu bermutah dengan wanita sampai kepada batas fer*tentu (ila adjalin masammu), hajarkan upahnja. Orang ragukan,apa ada pembatasan waktu dalam ajat ini, tetapi Ibn Abbas me-nerangkan ada. Ubaj bin Kaab, Ibn Masud, Said bin Zubair dll.membatja djuga ajat Quran sematjam itu dan oleh karena itusependirian dengan Ibn Abbas. Lain daripada itu Hakam binLljajnah menerangkan, bahwa Ali bin Abi Thalib pernah berkata:"Djikalau tidak ada Umar melarang nikah mutah, tidak ada orangberzina lagi ketjuali orang jang sangat djahat (TaricHul FïqhiilDjafari, hal. 175). Oleh karena sesuai dengan Quran dan sesuai dengan pendi-rian Ali, orang-orang Sjiah membolehkan nikah mutah. 3. Diantara pendirian Sjiah ialah bahwa seorang wanitabaik gadis atau dj&ndav bolfeh mfcnjfuüuh mengawinkan dirinjia, dfe-nçtin fâdak uslah izin waliniB. Jang demikian itu pernah difatwa- kan oleh Ibn Abbas, dan Zubair bin Mutim jang menerangkan,bahwa Nabi ada mengatakan : " W a n t a dewasa berhak atas diri- nja dan gadis harus meminta izin" (Muwaththa Imam Malik hal. 62). " Lain daripada itu Quran mengatakan : "Apabila wanita itu sampai umurnja, tidak mengapa kamu biarkan mereka memilih sesuatu untuk dirinja." Sjiah memutuskan, bahwa wanita dewasa boleh kawin de- nqan tidak izin wali, dan jang baik bagi gadis jang belum dewasa meminta izin walinja. Hamoir semua mazhab Ahlus Sunnah memutuskan, bahwa nikah tidak memakai wali tidak sah, atau mereka membani wanita dalam onloinnn dewasa dan tidak dewasa, buruk atau tiantik. 4. Siiah menetaokan. bahwa talak janq diutiapkan sekaligus *iYlr. kfcllF. KarHa d ia tu h satu. Mazhab lain ada jang mer jatakan, bahwa ta^ak demikian diatuh ketiga-tjnanja. Siah mehhat perselisihan ini. sebelum memutuskan hukum- nia. Abd"lah Ibn Abbas berfatwa, diatuh satu talak, dan menna- fakan. bahwa hal ini terdjadi pada masa Rasulullah dan Abu Bn- kpr. hanta ï Tm a riah iang menohukumkan diatuh ticra talak (Ta- ri rh Tasiri Islami, kar. Al-Chudhari). Ikrimah mentieriterakan bahwa Rukkabah anak Tazid mentalak isterinia tina talak sekali nus m d a suatu temnat. Sesudah menjesal ia bertanja kepada Nabi ci-,n w^K: mencannkan bahwa talaknja diatuh satu. Marhab fana bukan Siiah menghukumkan datuh tiaa t?t1?k. demikian djuqa menurut fatwa Abu Hanifah dan M V n-»skoim kedua 2 nia menqharamkan ts-lak sematiam itu dan mengatakan ber- tentannnn dongan Sunnah Nabi. 5. Siiah menaannTao sesuatu diandü atau utianan tidak ber- laku, duka diperbuat karena terpaksa. Djika seseorana menaata- kan kepada isterinja : "Djika engkau pergi kepasar, nistjaja eng- 2*1
    • kau tertalak", atau pernjataan sematjam itu, seperti, bahwa iaserupa ibunja, bahwa hambanja merdeka, dan bahwa semua hartabendanja menjadi sedekah. Djika diperbuat jang demikian itu olehisterinja, orang Sjiah menganggap tidak djatuh talak, tidak terma-suk zihar dan tidak mendjadi sedekah semua hartanja. OrangSjiah berpegang kepada sabda Nabi : "Dibebaskan umatku daripada salah dan lupa, karena terpaksa dan diperkosa atau karenatidak tahu" (Hadis). "Qujanpun menjebut : "Tidak berdosa kamudjika terpaksa mengerdjakan salah." (Al-Intisar, kar. Mufid). Orang Sjiah dalam penetapan hukum berpegang kepada Quran dan Sunnah itu, meskipun mazhab lain menghukum seba-liknja. 222
    • 3. P E R S O A L A N CHILAFIJAH II Demikian kita lihat pendirian Sjiah dalam beberapa persoalanmunakahat. Mari kita tindjau pula pendirian mereka dalam perka-ra ibadat. Ambil misalnja sembahjang sebagai tjontoh, maka kitalihat perbedaan seperti berikut. Bahwa sembahjang jang wadjib bagi umat Islam umum, wa-djib pula bagi Sjiah dapat kita pahami, karena tentang kewadjibanpokok tidak berbeda, sama-sama berpegang kepada Quran danSunnah Nabi. Sembahjang Djumat wadjib. Orang Sjiahpun me- igatakan demikian. Tetapi apabila wadjibnja? Orang Sjiah men-djawab, selama pemerintah adil, dan djika pemerintah tidak adil,orang Islam boleh memilih, mengadakan Djumat atau mengerdja-kan sembahjang zuhur sendiri-sendiri. Mengenai bilangan Sjiah Imamijah menetapkan lima orangselain imam, sedang Maliki menetapkan dua belas orang selainimam, dan Sjafii sama dengan Hanbali menetapkan empat puluhorang bersama imam. Semua mazhab sepakat mengatakan bahwa dua chotbah me-rupakan sjarat sah Djumat, dilakukan sebelum waktu atau sesu-dah masuk waktu. Perbedaan paham terletak dalam persoalan,apakah wadjib berdiri dikala berchotbah. Sjiah sepaham dengan Sjafii dan Maliki mengatakan wadjib, sedang Hanafi d m Han-bali tidak mewadjibkan berdiri. Sjiah Imamijah mewadjibkan dalam chotbah hamdateh, sela-wal kepada Nabi dan keluarga, nasihat untuk orang janq hadir, membatja sesuatu dari ajat Quràn, dengan menambah istighfar dan doa untuk orang mumin pria dan wanita dalam chotbah kedua dan mentjeraikan antara dua chotbah dengan dudjuk spdilenak. Kita lihat perbedaan paham antara mazhab-mazhab dalam persoalan-persoalan ketjil, tetapi Sjiah menjelidiki hal ini melalui hadis-hadis Ahlil Bait. Sjiah Imamijah menganggap bahwa qasrus shalat, mendjadi- kan dua rakaat daripada sembahjang jang empat rakaat. dalam pcrdjalanan adalah suatu hrkum agama ianq perlu dipatuhi. Pe- netapan hukum ini berdasarkan firman Tuhan : "Apabila kamu beperqian diatas bumi, tidak mengapa, djika kamu memendekkan shalat, apalagi djika ditakuti fitnah mereka ianq kafir karena orang-orang kafir itu musuhmu jang njata" ( Q u r a n ) . Semua 223
    • mazhab menganggap demikian. Perbedaan paham hanja terletak dalam djangka djauh dandjarak tempat jang membolehkan memendekkan shalat itu. Se-mentara mazhab Hanafi menetapkan djarak djauh itu sebanjakdua puluh empat farsach djalan kaki, mazhab Sjiah menetapkandalapan farsach djalan kaki. Asal pertikaian ini terletak dalammemahami hadis mengenai djarak djauh ini. Sjiah sebagaimanamazhab Islam jang lain, mendjalankan ibadat sematjam ini karenaperintahnja dalam ajat Quran tersebut dan karena rasa takut,jang banjak dichuwatiri dipadang pasir. Imam Al-Baqir menguat-kan pendirian ini. Ajat tersebut digunakan djuga buat shalat chauf, jang tjaramelakukannja sama dengan mazhab jang lain. Dalam mentafsirkan ajat ini Sjiah melakukan shalat chaufuntuk sembahjang empat rakaat dengan dua rakaat berganti-gan-ti, djuga dalam shalat safar, tiap satu rakaat berganti-ganti, samadengan mazhab Djabir dan Mudjahid. Mengenai mandi djunub, mazhab Sjiah mendasarkan hukum-nja kepada ajat Quran: "Djika kamu berdjunub bersihkanlah diri-mu", (Qiran). Dan kebersihan ini hanja dapat ditjapai dengan air, ketjuali djika sakit, dalam perdjalanan atau menjentuh wanita, barulah dilakukan tajemmum untuk gantinja, jaitu dengan tanahjang bersih. Disini terdjadi bermatjam-matjam perbedaan paham untuk mereka jang dibolehkan tajammum, ada jang membolehkan buat orang jarg sehat dan tidak berpergian, djika tidak ada air, ada jang tidak membolehkan untuk oranq jang demikian itu, karena dalam ajat Quran hanja diwadjibkan taiammum buat orang sakit dan berpergian dan tidak ada air, ada jang melihat wadjib, djika fdak ada aie sadja. baik bagi orang sakit, sehat, berperqian atau tidak berperqian. Dalam menetapkan hukum itu, mazhab Siiah ada tang sedjalan dengan Ahlus Sunnah ada jang tidak. Bagi mereka pokok jang terpenting, ditjari dahulu dalilnja dalam Qur- an, dalam Sunnah atau dari imam-imamnja. Begitu djuga mengenai kiblat. Siah sependapat dengan AhlusSunnah hanja diarahkan kepada Kabah di Mekkah. Kiblat keBaital Maqdis sudah dibatalkan dan diganti dengan ajat Quran,jang menjuruh menghadapkan muka dalam sembahyang kearahKabah dalam segala keadaan. Adapun ajat Quran janq menje-butkan, bahwa seluruh timur dan barat itu kepunjaan Allah dankemana dihadapkan muka disitu terdapat wadjah Tuhan (Quran),ajat itu hanja digunakan untuk sembahjang sunat dan dalam ke-adaan berpergian jang tidak diketahui arah kiblatnja, sebaqa ; manajanq diriwajatkan oleh Abu Diafar al-Baqir dan Abu Abdullahas-Shadiq dalam tafsir Mudfraiaul Bajan. dj. ke 1: 228. n
    • Demikianlah beberapa tjontoh perbedaan paham dalam furuantara Sjiah dan mazhab-mazhab jang lain. Perbedaan ini kitadapati dalam persoalan puasa, hadji, zakat dll. ibadat, muamalat,djihad, djinajat, hukum warisan dll, jang timbul karena perbedaanmemahami ajat-ajat Quran dan Hadis-Hadis dari bermatjam ri-wajat. Selain daripada persoalan Imamah, jang mendjadi kejakinangolongan Sjiah, saja tidak melihat ada perbedaan besar antaramazhab ini dengan mazhab Ahlus Sunnah. Gema permusuhanantara Sjiah Ahli dan Bani Umajjah serta Bani Abbas adalahpersoalan politik, bukan persoalan ibadat dan muamalat, dan bu-kan pula persoalan itikad jang sependapat bagi semua aliran da-lam golongan Sjiah. 225
    • 4. ASJ-SJAFII DAN SJIAH Orang menanjakan, apakah Sjafii itu Sjiah ? Pertanjaan ini mudah sekali timbul, pertama menurut penda-pat jang sah, karena Muhammad Idris Asj-Sjafii berasal dari sukuQuraisj dan ibunja dari suku Ardijah, terdapat di Jaman. Al-Hu-raifisj dalam karangannja "Ar-Raudhul Faig" (Mesir, tth.)menerangkan, bahwa Muhammad bin Idris anak Al-Abbas, anakUsman anak Sjafi, jang bersambungan sampai kepada Abdi Ma-naf, dan dengan demikian berhubungan sampai kepada NabiMuhammad. Ada orang mengatakan, bahwa Sjafi, salah seorang nenekMuhammad bin Idris dipakai mendjadi nama suku, adalah budakatau maula dari Abu Lahab, tetapi Ahmad Amin menerangkandalam karyanja "Dhuhal Islam", 11:218, bahwa keterangan ini ti-dak dibenarkan oleh ulama-ulama ansab bangsa Arab, dan utja-pan itu hanja dikemukakan sebagai asabijah mazhab jang mem-bentj;i Sjafii. Alasan jang lain jang menimbulkan pertanjaan itu ialah kare-na Asj-Sjafii murid atau banjak mengambil hadis-hadis daripada Malik bin Anas, jang pernah beladjar pada Imam Djafar as-Sha-diq, seorang tokoh Sjiah jang terkemuka dalam ilmu fiqh, danbanjak meriwajatkan hadis-hadis dari Ahlil Bait, diantaranja iamengistimewakan hadis jang berasal dari Ali bin Abi Thalib. Jang sangat menjolok, bahwa ilmu fiqh Asj-Sjafii sangat ber-dekatan dengan ilmu fiqh Ahli Sunnah, sehingga dalam banjak halkelihatan, bahwa perbedaan antara Sjiah dan Sünnah lebih sedikit daripada perbedaan antara Sjafiijah dan Abu Hanifah, karena jang terachir ini, meskiyun langsung mendjadi murid daripada Djafar Shadiq, tetapi telah banjak dipengaruhi oleh paham-paham Mutaziah. Tentang perbandingan ini batja kata Pendahuluan dari Al-Kazimi, jang ditulis dalam tahun 1372 pada permulaan kitab "Ar-Rihlah al-Muq,addasah" (New York, 1961), karangan Al-Hadi Ahmad Kamal, mengenai hukum-hukum, perdjalanan dan doa-doa hadji. Djadi Malik bin Anas adalah seorang murid Djafar Shadiq. Sjafii banjak menqambil peladjaran daripadanja, sebagaimana Ahmad ibn Hanbal baniak mengambil dasar-dasar hukum dari Sjafii. Oleh karena Sjafii tidak mengambil hadis ketjuali dari- pada Ali bin Abi Thalib maka baniak ?ekal ; orang menuduhnia226
    • terutama dalam masa pemerintahan Abbasijah, bahwa ia menjebe-lah kepada Sjiah, dan Sjafii merasa bangga atas ketjaman itu.Dalam sebuah sjair ia mengatakan : "Aku Sjiah dalam agama, Asalku dari kota Mekkah, Kampungku Askalan bernama, Kelahiranku baik dan megah. Mazhabku baik, aliranku indah. Memuntjak naik keangkasa, Tidak sukar tetapi mudah. Mengatas alam manusia. Sjair diatas ini termuat dalam kitab "Mänagib Asj-Sjafii",karangan Al-Fachrur Razi, hal. 51, dimuat kembali dalam kitab"Al-Imam As-Shadiq wal Mazahibil Arbaah, dj. I hal. 231. Tatkala ia diuduh Rafdhi oleh Jahja bin Muin dengan ala-san, bahwa Sjafii banjak mengambil hadis dari Al; bin Abi Thalib,Sjafii bersjair pula menentang tuduhan itu dalam beberapa barissjair, jang terachir ia berkata : "Djika aku dituduh Rafdhi, Karena mentjintai keluarga Muhammad, Quran dan Sunnah mendjadi saksi, Rela mendjadi Rafdi selamat" (hal. jang sama). Ketjaman jang lain. jang menuduh Sjafii mewakili Ahlil Bait,djuga berasal dari Ibn Muin, jang membuat Al-Mazani pada sua-tu hari bertanja kepada Sjafii : "Engkau mewakili Ahlil Bait ?"Ketika itu Sjafii bersjair : "Telah lama kusembunjikan, Kini kudjawab pertanjaanmu, Jang bertanja seakan-akan, Orang adjam ialah kamu. Kusembunjikan ketjintaanku. Dalam bentuk putih bersih. Agar supaja ia sedjahtera. Selamat dari tjela selisih ". Sjair inipun termuat dalam kitab "Manaqib As-Sjafii" kara-ngan Ar-Razi, hal. 50. Banjak sekali ketjaman-ketjaman terhadap Sjafii, sebahagianbesar berasa! dari Jahja bin Muin, seorang Perawi hadi v ang 227
    • terkenal, jang meninggal di Bagdad th. 233 H., dan jang terkenaldengan nama Ibn Aum al-Ghadhafani. Karena telitinja dalam hadisia pernah mendapat pudjian dari Ahmad bin Hanbal. Tetapi tu-duhannja, bahwa Asj-Sjafii banjak menggunakan hadis-hadis jangdhaif dan jang berasal dari orang-orang jang berbuat bidah, ti-dak dapat dibenarkan oleh banjak orang. Imam Sjafii memangmenggunakan banjak hadis Ahlil Bait tetapi ia sendiri selalu ber-kata : "Djika kamu dapati, bahwa ada hadis jang menjalahi ma-zhabku, ketahuilah bahwa mazhabku iang sebenarnja ialahhadis jang sahih itu." Imam Sjafii adalah seorang ulamajang salih, zahid, ahli dan hati-hati sekali dalam memilihhadis-hadis jang akan didjadikan dasar penetapan hukum-nja. Tatkala perselisihan paham terdjadi antara ulama-ulama Irak,jang mengutamakan raji dan qijas dalam penetapan hukum kare-na kekurangan bahan hadis, dengan Ahli Hadis, jang terdiri dari- pada ulama-ulama Madinah, ditempat banjak terdapat sahabat- sahabat iang menghafal hadis, maka Siafii menjusun dirinja kepa-da rombongan ulama-ulama Ahli Hadis itu, terutama gurunja Malik bin Anas dan teman-temannja ,terutama dari mereka seper- ti Imam Zaid bin Ali (mgl. 122 H ) . Imam Djafar bin Muhammad As-Shadiq, Imam Malik (mgl. 179 H.) dan Amir Asi-Sjubi (mgl. 105 H.), semua orang-orang jang sedikit menqgunakan qijas dan raji dalam penetapan hukumnja. Sjafii banjak menggunakan pi- kiran-pikiran jang berasal dari orang-orang itu, jang dianggap lebih terdahulu dan lebih mengetahui daripadanja. Tatkala Sjafii pindah dari daerah bekas pengaruh Mutazilahitu ke Mesir, bekas daerah Sjiah Fthimijah, sikapnja lebih djelasdalam mengambil banjak paham-paham Malik bin Anas jang lebihberat kepada Sunnah daripada kepada pikiran dan qijas. Makabanjaklah ia beroleh pengikutnja, diantaranja Ismail bin Jahja Al-Mazani, Rabi bin Sulaiman Al-Djizi, Harmalah ibn Jahja, Abu Ja-kub Al-Buaithi, Ibn Sibah, Ibn Abdel Hikam Al-Misri, Abu Saur,dll. Di Mesirlah mazhabnja lekas berkembang, sehingga termasukmazhab jang banjak dianut orang, salah satu mazhab jang ber-kuasa dari empat mazhab Ahli Sunnah. Sudah kita katakan mazhab Sjafii adalah mazhab jang me-nengah antara aliran menggunakan sunnah dan aliran jang meng-gunakan pikiran dalam menetapkan hukum. Kita sudah sebutkanbahwa Sjafii pernah mempeladjari aliran Malik dan pernah djugamempeladjari tjara Abu Hanifah berpikir. Maka dalam kehidupansehar-hari dapat kita pisahkan pada mula pertama dua aliran dantjara berpikir, pertama tjara Irak, tedekat kepada paham Abu Ha-nifah, disebut "Qaul Qadim" dan kedua tjara Malik berpikir, jang sangat berpegang kepada hadis sadja. dan dengan pengalaman228
    • daripada kedua gelombang pikiran ini kemudian di Mesir ia^men-tjiptakan suatu perdekatan tjara berpikir, jang dinamakan "QaulDjadid". Di Irak ia dibantu oleh Az-Zafarani, Al-Karabasi, AbuSaur, Ibn Hanbal, Al-Baghawi, dan di Mesir ia dibantu oleh Al-Buwaithi, Al-Mazani, Rabi al-Muradi. Di Irak ia berdjuang dalamkemiskinan dan kesukaran, kemudian ia berangkat ke Mesir un-tuk mengubah nasibnja, agar kehidupannja lebih baik dan per- djuangannja lebih sempurna. Di Irak orang menggunakan pikiran, di Mesr terdapat lapangan iman jang lebih luas. Oleh karena itu tatkala ia hendak berangkat ke Mesir ia ber- tanja dalam Sjairnja : Diriku hendak melajang ke Mesir, Dari bumi miskin dan fakir, Aku tak tahu hatiku berdesir, Djajakah aku atau tersingkir. Djajakah aku ataukah kalah, Tak ada bagiku suatu gambaran, Menang dengan pertolongan Allah, Atau miskin masuk kuburan. Demikian Imam Sjafii bersjair, tatkala ia hendak melang- kahkan kakinja ke Mesir. Sjair Arab ini berasal dari temannja Az-Zafarani, jang mendjawab bahwa kedua-duanja jang tersebut dalam sjair itu ditjapai oleh Muhmmad bin Idris Asj-Sjafii, baik kekajaan jang menghilangkan kemiskinannja, maupun kedjajaan jang membuat penganut mazhabnja ratusan kali lipat ganda dari pada jang terdapat didaerah Mutazilah itu. Untuk mentjegah perselisihan paham dan menjalurkan kepa- da kesatuan dasar hukum, Sjafii segera menulis "Usul Figh", jang mengatur tjara menetapkan sesuatu hukum fiqh menurut sumber- sumbernja, sehingga dengan buku ini nama Asj-Sjaffi mendjadi harum sekali diantara nama-nama Mudjtahid da n Ahli Mazhab ketika itu. Orang memperbandingkan djasanja dengan usaha Aris- toteles dalam mentjiptakan Ilmu Manthik, atau dengan Chalil bin Ahmad dalam karya Ilmu Arudh. Meskipun ada orang sebutkan usul fiqh pernah dikarang oleh Muhammad bi n Hasan dari ma- zhab Hanafi, tetapi karya ini tidak tersiar luas dan tidak beroleh nama jang populer seperti Usul Fiqh karangan Asj-Sjafii, jang termuat djuga garis-garis besarnja dalam kitab Al-Umm. Barangkali baik saja sebutkan beberapa perbandingan jang menundjukkan kedekatan antara fiqh Djafarijah dan fiqh Sjafii- jah, sebagaimana jang termuat dalam kitab Umm-nja. Saja tidak dapati banjak perbedaan, djika ada, adalah ketjil sekali tidak es- 229
    • sensiel dan tidak penting, denukian ketjilnja, sehingga bagi orangjang belum berkenalan dengan mazhab Djafari mungkin menjang-kanja fiqh Sjafii. Batjalah kitab-kitab Muchtasar Nafi, kitab fiqhjang dipakai di Universitas Al-Azhar sekarang ini dan banding-kan dengan kitab-kitab Sjafii, akan didapati hampir tak ada per-bedaannja dalam masalah usul dan furu. Saja dapati demikianbaik pada waktu memperbandingkan antara mazhab Sjafii, Hana-fi, Maliki dan Hanbali dalam kitab Al-Fiqh Ala Mazahibil Arbaah,baik pada waktu membatja kitab Al-Fiqh Alal Mazahibil Chamsah,karangan Moh. Djawad Mughnijah jang berisi perbandingan an-tara fiqh Al-Djafari, Hanafi, Maliki, Sjafii dan Hanbali. Sebagai misal kita sebutkan tajammum pada waktu ada airsebelum masuk waktu sembahjang, semua imam mazhab itu me-ngatakan batal sembahjangnja. Kita ambil lagi sebagai tjontohFatihah dalam sembahjang pada tiap-tiap rakaat. Hanafi menga-takan, bahwa Fatihah wadjib pada dua rakaat sembahjang per-tama. Sjafii mengatakan, wadjib pada tiap-tiap rakaat sembah-jang awal dan achir. Maliki mengatakan djuga demikian. Hanbalipun mengatakan demikian. Imamijah mengatakan bahwa wadjibpada dua rakaat pertama sadja. Djadi hampir semua sama pen-dapatnja bahwa dalam dua rakaat pertama pada tiap-tiap sem-bahjang Fatihah itu wadjib, tjujma berbeda pada dua rakaat jangkedua, ada jang mewadjibkan dan ada jang tidak. Demikianlahselandjutnja tidak saja perpandjangkan pembitjaraan ini, tjukupdengan mempersilakan membatja kitab tersebut diatas untuk per-bandingan. Dalam pada itu banjak sekali hal-hal jang bersamaan, misal-nja tentang rukun iman dan rukun Islam, tentang pengertian bu-ruk baik, tentang mentjinai semua sahabat Nabi, ketjuali memberikeutamaan lebih banjak kepada Ali bin Abi Thalib sebagai ke-luarga Rasulullah terdekat, tentang tjara beridjtihad dalam hukumfuru, ketjuali Sjiah membuka pintu idjtihad itu sepandjang waktu.Persamaan dalam ibadat dan muamalat dan lain-lain sebagaimanaterdapat pada mazhab jang lain, demikian banjak keseuaiannja,sehingga pada waktu jang terachir ini fiqh Sjiah itu djuga didja-dikan mata peladjaran pada universitas Al-Azhar di Mesir dimanadidirikan djuga suatu badan untuk mempedekatkan semua mazhabdalam Islam jang bernama Darut Taqrib bajnal mazahibil Islami-lah, jang dipimpin oleh ulama-ulama besar, diantaranja Al-Baquri,Moh. Taqijuddin al-Qummi dan Sjaltut dan jang sudah bertahun-tahun mengeluarkan madjallah Risalatul Islam dimana tiap mazhabboleh mengupas masalahnja masing-masing setjara ilmiah de-ngan tudjuan mendekatkan dan menanam persatuan dan salingpengertian baik, bukan melahirkan pertentangan. Ahmad Amin dalam "Dhuhal Islam" (Mesir 1952 M.), I I I :230
    • 219, berkata, bahwa riwajat jang mentjeriterakan Imam Sjafii itupernah menganut Sjiah bermatjam-matjam. Ada jang mengatakanketika ia di Jaman, ada jang mengatakan sesudah ia kembali keHedjaz. Ibn Abdul Bar mentjeriterakan, bahwa ia memang men-dekati Sjiah dan tjondong kepada bersumpah setia kepada golo-ngan Alawijjin ketika itu di Hedjaz. Ibn Hadjar mentjeriterakanbeberapa riwajat jang berlain-lainan, tetapi semuanja membenar^kan bahwa Sjafii bersimpati dengan Sjiah ketika ia di Jaman.Pernah perkara ini dikemukakan kepada pengadilan Harun Ar-Rasjid, tetapi Sultan ini kemudian membebaskan tuduhan terha-dap Sjafii itu (Ibn Abdul Bar, Al-Intiqa, hal. 95). Jang demikianitu terdjadi dalam tahun 184, sedang umur Sjafii adalah 34 tahun.Sjafii berangkat ke Bagdad tahun 195 dan tinggal disana 2 tahun,kemudian kembali ke Mekkah, kemudian pergi lagi ke Bagdadtahun 197 dan tinggal sebulan disana. Barulah kemudian dalamtahun 199 H. ia berangkat ke Mesir, sebagaimana jang sudah kita tjeriterakan diatas dalam th. 199, dan ia meninggal disana pada tahun 204 H. (11:220). 231
    • 5. S J A L T U T D A N SJIAH Kita sudah sebutkan disana-sini, bahwa sedjak tahun-tahunjang silam sudah berdiri di Mesir suatu badan "Darut Taqribbajnal Mazahibil Islamijah", dimana duduk tokoh-tokoh ulamabesar dari golongan Ahlus Sunnah wal Djamaah dan Sjiah, se-perti Sjeich Mahmud Sjaltut, dekan Universitas Al-Azhar, dokterAl~Bahy dan Al-Qummi dll. suatu badan jang mengadakan pem-bahasan mengenai persesuaian dan pertentangan mazhab-mazhabIslam, agar dapat dipersatukan guna melenjapkan perpetjahanjang sampai sekarang terdjadi diantara kaum Muslimin. Madjal-lahnja "Risalatul Islam" memuat tidak sadja karangan-ktranganjang mendalam tentang prinsip-prinsip berbagai mazhab, tetapidjuga keputusan-keputusan sidang mengenai pembahasan-pemba-hasan kearah persatuan itu. Hasilnja sangat baik diantaranj3 tidakberapa lama sesudah badan inj berdiri di-universitas Azhar sudahdiwadjibkan sebagai mata peladjaran mempeladjari ilmu fiqhSjiah Djafarijah, jang sebelumnja belum pernah diusahakan. Dalam usaha ini tidak dapat dilupakan djasa seorang SjeichulAzhar Mahmud Sjaltut, jang sedjak tahun 1947 mendjadi anggotadari badan Darut Taqrib itu. Begitu djuga gurunja Sjeich Abdul-madjid Salim. Ia mentjari hubungan rapat dengan ulama-ulamaNedjef, Karbala, Iran dan Djabal Amil, dengan tulisan-tulisanjang berharga dan pikiran-pikiran persahabatan, guna mempela-djari lebih dalam fiqh Djafari dan mengadjarkannja di Al-Azhar. Hasil daripada penjelidikan itu jang sangat menggemparkandunia Islam sampai sekarang ini, ialah fatwanja jang memboleh-kan beribadat (jadjuzut taabbud) dengan mazhab Djafari, suatukeputusan jang belum pernah diberikan dan diutjapkan oleh ulama-ulama empat mazhab Hanafi, Sjafii, Maliki dan Hanbali. Batjalebih landjut suatu uraian jang pandjang lebar dalam madjallah"Al-Irfan", suatu madialah resmi gerakan Sjiah, djuz ke VII, djild.51. Ramadhan 1383 H., hal. 735 dst. Sepandjang sedjarah djarang orang-orang dari Ahli Sunnahmenjelidki mazhab Sjiah ini dari sumbernja, dari kitab-kitab jangditulis oleh anak-anak Sjiah sendiri dan melihat serta mempela-djari dalam -pergaulan dengan mereka. Ketjaman-ketjaman terha-dap Sjiah jang terdapat dalam kitab-kitab pengarang Ahli Sunnahkebanjakan berasal dari ungkapan-ungkapan mereka sendiri iangsambung-meniambung dikupas dan d:bitiarakan. djarang jang maumempeladjari benar tidaknja sesuatu tuduhan dari kitab-kitab jang232
    • ditulis oleh ulama-ulama Sjiah sendiri dan mentjotjokkan kete-rangan-keterangan itu dengan Quran dan Sunnah Rasul. Berlainan sekali dengan sikap Mahmud Sjaltut, jang menda-sarkan fatwanja betul-betul dari pengenalannja jang benar dankejakmannja jang sudah dibuktikan, ditambah dengan keichlasan-nja sebagai seorang pemimpin Islam jang ingin mempersatukankembali umat jang sudah petjah-belah itu hanja karena perbedaanperbedaan mazhab ibadat. Fatwa Sjeich Mahmud Sjaltut itu dikeluarkan atas pertanjaanjang dikemukakan kepadanja, bahwa orang Islam untuk melan-tjarkan ibadat dan muamalatnja setjara jang sah harus bertaqlidkepada salah satu mazhab empat jang masjhur, tidak termasukmazhab Sjiah Imamijah dan Sjiah Zaidijah. Orang bertanja, apa-kah pada pendapatnja benar dalam masalah taqlid itu disingkirkanmazhab Sjiah Imamijah Isna Asjarijah. Maka lalu didjawabnja :"Bahwa Islam tidak mewadjibkan kepada penganutnja untuk me-ngikuti salah satu mazhab jang tertentu. Tetapi dapat kami kata-kan, bahwa seorang Muslim jang baik berhak beraqlid kepadapokok-pokok pendirian sesuatu mazhab dari mazhab-mazhab jangdiakui sah oleh umum, dan jang penetapan-hukum-hukumnja telahtertjantum dengan tegas dalam kitab-kitabnja. Orang Islam jangbertaqlid kepada mazhab sematjam itu berhak pula berpindah darisatu mazhab kepada mazhab lain jang diakui sahnja, tidak adakesukaran jang diwadjibkan kepadanja berpegang teguh kepadasatu mazhab sadja. Kemudian kami berfatwa, bahwa mazhabDjafarijah, jang terkenal sebagai salah satu mazhab Sjiah Ima-mijah Isnaasjarijah adalah mazhab jang diperbolehkan beribadatdengan mazhab itu pada siara, sebagaimana dengan mazhab-mazhab jang lain daripada Ahli Sunnah. Maka hendaklah semuaorang Islam mengetahui sungguh-sungguh pendirian ini, dan me-lepaskan dirinja daripada ashabijah berpegang dengan tidak adahak kepada sesuatu mazhab jang tertentu. Agama Tuhan Allahtidaklah disjariatkan mendjalankannja dengan mengikuti mazhabatau menentukan sesuatu mazhab. Semua mudjtahid diterima padasisi Alih, mereka jang tidak ahli dalam mengambil sesuatu kepu-a s a n atau beridjtihad (an-nazar wal iditihad) diperbolehkan ber-taeilid kenada mudjtahid-mudjtahid itu dan beramal dengan hukum-hukum fiqh iang ditetapkannja. meskinun ada perbedaan-perbe-daan jang didjumpainja menqenai ibadat dan muamalat" (hal.736). Fatwa ini diserahkan dengan resmi oleh Sjeich MahmudSjaltut kepada Ustad Muhammad Taqjul Qummi, sekretarisumum dari Darut Taqrib bainal Mazahibil Islamijah, dengan pe-rintah agar fatwa membolehkan beribadat dengan mazhab SjiahImamijah ini disiarkan setjara luas. 233
    • Dengan demikian selesailah persoalan hukum fiqh antaraAhli Sunnah wal Djamaah dengan Sjiah Imamijah dalam abadke XX ini, diselesaikan oleh seorang Sjeichul Azhar kaliber besarMahmud Sjaltut. Siapa Mahmud Sjaltut ? Abdulhalim Az-Zain, jang menjambut keputusan ini dengansegala kegembiraan dalam salah satu madjallah di Nedjef mene-rangkan bahwa Mahmud Sjaltut adalah seorang alim jang luasilmu agamanja dan ilmu umum, seorang jang selalu berdaja upajauntuk mendamaikan kaum Muslimin, seorang mudjahid besar,jang banjak berbitjara dan menulis tentang agama d a n kebudaja-an Islam. Ia seorang ahli pikir jang dikagumi oleh kaum Muslimindalam abad jang ke XX ini, mengenai fatwa-fatwanja dalam bi-dang sjariat dan hukum fiqh, dalam bidang dawah, dalam bidangpendidikan dan kebudajaan, mengenai pikiran-pikiran umum dansuasana dunia, seorang jang selalu diminta pikirannja dalam uru-san-urusan penting. Selain daripada seorang ulama jang alim dalam persoalan agama, Mahmud Sjaltut adalah seorang Ahli Falsafat hidup, jang mengetahui segala seluk-beluk agama-agama didunia dan peraturan-peraturan hidup dari umat manusia. Banjak sekali karangan-karangannja jang mendalam tersiar dalam madjal- lah-madjallah seluruh dunia, terutama dalam bidang kerohanian dan pendidikan. Karena ilmunja, pengalaman dan perkembangan tjita-tjitanja jang indah-indah, ia diangkat oleh Dewan Ulma-Ulama besar Al- Azhar mengepalai Universitas Al-Azhar dalam tahun 1958. Da- lam pimpinannja Al-Azhar mengalami beberapa pembaharuan, di- antaranja memperdaam falsafat kehidupan manusia jang baharu, jang mempengaruhi bidang kebendaan dan kehidupan duniawi, memperdalam ilmu-ilmu sedjarah dan kejakinan bangsa-bangsa Islam, mengadakan perobahan baru dengan menghilangkan bebe- rapa perkara jang tidak berguna dari daftar pengadjaran jang la- ma, memasukkan ilmu-ilmu baru guna mempersiapan pemimpin- pemimpin Islam jang tjakap menghadapi suasana sekarang ini, memasukkan dan memperluas hukum-hukum fiqh dalam semua mazhab Islam dan perbandingan agama, menjesuaikan pendidikan Al-Azhar dgn. gerakan kemerdekaan pembebasan diri oleh Asia- Afrika, menanam rasa kesatuan dalam dunia Islam dengan mem- permudah hubungan dan pergaulan antara negara-negara dan bangsa Islam, dan jang terbesar djuga diantara usahanja ialah mentjiptakan dan memupuk suatu badan untuk mempersatukan mazhab-mazhab Islam dengan nama Darut Tagrib bainal Mazahl- bil Islamijah, dengan sebagai buahnja memasukkan pengadjaran hukum fiqh Djafari ke Azhar dan memperbolehkan beribadat de- ngan mazhab Sjiah Imamijah, Isna Asjarijah. 234
    • Berhubung dengan kundjungannja ke Indonesia beberapa ta-hun jang lalu, madjallah Islam "Gema Islam" menjiarkan beberapakarangan mengenai orang besar ini, diantara lain M. Idris Al-Masri B.A. jang mengemukakan "Wawantjara" antara warta-wan 2 Al-Masa dan Asj-Sjaab dengan Sjeich Mahmud Sjaltutsemasa hidupnja, dimana kelihatan kemauan besar dari SjeichulAzhar ini untuk mempersiapkan pemimpin-pemimpin Islam barudengan segala ilmu pengetahuan jang diperlukannja sekarang ini,guna dilepaskan keseluruh negara-negara Islam. Diantara warta-wan-wartawan asing jang pernah berwawantjara dengan Mah-mud Sjaltut ialah wartawan Bulgaria Vladimir Nopcharov besertadelegasi dari Departemen Penerangannja, wartawan-wartawandari Tiongkok jang pernah berkundjung ke Mesir atas undanganPemerintah R.P.A. sebagai tamu negara, diketuai oleh Mr. ChiangJuan dan pengikut-pengikutnja a.l. Kaotin W a Chow Mao, LawLiang, Bin Biao d.U., dan wartawan-wartawan dari surat kabarAlpopulo dari Italia, Dr. Delioka Angelo. Dari wartawan Al-Masa dan Asj-Sjaab, jang berwawantja-ra dengan Mahmud Sjaltut itu dapat kita ketahui beberapa ke-inginannja dalam memperbaiki sistem pengadjaran pada Al-Azhar.Pertama Sjaltut berhasrat sekali memperkembang hubungan antaraumat Islam seluruh dunia dan menjebarkan kebudajaan Islam ke-pada mereka. Oleh karena itu ia akan mendidik murid-murid padaAzhar itu tidak hanja sekedar mentjari idjazah tetapi mendjadipemimpin-pemimpin jang dapat berbitjara lantjar dalam segalabahasa, mendjadi sardjana-sardjana dalam ilmu fiqh dan usulnja,serta memberikan peladjaran chusus tentang keadaan agama dalamnegeri-negeri jang akan dikundjunginja. Sjaltut berpendapat, bah-wa beridjtihad bagi orang Islam harus dilakukan sungguh-sung- guh, agar orang dapat merasakan nikmat jang dibawa oleh agama Islam, dan dengan demikian perlu melihat kembali isi-isi daripada fiqh Islam jang lama, untuk diselaraskan dengan kehidupan umat Islam sekarang ini. Dari wawantjara ini dapat djuga kita ketahui, bahwa sebagai sumber pokok pesan Islam ialah Quran dan Sunnah, jang harus dipeladjari dan diamalkan. Selandjutnja ia berkata sebagai tudjuan isahanja dalam memimpin Al-Azhar ia akan bekerdja : Pertama, menghasilkan leader-leader jang ungguh dalam ilmu lo- ghat dan tjabang-tjabangnja dan sardjana-srdjana penjelidik, peng- idjtihad janq sehat, ahli penemuan baru janq berguna, dan karena itu kami tidak ingin menghasilkan lulusan Al-Azhar dengan dite- kankan kepadanja supaja meninggalkan pendapat-pendapat dan mazhab-mazhab jang lalu. tapi keharusan kami berusaha dan per- tiaia bahwa kebutuhan sekarang kepada ilmu fiqh, loghat dan akaid-dmiiah berlainan dengan kebutuhan untuk besok hari. Dan kurnia Allah tidaklah terbatas hanja pada orang-orang terdahulu 235
    • sadja. Kedua, menghasilkan ahli dawah, ahli penasihat jang kuat teguh dalam bidang ilmu, pengertian dan seluk-beluk beragama, jang tak akan dilengahkan oieh perniagaan dan perdagangan dari melantjarkan da wah (seruan) kepada djalan Allah. Dari sini dje- laslah bagj kita peranan kewadjiban orang-orang lulusan Al- Azhar itu, dimana dia bukanlah sekedar ustadz kelas dan djuru- san, sebenarnja dia adalah ustadz ilmu dan research, mahaguru dawah dan irsjad. Dengan begitu rumah sekolahnja adalah rakjat seluruhnja, dan Alam-lslami sekaliannja, dan mahasiswanja ada- lah umat Muslim diseluruh pelosok bumi, disegala lapisan, dise- gala djenis bangsa, disegala dialek dan bahasa, dan disegala benua. Inilah dia apa jang dipantjangkan atasnja mahligai Al-Azhar da- lam kebangkitannja jang berkat bagi Republik Persatuan Arab. Dari sini teranglah bahwa pesanku ini adalah perealisasian segala tjita ini, supaja Al-Azhar memenuhi kepentingannja jang mulia thd. tanah air bangsa Arab dan umat Islami. Inilah arah tudjuan- ku dan inilah djalan. Saja dan seluruh kaum muslimin diselu- ruh pelosok dunia berharap kehadirat Allah dalam merealisasikan „amanat" ini diatas bantuan Pemuda Muminin jang kuat Presi- den Djamal, jang telah menghidupkan segala jang mati daripada umat ini, jang telah mendjadikan disetiap pelosok gerakan kebang- kitan, kita berharap kehadirat Allah semoga dikekalkannja bagi beliau taufik dalam berchidmat kepada Loghat, Agama dan Nasio- nal kita atas bantuan dan bimbingan beliau terhadap Al-Azhar" („Gema Islam" hal. 20 No. 50, 1964). Dari isi dua buah kitabnja jang sampai ditangan saja, dihadiah- kan sendiri olehnja tatkala ia mengundjungi Mesdjid Al-Azhar Kebajoran Djakarta, pertama "Tafsir Al-Quranul Karim" (Cairo, 1960), kedua "Min Taudjihatil Islam" (Cairo, 1959), dapat saja tarik kesimpulan, bahwa Mahmud Sjaltut itu dapat kita masukkan kedalam golongan penganut Mazhab Salaf, karena ia hendak me- ngembalikan adjaran Islam kepada Quran dan Sunnah sebagai- mana jang dianut dalam tiga qurun pertama permulaan Islam, kedua ia berpendirian sampai sekarang terbuka pintu idjtihad bagi ulama-ulama untuk menetapkan sesuatu hukum jang dianggap perlu dengan mengatasi semua aliran mazhab jang ada dalam Islam. Dalam memberikan tafsir Al-Quran ia mengatasi paham- paham jang sudah ada, tetapi keterangannja sedapat mungkin di- ambil dari ajat-ajat Quran sendiri dan hadis-hadis jang baik de- ngan meninggalkan tawil jang berlarut 2 , dan apabila ia tidak men- dapati keterangan dari kedua sumber itu, ia menterdjemahkan se- suatu daripada ajat Quran menurut lafadhnja dengan mengguna- kan ilmunja jang luas dalam pengetahuan bahasa dan kesusaste- raan Arab. n J Dr. Muhammad Albahi, Direktur Umum Bahagian Perada-236
    • ban Kebudajaan Islam pada Universitas Azhar, jang memberikankata pendanuluan dalam kitab Tafsirnja, menerangkan bahwapandangan Sjaltut terhadap penafsiran Al-Qur an memang istime-wa berbeda daripada tatsir jang lain, baik karangan ahli-ahlitafsir jang telah lampau seperti At-fhabari (251—310 H ) , TafsirZamachsjari (mgl. 538), Qurthubi (mgl. 671), Baidhawi (mgl.791) dan Al-Alusi (mgl. 1271), maupun dengan tafsir-tafsir jangbaru jang tidak terhitung djumlahnja. Keistimewaan itu terletak,pertama dalam menjaring pendapat-pendapat ahli tafsir lama, dandiambilnja jang terdekat kepada maksud-maksud ajat sutji, keduamenghilangkan penafsiran-penafsiran ajat jang bersifat asabijahmazhab, jang dapat mendekatkan paham kepada maksud semuladaripada ajat Quran. Dengan alasan ini Dr. Albahi lebih sukamenamakan karya Sjaltut ini dengan penampungan kesukaran da-ri semua tafsir Quran atau tafsir dari segala tafsir. Lebih penting lagi dalam tafsir Sjaltut ini ia mengemukakan uraian-uraian jang meluas tentang ajat-ajat jang perlu bagi perdjuangan umat Islam sekarang ini. Tafsir ini sudah diterbitkan sedjak tahun 1949 dalam Madjal- lah "Risalatul Islatm/, organ dari Darut Taqrib bainal Mazahibil Islamijah, jang didirikan di Mesir, djuga atas minatnja, sedjak tahun 1947. Persoalan-persoalan jang dikemukakan dalam kitabiija Min Taudjihatil Islam, jang djuga diterbitkan di Mesir, melangkupi hampir seluruh keperluan hidup umat Islam. Dalam Bab "Manusia dan Agama" dibitjarakan dengan mendalam kebutuhan manusia kepada agama, persoalan buruk dan baik, beragama dengan agama jang sebenarnja, keadaan kaum Muslimin, uraian aqidah. ibadah. ilmu dan harta dalam Islam, uraian tentang masjarakat L.am, dan persoalan-persoalan dawah untuk umat Islam sekarang ini. Da- lam bidang masjarakat disinggungnja persoalan zakat, persoalan tasawuf, persoalan akal dan ilmu dalam Islam, persoalan roh da- lam pendidikan, persoalan bantuan kepada anak jatim, persoalan kesehatan, persoalan perdagangan dll., sedang dalam urusan wa- nita ia kemukakan hukum-hukum menurut Al-Quran, keadaan wanita dalam masa Nabi, perdjuangan wanita dan kedudukan itu terhadap pendidikan. Tidak kurang pentingnja ia membitjarakan persoalan-persoalan mengenai djihad dan peperangan dalam Islam, persoalan-persoalan mengenai achlak dan budi pekerti, persoalan- persoalan mengenai ibadat dan bidah-bidah jang dimasukkan orang kedalamnja dan achirnja djuga ia singgung perbidangan hukum dalam/ Islam dan negara-negara Islam. Kitab jang tebal ini rupanja terutama ditjiptakan untuk mem- berikan bahan-bahan dawah dalam Islam, bahan-bahan untuk mempertahankan kemurnian adjaran Islam dan kepentingannja 237
    • dalam menjelesaikan kesukaran hidup pada zaman modern ini. Dari segala karangan itu Sjaltut memberikan pandangannjasetjara luas dan setjara rationalistis. Meskipun demikian, dari segala djasanja, saja anggap jangterbesar ialah ichtiarnja memperdekatkan aliran Sjiah denganAhlus Sunnah wal Djamaah dalam suatu badan kerdja sama"Darat Taqrib bajnlal Mazahibil Islamikah" jang membuahkanmasuknja fiqh Djafarijah kedalam mata peladjaran jang diwadjib-kan pada Universitas "Al-Azhar" dan mengeluarkan fatwa jangmembolehkan beribadat (jaauzut taabbud) dengan fiqh Sjiah itu,sehingga dengan demikian menghilangkan silang sengketa jangtelah berabad-abad adanja antara Sjiah dan Ahlus Sunnah walDjamaah.23«
    • IX. P E N U T U P . ; Demikianlah saja tjatat beberapa hal mengenai sedjarah Sjiahumumnja dan Sjiah Isna Asjar Imamijah chususnja. Adapun ma-zhab-mazhab Sjiah jang lain, baik jang dekat dengan AhlusSunnah wal Djamaah, seperti Zaidijah, maupun jang berbedadjauh, seperti Ismailijah, Sabaijah di)., akan saja bitjarakan dalamdjilid sambungan risalah ini, begitu djuga akan saja bahas disanapersoalan-persoalan jang chusus dihadapkan kepada Sjiah, seper-ti hak waris, kawin mutah, dll. Mudah-mudahan diberi Tuhan kelandjutan usia saja dan ke-sempatan dalam mengupas segala sesuatu mengenai aliran Sjiahini, untuk kita ketahui sebagai ilmu pengetahuan mengenai ummatdalam suatu lingkungan ikatan Islam jang luas. 239
    • BAHAN BATJAANAL« Q U R A N U L KARIM Tafsir Quran jang terkenal. Sjiah. Tafsir Quran jang terkenal. Ahlus Sunnah. Terdjemah Quran bah. Indonesia, Inggeris dan Belanda.AL-HADISUSJ SJARIF Kutubus Sitteh Ahlus Sunnah. Kutubul Arbaah Sjiah.M. Dj. Mughnijah, Asj-Sjiah wal Hakimun, Beirut, 1962.Sajjid Muhsin Al-Amin, Ajanusj Sjiah, Beirut, 1960.Ab. Husein Sjarfuddin Al-Musawi, Al-Muradjaat, Nedjef, 1963.Ibn Abil Hadid. Dalailus Shidq, U l i .Al-Masudi, Isbatul Washijah lil Imam AU dsb. Nedjef, 1955.Abu Zahrah, Al-Mazahibul Islamijah.Dr. Thaha Husain, Ali wa Banuhu.M. Hs. Al-Muzaffar, Tarichusj Sjiah.H.M. Al-Hasani, Tarkhul Fiqh Al-Djafari, (t.tp. dan t. th.).Ali bin Abi Thalib, Nahdjul Balaghah dan Sjarahnja.As-Safarini Al-Hanbali, Lawaihul Anwar, Mesir 1323 H. I-II.A.H. Mahmud, "At-Tafktóul Falsafah Hl Islam, Mesir, 1955. Dr. Tha Husain, "Fadjarru! Islam". Dr. Thaha Husain, Usman bin Affan. Tgk. Abdussalam Meurasa, Firqah-firqah Islam, Kutaradja, t. th. Djurdji Zaidan, Tarich Tamaddunil Islami (Mesir, 1935). Abu Nuaim, Hiljatul AuÜja. Dj.-I-X. Abui Faradj Al-Asfahani, Maqatilut Thalibin. Ibnal Djauzi, Tizkarul Chawas. Ahmad Affandi, Fadhailus Shahabah.Baqir Sjarif Al-Qurasji, Hajatu Al-Hasan bin Ai. Nedjef, 1956.Ibn Sibagh, Al-Fuaul al-Muhimmah.Abui Mahasin, An-Nudjumul Zahirah, 1929.Madjallah "Risalah Al-Islam", diantaranja th. 1959.Ibn Masud, Murudjuz Zahab, 1948.M. Dj. Mughnijah, Maasj Sjiah Imamijah, Beritu, 1956.Asad Haidar, Al-Imam Aa-Shadiq wal Mazahibil Arbaah. I-V Nedjef, 1956. 241
    • Prof. T.M. Hasbi As-Shiddieqy, Hukum Islam, Djakarta, 1962.An-Naqsjaband:>, Al-Aqdul W a h i d .Abdul Baqi, As-Sar wal Anwal fil Islam.Ahmad Mughnijah, Imam Musa Al-Kazim vea AU Ar-Ridha, Beirut, t. th.Ali bin Muhammad At-Thaus, Sadus Suud.Abu Abdillah Az-Zandjani, Tarichul Q u r a n . Cairo, 1935.Abu Qasim Al-Chuli, Al-Baja n fi Tafsiril Quran Nedjef, 1957.H. Aboebakar Atjeh, Sedjarah Quran. Djakarta, 1953.Sujuthi, Al-Itqan,.Abdullah bn Abas, Tafsir Ihn Abbas.Dr. Subhi Mahmassani, Falsafatut Tasjri fil Islaim. Beirut, 1952Al-Chudhari, Tarich Tasjriil Islami. Mesir.Mawardi Al-Ahkamîus Sulthanijah.Asj-Sjathibi, Al-Muwafaqat.Sajjid Abul Qasim Al-Chui, Al-Masail al-Muntachabat. Nedjef, 1382 H.Abdullah Nimah, Hisjam ibnal Hakam. (t. tp„ 1959).Fachrur Raz:, Manaqib Asj-Sjafii.Ahmad Kamal, Ar-Rihlah al-Muqaddasah. New York, 1961.Ahmad Amin, Dhuhal Islam (Mesir, 1952).Al-Huraifisj, Ar-Raudhul Faiq (Mesir, t. th.).Madjallah "Al-Irfan", (Nedjef, 1383 H., V I I : 51). Perhatian. Banjak k:tab-kitab lain jang saja sebut langsungdibelakang keterangan. Untuk semua itu saja utjapkan terimakasih. 242
    • RALAT:Hal. Baris jang salah harus dibatja : 3 : demikian itu tidak dapat dibenarkan didalam Islam, Al-Anshari menerangkan dalam kitabnja, Al-Faraid, bah-24 : kepada kebenarankah atau jang tidak dapat pertundjuk melainkan djka ditundjuki ? Bagaimanakah kamu men- djatuhkan hukum ?" (Quran XI : 35).24 : Pertama sebagai alasan dari Quran, dikemukakan dalam ajat 5546 : tjara dengan dia lagi sampai ia mati. Tudjuh puluh ha- ri Fathimah hidup 55 : kedua anaknja. Tetapi anak Abdu Sjams, jang berna- ma Umaijah, 55 : demikian itu tidak diperkenankan. Hasjimpun tidak ingin bermusuhan dengan anak saudaranja, sedia me- ngadakan taruhan lima puluh ekor unta dan djika ka- lah meninggalkan Mekkah duapuluh tahun. Umaijah 71 : rakan, Muawijah mendjual bedjana mas dengan mas jang lebih ba- 81 : peninggalan Nabi, satunja ketenangan dan kebangga- an kaum 83 : seorang keturunan mengurus keledai Isa, jang sampai sekarang kami 54 : Utjapan Zainab ini segera terbukti. Jazid dan chi- lafahnja 85 : tan tertumbang singgasananja, sedang darah keturunan Ali baginja halal ditumpahkan. 99 : Perbedaan diantara lain terletak dalam kewadjiban berimam103 : berbuat jang wadjib dengan ada keharusan meninggal- kannja,UI t 3. AL-DJAFARI114 t an-Nafi," jang sekarang digunakan seb. kitab pela- djaran D.,,115 ngan serba Karamah, jaitu mengenakan badju Kidha, memberikan 243
    • 23 : Abbasijah segera ditjap pro Alawijin, ditahan dan di- hukum. Oleh127 Mazhab Al-Lai» (mgl. 175 H ) .128 : XXI : 33 . Lalu digunakan perkataan Ahlil Bait, jang pernah177 : miah, jang pandjangnja tudjuh puluh hasta, semua hu- kum ada didalamnja sampai kepada perkara arsjul chadasj (tetek bengek184 : zhab besar, jaitu Sjafii, Hanafi, Maliki dan Hanbali, dalam urusan ibadat dan muamalat.184 : Salaf, jang membasmi taqlid buta itu dan mempropa- gandakan un-198 : jukan Tuhan kepadanja" (Quran XXVII : 2 ~ 5). Sjiah menganggap Sunnah230 : takan, bahwa Fatihah wadjib pada dua rakaat pertama dalam sembahjang. Sjafii mengatakan, wadjib pada tiap-tiap rakaat sembah-244
    • SERIE PERBANDINGAN AGAMA DAN MAZHAB.Dari buah pena pengarang iaisegera terbit:1. AHLUS SUNNAH WAL DJAMAAH Bg. L Salaf. Socialisme dalam Islam2. AHLUS SUNNAH WAL DJAMAAH. Bg. II. Chalaf. Sedjarah perkembangan fil- safat hukum dalam Islam.3. MAZHAB-MAZHAB ITIQAD DALAM ISLAM. Filsafat ilmu kalam dan ilmu tauhid dalam Islam. dapat dipesan pada : Lembaga Penjelidikan Islam Dil. Blora 29 Djakarta