Metode penelitian sastra

  • 28,863 views
Uploaded on

 

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
No Downloads

Views

Total Views
28,863
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
535
Comments
0
Likes
5

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. METODE PENELITIAN SASTRA Disusun oleh: Asep Yusup Hudayat Fakultas Satra Universitas Padjadjaran Bandung 2007
  • 2. DAFTAR ISIKATA PENGANTAR ………………………………………………… iDAFTAR ISI ………………………………………………………….. iiiBAB I PENDAHULUAN …………………………………………… 11.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik …………… 11.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian …………………….. 2BAB II PENELITIAN ILMIAH ……………………………………… 102.1 Penelitian dan Ilmu ………………………………………………… 102.2 Metode dan Nilai Keilmiahan ……………………………………… 162.3 Asas-asas Dasar Penelitian ………………………………………… 192.4 Penggolongan Penelitian …………………………………………… 202.5 Metode Kualitatif …………………………………………………… 222.6 Metode Deskriptif …………………………………………………. 23BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH ……………… 293.1 Sastra sebagai Sistem ……………………………………………… 293.2 Sastra sebagai Objek Penelitian …………………………………… 313.3. Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra ………………………… 33 iii
  • 3. 3.4 Pendekatan Sastra: Pengertian ……………………………………… 37 3.4.1 Pengertian Pendekatan ……………………………………….. 37 3.4.2 Jenis-jenis Pendekatan ……………………………………… 38 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif ……………………………… 39 3.4.2.2 Pendekatan Mimeis ………………………………… 40 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik ……………………………… 43 3.4.2.4 Pendekatan Objektif ………………………………… 48BAB IV STRUKTURALISME ………………………………………… 514.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan ……………………………………… 514.2 Teori Formalis ……………………………………………………… 544.3 Teori Strukturalisme Dinamik ……………………………………… 554.4 Semiotik …………………………………………………………… 584.5 Struktualisme Genetik ……………………………………………… 62 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan …………………… 65 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif ……………….. 66 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia …………… 67 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial …………………… 69 4.5.5 Metode Dialektik …………………………………………….. 714.6 Naratologi …………………………………………………………… 72 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya …… 72 4.6.2 Pelopor Naratilogi Periode Strukturalisme dan Pahamnya …… 76 4.6.2.1 Vladimir Propp ……………………………………… 76 iv
  • 4. 4.6.2.2 Levi’Strauss ………………………………………… 78 4.6.2.3 Tvzetan Todorov …………………………………… 79 4.6.2.4 Greimas …………………………………………….. 80BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN: TINJAUAN KRITIS .. 835.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian .......... 83 5.1.1 Latar belakang Masalah …………………………………… 83 5.1.2 Identifikasi Masalah ……………………………………….. 86 5.1.3 Tujuan Penelitian ………………………………………….. 88 5.1.4 Landasan Teori …………………………………………… 89 5.1.5 Metodologi ………………………………………………… 915.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah.. ......................................................................................... 955.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian …………………… 1005.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis ……………………… 1035.5 Kemampuan Menyajikan Metode ………………………………… 105DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 112 v
  • 5. KATA PENGANTAR Metode penelitian sastra merupakan alat penting dalam mewujudkansebuah penelitian sastra yang memadai. Selain itu, upaya mendeskripsikanmasalah sastra yang bersifat unik dan universal sebagai objek penelitian,menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam modul ini. Pertimbanganutamanya adalah untuk memberikan pengetahuan secara memadai mengenaipenelitian sastra yang menuntut sebuah metode penelitian yang khusus disamping tetap berada dalam jangkauan asas-asas penelitian ilmiah secarauniversal. Adapun uraian mengenai tinjauan kritis atas rancangan sejumlahusulan penelitian sastra dimaksudkan untuk melengkapi uraian empiris darirentang pembahasan metode penelitian sastra menyangkut pengertian, hakikat,relevansi metode dan penelitian, sastra dalam penelitian ilmiah, sampai keuaraian beberapa pendekatan sastra dalam wilayah strukturalisme. Materi yang disajikan dalam modul ini bersumber dari beberapa bukudan karangan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan metode penelitian.Sasaran utama penulisan modul ini adalah para mahasiswa yang akanmenghadapi penyusunan Usulan Penelitian Skripsi atau sedang menempuhmasa bimbingan skripsi yang menggunakan pendekatan struktural sebagaiobjek formalnya. i
  • 6. Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secaralangsung atau tidak langsung telah ikut serta mewujudkan penyusunan modulini. Perbaikan di kemudian hari tentunya perlu penyusun lakukan untukmenjadikan modul ini cukup memadai sesuai kebutuhan para mahasiswa diprogram strata satu dengan bidang kajian utamanya adalah sastra.. Tentunya modul ini akan menempati fungsinya yang optimal sebagaimateri pengetahuan bila dapat menumbuhkan kesadaran para mahasiswa akanfilsafat ilmu, teori, dan metode dalam ruang lingkup penelitian sastra. Dengandemikian, penyusun berhadap modul ini dapat membuka jalan bagi tercapainyakegiatan penelitian yang baik dengan bekal kemampuan metode yangmemadai. Bandung, Agustus 2007 Penyusun ii
  • 7. BAB I PENDAHULUAN1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik Adakalanya pengertian-pengertian metodologi, metode, dan tekniksering tertukar atau bahkan dicampuradukkan. Pengertian mendasar darimasing-masing istilah adalah: 1. Metodologi berasal dari methodos dan logos, yaitu filsafat ilmu mengenai metode. Metodologi dengan demikian membahas prosedur intelektual dalam totalitas komunitas ilmiah. 2. Metode berasal dari kata methods yang akar katanya adalah meta yang berarti menuju, melalui, mengikuti, sesudah; sedangkan hodos berarti jalan, cara, arah. Dalam pengertian yang lebih luas, metode dianggap sebagai cara-cara, strategi untuk memahami realitas; langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. 3. Teknik berasal dari kata teknikos, yang berarti alat, atau seni menggunakan alat. Perbedaan mendasarnya antara metodologi dan metode adalahmetodologi membahas konsep teoritik berbagai metode sedangkan metodemengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan dalam kegiatanpenelitian. Upaya memilah dua pengetian tersebut berpangkal dari penyadaran 1
  • 8. filsafat keilmuan yang kita anut yang berkorelasi dengan metodologi penelitianitu sendiri. Adakalanya para penganut filsafat ilmu yang berbeda memberi capbohong, munafik pada langkah-langkah kerja penelitian yang memulaitulisannya dengan alasan pemilihan judul, perumusan masalah, dan kerangkapemikiran penelitian. Yang memberi cap tersebut lupa atau tidak tahu bahwaada metodologi penelitian yang berbeda yang menggunakan dasar filsafat ilmuyang berbeda dan menuntut langkah kerja yang berbeda pula. Muhazir (2002: 4) menegaskan bahwa para ilmuwan peneliti perlumenggunakan landasan filsafat ilmu. Landasan tersebut digunakan untukmetodologi penelitian. Dengan demikian yang bersangutan sadar dalambeberapa hal: (1) sadar filsafati, artinya dia sadar menggunakan pendekatanfilsafat ilmu yang mana; (2) sadar teoritik, artinya dia sadar teori penelitianatau model mana yang digunakan; dan (3) sadar teknis, artinya dia mampumemilih teknik penelitian yang tepat.1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian Lebih jauh Muhazir (2002: 55) menyebutkan bahwa metodologipenelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajaribagaimana prosedur kerja mencari kebenaran. Prosedur kerja mencarikebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemologis. Kualitaskebenaran yang diperoleh dalam berilmu pengetahuan terkait langsung dengankualitas prosedur kerjanya. 2
  • 9. Dengan prosedur kerja yang baik, kualitas kebenaran yang diperolehpun sejauh kebenaran epistemologik; dan ilmu pengetahuan hanya akanmampu menjangkau kebenaran epistemologik. Kebenaran epistemologiktampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teoriyang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis lain atau teori lain. Gerak daritesis dan teori yang satu ke tesis dan teori yang lain merupakan prosesberkelanjutan ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran objekif universal yangbukti kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus. Sebagai alat, sama dengan teori, metode berfungsi untukmenyederhanakan masalah, sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dandipahami. Klasifikasi, deskripsi, komparasi, sampling, induksi dan deduksi,eksplanasi dan interpretasi, kuantitatif dan kualitatif, dan sebaginya adalahsejumlah metode yang sudah sangat umum penggunaannya, baik dalam ilmukealaman maupun ilmu sosial, termasuk ilmu humaniora. Prosedur yang dimaksud dalam bahasan metodologi terjadi sejakpeneliti menaruh minat terhadap objek tertentu, menyusun proposal,membangun konsep dan model, merumuskan hipotesis dan permasalahan,mengadakan pengujian teori, menganalisis data, dan akhirnya menarikkesimpulan. Metodologi jelas mengimplikasikan metode. Tetapi metodologibukanlah kumpulan metode, juga bukan deskripsi mengenai metode tersebut.Perbedaan antara ilmu kealaman dengan ilmu kemanusiaan, misalnya,bukanlah karena perbedaan metode, melainkan karena perbedaan paradigmadan perbedaan metodologi. 3
  • 10. Berbeda dengan metode, metodologi tidak berkaitan dengan teknik-teknik penelitian, melainkan dengan konsep-konsep dasar logika secarakeseluruhan. Metode deskripsi, komparasi, struktural, dan sebagainyadigunakan dalam kedua bidang ilmu, tetapi dasar dan cara pemahamannya,bagaimana prosedur pemahaman tersebut dibangun, jelas berbeda. Secara definit metode dengan teknik tidak memiliki batas-batas yangjelas. Metode sering disebutkan sebagai teknik. Ratna (2004: 37)mengemukakan tiga cara yang dapat membedakan antara metode denganteknik, bahkan juga dengan teori, melalui cara: 1. membedakan tingkat abstraksinya Abstraksi tertinggi dimiliki teori kemudian diikuti oleh metode dan teknik. Artinya, meskipun secara teoretis metode masih bersifat abstrak, tetapi sebagian ciri-cirinya dapat diidentifikasi secara kongkret. Sebagai alat, teknik bersifat paling kongkret. Sebagai instrumen penelitian, teknik dapat dideteksi secara inderawi. Dengan demikian, teknik berhubungan dengan data primer. Sejumlah teknik yang sering dimanfaatkan, misalnya: wawancara, kuesieoner, rekaman, statistik, dokumen, angket, teknik kartu data, dan sebagainya. Sampling dapat dianggap sebagai teknik pada saat keseluruhan sampel sudah dimasukkan ke dalam sistem kartu sehingga bersifat kongkret. Demikian juga statistik dapat dianggap sebagai metode pada saat data sedang dikuantifikasikan sehingga sifatnya masih abstrak 4
  • 11. Pada pembicaraan yang berbeda, metode dapat menjadi teori. Struktur adalah teori sebab sudah menghasilkan sejumlah konsep dasar dan sudah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Tetapi sebelumnya, struktur disebut sebagai metode. Jadi, struktur bisa menjadi metode atau teori tergantung dari tujuan dan cara pandang peneliti.2. memperhatikan faktor mana yang lebih luas ruang lingkup pemakaiannya Secara berurutan tingkat keluasan ruang lingkup pemakaian: paradigma, metodologi, teori, metode, dan teknik; luasnya paradigma dan metodologi disebabkan oleh penelusurannya ke masa lampau. Luasnya teori disebabkan oleh adanya perkembangan secara terus menerus. Teknik memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dibandingkan metode walaupun keduanya memiliki pengertian yang sama. Metode yang baik adalah metode yang selalu bersifat teknik.3. memperhatikan hubungannya dengan objek Makin dekat dan jelas hubungannya dengan objek maka disebut teknik, sebaliknya makin jauh dan kurang jelas disebut metode. 5
  • 12. Dalam penelitian sastra terdapat dua macam penelitian, yaitu penelitianlapangan dan perpustakaan. Prosedur penelitian lapangan ilmu sastra hampirsama dengan ilmu sosial. Keduanya memanfaatkan instrumen yang sama,dengan metode dan teknik yang sama. Prosedur penelitian pustaka dalam bidang sastra agak berbeda. Padaumumnya penelitian pustaka secara khusus meneliti teks. Teknik yangdigunakan adalah kartu data primer maupun sekunder dengan metode yangpaling sering digunakan adalah hermeneutik yang disamakan denganverstehen, interpretasi, dan pemahaman. Dalam bidang ilmu lain, interpretasidisejajarkan dengan metode kualitatif, analisis isi, dan etnografi. Metode lainyang sering digunakan adalah deskriptif analitik, yaitu dengan jalanmenguraikan sekaligus menganalisis. Metode yang perlu dibicarakan dalam analisis karya sastra adalah:metode intuitif, hermeneutik, metode formal, analisis isi, dialektika, deskriptifanalisis, deskriptif komparatif, dan deskripsif induktif. Sehubungan denganjangkauan utama pembicaraan ke arah pendekatan struktural, maka metodeyang penting untuk dikemukakan pada uraian ini menyangkut: metodehermeneutik, metode formal, metode dialektik, dan metode deskriptif analisis.Perbedaan masing-masing metode (Ratna, 2004: 44-46) tampak pada uraian dibawah ini: a. metode hermeneutik Metode ini dianggap sebagai metode ilmiah paling tua yang sudah ada sejak zama Plato dan Aristoteles. Mula-mula metode ini 6
  • 13. berfungsi untuk menafsirkan kitab suci. Hermeneutik modern baru berkembang sejak abad ke-19 melalui gagasan Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan sebagainya. Dalam sastra dan filsafat, hermeneutik disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif. Dalam ilmu- ilmu sosial juga disebut metode kualitatif, analisis isi, alamiah, naturalistik, studi kasus, etnografi, etnometodologi, dan fenomenologi. Metode ini ini tidak mencari makna yang benar melainkan makna yang paling optimal. Untuk menghindarkan keterbatasan proses interpretasi, peneliti harus memiliki titik pijak yang jelas. Penafsiran terjadi karena setiap subjek memandang objek melalui horison dan paradigma yang berbeda-beda. Keragaman tersebut pada gilirannya menimbulkan kekayaan makna dalam kehidupan manusia, menambah kualitas estetika, etika, dan logika.b. metode formal Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspek- aspek formal, aspek-aspek bentuk yang mengarah pada unsur-unsur karya sastra. Tujuan metode formal adalah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik. Ciri-ciri utama metode formal adalah analisis terhadap unsur-unsur karya sastra kemudian mempertalikan hubungan antarunsur tersebut 7
  • 14. dengan totalitasnya.. Metode ini sama dengan metode struktural yang berkembang menjadi teori strukturalisme. Metode formal memandang bahwa keseluruhan aktivitas kultural memiliki dan terdiri atas unsur-unsur.c. metode dialektika Mekanisme kerja metode ini adalah tesis, antitesis, dan sintesis.. Prinsip dasarnya adalah unsur yang satu tidak harus lebur ke dalam unsur lainnya. Individualitas dipertahankan di samping interdependensinya. Kontradiksi tidak dimaksudkan untuk menguntungkan secara sepihak. Sintesis bukanlah hasil yang pasti tetapi justru merupakan awal penelusuran gejala berikutnya. Prinsip-prinsip dialektika hampir sama dengan hermeneutik, yaitu gerak spiral eksplorasi makna yang mengarah kepada penelusuran unsur ke dalam totalitas dan sebaliknya. Pada metode ini, kontinuitas operasionalisasi tidak berhenti pada level tertulis tetapi diteruskan pada jaringan kategori sosial sebagai penjaringan makna secara lengkap. Kontradiksi dalam dialektika dianggap sebagai energi pemahaman objek. Metode dialektika digunakan dengan sangat berhasil oleh Goldmann dalam struktural genetik. Secara teoretis, setiap fakta sastra dapat dianggap sebagai tesis kemudian diadakan negasi. Dengan adanya pengingkaran, tesis dan antitesis seolah-olah hilang 8
  • 15. atau berubah menjadi kualitas fakta yang lebih tinggi, yaitu sintesis itu sendiri. Sintesis kemudian menjadi tesis kembali dan seterusnya sehingga proses pemahaman terjadi secara terus- menerus.d. metode deskriptif analisis Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis. Metode ini tidak semata- mata hanya menguraikan tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan. Metode ini dapat diaplikasikan ke dalam beberapa jenis lainnya, misalnya metode deskriptif komparatif atau metode deskriptif induktif. Metode ini dapat diperoleh melalui gabungan dua metode dengan menitikberatkan kepada metode yang lebih khas yang sesuai dengan tujuan penelitian. 9
  • 16. BAB II PENELITIAN ILMIAH2.1 Penelitian dan Ilmu Penelitian merupakan bentuk nomina dari kata kerja: meneliti.Pengertian meneliti dimaksudkan sebagai tindakan melakukan kerjapenyelidikan secara cermat terhadap suatu sasaran untuk memperoleh hasiltertentu. Kata penelitian yang merupakan bentuk pembendaan dari kata kerjameneliti mengandung makna sebagaimana yang terdapat pada kata meneliti.Penelitian dipandang sebagai sinonim riset (reseach) yang menunjukkan artikegiatan yang diarahkan pada kerja pencarian ulang, atau pencarian kembaliatas suatu objek, yaitu kegiatan yang memerlukan ketelitian, kecermatan, dankecerdasan yang memadai. Hubungannya dengan ilmu, kegiatan penelitian erat kaitannya dengankeberadaan kehidupan ilmu yang bersifat kumulatif. Ilmu tidak selalu dalamkeadaan mantap dan stabil tetapi sebaliknya bersifat dinamis. Kedinamisanilmu ditopang secara kuat oleh kegiatan penelitian. Sebagai akibatnya,penelitian mempunyai peran penting bagi keberadaan dan kehidupan ilmu,yaitu mengembangkan dan mempertajamnya. Jadi, ilmu dapat hidup, 10
  • 17. berkembang, dan menjadi tajam berkat penelitian yang dilakukan secara terusmenerus. Ilmu adalah pengetahuan yang bersistem dan terorganisasi. Oleh karenaitu, upaya penelitian yang dilakukan dalam rangka pengembangan ilmumemerlukan metode yang bersifat ilmiah. Oleh karena itu pula, kegiatanpenelitian yang dikaitkan dengan pengembangan ilmu merupakan serangkaiankegiatan yang dilakukan secara tertata, sistematis, dan terorganisasi untukmendapatkan jawaban secara ilmiah atas suatu masalah (Nazir, 1985: 9-15). Dalam kaiatannya dengan sifat ilmu pula, penelitian mempunyai tujuanuntuk mengungkapkan gejala-gejala yang bersifat umum, yang selanjutnyamelahirkan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum. Gejala yang bersifatumum menjadi indikasi akan suatu kebenaran ilmiah. Dalam rangka pengembangan ilmu dan eksistensi sosial, kebenaranilmiah menyimpan kegunaan ganda. Pertama, scientific objective, yaitumengembangkan ilmu dengan teori-teori yang sesuai dan relevan. Kedua,practicial objective, yaitu memecahkan dan menjawab persoalan-persoalanpraktis yang mendesak.Situasi itu memperlihatkan pentingnya peran penelitianbagi pengembangan ilmu. Chamamah (2001:7) mengemukakan bahwa kata penelitian dapatdiinterpretasi dua macam, yaitu kegiatan yang dilakukan secara ilmiah dankegiatan yang dilakukan secara nonilmiah. Dalam menghadapi masalah,penelitian yang ilmiah tidak sama dengan penelitian nonilmiah. Perbedaankeduanya berhubungan dengan persoalan metodologis, terutama yang berkaitan 11
  • 18. dengan pemanfaatan teori dan metode. Penelitian ilmiah merupakanserangkaian kegiatan yang dilakukan dengan metode bersistem, nalar, dansesuai dengan objeknya, yaitu sifat-sifat yang ada pada ilmu. Penelitian yangdikaitkan dengan ilmu yang disebut penelitian ilmiah- inilah yang menjadisasaran dalam mata kuliah ini. Kaitannya dengan kehidupan ilmu, kegiatanpenelitian dituntut untuk memakai metode yang ilmiah pula, di antaranyaadalah penggunaan sikap perpikir yang kritis dari si peneliti. Sesuai dengan sasaran kerja penelitian yang dibahas dalam mata kuiahini, yaitu penelitian sastra, dapatlah diketahui bahwa melakukan kajianterhadap karya sastra merupakan kegiatan yang penting dalam perkembanganilmu sastra. Ilmu sastra sebagai satu disiplin akan berkembang berkatpenajaman konsep-konsep, teori-teori, dan metodologi yang dihasilkan melaluipenelitian sastra. Dapat juga dilihat perlunya ilmu sastra dan penelitian sastrauntuk perkembangan dan kesempurnaan ilmu sastra. Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untukmemecahkan masalah dengan dukungan data sebagai landasan dalammengambil keputusan. Penelitian bukan saja merupakan proses sistematis akantetapi juga dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific methods). Wuradji (2001: 1-2) menyebutkan bahawa penelitian merupakan prosessistematis. Proses yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan denganprosedur yang ditetapkan secara tertata (tersistem). Prosedurnya berartimenggunakan urutan tertentu. Tersistem berarti menunjukkan adanyahubungan fungsional antara kegiatan yang dilakukan. Urutan umum dari proses 12
  • 19. sistematis penelitian adalah: perumusan masalah, penelaahan informasi,pengumpulan data, analisis data, dan penyajian kesimpulan. Banyak hal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk hewan.Perbedaan yang paling menonjol adalah manusia selalu mengalamipertumbuhan intelektual, emosional, social, dan spiritual. Manusia mempunyaikemampuan bernalar dan menggunakan simbol-simbol untuk mengekspresikanpikirannya. Di samping itu, manusia senantiasa mencari kesempurnaan dankebenaran. Oleh karena itu, manusia mencari tahu dan mencari makna. Usahamencari tahu dan menemukan makna tidak pernah padam karena manusiasenantiasa menghadapi masalah-masalah yang bergantian. Di samping masalahyang dihadapi, ia ingin tahu pula tentang masalah yang dihadapi orang lain.Semua itu merupakan rangkaian rangsangan, baik yang muncul dari dalamdirinya maupun muncul dari luar dirinya. Rasa ingin tahu itulah yangmenyebabkan manusia secara sengaja menghimbun keterangan yang berupadata, fakta, dan pengetahuan yang tersusun berupa konsep atau gagasan yangsaling berkaitan yang akhirnya memberikan keterangan atau penjelasanmengenai segala sesuatu yang dialaminya. Nazir (1985: 9) mengemukakan bahwa ilmu lahir karena manusiadiberkahi sifat ingin tahu oleh Tuhan. Keingintahuan manusia tentangpermasalahan yang terjadi di sekelilingnya dapat menjurus kepadakeingintahuan ilmiah. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus-menerus, maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuanpersepsi serta kemampuan berpikir manusia secara logis yang sering disebut 13
  • 20. penalaran yang mengarah kepada keilmuan tertentu. Ilmu mencakup lapanganyang sangat luas, menjangkau semua aspek tentang kemajuan manusia secaramenyeluruh, termasuk ke dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secarasistematis melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telahmenghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum. Merujuk kepada pendapat di atas perihal sumber pengetahuan, kegiatanpenelitian dengan menggunakan metode tertentu sangat terikat dengan bidangilmu (sains) tertentu. Proses memperoleh pengetahuan melalui ilmu berbedadengan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui relevasi (pengelamansecara kebetulan), otoritas, intuasi, atau pendapat umum. Pengetahuan yangdiperoleh dengan ilmu itu adalah pengetahuan yang telah teruji dengan metode-metode ilmiah. Sifat ingin tahu yang diperoleh melalui ilmu ini dimulai denganmengkonseptualisasi gambaran tentang masalah, kemudian melakukan prosespenemuan, penciptaan atau penyusunan cara-cara yang baik untuk membatasi,menggambarkan, dan menafsirkan apa yang diamati. Semua pengetahuan yang telah diperoleh itu rupanya senantiasa puladipertanyakan keabsahannya. Terjadilah usaha mencari tahu atau menemukankebenaran yang lebih sahih dan lebih diyakini. Untuk memverifikasi keabsahanilmu yang sudah ada atau menjajaki teori baru, atau memperkaya teori yangsudah ada, orang melakukan berbagai usaha seperti perenungan kembali,melakukan kegiatan penemuan, penyelidikan, atau penelitian. Inilah awal darirangkaian terjadinya kegiatan yang dinamakan penelitian. 14
  • 21. Di dalam melakukan kegiatan penelitian itu terdapat dua kemungkinanbentuk kegiatan. Pertama, penelitian yang dilakukan dengan berpegang ataubertolak dari teori yang telah ada sebelumnya. Penelitian dengan menggunakanteori itu mungkin bersifat memperkaya teori itu dengan contoh-contoh ataumenunjukkan dalam kondisi apa teori tersebut kurang tepat dan perludimodifikasi. Kedua, adalah penelitian yang sifatnya memperkaya ilmu itusendiri dengan jalan mencari dan menemukan teori-teori baru yang sesuai ataurelevan dengan kondisi dan situasi. Untuk sampai kepada kegiatan penelitian jenis kedua, memerlukansikap tanggap yang tinggi sebagai ilmuwan. Yang bersangkutan harusmengkaji latar belakang dan proses lahirnya suatu teori. Ia harus memperlajaridan mendalami perkembangan ilmu yang bersangkutan terutama yangberkenaan dengan pengetahuan mengenai gejala-gejala yang berkait denganpenemuan teori itu sendiri. Dalam hal ini, para ilmuwan tentunya berupayauntuk mengurangi subjektivitas dan mempertinggi objektivitas. Kesimpulanapapun yang dibuat mestilah dinilai sebagai kesimpulan sementara. Parailmuwan akan selalu tidak puas dengan setiap kesimpulan sementara. Olehkarena itu, para ilmuwan selalu berusaha menemukan kesimpulan baru yangbarangkali merevisi kesimpulan-kesimpulan terdahulu. Begitulah terjadinyapenelitian yang tidak pernah henti-hentinya. Penelitian bertujuan untuk menemukan atau menggali (explore),mengembangkan (develop atau extention) dan menguji (testing) teori. Adapunyang dimaksud teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling 15
  • 22. berhubungan), rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatupandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikanhubungan-hubungan antarvariable dengan tujuan untuk menjelaskan danmemprediksi gejala. Penelitian akan menghasilkan teori, sebaliknya teori dalamhubungannya dengan kegiatan penelitian dapat memberikan kerangka kerjabagi pelaksanaan penelitian. Teori dapat membantu merumuskan problem,pengajuan hipotesis, penyusunan design, pengembangan instrumen,pengumpulan dan analisis data, serta membantu dalam menginterpretasi data. Hubungan teori dan penelitian digambarkan sebagai berikut: Pengumpulan Analisis Penyajian hasil Identifikasi data data penelitian masalah Kesimpulan Formulasi dan implikasi hipotesis Review informasi yang terkait Teori-teori yang terkait Pengembangan/ Ilmu pengetahuan yang Perluasan revisi Eksis body of knowledge dan teori baru2.2 Metode Dan Nilai Keilmiahan Peneliti ilmuwan yang memanfaatkan nalarnya di dalam bekerjamendasarkan kerjanya atas sifat ideal ilmu, yaitu interrelasi yang sistematis danterorganisasi antara fakta-fakta. Dengan demikian metodenya pun bersifat 16
  • 23. ilmiah. Metode ilmiah bertolak dari kesangsian yang sistematis. Suatu kerjayang didasarkan pada metode ilmiah memiliki empat nilai dasar: universalitas,komunikasi, ketanpapamrihan, dan skeptisisme yang sistematis danterorganisir. Dalam kerja penelitian, ilmu-ilmu humaniora, nilai-nilai dasar tersebutdapat dijabarkan dalam kriteria: (1) berdasarkan fakta, (2) bebas prasangka, (3)menggunakan prinsip analisis, (4) menggunakan hipoteisis apabila ada, dan (5)menggunakan ukuran objektif (jarak metodologis). Penelitian ilmiahmemerlukan landasan kerja yang ilmiah pula. Landasan kerja yang dimaksudoleh Chamamah (2001: 14) yang sejalan dengan pemahaman Muhajir (2002:4) dirumuskan dalam tiga hal, yaitu: 1. landasan teori: landasan yang berupa hasil perenungan terdahulu yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian dan bertujuan mencari jawaban secara ilmiah; 2. landasan metodologis: landasan yang berupa tata aturan kerja dalam penelitian dan bertujuan untuk membuktikan jawaban yang dihasilkan; 3. landasan kecendikiaan: bekal kemampuan membaca, menganalisis, menginterpretasi, dan menyimpulkan; bertujuan mempertajam penelitian guna meningkatkan kedekatan hasil penelitian. Dalam penelitian ilmiah, dituntut langkah-langkah berturut-turut, yaitu:(1) menetapkan persoalan pokok, (2) merumuskan dan mendefinisikanmasalah, (3) mengadakan studi pustaka, (4) merumuskan hipotesis, (5)mengumpulkan data, (6) mengolah data, (7) menganalisis dan 17
  • 24. menginterpretasi, (8) membuat generalisasi sesuai sifatnya, (9) menarikkesimpulan, (10) merumuskan dan melaporkan hasil penelitian, dan (11)mengemukakan implikasi-implikasi penelitian. Dalam kaitannya dengan keberadaan kondisi produk sastra yangmenjadi sasaran kajian, perlu diperhatikan persoalan yang muncul sertajawaban-jawaban yang diperlukan. Karya-karya tercipta pada masa kini darilatar penciptaan sosial dan word view yang berbeda-beda melahirkan persoalanpembacaan dari peneliti yang berlainan latar pembacaannya. Demikian pula,produk yang tercipta dari proses transformasi karya “asing” menimbulkan pulalatar pembacaan yang berbeda dengan latar penciptaannya; juga persoalanbentuk-bentuk resepsi dalam mentransformasi. Karya-karya yang tercipta darilatar waktu yang berlainan akan menimbulkan persoalan yang berhubungandengan pergeseran makna. Dalam hal inilah pemilihan teori dan metode yangmemadai menempati peran yang penting untuk menghasilkan penelitian yangmemiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi. Pelaksanaan kegiatan yang didasarkan pada metode di atas akanmemberikan citra keilmiahan penelitian sastra sesuai dengan karakteristikkesastraannya. 18
  • 25. 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian Wiersma dalam (Wuradji, (2001: 3-4) menjelaskan bahwa secaraumum asas-asas dasar penelitian meliputi: 1. sistematis 2. menghasilkan pengetahuan yang: a. valid : berhubungan dengan sebarapa jauh hasil penelitian dapat diinterpretasi (dimaknai) secara akurat dan seberapa jauh hasilnya dapat digeneralisasi dan diimplemetasikan pada populasi dan situasi yang lain b. validitas internal mengarah kepada ketepatan pemahaman hasil penelitian dan validitas eksternal mengarah kepada penggeneralisasian hasil penelitian c. realibel internal menunjukkan seberapa jauh pengumpulan data, analisis data dan pemahaman yang dilakukan penelitian konsisten dalam pemaknaan; realibel eksternal menunjukkan seberapa jauh peneliti lain yang independen dapat mengulang penelitian dan menunjukkan hasil yang sama dalam setting yang serupa. d. Objektif mengarah kepada penelitian yang terbebas dari campur tangan atau unsur-unsur subjektif 3. didukung data empiris 19
  • 26. 2.4 Penggolongan Penelitian Merujuk kepada pendapat Hogben, Charters, dan Whitney, Nazir (1985: 29-31) menggolongkan penelitian berdasarkan tujuannya ke dalam duabagian besar, yaitu : 1. penelitian dasar (basic Reasearch) bertujuan untuk mengembangkan ilmu pegetahuan. Jenis penelitian in tidak berorientasi pada hasil yang dapat dimanfaatkan dengan segera untuk memecahkan problem yang mendesak. 2. penelitian terapan (applied Reasearch) bertujuan untuk memecahkan problem mendesak dan hasilnya dapat dimanfaatkan dengan segera dalam kehidupan praktis. Salah satu tipe dari penelitian terapan adalah penelitian tindakan (action research). Penelitian ini dilakukan oleh guru atau manager atau administrator bertujuan untuk bahan pengambilan keputusan dalam ruang lingkup lokal. Penelitian ini tidak banyak menuntut untuk melakukan generalisasi. Berdasarkan desain metodologinya, (bandingkan Nazir, 1885; Ratna,2004; dan Muhadjir, 2003) penelitian digolongkan menjadi: 1. penelitian experiment: mengandaikan situasi penelitian di mana peneliti setidaknya memanipulasi satu variabel penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hasil yang berbeda dari pengaturan atau perubahan variabel independen tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk 20
  • 27. membandingkan dan mencari hubungan sebab akibat. Karena itu penelitian ini juga dikenal dengan istilah penelitian kausal-komparatif.2. penelitian ex-post facto: peneliti tidak berusaha mengendalikan atau mengatur/mengontrol/memanipulasi variabel independen karena variabel penelitiannya sudah terjadi. Variabel independen tersebut biasanya muncul atau terjadi dalam setting alami. Dari variabel-variabel yang telah muncul secara alami tersebut, peneliti berusaha menemukan hubungan antar variabel.3. penelitian survey: mengendalikan variabel penelitian yang dilakukan saat penelitian dilaksanakan. Ciri yang membedakan penelitian survey ini dengan penelitian lainnya adalah data pada penelitian survey merupakan current status (present conditions).4. penelitian historis: merupakan kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah di mana peneliti menggali data yang telah terjadi pada masa lampau. Tujuannya untuk mendeskripsikan fakta-fakta pada masa lampau.5. penelitian ethnography: pada umumnya dihubungkan dengan penelitian-penelitian pada antropologi. Untuk penelitian-penelitian kemasuyarakatan, ethnography merupakan pendekatan penelitian. Penelitian ini merupakan pendeskripsian secara analitik dan mendalam tentang situasi cultural yang spesifik.6. content analysis; berusaha menganalisis dokumen untuk diketahui isi dan makna yang terkandung dalam dokumen tersebut. Macam-macam 21
  • 28. dokumen yang dijadikan data penelitian di antaranya: karangan tertulis, gambar, grafik, lukisan, biografi, fotografi, laporan, buku teks, surat kabar, film, buku harian, dan majalah.2.5 Metode Kualitatif Motode kualitatif memberikan perhatian kepada data alamiah yangberada dalam hubungan konteks keberadaanya. Landasan berpikir metodekualitatif adalah paradigma positivisme Max Weber, Immanuel kant, danWilhlem Dilthey (Ratna, 2004: 47-49). Objek sosial bukan gejala sosialsebagai bentuk substantif melainkan makna-makna yang terkandung di baliktindakan yang justru mendorong timbulnya gejala sosial tersebut. Dalamhubungan inilah metode kualitatif dianggap persis sama dengan metodepemahaman atau verstehen. Penelitian kualitatif mempertahankan nilai-nilai.Dalam ilmu sosial, sumber datanya adalah masyarakat sedangkan datapenelitiannya adalah tindakan-tindakan. Dalam ilmu sastra, sumber datanyaadalah karya sedangkan data penelitiannya teks. Sejalan dengan uraian di atas, Ratna menguraikan ciri-ciri terpentingmetode kualitatif . Ciri-ciri yang dimaksud adalah: 1. memberikan perhatian utama pada makna dan pesan, sesuai dengan hakikat objek, yaitu sebagai studi kultural; 2. lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah; 22
  • 29. 3. tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian, subjek peneliti sebagai instrumen utama sehingga terjadi interaksi langsung di antaranya; 4. desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka; 5. penelitian bersifat alamiah, terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing.2.6 Metode Deskriptif Metode dskriptif adalah suatu metode dalam meneliti statussekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiranataupun suatu kelas peristiwa pada masa sakarang. Tujuan dari penelitiandeskriptif ini adalah untuk membuat dekripsi, gambaran atau lukisan secarasistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubunganantarfenomena yang diselidiki. Menurut Whitney (dalam Nazir, 1985: 63-65) metode dekriptif adalahpencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian dskriptifmempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta tatacara yang berlakudalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungankegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan, serta proses-prosesyang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. Dalammetode deskripsi peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomenatertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. Adakalanya peneliti 23
  • 30. mengadakan klasifikasi serta penelitian terhadap fenomena-fenomena denganmenetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahlimenamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normativesurvey). Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status)fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu faktor dengan faktorlain. Metode ini dinamakan juga studi status . Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standar-standar. Dalam metode ini dapat diteliti masalah-masalah normatif bersama-sama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandingan-perbandingan antarfenomena. Perspektif waktu yang dijangkau dalampenelitian ini adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktuyang masih terjangkau dalam ingatan responden. Nazir (1985: 72-73) mengurutkan kriteria pokok metode deskriptifadalah:A. kriteria umum: 1. masalah yang dirumuskan harus patut, ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas 2. tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum 3. data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini 4. standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas 24
  • 31. 5. harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan 6. hasil penelitian harus berisi secara detil yang digunakan baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakan yang dilakukan. Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoretis yang digunakan, jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan.B. kriteria khusus 1. prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value) 2. fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status. 3. sifat penelitian adalah ex post facto, karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel; variabel dilihat sebagaimana adanya. Adapun langkah-langkah umum dalam metode deskrptif adalah: 1. memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada 2. menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan; tujuan ini harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah 25
  • 32. 3. memberi limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan; seberapa jauh wilayah penelitian akan dijangkau 4. merumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual 5. menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan 6. merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji, baik secara eksplisit maupun secara implisit 7. melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data; gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian 8. membuat tabulasi serta analisis (statistik); dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan 9. memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi yang ingin diselidiki dan data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan 10. mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan-penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diujiJenis-jenis penelitian deskriptif (Nazir, 1985: 65-68) yang perlu dikenalsehubungan dengan praktik analisis terhadap karya sastra adalah: 1. metode survei: penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual; dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap 26
  • 33. hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa2. metode deskriptif berkesinambungan: kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian; penelitian dengan menggunakan metode ini bertujuan menjangkau informasi faktual yang mendetail3. Studi kasus: penelitian tentang status subjek penelitian yang berhubungan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas; subjek penelitian dapat saja individu, kelompok, lembaga, maupun masyarakat. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang, sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umun4. Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. Dalam studi komparatif ini, sulit diketahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol; metode yang digunakan di dalamnya adalah ex post facto, yaitu data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung; 27
  • 34. Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan mengujihubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia. 28
  • 35. BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH3.1 Sastra sebagai Sistem Chamamah ( 2001: 9-14) yang merujuk beberapa pendapat dari Idema,Plark, Eliis, Eagelton, Lotman, Riffaterre, dan Teeuw, menguraikanpemahaman sastra sebagai sistem. Ia mengawali pembicaraanya dari perspektifbahasa sebagai sistem semiotik primer. Selanjutnya sastra dihubungkan dengankonvensi budaya dan konvensi sastra. Secara cermat Teeuw masalah sistemsastra yangbersifat umum sekaligus khusus. Menurutnya, menjabarkan Istilahsastra dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semuamasyarakat meskipun secara sosial, ekonomi, dan keagamaan, keberadaannyatidak merupakan keharusan. Hal ini berarti bahwa sastra meupakan gejala yanguniversal. Akan tetapi suatu fenomena pula bahwa gejala yang universal itutidak mendapat konsep yang universal pula. Kriteria kesastraaan yang adadalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria kesastraan yang adapada masyarakat lain. Sastra mengandung sifat umum dan khusus. Pengertianumum dan khusus di sini dapat diperjelas dengan memahami terlebih dahulukonsep tentang sastra. Upaya mengungkap konsep tentang sastra pada umumnya dipandangtidak mudah. Hal ini disadari juga oleh para kitikus dan teoretis sastra. 29
  • 36. Pertanyaan yang berhubungan dengan penjelasan tentang konsep sastra selalumuncul tetapi selalu pula berakhir dengan kesimpulan yang menunjukkankegagalannya. Melalui sistem sastralah, upaya mengenali konsep sastra dapatdilakukan. Fenomena yang terlihat universal dan sekaligus individual itumemperlihatkan sifat-sifat yang dapat ditarik dari berbagai sisinya. Wujudciptaan yang dipandang sebagai hasil kegiatan bersastra pertama-tama dilihatdari sisi bahannya, yaitu berupa bahasa. Pemakaian bahasa pada kegiatanbersastra berbeda dengan pemakaian bahasa pada kegiatan yang lainnya,seperti pada pemakaian sehari-hari (natural atau ordinary language).Perbedaan ini memberi kesan akan adanya sifat yang spesial yang dalambanyak hal tidak mengikuti tata aturan bahasa sehingga sering disebut“menyimpang atau yang sering menimbulkan interpretasi ganda. Dalam rangkafungsi inilah bahasa sastra mempunyai susunan yang kompleks. Sifat-sifatyang diangkat dari corak bahasanya mewujudkan sastra sebagai satu sistem.Apabila bahasa dalam kehidupan sehari-hari merupakan sistem pembentukyang pertama maka sastra merupakan sistem yang kedua, secondary modellingsystem. Sebagai satu sistem, sastra merupakan satu kebulatan dalam arti dapatdilihat dari berbagai sisi, di antaranya dari sisi bahan. Sastra tidak ditentukanoleh bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam macam caratertentu oleh masyarakat. Ini menunjukkan pengertian bahwa bahasa yangdipakai mengandung fungsi yang lebih umum. 30
  • 37. Bahasa yang dipergunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra padahakikatnya untuk menyampaikan informasi. Pemanipulasian bahasa padahakekatnya dalam rangka mewujudkan sastra sebagai sarana komunikasi yangmaksimal. Dengan demikian, visi dan fungsi sastra terwujud sebagai saranakomunikasi, yaitu komunikasi dengan penikmatnya atau pembacanya. Pekerjaan meneliti sastra pada hakikatnya merupakan proses pertemuanantara ciptaan sastra dengan penelitinya, yaitu pembacanya. Dalam hal ini,perlu pula diperhatikan situasi pembaca dan pembacaan pada waktuberhadapan dengan karya sastra. Pembaca yang dibekali sejumlahpengetahuan, disadari atau tidak akan menjadi bekal dalam pembacaannya.Terjadilah pembacaan teks yang berstruktur yang menghasilkan dua kutub.Keduanya bergerak dalam irama yang dinamis. Dengan demikian, membacabukanlah proses yang berjalan satu arah, dari pembaca saja, tetapi satu bentukinteraksi dinamis antara teks dan pembacanya. Sastra dipahami sebagai satusistem yang terbaca pada ciptaan-ciptaan yang oleh masyarakatnyadikategorikan sebagai produk sastra.3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian Sebagai ilmu, ilmu sastra mempunyai karakteristik keilmiahan sendiri.Dalam hal ini penelitian harus memilih metode dan langkah-langkah kerja yangtepat dan sesuai dengan karakteristik objek kajiannya. Salah satu yang menarikdalam menggunakan metode penelitian sastra adalah perihal keharusan adanyadistansi, kerja yang objektif, dan terhindar dari unsur prasangka dari 31
  • 38. perspektif. Gejala dengan situasi kesastraan inilah yang sering menuntutperhatian tersendiri. Penerapan metode ilmiah seperti yang dikemukakan di atas perlumempertimbangkan sifat sastra yang memperlihatkan gejala yang universalsekaligus khusus atau unik. Gejala universal pada sastra membuat sastramemiliki sifat-sifat yang umum. Karya sastra adalah wujud kreativitas manusiayang tergolong konvensi-konvensi yang berlaku bagi wujud ciptaannyamenjadi kaidah. Namun, keunikan karakteristik sastra pada suatu masyarakat,bahkan keunikan suatu ciptaan sastra, membuat sastra memiliki sifat-sifat yangkhusus. Dalam hal ini, generalisasi sebagaimana yang dianjurkan oleh suatumetode penelitian (positivistik) tentu saja tidak dapat dilakukan. Langkah yangbisa dilakukan adalah transferabilitas. Karya sastra terbentuk untuk mengetahui segala sesuatu yang organik.Tugas pembaca untuk mengetahui segala kekaburan elemen-elemen yangberfungsi membentuk kesatuan itu. Pembaca bertugas menghubungkanberbagai strata yang berbeda-beda pada tempatnya yang betul. Karena karyasastra pada mulanya mengandung unsur yang kabur, pembacalah yangmewujudkannya menjadi tidak kabur. Dalam mengungkapkan dan menyibakkekaburan itulah, sejumlah peralatan diperlukan, di antranya hasil renunganorang terdahulu tentang masalah atau berbagai hal yang berkaitan denganmasalah dalam penelitian, seperti berbagai teori dan pandangan-pandanganyang pernah ada. 32
  • 39. 3.3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra Pembicaraan paradigma menjadi penting dalam menempatkan teoripada sebuah penelitian (Ratna, 2004: 21). Paradigma berasal dari bahasa Latin:paradigma berarti contoh, model, pola. Secara luas paradigma didefinisikansebagai seperangkat keyakinan mendasar, pandangan dunia yang berfungsiuntuk menuntun tindakan-tindakan manusia yang disepakati bersama, baikdalam kehidupan sehari-hari maupun penelitian ilmiah. Bagi ilmuwan, paradigma dianggap sebagai konsep-konsep kuncidalam melaksanakan suatu penelitian tertentu. Paradigmalah yang menentukanjenis-jenis ekspermen yang harus dilakukan oleh para ilmuwan, jenis-jenispertanyan yang harus diajukan, dan jenis-jenis permasalahan yang harusdipecahkan. Tanpa paradigma, ilmuwan tidak bisa mengumpulkan data. Terdapat tiga hal yang mempengaruhi perbedaan paradigma seorangilmuwan, sebagai berikut: 1. unsur dalam diri sendiri 2. unsur luar berupa lingkungan fisik 3. unsur luar berupa penjelajahan metodologi dan teori. Dalam kaitannya dengan karya sastra sebagai objek penelitian,paradigma di sini dibicarakan dalam kaitannya dengan teori dan metode di satupihak, dan di pihak lain berhubungan dengan sifat-sifat dasar karya sastrasebagai objek. Kaitan paradigma dengan teori dan metode tidak banyakmenimbulkan masalah sebab komponen-komponen tersebut memiliki ciri-ciri 33
  • 40. yang relatif sama, konsep-konsep dasar yang memungkinkan subjek untukmenganalisis objek penelitian. Permasalahan yang agak kompleks akan timbulapabila paradigma dikaitkan dengan objek karya sastra. Di satu pihak, sebagaicara pandang, paradigma secara keseluruhan didasarkan atas asumsi-asumsiilmiah yang memungkinkan subjek untuk menghadapi masalah secara objektif.Di pihak lain, sebagai hakikat kreatif karya sastra didominasi olehsubjektivitas, imajinasi, bahkan khayalan. Sebagai bentuk kegiatan ilmiah, penelitian sastra memerlukan landasankerja yang berupa teori. Teori sebagai hasil perenungan yang mendalam,tersistem, dan terstruktur terhadap gejala-gejala alam berfungsi sebagaipengarah dalam kegiatan penelitian. Teori memperlihatkan hubungan-hubungan antarfakta yang tampaknya berbeda dan terpisah ke dalam satupersoalan dan menginformasikan proses pertalian yang terjadi di dalamkesatuan tersebut. Selanjutnya, hasil penelitian dalam arah balik akanmemberikan sumbangannya bagi teori. Jadi, antara teori dan penelitian punterdapat hubungan saling mengembangkan. Sesuai dengan beraneka ragam ilmu, maka teori pun juga beranekaragam. Dalam penelitian sastra, pemilihan macam teori diarahkan oleh masalahyang akan dijawab oleh penelitian dan oleh tujuan yang akan dicapai olehpenelitian. Contohnya, penelitian yang memasalahkan construct suatu wacanaakan memanfaatkan teori struktural, dan sebagainya. 34
  • 41. Ritzer (dalam Ratna: 2004:26) mengemukakan empat faktor yangberkaitan dengan metode kualitatif secara filosofis. Keempat faktor tersebutadalah: 1. faktor ontologis, keberadaan objek yang sendirinya berada di antara masing-masing ilmu; dalam ilmu humaniora, khususnya sastra, objek dikonstruksikan oleh individu sebagai peneliti 2. faktor epistemologis, bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan; secara kualitatif, jarak antara subjek dengan objek dipersempit bahkan seolah-olah tidak ada jarak 3. faktor aksiologis, penelitian adalah penilaian, berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bebas nilai 4. faktor metodologis, keseluruhan proses penelitian, termasuk metode, teori, dan teknik. Paradigma ilmu sastra dengan demikian mencoba menjelaskan konsep-konsep yang mendasari pandangan dunia ilmuwan sastra, baik dalam kaitannyadengan individu maupun kelompok; baik dalam kaitannya dengan kaidah-kaidah sastra secara keseluruhan maupun sastra sebagai genre, termasukmodel-model pendekatan dalam kaitannya dengan kecenderunganmultidisiplin. Paradigma dengan demikian mendahului, mengkondisikanilmuwan sastra, ke arah mana penelitian sastra diarahkan, jawaban-jawabanapa yang akan diberikan. Pada gilirannya, baik secara eksplisit maupun implisitparadigma mengkondisikan teori, metode, teknik dan proses selanjutnya.Perbedaan dan perkembangan paradigma melahirkan angkatan, periode, 35
  • 42. generasi, aliran, dan berbagai paham yang lain. Dengan kalimat lain, teori danmetode tidak berarti apa-apa apabila dibandingkan dengan peranan paradigma. Relevansi pengalaman paradigmatis terhadap hakikat karya secarakeseluruhan jelas berkaitan dengan hakikat karya, gejala kultural sebagaikualitas imajinasi dan kreativitas. Para ilmuwan sastra sejak semula telahmemahami bahwa karya sastra bukan kenyataan sesungguhnya. Keseluruhanunsur, termasuk tokoh-tokoh, latar tempat dan waktu, bahkan juga nama dantahun yang sama dengan sejarah umum adalah unsur yang diciptakan. Karyasastra tidak menyediakan referensi apa pun yang dapat dijadikan pedomanuntuk menjelaskan fakta sejarah, kecuali referensi estetisnya. Unsur-unsurkarya sastra hanya berfungsi dalam totalitas karya, bukan totalitas alamsemesta yang melatarbelakanginya. Novel sejarah, novel psikologis, demikianjuga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspek-aspek sejarah, psikologis, demikian juga novel ilmu pengetahuan tidakdimaksudkan untuk melegitimasikan aspek-aspek sejarah, psikologis dan ilmupengetahuan, melainkan semata-mata sebagai alternatif terhadap bidang ilmuyang ditunjuknya dengan pertimbangan bahwa ada dunia lain yang seolah-olahsama dengan dunia yang ditunjuknya. Pengalaman paradigmatis terhadap genre-genre sastra sama denganhakikat tersebut. Perbedaannya, subjek dalam hubungan ini telah memilikireferensi yang digunakan sebagai dasar untuk memahami dan mengembangkanhakikat imajinasi. Puisi, novel, dan drama, puisi, drama bersajak, dllmemperoleh pengertian melalui pengalaman paradigmatis tersebut. 36
  • 43. Penjelajahan terhadap konsep-konsep paradigma sama pentingnyadengan teori, tetapi dalam penelitian konsep paradigma tidak muncul secaraeksplisit. Demikian juga konsep-konsep yang berkaitan dengan metodologiyang tidak pernah dipertimbangkan sebagai butir-butir penelitian. Paradigmadan metodologi dianggap sebagai komponen-komponen yang secara inklusifmempengaruhi dan mengarahkan peneliti pada suatu kesadaran tertentu,sehingga berbeda dengan peneliti lain dengan paradigma dan metodologi yangberbeda. Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa paradigma danmetodologi merupakan jiwa dan semangat penelitian yang kemudian diarahkanoleh teori dengan mempertimbangkan cara yang sudah disepakati, yaitu metodedan teknik.3.4 Pendekatan Sastra3.4.1. Pengertian Pendekatan Pendekatan adakalanya disamakan dengan metode (Ratna, 2004: 53-55). Lebih lanjut, Ratna menguraikan bahwa secara etimologis, pendekatanberasal dari kata appropio, approach, yang diartikan sebagai jalan danpenghampiran. Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek,sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan, menganalisis, danmenyajikan data. Dengan dasar pertimbangan bahwa sebuah penelitianmerupakan kegiatan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan metodis, makaperlu dibedakan antara metode dengan pendekatan. 37
  • 44. Pendekatan pada dasarnya memiliki tingkat abstraksi yang lebih tinggibaik dengan metode maupun teori. Dalam sebuah pendekatan dimungkinkanuntuk mengoperasikan sejumlah teori dan metode. Dalam hubungan inilah,pendekatan disejajarkan dengan bidang ilmu tertentu, seperti pendekatansosiologi sastra, mitopoik, intrinsik dan ekstrinsik, pendekatan objektif,ekspresif, mimetik, pragmatik,dan sebagainya. Definisi tersebut bersifat relatifsebab yang jauh lebih penting adalah tujuan yang hendak dicapai sehinggasebuah pendekatan pada tahap tertentu bisa menjadi metode. Pendekatanadalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri.Pendekatan mengimplikasikan cara-cara memahami hakikat keilmuan tertentu. Penelitian secara keseluruhan ditentukan oleh tujuan. Pendekatanmerupakan langkah pertama dalam mewujudkan tujuan penelitian. Padadasarnya, dalam rangka melaksanakan suatu penelitian, pendekatanmendahului teori dan metode. Artinya, pemahaman mengenai pendekatanlahyang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu, kemudian diikuti denganpenentuan masalah, teori, metode, dan tekniknya.3.4.2 Jenis-jenis Pendekatan Sastra Empat komponen utama pendekatan sastra yang dikemukakan Abramsmenjadi bagian penting dalam teori strukturalisme. Empat pendekatan yangdimaksud adalah (1) pendekatan ekspresif, (2) pendekatan mimesis, (3)pendekatan pragmatik, dan (4) pendekatan objektif. 38
  • 45. 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif Pendekatan ekspresif ini tidak semata-mata memberikan perhatianterhadap bagaimana karya itu diciptakan tetapi bentuk-bentuk apa yang terjadidalam karya sastra yang dihasilkan. Wilayah studi pendekatan ini adalah diripengarang, pikiran dan perasaan, dan hasil-hasil karyanya. Pendekatan inidapat dimanfaatkan untuk menggali ciiri-ciri individualisme, nasionalisme,komunisme, feminisme, dan sebagainya dalam karya baik karya sastraindividual maupun karya sastra dalam kerangka periodisasi. Menurut Abrams (1958: 22) pendekatan ekspresif ini menempatkankarya sastra sebagai curahan, ucapan, dan proyeksi pikiran dan perasaanpengarang. Pengarang sendiri menjadi pokok yang melahirkan produksipersepsi-persepsi, pikiran-pikiran, dan perasaan-perasaan yangdikombinasikan. Praktik analisis dengan pendekatan ini mengarah padapenelusuran kesejatian visi pribadi pengarang yang dalam paham strukturgenetik disebut pandangan dunia. Seringkali pendekatan ini mencari fakta-fakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yangsecara sadar atau tidak telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut.Dengan demikian secara konseptual dan metodologis dapat diketahui bahwapendekatan ekspresif menempatkan karya sastra sebagai: (1) wujud ekspresipengarang, (2) produk imajinasi pengarang yang bekerja dengan persepsi-persepsi, pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya, (3) produk pandangandunia pengarang. Secara metodis, langkah kerja yang dapat dilakukan melaluipendekatan ini adalah: (1) memerikan sejumalah pikiran, persepsi, dan 39
  • 46. perasaan pengarang yang hadir secara langsung atau tidak di dalam karyanya,(2) memetakan sejumlah pikiran, persepsi, dan perasaan pengarang yangditemukan dalam karyanya ke dalam beberapa kategori faktual teks berupawatak, pengalaman, dan ideologi pengarang, (3) merujukkan data yangdiperoleh pada tahap (1) dan (2) ke dalam fakat-fakta khusus menyangkutwatak, pengalaman hidup, dan ideologi pengarang secara faktual luar teks (datasekunder berupa data biografis), dan (4) membicarakan secara menyeluruh,sesuai tujuan, pandangan dunia pengarang dalam konteks individual maupunsosial dengan mempertimbangkan hubungan-hubungan teks karya sastra hasilciptaannya dengan data biografisnya.3.4.2.2 Pendekatan Mimesis Dasar pertimbangan pendekatan mimesis adalah dunia pengalaman,yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yangsesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan (Abrams, 1958:8).Kenyataan di sini dipakai dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu segala sesuatuyang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra, sepertimisalnya benda-benda yang dapat dilihat dan diraba, bentuk-bentukkemasyarakatan, perasaan, pikiran, dan sebagainya Luxemberg, 1989:15).Melalui pandangan ini, secara hierarkis karya seni berada di bawah kenyataan.Akan tetapi Marxis dan sosiologi sastra memandang karya seni dianggapsebagai dokumen sosial; karya seni sebagai refleksi dan kenyataan di dalamnyasebagai sesuatu yang sudah ditafsirkan. 40
  • 47. Sehubungan dengan pendekatan mimesis, Segers (2000, 91-94)mengungkapkan konsep yang dipakai kaum Maxist. Menurut konsep inikonsep imitasi harus menjadi norma dasar telaah. Kritik Marxist menyatakanbahwa dunia fiksional teks sastra seharusnya merefleksikan realitas sosial.Lebih jauh Segers mempertimbangkan fiksionalisasi dalam telaah teks sastrayang berhubungan dengan pendekatan mimesis. Menurutnya, normafiksionalitas mengimplikasikan bahwa tanda-tanda linguistik yang berfungsidalam teks sastra tidak merujuk secara langsung pada dunia kita, tetapi padadunia fiksional teks karya sastra. Adapun John Baxter (dalam Makaryk,1993: 591-593) menguraikanbahwa mimesis adalah hubungan dinamis yang berlanjut antara suatu senikarya yang baik dengan alam semesta moral yang nyata atau masuk akal.Mimesis sering diterjemahkan sebagai "tiruan". Secara terminologis, mimesismenandakan suatu seni penyajian atau kemiripan, tetapi penekanannyaberbeda. Tiruan, menyiratkan sesuatu yang statis, suatu copy, suatu produkakhir; mimesis melibatkan sesuatu yang dinamis, suatu proses, suatu hubunganaktif dengan suatu kenyataan hidup. Menurut Baxter, metode terbaik mimesis adalah dengan jalanmemperkuat dan memperdalam pemahaman moral, menyelidiki danmenafsirkan semesta yang diterima secara riil. Proses tidak berhenti hanyadengan apa pembaca atau penulis mencoba untuk mengetahuinya. Mungkinrentang batas yang riil dengan yang dihadirkan dapat dikhayalkan walaupunhanya sesaat dalam kondisi riil, atau suatu perspektif pada aspek yang riil yang 41
  • 48. tidak bisa dijangkau jika tidak dilihat. Kenyataan kadang-kadang digambarkanberbeda karena tak sesuai dengan pandangan kenyataan yang menyeluruh.Oleh karena itu, kenyataan tidak dapat dihadirkan dalam karya dalam cakupanyang ideal. Mimesis sama dan sebangun dengan apa yang Coleridge sebutsebagai imajinasi yang utama, yang oleh Whalley disebut sebagai hasil darikesadaran tertinggi. Melalui penjabaran di atas, dapat diketahui secara konseptual danmetodologis bahwa pendekatan mimesis menempatkan karya sastra sebagai:(1) produk peniruan kenyataan yang diwujudkan secara dinamis, (2)representasi kenyataan semesta secara fiksional, (3) produk dinamis yangkenyataan di dalamnya tidak dapat dihadirkan dalam cakupan yang ideal, dan(4) produk imajinasi yang utama dengan kesadaran tertinggi atas kenyataan. Secara metodis, langkah kerja analisis melalui pendekatan ini dapatdisusun ke dalam langkah pokok, yaitu: (1) mengungkap dan mendeskripsikandata yang mengarah pada kenyataan yang ditemukan secara tekstual, (2)menghimpun data pokok atau spesifik sebagai variabel untuk dirujukkan kedalam pembahasan berdasarkan kategori tertentu, sesuai tujuan, misalnyamenelusuri unsur fiksionalitas sebagai refleksi kenyataan secara dinamis, dsb.,(3) membicarakan hubungan spesifikasi kenyataan dalam teks karya sastradengan kenyataan fakta realita, dan (4) menelusuri kesadaran tertinggi yangterkandung dalam teks karya sastra yang berhubungan dengan kenyataan yangdirepresentasikan dalam karya sastra. 42
  • 49. 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik Pendekatan pragmatis menurut Abram (1958: 14-21) memberikanperhatian utama terhadap peranan pembaca. Pendekatan ini memberikanperhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca. Pendekatanpragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagaikompetensinya. Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra danpembaca, maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatanpragmatis di antaranya berbagai tanggapan masyarakat atau penerimanpembaca tertentu terhadap sebuah karya sastra, baik dalam kerangka sinkronismaupun diakronis. Segers (2000:35-47) dalam kaitannya dengan pendekatan pragmatik,mengawali pembicaraannya dengan uraian seputar estetika resepsi.Menurutnya, secara metodologis estetika resepsi berusaha memulai arah barudalam studi sastra karena berpandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnyadipelajari (terutama) dalam kaitannya dengan reaksi pembaca. Dalamuraiannya, Segers memetakan estetika resepsi ke dalam tiga bagian utama,yaitu (1) konsep umum estetika resepsi, (2) penerapan praktis estetika resepsi,dan (3) kedudukan estetika resepsi dalam tradisi studi sastra. Estetika resepsi yang termasuk ke dalam wilayah pendekatan pragmatikmemuat konsep-konsep dasar seperti yang dikemukanan Jauss dan Iser. Katakunci dari konsep yang diperkenalkan Jauss adalah rezeptions undwirkungsasthetik “ tanggapan dan efek”. Menurutnya, pembacalah yangmenilai, menikmati, menafsirkan, dan memahami karya sastra. Pembaca dalam 43
  • 50. kondisi demikianlah yang mampu menentukan nasib dan peranannya dari segisejarah sastra dan estetika. Resepsi sebuah karya dengan pemahaman danpenilaiannya tidak dapat diteliti lepas dari rangka sejarahnya seperti yangterwujud dalam horison harapan pembaca masing-masing. Baru dalamkaitannya dengan pembaca, karya sastra mendapat makna dan fungsinya.Tujuh bagian penting yang menjadi dasar dari teori estetika resepsi Jauss,yaitu: (1) pengalaman pembaca, (2) horison harapan, (3) nilai estetik, (4)semangat zaman, (5) rangkaian sastra, (6) perspektif sinkronik dan diakronik,dan (7) sejarah umum. Pengalaman pembaca yang dimaksud mengindikasikan bahwa tekskarya sastra menawarkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca yangbermacam-macam pula dari sisi pengalamannya pada setiap periode atauzaman pembacaannya. Pembacaan yang beragam dalam periode waktu yangberbeda akan menunjukkan efek yang berbeda pula. Pengalaman pembaca akanmewujudkan orkestrasi yang padu antara tanggapan baru pembacanya denganteks yang membawanya hadir dalam aktivitas pembacaan pembacanya. Dalamhal ini, kesejarahan sastra tidak bergantung pada organisasi fakta-fakta literertetapi dibangun oleh pengalaman kesastraan yang dimiliki pembaca ataspengalaman sebelumnya. Horison harapan muncul pada tiap aktivitas pembacaan pembaca untukmasing-masing karya di dalam momen historis melalui bentuk dan pemahamanatas ganre, dari bentuk dan tema karya yang telah dikenal, dan dari oposisiantara puisi dan bahasa praktis. Karya sastra tidak berada dalam kekosongan 44
  • 51. informasi. Dengan kondisi tersebut, teks karya sastra mampu menstimulusproses psikis pembaca dalam meresepsi teks karya sastra yang dibacanyasehingga bagian dari proses tersebut mengimplikasikan adanya harapan-harapan atas karya yang dibacanya. Horison harapan atas sebuah karya membuka peluang untukmenentukan karakter artistiknya melalui kesamaan dan tingkat pengaruhnyapada syarat pembaca. Penandaan perbedaan jarak estetik antara horisonharapan yang diberinya dan tampilan suatu karya baru akan mengarahkanpotensi-potensi resepsi yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahanhorison sampai pada penghilangan pengalaman yang umum dikenal atausampai pada peningkatan kesadaran pengalaman yang baru saja dicetuskan.Kondisi yang mengindikasikan adanya jarak estetik ini dapat menjadi objektifmenurut sejarah sejalan dengan spektrum reaksi pembaca dan pertimbangankritiknya. Perihal semangat zaman, rekonstruksi horison harapan pada permukaansuatu karya yang telah diciptakan dan diterima di masa lalu memungkinkanpembaca mempertanyakan kembali tentang teks tersebut. Proses pembacaandiarahkan kepada bagaimana pembaca jaman sekarang bisa memandang danmemahami karya tersebut. Pendekatan ini mengoreksi norma-norma klasikalyang tidak dikenal atau memodernisasi pemahaman seni dan menghindarikesulitan yang menyelimutinya. Teori estetik resepsi tidak hanya memahami bentuk suatu karya sastradalam bentangan historis berkenaan dengan pemahamannya. Teori menuntut 45
  • 52. bahwa sesuatu karya individu menjadi bagian rangkaian karya lain untukmengetahui arti dan kedudukan historisnya dalam konteks pengalamankesastrannya. Pada tahapan sejarah resepsi karya sastra terhadap sejarah sastrasangat penting, yang terakhir memanifestasikan dirinya sebagai proses resepsipasif yang merupakan bagian dari pengarang. Pemahaman berikutnya dapatmemecahkan bentuk dan permasalahan moral yang ditinggalkan oleh karyasebelumnya dan pada gilirannya menyajikan permasalahan baru. Keberhasilan linguistik melalui perbedaan dan hubungan metodologisyang menyeluruh dari analisis sinkronis dan diakronis adalah kesempatanuntuk menanggulangi perspektif diakronis yang sebelumnya merupakan satu-satunya perspektif yang diberlakukan di dalam sejarah sastra. Pembenahantersebut membuka perubahan dalam perilaku estetik. Perspektif sejarah sastraselalu menemukan hubungan fungsional antara pemahaman karya-karya barudengan makna karya-karya terdahulu. Perspektif ini juga mempertimbangkanpandangan sinkronis guna menyusun dalam kelompok-kelompok yang sama,berlawanan dan teratur sehingga diperoleh sistem hubungan yang umum dalamkarya sastra pada waktu tertentu. Tugas sejarah sastra yang utuh tidaklah hanya diwakili kesinkronisandan kediakronisan di dalam rangkaian sistemnya, tetapi juga melihat seperti sejarah khusus dalam hubungan uniknya terhadap sejarah umum. Hubunganini tidak berakhir dengan fakta yang beragam, diidealkan, satirik, ataugambaran berupa kayalan tentang keberadaan sosial, tetapi hubungannya dapatditemukan di dalam sastra dari semua waktu. Fungsi sosial sastra 46
  • 53. memanifetasikan dirinya di dalam kemungkinan riil hanya jika pengalamankesastraan pembaca masuk ke dalam horison harapannya dari kehidupanpraktisnya untuk kemudian pembaca melaksanakan pemahaman atas dunianya.Manifestasi tersebut mempunyai dan mempengaruhi perilaku sosialnya. Konsep yang dikemukakan Iser (1987: ix-xii; 54) adalah terdapathubungan dialektis antara teks, pembaca, dan interaksinya. Iser menyebutnyasebagai respon estetik sebab walaupun pusat perhatiannya sekitar teks, tetapimengarahkan persepsi dan imajinasi pembaca dalam rangka melakukanpenyesuaian dan bahkan membedakan fokusnya. Teori ini melihat bahwa karyasastra sebagai suatu yang diformukasikan kembali dari sesuatu yang telahdiformukasikan dalam realita. Karya sastra ini melahirkan sesuatu yang tidakada sebelumnya. Konsekuansinya, teori respon estetik dihadapkan padapermasalahan bagaimana suatu situasi yang tidak diformukasikan dapatdiproses dan dipahami. Asumsi dasar dari teori ini adalah teks hanya bisa hadirsaat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. Konsep dialektika respon estetik (Iser, 1987: 20 dan 54), interaksinyadapat dicermati melalui pengertian implied reder, literary repertoire, danliterary strategies Implied reader merupakan model, rol, dan standpoint yangmembuat pembaca sebagai real reader menyusun makna teksnya. Repertoiremerupakan seperangkat norma sosial, historis, dan budaya yang dipakai untukmembaca yang dihadirkan oleh teks dan merupakan semua wilayah familiardalam teks berupa acuan kepada karya-karya yang ada lebih dahulu. Strategidigunakan untuk defamiliarisasi dan untuk mengkomunikasikan teks dengan 47
  • 54. pembacanya tanpa mendeterminasikannya. Melalui strategi ini disajikanprimary code kepada pembaca dan membuat pembaca mengaturnya sendirisehingga lahir makna yang bervariasi. Masing-masing toeri di atas (Jauss dan Iser) mengarahkan praktikmetodisnya. Pandangan Jauss dengan tujuh tesisnya memetakan analisis padaaspek estetik dan historisnya. Ketujuh tesis tersebut merupakan pemodelanyang mengarah tuntutan metodisnya. Adapun pandangan Iser yang menyatakanbahwa terdapat interaksi antara teks dan pembaca dalam proses pembacaan.Teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebutmelalui pembaca. Deskripsi tentang teks tidak lebih dari pengalaman pembacayang terbudaya. Dengan demikian, langkah-langkah yang perlu diikutisehubungan dengan pernyataan di atas adalah dengan jalan langkah (1)menandai adanya kualitas yang khusus atas teks sastra yang mencirikan adanyaperbedaan dengan teks lainnya dan (2) memerikan dan meneliti unsur-unsurdasar penyebab tanggapan terhadap karya sastra.3.4.2.4 Pendekatan Objektif Pendekatan objektif (Abrams, 1978: 26-29) memusatkan perhatiansemata-mata pada unsur-unsur, antarhubungan, dan totalitas. Pendekatan inimengarah pada analisis intrinsik. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalahmengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik, seperti aspekhistoris,sosiologis, politis, dan unsur-unsur sosiokultural lainnya, termasuk biografi.Oleh karena itulah, pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi. 48
  • 55. Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur denganmempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak dan unsur-unsurdengan totalitas di pihak lain. Konsep dasar pendekatan ini (Hawkes dalam Pradopo, 2002: 21) adalahkarya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari bermacam-macamunsur pembentuk struktur. Antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat(koherensi). Tiap unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya melainkanmaknanya ditentukan oleh hubungan dengan unsur-unsur lain yang terlibatdalam sebuah situasi. Makna unsur-unsur karya sasatra itu hanya dapatdipahami sepenuhnya atas dasar tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhankarya sastra. Secara metodologis, pendekatan ini bertujuan melihat karya sastrasebagai sebuah sistem dan nilai yang diberikan kepada sistem itu amatbergantung kepada nilai komponen-komponen yang ikut terlibat di dalamnya.Analisis karya sastra melalui pendekatan ini tergantung pada jenis sastranya.Analisis sajak berbeda dengan analisis prosa. Analisis yang digunakan terhadapsaja misalnya penelusuran lapis norma, mulai dari lapir bunyi sampai ke lapismetafisik. Teknik analisisnya pun bisa diarahkan pada pembacaan heuristiksampai ke tingkat pembacaan hermeneutik. Adapun terhadap prosa, sesuaidengan sifat fiksi yang merupakan struktur cerita, analisisnya diarahkan padastruktur ceritanya. Struktur yang dimaksud dijajaki melalui unsur-unsurpembentuknya berupa: tema, fakta cerita (tokoh, alur, dan latar), dan saranacerita (pusat pengisahan, konflik, gaya bahasa, dll.). 49
  • 56. Pada analisis prosa, tema dan fakta-fakta cerita dipadukan menjadi satuoleh sarana sastra. Di dalam analisisnya, unsur-unsur tersebut ditelusuri dandikemukakan hubungan dan fungsi tiap-tiap unsur. Tema berjalin erat denganfakta-fakta dan berhubungan erat dengan sarana sastra. 50
  • 57. BAB IV STRUKTURALISME4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan Strukturalisme adalah sebuah paham atau kepercayaan bahwa segalasesuatu yang ada di dunia ini mempunyai struktur (Pieget, 1995: 4-12; Hawkes,1978: 17-18; dan Faruk: 1994: 17-18; Faruk, 1999: 1-9; dan Teeuw, 1984: 120-139). Sesuatu dikatakan mempunyai struktur apabila ia membentuk suatukesatuan yang utuh, bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian semata.Hubungan antarbagian di dalam struktur tidak bersifat kuantitatif, melainkankualitatif. Artinya, apabila suatu bagian dihilangkan, keutuhan sesuatu itu tidaksekedar berkurang, melainkan rusak sama sekali. Selain itu, strukturalisme juga percaya bahwa suatu strukturmempunyai daya transformasi dan regulasi diri. Semua dikatakan berstrukturapabila ia dapat melakukan perubahan, tanpa harus kehilangan keutuhandirinya, fungsi utama yang menjadi tujuan atau pusat strukturasinya. Sesuatudikatakan berstruktur apabila ia mempunyai kemampuan untuk mengatakankemungkinan gangguan dan pengaruh dari luar dengan caranya sendiri. Keseluruhan pengertian tersebut menunjukkan bahwa bagistrukturalisme segala sesuatu di dalam dunia membangun dunianya sendiri,mekanisme sendiri, untuk menjalankan fungsi-fungsinya sendiri, terlepas dari 51
  • 58. berbagai kemungkinan pengaruh dari luar. Sesuatu dipahami sebagai kekuatanyang mampu membangun, mengembangkan, dan mempertahankan dirinyasendiri dengan caranya sendiri pula. Dengan kata lain, strukturalismecenderung memahami segala sesuatu sebagai sebuah sistem tertutup, otonom.Karena itu, strukturalisme dalam ilmu sastra akan memperlakukan karya sastraatau kesastraan sebagai sesuatu yang mandiri pula, sesuatu yang berstruktur,sesuatu yang utuh, transformatif, dan self-regulatif. Aliran Kritik Baru diAmerika, Formalisme di Rusia, percaya bahwa teks sastra dapat dipahami dandijelaskan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat di dalam teks itu sendiri.Strukturalisme percaya bahwa sastra dapat dipahami dan dijelaskan atas dasarsistm sastra sendiri yang membentuk semacam kaidah-kaidah bagi penciptaankarya sastra. Dalam strukturalisme konsep fungsi memegang peranan penting.Artinya, unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperan secaramaksimal semata-mata dengan adanya fungsi, yaitu dalam rangkamenunjukkan antarhubungan unsur-unsur yang terlibat. Unsur tidak memilikiarti dalam dirinya sendiri. Unsur dapat dipahami semata-mata dalam prosesantarhubungannya. Makna total setiap entitas dapat dipahami hanya dalamintegritasnya terhadap totalitasnya. Sebagai kualitas totalitas, antarhubunganmerupakan energi, motivator terjadinya gejala baru, mekanisme yang baru.Tanpa antarhubungan sesungguhnya unsur tidak berarti. Mekanismeantarhubungan tersebut dianggap sebagai pergeseran yang signifikan danfundamental, yaitu dari struktur yang otonom ke arah relevansi fungsi karya 52
  • 59. sebagai sistem komunikasi. Karya dengan demikian tidak dipahami melaluiergon yang terisolasi melainkan selalu dalam kaitannya dengan perubahanrealita sosial. Karya tidak dapat diisolasi. Karya harus dikondisikan sebagaifakta kemanusiaan sehingga memungkinkan untuk mengoperasikan secaramaksimal berbagai saluran komunikasi yang terkandung di dalamnya. Relevansi prinsip-prinsip antarhubungan dalam analisis karya sastra, disatu pihak mengarahkan peneliti agar secara terus menerus memperhatikansetiap unsur sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan unsur-unsur yang lain.Di pihak lain, antarhubunganlah yang menyebabkan sebuah karya sastra, suatumasyarakat, dan gejala apa saja memiliki arti yang sesungguhnya.Kesalahpahaman mengenai fungsi-fungsi antarhubungan menyebabkan penelitihanya meneliti salah satu unsur tertentu yang pada gilirannya berartimemperkosa hakikat suatu totalitas. Analisis terhadap penokohan, misalnya,tidak mungkin dilakukan secara terpisah dari unsur-unsur yang lain. Dengankata lain, penokohan tidak dapat dipahami tanpa menghubungkannya denganunsur-unsur yang lain, seperti kejadian, latar, plot, dan sebagainya. Sejalan dengan uraian di atas, prinsip antarhubungan secara esensialdipertahankan pada setiap teori dibawah naungan strukturalisme. Namundemikian, perubahan menuju pada perkembangan teoretik telah terjadi yangsekaligus mengarahkan pembahasan metodologis secara berbeda pula. 53
  • 60. 4.2 Teori Formalisme Tujuan pokok formalisme (bandingkan Teeuw, 1985: 128-13; Ratna:2004: 80-87) adalah studi ilmiah tentang sastra dengan cara meneliti unsur-unsur kesastraan, puitika, asosiasi, oposisi, dan sebagainya. Metode yangdigunakan metode formal. Metode formal menjalankan fungsinya dengan caramerekonstruksi teks melalui pemaksimalan konsep fungsi. Dengan jalandemikian, teks menjadi suatu kesatuan yang terorganisasikan. Prinsip dansarana inilah yang mengarahkannya pada konsep sistem dan akhirnya kekonsep struktur. Sebagai teori modern mengenai sastra, secara historis kelahiranformalisme dipicu oleh paling sedikit tiga faktor, yaitu: 1. formalisme lahir sebagai akibat penolakannya terhadap paradigma positivisme abad ke-19 yang memegang teguh prinsip-prinsip kausalitas; reaksi terhadap studi biografis 2. kecenderungan yang terjadi dalam ilmu humaniora di mana terjadinya pergeseran dari paradigma diakronis ke sinkronis 3. penolakan terhadap pendekatan tradisional yang selalu memberikan perhatian terhadap hubungan karya sastra dengan sejarah, sosiologi, dan psikologi. Usaha maksimal kelompok formalis dalam rangka menemukan hakikat karya sastra dengan cara mengeksploitasi sarana bahasa telah mencapai klimaknya. Meskipun demikian, penemuannya mengarahkan pada paradigma baru bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara terisolir 54
  • 61. semata-mata melalui akumulasi perangkat-perangkat intrinsiknya, tetapi juga harus melibatkan keseluruhan faktor yang membentuknya. Pergeseran perhatian dari masalah-masalah teknis, khususnya sebagaimana digemari oleh kelompok formalisme awal ke arah pemahaman sastra secara lebih luas, melahirkan strukturalisme.4.3 Teori Strukturalisme Dinamik Scholes (dalam Ratna, 2004: 89) menjelaskan keberadaanstrukturalisme menjadi tiga tahap, yaitu (1) sebagai pergeseran paradigmaberpikir, (2) sebagai metode, dan (3) sebagai teori. Lahirnya strukturalismedinamik didasarkan atas kelemahan-kelemahan strukturalisme sebagaimanayang dianggap sebagai perkembangan formalisme. Strukturalisme dinamika (lihat Teeuw, 1985: 185-192; Muhadjir, 2002:304); Pradopo 2002: 46; dan Ratna, 2003: 88-96;) mencermati bahwastrukturalisme dinamik dimaksudkan sebagai penyempurnaan strukturalismeyang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur intrinsik yangdengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya. Strukturalismedinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Felik Vodicka.Menurutnya, karya sastra adalah proses komunikasi, fakta semiotik, terdiri atastanda, struktur, dan nilai-nilai. Karya seni adalah petanda yang memperolehmakna dalam kesadaran pembaca. Oleh karena itulah, karya seni harusdikembalikan pada kompetensi penulis, masyarakat yang menghasilkannya,dan pembaca sebagai penerima. 55
  • 62. Perbedaan unsur-unsur karya sastra untuk jenis yang berbeda-bedaterjadi akibat proses resepsi pembaca. Setiap penilaian akan memberikan hasilyang berbeda. Unsur-unsur yang terdapat pada ketiga jenis sastra (prosa, puisi,dan drama) akan membutuhkan pemusatan analisis yang berbeda pula. Unsur-unsur prosa, misalnya mengarah pada tema, peristiwa atau kejadian, latar atausetting, penokohan, alur, sudut pandang, dan gaya bahasa. Unsur-unsur puisi,di antaranya tema, stilistika, imajinasi, ritme atau irama, rima atau persajakan,diksi atau pilihan kata, simbol, nada, dan enjambemen. Unsur-unsur (teks)drama di antaranya tema, dialog, peristiwa, latar, penokohan, alur, dan gayabahasa. Atas dasar hakikat otonom karya sastra, maka tidak ada aturan yangbaku terhadap suatu kegiatan analisis. Artinya, unsur-unsur yang dibicarakantergantung dari dominasi unsur-unsur karya di satu pihak, tujuan analisis di lainpihak. Dalam analisis akan selalu terjadi tarik menarik antara struktur global,yaitu totalitas karya itu sendiri dengan unsur-unsur yang diadopsi ke dalamwilayah penelitian. Kondisi tersebut menunjukkan dinamika karya sastrasebagai totalitas sebab proses adopsi mengandaikan terjadinya ciri-ciritransformasi dan regulasi diri sehingga terjadi keseimbangan antara strukturglobal dengan unsur-unsur yang dianalisis. Karya sastra tidak mungkin dan tidak perlu dianalisis secaramenyeluruh sebab struktur global bersifat tidak terbatas. Akan tetapi analisistidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial kultural yang menghasilkannya.Prosa, puisi, dan drama dan sastra jenis klasiknya tidak semata-mata dianalisis 56
  • 63. sebagai teks tetapi juga dimungkinkan dalam kaitannya dengan pementasanlangsung sebagai performing art. Dalam hubungan ini, analisis struktur akanmelibatkan paling sedikit tiga komponen utama, yaitu pencerita, karya sastra,dan pendengar. Metodologi penelitian pun menjadi bertambah kompleks, tidakbertambah dalam penelitian pustaka, melainkan harus dilengkapi denganpenelitian lapangan yang dengan sendirinya juga melibatkan instrumenpenelitian lapangan. Dengan demikian strukturalisme dinamik adalah pendekatan atas karyasastra dengan menerapkan kerja strukturalisme atas dasar konsep semiotik.Analisis struktural murni mengasingkan karya sastra dari kerangkakesejarahan dan relevansi eksistensialnya. Strukturalisme dinamik yangdikembangkan Ian Mukarovsky dan Felix Vodicka mencoba memahami karyasastra berdasarkan kesadaran bahwa karya sastra sebagagi struktur padahakikatnya memiliki ciri khas yaitu sebagai tanda (sign). Tanda baru mendapatmakna sepenuhnya bila sudah melalui tanggapan pembaca. Dengan demikianada pengaruh timbal balik antara tanda dan pembacanya. Pembaca dalammemberi makna terikat pada konvensi tanda, tidak semau-maunya. Jadi,dengan kerangka semiotik itu dapat diproduksi makna dalam karya sastra yangmerupakan struktur sistem tanda-tanda itu. 57
  • 64. 4.4 Semiotik Secara padat Dolezel, Stout (dalam Makaryk, 1993: 183-189), danratna (2004: 96-120) menjelaskan pendekatan semiotik dimulai daripengertian, latar belakang sejarah pertumbuhannya, aliran semiotik, danhubungan semitoik dengan pendekatan lainnya. Menurutnya, strukturalismeberhubungan erat atau bahkan tidak terpisahkan dengan semiotik sebagaisarana untuk memahami karya sastra, untuk menangkap makna unsur-unsurstruktur karya sastra dalam jalinan dengan keseluruhan karya yang harusmemperhatikan sistem tanpa yang dipergunakan dalam karya sastra. Karyasastra itu merupakan struktur sistem tanda-tanda yang bermakna. Dalam lapangan semiotik, pengertian tanda ada dua prinsip, yaitu (1)penanda (signifier) atau yang menandai, yang merupakan bentuk tanda, dan (2)pertanda (signified) atau yang ditanda yang merupakan arti tanda. Ada tigajenis tanda yang pokok, yaitu ikon, indeks, dan simbol. Ikon dan indeksmerupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah, yaitupersamaan dan sebab akibat, antara penanda dan petanda. Simbol adalah tandayang tidak menunjukkan adanya hubungan almiah antara keduanya,hubungannya bersifat arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat. Sebuah sistemtanda yang utama yang menggunakan simbol adalah bahasa. Arti simbolditentukan oleh konvensi masyarakat. Bahasa merupakan sistem ketandaan tingkat pertama. Dalam sistemketandaan tingkat pertama ini ditingkatkan menjadi sistem ketandaan tingkatkedua. Arti bahasa tingkat pertama disebut arti (meaning), arti bahasa dalam 58
  • 65. sastra sebagai sistem tanda tingkat kedua biasa disebut makna (significance)yang merupakan arti dari arti (meaning of meaning). Dalam kaya sastra, artibahasa ditentukan oleh konvensi sastra di samping konvensi bahasa sendiri.Oleh karena itu yang dimaksud makna (bahasa) sastra itu bukan semata-mataarti bahasanya. Jadi, yang dimaksud makna karya sastra itu meliputi artibahasa, suasana, perasaan, intensitas, arti tambahan (konotasi), daya liris, dansegala pengertian tanda-tanda yang ditimbulkan oleh konvensi sastra. Menurut Pradopo (2002: 272) studi sastra bersifat semiotik itu adalahusaha untuk menganalisis karya sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda danmenentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastramempunyai makna-makna. Dengan melihat variasi-variasi di dalam strukturkarya sastra atau hubungan-dalam (internal relation) antarunsurnya akandihasilkan bermacam-macam makna. Bahasa sebagai sistem semiotik tingkatpertama diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yangmemberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan olehpenggunaan bahasa biasa. Oleh karena memberi makna karya itu dengan jalanmencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna sastra, makamenganalisis karya sastra itu adalah memburu tanda-tanda. Dalam sistem semiotik, menghubungkan teks sastra dengan hal-hal diluar dirinya itu dimungkinkan, sesuai dengan tanda bahasa yang bermakna,yang pemakaiannya tidak lepas dari konvensi dan hal-hal di luar strukturnya.Berhubungan dengan hal ini, dalam metode sastra semiotik dikenal metodehubungan intertekstual untuk memberi makna lebih penuh kepada sebuah 59
  • 66. karya sastra daripada jika karya sastra hanya dianalisis secara struktural murni.Prinsip hubungan antarteks ini disebabkan oleh kenyataan bahwa karya sastraitu tidak lahir dalam kekosongan budaya, termasuk sastra. Sebuah karya sastramerupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi ataukode sastra dan budaya. Menurut pandangan intertektualitas, sebuah karyasastra merupakan jawaban terhadap karya sastra yang lain yang lahirsebelumnya, baik berupa penerusan konvensi sastranya maupun penentangankonvensi ataupun konsep estetik, atau yang lain. Untuk memberikan maknaatau konkretisasi sebuah karya sastra, prinsip intertekstualitas ituperluditerapkan, yaitu dengan jalan membandingkan sistem tanda dalamhipogramnya dengan sistem tanda karya sastra yang menanggapi danmentransformasikannya. Sistem tanda tersebut berupa konvensi-konvensitambahan dalam sastra, yaitu tanda-tanda dalam karya sastra yangmemungkinkan diproduksinya makna karya sastra. Sejalan dengan paham triadik peircean, diketahui bahwa konsep-konseptriadik tersebut bersifat dinamisme internal. Dilihat dari segi cara kerjanya,terdapat (1) sintaksis semiotika, yaitu studi dengan memberikan intensitashubungan tanda dengan tanda-tanda yang lain, (2) semantik semiotik, studidengan memberikan perhatian pada hubungan tanda dan acuannya, dan (3)pragmatik semiotik, studi dengan memberikan perhatian pada hubungan natarapengirim dan penerima. Dilihat dari faktor yang menentukan adanya tanda,maka tanda dibedakan sebagai berikut: 60
  • 67. 1. representamen, ground, tanda itu sendiri sebagai perwujudan gejala umum: a. qualisigns, terbentuk oleh kualitas: warna hijau, b. sinsigns, tokens, terbentuk melalui realisasi fisik: rambu lalu lintas, c. legisigns, type, berupa hukum: suara wasir dalam pelanggaran, 2. object (designatum, denotatum, referent), yaitu apa yang diacu: a. ikon, hubungan tanda dan objek karena serupa: foto b. indeks, hubungan tanda dan objek karena sebab akibat: asap dan api, c. simbol, hubungan tanda dan objek karena kesepakatan: bendera 3. interpretant, tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima: a. rheme, tanda sebagai kemungkinan: konsep b. dicisigns, dicent signs, tanda sebagai fakta: pernyataan deskriptif, c. argument, tanda tampak sebagai nalar: proposisi. Di antara representamen, object, dan interpretant, yang paling seringdiulas adalah object. Menurut Aart van Zoet (Ratna, 2004: 102) di antara ikon, 61
  • 68. indeks, dan simbol, yang terpenting adalah ikon. Alasannya, di satu pihaksegala sesuatu merupakan ikon karena segala sesuatu dapat dikaitkan dengansesuatu yang lain; di lain pihak, sebagai tanda agar dapat mengacu padasesuatu yang lain di luar dirinya agar ada hubungan yang representatif, makasyarat yang diperlukan adalah adanya kemiripan. Ikonisitas selalu melibatkanindeksikalitas dan simbolisasi. Teks sastra kaya dengan ikon. Ada banyak cara yang ditawarkan dalam rangka menganalisis karyasastra secara semiotik. Cara yang paling umum adalah dengan menganalisiskarya melalui dua tahapan sebagai mana ditawarkan oleh Wellek dan Warren(1993) yaitu (a) analisis intrinsik (analisis mikrostruktur, dan (b) analisisekstrinsik (analisis makrostruktur). Cara yang lain seperti yang dikemukakanAbrams (1958: 6-29) dilakukan dengan menggabungkan empat aspek, yaitu (a)pengarang (ekspresif), (b) semestaan (mimetik), (c) pembaca (pragmatik), dan(d) objektif (otonom).4.5. Strukturalisme Genetik Struktur genetik (lihat Leenhardt dalam Makaryk, 1993: 340-341;Kellner dalam makaryk, 1993: 95-99; dan Faruk, 1994: 1-21) merupakangabungan antara strukturalisme dengan Marxisme. Sebagai strukturalisme,strukturalisme genetik memahami segala sesuatu di dalam dunia ini, termasukkarya sastra, sebagai struktur. Karena itu, usaha strukturalisme genetik untukmemahami karya sastra secara niscaya terarah pada usaha untuk menemukanstruktur karya itu. 62
  • 69. Marxisme tidak pernah percaya bahwa teks maupun sistem sastramerupakan sesuatu yang otonom. Bagi paham ini sastra merupakan suatusistem ideologi yang tidak dapat dilepaskan dari pertarungan kekuatan-kekuatan sosial di dalam masyarakat dalam memperebutkan penguasaanmereka atas sumber-sumber ekonomi yang terdapat di dalam lingkungansekitar mereka. Kepercayaan yang demikian didasarkan pada anggapan bahwadorongan-dorongan kebutuhan material manusia mendahului dan menentukankesadaran manusia. Perkembangan sejarah manusia digerakkan olehpertarungan manusia dalam usaha mereka memenuhi kebutuhan materialnya.Oleh karena itu, marxisme disebut juga sebagai materialisme historis. Menurut Marxis, untuk memenuhi kebutuhan materialnya manusiaharus bekerja, yaitu melakukan transformasi atas alam. Untuk melakukantransformasi atas alam, manusia membutuhkan alat-alat produksi dan bekerjasama dengan manusia lain. Dalam proses produksi yang demikian terbangunlahpengelompokan sosial, pembagian kerja yang didasarkan pada tingkatpenguasaan seseorang atau sekelompok orang atas alat-alat dan sumber-sumberproduksi. Pengelompokan sosial atas dasar seperti itulah yang disebut sebagaikelas sosial. Hubungan antarkelas sosial di dalam lingkungan produksi tersebutadalah hubungan dominasi. Suatu kelompok menguasai kelompok yang lainuntuk kepentingan pemuasan kebutuhan materialnya. Marxisme beranggapan bahwa manusia pada dasarnya serakah,mempunyai kebutuhan tidak terbatas. Karena sumber-sumber bagi pemenuhankebutuhan itu terbatas, terjadi persaingan dalam usaha pemenuhan kebutuhan 63
  • 70. itu. Persaingan itu menjadikan hubungan antarkelompok sosial yang telahdikemukakan menjadi antagonistik. Di satu pihak, suatu kelompok berusahamenguasai alat-alat dan sumber-sumber produksi yang ada, di lain pihakkelompok yang lain berusaha merebut alat-alat dan sumber-sumber produksiitu dari kelompok lain yang menguasainya. Dalam konteks pertalian yang demikian menjadi penting bagi kelompokyang sedang melakukan reproduksi atas hubungan sosial yang berlaku, yangmenempatkan dirinya dalam posisi kekuasaan dan kelompok lain dalam posisisub-ordinat. Reproduksi sosial itu dilakukan tidak hanya dalam lingkunganproduksi, melainkan dalam berbagai situs sosial yang lainnya, dalam berbagaiinstitusi sosial, seperti lingkungan kehidupan keluarga, pendidikan, hukum,politik, agama, dan kesenian. Berbagai lingkungan atau institusi sosial yangmenjadi situs reproduksi sosial yang ada di luar lingkungan produksi itudisebut super-struktur atau struktur permukaan, sedangkan hubungan sosialyang berlangsung dalam lingkungan produksi disebut disebut infra-strukturatau struktur dasar. Struktur dasar bersifat material, sedangkan strukturpermukaan bersifat ideologis. Namun bagi paham tersebut, segala aktivitas dan hasil aktivitasmanusia tidak hanya mempunyai struktur, melainkan juga mempunyai arti.Karena itu, pemahaman terhadap karya sastra tidak dapat hanya berhenti padaperolehan pengetahuan mengenai strukturnya, melainkan harus dilanjutkanhingga mencapai pengetahuan mengenai artinya. Usaha pemahaman terhadaparti dari struktur itu berarti usaha menemukan alasan, faktor-faktor yang 64
  • 71. menjadi penyebab dari struktur yang besangkutan. Pertanyaan seperti “kenapasuatu karya mempunyai struktur yang begini, tidak begitu”, tidak lagi dapatdijawab hanya dengan mendasarkan diri pada karya sastra itu sendiri,melainkan harus dengan menemukan informasi-informasi yang berada di luarkarya sastra itu. Untuk memahami hal demikianlah strukturalisme genetikmenggunakan marxisme yang diperkaya dan diperdalam oleh teori psikologistruktural dari Piaget.4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan Menurut strukturalisme genetik, karya sastra merupakan faktakemanusiaan bukan fakta alamiah. Bila fakta alamiah cukup dipahami hanyasampai pada batas strukturnya, fakta kemanusiaan harus sampai pada batasartinya. Sebuah karya sastra tidak diciptakan begitu saja, melainkan untukmemenuhi kebutuhan tertentu dari manusia yang menciptakannya. Kebutuhanyang mendorong diciptakannya karya sastra itu, seperti halnya segala ciptaanmanusia yang lain, adalah untuk membangun keseimbangan denganlingkungan sekitarnya, baik lingkungan alamiahnya maupun lingkunganmanusiawinya. Secara psikologis, ada dua proses dasar yang terarah padapembangunan keseimbangan tersebut, yaitu proses asimilisi dan akomodasi.Asimilasi adalah penyesuaian lingkungan eksternal ke dalam skema pikiranmanusia, sedangkan akomodasi adalah penyesuaian skema pikiran manusiadengan lingkungan sekitarnya. Menurut strukturalisme genetik, manusia akan 65
  • 72. selalu cenderung menyesuaikan lingkungan sekitar dengan skema pikirannya.Akan tetapi, apabila lingkungan itu menolak atau tidak dapat disesuaikandengan skema pikiran itu, manusia menempuh jalan yang sebaliknya, yaitumenyesuaikan skema pikirannya dengan lingkungan sekitarnya tersebut. Keduaproses tersebut menegaskan bahwa manusia memang selalu berusahamembangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya.4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif Semua manusia berusaha membangun kseimbangan dengan lingkungansekitarnya dengan melakukan berbagai tindakan. Namun, strukturalismegenetik membedakan tindakan individual dengan tindakan kolektif. Tindakanindividual dimaksudkan hanya untuk pemenuhan kebutuhan individual yangcenderung libidinal, sedangkan tindakan kolektif diarahkan pada pemenuhankebutuhan kolektif yang bersifat sosial. Subjek tindakan libidinal adalahindividu, sedangkan tindakan kolektif adalah kelompok sosial. Lebih jauh, strukturalisme genetik cenderung membedakan tindakankolektif yang besar dengan tindakan kolektif yang mungkin tidak setara dengantindakan pertama itu. Tindakan kolektif yang besar tidak hanya terarah untukmemenuhi kebutuhan kolektif tertentu, melainkan dapat menyebabkanterjadinya perubahan dalam sejarah sosial secara keseluruhan. Bahkan,tindakan kolektif yang besar itu dapat pula berpengaruh luas, melampaui batassosial yang darinya tindakan tersebut berasal. Menurut strukturalisme genetik,subjek dan tindakan kolektif yang besar tersebut adalah kelas sosial dalam 66
  • 73. pengertian marxis yang sudah dikemukakan, bukan kelompok sosial lain dalampengertian yang lain. Atas dasar perbedaan tipe-tipe tindakan di atas, strukturalisme genetikmembedakan karya-karya kultural yang besar dari yang minor. Karya-karyakultural yang besar, yang di dalamnya termasuk karya-karya filsafat dan karya-karya sastra yang besar, merupakan hasil tindakan tidak hanya subjek kolektif,melainkan kelas sosial. Karena itu, karya-karya itu ikut pula berperan dalamperubahan sejarah sosial bahkan dapat melampaui batas sejarah sosialnyasendiri. Karya yang demikian oleh strukturalisme genetik disifatkan sebagaisebuah karya yang sekaligus bersifat filosofis dan sosiologis.4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia Sebagai produk dari tindakan kolektif yang berupa kelas sosial di atas,karya sastra mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan kelas sosial yangbersangkutan, kebutuhan-kebutuhan yang terbangun dari hubungan antara klassosial dengan lingkungan sekitarnya, kebutuhan-kebutuhan yang sekaligusmenyangkut usaha-usaha kelas sosial itu untuk membangun hubungan yangseimbang antara dirinya dengan lingkungan yang terkait. Sebagai sekelompok manusia yang mempunyai latar belakang yangsama, anggota-anggota dari suatu kelas sosial mempunyai pengalaman dan carapemahaman yang sama mengenai lingkungan sekitarnya dan sekaligus cara-cara pembangunan keseimbangan dalam hubungan dengan lingkungan itu.Cara pemahaman dan pengalaman yang sama itu pada gilirannya menjadi 67
  • 74. pengikat yang mempersatukan para anggota itu menjadi suatu kelas yang samadan sekaligus membedakan mereka dari kelas sosial yang lain. Carapemahaman dan pengalaman yang demikian, oleh struktural genetik disebutsebagai pandangan dunia. Pandangan dunia merupakan kecenderungan mental kolektif yangimplisit yang tidak semua individu anggota kelas sosial pemiliknya dapatmenyadarinya. Hal itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa dalammasyarakat yang kompleks setiap individu terjaring ke dalam berbagai bentukpengelompokan sosial, seperti kelompok profesi, kelompok etnis, ras,pendidikan, dan sebagainya. Berbagai pengelompokan itu dapat mengaburkanpemahaman individu mengenai kelompok sosial dirinya yang sebenarnya.Hanya individu yang istimewa yang mampu menerobos batas-batas anekapengelompokan sosial tersebut dan masuk ke dalam kesadaran kelas sosialnyasendiri. Para pemikir dan sastrawan yang besar termasuk individu yangdemikian. Karena itu, karya-karya mereka menjadi karya-karya besar, karya-karya yang berhasil menangkap dan mengekspresikan pandangan dunia kelassosialnya sehinga sekaligus dapat berfungsi menjadi alat yang membangkitkankesadaran kelas pada para individu yang menjadi anggota kelas sosialnya itu. Dalam pengertian strukturalisme genetik, pandangan dunia merupakanskema ideologi yang menentukan struktur atau menstrukturasikan bangunandunia imajiner karya sastra ataupun struktur konseptual karya filsafat yangmengekspresikannya. Karena itu, pandangan dunia itu menjadi konsep kunciyang tidak hanya diperlukan untuk menjadi model struktur bagi pemahaman 68
  • 75. terhadap struktur karya sastra atau karya filsafat yang diteliti, melainkan jugamenjadi mediator yang mempertalikan karya sastra sebagai superstrukturdengan struktur sosial ekonomi yang menjadi struktur dasarnya. Dalampandangan strukturalisme genetik, hubungan antara karya sastra denganstruktur dasarnya tidaklah langsung, bersifat mimetik, melainkan secara tidaklangsung melalui pandangan dunia yang bersifat ideologis. Karya sastra tidakmencerminkan apa yang disebut sebagai perjuangan kelas, melainkanmengekspresikan suatu pandangan dunia yang strukturnya homolog denganstruktur sosial ekonomi yangmenjadi dasarnya.4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial Seperti sudah dikemukakan, strukturalisme genetik merupakangabungan antara strukturalisme dengan marxisme. Dengan demikian, sepertistrukturalisme, strukturalisme genetik mengakui eksistensi karya sastra sebagaisuatu struktur sehingga perlu dipahami secara struktural. Namun, ada banyak konsep mengenai struktur karya sastra sepertiberasal dari Propp, Greimas, Todorov, dan sebagainya. Kebanyakan konsepmengenai struktur karya sastra itu mengikuti konsep linguistik mengenaistruktur formal bahasa. Hanya beberapa di antaranya, terutama Barthes danGreimas yang mencoba membangun pula struktur semantiknya denganmendasarkan diri pada konsep-konsep struktur semantik bahasa. Konsepstrukturalisme genetik mengenai struktur karya sastra cenderung bersifat 69
  • 76. semantik pula, dekat dengan konsep struktur semantik Barthes ataupunGreimas meskipun tidak persis sama. Yang tampak amat dekat dengan konsep struktur karya sastra daristrukturalisme genetik adalah strukturalisme Levi’Strauss. Denganmenggunakan fonologi sebagai dasarnya, konsep strukturalisme Levi’Straussini berpusat pada konsep oposisi biner atau oposisi berpasangan. Levi’Straussmelihat bangunan dunia sosial dan kultural manusia sebagai sesuatu yangdistrukturkan atas dasar prinsip binarisme, terbangun dari seperangkat satuanyang saling beroposisi satu sama lain. Di antara pasangan yang beroposisi itudimungkinkan pula adanya satuan antara yang berbeda di antara keduanya. Telaah strukturalisme gnetik terhadap karya-karya filsafat Pascal dandrama Racine memperlihatkan kecenderungan demikian. Ada oposisi antaradunia ilmiah dengan dunia sekuler. Manusia berada di antara keduanyasehingga ia berada sekaligus dalam posisi menerima dan menolak dunia.Struktur yang demikian, menurut strukturalisme genetik, mengekspresikanpandangan dunia tragis yang berpikir secara dialektik, yang tidak memutlakkanbagian atas nama keseluruhan atau sebaliknya. Konsep struktur sosial strukturalisme genetik didasarkan pada teorimarxis. Atas dasar teori sosial ini jelas bahwa dunia sosial dipahami sebagaistruktur yang terbangun atas dasar dua kelas sosial yang saling bertentangan.Kesatuan dunia sosial terbangun karena adanya dominasi dari satu kelas sosialterhadap kelas sosial yang lain. Dominasi itu dipelihara dan dipertahankanserta bahkan diperkuat dengan menggunakan berbagai kekuatan ideologis yang 70
  • 77. beroperasi dalam lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat termasuk karyasastra. Namun, dominasi itu tidak sepenuhnya menutup peluang bagi terjadinyaperubahan sosial. Kelas-kelas yang dikuasai berusaha terus-menerus pula untukmengambil alih kekuasaan dari kelas yang berkuasa untuk kemudianmembangun suatu struktur sosial yang baru yang sesuai dengan lingkungannyayang baru pula.4.5.5 Metode Dialektik Menurut strukturalisme genetik, karya sastra merupakan struktur yangterbangun atas dasar bagian-bagian yang saling bertalian dan mebentukstruktur keseluruhan karya sastra itu. Struktur karya sastra itu hanya dapatdipahami dengan baik dengan cara dialektik, yaitu dengan bergerak secarabolak-balik dari bagian ke keseluruhan dan dari keseluruhan kembali kebagian. Gerakan bolak-balik itu dianggap selesai jika koherensi antarakeseluruhan dengan bagian-bagiannya telah terbangun, yaitu ketika bagian-bagian telah membentuk suatu keseluruhan dan keseluruhan telah dapatdigunakan untuk memberikan arti pada bagian-bagian. Selesainya pekerjaan pemahaman yang demikian bukan berarti telahselesai pula kerja pemahaman strukturalisme genetik. Menurut paham tersebut,karya sastra sendiri sebenarnya hanya merupakan bagian dari suatukeseluruhan yang lebih besar, yang juga berstruktur, yaitu dunia sosial tempatkarya sastra itu berasal. Seperti pemahaman terhadap struktur karya sastra,pemahaman terhadap struktur dunia sosial itu pun dapat dilakukan secara 71
  • 78. dialektik, dari karya sastra sebagai bagian dunia sosial, atau sebaliknya.Gerakan bolak-balik itu pun baru dianggap selesai jika telah dibangunkoherensi antara struktur karya sastra dengan struktur sosialnya. Struktur genetik menyebut usaha menemukan struktur bagian di atassebagai pemahaman, sedangkan penempatan bagian itu ke dalam struktur yanglebih besar yang menjadi sumber maknanya sebagai penjelas. Dengandemikian, metode strukturalisme genetik dapat disebut pula sebagai dialektikaatas pemahaman dengan penjelasan.4.6 Naratologi4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya Naratologi bersal dari kata narratio dan logos (bahasa Latin). Narratioberarti cerita, perkataan, kisah, hikayat; logos berarti ilmu. Naratologi jugadisebut teori wacan (teks) naratif. Baik naratologi maupun teori wacana (teks)naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan.Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik, seperti model sintaksis,sebagaimana hubungan antara subjek, predikat, dan objek penderita. Konsep-konsep yang berkaitan dengan narasi dan narator, demikianjuga dengan wacana dan teks, berbeda-beda sesuai dengan para penggagasnya.Narasi baik sebagai cerita maupun penceritaan didefinisikan sebagairepresentasi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fiksional dalam urutanwaktu. Narator atau agen naratif (Mieke Bal dalam Ratna, 2004: 128)didefinisikan sebagai pembicara dalam teks, subjek secara linguistik, bukan 72
  • 79. person, bukan pengarang. Kajian wacana naratif dalam hubungan ini dianggaptelah melibatkan bahasa, sastra, dan budaya yang dengan sendirinya sangatrelevan sebagai objek ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora). Dikaitkan dengan cerita dan penceritaan, maka hanya penceritaan yangmemiliki identitas yang sama baik dengan wacana atau teks. Bal menyebutkanbahwa pembaca membaca wacana dan teks yang berbeda dari cerita yangsama. Perbedaan bukan semata-mata diakibatkan oleh perbedaan bahasa, tetapibagaimana cerita ditampilkan kembali. Setiap orang, misalnya, akrab dengancerita Jaka Tarub, tetapi tidak semua orang menikmati cerita tersebut melaluiteks yang sama sebab teks tidak diceritakan dalam bahasa, melainkan melaluibahasa; diceritakan oleh narator, bukan pengarang. Dalam analisis diskursif yang termasuk dalam wilayah pascastruktural,analisis naratif merupakan bagian ideologi. Cerita dan penceritaandimanfaatkan untuk melegitimasikan kekuatan dan kekuasaan bagi merekayang memilikinya. Revolusi, restorasi, dan afirmasi terhadap kelompoktertentu tidak semata-mata dilakukan melalui kekuatan fisik, politik, danekonomi, tetapi juga melalui kata-kata, semboyan, dan wacana. Pada pahanpascastruktural, naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra saja melainkankeseluruhan teks sebagai rekaman aktivitas manusia, sehingga kajiannyabersifat interdisipliner. Aktivitas kebudayaan pun sesungguhnya adalah teksyang dengan sendirinya dapat dianalisis sesuai dengan ciri-ciri teks. Visi sastrakontemporer memandang bahwa sebagai seni waktu, penceritaan mendudukiposisi penting dalam memahami aktivitas kultural, dengan pertimbangan 73
  • 80. bahwa di satu pihak ceritalah yang menampilkan keseluruhan unsur karya;cerita sebagai tulang punggung karya. Di pihak lain, dalam kaitannya dengankebudayaan yang lebih luas, cerita berfungsi untuk mendokumentasikanseluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasiberikutnya. Tanpa cerita, tanpa adanya kekuatan wacana dan teks, kebudayaanpun tidak ada. Dalam hubungan inilah dikatakan bahwa dunia kehidupan itusendiri dianggap sebagai teks yang dengan sendirinya dapat dipahami melaluiparadigma sebuah teks. Hampir keseluruhan genre sastra, khususnya genre yang dikategorikanke dalam fiksi memanfaatkan unsur cerita dan penceritaan. Dalam karya sastra,unsur penceritaanlah yang lebih utama dalam wujud plot. Tanpa plot, wacana,dan teks, karya sastra hanya berfungsi sebagai fakta mengingat dunia faktualsemata-mata merupakan sistem model pertama untuk mengantarkan manusiapada dunia sistem model kedua, yaitu dunia fiksional. Dalam pembicaraan mengenai naratif, novel dianggap sebagai genreutama karena pemanfaatan struktur cerita dan penceritaan yang sangatkompleks dengan peralatan yang menyertainya seperti: kejadian, tokoh-tokoh,latar, tema, sudut pandang, dan gaya bahasa. Dilihat dari media yang tersedia,novel juga merupakan objek yang paling memadai, paling luas, sehingga segalaunsur penceritaan dapat dikemukakan. Novel adalah representasi dunia itusendiri di mana manusia, baik sebagai penulis, pembaca, dan peneliti dapatmelukiskan kualitas emosionalitas dan intelektualitasnya; suatu media yangsangat tepat dalam kaitannya dengan hakikat manusia sebagai homo faber. 74
  • 81. Teori sastra kontemporer memberikan wilayah yang sangat luasterhadap eksistensi naratif. Wilayah tersebut selain menjangkau novel, jugaroman, cerpen, puisi naratif, gongeng, biografi, lelucon, mitos, epik, catatanharian, dan sebagainya. Naratif tidak dibatasi pada genre sastra, tetapi jugasetiap bentuk cerita dalam media massa. Secara historis, Marie-Laure Ryan dan Ernst van Alphen (Makaryk,1993: 110- 114) menyebutkan bahwa naratologi dapat dibagi menjadi tigaperiode, yaitu: 1. periode prastrukturalis (hingga tahun 1960-an) 2. periode strukturalis (tahun 1960-an hingga tahun 1980-an) 3. periode pascastrukturalis (tahun 1980-an hingga sekarang). Awal prkembangan teori narasi dapat dilacak Poetica Aristoteles (ceritadan teks); Henry James (tokoh dan cerita); Forster (tokoh bundar dan datar);Percy Lubbock (teknik naratif), dan Vladimir Propp (peran dan fungsi). Padaumumnya periode strukturalis terlibat ke dalam dikotomi fabula dan sjuzhet(cerita dan plot). Para pelopornya, di antaranya: Claude Levi-Strauss (strukturmitos), Tzvetan Todorov (historie dan discours), Claude Bremond (struktur danfungsi), Mieke Bal (fabula, story, text). Greimas (tata bahasa naratif danstruktur actans). Shlomith Rimmon-Kenan (story, text, narration). Naratologi pascastrukturalis pada umumnya mendekonstruksi dikotomiparole dan langue, fabula, dan sjuzhet dengan ciri-ciri naratif nonliterer,interdisipliner, termasuk feminis dan psikoanalisis. Para pelopornya, diantaranya: Gerard Gennet (urutan, durasi, frequensi, modus, dan suara), Gerald 75
  • 82. Prince (struktur narratee), Seymoeur Chatman (struktur naratif), JonathanCuller (kompetensi sastra), Roland Barthes (Kernels dan satellits), MikhailBakhtin (wacana polifonik), Hayden White (wacana sejarah), Marry LouisePratt (tindak kata), Umberto Eco (wacana dan kebohongan), Jacques Derrida(dekonstruksi), Michel Foucault (wacana dan kekuasaan), Jean-FrancoisLyotard (metanarasi), dan Jean Baudrillad (hiperealitas, pastiche). Berikut ini dibicarakan empat ahli naratologi, yaitu Propp, Levi-Strauss, Todorov, dan Greimas sebagai pelopor naratologi periode strukturalis.4.6.2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya4.6.2.1 Vladimir Propp Propp dianggap sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secaraserius struktur naratif, sekaligus memberikan makna baru terhadap dikotomifabula dan sjuzhet. Objek penelitian Propp adalah cerita rakyat, seratusdongeng Rusia yang dilakukan tahun 1928 dan baru dibicarakan secara luastahun 1958. Propp (1987: 93-98) menyimpulkan bahwa semua cerita yangdiselidiki memiliki struktur yang sama. Artinya, dalam sebuah cerita parapelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah, tetapi perbuatan dan peran-perannyasama. Oleh karena itu, penelitian Propp disebut sebagai usaha untukmenemukan pola umum plot dongeng Rusia bukan dongeng pada umumnya.Menurutnya, dalam struktur naratif yang penting bukanlah tokoh-tokoh,melainkan aksi tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut fungsi. Unsur yangdianalisis adalah motif (elemen), unit terkecil yang membentuk tema. Propp 76
  • 83. memandang sjuzhet sebagai tema bukan plot seperti yang dipahami oleh kaumformalis. Menurutnya, motif merupakan unsur yang penting sebab motiflahyang membentuk tema. Sjuzhet dengan demikian hanyalah produk dariserangkaian motif. Motif dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: pelaku,perbuatan, dan pendeita yang kemudian dikelompokkan menjadi dua, yaituunsur tetap (perbuatan) dan unsur yang berubah (pelaku dan penderita). Dalamhubungan ini yang penting adalah unsur yang tetap (perbuatan) yaitu fungsi itusendiri. Propp mengemukakan bahwa fungsi merupakan unsur yang stabil, tidaktergantung dari siapa yang melakukan. Di sini, persona bertindak sebagaivariabel. Propp menyimpulkan bahwa jumlah fungsi yang terkandung dalamdongeng yang ditelitinya maksimal 31 fungsi yang dikelompokkan ke dalamtujuh ruang tindakan atau peranan, yaitu: (1) penjahat, (2) donor, (3) penolong,(4) putri dan ayahnya, (5) orang yang menyuruh, (6) pahlawan, dan (7)pahlawan palsu. Menurut Propp (1987: 93-94) dan Teeuw (1985: 290-294),tujuan Propp bukan tipologi struktur tetapi melalui struktur dasar dapatditemukan bentuk-bentuk purba. Dengan kalimat lain, dengan menggabungkanantara struktur dan genetiknya (struktur mendahului sejarah), maka akanditemukan proses penyebarannya kemudian. Model Propp mendasari penelitiandari Greimas, Bremond, dan Todorov. 77
  • 84. 4.6.2.2 Levi-Strauss Berbeda dengan Propp, Levi-Strauss lebih memberikan perhataiannyapada mitos. Levi-Strauss menilai cerita sebagai kualitas logis bukan estetis. Iamengembangkan istilah myth dan mytheme melalui jangkauan perhatiannyaterhadap mitos yang terkandung dalam setiap dongeng, baik secara bulatmaupun fragmentasi. Menurutnya, mitos adalah naratif itu sendiri, khususnyayang berkaitan dengan aspek-aspek kebudayaan tertentu. Pada dasarnya mitos merupakan pesan-pesan kultural terhadap anggotamasyarakat. Dengan kalimat lain, Levi-Strauss menggali gejala di balikmaterial cerita, sebagaimana tampak melalui bentuk-bentuk yang telahtermodifikasikan, dan harus direkonstruksi melaluinya. Mytheme yangmungkin susunannya tidak teratur, sebagaimana dekronologisasi kejadiandalam plot, maka tugas penelitilah untuk menyusun kembali sehinggadikemukakan makna karya yang sesungguhnya. Pendekatan antropologi sastra,melalui struktural, khususnya konsep-konsep oposisi biner, tabu, dan incest,misalnya, dilakukan terhadap mitos Oedipus. Di satu pihak, oposisi binerdidasarkan atas kenyataan bahwa manusia secara kodrati memilikikecenderungan untuk berpikir secara dikotomis, seperti laki-laki perempuan,bumi langit, dan sebagainya. Pelarangan perkawinan di antara keluarga secaralogis memaksa manusia untuk mencari pasangan di luar keluarga yang padagilirannya akan membentuk ikatan-ikatan baru, sekaligus menciptakanhubungan yang harmonis dengan masyarakat yang lain. 78
  • 85. Berhubungan dengan pembicaraan strukturalisme, Levi-Straussmenyatakan bahwa struktur bukanlah representasi atau subtitusi realitas.Struktur dipahaminya sebagai realitas empiris itu sendiri yang tampil sebagaiorganisasi logis yang disebut sebagai isi. Oleh karena itulah, disebutkan bahwaisi tidak bisa terlepas dari bentuk tersebut, dan sebaliknya.4.6.2.3 Tzvetan Todorov Disamping memperjelas perbedaan antara fabula dan tsuzhet, Todorov(1985: 11-53) mengembangkan konsep historie dan discours yang sejajardengan fabula dan stuzhet. Dalam menganalisis tokoh-tokoh, Todorovmenyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi, yaitu: kehendak,komunikasi, dan partisipasi. Menurutnya, objek formal puitika bukaninterpretasi atau makna, melainkan struktur atau aspek kesastraan yangterkandung dalam wacana. Dalam analisis harus mempertimbangkan tigaaspek, yaitu (1) aspek sintaksis, meneliti urutan peristiwa secara kronologis danlogis, (2) aspek semantik, berkaitan dengan makna dan lambang, meneliti tema,tokoh, dan latar, dan (4) aspek verbal, meneliti sarana-sarana seperti sudutpandang, gaya bahasa, dan sebagainya. Konsep Todorov yang lain adalah in presentia dan in absentia. Konseppertama menyatakan hubungan unsur yang hadir bersama, secaraberdampingan, sebagai hubungan konfigurasi atau konstruksi. Konsep keduamenyatakan hubungan yang salah satu faktornya tidak hadir, sebagai hubunganmakna dan perlambangan. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya 79
  • 86. antarhubungan adalah kausalitas. Tokoh menunjukkan tokoh lain sebagaiantitesis (in praesentia). Sebaliknya tokoh juga dapat menunjuk sesuatu yanglain di luar struktur naratif (in absentia). Todorov membedakan antara sastrasebagai ilmu mengenai sastra (puitika) dan sastra dalam kaitannya dengandisiplin yang lain, sastra sebagai proyeksi, seperti: psikologi sastra, sosiologisastra, studi biografi, kritik fenomenologis, dll.4.6.2.4 Greimas Objek penelitian Greimas tidak terbatas pada genre tertentu, yaitudongeng, tetapi diperluas pada mitos. Dengan memanfaatkan fungsi-fungsiyang hampir sama, Greimas (dalam Abdullah, 1999: 11-13; Ratna: 2004: 137-140) memberikan perhatian pada relasi, menawarkan konsep yang lebih tajamdengan tujuan yang lebih universal, yaitu tata bahasa naratif universal. Greimaslebih mementingkan aksi dibandingkan dengan pelaku. Tidak ada subjek dibalik wacana. Yang ada hanyalah subjek, manusia semu yang dibentuk olehtindakan yang disebut actans dan acteurs. Berbeda dengan actans yang terbatas fungsinya dalam struktur naratif,acteurs merupakan kategori umum. Dia mencontohkan: John dan Paulmemberikan apel kepada Mary. John dan Paul adalah dua acteurs tetapi satuactans. John dan Paul juga merupakan pengirim. Mary sebagai penerima. Apeladalah sebagai objek. Dalam kalimat John membelikan dirinya sendiri sebuahbaju, John adalah satu acteu yang berfungsi sebagai dua actans, baik sebagaipengirim maupun penerima. 80
  • 87. Kemampuan Greimas dalam mengungkap struktur actas dan acteursmenyebabkan teori struktur naratologinya tidak semata-mata bermanfaat dalammenganalisis teks sastra melainkan juga filsafat, religi, dan ilmu sosial lainnya.Tiga puluh satu fungsi dasar analisis Propp disederhanakan menjadi dua puluhfungsi yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga struktur, yaitu strukturberdasarkan perjanjian, struktur yang bersifat penyelenggaraan, dan strukturyang bersifat pemutusan. Demikian juga tujuh ruang tindakan disederhanakanmenjadi enam actans (peran, pelaku, para pembuat) yang dikelompokkanmenjadi tig pasangan oposisi biner, yaitu subjek dengan objek, kekuasaandengan orang yang dianugerahi atau pengirim dan penerima, dan penolongdengan penentang. Actans merupakan peran-peran abstrak yang dapat dimankan olehseorang atau sejumlah pelaku. Actans merupakan struktur dalam, sedangkanacteurs merupakan struktur luar. Acteurs merupakan manifestasi kongkretactans. Oleh karena itu, artikulasi acteurs menentukan dongeng tertentu,sedangkan struktur actans menentukan genre tententu. Acteurs yang sama padasaat yang berbeda-beda dapat merepresentasikan actans yang berbeda-beda.Sebaliknya, actans yang sama terbentuk oleh acteur yang berbeda-beda. Untuk menyederhanakan konsep-konsep tersebut di atas, maka dalamkritik sastra Indonesia istilah fabula dan sjuzet sebagai konsep dasar darinaratologi ditafsirkan dengan istilah cerita dan penceritaan. Dalampenceritaanlah terkandung wacana dan atau teks. Penceritaan memilikiidentitas yan hampir sama dengan wacana, tek, dan plot. Cerita adalah bahan 81
  • 88. kasar, perangkat peristiwa, seperti ringkasan cerita atau sinopsis. Wacanaadalah cerita yang telah disusun kembali tetapi lebih banyak berkaitan denganunsur bahasa , sebagai model pertama. Adapun teks adalah susunan peristiwayang sesungguhnya; susunan kejadian yang didominasi oleh kualitas literer,sebagai model kedua. 82
  • 89. BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN SASTRA: TINJAUAN KRITIS5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian Kerja penelitian seorang ilmuwan yang didominasi oleh sikap yangkritis memperlihatkan fase-fase berpikir sebagaimana yang dikemukakan olehDewey (dalam Nazir, 1983:73), yaitu: (1) mengetahui adanya masalah, (2)mengidentifikasi masalah, (3) memperkirakan alat untuk memecahkanmasalah, seperti teori, (4) inventarisasi dari pengolahan data sebagai bukti, danpenyimpulan.5.1.1 Latar Belakang Masalah Bagian latar belakang pada dasarnya mengemukakan: (1) alasanmengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, (2) relevansi penelitian itu denganpenelitian-penelitian lain, (3) apa perbedaan penelitian itu dengan penelitianserupa yang telah dilaksanakan, dan (4) informasi lain apa yang berkaitandengan penelitian itu. 83
  • 90. Hal pertama di atas yang menyangkut alasan mengapa penelitian ituperlu dilaksanakan, mengimplikasikan adanya: 1. ketertarikan peneliti atas objek material (karya sastra) dengan menyebutkan secara spesifik sejumlah fakta dan fenomena teks yang mengarah pada ditemukan dan terhimpunnya sejumlah masalah yang penting untuk diteliti; 2. masalah-masalah penting yang perlu diteliti itu serta menghubungkannya dengan teori dan metodologi yang dapat digunakan sebagai alat pemecahannya; Hal yang menyangkut relevansi penelitian itu dengan penelitian-penelitian lainnya adalah: 1. kedudukan penelitian itu di antara penelitian-penelitian yang lain dengan jalan menyebutkan apakah penelitian itu dimaksudkan sebagai dasar, terapan, atau pengembangan dari penelitian lainnya yang perlu ditindaklanjuti atau dengan menyebutkan pertimbangan-pertimbangan lain yang berhubungan erat dengan masalah dan tujuan penelitian itu, 2. kesamaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang berbeda atau perbedaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang sama, perlu diuraikan secara jelas sehingga kepentingan penelitian itu dapat diketahui secara jelas pula. 84
  • 91. Hal yang menyangkut penelitian sebelumnya, diarahkan kepada pembicaraan: 1. uraian singkat mengenai penelitian-penelitian sebelumnya yang penting dan berhubungan dengan penelitian yang akan dilaksanakan; pembicaraan di dalamnya menyangkut fokus penelitian yang berhubungan dengan objek penelitian (karya sastra, masalah yang diangkat, teori dan metode yang digunakan) 2. uraian dengan sejumlah alasan sehingga penelitian itu jelas berbeda secara esensial dengan penelitian lainnya; uraian alasan yang dimaksud diarahkan pada penjelasan kekhasan penelitian, fokus penelitian, dan pengemasan metode yang mengarah pada kekhasan fenomena objek material (karya sastra), pemanfaatan teori yang terpilih sebagai alat, dan metode kajian yang digunakan. Adapun hal yang menyangkut informasi lain yang berkaitan denganpenelitian, biasanya berhubungan dengan: 1. referensi umum menyangkut objek material (karya sastra); berhubungan dengan pembicaraan umum tentang objek tersebut yang bersumber dari berbagai sumber informasi: media cetak, elektronik, atau multimedia 2. referensi khusus (jika ada) yang bersumber dari laporan-laporan penelitian, buku-buku bacaan atau buku-buku acuan yang menguraikan secara khusus tentang objek tersebut; pembicaraan khusus yang 85
  • 92. dimaksud adalah uraian yang relevan dengan kepentingan penelitian yang akan dilaksanakan.5.1.2 Identifikasi Masalah Perumusan masalah atau identifikasi masalah adalah pangkal daripenelitian dan merupakan langkah penting yang cukup sulit dalam penelitianilmiah. Kesulitan yang dimaksud menyangkut kemampuan mengorganisasikanmasalah secara logis, sistematis, dan fungsional. Masalah timbul karena adanya: (1) kesangsian ataupun kebingunganpeneliti terhadap satu hal atau fenomena, (2) kemenduaan arti (ambiguity), dan(3) dan adanya halangan dan rintangan yang menunjukkan terdapatnya celahantarfenomena. Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian sangatberguna untuk membersihkan kebingungan kita akan sesuatu, untukmemisahkan kemenduaan, untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutupcelah antarkegiatan atau fenomena. Karenanya, peneliti harus dapat memilihsuatu masalah bagi penelitiannya dan merumuskannya untuk memperolehjawaban terhadap masalah tersebut. Tujuan dari identifikasi masalah (pemilihan dan perumusan) dalamkegiatan penelitian sastra adalah untuk: (a) mengorganisasikan secara logis,sistematis sejumlah masalah yang akan diangkat dalam penelitian sastra untukdijabarkan dalam tujuan penelitian secara tepat, (b) pemusatan penelitian atassejumlah masalah yang dapat dijangkau sesuai dengan kemampuan penelitiyang terimplementasi di dalam tujuan penelitiannya, dan (c) peletak dasar 86
  • 93. untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya atau dasaruntuk penelitian selanjutnya. Menurut Nazir (1985: 134-135), ciri-ciri masalah yang baik adalah: (1)masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian, (2) masalah yangdipilih harus mempunyai fisible, dan (3) masalah yang dipilih harus sesuaidengan kualifikasi si peneliti. Ciri pertama yang menyangkut nilai penelitian maksudnya adalahpenelitian harus mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuksuatu keperluan. Pertimbangan dari ciri pertama yang harus diperhatikanadalah: (1) masalah harus mempunyai keaslian, (2) masalah harus menyatakansuatu hubungan antara dua atau lebih variabel (hubungan antarfenomena), (3)masalah harus merupakan hal penting, (4) masalah harus dapat duji, hubungandi dalamnya harus dapat diukur berdasarkan pendekatan yang sesuai, dan (5)masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang mengimplikasikan kedalam kegiatan pengujian atau pengukuran variabel. Ciri kedua yang menyangkut fisible, maksudnya masalah tersebut dapatdipecahkan. Arinya: (1) data serta metode harus tersedia untuk memecahkanmasalah, (2) masalah yang akan dipecahkan harus sesuai dengan batas-bataskemampuan peneliti dalam hal tenaga, pikiran, waktu, serta dana, dan (3)pemecahan masalah tidak bertentangan dengan norma hukum. Ciri ketiga yang menyangkut kesesuaian dengan kualifikasi penelitimaksudnya adalah masalah yang diangkat merupakan masalah yang menarikbagi peneliti serta sesuai dengan derajat ilmiah yang dimiliki peneliti. 87
  • 94. Setelah masalah diidentifikasi dan dipilih, maka kegiatan selanjutnyadalah merumuskan masalah. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagiperumusan hipotesis, topik penelitian atau judul penelitian. Umumnya rumusanmasalah harus dilakukan dengan kondisi berikut: 1. masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan 2. rumusan hendaklah jelas dan padat 3. rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah 4. rumusan masalah harus menjadi dasar dalam membuat hipotesis 5. masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian5.1.3 Tujuan Penelitian Tujuan pokok penelitian adalah untuk menemukan atau menggali(explore), mengembangkan (develop atau extention), dan menguji (testing)teori atas sejumlah data yang digunakan dalam penelitian. Berhubungandengan penelitian sastra, misalnya penelitian yang menggunakan pendekatanstrukturalisme objektif, tentunya tujuan di dalamnya mengarah kepada upayapemecahan masalah menyangkut sejumlah fenomena unsur-unsur karya sastra,hubungan antarunsur, dan totalitas di dalamnya. Dengan demikian, tujuan didalamnya mengimplikasikan juga pilihan metodenya. Metode deskriptifmerupakan salah satu sebuah metode yang tepat digunakan untuk mengungkapsedetail mungkin sejumlah fenomena yang dimaksud. 88
  • 95. Tujuan penelitian merupakan penjabaran rill dari rumusan masalahyang akan dipecahkan melalui kegiatan analisis data. Secara ideal, tujuanpenelitian harus mewadahi seluruh masalah yang telah dipilih dan dirumuskan.Deskripsi tujuan penelitian diuraikan dalam bentuk pernyataan yang masing-masing mengeksplisitkan tujuan pemecahan masalahnya. Jika rumusanmasalah yang dihasilkan, misalnya, berjumlah tertentu, maka tujuan penelitianharus mewakili sejumlah masalah tersebut berdasarkan bagian-bagiannya.Bagian-bagian rumusan masalah diurutkan berdasarkan tipikal, lingkupmasalah, jangkauan ke arah teknik kajian yang ideal (runut). Demikian puladengan penyusunan tujuan penelitian, di dalamnya harus secara runutmenunjukkan adanya tahapan yang logis, sistematis, dan fungsional sesuaidengan penerapan teori dan metodologinya sehingga antara tujuan yang satudengan tujuan yang lainnya memiliki hubungan yang erat dan bersifatfungsonal. Sebaiknya dalam tujuan penelitian, disebutkan secara jelas hal-halpokok yang menyangkut fenomena data yang di dalamnya mengimplikasikanpilihan teori dan metodologi yang digunakan.5.1.4 Landasan Teori Teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling berhubungan),rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yangsistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubunganantarvariabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala(Kerlinger dalam Pradopo, 2001:2). 89
  • 96. Dengan demikian, tahapan penyusunan landasan teori dalam rancanganusulan penelitian menjadi penting. Karena teori berfungsi sebagai alat untukmemecahkan masalah, maka teori harus dipilih sesuai dengan tujuan penelitian.Dalam uraian landasan teori, teori harus dijelaskan secara konseptual denganjalan memberikan deskripsi yang jelas secara operasional bagaimana teoritersebut dapat dijalankan sesuai kebutuhan penelitian. Adapun Ratna ( 2004: 94-95) menyatakan, sebagai akumulasi konsep,teori tidak harus dipahami secara kaku. Teori tidak harus dan tidak mungkinditerapkan secara persis sama sebagaimana dikemukakan oleh parapenemunya. Teori pun dapat ditafsirkan sesuai kemampuan peneliti. Teoriadalah alat. Kapasitasnya berfungsi untuk mengarahkan sekaligus membantumemahami objek secara maksimal. Teori memiliki fungsi statis sekaligusdinamis. Aspek statisnya adalah konsep-konsep dasar yang membangunsekaligus membedakan suatu teori dengan teori yang lain. Dalamstrukturalisme, misalnya, konsep-konsep dasarnya adalah unsur-unsur,antarhubungan, dan totalitasnya. Aspek-aspek dinamisnya adalah konsep-konsep dasar itu sendiri sesudah dikaitkan dengan hakikat objeknya. Konsepinilah yang berubah secara terus menerus, sehingga penelitian yang satuberbeda dengan penelitian yang lain. Sebagai suatu cara pemahaman, baik sebagai teori maupun metode, cir-ciri yang cukup menonjol dari strukturalisme adalah lahirnya berbagaikerangka dan model analisis, khususnya analisis fiksi. Dalam kerangkastrukturalisme, diperlukan penerimaan positif. Penerimaan yang dimaksud 90
  • 97. mengarah kepada keteraturan, pusat yang akan melahirkan saluran-salurankomunikasi, kerangka-kerangka dan mode-model analisis yang dikemukakanoleh para kritikus sastra.. Sebaliknya, dalam analisis sastra kontemporer jelasmodel analisis yang dimaksud tidak sesuai dan tidak diperlukan sebab prinsip-prinsip poststrukturalisme mempersaratkan pemahaman yang tidak harusdilakukan melalui suatu kerangka analisis yang sudah baku.5.1.5 Metodologi Yang dimaksud metolodologi dalam kepentingan penyusunanpenelitian dan menjadi bagian dari tahap penyusunan tersebut terbagi ke dalamdua wilayah pengertian, yaitu (1) metode yang digunakan sebagai alat,prosedur dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian gunamengumpulkan data, dan (2) metode kajian yang mengindikasikan adanyakerja bersistem sekaligus memerikan bagaimana data dipilih dan ditentukanserta dianalisis berdasarkan pendekatan tertentu. Pengertian kedua ini lebihmengarah kepada teknik analisis yang dipergunakan untuk menganalisis datasesuai dengan pendekatan tertentu. Pemilihan metode kajian tertentu akanmengarahkan sekaligus teknik pupuan datanya. Atau dengan kalimat lain,teknik pupuan data tertentu dipilih berdasarkan tujuan penelitian yangmengimplikasikan metode kajian tertentu. Djajasudarma (1993: 57-58) dalam pespektif linguistik menyebutkanbahwa metode kajian adalah cara kerja yang bersistem di dalam bahasa denganbertolak dari data yang dikumpulkan (secara deskriptif) berdasarkan teori 91
  • 98. (pendekatan) linguistik. Metode kajian memerikan bagaimana data dipilah dandiklasifikasi berdasarkan pendekatan yang dianut. Dengan kata lain, kajiandalam penelitian bahasa mengandung pemahaman penentuan data berdasarkanpendekatan tertentu melalui tes atau pengujian teknik-teknik tertentu.Penentuan data berdasarkan perilaku, ciri, dan hubungan antarunsur, dsb. demipemahaman identitas data penelitian. Metode yang bersistem di dalam kajiandata bahasa selalu dengan upaya teori tertentu. Sejalan dengan uraian di atas, maka metode dalam kajian sastra punmengarahkan pada penjelasan teknis bagaimana tujuan penelitian dapatditempuh berdasarkan pembahasan yang teroganisir, sistematik, padu, danmenyeluruh melalui teknik pemupuan data, pemilihan, dan pengolahan datasecara tepat dan memadai. Nazir (1985: 419-422) menyebutkan beberapa ciri dalam membuatkategori secara metodis yang memadai, yaitu: (1) kategori harus dibuat sesuaidengan masalah dan tujuan masalah, (2) kategori harus lengkap, (3) kategoriharus bebas dan terpisah, (4) kategori harus berasal dari satu kaidah klasifikasi;tiap variabel harus dipisahkan dalam desain analisis, dan (5) tiap kategoriharus berada dalam satu level dengan mempertimbangkan mana variabel utamadan mana varabel penunjangnya. Hubungan antar variabel dalam penelitian juga harus diperhatikan.Nazir (1985: 422-440) menyebutkan beberapa jenis hubungan yang perludiketahui dari variabel penelitian. Hubungan variabel yang dimaksud adalah: 1. hubungan simetris 92
  • 99. Hubungan ini adalah hubungan antarvariabel yang tidak disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel yang lain. Hubungan ini dapat terjadi karena (1) kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama, (2) kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama, atau (3) hubungan yang terjadi bersifat kebetulan saja. Hubungan ini dapat berpangkal dari indikator sebuah konsep, kehadiran dua variabel atau lebih secara beriringan yang disebabkan faktor fungsional, dan faktor kebetulan. 2. hubungan asimetris Hubungan asimestris yang dimaksud adalah hubungan antara variabel yang satu variabel mempengaruhi variabel lainnya, tetapi hubungannya tidak bersifat timbal balik; dapat terjadi dari hubungan antarkonsep. 3. hubungan timbal balik Hubungan yang dimaksud adalah hubungan dua arah secara timbal balik antarvariabel; hubungan saling mempengaruhi. Sejalan dengan uraian di atas, maka langkah penyusunan metodologidalam rancangan usulan penelitian (skripsi) yang memadai adalah: (1)mendeskripsikan secara jelas perihal metode sebagai teknik pupuan data danmetode sebagai teknik kajian, (2) menjabarkan secara tepat dan jelas masingmasing metode sesuai dengan esensi dan fungsinya yang dibatasi oleh tujuan 93
  • 100. penelitiannya, (3) mengurutkan langkah-langkah pengumpulan, pemilahan, danpengolahan data secara sistematis, dan (5) bila perlu gunakan pula skema danatau tabel organisasi pengumpulan, pemilahan, dan pengolahan data secararunut untuk memberikan gambaran yang jelas bahwa penelitian dapatdijangkau berdasarkan derajat kemampuan peneliti dari segi penguasaan teoridan metodologi. Dalam penyusunanya secara keseluruhan akan tergambar sejumlahkemampuan peneliti. Kemampuan yang dimaksud mengarah kepada: 1. kemampuan menentukan dan merumuskan masalah 2. kemampuan menjabarkan tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah 3. kemampuan memilih landasan teori yang tepat sesuai dengan tujuan penelitian yang telah disusun 4. Kemampuan menentukan metode penelitian (teknik pupuan data) dan metode kajian yang digunakan berdasarkan tujuan penelitian yang telah disusun 5. kemampuan menyusun dan menyajikan metode berdasarkan landasar teori yang dipilihnya sebagai wujud kemampuan pemahaman peneliti perihal fungsi landasan teori dalam sebuah penelitian, penguasaan teoretis atas teori sastra yang aplicable dalam penelitiannya, pemahaman pemetaan uraian yang berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian terutama menyangkut identifikasi masalah 94
  • 101. dan tujuan penelitian, dan mampu menggunakan teori tersebut untuk merancang instrumen penelitian secara metodis.5.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah Pangkal dasar sekaligus kesulitan mendasar yang ditemui penelitidalam sebuah rancangan usulan penelitian sastra adalah menemukan masalahyang layak diangkat dalam sebuah penelitian sesungguhnya. Dalam menyusunrancangan usulan penelitian, idealnya penelitian diawali dari sejumlah masalahyang ditemukan setelah proses membaca dan memahami objek material (karyasastra). Masalah-masalah yang dimaksud tentunya berpangkal dari kepekaanliterer dan teoritik peneliti saat menghadapi objek penelitian. Tidak mudah bagi peneliti yang kurang peka secara literer dan teoretisuntuk menemukan masalah ketika berhadapan dengan objek karya sastra.Adakalanya peneliti menentukan begitu saja sebuah kajian yang akandigunakan dalam penelitiannya untuk kemudian menyusun tujuan penelitiandan landasan teoretisnya. Kondisi demikian mengakibatkan peneliti begitu sulitsecara esensial menguraikan latar belakang masalah penelitiannya, padahal didalamnya peneliti diberi hak penuh untuk menguraikan sejumlah pandangandan temuan selama berhadapan dengan objek penelitian (karya sastra)menyangkut ketertarikan atas objek sehingga dipilih sebagai objek penelitian,masalah-masalah yang ditemukan untuk dipecahkan, serta pembicaraansingkat landasan teoretis dan metode yang dimungkinkan dapat dijadikan alat 95
  • 102. yang mendasari pengolahan dan penganalisisan data. Tentunya pembicaraan didalamnya ditempatkan secara fungsional untuk memberi gambaran umumtentang latar belakang masalah, di antaranya: (1) apa saja yang menjadimasalah dasar dan penting untuk ditemukan pemecahannya, (2) bagaimanamasalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi sehingga tujuan penelitian dapatdijabarkan, (3) mengapa pilihan alat pemecahannya jatuh pada landasan teoridan metode tertentu. Akan tetapi bagi peneliti yang memanfaatkan kepekaan literer dankemampuan teoretiknya secara baik, dimungkinkan dari hasil pengamatan danpemahamannya terhadap objek berbentuk karya sastra akan menghasilkanbanyak masalah. Idealnya, proses pemahaman dan penemuan masalah diawalidengan proses pembacaan secara cermat dan utuh. Langkah ini dimaksudkanuntuk memberi peluang kepada mahasiswa guna menemukan permasalahan-permasalahan yang akan diangkat dalam penelitian secara optimal.Permasalah-permasalahan yang akan diangkat dalam penelitianmengindikasikan kepekaan penelitian terhadap potensi teks karya sastra,pemahamannya terhadap teori dan metode penelitian sastra, dan kemampuanpraktis menjabarkan permasalahannya dalam wujud penyusunan rancanganusulan penelitiannya. Dengan bekal kemampuan menemukan dan menghimpunpermasalahan, peneliti akan mampu mengidentifikasi masalah secara logis dansistematis yang pada akhirnya dapat dijabarkan dalam tujuan penelitin secarajelas. Identifikasi masalah yang dimaksud adalah penetapan pilihan beberapa 96
  • 103. masalah dari seluruh masalah yang telah dihimpun untuk dijadikan dasarpenelitiannya. Penetapan pilihan masalah berpangkal pada kebutuhan utamauntuk dapat dijangkau dalam penelitian berdasarkan kemampuan penelitidalam hal penguasaan teoretik, waktu pelaksanaan, dana yang tersedia,referensi yang memadai, pengembangan penelitian sejenis, dsb. Berikut ini contoh uraian subbab latar belakang masalah danidentifikasi masalah format usulan penelitian skripsi bidang kajian sastra: 1.1. Latar Belakang .... Dalam cerita anak MHG dan GKLP secara gamblang berusaha menyampaikan pada pembaca bahwa anak tidak polos dan tidak asal, melainkan suatu duania yang penuh dengan imajinasi, keinginan, keberanian, kepahlawanan dan petualangan. Itu sebabnya kenapa kedua cerita ini akan diteliti karena menurut saya cerita itu sangat menarik, apalagi jika dilihat dari tokoh anak dalam kedua cerita ini begitu berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat, mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. ... Merujuk pada potensi teks tersebut, penulis tergerak untuk melakukan penelitian secara struktural objektif bertalian dengan pengungkapan sifat, ciri, fenomena yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP. Contoh uraian subbab di atas belum menunjukkan dasar permasalahanyang sesuai dengan penjabaran identifikasi masalah dan tujuan penelitian.Potensi teks yang dikatakan menjadi dasar dipilihnya pendekatan strukturalobjektif, samasekali tidak mewakili secara menyeluruh atas kepentinganpenelitian yang dieksplisitkan dalam pembatasan masalah dan tujuanpenelitian. Permasalahan yang ditemukan tidak langsung merujuk kepada 97
  • 104. fungsi pendekatan struktural objektif yang tepat guna. Logika masalah yangdijabarkan peneliti sebagai berikut: 1. tokoh anak ditafsirkan berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat karena mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik, 2. tokoh anak yang berasal dari kota ditafsirkan perkembangannya sangat cepat karena kemudahan sarana dan prasarana, termasuk mendapatkan buku-buku cerita misteri 3. kesamaan (dari dua cerita) perwatakan tokoh yang berani, berpikir logis, tidak percaya akan hal-hal mstis akibat pengaruh bacaan 4. kedua novel begitu lekat berbicara mengenai masyarakat yang masih menjungjung tinggi adat dan kebudayaan yang memiliki nilai mitos dalam suatu daerah tertentu Adapun pembatasan masalah yang disusun oleh peneliti sebagai berikut: 1. Masalah apa saja yang menjadi dasar penceritaan kedua novel tersebut? 2. Bagaimana struktur yang terbentuk dalam kedua novel tersebut? 3. Bagaimana keterjalinan unsur dalam kedua novel tersebut? 4. Tema dan amanat yang ada dalam kedua novel tersebut? Hal yang tampak menonjol dan mudah dicermati dari latar belakangmasalah dan identifikasi masalah di atas adalah nuansa penelitian deskriptif.Namun demikian, jika dijajaki uraian pembatasan masalah secara rinci, tampak 98
  • 105. penyusunan identifikasi masalah bukan lagi berdasarkan pemanfaatan latarbelakang masalah. Diakui bahwa pada penjabaran pembatasan masalah,peneliti sudah mampu menyusun identifikasi masalah secara logis dansistematis, mulai dari masalah (bahan tematik) yang menjadi dasar penceritaan,struktur cerita yang terbentuk, keterjalinan antarunsur cerita, dan penelusurantema dan amanat. Akan tetapi esensi latar belakang yang seharusnyamengawali atau menjadi rujukan identifikasi masalah seolah terlepas satudengan lainnnya. Upaya yang seharusnya ditempuh dalam uraian latarbelakang masalah sehubungan dengan kepentingan penelitian tersebut adalah: 1. menguraikan sejumlah besar problematika teks (singkat dan jelas) secara struktural obektif jika penelitian akan difokuskan pada kajian struktural objektif 2. menguraikan bagian-bagian permasalahan struktural dalam karya beserta hubungannya yang dianggap penting untuk diteliti (tokoh- penokohan, alur, latar) 3. membicarakan secara singkat kemungkinan pemilihan teori dan metode yang dapat memberi jalan bagi pemecahannya secara deskrpitif. 4. mengemukakan kepentingan ditelusurinya tema dan amanat kedua novel tersebut dalam hubungannya denga masalah yang ditemukan dalam teks. 99
  • 106. Berdasarkan upaya tersebut, seyogyanya latar belakang masalah danidentifikasi masalah menjadi pijakan utama dalam menentukan tujuanpenelitian.5.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian Seperti telah disinggung pada uraian sebelumnya, penjabaran tujuanpenelitian erat kaitannya dengan identifikasi masalah. Penjabaran tujuanpenelitian harus berpangkal pada identifikasi masalah yang telah disusun.Contoh usulan penelitian subbab tujuan penelitian berikut belum memadai jikaditinjau dari kepentingan penelitian sesungguhnya. Cermati contoh berikut: 1.1 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah: 1. mendeskripsikan masalah apa saja yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP 2. mendeskripsikan struktur yang terbentuk dari kedua novel MHG dan GKLP 3. mendeskripsikan keterjalinan antarunsur 4. mengetahui tema dan amanatPenjabaran tujuan penelitian di atas tampak terlalu umum dan belum mengarahkepada kepentingan pendeskripsian secara cermat dan mendetail. Kepentinganyang dimaksud adalah mengeksplisitkan sejumlah tujuan berdasarkanpembatasan masalah. Dalam hal ini , hal-hal yang harus dicermati:(1) Tujuan pertama yang menyangkut pendeskripsian masalah-masalah yang ada dalam kedua novel harus dieksplisitkan secara spesifik, misalnya 100
  • 107. menyebutkan masalah-masalah yang bersumber dari peristiwa-peristiwa penting pada seluruh untaian cerita. Dengan demikian dapat tergambar bahwa penelitian dengan tujuan pertama ini diarahkan pada penelusuran masalah (bahan tematik) yang bersumber pada penelusuran peristiwa- peristiwa penting saja, bukan peristiwa yang tidak menjiwai sebagian atau seluruh cerita. Hal ini secara tidak langsung telah mengarahkan pemilihan teoretis dan penyusunan langkah analisisnya secara metodis.(2) Tujuan kedua yang menyangkut pendeskripsian struktur yang terbentuk dari kedua novel perlu dieksplisitkan secara spesifik. Penjabarannya menjadi, misalnya: mendeskripsikan unsur tokoh-penokohan, alur, dan latar dari kedua novel (jika kajian diarahkan pada struktural objektif). Penjabaran spesifik ini menjadi penting untuk menghindarkan kesalahpahaman atas beragam teori yang kajiannya berbeda walaupun berada dalam satu naungan pendekatan yang sama yaitu strukturalisme. Paham struktural objektif, menempatkan teks secara otonom. Oleh karena itu, unsur-unsur di dalamnya pun diperlakukan secara otonom pula. Struktur dinamik, menempatkan teks dengan konsep dasar unsur-unsur, antar hubungan, dan totalitas harus dihubungkan dengan luar teks (aspek ekstrinsik). Struktural genetik menelaah struktur teks sastra sampai ke struktur sosial dan pembicaraan hubungan antarunsur teks sastra dan struktur sosial. Struktur naratif mengarahkan pembicaraan mengenai cerita dan penceritaan; antara struktur naratif karya sastra dan naratornya. 101
  • 108. (3) Tujuan ketiga yang menyangkut pengungkapan keterjalinan antarunsur hendaknya dispesifikasikan ke dalam penjabaran, misalnya (a) penokohan dengan latar (waktu, tempat, sosial), (2) tokoh dalam perjalanan alur cerita, (3) pemetaan latar dalam perjalanan alur cerita, dll. Penjabaran secara spesifik menjadi penting guna mengontrol penerapan teori yang tepat guna beserta penyusunan langkah kerja, pemilihan data, pengolahan data, dan analisis data.(4) Tujuan keempat yang menyangkut penelusuran tema dan amanat hendaknya dijabarkan pada kepentingan pembicaraan menyeluruh, misalnya (a) pembicaraan pengklasifikasian masalah yang telah ditemukan berdasarkan pencapaian analisis pada tujuan pertama, (b) penafsiran tema berdasarkan kategori mayor dan minor, (c) pembicaraan hubungan tema dan unsur-unsur pembentuk cerita, (d) penelusuran amanat berdasarkan perolehan penafsiran tema. Hal ini diperlukan dalam rangka mengikat secara fungsional pencapaian analisis yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya. Dengan demikian, tiap pencapaian tujuan berhubungan dengan pencapaian tujuan yang lainnya sehingga menghasilkan uraian yang utuh, padu, dan menyeluruh. Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kendalaterbesar peneliti dalam menjabarkan gagasannya pada tiap subbab latarbelakang masalah, identifikasi masalah, dan tujuan penelitian berpangkal pada 102
  • 109. tingkat kepekaan literer, teoretis, dan metodologis. Keterbatasan tersebutselanjutnya akan membatasi kemampuan peneliti dalam menyusun rancanganusulan penelitiannya. Keterbatasan kemampuan yang dimaksud dapat dicermatidari ketidakmampuan menjalin in uraian tiap subbab secara logis, sistematis,dan fungsional.5.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis Sejalan dengan tanggapan pada tingkat keberhasilan penyusunan rancangan usulan penelitian pada materi sebelumnya, pada langkah penyusunan Landasan Teori, ketersediaan objek formal (kajian struktural) mengarahkan peneliti untuk secara tepat memilih landasan teori yang akan digunakan. Ketersediaan yang dimaksud adalah: a. kajian struktural objektif b. kajian struktural genetik c. kajian struktural naratif d. kajian struktural dinamik Terdapat hubungan timbal balik antara tujuan penelitian, teori, danmetode kajian. Penentuan tujuan penelitian dihasilkan oleh kemampuanpemahaman penelitian dalam menentukan teori yang diminati dan dikuasaiserta praktik metodologisnya. Adakalanya peneliti dengan mudah menentukantujuan penelitian berdasarkan identifikasi masalah yang disusunnya (cermatikasus yang telah dibahas). Peneliti mampu memilih dan menyajikan landasanteorinya. Akan tetapi kemampuan menguraikan secara tepat berdasarkan 103
  • 110. identifikasi masalah dan tujuan penelitian, kurang memadai. Cermati uraianutuh subbab landasan teori (contoh Usulan Penelitian ): 1.6 Landasan Teori Teori struktural objektif merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian karya sastra. Pendekatan struktural objektif adalah pendekatan yang menitikberatkan karya sastra sebagai struktur yang otonom yang lebih kurang terlepas dari hal-hal yang berada di luar karya sasatra itu sendiri (Teeuw, 2003:132) Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat, seteliti, semendetail, dan semendalam mungkin keterikatan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw, 2003:112). Contoh utuh di atas jelas tampak berdiri sendiri dengan atau tanpasubbab lainnya yang seharusnya berhubungan fungsional dalam pembicaraanyang padu. Uraian di atas tidak mewakili identitas penelitian secaramenyeluruh yang dimiliki oleh sebuah usulan penelitian dengan judul tertentu,latar belakang masalah dan identifikasi masalah tertentu, dan tujuan penelitiantertentu. Uraian subbab di atas tidak menunjukkan korelasi antara latarbelakang masalah, identifikasi masalah, dan tujuan penelitian karena didalamnya tidak dihimpun pembicaraan yang menghubungkan subbab tersebutdengan subbab lainnya secara fungsional. Berdasarkan contoh di atas, penyusun UP kurang mengetahui secarapasti fungsi landasan teori struktural objektif dalam sebuah penelitian denganmenggunakan pendekatan struktural. Penguasaan teoretis pun belum cukuptergambarkan dalam uraian subbab landasan teori secara aplikatif. Begitu jugadengan pemahaman pemetaan uraian yang seharusnya berkesinambunganantarsubbagian rancangan usulan penelitian. Uraian landasan teori tampak 104
  • 111. terpisah dan tidak fungsional karena tidak dihubungkan langsung dengankepentingan menyeluruh penelitian, terutama menyangkut batasan masalah dantujuan penelitian. Kelemahan lain, penyusun UP tersebut kurang mampumemahami konsep atau asumsi dasar (premis) dari teori yang digunakannya.Bagian-bagian utama teori tidak diaplikasikan langsung pada pembicaraanbagaimana teori tersebut menjadi bagian penting untuk memecahkan masalahdan mencapai tujuan penelitian.5.5 Kemampuan Menyajikan Metode Kemampuan menguraikan secara tepat di dalam subbab metodologi punkurang memadai. Kekurangan yang dimaksud adalah keterbatasan uraian yangtidak menjangkau ilustrasi metodis menyangkut:a. metode deskriptif Walaupun secara jelas peneliti mendeskripsikan definisi metodetersebut, tetapi tidak ditindaklanjuti dengan uraian yang mengarah kepadabagaimana metode ini akan dijalankan dalam penelitian dan pencapaian yangdimungkinkan bisa secara nyata menunjukkan hubungan fungsional dengantujuan penelitian. Cermati uraian pada subbab metode penelitian (contoh UPskripsi) berikut ini: 105
  • 112. 1.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, yaitu cara untuk memecahkan masalah yang aktual dengan jalan mengumpulkan, menyusun, mengklasifikasikan , menganalisis, dan menginterpretasikan data (Winarno, 1980: 139). Melalui metode deskriptif ini tujuan peneliti dapat tercapai secara memadai karena sejumlah fenomena, sifat, dan ciri-ciri data yang menyangkut masalah dasar penciptaan novel, unsur- unsur karya, keterjalinan unsur, tema, dan amanat dapat terungkap secara tepat. Mengacu kepada definisi metode deskriptif, sejumlah data, sifat, fakta,fenomena, dan ciri-ciri unsur-unsur pembangun karya sastra (dalampengutamaan kajian struktural), dalam uraian subbab di atas tidak dipetakandan belum diarahkan secara memadai pada pembicaraan bahwa metodetersebut adalah tepat untuk memecahkan masalah seperti yang dieksplisitkandalam tujuan penelitian. Pembicaraan tersebut seharusnya diikuti dengandeskripsi singkat tentang teknik pengumpulan dan pemilihan data (sampel),dan teknik pengklasifikasian data sehingga kerja metode deskriptif dapattergambarkan dengan jelas. Dengan demikian, contoh uraian UP dalam subbabmetode deskriptif di atas cenderung bersifat kutipan tanpa konteks. 106
  • 113. b. metode kajian Dalam uraian subbab metode kajian, penyusun UP kurang mampumenyusun redaksi yang memadai untuk memberi gambaran metodis secaralengkap perihal kajian yang digunakan dalam penelitiannya. Cermati contohuraian yang dimaksud: 1.2 Metode Kajian Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode struktural dengan pendekatan objektif. Struktural adalah sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi keseluruhan karena ada timbal balik antarunsur. Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat, seteliti, semendetail, dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw, 2003:112) Adapun data yang dikaji berpusat kepada: (1) masalah (bahan tematik) menjadi dasar penceritaan novel, (2) struktur cerita, (3) keterjalinan antarunsur dalam novel, dan (4) tema dan amanat. Langkah kerja metode kajian ini secara sistematis dilakukan melalui tahapan: (a) penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan untuk diarahkan pada penelusuran tematik cerita, (b) mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural yang tokoh dan penokohan, plot/alur, dan latar, (c) mengungkap atau menelusuri keterjalinan antarunsur sebagai proses untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural, dan (d) mengetahui tema dan amanat dengan didukung oleh hasil penelusuran a, b dan c. Metode kajian menyangkut bagaimana sebuah teori secara teknik dapatmengarahkan peneliti kepada cara-cara dan langkah-langkah mengolah danmenganalisis data ke dalam beberapa tahap pengerjaan sesuai denganpendekatan yang dipilihnya. Dalam hal ini, penyusun UP tersebut cukup 107
  • 114. mampu mengejawantahkan tujuan penelitiannya ke dalam pembahasan yangkemungkinan pemecahan masalahnya dapat dicapai melalui penerapan metodekajian yang tepat. Namun demikian, kekuarangannya adalah penyusun tidakmemberi gambaran secara jelas perihal masing-masing langkah kerjanya yangtentunya dibatasi dan diarahkan secara metodis oleh teori yang digunakan.Kekuarang yang dimaksud adalah:a. penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan Pada langkah ini penyusun tidak memberikan langkah nyata yang akandilakukan dalam penelusuran masalah. Instrumen apa yang digunakan sehinggadata tertentu dipilih dan ditetapkan sebagai data yang mengandung masalah.?Apakah instrumen yang dimaksud akan diarahkan ke pencermatan peristiwa-peristiwa penting dari keseluruhan jalan cerita yang memiliki hubungan sebabakibat? Bagimana halnya dengan pelekatan konflik pada tiap-tiap peristiwa?Apakah setiap konflik mengindikasikan adanya masalah yang dapat dijadikandasar penelusuran tema?b. mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural Pada tahap ini, penyusun tidak memerikan tiap unsur cerita (tokoh danpenokohan, plot/alur, dan latar) secara jelas berdasarkan tipikal masing-masingunsur. Pencermatan tokoh dan penokohan akan terejawantahkan melalui teoriyang dipilih sehingga sekaligus akan menggiring pada model analisisnya.Misalnya saja, penyusun yang memilih teori teknik pelukisan dramatik tokoh 108
  • 115. menurut Altenbernd & Lewis tentunya akan berbeda dengan pemilihan teorimengenai teknik pelukisan ragaan (showing) tokoh menurut Abrams. Pada unsur-unsur cerita lainnya, seperti pengeplotan, apakah akandijajaki melalui pemanfaatan kaidah pengeplotan (plausibilitas, suspense,surrise, kesatupaduan) sebagai instrumen; atau pengeplotan berdasarkankriteria urutan waktu, jumlah, kepadatan, atau isi? Pemilihan di dalamnya akanmenentukan cara kerja yang relevan untuk dilakukan dalam kerja analisis. Demikian pula pada pembicaraan latar, langkah apa yang dapatditempuh secara teknis dalam uraian subbab metode kajian? Langkah apa yangsecara tepat dapat mengarahkan penelusuran latar waktu, tempat, dan sosial?c. mengungkap keterjalinan antarunsur untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural Berkaitan dengan hal ini, penyusun tidak memberikan gambaran ataubentuk keterjalinan yang dimaksud. Bagaimana teknik menentukan jalinanunsur yang dimaksud? Jalinan apa saja atau bentuk jalinan yang bagaimanasehingga jalinan tersebut ditafsirkan sebagai dasar keutuhan novel ? dsb.d. mengetahui tema dan amanat Walaupun pada bagian akhir uraian pada subbab metode kajianpenyusun menyebutkan bahwa hasil penelusuran a, b, dan c digunakan untukmengetahui tema dan amanat, tetapi teknik penjabaran riil pemanfaatan hasilpenelusuran tesebut tidak disertakan. Bagaimana relevansi tiap-tiap 109
  • 116. penelusuran tersebut dengan kepentingan pencarian tema dan amanat? Modelpemilihan analisis apakah yang menjadikan sejumlah kriteria sebagai variabelpenelusuran tema? Metode penelitian yang menyangkut teknik pupuan data dan metodekajian, seharusnya sudah cukup jelas digambarkan di bagian-bagiansebelumnya. Uraian metode yang menyangkut bagian-bagian penelusuranmasalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan seharusnya menjadi bagianyang sangat potensial untuk menentukan tema. Masalah-masalah tersebutdihimpun dan selanjutnya dipilah berdasarkan kriteri tertentu yangmengarahkan sebuah interpretasi guna menjangkau tema, baik tema mayonmaupun minor dan sebagainya sesuai dengan batasan teori yang digunakandalam penelitian. Adapun dalam penentuan amanat, hasil analisis atas tema hendaknyadiramu kembali untuk menghasilkan sebuah penyataan yang mengarah kepadanuansa amat cerita untuk kemudian ditentukan secara memadai amanat yangpaling relevan dengan kandungan cerita dari seluruh analisis yang telahdikerjakan. Kelemahan-kelemahan di atas tentunya perlu dibenahi sebelumproposal penelitian diajukan atau bahkan diseminarkan untuk mendapatkanpersetujuan dari tim penguji. Jalan terbaik untuk mencapai hasil rancanganusulan penelitian yang memadai adalah secara bertahap melakukan konsultasikepada pihak yang berwenang melakukan bimbingan sambil terusmengemukakan masalah-masalah teknis dan non teknis yang dihadapi selama 110
  • 117. penyusunan rancangan penelitian yang dimaksud. Dengan demikian, selaluterbuka solusi selama kedua belah pihak (peneliti dan pembimbing) sama-samaaktif dan bekerja keras untuk mendapatkan hasil terbaiknya. ******* 111
  • 118. DAFTAR PUSTAKAAbdullah, Imran T. 1999. “Sastra Lisan,” Makalah. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.Abrams, M.H. The Mirror and lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. New York: The Norton Library; W.W. Norton & Company Inc.Chamamah. S. 2001. “Penelitian sastra Tinjauan Teori dan Metode Sebuah Pengantar,” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim, ed.). Yogyakarta: Hanindita Graha WidyaFaruk. 1994. Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka PelajarFaruk, 1999. “Strukturalisme-Genetik,” Makalah. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah mada.Iser, Wlfgang. 1987. The Act of Reading. Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press.Jauss, Hans Robert. 1983. Toward an Aesthetic of reseption. Minneapolis: University of Minnesotta Press.Luxemburg, Jan van, dkk. 1989. Pengantar Ilmu Sastra. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. Jakarta: Gramedia.Makaryk, Irena R. (ed.) 1993. Enclyclopedia of Contemporary Literary Theory. Toronto-Buffalo-London: University of Toronto Press 112
  • 119. Muhadjir, Noeng. 2002. Metodologi penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake SarasinNazir, Moh. 1985. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia IndonesiaNurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University PressRatna, Nyoman Kutha. 2004. Penelitian Sastra: Teori, Metode, dan Teknik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Pradopo, Rachmat Djoko, 1999. “Strukturalisme”, Makalah. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.------------------------------. 2002. Kritik Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta: Gama MediaPropp, V. 1987. Morfologi Cerita Rakyat. Diterjemahkan oleh Noriah Taslim. Selangor: Sain Baru Sdn.Bhd.Rien T. Segers. Evaluasi Teks Sastra. 2000. Diterjemahkan oleh Suminto A. Sayuti. Yogyakarta: AdiCitaTeeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu sastra. Jakarta: Pustaka JayaT. Fatimah Djajasudarma. 19. Metode Penelitian Linguistik. Bandung: Eresco.Todorov, Tzvetan. 1985. Tata Sastra. Diterjemahkan oleh Okke K.S. Zaimar, dkk. Jakarta: Djambatan.Wellek, Rene & Austin Warren. 1993. Teori Kesusastraan. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Jakarta: GramediaWuradji, 2001. “Pengantar Penelitian,” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim, ed.). Yogyakarta: Hanindita Graha Widya 113
  • 120. 114
  • 121. 115