• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Metode penelitian sastra
 

Metode penelitian sastra

on

  • 10,038 views

 

Statistics

Views

Total Views
10,038
Views on SlideShare
10,038
Embed Views
0

Actions

Likes
1
Downloads
124
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Metode penelitian sastra Metode penelitian sastra Document Transcript

    • 60. Dan (Ingatlah) ketika Musa Berkata kepada muridnya[885]: "Aku tidak akan berhenti(berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau Aku akan berjalan sampaibertahun-tahun".61. Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, laluikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.62. Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: "Bawalahkemari makanan kita; Sesungguhnya kita Telah merasa letih Karena perjalanan kita ini".63. Muridnya menjawab: "Tahukah kamu tatkala kita mecari tempat berlindung di batu tadi,Maka Sesungguhnya Aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakanAku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan carayang aneh sekali".64. Musa berkata: "Itulah (tempat) yang kita cari". lalu keduanya kembali, mengikuti jejakmereka semula.65. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba kami, yang Telah kamiberikan kepadanya rahmat dari sisi kami, dan yang Telah kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisiKami[886].66. Musa Berkata kepada Khidhr: "Bolehkah Aku mengikutimu supaya kamu mengajarkankepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang Telah diajarkan kepadamu?"67. Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama Aku.68. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuanyang cukup tentang hal itu?"69. Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapati Aku sebagai orang yang sabar, dan Akutidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun".70. Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, Maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentangsesuatu apapun, sampai Aku sendiri menerangkannya kepadamu".71. Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhrmelobanginya. Musa berkata: "Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamumenenggelamkan penumpangnya?" Sesungguhnya kamu Telah berbuat sesuatu kesalahan yangbesar.72. Dia (Khidhr) berkata: "Bukankah Aku Telah berkata: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidakakan sabar bersama dengan aku".
    • 73. Musa berkata: "Janganlah kamu menghukum Aku Karena kelupaanku dan janganlah kamumembebani Aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku".74. Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, MakaKhidhr membunuhnya. Musa berkata: "Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukanKarena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu Telah melakukan suatu yang mungkar".75. Khidhr berkata: "Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya kamu tidakakan dapat sabar bersamaku?"76. Musa berkata: "Jika Aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, Makajanganlah kamu memperbolehkan Aku menyertaimu, Sesungguhnya kamu sudah cukupmemberikan uzur padaku".77. Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri,mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamumereka, Kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh,Maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: "Jikalau kamu mau, niscaya kamumengambil upah untuk itu".78. Khidhr berkata: "Inilah perpisahan antara Aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukankepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.79. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan Akubertujuan merusakkan bahtera itu, Karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampastiap-tiap bahtera.80. Dan adapun anak muda itu, Maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatirbahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.81. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lainyang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibubapaknya).82. Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnyaada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, MakaTuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkansimpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah Aku melakukannya itu menurutkemauanku sendiri. demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabarterhadapnya".[885] menurut ahli tafsir, murid nabi Musa a.s. itu ialah Yusya bin Nun.
    • [886] menurut ahli tafsir hamba di sini ialah Khidhr, dan yang dimaksud dengan rahmat di siniialah wahyu dan kenabian. sedang yang dimaksud dengan ilmu ialah ilmu tentang yang ghaibseperti yang akan diterangkan dengan ayat-ayat berikut.
    • Metode Penelitian SastraDAFTAR ISIPROBLEM PENELITIAN SASTRA A. Ketimpangan Penelitian Sastra B. Kemiskinan Teoridan Ilmu Sastra C. Kerancuan Istilah Penelitian Sastra D. Persoalan Metode, Teknik, danPendekatanMANAJEMEN SASTRA A. Peranan Penelitian Sastra B. Penelitian Sastra Yang Kreatif C.Kemitraan Penelitian Sastra D. Diseminasi Penelitian SastraEPISTEMOLOGI PANELITIAN SASTRA A. Seluk beluk Epistemologi B. Penelitian sastraSebagai Ilmu C. Antara Subyektivitas dan Obyektivitas D. Positivisme dan Konstruk PenelitianSastraALIRAN PENELITIAN A. Ciri Aliran Penelitian Klasik B. Penelitian Beraliran Ekspresivisme1. Munculnya ekspresivisme 2. Kritik Ekpresivisme 3. Aspek yang diungkap C. PenelitianBeraliran Romantisme D. Penelitian beraliran Simbolisme dan MistisismeMODEL BARU PENELITIAN SASTRA A. Grounded Research B. Kajian Fenomenologi Sastra1. Titik Tolak fenomenologi Sastra 2. Ruang Lingkup Pembahasan C. Kajian HermeneutikSastra 1. Pentingnya Hermeneutik 2. Langkah Kerja dan Aspek KajianPENELITIAN FORMALITAS DAN STRUKTURALISME MURNI A. Prinsip StrukturalismeB. Kelebihan Dan Kelemahan Strukturalisme C. Langkah Kerja StrukturalismePENGEMBANGAN PENELITIAN STRUKTURAL SASTRA 1. Strukturalisme Genetik 2.Strukturalisme Dinamik 3. Strukturalisme SemiotikPENELITIAN SOSIOLOGI SASTRA A. Sosiologi Sastra 1. Rasionalisasi Sosiologi Sastra 2.Prespektif Sosiologi Sastra B. Sasaran Penelitian Sosiologi Sastra 1. Fungsi Sosial Sastra 2.Produksi dan Pemasaran SastraPENELITIAN PSIKOLOGI SASTRA A. Landasan Pijak Psikologi Sastra B. PendekatanPsikologi Sastra 1. Beberapa Kemungkinan Kajian 2. Kajian Estetika Eksperimental C.Psikoanalisa 1. Hubungan Sastra Dan Psikoanalisa 2. Alam Bawah Sadar D. Langkah dan ProsesAnalisisPENELITIAN ANTROPOLOGI SASTRA A. Ruang Lingkup Antropologi Sastra B. Fokus danProses Analisis Antropologi Sastra C. Analisis Mitos Model Levi-Strauss 1. Keunikan MitosSebagai Bahan Kajian 2. Sistem Oposisi 3. Langkah AnalisisPENELITIAN PRAGMATIK DAN RESEPSI SASTRA A. Antara Penelitian Pragmatik danResepsi B. Dasar Penelitian Sastra C. Aspek Penelitian Resepsi Sastra D. Analisis Resepsi sastra1. Pendekatan Yang Digunakan 2. Horison Pembaca Dan Kategori Pembaca
    • PENELITIAN SASTRA BANDINGAN A. Konsep Sastra Bandingan 1. Hakikat Kajian SastraBandingan 2. Ilmu Sastra Bandingan B. Intertekstualitas dan Sastra Bandingan 1. OrisinalitasTes 2. Pokok Kajian Interteks C. Sastra Bandingan, Sastra Nasional, dan Sastra Dunia D. RuangLingkup Sastra Bandingan E. Konsep Pengaruh dalam Sastra Bandingan F. Metode SastraBandingan DAFTAR PUSTAKAPROBLEMA PENELITIAN SASTRAA. Ketimpangan Penelitian Sastra Penelitian sastra sampai saat ini memang cenderung masihberat sebelah. Maksudnya di beberapa lembaga penelitian dan perguruan tinggi sastra orientasipenelitian masih terbatas pada teks sastra. Akibatnya, hasil penelitian sastra cenderung bersifatdeskriptif belaka. Di beberapa sentral penelitian, hasil penelitian pada umumnya masih berkutatpada hal-hal teoritik sastra. Yakni, sebuah wilayah penelitian sastra untuk sastra. Orientasisemacam ini sering dianggap kurang lengkap, karena karya sastra sebenarnya merupakan bahankomunikasi antara pengarang dengan pembaca. Kepincangan penelitian sastra yang terasasampai saat ini adalah masih jarang peneliti yang berani menerapkan metode eksperimen.Padahal, penelitian yang satu ini sedikit banyak akan melengkapi makna yang selama initerabaikan. Pemakaian metode ini sekurang-kurangnya akan mampu mengungkap seberapa jauhtanggapan pembaca sastra, sebab pembaca merupakan bagian penting dalam rangkapengembangan sastra ke depan. Tanpa memperhatikan aspek pembaca, tentunya penelitian sastraakan semakin kurang bermakna.B. Kemiskinan Teori dan Ilmu Sastra Banyak pihak mensinyalir bahwa penelitian sastra kitamasih tergolong “ringan” kadar keilmiahanya. Ini ditandai adanya seminar penelitian sastra diberbagai tempat, yang ternyata, tidak atau belum dan kurang memiliki bobot karakteristikpenelitian ilmiah. Ini menyebabkan kondisi penelitian sastra sukar dibedakan dari komentarsastra dan atau kritik sastra. Penelitian sastra menjadi sukar dibedakan dari timbangan buku ataukarya yang masih ringan bobotnya. Minimnya teori penelitian sastra, sering berakibat “comotsana-sini” dan memungut teori asing yang kurang mengakar pada si pemakai teori. Adopsi teoribarat tersebut umumnya disadap mentah-mentah, bahkan kadang-kadang kurang relevan denganeksistensi sastra kita. Jarang sekali, teori sastra barat yang dikombinasi dengan “teori dalamnegeri” yang lebih membumi. Akibatnya, ada “pemaksaan” teori sastra asing yang kurang siapuntuk memasuki sastra di Indonesia. Meskipun mengambil teori asing itu sah-sah saja dan takharam, namun tanpa kecerdasan si pemakai hanya akan “mengotori” penelitian sastra kita.C. Kerancuan Istilah Penelitian Sastra Penelitian sastra sering disejajarkan dengan kajian, telaah,studi dan kritik akademis. Hanya saja yang sedikit berbeda adalah kritik sastra. Sedangkankajian, telaah dan studi kurang lebih memiliki tujuan yang sama yaitu memahami karya sastra.Beberapa istilah tersebut selalu berusaha mendalami karya sastra menggunakan paradigmapemikiran tertentu. Istilah-istilah di atas akan dilalui melalui “pintu masuk” yang dinamakanmemahami sastra. Membaca sastra di berbagai tingkat, ruang, umur, akan berbeda satu samalain. Karenanya, membaca sastra di Perguruan Tinggi otomatis akan memiliki tekanan yangberbeda dengan membaca sastra di sekolah sebelumnya. Tingkat kecermatan membaca sastra(prosa, puisi, dan drama) di Perguruan Tinggi telah ke arah pemahaman sebagai studi (kritik danpenelitian), sedangkan di sekolah bawahnya lebih cenderung ke apresiasi biasa untukkenikmatan.
    • D. Persoalan Metode, Teknik, dan Pendekatan Karya sastra adalah fenomena unik. Ia jugafenomena organik. Di dalamnya penuh serangkaian makna dan fngsi. Makna dan fungsi inisering kabur dan tak jelas. Oleh karena, karya sastra memang syarat dengan imajinasi. Itulahsebabnya, peneliti sastra memiliki tugas untuk mengungkap kekaburan itu menjadi jelas. Penelitisastra akan mengungkap elemen-elemen dasar pembentuk sastra dan menafsirkan sesuaiparadigma dan atau teori yang digunakan. Tugas demikian, akan menjadi bagus apabila penelitimemulai kerjanya atas dasar masalah. Tanpa masalah yang jelas dari karya sastra yang dihadapitentu kerja penelitian juga akan menjadi kabur. Manakala penelitian kabur dan karya sastra itusendiri sebagai fenomena yang kabur, tentu hasilnya tidak akan optimal. Itulah sebabnyakepekaan peneliti sastra untuk mengangkat sebuah persoalan menjadi penting. Pendekatanpenelitian ada bermacam-macam, tergantung sisi pandang peneliti. Semakin rinci jenispendekatan yang dipilih, tentu penelitian akan semakin sempit dan detail. Tentang nama-namapendekatan itupun masing-masing ahli tampaknya bebas memberikan pendapat. Masing-masingpendekatan juga memiliki arah dan sasaran penelitian yang berbeda-beda. Secara garis besar,Tanaka (1976:9) mengenalkan dua pendekatan yaitu : (1) mikro sastra dan karya sastra dapatberdiri sendiri tanpa bantuan aspek lain disekitarnya. Sebaliknya, makro sastra adalahpemahaman sastra dengan bantuan unsur lain di luar sastra. Dua tawaran pendekatan tyersebutsebenarnya sejajar dengan pendekatan Wellek dan Warren (1989), yaitu pendekatan intrisik danekstrisik. Pendekatan intrisik adalah penelitian sastra yang bersumber pada teks sastra itu sendirisecara otonom. Sedangkan pendekatan ekstrinsik adalah penelitian unsur-unsur luar karya sastra.Yakni pengkajian konteks karya sastra diluar teks.MANAJEMEN SASTRAA. Peranan Penelitian Sastra Penelitian sastra memiliki peranan penting dalam berbagai aspekkehiduypan manusia, di samping juga berpenrgaruh positif terhadap pembinaan danpengembangn sastra itu sendiri (Tutoli, 1990:902). Peranan semacam ini nakan mencapi optimalapabila penelitian sastra tersebut dilakukan sunghguh-sungguh. Pencapaian sastra yang sekedarasl-asalan, hanya akan melahirkan sampah saja, dan mungkin justru merongrong eksistensi sastraitu sendiri. Lebih khusus lagi, tujuan dan peranan penelitian sastra adalah nuntuk memahamimakna karya sastra sedalam-dalamnya (Pradopo, 1990:942). Berarti penelitian sastra dapatberfungsi bagi kepentingan di luar sastra dan kemajuan sastra itu sendiri. Kepentingan di luarsastra, antara lain, jika penelitian tersebut berhubungan dengan aspek-aspek di luar sastra, sepertiagama, filsafat, moral, dan sebagaqinya. Sedangkan kepentingan bagi sastra adalah untukmeningkatkan kualitas cipta sastra. Peranan penelitian sastra bagi aspek di luar sastradipengasruhi oleh kandungan sastra sebagai dokumen zaman. Di dalamnya, karya sastra akanmenjadi saksi “sejarah” yang dapat mengembangkan ilmu lain begitu juga sebaliknya. Peranansemacam ini boleh dikatakan sebagai aspek pragmatika penelitian sastra. Hal ini akan membukakerjasama yang baik antar disiplin ilmu, antara sastra dengan bidang lain. Lebih jauh lagi,penelitian sastra juga akan membantu penmgembangan teori sastra, penulisan sejarah sastra, danmeperluas apresiasi pembaca.B. Penelitian Sastra Yang Kreatif Penelitin sastra, akan mengikuti sistem berpikir ilmiah,menggunakan metode, teori, mlogis, analitis dan kreatif. Syarat kreatif ini, merupakan upayainterpretasi dan evaluasi teks sastra. Jika penelitian sastra masih sebatas kajian unsur-unsurbelum dapat dikatakan kreatif, karena kerja semacam itu belum secara suntuk menggunakan
    • intuisi dan wawasan yang tajam. Kemampuan penelitian sastra yang kreatif, cukup pentingkarena karya sastra sendiri sebuah fenomena kreatif (Atmazakli, 1993:114-115). Sebagai karyakreatif, tentu perlu ditanggapi secara kreatif pula. Penelitian sastra yang kreatif juga akanmeninggalkan kejenuhan. Jika penelitian sastra hanya statis, mungkin sekali akan membosankanbagi peneliti dan pembaca hasil penelitian. Penelitian sastra yang tak kreatif, hanya kemungkinanakan melahirkan potongan-potongan dan komentar teks sastra.C. Kemitraan Penelitian Sastra Selama ini, diakui atau tidak, kemitraan penelitian sastra masihsangat lemah. Kemitraan antar lembaga penelitin dan individu masih sangat “tertutup” atauterbatas. Jika ada kemitraan, kemungkinan masih dalam komunitas kecil (intern) saja. Padahalsebenarnya penelitian sastra sangat terbuka kesempatan kerjasama dan interdisipliner, sehinggaakan dihasilkan karya penelitian yang handal. Kemitraan penelitian dalam lingkup kecil,biasanya lebih bersifat personal atau antar peneliti saja. Di antara peneliti dari dua atau lebihlembaga yang berbeda, yang ikhlas memang seringkali tukar-menukar hasil penelitian. Dengancara barter hasil penelitian ini, diharapkan akan memberi wawasan baru penelitian sastra. Hal inipenting, kalau dilakukan secara rutin. Apalagi, kalau kemitraan personal itu terjadi dalam skrupwilayah jangkuan yang luas. Misalkan antar teman peneliti di luar propinsi atau kota, dan bahkanlebih hebat lagi antar negara. Paling tidak setiap peneliti akan sedikit tahu peerkembanganpenelitian pada wilayah lain.D. Diseminasi Penelitian Sastra Tanpa diseminasi, hasil penelitian akan sia-sia. Penelitian sastrahanya akan tertumpuk di rak atau meja. Artinya, penelitian tersebut belum atau tidakmemberikan sumbangan berharga bagi pertumbuhan sastra. Padahal dari aspek kuantitas,penelitian sastra di Indonesia jelas cukup melimpah. Di berbagai perguruan tinggi yangmembuka jurusan sastra, telah menumpuk skripsi, tesis, disertasi, dan sejumlah penelitian sastra.Sayangnya, karena tak dikelola secara optimal, penyebaran karya penelitian tersebut ke berbagaiwilayah yang mungkin ingin membaca, kurang terpercaya. Kalau penelitian sendiri atau lembagayang bersangkutan akan mengirimkan hasil penelitian ke berbagai instansi, masalahnya terletakpada keterbatasan dana. Hal ini jelas memerlukan perhatian para pemerhati sastra. Kalau skripsidan tesis yang berkualitas dan menarik, mungkin akan sedikit menolong diseminasi penelitiansastra. Namun perlu diingat, penerbitan buku jelas mengutamakan tema-tema yang marketable,bukan aspek keilmiahan semata. Padahal hasil penelitian sastra kadang-kadang ada yang sangatteknis, memuat istilah-istilah kering, dan jargon-jargon penelitian yang mungkin kurang menarikbagi penerbit. Karenanya, hal ini membutuhkan kelihaian peneliti untuk menyiasati agar mampumenyajikan hasil penelitian ke dalam bentuk buku-buku yang enak dibaca.EPISTEMOLOGI PANELITIAN SASTRAA. Seluk beluk Epistemologi Epistemologi bersal dari bahasa Yunani, episteme, artinyapengetahuan dan logos artinya ilmu. Epistomologi adalah dasar-dasar filosofi ilmu pengetahuan.Menurut Foucault (Kurniawan, 2001:36-37) Episteme adalah sistem apriori historis tertentudalam suatu zaman yang tidak disadari oleh orang-orang pada zxaman itu, tetapi secaratersembunyi menentukan pemikiran, pengamatan, dan pembicaraan mereka. Epistemesebenarnya merupakan sekumpulan relasi yang menyatukan, pada periode tertentu, praktek-praktek diskursif yang memberi kemunculan bentuk-bentuk epistemologi, ilmu-ilmu dankemungkinan sistem-siste yang diformulasikan, suatu cara yang setiap formulasi-formulasi
    • diskursif ini transisi-transisi ke pengepistemologian, keilmiahan, dan formula disituasikan dandioperasikan. Dari pendapat demikian, epistomologi sesungguhnya merupakan systempengetahuan yang tertata, teratur dan logis. Epistomologi adalah ilmu tentang metodologi dandasar-dasar pengetahuan dengan keterbatasan dan kekuasaannya. Dari sini akan diperolehpemahaman epistomolog sastra berarti juga hal ihwal yang menyangkut aspek hakikatmetodologis penelitian sastra. Aspek ini mestinya mampu mengemukakan hal-hal mana yangdapat dikategorikan sastra dan non sastra, mana yang menjadi obyek penelitian dan mana yangbukan, serta bagaimana kajian yang lebih sistematis.B. Penelitian sastra Sebagai Ilmu Ada sebuah artikel kecil yang mempertanyakan keberadaanpenelitian sastra, yaitu “ dapatkah karya sastra diteliti ?. Pertanyaan yang sebenarnya tidak harusdijawab dengan kusir ini, sebenarnya mengarahkan agar peneliti sastra perlu bersikap hati-hati.Peneliti yang berhadapan dengan sastra, berarti akan terkait dengan sejumlah fakta yang “luarbiasa” dan unik. Artinya di dalam karya sastra akan mencerminkan berbagai fakta yangkemungkinan membutuhkan kecermatan dalam penelitian. Sastra, pada dasarnya akanmengungkapkan kejadian. Namun kejadian tersebut bukanlah “fakta sesungguhnya” melainkansebuah fakta mental pencipta. Pencipta sastra telah mengolah halus fakta obyektif menggunakandaya imajinasi, sehingga tercipta fakta mental imajinatif. Dari sini jika peneliti hendakmengungkap fakta tersebut tentu memerlukan kejelian. Tantangannya tak lain, penliti harus tepatdalam menerapkan metode penelitian sastra. Jika tidak, kemungkinan besar akan menghasilkanpenelitian yang bisa data.C. Antara Subyektivitas dan Obyektivitas Peneliti sastra kadang-kadang dianggap latah dan sisa-sia. Maksudnya, peranan penelitian yang langsung dapat dipetik darinya, tetap diragukan olehbanyak pihak. Karena, ada berbagai hal yang tetap dianggap misteri dalam konteks penelitiantersebut. Setidaknya, dari sisi keilmiahan penelitian sastra sering dianggap rendah. Oleh karena,karya sastra sebagai fenomena imajinatif yang sulit dideteksi dan diukur validitasnya. Itulahsebabnya kejanggalan dalam penelitian sastra selalu muncul. Jik penelitian sastra tadi benar-benar telah dilakukan, seringkali juga dianggap terlalu akademis. Bahkan seringkali adaperlakuan”mati” terhadap karya sastra oleh si peneliti. Maksudnya peneliti sekedar bertindakseperti seorang dokter bedah mayat yang ada di rumah sakit. Akibatrnya, sisi-sisi kemanusiaanyang lekat dalam karya sastra sulit tertangkap. Jika yang terakhir ini pun sulit terhindarkan.Akhirnya, ilmuwan dan peneliti sastra selalu menjadi hamba yang tak pernah sampai dalammemahami karya sastra.D. Positivisme dan Konstruk Penelitian Sastra Positivisme adalah paham filosofi yang mendasaripeneliti melakukan kajian. Mereka meyakini bahwa karya sastra sebagai ungkapan pandanganhidup atau iklim perasaan dalam masyarkat. Kaum positivistic beranggapan bahwa : (a) adahubungan kasualitas antara kehidupan dengan karya seorang pengarang, (b) sesuatu dapatditerangkan apabila sebabnya dapat dilacak kembali(orientasi sejarah), (c) sastra dapatditerangkan secara tuntas dengan menelusuri kembali sejarah terjadinya, misalnya fakta hiduppengarang, kejadian geografik dan historis. Dari tiga ciri tersebut, tampak bahwa kaumpositivistic lebih mengedepankan regularitas penelitian. Fenomenba sastra dengan sendirinyadianggap memiliki regularitas seperti halnya ilmu alam. Kepastian makna menjadi cirri pahamini, maka mereka mempercayai bahwa setiap sastra dianggap memiliki nilai didik yang positif.
    • Karya sastra akan menyampaikan tujuan tertentu yang mengikuti hubungan kausal. Hal iniberarti bahwa prinsip keajegan selalu dipegang oleh paham positivistic.ALIRAN PENELITIANA. Ciri Aliran Penelitian Klasik Aliran penelitian sastra adalah sebuah kecenderungan yangtampil pada suatu zaman. Setiap era kadang-kaddang memiliki tedensi yang berbeda-beda,sehgingga melahgirkan aliran tertentu pula. Berbagai aliran sastra memang cukup banyakjumlahnya. Setiap aliran sastra, disadari atrau tidak juga telah mewarnaai lahirnya berbagaimodel atau pendekatan penelitian sastra. Oleh karena, setiap peneliti kadang-kadang terbawaarus dan secara sadar mengikuti aliran tersebut. Aliran yang tergolong klasik dan modern jugaseringkali mewarnai arah penelitian sastra. Seorang peneliti yang dihadapkan pada suatru aliran,secara otomatis akan mengkuti aliran tersebut dalam penelitiannya. Karenanya, seorang penelitrilalu menciptakan sisi pandang tertentu dalam pemahaman karya sastra. Cara pandang inilah yangkelak sering dinamakan pendekatan. Pendekatan klasik penelitian sastra, pada awanya berasaldari Yunani dan Romawi Kuno. Namun penelitian klasik selanjutnya tidak selalu demikian.Pelitian sastra yang selalu mengandalkan logika, akal, dan menekankan bahwa karya sastra harusmemenuhi fungsinya, termasuk penelitian klasik. Penelitian klasik, yang sering dinamakanpendekatan tradisional, memiliki ciri-ciri sebagai berikut : (1). Hasil penelitian sastra harussejalan dengan tujuan yang disampaikan penulisnya. (2). Penelitian sastra mmenggunakanpendekatan klasik biasanya menekankan pada ajaran moral karya sastra.B. Penelitian Beraliran Ekspresivisme 1. Munculnya ekspresivisme Penelitian ekspresivismesastra adalah model penelitian yang jarang dilakukan oleh peneliti sastra. Penelitian yang berupakajian semi-psikologis ini mungkin kurang menarik dan atau dipandang kurang menguntungkanbagi penelitinya. Mungkin sekjali, pengarangnya telah tiada, atau jauh dari pembaca. Karenanyajika penelitian ekspresivisme sekadar bersumber pada teks sering dianggap kurang lengkap.Penelitian ekspresivisme lebih memandang karya sastra sebagai eskpresi dunia batinpengarangnya. Karya diasumsikan sebagai curahan gagasan, angan-angan, cita-cita, pikiran,kehendak, dan pengalaman batin pengarang. Tentu saja, pengalaman itu telah dimasak dandiendapkan dalam waktu yang relatif panjang, sehingga bukan berupa pengalaman mentah yangterputus-putus. Pengalaman batin itu akan menjadi pendorong kuat bagi lahirnya karya sastra.Pengalaman tersebut lebih individual dan bersifat imajinasi yang disintesiskan dalam sebuahkarya sastra.2. Kritik Ekpresivisme Kehadiran penelitian eskpresivisme memang banyak diragukan olehilmuwan sastra. Penelitian ini dianggao kurang memenuhi kode-kode ilmiah, karena seringdilanda subjektivita pencipta ketika di diwawancarai. Kecuali itu pencipta sendiri seringkali telahlupa terhadap karya-karya yang dihasilkan. Hanya karya tertentu saja yang sering teringat padadiri pencita, misalnya saja karya yang pernah mendapat penghargaan. Sedangkan karya yangmengorbit lewat media masa, seringkali asalkan telah terbit dilupakan oleh penciptanya. Penciptatidak lagi teringat seratus persen tentang penciptaan. Dari persoalan itu, sering seorang penciptamelakukan kebohongan tertentu. Pencipta lebih cerdik memanipulasi alasan penciptaan.Manipulasi itu sebenarnya dapat menjadi penelitian tersendiri. Disamping itu, ketika karya telahlolos dari tangan pencipta, biasanya pengarang “lepas tangan”, kurang bertanggung jawab ataspengaruh karya tersebut. Hal ini sering menyebabkan ungkapan spontan pencipta pada saat
    • wawancara menjadi bias. Itulah sebabnya cukup beralasan kalau Wimsatt dan Beardsley ( Tahun1997 : 26) menaruh keberatan atas kehadian ekspresivisme.3. Aspek yang diungkap Penelitian ekspresivisme sebenarnya tidak terlalu sulit asalkan penulismasih hidup dan tinggal tidak terlalu jauh jaraknya dengan peneliti. Karenanya, jaringankomunikasi peneliti dengan penulis perlu ditekankan agar proses penelitian berjalan lancar.Berbagai hal yang seharusnya diungkap dalam penelitian ekspresivisme adalah : (1). Memahamilebih mendalam bahwa pengarang adalah orang yang cerdas dan cerdik bermain estetika. (2).Bagaimana penguasaan bahasa sastrawan sehingga mampu memikat pembaca. (3). Seberapa jauhpengarang memiliki kepekaan terhadap persoalan kehidupan, baik yang menyangkut duniamungkin maupun dunia lain.C. Penelitian Beraliran Romantisme. Penelitian sastra aliran romantisme selalu berprinsip bahwakarya sastra merupakan cermin kehidupan realitik. Karya sastra adalah kisah kehidupan manusiayang penuh liku-liku. Pengungkapan realitas kehidupan tersebut menggunakan bahasa yangindah, sehingga dapat menyentuh emosi pembaca. Keindahan menjadi fokus penting dalamkajian romantisme. Misalkan, gambaran gadis cantik atau jejaka tampan, dilukiskan sesempurnamungkin. Pelukisan itu seringkali menggiurkan pembaca. Penelitian romantisme biasanyaterfokus pada karya-karya yang melukiskan kehidupan seksual secara detail. Lukisan kehidupanseks yang penuh birahi ini, justru menarik perhatian. Oleh karena itu peneliti telahmengasumsikan bahwa karya sastra yang bermutu adalah karya yang mampu melukiskankehidupan sedetail mungkin.D. Penelitian beraliran Simbolisme dan Mistisisme Aliran simbolik biasanya berupa karya yangmengungkapkan pikiran dan perasaan menggunakan simbol tertentu. Simbol-simbol itudiabstrasikan agar pembaca semakin tertarik dan penasaran. Simbol yang biasa digunakan adalahbenda-benda dan mahkluk di luar manusia. Pemakaian tokoh-tokoh binatang atau tumbuhanyang dapat berbicara seperti manusia, adalah contoh aliran ini. Melalui aliran simbolik itu, lalubanyak muncul dongeng-dongeng, legenda dan mite. Cerita semacam ini merupakan gambaranhidup manusia, meskipun tokoh-tokohnya sebagian besar adalah binatang. Di Indonesia, aliransimbolik pernah mengemuka ketika muncul dongeng-dongeng binatang. Misalkan saja DongengSato Kewan karya Prijana Winduwinata. Dongeng ini bertokohkan binatang, terutama si Kancil,padahal isinya sebenarnya berbau politik pada saat itu. Ini berarti, aliran simbolik banyak diikutipengarang-pengarang yang ingin membungkus karyanya. Pembukusan itu dimaksudkan agartidak terlalu kentara jika berisi pesan ataupun kritik pedas.MODEL BARU PENELITIAN SASTRAA. Grounded Research Penelitian sastra selalu berkaitan dengan teori sastra pula. Teori itukadang-kadang kita impor dari negara lain. Kita sering tergila-gila pada teori yang berasal daribarat, seperti teori Abrams, Teeuw, Barthes, Eagleton, Taine, dan sebagainya. Ini menunjukkanbahwa peneliti sastra kita dipaksakan untuk membedah karya sastra kita. Pemaksaan teoritersebut juga telah membingkai peneliti sastra kita ke arah positivisme. Padahal, penelitipositivistik ini belum tentu sejalan dengan kondisi sastra kita. Pemahaman positivistik iniseringkali juga membelenggu lahirnya teori-teori baru di negeri kita. Lebih tegas lagi, kita seringkekeringan teori pemnelitian sastra yang benar-benar membumi. Karena adopsi teori sastra barat
    • tersebut belum sepenuhnya mampu membingkai kondisi sastra kita. Ke-khasan sastra kitakadang-kadang tidak terwadahi oleh teori asing.B. Kajian Fenomenologi Sastra 1. Titik Tolak fenomenologi Sastra Fenomenologi adalah tataranberpikir secara filosofi terhadap obyek yang diteliti. Kecenderungan filsafat yang dipeloporiHusserl ini menekankan peranan pemahaman terhadap arti. Dalam penelitian sastra,fenomenologi tidak mendorong keterlibatan subyektif murni, melainkan ada upaya memasukiteks sastra sesuai kesadaran peneliti. Dalan kaitan ini Gadamer (Selden, 1991 : 117) menjelaskanbahwa sebuah karya sastra tidak muncul ke dunia sebagai seberkas arti yang selesai danterbungkus rapi. Arti tergantung pada situasi kesejarahan penafsir. Dari penjelasan ini berartiotoritas peneliti sebagai pemberi makna memiliki peranan penting. Wawasan ini menghendakiagar pengungkapan sebuah gejala didasarkan pada “penjelasan dan pengertian gejala itu sendiri”.Penangkapan gejala tersebut, dalam fenomenologi sastra memang lahir dari berbagai macamfenomenologi. Jika pengenalan gejala berusaha mengungkap pengertian murni obyek sastra,biasanya disebut fenomenologi eidetik. Fenomenologi ini didasarkan pada kajian bahasa, yangmeliputi kajian makna dari fenomena dari gejala utama, lalu dipilahkan, disaring dan ditemukangambaran pengertian murni,. Jika penangkapan fenomena mendasarkan pada kesadaran aktif(cigitto) peneliti, maka ia dinamakan fenomenologi transendental. Berbeda dengan fenomenologieksistensial, bahwa penentuan gejala semata-mata bersifat individual. Refleksi individualmenjadi guru bagi individu sendiri untuk menemukan kebenaran. Pengaruh personal sangatmenentukan makna karya sastra.2. Ruang Lingkup Pembahasan Dalam pandangan Iser (1988:212) fenomenologi sastra adalahpendekatan yang menekankan pada aspek idea. Dalam mempertimbangkian makna karya sastra,seharusnya tak hanya didasarkan pada teks saja, melainkan perlu adanya tanggapan terhadap tekstersebut. Dalam kaitan ini, Roman Ingarden mengenalkan adanya proses konkretisasi teks setelahdibaca. Tindakan konkretisasi ini hadir dari tanggapan pembaca. Itulah sebabnya pemahamankarya sastra secara fenomenologi perlu mencermati tingkat-tingkat makna. Sebuah karya sastratidak satu makna, melainkian memuat sejumlah makna yang berlapis. Tugas fenomenolog adalahmenyingkap lapis-lapis makna itu. Senada dengan hal demikian, Roman Ingarden menyebutanbahwa karya sastra pada dasarnya memiliki sejumlah lapisan atau strata makna. Lapisan tersebutmeliputi : (a) lapis bunyi, yaitu wujud paparan bahasa sebagai artefak yang mengembangkanmakna tertentu, (b) dunia obyektif yang diciptakan pengarang, (c) dunia yang dipandang darititik perpektif tertentu oleh pengarang dan (d) lapis arti yang bersifat metafisis. Keseluruhanunsur tersebut secara potensial telah ada dalam karya sastra itu sendiri. Penanggaplah yang harusberupaya mengkonkretkan melalui pelibatan kesadaran dalam membaca teks sastra.C. Kajian Hermeneutik Sastra 1. Pentingnya Hermeneutik Secara sederhana, hermeneutik berartitafsir. Studi sastra juga mengenal hermeneutik sebagai tafsir sastra. Dalam penelitian sastra,memang hermeneutik memiliki paradigma tersendiri. Kata Ricoeur (Sumaryono, 1999:106),hermeneutik berusaha memahami makna sastra yang ada di balik struktur. Permahaman makna,tak hanya pada simbol, melainkan memandang sastra sebagai teks. Di dalam teks ada konteksyang bersifat polisemi. Maka, penliti harus menukik ke arah teks dan konteks hermeneutiksehingga ditemukan makna utuh. Pada dasarnya paradigma hermeneutik telah menawarkan duametode tafsir sastra. Pertama, metode dialektik antara masa lalu dengan masa kini dan Kedua,metode yang memperhatikan persoalan antara bagian dengan keseluruhan. Kedua metode itu
    • memaksa peneliti untuk melakukan tafsir berdasarkan kesadarannya sendiri atas konteks historis-kultural., Dengan demikian ada sumbangan penting kehadiran hermeneutik.2. Langkah Kerja dan Aspek Kajian Dalam kaitan dengan interpretasi, Smith (Luxemburg,1989:51) mensugestikan bahwa “ our interpretation of a work and our experience of its value aremutually dependent, and each depend upon wahat might be called the psychological „set‟ ourencounter with it”. Dari sugesti ini, berarti intrerpretasi teks sastra sangat tergantung padapengalaman di peneliti. Semakin dewasa si peneliti, tentu kematangan psikologisnya dalammenafsirkan semakin bisa diandalkan pula. Pengalaman peneliti juga amat penting dalammenggali makna sebuah teks sastra. Penafsiran teks sastra setidaknya akan mengikuti salah satuatau lebih dari enam pokok rambu-rambu yaitu : (1). Penafsiran yang bertitik tolak dari pendapat,bahwa teks sendiri sudah jelas. (2). Penafsiran yang berusaha menyusun kembali arti historik.Dalam pendekatan ini si juru tafsir dapat berpedoman pada maksud si pengarang seperti nampakpada teks sendiri atau diluar teks. (3). Penafsiran hermeneutik baru yang terutama diwakili olehGadamer berusaha memadukan masa silam dan masa kini. (4). Penafsiran yang bertolak padapandangannya sendiri mengenai sastra. (5). Penafsiran yang berpangkal; pada suatu problematiktertentu, misalkan dari aspek politik, psikologis, sosiologis, moral dan sebagainya. (6). Tafsiranyang tak langsung berusaha agar memadahi sebuah teks diartikan, melainkan hanya inginmmenunjukkan kemungkinan-kemungkinan yang tercantum dalam teks, sehingga pembacasendiri dapat menafsirkannya.PENELITIAN FORMALITAS DAN STRUKTURALISME MURNIA. Prinsip Strukturalisme Strukturalisme merupakan cabang penelitian sastra yang tak bisa lepasdari apek-aspek linguistik. Sejak jaman Yunani, Aristoteles telah mengenalkan strukturalismedengan konsep wholeness, unit, complexity dan coherence. Hal ini merepresentasikan bahwakeutuham makna bergantung pada koherensi keseluruhan unsur sastra. Keseluruhan sangatberharga dibandingkan unsur yang berdiri sendiri. Karena masing-masing unsur memilikipertautan dibandingkan unsur yang berdiri sendiri. Karena masing-masing unsur memilikipertautan yang membentuk sistem makna. Setiap unit struktur teks sastra hanya akan bermaknajika dikaitkan hubungannya dengan struktur lainnya. Hubungan tersebut dapat berupapararelisme, pertentangan, inversi dan kesetaraan. Yang terpenting adalah bagaimana fungsihubungan tersebut menghadirkan makna secara keseluruhan. Sebagi contoh, kata manis barubermakna lengkap ketika dipertentangkan dengan kata pahit. Ini berarti bahwa struktur sastramemiliki fungsi. Menurut Jean Peaget (Hawkes, 1978:16) Strukturalisme mengandung tiga halpokok. Pertama, gagasan keseluruhan (wholness), dalam arti bahwa bagian-bagian atau unsurnyamenyesuaikan diri dengan seperangkat kaidah intrisik yang menentukan baik keseluruhanstruktur maupun bagian-bagiannya. Kedua, gagasan transformasi (transformation), struktur itumenyanggupi prosedur transformasi yang terus menerus memungkinkan pembentukan bahan-bahan baru. Ketiga, keteraturan yang mandiri (self regulation) yaitu tidak memerlukan hal-haldiluar dirinya untuk mempertahankan prosedur trransformasinya, struktur itu otonom terhadaprujukan sistem lain. Pahan strukturalis, secara langsung maupun tidak langsung sebenarnya telahmenganut paham penulis Paris yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure. Paham inimencuatkan konsep sign dan meaning (bentuk dan makna/isi) atau seperti yang dikemukakanLuxemburg (1989) tentang signifiant-signifie dan paradigma-syntagma. Kedua unsur itru selalu
    • berhubungan dan merajut makna secara keseluruhan. Karenanya, kedua unsur penting ini takdapat dipisahkan dalam penafsiran sastra.B. Kelebihan Dan Kelemahan Strukturalisme Dalam penelitian struktural, penekanan pada relasiantar unsur pembangun teks sastra. Unsur teks secara sendiri-sendiri tidak penting. Unsur teks ituhanya memperoleh arti penuh melalui relasi oposisi maupun relasi asosiasi. Relasi oposisibiasanya lebih berkembang pada dunia antropologi, sedangkan dunia sastra banyakmenggunakan relasi asosiasi. Melalui Barthes dan Kristeva di Perancis, strukturalismme mulaiberkembang luas. Keduanya mengenalkan penafsiran struktural teks sastra berdasarkan kodebahasa teks sastra. Melalui kode bahasa itu, diungkapkan retorika, psikoanalisis dansosiokultural. Penekanan strukturalis adalah memandang karya sastra sebagai teks mandiri.Penelitian dilakukan secara obyektif yaitu menekankan aspek intrisik karya sastra. Keindahanteks sastra bergantung penggunaan bahasa yang khas dan relasi antar unsur yang mapan. Unsur-unsur itu tidak jauh berbeda dengan sebuah “ artefak”(benda seni) yang bermakna. Artefaktersebut terdiri dari unsur teks seperti ide, tema, plot, latar, watak, tokoh, gata bahasa dansebagainya yang jalin-menjalin rapi. Jalinan antar unsur tersebut akan membentuk makna yangutuh pada sebuah teks. Itulah sebabnya, Smith (Aminuddin, 1990:62) mengungkapkan penelitiandtruktur internal karya sastra merupakan the ontological structure of the work of art. Dari sinitampak bahwa karya sastra merupakan organised whole has various constituente, unsur-unsurpemadu dalam totalitas itu memiliki interrelations and mutual dependencies, dan antara unsurpembangun totalitas itu memiliki stratifikasi hubungan tertentu. Sebagai sebuah modelpenelitian, strukturalisme bukan tanpa kelemahan. Ada beberapa kelemahan yang perludirenungkan bagi peneliti struktural, yaitu melalui struktural karya sastra seakan-akan diasingkandari konteks fungsinya sehingga dapat kehilangan relevansi sosial, tercerabut dari sejarah danterpisah dari aspek kemanusiaan. Analisis strukturalisme biasanya mengandalkan pahampositivistik, yaitu berdasarkan tekstual. Peneliti membangun teori analisis struktural yang handal,kemudian diterapkan untuk menganalisis teks. Metode positive ini biasanya juga seringdigunakan kaum formalis, yang mempercayai teks sebagai studi utama. Yang menjadi problemanalisis strukturalisme, antara lain pada pemilihan data teks. Seringkali peneliti tergoda untukmeneliti karya-karya dari pengarang ternama saja. Padahal sesungguhnya pengarang lain perludikaji secara struktural. Paling tidak jika ada perbedaan struktur antara karya yang bersifatsubjektif ini, seringkali juga menyebabkan penelitian strukturalisme kurang berkembang dibeberapa pusat penelitian.C. Langkah Kerja Strukturalisme Langkah yang perlu dilakukan seorang peneliti strukturaladalah sebagai berikut : 1. Membangun teori struktur sastra sesuai dengan genre yang diteliti. 2.Peneliti melakukan pembacaan secara cermat, mencatat unsur-unsur struktur yang terkandungdalam bacaan itu. 3. Unsur tema sebaiknya dilakukan terlebih dahulu sebelum membahas unsurlainm karena tema akan selalu terkait langsung secara komprehensif dengan unsur lain. 4.Penafsiran harus dilakukan dalam kesadaran penuh akan pentingnya keterkaitan antar unsur.PENGEMBANGAN PENELITIAN STRUKTURAL SASTRA1. Strukturalisme Genetik Strukturalisme genetik (genetik structuralism) adalah cabangpenelitian sastra secara struktural yang tak murni. Ini merupakan bentuk penggabungan antarastruktural dengan metode penelitian sebelumnya. Konvergensi penelitian struktural dengan
    • penelitian yang memperhatikan aspek-aspek eksternal karya sastra, dimungkinkan lebihdemokrat. Paling tidak, kelengkapan makna teks sastra akan semakin utuh. Menurut Goldman,karya sastra sebagai struktur bermakna itu akan mewakili pandangan dunia (vision du monde)penulis, tidak sebagi individu melainkan sebagai anggota masyarakatnya. Dengan demikian,dapat dinyatakan bahwa strukturalisme genetik merupakan penelitian sastra yangmenghubungkan antara struktur masyarakat melalui pandangan dunia atau ideologi yangdiekspresikannya. Oleh karena itu, karya sastra tidak akan dapat dipahami secara utuh jikatotalitas kehidupan masyarakat yang telah melahirkan teks sastra diabaikan begitu saja.Pengabaian unsur masyarakat berarti penelitian sastra menjadi pincang. Pandangan dunia, yangbagi Goldman selalu terbayang dalam karya sastra agung, adalah abstraksi (bukan fakta empirisyang memiliki eksistensi obyektif). Abtraksi itu akan mencapai bentuknya yang konkret dalamsastra. Oleh karena pandangan dunia itu suatu bentuk kesadaran kolektif yang mewakili identitaskolektifnya, maka dia secara sahih dapat mewakili kelas sosialnya. Pandangan inilah yangmenentukan struktur suatu karya sastra. Oleh karena itu, karya sastra dapat dipahami asalnya danterjadinya (unsur genetiknya) dari latar belakang sosial tertentu. Keterikatan pandangan duniapenulis dengan ruang dan waktu tertentu tersebut, bagi Goldman merupakan hubungan genetik,karenanya disebut strukturalisme genetik. Dalam kaitan ini, karya sastra harus dipandang dariasalnya dan kejadiannya. Teknik analisis yang digunakan dalam strukturalisme genetik adalahmodel dialektik. Teknik ini berbeda dengan positivistik, intuitif, biografi dan sebagainya. Modeldialektik mengutamakan makna yang koheren. Prinsip dasar teknik analisis dialektik adalahadanya pengetahuan mengenai fakta-fakta kemanusiaan akan tetap abstrak apabila tidak dibuatkonkret dengan mengintegrasikan ke dalam totalitas. Sehubungan dengan hal tersebut, metodedialektik mengembangkan dua macam konsep, yaitu “ keseluruhan-bagian‟ dan “ pemahaman-penjelasan. Goldman menyatakan bahwa sudut pandang dialektik berbeda dengan sudut pandangrasional dan sudut pandang empirik. Sudut pandang rasionalis biasanya mengansumsikan adanyagagasan yang berasal dari pembawaan dan secara langsung dapat didekati, sedangkan kaumempirik menyandarkan diri pada kesan inderawi. Dua sudut pandang penelitian ini sama-samamengharuskan agar ditemukannya pengetahuan secara pasti. Kedua sudut pandang ini memangberbeda dengan sudut pandang dialektik, yang berasumsi bahwa dalam analisis sastra tidakpernah ada titik awal yang secara mutlak valid, tidak ada persoalan yang secara final pastiterpecahkan.2. Strukturalisme Dinamik Strukturalisme dinamik lebih merupakan pengembanganstrukturalisme murni atau klasik juga. Strukturalisme dinamik mengakui kesadaran subyektifdari pengarang, mengakui peran sejarah serta lingkungan sosial, meski bagaimanapun sentralpenelitian tetap pada karya sastra itu sendiri. Perbedaan pokok antara strukturalisme genetik dandinamik terletak pada subyek yang diteliti. Strukturalisme dinamik lebih menekankan padakarya-karya masterpice, karya mainstream, dan karya agung. Strukturalisme dinamik lebihfleksibel dalam menerapkan teori penelitian. Teori yang dipakai biasanya merupakan gabungansedikit-sedikit antara teori satu dengan yang lain. Penelitian ini menolak asumsi-asumsistrukturalisme murni yang sangat menolak kesadaran subyektif, takluk pada sistem, menolakhistorismer, mengidolakan sinkronik dan anti humanisme. Atas dasar ini, strukturalisme dinamikjustru mengenalkan penelitian sastra dalam kaitannya dengan sistem tanda. Caranya adalahmenggabungkan kajian otonom karya sastra dan semiotik. Kajian otonom dilakukan secaraintrisik dan kajian semiotik akan merepresentasikan teks sastra sebagai ekspresi gagasan,pemikiran, dan cita-cita pengarang. Gagasan tersebut dimanifestasikan dalam tanda-tanda
    • khusus. Kepaduan antar struktur otonom dan tanda ini, merupakan wujud bahwa struktur karyasastra bersifat dinamik.3. Strukturalisme Semiotik Dari kodratnya, karya sastra merupakan refleksi pemikiran, perasaandan keinginan pengarang lewat bahasa. Bahasa ini sendiri tidak sembarang bahasa, melainkanbahasa khas. Yakni bahasa yang memuat tanda-tanda satu semiotik. Bahasa itu akan membentuksistem ketandaan yang dinamakan semiotik dam ilmu yang mempelajari masalah ini, adalahsemiologi. Semiologi juga sering dinamakan semiotika, artinya ilmu yang mempelajari tanda-tanda dalam karya sastra. Model struktural semiotik muncul sebagai akibat ketidakpuasanterhadap kajian struktur. Jika struktural sekadar menitikberatkan aspek intrisik, semiotik yangdemikan halnya, karena paham semiotik mempercayai bahwa karya sastra memiliki sistemtersendiri. Itulah sebabnya muncul kajian struktural semiotik, artinya penelitian yangmenghubungkan aspek-aspek struktural dengan tanda-tanda. Tanda sekecil apapun dalampandangan semiotik tetap diperhatikan. Kajian struktural semiotik akan mengungkap karya sastrasebagai sistem tanda. Tanda tersebut merupakan sarana komunikasi yang bersifat elastis.Karenanya setiap tanda membutuhkan pemaknaan (Segers, 2000:6), membagi tiga jenis saranakomunikasi, yaitu signal dan symbol. Signal adalah tanda-tanda yang merupakan elementerendah, seperti halnya sebuah stimulus pada sebuah bintang. Sign adalah tanda-tanda. Symboladalah lambang yang bermakna. Ketiganya seringkali digunakan tidak secara terpisah dalamdunia sastra. Karena itu, tugas peneliti sastra adalah meberikan rincian ketiganya, sehinggamakna sastra itu menjadi jelas. Sistem kerja penelitian semiotik dapat menggunakan dua modelpembacan, yaitu heuristik dan hermeneutik. Pembacaan heuristik adalah telaah dari kata-kata,bait-bait (line), dan term-term karya sastra. Sedangkan pembacaan hermeneutik merupakanpenafsiran atas totalistas karya sastra. Fokkema dan Kunne-Ibsch (1977:166) memberikan acuanbahwa penelitian semiotik sekurang-kurangnya perlu memperhatikan tiga aspek utama, yaitu (a)the construction of abstract scientific models, (b) explanatory model, (c) schematic simplication.Sedangkan menurut Riffaterre (1978:1-2) penelitian semiotik perlu memperhatikan tiga hal juga,yaitu (1)displacing of meaning (penciptaan arti), (2) distorting of meaning (penyimpangan arti),(3) creating of meaning (penciptaan arti). Meskipun konsep analitik itu banyak digunakan dalampenelitian puisi, tidak berarti tidak dapat diterapkan pada genre lain. Genre drama dan prosa pundapat memanfaatkan hal ini.PENELITIAN SOSIOLOGI SASTRA A. Sosiologi Sastra 1. Rasionalisasi Sosiologi SastraRasionalisasi penelitian sosiologi sastra hadir dari Glickberg (1967:75), bahwa “all literature,however, fantastic or mystical in concent is animated by a profound social concern, and this istrue of even the most flagrant nihilistic work. Pendapat ini jelas merepresentasikan bahwa sepertiapa bentuk karya sastra (fantastis dan mistis) pun akan besar perhatiannya terhadap fenomenasosial. Karya tersebut boleh dikatakan akan tetap menampilkan kejadian-kejadian yang ada dimasyarakat. Memang pencipta sastra akan dengan sendiri mendistorsi fakta sosial sesuai denganidealisme mereka. Dalam pandangan Wolf (Faruk, 1994:3) sosiologi sastra merupakan disiplinyang tanpa bentuk, tidak terdefinisikan dengan baik, terdiri dari sejumlah studi-studi empiris danberbagai percobaan pada teori yang agak lebih general, yang masing-masingnya hanyamempunyai kesamaan dalam hal bahwa semuanya berurusan dengan hubungan sastra denganmasyarakat. Ia juga menawarkan studi sosiologi yang lebih verstehen atau fenomenologis yangsasarannya adalah level “makna” dari karya sastra.
    • 2. Prespektif Sosiologi Sastra Perspektif sosiologi sastra yang patut diperhatikan adalahpernyataan Levin (Elizabeth dan Burns, 1973:31) “ literature is not only the effect of socialcauses but also the cause of social effect”. Sugesti ini memberikan arah bahwa penelitiansosiologi sastra dapat kearah hubungan pengaruh timbale balik antara sosiologi dan sastra.Keduanya akan saling mempengaruhi dalam hal-hal tertentu yang pada gilirannya menarikperhatian peneliti. Pada prinsipnya, menurut Laurenson dan Swingewood (1971) terdapat tigaperspektif berkaitan dengan sosiologi sastra, yaitu (1) penelitian yang memandang karya sastrasebagai dokumen social yang didalamnya merupakan refleksi situasi pada masa sastra tersebutdiciptakan, (2) penelitian yang mengungkap sastra sebagai cermin situasi sosial penulisnya, dan(3) penelitian yang menangkap sastra sebagai manifestasi peristiwa sejarah dan keadaan sosialbudaya.B. Sasaran Penelitian Sosiologi Sastra 1. Fungsi Sosial Sastra Fungsi sosial sastra menurut Watt(Damono, 1978:70-71) akan berkaitan dengan pertanyaan seberapa jauh nilai sastra berkaitandengan nilai sosial dan sampai berapa jauh nilai sastra dipengaruhi oleh nilai sosial. Dalamkaitan ini ada tiga hal yang perlu diungkap : (a) sudut pandang kaum romantik yang menganggapsastra sama derajatnya dengan karya pendeta atau Nabi, dalam pandangan ini tercakup wawasanagar sastra berfungsi sebagai pembaharu atau perombak; (b) sudut pandang bahwa karya sastrabertugas sebagai penghibur belaka; dalam hal ini gagasan “seni untuk seni” tak ada bedanyadengan praktik melariskan dagangan untuk mencapai best seller, dan (c) semacam kompromidapat dicapai dengan meminjam slogan klasik sastra harus mengajarkan sesuatu dengan jalanmenghjibur.2. Produksi dan Pemasaran Sastra Penelitian tentang produksi dan pemasaran sastra memangjarang dilakukan. Karena, masalah ini seakan-akan menjadi tanggung jawab penerbit. Padahal,sebenarnya tidak demikian, artinya pengembangan karya sastra juga menjadi tanggung jawabbersama. Sekurang-kurangnya studi semacam ini akan menghubungkan tiga kutup sastra yaitupenerbit, pembaca, dan pengarang. Perhatian peneliti semacam itu, memang sedikitmengesampingkan sosiologi sastra sebagi teori, melainkan berupaya memperhitungkan berbagaihal yang terkait dengan factor-faktor sosial yang menyangkut sastra. Factor-faktor tersebut antaralain : tipe dan taraf ekonomi masyarakat tempat berkarya, kelas atau kelompok sosial yangberhubungan dengan karya, sifat pembaca, system sponsor, pengayom, tradisi sastra dansebagainya. PENELITIAN PSIKOLOGI SASTRAA. Landasan Pijak Psikologi Sastra Asumsi dasar penelitian psikologis sastra antara laindipengaruhi oleh beberapa hal. Pertama, adanya anggapan bahwa karya sastra merupakan produkdari suatu kejiwaan dan pemikiran pengarang yang berada pada situasi setengah sadar atausubconcius setelah jelas baru dituangkan kle dalam bentuk secara sadar (conscious). Antara sadardan tak sadar selalu mewarnai dalam proses imajinasi poengarang. Kekuatan karya sastra dapatdilihat seberapa jauh pengarang mampu mengungkapkan ekspresi kejiwaan yang tak sadar itu kedalam sebuah cipta sastra. Kedua, kajian psikologis sastra di smping meneliti perwatakan tokohsecara psikologi juga aspek-aspek pemikiran dan perasaan pengarang ketika menciptrakan karyatersebut. Seberapa jauh pengarang mampu menggambarkan perwatakan tokoh sehingga karyamenjadi semakin hidup. Sentuhan-sentuhan emosi melalui dialog ataupun pemilihan kata,sebenarnya merupakan gambaran kekalutan dan kejernihan batin pencipta. Kejujuran batin itulahyang akan menyebabkan orisinalitas karya.
    • B. Pendekatan Psikologi Sastra 1. Beberapa Kemungkinan Kajian Pada dasarnya psikologi sastraakan ditopang oleh tiga pendekatan sekaligus. Pertama, pendekatan tektual, yang mengkaji aspekpsikologis tokoh dalam karya sastra. Kedua pendekatan reseptik-reseptik yang mengkaji aspekpsikologis pembaca sebagai penikmat karya sastra yang terbentuk dari pengaruh karya sastrayang dibacanya, serta proses resepsi pembaca dalam menikmati karya sastra. Ketiga, pendekatanekspresif yang mengkaji aspek psikologi sang penulis ketika melakukan proses kreatif yangterproyeksi lewat karyanya, baik penulis sebagai pribadi maupuin wakil masyarakat (Roekhan,1990:88) Penelitian psikologis sastra dari aspek tekstual, semula memang tak bisa lepas dariprinsip-prinsip Freud tentang psikologis dalam. Buku Freud tentang interpretasi mimpi dalamteks sastra, telah banyak mengilhami para peneliti psikologi teks. Apalagi buku ini belakangantelah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, tentu lebih mudah dipahami oleh ilmuwan kita.2. Kajian Estetika Eksperimental Penelitian psikologi sastra lebih menitikberatkan pada aspekfunctioning humand mind “pikiran manusia”( Segers, 2000:73). Fungsi termaksud akanberhubungan dengan istilah Berlyne tentang experimental esthetics. Yakni peneliti akanmenggunakan respoinden kurang lebih 25-an, jauh lebih kecil dari penelitian sosiologi sastraresepsi. Peneliti akan mengaitkan estetika eksperimental sebagai studi pengaruh efek-efekmotivasional dari teks sastra pada penerimanya. Efek motivasional ini akan tampak melaluiaspek kolatif, yaitu sebuah stimulus yang muncul dalam teks sastra. Aspek kolatif merupkanbagian teks yang dapat membangkitkan perasaan, misalnya kebaruan (novelty),surprising(keterkejutan), complexity (kemajemukan), ambiguity (ambiguitas) dan puzzlingnes(ketertekatekian).C. Psikoanalisa 1. Hubungan Sastra Dan Psikoanalisa Psikoanalisa adalah wilayah kajianpsikologi sastra. Model kajian ini pertama kali dimunculkan oleh Sigmund Freud (Milner,1992:43), seorang dokter muda dari Wina. Ia mengemukakan gagasannya bahwa kesadarannyamerupakan sebagian kecil dari kehidupan mental sedangkan bagian besarnya adalahketaksadaran atau tak sadar. Ketaksadaran ini dapat menyublim ke dalam proses kreatifpengarang. Ketika pengarang menciptakan tokoh, kadang “bermimpi” seperti halnya realitas.Semakin jauh lagi, pengarang juga sering “gila” sehingga yang diekspresikan seakan-akan lahirbukan dari kesadarannya. Dalam kajian psikologi sastra, akan berusaha mengungkappsikoanalisa kepribadian yang dipandang meliputi tiga unsur kejiwaan, yaitu : id, ego dan suuperego. Ketiga system kepribadian ini satu sama lain saling berkaitan serta membentuk totalitas, dantingkah laku manusia yang tak lain merupakan produk interaksi ketiganya. Id (das es) adalahsystem kepribadian manusia yang paling dasar. Dalam pandangan Atmaja (1988:231) Idmerupakan acuan penting untuk memahami mengapa seniman / sastrawan menjdi kreatif.Melalui Id pula sastrawan mampu mnenciptakan symbol-simbol tertentu dalam karyanya. Jadiapa yang kemudian dinamakan novel psikologis misalnya ternyata merupakan karya yangdikerjakan berdasarkan interpretasi posikologis yang sebelumnya telah menerima perkembanganwatak untuk kepentingan struktur plot.2. Alam Bawah Sadar Penerapan penelitian psikologi sastra dalam kajian pernah dilakukan olehM.S. Hutagalung dalam novel Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis dan Zainuddin Fananie(2001) dalam novel NByali karya Putu Wijayta. Keduia penelitian tersebut menggunakan teoripsikoanalisis Freud untuk membedah novel. Jadi keduanya jelas penelitian psikologi sastra yangberpijak pada teks sastra. Asumsi peneliti bahwa pencipta kedua novel tersebut menerapkan teori
    • psikoanalisis ke dalam karya. Dari penelitian tersebut, ternyata MS. Hutagalung mampumengungkapkan bahwa tokoh Isa pada novel Jalan Ada Ujung memiliki perilaku yangterpengaruh pandangan Freud tentang lapisan tak sadar dari jiwa manusia. Misalkan MochtarLubis bercerita tentang Guru Isa : “ia menutup mukanya dengan kedua tangannya danmengerang perlahan-lahan. Dia tidak tahu. Tapi yang dirasakannya sekarang ialah reaksi yanglambat yang sekarang timbul dan perasaan yang tertekan tadi.D. Langkah dan Proses Analisis Langkah yang perlu dilakukan oleh peneliti psikologi sastratidak akan lepas dari sasaran penelitian. Apakah peneliti sekedar menitikberatkan pada psikologitokoh dan atau sampai proses kreativitas pengarang. Yang penting harus dilakukan dari sasaranpenelitian tentang psikologi tokoh ada beberapa proses, yaitu : Pertama, pendekatan psikologisastra menekankan kajian keseluruhan baik berupa unsur intrisik maupun ekstrinsik. Namuntekanan pada unsur intrisik, yaitu tentang penokohan dan perwatakannya. Kedua, disampingtokoh dan watak, perlu dikaji pula masalah tema karya. Analisis tokoh seharusnya ditekankanpada nalar perilaku rokoh. Tokoh yang disoroti tak hanya terfokus pada tokoh utama, baikprotagonis maupun antagonis. Tokoh-tokoh bawahan yang dianggap tak penting pun harusdiungkap. Yang lebih penting, peneliti harus memiliki alasan yang masuk akal tentang wataktokoh, mengapa oleh pengarang diberi perwatakan demikian. Ketiga, konflik perwatakan tokohperlu dikitkan dengan alur cerita. Misalkan saja, ada tokoh yang phobi, neurosis, halusinasi, giladan sebagainya. Jika yang terkahir ini sampai terjadi, berarti ini menjadi wilayah penelitianpsikologi sastra.PENELITIAN ANTROPOLOGI SASTRAA. Ruang Lingkup Antropologi Sastra Penelitian antropologi sastra adalah celah baru penelitiansastra. Penelitian yang mencoba menggabungkan dua disiplin ilmu inim tampaknya masih jarangdiminati. Padahal sesungguhnya banyak hal yang menarik dan dapat digali dari model ini.Maksudnya, peneliti sastra dapat mengungkap berbagai hal yang berhubungan dengan kiasan-kiasan antropologis. Peneliti juga dapat leluasa memadukan kedua bidang itu secarainterdisipliner, karena baik sastra maupun antropologi sama-sama berbicara tentang manusia.Penelitian saemacam itu perlu dilakukanm tidak berarti peneliti sastra tergolong serakah. Namun,banyak hal dalam karya sastra yang memuat aspek-aspek etnografi kehidupan manusia dansebaliknya tidak sedikit karya etnografi yang memuat kiasan-kiasan sastra. Jadi penelitianantropologi sastra dapat menitikberatkan pada dua hal. Pertama, meneliti karya sastra dari sisipandang etnografi, yaitu untuk melihat aspek-aspek budaya masyarakat.B. Fokus dan Proses Analisis Antropologi Sastra Antropologi sastra termasuk ke dalampendekatan arkepital, yaitu kajian karya sastra yang menekankan pada warisan budaya masa lalu.Warisan budaya tersebut dapat terpantul dalam karya-karya sastra klasik dan modern.Karenanya, peneliti antropologi sastra dapat mengkaji keduanya dalm bentuk paparan etnografi.C. Analisis Mitos Model Levi-Strauss 1. Keunikan Mitos Sebagai Bahan Kajian Mitos yangdimaksud Levi-Strauss tak selalu sama dengan konsep mitos pada umumnya. Levi-Straussberpendapat bahwa mitos tidak selalu relevan dengan sejarah dan kenyataan. Mitos jiuga tidakselalu bersifat sakral atau wingit (suci). Oleh karena, mitos yang suci pada suatu tempat, ditempat lain hanya dianggap khayalan. Jadi mitos dalam kajian Levi-Strauss, tak lebih sebagai
    • dongeng. Dongeng merupakan sebuah kisah atau cerita yang lahir dari hasil imajinasi manusia,dari khayalan manusia, walaupun kehidupan manusia sehari-hari. Melalui dongeng tersebut,khayalan manusia memperoleh kebebasan mutlak, karena manusia bebas menciptakan apa saja.Hal-hal yang tak masuk akal boleh terjadi dalam dongeng. Misalkan saja, dongeng Kancil danGajah yang menokohkan seekor kancil yang mampu memperdaya gajah.2. Sistem Oposisi Paham penelitian Levi-Strauss, selain terilhami de Saussure, juga terpengaruhJakobson dan Troubetzkov. Dalam membahas mitor, Levi-Strauss menyatakan bahwa mitos padadasarnya mirip dengan bahasa. Jika dalam bahasa ada konsep la language, yaitu keseluruhansistem tanda yang dimiliki kelompok orang yang menggunakan bahasa dan la parole adalahperwujudan dari sistem tanda itu, yaitu tindak bicara konkrit seorang individu yang pada saattertentu menggunakan sistem tanda itu untuk menyampaikan pesan kepada orang lain, ada aspekdiaronik dan sinkronik, paradigmatik dan sintagmtik yang di dalamnya ada relasi-relasi dalammitos pun demikian juga. Aspek sinkronik adalah mitos yang diyakini sebagai peristiwa masalampau namun masih relevan untuk masa kini dan aspek diakronik adalah mitos yang berasaldari masa lampau tetapi tetap ada sampai sekarang.3. Langkah Analisis Analisis mitos model Levi-Strauss dapat berupa kajian struktural. Kajianyang dilakukan bisa berupa satu atau lebih mitos. Jika bahan kajian hanya satu mitos, penelitiakan mencari struktur perjalanan cerita, tokoh, ideologi tokoh, dan sebagainya. Unsur-unsurstruktur intrisik cerita itu selanjutnya distrukturkan.Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam analisis mitos adalah sebagai berikut : (1).Merekam, mentransfer dan mendokumentasikan mitos jika belum berupa tulisan. (2). Membacamitos satu demi satu, kemudian diidentifikasi mitem-mitemnya. (3). Pencarian mitem, dapatmenggunakan sistem kerja trial and error sampai peneliti menemukan struktur yang sulittergioyahkan. (4). Kata atau kalimat yang menjadi mitem tadi dicatat dalam kartu data sesuaidengan perkembangan cerita. (5). Menyusun mitem-mitem tersebut dalam struktur sintagmatisdan paradigmatis.PENELITIAN PRAGMATIK DAN RESEPSI SASTRAA. Antara Penelitian Pragmatik dan Resepsi Pragmatik sastra adalah cabang penelitian yang kearah aspek kegunaan sastra. Penelitian ini muncul atas dasar ketiudakpuasan terhadap penelitianstruktural murni yang memandang karya sastra sebagai teks itu saja. Kajian struktural dianggaphanya mampu menjelaskan makna sastra dari aspek permukaan saja. Maksudnya, kajian struktursering melupakan aspek pembaca permukaan saja. Maksudnya, kajian struktur sering melupakanaspek pembaca sebagai penerima makna atau pemberi makna. Karena itu, muncul penelitianpragmatik, yakni kajian sastra yang berorientasi pada kegunaan karya sastra bagi pembaca.Aspek kegunaan sastra ini dapat diungkap melalui penelitian resepsi pembaca terhadap ciptasastra. Penelitian resepsi sebenarnya wilayah telaah pragmatik sastra. termasuk di dalamnyaadalah bagaimana aktivitas pembaca sebagai penikmat dan penyelamat karya sastra lama.Sebagai penikmat, pembaca akan meresepsi dan sekaligus memberikan tanggapan tertentuterhadap karya sastra. Sebagai penyelamat, pembaca yang mau menerima kehadiran sastra, jugaakan meresepsi dan selanjutnya melestarikan dengan cara mentransformasikan.
    • B. Dasar Penelitian Sastra Penelitian sastra tergolong ilmu geistewissenschafen, artinya telaahilmu kemanusiaan. Penelitian serupa sering disebut juga telaah humaniora. Hanya saja,subyeknya dapat berupa teks sastra dan tentang sastra. Penelitian teeks sastra selalu dikaitkandengan hidup manusia, maka telaah tentang sastra , berkaitan dengannihwal yangb menyangkutdi luar teks sastra, seperti pembaca dan pengarang. Baik penelitian teks sastra maupun tentangaspek di luar sastra, keduanya sama-sama penting dan saling melengkapi. Karena itu penelitisastra perlu mempertimbangkan aspek pembaca dalam pemaknaan teks. Salah satunya bidangyang relevan diteliti adalah masalah resepsi sastra. Dari sini akan terungkap jelas bagaimanatanggapan pembaca terhadap teks sastra.C. Aspek Penelitian Resepsi Sastra Penelitian resepsi sastra pada dasarnya merupakanpenyelidikan reaksi pembaca terhadap teks. Reaksi termaksud dapat positif dan juga negatif.Resepsi yang bersifat positif, mungkin pembaca akan senang, gembira, tertawa, dan segeramereaksi dengan perasannya. Hal ini sejalan dengan pemikiran Mukarovsky (Fokkema,1977:1347) bahwa peranan pembaca amat penting yaitu sebagai pemberi makna teks sastra.Karya sastra hanya artefak yang harus dihidupkan kembali dan diberi makna oleh pembacasehingga menjadi obyek estetik. Reaksi terhdap teks sastra tersebut dapat berupa sikap dantindakan untuk memproduksi kembali, menciptakan hal yang baru, menyalin, meringkas, dansebagainya. Sebaliknya, reaksi yang bersifat negatif mungkin pembaca akan sedih, akan jengkel,bahkan antipati terhadap teks sastra.D. Analisis Resepsi sastra 1. Pendekatan Yang Digunakan Pendekatan yang sering digunakanoleh peneliti resepsi adalah fenomenologi. Fenomenologi berasal dari kata Yunani phaenomenonyang berarti gejala yng tampak. Maksudnya, peneliti resepsi dapat mencermati gejala yangtampak pada si pembaca teks sastra. Mungkin pembaca akan merasa tergila-gila, senang, msedihdan atau tertawa terbahak-bahak. Hal semacam ini telah dilakukan Roman Ingarden (Iser,1978:170) secara fenomenologis ia mngungkapkan keberterimaan karya sastra. MenurutIngarden, setiap karya sastra secara prinsip belum dikatakan lengkap karena hanya menghadirkanbentuk skematik dan sejumlah “tempat tanpa batas” yangb perlu dilengkapi secara individualmenurut penghalamannya akan karya-karya lain. Namun demikian, sejauh menyangkut teks lain(yang dikenal dengan model sastra perbandingan) dianggap belum sempurna. Yang dapatdilakukan untuk melengkapi struktur karya sastra itu adalah melakukan konkretasi (penyelarasanatau pengisian makna oleh pembacanya). Maka, pembaca akan berusaha menafsirkan ataumemakai sejauh pengalaman yang dimilikinya.2. Horison Pembaca Dan Kategori Pembaca Dalam pandangan Jauss, horison pembaca (horizonof expectation) memungkinkan terjadinya penerimaan dan pegolahan dalam batin pembacaterhadap teks sastra. Horison harapan pembaca terbagi menjadi dua, yaitu (1) yang bersifatestetis dan (2) tak estetik (diluar tekls sastra). Yang bersifat estetik berupa penerimaan unsur-unsur strukjtur pembangun karya sastra, seperti tema, alur, gaya bahasa, dan sebagainya. Keduasisi resepsi sastra tersebut sama-samna penting dalam pemahaman karya sastra. Melaluipenelitian resepsi serupa, Jauss ingin merombak sejarah sastra masa itu yang terkesan hanyamemaparkan sederetan pengarang dan jenis sastra. Fokus perhatiannya adalah proses sebuahkarya sastra diterima, sejak pertyama kali ditulis sampai penerimaan selanjutnya. Bagi Jauss,karya sastra memiliki implikasi estetik dan historis. Implikasi estetik muncul apabila sebuah teks
    • dibandingkan dengan teks lain yang telah dibaca, dan implikasi historis muncul akibatperbandingan historis dengan rangkaian penerimaan atua resepsi sebelumnya.PENELITIAN SASTRA BANDINGANA. Konsep Sastra Bandingan 1. Hakikat Kajian Sastra Bandingan Dua istilah yang perludijelaskan untuk membantu peneliti adalah sastra bandingan dan sastra perbandingan.. Dua halini mempunyai implikasi yang kurang lebih sama. Sastra bandingan sering disingkat sanding dansastra perbandingan disingkat sasper. Penyingkapan semacam ini sekedar mempermudah ucapansaja, yang penting pengertiannya tidak berbeda. Sastra bandingan adalah sebuah studi teks acrosscultural. Studi ini merupakan upaya interdisipliner, yakni lebih banyak memperhatikan hubungansastra menurut aspek waktu dan tempat. Dari aspek waktu, sastra bandingan dapatmembandingkan dua atau lebih periode yang berbeda. Sedangkan konteks tempat, akan mengikatsastra bandingan menurut wilayah geoggrafis sastra. Konsep ini merepresentasikan bahwa sastrabandingan memang cukup luas. Bahkan pada perkembangan selanjutnya, konteks sastrabandingan tertuju pada bandingan sastra dengan bidang lain. Bandingan semacam ini, gunamerunut keterkaitan aspek kehidupan.2. Ilmu Sastra Bandingan Ilmu sastra menjadi pijakan sastra bandingan. Oleh karena, melaluiilmu sastra tersebut akan dapat dilihat apakah karya sastra satu dengan yang lain salingbersinggungan atau tidak. Teori-teori tentang gaya bahasa, naratologi, estetika dan sebagainyaamat bermanfaat bagi studi sastra perbandingan. Tanpa ilmu dan atau teori mendasar, seorangpeneliti tak mungkin membandingkan karya sastra secara cermat. Apalagi kalau karya sastrayang dibandingkan itu sangat halus kemiripannya. Sastra bandingan, awalnya memangberkembang di Perancis, Inggris, Jerman, dan negara-negara Eropa lainnya. Selanjutnya, sastrabandingan juga melebarkan sayap ke Amerika dan Asia pada umumnya. Sejak tahun 1970-ansastra bandingan mulai berkembang dengan mengkaji karya-karya Andre Malraug, WilliamSomerset Maughnam dan Franz Kafka. Pada awalnya, sastra bandingan sekedar membandingkankarya sastra dengan karya sastra, untuk mencari kefavoritan dan keoriginalitasan karya sastra.Dari perbandingan ini, akan ditemukan karya-karya yang bertaraf nasional dan bahkan tarafdunia.B. Intertekstualitas dan Sastra Bandingan 1. Orisinalitas Tes Penelitian interteks sebenarnyabagian dari sastra bandingan. Interteks memang lebih sempit dibanding sastra perbandingan. Jikasebagian besar interteks merupakan gerakan peneliti filologi baik klasik maupun modern, yangselalu berhubungan dnegan teks sastra, sastra bandingan justru lebih luas lagi. Sastra bandingandapat melebar ke arah bandingan antara sastra dengan bidang lain yang mungkin (diluar sastra).Munculnya studi interteks sebenarnya lebih banyak dipengaruhi oleh pembuatan sejarah sastra.Karena melalui pembuatan sejarah sastra, interteks akan menyumbangkan bahan yang luar biasapoentingnya. Maksudnya, jika dalam tradisi sastra terdapat pinjam-meminjam (gaduh) antarasastra satu dengan yang lain, akan terlihat pengaruhnya. Sedangkan munculnya sastra bandingandengan bidang lain, kemungkinan besar dipengaruhi oleh penelitian lintas disiplin ilmu. Lintasdisiplin ini akan memandang sebuah fenomena senada akan memiliki sumbangan penting dansaling terpengaruh. Pengaruh tersebut akan menjadi lengkap apabila telah dibandingkan secaracermat satu sama lain.
    • 2. Pokok Kajian Interteks Kajian sastra bandingan, pada akhirnya harus masuk ke dalam wilayahhipogram. Hipogram adalah modal utama dalam sastra yang akan melahirkan karya berikutnya(Riffarterre, 1978:23). Jadi hipogram adalah karya sastra yang menjadi latar kelahiran karyaberikutnya. Sedangkan karya berikutnya dinamakan karya transformasi. Hipogram dantransformasi ini akan berjalan terus menerus sejauh proses sastra itu hidup. Hipogram merupakaninduk yang akan menetaskan karya-karya baru. Dalam hal ini peneliti sastra berusahamembandingkan antara karya induk dengan karya baru. Namun tidak ingin mencari keasliansehingga menganggap bahwa yang lebih tua yang hebat, seperti halnya studi filologi. Studiinterteks justru ingin melihat seberapa jauh tingkat kreativitas pengarang.C. Sastra Bandingan, Sastra Nasional, dan Sastra Dunia Kajian sastra bandingan tidak dapatmengabaikan peranan sastra nasional yang lama-kelamaan akan menjadi sastra dunia. Sastranasional adalah sastra yang secara umum menjadi milik bangsa. Pengertian nasional ini adalahbatas wilayah politik suatu negara. Jadi, karya sastra Amerika, Serikat, dan Inggris, meskipunsama-sama menggunakan bahasa Inggris, adalah dua hal yang berbeda. Istilah yang sering terkaitdengan sastra bandingan adalah sastra dunia (world literature). Ada juga yang menyebut sastrauniversal. Sastra dunia adalah sastra yang memuat pandangan-pandangan universal ataumendunia. Sastra tersbut diakui oleh seluruh orang di dunia. Biasanya, karya-karya senacam initergolong masterpiece (karya sastra agung). Karya sastra demikian banyak diterjemahkan kedalam berbagai bahasa ke seluruh dunia. Tentu saja untuk menjadi sastra dunia tidak hanyamemakan waktu pendek. Meskipun ukuran waktu ini sangat lentur, namun sekurang-kurangnyabila karya tersebut sangat digemari oleh siapapun di dunia, boleh dikatakan sebagai sastra dunia.D. Ruang Lingkup Sastra Bandingan Sastra bandingan merupakan kajian sastra di luar batassebuah negara dan tentang hubungan di antara sastra dengan bidang ilmu serta kepercayaan lain.Pada dasarnya, baik studi interteks maupun sastra bandingan akan mencari dua hal, yaitu : (1)affinity (pertalian, kesamaan) dan atau paralelisme serta varian teks satu dengan yang lain; (2)pengaruh karya sastra satu kepada karya sastra lain atu pengaruh sastra pada bidang lain dansebaliknya. Dua hal tersebut masih bisa dikembangkan lagi menjadi beberapa lingkup studi,antara lain : (a) perbandingan antara karya pengarang satu dengan lainnya, pengarang yangsezaman, antar generasi, pengarang yang senada, dan sebagainya; (b) membandingkan karyasastra dengan bidang lain, seperti arsitektur, pengobatan tradisional, takhayul, dan seterusnya; (c)kajian bandingan yang bersifat teoritik, untuk melihat sejarah, teori dan kritik sastra.E. Konsep Pengaruh dalam Sastra Bandingan Kajian konsep pengaruh, merupakan titikterpenting bagi studi sastra bandingan. Karya yang terpengaruh dengan karya sebelumnya, tentuakan memiliki identitas tersendiri. Dari proses pengaruh-mempengaruhi itu akan terdapatberbagai aspek bandingan yang disebut varian. Dalam konteks ini, memang karya sebelumnyadianggap karya “super”, artinya bisa mempengaruhi karya berikutnya. Seberapa jauhketerpengaruhan tersebut, tergantung kemampuan pengarang. Keterpengaruhan ini jelas akandipengaruhi oleh berbagai hal, antara lain : (a) perkembangan karir pengarang, (b) prosespenciptaan pengarang, (c) tradisi atau budaya pengarang. Dari tiga hal ini, manakala pengarangberikutnya bersikap ceroboh, tentu akan terdapat pengaruh yang langsung atau semakin jelas.Berbeda dengan pengarang yang kreatif, tentu pengaruh tersebut semakin halus dan hampirtersembunyi. Pengarang yang banyak membaca karya lain dan sering bermigrasi ke mana-mana,seringkali terpengaruh sumber.
    • F. Metode Sastra Bandingan Metode sastra bandingan tidak jauh berbeda dengan metode kritiksastra, yang obyeknya lebih darti satu karya. Penekanan sastra bandingan adalah pada aspekkesejarahan teks. Itulah ebabnya, menurut Yaapar (Santosa, 2003:99) sastra bandingan bersifatpositivistik. Kajiannya bercorak binari (duaan) dan bertumpu pada rapport defaits, artinyaperhubungan faktual antara dua buah teks yang diteliti secara pasti. Kegiatan yang dilakukanjuga menganalisis, menafsirkan dan menilai. Karena obyeknya lebih dari satu, setiap obyek harusditelaah, barulah hasil telaah tersebut diperbandingkan. Bisa saja, peneliti melakukan analisisstruktural kedua karya, baru diperbandingkan. Dengan cara ini akan mempermudah penelitimelakjukan bandingan. Setidaknya akan mudah ditemukan unsur persamaan dan perbedaansetiap karya sastra.[ramlannarie.wordpress.com