Metode penelitian sastra

33,069 views
32,860 views

Published on

0 Comments
5 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
33,069
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
629
Comments
0
Likes
5
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Metode penelitian sastra

  1. 1. METODE PENELITIAN SASTRA Disusun oleh: Asep Yusup Hudayat Fakultas Satra Universitas Padjadjaran Bandung 2007
  2. 2. DAFTAR ISIKATA PENGANTAR ………………………………………………… iDAFTAR ISI ………………………………………………………….. iiiBAB I PENDAHULUAN …………………………………………… 11.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik …………… 11.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian …………………….. 2BAB II PENELITIAN ILMIAH ……………………………………… 102.1 Penelitian dan Ilmu ………………………………………………… 102.2 Metode dan Nilai Keilmiahan ……………………………………… 162.3 Asas-asas Dasar Penelitian ………………………………………… 192.4 Penggolongan Penelitian …………………………………………… 202.5 Metode Kualitatif …………………………………………………… 222.6 Metode Deskriptif …………………………………………………. 23BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH ……………… 293.1 Sastra sebagai Sistem ……………………………………………… 293.2 Sastra sebagai Objek Penelitian …………………………………… 313.3. Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra ………………………… 33 iii
  3. 3. 3.4 Pendekatan Sastra: Pengertian ……………………………………… 37 3.4.1 Pengertian Pendekatan ……………………………………….. 37 3.4.2 Jenis-jenis Pendekatan ……………………………………… 38 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif ……………………………… 39 3.4.2.2 Pendekatan Mimeis ………………………………… 40 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik ……………………………… 43 3.4.2.4 Pendekatan Objektif ………………………………… 48BAB IV STRUKTURALISME ………………………………………… 514.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan ……………………………………… 514.2 Teori Formalis ……………………………………………………… 544.3 Teori Strukturalisme Dinamik ……………………………………… 554.4 Semiotik …………………………………………………………… 584.5 Struktualisme Genetik ……………………………………………… 62 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan …………………… 65 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif ……………….. 66 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia …………… 67 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial …………………… 69 4.5.5 Metode Dialektik …………………………………………….. 714.6 Naratologi …………………………………………………………… 72 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya …… 72 4.6.2 Pelopor Naratilogi Periode Strukturalisme dan Pahamnya …… 76 4.6.2.1 Vladimir Propp ……………………………………… 76 iv
  4. 4. 4.6.2.2 Levi’Strauss ………………………………………… 78 4.6.2.3 Tvzetan Todorov …………………………………… 79 4.6.2.4 Greimas …………………………………………….. 80BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN: TINJAUAN KRITIS .. 835.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian .......... 83 5.1.1 Latar belakang Masalah …………………………………… 83 5.1.2 Identifikasi Masalah ……………………………………….. 86 5.1.3 Tujuan Penelitian ………………………………………….. 88 5.1.4 Landasan Teori …………………………………………… 89 5.1.5 Metodologi ………………………………………………… 915.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah.. ......................................................................................... 955.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian …………………… 1005.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis ……………………… 1035.5 Kemampuan Menyajikan Metode ………………………………… 105DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 112 v
  5. 5. KATA PENGANTAR Metode penelitian sastra merupakan alat penting dalam mewujudkansebuah penelitian sastra yang memadai. Selain itu, upaya mendeskripsikanmasalah sastra yang bersifat unik dan universal sebagai objek penelitian,menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam modul ini. Pertimbanganutamanya adalah untuk memberikan pengetahuan secara memadai mengenaipenelitian sastra yang menuntut sebuah metode penelitian yang khusus disamping tetap berada dalam jangkauan asas-asas penelitian ilmiah secarauniversal. Adapun uraian mengenai tinjauan kritis atas rancangan sejumlahusulan penelitian sastra dimaksudkan untuk melengkapi uraian empiris darirentang pembahasan metode penelitian sastra menyangkut pengertian, hakikat,relevansi metode dan penelitian, sastra dalam penelitian ilmiah, sampai keuaraian beberapa pendekatan sastra dalam wilayah strukturalisme. Materi yang disajikan dalam modul ini bersumber dari beberapa bukudan karangan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan metode penelitian.Sasaran utama penulisan modul ini adalah para mahasiswa yang akanmenghadapi penyusunan Usulan Penelitian Skripsi atau sedang menempuhmasa bimbingan skripsi yang menggunakan pendekatan struktural sebagaiobjek formalnya. i
  6. 6. Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secaralangsung atau tidak langsung telah ikut serta mewujudkan penyusunan modulini. Perbaikan di kemudian hari tentunya perlu penyusun lakukan untukmenjadikan modul ini cukup memadai sesuai kebutuhan para mahasiswa diprogram strata satu dengan bidang kajian utamanya adalah sastra.. Tentunya modul ini akan menempati fungsinya yang optimal sebagaimateri pengetahuan bila dapat menumbuhkan kesadaran para mahasiswa akanfilsafat ilmu, teori, dan metode dalam ruang lingkup penelitian sastra. Dengandemikian, penyusun berhadap modul ini dapat membuka jalan bagi tercapainyakegiatan penelitian yang baik dengan bekal kemampuan metode yangmemadai. Bandung, Agustus 2007 Penyusun ii
  7. 7. BAB I PENDAHULUAN1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik Adakalanya pengertian-pengertian metodologi, metode, dan tekniksering tertukar atau bahkan dicampuradukkan. Pengertian mendasar darimasing-masing istilah adalah: 1. Metodologi berasal dari methodos dan logos, yaitu filsafat ilmu mengenai metode. Metodologi dengan demikian membahas prosedur intelektual dalam totalitas komunitas ilmiah. 2. Metode berasal dari kata methods yang akar katanya adalah meta yang berarti menuju, melalui, mengikuti, sesudah; sedangkan hodos berarti jalan, cara, arah. Dalam pengertian yang lebih luas, metode dianggap sebagai cara-cara, strategi untuk memahami realitas; langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. 3. Teknik berasal dari kata teknikos, yang berarti alat, atau seni menggunakan alat. Perbedaan mendasarnya antara metodologi dan metode adalahmetodologi membahas konsep teoritik berbagai metode sedangkan metodemengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan dalam kegiatanpenelitian. Upaya memilah dua pengetian tersebut berpangkal dari penyadaran 1
  8. 8. filsafat keilmuan yang kita anut yang berkorelasi dengan metodologi penelitianitu sendiri. Adakalanya para penganut filsafat ilmu yang berbeda memberi capbohong, munafik pada langkah-langkah kerja penelitian yang memulaitulisannya dengan alasan pemilihan judul, perumusan masalah, dan kerangkapemikiran penelitian. Yang memberi cap tersebut lupa atau tidak tahu bahwaada metodologi penelitian yang berbeda yang menggunakan dasar filsafat ilmuyang berbeda dan menuntut langkah kerja yang berbeda pula. Muhazir (2002: 4) menegaskan bahwa para ilmuwan peneliti perlumenggunakan landasan filsafat ilmu. Landasan tersebut digunakan untukmetodologi penelitian. Dengan demikian yang bersangutan sadar dalambeberapa hal: (1) sadar filsafati, artinya dia sadar menggunakan pendekatanfilsafat ilmu yang mana; (2) sadar teoritik, artinya dia sadar teori penelitianatau model mana yang digunakan; dan (3) sadar teknis, artinya dia mampumemilih teknik penelitian yang tepat.1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian Lebih jauh Muhazir (2002: 55) menyebutkan bahwa metodologipenelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajaribagaimana prosedur kerja mencari kebenaran. Prosedur kerja mencarikebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemologis. Kualitaskebenaran yang diperoleh dalam berilmu pengetahuan terkait langsung dengankualitas prosedur kerjanya. 2
  9. 9. Dengan prosedur kerja yang baik, kualitas kebenaran yang diperolehpun sejauh kebenaran epistemologik; dan ilmu pengetahuan hanya akanmampu menjangkau kebenaran epistemologik. Kebenaran epistemologiktampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teoriyang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis lain atau teori lain. Gerak daritesis dan teori yang satu ke tesis dan teori yang lain merupakan prosesberkelanjutan ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran objekif universal yangbukti kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus. Sebagai alat, sama dengan teori, metode berfungsi untukmenyederhanakan masalah, sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dandipahami. Klasifikasi, deskripsi, komparasi, sampling, induksi dan deduksi,eksplanasi dan interpretasi, kuantitatif dan kualitatif, dan sebaginya adalahsejumlah metode yang sudah sangat umum penggunaannya, baik dalam ilmukealaman maupun ilmu sosial, termasuk ilmu humaniora. Prosedur yang dimaksud dalam bahasan metodologi terjadi sejakpeneliti menaruh minat terhadap objek tertentu, menyusun proposal,membangun konsep dan model, merumuskan hipotesis dan permasalahan,mengadakan pengujian teori, menganalisis data, dan akhirnya menarikkesimpulan. Metodologi jelas mengimplikasikan metode. Tetapi metodologibukanlah kumpulan metode, juga bukan deskripsi mengenai metode tersebut.Perbedaan antara ilmu kealaman dengan ilmu kemanusiaan, misalnya,bukanlah karena perbedaan metode, melainkan karena perbedaan paradigmadan perbedaan metodologi. 3
  10. 10. Berbeda dengan metode, metodologi tidak berkaitan dengan teknik-teknik penelitian, melainkan dengan konsep-konsep dasar logika secarakeseluruhan. Metode deskripsi, komparasi, struktural, dan sebagainyadigunakan dalam kedua bidang ilmu, tetapi dasar dan cara pemahamannya,bagaimana prosedur pemahaman tersebut dibangun, jelas berbeda. Secara definit metode dengan teknik tidak memiliki batas-batas yangjelas. Metode sering disebutkan sebagai teknik. Ratna (2004: 37)mengemukakan tiga cara yang dapat membedakan antara metode denganteknik, bahkan juga dengan teori, melalui cara: 1. membedakan tingkat abstraksinya Abstraksi tertinggi dimiliki teori kemudian diikuti oleh metode dan teknik. Artinya, meskipun secara teoretis metode masih bersifat abstrak, tetapi sebagian ciri-cirinya dapat diidentifikasi secara kongkret. Sebagai alat, teknik bersifat paling kongkret. Sebagai instrumen penelitian, teknik dapat dideteksi secara inderawi. Dengan demikian, teknik berhubungan dengan data primer. Sejumlah teknik yang sering dimanfaatkan, misalnya: wawancara, kuesieoner, rekaman, statistik, dokumen, angket, teknik kartu data, dan sebagainya. Sampling dapat dianggap sebagai teknik pada saat keseluruhan sampel sudah dimasukkan ke dalam sistem kartu sehingga bersifat kongkret. Demikian juga statistik dapat dianggap sebagai metode pada saat data sedang dikuantifikasikan sehingga sifatnya masih abstrak 4
  11. 11. Pada pembicaraan yang berbeda, metode dapat menjadi teori. Struktur adalah teori sebab sudah menghasilkan sejumlah konsep dasar dan sudah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Tetapi sebelumnya, struktur disebut sebagai metode. Jadi, struktur bisa menjadi metode atau teori tergantung dari tujuan dan cara pandang peneliti.2. memperhatikan faktor mana yang lebih luas ruang lingkup pemakaiannya Secara berurutan tingkat keluasan ruang lingkup pemakaian: paradigma, metodologi, teori, metode, dan teknik; luasnya paradigma dan metodologi disebabkan oleh penelusurannya ke masa lampau. Luasnya teori disebabkan oleh adanya perkembangan secara terus menerus. Teknik memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dibandingkan metode walaupun keduanya memiliki pengertian yang sama. Metode yang baik adalah metode yang selalu bersifat teknik.3. memperhatikan hubungannya dengan objek Makin dekat dan jelas hubungannya dengan objek maka disebut teknik, sebaliknya makin jauh dan kurang jelas disebut metode. 5
  12. 12. Dalam penelitian sastra terdapat dua macam penelitian, yaitu penelitianlapangan dan perpustakaan. Prosedur penelitian lapangan ilmu sastra hampirsama dengan ilmu sosial. Keduanya memanfaatkan instrumen yang sama,dengan metode dan teknik yang sama. Prosedur penelitian pustaka dalam bidang sastra agak berbeda. Padaumumnya penelitian pustaka secara khusus meneliti teks. Teknik yangdigunakan adalah kartu data primer maupun sekunder dengan metode yangpaling sering digunakan adalah hermeneutik yang disamakan denganverstehen, interpretasi, dan pemahaman. Dalam bidang ilmu lain, interpretasidisejajarkan dengan metode kualitatif, analisis isi, dan etnografi. Metode lainyang sering digunakan adalah deskriptif analitik, yaitu dengan jalanmenguraikan sekaligus menganalisis. Metode yang perlu dibicarakan dalam analisis karya sastra adalah:metode intuitif, hermeneutik, metode formal, analisis isi, dialektika, deskriptifanalisis, deskriptif komparatif, dan deskripsif induktif. Sehubungan denganjangkauan utama pembicaraan ke arah pendekatan struktural, maka metodeyang penting untuk dikemukakan pada uraian ini menyangkut: metodehermeneutik, metode formal, metode dialektik, dan metode deskriptif analisis.Perbedaan masing-masing metode (Ratna, 2004: 44-46) tampak pada uraian dibawah ini: a. metode hermeneutik Metode ini dianggap sebagai metode ilmiah paling tua yang sudah ada sejak zama Plato dan Aristoteles. Mula-mula metode ini 6
  13. 13. berfungsi untuk menafsirkan kitab suci. Hermeneutik modern baru berkembang sejak abad ke-19 melalui gagasan Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan sebagainya. Dalam sastra dan filsafat, hermeneutik disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif. Dalam ilmu- ilmu sosial juga disebut metode kualitatif, analisis isi, alamiah, naturalistik, studi kasus, etnografi, etnometodologi, dan fenomenologi. Metode ini ini tidak mencari makna yang benar melainkan makna yang paling optimal. Untuk menghindarkan keterbatasan proses interpretasi, peneliti harus memiliki titik pijak yang jelas. Penafsiran terjadi karena setiap subjek memandang objek melalui horison dan paradigma yang berbeda-beda. Keragaman tersebut pada gilirannya menimbulkan kekayaan makna dalam kehidupan manusia, menambah kualitas estetika, etika, dan logika.b. metode formal Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspek- aspek formal, aspek-aspek bentuk yang mengarah pada unsur-unsur karya sastra. Tujuan metode formal adalah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik. Ciri-ciri utama metode formal adalah analisis terhadap unsur-unsur karya sastra kemudian mempertalikan hubungan antarunsur tersebut 7
  14. 14. dengan totalitasnya.. Metode ini sama dengan metode struktural yang berkembang menjadi teori strukturalisme. Metode formal memandang bahwa keseluruhan aktivitas kultural memiliki dan terdiri atas unsur-unsur.c. metode dialektika Mekanisme kerja metode ini adalah tesis, antitesis, dan sintesis.. Prinsip dasarnya adalah unsur yang satu tidak harus lebur ke dalam unsur lainnya. Individualitas dipertahankan di samping interdependensinya. Kontradiksi tidak dimaksudkan untuk menguntungkan secara sepihak. Sintesis bukanlah hasil yang pasti tetapi justru merupakan awal penelusuran gejala berikutnya. Prinsip-prinsip dialektika hampir sama dengan hermeneutik, yaitu gerak spiral eksplorasi makna yang mengarah kepada penelusuran unsur ke dalam totalitas dan sebaliknya. Pada metode ini, kontinuitas operasionalisasi tidak berhenti pada level tertulis tetapi diteruskan pada jaringan kategori sosial sebagai penjaringan makna secara lengkap. Kontradiksi dalam dialektika dianggap sebagai energi pemahaman objek. Metode dialektika digunakan dengan sangat berhasil oleh Goldmann dalam struktural genetik. Secara teoretis, setiap fakta sastra dapat dianggap sebagai tesis kemudian diadakan negasi. Dengan adanya pengingkaran, tesis dan antitesis seolah-olah hilang 8
  15. 15. atau berubah menjadi kualitas fakta yang lebih tinggi, yaitu sintesis itu sendiri. Sintesis kemudian menjadi tesis kembali dan seterusnya sehingga proses pemahaman terjadi secara terus- menerus.d. metode deskriptif analisis Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis. Metode ini tidak semata- mata hanya menguraikan tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan. Metode ini dapat diaplikasikan ke dalam beberapa jenis lainnya, misalnya metode deskriptif komparatif atau metode deskriptif induktif. Metode ini dapat diperoleh melalui gabungan dua metode dengan menitikberatkan kepada metode yang lebih khas yang sesuai dengan tujuan penelitian. 9
  16. 16. BAB II PENELITIAN ILMIAH2.1 Penelitian dan Ilmu Penelitian merupakan bentuk nomina dari kata kerja: meneliti.Pengertian meneliti dimaksudkan sebagai tindakan melakukan kerjapenyelidikan secara cermat terhadap suatu sasaran untuk memperoleh hasiltertentu. Kata penelitian yang merupakan bentuk pembendaan dari kata kerjameneliti mengandung makna sebagaimana yang terdapat pada kata meneliti.Penelitian dipandang sebagai sinonim riset (reseach) yang menunjukkan artikegiatan yang diarahkan pada kerja pencarian ulang, atau pencarian kembaliatas suatu objek, yaitu kegiatan yang memerlukan ketelitian, kecermatan, dankecerdasan yang memadai. Hubungannya dengan ilmu, kegiatan penelitian erat kaitannya dengankeberadaan kehidupan ilmu yang bersifat kumulatif. Ilmu tidak selalu dalamkeadaan mantap dan stabil tetapi sebaliknya bersifat dinamis. Kedinamisanilmu ditopang secara kuat oleh kegiatan penelitian. Sebagai akibatnya,penelitian mempunyai peran penting bagi keberadaan dan kehidupan ilmu,yaitu mengembangkan dan mempertajamnya. Jadi, ilmu dapat hidup, 10
  17. 17. berkembang, dan menjadi tajam berkat penelitian yang dilakukan secara terusmenerus. Ilmu adalah pengetahuan yang bersistem dan terorganisasi. Oleh karenaitu, upaya penelitian yang dilakukan dalam rangka pengembangan ilmumemerlukan metode yang bersifat ilmiah. Oleh karena itu pula, kegiatanpenelitian yang dikaitkan dengan pengembangan ilmu merupakan serangkaiankegiatan yang dilakukan secara tertata, sistematis, dan terorganisasi untukmendapatkan jawaban secara ilmiah atas suatu masalah (Nazir, 1985: 9-15). Dalam kaiatannya dengan sifat ilmu pula, penelitian mempunyai tujuanuntuk mengungkapkan gejala-gejala yang bersifat umum, yang selanjutnyamelahirkan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum. Gejala yang bersifatumum menjadi indikasi akan suatu kebenaran ilmiah. Dalam rangka pengembangan ilmu dan eksistensi sosial, kebenaranilmiah menyimpan kegunaan ganda. Pertama, scientific objective, yaitumengembangkan ilmu dengan teori-teori yang sesuai dan relevan. Kedua,practicial objective, yaitu memecahkan dan menjawab persoalan-persoalanpraktis yang mendesak.Situasi itu memperlihatkan pentingnya peran penelitianbagi pengembangan ilmu. Chamamah (2001:7) mengemukakan bahwa kata penelitian dapatdiinterpretasi dua macam, yaitu kegiatan yang dilakukan secara ilmiah dankegiatan yang dilakukan secara nonilmiah. Dalam menghadapi masalah,penelitian yang ilmiah tidak sama dengan penelitian nonilmiah. Perbedaankeduanya berhubungan dengan persoalan metodologis, terutama yang berkaitan 11
  18. 18. dengan pemanfaatan teori dan metode. Penelitian ilmiah merupakanserangkaian kegiatan yang dilakukan dengan metode bersistem, nalar, dansesuai dengan objeknya, yaitu sifat-sifat yang ada pada ilmu. Penelitian yangdikaitkan dengan ilmu yang disebut penelitian ilmiah- inilah yang menjadisasaran dalam mata kuliah ini. Kaitannya dengan kehidupan ilmu, kegiatanpenelitian dituntut untuk memakai metode yang ilmiah pula, di antaranyaadalah penggunaan sikap perpikir yang kritis dari si peneliti. Sesuai dengan sasaran kerja penelitian yang dibahas dalam mata kuiahini, yaitu penelitian sastra, dapatlah diketahui bahwa melakukan kajianterhadap karya sastra merupakan kegiatan yang penting dalam perkembanganilmu sastra. Ilmu sastra sebagai satu disiplin akan berkembang berkatpenajaman konsep-konsep, teori-teori, dan metodologi yang dihasilkan melaluipenelitian sastra. Dapat juga dilihat perlunya ilmu sastra dan penelitian sastrauntuk perkembangan dan kesempurnaan ilmu sastra. Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untukmemecahkan masalah dengan dukungan data sebagai landasan dalammengambil keputusan. Penelitian bukan saja merupakan proses sistematis akantetapi juga dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific methods). Wuradji (2001: 1-2) menyebutkan bahawa penelitian merupakan prosessistematis. Proses yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan denganprosedur yang ditetapkan secara tertata (tersistem). Prosedurnya berartimenggunakan urutan tertentu. Tersistem berarti menunjukkan adanyahubungan fungsional antara kegiatan yang dilakukan. Urutan umum dari proses 12
  19. 19. sistematis penelitian adalah: perumusan masalah, penelaahan informasi,pengumpulan data, analisis data, dan penyajian kesimpulan. Banyak hal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk hewan.Perbedaan yang paling menonjol adalah manusia selalu mengalamipertumbuhan intelektual, emosional, social, dan spiritual. Manusia mempunyaikemampuan bernalar dan menggunakan simbol-simbol untuk mengekspresikanpikirannya. Di samping itu, manusia senantiasa mencari kesempurnaan dankebenaran. Oleh karena itu, manusia mencari tahu dan mencari makna. Usahamencari tahu dan menemukan makna tidak pernah padam karena manusiasenantiasa menghadapi masalah-masalah yang bergantian. Di samping masalahyang dihadapi, ia ingin tahu pula tentang masalah yang dihadapi orang lain.Semua itu merupakan rangkaian rangsangan, baik yang muncul dari dalamdirinya maupun muncul dari luar dirinya. Rasa ingin tahu itulah yangmenyebabkan manusia secara sengaja menghimbun keterangan yang berupadata, fakta, dan pengetahuan yang tersusun berupa konsep atau gagasan yangsaling berkaitan yang akhirnya memberikan keterangan atau penjelasanmengenai segala sesuatu yang dialaminya. Nazir (1985: 9) mengemukakan bahwa ilmu lahir karena manusiadiberkahi sifat ingin tahu oleh Tuhan. Keingintahuan manusia tentangpermasalahan yang terjadi di sekelilingnya dapat menjurus kepadakeingintahuan ilmiah. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus-menerus, maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuanpersepsi serta kemampuan berpikir manusia secara logis yang sering disebut 13
  20. 20. penalaran yang mengarah kepada keilmuan tertentu. Ilmu mencakup lapanganyang sangat luas, menjangkau semua aspek tentang kemajuan manusia secaramenyeluruh, termasuk ke dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secarasistematis melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telahmenghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum. Merujuk kepada pendapat di atas perihal sumber pengetahuan, kegiatanpenelitian dengan menggunakan metode tertentu sangat terikat dengan bidangilmu (sains) tertentu. Proses memperoleh pengetahuan melalui ilmu berbedadengan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui relevasi (pengelamansecara kebetulan), otoritas, intuasi, atau pendapat umum. Pengetahuan yangdiperoleh dengan ilmu itu adalah pengetahuan yang telah teruji dengan metode-metode ilmiah. Sifat ingin tahu yang diperoleh melalui ilmu ini dimulai denganmengkonseptualisasi gambaran tentang masalah, kemudian melakukan prosespenemuan, penciptaan atau penyusunan cara-cara yang baik untuk membatasi,menggambarkan, dan menafsirkan apa yang diamati. Semua pengetahuan yang telah diperoleh itu rupanya senantiasa puladipertanyakan keabsahannya. Terjadilah usaha mencari tahu atau menemukankebenaran yang lebih sahih dan lebih diyakini. Untuk memverifikasi keabsahanilmu yang sudah ada atau menjajaki teori baru, atau memperkaya teori yangsudah ada, orang melakukan berbagai usaha seperti perenungan kembali,melakukan kegiatan penemuan, penyelidikan, atau penelitian. Inilah awal darirangkaian terjadinya kegiatan yang dinamakan penelitian. 14
  21. 21. Di dalam melakukan kegiatan penelitian itu terdapat dua kemungkinanbentuk kegiatan. Pertama, penelitian yang dilakukan dengan berpegang ataubertolak dari teori yang telah ada sebelumnya. Penelitian dengan menggunakanteori itu mungkin bersifat memperkaya teori itu dengan contoh-contoh ataumenunjukkan dalam kondisi apa teori tersebut kurang tepat dan perludimodifikasi. Kedua, adalah penelitian yang sifatnya memperkaya ilmu itusendiri dengan jalan mencari dan menemukan teori-teori baru yang sesuai ataurelevan dengan kondisi dan situasi. Untuk sampai kepada kegiatan penelitian jenis kedua, memerlukansikap tanggap yang tinggi sebagai ilmuwan. Yang bersangkutan harusmengkaji latar belakang dan proses lahirnya suatu teori. Ia harus memperlajaridan mendalami perkembangan ilmu yang bersangkutan terutama yangberkenaan dengan pengetahuan mengenai gejala-gejala yang berkait denganpenemuan teori itu sendiri. Dalam hal ini, para ilmuwan tentunya berupayauntuk mengurangi subjektivitas dan mempertinggi objektivitas. Kesimpulanapapun yang dibuat mestilah dinilai sebagai kesimpulan sementara. Parailmuwan akan selalu tidak puas dengan setiap kesimpulan sementara. Olehkarena itu, para ilmuwan selalu berusaha menemukan kesimpulan baru yangbarangkali merevisi kesimpulan-kesimpulan terdahulu. Begitulah terjadinyapenelitian yang tidak pernah henti-hentinya. Penelitian bertujuan untuk menemukan atau menggali (explore),mengembangkan (develop atau extention) dan menguji (testing) teori. Adapunyang dimaksud teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling 15
  22. 22. berhubungan), rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatupandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikanhubungan-hubungan antarvariable dengan tujuan untuk menjelaskan danmemprediksi gejala. Penelitian akan menghasilkan teori, sebaliknya teori dalamhubungannya dengan kegiatan penelitian dapat memberikan kerangka kerjabagi pelaksanaan penelitian. Teori dapat membantu merumuskan problem,pengajuan hipotesis, penyusunan design, pengembangan instrumen,pengumpulan dan analisis data, serta membantu dalam menginterpretasi data. Hubungan teori dan penelitian digambarkan sebagai berikut: Pengumpulan Analisis Penyajian hasil Identifikasi data data penelitian masalah Kesimpulan Formulasi dan implikasi hipotesis Review informasi yang terkait Teori-teori yang terkait Pengembangan/ Ilmu pengetahuan yang Perluasan revisi Eksis body of knowledge dan teori baru2.2 Metode Dan Nilai Keilmiahan Peneliti ilmuwan yang memanfaatkan nalarnya di dalam bekerjamendasarkan kerjanya atas sifat ideal ilmu, yaitu interrelasi yang sistematis danterorganisasi antara fakta-fakta. Dengan demikian metodenya pun bersifat 16
  23. 23. ilmiah. Metode ilmiah bertolak dari kesangsian yang sistematis. Suatu kerjayang didasarkan pada metode ilmiah memiliki empat nilai dasar: universalitas,komunikasi, ketanpapamrihan, dan skeptisisme yang sistematis danterorganisir. Dalam kerja penelitian, ilmu-ilmu humaniora, nilai-nilai dasar tersebutdapat dijabarkan dalam kriteria: (1) berdasarkan fakta, (2) bebas prasangka, (3)menggunakan prinsip analisis, (4) menggunakan hipoteisis apabila ada, dan (5)menggunakan ukuran objektif (jarak metodologis). Penelitian ilmiahmemerlukan landasan kerja yang ilmiah pula. Landasan kerja yang dimaksudoleh Chamamah (2001: 14) yang sejalan dengan pemahaman Muhajir (2002:4) dirumuskan dalam tiga hal, yaitu: 1. landasan teori: landasan yang berupa hasil perenungan terdahulu yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian dan bertujuan mencari jawaban secara ilmiah; 2. landasan metodologis: landasan yang berupa tata aturan kerja dalam penelitian dan bertujuan untuk membuktikan jawaban yang dihasilkan; 3. landasan kecendikiaan: bekal kemampuan membaca, menganalisis, menginterpretasi, dan menyimpulkan; bertujuan mempertajam penelitian guna meningkatkan kedekatan hasil penelitian. Dalam penelitian ilmiah, dituntut langkah-langkah berturut-turut, yaitu:(1) menetapkan persoalan pokok, (2) merumuskan dan mendefinisikanmasalah, (3) mengadakan studi pustaka, (4) merumuskan hipotesis, (5)mengumpulkan data, (6) mengolah data, (7) menganalisis dan 17
  24. 24. menginterpretasi, (8) membuat generalisasi sesuai sifatnya, (9) menarikkesimpulan, (10) merumuskan dan melaporkan hasil penelitian, dan (11)mengemukakan implikasi-implikasi penelitian. Dalam kaitannya dengan keberadaan kondisi produk sastra yangmenjadi sasaran kajian, perlu diperhatikan persoalan yang muncul sertajawaban-jawaban yang diperlukan. Karya-karya tercipta pada masa kini darilatar penciptaan sosial dan word view yang berbeda-beda melahirkan persoalanpembacaan dari peneliti yang berlainan latar pembacaannya. Demikian pula,produk yang tercipta dari proses transformasi karya “asing” menimbulkan pulalatar pembacaan yang berbeda dengan latar penciptaannya; juga persoalanbentuk-bentuk resepsi dalam mentransformasi. Karya-karya yang tercipta darilatar waktu yang berlainan akan menimbulkan persoalan yang berhubungandengan pergeseran makna. Dalam hal inilah pemilihan teori dan metode yangmemadai menempati peran yang penting untuk menghasilkan penelitian yangmemiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi. Pelaksanaan kegiatan yang didasarkan pada metode di atas akanmemberikan citra keilmiahan penelitian sastra sesuai dengan karakteristikkesastraannya. 18
  25. 25. 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian Wiersma dalam (Wuradji, (2001: 3-4) menjelaskan bahwa secaraumum asas-asas dasar penelitian meliputi: 1. sistematis 2. menghasilkan pengetahuan yang: a. valid : berhubungan dengan sebarapa jauh hasil penelitian dapat diinterpretasi (dimaknai) secara akurat dan seberapa jauh hasilnya dapat digeneralisasi dan diimplemetasikan pada populasi dan situasi yang lain b. validitas internal mengarah kepada ketepatan pemahaman hasil penelitian dan validitas eksternal mengarah kepada penggeneralisasian hasil penelitian c. realibel internal menunjukkan seberapa jauh pengumpulan data, analisis data dan pemahaman yang dilakukan penelitian konsisten dalam pemaknaan; realibel eksternal menunjukkan seberapa jauh peneliti lain yang independen dapat mengulang penelitian dan menunjukkan hasil yang sama dalam setting yang serupa. d. Objektif mengarah kepada penelitian yang terbebas dari campur tangan atau unsur-unsur subjektif 3. didukung data empiris 19
  26. 26. 2.4 Penggolongan Penelitian Merujuk kepada pendapat Hogben, Charters, dan Whitney, Nazir (1985: 29-31) menggolongkan penelitian berdasarkan tujuannya ke dalam duabagian besar, yaitu : 1. penelitian dasar (basic Reasearch) bertujuan untuk mengembangkan ilmu pegetahuan. Jenis penelitian in tidak berorientasi pada hasil yang dapat dimanfaatkan dengan segera untuk memecahkan problem yang mendesak. 2. penelitian terapan (applied Reasearch) bertujuan untuk memecahkan problem mendesak dan hasilnya dapat dimanfaatkan dengan segera dalam kehidupan praktis. Salah satu tipe dari penelitian terapan adalah penelitian tindakan (action research). Penelitian ini dilakukan oleh guru atau manager atau administrator bertujuan untuk bahan pengambilan keputusan dalam ruang lingkup lokal. Penelitian ini tidak banyak menuntut untuk melakukan generalisasi. Berdasarkan desain metodologinya, (bandingkan Nazir, 1885; Ratna,2004; dan Muhadjir, 2003) penelitian digolongkan menjadi: 1. penelitian experiment: mengandaikan situasi penelitian di mana peneliti setidaknya memanipulasi satu variabel penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hasil yang berbeda dari pengaturan atau perubahan variabel independen tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk 20
  27. 27. membandingkan dan mencari hubungan sebab akibat. Karena itu penelitian ini juga dikenal dengan istilah penelitian kausal-komparatif.2. penelitian ex-post facto: peneliti tidak berusaha mengendalikan atau mengatur/mengontrol/memanipulasi variabel independen karena variabel penelitiannya sudah terjadi. Variabel independen tersebut biasanya muncul atau terjadi dalam setting alami. Dari variabel-variabel yang telah muncul secara alami tersebut, peneliti berusaha menemukan hubungan antar variabel.3. penelitian survey: mengendalikan variabel penelitian yang dilakukan saat penelitian dilaksanakan. Ciri yang membedakan penelitian survey ini dengan penelitian lainnya adalah data pada penelitian survey merupakan current status (present conditions).4. penelitian historis: merupakan kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah di mana peneliti menggali data yang telah terjadi pada masa lampau. Tujuannya untuk mendeskripsikan fakta-fakta pada masa lampau.5. penelitian ethnography: pada umumnya dihubungkan dengan penelitian-penelitian pada antropologi. Untuk penelitian-penelitian kemasuyarakatan, ethnography merupakan pendekatan penelitian. Penelitian ini merupakan pendeskripsian secara analitik dan mendalam tentang situasi cultural yang spesifik.6. content analysis; berusaha menganalisis dokumen untuk diketahui isi dan makna yang terkandung dalam dokumen tersebut. Macam-macam 21
  28. 28. dokumen yang dijadikan data penelitian di antaranya: karangan tertulis, gambar, grafik, lukisan, biografi, fotografi, laporan, buku teks, surat kabar, film, buku harian, dan majalah.2.5 Metode Kualitatif Motode kualitatif memberikan perhatian kepada data alamiah yangberada dalam hubungan konteks keberadaanya. Landasan berpikir metodekualitatif adalah paradigma positivisme Max Weber, Immanuel kant, danWilhlem Dilthey (Ratna, 2004: 47-49). Objek sosial bukan gejala sosialsebagai bentuk substantif melainkan makna-makna yang terkandung di baliktindakan yang justru mendorong timbulnya gejala sosial tersebut. Dalamhubungan inilah metode kualitatif dianggap persis sama dengan metodepemahaman atau verstehen. Penelitian kualitatif mempertahankan nilai-nilai.Dalam ilmu sosial, sumber datanya adalah masyarakat sedangkan datapenelitiannya adalah tindakan-tindakan. Dalam ilmu sastra, sumber datanyaadalah karya sedangkan data penelitiannya teks. Sejalan dengan uraian di atas, Ratna menguraikan ciri-ciri terpentingmetode kualitatif . Ciri-ciri yang dimaksud adalah: 1. memberikan perhatian utama pada makna dan pesan, sesuai dengan hakikat objek, yaitu sebagai studi kultural; 2. lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah; 22
  29. 29. 3. tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian, subjek peneliti sebagai instrumen utama sehingga terjadi interaksi langsung di antaranya; 4. desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka; 5. penelitian bersifat alamiah, terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing.2.6 Metode Deskriptif Metode dskriptif adalah suatu metode dalam meneliti statussekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiranataupun suatu kelas peristiwa pada masa sakarang. Tujuan dari penelitiandeskriptif ini adalah untuk membuat dekripsi, gambaran atau lukisan secarasistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubunganantarfenomena yang diselidiki. Menurut Whitney (dalam Nazir, 1985: 63-65) metode dekriptif adalahpencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian dskriptifmempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta tatacara yang berlakudalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungankegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan, serta proses-prosesyang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. Dalammetode deskripsi peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomenatertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. Adakalanya peneliti 23
  30. 30. mengadakan klasifikasi serta penelitian terhadap fenomena-fenomena denganmenetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahlimenamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normativesurvey). Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status)fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu faktor dengan faktorlain. Metode ini dinamakan juga studi status . Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standar-standar. Dalam metode ini dapat diteliti masalah-masalah normatif bersama-sama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandingan-perbandingan antarfenomena. Perspektif waktu yang dijangkau dalampenelitian ini adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktuyang masih terjangkau dalam ingatan responden. Nazir (1985: 72-73) mengurutkan kriteria pokok metode deskriptifadalah:A. kriteria umum: 1. masalah yang dirumuskan harus patut, ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas 2. tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum 3. data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini 4. standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas 24
  31. 31. 5. harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan 6. hasil penelitian harus berisi secara detil yang digunakan baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakan yang dilakukan. Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoretis yang digunakan, jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan.B. kriteria khusus 1. prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value) 2. fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status. 3. sifat penelitian adalah ex post facto, karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel; variabel dilihat sebagaimana adanya. Adapun langkah-langkah umum dalam metode deskrptif adalah: 1. memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada 2. menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan; tujuan ini harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah 25
  32. 32. 3. memberi limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan; seberapa jauh wilayah penelitian akan dijangkau 4. merumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual 5. menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan 6. merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji, baik secara eksplisit maupun secara implisit 7. melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data; gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian 8. membuat tabulasi serta analisis (statistik); dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan 9. memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi yang ingin diselidiki dan data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan 10. mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan-penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diujiJenis-jenis penelitian deskriptif (Nazir, 1985: 65-68) yang perlu dikenalsehubungan dengan praktik analisis terhadap karya sastra adalah: 1. metode survei: penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual; dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap 26
  33. 33. hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa2. metode deskriptif berkesinambungan: kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian; penelitian dengan menggunakan metode ini bertujuan menjangkau informasi faktual yang mendetail3. Studi kasus: penelitian tentang status subjek penelitian yang berhubungan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas; subjek penelitian dapat saja individu, kelompok, lembaga, maupun masyarakat. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang, sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umun4. Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. Dalam studi komparatif ini, sulit diketahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol; metode yang digunakan di dalamnya adalah ex post facto, yaitu data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung; 27
  34. 34. Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan mengujihubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia. 28
  35. 35. BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH3.1 Sastra sebagai Sistem Chamamah ( 2001: 9-14) yang merujuk beberapa pendapat dari Idema,Plark, Eliis, Eagelton, Lotman, Riffaterre, dan Teeuw, menguraikanpemahaman sastra sebagai sistem. Ia mengawali pembicaraanya dari perspektifbahasa sebagai sistem semiotik primer. Selanjutnya sastra dihubungkan dengankonvensi budaya dan konvensi sastra. Secara cermat Teeuw masalah sistemsastra yangbersifat umum sekaligus khusus. Menurutnya, menjabarkan Istilahsastra dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semuamasyarakat meskipun secara sosial, ekonomi, dan keagamaan, keberadaannyatidak merupakan keharusan. Hal ini berarti bahwa sastra meupakan gejala yanguniversal. Akan tetapi suatu fenomena pula bahwa gejala yang universal itutidak mendapat konsep yang universal pula. Kriteria kesastraaan yang adadalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria kesastraan yang adapada masyarakat lain. Sastra mengandung sifat umum dan khusus. Pengertianumum dan khusus di sini dapat diperjelas dengan memahami terlebih dahulukonsep tentang sastra. Upaya mengungkap konsep tentang sastra pada umumnya dipandangtidak mudah. Hal ini disadari juga oleh para kitikus dan teoretis sastra. 29
  36. 36. Pertanyaan yang berhubungan dengan penjelasan tentang konsep sastra selalumuncul tetapi selalu pula berakhir dengan kesimpulan yang menunjukkankegagalannya. Melalui sistem sastralah, upaya mengenali konsep sastra dapatdilakukan. Fenomena yang terlihat universal dan sekaligus individual itumemperlihatkan sifat-sifat yang dapat ditarik dari berbagai sisinya. Wujudciptaan yang dipandang sebagai hasil kegiatan bersastra pertama-tama dilihatdari sisi bahannya, yaitu berupa bahasa. Pemakaian bahasa pada kegiatanbersastra berbeda dengan pemakaian bahasa pada kegiatan yang lainnya,seperti pada pemakaian sehari-hari (natural atau ordinary language).Perbedaan ini memberi kesan akan adanya sifat yang spesial yang dalambanyak hal tidak mengikuti tata aturan bahasa sehingga sering disebut“menyimpang atau yang sering menimbulkan interpretasi ganda. Dalam rangkafungsi inilah bahasa sastra mempunyai susunan yang kompleks. Sifat-sifatyang diangkat dari corak bahasanya mewujudkan sastra sebagai satu sistem.Apabila bahasa dalam kehidupan sehari-hari merupakan sistem pembentukyang pertama maka sastra merupakan sistem yang kedua, secondary modellingsystem. Sebagai satu sistem, sastra merupakan satu kebulatan dalam arti dapatdilihat dari berbagai sisi, di antaranya dari sisi bahan. Sastra tidak ditentukanoleh bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam macam caratertentu oleh masyarakat. Ini menunjukkan pengertian bahwa bahasa yangdipakai mengandung fungsi yang lebih umum. 30
  37. 37. Bahasa yang dipergunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra padahakikatnya untuk menyampaikan informasi. Pemanipulasian bahasa padahakekatnya dalam rangka mewujudkan sastra sebagai sarana komunikasi yangmaksimal. Dengan demikian, visi dan fungsi sastra terwujud sebagai saranakomunikasi, yaitu komunikasi dengan penikmatnya atau pembacanya. Pekerjaan meneliti sastra pada hakikatnya merupakan proses pertemuanantara ciptaan sastra dengan penelitinya, yaitu pembacanya. Dalam hal ini,perlu pula diperhatikan situasi pembaca dan pembacaan pada waktuberhadapan dengan karya sastra. Pembaca yang dibekali sejumlahpengetahuan, disadari atau tidak akan menjadi bekal dalam pembacaannya.Terjadilah pembacaan teks yang berstruktur yang menghasilkan dua kutub.Keduanya bergerak dalam irama yang dinamis. Dengan demikian, membacabukanlah proses yang berjalan satu arah, dari pembaca saja, tetapi satu bentukinteraksi dinamis antara teks dan pembacanya. Sastra dipahami sebagai satusistem yang terbaca pada ciptaan-ciptaan yang oleh masyarakatnyadikategorikan sebagai produk sastra.3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian Sebagai ilmu, ilmu sastra mempunyai karakteristik keilmiahan sendiri.Dalam hal ini penelitian harus memilih metode dan langkah-langkah kerja yangtepat dan sesuai dengan karakteristik objek kajiannya. Salah satu yang menarikdalam menggunakan metode penelitian sastra adalah perihal keharusan adanyadistansi, kerja yang objektif, dan terhindar dari unsur prasangka dari 31
  38. 38. perspektif. Gejala dengan situasi kesastraan inilah yang sering menuntutperhatian tersendiri. Penerapan metode ilmiah seperti yang dikemukakan di atas perlumempertimbangkan sifat sastra yang memperlihatkan gejala yang universalsekaligus khusus atau unik. Gejala universal pada sastra membuat sastramemiliki sifat-sifat yang umum. Karya sastra adalah wujud kreativitas manusiayang tergolong konvensi-konvensi yang berlaku bagi wujud ciptaannyamenjadi kaidah. Namun, keunikan karakteristik sastra pada suatu masyarakat,bahkan keunikan suatu ciptaan sastra, membuat sastra memiliki sifat-sifat yangkhusus. Dalam hal ini, generalisasi sebagaimana yang dianjurkan oleh suatumetode penelitian (positivistik) tentu saja tidak dapat dilakukan. Langkah yangbisa dilakukan adalah transferabilitas. Karya sastra terbentuk untuk mengetahui segala sesuatu yang organik.Tugas pembaca untuk mengetahui segala kekaburan elemen-elemen yangberfungsi membentuk kesatuan itu. Pembaca bertugas menghubungkanberbagai strata yang berbeda-beda pada tempatnya yang betul. Karena karyasastra pada mulanya mengandung unsur yang kabur, pembacalah yangmewujudkannya menjadi tidak kabur. Dalam mengungkapkan dan menyibakkekaburan itulah, sejumlah peralatan diperlukan, di antranya hasil renunganorang terdahulu tentang masalah atau berbagai hal yang berkaitan denganmasalah dalam penelitian, seperti berbagai teori dan pandangan-pandanganyang pernah ada. 32
  39. 39. 3.3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra Pembicaraan paradigma menjadi penting dalam menempatkan teoripada sebuah penelitian (Ratna, 2004: 21). Paradigma berasal dari bahasa Latin:paradigma berarti contoh, model, pola. Secara luas paradigma didefinisikansebagai seperangkat keyakinan mendasar, pandangan dunia yang berfungsiuntuk menuntun tindakan-tindakan manusia yang disepakati bersama, baikdalam kehidupan sehari-hari maupun penelitian ilmiah. Bagi ilmuwan, paradigma dianggap sebagai konsep-konsep kuncidalam melaksanakan suatu penelitian tertentu. Paradigmalah yang menentukanjenis-jenis ekspermen yang harus dilakukan oleh para ilmuwan, jenis-jenispertanyan yang harus diajukan, dan jenis-jenis permasalahan yang harusdipecahkan. Tanpa paradigma, ilmuwan tidak bisa mengumpulkan data. Terdapat tiga hal yang mempengaruhi perbedaan paradigma seorangilmuwan, sebagai berikut: 1. unsur dalam diri sendiri 2. unsur luar berupa lingkungan fisik 3. unsur luar berupa penjelajahan metodologi dan teori. Dalam kaitannya dengan karya sastra sebagai objek penelitian,paradigma di sini dibicarakan dalam kaitannya dengan teori dan metode di satupihak, dan di pihak lain berhubungan dengan sifat-sifat dasar karya sastrasebagai objek. Kaitan paradigma dengan teori dan metode tidak banyakmenimbulkan masalah sebab komponen-komponen tersebut memiliki ciri-ciri 33
  40. 40. yang relatif sama, konsep-konsep dasar yang memungkinkan subjek untukmenganalisis objek penelitian. Permasalahan yang agak kompleks akan timbulapabila paradigma dikaitkan dengan objek karya sastra. Di satu pihak, sebagaicara pandang, paradigma secara keseluruhan didasarkan atas asumsi-asumsiilmiah yang memungkinkan subjek untuk menghadapi masalah secara objektif.Di pihak lain, sebagai hakikat kreatif karya sastra didominasi olehsubjektivitas, imajinasi, bahkan khayalan. Sebagai bentuk kegiatan ilmiah, penelitian sastra memerlukan landasankerja yang berupa teori. Teori sebagai hasil perenungan yang mendalam,tersistem, dan terstruktur terhadap gejala-gejala alam berfungsi sebagaipengarah dalam kegiatan penelitian. Teori memperlihatkan hubungan-hubungan antarfakta yang tampaknya berbeda dan terpisah ke dalam satupersoalan dan menginformasikan proses pertalian yang terjadi di dalamkesatuan tersebut. Selanjutnya, hasil penelitian dalam arah balik akanmemberikan sumbangannya bagi teori. Jadi, antara teori dan penelitian punterdapat hubungan saling mengembangkan. Sesuai dengan beraneka ragam ilmu, maka teori pun juga beranekaragam. Dalam penelitian sastra, pemilihan macam teori diarahkan oleh masalahyang akan dijawab oleh penelitian dan oleh tujuan yang akan dicapai olehpenelitian. Contohnya, penelitian yang memasalahkan construct suatu wacanaakan memanfaatkan teori struktural, dan sebagainya. 34
  41. 41. Ritzer (dalam Ratna: 2004:26) mengemukakan empat faktor yangberkaitan dengan metode kualitatif secara filosofis. Keempat faktor tersebutadalah: 1. faktor ontologis, keberadaan objek yang sendirinya berada di antara masing-masing ilmu; dalam ilmu humaniora, khususnya sastra, objek dikonstruksikan oleh individu sebagai peneliti 2. faktor epistemologis, bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan; secara kualitatif, jarak antara subjek dengan objek dipersempit bahkan seolah-olah tidak ada jarak 3. faktor aksiologis, penelitian adalah penilaian, berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bebas nilai 4. faktor metodologis, keseluruhan proses penelitian, termasuk metode, teori, dan teknik. Paradigma ilmu sastra dengan demikian mencoba menjelaskan konsep-konsep yang mendasari pandangan dunia ilmuwan sastra, baik dalam kaitannyadengan individu maupun kelompok; baik dalam kaitannya dengan kaidah-kaidah sastra secara keseluruhan maupun sastra sebagai genre, termasukmodel-model pendekatan dalam kaitannya dengan kecenderunganmultidisiplin. Paradigma dengan demikian mendahului, mengkondisikanilmuwan sastra, ke arah mana penelitian sastra diarahkan, jawaban-jawabanapa yang akan diberikan. Pada gilirannya, baik secara eksplisit maupun implisitparadigma mengkondisikan teori, metode, teknik dan proses selanjutnya.Perbedaan dan perkembangan paradigma melahirkan angkatan, periode, 35
  42. 42. generasi, aliran, dan berbagai paham yang lain. Dengan kalimat lain, teori danmetode tidak berarti apa-apa apabila dibandingkan dengan peranan paradigma. Relevansi pengalaman paradigmatis terhadap hakikat karya secarakeseluruhan jelas berkaitan dengan hakikat karya, gejala kultural sebagaikualitas imajinasi dan kreativitas. Para ilmuwan sastra sejak semula telahmemahami bahwa karya sastra bukan kenyataan sesungguhnya. Keseluruhanunsur, termasuk tokoh-tokoh, latar tempat dan waktu, bahkan juga nama dantahun yang sama dengan sejarah umum adalah unsur yang diciptakan. Karyasastra tidak menyediakan referensi apa pun yang dapat dijadikan pedomanuntuk menjelaskan fakta sejarah, kecuali referensi estetisnya. Unsur-unsurkarya sastra hanya berfungsi dalam totalitas karya, bukan totalitas alamsemesta yang melatarbelakanginya. Novel sejarah, novel psikologis, demikianjuga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspek-aspek sejarah, psikologis, demikian juga novel ilmu pengetahuan tidakdimaksudkan untuk melegitimasikan aspek-aspek sejarah, psikologis dan ilmupengetahuan, melainkan semata-mata sebagai alternatif terhadap bidang ilmuyang ditunjuknya dengan pertimbangan bahwa ada dunia lain yang seolah-olahsama dengan dunia yang ditunjuknya. Pengalaman paradigmatis terhadap genre-genre sastra sama denganhakikat tersebut. Perbedaannya, subjek dalam hubungan ini telah memilikireferensi yang digunakan sebagai dasar untuk memahami dan mengembangkanhakikat imajinasi. Puisi, novel, dan drama, puisi, drama bersajak, dllmemperoleh pengertian melalui pengalaman paradigmatis tersebut. 36
  43. 43. Penjelajahan terhadap konsep-konsep paradigma sama pentingnyadengan teori, tetapi dalam penelitian konsep paradigma tidak muncul secaraeksplisit. Demikian juga konsep-konsep yang berkaitan dengan metodologiyang tidak pernah dipertimbangkan sebagai butir-butir penelitian. Paradigmadan metodologi dianggap sebagai komponen-komponen yang secara inklusifmempengaruhi dan mengarahkan peneliti pada suatu kesadaran tertentu,sehingga berbeda dengan peneliti lain dengan paradigma dan metodologi yangberbeda. Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa paradigma danmetodologi merupakan jiwa dan semangat penelitian yang kemudian diarahkanoleh teori dengan mempertimbangkan cara yang sudah disepakati, yaitu metodedan teknik.3.4 Pendekatan Sastra3.4.1. Pengertian Pendekatan Pendekatan adakalanya disamakan dengan metode (Ratna, 2004: 53-55). Lebih lanjut, Ratna menguraikan bahwa secara etimologis, pendekatanberasal dari kata appropio, approach, yang diartikan sebagai jalan danpenghampiran. Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek,sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan, menganalisis, danmenyajikan data. Dengan dasar pertimbangan bahwa sebuah penelitianmerupakan kegiatan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan metodis, makaperlu dibedakan antara metode dengan pendekatan. 37
  44. 44. Pendekatan pada dasarnya memiliki tingkat abstraksi yang lebih tinggibaik dengan metode maupun teori. Dalam sebuah pendekatan dimungkinkanuntuk mengoperasikan sejumlah teori dan metode. Dalam hubungan inilah,pendekatan disejajarkan dengan bidang ilmu tertentu, seperti pendekatansosiologi sastra, mitopoik, intrinsik dan ekstrinsik, pendekatan objektif,ekspresif, mimetik, pragmatik,dan sebagainya. Definisi tersebut bersifat relatifsebab yang jauh lebih penting adalah tujuan yang hendak dicapai sehinggasebuah pendekatan pada tahap tertentu bisa menjadi metode. Pendekatanadalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri.Pendekatan mengimplikasikan cara-cara memahami hakikat keilmuan tertentu. Penelitian secara keseluruhan ditentukan oleh tujuan. Pendekatanmerupakan langkah pertama dalam mewujudkan tujuan penelitian. Padadasarnya, dalam rangka melaksanakan suatu penelitian, pendekatanmendahului teori dan metode. Artinya, pemahaman mengenai pendekatanlahyang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu, kemudian diikuti denganpenentuan masalah, teori, metode, dan tekniknya.3.4.2 Jenis-jenis Pendekatan Sastra Empat komponen utama pendekatan sastra yang dikemukakan Abramsmenjadi bagian penting dalam teori strukturalisme. Empat pendekatan yangdimaksud adalah (1) pendekatan ekspresif, (2) pendekatan mimesis, (3)pendekatan pragmatik, dan (4) pendekatan objektif. 38
  45. 45. 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif Pendekatan ekspresif ini tidak semata-mata memberikan perhatianterhadap bagaimana karya itu diciptakan tetapi bentuk-bentuk apa yang terjadidalam karya sastra yang dihasilkan. Wilayah studi pendekatan ini adalah diripengarang, pikiran dan perasaan, dan hasil-hasil karyanya. Pendekatan inidapat dimanfaatkan untuk menggali ciiri-ciri individualisme, nasionalisme,komunisme, feminisme, dan sebagainya dalam karya baik karya sastraindividual maupun karya sastra dalam kerangka periodisasi. Menurut Abrams (1958: 22) pendekatan ekspresif ini menempatkankarya sastra sebagai curahan, ucapan, dan proyeksi pikiran dan perasaanpengarang. Pengarang sendiri menjadi pokok yang melahirkan produksipersepsi-persepsi, pikiran-pikiran, dan perasaan-perasaan yangdikombinasikan. Praktik analisis dengan pendekatan ini mengarah padapenelusuran kesejatian visi pribadi pengarang yang dalam paham strukturgenetik disebut pandangan dunia. Seringkali pendekatan ini mencari fakta-fakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yangsecara sadar atau tidak telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut.Dengan demikian secara konseptual dan metodologis dapat diketahui bahwapendekatan ekspresif menempatkan karya sastra sebagai: (1) wujud ekspresipengarang, (2) produk imajinasi pengarang yang bekerja dengan persepsi-persepsi, pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya, (3) produk pandangandunia pengarang. Secara metodis, langkah kerja yang dapat dilakukan melaluipendekatan ini adalah: (1) memerikan sejumalah pikiran, persepsi, dan 39
  46. 46. perasaan pengarang yang hadir secara langsung atau tidak di dalam karyanya,(2) memetakan sejumlah pikiran, persepsi, dan perasaan pengarang yangditemukan dalam karyanya ke dalam beberapa kategori faktual teks berupawatak, pengalaman, dan ideologi pengarang, (3) merujukkan data yangdiperoleh pada tahap (1) dan (2) ke dalam fakat-fakta khusus menyangkutwatak, pengalaman hidup, dan ideologi pengarang secara faktual luar teks (datasekunder berupa data biografis), dan (4) membicarakan secara menyeluruh,sesuai tujuan, pandangan dunia pengarang dalam konteks individual maupunsosial dengan mempertimbangkan hubungan-hubungan teks karya sastra hasilciptaannya dengan data biografisnya.3.4.2.2 Pendekatan Mimesis Dasar pertimbangan pendekatan mimesis adalah dunia pengalaman,yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yangsesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan (Abrams, 1958:8).Kenyataan di sini dipakai dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu segala sesuatuyang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra, sepertimisalnya benda-benda yang dapat dilihat dan diraba, bentuk-bentukkemasyarakatan, perasaan, pikiran, dan sebagainya Luxemberg, 1989:15).Melalui pandangan ini, secara hierarkis karya seni berada di bawah kenyataan.Akan tetapi Marxis dan sosiologi sastra memandang karya seni dianggapsebagai dokumen sosial; karya seni sebagai refleksi dan kenyataan di dalamnyasebagai sesuatu yang sudah ditafsirkan. 40
  47. 47. Sehubungan dengan pendekatan mimesis, Segers (2000, 91-94)mengungkapkan konsep yang dipakai kaum Maxist. Menurut konsep inikonsep imitasi harus menjadi norma dasar telaah. Kritik Marxist menyatakanbahwa dunia fiksional teks sastra seharusnya merefleksikan realitas sosial.Lebih jauh Segers mempertimbangkan fiksionalisasi dalam telaah teks sastrayang berhubungan dengan pendekatan mimesis. Menurutnya, normafiksionalitas mengimplikasikan bahwa tanda-tanda linguistik yang berfungsidalam teks sastra tidak merujuk secara langsung pada dunia kita, tetapi padadunia fiksional teks karya sastra. Adapun John Baxter (dalam Makaryk,1993: 591-593) menguraikanbahwa mimesis adalah hubungan dinamis yang berlanjut antara suatu senikarya yang baik dengan alam semesta moral yang nyata atau masuk akal.Mimesis sering diterjemahkan sebagai "tiruan". Secara terminologis, mimesismenandakan suatu seni penyajian atau kemiripan, tetapi penekanannyaberbeda. Tiruan, menyiratkan sesuatu yang statis, suatu copy, suatu produkakhir; mimesis melibatkan sesuatu yang dinamis, suatu proses, suatu hubunganaktif dengan suatu kenyataan hidup. Menurut Baxter, metode terbaik mimesis adalah dengan jalanmemperkuat dan memperdalam pemahaman moral, menyelidiki danmenafsirkan semesta yang diterima secara riil. Proses tidak berhenti hanyadengan apa pembaca atau penulis mencoba untuk mengetahuinya. Mungkinrentang batas yang riil dengan yang dihadirkan dapat dikhayalkan walaupunhanya sesaat dalam kondisi riil, atau suatu perspektif pada aspek yang riil yang 41
  48. 48. tidak bisa dijangkau jika tidak dilihat. Kenyataan kadang-kadang digambarkanberbeda karena tak sesuai dengan pandangan kenyataan yang menyeluruh.Oleh karena itu, kenyataan tidak dapat dihadirkan dalam karya dalam cakupanyang ideal. Mimesis sama dan sebangun dengan apa yang Coleridge sebutsebagai imajinasi yang utama, yang oleh Whalley disebut sebagai hasil darikesadaran tertinggi. Melalui penjabaran di atas, dapat diketahui secara konseptual danmetodologis bahwa pendekatan mimesis menempatkan karya sastra sebagai:(1) produk peniruan kenyataan yang diwujudkan secara dinamis, (2)representasi kenyataan semesta secara fiksional, (3) produk dinamis yangkenyataan di dalamnya tidak dapat dihadirkan dalam cakupan yang ideal, dan(4) produk imajinasi yang utama dengan kesadaran tertinggi atas kenyataan. Secara metodis, langkah kerja analisis melalui pendekatan ini dapatdisusun ke dalam langkah pokok, yaitu: (1) mengungkap dan mendeskripsikandata yang mengarah pada kenyataan yang ditemukan secara tekstual, (2)menghimpun data pokok atau spesifik sebagai variabel untuk dirujukkan kedalam pembahasan berdasarkan kategori tertentu, sesuai tujuan, misalnyamenelusuri unsur fiksionalitas sebagai refleksi kenyataan secara dinamis, dsb.,(3) membicarakan hubungan spesifikasi kenyataan dalam teks karya sastradengan kenyataan fakta realita, dan (4) menelusuri kesadaran tertinggi yangterkandung dalam teks karya sastra yang berhubungan dengan kenyataan yangdirepresentasikan dalam karya sastra. 42
  49. 49. 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik Pendekatan pragmatis menurut Abram (1958: 14-21) memberikanperhatian utama terhadap peranan pembaca. Pendekatan ini memberikanperhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca. Pendekatanpragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagaikompetensinya. Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra danpembaca, maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatanpragmatis di antaranya berbagai tanggapan masyarakat atau penerimanpembaca tertentu terhadap sebuah karya sastra, baik dalam kerangka sinkronismaupun diakronis. Segers (2000:35-47) dalam kaitannya dengan pendekatan pragmatik,mengawali pembicaraannya dengan uraian seputar estetika resepsi.Menurutnya, secara metodologis estetika resepsi berusaha memulai arah barudalam studi sastra karena berpandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnyadipelajari (terutama) dalam kaitannya dengan reaksi pembaca. Dalamuraiannya, Segers memetakan estetika resepsi ke dalam tiga bagian utama,yaitu (1) konsep umum estetika resepsi, (2) penerapan praktis estetika resepsi,dan (3) kedudukan estetika resepsi dalam tradisi studi sastra. Estetika resepsi yang termasuk ke dalam wilayah pendekatan pragmatikmemuat konsep-konsep dasar seperti yang dikemukanan Jauss dan Iser. Katakunci dari konsep yang diperkenalkan Jauss adalah rezeptions undwirkungsasthetik “ tanggapan dan efek”. Menurutnya, pembacalah yangmenilai, menikmati, menafsirkan, dan memahami karya sastra. Pembaca dalam 43
  50. 50. kondisi demikianlah yang mampu menentukan nasib dan peranannya dari segisejarah sastra dan estetika. Resepsi sebuah karya dengan pemahaman danpenilaiannya tidak dapat diteliti lepas dari rangka sejarahnya seperti yangterwujud dalam horison harapan pembaca masing-masing. Baru dalamkaitannya dengan pembaca, karya sastra mendapat makna dan fungsinya.Tujuh bagian penting yang menjadi dasar dari teori estetika resepsi Jauss,yaitu: (1) pengalaman pembaca, (2) horison harapan, (3) nilai estetik, (4)semangat zaman, (5) rangkaian sastra, (6) perspektif sinkronik dan diakronik,dan (7) sejarah umum. Pengalaman pembaca yang dimaksud mengindikasikan bahwa tekskarya sastra menawarkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca yangbermacam-macam pula dari sisi pengalamannya pada setiap periode atauzaman pembacaannya. Pembacaan yang beragam dalam periode waktu yangberbeda akan menunjukkan efek yang berbeda pula. Pengalaman pembaca akanmewujudkan orkestrasi yang padu antara tanggapan baru pembacanya denganteks yang membawanya hadir dalam aktivitas pembacaan pembacanya. Dalamhal ini, kesejarahan sastra tidak bergantung pada organisasi fakta-fakta literertetapi dibangun oleh pengalaman kesastraan yang dimiliki pembaca ataspengalaman sebelumnya. Horison harapan muncul pada tiap aktivitas pembacaan pembaca untukmasing-masing karya di dalam momen historis melalui bentuk dan pemahamanatas ganre, dari bentuk dan tema karya yang telah dikenal, dan dari oposisiantara puisi dan bahasa praktis. Karya sastra tidak berada dalam kekosongan 44
  51. 51. informasi. Dengan kondisi tersebut, teks karya sastra mampu menstimulusproses psikis pembaca dalam meresepsi teks karya sastra yang dibacanyasehingga bagian dari proses tersebut mengimplikasikan adanya harapan-harapan atas karya yang dibacanya. Horison harapan atas sebuah karya membuka peluang untukmenentukan karakter artistiknya melalui kesamaan dan tingkat pengaruhnyapada syarat pembaca. Penandaan perbedaan jarak estetik antara horisonharapan yang diberinya dan tampilan suatu karya baru akan mengarahkanpotensi-potensi resepsi yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahanhorison sampai pada penghilangan pengalaman yang umum dikenal atausampai pada peningkatan kesadaran pengalaman yang baru saja dicetuskan.Kondisi yang mengindikasikan adanya jarak estetik ini dapat menjadi objektifmenurut sejarah sejalan dengan spektrum reaksi pembaca dan pertimbangankritiknya. Perihal semangat zaman, rekonstruksi horison harapan pada permukaansuatu karya yang telah diciptakan dan diterima di masa lalu memungkinkanpembaca mempertanyakan kembali tentang teks tersebut. Proses pembacaandiarahkan kepada bagaimana pembaca jaman sekarang bisa memandang danmemahami karya tersebut. Pendekatan ini mengoreksi norma-norma klasikalyang tidak dikenal atau memodernisasi pemahaman seni dan menghindarikesulitan yang menyelimutinya. Teori estetik resepsi tidak hanya memahami bentuk suatu karya sastradalam bentangan historis berkenaan dengan pemahamannya. Teori menuntut 45
  52. 52. bahwa sesuatu karya individu menjadi bagian rangkaian karya lain untukmengetahui arti dan kedudukan historisnya dalam konteks pengalamankesastrannya. Pada tahapan sejarah resepsi karya sastra terhadap sejarah sastrasangat penting, yang terakhir memanifestasikan dirinya sebagai proses resepsipasif yang merupakan bagian dari pengarang. Pemahaman berikutnya dapatmemecahkan bentuk dan permasalahan moral yang ditinggalkan oleh karyasebelumnya dan pada gilirannya menyajikan permasalahan baru. Keberhasilan linguistik melalui perbedaan dan hubungan metodologisyang menyeluruh dari analisis sinkronis dan diakronis adalah kesempatanuntuk menanggulangi perspektif diakronis yang sebelumnya merupakan satu-satunya perspektif yang diberlakukan di dalam sejarah sastra. Pembenahantersebut membuka perubahan dalam perilaku estetik. Perspektif sejarah sastraselalu menemukan hubungan fungsional antara pemahaman karya-karya barudengan makna karya-karya terdahulu. Perspektif ini juga mempertimbangkanpandangan sinkronis guna menyusun dalam kelompok-kelompok yang sama,berlawanan dan teratur sehingga diperoleh sistem hubungan yang umum dalamkarya sastra pada waktu tertentu. Tugas sejarah sastra yang utuh tidaklah hanya diwakili kesinkronisandan kediakronisan di dalam rangkaian sistemnya, tetapi juga melihat seperti sejarah khusus dalam hubungan uniknya terhadap sejarah umum. Hubunganini tidak berakhir dengan fakta yang beragam, diidealkan, satirik, ataugambaran berupa kayalan tentang keberadaan sosial, tetapi hubungannya dapatditemukan di dalam sastra dari semua waktu. Fungsi sosial sastra 46
  53. 53. memanifetasikan dirinya di dalam kemungkinan riil hanya jika pengalamankesastraan pembaca masuk ke dalam horison harapannya dari kehidupanpraktisnya untuk kemudian pembaca melaksanakan pemahaman atas dunianya.Manifestasi tersebut mempunyai dan mempengaruhi perilaku sosialnya. Konsep yang dikemukakan Iser (1987: ix-xii; 54) adalah terdapathubungan dialektis antara teks, pembaca, dan interaksinya. Iser menyebutnyasebagai respon estetik sebab walaupun pusat perhatiannya sekitar teks, tetapimengarahkan persepsi dan imajinasi pembaca dalam rangka melakukanpenyesuaian dan bahkan membedakan fokusnya. Teori ini melihat bahwa karyasastra sebagai suatu yang diformukasikan kembali dari sesuatu yang telahdiformukasikan dalam realita. Karya sastra ini melahirkan sesuatu yang tidakada sebelumnya. Konsekuansinya, teori respon estetik dihadapkan padapermasalahan bagaimana suatu situasi yang tidak diformukasikan dapatdiproses dan dipahami. Asumsi dasar dari teori ini adalah teks hanya bisa hadirsaat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. Konsep dialektika respon estetik (Iser, 1987: 20 dan 54), interaksinyadapat dicermati melalui pengertian implied reder, literary repertoire, danliterary strategies Implied reader merupakan model, rol, dan standpoint yangmembuat pembaca sebagai real reader menyusun makna teksnya. Repertoiremerupakan seperangkat norma sosial, historis, dan budaya yang dipakai untukmembaca yang dihadirkan oleh teks dan merupakan semua wilayah familiardalam teks berupa acuan kepada karya-karya yang ada lebih dahulu. Strategidigunakan untuk defamiliarisasi dan untuk mengkomunikasikan teks dengan 47
  54. 54. pembacanya tanpa mendeterminasikannya. Melalui strategi ini disajikanprimary code kepada pembaca dan membuat pembaca mengaturnya sendirisehingga lahir makna yang bervariasi. Masing-masing toeri di atas (Jauss dan Iser) mengarahkan praktikmetodisnya. Pandangan Jauss dengan tujuh tesisnya memetakan analisis padaaspek estetik dan historisnya. Ketujuh tesis tersebut merupakan pemodelanyang mengarah tuntutan metodisnya. Adapun pandangan Iser yang menyatakanbahwa terdapat interaksi antara teks dan pembaca dalam proses pembacaan.Teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebutmelalui pembaca. Deskripsi tentang teks tidak lebih dari pengalaman pembacayang terbudaya. Dengan demikian, langkah-langkah yang perlu diikutisehubungan dengan pernyataan di atas adalah dengan jalan langkah (1)menandai adanya kualitas yang khusus atas teks sastra yang mencirikan adanyaperbedaan dengan teks lainnya dan (2) memerikan dan meneliti unsur-unsurdasar penyebab tanggapan terhadap karya sastra.3.4.2.4 Pendekatan Objektif Pendekatan objektif (Abrams, 1978: 26-29) memusatkan perhatiansemata-mata pada unsur-unsur, antarhubungan, dan totalitas. Pendekatan inimengarah pada analisis intrinsik. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalahmengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik, seperti aspekhistoris,sosiologis, politis, dan unsur-unsur sosiokultural lainnya, termasuk biografi.Oleh karena itulah, pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi. 48
  55. 55. Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur denganmempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak dan unsur-unsurdengan totalitas di pihak lain. Konsep dasar pendekatan ini (Hawkes dalam Pradopo, 2002: 21) adalahkarya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari bermacam-macamunsur pembentuk struktur. Antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat(koherensi). Tiap unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya melainkanmaknanya ditentukan oleh hubungan dengan unsur-unsur lain yang terlibatdalam sebuah situasi. Makna unsur-unsur karya sasatra itu hanya dapatdipahami sepenuhnya atas dasar tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhankarya sastra. Secara metodologis, pendekatan ini bertujuan melihat karya sastrasebagai sebuah sistem dan nilai yang diberikan kepada sistem itu amatbergantung kepada nilai komponen-komponen yang ikut terlibat di dalamnya.Analisis karya sastra melalui pendekatan ini tergantung pada jenis sastranya.Analisis sajak berbeda dengan analisis prosa. Analisis yang digunakan terhadapsaja misalnya penelusuran lapis norma, mulai dari lapir bunyi sampai ke lapismetafisik. Teknik analisisnya pun bisa diarahkan pada pembacaan heuristiksampai ke tingkat pembacaan hermeneutik. Adapun terhadap prosa, sesuaidengan sifat fiksi yang merupakan struktur cerita, analisisnya diarahkan padastruktur ceritanya. Struktur yang dimaksud dijajaki melalui unsur-unsurpembentuknya berupa: tema, fakta cerita (tokoh, alur, dan latar), dan saranacerita (pusat pengisahan, konflik, gaya bahasa, dll.). 49
  56. 56. Pada analisis prosa, tema dan fakta-fakta cerita dipadukan menjadi satuoleh sarana sastra. Di dalam analisisnya, unsur-unsur tersebut ditelusuri dandikemukakan hubungan dan fungsi tiap-tiap unsur. Tema berjalin erat denganfakta-fakta dan berhubungan erat dengan sarana sastra. 50
  57. 57. BAB IV STRUKTURALISME4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan Strukturalisme adalah sebuah paham atau kepercayaan bahwa segalasesuatu yang ada di dunia ini mempunyai struktur (Pieget, 1995: 4-12; Hawkes,1978: 17-18; dan Faruk: 1994: 17-18; Faruk, 1999: 1-9; dan Teeuw, 1984: 120-139). Sesuatu dikatakan mempunyai struktur apabila ia membentuk suatukesatuan yang utuh, bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian semata.Hubungan antarbagian di dalam struktur tidak bersifat kuantitatif, melainkankualitatif. Artinya, apabila suatu bagian dihilangkan, keutuhan sesuatu itu tidaksekedar berkurang, melainkan rusak sama sekali. Selain itu, strukturalisme juga percaya bahwa suatu strukturmempunyai daya transformasi dan regulasi diri. Semua dikatakan berstrukturapabila ia dapat melakukan perubahan, tanpa harus kehilangan keutuhandirinya, fungsi utama yang menjadi tujuan atau pusat strukturasinya. Sesuatudikatakan berstruktur apabila ia mempunyai kemampuan untuk mengatakankemungkinan gangguan dan pengaruh dari luar dengan caranya sendiri. Keseluruhan pengertian tersebut menunjukkan bahwa bagistrukturalisme segala sesuatu di dalam dunia membangun dunianya sendiri,mekanisme sendiri, untuk menjalankan fungsi-fungsinya sendiri, terlepas dari 51
  58. 58. berbagai kemungkinan pengaruh dari luar. Sesuatu dipahami sebagai kekuatanyang mampu membangun, mengembangkan, dan mempertahankan dirinyasendiri dengan caranya sendiri pula. Dengan kata lain, strukturalismecenderung memahami segala sesuatu sebagai sebuah sistem tertutup, otonom.Karena itu, strukturalisme dalam ilmu sastra akan memperlakukan karya sastraatau kesastraan sebagai sesuatu yang mandiri pula, sesuatu yang berstruktur,sesuatu yang utuh, transformatif, dan self-regulatif. Aliran Kritik Baru diAmerika, Formalisme di Rusia, percaya bahwa teks sastra dapat dipahami dandijelaskan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat di dalam teks itu sendiri.Strukturalisme percaya bahwa sastra dapat dipahami dan dijelaskan atas dasarsistm sastra sendiri yang membentuk semacam kaidah-kaidah bagi penciptaankarya sastra. Dalam strukturalisme konsep fungsi memegang peranan penting.Artinya, unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperan secaramaksimal semata-mata dengan adanya fungsi, yaitu dalam rangkamenunjukkan antarhubungan unsur-unsur yang terlibat. Unsur tidak memilikiarti dalam dirinya sendiri. Unsur dapat dipahami semata-mata dalam prosesantarhubungannya. Makna total setiap entitas dapat dipahami hanya dalamintegritasnya terhadap totalitasnya. Sebagai kualitas totalitas, antarhubunganmerupakan energi, motivator terjadinya gejala baru, mekanisme yang baru.Tanpa antarhubungan sesungguhnya unsur tidak berarti. Mekanismeantarhubungan tersebut dianggap sebagai pergeseran yang signifikan danfundamental, yaitu dari struktur yang otonom ke arah relevansi fungsi karya 52
  59. 59. sebagai sistem komunikasi. Karya dengan demikian tidak dipahami melaluiergon yang terisolasi melainkan selalu dalam kaitannya dengan perubahanrealita sosial. Karya tidak dapat diisolasi. Karya harus dikondisikan sebagaifakta kemanusiaan sehingga memungkinkan untuk mengoperasikan secaramaksimal berbagai saluran komunikasi yang terkandung di dalamnya. Relevansi prinsip-prinsip antarhubungan dalam analisis karya sastra, disatu pihak mengarahkan peneliti agar secara terus menerus memperhatikansetiap unsur sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan unsur-unsur yang lain.Di pihak lain, antarhubunganlah yang menyebabkan sebuah karya sastra, suatumasyarakat, dan gejala apa saja memiliki arti yang sesungguhnya.Kesalahpahaman mengenai fungsi-fungsi antarhubungan menyebabkan penelitihanya meneliti salah satu unsur tertentu yang pada gilirannya berartimemperkosa hakikat suatu totalitas. Analisis terhadap penokohan, misalnya,tidak mungkin dilakukan secara terpisah dari unsur-unsur yang lain. Dengankata lain, penokohan tidak dapat dipahami tanpa menghubungkannya denganunsur-unsur yang lain, seperti kejadian, latar, plot, dan sebagainya. Sejalan dengan uraian di atas, prinsip antarhubungan secara esensialdipertahankan pada setiap teori dibawah naungan strukturalisme. Namundemikian, perubahan menuju pada perkembangan teoretik telah terjadi yangsekaligus mengarahkan pembahasan metodologis secara berbeda pula. 53
  60. 60. 4.2 Teori Formalisme Tujuan pokok formalisme (bandingkan Teeuw, 1985: 128-13; Ratna:2004: 80-87) adalah studi ilmiah tentang sastra dengan cara meneliti unsur-unsur kesastraan, puitika, asosiasi, oposisi, dan sebagainya. Metode yangdigunakan metode formal. Metode formal menjalankan fungsinya dengan caramerekonstruksi teks melalui pemaksimalan konsep fungsi. Dengan jalandemikian, teks menjadi suatu kesatuan yang terorganisasikan. Prinsip dansarana inilah yang mengarahkannya pada konsep sistem dan akhirnya kekonsep struktur. Sebagai teori modern mengenai sastra, secara historis kelahiranformalisme dipicu oleh paling sedikit tiga faktor, yaitu: 1. formalisme lahir sebagai akibat penolakannya terhadap paradigma positivisme abad ke-19 yang memegang teguh prinsip-prinsip kausalitas; reaksi terhadap studi biografis 2. kecenderungan yang terjadi dalam ilmu humaniora di mana terjadinya pergeseran dari paradigma diakronis ke sinkronis 3. penolakan terhadap pendekatan tradisional yang selalu memberikan perhatian terhadap hubungan karya sastra dengan sejarah, sosiologi, dan psikologi. Usaha maksimal kelompok formalis dalam rangka menemukan hakikat karya sastra dengan cara mengeksploitasi sarana bahasa telah mencapai klimaknya. Meskipun demikian, penemuannya mengarahkan pada paradigma baru bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara terisolir 54
  61. 61. semata-mata melalui akumulasi perangkat-perangkat intrinsiknya, tetapi juga harus melibatkan keseluruhan faktor yang membentuknya. Pergeseran perhatian dari masalah-masalah teknis, khususnya sebagaimana digemari oleh kelompok formalisme awal ke arah pemahaman sastra secara lebih luas, melahirkan strukturalisme.4.3 Teori Strukturalisme Dinamik Scholes (dalam Ratna, 2004: 89) menjelaskan keberadaanstrukturalisme menjadi tiga tahap, yaitu (1) sebagai pergeseran paradigmaberpikir, (2) sebagai metode, dan (3) sebagai teori. Lahirnya strukturalismedinamik didasarkan atas kelemahan-kelemahan strukturalisme sebagaimanayang dianggap sebagai perkembangan formalisme. Strukturalisme dinamika (lihat Teeuw, 1985: 185-192; Muhadjir, 2002:304); Pradopo 2002: 46; dan Ratna, 2003: 88-96;) mencermati bahwastrukturalisme dinamik dimaksudkan sebagai penyempurnaan strukturalismeyang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur intrinsik yangdengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya. Strukturalismedinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Felik Vodicka.Menurutnya, karya sastra adalah proses komunikasi, fakta semiotik, terdiri atastanda, struktur, dan nilai-nilai. Karya seni adalah petanda yang memperolehmakna dalam kesadaran pembaca. Oleh karena itulah, karya seni harusdikembalikan pada kompetensi penulis, masyarakat yang menghasilkannya,dan pembaca sebagai penerima. 55
  62. 62. Perbedaan unsur-unsur karya sastra untuk jenis yang berbeda-bedaterjadi akibat proses resepsi pembaca. Setiap penilaian akan memberikan hasilyang berbeda. Unsur-unsur yang terdapat pada ketiga jenis sastra (prosa, puisi,dan drama) akan membutuhkan pemusatan analisis yang berbeda pula. Unsur-unsur prosa, misalnya mengarah pada tema, peristiwa atau kejadian, latar atausetting, penokohan, alur, sudut pandang, dan gaya bahasa. Unsur-unsur puisi,di antaranya tema, stilistika, imajinasi, ritme atau irama, rima atau persajakan,diksi atau pilihan kata, simbol, nada, dan enjambemen. Unsur-unsur (teks)drama di antaranya tema, dialog, peristiwa, latar, penokohan, alur, dan gayabahasa. Atas dasar hakikat otonom karya sastra, maka tidak ada aturan yangbaku terhadap suatu kegiatan analisis. Artinya, unsur-unsur yang dibicarakantergantung dari dominasi unsur-unsur karya di satu pihak, tujuan analisis di lainpihak. Dalam analisis akan selalu terjadi tarik menarik antara struktur global,yaitu totalitas karya itu sendiri dengan unsur-unsur yang diadopsi ke dalamwilayah penelitian. Kondisi tersebut menunjukkan dinamika karya sastrasebagai totalitas sebab proses adopsi mengandaikan terjadinya ciri-ciritransformasi dan regulasi diri sehingga terjadi keseimbangan antara strukturglobal dengan unsur-unsur yang dianalisis. Karya sastra tidak mungkin dan tidak perlu dianalisis secaramenyeluruh sebab struktur global bersifat tidak terbatas. Akan tetapi analisistidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial kultural yang menghasilkannya.Prosa, puisi, dan drama dan sastra jenis klasiknya tidak semata-mata dianalisis 56
  63. 63. sebagai teks tetapi juga dimungkinkan dalam kaitannya dengan pementasanlangsung sebagai performing art. Dalam hubungan ini, analisis struktur akanmelibatkan paling sedikit tiga komponen utama, yaitu pencerita, karya sastra,dan pendengar. Metodologi penelitian pun menjadi bertambah kompleks, tidakbertambah dalam penelitian pustaka, melainkan harus dilengkapi denganpenelitian lapangan yang dengan sendirinya juga melibatkan instrumenpenelitian lapangan. Dengan demikian strukturalisme dinamik adalah pendekatan atas karyasastra dengan menerapkan kerja strukturalisme atas dasar konsep semiotik.Analisis struktural murni mengasingkan karya sastra dari kerangkakesejarahan dan relevansi eksistensialnya. Strukturalisme dinamik yangdikembangkan Ian Mukarovsky dan Felix Vodicka mencoba memahami karyasastra berdasarkan kesadaran bahwa karya sastra sebagagi struktur padahakikatnya memiliki ciri khas yaitu sebagai tanda (sign). Tanda baru mendapatmakna sepenuhnya bila sudah melalui tanggapan pembaca. Dengan demikianada pengaruh timbal balik antara tanda dan pembacanya. Pembaca dalammemberi makna terikat pada konvensi tanda, tidak semau-maunya. Jadi,dengan kerangka semiotik itu dapat diproduksi makna dalam karya sastra yangmerupakan struktur sistem tanda-tanda itu. 57
  64. 64. 4.4 Semiotik Secara padat Dolezel, Stout (dalam Makaryk, 1993: 183-189), danratna (2004: 96-120) menjelaskan pendekatan semiotik dimulai daripengertian, latar belakang sejarah pertumbuhannya, aliran semiotik, danhubungan semitoik dengan pendekatan lainnya. Menurutnya, strukturalismeberhubungan erat atau bahkan tidak terpisahkan dengan semiotik sebagaisarana untuk memahami karya sastra, untuk menangkap makna unsur-unsurstruktur karya sastra dalam jalinan dengan keseluruhan karya yang harusmemperhatikan sistem tanpa yang dipergunakan dalam karya sastra. Karyasastra itu merupakan struktur sistem tanda-tanda yang bermakna. Dalam lapangan semiotik, pengertian tanda ada dua prinsip, yaitu (1)penanda (signifier) atau yang menandai, yang merupakan bentuk tanda, dan (2)pertanda (signified) atau yang ditanda yang merupakan arti tanda. Ada tigajenis tanda yang pokok, yaitu ikon, indeks, dan simbol. Ikon dan indeksmerupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah, yaitupersamaan dan sebab akibat, antara penanda dan petanda. Simbol adalah tandayang tidak menunjukkan adanya hubungan almiah antara keduanya,hubungannya bersifat arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat. Sebuah sistemtanda yang utama yang menggunakan simbol adalah bahasa. Arti simbolditentukan oleh konvensi masyarakat. Bahasa merupakan sistem ketandaan tingkat pertama. Dalam sistemketandaan tingkat pertama ini ditingkatkan menjadi sistem ketandaan tingkatkedua. Arti bahasa tingkat pertama disebut arti (meaning), arti bahasa dalam 58

×