ASKEP INFLUENZAINFLUENZAInfluenza yang lebih sering dikenal sebagai flu adalah penyakit saluranpernapasan akut yang diseba...
Virus influenza dengan antigen permukaan baru merupakan varian virus yangtelah ada, berasal dari perubahan antigen yang ce...
Perubahan yang terjadi pada virus flu terdiri dari dua macam cara. Yang pertama dikenaldengan antigenic drift atau penyimp...
Komplikasi InfluenzaKomplikasi yang terjadi dapat disebabkan oleh infeksi tambahan termasuk bakteripneumonia karena dehidr...
Batuk merupakan refleks pertahanan yang timbul akibat iritasi percabangantrakeabronkial. Kemampuan untuk batuk merupakan m...
bagian bawah. Sputum yang banyak sekali dan purulen menyatakan adanya prosessupuratif, seperti abses paru, sedangkan pembe...
(CO2) normal, hal ini dapat diidentifikasi dengan memantau tekanan parsial CO2 arteri,atau tegangan (PaCO2), yaitu lebih r...
berbaring dan biasanya keadaan diperjelas dengan penambahan sejumlah bantal ataupenambahan elavasi sudut untuk mencegah pe...
psikogenik.q SianosisSianosis adalah warna kebiru-biruan pada kulit dan selapur lendir yang terjadi akibatpeningkatan juml...
dengan hipoksia, atau oksigenasi jaringan yang tidak memadai. Hipoksemia tak selaludisertasi dengan hipoksia jaringan. Ses...
menekan fungsi pernapasan, kelemahan atau paralisis otot pernapasan, trauma dada ataupembedahan abdominal yang mengakibatk...
peningkatan area udara retrosternal; penurunan tanda vaskularisasi/bula.Tes fungsi paru: Dilakukan untuk menentukan penyeb...
- Napsu makan buruk/anoreksi.- Ketidakmampuan untuk makan karena distres pernapasan.- Penurunan berat badan menetap.Tanda:...
Intervensi:1. Auskultasi bunyi napas. Catat adanya bunyi napas, misal mengi, krekels, ronkiRasional : Beberapa derajat spa...
1. Kaji frekuensi, kedalaman pernapasan. Catat penggunaan otot aksesori, napas bibir,ketidakmampuan bicara/berbincang.Rasi...
3. Diagnosa Keperawatan: Nutrisi, perubahan, kurang dari kebutuhan tubuh dapatdihubungkan dengan dispnea.Intervensi:1. Kaj...
q Mengidentifikasi perilaku mencapai bersiha jalan napasq Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigen jaringanq Mencapai w...
Upaya-upaya pencegahan yang harus dilakukan, yaitu: Memelihara kebersihan diri danlingkungan pondokan secara baik.Istiraha...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Askep influensa

891

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
891
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
9
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Askep influensa

  1. 1. ASKEP INFLUENZAINFLUENZAInfluenza yang lebih sering dikenal sebagai flu adalah penyakit saluranpernapasan akut yang disebabkan oleh virus influenza A dan B. Penyakit ini tersebar diseluruh dunia dan menyebabkan penyakit dan kematian yang perlu mendapat perhatiankhusus. Nama influenza pertama kali digunakan oleh orang Italia pada abad kedelapanbelas yang mengatakan penyakit ini sebagai the influence of heavenly bodies.Virus Influenza juga dapat menyebabkan epidemi global yang dikenal sebagaipandemi. Selama ini sudah terjadi 31 pandemi influenza yang terdokumentasi sejakpertama kali dilaporkan tahun 1580, termasuk 3 pandemi yang terjadi pada abad keduapuluh yaitu tahun 1918, 1957 dan 1969. Pandemi tahun 1918-1919 yang dikenal sebagai"flu Spanyol" disebabkan oleh virus yang sangat virulen dan telah menelan korbankurang lebih 40 juta orang meninggal di seluruh dunia.Sejak tahun 1997 di Hong Kong ditemukan kasus influenza yang mematikan,akhirnya dikenal sebagai "flu Hong Kong".Virus influenza dapat menyebabkan sakit padasemua golongan umur, namun yang paling sering terkena anak-anak. Sedangkan infeksiserius dan kematian terutama terjadi pada pasien berusia > 65 tahun dan pasien yangmempunyai kondisi kesehatan tertentu yang berisiko tinggi terkena komplikasi dariinfluenza.Apa Itu Virus Influenza?Virus influenza merupakan virus yang kompleks danterus-menerus berubah. Struktur fisik virus ini cenderung mengalami perubahan-perubahan kecil pada antigen permukaan selama fase replikasi yang dapat meyebabkanvirus menginvasi sistem kekebalan pejamu. Hal ini menjelaskan bahwa seseorang yangterinfeksi dapat mengalami reinfeksi pada tahun berikutnya meskipun sudah punyaantibodi terhadap virus pertama.Ada dua tipe virus influenza yang dapat menyebabkanepidemi pada manusia, yaitu influenza A dan influenza B. Virus influenza A dibagi lagidalam subtipe berdasarkan dua antigen permukaan, hemaglutinin (H) dan neuraminidase(N). Virus influenza B tidak dibagi lagi dalam subtipe. Selanjutnya virus influenza A danB dikelompokkan berdasarkan karakteristik antigeniknya.
  2. 2. Virus influenza dengan antigen permukaan baru merupakan varian virus yangtelah ada, berasal dari perubahan antigen yang cepat terjadi karena mutasi yang terjadipada saat replikasi. Virus influenza B mengalami perubahan antigen lebih lambatdibanding dengan virus influenza A.Virus A dapat menginfeksi beberapa spesies hewan,seperti burung, babi,kuda, ikan paus dan singa laut. Virus yang menginfeksi burung lebihdikenal sebagai virus influenza avian atau influenza burung. Virus flu burung inibiasanya tidak menyebabkan sakit burung-burung yang liar terbang di mana-mana, tetapiburung-burung tersebut membawa dan dapat menyebarkan flu burung dalam jarak yangcukup jauh. Sebaliknya virus flu burung ini bila menginfeksi binatang peliharaan(burung) akan menyebabkan burung peliharaan tersebut sakit dan mati. Biasanya virusinfluenza A tidak menginfeksi manusia, namun beberapa laporan sejak tahun 1997menunjukkan bahwa ternyata virus ini juga dapat menginfeksi manusiaInfluenza atau flu yang asli disebabkan oleh virus flu. Virus influenzadigolongkan dalam kelompok virus RNA (Ribose Nucleic Acid) dan dibagi atas tiga tipe,yaitu A, B, dan C. Virus dengan tipe A dan B bisa menyebabkan epidemik, khususnyasaat musim salju di negara dengan empat musim. Di Amerika pada musim tersebutepidemik dapat menyebabkan kesakitan pada 10-20 persen penduduk, dan berhubungandengan rata-rata 36.000 kematian serta 114.000 hospitalisasi setiap tahunnya.Sedangkan virus influenza tipe C hanya menyebabkan masalah pernafasan yang ringan,dan diduga bukan penyebab dari epidemik.Selain menyerang manusia, ternyata virus influenza juga dapat ditemukan padabeberapa binatang, seperti unggas, babi, bebek, ikan paus, kuda, dan anjing laut.Unggas liar merupakan reservoir/perantara untuk semua subtipe dari virus tipe A.Biasanya unggas liar itu justru tidak menjadi sakit walaupun virus tersebut bersarang ditubuhnya. Namun, pada jenis unggas yang tidak liar, misalnya, ayam dan kalkun, gejala-gejala terinfeksi dapat bermanifestasi.Manusia sangat jarang terinfeksi influenza langsung dari hewan. Biasanyapenularan terjadi dari orang ke orang lain.Mudah Berubah WujudPenyakit flu sukar sekali dibasmi karena virus flu sering mengadakan perubahan.
  3. 3. Perubahan yang terjadi pada virus flu terdiri dari dua macam cara. Yang pertama dikenaldengan antigenic drift atau penyimpangan antigen, yaitu perubahan kecil pada virus yangterjadi setiap saat. Antigenic drift menyebabkan munculnya virus yang berbeda dengansebelumnya, sehingga tidak dapat dikenali oleh sistem imun tubuh.Hasilnya, sebagian besar orang yang telah kebal terhadap virus sebelumnya karena telahterpapar, menjadi berisiko untuk sakit kembali.Proses kedua yang dapat menyebabkan perubahan adalah antigenic shift. Yaituperubahan yang besar dari virus, ketika terbentuk hemagglutinin yang baru yang dapatdiikuti dengan protein neuraminidase yang baru pula. Antigenic shift dapat menimbulkanmunculnya subtipe virus influenza yang baru. Untungnya, perubahan seperti itu tidakterjadi setiap waktu seperti antigenic drift, karena jarang sekali terjadi.gejala dan tanda penyakit Influenza?Gejala berupa;- Demam mendadak disertai menggigil- Sakit kepala- Badan lemah- Nyeri otot dan sendiGejala ini bertahan selama 3 – 7 hari. Bila penyakit bertambah berat, gejalatersebut diatas akan berganti dengan gejala penyakit saluran pernafasan seperti batuk,pilek dan sakit tenggorokan. Kadang-kadang juga disertai gejala sakit perut, mual danmuntah. Pada pemeriksaan fisik : muka kemerahan, mata kemerahan dan berair sertakelenjar getah bening leher dapat teraba.Apa yang dapat diakibatkan Penyakit Influenza? Akibat penyakit Influenza yangditakutkan adalah timbulnya infeksi sekunder, seperti; radang paru-paru( Pneumonia ),myositis, sindroma Reye, gangguan syaraf pusat. Disamping itu, penderita/ pengidappenyakit kronis dapat bertambah berat bila terkena penyakit Influenza. Beberapa penyakitkronis tersebut, seperti; Asma, paru–paru kronis, jantung, kencing manis, ginjal kronis,gangguan status imunitas tubuh, kelainan darah dll.
  4. 4. Komplikasi InfluenzaKomplikasi yang terjadi dapat disebabkan oleh infeksi tambahan termasuk bakteripneumonia karena dehidrasi, dan kondisi lain yang memperparah keadaan, sepertimengidap diabetes, asma, dan kelainan jantung. Anak-anak sering mendapat masalahpada sinus dan infeksi telinga sebagai komplikasi dari flu. Manula di atas 65 tahun ataupasien yang masih anak-anak, dan penderita yang memiliki penyakit kronis, jika terkenaflu akan mudah mengalami komplikasi.Masa InkubasiJangka waktu seseorang terpapar virus hingga munculnya gejala adalah satu sampaiempat hari, dengan rata-rata dua hari. Sedangkan periode seseorang dapat menularkanpenyakitnya ke orang lain bervariasi untuk tiap usia.Penularan sudah mulai terjadi dari sebelum penderita merasa sakit, yang berlanjut hinggatiga sampai tujuh hari setelah timbul gejala pertama pada orang dewasa. Sedangkan padaanak-anak dapat lebih dari satu minggu.Dinegara bermusim empat, setiap tahun pada musim dingin terjadi letusan influenza yangbanyak menimbulkan konmplikasi dan kematian pada orang-orang beresiko tinggi :o Usia lanjut ( > 60 tahun )o Anak – anak penderita Asmao Penderita penyakit kronis ( Paru , Jantung, Ginjal, Diabetes )o Penderita gangguan sistem kekebalan tubuh.Dinegara-negara tropis seperti Indonesia, influenza terjadi sepanjang tahun. Setiap tahuninfluenza menyebabkan ribuan orang meninggal diseluruh dunia. Biaya pengobatan,biaya penanganan komplikasi, dan kerugian akibat hilangnya hari kerja ( absen darisekolah dan tempat kerja ) sangat tinggi.B. TANDA DAN GEJALA SEORANG KLIEN MENGALAMI OBSTRUKSI JALANNAPASq Batuk
  5. 5. Batuk merupakan refleks pertahanan yang timbul akibat iritasi percabangantrakeabronkial. Kemampuan untuk batuk merupakan mekanisme yang penting untukmembersihkan saluran napas bagian bawah, dan banyak orang dewasa normal yang batukbeberapa kali setelah pagi hari untuk membersihkan trakea dan faring dari sekret yangterkumpul selama tidur. Batuk juga merupakan gejala terserang penyakit pernapasan.Segala jenis batuk yang berlangsung lebih dari tiga minggu harus diselidiki untukmemastikan penyebabnya.Rangsangan yang biasanya menimbulkan batuk adalah rangsangan mekanik, kimia, danperadangan. Inhalasi asap, debu, dan benda-benda asing kecil merupakan penyebab batukyang paling sering. Perokok seringkali menderita batuk kronik karena terus menerusmengisap benda asing (asap), dan saluran napasnya sering mengalami peradangan kronik.Rangsangan mekanik dari tumor (ekstrinsik maupun intrinsik) terhadap saluran napasmerupakan penyebab lain yang dapat menimbulkan batuk (tumor yang paling seringmenimbulkan batuk adalah karsinoma bronkegenik). Setiap proses peradangan salurannapas dengan atau tanpa eksudat dapat mengakibatkan batuk. Bronkitis kronik, asma,tuberkulosis, dan pneumonia merupakan penyakit yang secara tipikal memiliki batuksebagai gejala yang mencolok. Batuk dapat bersifat produktif, pendek dan tidakproduktif, keras dan parau (seperti ada tekanan pada trakea), sering, jarang, atauparoksismal (serangan batuk yang intermiten).q Terdapatya SputumOrang dewasa normal menghasilkan mukus sekitar 100 ml dalam saluran napas setiaphari. Mukus ini diangkut menuju faring dengan gerakan pembersihan normal silia yangmelapisi saluran pernapasan. Kalau terbentuk mukus yang berlebihan, proses normalpembersihan mungkin tak efektif lagi, sehingga akhirnya mukus tertimbun. Bila hal initerjadi, membran mukosa akan terangsang, dan mukus dibatukkan keluar sebagai sputum.Pembentukan mukus yang berlebihan, mungkin disebabkan oleh gangguan fisik, kimiawi,atau infeksi pada membran mukosa.Kapan saja seorang pasien membentuk sputum, perlu dievaluasi sumber, warna, volume,dan konsistensinya. Sputum yang dihasilkan sewaktu membersihkan tenggorokankemungkinan besar berasal dari sinus atau saluran hidung, dan bukan dari saluran napas
  6. 6. bagian bawah. Sputum yang banyak sekali dan purulen menyatakan adanya prosessupuratif, seperti abses paru, sedangkan pembentukan sputum yang terus meningkatperlahan dalam waktu bertahan-tahun merupakan tanda bronkitis kronis, ataubronkiektasis.Warna sputum juga penting. Sputum yang berwarna kekuning-kuningan menunjukkaninfeksi. Sputum yang berwarna hijau merupakan petunjuk adanya penimbunan nanah.Warna hijau timbul karena adanya verdoperoksidase yang dihasilkan oleh leukositpolimorfonukler (PMN) dalam sputum. Sputum yang berwarna hijau sering ditemukanpada bronkiektasis karena penimbunan sputum dalam bronkiolus yang melebar danterinfeksi. Banyak penderita infeksi pada saluran napas bagian bawah mengeluarkansputum berwarna hijau pada pagi hari, tetapi makin siang menjadi kuning. Fenomena inimungkin disebabkan karena penimbunan sputum yang purulen di malam hari, disertaipengeluaran verdoperoksidase.Sifat dan konsistensi sputum juga dapat memberikan informasi yang berguna. Sputumyang berwarna merah muda dan berbusa merupakan tanda edema paru akut. Sputum yangberlendir, lekat dan berwarna abu-abu atau putih merupakan tanda bronkitis kronik.Sedangkan sputum yang berbau busuk merupakan tanda abses paru atau bronkiektasis.q DispneaDispnea atau sesak napas adalah perasaan sulit bernapas dan merupakan gejala utamadari penyakit kardiopulmonar. Seorang yang mengalami dispnea sering mengeluhnapasnya menjadi pendek atau merasa tercekik. Gejala objektif sesak napas termasukjuga penggunaan obat-obat pernapasan tambahan (sternokleidomastoideus, scalenus,trapezius, pectoralis mayor), pernapasan cuping hidung, tachypnea, dan hiperventilasi.Sesak napas tidak selalu menunjukkan adanya penyakit; orang normal akan mengalamihal yang sama setelah melakukan kegiatan fisik dalam tingkat-tingkat yang berbeda.Pemeriksaan harus dapat membedakan sesak napas dari gejala dan tanda lain yagmungkin memiliki perbedaan klinis mencolok. Takipnea adalah frekuensi pernapasanyang cepat, lebih cepat dari pernapasan normal (12 hingga 20 kali per menit) yang dapatmuncul dengan atau tanpa dispnea. Hiperventilasi adalah ventilasi yang lebih besardaripada jumlah yang dibutuhkan untuk mempertahankan pengeluaran karbon dioksida
  7. 7. (CO2) normal, hal ini dapat diidentifikasi dengan memantau tekanan parsial CO2 arteri,atau tegangan (PaCO2), yaitu lebih rendah dari angka normal (40 mmHg). Dispnea seringdikeluhkan pada sindrom hiperventilasi yang sebenarnya merupakan seseorang yangsehat dengan stres emosional. Selanjutnya, gejala lelah yang berlebihan harus dibedakandari dispnea. Seseorang yang sehat mengalami lelah yang berlebihan setelah melakukankegiatan fisik dalam tingkat yang berbeda-beda, dan gejala ini juga dapat dialami padapenyakit kardiovaskular, neuromuskular, dan penyakit lain selain paru.Pada beberapa tahun belakangan ini, ketertarikan pada ilmu pengetahuan dalamperhitungan dan mekanisme neurofisiologi meningkat dengan cepat. Namun, belumtersedia keterangan tentang dispnea dengan segala keadaannya yang dapat diterima.Sumber penyebab dispnea termasuk: (1) reseptor-reseptor mekanik pada otot-ototpernapasan, paru, dan dinding dada; dalam teori tegangan-panjang, elemen-elemensensoris, gelondong otot pada khususnya, berperan penting dalam membandingkantegangan dalam otot dengan derajat elastisitasnya; dispnea terjadi bila tegangan yang adatidak cukup besar untuk satu panjang otot (volume napas tercapai); (2) kemoreseptoruntuk tegangan CO2 dan O2 (PCO2 dan PO2) (teori utang-oksigen); (3) peningkatankerja pernapasan yang mengakibatkan sangat meningkatnya rasa sesak napas; dan (4)ketidakseimbangan antara kerja pernapasan denga kapasitas ventilasi. Mekanismetegangan-panjang yang tidak sesuai adalah teori yang paling banyak diterima karena teoritersebut menjelaskan paling banyak kasus klinis dispnea. Faktor kunci yang tampaknyamenjelaskan apakah dispnea terjadi pada tingkat ventilasi atau usaha sesuai denganderajat aktivitasnya. Namun, rangsangan, reseptor sensoris, dan jaras saraf yang sesuaitidak dapat ditentukan dengan pasti.Besarnya tenaga fisik yang dikeluarkan untuk menimbulkan dispnea bergantung padausia, jenis kelamin, ketinggian tempat, jenis latihan fisik, dan terlibatnya emosi dalammelakukan kegiatan itu. Dispnea yang terjadi pada seseorang harus dikaitkan dengantingkat aktivitas minimal yang menyebabkan dispnea, untuk menentukan apakah dispneaterjadi setelah aktivitas sedang atau berat, atau terjadi pada saat istirahat. Tabel 37-2berisi skala garis besar dispnea yang dikembangkan oleh American Thoracic Societyyang mungkin sesuai untuk penilaian klinis dispnea kronik. Selain itu, terdapat beberapavariasi gejala umum dispnea. Ortopnea adalah napas pendek yang terjadi pada posisi
  8. 8. berbaring dan biasanya keadaan diperjelas dengan penambahan sejumlah bantal ataupenambahan elavasi sudut untuk mencegah perasaan tersebut. Penyebab terseringortopnea adalah gagal jantung kongestif akibat peningkatan volume darah di vaskularisasisentral pada posisi berbaring. Ortopnea juga merupakan gejala yang sering muncul padabanyak gangguan pernapasan. Dispnea nokturna paroksismal menyatakan timbulnyadispnea pada malam hari dan memerlukan posisi duduk dengan segera untuk bernapas.Membedakan dispnea nokturna paroksismal dengan ortopnea adalah waktu timbulnyagejala setelah beberapa jam dalam posisi tidur. Penyebabnya sama dengan penyebabortopnea yaitu gagal jantung kongestif, dan waktu timbulnya yang terlambat itu karenamobilisasi cairan edema perifer dan penambahan volume intravaskular pusat.Pasien dengan gejala utama dispnea biasanya memiliki satu dari keadaan ini yaitu: (1)penyakit kardiovaskular, (2) emboli paru, (3) penyakit paru interstitial atau alveolar, (4)gangguan dinding dada atau otot-otot, (5) penyakit obstruktif paru, atau (6) kecemasan.Dispnea adalah gejala utama edema paru, gagal jantung kongestif, dan penyakit katupjantung. Emboli paru ditandai oleh dispnea mendadak. Dispnea merupakan gejala palingnyata pada penyakit yang menyerang percabangan trakeobronkial, parenkim paru, danrongga pleura. Dispnea biasanya dikaitkan dengan penyakit restriktif yaitu terdapatpeningkatan kerja pernapasan akibat meningkatnya resistensi elastik paru (pneumonia,atelektasis, kongesti) atau dinding dada (obesitas, kifoskoliosis) atau pada penyakit jalannapas obstruktif dengan meningkatnya resistensi nonelastik bronkial (emifisema,bronkitis, asma). Tetapi kalau beban kerja pernapasan meningkat secara kronik, makapasien yang bersangkutan dapat menyesuaikan diri dan tidak mengalami dispnea.Dispnea juga dapat terjadi jika otot pernapasan lemah (contohnya, miastenia gravis),lumpuh (contohnya, poliomielitis, sondrom Guillain-Barre), letih akibat meningkatnyakerja pernapasan, atau otot pernapasan kurang mampu melakukan kerja mekanis(contohnya, emfisema yang berat atau obesitas). Pada akhirnya, penderita sindromhiperventilasi akibat kecemasan atau stres emosional sering mengeluhkan dispnea. Polapernapasan pada kelompok ini seringkali aneh, dengan ketidakteraturan frekuensimaupun tidal volume. Pada lain waktu, pola pernapasan menjadi hiperventilasi yangmenetap sehingga pasien mengeluh kesemutan pada ekstrimitasnya dan terdapat perasaanmelayang. Bila pola pernapasan abnormal hilang saat tidur, dicurigai terdapat penyebab
  9. 9. psikogenik.q SianosisSianosis adalah warna kebiru-biruan pada kulit dan selapur lendir yang terjadi akibatpeningkatan jumlah absolut Hb tereduksi (Hb yang tak berkaitan dengan O2). Sianosisdapat tanda insufisiensi pernapasan, meskipun bukan merupakan tanda yang dapatdiandalkan. Ada dua jenis sianosis: sianosis sentral dan sianosis perifer. Sianosis sentraldisebabkan oleh insufisiensi oksigenasi Hb dalam paru, dan paling mudah diketahui padawajah, bibir, cuping telinga, serta bagian bawah lidah. Sianosis biasanya tak diketahuisebelum jumlah absolut Hb tereduksi mencapai 5g per 100 ml atau lebih pada seseorangdengan konsentrasi Hb yang normal (saturasi oksigen [SaO2] kurang dari 90%). Jumlahnormal Hb tereduksi dalam jaringan kapiler adalah 2,5 g per 100 ml. Pada orang dengankonsentrasi Hb yang normal, sianosis akan pertama kali terdeteksi pada SaO2 kira-kira75% dan PaO2 50 mmHg atau kurang. Penderita anemia (konsentrasi Hb rendah)mungkin tak pernah mengalami sianosis walaupun mereka menderita hipoksia jaringanyang berat karena jumlah absolut Hb tereduksi kemungkinan tidak dapat mencapai 5 gper 100 ml. Sebaliknya, orang yang menderita polisitemia (konsentrasi Hb yang tinggi)dengan mudah mempunyai kadar Hb tereduksi 5 g per 100 ml walaupun hanyamengalami hipoksia yang ringan sekali. Foktor-faktor lain yang menyulitkan pengenalansianosis adalah variasi ketebalan kulit, pigmentasi dan kondisi penerangan.Selain sianosis yang disebabkan oleh insufisiensi pernapasan (sianosis sentral), akanterjadi sianosis perifer bila aliran darah banyak berkurang sehingga sangat menurunkansaurasi darah vena, dan akan menyebabkan suatu daerah menjadi biru. Sianosis periferdapat terjadi akibat insufisiensi jantung, sumbatan pada aliran darah, atau vasokonstriksipembuluh darah akibat suhu yang dingin.Sejumlah kecil methemoglobin atau sulfhemoglobin dalam sirkulasi dapat menimbulkansianosis, walaupun jarang terjadi. Ada banyak hal yang mengakibatkan sianosis (dansianosis sulit dikenali) sehingga sianosis merupakan petunjuk insufisiensi paru yang tidakdapat diandalkan.q Hipoksemia dan HipoksiaIstilah hipoksemia menyatakan nilai PaO2 yang rendah dan seringkali ada hubungannya
  10. 10. dengan hipoksia, atau oksigenasi jaringan yang tidak memadai. Hipoksemia tak selaludisertasi dengan hipoksia jaringan. Seseorang masih dapat mempunyai oksigenasijaringan yang normal, tapi menderita hipoksemia; seperti juga seseorang masih dapatmemiliki PaO2 normal tetapi menderita hipoksia jaringan (karena gangguan pengirimanoksigen dan penggunaan oksigen oleh sel-sel). Tetapi ada hubungan antara PaO2 denganhipoksia jaringan, meskipun terdapat nilai PaO2 yang tepat pada jaringan yangmenggunakan O2. Kalau semua dianggap sama, makin cepat timbulnya hipoksemia,semakin berat pula kelainan jaringan yang diderita. Pada umumnya nilai PaO2 yang terusmenerus kurang dari 50 mmHg disertai hipoksia jaringan dan asidosis (yang disebabkanoleh metabolisme anaerobik). Hipoksia dapat terjadi pada nilai PaO2 normal maupunrendah sehingga evaluasi pengukuran gas darah harus selalu dikaitkan denganpengamatan klinik dari pasien yang bersangkutan. Sianosis merupakan satu tanda yangtidak dapat diandalkan karena SaO2 harus kurang dari 75% pada orang dengan kadar Hbnormal sebelum tanda itu dapat diketahui.q Hiperkapnia dan HipokapniaSeperti halnya ventilasi, yang dianggap memadai bila suplai O2 seimbang dengankebutuhan O2, pembuangan CO2 melalui paru baru dianggap memadai bilapembuangannya seimbang dengan pembentukan CO2. CO2 mudah sekali mengalamidifusi sehingga tekanan CO2 dalam udara alveolus sama dengan tekanan CO2 dalamdarah arteri; sehingga PaCO2 merupakan gambaran ventilasi alveolus yang langsung dansegera yang berhubungan dengan kecepatan metabolisme. Dengan demikian PaCO2digunakan untuk menilai kecukupan ventilasi alveolar ( ) karena pembuangan CO2 dariparu seimbang dengan sehingga PaCO2 langsung berkaitan dengan produksi CO2 ( CO2)dan sebaliknya berkaitan dengan ventilasi alveolar: PaCO2 α CO2/ . Ventilasi yangmemadai akan mempertahankan kadar PaCO2 sebesar 40 mmHg. Hiperkapniadidefinisikan sebagai peningkatan PaCO2 sampai di atas 45 mmHg; sedangkanhipokapnia terjadi apabila PaCO2 kurang dari 35 mmHg. Penyebab langsung retensi CO2adalah hipoventilasi alveolar (ventilasi kurang memadai, untuk mengimbangipembentukan CO2). Hiperkapnia selalu disertai hipoksia dalam derajat tertentu apabilapasien bernapas dengan udara yang terdapat dalam ruangan.Penyebab utama hiperkapnia adalah penyakit obstruktif saluran napas, obat-obat yang
  11. 11. menekan fungsi pernapasan, kelemahan atau paralisis otot pernapasan, trauma dada ataupembedahan abdominal yang mengakibatkan pernapasan menjadi dangkal, dankehilangan jaringan paru. Tanda klinik yang dikaitkan dengan hiperkapnia adalah:kekacauan mental yang berkembang menjadi koma, sakit kepala (akibat vasodilatasiserebral), asteriksis atau tremor kasar pada tangan yang teregang (flapping tremor), danvolume denyut nadi yang penuh disertai tangan dan kaki yang terasa panas danberkeringat (akibat vasodilatasi perifer karena hiperkapnia). Hiperkapnia kronik akibatpenyakit paru kronik dapat mengakibatkan pasien sangat toleran terhadap PaCO2 yangtinggi, sehingga pernapasan terutama dikendalikan oleh hipoksia. Dalam keadaan ini, biladiberi oksigen kadar tinggi, pernapasan akan dihambat sehingga hiperkapnea bertambahberat.Kehilangan CO2 dari paru yang berlebihan (hipokapnia) akan terjadi apabila terjadihiperventilasi (ventilasi dalam keadaan kebutuhan metabolisme meningkat untukmembuang CO2). Tanda dan gejala yang sering berkaitan dengan hipokapnia adalahsering mendesah dan menguap, pusing, palpitasi, tangan dan kaki kesemutan dan baal,serta kedutan otot. Hipokapnia hebat (PaCO2 < 25 mmHg) dapat menyebabkan kejang.C.PATOFISIOLOGIInfeksi oleh bakteri /virusPeradangan pada membrane mukosaMenghalangi jalan napasPeningkatan produksi mukusPertukaran O2 dan CO2 tidak adekuatTerganggunya inspirasi dan ekspirasiTakipneaDispneaO2 kurang dari kebutuhan jaringanSianosisHipoksemiaHipksiaD. Pemeriksaan DiagnostikSinar x dada: Dapat menyatakan hiperinflasi paru-paru; mendatarnya diafragma;
  12. 12. peningkatan area udara retrosternal; penurunan tanda vaskularisasi/bula.Tes fungsi paru: Dilakukan untuk menentukan penyebab dispnea, untuk menentukanapakah fungsi abnormal adalah obstruks atau restriksi.Bronkogram; dapat menunjukkan dilatasi silindris bronkus pada inspirasiJDL dan Diferensial: Hemoglobin meningkat (emfisema luas), peningkatan eosinofilSputum dan sekret: Kultur untuk menentukan adanya infeksi, mengidentifikasi patogen;pemeriksaan sitolitik untuk mengetahui keganasan atau gangguan alergi.EKG: Deviasi aksis kanan, peninggian gelombang P; disritmia atrial, peninggiangelombang P pada lead II, III, AVF; aksis vertikal QRS.E. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN OBSTRUKSI JALANNAPASData dasar pengkajian pasienAktivitas/IstirahatGejala:- Keletihan, kelelahan, malaise- Ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari karena sulit bernapas.- Ketidakmampuan untuk tidurSirkulasiTanda:- Peningkatan frekuensi jantung/takikardia berat, disritmia.- Warna kulit/membran mukosa: sianosisIntegritas EgoTanda:- Ansietas, ketakutan, peka rangsangMakanan/CairanGejala:- Mual/muntah.
  13. 13. - Napsu makan buruk/anoreksi.- Ketidakmampuan untuk makan karena distres pernapasan.- Penurunan berat badan menetap.Tanda:- Turgor kulit buruk.PernapasanGejala:- Napas pendek khususnya pada kerja.- Batuk menetap dengan produksi sputum setiap hari selama minimun 3 bulan berturut-turut tiap tahun sedikitnya 2 tahun.Tanda:- Penggunaan obat bantu pernapasan, misalanya meninggikan bahu, retraksi fosasupraklafikula, melebarkan hidung.- Dada: Dapat terlihat hperinflasi dengan peninggian diameter AP.- Bunyi napas: mungkin redup dengan ekspirasi mengi; menyebar, lembut atau krekelslembab kasar; ronki, mengi sepanjang area paru pada ekspirasi dan kemungkinan selamainspirasi berlanjut sampai penurunan atau tak adanya bunyi napas.Interaksi SosialGejala:- Hubungan ketergantungan.- Kurang sistem pendukung.- Kegagalan dukungan dari/terhadap pasangan/orang terdekat.Penyuluhan/PembelajaranGejala:- Penggunaan/penyalahgunaan obat pernapasan.- Kesulitan menghentikan merokok.F. Diagnosa keperawatan1. Diagnosa Keperawatan: Ketidakefektifan Bersihan jalan napas, berihubungan denganpeningkatan produksi sekret, sekresi tertahan, tebal, sekresi kental akibat influenza.
  14. 14. Intervensi:1. Auskultasi bunyi napas. Catat adanya bunyi napas, misal mengi, krekels, ronkiRasional : Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan napas dandapat/tak dimanifestasikan adanya bunyi napas adventisius, misal penyebaran, krekelsbasah (bronkitis); bunyi napas redup dengan ekspirasi mengi (emfisema); atau tak adanyabunyi napas (asma berat).2. Kaji/pantau frekuensi pernapasan. Catat rasio inspirasi/ekspirasi.Rasional : Takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan padapenerimaan atau selama stres/adanya proses infeksi akut. Pernapasan dapat melambat danfrekuensi ekspirasi memanjang dibanding inspirasi.3. Catat adanya/derajat dispnea, mis., keluhan “lapar udara,” gelisah, ansietas, distrespernapasan, penggunaan otot bantu.Rasional : Disfungsi pernapasan adalah variabel yang tergantung pada tahap proseskronis selain proses akut yang menimbulkan perawatan di rumah sakit, mis., infeksi,reaksi alergi.4. Kaji pasien untuk posisi yang nyaman, mis., peninggian kepala tempat tidur, dudukpada sandaran tempat tidurRasional : Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernapasan denganmenggunakan gravitasi. Namun, pasien dengan distres berat akan mencari posisi yangpaling mudah untuk bernapas. Sokongan tangan/kaki dengan meja, bantal, dan lain-lainmembantu menurunkan kelemahan otot dan dapat sebagai alat ekspansi dada.5. Pertahankan polusi lingkungan minimum, mis., debu, asap, dan bulu bantal yangberhubungan dengan kondisi individu.Rasional : Pencetus tipe reaksi alergi pernapasan yang dapat mentriger episode akut.6. Dorong/bantu latihan napas abdomen atau bibir.Rasional : Memberikan pasien beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol dispneadan menurunkan jebakan udara.2. Diagnosa Keperawatan: Pertukaran gas, kerusakan dapat dihubungkan dengangangguan suplai oksigen (obstruksi jalan napas oleh sekresi).Intervensi:
  15. 15. 1. Kaji frekuensi, kedalaman pernapasan. Catat penggunaan otot aksesori, napas bibir,ketidakmampuan bicara/berbincang.Rasional : Berguna dalam evaluasi derajat distres pernapasan dan/atau kronisnya prosespenyakit.2. Tinggikan kepala tempat tidur, bantu pasien untuk memilih posisi yang mudah untukbernapas. Dorong napas dalam perlahan atau napas bibir sesuai kebutuhan/toleransiindividu.Rasional : Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi dan latihannapas untuk menurunkan kolaps jalan napas, dispnea, dan kerja napas.3. Kaji/awasi secara rutin kulit dan warna membran mukosa.Rasional : Sianosis mungkin perifer (terlihat pada kuku) atau sentral (terlihat sekitarbibir/atau daun telinga). Keabu-abuan dan dianosis sentral mengindikasikan beratnyahipoksemia.4. Dorong mengeluarkan sputum; penghisapan bila diindikasikan.Rasional : Kental, tebal, dan banyaknya sekresi adalah sumber utama gangguanpertukaran gas pada jalan napas kecil. Penghisapan dibutuhkan bila batuk tidak efektif.5. Palpasi fremitusRasional : Penurunan getaran vibrasi diduga ada pengumpulan cairan atau udara terjebak.6. Awasi tingkat kesadaran/status mental. Selidiki adanya perubahan.Rasional : Gelisah dan ansietas adalah manifestasi umum pada hipoksia. GDA memburukdisertai bingung/somnolen menunjukkan disfungsi serebral yang berhubungan denganhipoksemia.7. Evaluasi tingkat toleransi aktivitas. Berikan lingkungan tenang dan kalem. Batasiaktivitas pasien atau dorong untuk tidur/istirahat di kursi selama fase akut. Mungkinkanpasien melakukan aktivitas secara bertahap dan tingkatkan sesuai toleransi individu.Rasional : Selama distres pernapasan berat/akut/refraktori pasien secara total tak mampumelakukan aktivitas sehari-hari karena hipoksemia dan dispnea. Istirahat diselingiaktivitas perawatan masih penting dari program pengobatan. Namun, program latihanditujukan untuk meningkatkan ketahanan dan kekuatan tanpa menyebabkan dispneaberat, dan dapat meningkatkan rasa sehat.
  16. 16. 3. Diagnosa Keperawatan: Nutrisi, perubahan, kurang dari kebutuhan tubuh dapatdihubungkan dengan dispnea.Intervensi:1. Kaji kebiasaan diet, masukan makanan saat ini. Catat derajat kesulitan makan. Evaluasiberat badan dan ukuran tubuh.Rasional : Pasien distres pernapasan akut sering anoreksia karena dispnea, produksisputum, dan obat.2. Auskultasi bunyi ususRasional : Penurunan/hipoaktif bising usus menunjukkan penurunan motilitas gaster dankonstipasi (komplikasi umum) yang berhubungan dengan pembatasan pemasukan cairan,pilihan makanan buruk, penurunan aktivitas, dan hipoksemia.3. Berikan perawatan oral sering, buang sekret, berikan wadah khusus untuk sekali pakaidan tisu.Rasional : Rasa tak enak, bau dan penampilan adalah pencegah utama terhadap napsumakan dan dapat membuat mual dan muntah dengan peningkatan kesulitan napas.4. Dorong periode istirahat semalam 1 jam sebelum dan sesudah makan. Berikan makanporsi kecil tapi sering.Rasional : Membantu menurunkan kelemahan selama waktu makan dan memberikankesempatan untuk meningkatkan masukan kalori total.5. Hindari makanan penghasil gas dan minuman karbonat.Rasional : Dapat menghasilkan distensi abdomen yang mengganggu napas abdomen dangerakan diafragma, dan dapat meningkatkan dispnea.6. Hindari makanan yang sangat pedas atau sangat dingin.Rasional : Suhu ekstrim dapat mencetuskan/meningkatkan spasme batuk.7. Timbang berat badan sesuai indikasi.Rasional : Berguna untuk menentukan kebutuhan kalori, menyusun tujuan berat badan,dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi. Catatan: Penurunan berat badan dapatberlanjut, meskipun masukan adekuat sesuai teratasinya edema.Evaluasi yang diharapkanq Menunjukkan jalan napas paten dengan bunyi napas bersih,tak disnea,sianosis
  17. 17. q Mengidentifikasi perilaku mencapai bersiha jalan napasq Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigen jaringanq Mencapai waktu perbaikan infeksi berulang tanpa komplikasiq Mengidentifikasi intervensi unutk mencegah/menurunkan risiko infeksiq Menunjukkan peningkatan nafsu makanq Mempertahankan berat badan normalG. PengobatanUmumnya penyakit yang diakibatkan oleh virus bisa sembuh sendiri. Yang perludiperhatikan adalah infeksi bakteri/kuman lainnya yang biasanya menyertai infeksi virus(komplikasi). Pengobatan influenza adalah dengan membiarkan tubuh penderitamembentuk antibodinya sendiri.Hal itu dapat dilakukan dengan banyak beristirahat dan mengurangi aktivitasnya,termasuk tidak banyak bercakap-cakap. Pengobatan yang umum diberikan adalah untukmengurangi gejala yang mengganggu dari flu, seperti pemberian obat untuk(simptomatik) menurunkan panas, menghentikan pilek dan batuk.Pemberian obat itu akan meredakan gejala sekaligus mengurangi penderitaan pasien flu.Obat flu biasanya terdiri dari komponen untuk menurunkan panas (parasetamol,ibuprofen), mengurangi pilek atau hidung berair (efedrin, pseudo-efedrin, ataufenilpropanolamin [maksimal 15 mg/tablet]), dan komponen obat batuk (dekstrometorfanatau noskapin). Namun, bila gejalanya hanya demam saja, tidak perlu mengonsumsisemua komponen.Bagaimana bila hanya pilek? Cukup pilih obat bebas yang mengandung komponen pileksaja; bila dicampur dengan komponen antihistamin (CTM, misalnya) masihdiperbolehkan. Pemilihan obat kombinasi tergantung kecocokan individual.Vitamin dan pengencer dahak tidak mutlak diperlukan dan perlu dinilai secara individual.Yang perlu diingat, dengan atau tanpa antibiotik flu akan sembuh dalam beberapa harihingga seminggu. Namun, bila tidak, sebaiknya konsultasikan kepada dokter keluargaAnda.Bagaimana upaya-upaya yang dilakukan untuk mencegah dari risiko tertular penyakitInfluenza?
  18. 18. Upaya-upaya pencegahan yang harus dilakukan, yaitu: Memelihara kebersihan diri danlingkungan pondokan secara baik.Istirahat yang cukup, banyak mengkonsumsi buah-bahan segar dan sayur-sayuran hijau.Minum air yang cukupMembiasakan diri untuk membersihkan ingus memakai kertas tissu atau sapu tanganyang dapat menyerap cairan hidung dan membuangnya di tempat sampah.Selalu memakai masker (penutup) hidung dan mulut yang bersih agr terhindar daripercikan air ludah/ liur yang keluar dari penderita sewaktu bercakap-cakap atau terkenapercikan dahak, ingus, batuk dan bersin.jangan sering keluar malam, jika ada alergi antisipasi dengan minum vitamin sesuaikebutuhan.Menghindari diri agar tidak kontak dekat dengan penderita bergejala dan tanda penyakitInfluenza.Sedapat mungkin menghindari kerumunan kepadatan manusia atau tempat - tempat yangdipadati orang terutama pada tempat seperti dipasar, atau pun tempat keramaian lainnya.DAFTAR PUSTAKACapernito,Linda juall.2001.Buku Saku Diagnosa Keperawatan.Jakarta.EGCCorwin,Ellizabetz,2001.Buku Saku Patofisiologi.Jakarta.EGCDoengoes,1999.Perencanaan Asuhan Keperawatan.Jakartan.EGCBPhttp://www.infeksi.com/articles.php?lng=in&pg=15HI setempat.http://www.freelists.org/archives/ppi/03-2004/msg00000.htmlhthttp://beingmom.org/index.php/2006/12/08/penjelasan-imunisasi/tp://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0204/26/cakrawala/laput1.htmhttp://www.pppl.depkes.go.id/catalogcdc/kamus_detail_klik.asp?abjad=P&id=2005111810220104830710&count=13&page=1Diposting oleh keperawatan ADIL AKPER di 01:25 0 komentar

×