P E R B A N D I N G A N             M A Z H A B     S J I  A H     RASIONALISME       DALAM        ISLAM                  ...
BIBLIOTHEEK KITLV                             0288 1314        PENGARANG.   H. Aboebakar Atjeh lahirdi Kutaradja (Atjeh) p...
IA*.*P E R B A N D I N G A N             M A Z H A B     S J I  A H    RASIONALISME        DALAM        ISLAM             ...
18 1         KITABSedjarah kedjadian dan perkembangan.1.   Islam dan Muslim                               32.   Aliran dal...
VX Qwr*«a daa Hmdia.      1.   Masa-masa pengumpulaa Al-Quxaa      2.   Ali dan Quran .....      3.   Ahli Tafsir Sjiah   ...
H. Aboebakar AtjehSJIAH DAN MAZHAB-MAZHABNJA                              ^
>    . _ »»Mf^Ufi                                     xf* t   *  » **   »". »     !   v   *»-   v v "-C- .   *N*»ffetoli**...
M O T O i                            I^I   < » « *,.-   -r -Lebih indah lebih merdu,Dari suara kuda patjuan,Dari gemertjin...
Kepada guru guruku dao     ganarasi muda tilam ku-     persembahkan risalah ke-     titi Ini.VS
S A M B U T A N J.M. M E N T E R I P T I P     Didalam rangka melengkapi kepustakaan buku-buku tentangberbagai agama sebag...
KATA SAMBUTAN                 DARI PROF. DR. HAZAIRIN S.H.Saudaraku H. Aboebakar Atjeh jang kutjintai,     Kembali saudara...
kabau dan dengan hantjurnja pula gerakan Hanbali Suudi diSumatra itu barulah mazhab Sjafii menguasai Sumatra. Tentanghal i...
KATA SAMBUTAN               KOL. DRS. HADJI BAHRUM RANGKUTI,                   KA PUSROH ALRI, DJAKARTA    Saudaraku Hadji...
Saja mengharapkan karya selandjutnja dari karangan saudaraini, misalnja integrasi tjita* madzhab Sjafii dan Sjii dihidang ...
PENDAHULUAN      Tudjuan saja menulis kitab ini ialah untuk memperkenalkankepada masjarakat Indonesia, jang sedikit sekali...
Ketjaman-ketjaman dan tuduhan terhadap Sji ah, baik olehpengarang-pengarang barat, maupun oleh pengarang-pengarangdari gol...
Sjiah tidak taassub mazhab, penganut Sjiah dapat meneri-ma mazhab Sjafii. Djuga dalam prinsip tidak anti penganutmazhab la...
I. SEDJARAH KEDJADIAN DAN PERKEMBANGAN
1. ISLAM D A N M U S L I M      Islam adalah agama Allah, jang disampaikan denganperantaraan Nabi Muhammad kepada seluruh ...
daripada segala kedustaan. Adapun apa jang atjapkali djuga terda-pat, bahwa Rasulullah itu mentjeriterakan djuga tentang s...
nubuwah, menentang pengakuan kebenaran dari Muhammad, sertamendustakan apa jang sudah ditetapkan didalam Islam.     Dengan...
2. ALIRAN DALAM ISLAM     Umat Islam dalam masa Nabi Muhammad bersatu bulat dalamsegala-galanja. Tidak ada terdapat mazhab...
dian tetapi berbeda fikiran, apakah jang dibangkitkan itu tubuhdjasmaninja atau tubuh rohaninja. Mereka tidak berselisih t...
Nabi tidak boleh melupakan nash ini terhadap pengangkatanchalifahnja, sehingga menjerahkan pekerdjaan pengangkatan itusetj...
berbuat atas kehendak Tuhan, tidak mempunjai kemauan jangbebas. Allah tidak wadjib memenuhi djandji atas kebadjikan danata...
3. P E R K A T A A N SJIAH      Perkataan Sjiah itu sudah dikenal dan dipergunakanorang dalam masa Nabi, bahkan terdapat b...
bagi pengikut Nabi Ibrahim, Musa, Isa dan N a b r N a b i lam.       Dalam kitab Az-Zinah, karangan Abu Hatim Sahi bin Muh...
bahwa Bani Ali itu lebih berhak, lebih utama dan lebih adil daripadagolongan jang lain itu. Maka oleh karena itu golongan ...
4. SEBAB-SEBAB D A N MASA KELAHIRAN      Muhammad Djawad Mughnijah menjangkal pendapat penulisBarat jàng mengatakan bahwa ...
perkataan-perkataan jang menundjukkan tjinta, kepertjajaan dankedudukan Ali sebagai wazirnja dan chalifahnja. Dalam QuranT...
Ali Thalib" (Nedjef, 1955 , karangan Al-Mas*udi, pengarang kitabsedjarah jang terkenal "Murudjuz Zahab", jang meninggal ta...
mazhabnja. Dalam kalangan Sjiah Abdullah bin Saba tidak dike-nal, dan orang-orang Sjiah menjatakan berlepas tangan tentang...
5. W A S I A T NABI KEPADA ALI      Salah satu perbedaan paham jang besar antara Sjiah dan AliSunnah ialah, bahwa Ahli Sun...
adanja wasiat Nabi, j a ng menjuruh mengangkat Ali sebagai   chalifah sesudah wafatnja.            Tetapi orang Sjiah memp...
isi sorga" (Buchari). Selain daripada itu tatkala Safijah binti Hujaj menangis karena diedjek Aisjah dan Hafsah, N ab; men...
sekian banjak berita utjapan Rasulullah, jang telah membajangkanAli sebagai chalifahnja. Hadis-Hadis Aisjah itu menundjukk...
Aisjah, bahwa Nabi Muhammad meninggal dalam pangkuannja,sebagaimana jang diakui dalam hadis-hadisnja. Menurut pengarangSji...
6. K E I M A N A N PADA SJIAH      Mazhab Sjiah mewadjibkan kejakinan berpegang kepadaimam, jang selalu harus ada ditengah...
sudah mati, tetapi barangsiapa menjembah Tuhan Muhammad,Tuhan Muhammad itu tidak akan mati-mati, oleh karena itu mestikita...
dengan meninggalkan kekuasaan Tuhan itu baik jang berkenaan  dengan urusan keduniaan, maupun jang bersangkutan dengan  keh...
Kedua, sebagai alasan dari Sunnah orang-orang Sjiahmengemukakan sebuah hadis, dimana Rasulullah sedang berbitjaradengan Al...
7. I T I K A D SJIAH IMAMIJAH      Sjiah Imamijah adalah penganut mazhab Djafarijah, mejakini,bahwa mereka orang Islam ahl...
tumainja.       Sjiah Imamijah pertjaja, bahwa Muhammad itu adalahpenutup daripada segala Nabi, tidak ada lagi Nabi sesuda...
Sjiah Isnaasjar Imamijah pertjaja, bahwa ada hari kemudiansesudah hidup manusia sekarang ini, ada soal Munkar wa Nakirdala...
sendiri dan keluarga rumahaja, sumber tempat kedatangan risalah,sumber tempat kundjungan malaikat, tempat turun wahju Tuha...
nja dengan Sjafii. Mengapa orang ingin memaksakan kepadaummat Islam hanja Empat Mazhab itu sadja dan tidak Lima Maz-hab, j...
II NABI MUHAMMAD DAN ALI
ta
ALI BIN ABI THALIB     Ali bin Abi Thalib adalah anak paman Nabi, jang mengurusaan membela Nabi sedjak ketjil sampai ia di...
IV.    bertanja   Manakah jang lebih utama, ilmu atau harta ?            Ali        Ilmu, karena harta makin dikeluarkan m...
Dalam hal berpidato dan sastera Ali terkenal sebagai salahseorang sasterawan jang lantjar dan sangat petah lidahnja. Pida-...
memerintah membunuh Usman bin Affan, jang sekali-kali tidakmasuk dalam akal jang waras. Ali bersumpah, bahwa ia tidakmembu...
tian Usman kepada Ali. Tjeritera tentang perbedaan dan perseli-sihan ini akan kita bahas dalam bahagian tersendiri setjara...
Ulama-ulama Sjiah melihat Ali bin Abi Thalib sebagai sa-habat Nabi jang paling utama, dan menetapkannja dengan nashNabi be...
2.   NABI M U H A M M A D D A N ALI      Orang-orang Sjiah mengemukakan hadis-hadis jang dapatmendjelaskan persaudaraan dj...
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Rasionalisasi islam
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Rasionalisasi islam

1,060
-1

Published on

Rasionalisasi islam

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
1,060
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
22
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Rasionalisasi islam

  1. 1. P E R B A N D I N G A N M A Z H A B S J I A H RASIONALISME DALAM ISLAM Oleh H. ABOEBAKAR ATJEH Diterbitkan oleh : Jajasan Lembaga Penjelidikan Islam Djakarta 1965.
  2. 2. BIBLIOTHEEK KITLV 0288 1314 PENGARANG. H. Aboebakar Atjeh lahirdi Kutaradja (Atjeh) pada 28April 1909. Sesudah menamat-kan pendidikannja pada bebe-rapa sekolah menengah, ia be-kerdja padc pemerintah dalamurusan agama, masa Belanda,Djepang dan Rep. Indonesia.Disamping sekolah ia beladjaragama dipesantren dan diMekkah, pernah ke Mesir danbeberapa kali keluar negeri,diantaranja dim. urusan men-tjetak Quran di Djepang. Sekarang ia mendjadi dosendalam filsafat dan agama. Di-antara karangannja ialah Se-djarah Quran, Sedjarah Ka-bah, Sedjarah Mesdjid, Peng-antar Sedjarah Sufi dan Ta-sauwuf,, dan Pengantar IlmuTarekat. Dalam rangka ilmu Perban-dingan Mazhab, ia mengarang "Sjiah. rationalisme dalam Is lam", sahrnja kitab jang leng-kap daiam bahasa Indonesia mengenai mazhab Sjiah. Fwerkit.
  3. 3. IA*.*P E R B A N D I N G A N M A Z H A B S J I A H RASIONALISME DALAM ISLAM Oleb H. A B O E B A K A R ATJEH Diterbitkan oleh : jajasan Lembaga Penjelidikaa Isi«su Djakarta 1965.
  4. 4. 18 1 KITABSedjarah kedjadian dan perkembangan.1. Islam dan Muslim 32. Aliran dalam Islam 63. Perkataan Sjiah 104. Sebab-sebab dan masa kelahiran 135. Wasiat Nabi kepada Ali 176. Keimanan pada Sjiah 227. Itikad Sjiah Imamijah 26Nabi Muhammad dan Ali.1. Ali bin Abi Thalib 332. Nabi Muhammad dan Ali 393. Mengapa Ali ditjintai Sjiah 434. Ali dan anak-anaknja 515. Ali dan dawah Islam 55Keturunan Ali.1. Hasan tjutju Nabi 612. Perdjandjian Hasan — Muawijah 653. Bani Umajjah dan Hukum Agama 714. Hasan dan Muawijah 745. Jazid bin Muawijah dan Muawijah bin Jazid 786. Husain dan Karbala 807. Bani Marwan dan Ibn Zubair 858. Umar bin Abdul Aziz dan Sjiah 889. Bani Abbas dan Sjiah 92Sjiah Imamijah.1. Sjiah Imamijah 992. Imam Djafar Shadiq I 1043. Imam Djafar Shadiq II 1084. Djafarijah 111Mazhab Ahli] Bait.1. Pendirian aliran* dalam Islam 1192. Ahlil Hadis dan Ahlir Raji 1243. Ahlus Sunnah dan Sjiah 1284. Sedjarah Mazhab Ahlil Bait 1315. Tjinta Ahli Bait 136
  5. 5. VX Qwr*«a daa Hmdia. 1. Masa-masa pengumpulaa Al-Quxaa 2. Ali dan Quran ..... 3. Ahli Tafsir Sjiah 4. Hadis dan Djafar Shadiq 5. Seratus perawi Sjiah dalam Kitab Enam 6. Tarich Tasjri Sjiah I 6. Tarich Tasjri Sjiah IIVa Idjtihad dan Taqlid. I. Idjtihad dan Taqlid I 1. Idjtihad dan Taqlid II 2. Sjiah dan ilmu pengetahuan 3. Sjiah dan rationalisme 4. Hukum Sjara dan penguasaTUI. Ahlus Sunnah dan Sjiah. 1, Murid-murid Djafar Shadiq jang terpenting I ... 1. Murid-murid Djafar Shadiq jang terpenting II 2. Mazhab Empat thp. Sjiah 3. Persoalan Chilafiah I 3. Persoalan Chilafijah II ,. 4. Asj-Sjafii dan Sjiah 5. Sjaltut dan Sjiah L PVsntot».
  6. 6. H. Aboebakar AtjehSJIAH DAN MAZHAB-MAZHABNJA ^
  7. 7. > . _ »»Mf^Ufi xf* t * » ** »". » ! v *»- v v "-C- . *N*»ffetoli**W - >**^*«U"OSÄ.Ä A..i"
  8. 8. M O T O i I^I < » « *,.- -r -Lebih indah lebih merdu,Dari suara kuda patjuan,Dari gemertjing pedang serdadu,Bertetak tak tentu lawan dan kawan. Dari semua keindahan jang ada, Jang dapat membuat mataku terkedip, Tak ada jang indah dari pada Mentjintai Ali bin Abi Thalib.Djikalau dadaku mereka buka,Pasti terdapat dua baris,Tak ada penulis, tak ada pereka.Terukir sendiri terguris. Pertama adil, kedua tauhid. Tertulis disebelah dadaku, Jang lain mentjintai Ahlil Bait, Tergambar disebelah terpaku. Asj-Sjafii.
  9. 9. Kepada guru guruku dao ganarasi muda tilam ku- persembahkan risalah ke- titi Ini.VS
  10. 10. S A M B U T A N J.M. M E N T E R I P T I P Didalam rangka melengkapi kepustakaan buku-buku tentangberbagai agama sebagai salahsatu langkah penjempurnaan pendi-dikan agama di Perguruan-perguruan Tinggi, saja sambut dengangembira disertai penghargaan setinggi-tingginja, diterbitkannja ki-tab "SJIAH, RASIONALISME DALAM ISLAM"jang ditulis oleh sdr. H. Aboebakar Atjeh. Mengingat betapa mutlaknja pendidikan agama dalam rangkanation dan character-building. Dept. P T I P senantiasa berusahamenjempurnakan pendidikan agama di Perguruan-perguruan Ting-gi, baik negeri maupun swasta. Didalam melaksanakan usaha ini, salahsatu kesukaran jangdihadapi, terutama oleh para pengadjar pendidikan agama, adalahkurangnja buku-buku jang tersedia, jang dapat didjadikan bahanuntuk kuliah-kuliahnja. Oleh karena itu, setiap usaha untuk melengkapi kepustakaanbuku-buku pendidikan agama, merupakan bantuan jang sangatberharga. Semoga para tjendekiawan alim ulama berbagai agama meng-intensifkan usaha-usaha penulisan buku-buku untuk penjemp-rm-an pendidikan agama jang vitaal itu. Djakarta. 29 Desember 1965. Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan ( DR. SJARIF THAJEB ) Brig. Djen. T.N.I.
  11. 11. KATA SAMBUTAN DARI PROF. DR. HAZAIRIN S.H.Saudaraku H. Aboebakar Atjeh jang kutjintai, Kembali saudara mengagumkan saja kali ini, dengan karangansaudara mengenai Sjiah. Saja telah batja naschah saudara itu,walaupun, berhubung dengan kesibukan saja, barulah sepintaslalu. Karja saudara ini sangat penting bagi perkembangan ilmupengetahuan Islam ditanah air kita ini, Mudahan Allah S.W.T. memandjangkan usia saudara, se-hingga saudara berkesempatan meneruskan karangan 2 saudarasebagaimana sekarang telah saudara rantjang a kan. Demi Allahmelihat hasil 2 usaha saudara sampai dewasa ini dalam mengabdikepada ilmu pengetahuan, telah lebih dari sepatutnja djika kepadasaudara dihadiahkan gelar Doctor dalam Islamologi, bukan hanjadalam rti penghormatan pribadi sadja, tetapi sungguh dalam artiberdjasa bagi penjiaran ilmu pengetahuan. Karja saudara mengenai Sjiah sangat penting bagi bangsakita, istimewa bagi mereka jang tidak berkesanggupan untukmembatja langsung kitab 1 jang berbahasa Arab, ja malahan me-reka jang tahu bahasa Arab belum tentu berkesempatan memasukibidang ilmu jang saudara djeladjahi mi. Pengetahuan tentang Sjiah memang bukan hanja pentinguntuk memperoleh pandangan jang menjeluruh mengenai Islam,istimewa bagi bangsa kita jang menganut mazhab Sjafii jangsangat rapat perhubungannja dengan Sjiah, tetapi mengenalSjiah itu ada pula pertaliannja jang langsung dgn. sedjarah per-kembangan agama Islam di Indonesia sendiri. Sebab bukankah Pa-sei merupakan keradjaan Islam pertama di Indonesia jg. didirikanoleh kaum Fathimijah dan beberapa lama beraff.lias i denganKeradjaan Mesir Fathimijah. Dari Pasei mendjalar adjaran Sjiahkeseluruh Atjeh, Atjeh kemudian menguasai daerah jang tjukupluas di Sumatra dan Malaya, sehingga mengakibatkan keradjaanMinangkabau berpindah agama dari ke-Hindu 2 an mendjadi Islamaliran Siiah lebih kurang 3 abad lamanja. Dengan pengalahanPadri (Imam Bondjol es.) jang berafiliasi dengan gerakan Han-bali Suudi (Wahabi) barulah tumbang Sjiah dialam Minang-
  12. 12. kabau dan dengan hantjurnja pula gerakan Hanbali Suudi diSumatra itu barulah mazhab Sjafii menguasai Sumatra. Tentanghal itu telah keluar sebuah karangan jang sangat menarik perha-tian, dari tangan M.D. Perlindungan berdjudul ,.Tuanku Rao"(penerbit Tandjung Pengharapan, pertjetakan Fasco, Djakarta,1965). Mudah3an karangan saudara baik jang telah mendahului, baikjang sekarang ini, maupun jang akan datang mengambil tempatdalam perpustakaan 2 universitas 2 kita dan mendapat perhatian,bukan sadja dari tunas muda bangsa kita, tetapi djuga dari go-longan tua, terutama mereka jang hanja mempunjai ilmu Islamsetjara jang sepihak sadja.
  13. 13. KATA SAMBUTAN KOL. DRS. HADJI BAHRUM RANGKUTI, KA PUSROH ALRI, DJAKARTA Saudaraku Hadji Aboebakar jang mulia. Dengan bukumu jang baru ini, "Sjiah, Rasionalisme dalamIslam," anda telah menjumbangkan suatu karya jang amat bernilaibagi chazanah perpustakaan Islam. Tidaklah ber-lebih*an djikakulukiskan, bahwa karanganmu ini membukakan mata Indonesia,teristimewa para sardjana, alim dan ulama Islam kepada salahsuatu aspek daripada Islam, jang selama ini agak suram tjaha-janja dibumi dan langit tjita2 Indonesia. Oleh sebab betapa mungkin kita dapat memahami rona rinar-wan Islami dihidang kesenian, kesusasteraan dan kebudajaanumumnja, tanpa mengetahui tjita dan tjita2 Sjiah sebagai disiar-kan oleh tokoh 2 Islam di Atjeh, meluas kewilajah jang lebih lebar :Minangkabau, Djawa dan daerah lainnja. Bagaimana dapat kitamemahami se-dalam 2 nja latar belakang Sjiah, sebagaimana berkem-bang di Minangkabau dan jang kemudian menimbulkan GerakanIslam Putih, ditjptakan oleh Datuk Nan Rentjeh, ber-sama* denganImam Bondjol, Tuanku Rao alias Pongki Na Ngolngolan dan paraperwira didikan Kamang. Ja, bahkan pada hemat saja seluruhsedjarah Nasonal Indonesia tidak mungkin kita wudjudkan kem-bali dengan luas mendalam, tanpa memperhatikan mplikasi tjitadan tjita2 Sjiah di Indonesia berabad* lamania. Malahan ruang*gelap dalam sedjarah Sumatra, Djawa dan Malaya hanjalah mung-kin kita tierahkan kembali dengan menjiasati peranan historis parapendukung tjta Sjiah di Indonesia beberapa abad jang lalu. De-mikian djuga mengenai berbagai matjam sandiwara rakjat, seperti Djula Djuli Bintang Tiga, dimana diharapkan kedatangan seorang Pemimpin Islam jang akan membebaskan kembali ummat Islam daripada tiengkeraman malapetaka dan musibat, hanjalah dapat dipahami djika diketahui bahwa dalam tjita8 Sjiah diharapkan da- tangnja seorang Imam Mahdi jang akan rnendjajakan ummat Islam kembali. Maka unsur* seni, kesusasteraan dan kebudajaan sebagai jang di-idam*kan oleh Sjiah, dengan wadjar saudara telah kupas se- luas*nja dalam bukumu ini, disamping me.ieliti sebab 2 muntjulnja naham rasionalisme dalam Islam ini.
  14. 14. Saja mengharapkan karya selandjutnja dari karangan saudaraini, misalnja integrasi tjita* madzhab Sjafii dan Sjii dihidang ke-budajaan dan bagaimana masalahnja dalam sedjarah, demikiandjuga timpa-menimpanja tjita Sjiah dan Sjafii di Minangkabaudan di Djawa Tengah, jang mengakibatkan lintasan sedjarah jangamat gemilang. Djika mungkin djuga ikut sertanja pengintegrasianmadzhab dan tjita* Hanafi, sebagai telah dimasjhurkan oleh Lak-samana Hadji Cheng Ho di Mandailing dan Semarang. Dalamhal inilah unik sekali pantjaran Islam di Indonesia, oleh sebabberbagai madzhab dan aliran ke-Islaman beroleh paduan jang barudibumi Indonesia. Saja ingin mengachiri kata sambutan saja inidengan sebuah sjair pendek : Saudara hadji Aboebakar djadilah kau penaka tjahaja berpendar membina malam jang baru dan merah fadjar mengadjak ummat Islam Indonesia mendekatkan kita sekitar Chatulistiwa ditaburi oleh malaikat dengan kembang kesturi Allahu Akbar ! Djakarta" 15 Desamber 196$ ( k o l d r s Had.1l Bahrum R a n p k u t i ) KA lait.A.L» Nrp 2 / P t .
  15. 15. PENDAHULUAN Tudjuan saja menulis kitab ini ialah untuk memperkenalkankepada masjarakat Indonesia, jang sedikit sekali mengetahuitentang mazhab Sjiah. Mereka hanja mengetahui tentang mazhabini dari keterangan-keterangan orang Barat, jang disisipkan d a -lam kitab-kitab mengenai Islam, terutama dalam encyclopedy,merupakan uraian jang tidak lengkap. Oleh karena itu banjaksekali timbul salah faha-m dalam kalangan umat Islam Indonesia,jang mengkafirkan semua golongan Sjiah dan apa jang bernamaSjiah. Hal ini tentu tidak benar, karena disamping terdapatdalam mazhab Sjiah itu aliran-aliran jang dianggap oleh AhlusSunnah wal Djamaah tersesat, seperti aliran Sabaijah, Chawa-ridj, dll., jang oleh Sjiah sendiri djuga dianggap menjeleweng,terdapat aliran-aliran dalam Sjiah jang tidak dapat begitu sadjakita kafirkan, karena mereka djuga orang Islam dan mempunjaipokok-pokok kejakinan agama (usuluddin), jang sama dengankita, seperti aliran Isnaasjar Imamijah, Zaidijah, jang merupakansebahagian besar daripada penduduk Irak dan Persi, Jaman,Pakistan, India, dan daerah-daerah lain, tidak kurang daripada30% daripada djumlah orang Islam jang sekarang ditaksir 900djuta banjaknja. Dalam saja melakukan penjelidikan tentang sjiah ini, sajamenempuh djalan Sjaltut, Sjeichul Azhar, jang telah wafat danjang pernah mengundjungi negeri kita, jaitu mempeladjari mazhabSjiah ini daripada kitab-kitab mereka sendiri, dari sumber-sum-ber pokok jang mereka jakini. Kemudian saja bandingkan denganpendapat-pendapat jang terdapat dalam kitab-kitab Ahlus Sunnahwal Djamaah, kitab-kitab sedjarah dan karangan-karangan gu-bahan pengarang Barat dan Timur. Memang banjak terdapatdjuga pengarang-pengarang Sjiah jang kadang-kadang sentimen,terutama terhadap kekedjaman jang dilakukan Bani Umajjah danBani Abbas, tetapi djuga sumber-sumber Ahlus Sunnah wal Dja-maah, bukan tidak dipengaruhi oleh sentimen-sentimen, karenadiantara kitab-kitab jang lama itu kebanjakan ditulis dalam masapemerintahan Bani Umajjah dan Bani Abbas oleh ulama-ulamajang memegang djabatan pemerintah atau oleh pengarang-penga-rang jang tentu terbatas dalam mengeluarkan tjara berpikir me-nurut pendapat jang sebenarnja. vn
  16. 16. Ketjaman-ketjaman dan tuduhan terhadap Sji ah, baik olehpengarang-pengarang barat, maupun oleh pengarang-pengarangdari golongan jang menamakan dirinja Ahli Salaf, bahkan uraian-uraian jang terdapat dalam kitab-kitab Ahlus Sunnah, mengenaipersoalan-persoalan jang aneh, seperti hadis jang menjuruh me-muliakan keturunan Nabi Muhammad, nikah mutah, kawin ber-senang 2 atau kawin dalam waktu jang terbatas, Sjiah mempu-njai Quran tersendiri, Sjiah banjak mentjiptakan hadis palsu,Sjiah mengafirkan dan membentji Sahabat Nabi, Sjiah mengakuAli bin Abi Thalib sebagai seorang Nabi, dll., membangkitkankeinginan saja mempeladjari golongan ini dengan mazhab-mazhabnja. untuk mengetahui sampai dimana kebenaran tuduhan itu,terutama dalam rangka niat saja menulisi perbandingan mazhab,jang terdiri dari tiga karangan mengenai Ahlus Sunnah, Salafdan Sjiah. Dalam mempeladjari Sjiah saja menempuh djalan sebagai-mana jang pernah ditempuh oleh Sjajltut, jaichul Azhar, bekaspemuka „Darat Taqrib bajnal Mazahibil Islamijah", suatu orga-nisasi Islam di Mesir, jang bertudjuan mempersatukan kembalimazhab-mazhab Islam, jang sekarang bersaingan satu sama lain.„Damit Taqrib bainal Muzahibil Islamilah", itu pernah diketuaioleh Sjeich Sjaltut dan ulama-ulama Azhar kaliber besar, serta me-nerbitkan suatu madjalah ilmijah, bernama „Risalatul Islam" jangsudah bertahun-tahun lamanja berisi kupasan 2 dari segala bidang.Kerdjasama itu kemudian membuahkan hasil demikian hebatnja,sehingga sekarang ini dalam universitas Al-Azhar diwadjibkanmempeladjari fiqh Sjiah Djafarijah, dan Sjaltut sendiri sebagaiSjeichul Azhar dimasa hidupnja mengeluarkan fatwa bahwa tiaporang Islam dibolehkan beribadat menurut mazhab Sjiah IsnaAsjar Imamijah, karena hampir tidak berbeda dengan ilmu fiqhAhli Sunnah wal Djamaah. Seorang tokoh ulama Sjiah terbesar pada masa ini, Muham-mad bin Muhammad Mahdi Al-Chalishi Al-Kazimi, dalam mu-qaddimah kitab "Ar-Rihlah al-Muqaddasah" (New York, 1961),karangan Ahmad Kamal, berkata, bahwa orang mempertengkar-kan antara Sjiah dan Sunnah, sedang kitab Ahmad Kamal inimemperlihatkan persesuaiannja, dan memperlihatkan, bahwa per-bedaan antara mazhab Sjafii dan Sjiah lebih dekat daripada anta-ra mazhab Sjafii dan Hanafi. Kitab saja ini merupakan sebuah daripada tiga serangkaidalam rangka sumbangan saja kepada masjarakat Islam Indonesia,jang saja namakan „Perbandingan Mazhab", terdiri dari kitabMazhab Salaf, kitab Mazhab Ahlus Sunnah wal Djamaah dankitab ini, jang saja beri bernama Sjiah Ali serta mazhab-mazhabnja.vra
  17. 17. Sjiah tidak taassub mazhab, penganut Sjiah dapat meneri-ma mazhab Sjafii. Djuga dalam prinsip tidak anti penganutmazhab lain. Hal ini ternjata dari utjapan Sajjidina Ali bin AbiThalib seperti tersebut dibawah ini :Artinja : Adapun ketjintaan Nabi Muhammad adalah orang jangmenthaati Allah, meskipun djauh hubungan dagingnja. Dan musuhMuhammad ialah orang jang mendurhakai Allah, meskipun dekathubungan keluarganja (Nahdjul Balaghah). Tidak lain maksud saja supaja karangan ini mendjadi amalkebadjikan jang dapat diterima oleh Tuhan dan dihargakan olehbangsa saja Indonesia. Kepada semua mereka jang telah memberi-kan bantuannja kepada saja, dibidang tenaga, pikiran dan ilmiah,saja utjapkan terima kasih, terutama Sdr. Asad dan Ahmad Sha-hab, pengurus Lembaga Penjelidikan Islam dengan perpustakaan-nja, Sdr. Dhija Shahab dll. dengan doa, moga 2 amal saudara 2 itudibalas Tuhan dengan balasan jang berlipat ganda. Djakarta, tangga! 28 Desember 1965. Pengarang. H. Abodbakar Atjeh v
  18. 18. I. SEDJARAH KEDJADIAN DAN PERKEMBANGAN
  19. 19. 1. ISLAM D A N M U S L I M Islam adalah agama Allah, jang disampaikan denganperantaraan Nabi Muhammad kepada seluruh umat manusia.Perkataan Islam terambil dari aslama jang berarti menjerah dirikepada peraturan-peraturan Allah, satu-satunja zat jang wadjibdisembah dan ditaati. Muslim jaitu penganut agama Islam, orang, jang tunduk kepadapokok-pokok, usul dan tjabangntjabang , furu, kejakilnan Islam.Adapun jang dinamakan pokok- Islam itu jaitu. mengenai tauhid,nubuwah, dan maad. Barangsiapa jarig ragu dan bimbang tentangpokok-pokok Islam fni, menentang atau menjia-njiakan. bukanlahia seorang .muslim, sebaliknja seorang muslim pertjaja sungguh-suragguih dengan kejakiinan jang tidak ragu-ragu akan ketiga pokokIslam itu, dengan tidak memperhatikan, apakah imainnija itudidasarkan ikepada pikiran dan kesungguhan, nazar- dan idjtihad,atau berdasarkan ikutan dan kebiasaan, taqlid dan adawi, asal sadja kesemua kejakiinan itu tidak bertentangan dengan kebenaran dan tudjuan jang sebenarnja dari Islam. Adapun pikiran, bahwa mentjari alasan dan mempergunakan akal dalam aqfclah, dan tidak boleh bertaqlid. itu hanja sekedar menundjukkan, bahwa sesuatu taqlid tidak diterima, djikalau tidak sesuai dengan hakikat jang sebenarnja. tidaklah ragu-ragu jang demikian itu dapat dibenarkan didalam Islam, karena djika tidak muslim. Al-Anshari menerangkan dalam kitabnja. Al-Faraid, bah- wa pendirian umum jang terbanjak dalam Islam mengatakan, bahwa taqlid jang berdasarkan djazam dan berdasarkan adjaran jang sebenarnja dalam Islam dibolehkan. Mengenai usul agama jang diwadjibkan bagi semua orang Islam adalah sbb. I. Mengenai tauhid, tjukuplah kalau seseorang beriman,bahwa Allah Taala itu satu. berkuasa, berilmu dan berhikmahT.fctak diwadjibkan dalam tingkat pertama ini mengetahui setjaraperintjian, bahwa Tuhan bersifat zatijah dan bersifat salabijah,sebagaimana trdak diwadjibkan seseorang mengetahui denganmendalam ain zat Tuhan atau lainnja. II. Mengenai nubuwah, tjukup djika seseorang muslim mengetahui. d a n beriman, bahwa Muhammad itu pesuruh Allah, benarsegala beritanja dalam menjampaikan segala hukum, terpelihara 3
  20. 20. daripada segala kedustaan. Adapun apa jang atjapkali djuga terda-pat, bahwa Rasulullah itu mentjeriterakan djuga tentang sesuatusifat chusus mengenai pribadinja, bahwa dia manusia biasa dansebagainja, tidaklah diwadjibkan mempertjajainja. Sebaliknja,bahwa ia pesuruh Allah dan adjaran jang disampaikannja itumerupakan hukum-hukum agama jang datang dari Tuhan, wadjibdipertjajai dan dilaksanakan sebagai ibadat. Selandjutnja membenarkan tjeritera, bahwa Nabi selalumendengar dan melihat meskipun dalam tidur atau dalam waktuterdjaga, dapat melihat apa jang terdjadi dibelakangnja sebagaima-na ia dapat melihat apa j ang terdjadi didepannja, bahwa iamengetahui semua bahasa-bahasa, semua itu memang termasuktasdiq terhadap kebenaran Nabi, tetapi tidak termasuk kedalamkewadjiban pokok agama dan mazhab. III. Mengenai maad diterangkan, bahwa seorang muslimwadjib itikad dan pertjaja. d.i. bahwa tiap 2 manusia jang sudahsampai umur akan dihisab oleh Tuhan sesudah ia mati tentang âpajang dilakukannja pada waktu hidupnja, bahwa tiap manusia akanmenghadapi balasan perbuatannja. djika baik akan dibalas denganbaik, djika buruk akan dibalas dgn buruk pula. Adapun persoalan-persoalan mengenai bagaimana Tuhan menghisab hambanja,bagaimana Tuhan menjediakan pahala bagi manusia jang berbuatbaik, bagaimana Tuhan menjiksa orang-orang jang berbuat djahat,termasuk kedalam persoalan-persoalan agama jang bebas, jangtidak ditentukan tjorak kewadfibannja. Oleh karena itu pokok-pokok adjaran Islam itu dapat dikem-balikan kepada tiga perkara tersebut, pertama tauhid, pengakuanmen-esakan Tuhan, kedua nubuwah, mengaku Nabi Muhammadmendjadi Rasul Tuhan, dan ketiga maad, pertjaja kepada haripembalasan jang disediakan Tuhan bagi manusia. Barang siapajang menentang salah satu daripadanja, atau tidak mengetahui akanketiga pokok-pokok adjaran itu, tidaklah lajak ia dinamakanmuslim, baik menurut mazhab Ahli Sunnah, maupun menurut salahsatu mazhab lain jang terdapat didalam Islam. Selain itu ada djuga pokok-pokok agama jg memang termasukdjuga unsur-unsur jang wadjib diketahui, jang biasanja hampirsemua mazhab dalam Islam tidak bertentangan satu sama laindengan perßTdaan jang menjolok, seperti wadjib sembahjang,wadjib puasa, wadjib hadji, wadjib zakat, terlarang kawin denganibu atau saudara, dan lain-lain masaalah. Tidak ada perselisihanterdapat antara satu sama lain jang pokok, tetapi hanja dalamperintjiannja, jang didjamin kemerdekaannja oleh Islam, jang satuagak berlainan daripada jamg. lain. Sebabnja, menentang salah satuhukum daripada hukum-hukum itu sama artinja dengan menenlang4
  21. 21. nubuwah, menentang pengakuan kebenaran dari Muhammad, sertamendustakan apa jang sudah ditetapkan didalam Islam. Dengan ringkas dapat kita simpulkan, bahwa perbedaanantara usul dan furu dalam Islam itu ialah, bahwa j a ng pertama,barangsiapa jang, tidak mendjalankan usul Islam itu ia keluar daiiIslam, baik ia tidak imendjalankannja karena tidak mengerti ataukarena sebab jang lain; kedua barangsia jang tidak mendjalankanfuru2 jang wadjib dalam Islam, seperti dalam sembahjang da zakat,meskipnu diakui dalam hatinja berasal dari Nabi. maka ia tetaporang Muslim, tetapi Muslim jang berbuat dosa besar dan fasik. Batja kitab "Maasj Sjiah", karangan M. Djawad Mughnijah.
  22. 22. 2. ALIRAN DALAM ISLAM Umat Islam dalam masa Nabi Muhammad bersatu bulat dalamsegala-galanja. Tidak ada terdapat mazhab dan aliran ketika itu.Nabi Muhammad merupakan kesatuan sumber dalam ilmu danamal, dalam perintah dan kethaatan, suri teladan untuk seluruhkehidupan. Sumber itu ialah imengenal agama dan mempeladjariwahju Tuhan jang disampaikannja, jang tidak ada sesuatupundapat mengatasinja dalam kebenaran. Djika terdjadi sesuatuperbantahan dan perbedaan faham, utjapan Nabi adalah hakimjang memutuskan, jang harus dithaati, dan tidak ada pendapat laindari pada itu. Dalam Quran diperintahkan djclas : "Apabila kamuberbeda faham tentang sesuatu persoalan, kembalikan keputusannjakepada Allah dan Rasul" (Quran, An-Nisa, 58). Tidak adaterdapat ketika itu dua matja.m fikiran jang bertentangan, melainkandikembalikan untuk mendapat keputusannja kepada Allah danRasul dalam masa Nabi Muhammad itu masih hidup dan dapatditjapai oleh umatnja. Sesudah Nabi Muhammad wafat, umat Islam tetap bersatudalam kejakinan dan perkataannja, bahwa Tuhan Allah itu satu,bahwa Muhammad itu Rasul Allah, bahwa Quran itu datang daripada Allah, baihwa hari kebangkitan itu benar, bahwa hisab itubenar, dan sorga dan neraka pun benar ada dan akan terdjadi,sebagaimana tidak terdapat perselisihan faham diantara merekatentang sesuatu hukum agama jg sudah ditetapkan dan diperintah-kan mendjalankannja oleh Rasulullah, seperti sembahjang. zakat,hadji, puasa dll. perintah agama jang diwadjibkan dengan djelas. Mereka hanja berselisih faham dan tentang pandangan danidjtihad, baik mengenai usul pokok agama dan kejakinan. maupunmengenai urusan hukum fiqh dan tasjri, tetapi tidak mengenaipokok-pokok dasar Islam, jang dapat mengeluarkan salah seorangjang berbeda faham itu dari agamanja. Mereka tidak berselisihtentang ada dan satu Tuhan, tetapi berselisih tentang sifatnja,apakah sifat itu merupakan zat Tuhan atau tidak. Mereka tidakberselisih tentang Nabi Muhammad benar Rasul Tuhan, tetapiberbeda faham tentang terpelihara dosanja sebelum atau sesudahdbangkitkan atau sebelum dan sesudah dibangkitkan. Mereka tidakberselisih bahwa Quran itu wahju Tuhan, tetapi berbeda faham,apakah ia qadim atau hadits. Mereka tidak berselisih tentangpokok kejakinan mengenai kebangkitan manusia pada hari kemu-6
  23. 23. dian tetapi berbeda fikiran, apakah jang dibangkitkan itu tubuhdjasmaninja atau tubuh rohaninja. Mereka tidak berselisih tentang sembahjang itu wadjib, tetapi kadang-kadang berbeda faham dalam menentukan hukum mengenai ibahagian-bahagiannja, apakah masuk rukun sembahjang jang wadjib dikerdjakan atau tidak.Mengenai perintjian inilah mereka berbeda faham, dan oleh karenaitu terdapat dalam kalangan umat Islam beberapa aliran agama mengenai perintjian itu jang berbeda-beda. Sesudah wafat Nabi, umat Islam itu berbeda-beda fahamnjamengenai beberapa pokok agama jang kembali kepada iman dankejakinan dalam hatinja, sebagaimana mereka berbeda fahamdalam beberapa masalah perintjian atau furu dan tasjri dalammenetapkan sesuatu hukum jang belum djelas dalam agamamengenai amal seseorang, apakah wadjib, haram atau djaiz. Laluterbahagilah umat Islam itu dalam beberapa aliran, seperti golonganAsjari dan golongan Mutazilah, jang, mempunjai pandangan jangberbeda-beda mengenai aqidah dan usul agama, jang merupakaniman dan i tiqad orang Islam, meskipun mereka tidak berbedadalam masalah furu dan tasjri mengenai amal perbuatan. Semen-tara itu ahli-ahli hukum fiqh, seperti Hanafi, Maliki, Sjafjj danHanbali, berbeda-beda fahamnja dalam menetapkan hukum furu,meskipun mereka sepakat mengambil pokok-pokok usul mazhabAsjari untuk dasar kejakinan mereka. Demikianlah keadaannja dengan ulama-ulama Sjiah, jangkadang-kadang sepaham mengenai usul agama, tetapi berselisihpendapat dalam masalah hukum fiqh. Kesepakatan dalam usul-usulpokok kejakinan agama, tidak memestikan sepakat dalam hukumfiqh dan furu, serta sebaliknja. Demikian pendirian seorang ulamaSjiah terkemuka Muhammad Djawad Mughnijah dalam kitabnja"Asj-Sjiah wal Hakimun" (Beirut. 1962) jang kita djadikanbahan pembitjaraan dalam bahagian ini. Aliran dalam Islam itu banjak, sebagai jang pernah digambar-kan oleh Nabi semasa hidupnja dalam sebuah Hadis, dikatakanumat Islam akan berpetjah sampai tudjuh puluh tiga firqah, demi-kian katanja : "Jahudi akan berpetjah atas tudjuh puluh satu aliran,Nasrani akan berpetjah atas tudjuh puluh dua aliran, sedang umat-ku akan terbagi-bagi dalam tudjuh puluh tiga aliran" (Al-Hadis).Apa jang disabdakan Nabi itu mungkin terdjadi, sudah atau akanterdjadi, tetapi dalam sedjarah Islam dapat kita golongkan mazhab-imazhab jang banjak itu atas empat aliran besar jarig pokok, jangakan kita perkatakan disini dengan menjebut dasar-dasar penditi-annja jang utama. Pertama Sjiah. Sjiah ini berbeda pendapatnja dengan aliranlain diantaranja dalam pendirian, bahwa penundjukan imamsesudah wafat Nabi ditentukan oleh Nabi sendiri dengan na«h. ?
  24. 24. Nabi tidak boleh melupakan nash ini terhadap pengangkatanchalifahnja, sehingga menjerahkan pekerdjaan pengangkatan itusetjara bebas kepada umatnja dan ehalajak ramai. SelandjutnjaSjiah berpendirian bahwa seseorang imam jang diangkat itu harusmasum atau terpelihara dari pada dosa besar atau dosa ketjil, danbahwa Nabi Muhammad dengan nash meninggalkan wasiatnjauntuk mengangkat Ali bin Abi Thalib mendjadi chalifahnja, bukanotang lain. dan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah seorang saha-batnja jang pertama dan utama. Kedua Chawaridj. Pokok-pokok pendirian aliran ini diantaralain dapat kita katakan, bahwa chalifah orang Islam tidak mestiseorang jang berasal dari suku Quraisj, bahkan tidak mesti dariseorang Arab. Semua manusia sama. Seorang mumin jangmengerdjakan dosa adalah kafir. Kesalahan dalam berfikir danber.djtihad adalah dosa apabila terdapat bertentangan denganfikiran mereka, oleh karena itu mereka mengkafirkan Ali karenamenerima tahkim, meskipun tahkim damai antara Muawijah danAli tidak dikemukakan setjara merdeka. Mazhab Azraqijah darialiran ini berkejakinan, bahwa tiap orang Islam jang menjalahipendiriannja, dihukum musjrik. tetap dalam api neraka, wadjib dibu-nuh dan diperangi. Ketiga Mutazilah, jang mempunjai lima pendirian : 1. At-Tauhid, kejakinan bahwa Allah itu satu dalam zatnja dan sifatnja,dan sifat Allah itu adalah zat Allah sendiri. 2. Al-Adl, bahwa Tuhan itu adil. jaitu bahwa manusia itu diberi kemauan merdekauntuk bertindak dan tidak digerakkan oleh kodrat dan iradatTuhan sadja.3. Al-Manzilah bajnal Manzllatain, memberikankedudukan diantara dua kedudukan mumin dan kafir. Orang Islamjang mengerdjakan dosa besar akan ditempatkan pada suatu tempatantara orang mumin dan kafir. Ia bukan orang imumin karenatidak menjempurnakan sifat kebadjikan, dan bukan pula orangkafir karena sudah mengutjapkan dua kalimat sjahadat. Ia tetapabadi dalam neraka, karena diachirat itu tjuma ada satu sorga dansatu neraka, tetapi diringankan azabnja dan masih disebut orangIslam. 4. Al-Waad wal waid. Dimaksudkan dengan istilah inibahwa djika Allah mendjandjikan pahala atas sesuatu kebadjikan,mesti dikerdjakannja, dan apabila ia mendjandjikan siksaaan atassesuatu kedjahatan. maka djandjinja itu pun wadjib ditepati, tidakberhak Tuhan memberi ampunan atas djandji jang sudah ditetap-kan. 5. Amar maruf nahi rrtunkar. Pekerdjaan ini wadjib berda-sarkan akal manusia, bukan berdasarkan kepada perintah Allah danRasulnja. Keempat Al-Asjari, jang menentang pendirian-pendirianMutazilah jang lima itu. Aliran ini berkata, bahwa sifat Allah itubukan zatnja, tetapi sesuatu tambahan atas zatnja. Tiap manusia8
  25. 25. berbuat atas kehendak Tuhan, tidak mempunjai kemauan jangbebas. Allah tidak wadjib memenuhi djandji atas kebadjikan danatas kedjahatan, dengan memberi pahala kepada jang berbuat baikdan menjiksa jang berbuat djahat. Balasan jang berlainan dengandjandji ini boleh dilakukan Tuhan, karena tidak ada sesuatupunjang mewadjibkan dia menetapi djandji itu. Selandjutnja aliran iniberpendapat, bahwa orang jang berbuat dosa besar tidak diletakkanpada tempat diantara orang mumin dan orang kafir, dan bahwaia tidak abadi dalam neraka. Mereka berpendapat, bahwa amarmaruf dan nahi munkar itu diwadjibkan karena Quran dan Sunnahbukan karena penetapan akal manusia. Demikianlah empat aliran besar, dan dari aliran ini lahirlahmazhab-mazhab jang banjak itu. jang berbeda satu sama lain dalampendirian mengenai usul dan furu. Aliran Sjiah sedjala n dengan Mutazilah mengenai tauhid dankeadilan, dan mcnjalahinja dalam tiga pendirian jang lain. Orang-orang Sjiah sepaham dengan Asjiari dalam masaalah dosa besardan dosa ketjil, amar maruf dan nahi munkar. Mereka berbedadengan Mutazilah dan Asjiari dalam persoalan waad dan waidkarena mereka berkejakinan bahwa Allah selalu menepati djandjibagi mereka jang berbuat kebadjikan, dan tidak wadjib mendjalan-kan djandjinja kepada hambanja jang berbuat djahat, baginjaterserah kurnia mengampuninja. Tidak berhak diputuskan denganhukum akal, bahwa Tuhan menjalani djandjinja akan memberipahala kepada hambanja jang berbuat baik. u
  26. 26. 3. P E R K A T A A N SJIAH Perkataan Sjiah itu sudah dikenal dan dipergunakanorang dalam masa Nabi, bahkan terdapat beberapa kali dalamQuran, jang berarti golongan, kalangan atau pengikutan sesuatupaham jang tertentu. Dalam kamus, perkataan Sjiah itu atjapkali diartikan orangpengikut, pembantu, firqah, terutama pengikut dan pentjinta Alibin Abi Thalib serta Ahlil Bait Rasulullah. Dalam K«mus Tad,ulArus. perkataan Sjiah itu diartikan suatu golongan jg mempunjaikejakinan paham Sjiah, dalam bantu membantu antara satu samalain, begitu djuga dalam kamus besar Lisanul Arab. Dalam Azhariditerangkan bahwa arti Sjiah itu ialah pengikut satu aliran, jangmentjintai keturunan Nabi Muhammad dan mentaati pemimpin-pemimpin jang diangkat daripada keluarganja dan keturunannja Dalam Quran tersebut : "Ini dari Sjiahnja dan itu darimusuhnja". (Quran). Dalam ajat jang lain disebut : ,.DiantaraSjiahnja ada jang berpihak kepada Ibrahim" (Quran). Begitudjuga tersebut dalam Quran : ..Bahwa Firaun itu meninggikan,dirinja diatas muka bumi, dan mendjadikan keluarganja djadiSjiahnja atau pengikutnja" (Quran). Djadi dapat kita simpulkan,bahwa Sjiah itu tidak lebih dan tidak kurang artinja daripadamazhab, sebagaimana kata ini digunakan untuk mazhab Sjarfi,Hanafi, begitu djuga perkataan Sjiah Ali tidak lain artinja daripadamazhab Ali dan keturunannja. Dalam masa Nabi penggunaan kata Sjiah dalam pengertian berpihak atau memilih golongan Ali sudah terdapat, baik sebelum maupun sesudah wafat Nabi, sebagaimana jang diterangkan oleh An-Nubachti, pengarang dalam abad hidjrah ke IV, dalam kitabnja Al-Firaq wal Maqalat. Ia menerangkan, bahwa seluruh golongan jang terdapat dalam Islam tidak keluar dari empat aliran paham, jaitu Sjiah, Mutazilah, Murdjiah dan Chawaridj. Sjiah itu Hlah suatu golongan aliran paham, jang berpegang pada Ali bin Abi Thalib, baik dalam masa Nabi, maupun sesudah wafat Nabi, dikenal dengan ketaatannja dalam keputusan dan keimanannja, seperti jang diperbuat oleh Miqdad bin Aswad, Salman Farisi, Abu Zar, Djundub bin Djanadah al-Ghaffari, Ammar bin Jassar. dan orang-orang jang bersimpati kepada kepribadian Ali bin Thalib. Orang-orang inilah jang mula-mula menggunakan nama Sjiah, sebagaimana dimasa jang silam orang menggunakan kata Sjiah itu 10
  27. 27. bagi pengikut Nabi Ibrahim, Musa, Isa dan N a b r N a b i lam. Dalam kitab Az-Zinah, karangan Abu Hatim Sahi bin Muham-mad Sadjastani (mgl. 205 H ) , sebagaimana d jug a dalam kitabKasjfuz Zunun, djuz III, tersebut uraian tentang perkataan Sjiahitu seperti berikut. Lafad Sjiah dalam masa Rasulullah digunakanuntuk menamakan empat orang sahabat Nabi jaitu Salman al-Farisi,Abu Zar al-Ghaffari, Miqdad bin Aswad al-Kindi dan Ammar binJassar. Kemudian sesudah pembunuhan atas diri Usman dan pemberontakan Muawijah serta pengikutnja menghadapi Ali binAbi Thalib. begitu djuga sesudah dikemukakan penagihan darah Usman maka banjaklah orang-orang Islam memilih golongan- golongannja, dan dikala itu pengikut-pengikut paham jang membe- narkan Usman dinamakan Usmanijah. dan sebahagian pula jang berpihak kepada Ali bin Abi Thaib dinamakan Alawijah. meskipun perkataan Sjiah itu masih terpakai sampai masa pemerintahan Bani Umajjah. Tetapi dalam masa pemerintahan Bani Abbas atau jang dinamakan Abbsasijah, pemakaian nama Alawijah dan Usmanijah dihapuskan, lalu timbul dua nama b a ru bagi golongan-golongan Islam itu, jaitu nama Sjiah dan nama Sumpah, dengan pengertian s a mpai sekarang masih digunakan untuk mereka jang mentjintai Ali dan mereka jang mentjintai Usman, ketjuali untuk golongan Chawaridj. Menurut Firhrasat Ibn Nadim, perkataan Sjiah utk. pengikut Ali itu mulai dipakai sedjak perang Djamal, tetapi keterangan Ibn Nadim ini banjak disangkal orang, jang benar ialah sudah diguna- kan sedjak zaman Nabi. Dalam sebuah kitab jang bernama Ghajatul Ichtisar fi Achbaril Bujutil Alawiijah al-Mahfuzah minal Ghubbar, karangan Ibn Hamzah al-Hussaini, ketua Madjlis Sjari di Halb, jang ditjetak di Mesir pada pertjetakan pemerintah Bulaq, ada disebut sedjarah .perkataan Sjiah itu sebagai berikut : Tiap golongan jg. mengikuti paham seseorang pemknpinnja dinamakan Sjiah. dan Sjiah itu berarti mengikuti, dan membantu imam itu dalam segala perintah dan itikadnja. Tatkala pemerintahan dipegang oleh Bani Umajjah. banjaklah orang Islam jang tidak menjukai siasatnja. satu persatu lari dari Bani Umajjah itu kepada Bani Hasjim. lalu mengikat dinnja dala m suatu persaudaraan, dalam bantu membantu dan dalam taat-mentaati imamnja. sedjak itu mereka menamakan dirinja Sijah Muhammad, art.nja golongan Muhammad. Ketika itu tidak terdapat antara Bani Ali dan Bani Abba s perbedaan paham dan perbedaan mazhab. Tetapi tatkala Bani Abbas berkuasa da n melaku kan beberapa banjak kesalahan seperti jang pernah dilakukan oleh Bani Umajjah, terdjadilah perselisihan paham antara Bani Ali dan Bani Abbas itu. sedjak itu berdirilah golongan chusus jg. dinamakan Sjiah, sangat tjondong kepada Bani Ali, mereka menganggap 11
  28. 28. bahwa Bani Ali itu lebih berhak, lebih utama dan lebih adil daripadagolongan jang lain itu. Maka oleh karena itu golongan Sjiah itumend jadikan imam-imamnja dari keturunan Ali, lalu menamakanmazhabnja itu Ainuriah al-Imamijah, sampai kepada Al-MahdiMuhammad bin Hasan, tidak mau berimam kepada Bani Abbas. Sjii adalah petjahan dari kata Sjiah, jang berarti penganutSjiah dan Tasjaijju, artinja menganut paham sebagaimana jangterdapat dalam Sjiah jang telah berbentuk mazhab tertentu itu. Semua keterangan ini selain daripada jg. sudah kita paparkandiatas dapat dibatja orang kembali dalam Lisanul Arab, sebuahencyclopaedi Arab jang lengkap, dalam kitab Basjarat Sjiah,karangan Al-Mazandrani, tertulis 1155 H. dalam Madjmau] Bajan,dan lain-lain kitab, seperti karangan Sajuthi.12
  29. 29. 4. SEBAB-SEBAB D A N MASA KELAHIRAN Muhammad Djawad Mughnijah menjangkal pendapat penulisBarat jàng mengatakan bahwa sebab-seb a b jang melahirkan Sjiahitu ialah politik jang ditudjukan untuk menguasai pemerintahan bagiAli bin Abi Thalib sesudah wafat Nabi Muhammad. Pandanganjang demikian itu tidak benar, karena sebab-sebab mengemukakanAli bin Abi Thalib sebagai chalifah pertama tidak berdasarkanse-mata 2 atas hasrat dan perdjuangan politik, tetapi jang pertamadan utama berdasarkan kepada nash Nabi Muhammad jg. mengu-tamakan Ali sbg. penggantinja sesudah ia wafat. Nash ini adajang merupakan perbuatan, dan ada jang merupakan perkateanNabi Muhammad sebelum wafat. Dalam perbuatan Nabi memilih Ali mendjadi saudaranja, sekali di Mekkah dan sekali lagi sesudah pindah ke Madinah. Nabimendidik dan mengadjar Ali dari ketjil dalam adjaran Islam, danpernah mengangkatnja mendjadi pembantunja untuk mengadjarkanagama Islam itu dalam kalangan keluarganja jang sutji. Alimendampingi Rasulullah sedjak ketjil sampai mati dalam segalaurusan-urusan penting, sedjak dari urusan dawah, urusan rumah tangga sampai kepada urusan peperangan jang besar-besar danberbahaja, Nabi pernah menjerahkan pandji-pandji peperangan dantugas-tugas jang utama dalam peperangan, seperti tugas memerangiUmar bin W u d d dan Marhab, mengurus orang-orang NasraniNadjrau dll. Nabi Muhammad memungut Ali mendjadi menantunya,mendjadi suami Fathimah, jang ditjintainja. Nabi mentjintai keduaanak Ali. Hasan dan Husain, jang dinamakan dua keharumannja,dan jang vvadjahnja lebih banjak mirip kepada Nabi daripadakepada Ali, sebagaimana jang pernah diutjapkan oleh chalifah AbuBakar. Djadi korban Ali kepada Nabi Muhammad tidak sedikit,dibandingkan dengan sahabat-sahabat jang lain. Dihari-hari jangsangt sukar di Mekkah, Ali adalah temannja jang setia, Ali pernahmenggantikan Nabi ditempat tidur tatkala ia dikepung oleh orangQuraisj jang mendengar Nabi mau hidjrah ke Madinah. Sesudahkemenangan Islam tertjapai. tugas-tugas jang berat itu dilandjutkan,misalnja tugas membasmi berhala-berhala kepunjaan beberapakabilah Arab jang kuat dalam perlawanannja. Banjak lagi jang lainlain sikap dan perbuatan Nabi terhadap Ali, sebagaimana jangdisebut orang dalam sedjarab hidup pahlawan Islam ini. Dalam perkataannja tidak terhitung banjak Nabi mengutjapkan 13
  30. 30. perkataan-perkataan jang menundjukkan tjinta, kepertjajaan dankedudukan Ali sebagai wazirnja dan chalifahnja. Dalam QuranTuhan memerintahkan kepada Nabi untuk memberi pengadjarankepada keluarganja jang terdekat, dan dalam suatu pertemuanmakan minum jang diselenggarakan dua kali atas ongkos Ali danajahnja. Nabi -mengatakan kepada semua keluarganja terhadapAH : "Ini pewarisku, wazirku, wasiatku dan chalifahku untukmusesudah aku mati, dengarlah perkataannja taatilah segala perintah"nja". Dalam sebuah hadis jang lain Nabi berkata : "Barangsiapajang mengambil aku mendjadi pemimpinnja. maka Ali-lah pemim-pinnja itu". Diantara dua hadis ini banjak sekali hadis-hadis janglam jang menundjukkan kepada keangkatan Ali disamping Nabi.Misalnja hadis jang berbunji. diutjapkan kepada Ali sendiri :"Engkau terhadap aku adalah sebagai kedudukan Harun terhadapMusa", dan hadis : "Ali beserta haq dan haq bersama Ali". Terha-dap umum tjukup diperingatkan kepada hadis jg biasa dinamakan"Hadis Saqalain". dimana Nabi mengutjapkan menurut riwajatSj.ah : "Kutinggalkan kepadamu dua perkara jang berat, pertamaQuran dan kedua keturunanku dan Ahli rumahku", sebuah hadisjang djuga dibenarkan oleh perawi-perawi Ahli Sunnah. Keterangan-keterangan mengenai wasiat Nabi terhadap Alidibitjarakan oleh hampir semua kitab-kitab Sjiah, diantaranjadalam kitab Ajanusj Sjiah", karangan Al-Amin. dalam kitab"Al-Muradjaat", karangan Sjarfuddin dan dalam kitab "Dailailus-Shidiq" karangan Al-Muzaffar. Tidak ada seorangpun diantaraulama Ahli Sunnah jang meragu-ragui akan kebenaran hadis 2 itu,diutjapkan oleh Nabi sebagai wasiat kepada Ali. banjak diantaramereka jang mentawilkan hadis-hadis itu dengan tjinta dan ichlasNabi kepada Ali. bukan dengan hukum penetapan dan keangkatanmendjadi chalifah. Orang Sjiah mentawilkan hadis-hadis itu, bahwa Nabi telahmenentukan wilajah dan chalifahnja kepada Ali, tidak kepadaorang lain, sebagaimana jang telah diutjapkan dalam Hadis: „Tidakada_ pedang lain ketjuali Zulfiqar dan tidak ada pemuda ketjualiAli", diriwajatkan oleh Thabari dalam kitab sedjarahnja. III : 17,dan oleh Ibn Asir dalam kitabnja, III : 74, begitu djuga hadis :„Ali beserta haq dan haq bersamaan Ali," sebagaimana diriwajat-kan oleh Ibn Abui Hadid. Tarmizi dan Hakim. Keterangan-keterangan Nabi ini dipegang oleh Sjiah tidakdengan menggunakan tawil, tidak karena dhan, taassub atau taqlid,dan oleh karena itu sebab-sebab terdjadinja Sjiah adalah berdasar-kan kejakinan agama, bukan karena politik atau hawa nafsu. Mengenai hadis-hadis wasiat ini katai persilahkan membatjaketerangan ja n g lebih landjut dalam kitab jang sudah disebutkandiatas. dan djuga dalam kitab "Isbahil Washiah lil Imam Ali bin14
  31. 31. Ali Thalib" (Nedjef, 1955 , karangan Al-Mas*udi, pengarang kitabsedjarah jang terkenal "Murudjuz Zahab", jang meninggal tahun346 H. Abu Zahrah menerangkan tentang masa lahir Sjiah dalamkitabnja "Al-Mazahibul Islamijah". Dan berkata, bahwa Sjiah ituadalah suatu mazhab politik Islam jang paling tua, lahir pada achirmasa pemerintahan Usman, tumbuh dan bertambah tersebar dalammasa pemerintaha n Ali bin Abi Thalib. Selandjutnja ia menerang-Kan, bahwa mazhab Sjiah itu lahir pada waktu peperangan Djamal.Djuga ia menerangkan, bahwa Sjiah itu lahir bersamaan denganiahirnja golongan Chawaridj. Thaha Husain dalam kitabnja "Aliwa Banuhu", menerangkan, bahwa mazhab Sjiah ini adalah sebuahmazhab siasat jang teratur dibelakang Ali dan anak-anaknja, lahirdal^m masa pemerin-taheri Hasan bin Ali. Tetapi orang-orang Sjiah, diantaranja Muhammad DjawadMughnijah jang kita sudah sebutkan diatas, berpendapat bahwasedjarah Iahirnja Sjiah bersamaan dgn. lahir Nash Nabi menge-nai keangkatan Ali mendjadi chalifah. Sahabat-Sahabat Nabi jangiterbaik sudah melihat bahwa Ali adalah tangan kanan NabiMuhammad. Jang berpendapat demikian itu diantara lain ialah IbnAbui Hadid. Ammar bin Jasir, Miqdad bin Aswad, Abu Zar,Salman Farisi, Djabir bin Abdullah, Ubaj bin Kaab, Huzaifab akJamani, Buraidah, Abu Ajjub al-Anshari, Sahal bin Hanif, Usmanbin Hanif, Abui Haisam bin Tahan Abu Thufail, dan semua Ba-ni Hasjim. Dalam kitab „Tarichusj-Sjiah, karangan Muhammad Hussainal-Muzaffar tersebut, bahwa Muhammad Kurd Ali dalam kitabnjamengenai Sjam memperkatakan segolongan sahabat-sahabat besarjang telah mengakui perwalian Ali dalam masa Rasulullah, sepertiSalman Farisi. jang berkata : "Kami membuat baiat kepada Ra-sulullah untuk menasihatkan orang Islam dalam agamanja dan kamimengakui Ali bin Abi Thalib sebagai imam dan wali Nabi". SaidakChudri pernah berkata : „Orang Islam diperintahkan limaperkara, jang dikerdjakan tjuma empat dan ditinggalkan satuperkara". Tatkala ditanjakan kepadanja tentang empat perkarajang dikerdjakan. ia menundjukkan pertama shalat, kedua zakat,ketiga puasa dan keempat hadji. Tatkala ditanja lagi kepadanja,apakah jang seperkara lagi jang ditinggalkan oleh orang Islam.Said mendjawab : „Mendjadikan Alin bin Abi Thalib wali Nabi".Orang berkata kepadanja, apakah itu mendjadi sesuatu jg fardhu.Djawabnja : „Betul, jang demikian itu mendjadi sesuatu jangwadjib". Adapun keterangan, bahwa jang mengadakan Sjiah itu ialahAbdullah bin Saba, pikiran ini berdasarkan faham semata-mata.Sedikit sekali orang mengetahui tentang Abdullah bin Saba dan 15
  32. 32. mazhabnja. Dalam kalangan Sjiah Abdullah bin Saba tidak dike-nal, dan orang-orang Sjiah menjatakan berlepas tangan tentangutjapannja dan amalnja (Muhammad Djawad Muqhnijah Asi-Siiahwal Hakimun, (hal. 2). Pendapat tentang Abdullah bin Saba ini berasal dari penga-rang Barat. Dalam salah satu bahagian lain akan kita singgungkembali mengenai persoalan ini. /
  33. 33. 5. W A S I A T NABI KEPADA ALI Salah satu perbedaan paham jang besar antara Sjiah dan AliSunnah ialah, bahwa Ahli Sunnah tidak mau mengaku ada nashmengenai wasiat Nabi Muhammad tentang pengangkatan Ali binAbi Thalib mendjadi chalifahnja sesudah ia wafat. Sudah kitaterangkan, bahwa meskipun seseorang Islam mau mejakini chalifahatau Imamah Ali atau tidak, ia tidak keluar dari agama Islam,karena persoalan ini merupakan persoalan mazhab. Tetaoi olehkarena kejakinan imamah ini merupakan dasar perdjuangan pokokdaripada gerakan Sjiah, ada baiknja djika kita ketahui alasan-alsan agamanja mengenai persoalan itu dan perlainan alasan darigerakan Ahli Sunnah. jang selalu menentang adanja nash, jangmewadjibkan Ali bin Abi Thalib diangkat sebagai chalifah jangpertama sesudah wafat Nabi. Ahli Sunnah wal Djamaah menolak adanja wasiat Nabimengenai Ali, berdasarkan diantara lain kepada sebuah hadis, jangdiriwajatkan oleh Buchari dalam Sahihnja daripada Al-Aswad.Kata Al-Aswad bahwa Aisjah pada suatu hari ditanjakan orangtentang wasiat Nabi kepada Ali, lalu ia mendjawab dengankeheranan : „Siapa jang mengatakannja ? Pada waktu Nabi akanwafat, ia bersandar kepada dadaku dan ia meminta air untuk membersihkan mukanja, lalu ia wafat. Bagaimana ia meninggalkan wasiat kepada Ali ?" Hadis ini dikeluarkan Buchari dalam kitab wasiat, hal 83. djuz jang ke-II dari kitab Sahihnja. djuga disinggungnja dalam bab Nabi Sakit dan wafat hal 64 djuz ke III dari kitab jang sama sebagaimana Muslim mengemukakannja dalam djuz ke II. hal 14 dari kitab Sahihnja. Hadis jang sematjam ini banjak diriwajatkan Buchari dari bermatjam sumber dan dengan bermatjam lafadh. Dalam kitab Hadis Muslim dikemukakan sebuah hadis dari Aisjah. jang berkata : „Rasulullah tidak meninggalkan satu dinar atau satu dirham, atau seekor kambing atau seekor kuda, serta tidak mewa- siatkan sesuatu". Dalam dua kitab Sahih Buchari dan Muslim dimuat sebuah hadis berasal dari Thalhah bin Masraf. katanja : „Saja tanjakan kepada Abdullah bin Abi Aufa, apakah Nabi pernah meninggalkan wasiat T. Katanja : „Tidak". Lalu kataku : „Bagaimana ia menulis wasiat kepada manusia, kemudian ia meninggalkannja ?". Djawab- nja : „Ia berwasiat dengan kitab Allah". Dengan alasan-alasan ini Ahli Sunnah wal Djamaah menolak 17 i
  34. 34. adanja wasiat Nabi, j a ng menjuruh mengangkat Ali sebagai chalifah sesudah wafatnja. Tetapi orang Sjiah mempunjai alasan-alasan jang tjukup kuat pula untuk menundjukkan nash-nash mengenai wasiat itu dan mempertahankan pendiriannja, bahwa Nabi Muhammad memang sudah berkali-kali mewasiatkan agar Ali bin Abi Thalib mendjadi oicJifah, jang akan meneruskan urusan agama Islam. Wasiat itu katanja tidak dapat disangkal lagi. sesudah Nabi mewariskan kepadanja ilmu dan chidmat (Al-Musawi. Al-Muradjaat, no 66, hal 234), sesudah Nabi memerintahkan Ali dikala mati memandi- Kannja. mengafaninja serta menguburkannya (Ibn Saad dj. II, bg. 2 hal, 61, dan djuga hadis-hadis lain, sesudah Nabi meneruskan penjiaran agamanja, melaksanakan djandjinja dan tjita-tjitanja (Hadis Thabrani, Abu Jula, Ibn Mardawaih. Dailumi dll . sesudah Nabi menerangkan kepada umatnja. apa jang akan mereka pertengkarkan dan menjuruh Ali menjelesaikannja (Dailumi Abu Zar, Dailumi bin Anas, lih. Kanzul Ummal, V I : 156), sesudah di- j e l a s k a n bahwa Ali saudaranja (Hadis Ummu Sulaim dim Masnad imam Ahmad V : 31. ajah anaknja Abu Jula (sesudah dinjata- kan djadi wazirnja (Ahmad, Nasai. Hakim. Zahabi dll), sesudah dinjatakan pemenangnja (Hakim, Mustadrak II : 472), sesudah dinjatakan mendjadi walinja dan orang jang diwasiatkan (Ibn Abbas), sesudah disebutkan Ali djadi pintu gudang ilmunja (Thabrani Ibn Abbas. Hakim-Djabir). sesudah digelarkan kampung hikmahnja (Tarmizi, Ibn Djarir), sesudah Ali dinjatakan mendjadi pintu perlindungan umat (Darquthnrlbn Abbas), sesudah dinjata- kan mendjadi ketjintaanja, sesudah dinjatakan mendjadi penghulu orang Islam, Imam Aulia Allah, sesudah ditempatkan seperti tempat Nabi Harun dan Musa, sesudah diterangkan semisal kepala dan badan dengan dia, dan sesudah dinjatakan Ali itu dipilih Tuhan untuk dunia ini dsb. Orang Sjiah menganggap semua hadis-hadis itu merupakan wasiat atau penundjukan Ali sebagai gantinja. Mazhab Empat menolaknja, hanjalah karena dianggap tidak sesuai dengan sesudah kedjadian keangkatan tiga chalifah sebelum Ali dan keputusan Sjiah diambil lama sesudah kedjadian itu. Orang Sjiah menerangkan, bahwa pendapat Ibn Abi Aufa. bahwa Nabi ada meninggalkan wasiatnja berupa Kitabullah benar adanja. tetapi sebagaimana disebutkan dalam hadis "Saqalain", kitab itu ditinggalkan bersama-sama dengan „Itrah". keluarganja. jang terpenting Ali bin Abi Thalib. Djuga orang Sjiah tidak menjangkal. bahwa Sitti Aisjah adalah salah seorang isteri Nabi jang afdhal. tetapi bukan jang utama dan pertama, karena banjak hadis (diantaranja dari Aisjah sendiri)menerangkan, bahwa Nabi pernah berkata : "Wanita utama ialahChadidjah binti Chuwailid. Fatihimah binti Muhammad, Asjahbinti Mazahim dan Marjam binti Imran, semuanja wanita utama ini18
  35. 35. isi sorga" (Buchari). Selain daripada itu tatkala Safijah binti Hujaj menangis karena diedjek Aisjah dan Hafsah, N ab; menjuiuh mengatakan kepada kedua isterinja jang lain itu, bahwa ia leb,h baik daripada mereka, karena ajahnja Harun, pamannja Musa dan suaminja Muhammad (Tarmizi). Dengan tidak mengurangi kelebihan Aisjah sebagai ibu orang mumin dan isteri Nabi jang disajanginja, orang Sjiah menundjukkan beberapa perkara, dimana Aisjah kelihatan agak tidak . sangat keistimewaannja Ali dalam utjapannja. Salah satu sikapnja jang dapat menggambarkan suasana ini ialah tindakannja dalam peperangan Djamal Besar, dimana Aisjah dengan tenteranja menghadapi pasukan Ali bin Abi Thalib. sebagaimana jang diterangkan oleh Ibn Djarir dan Ibn Asir dalam kitab 2 sedjarahnja. Selain daripada itu, pada waktu ia menerangkan kisah Rasulullahsakit dan digotong dua orang kiri-kanannja, ia hanja menjebut jang menggotong itu seorang bernama Abbas bin Abdul Muttalb sedang jang lain disebut sadja seorang laki-laki, padahal ia kenalnamanja. menurut Ibn Abbas, Aisjah tahu bahwa orang itu adalahAli bin Abi Thalib. Lain tjontoh lagi tentang sikap Aisjah ini terhadap Ali ialah,bahwa ia lebih banjak berbitjara tentang Ammar daripada Ali, tai-kala kedua-duanja datang kepada Aisjah (Masnad Imam AhmadVI : 113). Pada waktu itu Aisjah tidak m a u berbitjara tentang Alidan ia menerangkan, apa jang harus dikerdjakan oleh Ammar. Penjembunjian jang sematjam ini dari Aisjah tentu digerakkanoleh rasa kurang senang terhadap Ali. dan oleh karena itu orijiah menganggap, bahwa banjak hal-hal jang tidak disampaikanoleh Aisjah mengenai Ali. Nas 2 mereka mengenai wasiat dianggapiebih kuat daripada beberapa hadis umum jang diriwajatkan olehAisjah. Saja peringatkan disini akan suatu perkara antara Sitti Aisjahdan Ali, dikala Aisjah mendapat tuduhan dari kaum muniMadinah, karena ketinggalan kafilah dalam sesuatu peperangan,perkara j a ng dikenal dalam sedjarah Islam dengan Hadis Ifki.Dikala itu Ali mengeluarkan pendapatnja kepada Nabi, jang rupan,amenjinggung perasaan Sitti Aisjah. Kemudian ada pula perkaratanah jang oleh Sitti Fathinvah dianggap berhak menerimanjasebagai pusaka, tetapi oleh Abu Bakar, jang ketika itu mendjadichalifah diputuskan, bahwa Nabi tidak meninggalkan harta pusakakepadanja. Rupanja kedjadian-kedjadian ketjil ini djuga mempenga-ruhi sikap sebagian golongan Sjiah terhadap mereka jg mendudukisinggasana sesudah wafat Nabi. dengan-akibatjang berlarut-larut Kembali kepada wasiat Nabi kepada Ali, Sjiah berpendapat,bahwa hadis-hadis jang digunakan oleh Ahli Sunnah, sebagai jangkita sebutkan diatas, tidak tjukup sah dan kuatnja untuk menolak
  36. 36. sekian banjak berita utjapan Rasulullah, jang telah membajangkanAli sebagai chalifahnja. Hadis-Hadis Aisjah itu menundjukkankeadaan umum, bahwa Rasulullah tidak meninggalkan harta benda,emas dan perak, karena kita ketahui tak ada penghargaannjakepada kekajaan duniawi, tet2p; ada wasiat 2 jang lebih penting, jaitumengenai penjelenggaraan agamanja, jang ditinggalkannja berupa„Kitabullah dan keluarganja jang sutji. jang tidak dapat dipisahkansampai hari kiamat." Rasulullah telah mewasiatkan kepada Ali pada permulaandawah Islam sebelum lahir, sebelum kuat Islam itu di Mekkah..dengan perintah Tuhan : "Berikanlah peladjaran kepada keluarga-mu jang dekat" (Quran). dan tidak putus-putusnja wasiat inidiulang-ulang dalam berbagai bentuk dan bermatjam utjapan. ImamAbdul Husain Sjarfuddin al-Musawi dalam kitabnja "Al-Munadjat" (Nedjef 1963), dalam Mabhas ke II, Muradjaat 20. hal. 144,membitjarakan pandjang lebar ajat-ajat Quran dan hadis-hadisjaag bersangkut-paut dengan Chilafah Imamah ini, tidak kita ulanglagi disini, tetapi tjukup kita mempersilahkan pembatja mempela-djarinja disana. Ada sebuah kedjadian jang penting pang dikemukakan olehgolongan Sjiah jang menarik perhatian kita dalam pemberianalasan wasiat ini, jaitu kedjadian dikala Nabi akan wafat,sebagaimana jang dikemukakan oleh Buchari (II : 18), Muslim dim.Sahih, Ahmad bin Hanbal dim Masnad, dan hampir semua ahli ha-dis. Tatkala itu Nabi berkata : "Berikan daku kertas, aku akanmenuliskan bagimu sesuatu wasiat jang dapat mentjegahkan kamudari kesesatan !" Nabi tidak djadi melakukannja, tetapi jangmendjadi pertanjaan, apa wasiat jang akan ditinggalkan Nabi.Setengah sahabat menerangkan, bahwa wasiat jang akan ditulisitu terdiri dari tiga perkara, pertama bahwa Nabi akan mendjadi-kan Ali sebagai wali atau penggantinja. kedua bahwa semua oranguausjrik harus dikeluarkan dari tanah semenandjung Arab, danketiga bahwa utusan-utusan jang datang hendaklah diperlakukan,sebagaimana jang sudah pernah dilakukan. Tetapi keadaan politik dan perimbangan kekuatan ketika itutidak mengizinkan, wasiat jang pertama itu diumumkan. Sjiahmenuduh, bahwa banjak sahabat jang melupakannja. Buchariberkata pada penutup hadis wafat Rasulullah itu, bhw. ia berwasiattiga perkara, jaitu mengeluarkan orang musjrik dari djazirah Arab,menerima utusan sebagaimana jang diterima, kemudian ia berkata,bahwa ia lupa w a siat jang ketiga. Demikian djuga pengakuanMuslim dan pengakuan semua pengarang Sunnan dan Masnad (lih.Al-Muradjaat hal. 255). Banjak pengarang Sjiah djuga menolak pengakuan Sitti20
  37. 37. Aisjah, bahwa Nabi Muhammad meninggal dalam pangkuannja,sebagaimana jang diakui dalam hadis-hadisnja. Menurut pengarangSjiah, Nabi Muhammad itu wafat dan melepaskan nafas jangpenghabisan dalam pangkuan saiudaranja dan penggantinja (wali),jaitu Ali bin Abi Thalib. Jang demikian itu menurut ketetapanulama-ulama hadis Sjiah jang mutawatir dan kitab-kitab Sahihnjajang mutamad. meskipun Ahli Sunnab berpendapat lain daripadaitu (Al-Muradjaat, h#l. 255-256). 21
  38. 38. 6. K E I M A N A N PADA SJIAH Mazhab Sjiah mewadjibkan kejakinan berpegang kepadaimam, jang selalu harus ada ditengah-tengah m a sjarakat Islam,sebagaimana jang pernah terdjadi dalam masa Rasulullah, bahwasemua orang Islam berimam kepadanja. Imam itu harus merupakanpemimpin dalam urusan dunia dan urusan agama, seolah-olah iapengganti Nabi dalam kekuasaan dan kesempurnaannja, iamenguruskan peradilan, mengepalai masjarakat. memimpin keten-teraan, mengimami salat, mengurus keuangan negara, menjeleng-garakan kepentingan negara, jang semua perkara-perkara itud.atur dengan peraturan-peraturan jang chusus jang disiarkan dandijalankan oleh pembantu-pembantunja. Semua ini terdjadi padadiri Nabi dalam masa hidupnja. Dan oleh karena itu mazhab Sjiah, terutama Imamijah, tidakmau meninggalkan kesempurnaan itu. Mengenai masaalah pengangkatan imam sesudah wafat Nabibagi masjarakat Islam seluruhnja, ada bermatjanrmatjam pendapatorang. Orang Sjiah berkata, kewadjiman itu dikembalikan kepadaAllah, ialah jang akan mengkat seseorang imam bagi manusia. Ahli Suivnah berpendapat, kewadjiban itu tidak dapat dikembalikan kepada Tuhan, tetapi kewadjiban itu tetap terletak diataspundak manusia. Orang-orang Chawaridj mengatakan, bahwa mengangkat imamitu tidak perlu sama sekali, tidak merupakan suatu kewadjiban jangdikembalikan kepada Tuhan, dan tidak pula merupakan suatukewadjiban jang dipikulkan kepada manusia. Seorang ulama Ahli Sunnah, Alauddin Ali bin MuhammadAl-Qarasi (mgl. 879 H ) , berkata dalam kitabnja bernama "Sjarhai-Tadjrid" mengenai sedjarah perkembangan kewadjiban pengang-katan imam sebagai berikut. Dalam menetapkan kewadjibanpengangkatan imam itu, Ahli Sunnah menetapkan dalilnja atasldjma sahabat Nabi, sehingga mereka itu menganggap pengangka-tan penggantian Nabi itu. jang dinamakan imam atau chalifahitu suatu kewadjiban jang penting. Mereka mengadakan penetapanini dikala Rasulullah hendak dikuburkan, dan meneruskan adat itup^da tiap-tiap kematian seorang imam. Sebagaimana diriwajatkan,bahwa tatkala Nabi wafat, Abu Bakar lalu berchutbah : "Wahaimanusia ! Barangsiapa menjembah Muhammad, Muhammad itu22
  39. 39. sudah mati, tetapi barangsiapa menjembah Tuhan Muhammad,Tuhan Muhammad itu tidak akan mati-mati, oleh karena itu mestikita selesaikan pekerdjaan ini, keluarkanlah pendapat danpandanganmu, moga-moga Tuhan memberi rahmat kepadamu ! Maka sesudah utjapan Abu Bakar ini, dari segala alirandatanglah mereka mengemukakan pengetahuannja. jang membenar-kan pendapat Abu Bakar, bahwa harus ada penjelesaian tentangimam itu, dan tidak ada seorangpun jang mengatakan tidak wadjibpengangkatan imam penggantian Nabi itu. Chawandj mendasarkan pendiriannja tidak wadjib mengang-Kat imam, atas kejakinan, bhw. pengangkatan itu akan menimbulkanfitnah dan peperangan, karena tiap-tiap suku dan golongan akanmengemukakan tjalon sendiri, dengan demikian tidaklah akandidapati persesuaian pendapat diantara golongan-golongan itu.Dengan al a san demikian Chawaridj menganggap lebih baik menutuppintu pengangkatan itu. Tetapi djika didapati kata persesuaianmengenai sjarat-sjarat kesempurnaan imam dan persetudjuan pengangkatannja, barulah mereka membolehkan mengangkat imamitu. Alasan-alasan Sjiah Imamijah didasarkan kepada kanjataan, bahwa pengangkatan imam itu diserahkan kepada Tuhan JangMaha Kuasa dan Maha Esa. Ada tiga sebab mereka berbuat demikian. Pertama penentuan itu tidak terdjadi dengan ichtiarmanusia, tetapi atas kemurahan Tuhan dan belas kasihannja terhadap hambanja, karena imam itulah jang mendekatkan manusia itu mentaati Tuhannja, dengan memberikan penerangan danpertundjuk, dan dialah jang mendjauhkan pengikutnja daripada masiat, melarang mereka dan mempertakutinja mengerdjakan Kedjahatan-kedjahatan dengan segala akibatnja. Dan oleh karena itu penundjukan ini sebenarnja wadjib daripada Tuhan sendiri. Pendirian Sjiah jang demikian itu didjelaskan pula oleh Ah Ardabli (mgl. 993 H ) , seorang ulama Sjiah Imamijah terbesar, menerangkan, bahwa alasan kemurahan Tuhan ini. jang dipakai oleh Imamijah itu tepat, karena dialah jang setepat-tepatnja memil h imam itu, mendjadikannja. memberikan kekuasaan dan ilmu kepadanja. dengan taufik Tuhan ia dapat memilih njash jang didjalankan atas namanja. semua ini terdjadi dengan iradah Tuhan, jang menentukan perkara-perkara dan kewadjiban. ada jang diperuntukkan buat imam dan ada jang diperutukkan buat rakjat. jang mentaati imam itu. Kedua, bahwa Allah dan Rasulnja telah menjatakan semuahukum-hukumnja, jg. ketjil dan jg. besar, tidak ada pekerdjaandan perkataan seseorang manusiapun. jang terluput dimasukkankedalam lingkaran hikmah hukum-hukumnja itu. Maka oleh karenaitu, bagaimana mungkin manusia mengangkat seorang imamnja 23
  40. 40. dengan meninggalkan kekuasaan Tuhan itu baik jang berkenaan dengan urusan keduniaan, maupun jang bersangkutan dengan kehidupan achiratnja. Ketiga maka oleh karena itu Sjiah membuat perbandingan dengan diri Nabi Muhammad sendiri, jang tidak seorang djuapun mengangkatnja ketjuali dengan nubuwah, jang hanja berada dalam caugan Tuhan sendiri, baru diketahui oleh Nabi p ada waktu diangkatnja mendjadi Rasul, ia sendiri tidak berdaja upaja. Oleh karena itu orang Sjiah menjimpulkan. bahwa ichtiar memilih imam itu dikembalikan sadja kepada Allah, tidak ada jang dapat mengetahui rahasia imam itu, melainkan Allah, hanja Allah jang dapat melihat kesanggupannja. Meskipun demikian orang-orang Sjiah menetapkan sifat-sifat imam sebagai sjarat, diantara lain, hendaklah ia masum, karena tudjuan daripada keimaman itu ialah memberi pertundjuk kepada manusia atas djalan jang benar dan melarang mereka berbuat jang salah. Oleh karena itu kalau ia sendiri dibolehkan berbuat salah dalam hukum, bagaimana dapat membersihkan sesuatu dengan kekotoran. Lain daripada itu seorang imam harus lebih mulia dan utama dalam mata rakjatnja melebihi rakjatnja dalam ilmu pengetahuan dan aohlak, karena djika dalam hal ini dia tidak lebih afdhal, tentu ada orang lain jang melebihinja, atau jang menjamainja sehingga tidak lajak ia mendjadi orang utama bersamaan dengan mengutama- kan «murid daripada guru, jang tentu ditjela oleh agama. Lalu orang Sjiah mendasarkan pendapatnja kepada firman Tuhan, ajat 35 surat Junus, jang berbunji : "Katakanlah, bahwa Allah jang menundjuki kepada kebenaran. Manakah jang lebih patut diikut, jg. menundjuki kepada kebenarankah atau jang tidak dapat pertundjuk melainkan djika ditundjuki ? Mengapa kamu ini ? Bagaimanakah kamu ? mendjatuhkan hukum ?" Ada satu persoalan mengenai keimanan Sjiah ini, jaitupersoalan sesudah Nabi, mengapa Ali ? Sesudah Sjiah menetapkan nash kewadjiban imam daripada Allah, mereka berkata, bahwa menurut hukum imam sesudah Nabi wadjib djatuh kepada Ali bin Thalib, karena dua alasan, menurut alasan Quran dan menurut alasan Snnah. Pertama, sebagai alasan dari Quran, diketemukan dim ajat 58dari surat al-Maidah jg kalau diterdjemahkan berbunji sebagaiberikut : ,,Adapun imam kamu itu Allah dan Rasulnja, kemudianmereka jang beriman, jang mendirikan sembahjang. membajar zakatdan mereka itu sedang ruku". Ajat ini turun dengan disepakati olehsemua ahli tafsir mengenai Ali bin Abi Thalib, jang konon ketikaitu sedang ruku, sebagai mend jawab pertanjaan orang, siapa pangharus ditaati.2
  41. 41. Kedua, sebagai alasan dari Sunnah orang-orang Sjiahmengemukakan sebuah hadis, dimana Rasulullah sedang berbitjaradengan Ali bin Abi Thalib, jang berbunji demikian : „Engkauterhadapku seperti Harun dan Musa. Barangsiapa jang inginmentjari wali (imam), maka Ali-lah jang akan djadi walinjaEngkau saudaraku, engkau tempat wasiatku, dan engkau akandjadi chalifahku dikemudian hari ", dan banjak lagi hadishadis j a ng lain. Begitulah selandjutnja, orang Sjiah mempergunakan hadis-hadis, jang menundjukkan ketjintaan Nabi kepada Hasan danHusain serta keturunannja Ali jang lain, untuk alasan mereka h imam dari Ahlil Bait dan keturunan Nabi dari perkawinanAl dengan Fatimah itu. 25
  42. 42. 7. I T I K A D SJIAH IMAMIJAH Sjiah Imamijah adalah penganut mazhab Djafarijah, mejakini,bahwa mereka orang Islam ahli tauhid, pertjaja bahwa TuhanAllah Satu tunggal dan Muhammad Nabi dan Rasulnja, danpertjaja djuga semua apa jang disampaikan oleh Rasul Tuhan itu.Mereka pertjaja bahwa agama Islam harus dilaksanakan denganmengutjapkan dua kalimat sjahadat dan mendjalankan semuahukum sjara, diantara lain mengenai hukum waris, hukum nikah.iVIereka pertjaja, bahwa iman itu lebih tinggi tingkatnja daripadaIslam, sesuai dengan djawaban jang pernah dberikan oleh NabiMuhammad atas pertanjaan seorang Arab, jang datang kepadanjamenerangkan, bahwa ia telah beriman, tetapi Nabi Muhammadmenjuruh dia mengatakan, bahwa ia sudah masuk Islam, karenaiman itu adalah kejakinan jang meresap kedalam hati, tidak terlihatkeluar (Quran). Mengenai pokok 2 agama, usuluddin, mereka menerangkan,harus diketahui dengan dalil jang kuat, ilmu jang benar dankejakinan jang teguh, tidak tjukup dengan taqlid. dan dhan (was 2dan ragu-ragu). Mengenai sifat-sifat Tuhan, mereka berkejakinan, bahwaTuhan itu bersifat dengan segala sifat kesempurnaan, bersihdaripada segala sifat-sifat kekurangan, karena jang bersifatkekurangan itu adalah sesuatu jang baharu, hadis, sedang Tuhanbersifat qadim dan abadi, berkuasa setjara bebas, mengetahui,hidup, berkehendak, berbitjara dan benar. Dialah jg. mentjiptakan,jang memberi rezeki kepada machluknja, Tuhanlah jang menghidup-kan dan mematikan segala machluk. Orang-orang Sjiah pertjaja,bahwa Tuhan itu adil, jang berbuat baik diberinja pahala, dan jangberbuat dosa disiksanja. Manusia berbuat sesuatu tidak terpaksa,tetapi dengan ichtiarnja sendiri, dan atas ichiarnja inilah Tuhanmengambil tindakan jang bidjaksana. memberi pahala ataumenjiksanja. Wadjib bagi Allah mengirimkan Rasul-Rasu] kepada hambanjamanusia untuk mengadjarkan matjam-matjam hukum dan peraturan,untuk menerangkan jang halal dan jang haram, untuk memerintah-kan berbuat adil dan bersikap lemah lembut sesama manusia.Tuhan menurunkan perintah-perintah itu kepada Rasulnja denganperantaraan Malaikat atau setjara langsung, dan bahwa Nabi-Nabiitu terpelihara daripada dosa besar dan ketjil, memupnjai sifat-sifat jang baik, jang dapat mendjadi tjontoh dan suri teladan bagi26
  43. 43. tumainja. Sjiah Imamijah pertjaja, bahwa Muhammad itu adalahpenutup daripada segala Nabi, tidak ada lagi Nabi sesudahnja, dantidak ada jang memperserikatkannja dalam kenabiannja, ia Nabijang lebih afdhal dari Nabi-Nabi jang lain, wadjib beriman kepada -nja dan membenarkan apa jang disampaikannja daripada Tuhannja. Segala utjapan dan perbuatan Nabi merupakan hudjdjah atau dasar hukum, wadjib ditaati dan dipatuhi, tidak diutjapkannja sesuatu dari hawa nafsunja. melainkan dalam bentuk wahju Tuhan, hukum-hukum jang disampaikannja bukanlah dari hasil pikiran atau idjtihadnja sendiri, tetapi dari sjari at Tuhan semata-mata. Nabi Muhammad adalah orang jang mula-mula beriman kepada Tuhan, semua isterinja orang-orang jang beriman, jang sesudah wafatnja haram dikawini oleh orang lain. Sjariatnja menghapuskan semua sjariat Nabi-Nabi terdahulu, dan berlaku sampai hari kiamat. Dalam pendiriannja terhadap persoalan Iniamah dan Chilafah, Imamijah berkejakinan wadjib adanja kepertjajaan kepada imam- imam itu. karena mereka merupakan pemimpin umum dalam segala urusan agama dan dunia, sesudah wafat Nabi, mereka menganggap, bahwa imam-imam itu dapat mendjalankan dan mengawasi sjari at jang ditinggalkan Nabi, mereka merupakan mursjid jang harus ditjontoh dan diteladani. Oleh karena itu maka hendaklah imam itu merupakan seorang .pemimpin jang taat kepada Tuhan, seorang jang terdjauh daripada perbuatan fasad dan munkar, bukan seorang jang mengikuti djalan hawa nafsunja sendiri, imam itu harus masum daripada dosa besar dan dosa ketjil. Jang berhak mendjadi imam sesudah wafat Nabi ialah anak pamannja, Ali bin Thalib, jang telah diwasiatkan dan ditundjuk oleh Nabi Muhammad sendiri, kemudian anaknja Hasan bin Ali, kemudian saudaranja. Husain bin Ali, kemudian anknja. Ali Zainul Abidin kemudian anaknja Muhammad al-Baqir, kemudian anaknja Djafar as-Sfcadiq, kemudian anaknja Musa al-Kazim, kemudian anaknja Ali ar-Ridha kemudian anaknja Muhammad al Djawad, kemudian anaknja Ali al-Hadi, kemudian anaknja Hasan al-Askari, kemudian anaknja Muhammad bin Hasan al-Mahdi, semuanja berlaku dengan wasiat. Orang jang menolak kenabian Nabi Muhammad dengan menga- takan bahwa ada Nabi lagi sesudah wafatnja atau ada jang memperserikatkannja dalam kenabian, orang itu keluar dari agama Islam dan tidak berhak menamakan dirinja muslim. Tetapi seorang jang mengingkari keimaman dua belas keturunan jang disebut tadi. tidak keluar dari Islam menurut orang-orang Sjiah karena jang demikian itu bukan suatu kewadjiban agama, tetapi hanja suatu kewadjiban mazhab sadja. 27
  44. 44. Sjiah Isnaasjar Imamijah pertjaja, bahwa ada hari kemudiansesudah hidup manusia sekarang ini, ada soal Munkar wa Nakirdalam kubur, ada azab kubur, ada sirath, ada mizan atutimbangan dosa dan pahala, ada hisab, jaitu perhitungan salah danbenar, ada pengakuan anggota badan tentang perbuatan djahat danbaik, ada pembahagian surat mengenai amal buruk dan baik, adapengumpulan manusia dipadang mahsjar, ada sorga dan nerakasebagai tempat balasan, tidak ada lagi umur tua, sakit dan matidiachirat, apa jang diingini oleh orang jang berbuat baik sampa,ada ampunan Tuhan, ada sjafaat Nabi Muhamad dan lain-lainurusan hari kemudian. Mereka pertjaja djuga dalam garis besar ada Luh Mahfud, adaQalam, ada Arasj, ada Kursi, tetapi menurut penafsiran merekasendiri, jang kadang-kadang sedikit berlainan dengan pendirianAsjari atau Ahli Sunnah wal Djamaah atau dengan penafsiranaliran-aliran Islam jang lain. Sebagaimana kita lihat, itikad Sjiah Imamijah sama denganitikad Ahli Sunnah wal Djamaah, bahkan sama mengenai persoa-lan chalifah sesudah wafat Nabi, jang semua mazhab mengatakanberdasarkan idjtihad, ketjuali mereka memilih chalifah itu dariketurunan Nabi Muhammad, karena tidak ada keturunan dari laki-laki, maka dipilihnja dari keturunan Ali bin Abi Thalib, jangsudah diakui saudara, pengganti dan menantunja Nabi, sehinggamereka terus-menerus berimam kepada keturunan Ali bin Abi Thalib itu, dan lantaran itu mereka dinamakan Sjiah Ali ataudengan ringkas Sjiah. Pernah seorang ulama besar Sjiah, Imam Abdul HusainSjarfuddin al"Musawi, ditanjai apa sebab-sebab Sjiah tidak maumengikuti salah sebuah mazhab djamhur Islam, dalam usuluddinmazhab Al-Asjiari dan dalam masaalah furu (fiqh) salah satudaripada Mazhab Empat, Hanafi, Sjafii, Maliki atau Hanbali. Al-Musawi mendjawab dalam kitabnja jang terkenal "Al-Mu^adjaaf" (Nedjef, 1963), dengan alasan-alasan Quran "dan Hadisjang menurut pendapat saja tidak dapat dibantah oleh seorangulama Sunni-pun dalam masanja, bahwa ibadat golongan Sjiahdalam usul tidak berpegang kepada Asjiari dan dalam furu tidakberpegang kepada salah satu Mazhab Empat, bukanlah karenamenjendiri dalam golongan atau taassub mazhab, dan bukan pulakarena ada keraguan tentang kebenaran idjtihad daripada imam-imam besar itu, bukan karena tidak adilnja, tidak ada amanahnja,tidak mendalam ilmunja dan sebagainja, terdjauh semuanja daripadapersangkaannja-persangkaan jang djahat itu. Tetapi katanja orang-orang Sjiah dikala ada perselisihan paham antara imam-imammazhab itu, sesuai dengan adjaran Quran dan pertundjuk Muham-mad, berpegang kepada perdjalanan atau mazhab Nabi Muhammad28
  45. 45. sendiri dan keluarga rumahaja, sumber tempat kedatangan risalah,sumber tempat kundjungan malaikat, tempat turun wahju Tuhankepadanja. Maka baik dalam furu, maupun dalam aqaid baikdalam usul fiqh maupun dalam kaidah-kaidahnja, baik dalammengenal sunnah maupun dalam mendalami isi Kitab Allah, dalamilmu achlak dan adab. dalam tjara menggunakan dasar dan alasanhukum, semua orang-orang Sjiah kembali kepada sumber pokok itu,dan beribadat dengan sunnah Nabi dan keluarganja (hal. 40Murtadjaat no. 4 ) . Kemudian Al-Musawi ini membahas alasan-alasan, mengapaSjiah harus berbuat demikian, diantara lain dikemukakannja,bahwa idjtihad, amanah, keadilan dan kebesaran, tidaklah teruntukbagi imam2 Sunni sadja. tetapi djuga, sebagaimana jang ditundjukKan oleîi Nabi sendiri djuga terdapat dari kalangan keluarganja.Dj.ka orang menuduh bahwa Sjiah rrienjeleweng daripada adjaranSale f as-Salih, karena tidak mengikuti imam-imam itu al-Musawjlaiiigatakan, bahwa selain daripada tingkat sahabat, sudah tidakada lagi orang mentjontoh djedjak Salf as-Salih, dan inilah pulasebabnja maka Sjiah ingin menghidupkan kembali adjaran itu agardekat kepada pengertian pesan Rasulullah, bahwa ,,sebaik-baikumatku adalah dim tiga kurun sesudah wafatku" (hadis) .Apakahdasar adjaran itu terikat kepada masa sadja atau tjara bertindakdalam menjelesaikan persoalan Islam ? Al-Musawi menerangkan nama 2 ulama jang hidup dalam tigakurun ini jang tidak berpegang kepada adjaran Salaf. Asjari dilahirkan tahun 270 H dan mati kira2 tahun 330 H. Ibn Hanbaldilahirkan tahun 164 H, dan mati tahun 241 H. Sjafii lahir tahun 150 H. mati tahun 204 H., Malik lahir th. 95 H. dan mati tahun 179 H. Abu Hanifah lahir tahun 80 H. dan mati tahun 150 H.Adakah mereka bersatu dalam pendirian mengenai furu dan men- dekai Salaf ? Oleh karena itu Sjiah mengambil mazhab imam-imam Ahlil Bait, sedang ummat Islam jang. lain beramal dengan mazhab Sahabat dan Tabiin. Al-Musawi bertanja : "Darimanakah alasan jang mewadjibkan ummat Islam bermazhab kepada mazhab mere- ka, dan tidak memperkenankan orang bermazhab kepada AhlilBait. Sedang mazhab Ahlil Bait ini djuga berpegang kepada Kitab Allah, kepada Sunnah Nabinja, kepada keluarga-keluarganja jang diwasiatkan harus ditaati, jang merupakan sampan jang dapat me- njelamatkan ummat, pemimpinnja, orang jang dapat dipertjajainja dan pintu ilmu pengetahuannya" (hal. 42). Perbedaan-perbedaan antara satu mazhab dengan mazhab lain dari Ahlus Sunnah wal Djamaah dalam masaalah furu tidakkurang banjaknja, disaksikan oleh ribuan kitab-kitab, bahkan ka- uang-kadang lebih banjak daripada perbedaan jang ada pada maz- hab Sjiah dengan salah satu daripada Mazhab Empat itu. misal- 29
  46. 46. nja dengan Sjafii. Mengapa orang ingin memaksakan kepadaummat Islam hanja Empat Mazhab itu sadja dan tidak Lima Maz-hab, jaitu ditambah dengan mazhab Ahlil Bait, mazhab jang di-anut oleh keluarga Nabi sendiri dan jang mereka landjutkan seka-rang ini. Demikian tanja Al-Musawi dalam kitabnja jang kita se-butkan namanja diatas ini. Baginja jang dimaksudkan dengan Ah-lil Bait, semua imam dari mazhab manapun djuga, jang sesuai amalibadahnja dengan Rasulullah dan keluarganja. Lllama-ulama, jangtidak sempit hatinja membenarkan pendirian ini, diantaranja lbnHadjar, jang pernah menerangkan, bahwa mazhab Ahlil Bait ituadalah mazhab jang dipimpin oleh ulama-uamanja jang piawai danaman, jang dapat memberikan pertundjuk sebagai bintang dil a ngit,jang apabila sewaktu-waktu ummat sesat dan meraba-raba, bin-tang-bintang itulah jang akan mendjadi perfundjuknja (Al-Mura -djaat hal. 53).30
  47. 47. II NABI MUHAMMAD DAN ALI
  48. 48. ta
  49. 49. ALI BIN ABI THALIB Ali bin Abi Thalib adalah anak paman Nabi, jang mengurusaan membela Nabi sedjak ketjil sampai ia diangkat mendjadiRasul dari pada penghinaan dan serangan Quraisj, bernama Abu Thalib anak Abdul Muttalib. Ibunja bernama Fathimah bintiAsad bin Hasjim, wanita Bani Hasjim jangi mula-mula masukIslam. Ali termasuk salah seorang dari rombongan sepuluh sahabat,lang sedjak masih hidup sudah didjamin Nabi masuk sorga. OlehNabi Muhammad, Ali didjadikan saudara angkatnja. Nabi me-ngawinkan Ali dengan anaknja jang bernama Fathimah Zahra,d]uga salah seorang wanita terdahulu masuk Islam, anak Nabijang ditjintainja dari perkawinan dengan Sitti Chadidjah. BaikAli maupun Sitti Chadiidjah, kedua-duanja merupakan modal per-djuangan dan kemenangan Nabi dalam menegakkan agama Islam.Nabi pernah berkata : "Islam berdiri karena pedang Ali danlarta Chadidjah" (Hasjim Maruf Al-Hasani, T a r k h u l FiqbilDjafari, t. tp. dan t. th., hal. 63). Ali bin Abi Thalib seorang jang banjak ilmunja, baik menge-nai rahasia ketuhanan (alim Rabbani), maupun mengenai segalapersoalan Islam dan umum. Bagaimana alimnja diterangkan da-lam sebuah hadis Nabi jang berbunji : "Aku kota ilmu pengeta-huan dan Ali pintunja." Tatkala hadis ini didengar oleh golonganChawaridj, mereka mendjadi dengki dan tjemburu, terhadap Ali.Bermufakatlah sepuluh orang alimnja masing-masing hendak ber-anjakan satu persoalan mengenai ilmu, untuk mengudji apakahAli betul-betul alim seperti jang dikatakan Nabi. I. bertanja : Manakah jang lebih utama, ilmu atau harta ? Ali : Ilmu lebih utama daripada harta karena imu itu pusaka Nabi-Nabi, sedang harta, pusaka Karun, Sjaddad dan Firaun. II. bertanja : Manakah jang lebih utama ilmu atau harta ? Ali : Ilmu, karena ilmu memelihara engkau, sedang- kan harta, engkaulah jang harus memeliharanja. III. bertanja : Manakah jang lebih utama ilmu atau harta ? Ali : Ilmu, karena harta menjebabkan banjak musuh, ilmu menjebabkan banjak teman sahabat. V
  50. 50. IV. bertanja Manakah jang lebih utama, ilmu atau harta ? Ali Ilmu, karena harta makin dikeluarkan makin kurang, sedang ilmu makin dikeluarkan makin bertambah. V. bertanja Manakah jang lebih utama, ilmu atau harta ? Ali Ilmu, karena orang punja harta kadang-ka- dang dapat dipanggil dengan nama kikir dan chizit. Sedang orang jang punja ilmu selalu dipanggil dengan nama megah dan mulia. VI. bertanja Manakah jang lebih utama, ilmu atau harta ? Ali Ilmu, karena harta banjak pentjurinja dan ilmu tidak ada pentjurinja. VII. bertanja Manakah jang lebih utama, ilmu atau harta ? Ali Ilmu, karena orang jang punja harta dihisab pada hari kiamat, sedang orang jang punja ilmu diberi sjafaat pada hari kiamat. VIII. bertanja Manakah jang lebih utama, ilmu atau harta ? Ali Ilmu, karena harta bisa habis karena lama ma- sanja, sedang ilmu tidak bisa habis meskipun tidak ditambah. IX. bertanja Manakah jang lebih utama, ilmu atau harta ? Ali Ilmu, karena ilmu membuat hati jang punja terang benderang, sedangkan harta membuat kasar hati jang punja. X. bertanja Manakah jang lebih utama ilmu, atau harta ? Ali Ilmu, sebab orang jang mempunjai ilmu terma- suk ubudijah. jang diberi pahala oleh Tuhan, sedangkan orang mempunjai harta termasuk rubudijah. Demikianlah kita batja tjeriteranja dalam "Mawaiz al-Usfu-rijah" jang menerangkan selandjutnja, bahwa orang-orang jangbertanja pada Ali itu jang achirnja mengakui akan luasnja ilmupengetahuan Ali dan bidjaksananja dalam memberikan djawabanatas satu-satu pertanjaan. Ali terkenal salah seorang sahabat Nabi jang paling beranidan gagah perkasa dalam peperangan. Hampir pada seluruh pe-perangan dalam masa Nabi dihadiri oleh Ali bin Abi Thal bdengan pedangnja jang terkenal, bernama Zulfikar. Ia terkenalpula sebagai seorang pahlawan jang diserahi tugas membawapandji-pandji Nabi. Dalam dunia tasawwuf dan tarekat Ali terkenal sebagai wa-liullah, jang selalu dipudji-pudji oleh orang-orang Sufi, karenamutiara hikmahnja jang pelik-pelik.34
  51. 51. Dalam hal berpidato dan sastera Ali terkenal sebagai salahseorang sasterawan jang lantjar dan sangat petah lidahnja. Pida- to-pidatonja ditjatat dan dikumpul orang mendjadi buku jang ber-djilid-djilid diantaranja bernama "Nahdjul Baliaghah". Disamping memangku djabatan Chalifah, jang diakui sah,Laik oleh Sjiah maupun oleh Ahli Sunnah wal Djamaah, Ali adalah seorang jang termasuk kedalam golongan penulis wahju,jang disampaikan oleh Nabi kepada umatnja, salah seorang pe-ngumpul Al-Quran dan penuils tafsirnja. Ali djuga adalah salahseorang chalifah jang pertama dari Bani Hasjim. Menurut penetapan Ibn Abbas, Anas bin Malik, Zaid binArqam, Salman Al-Farisi dan lain-lain sahabat jang banjak, bah-wa dialah orang jang mula-mula masuk Islam dan beriman padaNabi. Mengenai Ali banjak sekali ditulis orang riwajat hidupnja,jang ditindjau dari bermatjam-matjam segi hidup. Banjak hadis-hadis jang menerangkan keutamaan Ali melebihi sahabat jangkin-lain. Semua sahabat Nabi, besar dan ketjil segan kepadanja,dan tidak mau memutuskan perkara-perkara besar sebelum berun- I.ng dengannja. Ibn Taimijah mengatakan, bahwa tidak dapat disamakansirna sekali Muawijah dengan Ali dalam haknja mendjadi chali-fah. Muawijah tidak berhak mendjadi chalifah, karena dia tidakdapat menjamai Ali dalam ilmu pengetahuannja, dalam persoalanagamanja dan dalam keberaniannja, begitu djuga. dalam kelebihan-kelebihan jang lain dan keutamaannja jang hanja sama dengankeutamaan saudara-saudaranja Abu Bakar, Umar dan Usman.Tidak ada ketinggalan daripada teman-teman Nabi bermusjawa-rat sesudah Usman selain Ali. Ada Saad (bin Abi Waqqash ?)tetapi Saad telah melepaskan kesediaannja mendjadi chalifah,sehingga seluruh kesempatan ini kembali kepada Ali dan Usman,dan sesudah Usman terbunuh, bulat segala pikiran umum menge-nai kedudukan chalifah hanja untuk Ali. Muawijah jang menganggap dirinja chalifah sebenarnja be-lum diakui orang, dan diberikan sumpah setia tatkala ia memera-ngi Ali, dan Ali-pun tidak memerangi dia karena kedudukanMuawijah sebagai chalifah karena ia tidak berhak mendjadichalifah itu. Peperangan dimulai krena kezaliman, bukan karenarebutan chalifah, karena seluruh kesatuan pendapat, hanjalah Alijang diakui sebagai chalifah sesudah Usman. Demikian kita batja dalam kitab "Lawaihul Anwar", kara-ngan As-Safarini al-Hanbali. Dalam kitab itu kita batja lebihLndjut pendapat Ibn Taimijah, bahwa ia menolak segala fitnahdan sangka-menjangka ada perselisihan antara Ali dan Usman,ia menuduh dusta pendapat orang jang mengatakan, bahwa Ali 55
  52. 52. memerintah membunuh Usman bin Affan, jang sekali-kali tidakmasuk dalam akal jang waras. Ali bersumpah, bahwa ia tidakmembunuh Usman dan tidak rela atas pembunuhan itu, dan sum-pah Ali itu dalam sedjarah hidupnja benar dan tidak diperselisih-kan orang. Ibn Taimijah menerangkan bahwa ada -dua golonganmanusia, golongan jang mentjintai Ali dan golongan jang mem-bentjinja. Golongan jang mentjintainja mengandung niat menen-tang Usman dan berpendapat bahwa Usman berhak dibunuh.Golongan jang membentjinja menentang Ali dan menuduhnja,bahwa ia sekurang-kurangnja membantu atas pembunuhan Usmandan tidak mentjegah pertumpahan darah. Perbedaan paham inilalu menimbulkan dua golongan, dalam Islam, jaitu golonganUsmanijah dan golongan Sjiah. Bagaimanapun djuga perbe-daan pahamnja, kedua golongan ini berpendirian, bhwa Muawi-jah bukan saingan Ali untuk mendjadi chalifah Nabi sesudahwafat Usman. Ibn Taimijah melandjutkan tjeriteranja, bahwa sesudah pem-bunuhan Usman, segera pada keesokan harinja dilakukan sumpahsetia serempak terhadap Ali. Orang datang berdujun-dujun ke-padanja dan berkata : "Bentangkan tanganmu, kami akan ber-sumpah setia kepadamu !" Begitu besar tjinta umat Islam ketikaitu kepada Ali. Tetapi Ali masih menampik desakan massa itudengan utjapannja : "Penetapan ini bukan urusanmu. Hanja AhliBadarlah jang berhak menetapkan aku mendjadi chalifah atautidak mendjadi chalifah." Semua Ahli Badar ketika itu menda-tangi Ali dan berkata : "Kami tidak melihat seorangpun selainengkau jang berhak mendjadi chalifah. Bentangkan tanganmu dankami akan memberikan sumpah setia kami kepadamu !" Makaberlakulah sumpah setia jang sah terhadap keangkatan Ali men-djadi chalifah (hal. 11:326). Disini terdjadilah pokok permusuhan. Marwan dan anaknjalari dari orang banjak itu untuk membuat onar. Sesudah Ali diangkat mendjadi chalifah, barulah ia berasaberhak memeriksa perkara-pembunuhan atas diri Usman, melaluiisterinja dan orang-orang jang dianggap mendjadi saksi atau me-lihat dan mengetahui kedjadian itu. Ia memukul anaknja Hasan,mengetjam Muhammad bin Thalhah karena dianggapnja kurangrapi mendjalankan tugas dalam mendjaga keselamatan diri Us-man. Ada orang mengatakan bahwa Thalbah dan Zubair tjumamelakukan sumpah setia karena terpaksa, kemudian mereka pergike Mekkah mengadjak Aisjah pergi ke Basrah menuntut bela atasdarah Usman. Maka terdjadilah peperangan Djamal dalam bulanDjumadil Achir tahun 36 H. Dalam peperangan ini tidak kurangterbunuh manusia dari tiga belas ribu djiwa banjaknja. Muawijahdan tentara-tentaranjapun keluar dari Sjam menuntut bela kema-36
  53. 53. tian Usman kepada Ali. Tjeritera tentang perbedaan dan perseli-sihan ini akan kita bahas dalam bahagian tersendiri setjara terpe-rintji. Orang membitjarakan dalam hukum tentang keutamaan sa-habat, mana jang lajak mendjadi chalifah lebih dahulu sesudahwafat Nabi. Ahli Sunnah wal Djamaah, jang terdiri dari golo-ngan Asarijah, Asjarijah dan Maturidijah, menetapkan tertibchaliffah sebagai berikut : Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali.Semua ulama sepaham dan sependirian, bahwa jang berhak men-djadi chalifah sesudah Nabi ialah Abu Bakar sebagai chlifah Idan Umar sebagai chaliffah ke II. Dibelakang itu terdapat perse-lisihan paham. Ahmad dan Imam Sjafii, begitu djuga pendapatjang masjhur dari Imam Malik, jang terutama sesudah Abu Ba-kar dan Umar ialah Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.Ulama-ulama Kufi, diantaranja Sufjan As-Sauri, mengutamakanAli lebih dahulu daripada Usman. Ada ulama jang memutuskan,tidak boleh membitjarakan, mana jang lebih utama daripada Us-man dan Ali. Ditjeriterakan orang, bahwa Abu Abdullah al-Mazari pernahmenerangkan, bahwa pada suatu hari Malik ditanjai orang mana-kah orang-orang jang utama sesudah Nabi. Ia mendjawab AbuBakar, sesudah itu Umar, kemudian ia diam. Lalu orang katakan,bahwa Imam Malik ragu dan minta kepastian antara Ali dan Us-man. Dengan terpaksa Imam Malik mengatakan : "Saja belumpernah mendapati seorang sahabat jang membeda-bedakan ke-utamaan antara Usman dan Ali. Susunan keutamaan sebagai jang disebut diatas tentu dilihatdari sudut hukum, tapi djika dilihat dari sudut kekeluargaan dannasab, tidak ada seorangpun jang berani mengatakan, bahwakeutamaan Ali tidak melebihi daripada segala sahabat jang ada.Abu Bakar sendiri jang menurut kebulatan pikiran umum seorangsahabat Nabi jang utama sekali, masih mengakui Ali lebih afdhaldari dia. Ditjeriterakan orang, bahwa Nabi pada suatu hari menge-mukakan pengadjaran kepada sahabat-sahabatnja. Karena penga-djaran itu sangat penting semua orang ber-desak 2 duduk dekatNabi, agar dapat mendengar dengan baik. Ali datang kemudian,den oleh karena tidak ada tempat lagi dekat Nabi ia terpaksaberdiri djauh. Tidak ada seorangpun jang mau mengalah membe-rikan tempat duduk dekat Nabi kepadanja. Abu Bakar melihatAli dalam keadaan demikian, lalu segera ia bangun dan membe-rikan tempat duduknja jang dekat kepada Nabi kepada Ali. Nabi,jang dengan matanja jang tadjam melihat keadaan Abu Bakarmenghormati Ali, lalu berkata : "Tidak mengerti akan keutamaan,melainkan orang jang utama djuga." 37
  54. 54. Ulama-ulama Sjiah melihat Ali bin Abi Thalib sebagai sa-habat Nabi jang paling utama, dan menetapkannja dengan nashNabi berhak mendjadi chalifah sesudah Nabi. Mughnijah mene-rangkan, bahwa sedjarah Sjiah adalah sedjarah keterangan Nabi,bahwa jang berhak mendjadi chalifah sesudah wafatnja ialah Alibin Abi Thalib. Dan banjak sekali sahabat-sahabat besar jangmelihat keutamaannja dan kechalifahannja itu mutlak. Ibn AbilHadid menjebut diantara sahabat-sahabat besar itu ialah Ammarbin Jasar, Miqdad bin Aswad, Abu Zarr, Salman al-Farisi, Djabiibin Abdullah, Ubay bin Kaab, Huzaifah al-Jamani, Buraidah,Abu Ajjub al-Anshari. Sahal bin Hanief, Usman bin Hanief, AbuiHaisam bin Taihan, Abu Thufai, dan semua Bani Hasjim, semua-nja mengatakan bahwa keutamaan mutlak bagi Ali dan chalifahpertamapun baginja. Ditjeriterakan bahwa Salman al-Farisi pernah menerangkan:"Kami bersumpah kepada Rasulullah untuk memberi nasihat ke-pada kaum muslimin dan mengimami Ali bin Abi Thalib sertamenganggapnja wali. Abu Said al-Chudri pernah berkata : "Ma-nusia diperintahkan Tuhan mengerdjakan lima perkara, tetapijang dikerdjakannja hanja empat, sedang jang satu perkara lagiditinggalkan." Tatkala orang menanjakan kepadanja, apa empatperkara jang dikerdjakan orang itu, ia mendjawab : "sembahjang,zakat, puasa dan hadji". Tatkala ditanjakan orang apakah jangsatu perkara jang tidak dikerdjkan, ia mendjawab : "Mengakupimpinan kepada Ali bin Abi Thalib". Tatkala orang bertanjakepadanja, apakah itu diwadjibkan dalam Islam, ia mendjawab :"Memang itu diwadjibkan, sebagaimana diwadjibkan shalat, za-kat, puasa dan hadji". Sahabat-sahabat jang sependapat dengan itu dapat kita se-butkan misalnja Abu Zar al-Ghiffari. Ammar Jasir, Huzaifah al-Jamani, Abu Ajjub al-Anshari, Chalid bin Said dan Qais binUbbadah Ada orang berpendapat, bahwa Sjiah itu lahir pada hari pe-perangan Djamal, ada jang mengatakan, bahwa ia lahir pada haritimbulnja golongan Chawaridj. Thaha Hussain dalam kitabnja"AU wa Banuhu", mengatakan bahwa Sjiah itu tersusun sebagaiSiiatu partai politik jang teratur untuk mempertahankan Ali dananak-anaknja, terdjadi dalam masa Hasan bin Ali. Mughnijah dalam kitabnja "Asj-Sjiah wal Hakimyn" (Beirut,1962) menerangkan, bahwa pendapat jang mengatakan, bahwaSjiah itu didirikan oleh Abdullah bin Saba, adalah tidak benar,dan utjapan ini dikeluarkan oleh mereka jang tidak memahamiSjiah serta sedjarahnja (hal. 18).38
  55. 55. 2. NABI M U H A M M A D D A N ALI Orang-orang Sjiah mengemukakan hadis-hadis jang dapatmendjelaskan persaudaraan djiwa antara Nabi Muhammad danAli bin Abi Thalib. Dan sampai dimana pula Ali dapat mewarisisifat-sifat Nabi jang ditjintai. Dapat pula kami menarik kesimpul-an, bahwa Nabi meratakan djalan chalifah bagi Ali dalam batas -batas dan sjarat-sjarat jang ditetpkan dalam Islam. Nabi bersabda: "Memandang muka Ali adalah suatu ibadat" 1), dan djugasabda Nabi : "Siapa jang mengganggu Ali, maka berarti ia menggangguaku." Al-Jaqubi dalam sedjarahnja bahagian ke II mengatakanbahwa Nabi sewaktu kembali dari menunaikan ibadah hadjinjajang penghabisan pada suatu malam, menudju ke Medinah. Se-sampainja ditelaga Chum, pada tanggal 18 Zulhidjdjah, dimanaNabi berpidato seraja memegang tangan Ali. Diantaranja beliaubersabda : "Siapa jang mengaku bahwa aku sebagai walinja, maka Aliinilah Walinja. Hai Allah, sokonglah seseorang jang menjokong-n)a dan musuhilah seseorang jang memusuhinja" 2). Dikatakan dalam Tafsir Fachru ar-Razi bahwa setelah ituUmar bin Chattab mengatakan pada Ali sebagai berikut : "Aku memberi selamat kepadamu. Karena engkau sekarangtelah mendjadi wali bagi tiap-tiap Mumin." Hadis ini disebut oleh ahli sedjarah jang banjak dan disebutpula oleh ulama-ulama seperti Turmudzi, Nasaie dan Ahmad binHanbal dan diriwajatkan oleh 16 sahabat Nabi. Djuga disebut-sebut oleh ahli-ahli sedjarah dan sastera sebagai Hasan bin Tsa-bit, Abu Taman al-Thaie dan Al-Kumait al-Asadi. Dalam kitab Al-Aal karangan Ibnu Chalweh mengisahkanbahwa Nabi pernah mengatakan kepada Ali : "Mentjintaimu itu adalah iman, dan membentjimu itu sifatmunafik, dan pertama-tama orang jang masuk sorga ialah jangrientjintaimu, dan jang pertama-tama masuk neraka ialah jangmembentjimu."1) Thabari dari Ibnu Masud.2) Diriwajatkan oleh Saad bin Abi Waqas. 39

×