Skripsi pendidikan penggunaan metode pembelajaran berdasarkan masalah

63,257 views

Published on

1 Comment
14 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
63,257
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
40
Actions
Shares
0
Downloads
1,395
Comments
1
Likes
14
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Skripsi pendidikan penggunaan metode pembelajaran berdasarkan masalah

  1. 1. PENGGARUH PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH PADA MATERI SEJARAH PERGERAKAN NASIONAL TERHADAP SIKAP NASIONALISME SISWA KELAS V SD NEGERI SEKARAN GUNUNGPATISEMARANG TAHUN AJARAN 2006/2007 SKRIPSI Untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Universitas Negeri Semarang Oleh Happy Damayanti 3101403015 JURUSAN SEJARAH FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2007
  2. 2. ii PERSETUJUAN PEMBIMBING Skripsi ini telah disetujui oleh Pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujian skripsi pada: Hari : Tanggal : Pembimbing I Pembimbing II Drs. Karyono, M.Hum Drs. IM Jimmy De Rossal, M.Pd NIP. 130815341 NIP. 131475607 Mengetahui, Ketua Jurusan Sejarah Drs. Jayusman, M.Hum NIP. 130764053
  3. 3. iii PENGESAHAN KELULUSAN Skripsi ini telah dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Sejarah ,Fakultas Ilmu Sosial, pada: Hari : Tanggal : Penguji Skripsi Arif Purnomo, S S. S.Pd .M.Pd NIP. 132238496 Pembimbing I Pembimbing II Drs. Karyono, M. Hum Drs. IM Jimmy De Rossal, M.Pd NIP. 130815341 NIP. 131475607 Mengetahui, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Drs.Sunardi,M M NIP. 130367998
  4. 4. iv PERNYATAAN Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah. Semarang, 2007 Happy Damayanti NIM. 3101403015
  5. 5. v MOTTO DAN PERSEMBAHAN MOTTO : 1) Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan) kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (Q.S. Al Insyiroh 6-7) 2) Sesesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah diri mereka sendiri.(Q. S. Al-Ra’d 11) 3) La” Tahzan (Jangan Bersedih) PERSEMBAHAN Skripsi ini saya persembahkan kepada: 1) Bapak dan Mama, dhina yang selalu mendoakanku 2) Teman-temanku di perjalanan Tarbiyah 3) Adik-adikku di Kos Khadijah 4) Teman-teman Anak Pend. Sejarah ’ 03 5) Ikhwahfillah
  6. 6. vi PRAKATA Segala puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hiayah-Nya, sehingga dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul: “Penggaruh Penggunaan Metode Pembelajaran Berdasarkan Masalah Pada Materi Sejarah Pergerakan Nasional Terhadap Pemahaman Sikap Nasionalisme Siswa Kelas V Sd Negeri Sekaran I Gunungpati Semarang Tahun Ajaran 2006/2007 Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini selesai berkat bantuan, petunjuk dan dorongan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih pada yang terhormat: 1. Prof.Dr.Sudijono Sastroatmojo, M.Si Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan belajar bagi penulis 2. Drs.Sunardi, M M, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan untuk belajar di FIS UNNES 3. Drs. Jayusman, M.Hum, Ketua Jurusan sejarah yang telah memberikan kesempatan untuk belajar dengan baik di jurusan Sejarah 4. Drs. Karyono, M.Hum yang telah membantu dan memberikan bimbingan sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini dengan baik. 5. Drs. IM Jimmy De Rosal, M.Pd, yang telah membantu dan memberikan bimbingan sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini dengan baik. 6. Arif Purnomo,SS. S.Pd. M.Pd dosen penguji yang telah memberikan saran dan bimbingan demi perbaikan skripsi ini.
  7. 7. vii 7. Isman, S.Pd, kepala sekolah SD Negeri Sekaran I atas kesempatan yang telah diberikan kepada penulis untuk melakukan penelitian. 8. Sudarmo, S.Pd, guru kelas V SD Negeri Sekaran I yang telah membantu penulis dalam melakukan penelitian. 9. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah memberikan bantuan dan dukungan dalam rangka penyusunan skripsi ini. Sebagai akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat berguna bagi pembaca pada khususnya dan bagi dunia pendidikan pada umumnya. Semarang, Juli 2007 Penulis
  8. 8. viii ABSTRAKSI Happy Damayanti. 2007. Penggaruh penggunaan metode pembelajaran berdasarkan masalah pada materi sejarah pergerakan nasional terhadap sikap nasionalisme siswa SD Negeri Sekaran I Gunungpati Semarang tahun ajaran 2006/2007 Kata Kunci: Pembelajaran Berdasarkan Masalah, sikap nasionalisme Hasil belajar sejarah di SD Negeri Sekaran I Gunungpati Semarang masih tergolong rendah. Hal ini disebabkan siswa kurang tertarik dengan proses belajar mengajar yang hanya berupa hafalan saja. Aktifitas siswa belum secara optimal diberdayakan. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa perlu digunakan pendekatan pembelajaran yang mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Metode yang digunakan dapat berupa pembelajaran berdasarkan masalah yang mempunyai ciri utama pengajuan pertanyaan atau masalah, memusatkan kepada keterkaitan antara disiplin ilmu, penyelidikan autentik, kerjasama, dan menghasilkan karya serta peragaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagimana prestasi belajar siswa kelas V SD Negeri Sekaran I Gunungpati Semarang pada materi sejarah pergerakan nasional, bagaimana penggunaan metode pembelajaran berdasarkan masalah pada siswa kelas V SD Negeri Sekaran I Gunungpati Semarang dan adakah penggaruh penggunaan metode pembelajaran berdasarkan masalah terhadap sikap nasionalisme siswa kelas V SD Negeri Sekaran I Gunungpati Semarang. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri Sekaran I Gunungpati Semarang tahun ajaran 2006/2007. Sampel adalah keseluruhan dari seluruh Populasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi dan angket. Metode dokumentasi untuk mengetahui keadaan siswa dan keadaan SD Negeri Sekaran I sedangkan metode angket digunakan untuk mengetahui pemahaman sikap nasionalisme siswa. Hasil penelitian rata-rata preastasi belajar adalah 59,44 dan sesudahnya 80,78. Angka tersebut menunjukan bahwa terjadi pengguasaan materi sejarah pergerakan nasional yang tinggi dan kenaikan yang signifikan yaitu 15,82 pada penggunaan metode pembelajaran berdasarkan masalah terhadap sikap nasionlisme siswa dimana sebelumnya pembelajaran adalah 71,34 dan sesudahnya adalah 87,65 karena pembelajaran berdasarkan masalah memiliki ciri utama yaitu pembelajaran yang membantu siswa mengembangkan ketrampilan berfikir dan ketrampilan pemecaham masalah, belajar berperan orang dewasa, belajar secara mandiri. Proses pembelajaran berdasarkan masalah lebih menekankan bimbingan guru yang secara berulang-ulang mendorong dan mengarahkan mereka untuk mengajukan pertanyaan, mencari penyelesian terhadap masalah yang dihadapi siswa, sedangkan siswa belajar secara mandiri. Disarankan kepada guru dapat memfariasikan metode pembelajaran dengan metode pembelajaran berdasarkan masalah.
  9. 9. ix DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL................................................................................... i PERSETUJUAN PEMBIMBING............................................................... ii PENGESAHAN KELULUSAN................................................................. iii PERNYATAAN ......................................................................................... iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN.............................................................. v KATA PENGANTAR ................................................................................ vi SARI............................................................................................................ viii DAFTAR ISI............................................................................................... ix DAFTAR TABEL....................................................................................... xii DAFTAR LAMPIRAN............................................................................... xiii DAFTAR GAMBAR .................................................................................. xiv BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah........................................................ 1 B. Rumusan Masalah ................................................................ 8 C. Penegasan Istilah................................................................... 9 D. Tujuan Penelitian .................................................................. 10 E. Manfaat Penelitian ................................................................ 11 F. Sistematika Skripsi................................................................ 11 BAB II LANDASAN TEORI A. Arti Belajar............................................................................ 13
  10. 10. x B. Arti Mengajar........................................................................ 14 C. Tinjuan Pembelajaran Berdasarkan MasalahSifat ............... 23 D. Sikap Nasionalisme............................................................... 27 E. Indikator Sikap Nasionalisme ............................................... 31 F. Hipotesis................................................................................ 34 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian.................................................................. 35 B. Populasi dan Sampel Penelitian ........................................... 37 C. Variabel Penelitian............................................................... 38 D. Metode Pengumpulan Data................................................... 38 E. Instruman Penelitian ............................................................. 41 F. Tehnik Analisis Data............................................................. 45 G. Uji Normalitas....................................................................... 46 H. Uji- t ...................................................................................... 46 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian..................................... 48 B. Hasil Penelitian ..................................................................... 49 1.Pelaksanaan Pembelajaran Berdasarkan Masalah........ 51 2. Hasil Uji Normalitas.................................................... 56 3. Hasil Uji-t.................................................................... 56 B. Pembahasan .......................................................................... 57
  11. 11. xi BAB V. PENUTUP A. Simpulan ............................................................................... 61 B. Saran...................................................................................... 62 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN
  12. 12. xii DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Sintaks (Langkah-langkah pembelajaran berdasarkan masalah) .......... 25 2. Rancangan penelitian ............................................................................ 35 3. Kisi-kisi Variabel terikat pemahaman sikap nasionalisme ................... 38 4. Kriteria indeks kesukaran soal .............................................................. 44 5. Kriteria indeks daya beda...................................................................... 45 6. Jumlah siswa SD Negeri Sekaran I Gunungpati Semarang .................. 48 7. Keadaanguru/ karyawan dan siswa SD Negeri Sekaran I Gunungpati Semarang ......................................................................... 48 8. Pemahaman sikap nasionalisme Rela Berkorban pada bangsa dan Negara .................................................................................................. 53 9. Pemahaman sikap nasionalisme persatuan dan kesatuan...................... 53 10. Pemahaman sikap nasionalisme cinta tanah air .................................... 54 11. Pemahaman sikap nasionalisme berjiwa pembaharu dan pantang menyerah .............................................................................................. 55 12. Perbedaan sikap nasionalisme.............................................................. 56 13. Uji Normalitas ...................................................................................... 56 14. Uji-t Peningkatan pemahaman sikap nasionalisme dengan pembelajaran berdasarkan masalah....................................................... 56
  13. 13. xiii DAFTAR LAMPIRAN Hal 1. Angket pemahaman sikap nasionalisme .............................................. 65 2. Soal-soal pergerakan............................................................................. 69 3. Contoh perhitungan tingkat kesukaran soal ......................................... 75 4. Contoh perhitungan daya beda soal ..................................................... 76 5. Contoh perhitungan validitas angket pemahaman sikap nasionalisme ......................................................................................... 77 6. Hasil uji reabilitas dan validitas angket pemahaman sikap nasionalisme.......................................................................................... 78 7. Uji coba soal........................................................................................... 79 8 a.Hasil penelitian pemahaman sikap nasionalisme sebelum Pembelajaran berdasarkan masalah....................................................... 81 8b. Hasil penelitian pemahaman sikap nasionalisme sesudah Pembelajaran berdasarkan masalah....................................................... 82 9. Rekapitulasi sikap nasionalisme dengan pembelajaran berdasarkan masalah.................................................................................................. 83 10 a. Uji normalitas pemahaman sikap nasionalisme sebelum pembelajaran berdasarkan masalah ............................................ 84 10 b. Uji normalitas pemahaman sikap nasionalisme sesudah pembelajaran berdasarkan masalah ................................................ 86 11. Uji-t peningkatan sikap nasionalisme dengan pembelajaran berdasarkan masalah ............................................................................ 87 12. Tabel nilai r product moment................................................................ 88
  14. 14. xiv 13.Tabel of Critical t- test ........................................................................... 89 14. Daftar tabel H ....................................................................................... 90 15. Daftar Respponden................................................................................ 91 16. Profile Sekolah...................................................................................... 92 17. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ..................................................... 93 18. Surat Ijin Permohonan Penelitian.......................................................... 94 19.Surat Keterangan Penelitian................................................................... 95
  15. 15. xv DAFTAR GAMBAR Hal 1. Siswa sedang memperhatikan observer sedang menjelaskan pelajaran................................................................................................ 96 2. Siswa sedang mendiskusikan/ memecahkan masalah secara kelompok............................................................................................... 96 3. Siswa sedang memperagakan hasil karya ............................................ 96
  16. 16. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Proses belajar mengajar merupakan bagian terpenting dalam proses pendidikan yang didalamnya terdapat guru sebagai pengajar dan siswa yang sedang belajar. Usman (2002:4) mengatakan bahwa proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbak balik yang berlangsung melalui hubungan edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan menurut Sukewi (1993 : 19) bahwa Proses belajar mengajar terdapat komponen yang saling terkait meliputi tujuan pengajaran, guru, siswa, bahan pelajaran, metode pengajaran, alat media edukasi. Metode pengajaran merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi prestasi belajar mengajar dan pemilihan metode tidak hanya dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain guru, siswa, materi pelajaran, tujuan pelajaran, fasilitas, tujuan pengajaran, dan juga sarana dan prasarana. Metode pengajaran harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat mengembangkan kecerdasan secara optimal, sebab pemilihan metode yang tidak sesuai akan mengakibatkan proses belajar mengajar yang tidak optimal. Guru dituntut untuk menguasai bermacam-macam metode mengajar yang sesuai dengan karakteristik materi pelajaran yang di ajarkan, serta menentukan arah tujuan yang akan dicapai dari pokok bahasan materi yang disampaikan. Penentuan metode harus sesuai dengan tujuan pengajaran yang merupakan
  17. 17. 2 prasyarat penting sebelum menentukan dan memilih metode yang tepat, sebab penggunaan metode yang tidak sesuai menjadi kendala dalam mencapai tujuan pengajaran yang telah dirumuskan. Dengan kata lain apabila seoarang guru akan memilih metode yang wajar dan tepat, ia harus berpedoman pada tujuan pengajaran yang akan dicapai. Praktek-praktek mengajar sejarah bila di perhatikan sering didapati kesan bahwa sejarah itu kurang menarik dan membosankan. Guru sejarah sering membeberkan fakta-fakta sejarah yang kering, urutan tahun dan peristiwa belaka. Pelajaran sejarah dirasakan murid hanya mengulangi hal-hal yang sama dari tingkat pendidikan dasar sampai dengan menengah. Model serta pembelajarannya kurang menarik. Apa yang terjadi di kelas, biasanya guru mulai dengan bercerita, atau bahkan membacanya dalam buku ajar. Keadaan seperti digambarkan di atas terjadi karena kurang memadainya kemampuan guru sejarah untuk mengembangkan strategi pembelajaran sejarah. Dengan demikian kita memperbaiki citra buram dalam dalam pendidikan sejarah, antara lain dengan berusaha memperbaiki cara-cara pengajaran sejarah. Orang yang tidak memahami sejarah mungkin timbul pertanyaan ” Mengapa mempelajari Sejarah?. Padahal sebenarnya mengajar sejarah di sekolah mempunyai peran penting, antara lain :1).Sejarah dapat meningkatkan wawasan peserta didik, 2).Sejarah dapat berperan dalam pengembangan kepribadian peserta didik,3).Sejarah dapat mendorong pengembangan cara berfikir peserta didik dalam rangka pengembangan intelektual. (Pamela Masy, 1994 :2), (Soewarso,2 :2002).
  18. 18. 3 Secara teoritis sebenarnya metode mengajar dalam pendidikan sejarah dapat dipilih dari sekian banyak metode mengajar yang telah tersedia. Para mengajar hendaknya mempunyai kemampuan dalam memilih model yang tepat untuk setiap pokok bahasan, bahkan untuk setiap tujuan tujuan khusus yang telah dirumuskan, misalnya untuk setiap topik dapat digunakan berbagai macam model pengajaran sejarah. Model yang dapat dipilih dan ditetapkan antara lain menampilkan gambar, film dan penampilan lainnya yang dapat menggunakan untuk menambah pemahaman data visual, dapat juga narasi seperti cerita, anekdot atau membaca bagian dari drama sejarah. Model lain dengan memberikan seperangkat pertanyaan kepada anak, atau membaca sesuatu buku sejarah. Dalam pembelajaran pendekatan dan model yang telah dipilih memerlukan interaksi yang baik antara guru dan peserta didik sehingga setiap pembelajaran dan setiap urian sejarah yang dapat disajikan dapat memberikan motivasi belajar. Dalam pembelajaran Berdasarkan Masalah /problem based instruction (PBI) Siswa diharapkan dengan permasalahan yang membangkitkan rasa ingin tahu untuk melakukan penyelidikan, sehingga dapat menemukan sendiri jawabannya dan mengkomunikasikan hasilnya kepada orang lain. Dalam melakukan penyelidikan sering dilakukan kerjasama dengan temannya. PBI adalah pembelajaran berdasarkan masalah autentik sehingga siswa dapat menyusun pengetahuan sendiri, menumbuhkembangkan ketrampilan yang lebih inkuiri, memandirikan siswa dan meningkatkan rasa percaya diri sendiri. Pembelajaran yang bercirikan adanya penggunaan masalah kehidupan nyata sebagai sesuatu yang harus dipelajari siswa untuk melatih dan ketrampilan berfikir
  19. 19. 4 kritis dan memecahkan masalah, serta mendapatkan pengetahuan dan konsep yang penting. Peranan guru meliputi penyajian masalah, penanya, mengadakan dialog, membantu menemukan masalah dan memberikan fasilitas penelitian. Selain itu guru senantiasa memberikan dukungan dan dorongan agar dapat meningkatkan pertumbuhan dan intelektualitas siswa. Pengetahuan sosial menjadi salah satu mata pelajaran dalam kurikulum 2004 yang dimulai dari SD dan MI sampai SMP dan MTS. Untuk SD dan M I mata pelajaran ilmu sosial memuat materi pengetahuan sosial dan kewarganegeraan. Pengetahuan sosial merupakan mata pelajaran yang mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial dan kewarganegaraan. Pengetahuan sosial di SD dan MI berfungsi untuk mengembangkan pengetahuan, nilai, sikap, dan ketrampilan siswa tentang masyarakat, bangsa, negara Indonesia. (Standar Kompetensi mata pelajaran SD dan M I , 2004 : 4 ) Standar kompetensi mata pelajaran ilmu sosial kelas V adalah: 1. Kemampuan untuk memahami keanekaragamaan kenampakan alam, sosial dan kegiatan ekonomi Indonesia 2. Perjalanan bangsa Indonesia pada masa Hindu-Budha, Islam, sampai dengan kemerdekaan 3. Wawasan Nusantara, penduduk dan pemerintah serta kerja keras para tokoh kemerdekaan.
  20. 20. 5 Momentum kebangkitan nasional yang dikontruksikan pada tahun 1908 merupakan titik yang signifikan bagi kemunculan bangunan nasionalisme, kesadaran untuk bersatu, serta menyatukan keinginan bersama untuk melekatkan elemen-elemen yang berbeda dalam naungan negara yang bernama Indonesia . Dilihat dari sejarahnya perkembangan nasionalisme modern mula-mula timbul sebagai kekuatan penggerak di Eropa Barat dan Amerika Utara pada abad ke-18. Selanjutnya paham itu tumbuh dan berkembang pula keseluruh Eropa pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Pada awal abad ke-20 ini nasionalisme menjalar ke wilyah Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Tumbuh dan berkembangnya nasionalisme modern telah banyak melahirkan bangsa yang merdeka di seluruh dunia. Kesadaran kebangsaan yang ditimbulkan oleh harga diri sebagai penduduk kepulauan Nusantara tentunya telah ada bersama dengan timbulnya kerajaan- kerajan di Nusantara. Kesadaran ini merupakan pengembangan dari kesadaran kebangsaan yang bercorak sempit kedaerahan dalam bentuk baru yakni perkumpulan-perkumpulan atau organisasi-organisasi modern yang telah muncul pada awal abad ke-20 seperti Budi Utomo (1908), Pasundan (1914), Sarekat Sumatra (1918), Jong Java (1918), Sarekat Islam (1911) dan lain sebagainya. Nasionalisme Indonesia pada awalnya muncul sebagai jawaban atas kolonialisme. Pengalaman penderitaan bersama sebagai kaum terjajah melahirkan semangat solidaritas sebagai satu komunitas yang semestinya bangkit dan hidup sebagai bangsa yang merdeka. Semangat tersebut oleh para pejuang kemerdekaan
  21. 21. 6 dihidupi tidak hanya pada batas waktu tertentu, tetapi terus menerus hingga kini dan masa yang akan datang. Kebijakan pendidikan pada awal abad XX telah menciptakan elit baru Indonesia yang terdiri dari para dokter, guru, dan pegawai sipil pemerintahan. Bersamaan dengan hal itu timbullah kesadaran nasional. Berdirinya Budi Utomo (1908) menjadi awal bangkitnya nasionalisme yang kemudian diikuti oleh organisasi-organisasi lainnya. Momemtum kebangkitan nasional 1928 tersebut terdapat dua faktor yang sangat signifikan bagi infestasi Indonesia. Pertama pemuda yang menunjukan peran dan eksistensi yang sangat jelas untuk menjadi lokomotif perubahan bagi tercapainya kemerdekaan dan perjalanan kenegaraan dan kebangsaan Indonesia pasca kemerdekaan. Pada konteks tersebut,semakin jelaslah bahwa pemuda memiliki posisi yang sangat strategis dalam menggerakan perubahan dan terciptanya sejarah baru bangsa Indonesia. Hampir sejarah yang tercipta di negeri ini karena pemuda, seperti gerakan 1908, 1928, 1945, 1966, 1998. Fenomena tersebut menunjukan bahwa betapa signifikannya pemuda dalam konteks keIndonesian. Gugusan sejarah Indonesia adalah bahwa kontribusi terbentuknya sejarah Indonesia karena komitmen dan kesadaran yang tulus melalui peran pemuda pada masa lalu. Namun, kita tentu berharap roda sejarah harus berhenti karena pemuda Indonesia kehilangan ekspresi peranannya dalam perubahan Keindonesiaan, menghadapi tantangan kesejarahan yang makin berat, dengan kecenderungan yang makin dinamis. Kedua, dari lembar sejarah Indonesia berikutnya, secara faktual
  22. 22. 7 tertoreh kontribusi daerah-daearah dalam proses terbentuknya dan terpeliharanya nasionalisme Indonesia. Melalui peran, kominten, dan kesadaran yang tulus dari daerah, bingkai persatuan dan kesatuan nasional, dalam kerangka mewujudkan kemerdekaan dan memaknai arti kemerdekaan, sebagai pijakan bagi pembangunan bangsa yang menghimpun secara harmonis elemen-elemen daerah dalam tujuan dan cita-cita bersama memajukan Indonesia. Sering dikatakan bahwa pelajaran sejarah penting bagi kehidupan manusia, yaitu sebagai tambahan pengalaman, upaya untuk menjaga peninggalan masa lalu, mengetahui pertentangan antar suku bangsa yang mungkin mempunyai masalah yang sama. Kita bisa lihat permasalahan pada masa lampau akan terulang kembali, hanya pelakunya berbeda seperti kebutuhan sehari-hari, perlawanan antar manusia, penyalah gunaan wewenang, saingan antar kelompok, perlombaan individu untuk mencari kekuataan dan keuntungan, penghasutan terhadap rakyat yang tersembunyi dalam masyarakat dan lainya sebagainya (Shafer,1969:9) dalam (Soewarso,2000;27). Oleh karena itu belajar sejarah mempunyai tujuan yang baik bagi generasi muda. Tujuan mempelajari sejarah supaya kita bijaksana. Semua kejadian dalam sejarah mengandung pelajaran, sehinga kita semua bijaksana dalam menghadapi masa yang akan datang. Kita bukan keledai yang akan tertumbuk dua kali kepada dinding yang sama. Belajar dari sejarah agar menjadi bijaksana sebelum peristiwa terjadi (Abdulgani, 1963:17). Salah satu tujuan belajar sejarah nasional Indonesia ialah membangkitkan dan menyadarkan generasi muda untuk mengembangkan dan memahami
  23. 23. 8 pengetahuan tentang perkembangan masyarakat Indonesia sejak masa lampau hingga masa kini sehingga generasi muda memiliki kebanggan sebagai bangsa Indonesia dan cinta tanah air. Dengan kata lain tujuan belajar sejarah nasional Indonesia ialah meningkatkan dan menyadarkan generasi muda untuk mengembangkan dan memiliki pengetahuan,sikap dan ketrampilan yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia, yang telah berkembang sejak masa lampau hingga masa kini yang berdasarkan Pancasila, sehingga menumbuhkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air serta bangga sebagai warga Indonesia. Pengajaran sejarah terkandung beberapa aspek yang perlu dipelajari yaitu aspek pengetahuan, aspek sikap, aspek ketrampilan. Aspek ini perlu dipelajari dalam proses belajar mengajar di sekolah. Hal ini bermanfaat bagi peserta didik dalam upaya menghadapi permasalahan yang dihadapi masyarakat pada masa yang akan datang. Oleh karena itu, belajar sejarah memberi pengalaman yang berguna dalam kehidupan. Berdasarkan uraian tersebut peneliti tertarik untuk meneliti: ”Pengaruh penggunaan metode pembelajaran berdasarkan masalah pada materi sejarah pergerakan nasional terhadap sikap nasionalisme siswa kelas SD Negeri Sekaran I Gunungpati Semarang tahun ajaran 2006/2007. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana prestasi belajar siswa pada materi sejarah pergerakan nasional pada siswa kelas V SD Negeri Sekaran I Gunungpati Semarang tahun 2006 / 2007 ?
  24. 24. 9 2. Bagaimana penggunaan metode pembelajaran berdasarkan masalah pada siswa kelas V SD Negeri Sekaran I Gunungpati Semarang tahun 2006/2007? 3. Adakah penggaruh penggunaan metode pembelajaran berdasarkan masalah terhadap pemahaman sikap nasionalisme siswa kelas V SD Negeri Sekaran I Gunungpati Semarang tahun 2006/2007 ? C. Penegasan Istilah 1.Prestasi Belajar Prestasi adalah: Hasil pembelajaran yang diperoleh dari kegiatan persekolahan yang bersifat kognitif yang biasanya diukur dengan penilian. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1989 :700). Belajar adalah: upaya seseorang untuk menambah pengetahuan. (Max Darsono, 2000:3). Sedangkan menurut W.Gulo. (2004:8) Belajar adalah suatu proses yang berlangsung dalam diri seseorang yang mengubah tinglah-laku dalam berfikir, bersikap dan bertindak. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah Hasil belajar siswa kelas V SD Negeri Sekaran dengan metode pembelajaran berdasarkan masalah pada materi sejarah pergerakan nasional. 2. Metode Pembelajaran Berdasarkan Masalah Metode mengajar merupakan sesuatu yang perlu dipertimbangkan dalam kegiatan belajar mengajar. Ini perlu karena akan mempengaruhi bentuk strategi belajar dan mengajar.Metode mengajar adalah bagian dari strategis mengajar yang merupakan langkah-langkah taktis yang perlu diambil guru dalam menunjang
  25. 25. 10 strategis yang akan dikembangkan. Metode adalah cara yang dianggap efektif yang digunakan oleh guru menyampaikan suatu materi pelajaran tertentu kepada siswa agar tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya dalam proses kegiatan pembelajaran tercapai efektif (Suradisastra, 1992 :91) Pembelajaran berdasarkan masalah adalah: Suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang berfikit kritis dan ketrampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep tentang esensi dari materi pelajaran. Dalam hal ini siswa terlibat dalam penyelidikan untuk pemecahan suatu masalah yang mengintegrasikan ketrampilan dan konsep dari berbagai materi pelajaran. Pendekatan ini mencakup pengumpulan informasi yang berkaitan dengan pertanyaan, mensintesa, dan mempresentasikan penemuannya kepada orang lain. (Moffi, 2001:23). Lingkungan belajar PBI adalah berpusat kepada siswa dan mendorong inkuiri serta berpikir bebas, seluruh proses belajar mengajar yang berorientasi kepada PBI adalah membantu siswa untuk mandiri. Lingkungan belajar PBI adalah berpusat kepada siswa dan mendorong inkuiri serta berpikir bebas, seluruh proses belajar mengajar yang berorientasi kepada PBI adalah membantu siswa untuk mandiri. Peran utama guru adalah sebagai membimbing atau memfasilitasi, sehingga siswa dapat mengembangkan ketrampilan berpikir kritis dan mampu menyelesaikan masalah secara efektif. D. Tujuan Penelitian
  26. 26. 11 1. Ingin mengetahui prestasi belajar siswa pada meteri pergerakan nasional pada siswa kelas V SD Negeri Sekaran I Gunungpati Semarang tahun 2006 / 2007 ? 2. Ingin mengetahui pembelajaran berdasarkan masalah pada kelas siswa V SD Negeri Sekaran I Gunungpati Semarang tahun 2006 / 2007 ? 3. Ingin mengetahui penggunaan metode pembelajaran berdasarkan masalah terhadap pemahaman sikap nasionalisme siswa kelas V SD Negeri Sekaran I Gunungpati Semarang tahun 2006/2007 ? E. Manfaat Penelitian 1. Bagi Guru: Membantu guru dalam menciptakan situasi belajar yang menarik dan interaktif serta memberikan alternatif model pembelajaran yang dapat di lakukan dalam memberikan materi sejarah. 2. Bagi Siswa: Mengembangkan kemampuan berfikir dalam memecahkan masalah serta pemahaman rasa nasionalisme bangsa 3. Bagi Sekolah : Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan untuk peningkatan proses pembelajaran siswa sehingga dapat meningkatkan potensi siswa dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran F. Sistematika Skripsi
  27. 27. 12 BAB I : Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Penegasan Istilah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Sistematika Skripsi BAB II : Pengertian belajar dan mengajar, Tinjuan Pembelajaran Berdasarkan Masalah, Sikap Nasionalisme, Indikator Sikap Nasionalisme, Hipotesis. BAB III : Metode Penelitian terdiri dari Pendekatan Penelitian,Populasi dan Sampel Penelitian, Variabel Penelitian, Metode Pengumpulan Data, Instrument penelitian disertai Penentuan Validitas dan Reabilitas, Teknik Analisis Data,Uji Normalitas, Uji-t. BAB IV : Hasil Penelitian dan Pembahasan terdiri dari Gambaran Umum lokasi Penelitian, pelaksanaan pembelajaran berdasarkan masalah, pembahasan. BAB V : Penutup terdiri dari Simpulan dan Saran
  28. 28. 13 BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS A. Arti Belajar Belajar adalah : Suatu proses usaha yang dilakukan untuk memperoleh suatu perubahan tingkah-laku secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan. (Slameto,1998: 2). Sedangkan Winkel (1983: 15) menyatakan belajar adalah : Suatu proses psikis yang berlangsung dalam interakasi aktif antara subjek dengan lingkungannya dan menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan,ketrampilan,nilai,sikap yang bersikap konstan atau tetap. Perubahan itu dapat berupa sesuatu yang baru yang segera tampak dalam perilaku yang nyata atau tersembunyi. Briggs dalam Sugandi (2004: 9) menjelaskan belajar adalah seperangkat peristiwa yang mempengaruhi si pembelajar sedemikian rupa sehingga si pembelajar memperoleh kemudahan berinteraksi dengan lingkungan. Sedangkan menurut Darsono( 2000: 24) belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih baik. Dari pengertian di atas belajar dapat disimpulkan bahwa belajar mempunyai tiga unsur yaitu:Berkaitan dengan perubahan perilaku, Perubahan perilaku terjadi karena proses pengalaman, Perubahan perilaku karena belajar bersifat permanen. Perubahan yang terjadi dalam diri individu banyak sekali baik sifat maupun jenisnya, karena itu setiap individu akan mengalami perubahan dalam arti belajar.
  29. 29. 14 Belajar memiliki ciri-ciri di antaranya adalah: 1).Perubahan yang terjadi secara sadar. Ini berarti bahwa individu yang belajar, akan menyadari terjadi perubahan atau sekurang-kurangnya perubahan dalam dirinya.2). Perubahan dalam belajar bersifat kontinyu dan fungsional. Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri individu berlangsung terus-menerus tidak statis.3).Perubahan dalam belajar bersifat aktif. Berubahan yang bersifat aktif artinya bahwa perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya melainkan karena usaha sendiri.4).Perubahan dalam belajar bertujuan dan terarah. Ini berarti perubahan tingkah laku itu terjadi karena tujuan yang dicapai perbuatan belajar terarah pada perubahan tingkah laku yang disadari.5).Perubahan yang mencakup seluruh aspek tingkah-laku.(Surya & Moh.Amin, 1980:6) B. Arti Mengajar Mengajar merupakan proses yang komplek. Tidak hanya menyampaikan informasi kepada dari guru kepada siswa. Banyak kegiatan yang harus dilakukan terutama jika yang diinginkan hasil belajar lebih baik dari seluruh siswa. Oleh karena itu rumusan belajar tidak sederhana. Menurut AECT dalam John D. Latuheru (1988 : 6 ) menyatakan, mengajar adalah proses dimana lingkungan individu sengaja ditata untuk memungkinkan anak didik untuk belajar terlibat dalam tingkah laku khusus. Sedangkan menurut Chauhan dalam ”Innovatioan in Teacing and Learning” mengemukakan : 1. Mengajar adalah: ”Segala upaya disengaja dalam rangka memberi kemudahan kepada siswa untuk terjadinya sesuatu yang diinginkan.
  30. 30. 15 2. Mengajar adalah : Komunikasi dua orang atau lebih yang saling berpengaruh melalui gagasan mereka dan belajar sesuatu tentang proses intruksi tersebut. 3. Mengajar adalah: Mengisi pikiran siswa dengan informasi dan pengetahuan tentang fakta untuk mereka gunakan pada masa yang akan datang. 4. Mengajar adalah: Suatu proses dimana pelajaran, guru, kurikulum, dan variabel-variabel lainnya di organisasikan dalam suatu cara untuk mencapai tujuan yang telah di tetapkan terlebih dahulu. 5. Mengajar adalah: Upaya dalam memberi rangsangan (stimulus) bimbingan, pengarahan, dorongan kepada siswa agar terjadi proses belajar. (Muryaharjo Redja, 1998:213) Keberhasilan kegiatan belajar mengajar dapat dilihat dari prestasi belajar yang di perolehnya. Siswa yang mengalami kemajuan dalam belajar akan terlihat prestasi yang baik sebaliknya siswa yang mengalami gangguan dalam belajar akan terlihat pretasinya menurun. Proses belajar mengajar merupakan inti dari kegiatan pendidikan di sekolah. Dalam proses belajar mengajar terjadi interaksi guru dengan murid. Guru merupakan komponen terpenting dalam proses belajar mengajar. Tugas guru dalam proses belajar mengajar terdiri dari kegiatan pokok yaitu menyusun perencanaan pengajaran, melaksanakan pengajaran, dan melaksanakan evaluasi. Menurut James.B.Brow dalam Suryosubroto ( 2002 :3), tugas dan peranan guru antara lain : menguasai dan mengembangkan materi pelajaran, merencanakan pembelajaran, mempersiapkan pembelajaran sehari-hari,
  31. 31. 16 mengontrol kegiatan siswa, dan mengevaluasi pembelajaran yang telah dilaksanakan. Tugas guru menurut Sahertian (2000:29), ialah merencanakan berbagai pengalaman dan kegiatan belajar. Guru adalah perancang berbagai model pembelajaran. Guru yang profesional harus memiliki kemampuan untuk merancang berbagai model pembelajaran. Dalam pengertian ini guru jangan hanya merumuskan tujuan khusus dan tujuan umum pembelajaran tetapi harus mampu merumuskan pengalaman belajar dan berbagai kegiatan belajar dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Suryobroto(2002:9) tugas guru dalam proses belajar mengajar dapat dikelompokan menjadi tiga kegiatan yaitu: (1). Menyusun program pengajaran (program tahunan pelaksanaan kurikulum, program semester/catur wulan, program satuan pelajaran, perencanaan progran pengajaran); (2). Menyajikan / melaksanakan pengjaran( menyajikan materi dalam GBPP, menggunakan metode mengajar, menggunakan media / sumber, mengelola kelas / mengelola interkasi belajar mengajar; (3). Melaksanakan evaluasi pengajaran(menganalisis hasil evalusi belajar,melaporkan hasil evaluasi belajar, melaksanakan progaram perbaikan dan pengayaan). Selanjutnya kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pengajaran akan dijabarkan pada pembahasan berikut: 1. Perencanaan Pengajaran
  32. 32. 17 Pada hakikatnya bila suatu kegiatan direncanakan lebih dahulu, maka tujuan dari program tersebut akan terarah dan berhasil. Itulah sebabnya seorang guru harus harus memiliki kemampuan dalam perencanaan pengajaran. Seorang guru sebelum mengajar hendaknya merencanakan program pengajaran, membuat persiapkan pengajaran yang akan diberikan. (Suryosubroto, 2002: 9 ). Pengajaran merupakan rangkian peristiwa yang direncanakan untuk disampikan, untuk menggiatkan dan mendorong belajar siswa yang merupakan proses merangkai situasi belajar( yang terdiri dari ruang kelas, siswa materi, kurikulum) agar belajar lebih mudah (Suryosubroto,2002 : 28 ). Sehubungan dengan kemampuan merencanakan pengajaran, berikut ini dijelaskan oleh Suryosubroto(2002:29-31) adalah sebagai berikut: 1). Menguasai GBPP, program pengajaran merupakan seperangkat rencana pengajaran yang digunakan sebagai pedoman pengajaran. Program pengajaran tersebut tertuang dalam GBPP yang di dalamnya memuat tujuan, bahan, program; 2). Menyusun dan menganalisis materi pengajaran (AMP) yaitu, hasil kegiatan yang berlangsung sejak guru mulai meneliti GBPP kemudian mengkaji materi dan menjabarkan materinya. Adapun fungsi analisis materi pelajaran adalah sebagai acuan untuk menyusun program pengajaran yaitu program tahunan,program catur wulan, program satuan pengajaran dan rencana pengajaran. Kegiatan menyusun analisis materi pelajaran dan rencana pengajaran. Kegiatan menyusun analisis materi pelajaran ini berupa penjabaran dan penyesuian isi GBPP mata pelajaran; 3). Menyususn program satuan pelajaran, yang merupakan salah satu bagian dari
  33. 33. 18 program pelajaran yang memuat satuan bahasan untuk disajikan beberapa kali pertemuan. Fungsi satuan pengajaran digunakan sebagai acuan untuk menyususn rencana pelajaran, sehingga dapat digunakan sebagai acuan bagi guru untuk melaksanakan KBM agar lebih terarah dan berjalan secara efisien dan efektif. 2. Pelaksanaan Pengajaran Pelaksanaan proses belajar mengajar yaitun terjadi interaksi antara guru dengan siswa dalam rangka menyampikan bahan pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan pengajaran (Suryosubroto, 2002 :36). Pelaksanaan pengajaran terdiri dari kegiatan-kegiatan berikut : membuka pelajaran, menyampikan materi pelajaran, menggunakan metode pelajaran, menggunakan alat peraga dalam pengajaran , pengelolaan kelas, interaksi belajar mengajar dan menutup pelajaran. 3. Evaluasi Pengajaran Untuk menntukana tercapainya tujuan pendidikan dan pengajaran perlu dilakukan usaha dan tindakan atau kegiatan untuk menilai hasil belajar. Penilian hasil belajar bertujuan untuk melihat kemajuan peserta didik dalam hal penguasaan materi yang telah dipelajari. (Suryosubroto,2002 : 53 ). Penilian proses belajar mengajar menurut Arikunto dalam Suryosubroto (2002: 53-54 ) meliputi : (1). Evaluasi formatif, adalah penelitian yang dilakukan guru setelah satu pokok bahasan selesai dipelajari siswa; (2). Evaluasi sumatif, adalah penelian yang diselenggarakan oleh guru dalam jangka waktu tertentu;
  34. 34. 19 (3). Pelaporan hasil evaluasi, setiap akhir semester dan guru harus mengolah nilai akhir kerja; (4). Pelaksanaan program perbaikan dan pengayaan, dapat dilakukan dengan penjelasan kembali materi yang sedang dipelajari, pemberian tugas tambahan kepada siswa, sedangkan pelaksanaan pengajaran pengayaan dapat berupa membaca/ mempelajari bahan pelajaran baru atau penyelesain tugas pekerjaan rumah(PR). Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dan mengajar Prestasi belajar dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal yaitu faktor yang terjadi dalam diri pelajar dan faktor eksternal adalah faktor yang berada di luar pelajar. Faktor internal diantaranya adalah: 1. Faktor Jasmaniah Faktor yang bersumber pada keadaan jasmani,seperti : a. Faktor Kesehatan Kesehatan adalah keadaan seseorang pada keadaan fit. Kesehatan seseorang berpengaruh terhadap belajarnya. Proses belajar seseorang akan berpengaruh jika kesehatanya terganggu. Agar seseorang dapat belajar dengan baik maka sebaliknya ia mengusahakan agar kesehatan badan tetap terjaga. b.Cacat Tubuh Cacat tubuh adalah suatu hal yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurma keadaan tubuh/badan. Keadaan cacat tubuh juga mempengaruhi
  35. 35. 20 belajarnya. Apabila hal ini terjadi hendaknya anak dimasukan kepada lembanga pendidikan khusus. 2. Faktor Psikologis Faktor psikologis berasal dari kondisi psikis seseorang. Faktor yang tergolong ke dalam faktor psikologis yang mempengaruhi belajar(Ali,1992 :4). Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut : a.Intelegensi Intelegensi besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar. Dalam situasi yang sama, siswa yang mempunyai tingkat intelegensi tinggi akan lebih berhasil dari pada siswa yang mempunyai intelegensi rendah. Walaupun begitu siswa yang mempunyai integensi tinggi akan berhasil dalam belajarnya. Hal ini disebabkan belajar adalah suatu proses yang komplek dan banyak faktor yang mempengaruhinya, dan intelegensi adalah salah satu faktor lain yang bersifat menghambat atau berpengaruh negatif terhadap belajar maka siswa akan gagal dalam belajar. b.Perhatian Perhatian adalah keaktifan siswa yang semata-mata tertuju pada suatu objek. Untuk dapat memperoleh prestasi belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan belajar yang dipelajarinya. Jika bahan pelajaran tersebut tidak mendapat perhatian siswa, maka akan menimbulkan kebosanan dan pada akhirnya mengakibatkan tidak lagi suka belajar. Faktor ekstern 1. Faktor kelurga
  36. 36. 21 a.Cara orang tua mendidik Keluarga adalah tempat pertama kali anak mengadakan komunikasi(merupakan lembaga yang pertama kali dan utama). Cara orang tua mendidik anaknya akan berpengaruh terhadap belajarnya. Orang tua yang tidak atau kurang memperhatikan pendidikan anaknya,misalnya acuh tak acuh terhadap belajar anaknya,akan menyebabkan anak tidak berhasil dalam belajarnya. b.Perhatian orang tua Bila anak sedang belajar seharusnya orang tua tidak menggangu dengan tugas-tugas rumah,sehingga anak dapat belajar dengan baik. c.Suasana rumah Yang dimaksud dengan suasana rumah adalah situasi atau kejadian yang terjadi di dalam keluarga dimana anak berada, agar anak dapat berjalan dengan baik perlu diciptakan suasana lingkungan rumah yang tenang dan tentram. Untuk itu diharapkan orang tua mampu menciptakan suasana lingkungan rumah yang paling posifif untuk belajar. d.Keadaan ekonomi Anak akan belajar dengan baik apabila kebutuhan pokok serta fasilitas belajar terpenuhi. Apabila keadaan ekonomi keluarga kurang, maka fasilitas maupun kebutuhan pokok anak kurang terpenuhi sehingga menggangu anak belajar. Sebaliknya keadaan ekonomi keluarga anak yang kaya mengakibatkan anak hanya bersenang-senang sehingga anak kurang dapat memusatkan perhatiannya kepada belajar. Hal ini dapat menggangu anak dalam belajar.
  37. 37. 22 2. Faktor sekolah a.Hubungan guru dengan siswa Komunikasi yang kurang akrab antara guru dengan siswa akan menggangu proses belajar mengajar, karena siswa akan merasa enggan untuk berpartisipasi aktif dalam belajar. Sebaliknya guru yang membina hubungan baik dengan siswa,siswa akan merasa diperhatikan sehingga menimbulkan minat untuk belajar. Guru harus mempunyai cakrawala yang luas, mengikuti perkembangan jaman sehingga dalam mengajarkan dapat membawa anak didik untuk turut aktif dalam kegiatan belajar mengajar,karena itu guru itu harus mempunyai pengalaman yang banyak menguasai bidang ilmu pengetahuan yang ditekuni. Sebaliknya bila guru kurang menguasai bidang ilmu yang ditekuni dan kurang wawasan dan tidak mengikuti perkembangan akan menggangu tugasnya. b.Metode Mengajar Metode mengajar merupakan cara yang digunakan guru untuk menyampaikan materi kepada siswa. Setiap pokok bahasan menuntut pengunaan metode yang berbeda-beda. Olek karena itu, harapkan guru mampu menguasai berbagai model mengajar agar dapat mempermudah pemahaman siswa tentang materi yang disampaikan (Ali,1992: 7). C. Tinjuan Pembelajaran Berdasarkan Masalah
  38. 38. 23 Program intofation PBI pertama kali diperkenlakan pada tahun 1966, oleh Faculty of Health Sciences of Mc Master University di Kanada (James,2001) perkembangan PBI di pengaruhi oleh tiga pikiran utama yaitu: 1. John Dewey dan Kelas Demokrasi. John Dewey dalam (Ibrahim & Nur, 2000:15) mengemukaan pandangan pentingnya demokrasi dan pendidikan, siswa dalam pandangan Dewey hendaknya diberi kebebasan untuk menganalisis masalah intelektual dan sosial yang didalam masyarakat, kemudian memecahkan permasalahan di sekolah. Pandangan Dewey merupakan landasan filosofis perkembangan PBI. 2. Piaget,Vygotsky, dan Kontruktivisme Jean Piaget dalam (Ibrahim & Nur, 2000:17) mengemukakan pandangan mengenai kontrukivis-kognitif, menurut Piaget siswa dalam segala usia aktif dalam memperoleh informasi dan pembangunan pengetahuan sendiri. Pengetahuan akan bertambah dan berubah (termodifikasi) jika melalui pengalaman baru. Menurut Piaget dalam(Ibrahim & Nur,2000 :17) pedagogi yang baik harus melibatkan pemberian anak dengan situasi-situasi di mana anak itu mandiri melakukan eksperimen, dalam arti yang paling luas dari itu, dan mencoba sesuatu untuk melihat apa yang terjadi, memanipulasi tanda-tanda,memanipulasi simbol,mengajukan pertanyaan dan menemukan sendiri jawabannya,mencocokan apa yang ditemukan dengan teman yang lain, dan membandingkan temuan dengan teman yang lain.
  39. 39. 24 Vygotsky dalam pembelajaran mempunyai pemikiran yang sama dengan Piaget tetapi lebih menekankan pada interaksi sosial, menurut Vygotsky interaksi sosial dengan guru maupun teman sejawat penting dalam memacu terbentuknya ide baru maupun memperkaya perkembangan intelektual siswa. Teori perkembangan kontruktivisme-kognitif merupakan dasar ilmiah untuk PBI. 3. Bruner dalam Pembelajaran Penemuan Jerome Bruner mengemukakan teori pembelajaran penemuan, teori ini menyatakan bahwa pembelajaran yang sebenarnya terjadi melalui penemuan pribadi.Teori pembelajaran Bruner menekankan pada penalaran induktif dan inkuiri yang merupakan ciri pendekatan ilmiah. Tidak seperti pada pembelajaran langsung dimana siswa diberikan ide-ide tetapi dengan memberikan pembelajaran berdasarkan masalah atau penemuan dengan guru mengajuakan pertanyaan kepada siswa untuk menemukan teori mereka sendiri. Tiga prinsip dalam Pembelajaran Berdasar Masalah a. Dalam ruangan guru merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan masalah, dimana pembelajaran dapat dilakukan di luar atau di dalam kelas hal ini di lakukan untuk meningkatkan interaksi dengan teman lainnya dan mengacu terbentuknya ide baru dalam perkembangan intelektual siswa b. Menyajikan pemecahan masalah dengan menggunakan latihan
  40. 40. 25 c. Peraga (model) pembelajaran berdasarkan masalah yang mendukung dalam proses pembelajaran di antaranya, tabel, laporan, poster, yang membantu mereka untuk belajar memecahkan masalah. Tabel 1. Sintak (langkah-langkah) Pembelajaran Berdasar Masalah Tahap Tingkah Laku Guru Tahap 1 Orientasi siswa pada masalah Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan alat dan bahan yang di butuhkan, memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah Tahap 2 Mengorganisasikan siswa untuk belajar Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut Tahap 3 Membimbing penyelidikan individual atau kelompok Guru mengumpulkan informasi yang sesuai dengan (studi pustaka) melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan, dan pemecahan masalah Tahap 4 Mengembangkan dan penyajian hasil karya Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesusi dengan laporan, poster,video, dan model serta membantu mereka berbagi tugas dengan temannya Tahap 5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemacahan masalah Guru membantu siswa untuk melakukan evaluasi terhadap penyelidikan meraka dan proses-proses yang mereka gunakan (Ibrahim dan M. Nur, 2000:13) Arrends (1997) menyatakan bahwa pembelajaran berdasar masalah mempunyai beberapa ciri yaitu: 1. Penyajuan pertanyaan atau masalah. Pembelajaran Berdasar Masalah mengorganisasikan pengajaran dengan masalah nyata dan bermakna, sesuai dengan pengalaman keseharian siswa
  41. 41. 26 2. Berfokus keterkaitan antar disiplin. Masalah dan solusi pemecahan masalah yang diusulkan tidak hanya di tinju dari satu disiplin ilmu tetapi dapat di tinjau dari berbagai disiplin ilmu lainnya misalnya ekonomi, sosilogi, geografi, politik, hukum. 3. Penyelidikan autentik. PBI mengharuskan siswa melakukan penyelidikan terhadap masalah nyata melalui analisis masalah,observasi eksperimen Siswa dapat mengumpulkan informasi dari berbagai sumber pelajaran untuk menyelesaikan permasalahan, dan mengembangkan hipotesis terhadap penyelesaian masalah yang dikemukakan. 4. PBI menutut siswa menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefak (poster, puisi, laporan, gambar) dalam menyelesaikan atau mewakili penyelesaian masalah yang mereka temukan, kemudian memamerkan karya tersebut. 5. Kerjasama PBI dicirikan oleh siswa yang berkerjasama berpasangan atau berkelompok dalam kelompok kecil, kerjasama memberikan motivasi dan mengembangkan ketrampilan berfikir melalui tukar pendapat serta berbagi penemuan. Pengajaran berdasarkan masalah di lain pihak berdasarkan psikologi kognitif sebagai pendukung teorotis. Fokus pengajaran tidak terlalu banyak pada apa yang dilakukan siswa(perilaku mereka), melainkan apa yang dipikirkan(kognisi mereka) pada saat melakukan kegiatan itu. Walaupun peran guru pada saat pembelajaran berdasarkan masalah kadang melibatkan presentasi dan menjelaskan sesuatu hal kepada siswa, namun yang lebih lazim berperan
  42. 42. 27 sebagai pembimbing dan fasilitator sehingga siswa belajar untuk berfikir dan memecahkan masalah oleh mereka sendiri. Guru perlu untuk menyajikan situasi masalah dengan hati-hati atau dengan prosedur yang jelas untuk melibatkan siswa dalam identifikasi masalah. Panduan yang diberikan langsung tentang bagimana melaksanakan demonstrasi dapat membantu dalam pembelajaran berdasarkan masalah. Situasi masalah harus disampikan kepada siswa semenarik dan setepat mungkin. Biasanya memberi kesempatan kepada siswa untuk melihat, merasakan dan menyentuh sesuatu dapat memunculkan ketertarikan dan memotivasi inkuiri. Seringkali menggunakan hal- hal yang tak terduga( suatu masalah di mana hasilnya di luar harapan dan mencengangkan ) dapat menggungah minat siswa. D. Sikap Nasionalisme Nasionalisme adalah: Paham atau ajaran untuk mencintai bangsa dan negara sendiri. Nasionaslisme adalah kesadaran keanggotaan suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran dan kekuataan bangsa itu, semangat kebangsaan Indonesia (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1993:610). Sikap nasionalisme berarti upaya seseorang untuk mengembangkan anak didik akan pentingnya memiliki ide dan perilaku yang sesuai dengan jiwa nasionalisme Indonesia ialah kesetiaan yang abadi kepada bangsa serta cinta tanah air Indonesia dan berjiwa pancasila.(Djoyomartono,1988:11).
  43. 43. 28 Nasionalisme Indonesia mengalami pertumbuhan dan perkembangan pada masa lalu seirama dengan dinamika pertumbuhan dan pergerakan nasional kebangsaan Iindonesia. Oleh karena itu, sifat dan corak perkembangannya tampil sesuai dengan sifat dan corak organisasi pergerakan yang mewakilinya. Sifat dan corak nasionalisme pada saat lahirnya Boedi Oetomo (1908), misalnya berbeda dari nasionalisme yang dikembangkan oleh Sarekat Islam, Indische Partij, dan seterusnya. Kelahiran Budi Utomo telah dilandasi oleh nasionalisme yang masih samar-samar, hal itu tampak pada aktifitasnya. Perkumpulan ini jelas membatasi gerakannya terbatas pada Jawa dan Madura. Sasaran penunjangnya tampak belum jelas kepada perjuangan politik atau terbatas kepada sosiaokultural. Sikap ragu- ragu itu menyebabkan aktifitasnya hanya dibidang kebudayaan. Budi Utomo sebagai gerakan kultural nasionalisme.(Hatta, 1977 : 9). Lahirnya Sarekat Islam (1912) memberikan titik terang bagi perkembangan nasionalisme Indonesia. Latar belakang perkumpulan ini adalah persaingan- persaingan dengan pedagang Cina, tetapi membuat front melawan semua penghinaan terhadap rakyat bumi putera. Berbeda dengan Boedi Oetomo yang anggotanya hanya terbatas pada golongan priyayi, Sarekat Islam sampai berhasil ketingkat pada lapisan kelas bawah pada lingkup yang lebih luas. Tetapi hanya dijiwai oleh ”islam ” pada organisasi telah tertutup kemungkinan masuknya anggota dari masyarakat non-islam. Perjuangan yang langsung membela rakyat, yaitu memperjuangkan ekonomi yang menjadikan perkumpulan dan perkembangan sangat pesat. Dengan keadaan tersebut perkembangan
  44. 44. 29 nasionalisme yang bercorak ekonomis, religius, dan demokratis..(Pringgodigyo,1978 : 4). Lebih luas dan tegas dari organisasi itu adalah konsep nasionalisme yang diperkenalkan oleh Indische Partij. Belum menggunakan nama ”Indonesia ”memang, tetapi organisasi ini telah tegas merancangkan kemerdekaan tanah air dan bangsa Hindia. Nasionalisilme yang dikembangkan memiliki corak yang tegas, bahkan radikal. Hal itu pula yang menempatkan organisasi tersebut sebagai organisasi politik pertama di Indonesia. Organisasi yang memberikan andil yang besar dalam mempertegas dan mendewasakan konsep nasionalisme Indonesia menjadi konsep nasionalisme yang sesungguhnya adalah perkumpulan mahasiswa Indonesia di Belanda yang bernama Perhimpunan Indonesia( PI). Pada mulanya organisasi ini bermana ”Indische Vereneging”(1908) dan sebagaimana Boedi Oetomo di Indonesia, organisasi ini hanya bersifat sosiokultural. Tetapi sejak 1925 mereka mengubah organisasi tersebut sebagai organisasi yang mengembangkan masalah politik. Lewat Perhimpunan Indonesia nasionalisme yang telah melandasinya lebih bersifat revolusioner, Perhimpunan Indonesia telah memberikan sumbangan yang besar yaitu nama ”Indonesia ” sebagai identitas nasional dan nama bagi bangsa Indonesia dan negara yang diperjuangkan untuk merdeka, lepas dari penjajahan. Nama Indonesia sebagai simbolis di dalam sejarah pergerakan bangsa Indonesia, dan majunya pergerakan dengan sebutan Indonesia ditentukan oleh kegiatan
  45. 45. 30 historis dan merupakan fase baru di dalam perkembangan nasionalisme Indonesia.(Abdulgani,1957: 9). Kelahiran Partai Nasional Indonesia (PNI) di tanah air (1927) yang hakikatnya melanjutkan ide-ide yang dikembankan oleh Perhimpunan Indonesia yang dilandasin oleh nasionalisme yang revalusioner. Selanjutnya dicetuskanya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 oktober 1928 merupakan bukti bahwa nasionalisme telah melandasi dan menjunjung tinggi dalam aktifitas bangsa Indonesia. Dalam keputusan itu dicantumkan alasan utama untuk bersatu adalah kemampuan bersama untuk mengatasi alasan-alasan yang ada dengan tetap menghormati perbedaan yang ada. Dengan kata lain keanekaragaman yang ada di Indonesia tetap ada dan dihormati, tetapi tetap bersatu dan pengakuan atas tanah air, bangsa, bahasa yang satu telah bulat dan dijunjung tinggi atas perbedaan tersebut. Nasionalisme Indonesia secara umum bertujuan untuk kedalam memperhebat nasional building dan character building sesuai dengan falsafat dan pandangan hidup bangsa, sedangkan tujuan ke luar secara antiteis dan antagonistis melakukan konfrontasi atau menolak segala kolonialisme. Abdulgani dalam (Cahyo, 1995:21) menegaskan kolonialisme baik yang bersifat materialistik maupun yang bersifat idiologis, nasionalisme menentang segala hal yang bersifat prinsipil. Hal itu karena nasionalisme ingin mengembalikan lagi ”the human dignity” harga diri manusia yang hilang karena kolonialisme.
  46. 46. 31 Nasionalisme Indonesia lahir sebagai sebagai reaksi terhadap kolonisasi Eropa. Karena kolonisasi menggandung dimensi-dimensi dominasi politik,eksploitasi ekonomi dan penetrasi kultural, nasionalisme Indonesia pun mempunyai tiga dimensi dalam rangka menumbangkan dominasi politik kolonial. Tiga dimensi itu dimaksudkan untuk membangun negara nasional yang demokratis menghentikan eksploitasi ekonomi untuk membangun suatu masyarakat yang berkeadailan sosial, dan menghentikan penetrasi kultural untuk menghidupkan kembali keperibadian. Dengan demikian, dasar-dasar demokrasi dan keadilan sosial menampakan diri sebagai suatu keharusan dan kelengkapan nasionalisme Indonesia. Nasionalisme yang dianut di Indonesia melahirkan pendirian untuk menghormati bangsa lain sebagaimana yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. ”Bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa”. Oleh karena itu sikap nasionalisme Indonesia menggandung sikap anti penjajahan. Semangat yang demikian dengan sendirinya tidak menumbuhkan keinginan bangsa Indonesia untuk menjajah bangsa lain. Sebaliknya bangsa Indonesia ingin mewujudkan suatu perdamian dunia, menuju masyarakat yang maju, sejahtera, dan adil bagi semua umat manusia. Dengan demikian nasionalisme Indonesia juga memberikan penghargaan terhadap hak azazi manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. E. Indikator Sikap Nasionalisme
  47. 47. 32 Agar bangsa Indonesia memiliki sikap nasionalisme yang tinggi maka diperlukan berbagai upaya yang mengarah pada terciptanya tata kehidupan masyarakat yang mantap dengan tetap mengacu kepada UUD 1945 dan Pancasila. Pembinaan sikap nasionalisme bagi rakyat Indonesia menjadi tanggungjawab pemerintah dan masyarakat terutama melalui dunia pendidikan. Dalam hal ini pendidikan sejarah memegang peranan yang penting ditinjau dari tujuan pendidikan sejarah, sehingga para sejarahwan maupun guru sejarah mampu mencari solusi agar sejarah dapat menumbuhkan sikpa nasionalime pada anak didik. Tujuan pelajaran sejarah pada umunya adalah memperkenalkan pelajaran pelajaran kepada riwayat perjuangan manusia untuk mencapai kehidupan yang bebas bahagia, adil, makmur, serta menyadarkan peljaran tentang dasar dan tujuan hidup manusia berjuang pada umumnya.(Ali, 1963: 318). Pengajaran sejarah telah memberikan pelajaran tentang kejadian-kejadian masyarakat pada masa terdahulu, sehingga genarasi muda mendapatkan pengetahuan tentang masyarakat-masyarakat pada masa terdahulu untuk menghadapi masa sekarang dan masa yang akan datang agar lebih arif dan lebih bijaksana. Sejarah sangat potensial untuk membangkitkan rasa kebangsaan terhadap sejarah bangsanya. Suatu bangsa tidak mungkin mengenal dan memiliki identitasnya tanpa mengenal sejarahnya. 1. Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara
  48. 48. 33 Realiatas menunjukan bahwa Tuhan Yang Maha Esa menganugrahkan kepada kepada bangsa Indonesia pluralitas di berbagai hal seperti: suku, budaya, ras,agama, bahasa dan sebagainya. Anugrah tesebut patut disyukuri dengan cara menghargai kemajemukan tetap dipertahankan, dipelihara dan dikembangkan demi kemajuan dan kejayaan bangsa. (Soegito,2006:95). Kehendak untuk hidup bersama dapat dilakukan oleh siapa saja, termasuk orang-orang yang suku bangsanya berbeda, ataupun agamanya. Heterogenitas bangsa yang berbeda tentunya memerlukan sikap rela berkorban bagi setiap warganya. 2. Mengutamakan Persatuan dan kesatuan Kata persatuan dan persatuan berasal dari kata “satu“ yaitu sesuatu yang tidak terpisah-pisah. Nilai persatuan Indonesia mengandung usaha ke arah bersatu dalam kebulatan rakyat membina nasionalisme dalam negara. Mengutamakan persatuan dan kesatuan merupakan suatu proses terwujudnya nasionalisme. Dengan modal dasar nilai persatuan semua warga negara indonesia baik yang asli maupun keturuanan asing dari macam-macam suku bangsa dapat menjalin kerjasama yang erat dalam gotong royong, kebersamaan. 3. Cinta tanah Air Cinta tanah air atau patriotisme merupakan modal yang penting dalam membangun suatu negara. Suatu negara yang dihuni oleh orang-orang yang cinta
  49. 49. 34 tanah air akan membawa kearah kemajuan. Sebaliknya negara yang tidak didukung oleh cinta tanah air dari penduduk tersebut maka negara tersebut menunggu kehancuran. Pergerakan nasional yang tumbuh dan berkembang pada masa kolonial, merupakan wujud cinta tanah air yang puncaknya dengan diproklamirkan kemerdekaan negara kesatuan RI. Wujud warga negara yang cinta tanah air ialah melestarikan budaya bangsa ditengah globalisasi dunia, meningkatkan etos kerja, mempunyai disiplin dalam arti luas, Penghargaan terhadap pahlawan, Peringatan hari besar bersejarah mempunyai semangat kerja dan pengabdian terhadap bangsa dan negara dan sebagainya. 4. Berjiwa pembaharu dan tidak kenal menyerah Kesadaran bernegara dari seseorang ditentukan oleh kualitas mental sumber daya manusia itu sendiri. Kualitas mental yang diharapkan adalah manusia yang memanfaatkan waktu, hidup sederhana, disiplin, suka berkerja keras dan jujur. Untuk mencapai manusia yang berkualitas tersebut maka diperlukan manusia yang berjiwa inovatif dan tidak kenal menyerah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Usaha mempertahankan kelangsungan bangsa dan tanah air, Giat mempelajari sejarah bangsa.
  50. 50. 35 F. Hipotesis Hipotesis adalah “jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang kebenaranya masih harus di uji secara empiris.”(Maman Rachman ,1988:36). Jadi suatu hipotesis masih merupakan jawaban sementara terhadap suatu permasalahan yang kebenarannya masih perlu adanya pembuktian lebih lanjut. Hipotesis ada dua kemungkinan, yaitu kemungkinan yang benar dan kemungkinan yang salah. Untuk mengetahui suatu itu benar atau salah, maka harus melalui penelitian atau penyelidikan. Penelitian tersebut haruslah mengenai sasaran terhadap masalah yang akan dihadapi berkaitan dengan hipotesis. Apakah penelitian memperoleh hasil yang nyata sesuai dengan hipotesis yang diajukan, maka hipotesis tersebut diterima(Ho). Sebaliknya kalau penelitian tersebut tidak memperoleh kebenaran, maka hipotesis tersebut ditolak. Hipotesis alternatif (Ha) yang penulis ajukan adakah pengaruh yang signifikan terhadap penggunaan Metode Pembelajaran Berdasar Masalah (PBI) pada materi sejarah pergerakan terhadap sikap nasionalisme siswa kelas V SD Negeri Sekaran I Gunungpati Semarang Tahun ajaran 2006/2007.
  51. 51. 35 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan penelitian eksperimen dimana penelitian ini dilakukan sebelum dan sesudah. Penelitian ini ditempuh dengan dua langkah: 1. Memberikan soal pergerakan nasional dengan metode pembelajaran berdasarkan masalah dan angket sikap nasionalisme 2. Memberikan perlakuan eksperimen kepada subyek, berupa pembelajaran berdasarkan masalah dan selanjutnya memberikan tes pergerakan nasional dan angket nasionalisme untuk pemahaman sikap nasionalisme. Perbedaan ditentukan dengan membandingkan prestasi belajar pada materi sejarah pergerakan nasional dan sikap nasionalisme siswa. Desainnya sebagai berikut. Tabel 2. Rancangan Penelitian Sebelum Variabel terikat dan bebas (Perlakuan) Sesudah Y1 X Y2 (Rachman, 2004:59) Rancangan Penelitian yang digunakan dalam penelitian digambarkan sebagai berikut: Uji coba dilakukan pada siswa kelas V SD Negeri Sekaran I Gunungpati Semarang tahun ajaran 2006/2007 sebanyak 45 siswa .Pelaksanaan dilakukan pada siswa kelas V agar tidak mengganggu kegiatan belajar. Jumlah soal yang
  52. 52. 37 digunakan sebanyak 5 soal yang berbentuk uraian karena sesuai dengan metode pembelajaran berdasarkan masalah sehingga siswa belajar secara mandiri. Dalam pembelajaran berdasarkan masalah PBI dicirikan siswa berkerjasama dengan yang lainnya, sering berpasangan atau berkelompok kecil. Berkerjasama memberikan motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat dalam tugas-tugas yang kompeks dan memperbanyak dialog untuk mengembangkan ketrampilan sosial dan berfikir. Siswa diberikan angket pemahaman sikap nasionalisme,dimana angket tersebut terdiri atas beberapa kategori yaitu : 85-100 = Sangat Tinggi 69-84 = Tinggi 53-68 = Cukup 37-52 = Rendah 20-36 = Sangat Rendah Kategori sikap nasionalisme terdir dari 4 kategori yaitu rela berkorban nomor1,3,4,5,7,8,9, mengutamakan persatuan dan kesatuan2,9,10,17, cinta tanah air 6,12,13,16,20, berjiwa pembaharu dan pantang menyerah 11,14,15,18. B. Populasi Dan Sampel 1. Populasi Populasi adalah: Keseluruhan subjek penelitian. (Arikunto, 2002:109) Keseluruhan dari unit analisis dan ciri-cirinya yang akan diduga (Singabuan,
  53. 53. 38 1992:152). Berdasarkan pengertian di atas populasi adalah keseluruhan siswa kelas V SD Negeri Sekaran I Gunungpati Semarang tahun ajaran 2006/2007. 2. Sampel Sampel adalah: Sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2002:109 ). Arikunto berpendapat “bahwa apabila yang di teliti atau populasi kurang dari 100 maka semua subjek diambil sebagai sampel. Dalam penelitian ini populasi kurang dari 100, sehingga sampel yang harus sebanyak populasi yang ada, yaitu berjumlah 45 siswa. Dengan demikian sampel penelitian berjumlah 45 siswa. C. Variabel Penelitian Menurut Sudjana (1987:23) variabel merupakan ciri dari individu, objek, gejala, peristiwa, yang dapat diukur secara kualitatif atau kuantitatif. Sedangkan menurut Arikunto (2002:98), variabel dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang akan menjadi penggunaan pembelajaran berdasarkan masalah pada materi pergerakan nasional dan sikap nasionalisme, sehingga ada dua variabel penelitian yaitu: a. Variabel Bebas adalah: Variabel yang mempengaruhi variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitan ini adalah penggunaan metode pembelajaran berdasarkan masalah pada materi sejarah pergerakan nasional siswa kelas V SD Negeri Sekaran I Gunungpati Semarang . b. Variabel Terikat adalah: Variabel yang mempengaruhi variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah sikap nasionalisme siswa kelas V SD Negeri Sekaran I Gunungpati Semarang.
  54. 54. 39 Variabel terikat sikap nasionalisme adalah sebagai berikut: a. Rela Berkorban b. Mengutamakan persatuan dan kesatuan c. Cinta Tanah air d. Berjiwa pembaharu dan pantang menyerah Tabel 3 Kisi-kisi Variabel Terikat Pemahaman Sikap Nasionalisme dengan Pembelajaran Berdasarkan Masalah Siswa Kelas V SD Negeri Sekaran I Gunungpati - Semarang No Variabel Indikator No. Soal 1. Rela Berkorban 1. Semangat berjuang 2. Mencintai produk dalam negeri 1, 3, 7 4, 5, 8 2. Mengutamakan persatuan dan kesatuan 1. Menghargai budaya asli 2,10, 17, 9 3. Cinta tanah air 1. Penghargaan terhadap pahlawan 2. Peringatan hari besar bersejarah 12, 20 6, 13 4. Berjiwa pembaharu dan tidak kenal menyerah 1. Usaha mempertahankan kelangsungan bangsa dan tanah air 2. Giat mempelajari sejarah bangsa 11, 14 15, 18 D. Metode Pengumpulan Data Untuk mencapai tujuan penelitian sangat diperlukan data-data yang berkelanjutan yang selanjutnya data tersebut di analisa secara ilmiah. Dalam penelitian ini terdapat tiga metode penggumpulan data yaitu, metode dokumentasi metode kuesioner, metode tes.
  55. 55. 40 1. Metode Dokumentasi Metode Dokumentasi adalah: Cara memperoleh informasi dengan memperhatikan tiga macam sumber yaitu, tulisan (paper), tempat (place), dan kertas atau orang (people). (Arikunto, Suharsimi 2002: 135) Metode Dokumentasi digunakan untuk mendapatkan data tentang: a. Keadaaan SD Negeri Sekaran I Gunungpati Semarang b. Jumlah siswa kelas V SD Negeri Sekaran I Gunungpati Semarang Data tersebut di peroleh melalui di peroleh dari Guru Kelas V SD Negeri Sekaran I Gunungpati Semarang 2. Metode Angket atau Kuesioner (Questionnaries) Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi (Arikunto, Suharsimi 2002: 128) Keuntungan Kuesioner a. Tidak memerlukan hadirnya peneliti b. Dapat dibagikan secara serentak kepada banyak responden c. Dapat dijawab oleh responden menurut rencananya masing-masing dan menurut waktu senggang responden d. Dapat dibuat anonim sehingga responden bebas dan jujur dan tidak malu- malu menjawab e. Dapat dibuat pertanyaan terstandar sehingga bagi masing-masing responden dapat diberi pertanyaan yang sama
  56. 56. 41 Model sikap yang dijadikan acuan dalam menyusun kuesioner ini adalah skala sikap Likert. Model skala sikap likert menggunakan lima rentangan dari sangat setuju sampai sangat tidak setuju. Pertanyaan atau pernyataan di dalam objek sikap naisonalisme disusuan dalam bentuk favoreble (bersifat positif) dan non favoreble (bersifat negatif). Berkaitan denga aspek tersebut pemberian skor ditetapkan sebagai berikut: a. Untuk pertanyaan atau pernyataan favoreble (bersifat positif) Sangat Setuju = 5, Setuju = 4, Ragu- Ragu = 3, Tidak Setuju = 2, Sangat Tidak Setuju = 1 b. Untuk pertanyaan atau pernyaan yang bersifat non favoreble(bersifat negatif Sangat Setuju =1, Setuju = 2, Ragu- Ragu = 3, Tidak Setuju = 4, Sangat Tidak Setuju = 5 Bentuk angket dalam penelitian ini dapat dilihat dalam lampiran 1 3. Metode Tes Tes adalah: Serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok lain. (Arikunto, Suharsimi 2002:127) Tes menurut Suryabrata adalah : Pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab atau perintah-perintah, penyelidikan mengambil kesimpulan dengan cara membandingkan standar atau testea lainya.
  57. 57. 42 Dalam Encyclopedi of Education, tes diartikan sebagai any series of question or exercises or another means of meansuring the skill, knowledge, intelligence, capacities, or aptitudes of an individual or group. (Andeson dkk, 1976:425) Dari ketiga pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa tes adalah alat pengukur yang berupa pertanyaan-pertanyaan perintah dan petunjuk kepada testee untuk mendapatkan hasil. Respon tersebut ditentukan dengan tinggi rendahnya skor dalam bentuk kualitatif dan kuantitatif selanjutnya dibandingkan dengan standar yang telah ditentukan untuk menarik kesimpulan. Bentuk soal pergerakan nasional dapat dilihat pada lampiran 2 E. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian adalah: Alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaan lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga lebih mudah. (Arikunto, 2002:136). Validitas dan reliabilitas merupakan alat pengukur yang harus ditetapkan terlebih dahulu sebelum alat itu digunakan. Hal ini dianggap penting, sebab validitas dan reliabilitas banyak menentukan ketepatan. 1. Validitas Validitas adalah: alat yang menunjukan tingkatan-tingkatan kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai
  58. 58. 43 validitas yang tinggi. Sebaiknya intrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas yang rendah. (Arikunto, 2002:144) Instrumen yang valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila menggungkap data variabel yang diteliti secara lengkap. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang validitas yang dimaksud. Rumus korelasi yang dapat digunakan adalah yang dikemukakan oleh Pearson yang dikenal dengan rumus korelasi product moment adalah sebagai berikut: ( )( ) ( ){ } ( ){ }∑ ∑∑∑ ∑ ∑∑ −− − = 2222 YYNXXN YXXYN rxy Keterangan : rxy = koefisien korelasi N = jumlah subyek atau responden X = skor butir Y = skor total ∑X 2 = jumlah kuadrat nilai X ∑Y 2 = jumlah kuadrat nilai Y Kemudian hasil rxy hitung dikonsultasikan dengan rtabel dengan taraf signifikan 5%. Jika rxy hitung > r tabel dikatakan valid dan jika rxy hitung < r tabel instrumen dikatakan tidak valid. (Arikunto, 1997:145). 2. Reliabilitas
  59. 59. 44 Reliabilitas adalah menunjukan pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena alat tersebut sudah baik. (Arikunto, 1997:213). Instrumen yang baik akan bersifat mengarahkan responden untuk memilih jawaban-jawaban tertentu. Instrumen yang sudah dapat dipercaya, yang reliabilitas akan menghasilkan data yang dipercaya juga. Alat pengumpul data dikatakan reliabel jika alat tersebut mempunyai ketetapan untuk konsisten, artinya alat itu jika dikenakan pada waktu yang sama dan waktu yang berlainan, maka hasilnya relatif sama atau tetap. Reabilitas dihitung dengan dengan korelasi KR- 21 dengan rumus: ⎟⎟ ⎠ ⎞ ⎜⎜ ⎝ ⎛ ∑− ⎟⎟ ⎠ ⎞ ⎜⎜ ⎝ ⎛ − = 2 2 11 s Pqs 1k k r Keterangan: r11 = Reliabilitas Instrumen K = Banyaknya butir pertanyaan VT = Varian Total P = Banyaknya Subjek a. Tingkat Kesukaran Soal Tingkat kesukaran soal digunakan untuk mengetahui sejauhmana soal itu dapat dikerjakan oleh siswa. Soal yang baik adalah soal yang tidak mudah dan tidak terlalu sukar. Soal yang mudah tidak mempertinggi usaha untuk memecahkannya. Sebaliknya soal yang terlalu sukar akan menyebabkan siswa putus asa dan tidak mempunyai
  60. 60. 45 semangat untuk mencoba lagi karena di luar jangkaunya. Besarnya tingkat kesukaran soal dapat dihitung dengan menggunakan rumus: JS B P = Keterangan : P = Tingkat kesukaran B = Jumlah siswa yang menajawab benar JS = Jumlah siswa yang mengikuti tes Tabel 4. Kriteria indeks Kesukaran Soal Interval IK Kriteria IK = 00,00 0,00 < IK ≤ 0,30 0,30 < IK ≤ 0,70 0,70 < IK < 1,00 IK = 1,00 Terlalu Sukar Sukar Sedang Mudah Terlalu Mudah Contoh perhitungan tingkat kesukaran soal dapat dilihat pada lampiran 3. b. Daya Beda Daya beda kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (mempunyai kemampuan tinggi) dengan siswa yang berkemampuan bodoh (kemampuan rendah). D = JA BA - JB BB Keterangan:
  61. 61. 46 D = Daya pembeda soal BA = Jumlah siswa yang menjawab benar pada butir soal pada kelompok atas BB = Jumlah siswa yang menjawab benar pada butir soal pada kelompok bawah JA = Banyaknya siswa pada kelompok atas JB = Banyaknya siswa pada kelompok bawah Tabel 5. Kriteria Daya Beda Interval IK Kriteria DP ≤ 0,00 0,00 < DP ≤ 0,20 0,20 < DP ≤ 0,40 0,40 < DP ≤ 0,70 0,70 < DP ≤ 1,00 Sangat jelek Jelek Cukup Baik Sangat baik Perhitungan daya beda dapat dilihat pada lampiran 4 F. Teknik Analisis Data Pemahaman sikap nasionalisme sebelum dan sesudah dengan pembelajaran berdasarkan masalah dapat dianalisis dengan teknik analisis presentase dengan rumus sebagai berikut: Keterangan:
  62. 62. 47 % = Presentasi dari suatu nilai n = Jumlah nilai yang diperoleh N = Jumlah seluruh nilai G. Uji Normalitas Uji Normalitas bertujuan untuk mengetahui data diolah berdistribusi normal atau tidak sehingga dapat digunakan untuk menentukan rumus statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis. Jika data berdistribusi normal digunakan statistik parametik dan jika tidak berdistribusi normal digunakan statistik non parametik dengan menggunakan rumus chi kuadrat ( ) πχ ∑= − = K i i ii E EO 1 2 2 Keterangan : 2 χ = Chi kuadrat ∑= k k 1 = Rata-rata sebelum dan sesudah iO = Hasil pengamatan iE = Hasil yang harapkan Hipotesis adalah Ho diterima jika 2 χ < 2 χ . H. Uji t
  63. 63. 48 Uji t digunakan untuk mengetahui adakah kenaikan yang signifikan sikap nasionalisme setelah mengikuti pembelajaran berdasarkan masalah, adapun rumus uji b n S B t B = Keterangan: B = selisih skor sebelum dan sesudah tindakan SB = standar deviasi n = subjek yang diteliti Uji t jika t hitung > t tabel dengan dk = n – 1 dapat disimpulkan ada peningkatan pemahaman sikap nasionalisme. Sedangkan jika t hitung < t tabel dengan dk = n – 1 dapat disimpulkan ada tidak peningkatan sikap nasionalisme.
  64. 64. 35 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian SD Negeri Sekaran I berkolasi di kelurahan Sekaran Kecamatan Gunung Pati Semarang, untuk lebih mengetahui gambaran tentang kolasi peneletian dapat dilihat pada lampiran . Tabel Jumlah siswa SD Negeri Sekaran I Gunung Pati Semarang tahun 2006/2007 Kelas Laki-laki Perempuan Jumlah I 35 21 56 II 22 26 48 III 24 26 50 IV 19 24 43 V 21 24 45 VI 17 21 38 Jumlah 138 142 280 Tabel Keadaan guru/Karyawan dan siswa SD Negeri Sekaran I Gunung Pati Semarang tahun 2006/2007 No Jabatan 1. Isman .S.Pd 2. Sudarmo 3. Teguh Budiwati 4. Kuat. A.Ma 5. Nafiah A.Ma 6. Ngatini 7. Mokhamad S.Pd 8. Siti Khadijah 9. Supatmi A.Ma 10. Sona Alfiyani Kepsek Guru Kelas V Guru Kelas III Guru Penjaskes Guru Pendidikan Agama Islam Guru Kelas I Guru Kelas IV Guru Kelas VI Guru Kelas II Guru Bahasa Inggris ss
  65. 65. 50 B. Hasil Penelitian 1. Hasil analisis instrumen ujicoba Instrumen penelitian yang verupa angket dan tes untuk memperoleh data terleih dahulu diadakan uji coba pada siswa kelas V SD Negeri Sekaran II sejumlah 12 siswa, karena siswa kelas V SD tersebut mempunyai karateristik belajar yang hampir sama dengan kelas V SD Negeri Sekaran I yang merupakan sampel penelitian. Uji coba instrumen ini dilakukan di luar sampel agar tidak mengetahui bentuk instrumen yang akan digunakan sebelum diperoleh instrumen yang baik. Setelah dilaksanakan uji coba, kemudian hasilnya dianalisis untuk mengetahui apakah intrumen penelitian itu layak digunakan atau tidak. Hasil analisis tes dan angket pemahaman sikap nasionalisme. a.) Validitas Hasil analisis validitas angket pemahaman sikap nasionalisme dari 20 soal diketahui valid yaitu angket nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20. Dalam penelitian dengan rxy terrendah =0,590 dengan nilai rtabel= 0,576 sedangkan nilai pada product momet dengan n= 12 dan =α 5% diperoleh rtabel = 0,576. Jika nilai product moment tersebut dibandingkan dengan rtabel mak menunjunkan rxy terendah >rtabel maka sesuai dengan kriteria penerimaan butir valid, sehingga dapat dilakatakan bahwa kedua puluh tersebut valid.Hasil uji coba angket pemhaman sikap nasionalisme dapat dilihat pada lampiran.... . Analis validitas angket pemahaman sikap nasionalisme sebagai contoh perhitungan nomor 1 dengan n= 12 dan =α 5% dengan rxy =0,781 maka diperoleh rtabel=
  66. 66. 51 0,576. Karena rxy > rtabel maka soal nomor 1 valid. Hasil perhitungan dapat dilihat pada lampiran. Uji coba validitas soal materi pergerakan nasional dari 20 soal diketahui soal yang valid berjumlah 17 soal yaitu 1, 2, 3,4,5, 6, 7, 8, 10, 11, 13, 14, 15,16,17,18,19,20. Perhitungan ini dapat diperlihatkan nilai rxy terrendah=0,583 dengan rtabel= 0,576. Jika nilai rxy terrendah tersebut dibandingkan dengan nilai rtabel maka menunjukan rxy > rtabel sehingga dapat dikatakan bahwa 17 soal tersebut valid. Untuk soal uji coba materi sejarah pergerakan nasional yang tidak valid terdapat pada nomor 4,9,12 yang diperlihatkan dengan nilai rxy masing- masing -0.047 -0.1666 dan0045 lebih kecil dari pada rtabel . Maka dapat disimpulkan rxy < rtabel soal tersebut tidak valid. Hasil analisi uji coba soal dapat dilihat pada lampiran . b.) Reliabilitas Hasil reliabilitas angket pemahaman sikap nasionalisme siswa dapat diketahui bahwa angket reliabel, hal ini dapat diperlihatkan dengan nilia r11=0.941 dengan nilai n= 12 dan =α 5% diperoleh rtabel= 0.567. Jika dibandingkan dengan nilai r11 tersebut dibandingkan dengan rtabel, maka r11> rtabel . Sesuai dengan penerimaan reliabilitas maka angket pemahaman sikap nasionalisme dikatakan reliabel. Perhitungan angket pemahaman sikap nasionalisme dapat dilihat pada lampiran . c.) Tingkat Kesukaran 00000000000000000
  67. 67. 52 d.) Daya Pembeda 0000000000000000 2. Pelaksanaan Pembelajaran dengan Metode Pembelajaran Berdasarkan Masalah Diuraikan tentang proses secara deatail disertai foto oke happy 3. Hasil Penelitian a. Sikap Nasionalisme Angket digunakan untuk mengetahui sikap nasionalisme siswa kelas V SD Negeri Sekaran I digunakan teknik analisa data deskriptif dimana masing- masinh sub variabel diklasifikasikan menjadi sub variabel yang bersifat kuaitatif. Sub variabel terdiri dari indikator. Data hasil penelitian yang dilakukan kepada 40 responden diperoleh data skor nasionalisme siswa Indikator sikap nasionalisme Sebelum Sesudah Rata-rata Kriteria Rata-rata Kriteria Rela berkorban 75 Tinggi Tinggi Mengutamakan persatuan 76 Tinggi Tinggi Meghormati pahlawan Indonesia 75 Tinggi Tinggi 1) Rela Berkorban Interval Kriteria Sebelum Sesudah Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase 85-100 Sangat tinggi 11 24.4 24.4 69-84 Tinggi 25 55.6 55.6 53-68 Cukup 9 20.0 20.0 37-52 Rendah 0 0.0 0.0 20-36 Sangat rendah 0 0.0 0.0 Jumlah 45 100 45 100
  68. 68. 53 Diuaraiakn tentang angket. Memperjelas data urian variabel rela berkorban dapat dilihat pada table berikut: Responden %( Presentase ) Kriteria 45 siswa 77,90% Tinggi Perhitungan data tersebut dapat dianalisis indikator rela berkjorban sebagai berikut : 100 45 3505 X = 77,90 % Jawaban yang dikemuakan siswa mengenai rela berkorban dari 45 siswa yang tergolong sangat tinggi 11 siswa, dengan presentase 24,4 %, dari 45 siswa yang tergolong tinggi 25 siswa dengan presntase 55,6 %, dan 9 siswa tergolong cukup dengan presestase 20 %. 2. Mengutamakan Persatuan dan Kesatuan Responden %( Presentase ) Kriteria 45 siswa 77,44% Tinggi Perhitungan data tersebut dapat dianalisis indikator rela berkjorban sebagai berikut : Jawaban yang dikemuakan siswa mengenai persatuan dan kesatuan dari 45 siswa yang tergolong sangat tinggi 9 siswa, dengan presentase 20 %, dari 45 siswa yang tergolong tinggi 16 siswa dengan presntase 35,5 %, dan 17 siswa tergolong cukup dengan presestase 37,8 %.
  69. 69. 54 3. Menghormati pahlawan Indonesia Responden %( Presentase ) Kriteria 45 siswa 66,40% Tinggi Perhitungan data tersebut dapat dianalisis indikator menghormati pahlawan Indonesia x 45 2988 %100 = 66,40 % ` Jawaban yang dikemuakan siswa mengenai menghormati pahlawan Indonesia dari 45 siswa yang tergolong sangat tinggi 2 siswa, dengan presentase 4,4 %, dari 45 siswa yang tergolong tinggi 14 siswa dengan presntase 31,1 %, dan 21 siswa tergolong cukup dengan presestase 46,7 %, dan yang tergolong rendah 7 siswa dengan presentase 15,6 %, yang tergolong sangat rendah dengan presentase 2,2 %. 4.Memiliki kesadaran sejarah Responden %( Presentase ) Kriteria 45 siswa 71,82% Tinggi Perhitungan data tersebut dapat dianalisis memiliki kesadarn sejarah : x 45 3232 100 % = 71,82 % ` Jawaban yang dikemuakan siswa mengenai menghormati pahlawan Indonesia dari 45 siswa yang tergolong sangat tinggi 2 siswa, dengan presentase 4,4 %, dari 45 siswa yang tergolong tinggi 14 siswa dengan presntase 31,1 %, dan 21 siswa tergolong cukup dengan presestase 46,7 %, dan yang tergolong rendah 7
  70. 70. 55 siswa dengan presentase 15,6 %, yang tergolong sangat rendah dengan presentase 2,2 %. b. Tes Pemahaman materi pergerakan nasional yang dilihat pada pretasi be;ajar siswa yang diujikan kepad 45 siswa kelas V SD Negeri Sekaran I Gunungpati Semarang. Hasil pemahaman materi sejarah pergerakan nasional dapat digunakan rumus : X n x∑ 4,59 45 2575 = c). Hasil Penelitian Sesudah Pembelajaran dengan metode pembelajaran berdasarkan masalah Hasil penelitian sesudah pembelajaran juga digunakan mengetahui prestasi belajar dengan pembelajaran berdasarkan masalah dan sikap nasionalisme siswa, pengembilan data dilakukan menggunakan angket, tes. Hasil yang diperoleh sebagai berikut: a). Hasil angket Anget yang diberikan kepada siswa, merupakan angket yang sama sebelum proses pembelajaran. Hasil jawaban angket siswa sesudah melaksankan proses pembelajaran dengan pembelajaran berdasarkan masalah. 1. Rela berkorban
  71. 71. 56 Menjelaskan subvariabel rela berkorban dapat dilihat pada tabel sebagai berikut: Responden %( Presentase ) Kriteria 45 siswa 89,46% Sangat Tinggi Perhitungan tersebut dapat dianalisis indikator rela berkorban %46,89%100 25 4025 =X Jawaban yang dikemukakan siswa tentang sikap rela berkorban pada 45 siswa, 36 siswa termasuk sangat tinggi dengan presentase 80% dan 9 siswa yang tergolong tinggi dengan presetase 20%. 2. Mengutamakan persatuan dan kesatuan Menjelaskan subvariabel mengutamakan persatuan dan kesatuan dapat dilihat pada tabel sebagai berikut: Responden %( Presentase ) Kriteria 45 siswa 85 % Sangat Tinggi Perhitungan tersebut dapat dianalisis indikator Mengutamakan persatuan dan kesatuan %85%100 45 3825 =X Jawaban yang dikemukakan siswa tentang sikap mengutamakan persatuan dan kesatuan pada 45 siswa, 29 siswa termasuk sangat tinggi dengan presentase 64,4 % dan siswa yang tergolong 16 tinggi dengan presetase 35,6%.
  72. 72. 57 3. Menghormati Pahlawan Indonesia Menjelaskan subvariabel menghortamati pahlawan indonesia dapat dilihat pada tabel sebagai berikut: Responden %( Presentase ) Kriteria 45 siswa 88,8 % Sangat Tinggi Perhitungan tersebut dapat dianalisis indikator menghormati pahlawan indonesia 18,88%100 45 3968 =X Jawaban yang dikemukakan siswa tentang sikap menghormati pahlawan indonesia 45 siswa, 27 siswa termasuk sangat tinggi dengan presentase 60 % dan siswa yang tergolong 18 tinggi dengan presetase 20%. 4. Memiliki kesadaran nasional Menjelaskan subvariabel memiliki kesadaran nasional dapat dilihat pada tabel sebagai berikut: Responden %( Presentase ) Kriteria 45 siswa 87, 64 % Sangat Tinggi Perhitungan tersebut dapat dianalisis indikator memiliki kesadaran nasional %64,87100 45 3944 =x
  73. 73. 58 Jawaban yang dikemukakan siswa tentang sikap menghormati pahlawan indonesia 45 siswa, 27 siswa termasuk sangat tinggi dengan presentase 60 % dan siswa yang tergolong 18 tinggi dengan presetase 20%. Uji Hipotesis d). Peningkatan pemahaman sikap nasionalisme Peningkatan Pemahaman Sikap Nasionalisme siswa SD Negeri Sekaran I Gunungpati Semarang berdasarkan data angket pemahaman sikap mengenai sikap nasionalisme termasuk diantaranya rela berkorban, mengutamakan persatuan dan kesatuan, menghormati pahlawan indonesia, memiliki kedasaran sejarah. Uji t hasil selengkapnya disajikan pada tabel Tabel Uji t Peningkatan prstasi belajar Sumber Variasi Nilai t T(0,95) 44 Jumlah n B Standar Deviasi 960,3 45 21,38 13,15 10,89 1,68 Berdasarkan tabel bahwa t hitung > t tabel (0,95) 44 dengan demikian dapat diketahui bahwa ada prestasi belajar setelah mengikuti pembelajaran berdasarkan masalah hasil perhitungan dapat dilihat pada lampiran ... d). Peningkatan prestasi belajar
  74. 74. 59 Peningkatan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri Sekaran I Gunungpati Semarang berdasarkan data pemahaman materi pergerakan nasional.Uji t hasil selengkapnya disajikan pada tabel Tabel Uji t Peningkatan sikap nasionalisme Sumber Variasi Nilai t T(0,95) 44 Jumlah n B Standar Deviasi 712 45 15,82 7,30 14,54 1,68 Berdasarkan tabel bahwa t hitung > t tabel (0,95) 44 dengan demikian dapat diketahui bahwa ada peningkatan sikap nasionalisme setelah mengukuti pembelajaran d). Uji Normalitas 1. Uji normalitas pemahaman sikap nasionalisme sebelum menggunakan pembelajaran berdasarkan masalah : x2 hitung = 4,6276 x2 tabel = 7,81 x2 hitung < x2 tabel yaitu 4.6276 < 7,81 karena x2 berada dalam daerah penerimaan HO maka distribusi data tidak berbeda dengan distribusi normal. Uji normalitas dapat dilihat pada lampiran .
  75. 75. 60 2. Uji normalitas pemahaman sikap nasionalisme sesudah menggunkan metode pembelajaran berdasarkan masalah : x2 hitung = 5,4394 x2 tabel = 7,81 x2 hitung < x2 tabel yaitu5,4394< 7,81 karena x2 berada dalam daerah penerimaan HO maka distribusi data tidak berbeda dengan distribusi normal. Uji normalitas dapat dilihat pada lampiran . 3.Uji normalitas materi pergerakan nasional sebelum menggunakan metode pembelajaran berdasarkan masalah x2 hitung = 6,4394 x2 tabel = 7,81 x2 hitung < x2 tabel yaitu6,4394< 7,81 karena x2 berada dalam daerah penerimaan HO maka distribusi data tidak berbeda dengan distribusi normal. Uji normalitas dapat dilihat pada lampiran . 4.Uji normalitas materi pergerakan nasional sesudah menggunakan metode pembelajaran berdasarkan masalah x2 hitung = 2,0814 x2 tabel = 7,81 x2 hitung < x2 tabel yaitu2,0814< 7,81 karena x2 berada dalam daerah penerimaan HO maka distribusi data tidak berbeda dengan distribusi normal. Uji normalitas dapat dilihat pada lampiran .
  76. 76. 61 Pembahasan
  77. 77. 61 BAB V PENUTUP A. Simpulan 1. Dari hasil penelitian rata-rata preastasi belajar adalah 59,44 dan sesudahnya 80,78. Angka tersebut menunjukan bahwa terjadi pengguasaan materi sejarah pergerakan nasional yang tinggi. 2. Pemahaman Sikap nasionalisme siswa kelas V SD Negeri Sekaran I Gunungpati Semarang tahun pelajaran 2006/2007 pada materi sejarah pergerakan nasional dengan menggunakan metode pembelajaran berdasarkan masalah terdapat kenaikan yang signifikan pemahaman sikap nasionalisme sebelum 71,34 dan sesudahnya 87,65 ada peningkatan 15,82 disebabkan karena pembelajaran berdasarkan memiliki ciri utama yaitu pengajuan pertanyaan atau masalah, memusatkan pada keterkaitan antar disilpin ilmu, penyelidikan autentik, kerjasama dan menghasilkan karya serta peragaan. B. Saran 1. Proses belajar mengajar sejarah hendaknya menggunakan metode pembelajaran berdasarkan masalah karena dapat meningkatkan pemahaman siswa pada materi sejarah
  78. 78. 63 2. Siswa dapat mempraktekan sikap pemahaman nasionalisme dalam kehidupan sehari-hari seperti disiplin dalam memanfaatkan waktu,menghargai jasa para pahlawan. 3. Guru dapat memvariasikan metode ceramah dengan metode pembelajaran berdasarkan masalah.
  79. 79. 61 DAFTAR PUSTAKA Ali, Muhammad.1985. Penelitian Kependidikan Prosedur dan Strategi. Bandung Angkasa. Ali, Muhammad.1977.Guru dalam proses belajar dan mengajar.Bandung: Sinar Baru Arikunto, Suharsimi.1997..Prosedur Penelitian suatu Praktek. Jakarta:Rineka Cipta. ------------------------.2002. Dasar-dasar Penelitian suatu Praktek. Jakarta : Bumi Aksara. Abdulgani Ruslan.1963.Pengantar Sejarah sebagai Ilmu.IKIP.Bandung. Apik Budi Santoso.2006.Pembelajaran Kontekstual disajikan dalam Seminar Jurusan Sejarah; Semarang, 19 Juli 2006. Budi Utomo Cahyo 1995. Dinamika Pergerakan Nasional Indonesia. Semarang.UNNES Press. Djoyomartono.1998.Penelitian Pendidikan. Jakarta :Rineka Cipta Darsono, Max.2002. Belajar dan Pembelajaran.UNNES:UNNES Press Ensiklopedi Nasional Indonesia.1999. PT.Delta Pamungkas. Hans Khons. 1976. Nasionlisme Arti dan Sejarahnya. Jakarta: Balai Pustaka. Ibrahim Muslim & M. Pengajaran berdasarkan Masalah.UNNESA:Surabaya Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1998. Depdikbud. Jakarta: Balai Pustaka. Latuheru, John .D.1988.Pembelajaran dalam proses belajar dan mengajar masa kini.`Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Mulyaharjo Redja.1998. Pengantar Pendidikan. Jakarta:Grafindo Perkasa. Rachman Maman.2004. Konsep dan Analisa Statistik. Semarang.UNNES Press. Sahertian, P.A. 2002.Konsep dasar dan tehnik supervisi dalam rangka pengembangan SDM. Jakarta: Rineka Cipta
  80. 80. 65 Standar Kompentensi Mata Pelajaran Sekolah Dasar dan MI 2004.Depdikbud: UNNES Press. Suryosubroto,B.2002. Proses belajar dan mengajar di sekolah.Jakarta:Rineka Cipta Saidiharjo.2004.Cakrawala IPS.Untuk SD dan MI.Surakarta.Jatra Grafika. Sri Warni.2003.korelasi antara prestasi belajar sejarah dengan sikap nasionalisme pada pokok bahasan zaman pergerakan nasional di kelas V SD N Kembang Arum Kab. Demak tahun ajaran 2002/2003. Slameto.1998 .Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta Soewarso.2002. Cara-cara Penyampian Sejarah untuk Membangkitkan Minat Peserta didik Dirjen Dikti: Jakarta. Soegito.A.T.2006.Pendidikan Pancasila.UNNES:UNNES Press Sudjana,2002. Metode Statistika.Tarsito:Bandung. Sugito Sukewi.1994.Perencanaan Pembelajaran .Semarang: IKIP Semarang Surya Moh& Moh.Amin.1980. Pengajaran Remidial.Depdikbud:Jakarta. Usman, Moh Uzer.2001.Menjadi Guru Yang Profesional.Rosda Karya:Bandung Widya.I.Gedhe.1989.Dasar-dasar Pengembangan Strategi serta Metode Pengajaran Sejarah. Dirjen Dikti: Jakarta. www.Goegle.Nasionalisme
  81. 81. 66
  82. 82. 65 Lampiran 1. ANGKET PEMAHAMAN SIKAP NASIONALISME SD NEGERI SEKARAN I GUNUNGPATI SEMARANG 1. Apabila terjadi bencana Tsunami di Aceh, gempa di Yogyakarta saya akan membantu dengan mengumpulkan uang,pakian, yang layak…………… a. Sangat Setuju d. Tidak Setuju b. Setuju e. Sangat tidak Setuju c. Ragu-ragu 2. Apakah saya lebih suka menonton wayang daripada kartun Jepang…… a. Sangat Setuju d. Tidak Setuju b. Setuju e. Sangat tidak Setuju c. Ragu-ragu 3. Budi Utomo mempelopori lahirnya organisasi oleh karena itu, tanggal lahirnya di peringati sebagai hari Kebangkitan Nasional……… a. Sangat Setuju d. Tidak Setuju b. Setuju e. Sangat tidak Setuju c. Ragu-ragu 4. Peran saya (pelajar) dalam mengisi kemerdekaan dengan belajar sungguh- sungguh……. a. Sangat Setuju d. Tidak Setuju b. Setuju e. Sangat tidak Setuju c. Ragu-ragu 5. Saya bangga dengan perjuangan pahlawan Indonesia…….. a. Sangat Setuju d. Tidak Setuju b. Setuju e. Sangat tidak Setuju c. Ragu-ragu 6. R.A.Kartini mempelopori gerakan wanita di Indonesia, maka beliau di kenal dengan pahlawan emansipasi wanita………… a. Sangat Setuju d. Tidak Setuju
  83. 83. 66 b. Setuju e. Sangat tidak Setuju c. Ragu-ragu 7. Pergerakan Nasional di pelopori oleh para pelajar untuk mengisi kemerdekaan dengan belajar, berusaha dan berdoa…….. a. Sangat Setuju d. Tidak Setuju b. Setuju e. Sangat tidak Setuju c. Ragu-ragu 8. Dalam peringatan Hari Kemerdekaan RI saya memilih memperingati upacara hari kemerdekaan di sekolah, dari pada menonton panjat pinang yang diselenggarakan oleh RT……… a. Sangat Setuju d. Tidak Setuju b. Setuju e. Sangat tidak Setuju c. Ragu-ragu 9. Golongan terpelejar seperti Ciptomangunkusumo, Suryadi Suryaningrat, KI.Hajardewantoro tampil mempelopori pergerakan nasional yang disebut dengan tiga serangkai………………… a. Sangat Setuju d. Tidak Setuju b. Setuju e. Sangat tidak Setuju c. Ragu-ragu 10. Di sekolah terdapat peraturan bagi siswa maka saya wajib untuk mentaati a. Sangat Setuju d. Tidak Setuju b. Setuju e. Sangat tidak Setuju c. Ragu-ragu 11. Pada waktu tidak mendapat giliran piket, saya membantu teman yang mendapat giliran, karena tidak ada yang membantu……. a. Sangat Setuju d. Tidak Setuju b. Setuju e. Sangat tidak Setuju c. Ragu-ragu 12. Pada waktu di kampung ada peringatan HUT RI ke-62, makan saya akan berpartisipasi aktif………
  84. 84. 67 a. Sangat Setuju d. Tidak Setuju b. Setuju e. Sangat tidak Setuju c. Ragu-ragu 13. Apabila saya di pilih menjadi petugas uapcara hari senin maka saya akan berangkat lebih awal…….. a. Sangat Setuju d. Tidak Setuju b. Setuju e. Sangat tidak Setuju c. Ragu-ragu 14. Karena jasanya dalam bidang pendidikan maka lahirnya KI.Hajardewantoro di peringati sebagai hari pendidikan nasional a. Sangat Setuju d. Tidak Setuju b. Setuju e. Sangat tidak Setuju c. Ragu-ragu 15. Pada waktu di pilih untuk mewaliki sebagai wakil kelas untuk lomba melukis saya akan menggambar Tajmahal……. a. Sangat Setuju d. Tidak Setuju b. Setuju e. Sangat tidak Setuju c. Ragu-ragu 16. M.Hatta di pilih sebagai ketua PNI Baru karena beliau giat memberikan penguluhan tentang koperasi, maka beliau di angkat sebagai bapak koperasi…. a. Sangat Setuju d. Tidak Setuju b. Setuju e. Sangat tidak Setuju c. Ragu-ragu 17. Saya sebagai siswa Sekolah Dasar untuk mengetahui sejarah bangsa Indonesia maka harus belajar dengan rajin…… a. Sangat Setuju d. Tidak Setuju b. Setuju e. Sangat tidak Setuju c. Ragu-ragu 18. Hari Kebangkitan Nasional di peringati setiap tanggal 20 Mei…….. a. Sangat Setuju d. Tidak Setuju
  85. 85. 68 b. Setuju e. Sangat tidak Setuju c. Ragu-ragu 19. Saya lebih suka berdarmawisata ke museum dari pada ke Taman Mini…… a. Sangat Setuju d. Tidak Setuju b. Setuju e. Sangat tidak Setuju c. Ragu-ragu 20. Bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa……… a. Sangat Setuju d. Tidak Setuju b. Setuju e. Sangat tidak Setuju c. Ragu-ragu Lampiran DAFTAR RESPONDEN NO NAMA L/P 1 AGUNG SUSILO L 2 WARSITO L
  86. 86. 69 Lampiran 20 PROFILE SEKOLAH NO SEKOLAH IDENTITAS SEKOLAH 1 NAMA SEKOLAH SD NEGERI SEKARAN I 3 AHMAD SEPTIAN L 4 YONGKI LILIK L 5 WAHYU NUGROHO L 6 ANGGA WIJANARKO L 7 KASTUN P 8 LILIS SETYAWATI P 9 PURWANTO L 10 RESA REISA P 11 RISMA WIDAYANTI P 12 SEPTI FITRI EKA P 13 ELSA AYU SANTIKA P 14 KHOIRUL ANAS P 15 LISA NURJANAH P 16 SUCITRA INDAH SARI P 17 ERYTRINA SEKAR RANI P 18 GIGIH RESA PRASETYO L 19 IRNA NUR APITASARI P 20 FENI AFLIANTO P 21 SITI MUNANDIROH P 22 YUSRINA IMAN P 23 RIKA NURJANTI P 24 ROEKY LEONARDO L 25 ROBY EKA FALDI L 26 SEPTIANA TUTUARIMA P 27 FRISKA AYU DIAH P 28 ITA NUR LAILATUS SHIFA P 29 DYAH AJI SAPUTRI P 30 DWI SETYANINGSIH P 31 WAHYU MUSTIKA DEWI P 32 INDAH PUJI S P 33 VIGIH VIDIANTO L 34 FAJAR NANANG M L 35 ERLINA HARYONO P 36 RISKA KURNIA D P 37 HENDRA HABI W L 38 YULIANA INDAH P 39 RIZAH PRIHARTONO L 40 M. HILAL F L 41 SEPTIAN ALDY L 42 ERIKA FIRTIANI P 43 ERNI SUSANTI P 44 RIO SEBASTIAN L 45 SETIA ADI WICAKSONO L
  87. 87. 70 2 N.I.S 100280 3 N.S.S 1010363030 4 PROPINSI JAWA TENGAH 5 OTONOMI KOTA SEMARANG 6 KECAMATAN GUNUNGPATI 7 DESA/KELURAHAN SEKARAN 8 Jln.& NOMOR URUT Jln. Raya Sekaran 9 KODE POS 50229 10 TELEPON 024 (8508281) 11 STATUS NEGERI 12 LUAS BANGUNAN 2.150 m 13 KELOMPOK SEKOLAH INTI 14 TAHUN BERDIRI 1928 15 KEGIATAN BELAJAR PAGI 16 BANGUNAN SEKOLAH SENDIRI 17 TERLETAK PADA LINTASAN DESA, KECAMATAN, KOTA PROPINSI 18 ORGANISASI PENYELENGGARA PEMERINTAH Lampiran 2 Kelompok 1 Agung Susilo Wahyu Nugroho Warsito Angga Wijanarko
  88. 88. 71 Ahmad Septian Kastun Yongki Lilik Lilis Seytawati Purwanto 1. Adakah hubungan antara tokoh pergerakan nasional dengan zaman kemerdekaan? Tokoh-tokoh pergerakan nasional merupakan salah satu pendorong bagi kemerdekaan Indonesia sehingga dapat menjadi semangat bagi rakyat Indonesia . 2. Mengapa zaman kemerdekaan banyak didukung oleh para bangsawan,para priyari, dan para pelajar/ Karena para pahlawan dan kaum terpelajar dapat memperoleh pendidikan di luar negeri sehingga dapat menjadi perbendingan adanya pergerakan dinegara lain. 3. Bagaiman peran wanita pada zaman sekarang? Bagaimana kamu menyingkapi emansipasi wanita sekarang? Peran wanita pada zaman sekarang dapat dilihat dari banyaknya perempuan- perempuan yang berusaha untuk lebih maju dari kaum lelaki mereka dapat sama-sama duduk dalam pekerjaan yang sama. 4. Apa yang dapat kamu lakukan untuk menghargai jasa para pahlawan? Yang saya lakukan adalah dengan belajar dengan sungguh-sungguh untuk mengisi kemerdekaan dengan tidak lupa berdoa, berkerja ,dan berusaha. 5. Apa perbedaan organisasi pada zaman pergerakan dengan organisasi setelah kemedekaan ? Zaman Pergerakan Lebih tertutup karena lebih bersifat kedaerahan Tergantung kepada pemimpin apabila pemimpin wafat maka perjuangan berhenti Menggunakan kekuatan senjata Zaman setelah kemerdekaan

×