ULTRAVIOLET SEBAGAI SALAH SATU ALAT
     DISINFEKTAN PENTING DI PEMBENIHAN :
             REKAYASA DAN DISAIN
ULTRAVIOLET ...
ULTRAVIOLET SEBAGAI SALAH SATU ALAT
         DISINFEKTAN PENTING DI PEMBENIHAN :
                REKAYASA DAN DISAIN1
    ...
faktor tersebut bisa direduksi dengan menggunakan filter, akan tetapi untuk
mikroorganisme seperti bakteri membutuhkan uku...
Gambar 1. Spektrum cahaya (www.emperoraquatic.com)


        Sebaliknya untuk kelompok UV dengan lampu merkuri tekanan men...
Gambar 2. Perubahan rantai dobel helik DNA akibat radiasi Cahaya UV
           (www.americanairandwater.com)


C. PEMANFAA...
6,600 – 330,000 µWs/Cm2, alga sekitar 22,000 µWs/Cm2, dan virus (6,000 –
440,000 µWs/Cm2. (www.aquatechnology.net; Aquatic...
Pipa tabung UV
                            Lampu UV


  Pipa Input/output air

                                           ...
a. Kelebihan
    1. Sangat efektif dalam medeaktifasi virus, bakteri, jamur/spora, dan kista
    2. Lebih bersifat proses ...
E. ULTRAVIOLET SEDERHANA BUATAN BBAP TAKALAR
       Ultraviolet yang dibuat diupayakan dapat dijangkau dan dimanfaatkan se...
2. Model tiga lampu dalam satu tabung (3 in 1)




                   Lampu UV Ф 1            Pipa tabung UV
             ...
F. KEMAMPUAN UV SEDERHANA BUATAN BBAP TAKALAR

         Keberhasilan dalam disain dan pembuatan UV perlu diikuti dengan
ef...
terjadi peningkatan kemampuan reduksi dari 48-98% -pada dosis 177.518 µWs/Cm2,
menjadi 97 – 100% pada dosis 338.159 µWs/Cm...
Rancang Bangun di Telp 0411-230730, Fax 0418-2326777 atau e-mail :
bbaptakalar@yahoo.com. Selain Produk UV kami juga siap ...
LAMPIRAN

Tabel 2. Jenis mikroorganisma dan kebutuhan dosis UV untuk mendeaktifasinya.

                                  ...
19.   Leptospera interrogans       6,000 – 10,000   www.aquaticeco.com
20.   Microccocus candidus         12,300          ...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Ultraviolet Sebagai Alat Disinfektan Penting Di Pembenihan

1,973

Published on

0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
1,973
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
41
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Ultraviolet Sebagai Alat Disinfektan Penting Di Pembenihan

  1. 1. ULTRAVIOLET SEBAGAI SALAH SATU ALAT DISINFEKTAN PENTING DI PEMBENIHAN : REKAYASA DAN DISAIN ULTRAVIOLET SYSTEM AS AN IMPORTANT DISINFECTANT DEVICE IN HATCHERY: ENGINEERING AND DESIGN NANA S.S. UDI PUTRA, S.Hut. M.Si TAMRIN SUGENG RAHARJO, A.Pi Email : bbaptakalar@yahoo.com DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA BALAI BUDIDAYA AIR PAYAU TAKALAR 2008 1
  2. 2. ULTRAVIOLET SEBAGAI SALAH SATU ALAT DISINFEKTAN PENTING DI PEMBENIHAN : REKAYASA DAN DISAIN1 Nana S.S. Udi Putra, S.Hut. M.Si2, Tamrin3, Sugeng Raharjo, A.Pi4 Balai Budidaya Air Payau Takalar Abstrak Air merupakan bagian penting dari kehidupan ikan, karena ikan sepanjang hidupnya selalu berinteraksi dan bersentuhan dengan air. Sehingga kualitas air yang baik akan mendukung pertumbuhan hewan budidaya sesuai dengan yang diharapkan, yakni tumbuh dan berkembang dengan normal. Berkaitan dengan kualitas air maka ukurannya tidak terbatas pada parameter kimi, fisika, namun pada parameter biologi. Berkaitan dengan pembenihan maka yang menjadi sangat menonjol adalah faktor mikroorganisme patogen seperti bakteri karena sensitivitas yang tinggi terhadap serangan bakteri. Ultraviolet adalah salah satu alat yang bisa digunakan sebagai alat disinfektan. Dengan kelebihan-kelebihannya ultraviolet bisa digunakan untuk mereduksi bakteri secara signifikan dan aman. BBAP Takalar telah merintis disain Ultraviolet dengan beberapa model yang dibuat. Kendala pengadaan paket UV saat ini sudah dapat di atasi melalui rancang bangun yang dilakukan oleh BBAP Takalar. Paket UV yang ekonomis namun tetap mengedepankan faktor kualitas dan keamanan. Hasil uji menunjukkan hasil yang signifikan dalam kemampuannya mereduksi bakteri. Kata kunci : ultraviolet, pembenihan, rekayasa, disain A. PENDAHULUAN Air adalah salah satu faktor penting dalam kehidupan. Akan tetapi sejalan dengan perkembangan populasi manusia di bumi menyebabkan kondisi lingkungan berubah. Air yang pada awalnya tersedia melimpah secara kuantitas dan kualitas terjamin menjadi saat ini menjadi barang yang semakin sulit didapat walupun secara kuantitas, kalaupun ada tidak bisa dimanfaatkan karena faktor kualitasnya yang rendah. Kuantitas dan kualitas air yang baik tidak sekedar diperlukan untuk keperluan manusia secara langsung, tetapi air juga menjadi kebutuhan bagi kegiatan pertanian dan budidaya ikan. Air menjadi sangat penting bagi kegiatan budidaya ikan karena selama hidupnya selalu berinteraksi dan bersentuhan dengan air sehingga hidupnya sangat bergantung pada air. Sehingga dalam kegiatan budidaya tersebut kualitas air selalu menjadi perhatian utama, karena kelangsungan kehidupan hewan budidaya sangat bergantung pada kualitas air medianya. Kualitas air yang baik akan mendukung pertumbuhan hewan budidaya sesuai dengan yang diharapkan, yakni tumbuh dan berkembang dengan normal. Kualitas air tidak hanya terbatas pada karakteristik fisika dan kimia air tetapi juga berkaitan dengan faktor biologi, yakni berkaitan dengan faktor kompetitor, predator ataupun mikroorganisma patogen bagi ikan yang dibudidayakan. Ketiga 1 Disampaikan pada Indonesian Aquaculture 2008, Malioboro Jogjakarta 2 Calon Perekayasa BBAP Takalar 3 Calon Litkayasa BBAP Takalar 4 Kepala BBAP Takalar 2
  3. 3. faktor tersebut bisa direduksi dengan menggunakan filter, akan tetapi untuk mikroorganisme seperti bakteri membutuhkan ukuran pori filter yang sangat kecil hingga membutuhkan ukuran ultrafilter (Lechevallier dan Kwok-Keung Au, 2004). Berkaitan dengan pembenihan maka yang menjadi sangat menonjol adalah faktor mikroorganisme patogen seperti bakteri. Bakteri patogen bisa terbawa langsung oleh air yang dijadikan sumber air dan bisa muncul sebagai akibat melimpahnya bahan organik di dalam media pemeliharaan karena proses filterisasi yang kurang efektif, begitu pula sisa pakan dan peces ikan. Di dalam kegiatan pembenihan, stabilitasi kualitas air yang baik menjadi suatu keharusan baik karakteristik fisik, kimia maupun biologi. Karena semakin awal pada tahapan perkembangan ikan semakin peka terhadap kondisi lingkungannya. Bakteri patogen menjadi momok yang sangat menghantui para petani penyedia benih karena bisa berdampak pada tingginya mortalitas benih. Pada tahap-tahap perkembangan awal seperti larva baik ikan/udang/kepiting sangat rentan terhadap keberadaan bakteri patogen seperti jenis Vibrio harvei. Berkaitan dengan upaya untuk mereduksi kehadiran bakteri patogen di dalam kegiatan pembenihan maka upaya-upaya sterilisasi air dilakukan dengan menggunakan berbagai metode seperti cara kimia, cara fisik, cara mekanik, dan cara radiasi (Lekang, 2007). Cara yang menjadi trend saat ini adalah menggunakan teknologi Cahaya ultraviolet dan menggunakan filter membrane (Lechevallier dan Kwok-Keung Au, 2004). Penggunaan ultraviolet bisa menjadi pilihan karena lebih efektif bisa membunuh mikroorganisme patogen dengan ukuran yang sangat kecil, biaya rendah dan mudah dalam pemeliharaan serta adaptif untuk beberapa metode budidaya (close system ataupun open system). B. CAHAYA ULTRAVIOLET Cahaya ultraviolet (UV) adalah Cahaya yang tidak dapat dilihat oleh mata dan merupakan radiasi elektromagnetik yang berada pada kisaran panjang gelombang 1 – 400 nm (Lekang, 2007). Cahaya Matahari adalah sumber cahaya ultraviolet terbesar di alam semesta ini. Karakteristik dari cahaya ultraviolet memberikan dampak pada kerusakan kulit dan mampu membunuh mikroorganisme di alam sehingga perkembangannya terhambat. Cahaya UV ini ditemukan sejak tahun 1677, dan pertama kali dimanfaatkan oleh Niels Ryberg Finsen seorang peneliti Denmark untuk membunuh organisme patogen. Cahaya UV ini dibedakan menjadi UV-A, UV-B, UV-C.dan UV vakum, yang didasarkan pada perbedaan karakteristik panjang gelombang (315-380 nm, 280-315 nm, 200-280 nm, 100-200 nm) dan tekanan (tinggi, sedang, rendah). Cahaya UV yang paling efektif menginaktifasi mikroorganisma adalah cahaya UV-C dengan panjang gelombang antara 200-280 nm dengan cahaya UV effektif (puncak daya bunuh mikroorganisme) ada pada panjang gelombang 264 nm (Lechevallier dan Kwok-Keung Au, 2004; www.emperoraquatic.com). Jenis lampu UV yang dibuat untuk tujuan sterilisasi terbuat dari uap merkuri dengan panjang gelombang 253.7 nm (Lekang, 2007). Lampu merkuri dengan tekanan rendah adalah cahaya yang paling baik dalam mematikan mikroorganisma karena dihasilkan oleh radiasi awal dari lampu yang mengandung spektrum cahaya dengan panjang gelombang 254 nm yang hampir mendekati puncak kemampuan membunuh organisma yakni 265 nm (Aquatic eco-systems, inc, 2005). Selain itu lampu ini mampu mengubah input energi lampu ke dalam energi UV C hingga mencapai 40%, sehingga merupakan kemampuan komversi yang paling tinggi dibanding jenis UV lainnya. Karakteristik lainnya adalah bahwa jenis lampu UV ini memiliki energi imput yang rendah (200-1500 mA) dan suhu yang rendah (37.78-93.33 oC). 3
  4. 4. Gambar 1. Spektrum cahaya (www.emperoraquatic.com) Sebaliknya untuk kelompok UV dengan lampu merkuri tekanan menengah hingga tinggi, jenis ini mempunyai kemampuan sangat lemah dalam membunuh mikroorganisma dan kemampuan konversi energi imputnya hanya mencapai 7 %, justru yang paling besar konversinya adalah ke panas dan cahaya yang dapat dilihat. Energi input yang digunaknnya antara 2000-10000 mA dan menghasilkan suhu yang tinggi antara 500-600 oC. Tabel 1. Komparasi karakteristik dari jenis-jenis lampu UV (www.emperoraquatic.com ). NO. Karakteristik Lampu UV C Lampu UVA/UVB 1 Kemampuan bunuh Tinggi Rendah 2. Konversi energi 40 % 7% 3. Tekanan Rendah Sedang-tinggi 4. Penggunaan energi 200 – 1.500 mA 2.000-10.000 mA o 5. Suhu 37.78 – 93.33 C 500 – 500 oC 6. Masa pakai 5.000 – 10.000 jam 1.000 – 2.000 jam Cahaya UV efektif dalam mendeaktifasi mikroorganisma seperti bakteri, virus dan protozoa serta Algae (Lechevallier dan Kwok-Keung Au, 2004; www.emperoraquatic.com). UV mentransfer energi elektromagnetik dari lampu merkuri ke materi genetik (RNA dan DNA). Ketika Cahaya UV menembus dinding sel dan sekaligus melumpuhkan kemampuan reproduksinya (EPA, 1998 Sasaran utama Cahaya ultraviolet adalah DNA atau RNA walaupun demikian pada tahap awal radiasi UV menghancurkan dinding sel terlebih dahulu. Thymine yang dan dalam bentuk dimer (thyamine-thyamine double bond) di dalam DNA dan RNA sangat reaktif terhadap Cahaya ultraviolet. Cahaya UV mengganggu dan mengacaukan rantai DNA/RNA pada proses transkripsi dan duplikasi, sehingga mikroorganisma menjadi steril, tidak aktif, tidak bisa melakukan reproduksi atau mati (Lechevallier dan Kwok-Keung Au, 2004) (Gambar 2). Akan tetapi, thymine dalam bentuk dimer masih memungkinkan kembali normal seperti semula, sehinga perlu dosis yang tepat untuk menginaktifkan secara permanen (Lechevallier dan Kwok-Keung Au, 2004; EPA, 1999). 4
  5. 5. Gambar 2. Perubahan rantai dobel helik DNA akibat radiasi Cahaya UV (www.americanairandwater.com) C. PEMANFAATAN CAHAYA UV DI PEMBENIHAN Mahkluk hidup kecil yang menyerang atau merugikan dikenal dengan patogen. Patogen adalah agen biologi yang penyebabkan munculnya penyakit atau infeksi penyakit (Pillay, 1990). Patogen bisa meliputi virus, protozoa, bakteri, jamur, atau crustacea parasit (Pillay, 1990). Sehingga bakteri patogen adalah bakteri yang menginfeksi suatu penyakit. Secara umum lingkungan perairan selalu memiliki potensi terdapatnya patogen, apalagi kondisi lingkungan perairan mendukung untuk munculnya patogen. Seperti bakteri mempunyai rang kondisi lingkungan yang lebar seperti suhu, pH, kandungan garam yang tinggi (Post, 1987). Bakteri akan mampu bertahan pada kondisi lingkungan yang buruk dalam bentuk flagela atau kapsul dan akan muncul dan aktif kembali ketika kondisi lingkungan mendukung. Bakteri patogen bersifat saprofit dan menyerang ikan ketika ikan dalam kondisi yang tidak fit atau seimbang, defisiensi nutrisi (Post, 1987). Bakteri yang dikenali bisa menjadi patogen bagi hewan air budidaya adalah berasal dari genus Vibrio, flexibacter, Pseudomonas, Edwardsiella, Yersinia, Pasteurella, Aeromonas, Alteromonas, Flurobacterium, Clostridium, Reibacterium, Streptococus, Mycobacterium, dan Nocardia (Roberts, 1989). Saat ini pemanfaatan UV sudah meluas untuk tujuan sterilisasi berbagai bidang sudah banyak menggunakannya seperti manufaktur, pengobatan, sterilisasi makanan-minuman dalam kemasaan, kosmetik, sterilisasi air baku, pabrik tekstil, perbankan, laboratorium, dan pembenihan ikan (www.aquatechnology.net), bahkan untuk keperluan sterilisasi udara seperti di rumah sakit dan hotel-hotel (Kowalski, 2006). Berkaitan dengan pemanfaatan, dalam tujuan untuk mensterilisasi air bagi kegiatan pembenihan atau budidaya maka yang menjadi penting untuk mendapat perhatian adalah jenis-jenis apa saja yang menjadi target untuk dimatikan oleh UV. Setiap jenis mikroorganisma mempunyai karakteristik yang berbeda sehingga membutuhkan dosis yang berbeda pula. Ultraviolet mampu secara efektif meminimalisir populasi bakteri, virus, algae, protozoa, dan jamur (Aquatic eco- systems,inc. 2005). Secara lengkap jenis-jenis yang sudah diujicobakan ke UV ada di Lampiran. Dosis yang dibutuhkan untuk mendeaktifasi patogen seperti kelompok bakteri ada pada rang 2.500-22,000 µWs/Cm2, jamur/ragi ada pada rang antara 5
  6. 6. 6,600 – 330,000 µWs/Cm2, alga sekitar 22,000 µWs/Cm2, dan virus (6,000 – 440,000 µWs/Cm2. (www.aquatechnology.net; Aquatic eco-systems.inc. 2005; www.aquaticeco.com; Lekang, 2007). D. DISAIN ULTRAVIOLET 1. Dosis dan faktor-faktor yang mempengaruhinya Disain ultraviolet menjadi sangat penting karena akan sangat mempengaruhi kemampuan deaktifasi mikroorganisme patogen. Secara keseluruhan kemampun deaktifasi ini berkaitan dengan dosis cahaya UV yang dihasilkan, dan proses disain rancang bangun sangat berkaitan dengan dosis yang akan dihasilkan. Dosis yang dimasksudkan (D) adalah proporsi dosis radiasi per unit area (intensitas) cahaya UV (I) dan waktu eksposure (t) (Lekang, 2007) , sehingga muncul persamaan dosis: Dimana : D : Dosis D = It I : Intensitas cahaya UV t : waktu terkena Cahaya UV Satuan dosis yang digunakan berdasarkan persamaan di atas adalah µWs/Cm2 (mikrowatt-detik per sentimeter persegi) atau intensitas radiasi per satuan luas. Efektifitas cahaya UV sangat tergantung pada daya (watt) lampu, usia pakai lampu, panjang lampu, kebersihan permukaan lampu, jarak antara permukaan lampu dengan target, jenis organisme, waktu interaksi antara cahaya dengan mikroorganisme, dan kejernihan air (EPA, 1999; Lekang, 2007). Sehingga dalam disain harus bisa memperhatikan faktor-faktor tersebut. Semakin tinggi daya lampu akan semain tinggi kemampuannya dan semakin lama masa pakainya akan semakin berkurang kemampuannya, juga semakin redup/kotor permukaan lampu akan mengurangi kemampuan. Panjang lampu akan mempengaruhi luas permukaan dan waktu interaksi antara cahaya dengan target. Diameter pipa dimana ada lampu UV di dalammnya akan sangat mempengaruhi tingkat proporsi transmisi cahaya ke target. Semakin lebar diameter pipa akan semakin mengurangi kemampuan UV. Waktu interaksi antara target dan cahaya akan berkaitan dengan kecepatan aliran air yang ditentukan oleh tekanan pompa atau gaya gravitasi akibat jumlah beban dan tinggi tandon sumber air. Semakin cepat aliran air akan mengurangi kemampuan UV. Begitu juga kejernihan air, semakin jernih air akan semakin meningkatkan kemampuan UV dalam membunuh target. Keberadaan partikel air, humus atau air berwarna akan menurunkan kemampuan UV. Kemampuan deaktifasi dari dosis yang dihasilkan oleh UV akan sangat berkaitan dengan jenis mikroorganisme yang menjadi target, karena setiap mikroorganisme mempunyai daya tahan yang berbeda terhadap dosis yang dihasilkan. Atau dengan kata lain mikroorganisme tertentu membutuhkan dosis yang berbeda. Agar kemampuan UV tetap terjaga maka lampu UV harus dapat dipelihara dengan mudah seperti penggantian lampu atau pembersihan kotoran lampu sehingga kemampuan UV kembali pulih. 6
  7. 7. Pipa tabung UV Lampu UV Pipa Input/output air Diameter pipa tabung Jarak transmisi cahaya UV Gambar 3. Posisi lampu UV di dalam cahmber (pipa/besi) Dari persamaan di atas kemudian lebih diuraikan menjadi sebuah persamaan yang dapat diaplikasikan untuk perencanaan pembuatan UV yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Persamaan tersebut menjadi : D = P/SToLt Dimana : D : Dosis radiasi (µWs/Cm2) P : Efek radiasi (W) S : Luas permukaan yan teradiasi (cm2) To : Kemampuan transmisi cahaya UV pada kedalaman 1 cm (%) L : Ketebalan lapisan air yang diradiasi (cm) t : waktu terkena Cahaya UV (Lekang, 2007) Dengan demikian jelas bahwa UV mempunyai daya deaktifasi yang baik, bila panjang lampu dan daya lampu lebih tinggi, ketebalan lapisan air pendek, air lebih jernih dan kecepatan air lebih lambat. Khusus untuk karakteristik air selain faktor kecerahan terdapat beberapa faktor yang bisa menurunkan kemampuan deaktifasi. Terdapat karakteristik fisika dan kimia air yang bisa menurunkan kemampuan deaktifasi UV seperti kesadahan, pH, TSS, kandungan logam (EPA, 1999). Kesadahan yang tinggi akan cenderung melarutkan logam-logam berat yang justru akan menyerap radiasi Cahaya UV, begitu juga bila pH rendah, TSS tinggi, dan kandungan logam (besi) di dalam air tinggi (EPA, 1999). Sedangkan kandungan ammonia, nitrit, nitrat, dan BOD pengaruhnya sangat sedikit (EPA, 1999). 2. Kelebihan dan kekurangan UV Terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan UV sebagai alat sterilisasi (EPA, 1999) yakni: 7
  8. 8. a. Kelebihan 1. Sangat efektif dalam medeaktifasi virus, bakteri, jamur/spora, dan kista 2. Lebih bersifat proses fisik dibanding proses kimia 3. Tidak menghasilkan efek residu, yang bisa berbahaya bagi lingkungan, tidak merubah rasa 4. Lebih mudah dalam penanganannya 5. Tidak membutuhkan waktu yang lama 6. Tidak membutuhkan tempat yang luas dan energi besar. b. Kekurangan 1. Dosis rendah tidak efektif dalam mendeaktifasi patogen 2. Organisme bisa kembali normal setelah terkena radiasi 3. Perlu sering melakukan pembersihan kotoran yang menempel di kaca lampu 4. Perlu kecerahan air dan bila nilai TSS melebihi 30 ppm efeknya tidak efektif. 3. Model disain UV Model disain merupakan bagian dari upaya untuk menghasilkan variasi produk. Model disain UV yang dibuat disesuaikan dengan kebutuhan yang didasarkan pada target deaktifasi, kemudahan dan kecepatan suplai air serta ekonomis. Secara umum model-model yang bisa ditemukan adalah a. Aliran air searah dengan panjang lampu 1. Satu lampu UV dalam satu tabung 2. Beberapa lampu dalam satu tabung UV b. Arah air tegak lurus dengan panjang lampu Pada Gambar 4 di atas nampak gambar 4-a2 dan b, digunakan untuk kebutuhan suplai air yang cukup besar namun daya deaktifasinya tetap tinggi. Dari ke tiga model tersebut kemudian model-model yang sama bisa dipasang secara seri sehingga dosisnya akan meningkat dua kali lipat atau lebih tergantung pada jumlah lampu. Dalam aplikasinya lampu UV bisa kontak langsung dengan air atau tanpa kontak langsung, yakni menggunakan lapisan kaca. Sehinga yang perlu dibersihkan rutin adalah kaca pelindung lampu. Arah air Gambar 4. Beberapa model disain UV (www. emperoraquatics.com) 8
  9. 9. E. ULTRAVIOLET SEDERHANA BUATAN BBAP TAKALAR Ultraviolet yang dibuat diupayakan dapat dijangkau dan dimanfaatkan secara luas oleh para pengguna terutama di panti-panti benih seperti BBI atau BBU. Sehingga dalam pembuatannya menggunakan baha-bahan yang murah namun tetap memperhatikan aspek masa pakai, keamanan, dan output daya deaktifasi. Bahan- bahan yang digunakan adalah bahan-bahan pipa PVC dan aksesorisnya. Bahan- bahan ini memilih kualitas terbaik sehingga tahan dan aman. Paket UV terdiri dari pipa PVC dan aksesorisnya serta panel listrik untuk dapat mengontrol lampu UV yang di pasang. Paket UV yang dibuat BBAP Takalar meliputi model satu lampu dalam satu tabung (Gambar 5 dan 6) dan model 3 lampu dalam satu tabung (model 3 in 1) (Gambar 7 dan 8). Model pertama dibuatkan variasinya dengan model seri 2, 3, 4 lampu, sedangkan untuk model ke dua dibuat 2 UV dipasang seri. 1. Model satu lampu dalam satu tabung Lampu UV Ф Pipa tabung UV 1 “ 40 watt Pipa Input/output air Ф 2.5” Pipa Ф 2.5” Jarak transmisi 1.5 “ Gambar 5. penampang melintang UV 1 lampu In let Spesifikasi : 1. Lampu UV 40 w Out let 2. Panjang UV efektif 86 cm 3. Pipa PVC 2” 4. Pipa input/output 2” 5. Kecepatan air 1 L/dt = Dosis UV = 159.000 µWs/Cm2 6. Kecepatan air 2 L/dt = Dosis UV = 79.407 µWs/Cm2 Gambar 6. Ultraviolet 1 lampu dalam 1 tabung 9
  10. 10. 2. Model tiga lampu dalam satu tabung (3 in 1) Lampu UV Ф 1 Pipa tabung UV “ 40 watt Pipa Input/output air Ф 2.5” 1 Pipa Ф 8” 3 2 Gambar 7. Penampang UV 3 in 1 In let Spesifikasi : 1. Lampu UV 40 W 3 buah 2. Panjang UV efektif 86 cm 3. Pipa PVC 8” Out let 4. Pipa input/output 8” 5. Kecepatan air 30 Ton/Jam = Dosis UV = 98.404 µWs/Cm2 6. Kecepatan air 10 Ton/Jam = Dosis UV = 295.213 µWs/Cm2 Gambar 8. Ultraviolet 3 in 1 10
  11. 11. F. KEMAMPUAN UV SEDERHANA BUATAN BBAP TAKALAR Keberhasilan dalam disain dan pembuatan UV perlu diikuti dengan efektifitasnya. Oleh karena itu pihak rancang bangun BBAP Takalar tetap terus melakukan pengujian atas disain yang dibuat sehingga benar-benar disainnya dapat dipertanggungjawabkan. 1. Ultraviolet 2 Lampu Hasil kajian BBAP Takalar tahun 2006 (Udi Putra, et al., 2007) dengan menggunakan 2 lampu UV diperoleh dengan perlakuan dosis UV 409.777 µWs/Cm2 , 319.626 µWs/Cm2, 255.700 µWs/Cm2, 191.392 µWs/Cm2 atau dengan kecepatan 0.78 L/d, 1 L/dt, 1.25 L/dt dan 1.67 L/dt menunjukkan hasil yang sangat signifikan. Total bakteri dapat direduksi hingga > 70% pada dosis terendah (kecepatan air tinggi) dan mendekati 100% pada dosis tertinggi. Yanga sangat menarik adalah jenis bakteri Vibrio sp dapat direduksi hingga 100 % mulai dari dosis yang rendah, yang kemudian disusul oleh jenis bakteri Flexibacter sp dan bakteri lainnya (Gambar 9). Secara keseluruhan bakteri yang ada di sumber air media akan dapat diinaktifasi dengan memperlambat aliran air media (memperlama interaksi cahaya dan bakteri) atau dengan meningkatkan dosis cahaya. Dengan demikian UV dua lampu cukup efektif dalam mereduksi populasi bakteri di dalam media budidaya. Semakin tinggi dosis UV tingkat reduksi bakteri semakin tinggi 100 Kemampuan Inaktifasi (%) 80 60 T. Bakteri 40 Vibrio sp Flexibacter sp B. lainnya 20 0 0 191.392 255.700 319.626 409.777 2 Dosis (µWs/Cm ) Gambar 9. Kemampuan Inaktifasi Bakteri pada Dosis UV berbeda (Udi putra et al., 2007). 2. Ultraviolet 3 in 1 Hasil pengujian terhadap Ultraviolet 3 in 1 yang dilakukan oleh Udi puta et.al, (2008) dimana 2 UV dipasang seri menunjukkan bahwa pada dosis 177.518 µWs/Cm2, 181.057 µWs/Cm2, 202.339 µWs/Cm2, dan 338.159 µWs/Cm2 atau dengan kecepatan 33.26 Ton/jam, 32.61 Ton/jam. 29.18 Ton/Jam dan 17.46 Ton/Jam dari tiga jenis bakteri (Vibrio sp, Flavobacterium sp dan Aeromonas ap) 11
  12. 12. terjadi peningkatan kemampuan reduksi dari 48-98% -pada dosis 177.518 µWs/Cm2, menjadi 97 – 100% pada dosis 338.159 µWs/Cm2(Gambar 10). Dengan dosis UV yang dihasilkan menunjukkan bahwa dari ke tiga jenis bakteri patogen yang didentifikasi ternyata jenis bakteri Vibrio sp adalah yang paling rentan atau mudah dideaktifasi, kemudian disusul oleh jenis Flavobacterium sp dan Aeromonas sp dan populasi bakteri patogen pun menurun. Bahkan pada dosis 181.056 µWs/Cm2 hampir 100% Vibrio sp terdeaktifasi. Dengan demikian penggunaan UV 3 in 1 menjadi sangat signifikan dalam mereduksi bakteri fatogen seperti jenis Vibrio sp yang banyak menyebabkan kematian masal di pembenihan udang, kepiting begitu pula komoditas pembenihan lainnya. Model UV kapasitas besar ini mampu memberikan solusi pada masalah tingginya populasi fatogen di dalam sumber dan media pembenihan atau budidaya. 100 80 Kemampuan inaktifasi (%) 60 40 Vibrio Aeromonas 20 Flavobacterium J.lainnya 0 0 177.518 181.056 202.339 338.159 Dosis (µWs/Cm ) 2 Gambar 10. Kemampuan inaktivasi UV 3 in 1 pada dosis UV berbeda (Udi Putra et al., 2008). G. PENUTUP Penggunaan ultraviolet sudah menjadi keperluan bagi upaya untuk mengurangi polusi, terbukti dengan pemanfaatan yang luarbiasa di beberapa sektor, begitu pula di dalam kegiatan pembenihan atau budidaya karena faktor semakin menurunnya kualitas lingkungan padahal kebutuhan kondisi kualitas lingkungan yang baik menjadi hal yang utama. Kendala pengadaan paket UV saat ini sudah dapat di atasi melalui rancang bangun yang dilakukan oleh BBAP Takalar. Paket UV yang ekonomis namun tetap mengedepankan faktor efektifitas dan keamanan. Hasil uji menunjukkan hasil yang signifikan dalam kemampuannya mereduksi bakteri. Harapan kami paket UV ini bisa dimanfaatakn oleh seluruh stekholder di seluruh aktifitas sektor perikanan. Pihak BBAP Takalar membuka layanan untuk menerima pesanan pembuatan paket UV untuk keperluan sterilisasi dengan menghubungi BBAP Takalar Divisi 12
  13. 13. Rancang Bangun di Telp 0411-230730, Fax 0418-2326777 atau e-mail : bbaptakalar@yahoo.com. Selain Produk UV kami juga siap melayani pemesanan protein skimmer, filter cartridge (1-10µ), klep ukuran besar, dan filter kapsul (portable filter). Semua alat sudah melalui proedur pengujian dengan hasil yang memuaskan. H. PUSTAKA Aquatic eco-systems, inc. 2005. 2005 Master Catalog. Aquatic eco-systems, inc. EPA. 1999. Wastewater Technology fact sheet : Ultraviolet disinfectant. Water office Washington DC. Kowalski, W. 2006. UVGI for for Cooling Coil Disinfectant and Air Treatment. American Air and Water Inc. LeChevallier Mark K and Kwok-Keung Au. 2004. Water Treatment and Pathogen Control : Process Efficiency in Achieving Safe Drinking Water. World Health Organization’ and IWA Publishing. London Lekang, Odd-Ivar. 2007. Aquaculture Engineering. Blackwell Publishing. Singapore. Malley, JP Jr. 2000. Ultraviolet Disinfection. In. Control of Microbes in Drinking Water. American Society of Civil Engineering. America. USEPA. 2003. Ultraviolet Disinfection Guidance Manual, Draft. Washington DC, Office of Ground water and Drinking Water. United States Environmental Protection Agency. Pillay T.V.R. 1990. Aquculture: Principles and Practices. Fishing News Book. London. Post, George. 1987. Textbook of Fish Health. Revised and expanded Edition. T.F.H. Publications Inc. USA. Roberts, Ronald, J. 1989. Fish Pathology. 2nd Edition. Bailliere Tindall. London. Www. americaairandwater.com. UV-fact. Www. aquatictechnology.net. Ultraviolet system. Www. aquaticeco.com. Ultraviolet Www. emperoraquatics.com. Smart UV lite. Udi Putra N.S.S, M. Syaichuddin, S. Faridah. Tamrin. 2007. Efektifitas Ultraviolet Sederhana dalam mereduksi Bakteri pathogen di dalam media air buydidaya. Prosiding Indonesia Aquaculture 2007. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Udi Putra, N.S.S, Fauzia, Tamrin. Samsul Bahri, Maqbul Syahrir. 2008. Disain UV 3 in 1 untuk mereduksi populasi Bakteri di dalam Air Media Budidaya pada Penyediaan Air Skala Besar. Laporan Tahunan BBAP Takalar. 13
  14. 14. LAMPIRAN Tabel 2. Jenis mikroorganisma dan kebutuhan dosis UV untuk mendeaktifasinya. Kebutuhan NO. Kelompok/Jenis Dosis Keterangan (µWs/Cm2) Jamur/ragi 1. Aspergillius flavus 99,000 www.americanairandwater.com 2. Aspergillius glaucus 88,000 www.americanairandwater.com 3. Aspergilus niger 330,000 Aquatic eco-systems,inc. 2005 4. Brewers yeast 6,600 www.americanairandwater.com 5. Common yeast cake 13,200 www.americanairandwater.com 6. Fungi 45,000 Aquatic eco-systems,inc. 2005 7. Mucor racemosus A 35.200 www.americanairandwater.com 8. Mucor racemosus B 35.200 www.americanairandwater.com 9. Penicillium expansum 22,000 www.americanairandwater.com 10. Penicillium roqueforti 24,600 www.americanairandwater.com 11. Penicillium digitatum 88,000 Aquatic eco-systems,inc. 2005 12. Penicillium digitatum 88,000 Aquatic eco-systems,inc. 2005 12. Oospora lactis 11,000 www.americanairandwater.com 13. Rhisopus nigricans 220,000 www.americanairandwater.com 14. Saccharomyces sp.(spores) 17,600 Aquatic eco-systems,inc. 2005; www.americanairandwater.com 15. Saprolegnia sp. 35,000 Aquatic eco-systems,inc. 2005 16. Fungi 45,000 Aquatic eco-systems,inc. 2005 17. Saccharomyces carevisiae 13,200 www.americanairandwater.com 18. Saccharomyces ellipsoideus 13,200 www.americanairandwater.com 19. Yeast calls 6,600 www.aquaticeco.com Algae 1. Clorella vulgaris 22,000 www.aquaticeco.com www.americanairandwater.com Protozoa 1. Nematode Eggs 45,000 www.americanairandwater.com 2. Paramecium 200,000 www.aquaticeco.com 3. Trichodina rigra 159,000 www.aquaticeco.com 4. Trichodina sp 35,000 www.aquaticeco.com Bakteri 1. Agrobacterium tumafaciens 8,500 www.aquaticeco.com 2. Bacillus sublitus 22,000 www.aquaticeco.com 3. Bacillus anthraccis 8,700-46,200 www.aquaticeco.com; www. americanairandwater.com 4. Bacillus megaterium 2,500 – 5,200 www.aquaticeco.com ; www. americanairandwater.com 5. Bacillus paratyphusus 6,100 www.americanairandwater.com 6. Bacillus subtilis 11,000-22,000 www.aquaticeco.com; www. americanairandwater.com 7. Clostridium tetani 22,000 www.aquaticeco.com; www. americanairandwater.com 8. Corynebacterium diphtheriae 6,500 www.aquaticeco.com; www. americanairandwater.com 10. Ebertelia typhosa 4,100 www. Americanairandwater.com 11. Escherchia coli 6,600-7,000 www.aquaticeco.com www.emperoraquatic.com 12. Leptospiracanicola 6,000 www.emperoraquatic.com 13. Icthyophthirius sp 395,000 www.aquaticeco.com 14. Legionella bozemanii 3,500 www.aquaticeco.com 15. Legionella dumoffii 5,500 www.aquaticeco.com 16. Legionella gormanii 4,900 www.aquaticeco.com 17. Legionella micdadei 3,100 www.aquaticeco.com 18. Legionella pneumophilia 3,800 www.aquaticeco.com 14
  15. 15. 19. Leptospera interrogans 6,000 – 10,000 www.aquaticeco.com 20. Microccocus candidus 12,300 www. americanairandwater.com 21. Microccocus sphaeroides 15,400 www. americanairandwater.com 22. Mycobacterium tuberculose 10,000 wwww.aquaticeco.com; www. Americanairandwater.com 23. Neisseria catarrhalis 8,500 www. americanairandwater.com 24. Oysentery bacili 4,200 www.aquaticeco.com 25. Phytomonas tumefaciens 8,000 www. americanairandwater.com 26. Proteus vulgaris 6,600 www. americanairandwater.com 27. Proteus vulgaris 6,600 www.aquaticeco.com 28. Pseudomonas aenugenosa 10,500 www.emperoraquatic.com www.aquaticeco.com 29. Pseudomonas fluorescens 6,600 www. americanairandwater.com 30. Rhodosperollium rubrum 6,200 www.aquaticeco.com; www. americanairandwater.com 31. Salmonella enteritidis 7,600 www.aquaticeco.com; www. americanairandwater.com 32. Salmonella paratyphi 6,100 www.aquaticeco.com; www. americanairandwater.com 33. Salmonella thyposa 4,100 - 6,000 www.aquaticeco.com; www. americanairandwater.com 34. Salmonella typhimurium 15,000-15,200 www.aquaticeco.com; www. americanairandwater.com 35. Salmonella sap 10,000 www.aquaticeco.com 36. Sarcina lutea 26,400 Aquatic eco-systems,inc. 2005; www. americanairandwater.com 37. Serratia marcescens 6,160 www. americanairandwater.com 38. Shigella dysenteriae 4,200 www.aquaticeco.com; www. americanairandwater.com 39. Shigella flexneri 3,400 www.aquaticeco.com; www. americanairandwater.com 40. Shigella paradysentriae 3,400 Aquatic eco-systems,inc. 2005; www. americanairandwater.com 41. Spirillum rubrum 6,160 www. americanairandwater.com 42. Staphylococcus albus 5,720 www. americanairandwater.com 43. Staphylococcus epidermidis 5,800 www.aquaticeco.com; www. americanairandwater.com 44. Staphylococcus faecalis 10,000 www.aquaticeco.com; www. americanairandwater.com 45. Staphylococcus aerius 6,500-7,000 Aquatic eco-systems,inc. 2005; www. americanairandwater.com 46. Staphylococcus lactis 8,800 Aquatic eco-systems,inc. 2005; www. americanairandwater.com 47. Staphylococcus hemolyticus 5,500 www.americanairandwater.com 48. Streptococcus viridans 3,800 www.americanairandwater.com 49. Vibrio cholera 6500 Malley, 2000; USEPA, 2003 Virus 1. Adenovirus 186,0000 Malley, 2000; USEPA, 2003 2. Bacteriopfage - E. Coli 6,600 www. americanairandwater.com 3. Hepatitis A 6,000-16,000 Malley, 2000; USEPA, 2003 4. Infectious Hepatitis 8,000 www. americanairandwater.com 5. Influenza 6,800 Aquatic eco-systems,inc. 2005; www. americanairandwater.com 6. Poliovirus 23,000-30,000 Malley, 2000; USEPA, 2003 7. Poliovirus - Poliomyelitis 6,600 www. americanairandwater.com 8. Rotavirus 40,000-50,000 Malley, 2000; USEPA, 2003 9. Tobacco mosaic 440,000 Aquatic eco-systems,inc. 2005; www. americanairandwater.com 15

×