Proposal Metode Penelitian Purwo mata kuliah Metodologi Penelitian

  • 2,551 views
Uploaded on

berikut ini proposal yang dikumpulkan pada saat kuliah metode penelitian di FEB UGM

berikut ini proposal yang dikumpulkan pada saat kuliah metode penelitian di FEB UGM

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
2,551
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
38
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. ANALISIS HUBUNGAN ARUS KAS DENGAN INVESTASI DI PASAR MODAL TIDAK SEMPURNA: KURVA BERBENTUK “U” Usulan Penelitian untuk Tesis S-2 Diajukan sebagai Tugas Mata Kuliah Metodologi Penelitian Dosen Pengampu: Dr. Erni Ekawati, MBA, MSA Oleh: Purwo Adi Wibowo 10/308348/PEK/15050 PROGRAM MAGISTERS SAINS DAN DOKTOR FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS GADJAH MADA 2010
  • 2. I. Latar Belakang Investasi merupakan penentu utama untuk meningkatkan nilai perusahaan dan salah satu faktor penting yang mempengaruhi perekonomian suatu negara. Nilai investasi berbagai perusahaan akan berdampak pada aktivitas dan kemajuan ekonomi. Investasi didefinisikan sebagai selisih antara modal (aktiva tetap bersih) awal dengan modal (aktiva tetap bersih) akhir (Zong, 2006). Modigliani dan Miller (1958) dalam teori struktur modal mengemukakan bahwa keputusan investasi merupakan keputusan yang memiliki pengaruh jelas, jika berada dalam pasar sempurna. Manajer hanya perlu menyeleksi proyek yang menghasilkan NPV (net present value) positif untuk memaksimalkan nilai perusahaan. Keadaan ini berlaku dengan mengasumsikan pasar sempurna, dimana pasar tersebut tak ada pembatasan peraturan, tanpa pajak, tak ada biaya kebangkrutan, tidak ada asimetri informasi dan manajer selalu bertindak untuk memaksimalkan kekayaan pemegang saham. Pelaku pasar tidak akan memiliki kesempatan untuk melakukan arbitrasi. Menurut teori MM, perusahaan yang beroperasi di pasar sempurna, kebijakan pendanaan dan keputusan struktur modal merupakan keputusan yang tidak relevan untuk memaksimalkan nilai perusahaan. Selain itu, keputusan investasi juga bersifat independen dengan keputusan pendanaan. Asumsi pasar sempurna merupakan keadaan utopia yang tidak akan berlaku nyata. Di dunia nyata, yang berlaku adalah pasar yang tidak sempurna. Ketidaksempurnaan pasar secara umum dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok penyebab, yaitu faktor fundamental dan faktor institusional. faktor fundamental meliputi asimetri informasi, moral hazard dan seleksi merugikan, persoalan agensi, dan faktor perilaku. Faktor institusi meliputi diversifikasi, organisasi kelompok industri, pajak, dan peraturan pemerintah (Zong, 2006). 1
  • 3. Berbagai distorsi atau penyebab ketidaksempurnaan pasar yang muncul mengakibatkan keputusan investasi merupakan suatu proses yang rumit. Hasil dari ketidaksempurnaan pasar mengakibatkan keputusan investasi tidak independen dengan kebijakan pendanaan dan keputusan struktur modal. Berdasarkan paparan ini, kesempatan penelitian yang dapat dilakukan adalah mengenai tingkat investasi perusahaan dan arus kas internal. Sensitivitas investasi dengan arus kas diteliti oleh Fazzari et al (1988). Temuannya memberikan bukti empiris mengenai teori pecking order dalam biaya pendanaan dan dampaknya terhadap tingkat investasi perusahaan. Temuan penelitiannya memperlihatkan bahwa tingkat investasi pada perusahaan yang paling besar terkendala secara keuangan, paling sensitif terhadap ketersediaan dana internal. Maksud dari tingkat kendala pendanaan: perusahaan tidak terkendala pendanaan adalah perusahaan yang memiliki akses terhadap pendanaan eksternal tanpa atau dengan sedikit persoalan. Sedangkan perusahaan yang terkendala pendanaan adalah perusahaan yang dinilai kurang layak oleh pasar untuk didanai dan akibatnya membutuhkan kos modal yang jauh lebih tinggi untuk membiayai suatu proyek. Perusahaan terkendala merasa bahwa arus kas internal merupakan sumber utama pendanaan dan ketersediaan dana tersebut menentukan kemampuan perusahaan dalam berinvestasi (Cleary, 2007). Temuan berlawanan dikemukakan oleh Kaplan dan Zingales (1997) dan Cleary (1999) yang menyajikan bukti empiris bahwa tingkat investasi pada perusahaan yang paling kecil terkendala secara keuangan, paling terpengaruh oleh ketersediaan dana internal. Berdasarkan temuan dalam penelitian mengenai sentivitas arus kas- investasi yang berlawanan, peneliti lain melakukan penelitian mengenai mekanisme hubungan arus kas dan investasi (Zong, 2006). Temuan penting mengenai mekanisme hubungan arus kas dan investasi adalah hubungan 2
  • 4. yang bersifat nonmonotonic (nonlinear) diantara perusahaan yang memiliki tingkat kendala likuiditas yang berbeda. Malahan hubungannya bisa berbentuk kurva U. Cleary dkk (2007) mengembangkan model yang mendemonstrasikan bahwa kurva investasi memang membentuk kurva U. Stein (2001) mengemukakan bahwa investasi merupakan dampak dari ketersediaan arus kas internal, sesudah dikontrol dengan kesempatan investasi. Lebih lanjut dikemukakan bahwa perusahaan yang memiliki arus kas yang lebih besar cenderung melakukan investasi lebih banyak. Meskipun demikian Stein (2001) memperingatkan bahwa sesungguhnya kurang jelas bagaimana mekanisme sesungguhnya yang mendorong hubungan ini. Dengan mengikuti metodologi Cleary dkk (2006), penelitian ini akan melakukan analisis mengenai hubungan kurva U antara arus kas dan investasi dengan asumsi ketidaksempurnaan pasar modal. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah mengenai keberadaan faktor lain yang mempengaruhi investasi, perlu dipertimbangkan dalam model sebagai kontrol. II. Motivasi Penelitian ini bermaksud menguji teka-teki sensitivitas arus kas terhadap investasi bagi perusahaan yang memiliki perbedaan tingkat kendala pendanaan. Pemahaman mengenai hubungan arus kas-investasi yang membentuk kurva U didekati dengan memperbaiki pendefinisian kendala pendanaan dengan cara yang berbeda. Dengan menggunakan data di pasar modal Indonesia yang dapat dikatakan tingkat ketidaksempurnaannya tinggi, untuk mengkonfirmasi penelitian di pasar modal negara maju yang tingkat ketidaksempurnaannya rendah (Allayannis dan Mozumdar, 2001). Kekuatan penelitian ini adalah karena kesederhanaannya, sehingga diharapkan dapat menangkap hubungan arus kas dengan investasi secara logis dan dapat diterima umum. 3
  • 5. III. Pernyataan masalah dan Pertanyaan Penelitian Fazzari dkk (1988) menemukan bahwa tingkat investasi pada perusahaan yang paling besar terkendala pendanaan, paling sensitif terhadap ketersediaan dana internal. Sebaliknya, Kaplan dan Zingales (1997) dan Cleary (1999) menemukan tingkat investasi pada perusahaan yang paling kecil terkendala pendanaan, paling terpengaruh oleh ketersediaan dana internal. Cleary dkk (2007) menjelaskan bahwa hasil berlawanan ini karena perbedaan metodologi, selain itu juga menunjukkan bahwa hubungan arus kas dan investasi berbeda-beda arahnya berdasarkan tingkat kendala investasi yang dihadapi perusahaan. Berdasarkan pernyataan masalah, pertanyaan penelitian adalah: “Apakah hubungan arus kas dengan investasi membentuk kurva U?” IV. Tujuan Tujuan penelitian adalah “Menguji bentuk hubungan arus kas dengan investasi.” V. Manfaat Manfaat penelitian secara teoritis diharapkan dapat memberikan konfirmasi terhadap hubungan arus kas dan investasi dengan data perusahaan di pasar modal di Indonesia. Pasar modal di Indonesia merupakan pasar negara berkembang (emerging market) sehingga dapat dikatakan bahwa tingkat ketidaksempurnaannya tinggi. 4
  • 6. VI. Komponen Variabel dan Hubungannya Komponen variabel penelitian dan hubungan variabel disajikan pada gambar 1. Gambar 1. Komponen variabel dan hubungannya Keterangan: M/B = market to book FS = kelesuan keuangan (financial slack), δS = pertumbuhan penjualan, AGE = usia perusahaan, SZ = ukuran perusahaan, LEV = leverage DPR = Dividen payout ratio. VII. Tinjauan Pustaka 7.1 Hubungan Arus Kas dan Investasi Ketika perusahaan beroperasi di pasar modal tidak sempurna (imperfect market), mereka dipaksa untuk membayar premium untuk mendapatkan pendanaan eksternal. Ketidaksempurnaan pasar modal utamanya merupakan hasil dari persoalan keagenan dan asimetri informasi (Cleary dkk (2007). Sedangkan menurut Zong (2006) ketidaksempurnaan pasar ditentukan oleh faktor fundamental dan institusional. ARUS KAS INVESTASI VAR. KONTROL: M/B; FS; δS; AGE; SZ; LEV; DPR 5
  • 7. Keberadaan ketidaksempurnaan pasar akan berdampak negatif bagi perusahaan. Biasanya dampak buruk lebih kecil pada perusahaan yang memiliki kekayaan dan pendanaan internal memadai. Sehingga logika yang dapat diterima adalah, semakin besar kendala pendanaan suatu perusahaan (kesulitan memperoleh dana untuk salah satunya investasi), entah karena kondisi pasar tidak sempurna atau karena ketersediaan dana internal maka semakin kecil pula investasinya. Logika diatas, tidak seluruhnya diterima. Secara teoritis, penelitian menggunakan asumsi bahwa investasi perusahaan merupakan kurva berbentuk U dari fungsi pendanaan internal. Faktanya, pada perusahaan yang memiliki arus kas relatif rendah, penurunan arus kas akan mengarahkan peningkatan investasi perusahaan. Analisis dilakukan berdasarkan tiga asumsi. 1) dana eksternal lebih ber-kos tinggi dibanding dana internal (laba ditahan) karena persoalan keagenan atau ketidaksempurnaan pasar modal. 2) kos peningkatan dana eksternal, pengaruhnya ditentukan oleh permintaan investor untuk menghasilkan tingkat pengembalian yang memadai. 3) investasi dipilih berdasarkan skalabilitasnya, atau dengan kata lain perusahaan dapat memilih antara investasi besar atau kecil atau bahkan memutuskan untuk tidak berinvestasi. Fokus analisis mengenai variasi tingkat investasi pada berbagai tingkat ketersediaan dana internal membentuk kurva U. logikanya dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Ketika dana internal perusahaan tinggi, tetapi tidak memadai untuk mendanai investasi terbaik, perusahaan akan meminjam dalam jumlah kecil. Pada kondisi ini, perusahaan menghadapi harapan kemungkinan likuidasi yang rendah karena berinvestasi pada skala kecil. Pada kasus perusahaan tersebut, bayangkan perusahaan menurunkan pendanaan internalnya (meningkatkan pembayaran dividen). Untuk mempertahankan 6
  • 8. skala investasi, perusahaan membutuhkan pinjaman yang lebih besar, menjanjikan pembayaran yang lebih besar dan mendatangkan kemungkinan likuidasi yang meningkat. Dengan menurunkan investasinya, perusahaan dapat menghindari kos-kos ini, dimana perusahaan jadinya kehilangan pendapatan yang relatif kecil selama investasi mendekati tingkat terbaiknya. Sehingga untuk tingkat dana internal yang lebih tinggi, secara intuitif kita dapat memprediksi bahwa penurunan dana internal akan mengarahkan penurunan investasi (berhubungan positif/searah). 2) Ketika tingkat dan internal rendah, perusahaan berinvestasi pada tingkat rendah pula, tetapi pada saat bersamaan membutuhkan pinjaman yang lebih besar dan menghadapi risiko gagal bayar (default) dan likuidasi yang lebih tinggi. Karena probabilitas gagal bayar meningkat, pendapatan yang diharapkan dihasilkan oleh perusahaan akan meningkat untuk mengkompensasi risiko (gagal bayar dan likuidasi) yang dihadapi investor. Peningkatan investasi (sekaligus pendapatan) meningkatkan kemampuan investor untuk membayar kembali utang dan kompensasi bagi investor. Berdasarkan mekanisme ini, investor dapat menerima janji pembayaran kembali untuk mencapai titik impas, sehingga mengurangi risiko gagal bayar perusahaan. Karena tingkat investasi berada di bawah tingkat terbaik investasi yang mungkin dilaksanakan, pendapatan dari investasi harus mencukupi untuk membayar tambahan kos penyediaan dana. Hasilnya adalah, dibawah tingkat dana internal tertentu, penurunan dana internal akan mengarahkan pada peningkatan investasi. Secara keseluruhan, tradeoff antara kos dan pendapatan yang mempengaruhi investasi bervariasi secara kontinyu dengan tingkat dana internal. Sehingga hubungan arus kas-investasi membentuk kurva U. 3) Pada saat dana internal negatif dan sangat rendah, investasi akan menurun. Tingkat dana internal yang negatif dapat diartikan bahwa 7
  • 9. perusahaan menghadapi jurang pendanaan yang harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum perusahaan dapat berinvestasi. Arus kas negatif (karena kerugian) atau sangat rendah bertindak seperti biaya tetap, implikasinya adalah investasi layak hanya jika dilakukan pada skala yang relatif tinggi. 7.2 Penelitian terdahulu Penelitian dengan tema investasi menekankan pentingnya kendala pendanaan dalam investasi. Fazzari dkk (1988) mendukung hubungan arus kas-investasi dan hierarki pendanaan. Peneliti menggunakan data dari 422 perusahaan di Amerika periode 1970 hingga 1984 kemudian menguji apakah penentu investasi berbeda antara perusahaan yang terkendala dan yang tidak. Uji yang dilakukan adalah menganalisis perbedaan sensitivitas arus kas investasi diantara perusahaan yang diklasifikasikan berdasarkan laba yang ditahan. Temuannya menunjukkan bahwa perusahaan yang memiliki rasio laba ditahan tinggi menghadapi persoalan asimetri informasi yang tinggi dan cenderung terkendala secara likuiditas. Lebih lanjut dikemukakan bahwa tingkat investasi perusahaan tersebut lebih sensitif pada fluktuasi arus kas dibanding perusahaan yang membagikan dividen yang lebih tinggi. Peneliti lain melanjutkan penelitian seperti yang dilakukan Fazzari dkk (1988) dan mendukung simpulannya, dengan menggunakan metodologi yang berbeda maupun dengan data internasional (Bond dan Meghir, 1994; Bond dkk, 1997; Audretsch dan Elston, 2002 dalam Zong 2006). Penelitian lain juga menguji hipotesis yang sama dengan menggunakan kriteria berbeda dalam pengelompokan perusahaan dan tingkat asimetri yang berbeda. Sebagai contoh, Schaller (1993 dalam Zong, 2006) dengan menggunakan data pasar modal kanada, memperlihatkan bahwa pengaruh arus kas lebih terasa pada perusahaan yang lebih muda, perusahaan yang kepemilikannya terdispersi dan perusahaan yang tidak masuk dalam grup. 8
  • 10. Hoshi dkk (1991 dalam Zong, 2006) menyatakan bahwa keputusan investasi 24 perusahaan di Jepang yang bukan anggota Keiretsu lebih sensitif terhadap likuiditas perusahaan dibandingkan 121 perusahaan yang menjadi anggota keiretsu (anggota keiretsu dikategorikan kurang terkendala secara keuangan). Penjelasannya adalah perusahaan anggota keiretsu memiliki akses pendanaan eksternal dari bank grup, sehingga dapat mengurangi biaya informasi dalam pemenuhan pendanaan eksternal. Penelitian terbaru, Hovakimian (2005), meneliti strategi investasi perusahaan yang terkendala secara keuangan dan menemukan bahwa perusahaan mengalami keadaan sensitif arus kas, pada tahun-tahun ketika memiliki arus kas rendah. Malahan perusahaan akan mengalami keadaan overinvestment ketika berada pada periode dimana perusahaan tersebut memiliki arus kas tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa aksesibilitas pendanaan eksternal berhubungan positif dengan arus kas, khususnya ketika sensitivitas arus kas-investasi tinggi. Terdapat banyak penelitian yang mendukung Fazzari dkk (1988) namun tidak sedikit pula yang tidak setuju. Kaplan dan Zingales (1997) mempertanyakan generalisasi simpulan Fazzari dkk (1988) dan temuan pendukungnya. Kaplan dan Zingales menggunakan kombinasi informasi kualitatit dan kuantitatif yang diperoleh dari laporan tahunan perusahaan untuk merangking sampel berdasarkan kendala keuangannya. Peneliti kemudian melakukan pengujian kembali sampel yang memiliki pembayaran dividen rendah seperti penelitian Fazzari dkk (1988). Simpulan yang diperoleh adalah kelompok perusahaan yang terkendala secara keuangan memperlihatkan sensitivitas paling rendah dibandingkan tiga kelompok lainnya. Berdasarkan temuan ini, implikasinya adalah sensitivitas arus kas investasi tidak memberikan bukti adanya kendala keuangan. Penelitian lanjutan yang mendukung Kaplan dan Zingales adalah Cleary (1999) yang mengklasifikasikan perusahaan berdasarkan nilai Z score 9
  • 11. masing-masing perusahaan dalam periode setiap tahun. Cleary tidak hanya memperbaiki metodologi yang digunakan Kaplan dan Zingales (1997), namun juga melakukan pengujian untuk sampel besar dan lebih bervariasi, yaitu sebanyak 1317 perusahaan untuk periode 1987-1994. Temuannya memperlihatkan bahwa pada saat perusahaan tidak sensitif dengan likuiditas, temuannya konsisten dengan Kaplan dan Zingales, perusahaan menunjukkan sensitivitas investasi yang tinggi. Artinya perusahaan yang paling kecil terkendala secara keuangan memiliki sensitivitas arus kas- investasi yang tinggi. Berdasarkan telaah pustaka mengindikasikan bahwa adanya kontroversi temuan penelitian. Satu penelitian mendukung pengaruh arus kas terhadap investasi terjadi pada perusahaan yang paling besar terkendala secara keuangan, sedangkan penelitian lain mendukung pengaruh kuat terjadi pada perusahaan yang paling kecil terkendala secara keuangan (Zong, 2006). Ringakasan penelitian terdahulu disajikan pada tabel 1 berikut ini: Tabel 1. Ringkasan Penelitian Terdahulu N Peneliti Hasil 1 Fazzari dkk (1988) Menguji apakah terdapat perbedaan penentu investasi, antara perusahaan yang memiliki kos pendanaan internal setara dengan pendanaan eksternal (tak terkendala) dengan perusahaan yang kos pendanaan eksternal lebih tinggi dibanding kos internal (terkendala). Data penelitian selama 1970 hingga 1984 yang terdiri dari 422 perusahaan di amerika untuk menguji perbedaan tingkat investasi diantara perusahaan yang diklasifikasikan berdasarkan laba yang ditahan. Perusahaan yang memiliki rasio laba ditahan tinggi menghadapi persoalan asimetri informasi dan cenderung terkendala pendanaan. Perusahaan jenis ini, tingkat investasinya lebih sensitif oleh fluktuasi cash flow dibanding perusahaan yang memberikan dividen tinggi. 2 Bond dkk (1997) Penelitian pada empat negara Eropa mengenai faktor keuangan dan keputusan investasi. Temuannya adalah hubungan arus kas dengan investasi lebih terlihat baik secara statistik maupun kuantitatif di Inggris dibanding di Belgia, Perancis dan Jerman. 3 Lamont (1997) Menggunakan data pada tahun 1986 saat boom minyak terjadi (harga minyak turun), peneliti menguji pengeluaran modal perusahaan non-minyak yang terkait perusahan minyak. Temuannya adalah arus berhubungan positif 10
  • 12. dengan investasi, dengan kemungkinan investasi sebagai kontrol. 4 Audretsch dan Elston (2002) Temuannya: selama periode 1970 hingga 1986 perusahaan Jerman yang terkendala pendanaan memperlihatkan sensitivitas arus kas-investasi yang lebih tinggi. 5 Fohlin (1998) Mengkonfirmasi sensitivitas perusahaan Jerman selama periode 1903-1913 6 Shaller (1993) Menemukan bahwa perusahaan kanada yang memiliki sensitivitas arus tinggi adalah perusahaan yang masih muda, kepemilikannya tersebar dan bukan termasuk anggota kongglomerasi. 7 Hayashi dan Inoue (1991); Blundell dkk (1992) HI Menggunakan dari 687 perusahaan manufaktur di Jepang selama periode 1977-1986; B menggunakan data 532 perusahaan manufaktur di Inggris selama periode 1971-1986. Kedua penelitian menambahkan Tobin’s Q, temuannya adalah arus kas berpengaruh positif dan signifikan terhadap investasi perusahaan. 8 Hoshi dkk (1991) Keputusan investasi 24 perusahaan Jepang yang bukan anggota keiretsu, lebih sensitif terhadap likuiditas perusahaan dibandingkan dengan 121 perusahaan anggota keiretsu (diasumsikan kurang terkendala dalam pendanaan). 9 Oliver dan Rudebush (1992) Menggunakan data 99 emiten di NYSE dan 21 perusahaan OTC selama periode 1977-1983. Temuannya adalah investasi berhubungan erat dengan arus kas pada perusahaan yang muda, saham diperdagangkan di OTC dan perilaku perdagangan relatif dilakukan orang dalam dengan menggunakan informasi privat. 10 Hubbard (1998) Persoalan asimetri informasi antara peminjam dan pemberi pinjaman mengarahkan pada munculnya jurang antara kos pendanaan eksternal dan pendanaan internal. Implikasinya adalah perusahaan yang tidak menghadapai biaya asimetri informasi dan memiliki kekayaan (equitas) memadai, pendanaan investasi tidak terpengaruh oleh ketersediaan dana internal (arus kas). Sebaliknya, perusahaan yang menghadapi biaya informasi yang tinggi dan kekayaan bersih yang rendah akan menghadapi persoalan mengenai ketersediaan dana internal dalam melakukan investasi 11 Kaplan & zingales (1997) Menggunakan kombinasi informasi kualitatif dan kuantitatif yang diperoleh dari laporan tahunan perusahan untuk merangking masing-masing perusahaan berdasarkan derajat kendala pendanaannya. Perusahaan digolongkan menjadi “tidak terkendala pendanaan”, “mungkin terkendala pendanaan” dan “terkendala pendanaan”. Temuannya adalah perusahaan tergolong terkendala pendanaan memperlihatkan sensitivitas arus kas- investasi yang paling rendah. Temuan ini mendorong peneliti untuk menyatakan bahwa sensitivitas arus kas-investasi tidak memberikan bukti mengenai adanya kendala pendanaan. 12 Fazzari (1997) Kritik yang diberikan adalah mengenai ukuran sampel yang kecil dan kriteria klasifikasi yang digunakan. Fazzari dkk (1997) berargumen bahwa kriteria yang ditentukan berdasarkan pendapat manajemen perusahaan merupakan 11
  • 13. definisi operasional yang bersifat subjektif dan mengundang perdebatan. Lebih lanjut dikemukakan bahwa penelitian KZ 1997 didesain untuk mengeluarkan perusahaan yang lemah secara keuangan sehingga sangat sedikit perusahaan yang termasuk kategori terkendala pendanaan. Hal ini mengakibatkan sampel yang digunakan kurang heterogen untuk mengidentifikasi perbedaan diantara kategori sampel. 13 Cleary (1999) Melakukan pengklasifikasian perusahaan berdasarkan variabel keuangan untuk menentukan terkendala tidaknya perusahaan dengan analisis diskriminan. Pengklasifikasian dilakukan setiap periode. Data yang digunakan 1317 perusahaan di amerika selama periode 1987-1994. Temuannya memperlihatkan bahwa perusahaan yang lebih layak diberi kredit (creditworthy=kurang terkendala) cenderung memiliki sensitivitas dalam likuiditas-investasi yang tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang kurang layak memperoleh kredit. 14 Almeida dan Campello (2001) Meneliti teka-teki dari perspektif teoritis. Hubungan investasi dan arus kas mengasumsikan bahwa kendala pendanaan diaplikasikan pada tingginya biaya. Pengaruh langsung suatu kejutan pada investasi akan mirip bagi semua perusahaan sedangkan pengaruh tidak langsung akan berbeda bagi setiap perusahaan karena perbedaan dalam kemampuan meminjam. Mereka mengembangkan model teoritis dan memprediksi bahwa sensitivitas arus kas-investasi meningkat jika kendala kredit dilonggarkan. 15 Povel dan Raith (2001) Meningkatnya asimetri informasi secara umum akan meningkatkan sensitivitas arus kas-investasi. Hubungan antara arus kas dan investasi membentuk kurva U. 16 Moyen (2004) Temuan penelitian: hubungan arus kas –investasi untuk perusahaan yang dividen pay out kecil dan tidak memiliki akses pendanaan eksternal konsisten dengan Fazzari, sedangkan untuk perusahaan yang dividen pay out-nya tinggi dan memiliki akses pendanaan eksternal mendukung KZ dan Cleary (1999). Moyen (2004) mengemukakan bahwa kontradiksi terjadi karena perbedaan kriteria untuk kendala pendanaan 17 Lhabitant dan Tinguely (2002) Meneliti perusahaan di Swiss selama periode boom dan resesi. Temuannya adalah selama periode boom, sensitivitas arus-investasi sama seperti KZ, sedangkan pada saat resesi hubungannya berbeda dengan pola peningkatan monotonik sama seperti Fazzari dkk 18 Allayannis dan Mozumdar (2001) Memperlihatkan bahwa arus kas negatif menjadi alasan mengapa hasil KZ dan C berbeda dg F. Argumennya adalahpada C didorong oleh arus kas negatif sedangkan KZ karena outlier pada sampel kecilnya. Temuan penelitian memperlihatkan sensitivitas arus kas telah menurun pada tahun- tahun terakhir. Ini menunjukkan perbaikan efisiensi pendanaan eksternal atau peningkatan penawaran pendanaan. 19 Huang (2002) Penyebab hasil berbeda lainnya adalah karena bias seleksi sampel. 20 Boyle dan Guthrie Melakukan analisis keputusan investasi dinamis suatu perusahaan yang dipengaruhi kendala keuangan. Temuannya: ancaman/kemungkinan 12
  • 14. (2002) penurunan pendanaan dimasa depan menurunkan nilai suatu investasi, hal ini berimplikasi bahwa sensitivitas arus kas investasi bisa menjadi sangat besar pada perusahaan yang sangat likuid, namun meningkatnya ketidakpastian memberikan dampak yang ambigu terhadap investasi 21 Stein (2001) Pengaruh arus kas terhadap investasi sesudah dikontrol dengan kesempatan investas, berpengaruh positif. Sumber: Penelitian terdahulu diolah VIII. Pengembangan Hipotesis Teka-teki mengenai sensitivitas arus kas investasi menjadi topik yang menarik, semenjak Kaplan dan Zingales (1997) dan Cleary (1999) menemukan hasil yang kontra dengan temuan Fazzari dkk (1988). Penelitian- penelitian lanjutan mencoba untuk merekonsiliasi kontroversi temuan penelitian ini. Moyen (2002) mengemukakan bahwa perbedaan hasil terjadi karena penggunaan definisi atau kriteria yang berbeda dalam menggolongkan perusahaan menjadi terkendala dan tidak terkendala. Allayannis ddan Mozumdar (2001) dan Huang (2002) memperlihatkan bahwa bias seleksi data dapat menjelaskan perbedaan ini. Mereka menyatakan bahwa hubungan monotonic antara arus kas dan investasi hilang ketika data pooling digunakan baik untuk kendala keuangan dan tak-terkendala dalam pengujian. Almeida dan Campello (2001) berargumen bahwa pengaruh arus kas terhadap investasi akan mirip untuk semua perusahaan. Pengaruh tidak langsung, akan berbeda-beda karena perbedaan dalam kemampuan meminjam. Pada perusahaan yang memiliki kemampuan meminjam tinggi, dapat menciptakan proporsi investasi yang lebih tinggi. Mereka mengembangkan model teoritis dan memprediksi bahwa sensitivitas arus kas investasi meningkat apabila kendala kredit dilonggarkan. Rasionalisasi kredit ini didukung oleh Povel dan Raith (2001) yang meneliti investasi optimal dengan kendala keuangan dan menemukan hubungan antara arus kas dan investasi membentuk kurva U. 13
  • 15. Berdasarkan pandangan hubungan kurva U antara arus kas dan investasi, Cleary dkk (2007) membangun model teoritis dan memberikan bukti empiris menggunakan data amerika dan observasi dengan arus kas negatif juga dimasukkan. Temuannya memperlihatkan bahwa ketika tingkat arus kas rendah (arus kas negatif), penurunan arus kas internal mengarahkan pada peningkatan investasi perusahaan. Cleary dkk (1997) juga menyajikan bahwa perbedaan dimensi dari penggunaan kendala keuangan akan memberikan implikasi yang berbeda terhadap perilaku investasi. Ketika perusahaan memiliki arus kas di bawah level tertentu, peningkatan investasi akan memperbaiki kemampuan perusahaan untuk membayar kembali utangnya dan juga meningkatkan kemampuan melunasi utangnya. Hal ini menyebabkan investor dapat menerima tingkat pembayaran yang lebih kecil sehingga mengurangi risiko default perusahan. Telaah literatur menunjukkan bahwa wujud hubungan arus kas dengan investasi tidak sepenuhnya jelas, berdasarkan penjelasan teoritis di tinjauan pustaka maka hipotesis yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah: “Hipotesis: arus kas memiliki hubungan dengan investasi berbentuk kurva U” IX. Metode Penelitian 9.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel dalam penelitian, dapat dikelompokkan menjadi variabel dependen, independen dan variabel kontrol. Variabel dependen adalah investasi. Variabel independen adalah arus kas. Variabel kontrol meliputi kelesuan keuangan (financial slack), market to book, pertumbuhan penjualan, usia perusahaan, ukuran perusahaan, leverage dan Dividen payout ratio. Definisi operasional masing-masing variabel dijelaskan sebagai berikut: 1) Investasi: 1-tperiodebersihtetapaktiva 1-tperiodebersihtetapaktiva-tperiodebersihtetapaktiva 14
  • 16. 2) Arus kas: 1-tperiodebersihtetapaktiva tperiodeamortisasi&depresiasitperiodebersihlaba + 3) Kelesuan keuangan (financial slack): tperiodebersihtetapaktiva tperiodeusaha)utang-persediaan*0,5piutang*0,7kassetaradan(kas ++ 4) market to book: 1-taktivabukunilai tperiodesaham)pasarnilaianditangguhkpajak-biasasahambukunilai-aktivabuku(nilai + 5) pertumbuhan penjualan: 1-tperiodepenjualan 1-tperiodepenjualan-tperiodepenjualan 6) usia perusahaan: lama perusahaan berdiri hingga penelitian dilakukan dengan satuan tahun. 7) ukuran perusahaan: logaritma natural dari penjualan periode t 8) leverage ratio: tperiodeaktivatotal tperiodehutangtotal 9) Dividen payout ratio: tperiodebersihlaba tperiodenaidividen tu 9.2 Teknik analisis Tahapan pengujian diuraikan sebagai berikut: 1) Pengujian dengan regresi konvensional it j ijj eC +++= ∑= 7 11-it it 1-it it ) K CF ( K I λβα (1) 2) Pengujian dengan regresi kuadratik, kubik dan kuartik it j ijj eC ++++= ∑= 7 1 2 1-it it 2 1-it it 1 1-it it ) K CF () K CF ( K I λββα (2) it j ijj eC +++++= ∑= 7 1 3 1-it it 3 2 1-it it 2 1-it it 1 1-it it ) K CF () K CF () K CF ( K I λβββα (3) 15
  • 17. it j ijj eC ++++++= ∑= 7 1 4 1-it it 4 3 1-it it 3 2 1-it it 2 1-it it 1 1-it it ) K CF () K CF () K CF () K CF ( K I λββββα (4) 3) Pengujian dengan spline regression. Spline regression merupakan uji estimasi linearitas slope yang berbeda untuk rentang variabel independen yang berbeda. Caranya adalah dengan mensortir data berdasarkan nilai rasio arus kas, kemudian di kategorikan berdasarkan desil. it j ijj j jj eCdesilD ++−+= ∑∑ == 7 1 10 1 1-it it 1-it it ) K CF ( K I λβα (5) it j ijj j jj eCilequD ++−+= ∑∑ == 7 1 10 1 1-it it 1-it it ) K CF int( K I λβα (6) 4) Pengujian regresi sub sample berdasarkan sensitivitas arus kas. Perusahaan dikategorikan menjadi perusahaan yang sensitivitasnya negatif, tidak sensitif dan sangat sensitif. Kemudian dilakukan estimasi model (1). Pengujian Hipotesis statistik dilakukan secara tidak langsung berdasarkan model pada tahap 3 dan pada tahap 4. Pengujian regresi berdasarkan tahap 3 sebagai berikut: Ha: β1 ≤ 0; β2 ≤ 0 ; β3 ≤ 0; β4 = 0; β5 = 0; β6 = 0; β7 = 0; β8 ≥ 0; β9 ≥ 0; β10 ≥ 0 Pengujian hipotesis secara tidak langsung berdasarkan tahap 4 Ha: β1 ≤ 0; β2 = 0; β3 ≥ 0 9.3 Data Generation Penelitian dilakukan di bursa efek Indonesia selama periode penelitian sejak tahun 2001 hingga 2007 dengan data panel tidak seimbang (unbalanced panel data). Perusahaan yang termasuk kategori perusahaan 16
  • 18. asuransi dan keuangan dikeluarkan dari analisis karena karakteristik yang sangat berbeda. X. Referensi Allayannis, George, and Abon Mozumdar, (2001), "The Investment-Cash Flow Sensitivity Puzzle. Can Negative Cash Flow Observations Explain It?" diunduk dari www.nvc.vt.edu/abon/g2a.pdf Almeida, Heitor, and Murillo Campello, (2001), Financial Constraints and Investment-Cash Flow Sensitivities: New Research Directions" diunduh dari www.stern.nyu.edu/~halmeida/papers/icf.pdf Audretsch, David B. and Julie Ann Elston, (2002), "Does Firm Size Matter?: Evidence on the Impact of Liquidity Constraints on Firm Investment" International Journal of Industrial Organization 20 (No. 1, January), pp. 1-16. Diunduh dari http://ideas.repec.org/p/ags/hiiedp/26306.html Blundell, Richard W., Stephen Bond, Michael Devereux, and Fabio Schiantarelli, (1992), "Investment and Tobin's Q: Evidence from company panel data" Journal of Econometrics 51 (Nos. 1-2, January), pp. 233-57 Bond, Stephen and Costas Meghir, (1994), "Dynamic Investment Models and the Firm's Financial Policy" Review of Economic Studies 61 (No. 2, April), pp. 197-222 Bond, Stephen, Julie Elston, Jacques Mairesse, and Benoit Mulkay, (1997), "Financial Factors and Investment in Belgium, France, Germany and the UK: A Comparison Using Company Panel Data" NBER Working Paper #5900 http://www.nber.org/papers/w5900 Boyle, Glenn, and Graeme Guthrie, (2003), "Investment, Uncertainty, and Liquidity" Journal of Finance (58) (No. 5), pp. 2143-2166 Cleary, Sean, (1999), "The Relationship between Firm Investment and Financial Status" Journal of Finance 54 (No.2, April), pp. 673-692. Cleary, Sean, Paul Povel, and Michael Raith, (2007), "The U-Shaped Investment Curve: Theory and Evidence" Journal of Financial and Quantitative Analysis, Vol.42 No.1 March 2007, p.1-40. Fazzari, S.M., Hubbard, R.G. and Petersen, B.C., (1998), "Financing Constraints and Corporate Investment" Brooking Papers on Economic Activity, pp. 141-195. 17
  • 19. Fazzari, Steven, R. Glenn Hubbard, and Bruce C. Petersen, (1988), "Financing Constraints and Corporate Investment" Brookings Papers on Economic Activity 1, pp. 141-95 Fohlin, Caroline, (1998), "Relationship Banking, Liquidity, and Investment in the German Industrialization" Journal of Finance 53 (Issue 5, October), pp. 1737-1759 Hoshi, Takeo, Anil Kashyap, and David Scharfstein, (1991), "Corporate Structure, Liquidity and Investment: Evidence from Japanese Industrial Groups" Quarterly Journal of Economics 10 (No. 1, February), pp. 33-60 Hovakimian, Gayane, (2009), “Determinants of Investment Cash Flow Sensitivity” Financial management, Spring 2009 p.161-183. Huang, Zhangkai, (2001), "Financial Constraints and Investment-Cash Flow Sensitivity" University of Oxford, Diunduh dari www.papers.ssrn.com /sol3/papers.cfm?abstract_id=298027 Hubbard, R. Glen (1998), "Capital market imperfections and investment", Journal of Economics Literature 36 (No. 1, March), pp. 193-225 Hubbard, R. Glen (1998), "Capital market imperfections and investment", Journal of Economics Literature 36 (No. 1, March), pp. 193-225 Kaplan, Steven N., and Luigi Zingales, (1997), "Do Financing Constraints Explain Why Investment Is Correlated with Cash Flow?" Quarterly Journal of Economics 112 (No.1, February), pp. 169-215 Lamont, Owen, (1997), "Cash Flow and Investment: Evidence from Internal Capital Markets" Journal of Finance 52 (No.1, March), pp. 83-109 Lhabitant, Francios-Serge and Olivier Tinguely, (2002), "Financial Constraints and Investment: The Swiss Case" Revue Suisse D Economie et de Statistique 138 (Part 2), pp. 137-164 diunduh dari www.ideas.repec.org/a/ses/arsjes/2002-ii-3.html Modigliani, E and Miller, M. H. (1958), "The Cost of Capital, Corporation Finance and the Theory of Investment" American Economic Review 48 (No. 3, June), pp. 261-97. Moyen, Nathalie, (2004), "Investment-Cash Flow Sensitivities: Constrained Versus Unconstrained Firms" Journal of Finance 59 (Issue 5, October), pp. 2061-2092 Oliner, Stephen D and Glenn D Rudebusch, (1992), "Sources of the Financing Hierarchy for Business Investment" Review of Economics and Statistics 74 (No.4, November), pp. 643654 18
  • 20. Schaller, Huntley, (1993), "Asymmetric Information, Liquidity Constraints, and Canadian Investment" Canadian Journal of Economics 26 (No. 3, Aug.), pp. 552-574 Stein, Jeremy, (2001), "Agency, Information and Corporate Investment" NBER Working Paper No. 8342. Diunduh dari www.nber.org/papers/w8342.pdf Zong, Sijing, (2006), Corporate investment behavior in the imperfect capital market, diunduh dari http://proquest.umi.com/pqdweb? index=0&did=1203551491&SrchMode=1&sid=3&Fmt=2&VInst=PROD &VType=PQD&RQT=309&VName=PQD&TS=1292195473&clientId=4 669. 19