Your SlideShare is downloading. ×
0
Kurikulum Pembelajaran
Kurikulum Pembelajaran
Kurikulum Pembelajaran
Kurikulum Pembelajaran
Kurikulum Pembelajaran
Kurikulum Pembelajaran
Kurikulum Pembelajaran
Kurikulum Pembelajaran
Kurikulum Pembelajaran
Kurikulum Pembelajaran
Kurikulum Pembelajaran
Kurikulum Pembelajaran
Kurikulum Pembelajaran
Kurikulum Pembelajaran
Kurikulum Pembelajaran
Kurikulum Pembelajaran
Kurikulum Pembelajaran
Kurikulum Pembelajaran
Kurikulum Pembelajaran
Kurikulum Pembelajaran
Kurikulum Pembelajaran
Kurikulum Pembelajaran
Kurikulum Pembelajaran
Kurikulum Pembelajaran
Kurikulum Pembelajaran
Kurikulum Pembelajaran
Kurikulum Pembelajaran
Kurikulum Pembelajaran
Kurikulum Pembelajaran
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Kurikulum Pembelajaran

8,624

Published on

Published in: Spiritual, Technology
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
8,624
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
274
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. GURU INDONESIA DAN PERUBAHAN KURIKULUM PENGARANG :Dr. BEDJO SUJANTO, M.Pd. PENERBIT :CV.SAGUNG SETO TAHUN TERBIT :2007 JUMLAH HALAMAN :162 NAMA :PIDIANI
  • 2. BAGIAN I <ul><li>PENDAHULUAN </li></ul><ul><li>Hampir semua guru jenuh, bosan, apatis melihat berbagai perubahan kebijakan di bidang pendidikan. Banyak kebijakan yang terbengkalai, karena tidak tuntas dilaksanakan. Kalau dicermati selama 30 tahun terakhir, berbagai perubahan kebijakan dibuat, namun setiap kali pelaksanaan kebijakan itu belum terevaluasi secara memadai, muncul lagi perubahan dan kebijakan baru . </li></ul>
  • 3. Pengalaman dan pengetahuan dari sedikit orang yang belum tentu cukup memadai tentang apa yang dilihat di negeri orang, menjadi tidak signifikan untuk mengubah peta pendidikan nasional. Kebijakan yang terus berubah walaupun dengan perencanaan matang, namun hal ini cukup membuat para guru dan pelaksanaan pendidikan resah, bosan, dan akhirnya lebih bersikap diam, apatis dan membiarkan perubahan itu tanpa kritik apapun .
  • 4. Misal : Kurikulum 1968, diubah menjadi kurikulum 1975,diganti lagi menjadi kurikulum 1984, lalu diubah menjadi kurikulum 1994, ada lagi kurikulum suplemen 1998,ada kurikulum 2004 (KBK) yang disiapkan untuk membuat para lulusan yang terampil dan cerdas. Tradisi sepuluh tahun perubahan kurikulum yang tidak dibarengi dengan evaluasi dan riset yang cermat mulai kandas lagi, karena tahun2006 lahir lagi KTSP (kurikulum tingkat satuan pendidikan)
  • 5. BAGIAN II MRMBANGUN TRADISI BELAJAR <ul><li>Tradisi belajar tuntas </li></ul><ul><li>Keluhan masyarakat tentang guru </li></ul><ul><li>Keluhan masyarakat tentang pembelajaran </li></ul><ul><li>Proses belajar setengah hati </li></ul><ul><li>Membangun kesadaran </li></ul><ul><li>Kekecewaan : Menengok kualitas belajar </li></ul><ul><li>Pendidikan untuk semua </li></ul><ul><li>Menuju guru profesional </li></ul>
  • 6. Refleksi 1. Tradisi belajar tuntas Perubahan untuk masa depan yang lebih baik mesti disiapkan pasukan terdepan di-‘akar rumput’ yaitu guru dan staf pendukungnya. Prakondisi ,sebuah pembentukan sikap dan sekaligus melatihnya, agar pelaksana terdepan tersebut benar-benar memahami tujuan dan arah dari perubahan yang dilakukan. Perhatikan kondisi eksisting di lapangan, harus dibuat sampai tuntas betul.
  • 7. 2. Keluhan masyarakat tentang guru Banyak sekali masyarakat mengeluh terhadap kinerja guru,mengangap guru kurang mampu belajar dengan baik. Kondisi seperti ini tidak disebabkan oleh guru melainkan faktor dilingkungan sekolah yang menyebabkan kondisi guru seperti ini. Missal : insentif guru yang rendah sehingga banyak guru kehidupannya belum layak, menyebabkan profesi guru bukan pilihan utama para pemuda yang cerdas
  • 8. 3. Keluhan Masyarakat Tentang Pembelajaran Pembelajaran sebagai proses interaksi guru dan murid (di sekolah) peserta didik dengan pendidik atau pembimbingnya di rumah. Guru diposisikan seperti pegawai kantor lain yang lebih berfungsi sebagai tenaga administratif ketimbang sebagai insan akademik, dimana guru hanya tunduk kaku kepada birokrasi pendidikan. Guru harus banyak belajar tentang model-model pembelajaran mutakhir yang ditulis para ahli pendidikan dari Indonesia maupun luar negeri.
  • 9. 4.Proses Belajar Setengah Hati KBK pada awalnya disiapkan untuk mampu menjawab tantangan pendidikan, karena KBK mengharuskan siswa dan guru sama-sama aktif terlibat dalam proses pembelajaran. Komponen penilaiannya tidak terbatas pada hasil ujian,tetapi dari karya-karya siswa serta kegiatan yang ditampilkan selama pembelajaran berlangsung. Tetapi KBK tidak berlaku karena akan diganti dengan KTSP. Perubahan terdahulu pun belum tuntas sudah masuk ke perubahan yang berikutnya. Perubahan setengah hati yang berdampak pada perubahan proses pembelajaran yang setengah-setengah.
  • 10. 5.Membangun Kesadaran Tidak usah mencari kambing hitam, tetapi mengedepankan ‘Kesadaran’keliru memahami proses pendidikan. Kesadaran merupakan landasan untuk memperbaiki proses pendidikan kedepan, yang tidak lagi hanya setengah hati. Belajar adalah upaya manusia untuk menjadi pandai, cerdas, dalam berfikir,dan terampil dalam bekerja. Jadi kesadaran memaknai belajar harus tumbuh dari si pembelajar, para orang tua, serta guru.
  • 11. 6. Kekecewaan : Menengok Kualitas Hasil Belajar Pro-kontrs Ujian Nasional (UN) merupakan salah satu ekspresi kekecewaan terhadap prestasi sekolah yang selama ini masih rendah. Kualitas pendidikan di Indonesia sering dilihat dari hasil UN atau nilai Raport. Ada juga yang melihat dari banyaknya lulusan dari sekolah pavorit. Seandainya semua murid sekolah di Indonesia kualitasnya baik(baik yang diraih dengan jujur dan obyektif) dan hanya sebagian kecil siswa yang nilainya kurang, maka UN tidak menjadi polemic dan diperdebatkan.
  • 12. 7. Pendidikan untuk Semua(Education for all) Seharusnya guru dapat mendidik anak bangsa dengan kata kunci “kejujuran”. Dengan lahirnya UU No. 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen secercah sinar dan harapan perbaikan nasib guru mulai tampak, sekalipun jalan panjang masih harus dilalui. Pasal 31 ayat 1 sampai 4 UUD 1945 (yang sudah diamandemen), memerintahkan kepada Negara dan Pemerintah Indonesia untuk mengurus pendidikan nasional demi kemajuan dan kecerdasan bangsa. Program wajib belajar harus dibiayai pemerintah, sekurang-kurangnya 20% dari APBN dan APBD.
  • 13. 8. Menuju Guru Profesional Professional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang yang menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran,atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.
  • 14. Menurut UU Nomor 14 tahun 2005 ada 4 kompetensi yang harus dikuasai para guru : <ul><li>Kompetensi Pedagogik yaitu kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik </li></ul><ul><li>Kompetensi Kepribadian yaitu guru memiliki kepribadian yang mantap, dewasa, arif,dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik. </li></ul>
  • 15. <ul><li>Kompetensi Sosial yaitu kemampuan berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik,sesame pendidik,tenaga kependidikan,orang tua peserta didik, dan masyarakat sekitar. </li></ul><ul><li>Kompetensi professional yaitu kemampuan untuk dapat menguasai materi pembelajaran secara luas yang mampu membimbing peserta didik dapat memenuhi kompetensi </li></ul>
  • 16. BAGIAN III KBK : BELAJAR DARI MASA LALU <ul><li>Hakikat KBK </li></ul><ul><li>Beberapa Ciri pembelajaran dengan KBK </li></ul><ul><li>Kurikulum dan hasil belajar </li></ul><ul><li>Prinsip pengembangan kurikulum </li></ul><ul><li>Profesionalisme guru </li></ul>
  • 17. Hakikat KBK KBK berorientasi pada <ul><li>Hasil dan manfaat yang diharapkan muncul pada diri peserta didik setelah melalui serangkaian pengalaman belajar. Artinya : proses belajar yang harus disiapkan oleh guru dan secara signifikan dapat memberikan pengalaman belajar yang positif. </li></ul><ul><li>Keberagaman sesuai dengan latar belakang siswa, lingkungan sekolah, serta kondisi riil guru. Semuanya dapat dimanifestasikan dalam berbagai ragam kegiatan sesuai dengan kebutuhan . </li></ul>
  • 18. 2. Beberapa Ciri Pembelajaran dengan KBK sbb <ul><li>menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa, artinya tingkat ketercapaian siswa dilihat dari kompetensi siswa. </li></ul><ul><li>Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman, artinya bahwa sasaran dari proses pembelajaran adalah hasil belajar atau kompetensi yang baik. </li></ul><ul><li>Penyampaian pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi </li></ul><ul><li>Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi sumber belajar lainnya yang memenuhi unsure edukatif. </li></ul><ul><li>Prinsip penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar. </li></ul>
  • 19. Kurikulum dan Hasil Belajar (K&HB) Kurikulum dan hasil belajar mempunyai dua keistimewaan yaitu : <ul><li>Berbasis kompetensi </li></ul><ul><li>Bahwa seluruh proses pembelajaran difokuskan untuk dapat membentuk dan mengembangkan kompetensisiswa </li></ul><ul><li>Pendekatan menyeluruh </li></ul><ul><li>Bahwa sumber belajar dapat menggunakan semua sumber dari lingkungan sekolah yang dipandang layak sebagai sumber belajar. </li></ul>
  • 20. Prinsip Pengembangan Kurikulum Ada 9 prinsip yaitu : <ul><li>Keimanan,nilai,dan budi pekerti luhur. </li></ul><ul><li>Penguatan identitas sosial </li></ul><ul><li>Keseimbangan etika,logika,estetika,kinestetika. </li></ul><ul><li>Kesamaan memperoleh kesempatan </li></ul><ul><li>Adaptasi terhadap abad pengetahuan dan teknologi informasi </li></ul><ul><li>Mengembangkan keterampilan Hidup </li></ul><ul><li>Belajar sepanjang hayat </li></ul><ul><li>Berpusat kepada anak drngan penilaian yang berkelanjutan dan bersifat komperehensif. </li></ul><ul><li>Pendekatan menyeluruh dan kemitraan. </li></ul>
  • 21. Profesionalisme Guru <ul><li>Guru selalu membuat perencanaan mengajar yang kongkret dan rinci. </li></ul><ul><li>Guru berusaha menempatkan siswa sebagai subyek belajar, guru sebagai pelayan, fasilitator, dan mitra siswa </li></ul><ul><li>Guru dapat bersikap kritis, teguh, dalam membela kebenaran dan bersifat inovatif </li></ul><ul><li>Guru juga bersipat dinamis dalam mengubah pola pembelajaran </li></ul><ul><li>Guru juga berani meyakinkan pihak lain (kepala sekolah, orangtua,dan masyarakat) tentang rancangan inovasi yang akan dilakukan dengan argumentasi yang logis-kritis </li></ul><ul><li>Guru harus kreatif membangun dan menghasilkan karya pendidikan </li></ul>
  • 22. REFLEKSI <ul><li>KBK dikenal berdasarkan prinsip ‘kesatuan dalam kebijakan dan keberagaman dalam pelaksanaan. Artinya : sekalipun kurikulum ditetapkan oleh pusat, namun dalam pelaksanaan disesuaikan keadaan yang nyata disekolah. </li></ul>
  • 23. BAGIAN IV Kurikulum Sekolah menuju Pembelajaran Tuntas <ul><li>Menghilangkan kecemasn menghadapi UN </li></ul><ul><li>2.Kualitas Pendidikan Sebagai Efek atau Tujuan. </li></ul><ul><li>Penyelenggaraan Pendidikan yang Efektif </li></ul><ul><li>Membangun Sistem Penyelenggaran Pendidikan Yang bermutu </li></ul>
  • 24. 1. Menghilangkan kecemasn menghadapi UN Sekolah-sekolah yang dikemudikan oleh para guru yang handal, pelan tapi pasti. Semua guru dan muridnya dan bahkan lulusannya akan memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Jika semua sekolah dapat melaksanakan pembelajaran tuntas, yakni dengan target semua anak menguasai meteri belajar sesuai dengan kecepatan dan cara belajar mereka, maka kondisi cemas menghadapi UN dan menjadi pengangguran dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan
  • 25. 2.Kualitas Pendidikan Sebagai Efek atau Tujuan. Yang harus ditata bukan mutunya, melainkan proses pembelajaran yang baik dan tuntas, dimana belajar bukan lagi menghabiskan kurikulum tertulis, melainkan penguasaan semua bahan ajar dengan baik sesuai dengan kurikulum
  • 26. 3. Penyelenggaraan Pendidikan yang Efektif Perlunya satuan pendidikan melaksanakan Manajemen Mutu terpadu, termasuk di dalamnya Sistem Jaminan Mutu Pendidikan untuk menjamin agar mutu pendidikan dapat dipertahankan sesuai yang direncanakan. Mutu pendidikan adalah pencapaian tujuan pendidikan dan kompetensi yang telah ditetapkan oleh institusi pendidikan. Jaminan Mutu adalah keseluruhan aktivitas dalam berbagai bagian dari system untuk memastikan bahwa mutu produk yang dihasilkan selalu konsisten, sesuai yang direncanakan.
  • 27. 4.Membangun Sistem Penyelenggaran Pendidikan Yang bermutu Tips untuk para guru menyikapi perubahan kurikulum, ada 4 prinsif yakni : <ul><ul><li>Goal/tujuan yang akan dicapai melalui proses pembelajaran </li></ul></ul><ul><ul><li>Bagaimana cara mencapai goal yakni berupa metode pembelajaran yang harus dipilih oleh pendidik. </li></ul></ul><ul><ul><li>Materi atau bahan ajar yang disiapkan untuk mewujudkan goal tersebut. </li></ul></ul><ul><ul><li>Evaluasi yaitu alat untuk mengetahui apakah goal/tujuan sudah tercapai atau belum. </li></ul></ul>
  • 28. REFLEKSI <ul><li>Bahwa guru yang cerdas akan secara adaftif siap mengikuti berbagai perubahan termasuk lahirnya KTSP. Pada dasarnya kurikulum terdiri dari : goal,method,content dan evaluasi. Dan untuk menjadi guru cerdas dan kreatif, dibutuhkan kemauan belajar keras dan kerja kreatif,jangan pernah berhenti belajar. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang dapat menghasilkan peserta didik yang memiliki kemampuan, wawasan, dan keterampilan sesuai dengan standar yang ditetapkan, sehingga memiliki peluang yang cukup untuk berkompetisi di pasar kerja manapun </li></ul>
  • 29. TERIMA KASIH

×