t

,--~-'--_._-~---

•

FENOMENA

1

AL.QUR'AN
MALIK BIN NABI

FENOMENA
AL-QUR'AN
Diterjemahkan oleh:

SALEH MAHFOED

PT ALMA'ARIF. )ALAN: TAMIlLCNJ. NO:48-50
TEJ...EP(l...
Judul asli
Dalam bahasa Perancis
Le Phenomine Coranique
Essai dune

Oleh

:

theorle surte Coran

Malik bin Nabi

Oiterjem...
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim,
dengan nama Allah, Tuhan Yang Maha Pemurah
lagi Maha Penyayang.
Persembahan

*
*
*

*
*

Ke...
DAFTAR

lSI

Halaman
PERSEMBAHAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. 5
INTRODUKSI
9
Dari peny...
DAFTAR

lSI

Halaman
PERSEMBAHAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .5
INTRODUKSI
9
Dari peny...
INTRODUKSI
BAH TENTANG "I'JAZUL QUR'AN" 1)
oleh Mahmood Mohammad Shakir
Segala puji bagi Allah yang tiada sekutu bagi-Nya,...
Dan saya kira, sayalah orang yang paling mengetahui tentang pentingnya buku ini, karen a penulis telah menulis dengan
kete...
seginya. Dari sela-sela metode ini nampak pada anda cobaan
yang pemah diderita oleh Malik, seperti yang pemah saya
alami, ...
untuk metancarkan serangan terhadap jantung dunia Islam di
medan pertempuran yang terbesar dalam sejarah Islam dan
sejarah...
penentuan arab sepenuhnya dalam kehidupan Islam dan rasio
atau alam pikiran Islam.
Adapun pertempuran-pertempuran di medan...
kebanyakan tokoh-tokoh dan barisan laskar kebl1dayaan dan
peradaban Islam telah menjadi pengikut kebudayaan musuh,
mengiku...
yang sebenarnya tidak boleh terjadi dalam dunia Islam. Kaum
inteligensia Islam begitu saja menerima sebagai pelajaran apa
...
bahwa Margelyouth dalam pembahasannya telah membawakan
banyak kepalsuan; Kepalsuan ini kemudian menjadi dasar pembangunan ...
untuk memberi dasar rasional terhadap I'jazul Qur'an. Sekiranya kita menerapkan kesimpulan-kesimpulan yang diambil
oleh Ma...
menghapuskan dan lain sebagainya. Untuk hal seperti ini dapat
saja dipakai sebagai dalil baik puisi pra Islam sebagaimana ...
itu berkumpul untuk mengadakan yang serupa Qur'an ini, niscaya tiadalah mereka dapat membuat serupa dengan (Qur'an)
itu, b...
".'"ft..,.",.",./.,,,

*u~

'1 r";
'1 :

~~l

J.,I

~~.~..i

.........•..... _",...,.".1

~t

~I

'

"",.

;:.: .... r)t!
...
ga Allah dan Rasul-Nya memberikan ganjaran sebaik-baik ganjaran.
Adapun masalah "I'jazul Qur'an" tetap berada di luar pemb...
0_

:

0-LJ1 )

"Bacalah dengan nama Tuhanmu, yang menjadikan, yang menjadikan manusia dari segumpai darah. Bacalah, dan T...
cakan itu bukan kata-kata Nabi dan bukan perkataan manusia.
Juga tidak akan ada artinya apa yang Nabi bacakan itu, kecuali...
sangkut pautnya dengan apa yang diminta kepada bangsa Arab
yaitu agar mereka memperoleh kejelasan dari susunan katakata Qu...
untuk mengatakan perkataan yang sama, dan mereka tidak boleh berbeda-beda dalam apa yang akan dikatakan, terhadap
kalam ya...
ngan jalan mengganggu dan memusuhi. Setelah pengingkaran
dan pendustaan mereka terhadap Nabi dan wahyu yang diturunkan kep...
yang dimaksud oleh lafal "I'jazul Qur'an" menurut makna yang
lazim difahami dari kata "I'jaz" itu, sekali kata ini mempuny...
menjurus kepada yang dimaksud 'dengan I'jaz, sekalipun apa
yang terkandung dalam isf AI-Qur'an itu masuk sebagai bukti
nya...
obyektif mumi (apa adanya) ini mengenai sifat kaum Arab,
yang ditantang oleh Al-Qur'an, dan karakter bahasanya.
Maka bila ...
mereka untuk menandingi atau melakukan perdebatan mengenai kefasihan dan kejelasan yang tersirat di dalam AI-Qur'an.
Maka ...
cukup memiliki keharusan terhadap setiap kejelasan yang
dengan bahasa-bahasa .mereka, berbeda-beda mereka ciptakan.
Masihk...
Orientalis (Margelyouth) ini beserta kawan-kawannya dan
ramalan-ramalannya sebenarnya persoalannya teramat remeh,
untuk da...
I

Derikan bukti atas kebeniltan~ya·dan keabsahmUiya. Problem
1',ja2:ulQur'an telah menyibukkan diri saya, sebagaimana ia
...
pun yang tersembunyi yang oleh sebab itu orang yang hidup
dapat disebut hidup di bumi ini, yang di dalam sejarah tetap
ter...
niupan roh di dalam jasad yang mati, laksana kemampuan
melihat pada mata yang tak bergerak dan laksana kebiasaan
berbicara...
nyak". Sekali pun demikian yang sedikit dari Sya'ir pra Islam
yang sampai kepada kita itu, insya Allah, cukup sebagai petu...
"Dan sekiranya dia mengada-adaka" sedikit saja perkataanperkataan atas nama Kami, niscaya Kami pasti menanghap
tangan kana...
dari langit dengan bahasa mereka, Kitab yang dalam kumpulan
tanda-tanda kekuasaan Allah, sederajat dengan tongkat Musa,
da...
turon, membacanya dan berta'abbud dengan pembacaan ayatayat itu. Ia mengikuti turunnya Al-Qur'an dengan penuh perhatian da...
Mereka bermukim membaca AI-Qur'an pada waktu pagi dan
petang, dan pada waktu Malam dan fajar. Mereka berjalan mengikuti da...
mana mereka telah menanggalkan keiahiliahan mereka. Ini.semuanya tidak benar. Keterangan Ibnu 8alam itu didustakan
oleh kh...
tentang apa yang dikehendaki oleh ayat demi ayat dalam AIQur'an itu, Kemudian orang itu harus faham benar-benar akan
Hadit...
pada kebenaran. Di setiap masjid manusia berkumpul dalam
lingkaran-lingkaran (halaqah). Penuntut-penuntut
ilmu berdatangan...
Al-Qur'an sekali-kali tidak meng-i'jazkan. Manusia dapat saja
mengarang yang serupa, bahkan lebih baik daripadanya".
Sebag...
Adapun persoalan yang mereka tanganiadalah perdebatan, mengadu lidah, be~ggul-unggulan bukti, serta beradu dalil dengan da...
Kesemuanya itu hanya bertujuan mencari kemenangan, bUkan
untuk meneliti pendapat dan mencari kebenaran.
Semoga Allah melim...
yang anda samasekali tidak meragukan ketinggian mutunya,
tidak menyangsikan kepandaian penyairnya, serta tidak menyangkal ...
Al-Qur'an maIah memiliki keidea1an yang sangat luhur, serta
lrebajikan yang amat tinggi martabatnya (Kitabnya haJaman
802-...
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi

1,977

Published on

Fenomena Al Quran (terjemah) - Prof. Dr. Malik Ben Nabi

Published in: Education
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
1,977
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
99
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi

  1. 1. t ,--~-'--_._-~--- • FENOMENA 1 AL.QUR'AN
  2. 2. MALIK BIN NABI FENOMENA AL-QUR'AN Diterjemahkan oleh: SALEH MAHFOED PT ALMA'ARIF. )ALAN: TAMIlLCNJ. NO:48-50 TEJ...EP(lI.I: 5OiUl· 57177. 58332 BANOOl'lKJ
  3. 3. Judul asli Dalam bahasa Perancis Le Phenomine Coranique Essai dune Oleh : theorle surte Coran Malik bin Nabi Oiterjemahkan ke dalam bahasa Arab Azh-Zhahirah-al-Qur'an Oleh : Abdus-shaboor-Shaheen Di Indonesiakan Oleh : Saleh Mahfoed Dengan judul Fenomena AI-Qur'an Risalat tentang teori mengenai AI-Qur'an Cetakan pertama Unruk penerhuan Oleh Pcnerbit Bandung - 19H3 lrahasa Indonesia P.T. Alma'arit Indonesia
  4. 4. Bismillaahir Rahmaanir Rahiim, dengan nama Allah, Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Persembahan * * * * * Kepada arwah ibuku, kepada ayahku, kedua orang tua yang memberikan padaku, sejak aku dalam buaian hadiah yang sangat tinggi nilainya: hadiah iman. . Malik 5
  5. 5. DAFTAR lSI Halaman PERSEMBAHAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. 5 INTRODUKSI 9 Dari penyalin 9 Dari pengarang Olch Mahmood Mohammad Shakir 57 GERBANG MASUK KE STUDI TENTANG FENOMENA AL-QUR'AN 57 FENOMENA KEAGAMAAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 79 Fenomena Agama . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 80 Aliran Materialisme 84 A1iran Metafisika 91 GERAKAN KENABIAN 95 Gerakan kenabian , . ". . . . . . . . . . . . . . . . 96 Permulaan kenabian . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 98 Pengakuan palsu . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. 101 Nabi .. .. .. .. 105 Irmia '' , ., , 106 Fenomena psikologis 108 Ciri-ciri khas kenabian 112 SUMBER-SUMBER POKOK ISLAM. . . . . . . . . . . . . . . .. 115 Sumber-sumber pokok Islam •.... ' , 116 RASULULLAH SAW. 121 Rasulullah 8 a w .• " : . . . . . . • . . . . . . .. 122 - Masa sebelum kerasulan 12.5 - Perkawinan dan isolasi ...•.........•......... ; 130 MASA PEWAHYUAN ...............•........... 139 Masa pewahyuan. 140 - Periode Makkah 14c. --: Periode Madinah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . • . . . . . .. 152' KAIFIATPEWAHYUAN •........................ 165 Kaifiat pewahyuan, '. • . . . . . . . . . . .. 166KEY AKINAN DIRINY A . . . . . . . . . . . . . . . • . . . . .. . .. fC73 Keyakinan dirinya 174 - UkuIan lahiriahnya . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 176 - UkuIan rasionalnya •......................... 18il KEDunUKAN DIRI MUHAMMAD SAW. DI DALAM FENOMENA KEWAHYUAN '.' . . .. 191 Kedudukan diri Muhammad 8,a.W. di dalam fenomena kewahyuan . . • . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. 19'1 ," r
  6. 6. DAFTAR lSI Halaman PERSEMBAHAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .5 INTRODUKSI 9 Dari penyalin 9 Dari pengarang Oleh Mahmood Mohammad Shakir 57 GERBANG MASUK KE STUDI TENTANG FENOMENA AL-QUR'AN 57 FENOMENA KEAGAMAAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 79 Fenomena Agama . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 80 Aliran Materialisme 84 Aliran Metafisika 91 GERAKAN KENABIAN 95 Gerakan kenabian '. . . . . . . . . . . . . . . . . 96 Permulaan kenabian . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 98 Pengakuan pa.lsu . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. 101 Nabi .. .. .. .. 105 Irmia 106 Fenomena psikologis 108 Ciri-ciri khas kenabian 112 SUMBER-SUMBER POKOK ISLAM. . . . . . . . . . . . . . . .. 115 Sumber-sumber pokok Islam •.................•. RASULULLAH SAW. 121 Rasulullah saw •. " - . . . . . . • . . . . . . .. 122 - Masa sebelum kerasulan 12,5 Perkawinan dan isolasi ; 130 MASA PEWAHYUAN ...............•........... 139 - Masa pewahyuan 140 - Periode Makkah 14e -: Periode Madinah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . • . . . . . •. 152' KAlFIAT PEWAHYUAN • . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .165 J{aifiat pewahyuan " 166 KEY AKIN AN DIRINY A . . . . . . . . . . . . . . . • . . . • . . . .. 1'3 Keyakinan dirinya 174 - Ukuran lahiriahnya . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. 176 - Ukuran rasionalnya •............•............ 18k us KEDUOUKAN DIRI MUHAMMAD SAW. DI DALAM FENOMENA KEWAHYUAN '.' . . .. Kedudukan diri Muhammad s.a.w. di dalam fenomena kewahyuan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. 19:1 19'1 ." I
  7. 7. INTRODUKSI BAH TENTANG "I'JAZUL QUR'AN" 1) oleh Mahmood Mohammad Shakir Segala puji bagi Allah yang tiada sekutu bagi-Nya, dengan pujian yang mendekatkan kami kepada keridhoan-Nya. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad yang terpilih dari keturunan kedua rasul Allah, Ibrahim dan Ismail. Shalawat yang mengiring kami ke syurga-Nya. Inilah buku: "FENOMENA AL-QUR' AN" Cukup tepat kiranya nama buku ini, sebab tidaklah adil untuk memperkenalkan sebuah kitab yang ia sendiri telah memperkenalkan isinya langsung kepada pembacanya. Nama AIUstadz Malik bin Nabi telah cukup tersohor, sehingga sulit bagi kami untuk memperkenalkan kembali sebuah buku yang ansich merupakan metode tersendiri, yang kami kira belum pernah ada hasil karya yang memadai yang diterbitkan sebelumnya. Dalam buku ini tercakup metode lengkap yang telah diinterpretasi pada penetrapan pokok-pokoknya, serta dibuktikan oleh hasrat pembacanya merenungkan segi-seginya. Kami tidak mengemukakan hal ini sebagai sanjungan kepada pengarangnya, .karena kami mengetahui dati sebuah Hadits bahwasanya ada seorang memuji seorang lain di majelis Rasulullah s.a, w. maka beliau bersabda kepadapemuji itu: "Celaka engkau! Seolah-olah telah kau potong leher temanmu ini?", hal ini dikatakan oleh beliau sampai tiga kali. Sungguh saya lebih menyayangi pengarang buku ini (Malik) daripada saya harus memotong lehernya dengan pujian, atau membinasakannya dengan sanjungan. 1) Penyalin sengaja tidak menterjemahkan kata-kata "I'jazul Qur'an", sebab kata-kata ini sudah lazim dipakai oleh para ulama sebagaiistilah, yang maksudnya: "Kejelasan dan kefasihan, serta kesempurnaan SU8unan puitia yang dikandung oleh Al-Qur'an membuat lawan-lawannya, yaitu kaum musyrikin; tidak berdaya· untuk menandinginya, PIldahal mereka adalah pujang'p·pujangga sya'ir, sajak, puisi dan prosa. Ketidak mampuan mereka itu adalah bukti nyata bahwa Al-Qur'an bukan huil karangan manusia, melainkan KaIamTu~ru semeeta aIam".
  8. 8. Dan saya kira, sayalah orang yang paling mengetahui tentang pentingnya buku ini, karen a penulis telah menulis dengan keterangan sebab-sebab yang jelas untuk satu tujuan yang pasti. Aku telah ditempa oleh cobaan-cobaan yang berat dalam waktu yang lama, setelah aku melalui jalan-jalan yang seram dan menakutkan, aku telah sadar akan sebah-sebab yang mendorong pengarang buku ini mengambil suatu metode tertentu dalam penulisannya sampai aku menghayati tujuan yang dikehendakinya. Aku telah membaca buku ini dan mendalaminya. Malta setiap kali aku membaca satu bab daripadanya, aku .mendapatkan diriku laksana seorang yang berjalan di lorong yang sudah lama aku mengenalnya, sehingga terbayang padaku bahwa Malik tidak mengarang bukuini, melainkan setelah ia jatuh ke dalam cobaan-coba8n seperti yang aku alami sebelumnya, kemudian ia dibangunkan oleh Allah dari kejatuhannya dengan jalan hidayah. Malta jalan kepada aliran yang benar itulah yang dihimpun dalam bukunya, antara lain; pengukuhan dalil-dalil tentang I'jazul Qur'an, bahwasanya Al-Qur'an adalah kitab yang diturunkan oleh Tuhan yang mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi di langit dan di bumi, bahwasanya penyampainya kepada manusia adalah seorang Rasul yang benar, yang menyampaikan apa yang diperintahkan oleh Tuhannya untuk disampaikannya; bahwasanya antara Rasul yang menyampaikan dan Kalamullah yq disampaikan itu terdapat pagar pemisah; bahwasanya pagar pemisah antara Al-Qur'an dan penyampajnya adalah rialitas yang jelas, tidak dapat disalahkan oleh orang yang mempelajari seraya mendalami dan merenungi perikehidupan Rasulullah dengan akal pikiran yang sadar, tidak lengah. Metode yang ditempuh oleh Malik ini, adalah metode yang dasar-dasamya bersumber dari renungan yang lama sekali tentang tabiat jiwa insani; tentang naluri beragama dalam fitrah manusia, dan tentang sejarah aliran-aliran dan kepercayaankepercayaan yang kadang-kadang melukiskan antagonisme, akan tetapi dalam pada itu mengungkapkan pula rasa beragama pada setiap insan, kemudian ia memperoleh kebenaran dari penyelidikan yangterus-menerus tentang sejarah kenabian dan ciri-cirinya serta perikehidupan Rasulullah sejak kecilnya sampai ia wafat. Selanjutnya tentang penyampaiannya, yang menjadi dalil atas kebenaran apa yang disampailw itu bahwa4J8JlyaKalamullah berbeda jauh dati kalam' manusia di segala 10
  9. 9. seginya. Dari sela-sela metode ini nampak pada anda cobaan yang pemah diderita oleh Malik, seperti yang pemah saya alami, dan seperti pula yang diderita oleh segenerasi muslim dalam abad ini. Cobaan yang diderita oleh Malik bahkan nampak di hadapan anda pada bab "Gerbang masuk ke studi tentang Fenomena AIQur'an" yang merupakan bab pembukaan bukunya ini dimana Malik melukiskan kepada anda problem generasi muda terpelajlU'muslim pada masa ini, serta kesukaran yang telah dan sedang dialami oleh generasi ini untuk dapat memahami soal "I'jazul Qur'an" dengan pengertian yang dapat memberi mereka kepuasan dan ketenteraman hati. Selanjutnya soal aka! pikiran modem yang juga menjadi pembahasan dalam buku ini, oleh generasi muda muslim dijadikan alat "berpikir" primer untuk mencapai penyelesaian soal I'jazul Qur'an dalil-dalil yang dapat memberikan kepuasan dan ketenteraman hati; rasio atau a.kal inilah sebenarnya inti pro. blem, sebab akal adalah anugerah Allah kepada setiap mahluk insani. Akan tetapi cara-cara menggunakan pikiran harus dihasilkan dari pengalaman, dan diperoleh dari hasil penjajakan dan penyelidikan, dari hasil pendidikan (education) dan ketrampilan serta dari hasil beribu-ribu pengalaman yang dialami oleh seseorang dalam hidupnya di atas bumi ini. Maka sudah selayaknya bagi kita, sebe1um menulis segala sesuatunya, memperhatikan kedudukan aka! yang menentukan pada kita jalan serta metode dalam setiap studi dengan cara yang benar, yang kita ingin mengemukakannya hingga orang tentram dan puas dengannya. Sejak permulaan Islam, tentara muslimin telah berjuang di medan-medan perang di semua penjuru bumi, dan besertanya telah berjuang pula "rasio" Islam dalam pertempuran lebih dahsyat daripada perang fisik, dimana saja insan muslim menancapkan kakinya. Dalam peperangan-peperangan itu sendi-sendi berbagai negara yang diperangi. telah berjatuhan di bawah kaki tentara yang menang itu dan bersamaan dengan itu berantakanlah sendi-sendi peradaban yang beraneka ragam di bawah sinar cahaya rasio muslim yang memperoleh kemenangan. Pertempuran-pertempuran itu sampai berabad-abad lamanya berkecamuk secara terus-menerus di semua lapangan, baik di medanmedan peperangan, maupun di lapangan-lapangan peradaban dan kebudayaan. Bangkitlah sementara itu peradaban Barat, kemudian bergerak maiu dengan segala macam seniata yang dimilikinya, 11
  10. 10. untuk metancarkan serangan terhadap jantung dunia Islam di medan pertempuran yang terbesar dalam sejarah Islam dan sejarah mereka. Perang yang dilanearkan ini tak seorangpun dapat mengetahui taktiknya dan lapangannya selain umat Islam sendiri. Tak seorang pun yang mengusut bekas-bekasnya pengaruh dari jejak umat Islam, dan tak seorang pun memiliki kemampuan untuk mempelajarinya mau menyatakan kesediaannya untuk melakukan studi tentang perang yang dilanearkan itu dari segala seginya. Saya tidak mengatakan bahwa, saya akan membahasnya di sini, akan tetapi hanya akan menunjukkan sebagian keeil saja daripadanya, mudah-mudahan dapat diambil manfaatnya oleh pembaca buku ini, bila ia bemiat dengan sungguh-sungguh akan mempelajari hal tersebut dalam suatu studi yang dilakukan dengan sangat teliti. Pertempuran bam yang berlangsung antara dunia Kristen barat dan dunia Islam tidak terjadi di satu medan dan lapangan saja, melainkan di beberapa lapangan; yakni di medan peperangan dan di lapangan kebudayaan dan peradaban. Adapun di medanpeperangan fisik dunia Islam telah meletakkan senjata, menyerah kalah, sebagai kenyataan yang telah diketahui, akan tetapi di medan perang kebudayaan dan peradaban, pertempuran berkesinambungan, generasi demi generasi, tahun demi tahun, bahkan hari demi hari. Dari kedua peperangan di atas, perang yang terahir inilah yang paling dahsyat, dan paling jauh akibatnya serta paling berat kerusakannya bagi kehidupan Islam dan rasio Islam. Dalam medan peperangan ini, musuh kita mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Musuh mengetahui bahwa peperangan ini merupakan yang menentukan antara kita dan dia. Dia mengetahui hal-hal yang tersembunyi dari siasat peperangan yang kita tidak mengetahuinya. Dia mengetahui rahasia-rahasia dan sarana-sarananya, yang kita tidak ketahui. Dia mengenal medanmedannya yang kita tidak mengenalnya. Dia membuat persenjataan untuk peperangan ini yang kita tidak mampu membuatnya. Dia meneari bermacam-maeam sebab dan alasan yang menjurus ke kebinasaan kita, sedang kita tidak memberikan perhatian padanya dan tidak memperdulikannya. Posisi musuh yang demikian ini ditunjang dan diperkuat oleh kekalahan yang diderita oleh negeri-negeri Islam di semua bidang kehidupan, sehingga musuh menguasai politik, ekonomi dan pers negerinegeri Islam, hal mana berarti telah jatuh pula ke tangan musuh,
  11. 11. penentuan arab sepenuhnya dalam kehidupan Islam dan rasio atau alam pikiran Islam. Adapun pertempuran-pertempuran di medan kebudayaan dan pikiran (rasio) tidak terhitung banyaknya, dan perang ini melanda di segenap aspek kehidupan masyarakat Islam secara menyeluruh, dalam bidang-bidang kehiduparmya, pendidikannya, tata ekonominya, cara berfikirnya, aqidahnya, tata kesopanannya, ilmu pengetahuannya, sosial politiknya, bahkan semua yang menyangkut peri kehidupan sosial, yang dikenal oleh manusia sejak ia berada di atas bumi ini. Dalam melancarkan pertempuran di medan perang kebudayaan dan pikiran ini siasat-siasat yang digunakan oleh musuh tak terhitung banyak macam ragamnya, sebab taktik melancarkan serangan ini herubah-ubah dan berganti-ganti sesuai dengan kondisi dan situasi medan. Senjata yang digunakan oleh musuh dalam peperangan ini adalah senjata-senjata yang sangat halus (dibanding dengan senjata-senjata perang fisik), sebab akal dan pikiran orang-orang yang intelek membentuk inteligensinya pada setiap waktu dan keadaan. Ia menerima bentuk inteligensinya dengan jalan pendidikan, studi, pergaulan, sedang hal ini diperoleh dengan jalan keakraban yang berlangsung lama, serta penampilan yang berkesinambungan dengan jalan tipu muslihat yang halus, perdebatan yang menyesatkan, dengan berlaku ria' (mengambil muka) secara membungkam mengumpankan hawa nafsu, pendek kata dengan penggunaan segalamacam tipu muslihat yang bekerja aktip untuk menghancurkan bangunan hidup yang ada, agar musuh berhasil mendirikan di atas puing-puing bangunan yang hancur itu, bangunan menurut kehendaknya dan sesuai dengan harapannya. Maka terjadilah apa yang dikehendaki Allah, terjadinya kekalahan dunia Islam beruntun-untun di medan perang kebudayaan dan pikiran, generasi denu generasi. Dan sebagaimana pertempuran-pertempuran itu berkecamuk secara terus-menerus, secara diam-diam dan tersembunyi, hingga masa kini hal itu tanpa dipelajari oleh pemimpin-pemimpin dan tentara Islam. Begitulah pula pertempuran di medan perang kebudayaan tetap berlangsung secara samar-samar dan halustanpa dipelajari oleh pemimpin-pemimpin dan tokoh-tokoh kebudayaan dan peradaban Islam, bahkan telah terjadi lebih dari itu, yakni bahwa 13
  12. 12. kebanyakan tokoh-tokoh dan barisan laskar kebl1dayaan dan peradaban Islam telah menjadi pengikut kebudayaan musuh, mengikuti apa yang diperintahkan kepada mereka oleh tokohtokoh musuh, sehingga dengan demikian mereka sadar atau tidak, telah berobah menjadi musuh-musuh akal pikiran Islam pada saat mereka masih menganggap diri mereka pengikut aliran pikiran Islam, bahkan mereka kadang-kadang membela aliran ini baik karena kecemburuan atau karena keikhlasan. Bukanlah tujuan musuh mempertentangkan kebudayaan dengan kebudayaan, atau memerangi kesesatan dengan keluhuran hidayah, atau memukul kebathilan dengan kebenaran, atau faktor kelemahan dengan faktor-faktor kekuatan, akan tetapi maksud dan tujuannya semata-mata ialah melemahkan umat Islam, dengan jalan meninggalkan kebudayaan dunia Islam suatu penderitaan luka serta pelumpuhan yang tak dapat bangun lagi, kemudian mendirikan di segenap penjuru alam Islami akal pikiran yang tidak dapat memahami sesuatu selain apa yang dikehendaki oleh musuh; tidak pula dapat mengerti sesuatu, selainapa yang dikehendaki oleh musuh; dan tidak dapat memaklumi sesuatu selainapa yang dikehendaki oleh musuh. Maka -kejahatan musuh dalam aksi penghancuran yang ia lakukan terh,adap sesuatu peradaban insani yang terbesar yang pemah dikenal oleh sejarahmanusia sampai hari ini sarna dengan kejahatannya dalam perang penghancuran yang ia Iancarkan terhadap negeri-negeri Islam. Jadilah apa yang dikehendaki Allah untuk terjadi, dan berhasillah musuh memperoleh kemenangan atas kita sebagai yang sudah semestinya dan yang ia kehendaki. Dalam bab "Gerbang masuk studi tentang fenomena AIQur'an, Malik telah memaparkan bencana "Akal pikiran" modem yang melanda dunia Islam dan yang disebarkan oleh praktek jahil musuh-musuh Islam, dengan menggunakan senjata yang paling ampuh dari segi-segi terpenting peradaban Islam, yakni senjata "Orientalisme", suatu senjata yang belum pemah diselidiki bahayanya oleh kaum muslimin, dan belum pemah pula dipelajari sejarahnya, tipu muslihatnya, serta penyesatannya. Lagi pula belum pemah diadakan penelaahan terhadap rahasiarahasia senjata itu, juga belum pemah diadakan penjafakan terhadap jejak-jejak yang ditinggalkan olehnya, pada segi-segi kehidupan intelektual mereka, bahkan bahaya senjata terse but sudah merambat sampai pada kehidupan insani mereka. Bagaimana caranya? Lihat! Bahaya orientalisme mendatangkan apa 14 •
  13. 13. yang sebenarnya tidak boleh terjadi dalam dunia Islam. Kaum inteligensia Islam begitu saja menerima sebagai pelajaran apa yang diberikan oleh para orientalis. Kaum intelektual itu meneIan begitu saja apa yang diajarkan oleh profesor-profesor orientalis sebagai suatu ilmu yang harus diterima sebagai kebenaran dan sebagai edukasi yang harus dimiliki, serta sebagai teori dan pandangan yang harus dijadikan pangkal bertolak pikirannya. Dalam hubungan ini Malik berkata: "Pekerjaan kaum orientalis dalam bidang edukasi sedemikian kuat penyinarannya, sehingga kita silau, tidak lagi dapat menggambarkannya, sebab ia telah memadati semua segi kehidupan kita, baik yang menyangkut sejarah kita, sosial politik kita, maupun yang mengenai aqidah kita, isi kitab dan buku kita, juga yang menyangkut agama dan moral kita, bahkan segala hal ihwal kita. Tidak seorang pun dapat menggambarkan bahwa "Penyinaran" (istiIah yang dipakai oleh Malik) ini adalah hal yang paling berbahaya terhadap alam pikiran modem, yang berhasrat mencari dalil dan bukti tentang kebenaran "I'jazul Qur'an"· secara memuaskan pan menentramkan hati. Hal ini pulalah yang menamakan skeptisisme (sikap ragu) terhadap dasar-dasar lama yang menjadi tulang punggung dalil-dalil tentang kebenaran "I'jazul Qur'an". Penyinaran ini membawa cara-cara yang dilakukan dengan penuh kecerdikan dan sangat samar-samar dalam mengerjalaln taktik penghancuran metode yang benar, yang harus digunakan oleh siapa saja yang berhasrat mempelajari naskah edukatifnya, sehingga dengan demikian, ia dapat menetapkan pendapatnya benar atau tidaknya naskah itu, selain ia akan menemukan keindahan bahasanya dan I'jazulnya. Dalam bab "Gerbang masuk studi tentang I'jazul Qur'an, Malik membawakan persoalan yang aneh itu, yang terkenal dengan sebutan "Sya'ir pra Islam", yang oleh orientalist Margelyouth dijadikan bahan untuk mengabarkan persoalan ini, di beherapa majalah kaum orientalist, kemudian diungkapkan secara luas oleh Dr. Toha Hasain Mahaguru di Universitas Mesir pada Fakultas Sastra dalam bukunya tentang syair pra Islam. Di sini saya tidak akan mengulangi menerangkan soal persengketaan yang berkobar ketika itu, tentang isi kitab "Sya'ir pra Islam" itu, akan tetapi saya hanya akan menyebutkan apa yang disebutkan oleh Malik bahwa persoalan ini dengan segala dalildali1 dan metode-metodenya, teIah meninggalkan hekas pada rasio dunia Islam yang tidak dapat dihapuskan, mfi!lainkansetelab melalui pekerjaan yang sangat berat, yang mengherankan 15
  14. 14. bahwa Margelyouth dalam pembahasannya telah membawakan banyak kepalsuan; Kepalsuan ini kemudian menjadi dasar pembangunan akal pikiran modem. Beratus-ratus ahli pikir telah berusaha memalsu dalil-dalil dan metode-metode, tetapi kepalsuan Margelyouth ini tetap merupakan ciri khusus, dari segala yang disiarkan oleh para pengajar dan guru-guru sampai pada masa sekarang ini. JanganJab anda menghukum Margelyouth dan kawan-kawannya menurut pendapat dan pandangan anda, melainkan serahkanlah soal vonis ini kepada seorang orientalist lain, yang bernama Arbary yang mengatakan pada penghujung bukunya yang berjudul: "Tujuh sya'ir-sya'ir pilihan pra Islam" Ia mensitir perkataan-perkataan Margelyouth, dan kemudian mengatakan bahwasanya sophisme dan saya akan menamakannya: "penipuan" dalam beberapa dalil, yang dibawakan oleh Prof. Margelyouth. Soal yang jelas sekali "tidaklah layak samasekali bagi siapapun, apalagi bagi seorang tokoh paling besar di masanya, seperti Prof. Margelyouth". Ini adalah suatu vonis yang paling berat, tidak saja terhadap Margelyouth, melainkan juga terhadap pikiran-pikiran rusak yang mereka bawa. Akan tetapi yang lebih mengherankan lagi ialah bahwa Malik telah berpijak atas teori ini dalam pembahasannya dan yang telah meninggalkan bekas terhadap pikiran modern, dan kemudian ia sampai pada kesimpulan lain. Ia berkata; "Berdasarkan ini maka luas problem sebagaimana sekarang ini telah melampaui ruang lingkup kesusasteraan dan sejarah, ia secara langsung menjadi kepentingan berbagai metode lama tentang penafsiran AI. Qur'an. Ia adalah suatu metode yang berdiri atas perbandingan antar gaya-gaya bahasa dengan bersendi pada gaya Sya'ir pra Islam (jahiliah) yang harus diterimanya sebagai suatu realitas yang tidak dapat lagi didiskusikan dalam keadaan bagaimanapun jua, Oleh sebab itu adalah mungkin problem ini, menjadi persoalan sesuai dengan perkembangan baru dalam pikiran Islam, tetapi dalam bentuk tidak terlalu revolusioner. Maka wajarlah bahwa metode lama tentang penafsiran Al-Qur'an haruB mengalami perobahan dengan cara yang bijaksana dan pertimbangan matang, agar dapat disesuaikandengan jalannya pikiran-pikiran modem. Selanjutnya Malik berkata: "I'jazul Qur'an sampai sekarang berdiri atas dasar bukti ySllg jelas tentang keluhuran KalamuUah eli atas semua kalam manusia, maka bersendinya metode penaf. sinn Al-Qur'an pada studi gaya bahasa, ialah tidak lain hanya 16
  15. 15. untuk memberi dasar rasional terhadap I'jazul Qur'an. Sekiranya kita menerapkan kesimpulan-kesimpulan yang diambil oleh Margelyouth pasti dasar tersebut di atas akan berantakan samasekali, dengan ini problem penafsiran AI-Qur'an telah ditempatkan di atas dasar terpenting sesuai dengan aqidah muslim, yakni kebenaran dalil mengenai I'jazul Qur'an menurut pandangannya". Malik kemudian meneruskan thesisnya sampai kepada kesimpulan sebagai berikut: "Sesungguhnya tidak terdapat seorang muslim, terutama di negeri-negeri non Arab dapat membandingkan suatu ayat Qur'an dengan suatu versi atau suatu bait sya'ir Arab atau dengan kesusasteraan pra Islam. Soalnya ialah bahwa kita sejak waktu lama sudah tidak memiliki rasa kelezatan dalam merasakan balaghah atau keindahan bahasa Arab untuk dapat menggunakannya mengambil kesimpulan dari hasil perbandingan secara adil dan bijaksana". . Saya ingin mendiskusikan thesis ini agar saya dapat membantu pembaca dalam menempatkan kitab fenomena AI-Qur'an pada tempat yang wajar baginya, sehingga menjadi jelas bagi pembaca tanda-tanda jalan yang dilaluinya, ketika ia membaca kitab ini, sehingga ia memperoleh dalil-dalil dan bukti-bukti yang dibawakan, kemampuan untuk membuat dasar bagi akidahnya dan kepercayaannya. Saya tidak mengetahui apa yang mendorong Malik membuat thesis tentang asal dan metode lama mengenai penafsiran AIQur'an dalam hubungan ini. Perbuatannya ini adalah penerjangan terhadap ilmu-ilmu Islam yang berdiri sendiri, tidak menyentuh teori Margelyouth dari dekat maupun dari jauh. Adapun ilmu tafsir Qur'an seperti yang disusun oleh ulamaulama lama sekali-kali tidak berdiri atas perbandingan-perbandingan gaya bahasa yang bersendi pada puisi pra Islam ataupun puisi bukan pra Islam. Jadi apabila kita hendak memasukkan perobahan pada sistim tafsir lama maka perobahan itu tidak ada hubungannya dengan puisi pra Islam, tiada dari sudut keraguan akan kebenarannya dan tiada dari segi perbandingan antara gaya bahasa pra Islam dan gaya bahasa AI-Qur'an. Apa yang dilakukan oleh ulama ahli tafsir lama dalam menyebut-nyebut gaya bahasa pra Islam dalam kitab-kitab tafsir mereka, tidak lain hanya untuk mengambil dalil daripadanya mengenai huruf potongan, atau penjelasan khusus dari kekhususan-kekhususan ta'bir Arab, seperti mendahulukan atau membelakangkan, atau 17
  16. 16. menghapuskan dan lain sebagainya. Untuk hal seperti ini dapat saja dipakai sebagai dalil baik puisi pra Islam sebagaimana baik jugalpuisi IIslam. Tujuan tafsir Qur'an ialah sebagai yang patut diketahui ialah penjelasan tentang arti lafazh-lafazhnya, baik secara tersendiri-tersendiri atau sebagai kalimat, dan petunjuk iafazh-lafazh dan kalimat menurut ilmu nahwunya, baik mengenai ayat-ayat pengkhabaran, atau ayat-ayat kisah dan ayat-ayat hukum, dan semua yang meliputi ayat-ayat Qur'an. Dan hal ini tidak mempunyai hubungan dengan I'jazul Qur'an. Adapun soal yang berhubungan dengan soal puisi pra Islam atau dengan perkara-perkara puisi semuanya dan yang berkaitan dengan gaya-gaya bahasa pra Islam dan lain-lainnya, dan dengan gaya-gaya bahasa pra Islam dan lain-lainnya, dan dengan gayagaya bahasa Arab dan bukan Arab, dan membandingkannya dengan gaya bahasa Qur'an, itulah yang dinamakan ilmu I'jazul Qur'an, kemudian ilmu "Balaghah" (Ilmu yang membahas gaya dan keindahan bahasa), dan tidak dapat tidak bagi orang yang membicarakan soal I'jazul Qur'an untuk mengetahui dengan jelas dan kenyataan benar sebelum membicarakan soal ini. Ia harus dapat memisahkan antara keduanya dengan sejelasjelasnya tanpa keraguan, dan hendaklah ia membedakan sedalam-dalamnya antara hal yang bersamaan dari keduanya. Pertama: bahwasanya I'jazul Qur'an, seperti yang ditunjukkan oleh lafazh dan sejarahnya merupakan da1il Nabi s.a.w. tentang kebenaran kenabiannya, bahwa ia adalah pesuruh yang diutus oleh Allah bahwa kepadanya diwahyukan Al-Qur'an ini dan bahwa Nabi s.a.w, telah mengerti soal I'jazul Qur'an seperti yang diketahui oleh mereka yang beriman kepadanya dari seluruh bangsa Arab dan sesungguhnya tantangan sebagai yang termuat dalam ayat-ayat penantang seperti antara lain firman Allah dalam surat Hud ayat 13/14 yang terjemahannya dalam bahasa Indonesia sebagai berikut: "Atau mereka mengatakan; Dialah yang mengada-adakan itu, Katakan kepada mereka; Kemukakanlah sepuluh surat seumpama yang diadakan itu, dan panggillah orang yang mungkin kamu - dapatkan bantuannya - selain dari Tuhan, kaJau kamu memang orang-orang yang benar, dan kalau mereka tidak memperkenankan kamu, ketahuilah bahwa -Al-Qur'an - itu diturunkan dengan pengetahuan Tuhan, dan tidak ada Tuhan selain daripada-Nya, maukah kamu menjadi orang-orang yang patuh?" dan firman Allah dalam surat AlIsra' ayat 88, yang terjemahannya dalam bahasa Indonesia sebagai berikut: "katakan, sesungguhnya kalau manusia dan jin 18
  17. 17. itu berkumpul untuk mengadakan yang serupa Qur'an ini, niscaya tiadalah mereka dapat membuat serupa dengan (Qur'an) itu, biar pun mereka saling bantu-membantu ~ Penantangan ayat-ayat tersebut hanya menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan lafazh AI-Qur'an, gaya puitisnya, dan kejelasannya, lain tidak. Maka ia bukanlah tantangan yang menyangkut ilmu gaib yang tersembunyi, dan tidak menyangkut hal-hal yang gaib yang kebenarannya baru datang sesudah masa yang lama setelah diturunkan AI-Qur'an, dan tidak pula menyangkut suatu ilmu yang tidak dijangkau oleh ilmu orangorang bangsa Arab yang diajak bicara oleh Al-Qur'an, atau tantangan yang menyangkut suatu apa pun yang tidak mempunyai sangkut-paut dengan puisi dan balaghah. Yang kedua: bahwasanya pengokohan dalil kenabian dan kebenaran dalil tentang benamya wahyu dan sesungguhnya AlQur'an diturunkan dari sisi Allah, sebagaimana diturunkan Taurat, Injll dan Zabur dan lainnya dari kitab-kitab Allah, kesemuanya itu tidak menunjuk kepada fakta bahwasanya AlQur'an itu beri'jaz, dan saya kira tidak ada seorang pun dapat mengatakan bahwasanya Taurat, Injll dan Zabur adalah kitabkitab yang beri'jaz, dalam arti yang sesuai dengan makna yang telah dikenal mengenai I'jazul Qur'an hanya karena kitab-kitab itu diturunkan dari sisi Allah. Adalah terang bahwa bangsa Arab telah dituntut untuk mengenali bukti kenabian Rasulullah dan mengenali bukti kebenaran wahyu yang diturunkan kepadanya. Yah, mereka dituntut mengenali itu semua hanya dengan jalan mendengarkan Al-Qur'an itu sendiri, tidak dengan jalan perbantahan yang disampaikan kepada mereka, sampai mereka terpaksa menerima bukti jelas tentang ke-ESAAN ALLAH, atau tentang kebenaran kenabiannya juga tidak dengan jalan suatu mu'jizat sebagai yang diberikan kepada para Nabi sebelumnya, yang denpnnya manusia dapat beriman. Allah telah menerangkan dalam Al-Qur'an, dalam banyak ayat, bahwa mendengarkan Al-Qur'an pasti membawa mereka kepada keharusan mengetahui perbedaannya apa yang mereka dengarkan itu dengan kalammereka, dan bahwa kalam yang mereka dengarkan itu sekali-kali bukan kalam manusia, melainkan Kalam Tuhan semesta alam, Oleh karena itu, datanglah perintah Allah kepada Rasul s.a.w. 19
  18. 18. ".'"ft..,.",.",./.,,, *u~ '1 r"; '1 : ~~l J.,I ~~.~..i .........•..... _",...,.".1 ~t ~I ' "",. ;:.: .... r)t! JJI ) "Dan jika salahseorangdari orang-orang musyrik itu meminta perlindungan kepada engkau, berilab perlin dungan sampai mereka mendengar Kalam Allah, kemudian sampaikanlah mereka ke tempat yang aman untuknya, hal itu disebabhan mereka itu kaum yang tidak mengetahui". (Surat At-Taubat ayat 6). Maka AI-Qur'an yang mengi'jazkan ini, ialah bukti yang tidak dapat ditentang atas kebenarannya, terhadap kenabian RasuI Allah, dan sebaliknya, yakni bukanlah kebenaran kenabian itu yang menjadi bukti atas keabsahan I'jazul Qur'an. Maka pengacauan dan pencampuradukan antara kedua realitas ini, dan pengabaian untuk memisahkan kedua realitas tersebut dalam menyesuaikan pendapat, serta dalam studi tentang I'jazul Qur'an, telah mengakibatkan penyampuradukan yang sangat da1am tentang studi ini, pada waktu dulu mau pun sekarang. Kehancuran dalam hal ini telah membawa kepada kemunduran dalam mempelajari ilmu I'jazul Qur'an dan ilmu balaghah (ilmu tentangkeindahan bahasa), yang semestinya dapat menyampaikan kepada maksud studi itu, Maka baik kiranya kalau saya sekarang menyisihkan halhal yang mungkin dapat mengaburkan pandangan pembaca kitab fenomena AI-Qur'an ini, agar ia tidak terjerumus di dalamnya. Dalam bab "Gerbang masuk ke studi tentang fenomena AI-Qur'an" dan dalam beberapa bab Iainnya, terdapat hal-hal yang memberi kesan kepada pembaca bahwa maksudmaksud menetapkan kaidah-kaidah tentang ilmu I'jazul Qur'an bahwa, itulah yang dimaksud dengan "I'jaz'~ Faham yang demikian ini adalah keliru. Sebenarnya metode Malik dalam menulis kitabnya adalah bukti yang sejelas-jelasnyabahwa/ ia hauya membuktikan kemantapan kebenaran kenabian, dan benarnya dalil tentang wahyu dan sesungguhnya AI-Qur'an adalah kitab yang diturunkan dari sisi Allah, bahwa AI-Qur'an Kalam Allah bukan kalam manusia. Ini semua bukanlah I'jazul Qur'an, seperti yang dikatakan di atas, melainkan ia Iebih dekat uhtuk suatu bab tentang ilmu Tauhid (Ke-Esaan Tuhan), dan dengan ini Malik telah berhasil mencapai tujuan yang jauh, yang tidak dicapai oleh kitab-kitab ulama baru dan lama. Maka semo20
  19. 19. ga Allah dan Rasul-Nya memberikan ganjaran sebaik-baik ganjaran. Adapun masalah "I'jazul Qur'an" tetap berada di luar pembahasan kitab ini. Masalahini menurut hemat saya adalah masalah yang paling sulit yang dapat dicerna oleh "Akal modem", meskipun akal sudah berhasil menghunjamkan tiang-tiang pengokoh bangunan iman tentang kebenaran kenabian Rasulullah s.a.w., tentang kebenaran turunnya Al:Qur'an. Masalahdi atas merupakan juga masalah yang berkaitan erat dengan persoalan "Sya'ir pra Islam" dan berkaitan erat pula dengan tipu muslihat yang halus, samar-samar yang meliputi masalah ini. Bahkan kaitan yang erat itu tak dapat ditembus lagi dengan peradaban dan edukasi kita semua, dan dengan cobaan yang menimpa bangsa Arab dalam semua bidang ilmu, dan dalam menetapkan jalan yang kosong dalam setiap kebajikan dalam memberikan pelajaran bahasa dan kesusasteraan. Bahkan pula ia meliputi yang lebih luas lagi, yakni ia meliputi pembinaan manusia Arab atau manusia muslim, dari segi ia sebagai seorang insan yang mampu merasakan kelezatan dan keindahan dalam bentuk lahir dan pikiran. Adapun ma'rifat tentang arti I'jazul Qur'an, apakah dan bagaimanakah ia, adalah soal yang harus dimiliki oleh seorang muslim yang berpendidikan. Persoalan iniadalah lebih agung daripada sekedar membicarakannya tanpa mene1iti akan maknanya, dan mendalami sejarahnya, serta mengikuti ayat-ayat yang menunjuk pada hakekatnya. Saya tidak mengatakan bahwa saya akan membahasnya di sini secara mendalam, akan tetapi saya dengan memohon pertolongan Allah, akan membawakan sekelumit tentang ma'rifat - makna I'jazul Qur'an. Kejadiannya: Ketika wahyu pertama datang kepada RasuIullah yang sedang beribadah di gua Hira. Berkatalah Jibril: " Bacalah" yang dijawab oleh Rasulullah "Aku tidak pandai membaca". Maka terulang kata Jibril dua tiga kali "Bacalah" • dan terulang pula jawaban "Aku tidak pandai membaca", sampai Jibril mengatakan kepadanya; 21
  20. 20. 0_ : 0-LJ1 ) "Bacalah dengan nama Tuhanmu, yang menjadikan, yang menjadikan manusia dari segumpai darah. Bacalah, dan Tuhanmu itu Maha Pemurah yang mengajarkan dengan pena. Mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya". Rasulullah segera pulang ke rumahnya, badannya menggigil dan jantungnya berdebar-debar. Ia masuk menghampiri istrinya (Khadijah) sambil berkata; "Selimutilah aku, selimutilah aku! "Maka ditutupnya badannya dengan selimut, hingga rasa ketakutannya dan kecemasannya hilang". Soalnya beliau telah menerima suatu tugas, yang ia tidak sanggup memikulnya. Beliau mendengar kata-kata yang tidak pemah didengar sebelumnya seperti kata-kata yang beliau dengar itu, Nabi Muhammad adalah seorang Arab asli, beliau mengerti bahasa Arab, sebagaimana bangsa Arab mengertinya, serta menolak kata-kata yang bertentangan dengan kefasihan bahasa, sebagaimana orang-orang Arab lain menolaknya. Maka ketakutan yang mencekamnya itu tidak lain, melainkan perasaan pertama yang pemah dialami sejarah manusia disebabkan perbedaan apa yang ia dengar itu, dengan apa yang ia selalu mendengar dati bahasa kaumnya, dari bahasa yang ia kuasai (bahasa Arab fasih). Kemudian wahyu turun berturut-turut, Rasulullah disuruh oleh Tuhan-Nya agar ia membacakan kepada manusia apa yang diturunkan kepadanya, secara berangsur-angsur. Beliau mengundang beberapa orang dati sanak keluarga-Nya dan kaum-Nya untuk membacakan kepada mereka wahyu yang turun. Nabi tidak memaksakan diskusi dengan kaumnya, baik dengan membawakan suatu bukti lahir yang jelas, maupun dengan apa yang diturunkan kepadanya, sampai mereka mau berimanbahwa tiada Tuhan selain Allah, bahwa beliau seorang Nabi, pesuruh Allah. Tidak! Apa yang dilakukan oleh Nabi hanya meminta kepada kaumnya agar mereka, suka percaya pada apa yang mereka diajak untuk mempercayainya, dan agar mereka mengetahui beliau sebagai Nabi. Nabi melakukan da'wahnya itu hanya menggunakan satu bukti saja, yakni: Al-Qur'an yang dibacakan ayat-ayatnya kepada mereka. Sungguh tidak akan ada artinya, permintaan Nabi kepada kaumnya agar mereka suka beriman kepada Allah dan suka mengakui kenabiannya, hanya dengan sekedar membacakan semata-mata, akan tetapi yang memberi bobot kepada da'wahnya; ialah bahwa yang dibacakan kepada mereka itu ansich telah merupakan bukti yang nyata, bukti bahwa apa yang diba- 22
  21. 21. cakan itu bukan kata-kata Nabi dan bukan perkataan manusia. Juga tidak akan ada artinya apa yang Nabi bacakan itu, kecuali apabila pendengar-pendengarnya dengan selintas-pintas mampu membedakan dengan jelas dan terang antara perkataan-perkataan manusia dan perkataan yang tidak sama dengan perkataan manusia. Al-Qur'an diturunkan kepada Nabi secara teratur, dan yang turun kepadanya pada permulaan kerasulannya hanya sedikit saja, sebagaimana anda mengetahui (dari sejarah). Maka yang sedikit dari ayat-ayat yang diturunkan kepadanya itu, itulah yang menjadi bukti satu-satunya atas kenabiannya. Maka tersimpullah bahwa ayat-ayat yang terbilang tidak besar yang diwahyukan kepadanya, pada permulaan kerasulannya itu - ayat-ayat yang kemudian bertambah. besar jumlahnya sehingga pada akhimya terhimpun menjadi Al-Qur'an yang lengkap, seperti yang kita baca sekarang ini, nyatalah bahwa ayat-ayat yang pada permulaannya hanya sedikit yang diturunkan, dan yang sedikit pula makna-makna yang dikandungnya, telah mengandung bukti yang terang dan jelas lagi perkasa, bahwa sekali-kali bukan hasil kalam manusia. Dari bukti ini lahirlah pembaca ayat-ayat, kepada pendengar-pendengarnya sedang ia seorang manusia seperti para pendengarnya, justru ia adalah benar-benar seorang Nabi, diutus oleh Allah. Bila hal di atas itu benar, dan ia memang demikian, tiadalah keraguan padanya, maka benarlah apa yang kami katakan di atas bahwa ayat-ayat yang pada permulaannya, turun dalam jumlah yang sedikit kemudian turun menjadi jumlah yang besar, sampai terhimpun menjadi Qur'an lengkap. Sewaktu dibacakan kepada pendengar-pendengarnya dari bangsa Arab, menunjukkan suatu kenyataan bahwa kalam yang dibacakan oleh Nabi itu berbeda dengan kalam manusia hanya dari satu segi, yakni segi kejelasannya dan susunan kata-katanya. Apabila benar bahwa ayat-ayat Qur'an yang sedikit jumlahnya, (pada permulaan turunnya) dan jumlah yang besar (yang turun kemudian), SaDU1 saj~ dalam segi ini, maka jelaslah bahwa apa yang terdapat di dalam Al-Qur'an, dari sejarah pengkhabaran tentang umat-umat yang terdahulu, tentang berita-berita gaib, tentang ketentuan-ketentuan yang mantap mengenai hukum dan tentang hal-hal yangmenakjubkan yang tidak pemah diketahui oleh manusia seperti rahasia-rahasia alam yang maknanya, tidak dapat dipecahkan, kecuali setelah berlalu beberapa abad dari turunnya ayat-ayat bersangkutan, kesemuanya itu tidak ada 23
  22. 22. sangkut pautnya dengan apa yang diminta kepada bangsa Arab yaitu agar mereka memperoleh kejelasan dari susunan katakata Qur'an yang jelas gamblang, dalam hal mana jauh berbeda dari puisi yang disusun oleh manusia dengan kejelasan dan kefasihan yang dibuat oleh mereka, hal mana memberi suatu ketentuan mutlak bahwa Al-Qur'an adalah Kalam Tuhan seru semesta alamo Dengan ini timbul tuntutan, sebagai akibat pengakuan di atas, sebab bila mereka telah mengakui dengan bukti di atas bahwa Al-Qur'an adalah Kalam Tuhan seru semesta alam, maka sudah barangtentu dituntut agar mereka benarbenar yakin bahwa apa yang dibawa oleh Al-Qur'an mengenai berita-berita umat-umat terdahulu dan berita-berita yang gaib dan segala ketentuan hukum serta hal-hal yang menunjukkan rahasia-rahasia alam, kesemuanya itu pasti benar, tiada keraguan baginya; sekalipun kesemuanya itu bertentangan dengan apa yang mereka ketahui, atau sekalipun sesuai dengan apa yang mereka setujui, bahwa hal-hal itu dalam pandangan dan pikiran mereka atau orang-orang lain, adalah benar, tiada keraguan baginya. Jelasnya pengakuan mereka bahwa Al-Qur'an Kalam Tuhan seru semesta alam menurut susunan kata-katanya dan kejelasannya melahirkan kesimpulan tentang keharusan mengimani kebenaran segala apa yang dituturkan oleh AlQur'an. Jadi tidak sebaliknya, pengakuan terhadap apa yang dibawakan oleh Al-Qur'an mengharuskan pengakuan atas kebenaran Al-Qur'an adalah Kalam Allah sehubungan dengan susunan kata-katanya dan kejelasannya yang berbeda dengan kalam manusia. Kesimpulan ini kiranya sudah sangat jelas dan terang. Dari segi inilah, sebagaimana anda ketahui, bangsa Arab diminta agar mengakui dan menerima baik. Dari segi ini pula, bangsa Arab terhadap yang mendengar kalam, yang dibacakan oleh seseorang dari kalangan mereka, dan yang berbunyi seperti yang mereka dapati dalam bahasa mereka; (sebab memang AlQur'an diturunkan dalam bahasa Arab yang fasih dan jelas), tetapi yang mereka dapati berbeda dengan perkataan-perkataan (kalam) mereka, sehingga mereka benar-benar tidak mengetahui, apa yang mereka katakan 'sebagai tanggapan langsung mereka, yang berisikan kedengkian dan permusuhan terhadap Al-Qur'an ini. Kejadian terse but sudah dikenal (dalam sejarah), yakni antara lain kebingungan sekelompok orang suku Quraisy, terutama Walid ibnul Mughirah dalam menghadapi kata-kata AlQur'an. Kaum Quraisy bersepakat, ketika datang musim hajji, 24
  23. 23. untuk mengatakan perkataan yang sama, dan mereka tidak boleh berbeda-beda dalam apa yang akan dikatakan, terhadap kalam yang dibacakan di hadapan mereka dan di hadapan manusia lainnya. Mereka bermusyawarah antara sesama mereka tentang apa yang mereka harus katakan, terhadap Nabi yang membacakan ayat-ayat Al-Qur'an di hadapan kabilah-kabilah Arab yang datang berhajji. Mereka bersepakat untuk mengatakan terhadap Nabi bahwa ia adalah seorang dukun, atau seorang gila atau pen yair , atau tukang sihir. Setelah hasil musyawarah diserahkan kepada tokoh mereka yaitu Walid ibnul Mughirah, maka ia menolak keputusan musyawarah mereka itu dengan penjelasan: "Demi Allah sungguh apa yang dibacakan oleh Muhammad lezat didengar. Akar, tandan dan cabangnya berbuah segar. Bila kamu mengatakan sesuatu dari hal-hal yang kamu putuskan itu, maka akan diketahuilah oleh kabilahkabilah Arab bahwa kamu telah mengucapkan kebohongan dan kebatilan. Paling bisa yang dapat mendekati kepercayaan mereka ialah, katakan saja bahwa ia (Muhammad) adalah tukang sihir, datang membawa kalam yang memecah-belah antara seseorang dengan ayahnya, memecah-belah antara seseorang dengan saudaranya, dengan istrinya, dan antara seseorang dengan sanak keluarganya. Kegelapan yang membingungkan itu meliputi mereka dan mengakibatkan kemarahan dan yang membawa Walid untuk menamakannya dengan tepat, bahwa apa yang mereka akan tuduhkan dengan batil kepada Nabi itu tidak akan diterima oleh kabilah-kabilah Arab, kebingungan mereka ini tidak lain hanya kebingungan atas apa yang' -mereka dengar-tentang susunan katanya dan kejelasannya sekali-kali bukan tentang masalah hukum atau hal-hal yang gaib, atau tentang berita-berita gaib yang tidak dapat mereka percayai, serta bukan ten tang umatumat terdahulu yang tidak mereka ketahui. Sementara itu wahyu Makin banyak turun dan diturunkan berturut-turut, tahun demi tahun. Dalam pada itu Nabi s.a.w. berda'wah secara terang-terangan, membacakan Al-Qur'an kepada mereka dari kabilah Quraisy dan dari kebilah-kabilah Arab lainnya yang berada di Mekah dan yang mendatangi Mekah pada musih-musim haji dan pasaran. Bangunlah Quraisy dengan segala kemampuan dan potensi yang dimiliki menentang dan memusuhi Nabi s.a.w. dan bersikeras dalam kedengkian dan kebencian terhadap beliau serta mengingkari dan mendustakan beliau de- 25
  24. 24. ngan jalan mengganggu dan memusuhi. Setelah pengingkaran dan pendustaan mereka terhadap Nabi dan wahyu yang diturunkan kepadanya berjalan lama, sedang dari perbuatan mereka itu, mereka tidak memperoleh suatu hasil, selain apa yang dijelaskan oleh Walid dan selain bertambahnya jumlah orang-orang yang beriman dan wahyu yang turun kepadanya, baik dati kabilah Quraisy sendiri, maupun dari kabilah-kabilah Arab lainnya, lalu Allah menurunkan wahyu berisikan ayat-ayat penganeam terhadap mereka, yang membuat mereka eemas dan gelisah, bertambahlah kebingungan mereka menghadapi ayat-ayat Qur'an yang dibaeakan kepada mereka. Sementara itu Rasulullah s.a.w. tetap tinggal di Mekah selama tiga helas tahun (sejak kerasulannya), sedang kaum muslimin yang masih keeil jumlahnya, bersembunyi-sembunyi di tanah Mekah. Sementara itu wahyu terns turun berturut-turut menantang agar mereka membawakan serupa Qur'an ini, dan setelah mereka tidak mampu membawakannya, mereka ditantang terus supaya mereka mendatangkan sepuluh buah surat saja sekali pun surat-surat yang bohong. Setelah turun gengsi mereka karena tiada kemampuan mereka menjawab .tantangan Al-Qur'an, maka ditutup sekali oleh Allah segala lubang keeaman dan pembangkangan mereka, bahkan seluruh manusia dan jin dengan firman-Nya yang terjemahannya dalam bahasa Indonesia antara lain: "Katakanlah: sekira- nya manusia dan jin berkumpul untuk mengadakan serupa AlQur'an ini, niscaya tiadalah mereha dapat membuat serupa (Al-Qur'an ini), sekalipun mereha saling membantu". (Surat Al-Isra' ayat 88). Memang begitulah jadinya. Pemyataan yang menentukan tersebut yang tak dapat ditolak oleh siapapun, itu pun Al-Qur'an ketengahkan persolannya dan persoalan sengketa dengannya, bukan saja antara Rasulullah dan kaumnya dari bangsa Arab, melainkan juga antara Rasulullah dan umat manusia seluruhnya dati segala lapisan dan dengan segala eiri-eiri khasnya, serta perbedaan bahasa dan wama kulitnya. Bukan dengan manusia saja bahkan dengan semua manusia dan jin bersama-sama sekalipun mereka saling membantu Inilah pemyataan yang tidak dapat ditentang dati segi dan jurusan mana pun, pemyataan yang demikian inilah yang kemudian kita sepakati istilahnya, yakni I'jazul Qur'an. Apa yang saya usut untuk anda ini, adalah sejarah ringkas yang seringkas-ringkasnya, akan tetapi eukup mendetail dalam memberikan indikasi akan pembatasan makna I'jaz sebagai 26
  25. 25. yang dimaksud oleh lafal "I'jazul Qur'an" menurut makna yang lazim difahami dari kata "I'jaz" itu, sekali kata ini mempunyai pengertian luas. Ia juga eukup mendetail dalam memberikan dalil akan adanya I'jaz ini, sebab ditinjau dari segi mana pun, apa yang disebut I'jaz, ia tetap I'jaz. Apa yang tersebut ini mengungkapkan hal-hal yang tidak dapat tidak harus diketahui oleh setiap pembahas, yakni: Pertarna: Sedikitnya ayat-ayat AI-Qur'an atau banyaknya adalah sama saja dalam hal I'jaz. Kedua: I'jaz itu tersimpul dalam susunan AI-Qur'an, dalam kejelasan dan gaya pensajakannya serta dalam perbedaannya mengenai eiri-eiri khasnya yang biasa terdapat pada puisi dan kefasihan dalam bahasa Arab, bahkan yang terdapat pada semua bahasa-bahasa umat manusia, bahkan pula bahasa-bahasa manusia dan jin, sekali pun mereka saling membantu. Ketiga: Mereka yang ditantang oleh AI-Qur'an itu adalah orang-orang yang memiliki kemampuan dan keeerdasan untuk membedakan antara kalam manusia dan kalam yang bukan dari mereka. Keempat: Orang-orang yang ditantang oleh AI-Qur'an itu menyadari bahwa apa yang dituntut pada mereka untuk membawakan kalam serupa dengan ayat-ayat AI-Qur'an atau setidak-tidaknya membawakan sepuluh surat saja sekalipun surat bohong, itu hanyalah sejenis kejelasan yang mereka dapatkan dalam diri mereka sendiri, bahwa ia samasekali di luar jenis kefasihan kalam yang dibuat oleh manusia. Kelima: Tantangan ini tidak dimaksudkan agar mereka membawakan ayat-ayat serupa dengan AI-Qur'an, dengan menyamai rnakna-makna yang dikandung oleh AI-Qur'an, Tidak! Mereka hanya dituntut untuk membawakan apa yang mereka mampu mengada-adakan dan membuat-buatnya, terserah tentang makna dan rnaksud apa saja yang biasa terlintas da1am hati manusia. Keenam: Tantangan yang dikeluarkan oleh AI-Qur'an terhadap semua jenis manusia dan jin bersama-sama, adalah tantangan yang terus berlaku sampai hari kiamat. Ketujuh: Apa yang dikandung oleh Al-Qur'an seperti rahasia-rahasia alam yang gaib, hukum-hukum yang kokoh, tandatanda kekuasaan Allah yang menakjubkan kepada rnakhluknya, semua ini samasekali tidak masuk dalam bidang tantangan yang 27
  26. 26. menjurus kepada yang dimaksud 'dengan I'jaz, sekalipun apa yang terkandung dalam isf AI-Qur'an itu masuk sebagai bukti nyata bahwa Al-Qur'an diturunkan dari sisi Allah, sungguh pun apa yang dikandung oleh Al-Qur'an itu tidak merupakan bukti bahwa susunan kata-katanya dan kejelasannya berbeda samasekali dengan puisi dan kata-kata mencela, perbedaan mana menunjukkan bahwa AI-Qur'an adalah kalam Tuhan seru sekalian alam, bukan kalam manusia. Inilah persoalan-persoalan yang kesimpulannya ditarik dari hasil studi tentang sejarah turunnya Al-Qur'an, dengan mempelajari sejarah perbantahan yang dilakukan oleh kaum musyrikin bangsa Arab tentang kebenaran ayat-ayat yang turun dari langit, sebagaimana tanda-tanda kebenaran para Nabi lainnya dan mujizat-mujizat yang dibekalkan kepada mereka, juga datang dari langit. Cukuplah kiranya bagi anda, mengenai hal ini, ingat sabda Rasulullah s.a.w.: "Tiada seorang Nabi pun melainkan diberikan oleh Tuhan mu'jizat yang dengannya manusia didorong untuk percaya kepada-Nya. Akan tetapi yang diberikan kepadaku hanyalah, wahyu yang diwahyukan kepadaku. Maka aku berharap untuk mempunyai pengikut terbanyak kelak di hari kiamat. Maka AI-Qur'an adalah tanda-tanda kekuasaan Allah di muka bumi, yakni ayat-ayat yang meng-I'jazkan menurut apa yang berupa mukjizat bagi bangsa Arab, kemudian bagi seluruh manusia, kemudian bagi manusia dan jin bersama-sama. Tetapi kesemuanya itu tidak tergolong ke dalam kategori I'jaz sebagai yang dimaksud oleh istilahnya. Oleh karena itu setiap kekeliruan dalam membedakan makna I'jaz itu dan dalam membatasinya menurut akal dan pikiran, menjadi sebab pengacauan dan kekeliruan dalam memahami arti istilah I'jazul Qur'an, yang telah menjadikan Al-Qur'an mu'jiz (tidak dapat ditiru) baik bagi bangsa Arab, mau pun bagi semua manusia dengan beraneka-ragam bahasanya, maupun bagi manusia dan jin bersamasama dengan saling bantu-membantu. Inilah sebagian dari apa yang dicapai oleh visi yang obyektif (apa adanya) dalam mengambil intisari makna yang menjadi pegangan tantangan Al-Qur'an dengan dan sendi I'jaznya. Saya berharap, telah dapat menyampaikan pengungkapan ini secara memuaskan. Sungguhpun demikian, rasanya masih ada satu soal lagi yang masih tertinggal yang perlu dibicarakan yakni mengambil kesimpulan dengan menggunakan metode 28
  27. 27. obyektif mumi (apa adanya) ini mengenai sifat kaum Arab, yang ditantang oleh Al-Qur'an, dan karakter bahasanya. Maka bila sudah benar bahwa I'jazul Qur'an itu tersimpul dalam susunan dan rangkaian kata dari isi Al-Qur'an, serta gaya penyajiannya dan kejelasan yang dikandung olehnya, yang diturunkan dengan bahasa Arab yang fasih lagi terang, dan bahwa ciri-ciri khususnya berlainan dengan ciri-ciri khusus yang biasa terdapat dalam syair dan puisi yang dapat dikarang oleh manusia dengan segala potensi kefasihan mereka; bila semua ini sudah benar, maka kiranya persaingan mereka dengan Al-Qur'an itu, tidak ada maknanya samasekali, kecuali dengan adanya fakta, yaitu terdapatnya sifat dan karakter mereka dengan apa yang terdapat dalam Al-Qur'an antara lain: Pertama: Bahasa, yang dengannya AI-Qur'an diturunkan, meng-I'jazkan dan menurut pembawaannya memiliki potensi maha dahsyat mengadakan perbedaan di antara dua kalam, yaitu di satu fihak kalam yang dapat mencapai puncak kefasihannya, yang dapat diciptakan oleh kekuatan suatu bahasa. Di fihak lain, kalam yang mematahkan kekuatan ini dengan suatu kejelasan dan kefasihan yang nampak terang perbedaannya dengan kalam yang pertama. Kedua: Orang-orang yang bersangkutan akan mampu untuk menyadari dinding pemisah antara kedua kalam itu. Kesadaran ini membuktikan bahwa mereka telah dianugerahi dalam ukuran yang besar kehalusan rasa, untuk menikmati kefasihan dan kejelasan suatu kalam; mereka dianugerahi pula pengetahuan tentang rahasia-rahasia dan citra-citra kefasihan dan kejelasan kalam itu. Dengan demikian wajarlah bahwa terhadap mereka dilakukan penantangan dengan AI-Qur'an, dan mereka dituntut ketika mendengamya, bahwasanya pembacanya kepada mereka itu seorang Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah s.w.t, Ketiga: Kejelasan dan kefasihan adalah lebih tinggi dan lebih mulya kedudukannya dalam pandangan mereka, daripada harus mengkhianati amanat ini, atau menyimpang dari keadilan dalam memberikan keputusan, mengenai hal tersebut. Al-Qur'an telah mencerca dan mencela mereka, serta membodoh-bodohkan impian-impian dan kepercayaan-kepercayaan mereka sehingga dengan demikian Al-Qur'an menimbulkan permusuhan kesumat yang hebat pada fihak mereka. Sekalipun demikian, Al-Qur'an terus menantang mereka. Tetapi amanat yang mereka pikul untuk menjunjung tinggi kefasihan dan kejelasan kalam, mencegah 29
  28. 28. mereka untuk menandingi atau melakukan perdebatan mengenai kefasihan dan kejelasan yang tersirat di dalam AI-Qur'an. Maka sejauh yang dapat mereka katakan tentang AI-Qur'an hanyalah "Kami telah mendengar AI-Qur'an itu. Kalau kami berkehendak, kami pun dapat mengatakan seperti itu". Akan tetapi kenyataannya, mereka tetap membungkam, tidak pernah mampu membawakan seayat pun yang serupa dengan isi AI-Qur'an. Ini fakta pertama. Adapun fakta kedua ialah AI-Qur'an tidak pemah menuntut dari mereka untuk memberikan keputusan, melainkan AIQur'an membiarkan saja mereka, dengan oposisi mereka terhadap AI-Qur'an, percaya bahwa mereka akan bersikap jujur dalam memberikan pendapat mengenai kejelasan dan kefasihan kalam. Maka dibiarkannya mereka itu oleh AI-Qur'an, fakta ini menunjukkan keadilan dan seman gat yang tinggi nilainya dari fihak AI-Qur'an. Keempat: Orang-orang bangsa Arab yang menguasai kefasihan bahasa Arab, serta mempunyai rasa tinggi untuk merasakan keindahan bahasa, memiliki pengetahuan tentang rahasiarahasia bahasa, dan memiliki kejujuran dalam memberikan pendapat tentang bahasa, serta tidak berkhianat dalam memberikan pendapat terhadap AI-Qur'an, sebagaimana aka! sehat mewajibkan mereka bersikap demikian, mereka itu (dengan sikap mereka) telah mencapai tingkat yang jauh sekali, tiada taranya, dalam menyatakan posisi diri dengan bahasa yang menerangkan kedudukan diri mereka. Sifat-sifat sebagai yang tersebut di atas mendorong kita untuk mencari sifat apa yang patut menjadi karakter bahasa mereka, sekiranya masih ada hal-hal yang perlu dibicarakan mengenai bahasa. Penilaian yang obyektif mengharuskan dua hal penguraian atas peninggalan mereka. Pertama: Yang masih tertinggal dari kalam mereka hams menjadi saksi atas keIuhuran bahasa mereka, yang mencapai tingkat tinggi tentang kelengkapannya, kesempumaannya dan keharusannya, sehingga tidak membuatnya tak cakap untuk menyatakan apa saja yang terlintas di hati setiap orang, yang pandai menjelaskan segala sesuatu, dari mereka. Kedua: Bahwa kalam-kalam mereka terkumpul dari heraneka ragam bentuk, kejelasan dan kefasihan, tidak dapat tidak melaiflkan menunjukkan akan keluasan dan kesempurnaan, bahkan kewajaran penyusunan bahasa mereka, sehingga 30
  29. 29. cukup memiliki keharusan terhadap setiap kejelasan yang dengan bahasa-bahasa .mereka, berbeda-beda mereka ciptakan. Masihkah ada lagi yang pantas menjadi saksi, dan bukti atas kebenaran hal-hal tersebut? Ya, masih ada, yaitu "Sya'ir pra Islam". Bila demikian, maka kita hams mengadakan rekonstruksi problemanya dan mengulangi pelukisannya, sebab visi yang murni, logika yang terpadu dan penilaian yang terusmenerus, kesemuanya itu telah menjuruskan kita kepada kaharusan melepaskan makna I'jazul Qur' an dari segala yang mengeruhkannya dan yang dilihatkan padanya, sehingga tersisa bersih bagi kita satu fakta, yakni bahwa I'jazul Qur'an itu hanyalah berkaitan dengan soal pensajakan dan kejelasan, kemudian penunjuk ini menuntun kita untuk memberi batasan kepada sifat kaum yang ditantang oleh AI-Qur'an, serta sifat bahasanya. Hal ini membawa kita, untuk mencari penyifatan kalam mereka, kemudian kita mencari saksi dan bukti tentang hal yang kepadanya kita dibawa oleh visi tersebut. Ternyata bahwa hal termaksud itu adalah "Sya'ir pra Islam". Jadi Sya'ir pra Islam itulah asas problem I'jazul Qur'an yang harus dihadapi oleh akal pikiran modern, dan bukan metode lama yang digunakan dalam menafsirkan AI-Qur'an, seperti yang disangka oleh saudara Malik, dan yang seperti menjadi opini sebagian besar orang-orang yang membahas soal I'jazul Qur'an dengan metode apapun. Namun perlu dicatat bahwa "Sya'ir pra Islam" telah dilanda oleh cobaan banyak; Yang terakhir dan yang paling dalam dan pengrusakan padanya, ialah metode yang diciptakan oleh Margelyouth untuk menghancurkan kepercayaan terhadap Sya'ir pra Islam itu, dengan mengatakan bahwa Sya'ir pra Islam itu dibuat sesudah Islam datang. Inilah tipuan jahat yang dibuat oleh Margelyouth dengan kawan-kawannya dan "nabi-nabinya", berikut Sophisme, pemalsuan dan kebohongan yang dilakukan oleh Margelyouth d.k.k. itu sebagaimana disaksikan oleh salah seorang orientalis sesamanya, yakni Prof. Arby; kesemuanya yang dilakukan oleh Margelyouth itu menyelinap di balik dalil-dalil yang dibawakan, cara-cara pembahasan yang dibuat dan argumen-argumen yang dikemukakannya, suatu pengertian tentang kedudukan Sya'ir pra Islam dalam kaitannya dengan soal I'jazul Qur'an bukan pengertian yang· benar dan terang, bercampur dengan kebencian yang mendalam terhadap bangsa Arab dan Islam. 31
  30. 30. Orientalis (Margelyouth) ini beserta kawan-kawannya dan ramalan-ramalannya sebenarnya persoalannya teramat remeh, untuk dapat memperoleh banyak kepercayaan, dati cara-cara yang mereka lakukan dan argumen-argumen yang mereka .sajikan, disebabkan keraguan yang mereka timbulkan itu dasarnya ialah pemalsuan dan penipuan. Akantetapi mereka berhasil mencapai sejauh-jauhnya pelebarluasan penipuan mereka, penyusupan ke dalam perguruan perguruan tinggi kita dan ke dalam alam pikiran modern di dunia Islam dengan sarana-sarana yang membantu keberhasilan itu, sekali-kali bukanlah dasarnya ilmu pengetahuan dan visi yang benar. Dalam pada itu beberapa tokoh dan ahli pengetahuan telah berhasil menetapkan kebenaran Sya'ir pra Islam itu dengan menempuh jalan yang tiada keraguan baginya tentang kebenaran dan kemurniannya, tanpa pemalsuan dalam mencari dalil dan bukti dan tanpa penipuan dalam mengadakan penerapan, serta tanpa kontradiksi dengan hal-hal yang sudah dapat diterima oleh akal sehat, naql (nukilan) yang sahih, Namun mereka belum memiliki sarana-sarana yang memungkinkan mereka mencapai kebenaran yang mereka punyai itu seperti yang dicapai oleh Margelyouth d.k.k. dengan kebatilannya. Saya sendiri telah tertimpa cobaan dalam soal "Sya'ir pra Islam" ketika fitnah tentang soal itu berkobar sewaktu saya masih Mahasiswa di Universitas Mesir. Waktu berlalu: Dalam pada itu saya telah .sampai pacta macam metode lain untuk memperoleh bukti atas keabsahan Sya'ir pra Islam, bukan dati dalil periwayatannya saja, melainkan juga dari jalan lain, jalan yang paling lekat dengan soal I'jazul Qur'an". Saya telah meneliti sedalam-dalamnya "Sya'ir pra Islam" sehingga, saya mendapatkan di dalamnya fakta bahwa ia, mengandung dalam dirinya sendiri bukti-bukti kebenaran dan keabsahannya sebab saya telah mendapatinya memiliki daya yang luar biasa untuk mengungkapkan kejelasan. Ia mengungkapkan pada saya keindahan-keindahan tak terbatas yang mempersonakan. Ternyata bahwa "Sya'ir pra Islam" itu adalah ilmu pengetahuan tersendiri yang berdiri tegak, tidak saja di bidang kesusasteraan Arab, melainkan juga kesusasteraan-kesusasteraan umat sebelum dan sesudah Islam. Kedudukkan tersendiri yang dihaki oleh Sya'ir pra Islam secara mutlak ini, terutama kesendiriannya dengan ciri-ciri khasnya, yang membedakannya dari setiap syair dari puisi-puisi Arab yang datang sesudahnya, ini saja sudah mem32 •
  31. 31. I Derikan bukti atas kebeniltan~ya·dan keabsahmUiya. Problem 1',ja2:ulQur'an telah menyibukkan diri saya, sebagaimana ia menyibukkan juga akal pikiDn modern. Namun yang berkenaan dengan diri saya, saya telah disibukkan oleh Sya'ir pra IsIam dan pengarang-perangarangnga, dengan kesudahar; bahwa penetitian dan penyelidikan serta studi yang lama telah rhebyampaikan saya kepada aliran yang saya anut sekarang ini, sampal saya memperoleh dalil yang cukup kuat atas kesahihan dan kebenaran Sya'ir pra Islam itu. Para pengarangnya yang telah pergi untuk selama-lamanya sedangpendekar-pendekarnya yang jasadnya telah terserakserak di dalam tanah, kadang-kadang terbayang pada saya dalam syair ini seolah-olah mereka datang dan pergi. Saya seolah-olah menyaksikan pemudanya dimabuk rindu oleh kebodohannya, sedang yang berusia lanjut terbawa oleh kearifannya. Terbayang pada saya, yang bersukahati dari mereka wajahnya berseri-seri sehingga bersinar, sedang yang murka dan marah wajahnya bermuram-durja sehingga gelap. Seakan-akan kelihatan di hadapan saya seorang laki dengan temannya, pula seorang laki dengan kawanperempuannya, dan sampah masyarakat tanpa kawan. Saya seolah-olah melihat pengendara kuda di atas punggung kudanya dan pejalan kaki. Terbayang pada saya kelompok-kelompok masyarakat di temp at kediamannya di pedalaman dan pemukimannya di kota-kota lalu saya seolah-olah mendengar rayuan mereka yang sedang asyik dimabuk cinta, dan kemanjaan -gadis-gadismereka. Seolah-olah kelihatan pada saya api unggun mereka, yang sekelilingnya mereka berkumpul untuk memanaskan diri. Saya seakan-akan mendengar ratapan tangis mereka pada saat perpisahan. Kesemuanya itu seolaholah saya lihat dan saya dengar dari sela-sela kata-kata yang dikandung oleh syair ini, sehingga saya, seolah-olah mendengar pada setiap kata dalam syair ini bisikan orang yang berbisik, isakan orang yang menangis, tarikan napas panjang orang yang sedang dilanda rindu asmara, dan teriakan karena ketakutan. Bahkan seakan-akan mereka mendeklamasikan syair merekadi hadapan saya, sehingga seolah-olah saya tidak pernah meninggalkan mereka sedetik pun, dan tidak pernah pula meninggalkan rumah-rumah kediaman mereka dan tempat-tempat pertemuan mereka. Seakan-akan tidak pernah hilang dari pemandanganku kepergian mereka di muka bumi, dan apa yang mereka amati dan dapati, apa yang mereka dengar dan ketahui dan apa yanK mereka derita dan rasakan. Seakan-akan.bagi saya tiada sesuatu 33
  32. 32. pun yang tersembunyi yang oleh sebab itu orang yang hidup dapat disebut hidup di bumi ini, yang di dalam sejarah tetap terkenal dengan sebutan"Jazirah Arabia". Apa yang saya sampaikan kepadanya dari sifat Sya'ir pra Islam sebagai yang saya memakrifatinya adalah suatu hal yang dapat dieapai oleh orang yang suka menempuh jalan-jalan bagi kemakrifatan, tanpa menggunakan cara-cara yang menjurus kepada pengaeauan dan pencampuradukan, serta tidak aeuh tak aeuh dan tidak jemu. Memakrifati adalah jalan awal untuk mempelajari Sya'ir pra Islam dari jurusan yang memungkinkan kita memperoleh bukti, daripadanya bahwa Sya'ir pra Islam memiliki cara tersendiri, ciri-eiri khasnya berbeda dari setiap syair yang datang sesudahnya yang dibuat oleh penyair-penyair Islam. Apabila yang demikian ini benar dan saya sedikit pun tidak meragukan kebenarannya maka haruslah kita mempelajari syair ini seeara mendalam untuk meneari di dalamnya potensi yang dikandung olehnya dalam mengungkapkan kejelasan dan kefasihan, yang merupakan kelebihan, yang menonjolkan penyair-penyair pra Islam itu di atas penyair-penyair yang datang sesudah mereka, pula untuk menarik banyak pelajaran tentang aneka ragam kejelasan dan kefasihan yang dapat dieapai dengan kekuatan bahasa dan kalam mereka. Apabila kita telah selesai melakukan itu semua, maka pada saat itu sangat i mungkin bagi kita untuk meneari di dalam AI-Qur'an, yang kejelasannya dan kefasihannya mengi'jazkan mereka itu, eiri-eiri khas kejelasan dan kefasihan ini yang mengungguli segala kejelasan dan kefasihan manusia. Di sinilah terdapat hal yang mempunyai makna besar. Janganlah mengira bahwa persoalan mempelajari sya'ir.pra Islam itu, semata-mata menyangkut makna-makna persoalannya, atau gambaran-gambaran yang dikandungnya, atau bahasa yang dipergunakan dalam hal kefasihannya, kelezatannya dan sebagainya. Tidak demikian. Persoalannya adalah lebih jauh, lebih dalam dan lebih sulit. Persoalannya ialah membedakan sya'ir pra Islam mengenai kemampuannya yang besar untuk mengungkapkan kejelasan, mengeksposir berbagai jenis kejelasan yang berlain-lainan satu dengan yang lain, serta mengambil intisari ciri-ciri khusus yang terdapat pada bahasa mereka, eiri-eiri yang memberi bahasa ini kemungkinan untuk menjadi sumber keagungan dan ketinggian dengan jalan menerangkan perasaanperasaan dalam, dari lubuk hati, demikian agung dan tinggi sehingga ia dapat membuat kalam mereka hidup, laksana pe34
  33. 33. niupan roh di dalam jasad yang mati, laksana kemampuan melihat pada mata yang tak bergerak dan laksana kebiasaan berbicara yang terkandung dalam segumpal daging yang bergetar yang disebut "lidah". Maka apabila kita mengadakan persiapan sungguh-sungguh untuk studi ini, dan menggunakan kesabaran, kesungguhan dan berhati-hati, Yang diperlukan untuk berhasilnya studi ini, sedang bahasa adalah bahasa kita, dan kaum itu adalah nenek moyang kita, dan tabiat-tabiat mereka tertanam dalam karakter dan watak kita - kemudian kita menetapkan untuk studi ini metode-metode yang menunjangnya, serta mengambil untuknya gaya bahasa yang sebanding. Maka yang semula terasa jauh menjadi dekat; yang semula kelihatannya tidak nyata menjadi terang, dan "Sya'ir pra Islam" akan mengungkapkannya pada kita keindahannya yang paling gemilang serta mempesona dan membuka mata kita terhadap hal-hal yang terpendam dan bersembunyi dari dasar-dasar kecerdasan insani dalam menjelaskan sesuatu, tanpa mengkhususkannya bagi bahasa Arab saja,maka akanlkita dapati studi itu memperlihatkan sya'ir pra Islam dalam bentuknya yang paling pelik dan wajahnya yang paling suram; dan dalam gambaran yang paling sempuma dan lengkap. Apa yang saya uraikan dengan panjang lebar tentang sya'ir pra Islam ini dan apa yang saya dapati dalam hati saya adalah suatu pintu yang besar dan lebar. Saya bermohon kepada Allah agar Dia berkenan menolong saya, dengan kekuasaan-Nya dan kekuatan-Nya, supaya saya dapat mengungkapkannya dan menerangkan perihal sya'ir pra Islam, dan supaya saya dapat memperkuatnya dengan segala argumen yang menentukan tentang keunggulannya atas setiap sya'ir Arab yang dikarang sesudahnya, sehingga ia sendiri akan dapat menjadi bukti yang mutlak atas keabsahan periwayatannya, dan bahwa paraperawi itu tidak .mengarang-ngarang untuknya penyair-penyair yang sebeilamya tidak ada wujudnya. Adalah kenyataan bahwa yang sampai pada kita hingga saat ini dari Sya'ir pra Islam itu hanya sedikit yang diriwayatkan oleh rawi-rawinya. Sedang para perawi yang terdahulu pun Sya'ir pra Islam tidak sampai kepada mereka, kecuali sekedar sebapi yang dikatakan oleh Abu 'Amr ibnu Al' Ala pada pangkal abad kedua Hijryah: "Apa yang sampai kepada kamu dari kalam Arab jahiliyah sedikit sekali. Sekiranya sampai kepadamu dalam kadar yang besar niscaya sampai kepadamu ilmu dan syair ba- 35
  34. 34. nyak". Sekali pun demikian yang sedikit dari Sya'ir pra Islam yang sampai kepada kita itu, insya Allah, cukup sebagai petunjuk bagi apa yang kami kehendaki, untuk menjelaskan tentang kelebihan syair mereka atas syair yang datang sesudah mereka, dan dalam syair itu terdapat dalam kadar yang besar ciri-eiri khusus kejelasan dan kefasihan yang merupakan keahlian kaum jahiliyah (pra Islam). Namun bagaimana sya'ir pra Islam ini dapat terus hidup sampai pada masa sekarang ini? Ia tetap hidup untuk menjadi bahan bagi bahasa Arab, menjadi dalil atas setiap huruf abjad bahasa Arab, atas setiap bab tentang tata bahasa Arab, dan atas setiap kata sindiran dalam ilmu kafasihan bahasa. Ia tetap hidup sebagai sumber bagi para perawi, sebagai perbendaharaan yang populer padanya, para penyair Islam mengambil materi bagi syair-syair mereka dan sebagai sumber sejarah umat Arab pra Islam. Ia bahkan menjadi pusaka bagi semua ilmu-ilmu pengetahuan bangsa Arab; Setiap ilmu mempunyai bagian daripadanya, menurut kadarnya. Namun tidak terpikirkan oleh kita suatu hal yang sangat besar yang ditinggalkan oleh Sya'ir pra Islam, yaitu bahwa ia menjadi bahan studi tentang keeerdasan menjelaskan sesuatu, suatu pembawaan instinktif manusia dengan memperbandingkannya dengan kejelasan yang potensi orangorang yang paling fasih habis tanpa mampu menandingi kejewan tersebut yang memiliki eiri-ciri khusus yang terang demikian rupa untuk menjadikan setiap orang yang eakap, yang fasih, yang jelas kalamnya, dan setiap orang yang mempunyai kemampuan merasakan kelezatan kefasihan dan kejelasan bahasa, tidak mempunyai altematif lain, .selain mengakui keunggu1an kejelasan yang bereiri khusus tersebut, bahwa ia tidak sejenis kejelasan dan kefasihan yang biasa didengar dan dirasakan oleh orang, bahwa penyampainya kepada manusia adalah seorang nabi yang diutus, bahwa nabi ini tidaklah mampu mengarangnya sendiri atau mengada-adakannya sebab ia tidak lain hanya seorang manusia yang tidak memiliki kemampuan selain kemampuan yang dimiliki orang lain yangsejenis dengan dia, dan bahwa sekiranya dia mengada-adakan selain dari apa yang diperintahkan kepadanya untuk menyampaikannya dan membaeakannya, pasti, pasti akanterbuka kedustaannya kepada manusia, sehingga dia layak memperoleh hukuman dengan firman Tuhan yang menurunkan kalam itu dari langit: ./ ••••••••••• ., .." "., "" ..;.i>)' (, J:Jt;)'1 ~ -- .-- 36 Ct ,. ".. "''''''' ~ ,. •••••;"'.",. G "" •••• J';.i; .,JJ
  35. 35. "Dan sekiranya dia mengada-adaka" sedikit saja perkataanperkataan atas nama Kami, niscaya Kami pasti menanghap tangan kanannya; lalu Kami akan putuskan urat nadi jan tungnya. Maka tiada seorang pun dari kamu yang dapat mempertahanhannya". (Surat AI-Haaqqah: 44-47). Orang berhak bertanya: "Bila demikian, coba ceritakan pada saya mengapa sya'ir pra Islam tetap begitu kedudukannya, tidak melampauinya? dan mengapa hal-hal yang anda katakan tentang syair itu tidak terpikirkan juga oleh ulama-ulama sebelum anda? Mengapa sya'ir ini luput dari pikiran ulama-ulama balaghah (kejelasan, kefasihan dan keindahan bahasa), sedang mereka bertujuan dengan ilmu Balaghah mereka itu justru untuk menerangkan soal "I'jazul Qur'an", sedang mereka berada dalam zaman yang lebih dekat .dengan turunnya AI-Qur'an daripada zaman kami dan anda? Apakah yang mencegah aka! pikiran orang-orang yang fasih bahaSanya itu, untuk menjalani metode seperti yang anda lakukan, sedang akal pikiran mereka itu tidak berbangkit, melainkan dengan tujuan mencapai sasaran soal I'jazul Qur'an, baik pada zaman dahulu maupun zaman sekarang?" Adalah kewajiban saya menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Namun untuk memberikan jawaban itu saya merasa perlu menceriterakan suatu kisah lain. Saya tidakakan memperpanjanglebarkan ceritera itu, dan saya akan mempeningkatnya saja dengan berusaha menyingkirkan celah-celah daripadanya semampu saya, sedang pendengarnya sedapat mungkin menyingkirkan kekurangperhatian dirinya semampu-mampunya, Kaum Arab jahiliah (pra Islam) adalah sebagai yang telah saya lukiskan kepada anda keahliannya dalam soal kefasihan bahasa dan kepandaiannya dalam menggunakan kefasihan itu dalam kalam mereka serta kemampuan mereka untuk dapat merasakan kelezatan kefasihan itu dengan indera yang paling halus dalam sanubari dan jiwa mereka, pula pengetahuan mereka tentang rahasia-rahasianya, serta mendalamnya kesadaran mereka mengenai adanya dinding pemisah antara jenis kefasihan yang dibakati oleh manusia dan yang bukan termasuk jenis kefasihan mereka. Kaum jahiliahinilah yang didatangi Kitab 37
  36. 36. dari langit dengan bahasa mereka, Kitab yang dalam kumpulan tanda-tanda kekuasaan Allah, sederajat dengan tongkat Musa, dan dengan mukjizat orang buta dan penyembuhan orang buta dan penderita kusta sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah yang dianugerahkan kepada para nabi-Nya, Kitab ini datang kepada mereka, agar pembacaaannya dibawa pendengaran mereka menjadi bukti yang perkasa yang memaksa mereka mengakui kebenaran diturunkannya Kitab ini dari langit ke dalam salahseorang dari kalangan mereka, dan bahwa orang iniadalah salahseorang Nabi yang diutus oleh Allah; maka wajiblah mereka mengikutinya serta menerima baik apa yang diserukan olehnya. Oleh sebab itu maka setelah mereka mendustakannya dan mengingkari kenabiannya, ia menantang mereka agar mereka membawakan serupa dengan apa yang mereka dengar mengenai susunan penyajakannya dan kejelasannya. Ia mendesak kepada mereka menantang mereka dalam banyak ayat dari Kitab yang diwahyukan kepadanya. 'Namun mereka menyadari keberlainan kejelasan kalam Kitab itu dengan kefasihan kalam manusia. Kesadaran ini memaksa mereka untuk meninggalkan tantangan sebagai sikap yang jujur untuk tidak membenarkan suatu kejelasan dan kefasihan diperlukan secara tidak adil, dan untuk menjauhkannya dari pengecilan kedudukan kejelasan dalam Kitab itu oleh perlakuan tidak adil dari fihak mereka. Adapun orang yang mereka hadapi, dengan kesengitan dalam permusuhan dan pembangkangan itu, tidak lama kemudian sekelompok demi sekelompok datang padanya menerima seruannya dengan pengakuan dan penerimaan baik bahwasanya Kitab itu adalah kalam Allah, dan bahwasanya orang (yang semula mereka musuhi itu) adalah nabi Allah. Kemudian berturut-turut datang orang-orang yang beriman dari mereka menyatakan keimanan mereka, sehingga tiada satu rumah pun di kampung mereka melainkan telah dimasuki oleh Islam atau keseluruhan penghuninya memeluk Islam. Mereka menyerahkan pimpinan kepadanya, karena keyakinan bahwasanya tidaklah sempuma iman seseorang dari mereka sebelum lelaki ini dijadikan sempuma iman seseorang dari mereka sebelum lelaki ini dijadikan seseorang yang dicintai oleh seseorang lebih daripada kecintaannya terhadap keluarganya dan anaknya. Amal perbuatan mereka telah membenarkan kesemuanya itu. Maka setiap orang yang fasih dan pandai berbicara dari mereka, dan setiap orang yang ahli dalam merasakan kelezatan bahasa yang fasih dan jelas menjadi penyelidik dari firman-firman Allah dengan sangat teliti, menghafalkanayat-ayat Al-Qur'an yang teJah 38
  37. 37. turon, membacanya dan berta'abbud dengan pembacaan ayatayat itu. Ia mengikuti turunnya Al-Qur'an dengan penuh perhatian dan keinginan yang sangat besar. Ia menc!lengardan memperhatikan pada waktu Al-Qur'an dibaca dalam shalat, dan di atas mimbar hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun. Masing-masing orang tunduk dan khusu pada Dzikrullah (mengingat Tuhan), dan kebenaran yang turun kepadanya. Ketundukan dan kekhusuan mereka membenarkan apa yang difirmankan oleh Allah: I ~ -i L:.. d .)..1 .J1.7 ~..l* ,,-.......... • ..P III ~ ,./ ;',/, /.., ~ ~ -:,,;' ~ ./ 0 /" Q ,/./ () ,/ c::-..... ,/ j"H.J 0~-= 0" 0 .....,.,,, ./ «>: ./ I .-- ./ 0 JJ '"'" /" ••••••• _..... •••• Jy .J.J I ~.".J' ~ 1::.; ~ /..l.>J I ~ L::.. ~ .... ~ "" ~ u::/..i..J1 ..lp I ~ P ') C'I' .9 .., ~ III -' .1 ..••. 0L:., o- .--a.-~ ~/.J...r=.--.J.J I ~..l.Jl>~j .--dJ'! ~ ul~ rr:..,.J.9) ~ ./ ( ~ i : .r) I ) lIE ..l 0 L~ lr ~...... "' , I ",.... " ., n/ . .J W .J.JI JJ...a: lr) "",., /' "Allah telah menurunkan firman yang sebaik-baiknya, yakni Kitab Al-Our'an yang isinya serupa dan berulang-ulang. Bangun bulu roma orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka karena nya kemudian menjadi lemah-lembut kulit dan hati mereka dalam mengingati Allah. Itulah pimpinan Allah. Dipimpin-Nya dengan AI-Qur'an ini orang yang dihehendahi-Nya. Tetapi orang yang dibiarkan oleh Allah dalam kesesatan, tidaklah akan mendapatkan orang yang memimpinnya. (Surat Az-Zumar: 23). Sementara itu Al-Qur'an bergema di Jazirah Arabia laksana suara lebah-lebah, maka sekarang tunduklah telinga-telinga yang sebelumnya dalam kejahiliahan, mendengarkan seruan orang yang membacakan kepada mereka ayat-ayat dari firman Allah, yang menciptakan mereka, serta mengadakan untuk mereka pendengaran, penglihatan dan perasaan serta pikiran. Merendahlah sekarang lidah-lidah yang sebelumnya dalam kejahiliahan, kepada Al-Qur'an untuk menghambakan diri kepadanya, sebagaimana mereka juga telah mengakui penghambaan mereka kepada Allah s.w.t. yang telah memilih bahasa mereka untuk men. jadi bahasa Kalam-Nya. Maka terjadilah di Jazirah Arabia gelombang kaum muslimin yang bertahlil menyebut nama Allah, mengagungkan-Nya dan mensucikan nama-Nya setiap waktu. :'9
  38. 38. Mereka bermukim membaca AI-Qur'an pada waktu pagi dan petang, dan pada waktu Malam dan fajar. Mereka berjalan mengikuti dan menangkap sunnah Nabi mereka. Mereka menanggalkan kegelapan jahiliah (laku adat istiadat buruk pada masa pra Islam) dari kalbu, aka} pikiran, jiwa dan lidah mereka, dan mereka masuk ke dalam nur cahaya Islam dengan lidah, akal pikiran, jiwa dan kalbu mereka. Kemudian Al-Qur'an membawa mereka ke segala penjuru untuk mengajak manusia, baik yang berkulit hitam atau merah, kepada kesaksian bahwasanya tiada Tuhan selain Allah, dan bahwasanya Muhammad pesuruh dan utusan Allah. Mereka membawa kepada mereka Kitab ini, yang kejelasannya mengi'jazkan kejelasan dan kefasihan manusia untuk menandinginya, yakni Al-Qur'an yang turun dengan bahasa mereka sebagai bukti nyata terhadap manusia, serta sebagai petunjuk untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya. Maka keadaan mereka pada waktu itu adalah seperti yang dilukiskan oleh Ibnu Salam dalam bukunya: "Tingkatan-tingkatan penyairpenyair yang termasyhur" ketika ia menyebutkan apa yang dikatakan oleh Umar Ibnul Khattab tentang bangsa Arab zaman jahiliah (sebelum Islam) yakni: "Syair adalah satu-satunya ilmu yang mereka banggakan, mereka tidak menyukai ilmu selainnya" , maka berkata Ibnu Salam mengomentari: "Kemudian Islam datang, bangsa Arab mengabaikan syair, dan sibuk melakukan jihad dan peperangan dengan negeri Persia dan negeri Rum. Mereka melupakan syair dan periwayatannya. Setelah daerah Islam meluas dan banyak negeri ditaklukkan, mereka tenang lagi, lalu mulai lagi meriwayatkan syair, akan tetapi untuk itu mereka tidak mempunyai sumber-sumber, baik dalam bentuk kumpulan-kumpulan syair yang dicatat maupun dalam bentuk buku-buku yang ditulis. Kemudian mereka menulis syair-syair itu, sedang dalam pada itu sudah banyak dari bangsa Arab yang telah tewas karen a maut atau terbunuh. Maka yang mereka hafal dari syair pra Islam hanya sangat sedikit, sedang yang hilang banyak sekali. Janganlah anda teperdaya oleh apa yang dikatakan oleh Ibnu Salam seperti yang terse but di atas, lalu anda mengira bahwa orang-orang jahiliah yang telah memperoleh petunjuk Allah masuk ke dalam Islam itu benar-benar telah meninggalkan di belakang mereka sya'ir pra Islam, dan berpaling daripadanya, tidak memperdengarkannya dan tidak mengucapkannya lagi, serta menanggalkannya dati pikiran dan lidah mereka, sebagai40
  39. 39. mana mereka telah menanggalkan keiahiliahan mereka. Ini.semuanya tidak benar. Keterangan Ibnu 8alam itu didustakan oleh khabar-khabar tentang mereka, dan pula tidak dibenarkan oleh logika dan tabiat lIlanusia, serta oleh sejarah kehidupen mereka. Bahkan perlakuan yang tidak adil yang paling besar yang diderita oleh sya'irpra Islam ialah: bahwa Al-Qur'an telah merebut perhatian mereka agar perhatian mereka hanya ditujukan kepada Al-Qur'an. Akibatnya pendekJamasian syair dan penyusunan sajak-sajak lebihkurang daripada di zaman sebelum Islam. Sekanpun demikian Sya'ir pra Islam tetap menjadi tempat yang mereka tuju, apabila pikiran mereka eapai karena menelaah Al-Qur'an terus-menerus. Sya'ir pra Islam itulah tempat mereka .beristir~at apabila mereka telah selesai melakukan ibadat yang difardukan oleh Allah atas mereka dan yang disunatkan oleh Nabi s.a.w. kepada mereka. Demikianlah kebiasaan mereka selalu pada awal keislaman mereka. Anak-anak mereka sejak keeil mendengar (dari orang-orang tuanya) syair-syair pada zaman jahiliah, serta mendengarkan kefasihan bahasa yang tersimpul dalam kalam mereka. Mereka menanamltan juga kefasihan bahasa itu pada watak anak-anaktersebut. Hal ini berpindah seperti penyakit menWar sampai kepada orang-orang Islam bukan Arab serta anak-anak mereka. • Dimana saja kaum jahiliah yang telah masuk Islam itu datang, ikut datang pula bersama mereka Al-Qur'anul Hakim, dan ikut datang juga sya'ir pra Islam. Mereka bersama-sama menelaahnya dan saling mendeklamasikannya. Dengan syair itu mereka telah dapat meluruskan lidah orang-orang Islam bUkan Arab untuk berbahasa Arab dengan fasih. Dan yang menjadi bekal bagi orang yang menuntut pengetahuan untuk mendapat tahu tentang makna-makna Kitab Tuhannya, ialah mempelajari dengan tekun sya'ir pra Islam, sebab tiada seorang dapat memahami sendiri makna-makna Al-Qur'an, sebelum ia dapat mernahami sendiri sya'ir pra Islam. Cukuplah kiranya bagi an9,ll, untuk mengetahui kebenaran hal di atas, apa yang dikatakaH olen Imam Syafi'i sesudah itu, pada abad kedua Hijriabt"Tidaklah diperbolehkan bagi seseorang untuk memberikan. fatwateniaDg agama Allah, keeuali orang yang arif benar-benar mengenai Kitab Allah, mengetahui daripadanya yang nasikh danmansukh, mengetahui ayat-ayat muhkamat (yang mantap,je4ls dan terang maksud dan maknanya)dan ayat-ayat mutasyabihat (yang samarsamar maknanya), mengerti ta'wilnya dan tahu sejarah turonnya, serta ayat~yat Makkiah danayat-ayat Madaniah, dan arif 41
  40. 40. tentang apa yang dikehendaki oleh ayat demi ayat dalam AIQur'an itu, Kemudian orang itu harus faham benar-benar akan Hadits Rasulullah sca.w., tahu mana yang nasikh dan mana yang mansukh. Ia harus mengerti tentang Hadits, sama pengertiannya tentang AI-Qur'an. Ia harus mengerti bahasa dan faham akan syair, serta tahu apa yang diperlukan untuk memahami Hadits Nabi s.a.w. dan AI-Qur'an. "Tidaklah cukup hanya sekedar mengenal syair saja, melainkan seorang yang akan memberikan fatwa itu harus mengetahui dan menguasai &yair,sebagai yang dikatakan oleh Imam Syafi'i r .a, Apa yang dikatakan oleh Imam Syafi'i setelah berlalu satu abad (dari datangnya Islam) itulah yang berlaku pula pada permulaan Islam. Kemenangan-kemenangan yang diperoleh kaum muslimin datang bertubi-tubi, dengan ditaklukkannya banyak negeri-negeri. Bersama dengan kedatangan mereka menyebar luas syair PfIl Islam. Banpa-bangsa bukan Arab berduyun-duyun memeluk Islam; berasimilasi dengan kearaban sebagaimana mereka masuk ke dalam Islam. Dengan kejadian ini malta kejelasan dan kefasihan AI-Qur'an -tercurah laksana hujan lebat atas fitrah baru, yaitu fitrah-lidah bangsa-bangsa bukan Arab, setelah cukup menghirup kefasihan jahiliah yang terkandung dalam sya'ir pta Islam. Bangsa Arab dari kaum sahabat dan tabi'in serta anak8Dak mereka bercampur dengan orang-orang bukan Arab yang bahasanya telah berasimilasi dengan bahasa Arab. Dari :campuran ini tumbuh kemudian model kefssihan baru, Yang gayanya bera1ih-alih, berubah-ubah dan berganti-gB!;lti generasi demi generasi. Namun orang-orang ini tetap memeliharakemampuan • yang selalu sedia dan hadir untuk merasakan keIezatan kela- ' sihan dengan penuh kecerdasan, hal mana dapat membantu lI1ereka dalam membedakan kefasihan kalam manusia seperti yang biasa dikenal oleh tabiat dan pembawaan mereka, dengan kejelasan AI-Qur'an yang jauh sangat dari ciri-ciri khusua kefasihan kalam mereka, ditinjau dari segala segi. Bumi seolah-olah membara dalam menerima Islam sebinga batas daerahnya mencapai .Cina di timur dan Andalusia (Spanyol) di barat. Di utara daerahnya bertapal batas di negeri Rum, sedang di selatan batasnya menyusup ke da1am negeri ~. Gema M-Qur'an yang berbahasa Arab terdengu di semua penjuru bumi yang didiami manusia. Masjid-masjid berdiri di setiap desa dan setiap kota, dan di ruangan-mangan masjid-masjid berjejalan barisan-barisan bamba-bamba Allah Yang Maha Pemurah. Mimbar-mimbamya dinaiki Qleh penyeru-penyeruke42
  41. 41. pada kebenaran. Di setiap masjid manusia berkumpul dalam lingkaran-lingkaran (halaqah). Penuntut-penuntut ilmu berdatangan di masjid-masjid, sekelompok dari mereka belajar tilawatil Qur'an dari para qari'nya, sekelompok lain belajar periwayatan had its dari para huffazhnya, sekelompok lain belajar bahasa Arab dari guru-gurunya dan sekelompok lain mengambil pelajaran tentang sya'ir pra Islam dan syair sesudah Islam dari para perawinya. Kelompok demi kelompok terdapat di segala penjuru masjid-masjid yang letaknya tidak berjauhan, Kelompok-kelompok manusia dari bermacam-macam warna kulit bangsa dan bahasa. Masing-masing penuntut ilmu dan masing-masing berpindah-pindah untuk itu dari majlls seorang guru ke majlis guru lain. Semua yang dituntut adalah ilmu pengetahuan yang tak dapat ditinggalkan oleh setiap orang muslim pembaca Al-Qur'an. Ya, bahkan sampai-sampai di pasar-pasar mereka pun para penyair datang mendeklamasikan syair-syair mereka, atau saling berdebat, atau saling menyindir dengan syair mereka. Para perawi menghafalkan apa yang dibawakan dari syair-syair itu, sedang massa datang mendengarkannya, lalu berbalik saling berdekat. Segala penjuru bumi memperdengarkan dengan gemuruhnya suara membaca AlQur'an, dan di mana-mana terdengar bahasa Arab tidak ada bedanya baik di rumah-rumah yang dihuni oleh orang ~ang dulunya bukan Arab, maupun di rumah-rumah kediaman orangorang Arab asli, Setelah satu abad berlalu sejak Islam datang, mulai tumbuh tunas syaitan pada pemeluk agama. Mereka membawa pertengkaran dan perdebatan; perpecahan dan permusuhan. ,Mereka memecah-belah kalam dengan bermacam-macam pendapat dan kehendak hawa nafsu. Sebagai akibat dari itu, timbullah permulaan gerakan untuk memberikan visi pada setiap ilmu agama. Pada saat itu perselisihan timbul. Perselisihan akhirnya menjurus kepada keberanian terhadap agama, sehingga pada tahun-tahun terakhir kedaulatan Bani Umayah ada seorang bernama "Ja'ad . bin Darham" yang menunjukkan kelancangan terhadap AlQur'an. Orang ini benar-benar seorang syaitan yang jahat dan beraliran jahat. Ia memperoleh alirannya dari seorang berketurunan Yahudi bernama "Thalut"; Dengan alirannya itu ia berani mendustakan AI-Qur'an dalam soal "diambilnya Nabi Ibrahim oleh Allah sebagai ternan" dan dalam soal "bercakapcakapnya Allah dengan Nabi Musa" dan lain sebagainya. Diantara perkataannya ia menerangkan bahwasanya: "Kefasihan 43
  42. 42. Al-Qur'an sekali-kali tidak meng-i'jazkan. Manusia dapat saja mengarang yang serupa, bahkan lebih baik daripadanya". Sebagai tindakan atas keberaniannya itu ia oleh Khalid bin Abdullah Al-Qisri dijadikan "hewan kurban pada hari Raya lCurban, kim-kim pada taboo 124 H. Perkataan Ja'd di atas, sebagaimana anda lihat, adalah keberanian seorang yang lancang lidah serta buruk asal-usulnya. Ia melemparkan perkataannya begitu saja tanpa mernbawakan bukti dari sejarah atau akal pikiran yang sehat. Tidak lama kemudian setelah baru saja dinasti Bani Abbas menancapkan kedaulatannya, muncul beberapa tokoh ahli pikir untuk menyelidiki masalah "I'jazul Qur'an" dari jalan bukan jalan kebodohan dan kelancangan. Dalam masalah ini telah maju ke muka pemuka kaum Mu'tazilah dan penyambung lidahnya, yaitu Abu Ishak Ibrahim ibnu Sayarun Nazami. Ia mengemukakan teorinya dari jurusan pikiran dan pandangan, dengan mengatakan bahwasanya Allah telah memalingkan bangsa Arab dari aksi menandingi Al-Qur'an, padahal mereka sanggup melakukannya. Maka palingan Allah ini dialah mu'jizat. Adapun I'jaz Al-Qur'an sendiri tersimpul dari pemberitaan hal-hal yang gaib yang telah lalu atau yang akan datang. Perkataan semacam ini tidak mempunyai dasar samasekali dan yang hanya dilakukan oleh kebingungan dan kekaguman terhadap Kitab yang mengi'jazkan kaum jahiliah serta yang menjadikan mereka membungkam. Bangkitlah beberapa orang menentangnya dan mendebatnya, a.I. kawannya sendiri yaitu Abu Usman Al-jahizh yang telah mengarang kitabnya yang berjudul "Susunan puitis Al-Our'an itu kefasihannya tiada bandingannya. Aljahizh, dan lainnya serta mereka yang datang sesudahnya, rnasing-masing telah mengemukakan pendapatnya. Namun persoalan yang dikemukakan tetap terbatas pada membenarkan atau tidak membenarkan soal "Palingan Allah" itu, dan pada pe_ nyampaian bukti -atas kejelasan dan kefasihan Al-Qur'an, bersihnya dari hal-hal yang merusak lafalnya dan ketiadaan hal-hal yang saling bertentangan di dalamnya, kandungannya yang meliputi segala makna dan maksud yang pelik dan yang berisi pemberitaan segala perkara yang gaib, dan lain sebagainya yang umumnya kita dapati terbentang dalam kitab-kitab karangan meroka, sebagaimana anda telah mengetahuinya dari keterangan saya di muka. Terjadilah hanyak perrnainan kata di antara golongan-golongan ini yang ierkenal denaan nama: "golongan mutakallimin,
  43. 43. Adapun persoalan yang mereka tanganiadalah perdebatan, mengadu lidah, be~ggul-unggulan bukti, serta beradu dalil dengan dalil. Setelah masalah "I'jazul Qur'an ini sudah sampai kepada puncaknya dimana diperlukan adanya seorang yang bersungguh-sungguh lagi jujur untuk membelanya, maka datanglah seorang menghadapi golongan Mutakallimin itu, yakni: Abubakar Albaqlani (yang wafat pada tahun 403 H),sedang manusia pada waktu itu, sebagai yang ia sendiri mengatakan terbagi dalam dua kelompok, yakni orang yang menjauh dari kebenaran, lengah dati petunjuk yang benar. Yang lain ia1ah orang yang takut membela kebenaran, dan merasa berat dalam berbuat kebenaran. Hal ini telah berakibat bahwa kaum at heis turut melibatkan diri dalam pembahasan soal ushuluddin (ilmu Tauhid) dan dalam menanamkan keraguan dalam hati orang-orang yang lemah imannya tentang segala yang sudah yakin akan kebenarannya. Ia menyebutkantentang sebagian orang-orang yang bodoh dari kalangankaum atheis itu bahwa mereka mempersama-samakan ayat-ayat Al-Qur'an dengan beberapa syair, serta membanding-bandingkan Al-Qur'an dengan kalam lain. Belum merasa puas dengan yang demikian itu, ia bahkan sampai melebihkan kalam yang lain itu daripada Al-Qur'an. Apa yang dilakukan oleh kaum atheis ini bukanlah suatu hal yang baru. Apa yang mereka katakan dan perbuat itu telah didahului oleh kawan-kawan mereka, yakni kaum atheis Quraisy dan lain-lainnya, yang mengeluarkan perkataan-perkataan yang amat besar kedurhakaannya. (Baca kitab I'jazul Qur'an ka-' rangan Al-Baqlanihalaman 5-6). Hal inilah yang membangkitkan dan menggerakkan Albaqlani untuk mengarang kitabnya yang terkenal itu, yakni kitab "I'jazul Qur'an". Ketika Albaqlani menulis kitabnya itu masyarakatnya masih itu-itu juga, dan kemampuannya merasakan kelezatan dan kefasihan bahasa masihtetap seperti yang saya lukiskan pada anda. Kekuatan merasakan keindahan dan kefasihan bahasa yang mereka miliki itu tertanam dalam naluri mereka, dan konsekwensi dari pembawaan mereka serta hasil asuhan studi penelaahan syair, mendengarkan syair dan meriwayatkan syair. Namun orang-orang yang memiliki naluri dan pembawaan itu tidak tei'halang sedikit pun bagi meluasnya dan merajalelanya perdebatan di antara mereka, serta terjadinya keadaan dimana setiap golongan membuat-buat teori, dengan teorinya itu membela pendapatnya dan menjatuhkan' argumentasi lawannya. 45
  44. 44. Kesemuanya itu hanya bertujuan mencari kemenangan, bUkan untuk meneliti pendapat dan mencari kebenaran. Semoga Allah melimpahkan keridhoannya kepada Abubakar AIbaqlani. Ia telah menzhimpun dalam kitabnya banyak kebaikan. Ia telah membuka. dengan pembawaannya yang herakarkan kebaikan, banyak pintu-pintu yang semula t.erkunci sebelum dia. Ia telah menyingkap citra-citra balaghah (keindahan, kejelasan dan kefasihan·bahasa dan kalam) yang sebelumnya merupakan tabir yang tertutup. Akan tetapi ia telah tergelincir secara serius, yang mengakibatkan lahirnya yang bersinambungan, sekalipun ia sebenamya tidak hermaksud menimbulkan akibat karena tergelincirnya dia itu. Dalam kitabnya, semestinya AIbaqIani menempuh jalan yang didekatkan kepadanya oleh penelitian problem "I'jazul Qur'an. Dalam hal ini AIbaqlani semestinya menjadikan sya'ir pra Islam dasar bagi studi tentang soal kefasihan Arab pra Islam ditinjau dari segi persamaannya dengan ciri-ciri khusus kefasihan bahasa-bahasa bangsa-bangsa manusia lainnya. SebenarhyaAIbaqlani merasakan sungguh-sungguh berlainannya ciri-ciri khas kefasihan kalam manusia. Ia telah menyinggungsoal ini dalam kitabnya sebagaimana disinggung pula oleh ulama sebelumnyaj Akan tetapi perdebatan-perdebatan yang dilakukan oleh bum mutakallimin sebelumnya dan pada zamannya, turutnya bum atheis melibatkan diri dalam soal UlhWUddin (ilmu Tauhid), sebagai yang ia katakan, kemudian metoae mereka dalam permainan kata-kata untuk mencari kemenangan, kesemuanya itu tidak memberinya kesempatan melainkan iahams menghabistan waktunya untuk menjawab, menolak kekeliruan dan kesalahan mereka, aengan menggunakan metode sama dengan metode mereka dalam memberikan pendapat. Ia seolah-olah pusing ketika sampai kepadanya bahwa beberapa orang yang dungu di antara mereb te1ah mempersamaaamakan AI-Qur'an dengan syair-syair, serta memperbandingkan AI-Qur'an dengan kalam lainnya. Anda dapat membaca kitabnya bab demi bab untuk mendapatkan kebenaran apa yang saya katakan ini pada anda, hingga ketika ia sampai kepada masalah yang membuatnya bangun, yaitu soal dibanding-bandingkannya AI-Qur'an dengan beberapa syair, maka bangkitlahia mendwl~kan perbuatan memperbanding-bandingkan AI-Qur'an dengan syair. Da1am kitabnya ia mengajak anda untuk be1'S8Il14 mengambil syair Imruulqais, ia 46
  45. 45. yang anda samasekali tidak meragukan ketinggian mutunya, tidak menyangsikan kepandaian penyairnya, serta tidak menyangkal kefasihannya, sebagai yang dikatakan sendiri oleh Albaqlani dalam kitabnya (halaman 241). Ia meletakkan syair Imruulqais di hadapan anda. Kemudian ia memerincinya, mengeritiknya, menghapuskan keindahan kata-katanya atau mengokohkannya. Ia berhenti di tempat-tempat yang kurang sempurna ia memba~ anda ke tempat-tempat kelemahannya. Begitulah ia menelanjangi syair itu, hingga menyingkap yang tersembunyi daripada cacat-cacatnya, kemudian ia menutup keterangaIl itu dengan mengatakan: "Kami telah menjelaskan pada anda b~wasanya.syair ini dan lain sejenisnya terdapat di dalamnya kontradiksi (perbedaan-perbedaan) di antara baitbaitnya, yaitu kontradiksi antara yang permutu tinggi dengan yang rendah mutunya, antara yang lancar dan yang ruwet, antara yang utuh dan yang rusak, antara yang mantap dan yang sukar (dimengerti), antara yang cekak (singkat) dan yang panjang-lebar, antara yang canggung~engan yang kurang menyenangkan. Imruulqais mempunyai teman-ternan yang seirama dalam pembuatan syair-syair semacam itu. Ia mempunyai juga penentangpenentang mengenai kebaikan-kebaikan syair-syaimya, serta mempunyai lawan-lawan dalam soal keindahan-keindahan kalimat-kalimat syairnya. Setelah selesai mengupas itu semua, Albaqlani membuka suatu bab yang mulia dan terhormat, di dalamnya ia menyebutkan ayat-ayat dari AI-Qur'an. Ia berusaha menunjukkan pada anda keindahan-keindahan susunan puitisnya serta kejelasan dan kefasihan kata-katanya. Bab ini merupakan bukti yang senyata-nyatanya, yakni sekiranya Albaqlani menegakkan metode pembahasannya sebagai yang kami telah utarakan pada anda di muka, pasti ia mencapai martabat tinggi dengan metodenya yang melampaui metode orang-orang terdahulu, dan sukar dikejar orang-orang yang datang kemudian. Akan tetapi ia dalam bab tersebut di atas tidak lebih daripada membawa anda kepada penjelasan tentang kemuliaan ayat-ayat Al-Qur'an, bait yang mengenai kata-katanya, mau pun yang berkaitan denpn maknanya. Dijelaskan bahwa kisah-kisah dalam Al-Qur'an"sedap didengar, kata-katanya tersusun secara harmonis, susunan puitisnya berpadu baik dan bahwa susunan Al-Qur'an tiada kontradiksi sedikit pun dalam soal-soal yang dibawakannya dan tidak ada kepincangan dalam masalah-masalah yang disajikannya. 47
  46. 46. Al-Qur'an maIah memiliki keidea1an yang sangat luhur, serta lrebajikan yang amat tinggi martabatnya (Kitabnya haJaman 802-305). Ia menyebutkan adanya keharmonisan ayat-ayat Al-Qur'an mengenai kefasihannya dan keindahan kata-katanya, dan keserasiannya tentang kelancarannya ~an pengutaraannya, serta pemilikannya sendiri akan gaya yang indah, dan kekhususannya dalam .berurut-urutan susunannxa. Adapun kalam yang selain Al-Qur'an, kalam tersebut [alan penguraianya goyah - kandungan maknanya pincang, ia ban yak berubah warna, selalu berubah-ubah tidak tetap tujuannya. Ia membawa anda pada hal yang indah dan baik, kemudian menyusulnya dengan hal yang buruk dan tercela. Ia menampilkan suatu kata yang tidak disukai orang di antara kata-kata yang baik laksana mutiara yang cemerlang. (Kitabnya halaman 313314). ~mikianlah uraian AIbaqlani, hingga ia sampai pada uraiannya tentang AI-Qur'an, dan ia mengatakan; berdasarkan halhal terse but di atas, perbandingkanlah kalam terse but dengan pembahasanmu tentang kalam yang mulia_ (AI-Qur'an) yang bermartabat tinggi, tidak mencari pemecahan suatu problem melainkan terbuka baginya,· tidak menusuk hati seseorang, melainkan menjadi lapang hati. Tidak menjalani suatu [alan, melainkan jalan itu bersinar dan bercahaya. Tidak mengambil suatu perumpamaan, melainkan perumpamaan itu mencapai langit. Anda tidak memperoleh suatu kemanfaatan dari AIQur'an, lalu anda mengira bahwa itu adalah sebesar-besar manfaat yang dapat diperoleh, melainkan anda masih banyak kekurangan dalam mengadakan penilaian. Tidaklah anda memperoleh hikmah dari AI-Qur'an, lalu anda menyangka bahwa apa yang anda peroleh itu adalah sari dari hikmat-hikmat yang dikandung oleh AI-Qur'an , melainkan anda masih belum sem- . puma dalam penilaian anda. Orang yang menandingi AI-Qur'an dengan syair Imrulqais adalah lebih, sesat daripada seekor keledai yang bodoh, dan lebih dungu daripada orang perempuan yang naif pikiran dan pandangannya. (Kitabnya halaman 821-322). AIbaqlani benar dalam segala ucapannya itu, hanya ia tidak 1ebih daripada menerangkan tidak terdapatnya di dalam AIQur'an hal-hal yang bertentangan, dan bersihnya AI-Qur'an dari setiap cacat dan kekeliruan yang lazim terdapat dalam kalam manusia, sekalipun kekuatan mereka teguh dan mantap , dan dari segala y~ menunjuk pada kebutaan mereka terhadap kebenaran, sekalipun akal p~ mereka terang. Demi Allah, 48

×