Bab 1 (repaired)
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Bab 1 (repaired)

on

  • 1,240 views

desain

desain

Statistics

Views

Total Views
1,240
Views on SlideShare
1,240
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
57
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Bab 1 (repaired) Bab 1 (repaired) Document Transcript

  • BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dengan perkembangan teknologi di era modern ini, teknologi sudah digunakan sebagai media untuk mempermudah pekerjaan manusia. Persaingan telah memacu perkembangan teknologi sehingga begitu banyak inovasi yang dilakukan untuk dapat tetap bersaing dengan kebutuhan pasar. Salah satu teknologi paling berkembang pesat adalah teknologi 3 dimensi, teknologi yang paling menarik perhatian dalam penyampaian pada khalayak umum. Augmented Reality adalah teknologi yang menggabungkan benda maya 2 dimensi dan ataupun 3 dimensi ke dalam sebuah lingkungan nyata 3 dimensi lalu memproyeksikan benda-benda maya tersebut dalam waktu nyata. Tidak seperti realitas maya yang sepenuhnya menggantikan kenyataan, namun Augmented Reality hanya menambahkan atau melengkapi kenyataan. Perkembangan teknologi Augmented Reality juga sudah menyentuh banyak bidang. Begitu juga dalam dunia bisnis, seperti promosi perusahaan. Di kota Tuban saat ini terdapat beberapa perusahaan properti yang melakukan promosi perumahan. Selama ini bentuk promosi perumahan umumnya hanya menggunakan katalog manual berisi gambar dan miniatur rumah yang sudah sering dipakai. Bentuk promosi seperti itu kurang memungkinkan konsumen untuk melihat secara detail bentuk serta isi rumah, apalagi bila konsumen tidak mengunjungi lokasi perumahan langsung. Dengan adanya teknologi Augmented Reality, perusahaan dapat memanfaatkan teknologi ini untuk 1 1
  • kegiatan promosi dengan mempresentasikan secara virtual 3 dimensi dan realtime yang interaktif mengenai rumah yang mereka promosikan, sehingga konsumen lebih paham dan mengerti tentang produk perusahaan. Dengan menggunakan teknologi Augmented Reality dalam promosi produk, diharapkan dapat menarik minat konsumen dan konsumen dapat mengerti tentang produk yang dipresentasikan terutama untuk hal yang tidak dapat disentuh dan disaksikan secara langsung. Saat ini telah banyak aplikasi yang telah digunakan untuk membangun Augmented Reality, dengan menggunakan perangkat keras kamera atau webcame yang digunakan untuk menangkap gambar yang kemudian diterjemahkan oleh aplikasi yang telah dikenalkan oleh marker atau penanda dan kemudian menampilkan objek yang dipasangkan dengan marker. Berdasarkan hal tersebut, penulis mencoba membuat aplikasi Augmented Reality dengan miniatur rumah yang dijadikan objek 3 dimensi dan katalog sebagai marker atau penanda dengan memanfaatkan kamera Android sebagai media implementasi sehingga promosi produk lebih efisien dan menarik minat pembeli. 2
  • 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana menjadikan miniatur rumah sebagai objek 3 dimensi? 2. Bagaimana cara mengidentifikasi marker agar dapat dideteksi oleh kamera Android? 3. Bagaimana cara menampilkan objek 3D tertentu sesuai dengan marker yang dideteksi kamera Android? 1.3 Batasan Masalah Penulis membuat batasan masalah yang akan dijadikan pedoman dalam pelaksanaan skripsi, yaitu: 1. Objek 3 dimensi yang dibuat sebanyak 10 yaitu rumah tipe Anggrek, Bougenville, Edelweis, Magnolia dan Ruko bagian dalam serta rumah tipe Anggrek, Bougenville, Edelweis, Magnolia dan Ruko bagian luar. 2. Marker yang digunakan berupa katalog promosi. 3. Aplikasi dibanggun menggunakan library Augmented reality Qualcomm (Vuforia). 4. Aplikasi ini dibuat untuk Smartphone Android versi 2.2 (Froyo) keatas. 5. Menggunakan kamera Android yang ber-spesifikasi ARmv7 3
  • 1.4 Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merancang dan membuat aplikasi Augmented Reality yang dapat dijalankan menggunakan kamera Android, dengan rumah sebagai objek 3 dimensi dan katalog perumahan sebagai marker. 1.5 Manfaat Penelitian 1. Bagi pengguna Aplikasi yang akan dirancang dan dibangun ini dapat membantu memudahkan pengguna untuk menemukan informasi detail perumahan sehingga promosi dapat terlihat menarik dan minat pembeli untuk membeli rumah. 2. Bagi peneliti Digunakan sebagai skripsi untuk memenuhi syarat kelulusan Sarjana Teknik Informatika, Universitas PGRI Ronggolawe Tuban. 1.6 Melodologi Penelitian Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini terdiri dari langkahlangkah berikut: 1. Pengumpulan data Pengumpulan data untuk penelitian ini dilakukan studi pustaka atau literatur yaitu pengumpulan data dengan membaca buku-buku referensi yang terkait dengan penelitian ini. Studi pustaka antara lain mencari jurnal-jurnal tentang Augmented Reality dan melakukan wawancara kepada pegawai PT. Gunabakti Permai yang menangani bidang promosi. 4
  • 2. Analisis sistem aplikasi Pada tahap ini akan dilakukan analisa kebutuhan perangkat lunak yang akan dikembangkan. Yaitu dengan pembuatan spesifikasi kebutuhan perangkat lunak dan apa saja yang dibutuhkan untuk merancang dan membangun aplikasi. 3. Desain sistem aplikasi Pada tahap ini dilakukan perancangan model perangkat lunak yang akan dikembangkan. Yaitu menggunakan aplikasi SkechtUP untuk pembuatan objek, menggunakan library Augmented Reality Qualcomm (Vuforia), Vuforia AR Extension Unity dan Android SDK. 4. Implementasi sistem Pada tahap ini dilakukan proses merealisasikan rancangan sistem dengan menggunakan bahasa pemrograman atau alat bantu berupa framework aplikasi sehingga sistem dapat dipergunakan/dioperasikan sesuai dengan yang diharapkan. 5. Pengujian sistem aplikasi Pada tahap ini akan dilakukan proses pengujian sistem aplikasi yang telah dikembangkan. Pengujian yang dilakukan adalah menguji pendeteksian dengan berbagai macam denah rumah. 6. Pembuatan laporan skripsi. Pada tahap ini dilakukan pembuatan pembukuan dari awal sampai akhir penelitian. 5
  • 1.7 Sistematika Penulisan Pembahasan penulisan dibagi dalam 5 bab dimana masing-masing bab ini saling berhubungan. Sistematika penulisan sebagai berikut : BAB I : Pendahuluan Bab ini membahas tentang latar belakang, permasalahan, batasan masalah, tujuan, metodelogi penelitian serta sistematika penulisan yang menjelaskan secara singkat dari setiap bab yang ada. BAB II : Landasan Teori Bab ini membahas secara singkat teori-teori yang mendasari proses perancangan dan pembuatan sistem yang meliputi gambaran umum tentang Augmented Reality, Marker dan teori-teori lain yang berhubungan dengan pembuatan aplikasi. BAB III : Perancangan Sistem Bab ini membahas tentang gambaran umum sistem, rancangan tampilan user-interface sistem dan alur analisis yaitu use case diagram dan flowchart dari sistem yang akan dibuat. BAB IV : Implementasi dan Analisis Bab ini berisi tentang uji coba program pada smartphone OS Android, menganalisa aplikasi, membahas tahapan-tahapan dalam proses penggunaan aplikasi dan melihat kekurangan-kekurangan pada aplikasi untuk pengembangan sistem selanjutnya. BAB V : Penutup Bab ini tentang kesimpulan dan saran yang di dapat dari hasil penelitian penulis. 6
  • BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Teknologi Multimedia Multimedia adalah penggunaan komputer untuk menyajikan dan menggabungkan teks, suara, gambar, animasi, audio dan video dengan alat bantu (tool) dan koneksi (link) sehingga pengguna dapat melakukan navigasi, berinteraksi, berkarya dan berkomunikasi. Multimedia sering digunakan dalam dunia informatika. Selain dari dunia informatika, Multimedia juga diadopsi oleh dunia game, dan juga untuk membuat website. Multimedia dimanfaatkan juga dalam dunia pendidikan dan bisnis. Di dunia pendidikan, multimedia digunakan sebagai media pengajaran, baik dalam kelas maupun secara sendiri-sendiri atau otodidak. Di dunia bisnis, multimedia digunakan sebagai media profil perusahaan, profil produk, bahkan sebagai media kios informasi dan pelatihan dalam sistem e-learning. Pada awalnya multimedia hanya mencakup media yang menjadi konsumsi indra penglihatan (gambar diam, teks, gambar gerak video, dan gambar gerak rekaan/animasi), dan konsumsi indra pendengaran (suara) dan juga berupa . Dalam perkembangannya multimedia mencakup juga kinetik (gerak) dan bau yang merupakan konsupsi indra penciuman. Multimedia mulai memasukkan unsur kinetik sejak diaplikasikan pada pertunjukan film 3 dimensi yang digabungkan dengan gerakan pada kursi tempat duduk penonton. Kinetik dan film 3 dimensi membangkitkan senserealistis. (Wikipedia, diakses 17 Januari 2014) 7 7
  • 2.1.1 Teknologi 3 Dimensi Grafik komputer 3D merupakan suatu grafis yang menggunakan 3 titik perspektif dengan cara matematis dalam melihat suatu objek, dimana gambar tersebut dapat dilihat secara menyeluruh dan nyata. Obyek 3-D adalah sekumpulan titik-titik 3-D (x,y,z) yang membentuk luasan-luasan (face) yang digabungkan menjadi satu kesatuan. Face adalah gabungan titik-titik yang membentuk luasan tertentu atau sering dinamakan dengan sisi. Gambar 2.1 Contoh Objek 3D (kubus) Untuk model animasi 3D, objek atau model tersebut dibuat dengan komputer dengan menggunakan software tertentu, seperti 3Ds max, Blender, Auto Cad, SkecthUp atau lainnya, yang kemudian dirangkakan dengan tulang rangka virtual untuk membuat efek 3 dimensi nya. 2.2 Teknologi Augmented Reality Augmented Reality adalah teknologi yang menggabungkan benda maya 2 dimensi dan ataupun 3 dimensi ke dalam sebuah lingkungan nyata 3 dimensi lalu memproyeksikan benda-benda maya tersebut dalam waktu nyata. Tidak seperti realitas maya yang sepenuhnya menggantikan kenyataan, namun Augmented 8
  • Reality hanya menambahkan atau melengkapi kenyataan. (Wikipedia, diakses 02 September 2013) Benda-benda maya menampilkan informasi yang tidak dapat diterima oleh pengguna dengan inderanya sendiri. Hal ini membuat Augmented Reality sesuai sebagai alat untuk membantu persepsi dan interaksi penggunanya dengan dunia nyata. Informasi yang ditampilkan oleh benda maya membantu pengguna melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam dunia nyata. Augmented Reality pada dasarnya adalah sebuah konsep yang mencitrakan gambar 3 dimensi yang seolah nyata. Proses ini bisa dirincikan menjadi beberapa proses dan komponen. Untuk mencitrakan gambar 3 dimensi tersebut, sistem Augmented Reality terlebih dahulu harus melakukan penglihatan terhadap lingkungan yang padanya akan dicitrakan objek virtual. Kemudian, dilakukanlah proses tracking terhadap objek spesifik yang menentukan letak citraan objek virtual tersebut. Kemudian, objek tersebut akan dikenali, atau dianalisis. Setelah dikenali dan dianalisis posisi dan orientasinya, maka komputer akan melakukan proses pencitraan objek tersebut, dan akan tampak pada perlengkapan display. Komponen penting yang harus ada adalah: a. Perlengkapan tampilan (display) b. Alat tracking (pencarian) c. Peralatan input d. Perangkat komputer Perlengkapan tampilan digunakan untuk menampilkan 'informasi' gambar atau objek 3 dimensi yang dicitrakan terhadap dunia nyata tempat user melihat. Perlengkapan tampilan terbagi menjadi 3 jenis, yakni Head Mounted Display, 9
  • Handheld Display, dan Spatial Display. Head Mounted Display adalah perlengkapan tampilan yang dikenakan di kepala user dan digunakan sebagai 'kacamata' untuk melihat dunia nyata, yang telah digabungkan dengan objek virtual yang telah diregistrasikan dalam sistem, Handheld Display adalah perlengkapan ringkas yang dapat dibawa-bawa ke mana saja dan dapat dimuat ditangan. Contohnya adalah smartphone dan android phone. Spatial Display adalah sistem pencitraan yang menggunakan proyektor digital untuk mempetakan informasi grafis pada objek fisik. Yang paling membedakan Spatial Display adalah bahwa pencitraannya tidak terasosiasi dengan setiap individu user, namun secara berkelompok. Tracking biasanya dilakukan dengan teknologi-teknologi menangkap gambar, misalnya dengan kamera digital, sensor optis lainnya, GPS, kompas, dan lain sebagainya. Selain itu, alat tracking yang sekarang meningkat popularitasnya adalah webcam, karena praktis, kecil, mudah dibawah dan diatur untuk dijalankan. Peralatan input hingga sekarang ini masih banyak menjadi objek penelitian. Hingga saat ini, alat yang digunakan mencakup alat 'pinch glove', tongkat bertombol, atau peralatan handheld seperti smartphone. Perangkat komputer, terutama dengan CPU yang kuat dan jumlah RAM yang cukup besar untuk memproses gambar yang ditangkap. Sistem yang digunakan untuk mobilitas biasanya menggunakan laptop yang dilengkapi dengan webcam, sementara untuk yang bersifat diam menggunakan workstation dengan kartu grafis yang kuat. 10
  • 2.2.1 Pemanfaatan Augmented Reality Sebagai Pengenal Objek Seiring berkembangnya teknologi pemanfaatan Augmented Reality pun mengalami perkembangan. Sebelumnya teknologi 3 dimensi digunakan hanya dalam pembuatan film-film ataupun iklan pada televisi, dan sekarang pemanfaatan tersebut telah dikembangkan untuk berbagai keperluan yang lebih luas seperti media promosi, media pembelajaran, pengenalan objek, sebuah prototype modeling ataupun presentasi rancang bangun. Pengguna memilih sudut pandang sesuai dengan kegiatan yang dilakukannya. Augmented Reality memungkinkan pengguna secara realtime mendapatkan tentang informasi dari suatu objek melalui kamera ponsel. Hal ini membuat Augmented Reality sesuai sebagai alat untuk membantu persepsi dan interaksi penggunanya dengan dunia nyata. Informasi yang ditampilkan oleh benda maya membantu pengguna melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam dunia nyata. 2.2.2 Metode Augmented Reality Ada beberapa metode yang digunakan pada Augmented Reality salah satunya adalah Marker Based Tracking. 1. Marker Augmented Reality (Marker Based Tracking) Marker biasanya merupakan ilustrasi hitam dan putih persegi dengan batas hitam tebal dan latar belakang putih. Computer akan mengenali posisi dengan dan orientasi marker dan menciptakan dunia virtual 3D yaitu titik (0,0,0) dan 3 sumbu yaitu X, Y, dan Z. Marker Based Tracking ini sudah lama 11
  • dikembangkan sejak 1980-an dan pada awal 1990-an mulai dikembangkan untuk penggunaan Augmented Reality. Gambar 2.2 Marker Based Tracking 2. Markerless Augmented Reality Salah satu metode Augmented Reality yang saat ini sedang berkembang adalah metode Markerless Augmented Reality, dengan metode ini pengguna tidak perlu lagi menggunakan sebuah marker untuk menampilkan elemenelemen digital. Seperti yang saat ini dikembangkan oleh perusahaan augmented aeality terbesar di dunia Total Immersion dan Qualcomme, mereka telah membuat berbagai macam teknik Markerless Tracking sebagai teknologi andalan mereka, seperti Face Tracking, 3D Object Tracking, dan Motion Tracking. a. Face Tracking Dengan menggunakan algoritma yang mereka kembangkan, komputer dapat mengenali wajah manusia secara umum dengan cara mengenali posisi mata, hidung, dan mulut manusia, kemudian akan mengabaikan objek-objek lain di sekitarnya seperti pohon, rumah, dan benda-benda lainnya. Teknik ini pernah digunakan di Indonesia pada Pekan Raya Jakarta 2010 dan Toy Story 3 Event. 12
  • Gambar 2.3 Face Tracking b. 3 Dimensi Object Tracking Berbeda dengan Face Tracking yang hanya mengenali wajah manusia secara umum, teknik 3D Object Tracking dapat mengenali semua bentuk benda yang ada disekitar, seperti mobil, meja, televisi, dan lain-lain. c. Motion Tracking Pada teknik ini komputer dapat menangkap gerakan, Motion Tracking telah mulai digunakan secara ekstensif untuk memproduksi film-film yang mencoba mensimulasikan gerakan. 3. GPS Based Tracking Teknik GPS Based Tracking saat ini mulai populer dan banyak dikembangkan pada aplikasi smartphone (iPhone dan Android). Dengan memanfaatkan fitur GPS dan kompas yang ada didalam smartphone, aplikasi akan mengambil data dari GPS dan kompas kemudian menampilkannya dalam bentuk arah yang kita inginkan secara realtime, bahkan ada beberapa aplikasi menampikannya dalam bentuk 3D. Salah satu pelopor GPS Based Tracking adalah aplikasi yang bernama Layar. 13
  • 2.3 Vuforia SDK Vuforia adalah Augmented Reality Software Development Kit (SDK) untuk perangkat mobile yang memungkinkan pembuatan aplikasi Augmented Reality. Dulunya lebih dikenal dengan QCAR (Qualcomm Company Augmentend Reality). Ini menggunakan teknologi Computer Vision untuk mengenali dan melacak gambar planar (Target Image) dan objek 3D sederhana, seperti kotak, secara realtime. Kemampuan registrasi citra memungkinkan pengembang untuk mengatur posisi dan virtual orientasi objek, seperti model 3D dan media lainnya, dalam kaitannya dengan gambar dunia nyata ketika hal ini dilihat melalui kamera perangkat mobile. Obyek maya kemudian melacak posisi dan orientasi dari gambar secara real-time sehingga perspektif pengguna pada objek sesuai dengan perspektif mereka pada Target Image, sehingga muncul bahwa objek virtual adalah bagian dari adegan dunia nyata. SDK Vuforia mendukung berbagai jenis target 2D dan 3D termasuk Target Gambar 'markerless', 3D Multi target konfigurasi, dan bentuk Marker Frame. Fitur tambahan dari SDK termasuk Deteksi Oklusi local menggunakan 'Tombol virtual', runtime pemilihan gambar target, dan kemampuan untuk membuat dan mengkonfigurasi ulang set pemrograman pada saat runtime. Vuforia menyediakan Application Programming Interfaces (API) di C++, Java, Objective-C. SDK mendukung pembangunan untuk IOS dan Android menggunakan Vuforia karena itu kompatibel dengan berbagai perangkat mobile termasuk iPhone (4/4S), iPad, dan ponsel Android dan tablet yang menjalankan Android OS versi 2.2 atau yang lebih besar dan prosesor 14
  • ARMv6 atau 7 dengan FPU (Floating Point Unit ) kemampuan pengolahan. (Wikipedia, diakses 20 Agustus 2013) Dengan support untuk iOS, Android, dan Unity3D, platform Vuforia mendukung para pengembang untuk membuat aplikasi yang dapat digunakan di hampir seluruh jenis smartphone dan tablet. (developer.qualcomm.com, diakses 20 Agustus 2013) Pengembang juga diberikan kebebasan untuk mendesain dan membuat aplikasi yang mempunyai kemampuan antara lain : 1. Teknologi computer vision tingkat tinggi yang mengijinkan developer untuk membuat efek khusus pada mobile device. 2. Terus-menerus mengenali multiple image. 3. Tracking dan Detection tingkat lanjut. 4. Dan solusi pengaturan database gambar yang fleksibel. Diagram dibawah ini memberikan gambaran tentang proses pengembangan aplikasi dengan platform Vuforia. Platform ini terdiri dari Vuforia Engine (dalam SDK), Sistem manajemen sasaran host di portal pengembang (Target Manager), dan opsional, Database Cloud Target. Gambar 2.4 Vuforia Structure 15
  • 1. Seorang pengembang meng-upload gambar input untuk target traking atau target melacak. Hasil target kemudian dapat diakses oleh aplikasi mobile dalam 2 cara : a. Diakses dari cloud target database menggunakan web services. b. Download dalam perangkat target database yang akan dibundel dengan aplikasi mobile. 2. Untuk text recognition, pengembang dapat menentukan satu set kata-kata yang dikenali oleh Vuforia, dengan menggunakan set data teks berikut: a. Word lists format biner VWL ( Vuforia Word List ). b. Word lists tambahan, yang dapat ditentukan melalui file teks sederhana. c. Word lists opsional filter (black or white lists) untuk secara eksplisit mencakup / mengecualikan pengakuan kata-kata tertentu. 3. Word lists and filter files yang digabungkan dengan aplikasi mobile dan dimuat pada runtime dengan menggunakan Vuforia API . 4. Vuforia Engine menyediakan library (shared object - libQCAR.so pada Android, statis library - libQCAR.a pada IOS ) yang harus dikaitkan dengan app. Vuforia mendukung upaya pengembangan dengan hal-hal berikut : a. Menyediakan (Android, iOS, Unity Ekstensi) untuk mengatur pengembangan pada platform yang berbeda (Windows, MacOS, Linux). b. Menyediakan perangkat SDK untuk (Android, iOS ) dan Extensions untuk (Unity Ekstensi). c. Peralatan dan jasa (Target Manajer web UI, Pan2n Pengembang, Web Services Vuforia). 16
  • d. Menyediakan contoh aplikasi dan video tutorial. e. Dukungan forum (didedikasikan insinyur dukungan teknis, ribuan posting, FAQ). Target pada vuforia merupakan objek pada dunia nyata yang dapat dideteksi oleh kamera, untuk menampilkan objek virtual. Beberapa jenis target pada vuforia adalah : 1. Image targets, contoh : foto, papan permainan, halaman majalah, sampul buku, kemasan produk, poster, kartu ucapan. Jenis target ini menampilkan gambar sederhana dari Augmented. 2. Frame markers, tipe frame gambar 2D dengan pattern khusus yang dapat digunakan sebagai potongan permainan di permainan pada papan. 3. Multi-target, contohnya kemasan produk atau produk yang berbentuk kotak ataupun persegi. Jenis ini dapat menampilkan gambar sederhana Augmented 3D. 4. Virtual buttons, yang dapat membuat tombol sebagai daerah kotak sebagai sasaran gambar. Pada Vuforia, ada 2 jenis workflow dengan dasar database yang dapat dipilih oleh developer, yaitu Cloud Database dan Device Database. Pada penelitian ini, untuk perancangan dan pembuatan Augmented reality berbasis Android akan menggunakan perangkan Vuforia SDK yang ber-estensi unity atau disebut Vuforia AR Extension Unity. 17
  • 2.3.1 Arsitektur Vuforia Vuforia SDK memerlukan beberapa komponen penting agar dapat bekerja dengan baik. Komponen - komponen tersebut antara lain: 1. Kamera Kamera dibutuhkan untuk memastikan bahwa setiap frame ditangkap dan diteruskan secara efisien ke tracker. Para developer hanya tinggal memberi tahu kamera kapan mereka mulai menangkap dan berhenti. 2. Image Converter Mengkonversi format kamera (misalnya YUV12) kedalam format yang dapat dideteksi oleh OpenGL (misalnya RGB565) dan untuk tracking (misalnya luminance). 3. Tracker Mengandung algoritma computer vision yang dapat mendeteksi dan melacak objek dunia nyata yang ada pada video kamera. Berdasarkan gambar dari kamera, algoritma yang berbeda bertugas untuk mendeteksi trackable baru, dan mengevaluasi virtual button. Hasilnya akan disimpan dalam state object yang akan digunakan oleh video background renderer dan dapat diakses dari application code. 4. Video Background Renderer Me-render gambar dari kamera yang tersimpan di dalam state object. Performa dari video background renderer sangat bergantung pada device yang digunakan. 18
  • 5. Application Code Menginisialisasi semua komponen di atas dan melakukan 3 tahapan penting dalam application code seperti: a. Query state object pada target baru yang terdeteksi atau marker. b. Update logika aplikasi setiap input baru dimasukkan. c. Render grafis yang ditambahkan (augmented). 6. Target Resources Dibuat menggunakan on-line Target Management System. Assets yang diunduh berisi sebuah konfigurasi xml - config.xml – yang memungkinkan developer untuk mengkonfigurasi beberapa fitur dalam trackable dan binary file yang berisi database trackable. 2.3.2 Vuforia AR Extension Unity Vuforia AR Extension Unity adalah SDK extension dari Vuforia. Vuforia AR Extension Unity memungkinkan pengembang untuk membangun aplikasi Augmented Reality dengan mesin cross-platform game popular Unity3D. Untuk menggunakan Vuforia AR Extension Unity, pengembang harus terlebih dahulu menginstal aplikasi Unity3D untuk android atau IOS. Vuforia AR kompatibel dengan Unity Standard ataupun Unity Pro. 2.3.3 Vuforia API Reference Unity Extension API Reference berisi tentang hirarki kelas dan fungsi anggota dari vuforia SDK untuk unity extension. Gambaran dari vuforia SDK untuk unity extension ini dapat ditampilkan seperti pada gambar 2.5 yang menyediakan : 19
  • 1. Pengintegrasian script di unity (contoh : QCARBehaviour script yang menangani pelacakan dan memicu latar belakang video asli rendering) 2. High-level access ke perangkat keras atau hardware (contoh: Camera start/stop) 3. Multiple trackables seperti Image Targets, Multi Targets, Cylinder Targets, Word Targets, dan Frame Markers, 4. Berinteraksi dengan dunia nyata seperti Virtual Buttons Gambar 2.5 Sistem High-level Vuforia SDK untuk Unity Extension 2.4 Sistem Operasi Android Android adalah sistem operasi untuk telepon mobile yang berbasis Linux yang mencakup sistem opersi, middleware dan aplikasi. Android menyediakan platform terbuka bagi para pengembang untuk menciptakan aplikasi mereka sendiri untuk digunakan oleh bermacam peranti bergerak. Awalnya, Google Inc. membeli Android Inc., pendatang baru yang membuat peranti lunak untuk ponsel. Kemudian untuk mengembangkan Android, dibentuklah Open Handset Alliance, konsorsium dari 34 perusahaan peranti keras, peranti lunak, dan telekomunikasi, 20
  • termasuk Google, HTC, Intel, Motorola, Qualcomme, TMobile, dan Nvidia (Nazruddin S H, 2012 : 01). Terdapat beberapa versi pada sistem operasi Android yang pernah dirilis adalah sebagai berikut: 1. Android versi 1.1 Pada 09 Maret 2009, Google merilis Android versi 1.1. android ini dilengkapi dengan pembaharuan estetis pada aplikasi, jam, alarm, voice search (pencarian suara), pengiriman pesan dengan Gmail dan pemberitahuan email. 2. Android versi1.5 (Cupcake) Dirilis pada pertengahan Mei 2009, terdapat beberapa fitur dalam seluler versi ini yakni kemampuan merekam dan menonton video denan modus kamera, meng-upload video ke Youtube dan gambar ke picasa langsung dari telepon, dukungan Bluetooth A2DP, kemampuan terhubung langsung ke headset Bluetooth, animasi layar dan keyboard pada layar yang dapat disesuaikan dengan sistem. 3. Android versi 1.6 (Donut) Dirilis pada September dengan proses pencarian yang lebih baik disbanding dengan sebelumnya, pengguna baterai indicator dan control applet VPN. 4. Android versi 2.1 (Eclair) Pada 3 Desember 2009, perubahan yang dilakukan adalah pengoptimalan hardware, peningkatan Google Maps 3.1.2, perubahan UI dengan browser baru dan dukungan HTML5, daftar kontak yang baru, dukungan flash untuk kamera 3.2 MP, digital Zoom dan Bluetooth 2.1. 21
  • 5. Android versi 2.2 (Froyo: Frozen Yoghurt) Android Froyo dirilis pada 20 mei 2012. Android versi ini memiliki kecepatan kinerja dan aplikasi 2 sampai 5 kali dari versi-versi sebelumnya. Selain itu ada penambahan fitur-fitur baru seperti dukungan Adobe Flash 10.1, intergrasi V8 JavaScript engine yang dipakai Google Chrome yang mempercepat kemampuan rendering pada browser, pemasangan aplikasi dalam SD Card, kemampuan WiFi Hotspot portabel, dan kemampuan auto update dalam aplikasi Android Market. 6. Android versi 2.3 (GingerBread) Andoid Gingerbread di rilis pada 6 Desember 2010. Perubahan-perubahan umum yang didapat dari Android versi ini antara lain peningkatan kemampuan permainan (gaming), peningkatan fungsi copy paste, layar antar muka (User Interface) didesain ulang, dukungan format video VP8 dan WebM, efek audio baru (reverb, equalization, headphone virtualization, dan bass boost), dukungan kemampuan Near Field Communication (NFC), dan dukungan jumlah kamera yang lebih dari satu. 7. Android versi 3.0 (HoneyComb) Android Honeycomb di rilis pada awal 2012. Merupakan versi Android yang dirancang khusus untuk device dengan layar besar seperti Tablet PC. Fitur baru yang ada pada Android Honeycomb antara lain yaitu dukungan terhadap prosessor multicore dan grafis dengan hardware acceleration. User Interface pada Honeycomb juga berbeda karena sudah didesain untuk tablet. Tablet pertama yang memakai Honeycomb adalah tablet Motorola Xoom yang dirilis bulan Februari 2011. 22
  • 8. Android versi 4.0 ICS (Ice Cream Sandwich) Android Ice Cream Sandwich diumumkan secara resmi pada 10 Mei 2011 di ajang Google I/O Developer Conference (San Francisco). Android Ice Cream Sandwich membawa fitur Honeycomb untuk smartphone serta ada penambahan fitur baru seperti membuka kunci dengan pengenalan wajah, jaringan data pemantauan penggunaan dan kontrol, terpadu kontak jaringan sosial, perangkat tambahan fotografi, mencari email secara offline, dan berbagi informasi dengan menggunakan NFC. 9. Android versi 4.1 Jelly Bean Android Jelly Bean juga diluncurkan pada acara Google I/O 10 Mei 2011 yang lalu. Android versi ini membawa sejumlah keunggulan dan fitur baru, diantaranya peningkatkan input keyboard, desain baru fitur pencarian, UI yang baru dan pencarian melalui Voice Search yang lebih cepat. Versi ini juga dilengkapi Google Now. 10. Android versi 4.2 Jelly Bean Fitur photo sphere untuk panaroma, daydream sebagai screensaver, power control, lock screen widget, menjalankan banyak user (dalam tablet saja), widget terbaru. Android 4.2 Pertama kali dikenalkan melalui LG Google Nexus 4. 23
  • 2.4.1 Android SDK Android SDK (Software Development Kit) adalah tools API (Application Programming Interface) yang diperlukan untuk memulai pengembangan suatu aplikasi pada platform android menggunakan bahasa pemrograman Java. Android merupakan subset perangkat lunak untuk ponsel yang meliputi sistem operasi, middleware dan aplikasi kunci yang direlease oleh Google. Saat ini disediakan Android SDK sebagai alat bantu dan API untuk mulai mengembangkan aplikasi pada platform android menggunakan bahasa pemrograman Java. Sebagai platform aplikasi netral, android memberi anda kesempatan untuk membuat aplikasi yang kita butuhkan yang bukan aplikasi bawaan Handphone/smartphone. Beberapa fitur android yang paling penting adalah: 1. Framework Aplikasi yang mendukung penggantian komponen dan reusable. 2. Mesin Virtual Dalvik dioptimalkan untuk perangkat mobile. 3. Integrated browser berdasarkan engine open source WebKit. 4. Grafis yang dioptimalkan dan didukung oleh libraries grafis 2D, grafis 3D berdasarkan spesifikasi openGL ES 1.0 (Opsionall akselerasi hardware). 5. SQLite untuk menyimpan data. 6. Media support yang mendukunga audio, video dan gambar. 7. Bluetooth, EDGE, 3G dan WIFI (tergantung hardware). 8. Lingkungan development yang lengkap dan kaya termasuk perangkat emulator, tools untuk debugging, profil dan kinerja memori, dan plugin untuk IDE Eclipse. 24
  • 2.4.2 Android Development Tools (ADT) Android Development Tools (ADT) adalah plugin yang didesain untuk IDE Eclipse yang memberikan kita kemudahan dalam mengembangkan aplikasi android dengan menggunakan IDE Eclipse. Dengan menggunakan ADT untuk Eclipse akan memudahkan kita dalam membuat aplikasi project android, membuat GUI aplikasi, dan menambakan komponen-kompenen yang lainnya, begitu juga kita dapat melakukan running aplikasi menggunakan Android SDK melalui Eclipse. Dengan ADT juga kita dapat melakukan pembuatan package android (.apk) yang digunakan untuk distribusi aplikasi android yang kita rancang. Mengembangkan aplikasi android dengan menggunakan ADT di eclipse sangat dianjurkan dan sangat mudah untuk memulai mengembangkan aplikasi android. Versi ADT yang pertama adalah ADT 0.9.4 yang dirilis pada Oktober 2009 dan yang saat ini sudah masuk versi ADT 22.2.1 yang dirilis pada September 2013. Semakin tinggi platform android yang kita gunakan, dianjurkan menggunakan ADT yang lebih terbaru, karena biasanya munculnya platform baru diikuti oleh munculnya versi ADT yang terbaru. Untuk melakukan instalasi ADT di-elipse dapat dilakukan secara on-line maupun offline (Nazruddin S H, 2012 : 06). Untuk pengembangan aplikasi Augmented Reality berbasis Android yang dibanggun menggunakan Vuforia AR Extension Unity, versi plugin ADT yang digunakan adalah versi ADT diatas 20 untuk package Android (.apk) yang digunakan untuk distribusi aplikasi android yang kita rancang di Unity. 25
  • 2.5 Unity 3D Unity 3D atau Unity adalah perangkat lunak game engine untuk membangun permainan 3 Dimensi (3D). Game engine adalah alat yang berada dibalik layar sebuah aplikasi/game dari artwork sampai perhitungan matematika dan rendering. Unity 3D berperan dalam menciptakan obyek maya 3D dan proses rendering grafis sama seperti yang dilakukan pada lingkungan antarmuka Unity 3D. (ITS paper, 2013) Unity 3D berbasis cross-platform, sehingga pengembang dapat membuat game yang dapat dimainkan pada perangkat komputer, ponsel pintar android, web games (memerlukan plugin unity web player), iPhone, PS3, dan bahkan X-BOX. Unity3D menyediakan software free dan Pro, untuk versi gratis Unity menyediakan fitur pengembangan game berbasis windows, standlone mac dan web. Sedangkan untuk Unity Pro terdapat fitur yang lebih komplit dibandingkan dengan Unity Free seperti efek bayangan pada objek dan efek water yang lebih memukau. Dalam unity disediakan berbagai pilihan bahasa pemrograman untuk mengembangkan game, antara lain JavaScript, C Sharp (C#), dan BooScript. Dalam penelitian ini penulis menggunakan bahasa pemrograman C Sharp (C#) untuk mengembangkan aplikasi. Unity menudukung pengembangan aplikasi android, dengan pengaturan lingkungan android pada perangkat. Untuk membuat Augmented Reality menggunakan Unity pada Android, pengembang harus menyediakan Android SDK dan Vuforia AR Extension Unity untuk pengembangannya. 26