Sejarah masa pra aksara dan aksara
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Sejarah masa pra aksara dan aksara

on

  • 459 views

 

Statistics

Views

Total Views
459
Views on SlideShare
459
Embed Views
0

Actions

Likes
1
Downloads
2
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Sejarah masa pra aksara dan aksara Sejarah masa pra aksara dan aksara Presentation Transcript

  • Sejarah Masa Pra Aksara dan Aksara
  • P R A A K S A R A & A K S A R A Mewariskan Masa Lampau Jejak Sejarah Tradisi Masa Aksara Perkembangan Penulisan Sejarah Tradisi Kehidupan Mitos Cara Mewariskan Folklore Mite Legenda Upacara Adat
  • Tradisi lisan sebagai sebuah karya sejarah tradisional tidak menggunakan prosedur penulisan sejarah ilmiah. Karya-karya yang disebarkan melalui tradisi lisan sering kali memuat sesuatu yang bersifat supranatural di luar jangkauan pemikiran manusia. Dalam karya- karya tersebut antara fakta dan imajinasi serta fantasi bercampur baur. Tradisi lisan ini antara lain berupa mitos, legenda, dan dongeng. Tradisi lisan ini diwariskan dan disebarluaskan sebagai milik bersama. Di samping itu, tradisi lisan juga menjadi simbol identitas bersama.
  •  Menurut sejarah, dikisahkan bahwa Panembahan Senopati sebagai raja Mataram yang beristrikan Kanjeng Ratu Kidul tersebut merupakan cikal bakal atau leluhur para raja Mataram, termasuk Keraton Surakarta Hadiningrat. Oleh karena itu, raja-raja Keraton Surakarta sesuai dengan janji Panembahan Senopati menjadi suami dari Kanjeng Ratu Kidul. Dalam perkembangannya, Raja Paku Buwana III selaku suami Kanjeng Ratu Kidul telah mendirikan Panggung Sangga Buwana sebagai tempat pertemuannya. Selanjutnya tradisi raja-raja Surakarta sebagai suami Kanjeng Ratu Kidul berlangsung terus sampai dengan Raja Paku Buwana X.  Dalam pandangan sejarah modern tentunya cerita rakyat semacam itu tidak mengandung nilai sejarah. Akan tetapi, bagi masyarakat tradisional hal itu dianggap sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi. Cerita itu kemudian dijadikan sebagai simbol identitas bersama mereka dan sebagai alat legitimasi tentang keberadaan mereka. Penyebaran dan pewarisan tradisi lisan memiliki banyak versi tentang satu cerita yang sama. Hal ini menunjukkan dalam penyebaran dan pewarisan tradisi lisan telah terjadi pembiasan dari kisah aslinya. Hal ini dikarenakan ingatan manusia terbatas, kemampuan seseorang berbeda, dan adanya keinginan untuk memberikan variari-variasi baru pada cerita-cerita tersebut. Oleh karena itu, kisah sejarah yang disalurkan lewat tradisi lisan akan terus mengalami perubahan. Perubahan bisa terjadi, akibat adanya imajinasi dan fantasi dari pencerita. Akibatnya, fakta sejarah makin kabur karena adanya
  •  Beberapa cara yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk mewariskan masa lampaunya adalah sebagai berikut : 1. Pelatihan dan peniruan. 2. Penuturan, yakni dengan cara menuturkan secara lisan. 3. Hasil karya
  •  Pengertian folklor secara etimologi berasal dari kata folk dan lore. Folk artinya kolektif atau bersama-sama. Sedangkan lore menunjukkan pada proses tradisi pewarisan kebudayaan secara turun-temurun. Folklor berkembang pada masyarakat yang memiliki kesamaan cita-cita, ciri-ciri fisik, sosial dan budaya. Jadi folklore lebih menunjukkan pada kesamaan identitas dalam suatu kelompok untuk membedakannya dengan kelompok yang lain.  Sebagai tradisi lisan, folklor berkembang sejak masyarakat prasejarah atau praaksara sampai sekarang. Dengan demikian tradisi lisan merupakan unsur dari folklor itu sendiri, sedangkan cakupan folklor lebih luas jika dibandingkan dengan tradisi lisan  Sehingga antara jenis folklor dengan tradisi lisan memiliki perbedaan, sebagai berikut :  Floklor mencakup semua tradisi lisan, tari-tarian rakyat dan nyanyian rakyat.  Tradisi lisan terdiri dari cerita rakyat, teka-teki rakyat, peribahasa rakyat dan nyanyian rakyat.
  • Fungsi Folklore  sebagai sistim proyeksi untuk mencerminkan angan-angan suatu kelompok tertentu.  sebagai alat untuk mengesyahkan pranata-pranata sosial dan lembaga- lembaga kebudayaan.  sebagai alat pendidikan terhadap anak- anak dalam menerima pewarisan kebudayaan.  sebagai alat pemaksa terhadap norma- norma sosial agar dipatuhi oleh warga atau anggota kelompok.
  •  Mitologi adalah ilmu tentang kesusastraan yang mengandung konsep tentang hubungan antara proses penciptaan alam semesta dan manusia oleh para dewa serta hubungannya dengan arwah para leluhur atau pahlawan pada suatu bangsa. Cerita yang terdapat dalam mitologi disampaikan dalam bentuk prosa dengan mengambil tokoh para dewa atau manusia setengah dewa, yang dianggap benar-benar telah terjadi.  Berdasarkan asal-usulnya, adanya dua macam mitologi yang tersebar dalam masyarakat Indonesia. Mitologi asli Indonesia biasanya mengisahkan tentang terjadinya alam semesta, susunan para dewa, dunia kedewataan, terjadinya manusia pertama, tokoh pembawa kebudayaan dan terjadinya bahan makanan pokok, seperti beras. Contohnya adalah cerita tentang Dewi Sri sebagai keturunan para dewa yang menjelma dibumi menjadi padi. Nyai Roro Kidul yang dihubungkan dengan kerajaan Mataram Islam,  Joko Tarub yang beristrikan  seorang bidadari.
  •  Legenda adalah cerita rakyat pada jaman dahulu yang masih memiliki hubungan dengan peristiwa-peristiwa sejarah serta dikisahkan dalam bentuk prosa. Selain bersifat keduniawian (sekuler), legenda juga bersifat migratoris artinya sering berpindah-pindah tempat, sehingga dapat dikenal luas pada setiap daerah.  Sebagai contoh legenda Sangkuriang yang memiliki hubungan erat dengan terbentuknya gunung Tangkuban Perahu di Jawa Barat.
  •  Upacara adalah rangkaian tindakan atau perbuatan yang terikat pada aturan-aturan tertentu berdasarkan adat-istiadat, agama atau kepercayaan.  Tradisi upacara mulai berkembang sejak jaman prasejarah yaitu setelah manusia purba sudah mulai mengenal sistim kepercayaan animisme, dinamisme dan monotheisme. Tradisi upacara yang dilakukan adalah untuk mengenang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi, seperti bencana alam, wabah penyakit (pageblug), peristiwa kematian yang dihubungkan dengan adanya kekuatan-kekuatan magis. Karena kekuatan-kekuatan magis, seperti dewa, arwah nenek moyang dan roh halus dapat dimintai pertolongan untuk membantu mengatasi berbagai peristiwa yang dapat membahayakan manusia. Oleh karena itu manusia mulai mengadakan upacara-upacara ritual sesuai adatnya masing-masing untuk menghormati kekuatan-
  •  TRADISI SEJARAH PADA MASA AKSARA- Tradisi sejarah masyarakat Indonesia berkembang pula pada masa aksara, yaitu masa ketika masyarakat Indonesia sudah mengenal tulisan. Pada masa aksara, tradisi sejarah direkam melalui tulisan sehingga lahirlah rekaman tertulis. Rekaman tertulis ini pun, sama halnya dengan tradisi masa praaksara, yaitu tumbuh dan berkembang melalui pewarisan dalam masyarakat.  Pada masyarakat yang sudah mengenal tulisan, pewarisan masa lalunya dilakukan melalui rekaman tulisan. Rekaman tertulis ini merupakan bentuk kesadaran sejarah. Mereka memandang bahwa masa lalu perlu diingat, dicatat dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Rekaman tertulis tersebut disebut dengan naskah.  Naskah-naskah di Indonesia banyak bertebaran di berbagai daerah. Bahasa yang digunakan pada umumnya bahasa daerah asal naskah itu ditulis, seperti bahasa Sunda, Jawa, Bugis, Melayu, Aceh, Minang, dan sebagainya. Banyaknya naskah yang bertebaran di berbagai wilayah Indonesia menunjukkan bahwa bangsa Indonesia memiliki kesadaran sejarah yang sangat tinggi. Sebutan untuk naskah-naskah tersebut antara lain babad, tambo, hikayat, dan kronik.
  • Contoh naskah kuno yang ditulis dengan huruf Jawa kuno Contoh naskah kuno yang ditulis dengan huruf Arab
  • PERKEMBANGAN PENULISAN SEJARAH INDONESIA Penulisan sejarah (historiografi) di Indonesia umumnya digolongkan kedalam tiga tahapan perkembangan yaitu historiografi tradisional, historiografi kolonial, dan historiografi modern Indonesia. Dan setiap historiografi tersebut masing-masing memililiki ciri-ciri yang berbeda dan jenis yang dihasilkanpun berbeda. Historiografi Tradisional Historiografi Kolonial Historiografi Tradisional
  •  Historiografi tradisional adalah tradisi penulisan sejarah yang berlaku pada masa setelah masyarakat Indonesia mengenal tulisan, baik pada Zaman Hindu-Budha maupun pada Zaman Islam. Ada pada abad 4 M sampai abad 17 M. Hasil tulisan sejarah dari masa ini sering disebut sebagai naskah. Contoh Historiografi tradisional: Babad Tanah Jawi  Adapun ciri-ciri historiografi tradisional yaitu: · Penulisannya bersifat istana sentris yaitu berpusat pada keinginan dan kepentingan raja. Berisi masalah-masalah pemerintahan dari raja-raja yang berkuasa. Menyangkut raja dan kehidupan istana. · Memiliki subjektifitas yang tinggi sebab penulis hanya mencatat peristiwa penting di kerajaan dan permintaan sang raja. · Bersifat melegitimasi (melegalkan/mensahkan) suatu kekuasaan sehingga seringkali anakronitis (tidak cocok) · Kebanyakan karya-karya tersebut kuat dalam genealogi (silsilah) tetapi lemah dalam hal kronologi dan detil-detil biografis. · Pada umumnya tidak disusun secara ilmiah tetapi sering kali data- datanya bercampur dengan unsur mitos dan realitas (penuh dengan unsur mitos). · Sumber-sumber datanya sulit untuk ditelusuri kembali bahkan terkadang mustahil untuk dibuktikan.
  •  Historiografi kolonial merupakan historiografi warisan kolonial dan penulisannya digunakan untuk kepentingan penjajah. Ciri-cirinya: ü Tujuannya untuk memperkuat kekuasaan mereka di Indonesia. Jadi disusun untuk membenarkan penguasaan bangsa mereka terhadap bangsa pribumi (Indonesia). Sehingga untuk kepentingan tersebut mereka melupakan pertimbangan ilmiah. ü Selain itu semuanya didominasi untuk tindakan dan politik kolonial. ü Historiografi kolonial hanya mengungkapkan mengenai orang- orang Belanda dan peristiwa di negeri Belanda serta mengagung- agungkan peran orang Belanda sedangkan orang-orang Indonesia hanya dijadikan sebagai objek. ü Historiografi kolonial memandang peristiwa menggunakan sudut pandang kolonial. Sifat historiografi kolonial eropasentris. ü Ditujukan untuk melemahkan semanangat para pejuang atau rakyat Indonesia. contohya: Orang Belanda menyebut ”pemberontakan” bagi setiap perlawanan yang dilakukan oleh daerah untuk melawan kekuasaan Belanda/ kekuasaan asing yang menduduki tanah airnya. Oleh Belanda itu dianggap sebagai ”perlawanan terhadap kekuasaannya yang sah sebagai pemilik Indonesia”. Seperti Perlawanan yang dilakukan oleh Diponegoro, Belanda menganggap itu sebagai ”Pemberontakan Diponegoro”.
  •  Ada pada abad 20 M- sekarang. Setelah kemerdekaan bangsa Indonesia maka masalah sejarah nasional mendapat perhatian yang relatif besar terutama untuk kepentingan pembelajaran di sekolah sekaligus untuk sarana pewarisan nilai-nilai perjuangan serta jati diri bangsa Indonesia. Ditandai dengan: Ø Mulai muncul gerakan Indonesianisasi dalam berbagai bidang sehingga istilah-istilah asing khususnya istilah Belanda mulai diindonesiakan selain itu buku-buku berbahasa Belanda sebagian mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ø Mulai Penulisan sejarah Indonesia yang berdasarkan pada kepentingan dan kebutuhan bangsa dan negara Indonesia dengan sudut pandang nasional. Ø Orang-orang dan bangsa Indonesialah yang menjadi subjek/pembuat sejarah, mereka tidak lagi hanya sebagai objek seperti pada historiografi kolonial. Ø Penulisan buku sejarah Indonesia yang baru awalnya hanya sekedar menukar posisi antara tokoh Belanda dan tokoh Indonesia. Jika awalnya tokoh Belanda sebagai pahlawan sementara orang pribumi sebagai penjahat, maka dengan adanya Indonesianisasi maka kedudukannya terbalik dimana orang Indonesia sebagai pahlawan dan orang Belanda sebagai penjahat tetapi alur ceritanya tetap sama. Keadaaan yang demikian membuat para sejarawan dan pengamat sejarah terdorong untuk mengadakan ”Kongres Sejarah Nasional” yang pertama