GERAK PARABOLA              DI SUSUN OLEH:             ANDI MUH. AKHYAR                 JURUSAN FISIKAFAKULTAS MATEMATIKA ...
BAB I                                  PENDAHULUAN1. LATAR BELAKANG       Dalam kehidipun sehari - hari di lingkungan seri...
2. RUMUSAN MASALAH  1. Bagaimana pengaruh besar sudut elevasi terhadap jarak tempuh ?  2. Apakah besar kecepatan awal pelu...
BAB II                                LANDASAN TEORI       Terapan yang menarik dari gerakan dalam dua dimensi adalah gera...
horizontal x dengan arah positif searah komponen horizontal awal kecepatanproyektil, maka kecepatan proyektil :           ...
Persamaan umum untuk lintasan y(x) dapat diperoleh dari persamaan di atasdengan mengeliminasi variable t antara kedua pers...
atau       t = v0y/gMaka, jangkauan R adalah jarak yang ditempuh dalam dua kali waktu ini :       R = 2 v 0 x v 0 y / g = ...
terapan praktis, pertimbangan lain juga penting. Sabgai contoh, pada tolak peluru,ketinggian awal dan akhir tidak sama kar...
BAB III                         METODE EKSPERIMEN1. IDENTIFIKASI VARIABEL  Variabel Manipulasi : sudut elevasi  Varibel Re...
 Prosedur Pembuatan       Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan       Meratakan dan menghaluskan papan yang akan ...
4. PROSEDUR KERJA 1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. 2. Memasang alat dan bahan sesuai dengan desain eksper...
5. PRISIP KERJA ALAT         Dalam melakukan percobaan ini, untuk pengambilan data hendaknya  setiap sudut elevasi, pegas ...
BAB IV                          TEKNIK ANALISIS DATADalam percobaan ini ada 2 tekhnik analisis data yang dapat digunakan y...
BAB V                     HASIL DAN PEMBAHASAN1. HASIL PENGAMATAN  Tabel hasil pengamatan                     No          ...
(3,30)(9,8)             (3,02)(9,8)3. v0                  7. v0          sin 2(35)               sin 2(55)          32,.34...
Tabel Hasil Analisis Perhitungan          No      Sudut ( )        Xh (m)     sin 2           Vo (m/s)                    ...
Analisis KesalahanKesalahan Mutlak    = ½ x Nst Alat ukur    = ½ x 0.1 cm    = 0.05 cm    = 0.0005 m   = 0.5 0Kesalahan Re...
= 0.309929m/s                         KR = 5.15 %                         DK = 94.85 %3. Untuk v0 = 5,87 m/s              ...
= 0.000144+0.187912088                             = 0.188056m/s                          KR = 3.35 %                     ...
Pelaporan Fisika (PF)                        20
       Analisis Grafik                 Grafik hubungan antara sudut elevasi terhadap                         terhadap jar...
3. PEMBAHASAN      Berdasarkan data hasil pengamatan maka dapat diketahui bahwa dalam gerakpeluru (parabola) besar sudut e...
tempuh peluru sebanding, terlihat dari hubungan linear pada grafik tersebut.Besaranya nilai koefisien restitusi R = 0.9708...
BAB VI                              PENUTUP1. KESIMPULAN    1) Semakin besar sudut elevasi ( ) maka semakin besar pula jar...
DAFTAR PUSTAKAGiancoli C. Douglas, 1998, FISIKA Jilid 1, Erlangga, JakartaMarcelo A & J. Finn Edwar, 1994, DASAR-DASAR FIS...
LAMPIRAN           26
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Gerak parabola

27,581

Published on

0 Comments
4 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
27,581
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
655
Comments
0
Likes
4
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "Gerak parabola"

  1. 1. GERAK PARABOLA DI SUSUN OLEH: ANDI MUH. AKHYAR JURUSAN FISIKAFAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR 2012 1
  2. 2. BAB I PENDAHULUAN1. LATAR BELAKANG Dalam kehidipun sehari - hari di lingkungan sering kali kita dapatkanpenomena yang sering kita anggap biasa - biasa saja. Namun sebagai orang fisikakita selalu berpikir bahwa hal itu tidaklah terjadi begitu saja dan hal itu terjadi karenaadanya faktor-faktor yang mengganggu keseimbangan dari sebuah benda atau zat,salah satu contoh fenomena yang dapat dengan mudah kita dapatkan adalah peristiwagerak parabola. Gerak parabola yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari adalahmerupakan perpaduan gerak lurus beraturan dalam arah horizontal dengan geraklurus berubah beraturan dalam arah vertikal dengan besar percepatan sama denganpercepatan gravitasi bumi. Gerak parabola dalam bidang vertikal ini secara umum disebut gerak peluru, sedangkan gerak parabola lain sebenarnya adalah bagian darigerak peluru. Kita sering kali mendapati peristiwa gerak parabola dalam kehidupansehari-hari yang tanpa kita sadari bahwa pada peristiwa tersebut terdapat tinjauanfisika yang cukup menarik untuk dicermati dan dipelajari, misalnya bila sebuahbenda dilemparkan maka benda tersebut akan membentuk sebuah lintasan di udarahingga sampai di tanah seperti lintasan parabola, begitupula bila seorang prajuritmiliter ingin menembakkan sebuah mortir ke sebuah sasaran yang letaknya beradajauh dari tempat penembakan itu. Agar peluru tersebut mengenai sasarannya makapasukan tersebut harus mampu memperhitungkan kecepatan peluru, besarnya sudutyang dibentuk senjata tersebut terhadap bidang horizontal dan waktu yangdibutuhkan peluru itu dalam menempuh lintasannya. Dari asumsi tersebut diatas, untuk membuktikan bagaimana bentuk lintasansebuah peluru yang sebenaranya dan faktor- faktor apa saja yang berpengaruhterhadap benda yang mengalami gerak parabola, maka penulis merancang sebuaheksperimen dengan judul GERAK PARABOLA. 2
  3. 3. 2. RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimana pengaruh besar sudut elevasi terhadap jarak tempuh ? 2. Apakah besar kecepatan awal peluru berbeda untuk tiap-tiap sudut elevasi yang berbeda?3. TUJUAN PERCOBAAN 1. Untuk menyelidiki pengaruh besar sudut elevasi terhadap jarak tempuh 2. Untuk menghitung besar kecepatan awal peluru untuk setiap sudut elevasi yang berbeda4. MANFAAT PERCOBAAN 1. Dapat memudahkan siswa dan guru dalam proses belajar mengajar tentang gerak parabola 2. Dapat menambah kreativitas dan referensi bagi mahasiswa dalam merancang percobaan selanjutnya 3. Dapat digunakan untuk percobaan gerak parabola untuk praktikum Fisika dasar. 4. Dapat Menyelidiki pengaruh besar sudut elevasi terhadap jarak tempuh dan waktu tempuh . 5. Dapat menghitung besar kecepatan awal peluru untuk setiap sudut elevasi yang berbeda. 3
  4. 4. BAB II LANDASAN TEORI Terapan yang menarik dari gerakan dalam dua dimensi adalah gerakproyektil, yaitu sebuah benda yang diluncurkan ke udara dan kemudian dibiarkanbergerak secara bebas. Gerakan proyektil dipersulit oleh hambatan udara, gerakbumi, dan variasi percepatan karena gravitasi. Untuk mudahnya kita akan abaikankerumitan ini. Maka, proyektil kita anggap saja mempunyai percepatan konstan yangberarah vertikal ke bawah dengan besar g = 9,81 m/s2 = 32,2 ft/s2. Dalam gerakanproyektil, komponen horizontal dan vertikal gerakan ini adalah saling bebas. Sebagaicontoh, perhatikan bola yang dilempar dari kereta yang sedang bergerak secarahorizontal dengan kecepatan konstan. Jika bola dilempar lurus ke atas relatifterhadap terhadap kereta, maka bola bergerak ke titik yang paling tinggi, yangbergantung pada kecepatan vertikal awalnya, dan kemudian kembali. Gerak ini takada sangkut pautnya dengan horizontal bola relatif terhadap tanah. Gerak ini adalahgerak dengan kecepatan konstan, kecepatan kereta. Gerak ini tak punya sangkut pautdengan gerak vertikal bola. Relatif terhadap tanah, bola mengikuti jejak parabola.Yang merupakan karakteristik gerak proyektil. y V0y V V0x x 0 Perhatikan sebuah partikel yang diluncurkan dengan suatu kecepatan awal xyang mempunyai komponen vertikal dan horizontal relatif terhadap titik asal yangtetap. Jika kita ambil sumbu vertikal y dengan arah positif ke atas dan sumbu 4
  5. 5. horizontal x dengan arah positif searah komponen horizontal awal kecepatanproyektil, maka kecepatan proyektil : ay = -gdan ax = 0Misalkan kita luncurkan sebuah proyektil dari titik asal dengan kelajuan awal v0dengan sudut terhadap sumbu horizontal (gambar a). Jadi, kecepatan awalmempunyai komponen v0x = v0 cos v0x = v0 sinKarena tidak ada percepatan horizontal, komponen x kecepatan adalah konstan: vx v0 x Gerakan proyektilKomponen y berubah dengan waktu sesuai dengan vy v0 y gt Gerakan proyektilKomponen perpindahan proyektil adalah x v0 x t 1 2 y v0 y gt 2 5
  6. 6. Persamaan umum untuk lintasan y(x) dapat diperoleh dari persamaan di atasdengan mengeliminasi variable t antara kedua persamaan ini. Dengan memilih x0 =y0 = 0 dan dengan menggunakan t = x/v0x pada y. kita dapat : y = v0y (x/v0x) – ½ (x/v0x) atau y = (v0y/v0x)x – ½ (g/v20x)x2persamaan ini berbentuk y = ax + bx2, yang merupakan persamaan parabola yangmelalui titik asal. Gambar berikut (gambar b) menunjukkan lintasan sebuah proyektildengan vector kecepatan dan komponen- komponennya yang ditunjukkan padabeberapa titik. y V V V0y j Vy i V0 Vy V0y j j j V Vy i i V0y i Vy x R j Gambar. b. Lintasan sebuah proyek dengan vector dengan vector kecepatan dankomponen- komponen tegaknya ditunjukkan pada beberapa titik. Jarak horizontalyang ditempuh adalah jangkauan R. Untuk kasus istimewa dimana ketinggian awal dan akhir sama, kita dapatmenurunkan rumus umum untuk jangkauan proyektil dinyatakan dalam kelajuanawal dan sudut lemparan. Waktu yang dibutuhkan proyektil untuk mencapaiketinggian maksimumnya didapat dengan mengambil komponen vertikalkecepatannya sama dengan nol : vy= -gt = 0 6
  7. 7. atau t = v0y/gMaka, jangkauan R adalah jarak yang ditempuh dalam dua kali waktu ini : R = 2 v 0 x v 0 y / g = ( 2v 0 x v 0 y ) / g vy gt 0 Atau v0 y t gMaka, jangkauan R adalah jarak yang ditempuh dalam dua kali waktu ini : v0 y 2v0 x v0 y R 2v0 x g g Rumus ini dapat disederhanakan lebih lanjut dengan menggunakan kesamaantrigonometri untuk sinus dua kali sudut : sin 2 2 sin cosKarena itu didapatkan 2 v0 R sin 2 gKarena nilai maksimum sin 2 adalah 1 ketika 2 90 o atau 45 o , jankauan 2 v0maksimum sama dengan ketika 45 o . g Persamaan jarak diatas berguna untuk soal proyektil bila ketinggiaan awaldan akhir sama. Yang lebih penting dari persamaan ini dapat kita dapat mempelajaritentang kebergantungan jangkauan pada sudut lemparan awal, sebagai contoh bahwajangkaun adalah maksimum jika sudut lemparan adalah 45o. Kita lihat bahwa jarak horizontal yang ditempuh adalah hasil kali komponenhorizontal kecepatan awal v 0 x dengan proyektil berada di udara, yang selanjutnyaakan sebanding dengan v 0 y . Jangkauan maksimum terjadi bila horizontal danvertikal sama, yang berarti bahwa sudut lemparan adalah 45o. Dalam beberapa 7
  8. 8. terapan praktis, pertimbangan lain juga penting. Sabgai contoh, pada tolak peluru,ketinggian awal dan akhir tidak sama karena karena bola dilemparkan dari ketinggiansekita 2 m dari tanah., dimana bola mendarat. Ketinggian awal ekstra bertambahwaktu peluru berada di udara. Dalam hal ini jangkauan adalah maksimum ketika v 0 xlebih besar sedikit daripada v 0 y , artinya bila sidut lemparan agak lebih kecil dari 45o. Gambar berikut menunjukkan studi tentang hasil terbaik pelemparan pelurumenunjukkan bahwa jangkauan maksimum terjadiu dengan sudut lemparan sekitaar42o. Dengan peluru arteleri, hambatan udara harus ikut diperhitungkan untukmemperkirakanjangkauan secara tepat. Hambatan udara mengurangi jangkauanuntuk suatu sudut lemparan tertentu. Hambatan ini menurunkansudut lemparan Jika ketinggian awaloptimum. dan akhir sama, lintasan 45o Lintasan 45o akanmempunyai jangkauan yang lebih besar Ketinggian awal Lintasan parabola yang lebih data Ketinggian akhir Menurut analisis kita tentang gerakan proyektil,sebuah benda yang dijatuhkandari ketinggian h diatas tanah akan menumbuk tanah dalam waktu yang sama sepertibenda yang dilemparkan secara horizontal dari ketinggian yang sama. Dalam tiapkasus, jarak tiap jatuh benda diberikan oleh y 1 / 2 gt 2 (dengan mengukur y kebawah dari ketinggian awal). Kenyataan yang luar biasa ini dapat ditunjukkandengan mudah . Hal ini pertama kali diulas selama zaman kebangunan kembali oleh“Renaisance” Gaalileo Galilei (1564-1642), orang pertama yang memberikangambaran gerakan proyektil secara modern dan kuantitatif seperti yang telah kitabahas. 8
  9. 9. BAB III METODE EKSPERIMEN1. IDENTIFIKASI VARIABEL Variabel Manipulasi : sudut elevasi Varibel Respon : Jarak Tempuh, Kecepatan Awal Variabel Kontrol : Massa Peluru, Konstanta Pegas, Percepatan gravitasi Bumi2. ALAT DAN BAHAN Papan dudukan Busur penyangga Penarik pegas Pegas Peluru Sekrup Mistar 100 cm3. PROSEDUR PEMBUATAN ALAT DAN DESAIN EKSPERIMEN a) Prosedur Pembuatan Alat  Alat dan Bahan Papan ukuran 35 x 10 cm 2 lembar Engsel kecil 2 buah Papan ¼ Lingkaran 1 buah Besi pengait 3 buah Sekrup 2 buah Gergaji 1 buah Amplas 2 lembar Spoit kecil 1 buah Pegas 1 buah Peluru 1 buah 9
  10. 10.  Prosedur Pembuatan Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan Meratakan dan menghaluskan papan yang akan digunakan Memasang engsel pada salah satu ujung papan sehingga papan saling bertindisan dan dapat terlipat Membuat lubang melengkung pada bagian dalam papan busur sepanjang busur yang besarnya sama dengan sekrup pengait busur yang terpasang pada sisi papan dudukan. Membuat skala pada papan busur dengan skala 0 – 90o. Memasang busur pada bagian sisi papan dan menyesuaikan antara lubang busur dengan sekrup pengait busur sehingga papan dapat digerakkan naik turun sesuai besarnya sudut yang diinginkan. Memasang besi pengait pada bagian atas papan untuk mengikat spoit. Memasukkan pegas ke dalam spoit dan membuat lubang peniti pada pertengahan spoit untuk menahan pegas pada saat diorong sampai maksimum pendeknya.b) Desain eksperimen 10
  11. 11. 4. PROSEDUR KERJA 1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. 2. Memasang alat dan bahan sesuai dengan desain eksperimen.. 3. Memasang pelontar peluru pada papan dudukan. 4. Menekan pegas masuk hingga maksimum dan memasang peniti sebagai penahan pegas. Selanjutnya memasukkan peluru pada pelontar tersebut. 5. Mengatur besar sudut elevasi pada busur penyangga dengan posisi 25o. 6. Melepaskan peniti penahan pegas dan bersamaan dengan itu mengukur waktu dengan stopwatch hingga peluru sampai di lantai. 7. Mengukur jarak yang ditempuh peluru. 8. Mengulangi langkah ke 4 sampai 7 dengan besar sudut yang berbeda. 9. Mencatat semua data pengukuran pada tabel hasil pengukuran. No Sudut ( ) Xh (m) ( o) 1 25 2 30 3 35 4 40 5 45 6 50 7 55 8 60 9 65 10 70 11
  12. 12. 5. PRISIP KERJA ALAT Dalam melakukan percobaan ini, untuk pengambilan data hendaknya setiap sudut elevasi, pegas didiamkan untuk sementara sehingga kekuatan pegasnya normal kembali, besar sudut yang digunakan sehingga alat dapat bekerja maksimal adalah sudut 25- 70O. Dengan melepaskan peniti penahan pegas maka peluru akan terlontar membentuk lintasan parabola. Bersamaan dengan itu waktu dan jarak tempuh peluru dapat diukur. 12
  13. 13. BAB IV TEKNIK ANALISIS DATADalam percobaan ini ada 2 tekhnik analisis data yang dapat digunakan yaitu :1. Analisis Kualitatif Analisis kualitatif adalah menganalisis data hasil percobaan denganmembandingkan data hasil percobaan dengan teori yang terkait dengan konseppercobaan. Dalam hal ini akan dibandingkan pengaruh besar sudut elevasiterhadap jarak dan waktu yang dibutuhkan oleh peluru dalam menempuhlintasan paraboliknya.2. Analisis Kuantitatif Analasis kuantitatif adalah menganalisis data hasil percobaan dengan menghitung besarnya variabel yang tidak diperoleh dari pengukuran pada saat dilakukan percobaan. Biasanya variabel yang dihitung tersebut adalah variabel yang dipertanyakan berdasarkan rumusan masalah. Dalam hal ini akan dihitung besarnya kecepatan awal peluru dan tinggi maksimum untuk setiap sudut elevasi, dengan menggunakan persamaan : xh g v0 sin 2 Dimana : v 0 = kecepatan awal peluru (m/s) x h = jarak terjauh (m) g = perceptan gravitasi bumi (m/s2) = sudut elevasi ( o ) 13
  14. 14. BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN1. HASIL PENGAMATAN Tabel hasil pengamatan No ( o) Xh (m) 1 25 2,76 2 30 3,20 3 35 3,30 4 40 3,50 5 45 3,60 6 50 3,20 7 55 3,02 8 60 2,76 9 65 2,50 10 70 1,842. ANALISA HASIL PENGAMATAN  Analisis Perhitungan Menghitung besarnya kecepatan awal peluru : xh g v0 sin 2 (2,76)(9,8) (3,20)(9,8) 1. v0 2. v0 sin 2(25) sin 2(30) 27,048 31,36 v0 v0 0,766 0,866 v0 35,31 v0 36,21 v0 5,942 m/s v0 6,018 m/s 14
  15. 15. (3,30)(9,8) (3,02)(9,8)3. v0 7. v0 sin 2(35) sin 2(55) 32,.34 29,59 v0 v0 0,939 0,939 v0 34,44 v0 31,52 v0 5,87 m/s v0 5,61 m/s (3,50)(9,8) (2,76)(9,8)4. v0 8. v0 sin 2(40) sin 2(60) 34,30 27,05 v0 v0 0,984 0,866 v0 34,86 v0 31,24 v0 5,90 m/s v0 5,59 m/s (3,60)(9,8) (2,50)(9,8)5. v0 9. v0 sin 2(45) sin 2(65) 35,28 24,50 v0 v0 1 0,766 v0 35,28 v0 31,98 v0 5,94 m/s v0 5,66 m/s (3,20)(9,8) (1,84)(9,8)6. v0 10. v0 sin 2(50) sin 2(70) 31,36 18,03 v0 v0 0,985 0,643 v0 31,84 v0 28,04 v0 5,64 m/s v0 5,29 m/s 15
  16. 16. Tabel Hasil Analisis Perhitungan No Sudut ( ) Xh (m) sin 2 Vo (m/s) ( o) 1 25 2,76 0,766 5,94 2 30 3,20 0,866 6,02 3 35 3,30 0,939 5,87 4 40 3,50 0,985 5,90 5 45 3,60 1 5,94 6 50 3,20 0,985 5,64 7 55 3,02 0,939 5,61 8 60 2,76 0,866 5,59 9 65 2,50 0,766 5,66 10 70 1,84 0,643 5,29 vo1 vo 2 vo3 vo 4 vo5 vo 6 vo 7 vo8 vo9 vo10 vo 10 5,96 6,02 5,87 5,90 5,94 5,64 5,61 5,59 5,29 10 57 ,46 10 5,746 m / s 16
  17. 17. Analisis KesalahanKesalahan Mutlak = ½ x Nst Alat ukur = ½ x 0.1 cm = 0.05 cm = 0.0005 m = 0.5 0Kesalahan Relatif (KR)Derajat KebenaranDengan menggunakan penurunan rumus di atas maka diperoleh lah 1. Untuk v0 = 5,94 m/s = 0.000151+0.459285714 =0.459437 m/s KR = 7.74 % DK = 92.27 % 2. Untuk v0 = 6,02 m/s = 0.00014 +0.309789343 17
  18. 18. = 0.309929m/s KR = 5.15 % DK = 94.85 %3. Untuk v0 = 5,87 m/s = 0.000137+0.187912088 = 0.188049m/s KR = 3.20 % DK = 96,80 %4. Untuk v0 = 5,90 m/s = 0.000134+0.08886619 = 0.089m/s KR = 1.51 % DK = 98.49 %5. Untuk v0 = 5,94 m/s = 0.000132 m/s KR = 0.002 DK = 1- KR = 0.999986. Untuk v0 = 5,64 m/s = 0.00014 +0.087525151 = 0.087665 m/s KR = 1.55 % DK = 98.45 %7. Untuk v0 = 5,61 m/s 18
  19. 19. = 0.000144+0.187912088 = 0.188056m/s KR = 3.35 % DK = 96.65 %8. Untuk v0 = 5,59 m/s = 0.000151+0.309789343 = 0.30994 m/s KR = 5.55 % DK = 94,45 %9. Untuk v0 = 5,66 m/s = 0.000158 + 0.479850746 = 0.480009 m/s KR = 8.48 % DK = 91.52 %10. Untuk v0 = 5,29 m/s = 0.000182+0.745136187 = 0.745318m/s KR = 14.09 % DK = 85.91 % 19
  20. 20. Pelaporan Fisika (PF) 20
  21. 21.  Analisis Grafik Grafik hubungan antara sudut elevasi terhadap terhadap jarak jangkauan peluru 4 y = 3,3394x + 0,2292 3,5 R2 = 0,9708 3Xh ( m ) 2,5 y = 4,2695x - 0,8795 2 R2 = 0,9527 1,5 1 0,5 0 0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 Sin 2θ 1,2 Grafik hubungan antara sudut elevasi terhadap waktu tempuh 1 0,9 y = 0,9628x - 0,0157 0,8 R2 = 0,9859 0,7 0,6t (s) 0,5 0,4 0,3 0,2 0,1 0 0 0,2 0,4 0,6 0,8 Sin 2 θ 1 21
  22. 22. 3. PEMBAHASAN Berdasarkan data hasil pengamatan maka dapat diketahui bahwa dalam gerakpeluru (parabola) besar sudut elevasi sangat berpengaruh, hal ini ditunjukkan padatabel hasil pengamatan dimana terlihat pengaruh besar sudut elevasi terhadap jarakjangkauan, pada sudut 25- 45o besar sudut elevasi berbanding lurus terhadap jarakjangkauan peluru dimana besarnya jarak jangkauan peluru semakin bertambahseiring semakin besarnya sudut elevasi dan pada sudut 45- 70o besarnya nilai sudutdalm bentuk sinus semakin kecil, jarak jangkauan peluru semakin kecil seiringsemakin kecilnya nilai sudut elevasi . Hal ini merupakan karakteristik dari gerakparabola,Jadi jarak terjauh pada sumbu horizontal yang ditempuh oleh peluru padasaat besar sudut 45o sejauh 360 cm. Hasil tersebut sesuai dengan teori garak peluru(parabola). Selain itu pada tabel hasil pengamatan terlihat pula pengaruh besar sudutelevasi terhadap waktu tempuh peluru, dimana besar sudut elevasi berbanding lurusterhadap waktu tempuh, artinya semakin besar sudut elevasi maka semakin besarpula waktu yang dibutuhkan oleh peluru dalam menempuh lintasannya. Berdasarkan analisis perhitungan data hasil pengamatan maka dapatdiperoleh besarnya kecepatan awal untuk setiap sudut elevasi berturut- turut 5,94m/s, 6,02m/s, 5,87 m/s, 5,90 m/s, 5,94 m/s, 5,64 m/s, 5,61 m/s, 5,59 m/s, 5,66 m/s,5,29 m/s. Hal ini menunjukkan bahwa besarnya kecepatan awal berbeda untuk setiapsudut elevasi, sedangkan berdasarkan teori besarnya kecepatan awal adalah tetap.Besarnya nilai yang diperoleh sedikit bervariasi, ini berarti dalam melakukanpercobaan ini terjadi ketidakpastian pada pengukuran dan pada pegas yangdigunakan. Dari perhitungan tersebut diperoleh pula besarnya tinggi maksimum yangdicapai oleh peluru pada setiap sudut sudut elevasi yang berbeda, dalam hal inibesarnya sudut elevasi berbanding lurus terhadap tinggi maksimum . Berdasarkan analisis grafik maka dapat dengan mudah diketahui pengaruhbesar sudut elevasi terhadap jarak jangkauan dan waktu yang di bnutuhkan pelurudalam menempuh lintasannya. Dari grafik hubungan besar sudut elevasi terhadapjarak yang ditempuh peluru diketahui bahwa antara besar sudut elevasi dan jarak 22
  23. 23. tempuh peluru sebanding, terlihat dari hubungan linear pada grafik tersebut.Besaranya nilai koefisien restitusi R = 0.97087 pada saat linear positif dan R =0.9527 pada saat linear negatif. begitu pula pada grafik hubungan besar sudut elevasiterhadap waktu terlihat hubungan linear dimana besarnya sudut elevasi sebandingdengan waktu., besarnya koefisien restitusinya R = 0,9859. 23
  24. 24. BAB VI PENUTUP1. KESIMPULAN 1) Semakin besar sudut elevasi ( ) maka semakin besar pula jarak jangkauan (Xh). Pada sudut 25- 45o besar sudut elevasi berbanding lurus dengan jarak jangkauan ke arah positif. Dan berbanding lurus ke arah negatif pada sudut 45- 70o. 2) Besar kecepatan awal peluru relatif sama untuk setiap sudut yang berbeda.2. SARAN 1. Diharapkan kepada setiap mahasiswa yang memprogramkan mata kuliah Eksperimen Fisika 2 khususnya yang merancang percobaan gerak parabola agar dapat lebih mengembangkan percobaan ini dengan rancangan yang lebih menarik sehingga dapat lebih baik dan tentunya diperoleh hasil yang sesuai dengan konsep yang ada. 2. Penulis menyarankan agar kiranya alat ini digunakan untuk percobaan gerak parabola di laboratorium fisika dasar. 24
  25. 25. DAFTAR PUSTAKAGiancoli C. Douglas, 1998, FISIKA Jilid 1, Erlangga, JakartaMarcelo A & J. Finn Edwar, 1994, DASAR-DASAR FISIKA UNIVERSITAS jilid 1, Erlangga, JakartaTipler A. Paul, 1998, FISIKA UNTUK SAINS DAN TEKNIK, Erlangga, JakartaYoung & Hugh F, 2002, FISIKA UNIVERSITAS, Eralngga, Jakarta 25
  26. 26. LAMPIRAN 26

×