• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Kegiatan budidaya perairan
 

Kegiatan budidaya perairan

on

  • 4,444 views

 

Statistics

Views

Total Views
4,444
Views on SlideShare
4,441
Embed Views
3

Actions

Likes
0
Downloads
64
Comments
1

1 Embed 3

http://www.perieanugraha.co.cc 3

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel

11 of 1 previous next

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Kegiatan budidaya perairan Kegiatan budidaya perairan Presentation Transcript

    • KEGIATAN BUDIDAYA PERAIRAN
      • Kegiatan budidaya perairan dibagi menjadi dua bagian, yaitu kegiatan produksi on farm dan kegiatan produksi off farm.
      • Kegiatan produksi on farm terdiri dari pembenihan dan pembesaran, sedangkan kegiatan off farm meliputi pengadaan sarana dan prasarana produksi, penanganan hasil panen, distribusi hasil dan pemasaran.
    • Lanjutan
      • Satuan produksi pembenihan ikan adalah jumlah atau populasi (ekor). Satuan ini biasanya dinyatakan sebagai ekor/siklus produksi, ekor / volume bak, atau ekor / bobot (jumlah) induk. Ukuran benih dinyatakan dalam panjang seperti cm atau inchi, contoh benih ikan mas dan ikan kerapu dinyatakan dalam cm (misalnya benih ukuran 2 – 3 cm, 3 – 5 cm, 7 – 9 cm).
    • Lanjutan
      • Satuan produksi pembesaran dinyatakan dalam bobot biomassa (kg atau ton), sebagai contoh kg / ha atau ton / ha atau kg / volume jaring. Untuk ikan hias, satuan produksi dinyatakan dalam ekor.
    • Siklus Hidup Ikan
      • Kegiatan pembenihan ikan mengikuti tahapan dalam siklus hidup ikan di alam. Siklus hidup ikan meliputi stadia induk, telur, larva, benih, juvenil, remaja, dewasa dan induk.
    • a. Induk
      • Stadia induk adalah ikan yang memiliki kemampuan untuk bereproduksi. Dalam stadia ini, gonad ikan betina sudah dapat memproduksi telur dan gonad ikan jantan sudah dapat memproduksi sperma. Ikan dengan stadia demikian sudah dapat melakukan aktivitas reproduksi (pemijahan).
      • Selain keberadaan telur dan sperma dalam tubuh, induk betina dan induk jantan dibedakan yakni ikan betina umumnya memiliki alat kelamin berupa lubang, sedangkan induk ikan jantan berupa tonjolan. Induk ikan betina umumnya juga memiliki perut yang buncit dan bila diraba pada bagian tersebut terasa lembek dan tidak keras, sedangkan induk ikan jantan relatif ramping, warna tubuh yang khas, seperti dahi yang lebih menonjol (bengkung), sirip punggung yang lebih panjang, warna dan pola warna yang lebih cemerlang dan menarik, serta yang lebih aktif dan galak .
    • Lanjutan
      • Induk dalam melanjutkan keturunannya bisa bersifar parental care atau non-parental care . Induk ikan budidaya yang bersifat parental care (aktif atau pasif) adalah induk yang menjagai keturunannya (telur, larva, atau benih), sedangkan yang bersifat non parental care adalah induk yang tidak peduli terhadap keturunannya. Parental care pasif diwujudkan oleh induk dalam memproduksi telur yang berukuran cukup sebagai sumber energi bagi embrio dan larva dalam memulai kehidupan. Bentuk parental care pasif lainnya adalah adanya zat racun pada telur sehingga dihindari oleh ikan predator (pemangsa).
    • lanjutan
      • Pada parental care aktif, induk jantan maupun betina secara aktif menjaga telur, larva atau bahkan adakalanya benih. Sifat penjagaan tersebut dilakukan sejak pemilihan dan penyiapan tempat dan substrat untuk menempelkan telur, mengumpulkan dan membuat sarang hingga mengoksigenasi telur dengan cara mengipasi telur menggunakan sirip dada dan ekor, membersihkan substrat telur dan larva menggunakan mulut dan sirip dada, menjaga dan mengusir predator, menginkubasi telur dan larva di dalam mulut ( mouth breeder ), atau menempatkan telur di tempat tersembunyi dan aman.
    • b. Telur
      • Stadia telur (yang dibuahi) adalah output dari aktivitas pemijahan dan ketika menetas berubah menjadi stadia larva. Telur ikan setelah keluar dari tubuh induk bersifat melekat (adesif) dan tidak melekat (nonadesif). Telur yang melekat memiliki lapisan pelekat pada dinding cangkangnya dan menjadi aktif ketika terjadi kontak dengan air. Sifat pelekatan telur dibagi menjadi dua macam, yaitu pada objek (substrat) dan antar telur sehingga membentuk rumpun atau masa telur.
    • Lanjutan
      • Tempat pelekatan (substrat) telur berupa benda keras dan lunak. Substrat benda keras seperti batu, pipa paralon, dan kaca akuarium biasanya digunakan untuk penempelan telur ikan siklid seperti ikan diskus, manvis, louhan, nila dan mujair. Benda lunak seperti ijuk, akar eceng gondok, daun tanaman air dan lempeng akar pakis sering digunakan sebagai substrat penempelan telur ikan mas, lele, neon tetra, dan mas koki.
    • Lanjutan
      • Telur yang bersifat tidak melekat dapat dibedakan menjadi beberapa tipe berdasarkan berat jenisnya terhadap air, yaitu mengapung dipermukaan air, melayang di dalam kolam air, dan menggelinding di dasar wadah.
      • Telur yang dibuahi selanjutnya berkembang menjadi embrio dan menetas menjadi larva, sedangkan telur yang tidak dibuahi (mati). Untuk perkembangan, digunakan energi yang berasal dari kuning telur ( yolk sac ) dan kemudian butir minyak ( oil globule ). Oleh karena itu, kuning telur terus menyusut sejalan dengan perkembangan embrio. Embrio terus berkembang dan membesar sehingga rongga telur menjadi sesak olehnya dan bahkan tidak sanggup lagi mewadahinya maka dengan kekuatan pukulan dari dalam oleh pangkal sirip ekor, cangkang telur pecah dan embrio lepas dari kungkungan menjadi larva (menetas).
    • c. Larva
      • Larva adalah anak ikan yang berukuran sangat kecil dan belum memiliki bentuk morfologi yang definitif (seperti induknya). Larva masih dalam proses perkembangan ( development ) menuju bentuk yang definitif. Pada saat tersebut, larva belum memiliki organ tubuh yang lengkap, bahkan organ yang sudah ada pun masih bersifat sederhana (primitif) sehingga belum berfungsi maksimal. Larva adalah anak ikan yang memiliki morfologi, anatomi, dan fisiologi yang masih sederhana dan terus berkembang menuju kesempurnaan.
    • Lanjutan
      • Untuk keperluan perkembangan, larva membawa cadangan energi tersebut ( endogenous feeding ) untuk perkembangan organ tubuh. Oleh karena itu, kuning telur dan butir minyak akan menyusut dan habis sejalan dengan perkembangan organ tubuh larva. Sebelum kuning telur habis, larva diharapkan sudah bisa memangsa dan mengonsumsi serta mencerna pakan dari luar ( exogenous feeding ). Dengan demikian, terjadi overlap antara endogenous feeding dengan exogenous feeding ). Apabila terjadi gap antara endogenous feeding dengan exogenous feeding, kemungkinan besar larva akan mati.
    • Lanjutan
      • Dengan ukuran tubuh larva yang kecil dan bukaan mulut larva juga kecil, dibutuhkan pakan larva yang berukuran lebih kecil dari bukaan mulut tersebut. Pakan larva ikan umumnya berupa pakan alami, biasanya dari golongan zooplankton. Hampir semua larva ikan, baik ikan herbivora, omnivora, maupun karnivora bersifat predator ( predatory stage ). Oleh karena itu, pakan alami larva umumnya berupa zooplankton.
    • d. Benih
      • Benih adalah anak ikan yang memiliki bentuk tubuh definitive seperti induknya. Benih berbeda dengan induknya dalam ukuran dan tingkah laku reproduksinya saja. Tingkah laku makan ( feeding habits ) ikan stadia ini sudah mengarah kepada jeniis makanan seperti yang dikonsumsi secara alami oleh induknya. Perilaku makan ikan herbivora sudah mulai tampak pada stadia benih, padahal pada stadia larva masih bersifat karnivora ( predatory stage ).
    • Lanjutan
      • Laju pertumbuhan ikan stadia benih mulai meningkat dan akan melesat lebih cepat lagi pada stadia juvenil. Oleh karena itu, pada fase ini faktor pakan dan pemberian pakan serta lingkungan, terutama oksigen terlarut ( dissolved oxygen, DO), amoniak, karbondioksida dan suhu harus diperhatikan. Pakan (secara kuantitas dan kualitas) yang dikonsumsi oleh ikan akan dimetabolisir sehingga menyebabkan terjadinya pertumbuhan dan buangan metabolisme (amoniak dan karbondioksida).
    • e. Juvenil
      • Juvenil adalah ikan yang memiliki bentuk tubuh seperti induknya, tetapi lebih kecil dan organ reproduksinya masih dalam perkembangan sehingga belum berfungsi. Pada stadia ini, laju pertumbuhan ikan berada dalam kecepatan yang maksimum sebelum melambat ketika memasuki stadia dewasa. Hal ini disebabkan hampir seluruh energi yang diperoleh dari makanan digunakan untuk keperluan pertumbuhan daging (somatic).
    • f. Dewasa
      • Organ reproduksi ikan dewasa dan ikan induk sudah berfungsi sehingga berpotensi melakukan reproduksi dalam rangka melanjutkan keturunan. Pada stadia ini, laju pertumbuhan daging (somatic) ikan melambat karena sebagian energi yang diperoleh dari aktivitas feeding digunakan untuk pertumbuhan reproduktif (generatif) seperti perkembangan, pertumbuhan dan pematangan gonad serta aktivitas dan tingkah laku reproduktif lainnya seperti pencarian pasangan kawin, percumbuan dan sebagainya.