• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Hukum syara' menaikkan bbm(edited)
 

Hukum syara' menaikkan bbm(edited)

on

  • 691 views

Islam sesungguhnya agama yang sempurna. Islam pun mengatur pengelolaan migas.. hukum dari Allah ini jika diterapkan dalam negara, pasti melahirkan kesejahteraan.... sementara hukum dari demokrasi ...

Islam sesungguhnya agama yang sempurna. Islam pun mengatur pengelolaan migas.. hukum dari Allah ini jika diterapkan dalam negara, pasti melahirkan kesejahteraan.... sementara hukum dari demokrasi melahirkan penderitaan, kerusakan.

Statistics

Views

Total Views
691
Views on SlideShare
691
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
9
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Hukum syara' menaikkan bbm(edited) Hukum syara' menaikkan bbm(edited) Presentation Transcript

    • : -(laki-laki yang “taafih” adl org yang hina, dan tidak bermartabat.Ruwaibidhah adl merupakan isim tasghir dari “rabidhah” yaituorang yang lemah yang malas untuk mendapatkan hal-hal yangterbaik, serta putus asa untuk mendapatkannya) (syarh Sunan IbnMajah, 1/292)
    • Bagian 1KEBOHONGAN PEMERINTAH DALAM MENAIKKAN BBM HARAM
    • Pemerintah Dilarang Bohong •– - - • - - - - -
    • Mafhum hadits • …. -Allamah asy-syeikh Mulla Al-qari al-Hanafi berkata:“ wa huwa ghasy-syun” artinya adalah pengkhianat terhadap rakyat ataudzalim terhadap mereka, dia tidak memberikan hak-hak rakyat dan diamengambil dari rakyat hal-hal yang tidak wajib atas meraka …kecuali Allahmengharamkan atas dia surga. Yakni haram masuk surga bersama denganorng-orang yang selamat atau hadits tersebut mengandung pengertianmustahil atau larangan atau makar atau ancaman yang keras ataumenakut-nakuti dengan su’ul khatimah… na’udzubillah (allamah asy-syeikh Mulla Al qari al-Hanafi, Mirqatul Mafatih Syarh Misykatul
    • PenjelasanImam al-hafidz Ibn Hajar al Asqalany dan Imam Ibn Bathal: • • -
    • Pemerintah(juga) Dilarang Menyengsarakan Rakyat“Barangsiapa menyempitkan (urusan orang lain), niscaya Allah akanmenyempitkan urusannya kelak di hari kiamat”.[HR. Imam Bukhari] “Yaa Allah, barangsiapa memiliki hak mengatur suatu urusanumatku, lalu ia menyempitkan mereka, maka sempitkanlah dirinya; danbarangsiapa memiliki hak untuk mengatur suatu urusan umatku, lalu iamemperlakukan mereka dengan baik, maka perlakukanlah dirinyadengan baik”.[HR. Imam Ahmad dan Imam Muslim]
    • Syeikh al-Islam al-Imam al-Hafidz AnNawawiy, menyatakan: …“(dalam hadits) ini adalah termasuk larangan yang palingtegas atas perbuatan yang menyempitkan/ memberatkan/menyulitkan masyarakat, serta dorongan yang sangatbesar untuk berbuat lemah lembut kepada masyarakat. [al-Imam al-hafidz An Nawawiy, Syarah Shahih Muslim, juz6/299]
    • Penjelasan Imam Ash-shan’ani: • -• Hadits tersebut adalah dalil bahwa Allah mewajibkan atas yang menjadi wali untuk memudahkan urusan yang dibawah perwaliannya serta bersikap lemah lembut pada meraka dan berinteraksi dengan mereka dengan penuh kasih lapang dada serta mengedepankan keringanan atas meraka agar dia tidak melibatkan mereka dalam kesulitan… (Imam Ash-shan’ani, Subul As-salam, 7/160)
    • Bagian 2 TINDAKAN PEMERINTAH MENYERAHKANPENGELOLAAN SUMBER ENERGI KEPADA SWASTA DAN ASING (PRIVATISASI) ADALAH HARAM
    • - •- - -• “Sesungguhnya, Abyad bin Hammal mendatangi Rasulullah saw, dan meminta beliau saw agar memberikan tambang garam kepadanya. Ibnu al-Mutawakkil berkata,”Yakni tambang garam yang ada di daerah Ma’rib.” Nabi saw pun memberikan tambang itu kepadanya. Ketika, Abyad bin Hamal ra telah pergi, ada seorang laki-laki yang ada di majelis itu berkata, “Tahukan Anda, apa yang telah Anda berikan kepadanya? Sesungguhnya, Anda telah memberikan kepadanya sesuatu yang seperti air mengalir (al-maa’ al-‘idd)”. Ibnu al-Mutawakkil berkata, “Lalu Rasulullah saw mencabut kembali pemberian tambang garam itu darinya (Abyad bin Hammal)”.[HR. Imam Abu Dawud]
    • Mafhum Hadits• Hadits ini adalah dalil bahwa barang tambang yang depositnya melimpah adalah milik umum. Dan tidak boleh dimiliki oleh individu. (allamah asy-syeikh Abdul Qadim Zallum, al-amwal fii daulah al-khilafah, 54-56)• Karena dalam hadits tersebut beliau SAW yang menarik kembali tambang garam yang beliau berikan pada Abyadh bin Hammal RA setelah beliau mengetahui bahwa tambang garam tersebut depositnya melimpah. maka tambang garam tersebut tidak boleh dimiliki oleh individu , dan merupakan milik kaum Muslimin.• Ini berlaku bukan hanya untuk garam saja—seperti dalam hadits diatas-- tapi berlaku pula untuk seluruh barang tambang. Mengapa? Karena larangan tersebut berdasarkan illah yang disebutkan dengan jelas dalam hadits tersebut , yakni “layaknya air yang mengalir”, maka semua barang tambang jumlahnya “layaknya air yang mengalir” –depositnya melimpah-- tidak boleh dimiliki oleh individu (privatisasi).
    • • -• Imam Ibn Qudamah berkata: adapun barang tambang yang melimpah seperti garam, minyak bumi, air, apakah boleh orang menampakkan kepemilikannya? Jawabannya ada dua riwayat dan yang lebih kuat adalah tidak boleh memilikinya • – /• Imam Ibn Rusyd berkata: dan kalangan madzhab Maliki berpendapat bahwa barang tambang baik melimpah maupun tidak tidak boleh dimiliki dengan pemilikan nyang sifatnya khusus (privat), meski barang tambang tersebut terdapat di dalam tanah yang kepemilikannya bersifat privat ( khusus)
    • Maka Al-allamah Asy-Syaikh ‘Abd al-Qadim al-Zallum, Al-Amwaal fi Daulah al-Khilafah, hal.54, menegaskan:
    • • Jadi Barang tambang dengan deposit melimpah, seperti migas, nikel, tembaga, batu bara, dan lain-lain termasuk kepemilikan umum (milkiyyah al-’aamah)• Syariat melarang individu menguasai & mengelola barang tambang yang depositnya melimpah, seperti tambang garam, migas, nikel, dan barang-barang tambang lain yang depositnya melimpah.
    • Bagian 3Melibatkan Pihak Asing Dalam Penyusunan Undang-Undang Migas Membuka JalanBagi Kaum Kafir Menguasai Kaum Muslim haram
    • ”dan sekali-kali Allah tidak akan pernahmenjadikan jalan bagi orang-orang kafir untukmenguasai kaum Mukmin”.[TQS An Nisaa`(4):141]
    • Mafhum surah An nisa’ ayat 141Berdasarkan ayat tersebut para fuqaha’mengharamkan melakukan aktifitas baik memintabantuan (al-isti’anah), transaksi jual beli atau yanglain yang implikasinya merendahkanIslam, menghinakan Islam, atau merendahkan kaummuslimin, penguasaan atau dominasi atas mereka.
    • • - ,Allamah al-Kharrasyi al-Maliki berkata: (syarh) artinya haramatas pemilik (budak) untuk menjual pada orang kafir (budak)muslim, baik kecil maupun dewasa atau menjual mushaf ataubagian dari mushaf, dan ini termasuk hal-hala yang tidak adaperbedaan (diantara para ulama) di dalamnya. Karena, didalamnya—dengan kepemilikan mushaf oleh orang kafir)berakibat pada penghinaan atas kehormatan Islam; dan(dengan penjualan budak muslim) mengakibatkan penghinaanatas seorang muslim serta dominasi atasnya…(syarhMukhtashar Khalil, juz 14 hal 233)
    • • -• Karena sesungguhnya orang kafir itu tidak boleh menguasai jenazah seorang muslim… apalagi yang hidup, dan sungguh Allah Ta’ala berfirman “dan sekali-sekali Allah tidak akan memberi jalan bagi orang kafir untuk menguasai kaum muslimin..”
    • Allamah asy-Syaikh Taqiyyuddin An Nabhaniy, al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, Juz 3/183, menjelaskanlebih detail sbb: …
    • • Kebijakan kenaikan BBM sebagai derivat dari kebijakan liberalisasi sektor energi adalah kebijakan haram.• Kebijakan ini wajib ditolak.
    • • Masalah kebijakan kenaikan BBM, liberalisasi sektor migas, dan keterlibatan asing dalam pembuatan UU Migas, berpangkal pada diterapkannya sistem kufur.• Berharap kepada sistem kufur adalah kesia-siaan.• Asy Syaari’ mewajibkan kita menerapkan hukum Allah dalam seluruh lini kehidupan dengan menegakkan kembali Khilafah Islamiyyah.
    • - - -- -