Tebu
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Tebu

on

  • 5,956 views

 

Statistics

Views

Total Views
5,956
Views on SlideShare
5,953
Embed Views
3

Actions

Likes
1
Downloads
115
Comments
1

1 Embed 3

https://twitter.com 3

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Tebu Tebu Document Transcript

  • ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI GULA DI PG PAGOTTAN Oleh: TUTIK WIDARWATI A14104134 PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008
  • RINGKASANTUTIK WIDARWATI. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi ProduksiGula di PG Pagottan. Di bawah bimbingan HARMINI. Gula merupakan salah satu bahan pangan pokok yang memiliki artipenting dan posisi yang strategis di Indonesia karena sebagian besar masyarakatIndonesia mengkonsumsi gula. Permintaan gula akan terus meningkat tiaptahunnya seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk, peningkatan daya belimasyarakat, dan pertumbuhan industri yang menggunakan gula sebagai bahanbakunya. Permintaan gula yang meningkat disebabkan konsumsi gula rumahtangga di Indonesia yang mengalami kecenderungan yang meningkat dari tahun2003 sampai tahun 2007. Meskipun terjadi peningkatan terhadap produksi gulanasional namun angka produksi tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan guladalam negeri. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan gula nasional Indonesia harusmelakukan impor gula. Ketidakmampuan Indonesia dalam memenuhi kebutuhan gula dalamnegeri disebabkan karena masih rendahnya produksi gula nasional. Rendahnyaproduksi nasional antara lain disebabkan oleh : (1) Penurunan luas danproduktivitas lahan, (2) Rendahnya rendemen industri gula Indonesia, (3)Efisiensi pabrik gula yang masih rendah. Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan di lapang, maka diketahuibahwa kondisi inefisiensi produksi tersebut diduga juga dialami oleh PG Pagottanyang salah satunya diindikasikan oleh kualitas pasokan bahan baku tebu(rendemen) yang masih rendah. Selain itu terjadi kecenderungan pemanfaatantenaga kerja yang berlebihan di dalam menjalankan kegiatan produksinya. Sesuaidengan kondisi yang terdapat di PG Pagottan maka penelitian ini bertujuan untuk :(1) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi gula di PG Pagottandan (2) Menganalisis tingkat efisiensi kegiatan produksi gula di PG Pagottan. Penelitian ini dilaksanakan di PG Pagottan Madiun yang merupakan salahsatu pabrik gula yang berada di bawah pengelolaan PTPN XI wilayah kerja JawaTimur. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Mei 2008. Data utama yangdigunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder, meliputi: data output, input,serta biaya rata-rata kegiatan produksi gula di PG Pagottan dari tahun 2001 hinggatahun 2007. Analisis data yang dilakukan menggunakan model fungsi produksi Cobb-Douglas yang diolah dengan pendugaan OLS (Ordinary Least Square). Kemudiandilanjutkan dengan analisis terhadap efisiensi kegiatan produksi gula, denganasumsi terdapat kendala biaya. Pertumbuhan total produksi gula sejak tahun 2001hingga tahun 2007 menunjukkan kecenderungan peningkatan sebesar 3,48 persenper periode. Peningkatan ini dipengaruhi oleh kecenderungan peningkatanproduksi gula tebu sendiri (TS) dan tebu rakyat (TR) masing-masing sebesar 8,73persen per periode dan 23,38 persen per periode. Peningkatan produksi gula TRterjadi tidak hanya karena perluasan areal tetapi juga disebabkan oleh perbaikanmutu intensifikasi budidaya dan introduksi varietas unggul pada areal bongkarankeprasan. Peningkatan juga terjadi pada jumlah tebu yang dipasok, rendemen, dantenaga kerja musiman. Sedangkan lama giling, jam mesin, dan bahan pembantumengalami kecenderungan yang menurun.
  • Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi produksi gula di PG Pagottan,yaitu jumlah tebu, rendemen, jam mesin, tenaga kerja tetap, tenaga kerjamusiman, bahan pembantu, dan lama giling. Dari hasil analisis regresi denganmemenuhi asumsi OLS (uji normalitas, homoskedastisitas, non autokorelasi, tidakterdapat gejala multikolinearitas) dan uji statistik , maka diperoleh faktor-faktoryang secara nyata berpengaruh terhadap produksi gula di PG Pagottan. Faktor-faktor produksi tersebut, yaitu jumlah tebu, rendemen, jam mesin, dan tenagakerja pada selang kepercayaan 95 persen . Nilai koefisien regresi dari faktor-faktor produksi tersebut masing-masing sebesar 0,066, 1,01, 1,03, dan -0,239.Nilai elastisitas yang negatif menunjukkan bahwa jika terdapat peningkatan satupersen tenaga kerja maka akan mengurangi produksi gula sebesar 0,239 persen. Selanjutnya dilakukan analisis efisiensi penggunaan faktor produksi didalam kegiatan produksi gula. Dalam penelitian ini faktor-faktor produksi yangdiukur tingkat efisiensinya adalah jumlah tebu karena faktor tersebut dapat diukurtingkat harganya dan memenuhi syarat Cobb-Douglas, yaitu nilai koefisienregrresi dari faktor poduksi tersebut antara nol dan satu.. Dengan menghitung nilairasio antara NPM (Nilai Produk Marjinal) dan BKM (Biaya Korbanan Marjinal)diketahui bahwa nilai rasio antara NPM dan BKM faktor produksi jumlah tebusebesar 0,01menunjukkan bahwa penggunaan bahan baku belum efisien.Berdasarkan rasio Nilai Produk Marjinal (NPM) dan Biaya Korbanan Marjinal(BKM) dari faktor produksi jumlah tebu yang tidak sama dengan satu, maka dapatdisimpulkan bahwa penggunaan faktor produksi belum efisien. Penggunaan bahanbaku tebu dalam produksi gula harus mencapai kondisi optimal agar efisiensidapat tercapai. Kondisi optimal dari penggunaan factor produksi ini terjadi apabilarasio NPM dan BKM dari faktor produksi harus sama dengan satu.
  • ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI GULA DI PG PAGOTTAN Oleh : TUTIK WIDARWATI A14104134 Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008
  • Judul Skripsi : Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Gula di PG PagottanNama : Tutik WidarwatiNRP : A14104134 Menyetujui, Dosen Pembimbing Skripsi Ir. Harmini, MS NIP. 131 688 732 Mengetahui Dekan Fakultas Pertanian Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M. Agr NIP. 131 124 019Tanggal Lulus :
  • PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANGBERJUDUL ”ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHIPRODUKSI GULA DI PG PAGOTTAN” BENAR-BENAR HASIL KARYASENDIRI DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGILAIN ATAU LEMBAGA MANAPUN. SUMBER INFORMASI YANGBERASAL ATAU DIKUTIP DARI KARYA YANG DITERBITKAN MAUPUNTIDAK DITERBITKAN DARI PENULIS LAIN TELAH DISEBUTKANDALAM TEKS DAN DICANTUMKAN DALAM DAFTAR PUSTAKA DIBAGIAN AKHIR SKRIPSI INI. Bogor, September 2008 Tutik Widarwati A14104134
  • RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Bogor, Jawa Barat pada tanggal 14 Agustus 1986dari keluarga Bapak Darno dan Ibu Minten Widarti. Penulis merupakan anakpertama dari dua bersaudara. Pendidikan akademis penulis dimulai sejak tahun 1991 dengan bersekolahdi TK Islam Wahyu, Cimanggis, Depok. Pendidikan dasar diselesaikan penulis diSD Negeri Curug IV Depok pada tahun 1998, yang dilanjutkan denganpendidikan lanjutan tingkat pertama di SLTP Negeri 1 Cimanggis sejak tahun1998 hingga tahun 2001. Tahun 2004 penulis lulus dari SMA Negeri 3 Depok danpada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Seleksi PenerimaanMahasiswa Baru (SPMB). Penulis diterima sebagai mahasiswa Program StudiManajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian.
  • KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas segalarahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudulAnalisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Gula di PG Pagottan sebagaisyarat untuk melakukan penelitian yang menjadi bagian dari penelitian skripsipada Program Studi Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Institut PertanianBogor. Skripsi ini berisi tentang penelitian mengenai PG Pagottan sebagai suatuentitas usaha yang bergerak dalam pengolahan gula. Penelitian yang akandilakukan berupaya untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhiproduksi gula di PG Pagottan serta tingkat efisiensi faktor-faktor produksitersebut. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca, dan dapat diterima sebagisyarat dalam penelitian skripsi. Bogor, September 2008 Penulis
  • UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat, hidayah serta karunia-Nya kepada kita semua dan shalawat beserta salam senantiasa tercurah kepadaNabi Muhammad SAW, keluaraga, sahabat serta para pengikutnya hingga akhirzaman. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini tidak terlepas darikerjasama dan bantuan dari semua pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan inipenulis mengucapkan terima kasih kepada:1. Ir. Harmini, MS, sebagai dosen pembimbing skripsi, yang tak hentinya memberikan nasihat, motivasi dan masukan yang sangat berguna demi kesempurnaan skripsi penulis.2. Dr.Ir. Nunung Kusnadi, MS, sebagai dosen penguji utama.3. Etriya, SP,MM, sebagai dosen penguji wakil komisi pendidkan.4. Amzul Rifin, SP. M. A. sebagai dosen Pembimbing Akademik yang juga memberikan masukan, saran dan kritikan serta motivasi selama penulis menyusun skripsi ini.5. Bapak Gampil, Bapak Arysad sebagai SKW Bagian Tanaman PG Pagottan yang telah memberikan banyak informasi kepada penulis.6. Bapak Darno, Mas Yiyin, Mba Riski, Mba Yeni atas kerjasama yang baik selama penulis melakukan penelitian.7. Pak Whumy, Pak Adit, Pak Budi, Pak Joseph yang banyak memberikan data dan informasi penting kepada penulis, pelajaran singkat mengenai gula, browsing gratis, dan kemudahannya lainnya yang telah diberikan kepada penulis.8. Dosen-dosen IPB yang telah memberikan ilmunya kepada penulis.
  • 9. Mas Ferry, Mba Etriya, Mas Yeka, Mas Arif, Mba Anita dan dosen lainnya yang pernah menjadi asdos dan memberikan ilmunya kepada penulis.10. Mba Dian, Mba Dewi, Ibu Ida dan staff lainnya atas bantuannya kepada penulis dalam mengurus birokrasi.11. Kedua orang tuaku, ibu dan bapak yang selalu memberikan bantuan baik dukungan moril maupun dukungan semangat serta kasih sayang yang tak hentinya dicurahkan kepada penulis.12. Adikku tercinta Ayub Dwi Prasetyo yang selalu meramaikan rumah dengan keisengan dan kejailannya.13. Sahabat-sahabat terbaikku di dunia Rizki Amelia, Sevia Fitrianingsih, Nur Novita Zayanty, Adisti Meisafitri, Imas Nunik Handayani, Rizal Syahrudin, Yustika Muharastri atas keceriaan, kebahagiaan, suka dan duka selama empat tahun. Semoga persahabatan kita akan selalu abadi, amin ya robbal alamin. Terimakasih setulusnya kuucapkan untuk kalian semua.14. Purdiyanti Pratiwi, Tantri Dewi Putriana, Nurhayati Zaenal, Vera Nova Gustrin, Jane Langking, dan Prety Elisabeth atas kebersamaan di rumah kontrakan Pak Ukun.15. Ss, Aries, Tejo, Yanti, Lukman, Neng-Q, Wanti, Rudi, Sastrow, Effendi, Pak De, Dian, serta teman-teman AGB 41 lainnya yang tidak bisa disebutkan satu-persatu, terimakasih atas kebersamaannya selama kuliah di IPB, menjadikan empat tahun ini warna-warni yang indah dalam hidupku, sungguh beruntung mengenal kalian semua.
  • 16. Madyastato Prabudi, seseorang yang baik hatinya, memotivasi penulis dan dengan tulus serta sabar membantu dan memfasilitasi penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. Ni shi wo de hen ke ai nanpengyou.17. Tante-tanteku tercinta Lek Nur dan Lek Pis, terimakasih Lek atas pelajaran hidup yang bermakna.18. Sepupu perempuanku Ayu, yang dengan baiknya membantu penulis untuk mentranslet buku-buku asing. Danke.19. Teman-teman KKP desa Cikadu Cita, Rena, dan Roni terimakasih atas kebersamaannya selama masa KKP, pengalaman tak terlupakan.20. Fotocopy Prima yang banyak membantu terwujudnya skripsi ini serta pihak- pihak yang banyak membantu penulis selama penyusunan skripsi.
  • DAFTAR ISI HalamanDAFTAR ISI ..................................................................................................... xiDAFTAR TABEL ........................................................................................... xiiiDAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xivDAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xvI PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1 1.2 Perumusan Masalah ............................................................................. 6 1.3 Tujuan Penelitian ................................................................................. 7 1.4 Kegunaan Penelitian ............................................................................ 7 1.5 Ruang Lingkup Penelitian .................................................................... 8II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Umum Komoditi Tebu ........................................................ 9 2.2 Pengusahaan Tebu ............................................................................. 12 2.3 Pengusahaan Pabrik Gula ................................................................... 15 2.4 Jenis Gula .......................................................................................... 16 2.5 Penelitian Terdahulu .......................................................................... 18III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Teori dan Fungsi Produksi ...................................................... 22 3.1.2 Konsep Efisiensi Produksi ...................................................... 31 3.2 Kerangka Pemikiran Operasional ....................................................... 36IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian .............................................................. 39 4.2 Sumber dan Jenis Data ....................................................................... 39 4.3 Metode Analisis Data ......................................................................... 40 4.4 Pengukuran Variabel .......................................................................... 45V GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 5.1 Sejarah dan Struktur Organisasi Perusahaan 5.1.1 Sejarah Perusahaan ................................................................. 49 5.1.2 Struktur Organisasi Perusahaan............................................... 50 5.2 Tinjauan Geografis dan Iklim ................................................................ 53 5.3 Kemittraan Antara Pabrik Gula dan Petani ............................................ 54 5.4 Perkembangan Produksi Pabrik ............................................................. 55
  • 5.5 Agribisnis Gula 5.5.1 Usahatani Tebu ....................................................................... 62 5.5.2 Pengolahan Tebu .................................................................... 66 5.5.3 Distribusi Gula ....................................................................... 73VI EFISIENSI PRODUKSI GULA PASIR 6.1 Pemilihan Model Fungsi Produksi...................................................... 75 6.2 Analisis Elastisitas Produksi............................................................... 80 6.3 Analisis Efisiensi ............................................................................... 83VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan ........................................................................................ 87 7.2 Saran.................................................................................................. 88DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 89LAMPIRAN ..................................................................................................... 91 xii
  • DAFTAR TABELNomor Halaman1. Perkembangan Konsumsi dan Produksi Gula Indonesia Tahun 2003-2007 .... 22. Perkembangan Impor Gula Indonesia Tahun 2003-2007 ............................... 33. Realisasi Produksi PG Pagottan Tahun 1997-2007 ........................................ 64. Jenis dan Sumber Data ................................................................................ 405. Varietas Tebu yang Digunakan PG Pagottan ............................................... 636. Standardisasi Mutu Gula Kristal Putih......................................................... 727. Hasil Pendugaan Fungsi Produksi Gula dengan Tujuh Faktor Produksi ....... 768. Hasil Pendugaan Fungsi Produksi Gula Setelah Uji Validitas Asumsi OLS 799. Rasio Nilai Produk Marjinal dengan Biaya Korbanan Marjinal Kegiatan Produksi Gula Pasir pada PG Pagottan per Periode...................................... 85
  • DAFTAR GAMBARNomor Halaman1. Proses Terbentuknya Gula di dalam Batang Tebu ....................................... 102. Fungsi Produksi Klasik dan Tiga Tahap Produksi........................................ 283. Bagan Kerangka Pemikiran Operasional ..................................................... 384. Struktur Organisasi PG Pagottan ................................................................. 515. Bagan Pemasaran Gula di PG Pagottan ....................................................... 74
  • DAFTAR LAMPIRANNomor Halaman1. Luas Areal dan Produksi Gula Indonesia Tahun 1996-2008.......................... 922. Angka Produksi PG Pagottan Tahun 2001-2007 ........................................... 933. Pertumbuhan Produksi PG Pagottan Tahun 2001-2007 ................................. 964. Perkembangan Luas Areal PG Pagottan ....................................................... 975. Hasil Analisis Regresi dengan Tujuh Faktor Produksi .................................. 986. Hasil Analisis Regresi Setelah Uji Validitas Asumsi OLS ............................ 997. Hasil Visual Uji Normalitas Analisis Regresi Tujuh Faktor Produksi ......... 1008. Hasil Visual Asumsi Homoskedastisitas Analisis Regresi dengan Tujuh Faktor Produksi ..................................................................................................... 1019. Hasil Visual Uji Normalitas Analisis Regresi Setelah Uji Validitas Asumsi OLS ........................................................................................................... 10210. Hasil Visual Asumsi Homoskedastisitas Analisis Regresi Setelah Uji Validitas Asumsi OLS .............................................................................................. 10311. Dokumentasi PG Pagottan.......................................................................... 104
  • I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Gula merupakan salah satu bahan pangan pokok yang memiliki artipenting dan posisi yang strategis di Indonesia. Meskipun telah beredar bahan-bahan pemanis lainnya, seperti : madu, gula merah, fruktosa, glukosa dan gulatropika namun preferensi masyarakat Indonesia terhadap gula tebu masih lebihtinggi. Alasan kepraktisan (bentuk butiran), ketersediaan, dan berbagai kelebihanlainnya menjadikan gula tebu sebagai pilihan utama (Churmen, 2001). Hal inimengindikasikan bahwa permintaan gula akan terus meningkat tiap tahunnyaseiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk, peningkatan daya beli masyarakat,dan pertumbuhan industri yang menggunakan gula sebagai bahan bakunya1. Permintaan gula yang meningkat disebabkan konsumsi gula rumah tanggadi Indonesia mengalami kecenderungan yang meningkat dari tahun 2003 sampaitahun 2007 (Tabel 1). Kecenderungan konsumsi yang meningkat seiring denganmeningkatnya produksi gula. Namun, besarnya jumlah konsumsi gula tersebuttidak diimbangi dengan jumlah produksi gula. Hal tersebut menyebabkanterjadinya ketidakseimbangan antara produksi dengan kebutuhan dalam negeriyang terus meningkat. Pada Tabel 1 dapat dilihat nilai produksi gula nasional pada tahun 2003hanya sebesar 1,63 juta ton padahal nilai konsumsi gula saat itu mencapai 2,29juta ton. Kemudian pada tahun 2007 produksi gula nasional mengalami kenaikansebesar 4,7 persen dibandingkan tahun 2006 menjadi 2,42 juta ton, namun angka1 Simatupang, Pantjar. 2005. Analisis Kebijakan Tentang Kebijakan Komprehensif Pergulaan Nasional. www.pse.litbang.deptan.go.id diakses 10 April 2008.
  • 2ini masih belum dapat memenuhi kebutuhan gula dalam negeri yang mencapai2,69 juta ton. Peningkatan produksi gula nasional yang terjadi lima tahun terakhirdisebabkan oleh kebijakan yang dikeluarkan pemerintah mengenai penetapanharga provenue gula pasir produksi petani yang bertujuan untuk menghindarikerugian petani dan mendorong peningkatan produksi. Selain itu pemerintah jugamenetapkan tarif spesifik untuk impor gula mentah sebesar Rp 550 per kilogram(setara 20 persen) dan gula putih Rp 700 per kilogram (setara 25 persen) yangberlaku hingga sekarang untuk merangsang petani menanam tebu.Tabel 1 Perkembangan Konsumsi dan Produksi Gula Indonesia Tahun 2003-2007 Konsumsi Gula Rumah Kekurangan Tahun Produksi Gula (ton) Tangga (ton) (ton) 2003 2.294.539 1.634.918,9 1.435.105,3 2004 2.442.000 2.051.643,8 825.304,1 2005 2.625.540 2.241.742,0 151.126,2 2006 2.664.135 2.307.027,0 383.798,0 2007 2.699.832 2.415.625,0 357.108,0Sumber : Sekretariat Dewan Gula Indonesia, 2007 Salah satu penyebab rendahnya produksi gula nasional adalah bersumberdari penurunan luas areal dan penurunan produktivitas. Sebagai contoh, rendemenyang dicapai pada tahun 1970-an masih sekitar 10 persen, sedangkan rata-ratarendemen pada sepuluh tahun terakhir hanya 7,19 persen (Lampiran 1).Menurunnya rendemen tersebut selain disebabkan oleh faktor teknis di usahatanitebu dan belum selarasnya hubungan antara PG dan petani, faktor teknis di pabrikjuga menjadi faktor penyebab (Susila, 2005). Rendahnya produktivitas usahatani tebu Indonesia disebabkan rendahnyaproduktivitas ton tebu per hektar maupun rendemen yang dihasilkan oleh tebu.Rendahnya produktivitas berkaitan dengan teknik budidaya yang belum optimaldan belum terpadunya jadwal tanam dan tebang/giling antara petani dan PG.
  • 3Kurang terpadunya jadwal tanam dan tebang mempunyai pengaruh yangsignifikan terhadap produktivitas, khususnya yang berkaitan dengan rendemen.Rendemen yang terus menurun juga berkaitan dengan rendahnya efisiensi ditingkat pabrik. Angka rata-rata rendemen selama sepuluh tahun tersebut masih jauh dibawah target rendemen rata-rata Program Akselerasi Peningkatan ProduktivitasGula Nasional sebesar 8,79 persen2. Adanya inefisiensi di pabrik gula inidisebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, kondisi pabrik gula, terutama yang adadi Jawa, umumnya sudah tua sehingga tidak dapat mencapai efisiensi yangmaksimal. Berbagai upaya untuk melakukan pembaharuan beberapa peralatanmasih belum mampu menghilangkan inefisiensi secara maksimal, baik karenaketerbatasan dana maupun teknologi (PTPN XI, 2000). Faktor kedua adalahketerbatasan ketersediaan jumlah bahan baku sehingga pabrik beroperasi dibawahkapasitas optimal (Susila, 2005). Dalam mencukupi kebutuhan gula dalam negeri gula dalam negeri,pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang tataniaga impor gula yang mulaidiberlakukan sejak tahun 1967. Dari tahun 1993 hingga tahun 2004 impor gulaIndonesia terus mengalami peningkatan. Oleh karena itu, untuk mengurangiketergantungan pada impor pada pertengahan tahun 2004 pemerintahmengeluarkan kebijakan melalui SK Memperindag No. 527/2004 tentangKetentuan Impor Gula. Dalam SK tersebut disebutkan bahwa institusi yangdiizinkan untuk mengimpor gula (IT) adalah PTPN IX, PTPN X, PTPN XI, PT.2 RR Ariyani. 2006. Rendemen Gula PTPN XI Rendah. www.tempointeraktif.com diakses 10 April 2008.
  • 4RNI, dan PT. PPI3. Selain itu, pada tahun 2007 pemerintah telah menerbitkanpersetujuan impor gula kristal putih sebesar 250.000 ton kepada para importirterdaftar (IT) gula dan PT. PPI (Perusahaan Perdagangan Indonesia) untukmemenuhi kebutuhan dan mengantisipasi terjadinya defisit stok gula nasional4.Impor gula Indonesia mengalami fluktuatif dari tahun 2003 sampai tahun 2007(Tabel 2). Pada tahun 2003, Indonesia mengimpor gula sebesar 647 ribu ton.Sedangkan tahun 2007, impor Indonesia mencapai 448 ribu ton.Tabel 2 Perkembangan Impor Gula Indonesia Tahun 2003-2007 Tahun Impor Gula (ton) 2003 647.908 2004 256.644 2005 453.160 2006 216.490 2007 448.681Sumber : Sekretariat Dewan Gula Indonesia, 2007 PTPN XI merupakan salah satu institusi yang berperan dalam produksigula nasional. Pada tahun 2008, produksi gula oleh PTPN XI diperkirakanmencapai 458 ribu ton. Angka ini membuat PTPN XI menjadi perusahaan terbesarkedua yang memberikan kontribusi terhadap stok gula nasional setelah PTPN X(526 ribu ton) (Asosiasi Gula Indonesia, 2007). PTPN XI mengelola enam belaspabrik gula (PG) yang tersebar di wilayah Jawa Timur. Salah satu PG yangdikelola oleh PTPN XI adalah PG Pagottan yang berada di Kabupaten Madiun.Pada tahun 2006 PG Pagottan memiliki kapasitas giling yang cukup besar yaitu2,26 ribu ton per hari. Selain itu, dilihat dari pertumbuhan rendemen dari tahun1997-2007, rata-rata pertumbuhan rendemen PG Pagottan sebesar 4,93 persen pertahun. Pada tahun 2007 rendemen PG Pagottan sebesar 7,96 persen dan3 Mansur, Natsir. 2007. Rancunya Distribusi Gula Nasional. www.bisnisindonesia.comdiakses 13 Maret 2008.4 Departemen Pertanian. 2007. Impor Gula Diharapkan Tidak Mendistorsi Pasar. www2.kompas.com diakses 13 Maret 2008.
  • 5merupakan rendemen terbesar dibandingkan dengan pabrik gula lainnya di bawahPTPN XI. Meskipun masih berada di bawah target rendemen pemerintah, namunPG Pagottan memiliki potensi untuk mengoptimalkan nilai rendemennya. Tahun 2009 pemerintah menargetkan Indonesia mencapai swasembadagula nasional dan tahun 2010 diharapkan Indonesia sudah memasuki eraliberalisasi perdagangan gula. Oleh karena itu, setiap pabrik gula termasuk PGPagottan diwajibkan untuk meningkatkan produksi dan efisiensinya. Hal inibertujuan untuk memenuhi target yang diharapkan, mencapai tujuan perusahaanserta mampu bersaing dengan produsen-produsen gula negara lain.1.2 Perumusan Masalah PG Pagottan merupakan satu dari 16 pabrik gula yang dikelola oleh PTPNXI (Persero), Surabaya. PG Pagottan sudah mulai beroperasi pada tahun 1905.Semakin tingginya konsumsi masyarakat terhadap gula merupakan peluang bisnissekaligus tantangan bagi PG Pagottan. Dengan tingginya permintaan dari masyarakat terhadap gula mendorongpeningkatan jumlah perusahaan yang bergerak dalam bidang yang sama, dengankata lain tingkat persaingan menjadi lebih tinggi. PG Pagottan harus mampubersaing dengan perusahan tersebut untuk tetap dapat melangsungkan prosesproduksinya. Hasil realisasi produksi PG Pagottan periode tahun 1997 sampaitahun 2007 dapat dilihat pada Tabel 3. Dalam Tabel 3 terlihat bahwa pada tahun 2000 luas areal tebu mengalamipenurunan yang cukup signifikan, yaitu sebesar 19,25 persen dari tahunsebelumnya. Hal ini disebabkan oleh penurunan luas areal tebu sendiri sebesar4,41 persen dan penurunan luas areal TR sebesar 35,06 persen. Penurunan luas
  • 6areal tebu ini tidak mempengaruhi produksi gula yang dihasilkan. Jumlahproduksi gula justru mengalami peningkatan sebesar 1,29 persen. Meningkatnyaproduksi gula ini disebabkan oleh adanya PG sesaudara yang ikut menggilingkantebunya di PG Pagottan.Tabel 3 Realisasi Produksi PG Pagottan Tahun 1998-2007 Produksi (ton) Hablur (ton) Tahun Luas (ha) Rendemen % /ha Jumlah /ha Jumlah 1998 3.200,348 81,4 260.440,6 5,49 4,50 14.285,40 1999 3.218,593 56,8 182.904,1 7,68 4,40 14.038,00 2000 2.598,885 75,8 197.019,9 7,22 5,50 14.219,50 2001 3.559,704 69,1 246.069,1 7,04 4,90 17.319,60 2002 3.894,294 77,8 303.053,2 6,88 5,40 20.836,70 2003 3.422,461 67,1 229.782,0 6,84 4,59 15.706,60 2004 3.277,460 77,2 252.887,7 7,58 5,85 19.160,98 2005 4.221,772 81,3 343.367,8 7,68 6,25 26.380,08 2006 4.567,937 76,6 349.845,3 8,07 6,18 28.217,20 2007 5.708,739 71,8 409.796,5 7,96 5,71 32.599,30Sumber: Litbang Bagian Tanaman PG Pagottan, 2008 Tahun 2003 produksi gula mulai mengalami kecenderungan yangmeningkat. Pada tahun 2007 produksi gula mencapai 32.599,30 ton namun tingkatrendemen menurun dari 8,07 persen pada tahun 2006 menjadi 7,96 persen padatahun 2007. Angka tersebut masih jauh dari target pemerintah sebesar 8,79 persen.Hal ini memperlihatkan bahwa terjadi ketidakefisienan dalam produksi gula di PGPagottan. Proses produksi yang efisien dipengaruhi oleh faktor-faktor produksiyang digunakan. Faktor-faktor produksi yang biasa digunakan dalam prosesproduksi antara lain modal, tenaga kerja, bahan baku, dan lain-lain. Produksi yangdilakukan akan menjadi efisien jika faktor-faktor produksi tersebut dimanfaatkansecara optimal. PG Pagottan telah melakukan berbagai upaya yang sangat erathubungannya dengan pemanfaatan faktor-faktor produksinya untuk meningkatkanproduksi gula. Upaya yang telah dilakukan adalah dengan penggantian varietasunggul, intensifikasi budidaya dan perbaikan manajemen tebang-angkut, serta
  • 7penggunaan zat pemacu kemasakan (ZPK)5. Jika PG Pagottan mampumemanfaatkan faktor-faktor produksinya secara optimal maka diharapkanperusahaan mampu berproduksi secara efisien dan mempunyai daya saing tinggi.Daya saing tersebut meliputi daya saing untuk mendapatkan bahan baku yangberkualitas baik, mendapatkan sumberdaya manusia, penggunaan teknologi, danpersaingan untuk mendapatkan konsumen. Oleh karena itu perlu ditelaahmengenai faktor-faktor yang mempengaruhi produksi gula serta efisiensinya agartarget pemerintah dalam swasembada gula terwujud, tujuan perusahaan tercapaidan mampu bersaing dengan produsen lain. Berdasarkan uraian di atas maka secara spesifik permasalahan yang akandianalisis dalam penelitian ini adalah :1. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi produksi gula di PG. Pagottan?2. Bagaimana tingkat efisiensi produksi gula di PG. Pagottan?1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah di atas tujuan dari penelitian ini adalah:1. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi gula.2. Menganalisis tingkat efisiensi produksi gula.1.4 Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada:5 PTPN XI. 2006. 16 Pabrik Gula PTPN XI Siap Giling. www.kapanlagi.com diakses 13 Maret 2008.
  • 81. Perusahaan, sebagai sumber informasi dan bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan dalam usahanya untuk dapat meningkatkan produksi dan efisiensinya.2. Pemerintah, sebagai bahan masukan dan sumber informasi agar lebih memperhatikan sektor pertanian, terutama industri gula sehingga pemerintah dapat membuat kebijakan yang berhubungan dengan peningkatan efisiensi produksi sehingga produksi gula nasional meningkat dan impor dapat dikurangi.3. Penulis, penelitian ini berguna dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan dan menambah pengetahuan penulis mengenai industri gula di Indonesia serta dapat melatih kemampuan penulis dalam menganalisis setiap masalah sesuai dengan disiplin ilmu yang diperoleh selama di perguruan tinggi. Pembaca, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan referensi dan bahan perbandingan untuk penelitian-penelitian lebih lanjut.1.5 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup dalam penelitian ini dibatasi hanya dalam pabrik danproduksi gula tanpa membahas dan menganalisis hasil sampingan produksi gula.Penelitian ini hanya berada pada sekup mikro, yaitu pabrik gula. Data yangdigunakan dalam penelitian ini berupa data perusahaan terutama produksi darimasa giling tahun 2001-2007 per lima belas hari (per periode) dan data-data biayadari tahun 2001-2007. Penelitian ini juga hanya menganalisis efisiensi produksisecara alokatif. Pengaruh yang diakibatkan oleh kebijakan-kebijakan pemerintahtidak dibahas secara khusus dalam penelitian ini.
  • 9 II TINJAUAN PUSTAKA2.1 Gambaran Umum Komoditi Tebu Tanaman tebu (Saccharum officinarum L) merupakan tanaman perkebunansemusim, yang mempunyai sifat tersendiri, sebab di dalam batangnya terdapat zatgula (Supriyadi, 1992). Batang tanaman tebu beruas-ruas, dari bagian pangkalsampai pertengahan ruasnya panjang-panjang, sedangkan di bagian pucuk ruasnyapendek. Tinggi batang antara 2-5 meter, tergantung baik buruknya pertumbuhan,jenis tebu maupun keadaan iklim. Pada pucuk batang tebu terdapat titik tumbuhyang berperan penting dalam proses pertumbuhan. Akar tanaman tebu adalah akarserabut, hal ini sebagai salah satu ciri bahwa tanaman ini termasuk ke dalam kelasmonocotyledone. Akar tebu dapat dibedakan menjadi dua, yaitu akar stek dan akartunas. Akar stek disebut juga akar bibit yang masa hidupnya tidak lama, akar initumbuh pada cincin akar dari stek batang. Sedangkan akar tunas merupakanpengganti akar bibit. Pertumbuhan akar ada yang tegak lurus ke bawah dan adayang mendatar dekat permukaan tanah. Daun tanaman tebu adalah daun tidak lengkap karena terdiri dari helaidaun dan pelepah daun saja. Kedudukan daun berpangkal pada buku, denganpanjang helaian daun berkisar 1-2 meter sedangkan lebarnya 4-7 cm. Ujung daunmeruncing, tepinya seperti gigi, dan mengandung kersik yang tajam. Bunga tebumerupakan malai yang berbentuk piramida, panjangnya antara 70-90 cm. Bungatebu biasanya muncul pada bulan April-Mei. Bunganya terdiri dari tenda bunga,yaitu tiga helai daun kelopak dan satu helai daun tajuk bunga. Bunga tebumempunyai satu bakal buah dan tiga benang sari,-kepala putiknya- berbentukbulu-bulu.
  • 10 Buah tanaman tebu termasuk buah padi-padian, bijinya hanya satusedangkan besar lembaga hanya sepertiga dari panjang biji. Daur kehidupantanaman tebu dimulai dari fase perkecambahan, fase pertunasan, fasepemanjangan batang, fase kemasakan, dan fase kematian. Fase perkecambahandimulai dengan pembentukan taji pendek dan akar stek pada umur satu minggudan diakhiri pada fase kecambah pada umur lima minggu. Fase pertunasan mulaidari umur lima minggu sampai umur 3,5 bulan, lalu dilanjutkan dengan fasepemanjangan batang, yaitu pada umur 3,5 bulan sampai sembilan bulan. Fasekemasakan merupakan fase yang terjadi setelah pertumbuhan vegetatif menurundan sebelum batang tebu mati. Pada fase ini kadar gula di dalam batang tebumulai terbentuk hingga titik optimal, kurang lebih terjadi pada bulan Agustus, dansetelah itu rendemennya berangsur-angsur menurun. Tahap pemasakan inilahyang disebut dengan tahap penimbunan rendemen gula. Proses terbentuknya guladi dalam batang tebu dapat dilihat pada Gambar 1. kadar gula 10 4 Agustus Gambar 1 Proses Terbentuknya Gula di Dalam Batang Tebu Sumber : Ahmad Supriyadi, 1992 Pada Gambar 1 terlihat jelas bahwa rendemen berada pada masa optimalsekitar bulan Agustus, setelah itu berangsur-angsur turun sampai titik akhir padafase kematian tanaman. Proses terbentuknya rendemen gula di dalam batang tebuberjalan dari ruas ke ruas yang tingkat kemasakannya tergantung pada umur ruas.
  • 11Ruas di bawah (lebih tua) lebih banyak tingkat kandungan gulanya dibandingkandengan ruas di atasnya (lebih muda), demikian seterusnya sampai ruas bagianpucuk. Oleh karena itu, tebu dikatakan sudah mencapai masak optimal apabilakadar gula di sepanjang batang telah seragam, kecuali beberapa ruas di bagianpucuk. Menurut Mubyarto dan Daryanti (1991), tanaman tebu merupakantanaman yang sangat peka terhadap perubahan unsur-unsur iklim. Oleh karena itu,waktu tanam dan panen harus diperhatikan agar tebu dapat membentuk guladengan optimal. Tanaman tebu banyak membutuhkan air selama masapertumbuhan vegetatifnya dan membutuhkan sedikit air pada saat pertumbuhangeneratifnya. Terdapat dua cara penanaman tebu, yaitu di lahan sawah dengan sistemReynoso (cara pengolahan tanah sawah untuk tanaman tebu) dan di lahan tegalandengan sistem tebu lahan kering. Perbedaan antara dua cara ini terletak padatersedia tidaknya fasilitas pengairan dan lamanya penggenangan air di musimhujan. Lahan sawah merupakan lahan pertanian yang memiliki pengairan danmengalami genangan air lebih dari 30 hari secara terus menerus (memilikipengairan yang cukup). Lahan sawah hanya terdapat di Pulau Jawa. Sedangkanlahan kering tidak memiliki pengairan dan kemungkinan mengalami genangan airkurang dari 30 hari berturut-turut, dan lahan kering ini hanya menggantungkan airpada curah hujan (Adisasmito, 1989 dalam Nurrofiq, 2005). Mubyarto dan Daryanti (1991), menyatakan bahwa perbedaan mendasarkedua jenis lahan tersebut adalah kondisi tanah yang membawa konsekuensi padateknis budidaya yang diharapkan dapat memberi kondisi yang cocok bagi
  • 12pertumbuhan tanaman tebu. Selanjutnya dikatakan bahwa budidaya tebu di lahansawah bercirikan penggunaan tenaga kerja dan drainase yang intensif disertaipemberian air yang cukup. Sedangkan budidaya tebu di lahan kering dicirikanpada tidak adanya pengairan, pendayagunaan air dalam tanah dan air hujan secaraoptimal, pengolahan tanah sebagian atau seluruhnya secara mekanis yangditujukan pada kelestarian dan peningkatan produktivitas lahan. Selain itu,perbedaan antara dua cara ini terletak pada pengolahan permukaan tanah. Padasistem Reynoso tidak semua permukaan tanah diolah, namun hanya dibuat salurandan guludan saja. Sedangkan di lahan tegalan dilakukan dengan pembajakan ataudengan traktor. Teknologi budidaya yang tepat dan penggunaan varietas unggul yangpaling sesuai dengan kondisi lahannya dapat menghasilkan tebu dengan tingkatrendemen yang tinggi. Selain itu perlu diperhatikan kegiatan pasca panennyakarena kerusakan tebu pada saat penebangan maupun pengangkutan danbanyaknya kotoran pada tebu dapat menyebabkan penurunan tingkat rendemen.Tebu yang berkualitas adalah tebu yang memenuhi kriteria MBS (manis, bersih,segar). Manis berarti tebu sudah cukup tua atau masak dengan Faktor Kemasakan25-30 persen, Koefisien Daya Tahan dan Koefisien Peningkatan sebesar 90-100persen. Bersih berarti tebu terbebas dari unsur non tebu (kotoran) maksimal limapersen. Sedangkan kriteria segar secara teoritis adalah saat tebu ditebang dandigiling maksimal 36 jam, kriteria ini yang paling sulit untuk dideteksi.2.2 Pengusahaan Tebu Pada masa penjajahan Belanda, di tahun 1930 Indonesia pernah menjadinegara pengekspor gula terbesar di dunia setelah Kuba. Keberhasilan tersebut
  • 13salah satunya bersumber pada kemudahan pabrik-pabrik gula dalalmmemanfaatkan lahan yang subur untuk pertanaman tebu dengan sistem sewapaksa dari petani. Kemudahan itu dijamin dalam UU Agraria 1870 (AgrarischeWet 1870) dan UU Sewa Tanah (Grondhuur Ordonantie 1918). Pada saat ituIndonesia mampu memproduksi gula sebesar 3 juta ton dengan luas lahan sekitar200.000 hektar. Setelah era kemerdekaan banyak pabrik-pabrik gula yangdinasionalisasi. Walaupun pemerintah telah mengambil alih pabrik-pabrik gulatersebut tetapi sistem sewa tetap digunakan, yaitu pabrik gula menyewa lahanmilik petani lalu mengusahakannya sendiri. Dengan sistem sewa tersebut petanihanya memperoleh pendapatan dari sewanya dan petani tidak memperolehkesempatan untuk meningkatkan pendapatannya. Berdasarkan hal-hal di atas, maka pada tahun 1975 dikeluarkan Inpres No.9 Tahun 1975 mengenai Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI). Pokok-pokok pikiranyang terkandung di dalamnya dapat diringkas sebagai berikut:1) Mengganti sistem sewa yang biasa dijalankan oleh pabrik gula dengan sistem tebu rakyat. Petani melakukan usaha budidaya di lahannya sendiri dengan menerapkan teknologi yang telah dianjurkan. Dalam pengelolaan usahatani tebu dilakukan dalam satuan kelompok hamparan. Sedangkan pabrik gula berperan sebagai perusahaan pengelola, yaitu bertanggung jawab secara operasional dan sebagai pimpinan kerja pelaksana budidaya tanaman tebu di wilayah kerjanya, serta menyusun perencanaan areal, melaksanakan bimbingan teknis, menyediakan dan menyalurkan bibit.2) Melaksanakan program intensifikasi tebu dengan sistem BIMAS (Bimbingan Masyarakat).
  • 143) Mendudukkan pabrik gula sebagai penggiling tebu yang dihasilkan oleh rakyat hingga menjadi gula pasir dengan sistem bagi hasil. Program TRI ini sebenarnya telah berhasil meningkatkan luas areal tebu,yaitu mencapai 428.000 hektar pada tahun 1994. Namun perluasan luas arealtanaman tebu tidak diikuti dengan peningkatan produktivitas karena sebagianbesar perluasan areal tebu dilakukan di lahan kering tanpa irigasi. Kemudiankebijakan ini dihapuskan pada tahun 1997 mengikuti persyaratan IMF(International Monetary Fund) sehingga menurunkan luas areal produksi yangtelah ada. Akibatnya produksi tebu yang dihasilkan juga rendah dan menurun. Pada tahun 2002, Departemen Pertanian menerapkan Program AkselerasiPeningkatan Produktivitas Gula Nasional, yang meliputi kegiatan rehabilitasi atauperemajaan perkebunan tebu (bongkar ratoon). Program ini bertujuanmemperbaiki komposisi tanaman dan varietas sehingga produktivitasnyamendekati produktivitas potensial. Selain itu, program ini diperkirakan dapatmemberikan peningkatan hasil pada tahun-tahun mendatang. Hal ini disebabkanoleh adanya pergantian ratoon seluas 7000 hektar, peningkatan produktivitaslahan dengan adanya penggunaan bibit berkualitas, dan peningkatan modalusahatani tebu melalui Kredit Ketahanan Pangan (KKP), serta pengendalian hargamelalui implementasi kebijakan tata niaga pergulaan nasional.Selain itu bongkar ratoon ini diharapkan dapat meningkatkan tingkat rendementebu nasional dari 7,6 persen pada tahun 2007 menjadi delapan persen di tahun2008. Sehingga pada tahun 2008 ditargetkan akan terjadi peningkatan produksigula nasional menjadi sebesar 2,6 juta – 2,7 juta ton6.6 www.els.bappenas.go.id “Deptan Optimis Tak Perlu Impor Gula” diakses 7 Februari 2008.
  • 152.3 Pengusahaan Pabrik Gula Sejak tahun 1975 pabrik gula telah dinyatakan secara resmi sebagai usahapemroses atau pengolah tebu menjadi gula pasir. Pabrik gula juga berperansebagai pembimbing petani dalam budidaya tebu. Kerja sama tersebut dilakukanuntuk memperoleh jumlah dan kualitas tebu sesuai harapan. Sebagai imbalan ataspemrosesan tebu menjadi gula pasir, pihak pabrik gula menerima “ongkos giling”yang dinyatakan dalam persen dari keseluruhan hasil giling. Sistem pembagianhasil ini ditetapkan oleh pemerintah. Prinsip dasar pembagian adalah semakintinggi rendemen tebu yang digilingkan semakin tinggi pula persentase bagianyang diterima petani. Dengan demikian, semakin banyak hasil gula semakinrendah ongkos gilingnya. Walaupun telah beberapa kali dilakukan peninjauan,ketentuan bagi hasil ini tidak banyak berubah. Ketentuan bagi hasil yangtercantum dalam SK Mentan No.03/SK/Mentan/BIMAS/VI/187 menyatakanbahwa:1) Petani tebu akan mendapatkan 62 persen gula yang dihasilkan dari tebu yang nilai rendemennya sampai dengan delapan persen, bila rendemen melampaui delapan persen maka petani mendapatkan tambahan hasil.2) Petani tebu akan mendapatkan bagian tetes sebanyak 4,5 kilogram untuk setiap kuintal tebu yang digilingkan. Berdasarkan kepemilikannya sebagian besar pabrik gula di Indonesiaadalah BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dan sisanya adalah BUMS (BadanUsaha Milik Swasta). Pada tahun 1930, Indonesia memiliki 179 pabrik gula (PG).Jumlah PG semakin menurun karena secara ekonomis tidak menguntungkan.Tahun 2006 tercatat sebanyak 50 unit PG milik BUMN (diusahakan oleh PTPN
  • 16dan RNI) dan delapan PG milik swasta 7. Pada umumnya pabrik-pabrik yang adaberoperasi dibawah kapasitas giling. Sebagian besar PG mempunyai kapasitasgiling yang kecil (kurang dari 3.000 TCD) karena mesin yang sudah tua sertatidak mendapat perawatan yang memadai yang menyebabkan biaya produksi perkilogram gula tinggi.2.4 Jenis Gula Menurut Moerdokusumo (1993) sesuai dengan negara tujuan, secaraumum dikenal tiga jenis gula utama, yaitu gula mentah, gula merah (tidaktermasuk gula jawa, aren, dsb), dan gula putih (termasuk gula rafinade, SHS).1) Gula mentah Yang dimaksud dengan gula mentah adalah sejenis gula merah yangberbutir tidak terlalu halus, terutama diperuntukkan sebagai bahan baku pabrikgula rafinade. Gula mentah ini meliputi HS, NA, dan Muscovado. Jenismuscovado sudah sejak lama tidak lagi dipakai sebagai bahan baku pabrikrafinade. Negara yang menggunakan gula mentah dari Indonesia untuk bahanrafinadenya adalah Hongkong, Jepang, Australia, Selandia Baru, Korea, China,India, dan beberapa negara di Eropa. Sebagai gula mentah untuk bahan rafinade, HS dan NA terutama harusmemenuhi persyaratan ukuran butiran kristal gula, kadar air dan polarisasi.Pasaran gula mentah ini sebagian besar telah hilang karena Indonesia tidakmampu mengekspor gulanya. Hal ini diakibatkan produksi yang sangat merosotbahkan untuk konsumsi dalam negeri pun masih kurang. Dalam rangkamemantapkan kebijakan pangan, timbul gagasan untuk tidak mengimpor gula7 www.bei.co.id/images/_res/opini. “Mengembalikan Kejayaan Si Manis” diakses 10 April 2008.
  • 17putih melainkan mengimpor gula mentah (gula merah) untuk kemudiandiputihkan di pabrik gula tertentu di luar tahun gilingnya sendiri.2) Gula merah Ada beberapa jenis gula merah, antara lain:a) HS atau gula utama adalah jenis gula dengan polarisasi minimal 98°V. Kebanyakan HS yang dijual mempunyai polarisasi antara 99,4°V sampai 99,5°V yang dapat lebih tinggi jika bahannya diambil dari SHS yang diberi campuran karamel. Berdasarkan tujuan penggunaannya, yaitu untuk konsumsi langsung atau bahan rafinade, HS masih dibagi lagi menjadi beberapa golongan menurut nomor tipe warna standar Belanda. Daerah pasaran HS untuk konsumsi langsung adalah Indonesia dan Malaysia.b) NA (New Assortiment), yaitu gula dengan polarisasi 96,5°V – 97,25°V dan kadar bahan gula antara 2,5 sampai tiga persen. Faktor tahan simpan tidak boleh melebihi 0,27. Jenis NA tidak digolongkan khusus menurut tipe warna.3) Muscovado Muscovado digolongkan dalam Java Assortiment dan termasuk gula merahyang memiliki polarisasi minimal 96,5°V. Sebagai bahan mentah gula rafinade,muscovado sudah jarang digunakan.Meskipun polarisasinya sama dengan NA, pada dasarnya kedua jenis gula tersebutberlainan terutama sifat fisik dan kimianya. Muscovado dibuat dengan caramencampurkan HS dengan karamel untuk memperendah warna. Muscovado lebihmudah dikeringkan dan lebih tahan lama daripada NA.
  • 184) Gula tetes MS, gula sirup SS, dan gula sirup superior SSS Meskipun warnanya merah, gula tetes tidak termasuk jenis gula kristalmerah tetapi jenis gula sirup. Gula sirup (SS) dan gula sirup superior (SSS)dikenal sebagai soft sugar. Jenis gula ini tidak banyak diproduksi. SSS adalahjenis gula berbutir halus merata yang telah dicampur dengan larutan gula invest.5) Gula putih Gula putih yang dimaksud adalah SHS dan gula rafinade. Untuk SHStidak ada pembagian atas dasar spesifikasi butir yang ketat.6) Gula pasir dan bahan pemanis non gula pasir Menurut Sawit et al. (1999) pemanis digolongkan menjadi dua, yaitu guladan non gula. Kelompok gula meliputi gula kristal, gula bukan kristal, dan gulacair. Golongan non gula terdiri dari pemanis yang dibuat dari bahan tanaman(misalnya dari Stevia) dan pemanis sintesis seperti saccharine (sodium).2.5 Penelitian Terdahulu Meiditha (2003), menganalisis mengenai efisiensi produksi gula pasir diPG Kebon Agung. Dalam pendugaan modelnya produksi gula dipengaruhi olehtujuh faktor produksi dan satu peubah dummy. Faktor produksi tersebut terdiri daribahan baku tebu, rendemen tebu, jam mesin, tenaga kerja tetap, tenaga kerjamusiman, residu dan jumlah bahan pembantu. Sedangkan variabel dummyditambahkan untuk mengetahui pengaruh dari kebijakan tataniaga gula dantataniaga impor terhadap produksi gula. Setelah dilakukan analisis regresidihasilkan lima variabel yang berpengaruh nyata, yaitu jumlah tebu, rendemen,jam mesin, tenaga kerja tetap, dan tenaga kerja musiman serta variabel dummy.
  • 19Analisis efisiensi yang dilakukan dengan membandingkan antara NPMxi denganBKMxi hanya dapat menilai tiga faktor produksi, yaitu tebu, tenaga kerja tetap,dan tenaga kerja musiman yang ketiganya dinyatakan belum efisien secaraekonomis. Sedangkan dua faktor produksi lainnya, yaitu rendemen dan jam mesintidak dapat dilihat efisiensinya karena tidak dapat diukur tingkat harganya. Hidayat (2003), menganalisis kinerja produksi dan keuangan di PT PGRajawali II Unit PG Subang. Analisis yang dilakukan antara lain: Pertama,analisis rasio untuk mengukur rentabilitas, aktivitas, dan leverage. Kedua, analisistitik impas dan analisis profitabilitas untuk mengetahui hubungan biaya produksiterhadap titik impas dan profitabilitas. Ketiga, analisis Du Pont untuk melakukanidentifikasi hubungan antara struktur biaya dengan kinerja keuangan. Hasilanalisis digunakan untuk merumuskan alternatif-alternatif perbaikan kondisiperusahaan. Kinerja keuangan PG Subang cenderung naik pada tahun 1999-2001dan menurun pada tahun 2002 untuk rentabilitas dan likuiditas. Nurrofiq (2005), menganalisis mengenai faktor-faktor yang mempengaruhiproduksi gula di PG Djatiroto. Dalam analisisnya terdapat enam faktor produksiyang diduga berpengaruh terhadap produksi gula di PG Djatiroto, yaitu jumlahtebu, rendemen, tenaga kerja tetap, tenaga kerja musiman, bahan pembantu, danlama giling. Dari keenam peubah tersebut hanya lima faktor produksi yangberpengaruh nyata terhadap model produksi gula di PG Djatiroto, yaitu jumlahtebu, rendemen, tenaga kerja tetap, tenaga kerja musiman, dan lama giling.Pengolahan kuantitatif dilakukan dengan menggunakan model regresi yangmenganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi gula di PG Djatiroto serta rasio
  • 20NPM dan BKM untuk melihat efisiensi alokatif pabrik tersebut. Untuk perumusanmodel produksi gula dipergunakan model fungsi produksi linier berganda. Wahyuni (2007), di dalam penelitiannya terdapat enam faktor produksiyang diduga mempengaruhi produksi gula di PG Madukismo, Yogyakarta.Faktor-faktor produksi tersebut antara lain: tenaga kerja tetap, tenaga kerja tidaktetap, jumlah tebu, bahan pembantu, lama giling, dan jam mesin. Namun setelahdianalisis menggunakan model regresi, ternyata hanya ada lima faktor produksiyang berpengaruh nyata terhadap produksi gula, yaitu tenaga kerja tetap, tenagakerja tidak tetap, jumlah tebu, lama giling, dan jam mesin. Kemudian faktor-faktor tersebut diukur tingkat efisiensinya dengan melihat perbandingan antaranilai NPM dan BKM. Dalam penelitian ini, faktor-faktor produksi yang diukurtingkat efisiensinya adalah jumlah tebu, tenaga kerja tetap, dan tenaga kerjamusiman karena ketiga faktor produksi tersebut dapat diukur tingkat harganya.Dari nilai NPM dan BKM dari setiap faktor produksi dapat dijelaskan bahwapengalokasian sumberdaya dari ketiga faktor produksi belum optimal. Untukperumusan model produksi gula menggunakan model fungsi produksi linierberganda. Dari penelitian-penelitian terdahulu, dapat disimpulkan faktor-faktor yangdiduga berpengaruh terhadap produksi gula dapat dilihat dari berbagaikarakteristik, yaitu usahatani, karakteristik dalam pabrik, keadaan pasar, sertakarakteristik kebijakan. Dalam segi usahatani faktor-faktor yang biasa didugaberpengaruh terhadap produksi gula, yaitu jumlah tebu, dan tingkat rendemen.Dalam pabrik faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap produksi gula,yaitu jam mesin, tenaga kerja tetap, tenaga kerja musiman, residu, jumlah bahan
  • 21pembantu, dan lama giling. Sedangkan karakteristik di pasar berupa harga gula dipasaran (domestik dan impor) serta kebijakan pergulaan yang dikeluarkanpemerintah. Untuk penelitian yang dilakukan di pabrik gula Pagottan faktor-faktoryang diduga berpengaruh terhadap produksi gula, yaitu jumlah tebu, rendemen,tenaga kerja tetap, tenaga kerja musiman, bahan pembantu, jam mesin, serta lamagiling. Pendugaan ini berasal dari penelitian-penelitian terdahulu dan pengamatanyang dilakukan di lapang. Dapat disimpulkan metode yang digunakan untukmelihat faktor-faktor yang berpengaruh, yaitu metode OLS (Ordinary LeastSquare). Model fungsi produksi yang biasa digunakan yaitu model fungsi Cobb-Douglas dan model fungsi Linier. Dalam penelitian ini digunakan metode OLS (Ordinary Least Square)dengan fungsi produksi Cobb-Douglas. Efisiensi merupakan hal penting yangperlu diperhatikan dalam peningkatan produksi gula nasional. Efisiensi dapatbermacam-macam, yaitu efisiensi teknis, efisiensi alokatif, dan efisiensiekonomis. Efisiensi teknis dapat diukur dengan melihat perbandingan antarapersentase kapasitas giling dengan kapasitas terpasangnya, atau dapat juga denganmengukur antara rasio bahan baku dan gula yang dihasilkannya. Efisiensi alokatifdapat diukur dengan membandingkan antara NPM dan BKM. Sedangkan efisiensiekonomis dapat dilihat dari persentase harga pokok dengan persentase hargaprovenue, nilai titik impas serta nilai kemampuan laba. Dalam penelitian ini akandicari tingkat efisien alokatifnya. Dengan efisiensi alokatif ini maka diketahuiefisiensi dari faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap produksi gula,dimana efisiensi alokatif menilai pengorbanan yang dibutuhkan untuk menambahsuatu input terhadap hasil.
  • 22 III KERANGKA PEMIKIRAN3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis3.1.1 Teori Dan Fungsi Produksi Produksi merupakan kegiatan menghasilkan barang dan jasa. Untukmemproduksi barang dan jasa tersebut digunakan sumberdaya yang disebutsebagai faktor produksi (Lipsey et al, 1995). Faktor produksi seperti lahan, pupuk,tenaga kerja, modal dan sebagainya sangat berpengaruh terhadap besar kecilnyaproduksi yang diperoleh. Keputusan kombinasi penggunaan sumberdaya untukmencapai target produksi ditentukan oleh kebijaksanaan produsen. Untukmenjelaskan kombinasi-kombinasi input yang diperlukan untuk menghasilkanoutput, para ekonom menggunakan sebuah fungsi yang disebut fungsi produksi.Pappas (1995) menambahkan fungsi produksi adalah sebuah pernyataan deskriptifyang mengaitkan masukan dengan keluaran, yang memperlihatkan keluaranmaksimum yang dapat diproduksi dengan jumlah masukan tertentu. Umumnyauntuk menghasilkan output diperlukan lebih dari satu input. Secara matematisfungsi produksi dapat ditulis sebagai berikut: Y = f(X1, X2, X3,....,Xn) (1)Dimana: Y : output X1, X2, X3,....,Xn : input-input yang digunakan dalam proses produksi Dengan fungsi produksi tersebut di atas, maka hubungan Y dan X dapatdiketahui dan sekaligus hubungan X1, X2,…, Xn dan X lainnya juga dapat
  • 23diketahui. Berbagai macam fungsi produksi telah dikenal dan dipergunakan olehberbagai peneliti, tetapi yang umum dan sering dipakai (Soekartawi, 1990), yaitu:a. Fungsi Produksi Linier Secara matematis fungsi produksi linier dapat ditulis sebagai berikut: Y = f (X1, X2, X3,....,Xn)Dimana: Y : variabel yang dijelaskan (dependent variable) X : variabel yang menjelaskan (independent variable) Fungsi produksi linier dibedakan menjadi dua, yaitu fungsi produksi liniersederhana dan linier berganda. Perbedaan ini terletak pada jumlah variabel X yangdipakai pada model. Fungsi produksi linier sederhana biasa digunakan untukmenjelaskan hubungan dua variabel. Model ini sering digunakan karenaanalisisnya dan hasilnya mudah dimengerti secara cepat. Sedangkankelemahannya terletak pada jumlah variabel X yang digunakan dalam model.Karena hanya satu variabel yang dimasukkan maka peneliti akan kehilanganinformasi karena ada variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model. Secaramatematis dapat dituliskan sebagai berikut: Y = a + Bx + eDimana: a : intersep (perpotongan) b : koefisien regresi e : error term Untuk mengatasi masalah di atas maka peneliti biasanya menggunakanfungsi produksi linier berganda. Berbeda dengan fungsi produksi linier sederhana,
  • 24fungsi produksi linier berganda menggunakan jumlah variabel lebih dari satu.Secara matematis hal ini dapat ditulis berikut: Y = f (X1, X2, X3,....,Xn); atau Y = a + b1X1 + b2X2 + …. + biXi + … + b nXn + eDimana a, b, X,Y, dan e telah dijelaskan sebelumnya. Estimasi garis regresi linier berganda ini memerlukan bantuan asumsi danmodel estimasi tertentu sehingga diperoleh garis estimasi atau garis penduga yangbaik.b. Fungsi Produksi Kuadatrik Rumus matematik dari fungsi produksi kuadratik atau juga disebut denganfungsi produksi polynomial kuadratik biasanya dituliskan sebagai berikut: Y = a + bX + cX2 + eDimana: Y : variabel yang dijelaskan X : variabel yang menjelaskan a,b,c : parameter yang diduga e : error term Berbeda dengan garis linier (sederhana dan berganda) yang tidak memilikinilai maksimum, maka fungsi kuadratik justru mempunyai nilai maksimum.Dalam proses produksi pertanian, dimana berlaku hukum kenaikan hasil yangsemakin berkurang, maka fungsi kuadratik dapat dituliskan sebagai berikut: Y = a + bX – cX2 + ec. Fungsi Produksi Eksponensial Secara umum fungsi produksi eksponensial dapat dituliskan sebagaiberikut:
  • 25 Y = aXb (biasanya disebut fungsi Cobb-Douglas) Menurut Soekartawi (2003) fungsi Cobb-Douglas adalah suatu fungsi ataupersamaan yang melibatkan dua atau lebih variabel, dimana variabel yang satudisebut dengan variable yang dijelaskan (Y), dan yang lain disebut variabel yangmenjelaskan, (X). Penyelesaian hubungan antara Y dan X adalah biasanya dengancara regresi dimana variasi dari Y akan dipengaruhi oleh variasi dari X. Dengandemikian kaidah-kaidah pada garis regresi juga berlaku dalam penyelesaian fungsiCobb-Douglas. Karena di dalam fungsi produksi eksponensial ini ada bilanganberpangkat maka penyelesaiannya diperlukan bantuan logaritma.d. Fungsi Produksi CES Fungsi produksi CES untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Arrow,dkk (1960). Fungsi ini dipakai jika berlaku asumsi atau situasi constant return toscale (CRS). Rumus matematik dari CES adalah sebagai berikut: Y = γ[δK-P + (1 - δ)L-P1-1/P]Dimana: Y : output γ : parameter efisiensi (γ > 0) δ : distribusi parameter (0 < δ < 0) K : kapital L : input tenaga kerja p : parameter substitusi (p > -1) Oleh Fletcher (1968), fungsi produksi CES tersebut dimodifikasi dan jugadipakai oleh Soskie (1968). Selanjutnya model CES yang telah di modifikasi inidilaporkan oleh Lau dan Fletcher (1969) dengan VES (variable elasticity ofsubstitution). Secara matematis fungsi VES dapat ditulis sebagai berikut:
  • 26 γ = γ [δK-p + (1 - δ)µ (KL)-C(1+p)L-p]-1/pDimana: µ dan C adalah konstan. Persamaan VES ini mempunyai cirri antara lain mempunyai produkmarjinal yang positif dan menurun ke bawah dan homogenitas. Persamaan VESini mempunyai ciri antara lain mempunyai produk marjinal yang positif danmenurun ke bawah dan homogenitas derajat satu. Sedangkan kelemahan darifungsi VES ini adalah jumlah variabel yang dipakai terbatas, yaitu hanya duavariabel. Bila digunakan lebih dari dua variabel maka penyelesaiannya akanmenjadi relatif lebih sulit.e. Fungsi Produksi Transcendental Rumus umum dari fungsi produksi transcendental adalah sebagai berikut: 1 1 1 2 2 2 Y=A 1 2 +uDimana: Y : output X : input a, b, c : parameter yang akan diduga e : bilangan konstan u : galat (disturbance term) Dalam kondisi-kondisi tertentu fungsi produksi transcendental ini akanmenjadi fungsi Cobb-Douglas. Keunggulan fungsi ini adalah dapatmenggambarkan kondisi dimana produk marjinal dapat menaik, menurun, danmenurun dalam “negatif” (negative marginal products). Sebaliknya kelemahandari fungsi ini adalah bila salah satu dari nilai X adalah nol maka fungsi tersebuttidak dapat diselesaikan karena fungsi Y menjadi nol.
  • 27f. Fungsi Produksi Translog Fungsi produksi translog dapat dituliskan sebagai berikut: log Y = log A + b1 log X1 + b2 log X2 + b3 (log X1 log X2) + uDimana: Y : output X : input b1, b2, b3 : parameter yang diduga A : parameter yang juga berfungsi sebagai intersep u : galat (disturbance term) Fungsi produksi translog ini dapat berubah bentuknya menjadi fungsiproduksi Cobb-Douglas jika parameter b tidak berbeda nyata dengan nol. Bentuk fungsi produksi dipengaruhi oleh hukum ekonomi produksi, yaitu“Hukum Kenaikan Hasil yang Semakin Berkurang (The Law of DiminishingReturn)”. Hukum ini menyatakan bahwa jika faktor produksi terus menerusditambahkan pada faktor produksi tetap maka tambahan jumlah produksi persatuan akan semakin berkurang. Hukum ini menggambarkan adanya kenaikanhasil yang negatif dalam kurva fungsi produksi. Fungsi produksi tersebut dapatdilihat pada Gambar 2. Menurut Doll dan Orazem (1984) fungsi produksi klasik dapat dibagimenjadi tiga wilayah atau tahap, masing-masing tahap tersebut penting dari segiefisiensi penggunaan sumberdaya. Tiga tahap tersebut ditunjukkan pada Gambar2. Tahap I terjadi ketika MPP lebih besar daripada APP. APP adalah peningkatanseluruh Tahap I, mengindikasikan bahwa nilai rata-rata dimana input variabel, X,ditransformasi menjadi produk, Y, meningkat hingga APP mencapai nilaimaksimum pada akhir Tahap I.
  • 28Y= output (a) (b) TPP I II III X= inputMPP, APP MPP APP I II III X= input Gambar 2 Fungsi Produksi Klasik dan Tiga Tahap Produksi Sumber: John P. Doll dan Frank Orazem, 1984 Tahap II terjadi ketika MPP menurun dan kurang dari APP, tetapi lebihbesar dari nol. Efisiensi fisik dari input variabel mencapai puncak pada awalTahap II, hal ini terjadi ketika MPP sama dengan APP, batas ini ditunjukkan olehgaris putus-putus (a). Di sisi lain, efisiensi input tetap terbesar adalah pada akhirTahap II. Hal ini dikarenakan angka unit-unit input tetap yang konstan, biasanyapada angka satu. Oleh sebab itu, output per unit dari input tetap harus menjadiyang terbesar ketika output total dari proses produksi mencapai nilai maksimum.
  • 29Tahap III terjadi dimana MPP bernilai negatif. Tahap III terjadi ketika jumlahinput variabel sudah berlebih dikombinasikan dengan input tetap yang sangatbesar, padahal total produksi sudah mulai menurun. Garis putus-putus (b) padaGambar 2. menunjukkan batas antara Tahap II dan Tahap III. Berdasarkan nilai elastisitasnya, fungsi produksi dibagi atas tiga daerah,yaitu elastisitas produksi yang lebih besar dari satu (daerah I), elastisitas produksiantara nol dan satu (daerah II), dan elastisitas produksi lebih kecil dari nol (daerahIII). Daerah produksi I mempunyai nilai elastisitas produksi lebih dari satu,artinya setiap penambahan faktor produksi sebesar satu persen akan menyebabkanpenambahan produksi lebih besar dari satu persen. Keuntungan maksimum masihbelum tercapai karena produksi masih dapat ditingkatkan dengan penggunaanfaktor produksi yang lebih banyak. Oleh karena itu, daerah I disebut daerahirrasional. Daerah II elastisitas produksinya bernilai antara nol dan satu. Hal iniberarti bahwa setiap penambahan faktor produksi sebesar satu persen akanmenyebabkan penambahan produksi paling tinggi satu persen dan paling rendahnol. Pada tingkat penggunaan faktor produksi tertentu pada daerah ini akantercapai keuntungan maksimum. Oleh karena itu, daerah ini disebut daerah yangrasional karena produsen harus menetapkan tingkat produksi yang dapat mencapaimaksimum. Elastisitas produksi pada daerah III adalah lebih kecil dari nol, yangartinya setiap penambahan faktor-faktor produksi akan menyebabkan penurunanjumlah produksi yang dihasilkan. Daerah produksi ini mencerminkan pemakaianfaktor-faktor produksi yang tidak efisien. Daerah ini disebut daerah irrasional.
  • 30Produsen yang rasional akan berhenti berusaha atau berupaya mencari alternatiflain. Menurut Doll dan Orazem (1984) elastisitas produksi didefinisikan sebagaisebuah konsep yang mengukur derajat responsivitas antara input dan output.Elastisitas produksi, seperti elastisitas lainnya, tidak bergantung pada unit-unitpengukuran. Elastisitas produksi ( p) dirumuskan sebagai berikut: p =Dari sini, elastisitas produksi ditentukan menjadi: p = Y Y ÷ X X = . = Pada Tahap I, MPP lebih besar dari APP. Oleh sebab itu, p lebih besardari satu. Pada Tahap II, MPP lebih kecil dari APP sehingga p kurang dari satutetapi lebih besar dari nol. Pada Tahap III, MPP bernilai negatif sehingga pbernilai negatif. Menurut Lipsey et al (1990) ada beberapa macam nilai elastisitas baikjangka panjang maupun jangka pendek, yaitu:1. Jika nilai elastisitas sama dengan nol (E = 0), keadaan seperti ini dikatakan inelastis sempurna, dimana jumlah yang diminta atau yang ditawarkan tidak berubah dengan adanya perubahan harga.2. Jika nilai elastisitas antara nol dan satu (0 < E < 1), keadaan ini dikatakan inelastis atau tidak responsif karena jumlah yang diminta atau yang
  • 31 ditawarkan berubah dengan persentase yang lebih kecil daripada perubahan harga. Pada kondisi ini perubahan satu persen variabel indepeden menyebabkan perubahan variabel dependen kurang dari satu persen.3. Jika nilai elastisitas sama dengan satu (E = 1), keadaan seperti ini disebut unitary elastis, dimana jumlah yang diminta atau yang ditawarkan berubah dengan persentase yang sama dengan perubahan harga.4. Jika nilai elastisitas lebih dari satu (E > 1), keadaan seperti ini dikatakan elastis atau responsif karena jumlah yang diminta atau yang ditawarkan berubah dalam persentase yang lebih besar daripada perubahan harga. Pada kondisi ini perubahan satu persen variabel independen akan menyebabkan perubahan variabel dependen lebih dari satu persen.3.1.2 Konsep Efisiensi Produksi Pada umumnya efisiensi diartikan sebagai perbandingan antara nilai hasilatau output terhadap nilai masukan atau input (Lipsey et al, 1995). Suatu metodeproduksi dikatakan lebih efisien dari metode produksi lainnya apabilamenghasilkan produk yang lebih tinggi nilainya untuk nilai tingkat korbanan yangsama atau dapat mengurangi korbanan untuk memperoleh produk yang sama. Jadikonsep efisiensi merupakan konsep yang bersifat relatif (Soekartawi, 2003). Konsep efisiensi mengandung tiga pengertian, yaitu efisiensi teknis,efisiensi alokatif, dan efisiensi ekonomi. Efisiensi teknis menyatakan sejumlahproduk yang dapat diperoleh dengan penggunaan kombinasi masukan yang palingsedikit. Efisiensi teknis akan tercapai apabila di dalam mengalokasikan sumber-sumber produksi tidak terdapat barang yang dapat diproduksi tanpa keharusanuntuk mengurangi produksi barang lainnya. Efisiensi alokatif menyatakan nilai
  • 32produk marginal sama dengan oportunitas dari masukan yang berarti setiaptambahan biaya yang dikeluarkan untuk faktor produksi mampu menghasilkantambahan penerimaan yang besarnya sama dengan tambahan biaya. Produksioutput dikatakan efisien secara alokatif jika tidak ada cara lain untukmemproduksi output yang dapat menggunakan seluruh nilai input dengan jumlahyang lebih sedikit. Efisiensi teknis dan efisiensi alokatif merupakan komponendari efisiensi ekonomi (Semaoen, 1992 dalam Januarsini, 2000). Menurut Doll dan Orazem (1984) efisiensi ekonomi adalah kombinasiinput-input yang memaksimalkan tujuan individu atau sosial. Efisiensi ekonomiditentukan dalam dua syarat, yaitu syarat kebutuhan dan syarat kecukupan. Syaratkebutuhan ditemukan pada proses produksi ketika: pertama tidak mungkinmemproduksi output dalam jumlah yang sama dengan input yang lebih sedikit,dan kedua tidak mungkin memproduksi lebih banyak output dengan input yangsama. Dalam analisis fungsi produksi, syarat ini ditemukan pada Tahap II dimanajika elastisitas produksi sama dengan atau lebih dari nol dan sama dengan ataukurang dari satu (0 p 1). Berbeda dengan syarat kebutuhan yang objektif, syaratkecukupan untuk efisiensi meliputi tujuan-tujuan individu atau sosial. Kondisi efisien pada suatu perusahaan terkait dengan tujuan perusahaanpada umumnya, yaitu untuk memaksimumkan keuntungan (profit). Keuntungantersebut dapat dicapai antara lain dengan cara memanfaatkan sejumlah input padatingkat optimumnya (Gambar 2). Secara matematis penggunaan input yangoptimum dapat diturunkan dari pengurangan keuntungan dengan biaya totalnya,sesuai dengan persamaan berikut: = Py.Y – Px.X – TFC
  • 33 Dimana: : keuntungan Py : harga output Px : harga input Y : output X : input TFC : biaya input total (Total Fixed Cost) Sedangkan untuk mendapatkan keuntungan yang maksimum jikadiasumsikan bahwa di suatu perusahaan tidak terdapat kendala internal, makadiisyaratkan bahwa turunan pertama dari persamaan di atas sama dengan nol. = Py Px = 0Sehingga persamaan umum menjadi: (2) = Py. MPPxi Pxi = 0 (3) Py. MPPxi = Pxi Atau (4)Dengan membagi ruas kiri dan kanan dengan Py, maka persamaan menjadi: MPPxi = (5)Dengan demikian secara matematis dapat diketahui besarnya marginal produk. Apabila harga faktor produksi tidak dipengaruhi oleh jumlah pembelian NPMXi = BKMxifaktor produksi, persamaan dapat ditulis sebagai berikut: (6) =1 (7) Untuk penggunaan lebih dari satu faktor produksi (i faktor produksi),maka keuntungan maksimum dapat dicapai jika:
  • 34 = = = =1 (8) NPM Xi BKM xi Apabila rasio < 1, maka penggunaan faktor produksi telahmelampaui batas optimal sehingga produsen yang rasional akan mengurangipenggunaan faktor produksi agar mencapai kondisi optimal. Namun di dalamkegiatan untuk mencapai keuntungan yang maksimum, pada umumnyaperusahaan akan dihadapkan oleh beberapa kendala, terutama berupa kendalainternal. Kendala tersebut dapat berupa keterbatasan modal yang dimilikiperusahaan untuk membeli faktor-faktor produksi sehingga dapat mencapaikondisi yang efisien. Jika diasumsikan perusahaan menghadapi kendala internal berupa biaya Co = i=1 xi viproduksi maka kondisi tersebut dapat ditulis dalam bentuk persamaan berikut: n (9)Dimana: C : kendala biaya xi : faktor produksi ke-i vi : harga faktor produksi ke-i i : 1,2,3,...,n Dengan melibatkan unsur kendala berupa keterbatasan modal, maka untukmencapai kondisi maksimum profit dapat digunakan pendekatan teknik optimasiklasik (clasical optimization technique). Dengan menggunakan fungsiLagrangian, maka pendapatan yang diperoleh perusahaan dapat dirumuskan L = Py + [ Co i=1 xi vi ]sebagai berikut: n (10)
  • 35Dimana: L : pendapatan perusahaan p : harga output y : jumlah output : multiplier Lagrange xi : faktor produksi ke-i vi : harga faktor produksi ke-i i : 1,2,3,...,n Sedangkan untuk mencapai kondisi keuntungan maksimum, makadisyaratkan turunan pertama dari persamaan (10) terhadap variabel X dan =p v =0multiplier Lagrange ( ) sama dengan nol. Sehingga persamaan umum menjadi: (11) = C x v =0 (12)Dimana: : Marjinal produk dari xi : Nilai Produk Marjinal dari xiDari persamaan (11) dan (12), maka diperoleh persamaan sebagai berikut: = NPMxi vi (13) Jika di dalam produksi digunakan lebih dari 1 faktor produksi (i faktorproduksi), maka dapat diperoleh persamaan sebagai berikut: = = NPMx1 NPMx2 NPMxi v1 v2 vi (14)
  • 36 Jika diasumsikan bahwa harga faktor produksi tidak dipengaruhi olehjumlah pembelian faktor produksi, maka persamaan (14) dapat dinyatakan dalambentuk: = = = (15) Sehingga dapat diketahui bahwa dengan adanya kendala tertentu di NPM Xi BKM xiperusahaan kondisi efisien tidak lagi mutlak terjadi pada saat = 1, namun NPM Xi BKM xidapat terjadi pada saat = , dengan lamda ( ) adalah suatu nilai tertentu.3.2 Kerangka Pemikiran Operasional PG Pagottan merupakan salah satu pabrik gula terbesar di Jawa Timur.Luas lahan HGB (Hak Guna Bangunan) PG Pagottan adalah 225.891 m2.Kegiatan utama pabrik ini adalah memproduksi gula. Pabrik ini diindikasikanmengalami masalah dalam penggunaan faktor-faktor produksi. Pabrik tersebutmempunyai rata-rata produktivitas tebu per periode yang cukup besar, yaitu 75,8ton per hektar selama tahun 2001 sampai 2007. Namun untuk rata-rata rendemendan produktivitas gula per periode dinilai masih rendah, yaitu sebesar 7,50 persendan 5,69 ton per hektar (Lampiran 3). Berdasarkan studi terdahulu, teori-teori serta pengamatan di lapang makaproduksi gula di Pabrik Gula Pagottan diperkirakan dipengaruhi oleh beberapavariabel, yaitu jumlah tebu yang dipasok ke pabrik baik dari tebu rakyat maupuntebu sendiri (tebu dari lahan sewa ke petani), rendemen tebu, jam mesin, tenagakerja tetap, tenaga kerja musiman, bahan pembantu, dan lama giling. Dugaanpengaruh variabel tersebut terhadap produksi gula, yaitu jumlah tebu diduga
  • 37berpengaruh secara positif karena dengan semakin banyaknya tebu yang akandigiling maka jumlah gula yang akan dihasilkan juga semakin banyak. Rendemen tebu diduga berpengaruh positif, dengan semakin tinggirendemen tebu maka jumlah gula yang dihasilkan juga akan semakin banyak. Jammesin diduga berpengaruh positif karena jika jumlah jam mesin yang tinggi makagula yang dihasilkan juga semakin banyak. Tenaga kerja tetap dan tenaga kerjamusiman diduga berpengaruh positif terhadap produksi gula, secara umumsemakin banyak tenaga kerja maka semakin banyak produksi gula yangdihasilkan. Jumlah bahan pembantu diduga berpengaruh positif terhadap produksigula karena dengan semakin banyak jumlah bahan pembantu yang digunakanmaka kotoran-kotoran yang menganggu dalam proses produksi semakin sedikitdan proses produksi semakin cepat sehingga gula yang dihasilkan juga akansemakin banyak. Sedangkan lama giling diduga berpengaruh negatif terhadapproduksi gula karena semakin lama waktu giling maka rendemen akan semakinturun dan selanjutnya produksi gula akan menurun.
  • 38PG Pagottan merupakan salah satu pabrik gula yang memiliki kapasitasgiling besar di bawah PTPN XI. Rendemen tebu yang dihasilkan masih rendah. Terjadi inefisiensi terhadap penggunaan faktor- faktor produksi.Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi gula:Karakteristik Usahatani: Karakteristik Pabrik:1. Jumlah tebu 1. Tenaga kerja tetap2. Rendemen 2. Tenaga kerja musiman 3. Lama giling Model Fungsi Produksi Cobb-Douglas dengan pendugaan OLS. Analisis Elastisitas Analisis Efisiensi Efisiensi Produksi Gula di PG Pagottan Gambar 3 Bagan Kerangka Pemikiran Operasional
  • 39 IV METODE PENELITIAN4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di PG Pagottan, Madiun, Jawa Timur.Pemilihan lokasi ini dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbanganbahwa pabrik gula ini merupakan salah satu pabrik gula terbesar di Jawa Timuryang masih dapat beroperasi dengan baik di saat banyak pabrik gula yang tutupsehingga pabrik ini sangat berpotensi membantu penyediaan kebutuhan gulanasional. Penyusunan rencana penelitian (proposal penelitian) dilakukan pada BulanMaret 2008 sampai dengan Bulan April 2008. Selanjutnya pengumpulan data dilapang berlangsung mulai Bulan Mei 2008. Kegiatan pengolahan data danpenyusunan skripsi dilakukan mulai Bulan Juni sampai Agustus 2008.4.2 Sumber dan Jenis Data Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan berupa data primer dan datasekunder. Data utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunderdiperoleh dari catatan atau dokumen yang terdapat di Pabrik Gula Pagottan danlembaga-lembaga lain yang terkait. Data sekunder yang merupakan data timeseries (deret waktu) terdiri dari data output dan input sejak tahun 2001 sampaitahun 2007 serta harga input dan output rata-rata di PG Pagottan dari tahun 2001-2007. Sedangkan untuk data primer diperoleh dari wawancara terhadapadministratur, kepala bagian, karyawan pabrik, dan petani serta pengamatan
  • 40langsung untuk mendapatkan informasi tambahan. Secara terperinci jenis datayang dibutuhkan dapat dilihat pada Tabel 4.Tabel 4 Jenis dan Sumber Data Penelitian Keterangan Jenis Data Sumber a. Sejarah Umum Pabrik b. Tinjauan Geografis dan Iklim c. Perkembangan Pabrik Gambaran Umum Perusahaan Pabrik Gula Pagottan d. Proses Produksi Gula e. Struktur Organisasi Perusahaan Output a. Produksi Gula b. Produktivitas Gula c. Harga Gula Input a. Produksi Tebu Data Output dan Input b. Rendemen Tebu Pabrik Gula Pagottan c. TK Tetap d. TK Musiman e. Bahan Pembantu f. Lama Giling g. Harga Tebu h. Gaji TK Tetap i. Upah TK Musiman4.3 Metode Analisis Data Data dan informasi yang diperoleh dianalisis secara kualitatif dankuantitatif. Pengolahan secara kualitatif digambarkan dengan perkembanganperusahaan secara umum, proses produksi serta sistem agribisnis gula.Pengolahan kuantitatif menggunakan model fungsi produksi Cobb-Douglas untukmenganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi gula di Pabrik Gula NPMx1 BKMx1Pagottan serta rasio untuk melihat efisiensi alokatif pabrik tersebut. Bentukmodel fungsi produksi yang digunakan untuk membuat fungsi produksi gulaadalah model fungsi produksi Cobb-Douglas. Model ini dipilih karena fungsiproduksi Cobb-Douglas merupakan model yang umum digunakan dalam
  • 41penelitian ekonomi selain itu menurut Soekartawi (2003) terdapat tiga alasanpokok mengapa fungsi produksi Cobb-Douglas lebih banyak dipakai oleh parapeneliti, yaitu: Pertama, penyelesaian fungsi produksi Cobb-Douglas relatif lebihmudah dibandingkan dengan fungsi yang lain, seperti fungsi kuadratik karenafungsi Cobb-Douglas dapat dengan mudah ditransfer ke bentuk linier. Kedua,hasil pendugaan garis melalui fungsi Cobb-Douglas akan menghasilkan koefisienregresi yang sekaligus juga menunjukkan besaran elastis. Ketiga, besaranelastisitas tersebut sekaligus menunjukkan tingkat besaran return to scale. Namunkarena penyelesaian fungsi Coob-Douglas selalu dilogaritmakan dan diubahbentuk fungsinya menjadi fungsi linear, maka ada beberapa persyaratan yangharus dipenuhi sebelum peneliti menggunakan fungsi Cobb-Douglas. Persyaratanini antara lain:a. Tidak ada nilai pengamatan yang bernilai nol. Sebab logaritma dari nol adalah suatu bilangan yang besarnya tidak diketahui (infinite).b. Dalam fungsi produksi, perlu asumsi bahwa tidak ada perbedaan teknologi pada setiap pengamatan (non-neutral difference in the respective technologies). Ini artinya jika fungsi Cobb-Douglas yang dipakai sebagai model dalam suatu pengamatan dan diperlukan analisis lebih dari satu model (dua model) maka perbedaan model tersebut terletak pada intercept dan bukan pada kemiringan garis (slope) model tersebut.c. Tiap variabel X adalah perfect competition.d. Perbedaan lokasi (pada fungsi tersebut) seperti iklim adalah sudah tercakup pada faktor kesalahan, u.
  • 42 Fungsi produksi Cobb-Douglas untuk produksi gula dapat dituliskansebagai berikut: i=1 Xi 7 bi Y= euDimana: Y : jumlah hasil produksi (kuintal) Xi : faktor produksi ke-i i : 1,2,3,…,7 X1 : jumlah tebu (ton) X2 : rendemen (persen) X3 : jam mesin (jam) X4 : tenaga kerja tetap (orang) X5 : tenaga kerja musiman (orang) X6 : bahan pembantu (ton) X7 : lama giling (hari) : intersep u : error term (galat) 1, 2,..., 6 : nilai dugaan besaran parameter Untuk variabel independent seperti jumlah tebu giling ( 1>0), rendemen 2>0), jam mesin ( 3>0), tenaga kerja tetap ( 4>0), tenaga kerja musiman ( 5>0),bahan pembantu ( 6>0) diduga berpengaruh positif terhadap produksi gula,artinya setiap penambahan satu satuan dalam variabel-variabel tersebut akanmenambah jumlah tertentu (satuan) variabel produksi gula di pabrik. Sedangkanuntuk lama giling ( 7<0) diduga berpengaruh negatif terhadap produksi gula,artinya setiap penambahan jumlah hari giling dalam periode optimal (170-180hari) akan mengurangi jumlah produksi gula di pabrik. Sebelum dilakukan analisis lanjutan, maka harus dilakukan pemilihanfungsi produksi Cobb-Douglas terbaik, yang sesuai untuk data produksi yang
  • 43tersedia. Pemilihan fungsi tersebut antara lain didasarkan pada asumsi OLS.Asumsi pertama dari model regresi adalah suatu model dikatakan baik jikamemenuhi asumsi normalitas. Normalitas menunjukkan bahwa residu atau sisadiasumsikan mengikuti distribusi normal. Pengujian ini dapat dilihat melaluigrafik yang dihasilkan output komputer. Apabila tebaran sisaan membentuk suatugaris lurus maka asumsi ini terpenuhi. Asumsi OLS lain yang harus terpenuhiadalah bahwa tidak terdapat gejala multikolinearitas di dalam fungsi. Gejalamultikolinearitas tersebut dapat ditunjukkan oleh nilai Variance Inflation Factor(VIF). Menurut Kleinbaum dalam Meidhita (2003) tingkat multikolinearitas yangtinggi ditunjukkan oleh nilai VIF yang lebih besar dari 10. Nilai VIF tersebutdapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 1 (1 ) VIFxj =Dimana: R2 VIFxj : Variance Inflation Factors peubah bebas ke-j j : nilai koefisien determinasi pada xj yang merupakan fungsi dari peubah bebas lainnya Selain itu suatu fungsi dikatakan baik apabila telah memenuhi asumsi OLSyang lain, yaitu tidak terdapat gejala autokorelasi. Autokorelasi dapatdidefinisikan sebagai korelasi antara anggota serangkaian observasi yangdiurutkan menurut waktu seperti dalam data time series atau ruang seperti dalamdata cross-sectional (Gujarati, 1991). Salah satu metode yang dapat digunakanuntuk menguji gejala autokorelasi tersebut adalah dengan menggunakan UjiDurbin-Watson (Gujarati, 1991) yang dapat diperoleh dari pengolahan datadengan menggunakan program Minitab 14. Pada output komputer dapat dilihat
  • 44apabila nilai Durbin watson mendekati dua maka tidak terjadi masalahautokorelasi (Pappas, 1995). Suatu fungsi dikatakan baik apabila memenuhi asumsi homoskedastisitas(ragam error yang sama). Untuk dapat membuktikan kesamaan varians(homoskedastisitas) secara visual dengan cara melihat penyebaran nilai-nilairesidual terhadap nilai-nilai prediksi. Jika penyebarannya tidak membentuk polatertentu seperti meningkat atau menurun, maka keadaan homoskedastisitasterpenuhi. Model terbaik juga dapat dilihat dari nilai MSE yang merupakan akar darierror term. Semakin kecil nilai MSE maka semakin baik suatu model karenaselisih jarak antara nilai aktual dan nilai model semakin kecil. Suatu fungsi produksi dikatakan semakin baik apabila memiliki nilaikoefisien determinasi (R2) yang semakin tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwasemakin tinggi nilai koefisien determinasi persamaan maka faktor-faktor produksidi dalam persamaan model fungsi produksi semakin berpengaruh terhadap hasilproduksi. Dari fungsi produksi dugaan terbaik yang telah diperoleh sebelumnya,maka dapat diketahui apakah faktor-faktor produksi telah dimanfaatkan secaraefisien. Yaitu dengan menghitung rasio antara nilai produk marjinal dan biayakorbanan marjinal untuk faktor produksi tertentu. Di dalam fungsi produksi Cobb-Douglas besarnya produk marjinal faktorproduksi ke-i (MPPxi) adalah (Heady dalam Meiditha, 2003): Y Xi MPPxi = Y i Xi = i
  • 45Dimana: MPPxi : produk marjinal faktor produksi ke-i Xi i : nilai dugaan parameter ke-i Y* : nilai dugaan output : rata-rata geometri faktor produksi ke-i i : 1,2,3,...,7 Untuk mengetahui apakah rasio tersebut sudah memenuhi kondisi efisien,maka diperlukan pengujian rasio tersebut secara statistik, yaitu dengan menguji NPMx1 BKMx1apakah nilai secara signifikan berbeda dari satu. Apabila nilai rasio yangdihasilkan lebih besar atau kurang dari satu maka faktor produksi yang digunakanbelum efisien, namun jika nilai rasionya sama dengan satu berarti faktor produksiyang digunakan sudah efisien.4.4 Pengukuran Variabel Konsep pengukuran variabel yang dipakai dalam penentuan pendugaanfungsi produksi gula ini terdiri dari variabel bebas (independent variable) danvariabel tidak bebas (dependent variable). Produksi gula merupakan variabel takbebas, yaitu peubah yang dipengaruhi oleh faktor-faktor lain dalam model.Sedangkan variabel bebas adalah variabel yang tidak dipengaruhi oleh faktor laindalam model, seperti jumlah tebu, rendemen, jam mesin, tenaga kerja tetap,tenaga kerja musiman, bahan pembantu, dan lama giling. Dalam menganalisis efisiensi produksi gula, variabel-variabel yang diukuradalah:
  • 461. Produksi gula (Y) Gula yang dimaksud adalah gula tebu atau gula pasir atau gula putih(refined sugar), gula ini dihasilkan dari tebu rakyat maupun tebu sendiri yangdinyatakan dalam satuan ton. Setelah tata niaga gula lepas dari Bulog (BadanUrusan Logistik) maka untuk pemasaran gula dilakukan dengan dijual sendirimaupun dilelang dengan tingkat harga terendah sebesar harga provenue (hargadasar yang ditetapkan pemerintah).2. Jumlah tebu (X1) Jumlah tebu adalah tebu yang dihasilkan dari tebu sendiri (TS) yanglahannya adalah lahan sewa dan lahan tebu rakyat (TR). Satuan yang digunakanadalah ton. Harga tebu diperkirakan berasal dari biaya pengolahan tanah,pembibitan, budidaya, dan tebang-angkut tebu.3. Rendemen (X2) Rendemen tebu adalah kadar kandungan gula di dalam batang tebu yangdinyatakan dalam satuan persen. Bila dinyatakan bahwa rendemen tebu 10 persen,artinya bahwa dari 100 kilogram tebu yang digiling di PG akan diperoleh gulasebanyak 10 kilogram. Nilai persentase rendemen tersebut diperoleh dari rumus: Rendemen = Sejumlah hablur (gula yang dihasilkan) x 100% Sejumlah tebu yang digiling Rendemen ini diperkirakan tidak dapat dinilai efisiensi alokatifnya karenatidak dapat ditentukan harganya, namun dengan menilai elastisitasnya maka dapatdiketahui pengaruhnya terhadap produksi gula.
  • 474. Jam mesin (X3) Mesin merupakan salah satu faktor produksi yang digunakan dalam prosesproduksi gula. Jam mesin yang digunakan akan berpengaruh terhadap keluaranyang dihasilkan dari kegiatan produksi tersebut. Berdasarkan sifat proses produksigula yang kontinyu, apabila terjadi kerusakan atau kemacetan pada salah satumesin maka akan mengakibatkan kemacetan pada proses produksi secarakeseluruhan sehingga kegiatan produksi gula dipengaruhi oleh kemampuan mesinuntuk beroperasi, salah satunya ditunjukkan oleh nilai jam mesin. Satuan yangdigunakan untuk jam mesin adalah jam.5. Tenaga kerja tetap (X4) Tenaga kerja tetap adalah pekerja yang sifat hubungan kerjanya tidakditentukan batas waktunya oleh peraturan-peraturan sehingga mereka harusmelakukan pekerjaannya baik pada saat giling maupun tidak giling. Satuan yangdigunakan adalah orang. Gaji tenaga kerja tetap dihitung berdasarkan tingkatgolongan pekerja.6. Tenaga kerja musiman (X5) Tenaga kerja musiman adalah pekerja yang sifat hubungannya ditentukanoleh batas waktu yang pada umumnya bekerja pada saat giling. Satuan tenagakerja musiman yang digunakan adalah orang. Upah tenaga kerja dihitung dariupah yang diberikan dalam suatu proses pekerjaan.7. Bahan pembantu (X6) Bahan pembantu yang banyak digunakan dalam proses produksi gula diPG Pagottan adalah kapur tohor, belerang, P2O5, dan flokulant. Kapur tohor danbelerang ini digunakan untuk memurnikan gula dengan sistem sulfitasi alkalis.
  • 48Sedangkan P2O5 digunakan sebagai peningkat kadar fosfat dalam nira mentah.Flokulant berfungsi untuk mempercepat pengendapan kotoran di dalam niraselama proses produksi berlangsung. Satuan yang digunakan adalah ton.8. Lama giling (X7) Lama giling adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengolah tebu menjadigula dalam satu musim giling. Satuan lama giling adalah hari.
  • 49 V GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN5.1 Sejarah dan Struktur Organisasi Perusahaan5.1.1 Sejarah Perusahaan Pabrik Gula (PG) Pagottan didirikan oleh N.V. Kooy Coosteren VanVoorhout pada tahun 1905. Sejarah perkembangan PG Pagottan terdiri daribeberapa periode yang sering mengalami pergantian kepemilikan sesuai denganperubahan waktu dan perubahan pemerintahan sampai akhirnya PG Pagottanmenjadi sebuah BUMN. Berikut sejarah perkembangan PG Pagottan berdasarkanpergantian kepemilikan:1) Tahun 1941-1945 (masa pendudukan Jepang) : PG Pagottan digunakan untuk memproduksi semen dengan bahan baku gipa.2) Tahun 1945-1948 (masa revolusi fisik) : PG Pagottan diambil alih oleh rakyat Indonesia dan dimanfaatkan untuk membuat ubin. Sedangkan sebagian halaman pabrik digunakan untuk membuat senjata (granat tangan).3) Tahun 1948-1949 (masa agresi Belanda) : Belanda kembali menguasai Indonesia dan PG Pagottan dijadikan markas Belanda.4) Tahun 1949-1956 (masa kedaulatan RI) : Dimulai pembangunan kembali PG Pagottan yang rusak akibat perang.5) Tahun 1956-1957 : Pada periode ini Bank Industri Negara (BIN) mengelola Suiker Onderneming Pagottan dan merubah namanya menjadi Pabrik Gula Pagottan.6) Tahun 1958-1967 : Berdasarkan Keputusan Pengesahan Militer dan Menteri Perkebunan N0. 1063/PMT/1957 tanggal 9 Desember 1957 PG Pagottan
  • 50 dikelola oleh Pusat Perkebunan Negara dan jawatan Kementrian Pertahanan dengan nama BPU-PPN Gula Daerah V yang berpusat di Surabaya.7) Tahun 1968-1981 : Pemerintah membentuk badan hukum negara dengan nama Perusahaan Negara Perkebunan (PNP) XX yang berpusat di Surabaya. PG Pagottan termasuk dalam wilayah pengelolaan PNP XX.8) Periode 1981-1996 : Berdasarkan peraturan pemerintah No.6 Tahun 1973 dan PP No. 43 Tahun 1979, maka pada tanggal 2 Mei 1981 PNP XX berubah nama menjadi PT Perkebunan XX (Persero).9) Periode 1996-2008 : Berdasarkan PP No.16 tanggal 14 Februari 1996 PTP XX dan PTP XXIV-XXV dibubarkan dan dibentuk badan usaha yang sama sekali baru dengan nama PT Perkebunan Nusantara XI (Persero).5.1.2 Struktur Organisasi Perusahaan Pabrik Gula Pagottan merupakan salah satu unit usaha yang beradadibawah naungan PTP Nusantara XI (Persero). Di dalam menjalankan kegiatanproduksinya, PG Pagottan mempunyai visi (Visi N-XI), yaitu PG Pagottanmenjadi perusahaan perkebunan yang mampu meningkatkan kesejahteraanstakeholders secara berkesinambungan. Sedangkan Misi N-XI, yaitumenyelenggarakan usaha agribisnis utamanya yang berbasis tebu melaluipemanfaatan sumberdaya secara optimal dengan memperhatikan kelestatrianlingkungan. Selain visi dan misi, dalam menjalankan kegiatan operasionalnya PGPagottan juga menerapkan budaya perusahaan, yaitu: 1) Sukses merupakan hasilkerja sama yang didukung prakarsa perseorangan, 2) Senantiasa berorientasi padapertumbuhan dengan menciptakan dan memanfaatkan peluang, 3) Mutumelandasi setiap perilaku. Sistem organisasi di PG Pagottan secara garis besar
  • 51menganut sistem organisasi fungsional yang dipimpin oleh seorang administraturdan dibantu oleh empat orang kepala bagian (Kabag), yaitu Kabag Tanaman,Kabag TUK (Tata Usaha dan Keuangan), Kabag Pabrikasi/Pengolahan, danKabag Instalasi. Untuk lebih jelasnya strktur organisasi dapat dilihat pada Gambar4. ADMINISTRATUR KABAG KABAG TUK KABAG KABAG TANAMAN PABRIKASI INSTALASI KARYAWAN Gambar 4 Struktur Organisasi Pabrik Gula Pagottan Sumber : Pabrik Gula Pagottan, 2008 Adapun mengenai tugas dan tanggung jawab masing-masing bagian adalahsebagai berikut:Administratur1. Merencanakan dan menetapkan kebijaksanaan dalam pengelolaan perusahaan sesuai dengan yang telah digariskan.2. Memimpin, mengendalikan, dan mengkoordinir secara fisik pelaksanaan tugas bagian Tata Usaha dan Keuangan (TUK), Tanaman, Pabrikasi, dan Instalasi agar tercapai kesatuan tindak.3. Bertanggung jawab atas pelaksanaan rencana yang sudah ditetapkan direksi dengan RKAP (Rencana Kerja Anggaran Perusahaan).4. Menyelesaikan dan memutuskan masalah baik dengan intern maupun ekstern.
  • 525. Mengkoordinir dan memberikan pengarahan kepada setiap Kabag.Kabag Tanaman1. Menyediakan bahan baku tebu siap giling untuk diolah menjadi gula produk.2. Memberikan saran, pendapat, dan umpan balik kepada administratur dalam persoalan di bidang tanaman, tebang, dan angkutan tebu.Kabag TUK (Tata Usaha dan Keuangan)1. Menjalankan kebijaksanaan dan rencana kerja yang telah ditetapkan administratur dalam bidang TUK sesuai dengan yang digariskan oleh direksi secara berhasil guna dan berdaya guna.2. Mengkoordinir dan melaksanakan tugas-tugas dalam bidang TUK, antara lain: a. Perencanaan, pembukuan, penggudangan, umum, kesekretariatan, dan tenaga kerja. b. Mengkoordinasi antar bagian dan mengawasi sub bagian. c. Berdasarkan penunjukan mewakili administratur bila sedang tidak ada.Kabag Pabrikasi1. Bertanggung jawab terhadap proses produksi dalam pabrik mulai dari penimbangan tebu sampai menjadi gula produk.2. Bertanggung jawab terhadap penyimpanan gula di gudang sebelum di pasarkan.3. Memberikan pendapat dan umpan balik yang berhubungan dengan bidangnya.4. Membantu administratur secara aktif dalam menyusun rencana anggaran belanja di bidang pengolahan.5. Bertanggung jawab atas lancarnya operasi produksi pabrik.
  • 53Kabag Instalasi1. Bertanggung jawab terhadap pengadaan, operasi, dan pemeliharaan mesin- mesin serta perlengkapan lainnya.2. Berkoordinasi dengan bagian-bagian lain yang berhubungan dengan masalah proses produksi, penyediaan sarana dan prasarana perkantoran serta perumahan karyawan.3. Sebagai pembantu administratur dalam mengadakan hubungan dengan pihak luar yang berkaitan dengan permasalahan instalasi pabrik.5.2 Tinjauan Geografis dan Iklim Wilayah PG Pagottan Pabrik Gula Pagottan berada di Desa Pagottan, Kecamatan Geger,Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Secara geografis PG Pagottan terletak pada7°42’11’’ - 7°48’25’’ Lintang Selatan dan 111°32”20 - 111°42’11’’ Bujur Timurdengan ketinggian 94m di atas permukaan laut. PG Pagottan terletak 175 km dariibukota propinsi dan 9 km dari ibukota kabupaten. Iklim merupakan faktor yang sangat penting pengaruhnya terhadap prosespertumbuhan tanaman tebu dan erat hubungannya dengan pelaksanaan pekerjaandengan mekanisasi pertanian terutama terhadap pengoperasian alat dan mesinpertanian. Iklim secara umum terdiri dari curah hujan, jumlah hari hujan, tipeiklim suhu udara, kelembaban udara, dan lama penyinaran. Bila diklasifikasikanmenurut Oldeman dan Syarifuddin, PG Pagottan termasuk ke dalam tipe iklim C3dengan 6 bulan basah dan 6 bulan kering yang sangat sesuai untuk pertumbuhantebu. Sedangkan menurut Schmidt dan Ferguson PG Pagottan termasuk ke dalamtipe iklim basah. Rata-rata curah hujan per tahun di wilayah PG dan sekitarnya,
  • 54yaitu sebesar 1.544 mm dengan jumlah hari hujan rata-rata 98 hari. Suhu udaraPG Pagottan rata-rata sebesar 26,5°C dan kelembaban nisbi sebesar 80 persen.5.3 Kemitraan Antara PG dan Petani Setelah Inpres No. 9/1975 mengenai Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI)dihentikan pelaksanaannya, maka PG “diwajibkan” untuk mengadakan hubungankemitraan dengan petani tebu, kemitraan ini juga didukung oleh Undang-undangNo. 9/1995 tentang Usaha Kecil dan PP No. 44/1997 tentang Kemitraan. Disamping itu hubungan kemitraan merupakan tuntutan objektif dari PG-PG yangtidak memiliki areal HGU tetapi masih memerlukan tambahan areal untukmencukupi kapasitas gilingnya seperti PG Pagottan. Pola kemitraan di PG Pagottan didasarkan pada prinsip salingmenguntungkan antar petani tebu sebagai pemasok dan PG sebagai pemroses(mengolah tebu menjadi gula). Keduanya mempunyai hak dan kewajiban yangdirumuskan bersama-sama mencakup segala aspek baik pengadaan input,budidaya, pengolahan maupun pemasarannya. Kemitraan secara menyeluruhpenting karena kemitraan pada dasarnya adalah strategi bisnis yang dilakukanoleh dua atau lebih lembaga dalam jangka waktu tertentu untuk meraih manfaatbersama, ataupun keuntungan bersama sesuai prinsip saling membutuhkan danmengisi. Selain itu kemitraan merupakan instrumen kerjasama yang mengacupada terciptanya suasana antara keseimbangan dan keselarasan yang salingbersinergi, saling membutuhkan, saling menguntungkan, saling memperkuat(etika bisnis), keseimbangan antara hak dan kewajiban, serta setara dalam halbargaining position.
  • 55 Dalam pengadaan input kemitraan yang dibangun antara PG dan petani,yaitu untuk input modal kerja, PG menjadi penjamin (avalist) kredit yangdisalurkan oleh pemerintah melalui bank kepada petani seperti Kredit KetahananPangan (KKP). PG juga mengenalkan varietas-varietas yang cocok untukdikembangkan agar dapat menghasilkan produksi tebu yang optimal. Untuk inputlahan, PG berlaku sebagai penyewa karena PG tidak mempunyai lahan HGU.Biasanya PG menyewa lahan petani selama satu musim tanam dengan ketentuanyang telah disepakati bersama. Perbandingan antara jumlah tebu yang ditanamsendiri dan tebu rakyat adalah 34 banding 66. Dalam budidaya kemitraandilakukan dengan cara PG memberikan pembinaan budidaya tebu yang baik sertamelakukan pengawasan terhadap kebun-kebun petani agar dihasilkan tebu dengankriteria MBS (Manis, Bersih, Segar). Dalam kegiatan pasca panen PGmemberikan bantuan transportasi tebu kepada para petani khususnya yangmenerima kredit. Dalam pengolahan kemitraan yang dilakukan, yaitu petanimemasok tebu ke PG yang sesuai kriteria (MBS) serta tepat waktu. Sedangkan didalam pemasaran kemitraan dilakukan dimana PG dan petani bersama-samamemperjuangkan agar menerima harga gula secara layak.5.4 Perkembangan Produksi Pabrik Perkembangan produksi di PG Pagottan dapat ditinjau dari beberapa hal,antara lain penyediaan bahan baku, keberhasilan dalam proses pengolahan, sertaketersediaan tenaga kerja. Data yang dianalisis merupakan data-data yang terjadiselama tujuh tahun terakhir. Untuk melihat kinerja penyediaan bahan baku makadapat dilihat perkembangan dari luas lahan yang digunakan, jumlah tebu yang
  • 56dihasilkan, produktivitas tebu per ha serta tingkat rendemen yang dihasilkan.Keberhasilan dalam proses pengolahan dapat dilihat dari data produksi gula, lamagiling serta pemakaian bahan pembantu, yaitu belerang, kapur tohor, P2O5, danflokulant. Sedangkan untuk melihat ketersediaan tenaga kerja dapat melihatformasi karyawan PG Pagottan.1) Luas lahan Bahan baku yang dipasok ke PG Pagottan berasal dari dua sumber, yaitutebu yang berasal dari petani yang disebut sebagai Tebu Rakyat (TR) dan tebuyang berasal dari lahan yang disewa PG Pagottan yang disebut sebagai TebuSendiri (TS). Luas lahan yang dimaksud adalah luas lahan tebu yang digiling.Berdasarkan Lampiran 3 terlihat bahwa dari periode pertama masa giling 2001hingga periode akhir masa giling 2007, luas lahan mengalami peningkatan sebesar2,44 persen per periode. Pada Lampiran 2 juga dapat dilihat bahwa pada tahun2004 luas lahan dalam satu periode giling tidak sama, hal ini disebabkan olehadanya penambahan areal dari PG sesaudara, yaitu PG yang berada di wilayahkerja PTPN XI dan letaknya masih dalam satu kabupaten. Total luas lahan yangberasal dari PG sesaudara pada tahun 2004 adalah 1,665 ha. Terdapat beberapa alasan mengapa PG sesaudara menggilingkan tebunyadi PG Pagottan. Pertama karena adanya kondisi cost major, yaitu kondisi tidaknormal yang dihadapi PG sesaudara, seperti terjadi kebakaran lahan tebu sebelumwaktunya giling sehingga dirasa lebih menguntungkan jika PG sesaudara ikutmenggilingkan tebunya pada PG yang telah memasuki masa giling. Alasanlainnya adalah ketika PG sesaudara mengalami kerusakan mesin danmembutuhkan waktu yang cukup lama untuk memperbaikinya, sehingga untuk
  • 57mengurangi kerugian maka PG sesaudara menggilingkan tebunya ke PG lain (PGPagottan).2) Jumlah tebu Tanaman tebu merupakan bahan baku utama dalam kegiatan prosesproduksi gula pasir, sehingga ketersediaannya sangat mempengaruhi kegiatanproduksi. Dari perkembangan jumlah pasokan tebu yang terlihat pada Lampiran 3,dapat diperoleh gambaran bahwa pertumbuhan produksi tebu rata-rata di pabrikdari periode awal masa giling 2001 sampai periode akhir masa giling 2007cenderung mengalami peningkatan sebesar 1,45 persen per periode. Peningkatanjumlah tebu ini sangat dipengaruhi oleh pasokan bahan baku dari tebu sendiriyang mengalami peningkatan sebesar 4,68 persen per periode dan peningkatanyang cukup signifikan dari tebu rakyat, yaitu sebesar 14,2 persen per periode.Peningkatan produksi tebu, baik untuk tebu sendiri maupun tebu rakyat sangatdipengaruhi oleh peningkatan luas lahan dan produktivitas tebu per hektar.Penurunan produksi tebu yang cukup drastis terjadi pada tahun 2001 baik untukproduksi tebu rakyat maupun tebu sendiri, dengan total penurunan mencapai 40persen.3) Kualitas tanaman tebu Selain kuantitas pasokan bahan baku tebu, produksi gula juga dipengaruhioleh kualitas pasokan tebu tersebut. Kualitas tebu didasarkan pada kadar guladalam tebu, yang dapat ditunjukkan oleh tingkat rendemen. Besarnya nilairendemen antara lain dipengaruhi oleh budidaya tebu (jenis lahan, iklim, varietas,pupuk, tanaman pertama atau keprasan), tingkat kemasakan sebelum ditebang,jarak waktu tebang-giling, serta kinerja pabrik. Pada budidaya tebu di lahan sawah
  • 58umumnya mempunyai rendemen yang lebih tinggi daripada lahan tegalan.Rendemen akan tinggi bila iklim dan jumlah pupuk yang diberikan sesuai dengankebutuhan pertumbuhan tebu dimana pada umumnya tebu membutuhkan banyakair dan pupuk pada saat tanam dan membutuhkan keadaan yang kering sebelumtebang agar berfotosintesis secara optimal. Disamping itu membudidayakantanaman pertama akan mendapatkan rendemen yang lebih tinggi daripadamembudidayakan tanaman keprasan. Untuk tingkat kemasakan tebu sangatdipengaruhi oleh periode penebangannya. Apabila tebu ditebang pada periodeoptimal maka akan diperoleh tingkat rendemen yang tinggi. Sebaliknya, apabilapenebangan dilakukan sebelum maupun sesudah periode optimal maka akandiperoleh tingkat rendemen yang rendah. Setelah tebang, tebu harus digilingmaksimal 36 jam dari waktu tebang agar rendemen tidak menurun. Sedangkankelancaran di dalam proses produksi ditentukan oleh pengelolaan dari kegiatanproduksi serta keadaan mesin dan peralatan yang digunakan. Perkembangan mengenai rendemen yang dihasilkan baik dari tebu rakyatmaupun tebu sendiri dapat dilihat pada Lampiran 3 pertumbuhan rendemen dariperiode awal masa giling 2001 hingga periode akhir masa giling 2007menunjukkan kecenderungan peningkatan sebesar 1,83 persen per periode,peningkatan ini dipengaruhi oleh peningkatan rendemen tebu sendiri sebesar 6,5persen per periode, dan peningkatan rendemen tebu rakyat sebesar 3,3 persen perperiode. Tingkat rendemen tebu rakyat tiap tahunnya selalu lebih kecil daripadatebu sendiri. Hal ini disebabkan oleh kebijakan pola tebang yang diperbaharuidimana pelaksanaan tebang-giling sudah proporsional dimana tebu sendiri dantebu rakyat sama-sama digiling pada waktu optimalnya dengan memperhitungkan
  • 59rasio jumlah tebu rakyat dan tebu sendiri, yaitu 40-45 bagian tebu sendiri dan 55-60 bagian tebu rakyat.4) Produksi gula Gula produk yang dihasilkan PG Pagottan berupa gula kristal putih (directplantation white sugar) atau juga dikenal sebagai SHS (Superieur Hoofd Suiker).Berdasarkan Lampiran 3, terlihat bahwa pertumbuhan total produksi gula sejaktahun 2001 hingga 2007 menunjukkan kecenderungan peningkatan sebesar 3,48persen per periode, peningkatan ini dipengaruhi oleh kecenderungan peningkatanproduksi gula tebu sendiri dan tebu rakyat masing-masing sebesar 8,73 persen perperiode dan 23,38 persen per periode. Peningkatan produksi gula tebu rakyat yangcukup signifikan terjadi tidak hanya karena perluasan areal tetapi juga disebabkanoleh perbaikan mutu intensifikasi budidaya dan introduksi varietas unggul padaareal bongkaran keprasan (bongkar ratoon). Pada tahun 2001 hingga 2007 jumlah produksi gula yang dihasilkan olehPG terlihat selalu lebih besar daripada Petani Tebu Rakyat (PTR), meskipun padabeberapa tahun tertentu jumlah rendemen dan produksi gula tebu rakyat lebihbesar daripada PG. Hal ini dapat dipahami bahwa data produksi gula tersebutmerupakan data bagi hasil, dengan demikian jumlah tebu yang dimiliki PG selainkontribusi dari tebu yang dihasilkan di lahan sewa juga dihasilkan dari bagi hasilpengolahan tebu rakyat. Bagi hasil ini merupakan “upah” yang diberikan petanikarena PG telah menggiling tebu mereka, dengan perjanjian bagi hasil, yaitu 66persen untuk petani dan 34 persen untuk PG.
  • 605) Lama giling Lama giling merupakan waktu yang digunakan oleh pabrik untukmengolah tebu menjadi gula. Lama giling dinyatakan dengan satuan hari. Lamagiling sangat dipengaruhi oleh jumlah tebu yang akan digiling, semakin banyakjumlah tebu yang akan digiling maka semakin lama waktu gilingnya demikianpula sebaliknya. Di samping itu lama giling sangat mempengaruhi tingkatrendemen gula yang dihasilkan, semakin banyak waktu yang digunakan untukmenggiling maka tingkat rendemen akan turun sehingga akan mempengaruhijumlah gula yang dihasilkan. Namun bila lama giling terlalu cepat jugamenyebabkan rendemen turun karena tebu belum masak sudah digiling sehinggadapat mempengaruhi jumlah gula yang dihasilkan. Pada umumnya waktu yangoptimal untuk lama giling, yaitu 170 sampai 180 hari. Sedangkan rata-rata lamagiling di PG Pagottan dari tahun 2001 hingga 2007 adalah 15 hari per periode. Secara umum perkembangan lama giling di PG Pagottan memperlihatkankecenderungan yang menurun sebesar 0,42 persen per periode selama tahun 2001hingga 2007. Lama giling tercepat terjadi pada periode awal tahun 2002 danperiode akhir tahun 2003 dengan lama giling 8 hari, hal ini terjadi karena jumlahbahan baku yang sedikit dibandingkan periode sebelumnya.6) Bahan pembantu Dalam proses produksi gula PG Pagottan banyak menggunakan bahanpembantu. Bahan pembantu tersebut digunakan untuk memperlancar prosesproduksi. Penambahan bahan pembantu tersebut disesuaikan dengan kondisibahan baku tebu baik kualitas maupun kuantitasnya. Bahan pembantu yangbanyak digunakan dalam proses produksi gula di PG Pagottan adalah kapur tohor,
  • 61belerang, P2O5, dan flokulant. Penggunaan bahan pembantu di PG Pagottanselama periode awal masa giling 2001 hingga periode akhir masa giling 2007cenderung mengalami penurunan sebesar 1,52 persen per periode. Penurunanpemakaian bahan pembantu ini terutama disebabkan oleh penurunan penggunaanbelerang sebesar 3,63 per periode selama masa giling 2001-2007.7) Tenaga kerja Ketersediaan tenaga kerja merupakan salah satu faktor dalam kegiatanproduksi. Tenaga kerja merupakan sumberdaya yang dapat mengelola danmengkombinasikan faktor-faktor produksi lain sehingga dapat menghasilkansuatu output yang diinginkan. Di PG Pagottan terdapat dua jenis tenaga kerja,yaitu karyawan staf atau karyawan pimpinan dan karyawan non staf ataukaryawan pelaksana. Karyawan pelaksana dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitukaryawan tetap bulanan dan karyawan tetap harian. Di samping itu juga adakaryawan tidak tetap yang terdiri dari karyawan kampak, karyawan tebang,karyawan musim tanam, karyawan musim lain-lain, dan karyawan ekstra atauharian lepas. Karyawan yang akan dilihat perkembangannya adalah karyawan pelaksanayang terbagi atas karyawan tetap dan karyawan tidak tetap atau musiman. Secaraumum perkembangan karyawan tetap dari periode awal tahun 2001 hinggaperiode akhir tahun 2007 mengalami kecenderungan penurunan sebesar 0,23persen per periode. Penurunan ini disebabkan oleh karyawan tetap yang pensiunataupun mutasi pekerjaan. Sedangkan jumlah karyawan musiman mengalamipeningkatan sebesar 0,33 persen per periode. Meskipun demikian jika adapengurangan jumlah karyawan itu bukan disebabkan oleh PHK namun karena
  • 62adanya peningkatan golongan dari karyawan harian menjadi karyawan kampanye.Sehingga jumlah karyawan tetap namun dengan komposisi yang berbeda.Berkurangnya jumlah karyawan juga disebabkan oleh faktor usia (sudah lanjut).5.5 Agribisnis Gula5.5.1 Usahatani Tebu5.5.1.1 Pengadaan Bahan Tanam dan Persiapan Lahan Tebu Giling Pengadaan bahan tanam atau bibit merupakan kegiatan awal yangmemegang peranan penting dalam usaha mendapatkan pembibitan dengankualitas yang baik. Bibit tebu dengan varietas yang sesuai merupakan salah satumodal utama dalam keberhasilan produksi tebu. Varietas tebu yang diusahakan diPG Pagottan sangat beragam (17 varietas, namun yang sering digunakan 10varietas) dan secara garis besar dibedakan atas empat kemasakan, yaitu masakawal, masak awal tengah, masak tengah, dan masak tengah lambat (Tabel 5).Untuk varietas yang diusahakan dalam pembibitan umumnya harus memenuhibeberapa syarat, yaitu tingkat kemurnian tinggi (85 persen), bebas hama danpenyakit, daya kecambah tinggi (90 persen), tahan kekeringan, tahan dikepras(produksi tanaman keprasan tinggi), sesuai dengan bulan tanam serta sesuai lahandan iklim.Tabel 5 Varietas Tebu yang Digunakan PG Pagottan No. Masak Awal Awal Tengah Tengah Tengah Lambat 1. N XI 1-1 PS 85-1 BM 9605 (F 05)/KK BL 2. PS 86-2 PS 82-1064 PS 92-1 PS 95-1 3. PS BM 88-144 PS 86-4 PS JT 941 4. PS CO 902 ROC 11 5. PS BM 89-95 ROC 12 6. ROC 13 7. PA 117Sumber: Litbang Bagian Tanaman PG Pagottan, 2008
  • 63 Berdasarkan kepemilikan lahan PG Pagottan belum mempunyai Hak GunaUsaha atau lahan Non HGU. Oleh karena itu, untuk budidaya tebu PG Pagottanharus menyewa lahan dari petani atau masyarakat sekitar. Karena menggunakanlahan sewa maka untuk mendapatkan lahan seluas satu hektar saja perlu menyewabeberapa tempat. Luas lahan sewa yang digunakan PG Pagottan untuk tanamantebu per 2007 adalah 2.390,142 ha dengan komposisi lahan sawah sebesar2.378,566 ha dan lahan tegalan sebesar 7,376 ha. Sisanya digunakan untuk kebunbibit sebesar 4,2 ha. Lahan sewa tersebut dapat menghasilkan tebu sebesar182.527,8 ton. Selain tebu sendiri PG Pagottan juga menampung tebu rakyatsebesar 227.268,7 ton dari luas lahan 3.318,597 ha. Dari produksi tebu tersebutterdapat perbedaan rendemen antara tebu sendiri dan tebu rakyat, yaitu masing-masing sebesar 8,86 persen dan 7,23 persen. Perbedaan tersebut diduga berasaldari sistem penanaman dan pemeliharaan tanaman.5.5.1.2 Sistem Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman Ada dua macam cara tanam yang biasa digunakan pada lahan khususnyapada lahan tegalan, yaitu tanam kering dan basah. Tanam kering dilakukan jikapengairan sulit. Proses tanam kering, yaitu dilakukan penanaman dahulu setelahitu dilakukan pengairan. Sedangkan cara tanam basah, pengairan dilakukansebelum tanam sehingga keadaan alas tanam membentuk jenangan. Dibandingkandengan tanam kering, tanam basah lebih menguntungkan karena dapat menghematpengairan dan mata tunas lebih cepat berkecambah.
  • 64 Pemeliharaan tanaman bertujuan mendapatkan pertumbuhan tebu yangbaik. Pemeliharaan meliputi pemeliharaan tanaman pertama (plant cane/PC)meliputi: penyulaman yang bertujuan mempertahankan populasi tanaman dalamjumlah tetap pada satuan luas tertentu, pengairan, pengendalian gulma baik secaramekanis maupun khemis, pemupukan, pembumbunan atau penimbunan tanahdisekitar tanaman, klentek atau membersihkan tebu dari kulit dan daun yang sudahkering, pemberantasan hama dan penyakit serta kuras got yang bertujuanmemperdalam got sesuai ukuran standard agar mampu berfungsi dengan baik.Sedangkan pemeliharaan tanaman keprasan pada umumnya sama dengan PC.Adapun yang membedakan antara tanaman keprasan dan PC adalah kegiatan-kegiatan seperti : pedot oyot yang dilakukan segera setelah tanaman dikepras.Pedot oyot, yaitu memotong disamping kanan dan kiri barisan tanaman dengankedalaman 20 cm dengan tujuan memutus akar-akar lama dan mendorongtumbuhnya akar-akar baru yang sehat dan kuat.5.5.1.3 Tebang dan Angkut Tebang, muat, dan angkut merupakan pekerjaan terakhir dari kegiatanpengadaan bahan baku industri gula. Pelaksanaan kegiatan tersebut harusdirencanakan secara matang karena tebu merupakan tanaman semusim yangmempunyai nilai produksi yang ditentukan oleh batasan waktu. Agar diperolehtebu yang manis, bersih, dan segar maka pelaksanaan tebang harus tepat danproses penebangan serta angkutan harus berpegang pada batasan-batasan tertentu.Sebagai dasar penentuan suatu kebun cukup optimal untuk ditebang adalahdengan analisa pendahuluan yang akan menghasilkan angka rendemen, KoefisienDaya Tahan (KDT) dan Koefisien Peningkatan (KP). Dari hasil analisa tersebut
  • 65kemudian diberi skor atau nilai yang selanjutnya dikalkulasikan. Kebun yangmempunyai nilai tertinggi mendapat prioritas tebang terlebih dahulu. Analisapendahuluan dilakukan pada saat tebu berumur 1-45 hari. Tebu yang dianalisaadalah tebu dari PC dan ratoon. Kegunaan dari analisa pendahuluan selain dariyang disebutkan di atas, yaitu dengan analisa pendahaluan PG dapat menentukanlahan mana yang akan diberikan perlakuan tambahan seperti pemberian ZPK (ZatPemacu Kemasakan).5.5.1.4 Pasca Panen dan Kriteria Bahan Baku Tebu Pengaturan tebu dari lori maupun truk di PG Pagottan menggunakansistem FIFO (first in first out). Maksudnya adalah tebu yang masuk paling awalakan digiling terlebih dahulu sesuai jadwal. Truk dari kebun sebelum ditimbangbiasanya diatur di emplasment sesuai dengan jadwal kedatangan. Sedangkanuntuk lori setelah ditimbang diatur di emplasment sesuai dengan jadwalkedatangan. Kritera tebu giling sebagai bahan baku pabrik adalah manis, bersih, dansegar. Yang dimaksud manis, yaitu tebu sudah cukup tua atau masak yangditebang pada saat rendemen puncak dan tebu ditebang dengan cara didongkelatau pemotongan sampai tanah dengan Faktor Kemasakan (FK) sebesar 25-30persen, Koefisien Daya Tahan (KDT) dan Koefisien Peningkatan (KP) sebesar90-100 persen. Besarnya faktor-faktor tersebut tergantung pada varietas tebu yangditanam. Adapun yang dimaksud bersih adalah bahan baku tebu terbebas dariunsur non tebu (kotoran) maksimal 5 persen, meliputi: pucukan, tebu muda(sogolan), daun tebu (pucuk dan daun kering/daduk), akar dan tanah, serta barang
  • 66asing lain. Sedangkan yang dimaksud tebu segar secara teoritis adalah saat tebuditebang dan digiling maksimal 36 jam, tebu tidak kering, dan tebu tidak dibakar.5.5.2 Pengolahan Tebu5.5.2.1 Proses Pengolahan Tebu Menjadi Gula Proses produksi gula pasir di PG Pagottan pada dasarnya berupa aliranproses produksi. Diagram tersebut menunjukkan bahwa proses pengolahan tebumenjadi gula merupakan proses yang saling berhubungan, jika terjadi kemacetanpada satu tahapan produksi akan mempengaruhi proses produksi selanjutnya. Tahapan kegiatan produksi di PG Pagottan dapat dibagi berdasarkan unistasiun pelaksana proses produksi, yaitu:1. Stasiun Gilingan Proses ini bertujuan mendapatkan nira mentah sebanyak-banyaknya daridalam batang tebu sehingga didapatkan kandungan gula semaksimal mungkindengan menekan kehilangan gula yang ikut bersama ampas sekecil mungkin.Proses pada stasiun penggilingan tebu dimulai dari truk atau lori yang diterimadibagian penerimaan kemudian dipindahkan ke keprak tebu melalui tipper ataumeja tebu yang selanjutnya dibawa ke cane cutter. Tebu yang masuk ke stasiungilingan dipotong dan dicacah, cacahan tebu kemudian digiling pada rol-rolgilingan sehingga dihasilkan nira mentah dan ampas. Untuk memaksimalkanpemerahan di stasiun gilingan PG Pagottan dilengkapi 5 unit rol penggiling.Sedangkan untuk memperkecil kehilangan gula dalam ampas ditambahkan airimbisisi pada gilingan ke IV dan V. Nira mentah yang dihasilkan dipompa kestasiun pemurnian dan ampas dipakai sebagai bahan bakar. Banyaknya komponen
  • 67di dalam nira akan membawa pengaruh terhadap sifat-sifat nira. Karena yangdiambil adalah saccharosa maka yang perlu dihilangkan adalah air dan komponenbukan gula.2. Stasiun Pemurnian Tujuan dari pemurnian adalah menghilangkan atau membuang bahanorganik maupun anorganik bukan gula yang terdapat dalam nira dengan carakimia atau fisika sehingga diperoleh kadar sukrosa yang semaksimal mungkin darinira dan kerusakan sukrosa yang serendah mungkin. Proses pemurnian inidilakukan dengan sistem sulfitasi alkalis, yaitu cara pemurnian nira denganmenggunakan bahan pembantu penetralan berupa susu kapur (Ca (OH)2) yangberguna untuk mencegah terjadinya inversi (kerusakan), mengendapkan kotoran-kotoran pada nira encer serta mengatur derajat keasaman (pH) nira. Selain itu didalam stasiun ini terdapat penambahan gas belerang (SO2) yang diperoleh daripembakaran belerang padat yang berguna untuk menetralkan kelebihan susu kapurdalam nira. Pada penetralan dengan gas SO2 akan terjadi endapan ekstra kalsiumsulfit. Endapan ini akan mengabsorbsi kotoran-kotoran dalam nira. Di stasiun pemurnian diperoleh nira jernih (nira encer) dan nira kotor. Nirajernih akan dialirkan ke stasiun penguapan sedangkan nira kotor dialirkan kevacum filter untuk memisahkan kotoran padat (blotong) dengan kotoran cair (niratapis). Nira tapis dikembalikan lagi pada bak nira mentah tertimbang, sedangkanblotong dijadikan bahan pembuatan kompos yang selanjutnya digunakan sebagaipupuk.3. Stasiun Penguapan
  • 68 Dalam stasiun ini terjadi proses penguapan (evaporasi) yang dialakukanuntuk menguapkan air yang terdapat dalam nira encer sehingga diperoleh niradengan kekentalan tertentu. Nira kental yang keluar dari pan penguapan dilakukanpemberian gas SO2 sampai nilai pH nira kental mencapai 5,4-5,6 yang bertujuanmemucatkan warna nira kental agar kristal gula yang dihasilkan berwarna lebihputih dan mencegah terjadinya perubahan warna karena gas SO2 mempunyai sifatmenahan peningkatan intensitas warna. Nira kental tersulfitir tersebut kemudiandialirkan ke stasiun masakan untuk proses lebih lanjut. Di dalam prosespenguapan tersebut akan didapat hasil sampingan berupa air kondensat yang dapatdimanfaatkan pada stasiun ketel.4. Stasiun Kristalisasi Nira yang dihasilkan di stasiun penguapan masih mempunyai kadar airyang tinggi sehingga sukrosa dalam keadaan terlarut. Bila nira kental ini diuapkanairnya maka akan mencapai titik jenuh dan jika penguapan masih berlanjut makalarutan akan menjadi sangat jenuh yang akhirnya terjadi pengkristalan. Akantetapi gula yang terkandung dalam nira kental tidak dapat dikristalkan seluruhnyadan harus dilakukan secara bertahap dengan menggunakan pan masakan yangbertekanan vakum di atas 65 mmHg dan suhu 70°C, yaitu masakan A, C, dan D.Pada stasiun ini akan dihasilkan larutan kristal gula (mascuite) serta hasilsampingan berupa air kondensat yang dapat dimanfaatkan oleh stasiun ketel. Pada tingkat masakan A, nira kental dimasak pada masakan A denganbibitan magma C, hasil masakan (mascuite) diputar menjadi stroop A dan gulaA1. Gula A1 dicampur dengan klare A menjadi magma A kemudian diputar lagisehingga menjadi gula produk (GKP) dan klare A. Bahan untuk membuat
  • 69masakan C adalah stroop A dengan bibitan magma D. hasil masakan C adalahmascuite dan diputar menjadi stroop C dan gula C. Setelah dicampur air, gula Cakan menjadi magma C kemudian dipakai sebagai bibitan masakan A. Bahanuntuk membuat masakan D adalah stroop A, stroop C, dan klare D dengan bibitanFondan. Mascuite D setelah didinginkan kemudian diputar dan dihasilkan tetesdan gula D1. Magma D1 diputar menjadi klare D dan gula D2. Gula D2 dicampurdengan air menjadi magma dan dipakai sebagai bibitan masakan C.5. Stasiun Puteran dan Penyelesaian Mascuite dari hasil proses pengkristalan dalam pan merupakan suatumassa campuran yang terdiri dari larutan dan kristal sakarosa. Sesudah mengalamipendinginan dalam palung pendingin selanjutnya dipisahkan kristal danlarutannya. Pemisah dilakukan dalam suatu alat saringan (puteran) yangmenggunakan gaya sentrifugal sebagai kekuatan pendorongnya. Langkah-langkah yang terjadi pada pemutaran mascuite terbagi atas tigalangkah, yaitu:a. Penghilangan larutan yang ada disekitar kristal dan memenuhi ruangan- ruangan di antara kristal-kristal.b. Penghilangan sisa larutan yang masih tertinggal di antara kristal sehingga hanya tinggal lapisan yang menempel pada kristal.c. Mengurangi jumlah atau ketebalan lapisan larutan yang tertinggal pada permukaan kristal. Gula produk yang dihasilkan dari pemutaran mascuite A kondisinya masihbasah. Gula basah ini dijatuhkan pada talang goyang/getar. Pengeringan guladengan dihembus udara kering dan panas pada suhu 104° -132°C. Gula yang
  • 70dihasilkan dibagi menjadi gula halus, normal dan kasar. Gula halus dan kasar akandilebur lagi sebagai bahan masakan A. Gula normal dengan diameter 0,9-1,1 mmdimasukkan ke gudang untuk disimpan.5.5.2.2 Limbah Limbah diartikan sebagai bahan yang dihasilkan dalam suatu proses yangtidak berguna lagi untuk proses tersebut. Semua proses menghasilkan limbah,mulai dari proses hidup yang terjadi dalam tubuh organisme hidup, misalnya CO2dan panas dari pernapasan serta O2 dari fotosintesis, sampai pada proses dalamindustri misalnya CO2, NO serta logam berat dari proses kimia tertentu dalampabrik. Limbah yang tidak berguna untuk proses tersebut keluar dari pabrik kelingkungan. Jika laju masukan limbah ke dalam lingkungan lebih besar daripadalaju asimilasi atau degradasi limbah maka akan merusak dan terjadilahpencemaran. Limbah pabrik gula Pagottan dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitulimbah padat, limbah cair, dan limbah gas. Limbah padat terdiri dari blotong, abuketel dan ampas halus, namun limbah ini telah dapat dimanfaatkan oleh pabrikbaik menjadi pupuk maupun bahan berguna lainnya. Limbah cair dapatdigolongkan menjadi dua berdasarkan jumlah dan sifat pencemarannya, yaitu 1)tingkat pencemaran rendah dengan jumlah besar seperti air bekas kondensor, 2)tingkat pencemaran tinggi dengan jumlah sedikit seperti air cucian peralatan,tumpahan nira, cucian tapisan, bocoran dari peralatan yang rusak, air cucianevaporator, dan air buangan ketel. Limbah cair yang dihasilkan dapat diatasidengan sistem pengolahan limbah yang baik. Sedangkan untuk limbah gas terdiri
  • 71dari CO2, CO, SO2, dan asap cerobong. Limbah inilah yang masih belum dapatdikelola dengan baik oleh PG Pagottan.5.5.2.3 Hasil Samping Gula Tebu Dalam proses pengolahan tebu selain menghasilkan gula juga dihasilkanproduk-produk sampingan, yaitu berupa tetes, blotong, dan ampas. Tetesmerupakan larutan sisa yang tidak bisa lagi dimasukkan dalam proses untukdiambil kristalnya. Saat ini tetes sudah bisa dijadikan barang produk dan sudahmerupakan kebutuhan yang tidak bisa dikesampingkan peranannya. Di PTPN XIusaha diversifikasi yang telah dilakukan adalah mengolah tetes menjadi alkoholdan spirtus yang pabriknya berlokasi di Djatiroto. Selain pembuatan alkohol diIndonesia, tetes dapat dibuat bermacam-macam keperluan, misalnya bumbumasak (MSG), pellet (makanan ternak), kecap, dan ragi. Blotong merupakan hasilpemisahan di stasiun pemurnian, di PG Pagottan blotong dapat dijadikan pupukkompos yang dicampur abu ketel dan dijadikan bahan bakar karena mengandungbiogas. Sedangkan ampas adalah hasil pemisahan di stasiun gilingan. Ampasdapat dimanfaatkan untuk bahan baku pembuatan pulp kertas, solvent, particleboard, hard board, cellulose, dan lain-lain.5.5.2.4 Standardisasi Mutu Gula Standardisasi mutu gula produk ditentukan oleh P3GI. Adapunstandardisasi mutu gula dapat dilihat pada Tabel 6.
  • 72Tabel 6 Standardisasi Mutu Gula Kristal Putih No. Unsur Satuan GKP Metode 1. Warna 1.1 Warna Kristal CT 5,0 – 10,0 Refleksi 1.2 Warna larutan (ICUMSA) IU Max 300 Spektometris 2. Berat jenis butir mm 0,8 – 1,2 Ayakan 3. Susut pengeringan % bb Max 0,15 Oven/IR driyer 4. Polarisasi °Z, 20°C Min 99,5 Polarimetris 5. Abu konduktiviti % bb Max 0,15 Konduktometris 6. Bahan tambahan makanan 6.1 Belerang dioksida (SO2) mg/kg Max 30 IodometriSumber: Bagian Pabrikasi PG Pagottan, 20085.5.2.5 Pengepakan dan Penyimpanan Gula produk yang telah ditimbang dimasukkkan ke dalam karung goniyang bagian dalamnya telah dilapisi plastik, tujuannya adalah melindungi kristalgula dari uap air selama penyimpanan. Berat setiap karung adalah 50 kg. karungyang telah diisi kemudian dijahit dan disimpan di gudang. PG Pagottan mempunyai empat gudang penyimpanan gula (gudang A, B,C, dan D) dan satu gudang cadangan (gudang E) dengan luas dan kapasitas yangberbeda-beda. Luas gudang A, gudang B, gudang C, dan gudang D masing-masing adalah 1830 m2, 774 m2, 968 m2, 968 m2. Dengan kapasitas gudang Asebesar 56.881 kuintal, gudang B sebesar 26.803 kuintal, gudang C sebesar35.556 kuintal, dan gudang D berkapasitas 34.455 kuintal. Sedangkan gudang Emerupakan gudang cadangan yang digunakan jika semua gudang tidak mampumenampung jumlah produksi gula. Biasanya gudang E digunakan sebagai gudangrabuk (pupuk).
  • 735.5.3 Distribusi Gula5.5.3.1 Bagi Hasil Giling Antara PG dan PTR PG Pagottan disamping mengolah tebu sendiri juga mengolah tebu rakyat.Bagi hasil terhadap gula yang dihasilkan tebu rakyat mengacu pada kesepakatanantara PTPN XI dan Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) mengenai tata cara atauperhitungan bagi hasil gula, yaitu apabila rendemen tebu rakyat sampai denganenam persen maka petani mendapatkan 66 persen hasil sedangkan PGmendapatkan 34 persen. Tetapi jika rendemen tebu rakyat di atas enam persenmaka hasil awal (rendemen enam persen) ditambah selisih di atas enam persendengan perhitungan bagi hasil 70 persen untuk petani dan 30 persen untuk PG.5.5.3.2 Sistem Penjualan Gula PTR dan PG Setelah lepas dari monopoli BULOG pada tahun 1999, saat ini sistemperdagangan gula dikelola oleh masing-masing perusahaan. Sebagian besar gulamilik PTR dan PG bersama-sama dijual dalam pelelangan. Dalam pelelangan gulamilik PTR dan PG telah mendapatkan dana talangan yang besarnya sesuai hargadasar yang disepakati antara petani, perusahaan selaku penjamin bahwa petaniyang mendapatkan dana talangan benar-benar memiliki gula dari hasilpenggilingan tebu, investor dana talangan, dan pemerintah. Dana talangan inidimaksudkan agar petani dapat melakukan kegiatan budidaya dikebun tanpa harusmenunggu kapan gula akan terjual semua. Di samping itu dana talangan jugadimaksudkan untuk melindungi para produsen tebu dari kerugian. Dana talangantersebut biasanya dibayarkan oleh investor dengan perjanjian bila harga gula dipelelangan lebih tinggi dari dana talangan maka kelebihannya tersebut akan dibagimenurut perhitungan 60 persen untuk PTR dan 40 persen untuk PG sisa dari
  • 74masing-masing tersebut, yaitu 40 dan 60 persen akan diberikan kepada investorsebagai penyedia dana talangan. Selain dijual dalam pelelangan untuk gula milik PG sebagian kecil (limapersen dari total produksinya) dijual dalam bentuk ritel ke perusahaan-perusahaanseperti alfamart, indomaret, grosir, dan lain-lain dengan harga yang telahdisepakati bersama. Sedangkan untuk gula milik PTR (sepuluh persen dari totalproduksinya) diberikan ke petani dalam bentuk natura. Natura ini diberikan agarpetani tebu mempunyai gula untuk konsumsinya sehari-hari. Untuk lebih jelasnyamengenai pemasaran gula PG Pagottan dapat dilihat pada Gambar 5. KD PASAR MILIK PG PG RITEL TEBU PABRIK GULA 5% LELANG PTR MILIK PTR NATURA 10% Gambar 5 Bagan Pemasaran Gula di PG Pagottan Sumber: PG Pagottan, 2008
  • 75 VI ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI GULA PASIR6.1 Pemilihan Model Fungsi Produksi Model fungsi yang digunakan di dalam penelitian ini adalah model fungsiproduksi Cobb-Douglass. Sebelum menerima model fungsi yang diajukantersebut, terlebih dahulu harus dilakukan pengujian terhadap ketepatan modeldengan mempertimbangkan asumsi-asumsi yang mendasarinya dengan melihatkoefisien determinasi (R2), F-hitung dan t-hitung untuk masing-masing parameterdugaan. Hal ini perlu dilakukan agar validitasnya terjamin. Analisis regresi yang dilakukan dalam penelitian ini bertujuan untukmengetahui variabel-variabel yang mempengaruhi produksi gula di PG Pagottan.Factor-fakor produksi yang diduga berpengaruh terhadap produksi gula, yaitubahan baku tebu, rendemen, jam mesin, tenaga kerja tetap, tenaga kerja musiman,bahan pembantu, dan lama giling yang digunakan dalam proses produksi daritahun 2001-2007 (per periode) (Lampiran 2). Dari variable-variabel yang terdapatpada Lampiran 2, maka dapat dibentuk suatu model regresi berganda. Hasilanalisis dan model regresi kegiatan produksi gula dengan memanfaatkan ketujuhfaktor produksi tersebut adalah sebagai berikut. Hasil pendugaan awal yang diperoleh dari model Cobb-Douglas adalah :Ln produksi gula = 2,60 + 0,0555 Ln jumlah tebu + 0,988 Ln rendemen + 1,126 Ln jam mesin + 0,329 Ln tenaga kerja tetap – 0,796 Ln tenaga kerja musiman – 0,026 Ln bahan pembantu – 0,084 Ln lama giling
  • 76Tabel 7 Hasil Pendugaan Fungsi Produksi Gula dengan Tujuh Faktor Produksi Variabel Koefisien T-Hitung Nilai Peluang-t Nilai VIF Dugaan Konstanta 2,599 2,42 0,019 Jumlah tebu (X1) 0,055 2,18 0,016 3,0 Rendemen (X2) 0,998 12,55 0,000 1,5 Jam mesin (X3) 1,126 10,38 0,000 9,7 Tenaga kerja tetap (X4) 0,329 1,98 0,220 4,1 Tenaga kerja musiman (X5) -0,796 -3,62 0,031 4,0 Bahan pembantu (X6) -0,029 -0,81 0,591 1,6 Lama giling (X7) -0,084 2,39 0,024 10,0 2 R : 96,2% R2 adj : 95,7% F- hitung : 214,85 P-value : 0,000 MS : 0,00261 Uji Durbin-Watson : 2,11653 Suatu model terbaik harus memenuhi beberapa asumsi OLS antara lainadalah normalitas (kenormalan sisaan), homoskedastisitas (kehomogenan ragam),tidak terdapat multikolinearitas (hubungan antar variabel) dan autokorelasi. PadaLampiran 7 dapat dilihat bahwa pada analisis regresi dengan tujuh faktor produksiasumsi normalitas terpenuhi. Asumsi ini terpenuhi karena tebaran sisaanmembentuk suatu garis lurus. Asumsi homoskedastisitas juga terpenuhi karenapenyebaran nilai-nilai residual tidak membentuk suatu pola tertentu (Lampiran 8). Dari hasil pengolahan, dapat dilihat bahwa nilai VIF lama giling sebesar10,0. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa jika nilai VIF lebih besardari 10 maka diduga di dalam model terdapat gejala multikolinearitas. Variabelindependen lain yang diduga berkorelasi dengan variabel independen lama gilingadalah jam mesin yang memiliki nilai VIF sebesar 9,7. Nilai VIF kedua variabeltersebut tidak berbeda nyata dari 10, sehingga diduga kedua faktor produksi
  • 77tersebut memiliki korelasi yang kuat. Hal ini sangat mungkin terjadi karena faktayang ada di lapang adalah jumlah jam mesin dipengaruhi oleh lamanya hari gilingatau lama kampanye. Jika lama giling meningkat maka jam mesin juga akanmeningkat (Lampiran 2). Adanya gejala multikolinearitas tersebut, mengakibatkan model fungsiproduksi Cobb-Douglass dengan tujuh faktor produksi belum dapat dikatakansebagai model fungsi produksi yang baik. Dengan demikian gejalamultikolinearitas tersebut harus diatasi. Menurut Soekartawi, 2003, salah satu carauntuk mengatasi gejala multikolinearitas tersebut adalah dengan mengurangi salahsatu atau beberapa variabel bebas yang memiliki tingkat korelasi yang tinggidiantara satu dengan yang lain. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka didalam penelitian ini variabel lama giling dihilangkan dari model fungsi produksi. Pengujian terhadap gejala autokorelasi sangat penting dilakukan karenadata yang digunakan dalam penelitian ini adalah data time series. Pengujianautokorelasi dapat dilakukan dengan menggunakan uji Durbin-Watson (DW).Pada Tabel 7 dapat dilihat bahwa nilai hasil DW dari model Cobb-Douglasdengan tujuh faktor produksi sebesar 2,11653. Hal ini berarti bahwa pada modeltersebut tidak terjadi masalah autokorelasi karena nilai DW yang mendekati dua. Setelah dilakukan pengujian terhadap asumsi OLS, maka selanjutnyadilakukan pengujian secara statistik yang meliputi koefisien determinasi, uji-F,dan uji-t. Berdasarkan hasil pengolahan data dengan tujuh faktor produksi padataraf nyata lima persen menghasilkan koefisien determinasi (R2) yang tinggi,yaitu 0,962. Hal ini berarti bahwa 96,2 persen dari variasi produksi gula dapatdijelaskan oleh variasi faktor produksi jumlah tebu (X1), rendemen (X2), jam
  • 78mesin (X3), tenaga kerja tetap (X4), tenaga kerja musiman (X5), bahan pembantu(X6), dan lama giling (X7) sedangkan sisanya 3,8 persen dijelaskan oleh faktorlain yang tidak terdapat dalam model. Uji secara bersama-sama dengan menggunakan uji-F didapat nilai sebesar214,85 lebih besar dari F-tabel yang nilainya sebesar 2,95 dan berbeda nyata padatingkat kepercayaan 95 persen. Hal tersebut menunjukkan bahwa ketujuh faktorproduksi secara bersama-sama berpengaruh terhadap produksi gula di PGPagottan. Untuk uji setiap faktor produksi dengan menggunakan t-hitung padatingkat kepercayaan 95 persen terlihat terdapat dua faktor produksi yangpengaruhnya tidak nyata terhadap produksi gula di PG Pagottan, yaitu faktortenaga kerja tetap dan faktor bahan pembantu. Sehingga berdasarkan hasilpengolahan fungsi produksi dengan tujuh faktor produksi menghasilkan limafaktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap kegiatan produksi di PGPagottan, yaitu jumlah tebu, rendemen, jam mesin, tenaga kerja musiman, danlama giling. Selain itu, faktor produksi tenaga kerja tetap dan tenaga kerja musimandijumlahkan menjadi tenaga kerja total. Penggabungan didasarkan ataspertimbangan bahwa di dalam penggunaan faktor produksi tenaga kerja tetapkurang adanya variasi sehingga kurang mencerminkan adanya pengaruh yangsignifikan antara penggunaan input tenaga kerja tetap terhadap produksi gula.Sehingga faktor produksi yang digunakan dalam kegiatan produksi gula di PabrikGula Pagottan berupa bahan baku tebu, rendemen tebu, tenaga kerja total, jammesin, dan bahan pembantu.
  • 79 Hasil pengolahan data dengan menghilangkan variabel independen lamagiling dan penggabungan faktor produksi tenaga kerja tetap dan tenaga kerjamusiman menjadi faktor produksi tenaga kerja total disajikan pada Tabel 8.Tabel 8 Hasil Pendugaan Fungsi Produksi Gula setelah Uji Validitas Asumsi OLS Koefisien Nilai Variabel T-Hitung Nilai VIF Dugaan Peluang-t Konstanta 2,841 2,80 0,007 Jumlah tebu (X1) 0,066 2,54 0,014 2,7 Rendemen (X2) 1,010 11,99 0,000 1,5 Tenaga kerja total (X3) -0,239 -2,25 0,029 1,4 Jam mesin (X4) 1,030 16,84 0,000 2,7 Bahan Pembantu (X5) -0,01543 -0,40 0,688 1,6 2 R : 96,0% 2 R adj : 95,6% F- hitung : 255,65 P-value : 0,000 MS : 0,00259 Uji Durbin-Watson : 1,983035 Jika dibandingkan dengan hasil pendugaan dengan tujuh faktor produksi,hasil dugaan lima faktor produksi dirasa lebih baik. Hal ini dapat dilihat dariasumsi normalitas yang terpenuhi (Lampiran 9). Asumsi ini terpenuhi karenatebaran sisaan membentuk suatu garis lurus. Asumsi homoskedastisitas jugaterpenuhi karena penyebaran nilai-nilai residual tidak membentuk suatu polatertentu (Lampiran 10). Pada Tabel 8 dapat dilihat bahwa nilai VIF dari semua faktor produksidugaan memiliki nilai VIF kurang dari 10 sehingga model memenuhi asumsiOLS, yaitu tidak ada gejala multikolinearitas. Demikian halnya dengan pengujianterhadap gejala autokorelasi pada Tabel 8 dapat dilihat bahwa nilai hasil DW dari
  • 80model Cobb-Douglas dengan lima faktor produksi sebesar 1,983035. Hal iniberarti bahwa pada model tersebut tidak terjadi masalah autokorelasi karena nilaiDW yang mendekati dua. Demikian halnya dengan nilai R2 dan R2 adj yang tidak berbeda nyatadibandingkan persamaan sebelumnya, yaitu masing-masing sebesar 96,0 persendan 95,6 persen dan memiliki nilai F hitung sebesar 255,65 yang nilainya lebihbesar dibandingkan nilai F tabel, yaitu 3,34 dan berbeda nyata pada tingkatkepercayaan 99 persen. Sedangkan pengaruh faktor-faktor produksi secara parsialdapat dilihat dengan menggunakan uji-t atau dengan melihat nilai dugaan-t (Tabel8). Jika nilai dugaan-t lebih kecil dari = 0,05 maka secara parsial faktor produksitersebut secara nyata berpengaruh terhadap produksi gula. Dari Tabel 8 dapatdilihat bahwa terdapat empat faktor produksi yang berpengaruh terhadap produksigula di PG Pagottan, yaitu jumlah tebu, rendemen, jam mesin, dan tenaga kerjatotal. Dalam Tabel 8, terlihat bahwa persamaan dugaan dengan empat faktorproduksi koefisien dari variabel bebas jumlah tebu, rendemen, jam mesinmemiliki tanda yang sesuai dengan hipotesis yang diharapkan. Namun tandauntuk variabel tenaga kerja total adalah negatif, tidak sesuai dengan hipotesa awalyang diduga berpengaruh positif. Hal ini dapat dijelaskan bahwa jumlah tenagakerja total di PG Pagottan sudah melebihi batas normalnya sehingga bila ditambahmaka semakin memperkecil rasio antara jumlah tenaga kerja dengan produksigula yang dihasilkan.
  • 816.2 Analisis Elastisitas Produksi Di dalam fungsi produksi Cobb-Douglass besaran koefisien regresimerupakan nilai elastisitas produksi dari variabel-variabel yang digunakan dalamfungsi. Sehingga pengaruh masing-masing faktor produksi gula pasir dapatdiketahui, yaitu sebagai berikut:1. Jumlah tanaman tebu Berdasarkan analisis regresi, jumlah tebu mempunyai pengaruh yangpositif dan nyata pada tingkat kepercayaan 95 persen. Hasil ini sesuai denganfungsi tebu sebagai bahan baku utama yang secara langsung mempengaruhiproduksi gula, dimana peningkatan jumlah tebu akan meningkatkan produksigula. Nilai koefisien regresi yang diperoleh adalah sebesar 0,066. Nilai inimenunjukkan bahwa jika terjadi peningkatan pasokan jumlah tebu satu persenmaka produksi akan meningkat sebesar 0,066 persen, dengan asumsi semuafaktor-faktor lainnya tetap (cateris paribus).2. Rendemen Kualitas tebu ditunjukkan oleh tingkat rendemen, pada taraf nyata limapersen ternyata faktor rendemen berpengaruh nyata terhadap produksi gula pasirdi lokasi penelitian. Elastisitas produksi faktor rendemen adalah sebesar 1,01persen, artinya bahwa setiap penambahan satu persen rendemen maka akanmemberikan peningkatan produksi gula pasir sebesar 1,01 persen, dengan asumsisemua faktor-faktor lainnya tetap (cateris paribus). Hal ini berarti bahwa kualitastebu berpengaruh besar terhadap produksi gula pasir.
  • 82 Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa tingkat rendemen tebuyang dipasok ke PG Pagottan dari tahun ke tahun cenderung mengalamipeningkatan. Beberapa kebijakan perusahaan telah ditetapkan untukmeningkatkan kembali tingkat rendemen tersebut, antara lain dengan pemberianpelatihan teknis kepada petani dan diperkenalkan beberapa varietas tebu unggulkepada petani. Namun, tampaknya untuk beberapa tahun terakhir usaha tersebutmasih belum membawa pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan rendemengula. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam rangka meningkatkan produksi gulamaka tingkat rendemen juga perlu ditingkatkan.3. Jam mesin Sesuai dengan analisis regresi menunjukkan bahwa faktor jam mesinberpengaruh nyata terhadap produksi gula pasir. Dengan nilai elastisitas produksisebesar 1,03 persen menunjukkan bahwa peningkatan sebesar satu persen jammesin akan meningkatkan produksi gula pasir sebesar 1,03 persen, dengan asumsisemua faktor-faktor lainnya tetap (cateris paribus). Hal ini menunjukkan bahwajam mesin sangat berpengaruh terhadap produksi gula pasir dan dengan nilaielastisitas produksi seperti ini produksi gula pasir masih dapat ditingkatkandengan melakukan penambahan jumlah jam mesin. Berdasarkan catatan angka produksi perusahaan, diketahui bahwa jumlahjam mesin yang digunakan diduga belum optimal karena setiap bulannya dalammasa giling sering terjadi jam berhenti giling yang sebagian besar disebabkan olehperalatan produksi yang sudah tua. Sehingga mengurangi jam giling yangmenyebabkan produksi gula belum mencapai tingkat optimalnya.
  • 834. Tenaga kerja total Hasil analisis regresi pada taraf nyata lima persen menunjukkan bahwatenaga kerja berpengaruh nyata terhadap produksi gula pasir di lokasi penelitian.Berdasarkan persamaan fungsi produksi dengan lima faktor produksi, nilaikoefisien regresi tenaga kerja total sebesar -0,239. Nilai koefisien inimenunjukkan hubungan yang negatif antara faktor tenaga kerja total dan produksigula di PG Pagottan. Nilai tersebut dapat diartikan bahwa dengan adanyapeningkatan tenaga kerja total sebanyak satu persen maka akan mengakibatkanterjadinya penurunan terhadap produksi gula pasir sebesar 0,239 persen, denganasumsi semua faktor-faktor lainnya tetap (cateris paribus). Kondisi tersebut memberikan gambaran bahwa di lokasi penelitian terjadikelebihan pemanfaatan tenaga kerja total. Meskipun pemanfaatan jumlah tenagakerja total di PG Pagottan cenderung mengalami penurunan, namun ternyataproporsi tersebut belum mampu mengatasi masalah inefisiensi dalam penggunaantenaga kerja. Oleh karena itu, untuk menghindari penurunan produksi gula pasirlebih lanjut maka pihak perusahaan perlu melakukan pengaturan kembali terhadapproporsi tenaga kerja yang dimanfaatkannya.6.3 Analisis Efisiensi Sebelum melakukan analisis efisiensi terhadap faktor-faktor yangmempengaruhi terhadap produksi gula penting untuk mengetahui apakah nilaikoefisien regresi dari faktor-faktor produksi yang akan dinilai efisiensinya sudahmemenuhi syarat dari model Cobb-Douglas, yaitu nilai koefisien regresi beradaantara nol dan satu. Dari hasil analisis elastisitas yang telah dilakukan sebelumnyadapat diketahui bahwa nilai koefisien regresi dari faktor produksi tenaga kerja
  • 84total tidak memenuhi syarat model Cobb-Douglas karena mempunyai nilaikoefisien regresi yang negatif sehingga faktor tersebut tidak dapat dinilai tingkatefisiensinya terhadap produksi gula di PG Pagottan. Efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi secara alokatif pada kegiatanproduksi gula pasir dapat dilihat dari nilai perbandingan Nilai Produk Marjinal(NPM) dengan Biaya Korbanan Marjinal (BKM). Nilai produk marjinal diperolehdari perkalian antara harga rata-rata gula pasir di Pabrik Gula Pagottan dengannilai produk marjinalnya. Sedangkan biaya korbanan marjinal diperoleh dari hargarata-rata input, yaitu berupa harga rata-rata tebu yang dipasok ke Pabrik GulaPagottan. Harga rata-rata tebu petani yang dipasok ke Pabrik Gula Pagottandiperoleh dari bagi hasil dalam bentuk gula pasir (natura) yang diterima petani,dengan mempertimbangkan tingkat rendemen nota gula yang telah ditetapkanoleh pihak perusahaan. Besarnya bagi hasil petani tersebut nilainya bervariasi baikdalam satu musim giling maupun antar musim giling. Dengan memperhitungkannilai bagi hasil rata-rata tersebut maka dapat diperoleh harga tebu per ton perperiode. Namun di dalam kenyataannya, perusahaan memiliki keterbatasan modalyang digunakan untuk membeli faktor-faktor produksi. Sehingga kendala tersebutjuga harus diperhitungkan di dalam analisis efisiensi produksi. Kondisi tersebutmengakibatkan nilai perbadingan antara NPM dan BKM belum tentu bernilaisama dengan satu, melainkan sama dengan nilai tertentu. Faktor produksi yangakan diukur tingkat efisiensinya di dalam penelitian ini adalah faktor produksi
  • 85jumlah tebu. Hal ini dilakukan karena mempertimbangkan bahwa faktor produksitersebut yang dapat diukur tingkat harganya. Rata-rata produksi gula pasir per periode dari tahun 2001-2007 adalahsebesar 2510,22 ton dengan harga jual rata-rata sebesar Rp 4.002.530,- per ton(Tabel 9). Penggunaan rata-rata bahan baku tebu dalam proses produksi gula pasirsebesar 33.144,7 ton per periode. Harga tebu per ton adalah Rp 1.956.190 perperiode. Penggunaan rata-rata faktor produksi serta harga rata-ratanya digunakanuntuk menduga besarnya rasio NPM dan BKM. Tingkat efisiensi penggunaanfaktor produksi pada PG Pagottan dapat dilihat pada Tabel 9.Tabel 9 Rasio Nilai Produk Marjinal dengan Biaya Korbanan Marjinal Kegiatan Produksi Gula Pasir pada Pabik Gula Pagottan per Periode Rasio Rata-rata Koefisien Variabel NPM (Rp) BKM (Rp) NPM- Penggunaan Regresi BKM Jumlah tebu (ton) 33.144,7 0,066 20.006,74 1.956.190 0,01 Berdasarkan perhitungan pada Tabel 9, terlihat bahwa penggunaan faktorproduksi gula di PG Pagottan belum mencapai kondisi efisien. Hal ini ditunjukkanoleh rasio antara NPM dan BKM faktor produksi jumlah tebu tidak sama dengansatu. Jumlah tebu mempunyai NPM sebesar Rp 20.006,74 yang mempunyai artibahwa setiap penambahan pasokan satu ton tebu, akan memberikan tambahanpenerimaan sebesar Rp 20.006,74. Rasio NPM dan BKM diperoleh sebesar0,01dengan harga rata-rata tebu sebesar Rp 1.956.190 per ton dan koefisienregresi sebesar 0,066. Nilai rasio NPM dan BKM jumlah tebu kurang dari satumenyatakan bahwa jumlah pasokan tebu sudah melampaui batas optimal. Olehkarena itu, perusahaan harus mempertimbangkan kembali jadwal tebang angkut
  • 86sehingga tidak terlalu banyak tebu yang menurun rendemennya karena terlalulama menunggu di lori sehingga tebu tidak lagi memenuhi kriteria MBS yangberakibat akan menurunkan jumlah produksi gula. Salah satu upaya yang dapat dilakukan perusahaan adalah denganmengurangi harga jual tebu petani ke PG, karena dengan menurunkan hargapasokan tebu petani maka perusahaan akan memperkecil tambahan biaya yangakan dikeluarkan untuk menambah satuan input sehingga tambahan biaya yangdikeluarkan akan sama dengan tambahan penerimaan yang diperoleh. Namunupaya ini tidak sesuai dengan visi perusahaan, yaitu PG Pagottan menjadiperusahaan perkebunan yang mampu meningkatkan kesjahteraan stakeholderssecara berkesinambungan. Sehingga tidak mungkin perusahaan menilai harga tebupetani lebih rendah. Upaya lain yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan harga gulayang diproduksi. Upaya ini mungkin dilakukan jika pemerintah meningkatkantarif impor gula sehingga harga gula dalam negeri dapat lebih bersaing. Denganmeningkatkan harga gula maka dengan rata-rata penggunaan faktor produksi tebudi PG Pagottan yang sebesar 33.144,7 ton per periode dari tahun 2001 hinggatahun 2007 dan harga tebu rata-rata Rp 1.956.190 per ton maka perusahaan akandapat beroperasi secara lebih efisien. Dari beberapa analisis yang telah dilakukan, maka dapat diketahui bahwakegiatan produksi gula pasir di PG Pagottan belum efisien. Kondisi tersebut salahsatunya disebabkan oleh pengalokasian sumberdaya atau faktor-faktor produksiyang kurang tepat. Akibatnya, pencapaian keuntungan perusahaan belummencapai tingkat yang maksimum.
  • 87 VII KESIMPULAN DAN SARAN7.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis regresi dengan pendugaan OLS, maka dapatdiketahui terdapat empat faktor produksi yang berpengaruh nyata pada taraf nyata = 0,05 terhadap produksi gula di PG Pagottan. Faktor-faktor tersebut, yaitujumlah tebu, rendemen, jam mesin, dan tenaga kerja. Dari hasil tersebut diperolehbahwa jumlah tebu, rendemen, dan jam mesin berpengaruh positif terhadapproduksi gula di PG Pagottan. Berdasarkan analisis elastisitas diketahui nilai elastisitas untuk masing-masing faktor produksi, yaitu jumlah tebu sebesar 0,066, nilai menunjukkanbahwa jika terjadi peningkatan pasokan jumlah tebu sebesar satu persen makaproduksi akan meningkat sebesar 0,006 persen dengan asumsi semua faktor-faktorlainnya tetap (cateris paribus). Elastisitas faktor produksi rendemen adalahsebesar 1,01, artinya bahwa setiap penambahan satu persen rendemen maka akanmemberikan peningkatan produksi gula sebesar 1,01 persen dengan asumsi semuafaktor-faktor lainnya tetap (cateris paribus). Sedangkan nilai koefisien regresi jammesin sebesar 1,03, nilai ini menunjukkan bahwa setiap penambahan satu persenjam mesin maka akan memberikan peningkatan produksi gula sebesar 1,03 persendengan asumsi semua faktor-faktor lainnya tetap (cateris paribus). Nilai koefisienregresi tenaga kerja sebesar -0,239. Nilai koefisien ini menunjukkan hubunganyang negatif antara faktor tenaga kerja dan produksi gula di PG Pagottan. Nilaitersebut dapat diartikan bahwa jika tenaga kerja ditambah sebesar satu persenmaka produksi gula akan menurun sebesar 0,239 persen.
  • 88 Hasil analisis efisiensi alokatif dengan menggunakan rasio antara NPMdan BKM jumlah tebu diperoleh nilai sebesar 0,01. Nilai ini menunjukkan bahwapemanfaatan faktor produksi tersebut belum efisien secara alokatif. Sehinggaperlu dilakukan upaya agar penggunaan jumlah tebu mencapai tingkat optimalsehingga tercapai kondisi yang efisien.7.2 Saran Dalam rangka meningkatkan produksinya maka sebaiknya perusahaanmeningkatkan kualitas dari pasokan bahan baku tersebut dengan melakukanpengaturan kembali terhadap jadwal tanam dan tebang. Karena hampir sebagianbesar bahan baku tebu yang akan digiling memiliki waktu tunggu yang lebih dari36 jam sehingga mempengaruhi kualitas dari bahan baku tebu itu sendiri. Padaakhirnya akan berpengaruh terhadap jumlah gula yang dihasilkan oleh PGPagottan. Upaya lain yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan harga gulayang diproduksi. Upaya ini mungkin dilakukan jika pemerintah meningkatkantarif impor gula sehingga harga gula dalam negeri dapat lebih bersaing. Denganmeningkatkan harga gula maka dengan rata-rata penggunaan faktor produksi tebudi PG Pagottan yang sebesar 33.144,7 ton per periode dari tahun 2001 hinggatahun 2007 dan harga tebu rata-rata Rp 1.956.190 per ton maka perusahaan akandapat beroperasi secara lebih efisien. Karena tenaga kerja berpengaruh negatif terhadap produksi gula makasaran untuk peneliti selanjutnya dapat dilakukan penelitian mengenai tingkatkinerja SDM di PG Pagottan.
  • 89 DAFTAR PUSTAKAChurmen, Imam. 2001. Menyelamatkan Industri Gula Indonesia Edisi 1. Jakarta : Millenium Publisher.Djauhari, Aman. 1999. Pendekatan Fungsi Cobb-Douglas Dengan Elastisitas Variabel Dalam Studi Ekonomi Produksi. Suatu Contoh: Aplikasi Pada Padi Sawah. Informatika Pertanian Vol. 8 (Desember 1999).Doll, J. P. dan Frank Orazem. 1984. Production Economics Theory With Application 2nd Edition. Canada : John Willey and Sons Inc.Firdaus, M. 2004. Ekonometrika Suatu Pendekatan Aplikati. Jakarta : Bumi Aksara.Gujarati, Damodar. 1978. Ekonometrika Dasar. Penerjemah Soemarno Zain. Jakarta : Erlangga.Hafsah, M. Jafar. 2002. Bisnis Gula di Indonesia. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.Hidayat, Sutan Emir. 2003. Evaluasi Kinerja Produksi dan Keuangan PT PG Rajawali II Unit Pabrik Gula Subang di Subang, Jawa Barat. Skripsi. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.Kartasapoetra, A. G. 1988. Pengantar Ekonomi Produksi Pertanian. Jakarta : Bina Aksara.Meiditha, Nilla. 2003. Analisis Efisiensi Produksi Gula Pasir di Pabrik Gula Kebon Agung, Kabupaten Malang. Skripsi. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.Moerdokusumo, A. 1993. Pengawasan Kualitas dan Teknologi Pembuatan Gula di Indonesia. Bandung : ITB.Mubyarto dan Daryanti. 1991. Gula Kajian Sosial-Ekonomi. Yogyakarta:Aditya Media.Mubyarto. 1979. Pengantar Ekonomi Petanian Edisi Ketiga. Jakarta : LP3ES. .1984. Masalah Industri Gula di Indonesia. Yogyakarta : BPFE.Muin, G. M. 2006. Ilmu Teknologi Gula dan Pengawasan Fabrikasi. Situbondo : PG Assem Bagoes.Muljana, Wahyu. 1983. Teori dan Praktek Cocok Tanam Tebu dengan Segala Permasalahannya. Semarang: Aneka Ilmu.
  • 90Nazir, M. 1988. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta.Nurrofiq, Akhmad. 2005. Analisis Efisiensi Produksi Pabrik Gula. Skripsi. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.Pappas, James L. dan Marks Hirschey. 1995. Ekonomi Manajerial Edisi Keenam Jilid 1. Jakarta : Binarupa Aksara.Sawit, M. Husein, et al. 2004. Penyelamatan dan Penyehatan Industri Gula Nasional. Kajian Akademis. Jakarta : Sekretariat Dewan Ketahanan Pangan.Soekartawi. 2002. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian Teori dan Aplikasi. Jakarta: Rajawali Pers. . 2003. Teori Ekonomi produksi Dengan Poko Bahasan Analisis Fungsi Cobb-Douglas. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.Sulastri, Indahsih. 2008. Sosiologi dan Kemitraan. Yogyakarta: Lembaga Pendidikan Perkebunan.Supriyadi, Ahmad. 1992. Rendemen Tebu dan Liku-Liku Permasalahannya. Yogyakarta: Kanisius.Susila, Wayan Reda. 2005. Pengembangan Industri Gula Indonesia Analisis Kebijakan dan Keterpaduan istem Produksi. Disertasi. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.Umar, Husein. 1996. Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.Wahyuni, I. T. 2007. Analisis Efisiensi Produksi Gula di PG Madukismo, Yogyakarta. Skripsi. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.Wira, I. S. 2008. Taksasi Produksi dan Tebang Muat Angkut. Yogyakarta: Lembaga Pendidikan Perkebunan.Yenni. 2005. Optimalisasi Pengadaan Tebu Sebagai Bahan Baku Gula. Skripsi. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
  • 91LAMPIRAN
  • 92Lampiran 1 Luas Areal dan Produksi Gula di Indonesia Tahun 1996-2008 Jumlah Tebu Jumlah Hablur Luas Areal Rendemen Tahun (ha) (ton) (ton/ha) % (ton) (ton/ha) 1996 403.266 28.603.532 70,9 7,32 2.094.195 5,19 1997 385.669 27.953.841 72,5 7,83 2.189.975 5,68 1998 378.293 27.177.766 71,8 5,49 1.491.553 3,94 1999 340.800 21.401.834 62,8 6,96 1.488.599 4,37 2000 340.660 24.031.355 70,5 7,04 1.690.667 4,96 2001 344.441 25.186.254 73,1 6,85 1.725.467 5,01 2002 350.723 25.533.431 72,8 6,88 1.755.434 5,01 2003 335.725 22.631.109 67,4 7,21 1.631.919 4,87 2004 344.793 26.743.179 77,6 7,67 2.051.644 5,95 2005 381.786 31.242.267 81,8 7,18 2.241.742 5,87 2006 396.441 30.232.833 76,3 7,63 2.307.027 5,82 2007* 418.506 32.332.327 77,3 7,47 2.415.625 5,77 2008** 431.141 33.894.431 78,6 7,96 2.698.265 6,26Keterangan :* Hasil Kesepakatan rapat November 2007** Sumber data Asosiasi Gula Indonesia 2007Sumber : Sekretariat Dewan Gula Indonesia, 2007
  • 93Lampiran 2 Angka Produksi PG Pagottan Tahun 2001-2007 Jumlah ton jmlh jml lm jam b.p b.p b.p tot Ha Rnd b.p slf tk totalMasa giling Luas (ha) tebu tebu hablur gula/ha kmpny mesin P2O5 flk kpt bp tkm digiling (%) (ton) tetap tk (ton) /ha (ton) (ton) (hari) (jam) (ton) (ton) (ton) (ton)2001 14-Jun 3155,220 439,859 30239,5 68,7 6,82 2063,54 4,69 17 359,92 18,53 1,65 0,07 36,71 56,96 15 201 216 01-Jul 3155,220 421,628 30500,9 72,3 6,54 1994,20 4,73 15 341,50 19,83 1,76 0,07 35,78 57,43 15 201 216 16-Jul 3155,220 489,566 36286,0 74,1 6,82 2475,78 5,06 16 384,00 26,85 2,36 0,07 58,67 87,96 15 221 236 01-Agust 3155,220 414,174 31035,8 74,9 6,96 2158,87 5,21 15 336,16 24,70 1,46 0,06 51,78 78,00 15 201 216 16-Agust 3155,220 440,339 36557,0 83,0 7,13 2606,95 5,92 16 377,50 25,56 1,68 0,07 57,48 84,80 15 241 256 01-Sep 3155,220 538,200 32424,5 60,2 7,35 2383,06 4,43 15 357,50 20,30 1,58 0,07 41,43 63,37 15 214 229 16-Sep 3155,220 495,499 30133,4 60,8 7,71 2323,62 4,69 15 344,50 17,33 1,54 0,07 39,31 58,24 15 218 233 01-Okt 3155,220 324,139 18892,0 58,3 6,95 1313,55 4,05 10 222,17 12,10 1,05 0,05 25,20 38,39 15 201 2162002 8-Jun 3253,358 219,110 15873,5 72,4 6,82 1082,07 4,94 8 173,00 11,33 0,81 0,04 23,57 35,74 14 234 248 16-Jun 3253,358 470,414 34775,5 73,9 6,75 2347,01 4,99 15 355,00 19,34 1,19 0,07 47,24 67,84 14 244 258 01-Jul 3253,358 465,137 35075,6 75,4 6,55 2297,60 4,94 15 352,50 19,30 1,04 0,07 49,07 69,48 14 245 259 16-Jul 3253,358 517,251 38990,7 75,4 6,96 2714,18 5,25 16 379,58 20,60 1,11 0,08 54,36 76,14 14 246 260 01-Agust 3253,358 494,944 37375,8 75,5 7,39 2760,25 5,58 15 356,33 19,33 1,46 0,07 51,51 72,37 14 242 256 16-Agust 3253,358 520,931 38423,3 73,8 7,22 2774,42 5,33 16 373,41 20,30 0,93 0,08 56,81 78,11 14 241 255 01-Sep 3253,358 436,389 34105,9 78,2 7,40 2525,23 5,79 15 339,91 19,33 1,63 0,08 48,60 69,63 14 234 248 16-Sep 3253,358 459,281 33708,1 73,4 7,12 2401,22 5,23 15 353,91 20,45 1,52 0,11 47,82 69,90 14 234 248 01-Okt 3253,358 384,908 38216,4 99,3 5,92 2262,44 5,88 18 407,99 23,95 1,60 0,13 54,37 80,05 14 234 2482003 11-Jun 3900,282 608,589 44585,3 73,3 6,51 2900,73 4,77 20 454,58 27,95 2,05 0,05 48,88 78,92 13 252 265 01-Jul 3900,282 398,228 32682,9 82,1 6,53 2133,34 5,36 15 333,50 20,74 1,64 0,04 36,83 59,23 13 242 255 16-Jul 3900,282 451,286 35975,7 79,7 6,59 2370,59 5,25 16 366,75 21,10 2,13 0,05 40,10 63,38 13 242 255 01-Agust 3900,282 461,350 34213,7 74,2 6,55 2240,01 4,86 15 351,75 18,23 0,75 0,06 38,30 57,33 13 242 255 200416-Agust 3900,282 494,519 35012,4 70,8 7,00 2449,31 4,95 16 371,50 18,50 4,75 0,11 39,99 63,34 13 248 261 01-Sep 3900,282 527,369 32272,0 61,2 7,81 2519,09 4,78 15 353,50 18,70 4,50 0,06 38,41 61,67 13 250 263
  • 94Lanjutan Lampiran 2 16-Sep 3,442.558 481,117 15040,0 31.3 7.27 1,093.55 2.27 8 183.25 10,34 2,15 0,03 19,24 31,76 13 242 2552004 23-Mei 3090,435 205,304 15029,8 73,2 6,65 999,80 4,87 9 195,00 113,20 0,93 0,03 18,26 132,41 13 230 243 01-Jun 3090,435 412,493 30397,9 73,7 6,63 2014,66 4,88 15 354,00 21,84 2,31 0,07 35,68 59,89 13 240 253 16-Jun 3090,435 442,980 33860,4 76,4 6,87 2326,34 5,25 15 358,50 20,61 2,36 0,07 34,79 57,83 13 236 249 01-Jul 3090,435 393,212 32140,9 81,7 7,34 2358,97 6,00 15 333,83 19,50 2,15 0,07 32,64 54,35 13 237 250 01-Agust 3328,536 403,793 30099,1 74,5 8,01 2412,25 5,97 15 322,00 19,81 1,90 0,62 31,63 53,95 13 238 251 16-Agust 3328,536 332,496 22396,6 67,4 7,94 1778,53 5,35 16 249,00 14,73 1,06 0,44 23,67 39,89 13 239 252 01-Sep 3328,536 446,886 32885,4 73,6 8,82 2899,59 6,49 15 384,50 20,53 0,18 0,65 35,07 56,43 13 230 243 16-Sep 3277,460 227,188 21981,1 96,8 8,38 1841,93 8,11 10 243,25 9,55 1,24 0,47 24,57 35,82 13 230 2432005 25-Mei 3676,408 610,207 47828,4 78,4 6,65 3180,14 5,21 22 521,00 32,38 2,94 0,15 57,38 92,85 12 239 251 16-Jun 3676,408 368,476 27757,0 75,3 6,97 1935,31 5,25 15 309,75 20,87 2,29 0,15 39,19 62,50 12 232 244 01-Jul 3676,408 394,548 30812,8 78,1 7,51 2313,70 5,86 15 325,25 20,13 1,44 4,08 40,08 65,72 12 232 244 16-Jul 3676,408 424,454 36723,8 86,5 7,47 2742,95 6,46 16 380,50 22,28 2,99 0,19 46,76 72,22 12 234 246 01-Agust 3676,408 432,977 35004,2 80,8 7,71 2700,08 6,24 15 357,00 20,68 2,40 0,16 43,34 66,57 12 233 245 16-Agust 3676,408 425,938 35220,7 82,7 8,29 2918,08 6,85 16 361,50 21,15 2,54 0,09 44,26 68,04 12 236 248 01-Sep 3676,408 426,329 33719,3 79,1 8,53 2877,49 6,75 15 350,42 20,35 1,75 0,08 43,57 65,75 12 235 247 16-Sep 3676,408 410,775 34561,7 84,1 8,52 2945,43 7,17 15 358,00 20,68 2,10 0,09 44,12 66,99 12 238 250 01-Okt 3676,408 364,553 30341,1 83,2 8,22 2494,52 6,84 15 324,09 18,58 1,82 0,10 38,83 59,33 12 232 2442006 11-Mei 3835,008 590,760 45372,5 76,8 7,01 3179,28 5,38 21 487,82 28,00 2,61 0,15 48,60 79,35 12 219 231 01-Jun 3835,008 435,135 33942,4 78,0 7,42 2517,20 5,78 15 360,00 20,98 2,36 0,12 38,76 62,22 12 219 231 16-Jun 3835,008 413,962 32216,7 77,8 7,68 2475,16 5,98 15 345,25 19,88 2,28 3,85 29,49 55,48 12 221 233 01-Jul 3835,008 404,626 32381,2 80,0 8,82 2857,53 7,06 15 342,50 19,71 2,28 1,10 33,86 56,93 12 223 235 16-Jul 3835,008 434,295 36719,0 84,5 8,42 3091,69 7,12 16 380,00 21,80 2,48 1,20 37,91 63,39 12 224 236 01-Agust 3835,008 399,773 33180,8 83,0 8,85 2938,12 7,35 15 344,00 19,48 2,08 0,10 34,14 55,80 12 226 238 16-Agust 3835,008 449,567 36627,6 81,5 8,71 3190,17 7,10 16 380,00 21,58 2,48 0,10 37,29 61,44 12 221 233 01-Sep 3835,008 437,828 33920,6 77,5 8,46 2869,42 6,55 15 356,00 20,28 2,20 0,11 34,33 56,92 12 219 231
  • 95Lanjutan Lampiran 2 16-Sep 3835,008 453,697 32442,8 71,5 8,51 2760,23 6,08 15 346,30 20,05 1,54 0,09 58,60 80,28 12 219 231 01-Okt 3835,008 548,354 33041,7 60,3 7,89 2608,40 4,76 17 361,90 21,65 2,66 0,09 41,24 65,64 12 219 2312007 3-Jun 4497,942 377,503 26698,0 70,7 6,60 1762,92 4,67 13 280,25 17,35 0,14 0,09 38,80 56,37 12 207 219 16-Jun 4497,942 460,489 33874,2 73,6 6,89 2333,90 5,07 15 338,00 21,08 3,43 0,12 31,14 55,77 12 207 219 01-Jul 4497,942 501,879 36945,5 73,6 7,25 2679,81 5,34 15 360,00 22,88 2,33 0,13 41,34 66,67 12 207 219 16-Jul 4497,942 567,296 40749,8 71,8 7,73 3148,72 5,55 16 379,50 24,57 3,12 0,14 43,57 71,39 12 209 221 01-Agust 4497,942 508,366 37617,8 74,0 8,20 3084,44 6,07 15 341,50 22,66 2,98 0,12 41,22 66,97 12 210 222 16-Agust 4497,942 557,973 41501,3 74,4 8,72 3618,03 6,48 16 379,00 25,21 3,36 0,14 46,40 75,11 12 214 226 01-Sep 4497,942 498,399 37881,7 76,0 8,96 3395,57 6,81 15 384,50 23,00 2,61 0,13 42,38 68,12 12 211 223 16-Sep 4497,942 504,201 37267,2 73,9 8,71 3245,51 6,44 15 346,25 22,95 3,05 0,12 42,15 68,26 12 211 223Rata-rata 3637,410 444,423 33144,7 75,8 7,50 2510,22 5,69 15 349,77 22,11 2,01 0,29 40,62 65,03 13 228 241 Sumber : PG Pagottan, 2008
  • 96Lampiran 3 Pertumbuhan Produksi PG Pagottan Tahun 2001-2007 Luas Jumlah Jumlah Lama Jam Bahan Tenaga Tahun Rendemen Lahan Tebu Hablur Giling Mesin Pembantu Kerja 2001 -2,49 -4,65 0,40 -3,69 -6,32 -5,33 -5,66 -5,77 2002 12,32 16,34 -1,49 14,43 13,54 2,30 2,15 2,17 2003 -2,32 -13,40 2,03 -10,87 -11,81 -9,41 -7,76 -6,29 2004 9,62 12,90 3,50 17,27 4,82 9,63 -2,55 -0,30 2005 -4,92 -3,73 2,76 -1,11 -3,87 0,96 0,56 0,58 2006 0,03 -2,84 1,52 -1,62 -1,60 0,94 0,75 0,79 2007 4,84 5,51 4,08 9,91 2,32 3,57 1,85 2,27 Rata- 2,44 1,45 1,83 3,48 -0,42 0,38 -1,52 -0,93 rataSumber : PG Pagottan, 2008 (diolah)
  • 97Lampiran 4 Perkembangan Luas Areal, Produktivitas Tebu, Rendemen, dan Produksi Gula PG Pagottan Tahun 2001-2007 Produksi(ton) Hablur (ton) Kategori Luas (ha) Rendemen /ha jumlah /ha jumlah 2001 Tebu Sendiri 2287,995 66,9 105068,6 7,18 4,80 10768,30 Tebu Rakyat 678,709 89,5 91528,2 7,26 6,50 6551,30 2002 Tebu Sendiri 1747,954 69,5 121549,7 7,20 5,00 8748,50 Tebu Rakyat 2132,260 84,7 180624,1 6,67 5,70 12047,60 2003 Tebu Sendiri 1926,129 63,3 122486,8 7,12 4,52 8715,20 Tebu Rakyat 1496,332 71,7 107295,2 6,52 4,67 6991,40 2004 Tebu Sendiri 1971,876 69,5 137089,1 8,13 5,65 11146,98 Tebu Rakyat 1305,584 88,7 115798,6 6,92 6,14 8014,00 2005 Tebu Sendiri 2401,408 77,8 186777,0 8,36 6,50 15608,94 Tebu Rakyat 1820,364 86,0 156590,8 6,88 5,92 10771,16 2006 Tebu Sendiri 2424,708 71,3 173000,5 8,97 6,40 15514,25 Tebu Rakyat 1934,177 84,1 162632,8 7,13 6,00 11603,56 2007 Tebu Sendiri 2390,142 76,4 182827,8 8,86 6,76 16166,60 Tebu Rakyat 3318,597 68,5 227268,7 7,23 4,95 16432,70Sumber : PG Pagottan, 2008
  • 98Lampiran 5 Hasil Analisis Regresi dengan Tujuh Faktor ProduksiResidual Plots for PGRegression Analysis: PG versus JT; RND; JM; TKT; TKM; BP; LMGThe regression equation isPG = 2,60 + 0,0555 JT + 0,999 RND + 1,13 JM + 0,330 TKT - 0797 TKM - 0,029 BP 0,084 LMGPredictor Coef SE Coef T P VIFConstant 2,599 1,073 2,42 0,019JT 0,05546 0,02550 2,18 0,016 3,0RND 0,99897 0,07957 12,55 0,000 1,5JM 1,1267 0,1085 10,38 0,000 9,7TKT 0,3298 0,1664 1,98 0,220 4,1TKM -0,7969 0,2201 -3,62 0,031 4,0BP -0,02909 0,03575 -0,81 0,591 1,6LMG -0,0840 0,1166 2,39 0,024 10,0S = 0,0547209 R-Sq = 96,2% R-Sq(adj) = 95,7%Analysis of VarianceSource DF SS MS F PRegression 7 3,90974 0,55853 214,85 0,000Residual Error 51 0,15271 0,00299Total 58 4,06246Durbin-Watson statistic = 2,11653
  • 99Lampiran 6 Hasil Analisis Regresi Setelah Uji Validitas Asumsi OLSRegression Analysis: PG versus JT; RND; JM; TTK; BPThe regression equation isPG = 2,841 + 0,0664 JT + 1,01 RND 0,239 TTK + 1,03 JM 0,015 BPPredictor Coef SE Coef T P VIFConstant 2,841 1,014 2,80 0,007JT 0,06636 0,02616 2,54 0,014 2,7RND 1,01122 0,08433 11,99 0,000 1,5JM 1,03082 0,06121 16,84 0,000 2,7TTK -0,2386 0,1062 -2,25 0,029 1,4BP -0,01543 0,03820 -0,40 0,688 1,6S = 0,0552418 R-Sq = 96,0% R-Sq(adj) = 95,6%Analysis of VarianceSource DF SS MS F PRegression 5 3,90072 0,78014 255,65 0,000Residual Error 53 0,16174 0,00305Total 58 4,06246Durbin-Watson statistic = 1,983035
  • 100Lampiran 7 Hasil Visual Uji Normalitas Analisis Regresi Tujuh Faktor Produksi Normal Probability Plot of the Residuals (response is PG) 99,9 99 95 90 80 70 Percent 60 50 40 30 20 10 5 1 0,1 -0,0010 -0,0005 0,0000 0,0005 0,0010 Residual
  • 101Lampiran 8 Hasil Visual Asumsi Homoskedastisitas Analisis Regresi dengan Tujuh Faktor Produksi Residuals Versus the Fitted Values (response is PG) 0,00075 0,00050 0,00025 Residual 0,00000 -0,00025 -0,00050 7,00 7,25 7,50 7,75 8,00 8,25 Fitted Value
  • 102Lampiran 9 Hasil Visual Uji Normalitas Analisis Regresi Setelah Uji Validitas Asumsi OLS Normal Probability Plot of the Residuals (response is PG) 99,9 99 95 90 80 70 Percent 60 50 40 30 20 10 5 1 0,1 -0,0010 -0,0005 0,0000 0,0005 0,0010 Residual
  • 103Lampiran 10 Hasil Visual Asumsi Homoskedastisitas Analisis Regresi Setelah Uji Validitas Asumsi OLS Residuals Versus the Fitted Values (response is PG) 0,00075 0,00050 0,00025 Residual 0,00000 -0,00025 -0,00050 7,00 7,25 7,50 7,75 8,00 8,25 Fitted Value