Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Like this? Share it with your network

Share

Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi

on

  • 1,428 views

Fenomena Al Quran (terjemah) - Prof. Dr. Malik Ben Nabi

Fenomena Al Quran (terjemah) - Prof. Dr. Malik Ben Nabi

Statistics

Views

Total Views
1,428
Views on SlideShare
1,427
Embed Views
1

Actions

Likes
1
Downloads
79
Comments
0

1 Embed 1

http://www.slideee.com 1

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Fenomena Al Quran - Malik ben Nabi Document Transcript

  • 1. t ,--~-'--_._-~--- • FENOMENA 1 AL.QUR'AN
  • 2. MALIK BIN NABI FENOMENA AL-QUR'AN Diterjemahkan oleh: SALEH MAHFOED PT ALMA'ARIF. )ALAN: TAMIlLCNJ. NO:48-50 TEJ...EP(lI.I: 5OiUl· 57177. 58332 BANOOl'lKJ
  • 3. Judul asli Dalam bahasa Perancis Le Phenomine Coranique Essai dune Oleh : theorle surte Coran Malik bin Nabi Oiterjemahkan ke dalam bahasa Arab Azh-Zhahirah-al-Qur'an Oleh : Abdus-shaboor-Shaheen Di Indonesiakan Oleh : Saleh Mahfoed Dengan judul Fenomena AI-Qur'an Risalat tentang teori mengenai AI-Qur'an Cetakan pertama Unruk penerhuan Oleh Pcnerbit Bandung - 19H3 lrahasa Indonesia P.T. Alma'arit Indonesia
  • 4. Bismillaahir Rahmaanir Rahiim, dengan nama Allah, Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Persembahan * * * * * Kepada arwah ibuku, kepada ayahku, kedua orang tua yang memberikan padaku, sejak aku dalam buaian hadiah yang sangat tinggi nilainya: hadiah iman. . Malik 5
  • 5. DAFTAR lSI Halaman PERSEMBAHAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. 5 INTRODUKSI 9 Dari penyalin 9 Dari pengarang Olch Mahmood Mohammad Shakir 57 GERBANG MASUK KE STUDI TENTANG FENOMENA AL-QUR'AN 57 FENOMENA KEAGAMAAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 79 Fenomena Agama . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 80 Aliran Materialisme 84 A1iran Metafisika 91 GERAKAN KENABIAN 95 Gerakan kenabian , . ". . . . . . . . . . . . . . . . 96 Permulaan kenabian . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 98 Pengakuan palsu . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. 101 Nabi .. .. .. .. 105 Irmia '' , ., , 106 Fenomena psikologis 108 Ciri-ciri khas kenabian 112 SUMBER-SUMBER POKOK ISLAM. . . . . . . . . . . . . . . .. 115 Sumber-sumber pokok Islam •.... ' , 116 RASULULLAH SAW. 121 Rasulullah 8 a w .• " : . . . . . . • . . . . . . .. 122 - Masa sebelum kerasulan 12.5 - Perkawinan dan isolasi ...•.........•......... ; 130 MASA PEWAHYUAN ...............•........... 139 Masa pewahyuan. 140 - Periode Makkah 14c. --: Periode Madinah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . • . . . . . .. 152' KAIFIATPEWAHYUAN •........................ 165 Kaifiat pewahyuan, '. • . . . . . . . . . . .. 166KEY AKINAN DIRINY A . . . . . . . . . . . . . . . • . . . . .. . .. fC73 Keyakinan dirinya 174 - UkuIan lahiriahnya . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 176 - UkuIan rasionalnya •......................... 18il KEDunUKAN DIRI MUHAMMAD SAW. DI DALAM FENOMENA KEWAHYUAN '.' . . .. 191 Kedudukan diri Muhammad 8,a.W. di dalam fenomena kewahyuan . . • . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. 19'1 ," r
  • 6. DAFTAR lSI Halaman PERSEMBAHAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .5 INTRODUKSI 9 Dari penyalin 9 Dari pengarang Oleh Mahmood Mohammad Shakir 57 GERBANG MASUK KE STUDI TENTANG FENOMENA AL-QUR'AN 57 FENOMENA KEAGAMAAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 79 Fenomena Agama . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 80 Aliran Materialisme 84 Aliran Metafisika 91 GERAKAN KENABIAN 95 Gerakan kenabian '. . . . . . . . . . . . . . . . . 96 Permulaan kenabian . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 98 Pengakuan pa.lsu . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. 101 Nabi .. .. .. .. 105 Irmia 106 Fenomena psikologis 108 Ciri-ciri khas kenabian 112 SUMBER-SUMBER POKOK ISLAM. . . . . . . . . . . . . . . .. 115 Sumber-sumber pokok Islam •.................•. RASULULLAH SAW. 121 Rasulullah saw •. " - . . . . . . • . . . . . . .. 122 - Masa sebelum kerasulan 12,5 Perkawinan dan isolasi ; 130 MASA PEWAHYUAN ...............•........... 139 - Masa pewahyuan 140 - Periode Makkah 14e -: Periode Madinah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . • . . . . . •. 152' KAlFIAT PEWAHYUAN • . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .165 J{aifiat pewahyuan " 166 KEY AKIN AN DIRINY A . . . . . . . . . . . . . . . • . . . • . . . .. 1'3 Keyakinan dirinya 174 - Ukuran lahiriahnya . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. 176 - Ukuran rasionalnya •............•............ 18k us KEDUOUKAN DIRI MUHAMMAD SAW. DI DALAM FENOMENA KEWAHYUAN '.' . . .. Kedudukan diri Muhammad s.a.w. di dalam fenomena kewahyuan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. 19:1 19'1 ." I
  • 7. INTRODUKSI BAH TENTANG "I'JAZUL QUR'AN" 1) oleh Mahmood Mohammad Shakir Segala puji bagi Allah yang tiada sekutu bagi-Nya, dengan pujian yang mendekatkan kami kepada keridhoan-Nya. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad yang terpilih dari keturunan kedua rasul Allah, Ibrahim dan Ismail. Shalawat yang mengiring kami ke syurga-Nya. Inilah buku: "FENOMENA AL-QUR' AN" Cukup tepat kiranya nama buku ini, sebab tidaklah adil untuk memperkenalkan sebuah kitab yang ia sendiri telah memperkenalkan isinya langsung kepada pembacanya. Nama AIUstadz Malik bin Nabi telah cukup tersohor, sehingga sulit bagi kami untuk memperkenalkan kembali sebuah buku yang ansich merupakan metode tersendiri, yang kami kira belum pernah ada hasil karya yang memadai yang diterbitkan sebelumnya. Dalam buku ini tercakup metode lengkap yang telah diinterpretasi pada penetrapan pokok-pokoknya, serta dibuktikan oleh hasrat pembacanya merenungkan segi-seginya. Kami tidak mengemukakan hal ini sebagai sanjungan kepada pengarangnya, .karena kami mengetahui dati sebuah Hadits bahwasanya ada seorang memuji seorang lain di majelis Rasulullah s.a, w. maka beliau bersabda kepadapemuji itu: "Celaka engkau! Seolah-olah telah kau potong leher temanmu ini?", hal ini dikatakan oleh beliau sampai tiga kali. Sungguh saya lebih menyayangi pengarang buku ini (Malik) daripada saya harus memotong lehernya dengan pujian, atau membinasakannya dengan sanjungan. 1) Penyalin sengaja tidak menterjemahkan kata-kata "I'jazul Qur'an", sebab kata-kata ini sudah lazim dipakai oleh para ulama sebagaiistilah, yang maksudnya: "Kejelasan dan kefasihan, serta kesempurnaan SU8unan puitia yang dikandung oleh Al-Qur'an membuat lawan-lawannya, yaitu kaum musyrikin; tidak berdaya· untuk menandinginya, PIldahal mereka adalah pujang'p·pujangga sya'ir, sajak, puisi dan prosa. Ketidak mampuan mereka itu adalah bukti nyata bahwa Al-Qur'an bukan huil karangan manusia, melainkan KaIamTu~ru semeeta aIam".
  • 8. Dan saya kira, sayalah orang yang paling mengetahui tentang pentingnya buku ini, karen a penulis telah menulis dengan keterangan sebab-sebab yang jelas untuk satu tujuan yang pasti. Aku telah ditempa oleh cobaan-cobaan yang berat dalam waktu yang lama, setelah aku melalui jalan-jalan yang seram dan menakutkan, aku telah sadar akan sebah-sebab yang mendorong pengarang buku ini mengambil suatu metode tertentu dalam penulisannya sampai aku menghayati tujuan yang dikehendakinya. Aku telah membaca buku ini dan mendalaminya. Malta setiap kali aku membaca satu bab daripadanya, aku .mendapatkan diriku laksana seorang yang berjalan di lorong yang sudah lama aku mengenalnya, sehingga terbayang padaku bahwa Malik tidak mengarang bukuini, melainkan setelah ia jatuh ke dalam cobaan-coba8n seperti yang aku alami sebelumnya, kemudian ia dibangunkan oleh Allah dari kejatuhannya dengan jalan hidayah. Malta jalan kepada aliran yang benar itulah yang dihimpun dalam bukunya, antara lain; pengukuhan dalil-dalil tentang I'jazul Qur'an, bahwasanya Al-Qur'an adalah kitab yang diturunkan oleh Tuhan yang mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi di langit dan di bumi, bahwasanya penyampainya kepada manusia adalah seorang Rasul yang benar, yang menyampaikan apa yang diperintahkan oleh Tuhannya untuk disampaikannya; bahwasanya antara Rasul yang menyampaikan dan Kalamullah yq disampaikan itu terdapat pagar pemisah; bahwasanya pagar pemisah antara Al-Qur'an dan penyampajnya adalah rialitas yang jelas, tidak dapat disalahkan oleh orang yang mempelajari seraya mendalami dan merenungi perikehidupan Rasulullah dengan akal pikiran yang sadar, tidak lengah. Metode yang ditempuh oleh Malik ini, adalah metode yang dasar-dasamya bersumber dari renungan yang lama sekali tentang tabiat jiwa insani; tentang naluri beragama dalam fitrah manusia, dan tentang sejarah aliran-aliran dan kepercayaankepercayaan yang kadang-kadang melukiskan antagonisme, akan tetapi dalam pada itu mengungkapkan pula rasa beragama pada setiap insan, kemudian ia memperoleh kebenaran dari penyelidikan yangterus-menerus tentang sejarah kenabian dan ciri-cirinya serta perikehidupan Rasulullah sejak kecilnya sampai ia wafat. Selanjutnya tentang penyampaiannya, yang menjadi dalil atas kebenaran apa yang disampailw itu bahwa4J8JlyaKalamullah berbeda jauh dati kalam' manusia di segala 10
  • 9. seginya. Dari sela-sela metode ini nampak pada anda cobaan yang pemah diderita oleh Malik, seperti yang pemah saya alami, dan seperti pula yang diderita oleh segenerasi muslim dalam abad ini. Cobaan yang diderita oleh Malik bahkan nampak di hadapan anda pada bab "Gerbang masuk ke studi tentang Fenomena AIQur'an" yang merupakan bab pembukaan bukunya ini dimana Malik melukiskan kepada anda problem generasi muda terpelajlU'muslim pada masa ini, serta kesukaran yang telah dan sedang dialami oleh generasi ini untuk dapat memahami soal "I'jazul Qur'an" dengan pengertian yang dapat memberi mereka kepuasan dan ketenteraman hati. Selanjutnya soal aka! pikiran modem yang juga menjadi pembahasan dalam buku ini, oleh generasi muda muslim dijadikan alat "berpikir" primer untuk mencapai penyelesaian soal I'jazul Qur'an dalil-dalil yang dapat memberikan kepuasan dan ketenteraman hati; rasio atau a.kal inilah sebenarnya inti pro. blem, sebab akal adalah anugerah Allah kepada setiap mahluk insani. Akan tetapi cara-cara menggunakan pikiran harus dihasilkan dari pengalaman, dan diperoleh dari hasil penjajakan dan penyelidikan, dari hasil pendidikan (education) dan ketrampilan serta dari hasil beribu-ribu pengalaman yang dialami oleh seseorang dalam hidupnya di atas bumi ini. Maka sudah selayaknya bagi kita, sebe1um menulis segala sesuatunya, memperhatikan kedudukan aka! yang menentukan pada kita jalan serta metode dalam setiap studi dengan cara yang benar, yang kita ingin mengemukakannya hingga orang tentram dan puas dengannya. Sejak permulaan Islam, tentara muslimin telah berjuang di medan-medan perang di semua penjuru bumi, dan besertanya telah berjuang pula "rasio" Islam dalam pertempuran lebih dahsyat daripada perang fisik, dimana saja insan muslim menancapkan kakinya. Dalam peperangan-peperangan itu sendi-sendi berbagai negara yang diperangi. telah berjatuhan di bawah kaki tentara yang menang itu dan bersamaan dengan itu berantakanlah sendi-sendi peradaban yang beraneka ragam di bawah sinar cahaya rasio muslim yang memperoleh kemenangan. Pertempuran-pertempuran itu sampai berabad-abad lamanya berkecamuk secara terus-menerus di semua lapangan, baik di medanmedan peperangan, maupun di lapangan-lapangan peradaban dan kebudayaan. Bangkitlah sementara itu peradaban Barat, kemudian bergerak maiu dengan segala macam seniata yang dimilikinya, 11
  • 10. untuk metancarkan serangan terhadap jantung dunia Islam di medan pertempuran yang terbesar dalam sejarah Islam dan sejarah mereka. Perang yang dilanearkan ini tak seorangpun dapat mengetahui taktiknya dan lapangannya selain umat Islam sendiri. Tak seorang pun yang mengusut bekas-bekasnya pengaruh dari jejak umat Islam, dan tak seorang pun memiliki kemampuan untuk mempelajarinya mau menyatakan kesediaannya untuk melakukan studi tentang perang yang dilanearkan itu dari segala seginya. Saya tidak mengatakan bahwa, saya akan membahasnya di sini, akan tetapi hanya akan menunjukkan sebagian keeil saja daripadanya, mudah-mudahan dapat diambil manfaatnya oleh pembaca buku ini, bila ia bemiat dengan sungguh-sungguh akan mempelajari hal tersebut dalam suatu studi yang dilakukan dengan sangat teliti. Pertempuran bam yang berlangsung antara dunia Kristen barat dan dunia Islam tidak terjadi di satu medan dan lapangan saja, melainkan di beberapa lapangan; yakni di medan peperangan dan di lapangan kebudayaan dan peradaban. Adapun di medanpeperangan fisik dunia Islam telah meletakkan senjata, menyerah kalah, sebagai kenyataan yang telah diketahui, akan tetapi di medan perang kebudayaan dan peradaban, pertempuran berkesinambungan, generasi demi generasi, tahun demi tahun, bahkan hari demi hari. Dari kedua peperangan di atas, perang yang terahir inilah yang paling dahsyat, dan paling jauh akibatnya serta paling berat kerusakannya bagi kehidupan Islam dan rasio Islam. Dalam medan peperangan ini, musuh kita mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Musuh mengetahui bahwa peperangan ini merupakan yang menentukan antara kita dan dia. Dia mengetahui hal-hal yang tersembunyi dari siasat peperangan yang kita tidak mengetahuinya. Dia mengetahui rahasia-rahasia dan sarana-sarananya, yang kita tidak ketahui. Dia mengenal medanmedannya yang kita tidak mengenalnya. Dia membuat persenjataan untuk peperangan ini yang kita tidak mampu membuatnya. Dia meneari bermacam-maeam sebab dan alasan yang menjurus ke kebinasaan kita, sedang kita tidak memberikan perhatian padanya dan tidak memperdulikannya. Posisi musuh yang demikian ini ditunjang dan diperkuat oleh kekalahan yang diderita oleh negeri-negeri Islam di semua bidang kehidupan, sehingga musuh menguasai politik, ekonomi dan pers negerinegeri Islam, hal mana berarti telah jatuh pula ke tangan musuh,
  • 11. penentuan arab sepenuhnya dalam kehidupan Islam dan rasio atau alam pikiran Islam. Adapun pertempuran-pertempuran di medan kebudayaan dan pikiran (rasio) tidak terhitung banyaknya, dan perang ini melanda di segenap aspek kehidupan masyarakat Islam secara menyeluruh, dalam bidang-bidang kehiduparmya, pendidikannya, tata ekonominya, cara berfikirnya, aqidahnya, tata kesopanannya, ilmu pengetahuannya, sosial politiknya, bahkan semua yang menyangkut peri kehidupan sosial, yang dikenal oleh manusia sejak ia berada di atas bumi ini. Dalam melancarkan pertempuran di medan perang kebudayaan dan pikiran ini siasat-siasat yang digunakan oleh musuh tak terhitung banyak macam ragamnya, sebab taktik melancarkan serangan ini herubah-ubah dan berganti-ganti sesuai dengan kondisi dan situasi medan. Senjata yang digunakan oleh musuh dalam peperangan ini adalah senjata-senjata yang sangat halus (dibanding dengan senjata-senjata perang fisik), sebab akal dan pikiran orang-orang yang intelek membentuk inteligensinya pada setiap waktu dan keadaan. Ia menerima bentuk inteligensinya dengan jalan pendidikan, studi, pergaulan, sedang hal ini diperoleh dengan jalan keakraban yang berlangsung lama, serta penampilan yang berkesinambungan dengan jalan tipu muslihat yang halus, perdebatan yang menyesatkan, dengan berlaku ria' (mengambil muka) secara membungkam mengumpankan hawa nafsu, pendek kata dengan penggunaan segalamacam tipu muslihat yang bekerja aktip untuk menghancurkan bangunan hidup yang ada, agar musuh berhasil mendirikan di atas puing-puing bangunan yang hancur itu, bangunan menurut kehendaknya dan sesuai dengan harapannya. Maka terjadilah apa yang dikehendaki Allah, terjadinya kekalahan dunia Islam beruntun-untun di medan perang kebudayaan dan pikiran, generasi denu generasi. Dan sebagaimana pertempuran-pertempuran itu berkecamuk secara terus-menerus, secara diam-diam dan tersembunyi, hingga masa kini hal itu tanpa dipelajari oleh pemimpin-pemimpin dan tentara Islam. Begitulah pula pertempuran di medan perang kebudayaan tetap berlangsung secara samar-samar dan halustanpa dipelajari oleh pemimpin-pemimpin dan tokoh-tokoh kebudayaan dan peradaban Islam, bahkan telah terjadi lebih dari itu, yakni bahwa 13
  • 12. kebanyakan tokoh-tokoh dan barisan laskar kebl1dayaan dan peradaban Islam telah menjadi pengikut kebudayaan musuh, mengikuti apa yang diperintahkan kepada mereka oleh tokohtokoh musuh, sehingga dengan demikian mereka sadar atau tidak, telah berobah menjadi musuh-musuh akal pikiran Islam pada saat mereka masih menganggap diri mereka pengikut aliran pikiran Islam, bahkan mereka kadang-kadang membela aliran ini baik karena kecemburuan atau karena keikhlasan. Bukanlah tujuan musuh mempertentangkan kebudayaan dengan kebudayaan, atau memerangi kesesatan dengan keluhuran hidayah, atau memukul kebathilan dengan kebenaran, atau faktor kelemahan dengan faktor-faktor kekuatan, akan tetapi maksud dan tujuannya semata-mata ialah melemahkan umat Islam, dengan jalan meninggalkan kebudayaan dunia Islam suatu penderitaan luka serta pelumpuhan yang tak dapat bangun lagi, kemudian mendirikan di segenap penjuru alam Islami akal pikiran yang tidak dapat memahami sesuatu selain apa yang dikehendaki oleh musuh; tidak pula dapat mengerti sesuatu, selainapa yang dikehendaki oleh musuh; dan tidak dapat memaklumi sesuatu selainapa yang dikehendaki oleh musuh. Maka -kejahatan musuh dalam aksi penghancuran yang ia lakukan terh,adap sesuatu peradaban insani yang terbesar yang pemah dikenal oleh sejarahmanusia sampai hari ini sarna dengan kejahatannya dalam perang penghancuran yang ia Iancarkan terhadap negeri-negeri Islam. Jadilah apa yang dikehendaki Allah untuk terjadi, dan berhasillah musuh memperoleh kemenangan atas kita sebagai yang sudah semestinya dan yang ia kehendaki. Dalam bab "Gerbang masuk studi tentang fenomena AIQur'an, Malik telah memaparkan bencana "Akal pikiran" modem yang melanda dunia Islam dan yang disebarkan oleh praktek jahil musuh-musuh Islam, dengan menggunakan senjata yang paling ampuh dari segi-segi terpenting peradaban Islam, yakni senjata "Orientalisme", suatu senjata yang belum pemah diselidiki bahayanya oleh kaum muslimin, dan belum pemah pula dipelajari sejarahnya, tipu muslihatnya, serta penyesatannya. Lagi pula belum pemah diadakan penelaahan terhadap rahasiarahasia senjata itu, juga belum pemah diadakan penjafakan terhadap jejak-jejak yang ditinggalkan olehnya, pada segi-segi kehidupan intelektual mereka, bahkan bahaya senjata terse but sudah merambat sampai pada kehidupan insani mereka. Bagaimana caranya? Lihat! Bahaya orientalisme mendatangkan apa 14 •
  • 13. yang sebenarnya tidak boleh terjadi dalam dunia Islam. Kaum inteligensia Islam begitu saja menerima sebagai pelajaran apa yang diberikan oleh para orientalis. Kaum intelektual itu meneIan begitu saja apa yang diajarkan oleh profesor-profesor orientalis sebagai suatu ilmu yang harus diterima sebagai kebenaran dan sebagai edukasi yang harus dimiliki, serta sebagai teori dan pandangan yang harus dijadikan pangkal bertolak pikirannya. Dalam hubungan ini Malik berkata: "Pekerjaan kaum orientalis dalam bidang edukasi sedemikian kuat penyinarannya, sehingga kita silau, tidak lagi dapat menggambarkannya, sebab ia telah memadati semua segi kehidupan kita, baik yang menyangkut sejarah kita, sosial politik kita, maupun yang mengenai aqidah kita, isi kitab dan buku kita, juga yang menyangkut agama dan moral kita, bahkan segala hal ihwal kita. Tidak seorang pun dapat menggambarkan bahwa "Penyinaran" (istiIah yang dipakai oleh Malik) ini adalah hal yang paling berbahaya terhadap alam pikiran modem, yang berhasrat mencari dalil dan bukti tentang kebenaran "I'jazul Qur'an"· secara memuaskan pan menentramkan hati. Hal ini pulalah yang menamakan skeptisisme (sikap ragu) terhadap dasar-dasar lama yang menjadi tulang punggung dalil-dalil tentang kebenaran "I'jazul Qur'an". Penyinaran ini membawa cara-cara yang dilakukan dengan penuh kecerdikan dan sangat samar-samar dalam mengerjalaln taktik penghancuran metode yang benar, yang harus digunakan oleh siapa saja yang berhasrat mempelajari naskah edukatifnya, sehingga dengan demikian, ia dapat menetapkan pendapatnya benar atau tidaknya naskah itu, selain ia akan menemukan keindahan bahasanya dan I'jazulnya. Dalam bab "Gerbang masuk studi tentang I'jazul Qur'an, Malik membawakan persoalan yang aneh itu, yang terkenal dengan sebutan "Sya'ir pra Islam", yang oleh orientalist Margelyouth dijadikan bahan untuk mengabarkan persoalan ini, di beherapa majalah kaum orientalist, kemudian diungkapkan secara luas oleh Dr. Toha Hasain Mahaguru di Universitas Mesir pada Fakultas Sastra dalam bukunya tentang syair pra Islam. Di sini saya tidak akan mengulangi menerangkan soal persengketaan yang berkobar ketika itu, tentang isi kitab "Sya'ir pra Islam" itu, akan tetapi saya hanya akan menyebutkan apa yang disebutkan oleh Malik bahwa persoalan ini dengan segala dalildali1 dan metode-metodenya, teIah meninggalkan hekas pada rasio dunia Islam yang tidak dapat dihapuskan, mfi!lainkansetelab melalui pekerjaan yang sangat berat, yang mengherankan 15
  • 14. bahwa Margelyouth dalam pembahasannya telah membawakan banyak kepalsuan; Kepalsuan ini kemudian menjadi dasar pembangunan akal pikiran modem. Beratus-ratus ahli pikir telah berusaha memalsu dalil-dalil dan metode-metode, tetapi kepalsuan Margelyouth ini tetap merupakan ciri khusus, dari segala yang disiarkan oleh para pengajar dan guru-guru sampai pada masa sekarang ini. JanganJab anda menghukum Margelyouth dan kawan-kawannya menurut pendapat dan pandangan anda, melainkan serahkanlah soal vonis ini kepada seorang orientalist lain, yang bernama Arbary yang mengatakan pada penghujung bukunya yang berjudul: "Tujuh sya'ir-sya'ir pilihan pra Islam" Ia mensitir perkataan-perkataan Margelyouth, dan kemudian mengatakan bahwasanya sophisme dan saya akan menamakannya: "penipuan" dalam beberapa dalil, yang dibawakan oleh Prof. Margelyouth. Soal yang jelas sekali "tidaklah layak samasekali bagi siapapun, apalagi bagi seorang tokoh paling besar di masanya, seperti Prof. Margelyouth". Ini adalah suatu vonis yang paling berat, tidak saja terhadap Margelyouth, melainkan juga terhadap pikiran-pikiran rusak yang mereka bawa. Akan tetapi yang lebih mengherankan lagi ialah bahwa Malik telah berpijak atas teori ini dalam pembahasannya dan yang telah meninggalkan bekas terhadap pikiran modern, dan kemudian ia sampai pada kesimpulan lain. Ia berkata; "Berdasarkan ini maka luas problem sebagaimana sekarang ini telah melampaui ruang lingkup kesusasteraan dan sejarah, ia secara langsung menjadi kepentingan berbagai metode lama tentang penafsiran AI. Qur'an. Ia adalah suatu metode yang berdiri atas perbandingan antar gaya-gaya bahasa dengan bersendi pada gaya Sya'ir pra Islam (jahiliah) yang harus diterimanya sebagai suatu realitas yang tidak dapat lagi didiskusikan dalam keadaan bagaimanapun jua, Oleh sebab itu adalah mungkin problem ini, menjadi persoalan sesuai dengan perkembangan baru dalam pikiran Islam, tetapi dalam bentuk tidak terlalu revolusioner. Maka wajarlah bahwa metode lama tentang penafsiran Al-Qur'an haruB mengalami perobahan dengan cara yang bijaksana dan pertimbangan matang, agar dapat disesuaikandengan jalannya pikiran-pikiran modem. Selanjutnya Malik berkata: "I'jazul Qur'an sampai sekarang berdiri atas dasar bukti ySllg jelas tentang keluhuran KalamuUah eli atas semua kalam manusia, maka bersendinya metode penaf. sinn Al-Qur'an pada studi gaya bahasa, ialah tidak lain hanya 16
  • 15. untuk memberi dasar rasional terhadap I'jazul Qur'an. Sekiranya kita menerapkan kesimpulan-kesimpulan yang diambil oleh Margelyouth pasti dasar tersebut di atas akan berantakan samasekali, dengan ini problem penafsiran AI-Qur'an telah ditempatkan di atas dasar terpenting sesuai dengan aqidah muslim, yakni kebenaran dalil mengenai I'jazul Qur'an menurut pandangannya". Malik kemudian meneruskan thesisnya sampai kepada kesimpulan sebagai berikut: "Sesungguhnya tidak terdapat seorang muslim, terutama di negeri-negeri non Arab dapat membandingkan suatu ayat Qur'an dengan suatu versi atau suatu bait sya'ir Arab atau dengan kesusasteraan pra Islam. Soalnya ialah bahwa kita sejak waktu lama sudah tidak memiliki rasa kelezatan dalam merasakan balaghah atau keindahan bahasa Arab untuk dapat menggunakannya mengambil kesimpulan dari hasil perbandingan secara adil dan bijaksana". . Saya ingin mendiskusikan thesis ini agar saya dapat membantu pembaca dalam menempatkan kitab fenomena AI-Qur'an pada tempat yang wajar baginya, sehingga menjadi jelas bagi pembaca tanda-tanda jalan yang dilaluinya, ketika ia membaca kitab ini, sehingga ia memperoleh dalil-dalil dan bukti-bukti yang dibawakan, kemampuan untuk membuat dasar bagi akidahnya dan kepercayaannya. Saya tidak mengetahui apa yang mendorong Malik membuat thesis tentang asal dan metode lama mengenai penafsiran AIQur'an dalam hubungan ini. Perbuatannya ini adalah penerjangan terhadap ilmu-ilmu Islam yang berdiri sendiri, tidak menyentuh teori Margelyouth dari dekat maupun dari jauh. Adapun ilmu tafsir Qur'an seperti yang disusun oleh ulamaulama lama sekali-kali tidak berdiri atas perbandingan-perbandingan gaya bahasa yang bersendi pada puisi pra Islam ataupun puisi bukan pra Islam. Jadi apabila kita hendak memasukkan perobahan pada sistim tafsir lama maka perobahan itu tidak ada hubungannya dengan puisi pra Islam, tiada dari sudut keraguan akan kebenarannya dan tiada dari segi perbandingan antara gaya bahasa pra Islam dan gaya bahasa AI-Qur'an. Apa yang dilakukan oleh ulama ahli tafsir lama dalam menyebut-nyebut gaya bahasa pra Islam dalam kitab-kitab tafsir mereka, tidak lain hanya untuk mengambil dalil daripadanya mengenai huruf potongan, atau penjelasan khusus dari kekhususan-kekhususan ta'bir Arab, seperti mendahulukan atau membelakangkan, atau 17
  • 16. menghapuskan dan lain sebagainya. Untuk hal seperti ini dapat saja dipakai sebagai dalil baik puisi pra Islam sebagaimana baik jugalpuisi IIslam. Tujuan tafsir Qur'an ialah sebagai yang patut diketahui ialah penjelasan tentang arti lafazh-lafazhnya, baik secara tersendiri-tersendiri atau sebagai kalimat, dan petunjuk iafazh-lafazh dan kalimat menurut ilmu nahwunya, baik mengenai ayat-ayat pengkhabaran, atau ayat-ayat kisah dan ayat-ayat hukum, dan semua yang meliputi ayat-ayat Qur'an. Dan hal ini tidak mempunyai hubungan dengan I'jazul Qur'an. Adapun soal yang berhubungan dengan soal puisi pra Islam atau dengan perkara-perkara puisi semuanya dan yang berkaitan dengan gaya-gaya bahasa pra Islam dan lain-lainnya, dan dengan gaya-gaya bahasa pra Islam dan lain-lainnya, dan dengan gayagaya bahasa Arab dan bukan Arab, dan membandingkannya dengan gaya bahasa Qur'an, itulah yang dinamakan ilmu I'jazul Qur'an, kemudian ilmu "Balaghah" (Ilmu yang membahas gaya dan keindahan bahasa), dan tidak dapat tidak bagi orang yang membicarakan soal I'jazul Qur'an untuk mengetahui dengan jelas dan kenyataan benar sebelum membicarakan soal ini. Ia harus dapat memisahkan antara keduanya dengan sejelasjelasnya tanpa keraguan, dan hendaklah ia membedakan sedalam-dalamnya antara hal yang bersamaan dari keduanya. Pertama: bahwasanya I'jazul Qur'an, seperti yang ditunjukkan oleh lafazh dan sejarahnya merupakan da1il Nabi s.a.w. tentang kebenaran kenabiannya, bahwa ia adalah pesuruh yang diutus oleh Allah bahwa kepadanya diwahyukan Al-Qur'an ini dan bahwa Nabi s.a.w, telah mengerti soal I'jazul Qur'an seperti yang diketahui oleh mereka yang beriman kepadanya dari seluruh bangsa Arab dan sesungguhnya tantangan sebagai yang termuat dalam ayat-ayat penantang seperti antara lain firman Allah dalam surat Hud ayat 13/14 yang terjemahannya dalam bahasa Indonesia sebagai berikut: "Atau mereka mengatakan; Dialah yang mengada-adakan itu, Katakan kepada mereka; Kemukakanlah sepuluh surat seumpama yang diadakan itu, dan panggillah orang yang mungkin kamu - dapatkan bantuannya - selain dari Tuhan, kaJau kamu memang orang-orang yang benar, dan kalau mereka tidak memperkenankan kamu, ketahuilah bahwa -Al-Qur'an - itu diturunkan dengan pengetahuan Tuhan, dan tidak ada Tuhan selain daripada-Nya, maukah kamu menjadi orang-orang yang patuh?" dan firman Allah dalam surat AlIsra' ayat 88, yang terjemahannya dalam bahasa Indonesia sebagai berikut: "katakan, sesungguhnya kalau manusia dan jin 18
  • 17. itu berkumpul untuk mengadakan yang serupa Qur'an ini, niscaya tiadalah mereka dapat membuat serupa dengan (Qur'an) itu, biar pun mereka saling bantu-membantu ~ Penantangan ayat-ayat tersebut hanya menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan lafazh AI-Qur'an, gaya puitisnya, dan kejelasannya, lain tidak. Maka ia bukanlah tantangan yang menyangkut ilmu gaib yang tersembunyi, dan tidak menyangkut hal-hal yang gaib yang kebenarannya baru datang sesudah masa yang lama setelah diturunkan AI-Qur'an, dan tidak pula menyangkut suatu ilmu yang tidak dijangkau oleh ilmu orangorang bangsa Arab yang diajak bicara oleh Al-Qur'an, atau tantangan yang menyangkut suatu apa pun yang tidak mempunyai sangkut-paut dengan puisi dan balaghah. Yang kedua: bahwasanya pengokohan dalil kenabian dan kebenaran dalil tentang benamya wahyu dan sesungguhnya AlQur'an diturunkan dari sisi Allah, sebagaimana diturunkan Taurat, Injll dan Zabur dan lainnya dari kitab-kitab Allah, kesemuanya itu tidak menunjuk kepada fakta bahwasanya AlQur'an itu beri'jaz, dan saya kira tidak ada seorang pun dapat mengatakan bahwasanya Taurat, Injll dan Zabur adalah kitabkitab yang beri'jaz, dalam arti yang sesuai dengan makna yang telah dikenal mengenai I'jazul Qur'an hanya karena kitab-kitab itu diturunkan dari sisi Allah. Adalah terang bahwa bangsa Arab telah dituntut untuk mengenali bukti kenabian Rasulullah dan mengenali bukti kebenaran wahyu yang diturunkan kepadanya. Yah, mereka dituntut mengenali itu semua hanya dengan jalan mendengarkan Al-Qur'an itu sendiri, tidak dengan jalan perbantahan yang disampaikan kepada mereka, sampai mereka terpaksa menerima bukti jelas tentang ke-ESAAN ALLAH, atau tentang kebenaran kenabiannya juga tidak dengan jalan suatu mu'jizat sebagai yang diberikan kepada para Nabi sebelumnya, yang denpnnya manusia dapat beriman. Allah telah menerangkan dalam Al-Qur'an, dalam banyak ayat, bahwa mendengarkan Al-Qur'an pasti membawa mereka kepada keharusan mengetahui perbedaannya apa yang mereka dengarkan itu dengan kalammereka, dan bahwa kalam yang mereka dengarkan itu sekali-kali bukan kalam manusia, melainkan Kalam Tuhan semesta alam, Oleh karena itu, datanglah perintah Allah kepada Rasul s.a.w. 19
  • 18. ".'"ft..,.",.",./.,,, *u~ '1 r"; '1 : ~~l J.,I ~~.~..i .........•..... _",...,.".1 ~t ~I ' "",. ;:.: .... r)t! JJI ) "Dan jika salahseorangdari orang-orang musyrik itu meminta perlindungan kepada engkau, berilab perlin dungan sampai mereka mendengar Kalam Allah, kemudian sampaikanlah mereka ke tempat yang aman untuknya, hal itu disebabhan mereka itu kaum yang tidak mengetahui". (Surat At-Taubat ayat 6). Maka AI-Qur'an yang mengi'jazkan ini, ialah bukti yang tidak dapat ditentang atas kebenarannya, terhadap kenabian RasuI Allah, dan sebaliknya, yakni bukanlah kebenaran kenabian itu yang menjadi bukti atas keabsahan I'jazul Qur'an. Maka pengacauan dan pencampuradukan antara kedua realitas ini, dan pengabaian untuk memisahkan kedua realitas tersebut dalam menyesuaikan pendapat, serta dalam studi tentang I'jazul Qur'an, telah mengakibatkan penyampuradukan yang sangat da1am tentang studi ini, pada waktu dulu mau pun sekarang. Kehancuran dalam hal ini telah membawa kepada kemunduran dalam mempelajari ilmu I'jazul Qur'an dan ilmu balaghah (ilmu tentangkeindahan bahasa), yang semestinya dapat menyampaikan kepada maksud studi itu, Maka baik kiranya kalau saya sekarang menyisihkan halhal yang mungkin dapat mengaburkan pandangan pembaca kitab fenomena AI-Qur'an ini, agar ia tidak terjerumus di dalamnya. Dalam bab "Gerbang masuk ke studi tentang fenomena AI-Qur'an" dan dalam beberapa bab Iainnya, terdapat hal-hal yang memberi kesan kepada pembaca bahwa maksudmaksud menetapkan kaidah-kaidah tentang ilmu I'jazul Qur'an bahwa, itulah yang dimaksud dengan "I'jaz'~ Faham yang demikian ini adalah keliru. Sebenarnya metode Malik dalam menulis kitabnya adalah bukti yang sejelas-jelasnyabahwa/ ia hauya membuktikan kemantapan kebenaran kenabian, dan benarnya dalil tentang wahyu dan sesungguhnya AI-Qur'an adalah kitab yang diturunkan dari sisi Allah, bahwa AI-Qur'an Kalam Allah bukan kalam manusia. Ini semua bukanlah I'jazul Qur'an, seperti yang dikatakan di atas, melainkan ia Iebih dekat uhtuk suatu bab tentang ilmu Tauhid (Ke-Esaan Tuhan), dan dengan ini Malik telah berhasil mencapai tujuan yang jauh, yang tidak dicapai oleh kitab-kitab ulama baru dan lama. Maka semo20
  • 19. ga Allah dan Rasul-Nya memberikan ganjaran sebaik-baik ganjaran. Adapun masalah "I'jazul Qur'an" tetap berada di luar pembahasan kitab ini. Masalahini menurut hemat saya adalah masalah yang paling sulit yang dapat dicerna oleh "Akal modem", meskipun akal sudah berhasil menghunjamkan tiang-tiang pengokoh bangunan iman tentang kebenaran kenabian Rasulullah s.a.w., tentang kebenaran turunnya Al:Qur'an. Masalahdi atas merupakan juga masalah yang berkaitan erat dengan persoalan "Sya'ir pra Islam" dan berkaitan erat pula dengan tipu muslihat yang halus, samar-samar yang meliputi masalah ini. Bahkan kaitan yang erat itu tak dapat ditembus lagi dengan peradaban dan edukasi kita semua, dan dengan cobaan yang menimpa bangsa Arab dalam semua bidang ilmu, dan dalam menetapkan jalan yang kosong dalam setiap kebajikan dalam memberikan pelajaran bahasa dan kesusasteraan. Bahkan pula ia meliputi yang lebih luas lagi, yakni ia meliputi pembinaan manusia Arab atau manusia muslim, dari segi ia sebagai seorang insan yang mampu merasakan kelezatan dan keindahan dalam bentuk lahir dan pikiran. Adapun ma'rifat tentang arti I'jazul Qur'an, apakah dan bagaimanakah ia, adalah soal yang harus dimiliki oleh seorang muslim yang berpendidikan. Persoalan iniadalah lebih agung daripada sekedar membicarakannya tanpa mene1iti akan maknanya, dan mendalami sejarahnya, serta mengikuti ayat-ayat yang menunjuk pada hakekatnya. Saya tidak mengatakan bahwa saya akan membahasnya di sini secara mendalam, akan tetapi saya dengan memohon pertolongan Allah, akan membawakan sekelumit tentang ma'rifat - makna I'jazul Qur'an. Kejadiannya: Ketika wahyu pertama datang kepada RasuIullah yang sedang beribadah di gua Hira. Berkatalah Jibril: " Bacalah" yang dijawab oleh Rasulullah "Aku tidak pandai membaca". Maka terulang kata Jibril dua tiga kali "Bacalah" • dan terulang pula jawaban "Aku tidak pandai membaca", sampai Jibril mengatakan kepadanya; 21
  • 20. 0_ : 0-LJ1 ) "Bacalah dengan nama Tuhanmu, yang menjadikan, yang menjadikan manusia dari segumpai darah. Bacalah, dan Tuhanmu itu Maha Pemurah yang mengajarkan dengan pena. Mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya". Rasulullah segera pulang ke rumahnya, badannya menggigil dan jantungnya berdebar-debar. Ia masuk menghampiri istrinya (Khadijah) sambil berkata; "Selimutilah aku, selimutilah aku! "Maka ditutupnya badannya dengan selimut, hingga rasa ketakutannya dan kecemasannya hilang". Soalnya beliau telah menerima suatu tugas, yang ia tidak sanggup memikulnya. Beliau mendengar kata-kata yang tidak pemah didengar sebelumnya seperti kata-kata yang beliau dengar itu, Nabi Muhammad adalah seorang Arab asli, beliau mengerti bahasa Arab, sebagaimana bangsa Arab mengertinya, serta menolak kata-kata yang bertentangan dengan kefasihan bahasa, sebagaimana orang-orang Arab lain menolaknya. Maka ketakutan yang mencekamnya itu tidak lain, melainkan perasaan pertama yang pemah dialami sejarah manusia disebabkan perbedaan apa yang ia dengar itu, dengan apa yang ia selalu mendengar dati bahasa kaumnya, dari bahasa yang ia kuasai (bahasa Arab fasih). Kemudian wahyu turun berturut-turut, Rasulullah disuruh oleh Tuhan-Nya agar ia membacakan kepada manusia apa yang diturunkan kepadanya, secara berangsur-angsur. Beliau mengundang beberapa orang dati sanak keluarga-Nya dan kaum-Nya untuk membacakan kepada mereka wahyu yang turun. Nabi tidak memaksakan diskusi dengan kaumnya, baik dengan membawakan suatu bukti lahir yang jelas, maupun dengan apa yang diturunkan kepadanya, sampai mereka mau berimanbahwa tiada Tuhan selain Allah, bahwa beliau seorang Nabi, pesuruh Allah. Tidak! Apa yang dilakukan oleh Nabi hanya meminta kepada kaumnya agar mereka, suka percaya pada apa yang mereka diajak untuk mempercayainya, dan agar mereka mengetahui beliau sebagai Nabi. Nabi melakukan da'wahnya itu hanya menggunakan satu bukti saja, yakni: Al-Qur'an yang dibacakan ayat-ayatnya kepada mereka. Sungguh tidak akan ada artinya, permintaan Nabi kepada kaumnya agar mereka suka beriman kepada Allah dan suka mengakui kenabiannya, hanya dengan sekedar membacakan semata-mata, akan tetapi yang memberi bobot kepada da'wahnya; ialah bahwa yang dibacakan kepada mereka itu ansich telah merupakan bukti yang nyata, bukti bahwa apa yang diba- 22
  • 21. cakan itu bukan kata-kata Nabi dan bukan perkataan manusia. Juga tidak akan ada artinya apa yang Nabi bacakan itu, kecuali apabila pendengar-pendengarnya dengan selintas-pintas mampu membedakan dengan jelas dan terang antara perkataan-perkataan manusia dan perkataan yang tidak sama dengan perkataan manusia. Al-Qur'an diturunkan kepada Nabi secara teratur, dan yang turun kepadanya pada permulaan kerasulannya hanya sedikit saja, sebagaimana anda mengetahui (dari sejarah). Maka yang sedikit dari ayat-ayat yang diturunkan kepadanya itu, itulah yang menjadi bukti satu-satunya atas kenabiannya. Maka tersimpullah bahwa ayat-ayat yang terbilang tidak besar yang diwahyukan kepadanya, pada permulaan kerasulannya itu - ayat-ayat yang kemudian bertambah. besar jumlahnya sehingga pada akhimya terhimpun menjadi Al-Qur'an yang lengkap, seperti yang kita baca sekarang ini, nyatalah bahwa ayat-ayat yang pada permulaannya hanya sedikit yang diturunkan, dan yang sedikit pula makna-makna yang dikandungnya, telah mengandung bukti yang terang dan jelas lagi perkasa, bahwa sekali-kali bukan hasil kalam manusia. Dari bukti ini lahirlah pembaca ayat-ayat, kepada pendengar-pendengarnya sedang ia seorang manusia seperti para pendengarnya, justru ia adalah benar-benar seorang Nabi, diutus oleh Allah. Bila hal di atas itu benar, dan ia memang demikian, tiadalah keraguan padanya, maka benarlah apa yang kami katakan di atas bahwa ayat-ayat yang pada permulaannya, turun dalam jumlah yang sedikit kemudian turun menjadi jumlah yang besar, sampai terhimpun menjadi Qur'an lengkap. Sewaktu dibacakan kepada pendengar-pendengarnya dari bangsa Arab, menunjukkan suatu kenyataan bahwa kalam yang dibacakan oleh Nabi itu berbeda dengan kalam manusia hanya dari satu segi, yakni segi kejelasannya dan susunan kata-katanya. Apabila benar bahwa ayat-ayat Qur'an yang sedikit jumlahnya, (pada permulaan turunnya) dan jumlah yang besar (yang turun kemudian), SaDU1 saj~ dalam segi ini, maka jelaslah bahwa apa yang terdapat di dalam Al-Qur'an, dari sejarah pengkhabaran tentang umat-umat yang terdahulu, tentang berita-berita gaib, tentang ketentuan-ketentuan yang mantap mengenai hukum dan tentang hal-hal yangmenakjubkan yang tidak pemah diketahui oleh manusia seperti rahasia-rahasia alam yang maknanya, tidak dapat dipecahkan, kecuali setelah berlalu beberapa abad dari turunnya ayat-ayat bersangkutan, kesemuanya itu tidak ada 23
  • 22. sangkut pautnya dengan apa yang diminta kepada bangsa Arab yaitu agar mereka memperoleh kejelasan dari susunan katakata Qur'an yang jelas gamblang, dalam hal mana jauh berbeda dari puisi yang disusun oleh manusia dengan kejelasan dan kefasihan yang dibuat oleh mereka, hal mana memberi suatu ketentuan mutlak bahwa Al-Qur'an adalah Kalam Tuhan seru semesta alamo Dengan ini timbul tuntutan, sebagai akibat pengakuan di atas, sebab bila mereka telah mengakui dengan bukti di atas bahwa Al-Qur'an adalah Kalam Tuhan seru semesta alam, maka sudah barangtentu dituntut agar mereka benarbenar yakin bahwa apa yang dibawa oleh Al-Qur'an mengenai berita-berita umat-umat terdahulu dan berita-berita yang gaib dan segala ketentuan hukum serta hal-hal yang menunjukkan rahasia-rahasia alam, kesemuanya itu pasti benar, tiada keraguan baginya; sekalipun kesemuanya itu bertentangan dengan apa yang mereka ketahui, atau sekalipun sesuai dengan apa yang mereka setujui, bahwa hal-hal itu dalam pandangan dan pikiran mereka atau orang-orang lain, adalah benar, tiada keraguan baginya. Jelasnya pengakuan mereka bahwa Al-Qur'an Kalam Tuhan seru semesta alam menurut susunan kata-katanya dan kejelasannya melahirkan kesimpulan tentang keharusan mengimani kebenaran segala apa yang dituturkan oleh AlQur'an. Jadi tidak sebaliknya, pengakuan terhadap apa yang dibawakan oleh Al-Qur'an mengharuskan pengakuan atas kebenaran Al-Qur'an adalah Kalam Allah sehubungan dengan susunan kata-katanya dan kejelasannya yang berbeda dengan kalam manusia. Kesimpulan ini kiranya sudah sangat jelas dan terang. Dari segi inilah, sebagaimana anda ketahui, bangsa Arab diminta agar mengakui dan menerima baik. Dari segi ini pula, bangsa Arab terhadap yang mendengar kalam, yang dibacakan oleh seseorang dari kalangan mereka, dan yang berbunyi seperti yang mereka dapati dalam bahasa mereka; (sebab memang AlQur'an diturunkan dalam bahasa Arab yang fasih dan jelas), tetapi yang mereka dapati berbeda dengan perkataan-perkataan (kalam) mereka, sehingga mereka benar-benar tidak mengetahui, apa yang mereka katakan 'sebagai tanggapan langsung mereka, yang berisikan kedengkian dan permusuhan terhadap Al-Qur'an ini. Kejadian terse but sudah dikenal (dalam sejarah), yakni antara lain kebingungan sekelompok orang suku Quraisy, terutama Walid ibnul Mughirah dalam menghadapi kata-kata AlQur'an. Kaum Quraisy bersepakat, ketika datang musim hajji, 24
  • 23. untuk mengatakan perkataan yang sama, dan mereka tidak boleh berbeda-beda dalam apa yang akan dikatakan, terhadap kalam yang dibacakan di hadapan mereka dan di hadapan manusia lainnya. Mereka bermusyawarah antara sesama mereka tentang apa yang mereka harus katakan, terhadap Nabi yang membacakan ayat-ayat Al-Qur'an di hadapan kabilah-kabilah Arab yang datang berhajji. Mereka bersepakat untuk mengatakan terhadap Nabi bahwa ia adalah seorang dukun, atau seorang gila atau pen yair , atau tukang sihir. Setelah hasil musyawarah diserahkan kepada tokoh mereka yaitu Walid ibnul Mughirah, maka ia menolak keputusan musyawarah mereka itu dengan penjelasan: "Demi Allah sungguh apa yang dibacakan oleh Muhammad lezat didengar. Akar, tandan dan cabangnya berbuah segar. Bila kamu mengatakan sesuatu dari hal-hal yang kamu putuskan itu, maka akan diketahuilah oleh kabilahkabilah Arab bahwa kamu telah mengucapkan kebohongan dan kebatilan. Paling bisa yang dapat mendekati kepercayaan mereka ialah, katakan saja bahwa ia (Muhammad) adalah tukang sihir, datang membawa kalam yang memecah-belah antara seseorang dengan ayahnya, memecah-belah antara seseorang dengan saudaranya, dengan istrinya, dan antara seseorang dengan sanak keluarganya. Kegelapan yang membingungkan itu meliputi mereka dan mengakibatkan kemarahan dan yang membawa Walid untuk menamakannya dengan tepat, bahwa apa yang mereka akan tuduhkan dengan batil kepada Nabi itu tidak akan diterima oleh kabilah-kabilah Arab, kebingungan mereka ini tidak lain hanya kebingungan atas apa yang' -mereka dengar-tentang susunan katanya dan kejelasannya sekali-kali bukan tentang masalah hukum atau hal-hal yang gaib, atau tentang berita-berita gaib yang tidak dapat mereka percayai, serta bukan ten tang umatumat terdahulu yang tidak mereka ketahui. Sementara itu wahyu Makin banyak turun dan diturunkan berturut-turut, tahun demi tahun. Dalam pada itu Nabi s.a.w. berda'wah secara terang-terangan, membacakan Al-Qur'an kepada mereka dari kabilah Quraisy dan dari kebilah-kabilah Arab lainnya yang berada di Mekah dan yang mendatangi Mekah pada musih-musim haji dan pasaran. Bangunlah Quraisy dengan segala kemampuan dan potensi yang dimiliki menentang dan memusuhi Nabi s.a.w. dan bersikeras dalam kedengkian dan kebencian terhadap beliau serta mengingkari dan mendustakan beliau de- 25
  • 24. ngan jalan mengganggu dan memusuhi. Setelah pengingkaran dan pendustaan mereka terhadap Nabi dan wahyu yang diturunkan kepadanya berjalan lama, sedang dari perbuatan mereka itu, mereka tidak memperoleh suatu hasil, selain apa yang dijelaskan oleh Walid dan selain bertambahnya jumlah orang-orang yang beriman dan wahyu yang turun kepadanya, baik dati kabilah Quraisy sendiri, maupun dari kabilah-kabilah Arab lainnya, lalu Allah menurunkan wahyu berisikan ayat-ayat penganeam terhadap mereka, yang membuat mereka eemas dan gelisah, bertambahlah kebingungan mereka menghadapi ayat-ayat Qur'an yang dibaeakan kepada mereka. Sementara itu Rasulullah s.a.w. tetap tinggal di Mekah selama tiga helas tahun (sejak kerasulannya), sedang kaum muslimin yang masih keeil jumlahnya, bersembunyi-sembunyi di tanah Mekah. Sementara itu wahyu terns turun berturut-turut menantang agar mereka membawakan serupa Qur'an ini, dan setelah mereka tidak mampu membawakannya, mereka ditantang terus supaya mereka mendatangkan sepuluh buah surat saja sekali pun surat-surat yang bohong. Setelah turun gengsi mereka karena tiada kemampuan mereka menjawab .tantangan Al-Qur'an, maka ditutup sekali oleh Allah segala lubang keeaman dan pembangkangan mereka, bahkan seluruh manusia dan jin dengan firman-Nya yang terjemahannya dalam bahasa Indonesia antara lain: "Katakanlah: sekira- nya manusia dan jin berkumpul untuk mengadakan serupa AlQur'an ini, niscaya tiadalah mereha dapat membuat serupa (Al-Qur'an ini), sekalipun mereha saling membantu". (Surat Al-Isra' ayat 88). Memang begitulah jadinya. Pemyataan yang menentukan tersebut yang tak dapat ditolak oleh siapapun, itu pun Al-Qur'an ketengahkan persolannya dan persoalan sengketa dengannya, bukan saja antara Rasulullah dan kaumnya dari bangsa Arab, melainkan juga antara Rasulullah dan umat manusia seluruhnya dati segala lapisan dan dengan segala eiri-eiri khasnya, serta perbedaan bahasa dan wama kulitnya. Bukan dengan manusia saja bahkan dengan semua manusia dan jin bersama-sama sekalipun mereka saling membantu Inilah pemyataan yang tidak dapat ditentang dati segi dan jurusan mana pun, pemyataan yang demikian inilah yang kemudian kita sepakati istilahnya, yakni I'jazul Qur'an. Apa yang saya usut untuk anda ini, adalah sejarah ringkas yang seringkas-ringkasnya, akan tetapi eukup mendetail dalam memberikan indikasi akan pembatasan makna I'jaz sebagai 26
  • 25. yang dimaksud oleh lafal "I'jazul Qur'an" menurut makna yang lazim difahami dari kata "I'jaz" itu, sekali kata ini mempunyai pengertian luas. Ia juga eukup mendetail dalam memberikan dalil akan adanya I'jaz ini, sebab ditinjau dari segi mana pun, apa yang disebut I'jaz, ia tetap I'jaz. Apa yang tersebut ini mengungkapkan hal-hal yang tidak dapat tidak harus diketahui oleh setiap pembahas, yakni: Pertarna: Sedikitnya ayat-ayat AI-Qur'an atau banyaknya adalah sama saja dalam hal I'jaz. Kedua: I'jaz itu tersimpul dalam susunan AI-Qur'an, dalam kejelasan dan gaya pensajakannya serta dalam perbedaannya mengenai eiri-eiri khasnya yang biasa terdapat pada puisi dan kefasihan dalam bahasa Arab, bahkan yang terdapat pada semua bahasa-bahasa umat manusia, bahkan pula bahasa-bahasa manusia dan jin, sekali pun mereka saling membantu. Ketiga: Mereka yang ditantang oleh AI-Qur'an itu adalah orang-orang yang memiliki kemampuan dan keeerdasan untuk membedakan antara kalam manusia dan kalam yang bukan dari mereka. Keempat: Orang-orang yang ditantang oleh AI-Qur'an itu menyadari bahwa apa yang dituntut pada mereka untuk membawakan kalam serupa dengan ayat-ayat AI-Qur'an atau setidak-tidaknya membawakan sepuluh surat saja sekalipun surat bohong, itu hanyalah sejenis kejelasan yang mereka dapatkan dalam diri mereka sendiri, bahwa ia samasekali di luar jenis kefasihan kalam yang dibuat oleh manusia. Kelima: Tantangan ini tidak dimaksudkan agar mereka membawakan ayat-ayat serupa dengan AI-Qur'an, dengan menyamai rnakna-makna yang dikandung oleh AI-Qur'an, Tidak! Mereka hanya dituntut untuk membawakan apa yang mereka mampu mengada-adakan dan membuat-buatnya, terserah tentang makna dan rnaksud apa saja yang biasa terlintas da1am hati manusia. Keenam: Tantangan yang dikeluarkan oleh AI-Qur'an terhadap semua jenis manusia dan jin bersama-sama, adalah tantangan yang terus berlaku sampai hari kiamat. Ketujuh: Apa yang dikandung oleh Al-Qur'an seperti rahasia-rahasia alam yang gaib, hukum-hukum yang kokoh, tandatanda kekuasaan Allah yang menakjubkan kepada rnakhluknya, semua ini samasekali tidak masuk dalam bidang tantangan yang 27
  • 26. menjurus kepada yang dimaksud 'dengan I'jaz, sekalipun apa yang terkandung dalam isf AI-Qur'an itu masuk sebagai bukti nyata bahwa Al-Qur'an diturunkan dari sisi Allah, sungguh pun apa yang dikandung oleh Al-Qur'an itu tidak merupakan bukti bahwa susunan kata-katanya dan kejelasannya berbeda samasekali dengan puisi dan kata-kata mencela, perbedaan mana menunjukkan bahwa AI-Qur'an adalah kalam Tuhan seru sekalian alam, bukan kalam manusia. Inilah persoalan-persoalan yang kesimpulannya ditarik dari hasil studi tentang sejarah turunnya Al-Qur'an, dengan mempelajari sejarah perbantahan yang dilakukan oleh kaum musyrikin bangsa Arab tentang kebenaran ayat-ayat yang turun dari langit, sebagaimana tanda-tanda kebenaran para Nabi lainnya dan mujizat-mujizat yang dibekalkan kepada mereka, juga datang dari langit. Cukuplah kiranya bagi anda, mengenai hal ini, ingat sabda Rasulullah s.a.w.: "Tiada seorang Nabi pun melainkan diberikan oleh Tuhan mu'jizat yang dengannya manusia didorong untuk percaya kepada-Nya. Akan tetapi yang diberikan kepadaku hanyalah, wahyu yang diwahyukan kepadaku. Maka aku berharap untuk mempunyai pengikut terbanyak kelak di hari kiamat. Maka AI-Qur'an adalah tanda-tanda kekuasaan Allah di muka bumi, yakni ayat-ayat yang meng-I'jazkan menurut apa yang berupa mukjizat bagi bangsa Arab, kemudian bagi seluruh manusia, kemudian bagi manusia dan jin bersama-sama. Tetapi kesemuanya itu tidak tergolong ke dalam kategori I'jaz sebagai yang dimaksud oleh istilahnya. Oleh karena itu setiap kekeliruan dalam membedakan makna I'jaz itu dan dalam membatasinya menurut akal dan pikiran, menjadi sebab pengacauan dan kekeliruan dalam memahami arti istilah I'jazul Qur'an, yang telah menjadikan Al-Qur'an mu'jiz (tidak dapat ditiru) baik bagi bangsa Arab, mau pun bagi semua manusia dengan beraneka-ragam bahasanya, maupun bagi manusia dan jin bersamasama dengan saling bantu-membantu. Inilah sebagian dari apa yang dicapai oleh visi yang obyektif (apa adanya) dalam mengambil intisari makna yang menjadi pegangan tantangan Al-Qur'an dengan dan sendi I'jaznya. Saya berharap, telah dapat menyampaikan pengungkapan ini secara memuaskan. Sungguhpun demikian, rasanya masih ada satu soal lagi yang masih tertinggal yang perlu dibicarakan yakni mengambil kesimpulan dengan menggunakan metode 28
  • 27. obyektif mumi (apa adanya) ini mengenai sifat kaum Arab, yang ditantang oleh Al-Qur'an, dan karakter bahasanya. Maka bila sudah benar bahwa I'jazul Qur'an itu tersimpul dalam susunan dan rangkaian kata dari isi Al-Qur'an, serta gaya penyajiannya dan kejelasan yang dikandung olehnya, yang diturunkan dengan bahasa Arab yang fasih lagi terang, dan bahwa ciri-ciri khususnya berlainan dengan ciri-ciri khusus yang biasa terdapat dalam syair dan puisi yang dapat dikarang oleh manusia dengan segala potensi kefasihan mereka; bila semua ini sudah benar, maka kiranya persaingan mereka dengan Al-Qur'an itu, tidak ada maknanya samasekali, kecuali dengan adanya fakta, yaitu terdapatnya sifat dan karakter mereka dengan apa yang terdapat dalam Al-Qur'an antara lain: Pertama: Bahasa, yang dengannya AI-Qur'an diturunkan, meng-I'jazkan dan menurut pembawaannya memiliki potensi maha dahsyat mengadakan perbedaan di antara dua kalam, yaitu di satu fihak kalam yang dapat mencapai puncak kefasihannya, yang dapat diciptakan oleh kekuatan suatu bahasa. Di fihak lain, kalam yang mematahkan kekuatan ini dengan suatu kejelasan dan kefasihan yang nampak terang perbedaannya dengan kalam yang pertama. Kedua: Orang-orang yang bersangkutan akan mampu untuk menyadari dinding pemisah antara kedua kalam itu. Kesadaran ini membuktikan bahwa mereka telah dianugerahi dalam ukuran yang besar kehalusan rasa, untuk menikmati kefasihan dan kejelasan suatu kalam; mereka dianugerahi pula pengetahuan tentang rahasia-rahasia dan citra-citra kefasihan dan kejelasan kalam itu. Dengan demikian wajarlah bahwa terhadap mereka dilakukan penantangan dengan AI-Qur'an, dan mereka dituntut ketika mendengamya, bahwasanya pembacanya kepada mereka itu seorang Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah s.w.t, Ketiga: Kejelasan dan kefasihan adalah lebih tinggi dan lebih mulya kedudukannya dalam pandangan mereka, daripada harus mengkhianati amanat ini, atau menyimpang dari keadilan dalam memberikan keputusan, mengenai hal tersebut. Al-Qur'an telah mencerca dan mencela mereka, serta membodoh-bodohkan impian-impian dan kepercayaan-kepercayaan mereka sehingga dengan demikian Al-Qur'an menimbulkan permusuhan kesumat yang hebat pada fihak mereka. Sekalipun demikian, Al-Qur'an terus menantang mereka. Tetapi amanat yang mereka pikul untuk menjunjung tinggi kefasihan dan kejelasan kalam, mencegah 29
  • 28. mereka untuk menandingi atau melakukan perdebatan mengenai kefasihan dan kejelasan yang tersirat di dalam AI-Qur'an. Maka sejauh yang dapat mereka katakan tentang AI-Qur'an hanyalah "Kami telah mendengar AI-Qur'an itu. Kalau kami berkehendak, kami pun dapat mengatakan seperti itu". Akan tetapi kenyataannya, mereka tetap membungkam, tidak pernah mampu membawakan seayat pun yang serupa dengan isi AI-Qur'an. Ini fakta pertama. Adapun fakta kedua ialah AI-Qur'an tidak pemah menuntut dari mereka untuk memberikan keputusan, melainkan AIQur'an membiarkan saja mereka, dengan oposisi mereka terhadap AI-Qur'an, percaya bahwa mereka akan bersikap jujur dalam memberikan pendapat mengenai kejelasan dan kefasihan kalam. Maka dibiarkannya mereka itu oleh AI-Qur'an, fakta ini menunjukkan keadilan dan seman gat yang tinggi nilainya dari fihak AI-Qur'an. Keempat: Orang-orang bangsa Arab yang menguasai kefasihan bahasa Arab, serta mempunyai rasa tinggi untuk merasakan keindahan bahasa, memiliki pengetahuan tentang rahasiarahasia bahasa, dan memiliki kejujuran dalam memberikan pendapat tentang bahasa, serta tidak berkhianat dalam memberikan pendapat terhadap AI-Qur'an, sebagaimana aka! sehat mewajibkan mereka bersikap demikian, mereka itu (dengan sikap mereka) telah mencapai tingkat yang jauh sekali, tiada taranya, dalam menyatakan posisi diri dengan bahasa yang menerangkan kedudukan diri mereka. Sifat-sifat sebagai yang tersebut di atas mendorong kita untuk mencari sifat apa yang patut menjadi karakter bahasa mereka, sekiranya masih ada hal-hal yang perlu dibicarakan mengenai bahasa. Penilaian yang obyektif mengharuskan dua hal penguraian atas peninggalan mereka. Pertama: Yang masih tertinggal dari kalam mereka hams menjadi saksi atas keIuhuran bahasa mereka, yang mencapai tingkat tinggi tentang kelengkapannya, kesempumaannya dan keharusannya, sehingga tidak membuatnya tak cakap untuk menyatakan apa saja yang terlintas di hati setiap orang, yang pandai menjelaskan segala sesuatu, dari mereka. Kedua: Bahwa kalam-kalam mereka terkumpul dari heraneka ragam bentuk, kejelasan dan kefasihan, tidak dapat tidak melaiflkan menunjukkan akan keluasan dan kesempurnaan, bahkan kewajaran penyusunan bahasa mereka, sehingga 30
  • 29. cukup memiliki keharusan terhadap setiap kejelasan yang dengan bahasa-bahasa .mereka, berbeda-beda mereka ciptakan. Masihkah ada lagi yang pantas menjadi saksi, dan bukti atas kebenaran hal-hal tersebut? Ya, masih ada, yaitu "Sya'ir pra Islam". Bila demikian, maka kita hams mengadakan rekonstruksi problemanya dan mengulangi pelukisannya, sebab visi yang murni, logika yang terpadu dan penilaian yang terusmenerus, kesemuanya itu telah menjuruskan kita kepada kaharusan melepaskan makna I'jazul Qur' an dari segala yang mengeruhkannya dan yang dilihatkan padanya, sehingga tersisa bersih bagi kita satu fakta, yakni bahwa I'jazul Qur'an itu hanyalah berkaitan dengan soal pensajakan dan kejelasan, kemudian penunjuk ini menuntun kita untuk memberi batasan kepada sifat kaum yang ditantang oleh AI-Qur'an, serta sifat bahasanya. Hal ini membawa kita, untuk mencari penyifatan kalam mereka, kemudian kita mencari saksi dan bukti tentang hal yang kepadanya kita dibawa oleh visi tersebut. Ternyata bahwa hal termaksud itu adalah "Sya'ir pra Islam". Jadi Sya'ir pra Islam itulah asas problem I'jazul Qur'an yang harus dihadapi oleh akal pikiran modern, dan bukan metode lama yang digunakan dalam menafsirkan AI-Qur'an, seperti yang disangka oleh saudara Malik, dan yang seperti menjadi opini sebagian besar orang-orang yang membahas soal I'jazul Qur'an dengan metode apapun. Namun perlu dicatat bahwa "Sya'ir pra Islam" telah dilanda oleh cobaan banyak; Yang terakhir dan yang paling dalam dan pengrusakan padanya, ialah metode yang diciptakan oleh Margelyouth untuk menghancurkan kepercayaan terhadap Sya'ir pra Islam itu, dengan mengatakan bahwa Sya'ir pra Islam itu dibuat sesudah Islam datang. Inilah tipuan jahat yang dibuat oleh Margelyouth dengan kawan-kawannya dan "nabi-nabinya", berikut Sophisme, pemalsuan dan kebohongan yang dilakukan oleh Margelyouth d.k.k. itu sebagaimana disaksikan oleh salah seorang orientalis sesamanya, yakni Prof. Arby; kesemuanya yang dilakukan oleh Margelyouth itu menyelinap di balik dalil-dalil yang dibawakan, cara-cara pembahasan yang dibuat dan argumen-argumen yang dikemukakannya, suatu pengertian tentang kedudukan Sya'ir pra Islam dalam kaitannya dengan soal I'jazul Qur'an bukan pengertian yang· benar dan terang, bercampur dengan kebencian yang mendalam terhadap bangsa Arab dan Islam. 31
  • 30. Orientalis (Margelyouth) ini beserta kawan-kawannya dan ramalan-ramalannya sebenarnya persoalannya teramat remeh, untuk dapat memperoleh banyak kepercayaan, dati cara-cara yang mereka lakukan dan argumen-argumen yang mereka .sajikan, disebabkan keraguan yang mereka timbulkan itu dasarnya ialah pemalsuan dan penipuan. Akantetapi mereka berhasil mencapai sejauh-jauhnya pelebarluasan penipuan mereka, penyusupan ke dalam perguruan perguruan tinggi kita dan ke dalam alam pikiran modern di dunia Islam dengan sarana-sarana yang membantu keberhasilan itu, sekali-kali bukanlah dasarnya ilmu pengetahuan dan visi yang benar. Dalam pada itu beberapa tokoh dan ahli pengetahuan telah berhasil menetapkan kebenaran Sya'ir pra Islam itu dengan menempuh jalan yang tiada keraguan baginya tentang kebenaran dan kemurniannya, tanpa pemalsuan dalam mencari dalil dan bukti dan tanpa penipuan dalam mengadakan penerapan, serta tanpa kontradiksi dengan hal-hal yang sudah dapat diterima oleh akal sehat, naql (nukilan) yang sahih, Namun mereka belum memiliki sarana-sarana yang memungkinkan mereka mencapai kebenaran yang mereka punyai itu seperti yang dicapai oleh Margelyouth d.k.k. dengan kebatilannya. Saya sendiri telah tertimpa cobaan dalam soal "Sya'ir pra Islam" ketika fitnah tentang soal itu berkobar sewaktu saya masih Mahasiswa di Universitas Mesir. Waktu berlalu: Dalam pada itu saya telah .sampai pacta macam metode lain untuk memperoleh bukti atas keabsahan Sya'ir pra Islam, bukan dati dalil periwayatannya saja, melainkan juga dari jalan lain, jalan yang paling lekat dengan soal I'jazul Qur'an". Saya telah meneliti sedalam-dalamnya "Sya'ir pra Islam" sehingga, saya mendapatkan di dalamnya fakta bahwa ia, mengandung dalam dirinya sendiri bukti-bukti kebenaran dan keabsahannya sebab saya telah mendapatinya memiliki daya yang luar biasa untuk mengungkapkan kejelasan. Ia mengungkapkan pada saya keindahan-keindahan tak terbatas yang mempersonakan. Ternyata bahwa "Sya'ir pra Islam" itu adalah ilmu pengetahuan tersendiri yang berdiri tegak, tidak saja di bidang kesusasteraan Arab, melainkan juga kesusasteraan-kesusasteraan umat sebelum dan sesudah Islam. Kedudukkan tersendiri yang dihaki oleh Sya'ir pra Islam secara mutlak ini, terutama kesendiriannya dengan ciri-ciri khasnya, yang membedakannya dari setiap syair dari puisi-puisi Arab yang datang sesudahnya, ini saja sudah mem32 •
  • 31. I Derikan bukti atas kebeniltan~ya·dan keabsahmUiya. Problem 1',ja2:ulQur'an telah menyibukkan diri saya, sebagaimana ia menyibukkan juga akal pikiDn modern. Namun yang berkenaan dengan diri saya, saya telah disibukkan oleh Sya'ir pra IsIam dan pengarang-perangarangnga, dengan kesudahar; bahwa penetitian dan penyelidikan serta studi yang lama telah rhebyampaikan saya kepada aliran yang saya anut sekarang ini, sampal saya memperoleh dalil yang cukup kuat atas kesahihan dan kebenaran Sya'ir pra Islam itu. Para pengarangnya yang telah pergi untuk selama-lamanya sedangpendekar-pendekarnya yang jasadnya telah terserakserak di dalam tanah, kadang-kadang terbayang pada saya dalam syair ini seolah-olah mereka datang dan pergi. Saya seolah-olah menyaksikan pemudanya dimabuk rindu oleh kebodohannya, sedang yang berusia lanjut terbawa oleh kearifannya. Terbayang pada saya, yang bersukahati dari mereka wajahnya berseri-seri sehingga bersinar, sedang yang murka dan marah wajahnya bermuram-durja sehingga gelap. Seakan-akan kelihatan di hadapan saya seorang laki dengan temannya, pula seorang laki dengan kawanperempuannya, dan sampah masyarakat tanpa kawan. Saya seolah-olah melihat pengendara kuda di atas punggung kudanya dan pejalan kaki. Terbayang pada saya kelompok-kelompok masyarakat di temp at kediamannya di pedalaman dan pemukimannya di kota-kota lalu saya seolah-olah mendengar rayuan mereka yang sedang asyik dimabuk cinta, dan kemanjaan -gadis-gadismereka. Seolah-olah kelihatan pada saya api unggun mereka, yang sekelilingnya mereka berkumpul untuk memanaskan diri. Saya seakan-akan mendengar ratapan tangis mereka pada saat perpisahan. Kesemuanya itu seolaholah saya lihat dan saya dengar dari sela-sela kata-kata yang dikandung oleh syair ini, sehingga saya, seolah-olah mendengar pada setiap kata dalam syair ini bisikan orang yang berbisik, isakan orang yang menangis, tarikan napas panjang orang yang sedang dilanda rindu asmara, dan teriakan karena ketakutan. Bahkan seakan-akan mereka mendeklamasikan syair merekadi hadapan saya, sehingga seolah-olah saya tidak pernah meninggalkan mereka sedetik pun, dan tidak pernah pula meninggalkan rumah-rumah kediaman mereka dan tempat-tempat pertemuan mereka. Seakan-akan tidak pernah hilang dari pemandanganku kepergian mereka di muka bumi, dan apa yang mereka amati dan dapati, apa yang mereka dengar dan ketahui dan apa yanK mereka derita dan rasakan. Seakan-akan.bagi saya tiada sesuatu 33
  • 32. pun yang tersembunyi yang oleh sebab itu orang yang hidup dapat disebut hidup di bumi ini, yang di dalam sejarah tetap terkenal dengan sebutan"Jazirah Arabia". Apa yang saya sampaikan kepadanya dari sifat Sya'ir pra Islam sebagai yang saya memakrifatinya adalah suatu hal yang dapat dieapai oleh orang yang suka menempuh jalan-jalan bagi kemakrifatan, tanpa menggunakan cara-cara yang menjurus kepada pengaeauan dan pencampuradukan, serta tidak aeuh tak aeuh dan tidak jemu. Memakrifati adalah jalan awal untuk mempelajari Sya'ir pra Islam dari jurusan yang memungkinkan kita memperoleh bukti, daripadanya bahwa Sya'ir pra Islam memiliki cara tersendiri, ciri-eiri khasnya berbeda dari setiap syair yang datang sesudahnya yang dibuat oleh penyair-penyair Islam. Apabila yang demikian ini benar dan saya sedikit pun tidak meragukan kebenarannya maka haruslah kita mempelajari syair ini seeara mendalam untuk meneari di dalamnya potensi yang dikandung olehnya dalam mengungkapkan kejelasan dan kefasihan, yang merupakan kelebihan, yang menonjolkan penyair-penyair pra Islam itu di atas penyair-penyair yang datang sesudah mereka, pula untuk menarik banyak pelajaran tentang aneka ragam kejelasan dan kefasihan yang dapat dieapai dengan kekuatan bahasa dan kalam mereka. Apabila kita telah selesai melakukan itu semua, maka pada saat itu sangat i mungkin bagi kita untuk meneari di dalam AI-Qur'an, yang kejelasannya dan kefasihannya mengi'jazkan mereka itu, eiri-eiri khas kejelasan dan kefasihan ini yang mengungguli segala kejelasan dan kefasihan manusia. Di sinilah terdapat hal yang mempunyai makna besar. Janganlah mengira bahwa persoalan mempelajari sya'ir.pra Islam itu, semata-mata menyangkut makna-makna persoalannya, atau gambaran-gambaran yang dikandungnya, atau bahasa yang dipergunakan dalam hal kefasihannya, kelezatannya dan sebagainya. Tidak demikian. Persoalannya adalah lebih jauh, lebih dalam dan lebih sulit. Persoalannya ialah membedakan sya'ir pra Islam mengenai kemampuannya yang besar untuk mengungkapkan kejelasan, mengeksposir berbagai jenis kejelasan yang berlain-lainan satu dengan yang lain, serta mengambil intisari ciri-ciri khusus yang terdapat pada bahasa mereka, eiri-eiri yang memberi bahasa ini kemungkinan untuk menjadi sumber keagungan dan ketinggian dengan jalan menerangkan perasaanperasaan dalam, dari lubuk hati, demikian agung dan tinggi sehingga ia dapat membuat kalam mereka hidup, laksana pe34
  • 33. niupan roh di dalam jasad yang mati, laksana kemampuan melihat pada mata yang tak bergerak dan laksana kebiasaan berbicara yang terkandung dalam segumpal daging yang bergetar yang disebut "lidah". Maka apabila kita mengadakan persiapan sungguh-sungguh untuk studi ini, dan menggunakan kesabaran, kesungguhan dan berhati-hati, Yang diperlukan untuk berhasilnya studi ini, sedang bahasa adalah bahasa kita, dan kaum itu adalah nenek moyang kita, dan tabiat-tabiat mereka tertanam dalam karakter dan watak kita - kemudian kita menetapkan untuk studi ini metode-metode yang menunjangnya, serta mengambil untuknya gaya bahasa yang sebanding. Maka yang semula terasa jauh menjadi dekat; yang semula kelihatannya tidak nyata menjadi terang, dan "Sya'ir pra Islam" akan mengungkapkannya pada kita keindahannya yang paling gemilang serta mempesona dan membuka mata kita terhadap hal-hal yang terpendam dan bersembunyi dari dasar-dasar kecerdasan insani dalam menjelaskan sesuatu, tanpa mengkhususkannya bagi bahasa Arab saja,maka akanlkita dapati studi itu memperlihatkan sya'ir pra Islam dalam bentuknya yang paling pelik dan wajahnya yang paling suram; dan dalam gambaran yang paling sempuma dan lengkap. Apa yang saya uraikan dengan panjang lebar tentang sya'ir pra Islam ini dan apa yang saya dapati dalam hati saya adalah suatu pintu yang besar dan lebar. Saya bermohon kepada Allah agar Dia berkenan menolong saya, dengan kekuasaan-Nya dan kekuatan-Nya, supaya saya dapat mengungkapkannya dan menerangkan perihal sya'ir pra Islam, dan supaya saya dapat memperkuatnya dengan segala argumen yang menentukan tentang keunggulannya atas setiap sya'ir Arab yang dikarang sesudahnya, sehingga ia sendiri akan dapat menjadi bukti yang mutlak atas keabsahan periwayatannya, dan bahwa paraperawi itu tidak .mengarang-ngarang untuknya penyair-penyair yang sebeilamya tidak ada wujudnya. Adalah kenyataan bahwa yang sampai pada kita hingga saat ini dari Sya'ir pra Islam itu hanya sedikit yang diriwayatkan oleh rawi-rawinya. Sedang para perawi yang terdahulu pun Sya'ir pra Islam tidak sampai kepada mereka, kecuali sekedar sebapi yang dikatakan oleh Abu 'Amr ibnu Al' Ala pada pangkal abad kedua Hijryah: "Apa yang sampai kepada kamu dari kalam Arab jahiliyah sedikit sekali. Sekiranya sampai kepadamu dalam kadar yang besar niscaya sampai kepadamu ilmu dan syair ba- 35
  • 34. nyak". Sekali pun demikian yang sedikit dari Sya'ir pra Islam yang sampai kepada kita itu, insya Allah, cukup sebagai petunjuk bagi apa yang kami kehendaki, untuk menjelaskan tentang kelebihan syair mereka atas syair yang datang sesudah mereka, dan dalam syair itu terdapat dalam kadar yang besar ciri-eiri khusus kejelasan dan kefasihan yang merupakan keahlian kaum jahiliyah (pra Islam). Namun bagaimana sya'ir pra Islam ini dapat terus hidup sampai pada masa sekarang ini? Ia tetap hidup untuk menjadi bahan bagi bahasa Arab, menjadi dalil atas setiap huruf abjad bahasa Arab, atas setiap bab tentang tata bahasa Arab, dan atas setiap kata sindiran dalam ilmu kafasihan bahasa. Ia tetap hidup sebagai sumber bagi para perawi, sebagai perbendaharaan yang populer padanya, para penyair Islam mengambil materi bagi syair-syair mereka dan sebagai sumber sejarah umat Arab pra Islam. Ia bahkan menjadi pusaka bagi semua ilmu-ilmu pengetahuan bangsa Arab; Setiap ilmu mempunyai bagian daripadanya, menurut kadarnya. Namun tidak terpikirkan oleh kita suatu hal yang sangat besar yang ditinggalkan oleh Sya'ir pra Islam, yaitu bahwa ia menjadi bahan studi tentang keeerdasan menjelaskan sesuatu, suatu pembawaan instinktif manusia dengan memperbandingkannya dengan kejelasan yang potensi orangorang yang paling fasih habis tanpa mampu menandingi kejewan tersebut yang memiliki eiri-ciri khusus yang terang demikian rupa untuk menjadikan setiap orang yang eakap, yang fasih, yang jelas kalamnya, dan setiap orang yang mempunyai kemampuan merasakan kelezatan kefasihan dan kejelasan bahasa, tidak mempunyai altematif lain, .selain mengakui keunggu1an kejelasan yang bereiri khusus tersebut, bahwa ia tidak sejenis kejelasan dan kefasihan yang biasa didengar dan dirasakan oleh orang, bahwa penyampainya kepada manusia adalah seorang nabi yang diutus, bahwa nabi ini tidaklah mampu mengarangnya sendiri atau mengada-adakannya sebab ia tidak lain hanya seorang manusia yang tidak memiliki kemampuan selain kemampuan yang dimiliki orang lain yangsejenis dengan dia, dan bahwa sekiranya dia mengada-adakan selain dari apa yang diperintahkan kepadanya untuk menyampaikannya dan membaeakannya, pasti, pasti akanterbuka kedustaannya kepada manusia, sehingga dia layak memperoleh hukuman dengan firman Tuhan yang menurunkan kalam itu dari langit: ./ ••••••••••• ., .." "., "" ..;.i>)' (, J:Jt;)'1 ~ -- .-- 36 Ct ,. ".. "''''''' ~ ,. •••••;"'.",. G "" •••• J';.i; .,JJ
  • 35. "Dan sekiranya dia mengada-adaka" sedikit saja perkataanperkataan atas nama Kami, niscaya Kami pasti menanghap tangan kanannya; lalu Kami akan putuskan urat nadi jan tungnya. Maka tiada seorang pun dari kamu yang dapat mempertahanhannya". (Surat AI-Haaqqah: 44-47). Orang berhak bertanya: "Bila demikian, coba ceritakan pada saya mengapa sya'ir pra Islam tetap begitu kedudukannya, tidak melampauinya? dan mengapa hal-hal yang anda katakan tentang syair itu tidak terpikirkan juga oleh ulama-ulama sebelum anda? Mengapa sya'ir ini luput dari pikiran ulama-ulama balaghah (kejelasan, kefasihan dan keindahan bahasa), sedang mereka bertujuan dengan ilmu Balaghah mereka itu justru untuk menerangkan soal "I'jazul Qur'an", sedang mereka berada dalam zaman yang lebih dekat .dengan turunnya AI-Qur'an daripada zaman kami dan anda? Apakah yang mencegah aka! pikiran orang-orang yang fasih bahaSanya itu, untuk menjalani metode seperti yang anda lakukan, sedang akal pikiran mereka itu tidak berbangkit, melainkan dengan tujuan mencapai sasaran soal I'jazul Qur'an, baik pada zaman dahulu maupun zaman sekarang?" Adalah kewajiban saya menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Namun untuk memberikan jawaban itu saya merasa perlu menceriterakan suatu kisah lain. Saya tidakakan memperpanjanglebarkan ceritera itu, dan saya akan mempeningkatnya saja dengan berusaha menyingkirkan celah-celah daripadanya semampu saya, sedang pendengarnya sedapat mungkin menyingkirkan kekurangperhatian dirinya semampu-mampunya, Kaum Arab jahiliah (pra Islam) adalah sebagai yang telah saya lukiskan kepada anda keahliannya dalam soal kefasihan bahasa dan kepandaiannya dalam menggunakan kefasihan itu dalam kalam mereka serta kemampuan mereka untuk dapat merasakan kelezatan kefasihan itu dengan indera yang paling halus dalam sanubari dan jiwa mereka, pula pengetahuan mereka tentang rahasia-rahasianya, serta mendalamnya kesadaran mereka mengenai adanya dinding pemisah antara jenis kefasihan yang dibakati oleh manusia dan yang bukan termasuk jenis kefasihan mereka. Kaum jahiliahinilah yang didatangi Kitab 37
  • 36. dari langit dengan bahasa mereka, Kitab yang dalam kumpulan tanda-tanda kekuasaan Allah, sederajat dengan tongkat Musa, dan dengan mukjizat orang buta dan penyembuhan orang buta dan penderita kusta sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah yang dianugerahkan kepada para nabi-Nya, Kitab ini datang kepada mereka, agar pembacaaannya dibawa pendengaran mereka menjadi bukti yang perkasa yang memaksa mereka mengakui kebenaran diturunkannya Kitab ini dari langit ke dalam salahseorang dari kalangan mereka, dan bahwa orang iniadalah salahseorang Nabi yang diutus oleh Allah; maka wajiblah mereka mengikutinya serta menerima baik apa yang diserukan olehnya. Oleh sebab itu maka setelah mereka mendustakannya dan mengingkari kenabiannya, ia menantang mereka agar mereka membawakan serupa dengan apa yang mereka dengar mengenai susunan penyajakannya dan kejelasannya. Ia mendesak kepada mereka menantang mereka dalam banyak ayat dari Kitab yang diwahyukan kepadanya. 'Namun mereka menyadari keberlainan kejelasan kalam Kitab itu dengan kefasihan kalam manusia. Kesadaran ini memaksa mereka untuk meninggalkan tantangan sebagai sikap yang jujur untuk tidak membenarkan suatu kejelasan dan kefasihan diperlukan secara tidak adil, dan untuk menjauhkannya dari pengecilan kedudukan kejelasan dalam Kitab itu oleh perlakuan tidak adil dari fihak mereka. Adapun orang yang mereka hadapi, dengan kesengitan dalam permusuhan dan pembangkangan itu, tidak lama kemudian sekelompok demi sekelompok datang padanya menerima seruannya dengan pengakuan dan penerimaan baik bahwasanya Kitab itu adalah kalam Allah, dan bahwasanya orang (yang semula mereka musuhi itu) adalah nabi Allah. Kemudian berturut-turut datang orang-orang yang beriman dari mereka menyatakan keimanan mereka, sehingga tiada satu rumah pun di kampung mereka melainkan telah dimasuki oleh Islam atau keseluruhan penghuninya memeluk Islam. Mereka menyerahkan pimpinan kepadanya, karena keyakinan bahwasanya tidaklah sempuma iman seseorang dari mereka sebelum lelaki ini dijadikan sempuma iman seseorang dari mereka sebelum lelaki ini dijadikan seseorang yang dicintai oleh seseorang lebih daripada kecintaannya terhadap keluarganya dan anaknya. Amal perbuatan mereka telah membenarkan kesemuanya itu. Maka setiap orang yang fasih dan pandai berbicara dari mereka, dan setiap orang yang ahli dalam merasakan kelezatan bahasa yang fasih dan jelas menjadi penyelidik dari firman-firman Allah dengan sangat teliti, menghafalkanayat-ayat Al-Qur'an yang teJah 38
  • 37. turon, membacanya dan berta'abbud dengan pembacaan ayatayat itu. Ia mengikuti turunnya Al-Qur'an dengan penuh perhatian dan keinginan yang sangat besar. Ia menc!lengardan memperhatikan pada waktu Al-Qur'an dibaca dalam shalat, dan di atas mimbar hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun. Masing-masing orang tunduk dan khusu pada Dzikrullah (mengingat Tuhan), dan kebenaran yang turun kepadanya. Ketundukan dan kekhusuan mereka membenarkan apa yang difirmankan oleh Allah: I ~ -i L:.. d .)..1 .J1.7 ~..l* ,,-.......... • ..P III ~ ,./ ;',/, /.., ~ ~ -:,,;' ~ ./ 0 /" Q ,/./ () ,/ c::-..... ,/ j"H.J 0~-= 0" 0 .....,.,,, ./ «>: ./ I .-- ./ 0 JJ '"'" /" ••••••• _..... •••• Jy .J.J I ~.".J' ~ 1::.; ~ /..l.>J I ~ L::.. ~ .... ~ "" ~ u::/..i..J1 ..lp I ~ P ') C'I' .9 .., ~ III -' .1 ..••. 0L:., o- .--a.-~ ~/.J...r=.--.J.J I ~..l.Jl>~j .--dJ'! ~ ul~ rr:..,.J.9) ~ ./ ( ~ i : .r) I ) lIE ..l 0 L~ lr ~...... "' , I ",.... " ., n/ . .J W .J.JI JJ...a: lr) "",., /' "Allah telah menurunkan firman yang sebaik-baiknya, yakni Kitab Al-Our'an yang isinya serupa dan berulang-ulang. Bangun bulu roma orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka karena nya kemudian menjadi lemah-lembut kulit dan hati mereka dalam mengingati Allah. Itulah pimpinan Allah. Dipimpin-Nya dengan AI-Qur'an ini orang yang dihehendahi-Nya. Tetapi orang yang dibiarkan oleh Allah dalam kesesatan, tidaklah akan mendapatkan orang yang memimpinnya. (Surat Az-Zumar: 23). Sementara itu Al-Qur'an bergema di Jazirah Arabia laksana suara lebah-lebah, maka sekarang tunduklah telinga-telinga yang sebelumnya dalam kejahiliahan, mendengarkan seruan orang yang membacakan kepada mereka ayat-ayat dari firman Allah, yang menciptakan mereka, serta mengadakan untuk mereka pendengaran, penglihatan dan perasaan serta pikiran. Merendahlah sekarang lidah-lidah yang sebelumnya dalam kejahiliahan, kepada Al-Qur'an untuk menghambakan diri kepadanya, sebagaimana mereka juga telah mengakui penghambaan mereka kepada Allah s.w.t. yang telah memilih bahasa mereka untuk men. jadi bahasa Kalam-Nya. Maka terjadilah di Jazirah Arabia gelombang kaum muslimin yang bertahlil menyebut nama Allah, mengagungkan-Nya dan mensucikan nama-Nya setiap waktu. :'9
  • 38. Mereka bermukim membaca AI-Qur'an pada waktu pagi dan petang, dan pada waktu Malam dan fajar. Mereka berjalan mengikuti dan menangkap sunnah Nabi mereka. Mereka menanggalkan kegelapan jahiliah (laku adat istiadat buruk pada masa pra Islam) dari kalbu, aka} pikiran, jiwa dan lidah mereka, dan mereka masuk ke dalam nur cahaya Islam dengan lidah, akal pikiran, jiwa dan kalbu mereka. Kemudian Al-Qur'an membawa mereka ke segala penjuru untuk mengajak manusia, baik yang berkulit hitam atau merah, kepada kesaksian bahwasanya tiada Tuhan selain Allah, dan bahwasanya Muhammad pesuruh dan utusan Allah. Mereka membawa kepada mereka Kitab ini, yang kejelasannya mengi'jazkan kejelasan dan kefasihan manusia untuk menandinginya, yakni Al-Qur'an yang turun dengan bahasa mereka sebagai bukti nyata terhadap manusia, serta sebagai petunjuk untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya. Maka keadaan mereka pada waktu itu adalah seperti yang dilukiskan oleh Ibnu Salam dalam bukunya: "Tingkatan-tingkatan penyairpenyair yang termasyhur" ketika ia menyebutkan apa yang dikatakan oleh Umar Ibnul Khattab tentang bangsa Arab zaman jahiliah (sebelum Islam) yakni: "Syair adalah satu-satunya ilmu yang mereka banggakan, mereka tidak menyukai ilmu selainnya" , maka berkata Ibnu Salam mengomentari: "Kemudian Islam datang, bangsa Arab mengabaikan syair, dan sibuk melakukan jihad dan peperangan dengan negeri Persia dan negeri Rum. Mereka melupakan syair dan periwayatannya. Setelah daerah Islam meluas dan banyak negeri ditaklukkan, mereka tenang lagi, lalu mulai lagi meriwayatkan syair, akan tetapi untuk itu mereka tidak mempunyai sumber-sumber, baik dalam bentuk kumpulan-kumpulan syair yang dicatat maupun dalam bentuk buku-buku yang ditulis. Kemudian mereka menulis syair-syair itu, sedang dalam pada itu sudah banyak dari bangsa Arab yang telah tewas karen a maut atau terbunuh. Maka yang mereka hafal dari syair pra Islam hanya sangat sedikit, sedang yang hilang banyak sekali. Janganlah anda teperdaya oleh apa yang dikatakan oleh Ibnu Salam seperti yang terse but di atas, lalu anda mengira bahwa orang-orang jahiliah yang telah memperoleh petunjuk Allah masuk ke dalam Islam itu benar-benar telah meninggalkan di belakang mereka sya'ir pra Islam, dan berpaling daripadanya, tidak memperdengarkannya dan tidak mengucapkannya lagi, serta menanggalkannya dati pikiran dan lidah mereka, sebagai40
  • 39. mana mereka telah menanggalkan keiahiliahan mereka. Ini.semuanya tidak benar. Keterangan Ibnu 8alam itu didustakan oleh khabar-khabar tentang mereka, dan pula tidak dibenarkan oleh logika dan tabiat lIlanusia, serta oleh sejarah kehidupen mereka. Bahkan perlakuan yang tidak adil yang paling besar yang diderita oleh sya'irpra Islam ialah: bahwa Al-Qur'an telah merebut perhatian mereka agar perhatian mereka hanya ditujukan kepada Al-Qur'an. Akibatnya pendekJamasian syair dan penyusunan sajak-sajak lebihkurang daripada di zaman sebelum Islam. Sekanpun demikian Sya'ir pra Islam tetap menjadi tempat yang mereka tuju, apabila pikiran mereka eapai karena menelaah Al-Qur'an terus-menerus. Sya'ir pra Islam itulah tempat mereka .beristir~at apabila mereka telah selesai melakukan ibadat yang difardukan oleh Allah atas mereka dan yang disunatkan oleh Nabi s.a.w. kepada mereka. Demikianlah kebiasaan mereka selalu pada awal keislaman mereka. Anak-anak mereka sejak keeil mendengar (dari orang-orang tuanya) syair-syair pada zaman jahiliah, serta mendengarkan kefasihan bahasa yang tersimpul dalam kalam mereka. Mereka menanamltan juga kefasihan bahasa itu pada watak anak-anaktersebut. Hal ini berpindah seperti penyakit menWar sampai kepada orang-orang Islam bukan Arab serta anak-anak mereka. • Dimana saja kaum jahiliah yang telah masuk Islam itu datang, ikut datang pula bersama mereka Al-Qur'anul Hakim, dan ikut datang juga sya'ir pra Islam. Mereka bersama-sama menelaahnya dan saling mendeklamasikannya. Dengan syair itu mereka telah dapat meluruskan lidah orang-orang Islam bUkan Arab untuk berbahasa Arab dengan fasih. Dan yang menjadi bekal bagi orang yang menuntut pengetahuan untuk mendapat tahu tentang makna-makna Kitab Tuhannya, ialah mempelajari dengan tekun sya'ir pra Islam, sebab tiada seorang dapat memahami sendiri makna-makna Al-Qur'an, sebelum ia dapat mernahami sendiri sya'ir pra Islam. Cukuplah kiranya bagi an9,ll, untuk mengetahui kebenaran hal di atas, apa yang dikatakaH olen Imam Syafi'i sesudah itu, pada abad kedua Hijriabt"Tidaklah diperbolehkan bagi seseorang untuk memberikan. fatwateniaDg agama Allah, keeuali orang yang arif benar-benar mengenai Kitab Allah, mengetahui daripadanya yang nasikh danmansukh, mengetahui ayat-ayat muhkamat (yang mantap,je4ls dan terang maksud dan maknanya)dan ayat-ayat mutasyabihat (yang samarsamar maknanya), mengerti ta'wilnya dan tahu sejarah turonnya, serta ayat~yat Makkiah danayat-ayat Madaniah, dan arif 41
  • 40. tentang apa yang dikehendaki oleh ayat demi ayat dalam AIQur'an itu, Kemudian orang itu harus faham benar-benar akan Hadits Rasulullah sca.w., tahu mana yang nasikh dan mana yang mansukh. Ia harus mengerti tentang Hadits, sama pengertiannya tentang AI-Qur'an. Ia harus mengerti bahasa dan faham akan syair, serta tahu apa yang diperlukan untuk memahami Hadits Nabi s.a.w. dan AI-Qur'an. "Tidaklah cukup hanya sekedar mengenal syair saja, melainkan seorang yang akan memberikan fatwa itu harus mengetahui dan menguasai &yair,sebagai yang dikatakan oleh Imam Syafi'i r .a, Apa yang dikatakan oleh Imam Syafi'i setelah berlalu satu abad (dari datangnya Islam) itulah yang berlaku pula pada permulaan Islam. Kemenangan-kemenangan yang diperoleh kaum muslimin datang bertubi-tubi, dengan ditaklukkannya banyak negeri-negeri. Bersama dengan kedatangan mereka menyebar luas syair PfIl Islam. Banpa-bangsa bukan Arab berduyun-duyun memeluk Islam; berasimilasi dengan kearaban sebagaimana mereka masuk ke dalam Islam. Dengan kejadian ini malta kejelasan dan kefasihan AI-Qur'an -tercurah laksana hujan lebat atas fitrah baru, yaitu fitrah-lidah bangsa-bangsa bukan Arab, setelah cukup menghirup kefasihan jahiliah yang terkandung dalam sya'ir pta Islam. Bangsa Arab dari kaum sahabat dan tabi'in serta anak8Dak mereka bercampur dengan orang-orang bukan Arab yang bahasanya telah berasimilasi dengan bahasa Arab. Dari :campuran ini tumbuh kemudian model kefssihan baru, Yang gayanya bera1ih-alih, berubah-ubah dan berganti-gB!;lti generasi demi generasi. Namun orang-orang ini tetap memeliharakemampuan • yang selalu sedia dan hadir untuk merasakan keIezatan kela- ' sihan dengan penuh kecerdasan, hal mana dapat membantu lI1ereka dalam membedakan kefasihan kalam manusia seperti yang biasa dikenal oleh tabiat dan pembawaan mereka, dengan kejelasan AI-Qur'an yang jauh sangat dari ciri-ciri khusua kefasihan kalam mereka, ditinjau dari segala segi. Bumi seolah-olah membara dalam menerima Islam sebinga batas daerahnya mencapai .Cina di timur dan Andalusia (Spanyol) di barat. Di utara daerahnya bertapal batas di negeri Rum, sedang di selatan batasnya menyusup ke da1am negeri ~. Gema M-Qur'an yang berbahasa Arab terdengu di semua penjuru bumi yang didiami manusia. Masjid-masjid berdiri di setiap desa dan setiap kota, dan di ruangan-mangan masjid-masjid berjejalan barisan-barisan bamba-bamba Allah Yang Maha Pemurah. Mimbar-mimbamya dinaiki Qleh penyeru-penyeruke42
  • 41. pada kebenaran. Di setiap masjid manusia berkumpul dalam lingkaran-lingkaran (halaqah). Penuntut-penuntut ilmu berdatangan di masjid-masjid, sekelompok dari mereka belajar tilawatil Qur'an dari para qari'nya, sekelompok lain belajar periwayatan had its dari para huffazhnya, sekelompok lain belajar bahasa Arab dari guru-gurunya dan sekelompok lain mengambil pelajaran tentang sya'ir pra Islam dan syair sesudah Islam dari para perawinya. Kelompok demi kelompok terdapat di segala penjuru masjid-masjid yang letaknya tidak berjauhan, Kelompok-kelompok manusia dari bermacam-macam warna kulit bangsa dan bahasa. Masing-masing penuntut ilmu dan masing-masing berpindah-pindah untuk itu dari majlls seorang guru ke majlis guru lain. Semua yang dituntut adalah ilmu pengetahuan yang tak dapat ditinggalkan oleh setiap orang muslim pembaca Al-Qur'an. Ya, bahkan sampai-sampai di pasar-pasar mereka pun para penyair datang mendeklamasikan syair-syair mereka, atau saling berdebat, atau saling menyindir dengan syair mereka. Para perawi menghafalkan apa yang dibawakan dari syair-syair itu, sedang massa datang mendengarkannya, lalu berbalik saling berdekat. Segala penjuru bumi memperdengarkan dengan gemuruhnya suara membaca AlQur'an, dan di mana-mana terdengar bahasa Arab tidak ada bedanya baik di rumah-rumah yang dihuni oleh orang ~ang dulunya bukan Arab, maupun di rumah-rumah kediaman orangorang Arab asli, Setelah satu abad berlalu sejak Islam datang, mulai tumbuh tunas syaitan pada pemeluk agama. Mereka membawa pertengkaran dan perdebatan; perpecahan dan permusuhan. ,Mereka memecah-belah kalam dengan bermacam-macam pendapat dan kehendak hawa nafsu. Sebagai akibat dari itu, timbullah permulaan gerakan untuk memberikan visi pada setiap ilmu agama. Pada saat itu perselisihan timbul. Perselisihan akhirnya menjurus kepada keberanian terhadap agama, sehingga pada tahun-tahun terakhir kedaulatan Bani Umayah ada seorang bernama "Ja'ad . bin Darham" yang menunjukkan kelancangan terhadap AlQur'an. Orang ini benar-benar seorang syaitan yang jahat dan beraliran jahat. Ia memperoleh alirannya dari seorang berketurunan Yahudi bernama "Thalut"; Dengan alirannya itu ia berani mendustakan AI-Qur'an dalam soal "diambilnya Nabi Ibrahim oleh Allah sebagai ternan" dan dalam soal "bercakapcakapnya Allah dengan Nabi Musa" dan lain sebagainya. Diantara perkataannya ia menerangkan bahwasanya: "Kefasihan 43
  • 42. Al-Qur'an sekali-kali tidak meng-i'jazkan. Manusia dapat saja mengarang yang serupa, bahkan lebih baik daripadanya". Sebagai tindakan atas keberaniannya itu ia oleh Khalid bin Abdullah Al-Qisri dijadikan "hewan kurban pada hari Raya lCurban, kim-kim pada taboo 124 H. Perkataan Ja'd di atas, sebagaimana anda lihat, adalah keberanian seorang yang lancang lidah serta buruk asal-usulnya. Ia melemparkan perkataannya begitu saja tanpa mernbawakan bukti dari sejarah atau akal pikiran yang sehat. Tidak lama kemudian setelah baru saja dinasti Bani Abbas menancapkan kedaulatannya, muncul beberapa tokoh ahli pikir untuk menyelidiki masalah "I'jazul Qur'an" dari jalan bukan jalan kebodohan dan kelancangan. Dalam masalah ini telah maju ke muka pemuka kaum Mu'tazilah dan penyambung lidahnya, yaitu Abu Ishak Ibrahim ibnu Sayarun Nazami. Ia mengemukakan teorinya dari jurusan pikiran dan pandangan, dengan mengatakan bahwasanya Allah telah memalingkan bangsa Arab dari aksi menandingi Al-Qur'an, padahal mereka sanggup melakukannya. Maka palingan Allah ini dialah mu'jizat. Adapun I'jaz Al-Qur'an sendiri tersimpul dari pemberitaan hal-hal yang gaib yang telah lalu atau yang akan datang. Perkataan semacam ini tidak mempunyai dasar samasekali dan yang hanya dilakukan oleh kebingungan dan kekaguman terhadap Kitab yang mengi'jazkan kaum jahiliah serta yang menjadikan mereka membungkam. Bangkitlah beberapa orang menentangnya dan mendebatnya, a.I. kawannya sendiri yaitu Abu Usman Al-jahizh yang telah mengarang kitabnya yang berjudul "Susunan puitis Al-Our'an itu kefasihannya tiada bandingannya. Aljahizh, dan lainnya serta mereka yang datang sesudahnya, rnasing-masing telah mengemukakan pendapatnya. Namun persoalan yang dikemukakan tetap terbatas pada membenarkan atau tidak membenarkan soal "Palingan Allah" itu, dan pada pe_ nyampaian bukti -atas kejelasan dan kefasihan Al-Qur'an, bersihnya dari hal-hal yang merusak lafalnya dan ketiadaan hal-hal yang saling bertentangan di dalamnya, kandungannya yang meliputi segala makna dan maksud yang pelik dan yang berisi pemberitaan segala perkara yang gaib, dan lain sebagainya yang umumnya kita dapati terbentang dalam kitab-kitab karangan meroka, sebagaimana anda telah mengetahuinya dari keterangan saya di muka. Terjadilah hanyak perrnainan kata di antara golongan-golongan ini yang ierkenal denaan nama: "golongan mutakallimin,
  • 43. Adapun persoalan yang mereka tanganiadalah perdebatan, mengadu lidah, be~ggul-unggulan bukti, serta beradu dalil dengan dalil. Setelah masalah "I'jazul Qur'an ini sudah sampai kepada puncaknya dimana diperlukan adanya seorang yang bersungguh-sungguh lagi jujur untuk membelanya, maka datanglah seorang menghadapi golongan Mutakallimin itu, yakni: Abubakar Albaqlani (yang wafat pada tahun 403 H),sedang manusia pada waktu itu, sebagai yang ia sendiri mengatakan terbagi dalam dua kelompok, yakni orang yang menjauh dari kebenaran, lengah dati petunjuk yang benar. Yang lain ia1ah orang yang takut membela kebenaran, dan merasa berat dalam berbuat kebenaran. Hal ini telah berakibat bahwa kaum at heis turut melibatkan diri dalam pembahasan soal ushuluddin (ilmu Tauhid) dan dalam menanamkan keraguan dalam hati orang-orang yang lemah imannya tentang segala yang sudah yakin akan kebenarannya. Ia menyebutkantentang sebagian orang-orang yang bodoh dari kalangankaum atheis itu bahwa mereka mempersama-samakan ayat-ayat Al-Qur'an dengan beberapa syair, serta membanding-bandingkan Al-Qur'an dengan kalam lain. Belum merasa puas dengan yang demikian itu, ia bahkan sampai melebihkan kalam yang lain itu daripada Al-Qur'an. Apa yang dilakukan oleh kaum atheis ini bukanlah suatu hal yang baru. Apa yang mereka katakan dan perbuat itu telah didahului oleh kawan-kawan mereka, yakni kaum atheis Quraisy dan lain-lainnya, yang mengeluarkan perkataan-perkataan yang amat besar kedurhakaannya. (Baca kitab I'jazul Qur'an ka-' rangan Al-Baqlanihalaman 5-6). Hal inilah yang membangkitkan dan menggerakkan Albaqlani untuk mengarang kitabnya yang terkenal itu, yakni kitab "I'jazul Qur'an". Ketika Albaqlani menulis kitabnya itu masyarakatnya masih itu-itu juga, dan kemampuannya merasakan kelezatan dan kefasihan bahasa masihtetap seperti yang saya lukiskan pada anda. Kekuatan merasakan keindahan dan kefasihan bahasa yang mereka miliki itu tertanam dalam naluri mereka, dan konsekwensi dari pembawaan mereka serta hasil asuhan studi penelaahan syair, mendengarkan syair dan meriwayatkan syair. Namun orang-orang yang memiliki naluri dan pembawaan itu tidak tei'halang sedikit pun bagi meluasnya dan merajalelanya perdebatan di antara mereka, serta terjadinya keadaan dimana setiap golongan membuat-buat teori, dengan teorinya itu membela pendapatnya dan menjatuhkan' argumentasi lawannya. 45
  • 44. Kesemuanya itu hanya bertujuan mencari kemenangan, bUkan untuk meneliti pendapat dan mencari kebenaran. Semoga Allah melimpahkan keridhoannya kepada Abubakar AIbaqlani. Ia telah menzhimpun dalam kitabnya banyak kebaikan. Ia telah membuka. dengan pembawaannya yang herakarkan kebaikan, banyak pintu-pintu yang semula t.erkunci sebelum dia. Ia telah menyingkap citra-citra balaghah (keindahan, kejelasan dan kefasihan·bahasa dan kalam) yang sebelumnya merupakan tabir yang tertutup. Akan tetapi ia telah tergelincir secara serius, yang mengakibatkan lahirnya yang bersinambungan, sekalipun ia sebenamya tidak hermaksud menimbulkan akibat karena tergelincirnya dia itu. Dalam kitabnya, semestinya AIbaqIani menempuh jalan yang didekatkan kepadanya oleh penelitian problem "I'jazul Qur'an. Dalam hal ini AIbaqlani semestinya menjadikan sya'ir pra Islam dasar bagi studi tentang soal kefasihan Arab pra Islam ditinjau dari segi persamaannya dengan ciri-ciri khusus kefasihan bahasa-bahasa bangsa-bangsa manusia lainnya. SebenarhyaAIbaqlani merasakan sungguh-sungguh berlainannya ciri-ciri khas kefasihan kalam manusia. Ia telah menyinggungsoal ini dalam kitabnya sebagaimana disinggung pula oleh ulama sebelumnyaj Akan tetapi perdebatan-perdebatan yang dilakukan oleh bum mutakallimin sebelumnya dan pada zamannya, turutnya bum atheis melibatkan diri dalam soal UlhWUddin (ilmu Tauhid), sebagai yang ia katakan, kemudian metoae mereka dalam permainan kata-kata untuk mencari kemenangan, kesemuanya itu tidak memberinya kesempatan melainkan iahams menghabistan waktunya untuk menjawab, menolak kekeliruan dan kesalahan mereka, aengan menggunakan metode sama dengan metode mereka dalam memberikan pendapat. Ia seolah-olah pusing ketika sampai kepadanya bahwa beberapa orang yang dungu di antara mereb te1ah mempersamaaamakan AI-Qur'an dengan syair-syair, serta memperbandingkan AI-Qur'an dengan kalam lainnya. Anda dapat membaca kitabnya bab demi bab untuk mendapatkan kebenaran apa yang saya katakan ini pada anda, hingga ketika ia sampai kepada masalah yang membuatnya bangun, yaitu soal dibanding-bandingkannya AI-Qur'an dengan beberapa syair, maka bangkitlahia mendwl~kan perbuatan memperbanding-bandingkan AI-Qur'an dengan syair. Da1am kitabnya ia mengajak anda untuk be1'S8Il14 mengambil syair Imruulqais, ia 46
  • 45. yang anda samasekali tidak meragukan ketinggian mutunya, tidak menyangsikan kepandaian penyairnya, serta tidak menyangkal kefasihannya, sebagai yang dikatakan sendiri oleh Albaqlani dalam kitabnya (halaman 241). Ia meletakkan syair Imruulqais di hadapan anda. Kemudian ia memerincinya, mengeritiknya, menghapuskan keindahan kata-katanya atau mengokohkannya. Ia berhenti di tempat-tempat yang kurang sempurna ia memba~ anda ke tempat-tempat kelemahannya. Begitulah ia menelanjangi syair itu, hingga menyingkap yang tersembunyi daripada cacat-cacatnya, kemudian ia menutup keterangaIl itu dengan mengatakan: "Kami telah menjelaskan pada anda b~wasanya.syair ini dan lain sejenisnya terdapat di dalamnya kontradiksi (perbedaan-perbedaan) di antara baitbaitnya, yaitu kontradiksi antara yang permutu tinggi dengan yang rendah mutunya, antara yang lancar dan yang ruwet, antara yang utuh dan yang rusak, antara yang mantap dan yang sukar (dimengerti), antara yang cekak (singkat) dan yang panjang-lebar, antara yang canggung~engan yang kurang menyenangkan. Imruulqais mempunyai teman-ternan yang seirama dalam pembuatan syair-syair semacam itu. Ia mempunyai juga penentangpenentang mengenai kebaikan-kebaikan syair-syaimya, serta mempunyai lawan-lawan dalam soal keindahan-keindahan kalimat-kalimat syairnya. Setelah selesai mengupas itu semua, Albaqlani membuka suatu bab yang mulia dan terhormat, di dalamnya ia menyebutkan ayat-ayat dari AI-Qur'an. Ia berusaha menunjukkan pada anda keindahan-keindahan susunan puitisnya serta kejelasan dan kefasihan kata-katanya. Bab ini merupakan bukti yang senyata-nyatanya, yakni sekiranya Albaqlani menegakkan metode pembahasannya sebagai yang kami telah utarakan pada anda di muka, pasti ia mencapai martabat tinggi dengan metodenya yang melampaui metode orang-orang terdahulu, dan sukar dikejar orang-orang yang datang kemudian. Akan tetapi ia dalam bab tersebut di atas tidak lebih daripada membawa anda kepada penjelasan tentang kemuliaan ayat-ayat Al-Qur'an, bait yang mengenai kata-katanya, mau pun yang berkaitan denpn maknanya. Dijelaskan bahwa kisah-kisah dalam Al-Qur'an"sedap didengar, kata-katanya tersusun secara harmonis, susunan puitisnya berpadu baik dan bahwa susunan Al-Qur'an tiada kontradiksi sedikit pun dalam soal-soal yang dibawakannya dan tidak ada kepincangan dalam masalah-masalah yang disajikannya. 47
  • 46. Al-Qur'an maIah memiliki keidea1an yang sangat luhur, serta lrebajikan yang amat tinggi martabatnya (Kitabnya haJaman 802-305). Ia menyebutkan adanya keharmonisan ayat-ayat Al-Qur'an mengenai kefasihannya dan keindahan kata-katanya, dan keserasiannya tentang kelancarannya ~an pengutaraannya, serta pemilikannya sendiri akan gaya yang indah, dan kekhususannya dalam .berurut-urutan susunannxa. Adapun kalam yang selain Al-Qur'an, kalam tersebut [alan penguraianya goyah - kandungan maknanya pincang, ia ban yak berubah warna, selalu berubah-ubah tidak tetap tujuannya. Ia membawa anda pada hal yang indah dan baik, kemudian menyusulnya dengan hal yang buruk dan tercela. Ia menampilkan suatu kata yang tidak disukai orang di antara kata-kata yang baik laksana mutiara yang cemerlang. (Kitabnya halaman 313314). ~mikianlah uraian AIbaqlani, hingga ia sampai pada uraiannya tentang AI-Qur'an, dan ia mengatakan; berdasarkan halhal terse but di atas, perbandingkanlah kalam terse but dengan pembahasanmu tentang kalam yang mulia_ (AI-Qur'an) yang bermartabat tinggi, tidak mencari pemecahan suatu problem melainkan terbuka baginya,· tidak menusuk hati seseorang, melainkan menjadi lapang hati. Tidak menjalani suatu [alan, melainkan jalan itu bersinar dan bercahaya. Tidak mengambil suatu perumpamaan, melainkan perumpamaan itu mencapai langit. Anda tidak memperoleh suatu kemanfaatan dari AIQur'an, lalu anda mengira bahwa itu adalah sebesar-besar manfaat yang dapat diperoleh, melainkan anda masih banyak kekurangan dalam mengadakan penilaian. Tidaklah anda memperoleh hikmah dari AI-Qur'an, lalu anda menyangka bahwa apa yang anda peroleh itu adalah sari dari hikmat-hikmat yang dikandung oleh AI-Qur'an , melainkan anda masih belum sem- . puma dalam penilaian anda. Orang yang menandingi AI-Qur'an dengan syair Imrulqais adalah lebih, sesat daripada seekor keledai yang bodoh, dan lebih dungu daripada orang perempuan yang naif pikiran dan pandangannya. (Kitabnya halaman 821-322). AIbaqlani benar dalam segala ucapannya itu, hanya ia tidak 1ebih daripada menerangkan tidak terdapatnya di dalam AIQur'an hal-hal yang bertentangan, dan bersihnya AI-Qur'an dari setiap cacat dan kekeliruan yang lazim terdapat dalam kalam manusia, sekalipun kekuatan mereka teguh dan mantap , dan dari segala y~ menunjuk pada kebutaan mereka terhadap kebenaran, sekalipun akal p~ mereka terang. Demi Allah, 48
  • 47. semua yang diterangkan itu, Itulankebenaran yang tidak dicampurl sedikit pun oleh kebatilan. Akan tetapi kesemuannya itu bukanlah yang kita carl tentang pengungkapan pokok-pokok kejela.s~, yang karenanya kejelasan AI-Qur'an berbeda dengan kejelasan dan kefasihan kalam manusia, ditinjau darl segi yang telah kami terangkan. Namun bukan ini yang menjadi pembahasan kita sekarang: Pembahasan kita adalah masalah Sya,'ir pra Islam dan apa yang menjadi persoalannya. Dilakukannya perbandingan antara AIQur'an dengan sya'ir pra Islam, suatu hal yang membuat AIbaqlani kemarahannya bangkit, itulah sebagai yang disebutkan sendiri olehnya, yang membuatnya bertindak syair Imruulqais untuk menyingkapkan keaiban dan kepincangannya kepada manusia semata-mata, dan tidak bertujuan untuk mengambil intisari ciri-ciri khusus kefasihannya, dan bagaimana ciri-ciri khusus ini dapat berbeda dengan kejelasan dan, kefasihan AI-Qur'an. Setelah AIbaqlani tergelincir dan salah jalan, maka ulama vang datang sesudahnya turut tergelincir dan salah jalan. Meeeka telah memperlakukan sya'ir pra Islam sebagaimana AIbaqilani memperlakukannya. Akan tetapi yang mengherankan ialah bahwa sya'ir pra Islam tetap menjadi pegangan bagi ulamaulama balaghah (keindahan, kejelasan dan keindahan bahasa) bahkan bagi orang-orang bukan ulama; bagi mereka semuanya sya'ir pra Islam tetap menjadi media pemfasih bahasa, serta menjadi hujjah bagi bahasa, bukti pembenar bagi suatu soal dalam nahwu (tata bahasa) dan lain sebagainya. Akan tetapi bila mereka mempersoalkan AI-Qur'an dan I'jaznya, mereka jadikan Sya'ir pra Islam sasaran bagi pengeritikan dan pembencian, serta untuk membuka-buka keaibannya dan menjelas-jelaskan kepincangannya, dihadapkan pada kalam yang bersih dari setiap keaiban dan kepincangan. Maka persoalannya lalu menjadi persoalan perbandingan dengan car.ayang tidak adil. Sebenarnya sudah cukup bagi mereka adanya bukti bahwa orangorang jahiliah (sebelum Islam) dengan aksi menandingi AIQur'an dengan syair atau kalam mereka, pada hakekatnya orang-orang jahiliah itu telah mengikrarkan dan mengakui dengan jelas kelebihan AI-Qur'an atas syair dan kalam mereka. Maka AIbaqilani tidaklah perlu melakukan cara yang ia lakukan terhadap sya'ir pra Islam; kecuali sekedar melakukan apa yang menjadi tugasnya berkenaan dengan berkokoknya salahseorang dungu dari kaum atheis yang memperbandingkan antara dua kalam dengan kesudahan melebihkan kef~ihan sya'ir pra Islam atas kefasihan dan kejel:~ AI-Qur'atl,. 49.
  • 48. Keadaan yang menimpa sya'ir pra Islam sebagaimana terluIds di atas, disaingi oleh keadaan lain dalam bentuk perdebatan sekeliling sya'ir pra Islam dan syair angkatan baru dari penyairpenyair Islam. Perdebatan mengenai di antara kedua syair itu yang mempunyai kelebihan atas yang lain, memberi pintu untuk diterjang oleh lidah-lidah tajam dengan tujuan mencari kemenangan dan popularitas. Hal ini menyebabkan lebih besar lagi pencemoohan dan pengaiban terhadap sya'ir pra Islam. Hal ini membuat pula orang berpaling dari mempelajari sya'ir pra Islam menurut sistem yang kami utarakan dalam pembahasan ini. Dalam pada itu kekeliruan dan kesalah-pengertian yang sangat serius telah bertimbun-timbun dalam memahami sya'ir pra Islam. Kekeliruan-kekeliruan serius itu menutupi hakekat sya'ir pra Islam dengan selubung kegelapan yang tebal. Keadaan ini tambah diperburuk oleh tercerai-berainya dan hilangnya sebagian besar syair pra Islam, serta musibah lain yang dialaminya dalam bentuk kepincangan dan ketidakmantapan periwayatannya, dengan jalan dilakukannya penambahan atau pengurangan, mendahulukan dan membelakangkan, sehingga kadang-kadang pengertiannya bercampur-baur, yang memberi jalan pada pencelanya untuk mengadakan celaan sesuka hatinya. Namun syair pra Islam tetap juga: menjadi edukator bahasa, dan sumber bagi batu-uji untuk bahasa, tata bahasa dan kefasihan serta keindahan dan kejelasan bahasa. Aduh! Cobaan apa saja yang tidak menimpa sya'ir pra Islam! Sepanjang masa, sya'ir pra Islam menerima cobaancobaan itu, bahkan lebih buruk lagi, hingga sampai pada abad modem ini kita menyaksikan keadaan yang seburuk-buruknya, ketika penjajahan barat yang memerangi kita, memaksakan atas sekolah-sekolah kita suatu metode pelajaran yang tidak berpijak atas dasar yang benar, dan yang bertujuan melemahkan studi bahasa Arab secara mengaibkan, yang tiada tandingannya, bila dibandingkan dengan pelajaran bahasa-bahasa lain, yang diterima oleh para pemuda pelajar di tempat-tempat sekolah yang berlainan tingkatannya. Kemudian, setelah berlalu beberapa tahun, keburukan itu telah melampaui batas, ketika bahasa Arab dipisahkan samasekali dan dengan sengaja dari setiap mata pelajaran ilmu pengetahuan maka para pemuda itu sekarang mempelajari bahasanya sendiri sebagaisuatu pelajaran yang terbatas, yang dengan pembatasan yang jahat ini, pelajaran itu menjadi berat dirasakan oleh setiap pelajar, terutama oleh 50
  • 49. para remaja. Setelah Universitas Mesir didirikan, dan dimasuki oleh para pemuda itu, yang berada dalam keadaan jemu terhadap bahasanya sendiri dan memandang rendah terhadap segala sesuatu yang menyangkut masalah bahasa Arab, maka muncullah syaitan membawa fitnah ("Sya'ir pra Islam"), dan menyangsikan keabsahan periwayatannya. Kejahatan ini berpindah kepada pers, yang menjadikan bahasa Arab lama (sebelum islam), bukan sya'ir pra Islam saja, bahkan cemoohan dan ejekan, Berta bahan sindiran dan peremehan, bahkan mereka mengejek letiap orang yang nampaknya masih tetap mempertahankan Jremurnian bahasa, hanya sekedar untuk menyampaikan ama_t, tidak lebih dan tidak kurang. Inilah sejarah ringkas tentang sebab musabab yang membawa syaeir pra Islam kepada posisi sebagaimana ia berada dahulu. Maka oleh karena sebab-sebab itu ulama-ulama balaghah (ahli ilmu kefasihan dan keindahan bahasa) terhalang untuk menempub metode seperti yang saya telah ungkapkan dan terangkan, 'yakni metode yang harus mereka, mau pun kita menempuhnya 1IIltuk kepentingan studi tentang I'jazul Qur'an dengan jalan JUg benar serta selamat dari segala bencana. Sejarah fui amat dngkas bagi orang yang mengikuti metode yang dimaksud di "... pada masa modern sekarang ini, apalagi setelah Syair pra 'Illam menjadi permainan dipermainkan oleh orang-orang . JIIDI memiliki lidah untuk berbicara, sehingga kesemuanya , Bu mendatangkan suasana sedih dan suram pada studi-studi -.gkatan baru baik di dalam mau pun di luar universitas, ketika la1ahseorang dari mereka ini mempelajari syaeir pra Islam ini, Yah, syaeir pra Islam ini, yang pada waktu Allah menurunkan Al-Qur'an kepada Nabi-Nya s.a.w., syair itu masih menjadi eaIIaya yang menerangi kegelapan jahiliyah, sedang kaum jahiliyah lt11 berdiam diri terhadap kefasihannya seperti bersemedinya IIOl'BDg penyembah berhala kepada patungnya. Mereka menundukkan diri kepada kejelasan-kejelasannya dengan khusyuknya J8Dgtidak pernah mereka lakukan kepada berhala-berhala mereb, sebab kaum jahiliyah itu adalah penyembah-penyembah kefaihan dan kejelasan bahasa, sebelum mereka menjadi penyembah-penyembah berhala. Kami pemah mendengar adanya orang mereka yang meremehkan berhala-berhala mereka, namun bmi tidak pemah mendengar seorang yang meremehkan kefalIIhan kalam mereka. Patutlah kiranya bagi anda mengetahui bahwasanya sesuatu Jiang saya minta, mencari hujjahbaginya, serta berusaha mengp de 51 '.
  • 50. ungkapkan metodenya dart jalannya, adalah semata-mata hal yang berkaitan dengan ciri-ciri khusus kejelasan di dalam AIQur'an, dan ciri-ciri khusus kefasihan kalam manusia dengan segala jenis logatnya yang berlain-lainan; bahwa jalan keluar kejelasan di dalam AI-Qur'an.lain dari jalan keluar kefasihan kalam manusia, dan bahwasanya sya'ir pra Islam itu hanyalah materi pertama 'bagi studi : sebab AI-Qur'an turun kepada mereka dalam bahasa Arab yang tinggi, dan menantang mereka agar membuat syair untuk menandinginya, akan tetapi mereka tidak berdaya. Ini adalah pintu bukan yang dibuka oleh Albaqilani, kemudian dibedah sumbernya oleh tokoh ulama balaghah yakni Abdulqadir AIjurjani (wafat pada tahun 474) dalam kedua buah kitabnya : "Petunjuk-petunjuk I'jaz" dan "Rahasia-rahasia Balaghah". Kemudian datang ulama-ulama lain membubuhi petsoalan ini menurut apa yang mereka kehendaki, serta menambah dan mengurangi. Hal ini terjadi setelah pintu yang kami uraikan di atas telah ditutup. Pintu inilah yang seharusnya dibuka oleh Albaqilanidan Abdulqadir Aljurjani. Apabila hal ini, kami ajak kepada persoalan orang-orang yang berbahasa Arab itu dapat terlaksana pada suatu hari, dan mudah-mudahan hal ini akan dapat terlaksana dengan taufik Allah s.w.t., maka kejadian ini akan merupakan kemenangan yang nyata, bukan saja bagi sejarah balaghah, kefasihan dan keindahan bahasa Arab, melainkan bagi sejarah balaghah umat manusia semuanya, dan kejadian itu akan menjadi juga hal yang memberi kepuasan dan ketenteraman hati bagi rasio (akalpikiran) modem, yang menuntut dalam memakrifati I'jazul Qur'an, suatu kemakrifatan yang hati akan puas dan tentram, terhadap apa yang ia dapatkan itu. Bukan itu saja yang dapat diberikan oleh kejadian itu, ada yang lain lagi, yaitu bahwa orang-orang menuntut kebenaran dari umat Islam, pada saat itu akan mendapatkan sarana yang tiada tandingannya, yang memudahkan kepada mereka untuk membuka apa yang semula terkurici, .mengenai da'wah mengajak manusia kepada Kitab Allah yang di dalamnya bangsa Arab, memperoleh kekhususan serta di dalamnya pula mereka disebut-sebut untuk selama-lamanyaketika Al-Qur'an irii diturunkan dengan bahasa mereka, namun Allah menjadikan Al-Qur'an ini petunjuk bagi manusia semuanya, baik bagi bangsa Arab maupun bagi bangsabangsa lain bukan :Arab.. Pada saat ituakansirna fitnah "menterjemahkan Al-Qur'an" dari akar..akarnya, sebab y~g jelas, walaupun mereka sanggup menciptakan pwsi dan prosa 52
  • 51. dengan bahasa mereka, namun demikian mereka tetap tidak· mampu memberikan kefasihan dan kejelasan yang serupa AlQur'an, maka pembacaan Kitab ini menunjukkan bahwa kefasihan dan kejelasannya berlainan samasekali dengan kefasihan kalam manusia. Maka adalah kebodohan dan kedunguan yang sangat sekali, kalau seseorang mengaku-ngaku bahwa dia dapat menterjemahkan AI-Qur'an, dan dalam terjemahannya itu ia mampu membawakan kefasihan dan kejelasan yang berlainan dengan kefasihan kalam manusia. Apabila hal ini tidak mungkin terwujud dalam kemampuan siapa pun jua, maka jelas bahwa terjemahan itu tidak mempunyai arti samasekali, bahkan terjemahan Al-Qur'an akan merupakan penjauhan dan kemunduran, sehingga ia menjadikan AI-Qur'an tidak berbeda dengan kalam manusia, tidak lagi terdapat di dalamnya tanda-tanda yang menunjukkan bahwa kitaib. itu kalam Allah, dan tidak pula berwujud sebagai bukti akan kebenarannya bagi manusia. Terjemahan Al-Qur'an tidak akan dapat mewajibkan atas. siapa pun untuk beriman kepada isinya, sekali pun hal ini bertentangan dengan kelaziman.keyakinannya dan pengetahuannya, kecuali kalau ia sebelumnya sudah beriman bahwa kitab itu adalah Kitab yang diturunkan dari langit. Hal ini adalah kebalikan dari tanda kebenaran Al-Qur'an, bahwa kejelasan dan kefasihan Al-Qur'an itulah bukti yang memastikan pertanda ia bukan dari kalam manusia, akan tetapi Kitab yang diturunkan dari langit dan merupakan firman Tuhan semesta alamo Didalam membaca Al-Qur'an termasuk ibadat kepada Allah swt. sesuai dengan sabda Rasulullah : "Orang yang mahir membaca Al-Qur'an, kelak bersama-sama dengan malaikat, penulis-penulis yang mulia serta baik, sedang orang yang tersendat-sendat dalam pembacaannya padahal ia sudah bersusah-payah, maka baginya dua pahala". Beliau bersabda pula: "Barang siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, ia memperoleh kebaikan dengan pembacaannya itu, sedang satu kebaikan dinilai dengan sepuluh kali serupa. Aku tidak mengatakan "alif-lam-mim" sebagai satu huruf, melainkan, "alif" satu huruf, "lam" satu huruf, dan "mim" satu huruf. Kemudian dari itu, mudah-mudahan Allah swt. melimpahkan rahmat kepada umat penerus (yang sekarang ini]. Berkat jasa umat yang ..terdahulu, umat. penerusini dapat memblika telingatelinga yang tuli, mata yang buta, dal. hati yang tertutup, serta 53
  • 52. mengeluarkan man usia dengan petunjuk Al-Qur'an dari kesesatan mereka, menjauhkan mereka daripada mengikuti jejak-jejak syaitan, guna mengikuti jalan yang lurus. Allah swt. berfirman kepada Nabi-Nya .: >. 0/ ~ LY- .JI ~I: * I~~ /.: u~ -~ u J-- >= /' ..•. J ~ .b I'~ ~ ..•.. t _ Y r : (..).",1 -~ c:.. .11) ',-":" * I ~;:;; r . .J _/,/ ~ /' ~I; -' -" u"· .<LJ .b~ " ( Y ~ .r :: ././_0 »: I .....• Lr' ./ ;; ~ ./ ' ~ ./ "Dan engkau sesungguhnya mengajak mereha ke ialan yang lurus, sedang orang-orang yang tidak percaya pada Hari Kemudian sesungguhnya menyimpang dari jalan yang lurus itu ". (SuratAlmu 'minun: ,73-74). Mudah-mudahan akan terbuka bagi umat sekarang ini hal-hal yang oleh Allah disembunyikan dari umat yang terdahulu. Semoga hal itu tersembunyi dalam pemisahan, yang kita rasakan dalam hati, antara kejelasan Kitab Allah s.w.t. dan kefasihan kalam. hamba-hamba-Nya dari umat manusia. .",./0 * .•••••••• ~I ( t, : ////'::;.// °f'~ r~";/ ~// ~~.,..u ;;~~l - • .,1''''''. ~,..~ ill; ~I -" J-i ;' I ) "Katakanlah: Allah mempunyai hujah yang tepat. Sekiranyo DiG menghendaki niscaya Dia memimpin kamu semuanya. (Surat Al-An'am: 149). Malik ibnu Anas ria. berkata: "Umat yang datang belakangan tidaklah bisa baik kecuali dengan apa yang umat terdahulu bisa baik kerenanya". Maka kalau umat yang terdahulu tidak menjadi baik kecuali dengan jalan kejelasan, umat yang datang belakangan pun tidak akan menjadi baik kecuali dengan kejelasan pula. Ada dua orang, yang satu membunuh bahasanya din kejelasan serta kefasihan bahasanya, yang lain membunuh dirinya sendiri, lni adalah perumpamaan saja. Tentang kedqa -orang dalam perumpamaan di atas, orang yang kedua lebih beraka1 daripada yang pertama. Semoga Allah srw.t. memberikan keridhoan-Nya kepada saudaraku Malik bin Nabi, tatkala ia mengajak. aku agar i.ku 54
  • 53. suka menulis introduksi bagi bukunya "Fenomena Al-Qur'an". Dengan ajakannya ini ia telah membukakan pintu bagi saya untuk mengemukakan sepatah kata tentang I'jazul Qur'an, yang semula saya takut memasukinya. Ia membukakan juga bagiku pintu untuk mengatakan sesuatu tentang "Sya'ir pra Islam" yang semula saya membujuk-bujuk diriku untuk tidak mengemukakan masalah itu. Saya menyadari bahwa dalam mengemukakan apa yang diminta pada saya itu untuk menyingkat dan meringkas, sekalipun saya telah berpanjang-lebar, akan tetapi saya khawatir akan menjemukan pembaca. Walaupun demikian alasan saya dalam mengemukakan kedua masalah tersebut ialah bahwa pendapat tentang kedua masalah itu telah dicampuri hal-hal yang mengeruhkan. Maka saya telah berbuat sekuat-kuatnya untuk menjernihkan pembicaraan tentang kedua masalah tersebut, hingga saya dapat menyingkirkan hal-hal yang menodai kedua masalah itu dan menyelamatkannya dari gangguan dengan tujuan untuk mencari [alan memperoleh keridhoan Allah, serta mencari pendekatan diri kepada Tuhanku swt. : "pada hari yang mana setiap orang datang membela dirinya sendiri dan diberikan balasan kepada setiap orang sesuai apa yang telah ia kerjakan, dan mereka tidak akan dirugikan. Segala puji diperuntukkan Allah jua, tiada daya dan tiada upaya selain dari Allah, dan tiada kebaikan datang selain dari pada-Nya. Mahmood Muhammad Shakir. 55
  • 54. GERBANG MASUK ke studi tentang Fenomena AI-Qur'an 57
  • 55. Gerbang masuk ke studi tentang FENOMENA AL-QUR' AN Kitab ini tidak pemah memperoleh kesempatan untuk menyaksikan cahaya kelahirannya dalam bentuknya yang lengkap. Sebenamya kami telah mengulangi penulisan pokok-pokoknya, yang telah dibakar dalam situasi dan keadaan darurat. Kitab ini, sebagaimana isinya yang sekarang ini tidak cukup luas dan mendalam untuk mengolah pemikiran kami yang pertama tentang problem Al-Qur'an .sebab tema yang menjadi persoalan ini memerlukan kerja berat dan waktu lama, serta membutuhkan kitab-kitab yang penting-penting untuk penelaahan, akan tetapi buku-buku itu kami tidak berhasil memperolehnya dalam usaha kami yang kedua. Sungguhpun demikian kami sangat menyadari akan amat tinggi nilai pemikiran ini, sehingga kami merasa terdorong untuk mengadakan studi tentang hal ini. Demikian pentingnya studi ini, hingga kami yakin benar akan perlunya melakukan segala daya upaya untuk merealisasi usaha ini, betapa pun sukamya rencana itu dan betapa beratnya halangan-halangan yang merintangi realisasi itu. Maka untuk maksud tersebut kami telah berusaha menghimpuh unsur-unsur tema kitab ini, yang masih tersisa dati bahan-bahan aslinya, yang tertulis pada kertas-kertas potongan, atau yang masih tercatat dalam ingatan. Dengan demikian kami telah berhasil menyelamatkan menurut hemat kami inti tema, yang dimaksud, yaitu mencurahkan perhatian penuh untuk merealisasi metode yang analistis tentang studi mengenai Fenomena Al-Qur'an. Metode tersebut akan terealisasi dati segi praktek, dengan sasaran berganda: 1. memberi kesempatan kepada generasi muda muslim untuk merenungkan dengan renungan yang matang tentang hal agama. 2. menyarankan adanya perbaikan, yang sesuai dengan metode lama tentang interpretasi (penafsiran) Al-Qur'an. Kedua tujuan terse but di atas bersumber dati sebab-sebab yang bermacam-macam, diantaranya ada yang berkaitan dengan perkembangan peradaban dan edukasi yang terjadi secara umum di dunia Islam. Sebagian lain dati sebab itu dapat dikembalikan pada faktor lain secara khusus, yang dapat kita namakan "perkembangan penilaian kita tentang masalah "I'jazul Qur'an. Oleh karena itu maka perlusekali memaparkan sebab-sebab itu secara berurut. 58
  • 56. Pertam.a: sebab-eebabhistoris. Kita harus mengetahui bahwa perkemb8Dganperadaban di dunia Islam melalui keadaan yang serius, dimana kebangkitan Islam memperoleh pikiran-pikirannya, serta penprahan ilmiahnya dari peradaban barat, khususnya dengan perantaraan Mesir.Pikiran-pikiranyang berdas8rkan ilmiah 'ini, ,tidQksaja mencakup 'hal-hal yang bersangkutan.dengan cara berpikir modem yang sedikit demi sedikit sudan terbiasa bagi generasi muda muslim menggunakannya, me1ainkan juga telah melibatkan diri dengan jalan yang misterius dalam alam pikiran dan alam psikologi; dengan kata lain, dalam segala yang berkaitan dengan kehidupan ruhani. Adalah hal yang menimbulkan keheranan apa yang disaksikan pada masa ini, bahwa banyak dari pemuda muslim cendekiawan mengambil unsur-unsur pengetahuan tentang kepercayaan dan akidah keagamaan mereka, dalam halini kadang-kadang mereka lakukan karena dorongan-dorongan kerohanian dari eelah-eelah tulisan dan karangan ahli-ahli Islamologi bangsa Barat. Studi-studi tentang agama Islam yang sekarang terdapat di Eropah, oleh pena-pena para tokoh kaum orientalis, adalah suatu realitas yang tidak perlu diperdebatkan. Tetapi dengan adanya kenyataan ini, apakah kita sudah menyadari akan kedudukan yang didominasi oleh realitas tersebut, dalam gerakan berpikir modem di negeri-negeri'Islam? Karya-karya literatur yang dibuat oleh kaum orientalis itu telah mencapai tingkat yang serius mengenai "pemancarannya", yang hampir .tidak dapat kita bayangkan. Cukup kiranya sebagai bukti, atas hal di atas bahwa dalam "Lembaga studi bahasa Arab" di Mesir duduk sebagai anggauta seorang orientalis berbangsa Prancis. Moogkin kita akan dapat menyadari keseriusan hal di atas, kalau kita mengamati banyaknya skripsi-skripsi untuk memperoleh gelar doktoral dan karakter dari isi skripsi-skripsi tersebut, yang diajukan oleh para mahasiswa bangsa Suriah dan Mesir, pada setiap tahun. Kepada Universitas Paris saja dalam skripsi-skripsi ini para mahasiswa - yang nota bene akan menjadi guru dan pengajar peradaban bahasa Arab serta akan menjadi pembangkit dan pendiri kebltftgkitan Islam kemudian hari - berteguh hati, sebagai yang mereka tetapkan atas diri mereka untuk menggemakan pikiran-pikiran yang dipompakan oleh para profesor Barat mereka. Dengan jalan ini orientalisme telah menyusup dalam ke tubuh alam pikiran dunia Islam, dan dengan demikian ia telah menggariskanpenga59
  • 57. rahan alam pikiran itu sejauh mungkin. lnilah krisis yang serius yang melanda peradaban kita sekarang, seraya mengobarkan eli sana-sini polemik-polemik yang menggema jauh, sebagai yang terjadi antara Doctor Zaki Mubarak dan Doctor Toha Husain di Mesir tentang sebuah syair sastra yang bemafaskan semangat menyala-nyala meratapi trageeli-tragedi yang menimpa alam pikiran Islam pada waktu itu. Krisis umum tersebut di atas adalah akibat dari sesuatu yang penting bagitema studi kita ini. Yang saya maksud ialah pengaruh pelajaran-pelajaran kaum orientalis atas alam pikiran yang benangkut-paut dengan agama pada pemuda-pemuda pelajar universitas. Mereka ini berarah kepada sumber-sumber (buku-buku) barat, sampai pada hal-hal yang berhubungan erat dengan pengetahuan-pengetahuan agama pribadi mereka. Pengarahan ini terjadi karena sangat kurangnya literatur pada perpustakaan-perpustakaan kita, maupun karena J adanya keakraban dalam pikiran antara mereka dan peradaban barat. Memang suatu kenyataan bahwa pustaka-pustaka lokal telah kosong dari kekayaan keilmuannya, sehingga ia berorientasi ke perpustakaan-perpustakaan nasional di Eropa. Mesir sesungguhnya telah berusaha sekeras-kerasnya untuk mengadakan saranasarana dalam jangkauan alam pikiran Islam, yaitu sarana-sarana baru untuk bekerja, menurut apa yang dapat diperoleh, dalam bentuk percetakan-percetakan modem, ditunjang oleh pekerjaan sungguh-sungguh yang ditangani oleh angkatan muda cendekiawan. Namun usaha besar ini sendiri masih di bawah hegemoni kecerdikan management yang eliwarisi dari zaman penjajahan. Betapapun keadaannya, namun generasi muda muslim cendekiawan merasakan dalam dirinya akan keterpaksaannya untuk 1a:ri kepada karangan-karangan para pengarang asing Barat, untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan alam pikiran modernnya. Mungkin juga para pemuda ini memang menaruh penghargaan tinggi .terhadap metode berpikir dari teori obyektivitas Descartes, sehingga kita mendapati banyak hakim dan mahaguru bersorban m9ftikmati dalam metode berpikir modem itu kelincahan matematisnya. Kesemuanya itu tidak akan mendatangkan akibat-akibat serius, sekiranya orientalisme itu membatasi diri dengan metodenya pada persoalan-persoalan ilmiah saja, Akan tetapi keinginan hawa nafsu yang didorong eleh siasat politis dan keagamaan 60
  • 58. terkadang menelanjangi diri sendiri, seperti. dengan menyesal sekali yang nampak pada karangan-karanganpara ahli orientalisme Barat itu mengenai studi tentang Islam, sekalipun karyakarya mereka itu sungguh mengagumkan. Dalam hubungan ini pastor R.P. Lamance bukanlah contoh satu-satunya bagi kaum orientalis yang menyerang Islam dan pemimpin-pemimpinnya. Satu-satunya keadaan yang dapat kita lihat ialah cara bekerja secara diam-diam untuk merobohkan tiang-tiang kokoh Islam. Maka orang yang pintar ini setidak-tidaknya mempunyai jasa dalam mengungkapkan kebenciannya yang sangat pada AIQur'an dan pada Muhammad s.a.w, Tidak diragukan lagi bahwa pekerjaan yang dihayati oleh kefanatikan adalah lebih baik daripada praktek Machiavelli, yang bekerja secara diam-diam, lagi keji, Y8l1l diikuti oleh kaum orientalis lainnya, yang dalam . berpraktek bersembunyi di bawah selimut ilmu pengetahuan. Adalab 8uatu hal yang sangat mengherankan dan yang perlu kami ketengahkan di sini, yaitu keramahan yang diterima sebagai fasilltu, oleh pikiran-pikiran dungu itu, terutama di Mesir, sewaktu DeIIri itu dihegemoni oleh universitas-universitasbarat. Contoh paling tepat jangan membenarkan keterangan kami di atas tanpa dapat disangkal ialah perkiraan yang diketengahkan oleh seorang orientalis berbangsa Inggris. Margelyouth, tentang "Sya'ir pra Islam". Perkiraan yang dibuat oleh orientalis ini telah disiarkan pada bulan Juli 1928 di salahsatu majalah kaum orientalis. Pada tahun 1926 Dr. Toha Husain menerbitkan bukunya yang tersohor, berjudul "Tentang Sya'ir pra Islam". Keberurutan kejadian ini menta'birkan fakta bahwa alam pikiran modem sebllgiandari tokoh-tokoh peradaban Arab membuntut saja pada apa yang diketengahkan oleh Mahagurumahaguru barat. 1) Mungkin sekali perkiraan Margelyouth itu tidak mengandung soal-soal khusus luar biasa, kalau sekiranya perkiraan itu 1). Kami mengemukakan di sini teori Margelyouth sekedar untuk menunjukkan kepada pembaca muslim keharusan penerapan metode modern tentang penginterpretasian (tafsir) Al-Qur'an. Pembaca dapat mengetahui nilai metode tersebut, yang berdiri atas landasan mempelajan fenominalogi dan atas dasar-dasar psikologi analistis. Pembaca akan mengetahui juga bahwa kami tida'k mengajarkan pikiran-pikiran Margelyouth atau pikiran-pikiran orang-orang yang berguru padanya seperti antara lain Dr. Toha Husain. Tujuan kami hanyalah dengan menyebutkan teori Margelyouth itu hanyalah untuk studi tentang fenomena Al-Quran. (Catatan pengarang) 61
  • 59. ketika disiarkan tidak memperoleh sambutan yang begitu bangat dan majalah-majalah orientalis dan dari beberapa risaJatrisalat yang dikemukakan oleh sarjana-arjana Arab modern, sehingga perkiraan Margelyouth ini memperoleh nilai "Ukuran tetap" dalam studi Dr. Shabbagh tentang soal: Kata-kata sinooan di dalam Al-Qur'an". Sarjana ini da1atn bukunya itu telah menolak secara mutlak, tetapi yang mengandung maksud dan tujuan untuk mengakui "Sya'ir pra Islam" sebagai suatu hakekat obyektif dalam sejarah kesusastraan Arab. Maka problem sya'ir pra Islam dalam kondisinya dimana ia berada sekarang, sudah melampaui ruang lingkup kesusastraan dan sejarah. Ia sudah menyentuh secara langsung masa1ah"metode lama" tentang perinterpretasian (tafsir) Al-Qur'an secara keseluruhan, yaitu metode yang berdiri atas landasan: "Mengadakan perbandingan gaya bahasa, dengan bersendi kepada "Sya'ir pra Islam" sebagai hakekat yang tidak dapat diperdebatkan lagi tentang adanya. Betapapun juga, adalah mungkin bahwa problem ini dapat timbul sebagai konsekwensi daripada perkembangan bam dalam alam pikiran Islam, akan tetapi dalam bentuk yang tidak terlalu radikal, sebab keharusan perkembangan menuntut diadakannya amandemen, yang dilakukan dengan cara yang bijaksana dan dengan pertimbangan matang yang dapat memadai tuntutan alam pikiran modem. Akan tetapi itulah yang terbayang. Adapun I'jazul Qur'an sampai sekarang ia tetap berdiri atas landasan argumentasi yang jelas akan keluhuran Kalam Allah atas semua kalam manusia. Larinya sistem penafsiran Al-Qur'an kepada jalan mempelajari gaya bahasa, hanyalah supaya dapat diletakkan dasar rasional yang diperlukan untuk I'jazul Qur'an. Maka sekiranya kita menerapkan kesimpulan-kesimpulan perkiraan Margelyouth, seperti yang dilakukan oleh Dr. Shabbagh, niscaya runtuh samasekali dasar yang dipakai untuk penafsiran Al-Qur'an sebagai yang tersebut di atas. Dari jurusan inilah problem penafsiran Al-Qur'an akan ditempatkan dalam posisi yang serius, ditinjau dari segi kepercayaan orang muslim; yang saya maksudkan ialah: ditinjau dan segi I'jazul Qur'an dalam pandangan orang muslim. Mungkin perkembangan alam pikiran tidak kurang andilnya dalam mendorong para pemuda akademisi kita untuk mengkonstatasi keantikan "ukuran lama" baik lambat atau cepat, yang dipakai untuk menafsirkan Al-Qur'an, yaitu "ukuran' yang sampai pada masa itu mempersembahkan 62
  • 60. •. bultti yang mutlak mengenai sumber yang pib begi Al-Qur'an. Adapun bagi alam pikiran yang diwamai dengan descartelUme, maka 'baginya apa harpnya suatu argumen, yang sejak ita sudah nampak kehilangan keobyektifannya, dan hanya merupakan argumen yang subyektif penuh, Topik ini sebenamya tidak ada hubungannya dengan kejelasan dan kefasihan Al-Qur'an, yang tetap sebagaimana keadaannya sejak semula, pada waktu turunnya melainkan ia hanya berkaitan dengan posisi orang muslim sendiri. Sebenamya tidak terdapat seorang muslim, lebih-Iebih 1agi di negeri-negeri bukan Arab yang dapat memperbandingkan secara obyektif· antara suatu ayat dari Al-Qur'an dengan kuplet 81air atau dengan satu fragmen dari kesu888teraan Pra Islam. Sejak lama kita sudah tidak lagi memiliki perasaan menikmati genialitas bahasa Arab, untuk dapat mengambil kesimpulan dari perbandingan kesusasteraan guna memperoleh basil yang adil dan berdasarkan kearifan. Sejak waktulama pula kita merasa cukup dengan bertaqlid saja dalam masalah ini, suatu hal yang tidak bersesuaian dengan alam pildran yang berpegangan kepada keobyektifan dalam menerima suatu masalah. Maka problem penafsiran Al-Qur'an dengan demikian di bawah sorotan cahaya baru. Mungkin para cendekiawan Mesir yang berhaluan modem melihat problem penafsiran Al-Qur'an itu dari sorotan cahaya baru ini. Namun terlihat bahwa usaha berat yang dilakukan oleh para ulama itu, sekalipun usaha itu tidak melupakan segi sosial dalam ilmu tafsir, tidak memberi penentuan metodenya yang lengkap tentang penafsiran Al-Qur'an. Tafsir yang besar yang dikarang oleh Syaikh Thanthawi Jauhari adalah suatu produk ilmiah menyerupai ensiklopedi, namun tidak memberi perhatian walau sedikitpun untuk menentukan suatu metode. Adapun Tafsir Syaikh Rasyid Ridha, yang dalam tafsirnya mengikuti sistem gurunya, yakni Syaikh Muhammad Abduh, juga tidak. meletakkan suatu metode, segala perhatian yang dicurahkan olehnya dalam Tafsirnya ialah memberi pada metode lama wama alam pikiran yang baru. Sekalipun Syaikh Rasyid tidak. mengadakan perobahan secara radikal pada cara lama penafsiran Al-Qur'an tapi ia telah dapat menciptakan dalam kalangan grup muslim yang terbaik, yang menyenangi adanya pembaruan kesusasteraan, suasana kegairahan untuk melakukan diskusidiskusi tentang soal-soal agama. Sekalipun begitu, problem penafsiran Al-Qur'an tetap merupakan problem yang serius 63
  • 61. menpnai keperciya8n indiWiu ~ dibebttik oleh ~ Descutesisme di saw pihak, dan mengenai .p~-pi1tirah secara keseluruhan yang hidup c:ralalh. masyarakat aan yang menjadi dasar daripada j)eradabaIi lterakYatan di piftak lain. Adalah makhun, bahwa 'iletllP,masyatakat mempunyai problem piki1'aniSikitan yang hidup di terigah-tengallnya, dan menggerakkan massa, sebagaim4l.taia juga mempunyat problem pikiran-pikii8n llmilh yang khusus ada pada kaum intelleknya. Maka sebagaimana problem yang terakhir ini memberi penentuan pada para tokoh masyarakat dan para ulama untuk mengadakan pemecahan teoritis terhadap beberapa problem, juga problem yang pertama yang tersebut di atas, memberi penentuan jalan praktis bagi masyarakat terhadap problemproblem yang mereka temui di dalam kehidupan.Di dalam dunia Islam,' sekarang terdapat lapisan masyarakat terpelajar yang meyakini bahwa bumi ini bergerak. Akan tetapi di samping itu terdapat Massa yang besar dari orang-orang awam dan umat yang masih bodoh, berteguh dengan keteguhan hatinya bahwasanya "bumi ini tidak bergerak, dfangkat. dengan inayah Dahi, di atas tanduk lembu". Pemikitan semacam ini yang hidup di dalam masyarakat, ada kemungkinan besar mempengaruhi pengarahan sejarah, lebih besar daripada pemikiran llmiah, karena pemikiran yang pertama itu bersendi pada khurafat (ketahayulan) yang dibawakan oleh seorang ahli tafsir yang gaga!, yang berpikir bahwa bumi ini berdiam di atas tanduk lembu. Mari kita mengambil sebagai contoh, umpamanya: "Kompas dan alat pengukur sudut". Sekalipunkedua alat ini hasil pemikiran ilmiah kaum muslimin, namun dunia Islam tidak mempergunakan kedua alat tersebut untuk menemukan Amerika. Oleh karena dunia Islam pada m8sa itu lumpub dari segalakemajuanilmiahdan kemasyarakatan" disebabkan oleh adanya pikiran-pikiran awam yang-ttlati. Bukankah ini dia tragedi yang Imam Gozali hen.dak mengekspressikannya dalam bait syairnya yang masyhur itu, yang terjemahannya sbb: Aku telah memintal untUk mereka pintaJan yang halus, tetapi aku tidak mendapatkan bagi pintalanku itu seorang penenun, lalu aku patahkan alat pemintalanku. Seaungguhnya problem penafsiran' Al-Qur'an· betapapun juga, adalah problem kepercayaan keagamaan bagi seorang yang terpelajar sebagaimana juga problem pikiran-pikiran yang hidup dalam masyarakat bagi seseorang yang awam. Dari kedua jurusan ini perlulah metode penafsiran Al-Qur'an diadakan 64 •. r
  • 62. I perubahan, di bawah sorotan sinar eksperimen (percobaan) historis, yang telah dialami oleh dunia Islam. Selanjutnya, apabila sebab-sebab yang telah kami kemukakan di atas menunjuk kepada keharusan adanya amandemen pada metode lama penafsiran Al-Qur'an maka terdapat sebab-sebab lain yang menunjuk kepada isi amandemen itu; yakni yang menunjuk pada bentuk metode yang harus kita tempuh mengenai problem "I'jazul Qur'an". Kedua: Sebab-sebab yang bersangkutan dengan metode itu. Kami telah uraikan dalam bab "Gerbang masuk ke studi tentang Fenomena Al-Qur'an" sebab-sebab yang mendorong untuk mengadakan studi ini ialah mengingat akan hal-hal yang terjadi di dunia Islam, dalam bentuk-bentuk perkembangan-perkembangan sosial dan edukatif, yang mempengaruhi posisi seorang muslim yang intelek terhadap Islam dalam gambaran yang menyeluruh. Maka haruslah sekarang diuraikan sebab-sebab yang menentukan metode yang kami ikuti dalam mengadakan studi ini, mengingat akan kesadaran orang muslim terse but terhadap Al-Qur'an, sebagai suatu Kitab yang diturunkan pada khususnya, dan mengingat akan tidak mungkinnya memisahkan akan sebab-sebab ini dari sejarah agama-agama Ilahi, pada umumnya. Dan kami mendapati gambaran ini dalam Hadits yang dibawakan oleh saudaraku Al-Ustadz Shakir dalam "Introduksinya", dimana Rasulullah s.a.w, bersabda; "Tiada seorang nabi melainkan telah diberi Tuhan mukjizat-mukjizat yang karenanya manusia bisa beriman. Namun yang diberikan padaku hanyalah wahyu, yang diwahyukan kepadaku. Maka aku berharap bahwa aku akan mempunyai pengikut-pengikut lebih banyak daripada para nabi lainnya kelak pada hari kiamat". Maka haruslah kita menentukan makna kata "I'jaz" didalam Al-Qur'an, dengan memperhatikan makna "I'jaz" di dalam agama-agama secara umumnya. Jadi kita harus menentukan makna "I'jaz" menurut pengertian bahasa, dan sebagai suatu terminologi atau kata-kata istilah, juga dalam batas-batas sejarah, karena unsur waktu mempunyai sangkut-paut dalam perkara ini, kalau kita mempertimbangkan perkara ini dari satu agama lain; yakni tentang arah perkembangannya. Ahli-ahli bahasa menganggap bahwa "I'jaz" ialah "melemahkan". Adapun ahli-ahli terminologi menganggap bahwa "I'jaz" ialah argumen jelas yang ditampilkan oleh Al-Qur'an kepada la65
  • 63. wan-Iaw~nya dari kaum musyrikin untuk menjatuhkan mereka dengan argemen itu ke dalam ketidak-mampuan. Tetapi kalau kita hendak menentukan makna istilah ini dalam batas-batas sejarah, yakni dalam hubungan dengan kesadaran manusia akan bukti kebenaran agama, dan kesadaran seorang muslim akan bukti kebenaran Islam secara khusus, maka perlu diadakan penilaian kembali perkara itu di bawah sorotan sinar sejarah agama-agama. Inilah makna "I'jaz" ditinjau dari ketiga demensinya, (pengertian bahasa, terminologi dan sejarah). Adapun ayat-ayat yang menunjuk kepada I'jaz dan yang menarik perhatian kepadanya dengan menyengaja adalah banyak, seperti antara lain firman-Nya sbb: u' ~ ~'J ~Y' ;:-..-:;.;, ~ ", • ./ .'" •• l,;~ J"" ", • /' ",.. ;." ./ • .,,'0 ...../"'."'/ AA : "'.' ~ U ulS".YJ ~ /,/./ "~~, _. J J-J -.-'.'/ u'.;J' I.j.Jl) -/./ >=~ ~ ./ ./ ) "Katakanlah: Sesungguhnya, kalau man usia dan jin itu berkumpul untuk mengadakan yang serupa dengan Al-Qur'an ini mereka tidaklah dapat membuat yang serupa dengan Al-Qur~an ini se~a,l,ipun sebagian dari mereka menjadi pembantu bagi yan; laIn . (Surat AI-Isra': 88). Dan firman-Nya lagi: , ••••••••• ,.., • ,/ , 0." ~J-io .J.:. J J-'" ~ J 0 /' .J. • l,; t; ~ -# • y '" );' • .....• '"' » "-' ' u.Y ~ p ,/)./ ••..// / ••.•..• ~.,., •••••• J' •• lIE oJ L.o --: ~ u' .J.l' u J oJ ~ ~ . ,,/ I ",/ u'J '"" ... .J.l' r- /'" ./' . ",., h Jf' ( r.; , r . 66 oJ ~ ./r - b-: .." -"./ ~I ~:~ .~ "0> • ." ) lIEu~'-' .~./ a"" > ". .••••• ~ ..- r' . . ".. ~ !yoJ'J ~;~i-:-; ~y :.. ; •....../,....1"" r'::':' J..tj ~ ,./ ~! /.Jl 'j
  • 64. "Atau mereka mengatakan: Dia. mengada-«lakan itu. Katakanlah kepada mereka, Bawakanlah sepuluh surat, serupa dengan AI-Qur 'an ini, yang diada-adakan, dan panggillah orang yang mungkin kamu dapatkan bantuannya selain Allah, kalau kamu memang orang-orang yang benar.Dan kalau mereka tidak memperkenankan ajakanmu itu, maka ketahuilah bahwa AI-Qur'an itu diturunkan dengan Pengetahuan Allah, dan bahwasanya tiada Tuhan kecuali Dia. Maukah kamu menjadi orang-orang yang patuh (bersercndiri kepadaAllah)". (Surat Hud: 13-14). Juga firman-Nya lagi: /' o ~I - ./ ''t_''r:~ d- =.11 ) "Dan jika kamu masih ragu-ragutentang (kebenaran AI-Qur'an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) cobalan kamu bawakan sebuab surat serupa AI-Qur'an ini, dan panggillah siapa saja yang kamu dapat memanggilnya selain Allah, untuk menjadi pembantu-pembantu kamu, kalau kamu memang orong-orang yang benar. Dan halau kamu tidak mampu membuatnya; dan kamu memang tidak akan dapat membuatnya, maka peliharalah dirimu dari api neraka,yang kayu bakarnya adalah manusia dan batu-batu, disediakan untuk orang-orang yang kafir". (Surat Al-Baqarah: 23-24). Hendaklah kits. mencatat bahwa ketiga ayat tersebut di atas bahwa Al-Qur'an tidak menampilkannya untuk mengadakan bukti akan kebenarannya, melainkan ayat-ayat itu dibawakan hanya sebagai pengumuman di sini dan sebagai pemyataan tentang terdapatnya ayat-ayat semacam itu di seluruh isi Al-Qur'an, untuk dapat menekankan pengaruhnya pada aka! pildran 67
  • 65. yang sedang menanti-nanti, dan agar dapat menghasilkan bekasnya di dalam hati yang masih tertutup. Sampai berapa jauh pengaruh ini dapat mencapai lingkungan masyarakat jahiliah? Sesungguhnya setiap bangsa mempunyai hobbi sendiri-sendiri, yang kepadanya dicurahkan semua bakat daya cipta yang ada pada bangsa itu, sesuai dengan genialitasnya dan karakternya. Bangsa-bangsa Mesir purba umpamanya, mempunyai perhatian terhadap seni-seni bangunan dan ilmu-ilmu eksakta, hal mana dibuktikan pada kita oleh sisa-sisa peninggalan mereka yang agung, peninggalan-peninggalan yang membangkitkan perhatian ahli-ahli arkeologi, seperti a.1. Pastor Meaurean, yang menspesialisasikan salahsatu dari buku-buku karangannya untuk mengadakan studi tentang arsitektur piramide agung disertai dalam bukunya itu dengan teori-teori matematik yang aneh-aneh, dan ciri-ciri keeksaktaan dan mekanik yang mengagumkan. Sebaliknya dengan Yunani. Mereka gemar akan lukisanlukisan yang bemafaskan keindahan, seperti yang diciptakan oleh seni Phividias sebagaimana mereka terpesona dengan sabda-sabda yang mengandung logika dan kearifan yang dibawakan oleh genealitas Sokrates. Adapun bangsa Arab pra Islam kegemaran mereka adalah dalam bahasa mereka.Bangsa Arab tidak membatasi penggunaan bahasa pada apa yang dihajatkan dalam kehidupan sehari-hari saja, sebagaimana lazim dilakukan oleh bangsa-bangsa lain, akan tetapi seorang Arab gemar juga mempergunakan bahasanya, yakni untuk mengukir dari bahasa itu lukisan-lukisan dalam bentuk keindahan dan kefasihan bahasa, yang tidak kurang indahnya daripada apa yang diukir oleh Phividias di batu marmer, dan daripada lukisan-lukisan yang dihasilkan oleh pensil Leonardo Da Vinci, yang bergantungan di musium-musium dunia yang terbesar. Adapun syair Arab, sebagai yang dikatakan oleh saudaraku, Al-Ustadz Mahmood Syakir dalam Mukadimah buku ini: "Ketika Allah menurunkan Al-Qur'an atas nabi-Nya, Muhammad s.a.w. syair pra Islam laksana cahayayang menerangi kegelapan jahiliyah, sedang ahli-ahli syair itu berpaling pada kefasihan syair itu sebagaimana berpalingnya penyembah berhala pada berhalanya. Mereka menunduk di hadapan keagungan kejelasan dan kefasihan syair itu dengan khusyuknya, hal yang tidak 68
  • 66. pemah mereka lakukan di muka berhala-berhala mereka samasekali. Mereka adalah penyembah-penyembah kefasihan bahasa sebelum menjadi penyembah-penyembah berhala. Kami mendengar tentang seorang dari mereka yang mengejek berhalaberhala mereka, akan tetapi kami tidak pemah mendengar seseorang dari mereka yang mengejek kefasihan bahasa mereka, Inilah gambaran keadaan psikologis pada masa Al-Qur'an diturunkan. Maka wajarlah bagi I'jazul Qur'an untuk menembus ke dalam jiwa mereka seeara umum, pada masa turun Al-Qur'an, dengan jalan ini yakni oleh pembawaan yang terhunjam dalam naluri bangsa Arab untuk dapat merasakan kelezatan keindahan dan kefasihan kalam Arab. Kemudian keadaan ini berubah bersamaan dengan perkembangan sejarah Islam. Badai ilmu-ilmu pengetahuan meluap pada era terakhir dari dinasti Bani Umayah, dan pada zaman dinasti Bani Abbas. Maka kesadaran akan segi I'jaz pada AlQur'an, menurut apa yang kami gariskan pengertiannya, baik menurut pengertian bahasa, maupun menurut terminologi, menjadi hal yang lebih banyak diperolehmelalui jalan "rasa" berlandaskan dasar ilmiah, daripada dihasilkan dengan jalan "rasa" instingtif. Ini berarti bahwa I'jazul Qur'an, sebagai yang disadari oleh bangsa Arab ketika Al-Qur'an turun, sekarang menjadi spesialisasi segolongan keeil saja dari kaum muslimin, yang padanya terdapat sarana-sarana ilmiah untuk merasakan "I'jaz" itu. Adalah mungkin bagi kita mempelajari perkembangan ini pada kedua perjalanannya dari buku-buku sejarah. 1. Salahsatu daripadanya, ialah bahwa sejarah prikehidupan Nabi s.a.w. meneeriterakan pada kita beberapa kejadiankejadian historis, yang nampak padanya effek yang disebabkan oleh "I'jaz" itu pada "rasa" instingtif yang dimiliki oleh bangsa Arab di zaman jahiliah. Hal ini nampak sekali pada dua kejadian: Yang pertama, masuknya Umar ibnul Khattab r.a, ketika ia terpengaruh oleh ayat-ayat yang ia dengar dari perempuannya, atau yang ia baca dari lembaran-Iembaran yang bertuliskan ayat-ayat. Kedua: Pendapat Walid ibnul Mughirah tentang Al-Qur'an, tentang hal mana ia berkata: Demi Allah, saya telah mendengar 69
  • 67. kalam yang bukan .dari kata-kata manusia, dan bukan pula dari kata-kata jin. Kalam itu mengandung kemanisan, disertai keindahan dst. Di sini kita melihatbahwa Walid ibnul Mughirah telah berada pada jarak sejengkal dari iman. Kejelasan dan kefasihan Al-Qur'an telah menggerakkan sanubarinya. Namun hujah yang sejelas itu tidaklah dapat merubah, suatu hal yang tidak dikehendaki oleh Allah. Maka anda memenyaksikan bahwa Walid lalu berbalik; ia menutup pernyataannya dengan kata-kata yang berisi keingkaran terhadap kebenaran risalah yang dibawa oleh Nabi s.a.w. Ia berkata: "Kata-kata yang paling tepat terhadap pembawa ayat-ayat itu ialah: katakan saja bahwa ia adalah seorang ahli sihir. Ia datang untuk memisahkan antara seseorang dengan bapaknya dst. lnilah gema I'jazul Qur'an menatap nalurl yang ada pada bangsa Arab (mengenai kejelasan dan kefasihan bahasa) dalam dua bentuk yang berlain-lainan. Hingga apabila zaman berjalan terus, keadaan-keadaan sosial berubah dan ilmu-ilmu pengetahuan bertambah maju, masalah "I'jazul Qur'an menjadi obyek studi, yang berdiri sendiri. Maka ulama-ulama, ahli kejelasan dan kefasihan bahasa menulis dan mengarang buku-buku tentang masalah itu, seperti a.l, Aljahiz dalam kitabnya "Nizhamul Qur'lm (susunan puitis Al-Qur'an) dan Abdul Qahir pengarang "Dala-ilul-I'jaz" (bukti-bukti I'jazul Qur'an). Dari kitab Abdul Qahir ini kami mengambil suatu cuplikan untuk menjelaskan duduk perkara dan persoalan I'jaz. Fragmen termaksud kami ambil sekedar sebagai contoh. Kami ambil fragmen tentang komentar pengarangnya terhadap firman Allah s.w.t, r:~ ". lIE ",,_'" /"'''''.'' U"'T~I •• ~~ ~ , ... ' .1_""'0/",,- ~I ()lbJ 1 : (-.r) Wahai Tuhanku, sesungguhnya tulang-tulangku dan kepalaku sudah memutih karena uban). 1). ~./ 1. 70 1J ,-"'" sudah lemah, //"0/ Kalimat ~ U"' I j..,.;...:.1 J adalah kallinat kiasan bagi "dan kepalaku sudah beruban". Bila diterjemahkan secara harfiah, kalimat eli atas terjemahannya: Dan kepala telah menyala karena uban". (Penyalin ).
  • 68. Abdul Qahir berkata. mengomentari ayat tersebut: "Kata atau kalimat kiasan tidak mungkin diterangkan kecuali dengan jalan pengetahuan tentang sajak dan puisi dan mengerti benar akan hakekatnya. Dari samar-samarnya dan rumitnya kiasan itu, maka anda melihat bahwa manusia bila membaca firman Allah: ~~ I J-:';.~"I; ~l) mereka tidak lebih daripada membicarakan soal "kiasan" dan tidak mengembalikan kehormatannya kecuali kepada "kiasan" dan tidak melihat sesuatu yang patut mempunyai kelebihan khusus kecuali "kiasan". Begitulah anda melihat hal itu dalam pembicaraan sedang keadaan yang sebenamya tidak demikian. mereka, Tidak usah saya bawakan keseluruhan apa yang diutarakan oleh Abdul Qahir. Saya menyitir kalimat-kalimat di atas hanya sekedar untuk menjelaskan ketidak-mampuan saya untuk mengerti makna "I'jaz" dengan jalan ini, yakni dengan menggunakan sarana-sarana "rasa" secara ilmiah, setelah saya mengakui ketidak-mampuan saya untuk memahami makna "I'jaz" dengan jalan "rasa" secara naluri. Begitulah aku melihat diriku dalam keadaan bingung, kehilangan upaya dan jalan mengenai sesuatu perkara, yang paling pekak bagi saya sebagai seorang muslim. Di sinilah kita dihadapkan pada problem "I'jazul Qur'an", dalam bentuk baru bagi diri si muslim ini, yang saya maksud bagi mayoritas golongan muslim intelek yang memperoleh keintelekannya dari pendidikan asing (barat), bahkan mungkin juga bagi mereka yang berpendidikan tradisional, mengenai hal-hal yang bersangkutan dengan pendidikan dan psikologi mereka sendiri. Jadi harus diadakan penelitian kembali tentang perkara ini da. lam batas-batas keadaan baru yang dilalui oleh orang muslim pada masa ini, beserta kebutuhan-kebutuhan yang dihadapinya yang menyangkut masalah aqidah (kepercayaan) dan jiwa. Sekalipun kelihatannya terdapat komplikasi pada perkara ini, hal mana disebabkan oleh sikap tradisional kita terhadapnya, namun saya yakin bahwa kunci pemecahannya, terdapat dalam firman Allah s.w.t., yang terjemahan Indonesianya kurang lebih sbb: r,
  • 69. ,. .. ~ ", 'J) u-: ~ , ,.. ,. .J' • '" r-" ,/ , .." t... ..s.J ...II t...) J-..,) 1 o- ~..l.; "/ ( 0 0 / / / : .j1.i>'J1) • , ...::..-..;..5 •.l / ud ,. " / 'I I...:? ,. ... ..,., ~' t, 'JI "I .J: ,. ~ • J ,. 0 . .., ., t... j.; / 0; A "Katahanlah: Aku buhan pembauia pengaiaran baru dari para rasul itu, dan ahu tidak mengetahui apa yang ahan diperbuat dengan aku dan dengan hamu. Aku hanya menurut apa yang diwahyukan kepadahu". (Surat Al-Ahqaf: 9). Maka kalau kita menganggap ayat ini sebagai bukti yang ditampilkan oleh Al-Qur'an kepada Nabi s.a.w. agar dipergunakannya dalam perdebatannya dengan kaum musyrikin, maka kita harus merenungkan kandungan ayat itu yang berhubungan dengan logika, dari dua segi. Pertama: ayat itu mengandung isyarat yang samar-samar bahwa berulang-ulangnya sesuatu dalam keadaan-keadaan tertentu menunjukkan kebenarannya, artinya, bahwa pendahulu-pendahulunya dalam suatu rangkaian tertentu, mengokohkan hakekat suatu itu sebagai suatu "fenomena", dengan pengertian yang dapat diterima oleh ketentuan ilmiah terhadap kata "fenomena" ini. Makna "fenomena" ialah kejadian yang berulang dalam keadaan-keadaan yang sarna dan dengan hasil yang sarna pula. . Kedua: ayat tersebut mengandung dalam madlulnya (hal yang ditunjuk olehnya) adanya hubungan erat antara para Rasul dengan risalat yang dibawa sepanjang abad, dan bahwa da'wah Muhammad herlaku padanya, di hadapan rasio apa yang telah berlaku pada risalat yang dibawa oleh para Rasul sebelumnya. Dari hake kat yang kedua ini kita dapat menarik kesimpulan mengenai dua hal yakni: 1. Bahwa kita boleh mempelajari agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w. di bawah sinaran agama-agama yang sebelumnya. 2. Sebagaimana juga kita boleh mempelajari agama-agama sebelum Islam di bawah sinar agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w., menurut kaidah bahwasanya: hukumhukum dapat ditrapkan pada hukum khusus secara analogis, sedang hukum khusus dapat ditrapkan pada hukum dengan jalan deduksi. 72
  • 70. Maka kiranya tiada halangan untuk menelaah kembali makna "I'jaz" di bawah sorotan sinar ayat yang mulia yang disebutkan di atas. Hasilnya ialah apabila kita memperhatikan segala sesuatu dalam batas-batas kejadian yang berulang, yaitu dalam batas fenomena, maka "I'jaz" ialah: 1. Dari segi pribadi Rasulullah s.a.w. "I'jaz itu berarti: tanda bukti yang dikemukakan Rasulullah terhadap lawan-Iawannya, untuk menjatuhkan mereka ke dalam ketidak-mampuan. 2. Adapun ditinjau dari segi agama, maka I'jaz ialah salahsatu dari sarana-sarana yang digunakan untuk menyampaikan agama itu. Kedua makna tentang I'jaz ini mengharuskan, makna yang itu, adanya beberapa sifat tertentu. menurut 1. Bahwa I'jaz" sebagai "tanda bukti" harus berada pada tingkat yang sama dengan pengetahuan masyarakat banyak. Bila tidak demikian, maka akan hilang kemanfaatannya, sebab tidak akan ada harga secara logika bagi suatu tanda bukti yang tidak sederajat dengan pengetahuan lawan. Lawan terkadang tidak "iuka mengakui tanda bukti yang dikemukakan itu dengarr"maksud yang baik. 2. Dengan mengingat bahwa I'jaz "digunakan sebagai sarana penyampaian ajaran agama, maka "I'jaz" itu harus di atas kemampuan masyarakat banyak. 3. Dilihat dari segi waktu maka pengaruh "I'jaz" harus berlangsung selama ada kebutuhan kepadanya, sesuai dengan apa yang diperlukan oleh penyampaian agama itu, Sifat yang ketiga ini menentukan jenis hubungan dengan agama; hubungan ini, karena itu berbeda-beda antara satu agama dengan yang lain, sesuai dengan kebutuhan untuk menyampaikan agama. yang bersangkutan, seperti yang akan kami jelaskan kemudian. IOOah ukuran umum yang kami pandang sesuai dengan makna "I'jaz" dalam semua keadaan yang mengandung kemungkinan, ditinjau dari kedudukan semua agama yang diwahyukan. Apabila kita mengiaskan hal-hal di atas pada agama yang dibawa oleh Nabi Musa a.s, umpamanya, kita melihat bahwa Allah teIah memilihkan bagi nabi ini dua mukjizat, yakni mukjizat tangan (yang dikepitkan ke rusuk, lalu keluar menjadi 73
  • 71. putib cemerlang) dan yang kedua mukjizat tongkat (yang dijatuhkan oleh Musa a.s., lalu berubah menjadi seekor ular). Kalau kita memperhatikan kedua mukjizat ini, kita mendapati kedua mukjizat itu (sebagai tanda bukti yang dengan itu Allah berkehendak memperkuat posisi nabi-Nya) memiliki sifat-sifat sbb: 1. Kedua mukjizat itu tidak sederajat dengan ilmu pengetahuan pada masa kefir'aunan waktu itu. Ilmu seperti yang diperagakan oleh mukjizat Musa itu, khusus dimiliki oleh orang-orang yang dihitung jumlahnya, dan orang-orang itu merupakan kelompok kependetaan. Sebaliknya mukjizat ~usa dalam kedua bentuknya itu adalah sederajat dengan ilmu sibir, yang effeknya masyarakat banyak dengan kesadaran visual (berdasarkan penglihatan dengan mata kepala sendiri), tanpa memerlukan pemikiran berat. 2. Kedua mukjizat tersebut bersangkut-paut dengan sejarah agi;Una Musa, tidak ada hubungannya dengan dasar inti aganul, sebab baik mukjizat "tangan", maupun mukjizat "tongkat" tidak mempunyai kaitan dengan agama Musa, ataupun dengan syariatnya. Maka dengan demikian kedua mukjizat itu semata-mata merupakme hal-hal yang diikutkan pada agama, bukan termasuk sifat-sifatnya permanen, yang tetap padanya. 3. Kedua mukjizat ini yang dijadikan tanda bukti atas kebenaran agama yang dibawa oleh Nabi Musa dibatasi masa berlakunya dengan batasan zaman tertentu, sebab tidaklah kita dapat membayangkan effek yang ditimbulkan oleh mukjizat "tangan" dan mukjizat "tongkat" itu kecuali sebagai tanda bukti, di zaman generasi yang menyaksikannya atau di zaman generasi yang sampai kepadanya penyaksian tersebut secara turun-temurun dari yang menyaksikan, kepada yang datang sesudahnya dan dari ini kepada yang datang sesudahnya; artinya ialah bahwa daya efektifnya hanya berlaku untuk masa terbatas, sebagai suatu hikmah kebijaksanaan yang dikehendaki oleh Allah. Sekiranya kita memikirkan hikmah kebijaksanaan ini, niscaya kita mendapatinya sesuai dengan kenyataan-kenyataan psikologis, dan pula dengan kenyataan-kenyataan historis, yang dicatat oleh keadaan yang benar-benar obyektif, yaitu: 1. Bangsa yang masib tetap memeluk agama Musa sampai sekarang, yakni bangsa Yahudi, kehilangan, karena Be- 74
  • 72. bab-sebab psikologis yang tidak dapat diuraikan di sini, hasrat untuk melakukan penyiaran agama mereka, sehingga mereka tidak merasakan keperluan melakukan penyiaran agama mereka kepada umat-umat selain mereka, yang mereka namakan: "Orang-orang yang buta agama", sehingga kalau kita menggunakan bahasa sosial, kita mengatakan bahwa "I'jaz" dalam agama ini telah dibatalkan oleh ketidakperluan agama kepadanya. 2. Bahwa kehendak Allah telah menakdirkan kedatangan Nabi Isa a.s, sesudah Nabi Musa a.s. Maka agama baru datang untuk menghapus agama yang sebelumnya. Maka dengan sendirinya agama baru ini menghapus I'jaz yang menunjang agama lama itu, sehingga tanda bukti agama lama hilang dengan hilangnya kebutuhan historisnya. Kemudian Isa a,s, datang membawa agama baru, disertai dengan sarana-sarana yang dihajatkan untuk penyampaiannya, yakni yang dihajatkan olehagama baru itu sebagai "tanda bukti" akan kebenarannya, Maka Isa a.s. membawakan"I'jaz khusus, sesuai dengan pengertian yang ditentukan tentang makna "I'jaz" menurut pengertian bahasa dan menurut terminofogi, sebagai yang diterangkan di atas. Maka kepada Isa diberikan mukjizat "menyembuhkan orang yang buta dan orang yang menderita kusta" serta mukjizat menghidupkan kembali orangorang yang sudah mati" dengan izin Allah. Kiranya tidak perlu bagi kita untuk mengulangi lagi relasi agama yang baru ini dengan apa yang kami telah kemukakanmengenai pertimbangan-pertimbangan yang sifatnya umum ditinjau dari segi ciri-ciri khusus "I'jaz" yang ada pada agama baru ini; sebab pada hakekatnya baik hal-hal yang berkaitan dengan agama Musa, maupun yang bersangkut-paut dengan agama Isa itu, kedua-duanya bergantung pada komplek psikologis yang dipunyai oleh seorang manusia, dalam kedudukannya sebagai insan yang menyadari segala sesuatu dengan aka! pikirannya, Sekalipun rasionya masih diliputi oleh ketidak-mampuan untuk menyadari akan hakekat agama, secara langsung bila tidak disertai dengan tanda bukti khusus yang menunjang hakekat agama itu terhadap rasio itu dalam bentuk "I'jaz" (mukjizat). 75
  • 73. Sebab~bab itu, selalu berulang namun bentuknya berubahubah, sejalan dengan perkembangan yang terjadi pada keadaankeadaan psikologis dan sosial sekitar agama baru itu dalam lingkungan masyarakat dimana Isa a.s. menyiarkan da'wahnya, yaitu lingkungan masyarakat yang memperoleh sinaran peradaban Yunani dan Romawi. Akan tetapi tanda bukti yang diberikan kepada Isa a.s, berupa "I'jaz" itu akan sima pula bersamaan dengan hilangnya keobyektifannya, dengan sebab-sebab yang sama, yang karenanya "I'jaz" dalam agama Musa dihapuskan, karena kemudian akan datang lagi, sesudah Isa, seorang Rasul baru, dan agama baru, yang akan menghapus agama yang terdahulu, yakni agama Isa a,s, dan bersamaan dengan itu akan dihapus pula keharusan adanya dalil tentang keabsahan Injil. Demikianlah maka agama Rasul yang tepercaya datang, agama yang ini ditandai dengan sifat khusus, yang menjadikannya berbeda dengan agama-agama sebelumnya, sebab agama bam ini merupakan mata rantai terakhir dati silsilah agamaagama Allah. Maka datang Muhammad s.a.w. penutup para nabi, sebagaimana ia dipredikati oleh AI-Qur'an, dan sebagai yang disaksikan akan kebenaran predikat ini oleh peredaran zaman sejak empatbelas abad yang lalu. Kelebihan historis yang dimiliki agama baru ini (yaitu sebapi agama terakhir) tidak terjadi melainkan dengan membawa refleksinya kepada semua ciri-ciri khusUsnya dan kepada jenis "I'jaz"nya secara khusus, disebabkan oleh karena kebutuhan untuk menyampaikan dan menyiarkan agama ini akan bersinambungan, baik ditinjau dati sudut psikologis sebab setiap orang muslim (berbeda dengan orang Yahudi) mempunyai dalam dirinya "kompleks berkewajiban menyiarkan agama", maupun dati sudut historis, sebab agama baru ini, yaitu agama Islam akan menjadi agama akhir zaman, yakni bahwa agama ini tidak akan. disusul dengan agama Ilahi lain, bahkan secara mutlak tiada agama dalam bentuk apa pun yang akan datang (setelah agama Islam), sebagai yang disaksikan oleh zaman abad demi abad sehingga dengan demikian kebutuhan Islam pada saranasarma untuk dipergunakan bagi penyiarannya akan bersinambungan dan tetap diperlukan, turun-temunm dati generasi ke generasi dan dari bangsa ke bangsa, tiada sesuatu yang dapat menghapuskannya dalam sejarah. lni berarti bahwa saranasarma itu tidak boleh seperti yang ada pada agama-agamalain, menjadi hanya sekedar tambahan yang disertakan dan yang 76
  • 74. ditinggalkan .oleh agama itu dalam perjalanan sejarah setelah selesai masa penyampaiannya, umpamanya mukjizat tangan atau mukjizat "tongkat" dalam agama Musa, yang lenyap tiada bekas, sekalipun di musium-musium duma, seperti tongkat emas Tut-ankh-amon (yang masih diperagakan di musium). Maka berdasarkan hal di atas "I'jazul Qur'an" harus mempunyai sifat permanen sepanjang zaman dan generasi-generasi yang akan datang, sifat ini dikenal oleh orang Arab zaman jahiliah, dengan "rasa" akan kefasihan dan keindahan bahasa yang menjadi pembawaannya, seperti umpamanya Umar ibnul Khattab r.a., atau Walid ibnul Maghirah, sifat itu dapat dicapai dengan "rasa" yang bersifat ilmiah sebagai yang dilakukan oleh Al-Jahizd dalam metodenya yang ia gariskan bagi mereka . yang datang sesudahnya. Akan tetapi orang Islam sekarang kehilangan pembawaan orang Arab jahiliyah, dan tidak pula memiliki daya potensial seorang ilmuwan bahasa pada zaman dinasti Bani Abbas. Sungguhpun demikian, Al-Qur'an tidak pemah kehilangan I'jaznya, sebab "I'jaz" Qur'an itu bukan sekedar tambahan yang disertakan padanya, melainkan "I'jaz" itu adalah dasar intinya. Hanya orang Islam sekarang terpaksa menerima "I'jaz" Qur'an itu dalam bentuk lain dan dengan sarana-sarana lain. Ia sekarang menerima ayat Al-Qur'an dengan melihatnya dari segi komposisi psikologisnya, yang diadakan lebih banyak daripada menerimanya, dari segi susunan kata-katanya, lalu ia mentrapkan dalam studi isinya sistem analisa yang tersembunyi, sebagaimana kami berusaha untuk mentrapkannya juga dalam kitab ini. Kalau kebutuhan ini sangatmendesak, dilihat dari seorang muslim yang berusaha mengikat kepercayaannya atas dasar kesadaran pribadi akan nilai Al-Qur'an sebagai Kitab yang diturunkan oleh Ilahi, maka kebutuhan itu lebih mendesak lagi bagi seorang bukan muslim yang menerima Al-Qur'an sebagai suatu obyek studi atau sebagai buku bacaan. Inilah dalam keseluruhannya sebab-sebabyang mengundang kami untuk mentrapkan analisa psikologis secara khusus, untuk mengadakan studi tentang .Il-Qur'an sebagai suatu fenomena. Namun pelaksanaan tugas tersebut telah memperlihatkan kekurangan-kekurangan perlengkapan ilmiah kami. Kami mel1Iemukakan hal ini bukan sekedar untuk menunjukkan sikap rendah hati, melainkan karena penget,huan yang sunguh-mng77
  • 75. guh tentang perkara yang pelaksanaannya kami pandang sematamata petunjuk bagi studi-studi yang akan menyusulnya. Maka untuk melaksanakan tugas ini kami harus memobilisir saranasarana ilmiah kami, serta dokumen-dokumen kami yang dengan menyesa! sekali kami tidak dapat mengumpulkannya lagi untuk melaksanakan studi ini, Mungkin ada kemanfaatannya manakala kami menyatakan di sini betapa sangat berhajatnya seorang penafsir Al-Qur'an di kemudian hari kepada pengetahuan yang luas dalam bidang bahasa dan bidang ilmu-ilmu dari orang-orang terdahulu. Maka seorang penafsir harus suka menelusuri terjemahan Yunani versi Ibnu Sab'ien mengenai kitab suci, dan terjemahan Latin yang pertama mengenai beberapa naskah berbahasa Ibrani, dan dalam bentuk yang lebih luas ia harus dapat menelusuri . semua kitab-kitab perjanjian dan bahasa-bahasa Siriani dan Armenia, untuk mempelajari problem kitab-kitab suei, Ini adalah tugas yang mulia, kita belum dapat menjalaninya, sekalipun kita mempunyai keinginan yang sungguh-sutigguh untuk dapat merealisasi cita-cita ini. Semoga Allah memberikan taufiq kepada kami. Misa-el-'-jadidah, 1 - 11 - 1961. Malik. b. Nabi. 78
  • 76. Fenomena Keagamaan Aliran Materialierne AUran Metafieika 79
  • 77. FENOMENA AGAMA Setiap kali seseorang menyusup jauh ke dalam sejarah purbakala dan tarikh manusia, baik pada zaman kejayaan kebudayaannya, maupun pada tingkat-tingkat yang masih primitif dari evolusi sosialnya, ia akan mendapati peninggalan di dalamnya yang menunjuk kepada adanya ide mengenai keagamaan. Ilmu kepurbakalaan (arkeologi) selalu mengungkapkan, bahwa dari celah-celah pu ing-puing yang diungkapkannya ditemukan bekas-bekas peninggalan yang khas, oleh manusia purba digunakan untuk keperluan upacara-upacara keagamaan. Bagaimana pun bentuk upacara-upacara keagamaan itu, namun ternyata bahwa struktur bangunan dari gua-gua tempat peribadatan itu priode zaman batu, hingga pada zaman bangunan tempattempat peribadatan yang megah-megah, berjalan berdampingan dengan ide keagamaan yang menciptakan perundang-undangan hidup manusia, bahkan ilmu-ilmu pengetahuannya, lalu melahirkan kebudayaan-kebudayaan itu di bawah naungan rumahrumah peribadatan, seperti umpamanya rumah peribadatan Sulaiman, atau Ka'bah. Dari situlah kebudayaan-kebudayaan itu muncul untuk penyinaran alam kita ini, dan agar berkembang di universitas-universitas dunia dan di laboratoriumlaboratoriumnya, bahkan supaya menghidupkan perdebatanperdebatan di parlemen-parlemennya. Perundang-undangan yang dibuat oleh bangsa-bangsa modem berlandaskan ketuhanan pada asasnya, sedang perundang-undangan sipil (perdata), berintikan dasar keagamaan, apalagi di Prancis dimana perundang-undangannya mengambil pokok-pokoknya dari syarlat Islam 1). Adat-istiadat dan tradisi-tradisi bangsa-bangsa menggambarkan perhatian yang bersifat metafisik mendorong sekecil-kecil dukuh-dukuh yang masih biadab, yang dipusatnya berdiri sebuah gerbang sederhana, agar dukuh-dukuh itu mengarahkan kehi1). Dalam ekspedisinya ke Mesir, Napoleon berkenalan dengan syari'at Islam. Keterangan ini tidak memerlukan bukti. Keterangan ini tidak lain adalah penjelasan terhadap sisi pemikiran yang secara umum bersesuaian dengan keterangan ahli-ahli ilmu soslologi, dan ahli-ahli sejarah perundang-undangan. Perundang-undangan Rotnawi: pun tidak keluar dari kaidah ini, sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Shufi Abu Thalib dalam bukunya:"Sistem-sistem s08ial dan perundang-undangan halaman 28 dst". AdlljPUn khusus tentang catatan kami mengenai perundang-undangan Napoleon, kami mempersilahkan pembaca menelaah buku karangan Christian Cherf"JIa, yang berjudui: "Napoleon dan Islam". 80
  • 78. dupan spiritual berkiblat kepadanya, yakni kehidupan spiritual yang keprimitifannya berbeda jauh satu dengan yang lain. Totemisme, dongengan-dongengan mithos dan kepercayaanpada dewa-dewa tidak lain hanya merupakan pemecahan yang diilhami oleh sugesti bagi problem, yang selalu sarna, yang menghinggapi hati nurani manusia, setiap kali ia mendapati dirinya ditarik oleh teka-teki segala sesuatu, serta tujuan terakhirnya. Dan dari hati-hati nurani itu terlontar pertanyaan yang selalu sarna sebagai yang dilukiskan dengan penuh kekhusyu'an oleh sepotong syair nyanyian dalam kitab Vida Hindu: "Siapa yang mengetahui asal segala sesuatu ini?" "Dan siapa yang dapat berceritera tentangnya?" "Dati mana datangnya segala yang berwujud ini?" "Dan apa hakekat penciptaan ini?" "Siapa "Dia" yang menjadikan dewa-dewa itu?" "Akan tetapi siapa yang mengetahui bagaimana Pencipta itu terjadi?" 1). Apakah orang yang menyatakan demikian ini, berhatinurani yang percaya akan berbilangnya tuhan-tuhan? Mengapa hati nurani itu menyindir yang ada di belakang tempat-tempat pemujaan dewa-dewanya tentang siapa yang menjadikan dewa-dewa itu? Berulang-ulang terjadi problem metafisik di atas, dengan cara yang demikian dan secara sistematis itu, kepada hati nurani insan, dan semua aspek perkembangannya. Pada kenyataannya hal ini, merupakan problem tersendiri, dimana ilmu sosiologi berkehendak memecahkannya, ketika ia melukiskan manusia sebagai: "makhluk religius". Dati istilah di atas yang dibuat oleh ilmu sosiologi, lahir dua kesimpulan teoritis yang saling berbeda: 1. Apakah manusia itu "makhluk religius" karena keadaan kejadiannya yang tertanarn dalam nalurinya, pula karena suatu bakat asli pada pembawaannya? 2. Ataukah ia memperoleh sifat itu dati suatu sebab insidentil, edukasional secara mendadak, pada suatu masyarakat manusia tertentu, yang efeknya meliputi kemanusiaan, semuanya melalui sejenis absorsi (penyerapan) psykologis? 1). Cuplikan dari kata pengantar puitis oleh penyair Tagore. 81
  • 79. Jadi terdapat dua buah pandangan pokok yang saling hertentangan mengenai problem yang ditampilkan kepada kita oleh "Fen omena Agama". Sudah barangtentu adalah naif untuk meniadakan pertentangan yang sifatnya filosofis ini dengan jalan memberikan pemecahan secara keilmupastian seperti yang dikehendaki oleh sebagian ahli fikir kita yang gemar dengan metode ilmiah, mungkin karena mereka pura-pura Iupa akan priusip-prinsip fundamentil dari ilmu pasti itu sendiri. Sungguhpun demikian kita tidak boleh lupa bahwa geometri Euclides sendiri, yang mendalam mengenai ketelitian ilmiah tidak hersendi, kecuali kepada hipotesa, tidak kepada bukti menurut ilmu eksakta. Hal yang demikian ini berlaku pula pada semua teori matematik yang muncul setelah Euclides. Bagaimanapun keadaannya, maka· yang dituntut dari setiap aliran ketika membuat prinsip dasamya, supaya ia sangat teliti tidak bertentangan dengan dirinya sendiri, dan sejalan dengan hasil-hasilnya. lnilah metode ilmiah satu-satunya, bagi penentuan nilai .kerasionalan bagi aliran apapun juga, dan penentuan nilainya dibandingkan dengan aliran apapun selainnya. Bukanlah pertentangan, diantara kedua masalah di atas sebagai dua hasil "Fenomena Agama", berdiri antaraagama dan ilmu pengetahuan, seperti yang disugestikan oleh heberapa ahli ilmu pengetahuan, sebab ilmu pengetahuan tidak pemah membuktikan, akan tidak ada atau adanya Tuhan, sebagai yang diterima pada prinsipnya; akan tetapi perselisihan yang terjadi di sini sebenamya adalah perselisihan antara dua agama, yakni antara Ketuhanan dan Materialisme, atau: antara agama yang menerima akan adanya Tuhan dan aliran yang menganggap materi (benda) asal dari segala yang ada di alam ini, Maka sasaran bab ini, ialah mengadakan perbandingan antara kedua aliran filsafat ini, yaitu aliran yang menganggap hati nurani keagamaan yang ada pada setiap orang sebagai fenomena" yang asli, sudah tertanam dalam pembawaannya, fenomena yang diakui sebagai faktor asasi dalam setiap kebudayaan, atau aliran yang lain yang menganggap agama semata-mata sebagai suatu "kehetulan" historis bagi peradaban manusia. Sekaliipun demikian· maka hasil yang diperoleh dan pembahasan dalam bab ini, akan bergantung kepada hasil-hasil pembahasan dalam bab-bab herikutnya, yang akan mengetengahkan sejenis argumen, yang akan menyusul;yang akan memperkuat apa yang dinamakan: "Fenomena kenabian" dan "Fenomena 82
  • 80. Al-Qur'an", yang akan meletakkan agama pada lembaran kejadian-kejadian semesta alam di samping undang-undang alam". Berdasarkan hal di atas, maka perbandingan antara dua aliran, yang satu materialis (kebendaan) pada dasar intinya yang memandang segala sesuatu bergantung kepada benda, sedang yang lain metafisik (di luar alam biasa) yang menganggap materi (benda) itu sendiri terbatas dan tunduk kepada kekuatan di luar dirinya. Perbandingan ini tidaklah akan menjadi keputusan yang menentukan dan memuaskan hati, kecuali apabila kita memperhatikan unsur-unsur kedua aliran itu, yakni unsur-unsur yang sama (sama sejenis) tetapi saling berhadapan, yang bersembunyi dalam pemikiran kedua aliran itu tentang sebab dan musabab. Berdasarkan pandangan di atas, maka kita harus memulai dengan pembandingan antara kedua aliran ini. 83-
  • 81. ALIRAN MATERIALISME Ditinjau dari prinsip aliran ini: Materi atau benda adalah penyebab pertama bagi wujudnya, dan ia juga titik-tolak bagi fenomena-fenomena alamo Jelas bahwa kita tidak boleh memandang "materi" atau benda sebagai sesuatu yang terjadi seeara kebetulan (sesuatu yang baru) sebab bila demikian, maka ini akan berarti bahwa materi itu berasal dari beberapa benda lain, yakni bahwa materi itu wujudnya disebabkan oleh adanya peneipta yang berdiri sendiri, tidak tergantung pada suatu apapun, dan pandangan yang demikian ini tidak sesuai dengan hipotesa materialisme. Maka dengan penuh kesederhanaan harus diterima hipotesa, bahwa "materi" itu ada, tanpa ada yang menciptakannya. Dengan demikian sesuailah hal ini dengan asal-asal benda atau "materi" secara prinsipil, dan dengan demikian pula maka aliran materialisme hanya meneurahkan perhatian semata-mata kepada perkembangannya 1) dalam keadaan-keadaan yang bergerak terus-menerus, dimulai dari titik penerimaan hipotesa ini sebagai kebenaran (dengan tidak usah dibuktikan atau diterangkan lagi). Maka dapatlah dikatakan bahwa eiri khas satu-satunya bagi materi (benda) pada awalnya ialah bahwa ia merupakan suatu kadar tertentu atau suatu gumpalan. Berdasarkan hipotesa di atas, maka kita (menurut ajaran Materialisme ini) harus menganggap segala eiri-eiri khas lainnya yang ada pada materi adalah semata-mata konsekwensi dari ciri khas yang satu-satunya itu dan hasil daripadanya. Seeara khusus kita harus memandang pula, bahwa bencia atau materi itu, dilihat dari segi asalnya, selalu berada dalam keadaan sederhana dan senyawa yang sempurna, sebab bila 1). Meskipun keterangan kami tentang perkembangan yang mengandung kemungkinan daripada materi itu, ada manfaatnya juga ditinjau dari segi metodik dalam pemaparan yang berkaitan dengan pembandingan antara dua aliran yang saling berkontradiksi dan yang kedua-duanya berdiri atas landaaan yang satu dengan yang lain bertentangan: (Allah atau materi), namun ia tidak akan mengikat terus pembahaaan untuk mengambil intisari bagi pemikiran daaar dalam bab ini, Bagi pembaca yang tidak pernah berkecimpung dalam persoalan-persoalan ilmu pengetahuan cukup dengan menlikuti pembahaaan, mulai dari: "zaman biologi" (Zaman adanya kehidupan) dalam perkembangan materi, yaitu mulai dari perkembangan yang kami lukiskan dalam batas-batas perbandingan: Effek-effek pengandung pan.. yang dinamik + faktor-faktor kimiawi unsv.ryang hidup. 84
  • 82. tidak demikian, maka setiap kevariasian akan mendatangkan konsekwensi bahwa ia telah dimasuki dengan paksa oleh faktorfaktor yang variabel pula, hal mana bertentangan dengan hal satu-satunya yang mempengaruhinya, yaitu "kwantum" (yang mempengaruhinya, yaitu "kwantum" (yang merupakan ciri khas satu-satunya bagi materi). Kondisi yang demikian ini mempunyai konsekwensi adanya satu status yang prinsipil, yaitu bahwa kita tidak dapat membayangkan materi (zat benda) itu teratur, dengan cara apapun sebab bila tidak demikian maka susunan atomik (yang telah ditemukan oleh ilmu pengetahuan akan kerapian sistemnya dan susunannya) akan memberi kesan akan masuknya satuansatuan zat benda yang terkecil yang variabel sejak semula, hal mana juga bertentangan dengan kondisi materi, yaitu status sederhana dan sarnajenis seeara sempurna. Selanjutnya dihipotesakan bahwa rnateri itu secara terpaksa, ditinjau dari asal-mulanya, selalu dalam status pemisahan penuh. Maka ia dalam ukuran kubik, berimbang keadaannya, yakni bahwa ia tidak mengandung listrik negatif maupun positif. Maka materi itu umpamanya merupakan suatu kwantum terdiri dari satuan-satuan neutron 1), yang dalam dirinya hanya terdapat hubungan rnagnetisme (salingtarik-menarik). Maka susunan atomiknya kelak akan merupakan suatu stadia dari perkembangan neutron-neutron itu, sedang perkembangannya itulah yang akan membawa kepada penonjolan satuansatuan terkecil dari neutron, yaitu satuan-satuan yang disebut positrons, mesotrons; elektrons dst, di satu fihakdan potensi elektris yang statis di fihak yang berhadapan. Dengan tidak usah tergesa-gesamemberikan keputusan tentang kevariabelan satuan-satuan yang menjadi inti zat materi ini, ada suatu soal yang timbul dengan sendirinya, tentang kemungkinan terjadinya atom pertama, yaitu kejadian yang mungkin dapat difahami dengan sangat sukar sekali, lagi pula hipotesa ini adalah asing juga dalam pandangan hukum Columbus yang menetapkan fenomena sebagai suatulkeharusan. Sebenarnya sungguh sukar untuk membayangkan, bagaimana zat yang pertama itu terjadidari satuan-satuan sejenis 1). Neutron: ialah satuan-satuan yang merupakan bagian dari inti atom t,anpa kandungan listrik positif maupun negatif. .(penyalin) . . 85
  • 83. dan diberi sebutan dengan nama yang sama pula; dan dalam pada itu tolak-menolak karena aksi hukum elektrisitas statis yang asasi. Sekalipun demikian,. kita akan menerima adanya kemungkinan yang demikian itu. Akan tetapi apakah periode assimilasi diantara satuan-satuan terkecil itu-dalam hubungan dengan zat benda (materi) yang awal mula itu, memulai bersamaan waktunya dengan terjadinya unsur-unsur yang berjumlah sembilan puluh dua unsur yang disusun oleh Mandeliev? Ataukah unsur-unsur 1) itu terjadi dengan berangsur-angsur dari unsur yang satu ke unsur yang lain, dan kalau ada hal yang lazim disebut "Perpaduan temporal", maka hanya ada satu unsur saja yang dapat berwujud secara alami dengan perantaraan masuknya sebuah zat yang memberi pengaruh, yakni keadaan benda itu pada kesederhanaannya dan kekosongannya dari perelektrisan. Maka akan tersisa sembilan puluh satu keadaan yang keluar dari kaidah, yang tidak mungkin diwujudkan oleh zat pemberi pengaruh yang satu itu dalam waktu yang sama, Sebaliknya kalau terdapat keberangsur-angsuran dalam menciptakan materi bagi unsur-unsur alam itu, maka timbul keharusan untuk menafsirkan terjadinya unsur-unsur itu, bahwa kejadian itu adalah kumpulan dari sembilanpuluh satu modifikasi keunsuran, dimulai dari satu unsur yang prima, katakanlah unsur ini "Hidrogen". Di sini fenomena dapat menduduki tempatnya, baik hal ini terjadi melalui satu rangkaian saja, pada saat mana, zat materi yang awal mula itu menciptakan unsur yang pertama, kemudian unsur-unsur yang lain 1ahir berangsur-angsur dari unsur yang pertama itu dalam satu rangkaian, atau dalam beberapa rangkaian, pada saat mana zat materi yang awal mula itu menciptakan unsur pertama (hidrogen), dan dari unsur pertama ini 1ahir sekeluarga unsur-unsur yang tersusun sederhana, katakan umpamanya empat buah unsur, dan dari setiap unsur turun kumpulan unsur-unsur yang tersisa, dan semuanya terjadi pada zaman awal mula. Pada situasi pertama: rangkaian yang satu saja itu memerlukan sembilanpuluh satu ka1i modifikasi unsur yang terbatas, karena setiap -unsur membentuk dirinya pada waktu yang tetap sehingga adanya unsur-unsur yang mendahuluinya. Dengan ke1). Jumlah unaur-unaur yang telah ditemukan telah mencapai 102 buah. 86
  • 84. adaan yang demikian, maka rangkaian kejadian itu akan menjadi sasaran bagi sembilanpuluh satu situasi keseimbangan alami kimiawi yang berlain-lainan, yang akan memberi peluang untuk masuknya faktoryang berbeda pula dengan hukum assimilasi yang awal mula. Akan tetapi kita sudah memperkirakan dalam prinsip bahwa hukum ini adalah tersendiri, dan bahwa ia tidak tergantung pada unsur waktu, tidak pula pada faktor-faktor pengandung panas dinamis. Maka pada kita jadinya ada suatu rangkaian terjadi dari sembilanpuluh satu modifikasi unsur yang lahir dari unsur yang pertama. Rangkaian yang demikian ini tidak dapat dijangkau dengan penafsiran yang berdasarkan satu hukum. Pada kedua keadaan sebagai yang diketengahkan di atas, daftar susunan yang dibuat oleh Mandeliev (tentang tempat setiap unsur) tidak memperoleh penafsiran yan" cukup dalam pandangan ideologi y-angkita terima ini, hal mana membuktikan dengan kuat akan kelemahan aliran materialisme. Kelemahan aliran ini bertambah jelas, dalam pandangan kami, kalaukita menelusuri mengikuti perkembangan materi pada situaai yang kedua. Materi ini sesudah berada dalam keadaan tersusun anorganik, dalam perkembangannya akan sampai kepada perubahan unsur organik yang mengandung kehidupan, dimana ia akan menjadi suatu kwantum zat organik hidup, yaitu "Proto plasma". Setelah zat hidup ini pada gilirannya melalui tingkat perkembangan, dalam rangkaian jenis-jenis organik hidup yang tertentu, maka akhimya, berdasarkan perubahan unsur baru, akan menjadi zat yang dapat berfikir, yaitu "insan". Pada kita ada suatu perimbangan tertentu 1), yaitu: Faktor-faktor mengandung panas, lagi dinamik (energi) + faktor faktor kimiawi = Zat hidup manusia. Perimbangan sepanjang zaman geologi yang sesuai dengan faktor-faktor atau dengan faktor-faktor pengandungpanas lagi dinamik yang nampak pada bagian pertama dari perimbangan ini (yaitu: faktor-faktor pengandung panas lagi dinamik (energi) + faktor-faktor kimiawi). Taruhlah kita menerima begitu saja 1). Perimbangan ini ditetapkan oleh prinsip materialisme yang telah kita terima sebagai kebenaran di dalam bab ini, yaitu bahwa: "materi itu menciptakan dirinya sendiri", Perimbangan ini adalah pasti benar secua ilmiah, padahal telah disangkal kebenarannya olehbeberapa baailnya sendiri, sebagai mana terlihat dari analisa y.a.d. 87
  • 85. periode zaman geologi ini, dan menerima pula periode pergiliran zat-zat hidup yang memodifikasikan zat hidup dari keadaan tanpa bentuk (yaitu Protoplasma) ke keadaan zat dengan bentuk yang tersusun rapi dan cakap berfikir (yaitu manusia), maka di situ harus ada beberapa kurun yang sesuai dengan perbandingan antara kedua periode ini. Berdasarkan hal ini maka kurun yang pertama telah mendahului, bila diukur dengan yang datang berikutnya, dengan jarak waktu yang panjang, seimbang dengan panjang jarak waktu zaman geologi yang berlaku baginya syarat-syarat perimbangan terse but di atas. Pada garis finish perlombaan itu, kurun yang pertama itu sudah dapat menyadari akan hakekat alam dunianya, serta fenomena-fenomena yang dialaminya. Dalam pada itu secara khusus kurun yang terdahulu harus sudah mencatat dalam ingatannya fenomena-fenomena kurun. kurun yang datang sesudahnya. Akan tetapi kenyataannya .• kurun (generasi) manusiawi yang sekarang tidak pernah mencatat dalam ingatannya keadaan semacam ini, dan kita tidak menemukan sesuatu pada generasi manusiawi yang sekarang ini, selain daripada kesan yang berkaitan dengan kurun Bani Adam yang sekarang ini, Maka adalah suatu keharusan bahwa kita mengakui bahwa perimbangan biologis yang tersirat di atas, tidak terjadi selain satu kali saja untuk kepentingan satu kurun (generasi) yang sendirian lagi unik; dengan perkataan lain, terdapat kepositifan mutlak yang bersifat biologis yang faktor-faktor materialis tidak dapat sendiri saja membuktikan kebenarannya. Hal ini menarik perhatian kami akan adanya kekurangan dalam aliran materialisme. Kekurangan ini menetapkan adanya kele. mahan dalam prinsip asasinya. Kekurangan ini bertambah lagi, kalau kita memandang bahwa perimbangan tersebut di atas memberi kita penafsiran terhadap fenomena dalam proses berturun temurun secara geologis. Sebenarnya dalam kenyataan terdapat problem barn yang khusus mengenai kesatuan jenis yang tidak mungkin dilihat sebagai suatu yang tunggal (jenis kelaminnya) melainkan sebagai jenis kelamin bersepasangan, laki dan perempuan (jantan dan betina) oleh sebab itu teori materialisme tidak memajukan suatu apapun yang dapat diterima, tentang soal kesepasangan ini, yang dipandang sebagai syarat bagi fungsi menurunkan anak bagi jenis yang bernyawa. Sekiranya ada kejadian biologis yang terjadi secata kebetulan yang khusus mengenai jenis jantan (laki), maka problem itu 88
  • 86. sekalipun demikian tetap menghadapi kita dalam hubungan dengan kelamin betina (perempuan), kecuali kalau kita menetapkan suatu kejadian yang kembar pada asalnya, yang daripadanya dihasilkan pasangan yang diperlukan untuk melakukan fungsi menurunkan jenis manusia. Kalau kita terlepas dari segala-galanya, mengakui kejadian berpasangan ini bagi zat benda, maka sukar bagi kita untuk menetapkan bahwa hasilnya serasi benar dengan sasaran fungsi menurunkan keturunan yang hanya satu secara bersama antara jenis jantan dan jenis betina. Betapapun juga, kepastian materi itu mungkin dapat berlaku, kalau ia dapat menjadi kenyataan dalam bentuk kebancian yang kembar bagi dua jenis yang sama, yang masing-masing berdiri sendiri, yaitu jenis (kelamin) jantan (laki) dan jenis (kelamin) betina (perempuan). Dengan ini masih terdapat juga sisa kekurangan yang menunjukkan tiada keserasian dalam prinsip materialisme. Ditinjau dari segi pandangan mekanis sudah menjadi suatu kepastian bahwa benda (materi) tunduk sepenuh-penuhnya kepada prinsip: "Kekurangan diri". Adapun zat hidup dengan demikian merupakan kekecualian terhadap kaidah ini, sebab semua jenis yang hidup dibekali dengan sifat "dapat mengatur keseimbangan pada dirinya" yang dibuat oleh dirinya sendiri. Di sini nampak pula kelemahan aliran materialisme. Ada terdapat fenomena-fenomena lain yang tidak kurang dari yang tersebut di atas untuk menaruh perhatian mengenai keanehan-keanehan dalam aliran materialisme, antara lain tentang munculnya bintik-bintik pada kulit orang-orang neger. Apakah hal ini disebabkan oleh perikliman organik dalam lingkungan-lingkungan masyarakat, dimana faktor matahari mempunyai pengaruh besar dalam hal itu? Namun di daerah-daerah yang sarna kita mendapati juga kulit putih, kulit kuning dan .kulit berwarna perunggu. Apakah mungkin mengembalikan hal itu kepada sebab adanya hutan belukar yang masih perawan? Bila demikian halnya, maka kulit badan orang-orang yang di Brazil umpamanya harus berubah-ubah warna. Akhimya dalam ilmu astronomi'diketemukan juga keanehankeanehan yang tidak jelas dalam rangka aliran materialisme. Analisa terhadap warna-warna spektrum telah mengungkapkan dalam tahun 1936 pada seorang ahli ilmu alam, bemama Hyle, arah gerak gugusan bintang-bintang yang berada di luar langit 89
  • 87. kita (dilihat dati segi alam kita). GUgusaIl-gugusan ini dalam geraknya menjauh dati bumi kita, kecuali enam gugusan yang bergerak mendekat ke bumi, kebalikan yang terdahulu. Begitulah materi secara keseluruhan memiliki kemungkinan (yang mengenai kita) akan dua penafsiran yang saling bertentangan. Maka bila salahsatu daripadanya menjadi jelas di bawah sorotan suatu hukum azali, maka makna yang lain tetap samasarna tidak jelas. Maka semua kelainan-kelainan yang tidak sesuai (pada dasarnya) dengan kepositifan materialisme yang mumi, mengharuskan mengadakan penelitian kernbali terhadap bangunan aliran ini keseluruhannya. Sebab prinsip (idiologi) itu sendiri kelihatan tidak mampu untuk menyuguhkan pada kita suatu teori yang harmonis mengenai penciptaandan tentang perkembangan materi. 90
  • 88. ALIRAN METAFISIKA Adalah suatu keharusan di sini, untuk membuat perkiraan akan suatu prinsip yang berlainan dengan aliran materialisme: Allah-lah pencipta dan pengatur alam semesta ini, dan Dia adalah sebab pertama, yang berpancar daripadanya semua yang ada. Inilah prinsip dari aliran yang baru ini. Prinsip ini yang akan memikul tugas memberikan penjelasan tentang asal-usul benda (materi), yang kita mendapatinya gelap segelap-gelapnya dalam aliran yang terdahulu (materialisme). Maka benda atau materi adalah suatu makhluk, diciptakan melalui suatukepastian yang positif, bebas dari segala ciri-ciri khasnya. Kepastian positif yang gaib ini (Metafisika), dialah yang memberi kita penjelasan, pada saat semua hukum alam tidak memberi kita penafsiran yang jelas mengenai fenomena-fenona alamo Dengan demikian maka terbuka suatu aliran, yang lengkap teratur, harmonis, tanpa kekurangan padanya dan tanpa kontradiksi sebagai yang terdapat dalam aliran materialisme. Pada waktu aliran Metafisika menta'birkan tuntutan-tuntutan filosofis bagi rasio yang bertujuan mengaitkan segala sesuatu dan segala fenomena dengan kaitan yang tersusun rapi dalam suatu keutuhan yang harmonis, dalam pada itu kita menemuinya selain dari hal di atas, membangun jembatan untuk melampaui batas-batas benda kepada suatu keidealan bagi kesempurnaan ruhani, menuju kepada sasaran pokok, yang kebudayaan tidak henti-hentinya menuju kepadanya. Maka penciptaan bend a terjadi dengan jalanperintah yang perkasa dari kehendak yang tinggi, yang hanya berfirman kepada segala sesuatu (yang hendak diciptakan) dengan hanya satu kata: "Jadilah" (sebagaimana tersebut dalam Kitab Kejadian 1). Selanjutnya perkembangan benda ini akan sesuai dengan perintah-perintah suatu kehendak yang menganugerahkan keseimbangan dan keharmonisan, yang mungkin dikonstatir oleh pengetahuan manusia akan hukum-htikumnya yang tetap. Namun sebagian dari tingkat-tingkat perkembangan ini akan tidak jelas bagi konstatasi-konstatasi yang lazim oleh ahliahli ilmu pengetahuan. Namun sekalipun demikian, aliran ini samasekali tidak mengandung kekurangan sedikitpun. Maka 1). Kitab pertama dari Perjanjian Lama (Penyalin). 91
  • 89. dalam keadaan-keadaan yang di luar kelaziman ini, kita mencarl bantuan dari kepastian metafisika, yang tiada kontradiksi antara kepastian ini dengan pembawaan (karakter) prinsip (ideologi )nya. Pada waktu terdapat ketidaksempumaan dalam aliran yang terdahulu itu, dalam metafisika terdapat suatu sebab khas yang mencipta, yang mengetahui akan makhluknya, serta berkehendak. Adakalanya kita tidak mengetahui, untuk sementara waktu, hukum yang menguasai suatu fen omena tertentu, selama masih tidak jelas bagi kita cara terjadinya, namun aliran ini tetap serasi lagi logis, dengan prinsip pokoknya, sebab fenomena semacam ini dapat diterima dengan puas hati dalam analisa yang terakhir, sehubungan dengan kepastian yang mutlak. Maka kehendak Allah-lah yang turut campur di sini, sedang dalam aliran Materialisme "kebetulan"lah yang turut campur, yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, yang dalam aliran materialisme itu dianggap "kebetulan". Tidaklah boleh hilang dari pandangan kita bahwa masalahnya di sini; sebagaimana telah diutarakan, bukanlah masalah perbandingan antara dua macam ilmu, melainkan masalahnya adalah perbandingan antara dua kepercayaan (akidah), yaitu kepercayaan yang mempertuhankan benda, dan kepercayaan lain yang mengembalikan segala sesuatu kepada Allah s.w.t. Bukanlah perkataan yang berlebih-lebihan apabila kami mengatakan bahwa seorang ilmuwan yang besar, dapat menjadi seorang mukmin yang besar, sedang seorang yang miskin lagi bodoh dapat menjadi seorang kafir besar. Demikianlah pada galibnya. Manakala kita mendapatkan seorang ilmuwan mengatakan bahwa kera adalah moyang manusia, maka patutlah kita berpikir juga, tentang seorang penyembah berhala Yang rendah diri, yang duduk di tepi sungai Negeria, dan yang yakin benar bahwa dia turunan moyang buaya. Maka pada masingmasing, dati kedua orang ini, yakni si ilmuwan dan si primitif itu, tidak ada selain pemikiran metafisik, masing-masing menurut caranya sendiri. Sesungguhnya era kegoncangan-kegoncangan sosial dan dekadensi mental, itulah yang menciptakan pergolakan antara agama dan ilmu pengetahuan. Namun setiap kali tersiar kejadian-kejadian sejarah, seperti di Rusia umpamanya di tengahtengah berkecamuknya perang dunia kedua yang lalu, dan di 92
  • 90. Prancis sesudah revolusi 1789, kita mendapati bahwa dewadewa ilmu telah jatuh berantakan secara mengharukan untuk membuka pintu lebar-Iebar bagi ilmu itu sendiri, yang merupakan abdi yang rendah diri bagi kemajuan manusiawi. Sekalipun demikian, sejak penemuan-penemuan terakhir oleh ilmu astronomi, ilmu pengetahuan telah menyadari akan bidangnya yang berujung dan terbatas itu. Dan di belakang gugusan-gugusan bintang-bintang yang tak terkirakan jauh letaknya, Yah, di belakang jutaan, mungkin milyaran tahun cahaya terbentang "jurang" yang tak terhingga jaraknya, yang tak ada akhimya, yang mustahil untuk dapat mencapainya, atau menjangkaunya dengan ukuran alam pikiran ilmiah, sebab alam pikiran ini tidak menemukan tema khasnya, yaitu, "kwantum", "relasi" dan "situasi". Dalam persoalan di atas: mana kwantumnya? mana relasinya? dan apa situasinya? Pertanyaan-pertanyaan di atas tidak mempunyai arti samasekali, di luar batas-batas "materi". Ilmu pengetahuan sendiri tidak ada artinya di belakang gugusan-gugusan bintang-bintang yang terjauh sekali, yang berhenti di perbatasan antara alam nyata (alam fanomena-fenomena) dan alam yang tak ada penghabisannya dan immaterial. Di belakang batas-batas ini alam pikiran Religius sendirilah yang dapat mengeluarkan perkataan yang jelas dan terang; "Allah-lah Yang Maha Mengetahui". 93
  • 91. GERAKAN PRINSIP PENGAKUAN KENABIAN. KENABIAN. PALSU KENABIAN. NAB!. I R MIA. FENOMENA PSIKOLOGIS P ADA IRMIA CIRI-CIRI KHAS KENABIAN. 95
  • 92. GERAKAN KENABIAN Studi yang sepintas dan tidak mendetail tidak akan dapat menyampaikan kita untuk memahami: Fenomena keagamaan yang rumit, karena ia mengandung fenomena-fenomena yang beraneka ragam dan berbilang-bilang di dalam bermacam-macam lingkungan hidup kemanusian. Banyak teori-teori aneh timbul mengenai karakter fenomena ini serta sejarahnya. Para pengarang buku di masa sekarang berusaha membuat penjelasan di bawah sorotan penginterpretasian historis semata-mata, sesuai dengan metode Descartes, yang mengembalikan segala sesuatu kepada ukuran keduniaan. Demikianlah juga Shurre telah menetapkan dalam bukunya: "Ulama-ulama besar yang dekat hubungannya dengan Tuhan". Sesungguhnya ide keagamaan tetap merupakan rahasia yang tersimpan dalam dada sebagian dari para ulama, yang diungkapkan oleh sebagian dari mereka kepada sebagian yang lain, dari generasi ke generasi, dengan perantaraan perungkapan batin, yang ingatan berikut kerahasian yang dikandungnya, hilang dalam lautan sejarah. Ide yang sederhana ini menambah komplikasinya masalah, yang sudah kami nyatakan di atas, bahwa ia kompliks. Sekali pun demikian, mereka mengaku, seolah-olah mereka hanya berkehendak menjelaskan tiang-tiang masalah itu, dengan hipotesa yang salah lagi menertawakan, yaitu hipotesa yang mengatakan tentang terjadinya perungkapan periodik mengenai rahasia: religius dengan perantara suatu perkumpulan rahasia dan misterius, yang dikepalai oleh sebagian kaum "Lama" di salahsatu daerah pegunungan Tibet yang jauh, Shurre dalam teorinya ini mengabaikan penafsiran historis mengenai rantai yang mempertalikan, umpama saja, dua kejadian yang berlainan samasekali, satu dengan lain, seperti agama Budha dan Islam, dan ia mengabaikan juga untuk memaparkan pada kita dalam hal ini tentang keseragaman, yang diperkirakan dapat dipantulkan oleh hati Sang Budha di satu pihak, dan hati seorang Badui, seperti Muhammad s.a.w. di pihak lain. Rupanya memang benar sekali bahwa kekomplekan fenomena, religi itu telah menyesatkan pikiran-pikiran descartesis. Dalam pada itu kita, tanpa diragukan lagi, cemas menghadapi problem yang mengandung kaitan kejadian-kejadian 96 .
  • 93. I yang berlainan, seperti aliran pantheisme, syirk, dan monoteisme dalam satu rangka. Kami telah mengkonstatir dalam bab sebelum ini perlunya membuat hipotesa, yang menerima kepercayaan akan adanya Allah, dan kami akan membahas di sini suatu keobyektifan khas, yaitu "Tauhid" (Keesaan Allah) yang menyajikan kepada kita buktinya yang amat luhur lewat sabda-sabda para nabi, dan dengan ini menjadi kata penentu dalam keseluruhan "Fenomena keagamaan" . Sebenarnya berturut-turut datangnya agama-agama Tauhid merupakan suatu dalil yang selalu dapat diselidiki dari segi yang bersangkutan dengan kepercayaan, suatu penyelidikan yang berdiri atas landasan krltikisme. Berturut-turut datangnya agamaagama itu terlukis dalam munculnya kenabian, serta semua citra-citra. ahlak dan ruhani yang menyertainya .. Sejak Nabi Ibrahim a.s, berturut-turut datang individu-individu, didorong oleh kekuatan yang tidak dapat dielakkan; mereka datang berbicara dengan manusia atas nama "Hakekat yang mutlak". Mereka mengatakan bahwa mereka mengenal Hakekat mutlak ini secara pribadi dan khas, dengan jalan rahasia, yaitu "wahyu". Orang-orang itu mengatakan bahwa mereka diutus daril sisi "Allah" untuk menyampaikan kalimat-Nya kepada manusia, karena mereka tidak dapat mendengarnya secara langsung (dari Allah). Ciri khas dan kandungan wahyu inilah yang menjadi tanda-tanda yang menonjol serta yang mengolrohkan risalat seorang Nabi, sedang risalat yang dibawa oleh seorang nabi itulah tanda yang menonjol bagi kenabian, dan risalat itu pula hakekat yang pokok dalamaliran Tauhid (keesaan: 'Allah) dan tanda buktinya yang obyektif. 97
  • 94. PRINSIP KENABIAN Prinsip kenabian memperagakan dirinya, berkat posisi saksinya yang satu-satunya, yaitu Nabi itu sendiri; sebagai suatu fenomena obyektif, dan tidak tergantung kepada kepribadian insani yang menta'birkan prinsip kenabian itu. Problemnya secara tepat ialah untuk mengenali kalau soalnya bergantung kepada barang-barang yang berpribadi sematamata, atau dengan fenomena obyektif seperti kerja magnit umpamanya, Maka adanya kemagnitan itu terungkap .dengan perantaraan sebuah jarum yang menjadi magnetis yang menampakkan kepada kita hakekat-hakekat jenis itu, baik kwantumnya, maupun cara bekerjanya. Akan tetapi dalam masalah kenabian kita tidak dapat mengkonstatir fenomenalkenabian itu selain dari sela-sela kesaksian nabi itu sendiri, dan dari kandungan risalatnya yang bersinambungan, yang diturunkan: Jadi persoalannya bergantung kepada problem psikologis di satu pihak dan kepada problem historis di lain pihak. Dalam hubungan ini patut kita mengkonstatir pertama-tama dan sebelum segala sesuatu, bahwa diutusnya seorang nabi bukanlah .suatu peristiwa yang hanya sekali saja, sehingga dapat dikatakan suatu keanehan yang jarang terjadi; Malah sebaliknya daripada itu; Kebangkitan itu terjadi dengan bersinambungan, serta berulang, dengan sistematis antara dua kutub sejarah sejak Nabi Ibrahim a.s. hingga Nabi Muhammad s.a.w. Maka bersinambungan suatu fenomena yang datang berulang 1) dengan cara yang sarna, merupakan suatu petunjuk ilmiah, yang dapat diperguna. kan untuk menetapkan prinsip adanya, dengan syarat adanya penguatan mengenai keabsahan wujudnya dengan jalan (sebagai bukti) peristiwa-peristiwa yang bersesuaian dengan rasio (akal) dan dengan pembawaan prinsip itu, Dapat dimengerti berdasarkan pandangan Hegel, yang hersendi atas konstatasi fenomena-fenomena, bahwa kalau kita mendapati suatu keadaan kenabian secara khusus yang tidak menafsirkan sesuatu, pula tidak menetapkannya, maka kedatangan secara berulang kali, dengan beberapa syarat tertentu, membuktikan wujudnya fenomena itu secara umum dengan jalan ilmiah, dan kewajiban kita selanjutnya ialah menyelidiki sifat keberulangan itu, agar kita dapat menarik kesimpulan dari sifat-sifat khasnya, mengenai hukum umum yang mungkin mendominasi fenomena itu secara keseluruhan, sebab tiada 1). Ayat suci: "Katakanlah: Aku tidak membawa pengajaran baru dari para Rc ~ul"(Al-Ahqaf: 9) berkaitan dengan makna ini. 98
  • 95. alasan yang pantas untuk a-priori kenabian itu dengan jalan "perimbangan kepribadian" 1) dari Nabi itu, karen a hal ini menetapkan bahwa masalahnya bergantung atau mungkin bergantung kepada kejiwaan yang tegang, khayalan yang mulukmuluk, dan pikiran yang disesatkan oleh keadaan-keadaan pribadi semata-mata. Kehidupan dan sejarah para nabi, mendorong kita untuk menganggap mereka orang-orang yang beriman dan didorong oleh semangat tanpa berpikiran dengan kenaifan, kepada hal-hal yang luar bias a dan mukjizat-mukjizat. Pula kita tidak boleh menghukum mereka sebagai orang-orang yang tidak beres akalnya dari sejak awal, atau akal dan pikirannya berubah karena kekurangan-kekurangan yang menahun. Sebaliknya dari itu semua: para nabi itu memperlihatkan diri mereka sebagai insan kamil, dalam kondisi yang sempurna, baik fisik maupun mental dan dalam kesehatan akal, kesaksian-kesaksian mereka secara keseluruhan kiranya memperoleh tempat dalam pandangan kita untuk memberikan kepercayaan yang patut diperoleh. Jadi adalah kewajiban kita pertama-tama untuk berpegang pada kesaksian ini, agar dapat memantapkan nilai historis yang kita pergunakan untuk kritik kita, kemudian tinggal kita menganalisa keseluruhan peristiwa-peristiwa itu di bawah sorotan sinar akal pikiran, yang bebas dari jeratan keraguan mutlak. Oleh sebab itu, kami akan berusaha membahas keadaan Nabi Irmiah, yang kami pilih (sebagai tema pembahasan) disebabkan oleh jaminan-jaminan historis yang memberikan kepada kitabnya dan sejarah pribadinya nilai kebenaran yang obyektif. Dalani kenyataannya Profesor Montet telah sampai dalam studinya mengenai dokumen-dokumen keagamaan kepada menelanjangi isi "Kitab suci" dari semua sifat keabsahan historis, kecuali Kitab "Irmia" 2). 1). Perimbangan kepribadian ialah: kumpulan potensi dan faktor-faktor kemungkinan dalam pribadi, yang kesemuanya itu membentuk"Aku" 2). Gerakan kenabian Bani Israil mencakup tujuh belas orang Nabi, diantara rrtereka terdapat empat-besar; mereka itu adalah: Asyia, Irmia, Hisglal dan Danial. Mereka itu masing-masing disebut "besar", sebab mereka membawa Kitab-kitab yang lebih besar dari Kitab-kitab yang dibawa oleh nabi-nabi yang lain. Para Nabi Israil itu kedatangan mereka berangsurangsur selama empat abad. Mereka masing-masing diutus menjadi nabi susul-menyusul (th. 830-435 s.m.), yang pertama Nabi Yunus dan Yunial (830 s.m.) dan yang terakhir Nabi Malakhi (435 s.m.), dan sesudahnya datang Nabi Yahya, yang disusul dengan kedatangan Nabi Isa a.s. (catatan penterjemah Arab). 99
  • 96. • Sekalipun demikian kami hendak menjauhkan diri dari keburukan-keburukan ala kritik modern terhadap Kitab Suci, yakni cara kritiknya. Yang kita pandang bahwa ia telah melakukan kesalahan dalam memahami watak obyeknya dengan penggeneralisasian yang berlebih-lebihan lagi skeptisme descartesis, dan yang sering menuju kepada penafsiran secara sembarangan terhadap kebenaran-kebenaran psikologis yang menjadi dasar topik ini. 100
  • 97. PENGAKUAN PALSU KENABIAN Penyamarataan yang disesalkan itu, sebagai yang kamilukiskan di atas, telah membawa kepada peletakan "Prinsip kenabian" di antara kumpulan fenomena-fenomena psikologis yang diajarkan di bawah nama; "Fenomena-fenomena batin", dan tampaknya pada kita bahwa penyamarataan ini berasal dari sumber Ibrani, pada khususnya, yang memberi bahan kepada kritik modem sanad-sanadnya tentang tema di atas: Sanadsanad ini pada hakekatnya adalah catatan-catatan tertulis berasal dari Israili pada abad ketujuh dan abad keenam s.m.; catatan-catatan inilah yang menjadi sumber keterangan-keterangan pokok tentang gerakan kenabian, padahal kurun ini dalam sejarah Bani Israil bukanlah periode kenaikan ruhani; bahkan sebaliknya periode ini adalah periode dekadensi moral dan religis, sebagai hasil dari kegoncangan-kegoncangan sosial dan politik. Dekadensi inilah secara tepatnya obyek da'wah para nabi sejak Amos dan nabi-nabi lain yang sezaman dengan dia, a.l. Michee dan Osee. Mereka tidak datang untuk menyampaikan janji berita gembira dan pengampunan, melainkan untuk menyampaikan ancaman siksaan dan bencana. Adapun penafsiran keadaan tersebut, dari segi sejarah ialah bahwa pada masa itu terjadi dua hal yang penting, yakni di satu pihak merosotnya martabat "Tuhan semesta alam" menjadi hanya "tuhan nasional" (bagi rakyat Bani Israil saja), dan fihak lain masuknya banyak dari upacara-upacara dan ritus-ritus agarna Assiria-kaldani dalam peribadatan, sehingga matahari memperoleh pentakdisan hangat di Baitul-Muqaddas, dimana terdapat orang-orang penyembah matahari ketika terbit, sedang mereka memegang sebatang ranting, di dekat tempat pemujaan Tuhan sendiri, sebagaimana dikatakan oleh ahli-ahli sejarah pada masa itu. Akan tetapi kalau martabat ruhani telah merosot sebagai konsekwensi daripada pemalsuan dan penasionalisasian pemikiran tentang Tuhan Yang Maha Esa, namun kegiatan keagamaan. yang diwajibkan oleh upacara-upacara tempat peribadatan telah menghidupkan dalam jiwa golongan Israil yang bertasawuf semangat dan keaktifan yang oleh Bani Israil dipegang teguh citra-citranya sebagai bagian-bagian pelengkap bagi gerakan keagamaan. 101
  • 98. Maka menjadi banyak orang-orang yang menjadi pend eta, peramal dan ahli pembuka rahasia di Baitul Muqaddas, dimana mereka memperoleh penghormatan dari kalangan awam, atau menjadi orang-orang yang ditakuti, dikarenakan oleh kemampuan luar biasa yang mereka miliki. Maka oleh sebab diperlukan untuk memberi gelar kepada mereka yang memperoleh penghormatan itu, diberikannya kepada mereka semua gelar "Nabi", mengingat akan tiadanya istilah yang menyamai yang patut dikenakan kepada mereka 1). Kita mengenal di Afrika Utara suatu contoh tentang perkembangan suatu kata dari maknanya yang asli dan khas, menjadi kata yang mempunyai makna umum, yaitu kata: "Murabith". Pada mulanya kata ini diberikan kepada seorang anggauta salahsatu perkumpulan "Persaudaraan religius" yang bersifat kemiliteran, yang salahsatu tugasnya "menjaga keamanan di perbatas. an negeri Islam". Apa yang terjadi dengan perkembangan pemakaian kata ini kiranya sudah diketahui 2). Betapa pun halnya, pemakaian kata "nabi" yang berlaku itu tidak hanya terbatas pada pemakaian yang bersifat kerakyatan (Yahudi) sebab kata ini memperoleh juga hak untuk masuk ke dalam peradaban keagamaan di masa ini, dimana kata "nabi" dikenakan secara khusus kepada seorang pegawai kependetaan (Yahudi) yang bertugas dengan resmi dalam penyampaian soalsoal agama di tempat-tempat peribadatan. 1). Dalam keterangan pada sisi buku "Kitab suci" jilid kedua, penerbitan golongan Yezuit, pada halaman 863, dikatakan: "Diberikan gelar "nabi" dalam kalangan bangsa Yahudi kepada setiap penulis aktif AIKitab. Maka termasuk dalam golongan ini Nabi Musa a.s. dan Nabi Samuel Akan tetapi menurut pengertian gereja, maka dikehendaki dengan nama ini orang yang dibenarkan mempunyai sifat kenabian, sesuai dengan maknanya yang obyektif, yaitu para nabi yang meramalkan kejadiankejadian yang belum ada (yang akan datang) yang tidak dapat diperoleh Pengetahuannya tentang sebab-sebabnya dan pendahuluan-pendahuluannya hanya dengan jalan petunjuk akal, (Penterjemah Arab). 2). Dimaksudkan dengan kata "Murabith" di dalam sejarah tiga pengertian, yaitu secara berturut-turut: 1. Pada mulanya diberikan untuk makoa sebagai yang tersebut di atas. 2. Kemudian menjadi nama bagi pemerintahan yang terkenal di Afrika Utara dan Andalusia (dinasti Murabithin). 3. Dan akhimya sebagai nama bagi kaum Darwis, ahli-ahli "Zardah", yaitu bidangen-hidangan yang lazim dalam upacara-upacara dzikir di kalangan ahli tasawuf. (Penterjemah Arab). 102
  • 99. "Kata Nabi" digelarkan juga kepada pendeta dewa "Baal", sebagai yang dapat dikonstatir dalam kitab "Yunan" atau "Yunus". Ketika nabi-nabi seperti Amos dan Irmia datang untuk merubah masyarakat ahli bid'ah itu dengan jeritan-jeritan dan ramalan-ramalan mereka yang menakutkan hati, yang telah menciptakan suasana goncang, serta yang mendominasi masyarakat banyak dengan corak "meniru-niru" atau "bertaqlid" sesuai dengan posisi baru ini maka semua "nabi-nabi" itu memulai dengan "meramal", masing-masing menurut keadaannya. Dengan demikian timbullah gerakan "kenabi-nabian" yang palsu, sehingga dalam situasi ini mendapati salahsatu dati dua citra, yakni; orang ahli da'wah yang benar, atau orang yang mengaku jadi nabi. Kedua citra ini berkembang bersama-sama dalam sejarah kurun ini, dimana terkadang diberikan sambutan kepada seorang pengaku nabi, yang bernama "Hanania", sedang mereka berpurapura tuli terhadap seruan yang apatis dan menakutkan hati dati nabi "Irmia". Jadi kurun itu telah mencampur-adukkan dua kepribadian yang masing-masing menonjol, tetapi seringkali bermusuhan antara yang satu dengan yang lain. Kedua-duanya mewakili dua arus alam pikiran yang berlain-lainan, dan seringkali saling bertentangan. Penyampur-adukkan itu nampak jelas dalam penyamarataan yang berlebih-lebihan dalam studi-studi pada masa ini tentang "Fen omena kenabian", yaitu penyama-rataan yang menerjang sifat-sifat khusus untuk seorang Nabi, dalam suatu model umum, yaitu "peramal", dan dari sela-sela model ini kritik modem berkehendak mengungkap hake kat kenabian, yang sebagaimana telah terse but terdahulu, dipandang oleh kritik modem sebagai fenomena subyektif, dalam hal mana ia melumpuhkan sejak awal mula studi tentang fanomena kenabian itu, ketika kritik modem itu menekankan bahwa: Apa yang dilihat dan didengar oleh peramal ketika ia dalam keadaan seolah-olah ia ditarik oleh suatu kekuatan batin, dan dalam keadaan di luar kesadarannya tergantung sepenuhnya kepada kepribadiannya; mungkin hal ini adalah buah yang telah masak dalam ketidak sadaran, sebagai akibat perenungan-perenungannya, hal ihwalnya yang berkaitan dengan soal-soal keagamaan pada waktu lampau, dan kecenderungan-kecenderungan batinnya dalam mendalami soal wujudnya keseluruhannya, yang ketika itu 103
  • 100. menampak di hadapan hati nuraninya sebagai hal-hal yapg tampak padanya seolah-olah berada di luar dirinya". Nas tersebut di atas bersasaran dengan jelas, untuk menjadikan kenabian termasuk bidang subyektif seorang nabi, tanpa memperhatikan kesaksian nabi itu sendiri yang menekankan dengan segala kemampuannya, bahwa ia lihat dan dengan itu di luar kekuasaan dirinya. - 104
  • 101. N ABI Sekiranya ahli-ahli ilmu fisika memperoleh kesempatan untuk memaksa sepotong besi agar berbicara ketika ia ditarik ke dalam medan magnet, pasti para ilmuwan itu akan merasa dibahagiakan dengan menanyakan kepada sepotong besi itu tentang sekumpulan pengetahuan-pengetahuan yang khusus mengenai keadaan batinnya. Hal ini, tanpa keraguan lagi akan lebih memo bahagiakan daripada melihat pengetahuan-pengetihuan mereka pada akhirnya,seperti yang terjadi dalam kenyataan, berubah menjadi hipotesa-hipotesa, yang tidak dapat dibuktikan oleh hitungan dalam bentuk yang pasti. . Akan tetapi nabi adalah "subyek" yang dapat berceritera kepada kita ten tang keadaan batinnya, dan dapat membuktikan keadaan batin itu, pertama karen a keyakinannya dan penyelidikan pribadi mengenai kebenaran hal-hal yang ia bawakan, dan kedua demi apa yang dinamakan "Ekonomi luar negeri" dan "politik luar negeri" bagi risalatnya. Maka apabila terjadi datangnya kenabian, haruslah bagi kita pertama-tama untuk memandangnya sebagai suatu "sebab yang membangkitkan kegoncangan dalam pribadi insani, serta mendorongnya dengan kuat, sehingga pribadi itu tak kuasa menolaknya, ke arah suatu mission tertentu (yang tidak ~las motifmotif dan sasaran-sasarannya) sebagai hakekat-hakekat yang ditetapkan bagi insani tersebut. Oleh sebab itu maka pengetahuan nabi akan fenomena ini menjadi landasan bagi suatu studi yang kritis, tentang obyek ini Nabi-nabi Yunus, Irmia dan Muhammad s.a.w. adalah individuindividu berkehendak awal mula melepaskan diri secara sukarela dari da'wah kenabian, lalu mereka melawan. Akan tetapi setelah da'wah mereka menguasai diri mereka pada akhirnya. Perlawanan mereka itu menunjukkan pertentangan antara pilihan mereka (untuk menolak mission kenabian) dan keharusan pasti yang mengikat karsa mereka, dan berkuasa atas diri mereka. Dalam petunjuk-petunjuk ini tersimpul bukti kuat bagi teori obyektif tentang "gerakan kenabian". 105 'i
  • 102. IRMIA Irmia adalah contoh yang paling terang yang daripadanya dapat diambil intisari mengenai gerakan ke~abi~ ~ kal~gan Bani Israil untuk memperagakan pada kita pikiran-pikiran umum tentang kenabian dan tentang psikologi seorangnabi. Telah diutarakan di muka, bahwa kami telah mengambil kebenaran historis yang telah dipastikan Kitab Nabi ini sebagai motif pemilihan kami mengenai keadaan. Ada, di samping motif di atas, motif lain, yaitu bahwa kami hendak mengadakan perbandingan secara ilmiah antara "kenabian" dan "pengakuan menjadi nabi". Di muka telah kami terangkan kesudahan daripada kata "Nabi" dalam kesusasteraan keagamaan Bani Israil dalam abad ketujuh dan abad keenam sebelum Masehi. Jadi kalau ada suatu ukuran yang memungkinkan mengadakan perbedaan antara dua jenis ide ten tang soal keagamaan pada masa itu, yang terwakili dalam diri "Irmia" dan dalam diri "Hanania", maka ukuran itu adalah pemikiran "Tauhid" sepanjang gerakan kenabian seluruhnya, sejak "Amos" sampai "Asyia Kedua". Di sini, Nabi yang memperoleh wahyu dengan benar, berbeda dengan saingannya yang mempraktekkan kenabian (palsu) dalam hal perlawanannya yang gigih terhadap "ketuhanan kerakyatan" yang sudah menjadi inti kepercayaan kerakyatan. Maka segenap arab moral bagi Nabi yang memperoleh wahyu itu berdiri atas landasan ide yang menghegemoni lagi menetap, yaitu ide tentang satu Tuhan yang tunggal, lagi untuk semuanya, yang untuknya Nabi berkehendak memantapkan kewajiban-kewajiban yang ditetapkan oleh Tuhan itu dalam upacaraupacara keagamaan diantara kaumnya. Maka ayat-ayat yang membawakan ancamanyang menakutkan, peringatan-peringatan akan adanya kekuasaan dari luar, serta ancaman akan merobohkan tempat peribadatan, kesemuanya itu tidak lain, melainkan konsekwensi daripada ide tersebut, sungguh pun justru ide inilah yang paling banyak menarik perhatian rakyat, sebagaimana ia sekarang dengan menyesal sekaIi, yang paling banyak menarik perhatian kritik modern. Dan di hadapan keadaan itu pengaku nabi (yang palsu) mengambil sikap seorang opportunis yang mengikuti saja arus pikiran dan pendirian rakyat: Dengan demikian pengaku nabi ini tidak ada tempat baginya secara moral, Ia bukanlah seorang yang memperoleh ilham. Malah sikapnya 106
  • 103. terhadap kepercayaan zamannya, ialah sikap berlebih-lebihan dalam mementingkan soal-soal agama, sampai-sampai kepada mengambil sikap menggandol dan sikap mengambil hati, Sekalipun sudah tidak ada lagi yang dibicarakan tentang hal gerakan kenabian, sesudah Nabi Muhammad s.a.w., menurut arti yang sebenamya di dalam sejarah kemanusiawian, namun gerakan "pengakuan .menjadi nabi" bersinambungan terjadinya sepanjang masa dan hampir di setiap tempat. Di India terdapat mereka yang menamakan dirinya "Penolong", di Amerika, sebelum perang dunia muncul orang yang terkenal dengan gelar: "Bapak Ketuhanan" , sebagaimana di Persia telah muncul "Albab". Apabila kita membuat perbandingan antara dua jabatan ini, yakni "kenabian" dan "pengakuan menjadi nabi" menurut sifat-sifat historis dan. prinsip-prinsip filsafat dari kedua jabatan itu, maka sudah barangtentu kita membandingkan antara dua faktor yang membawa kepada kedua jabatan itu, yaitu: "Nabi" dan "pengaku nabi". Tugas "Nabi" dalam sifatnya yang khas, ialah bahwa tugas itu mempunyai suatu prinsip yang bertalian erat dengan pikiran-pikiran umum tentang gerakan kenabian serta ada timing yang tepat baginya, yang bersesuaian dengan maksud dan tujuan prinsip itu, pula dengan penyampaiannya. Demikianlah halnya dengan "Amos", yang kemudian kembali menghela domba-dombanya di "Takra" 1), dengan tenang setelah selesai dengan penyampaian da'wahnya dan peringatan-peringatannya yang membangkitkan bulu roma. Sedang "pengaku nabi" tidak membawakan suatu prinsip pribadi, menurut arti yang sebenamya, melainkan hanya cukup dengan memperpanjang-lebarkan penjelasan terhadap risalat yang dibawa oleh Nabi, atau menyiarkan sejenis opposisi terhadap risalat yang dibawa oleh Nabi. Tatkala "Irmia" mengangkat "kuk" simbolis dan berlebihlebihan dalam peringatannya yang bertendens pesimisme, maka datang "Hanania" yang mengaku nabi, untuk menghancurkan kuk simbolis itu, serta menyiarkan berita-berita yang bemafaskan optimisme, sehingga Nabi Irmia terpengaruh dengannya untuk sementara. Perbandingan singkat antara dua arus ide keagamaan ini dan dua orang yang masing-masing mewakili aliran yang dibawanya, mengharuskan kita agar tidak mencampur-adukkan di antara keduanya. 1 ). Takra adalah salahsatu desa di Palestina. 107
  • 104. FENOMENA PSIKOLOGIS PADA IRMIA Irmia telah menyampaikan pada kesaksian yang paling berharga dan paling gamblang tentang "Fenomena kenabian". Ia telah menuturkan suatu penjelasan yang melukiskan keadaannya, suatu penjelasan yang sangat penting mengenai tindak laku pribadinya terhadap "fenomena kenabian" ini. Dan penjelasannya itu ia seolah-olah mengikutsertakan kita dalam renungan-renungannya yang terkadang pahit, renungan-renungan yang memanifestasikan keadaannya. Ia berkata: "Aku telah menjadi pusat ejekan sepanjang hari. Semua orang mencemoohkan aku, sebab kalau aku berbicara, aku mendapati diriku terpaksa harus berterus-terang, serta mengumumkan keperkasaan dan kerusakan. Kata "Allah" telah menjadi bagi saya sumber kecemaran dan ejekan selalu. Kalau aku berkata: Aku tidak lagi menyebut-Nya atau berbicara atas nama-Nya, aku merasa di dalam hatiku seolah-olah api yang menyala dan bersemayam dalam tulang-tulangku. Maka aku berusaha memadamkannya, akan tetapi aku tidak berdaya" 1). Jadi, Irmia menggariskan, dengan suatu cara, garis-garis batin pribadinya. Dalam. pelukisannya di atas kita menemukan tiga unsur yang berturut-turut dan menonjol, yaitu: Pertama: "perasaannya yang selalu gelisah yang seolah-olah terbakar di dalam, sebagai akibat ejekan dan cemoohan yang diterimanya. Kedua: Kehendaknya untuk melepaskan diri dari da'wah yang di bawahnya, yang dihasilkan oleh renungan, dan pemikiran. Ketiga: Unsur tetap yang agaknya mencetak segenap keadaan psikologis, dan menjerat karsa diri Nabi, yaitu yang olehnya diisyaratkan apa yang ia dapati dalam hatinya seperti "api yang menyala". Unsur yang terakhir inilah yang kami pan dang sebagai unsur inti bagi keadaan batin Nabi itu, sebab unsur inilah yang menentukan secara pasti tindak lakunya di kemudian hari, dan tindaklaku ini dipandang secara positif inti kehidupan Nabi. Kita boleh memandang unsur tersebut suatu faktor permanen dan mut1). Dikutip dari Kitab "Nabi-nabi Israil" halaman 192, teks bahasa Perancis oleh .Landray Ladz. 108
  • 105. lak pada Nabi itu. Nabi Irmia tentunya dapat memberi kita pertanda-pertanda lain bagi dirinya, terlukis dalam keadaan-keadaan lain daripada hati nurani yang mungkin kita tidak menemui di dalamnya faktor-faktor "keindriaan" atau "kecendrungan kepada penolakan". Ia hanya menerima perasaan "api yang menyala" itu secara tak jelas dalam faktor-faktor psikologis bam, yang pada akhirnya lenyap dari tindak laku pokok Nabi. Maka kita mengambil sebagai contoh yakni: ketika "Hanania" datang untuk menghancurkan kuk terbuat dari kayu yang melingkari leher Nabi Irmia, seraya berkata: "Inilah yang difirmankan Allah. Aku akan menghancurkan kuk raja Babil' ,, Irmia menjawabnya dengan hati polos dan maksud baik, didorong oleh kesukarelaan dari pihaknya: Amin. Semoga Allah menjadikan apa yang anda katakan itu kenyataan" . Kemudian mereka tidak melihatnya beberapa hari menyiarkan da'wahnya. Akan tetapi tidak lama kemudian ia muncullagi di tempat-tempat umum, dan kali ini ia tidak melingkari lehernya dengan kuk dari kayu, melainkan kuk dari besi, sebagai pertanda akan keteguhan hatinya secara pasti dan positif untuk meneruskan da'wahnya yang bertendens kesuraman itu. Apapun sebab-sebab yang menentukan Nabi ini untuk berhenti sementara dari keaktifannya, tetapi hal ini merupakan petunjuk yang besar, bahwa ia pada akhirnya kembali kepada risalatnya. Maka unsur yang tetap yang kami lukiskan di atas meniadakan pada akhirnya dan untuk selama-lamanya semua faktor psikologis yang ada pada Nabi, yaitu unsur yang mengatur pada akhirnya tindak laku Nabi itu di kemudian harinya: Faktor ini, bila demikian mempunyai kadar kekuasaan, ditinjau dari segi diri Nabi Irmia, sebab ia hanya membatasi diri dalam menentangnya saja. Maka ia menuduhkan keindriaannya (perasaannya) dan meniadakan kepercayaan subyektifnya terhadap ramalan "Hanania", sekalipun hanya sampai pada waktu tertentu. Faktor inilah yang menekan penderitaannya ketika ia oleh pendeta tempat peribadatan diletakkan dipasung kayu, dengan tuduhan "menghinakan Tuhan", begitu jauh, sehingga lenyap dari dirinya naluri yang instinktif pada manusia, yakni naluri "mempertahankan diri", ketika da'wahnya yang bemafaskan ''pessimisme" itu mendatangkan penderitaan pedih kepadanya, sewaktu ia pada suatu hari dilemparkan ke dalam sumur, hingga nyaris tewas. 109
  • 106. Di samping "pemaksaan" yang kita saksikan dalam rangka psikologis Nabi Irmia, dan yang menundukkannya untuk menerima keputusannya dengan cara tanpa perlawanan dari pihak Irmia, harus kita ketengahkan lagi "pemaksaan" dalam bentuk lain: yaitu yang terlukis jelas dalam hukum-hukum Irmia mengenai peristiwa-peristiwa pada zamannya. Sebenarnya Nabi Irmia telah memberikan hukum terhadap kejadian-kejadian itu dengan cara yang berbeda samasekali dengan hukum-hukum yang dibuat oleh orang-orang sezamannya. Dan caranya yang unik dalam memandang segala sesuatu telah dibenarkan oleh kejadian-kejadian itu dengan cara yang menakjubkan. Apakah kita harus menasabkan "pandangan yang dalam" ini kepada bakat-bakat pribadi, yakni kepada kemampuan yang luar biasa untuk menarik kesimpulan, serta rasa yang kritis tentang jalannya sejarah? Kritik modern menafsirkan problematik kenabian dengan jalan sebagai terse but di atas, ketika ia memberikan keistimewaan kepada para Nabi pemilihan daya yang tertentu yang memungkinkan mereka untuk memberikan hukum yang mempunyai makna dalam atas sejarah. Akan tetapi nampaknya pandangan rasional (yang mengingkari wahyu) ini tidak terlintas padanya, bahwa yang kekurangan yang ada pada Nabi Irmia umpamanya, secara obyektif, ialah landasan rasional bagi hukum-hukumnya atas peristiwa-peristiwa historis; bahkan lebih daripada itu, para nabi itu, sebagai sumber-sumber nubuwat mereka, tidak pernah bertolak dari logika peristiwa-peristiwa. Meraka malah melampaui logika ini. Oleh sebab itu, mereka terkadang menunjukkan dalam pandangan orang-orang sezaman mereka citra "ketiada-harmonisan" dalam cara berfikir, sedang orang-orang yang sezaman itu membuktikan kejadiankejadian itu dengan cara yang lebih sesuai dengan alam pikiran rasio nal , karena memberikan kepada pandangan-pandangan mereka dasar yang digali dari peristiwa-peristiwa sejarah. Kita mengambil sebagai contoh, umpamanya keadaan Bani Israil pada zaman penawanan mereka di Babil (Babilon). Mereka berangan-angan kembali dalam waktu dekat ke tanah air mereka ketika mereka melihat dengan tercengang dan harap, pelindung mereka. "Emel Mardoukh" naik singgasana. Kenaikan raja ini tidak tersangka-sangka, artinya; lebih banyak sebagai sesuatu yang mungkin terjadi, sesuai dengan akal pikiran, daripada sesuatu yang terjadi sekedar karena harap. 110
  • 107. Sebenarnya raja Babil pada waktu itu memang menjalankan "politik] keyahudian baru", dengan memerdekakan "Yekounias" raja Yuda yang ditawan, yang kemudian menjadi ternan akrab yang terhormat raja Babil, membebaskannya dari tawanan. Maka dalam hal ini harapan itulah yang merupakan logika itu sendiri. Akan tetapi Nabi Irmia sejak semula berpandangan yang sebaliknya dari harapan ini, yang ia rendahkan persoalannya dengan khutbah-khutbahnya yang bernafaskan pessimisme. Ia telah memperingatkan umat Israil terhadap penindasan yang lebih kejam lagi, Ternyata sejarah telah membenarkan, dengan cara yang mentakjubkan, pessimisme Irmia yang menakutkan itu, sebab raja "Emel Mardoukh" telab mati terbunuh. Mungkin dapat dikatakan bahwa kejadian-kejadian yang tidak tersangkasangkalah yang membenarkan pessimisme Nabi Irmia. Namun tidak dapat dikatakan bahwa ia bernubuwat dengan kebetulan. Sekalipun demikian nubuwat pessimistis ini tidak berawal dalam da'wah kenabian dari Irmia yang sezaman dengan kejadian-kejadian itu, sebab sejak Nabi "Amos" suara para Nabi selalu mengulang-ulangi peringatan kepada umat Yahudi. "Hendaklah Baitul Muqaddas dirobohkan". Demikianlah yang diucapkan oleh Nabi "Lodz". Apa yang dilakukan lrmia hanyalah memperkeras peringatan itu. Dan ia telah melihat betul kejadiannya. 111
  • 108. CIRI-CIRI KHAS KENABIAN Dengan demikian maka studi tentang keadaan Irmia memperkenan kan untuk meletakkan sifat-sifat yang menetapkan prinsip kenabian dengan bentuk-bentuk yang beraneka ragam dan dengan metode yang obyektif. Pertama: Sifat paksaan psikologis, yang menjauhkan semua faktor pribadi yang lain, dan yang memaksa seorang nabi pada akhimya untuk menempuh tindak laku tertentu dan secara terus-menerus. Kedua: Mengeluarkan suatu yang unik , untuk kejadiankejadian yang akan datang, yang didikte oleh suatu macam paksaan, yang tidak mempunyai dasar logika apa pun. Ketiga: Bersinambungannya citra-citra tindak-tanduk kena. bian serta kesamaannya, lahir dan batin pada semua para Nabi. Sifat-sifat yang menonjol ini tidak dapat diberikan secara sederhana, penafsiran psikologis, yang dilandasi oleh kejadiankejadian yang pribadi Nabi tunduk kepadanya, yaitu pribadi yang nampaknya tidak menonjol di sini melainkan dalam bentuk: "penterjemah yang pekak perasaannya" yang (kadangkadang memperoleh rasa senang) terhadap suatu fenomena yang bersinambungan, yang memaksakan hukum kepadanya, sebagaimana dipaksakan 'juga kepada para nabi, sarna dengan medan magnetik menentukan arah jarum-jarum yang kena magnit, Maka sukar untuk menafsirkan suatu fenomena yang sifatsifatnya demikian itu, dengan penafsiran subyektif dan secara kepribadian. Terdapat problematik yang ditafsirkan oleh kritik yang gemar mengembalikan setiap sesuatu kepada pikiran-pikiran Descartes be tapa pun sukamya, dengan penafsiran yang mengherankan, yaitu: bahwa Nabi adalah .seorang dwi pribadi, dibekali dengan dua subyek, yang satu bertanya kepada yang lain, dan terpengaruh oleh pengungkapan-pengungkapannya. Tetapi mereka tidak mencurahkan perhatian untuk menentukan ietak subyek yang kedua dalam diri seseorang, yang oleh ilmu psikologi analistis dianggap terbagi atas dua lapangan. "luar kesadaran" dan "kesadaran". Maka subyek kedua itu apakah letaknya dalam lapangan "kesadaran" atau di "luarkesadaran "? atau di kedua lapangan pada waktu yang sarna? Tiada seorang berkata demikian. 01eh sebab itu diperiukan darikita untuk mengadakan perkiraan lain. 112
  • 109. Kalau pribadi insani tidak mengemukakan penafsiran yang memuaskan bagi fenomena itu, maka penafsiran itu tidak akan mendatangkan suatu kenyataan dengan memperpasangkan atau mempergandakan wujud psikologis ini, supaya mereka mengemukakan penafsiran lebih baik bagi fenomena itu. Dalam keadaan ini, maka rupanya tiada kemungkinan akan adanya penafsiran lain, selain daripada kita harus menempatkan fenomena kenabian itu di luar subyek, serta tidak tergantung samasekali kepadanya, sebagaimana tidak tergantungnya magnet kepada jarum. Yang memantapkan pandangan ini ialah kesaksian para Nabi itu terhadap diri mereka sendiri, yaitu kesaksian yang satu-satunya dan yang langsung berhubungan dengan fenomena itu. Para nabi dengan sepakat telah menempatkan fenomena itu di luar wujud kepribadian mereka. Apabila pandangan ini telah sesuai untuk menjadi suatu hipotesa maka hipotesa ini tidak akan kurang keabsahannya daripada perkiraan yang dibuat oleh kritik modern. Maka hipotesa inilah yang akan kami jadikan dasar, pada akhir bab ini, dengan catatan, bahwa kami berwenang memperluas pembahasannya dalam bab-bab berikutnya. 113
  • 110. SUMBER-SUMBER POKOK ISLAM. - SUMBER-SUMBERNY A. PEMBAHASAN 115
  • 111. SUMBER-SUMBER POKOK ISLAM Dalam melakukan studi tentang Islam, kita tidak dapat mengabaikan akan pentingnya mengadakan penyelidikan terhadap catatan tertulis yang dibukukan dan catatan-catatan historis yang mungkin memberikan sinar terhadap fenomena AI-Qur'an, dengan alasan bahwa masalah historis ini telah dipecahkan, ditinjau dari segi Islam, secara istimewa,' Maka Islam adalah satusatunya dian tara semua agama, yang sejak permulaannya sudah mengukuhkan sumber-sumbemya, setidak-tidaknya yang mengenai AI-Qur'an. AI-Qur'anul Karim mempunyai keistimewaan tersendiri bahwa ia, dikutip sejak empat belas abad yang lalu, tanpa mengalami perubahan atau keraguan. Tidak demikian halnya dengan Perjanjian Lama (Taurat) yang oleh studi kritis daripada para penafsir modern tidak diakui keabsahannya, selain satu kitab saja dari sekian banyak kitab-kitabnya, yaitu "Kitab Irmia" 1). Perjanjian Baru (lnjil) tidak lebih baik halnya daripada Taurat. Konsili para uskup di Nicee, telah meniadakan banyak dari berita-berita yang termuat dalam Injil, sehingga menyebabkan keraguan terhadap yang masih tertinggal dari isinya, yaitu yang terkenal dengan Kitab Injil, Kitab Injil ini pada gilirannya tidak dianggap termasuk katagori kitab-kitab yang absah karena kritik modem menetapkan bahwa Injil itu telah dibikin lebih dari satu abad sesudah AI-Masih (Nabi Isa a.s.), yakni sesudah zaman para Hawariin (muridmood setia Nabi Isa a.s.) yang kepada mereka ajaran-ajaran Kristen dinasabkan. Dengan demikian maka banyak skeptisme, meliputi hal-hal sekitar perkara historis yang menyangkut naskah-naskah tertulis ajaran Yahudi masehi. Penetapan yang lengkap bagi naskah AI-Qur'an yang dilakukan pada zaman Nabi sendiri dipandang sebagai fenomena yang patut memperoleh pengamatan dari segi ilmu sosiologi, dari ilmu psikologi sehubungan dengan lingkungan hidup bangsa Arab pada zaman Nabi Muhammad s.a.w. Hal itu adalah titik inti yang patut mendapatkan pembahasan dan perhatian, sebab dengan demikian tidak ada problem pencatatan lagi dari segi AI- 1). Montet: "Sejarah Kitab Suci", cetakan Jenewa. 116
  • 112. Qur'an, seperti halnya dengan "Kitab Sud". Fenomena tersebut juga memperkuat kenyataan-kenyataan sejarah yang patut bagi kita untuk menarik perhatian pembaca kepadanya, agar pembaca mengkonstatir juga bertemunya kenyataan sejarah dengan ayat suci AI-Qur'an yang terjemahannya dalam bahasa Indonesia kurang lebih: "Dan Kamilah yang memelihara (kemumian isi) AI-Qur'an itu 1). Sekalipun demikian, "Pemeliharaan" ini mempunyai sejarahnya sendiri: Setiap kali wahyu turun ayat-ayat AI-Qur'an itu dicamkan dalam ingatan Rasulullah dan ingatan para sahabatnya, dan dengan segera dicatat pula oleh sekretaris-sekreterisnya (penulis-penulis AI-Qur'an), dan untuk keperluan itu mereka mempergunakan apa saja yang dapat dipakai untuk ditulis di atasnya, seperti tulang baru, potongan-potongan kulit kambing dan lain sebagainya. Hingga ketika Rasulullah s.a.w, wafat, AI-Qur'an telah terpelihara dalam dada para sahabat, dan tertulis atas lembaran-Iembaran, sehingga dengan demikian selalu setiap kali dirasa perlu dapat diadakan perbandingan ayat-ayat AI-Qur'an, satu dengan yang lain, terutama bila terjadi perselisihan mengenai hal-hal yang bertalian dengan vokal atau ejaan. Disamping itu kita akan dapatkan bahwa perbandingan ini terjadi dua kali. Metode yang digunakan untuk melaksanakannya ia ansich suatu kejadian .yang unik dalam sejarah hanya rasional insani. Maka untuk pertama kali nampak benar sifatsifat cara metodik dalam suatu karya rasional, sebagaimana nampak juga ketelitian yang sekarang ini tergantung kepada pemikiran ilmiah. Adapun kejadiannya adalah sbb: Khalifah Abubakar Assiddiq r.a., telah membentuk suatu komisi, diketuai oleh Zaid bin Tsabit r.a., yang menjadi sekretaris (penulis) wahyu, semasa hayat Rasul, dimana AI-Qur'an ditulis secara teratur untuk pertama kali 2). 1). Surat Al Hujurat. 2). Yang dimaksud ialah bahwa penulisan Al-Qur'an secara teratur tidak terjadi melainkan pada zaman Khalifah Abubakar r.a, Akan tetapi penyusunan ayat-ayat dan ,surat-surat Al-Qur'an adalah menurut apa yang diaturkan oleh Jibril a.s, kepada Nabi s.a.w., setiap kali Jibril menemui Rasul s.a.w. untuk membandingkan dengan beliau penataan Al-Qur'an terutama setelah Hajji wada'. (Penterjemah Arab). 117
  • 113. Nampaknya Zaid mula-mula enggan melaksanakan disebabkan oleh dua hal: tugas itu, Pertama: ia sebagai seorang sahabat tidak suka mengerjakan suatu usaha, yang tidak pemah dikerjakan oleh Nabi atau diperintahkan olehnya. Kedua: ia sebagai seorang mukmin menjauhkan diri dari pekerjaan semacam itu, karena ia khawatir akan membuat kesalahankesalahan, yang sekecil-kecilnya pun, yang dapat terjadi dalam menjalankan tugasnya. Namun tugas ini terlaksana juga dengan baik berkat usaha keras serta kerja sarna dan dengan penuh kesadaran dari anggautaanggauta komisi. Adapun metode yang dipakai adalah sederhana, namun teliti, sebab mereka hafal AI-Qur'an di luar kepala, menurut sisternatik susunan ayat-ayat dan surat-surat yang mereka telah mempelajarinya semasa mereka menjadi sahabat Rasul pada masa hayatnya, dengan petunjuk Rasul kepada mereka. Apabila terjadi perselisihan, mereka kembali kepada potongan-potongan kulit, tulang dsb, yang ditulis di atasnya ketika turon, hingga mereka menghilangkan keraguan dari diri mereka tentang masalahnya. Mereka tidak merasa cukup dengan semua tindakan pencegah yang menarik perhatian ini, maka Zaid dan Umar r.a, masih pergi ke pintu masjid Madinah dan di situ kedua orang sahabat itu mempersaksikan para sahabat lainnya, agar mereka mengukuhkan teks Qur'an yang ditulis dengan perantaraan komisi itu sendiri. Akan tetapi usaha yang besar ini, telah memperkenankan naskah Al-Qur'an mempunyai beberapa perbedaan dalam soal dialek yang umum pada kabilah-kabilah Arab Jahiliyah. Usman r.a., Khalifah ketiga, tidak tentram hatinya dengan perbedaan ini, lalu memerintahkan agar ditulis lagi satu teks yang satu saja dengan bahasa (dialek) Quraisy. Maka dibentuk sebuah komisi untuk kedua kalinya, yang diketuai juga oleh Zaid bin Tsabit, yang diperintahkan melaksanakan tugas baru ini. Maka kewajiban komisi kali ini menetapkan naskah AI-Qur'an secara permanen dalam bahasa satu, supaya beraneka macam dialek tidak memberi alasan bagi timbulnya perpecahan dan permusuhan dalam lingkungan rnasyarakat Islam. Komisi tersebut menyelesaikan pekerjaannya pada tahun 25 H. 118
  • 114. Sejak dari tahun tersebut AI-Qur'an berpindah-pindah dari generasi ke generasi lain dalam wajah satu tiada bandingannya, yang disetujui sepenuhnya dari Maroko hingga perbatasan Mansyuria. Dengan demikian maka Al-Qur'an adalah Kitab agama satusatunya; yang memperoleh keistimewaan mengenai keabsahannya, tanpa pertentangan, sehingga kritik tidak pemah menumbuhkan problem tentang masalah ini, baik yang berkenaan dengan tanda hurufnya, maupun isinya. Adapun sumber kedua yang tercatat (tertulis) ten tang Islam tersimpul dalam hadits-hadits Rasulullah s.a.w. Sangat disayangkan bahwa sumber kedua ini tidak memiliki cukup keabsahan historis, seperti dimiliki oleh sumber pertama, sebab haditshadits Nabi s.a.w. tidak dipelihara dengan pemeliharaan metodik yang diperoleh oleh Al-Qur'an, oleh sebab Rasulullah semasa hayatnya telah melarang para sahabat dengan keras dan terus terang agar mereka tidak menulis sabda-sabdanya, supaya tidak terjadi sedikitpun percampur-adukan antara sabda yang diucapkan oleh Nabi, dan ayat-ayat yang diturunkan, yakni antara Hadits dan Al-Qur'an. Maka kepentingan Hadits tidak timbul kecuali sesudah wafat Rasulullah s.a.w. terutama dari segi tasyri' (perundang-undangan sebagai sumber kedua bagi syari'at Islam. Pikiran tentang pentasyri'an ini timbul pada waktu perjalanan Mu'adz bin Jabal, seorang sahabat yang dipilih oleh Rasulullah s.a, w. untuk melaksanakan hukum berdasarkan Islam kepada penduduk Yaman, sesudah peperangan Hunain. Ketika Rasulullah s.a.w. hendak memberikan nasihat kepadanya, beliau bertanya: "Bagaimanakah caranya anda memberikan keputusan terhadap masalah-masalah yang anda hadapi?" Mu'adz berkata: "Aku memberikan keputusan hukum berdasarkan Kitabullah (Al-Qur'an), bila aku tidak mendapatkan di dalam Al-Qur'an, maka aku mengambil dasar hukumnya dati sunah Rasulullah (Hadits), dan bila aku tidak mendapatkannya di dalamnya, berijtihad menurut pikiranku. Aku tidak akan berhenti-henti dalam mencarl dasar hukum semampuku". 1) Rasulullah s.a.w, telah memperkuat metode Mu'adz dalam cara berpikir, yaitu metode yang menyinggung apa yang kami 1). Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam sunahnya kitab: "Keputusankeputusan hukum", jilid 23, bab 11; "Penggunaan pikiran dalam suatu hukum", Hadits no. 3592. 119
  • 115. masukkan sebagai sumber kedua, bagi pentasyrian Islam, dan menyinggung juga masalah "Qias" (analogi) sumber ketiga pentasyrian Islam. Kemudian bersamaan dengan meningkatnya kebutuhankebutuhan masyarakat Islam, bertumbuh pula pentasyrian ini. Maka para ulama berorientasi kepada pikiran untuk me. netapkan, semampu-mampu mereka,' Hadits-hadits yang harus menjadi unsur inti dalam ilmu pengetahuan mengenai perundang-undangan hukum di dalam Islam. Sungguhpun demikian, namun jarak waktu antara wafat Rasulullah s.a.w, dan pencatatan (pembukuan) hadits, merupakan unsur yang penting, sebab dalam masa antara wafat Nabi s.a.w. dan pencatatan Hadits itu terjadi banyak pencampur-adukan dan keraguan yang berlipatganda antara Hadits-hadits yangsahih dan Hadits-hadits lainnya. Sejak itu diletakkan dasar metode kritis yang baik untuk membedakan Hadits yang sahih dan yang tidak sahih. Maka . diterapkan suatu metode kritis historis yang mencakup pentahkikan hubungan periwayatan, serta bobot "Rijal" agama, yang meriwayatkan Hadits itu. . Cara yang menggunakan metode yang demikian itu, membawa konsekwensi bagi kaum ahli Hadits untuk mengarang kitab-kitab Hadits dalam tiga katagori Hadits sesuai dengan tingkat penetapan historis, yaitu Hadits-hadits yang sahih, hadits-hadits yang dhaif (lemah) dan haditas-hadits yang didustakan (hadits-hadits buatan). Inilah sumber-sumber pokok Islam yang dicatat (dibuku~ dalam keadaannya ~ang sekarang ini: yakni: ayat-ayat AIQur'an, yang dapat dipergunakan sebagai dokumen historis yang mutlak keabsahannya; Kedua hadits yang tingkat keabsahannya berbeda-beda, yang tidak dapat dipergunakan, dalam segala hal, untuk studi kritis apapun, kecuali dengan reserve (keberhatian-hatian) menurut cara-cara yang sama sebagai yang ditempuh oleh para ulama ahli Hadits, yang jiwa raganya bersih dari kedustaan, penipuan, atau penggelapan, seumpama Imam Bukhari dan Imam Muslim. Dengan adanya reserve itu maka kedua-dua sumber pokok itu dapat dipergunakan oleh para pembahas dan penyelidik tentang Islam, sebagai sumber-sumber yang sama-sama absahnya, adalah kecongkakan, dan pengaku-akuan kalau kita menolak secara a-priori sanad-sansd yang dikemukakan oleh hadits, dengan menggunakan nama metode (modem). 120
  • 116. R A S U L U L L A H S. A. W. MASA SEBELUM PERKAWINAN KENABIAN DAN ISOLASI DIRI 121
  • 117. RASULULLAH SAW. Kiranya kita dalam mempelajari Fenomena Al-Qur'an tidak dapat terlepas dari keharusan mengenali pribadi Nabi Muhammad saw. dengan sebenar-benarnya, sejauh mungkin. Mengenali diri Nabi s.a.w. sangat diperlukan di sini, sama dengan diperlukannya mengetahui pembatasan ketiga-tiga dimensi dalam mempelajari ciri-ciri khas analitis suatu parabol. Fenomena yang kita pelajari sekarang ini memang pada hakekatnya bertalian erat dengan pribadi Nabi Muhammad saw. Agar kita dapat keluar dengan suatu kesimpulan tentang watak pertalian ini, maka kita harus melangkah pada langkah pertama untuk meletakkan ukuran pertama ditunjang dengan semua unsur yang khas untuk mengungkapkan dengan terang dan jelas pribadi ini yang merupakan obyek persoalan, serta yang merupakan pula saksi dan hakim penentu persoalan tersebut. Selanjutnya kita memperisai diri kita, dalam hal yang berkaitan dengan saksi dan sekaligus hakim ini, dengan jaminanjaminan yang dapat menjamin untuk kita kepercayaan yang diperlukan terhadap kesaksiannya dan keputusannya. Tidak mengapa, kalau kita dalam hubungan ini menempuh langkah kedua dari jurusan lain, yakni meletakkan ukuran kedua yang memungkinkan kita untuk memberikan penentuan sendiri secara langsung terhadap Fenomena itu. Wajarlah kalau sekarang diletakkan beberapa pertanyaan sehubungan dengan obyek saksi ini, yaitu pertanyaan-pertanyaan yang lazim diletakkan untuk memperoleh kepastian mengenai hal-hal yang berhubungan moral dan akal pikiran terhadap orang yang diperlukan untuk dicatat kesaksiannya, sebab kecerdasan akal dan keikhlasan hatinya, harus tidak boleh menimbulkan atau mengandung sedikitpun keraguan, agar kecerdasan akal dan keikhlasan hati itu dapat dipergunakan sebagai unsur historis inti dan problem itu. Untuk keperluan hal-hal di atas mungkin kita harus mernaparkan semua keterangan tentang kehidupan Rasulullah s.a.w. sebab keterangan, menyampaikan kepada kita suatu hake kat yang diperlukan oleh ukuran tersebut. Namun kami tidak memandang perlu untuk menggantungkan dalam sebuah musium, yang sudah sangat kaya, sebuah lukisan baru mengenai Nabi s.a.w., sebab pada pembaca terbuka 122
  • 118. kesempatan luas untuk menela'ah karangan-karangan yang banyak sekali mengenai sejarah pri hidup Nabi s.a.w., apabila ia berkehendak memuaskan keinginannya mengenali lukisan cemerlang tentang insan ini, baik karangan-karangan tradisional seperti karangan Ibnu Ishak dan Ibnu Mas'ud, atau buku-buku terjemahan pengarang-pengarang besar, yang diterbitkan oleh percetakan-percetakan modern, seperti buku karangan Dinet, karangan Durmingham dan lain-lainnya. Yang berkenaan dengan kami, kami tidak memerlukan sesuatu selain melukis lukisan psikologis. Dalam lukisan ini kami tidak merasa perlu akan detail-detail historis kecuali hanya sekedar yang kami perlukan untuk menunjang apa yang kami hendak melukisnya. Dengan demikian maka kehidupan Nabi s.a.w., menurut hemat kami, terbagi atas dua periode berturutturut: Peri ode pertama: adalah masa sebelum kerasulan, yaitu masa yang panjangnya empatpuluh tahun. Periode kedua: adalah masa Al-Qur'an (diturunkan), mencakup masa turunnya wahyu, yaitu dalam masa duapuluh tiga tahun. Sungguhpun de mikian , tetapi setiap periode dari kedua periode ditandai dengan ciri peristiwa pokok yang merupakan pemisah yang membagi setiap periode tersebut di atas dua periode sekunder. Pernikahan Nabi dengan Sayidatina Khadijah r.a, merupakan padahakekatnya pemisah yang penting dalam hal yang berkaitan dengan periode sebelum kerasulan, dimana kita mendapati Nabi di kemudian hari itu menyendiri di dalam khalwat ruhani, sampai malam yang abadi itu, malam turunnya wahyu 1). Kemudian Hijrah: Hijrah adalah suatu "gap" yang memisahkan zaman da'wah semata-mata, dengan zaman kemenangankemenangan dalam medan peperangan dan dalam bidang politik yang membukakan pintu sejarah kepada imperium Islam yang masih muda itu. 1). Kita sebenarnya kekurangan catatan-eatatan tertulis yang dapat menceriterakan pada kita bagaimana caranya Nabi dalam masa itu membagi waktunya antara kewajiban-kewajibannya sebagai seorang suami dan kewajiban-kewajiban duniawi. (Pengarang). 123
  • 119. Kami akan membahas sekarang dengan singkat kedua kenyataan di atas yang datang berturut-turut, dengan mengetengahkan pada setiap kenyataan 'itu peristiwa-peristiwa yang mewataki kepribadian Nabi s.a.w. dan yang berwatak dengan kepribadiannya, agar kami dapat mengungkapkan, sedapat-dapatnya, watak pertalian antara pribadi Nabi dengan Fenomena AlQur'an. 124
  • 120. MASA SEBELUM KERASULAN Masa ini meliputi masa kekanakan Nabi, masa kedewasaannya dan pemikahannya. Terdapat tradisi-tradisi bais, yang dipunyai oleh semua bangsa, yang melingkari buaian-buaian dan makam-makam orangorang besar dengan dongengan-dongengan. Sesuai dengan ini cerita-cerita Islamiah telah mengelilingi lingkungan keluarga Nabi serta kelahirannya, masa kekanakannya dengan peristiwa-peristiwa luar biasa, yang berpancar dari peristiwa hari depan yang tak ada bandingannya, serta yang gemilang, yang sedang menanti Nabi, Akan tetapi tidak penting untuk memberikan perhatian sampai beberapa jauh kebenaran historis cerita-cerita itu, sebab hal itu tidak penting bagi topik pembahasan kami ini secara langsung, bahkan kami akan mencurahkan banyak perhatian kepada detail-detail yang akan mengungkapkan sedikit demi sedikit sifat-sifat khas daripada anak ini, yang selalu menjadi sumber kegembiraan dan kegelisahan sekaligus bagi "Halimah", ibu susunya. Anak ini telah tumbuh menjadi besar di bawah asuhan Halimah, seolah-olah tunas yang kuat dari tumbuh-tumbuhan padang pasir. Namu ia menangis semasa ia masih menyusu, ia ditelanjangi untuk uibersihkan 1). Kalau ibu susunya hendak menenangkannya dari tangisnya maka dibawanya ia pada waktu malam itu keluar kemah. Maka bayi itu tertarik hatinya kepada pemandangan bintang-bintang yang bertaburan di langit pada malam gelap itu, pemandangan yang nampaknya memancarkan magnetisme yang mempengaruhi biji mata bayi itu, yang air matanya masih berkedip-kedip di matanya. Bayi itu menjadi besar sekarang: Ia sudah mulai bermain di dekat kemah bersama saudara-saudara sesusuannya. Namun suatu peristiwa telah terjadi pada dirinya dengan pasti, yang merubah jalan hidupnya. Apakah yang terjadi? Salahseorang saudara sesusuannya datang pada suatu hari kepada ibunya dengan napasnya yang terengah-engah, untuk menyampaikan dengan suara tersendat-sendat, kepada Halimah, yang dalam keadaan takut suatu kejadian yang aneh, yang menimpa Muhammad secara mendadak. Segeralah Halimah bangun dari duduknya keluar mencari anak susuannya. Ketika ia sampai 1). Kami tidak mendapatkan cerita ini dalam kitab·kitab sejarah Nabi. (Penterjemah Arab). 125
  • 121. kepada anaknya, anak itu membenarkan dengan pasti apa yang terjadi, seraya berkata: "Ibu orang yang berpakaian serba putih datang kepadaku, mereka memegangku lalu mereka membuka dadaku dan kalbuku, kemudian mengeluarkan dari hatiku segumpal daging hitam 1). Sejarah pri kehidupan Nabi memandang dalam kisah ini suatu penjebolan simbolis, akan dosa dari akar-akarnya, Mungkin setengah ahli tafsir Al-Qur'an membawakan sehubungan dengan kisah ini firman Allah s.w.t, dalam Surat Al-Insyirah ayat 1-3, yang terjemahannya kurang lebih sebagai berikut: "Tidakkah Kami telah melapangkan dadamu, dan membuang dari dirimu bebanmu yang memberati punggungmu?" Yang pasti ialah bahwa Halimah telah mengembalikan anak itu ke Mekkah setelah ia berusia empat atau lima tahun. Apakah yang dapat berkesan dalam akal pikirannya pada masa kanak-kanaknya itu daripada kehidupan penyembahan berhala dan kebaduian itu? Pasti tiada sesuatu yang mung kin terkait dalam pribadinya dari hal-hal yang berkaitan dengan da'wah yang akan datang. Tidak lama kemudian Aminah, ibunya meninggal dunia. Maka anak itu sudah tidak mempunyai rumah orang tua, lalu ia diasuh oleh kakeknya yang bemama Abdul Muthalib. Akan tetapi kemudian kakeknya yang sudah lanjut usia itu pun meninggal dunia pula. Lalu anak itu dipiara oleh pamannya yang bemama Abu Talib, ayah Ali, usianya pada waktu itu tujuh atau delapan tahun. 1). Berkata Almagrizi dalam kitabnya: "hal-hal yang menyenangkan pendengaran" ketika menceritakan ''Penyusuan Rasulullah" di kaIangan kafilah Bani Sa'ad: "Telah dibelah kalbunya yang suci di tempat itu lalu diisi dengan hikmah dan iman, setelah dikeluarkan bagian syaitan dari kalbu itu, Imam Bukhari meriwayatkan dalam Sahihnya: "Dada Rasulullah s.a.w, dibelah pada malam beliau dimi'rajkan". Riwayat ini dilengkapi oleh Abu MUhammadibnu Hazm. Imam Muslim meriwayatkan daIam Sahihnya (jilid II, haIaman 215, dengan syarah An.Nawawi, penerbitan Percetakan Mesir) dari Humad ibnu Salamah, dari Tsabit, dan Anas ibnu Malik, bahwa "Rasulullah s.a.w, didatangi oleh Jibril, ketika Nabi sedang bermain-main dengan anak-anak kecil lainnya, LaIu Jibril memegangnya dan direbahkannya, kemudian membelah kaIbunya. Berkata Anas: "Aku telah menyaksikan bekas pembelahan itu di dadanya", Bahwasanya pembelahan dada itu terjadi pada masa asuhan, telah diriwayatkan daIam Musnad Addarmi di Maqadimah bab III. 126
  • 122. Di rumah pemeliharaannya ini, dimana tidak ada kekayaan yang dapat melepaskan keluarga ini dari keharusan bekerja, pamannya bekerja sebagai pemimpin dan penuntun kafilahkafilah dari Mekkah. la berangkat dengan kafilahnya pada musim-musim tertentu ke pusat-pusat perdagangan negeri Syam, untuk menukar (membarter) barang-barang hasil India dan Yaman dengan barang-barang hasil negeri-negeri Laut Tengah. Dalam salahsatu perjalanannya ini, ketika Nabi pada waktu itu berusia sebelas atau duabelas tahun, ia memohon kepada pamannya agar diperkenankan menyertai parnannya dalam perjalanan ini. Akan tetapi pamannya menolak permintaanya itu, dengan alasan bahwa si paman tidak suka disertai oleh seorang teman yang masih muda belia seperti dia (Nabi) dalam suatu perjalanan jauh serta memayahkan. Akan tetapi anak itu memaksa 'seraya menangis. la menjatuhkan dirinya ke pelukan pamannya, yang pada akhimya meluluskan permintaannya yang mengharukan itu. Dengan demikian, ini untuk pertama kalinya Nabi s.a.w. berhubungan dengan dunia luar, yakni bahwa dia telah hidup selama duabelas tahun dalam lingkungan masyarakat penyembah berhala, menggembala onta pamannya di pinggiran kota Makkah. lni berarti bahwa kehidupannya selama itu tidak pernah terkesan dengan suatu keadaan tertentu yang bertendens edukasional. Bahkan sebaliknya ia hidup selama itu sebagai anak yatim, penggembala onta. Perjalanan yang tidak disengaja ini akan meletakkan di jalan kehidupan anak itu peristiwa yang tidak disangka-sangka serta yang pertama dan yang berhubungan langsung dengan da'wah yang akan datang. Tatkala kafilah-kafilah itu sampai di kota Basra di negeri . Syam, mereka diterima dengan hangat oleh Rahib biara di kota itu dan menyampaikan kepada mereka penghormatan dalam penerimaan tamu dengan upacara kekristenan. Kemudian Rahib itu, yang bemama "Buhaira" menarik Abu Talib ke samping seraya berkata: "Bawalah keponakanmu ini kembali ke Makkah, dan jagalah dia terhadap Yahudi. Anak ini akan mengalami suatu perkara besar". 1). Apakah Abu Talib memberikan perhatian dengan sepatuhnya terhadap peristiwa biasa yang terjadi pada perjalanan ini, UIituk bekerja bersama-sama dengan keponakannya dalam 1). Ibnul Athir jilid II halaman 24. 127
  • 123. urusan risalah yang akan datang sedang ia nantinya mati tanpa suka samasekali mengakui Islam? Bagaimana, pemimpin kafilah Makkah itu harus terlebih dahulu menyelesaikan urusan perdagangannya sebelum ia bertolak kembali ke Makkah. Adapun yang mengenai anak itu, sekalipun boleh diperkirakan bahwa kisah mengenai dirinya itu sampai ke telinganya, namun peristiwa itu, sebagaimana nampaknya, tidak merubah sedikitpun tindak lakunya seperti pemuda Quraisy lainnya. Sejarah hayat Nabi yang aktif meneliti pri kehidupannya tidak pemah menyebutkan sesuatu yang khas, sejak peristiwa historis ini, yang dapat memberi petunjuk bahwa Nabi mendatang ini telah jelas padanya akan hari depannya. Sementara itu Muhammad telah mencapai usia akil baligh di kota kelahirannya, dimana ia bergaul dengan pemuda-pemuda kaumnya, inenyaksikan perbuatan-perbuatan untuk melampiaskan syahwat dan hawa nafsu yang dilakukan oleh pemudapemuda itu, tampa tergelincir di dalamnya, padahal kesempatan-kesempatan yang tersedia untuk maksiat tidak sedikit di Makkah, dan lampu-lampu merah yang digantung di muka pintu rumah-rumah perempuan-perempuan pelacur sangat inenarik pemuda-pemuda Makkah, yang gemar memanggul senjata, mengasyiki wanita dan mengadu syair. Mereka memimpikan mempunyai keberanian seperti keberanian Antarah dan dapat memadu cinta seperti Imru-ul Qais. Setiap orang mengharapkan pengabdian namanya dan berangan-angan bahwa pada suatu hari syairnya digantung pada tabir Ka'bah. Rasulullah s.a.w. sendiri telah bercerita kepada kita tentang keinginankeinginan hawa nafsu kepemudaan yang merayu dirinya. Di- sebutkan dalam riwayat bahwa ia sedang menghela kambing milik keluarganya di luar kota Mekkah bersama seorang dari suku Quraisy. Pemuda Muhammad: Ia meminta kepada tamannya untuk menjaga akan kambingnya, agar ia dapat pergi bersamrah di Makkah, seperti pemuda-pemuda lainnya bersamrah. Ia lalu pergi. Setelah sampai di muka rumah yang terdekat dari rumah-rumah di Makkah ia mendengar nyanyian, serta suara genderang dan seruling pada keramaian perkawinan di kota. Tetapi ia tidak tertarik kepada keramaian itu. Ia mengantuk di sana hingga akhirnya tertidur. Peristiwa semacam itu dialamilagi untuk kedua kalinya. Dari kejadian ini nampaknya bahwa suatu kejadian yang 128 I
  • 124. I. datang secara kebetulan dan tidak tersangka-sangka selalu terjadi untuk menjauhkannya dari maksudnya. Bukanlah kekhurafatan yang berbicara dalam masalan Ini, melainkan saksinya sendiri yang berbicara, yakni sejarah yang berlandasan hadits-hadits yang sahih. Kami dalam masalah ini mempunyai suatu pegangan yang penting yaitu bahwa calon Nabi ini sudah barangtentu dalam kehidupan kepemudaan ini berteman dengan orang sahabat-sahabatnya, yang di kemudian hari, seperti Umar Ibnul Khattab umpamanya, akan menjadi pahlawan-pahlawan dan syuhada demi untuk membela da'wahnya. Dalam pegangan historis ini terdapat kesaksian yang terjamin akan kebenarannya, terdiri dari nama-nama yang paling gemilang dalam sejarah Islam, seperti Khalid ibnul Walid, Usman ibnu Affan dan lain-lain. Mereka itulah yang mengeluarkan suatu keputusan singkat tentang calon Nabi ini. Keputusan itu singkat, tetapi jelas dan terang,. ketika mereka menggelarinya dengan nama "Al-Amin" (yang dipercaya). Calon Nabi ini dalam pandangan mereka adalab orang yang beaar pembicaraannya dan terpercaya. Kesaksian historls ini memberikita suatu kejelasan yang berharga untuk lukisan psikologis yang kami berusaha melukisnya. Namun kehidupannya sehari-hari yang diwamai dengan keserba-sederlianaan berjalan terus tanpa ada sesuatu yang istimewa sampai ia mencapai usia duapuluh lima tahun. Dalam pada itu Muhammad masih hidup membuiang, karena ia belum dapat menikah, sebab untuk melamar seorang wanita bangsawan Makkah, mungkin ia harus membayarkan mas kawin yang besar jumlahnya, yang tidak dapat dijangkau oleh hartanya yang sangat sedikit. 129
  • 125. PERKAWINAN DAN ISOLASI DIRI Sekalipun demikian, tatkala ia berusia duapuluh lima tahun datang kepadanya seorang budak bemama Maisarauntuk membicarakan dengannya masalah perkawinan. Pembicaraan berkisar sekeliling seorang janda kaya dari keturunan bangsawan di Makkah, bemama; "Khadijah", Nabi menolak untuk melamarny-amengingat keadaan sostalnya yang tidak bermartabat tinggi, bila dibandingkan dengan posisi istri yang dicalonkan Itu. Namun budak yang cerdas itu mengetahui bagaimana caranya ia menghilangkan keraguan Nabi. Lalu Khadijah sendiri turut mencampuri soal ini untuk menunjang usaha budaknya, Maisara. Dari fakta campur tangan Khadijah itu sendiri, kami telah memperoleh suatu keterangan yang amat berharga ditinjau dari sejarah "Fenomena Al-Qur'an". Pada masa itu di Makkah berjangkit suatu keadaan psikologis secara khusus, sebagaimana selalu terjadi di setiap tempat, menjelang terjadinya keadaankeadaan penting, seperti perang umpamanya. Pada masa itu penduduk Makkah sedang menanti-nanti kedatangan seorang Nabi dari keturunan Ismail a.s. 'Khadijah berambisi sekali mempersuamikan dirinya dengan Nabi yang akan datang itu. Khadijah melihat yang dinanti itu dalam diri Muhammad, yang kepadanya Khadijah membuka sepenuhnya perasaan hatinya terhadap orang laki yang diidamidamkan untuk menjadi suaminya itu. Akan tetapi Muhammad tidak kurang berterus-terangnya daripada Khadijah, ketika ia membela dirinya bahwa bukanlah dia Nabi yang dinanti-nanti itu. Dalam situasi psikologis ini terjadilah pemikahan itu. Pernikahan ini telah meninggalkan untuk kita suatu hal dari segi prinsip, berupa kesaksian penting tentang pribadi Muhammad yang menjadi terang bagi kita di bawah sorotan dialog yang pertama ini mengenai kedatangan Nabi yang dijanjikan oleh Allah itu. Kami memperoleh dalam pemikahan ini suatu kesaksian lain yang tidak kurang pentingnya. Ia telah meninggalkan untuk kita suatu naskah penting tentang sejarah pri kehidupan Nabi. Diriwayatkan khutbah yang diucapkan oleh Abu Talib, paman Nabi, pada waktu pelamaran sebagai yang lazim di kalangan Quraisy. 130
  • 126. Dalam khutbahnya itu Abu Thalib berkata: "Amma ba'du, sesungguhnya tiada seorang pun pemuda Quraisy diukur dengan pribadi Muhammad, melainkan bobot Muhammadlah yang lebih unggul dalam hal kemuliaan kebangsawanan, keutamaan dan akal pikiran, sekali pun ia tidak berharta. Harta hanyalah laksana bayangan yang akan hilang lenyap, dan suatu hutang yang akan ditagih kembali. Ia mempunyai keinginan menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, dan Khadijah pun demikian pula 1). Kalimat-kalimat di atas ini sampai kepada kita dengan tepat membawakan gambaran "Al-Amin" (orang yang dipercaya) itu, dan sesuai pula dalam segala bentuknya, dengan lukisan historis tentang seorang pahlawan, sebuah epos dalam sejarah keagamaan. Akan tetapi lihatlah, kehidupan sehari-harinya berubah sekonyong-konyong, sebab Muhammad akan meninggalkan gelanggang hidup masyarakat Makkah. Ia akan menarik diri dari lingkungannya dan- akan mengumpulkan kekuatan batinnya seraya merenung. Penarikan diri ini kelak akan memberikan buahnya di gua Hira 2). Barang apa dan bekal ruhani atau rasional apa yang ia bawa dalam isolasi (penarikan diri) ini, dari tempat mana lima belas tahun kemudian memancar sinar cahaya Al-Qur'an? Kita telah mengetahui tentang zaman itu bahwasanya adat kebiasaan yang bersumber dari penyembahan berhala dalam masyarakat jahiliyah (sebelum Islam) berdiri landasan kuna daripada tauhid "tradisional", yang tercermin dengan jelas dalam Rhutbah Abu Talib. Akan tetapi "tauhid" yang di luar kesadaran ini tidak mengkonsekwensikan suatu bentuk ritus-ritus secara 1). Demikianlah tersebut pada hamisy (keterangan tertulis pada tepian buku) kitab "Alkamil karangan lbnul Atsir, [ilid II halaman 35. Di kitab "Sirah Alhatabiah" jilid I halaman 139 terdapat teks lain. (Penterjemah Arab). 2). Hendaklah "penarikan diri" ini diartikan menurut makna umumnya sebab "penarikan diri" ini adalah penarikan diri seorang yang tidak meninggalkan masyarakat samasekali. Namun sejarah tidak menceriterakan bahwa pada masa itu mengerjakan perdagangan: Sekiranya ia melakukan perjalanan seperti yang ia lakukan sebelum berisitri, tentu akan disebutkan oleh sejarah Nabi. Kiranya kekayaan Siti Khadijah turut memikul sebagian dari bebannya. (Pengarang). 131
  • 127. khusus, sedang Ka'bah khususnya menjadi tempat peribadatan terhadap berhala-berhala, atau menjadi arena politik bagi keluarga-keluarga (suku Quraisy) yang berkuasa. Adapun yang bertalian dengan kehidupan keagamaan di kota Makkah. Sejak masa lama kehidupan itu diatur sesuai dengan kesatuan kekabilaban yang diselubungi kedustaan, menjadikan "Hubal", "Lata" dan "Uzza" kepala-kepala dari sekumpulan berhala-berhala, sesembahan bagi kabilah-kabilah Arab seluruhriya. Akan tetapi keluarga-keluarga yang besar di Makkah, berkat pengaruh politik dan perdagangan, telah berpegangan, selain kesatuan penyembahan berhala yang dibuat-buat ini, juga dengan ketauhidan, mengesakan Allah, tetapi yang tidak jelas; suatu ketauhidan yang tercermin dalam ingatan, 'yang mereka pelihara dengan kebesaran hati dan kebanggaan, terhadap moyang mereka "Ismail". Betapapun halnya, ingatan ini pernah samasekali memberikan pengaruhnya kepada kepercayaan-kepercayaan bangsa Arab, atau tradisi-tradisi perang mereka. Hal ini memberikan penafsiran kepada kita tentang pergolakan sengit yang kelak akan berkobar antara mereka yang berpegang teguh kepada sistem jahiliyah ini, dan Islam yang baru lahir. Abu Talib pun, orang Quraisy yang telah betusia lanjut dan dihormati oleh kaumnya, lagi mulia itu, yang kami telah sebutkan perkataan-perkataannya yang mulia dan sopan, yang diucapkan dalam khutbahnya. orang ini mati tanpa menyatakan penyangkalannya terhadap berhala-berhala, sekali pun ia dimohon dan didesak oleh anak saudaranya. Itulah semua pikiran surarn yang sempat dibawa oleh calon Nabi itu untuk menyertainya dalam penarikan diri dari agama moyangnya, Ibrahim. Sungguhpun demikian, dalam hubungan ini kami harus menambahkan bahwa agama Ibrahim tetap dalam keadaan lebih murni pada sebagian kaum tasawuf, yang pada-zaman itu disebut "Hunafa" (yang kepercayaannya kepada Tuhan lurus). Orang-orang "Hunafa" ini termasuk golongan yang jarang, tidak banyak. Mereka meninggalkan adat kebiasaan zaman itu, yang berdiri atas landasan penyembahan berhala, untuk bertekun dalam penyembahan Tuhan satu, namun kehidupan ketasaufan yang dilakukan oleh orang-orang pertapa ini disertai dengan sistem khas, atau dengan suatu bentukritus. Lebih tepat, mereka dalam kehidupan mereka itu tidak mempunyai hubungan ruhani apapun dengan golongan ahli Kitab, Sumber-sumber historis pada masa itu tidak menyebutkan adanya gereja di Makkah, atau tempat peribadatan atau biara di 132
  • 128. tempat-tempat luar Makkah. Mereka itu hanya pergi menyendiri di tempat-tempat yang jauh dari keramaian kota, tanpa memutuskan samasekali hubungan mereka dengan masyarakat. Mereka tidak pula mempunyai tarikat ketasaufan, selain daripada mempraktekkan kehidupan kezahidan, atau kehidupan melepaskan kesenangan dunia, suatu hal y;mg lllenunjuk kepada pembawaan gurun pasir dan pengaruhnya terhadap jiwa mereka itu. Kezahidan itu pada kenyataannya nampak dalam kesederhanaan seorang badui, yang kekayaannya selalu bergantung kepada "kemurahan hati", kelaparan, paceklik, atau serangan yang dilakukan oleh kabilah-kabilah yang bertetangga. Pada pemyataan yang diucapkan oleh Abu Talib sendiri pada kesempatan lamaran itu, tentang harta yang tidak lain, hanya sebagai titipan yang pasti diminta kembali baik lambat maupun cepat, pada kata-kata ini tampak jiwa gurun pasir lebih banyak daripada jiwa biara. Jalan yang ditempuh oleh para pertapa sufi yang disebut "Hanif" itu tidak membeIitang sampai kepada etika Masehi, atau syariat agama Musa. Ia hanya suatu sistem yang unik, alami dan sederhana, yang contoh etiknya yang mumi kita dapati dalam syair-syair Qis ibnu Saedah. Qis ini, katakanlah bahwa ia hanya benar beragama Nasrani, sebagaimana mereka katakan, tidak meninggalkan kepada sejarah selain bait-bait sym yang gemilang, yang menggambarkan genialitas gurun pasir yang mumi. Citra agama Ibrahim, rupanya masih agak kelihatan dalam lingkungan kaum jahiliyah, pada masa itu, sebab di sana-sini muncul seorang Hanif, akan tetapi citra ini analah sepenuhnya hanya tradisi kearaban semata-mata, tidak mempunyai kaitan sedikitpun dengan alam pikiran Yahudi Masehi, yang aliran keruhaniannya sudah tumbuh, jauh sebelum zaman itu, bersamaan dengan kenabian Musaa.s. Bahkan sampai pada zaman kita ini, yakni setelah tigabelas abad dari peradaban Islam yang jiwanya menghayati akal pikiran orang Arab yang bermukim di gurun pasir, kita masih mendapati bahwa peradaban Kitab-kitab yang diwahyukan, samasekali tidak menyebar luas, dan banyak kaum muslimin di utara Najd, masih buta pengetahuan tentang sejarah peradaban Yahudi Masehiini 1). 1). Dikutip dari buku karangan Raswan yang berjudul: "Studi tentang sosiologi" . 133
  • 129. Berdasarkan hal di atas; maka tidaklah logis untuk memperkirakan bahwa golongan "Hunaifa" itu memiliki pengetahuan yang lebih luas daripada orang-orang pada zaman kita ini tentang aliran pikiran, dan sejarah Keesaan Tuhan. Makaadalah mudah bagi kita inembayangkan bahwa Nabi s.a.w, hanya dengan membawa bekal yang sangat sedikit, dengan pikiran yang telah dimaklumi dan dengan tujuan biasa pergi berkhalwat menarik diri dari masyarakat ramai sesudah ia kawin, sama benar dengan apa yang dilakukan oleh kaum Hunafa pada masanya. Namun kiranya, ada manfaatnya untuk menjelaskan bahwa hal-hal yang kami sebutkan di atas adalah lebih benar, dan sungguh-sungguh dalam diri Nabi, sesuai dengan keadaannya sebagai seorang yang buta huruf, tidak membaca dan tidak menulis, sehingga tertutup baginya kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan tertulis apapun. Kesemuanya yang. tersebut di atas adalah suatu konstatasi yang hanya dihambur-hamburkan saja, sebab sumber tertulis tidak ada samasekali di kalangan Nabi yang ummi ini, sebagaimana akan nampak jelas kemudian. Sekarang apakah keterangan yang ada pada kita tentang isolasi diri yang dilakukan oleh Nabi s.a.w. selama lima belas tahun itu? Apabila kita menyingkirkan sebagian keteranganketerangan yang berkaitan dengan kehidupan suami-isteridan kehidupan rumah tangganya, maka kita tidak akan uapat mengetahui samasekali apa-apa yang berhubungan dengan kehidupan ruhaninya pada masa itu. Apakah ia tenggelam dalam renungan yang dalam tentang problem keagamaan, dalam hal mana ia dipimpin oleh sejenis ilham mengenai da'wah kenabiannya yang mendatang? Orientalis besar; Dunningham telah menjawab pertanyaan di atas dengan mengiakannya. Akan tetapi jawaban mengiayakan itu, menurut hemat kita, tidak lebih daripada suatu khayalan belaka dari orientalis itu, sebab tidak bersendi, sebagaimana nampaknya, kepada suatu kesaksian historis yang tidak dapat disangkal atau ditolak, yaitu kesaksian AI-Qur'an 1), karena kitab ini melukiskan kepada kita dengan menoleh kepada masa lampau, situasi Rasulullah s.a.w, sebelum diturunkan wahyu kepadanya, dengan firman Allah s.w.t.: 1). 134 Dengan menganggap, historis. dalam uraian ini, Al-Qur'an sebagai suatu naskah
  • 130. "Dan engkau tadinya tidak mengharapkan bahwa Kitab (A'" Qur'an) akan diwahyukan kepadamu, hanya dengan rahmat Tuhanmu (A"'Qur'an diturunkan kepadamu), oleh sebab itu Janganlah engkau menjadi penolong bagi 01Yl1l6-orang yang ka(ir". (Surat Al-Qa,shash: 86). Makna ayat ini tidak lain kecuali bahwa Rasulullah tidak mempunyai sedikitpun pengharapan untuk menja1ankan suatu da'wah kenabian hanya karena hasratnya sendiri, baik pada masa sebelum isolasi diri, atau di tengah ia melakukan isolasi diri. Namun memang demikianlah makna psikologi ayat ini, yang am penting historisnya tidak terlintas dalam pikiran Prof. Durmingham, sekalipun ia tidak menaruh keraguan samasekali terhadap keabsahan Al-Qur'an secara historis. Selain daripada hal di atas kita harus ingat bahwa penafsiran ayat seperti di atas itu tidak terikat dengan sesuatu kecuali dengan satu kondisi saja, yang sangat diperlukan serta memadai, yaitu sifat tulus ikhlas secara mutlak yang dimiliki oleh Nabi s.a.w. Inilah secara tepat sasaran ukuran itu, agar kita dapat melihat di dalam Al-Qur'an, dengan bersendi kepada sifat Nabi yang bersejarah serta positif itu, cermin yang mencerminkan masa lampau, atau setidak-tidaknya sesuatu yang sama dengan cermin yang dapat memberikan refleksi, memungkinkan kita untuk mengetahui dari cermin itu, dengan jalan refleksi, periode-periode yang berbeda-beda yang dilalui oleh pribadi Muhammad s.a.w. sepanjang sejarahnya, sehingga kita akan dapat me. lihat dalam ayat suci terse but di atas gambaran yang realistis keadaan jiwa pada Nabi Muhammad s.a.w, semasa khalwatnya di gua Hira. Jadi tidaklah ada suatu alasan untuk menasabkan kepada "orang yang tulus benar dan dipandang itu suatu maksud yang jelas untuk merenungkan problem metafisik sesaat ia bersiap-siap untuk pergi Iflengisolasi dan menarik diri, setelah perkawinannya "Hasil", basil daripada ukuran masa kini akan mengokohkan hukum yang ditetapkan sebelumnya. Sekalipun demikian masih ada suatu titik yang tidak jelas, yaitu bahwa ahli sejarah masa kini merasa heran bahwa sejarah pri kehidupan Nabi tidak memuat, melainkan sedikit saja keterangan-keterangan mengenai "isolasi dirj." ini, yang tepercaya" sebagai periode pokok, ditinjau dari segi psikologis, sehubungan dengan da'wah kerasulan mendatang. Pada hakekatnya memang kita tidak memiliki kecuali sedikit keterangan-keterangan mengenai obyek ini. 135
  • 131. Akan tetapi hal ini tidak menimbulkan keheranan, sebab sejarah tidak dapat menjajaki perjalanan hidup calon Nabi itu, selain dari ingatan orang-orang yang semasa dengannya. Sebenamya calon Nabi ini hilang dan lenyap dari penglihatan zaman, untuk selama limabelas tahun menjadi orang "penyepi" Makkah, atau "penyepi" gua Hira. Kami menemui dalam sikap berhati-hati sejarah mengenai masalah ini, tanpa bukti bahwa sejarah pri kehidupan Nabi, yang terkandung dituduh suka berlebih-Iebihan, sebaliknya daripada itu menunjukkan sikap penuh berhati-hati dan tidak gegabah, apabila ia tidak mendapatkan keterangan-keterangan historis. Maka kami terpaksa, karena kurangnya keterangan-keterangan pada kita, untuk mencari pegangan kepada ruas-ruas dan keterangan-keterangan psikologis yang diketengahkan oleh AlQur'an. Yang mendorong kami untuk menempuh cara yang demikian itu, ialah keadaan pribadi Nabi yang perjalanan hidupnya lurus-lurus saja (tanpa goncangan dan perobahan), serta tindak-tanduknya yang sama-sama saja, sepanjang hayatnya semua, sejak perkawinannya, yang kesemuanya itu membuka pada kami kesempatan menghimpun beberapa keterangan obyektif mengenai pribadi itu. Persoalannya adalah, bahwa orang ini yang menyingkir dari arena sejarah selama limabelas tahun akan muncul kembali di atas arena itu selama duapuluh tiga tahun, untuk hidup, berpikir, berbicara dan bekerja, di siang hari belong, lebih banyak daripada waktu-waktu sebelumnya. Pada hakekatnya kita mengetahui semua.keterangan-keterangan mendetail, yang berhubungan dengan periode penurunan AI-Qur'an, sampai kepada yang tidak berarti tentang kehidupan berkeluarganya, berkat jasa sejarah pri kehidupannya, yang sebelum kejadian ini tetap membungkam. Maka terdapat kemungkinan akan tampak jelas garis-garis pokok bagi "isolasi diri" yang dijalankan itu, dari keterangan-keterangan mengenai kehidupannya yang mendatang. Dan Rasulullah s.a.w, sendiri yang di kemudian hari mengisyaratkan kepada caranya ia mempergunakan waktunya. Ia bersabda dalam sebuah Hadits: "Wajiblah atas seorang yang berpikiran sehat, tidak kehilangan akal sehatnya, mengadakan waktu-waktu dalam kehidupannya: Waktu untuk berdialog dengan Tuhannya, waktu untuk memeriksa dirinya sendiri, waktu untuk merenungkan ciptaan Allah, dan waktu untuk mengisi kebutuhan dirinya akan makan dan 136
  • 132. minum. Dan patutlah bagi seorangyangberakal sehat untuk tidak pergi merantau kecuali untuk tip hal,yakni: mencari bekal untuk akhirat, atau untuk mencari rezki, atau untuk mencari kesenangan hidup tanpa mengerjakan hal-hal yang diharamkan 1). Apabila kita sudah menetapkan cara hidup Nabi yang lurus lurus saja maka inilah program kehidupan yang digariskan olehnya dan yang harus ia ikuti, terutama pada waktu "isolasi diri". Disamping itu, adat kebiasaan itu menetap terutama pada seorang dewasa (sudah akil balig), untuk beretleksi selanjutnya terhadap segala hal dari kehidupannya. Demikian pula halnya menurut hemat kami, dengan keadaan Nabi s.a.w., seperti yang ditunjukkan oleh pengamatan istrinya Aisyah, ketika ia merasa prihatin terhadap kesehatan suaminya, dikarenakan berdirinya yang lama sekali pada waktu malam untuk mengerjakan shalat nafilah2). Apa yang dilakukan Nabi benar-benar suatu kebi.-· M yang menetap pada Nabi sejak waktu isolasi diri itu. Berdasarkan hal di atas, kalau Nabi s.a.w, menyediakansebagian besar dati waktunya untuk shalat, sedang ia didesak oleh pikiran-pikiran yang meresahkan hatinya tentang segala hal ihwallahiriah bagi risalatnya, maka kiranya Nabi s.a.w, mempunyai cukup kelapangan waktu yang memberi padanya kesempatan untuk mengerjakan "I'tikaf" (berdiam di masjid) manakala ia tidak sibuk dengan sesuatu dati hal ikhwal hidup duniawi dan yang berhubungan dengan urusan umum. Jadi tidak perlu diherankan, kalau kita tidak memperoleh kecuali sedikit sajaketerangan-keterangan tertulis tentang kehidupan Nabi dalam periode pra kenabiannya ini, yang secara obyektif tidak tercatat oleh sejarah. Gema "isolasi diri" ini tidak berkumandang ke dunia luar, hingga pada kira-kira akhir periode ini, sehubungan dengan kabar yang menggemparkan tentang datangnya Nabi yang dinantinantika:h.. 1) .. Diriwayatkan oleh Ibnul Hayan dalam "Sahihnya", dan Alhakim berkata: "Hadits ini sahih sanadnya, berasal dari Abu Dzarrin Alghifari r.a. 2). Dalam Hadits yang diriwayatkan Imam B~khari: "Berkata Aisyah, Rasulullah s.a.w. (dalam shalat malamnya) bt<r<1iri hingga keduatumit kakinya berpecah-pecah. Dalam sebuah Hadits lain yang diriwayatkan oleh Almugirah bahwa ia berkata: Nabi s.a.w. berdiri atau shalat hingga kedua kakinya, atau kedua betisnya bengkak. Tatkala diberitahu , kepadanya hal ini ia bersabda: "Tidakkah aku ingin menjadi seoranghamba yang pandai 'bersyukur? (Penterjemah Arab). 137
  • 133. M:ASA PEWAHYUAN PERIODE MAKKAH PER I on E MAD I N A H
  • 134. MASA PEWAHYUAN AL-QUR'AN PERIODE MAKKAH " .> Muhammadsekarang telah mencapai usia empatpuluhtahun. Tabir terbuka kembali menyingkap sejarah Muhammad. Namun kita mendapati Muhammad dalam krisis mental yang dalam. Sejak limabelas tahun yang lalu ia hanya seorang "Hunafa" yang sederhana; yang membagi waktunya, sebagai yang ia katakan sendiri antara beribadat kepada Allah dan merenungkan keindahan eiptaan-Nya. Langit yang tinggi yang menutupi dengan kubah birunya pemandangan menyala Jabal Annur masih tetap menarik mata Muhammad kepadanya, sebagaimana pemandanganyang sarna menarik mata si anak keeil yang berdiri di muka kemah inangnya. Namun Muhammad bukanlah suatu otak yang pandai bermetode meneari suatu teori tentang alam semesta serta keharmonisan alam. Dia bukan juga orang yang pikirannya gelisah meneari ketenangan, sebab ketenangan pikirannya selalu lebih dari eukup terutama sejak ia. berkhalwat di gua Hira. Dia beriman kepada Allah Yang Maha Esa, yaitu Tuhannya Nabi Ibrahim a.s.; Maka adalah keliru, menurut hemat kami, bahwa kritik modem, terutama Prof. Durmingham, melihat dalam gejala ini suatu periode meneari-carl dan kegelisahan, yaitu suatu bentuk daripada kehendak pada diri Nabi untuk membuat bentuk pikiran dan meneiptakan ide. Bahkan sebaliknya: keteranganketerangan yang diperoleh pada zaman ini membuktikan bahwa problem metafisik tidak pemah mengganggu hati nuraninya, sebab ia selalu mendapatkan pemeeahannya. Sebagian dari pemeeahan ini bersifat intuisi dan pribadi, sedang sebagian lain pembawaan yang diwarisi dari nenek moyang,sebab keimanannya kepada "Tuhan Yang Maha Esa datang dan moyangnya, yakni Nabi Ismail a.s. Apa yang diuraikan di atas adalah konstatasi pokok untuk mempelajari. "Fenomena Al-Qur'an, dalam hubungan dengan pribadi Nabi Muhammad s.a.w., sebagaimana menurut kenyataan dilukiskan oleh keterangan-keterangan sejarah. Ada baiknya untuk kami jelaskan di sini bahwa tiada sedikitpun perhatian individual mencampuri soal perenung yang berkhalwat ini, yang samasekali tidak mempunyai perhatian _hadap problem keagamaan. Apa yang ia jalankan lebih banyak merupakan penyelidikan tentang tindak laku etik, menu140
  • 135. rut' cara para pertapa India, atau cara ahli tasauf Islam, danpada merupakan suatu penyelidikan tentang suatu da'wah (kerasulan) sebab antara pribadinya dan keobyektifan metafisik yang ia renungkan tidak mungkin bagi kami, setidak-tidaknya khusus pada masa itu, untuk menetapkan akan adanya kaitan pemikiran yang dituju. Apayang kami terangkan ini bukanlah hanya sekedar penetapan, melainkan ia suatu penjelasan tentang keadaan pribadi ini, yang bersesuaian dengan keadaan-keadaan psikologis lainnya, sebagaimana terlihat dalam pri kehidupan Nabi dan pada kesaksian AI-Qur'an mengenai masa lampaunya. Sungguhpun demikian, kita mendapatinya pada usia empat puluh tahun sedang diliputi oleh keprihatinan, dan juga penderitaan. Dia bimbang, dia tidak menaruh syak terhadap adanya Allah, sebab kepercayaannya terhadap wujud Allah tidak pernab goyah samasekali. Namun ia bimbang terhadap dirinya sendiri. Bagaimana dan mengapa keraguan ini datang kepada dirinya? Mengapa ia sekarang mendapati bayangan dirinya dalam renungan-renungannya? Mengapakah ia melihat maya dirinya membayang pada dasat batin penglihatan keagamaannya, sehingga maya diri sendiri ini hampir menjadi titik pusat penglihatannya itu, . . Sejarah pri kehidupan Nabi s.a.w, yang memperhatikan hal ikhwal historis mengenai hayat Nabi s.a.w., tidak mengemukakan keterangan apapun perihal keadaan yang bersifat psikologis, ini yang penting. Namun dengan memperhatikan makna ayat suci yang tersebut di atas, serta penyanggahannya kepada Khadijah ketika membicarakan soal perkawinan, kita memperoleh jawaban tentang problem yang kepadanya dihadapkan oleh keadaan psikologis yang kita dapati pada Nabi s.a.w. pada akhir masa khalwatnya. Sekalipun ayat suci tersebut dan keterangan sejarah pri kehidupan Nabi itu tidak memberikan penjelasan kepada kita berapa besar kebimbangan yang ada pada diri Nabi, namun ayat suci dan sejarah itu memberikan kesaksian pada kitabahwa kebimbangan ini bukanlah hasil suatu.angan-anganpada pribadi Muhammad s.a.w., yang bersumber dari kecerobohan, atau gila diri, atau kesombongan akan kebesaran diri. Maka kita harus memandang kebimbangan ini sebagai suatu hasil keadaan individual yang datang tanpa disengaja, yang di dalamnya Nabi mendapati dirinya sekonyong-konyong berada di hadapan prinSip-prtnsip perasaan, serta di hadapan suatu 141
  • 136. situasi, dimana ia merasa aaanya beberapa hal yang aneh mengenai diri/dati dekat keadaan pribadinya. Kepada apakah, perasaan ,yang sekarang mengelilingi seluruh segi dirinya itu harus dicari sebab-sebabnya, dalam hal perasaan ini menusuk-nusuk secara menyakitkan alam pikiran obyektifnya? Apakah itu hanya semata-mata gerakan di luar kesadaran? Ataukah ia suatu ilham akan datangnya pemecahan bagi problem itu dalam waktu dekat dan secara luar biasa? Beberapa jenis binatang memperoleh ilham akan datangnya bahaya dan kegoncangan-kegoncanganyang akan mengenai ~mpat-tempat tinggal binatang-binatang itu dalam waktu dekat, Sejenis lebah yang hidup di Amerika meninggalkan ~ya semalam sebelum berkobamya kebakaran di tempat itu. Dan di sebelah selatan Konstantinia hidup satu jenis binatang menggerat meniriggalkan tempat kediamannya di tepi-tepi sungai, dekat sebelum terjadinya bencana alamo .. APakah pada Nabi terdapat hal yang serupa dengan ilham ini, yaitu kenubuatan tentang "Fenomena AI-Qur'an" yang akan menjadikan dirinya seolah-olah terbakar, dan yangakan menyelubungi seluruh wujudnya? Sekiranya kita mengatakan, bahwa hal ituadalah dari bekerjanya keadaan di luar kesadaran, maka kaidah ini harus kita trapkan terhadap penafsiran seluruhmateri AI-Qur'an, serta penafsiran pemikirannya yang berkait-kaitan, sebagaimana kita menafsirkan juga dengan kaidah itu, dalam diri Nabi, gejalagejala fenomena dan hal-hal yan&- ersangkutan dengan fenomeb na itu. Namun hal ini, sebagaimanakami akan mengisyaratkari nanti, tidak selalu mungkin. Namun Nabi akan membuka seal kepribadiannya kepada Khadijah, istri yang menyayanginya itu, dan ia akan menumpahkan kepada istrinya seluruh keluhannya, sebab ia menyangla. dirinya gila dan kemasukan jin. Iamenganggap bahwa suatu sihir yang sial telah mendatangkan mudarat~padanya. Akan tetapi Khadijah yang mulia itu, membesarkan hatinya dan menenangkan ketakutannya, dengan berkata: 142
  • 137. ... ;" ( ~I . ." "Demi Allah!" Allah tidak akan menghinakan engkau selamalamanya. Engkau sungguh menghubungkan tali silatur-rahmi, memikul beban semua, membantu orang yang tidak punya, memuliakan tamu dan menolong orang yang terkena musibah karena membela kebenaran". Dart kalimat-kalilXlat yang bersejarah ini nampak jelas pada kita, dengan cara yang tidak mungkin diperdebatkan~ ide "Tuhan Yang Maha Esa" yang bersinar di tengah-tengal1keluarga Muhammad s.a.w., hingga hampir pada saat ia diutus' menjadi Nabi. Konstatasi ini memberi kita kesempatan untuk D).engambil kesimpulan tentang kepercayaan Muhammadpribadi akan dirinya dalam masalah ini selama kekhalwatannya. Hal ini menambah suatu hal pokok bagi lukisan psikologis yang kami sedang melukisnya mengenai diri Nabi s.a.w, Betapapun jua kita dapati Nabis.a.w. setelah ketakutannya ditenangkan oleh Khadijah, ia kembali meneruskan kekhalwatannya, dimana ia diserang kembali oleh kebimbangan, dan dimana ia didominasi oleh kegelisahan yang sangat, yang memberi bekas kepada hal ihwal psikologisnya pada masa itu, dan kebimbangan ini menyertainya terus lebih banyak daripada waktuwaktu sebelumnya, karena ia merasa "hadimya", yang berputarputar mengelilinginya. Ia keluar dari "isolasi" dirinya, berjalan di lorong-Iorong yang seolah-olah menyala karena panasnya di Jabal Annur itu, dan ia merasa sesak di dadanya dari sesuatu "yang tidak dikenal" yang ia rasakan melekat pada jiwanya, sedang ia tidak berdaya dan tidak berkuasa terhadapnya. Dia telah sampai di tepi lembah yang curam, ia melihat jalan keluar dari tragedi yang dideritanya, dalam dasar lembah curam itu. Nyaris ia pasrah kepada pikirannya yang menguasai dirinya itu. Ia Jnelangkah selangkah ke depan. Akan tetapi terdengar suara, yang lebih cepat daripada anggukannya, menghentikannya: "Hai Muhammad, engkau sungguh seorang Rasul Allah". Ia mendongak ke atas untuk melihat ufuk bersinar berkelap-kelip penuh 143
  • 138. eahaya. Ia lalu memutar kembali langkahnya dalam keadaan cemas dan heran, sedang khayal itu tidak mau hi1ang dari penglihatannya. Khayal itu berada di setiap tempat dan di semua sudut. Ia pingsan karena ketakutan sehingga terjatuh. Setelah iasadar kembali, ia kembali ke Makkah, dimana ia mendapatkan orang yang menyayanginya, yang kepadanya ia dapat menumpahkan rahasianya. Khadijah menatap muka Muhammad yang kelihatan sedih dan dalam keadaan seperti orang demam, sedang 'ia adalah orang yang selalu dilihatnya memperhatikan dirinya, tidak pernah lupa akan kerapian potongan bajunya. Inilab dia, sekarang dengan ram but kusut, dan muka pucat, serta pakaian yang penuh debu. Akan tetapi Khadijah yang penuh kesayangan itu dapat menguasai kecemasannya, lalu memperhatikan suaminya, dengan kata-kata yang penuh kesayangan dan kehalusan Khadijah, dapat memasukkan kedamaian dalam hati suaminya yang kebingungan itu. Lalu Muhammad kembali berjalan ke Jabal Annur lagi. Malam telah turun meliputi khalwatnya di gua Hira. Ketika ia tertidur, ia merasa ada gerakan di luar kesadarannya membangunkannya dari tidumya. Ia merasa akan "kehadirannya". Ia melihat sekarang di hadapan matanya seorang laki bermantel dengan pakaian putihnya, "Yang tidak dikenal" itu mendekat kepadanya, kemudian berbicara dengan dia seraya berkata: "Bacalah! " - "AIm tidak dapat membaca", dijawabnya oleh Muhammad, seraya ia berusaha menjauh dan lari dari lelaki itu, yang memegangnya, lalu mendekapnya, hingga ia kepayahan. Kemudian lelaki itu melepaskannya, seraya berkata lagi: ~ "Bacalah!" Muhammad menjawabnya lagi: "Aku tidak dapat membaca". Maka diulangi lagi sampai tiga kali ad egan itu oleh mahluk ruhani itu yang selanjutnya akan menjadi tamu yang berulangulang datang kepada Nabi: "Bacalah dengan menyebut menjadikan; menjadikan man usia Dan Tuhanmu Yang Maha Mulia, lam (pena), mengajarkan manusia huinya". nama Tuhanmu Yang telah dari segumpal darah. Bacalah: yang mengajarkan dengan kaapa yang tidak pemah dikete- Ayat-ayat ini, sehubungan dengan Nabi dan sejarah, adalah untuk pertama kalinya "Fenomena Al-Qur'an muncul, yang 144
  • 139. akan mencakup dalam lembaran-lembarannya dua puluh tiga tahun yang terakhir dari kehidupan Nabi s.a.w. Sejak detik itu Nabi yang ummi itu memperoleh perasaan, bahwa sebuah Kitab sudah terpatri di dalam kalbunya 1). Akan tetapi ia tidak dapat membuka-buka lembarannya kapan saja.ia suka, juga tidak dapat melihat-lihatnya menurut kesenangan hatinya, sebab kepadanya akan diwahyukan hanya pada setiap kali hal itu diperlukan oleh risalat yang akan dibawanya. Adakalanya wahyu itu terlambat atau lamban datangnya, sekalipun ketika terjadi suatu keadaan yang mendesak; katakanlah umpamanya keadaan yang perlu segera diambil keputusan tentangnya, atau keadaan dimana diperlukan dibuatnya tasyri' (undang-undang) sehubungan dengan suatu persoalan yang dihadapkan kepada Nabi. Marilah kami sebutkan salahsatu keadaan ini. Pada permulaan kerasulannya, tepatnya setelah turunnya wahyu pertama tersebut di atas, Nabi menanti untuk waktu yang lama, lebih dari dua tahun, sebelum ia melihat untuk kedua kalinya tamunya yang aneh itu dan mendengarkan suaranya. Ia menjadi berputus asa mengenai kedatangan tamunya itu. Kebimbangan datang lagi menguasai dirinya yang rindu kepada keyakinan. Ia berkeyakinan, bahwa ia, telah tertipu terhadap badannya, atau kekuasaan itu telah meninggalkan dirinya, yaitu kekuasaan yang mengemudikannya. Kegelisahan mencekam dirinya, kegelisahan ini menyusup ke dalam dirinya seolah-olah seekor ular yang membulat pikirarmya dan perasaannya, dan ia mematahkan dengan tekanan bulatannya gairah jiwa untuk memperoleh keyakinan yang sungguh benar. Untuk kedua kalinya: saat-saat yang mencekam dan detik-detik yang mengharukan, sehubungan dengan Muhammad, yang mencarl dengan berputus asa dalam dirinya dan sekitarnya, sumber misterius yang tercurah daripadanya ayat-ayat pertama AI-Qur'an. Hal itu merupakan suatu seruan sedih oleh jiwa yang menderita dan sanubari yang payah karena gelisah. Ia adalah panggilan kepada suara yang tidak menyahut, atau tidak suka menyahut. Keadaan diam ini berjalan selama lebih dari dua tahun. 1). Di dalam kitab sejarah Alhalibiah, jilid I halaman 328 terdapat nas yang mengisyaratkan pengertian semacam ini: "Seolah-olah tertulis suatu Kitab dalam hatiku". Mungkin yang dimaksudkan ialah sumber dari pada Kitab itu. (Penterjemah Arab). 145
  • 140. Pikiran Muhammad s.a..w.berusaha mendiskusikan keadaan· nya yang unik itu, tanpa memperoleh penafsiran bagi keada8Dnya itu. Ia tenggelam dalam kepayahan, sedang ia telah dilemahkan oleh ketegangan sarap yang dideritanya. Ia seolah-olah telah rusak.sebagaisesuatu yang mati ketiduran. Namun Khadijah, bidadari yang terus berjaga itu, selalu menjagadiri suaminya. Muhammad lalu tertidur setelah mengalami kegoncangan jiwa yang sangat keras. Akan tetapi Khadijah dengan kata-katanya yang penuh kesayangan laksana seorang ibu telah dapat meredakan krisis yang dia1aminya itu belum lama berselang, sesudah Khadijah menyelimutinya, dan memintanya supaya ia beristirahat. Ia lalu tidur laksana tidur seorang anak bayi setelah capai menangis, dan hatinya dirundung duka. Istri yang sangat menyayangi suaminya itu kini tenang 1agidari kegelisahannya, setelah menyaksikan orang yang tidur itu napasnya tenang-tenang saja, dan dengan perlahan-lahan keluarlah sang istri dari bilik agar tidak menggangguorang yang sedang tidur itu. Akan tetapi suara dari gua Hira itu sekonyong-konyong menggerincing di telinga orang yang tidur rtu, yang lalu herbangkit dari tidurnya, seakan-akan ia diserang demam: "Hai orang yang berselimut! Bangunlah dan berilah peringatan. Dan Tuhanmu, besarkanlah Dia". Panggilan di atas telah memekakannya dan sekaligus menjadikannya lemah, sebab seruan yang datang tidak tersangkasangka ini menjadikannya sekonyong-konyong sadar tentang pentingnya perintah yang ia terima dan tidak disangka itu. Khadijah mendapatinya duduk, tenggelam dalam renungan. Keheranannya menyaksikan hal itu menyebabkannya bertanya kepada suaminya: "Mengapa anda tidak tidur, wahai Abu Qasim". Ia menjawab: "Sudah lalu, wahai Khadijah, masa tidur dan masa istirahat. Jibril menyuruh aku memberi peringatan kepada manusia, dan menyeru mereka kepada iman kepada Allah dan agar mereka menyembah Allah. Akan tetapi siapakah yang akan kuajak dan siapakah yang akan menerima baik seruanku?" 1). 1). Riwayat ini tidak termuat di kitab-kitf-b Hadits, dan di buku-buku yang ada pada kami. sekalipun riwayat itu disebutkan dalam kitab "Hayat Muhammad" dan kitab "Istri-istri Nabi", tanpa kami mengetabui dati sumber mana kedua pengarangnya mengambil riwayat itu. (Penterjernah Arab). 146
  • 141. Sebagaimana dengan ini, krisis pertama yang djalamj olen Nabi itu telah diselesaikan dengan cara yang tidak diduga semula, maka pemecahan krisis ini nampaknya telah datang kepadanya dengan tak terduga lebih daripada yang sudahsudah, dengan kata lain pemecahan krisis itu telah menjadi beban di atas bahunya. Kedatangan dengan tak terduga itu tatkala wahyu turun untuk pertama kali ini, serta penderitaannya dan ketidak mampuannya kali ini menghadapi tugas yang tidak diduga-duga ini, yang ia menerimanya dalam bentuk perintah, menurut pandangan kami, kedua hal tersebut telah mencatat dua keadaan psikologis, yang merupakan keharusan secara khusus bagi studi tentang "Fenomena Al-Qur'an" sehubungan dengan pribadi Nabi s.a.w, Kami dapat mengatakan di sini bahwa posisi pribadi Nabi diantara kedua krisis dan kedua pemecahan bagi krisis-krisis itu, samasekali tidak disifati dengan harapan untuk melakukan da'wah. Nabi hanya menyelusuri kumia sentuhan dari Allah sejak wahyu pertama diturunkan. Kami dapat juga menyatakan, mengenai hal yang berhubungan dengan terhentinya datangnya wahyu (setelah wahyu yang pertama) bahwa apa yang dilakukan oleh Rasulullah dalam bentuk memperoleh kembali karunia Allah yang telah hilang daripadanya. Kami berpandangan bahwa usaha keras tersebut di atas, menetapkan pada hakekatnya secara mutlak kebebasan "Fenomena Al-Qur'an dari pribadi yangmenjadi obyek pembahasan kami yakni pribadi Nabi Muhammad. Kami tidak mempunyai intuisi, untuk menetapkan bahwa pemecahan krisis psikologis yang kedua itu, mungkin akan terlambat datangnya sekiranya sumbemya adalah di luar kesadaran yang ada pada seorang yang tidak berusaha memadamkan fenomena itu, serta tidak berusaha menekannya dari dirinya bahkan sebaliknya, ia berusaha dengan sekuat tenaga dan dayanya untuk memudahkan timbulnya femomena ini. Hal ihwal psikologis ini menumpahkan dengan tepat hasrat terakhir pada Muhammad untuk menerima baik da'wah kerasulan, sebagai suatutaklif yang datang kepadanya dari atas. Nabi dalam kenyataannya menerima baik taklif itu, dan ia tidak suka melepaskannya samasekali, sekalipun ia kelak akan mendapat peneemoohan dan ejekan dari anak-anak Makkah; dan sekalipun ia mendapat penganiayaan, peringatan dan se147
  • 142. rangan dari pembesar-pembesar Quraisy, seperti Abu Lahab dan kaum musyrikin lainnya. Tiada sesuatu yang dapat memaksanya, agar ia melepaskan da'wahnya, baik kepentingan-kepentingan yang sudah dihilangkan olehnya dari kepentingan-kepentingan keluarga, maupun permintaan-permintaan pamannya yang disegani itu, Abu Talib, tatkala orang tua ini ditekan oleh bangsawan-bangsawan Makkah, agar ia menghentikan skandal yang dibuat oleh anak saudaranya. Juga usul mereka kepadanya untuk menduduki jabatan yang paling tinggi dalam pengurusan kota Makkah. Kesemuanya ini tidak dapat menghalangi Rasulullah dari jalannya yang telah mantap untuk selama-lamanya, sejak krisis yang kedua itu terpecahkan. Ketika ia didatangi oleh pamannya untuk membicarakan persoalannya dengan Quraisy, dengan menunjuk kepada langkah-langkah kejam yang telah direncanakan oleh Quraisy, dalam hal ia menolak usul-usul mereka, maka ia menjawab pamannya dengan air mata berlinang: "Demi Allah, wahai pamanku, sekiranya mereka meletakkan matahari di kananku dan bulan di kiriku, agar aku meninggalkan perkara ini, aku tidak akan meninggalkannya, hingga Allah memenangkannya, atau aku binasa dalam membelanya". Menghadapi kemauan yang luar biasa ini maka pamannya yang lanjut usia itu tidak dapat berbuat lain, selain menentramkan hati anak saudaranya itu bahwa ia akan tetap melindunginya sampai akhirnya. Lalu Quraisy mengambil keputusan untuk menyingkirkan Muhammad dan sanak keluarganya dari tengah-tengah masyarakat, Untuk itu mereka menulis suatu naskah yang digantung di dalam Ka'bah. Keluarga yang dilanda musibah dengan pemboikotan ini dilarang mengadakan hubungan apapun dengan kota Makkah hingga yang mengenai hubungan moral, atau perkawinan dengan keluarga-keluarga lain. Sejarah pri kehidupan Rasul menceritakan bahwa naskah ketetapan ini telah dimakan rayap, dan bahwa Nabi telah melihat hal itu dalam mimpi, sebelum terjadinya, dengan demikian Quraisy meninjau kembali keputusannya, dan menarik kembali keputusan pemboikotan itu. Bagaimanapun keadaannya, lembaran yang berisikan soal pemboikotan, yang zhalim dan mernutuskan hubungan itu, 148
  • 143. lama kelamaan hilang nilainya, dan kembalilah keluarga Bani Hasyim dan keluarga Al-Muthalib ke Makkah lagi setelah mengalami bermaeam-maeam beneana yang berjalan lama, serta membinasakan itu. Kembali Nabi s.a.w, menyampaikan da'wahnya di halaman Masjidil Haram. Akan tetapi pembesar-pembesar Quraisy telah merencanakan pemboikotan seeara diam-diam terhadap da'wahnya. Mereka melarang manusia mendengarkan pembacaan Al-Qur'an. Nabi s.a.w. melihat bahwa orang-orang di Makkah itu tidak suka datang untuk mendengarkan da'wahnya, lalu ia mengambil keputusan untuk membawa da'wahnya ke tempat yang jauh, yaitu ke Taif. Namun ia menemui penghinaan yang lebih kejam lagi dan perlakuan buruk dalam memikul tugasnya. Di Taif ia dilempari dengan batu dan dipasang duri-duri di jalan yang dilaluinya. Mereka menggalakkan anak-anak keeil dan budakbudak untuk mengejeknya dan meneomoohkannya. Maka larilah penyampai da'wah ini ke sebuah dinding untuk meneari perlindungan, dalam keadaan hatinya menangis karena kebodohan dan kekejaman orang-orang di Taif itu. Akan tetapi jiwanya tidak mengenal kedengkian. Apa yang diperbuatnya dalam keadaan itu hanyalah menengadah ke langit, mengucapkan do'a yang penuh kehangatan, kekhusyuan dan kekasihsayangan yang tidak bagi jiwa insani untuk mengueapkannya dalam saat yang menyedihkan seperti dalam keadaan Nabi ini, ia berdo'a: "Ya Allah! Kepadamu aku mengadu tentang kelemahan dayaku, . dan kecilnya upayaku, serta keremehanku terhadap man usia. Ya Tuhanku yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang! Engkaulah Tuhan bagi hamba-hambamu yang lemah, dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapakah engkau serahkan diriku? Kepada musuh yang bermuka masam terhadapku? Ataukah kepada kerabat yang Engkau kuasakan dia atas diriku? Asal saja Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak perduli. Akan tetapi keafiatan dari sisimu adalah lebih lapang untukku. Aku berlindung kepada eahaya dzat-Mu yang karena-Nya kegelapan menjadi terang, dan dengan-Nya segala urusan dunia dan akhirat menjadi baik, daripada terkenanya aku oleh kemurkaan-Mu dan tertimpanya aku oleh kemarahan-Mu. Kepada-Mulah aku memohon maaf, hingga Engkau meridhoi aku. Tiada daya dan tiada upaya keeuali dengan Engkau. Sesudah menderita "shok" (kegoncangan jiwa) yang demikian beratnya itu Nabi s.a.w. kembali ke Makkah, akan tetapi di Makkah ia dinanti oleh musibah lain. 149
  • 144. Maut telah merenggut nyawa pelindung satu-satunya yakni pamannya Abu Talib dari sisinya 1). Pemandangan saat Abu Talib menghadapi sakaratul maut meninggalkan kepada kita keterangan-keterangan historis yang berharga,. sehubungan dengan keadaan psikologis Nabi s.a.w. pada masa itu, sebab periode tersebut dalam kenyataannya bagi diri Nabi merupakan saat-saat yang paling berat bagi tugasnya, dimana kasih sayang seorang anak bercampur dengan hasrat menolong jiwa orang yang sangat ia junjung tinggi, yang pada saat sekaratnya masih tetap menolak untuk diselamatkan dengan penuh kekerasan hati dan kecongkakan, sedang si keponakan merasa sangat cemas bahwa pamannya akan mati dalam keadaan syirik. Sungguh saat-saat itu adalah saat-saat yang menakutkan, dimana Nabi membayangkan dirinya dan berbicara dengan kata-katanya sendiri, dalam mana ia ingin menyelamatkan orang yang telah menjadi baginya sebaik-baik ayah. Terdengar suara ' orang tua yang sedang dalam sakaratulmaut itu dengan napas berputus-putus. Nabi mendesak kepadanya dengan sia-sia agar ia suka mengaku masuk Islam. Akan tetapi Abu Talib mengumpulkan segenap kekuatannya yang sudah hampir habis untuk mengatakan: "Demi Allah, wahai Anak saudaraku, sekiranya aku tidak takut kecemaran akan menimpa dirimu dan saudarasaudaramu setelah matiku, dan sekiranya aku tidak takut bahwa Quraisy nanti akan menyangka bahwa aku mengaku ber-Islam, hanya karena takut mati, pasti aku akan menyenangkan hatimu dengan pengakuan yang kau minta, mengingat akan hasratmu yang keras. 2) . Mendengar kata-kata itu Rasulullah merasa derita yang menyayat, sedang ia melihat pamannya menghembuskan napas yang terakhir, meninggalkan dunia ini, tanpa meninggalkan agama nenek moyangnya yang berdiri atas penyembahan berhala. 1). Riwayat Ibnul Atsir menceritakan, bahwa kepergian Nabi 'kepada suku Tsaqif di Taif ialah setelah wafat parnannya, Abu Talib. Dalam halmana gangguan Quraisy terhadapnya rnakin bertambah-tambah. Ibnul Atsir meriwayatkan pula bahwa wafat istrinya, Khadijah, adalah sebelum wafat Abu Talib, antara empat sampai limapuluh hari, berdasarkan beberapa riwayat yang berlain-lainan, Demikianlah tersebut dalam kitab, "Hal-hal yang menyenangkan untuk didengar", halarnan 37. (Penterjemah Arab). 2). Dari kitab Sejarah "Alhalabiah" jilid I halaman 250. 150
  • 145. Pemandangan seram yang melukiskan situasi keluarga, dimana seorang yang telah berusia lanjut hampir menghembuskan napas terakhir, dan seorang anak, yang dilanda oleh kesedihan dan kegelisahan dan diliputi oleh penyesalan dan kecemasan, pemandangan tersebut telah mengungkapkan pada saat-saat yang menentukan, keikhlasan mutlak Nabi. Akan tetapi kerugian lain yang lebih besar lagi mendatangkan penderitaan, telah terjadi tidak lama setelah Abu Talib wafat, maka Nabi kehilangan istrinya yang menyayanginya; istrl yang mulia. Malapetaka ganda ini telah membawa pengaruh pada perasaannya secara mendalam, dan bersamaan dengan itu Nabi telah menderita juga musibah terhadap kemaslahatan da'wahnya, sebab dengan wafat pamannya dan istrlnya ia kehilangan sokongan moral dan material, yang menunjang da'wahnya di Makkah. Belain daripada itu kemukimannya di Makkah, kini menjadi suatu hal yang mustahil, sebab Quraisy yang tadinya ditakutkan oleh rasa respek, terhadap Abu Talib, kini (setelah wafatnya) seolah-olah dilepaskan dari kendalinya, dan berpendapat bahwa waktu telah tiba untuk merencanakan pembunuhan terhadap Nabi s.a.w., agar dengan demikian dapat menyelamatkan kepentingan-kepentingan politisnya, serta keistimewaan-keistimewaan yang dimilikinya dalam perdagangannya dengan kabilah·kabilah Arab 1). .Diadakan konspirasi yang akan dikerjakan bersama oleh semua suku Quraisy supaya darah si kurban tidak ditanggung oleh satu suku tertentu saja. 1). Beberapa ahli pikh b~ndapat babwa pendorong bagi adanya konspirui untuk membunuh Nabi itu lebih peliting daripada apa yang disebuttan di atu, sebab inti euenaial dari komplotaD itu ialab membela kepezcayaan mereka yang dijelek-jelekkan oleb &fII.DlIl baru itu. (Penterjemab Arab). 151
  • 146. PERIODE MADINAH Semen tara Makkah merencanakan komplotan pembunuh Rasulullah s.a.w., sebaliknya kota Madinah, mempersiapkan sambutan hangat dan meriah bagi kedatangannya. Dalam hubungan ini, "Baiat Aqabah" yaitu perjanjian Nabi dengan beberapa orang dari kota Madinah, yang sejak itu mendapatkan gelar "Ansar" , disamping semangat ketua perutusan, yang bernama "Masab ibnu 'Umair" yang mengetahui bagaimana caranya menjadikan Islam memperoleh banyak simpati dalam kalangan penduduk Yatsrib (Kota Madinah); kedua faktor inilah yang memudahkan jalan bagi hijrah Rasul ke Madinah. Pada suatu malam, tatkala orang-orang yang ditugaskan melaksanakan pemboikotan terhadap Nabi itu sedang mengepung rumah ked iamannya , Nabi keluar dari rumahnya di bawah pemandangan mereka, namun mereka tidak melihatnya, sebagaimana tersebut dalam riwayat; Maka Nabi berhasil untuk sampai di pinggiran kota Makkah dengan ditemani oleh sahabatnya Abubakar, lalu berlindung di dalam gua Tsaur, dimana ia telah mengadakan permufakatan dengan penunjuk jalan agar ia datang menyusul Rasul dan sahabatnya dengan seekor onta betina serta membawa bekal untuk perjalanan dua tiga hari, untuk menyesatkan orang-orang yang memburu mereka berdua Itu. Akan tetapi kegoncangan (karena Rasul berhasil lolos dari pengepungan) telah meliputi seluruh kota Makkah, sesaat sesudah kedua orang yang berhijrah itu meninggalkan Makkah. Maka Quraisy bangkit untuk mengejar Nabi dan sahabatnya. Barangsiapa mengenal kehidupan di gurun pasir akan mengetahui akan kecilnya kemungkinan bagi Nabi dan sahabatnya untuk dapat lolos dengan selamat. Para pengejar mereka memang sudah mencapai pintu masuk ke dalam gua itu, namun mereka tidak melampaui ambang pintu gua itu. Sejarah pri kehidupan Nabi menafsirkan kejadian yang aneh ini sebagai campur tangan mukjizat dalam bentuk burung merpati abuabu, dan laba-laba yang lemah. Apapun kejadian yang sebenarnya, bahkan sekalipun catatan-catatan oleh sejarah pri kehidupan Nabi itu memungkinkannya untuk turut memberikan penafsiran terhadap pemecahan masa1ah lolosnya Nabi dati penglihatan pengejarpengejamya secara menakjubkan itu. Namun nilai historis bagi 152
  • 147. kejadian itu tidaklah kurang mantapnya, sebab kejadian ini, pada hakekatnya, ditetapkan dalam sumber yang paling tepercaya pada zaman itu, yakni Al-Qur'an. Al-Qur'an telah membawakan kejadian ini dengan terus terang, dalam firman Allah s.w.t, sbb: /r-:: ~//./ • .)L;JI c.,} ....llljl ~l ~~ l.,,~ ~.i.ll ~~I j! /0 ,.,. ." ,!" 4111 ""'-'/'" ,.,. /' "",,,,.""'" "'/"' J;;L; ~ ~ : ~.,.::J ) 1 ." 41110; /.'/./ (t. #.1/" ./d/'/ ". 0j>'; 'J .,,, * ~."..; r ~ J...l ?./ ".,,/. J~ ~~ /// jJ .....•........ ,/,.,. "~I.,, ~ 4-- ,,"",;' ,/ ." "Ketika ia diusir oleh orang-orang kafir, sebagai salahsatu dari dua orang (Nabi dan Abubakar) ketika keduanya berada di dalam gua, ketika ia berkata kepada kawannya: Jangan berduka cita; sesungguhnya Allah bersama kita. Lalu Allah menurunkan ketenangan-Nya kepadanya. Dan Allah memperkuatnya dengan ten tara yang kamu tidak melihatnya". (Surat Attaubah: 40). Teranglah dengan ini bahwa takdir kadang-kadang memudahkan jalannya dengan cara yang tidak dapat difahami serta me~bingungkan perasaan dan pikiran. Kami berpikiran untuk kemanfaatan studi kita ini, bahwa kita harus mencurahkan perhatian terhadap hal ihwal psikologis dalam peristiwa historis ini, yakni hal yang menunjukkan ketenangan Nabi s.a.w. ketika ia menghibur kawannya, dengan cara yang tenang sekali,melebihi kemampuan .JD8nusia , pada saat bahaya dan maut hanya dalam jarak sejengkaldari mereka. Dalam pada itu ketulus-ikhlasan Nabi, yang kami telah pastikan, dalam tahap pertama, sebagai syarat yang diperlukan untuk dapat mempergunakan ayat-ayat Al-Qur'an sebagai dokumendokumen psikologis yang permanen; ketulus-ikhlasan ini menampilkan diri di sini dengan sejelas-jelasnyadan dengan cara dramatis pada saat-saat yang menentukan itu. Akhimya, setelah para pengejar itu mengundurkan diri, maka kedua orang yang berhijrah itu dapat keluar dari gua untuk melanjutkan perjalanan ke Yatsrib (Madinah), tempat tinggal kaum Anshar yang mempersiapkan bagi Nabi dan kawannya penyambutan besar. Kota Yatsrib diubah sekarang namanya dengan nama: "Madinah Rasul" atau Kota Rasulullah, agar 153
  • 148. kota ini memberikan para pengikutnya 1). kesan sebagai pusat da'wah Rasul dan Sementara itu dari atas atap-atap para wanita dan anak-anak mengamati sar itu, dan mereka menyambut era syair nyanyian, yang sejak masa itu generasi demi generasi Islam. rumah-rumah di Yatsrib kedua orang muhajir bebaru,era hijrah, dengan terus diulang-ulangi oleh "Bulan pumama telah terbit di atas kita, Dari jurusan Tasniat al-wada, Maka wajiblah kita bersyukur, Selama sang penyeru menyeru ke jalan Allah, Wahai orang yang diutus (oleh Allah) kepada kita, Anda telah datang membawa perintah yang harus ditaati". Sementara nyanyian ini berkumandang dari setiap penjuru, kaum Muhajirin dan Ansar menjalin diantara mereka tali "Ukhuwah Islamiah" (persaudaraan di dalam Islam), sebagai asas bangunan masyarakat baru dan kebudayaan baru. Namun alangkah banyaknya problem-problem yang dihadapi oleh masyarakat yang baru tumbuh ini, di bidang perundang-undangan, keagamaan, politik dan militer. Dalam memecahkan tumpukan problem-problem ini, akan nampak genialitas Nabi s.a.w, yangdisifati dengan kelapangan dada yang tiada bandingannya, dengan mencari petunjuk dari wahyu yang turon dengan selalu membawa pancaran cahaya yang luhur, serta kalimat yang menentukan. Dalam hubungan ini Muhammad s.a.w. akan menunjukkan kecerdasan yang menakjubkan, serta menunjukkan kearifan, dalam memberikan hukum terhadap nilai-nilai segala sesuatu dan terhadap psikologis orang-orang, hal mana dilakukan cam yang hampir bersih dari kekeliruan, sebagaimana ia juga akan menunjukkan suatu tekad yang tidak pernah dilanda kelemahan. Kita telah mengikuti sampai sekarang langkah-langkahnya sebagai penyeru ke jalan Allah, dalam hal mana kami berusaha 1). Nabi s.a.w. memberi kepada kota Yatsrib nama: ''Thabah'' atau "Thaibah" (kota yang baik), ketika beliau sampai di kota itu dalam hijrahnya itu. Kota itu diberinya juga'nama "Madinah Al RasuI" pada kesempatan yang sarna dan untuk selanjutnya. (dikutip dati: MU'jamui buldan, karangan Yaqut, jilid II, penerbitan Beirut). (Penterjemah Arab). 154
  • 149. untuk memahami gerak..gerik kalbunya dan lintasan-lintasan dalam jiwanya, serta berusaha pula untuk mengungkapkan, dati isyarat-isyaratnya dan da'wahnya, petunjuk-petunjuk yang gemilang tentang kekhusyuannya, keimanannya dan keikhlasannya yang mutlak. Kalau peri ode Makkah itu pada intinya merupakan era ruhani, yaitu era Nabi, sebagai penyeru ke jalan Allah, yang menunjukkan jalan kepada orang-orang pilihan serta baik, maka periode Madinah adalah kelanjutan periode Makkah, dan dalam waktu bersamaan, merupakan hasil temporal dari periode pertama itu. Dalam periode Madinah ini Nabi dan komandan akan bersatu padu dalam satu pribadi, ia berda'wah dan memimpin barisan-barisan kaum mukminin. Maka adalah sudah menjadi keharusan bagi Nabi untuk mengikuti metode memimpin Massa dalam hubungan dengan psikologis individu, sebab problem- problem masyarakat mana pun, tidak cukup hanya dipecahkan dengan jalan kepemimpinan yang baik saja. Karena itu maka Rasulullah s.a.w. akan membuka kesempatan kepada kita, di tengah-tengah kesibukannya memecahkan problem-problem itu semuanya, untuk melengkapi lukisan psikologisnya dengan citra rasional, sebab manakala kesibukannya meningkat, kita dapat memahami warnawarna pikirannya, kita dapat menilai jalinan kemauannya, serta menilai bobot keputusannya terhadap orang-orang lain dan terhadap dirinya sendiri juga. Adalah pengaku-akuan yang aneh untuk berusaha memakrifati secara keseluruhan semua sisi citra rasional ini, sebab hal ini akan mengharuskan kepada kita untuk menguasai pengetahuan tentang seluruh genialitas yangtak ada bandingannya itu, dalam batas-batas sempit dari bab ini. Maka kami hanya akan membatasi diri, dengan meletakkan tanda-tanda yang menyampaikan kita kepada suatu natijah, yang dimaksud dalam mengadakan pengukuran itu. Pekerjaan Nabi yang akan menuntut seluruh pikirannya di Madinah ialah menciptakan perdamaian di kota itu, serta membebaskan Madinah dari permusuhan dari dalam dan mendamaikan permusuhan antara suku Aus dan suku Khazraj, untuk dapat menyusun pertahanan yang efektif terhadap musuh dari luar, yaitu: Quraisy. Saat untuk melakukan jihad akan diumumkan dalam waktu dekat. 155
  • 150. Hal ini membangkitkan keheranan dan ketakjuban para kritisi modem. Mereka tidak mengerti bahwa Nabi yang berda'wah itu demi untuk pertahanan, maka ia-menyeru untuk mengangkat senjata. Tetapi kalau Nabi mengangkat pedang, justru karena Nabi mengetahui benar-benar bahwa Makkah tidak akan meletakkan senjata. Sejarah akan memberikan bukti mengenai kebenaran di atas. Bukan tempatnya di sini untuk membuat perbandingan antara agama Kristen dan Islam mengenai soal ini. Kondisi-kondisi historis (antara kedua agama ini) tidak sama. Dalam hal ini agarna Kristen menghadapi suatu kekuasaan yang teratur dari dalam, yang menghancurkan semua sarana agama itu, sedang Islam menghadapi suatu kekuatan yang serba teratur dati luar, yaitu Makkah. Maka Nabi harus memilih antara dua altematif: menghancurkan kekuatan Makkah, atau ia dihancurkan. Selain dati itu, keadaan yang dihadapi Nabi ditentukan oleh jalannya kejadian-kejadian itu sendiri, sebab jihad itu dipandang dati segi historis adalah buah dati Hijrah. Fenomena seperti ini telah terjadi dalam sejarah agama Yahudi ketika Bani Israil di bawah pimpinan Musa a.s, dan Yusa menghadapi dati luar kekuasaan-kekuasaan teratur di tepi sungai Y~dan. Maka dengan demikian Rasulullah s.a.w. akan menyusun barisannya untuk menyongsong perjuangan bersenjata, yang akan membukakan kepadanya pintu gerbang Makkah pada tahun kedelapan dari Hijrah. Akan tetapi berapa banyaknya rintangan-rintangan yang menghadang da'wah Rasul, sebelum proses besar ini terjadi, yang menaklukkan, pada hari kaum muslimin memasuki Makkah, si kepala batu, Abu Sufyan, Sekumpulan nama-nama yang hebat-hebat akan mengumandang di segala penjuru sejarah dunia: Badr, Uhud, Khandaq, Hunain. Pada waktu itu kiranya epos kebesaran Muhammad memperagakan atas layar sejarah kumpulan dari peristiwa-peristiwa legendaris, seolah-olah cerita sihir. Lihatlah impian "Aminah" dulu, ketika ia membuai di haribaannya anak bayinya, ketika ia (Aminah) terkhayal seolah-olah ia mendengar ringkiknya kuda, larinya penunggang-penunggang kuda dan gemerincingnya senjata, impian lama ini akan menjadi kenyataan hari ini di atas lembaran realitas. 156
  • 151. Dalam epos ini, pemimpin dan Panglima ini selalu akan memainkan peran, untuk memberikan keputusan dalam situasi yang sangat pelik, dan untuk mengambil keputusan politis penting, serta menggariskan strategi. Namun Nabi selalu siap untuk mengamati pekerjaan-pekerjaan sang Panglima, dan menetapkan keputusan-keputusannya dengan meninjau segi pandangan da'wahnya, yang kepada setiap detail dalam epos ini, watak ruhani yang diperlukan, yang ia nasabkan kepada Allah. Kita akan mendapati "Muhammad" ketika saat peperangan Badr tiba, untuk mana ia telah bersiap-siaga dengan persiapan lengkap untuk memasuki peperangan; kita mendapatinya dalam keadaan dimana ia merasakan keseriusan momentum itu yang akan menentukan kesudahan Islam, ketika ia menyaksikan keunggulan musuh dalam jumlah tentara bila dibandingkan seraya berdoa: "Ya Allah! Kalau kelompok yang kupimpin ini binasa, maka Engkau tidak akan disembah lagi di muka bumi. Ya Allah, penuhilah apa yang Engkau janjikan". Kata-kata yang sederhana menunjukkan dengan jelas bahwa perang "Badr" tidaklah seperti pertempuran "Cannes" 1) atau pertempuran "Austerlits" 2) atau pertempuran "Singapura" 3). Epos ini berjalan berurut-urutan, mempertunjukkan genialitas Muhammad yang memiliki kemampuan besar, serta kemauannya yang luar biasa dan ketabahannya. Epos yang mempertunjukkan kemenangan demi kemenangan hingga perang Hunain. Sungguh pemikiran-pemikirannya yang dalam tidak jarang membuat bingung para sahabatnya sendiri. Usaha diplomatik pertama yang ditanda-tangani oleh Muhammad bersama dengan delegasi yang dikirim oleh Makkah, bagi sebagian sahabat suatu hal yang mengherankan, dan dipandang sebagai suatu hal yang mencemarkan. Delegasi itu datang dari Makkah untuk mencapai suatu persetujuan dengan Nabi s.a.w. bahwa sejak berlakunya persetujuan ini, Nabi harus menyerah1). Pertempuran dalam mana "Haniba1", panglima ten tara Kartago menghancurkan ten tara Romawi. Dan ia telah mendatangkan ketakutan sangat di Roma; terjadi pada abad ketiga s.m. 2). Pertempuran, dalam mana Napoleon pada tahun 1804. mengalahkan ten tara Austria, 3). Pertempuran yang dimenangkan oleh balatentara Jepang sesudah melakukan serangan dahsyat di Semenanjung Malaka, dengan kesudahan penyerahan diri oleh ten tara Inggris yang mempertahankan benteng "Singapura". 157
  • 152. kan kepada mereka setiap orang penduduk Makkah yang melarikan diri ke barisan Rasul, sebab banyak dari kaum mukminin yang lemah, yang masih berada di Makkah, akan melarikan diri dari penindasan Quraisy, ke Madinah, untuk meneari keamanan di kota kaum Ansar itu. Nabi s.a.w. telah menanda-tangani persetujuan itu yang dilaksanakan dengan segera tanpa ada reaksi. Naskah persetujuan yang mengherankan sahabat ini nampaknya seolah-olah Makkah telah memperoleh kemenangan diplomatik. Kaum muslimin menunjukkan rasa tidak senang terhadap isi persetujuan itu. Mereka memandangnya dengan rasa cemas bagi mereka. Dan pada saat delegasi Makkah dan Nabi saling bertukar naskah persetujuan yang telah ditanda-tangani oleh kedua belah pihak, datang seorang muslimin pelarian dari Makkah ke tempat kaum Muslimin. Maka dengan segera seorang anggauta delegasi Makkah menuntut penyerahan pelarian itu. tidak ada jalan lain bagi Nabi selain menyerah kepada kenyataan, hal mana membangkitkan keheranan para sahabatnya. Maka diserahkan kembali tawanan itu. Akan tetapi di tengah jalan tawanan itu berhasil menjadikan penawannya lengah, lalu ia melarikan diri, dan berlindung dalam sebuah tempat persembunyian. Tidak lama kemudian bergabung dengannya banyak darikawankawannya yang sama dengan dia melarikan diri dari penindasan. Kemudian kaum pembangkang terhadap undang-undang ini mengatur penghadangan di jalan terhadap kafilah-kafilah Makkah. Dengan demikian mereka dalam waktu singkat, telah melumpuhkan seluruh perdagangan kota Quraisy (Makkah), sehingga Quraisy pada akhirnya berpikiran untuk memohon kepada Nabi supaya beliau suka menerima orang-orang mukminin yang lari dari Makkah itu ke dalam masyarakat kaum muslimin. Dengan singkat Nabi telah memperoleh semua fasilitas yang terdapat dalam persetujuan itu, dengan batalnya pasal yang satu-satunya yang kejam itu, dibatalkan oleh orangorang itu sendiri, yang tadinya akan mengambil manfaat dari persetujuan itu. Demikianlah, sementara Nabi s.a.w. memimpin di jalan korps syuhada yang mengikutinya, Panglima ini memberi para pahlawannya, epos pelajaran yang teramat berharga dalam bidang diplomasi dan strategi peperangan; dengan pengarahan ganda ini Nabi telah dapat menjadikan kaum muslimin pahlawan-pahlawan yang paling bersih (moral dan mentalnya) pada saat mereka memandang dalam dirinya pembaharuan dan pikiran yang paling besar dalam sejarah. 158
  • 153. Rasulullah s.a.w. tidak saja mencetak jiwa-jiwa mukmin yang bersih, melainkan ia mencetak juga manusia mukmin yang berakal pikiran terang dan menempa semangat baja. Ia menghidupkan rasa tanggungjawab; ia menggalakkan dalam pribadi setiap orang sifat mendahului dalam berkarya (pekerjaan baik), serta mengagungkan keutamaan dalam bentuknya yang paling sederhana, dan bahwa bersikap sabar dan kesegeraan dalam melakukan amal baik, kedua-duanya itu adalah perintis jalan bagi setiap anggauta masyarakat, karena Nabi memandang dirinya selalu dalam perlombaan untuk beramal baik, sesuai dengan perintah Al-Qur'an. Ketika Nabi memimpin para sahabatnya ke medan peperangan "Tabuk" maksud tujuannya tampak lebih jauh, daripada sasaran yang sederhana itu. Ia melalui gurun pasir sebelah barat pada musim panas yang sangat, memaksa tentaranya yang kehausan, yang telah dilemahkan oleh keletihan agar berjalan terus, tanpa turon dari kendaraan ontanya di sumber-sumber air Madyan. Apa yang dilakukan Nabi itu, bukan sekedar seni kemiliteran, melainkan ia juga termasuk pendidikan tinggi, dan bahwa perialanan ini yang tidak pemah didengar adanya perjalanan lain semacamnya mengenai kemahabesarannya, sungguh mengungkapkan, selain dari hal-hal di atas, suatu praktek latihan fisik dan mental sekaligus, untuk mempersiapkan tentara Islam, agar dapat menghadapi dalam waktu dekat perjalanan-perjalanan jauh dan rintangan-rintangan di seluruh penjuru dunia. Nabi telah memikul juga segala kesukaran yang dipikulkan atas pundak tentaranya selama periode yang penuh itu. Perjalanan itu adalah perjalanan kolosal yang gemilang. Perjalanan ini mengilhami Dinet untuk membuat kupasan yang abadi, berkait di dalamnya kecerdasan Pencipta dan pengindah gurun pasir dengan jiwa berkobar-kobar seorang mukmin. Muhammad dalam kedudukannya sebagai seorang Nabi adalah orang yang dalam tindak-laku pribadinya selalu berpegang kepada kebenaran yang diturunkan kepadanya. Ia bangun di sebagian besar dari waktu malam untuk melakukan sembahyang naf1lah (solat Malam). Namun ia tidak mewajibkan pengikutnya dengan hal itu, Dalam pada itu ia sebagai seorang pemimpin tidak memberikan pada dirinya suatu fasilitas apapun yang tidak dipunyai oleh sahabatnya. Bahkan tindak laku peribadinya memperkenal159
  • 154. kan kepada mereka penggunaan tenaga olehnya di luar batas kekuatan manusia. Ketika mereka membangun masjid di Madinah, yaitu masjid pertama setelah Islam datang, yang dibangun dengan landasan takwa dan mengharapkan keridhaan dati Allah, maka Nabi sama seperti sahabatnya mengangkat batu-batu di atas bahunya. Setiap orang mengangkat satu buah batu, Nabi melihat seorang mukmin yang rendah hati yaitu Amman bin Yasir, setiap kali mengangkat dua buah batu. Nabi berkata kepadanya untuk membangkitkan semangatnya: "Bagi orang-orang itu masingmasing satu pahala, dan bagimu dua pahala" 1). Demikianlah halnya pada setiap kesempatan ia membangkitkan semangat para sahabatnya, dan memberi mereka pelajaran juga. Nabi tidak suka membiarkan sesuatu yang dapat merusak keterangan sahabatnya, atau mematahkan semangat daya cipta mereka. Ia menentang kekeliruan, apalagi yang terjadi, secara serampangan seolah-olah mukjizat untuk menunjang da'wahnya. Seakan-akan ia sangat mencurahkan perhatiannya untuk menjauhkan alam pikiran para sahabatnya dari "Mukjizat" yang lazim dikenal oleh orang awam, yang dapat memberi pengaruh kepada anggauta-angputa badan. Pada hari pemakaman anaknya yang satu-satunya ia melihatnya hidup sampai agak besar, yaitu Ibrahim, terjadi gerhana matahari penuh. Orang-orang menafsirkan kegelapan yang terjadi sekonyong-konyong itu sebagai pertanda ikut sertanya alarn berduka cita. Akan tetapi Nabi mengoreksi dengan tegas kekeliruan para sahabatnya dengan berkata: "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah sebagian dati tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak akan terjadi gerhana padanya karena mati atau hidup seseorang". 2) Keterangan di atas yang diriwayatkan oleh sejarah kehidupan Nabi secara sederhana, mernantapkan dalam pandangan kita, ketulus-ikhlasan Nabi s.a.w. secara mutlak, serta memperlihatkan pada kita bahwa keyakinan pribadinya tidak berdiri atas landasan yang menyerupai mukjizat. Bagaimana pun juga, di bawah sorotan dokumen psikologis seperti ini, tidak dapat kita memandang keyakinan-ini sebagai 1). Dan kitab "Arraud-al-anif" jUid II, balaman 13. 2). Diriwayatkanoleh Al-Bukhari. 160 I
  • 155. I prod uk bakat daripada akal pikiran yang tidak sehat, serta pengambilan arah yang tidak benar terhadap beberapa kejadian yang datang tanpa diduga-duga dalam pribadi, ataupun di luarnya, bahwa kejadian itu adalah tanda kekuasaan Allah. Nabi s.a.w, memiliki cara berpikiran yang obyektif. Ia tidak cenderung untuk memperkuat da'wahnya selain dengan mukjizat satu-satunya yang diberikan kepadanya, yakni "Al-Qur'an". . Epos kebesaran Muhammad telah mencapai puncaknya sekarang, dan telah sampai kepada akhirnya, dan ia merasakan hal ini. Ketika ia melepas kawannya "Mu'adz bin Jabal" seraya mendikte kepadanya pesan-pesannya yang terakhir pada saat Mu'adz akan berangkat ke Yaman untuk menyiarkan ajaran Islam di sana, Nabi berkata: "Sekiranya pada suatu had aku rnasib dapat bertemu denganmu, aku akan sampaikan kepadamu semua pesan yang ada padaku. Akan tetapi ini adalah yang terakhir aku dapat berkata-kata denganmu mengenai pesanpesanku, dan kita tidak akan bertemu lagi kecuali nanti pada Han Kiamat 1). Sebenarnya Abubakar dan Usman mempunyai perasaan yang sama terhadap Nabi, Mereka berdua berkeyakinan bahwa wahyu sudah mendekati masa berakhirnya, dan bahwa petunjuk akan mendekatnya ajal Nabi telah tersimpul dalam firman Allah s.w.t. : (r_,:~l) "Bila telah datang pertolongan dari Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia masuk ke dalam agama Allah, berduyun-duyun maka bertasbihlan memuji Tuhanmu, dan mohonlah pengampunan kepada-Nya. Sesungguhnya Dia teramat suka menerima taubat". (Surat An-Nashr: 1-3). Dad segala segi tampak bahwa Nabi s.a.w, menaruh perhatian akan dekat ajalnya, dan bahwa ia mengadakan persiapan terakhir untuk itu. Ia ingin menyarnpaikan pesan-pesan kepada umatnya. Untuk keperluan itu ia memilih kesempatan dalarn 1). Riwayat di atas tidak terdapat dalam kitab-kitab Hadits. 161
  • 156. , peristiwa besar yang diramaikan dengan manusia: Ia mengumumkan akan keiriginannya menunaikan ibadat Haji pada tahun itu. Ia meninggalkan Madinah disertai oleh ribuan orang yang akan turut berhaji. Dengan mereka ini, bergabung pula orang-orang yang datang dati seluruh penjuru jazirat Arab untuk berhaji ke Makkah. Di sana Nabi menunaikan semua syi'ar Haji, seolah-olah ia berkehendak agar syiar-syiar Haji itu dicatat .dalam ingatan orang-orang muslim yang semasa dengan dia sampai akhir zaman, agar cara-cara melakukan ibadat Haji itu dapat terns berpindah dati generasi pada masa itu ke generasi-generasi berikutnya. Kemudian Nabi naik ke Arafat di atas punggung ontanya, lalu mengucapkan khutbahnya yang terakhir, yang terkenal dengan sebutan "Khutbah Wada"', khutbah minta diri, Dipilih seorang sahabat yang suaranya lantang, untuk mengulangi khutbah itu kepada manusia kalimat demikalimat. Pada saat terbenamnya matahari ketika bayang-bayang Nabi laksana dikitari oleh lingkaran cahaya, di atas puncak Arafat, tampak ia seolah-olah dalam perjalanan meninggalkan dunia, seakan-akan siang hari terang, lalu melenyap sedikit demi sedikit di ufuk, pada saat itu kalimat-kalimat khutbahnya mencapai, massa yang hadir seolah-olah keluar suara dati atas langit. Dalam pada itu massa yang terkesan dengan khutbah itu dan yang berdiam diri, mendengarkan khutbah Nabi dengan menunduk dan khusyuk. Akhirnya Nabi berkata dengan suara keras: "Apakah aku telah menyampaikan?" Dijawab oleh massa yang berjubel-jubel yang telah mencapai puncak emosinya dengan suara satu: "Allahumma benar". 1). POOa momentum itu turunlah wahyu, seolah-olah untuk memberikan segel penutup kepada da'wah ini, Maka onta yang dinaiki Nabi berlutut, sebagaimana diriwayatkan, dan menjatuhkan diri ke tanah karena kesakitan. Maka penutup wahyu sebagai yang diriwayatkan adalah firman Allah s.w.t.: -". r ~"'O.JJ ./ "'e ,» ."."'"" ~.,- ~ ,.,./ ~IJ • <> ."' »> •• ~:; ~ ,. f: dxWI) lIE!.::; ,., •.....•• ..,,""'./0 r~~ ~I /"' •• r~"",YI .>~""" ~ 1). Demikian riwayat Al-Bukhari, sedang dalam kitab Almagrizi disebutkan: "Mereka berkata: Kami bersaksi bahwa anda telah menyampaikan dan menunaikan dan memberi nasihat" . Hal. ini mendekati aslinya. 162
  • 157. "Pada hari ini Aku telah menyempumakan bagimu agamamu, dan Aku telah lengkapkan kepadamu nikmat-Ku, dan Aku meridhai Islam sebagai agama bagimu"o (Surat Al-Maidah ayat 3). Musim haji ini di dalam sejarah akan dinamakan "Haji Wada''', atau Haji terakhir. Pada hakekatnya segala sabda dan perbuatan Rasulullah s.a.w. sejak saat itu sampai pada akhir hayatnya tidak lain melainkan merupakan pamitan kepada kelurganya, para sahabatnya, umatnya dan kepada alam ini yang Nabi telah menggariskan dengan gurisan yang dalam akan kesudahannya. Tambahan pula hari terakhir Nabi sudah dekat sekali, sebab ketika ia telah kembali lagi ke Madinah, sakit yang membawa kepada mati, menimpanya dan dengan itu maut menyudahi epos kebesarannya, yang mengagumkan dan dengan itu pula ditutup da'wahnya yang telah disampaikannya. Dan setelah shalat yang terakhir yang diimaminya sendiri di masjid, ia mengumumkan kepada orang-orang yang hadir akan keinginannya melunasi hutang-hutangnya, seraya berkata: "Wahai manusia, barangsiapa menanggung hutang, hendaklah melunasinya, dan janganlah ia memikul aib-aib dunia. Ketahuilah bahwa aib-aib di dunia lebih ringan dati aib-aib di akhirat. Ada seorang hamba oleh Allah disuruh memilih antara dunia dan apa yang ada pada sisi-Nya, maka hamba itu memilih apa yang ada pada sisi-Nya". 1). Para sahabat yang menyadari isyarat Rasulullah ini semuanya menangis. Setelah beliau mengikuti shalat jamaah dua atau tiga hari, beliau tidak meninggalkan bilik istrinya, Aisyah lagi, hingga akhir hayatnya, Ketika ajalnya datang beliau menyandarkan kepalanya pada tangan istrinya, yang mendengarnya mengeluarkan dengan tertahan-tahan kata-katanya yang terakhir: "Ya Allah, di sisi Kawan Yang Maha Tinggi" 2). Inilah kata-kata terakhir, yang ditinjau dari segi sejarah, menyudahi hakekat pribadi ini yang kami berusaha menggarisi lukisan psikologisnya, untuk memperjelas Fenornena Al-Qur'an padanya. 1). Demikianlah dalam riwayat Ibnul Atsir, jilid , halaman 116, penerbitan Al-Munirah tho 1349 H. 2). Diriwayatkan oleh Al-Bukhari. 163
  • 158. " Kami telah berusaha ketika kami memperjelas tanda-tanda citra ideal ini, untuk menonjolkan sifat-sifat khas bagi "Muhammad" sebagai seorang laki-laki biasa, agar kami dapat memperoleh daripadanya, dalam pembahasan kami terhadap persoalan itu, kesaksiannya bagi "Muhammad" sebagai seorang Nabi. Sudah barangtentu kesaksian ini merupakan unsur yang amat berharga untuk pembahasan kami ini, Bagaimanapunjuga, itu adalah kesaksian seseorang, yang orang-orang sezamannya menjadi saksinya untuknya. Akan kebenaran ini, sebagai yang diutarakan oleh seorang wanita 2): "Wahai Rasul, engkau, sekali pun sudah berada dalam kuburanmu, tetap menjadi cita-cita mahal kami, Engkau telah hidup di tengah-tengah kami, selalu sebagai orang yang suci, ikhlas dan adil, Engkau petunjuk kebaikan bagi setiap insan, serta arlf, dan pemberi cahaya" 3). 2). Yaitu bibi Nabi, Safiah ketika menyampaikan kematian Nabi. rasa duka citanya atas 3). Mungkin kata-kata di atas terjemahan dari syair duka cita yang disampaikan oleh Safiah, bibi Rasulullah, yang antara lain: "Sungguh pun engkau telah bermukim di kubur, Namun engkau pernah hid up sebagai orang yang mulia dan baik Engkau semasa hidupmu selalu berhasil dalam segala urusan; dan pada waktu-waktu petaka menimpa. Juga kata-katanya: "Dia semasa hidupnya selalu bersifat kasih terhadap manusia, serta bagi manusia rltenjadi rahmat dan kebaikan penuh kebijaksanaan. (Penterjemah 164 Arab).
  • 159. KAIFIAT PEWAHYUAN.
  • 160. KAIFIAT PEWAHYUAN. Sekalipun bab ini kelihatannya aneh, bila ditinjau dari segi ukuran pertama (pada-bah sebelum ini), namun kami m~bawakannya di sini justru brena "wahyu" adalah unsur pakok dalam pandangan seorang.kritikus yang berhasrat menyelidiki Fenomena Al-Qur'an, sehubungan dengan pribadi yang sadar daripada Nabi Muhammad s.a.w. Bagaimanakah Nabi Muhammad dan nabi-nabi sebelumnya dapat mengetahui fenomena kewahyuan? Beberapa ahli Islamologi berpendapat bahwa istilah "wahyu" yang dipakai oleh Al·Qur'an dalam memberi nama kepada fenomena ini, tidak lain hanya suatu istilah yang searti dengan kata-kata (dalam bahasa Inggris dan Perancis): "Intuition" dan "Inspiration". Kata "Intuition" diartikan dalam bahasa Arab J;""""". dengan kata-kata ~ . "'.::: I!.J I (mukasyafah) atau~ . /' ~."'. Ics": .,.J I - (al-wahyu an nafsi) 1), sedang kata "Inspiration" diartikan AI dengan r "'. LrJ ~ (Ilham). Namun kata yang terakhir ini tidak mengandung makna psikologis yang jelas sebagai yang dimaksud dengan kata "wahyu", padahal kata "Inspiration" ini dipergunakan pada umumnya untuk mengembalikan makna "wahyu" ke bidang ilmu psikologi, 1). Syaikh Rasyid Ridha memberikan definisi terhadap kata "alwahyu an nafsi" sebagai: "ilham" yang meluap dari sumber "kesediaan jiwa yang luhur". Ditambahkan pula: "Hal ini telah dibenarkan adanya, oleh nabi kita Muhammad s.a.w. oleh beberapa ulama barat sebagaimana ada pada nabi-nabi lainnya. Ulama-ulama barat ini mengatakan bahwa mustahil Muhammad itu seorang pendusta tentang apa yang diserukan olehnya, berupa agama lurus, syariat yang adil dan moral yang tinggi. Mereka yang beraliran tidak percaya, kepada alam gaib dan kepada perkaitan alam lahir melukiskan nabi kita, bahwa pengetahuannya, alam pikirannya dan cita-citanya telah melahirkan baginya suatu ilham yang meluap keluar dari kesadaran batinnya, atau dari jiwa halus ruhaninya, ke imaginasinya yang luhur, Keyakinannya akan hal ini terpantul pada penglihatannya, lalu ia melihat Malaikat berdiri di hadapannya. Keyakinannya itu terpantul pula pada pendengarannya, lalu ia mendengar apa yang dikatakan Malaikat kepadanya". Dalam kedua pendapat di atas terdapat sebagian yang bersesuaian dengan definisi kata "Alwahyu an-nafsi" yang diberikan oleh pengarang buku ini. (Penterjemah Arab). 166
  • 161. Sebaliknya dengan "Intuition" ,kata ini memberi makna sebagai yang dimaksud dengan kata "wahyu" namun kata itu tidak sesuai dengan hal ihwal Nabi s.a.w. pada saat berada dalaro keadaan "menerima" suatu keadaan yang diderita di tengah-tengah turunnya wahyu. Dari segi lain, "mukasyafah, atau al-wahyu an-nafsi", sehubungan dengan segi psikologis, diartikan dengan: "pengetahuan secara langsung tentang suatu obyek, yang dapat dipecahkan dengan jalan pemikiran, atau memang pemikiran terlibat di dalamnya" , sedang kata "wahYU" harus memberi makna: "pengetahuan instingtif (tidak didahului oleh pemikiran) dan bersifat mutlak, mengenai suatu obyek yang tidak melibatkan pemikiran dl dalamnya, lagi pula tidak dapat dipikirkan, supaya dapat bersesuaian dengan keyakinan Nabi dan dengan ajaranajaran Al-Qur'an. Maka kiranya ada manfaatnya bagi kita untuk mengetahui jenis fenomena yang mungkin bersembunyi di belakang kita "wahyu". Kami tambahkan pula bahwa "mukasyafah" tidak disertai gejalailejala apa pun, baik psikologis, maupun yang berkaitan dengan penglihatan, pendengaran, atau faal syaraf, seperti misalnya ketegangan otot yang selalu dialami Nabi pula saat ia menerima wahyu. Ditinjau dari segi rasional, "mukasyafah" tidak membuahkan keyakinan penuh kepeda yang melakukannya. Mukasyafah hanya menciptakan separuh keyakinan, yakni sebagian dari apa yang membawa kepada hal yang disebut uProbability" (ltemungkinan), sedang uprobability" (kemungkinan) itu adalab suatu pengetahuan yang bukti kebenarannya datang seaudahnya. Tingkat kebimbangan inilah yang membedakan UMukasyafah" dari "wahyu" dari segi psikologis. Adapun keyakinan Nabi s.a.w,.adalah penuh dan sempuma, deDpn adanya ketetapan hati padanya bahwa pengetahuan mengenai yq diwahyukan itu tidak ada sangkut pautnya dengan pribldi, Clania benifat eksidental (kebetulan) dan di luar pribadinya. Sifat-sifat di atu Idalah positif dalam pandangan Nabi yang men.una wahyu, sehinaa tidak terdapat padanya ledikit pun bbimbanpn mengenai hal yang berkaitan dengan keobyektifan fen.omena kewahyuan. Hal ini merupakan syuat pertama dan mutlak. lI8Ita. yang dibutuhkan. bali keyakinan Nabi secara pdbadi. 167
  • 162. Apakah kita dapat menyadarkan kepada "mukasyafah", (pengungkapan melalui daya batin), dorongan-dorongan yang dikemudikan oleh perasaan (kesadaran) yang memaksa "lrmia" untuk melakukan perlawanan sengit terhadap pengungkapan "Hanania", yaitu pengungkapan yang bertentangan dengan pendapat-pendapat "lrmia" sendiri, sehingga yang akhir ini, menjatuhkan dengan penuh keyakinan, dan kekerasan vonis, hukum mati terhadap "Hanania" dan terjadi benar bahwa "Hanania" mati tidak lama setelah keputusan Irmia itu 1). Apakah Rasulullah s.a.w. harus menafsirkan sebagai "mukasyafah" keadaan dimana ibu Musa a.s, ketika ia melemparkan anaknya di sungai Nil? Apakah dengan jalan ..mukasyafah" Nabi s.a.w. membedakan dua jenis "pewahyuan", yaitu ayat Al-Qur'an yang beliau memerintahkan agar ditulis segera dalam catatan, dan yang kedua "Hadits" yang beliau percayakan kepada ingatan para sahabatnya saja, sedang telah diketahui bahwa Al·Qur'an dalam soaI suku-suku kata yang dibaca ada1ahbagian yang diucapkan oleh Nabi s.a.w.? Mengadakan pembelaan semacam ini adalah suatu pikiran yang tidak sehat, apabila orang yang bersangkutan bersamaan dengan itu tidak mempunyai pengetahuan cukup untuk membedakan antara Al-Qur'an dan Hadits. Namun pembedaan antara Qur'an dan Hadits itu merupakan dasar pokok, sehingga Nabi diingatkan mengenai hal ini di dalam. Al·Qur'an, di banyak ayat, dimana kata "wahyu" dibawakan, baik dalam bentuk yang berasaI dati kata pokok ~ seperti umpamanya kata . ./ I:-> J (= melalui ~yu) dalam bentuk kata kerja, seperti misalnya= ~J' /0"." J, ~ atau (Dia "> mewahyukan), (=0 Kami mewahyukan) dst. Kami akan berusaha mengambil intisari penafsiran Qur'an mengenai kata ini dati kutipan di bawah ini, yang menutup suatu peristiwa metafisik, yakni firman Allah s.w.t. yang terjemahan Indonesianya sbb: ''Katakanlah : Berita itu adalai: yang besar, yang kamu berpaling kepadanya Aku tiada mempunyai pengetahuan ten tang "Al-mala-ul-a 'la" (malaikat-malaihat) keUka mereka berteng1). Periksa kembali halaman 10l dat. 168
  • 163. kar pikiran antara sesamanya, yang diwahyukan kepadakl tidak lain hanyalah bahuia aku hanya seorang pemberi per ingatari yang terang". (Surat Shad ayat 67 -70). Ayat-ayat di atas, nampaknya mengetengahkan maknr "wahyu" untuk tujuan-tujuan argumental, agar Nabi mem peroleh kesempatan mempergunakan makna "wahyu" itt sebagai argumen dalam perdebatan yang dilakukannya dengar lawan-lawan da'wahnya. Di dalam ayat-ayat lain Al-Qur'an membawakan maknr kata "wahyu" untuk keperluan Nabi pribadi, dan untuk kebu tuhan pendidikan khas kepada dirinya. Hal ini nampak jelas umpamanya pada ayat berikut ini: (yang terjemahan Indonesianya k.l.) : "ltulah berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu. Dan engkau tidahlah ada di dekat mereha, ketika mereka meniatuhhan pena-pena mereka untuk menentuhan siapakah di antara mereka yang akan memelihara Maryam, dan engkau tidak pula di dekat mereka ketika mereka bertengkar;' (Surat Ali Imran ayat 44). Ayat tersebut di atas memberi kepada wahyu, makna pengungkapan hal-hal gaib, hal yang benar-benar jelas kegaibannya, mencakup pendetailan materiil bagi suatu "lakon" ruhani mumi dan mencakup pula suatu kejadian tertentu yaitu "pelemparan pena-pena" . Hal yang gaib dan ungkapan ini diletakkan di bawah penglihatan Nabi, sebagai sesuatu ukuran yang memberikan kepadanya, kemungkinan untuk memisahkan .apa yang menjadi persoalan pribadi Nabi, sehubungan dengan dirinya sendiri, seperti pikiran-pikirannya sendiri dan pengungkapan-pengungkapannya yang biasa, dari apa yang tidak mempunyai kaitan dengan pribadinya; maka yang akhir ini bersumber dari wahyu. Para ulama Islam telah membahas problem ini dari segala bentuknya, dan telah dikupas oleh Syaikh Muhammad Abduh dalam "Risalat Tauhid"nya, dengan kata-kata sbb: setelah memberi definisi mengenai kata "wahyu" menurut istilah bahasa, beliau berkata: "Mereka telah memberi definisi mengenai kata "wahyu" menurut istilah syar'i bahwa "wahyu" adalah pemberitahuan Allah s.w.t. kepada seorang Nabi tentang suatu hukwn syari'at dan sebagainya. Namun kami memberi definisi mengenai kata wahyu itu menurut persyaratan yang kami tetapkan bahwa "wahyu" adalah "pengetahuan yang didapati oleh 169
  • 164. seseorang dalam dirinya, disertai dengan keyakinan bahwa apa yang didapati dalam dirinya itu datang daripada Allah, baik dengan perantaraan maupun tidak. Yang pertama (yakni yang dengan perantaraan) terwujud dengan suara, yang terasa mengetuk pendengarannya atau terjadi tanpa suara. Dibedakan antara "wahyu" dan "ilham", bahwa "ilham" adalah suatu perasaan emosional yang diyakini oleh jiwa, maka jiwa ini tergiring pada apa yang dikehendaki oleh ilham itu tanpa disertai kesadaran dari fihak jiwa dari mana ilham itu datangnya, hal mana hampir sama dengan perasaan lapar, dahaga, sedih, senang dsb. 1). Pada definisi yang diuraikan oleh AI-ustadz AI-Imam (Muhammad Abduh) untuk memberi pembatasan jelas tentang makna "wahyu", masih terdapat beberapa ketidak-jelasan tentang sesuatu yang berkaitan dengan penafsiran "keyakinan" pada Nabi s.a.w, Pada hakekatnya, dalam keadaan wahyu itu tidak bertransisi dengan jalan indrawi, dapat didengar atau dilihat, maka definisi "wahyu" itu dengan demikian hanya merupakan pendefinisian yang semata-mata subyektif, sebab dalam hal ini berarti bahwa Nabi tidak mengetahui secara obyektif bagaimana pengetahuan itu datang kepadanya, sedang ia mendapati pengetahuan itu dalam dirinya dengan berkeyakinan bahwa pengetahuan itu datang daripada Allah s.w.t, Maka dalam definisi di atas terdapat kontradiksi yang jelas, yang dengan demikian mengenakan kepada fenomena kewahyuan semua ciri-ciri khas yang mensifati "mukasyafah". Namun hal ini, harus kami ulangi lagi, tidak membuahkan keyakinan yang berlandasan kesadaran, yaitu keyakinan yang tampak, bahwa itulah keyakinan yang· termaksud dalam ayat-ayat AI-Qur an yang di dalamnya dibawakan soal "wahyu", dan yang berkaitan secara khusus dengan "dipersiapkannya pribadi Muhammad untuk memahami watak Fenomena AI-Qur'an. Mari kita mengambil sebagai perumpamaan ayat yangmengkisahkan "pewahyuan" kepada golongan "Hawariin" (muridmurid setia Nabi Isa (a.s.) dan jawaban mereka. Berfirman Alllah s.w.t. (yang terjemahan Indonesianya kl.): "Ketika Aku mewahyukan kepada Hawariin: "BerimanJah kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku. Mereka berkata: Kami beriman saksikanlah 1). Dari kitab "Alwahn-almubammad baleman 28 karaDpD Raayid Rielba; penerbitan Kairo 1985 170 Syaikb
  • 165. (wahai Tuhan kami) bahwa kami sesungguhnya orang-orang yang menyerahkan diri (kepada-Mu). Surat.Al-Maidah ayat 11l. Kata "wahyu" (mewahyukan) dalam ayat di atas memberi tendens makna "kalam biasa" ditujukan kepada golongan Hawariin, dan telah dimanifestasikan dengan jalan suatu cara oleh jawaban mereka. Jawaban ini menunjuk juga akan adanya keyakinan pada golongan Hawariin, keyakinan yang dihayati oleh kesadaran, basil selengkapnya daripada "wahyu" itu, tetapi tidak menyertai wahyu itu, sebab meyakini kebenaran suatu fenomena apa pun, tidak menyertai kesadaran kita, waktu menyaksikannya, melainkan ia lahir sebagai gema rasional yang keluar dati diri kita. Maka sebagai kesimpulan dari hal di atas bahwasanya keyakinan Nabi mengenai sumber pengetahuan prihal apa yang diwahyukan itu tidak datang bersamaan dengan wahyu itu sendiri, dan tidak pula merupakan bagian dari pembawaan wahyu itu, melainkan sebaliknya, yakni bahwa keyakinan itu dalam bentuknya yang sempurna adalah buah pekerjaan perasaannya sebagai reaksi yang wajar daripada perasaan itu terhadap suatu fenomena yang datang dari luar. Pensifatan seperti yang terurai di atas, memberi wahyu, sebagai yang kami ingin jelaskan, eiri khas menempatkan wahyu itu- di luar hal ibwal psikologis daripada individu, sehingga tugas wahyu yang satu satunya ialah: memberi dasar rasional kepada kepercayaan Nabi serta keyakinan pribadinya. 171
  • 166. KEYAKINAN DIRINYA. UKURAN 0- LAHIRIAHNYA. U K U RAN R A S ION A L N Y A. 173
  • 167. KEYAKINAN DffiINYA. Kelihatannya para penulis dan pengarang modem tidak memasukkan dalam pertimbangan mereka, ketika mereka mengadakan analisa terhadap Fenomena Al-Qur'an, suatu hakekat psikologis esensial, yakni: "Keyakinan Nabi sendiri". Sungguhpun demikian, adalah jelas bahwa tersendirinya Nabi sebagai saksi satu-satunya atas fenomena ini, telah mengenakan kepada hakekat ini nilai istimewa, lagi khas. Dari jurusan ini kami mendapati pembahasan-pembahasan para penulis dan pengarang itu mencerminkan kontradiksi ganda, yakni dari satu segi dengan seia sekata memandang wahyu sebagai fenomena subyektif, dan dari segi lain, ia tidak menerima terhadap fenomena tersebut kesaksian dari subyek yang membarengi fenomena-fenomena itu dengan seerat-eratnya. Kekurangan yang tidak dapat dimengerti ini, ialah yang mendorong kita pertama-tama untuk menerangkan, dalam bab terdahulu, nilai moril dan rasional daripada subyek ini, agar kita dengan penuh pengetahuan menerima kesaksiannya, sebagai suatu syarat yang dapat mengungkapkan problem psikologis wahyu. Demikianlah kami berusaha menambahkan kepada pengetahuan pribadi kita, pandangan khusus subyek itu tentang dirinya sendiri, dan tentang fen omena yang sedang kami bahas, yakni pandangan yang tercermin di dalamnya dengan jelas sekali kepercayaan dirinya sendiri secara permanen. Maka persoalannya ialah kami harus menangani kepercayaan ini, yang sedang kami bahas dalam rangka nilai rasionalnya sebagai bukti jelas atas Fenomena Al-Qur'an, dan atas sifat luhur fenomena itu. Nilai rasional ini berkaitan dengan cara yang menciptakan kepercayaan itu dalam diri Nabi.. Apakah kepercayaan ini instingtif (dillhamkan kepadanya), ataukah terwujud sebagai hasil karya penilaian? Kita telah menyaksikan dalam bab terdahulu betapa, dalamnya Nabi dihinggapi kebimbangan dalam dirinya, pada akhir isolasi dirinya, sedang perasaannya untuk memperoleh pemecahan krisis yang dialami yang dalam waktu dekat telah menjadikannya gelisah tidur. Kenyataan yang pasti ini mencegah kami untuk memandang kepercayaan dalam dirinya itu sebagai fenomena instingtif (dillhamkan kepadanya). Kepercayaan itu tampaknya, sebaliknya 174
  • 168. daripada itu, merupakan hasilyang terolah lebih dahulu, secara kontinyu daripada suatu pemikiran yang sadar, dan penrelidikan yang teliti lagi berulang-ulang terhadap kejadian-kejadian, serta basil daripada penyusupan yang jauh ke dalam hati nurani. Kita boleh memandangnya sebagai hasil beberapa praktek rasional dengan bekerja sama, dengan faktor-faktor psikologis. Hal inilah yang kami nnali, sebagai nilai luhur pada Muhammad s.a.w. Sesungguhnya pemikiran Nabi: keikhlasannya, kemauan kerasnya, ingatannya, perasaannya, dan dayanya untuk menguasai dirinya, kesemuanya ini bukanlah sekedar kata-kata kosong dari Nabi s.a.w., bahkan sebaliknya, Nabi telah menonjolkan sifat-sifat luhur ini dalam bentuk yang tak ada bandingannya. Berdasarkan hal di atas, maka kepercayaan dirinya tampak pada permulaannya, sebagai suatu hakekat yang tidak boleh diabaikan, sekali pun kami berkeharusan, dalam ukuran kedua kami, untuk mengambil kesimpulan secara langsung mengenai konklusi kami tentang Fenomena Al-Qur'an dari analisa kami terhadap Al-Qur'an itu sendiri. Kini kami harus berusaha menelusuri praktek lahimya suatu kepercayaan dalam diri Nabi. Maka metode yang dengannya Nabi dapat memalingkan diri kepada keadaannya yang khusus itu, metode tersebut dengan pasti tidak berada di luar hukumhukum yang kegiatan pikiran obyektif, seperti pikiran Nabi s.a.w. itu, tunduk kepadanya. Tiada keraguan bahwa kejadian-kejadian yang mempengaruhi anggauta-anggauta badannya, telah menarik pertama-tama pandangannya tentang fenomena itu, kemudian sudah barangtentu, pikirannya yang berkelanjutan, telah menangani kejadiankejadian ini, agar memperoleh kepastian mengenai keobyektifannya; yang kami maksud, agar memperoleh kepastian mengenai jatuhnya kejadian-kejadian itu pada cermin yang memantulkan dirinya sendiri. Dati sini Nabi memerlukan penentuan dua ukuran untuk memperkuat kepercayaan pada dirinya, yakni: 1). Ukuran lahiriah untuk memastikan terjadinya fenomena itu. 2). Ukuran rasional untuk mendiskusikan soal fenomena itu, serta memberinya dasar yang tepat. 175
  • 169. 1. Ukuran lahiriahnya: Pada usia empat puluh tahun Nabi mendapati dirinya tibatiba berada dalam keadaan yang luar biasa. Di tepi jurang Hira ia mendengar untuk pertama kali suara "Hai Muhammad! Engkau Rasul Allah". Ia lalu mengangkat pandangannya ke arah suatu arah, tiba-tiba ia melihat cahaya yang menyilaukan, mengitari, pemandangannya secara luarbiasa. Kejadian ganda ini yang telah mencegahnya sesaat ia akan melakukan bunuh diri, kini baginya menjadi suatu pikiran yang menguasai dirinya, lagi membuat ia menderita. Apakah ia mendengar dan melihat benar-benar? Ataukah kejadian yang didengar dan dilihat itu tidak lain hanya fatamorgana batin belaka, yang timbul dati dalam dirinya karena pengaruh emosi yang memedihkan, kemudian mendorongnya ke tepi jurang? Apakah anggauta-anggauta badannya yang sedang diliputi emosi itu tidak menipunya? Pertanyaan-pertanyaan ini dari semula semestinya sudah berkecamuk dalam pikiran Nabi, bahkan sebelum ia dikobarkan oleh kritik pada zaman beliau, sampai sekarang ini. Nabi mengkhayalkan dirinya telah tertimpa oleh sesuatu yang mengganggunya, lalu ia lekas-Iekas pergi pulang untuk menibisikkan keputus-asaannya kepada istrinya yang selalu mengasihinya, dengan maksud mengikut-sertakan istrinya dalam pikiran yang menguasai dirinya, dalam kegelisahan dan kekemelutan pikirannya. Sekalipun demikian, walaupun sudah berada dalam lindungan istrinya yang sangat baik hati itu, gambaran yang ia Jihat di Jabal An-Nur itu tidak mau lenyap dati mata hatinya, seolah-olah apa yang ia saksikan di Jabal An-Nur itu telah melekat pada pemandangannya, dengan sinar yang tetap tetapi tidak dapat_dilihat. Lalu istrinya membuka tudung yang menutupi wajahnya dan melemparnya, lalu berkata: "Apakah anda meJihatnya? Nabi menjawab: "Tidak". Lalu Khadijah berkata: "Wahai putra pamanku! Bertetap hatilah, dan bergembiralah. Demi Allah, itu adalah Malaika,t,dia bukan syaitan. 1) Mungkin zaman kita yang gemar dengan ilmu pengetahuan memandang kejadian di atas sebagai suatu fenomena subyektif 1). 176 Dari Ibnul Atair, jilid n halaman32.
  • 170. semata-mata, karena gambaran yang disaksikan oleh Nabi dan yang menjadi obyek fenomena itu tidak terjadi dengan kehadiran Khadijah. Akan tetapi hal yang terjadi di luar hukum yang selazimnya ini, tidaklah sulit untuk difahami ditinjau dari segi keindraan, sebab misalnya orang yang buta warna dapat memberikan kepada kita suatu keadaan yang menjadi contoh bagi kita, yaitu melihat beberapa warna yang dapat dilihat oleh semua mata yang normal. Dan terdapat pula kumpulan sinar cahaya, yakni sinar-sinar infra merah dan ultra violet yang tidak dapat dilihat oleh mata kita. Tidak sesuatu yang dapat menetapkan secara ilmiah bahwa ia tidak dapat dilihat juga oleh semua mata. Akan tetapi mungkin terdapat mata yang kurang atau sangat pekak terhadap sinar-sinar cahaya itu, sebagai yang terjadi pada keadaan sel cahaya listrik. Boleh kami tambahkan di sini bahwa fenomena kewahyuan akan disertai kelak olehbukti-bukti indrawi, yang dapat diketahui oleh orang-orang, yang menyaksikan pada waktu-waktu datangnya wahyu. 1) Namun yang khusus mengenai periode awal dari turunnya wahyu dapatlah kami menggambarkan bahwa Nabi berada dalam suatu keadaan "menerima". Maka dengan demikian ia adalah saksi yang istimewa bagi fenomena itu. Kami dapat juga mempergunakan di sini ukuran yang bercabang dua tetapi membawa manfaat bagi pikiran-pikiran yang gemar akan ilmu-ilmu pengetahuan. Ukuran ini kami lakukan antara keadaan "menerima" dan keadaan apa yang dinamakan "pengatur gelombang" yang khusus terdapat pada pesawat penerima. Maka dalam bidang perindraan masalah itu, dalam bentuknya yang paling jauh, merupakan masalah ketelitian sedang dalam lingkungan kenabian, hal itu dapat berkaitan dengan situasi yang ·khusus bagi Nabi untuk menerima gelombang-gelombang yang mempunyai sifat pembawaan khusus. 1)0 Diriwayatkan dari Aisyah r.a, bahwa Harits ibnu Hisyam r.a, bertanya kepada Rasulullah s.a.w., berkataHarits: "Ya Rasulullah, bagaimanakah caranya wahyu datang kepada anda?" Bersabda Rasulullah s.a.w.: "Terkadang wahyu itu datang laksana gemerincingnya lonceng. Keadaan inilah yang paling berat bagiku, lalu bunyi itu bethenti dan aku telah mengerti apa yang dikatakan itu. Kadang-kadang Malaikat itu datang, yang kelihatan padaku berbentuk seorang laki-laki, lalu ia berkata-kata denpnku dan aku mengerti apa yang ia katakan itu". Berkata Aisyah r.a.: Aku pe~ melihat Rasulullah menerima wahyu pada hari yang sangat dingin. Sedangkan dahi beliau bercucuran peluh", Diriwayatkan oleh Bukhari jilid I Bab: "Bagaimanakah wahyu itu mula-mula turun?" 177
  • 171. Apapun masaJahnya, keadaan yang ada ialah bahwa seteIah' datangnya wahyu untuk pertama ka1iyang menggetarkan Nabi s.a.w. dengan kerasnya itu, Nabi kembali ke gua Hira, dan di situ ia didatangi lagi oleh gambaran itu, akan tetapi ka1iini lebih dekat dan langsung, serta lebih mengesankan dan agak bersifat materiil, sebab apa yang ia lihat sekarang, mempunyai bentuk khusus, yaitu bentuk laki-laki yang berpakaian putih, dan menyuruhnya seraya berkata: "Bacalah!" Apakah kiranya kekacauan pikiran atau halusinasi dapat mendatangkan suara-suara? Namun gambaran itu datang lagi dengan memerintahkan: "Bacalah!" Dialog yang aneh ini,.serta bayangan yang selaIu menjadi dan menyertainya, kedua hal tersebut, merupakan dasar pertama yang diperlukan bagi Nabi, dalam pandangan kiitik subyektif tentang keadaannya. Lihatlah Fenomena itu berada di bawah penglihatannya dan pendengarannya. Ia sekarang melihat dan mendengar. Dan .setelah gambaran itu menjadi lebih dekat dan lebih realistis (menjelma dalam bentuk orang laki), kalam yang disampaikan menjadi lebihjelas lagi,seka!ipun isi yang disampaikan ituagakaneh,karena isi kalam itu berbentuk perintah untuk "membaca" yang ditujukan kepada orang yang ummi (tidak . dapat membaca dan menulis). Nabi dari segala segi, tidak tampak bahwa ia telah memperoleh manfaat, berupa suatu pengarahan yang tegas jelas, bagi tindak lakunya di kemudian hari. Ia sekarang hanya melihat dan menyaksikan saja. Namunapa yang dilihat dan disaksikan dengan pancaindranya itu telah membawa pikiran ·obyektifnya ke dalam keadaan bingung laIu ia cepat-cepat kembali ke Makkah, dalam keadaan gelisah, yang tidak pemah ia alami sebelumnya, sedang badannya seolah-olah remuk-redam, yang tidak penah terjadi sebelumnya. Ia merasakan kebutuhan agar keluarganya menenangkan kecemasannya, dan agar mereka menyelimutinya. Maka Khadijah menyelimutinya dengan sebuah mantel (jubah). LaIu ia meletakkan kepalanya di atas banta! dan tertidur, sedang istrinya menenangkannya dengan kata-kata yang menghibur hatinya, Akan tetapi suatu perasaan di luar kesadarannya mend&tanginya dan membangunbnnya dari tidumya, tabu-tabu gambaran yang ia lihat di gua Him itu, bemda di hadapan matanya, memberi perintah jelas kepadanya: "Bangunlah dan beriJah peringatan" . 178
  • 172. Nabi menyadari untuk pertama kalinya pentingnya fenomena itu dalam rangka kehidupan pribadinya, dan pembangkitan wahyu ini akan melahirkan, setelah direnungkan, kepercayaan yang baru tumbuh dalam dirinya sebagai yang ia bisikkan kepada Khadijah tentang hal itu dengan sabdanya: "Telah diperintahkan aku oleh Jibril untuk memberiperingatan kepada manusia". 'Tetapi siapakah yang akan kuseru, dan siapakah yang akan memenuhinya?" Dalam inti "bertanya-tanyanya ini anda mengkonstatir adanya kebimbangan, tetapi yang tidak dengan tepat merupakan gema bagi keyakinan yang tidak bergoyah, yaitu keyakinan yang anda dapati dalam dirinya, ketika ia sadar akan kebenarannyasampai akhir da'wahnya, dan terutama manakala pamannya, Abu Talib memperbincangkan dengannya tawaran Quraisy, agar ia menyudahi da'wahnya. fa ketika itu belum sampai ke tingkat keyakinan penuh. Kepercayaan dalam dirinya belum lagi mutlak. Kepercayaan ini iDasihtergantung kepada keadaan ekstem bagi keberhasilannya, yang ketika itu belumtampak kemungkinannya. Sungguhpun demikian arus wahyu tidak akan terputus, dan beberapa fenomena organik akan menarik perhatian Nabi, serta gejaIa-gejala khusus yang akan menyertai setiap kali wahyu datang, akan diaJami olehnya. Ia nantinya akan mengatakan hal ini kepada pull sahabatnya, bahwa ia pada momentum fenomena itu hampir datang yakni sesaat wahyu hampir turun, mendengar suara yang membiSingkan, terkadang menyerupai deru lebah ketika keluar dari sarangnya, dan kadang-kadang lebih membising Jagisehinggasarna dengan gemerincingnya lonceng (bel). Disamping itu para sahabat Nabi dapat melihat setiap kali wahyu turun, pada wajah Nabi kepucatan secara tiba-tiba, diiringi dengan pepucatan pada wajahnya l)~Nabi sendiri mengetahui akan hal ini. Karena itu ia memintakepada mereka, agar mereka menutupi wajahnya dengan kain 2), setiapkali fenome1). DirlwaYJltkan oleh Ubadab'ibnu Shamit, ia berkata: "Bahwasanya Nabi, setiap kali wahyu turon, kelibatan wajahnya suraDi dan muram" Dalam riwayat lain disebutkan: "fa' menundukkan pula kepa)anya. Bila telah selesai pewahyuan itu, ia menpnpat kembali kepalanya". 2). Di daJam Shahib Al-Bukhari, Kitab "Al·Umrah" daJam bab ;'Dikerjakan daJam U1!Uah apa yang diketjakan dalaJa Haji", disebutkan IIWltu hal yang menonjolkan, bahwa Nabi a.a.w. ditutup badannya dengan mantel palla aut iadidatangi wahyu, dan bahwa Umar r.a. pernah menyingkap ujung mantel yang menutupi badan Nabi itu, untuk memberi kesempatan kepada aeorang penanya untuk melihat Nabi yang sedang dalam keadaan itu. . 179
  • 173. na itu datang, Bukankah tindakan preventif ini berarti bahwa fenomena itu terlepas dari kehendak Nabi s.a.w. sehingga ia untuk sementara waktu tidak berdaya untuk menutupi sendiri wajahnya, pada saat ia sedang mengalami penderitaan yang sangat, sebagaimana diriwayatkan oleh sejarah pri kehidupan Nabi. Beberapa kritisi tergesa-gesa ketika menangkap bukti-bukti psikologis ini, lalu memandangnya sebagai indikasi-indikasi akan penyakit sawan (penyakit yang datang dengan tiba-tiba menyebabkan kejang). Pandangan semacam ini mengandung kekeliruan ganda, ketika mengambil gejala-gejala ekstem ini menjadi ukuran bagi menjatuhkan keputusan terhadap fenomena Al-Qur'an seeara keseluruhan. Namun menjadi keharusan bagi kami, sebelum segala sesuatunya untuk memasukkan dalam pertimbangan kami realitas psikologis yang selalu mengiringi itu, yang tidak mungkin ditafsirkan oleh pengertian penyakit apa pun. Lebih daripada itu, ia gejala-gejala yang menghinggapi organisme itu sendiri tidak hanya berlaku bagi keadaan kejang saja, yang menyebabkan kelumpuhan disertai gemetaran pada seseorang yang untuk sementara waktu kehilangan daya mental dan fisiknya. Kalau kita memperhatikan keadaan Nabi, kita mendapati bahwa hanya wajahnya saja yang kejang, sedang selain itu Nabi berada dalam keadaan biasa, dan tetap dalam kebebanan mental yang dapat dikonstatir dari segi psikologis, sehingga ia dapat mempergunakan ingatannya dengan sempuma pada saat terjadinya krisis itu sendiri, sedang orang yang terkena sawan kehilangan kesadaran dan ingatan pada saat terjadinya krisis. Maka berdasarkan penelitian ini keadaan dimana Nabi berada samasekali bukan keadaan sakit, seumpama sawan. Kami tambahkan di sini juga bahwa gejala jasmani yang diriwayatkan sebagai menghinggapi Nabi, tidak akan muneul keeuali pada waktu ia didatangi fenomena Qur'an itu, dan hanya pada detik itu saja, yakni pada saat yang sangat eepat sewaktu wahyu datang. Kemanunggalan yang jelas antara datangnya suatu fenomena psikologis pada asasnya, dan situasi yang dialami oleh anggauta tubuh jasmani tertentu di lain pihak, itulah ciri pembawaan ekstem yang menjadi eiri menonjol daripada wahyu. 180
  • 174. Adalah pasti, bahwa Nabi dalam keseluruhan kejadian-kejadian pribadi ini, mempunyai obyek pemikiran, setidak-tidaknya pada awal da'wahnya, untuk kepuasan alam pikirannya yang obyektif. Tidaklah mungkin Nabi mengabaikan, rangkaian peristiwa-peristiwa yang terkonstatasi itu, untuk dijadikan ukuran lahiriah yang khusus bagi keadaannya, betapa pun tidak cukupnya ukuran itu untuk dipergunakan bagi mengeluarkan hukum keputusan secara definitif, atau untuk membina kepercayaan dalam diri sendiri. Untuk memantapkan kepercayaan diri ini secara tuntas, AI-Qur'an akan mengisi kekurangan di atas dengan memberikan suatu ukuran pelengkap bagi ukuran yang pertama itu, dan AIQur'an akan memberikan landasan bagi kepercayaan dalam diri Rasulullah s.a.w. serta keputusan definitif akan kebenaran kepercayaan itu. II. Ukuran rasionalnya. Nabi Muhammad adalah seorang ummi (tidak membaca dan menulis). Ia tidak mempunyai pengetahuan sebagai seorang manusia selain pengetahuan yang diperolehnya dari lingkungan dimana ia dilahirkan. Dalam lingkungan hidup yang berdasarkan kekesatriaan, pemujaan berhala dan nomadisme (hidup mengembara) ini tidak ada tempat samasekali bagi problem-problem sosial dan metafisik. Pengetahuan bangsa Arab pra Islam tentang kehidupan sosial dan kehidupan berpikir yang ada pada umat-umat lain, tidak berarti samasekali, kalau kita mempelajari kembali "syair pra Islam" yang dipandang sebagai sumber yang berbobot untuk memperoleh pengetahuan tentang hal ihwal bangsa Arab sebelum Islam. Maka Muhammad ketika pergi ke gua Hira untuk bersepi diri, tidak membawa bekal pikiran selain daripada alam pikiran yang biasa serta umum dalam lingkungannya yang masih serba primitif itu. Kemudian datang alam pikiran yang diwahyukan, lalu membalikkan pikiran dangkal yang dilingkari dengan jalinan ganda terdiri dari kebodohan yang umum dalam lingkungan hidup itu, dan keummian (kebuta-hurufan) yang khusus ada pada Muhammad. 181
  • 175. Seyogyanya kita dapat membayangkan pengaruh dahsyat yang ditimbulkanoleh kalimat "Bacalah" terhadap Nabi, yaitu kaIimat yang pertama-tama diwahy.ukan, sebab kalimat ini tidak mempunyai arti sedikit pun bagi Nabi, karena ia seorang ummi (tidak dapat membaca). Perintah yang instruktif ini sudah barangtentu membawa perubahan dalam keadaannya, karena ia menggoncangkan pikiran si ummi itu mengenai dirinya. Maka ia menjawab dengan kata-kata menolak: "Aku bukan orang yang dapat membaca". Namun alangkah hebatnya goncangan yang membawa kebingungan kepada alam pikiran obyektif Nabi. Apabila Nabi telah terbentuk dalam dirinya benih keyakinan setelah konstatasi-konstatasi yang pertama sebagaimana tersebut di atas, maka goncangan yang mengenai akal pikiran ini, tidak akan dapat melenyapkan keraguan dan kebimbangannya sekaligus, sebab ketika suara itu memerintahnya pada kesempatan berikutnya agar ia "memberi peringatan" ia bertanyatanya dengan gelisah:"Siapakah yang akan percaya padaku?" Dalam pertanyaan ini kita mengkonstatir sesuatu yang datang tiba-tiba dan tidak diduga-duga, serta kebingungan yang menghinggapi keyakinan diri. Selain dari itu, wahyu akan terputus untuk sementara waktu dan kita akan mendapati Nabi mengharap-harapkan kedatangan wahyu itu, bahkan ia menghendaki kedatangannya, ya bahkan ia memanggil-manggtl wahyu itu dengan berputus asa, tetapi . tiada sesuatu pun yang menjawab. Di sini kita mendapati Muhammad dalam keadaan yang paling buruk dari krisis mentalnya, yang ia telah mengenalnya ketika berkhalwat di gua Hira 1). 1). Hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a. bahwa ia berkata: ..wahyu telah terputus, dan Nabi sangat merasa sedih karenanya, Begitu dalam kesedihan hati, sebagaimana yang ditunjukkan kepada kami, sampai-sampai ia berulang-ulang berpikiran untuk menjatuhkan dirinya dari puncak salahsatu dari gunung-gunung yang tinggi. Namun setiap kali ia mendaki puncak gunung untuk menjatuhkan dirinya ke bawah, menjelma Jibril di hadapannya seraya berkata: "Hai Muhammad, engkau benar-benar Rasul Allah ". Dengan demikian hatinya Ialu menjadi tentram, dan ia bergembira lagi. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, jilid 12, bab "At-Ta'bir", Penerbitan Percetakan Al-Bahriah. (Penterjemah 182 Arab),
  • 176. Di sini kebimbanganny~ membe88r, sedangkebimbangan ini -. semula hanya kecil saja. Ia mengeluh tentang kebingungannya, kepada istrinya yang penuh kasih itu. Sedapat-dapatnya Khadijah berusaha untuk menenangkan hatinya dengan perkataanperkataan yang sebenarnya tidak dapat menumbuhkan rasa tenang dalam hatinya. Akhirnya setelah berlalu dua taboo turunlah wahyu, yang datang membawakan Nabi kalimat Yang Maha Luhur, kalimat yang satu-satooya menjadi obat penawar baginya, yakni kalimat ALLAH. Wajah Nabi berseri-seri sekarang, karena ia mulai dari saat sekarang memiliki tanda bukti moril dan rasional bahwasanya wahyu yang datang kepadanya itu tidak bersumber dari dirinya sendiri, dan tidak pula datang menurut kehendak hatinya. Ternyata bahwa wahyu itu tidak tunduk kepadanya, sebagaimana juga pikiran-pikiIan dan kata-kata orang lain tidak tunduk . kepadanya. Ia sekarang mempunvai tanda bukti obyektif yang semaksimal-maksimalnya mengenai kebenaran kepercayaan diri yang baru diperolehnya. Penantian wahyu yang merisaukan hatinya itu dan disusul dengan kegembiraan yang datang sesudah itu secara tiba-tiba (dengan datangnya wahyu) kedua hal ini adalah hakekat dua ekstem psikologis yang sesuai dengan keadaan itu yakni: dengan limpahan yang berupa akal budi, sehingga ia untukselanjutnya tidak akan dihinggapi oleh kebimbangan dan keraguan. Pada hakekatnya kebimbangan yang menimpa Nabi s.a.w, itulah yang memaksanya mempertahankan keadaan khasnya serta meneruskan pemikirannya dan mengolah pikiran itu yang akan menyampaikannya kepada keyakinan definitif. Dalam peralihan ini kami mengkonstatir bekas pendidikan luhur, yang membantu Rasulullah untuk memperoleh keyakinan secara berangsur-angsur dalam dirinya tentang hake kat Fenomena AI-Qur'an, dalam hal ini dibantu oleh pembentukan hati nuraninya yang sadar secara bersinamboogan, seolah-olah memang dikehendaki, persiapan dirinya secara metodik untuk memperoleh kepercayaan diri, yang diperlukan dan diluruskan bagi pelaksanaan da'wahnya. Sejak semula wahyu telah menyampaikan kepadanya, ciri-ciri khas da'wah yang amat agung ini, sebagaimana ditunjuk tentang hal itu oleh ayat suci sbb: . ( 0 : ~jJl ) 183
  • 177. "Kami akan memberikan kepadamu perkataan yang berai", . (Surat Al-Muzzammil ayat 5). Apabila benar kehendak yang Maha Tinggi, mewahyukan kalimat di atas, maka dengan pasti akan tampak jelas, hal itu di muka matanya sedikit demi sedikit, tabu-tabu kebimbangan meninggalkan tempatnya untuk memberikan kepadanya kepercayaan baru dalam diri Nabi, sebagai buah dari pemikiran yang matang, 1agi mendalam, yaitu keper':8.yaan diri yang tampak jelas dalam dialognya yang pertama dengan Quraisy. Telah berubah keadaan dirinya, Ia sekarang menjadi percaya dan yakin akan dirinya. Wahyu turun untuk merefleksi kepada pemandangan kita, kondisi psikologisnya yang baru, serta mempositifkan kepercayaan diri, yang memperoleh kemenangan itu dengan firman-Nya : L:; C; ~<;; t: 1:t: * ~~ * .s ~ J.~,.JOi'~ • • • • • • •• ; )t ~.; ~J .. ~I ""',. J-A .,., 1/0".# u I * ~.,...rJI J r.; : ~ I) * .;iI; .•. (Y ~ , J; C ~ ;;·~"'~f;l~ C * ( . r - Ij I 0 """, ~I~·I .; I)."~"""·O"''''/ ~..r>-I ;j;.: ; Ji • d I,; l:' ." ..•••. ..wJ "Demi bintang, ketika dia terbenam, katoan kalian itu (yakni Muhammad s.a.w.) tidaklah sesat, dan tidak pula dia keliru. Dan dia tidak berhata dengan kemauannya sendiri, (Ap« yangia katakan) itu hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)" ......... hemudian: "Hati(nya) tidak berdusta ten tang apa yang dilihatnya. Apakah kalian hendak membantahnya ten tang apa yang dilihatnya itut Sesungguhnya ia telah melihatnya di waktu yang lain". (Surat An-Najm ayat 1, 2, 3, 4, 11, 12,13). Lenyap samasekali dari hati Nabi segala keraguan dan kebimbangan, baik moril, mau punrasional, sebab keputusan yang benar, ialahyang memberi petunjuk kepadanya. Dan keputusan yang semacam ini tidak akan merubah kebimbangan metodik, untuk yang dideritanya kepada kebimbangan yang sekedar kebimbangan saja, sebab hake kat yang luhur tentang wahyu itu memaksakan kehendaknya, secara mutlak atas aka! pikiran obyektif. 184 .
  • 178. Segala sesuatu yang Nabi sekarang melihat, mendengar, merasakan dan memahaminya, semuanya itu sekarang bersesuaian dengan suatu hake kat yang jelas sekali di dalam pikirannya, serta terang-benderang di dalam pemandangannya. Hakekat ini ialah: Hakekat yang bersumber dari AI-Qur'an. Bahkan lebih dari itu. Kesadarannya dalam rangka ini akan bertambah dan meluas, setiap wahyu membawakan dengan berturut-turut, ayat-ayatnya yang jelas dan terang. Ayat-ayat inilah yang menjadi Kitab ruhani, yang Nabi merasakan terpateri dalam kalbunya di gua Hira. Keyakinan rasional yang diperolehnya itu, akan bertambah mantap, saban kali jurang antara "prasangka-prasangka" manusia dan perkataan yang diucapkan dengan lisan Nabi, Wahyu selanjutnya turun dengan berturut-turut, dengan surat-suratnya. Surat demi surat, maka kebenaran-kebenaran historis universal dan sosial akan bertumpuk-tumpuk dalam pikiran sadarnya, yakni hakekat-hakekat, yang tidak pernah tercatat dalam lembaran pengetahuannya, bahkan dalam pengetahuan orang-orang sezamannya dan tidak pula masuk dalam perhatiannya. Hakekat-hakekat ini bukanlah sekedar hal-hal umum yang misterius, melainkan ia adalah pengetahuan-pengetahuan jelas yang mencakup keterangan-keterangan penting tentang sejarah ke-Esaan Tuhan. Maka kisah Yusuf yang mendetail itu umpamanya, atau sejarah yang mendetail tentang hijrah Bani Israil, tidak mungkin dipandang sebagai suatu kebetulan eksidental, melainkan harus dengan pasti mengambil sifat kewahyuan pada Muhammads.a.w. Seharusnya kita berlanya-tanya, bagaimanakah Nabi dapat mengetahui adanya persesuaian yang mentakjubkan mengenai wahyu (tantang kisah Yusuf dan hijrah Bani Israil) ini dengan apa yang terse but dalam Taurat? Cukup bagi Nabi s.a.w, untuk keperluan kepercayaan dalam dirinya, untuk mengkonstatir bahwa keterangan yang tidak diduga datangnya semacam ini, dan yang sudah hilang dati pemandangan mata, masuk ke dalam lembaran-lembaran sejarah tidak mempunyai karakter yang bersifat pribadi dengan tidak mempergunakan benar-benar suatu landasan bagi perbandingan, sehingga ia dapat mengambil keputusan tentang ide yang di185 , .,
  • 179. wahyukan itu, dan berapa jauh ide itu membenarkan apa yang tersebut dalam Taurat. Seyogyanya pula Nabi mengkonstatir bahwa khabar-khabar yang diterimanya melaluiwahyu itu, turun kepadanya dari suatu sumber. Siapakah yang merupakan sumber itu? Pertanyaan ini sudah barangtentu menempati tempatnya dalam amaliah rasional, dari mana Nabi mengambil kesadarannya yang mantap dan keyakinan pribadinya. Jawabannya, Nabi atas pertanyaan ini datang setelah terjadinya perjumpaan batin antara pikiran pribadinya dengan hakekat yang diwahyukan. Cukuplah kiranya bagi Nabi untuk mengadakan perjumpaan ini agar ia dapat memecahkan problematika tentang sumber khabarkhabar yang diwahyukan itu di luar pribadinya, bahkan di luar masyarakatnya. Ia tidak dihinggapi lagi kegelapan mengenai sumber ini. Maka di luar pengetahuannya itu ia tidak akan dapat menemukan hakekat kewahyuan dan sumber insani mana pun. Muhammad s.a.w. selalubersikap benar (tidak berdusta) kepada kaumnya, sebagaimana ia sebelumnya selalu bersikap demikian kepada dirinya sendiri. Penyelidikan yang penuh kesadaran, yang dilakukan Nabi terhadap keadaannya yang aneh itu, pasti berwujud semacam studi batin yang berkarakter Al-Qur'an, sehingga penyelidikan itu melenyapkan segala bentuk kebimbangan dan keraguan yang terkhayal di mukanya, selama ia dapat melakukannya atas dua landasan metodik yang saling berbeda, yakni: pertama yang sifatnya subyektif semata-mata, yang meliputi konstatasinya mengenai wujud wahyu itu, bahwa ia berada di luar rangka pribadinya, sedang yang kedua: sifatnya obyektif yang berdiri atas perbandingan obyektif antara wahyu yang diturunkan, dan apa yang tersebut dalam keterangan-keterangan yang termaktub dalam kitab-kitab Yahudi dan Nasrani umpamanya. Adakalanya, seolah-olah wahyu mengajarkan kepadanya metode yang kedua itu, yakni metode obyektif, apabila mengenai persoalan yang bukan persoalan yang Nabi sudah meyakininya, yang keyakinan itu sudah sejak waktu lama ada padanya, melainkan bila hal itu mengenai persoalan pembentukan dan pendidikan pribadi Muhammad sendiri, terutama apabila ia mengadakan perdebatan dengan kaum musyrikin tentang akibat kepercayaannya, atau dengan delegasi-delegasi kaum Nasrani yang datang dari beberapa penjuru Jazirat Arab, seperti a.l, 186
  • 180. delegasi Najran, yang datang ke Madinah dengan maksud berdiskusi dengan Nabi tentang persoalan Trinitas. Dalam persoalan ini, wahyu berbicara dengan Nabi dengan gamblang: "Maka jika engkau berada dalam keraguan-keraguan ten tang apa Yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dan Tuhanmu, sebab itu janganlah engkau se1lali-kali termasuk orang-orang yang ragu-ragu ". (Surat Yunus ayat 94). Ahli tafsir AI-Qur'an, Jalaluddin Assayuthi bercerita kepada kita dengan mengatakan, bahwa Nabi s.a.w. menambahkan dengan sabdanya: "Aku tidak ragu, dan aku tidak akan mena. nya" 1). Dan hal-hal ini dapat kami simpulkan bahwa Nabi dapat merasa cukup dengan perjumpaan batin yang kami isyaratkan di atas, setidak-tidaknya mengenai hal-hal yang berkaitan dengan keyakinan dirinya, akan tetap di samping itu, Nabi harus juga memuaskan hati orang-orang lain untuk mendapatkan keyakinan. Karena itu maka ia seolah-olah mempergunakan metode kedua (subyektif) itu, apabila ia memasuki salahsatu diskusi yang sifatnya umum, untuk merealisasi bobot wahyu secara obyektift sehubungan dengan suatu kebenaran yang tertulis, yang terdapat dalam kitab-kitab yang terdahulu. Itulah, menurut persangkaan kami, sebab karena surat Yusuf diturunkan, yaitu sebagaimana dikatakan oleh Az-Zamakhsyari: "Surat Makkiyah (surat Yusuf) ini diturunkan, setelah terjadi semacam tantangan, yang dilancarkan ulama Bani Israil, 1). Sabda Nabi ini diriwayatkan oleh Abdur Razzaq dan Ibnu Yazir dari Qotadah. 187
  • 181. dengan bertanya kepada Nabi dengan terang-terangan tentang kisah Yuauf; maka turunlah surat ini 1). Akan tetapi kalau surat ini telahmemberikan jawaban atas suatu tantangan yang datang dati pendeta-pendeta Yahudi atau lainnya, akan tetapi surat itu belum ,dapat menyelesaikan pertentangan itu, kecuali dengan memperbandingkan dengan teliti naskah-naskah Taurat dan kisah-kisah Al-Qur'an. Tidaklah diragukan lagi, bahwa Nabi dalam hatinya tidak menaruh perhatian untuk memperbandingkan hal semacam ini, yang sebenarnya memberi kepadanya kesempatan mengadakan perbandingan, secara obyektif antara wahyu dan sejarah yang ditetapkan dalam kitab-kitab Bani Israil. Mungkin kesempatan ini bukanlab satu-satunya yang diambil oleh Nabi untuk mengadakan perbandingan praktis, yang setiap kali mempersembahkan unsur baru bagi ukuran kepercayaan dirinya secara rasional. Dan akhimya pembentukan keyakinan ini, rupanya berjaJan menurut metodeyang lazim, yang di satu pihak berisi konstatasi-konstatasi (hasil penelitian yang cermat) langsung darlpada Nabi tentang keadaan, dan di pihak lain, berisi ukuran rasional dari mana Nabi memperoleh keyakinan dirinya, sedang ia mengembara dengan aka! pikirannya, keliling hal-hal yang rumitrumit dan hasil penelitian yang cermat. . Sesungguhnya Islamologi yang menangani studi ini, pada umumnya dengan pikiran yang tendensius, tidak pernah mengolab problem keyakinan pribadi, sekali pun soal ini berada di tingkat paling atas mengenai arti pentingnya untuk dapat memahami Fenomena Al-Qur'an, sebab ia merupakan kunci problem yang berkaitan dengan Al-Qur'an, apabila kita meletak'kan problem ini di atas meja pembahasan psikologis bagi pribadi Muhammad. Kiranya cukup jelas bahwasanya agar Nabi Muhammad beriman kepada kebenaran da'wahnya, maka kita harus menetapkan menurut terminologi "Engels" bahwasanya setiap "intuisi" 1 ). Kami ingat kemudian sebab lain mengenai turunnya surat ini dalam pembicaraan mengenai pendalilan bahwa surat ini turun sekaligus. Sebab yang kedua ini tidak bertentangan dengan apa yang tersebut di atas ten tang sebab turunnya surat itu, yang dijadikan pegangan oleh pengarang buku ini. (Penterjemah Arab). 188
  • 182. harus sudah melalui "pikiran sadamya" 1), dan mengambil bentuk yang mutlak, tidak bersifat pribadi, tetapi bersifat rabbani (ketuhanan) dalam esensi ruhaniahnya, serta dalam posisi dimana problem itu timbul. Dan Muhammad s.a.w. tidak diragukan lagi, telah memelihara keyakinannya, sampai pada momentum yang luhur itu, yalmi sampai pada momentum ia mengucapkan kalimatnya yang terakhir: "kepada Kawan yang Maha Tinggi". 1). Fredrich Engels dalam bukunya: "Feuer bach dan berakhirnya falsafat klasik Jerman" (halaman 28, pen. Perc. sosial, Paris) mengatakan " pada orang yang menyendiri, semua potensi yang menggerakkan keaktifannya berlalu, meIalui akal pikirannya, agar potensi-potensi itu berubah menjadi faktor-faktor yang selalu menyertai kehendaknya mendorongnya untuk bekerja dan bergiat". ' 189
  • 183. KEDUDUKAN DI DALAM DIRI FENOMEN MUHAMMAD A KEWAHYU B.A. W. AN. 191
  • 184. KEDUDUKAN DIRI MUHAMMAD S.A.W. DI DALAM FENOMENA KEWAHYUAN. "Bacalah l" "Aku·tak dapat membaca". Dialog yang unik ini membuka era baru, sehubungan dengan slam ini, kini memberi kita sesuatu W18uryang sangat bemilai dalam melakukan studi psikologi analistis tentang fenomena kewahyuan. Tidaklah mengherankan, sebab dialog tersebut adalah dialog satu-satunya yang historis positif, dan yang di dalamnya diri Muhammad memberikan jawaban dengan jelas sekali dan dengan tekanan-tekanan suara, atas suara yang dalam waktu dekat kemudian menyampaikan kepada diri Muhammad itu da'wah yang harus dilaksanakannya. Apakah ini termasuk katagori kekacauan pikiran dan halusinasi. Fenomena yang kita pelajari di sini, dalam stadium pertamanya adalah fenomena yang dapat dilih&t dan didengar. Hal ini terlepas dari beberapa kejadian dan peristiwa historis yang terjadi sesudah itu, yang akan menelan waktu selama dua puluh tahun. Maka kekacauan dalam pikiran, semacam ini hanya dapat terjadi dalam awal dan akhir tidur. Dinamakan kekacauan yang terjadi pada awal tidur pada saat kesadaran diri masuk tidur; "Haypnogogic", yakni "keadaan antara tidur dan sadar", sedang keadaan yang terjadi ketika orang akan tersadar dari tidur, "Hypnopompic" yakni keadaan antara "tidur dan sadar". Ilmu psikologi medis telah menetapkan bahwa keadaan terse but di atas tidak mengenai orang-orang yang normal (fisik dan psikologiknya), seperti halnya dengan keadaan Nabi, dikarenakan oleh adanya motif indrawi, yaitu terkumandangnya suara-suara yang dapat didengar. Demikianlah halnya dalam dialog ini telah terulang tiga kali aksi indrawi itu. Berdasarkan hal ini, seandainya diperkirakan bahwa kekacauan atau gangguan pikiran itu belum mau lenyap karena pengaruh bagian pertama dari dialog itu, namun kekacauan dan gangguan pikiran itu tidak mungkin tetap, sesudah shock karena suara yang pertama itu; artinya kekacauan dan gangguan pikiran itu sekiranya masih berlangsung pada bagian kedua dan ketiga dari dialog itu, maka hal itu tidak akan men192
  • 185. dapatkan penafsirannya. Oleh sebab itu, tanpa tergesa-gesa mengadakan penentuan terhadap fenomena itu sendiri, kami sudah dapat mengatakan bahwa bagaimana pun juga kita tidak mung kin menafsirkan fenomena itu dengan "kekacauan alam pikiran". I Sekiranya kita mengambil persoalan ini dari lahirnya saja, maka kita akan mendapati, bahwa dialog ini, sejak semula, telah menentukan posisi relatif kepada diri Muhammad dalam percakapan Al-Qur'an itu, dimana diri Muhammad sejak wahyu pertama, telah ditempatkan pada kedudukan orang yang kedua tunggal (orang yang diajak berbieara) dan selanjutnya wahyu akan turun kepada diri orang yang kedua, yang akan disampaikan oleh perantaraan atas nama zat yang bicara (dalam bentuk kata ganti orang yang pertama = Aku, Kami), dimana di sini dipakai seeara langsung bahasa Ilahi, untuk memerintahkan seorang ummi (yang tidak dapat membaea dan menulis) agar ia membaea, pada hal si ummi ini tidak dapat membayangkan dirinya sebagai seorang yang dapat membaea, oleh karena ia bingung dan ketakutan. Yang perlu untuk kami, ialah mengetahui apakah mungkin diri yang diajak bereakap-eakap (diri Muhammad) dan Zat yang berfirman itu, kedua-duanya dapat berpadu seeara psikologis dalam satu pribadi, yaitu pribadi Muhammad . . Perlu kami sebutkan pertama-tama, jauh jarak antara yang jelas, antara Zat yang pertama yang merintahkan lagi tegas, di satu pihak, dan diri orang yang kedua yang bingung, lagi ketakutan. Dan rasa takut ini merefleksi dengan sendirinya pada Nabi, yang mengetahui bahwa dirinya tidak dapat membaca, kesadaran dan pikiran yang ia sangat mengenalnya, mengenai dirinya. Maka jawaban negatifnya, yang bersifat khusyuk, tetapi itu positif, adalah kesudahan yang logis bagi suatu gejala psikologis, yang berpanear dari pikiran, yang ia menyadari benar-benar akan keobyektifan yaitu pikiran tentang keummiannya (bahwa ia tidak dapat membaea dan menulis). Tidaklah mungkin diartikan bahwa perintah tegas ini yang membangkitkan ketakutan orang yang ummi ini, telah mengabaikan samasekali pikiran obyektifnya, karenanya lalu pikiran itu diingkarinya? Jarak-jarak antara zat yang pertama dan orang yang kedua itu, bagaimana pun juga, melukiskan kepada kita suatu praktikum psikologis lain yang samasekali berbeda 193
  • 186. sejak waktu itu, akan selalu mengambil sikap menerima berserah diri, dan diri pribadinya akan selalu diam-diam dalam percakapan kewahyuan AI-Qur'an, yang tidak akan menyebutkan peristiwa-peristiwa khusus di dalam sejarahnya. Kita tidak akan mendapatkan pengumandangan apa pun (di dalam AI-Qur'an) tentang penderitaan-penderitaannya, terutama ketika kehilangan seorang isteri yang sangat mulia dan seorang paman yang paling berjasa, sekalipun kita mengetahui kesayangan kenabian Rasulullah s.a.w, terhadap kedua orang itu. Konstatasi ini, tentang tidak terdapatnya kesan kepribadian dalam percakapan AI-Qur'an, yang di dalamnya tidak dibawakan pribadi Muhammad, kecuali dalam bentuk kata pengganti orang kedua tunggal, dengan kesemuanya ini mungkin kami dapat menambah jelasnya persoalan, Dalam kenyataan terdapat ayat-ayat suci yang bentuknya yang aneh menarik perhatian kami, karena diri pribadi Muhammad memainkan di dalam ayat-ayat itu peranan unik. Contoh daripada itu umpamanya firman Allah s.w.t.: -.> 0 • ..>.~'/ -::< ,/.---,/ cl.liIl ~ ,/ "J. "".~-/ /_,... ."." ./ /' .~ ~I ~; ~~ ~ "'"./ .. ,/ ~ u: <~ .., r./ I ~ ". /,/ r:-:: .J Y ~4-- ~ / 'r--';) ./ "" ,/. '.0' ./ . -:, ., "'", w'. ~I .""w"''''. .,.,. I.j I <.S'->..t¥ ~ ~ • r:: ~ ~"./ -' • "". ..1.7" ~.,.Jl ~~ -:, /.J ~..iJ I >Jll ,/ • /./// ~ ~/ ~.r;) 1; ';-'..,,/ ,., 4--) w~~ "Dialah Tuhan yang menjalankan kamu dapat berjalan di daratan dan (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di 00lam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa mereka (yang ada di dolamnya} dengan tiupan angin yang baik dan mereka gembira harenanya, datanglah angin badai, dan gelombang dari segala penjuru menimpa mereka dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya) dst". (Surat Yunus ayat 22). 195
  • 187. sejak waktu itu, akan selalu mengambil sikap menerima berserah diri, dan diri pribadinya akan selalu diam-diam dalam percakapan kewahyuan AI-Qur'an, yang tidak akan menyebutkan peristiwa-peristiwa khusus di dalam sejarahnya. Kita tidak akan mendapatkan pengumandangan apa pun (di dalam AI-Qur'an) tentang penderitaan-penderitaannya, terutama ketika kehilangan seorang isteri yang sangat mulia dan seorang paman yang paling berjasa, sekalipun kita mengetahui kesayangan kenabian Rasulullah s.a.w. terhadap kedua orang itu. Konstatasi ini, tentang tidak terdapatnya kesan kepribadian dalam percakapan AI-Qur'an, yang di dalamnya tidak dibawakan pribadi Muhammad, kecuali dalam bentuk kata pengganti orang kedua tunggal, dengan kesemuanya ini mungkin kami dapat menambah jelasnya persoalan. Dalam kenyataan terdapat ayat-ayat suci yang bentuknya yang aneh menarik perhatian kami, karena diri pribadi Muhammad memainkan di dalam ayat-ayat itu peranan unik. Contoh daripada itu umpamanya firman Allah s.w.t.: oJ • ~.J .' ~ ~ r--'1 ~; " ,.., ...•..•.• ..b:->I . ~ ( "" ./ / /" ulS:. l' ~>= "Dialah Tuhan yang menjalankan kamu dapat berjalan di daratan dan (berlayar] di lautan. Sehingga apabila kamu berada di 00lam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa mereka (yang ada di dalamnya) dengan tiupan angin yang baik dan mereka gembira karenanya, datanglah angin badai, dan gelombang dari segola penjuru menimpa mereka dan mereka yakin bahwa mereka telah terhepung (bahaya) dst". (Surat Yunus ayat 22). 195
  • 188. Dalam ayat terse but di atas dimana kata pengganti "kami" beralih secara tidak lazim ke kata pengganti "mereka" patutlah hal tersebut mendapatkan konstatasi, sebab hal itu tidak mungkin terjadi karena kekeliruan mengenai gramatikanya, sebab tidak mungkin dibayangkan terjadinya kekeliruan dalam gaya bahasa sastrawi yang sempurna itu yang merupakan tanda bukti yang agung bagi da'wah Muhammad s.a.w. Sekiranya dalam ayat tersebut benar terdapat kekeliruan, maka pastil,ah koreksi (pembetulan) terhadap kekeliruan itu harus segera diadakan, halmana mudah dan mungkin dikerjakan. Kalau Nabi tidak melakukan pembetulan itu, sedang dialah yang membacakan Al-Qur'an itu untuk dirinya sendiri dan untuk para sahabatnya, maka kesimpulannya ialah bahwa menyimpang dati kaidah yang lazim tidak merupakan kekeliruan dalam menyimpang dati kaidah yang lazim tidak merupakan kekeliruan dalam pandangan Nabi, dan hal ini menjadi kesaksian bahwasanya Muhammad tidak mempunyai sedikit pun kekuasaan untuk melakukan sesuatu terhadap nas (redaksi) AI-Qur'an. Tambahan pula kami tidak akan menangani soal terse but di atas dati segi bentuk sastrawinya, .melainkan kami akan mengupasnya dari segi psikologis analistis. Maka kami mengkonstatir, dalain penyimpangan dari yang lazim tersebut, bahwasanya diri pribadi Muhammad terperankan dengan jelas dan berturut-turut dalam dua peranan yang berlaian-lainan, yaitu peranan sebagai orang yang diajak berbicara, yang dituju dan secara langsung, hal mana masuk dalam kata ganti diri bagi orang yang kedua (kamu) yang kepadanya pembicaraan itu ditujukan. Kemudian (sebagai peranan kedua) diri Muhammad menjadi saksi, yang tidak dituju secara langsung, ditempatkan sebagai suatu kejadian yang tidak terduga, di hadapan suatu pemandangan yang dimanifestasikan oleh Al-Qur'an dengan menggunakan kata ganti diri bagi orang yang ketiga (mereka). Peralihan yang tidak terduga-duga ini membawa konsekwensi, dua keadaan psikologis dalam mana keadaan yang kedua tidak mungkin terjadi, kecuali sebagai kesimpulan dari keadaan kedua, atau keadaan kedua itulah pemecahan problematika itu, apabila kita menghayalkan hal itu dalam pribadi tertentu, yaitu diri Muhammad. Dengan perkataan lain kataganti diri untuk orang yang ketiga (mereka) dalam ayat tersebut, harus menjadi kesimpulan psi196
  • 189. kologis 1) langsung danpada kataganti diri untuk orang yang kedua (kamu), atau kataganti "mereka" itu lahir dari kataganti (kamu) melalui suatu natijah perantara. Sementara kami mengkonstatir dan segi psikologis bahwa perpindahan kataganti dan "kamu" ke "mereka" yang merupakan subyek yang berturut-turut dalam ayat tersebut, tidak membawa pemindahan apapun pada tabiat lukisan itu, kami melihat di dalam ayat tersebut bahwa katakerja-katakerja (dalam ayat itu) melukiskan pemandangan yang sama, yang berturut-turut atas lukisan yang sama itu, sedang subyeknya berubah-ubah, sebagaiYangtampak jelas. Maka pemindahan tersebut hanyalah bersifat sebagian saja. Akan tetapi apakah mungkin karena itu pemindahan yang hanya untuk sebagian itu dibebankansemata-mata kepada rentetan harkat-harkat maknawi yang menghinggap di luar kesadaran dan pribadi Muhammad? Sebenarnya apabila dekadensi maknawi, memasuki pekerjaan-pekerjaan daripada keluarsadaran, terutama yang terjadi dalam mimpi, maka dekadensi itu saja merubah posisi relatif daripada subyek itu dengan beralihnya dan seorang individu kepada seorang individu lain, melainkan juga pekerjaan su~yek itu sendiri turut berubah. Di sini secara jelas terdapat subyek yang inklusif, yaitu diri Muhammad, yang posisinya berubah-ubah, dibandingkan dengan subyek yang konkrit (yang sebenarnya), namun kata kerjanya terus-menerus seperti yang terdapat dalam ayat tersebut. Karena itu maka dekadensi daya-daya batin tidak dapat dibayangkan di sini sebagai sebab psikologis yang menentukan perubahan tertentu, yang tidak terlihat selain dalam bentuk 1). Yang dimaksud dengan konsekwensi psikologis di sini ialah "pemecahan posisi psikologis. Diperkirakan bahwa setiap simpul (komplikasi) memerlukan pembukaan (pemecahan) yang tepat, yang dapat dipandang sebagai konsekwensi psikologis daripada komplikasi itu. Kami memberi contoh: misalnya pokok kalimat dalam suatu kalimat. Pokok kalimat ini adalah suatu simpul, sedang pembukanya adalah "sebutan" dalam kalimat itu. Demikianlah pemikiran ini dapat ditrapkan terhadap ayat terse but di atas, karena posisi yang kedua harus lahir dari posisi yang pertama, sebagai konsekwensi psikologis. (Penterjemah Arab). 197
  • 190. gramatikanya saja pada ayat tersebut, tanpa ada perubahan pada detail yang mana pun dalam pemandangan (yang dilukiskan dalam ayat) itu. Ahli-ahli tafsir klasik tradisional, sudah mendahului membahas problema ini yang mereka beri nama: "Iltifat" (= atensi). Apa yang mereka namakan "iltifat" itu ialah sekedar penafsiran dangkal terhadap problem yang dicari kuncinya. Penafsiran semacam ini adalah penafsiran yang bersifat etik semata-mata tidak menunjukkan sesuatu, ditinjau dari segi psikologis kecuali menunjukkan terjadinya, sesuatu maksud pada dasamya, yang datang dari suatu pribadi yang terpilih yaitu "Yang mendapat atensi". Maka oleh sebab itu, penafsiran semacam itu tidak mengemukakan kejelasan psikologis analistis yang kami kehendaki, kalau kami masukkan dalam pertimbangan semua sifat~ifat 1) yang kami telah tetapkan untuk pribadi Muhammad. Adapun kemudian daripada itu, sekali pun apa yang akan kami kemukakan bertentangan dengan taklid aliran descartesisme yang mengurung akal pikiran dalam hukum-hukum metode obyektif yang sempit, kami terpaksa akan mencari kunci problem di luar psikologi diri Muhammad. Maka haruslah kami, dalam hal ini, menerapkan suatu level (taraf) lain, yang di dalamnya pertama-tama, Fenomena AIQur'an terlengkapi, serta menjadi komplit sebelum mempengaruhi diri orang yang membawanya dan menyampaikannya. Oleh karena kami tidak dapat membayangkan level ini berada di dalam diri insani, maka haruslah kita melihatnya sebagai keharusan berada dalam suatu zat metafisik yang tidak terkait dengan diri Muhammad dengan kaitan apa pun, selain daripada kaitan "wahyu". 1). Yang dimaksud dengan sifat-sifat ialah apa yang telah ditetapkan oleh pembahasan kami, bahwasanya Nabi Muhammad s.a.w. jujur dan ikhlas, memiliki pikiran obyektif dsb. (Pengarang). 198
  • 191. •• CAR ABE R PIKIR M U HAM MAD -------------------_/ SAW. 199 I
  • 192. CARA BERPIKIR MUHAMMAD SAW. Pada suatu hari Rasulullah saw. berlalu di muka kebun seorang Ansari di pinggiran kota Madinah, lalu beliau menganjurkan kepada Ansari, pemilik kebun itu, mempergunakan suatu sistem tertentu mengenai pengawinan pohon kurma, namun Rasulullah mendapati Ansari itu, setelah beberapa waktu kemudian, telah meninggalkan sistem pengawinan kurma yang dianjurkan oleh beliau, karena sistem yang dianjurkan itu tidak memenuhi hasil semaksimal-maksimalnya, sebagai diharapkan oleh Ansari itu. Nabi s.a.w. membenarkan apa yang dilakukan oleh Ansari itu, dengan menyatakan dengan segera, bahwa eksperimen yang dilakukan sendiri itu harus didahulukan dari pikiran individu sekali pun yang mempunyai pikiran itu Nabi sendiri.1) Yang benar dalam soal ini ialah bahwa Nabi s.a.w, mengusulkan suatu cara tertentu tentang pengawinan kurma, tersebut dalam "Sahih Muslim" jilid II, dalam bab: "Kewajiban mentaati apa yang disabdakan oleh Nabi s.a.w, dalam perkara-perkara syariat, tidak termasuk apa-apa yang disabdakan mengenai unsur-unsur kehidupan duniawi yang disabdakan sekedar sebagai pendapat pribadi", Diriwayatkan dari Musa ibnu Thalhah, dari ayahnya, ia berkata: "Aku berjalan bersama Rasulullah s.a.w, bertemu dengan sekelompok orang-orang yang menaiki puncak pohon-pohon kurma. Rasulullah bertanya: Apa yang dikerjakan oleh mereka itu? "Pengikutpengikut Rasulullah berkata: "Orang'orang itu sedang mengawinkan kurrna". Lalu Rasulullah bersabda: "Aku kira apa yang mereka kerjakan itu tidak akan berguna sedikit pun". Berkata Thalhah: "Lalu orang-orang yang sedang mengawinkan kurmanya itu diberi tahu tentang apa yang disabdakan Rasulullah. Maka mereka pun meninggalkan cara-cara yang mereka gunakan. Rasulullah diberi tahu tentang hal ini. Beliau lalu bersabda: "Kalan apa yang kuusulkan itu akan memberi manfaat kepada mereka, boleh saia mereka memakainya sebab aku hanya mengira-ngira saja dan janganlah kamu menyalahkan aku karena perkiraanku. Akan tetapi kalau aku menceritakan kamu suatu perkara tentang agama Allah, maka hendaklah kamu mentaatinya, karena aku tidak akan berdusta terhadcp Allah azza wa jalla", Diriwayatkan dari Aisyah, juga dari Tsabit dan dari Anas, bahwasanya Nabi s.a.w. menemui sekelompok orang-orang yang sedang mengawinkan kurma. Rasulullah lalu bersabda: "Sekiranya mereka tidak mengerjakan itu tentu akan menjadi baik". Tetapi (dengan mengikuti anjuran Nabi) pohon itu kemudian membuahkan kurma yang jelek-jelek. Rasulullah bertemu lagi dengan mereka (Melihat kurma yang jelek-jelek itu) Rasulullah bertanya: "Mengapakah dengan pohonmu ini?" Mereka berkata: "Anda menganjurkan begini-begini, "Bersabdalah Rasulullah: "Kalian lebih mengetahui tentang urusan duniamu". Dari sini tampaknya bahwa Nabi s.a.w. tidak mengusulkan suatu cara tertentu dalam soal pengawinan, hanya Nabi s.a.w. meragukan keberha1). 200 •.... ~------------~
  • 193. Dari .segi historis nasihat yang diutarakan oleh Nabi itu dipandang sebagai suatu "Hadits" , oleh karena itu nasihat tersebut mempunyai nilai hampir mutlak dalam pandangan. kaum mufassirin dan ulama-ulama Fiqih. Sekali pun demikian kita melihat bahwa Nabi telah menghapuskan sendiri "Hadits" ini, dihadapkan oleh eksperimen seorang pemilik kebun yang sederhana, sebagai pengakuan dengan demikian atas prioritas akal pikiran dan eksperimen dalam jalannya kegiatan keduniawian. Namun kami tidak mendapatkan, satu kali pun kejadian dimana Nabi menasahkan suatu ayat AI-Qur'an dengan suatu eksperimen individu sekali pun dengan eksperimen yang ia lakukan sendiri, 2) silan pekerjaan mereka. Maka beliau mengemukakan pendapatnya itu hanya semata-mata sebagai suatu kemungkinan, bukan sebagai keharusan (untuk ditaati). Karena itu beliau, setelah menyaksikan hasilnya (yang tidak seperti yang diharapkaD) mengatakan dalam riwayat pertama: "Aku hanya memperkirakan saja" dan dalam riwayat kedua: "Kamu lebih mengetahui tentang uruaan duniamu". Pengarang telah memberi komentar dalam foot-note bukunya bahwasanya: "kisah pemilik kebun kurma tenebut diriwayatkan dan dua jalan yang berlain-lainan, yang pertama bersumber dan Sufyan ibnul Alb, sedang yang kedua dan Anas. Dalam Bibliografie yang sampai ke tanganku, aku tidak mendapatkan seorang sahabat Nabi, dengan nama Sufyan ibnul Ash. (Penterjemah Arab). 2). Beberapa ulama berpendapat dimungkinkannya meralat ayat AI-Qur'an dengan Hadits Rasul: Untuk itu mereka mengambil sebagai butti firman Allah s.w.t. (Yang terjemahan Indonesianya k.1.): "Dan (terhadap) para wanita yang mengeriakan perbuatan zina, datangkanlah empat orang untuk menjadi sakai. Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, malta kurunglah mereka(yakni wanita-wanita itu) dalam rumah, sampai mereka menemui ajalnya, atau sampat Allah·memberi jalan yang lain kepadanya" (Burat An N'18a ayat 15). Para ulama itu mengatakan bahwa hukum yang terdapat dalam ayat ini telah dinasahkan dengan sabda Nabi s.a.w.: "Ambillah hukum dari sku, Allah telah memberi jalan kepada mereka (wanita-wanita itu), yaitu: "Wanita janda dirajam aampai mati, dan yang muih gadis didera". Dalam soal ini terdapat pendapat-pendapat lain, yang tidak memungkinkan penasahan hukum AI·Qur'an dengan Hadits. Ada pun penasahan Hadits dengan AI·Qur'an,a.u penasahan (ayat, hukum) Al-Qur'andengan AI-Qui'an, dalam hal ini para ulama berittifak (bersesuaian faham). Pengarang berpendapat bahwa Hadits: "Ambillah hukum daripadaku datU itu, hanyalah sebagai syarah (penjelasan) terhadap ayat itu, bukan untuk menasahkannya (meralatnya). (Penterjemah Arab). 201
  • 194. Bahkan sebaliknya, beberapa kejadian dalam sejarah kehidupan Nabi memperlihatkan kepada kita berkukuhnya Nabi dengan keras dan secara mutlak kepada masalah ini tidak pemah samasekali meninggalkan suatu ayat Al-Qur'an, betapapun kerugian yang akan dideritanya. Bahkan kita menyaksikannya dengan tiba-tiba membatalkan haji, yang sudah dipersiapkan padatahun sebelumnya. Alasan satu-satunya pembatalan ini, ialah bahwa wahyu telah memerintahnya agar hajji itu dibatalkan, dan ia tunduk kepada perintah itu, sekalipun hal ini hampir-hampir mendatangkan kekacauan dalam barisan Islam 1) Dengan demikian kita dihadapkan kepada dua buah cara berpikir, yang berwujud dalam pandangan Nabi, dalam bentuk dua nilai yang berlain-lainan, yaitu cara berpikir yang bersifat pribadi, yang berpencar dati pengetahuan manusiawinya; yang kedua: wahyu AI-Qur'an yang diturunkan kepadanya. Tentu saja kami harus membahas di sini suatu situasi pemisah, lagi tepat dan jelas antara kedua dasar ini yang bersemayam dalam hati nurani Nabi s.a.w, agar dengan demikian kami dapat menambah penjelasan Fenomena AI-Qur'an. Perbedaan seperti tersebut di atas tampak pula pada para Nabi lainnya, sebagaimana kita dapat mengetahui hal ini dati pembahasan tentang keadaan Irmia. Tatkala Nabi Irmia ini melihat pada suatu hari "Hanania" yang inengaku Nabi itu mengambil posisi penentang terhadap da'wahnya, yaitu ketika Irmia sedang memasukkan ketenangan dalam hati Bani Israil terhadap apa yang telah ditakdirkan Allah atas mereka, maka ia dikejutkan oleh Hanania yang memegang 1). Perintah wahyu di sini bukanlah bentuk ayat Al-Qur'an. Wahyu yang dimaksud itu rupanya hanyalah sekedar perintah untuk mengadakan perdamaian dan bertolak kembali ke Madinah. Adalah positif bahwa Nabi memang benar-benar telah menghadapi sanggahan beberapa orang sahabatnya, seperti a.l. Umar ibnul Khattab, ketika ia berkata kepada Nabi: "Atas dasar apa kita harus mengalah dalam agama kita terhadap sanak keluarga kita itu?" Menjawablah Nabi s.a.w.: "Aku hamba Allah dan Rasul-Nya. Tidak sekali-kali aku akan menyalahi perintah-Nya, dan Dia tidak akan mengabaikan aku". Inilah yang disebutkan oleh Al-Magrlzi dalam kitabnya: "Memberi kesenangan kepada telinga" halaman 292. Dalam keterangan pengarang tidak terdapat sesuatu yang mengisyaratkan secara jelas bahwa yang dimaksud dengan wahyu di sini adalah ayat Al-Qur'an, sekalipun pemaparannya memberi kesan seolaholah wahyu yang dimaksud adalah Al-Qur'an. (Penterjemah Arab). 202 (
  • 195. kuk yang melingkari leher Irmia, Ialu Hanania mematahkan kuk itu sambil berteriak kepada Irmia: "Inilah yang difirmankan Allah: "Aku akan mematahkan begini kekuasaan raja Babil". Perkataan di atas, secara umum merupakan pendustaan yang jelas-jelas dan positif terhadap da'wah Irmia. Namun Irmia menjawab dengan sukarela: "Amin. Semoga Allah menjadikan kenyataan apa yang anda katakan itu". Profesor M.A. Lods yang membawakan fragmen ini dari "Kitab Irmia" menafsirkan hal yang aneh ini dengan mengatakan: "Irmia mengira bahwa Allah telah mencabut kembali keputusan-Nya" 1). Sudah barangtentu apa yang dikatakan Lods itu adalah penafsiran satu-satunya yang masuk di aka! untukmenghilangkan kontradiksi yang mungkin tampak pada sikap Nabi Irmia, sebab ia telah menyampaikan peringatan-peringatan pessimistisnya atas nama Tuhan, sedang ia juga telah yakin akan keharusan berdiam (tidak mengucapkan sesuatu) untuk sejenak, terhadap ramalan "Hanania", akan tetapi berdiamnya ini bukan atas dasar suatu ayat yang diwahyukan kepadanya, melainkan berdasarkan "ijtihad" pribadinya, sebab ia memperkirakan bahwa kemungkinan "Hanania" telah memperoleh wahyu dari Allah. Namun wahyu dengan segera datang kepada Irmia untuk mengoreksi perkiraan Innia itu. Maka dengan segera pula Nabi Irmia mengulangi cara da'wahnya yang sudah terbiasa itu. Peristiwa insidentil ini memisahkan dengan jelas cara berpikir orang dan wahyu yang diturunkan kepada Nabi dalam hati nurani Irmia, persis seperti anjuran Rasulullah s.a.w. (kepada pemilik kebun kurma) tersebut di atas memisahkan Hadits Nabi dati wahyu Al-Qur'an. Tambahan pula, Al-Qur'an menetapkan dalam rangka yang berhubungan dengan wahyu, hubungan antara kedua sumber itu, dalam firman Allah s.w.t. (yang terjemahan Indonesianya k.l.): •....•.... /' • "0 ", ? ,,/.'" , /' " " ~..s... .•. .•. d.J ..is' J t, l;.» I ~l 'J t, 4..Sj X ... 0'" l> Jj ~l . /' / ( (;> " . . ...• : 4..Sj.,...:J I ) '" - . . . ••. " .1" • . "/ ...,)'1 u " )'J ... ~ " l::SJ I 0 l...", " 1). Buku karangan M.A. Lads: "Para Nabi Bani Israil". 203
  • 196. "Dan demikianlah Kami mewahyukan kepadamu uiahyu (AlQur'an) denganperintah Kami Sebenarnya kamu tadinva tidaklah mengerti apakah Al-Kitab. (AI-Qur'an) dan tidak pula mengetahui: apakah iman itu dst. (Surat Asy-Syura' ayat 52). Firman Allah "Dan tadinya kamu tidak mengetahui.. " artinya sebelum gua Him, sebab Nabi pada waktu itu, tidak ada padanya selain pengetahuan yang bersifat pribadi, yaitu pengetahuan sebagai yang tampak pada kami, tidak mempunyai sedikitpun kaitan dengan wahyu Al-Qur'an, apabila kita teliti ayat tersebut makna historisnya. Ayat tersebut menetapkan secara kebetulan, tetapi dengan cara yang jelas, sumber wahyu AlQur'an setelah gua Hira, dan bagaimana pun jua, tidak sebelum pewahyuan AI-Qur'an) yang diambil dari firman Allah s.w.t. pada ayat tersebut di atas, yakni yang berbunyi: "Kami mewahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur'an), Noktah (point) ini positif secara historis, sebab ayat yang kami jadikan pembahasan ini, telah meliwati kesadaran Nabi, lagi pula telah menjadi sasaran pertimbangan subyektifnya yang kritis yang cakap benar dalam mengadakan pemisahan (antara Hadits) dan wahyu yang diperlukan bagi keyakinan pribadi khasnya. Tambahan lagi, Al-Qur'an selalu dengan teguhnya mengingatkan Nabi dan menegaskan soal pemisahan itu dalam banyak ayat. Berikut kami bawakan satu ayat yang menyampaikan kepada hal, sama seperti yang disampaikan oleh ayat pertama. Ayat yang dimaksud ialah firman Allah s.w.t.: ({Al~~l) "Dan kamu tidak pemah membaca sebelumnya (AI-Qur'an) BeBuatu Kitab pun; dan kamu tidak pemah menulis Buatu Kitab dengan tangan kananmu". (Surat Al-Ankabut: ayat 48). Jadi sejarah wahyu Al-Qur'an, berawal sesudah turunnya Al-Qur'an, dan tidak sebelumnya: Inilah yang diisyaratkan oleh ayat tersebut secara jelas. Adapun ditinjau dari segi psikologis yang berkaitan dengan kesadaran Nabi s.a.w, maka ayat ini memperkuat ayat yang pertama dalam soal pemisahan sunnat (Hadits) Nabi s.a.w. dari wahyu Al-Qur'an. 204
  • 197. Dan AI-Qur'an sesungguhnya sangat menekankan noktah ini, sebagaimana kita dapat mengetahuinya dari ayat berikut ini: .""' ..•. /.-0 ~ t. ~ yl "O ~"'''/ 04 ~ ~ - ~..if ./ .s.b) "Demikianlah Kami kisahkan kepadamu sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (AI-Qur'an)". (Surat Thaha ayat 99). Dalam beberapa ayat lain tampaknya seolah-olah AI-Qur'an mengisyaratkan kepada suatu penentuan yang jelas mengenai suatu maksud daripada wahyu tentang suatu noktah tertentu, seolah-olah AI-Qur'an berkehendak menjadikan hati dan perhatian Nabi tertarik kepada hal-hal yang masih belum pemah diwahyukan kepadanya, atau tidak akan diturunkan wahyu kepadanya. Berikut ini, sebagai misal firman Allah s.w.t.: r-r-:-J ~ (VA : 04j.J1 ) .,. '" ",./" "'. // ~::,. /' .~ ~ • ./ 0/. """" ~; ~ ""."'./ /.// )IE ~ ."''''", )I •.••• W-"'.J I ..ill J ) •. ~ '0/./ ", ~ 0- "Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang Rasul sebelum hamu. Diantara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan dian tara mereka ada pula yang tidak Kami ceritakan kepa(Surat AI-Mukmin ayat 78). Di dalam ayat tersebut di atas wahyu AI-Qur'an berjalan tidak saja lebih jauh daripada cara berpikir Nabi Muhammad s.a.w., melainkan juga lebih daripada yang telah diwahyukan kepadanya. damu " Kami dapat membawakan banyak ayat, terutama ayat sebagai berikut: 205
  • 198. "Dan tanyakanlah kepada Rasul-rasul yang telah Kami utus sebelum hamu. Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah, selain Allah Yang Maha Pemurah? (Surat Az-Zukhruf ayat 45). Ayat tersebut bertendenskan makna yang sama. Terkadang pemisahan antara cara berpikir Nabi dan alam pikiran AI-Qur'an dibawakan oleh Al-Qur'an berhubung dengan suatu peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Antara lain seperti ayat berikut ini: ., ..., • .., '" • ,. r" 1..:-;:, ~ (r· : ~) ,.,." 0 .I." ~ ",.,.. ~~..) <11'''' ~ -..... " ."." ~ ~ L:.; .,J) "Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tanda mereka ". (Surat Muhammad ayat 30). Dan akhirnya terkadang kita melihat pemisahan ini dalam pertentangan antara cara berpikir Nabi Muhammad s.a.w. dan alam pikiran Al-Qur'an, seperti misalnya berikut ini, yang akan kami analisa kelak 1). Ayat yang dimaksud ialah firman Allah .s.w.t.: ,.,~ •..... lIE 4.;.'-» t -' .. ~ d.J1 ~ -' - ~ . .. - 0' I" " -' . -' J.:.9 -' • uo -' _ ~ n . ./ "/ -' -' .I~L . ~-.; ~) u / / ) "Dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al-Qur'an sebelum disempumakan mewahyukannya kepadamu " (Surat Thaha ayat 114). Kita harus memasukkan dalam pertimbangan kita, bila kita akan membahas pemisahan ini, suatu unsur lain yang sifatnya ekstem, yang pada gilirannya memperkuat kebenaran pemisahan ini. Unsur yang dimaksud ialah unsur "Redaksi" yang 1). Bacalah bab khusus tentang ini, 206 "Kontradiksi-kontradiksi" dalam buku (Pengarang),
  • 199. khas bagi Hadits. Telah dikatakan dan itu adalah perkataan yang benar: "bahwasanya gaya bahasa seseorang, dialah orang itu sendiri". Adalah pasti bahwa Hadits-hadits Nabi dan wahyu AI-Qur'an mempertunjukkan dua gaya bahasa, dan masing-masing daripada kedua gaya bahasa itu mempunyai wataknya sendiri dan redaksi yang khas. Maka kata-kata Al-Qur'an mempunyai irama, serta nada ritmis yang dikenal oleh telinga. Ia mempunyai bentuk sturalstural (komposisi kata-kata yang tersusun harmonis), serta katakata yang khusus. Tidaklah salah atau berlebih-lebihan bila dikatakan bahwa "gaya bahasa Al-Qur'an yang mengi'-jazkan", tidak seorang pun mampu membawakan serupa Al-Qur'an. Apabila ada diriwayatkan bahwa penyair besar "Al-mutanabi" pemah mencoba dengan sia-sia .meniru gaya Al-Qur'an, maka sejarah mencatat, mengenai ini, adanya percobaan daripada kitab "Kejelasan bahasa Arab" yang ditulis oleh "Albab", namun apa yang ditulisnya itu hanyalah percobaan dan usaha yang sia-sia belaka 1). Ada pun kemudian daripada itu, tidaklah patut lagi siapa pun meragukan apa yang terkandung dalam ayat-ayat tersebut tentang pemisahan yang positif, historis dan psikologis antara cara berpikir Muhammad s.a.w, dan wahyu Al-Qur'an, yaitu pemisahan yang telah mantap dalam sanubari Nabi, maka ia menerangi sisi-sisi Fenomena Al-Qur'an. 1). Bacalah kitab "Al-Babiah dan Islam", karangan Syaikh Abdurrahman Taj. 207
  • 200. KERASULAN. 209
  • 201. KERASULAN. Adalah keharusan bagi kita, untuk tidak mengabaikan pengaruh kekuatan sihir yang dimiliki oleh kata-kata terhadap akal pikiran yang mempunyai citra descartesisme, terutama di zaman kita ini dimana cara berpikir ilmiah menempati tempat agama. Terhadap kata-kata (istilah) yang mengenakan topeng. Apabila politik hanya mengenal beberapa kata saja daripada kata-kata termaksud, maka ilmu pengetahuan mengenal sangat banyak kata-kata termaksud, maka ilmu pengetahuan mengenal sangat banyak kata-kata itu. Dan tiada seorang pun akan membayangkan kekeliruan atau kehampaan kata-kata yang diselubungi oleh topeng-topeng itu, apabila kata-kata itu mengalir dari pena yang hebat daripada seorang penulis besar, maka buku-bukunya lalu menyebar-luaskan hantu-hantunya untuk menghinggapialam pikiran, banyak orang yang mengaku dirinya orang intelektual maka kata-kata itu akan bertambah lagikedunguannya. Demikianlah maka telah menjadi umum di kalangan para cendekiawan kita bahwa para pembahas selalu mencari sumber bagi studi mereka dari penyelidikan-penyelidikan Islamologi yang dilakukan oleh penulis-penulis yang gemar menulis dalam segala topik. Maka mereka ini menempatkan suatu kata di tempatsesuatu yang benar, yang absen dari pikiran mereka, atau mereka memang tidak berusaha untuk mengetahuinya. Maka dengan cara demikian ini kita melihat bahwa: "subyek kedua" dipergunakan dalam penafsiran mereka terhadap "Fenomena Kenabian", terutama terdapat pada Irmia, yaitu suatu subyek yang lebih abstrak daripada yang mujarad, lagi pula non-indrawi dan jauh dari kemungkinan. Kesemuanya ini termasuk dalam pandangan mereka, sebagai sumber bagi pengetahuan tentang subyek indrawi yang asli, Pikiran yang aneh ini mengingatkan kami, dari dekat kepada pikiran yang memperoleh penghargaan di kalangan para ahli nujum, yaitu pikiran "Idealisme astrologis" 1). 1). Idealisme astrologis diambil dari pikiran Plato tentang: /'Alam ideal" dan "Alam image". akan tetapi dalam bentuk lain yang sesuai dengan alam pikiran para ahli nujum. (Penterjemah Arab). 210
  • 202. Namun kata-kata yang laksana sihir ini, mempunyai pengaruh yang sangat efektif terhadap aka! pikiran, menyerupai daya tarik lukisan-lukisan dan gambar-gambardalam pandangan anakanak keeil. Adalah maklum bahwa orang yang penuh kepereayaan mengenai bobot beberapa penulis dan pengarang, tidak lagi akan menyelidiki bobot kata yang diueapkan (ditulis) dibandingkan dengan pikiran yang mengekspressikan. Termasuk dalam katagori ini: kata "di luar kesadaran". Kata ini telah memainkan, di bawah kesutradaraan pena-pena para penulis itu, peranan teoritis umum dalam menafsirkan: "Fen omena AI-Qur'an. Apabila kita ingin mengetahui arti istilah ini, dalam teoriteori ilmu psikologi, kita mendapatnya sangat gelap (tidak jelas samasekali artinya). Istilah itu tidak mengartikan sesuatu yang jelas batas-batasnya, seperti umpamanya istilah-istilah lain yang terkenal, seumpama istilah: "Ingatan" dan istilah "Kehendak" . Sesungguhnya teori "di luar kesadaran" masih pada stadium pertumbuhan. Sekalipun demikian mereka telah mempergunakannya untuk menafsirkan kepada kita, sebagai yang mereka katakan, Fenomena AI-Qur'an dengan metode obyektif . . Adalah sukar sekali bagi kita untuk yakin, bahwa para pengarang itu telah bersusah payah,sekalipun hanya sedikit, untuk beruaaha memahami obyek tersebut. Adapun yang tidak diragukan lagi, ialah bahwa diri insani mengandung ruang tertentu, yang' di dalamnya terbentuk fenomena-fenomena psikologis yang gelap, yang tidak tunduk kepada kekuasaan kesadaran, seperti mimpi umpamanya. Ruang gelap ini yang di dalamnya bergema beberapa kejadian yang dialami dalam kehidupan psikologis sadar pada setiapindividu, hal mana mempunyai .kaitan erat, !agi jelas dengan keadaan keadaan yang dialami dalam kesadaran. Bila kami kehendaki kami dapat memberi nama "di luar kesadaran" kepada ruang gelap ini semua. Dan segabl sesuatu yang dikerjakan yang terjadi di 'dalam ruang ini adalah bentuk-bentuk "Yang telah dimodifikasi" khusus, daripada pikiran atau kejadian yang dialami oleh kesadaran; lalu "luar kesadaran" menyerap 'unsur-unsur hasil produksi kesadaran ini, dan disimpannya dalam khayalnya, untuk 211
  • 203. secara lazimnya diubah menjadi rumus-runius menjadi bentuk- • bentuk mimpi, menjadidialog dalam diri sendiri dan menjadi ilham. Akan tetapi rumus-rumus dan kesemuanya itu, tetap memiliki pertanda pikiran atau kejadian, yang daripadanya rumus-rumus itu berasal. Sudah barangtentu hubungan ini berbeda-beda dalam hal gelapnya, namun analisa mungkin mengungkapnya, sebab adalah mungkin untuk menemukan dalam mimpi biasa atau mimpi yang menakutkan, jalan yang diikuti oleh "luar kesadaran" dalam mengolah rumusnya, dengan kembali kepada peristiwa yang lalu yang menjadi sebab baginya yaitu umpamanya suatu peristiwa yang dialami indria, atau kenang-kenangan yang kejam, atau disebabkan oleh pekerjaan pencernaan mudah atau susah dan lain sebagainya. Keadaan ..luar kesadaran" di sini bekerja sebagai penyalur listrik dalam hubungan dengan pembangkit listrik, yang dalam hal ini "kesadaran" itu sendiri. Maka berdasarkan situasi yang terakhir ini, kita harus selalu mencari sumber dari aktivitas-aktivitas psik~Iogis yang mereka Iukiskan dengan nama "Iuar kesadaran". Maka apabila terbukti jelas bahwa suatu pikiran mana saja secara mutlak tidak tunduk kepada subyek yang berkesadaran, maka dapatlah kiranya kita memahami dari hal ini, bahwa pikiran atau ide itu pasti asing dari subyek tersebut di atas, bahwa pikiran atau ide itu tidak mempunyai tempat dalam ruang "Iuar kesadaran". lnilah prinsip bagi suatu kritik yang kami akan menjadikannya di sini landasan bagi studi tentang wahyu AI-Qur'an. 212
  • 204. CIRI-CIRI KHAS DAR I PAD A TURUNNYA TAHAP. LAHIRIAH WAH Y U. WAHYU SECARA BER-' K E SAT U A N - K WAN TIT A T I F. CONTOH RIA TAN. ATAS KESATUAN CONTOH TORIS. ATAS KESATUAN LUKISAN SASTRAWI K AND UN G A N HUBUNGAN DAN KITAB PENSYAHIS- AL-QUR'AN. R I S·A L AT. ANTARA SUCI. AL-QUR'AN METAFISIKA. KEAKHIRATAN. ALAM WUJUD. ETlkA. KESOSIALAN. SEJARAH KEESAAN TUHAN. 213
  • 205. Ciri-cirikhas lahiriah daripada wahyu. Wahyu dalam statusnya sebagai suatu fenomena yang membentang dalam batas-batas waktu, membedakan diri dengan dua eiri khas lahiriah yang penting, terlepas daripada pembawaan yang ada dalam dirinya dan daripada faktor psikologisnya yang menelusuri pribadi Muhammad s.a.w. Kedua eiri khas termaksud ialah: 1). Turunnya wahyu sebagian-sebagian. 2). Kesatuan kwantitas. Turunnya wahyu sebagian-sebagian. Wahyu dalam keseluruhan tanzilnya meliputi waktu selama duapuluh tiga tahun. Maka ia tidak merupakan suatu fenomena insidentil atau hanya untuk sebentar waktu saja. Ayat-ayat AlQur'an telah turun secara sebagian-sebagian. Antara turunnya wahyu yang satu dengan yang lain terdapat jarak waktu kekosongan yang panjang pendeknya berbeda-beda. Ada kalanya wahyu itu berhenti (tidak turun) untuk masa waktu yang lebih panjang daripada yang dinantikan oleh Nabi, terutama tatkala ia harus mengambil suatu keputusan, yang ia anggap bahwa seharusnya ia tidak mengeluarkan keputusan itu, sebelum memperoleh pengesahan dari wahyu yang akan turun. Bukti yang paling jelas atas hal ini ialah sikapnya terhadap Hijrah. Sahabat-sahabatnya telah meninggalkan Makkah, membawa keyakinan agama mereka, sedang Nabi dalam hal yang mengenai dirinya, masih harus menanti perintah yang jelas dari wahyu. Contoh lain, yaitu ketika Nabi, sehubungan dengan dirinya, harus mengambil suatu keputusan mengenai suatu peristiwa yang membingungkan dan yang menimbulkan kebimbangan, sedang ia menanti dengan tidak sabar, laksana orang yang duduk di atas bara api, wahyu Allah yang memberi keputusan definitif. Hal semaeam ini telah dialami Nabi s.a.w, yang mendatangkan kebingungan kepadanya yakni dalam peristiwa "lfak" (berita bohong yang tidak diputuskan oleh wahyu sebelum berlalu sebulan lamanya 1). sejak ia menanti dalam keadaan hati gelisah. 1). 214 Demikianlah tersebut dalam sebuah Hadits dari Aisyah r.a, dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
  • 206. Peristiwa tersebut tampak pada lahirnya menimbulkan keadaan yang sulit lagi rumit, yang dengan cepatnya dipergunakan oleh orang-orang pengejek dan pencemooh untuk melemparkan celaan yang menyakitkan hati kepada Nabi s.a.w. dengan mengambil kesempatan keadaan dimana Nabi berada itu, Nabi s.a.w. terkadang menderita karenanya. Berdasarkan hal di atas, apa pun hipotesa yang dibuat tentang pembawaan (watak) Al-Qur'an, namun ada suatu pertanyaan besar sekeliling soal cara Al-Qur'an diturunkan. Pertanyaan itu ialah: "Tidakkah mungkin genialitas insani ini tidak turun sekaligus seutuhnya, yang mungkin sudah direncanakan olehnya? 1). Akan tetapi kita dengan kembali kepada waktu, dapat menetapkan pentingnya turunnya Al-Qur'an sebagian-sebagian, suatu cara yang unik bagi wahyu Al-Qur'an cara yang sangat penting bagi berhasilnya da'wah. Sebab, bila tidak demikian, dengan dalih apa, ditinjau dari segi historis sosial dan moril, kita akan menafsirkan suatu Kitab Al-Qur'an yang turun seolah-olah kilat, yang hanya datang sekejap, dalam kegelapan jahiliah? Lagi pula apa artinya ini, dari segi sejarah Nabi, kalau Nabi menerima wahyu secara keseluruhan dan tiba-tiba, sekiranya ia menerima wahyu itu sebagai suatu dokumen, yakni semacam surat-surat kepercayaan di kalangan manusia? Harapan apa yang mung kin ia mencarinya dari wahyu dekat sebelum perang Hadar umpamanya, sekiranya ia, daripada menanti-nanti datangnya bantuan dalam bentuk barisan Malaikat, ia hanya mengulang-ulangi saja membaca ayat yang sebelumnya ia sudah hafalkan di luar dada? Pembahasan masalah turunnya wahyu dengan bertahap, di bawah sorotan pandangan-pandangan ini, kami dapat mengetahui nilai pedagogiknya secara prinsipal. Hal ini pada hakekatnya adalah metode pedagogik satusatunya yang mungkin dilakukan dalam suatu era yang ditandai dengan lahirnya suatu agama dan terbitnya suatu kebudayaan. 1). Ini adalah pertanyaan yang tidak percaya, yang diperkirakan diucapkan oleh orang-orang 215
  • 207. Dan wahyu Al-Qur'an, akan memimpin perjalanan Nabi dan para sahabatnya selama duapuluh tiga tahun selangkah demi selangkah menuju sasaran jauh, sedang wahyu Al-Qur'an menjaga mereka setiap detik dengan inayat Ilahi yang disesuaikan dengan keadaan. Maka untuk ini wahyu memperkuat potensipotensibesar mereka kepada arab epos yang unik di dalam sejarah. Maka wahyu memuliakan matinya seorang syahid di medan peperangan, atau tewasnya sebagai syahid seorang pahlawan. BagaimanaAl-Qur'an dapat menunaikan peranannya terhadap tabiat pembawaan manusia, yang justru Al-Qur'an datang untuk memberi bentuk kepada watak insani pada zaman itu, sekiranya wahyu itu dengan nuzulnya (secara keseluruhan) mendahului peristiwa-peristiwa Hunain dan Uhud? Dan apa jadinya dengan wahyu Al-Qur'an, sekiranya ia tidak membawakan hiburan hati dengan wahyu Al-Qur'an, sekiranya ia tidak membawakan hiburan hati dengan segera kepada setiap penderitaan atau sekiranya ia tidak turun untuk menganugerahi ganjaran kepada setiap pengorbanan, dan tidak memberikan harapan bagi setiap kekalahan, serta tidak memberi, bagi setiap kemenangan pelajaran tentang rendah diri, dan apa jadinya sekiranya ia bagi setiap hambatan tidak memberikan anjuran daya-upaya apa yang harus dilakukan, sedang untuk setiap bahaya moril atau material atau pun spirituil tidak memberikan semangat yang diperlukan untuk menghadapinya? Setiap kali Islam melebarkan sayapnya di dataran-dataran tinggi daerah Najd dan Hijaz, wahyu Al-Qur'an turun membawakan pelajaran yang diperlukan mengenai kegiatan, kesabaran keberanian, dan keikhlasan yang difahami denganpandai oleh pahlawan-pahlawan legendaris dan pahlawan-pahlawan epos yang luar biasa itu. Apakah pelajaran yang diberikan oleh Al-Qur'an itu akan dapat menemukan jalannya menembus kalbu dan hati nurani mereka, sekiranya wahyu itu tidak turun menurut apa yang dipercontohkan oleh kehidupan itu sendiri, dan menurut realitas yang mengelilingimereka? Sekiranya Al-Qur'an turun sekaligus secara keseluruhan, niscaya ia akan cepat berubah menjadi kalimat sud tidak bernyawa, akan berubah menjadi pikiran mati, atau menjadi sekedar dokumen keagamaan dan bukan sebagai sumber yang membangkitkan kehidupan dalam kebudayaan yang baru tumbuh. 216
  • 208. Maka gerakan historis, sosial dan spiritual yang dibangkitkan oleh Islam, rahasianya hanyalah pada turunnya wahyu A1-Qur'an secara sabagian-sebagian. A1-Qur'an menonjolkan eiri khas yang tersembunyi ini seraya berkata-kata kepada Nabi s.a.w. dengan firman Allah s.w.t. (yang terjemahan Indonesianya k.l.): "" /' ,/ ~ ..l>- ~./ • .J G' ~ 9"- ~ •• ~):;,J I ./ ::;-. (i":0L9.;ilI) •..... • ...•../ ~ ,/ ,/ .,::::- '/....../ / ,,/..... ~..Y "U;;; ,,/ .;' J;; 1 ~ Y Gfi .•.• ..... '" ~.JIY ,., 0 .•.. ",.,; ~ 1/ •••.. - 0:..i.J I ~ ./ " .•... ./ .••. ..- J L9 J /" ,/" clJ.if ." "Berkatalah orang-orang yang hafir: Mengapa AI-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja. Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya, pula supaya Aku memantapkan bacaannya". Maka turunnya Al-Qur'an sebagian-sebagian, yang dalam anggapan kaum jahiliah dipandang sebagai suatu kekurangan yang tidak lumrah, nampak jelas kepada kami dengan kembali menelusuri zaman dan kejadian-kejadian, bahwa hal itu merupakan syarat asasi dan wajib bagi kemenangan da'wah Nabi Muhammad s.a.w. . Dan tidaklah sukar bagi kami untuk menemukan dalam metode paedagogik ini, yang membangkitkan ejekan dan eemoohan kaum jahiliah, sedang kritik naif pada zaman kita telah menyimpang dari kebenaran, tidak sukar untuk menemukan dalam metode pedagogik ini watak khas daripada Ilmu Ilahi Yang Maha Tinggi, yang telah mendiktekan "Kalimatullah" dengan jalan turunnya wahyu sebagian-sebagian. Kesatuan kwantitatif. Wahyu AI-Qur'an adalah suatu fenomena yang diturunkan sebagian-sebagian. Maka wahyu pada dasarnya terbagi-bagi (terpeeah-peeah) sebagaimana halnya dengan kesatuan bilangan, yakni wahyu itu terdiri dari kesatuan-kesatuan yang berturutturut, yaitu yang disebut "ayat-ayat". Ciri khas ini mengintuisikan kami kepada ide kesatuan kwantitatif. Maka setiap wahyu berdiri sendiri, menghimpunkan suatu kesatuan baru kepada 217
  • 209. kumpulan AI-Qur'an (yang sudah turun). Nama kesatuan AIQUI'an ini tidak mutlak, sebab ia tidak sama dengan kesatuan yang menambah besamya kumpulan bilangan, seperti kalau umpamanya satu ditambahkan kepada tiga, atau kepada empat, atau kepada lima untuk menghasilkan kesatuan bilangan berikutnya. Wahyu mempunyai ukuran yang berubah-ubah, yaitu volumenya (kwantumnya) atau luasnya. Keluasannya berkisar antara yang paling pendek, yaitu yang berupa "ayat" dan yang paling panjang, yaitu surat. Merenungkan kesatuan ini, memberi kami kesempatan bagi beberapa konstatasi yang bermanfaat mengenai hubungan antara diri pribadi Muhammad s.a.w, danfenomena AI-Qur'an, karena ia bersesuaian, mengenai faktor waktu, dengan keadaan khas, yangkami beri nama: "keadaan menerima daripada Nabi s.a.w.". Kita telah melihat, secara khusus, bahwa daya simanya (lenyap) untuk sementara, sebab ia tidak berdaya pada momentum itu untuk menutup wajahnya. Yang pada saat itu kemerahmerahan, dan bercucuran peluh. Lalu dari pribadiyang lemah tak berdaya ini secara tiba-tiba, untuk beberapa detik saja, keluarlah kesatuan tanzil wahyu, dan dalam pribadi yang tenggelam dalam keadaan hampir di luar kesadaran ini, wahyu secara tiba-tiba merekam kelompok-kelompok kalimat singkatnya. Itulah kesatuan fenomena AI-Qur'an dari segi kwantitas, dan inilah yang kami pelajari, sehubungan dengan diri pribadi yang lemah tak berdaya untuk sementara ini, yaitu dialah "Pembawa Wahyu" itu. Kesatuan ini membawa dengan sendirinya satu pikiran, dan terkadang kumpulan pikiran-pikiran yang tersusun dalam suatu pya yang logis, memberi kita kemungkinan untuk mengkonstatimya dalam ayat-ayat AI-QUI'an. Mempelajari pikiranpikiran ini sendiri, dan dalam hubungannya dengan sisa matamata rantai, akan mengungkapkan suatu potensi pencipta dan pengatur, tidak mungkin bagi pribadi Muhammad untuk masuk di dalamnya, dalam situasi psikologis yang khusus bagi keadaan penerima wahyu, bahkan sekalipun dalam keadaannya yang biasa, dengan syarat kita menerima baik hasil-hasil ukuran pertama itu. 218
  • 210. Dan sungguh! Apa yang anda katakan tentang suatu pikiran pada seseorang yang tidak pemah memikirkannya dan tidak pula mungkin baginya untuk memikirkannya dalam keadaan khusus yang dideritanya? Dan apa yang anda katakan tentang irama yang berkaitan dengan ajaran-ajaran yang dibawakan oleh pikiran ini sedang irama itu tidak terbina atas kehendak dan pemikiran teratur? Adalah jelas bahwa kita tidak mungkin membayangkan hal itu pada penglihatan pertama. Tambahan pula, sekiranya kita memperkirakan bahwa pemikiran itu dapat terjadi secara di luar kesadaran dan di luar kemauan pada seseorang, maka Nabi, sekalipun demikian, tidak akan mempunyaicukup waktu, yang bersifat materiel, untuk memikirkan dan menyusun ajaranajarannya pada waktu yang sangat singkat sesaat datangnya wahyu itu. Dan kita akan lihat, bahwa ajaran-ajaran ini kadang-kadang memanifestasikan pikiran-pikiran samasekali di luar batas pikiran pada masa Nabi itu, bahkan tidak mungkin terlintas dalam pikiran insani. Untuk itu kami akan bawakan contoh-contoh dalam bab: "Obyek-obyek dan peristiwa-peristiwa dalam AIQur'an. Akan tetapi sekarang kami akan membuat ukuran untuk menentukan kaitan kesatuan wahyu dengan diri Muhammad s.a.w. Dengan menyesal, kami tidak yakin sepenuhnya bahwa contoh-contoh yang kami pelajari, telah dengan tepat menggambarkan kesatuan atau bagian dari kesatuan ini. Namun kiranya dapat kami mengambil intisari dari kesulitan ini, kalau kami menjadikan sebagai kesatuan tanzil (wahyu) itu, kumpulan ayat-ayat yang berurut-urutan yang mengambil bagian dalam melengkapkan satu pikiran. Bilangannya mungkin turun sampai bilangan yang paling kecil, yaitu hanya satu ayat, dan mungkin naik sampai bilangan yang paling besar dalam bentuk suatu surat lengkap. Contoh atas kesatuan pensyariatan (perundang-undangan) Surat An-Nisa mengetangahkan kepada kita suatu modal perundang-undangan mengenai undang-undanghal-ikhwal kepribadian. Pikiran pensyariatan yang akan kami bahas, dengan 219
  • 211. lengkap tersimpul dalam ayat-ayat 22-25 surat tersebut. Dan bukanlah mustahil bahwa ayat-ayat tersebut diturunkan semuanya, sekali wahyu. Namun kami, dengan berlebih-Iebihan dalam menjaga ketepatannya, kami tidak akan membahas di sini kecuali ayat 23 saja, yakni firman Allah s.w.t.: .-,., ./ // • .", o ~ /,//,/ '~J//'/ 0' ,//~ /,,/ •. ", • ~)UI f-=~I) • .1 o~, .,,/// ~),I ""> "'. ~~) . "//.P",,,'//;" ". J' ~.J~5u' ., . (, P ",/ - ~~ ,/ ~ ",'/ /-~ .' c.~)L; ? lIE 0 ,/ ~.,,, G~ / ( ~" • ~ .., . .",. ~"r Q./ ." .1'/// f-=),l>-) ""././ < :~...b.;I r-" ", ,...,."",/ HLJJ rS~y:.>~ '-i)U1 ././ ~/~.J r;, ~; • _,)1////.' .~,. WI) (,<:)l.al ~ t.,,// I ';; « -:~ I ) /1 "'. / ., / ../ . /',/ .,,/ . ./. ~ .Je""" t-)'I ~~) « ~ l-.; ~~ I) ;' Lo) 4>. r-;; /' .,.// • f-=~l P f-=~l) f-=~) ~G) "',. ••••. ~ ",..-:.,'*/ .'" ., -;,. , ~,/" ~..ill ' ,. "", <~~l r-; • .;..... ~).>.; ./ ~ • "' • .1 wf cJJl ~~ .....;J...., .J.i l.)'j ~),1 • / : " L...:JI "Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-Iaki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusukan kamu, saudara-saudaramu perempuan sepesusuan, ibu-ibu isterimu (mertua), anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang kamu campuri; tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan kamu sudah ceraikan) maka tidak berdosa kamu mengatuininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu) dan menghimpunkan (dalam perhauiinan} dua perempuan yang bersaudara kecuali yang telah terjadi pada masa lampau, sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang". 220
  • 212. Yang tersebut di atas adalah nas fundamental, menetapkan dalam satu napas daripada wahyu itu undang-undang perkawinan dengan segala pendetailannya, serta syarat-syarat hukumnya yang diperlukan undang-undang ini mengatur dalam sesuatu bentuk, wanita-wanita yang muhrim yang terlarang kawin dengan mereka, undang-undang mana meliputi dua hukum esensial, yaitu pendetailan seeara menyeluruh dan pembatasan sempuma bagi hal-hal yang tersebut, serta mengatur komposisinya dalam suatu urutan yang Iogis, Berdiktumnya kepadanya, yang jelas itu membawa keharusan timbulnya kekeliruan dalam psikologis dan temporal, yang bertentangan dengan eiri-eiri khas wahyu. Pada hakekatnya Nabi tidak pernah memikirkan tentang hal-hal tersebut, dan tidak pula menyusunnya, sedang pendiskusian nas tersebut menunjukkan kepada kita diktum hal-hal yang diharamkan untuk dikawini itu, berdasarkan hubungan kekerabatan dalam lingkungan famili (sanak keluarga), serta uruturutan yang menurun: yaitu: ibu, anak, saudara perempuan, anak perempuan saudara laki-laki dan anak perempuan saudara perempuan, yang kesemuanya masuk dalam kekerabatan langsung, sedang ibu yang menyusui dan saudara-saudara sepesusuan masuk dalam kekerabatan karena penyusuan. Seseorang tidak diperkenankan mengawini ibu isterinya, atau anak perempuan isterinya, atau saudara perempuan dati isteri. Maka hal-hal yang terakhir ini diukur berdasarkan hubungan keluarga dati si isteri. Kita dapat mengkonstatir juga daripada diktum tersebut keafdolan ikatan lelaki di atas ikatan perempuan. Maka anak perempuan dati saudara perempuan, dan kekerabatan yang berhubungan dengan suami disebutkan sebelum kekerabatan yang berhubungan dengan isteri, dengan mendahulukan di dalamnya ikatan kepriaan. Karena kita telah menyetujui bahwa Nabi s.a.w. tidak mengumpulkan sendiri susunan wanita-wanita yang dilarang untuk dikawini itu sebelum turunya wahyu mengenai hal tersebut , sedang ia tidak mungkin menyusunnya pada saat turunnya wahyu yang hanya memakan waktu sekejap itu, karena hal itu bertentangan dengan keadaan dimana ia berada pada waktu menerima wahyu itu dan bertentangan pula dengan hasil-hasil ukuran pertama, maka persoalannya akan tetap tergantung apakah harus menafsirkannya sesuai menurut metode descartisisme. 221
  • 213. Maka kami terpaksa sekali lagi untuk mencari penafsiran fenomena ini di luar "scope" iersebut. Contoh tentang kesatuan Historis. Contoh ini diberikan oleh ayat berikut ini: (' :u.,.uWI 1. Apabila orang-orang munafik datang hepadamu, 2. -mereha berhata: "Kami mengakui bahwa Besungguhnya anda benar-benar Rasul Allah". 3. Dan Allah mengetahui bahuia sesungguhnya engkau benarbenar Rasul-Nya. 4. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. (Surat Al-Munafiqun ayat 1). Inilah nas yang kami akan bahas, dan sengaja kami beri nomor dan membaginya empat bagian, dengan tujuan dipelajari, dati bagian-bagian itu susunan anak-anak kalimat (yang membentuk ayat tersebut). Sentuhan kronologis pada ayat terse but tampak dalam anak kalimat pertama, yang melukiskan kepada kita suatu peristiwa biasa, yakni kehadiran orang-orang munafik di hadapan Nabi s.a.w. Anak kalimat ini memang tepat pada tempatnya, karena sasaran pertama-tama dati ayat ini ialah melukiskan kepada kita kekhianatan dan kedustaan orang-orang munafik, maka 222
  • 214. sudah menjadi keharusan bahwa kita diberi lukisan, untuk menggaris Iingkari peristiwa itu yaitu kehadiran orang-orang dalam majIis Nabi. Adapun pikiran-pikiran berikutnya bagi peristiwa itu, maka ia harus datang menurut sistem yang wajar, sesuai dengan tingkat kepentingannya, yakni berpindah dari pikiran pokok ke pikiran sekunder terutama dalam gaya bahasa percakapan sebagai yang sudah menjadi cara bagi AlQur'an. Maka pikiran pokok di sini ialah mengumumkan hianatan orang-orang munafik dan kedustaan mereka. peng- Maka kalau kita trapkan konstatasi ini pada urutan-urutan pikiran-pikiran ayat tersebut, maka menjadi, sebagai berikut: 1). Apabila orang-orang munafik datang kepadamu. 2). "Kami mengakui bahwa sesungguhnya Rasul Allah". anda benar-benar 3). Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya engkau benarbenar Rasul-Nya. 4). Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya munafik benar-benar orang pendusta. orang-orang Dengan susunan sebagaimana di atas, ayat terse but dengan tepat telah menjadi lengkap, dan susunan dengan susunan kalimat-kaIimat dalam bahasa Arab, terkecuaIi yang menyangkut pemutar-bale{an tempat yang terjadi pada kalimat No. 3 dan kaIimat No.4. Dengan demikian kami mengembalikan ayat itu kepada urut-urutannya yang wajar. Namun dengan demikian kami dapat mengkonstatir dalam irama barunya (yang kami buat) akan menjadi sasaran kritik dalam lubuk hatinya, sebab dengan demikian ayat tersebut akan menjadi argumen serius terhadap nilai yang tinggi dan wahyu itu, karena pengertian daripada anak No.4 dalam susunan ayat yang baru (yang kami buat itu) dalam keseluruhannya sudah menjadi pendustaan, bukan terhadap pengkhianatan orang-orang munafik, melainkan terhadap pengakuan kesaksian mereka bahwa Nabi benar-benar . Rasul Allah. Maka di dalam urut-urutan yang dibuat AL-Qur'an mengenai cara-cara berpikir terdapat keteIitian yang mengagumkan, sebab anak kalimat sekunder, yaitu anak kalimat nomor tiga, pertama-tama mempositifkan kebenaran kerasulan Nabi, yaitu sebagai yang diakui oleh orang-orang munafik, sebelum mengumumkan kedustaan mereka, yang tersebut dalam anak kalimat pokok, yaitu anak kaIimat No.4. Urut-urutan 223
  • 215. yang sangat teliti ini, yang menonjol dengan pemikiran yang dalam serta keawasan yang tajam bertentangan, sebagai yang kami harus ulangi, dengan situasi psikologis dan kronologis yang "kesatuan kwantitatif" daripada Al-Qur'an bergemilang da1am hal itu, sehingga kesatuan kwantitatif" ini seolah-olah kilat yang mengkilap sekejap. Urut-urutan yang dibuat oleh Al-Qur'an itu bertentangan juga dengan pembicaraan yang tanpa persiapan dan dengan sepontanitas daripada gaya Al-Qur'an dalam hubungan ini menjadi kewajiban kami untuk menyatakan kepada pembaca, bahwa percakapan Al-Qur'an, ditinjau dari segi bentuk, dipandang sebab percakapan lisan, yang tidak mendapatkan waktu secara material, yang cukup untuk membuat ketelitian yang legis, seperti yang bisa kita dapatkan dalam gaya bahasa tertulis. Orang yang sedang bercakap-eakap tidak mempunyai waktu cukup untuk "memutar lidahnya dalam mulutnya tujuh kali". Adalah kenyataan bahwa gayabahasa lisan (percakapan) pada umumnya mengalami "slip of the tongue", atau membuat kekeliruan. Sebaliknya dengan gaya bahasa tulis, jarang terjadi padanya kekeliruan-kekeliruan ilmiah, sebab si penulis mempunyai kesempatan cukup untuk memasukkan penanya ke dalam tempat tinta tujuh kali, yakni mempunyai cukup kesempatan untuk memikir dan mengolah, sebelum menulis pikirannya atau idenya di atas kertas. Maka pembahasan mengenai kesatuan kwantitatif, yaitu cahaya kilat yang sekejap mata saja dari wahyu itu menonjolkan dalam ayat-ayat Al-Qur'an bukti-bukti penataan sistematik, pemikiran dan kehendak yang tidak memberi kemampuan (kepada siapapun) untuk menafsirkannya dalam batas-batas pengetahuan historis dan psikologis yang kami telah pastikan bagi diri Muhammad s.a.w. Lukisan sastrawi AI-Qur'an. Sisi sastrawi Risalat (wahyu), yaitu yang dalam pandangan kaum mufassirin tradisional, selalu menjadi obyek studi pertama, sebagian kepentingannya hilang sedikit demi sedikit dalam 224 •
  • 216. zaman kita ini yang memperhatikan ilmu pengetahuan lebih banyak daripada perhatiannya kepada soal-soal sastra. 1). Sungguh kekurangan kita menguasai kefasihan bahasa Arab pra Islam, tidak memungkinkan kita, dengan didasarkan kepada pengetahuan, untuk memberi penentuan tentang ketinggian gaya bahasa Al-Qur'an sekalipun demikian, ada suatu ayat yang layak mendapatkan perhatian kita, ayat ini memberi kita, dalam soal ini, pengetahuan historis yang amat penting sekali, . sebab Al-Qur'an menekankan dengan jelas ketinggian dan keluhuran ini, yang dimaksudkan untuk melemahkan genialitas sastrawipada zaman turunnya. Maka Al-Qur'an melemparkan ke wajah orang-orang sezamannya tantangan yang mengagumkan ini: "Dan jika kamu tetap dalam heraguan tentang AI-Qur'an yang Kami wahyukan hepada hamba Kami, buatlah satu surat (saja) yang semisal AI-Qur'an itu, dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang memang benar". (Surat Al-Baqarah ayat 23). Dan sejarah tidak menyebutkan bahwa ada seseorang yang menjawab tantangan ini. Maka dengan ini kami dapat mengambil kesimpulan bahwa tantangan AI-Qur'an tetap tidak memperoleh jawaban, dan bahwa "I'jaz" sastrawinya benar-benar menundukkan genialitas kefasihan bahasa zaman itu. Akan tetapi kami, khusus bagi pembahasan kami ini, mempunyai jalan-jalan lain untuk mengeluarkan penentuan mengenai ciri khas dari masalah itu. Jiwa Badui adalah periang pada dasarnya. Semua aspirasipya, emosinya dan nafsunya hanya tampak jelas dalam bentuk 1). Kami telah menerangkan sebab-sebab bab "gerbang masuk ke studi". daripada hal tersebut dalam 225
  • 217. manifestasi yang berirama akan menjadi ukurannya onta. Bahkan ilmu matra adalah bersifat kebaduian: lihat pada syair. dan bersajak, yaitu bait syair yang adalah langkah cepat dan panjang (syair-menyair) sendiri pada intinya Jadi watak genialitas badui telah ter- Bahasa yang merdu ini yang di sela-selanya mengumandangkan suara ringkikan kuda, dan berdesir di sisi-sisinya gemerincing pedang-pedang yang terbuat dari besi India dimana di sana-sini meletus teriakan perang yang diteriakkan oleh anakanak muda dari segala tempat, kesemuanya itu hanyalah manifestasi daripada semangat keberanian yang legendaris, yang pahlawannya adalah "Antarah", atau manifestasi daripada kemabukcintaan romantis, yang pelaku utamanya adalah "Umru-el-Qais" . Adapun kata-kata kiasan dalam bahasa Arab, sebagai yang kita akan lihat nanti, meminjam unsur-unsurnya dari pemandangan langit yang tanpa awan dan dari sahara tanpa batas, dimana iringan burung qotho meliwatinya, atau lompatan kijang-kijang sahara yang menjelajahnya. Kehidupan sahara ini tidak memanifestasikan sedikitpun kebingungan ruhani atau metafisik. la tidak mengenal soal-soal rumit daripada logika, tidak pula mengenal, dan tidak mengenal pula pengerahan pikiran filosofis, atau pikiran ilmiah, atau keagamaan . . Kekayaan kata-kata dalam bahasa, ialah kata-kata yang dapat merealisasi kebutuhan hidup sederhana, baik extern, mau pun intern, bagi seorang Badui, bukan orang kota. Inilah ciri-ciri khas umum bagi bahasa ini, pemuja yang hidup dalam suasana jahiliah, pemujaan berhala, pengembaraan di daratan, yang nantinya akan digulung oleh Al-Qur'an, dengan genialitasnya yang khas, untuk memanifestasikan suatu ide dan pikiran International. Al-Qur'an akan memilih untuk memanifestasikan pikiran ini, bentuk baru, yaitu bentuk "kalimat". Maka ayat Al-Qur'an akan menjauhkan segi syair tanah pedalaman (yang dimukimi oleh kaum badui), namun irama syair itu bagaimana pun juga, akan tetap ada, sebab ayat Al-Qur'an telah terbebas dari mantra syair samasekali sehingga melebarluas ruangnya. Terdapat di situ banyak kesaksian dicatat oleh sejarah pri kehidupan Nabi pada masa itu,yang menyajikan kepadakita pengetahuan-pengetahuan luas tentang pengaruh yang sangat 226
  • 218. kuat yang ada pada ayat-ayat AI-Qur'an terhadap jiwa seorang Badui. Itulah Umar ibnu Khattab r.a. beralih ke Islam justru karena aksi pengaruh besar itu, sedang AI-Walidibnul Mughirah, yang merupakan tela-dan dalam kefasihan bahasa dan kebanggaan kesusastraan, telah menyatakan pendapatnya tentang "sihir" AI-Qur'an ini dengan mengatakan : "Demi AIlah aku telah mendengar sebuah kalam bukan perkataan manusia dan bukan pula perkataan jin. Ia lezat dan indah didengar, pangkalnya berbuah dan ujungnya berakar. Kalam itu selalu berada di atas dan tiada yang membawahinya". Walid berkata demikian sebagai jawaban kepada Abu Jahal yang menanyakan pendapatnya tentang apa yang ia dengar dati Muhammad. Bahasa ini yang sampai pada saat itu, dekat sebelurn kerasulan Nabi Muhammad. Bahasa ini yang sampai saat itu hanya mengutarakan kecerdasan seorang badui padang pasir, bahasa ini diharuskan kini, dengan segala kelemahannya (dalam bidang perbendaharaan kata) untuk memenuhi keinginan-keinginan akal pikiran yang sejak saat itu dihadapkan kepada problem-problem metafisik dan kesyariatan (hal-hal yang menyangkut bidang hukum), kemasyarakatan dan bahkan ilmiah juga. Fenomena bahasa seperti ini adalah unik dalam sejarah bahasa-bahasa, sebab tidak pemah dalam bahasa Arab terjadi evolusi bertahap, melainkan yang terjadi adalah hal yang agak menyerupai ledakan revolusioner secara tidak terduga sebagaimana juga fenomena AI-Qur'an datangnya tidak terduga. Dengan demikian maka bahasa Arab telah mengalami lompatan dari periode kebahasaan (dialek) jahiliah (pra Islam) ke periode sesuatu bahasa yang bersistem (teratur) secara ilmiah, untuk membawakan pikiran daripada peradaban baru dan kebudayaan yang baru lahir. Beberapa kaum mufassirin berpendapat bahwa AI-Qur'an tidak mempergunakan samasekali lafal-lafal (kata-kata) yang asing .dari bahasa dialek Hijaz, padahal sudah jelas bahwa AIQur'an mengandung kata-kata baru, terutama kata-kata yang berasal dari bahasa Arami, yang dipergunakan oleh AI-Qur'an untuk menentukan pengertian-pengertian baru yang berhubungan dengan masalah tauhid, dari segi kata-kata jenis, seperti kata "malakut", dan kata-kata diri, seperti "Jalut, Harut dan Marut". 227
  • 219. Maka ditinjau dati segi studi tentang bahasa, tampaknya bahwa Al-Qur'an seolah-olah telah mendatangkan perbendaharaan kata khasnya, dan membinanya dengan cara yang tidak terduga dan secara aneh pula. Fenomena ini telah menciptakan dati segi kesusasteraan dan kebahasaan pemisahan penuh antara bahasa Jahiliah (pra Islam) dan bahasa Islamiah. Dalam hubungan ini hipotesa batil yang diutarakan oleh orientalis yang masyhur, "Margelyouth" tidaklah dapat mengurangi bobot hasil studi di atas, sebab sebenarnya perdebatan sekitar masalah ini sudah selesai dan telah ditutup pintunya di Mesir berkat usaha yang dilakukan oleh Arrafii dan sekolahannya berupa berbagai studi. Maka dengan demikian hipotesa profesor Inggris itu sudah tidak mendapatkan tempat lagi, kecuali dalam studi-studi yang mempunyai tend ens tertentu. Tambahan lagi tidak mungkin kami membayangkan bagaimana dan mengapa, beberapa orang menciptakan suatu jenis kesusasteraan yang baik seperti umpamanya "Syair pra Islam" itu, lalu mereka mengarang baginya nama-nama penyair-penyairnya, dan pencipta-penciptanya 1). Sungguh hal ini tidak dapat difahami. Apa pun persoalannya, yang jelas ialah bahwa masalah kebahasaan yang dibangkitkan oleh Al-Qur'an, layak mengenai soal itu; untuk dipelajati dengan sungguh-sungguh dan serius, dengan suatu studi yang mencakup studi tentang kata-kata barunya, dan cara mempergunakannya secara unik dalam kalimat-kalimat, terutama dalam soal-soa! keakhiratan. Mungkin ilmu tafsir Al-Qur'an akan memperoleh ruang luas untuk dapat mengkonstatir jauhnya jangkauan fen omena Al-Qur'an itu. Adalah keharusan pasti bagi' Al-Qur'an, bila ia berkehendak memasukkan ke dalam bahasa Arab pikiran keagamaannya, dan pengerdan-pengertian ketauhidannya, bahwa ia harus melampaui batas-batas tradisional kesusasteraan jahiliah (pra Islam). Pada hakekatnya Al-Qur'an telah menyetuskan revolusi besar dalam kesusasteraan Arab, dengan jalan mengadakan perubahan padaalat modus pengutaraan, yakni bahwa Al-Qur'an, di satu 1).Pengarang buku ini telah membuktikan kebenaran pikiran ini dalam bab "Gerbang masuk ke studi tentang fenomena AI-Qur'an", sehingga tidak memerlukan tambahan. (Penterjemah Arab). 228 -
  • 220. segi, telah menjadi kalimat yang tersusun lengkap di tempat bait sajak: Di segi lain Al-Qur'an datang membawa pikiran baru, yang di dalamnya dimasukkan obyek-obyek dan pengertianpengertian baru, untuk menghubungkan alam pikiran jahiliah dengan arus tauhid. Pengertian-pengertian yang dibawa oleh Al-Qur'an itu tidak hanya sekedar disalin ke dalam ayat-ayatnya, melainkan AlQur'an telah mencerminkannya, membayangkannya dan membentuknya.sehingga bersesuaian dengan alam pikiran Arab. Yang menunjuk kami kepada hal di atas, ialah: cobalah kita mengambil sebagai misal, perkataan dalam Injil: "Kerajaan Tuhan". Akan tetapi apakah anda menemukan perkataan ini dalam Al-Qur'andengan kata-kata yang sama? Al-Qur'an tidak menyebutkan "Kerajaan Allah" dengan terjemahan harfiah "Mulkullah", melainkan membentuknya dalam bentuk khusus, sebagai yang diberikan kepadanya keteguhan keislamannya. Maka kata "kerajaan" sinonimnya dalam bahasa Arab adalah "Muluk". Al-Qur'an membayangkan kata itu dalam bentuk kata "Ayyam". 1). Dengan penggantian bentuk (kata diganti dengan kata lain) Al-Qur'an menjauhi kebingungan dan kekacauan mengenai sinonimitas di antara kata-kata: "mamlakah" = kerajaan; "nulk" = milik; "muluk" = ksdauiatan, atau kata "kaun" (yang dalam Injil berarti) = ciptaan yang penggunaannya banyak merubah maksud daripada Injil; dengan menggunakan kata "kaun" itu. 2,. Maka Al-Qur'an, tanpa diragukan lagi telah berhasil dalam memodifikasl perkataan "Kerajaan Tuhan" dengan perkataan 1). Kata "Ayyam" ini terdapat dalam firman Allah s.w.t. (yang terjemahan Indonesianya): "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa membawa keterangan-keterangan Kami, bahwa hendaklah Kamu mengeluarkan kaummu dari kelelapan kepada cahaya terang, dan peringatkanlah mereka kepada "Hari-hari Allah". (Surat Ibrahim ayat 6). 2). Makna sejati daripada kata "kau'n'" dalam bahasa Arab ialah "ada", "wujud". (Penyalin). 229
  • 221. "Ayyamullah" 1) perkataan yang tidak dapat ditemukan oleh penterjemah yang paling mahir pun. . Kita boleh mencatat konstatasi-konstatasi ini sendiri, sehubungan dengan semua pengertian keinjilan yang lain, yang terse but di dalam Al-Qur'an dengan bahasa Arab. Dalam hubungan ini Al-Qur'an telah melukiskan kata-kata dalam Injil berbahasa Prancis "Esprit saint" (Ruh suci ) dengan memodifikasinya dengan kata-kata yang sangat cocok, yakni "Ruhtil-Qudus". Perbendaharaan kata yang dibawa oleh Al-Qur'an dengan keseluruhan pendetailannya telah mengalami pemodifikasian yang gemilang semacam ini, seperti yang terjadi umpamanya dengan kata nama diri: "Puti phare", yaitu nama orang yang terse but dalam Al-kitab, yang oleh Al-Qur'an diberi nama "Al-'Aziz" dalam kisah "Yusuf". Kita dapat bertanya-tanya apakah ada hubungan dalam makna antara nama Israili (puti phare) dan nama gelar yang dipakai oleh Al-Qur'an (Al-'Aziz). Adapun penafsiran dalam bahasa Ibrani rupanya memaksudkan dengan kata "Puti phare" suatu kata yang diturunkan dari bahasa Mesir kuno, berasal dati kata "Puti + Favori", yaitu (yang di dalam Al-Qur'an disebut) "Aziz" (= Pembesar). Asal kata "Phare" ialah "advisir" atau "penasehat", Mengutip pembahasan Pendeta "Figoureux" mengenai hal ini 2), dinyatakan, bahwa kata-kata itu adalah kata majemuk dati bahasa Mesir, yang artinya: "Aziz", atau "Pembesar" datipada ilewa Matahari, Mana pun dati kedua pendapat di atas yang benar, kIta melihat bahwa modifikasi etimologis yang digunakan oleh Al-Qur'an telah membuang kata pelengkap, yang bersifat tambahan, untuk melukiskannya dalam bentuk yang lebih sesuai dengan jiwa tauhid Islam. Maka AI-Qur'an cukup memakai kata "al-'aziz" saja3) 1). Dimaksud dengan "Ayyamullah" apa serta kesadaran seorang yang beragama, pada suatu hari pasti akan memperoleh kerajaan-Nya. Maka arti "Yaum" = "hari" lam maksud perasaan itu. yang dikandung oleh perasaan bahwasanya Yang Maha Benar kemenangan dengan tegaknya dan kerajaan telah bersatu da- 2). Pendeta Vigoureux dalam bukunya: "Kitab sud dan dokumen-dokumen ilmiah". 3,). Tampaknya kata "al-taziz ", atau "Pembesar" itu telah berpindah ae lapangan tafsir bahasa Ibrani liwat pembahasan-pembahasan "Musa bin Maimun" yang berguna di "Sekolah Islamiah" di Spanyol. 230
  • 222. Yang perlu disebutkan di sini ialah bahwa modifikasi yang menghindari kesulitan penterjemahan yang berhubungan bunyi huruf pertama, yaitu huruf "P" (dalam kata: Puti phare), telah memecahkan problem kebahasaan, yang tidak mungkin dipecahkan oleh orang yang tidak mengenal bahasa Mesir, sekalipun orang itu dalam keadaan kesadaran penuh. Kandungan Risalah Keluasan obyek-obyek yang dikandung oleh AI-Qur'an, serta keaneka-ragaman obyek-obyek itu benar-benar adalah sesuatu yang unik sesuai dengan apa yang diutarakan oleh Al-Qur'an sendiri: "Tiadalah Kami alpakan sedikit pun di dalam Kitab (AI-Qur'an) ini (surat Al-An'am ayat 38). AI-Qur'an mengawali pembicaraannya dari mulai sekecil-kecilnya atom yang berada di dalam batu-batuan dan yang berdiam di dasar lautan 1), sampai kepada bintang yang beredar pada garis edarannya menujuke tempat yang ditetapkan untuknya 2). Dalam pada itu AI-Qur'an menelusuri sisi-sisi gelap yang terjauh di dalam kalbu insani, dan menyusup sejauh-jauhnya dalam jiwa orang yang beriman dan orang yang kafir dengan suatu layang pandang yang menyentuh perasaan yang paling halus dalam jiwa itu .. Al-Qur'an berjalan ke arah masa lampau kemanusiaan yang jauh, dan berjalan pula ke arah dari depan kemanusiaan, untuk mengajarkannya tugas-tugas kehidupan. Ia melukis suatu lukisan yang menarik dari suatu pemandangan berbagai peradaban, yang beriring-iringan, kemudian ia mengundang agar kita merenungkannya, supaya kita dapat mengambil manfaat dari akibatakibatnya, untuk pengajaran dan iktibar. Adapun ajaran moralnya, adalah buah psikologis yang meresap jauh ke dalam tabiat manusia serta menceritakan kepada kita keburukan-keburukan yang dilarang dan harus dijauhi; 1). Pengarang dengan ini menunjuk kepada firman Allah s.w.t. (yang terjemahan Indonesianya k.l.): (Berkata Luqman): Hai anakku, jika ada sesuatu perbuatan seberat biji sawi dan berada dalam batu, atau di langit, atau di alam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya. (Surat Luqman, ayat 16). 2). Pengarang menunjuk kepada firman Allah s.w.t.: "Dan masing'masing betedar pada garis edal'Ullya". ayat 40). (Surat Yasin, 231
  • 223. pula kebaikan-kebaikan yang kita diajak untuk menelaah dan dari sela-sela kehidupan para Nabi, yaitu orang-orang pahlawan dan syahid dalam lembaran epos dari langit. Atas dasar ini, maka Al-Qur'an mendorong orang yang beriman, agar dengan sungguh-sungguh menyesali (perbuatan buruknya), ketika Al-Qur'an menjanjikannya pengampunan, yang menjadi dasar pendidikan dalam masalah pembalasan, pada semua agama Tuhan. Di hadapanpemandangan yang agung ini filosuf "Thomas Carlyle" berhenti, dan ia tidak dapat lagi me nahan diri, maka melontarlah dari dalam lubuk hatinya suatu jeritan kekaguman terhadap Al-Qur'an lalu ia berkata: "Inilah gema yang bersumber dari jantung alam maujud itu sendiri" 1). Dalam jerita filosufis ini, kami mendapatkan lebih dari satu pikiran kering dari seorang ahli sejarah, kami mendapatkan sesuatu yang menyerupai pengakuan instingtif dari hati nurani-insani yang luhur, yang tercengang menyaksikan keagungan fenomena Al-Qur'an. Dan rasio insani benar-benar akan berdiri dengan ketakjuban di hadapan keluasan dan kedalaman Al-Qur'an. Al-Qur'an adalah bangunan yang tiada bandingnya, yang mempunyai arsitektur dan konstruksi yang artistik, menantang setiap daya pencipta yang pemah dimiliki oleh man usia. Kecerdasan manusia membawa, sebagai suatu keharusan, tabiat bumi, dimana segala sesuatu tunduk kepada hukum ruang dan waktu, sedang Al-Qur'an selalu melampaui batas hukum ini. Dan suatu Kitab yang memiliki sifat keluhuran semacam ini, tidaklah mungkin dibayangkan berada dalam batas-batas dimensi-dimensi sempit dari kecerdasan manusia. Maka sudah dapat dipastikan, bahwa sekiranya salahseorang dapat membaca AlQur'an dengan penuh kesadaran, dan di tengah-tengah membaca itu ia mengetahui akan keluasan obyek Al-Qur'an maka orang itu tidaklah mungkin bahwa ia akan membayangkan kedudukan diri Muhammad s.a.w. selain daripada bahwa beliau hanyalah sekedar perantara bagi suatu Ilmu metafisik mutlak. Tambahan lagi, diri Muhammad s.a.w, di dalam Al-Qur'an menempati tempat yang hanya minim sekali sebab jarang sekali Al-Qur'an berbicara tentang sejarah Muhammad sebagai seorang manusia. Penderitaan-penderitaannya yang amat besar, atau kesenangan-kesenangannya tidak pemah tersebut di dalam AlQur'an samasekali. Kalau kita mengkhayalkan malapetaka yang 1). Thomas Carlyle dan bukunya "Pahlawan-pahlawan". 232
  • 224. menimpa dirinya di puncak da'wahnya, dengan wafatnya pamannya dan istrinya, niseaya kita menyadari betapa dansyatnya effek dari peristiwa semacam ini, dalam kehidupan seorang lelaki yang sampai akhir hayatnya masih menangisi Khadijah dan Abu Thalib, apabila nama keduanya itu disebut orang di hadapannya. Sekalipun demikian kita tidak menemukan gema apa pun di dalam AI-Qur'an tentang wafatnya kedua orang itu, bahkan nama istri yang sangat menyayangi suaminya itu, isteri yang menerima di haribaannya pemanearan Islam yang baru lahir nama isteri ini pun tidak pemah disebut di dalam AI-Qur'an. Noktah ini perlu sekali, dalam pandangan kami, bagi setiap studi psikologis analistis tentang obyek AI-Qur'an, yang sejak lama membangkitkan perhatian golongan kaum orientalis karena maksud-maksud yang bermacam-maeam, dan dorongandorongan yang sangat berbeda-beda, Obyek-obyek yang khas mengenai AI-Qur'an telah mengemukakan bahan (materi) yang banyak sekali untuk pembahasanpembahasan para ulama orientalis itu. Barangkali adalah keharusan bagi kami membahasnya, untuk menarik perhatian pembaea kepadanya. Namun kami akan mengkhususkan perhatian sekilas pandang mengenai keserupaan yang menakjubkan antara IGtab sud 1.), dan AI-Qur'an. Hubungan antara AI-Qur'an dan Kitab Suei. Mereka yang saling berdebat sekitar hubungan ini tidak suka mengerti semua unsur-unsur problemnya, dan tidak pula suka membayangkannya dari segala segi-seginya. Tambahan pula bahwa keserupaan yang kami tetapkan itu, bukanlah sifat satu-satunya atau yang esensial di dalam AI-Qur'an, maka AI-Qur'an dengan positif menyatakan hubungannya dengan Kitab Sud, dimana AI-Qur'an selalu mencari tempatnya dalam putaran ketauhidan. Dengan kedua hal terse but AI-Qur'an menetapkan, dengan bangga adanya keserupaan antara dirinya dengan Taurat dan Injil. 1). Dimaksud dengan Kitab Suci, kumpulan Kitab-kitab yang diturunkan kepada para Nabi Bani Israil, termasuk Kitab Taurat dan Kitab Injil. (Penterjemah Arab). 233
  • 225. AI-Qur'an menguatkan adanya hubungan ini dengan terangterangan, dan menarik perhatian Nabi sendiri kepadanya setiap kali terdapat kesempatan untuk itu. Inilah, seingat kami, suatu ayat yang menaskan seeara khusus hubungan kekerabatan itu; "'0""· (iY : ~~ lIE ) ~Wll..:-'; " •.. ./ ./ • ~ ./ "Tidaklah mungkin AI-Qur'an ini dibuat-buat oleh selain Allah, akan tetapi (AI-Qur'an itu) membenarkan Kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-huhum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam ". (Surat Yunus ayat 37). Bagaimana pun juga, kekerabatan ini menandai Al-Qur'an dengan ciri khas kekerabatan .itu. Malta Al-Qur'an dalam banyak tempat tampak sebagai menyempurnakan atau membetulkan (mengoreksi) pemyataan-pemyataan KitabSuei. Sekalipun Al-Qur'an menyatakan dengan gamblang keserupaan dan kekerabatannya, dengan Kitab-kitab sebelumnya, namun ia tetap memelihara citra khasnya dalam setiap fasal dari hal-hal yang menyangkut ide ketauhidan, sebagai yang akan kami terarigkan di belakang nanti. Metafisika. Ide ketauhidan ditinjau dari segi metafisika mempunyai tujuan,untuk mengukuhkan Keesaan Allah s.w.t., sebab Keesaan Allah inilah yang merupakananggauta keluarga satu-satunya yang J118sukdalam penciptaan fenomena dan perkembangannya, dan ketauhidan inilah yang menguasainya, disebabkan oleh sifat-sifat yang dipunyai olehAllah s.w.t. seperti Kekuasaan mutlak, kekekalan, kehendak, Maha Mengetahui dan lain sebagainya. Sekal~un demikian, Islam menampilkan 234
  • 226. akidah metafisiknya yang khas, dengan jalanyang lebih sesuai untuk dapat diterima oleh alam pikiran, dan lebih teliti, serta berada dalam arah yang lebih dalam kerohaniannya. Sebenarnya Kitab-kitab Ibrani mengungkapkan ide yang bersumber sedikit banyak dari "memiripkan Allah dengan manusia. Ada kemungkinan bahwa ide tersebut telah menyelundup ke dalam kitab-kitab itu secara tidak terduga-duga, setelah terjadinya "pemutar-balikan" yang telah kami terangkan dalam bab "Gerakan kenabian" dari buku ini, pemiripan Allah dengan manusia ini terbaca a.l, dalam impian Ya'kub yang tersebut dalam kitab "Kejadian" (dari Perjanjian lama). "Maka bermimpilah ia, di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit, dan tampaklah Malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu. Berdirilah Tuhan di sampingnya dan berfirman: "Akulah Tuhan, Allah Abraham, nenekmu dan Allah Ishak". (Perjanjian Lama, Kitab Kejadian, pasal28, ayat 12-13) 1). Dari segi lain, ajaran-ajaran orang-orang Rabbani telah didirikan atas landasan janji yang diterima oleh Ibrahim, dan atas landasan pilihan 2), (yang diberikan kepada Ya'kub): yang karenanya Ya'kub mempunyai akidah keagamaan kebangsaan (khusus bagi kaumnya). Maka Allah s.w.t. adalah ketuhanan kebangsaan (khusus bagi bangsa Bani Israil), sehingga inti danpada "Gerakan kenabian" sejak Nabi Amos merupakan reaksi terhadap jiwa egoisme. Maka semua Nabi-nabi yang masuk dalam gerakan reform, seperti a.l. Nabi Irmia akan berdaya-upaya semaksimal-maksimalnya untuk mempositifkariwujudnya Allah sebagai Tuhan semesta alamo Sekalipun demikian, kepercayaan Kristen (masehi), pihaknya telah memasukkan, bentuk manusiawi dalam sifat-sifat tuhan. Dengan demikian tumbuhlah suatu kepercayaan, yang intinya adalah: 1). Terjemahan di atas dikutip tanpa perubahan dari Alkitab-Perjanjian Lama, penerbitan "Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta 1977 (Penyalin). 2). Yang dimaksud dengan "pilihan itu, ialah pilihan Nabi Ishak kepada anaknya Ya'kub", supaya kenabian jatuh kepadanya dan anak keturunannya. (Penterjemah Arab). 235
  • 227. Tuhan ya,ng hidup (berwujud) manusia. Dari kepercayaan ini telah lahir penafsir masehi yang akan mengambil sarinya dari peradaban Islamiah yaitu: logika Arestoteles, untuk menciptakan kepercayaan keagamaan yang berlandaskan "trinitas" yang berdiri atas rahasia "Trinitas kudus". Dalam pada itu wahyu Al-Qur'an untuk menetapkan hasil yang pasti, dari ide ketauhidan, yaitu bahwasanya: "Allah itu satu, tidak sama dan tidak serupa dengan segala yang wujud. Dia Tuhan semesta alam". Maka dengan jalan yang positif ini, ide ketauhidan Islam telah mengeluarkan Zat Allah yang Maha Agung dari garis lingkaran egoisme Yahudi, dan trinitas masehi. Akidah esensial dari Islam yang mengesakan Tuhan ini terkokohkan dalam sebuah surat Al-Qur'an yang terdiri atas empat ayat: "Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa; Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu; Dia tiada beronak dan tiada pula diperanakhan, dan tidak ada eeorang pun yang setara dengan Dia", (Surat Al-Ikhlas, ayat 1-4). Pada ayat-ayat terse but di atas prinsip "Memumikan Keesaan Allah" memperlihatkan dengan jelas watak I khas bagi pikiran Al-Qur'an Prinsip "Memurnikan Keesaan Allah" ini telah melenyapkan ide keberbilangan (dalam bentuk Trinitas) dan ide "prinsip Allah dengan manusia" tanpa pembatalan atau pembenaran (atas ide-ide tersebut). Adapun yang masih tertinggal dari hubungan antara Islam dan agama-agama lain, terletak pada jiwa ayat-ayat tersebut, kalau tidak pada nasnya. Demikianlah di tetapkan dengan jelas landasan teoritis yang daripadanya akan lahir studi-studi keagamaan tentang Islam dan berkembang, kemudian berpindah dati landasan tersebut ke agama Masehi, dengan perantaraan Thomas Aquino, dan berpindah-pindah ke agama Yahudi liwat Musa bin Maimun. Lahirlah falsafat keagamaan, bersumber dati Al-Qur'an, yang menyusup jauh ke dalam peradaban ketauhidan. Kami 236
  • 228. .. tidak mengetahui sampai berapa jauh, revolusi-revolusi pikiran Masehi, sejak gerakan kaum Albigens, hingga gerakan feformisme itu, dapat dihitung sebagai hasil-hasil langsung dari faham metafisik dari AI-Qur'an. Adalah keingkaran akan kebenaran, kalau kita tidak mengerti watak asli dari faham ini, serta kepentingannya dalam perkembangan problem keagamaan dalam alam Yahudi-Masehi, sebagaimana juga termasuk keingkaran terhadap pengaruh keakidah Islam apabila kita mengatakan sama seperti yang dikatakan oleh R.P.G. Thery, bahwa: "Nabi telah mengharamkah dengan terang-terangan penggunaan akal pikiran yang manapun dalam masalah problem keagamaan, sebab "Adanya Allah" tidak dapat dibuktikan, sedang ijtihad dan menggunakan akal pikiran tidak termasuk pengarahan fundamental dari Al-Qur'an" 1). Perkataan semacam ini artinya bahwa kita mempelajari dasar-dasar pendapat masehi, kemudian mentrapkan basilhasilnya terhadap suatu masalah dalam Islam. Hal yang demikian ini, dengan menyesal, memang kebiasaan yang lazim yang ditrapkan terhadap beberapa studi, seperti yang dilakukan oleh Profesor yang terkenal "Guignebert" Profesor ini setelah mempelajari unsur-unsur yang mensifati "pelkembangan kepercayaan" Yahudi masehi, ia mentrapkan hasil-hasil studinya de~gan cara yang tidak terduga terhadap ~rkembangan akidah Islam, seolah-olah hal itu menjadi tema studinya 2). Keakhiratan. Kepercayaan akan ~elanggengan roh yang merupakan ide esensial dalam edukasi ketauhidan, menghasUkan natijah-natijah logis, yaitu: kesudahan alam dunia, Hari Perhitungan, Surga dan Neraka. Persoalan ini tidak memperoleh penyorotan dari Kitab-kitab Ibrarii, melainkan hanya sedikit saja, karena Kitab-kitab itu mencurahkan perhatiannya hanya kepada pengaturan sosial 1). Dicuplik dari ceramah-ceramah tentang: "Falsafat Islam dan peradaban Perancis" , oleh R.P.G. Thery' mahaguru pada perguruan Tinggi Katholik di Paris, halaman 25. 2). Guignebert dalam bukunya: "Perkembangan akidah". 231
  • 229. oagi masyarakat tauhid pertama. Kemudian Injll datang dengan menambahkan penjelasan tentang persoalan keahkiratan, ketika ia mendesak kepada Bani Israil agar mereka ingat akan Harihari Allah, yaitu pengertian yang diarahkan kepada suatu masyarakat bertauhid, yang telah menempuh jarak cukup jauh dalam perjalanan perkembangannya. Kita akan melihat bahwa Al-Qur'an menonjolkan persoalan keakhiratan ini dengan cara yang sangat mengesankan. Dikisahkan di dalamnya ceritera kehidupan langgeng dalam nada yang penuh khusuk lagi menakutkan pula diceriterakannya dengan gaya bahasa yang melampaui puncak keindahan bahasa dan kejelasannya. Al-Qur'an menampilkan, mengenai kehidupan di akhirat, gambaran-gambaran dan pemandangan-pemandangan yang mendatangkan ketakutan dalam hati hamba-hamba Allah, sehingga tidak memberi kemungkinan kepada seorang manusia, sekalipun pada zaman ini, menolak pemandangan-pemandangan alam akhirat yang dahsyat .itu. Pemandangan-pemandangan Hari Kiamat di dalam AI-Qur'an mengandung realitas-realitas yang menentukan. Figur-figur yang berperan dalam pemandangan itu, berbicara dan bergerak Malaikat, syaitan. orang-orang yang baik dan orang-orang yang jahat, mereka itu semuanya bersifatkan keobyektifan, yang tidak mengalpakan pendetailan-pendetailan psikologis yang sekecil-kecllnya, dan tidak pula mengabaikan perkataan apa pun yang kiranya dapat mengingatkan akan kedahsyatan dan kehebatan Hari yang menakutkan itu waktu sendiri bertambah lama, dan keputusan dikeluarkan pada Hari yang panjangnya selama lima puluh ribu tahun menurut hitungan mereka di dunia. Kemudian perlihatkan pemandangan penutup dalam ceritera yang menakutkan itu, "lalu diadakan diantara mereka dinding, yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat, dan di sebelah luarnya dari itu ada siksa" 1). Inilah tempat kediaman yang kekal bagi orang-orang yang berbahagia dan mereka yang celaka. Di dalam alam wujud seluruhnya tidak ada suatu pemandangan yang menyerupai pemandangan ini tentang geraknya, atau mengunggulinya dalam warna-warninya yang beruntun disebut dalam bermacam-macam surat Al-Qur'an. 1). Surat Alhadid, ayat 13. 238
  • 230. Dari pemandangan yang menakjubkan ini, setelah berlalu enam abad, genialitas Dante mencuplik lukisan khayalnya: '~Ko· medi Ilahi" yang diilhami oleh apa yang ditulis Al-Ma'am" dalam kitabnya, yang berjudul "Risalatul-ghufran", atau "Risalat pengampunan" . Alam Wujud. Dalam Perjanjian Lama, kitab: Kejadian, kita menemukan persoalan yang berhubungan dengan "penciptaan" da1am perkataan: "Berfirmanlah Allah: JadUah terang! Lalu terang itu jadi 1). Bentuk kata-kata ini mengingatkan kita dengan cara yang unik dengan perkataan yang tersebut dalam Al-Qur'an: "Kun fa yakun", yang artinya: "Jadilah Maka jadilah ia". Persamaan antara kedua kalimat tersebut mentakjubkan. Namun Al-Qur'an selalu melukiskan kepada kita cara penciptaan itu yang bersifat imperatif (memerintahkan). Al-Qur'an berceritera kepada kita pertama-tama mengenai kesatuan materi ciptaan pertama, dengan firman Allah s.w.t.: ,/// ""."e"'" "1 ~ ~/ .:II"""' /. l..:;..; .;..;)' ~ ';' I,---J I u I I)fi U" ~ u: fJ I .r« /.},."';/ 'I" • lIE ~ »>: r ./"", JI 11'.,/ li:.; "Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui, bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. (Surat Al-Anbiyaayat 30). Kemudian Al-Qur'an menceriterakan prihal keadaan materi yang awali itu dengan firman Allah s.w.t. (yang terjemahan Indonesianya k.L: . "Kemudian Allah Yang Maha Tinggi Kekuasaannya menetapkan bagi setiap biniang orbitnya dan tempat peredarannya, dan dengan demikian membagi materi dalam ruangan dan menetapkan hukum-hukum yang ahan menentukan fenomena alam, kemudian meniadihari fenomena kehidupan: 1). Kitab Kejadian, pasal1, ayat 3-4. 239
  • 231. ( r· : 1= 1.-.:)11) •• w"" lIE .~ -e: # .", " ~ ~"WI. ~":r' I.P & '" • ., ~ '."'/ l..:.I...->. .J "Dan darl air Kami jadikan segalaseeuatu yang hidup ". (Surat Al-Anbiya ayat 30). Selain dari ayat-ayat eli atas terdapat di .dalam AI-Qur'an banyak ayat yang menyempurnakan lukisan model bagi gambaran penciptaan, Bagaimana pun juga, namun pekerjaan pertama dati ciptaan Allah dilakukan dengan perintah lisan. Mungkin cara penciptaan ini berkontradiksi dengan pikiran orang-orang yang bersendi kepada hipotesa"Lavoisier,yang berbunyi: "Rien ne se cree, rien ne se perd", yang artinya: Tiada sesuatu dapat terjadi dari ketiadaan (kehampaan) dan tiada pula sesuatu yang melenyapkan dalam ketiadaan". Jadi pengertian hipotese di atas bahwasanya tidak ada sesuatu dapat terjadi datipada tiada sesuatu. Namun kita harus mengetahui bahwasanya ditinjau dati segi logika semata-mata, tiada terdapat pertentangan berat sedikit pun dalam perpaduan antara rasio (pikiran) dan prinsip pencipta dalam kalimat "Kun fa yakun" (Jadilah Maka jadilah ia). Dan tiada seorang pun dapat membawakan argumen eksperimental untuk menentang hal di atas. Adapun agama, ia menetapkan bahwa Allah-labyang memiliki rahasia penciptaan, yang tersimpul dalam kalimat "Kun" (jadilah). Namun kita boleh bertanya-tanya mUla-pertama: "Adalah terdapat pertentangan atau yang menyerupai pertentangan yang dapat dikemukakan, antara pengertian agama dan pengertian ilmiah?". Marilah kita melihat kemana kembalinya pemecahan problem materi dalam analisa terakhir, yakni: Zat yang ada dan ruang yang mengandung segala sesuatu yang ada? Para ahli fisika menjawab: "Materi dalam analisa terakhir kembali kepada suatu jenis "potensi". Akan tetapi apakah tidak mungkin·"Kalimat Allah" itu sendiri ditafsirkan bahwasanya ia sejenis "potensi" itu, yaitu potensi dalam bentuknya yang paling besar dan paling sempuma, yakni bahwa potensi itu mempunyai kekuatan "menciptakan"? Dan tidakkah kita berhak untuk memandang "materi" dalam keseluruhannya hanyalah semata-mata pembentukan dan penyusunan yang dilakukan oleh kalimat "Kun" yang mencipta itu? 240
  • 232. Moral. Moral non-agamis, sepanjang makna yang dikandung oleh perkataan ini menilai perbuatan seseorang atas dasar kepentingan pribadi yang segera, yang menjadi landasan bagi kehidupan sipil masyarakat Moral yang bersumber dari agama tauhid menghormati juga kepentingan pribadi, akan tetapi moral agamis membedakan diri dari jnoral non agamis, bahwa ia juga memperhatikan kepentingan-kepentingan orang-orang lian. Dengan demikian maka moral yang bersumber dari agama mendorong individu untuk selalu mencari pahala dari Allah sebelum mencari kemanfaatan bagi dirinya. Karena pahala ini maka Taurat telah menyusun perjanjian moral pertama bagi kemanusiaan yang tersurat dalam "wasiatsepuluh "nya. Kemudian Injil memberikan pengarahan-pengarahannya dalam khutbah Nabi lsa di atas gunung. Akan tetapi soal yang dibawakan dalam kedua Kitab itu adalah soal prinsip moral yang bersifat negatif. Ia menyuruh manusia agar tidak mengerjakan kejahatan, di satu pihak, dan di pihak lain meniadakan nafsu melawan kejahatan. Adapun AI-Qur'an, ia membawakan prinsip positif fundamental, supaya dapat menyempumakan sistem moral tauhid prinsip tersebut ialah: "Keharusan melawan kejahatan"; Maka AI-Qur'an bercakap dengan para pemeluknya dengan firmanNya: "Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan melarang kepada yang munkar". (Surat AIi-'Imran ayat 110). Di pihak lain AI-Qur'an mengakui ide "pembalasan" sebagai landasan moral yang bersumber dari agama Tauhid. Profesor A-Loden berkata: "Nilai agama bagi individu tidak tampak dalam agama Yahudi, kecuali pada zaman Nabi ExachieL Hingga pada zaman itu kewajiban dan natijah-natijah moralnya jatuh di atas pundak umat, yang menanti-nanti pembalasannya pada saat datangnya pertolongan yang telah ditetapkan waktunya, yaitu "pada hari Tuhan memberi pertolongan kepada umat-Nya", Adapun Injil adalah sebaliknya daripada itu Ia menetapkan pembalasan akan diberikan kelak pada hari kiamat; sehingga soal moral menjadi persoalan akhirat dan moral itu keseluruhannya menjadi merupakan kerisauan pribadi. 241
  • 233. Maka ketikaAl-Qur'an datang kita dapati bahwa ia membina bangunan moralnya atas fondasi nilai moral bagi individu, dan konsekwensi duniawi bagi masyarakat. Adapun bagi individu, maka pembalasannya akan diperolehnya pada Hari perhitungan kelak. Oleh sebab itu Al-Qur'an menetapkan dengan jelas nilai keagamaan bagi individu, dalam firman-Nya (yang terjemahan Indonesianya k.l.): "Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menjadikannya sendirian" (Surat Al-Mudatstsir ayat 11). Adapun masyarakat (umat) maka pembalasannya segera, untuk mana Al-Qur'an menarik perhatian kita kepada kisahnya di dunia ini, ketika ia selalu mengundang kita untuk merenungkan pembalasan yang berupa siksaan di dunia yang ditimpakan atas umat-umat yang telah lenyap dan kebudayaan-kebudayaan yang telah musnah: "'. "".,,,.,.;1' ll(~.kJ1 /' ./ ( i v . ¥~ ", """/ "./ ul! 4 O~,.~." ."0 IJ.A:I ~ ~.J)'I ~ .;' rL...;)'I) "KatakanlcJh, Berialanlan di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu". (Surat Al-An'am ayat 11). Bahkan Al-Qur'an bersikap keras terhadap umat-umat itu: ' : r~";),1 ) "Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasahan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telab Kami teguhkan kedudukan. mereka di muka bumi, :yaitu keteguhan yang belum pernab Kami berikan kepadamu, dan Kami curahhan hujan yang lebih atas mereka, 242
  • 234. dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa-dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain" (Surat AI-An'am ayat 6). Kemasyarakatan. Tujuan daripada syariat Musa ialah meletakkan pnnsipprinsip bagi pembentukan masyarakat yang bertauhid, bagi yang baru tumbuh, dan untuk mengokobkan hubungan di antara anggauta-anggautanya, yaitu orang-orang yang sudah tenggelam dalam kelompok bangsa-bangsa pemuja berbala. Dengan demikian syariat Musa ini telah membayangkan problemproblem sosial, ditinjau dari segi intern masyarakat Bani Israil. Kemudian kita mendapati syariat "Cinta-mencintai" pada agarna Isa membuka pintu "Rahmat" masehi kepada orang-orang primitif pemuja berhala, lebih besar dari yang dibuka oleb syariat Musa. Setelah AI-Qur'an datang, kita mendapatinya, menangani dalam nasnya, problem tersebut dari sudut kemanusiaan secara keseluruhan : (r,,: dxWl) "Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya, dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya". (Surat AI-Maidah ayat 32). Maka salahsatu basil yang penting dari prinsip umum ini, adalah diletakkannya problem perbudakan, untuk pertama 243
  • 235. kali dalam sejarah kemanusiaan, di jalan pemecatan, sebab memerdekakan budak adalah tahap yang perlu bagi penghapusan perbudakan, yang menjadi dasar esensial dari kegiatan dalam masyarakat-masyarakat yang terdahulu. Al-Qur'an telah menjadikan "memerdekakan budak" sebagai prinsip moral umum. Apabila seorang muslim melakukan suatu pelanggaran tertentu dalam syariat, maka "memerdekakan budak" menjadi syariat syar'i untuk bertaubat dan memohon pengampunan (untuk· diterima taubatnya dan memperoleh pengampunan). Apabila kita telah mengkonstatir, sebagai yang telah dibahas di muka, adanya persamaan antara Al-Qur'an dan Kitab-kitab suci, maka sekarang kita mengkonstatir ciri yang memperbedakan dari eiri khas Al-Qur'an. Sejarah Tauhid (Keesaan Tuhan). Agama Ibrahim mempunyai sejarahnya, yang menghimpun amal-amal, dan jasa-jasa para Nabi. Kiranya dalam bab berikutnya kita akan menjumpai keserupaan yang mentakjubkan antara Al-Qur'an dan Kitab suci. Dalam pada itu sejarah para Nabi datang berderetan sejak Ibrahim a.s, sampai kepada Nabi-nabi Zakaria, Yahya, dan Maryam serta Nabi Isa a.s. Terkadang membawakan bahan historis yang khusus terdapat dalam Al-Qur'an, seperti kisah-kisah Nabi HOO, Nabi Saleh beserta ontanya, kisah Luqman, kisah penghuni gua, kisah ZulQamain 1), dan kisah-kisah lain. Sesungguhnya keserupaan itu mentakjubkan, seperti yang akan kita lihat pada kisah Yusuf, yang menghadapkan kritik kepada persoalan serius. Memang sejak zaman Nabi s.a.w. sendiri mereka tidak segan-segan mengabaikan beberapa penentangan seperti yang dikabarkan sekarang, setelah berlalu empatbelas abad. 1). Di dalam Al-Qur'an disebutkan mereka akan bertanya kepadamu tentang Zul-Qarnain. Kalau yang dimaksud di sini dengan "mereka yang bertanya" itu, orang-orang Yahudi, maka mungkin mereka mengetahui kisah ini dari berita-berita sejarah, sebab Taurat dan Injil tidak terdapat di dalamnya sesuatu pun dari kisah ini. (Penterjemah Arab). 244
  • 236. Sebenarnya sekiranya kita mengabaikan, secara metodik, nilai yang teramat tinggi dari AI-Qur'an, dan sekiranya kita, dengan menuruti hawa nafsu, mengalpakan pertimbangan-pertimbangannya yang lain, maka keserupaan ini akan tetap merupakan problematika yang tidak dapat difahami. Maka untuk dapat memahami hal itu, kita harus menegakkan lukisan yang memperlihatkan kepada kita, dalam sekali pandangan seluruh citra-citra keserupaan itu, untuk ini cukuplah kiranya bagi kita satu contoh saja yaitu kisah Yusuf yang akan kami pergunakan sebagai ukuran bagi studi kritis kami tentang obyek ini. 245
  • 237. KI SAH Y U S U F. KISAH YUSUF DALAM AL - QUR' AN DAN KITAB SKEMA SPESIFlKASI KISAH YUSUF. AYAT-AYAT KESIMPULAN-KESIMPULAN KAN KEDUA KISAH lTV. PEMBAHASAN KRITIS AL-QUR'AN suer, DALAM YANG MEMPERBANDING- TERHADAP MASALAH. 247
  • 238. KISAHYUSUF Dalam AL-QUR'AN dan KITAB suer Kisah Yusuf di dalam Al-Qur'an 1). Kisah Yusuf di dalam Kitab Su- ci 2). Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Pasal tigapuluh tujuh. 1. Alif, Laam raa. ini adalah Ayat kitab (Al-Qur'an) yang nyata (dari Allah). 1. Adapun Yakub, ia diam di negeri penumpangan ayahnya yakni di tanah Kanaan. 2. Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur'an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. 2. Inilah riwayat keturunan Yakub. Yusuf, tatkala berumur tujuh belas tahun - jadi masih muda - biasa mengembalakan kambing domba, bersama-sama dengan saudara-saudaranya, anak anak Bilha dan Zilpa, kedua isteri ayahnya. Dan Yusuf menyampaikan kepada ayahnya kabar tentang kejahatan saudara-saudaranya. 3. Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orangorang yang belum mengetahui. 3. Israel lebih mengasihi Yusuf dati semua anaknya yang lain, sebab Yusuf itulah anaknya yang Iahir pada masa tuanya; dan ia menyuruh membuat jubah yang maha indah bagi dia, 4. (Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: "Wa- 4. Setelah dilihat oleh saudarasaudaranya, bahwa ayahnya 1). Terjemahan ayat-ayat diambil dari "Al-Qur'an dan Terjemahannya, penerbitan Yayasan Penyelenggara Penterjemahan/Pentafsiran Al-Qur'an. 248 2). Terjemahan ayat-ayat Kitab Suci ini dikutip dari "Al-Kitab" Percetakan Lembaga AI-Kitab Indonesia. CHuar - Bogor 1982. Kitab Kejadian 37:1-11 37:12-36 38:1-5 39:1-12 40:1-23 41:1-50 42:1-38 43:1-34 44:1-34 45:1-28 46:1-5 46:28-34 47:1
  • 239. hai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bulan bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku". lebih mengasihi Yusuf dari semua saudaranya, maka bencilah mereka itu kepadanya dan tidak mau menyapanya dengan ramah. 5. Pada suatu kali bermimpilah Yusuf, lalu mimpinya itu diceritakannya kepada saudarasaudaranya; sebab itulah mereka lebih benci lagi kepadanya. 5. Ayahku berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudarasaudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia". 6. Karena katanya kepada mereka: "Coba dengarkan mimpi yang kumimpikan ini", 7. Tampak kita sedang di ladang mengikat berkas-berkas gandum, lalu bangkitlah berkasku dan tegak berdiri; kemudian datanglah berkas-berkas kamu sekalian mengelilingi dan sujud menyembah kepada berkasku itu". 8. Lalu saudara-saudaranya berkata kepadanya: " Apakah engkau ingin menjadi raja atas kami? Apakah engkau ingin berkuasa atas kami?" Jadi makin bencilah mereka kepadanya karena mimpinya dan karena perkataannya itu. 9. Lalu ia memimpikan pula mimpi yang lain, yang diceritakannya kepada saudara-saudaranya. Katanya: "Aku bermimpi pula; Tampak matahari, bulan dan sebelas bintang sujud menyembah kepadaku". 6. Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebagian dan ta'bir mimpi-mimpi dan disempuma- 10. Setelah hal ini diceritakannya kepada ayah dan saudara-saudaranya, maka ia ditegor oleh ayahnya: "Mimpi apa mimpimu itu? Masakan aku dan ibu249
  • 240. kannya ni'mat-Nya kepadamu dan keluarga Ya'kub, sebagaimana dia telah menyempurnakan ni'mat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha mengetahui lagi bijaksana. mu serta saudara-saudaramu sujud menyembah kepadamu sampai ke tanah?" 7. Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudarasaudaranya bagi orang yang bertanya. 8. (Yaitu) ketika mereka berkata: "Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah suatu golongan (yang kuat) sesungguhnya ayah kita (Ya'kub) dalam kekeliruan yangnyata. 12. 11. Maka iri hatilah saudara-saudaranya kepadanya, tetapi ayahnya menyimpan hal itu dalam hatinya, Pada suatu kali pergilah saudara-saudaranya menggembalakan kambing domba ayahnya dekat Sikhem. 13. Lalu Israel berkata kepada Yusuf: "Bukankah saudarasaudaramu menggembalakan kant bing do mba dekat Sikhem? Marilah engkau kusuruh kepada mereka". Sahut Yusuf: "Ya bapa". 14. Kata Israel kepadanya: "Per gilah engkau melihat apakah baik keadaan saudara-saudaramu dan keadaan kambing domba; dan bawalah kabar tentang itu kepadaku". Lalu Yakub menyuruh dia dari lembah Hebron, dan Yusuf pun sampailah ke Sikhem. 15. Ketika Yusuf berjalan ke sana kemari di padang, hertemulah ia- dengan seorang lakilaki, yang bertanya kepadanya: "Apakah yang kau carl?" 9. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik. 250 16. Sahutnya: "Aku mencarl saudara-saudaraku. Tolonglah katakan kepdaku di mana mereka menggembalakan kambing domba?".
  • 241. 17. Lalu kata orang itu: "Mereka telah berangkat d8rl sini, sebab telah kudengar mereka berkata: "MariIah kita pergi ke Dotan". Maka Yusuf menyusul saudarasaudaranya itu dan didapatinya- . lah mereka di Dotan. 10. Seorang diantara mereka berkata: "Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak herbuat". 18. Dari jauh ia telah kelihatan kepada mereka. Tetapi sebelum ia dekat pada mereka, mereka telah bermufakat mencari daya upaya untuk membunuhnya. 19. Kata mereka seorang kepada yang lain: "Lihat, tukang mimpi kita itu datang!" 11. Mereka herkata: "Wabai ayah kanii, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingini kebaikan baginy&. . 20. Sekarang, marilah kita bunuh dia dan kita lemparkan ke dalam salahsatu sumur ini, lalalu kita katakan: seekor binatang buas telah menerkamnya. Dan kita akan lihat nanti, bagaimana jadinya mimpinya itu!" 12. Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar ia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main, dan sesungguhnya kami pesti menjaganya". 21. Ketika Ruben mendengar hal ini, ia ingin melepaskan Yusuf dari tangan mereka, sebab itu katanya: "Janganlah kita bunub dia!". 13. Berkata Ya'kub: "Sesung_ guhnya kepergian kamu hersama Yusuf amat menyedihkanku dan aku )r!tawatir kalau-kalau dia dimaka.n serigala, sedang kamu lengah daripadanya". 22. Lagi kata Ruben kepada mereka: "Janganlah tumpahkan darah, lemparkanlah dia ke dalam sumur yang ada di padang gurun ini, tetapi janganlah apaapakan dia". maksudnya hendak melepaskan Yusuf dari tangan mereka dan membawanya kembali kepada ayahnya. 251
  • 242. 14. Merekaberkata: "Jika ia be- 23. Baru saja Yusuf sampai kepada saudara-saudaranya, nar-benar dimakan serigala, sedang kami golongan (yang ku- mereka pun menanggalkanjubah at), sesungguhnya kami kalau Yusuf, jubah maha indah yang demikian adalah orang-orang dipakainya itu. yang merugi". 24. Dan mereka membawa dia dan melemparkan dia ke dalam sumur. Sumur itu kosong tidak berair. 15. Maka tatkala mereka mem- 25. Kemudian duduklah mereka untuk makan. Ketika merebawanya dan sepakat meka mengangkat muka, kelihatanmasukkannya ke dalam sumur (lalu mereka masukkan dia), dan lah kepada mereka suatu kafilah (di waktu dia sudah dalam su- orang Ismael datang dari Gilead mur) Kami wahyukan kepada dengan untanya yang membawa Yusuf: "Sesungguhnya kamu damar, balsam dan damar ladan, akan menceritakan kepada mere- dalam perjalanannya mengangkut ka perbuatan mereka ini, sedang barang-barangitu ke Mesir. mereka tiada ingat lagi". 16. Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di sore hari sambil menangis. 26. Lalu kata Yehuda kepada saudara-saudaranyaitu: "Apa kah untungnya kalau kita membunuh adik kita itu dan menyembunyikan darahnya? 17. Mereka berkata: "Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala, dan kamu sekalikali tidak akan percaya kepada kami, sekali pun kami adalah orang-orangyang benar". 27. Marilah kita jual dia kepada orang Ismael ini, tetapi janganlah kita apa-apakan dia, karena ia saudara kita, darah daging kita". Dan saudara-saudaranya mendengarkan perkataannya itu. 252 28. Ketika ada saudagar-saudagar Midian lewat, Yusuf diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Ismael itu dengan harga duapuluh syikal perak. Lalu Yusuf dibawa mereka ke Mesir.
  • 243. -. 29. Ketika Ruben kembali ke sumur itu, temyata Yusuf tidak ada lagi di dalamnya. Lalu dikoyakkannyalah bajunya. 30. Dan kembalilah ia kepada saudara-saudaranya, katanya: "Anak itu tidak ada lagi, kemanakah aku ini?" 31. Kemudian mereka mengambil jubah Yusuf, dan menyembelih seekor kambing, lalu mencelupkan jubah itu ke dalam darahnya. 18. Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu Ya'kub berkata: "Sebenamya dirimu sendirilah yang memandang perbuatan (yang buruk) itu: Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongannya terhadap apa yang kamu ceritakan". 32. Jubah maha indah itu mereka suruh antarkan kepada ayah mereka dengan pesan "Ini kami dapati. Silahkanlah bapa periksa apakah jubah ini milik anak bapa atau bukan?" 33. Ketika Ya'kub memeriksa jubah itu, ia berkata: "Ini jubah anakku; binatang buas telah memakannya; tentulah Yusuf telah diterkam". 34. Dan Ya'kub mengoyakkan jubahnya, lalu mengenakan kain kabung pada pinggangnya dan berkabunglah ia berhari-hari lamanya karena anaknya itu. 35. Sekalian anaknya laki-laki dan perempuan berusaha menghiburkan dia, tetapi ia menolak dihiburkan, serta katanya: "Tidak! Aku akan berkabung, sampai aku turun mendapatkan anakku, ke dalam dunia orang mati!" Demikianlah Yusuf ditangisi oleh ayahnya. 253
  • 244. 36. Adapun Yusuf, ia dijual oleh orang Midian itu ke Mesir, kepada Potifar, seorang pegawai istana Fir'aun, kepala pengawal raja. 19. Kemudian datanglah kelompok orang-orang musafir, lalu mereka menyuruh seorang pengambil air mereka, maka dia men ururun kan timbanya, dia berkata: "Oh; kabar gembira, ini seorang anak muda!" Kemudian mereka menyembunyikan dia sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. 20. Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf. Fasal tigapuluhdelapan. 1. Pada waktu itu Yehuda meninggalkan saudara-saudaranya dan menumpang pada seorang Adulam, yang namanya Hira. 2. Di situ Yehuda melihat anak perempuan seorang Kanaan: nama orang itu ialah Syua. Lal~ Ye~uda kawin dengan perempuan ItU dan menghampirinya. 3. Perempuan itu mengandung lalu melahirkan seorang anak laki-Iaki dan menamai anak itu Er. 4. Sesudah itu perempuan itu mengandung lagi, lalu melahirkan seorang anak laki-laki dan menamai anak itu man. 5. Kemudian perempuan itu melahirkan seorang anak lakilaki sekali lagi, dan menamai anak itu Syela. Yehuda sedang berada di Kezib, ketika anak itu dilahir kan. Fasal Tigapuluh sembilan 1. Adapun Yusuf telah dibawa ~e Mesir; ~3;I1 Potifar, seorang Mesrr, pegaWaI istana Fir'aun kepala pengawal raja, membeli'dia 254
  • 245. 21. Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada istrinya: "Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi ia bermanfaat kepada kita atau kita angkat dia sebagai anak". Dan demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir), dan agar Kami ajarkan kepadanya ta'bir mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusanNya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya. 22. Dan tatkala dia cukup dewasa Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. 23. Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: "Marilah ke sini". dati tangan orang Ismael yang telah membawa dia ke situ. 2. Tetapi Tuhan menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu. 3. Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai Tuhan dan bahwa Tuhan membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya, 4. Maka Yusuf mendapat kasih tuannya, dan ia boleh melayani dia; kepada Yusuf diberikannya kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf. 5. Sejak ia memberikan kuasa dalam rumahnya dan atas segala miliknya kepada Yusuf, Tuhan memberkati rumah orang Mesir itu karen a Yusuf, sehingga berkat Tuhan ada atas segala miliknya, baik yang di rumah mau pun yang di ladang. 6. Segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf, dan dengan bantuan Yusuf ia tidak usah lagi mengatur apa-apa pun selain dati makanannya sendiri. Adapun Yusuf itu manis sikapnya dan elok parasnya. 7. Selang beberapa waktu istri tuannya memandang Yusuf dengan berahi, lalu katanya: "MariJah tidur dengan aku". 255
  • 246. Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik". Sesungguhnya orangorang zhalim tidak akan beruntung. 24. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilib. 25. Dan keduanya berlomba-lom ba menuju ke pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang' hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata: "Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan istrimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan adzab yang pedih?" 26. Yusuf berkata: "Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)", dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: "Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar, dan Yu256 8. Tetapi Yusuf menolak dan berkata kepada istri tuannya itu: "Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku. 9. Bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya daripadaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain daripada engkau, sebab engkau istrinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?" 10. Walaupun dari hari ke hari perempuan itu membujuk Yusuf, Yusuf tidak mendengarkan bujukannya itu untuk tidur di sisinya dan bersetubuh dengan dia, 11. Pada suatu hari masuklah Yusuf ke dalam rumah untuk melakukan pekerjaannya, sedang dari seisi rumah itu seorang pun tidak ada di rumah, 12. Lalu perempuan itu memegang baju Yusuf sambil berkata: "Marilah tidur dengan aku" Tetapi Yusuf meninggalkan bajunya di tangan perempuan itu dan lari ke luar. I
  • 247. 13. Ketika dilihat perempuan itu, bahwa Yusuf meninggalkan bajunya dalam tangannya dan telah lari ke luar. 27. Dan jika baju gamisnya ko- 14. Dipanggilnyaseisirumah itu, lalu katanya kepada mereyak di belakang, maka wani- . ka: "Lihat, dibawanya ke marl ta itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang be- seorang Ibrani, supaya orang ini dapat mempermainkan kita. nar". Orang ini mendekati aku untuk tidur dengan aku, tetapi aku herteriak-teriak dengan suara keras. suf termasuk orang-orang yang dusta". 28. Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: "Sesungguhnya (kejadian) itu adalah tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu besar". 29. (Hai) Yusuf: "Berpalinglah dari ini, dan (kamu hai istriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah". 30. Dan wanita-wanita di kota itu berkata: "Istri Al-Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata". 15. Dan ketika didengarnya bahwa aku berteriak sekeras-kerasnya, ditinggalkannyalah bajunya kepadaku, lalu ia lari ke luar". 16. Juga ditaruhnya baju Yusuf itu di sisinya, sampai tuan rumah pulang. 17. Perkataan itu jugalah yang diceritakan perempuan itu kepada Potifar, katanya: "Hamba orang Ibrani yang kau bawa kemari itu datang kepadaku untuk mempermainkan aku. 18. Tetapi ketika aku berteriak sekeras-kerasnya, ditinggalkannya bajunya kepadaku, lalu ia lari ke luar. 19. Baru saja didengar oleh tuannya perkataan yang diceritakan istrinya kepadanya: begini begitulah aku diperlakukan oleh hambamu itu, maka bangkitlah amarahnya. 257
  • 248. 31. Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanitawanita itu dan disediakannya tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamu-jamuan) kemudian dia berkata (kepada Yusuf): "Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka". Maka tatkala wanitawanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keindahan )nya dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: "Maha sempurna Allah ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia". 32. Wanita itu berkata: "Itulah .dia orang yang kamu cela aku karena (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina". 33. Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipudaya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh". 258 20. Lalu Yusuf ditangkap oleh tuannya dan dimasukkan ke dalam penjara, tempat tahanantahanan raja dikurung. Demikianlah Yusuf dipenjarakan di sana. 21. Tetapi Tuhan menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu, / 22. Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang hams dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya.
  • 249. 34. Maka 'I'uhannya memperkenankan do'a Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipudaya mereka. Sesungguhnya Dialab Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. 23. Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercayakannya kepada Yusuf, karena Tuhan menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat Tuhan berhasil. 35. Kemudian timbul pikiran kepada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai sesuatu waktu36. Dan bersama dengan dia masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda. Berkatalah salahseorang diantara keduanya: "Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur". Dan yang lainnya berkata: "Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepaiaku, yang seb~annya dimakan burung". ~ntakanlah kepada kami ta'bimya: sestiii~~nya kami memandang kama termasuk orang-orang yang pandai mena'birkan mimpi). Fasal Empat Puluh. 1. Sesudah semuanya terjadilah, bahwa juru minuman raja Mesir dan juru rotinya membuat kesalahan terhadap tuannya, raja Mesir itu. 259
  • 250. 2. Maka murkalah Fir'aun kepada kedua pegawai istananya, kepala [uru minuman dan kepala [uru roti itu. 37. Yusuf berkata: "Sebelum sampai kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai kepadamu. Yang demikian itu adalab sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian. 3. Ia menahan mereka dalam rumah kepala pengawal raja, dalam penjara tempat Yusuf dikurung. 4. Kepala pengawal raja menempatkan Yusuf bersama-sama dengan mereka untuk melayani mereka. Demikianlab mereka di-: tahan beberapa waktu lamanya, 38. Dan _ak_l~mengingat agama _ ~~iJak-bapakku yaitu Ibramm, Ishak dan Ya'kub. Tiadalah patut bagi kami (para nabi) mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (Reluruhnya); tetapi kebanyakan manusia itu tidak mensyukurinya. 260 5. Pada suatu kali bermimpilah merska ksduanya - b9i1~juru minuman mau pun juru roti raja Mesir, yang ditahan qa !am penjara itu - mas4!.~-inasing ada ~pin!~, pada suatu malam jUga, dan mimpi masing-masing itu ada artinya sendiri.
  • 251. 6. Ketika pada waktu pagi Yusuf datang kepada mereka, segera dilihatnya, bahwa mereka bersusah hati. 7. Lalu ia bertanya kepada pegawai-pegawai istana Fir'aun yang ditahan bersama-sama dengan dia dalam rumah tuannya itu: "Mengapakah hari ini mu•. kamu semuram itu?" 8. Jawab mereka kepadanya: "Kami bermimpi, tetapi tidak ada orang yang dapat mengartikannya". Lalu kata Yusuf kepada mereka: "Bukankah Allah yang menerangkan arti mimpi? Ceritakaniah kiranya mimpimu itu kepadaku" . 39. Hai kedua temanku dalam penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam 'itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? 40. Kamu tidak menyembah ~. K~~uillan juru minuman itu menceritakan mimpinya keyang selain ~.h k~cu.aii ah pada Yusuf, katanya: "Dalam nya (~!~riyembah) nama-nama mimpiku itu tampak ada pohon yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya, Allah ti- anggur di depanku . .dak menerangkan sesuatu kete10. PoIlon anggur itu ada tiga rangan pun tentang nama-nama caangnya dan baru saja poitu. Keputusan hanyalah kepu- hon itu bertunas, bunganya sunyaan Allah. Dia telah memerin- dab keluar dan tanda-tandanya tahkan agar kamu menyembah penuh buah anggur yang ranum. selain Dia. ltulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. 41. Hai kedua temanku dalam penjara: "Adapun salah di 261
  • 252. antara kamu berdua, akan memo beri minum tuannya dengan khamar; adapun yang seorang lagi maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebagian dari kepalanya, Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakan (kepadaku)" . 11. Dan di tanganku ada piala Fir'aun. Buah anggur itu kuambil, lalu kuperas ke dalam piala Fir'aun, kemudian kusampaikan piala itu ke tangan Fir'aun. 12. Kata Yusuf kepadanya: "Beginilah arti mimpi itu; ketiga carang itu artinya tiga hario 13. Dalam tiga hari ini Fir'aun akan meninggikan engkau dan mengembalikan engkau ke dalam pangkatmu yang dahulu dan engkau akan menyampai, kan piala ke tangan Fir'aun seperti dahulu kala, ketika engkau jadi juru minumnya, 14. Tetapi, ing-c1t1~~kepadaku, apabila keadaanmu ~.!!!...~ baik nanti, tunjukkanlah terima kasihmu kepadaku dengan menceritakan hal ihwalku kepada Fir'aun dan tolonglah keluarkan aku dari rumah ini. 42. Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua: "Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu". Maka syai262
  • 253. tan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya. 15. Sebab aku dicuri diculik be gitu saja dari negeri orang Ibrani dan di sinipun aku tidak pemah melakukan apa-apa y~ menyebabkan aku layak dima sukkan ke dalam liang tutupan ini. 16. Setelah dilihat oleh kepala juru roti, betapa baik arti mimpi itu, berkatalah ia kepadanya: "Aku pun bermimpi juga tampak aku menjunjung tiga bakul berisi penganan. 17. Dalam bakul atas ada berbagai makanan untuk Fir 'aun, buatan juru roti, tetapi burung-burung memakannya dari dalam bakul yang di atas kepalaku". 18. Yusuf menjawab: "Beginilah arti mimpi itu: ketiga bakul itu artinya tiga hari. 19. Dalam tiga hari ini Fir'aun akan meninggikan engkau, tinggi ke atas, dan menggantung engkau pada sebuah tiang, dan burung-burung akan memakan dagingmudari tubuhmu". 20. Dan terjadilah pada hari ketiga, hari kelahiran Fir'aun, maka Fir'aun mengadakan perjamuan untuk semua pegawainya. Ia meninggikan kepala juru minuman dan kepala juru roti itu 263
  • 254. di tengah-tengah nya. para pegawai- 21. Kepala juru minuman itu dikembalikannya ke dalam jabatannya, sehingga ia menyampaikan pula piala ke tangan Fir'aun. 22. Tetapi kepala juru roti itu digantungnya, seperti yang ditakbirkan Yusuf kepada mereka. 23. Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu melainkan dilupakannya. Fasal Empatpuluh satu. 43. Raja berkata (kepada orangorang terkemuka dari kaumnya): Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-Kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh butir lainnya yang kering". Hai orang. orang yang terkemuka: "Terangkanlah kepadaku tentang ta'bir mimpiku itu jika kamu dapat mena'birkan mimpi". 1. Setelah lewat dua tahun Iamanya, bermimpilah Fir'aun, bahwa ia berdiri di tepi sungai Nil. 2. Tampaklah dari sungai Nil itu keluar tujuh ekor lembu yang indah bangunnya dan gemuk badannya; lalu memakan rumput yang di tepi sungai itu, 3. Kemudian tampaklah juga tujuh ekor lembu yang lain, yang keluar dari dalam sungai Nil itu, buruk bangunnya dan kurus badannya, lalu berdiri di samping lembu-lernbu yang tadi, di tepi sungai itu. 4. Lembu-lembu yang buruk bangunnya dan kurus badannya itu memakan ketujuh ekor lembu yang indah bangunnya dan gemuk itu. Lalu terjagalah Fir'aun. 264
  • 255. 5. Setalah itu tertidur puJalah ia dan bermimpi kedua kalinya; tampak timbul dari satu tangkau tujuh bulir gandum yang bernas dan baik. 6. Tetapi kemudian tampakJah juga tumbuh tujuh bulir gandum yang kurus dan layu oleh angin timur. 7. Bulir yang kurus itu menelan ketujuh bulir yang bernas dan berisi tadi. Lalu terjagalah Fir'aun. Agaknya ia bermimpi! 44. Mereka menjawab: " (Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kalitidak tabu menta'birkan mimpi itu". 45. Danberkatalah orang yang selamat diantara mereka berdua dan teringat: (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya: "Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) mena'birkan mimpi itu, rnaka utuslah aku (kepadanya)". 8. Pada waktu pagi gelisahlah hatinya, lalu disuruhnyalah memanggil semua ahli dan semua orang berilmu di Mesir. Fir'aun menceritakan mimpinya kepada mereka, tetapi seorang pun tidak ada yang dapat mengartikannya kepadanya. 9. Lalu berkatalah kepala juru minuman kepada Fir'aun: "Hari ini aku merasa perlu menyebutkan kesalahanku yang dahulu. 10. Waktu itu tuanku Fir'aun murka kepada pegawai-pegawainya, dan menahan aku dalam rumah pengawal istana, beserta dengan kepala juru roti. 11. Pada satu Malam juga kami bermimpi aku dan kepala juru roti itu; masing-masingmem- • 265
  • 256. punyai mimpi sendiri. dengan artinya 12. Bersama-sama dengan kami ada di sana seorang muda Ibrani, hamba kepala pengawal istana itu; kami menceritakan mimpi kami kepadanya, lalu diartikannya kepada kami mimpi kami masing-masing. 13. Dan seperti yang diartikannya itu kepada kami, demikianlah pula terjadi; aku dikembalikan ke. dalam pangkatku, dan kepala juru roti itu digantung". 14. Kemudian Fir'aun menyurub memanggil Yusuf. Segeralah ia dikeluarkan dari tutupan, ia bercukur dan berganti pakaian, lalu pergi menghadap Fir'aun. 46. (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berkatal: "Yusuf, hai orang sangat dapat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh butir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kernbali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya". 15. Berkata Fir'aun kepada Yusuf: "AIm telah bermimpi, dan seorang pun tidak ada yang dapat mengartikannya, tetapi telah kudengar tentang engkau hanya dengan mendengar mimpi saja engkau dapat mengartikannya". 16. Yusuf menyahut Fir'aun: "Bukan sekali-kali aku, meIainkan Allah juga yang akan memberitakan kesejahteraan kepada tuanku Fir'aun". 17. Lalu berkatalah Fir'aun kepada Yusuf: "Dalam mimpiku itu, aku berdiri di tepi sungai Nil. 18. Lalu tampaklah dari sungai Nil itu keluar tujuh ekor , 266
  • 257. lembu yang gemuk badannya dan indah bentuknya, dan makan rumput yang di tepi sungai itu. 19. Tetapi kemudian tampaklah juga keluar tujuh ekor lembu yang lain, kulit pemalut tWang, sangat buruk bangunnya dan kurus badannya; tidak pemah kulihat yang seburuk itu di seluruh tanah Mem. 20. Lembu yang lturuf dan buruk itu memakan ketujuh ekor lembu gemuk yang mulamula. 21. Lembu-lembu ini masuk ke dalam perutnya, tetapi W8Jaupun telah masuk ke dalam perutnya, tidaklah kelihatan sedikit pun tandanya; bangunnya tetap sama buruknya seperti semula. Lalu terjagaJ.ahaku. 47. Yusul berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendalmya kamu biarkan dibulimya, kecuali sedikit untuk kamu makan. 22. Selanjutnya dalam mimpiku itu kulihat timbul dari satu tangkai tujuh bulir gandum yang berisi dan baik. 48. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. 23. Tetapi, kemudian tampaklah juga tumbuhlah tujuh bulir yang kering, kurus dan layu oleh angin timur. 49. Kemudian setelah itu akan datang tahun padanya manusia diberi hujan (dengan eu- 24. Bulir yang kurus itu memakan ketujuh bulir yang baik tadi. Telah kuceritakan hal ini kepada semua ahli, tetapi seorang pun tidak ada yang dapat menerangkannya kepadaku". 267
  • 258. kup) dan di masa itu mereka memeras anggur". 25. Lalu kata Yusuf kepada Fir'aun: "Kedua mimpi tuanku Fir'aun itu sama, Allah telah memberitahukan kepada tuanku Fir'aun apa yang hendak dilakukannya. 26. Ketujuh ekor lembu yang baik itu ialah tujuh tahun, dan ketujuh bulir gandum yang baik itu ialah tujuh tahun juga; kedua mimpi itu sama. 27. Ketujuh ekor lembu yang kurus dan buruk, yang keluar kemudian, maksudnya tujuh tahun, demikian pula ketujuh bulir gandum yang hampa dan layu oleh angin timur itu; maksudnya akan ada tujuh tahun kelaparan. 28. Inilah maksud perkataanku, ketika aku berkata kepada tuanku Fir'aun: Allah telah memperlihatkan kepada tuanku Fir'aun apa yang hendak dilakukan-Nya. 50. Raja berkata: "Bawalah dia kepadaku", Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf: "Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita Yang telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku, Maha Mengetahui tipu daya mereka" . 29. Ketahuilah tuanku, akan datang tujuh tahun kelimpahan di seluruh tanah Mesir.. 30. Kemudian akan timbul tujuh tahun kelaparan, maka akan dilupakan segala kelimpahan itu di tanah Mesir, karena kelaparan itu, mengurus- keringkan negeri ini. 31. Sesudah itu akan tidak kelihatan lagi bekas-bekas kelimpahan di negeri ini karena kelaparan itu, sebab sangat hebatnya kelaparan itu. 268
  • 259. 51. Raja berkata (kepada wanitawanita itu): "Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dinnya (kepadamu)? "Mereka berkata: Maha Sempuma Allah, kami tiada mengetahui sesuatu keburukan pun daripadanya". Berkata istri Al-Aziz: "Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orangyang benar". 32. Sampai dua kali mimpi itu diulangi bagi tuanku Fir'aun berarti: hal itu telah ditetapkan oleh Allah dan Allah akan segera melakukannya. 33. Oleh sebab itu, baiklah tuanku Fir'aun mencari seorang yang berakal budi dan bijaksana dan mengangkatnya menjadi kuasa atas tanah Mesir. 34. Baiklah juga tuanku Fir'aun berbuat begini, yakni menempatkan penilik-penilik atas tanah negeri ini dan dalam ketujuh tahun kelimpahan itu memungut seperlima dari hasil tanah Mesir. 52. (Yusuf berkata): "Yang demikian itu agar dia (Al-Aziz) mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya, dan bahwasanya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orangyang berkhianat. 35. Mereka harus mengumpulkan segala bahan makan da269
  • 260. lam tahun-tahun baik yang akan datang ini dan, di bawah kuasa tuanku Fir'aun, menimbun gandum di kota-kota sebagai bahan makanan, serta menyimpannya. 53. Dan aku tidak membebaskan diri (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" . 36. Demikianlah segala bahan makanan itu menjadi persediaan untuk negeri ini dalam ketujuh tahun kelaparan yang akan terjadi di tanah Mesir, supaya negeri ini jangan binasa karena kelaparan itu". 54. Dan raja berkata: "Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku". Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: "Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi terpercaya pada sisi kami". 37. Usul itu dipandang baik oleh Fir'aun dan oleh semua pegawainya. 38. Lalu berkatalah Fir'aun ke"pad~ para pegawainya; Mungkmkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?" 270
  • 261. 55. Berkata Yusuf : "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan" . 39. Kata Fir'aun kepada Yusuf: "Oleh karena Allah telah memberitahukan semuanya ini kepadamu, tidaklah ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksanasepertiengkau. 40. Engkaulah menjadi kuasa atas istanaku, dan kepada perintahmu seluruh rakyatku akan taat; hanya tahta inilah kelebihanku daripadamu". 41. Selanjutnya Fir'aun berkata kepada Yusuf : "Dengan ini aku melantik engkau menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir". 56. Dan demikianlah kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju ke mana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyianyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. 42. Sesudah itu Fir'aun menanggalkan cincin meterainya dari jarinya dan mengenakannya pada jari Yusuf; dipakainyalah kepada Yusuf pakaian daripada kain haIus dan digantungkannya kalung pada lehernya. 43. Lalu Fir'aun menyuruh menaikkan Yusuf dalam keretanya yang kedua, dan berserulah orang di hadapan Yusuf: "Hormat!" Demikianlah Yusuf dilantik oleh Fir'aun menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir. 271
  • 262. 44. Berkatalah Fir'aun kepada Yusuf: "Akulah Fir'aun, tetapi dengan tidak setahumu, seorangpun tidak boleh bergerak di seluruh tanah Mesir. 57. Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa. r-. 45. Lalu Fir'aun menamai Yusuf: zafnat Paaneah, serta memberikan Asnat, anak Potifera, imam di On, kepadanya menjadi istrinya. Demikian Yusuf muncul sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir. 46. Yusuf berumur tiga puluh tahun ketika ia menghadap Fir'aun, raja Mesir itu. Maka pergilab Yusuf daridepan Fir'aun, lalu dikelilinginya seluruh tanah Mesir. 47. Tanah itu mengeluarkan hasil bertumpuk-tumpuk dalam ketujuh tahun kelimpahan itu. 48. Maka Yusuf mengumpulkan segala bahan makanan ketujuh tahun kelimpahan yang ada di tanah Mesir, lalu disimpannya di kota-kota; hasil daerah sekitar tiap-tiap kota disimpan di dalam kota itu, 49. Demikianlah Yusuf menimbun gandum seperti pasir di laut, sangat banyak, sehingga orang berhenti menghitungnya, karena memang tidak terhitung. 50. Sebelum datang tahun kelaparan itu lahirlah bagi Yusuf dua orang anak laki-laki yang dilahirkan oleh Asnat, anak Potifera, imam di On. 272
  • 263. Fasal Empat puluh dua, 1. Setelah Yakub mendapat khabar bahwa ada gandum di Mesir, berkatalah ia kepada anakanaknya: Mengapa kamu berpandang-pandangan saja? 2. Lagi katanya: "Telah kudengar, bahwa ada gandum di Mesir; pergilah dan belilah gandum di sana untuk kita, supaya kita hidup dan jangan mati. 3. Lalu pergilah sepuluh orang saudara Yusuf untuk membeli gandum di Mesir. 4. Tetapi Yakub tidak membiarkan Benyamin, adik Yusuf, pergi bersama-sama dengan saudaranya, sebab pikimya: "Jangan-jangan ia ditimpa kecelakaan nanti. 5. Jadi diantara orang yang datang membeli gandum terdapatlah juga anak-anak Israel, sebab ada kelaparan di tanah Kanaan. 6. Sementara itu Yusuf telah menjadi mangku bumi di negeri itu; dialah yang menjual ganduni kepada seluruh rakyat negeri itu. Jadi ketika saudara-saudara Yusuf datang, kepadanyalah mereka menghadap dan sujud dengan mukanya sampai ke tanah. 58. Dan saudara Yusuf datang(ke Mesir) lalu mereka masuk ke (tempat)nya, maka Yusuf mengenal mereka, sedang mereka tidak kenal (lagi) kepadanya. 7. Ketika Yusuf melihat saudara-saudaranya, segeralah mereka dikenalnya, tetapi ia berlaku seolah-olah ia seorang asing kepada mereka; ia menegor mereka 273
  • 264. dengan membentak katanya: "Dari mana kamu? Jawab mereka: "Dari tanah Kanaan untuk membeli bahan makanan". 8. MemangYusuf mengenal saudara-saudaranya itu, tetapi dia tidak dikenali mereka. 9. Lalu teringatlah Yusuf akan mimpi-mimpinyatentang mereka. Berkatalah ia kepada mereka: "Kamu ini pengintai, kamu datang untuk melihat-lihat dimana negeri ini tidak dijaga". 10. Tetapi jawab mereka: "Tidak tuanku! Hanyalah untuk membeli bahan makanan hambahambamu ini datang. 11. Kami ini sekalian anak dari satu ayah, kami ini orang jujur, hamba-hambamu ini bukanlah pengintai. 12. Tetapi ia berkata kepada mereka: "Tidak! Kamu datang untuk melihat-lihat dimana negeri ini tidak dijaga". 13. Lalu jawab mereka: "Hambahambamu ini dua belas orang kami bersaudara, anak dari satu ayah di tanah Kanaan, tetapi yang bungsu sekarang ada pada ayah kami, dan seorang sudah tidak ada lagi". 14. Lalu kata Yusuf pada mereka: "Sudahlah! Seperti telah kukatakan kepadamu tadi: kamu ini pengintai. 59. Dan tatkala Yusuf menyiapkan bahan makanannya, ia 274 15. Dalam hal ini juga kamu harus diuji demi hidup Fir'aun,
  • 265. berkata: "Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Benyamin), tidaklah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan sukatan dan aku adalah sebaik-baik penerima tamu? kamu tidak akan pergi dari sini, jika saudaramu yang bungsu itu tidak datang kemari, 60. Jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan mendapat sukatan lagi daripadaku dan jangan kamu mendekatiku' . 17. Dan dimasukkannyalah 16. Suruhlah seorang daripadamu untuk menjemput adikmu itu, tetapi kamu ini harus tinggal terkurung di sini. Dengan demikian perkataanmu dapat diuji, apakah benar, dan jika tidak, demi hidup Fir'aun, sungguh-sungguhlah kamu ini pengintai". mereka bersama-sama ke dalam tahanan tiga hari lamanya. 18. Pada hari yang ketiga berkatalah Yusuf kepada mereka: Buatlah begini, maka kamu akan tetap hidup, aku takut akan AIlah, 61. Mereka berkata: "Kami akan membujuk ayahnya untuk membawanya (ke marl) dan sesungguhnya kami benar-benar akan mel8ksanakannya". 19. Jika kamu orang jujur, biarkanlah dari kamu bersaudara tinggal seorang terkurung dalam rumah tahanan, tetapi pergilah kamu, bawalah gandum untuk meredakan lapar seisi rumahmu. 20. Tetapi. saudaramu yang bungsu itu haruslah kamu bawa kepadaku, supaya perkataanmu itu ternyata benar dan kamu jangan mati", Demikianlah mereka perbuat. 21. Mereka berkata seorang kepada yang lain: "Betul-betullah kita menanggung akibat dosa kita terhadap adik kita itu; bukankah kita melihat bagaimana sesak hatinya, ketika ia memohon belas kasihan kepada kita, tetapi ki275
  • 266. ta tidak mendengarkan permohonannya. Itulah sebabnya kesesakan ini menimpa kita". 22. Lalu Ruben menjawab mereka: "Bukankah dahulu kukatakan kepadamu: Janganlah kamu berbuat dosa terhadap anak itu! Tetapi kamu tidak mendengarkan perkataanku. Sekarang darahnya dituntut daripada kita." 23. Tetapi mereka tidak tabu, bahwa Yusuf mengerti perkataan mereka, sebab mereka memakai seorangjuru bahasa. 24. Maka Yusuf mengundurkan diri dari mereka, lalu menangis. Kemudian ia kembali kepada mereka dan berkata-kata dengan mereka; ia mengambil Simeon dari antara mereka lalu disuruh belenggu di depan mata mereka. 25. Sesudah itu Yusuf memerintahkan, bahwa tempat gandum mereka akan diisi dengan gandum dan bahwa uang mereka masing-masing akan dikembalikan ke dalam karungnya, serta bekal mereka di jalan akan diberikan kepada mereka. Demikianlah dilakukan orang kepada merekaitu. 62. Yusuf berkata kepada bujang bujangnya: "Masukkanlah barang-barang(penukar kepunyaan mereka) ke dalam karung-karung mereka, supaya mereka mengetahuinya apabila mereka telah 276 26. Sesudah itu mereka memuat gandum itu ke atas keledai mereka, lalu berangkat dari situ. 27. Ketika seorang membuka karungnya untuk memberi ma-
  • 267. kembali kepada keluarganya, mudah-mudahan mereka kembali lagi". kan keledainya di tempat bermalam, dilihatnyalah uangnya, ada di dalam mulut karung. 28. Katanya kepada saudara-saudaranya: "Uangku dikembalikan; lihat, ada dalam karungku!" Lalu hati mereka menjadi tawar dan mereka berpandangpandangan dengan gemetar serta berkata: "Apakah juga yang diperbuat Allah terhadap kita!" 63. Maka tatkala mereka telah kembali kepada ayah mereka (Ya'kub) mereka berkata: "Wahai ayah kami, kami tidak men.dapat sukatan (gandum) lagi (jika tidak membawa saudara kami), sebab itu biarkanlah saudara kaIDi pergi bersama-sama kami supaya kami mendapatkan sukatan, dan sesungguhnya kami benarbenar menjaganya". 29. Ketika mereka sampai kepada Yakub, ayah mereka, di tanah Kanaan, mereka menceritakan segala sesuatu yang dialaminya, katanya: 30. Orang itu, yakni menjadi tuan atas negeri itu, telah me-· negor kami dengan membentak dan memperlakukan kami sebagai pengintai negeri itu. 31. Tetapi kata kami kepadanya: Kami orang jujur, kami bukan pengintai, 32. Kami dua belas orang bersaudara, anak-anak ayah kami; seorang sudah tidak ada lagi, dan yang bungsu ada sekarang pada ayah kami, di tanah Kanaan. 64. Berkata Ya'kub: "Bagaimana aku mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu, kecuali seperti aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu?" Maka Allah adalah sebaik-baik penjaga dan dia adalah Maha Penyayang diantara para Penyayang. 33. Lalu kata orang itu, yakni . yang menjadi tuan atas negeri itu, kepada kami: Dari hal ini aku akan tahu, apakah kamu orang jujur: dari kamu bersaudara haruslah kamu tinggalkan seorang padaku; kemudian bawalah gandwn untuk meredakan Japar seisi rumahmu dan pergilah. 277
  • 268. 65. Tatkala mereka membuka barang-barangnya, mereka menemukan kembali barang-barang (penukaran) mereka, dikembalikan kepada mereka. Mereka berkata: "Wahai ayah kami apa lagi yang kita inginkan. lni barangbarang kita dikembalikan kepada kita, dan kami akan dapat memberi makan keluarga kami, dan kami akan dapat memelihara saudara kami, dan kami mendapat tambahan sukatan (gandum) seberat beban seekor unta. Itu adalab sukatan yang mudah (bagi raja Mesir)". 34. Lalu bawalah kepadaku saudaramu yang bungsu itu, maka aku akan tabu, bahwa kamu bukan pengintai, tetapi orang jujur; dan aku akan mengembalikan saudaramu itu kepadamu, dan bolehlah kamu menjalani negeri ini dengan bebas". 35. Ketika mereka mengosongkan karungnya, tampaklah pundi-pundi uang masing-masing dalam karungnya; dan ketika mereka beserta ayah mereka melihat pundi-pundi uang itu, ketakutanlab mereka. 66. Ya'kub berkata: "AIm sekalikali tidak akan melepaskannya (pergi) bersama-sama kamu, sebelum kamu memberikan kepadaku janji yang teguh atas nama Allah, bahkan kamu pasti membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kamu dikepung musuh". Tatkala mereka memberikan janji mereka, maka Ya'kub berkata: "Allah adalah saksi ter278
  • 269. hadap apa yang kita ucapkan (ini)". 36. Dan Yakub, ayah mereka, berkata kepadanya: "Kamu membuat aku kehilangan anakanakku: Yusuf tidak ada lagi, dan Simeon tidak ada lagi, sekarang Benyamin pun hendak kamu bawa juga. Aku inilah yang menanggung segala-galanyaitu!" 37. Lalu berkatalah Ruben kepada ayahnya: "Kedua anakku laki-laki boleh engkau bunuh, jika ia tidak kubawa kepadamu; serahkanlah dia dalam tanganku, maka dia akan kubawa kembali kepadamu". 38. Tetapi jawabnya: " Anakku itu tidak akan pergi ke sana bersama-sama dengan kamu, sebab kakaknya telah mati dan hanyalah dia yang tinggal; jika dia ditimpa kecelakaan di jalan yang akan kamu tempuh, maka tentulah kamu akan menyebabkan aku yang ubanan ini turun ke dunia orang mati karena du1alcita". Fasal Empat Puluh Tiga. 1. Tetapi hebat sekali kelaparan di negeri itu. 2. Dan setelah gandum yang dibawa mereka dati Mesirhabis dimakan, berkatalah ayah mereka: "Pergilah pula membeli sedikit bahan makanan untuk kita". 3. Lalu Yehuda menjawabnya-: "Orang itu telah memperingatkan kami dengan sungguh: 279
  • 270. Kamu tidak boleh melihat mukaku, jika adikmu itu tidak ada bersama-samadengan kamu. 4. Jika engkau mau memberikan adik kami pergi bersama-sama dengan kami, maka kami mau pergi ke sana dan membeli bahan makanan bagimu. 5. Tetapi jika engkau tidak mau membiarkan dia pergi, maka kami tidak akan pergi ke sana, sebab orang itu telah berkata kepada kami: "Kamu tidak boleh melihat mukaku, jika adikmu itu tidak ada bersama-sama dengan kamu". 6. Lalu berkatalah Israel: "Mengapa kamu mendatangkan malapetaka kepadaku dengan memberitahukan kepada orang itu, bahwa masih ada adikmu seorang?" 7. Jawab mereka: "Orang itu telah menanyai kami dengan seksama tentang kami sendiri dan tentang sanak saudara kita; Masih hidupkah ayahmu? Adakah adikmu lagi? Dan kami telah memberitahukan semuanya kepadanya seperti yang sebenarnya. Bagaimana kami dapat menduga bahwa ia akan berkata:"Bawalah kemarl adikmu itu". 8. Lalu berkatalah Yehuda kepada Israel, ayahnya: "Biarkanlah anak itu pergi bersamasarna dengan aku; maka kami akan bersiap dan pergi, supaya 280
  • 271. kita tetap hidup dan jangan mati, baik kami mau pun engkau dan anak-anak kami, 9. Akulah yang menanggung dia; engkau boleh menuntut dia dari padaku jika aku tidak membawa dia kepadamu dan menempatkan dia di depanmu, maka akulah yang berdosa terhadap engkau untuk selama-lamanya, 10. Jika kita tidak berlambatlambat, maka tentulah kami sekarang sudah dua kali pulang". 11. Lalu Israel, ayah mereka, berkata kepadanya: "Jika demikian, perbuatlah begini: Ambillah hasil yang terbaik dari negeri ini dalam tempat gandummu dan bawalah kepada orang itu sebagai persembahan: sedikit balsem dan sedikit madu, damar dan damar ladan, buah kemiri dan buah badam. 12. Dan bawalah uang dua kali lipat banyaknya: Dang yang telah dikembalikan ke dalam mulut karung-karungmu itu haruslah kamu bawa kembali: . mU!1gkm itu suatu kekhilafan. . 67. Dan Ya'kub berkata: "Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlainlain; namun demikian aku tidak dapat melepaskan kamu barang sedikit pun daripada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepa- 13. Bawalah juga adikmu itu bersiaplah dan kembali: lah pula kepada orang itu, 14. Allah yang Mahakuasa kiranya membuat orang itu menaruh belas kasihan kepadamu supaya ia membiarkan saudaramu yang lain itu beserta Benyamin kembali. Mengenai 281
  • 272. da-Nyalah aku bertawakkal dan hendaklah kepadanya saja orang bertawakkal berserah diri". aku ini, jika terpaksa aku kehilangan anak-anakku, biarlah juga kehilangan! 15. Lalu orang-orang itu mengambil persembahan itu dan mengambU yang dua kali lipat banyaknya, beserta Benyamin juga; mereka bersiap dan pergi ke Mesir. Kemudian berdirilah mereka di depan Yusuf. 68. Dan tatkala mereka masuk menurut yang diperintahkan ayah mereka, maka (cara yang mereka lakukan itu) tiada melepaskan mereka sedikit pun dari takdir Allah, akan tetapi itu hanya keinginan pada diri Ya'kub yang telah ditetapkannya. Dan sesungguhnya dia mempunyai pengetahuan, karena kami telah mengajarkannya. Akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. 16. Ketika Yusuf melihat Benyamin bersama-sama dengan mereka, berkatalah ia kepada kepala rumahnya: "Bawalah orang-orang ini ke dalam rumah, sembelihlah seekor hewan dan siapkanlah itu, sebab orang-orang ini akan makan bersama-sama dengan aku pada tengah hari ini". 17. Orang itu melakukan seperti yang dikatakan Yusuf dan dibawanyalah orang-orang itu ke dalam rumah Yusuf. 18. Lalu ketakutanlah orang- 0rang itu, karena mereka dibawa ke dalam rumah Yusuf. Kata mereka: "Yang menjadi sebab kita dibawa ke sini , ialah perkara uang yang dikembalikan ke dalam karung kita pada mulanya itu, supaya kita disergap dan ditangkap dan supaya kita dijadikan budak dan keledai kita diambU" . 19. Karena itu mereka mendekati kepala rumah Yusuf itu, dan berkata kepadanya di depan pinturumah: 282
  • 273. 20. Mohon bicara tuan! Kami dahulu datang ke marl untuk membeli bahan makanan. 21. Tetapi ketika kami sampai ke tempat bermalam dan membuka karung kami, tampaklah uang kami masing-masingdengan tidak kurang jumlahnya ada di dalam mulut karung. Tetapi sekarang kami membawanya kembali. 22. Dang lain kami bawa juga ke mari untuk membeli bahan makanan; kami tidak tabu siapa yang menaruh uang kami itu ke dalam karung kami, 23. Tetapi jawabnya: "Tenang sajalah, jangan takut, Allah. mu dan Allah bapakmu telah memberikan kepadamu harta terpendam dalam karungmu; uangmu itu telah aku terima". Kemudian dikeluarkannyalah Simeon dan dibawanya kepada mereka. 24. Setelah orang itu membawa mereka ke dalam rumah Yusuf, diberikannyalah air, supaya mereka membasuh kaki;juga keledai mereka diberinya makan. 25. Sesudah itu meleka menyiapkan persembahannya menaniikan Yusuf datang pada waktu tengah hari, sebab mereka telah mendengar, bahwa mereki akan makan di situ. 26. Ketika Yusuf telah pulang, mereka membawa persembahan yang ada pada mereka itu kepada Yusuf di dalam rumah, 283
  • 274. lalu sujud kepadanya ke tanah. sampai 27. Sesudah itu ia bertanya kepada mereka apakah mereka selamat; lagi katanya: apakah ayahmu yang tua yang kamu sebutkan itu selamat? Masih hidupkah ia?" 28. Jawab mereka: "Hambamu, ayah kami, ada selamat; ia masih hidup". Sesudah itu berlututlah mereka dan sujud. 69. Dan tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf, Yusuf membawa saudaranya (Bunyamin) ke tempatnya, Yusuf berkata: "Sesungguhnya aku (ini) adalah saudaramu, maka janganlah kamu berduka cita terhadap apa yang telah mereka kerjakan". 29. Ketika Yusuf memandang kepada mereka, dilihatnyalah Benyamin, adiknya yang seibu dengan dia, lalu katanya: "Inikah adikmu yang bungsu itu, yang telah kamu sebut-sebut kepadaku?" Lagi katanya: "Allah kimnya memberikan kasih karunia kepadamU, anakku!" 30. Lalu segeralah Yusuf pergi dari situ, sebab hatinya sangat terharu merindukan adiknya itu, dan dicarinyalah tempat untuk menangis; ia masuk ke dalam kamar, lalu menangis di situ. 31. Sesudah itu dibasuhnvl'l~S!'h ~ukany~ dQJl ia tampil "kelu~. J.a menahan hatinya dan berkata: "Hidangkanlah makanan". 32. Lalu dihidangkanlah makanan, bagi Yusuf tersendiri, bagi saudara-saudaranya tersendiri dan bagi orang-orang Mesir yang bersama-sama makan dengan mereka itu tersendiri; sebab orang Mesir tidak boleh makan bersa- 284
  • 275. ma-sama dengan orang Ibrani, karena hal itu suatu kekejian bagi orang Mesir. 33. Saudara-saudaranya itu duduk di depan Yusuf, dari yang sulung sampai yang bungsu, sehinggamereka berpandang-pandangan dengan heran. 34. Lalu disajikan kepada mereka hidangan dari meja Yusuf, tetapi yang diterima Benyamin adalah "lima kali banyak daripada setiap orang yang lain. Lalu minumlah mereka dan bersukaria bersama-samadengan dia. Pasal Empat Puluh Empat. 70. Maka tatkala disiapkan untuk mereka bahan makanan mereka, Yusuf memasukkan piala (tempat minum) ke dalam karung saudaranya. Kemudian berteriaklah seseorang yana rrienyerukan: "!"T~ liaiiiah, ~sungguhnya kamu adalah orang-orang yang mencuri". 1. Sesudah itu diperintahkannyalah kepada kepala rumahnya: "Isilah karung-kamng orang orang itu dengan gandum, seberapa yang dapat dibawa me!"ek~, dan letakkanlah uang masingmasing di dalam mulut karungnya. 2. Dan pialaku, piala perak itu, taruhlah di dalam mulut karung anak yang bungsu serta uang pembayar gandumnya juga". Maka diperbuatnyalah seperti yang dikatakan Yusuf. 71. Mereka menjawab, sambil menghadap kepada penyerupenyeru itu: "Barang apakah yang hilang daripada kamu?" 3. Ketika paginya hari terang tanah, orang melepas mereka beserta keledai mereka. 72 Penyeru-penyeru itu berkata: , "Kami kehilangan pialaRaja, 4. Tetapi bam saja mereka keluar dari kota it-lI, belum lagi 285
  • 276. dan siapa yang mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya". jauh jaraknya, berkatalah yusuf kepada kepala rumahnya: "Bersiaplah kejarlah orang-orang itu, dan apabila engkau sampai kepada mereka, katakanlah kepada mereka: Mengapa kamu membalas yang baik dengan yang jahat. 73. Saudara Yusuf menjawab: "Demi Allah sesungguhnya kamu mengetahui bahwa kami datang bukan untuk membuat kerusakan di negeri (ini) dan kami bukanlah orang-orang men- 5. Bukankah ini piala yang dipakai tuanku untuk minum dan yang biasa dipakainya untuk menelaah? Kamu berbuat jahat dengan melakukan yang demikian". ."• CUD 6. Ketika sampai kepada mereka, diberitakannyalah kepada mereka perkataan Yusuf itu. 74. Mereka berkata: "Tetapi apa balasannya jikalau kamu betul-betul pendusta?" 7. Jawab mereka kepadanya: "mengapa tuanku mengatakan perkataan yang demikian. Jauhlah daripada hamba-hambamu ini ~"!tyk berbuat begitu! 75. Mereka menjawab: "Balasannya, ialah pada siapa yang diketemukan (barang yang hilang) dalam karungnya, maka dia sendirilah balasannya (tebusannya)". Demikianlah kami memberi pembalasan kepada orangorang yang zhalim. 8. Bukankah uang yang iamii dapati di dalam mulut karung kami telah kami bawa kembali kepadamu dari tanah Kanaan? Masakan kami mencuri emas atau perak dari rumah tuanmu? 9. Pada siapa dari hamba-hambamu ini kedapatan piala itu, biarlah ia mati, juga kami ini akan menjadi budak tuanku". 10. Sesudah itu berkatalah ia: "Ya, usulmu itu baik; tetapi pada siapa kedapatan piala itu, hanya dialah yang akan menjadi 286
  • 277. budakku dan kamu yang lain itu akan bebas dati salah". 11. Lalu segeralah mereka masing-masing menurunkan karungnya ke tanah dan masingmasing membuka karungnya. 76. Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala Raja itu dati karung saudaranya. Demikian~ lah kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menguhukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendaki-Nya. Kami tinggikan derajat orang yang kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui. 12. Dan kepala rumah itu memeriksanya dengan teliti; ia mulai dengan yang sulung sampai kepada yang bungsu; maka keda. patanlah piala itu dalam karung Benyamin. 13. Lalu mereka mengoyakkan jubahnya dan masing-masing memuati keledainya, dan mereka kembali ke kota. 14. Ketika Yehuda dan saudarasaudaranya sampai ke dalam rumah Yusuf, Yusuf masih ada di situ, sujudlah mereka sampai ke tanah di depannya. 15. Berkatalah Yusuf kepada mereka: ''Perbuatan apakah yang kamu lakukan ini? Tidak- 287
  • 278. kah kamu tahu, bahwa seorang yang seperti aku ini pasti dapat menelaah?" 16. Sesudah itu berkatalah Yehuda: "Apakah yang akan kami katakan kepada tuanku, apakah yang akan kami jawab, dan dengan apakah kami akan membenarkan diri kami? Allah telah memperlihatkan kesalahan hamba-hambamu ini. Maka kami ini, budak tuankulah kami, baik kami mau pun orang pada siapa kedapatan piala itu". 17. Tetapi jawabnya: "Jauhlah dari padaku untuk berbuat demikian! Pada siapa kedapatan piala itu, dialah yang akan menjadi budakku, tetapi kamu ini, pergilah kembali dengan selamat kepada ayahmu". 18. Lalu tampillah Yehuda mendekatinya dan berkata: "Mohon bicara tuanku, izinkanlah kiranya hambamu ini mengucapkan sepatah kata kepada tuanku dan janganlah kiranya bangkit amarahmu terhadap hambamu ini, sebab tuanku adalah seperti Fir'aun sendiri. 19. Tuanku telah bertanya kepada hamba-hambanya ini; Masih adakah ayah atau saudara kamu? . 20. Dan kami menjawab tuanku: Kami masih mempunyai ayah yang tua dan masih ada anaknya yang muda, yang lahir pada masa tuanya; kakaknya telah mati, 288
  • 279. hanya dia sendirilah yang tinggal dari mereka yang seibu, sebab itu ayahnya sangat mengasihi dia. 21. Lalu tuanku berkata kepada hamba-hambamu ini; Bawalah dia ke marl kepadaku, supaya mataku memandang dia. 22. Tetapi jawab kami kepada tuanku: Anak itu tidak dapat meninggalkan ayahnya, sebab jika ia meninggalkan ayahnya, tentulah ayah ini mati. 23. Kemudian tuanku berkata kepada hamba-hambamu ini: Jika adikmu yang bungsu itu tidak datang ke marl bersama-sama dengan kamu, kamu tidak boleh melihat mukaku lagi. 24. Setelah kami kembali kepada hambamu, ayahku, maka kami memberitabukan kepadanya perkataan tuanku itu. 25. Kemudian ayah kami berkata: Kembalilah kamu membeli sedikit bahan makanan bagi kita. 26. Tetapi jawab kami: Kami ti", dak dapat pergi ke sana. Jika adik kami yang bungsu bersamasama dengan kami, barulah kami akan pergi ke sana, sebab kami tidak boleh melihat muka orang itu, apabila adik kami yang bungsu tidak bersama-sama dengan kami. 27. Kemudian berkatalah hambamu, ayahku kepada kami: Kamu tabu, bahwa istriku telah 289
  • 280. melahirkan dua orang anak bagiku· , 28. Yang seorang telah pergi dari padaku, dan aku telah berkata: Tentulah ia diterkam oleh binatang buas, dan sampai sekarang aku tidak melihat dia kembali. 29. Jika anak ini kamu pula daripadaku, dan timpa kecelakaan, tentulah akan menyebabkan aku ubanan ini turun ke dunia mati karena nasib celaka. ambil ia dikamu yang orang 30. Maka sekarang, apabila aku datang kepada hambamu, ayahku, dan tidak ada bersamasama dengan kami anak itu, padahal ayahku tidak dapat hidup tanpa dia. - 77. Mereka berkata: "Jika ia mencuri, maka sesungguhnya telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu". Maka Yusuf menyembunyibn kejengkelan itu pada dirinya dan tidak menampakkannya kep~da m~reka. Dia ber!c~td (daI8.m hatinya): "i.amu lebih buruk kedudukanmu (sifat-sifatmu) dan Allah Malui. Mengetahui apa yang kamu terangkan itu". 31. Tentulah akan terjadi, apabila dilihatnya anak itu tidak ada, bahwa ia akan mati dan hamba-hambamu ini akan menyebabkan hambamu, ayah kami yang ubanan itu, turun ke dunia orang mati karena dukacita. 78. Mereka berkata: "Wahai AIAziz, sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah lanjut usianya, lantaran itu ambillah salahseorang daripada kami sebagai gantinya, sesungguhnya ka- 33. Oleh sebab itu, baiklah hambamu ini tinigal menjadi budak tuanku menggantikan anak itu, dan biarlah anak itu pulang bersama-sama dengan saudarasaudaranya. 290 32. Tetapi hambamu ini telah menanggung anak itu terhadap ayahku dengan perkataan: Jika aku tidak membawanya kembali kepada bapa, maka akulah yang berdosa kepada bapa untuk selama-lamanya.
  • 281. mi melihat kamu termasuk orang orang yang berbuat baik". 79. Berkata Yusuf: "Aku mohon perlindungan kepada Allah daripada menahan seorang, kecuali orang yang kami ketemukan harta benda kami padanya, jika kami berbuat demikian, maka benar-benarlah kami orangorang yang zhalim". 34. Sebab masakan aku pulang kepada ayahku, apabila anak itu tidak bersama-sama dengan aku? Aku tidak akan sanggup melihat nasib celaka yang akan menimpa ayahku". 80. Maka tatkala mereka berputus asa daripada (putusan) Yusuf mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik. Berkatalah yang tertua diantara mereka: "Tidakkah kamu ketahui bahwa sesungguhnya ayahmu telah mengambil janji dari kami dengan nama Allah dan sebelum itu kamu telah menyia-nyiakan Yusuf. Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi keputusan terhadapku. Dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya" . 81. Kembalilah kepada ayahmu dan katakanlah: "Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu telah mencuri; dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui, dan sekali-kali kami tidak dapat menjaga (mengetahui) barang yang ghaib. 82. Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada di situ, 291
  • 282. dan kafilah yang kami datang bersamanya, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar". 83. Ya'kub berkata: "Hanya dirimu sendirilah yang memandang book perbuatan (yang buruk) itu, Maka kesabaran yang book itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana". 84. Dan Ya'kub berpaling kepada mereka (anak-anaknya) seraya berkata: "Aduhai duka citaku terhadap Yusuf", dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya). 85. Mereka berkata: "Demi Allah senantiasa kamu mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidapkan penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa". 86. Ya'kub menjawab: "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku dan aku mengetabui dari Allah apa yang kamu tiada mengetabuinya. 87. Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka ceritalah berita tentang Yusuf dan saudara-saudaranya dan [angan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir". 292
  • 283. Fasal Empat Puluh Lima 1. Ketika itu Yusuf tidak dapat menahan hatinya 1agidi depan semua orang yang berdiri di dekatnya, lalu berserulah ia: "Suruhlah keluar semua orang dari sini". Maka tidak ada seorangpun yang tinggal di situ bersamasama Yusuf, ketika ia memperkenalkan dirinya kepada saudarasaudaranya. 88. Maka ketika mereka masuk ke ~empat) Yusuf, mereka berkata: "Hai Al-Aziz,kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah". 2. Setelah itu menangislah ia keras-keras, sehingga kedengaran kepada orang Mesir dan kepada seisi istana Fir'aun. 3. Dan Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya: "Akulah Yusuf! Masih hidupkah bapa?" Tetapi saudara-saudaranya tidak dapat menjawabnya, sebab mereka takut dan gemetar menghadapi dia. 89. Yusuf berkata: "Apakah kamu mengetahui (kejelekan) apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu tidak mengetahui (akibat) perbuatanmu itu?" 4. Lalu kata Yusuf kepada saudara-saudaranya itu: "Marilah dekat-dekat". Maka mendekatlah mereka. Katanya lagi: "Akulah Yusuf, saudaramu, yang kamu jual ke Mesir. 293
  • 284. 90. Mereka berkata: "Apakah kamu ini benar-benar Yusut?'1 Yusuf menjawab: "Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami". Sesungguhnya barangsiapa yang bertakwa dan bersabar. maka sesungguhnyaAllah tidak menyianyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik". 5. Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu, 6. Karena telah dua tahun ada kelaparan dalam negeri ini dan selama lima tahun lagi orang tidak akan membajak atau menuaL 7. Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar daripadamu tertolong. 91. Mereka berkata: "Demi Allah sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orangorang yang bersalah (berdosa). 8. Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Fir'aun dan tuan atas seIuruh istananya dan sebagai kuasa atas seIuruh tanah Mesir. 92. Dia (Yusuf) berkata: ''Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan dia adalah Maha Penyayang di antara para Penyayang". 9. Segeralah kamu kembali kepada bapa dan katakanlah kepadanya: Beginilah kata Yusuf, anakmu: Allah telah menempatkan aku sebagaituan atas seIuruh Mesir; datanglah mendapatkan aku, janganlah tunggu-tunggu, . 93. Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu Ietakkanlah dia ke wajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku". 10. Engkau akan tinggal di tanah Gosyen dan akan dekat kepadaku, engkau serta anak dan cucumu, kambing domba dan Iembu sapimu dan segala milikmu. 294 11. Di •sanalah aku memelihara engkau - sebab kelaparan ini
  • 285. masih ada lima tahun 1agi- BUpaya engkau jangan jatuh miskin bersama sew rumahmu dan semua orang yang ikut serta dengan engkau. 12. Dan kamu telah melihat dengan mata sendiri, dan saudaraku Benyamin juga, bahwa mulutku sendiri mengatakannya kepadamu. 13. Sebab itu ceritakanlah kepada bapa segala kemuliaanku di negeri Mesir ini, dan segala yang telah kamu lihat, kemudian segeralahbawa bapa ke marl". 14. Lalu dipeluknya leher Benyamin, adiknya itu, dan menangislah ia, dan menangis pulalah Benyamin pada bahu Yusuf. 15. Yusuf mencium semua saudaranya itu dengan mesra dan ia menangis sambil memeluk mereka. Sesudah itu barulah saudara-saudaranya bercakap-eakap dengan dia. 16. Ketika dalam istana Fir'aun terdengar kabar, bahwa saudara-saudara Yusuf datang, 1 11 itu diterima dengan baik oleh Fir'aun dan pegawai-pegawainya. 17. Lalu berkatalah Fir'aun kepada Yusuf: "Katakanlah kejada saudara-saudaramu: Buatl.h begini: muatilah binatang-binatangmu dan pergilah ke tanah Kanaan. 18. Jemputlah ayahmu dan seisi rumahmu dan datanglah 295
  • 286. mendapatkan aku, maka aku akan memberikan kepadamu apa yang paling baik di tanah Mesir, sehingga kamu akan mengecap kesuburan tanah ini. 19. Selanjutnya engkau mendapat perintah mengatakan kepada mereka: Buatlah begini: bawalah kereta dari tanah Mesir untuk anak-anakmu dan istriistrimu, jemputlah ayahmu dari sana dan datanglah kemari. I 20. Janganlah kamu merasa sayang meninggalkan barangbarangmu, sebab apa yang paling baik di seluruh tanah Mesir ini ada!!lh milikmu". 21. Demikianiah dilakukan oleh anak-anak Israel tty. Yusuf memberikan kereta kepada mereka menurut perintah Fir'aun, juga diberikan kepada mereka bekal di jalan. 22. Kepada mereka masing-masing diberikannya sepotong pesalin dan kepada : Benyamin diberikannya tiga ratus uang perak dan lima potong pesalin. 23. Di samping itu kepada ayahnya dikirimkannya sepuluh ekor keledai jantan, dimuati dengan apa yang paling baik di Mesir,lagi pula sepuluh ekor keledai betina, dimuati dengan gandum dar, roti dan makanan untuk ayahnya dalam perjalanan. 94. Tatkala kafilah itu telah keluar (dari negeri Mesir) ber296 24. Kemudian ia melepas saudara-saudaranya serta berkata
  • 287. kata ayah mereka: "Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah aka! (tentu kamu membenarkan aku)". 95. Keluarganya berkata: "Demi Allah, sesungguhnya kamu masih dalam kekeliruanmu yang dahulu". kepada mereka: "Janganlah herbantah-bantah di jalan". 25. Demikianlah mereka pergi dari tanah Mesir dan sampai di tanah Kanaan, kepada Yakub, ayah mereka. 26. Mereka menceritakan kepadanya: "Yusuf masih hidup, bahkan diaIah yang menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir". Tetapi hati Yakub tetap dingin, sebab ia tidak dapat mempercayai mereka. 96. TatkaIa telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya'kub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Berkata Ya'kub: "Tidakkah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu mengetahuinya" . 27. Tetapi ketika mereka menyampaikan kepadanya segaIa perkataan yang diucapkan Yusuf, dan ketika dilihatnya kereta yang dikirim oleh Yusuf untuk msnjemputnya, maka bangkitlah kembaIi semangat Yakub, ayah mereka itu. 28. Kata Yakub: "Cukuplah itu; anakku Yusuf masih hidup; aku mau pergi melihatnya, sebelum aku mati". FasaI Empat puluh enam. 97. Mereka berkata: "Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun 1. Jadi berangkatlah Israel dengan segala miliknya dan ia 297
  • 288. bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (herdosa)", 98. Ya'kub herkata: "Kelak aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. SesunglUhnya Dia-Jab Yang Maha PeDgampun lagi Maha Penyayang". tiha di Bersyeba, lalu dipersembahkannya korban sembelihan kepada Allah Ishak ayahnya. 2. Berfirmanlah Allah kepada Israel dalam penglihatan waktu malam: "Yakub, Yakub!tt 8ahutnya: "Ya, Tuhan", 3. Lalu firman-Nya: "Akulah Allah, Allah ayahmu, janganlab takut pergi ke Mesir, sebab Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar di sana. 4. Aku sendiri akan menyertai engkau pergi ke Mesir dan tentuJah Aku juga akan membawa engkau kemba1i; dan tangan Yusuflah yang akan mengatupkan kelopak matamu nanti", 5. Lalu berangkatlah Yakub dari Bersyeba, dan anak-anak Israel membawa Yakub, ayah mereka, beserta anak dan istri mereka, dan mereka menaiki kereta yang dikirim Fir'aun untuk menjemputnya. 99. Malta tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf; Yusuf merangkul ibu bapanya, dan dia berkata: "Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah keadaan aman". 28. Yakub menyuruh Yehuda berjalan lebih dahulu mendapatkan Yusuf, supaya Yusuf datang ke Gosyen menemui ayahnya. Sementara itu sampailah mereka ke tanah Gosyen. 29. Lalu Yusuf memasang keretanya dan pergi ke Gosyen, mendapatkan Israel, ayahnya. Ketika ia bertemu dengan dia, dipeluknyalah leher ayahnya dan lama menangis pada bahunya. 298 ,... ---------~~----------------~'-.
  • 289. 100. Dan ia menaikkan kedua ibu-bapaknya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf: "Wahai ayahku inilah ta'bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudarasaudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia-lah. Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. 101. Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian ta'bir mimpi (Ya Tuhanku) , Peneipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh". 30. Berkatalah Israel kepada Yusuf: "Bekarang bolehlah aku mati, setelah aku melihat mukamu dan mengetahui bahwa engkau masih hidup". 31. Kemudian berkatalah Yusuf kepada saudara-saudaranya dan kepada keluarga ayahnya itu: "Aim mau menghadap Pir'aun dan memberitahukan kepadanya: Saudara-saudaraku dan keluarga ayahku, yang tinggal di tanah Kanaan, telah datang kepadaku; 32. Orang-orang itu gembala kambing domba, sebab mereka itu pemelihara temak, dan kambing dombanya, lembu sapinya dan segala miliknya telah dibawa mereka. 33. Apabila Fir'aun memanggil kamu dan bertanya: Apakah pekerjaanmu? , 34. Maka jawablah: Hamba-hambamu ini pemelihara temak, sejak dari keeil sampai sekarang, baik kami maupun nenek moyang kami - dengan maksud supaya kamu boleh diam di tanah Gosyen". - Sebab segala gembala kambing domba adalah suatu kekejian bagi orang Mesir. Fasal Empat Puluh Tujuh. 1. Kemudian pergilah Yusuf memberitahukan kepada Fir'aun: "Ayahku dan saudara-saudaraku beserta kambing dombanya, lembu sapinya dan segala miliknya telah datang dari tanah Kanaan, dan sekarang mereka ada di tanah Gosyen". 299 , .. ,~~ ----
  • 290. SKEMA SPESIFlKASI A YAT·AY AT AL-QUR' AN .DALAM KISAH YUSUF Nomor ayat-ayat Kisah Yusuf dalam AI-Qur'an Kiaah Yuauf dalam Kitab suci Keteran,anketeranpn. Al-Qur'an 1-3 4-6 Jalan masuk bagian-bagian kisah dalam lingkaran fenomena agama, Mimpi Yusuf tu kali, hanya sa. Jalan masuk bagian-bagian kisah dalam lingkaran kehidupan keluarga. Dua kali Yusuf. berbeda. mimpi dari berbeda. de- berbeda. 7-15 Kepergran Yusuf dengan persetujuan Ya'kub setelah adanya perkomplotan terhadap dirinya. Kepergian Yusuf ngan seizin Ya'kub. 16-18 Kecurigaan Ya'kub terhadap anak-anaknya dan harapannya setelah terjadinya perkomplotan terhadap dirinya, Ya'kub mempercayai dengan cepat (keterangan anak-anaknya) dan keputus-asaannya setelah terjadinya perkomplotan. 19-20 Dijualnya Yusuf tibanya di Mesir. 24 Yusuf nyaris terjerumus ke dalam kemaksiatan, dan tanda terang Allah diperlihatkan kepadanya. Tidak terse but. 25 Baju Yusuf ditarik hingga koyak oleh wanita itu. Baju Yusuf wanita itu. diambil oleh Kemarahan Yusuf. suami berbeda. 27-29 300 dan Pernyataan salah oleh . suami terhadap istrinya sarna AI-Qur'an me mastikan cam pur tangan Kehendak Al1ah lebih pOliti daripada yanll disebutkan oleh Kitab Su ci. kepad berbeda .
  • 291. lNomor Iayat-ayat Al-Qur'an 30-31 Kisah Yusuf di da1am Al-Qur'an Kisah Yusuf di dalam Kitab suei Keteranganketerangan. Terbukanya skandal yang. dilakukan oleb wanita itu di kota dan berkumpulnya para wanita. Tidak diSebut-sebut. Do'a (permobonan) Yusuf kepada Allah berbubung dengan desakan wanitaitu. Tidak disebut-sebut. 36-40 Peringatan dan nasibat Yusuf kepada kawankawan sepenjaranya. Tidak disebut-sebut, 41 Dua mimpi dimintakan ta'birnya dari Yusuf. Ta'bir dua mimpi dikemukakan oleb Yusuf. 42-48 Pemeeahan secara psikologis ataB problematika pemenjaraan (Yusuf), dengan pengakuan wanita (yang berusaha memperdayakan itu). Pemeeaban seeara politis disebabkan oleb mimpi Fir'aun. 49 Ramalan tentang tabun kemakmuran dan keselamatan. 'lidak tersebut. 63 Nasihat di badapan raja. 'lidak tersebut. Pribadi Yusuf sebagai seoranI Nabi nam pak ielas sekali da1am Al-Qur'.:1. 64 putusan terbadap Yusuf ditinjau kembali. Tups dipercayakan kepada Yusuf. Keadilan di dalam Al-Qur'aD dan siasat di dalam Taurat. 65 Yusuf meminta jabatan penguua perbendabaraan nelara. Jabatan penguua peJ,'bendabaraan nelara di- Berbeda. tawarkan kepadanya. 34 Yusuf banyak memegang pe ranan dalam Al-Qur' an de ngan do'ado'anYa. Berbeda. Jiwa turut berbieara di dalam Al-Qur'an lebib banyak daripada di dalam Kitab Suei 301
  • 292. Kesimpulan-kesimpulan yang memperbandingkan di antara kedua kisah (kisah yang ada dalam AI-Qur'an dan yang ada dalam Kitab Suci), Dalam kedua kisah yang baru kami selesaikan penampilannya, dapat dibandingkan unsur-unsur yang bersamaan, dengan jalan yang memperlihatkan kepada kita ciri yang khusus terdapat pada AI-Qur'an. Kemudian diharuskan kepada kita untuk meneliti persoalan persamaan ini antara kedua Kitab itu, hal mana amat bermanfaat bagi topik ini. Gema sejarah sarna benar di k'edua Kitab itu. Sekalipun demikian renungan cepat saja sudah dapat mengungkapkan kepada kita, unsur-unsur khas yang memperbedakan dengan tepat kedua Kitab itu, diantara satu dengan yang lain. Kisah yang dibawakan oleh AI-Qur'an dengan terus-menerus bergerak dalam suasana ruhani yang dapat kami rasakan dalam.sikap dan pembicaraan tokoh-tokoh yang menggerakkan lakon dalam kisah AI-Qur'an itu. Dalam kisah yang dibawakan AI-Qur'an terlukis dalam kadar yang cukup besar kehangatan semangat yang terkandung dalam perkataan-perkataan dan perasaan-perasaan Ya'kub, Ya'kub memperlihatkan dirinya sebagai seorang Nabi, lebih banyak daripada sebagai seorang ayah. Sifat ini tampak secara khusus dalam caranya mengutarakan keputusasaannya, ketika ia mengetahui tentang hal hilangnya Yusuf, sebagaimana juga tampak dengan jelas sifat itu dalam caranya melukiskan harapannya, ketika ia mendorong anak-anaknya untuk pergi mencari berita tentang Yusuf dan saudaranya. Isteri pembesar Mesir itu sendiri dalam kisah AI-Qur'an berbicara dengan bahasa yang sesuai dengan hati nurani insan yang sedang dilanda kesesalan, sedang kebersihan dan kesucian (ketiada-salahan) si korban (Yusuf) memaksa wanita itu untuk tunduk menyerah kepada kebenaran. Tahu-tahu wanita yang berdosa itu pada akhirnya mengaku, akan kesalahan serta kekeliruannya. Di dalam penjara YusUf berbicara dengan bahasa ruhani yang tinggi, baik dengan kedua kawannya (yang bersamaan dengan dial atau dengan penjaga penjara. Maka ia berbicara untuk menunaikan tugas kenabiannya kepa<ia setiap jiwa yang ia mengharapkan keselamatannya. Di hadapan kisah yang dibawakan AI-Qur'an, kalni dapati bahwa kisah teaebut di dalam Kitab suci agak berlebih-lebihan dalam mensifatkan pelaku·pelakunya yang berbangsa Meair, yang dengan sendirinya pemuja berhala, dengan sifat-6ifat Ibrani. 304
  • 293. Maka penjaga penjara berbicara sebagai seorang yang bertauhid (mengesakan Tuhan) 1). Dan dalam bagian yang khusus mengenai penta'biran mimpi di dalam kisah itu, indikasi kelaparan tertulis dalam gambaran yang kurang sempuma. Perkataan Perjanjian Lama dalam soal ini ialah: "Ditelanlah akan bulir gandum yang baik itu" Akan tetapi dalam kisah Al-Qur'an ia cukup menampilkan akibat yang ditimbulkan oleh tahun-tahun kelaparan. Lagi pula kisah dalam Kitab suci menampilkan banyak ke- • salahan historis untuk menguatkan "keadaan historis bagi ayat yang sedang kita persoalkan, umpamanya ayat yang berbunyi: " , karena tiada boleh orang Mesir itu makan sehidangan dengan orang Ibrani, sebab ia itu suatu kebencian kepada orang Mesir" 2). Kami dapat memastikan bahwa kalimat di atas adalah perbuatan orang-orang yang merubah Taurat yang cenderung untuk membawakan periode bencana yang menimpa Bani Israil di Mesir, sedang periode ini terjadi .setelah zaman Yusuf. Selanjutnya di dalam kisah Kitab suci, saudara-saudara Yusuf mempergunakan keledai-keledai dalam perjalanan mereka bukannya onta, sebagai yang tersebut dalam kisah Al-Qur'an, padahal mempergunakan keledai oleh kaum Ibrani tidak terjadi, melainkan baru sesudah mereka menetap bermukim di lembah Nil, yakni sesudah mereka berurbanisasi, sebab keledai adalah hewan yang dipakai di kota-kota, tidak mampu dalam keadaan bagaimanapun, berjalan jarak jauh di padang pasir yang luas, untuk menempuh perjalanan dari Palestina (ke Mesir). Tambahan lagi keturunan Ibrahim a.s. dan Yusuf hidup mengembara, sebagai penghela lembu dan kambing. Akhirnya pemecahan problematik.klsah ini mengandung eiri pemaparan seeara kronologis di dalam kisah Kitab suci, yang dalam pasal-pasal akhirnya, yang kami utamakan untuk tidak mensitirnya untuk meneegah keterlanturan yang menjemukan, dipaparkan keterangan-keterangan yang bersifat kebendaan, tentang menetapnya kaum Ibrani di Mesir. Adapun di dalam Al-Qur'an, kesudahan kisah ini berputar sekitar ciri yang menonjol daripada pelaku yang merupakan IX 1). Perjanjian Lama Kitab Kejadian faaal tiga puluh sembilan ayat ~4. 2'). Perjanjian IAma:Kita~ J{ejadian Pasal 243, ayat 32. 305
  • 294. ros kisah, yaitu Yusuf, yang mengakhiri kisah dengan penutupan yang menunjukkan kemenangan: (l··:w ..•.• >: "Wahai aYahku inilan ta'bir mimpihu yang suatu kenyataan. Dan eesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketiha Dia membebaskan aku dari ruman penjara, dan hetiha membauia halian dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusahhan (hubtmgan) antaraku dan saudara-saudaraku. Besungguhnya Tuhanku Moha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Besungguhnya Dialah. Yang Maho Mengetahui, logi Maho BijakBana". 1). Pembahasan Kritis terhadap masalah. Betapapun jauhnya perbedaan diantara kedua kisah tersebut namun kaitan antara keduanya betapa pun juga, adalah jelas sehingga ia mengilhami kritik, di segala masa, dengan keberatankeberatan yang berlain-lainan. Keberatan-keberatan ini dapat disimpulkan dalam dua buah hipotesa. Yang pertama, bahwasanya Nabi s.a.w. telah penuh di dadanya tanpa disadari, dengan pikiran ketauhidan, yang mung kin dicerminkan, di luar kesadaran, dalam kegenialitasannya yang khusus, untuk menuangkannya setelah itu, dalam ayat-ayat AI-Qur'an. Yang kedua: bahwasanya Nabi s.a.w. telah belajar Kitabkitab suci Yahudi masehi, dengan langsung disertai kesadaran, untuk mempergunakannya setelah itu untuk menyusun AIQur'an. 1). Surat Yusuf ayat 100. 306
  • 295. Itulah problem yang amat penting. Untuk dapat memecahkan problem di atas, kita harus membahas kedua hipotesa di atas, secara berurut-urutan dari segi histons dan segi psikologis. Kiranya akan bermanfaat agar kita dapat memahami bab ini, kalau kami bersendi atas pengetahuan-pengetahuan dari ukuran yang pertama, yang kami pergunakan sehubungan dengan diri Muhammad s.a.w. Hipotese pertama. Hipotese ini mempqnyai dua bilah: Yang pertama; adanya pengaruh Yahudi masehi dalam lingkungan masyarakat jahiliah. Yang kedua: Cara yang memungkinkan bagi pengaruh ini untuk menonjol dalam fenomena Al-Qur'an. Namun semua pembahasan yang bertujuan untuk mengungkap pengaruh ini dalam lingkungan masyarakat Arab sebelum Islam, tidak pemah memperoleh hasil positif sedikit pun. Yang ada ialah bahwa gambaran dari masyarakat ini tercermin dalam bentuk kesusastraan bahasa yang dimiliki,. bersama, dan tercermin pula dalam kesusasteraan yang bersifat kerakyatan, yang memarrlfestasikan kebuta-hurufan secara umum, karena masyarakat ini memang adalah masyarakat buta huruf menurut kata-kata historis dari Al-Qur'an. "Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf Beorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayatnya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah. Dan BeBungguhnya mereka eebetumnsa benar-benar dalam keseeatanyang nyata" (Surat Al-Jumu' ah ayat 2). 307 d
  • 296. Prasasti-prasasti yang berhubungan dengan zaman itu jarang sekali, sebab kekayaan berpikimya dan kesusastraan nasionalnya tidak disimpan me1alui pencatatan tertulis, melainkan dituturkan dari mulut ke mulut. Jalan yang terakhir iniIah yang menyampaikan pusaka itu kepada abed-abed kesusasteraan dan iImu pengetahuan Islam. Adapun Al-Qur'an, ia dipandang sebagai suatu bukti tertuIis yang mempunyai kekuatan historis, yang tak dapat dibantah lagi, tentang zaman jahiliah (pra Islam). Namun dokumen satusatunya ini, yang ditunjang oIeh kisah yang dituturkan dan mulut ke mulut, tidak menerangkan sedikit pun kepada kita, mengenai hal-hal yang berkaitan dengan adanya "pikiran ketauhidan" yang tersebar di kalangan masyarakat jahiliah. Malah sebaliknya ia menegaskan berulang kali, bahwa tiada sedikit pun pengaruh keagamaan ada wujudnya dalam zaman jahiliah itu: Maka ketika Al-Qur'an menuju sekali lagi kepada Nabi s.a.w kita dapati Al-Qur'an memberikan batasan jelas mengenai mak.na dan tugas kerasulannya, dengan berkata: "Dan ia (Muhammad) mengajarkan kepada kalian Kitab dan hikmah" 1). Demikianlah Al-Qur'an telah menentukan dengan tegas seorang Guru ketauhidan yang pertama bagi jazirah Arab. Pada hakekatnya tanda tersebut telah ditegaskan dengan menjelaskannyapanjang Iebar di dalam Al-Qur'an, terutama daIam kisah Nuh, yang oleh Al-Qur'an ditutup dengan ayat penghujung yang jelas dan terang itu, yakni: / ''''.'' "" ./ ~I • .J c..s I f.l~ • "" t, ./ • .; •• .11 (;1 ~; ,." .." oJ >Jb ~. .., • ~! ~ ~.,.: ~ ;, ~I " ..,J.,", "". ";.,,.. • "". L...:I . ~ ""~.///""."" /. .". 1.iA ~ ~ II (,)e cl.."; ~J .;. dJ; " c..:1 ) "Itu adalah diantara berita-berita penting tentang yang gaib yang Kami- wahyukan kepadamu. Tidak pemah kamu mengetahuinya ·dan tidak pula kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah 1). Tidak diragukan lali bahwa Nabi telah menerima ayat ini dalam keaadarannya ketika diwahyukan kepadanya, sebagai yant tersebut dalam buku F. Engels halaman 139. 308
  • 297. BeBungguhnya keBudGhGn yang baik ooa14h bag; orcmg-orcmg yang bertGkwa". (Surat Hud ayat 49). Penampilan kisah Yusuf itu sendiri, yang baru kami selesai daripadanya, sesungguhnya terkurung dalam "frame" yang dibatasi dengan ayat 3 dan ayat lOl;kedua ayat yang mengandung ciri khusus historis sarna dengan yang terdahulu, yaitu penegasan tentang kekosongan masyarakat Arab jahiliah dari sejarah ketauhidan manapun. 1). Jadi, ayat-ayat dan penegasan-penegasan ini akan mempunyai nilai rasional apa, dalam pandangan Nabi s.a.w. dan orangorang sezamannya, kalau tidak sebagai penyampaian-penyampaian yang bertentangan dengan kenyataan obyektif pada zaman itu. Pada hakekatnya kenyataan ini, yang dapat dirobah oleh orang-orang sezaman itu, yang diundang untuk memberikan kesaksian dengan terus-terang dalam ayat-ayat tersebut di atas, kenyataan ini tidak lain daripada kenyataan tentang ketiadaan pengaruh Yahudi masehi apa pun dalam kehidupan jahiliah. Itulah yang ditegaskan oleh AI-Qur'an dengan keras diperkuat oleh berita-berita yang berturut-turut. Para tokoh kaum Yesuit telah mengadakan pada awal abad ini, pembahasan-pembahasan yang teramat penting tentang obyek ini untuk menentukan seberapa jauh partisipasi "penyairpenyair nasrani di zaman jahiliah". Pembahasan-pembahasan mereka telah berkesudahan dengan suatu hasil karya sastrawi yang sangat besar, yang di dalamnya tidak ada wujud kenasraniannya, selain daripada judul tersebut itu saja. Karya besar ini telah memperoleh hasil yang tidak diduga-duga, dan mempunyai tujuan pula, yaitu bahwa basil karya itutelah membuktikan kebalikan dari apa yang dikehendaki oleh pengarang-pengarangnya. Dan kami sebutkan, dari jurusan lain, bahwasanya tidak terdapat suatu kepastian bahwa di Makkah atau sekitamya terdaYang dimakaud dengan Bejarah ketauhidan ialah yang berhuhungan dengan apma-agama yang diturunklU1l, bukan yang berhubungan dengan ide ketuhanan yang dikenal oleh bangsa Arab dan aela-aela keByirikan mereka kepada Allah,yakni seperti yang dapat ditangkap darl makna firman Allah s.w.t.: "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekatdekatnya. (Burat Az-Zumar ayat 3). (Penterjemah Arab). 1). 309
  • 298. pat pusat pengajaran agama dalam bentuk apapun dengan tujuan menyiarkan pikiran Kitab sud, yang diterangkan oleh AIQur'an. Paling banyak yang dapat kami ingat ialah bahwa beberapa orang yang disebut "Hunafa", atau orang-orang yang hanif, mempunyai pengaruh ruhani tertentu terhadan masyarakat, yang diri Muhammad terbentuk di dalamnya, bahkan Nabi sendiri ad.alah seorang yang hanif (yakni cenderung kepada agama yang benar), sebelum ia diutus olea Allah. Dan ayat-ayat yang menyebut Nabi sebagai ''tidak mengetahui sesuatu apapun dari Kitab-kitab", sesuai benar dengan keadaan orang-orang hanif yang lain-lain juga. Sekalipun demikian terdapatnya seorang hanif jarang sekali di kalangan masyarakat yang syirik pada intinya. Kami dapat menambahkan pula mengenai soal ini, bahwa keadaan masyarakt ini tidak banyak ber-evolusi samasekali sejak abad-abad dahulu kala sampai sekarang, meski pun dengan adanya ciri khas abad-abad keislaman yang telah dilalui oleh m~arakat itu. Salahseorang pengarang modern berbangsa Arab bertanyatanya dalam salahsatu studi sosial penting dengan berkata: "Apakah Islam hasil ciptaan agama Yahudi Masehi?" 1). Ia menjawab sendiri dengan "tidak!", dengan bersendi kepada sebuah konstatasi dari P. Lamance" yang menyusur-galurkan ketiadaan pengaruh agama Masehi itu kepada "Jauhnya pemeluk-pemeluk agama Masehi dari orang-orang Arab dari pemeliharaan yang wajar bagi gereja". Dan dari jurusan lain, sekiranya pikiran agama Yahudi Masehi benar-benar telah menyusup jauh ke dalam peradaban dan masyarakat jahiliah, maka dalam peradaban daD. masyarakat jahiliah, tidaklah dapat dimengerti, mengapa tidak terdapat terjemahan Arab bagi Kitab suci. Dan terdapat cerita yang memastikan, berkenaan dengan "Perjanjian Baru" (Injil) , bahwasanya sampai pada abad keempat Hijrah belum dilakukan penterjemahan Perjanjian Ba.ru ke dalam bahasa Arab. Kami mengetahui prihal ini dari sumber-sumber Al-Ghazzali, yang terpaksa mencari dokumen tertulis Qibti (yakni berbahasa Mesir) untuk dapat mengarang jawabannya" 2). 1). Dr. Bisyir Faris dalam bukunya: "Kehormatan pada bangsa Arab sebelum Islam". 2). AI-Ghazzali:"Jawaban atas orang yang mengaku akan ketuhanan Al-Masih,dengan nas Injil". 310
  • 299. "R.P. Chediac" yang terpaksa meneari di setiap penjuru, sumber-sumber Injil yang dipergunakan oleh filosof Arab itu (Al-Ghazzali) dalam mengarang "Jawaban" itu, ketika ia hendak menterjemahkan karangan filosof itu, mengatakan bahwa naskah masehi yang pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, adalah eatatan tertulis tersimpan di perpustakaan Sint Petersburg, ditulis pada sekitar tahun 1060 M, ditulis oleh seseorang yang bemama: "Ibnul 'Assal". Demikianlah terjemahan Injil tidak terdapat pada zaman AIGhazzali. Maka lebih-lebih lagi, sudah pasti tidak terdapat terjemahan seperti ini di zaman jahiliah. Apakah mungkin, secara khusus, terdapat terjemahan Perjanjian Lama (Taurat)? AI-Qur'an yang meneeritakan kepada kitagema perdebatan yang terjadi antara Nabi dan beberapa orang dari pendeta-pendeta Yahudi di Madinah, berkata dengan menghadapkan pembicaraan kepada mereka: ""e Jl( ( "" ~.J~ _'0" • .. -::< ul ,,"" r- " , r : u~ JT) "Katahan (hai Muhammad kepada mereka): Maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia, jika kamu orang-orang yang. benar". (Surat Ali Imran ayat 93). Bukankah ini bukti tentang tidak terdapatnya seorang Arab yang dapat membaca bahasa Ibrani, di satu pihak, dan tidak terdapatnya terjemahan Taurat dalam bahsa Arab, di pihak lain? Berdasarkan hal-hal di atas maka tiada sesuatu yang lebih keeil kemungkinannya daripada (persangkaan mengenai) terdapatnya pengaruh ketauhidan dalam lingkaran masyarakat Arab jabiliah, dikarenakan ketiadaan sumber-sumber Yahudi masehi yang tertulis dalam bahasa Arab, sehingga dengan demikian menjadilah sesuatu yang mustahil untuk dikatakan akan kemungkinannya terjadi penyerapan di luar kesadaran oleh diri Muhammad s.a.w. yang hidup di tengah-tengah masyarakat jahiliah itu. • 311
  • 300. Hipotese kedua. Hipotese kedua ini menasabkan kepada Nabi s.a.w. bahwa ia telah memperoleh "privaatles" atau pelajaran pribadi secara langsung dalam kitab-kitab Suci yang datang sebelum Al-Qur'an. Kiranya kita mengenai persoalan ini dapat memperkirakan dua kemungkinan psikologis: Pertama: Kemungkinan bahwa Nabi s.a.w, telah mengambil pelajaran dengan jalan metodik, untuk kelak dapat menyusun Al-Qur'an dengan ilmu pengetahuannya. Kedua: Kemungkinan bahwa ia telah belajar atau diberi pelajaran, kemudian mempergunakan, di luar kesadaran, bahan pelajaran yang ia peroleh. Adapun hipotese pertama tidaklah mempunyai dasar kemungkinan, apabila kita memasukkan dalam pertimbangan natijan (kesimpulan) umum mengenai kenabian, dan natijah (kesimpulan) khusus yang menyangkut diri Muhammad s.a.w, yakni ketulus-ikhlasan dan keyakinan pribadi dari diri Muham. mad s.a.w. yaitu sifat-sifat maknawi yang kami telah mengakhiri perbincangan dalam bab-bab terdahulu dengan kesimpulan tersebut. :Adapunyang mengenai hipotese kedua, maka pertimbangan pertimbangan yang samayang dikenakan kepada diri Muhammad s.a.w, mengharuskan kita untuk memberikannya secara khusus tendensi psikologis yang lebih jelas lagi. Maka berdasarkan apa yang telah kami tetapkan dalam ukuran pertama itu, maka kami merasa terpaksa untuk menganggap bahwa belajarnya Muhammad secara pribadi dan langsung itu seolah-olah itu merupakan suatu situasi kesadaran tetapi terlupakan oleh si pelajar itu sendiri", sedang persoalan itu dalam hal ini, bergantung, secara keseluruhannya kepada suatu "fen omena kealpaan, hal mana, sangat ganjil, karena telah diketahui bahwa seluruh keterangan spesifik tentang kehidupan pribadi dan umum Nabi memberi kesaksian, akan keseimbangan yang sempuma pada diri Nabi, terutama yang berkenaan dengan ingatannya yang luar biasa, meskipun dalam keadaan "menerima" wahyu yang ia derita pada momentum-momentum turunnya wahyu kepadanya, ingatannya tetap bekerja, sebagai yang kita saksikan dalam ukuranpertama, dan seperti yang akan kita lihat aanti dalam bab: "Kontradiksi-kontradiksi". 312
  • 301. Adalah Nabi s.a.w. dalam realitas penghafal pertama isi surat-surat AI-Qur'an. Ia membaeanya di luar kepala sampai pada akhir umumya. Pada suatu hari disampaikan kepadanya, untuk penebusan seorang tawanan dari Makkah yang ditawan oleh kaum muslimin seuntai kalung yang dahulu pernah menghias leher Khadijah. Nabi dengan segera dapat mengenali kalung itu seraya air matanya berlinang-linang. Kemudian ia melepaskan tawanan yang musyrik itu, yang temyata ia bekas menantunya, lalu ia memerintahkan untuk mengembalikan kalung itu kepada anak perempuannya. Ingatan yang mendengar, lagi melihat, yang dengannya disifatkan Nabi dan sekaligus panglima itu, tidak mungkin ingatan yang semaeam itu bersesuaian dengan penyakit "lupa ingatan". yaitu kelupaan yang harus dianggap sebagian saja, sebab kelupaan itu tidak meliputi seluruh masa lalu kesadaran Nabi, melainkan hanya menyangkut kelupaan mengenai ingatannya tentang sumber belajarnya akan Kitab-kitab, dan eara ia mempergunakannya di luar kesadaran. Kiranya kelupaan ini akan lebih ganjil lagi ketika kita mendapati Nabi dapat mengingat obyek pelajarannya itu dengan sempuma, seperti Surat Yusuf, umpamanya. 1). Tampak pula pada kami keganjilan lain, yaitu bahwa obyek ini tidak datang dalam bentuk naskah berulang dari Taurat. Obyek ini pertama-tama terkena sentuhan-sentuhan AI-Qur'an daiii.'!1 hal yang mengenai keterangan-keterangan yang bersifat kebendaail,!li Taurat, dan dalam lingkaran ruhani di AI-Qur'an, seperti yang kami [elaskan dalam pemaparan yang menyertai kisah Yusuf. Dan akhltilya, sumber-sumber Arab yang memuat Surat Yusuf diturunkan di Makkah untuk keseiul:.!hannY&- Deri~kataan kaum mufassirin dapat diambil kesimpulan babwa Surat mi diturunkan sekali turun, sebagai yang disebutkan oleh Al-Alus: dalam kitab tafsirnya, jilid XII, halaman 17. Berkata Al-Alusi: Adapun seba::; diturunkannya surat ini, sebagai yang diriwayatkan dari Sa'ad ibnu Waqqash bahwasanya AI-Qur'an diturunkan kepada Nabi s.a.w, lalu beliau membacakannya kepada para sahabatnya untuk beberapa waktu. Para sahabat itu lalu berkata kepada Rasulullah: "Ya Rasulullah, kiranya anda suka menceriterakan suatu kisah kepada kami Lalu Surat ini turun -. Tersebbut pula keterangan-lain mengenai sebab turunnya Surat ini. Namun semua keterangan-keterangan sekitar sebab turunnya Surat ini tidak bertentangan dengan fakta bahwa ia turun sekaligus dalam keseluruhannya. (Penterjemah Arab). 1). 313 -
  • 302. masaJab belajamya Nabi itu tidak terdapat samasekali, sebagaimana kita lihat dari pembahsan mengenai hipotese tersebut di atas. Maka (bila kita mengikuti alam pikiran hipotese kedua itu) adalah kewajiban Nabi untuk mengolah kembali obyek yang dipelajari yang bersumber dari sumber asing, dengan keharusan, dan untuk memodifikasinya, agar cocok dengan gaya kata Al-Qur'an, yaitu dengan jalan memilih lebih dahulu katakata Arab yang cocok. Namun tidaklah dapat modifikasi ini terjadi dengan spontan tanpa ikut sertanya potensi-potensi yang ada pada diri Nabi yang bekerja dengan kesadaran. Oleh sebab itu semua, kami mendapati diri kami dalam keadaan bingung menghadapi keadaan lupa yang disebabkan oteh penyakit kelupaan, dan menghadapi "di luar kesadaran" yang untuk sebagian saja, suatu keadaan yang tidak dijelaskan oleh ilmu psikologi, walaupun kita membuat perkiraan bahwa hal seperti ini selaras dari jurusan lain, dengan segenap ciri-ciri khas fenomena Al-Qur'an. Adapun dari segi historis, seandainya sumber asing ini sudah tersedia untuk diajarkan kepada Nabi, maka sumber ini tidak dapat lain kecuali sumber lisan, bukan tertulis, agar dapat dijangkau oleh seorang yang buta huruf. Mungkin juga dalam keadaan yang demikian ini ada pembisik tertentu yang membisikkan .selalu kepadanya, tanpa pengetahuannya, segala sesuatj; yang berkaitan dengan da'wahnya. Namun ciri yang k~liru dari perkiraan seperti ini, pasti berhadapan dengan ~ua kenyataan, yang tidak dapat diperdebatkan, yaitu ~l.iai yang dimiliki oleh .• Al-Qur'an dan nilai dari diri Muhammad s.a.w, Demikianlah maka hipotese kedua iJ'l.irnembawa kita kepada kesudahan berupa kontradiksi historis dan psikologis. Maka kita terdorong untuk mer.gambil kesimpulan bahwa titik-titik persamaan yang t8l!'.fjak itu tidak dapat dinasabkan kepada adanya pengaruh Yahudi Masehi tersebar dalam lingkungan masyarakat jahiliah, juga tidak dapat dinasabkan kepada belajar untuk pribadi, baik dengan kesadaran atau di luar kesadaran, daripihak diri Nabi sendiri. Kesimpulan yang berdasarkan, hingga kini, konstatasi titiktitik persamaan ini menjadi keharusanvang lebih daripada itu, apabila kita memasukkan dalam pertim~gan kita sifat-sifat khas Al-Qul"'an. Pada hakekatnya, sekalipun dalam hal yang berkenaan dengan sejarah ketauhidan, dimana hubungan kekerabat314
  • 303. an antara AI-Qur'an dan Kitab Suci terjalin erat, namun AI-Qur'an pada umumnya menegaskan akan kebebasannya dengan ciri-ciri banyak yang memperbedakannya dengan Kitab Suci, seperti yang telah kami him pun dalam "skema spesifikasi" yang berhubungan dengan kisah Yusuf, pula seperti yang kita lihat dalam pemandangan mengenai penyebrangan Bani Israil melintasi Laut Merah, dimana Fir'aun dan tentaranya tenggelam seperti yang diceritakan dalam Perjanjian Lama, Kitab "Perpindahan". Akan tetapi AI-Qur'an menyempurnakan peragaan ini dengan suatu keterangan yang tidak terduga dan tidak pula lazim, yakni: Penyelamatan tubuh Fir'aun yang lolos dati tenggelam dengan keajaiban. Namun ahli-ahli Egyptologi pada khususnya, menyerang kisah yang dibawakan Kitab Suci, dengan menyatakan bahwa sejarah raja-raja Mesir kuno tidak pemah mencatat tentang hilangnya Fir'aun yang sezaman dengan Musa di laut Merah. Marilah kita merenungkan apa yang diceritakan oleh AI-Qur'an: CIII ;::;,. I ~ "...:..~ , : Lr-)= lIE d..: I ,/ /' • ./ dil.>- /' '" /' 0,.... ..u) u~ I . ",0':"" " /.'''' -<. , /,/ . uJ U )-"-'"" ~"';..l.... ~ .., •• " ./ ./ ./ / "Apahah seharang (baru hamu percaya), padahal sesungguhnya kamu (Hai Fir'aun) telah durhaka sejak dahulu, dan hamu termasuh orang-orang yang berbuat herusahan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu, supcya hamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu ". (Surat Yunus, ayat 91-92). Tafsir Kitab Suci telah mengadakan penyelidikan secara khusus, tentang pembenaran sejarah terhadap hilangnya Fir'aun yang sezaman dengan Musa, dalam dokumen-dokumen tertulis, yang bercerita tentang kehidupan "Amenhatop IV", yaitu nama dati keturunan raja-raja di Mesir. Profesor "Hilair de Parenton dalam soal ini bersandar kepada yang ditulis oleh Moursil 1), dan dia ini adalah raja dari suku 1 ). Les Memoirs de Moursil. 315
  • 304. bangsa Hethiet, Ia menulis dalam memorinya bahwasanya: "Ratu Mesir yang menjadi pemuja besar Tuhan Amon, mengirim utusan kepada ayahku, membawa surat ratu itu, mengatakan: "Suamiku telah meninggal dunia dan aku tidak mempunyai seorang anakpun dst". Namun raja Hethiet itu curiga terhadap kebenaran matinya Fir'aun, sampai ratu Mesir itu menulis lagi kepadanya, sehubungan dengan itu: Yang isinya a.L: "Mengapakah anda mengatakan "mereka (orang-orang Mesir) hanya hendak menipu aku", Semua orang mengatakan bahwa anda mempunyai banyak orang anak. Maka berilah padaku salahseorang dari mereka, untuk menjadi suamiku, dan memetintah Mesir. "Profesor Parenton meneruskan dengan mengatakan: "Maka raja Hethiet itu akhirnya percaya, lalu mengirim salahseorang anaknya, yang mati di tengah jalan secara wajar, seperti yang dikatakan oleh orang-orang Mesir, akan tetapi yang mati terbunuh, menurut pendakwaan orang-orang Hethiet 1} Kami dengan sengaja membawakan naskah-naskah yang essensial dan catatan Hethiet tertulis yang dipergunakan oleh Prof Parenton, sebagai dasar pembuktian tentang kematian Fir'aun. Akan tetapi kesimpulan ini, yang diilhami oleh keinginan menyesuaikan antara pikiran Kitab sud dan apa yang ditetapkan sejarah, bertentangan dengan pendapat ulama-ulama Egyptologi. Mereka ini tidak membenarkan hilangnya Amenhatop IV akan, tetapi yang terjadi adalah perobahan tiba-tiba pada namanya, yang sekarang berubah menjadi "Akhnaton", serta perubahan mental dan politis pada dirinya, setelah peristiwa "Perpindahan" , seolah-olah terjadi revolusi tak terduga-duga dalam kehidupan kepribadian Mesir. Perhatikanlah apa yang ditulis oleh Prof. Maspero tentang soal ini: "Dan dengan satu kali pukulan, pada hakekatnya, Fir'aun ini berubah menjadi kepribadian lain. Mata uang kerajaan tetap memakai nama yang sarna, yakni: "Suten Bati Neferkheperraounanra", akan tetapi nama: Sa-Ra. sekarang menjadi: "Ra-Anton-Huti". Tambahan lagi, agamanya pun berganti. Ia semula pendeta tuhan "~mon", tetapi sekarang berganti menjadi pendeta: "Aton-Ra". Selanjutnya ia meninggalkan "Thebe", kotanya 1). Suku bangsa Hethiet membentuk kerajaan di Asia Keeil Siria Utara. Mengalami pasang surut, dari tahun 2000 S.M. sampai kl. 1000 S.M. Ibu kotanya bernama Hetti, kemudian berganti nama Hattusyas. Profesor Halair de Paranton dunia purbakala". dalam bukunya: "Ringkasan (Penyalin ). 316 sejarah
  • 305. tuhan "Amon", pindah ke "Akhnaton" kota baru, yang ia bangun dan menjadikannya tempat pemujaan untuk "Aton-Rl", tuhannya yang baru itu 1). Namun perubahan dan pergantian ini tidaklah akan dapat dimengerti, kecuali bila hal itu terjadi karena suatu peristiwa besar, 1agi pula tidak lumrah, yang membawa kepada perubahan radikal terhadap kehidupan kepribadian Fir'aun, umpamanya ia melihat tenggelamnya tentaranya, dan melihat dirinya sendiri juga tenggelam di Laut Merah, kemudian ia mendapati dirinya dengan satu cara atau lain jalan, diselamatkan dati tenggelam, seperti yang diceritakan oleh AIQur'an kepada kita. Masalah di sini betapa pun juga, berhubungan dengan "keselamatan jasmani" dari tenggelam di laut, mengingat bahwa Fir'aun itu tidak beralih kepada Tuhannya Musa, melainkan memilih perpindahan ruhani yang bersifat pemujaan berhala, seperti yang diceritakan kepada kita oleh ahli-ahli sejarah Mesir kuna. Maka berdasarkan hal di atas, kemana akan dibawa kesaksian Hethiet itu ? Dan apakah artinya sikap ratu Mesir itu yang setepatnya? Adalah wajar bahwa perubahan dalam diri Fir'aun itu mempunyai akibat-akibat yang serius, terutama yang menyangkut kehidupan rumah tangga, yaitu karena si isteri tetap menyembah tuhan "Amon", sedang sang suami beralih menjadi pendeta bagi tuhan "Aton-Ra", Maka dengan ini telah terjadi perpecahan dalam bidang keagamaan, politik dan kehidupan bersuami-isteri. Tahu-tahu Akhtanon (si suami) membunuh pangeran Hethiet, yang datang untuk melamar ratu Mesir yang membangkang terhadap suaminya itu, dan dengan demikian tergaris suatu tragedi dalam kehidupan rumah tangga dan politis pula. Alangkah besar keinginan kami untuk mengetahui apakah sang ratu setelah itu masih tetap berada di Ibu kota negerinya, "Thebe", suatu hal yang akan dapat menambah kejelasan mengenai bidang-bidang politis dan kehidupan rumah tangga dari tragedi itu. Apapun masalahnya, AI-Qur'an tidak berlawanan samasekali dengan Kitab Sud dalam persoalan ini, namun AI-Qur'an, setidak-tidaknya, menambah keterangan penjelasan mengenai masalah itu, yang sesuai dengan berita-berita keagamaan dan kebenaran-kebenaran ilmiah. 1). Dari buku Prof. Parenton, tersebut di atas, halaman 42. _ 317
  • 306. Termasuk masalah semacam ini, kami sebutkan: eerita Kitab suci prihal: Gunung "Ararat" dalam kisah Banjir Tofan Nabi Nuh a.s, Tafsir Yahudi Masehi menetapkan letak gunung tersebut di Armenia. Kemudian Al-Qur'an menyebutkan nama Khusus, yaitu Gunung "Yudi", yang terletak di Mousul. Kemudian penyelidikan-penyelidikan geologis dan arkeologis modem menetapkan lokasi terjadinya Banjir Tofan itu di suatu tempat dekat dari pertemuan sungai Dajlah dan sungai Furat (Tigris dan Efrat) , tidak jauh dari kota "Ar", tempat kelahiran Nabi Ibrahim a.s, Mungkin kedua nas itu menunjuk kepada dua buah kisah yang berbeda-beda tentang fenomena Banjir Tofan itu. Akan tetapi mungkin juga bahwa dalam masalah ini terjadi kesalahan yang dilakukan oleh para penurun (penulis) Kitab-kitab Sud, yang termasuk dalam kekeliruan dan kesalahan yang oleh karenanya Nabi Irmia mengutuk pena-pena yang berdusta dari para penurun (penulis) Kitab-kitab Suei. Akhirnya eerita Al-Qur'an bebas dengan sepenuhnya dari alam pikiran Yahudi Masehi, yang melihat dari sudut-sudut yang berbeda-beda, pensaliban Al-Masih sebagai kenyataan historis. 'Fiba-tiba Al-Qur'an menegaskan prihal masalah ini: (,oy ."WI) ~,_j ...• "" •••••. <,/"'0..1"'" >." " .' ." rr ~ , ~J d~"":> L.J dP L.J "Mereka tidak membunuhnya; dan tidak pula menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan tiengan (Surat Annisa ayat 157). Ayat yang autentik dari Al-Qur'an ini tidak bertemu dengan dokumen Yahudi Masehi manapun dan dari jurusan lain, catataneatatan kaum Masehiyang terdahulu membiarkan pintu terbuka bagi semua perkiraan mengenai kesudahan Al-Masihdan tentang lama masa kerasulannya. Dan "Irene" yang oleh prof. Montet disebut sebagai saksi pertama atas keabsahan Injil Yahya, mengakui pada penghujung abad kedua bahwasanya Almasih tetap memberi pengajaran kepada manusia sampai pada usia lima puluh tahun, berbeda dengan riwayat yang ada kini yang menganggap bahwa kerasulannya berakhir pada usia tiga puluh dua tahun. Kami berkehendak untuk mengembalikan betapapun sukarnya, sejarah ketauhidan dari Al-Qur'an mengenai noktah ini, kepada sumber Masehi. Adalah mungkin untuk mendekatkan, Isa bagi mereka". 318
  • 307. untuk sebagian saja, pandangan Al-Qur'an tentang menghilangnya AI-Masih dan pandangan doktrin Docetis 1), yang menetapkan dengan terus-terang "kematian lahiriah" bagi AI-Masih, sesuai dengan Injil Petrus. Pendekatan ini, sekalipun demikian, tetap hanya untuk sebagian, karena Al-Qur'an memandang kelahiran dan kehidupan AI-Masih hanya sebagai peristiwa-peristiwa kebumian, tanpa dapat dibantah lagi, sedang doktrin Docetis meletakkan kesemuanya ini pada proporsi pengertian umum bagi ide "lahiriah".2). Demikianlah kami dapat melacaki langkah demi langkah pikiran yang dikandung oleh Al-Qur'an dan pikiran Kitab Suci, dimana kami mendapati, dalam hal-hal yang menyangkut pokok- . pokok historis, persoalan-persoalan yang dimiliki bersama, hal mana tidak dapat diingkari, akan tetapi kami mendapatkan juga banyak titik-titik penjauhan dan perbedaan. Kiranya menjadi keharusan, agar kami dapat mendorong pembahasan ini kepada titik yang paling jauh, yang masih mungkin bagi kami mengadakan perkiraan menentukan hubungan Al-Qur'an tidak hanya dengan satu sumber saja, melainkan dengan banyak sumber Yahudi MasehL Mungkin lebih daripada itu, menjadi keharusan pula bagi kami, untuk menetapkan secara kontroversal, sekalipun dengan adanya penjauhan yang terse but di atas dalam banyak titik-titik dan sejarah ketauhidan, bahwa Al-Qur'an telah memperoleh ilham dari satu atau lebih riwayat-riwayat berasal dari kitab-kitab suci, yang sudah tidak ada wujudnya sekarang. Kiranya menjadi keharusan pada akhirnya untuk menetapkan, mengikuti kenaifan para kritikus modern, bahwa, Nabi s.a.w, bekerja menurut cara seorang ahli ilmu hukum, mempelajari ban yak dokumen, merenungkannya, kemudian mengaturnya dan menyusunnya untuk mengambil sumber daripadanya bagi riwayat °Al-Qur'an. 1). Doktrin Docetis adalah pandangan kaum docet dalam agama ~~n, yang memeluk kepercayaan bahwa Al-Masih hanya da.lam penjelmaan saja mengambil bentuk manusia, •• hingga denp.n demikian ia dapat disalib. (Penyalin) 2 ). Ide "penjelmaan lahiriah" berkaJtan dengan pikiran Al-Qur'an dalarrr firman-Nya: "Tetapi orang yang dilerupakan dengan dia". (Penterjemah Arab). 319
  • 308. Adalah suatu kenyataan, bahwa pikiran kritis dalam hikayat tersebut di atas, mengandung kenai fan yang membingungkan, sehingga kami melihat pikiran itu cocok dengan apa yang dilukiskan oleh Prof. Montet sendiri, sehubungan hikayat yang berasal dari Profesor Medis, yaitu Prof. Astruc (th. 1684 - 1766): "Adalah jelas dan terang bahwa Astruc membayangkan, disertai dengan sedikit kenaifan, Musa sedang menelaah dokumendokumen serta berkonsultasi dengan dokumen-dokumen itu, dan bekerja seolah-olah dia (Musa) salahseorang ulama abad kedelapan belas". 320
  • 309. MAT A PEMBICARAAN DAN KEDUDUKAN Irhazh AI-Qur'an Tiada tempat bagi akal pikiran AL.QUR' AN - Pembuka surat-surat Kontradiksi-kontradiksi Hal-hal yang berkecocokan Kiasan di dalam Al-Qur'an Nilai sosial dan alam pikiran AI-Qur'an 321
  • 310. Kami telah berusaha dalam pembahasan ukuran pertama dan pada awal ukuran ini untuk menonjolkan ciri-ciri khas materiil dan psikologis yang memisahkan AI-QUI'an dati din manusiawi. Dan dalam bab ini kami akan membahas dati beberapa ayat, hal-hal yang memperbedakan AI-Qur'an, secara khusus, dati genealitas manusia. IRHASH 1) AL-QUR'AN. Kami telah menetapkan pada bab-bab di muka bahwa wahyu adalah spontanitas dan di luar kehendak. Dan kami tambahkan di sini bahwa apa yang kami tetapkan di atll, IUdah barangtentu, termasuk ciri-ciri khas lahiriah yang memberi pengaruh, dalam pandangan Nabi, dan yang mendol'CJlllll" untuk memperkuat keyakinan dirinya dengan rahasia Dabi yang tersimpul di dalam AI-QUI'an. Tanpa adanya syarat yq kami buat terdahulu ini, kiranya keyakinan din Nabi pada Al-Qur'an suatu fenomena yang tidak dapat difahami. Kita telah menyaksikan, dalam bab-bab di muka, bah•• keyakinan diri ini tidak terjadi dalam sekejap, dan tidak pula termasuk katagori "penyerahan buta" melainkan datang secara bertahap dan rasional, yang dapat memuaskan alam pikiran obyektif, seperti alam pikiran Muhammad s.a.w., serta dapat memenuhi keinginannya yang haus akan keyakinan yang positif, ~ menentukan. Dalam keadaan-keadaan seperti ini, maka indikasi apapun yang mengisyaratkan adanya tafakur, kehendak, dan pengetahuan pribadi terlebih dahulu prihal apa yang akan dibawa oleh wahyu, serta prihal perencanaan mengenai seberapa jauh batas luas dan lama wahyu itu menurut perldraan, yah, indikasi apapun tentang hal-hal seperti yang tersebut di atas, akan dipandang sebagai suatu teka-teki yang pantas menimbulkan perhatian kita. Sungguh! Apakah yang hendak kita katakan tentang seseorang tidak pemab berpikir dan tidak pula suka memikirkan? Ia tidak pemab berkehendak dan tidak pula suka mempergunakan kehendaknya? Ia tidak berdaya untuk merenungkan arus fenomena yang akan datang, dan ia tidak pula suka meng~-angankan renungan itu? 1). Irbuh baQ1pir same maknanya denpn "mujizat" Qur'an"· MU'jizat atau Iteajaiban AI-Qur'an. jadi: "Irbub AI. (Pellyalht ). 322
  • 311. Sekalipun demikian, is mellhat "perkataan" keluar danpadaIlya tertera dengan seksama dengan ciri khas pemikiran, kehendak, serta keharmonisan tersendiri, dan terkadang "perkata an ini" tampak, seolah-olah is memberitahukan susunan wahyu yang selanjutnya, seolah-olah perkataan ini mengandung pengetahuan yang sudah diketahui terlebih dahulu pengetahuan yq . pengetahuan yang Juarbiasa tentang ayat-ayat apa yang akan menyusul itu. Itulah, menurut apa yang tampak pada kita ciri umum dari AI-Qur'an sebagai suatu kumpulan yang bersumber dari suatu kehendak, pemikiran dan keserasian, bahkan bersumber dari pengetahuan yang menampakkan bahwa AI-Qur'an adalah bush dari suatu persiapan yang diatur terlebih dahulu. Sifat ini baru tampak terang apabila pengarah wahyu mendahuluinya dengan suatu ayat, yang menyerupai sedikit banyak, barisan depan tentara, yang membawa rahasia militer dan mengetahui arab geraknya dalam keadaan barisan ini mendahului gerak tentara yang di belakangnya. Inilah maksud penggunaan kata "mendahului" di sini, yang semakna dengan kata "anticipation", yang artinya mengetahui lebih dahulu, dan semakna pula dengan kata Prancis "Prevoir", atau kata Inggris " Foresee" . Maka aktifitas psikologis seperti ini tidak mungkin, dapat digambarkan tanpa partisipasi yang penuh kesadaran dari diri orang yang melakukannya. Karena itu sejak dipaparkannya fenomena Al-Qur'an, yang bersifat story dalam susunannya, ketika krisis psikologis dan keraguan telah hilang lenyap dari diri Nabi sendiri maka turunlah kepadanya wahyu yang mengagumkan. "Dan bacalah Al-Qur 'an itu dengan perlahan-lahan. Sesurlgguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat". (Surat AI-Muzammilayat 4-5). Akan tetapi berapakah bobot "perkataan yang berat" ini? Ialah AI-Qur'an itu seluruhnya, apabila ia sudah turun semuanya dengan lengkap dalam masa waktu dua puluh tiga tahun, yakni ketika Jibril turun untuk kali yang terakhir menutup wahyu kepada!isan Nabi s.a.w. 323
  • 312. Dan bobotnya? Ialah bobot doktrin agama dan eksperimen mental, bobot iman yang bergejolak dalam kalbu seperempat dari jumlah jiwa insani yang menghubi dunia kini, dan ia juga, dalam timbangan sejarah, adalah, bobot kebudayaan Islam yang menjadi penutup bagi kitaran kebudayaan dan peradaban ilmiah modem. Benar! Perkataan itu adalah "perkataan yang berat". Irhash yang mana? Tidak bagi alam "berpikir" dan sejarah yang masih terus berlangsung hingga kini saja, melainkan juga bagi arus wahyu itu sendiri yang berakhir setelah berlalu dua puluh tiga tahun. Apakah itu di luar kesadaran, ataukah perasaan yang sadar? Ataukah pengetahuan yang keluar dari pemikiran dan kehendak? Kesemuanya ini adalah kata-kata yang kosong dari segala makna, apabila kata-kata itu diletakkan di hadapan konklusikonklusi yang obyektif yang kita telah mengenalinya mengenai diri Muhammad s.a.w., di satu segi, dan di hadapan "perkataan yang berat" yang ia adalah Al-Qur'an itu, di segi lain. Sudah barangtentu kita dapat saja memandang suatu "pengetahuan lebih dahulu" yang bersifat umum seperti ini sebapi keinginan semata-mata di luar kesadaran dari diri pribadi yang menerjunkan dirinya ke dalam lautan masa -depan. Kita boleh jugamembayangkan bahwa seorang filosof tertentu dapat, sebagaimana dilakukan oleh Nitahe, menyiarkan aliran fllosofisnya dengan cara yang sensasional. Akan tetapi ada pendahuluan-pendahuluan yang karena obyeknya telah dibatasi tidak mungkin ditafsirkan tanpa menganggapnya bahwa ia mempunyai pengetahuan yang mendahului, lagi pula menye!uruh, mengenai obyek ini, Kepada pembaca kami sajikan dua buah misal, dari hal-hal tersebut, yang sifatnya khusus 1agimenunjuk kepada suatu obyek yang dibatasi dengan sepenuhnya. Misalpertama: Firman Allah s.w.t.: 324
  • 313. '1Cami ceritGkan kttpGdamu kiIGh yang pGlillg bGgUI aengan GpG ini, 8ekGlipun mi termasuk orang-urang YGTlS laltJi" yang Komi wahyukcm kepGQamu dalGm Al-Qur'an kamu sebelulll (Surat Yusuf ayat 3). Bukankah ayat ini merupakan pendahuluan bagi kisah Yusuf. Kami menemukan dalam kalimat tersebut sesuatu yang menyerupai penegasan berupa "Kata Pengantar'·, ditunjang dengan kritik historis bahwasanya Nabi s.a.w, samasekali tidak mengetahui kisah tersebut, sebelum turunnya Al-Qur'an. Bahkan ketidak-tehuannya ini merupakan unsur esensial bagi keyakinan dirinya. Maka di hadapan kita, tanpa diragukan lagi, barisan depan dari arus wahyu, yaitu wahyu yang turun membawakan satu mata pembicaraan khusus dan terbatas samasekali yaitu kisah "Yusuf", yaitu kisah yang sampai pada saat sebelum turunnya, merupakan hal yang asing bagi alam pikiran diri Nabi s.a.w, Dalam hal ini kami menghadapi dua kenyataan yang harus diputuskan persoalannya dalam hal yang berkaitan dengan ketidak-tahuan Nabi tentang hal ini: 1. Dari segi historis, alam pikiran Muhammad belum menghimpun keterangan-keterangan secara terperinci mengenai kisah Yusuf sebelum wahyu turun membawakannya. 2. Dari segi psikologis, kesadaran Nabi tidak berperan sedikit pun dalam praktek pewahyuan dan dengan begitu saja telah dapatdiketahui, bahwa kesadaran itu tidak mengandung arus wahyu yang masih belum datang. Adapun perasaan di luar kesadarannya, tak mungkin melahirkan secara spontan pikiran kompleks yang dikokohkan oleh sejarah dalam bentuk yang obyektif dan positif. Maka Anticipation ini di hadapan arus fenomena tidak dapat dikuasai oleh kesadaran, dan tidak pula mungkin akan keluar begitu saja dari hal di luar kesadaran karena sebab-sebab yang telah ditunjukkan dalam bab-bab terdahulu, Anticipation ini tetap akan sukar difahami dalam bentuk ganda, apabila kita membatasi penafsirannya hanya kepada diri Muhammad s.a.w. Adapun contoh kedua dikemukakan kepada kita oleh ayat yang mengawali Surat Annur: "" ~~ l' .... '" :'. , ~LI ~ /.,/// ( :.J~I lIE • .1 "' ........•. UJ} j; f..LJ 325
  • 314. '7rlllGh 'UGfu ,urat 'YangKami turunkGn. Kami tetGpkan kewGjllIan di dalamn'Ya. dan Kami turunkan bukti-buktl kebenaran 'YG1II teran6 di dalamn'YG,IUpG'Yakamu memperhatikan". (Burat An-NUTayat 1). Di dalam ayat pembukaan ini menonjol di hadapan kita sebagai sesuatu yang menyerupai pengukuran bidang yang membentang luas dari surat yang diturunkan itu, yang berisi ayatayat yang terang, yang masih berada dalam simpanan, dan belum lagi keluar ke ruang pelaksanaan. Bekalipun demilQan ayat tersebut, sejak diturunkannya, telah mendahului kepada pengetahuan orang seolah-olah ayat itu sasaran yang dituju daripada arus wahyu yang turun kemudian. Kiranya hal ini merupakan tanda pemikiran, yang mendahului, dalam pengetahuannya, ayat-ayat yang terang (yang akan datang kemudian) dan merupakan tanda pengenal suatu kehendak, yang diletakkan di hadapan renungan kita, suatu masalah yang tidak sesuai samasekali dengan persiapan diri Muhammad s.a.w., terutama pada keadaan menerima wahyu. 326
  • 315. HAL YANG TIADA TEMP AT BAGI AKAL (DOGMATIS) PEMBUKA SURAT.SURAT. Di dalam Al-Qur'an terdapat banyak surat berjumlah dua puluh sembilan surat, tidak diawali dengan kalimat yang dapat dimengerti, melainkan dengan rumus-rumus terdiri dari hurufhuruf abjad yang sederhana, yang kepadanya Ilmu tafsir melimpahkan pentakwilan yang berbeda-beda. Dalam persoalan ini, aka! pikiran pada masa-masa lampau telah menyelidiki serta menghubungkan isyarat-isyaratnya yang penuh teka-teki ini dengan ceritera-ceritera yang terjadi pada zaman silam dalam sejarah insani. Apa pun halnya, maka makna huruf-huruf abjad sebagai pembuka surat-surat yang samar maknanya itu, apabila ada kesamaran padanya, merupakan benteng yang kokoh berdiri tegak di hadapan ratio kita. Namun kami tidak berkepentingan di sini terhadap masalah semacam ini, tetapi yang menarik perhatian kami ialah ciri khas lahiriahnya saja, sebab huruf-huruf pembuka surat-surat ini tidak mungkin membayang di hadapan pandangan kita kini sebagai kerangka-kerangka yang membeku atau mencair sebab Nabi s.a.w. sendiri membacanya huruf demi huruf, yang satu terpisah dari yang lain, masing-masing menurut makhrajnya. 327
  • 316. SKEMA STATISTIK SURAT-SURAT AL-QUR' AN YANG DIBUKA DENGAN HURUF.HURUF Huruf potong Nama-nama POTONG. surat-surat dengannya. yang dibuka Alif lam Mim Al-Baqarah - Ali Imran - Al-Ankabut - At-rum - Luqman - As-Sajadah. Alif lam Mim shad Alif Lam Ra Al-A'raf Yunus - Hud Al-Hijr At-Ra'd Alif Lam Mim Ra K.af Ha Ya 'Ain Shad ThaHa Tha Sin Mim Tha Sin YaSin Shad HaMim Yusuf - Ibrahim - Maryam ThaHa Asy-Syu'ara - Al-Qashash An-Naml YaSin Shad Ghafir - Fushshilat - Az-ZukhrufAd-Dukhan - Al-Jatsiah - Al-Ahqaf Ha Mim 'Ain Sin Qaf Qaf Asy-Syura' Qaf Nun Nun Inilah secara umum surat yang dibuka dengan huruf-huruf potong yang tiada tempat bagi rasio untuk memecahkan rahasia rumus-rumus tersebut, dan kami pun tidak yakin tentang kemungkinan pentakwilannya kecuali kalau kita berpikiran bahwa huruf-huruf itu semata-mata lambang-lambang yang telah disepakati, atau rumus-rumus rahasia bagi suatu obyek yang sangat terbatas yang diketahui secara rahasia oleh suatu zat (diri) yang sadar. Kiranya boleh jadikah bahwa zat itu adalah diri Muhammad? Adalah keharusan bagi kami untuk memastikan, dalam hal ini, bahwa Muhammad tidak mengambil sikap negatif, tetapi 328
  • 317. sebaliknya, ia terlibat dengan cam yang bersifat kesadaran dan bersumber dati pemikiran, dalam soal pemilihan huruf-huruf ini, dan dalam soal pengarahan perumusan ini, guna membantu secara koinsidental suatu obyek yang dimengerti dengan cara yang negatif. Di sini kami merasakan adanya kontradiksi yang terang antara posisi ini dan peranan negatif yang ditetapkan bagi diri Muhammad ini, sebagaimana Kalam ukuran pertama dan dati segi lain, kita harus memandang huruf-huruf abjad itu sendiri sebagai wujud simbolis yang asing dari faham dan alam pikiran seorang yang buta huruf, sehingga ayat-ayat ini tidak mempunyai suatu makna praktis, dan bersamaan dengan waktu itu ia menahan diri (tidak menyatakan sesuatu, sebagai konsekwensinya). Maka kita akan salah faham apabila kita mengatakan bahwa rumus-rumus seperti ini dapat masuk dalam faham seorang yang buta huruf, dalam keadaan khusus dimana ia berada, yaitu yang disebut keadaan "menerima wahyu". Apakah masalah ini semata-mata suatu gangguan yang menimpa kesadaran yang gelisah (bergoncang) untuk sementara waktu? . Ataukah mungkin tersebab oleh suatu penyakit organik, yang menghinggapi organ suara yaitu penyakit yang terkenal di kalangan ahli-ahli kedokteran dengan istilah "Glossolalie" 1). Akan tetapi Nabi, sebagaimana kita telah menyaksikan dalam ukuran pertama itu, menunjukkan keseimbangan kepribadian yang paling sempurna dalam ketiga keadaannya: mental, akal pikiran dan [asmani. Sejarah dalam soal ini tidak memberikan sedikitpun keraguan mengenai kebenarannya. Maka dengan demikian tidaklah ada tempat untuk mengkhayalkan perkiraan yang manapun tentang diri Nabi s.a.w. sampai kita dapat mengungkapkan kesamaran itu atau penyakit organik itu. Dati jurusan lain, kita tidak pemah menemukan dalam kesusastraan pribadi yang kaya dari diri Muhammad itu, yaitu "Al-Hadits", sedikit pun bekas rumusan-rumusan yang tertutup rapat ini, dan tidak diketemukan riwayat yang disampaikan 1). Glossolalie asal maknanya: "bahasa lesan", yaitu k.l.: berbicara sedang dalam keadaan di luar kesadaran, diimlakan oleh suatu ruh yang menguasainya. (Penyalin). Catatan Pengarang. Kritik modern membatasi fenomena ini terutama pada keadaan "Irmia", yaitu gangguan organik yang terjadi pada Nabi ketika ia dalam keadaan penylngkapan. 329
  • 318. secara lisan, dari Nabi s.a.w. yang berisikan pendahuluan dengan rumus-rumus seperti itu. Dan sekarang seandainya kita mengosongkan masalah itu dari pertimbangan-pertimbangan terhadap diri Muhammad s.a.w., sehingga kita tidak memandang kepadanya kecuali dalam hubungannya dengan nilai subyektif dari Al-Qur'an, tanpa tergesa-gesa menjatuhkan keputusan mengenai asal-usulnya dan tabiatnya, maka kita masih tetap juga menghadapi problematika itu. Sebenamya Al-Qur'an sejak empat belas abad hingga kini, dipandang sebagai modal kesusastraan yang paling sempurna, yang dapat diungkapkan oleh bahasa Arab. Padanya tidak terdapat sedikitpun kekacauan. Bahkan keserasian yang sangat indah meliputi segala sisinya, pada esensi spiritnya yang agung lagi berlimpah-limpah, pada peringatan-peringatannya yang mengagumkan, lagi mengesankan, pada pemandangan-pemandangannya yang mentakjubkan pada kelezatan janji-janjinya yang tiada taranya, pada pikirannya yang melambung ke langit dan menjulang tinggi dan akhimya pada gaya bahasanya yang cemerlang dan melemahkan. Kiranya kami dapat menambahkan suatu konstatasi tentang spesialisasipenempatan rumus-rumus (huruf-huruf potong) pada pembukaan beberapa Surat, dan tidak menempatkannya di beberapa Surat lainnya, karena dengan demikian ada hal yang menunjuk kepada adanya pengaturan secara menyeluruh yang disengaja. Konstatasi ini meniadakan perkiraan "kebetulan" au sekedar keluamya zat yang negatif, yang tidak berkesadaran. Singkatnya, kita tidak boleh membebani fenomena itu kepada suatu kebetulan psikologis atau organik yang datang tiba-tiba kepada Nabi s.a.w. Juga tidak boleh berprasangka kepada turunnya ayat-ayat tersebut dengan memandangnya sebagai kekurangan sastrawi dalam suatu nas yang dipandang, dengan sebenamya, sebagainas yang sempuma. Sebagian besar kaum mufassirin telah berusaha untuk mencapai obyek ayat-ayat yang rahasianya tertutup rapat ini dengan jalan penafsiran-penafsiran yang berbeda-beda, lagi samar-samar, dengan sedikit atau banyak mengambil ilham dari nilai magis yang diberikan oleh bangsa-bangsa primitif kepada bintang-bintang, bilangan-bilangan dan huruf-huruf. Namun kaum Mufassirin yang lebih berakal sehat dan lebih lurus pendiriannya, mereka inilah yang berkata, dalam hal seperti ini, dengan segala kerendahan hati: "Allahu a'lam, Tuhan yang lebih Mengetahui. 330
  • 319. Kontradiksi-kontradiksi. Setelah kami berusaha menjelaskan kebebasan dan keobyektifan fenomena Al-Qur'an dalam hubungan dengan diri Muhammad s.a.w, maka tujuan kami dalam bab ini ialah untuk memantapkan usaha kami itu dengan mendetailkan pembi~ mengenai kontradiksi yang jelas yangkadang-kadang terjadl antara kecenderungan-kecenderungan dan keinginan-keinginan alamiah dari diri Nabi dan apa yang ia alami ketika ia sedang berada dalam kead~ menerima wahyu. Kontradiksi ini menampakkan dengan terang, di mata kita, ciri-ciri khusus fen omena yang ada pada Al-Qur'an yang telah kami jelaskan dan tegaskan sampai sekarang yang kamimaksud ialah keobyektifan dan kebebasan Al-Qur'~, dalam hubungan dengan diri Muhammad s.a.w. Misal pertama tentang kontradiksi ini tersimpul dalam :firman Allah s.w.t.: ,., ... ul:,.u~ ~ '" (llt /.".,."./ ~J ./ .s.b) "Dan janganlah engkau tergesa-gesatentang AI-Qur'an itu, sebelum selesai diwahyukan kepadamu", (Burat Thaha ayat 114). Nabi s.a.w. pada awal kerasulannya memeras ingatannya sedang ia berada dalam keadaan menerima wahyu, agar ia dapat mengokohkan ayat-ayat itu (dalam ingatannya) sebagaimana turunnya. Hal ini adalah pembawaan naluriah terdapat pada setiap insan yang mendengarkan sesuatu dati orang lain, yang ia berhasrat menghafalkan pembicaraan orang itu. Maka ia menguIang-ulangi dalam hatinya pembicaraan itu. Mengulangi itu pada hakekatnya suatu pekerjaan yang merupakan "training" bagi ingatan, pekerjaan yang pada asasnya bersifat naluriah. Karenanya maka mengulang-ulangi itu dilakukan oleh diri sendiri batapapun tinggi tingkat kesadarannya. Bahkan adakalanya terjadi bahwa kita mengulang-ulangi katakata yang sifatnya pribadi semata-mata, seperti yang terjadi dalam mimpi kita umpamanya. Akan tetapi keadaan menerima wahyu bukanlah keadaan "Hypnogogic" ,keadaan antara sadar dan tidur, terutama yang menyangkut diri Nabi s.a.w. yang mungkin mengadakan latihan ingatan secara instingtif, namun dengan cara mekanis yang bertujuan, sehingga dalam keadaan ini ia mempertahankan sebagian kebebasannya dan kesadaran331
  • 320. nya. Dan hal ini tampak pada sikap normal badannya, sebab Nabi (pada saat menerima wahyu itu) tetap duduk saja, sebagaimana terlihat pada jalan pikiran rasionalnya ketika ia mengulang ulangi apa yang diwahyukan kepadanya. . Ayat yang tersebut diatas (Surat Thaha ayat 114) datang bettentangan dengan tabiat alami ini, dimana Nabi melepaskan kekangan kehendaknya sampai sejauh jarak tettentu, sehingga dapat menghafalkan dengan jalan mengulang-ulangi apa yang memancar di ruang aka! pikirannya, lalu dibangkitkan oleh gemerincing wahyu itu dan ia dibangunkan dan keadaannya. Jadi ayat tersebut di ataS bertuiuan menyita kebebasannya untuk mempergunakan ingatan yang gerakannya hanya terbatas pada pengulang-ulanganyang dilarang ini. Dengan demikian ayat tersebut tidak saja tak mau tahu tentang kebebasan memilih oleh Nabi serta kehendaknya untuk melatih ingatannya, melainkan ia juga tak menghiraukan hukum psikologis dari fungsi mengingat-ngingat itu sendiri. Demikianlah kita mengkonstatir kontradiksi ganda antara fenomena AIQur'an dan diri Nabi. Kontradiksi ganda ini, yaitu kontradiksi terhadap kehendak Nabi dan terhadap hukum fungsi mengingatingat, memantapkan secara khusus, ketunggalan suatu fenomena yang mempunyai ruang lingkupmutlak, bebas dari faktor-faktor psikologis dan temporal, dan demikian mengokohkan kedua eiri khas yang dimiliki oleh fenomena AI-Qur'an, yaitu keluhuran dan kebebasan mutlak. Kontradiksi kedua, kami ambil dari kehidupan pribadi Nabi. Penstlwa-peristiwe kehidupan ini telah meneatat, sebagaimana kita ketahui, periode-periode pokok dari pensyariatan AI-Qur'an. Maka tiadalah sesuatu yang mengherankan dalam haldi atas, setelah kita menyaksikan nilai pedagogis karena adanya kaitan antara peristiwa-peristiwa hidup seseorang (yaitu Nabi s.a.w.) dan undang-undang langit, Adapun mereka yang merasa heran, maka hendaklah mereka ingat bahwa suatu hukum yang diimlakan oleh kekuasaan langit kepada penduduk bukan bumi mungkin akan disesuaikan dengan adat istiadat malaikat, penghuni langit. Akan tetapi apabila ia diturunkan bagi kepentingan manusia, kiranya hukum itu tidak akan mempunyai makna apa-apa dalam hubungannya dengan mereka, kalau saja dasar penataannya bukan hal-hal materiil yang diambil dari kehidupan sehari-hari mereka. Dan inilah salahsatu keadaan yang diambil pri kehidupan Nabi sendiri. Keadaan ini bersesuaian bagi turunnya wahyu, dengan beberapa prinsip-prinsip perundang-undang332
  • 321. an, mengenai hal yang menyangkut kesaksian sebagai bukti hukum. Adapun peristiwa yang akan kami bahas di sini diriwayatkan oleh ahli-ahli sejarah pri kehidupan Nabi di bawah judul "Peristiwa Ifik" 1) atau peristiwa kebohongan. Dalam peristiwa ini kaum munafik di Madinah tidak henti-hentinya mereneanakan bermacam-macam cara dan tipu muslihat untuk melumpuhkan gerakan da'wah Rasulullah. Mereka meneari-cari kesempatan untuk mengaeaukan pikiran Nabi dan menjatuhkan kewibawaannya, serta merintangi perjuangannya. Maeehiavelli mempunyai di antara mereka ini murid-murid yang eerdas, jauhsebelum Maeehiavelli sendiri lahir di dunia. Mari kembali kepada cerita kita: Istri yang masih berusia muda itu (Aisyah) mendapati dirinya tiba-tiba terputus dari kafilah, karena 'ia terhalang lantaran pergi buang air. Sementara itu kafilah meneruskan perjalanannya mengiring juga onta (yang milik Aisyah itu) pemiliknya tertinggal di belakang, Ketika malam tiba, ia memanggil-manggildalam keadaan putus asa, sehingga ia mengira dirinya telah tersesat di padang pasir. Lalu ia tidur di jalan, seperti seorang anak keeil. Tiba-tiba seorang sahabat yang tadinya berjalan di barisan belakang kafilah itu menemukan Aisyah di situ, maka ia mengenalinya. Sahabat itu lalu turun dari onta yang dikendarainya, kemudian menaikkan (Aisyah) di atasnya, dan ia menyusul kafilah itu. Akan tetapi orang-orang munafik berada juga di situ. Mereka ini lalu menyiarkan issu bahwa Aisyah telah memainkan peranan wanita yang suka main einta. Tersiarlah suatu skandal. Kaum muslimin bemiat membunuh kepala kaum munafik. Terjadilah krisis. IniIah "frame" historis, diperagakan di dalamnya keadaan kita. Dan kita akan melihat bahwa problem tersebut telah dipeeahkan dengan pemecahan yang gemilang dalam rangka fenomena AI-Qur'an. Sebenamya Nabi s.a.w, telah diserang oleh kesangsian, sebab terlepas dari segaIa sesuatu, Nabi adalah seorang insan biasa. Akan tetapi insan ini mempunyai 1). Kisah peristiwa kitab Hadits. ini diriwayatkan dengan selengkapnya dalam kitab- AI-Bukhari meriwayatkannya di bawah judul: "Bab tentang cerita Ifik", diriwayatkan dari Urwah bin Zubair, Said bin Musaiyab, AIqamah bin Waqqash, dan Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas'ud dari Aisyah r .a, (Pen terjemah Arab). 333
  • 322. hati nuraniyang da'wahnya. ia mengambil keluhurannya dari keluhuran Ia mengetahui bahwa perbuatan-perbuatannya akan menjadi hukum (undang-undang) dan ukuran. Maka keputusan apakah yang ia dapat ambil dengan syarat bahwa keputusan itu akan sesuaidengan tabiat insaninya dan dengan dasar keluhumn da'wahnya? Masalah tersebut dengan bentuk yang demikian itu dipandang sebagai ujian yang menentukan bagi da'wah Nabi s.a.w. Maka sesuai dengan naluri insaninya, dan mungkin terpengaruh oleh intuisi orang-orang sekelilingnya, Nabi s.a.w, memulangkan Aisyah ke rumah orang tuanya, dengan sia-sia memprotes terhadap penghinaan dan peremehan terhadap dirinya. Adapun Nabi tidak mencerainya, agartidak menciptakan suatu yuri-prodensi yang mempunyai kekuatan hukum, tetapi ia juga tidak memaafkan, agar ia tidak menjerumuskan kebesaran da'wah luhurnya ke dalam bahaya. Kedua pertimbangan ini telah mengkonsekwensikan dalam dirinya suatu keadaan tertentu dimana ia dilanda oleh kecurigaan terhadap tingkah laku istrinya, dati satu segi, dan keragu-raguan untuk mengambilsuatu keputuWlyang zhalim, dari segi lain. Dalam situasi ini tiada yang memberi manfaat, selain bersikap netral, suatu hal yang dapat menenangkan emosi seseorang, dan sesuai pula dengan posisi Nabi, Dalam situasi seperti ini, memberi ampunan adalah buta, sedang petunjuk-petunjuk yang ada (untuk dipergunakan mengambil keputusan) mungkin zhalim, Berdasarkan hal-hal ini maka demi kemaslahatan pribadi Nabi yang luhur, maka ditinjau dari segala segi,ia harus mengambil sikap-netral yang tepat, yaitu dengan menitipkan Aisyah di rumah orang tuanya. Sikap seperti ini telah menutup jalan terhadap lidah-lidah tajam kaum munafik dan terhadap kritik-kritik mereka yang bertujuan mempermainkan orang yang aka! pikirannya dangkal. Nabi dalam hal ini tidaklah dapat mengambil sikap lain, yang kami maksud, ia tidak dapat berbuat sesuatu apa pun samasekali. Dan memang inilah garis kebijaksanaanya. Demikianlah halnya sampai wahyu turun tiba-tiba wahyu itu membebaskan Nabi dati kecurigaannya, dan dari keragu-raguannya. Dan pada waktu yang sama membeberkan nilai luhur dati kerasulan Nabi kepada suatu ujian yang maha berat. Dalam Surat "An-Nur" kita akan mendapatkan pertamatama "hukum terhadap perzinaan: 334
  • 323. "./ (" // :.;~I "Orang perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina deralah keduany«; masing-masing seratus kali dera. Janganlah sayang kepada keduanya, dalam menjalankan agama (hukum) Allah, kalau kamu (memang betul) beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Dan hendaklah dalam menghukum keduanYG itu disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman ", (Surat An-Nur ayat 2). Inilah prinsip hukum yang pertama. Kemudian Surat ini membebaskan Aisyah dari segala tuduhan dengan cara yang cemerlang gemilang, dan dalam pada itu Surat ini memperluas prinsip hukum itu,> serta menegaskan syarat adanya kesaksian dalam peristiwa seperti ini: " •• .,."" /' 1/ ll(~j.J'~~..i •••• ./ /~"" "'~ i;'/ I~I r r .••• ,.", ."'." el~J' ./ ;»: ././ '" d.J~ ( l - Y' : •.•• J ~."."""' d-...J~ ~~ #/;' •• , r~J OJ/ ~ J r ~ I .I/o""" ~)'j .••• --:. u~)'! 11' ••••.,.,. " 1.::,..1·,a~' ..... ~"'./ d~ u.,..~ ~ ... .iJ'J "aJ."" "./" ~W / •• ~ o'.~ (bJ~i "" 0" .;.,..:J' ) "Orang laki-laki yang berzina tidak bole!, kawin kecuali dengan orang perempuan yang berzina atau orang perempuan yang musyrik. Dan orang perempuan yang berzina hanya boleh dikawini oleh orang laki-laki zina atau orang laki-laki yang musyrik. Dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang yang berimatl. 335
  • 324. Dan orang-orang yang menuduh orang-orang perempuan yang bersih, kemudian mereka tidak sanggup membawakan empat orang saksi, maka deralan mereka (yang menuduh) itu delapan puluh kali dera dan janganlah diterima (lagi) kesaksian mereka buat selama-lamanya. Mereka adalah orang-orang yang fasik". (Surat An-Nur ayat 3-4). Dan untuk memberi kedua ayat ini penafsiran historisnya, kita mendapati Nabi s.a.w, mengembalikan ke rumahnya isteri yang budiman itu, yang menolak untuk mengakui kebaikan orangkepadanya (dalam kasus ini). Maka ia menjawab ayahnya yang mendesaknya untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada Nabi, dengan berkata: 1). "Demi Allah, Aku tidak akan datang (berterima kasih) kepadanya. Aku hanya memuji syukur kepada Allah 'Azza wa jalla", Akan tetapi naskah (teks) pembebasan dari tuduhan itu dipandang sebagai serius, bila dihubungkan dengan da'wah Nabi, sebab naskah subyektifnya, ia memberi kita juga salayang pandang secara langsung dan tak terduga tentang dua kepribadian yang suatu kebetulan telah menjadikan keduanya wasit yang faham benar akan nilai subyektif tersebut. Mereka berdua itu adalah Aisyah dan sahabat yang mengantarkan Aisyah itu, Arti serius yang bagaimanakah yang disadari oleh kedua orang itu tentang hukum yang menyatakan dengan terang-terangan bahwasanya seorang perempuan yang berzina tidak boleh menjadi isteri seorang laki-Iaki kecuali orang-Iaki-Iaki yang berzina? Dan ini adalah suatu hukum yang mutlak, jangan sampai tidak memukul pribadi insani yang diserang oleh kecurigaan, tetapi kemaslahatan yang luhur memaksanya mengambil sikap waspada dan berhati-hati sampai sekecil-kecilnya, sebab akal pikiran yang mencari kebenaran dan ketepatan dalam hukum tidaklah mungkin menyerahkepada kegegabahan, sehingga ia akan menghukum seorang yang tak bersalah dan mengampuni orang yang bersalah. Demikianlah tampak kepada kita kontradiksi itu dengan [elas dan terang antara pribadi seorang yang terikat oleh kewaspadaan dan berhati-hati di satu fihak dan wahyu yang turun kepadanya membawa hukum-hukum yang menentukan. 1). Dalam Hadits tersebut, dalam kitab AI-Bukhari disebutkan: "Berkata ibuku kepadaku: Pergilah kepadanya, lalu aku berkata dst. (Penterjemah). 336
  • 325. HAL-HAL YANG PARALEL. Penjelajahan dan perenungan kami terhadap Al-Qur'an dengan segala perbedaan tentang tujuan-tujuan kita dan dengan keterikatan kami sebelumnya, dengan pendapat-pendapat kaum intelegensia modern mendatangkan kekaguman dalam diri kami tentang struktur pikiran-pikirannya yang exsentrik, serta materi yang mentakjubkan dari pikiran-pikiran itu. Namun perhatian kami bertambah, sejak lama, dengan bertambahnya penjelajahan kami dalam alam yang mempunyai ciri-ciri khusus baik segi susunannya, strukturnya, serta pembawaan khasnya. Al-Qur'an dalam keseluruhan makna-makna ini tidak serupa dengan ensiklopedi-ensiklopedi ilmiah, atau buku-buku pelajaran yang dipersiapkan untuk suatu penetrapan khusus. Telah gugur dalih-dalih kami secara spontan, sebagaimana selalu gugur dalih-dalih lain di hadapan revolusi ilmu pengetahuan atau perubahan-perubahan sejarah, dan di hadapan kemenangan-kemenangan yang menentukan dari kebenaran dan kebaikan. Di sini kami merasa diri kami berkeharusan untuk melakukan pengakuan, yaitu pengakuan seorang intelektual, mengadakan approach kepada AI-Qur'an dengan niat yang sewajarnya, sebagaimana ia menemukan di dalamnya "tumpukan" keterangan-keterangan yang jelas, seolah-olah ia mentelaah salahsatu kitab ilmiah. Namun pengakuan ini, selain daripada ia diboboti dengan pendetailari-pendetailan yang bersifat pribadi tak mempunyai arti apa-apa, sebagai suatu obyek yang terbatas, kiranya ini akan merupakan kelanjutan yang menjemukan, hila dihubungkan dengan garis yang telah direncanakan. Kami tidak akan mengatakan sesuatu di sini selain satu kalimat saja, yaitu bahwa orang intelektual itu telah melepaskan sekarang pendapat-pendapat naifnya, untuk masuk dengan perhatian baru ke dalam alam AI-Qur'an persis seperti salahseorang pelaku yang kita dengar dalam hikayat-hikayat jin, dimana pelaku itu mendapati dirinya telanjang, terlepas dari pakaiannya, agar dapat menyusup jauh ke dalam alam sibir dan alam yang penuh misterius. Apabila tidak layak bagi kita untuk memandang Al-Qur'an sebagai kitab ilmu pengetahuan, akan tetapi kami mengkonstatir di dalam Al-Qur'an ayat-ayat yang mengandung kedua faktor yang petlu diperhatikan yakni penyentuhannya akan suatu hakikat ilmiah, dan bahwa dengan penyentuhan ini ayatayat telah memberi tambahan kejelasan tentang kaitan dari 337
  • 326. Nabi s.a.w. dengan fenomena Al-Qur'an. Maka mengadakan studi pada sebagian ayat-ayat itu akan memberi kemanfaatan pada dua jurusan, yakni historis dan psikologis. Adalah suatu keharusan bagi kami untuk mengkonstatir dari segi psikologis bahwasanya obyek pemikiran ditentukan pada pokok dasarnya oleh pembawaan pikiran yang membentuknya. Pemikiran itu menempati tempatnya pada arah jalan yang alami dati pikiran ini, dan pemikiran ini secara khusus lebih condong kepada apa yang merupakan bagian dati hasil pemikiran itu sendiri, dan yang termasuk dalam lingkungan pengalamannya serta di bidang penglihatannya. Dengan perkataan lain: agar penelitian-penelitian ini sesuai pandangannya dengan diri Nabi s.a.w., maka haruslah kita menetapkan bahwa: Pikiran-pikiran Muhammad = Pikiran-pikiran Al-Qur'an. Kiranya persamaan ini akan menjadi sah lagi, sekiranya kami dapat memperoleh kepastian bahwa obyek suatu ayat tertentu, dapat juga berasal dati sekeliling diri Muhammad, berasimilasi dengan irama alam pikirannya, berpancar dati hasil pengalamannya, dan tersentak dari lingkup pemandangannya. Hanya dalam keadaan yang demikian ini, baru mung kin kiranya persamaan terse but di atas (yakni: Pikiran-pikiran Muhammad = Pikiranpikiran Al-Qur'an), dengan urut-urutan yang terisyaratkan di atas, akan memanifestasikan hubungan relatif itu sehingga pikiran-pikiran Muhammad menjadi sebab bagi lahirnya pikiranpikiran AI-Qur'an. Akan tetapi apabila sebaliknya yang benar maka formula persamaan tersebut menjadi hal yang mustahil, yang tak mungkin jadi, karena tidak adanya hubungan yang memberi sebab untuk itu. Dan inilah yang kami usahakan untuk meneguhkannya di sini. Berdasarkan hal ini, kami membayangkan secara sempurna pembawaan pikiran pada seorang yang berpengetahuan dalam problem keagamaan, problem metafisika dan problem ruhani secara khusus. Mungkin kami membayangkan juga jalannya pikiran ini dalam karakteristik alaminya, yaitu jalannya pikiran yang harus mencakup, dalam ruang lingkup penangkapan penglihatannya, peristiwa-peristiwa dan sebab terjadinya dari alam wujud sebab kejadiannya. Dan harus juga mengkaitkan dian tara Pencipta dan ciptaannya (diantara Khalik dan makhluk) dengan kaitan iman, serta harus mendirikan untuk segala yang wujud dan segala sesuatu, sebuah tangga yang terdiri dari tingkatan-tingkatan etik. Plato telah dilibatkan dengan pikiran semacam ini dan lahirlah daripadanya falsafat etikanya. Namun apabila terjadi peru338
  • 327. behan esensial pada arus pikiran pada seseorang, maka perhatiannya akan beral1h dari suatu ufuk ke ufuk yang lain. Maka hal ini mendorong kami, sudah barang tentu, untuk menyelidiki dengan teliti, dari dekat, mengenai keadaan yang ganjil ini. Bilatelah tampak jelas kepada kita, bahwa hal itu aneh pula, dilihat dari segi alam pikiran keagamaan, yang kami hendak mempelajari jarak luasnya, maka kita harus memandangnya sebagai suatu fenomena yang unik. Dan Al-Qur'an selalu mengetengahkan kepada klta banyak dari hal-hal yang tak lumrah itu, yang mengikat perhatian, dan mengekang dengan tiba-tiba jalan dan lajunya pikiran, maka anda akan merasa bahwa tingkatan itu telah berubah, seolah-olah hal-hal yang garib (yang tidak lumrah) itu dengan sengaja ditempatkan di situ untuk menjadi pendakian yang seorang perenung mendakinya dengan sekali loncatan ke tempat yang lebih tinggi dan luhur daripada martabat diri Insani, tiba-tiba aka! pikiran, yang terbiasa berpikir tentang apa yang telah diketahui, dan tentang apa yang dapat dikenakan kepada ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan martabat insani, aka! pikiran tiba-tiba mendapati dirinya terangkat jauh untuk menyaksikan dari situ, dalam eahaya sinar ayat-ayat Al-Qur'an,suatu ufuk daripada ufuk-ufuk ma'rifat yang mutlak. Mengapakah kita melihat pada jalan pikiran yang metafisik suatu gambaran yang seolah-olah dapat dilihat? Mengapakah dari sela-sela penyampaian hal yang mengenai syariat, berpancar suatu hakekat duniawi atau hakekat samawi? Tak diragukan lagi bahwa ini adalah sesuatu yang ajaib. Tidak diragukan lagi, kalau kita merenungkan, dari dekat, keajaiban-keajaiban tersebut, pasti kita akan menemukan pada jalan pikiran Al-Qur'an itu, suatu semangat yang mengejutkan, serta susunan yang tinggi, dan hanya bersumber dari ma'rifat mutlak, lagi murni, dan daripadanya terpancar ayat itu. Kami terdorong untuk memandang hal-hal seperti keajaiban-keajaiban ini sebagai petunjuk-petunjuk yang terang seperti bintang-bintang meteor yang cahayanya menembus, yang mengungkapkan sumber metafisika pikiran insani yang terpesona, yang daripadanya pikiran itu bersumber, sehingga ia mendahului abad-abad kemajuan manusia, dan sesuai dengan kenyataan-kenyataan yang kemudian ditemukan oleh ilmu pengetahuan, setelah berlalu beberapa abad, seolah-olah keajaiban-keajaiban ini telah mendahului rasio insani yang berevolusi agar keajaiban-keajaiban itu berfungsi sebagai barisan-barisan depan yang menyaksikan rahasia terluhur bagi kema'rifatan Al-Qur'an. 339
  • 328. AI-Qur'an mengarahkan obyeknya kepada seluruh umat manUBJa, enghuni bumi ini, yaitu mereka yang sudah barangp tentu menjadi kepentingannya mengetahui segala sesuatu tentang bumi dimana mereka tinggal. Bagaimanakah bentuk planet yang gelap ini? Untuk menjawab pertanyaan ini, AIQur'an tidak menempuh jalan ilmiah, sebab AI-Qur'an bukanlah sebuah buku yang membiearakan soal alam wujud ini, Sekiranya ia sebuah buku yang demikian, maka ia tentu memuat pikiranpikiran yang bersendi kepada terkaan, sebagai yang dikatakan oleh teori Ptolemaeus 1), yang terkenal pada masa itu. Pengetahuan-pengetahuan pada masa itu tentang bumi mengatakan bahwa ia mempunyai bentuk bulat yang sempuma, dan berpendapat pula bahwa bumi itu berdiam di tempat, tidak bergerak, di pusat ruang angkasa 2). Adapun pikiran-pikiran Plato yang kami isyaratkan di atas, ketika menyanyikan lagu tentang fenomena-fenomena alam, menggambarkan seolah-olah bumi sebagai pusat kubah dati bintang-bintang yang menyanyikan melodi. Jadi inilah sumber-sumber ilmiah yang kita dapat mengambi! daripadanya jawaban manusia terhadap pertanyaan yang dilemparkan tadi. Akan tetapi jawaban AI-Qur'an sekalipun jawaban itu tidak membawa eiri pelajaran, sebagaimana halnya dengan buku-buku yang membiearakan masalah alam, tetapi tampak seolah-olah jawabannya itu meletakkan tanda-tanda jalaiI sederhana di hadapan akal pikiran manusia, di sisi-sisi jalan kemajuan ilmiah. Marilah kita memperhatikan ayat berikut ini dati firman Allah s.w.t.: ({{ :"~),I "Maka apakah mereka tidelk melihat bahwasanya Kami mendeltang; bumi lalu Kami mengurang! luasnya dari tepi-tepinya", (Surat AI-Anbiyaayat 44). 1). Ptolemacus dialah yang memperkirakan bahwa bumi adalah pusat alam angkasa, yang sekelilingnya matahari dan planer-planet lain berputar. Teori ini kemudian diganti dengan teori Copernicus yang terkenal hingga kini. 2). Boquet dalam bukunya "Sejarah Astronomi". 340
  • 329. Dalam ayat ini tersimpul dua buah ide yang menonjol, yang harus kita tegaskan masing-masing dari keduanya itu dengan jelas: Yang pertama, mempunyai ciri arsitektur sebab bentuk bumi telah ditetapkan sebagai yang tersimpul dalam firman· Nya: "tepi-tepi". Yang kedua: bereiri mekanik, yang dinyatakan dengan jehu: dengan firman-Nya: "Kami menguranginya". Sebenamya kata "tepi-tepi" (dalam ayat tersebut di atas mengharuskan timbulnya pikiran tentang bentuk bumi. Berbentuk apakah ia? Bumi seeara spontan tidak memberi kesan bahwa ia mempunyai bentuk garis panjang di ruang angkasa, Juga tidak memberi kesan bahwa ia mempunyai bentuk datar, atau persegi enam, atau empat persegi atau bersegi tiga dst., sebab penonjolan yang sedikitpun pada permukaan bumi memberi kesan seeara spontan akan ide tentang ketiga dimensi, dan selanjutnya tentang bentuk geometris yang membentang ke ketiga arah (lebar, panjang, tinggi atau dalam). Namun semua bentuk geometris ruang angkasa, tidak eoeok dengan ide "tepi-tepi" (dalam ayat tersebut di atas). Maka bentuk yang paling dekat kepada khayalan apabila kita mengambil dalam pertimbangan kita kata-kata "Mengurangi tepi-tepi" dan apabila kita mengikuti pengetahuan-pengetahuan tentang geometris bumi mengenai "penghamparan" kedua kutubnya, yaitu bentuk telur 1). Kecocokan yang khusus untuk bentuk bumi dan penghamparan kedua kutubnya itu yaitu ciri khas dari bentuk bumi yang telah dikokohkan oleh ilmu pengetahuan modem secara umum, kecocokan ini telah bertambah jelas, ketika diperkuat oleh pikiran-pikiran Al-Qur'an yang lain, yang berbieara tentang planet kita ini, dan sesuai pula dengan kenyataan ilmiah. Maka apabila ilmu pengetahuan di Eropah sampai pada masa Copernicus dan Fabionacci masih terbatas pada ide-ide Ptolemacus, maka inilah Al-Qur'an telah melukiskan dengan jelas, delapan abad sebelum itu, gerakan bumi. Berfirman Allah s w t : 1). Kiranya rahasia bentuk telur yang dipunyai oleh bumi ini tersimpul dalam firman Allah: "Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya". (Surat An-Nazi'at ayat 30). (Penterjemah Arab). 341
  • 330. ( AA : J,.....:.JI ) "Dan ka,niu lihat gunung-gunung itu kamu sangka dia tetap di tempatnya padahal ia berjalan sebagaijalannya awan ". (Surat An-Naml ayat 88). Pikiran mengenai gerak bumi ini adalah esensial pada dasarnya. Dan tambahan lagi pikiran tersebut, yang memberi kesan kepada ide yang menjadi konsekwensi dari pikiran tersebut, yaitu ide "poros" dari gerakan tersebut, dan selanjutnya dengan ide "dua kutub". Dan dua kutub ini telah ditetapkan wujudnya dengan kata "tepi-tepi" dan diisyaratkan dengan "penghamparan dua kutub". Akan tetapi dari manakah datangnya planet yang dibicarakan oleh Al-Qur'an itu mengenai bentuknya, penghamparannya dan gerakannya da1am dua buah petunjuk yang hening jernih itu? Kelihatannya teori-teori sebelum "Laplace", terlepas dari legenda-Iegenda, tidak pemah menghadapi pertanyaan ini. Namun sejak "Laplace" bumi dipandang sebagai suatu bunga api yang gelap, yang terlepas dari matahari. Adapun Al-Qur'an tanpa mencari pegangan kepada penafsirari ilmiah, kita melihatnya meletakkan beberapa petunjuk pada [alan ini: " ". J.': ,.,,..""..., 0 J..:L, ~I 'iJ ~I " ( t· ./ • dJoJ; J • ./ ul ."" ~ , ~ ) y ""0'''.'''''''' 'Mu~ " d1i d ~;.. • ' ~ ." • N' Js"; ~ ", 'J ~I ""'"" JLr:J1 .", "Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan, dan malam pun tidak dapat mendahului siang, dan masing-masing beredar padagaris edarnya. (Surat Ya Sin ayat 40). Ada kemungkinan untuk dikatakan bahwa persoalan tersebut di sini berkaitan dengan pikiran yang dipaksa-paksakan yang menentukan kecocokan titik awal dalam pembagian waktu. Sekalipun demikian kiranya tiadalah halangan untuk menafsirkan ayat itu secara alamiah, dengan pertimbangan mengenai makna umum dari nas tersebut, dan mungkin dalam hal ini akan sejalan dengan pikiran ilmiah tentang arti "malam" dari segi keadaannya sebagai fenomena alamiah yang kejadiannya menyusul sete342
  • 331. lah bumi menjadi dengan secara berangsur-angsur, sebab dalam realitasnya, selama bumi itu masih merupakan gumpalan yang menyaIa-nyala, maka ia tak pemah mengenal malam, dikarenakan ia selalu berada dalam keadaan siang yang bersinambungan. Dan akhimya lukisan alami ini telah dilengkapi dengan pikiran-pikiran lain dari Al-Qur'an, pikiran-pikiran yang tidak kurang pentingnya dalam menetapkan kesejalanan dengan kebenaran ilmiah. Dalam hal ini patutlah bagi kita untuk menyebut, kan, secara khusus, garis perjalanan sinar cahaya di udara. Kita mengetahui bahwa udara adaIah susunan lapisan-lapisan y~g berturut-turut dan di antara lapisan-lapisan itu, kepadatan udara berkurang, mulai dari bumi, terus berturut-turut ke atas. Dalam lingkungan seperti ini perjaIanan sinar cahaya harus sesuai dengan kedua rumus yang ditemukan oleh kedua orang ilmuwan "Alhaitsan" 1) dan Descartes. Yaitu hukum Refraksi" (pengubahan arab sinar). Akan tetapi Al-Qur'an yang selaIu menarik perhatian kita kepada fenomena-fenomena alam, mengundang kita untuk memperhatikan tangan AlkhaIik (pencipta), yang tidak terlihat, dalam garis-garis bayang-bayang yang paling kecil; ., .; "."-,,,, LSL .J.~ " 1). Albaitsan, ialab Abu Ali. Alhasan ibnul Haitsan, lahir di Basra (pada tahun 355 H/965 M), wafat di Kairo pada tabun 430 H (1028 M). Ia adalah salahseorang ulama ilmu Eksakta yang terkenal. Ia telab berhasil menyalin risalat-risalat ahliahli ilmu eksakta dan ilmu flsika yang terdahulu, serta mengarang pula banyak risalat-risalat tentang kedua materi ini , dan juga tentang ilmu kedokteran yang memang pekerjaan aslinya, Adapun karangannya Yang terpenting ialab kitabnya yang berjudul !'Peman~gan-pemandangan" tentang ilmu "Optika" dan "Cahaya". Namun kitab aslinya yang dikarang dalam babasa Arab telab hilang, dan yang tertinggal hanya terjemaban Latin yang dilakukan oleh "Witeli" pada tahun 1270 M, yang ahli dalam teori-teori tentang terurainya eahaya dalam beberapa warna eahaya (spektrum) ilusi optikal (penipuan penglihatan) dan pantulan cahaya dan refraksi (pengubahan arab sinar), sebagaimana ia juga membabas soal refraksi cahaya yang melalui media-media transparan, seperti udara, dan air. Kesemuanya ini telah diteorikan oleh Alhaitsam enam abad sebelum "Smell" dan "Descartes" menetapkan hukum tentang capay•. SelanjutnYa Abu Ali Alhatsam mempunyai juga karangan tentang cahaya, dan karangan lain. tentang fenomena-fenomena senja. warnawarna spektrum sinar matahari, lingkaran cahaya sekitar bulan atau matabari, bayang-bayang, gerhana matahari, gerhana bulan dll. (Penterjemah Arab). 343
  • 332. "Apakah kamu tidak memperhatikan (ciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang, dan kalau Dia menghendaki, niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai pe- ' tunjuk atas bayang-bayang itu. Kemudian Kami menarik bayangbayang itu kepada Kami dengan tarikan yang perlahan-lahan" (Surat Al-Furqan ayat 45-46). Bagaimanakah kita menafsirkan "Tarikan perlahan-lahan" 1) itu? Hukum Alhaitsam-Descrates" mengatakan bahwa sinar cahaya yang memancar dalam media yang mempunyai kepadatan yang berubah-ubah terus-menerus dalam perjalanannya menggariskan sebuah garis lengkung dengan konkaf (lekuk) yang berarah kepada titik yang lebih padat. Dalam ruang ini bayang-bayang itu "menarik diri" dengan tarikan perlahan-lahan", dibanding dengan keadaannya apabila ia elalamruang kosong, dimana tidak terdapat refraksi sinar samasekali. Dalam hal ini terjadi kesejalanan antara pikiran AI-Qur'an dan ciri khas penglihatan mumi, yang tidak diketahui oleh ilmu pengetahuan pada kurun turunnya AI-Qur'an. Kiranya kita masih berada dalam pembicaraan mengenai udara, maka baiklah -kita buktikan selaras dengan apa yang disebutkan oleh AI-Qur'an, yaitu sejak ditemukan lapisan-lapisan yang paling atas berkat perkembangan dalam bidang aeronantika dan pelepasan balon-balon ke udara kita memperoleh pengetahuan mengenai 'suatu fenomena organik yang diakibatkan oleh renggangnya udara, dimana orang yang naik (terbang) ke atas merasakan sedikit kesulitan dalam bemafas, dan ia merasakan tertekan dadanya dan sesak. AI-Qur'an telah meminjam dari fenomena ini suatu kiasan yang baik sekali. Berfirman Allah s w t : 1). Kaum mufassirin yang tidak terlintas dalam pikiran mereka alam pikiran Al-Qur'an mengenai soal ini menafsirkan ayat ini dengan menghindari penentuan makna "Menarik bayang-bayang itu", padahal maknanya jelas sekali, dalam pada itu mereka menafsirkan kata "perlahan-lahan" dengan tafsiran yang aneh, sehingga kalimat itu tafsirannya menjadi: "Kemudian Kami tarik (pegang) bayang-bayang itu kepada Kami. Dan hal itu adalah mudah bagi KamL Penterjemah Arab) 344
  • 333. . --./ LJ-o J ,., ./ ., . . ..-- . -- .". c..A )L.)U "" iJ ~ --./ ............. ,,."" ~.", w.., w ..L--...a: L..;If ~. .J .J.."p ,. 1.:--.;> ;., ... '" li:...o ., iJ "'" . ...." •...... ./ .,,;' .J .J.."p (' . .,.,,., .J~ ~ . . ., ./ ~ ,. ./ ./ .••.. '" w J...a: ., ~ ., ( " 0 , '-./ ." '" ill 4:~ ,) " I (.II - .J~ ., * ,; WI L...;)ll ) ui .'.'Barangsiapayang Allah kehendaki untuk memberihan petunjuk hepadanya, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendahi ke langit", (Surat Al-An'am ayat 125). Kiranya karni dapat memastikan bahwa "mendaki gununggunung" telah menarik perhatian para pendaki itu prihal fenomena ini, sekalipun sebelum adanya penjelajahan lapisan-lapisan udara, tambahan lagi bahwa ayat terse but tidak menggunakan, dalam perbandingan itu term mendaki gunung-gunung" melainkan mempergunakan dengan jelas term mendaki "ke langit". Kami tambahkan di sini bahwa tempat kelahiran genialitas bahasa Arab, adalah suatu negeri yang mempunyai permukaan datar dan dataran-dataran luas, tidak memberikemanfaatan bagi seseorang untuk melakukan percobaan atau pikiran mendaki gunung. Dan di sini kami terpaksa pula untuk menetapkan keselarasan yang gemilang pikiran Al-Qur'an dengan kenyataan ilmiah. Dan akhirnya maka di atas bumi ini tampaknya AI-Qur'an seolah-olah memberi tahukan perihal asal-usulnya yang jauh, beberapa isyarat terang tentang adanya manusia. Dari manakah datangnya manusia ini? Dan manakah titik permulaan dalam kehidupan biologis itu? Ilmu pengetahuan telah mengkhayalkan adanya lingkaran biologis hidup dalam lingkungan air, dimana terbentuk sel hidup awal, kemudian memodifikasikan diri dan menjadi sempurna bentuknya, sehingga sarnpai kepada bentuk man usia. Adalah penting sekali untuk memperhatikan kecocokan lingkaran ilmiah ini dengan alarn pikiran Al-Qur'an yang dituangkan dalam ayat-ayat berikut ini: / ,,~ '-"_ (y •• /.//";,,,/ . L.....;)l1 =I.=~ '" ~.J d~l) t..l.. ~",,// ." .w..L;.." /..1./ & ~c..r"' o",~/", i< ,·~l V' r.. ~_.JI .. • *~ d '" 345
  • 334. 1. Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaikbaiknya, dan yang memulai penciptaan manusia dan tanah". (Surat As-Sajadahayat 7). (catatan: tanah = air + pasir). • '/ (A: d ~.....J I) --:::: cr.:-ro ; p t: ~ " .", I, s • -;aJ....., ~ >; /' /'''' eJ..-; .......••.. '" ~ ~ , 2. Kemudian Dia menjadikan heturunannya dan sanpati air yang hina". As-Sajadahayat 8). .., (, d..> / J-J • " ~ r >:> J " 6.J .., '" J""'" .•.•• '" -.. ~ 3. "Kemudian Dia menyempumakan (bentuhnya) dan meniuphan he dalam tubuhnya rob (eiptaan-Nva)". (Surat Assajadahayat 9). Dalam ayat-ayat ini lingkaran dari pose-pose itu telah dicatat dengan jelas, sebab ayat yang pertama mencatat tahap eiptaan yang pertama, sedang ayat kedua mencatat tahap berketurunan, dan ayat ketiga mencatat tahap penyempumaan. Kami dengan sengaja menempatkan catatan mengenai pengertian "tanah diantara dua huruf (tanah = air + pasir), untuk mengambil daripadanya kata "air" yang menjadi titik permulaan pada lingkaran biologis dalam teori ilmiah. Bukanlah ini faham yang dipaksa-paksakan, sebab Al-Qur'an telah menentukan, tanpa aclanya dualisme, tahap ini yang merupakan salahsatu dari tahap-tahap ciptaan, dimulai dari air, sebagaimana firman-Nya: i' :" '=-:-;)11 ) "Dan daripada air, Kami jadikan segala sesuatu yang hidup ", (Surat Al-Anbiya,ayat 30). Kaum mufassirin yang kurang begitu menyelami alam pikiran AI-Qur'an telah menafsirkan kata benda yang tertentu: "air itu" dengan makna yang tidak tertentu yaitu "air" saja, yang sama artinya dengan: "Cairan mani" Penafsiran mereka ini mungkin sesuai dengan ayat-ayat lain yang membicarakan tahap "keturunan". Maka untuk menyudahi penyimpangan dati pokok persoalan dalam menerangkan masa1ahlingkaran biologis dalam alam pikiran Al-Qur'an, kami pandang akan bermanfaat untuk mengetangahkan perhitungan, yang disebutkan 346
  • 335. dalam Al-Qur'an da1am bentuk, yang sejalan dengan tahaptahap kehidupan hewan: _.~ / ~1./ •• 4.o.AI 1 __ • I" .,/ • ..' U4 ~ tJ.; ~ I ., 1_ •.••••. vo u-u- ~ '":... ..''- _ vo "-,I,,, .",,.,. _ ••••••••• 0,./. ,-- ~J~'; "" .;~I to: "I ••••• I '...,..," J /0/)/ .J. '" -....." " .,/ ~ ) "Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dan air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan dengan perutnya dan sebagian lagi berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (lain) berjalan dengan empat kaki". (Surat An-Nur ayat 45). Dalam irama lain bagi alam pikiran Al-Qur'an terdapat keselarasan yang mentakjubkan yang kiranya pantas untuk diketengahkan, yakni ayat berikut ini: /,,/,.../ W ..t::'" J u-2J I ./ .,., '-:'~ ~ /"....... ~ """w - ljJ ~ 0 ",./ t.;..:-.. ./ ", ( A1 _ A ~ lIE :'~I ) lIE ~ ~. '" /'.- e.", J,J1_/ lr.:" d '-:' ~ -/ "Melka iapun menempuh suatu lalan. Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam. (Surat Al-Kahfiayat 85-86). Mungkin ayat yang mentakjubkan ini tampaknya begitu manis 1agi sederhana. Namun sekiranya kita melihat kepada garis bujur yang melewati kota Makkah, maka tempat terbenam . matahari akan terjadi pada sepanjang garis bujur 90° ke barat, dan garis ini memanjang sampai ke dekat Teluk Mexico dimana terdapat suatu arus laut, yaitu arus laut yang bersuhu hangat, yaitu arus yang membawa ke tepi-tepi laut Eropa Utara kehangatan yang mencocokinya, yaitu kehangatan yang bersumber dari mata airnya yang panas 1). Di daerah ini Jr. George Claude, yang berbangsa Prancis pernah berusaha mempergunakan potensi yang membangkitkan panas dati lautan. Ia berhasil secara teoritis. 1). MU'awayahmembaca bukan: "Ainin hami-ah" (dengan "ha" pendek melainkan "Ainin ha-mi-ah (ha panjang)", yang artinya "mata air' panas". Riwayat ini hanya menurut pendengaran semata-mata. (Penterjemah Arab). 347
  • 336. Bukankah ini secara tepat terbenam matahari, dihubungkan dengan garis bujur Makkah, yang dipandang sebagai suatu garis, dari mana alam pikiran AI-Qur'an lahir? Ini juga suatu kecocokan yang mentakjubkan. Marilah kami sebutkan, dari segi lain, revolusi yang dahsyat yang terjadi, seabad yang lalu dengan diketemukannya listrik dan dipergunakannya bagi kepentingan kehidupan di permukaan bumi ini. Hasil-hasil teoritis dan praktis yang timbul dengan penemuan itu mempunyai kumandang yang dalam, lagi hebat dalam kehidupan kita, dan dalam alam pikiran manusia serta ilmu pengetahuannya. Kiranya patut disebutkan bahwa kami menemukan petunjuk mengenai fenomena yang luar biasa ini di dalam Kitab yang digambarkan oleh Allah s.w.t. sebagai: "Tidak adasesuatu pun yang Kami lalaikan dalam Kitab ini". Beberapa kaum mufassirin modern telah menarik perhatian kita kepada ayat berikut ini: /'. /." ~ ./.,. N ., ~.; • .1/" .J ~ts:iSdj~ ,. 0"" .", /", , ,. ./ ,,,,,, .",;' "."" r ~d..; ~ ~ ~/ ..,.", ~ ,.,7/ ( '" 0 : j.,..:J I) j L: ~ d 0/0"" •••• ,•. :: ,.., "" , » ••• "" .• r.~ ";/. "'''''''', l.J4 ..u ~ J#./ "'0 J .). ~ y::;"':' j ~ ./."/ ~.,J "0 (.~I -'"",,-, j .JJI jO~ ;' ,/ """0"" ~J"};'; d.:'" :.;. ~~l ,/ ~J~~y"~lS'~~)I~~~~j~ ",,",,"w "."'" J>j~~ ~ /""" (1;/ •• ~ .J) "'''0/ ~ " j .•••• / ~ IS:. "Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahayaNya itu adalah seperti sebuah lubang, yang di dalamnya ada pelita itu di dalam kaca, dan haca itu seakan-akan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak barkahnya, (yoitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat; Minyaknya hampir-hampir menerangi, sekalipun tidak disentuh api." (Surat Annur ayat 35). Di dalam ayat ini tersimpul kiasan terindah AI-Qur'an. sehingga ia mengilhami Imam Algazzali untuk mengarang sebuah kitab, yang termasuk karangannya yang paling dalam maknanya yaitu kitab yang berjudul: "Al-misykah" (lubang dalam dinding, untuk tempat pelita). Namun rasio (akal pikiran) kaum mufassi348
  • 337. rin modern telah menyadari, bahwa dalam kiasan ini tersimpul lebih banyak daripada sekedar isyarat ketasawufan. Rasio kaum mufassirin modern telah menyadari akan adanya kesejalanan yang paling menakjubkan dari alam pikiran Al-Qur'an dengan kenyataan yang ditetapkan oleh ilmu pengetahuan. Dan kami berkehendak di sini, untuk tambahan penjelasan, untuk menegaskan, dari fihak kami, ciri khas yang menjadi intuisi bagi ayat tersebut , dengan jalan menyusun unsur-unsur asasinya, dalam suatu bentuk untuk menjelaskan, sehingga ayat itu menjadi: "Sekalipun tidak disentuh api, cahaya itu menerangi dari dalam lubang (di dinding) yang di dalamnya ada pelita dalam kaca: Dengan demikian maka isyarat itu menjadi lebih transparan (jernih). Namun kami dapat menyimpang dalam menjelaskan sifat khusus dari ayat itu,. dengan meminjam istilah-istilah tekhnik, yang kiranya dapat dipersamakan dengan kata-kata (dalam ayat) itu. Akan tetapi persesuaian ini dapat berlaku, bila diterapkan persamaan berikut ini: Lubang di dinding = proyektor. Pelita = sesuatu yang menyala = kabel. Kaca = pipa. Dalam persamaan di atas tiada sesuatupun yang dipaksapaksakan. Persamaan di atas hanya terilhamkan oleh lafallafal ayat itu sendiri. Maka di bawah sorotan pembawaan kiasannya yang unik itu yang membawa kita kepada ide: pelita yang menerangi, sekalipun tidak disentuh api. Setelah diadakan perubahan ini maka pada kami terbentuklah kalimat berikut sehingga rumusnya menjadi transparan sekali yaitu: "Sekalipun tidak disentuh api, cahaya itu menerangi, dari suatu proyektor yang di dalamnya terdapat kabel dalam sebuah pipa, dinyalakan dengan minyak dari sebatang pohon yang diberkahi, tidak dari timur dan tidak pula dari barat 1). Di sini kita harus memperhatikan benar-benar kesejalanan dari kecocokan yang paling menakjubkan antara alam pikiran yang diwahyukan (Al-Qur'an) dan kenyataan-kenyataan yang kebenarannya ditetapkan oleh ilmu pengetahuan sesudah itu. 1). "Pohon" dipergunakan selalu dalam lambang Yang berasal dari rakyat, dengan makna kiasan tentang: "potensi, energi". Selanjutnya maka salahsatu bentuk potensi dan energi itu sebagai yang terilhamkan dalam ayat tersebut oleh, "Arus listrik" (diisyaratkan dengan minyak dari pohon yang diberkahi". (Pengarang), 349
  • 338. Kami dapat mengkonstatir juga dalam hal-hal lain, ketidak mampuan kami untuk menjelaskan alam pikiran yang diwahyukan itu di bawah sorotan pikiran khas manusia. Maka sekiranya kita hendak mengenakan kepada abad kita ini, yang penuh dengan kegelisahan karena ancaman peperangan-peperangan yang membinasakan itu, suatu lambang yang menonjol, maka kiranya kita akan mendapatkan lambang itu dalam bentuk pikiran yang menakutkan yang diilhami oleh "roket" atau "bom". Lambang semacam ini telah tersebut dalam firman Allah s.w.t.: " ( ''': ,,"" .".. u--»I)U"l.>..;;.;.; ? I'J ~ , ,,~ ~~ ,.,., • ."." , ,., ., J-....J: ~ , "Kepada kamu dilepaskan nyala api dan cairan tembaga". (Surat Ar-Rahman ayat 35). Dapatkah seseorang yang manapun menuangkan suatu rumusan, untuk alat-alat maut, yang lebih menggemakan daripada apa yang dikatakan oleh Al-Qur'an ini? Kecocokan ini mentakjubkan dan mencengangkan, sebab ilmu kemiliteran, hingga pada pertempuran "Sajlamassa" 1) tidak mempergunakan selain senjata-senjata tajam (seperti pedang dsb), Di dalarn pertempuran tentara Inggris belajar mempergunakan mesiu, untuk dipergunakannya, beberapa tahun kemudian dalam pertempuran "Grisy". Akhirul kalam untuk penutup bab ini, yang kami bahas di dalamnya beberapa fenomena alam, mungkin kita bertanyatanya tentang jauh jarak alam yang fenomena-fenomena tersebar luas di dalamnya: Apakah jarak ini mempunyai batas-batas? Al-Qur'an menjawab pertanyaan ini dengan terus terang: (t Y ~ '=.; l.iJ /.~ I) U «s > -;.". ~-;.,.J .;J .... 1 ."'" •• oJ:: ";.'/"-:"~ L;.. !.Jb ~ '" l' W IJ "Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami), dan Besungguhn:¥aKami benar-benar berkuasa". (Surat Adz-Dzariyat, ayat 47). Dem'ikianlah ruang angkasa raya tampak, dalam pandangan Al-Qur'an seolah-olah ia tiada batas baginya, dan seakan-akan > 1). Sajlamassa bekas suatu kota di negeri Magrib ('Iimur Dekat). Sajlamassa dahulu adalah Ibukota negeri "Tafilalat". basis kekuasaan AIAsyraf. dari keturunan Ali ibnu Abi Talib. (Penyalin).
  • 339. ia selalu bertambah luas. Pikiran yang kini menjadi persoalan itu telahmendahsyatkan "Einstein" sendiri, ketika ilmuwan ahli ilmu fisika, "Huble" menemukan bahwa bintang-bintang galacitis (= bintang bima sakti) terletak sangat jauh dati kumpulan galaxy kita. Dati ini, ahli matematika, berbangsa Belgia"Lemaitre" memperoleh kesimpulan bagi teori "Peluasan alam raya". Tidaklah mentakjubkan dan mecengangkan bahwa alam pikiran yang diwahyukan sebagaimana halnya ia selalu, menempatkan tanda-tanda pengenalnya yang menerangi di hadapan alam pikiran ilmiah, seolah-olah kepadanya dilukiskan jalan yang hams ditempuh? Dapatkah orang mengatakan, bahwa tanda-tanda pengenal seperti ini telah keluar dati akal pikiran seorang yang buta huruf dan bahwa karenanya lalu terdapat persamaan antara, alam pikiran Muhammad dan alam pikiran AI·Qur'an ? 351
  • 340. KIASAN 01 OALAM AL-QUR'AN. Kegenialitasan suatu bahasa berkaitan erat dengan apa yang diberikan oleh tanah air kepadanya dalam menciptakan keindahan dan kefasihan yang khas. Karena pembawaan tempat, langit, iklim, hewan, tumbuh-tumbuhan, ini semuanya mewakili pikiran-pikiran dan gambaran-gambaran, yang dipandang sebagai pusaka khas dari suatu bahasa, yang tidak dipunyai oleh bahasa lain. Demikianlah fungsi tanah air dalam meneiptakan eiri khasnya atas alat-alat keindahan bahasa, yang dipergunakan oleh suatu bangsa untuk menyatakan keindahan yang dimiliki oleh bahasanya ..Oleh karenanya maka kritik yang bersifat subyektif terhadap kesusastraan yang mana pun harus mengungkapkan dalam kesusastraan ini sampai seberapa jauh hubungan kesusastraan itu dengan unsur-unsur tanah air, dimana kesusastraan itu lahir, Oemikian juga dengan hal-hal yang berhubungan dengan penganalisaan gaya bahasa Al-Qur'an, maka analisa ini harus mengungkapkan hal-hal yang mengkaitkan gaya bahasa ini dengan bumi Arabia. Mungkin temperamen (tabiat) merupakan unsur satu-satunya mengenai keindahan bahasa yang menentukan tanda-tanda pengenal bagi gaya bahasa, dan menentukan juga, dalam bentuk tertentu, letak geografisnya. Umru'ul Qais umpamanya, ketika melukiskan kudanya, ia mengatakan, dalam bait syairnya yang tersohor (yang terjemahan Indonesianya k.l.): Melanghah he belahang, lari he depan, motu dan mundur sehaligus, lahsana batu raksasa gunung digiTing he bawah oleh arus banjir daTi hetinggian. Kalau kita memperhatikan kata-kata kiasan (dalam syair ini) kita dapat mengutarakan dua gambaran yang serupa benar, yang diambildari kehidupan padang pasir dan lingkungannya. Genialitas penyair besar ini telah mempergunakan, dalam suatu keindahan bahasa yang alami, unsur-unsur yang dimiliki oleh lingkungan geografis, yaitu gambaran: kuda yang lari kencang, dan gambaran batu besar gunung yang menggelineir ke bawah dengan pesatnya, didorong oleh arus banjir dari atas.Bait syair ini pada dasarnya berbahasa Arab, sebab lingkungan dimana bait itu melukiskan, adalah lingkungan Arab, yang"ditera dengan eiri khasnya. 352 I
  • 341. r Akan tetapi kiasan yang dibuat oleh AI-Qur'an tidak selalu, bahkan tidak kerapkali merupakan proyeksi dati kehidupan badui di padang pasir. Sebaliknya daripada itu, kiasan dalam AIQur'an mengambil unsur-unsurnya, dan kata-kata perumpamaannya dari lingkungan-lingkungan dan suasana-suasana serta pemandangan-pemandangan yang sangat berbeda-beda. Maka ideide yang bertalian dengan tumbuh-tumbuhan seperti pohon dan bermacam-macam jenis taman, melukiskan kepada kita tabiat bumi yang subur lekat dengan tumbuh-tumbuhan, serta sejuk hawanya, lebih banyak daripada melukiskan bumi sahara yang gersang dan berpasir. Selanjutnya sungai-sungai yang mengalir melintasi padang rum put hijau, mengingatkan kita kepada tanah yang subur di tepi sungai Nil, atau sungai Efrat, atau sungai Gangga di India, lebih banyak daripada mengingatkan kita kepada tanah-tanah tandus di Arabia. Awan-awan yang digiring oleh angin (yang turun sebagai hujan) untuk menghidupkan negeri, setelah ia sebelumnya, dalam keadaan gersang, tidaklah merupakan pemandangan-pemandangan sehari-hari di atas langit Jazirah Arabia, karena langit kontinental (Arabia) bersih dan laksana menyala, sehingga ia seolah-olah sebuah tungku (perapian) tembaga yang dibakar; langit yang telanjang seperti bertelanjangnya padang pasir itu sendiri. Tarnbahan lagi, kita mendapatkan di dalam AI-Qur'an banyak gambaran yang harus dipikirkan oleh akal, tidak mempunyai hubungan samasekali, baik dengan langit, maupun dengan bumi Jazirah Arabia. Rancangan buku ini bukan untuk mempelajari masalah kiasan di ~alam ~-Qur'an, m~laink~ kami hanya akan menerangkan saja pentmgnya soal ItU bag! studi tentang fenomena AIQur'an dan segi pandangan kritis. Oleh sebab itu kami mengetengahkan kepada pembaca dua misal, kedua-duanya diambil dar!- ~urat Annur, misal-misal yang akan menjelaskan kepentingan mi: Misal pertama ialah firman Allah s.w.e.: 353
  • 342. "Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah lahsana fatamorgana di tonab yang datar, yang disangka air oleh orang yang dahaga, ahan tetapi bila didatangi air itu, dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun. Dan didapatinv« (ketetapan) Allah di sisinva, lalu Allah memberikan kepadanya pernitunsan amalamal dengan cukup, dan Allah adalah sangat eepat perhitungan- Nya". (Surat An-Nur ayat 39). Di dalam lukisan yang menarik ini tampak jelas permukaan padang pasir Arabia yang menghampar dan ilusi imaginer dari fatamorgana. Maka kita berada di sini di hadapan unsur-unsur kiasan dari jenis Arab. Bumi dan langit padang pasir terproyeksi di atas kiasan itu, Maka apa yang kami konstatir tidak termasuk dalam sesuatu yang ada hubungannya dengan fenomena ~tl-Quran, yang menjadi pembahasan kami, kecuali apa yang kami dapatkan dalam ayat ini berupa hal yang berkaitan dengan keindahan dan kefasihan bahasa, ketika mempergunakan ilusi fatamorgana, yang mendatangkan kesedihan dalam hati, untuk menegaskan apa yang ditemui, berupa bayang-bayang lenyap musnahnya ilusi yang hebat, oleh seseorang yang teperdaya, yang terungkap kepadanya pada akhir hayatnya kemurkaan keras Allah, di tempat fatamorgana yang berdusta, fatamorgana kehidupan. Adapun misal kedua, ialah firman Allah s.w.t.; • ft#a/ 000 c:..."../ " " • ./ c:....r->I .". .u ~ //,/ c:...".- J. 0., w..:' .#""'0/ ,.."./ 000 d~ ."c.: /'.,/ "". J~ l.Jl ~ ~ ~"""'/ ?o" ~ W ~.,:.J ill I ~ , ..... - ......• r ;' J" c..~ )..",""'" 000J l..lll~ J,"" "'" • , ~l>...., /~~ r .//.'" ..u': • .# t • .J .,..:J I ) • .." c.. WM J I ••....... ~ 6 '" ,JI .....•......•.....•...... ""'.J'''' r: d ~;./ lIE.J": 4- c »>: "..1:: • 000 ./ "Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam yang diliputi oleh ombak, yang diatasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang saling bertindihan. Apabila ia menseluarkan tangannya tiadalah dia dapat melihatnya. Dan barang- 354 ---~-~----
  • 343. siapa tiada diberi cahnya (petunjuk) mempunyai cahaya sedihitpun, oleh Allah, tiadalan dia (Surat Annur, ayat 40). Sebaliknya dari kiasan (dalam ayat) sebelumnya, kiasan (dalam ayat) ini menterjemahkan pemandangan yang tidak mempunyai hubungan dengan lingkungan geografis dari AlQur'an, bahkan tidak mempunyai hubungan dengan tingkatan akal, tidak pula dengan pengetahuan-pengetahuan maritim di zaman jahiliah. Dalam keseluruhannya kiasan ini diambil dari beberapa negeri yang terletak di utara yang diliput.i oleh awan tebal, yang orang tidak dapat membayangkannya kecuali orang berada di tempat-tempat yang selalu berawan tebal, umpama di kutub atau di Islandia. Maka seandainya Nabi pada masa mudanya pernah melihat laut, maka laut yang dilihatnya itu tidak lebih dari tepi-tepi Laut Merah, atau Laut Tengah. Sekalipun kami menerima baik perk iraan ini, maka kami masih tidak mengetahui bagaimana ia dapat melihat gambaran gelap gulita yang dilukiskan oleh ayat terse but? Selanjutnya dalam ayat tersebut, selain daripada pelukisan ekstem yang menampilkan kiasan tersebut, terdapat pula sebaris, bahkan dua baris yang khusus: Pertama: Isyarat yang transparan mengenai tindih-bertindihnya ombak, yang kedua: isyarat akan gelap gulita yang pekat di dasar lautan. Dua pemyataan ini mengharuskan pengetahuan secara ilmiah tentang fenomena-fenomena khusus yang ada dalam dasar lautan, dan pengetahuan ini tidak pemah diperoleh oleh bangsa manusia, kecuali setelah mengetahui geografis samudra-samudra, dan mempelajari ilmu optik (penglihatan) fisiko Sudah barangtentu kami dapat mengatakan bahwa pada zaman sebelum AIQur'an turun tidak mengenal samasekali soal bertindih-tindihnya ombak dan fenomena penyerapan cahaya, serta lenyapnya cahaya itu pada kedalaman tertentu di dalam air. Berdasarkan hal-hal ini, maka tidaklah patut bagi kita menasabkan kiasan ini kepada genialitas dan kecerdasan yang dibuat oleh padang pasir, atau menasabkannya kepada diri seorang manusia yang disepuh oleh lingkungan kontinental (benuawi). 355
  • 344. NILAI SOSIAL DARI ALAM PIKIRAN AL-QUR' AN. Hingga di sini kami telah berusaha mempelajari alam pikiran Al-Qur'an, dalam hubungan dengan diri Muhammad s.a.w., dari sudut psikologisnya dan historisnya. Adalah bermanfaat kiranya dalam bab yang terakhir ini, untuk mempelajari alam pikiran Al-Qur'an dalam hubungan dengan arti pentingnya dari segi kemasyarakatan. Umpama saja problem dalam sejarah kemanusiaan yang terus dlhadapinya, terutama pada masa kini, yaitu "problem khamar" (minuman keras). Pada hakekatnya untuk pertama kali dalam sejarah kemanusiaan, problem ini dibuka di dalam Al-Qur'an, dan dipecahkan dengan jalan tertentu. Bagaimanakah caranya itu? Inilah pola psikologis dan pensyariatan bagi ketetapan ini yang terjadi untuk pertama kali dalam pensyariatan salahsatu masyarakat manusia. Pertama: "Mereka bertanya hepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa heduanya lebih besar dari manfaatnya". (Surat Albaqarah ayat 219). , ..•.., • .I."'", ~.J If...., r=-: I) /0'"'''' ( t i : ~W1 ) ;I( ,/ "''''0'''''' ........•••• / ,).,J.,..t; L. l,..L-.; ~ Kedua: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang hamu ucapkan". (Surat An-Nisa' ayat 43). 356
  • 345. ".-' 0~ '. • .J.~ w",....- f-W : ;; ~WI ) Ketiga: "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) hhamar, berjudi; (berkurban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuaian-perbuatan itu mudah-mudahan kamu beruntung". (Surat Al-Maidah ayat 90). Inilah jalan pensyariatan yang ditempuh oleh Al-Qur'an, untuk menghadapi problem khamar yang serius, serta jalan keluarnya. Apakah bekas yang dikesankan oleh pensyariatan ini? Pencatatan di negeri-negeri Islam, sampai negeri Islam yang masih kacau, menunjukkan betapasedikitnya peminum khamar di negeri-negeri Islam, sedang kemanusiaan menderita dari minum khamar, dengan sayang sekali, di negeri-negeri yang telah maju kebudayaannya. Maka alam Islam, secara umum, sejak tiga belas abad tidak mengenal malapetaka ini. Bagaimanakah AlQur'an dapat meraih kesuksesan dalam masalah "mengharamkan khamar? Tanpa diragukan sedikitpun, bahwa metode yang ditempuh oleh Al-Qur'an, sebagaimana kami tampilkan secara sistematis, metode inilah yang berakhir dengan suatu perintah syariat yang sangat tegas. Sebenarnya nash yang pertama itu saja sudah membangkitkan rasa berdosa akibat meminum khamar, dalam hati nurani orang yang muslim. lni adalah metode pencegahan untuk membangkitkan problem itu serta mencatatnya, dalam suatu bentuk tertentu, dalam katagori masalah-masalah sosial yang mencemaskan, bagi suatu masyarakat yang sedang tumbuh. Dengan cara ini problem itu dapat membuka jalannya masuk ke hati nurani intisari yang terpilih dari masyarakat yang didominasi oleh dorongan moral. Maka sikap yang pertama (yang diambil oleh Al-Qur'an terhadap minum khamar itu) akan menjadi dengan demikian tahap inkubasi yang diperlukan, yaitu tahap psikologis dan problem itu. Atas landasan bangunan yang luhur bagi hati nurani muslim ini nash yang memberi ketentuan bertegak dalam ayat kedua: "Janganlah shalat apabila kamu sedang mabuk, sehingga kamu dapat mengerti apa yang kamu ucapkan". Di sini sudah terdapat suatu ketentuan, sebab agar kita tidak mabuk pada saat-saat didirikan shalat lima waktu itu maka 357
  • 346. wajiblah bagi kita supaya tidak mendekati sesuatu yang mernabukkan samasekali. Nash ini bertujuan untuk mensucikan para pecandu khamar secara bertahap, dan untuk mengatur suatu larangan yang berhubungan dengan moral, sebelum mengundangkan larangan terakhir, serta meletakkan hukuman kiasan terhadap perbuatan kejahatan yang diharamkan itu. Dengan jalan ini Al-Qur'an menghindari agar tidak menimbulkan, pada waktu yang sarna, problem ekonomis yaitu problem perdagangan khamar, karena perdagangan ini telah rnaju dan meluas sehingga bangsa Arab pra Islam memberi pada Khamar itu banyak sekali nama julukan, yang mereka pergunakan untuk memenuhi permintaan akan jenis-jenis khamar 1). yang mereka inginkan. Perkataan Imri-il-qais, yang tersohor, yaitu perkataannya ketika ia diberitahu tentang tewasnva sang ayah, perkataan tersebut tetap menjadi saksi historis terhadap kegemaran yang melampaui batas dari bangsa Arab sebelum Islam, dalam meminum khamar. Penyair ini telah mengatakan ketika itu "Hari ini terus khamar. Esok pagi baru memikirkan persoalan". Maka di dalam lingkungan masyarakat yang dipenuhi peminum khamar dan perdagangan khamar telah meluas, Al-Q"1r'an membangkitkan problema ini, dan demi kemaslahatan perlu dilakukan pentahapan dalam menyesuaikan keadaan baru ekonomi itu. Kiranya hal inilah yang memberi alasan bagi adanya sikap kedua, sebelum diadakan larangan terakhir. Mungkin kami tidak akan dapat memahami arti penting dari pertimbanganpertimbangan prihal fenomena Al-Qur'an ini, sekiranya kami tidak memiliki misal lain mengenai suatu perundang-undangan bantuan manusia, yang dapat kami jadikan dasar perbandingan bagi suatu penetapan hukum. Problem itu telah membangkitkan, sesudah berlalu masa sepanjang tiga belas abad, perhatian ahli-ahli pembuat undangundang, dalam suatu bangsa, yang mungkin paling tinggi kebudayaannya, yaitu Amerika Serikat. Di sini kami akan meletakkan juga pola langkah-langkah perundang-undangan, yang lahir di Amerika dalam bentuk perubahan konstitusional tahun 1919 Pada kira-kira tahun 1918 problem itu timbul di kalangan pendapat umum rakyat Amerika. Pada tahun 1919 dimasukkan dalam Undang-undang Dasar Amerika perubahan, di bawah [u1). Bacalah karangan Dunningham dalam "Mukaddimah tentang pujian terhadap khamar" karangan Ibnul Farid. 358
  • 347. dul "Perubahan yang kedelapan belas". Pada tahun itu juga per'ubahan ini dikokohkan dengan perintah larangan, yang oleh sejarah diberi nama "Undang-undang Velstead". Untuk pelaksanaan larangan dalam negeri A.S. telah dipersiapkan sarana-sarana, yaitu: 1. Armada lengkap untuk mengamati pantai-pantai. 2. Pesawat-pesawat udara untuk mengamati dari udara. 3. Pengawasan ilmiah. Lalu bagaimanakah pemecahan situasi itu? Kegagalan total menimpa perintah larangan, dan tidak berlakunya hukum yang ditetapkan oleh perubahan konstitusional ke dua puluh satu, juga dikokohkan oleh Kongres pada tahun 1933. Itulah ringkasan historis dari tragedi perundang-undangan selengkapnya, yaitu yang dalam sejarah Amerika diberi nama " Zaman larangan". Sebagai kesimpulan, maka di bawah sinar cahaya Al-Qur'an, agama tampak sebagai suatu fenomena alam wujud, yang mendominasi pikiran dan peradaban manusia, sebagaimana magnetisme menguasai benda, serta mendominasi perkembangan benda. Dengan demikian agama, tampak seolah-olah tertuang dalam undang-undang alam wujud, sebagai suatu undang-undang khas bagi alam pikiran, ia berkeliling dalam lingkaran-lingkaran yang berbeda-beda, mulai dari Islam yang bertauhid sampai pemujaan patung-patung yang paling primitif, berkisar pada sekeliling satu pusat, yan.g kilauan cahaya-Nya menyilaukan pengo lihatan dan Dia penuh dengan rahasia, sampai abadi. 359