Agama & Solidaritas Sosial
Fokus <ul><li>Fungsi Agama menurut Emile Durkheim </li></ul><ul><li>The Elementary Forms of Religious Life (1912) </li></u...
<ul><li>Apa itu “penjelasan sosiologis?” </li></ul><ul><li>Apa itu “methodological agnosticism”? </li></ul><ul><li>Apa itu...
Review Minggu Lalu <ul><li>Unsur-unsur dalam agama: </li></ul><ul><ul><ul><li>belief (kepercayaan) </li></ul></ul></ul><ul...
Mitos Trickster Indian Winnebago <ul><li>Danau Winnebago, Wisconsin USA </li></ul>
Danau Winnebago
Trickster Muda <ul><li>Ia memiliki kehendak yang tidak disadarinya. Setiap waktu ia sukar bertingkah laku sebagaimana adan...
Dua Pengembaraan <ul><li>Trickster menangkap seekor kerbau dan menyembelihnya dengan pisau di tangan kanannya. Di tengah p...
Trickster dan anusnya <ul><li>Trickster menyembelih beberapa ekor bebek dan memanggangnya. Sebelum ia pergi tidur ia menyu...
Mitos Azande, Afrika Timor
Mitos Azande, Afrika Timor <ul><li>Orang digigit ular mati karena disantet </li></ul><ul><li>Orang kejatuhan lumbung padi ...
Menurut anda?
Jawaban sosiologi klasik <ul><li>Agama sebagai ilusi </li></ul><ul><li>Agama irrational dan akan digantikan filsafat dan s...
Empat Tokoh, Satu Ilusi <ul><li>Comte: The Positive Philosophy, 1830: Teologi, Metafisik dan Positif </li></ul><ul><li>Spe...
<ul><li>Edward Taylor, Primitive Culture, 1971: ..”it is a universal tendency among mankind to conceive all beings like th...
Kenyataannya adalah.. <ul><li>Agama begitu sentral dalam masyarakat modern. </li></ul><ul><li>“ To explain it in such a wa...
“ Social Explanations ” <ul><li>Penjelasan Relasi Sosial </li></ul><ul><li>Mempelajari agama dalam konteks sosial </li></u...
Berger: Methodological agnosticism <ul><li>It is necessary to “bracket” aside the question of the status of religious clai...
Bagaimana harus melihat mitos tadi? <ul><li>Kepercayaan tentang santet (witchcraft) terkait dengan proses psikologis dan s...
Phillips,  Religious Propositions <ul><li>Empirical propositions vs “ religious propositions” </li></ul><ul><li>Religious ...
Robert Bellah,  Symbolic Realism <ul><li>Bellah sees religion as essentially to do with symbols which are non-objective an...
Pertanyaan sosiologis <ul><li>Mengapa orang berfikir demikian? Mengapa orang membahasakan pengalamannya dengan cara sepert...
Refleksi  …………… .. <ul><li>Sosiologi agama membuat kita orang yang toleran terhadap praktek keagamaan yang berbeda. </li><...
Elementary Forms of Religious Life  <ul><li>The religious” untuk “the social” “ </li></ul><ul><li>Religion is the wellspri...
<ul><li>“ a unified system of beliefs and practices based upon classification of social reality into sacred and profane th...
-- “Religion is the collective representation of society”. -- “Religion is not for the most part a matter of indivi- dual ...
-- Walaupun ada aspek-aspek dari agama yang keli- Hatan aneh kita harus melihatnya sebagai suatu Yang sangat simbolik dan ...
“ Religion is the collective force of society over Individual” “ Religion is a system of ideas with which the Individuals ...
Quiz <ul><li>Apa itu “penjelasan sosiologis?” </li></ul><ul><li>Apa itu “methodological atheism”? </li></ul><ul><li>Apa it...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Agama dan solidaritas sosial

1,947

Published on

Published in: Education, Spiritual, Technology
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
1,947
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
60
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Agama dan solidaritas sosial

  1. 1. Agama & Solidaritas Sosial
  2. 2. Fokus <ul><li>Fungsi Agama menurut Emile Durkheim </li></ul><ul><li>The Elementary Forms of Religious Life (1912) </li></ul><ul><li>Konteks Penjelasan Durkheim </li></ul><ul><li>Penjelasan klasik mengenai agama </li></ul>
  3. 3. <ul><li>Apa itu “penjelasan sosiologis?” </li></ul><ul><li>Apa itu “methodological agnosticism”? </li></ul><ul><li>Apa itu “symbolic realism?” </li></ul><ul><li>Mengapa agama tidak tergantikan sains? </li></ul>
  4. 4. Review Minggu Lalu <ul><li>Unsur-unsur dalam agama: </li></ul><ul><ul><ul><li>belief (kepercayaan) </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Ritual </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Social organization </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Simbol </li></ul></ul></ul>Unsur-unsur dalam agama:
  5. 5. Mitos Trickster Indian Winnebago <ul><li>Danau Winnebago, Wisconsin USA </li></ul>
  6. 6. Danau Winnebago
  7. 7. Trickster Muda <ul><li>Ia memiliki kehendak yang tidak disadarinya. Setiap waktu ia sukar bertingkah laku sebagaimana adanya, dan tidak mampu mengontrol impuls-impuls.. Ia menjadi budak nafsu dan keinginannya untuk memiliki tak terbatas dan tak berbentuk… merupakan makhluk yang tidak lengkap dan pekerjaan tidak jelas, suatu tokoh yang mirip bayangan manusia. </li></ul><ul><li>Ia memiliki usus yang memburai diluar tubuhnya, dan penis yang luar biasa panjangnya melilit seluruh badan, dengan ujungnya berada dipuncak. </li></ul>
  8. 8. Dua Pengembaraan <ul><li>Trickster menangkap seekor kerbau dan menyembelihnya dengan pisau di tangan kanannya. Di tengah pengembaraannya, tiba-tiba tangan kirinya merampas kerbau. “Ayo kembalikan padaku. Kerbau itu milikkku atau akan aku potong kau dengan pisau ini” teriak tangan kanan </li></ul>
  9. 9. Trickster dan anusnya <ul><li>Trickster menyembelih beberapa ekor bebek dan memanggangnya. Sebelum ia pergi tidur ia menyuruh anusnya menjaga bebek panggang itu. Ketika ia tidur serigala mendekat: Ketika mereka mendekat, mereka kaget karena mereka mendengar dari arah rumah terdengar suara: pooh… </li></ul>
  10. 10. Mitos Azande, Afrika Timor
  11. 11. Mitos Azande, Afrika Timor <ul><li>Orang digigit ular mati karena disantet </li></ul><ul><li>Orang kejatuhan lumbung padi dan tewas, dianggap mati karena santet. </li></ul>
  12. 12. Menurut anda?
  13. 13. Jawaban sosiologi klasik <ul><li>Agama sebagai ilusi </li></ul><ul><li>Agama irrational dan akan digantikan filsafat dan sains. </li></ul><ul><li>Agama muncul karena ketidak berdayaan memberi penjelasan. </li></ul><ul><li>Agama dilihat sebagai fenomena alamiah yang harus dikaji secara objektif dan ilmiah. </li></ul><ul><li>Akar studi agama adalah rasionalisme dan positivisme abad 19 yang mempertanyakan agama atau menganggap agama sebagai ilusi. </li></ul>
  14. 14. Empat Tokoh, Satu Ilusi <ul><li>Comte: The Positive Philosophy, 1830: Teologi, Metafisik dan Positif </li></ul><ul><li>Spencer: Principles of Sociology, 1876-96: “..did not conclude that primitive people were irrational but that since they had to operate on a basis of very limited knowledge.” Hamilton: 27 </li></ul>
  15. 15. <ul><li>Edward Taylor, Primitive Culture, 1971: ..”it is a universal tendency among mankind to conceive all beings like themselves and to transfer to every object those qualities with which they are familiarly acquainted and of which they are intimately conscious.” </li></ul><ul><li>Sir James Frazer: The Golden Bough, 1890: Three stages of intellectual development; the magical, the religious and the scientific. </li></ul>
  16. 16. Kenyataannya adalah.. <ul><li>Agama begitu sentral dalam masyarakat modern. </li></ul><ul><li>“ To explain it in such a way was largely to explain it away”. Hamilton 1 </li></ul><ul><li>Dari “scintific explanation” menuju “social explanation” </li></ul>
  17. 17. “ Social Explanations ” <ul><li>Penjelasan Relasi Sosial </li></ul><ul><li>Mempelajari agama dalam konteks sosial </li></ul><ul><li>Penjelasan personal: orang beragama karena mereka relijius </li></ul><ul><li>Penjelasan sosiologis: MENGAPA orang menjadi relijius? </li></ul>
  18. 18. Berger: Methodological agnosticism <ul><li>It is necessary to “bracket” aside the question of the status of religious claims. </li></ul><ul><li>Tidak penting bagi sosiolog apakah yang diteliti itu benar atau palsu. </li></ul><ul><li>Misalnya bila seorang sosiolog diberi obat yang dianggap mempunyai kekuatan magis, ia tidak perlu membuktikannya benar atau salah. Yang penting bagi sosiolog adalah menganalisa keyakinan dan praktek itu secara sosiologis. </li></ul><ul><li>Berger, The Social Reality of Religion, p.106. </li></ul>
  19. 19. Bagaimana harus melihat mitos tadi? <ul><li>Kepercayaan tentang santet (witchcraft) terkait dengan proses psikologis dan sosial masyarakat Azande. </li></ul><ul><li>Misleading dan illegitimate untuk mengevaluasi agama sebagai valid atau invalid. </li></ul><ul><li>Memahami agama dari kacamata pengikutnya, bukan dari kacamata penelitinya. </li></ul>
  20. 20. Phillips, Religious Propositions <ul><li>Empirical propositions vs “ religious propositions” </li></ul><ul><li>Religious statement have internal sense and meaning. </li></ul><ul><li>Religious, not real </li></ul><ul><li>it embodies an expression of feelings and attitudes which give real force and significance in people’s lives. </li></ul>
  21. 21. Robert Bellah, Symbolic Realism <ul><li>Bellah sees religion as essentially to do with symbols which are non-objective and which express feelings, values, hopes of subjects, and which organise and regulate the flow of interraction between subjects and objects. </li></ul><ul><li>These subjects express reality and are not reducible to empirical prepositions. </li></ul><ul><li>Religion as a reality sui generis. “Religion is true” (Bellah 1970: 93). </li></ul>
  22. 22. Pertanyaan sosiologis <ul><li>Mengapa orang berfikir demikian? Mengapa orang membahasakan pengalamannya dengan cara seperti itu? </li></ul><ul><li>Kondisi apa yang melatarbelakangi bentuk ekspresi keagamaan tertentu? (What conditions are associated with particular forms of religious expression?) </li></ul>
  23. 23. Refleksi …………… .. <ul><li>Sosiologi agama membuat kita orang yang toleran terhadap praktek keagamaan yang berbeda. </li></ul>
  24. 24. Elementary Forms of Religious Life <ul><li>The religious” untuk “the social” “ </li></ul><ul><li>Religion is the wellspring of social life </li></ul><ul><li>Religion that produced society, not society that produced religion. </li></ul><ul><li>Sociological importance of religion is social cohesion. </li></ul>
  25. 25. <ul><li>“ a unified system of beliefs and practices based upon classification of social reality into sacred and profane things, and furthermore these beliefs and practices unite its adherents into a single moral community.” </li></ul><ul><li>Agama bertahan karena agama memuaskan fungsi sosial dasar, bukan fungsi psikologis. </li></ul><ul><li>Agama memaklumkan dan mewujudkan the social </li></ul>
  26. 26. -- “Religion is the collective representation of society”. -- “Religion is not for the most part a matter of indivi- dual choice, but instilled into the members of the society” -- Durkheim menolak anggapan agama sebagai suatu ilusi dan tidak rasional.
  27. 27. -- Walaupun ada aspek-aspek dari agama yang keli- Hatan aneh kita harus melihatnya sebagai suatu Yang sangat simbolik dan kita harus menyelam Dilautan simbolisme itu untuk memahami apa Maksudnya. -- “In reality, there are no religions which are false. All Are true in their own fashion (1915, p. 3).
  28. 28. “ Religion is the collective force of society over Individual” “ Religion is a system of ideas with which the Individuals represent to themselves the society Of which they are members, and the obscure But the intimate relations which they have it it” (1915: 225).
  29. 29. Quiz <ul><li>Apa itu “penjelasan sosiologis?” </li></ul><ul><li>Apa itu “methodological atheism”? </li></ul><ul><li>Apa itu “symbolic realism?” </li></ul><ul><li>Mengapa agama tidak tergantikan sains? </li></ul>
  1. Gostou de algum slide específico?

    Recortar slides é uma maneira fácil de colecionar informações para acessar mais tarde.

×