Kateterisasi

14,486 views

Published on

Published in: Health & Medicine, Business
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
14,486
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
283
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Kateterisasi

  1. 1. Peter GiarsoKATETERISASI URETRA
  2. 2. Pendahuluan penggunaan alat kateter yang berbentuk tabung berbahan latex, polyurethane atau silicon yang dimasukkan ke dalam buli-buli melalui uretra Indwelling dan intermitten
  3. 3. INDIKASI(diagnostik dan terapi) Diagnostik  Spesimen urin yang tidak terkontaminasi (wanita)  Monitoring urin output  Pencitraan traktus urinarius (sistouretrografi)
  4. 4. INDIKASI(diagnostik dan terapi)Terapi  Obstruksi intra vesikal (prostat, koagulasi, striktur, inflamasi)  Drainage buli pada bedah traktus urinarius bawah  Kateterisasi buli intermiten pada pasien dengan neurogenic bladder dysfunction  Sebagai stent post op anastomosis  Induksi persalinan (pematangan serviks)
  5. 5. KONTRAINDIKASI Cedera pada uretra pastikan dengan uretrografi retrograde pd kasus trauma pelvis Kontraindikasi relatif lain: striktur uretra, riwayat operasi uretra atau buli-buli, pasien tidak kooperatif.
  6. 6. UKURAN Skala French (Fr) (ukuran lingkaran dalam millimeter). 1 Fr = 0.33 mm dalam diameter. Kateter no 18 Fr diameternya adalah 6 mm. Berdasarkan ukuran keliling luarnya, bukan diameter lumen.
  7. 7. JENIS KATETER•Gambar A-C, biasanya disebut kateter Robinson•Kateter sekali pakai (straight catheterization).•Tersedia lubang multiple,•Untuk wanita tersedia kateter yang lebih pendek
  8. 8. JENIS KATETER•Coudé catheters, (gambar D),•dibuat khusus untuk pembesaran prostat(lengkung anatomis dan elevasi leher buli-buli)
  9. 9. JENIS KATETER•Self retaining (gambar E-G), kateter Pezzer danMalecot• Setelah dipasang pada operasi terbuka, katetertetap terpasang karena berongga.•Keuntungan : drainase dengan menggunakanlumen tunggal (tanpa balon), sehingga cocokuntuk sistostomi atau nefrostomi.
  10. 10. JENIS KATETER•Kateter foley (gambar H-I) untuk penggunakan jangkapanjang.•Mekanisme balon pada ujung distalnya.•Kateter two way (untuk balon dan lubang besar untukdrainase urin).•Kateter three way (untuk menggembungkan balon,satu lubang untuk memasukkan cairan irigasi, danlubang besar untuk drainase urin)
  11. 11. UKURAN Perlu diingat: ukuran diameter ≠ ukuran lumen Kateter tanpa balon (seperti Malecot) > kateter dengan balon dengan ukuran diameter yang sama. Kateter two way > daripada kateter three way dengan ukuran diameter yang sama
  12. 12. Folley Kateter
  13. 13. Kilasan Anatomi  Uretra pria relatif terfiksir pada diafragma urogenital  Traksi ke bawah pada penis akan melipat uretra  Uretra normal + 20 cm dari OUE ke bladder neck  Uretra posterior pars prostatica sepanjang + 3,5 cm  Diafragma urogenital (external sphincter) – uretra pars membranasea berada 4 cm dari bladder neck
  14. 14. Alat-alat
  15. 15. TEKNIK Jelaskan prosedur, keuntungan, resiko, komplikasi dan alternatif kepada pasien atau keluarga pasien Pasien dalam posisi supine di tempat tidur dengan daerah genitalia terbuka Buka peralatan dan tempatkan di atas duk steril
  16. 16. ANESTESI Topical anestesi dengan penggunaan lidocaine gel 2%. Untuk memasukkan, pegang penis dan tarik, tempatkan ujung sediaan pada meatus, dan secara gentle berikan tekanan kontinyu pada sediaan
  17. 17. Retraksi kulit luar dengan tangan kiri
  18. 18. Bersihkan glans dengan antiseptik
  19. 19. Masukkan lidocain lubrikan kedalam uretra
  20. 20. Masukkan kateter ke dalam uretra dan kembangkan balon untuk fiksasi
  21. 21. Amankan tube kateter ke paha pasien
  22. 22. PERAWATAN SELANJUTNYA Urin inisial maksimal dibuang 750 cc. Di klem, tunggu 20-30 menit.(mencegah syok) Selang kateter jangan sampai terlipat di bawah tungkai pasien Kateter difiksasi di daerah tungkai bawah, atau di daerah perut. Kemungkinan penis ereksi, sisakan bbrp cm sebelum difiksasi. Perawatan harian menggunakan air dan sabun Perawatan setelah buang air besar
  23. 23. PERAWATAN SELANJUTNYA Salep antibiotik tidak digunakan lagi Kantung urin dapat dibersihkan atau diganti. Gunakan cairan klorin, atau cuka dan air (2:3). Dikeringkan 20 menit. Perawatan kateter lurus. Gunakan larutan atiseptik seperti betadin. Kateter Robinson (karet) harus direbus tiap hari, atau dibersihkan dengan larutan asam cuka.
  24. 24. TROUBLESHOOTINGPada BPH hambatan kira-kira terjadi setelah kateter masuk 16-20 cm. Gunakan coude kateter atau kateter nomor besar (20-24 Fr) Kateter ukuran kecil mempunyai kecenderungan tertekuk. Pada pasien fimosis berat atau stenosis meatus, bila kateter tidak dapat masuk diperlukan konsul urologis.Resiko pemasangan kateter, hal-hal yang dapat terjadi: Balon bisa pecah, bila hal ini terjadi kateter harus diganti Balon tidak bisa mengembang Urin tidak mengalir. Periksa posisi kateter dan kantung urin, kemungkinan obstruksi atau kink.
  25. 25. TROUBLESHOOTING
  26. 26. KOMPLIKASIISK Kateter meningkatkan morbiditas dan mortalitas Resiko tinggi adalah usia tua, diabetes mellitus, gangguan ginjal, dan penyakit yang mengancam nyawa. Pencegahan: menghindari pamasangan kateter dan pelepasan secepat mungkin. Penggunaan antibiotic profilaksis tidak ada gunanya dan meningkatkan pertumbuhan resistensi kuman. Komplikasi lain termasik parafimosis dan trauma buli-buli dan ureter
  27. 27. Terima Kasih

×