Kami tidak bisu (book)
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Kami tidak bisu (book)

on

  • 3,742 views

Penulis : Kamilia Manaf

Penulis : Kamilia Manaf
Editor : Dewi Nova Wahyuni dan Arwani
Kontributor : Ino, Panca dan Umi

Statistics

Views

Total Views
3,742
Views on SlideShare
3,504
Embed Views
238

Actions

Likes
2
Downloads
147
Comments
0

2 Embeds 238

http://www.pelangiperempuan.or.id 233
http://www.google.co.id 5

Accessibility

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Kami tidak bisu (book) Kami tidak bisu (book) Document Transcript

  • KamiTidak Bisu Kongkow Lez Kamilia Manaf
  • Kami Tidak Bisu Kami Tidak Bisu Kongkow LEZ ISBN: 978-979-17983-3-4 Penulis : Kamilia Manaf Editor : Dewi Nova Wahyuni Arwani Kontributor : Umi, Panca dan Ino Disain Sampul : Estha Vadose Layout & isi : Agus Wiyono Cetakan pertama, Juni 2011 Penerbit: Institut Pelangi Perempuanii
  • Ucapan Terima KasihU capan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua temankomunitas yang pernah hadir dalam acara Kongkow Lez. Kehadiran,keberanian, partisipasi teman-teman selama ini merupakan inspirasi bagikami dan teman-teman lesbian muda dan remaja lainnya. Terima kasihjuga kepada para narasumber Kongkow Lez yang bersedia hadir di tengahkesibukan dan memberikan banyak informasi kepada komunitas kami.Terima kasih kepada para kontributor, Ino, Panca dan Umi, yang memberikankomitmen tinggi mendengarkan hasil rekaman Kongkow Lez berulang-ulang untuk mencatatkan notulensi yang sangat bermanfaat untuk teman-teman yang membutuhkan informasi ini. Terima kasih kepada sister-sister dalam perjalanan hidup penulis danInstitut Pelangi Perempuan, Sely Fitriani dan SN Laila (Damar Lampung),Kristi Purwandari (Yayasan Pulih), Yeni Rosa Damayanti, MonicaTanuhandaru, Erliny Rosalinda, Mariana Ammiruddin (Yayasan JurnalPerempuan), Vivi Widyawati (Perempuan Mahardhika). Dukungan dankehadiran kalian sangat membantu dan berarti dan mengajarkan akutentang arti sisterhood yang sebenarnya. Ibu Gadis Arivia, meskipun kamijarang sekali berkomunikasi, sebenarnya inspirasi pertama untukmenuliskan buku ini datang darinya pada tahun 2006. Dia pernahmengatakan kepada penulis pentingnya mencatatkan hasil perjalanan dandiskusi Kongkow Lez. Dukungan WRRC Sexuality Group untuk membantu iii
  • Kami Tidak Bisu dana penerbitan dan peluncuran buku ini, terutama Lin Chew dalam peran sisterhood-nya selalu menjadi teman konsultasi untuk IPP selama bertahun- tahun. Terima kasih juga kepada teman-teman yang sangat baik, menginsipirasi dan menginformasikan banyak hal tentang isu LGBT dalam penulisan buku ini, Sezen Yalcin teman baikku, Mash yang sering memotivasi penulis dalam proses pengorganisasian komunitas IPP dari awal sampai sekarang. Jen Danch dan Savoy Howe (Shape Your Life) yang memberikan banyak pelajaran tentang arti menjadi penyintas. All of you are amazing! Pastinya juga terima kasih sebesar-besarnya untuk teman-teman staf IPP, Ino, Ratna, dan Lia yang selalu berusaha memahami penulis, dengan memberikan waktu dan ruang untuk menyelesaikan buku ini. Juga Anak Pelangi Club yang berlatih setiap minggu dengan semangat untuk mendukung acara peluncuran buku ini. Mbak Dewi Nova, teman baik untuk berkonsultasi konsep penulisan buku, sekaligus editing bersama Mas Arwani. Estha Vadose dengan tangan ciamiknya membuat cover keren buku ini, serta Mas Agus yang berusaha layout cepat di waktu yang mepet. He-he.... Kedua kakakku dan Papi yang selalu berusaha memahami dan mengerti perjalanan hidupku. Dan paling spesial untuk seorang perempuan yang sangat aku cintai sampai kapan pun, Mami yang banyak mengajarkan tentang kemandirian dan ketegaran sebagai perempuan selama hidupnya. Juga saat-saat beliau berjuang melawan kanker payudara sebelum menghembuskan nafas terakhir dua tahun lalu. Ananda tuliskan kata-kata ini tepat di hari ulang tahun Mami. Terima kasih atas kasih sayangmu, Mami....iv
  • Daftar IsiUcapan Terima Kasih ....................................................................... iiiPengantar Penulis: Kami Tidak Bisu ................................................. viBab I Apakah Aku Normal? ......................................................... 1Bab II Berterus Terang kepada Orang Tua 7 .................................. 7Bab III Berterus Terang atau Menyimpannya? ............................... 19Bab IV Sentul - Kantil, Butch - Femme, dan Andro ........................ 35Bab V Relasi yang Sehat ............................................................... 49Bab VI Kesehatan Reproduksi Perempuan Lesbian ....................... 63Bab VII Safe Sex is Hot Sex ............................................................. 79Bab VIII Lesbian dan Tafsiran Agama ............................................... 99Bab IX Persaudaraan Feminis dan Lesbian .................................... 133Bab X Lesbian Muda Bicara Hak Asasi Manusia ............................ 147Bab XI Transgender, Transeksual, Drag Queen, Drag King, dan Interseks ............................................................................ 175Tentang Penulis ............................................................................... 190Tentang Institut Pelangi Perempuan................................................ 191 v
  • Kami Tidak Bisu Pengantar Penulis Kami Tidak Bisu P ada pertengahan 2005 komunitas lesbian muda mulai tumbuh dan saling bertemu melalui nongkrong dari kafe ke kafe di wilayah Jakarta, pada setiap Jumat atau Sabtu malam. Awalnya memang sekadar ingin nongkrong bareng melepas penat setelah suntuknya hari-hari kerja, kuliah, atau sekolah. Itulah awal pertemuan kami, sebelum memutuskan menjadi organisasi lesbian muda, Institut Pelangi Perempuan, pada tahun 2006. Membicarakan kemunculan komunitas gay dan atau lesbian di Indonesia, banyak sekali orang bertanya mengapa sulit menemukan komunitas lesbian di ruang publik, seperti di beberapa klub malam, kafe-kafe, atau acara-acara komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Itu tidak hanya terjadi di Indonesia. Di beberapa negara yang pernah aku kunjungi demikian juga halnya. Memang dilihat karakter komunitasnya, laki-laki gay lebih banyak muncul, berbeda dari lesbian. Aku pun sempat mempertanyakan hal ini kepada diri sendiri. Komunitas gay lebih banyak yang cuek untuk menunjukkan identitas dirinya, ketimbang lesbian. Meskipun tidak semua laki-laki gay seperti itu, rasanya mayoritas demikian.vi
  • Setelah beberapa kali coba mengamati, aku pikir faktor budaya patriarkiyang memberikan banyak larangan dan batasan terhadap perempuan,membatasi aktivitas perempuan di ruang publik, berbicara, danmemposisikan perempuan untuk mengurus rumah tangga atau domestik,itulah yang mempengaruhi kemunculan lesbian di ruang publik. Mayoritasorang tua mendidik anak perempuan untuk menjaga sopan santun dannama baik keluarga melalui larangan-larangan dan batasan tersebut.Terlebih lagi jika berbicara soal seksualitas, label “perempuan gak bener”akan selalu dilekatkan pada perempuan jika ada yang berani keluar danberbicara hal yang dianggap tabu tersebut. Berbeda dari laki-laki yangdipandang harus lebih aktif berbicara dan aktif di ruang publik. Sehingga inipun mempengaruhi karakter dan sifat banyak perempuan lesbian, yangtidak akan lebih demonstratif menunjukkan identitas seksual merekadibandingkan dengan para laki-laki gay. Selain itu, aku juga sempat menanyakan kepada beberapa teman lesbianmuda dan remaja mengenai alasan mereka jarang muncul di acara diskusiatau ngumpul bareng teman-teman laki-laki gay. Beberapa dari merekaternyata memang merasa tidak nyaman, karena sering merasa adadominasi dari laki-laki gay pada ruang bicara dan berpendapat, yangmembuat mereka enggan bersikap lebih aktif. Jadi, kita bisa melihat bahwabudaya patriarki pun muncul pada komunitas LGBT. Terlebih lagi jikamereka berusia muda, ada sebuah budaya di Indonesia yang melekat dipemikiran mereka yang merasa harus menghormati yang lebih tua. Danmembiarkan yang lebih tua untuk lebih banyak berbicara atau berpendapat,karena menganggap mereka lebih berpengalaman dalam hidup.Menurutku, kita semua seharusnya setara, baik yang berusia muda maupuntua. Selain itu, memang mayoritas teman lesbian yang baru muncul sebagailesbian di komunitas LGBT masih merasa tidak nyaman untuk langsung vii
  • Kami Tidak Bisu bergabung dengan laki-laki gay. Meskipun orientasi seksualnya sesama, tetap saja beberapa dari mereka masih kurang nyaman untuk langsung berkumpul bersama laki-laki dalam satu komunitas. Karena itu, buat aku penting untuk membuat pertemuan yang memberikan perhatian lebih, ruang yang lebih luas kepada lesbian muda atau remaja. Kemudian ketika mereka sudah lebih merasa percaya diri, bisa diajak untuk membaur dengan kelompok LGBT lainnya, baru lebih aktif di ruang bicara yang lebih luas di forum LGBT. Melalui pendekatan seperti itu, hasilnya saat ini mulai bermunculan aktivis lesbian muda yang sudah aktif dalam pergerakan LGBT di Indonesia. Pada konteks pergerakan LGBT di Indonesia, kemunculan dan pergerakan laki-laki gay lebih maju ketimbang kelompok lesbian. Mereka sudah memulai sejak tahun 1980-an. Saat itu mereka sudah bisa mengorganisasi kelompok mereka melalui isu HIV/AIDS yang mendapat dukungan dana cukup banyak dan perhatian dari negara asing. Pastinya sebuah kesempatan yang sangat menunjang perkembangan komunitas laki-laki gay di Indonesia. Sementara kelompok perempuan lesbian, yang dianggap tidak rentan dan tidak penting terkait isu HIV/AIDS, baru berkembang pasca- reformasi tahun 1998, berkat dukungan dan bantuan kelompok feminis yang mulai makin tumbuh pada masa itu. Ini juga merupakan kritikku dalam budaya patriarki, bagaimana hak-hak istimewa yang dimiliki laki- laki menempatkkan mereka untuk lebih mempunyai akses di bidang ekonomi ketimbang perempuan. Sampai saat ini pun aku masih melihat dalam pergerakan LGBT belum mencapai kesetaraan gender, karena kepemimpinan masih didominasi laki-laki gay. Namun, semua tantangan itu tidak menyurutkan semangat kami untuk terus mengorganisasi diri. Semangat itu aku tuangkan dalam penulisan buku ini, tentang perjuangan kami sebagai kelompok perempuan lesbian muda. Di komunitas kami, proses saling mengenal kebanyakan dilakukanviii
  • Pengantar Penulismelalui media chatting internet, sebuah ruang chat komunitas lesbian.Ruang chat ini tempat berkumpul para lesbian dari seluruh Indonesia untuksaling berinteraksi dan berkomunikasi. Ada yang bertujuan sekadar untukmencari teman ngobrol sampai pada keinginan untuk mendapatkan pacar.Dalam ruang chat seperti ini, jika proses obrolan berlangsung nyaman,biasanya dilanjutkan dengan bertukar nomor telepon untuk melanjutkankomunikasi lebih intensif. Tidak jarang akan diteruskan membuat janjibertemu tatap muka, jika memang proses komunikasi melalui teleponterasa nyaman. Kita bisa melihat dalam proses ini bagaimana sebuahkepercayaan sangat penting untuk mereka, dapat membuat keputusansaling bertemu. Pertemuan itu ada yang berlanjut sebagai pertemananbiasa atau menuju hubungan percintaan yang romantis. Komunitas ini pada awalnya hanya sebuah komunitas kecil terdiri atas 5- 6 orang. Kemudian terus tumbuh, semakin bertambah banyak jumlahnyahingga sekitar 15 orang. Kami berkumpul dari satu kafe ke kafe lain diwilayah Jakarta. Masing-masing dari kami saling mengontak danmengundang teman-teman baru yang dikenal lewat jaringan internettersebut. Undangan ngumpul atau nongkrong biasanya kami sebar melaluilayanan pesan singkat (SMS) telepon seluler menjelang akhir minggu.Sering kali teman-teman baru datang ikut berkumpul. Mungkin itukeuntungan yang didapatkan komunitas lesbian di zaman sekarang yangsudah tersedia fasilitas internet dan telepon seluler yang cukup terjangkausampai ke pelosok desa sekalipun. Teknologi komunikasi dan informasi ini sangat membantu danmemudahkan kami untuk saling berinteraksi dengan rasa lebih aman dannyaman, karena memang cukup sulit untuk kami muncul dan berinteraksidi ruang publik. Sebab, kami memang kurang aman dan nyaman denganmayoritas masyarakat yang masih homofobia, dan isu lesbian yang masihsensitif di ruang publik. Apalagi sekarang sudah ada fasilitas jejaring sosial ix
  • Kami Tidak Bisu di internet seperti Friendster, Facebook, dan Twitter yang makin memudahkan komunitas kami untuk saling berkomunikasi dan berinteraksi di internet. Terbayang tantangan lesbian di zaman dulu, pasti sangat sulit untuk saling berkomunikasi dan berinteraksi. Setahuku, dulu sebatas menggunakan surat-menyurat melalui jasa pos. Teman-teman yang nongkrong bareng waktu itu ada yang mahasiswa, pekerja swasta, pegawai negeri sipil, pekerja LSM, ibu rumah tangga, bahkan siswa SMU. Ada yang berambut pendek, cepak, dan tomboy, ada pula yang berambut panjang dan tampak feminin. Juga ada yang berjilbab dan mantan biarawati. Ada yang berdarah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, juga Tionghoa dan Arab. Agama dan kepercayaan pun beragam, Islam, Kristen Protestan, Katholik, dan Buddha. Hal ini menunjukkan keragaman identitas dan latar belakang komunitas kami. Dari seringnya berkumpul tersebut kemudian timbul rencana membuat sebuah kegiatan positif yang dapat bermanfaat bagi perkembangan komunitas. Kami bosan dengan rutinitas nongkrong di kafe setiap minggu yang cukup menguras kocek. Mungkin tidak mahal bagi para eksekutif muda dan berasal dari kelas menengah ke atas, tapi tentu cukup mahal bagi yang masih berstatus mahasiswi atau siswi sekolah. Juga bagi mereka yang bekerja dengan gaji pas-pasan seperti yang bekerja sebagai buruh pabrik di Ibu Kota yang serba mahal. Hal itu membuktikan komunitas lesbian pun menghadapi isu perbedaan kelas. Cukup sulit waktu itu untuk menemukan sebuah tempat nongkrong bareng yang pas untuk dijangkau teman-teman dari berbagai kelas sosial. Lalu kami memikirkan untuk membuat klub badminton setiap Sabtu sore dengan menyewa sebuah lapangan badminton di wilayah Jakarta Selatan. Setiap anggota klub badminton ini membayar iuran sekitar Rp. 10.000 per minggu yang digunakan untuk membayar sewa lapangan, membeli shuttlecock, dan kebutuhan lainnya. Klub badminton yang diawali sekitar pertengahanx
  • Pengantar Penulistahun 2006 ini cukup berhasil menjadi sebuah ruang santai memobilisasibanyak teman lesbian muda yang ikut bergabung dan berkumpul bersama.Selain itu, klub badminton ini mampu menjadi kelompok pendukung bagipara anggotanya. Karena di sela-sela jam istirahat, setelah letih bermainbadminton, kami dapat saling bercanda gurau hingga berbagi permasalahanyang dihadapi. Kemudian biasanya diakhiri makan malam bersama karenalapar dan haus setelah letih berolah raga. Waktu-waktu yang menyenangkanitu juga bisa pergunakan untuk saling mengenal dan ngobrol santai tentangkehidupan sehari-hari. Dari perjalanan itu, kami mulai mengadakan Kongkow Lez, kegiatanpemutaran film dan ngobrol santai kelompok lesbian muda Indonesia,pertama kali pada Januari 2007. Kongkow Lez biasanya dihadiri para lesbianmuda yang usia 20 - 30 tahun berjumlah sekitar 25 sampai 50 orang.Kongkow ini bertujuan menjadi ruang untuk berbagi pengalaman danbertukar informasi seputar isu lesbian. Kongkow Lez yang juga selalumenampilkan wajah-wajah baru, dalam artian selalu ada teman-temanbaru yang datang dalam setiap pertemuan ini, menjadi ruang ngobrolsantai tapi juga mendalam di antara permasalahan-permasalahan yangmuncul di kalangan komunitas kami pada saat nongkrong atau di klubbadminton. Kata Kongkow Lez kami pilih dengan maksud “kongkow” yang berarti“nongkrong” dan “lez” adalah kata gaul kami, sebutan bagi lesbian, karenakami ingin melakukan kegiatan yang terkesan gaul, menyenangkan, dantidak membosankan. Kami menghindari penggunaan diksi “seminar” atau“lokakarya” yang selama ini diadakan banyak organisasi hak asasi manusiadi Indonesia. Kami khawatir jika menggunkan cara-cara konvensional itu,justru kurang diminati dan dihadiri komunitas lesbian. Apalagi memangmayoritas teman-teman komunitas pada waktu itu bukan dari kalanganaktivis atau akademisi. Kami lebih memilih strategi “Edufuntainment” xi
  • Kami Tidak Bisu (Education, Fun, and Entertainment). Pendidikan, Rasa Senang, dan Menghibur dirasa pas untuk karakter komunitas kami yang mayoritas anak muda di wilayah urban. Bukannya kami tidak berpikir bahwa hak seksualitas lesbian tidak serius, tapi kami lebih memilih strategi yang berbeda yang dapat dijangkau semua kalangan di komunitas lesbian. Pun dalam setiap acara, obrolan yang dibicarakan selalu terkait dengan hak seksualitas lesbian. Lebih dari satu tahun untuk menemukan strateginya. Aku belajar bagaimana pengorganisasian membutuhkan perkenalan, pendekatan, dan kemampuan mendengarkan persoalan keseharian komunitas, mengetahui hobi dan kegemaran komunitas, memahami karakter dan sifat individu-individu di komunitas. Selanjutnya mengajak mereka berpikir akan kebutuhan- kebutuhan untuk perkembangan komunitas dan melibatkan dalam proses pemenuhan kebutuhan komunitas. Meskipun aku harus mengakui sangat tidak mudah ketika terbentur dengan konflik-konflik yang terjadi dan memecah-belah komunitas. Hal itu sering membuat aku merasa capek dan stress sehingga ingin menjauhi komunitas. Bahkan sempat ketika menghadapi sebuah konflik pada tahun 2008, aku harus masuk ruang ICU pada tengah malam karena sulit bernafas. Dokter menyatakan hal itu dikarenakan tekanan pekerjaan yang mengharuskan aku istirahat beberapa waktu. Hal ini menjadi pembelajaran buat aku bahwa tantangan berat dalam proses pengorganisasian komunitas dengan munculnya ego-ego pribadi dari beberapa individu, termasuk diriku, yang dapat memicu konflik. Selain itu, pembelajaran akan pentingnya kepedulian terhadap diri sendiri bagi seorang aktivis dalam dunia aktivisme demi keberlanjutan perjuangan. Terkadang kita sendiri lupa terhadap diri sendiri. Hal ini membuat aku paham tentang arti penting Feminist Ethics of Self Care. Kongkow Lez selalu diawali dengan pemutaran film-film seputar isu seksualitas lesbian yang kemudian dijadikan bahan obrolan ringan terkaitxii
  • Pengantar Penulisperspektif hak seksual lesbian muda. Kesulitan kami waktu itu adalah tidakmudah mencari film-film tentang lesbian yang dapat dijadikan bahanobrolan, karena film lesbian orisinal cukup mahal dan jarang diperjualbelikandi Indonesia. Keberuntungan kami di Indonesia, sangat mudahmendapatkan film-film bajakan, terutama di Jakarta. Jadi, kami terpaksaberburu film-film lesbian di beberapa mal dan toko kaset bajakan. Bukannyakami tidak ingin menghargai hasil karya orang lain, namun beberapa alasantadi yang membuat kami harus melakukannya. Selain itu, tidak mudah pulamenemukan film bertema lesbian yang non-diskriminatif dan baik untukbahan obrolan. Sering dalam proses pencarian, kami menemukan film-filmyang sangat memojokkan lesbian. Film-film laki-laki gay lebih mudah danbanyak ditemukan ketimbang film-film bertemakan isu lesbian. Dari prosesini kami menyadari bahwa dunia perfilman LGBT lebih didominasi tema-tema isu laki-laki gay. Mayoritas film-film yang kami temukan produksiEropa Barat, Amerika Serikat, dan Kanada, dan mungkin ini akan terkesanmengikuti kebudayaan Barat. Tetapi karena film lesbian Indonesia masihdiskriminatif, tentu kurang pas untuk menjadi topik obrolan Kongkow Lezdan membuat tidak nyaman peserta. Bersyukur saat ini sudah ada filmdokumenter yang menceritakan kehidupan lesbian Indonesia yang menjadipekerja imigran di Hong Kong dalam film Pertaruhan (At Stake), yang sangatapik dan non-diskriminatif dan dirilis sekitar tahun 2009. Kongkow Lez berlangsung selama lima jam, diawali pemutaran film dandiselingi beberapa hiburan lain seperti kuis-kuis pertanyaan kepada pesertayang berhadiah kado murah dan sederhana. Juga permainan di sela-selaobrolan berlangsung, untuk menambah meriah acara. Beberapa kaliKongkow Lez mengundang narasumber dari teman-teman komunitassendiri, juga dari kalangan seniman, penulis, feminis, aktivis hak asasimanusia, ahli kesehatan reproduksi perempuan, psikolog, akademisi, tokohagama, dan lain-lain. Kami mengundang mereka disesuaikan dengan topikyang ingin diperbincangkan. Obrolan santai yang biasanya hanya xiii
  • Kami Tidak Bisu berlangsung selama dua hingga tiga jam itu membuat kami memiliki keterbatasan waktu untuk membicarakan banyak hal. Biasanya memang membutuhkan waktu lebih dari itu untuk membicarakan satu topik saja. Paling tidak, obrolan singkat tapi tidak juga terlalu sebentar itu mampu menjadi bahan pengantar peserta untuk mendapatkan informasi-informasi dasar seputar hak seksual lesbian yang jarang sekali mendapatkan ruang. Karena itu, dalam buku ini, pembaca dapat mengamati tidak banyak pula obrolan Kongkow Lez yang tercatat, dan aku berusaha menambahkan beberapa informasi dari konteks perkembangan isu seksualitas lesbian muda terkini. Kegiatan tanpa memungut biaya dari para peserta ini diharapkan dapat menjawab kebutuhan teman-teman lesbian yang berasal dari kelas menengah ke bawah yang kurang mampu untuk selalu nongkrong di kafe dengan harga minuman dan makanan yang cukup mahal. Kami menyiasatinya dengan sistem “pot luck” atau makanan dan minuman seadanya yang dibawa beberapa teman untuk dinikmati bersama pada setiap pertemuan. Pada waktu itu pun kami belum memiliki tempat atau sekretariat yang cukup nyaman untuk dipakai Kongkow Lez, sehingga harus berpindah- pindah dari satu tempat ke tempat lain di wilayah Jakarta. Karena tempat yang selalu berpindah-pindah, terkadang-kadang kami harus membawa- bawa atau menggotong-gotong perlengkapan acara seperti tikar, pengeras suara, kue-kue, dan minuman. Mayoritas dari kami para pengendara sepeda motor. Kami meluncur dan melewati jalanan penuh macet di Jakarta sambil membawa semua perlengkapan yang lumayan berat dan cukup besar ukurannya. Benar-benar momen yang seru dan juga dipenuhi semangat teman-teman komunitas. Pertemuan berlangsung terkadang beralaskan tikar. Kami juga mendapatkan bantuan dan dukungan dari teman komunitas yang memiliki kafe di wilayah Jakarta Selatan yangxiv
  • Pengantar Penulismemperbolehkan kami menggunakan kafenya sebagai tempat untukKongkow Lez sebanyak dua kali pertemuan. Yayasan Jurnal Perempuan,tempat aku bekerja sebagi jurnalis radio pada tahun 2005-2006, punmendukung kegiatan kami dengan memperbolehkan menggunakankantornya. Kemudian juga kantor HIVOS South East Asia memberikandukungan memperbolehkan kami mengadakan pertemuan Kongkow Lezbeberapa kali. Kami sangat beruntung dan berterima kasih kepada merekayang telah membantu dan mendukung kegiatan Kongkow Lez sehinggabisa berlangsung secara reguler hampir tiap bulan. Karena keterbatasan sumber daya dari komunitas, maka setiappertemuan hanya diadakan di wilayah Jakarta. Namun, kami mendapatrespons positif dari teman-teman komunitas lesbian muda di luar Jakartauntuk mengadakan Kongkow Lez di daerah mereka yang merasa masihkurang informasi dan kegiatan untuk komunitas lesbian. Bahkan, teman-teman komunitas lesbian muda dari luar wilayah Jakarta seperti Bandung,Semarang, Yogyakarta, hingga Timor Leste waktu itu menyempatkanmenghadiri kegiatan ini. Kami terharu melihat betapa antusias merekauntuk bergabung di acara ini, meskipun menempuh perjalanan sangat jauh.Hal ini menunjukkan betapa lesbian muda di Indonesia mendambakansebuah ruang aman dan positif untuk bisa berbagi. Karena itu, penerbitan buku ini bertujuan untuk menyebarkan danberbagi informasi dari hasil obrolan santai atau Kongkow Lez kepadateman-teman komunitas lesbian muda di seluruh wilayah Indonesia. Kamiberharap mampu menyebarkan buku ini sampai ke tangan teman-temankomunitas lesbian muda dari Sabang sampai Merauke. Dalam penulisan buku ini, kami tidak menyebutkan nama asli parapeserta Kongkow Lez, karena kami menghargai hak privasi mereka yangmemilih untuk belum menunjukkan identitas dirinya sebagai lesbian diruang publik. Kami paham betul, tidak mudah untuk bisa menunjukkan xv
  • Kami Tidak Bisu identitas diri sebagai lesbian di Indonesia. Namun kehadiran mereka pada waktu itu dan berpartisipasi aktif dalam diskusi dengan pemikiran- pemikiran yang dituliskan dalam buku ini, tentu akan sangat membantu teman-teman lesbian lain yang masih kurang mendapatkan akses informasi tentang seksualitas lesbian. Beberapa topik obrolan Kongkow Lez telah berubah dan berbeda jika dikaitkan dengan konteks terkini. Perkembangan masing-masing individu peserta Kongkow Lez dalam perjuangan identitas dirinya sebagai lesbian menjadi proses refleksi bagi kami saat ini, bagaimana mayoritas dari mereka telah menjalani kehidupan yang lebih baik. Namun, di sisi lain, ada pula beberapa konteks perubahan situasi sosial dan politik di Indonesia yang menempatkan kelompok lesbian semakin termarjinalkan. Semua itu mudah-mudahan dapat dipahami dan dimengerti ketika membaca keseluruhan buku ini. Kata-kata dalam buku ini diupayakan membumi, ringan, dan sesederhana mungkin agar dapat dibaca dan dimengerti oleh teman-teman komunitas lesbian muda di Indonesia. Kami berusaha mengurangi istilah-istilah asing, akademisi, atau bahasa-bahasa “dewa” aktivisme yang sering dikeluhkan komunitas lesbian muda Indonesia karena terkadang sulit dimengerti. Hal ini juga menjadi kritik aku terhadap strategi aktivisme di Indonesia yang mayoritas selama ini dirasa kurang menggunakan strategi komunikasi yang tepat terhadap kelompok dampingan atau kelompok target yang ingin diberdayakan. Sebagai sesorang yang pernah mengenyam pendidikan jurusan public relations, aku sangat peduli bagaimana penggunaan metode strategi komunikasi yang tepat untuk pengorganisasian komunitas yang selama ini kulakukan terhadap komunitas lesbian muda di Indonesia. Ya, mungkin juga para aktivis yang senang bermain bahasa menggunakan kata-kata dewa tersebut sekadar ingin menunjukkan kepada khalayak betapa merekaxvi
  • Pengantar Penulisintelektual yang patut diacungi jempol, tanpa mempertimbangkanpentingnya pesan yang ingin disampaikan kepada komunitasnya dapatdicerna dan dimengerti dengan baik, sehingga mampu membangunkesadaran kritis untuk turut berpartisipasi dalam pergerakan atau aktivismeyang harus dilakukan bersama-sama, bukan seorang diri. Kami juga memilih judul “Kami Tidak Bisu”. Kami ingin memberi jawabankepada publik yang mempertanyakan, pada pergerakan LGBT di manakahsuara para lesbian di Indonesia. Mayoritas publikasi, penerbitan, danpergerakan LGBT di Indonesia didominasi isu hak-hak seksual laki-lakihomoseksual dan transgender (laki-laki ke perempuan). Sedikit sekali kitabisa menemukan publikasi tentang hak-hak seksual perempuan lesbian.Kalaupun ada, lebih membicarakan seksualitas untuk kebutuhan dankeuntungan laki-laki. Perempuan sering kali dianggap tidak punya seksualitas, terbuktimisalnya ketika berbicara tentang sejarah budaya di Indonesia, banyakorang membicarakan Indonesia memiliki tarian tradisional Warok Gemblagyang menggambarkan erotika seksualitas laki-laki homoseksual. Kemudiankelompok bisu, kelompok spiritual transgender laki-laki ke perempuan,yang dianggap sebagai orang suci pada masa ketika Islam belum masuk keIndonesia. Budaya mairil, perilaku seks sesama jenis laki-laki, di lingkunganpesantren. Sepatutnya kita pertanyakan di mana sejarah budaya seksualitasperempuan lesbian di Indonesia? Ketika mengunjungi Amerika Serikat dan beberapa negara di EropaBarat, terutama Belanda, aku cukup tercengang menemukan beberapaliteratur hasil penelitian lesbian Indonesia di toko buku atau perpustakaandi sana. Literatur itu cukup banyak disebarkan, bahkan dibicarakan banyakorang, dan jarang sekali aku mendengar itu dibicarakan oleh komunitasLGBT di Indonesia. Sayang memang hasil penelitian tersebut tidak banyakdipublikasikan dan disebarluaskan di Indonesia, tetapi banyak dipublikasikan xvii
  • Kami Tidak Bisu dan disebarkan di Amerika Serikat dan Eropa Barat dalam versi bahasa Inggris, bukan bahasa Indonesia, yang tentu makin mempersulit kelompok lesbian di Indonesia untuk bisa mengaksesnya. Pertanyaanku, jika memang hasil penelitian yang melibatkan banyak lesbian menjadi narasumbernya bertujuan pemberdayaan lesbian di Indonesia, tentu harus pula dapat diakses dan disebarkan kepada kelompok lesbian di Indonesia. Hal ini berkaitan pula dengan adanya kode etik penelitian yang seharusnya mengutamakan narasumber sebagai subjek dan bagaimana mereka dapat diuntungkan dari hasil penelitian tersebut, tidak hanya berperan sebagai objek penelitian. Namun ada pula beberapa peneliti dari Barat berperan dalam kemajuan pergerakan LGBT di Indonesia, yang tidak hanya mengeksploitasi kelompok LGBT di Indonesia. IPP pernah mendapati seorang peneliti mengeksploitasi komunitas kami menjadi bahan penelitian yang dipresentasikan pada konferensi internasional para akademisi di sebuah negara Eropa Barat, tanpa ada pemberitahuan kepada pihak kami sebelumnya. Selain itu banyak pula mahasiswa yang melakukan penelitian untuk skripsi ke organisasi kami, namun tidak pernah kembali dan menghubungi kami setelah proses itu selesai, tanpa kami mengetahui hasilnya. Seharusnya dia memberikan hasil penelitian tersebut kepada kami sebagai bahan pembelajaran IPP. Pengalaman buruk ini membuat aku kecewa sekali dan mengharapkan para peneliti dan akademisi lebih sensitif terhadap komunitas LGBT dan menjalankan kode etik penelitian dengan baik sebagai bentuk penghargaan akan hak privasi kami. Aku sebenarnya percaya bahwa akademisi dan aktivis bisa saling bekerja sama dan saling mendukung untuk perubahan sosial yang lebih baik, jika memang dalam jalur yang tepat. Perempuan lesbian di Indonesia diupayakan mampu menuliskan isu seksualitas dari perspektif mereka sendiri, karena sering kali dianggap isu seksualitas LGBT adalah bawaan budaya “Barat” dan bukan budayaxviii
  • Pengantar Penulis“Timur”. Tulisan dari kelompok lesbian lokal diharapkan mampu mengubahpola pikir masyarakat bahwa seksualitas bukan hanya milik “Barat”.Seksualitas hal yang manusiawi dilakukan setiap manusia. Terlebih ketikaberbicara hierarki masyakarat di dunia secara global, orang-orang kulitputih atau Barat, memiliki hak istimewa dan keuntungan untuk lebih bisaberbicara dan menuliskan mengenai seksualitas ketimbang kelompokorang-orang kulit berwarna di belahan selatan dunia seperti ras Asia danAfrika. Kita harus mengakui, penjajahan yang dilakukan kulit putih terhadapbeberapa bangsa di bagian selatan dunia selama berabad-abad masihberdampak sampai saat ini. Dari sisi hak, pendidikan kita masih jauhtertinggal dibandingkan dengan negara-negara di Barat, akibat penindasanyang membuat kita jauh terbelakang. Hal itu terlihat pula bagaimanamayoritas masyarakat di Indonesia masih mengagungkan segala sesuatuyang berasal dari kulith putih. Mengistimewakan hal-hal yang bersifatbawaan orang-orang kulit putih, karena menganggap orang kulith putihlebih pintar, memiliki banyak uang, dan tuan. Padahal, berdasarkanpengalamanku berinteraksi dengan mereka, tidak semuanya seperti itu. Dikaitkan dengan isu seksualitas, sebut saja buku-buku terbitan tentangseksualitas yang banyak menjadi acuan atau rekomendasi di duniaakademisi dan aktivisme hak seksual, mayoritas merupakan hasil karyatulisan orang-orang kulit putih. Di manakah suara-suara seksualitas darikelompok orang kulit berwarna, yang dapat menjadi acuan konteks lokalkita sendiri? Hal itu menjadi pemikiranku akan arti politik feminisme“Personal is Political” bahwa pengalaman pribadi yang dialami harus mampudituliskan dengan perspektif kita sendiri. Feminisme seharusnya tidakselalu mengandalkan pemikiran dari negara luar, tetapi pengalamanseksualitas kita di konteks lokal sendiri. Maka dalam penulisan buku ini aku tidak mengutip teori-teori ilmiah xix
  • Kami Tidak Bisu dari buku-buku seksualitas dari negara Barat, aku sekadar menuliskan berbagai pengalaman teman-teman, narasumber, dan pengalamanku di Indonesia dan di beberapa negara lain dalam proses pengorganisasian komunitas lesbian muda yang kujalankan lebih dari enam tahun. Karena aku tidak memiliki latar belakang sebagai akademisi untuk berbicara seksualitas lesbian muda, aku lebih percaya pengalaman merupakan guru berharga ketimbang buku-buku bacaan. Namun, sampai saat ini aku masih berusaha menggunakan kedua proses itu secara bersamaan untuk menunjang pengorganisasian komunitas IPP. Penulisan buku ini juga bertujuan menuliskan perjalanan IPP sebagai organisasi lesbian feminis muda di Indonesia. Jika melihat konteks pergerakan feminis, diharapkan catatan perjalanan Kongkow Lez ini membangun wacana bahwa kelompok perempuan muda dengan kreativitas dan semangat mereka mampu berpartisipasi dan berkontribusi dalam perjuangan dan penegakan hak asasi manusia di Indonesia. Banyak pula aku melihat dan mendengar pembicaraan tentang pemberdayaan perempuan muda di Indonesia atau negara lain di dunia, tapi sering kali dalam pembicaraan itu yang aku baca dalam beberapa buku dan juga diskusi dalam beberapa forum seminar, lokakarya, konferensi, diskusi di tingkat nasional dan internasional, bukanlah perempuan muda yang berbicara atau bersuara, melainkan perempuan-perempuan yang sudah dalam tingkat senior atau berusia tidak muda. Menurutku, jika memang benar kita ingin melakukan pemberdayaan perempuan muda, maka ruang- ruang itu harus perempuan muda yang berbicara, menjadi pemimpin dan terlibat aktif dalam proses pengorganisasian. Pernyataanku ini tidak bermaksud ingin membentuk jarak yang tidak harmonis antara “yunior” dan “senior”, tetapi akan lebih baik jika perempuan muda belajar dari pengalaman sejarah para pendahulu dan sebaliknya, para pendahulu belajar dari generasi perempuan muda yang mengalamixx
  • Pengantar Penulissituasi politik dan budaya yang berbeda. Karena zaman terus berubah danstrategi yang dipergunakan tentu menyesuaikan konteks zaman tersebut,demi sebuah pergerakan yang melibatkan partisipasi lintas generasi.Feminisme adalah tentang solidaritas yang bisa dibangun dengan salingkepercayaan. Anak muda adalah adalah orang-orang pembentuk masadepan, karena itu perlu diberikan ruang dan kepercayaan untuk merekadari sekarang berpartisipasi aktif sebagai subjek pergerakan, tidak lagiberperan sebagai objek. Tidak ada revolusi tanpa partisipasi anak muda.Karena itu, kehadiran buku Kongkow Lez ini adalah sebuah keinginan kamiuntuk berpartisipasi dalam perubahan sosial di Indonesia. Kabar gembira, ketika buku yang menceritakan perjalanan lima tahunIPP ini akan diluncurkan, beberapa laki-laki gay muda dan remaja di Jakartadatang menemui kami untuk minta bergabung melakukan kegiatanbersama. Karena sampai saat ini belum ada komunitas atau organisasiyang menjadi kelompok pendukung mereka. Biasanya di beberapa negara,komunitas atau organisasi lesbian bermunculan ketika didahului pergerakanlaki-laki gay, tetapi berbeda dalam konteks perjalanan kami. Jadi, sampaisaat ini, meskipun IPP merupakan organisasi lesbian muda dan remaja,kami melibatkan beberapa teman-teman laki-laki gay muda dan remajadalam beberapa kegiatan. Sejak Oktober 2010 kelompok laki-laki gay danlesbian muda dan remaja ini tergabung dalam komunitas Klub Anak Pelangiyang sering melakukan pertunjukan seni dan budaya seperti tarian, operet,nyanyian, dan musikalisasi puisi sebagai bagian strategi kampanye hakasasi LGBT. Awalnya IPP memang fokus dan eksklusif sebagai kelompok pendukunguntuk teman-teman lesbian muda dan remaja. Namun pada tahun 2010kami menyatakan diri sebagai organisasi perempuan lesbian, biseksual,dan transgender (LBT) muda dan remaja. Sebab, dalam perjalananKongkow Lez yang kami adakan, muncul pula beberapa isu penting terkait xxi
  • Kami Tidak Bisu perempuan LBT muda dengan kehadiran mereka pula. Selain itu, kabar yang paling menggembirakan, semakin bermunculan lesbian muda di beberapa kota selain Jakarta, yang berpotensi menjadi pemimpin atau pengorganisasi komunitas di wilayah masing-masing. Bahkan beberapa dari komunitas tersebut memang sudah berjalan aktif saat ini. Bravo!xxii
  • I Apakah Aku Normal? Aku takut memetik mawar karena aku adalah mawar Lili Kaca128 Januari 2007. Itu kali pertama kami menyelenggarakan KongkowLez. Bincang-bincang santai ini diikuti 25 lesbian dari beragam latarbelakang dan ditemani Ninuk Widyantoro, seorang psikolog yang saat inijuga merupakan Ketua Yayasan Kesehatan Perempuan. Senang sekali kamidapat menghadirkan Mbak Ninuk di tengah kesibukannya. Kongkow Lez diawali pemutaran film Saving Face yang menuturkan1 Perempuan Pelangi: Kumpulan Cerpen dan Puisi Lesbian Muda Indonesia (Institut Pelangi Perempuan, 2008) 1
  • Kami Tidak Bisu kisah pasangan lesbian keturunan China yang hidup di Amerika Serikat. Beberapa adegan menggambarkan perjuangan berat seorang anak perempuan lesbian untuk berterus terang kepada orang tuanya, karena tradisi China menjunjung tinggi nama baik keluarga. Film ini juga menggambarkan betapa kebingungan seorang tokoh lesbian ketika menyadari rasa cintanya yang dalam terhadap seorang perempuan. Gambaran di film ini memang tak jauh berbeda dari pengalaman teman- teman lesbian, khususnya kegelisahan atas perasaan “tidak normal” terkait identitas lesbian. Bagi teman-teman lesbian yang sudah dapat menerima dirinya dan berterus terang kepada orang-orang di lingkungannya, penilaian normal atau tidak barangkali sudah tak lagi menggelisahkan. Namun, bagi teman- teman lesbian yang belum mendapatkan informasi mengenai homoseksualitas, uraian penilaian tersebut masih penting untuk diperbincangkan. Kondisi ini juga sebanding lurus dengan pandangan kalangan heteroseksual yang sebagian besar masih menganggap homoseksualitas sebagai kondisi yang tidak normal. Pada obrolan di antara lesbian muda, sebagian masih menyebut dirinya sekong, istilah gaul yang artinya “sakit”. Demikian juga dalam obrolan kalangan heteroseksual, mereka menyebut normal untuk ketertarikan perempuan - laki-laki dan tidak normal untuk ketertarikan sesama perempuan atau sesama laki-laki. Penilaian “tidak normal” juga dipengaruhi penggambaran lesbian oleh media, yang sebagian besar masih diskriminatif dan memberikan label negatif. Opini bentukan media ini juga yang kemudian mempengaruhi opini publik, termasuk opini sebagian besar kalangan lesbian. Lalu bagaimana gagasan hetero sebagai “normal” dan homoseks sebagai “tidak normal” menjadi arus pemikiran utama di masyarakat? Pada awal perbincangan, Mbak Ninuk memaparkan sejarah homoseksual yang tercatat sejak zaman Romawi. Bahkan realitasnya jauh sebelum itu, yaitu sejak adanya manusia. Sejarah mencatat kaum Lesbos, yang2
  • Apakah Aku Normal?dikucilkan karena perbedaan orientasi seksual. Lalu mereka pergi ke sebuahpulau untuk membangun komunitas sendiri. Jadi, tidak benar pandanganbahwa homoseksual sebagai gaya hidup yang identik dengan modern ataumasa kini. Mbak Ninuk juga mengingatkan bahwa ilmu psikologi, yang fokusutamanya mempelajari manusia, memasukkan unsur mitologi yangkemudian mempengaruhi konsep tentang manusia. Konsep yang palingmendasar adalah pemisahan anima - animus, eros - logos, feminin - maskulin,dan lain-lain. Sifat-sifat ini yang kemudian diletakkan pada manusia sesuaigender. Selalu diajarkan bahwa perempuan bersifat halus, pengalah,penyabar, pengasih, pengurus rumah tangga, dan seterusnya. Sedangkanlaki-laki memiliki sifat logis, independen, dan seterusnya. Berdasarkansifatnya, manusia diposisikan pada salah satu titik ekstrem: perempuanatau laki-laki. Walaupun kini pengotak-ngotakkan manusia seperti itusudah tidak relevan lagi. Ilmu psikologi akan sulit mempelajari manusiaapabila terbagi hanya pada dua titik ekstrem tersebut. Pengklasifikasianhomo atau hetero juga sudah tidak bisa lagi diterapkan. Kenyataannya, ditengah kedua orientasi seksual ini masih ada beberapa kategori, sepertibiseks, transeksual, dan transgender. Sebenarnya sudah puluhan tahun lalu homoseksualitas bukan lagidianggap sesuatu yang tidak normal, melainkan sebagai kondisi alamiah.Sejak tahun 1974 Asosiasi Psikiatri Amerika (APA) menyatakanhomoseksualitas bukan lagi gangguan jiwa atau penyakit. OrganisasiKesehatan Dunia PBB (World Health Organization) pada 17 Mei 1990mencabut homoseksualitas dari daftar International Classification of Disease(Klafikasi Penyakit Internasional). Sejak itu 17 Mei diperingati sebagai HariInternasional Melawan Homofobia dan Transfobia (International DayAgainst Homophobia dan Transphobia atau IDAHO). Di Indonesia,Departemen Kesehatan mengeluarkan Pedoman Penggolongan danDiagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ), sebuah acuan profesi kesehatan jiwa 3
  • Kami Tidak Bisu dan akademisi di seluruh Indonesia, yakni PPDGJ - II (1983) dan PPDGJ - III (1993) yang menyebutkan homoseksualitas bukan penyakit kejiwaan. Sayang semua informasi penting tersebut belum banyak disebarkan di kalangan lesbian dan masyarakat Indonesia, bahkan di kalangan psikolog dan psikiater. Bahkan seorang psikolog ternama, pada rubrik konsultasi psikologi di salah satu media cetak besar, menyarankan seorang homoseksual berupaya menjadi heteroseksual. Lalu bagaimana teman- teman lesbian menyikapi situasi ini? Mbak Ninuk menegaskan, ilmu psikologi sudah menyatakan homoseksualitas bukanlah penyakit atau kelainan. Perlu membiasakan untuk mengatakan dan meyakinkan diri bahwa “saya normal”. Penting untuk mengikis sifat menutup diri atas perasaan bersalah. Sebab, perasaan bersalah itu menimbulkan perasaan berdosa pada banyak lesbian, yang mengakibatkan semakin menjauhkan diri dari aktivitas ibadah. “Jika perasaan negatif terus menggeluti pikiran, justru bisa menimbulkan rasa lemah. Nomor satu yang paling penting adalah menerima diri sendiri dahulu.” Proses penerimaan diri itu juga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Wati, lesbian berumur 24 tahun, yang bekerja pada organisasi perempuan di Jakarta membagikan pengamatannya. Ia sering mendapatkan kenyataan di sekitarnya, seperti di forum internet, teman-teman lesbian mengalami kondisi psikologis yang labil atas orientasi seksualnya. Apalagi kelompok lesbian di Institut Pelangi Perempuan (IPP) yang rata-rata berusia muda. Mereka memiliki kemungkinan kondisi mental yang lebih labil dibandingkan dengan lesbian berusia lebih dewasa. Menurut Mbak Ninuk, pilihan hidup memang harus ditetapkan dengan mantap. “Yang paling penting jangan takut. Dan, menjalaninya dengan pasti. Jika tidak, akan menimbulkan kelabilan.” Meski tidak dimungkiri seorang lesbian memerlukan proses panjang untuk membuka diri. Di tengah perbincangan, teman-teman lesbian juga mempertanyakan4
  • Apakah Aku Normal?mengapa lesbian cenderung lambat membuka diri dibandingkan dengangay. Sebagian peserta Kongkow Lez juga menguatkan bahwa hal sepertiitu tidak hanya terjadi pada lesbian di Indonesia, tetapi juga di dunia.Menurut Mbak Ninuk, penyebab utama adalah karena perempuan sejakdulu selalu dilekatkan dengan label-label yang merugikan atau stigmatisasi.“Perempuan anima yang lemah dan sabar,” kata kata Sigmund Freud.Berbeda dari laki-laki yang bertipe mandiri serta mampu membuatkeputusan akibat pelekatan sifat mandiri. Ketidaksetaraan gender yangmendarah daging pada budaya dan agama tersebut membuat perempuanterus terstigmatisasi, di luar konteks apakah dia heteroseksual ataupunhomoseksual. Intinya, untuk mencapai kesetaraan hak bagi perempuansaja sulit, apalagi bagi perempuan yang lesbian. Hal itu berimplikasi padapelabelan negatif yang lebih besar pada perempuan yang lesbiandibandingkan pada laki-laki yang gay. Tidak mengherankan bila hambatanuntuk coming out (mengakui identitas seksualnya sebagai lesbian) lebihbesar pada perempuan yang lesbian dibandingkan pada laki-laki yang gay. Seorang peserta membagi pengamatannya terkait diskriminasi terhadapperempuan atas perlakuan hukum. Menurut dia, status hukum perempuandi Indonesia diletakkan di bawah status hukum laki-laki. Misalnya, dalampembuatan paspor, pendirian perusahaan, pemakaian kontrasepsi,semuanya harus atas izin suami, bapak, atau saudara laki-laki. Fakta jugamenunjukkan perempuan lesbian yang coming out berisiko tidakmendapatkan kesempatan bekerja atau bahkan kehilangan pekerjaan.Seorang peserta, pegawai negeri sipil, membenarkan adanya risikokehilangan pekerjaan jika pegawai yang lesbian coming out. Di lingkungankerjanya, pegawai yang homoseksual lebih sulit dipromosikan dibandingkandengan pegawai yang heteroseksual. Fakta-fakta tersebut membuktikankesetaraan antara perempuan heteroseksual dan laki-laki susah diakui,apalagi bagi lesbian, perjuangannya jauh lebih berat dan panjang. “Jadi,perjuangan hak perempuan adalah usaha kita bersama, baik yang 5
  • Kami Tidak Bisu heteroseksual maupun homoseksual,” kata seorang peserta. Beruntung pelabelan negatif terhadap perempuan tersebut tidak terjadi di setiap lingkungan kerja, sebagaimana pengalaman seorang peserta yang berhasil coming out di tempat kerjanya, sebuah organisasi yang memperjuangkan hak perempuan. Di tempat ia berkiprah itu identitas lesbiannya tidak dipermasalahkan. Ia bersyukur menghadapi kenyataan bahwa tidak semua masyarakat menolak lesbian. Pengalamannya ketika muncul dan berbicara di televisi ternyata membuat beberapa ibu yang memiliki anak lesbian meneleponnya ke kantor. Perbincangan melalui telepon menyadarkan ibu-ibu tersebut bahwa realitas yang dihadapi anak mereka sebagai lesbian sangat berat. Mereka pun jadi tahu bagaimana harus bersikap kepada anaknya. Cerita menggembirakan lainnya, kisah ratusan lesbian yang mengadakan aksi dan mengundang guru-guru untuk berdiskusi. Diskusi tersebut membantu para guru bagaimana harus bersikap kepada murid atau keluarga yang anaknya lesbian. Dari cerita-cerita gembira tersebut dapat disimpulkan, ketika seseorang tidak menerima status lesbian bukan berarti tidak suka, bisa jadi karena belum paham. Karena itu, Mbak Ninuk menyarankan memperbanyak penerbitan buku-buku yang ditulis lesbian untuk membantu teman-teman lesbian yang masih tertutup agar lebih bisa menerima diri, terbuka, dan secara perlahan mengubah paradigma masyarakat yang keliru tentang lesbian dan homoseksualitas.6
  • II Berterus Terang kepada Orang Tua Menjeritkah rahim ibu bila kubisikkan sebuah rahasia Bila debaran hasratku untuk seorang perempuan Estha Vadose1T opik obrolan homoseksualitas, tinjauan psikologi, dan penerimaandiri pada Kongkow Lez pertama mengingatkan peserta pada kebutuhanuntuk berterus terang kepada orang tua dan orang-orang di lingkunganterdekat seperti keluarga, teman sekolah, lingkungan kuliah, atau tempatkerja. Banyak lesbian muda belum berani mengungkapkan orientasiseksualnya di lingkungan sekolah, kampus, tempat kerja, dan keluarga,1 Perempuan Pelangi: Kumpulan Cerpen dan Puisi Lesbian Muda Indonesia (Institut Pelangi Perempuan, 2008) 7
  • Kami Tidak Bisu terutama terhadap orang tua, karena homoseksual belum diterima masyarakat dan tidak ingin menyakiti perasaan orang tua. Kesulitan semakin menjadi ketika mengetahui pengalaman mereka yang sudah coming out dan disikapi dengan tindak kekerasan oleh orang tua. Kongkow Lez juga diikuti teman-teman laki-laki gay. Ada pula dr. Lukas Mangindaan, psikiater yang juga dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dan Maggy Agusta, ibu yang memiliki anak laki-laki gay dan bekerja di sebuah media berbahasa Inggris di Jakarta. Waktu itu Minggu 28 Februari 2007. Kami duduk melingkar di atas tikar di kantor Yayasan Jurnal Perempuan (YJP). Perbincangan diawali pengakuan beberapa teman saat orang tuanya mengetahui mereka lesbian atau gay. Dewita, lesbian berusia 24 tahun, berdarah Tionghoa, berbagi pengalaman ketika orientasi seksualnya diketahui orang tua, tanpa sengaja. Hal itu terjadi ketika mantan pacarnya menelepon ke rumah dan bercerita kepada ibunya. “Awalnya ibu diam saja. Beberapa hari kemudian bertanya kepada saya. Sepertinya ibu tidak menganggap serius dan meminta saya menjauhi perempuan itu,” ujarnya. Setelah itu Dewita akan dinikahkan, walaupun niat perjodohan itu akhirnya hilang sendiri. “Orang tua tidak pernah membahas lagi dan saya pun tidak pernah lagi membawa perempuan ke rumah. Meskipun demikian, adik perempuan masih suka memarahi jika saya kedapatan sedang bicara di telepon dengan perempuan.” Upaya menikah dengan laki-laki dilakoni Dian, lesbian yang masih bergelut dengan penerimaan dirinya, terutama di bawah ajaran bahwa lesbian adalah dosa. Dian yang berusia 30 tahun dan pekerja swasta pernah mencoba menjalin hubungan dengan laki-laki dan berencana menikah pada tahun 2007. “Sudah 13 tahun kami jalan bersama dan saya mencoba menyukai dia, tapi selalu perempuan yang terbayang. Akhirnya... cukup! Saya sudahi. Walau saya tidak pernah mencoba mencari perempuan, karena menurut saya, menjadi lesbian adalah dosa,” tuturnya. Ketika8
  • Berterus Terang kepada Orang Tuamengenal komunitas Institut Pelangi Perempuan, Dian bertemu teman-teman yang dapat memahami orientasinya. Hal itu menumbuhkankeberanian untuk berbicara kepada keluarganya. “Adik dan kakak sayasangat keras menghadapi ini, tapi ibu sangat toleran sambil berharap suatusaat saya berubah. Untuk saat ini saya memutuskan tetap di komunitas IPP,karena saya benar-benar menemukan seseorang yang sangat spesial,”ujarnya. Merespons penuturan tersebut, dr. Lukas Mangindaan membagikanpengetahuan mengenai homoseksualitas dan upaya menikahkan homoseksdalam konsep heteronormatif. Menurut dia, ilmu kedokteran danhumanisme membedakan rasa sayang dan eros. Jika seseorang tertariksecara erotis kepada sejenisnya disebut homoseksualitas. Istilahhomoseksualitas ini berlaku untuk perempuan lesbian dan laki-laki gay.Eros berbeda dari rasa sayang. Perempuan yang merasa sayang kepadasesama perempuan, belum tentu lesbian. Bisa saja tidak ada unsurerotisnya. Ketika ada unsur erotis baru dapat dikatakan homoseksualitas.Walau ada mitos yang memandang homoseksual sebagai penyakit menular,kini seluruh dunia sudah mengakui homoseksual bukan penyakit, melainkanidentitas atau ciri khas serta naluri yang dimiliki seseorang sejak lahir.Identitas ini harus diterima apa adanya, seperti penerimaan atas warnakulit dan suku bangsa. Jadi, penting untuk menghilangkan homofobia,yaitu sikap atau perasaan negatif, tidak menyukai gay dan lesbian danhomoseksualitas secara umum. Dokter Lukas mengingatkan bahwa menjadi homoseksual adalah naluri,tidak bisa dipilih. Banyak homoseksual menikah secara heteroseksual, tapibelum tentu ada sisi erotis. Nalurinya tetap saja seorang homoseksual.Pernikahan bisa menjadi topeng, tapi akhirnya akan terjadi kehancuranperkawinan dan mengorbankan kehidupan orang lain, yaitu pasangan. Adajuga yang menikah secara heteroseksual dan bisa berlangsung lama sepertilayaknya pasangan menikah pada umumnya. Itu juga harus dihormati, asal 9
  • Kami Tidak Bisu bisa bertanggung jawab atas pilihannya. Ada juga yang bertahan untuk hidup bersama pasangan sejenisnya. Jadi, tidak ada yang bisa disalahkan. Tidak bisa menyalahkan ibu, komunitas, atau kesalahan pergaulan. Homoseksual adalah identitas yang melekat pada seseorang. Pengetahuan tersebut memang penting untuk dipahami lesbian dan keluarganya. Lemahnya pemahaman tersebut dapat berakibat pada pemaksaan kehendak orang tua untuk mengubah orientasi lesbian, sebagaimana pengalaman Wati, 25 tahun. “Saya tidak mengaku secara langsung, karena saat itu sedang kuliah dan secara ekonomi masih bergantung pada orang tua. Ketika bergabung dengan organisasi perempuan, keterlibatan di organisasi membuat saya semakin yakin dengan identitas lesbian. Sampai akhirnya saya diwawancarai sebuah media tentang lesbian yang membuat keluarga mengetahui identitas saya. Akibatnya, saya dikurung di rumah dan tidak diberi akses komunikasi, karena dianggap terlibat kenakalan remaja. Saya dianggap membenci laki- laki akibat terlibat di organisasi perempuan. Saya dibawa ke ustad dan orang pintar untuk mendapatkan bimbingan agar mengubah orietasi seksual dari lesbian ‘kembali’ menjadi perempuan heteroseksual.” Wati mengikuti kemauan keluarganya, hingga akhirnya bisa bebas dan mandiri. Tetapi kesedihan terdalamnya adalah cara ibunya memaknai orientasi lesbiannya. “Ibu saya menyalahkan diri sendiri. Ia merasa saya menjadi lesbian akibat dirinya kurang baik mendidik saya.” Kekhawatiran orang tua bahwa anaknya berdosa dan tidak mendapatkan pahala karena lesbian juga dialami Sinta. Fotografer berusia 29 tahun ini menuturkan, di Indonesia bukan perkara mudah untuk coming out kepada orang tua. “Karena pembicaraan seks saja sudah sangat tabu di sini. Saat saya coming out, ibu takut nasib anaknya ke depan seperti apa. Takut anaknya tidak diterima masyarakat dan tidak mendapat pahala.” Pada titik itu, Sinta juga merasa konsep kebahagiaan menurut orang tuanya dan menurut dia berbeda. “Ibu saya tidak bisa memahami konsep kebahagiaan10
  • Berterus Terang kepada Orang Tuasaya. Ketika ada sesuatu yang berbeda, manusia biasanya cenderungtertutup atau takut karena tidak tahu. Manusia sering takut denganketidaktahuan. Itulah yang saya lihat dari mereka. Saya pun sulit mengertiperbedaan, mengapa orang tua saya bisa heteroseksual?” Menurut Ibu Maggy, menjadi orang tua yang terbuka sangat baik untukmendukung anaknya. “Seandainya saya dan suami tertutup, pasti Paul,anak saya, tidak akan berani berbicara.” Ibu Maggy menyadari setiap orangmemiliki pribadi yang berbeda-beda dan setiap manusia berhak atasperbedaan itu, meskipun budaya memberikan definisi tertentu. “Palingpenting dari semua itu adalah kita yakin dan percaya pada diri sendiri sertaharus menyiapkan mental,” katanya. Sedangkan Paul Agusta melihat pengalaman teman-teman lesbian jugadipengaruhi pandangan dan masyarakat terhadap perempuan. “Sayamempunyai teman yang tidak berani bercerita ke orang tua. Biasanyamereka menunggu sampai mandiri dan tinggal terpisah dari orang tua,baru berani bicara. Memang lesbian perlu membuktikan kemandirian.Sebab, salah satu ketakutan orang tua adalah anak perempuannya tidakbisa hidup sendiri. Karena kebanyakan orang tua berpikir perempuan perludinafkahi dan dilindungi.” Pengamatan Paul juga didukung pengalaman come out teman-temangay yang pengalamannya tidak lebih mudah dari pengalaman teman-teman lesbian, sebagaimana pengalamannya. Gay berusia 28 tahun yangberprofesi sebagai sutradara dan produser film independen ini menuturkan,sejak kecil ia dibiasakan terbuka kepada ibunya, karena keluarganya sangatliberal. “Suatu hari saat saya ungkapkan bahwa saya gay, ibu malah bilang‘I know that, so what?’. Jusrtu ketika berterus terang ia merokok, Pauldimarahi selama dua jam dan tidak sedikit pun dibahas tentang gay. “Untukke papa, bukan aku yang bicara, tapi mama. Papa menangis tetapi bukankarena kecewa, melainkan karena amat sayang dan takut hidupku nantitidak bahagia. Tapi sekarang papa sudah menerima.” 11
  • Kami Tidak Bisu Hal senada disampaikan Tono, 27 tahun. “ Saya lumayan dekat dengan ibu. Saat lebaran saya beranikan mengaku kepada ibu, sambil menangis menjelaskan orientasi seksual saya. Tetapi ibu biasa saja karena sudah tahu sejak dulu. Ia bisa terima hal itu dan berpesan agar saya mencari pasangan yang baik dan bisa menghargai sebuah hubungan. Paul, pasangan saya, sudah saya kenalkan dengan orang tua dan tidak masalah. Saya pun sudah berkenalan dengan orang tua Paul dan sampai saat ini hubungan kami sangat baik.” Tentu saja pengalaman dua teman gay ini tidak serta merta mencerminkan seluruh pengalaman teman-teman gay, begitu juga tuturan teman-teman lesbian. Beberapa situasi juga dipengaruhi karakter orang tua. Ria, 26 tahun, menanyakan bagaimana meyakinkan orang tua bahwa lesbian itu tidak salah. Peserta berbagi tips untuk membiasakan isu homoseksual kepada keluarga. Misalnya, mengumpulkan literatur tentang homoseksual dan menyerahkan, baik secara langsung maupun tidak langsung, ke keluarga untuk dibaca. Dengan begitu, lama-lama mereka menjadi terbiasa dan berpikiran terbuka. Ria menuturkan, ia menunjukkan identitas lesbian ke ibunya dengan memotong rambut pendek dan bertanya apakah ia terlihat ganteng. Cara lain, membawa pacar perempuan menginap di rumah dan mengenalkannya dengan keluarga sampai seperti keluarga sendiri. Wati berbagi pengalaman membuka dirinya kepada keluarga. “Keluarga tahu dari media. Itulah kesalahan saya, karena tidak memberi tahu mereka secara langsung. Saya sempat mengalami proses kebingungan dan kesedihan. Beruntungnya saya waktu itu mempunyai seorang teman yang berprofesi sebagai psikolog. Ketika galau, saya menghubungi teman yang psikolog ini untuk meminta saran. Dia menyarankan saya mengikuti kemauan keluarga yang ingin mengubah oritentasi seksual dari lesbian ke heteroseksual. Saya mengikuti kemauan mereka yang sangat berat itu, agar tidak dianggap frontal dan pemberontak. Setelah mengikuti semua12
  • Berterus Terang kepada Orang Tuakeinginan mereka, saya tegaskan lagi bahwa saya tidak bisa berpura-pura,saya masih mencintai sesama perempuan. Saya tidak ingin menyakitikeluarga dan ingin tetap menjadi anak yang baik, dengan hidup mandiridan bekerja. Saya tunjukkan bisa eksis dengan diri saya sendiri. Walausampai sekarang mereka tetap tidak bisa menerima, setidaknyaketerbukaan ini membuat saya lebih lega dan beban terkurangi,” ujarnya. Sedangkan Ratih sempat kehilangan hubungan ibu dan anak yangsangat berharga ketika melakukan coming out. Ia menyarankan setiaporang harus sadar konsekuensi yang dihadapi setelah berterus terang.“Tanya diri sendiri apakah sudah siap menerima kenyataan kehilangansesuatu dari diri dan keluarga. Kalau siap, silakan nyatakan. Tetapi kalaubelum siap, jangan nyatakan.” Menurut dr. Lukas, sering kali orang tua memiliki konsep hidup idealtentang memiliki anak, menikahkan, dan akhirnya mempunyai cucu. Ketikaanaknya coming out sebagai homoseksual, tentu mengagetkan. Sedikitnyaada tiga tipe respons orang tua ketika anaknya coming out. Pertama,respons yang ekstrem. Orang tua cenderung keras dan bahkan bisamenyiksa hingga membunuh anaknya karena homoseks. Kedua, responsyang normatif. Pada awalnya orang tua bingung dan kurang menerima,kemudian bisa menjadi toleran. Ketiga, respons yang toleran. “Hanya dirisendiri yang paling mengenal sifat orang tuanya. Kalau tipe orang tua kitakeras dan bisa sampai membunuh, sebaiknya jangan berterus terang.” Menanggapi saran agar tidak berterus terang jika orang tua ekstrem,Wati pun gelisah. “Bukankah justru sikap terus menutup diri itu akanmenimbulkan tekanan pada diri anak?” tanyanya. Dokter Lukasmengatakan, yang terpenting adalah menerima diri sendiri dan percayadiri. “Jangan menyalahkan diri dan depresi sampai benci diri sendiri. Hindaripertanyaan kenapa saya homoseksual. Kenapa bergaul dengan teman-teman homoseksual. Kenapa dilahirkan sebagai perempuan, dan lain-lain.”Sikap seperti itu penting agar teman-teman dapat membangun mental 13
  • Kami Tidak Bisu sehat dan bahagia menjadi homoseksual dan menerima diri. Juga agar mampu menghadapi tantangan hidup. Yaitu menerima bahwa sudah mencoba menjadi heteroseksual tapi selalu tidak bisa adalah bagian dari tantangan yang sudah dicoba. Selain itu juga agar mampu menerima orang apa adanya. Apabila orang tua homofobia, pahami bahwa mereka memang dididik normatif, yang menganggap orang normal hanyalah heteroseksual. Ketika merasa orang tua keras tapi bisa berubah, coba pahami terus sampai menjadi toleran. Perlu pula bersikap positif terhadap diri dan orang lain. “Jangan benci diri dan teruslah bersikap baik kepada orang lain. Kalau hal- hal ini bisa dijalani, silakan berterus terang kepada orang tua,” ujar dr. Lukas. Terkait dengan pengalamannya, Wati menanyakan, apa yang harus dilakukan ketika orang tua menyalahkan diri sendiri karena menganggap salah mendidik anak. Menurut dr. Lukas, perlu dilakukan penyebarluasan penelitian yang menyatakan homoseksualitas bukan karena salah didikan orang tua. Ada yang menyimpulkan kedekatan dengan salah satu orang tua membuat orientasi anak berubah. Hasil penelitian ini hanya kebetulan. Jika diperhatikan, anak homoseksual menunjukkan gejala itu sejak kecil, karena unsur otaknya yang seperti itu. Sifat anak justru yang membuat dia cenderung dekat dengan ibu atau bapaknya. Bukan terbalik. Buktinya, banyak single parent yang anaknya heteroseksual. Selain itu, pada laki-laki homoseksual ada unsur genetik. Seorang anak homoseksual kemungkinan besar memiliki silsilah keluarga yang homoseksual. Ini tipikal pada laki-laki homoseksual, bukan lesbian. Sedangkan pada lesbian, penemuan menunjukkan ada faktor hormon laki-laki selama janin perempuan dalam kandungan. Janin ini memproduksi hormon laki-laki yang lebih banyak. Otaknya dibanjiri hormon laki-laki. Jadi, kemungkinan ada faktor hormon yang memepengaruhi perkembangan otak. Sedangkan pada laki-laki homoseksual, ada faktor kromosom sehingga sebagian dalam otaknya berorientasi seperti perempuan hetero.14
  • Berterus Terang kepada Orang Tua Perbincangan ini menggelisahkan Ferdi, 25 tahun. “Sejauh apapentingnya dukungan orang tua untuk seorang homoseksual?” tanyanya.Menurut Tono, dukungan orang tua sangat penting. “Alangkah indahnyaapabila tiap ada masalah larinya ke orang tua.” Ibu Maggy menguatkanpendapat Tono. Sungguh baik jika orang tua menerima dan mendukunganaknya untuk berkembang. Anak akan lebih bahagia, tenang, dan percayadiri. Karena, ketika seseorang merasa berbeda, itu sudah cukup membuatinferior. “Jadi, peran orang tua penting, tapi lebih penting si anak percayadan yakin diri sendiri,” kata Ibu Maggy. Wati mengingatkan perlu memahami orientasi seksual terlebih dahuluuntuk bisa meyakinkan orang tua. “Kalau kita saja masih bingung, tentuakan lebih sulit menjelaskan kepada orang tua.” Dokter Lukas menguraikan,“Intinya terima diri sendiri. Jangan merendahkan diri, lalu menganggapheteroseksual superior (kesempurnaan) dan homoseksual inferior. Identitasmenunjukkan perbedaan tanpa mengatakan superior atau inferior. Menjadilaki-laki homoseksual atau perempuan lesbian adalah menunjukkan siapaAnda (identitas Anda), bukan tentang superior atau inferior. Terima dirisebagaimana adanya. Jangan menyesali mengapa tidak dilahirkan sebagaiheteroseksual. Selama perasaan bersalah masih ada, percuma sajadukungan dari orang tua dan lingkungan, sedangkan ia tetap membencidirinya. Terima dirimu sendiri!” Setelah perbincangan anak dan orang tua, Dian, 23 tahun, bertanya,bagaimana jika keluarga liberal dan bisa menerima, tapi tidak tahanmenerima cemooh dari kerabat dan tetangga. Dokter Lukas menjawab,perlu dilakukan penyebarluasan pengetahuan bahwa homoseks bukannurture (faktor lingkungan) tapi nature (alamiah). “Bantu orang melihatkonsep multikultural (keragaman budaya) dan pluralisme (keragamanidentitas kelompok dalam suatu masyarakat. Dan mengutamakan toleransi,berinteraksi, serta membaur tanpa memicu konflik. Tidak ada yang lebihtinggi atau lebih rendah.” Selain itu penting juga memahami konsep 15
  • Kami Tidak Bisu kesehatan jiwa mengenai kemampuan menerima orang lain yang berbeda sebagaimana adanya. “Ini konsep baru, tapi jika disebarluaskan pelan- pelan ke orang tua, guru, dan teman, semoga mereka bisa memahami perbedaan dan jadi tidak melecehkan.” Gagasan pentingnya menyebarluaskan pemahaman homoseksualitas ini direspons peserta Kongkow Lez. Dedi mengajak teman-teman gay dan lesbian datang ke rumahnya, sehingga keluarga mengetahui lingkungan pergaulan Dedi dan menjadi terbiasa. Wati menaruh majalah atau bahan bacaan mengenai homoseksualitas di ruang keluarga agar dibaca dan pikiran mereka perlahan terbuka. Ibu Maggy menyarankan peserta mulai menulis mengenai homoseksualitas yang positif di media seperti koran dan majalah agar masyarakat lebih mengerti dan melihatnya dari sisi positif. “Masyarakat ada yang ekstrem dan fundamental yang mengatasnamakan moralitas, agama, dan terkadang menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan. Tetapi masyarakat yang netral dan bisa diajak mengerti jumlahnya lebih banyak,” kata Ibu Maggy, menutup perbincangan kami sore itu.16
  • Berterus Terang kepada Orang Tua Bertemu Perkumpulan Orang Tua LGBT Catatan Perjalanan Penulis Mendengar pengalaman-pengalaman teman-teman lesbian yangkurang menyenangkan terkait berterus terang kepada orang tua,mengingatkanku pada masa-masa sulit menjalani masa remaja sebagailesbian. Waktu itu aku sedih, bingung, dan takut. Lantas aku berusahamencari informasi di internet untuk membantu pemahamanku mengenaiorientasi seksual sebagai lesbian. Dalam proses pencarian informasiitu aku cukup tercengang ketika menemukan sebuah artikel di internettentang Rainbow Family atau Keluarga Pelangi, sebuah komunitas di SanFrancisco, Amerika Serikat, yang beranggotakan para orang tua yangmemiliki anak berorientasi homoseksual. Komunitas ini hidup untukmemberikan dukungan kepada anak-anak mereka. Selesai membacaartikel itu aku berangan-angan alangkah bahagia aku dan teman-temanlesbian remaja di Indonesia jika ada komunitas serupa di sini. Selang beberapa tahun setelah berkegiatan di Institut PelangiPerempuan, tepatnya pada tahun 2009, aku mendapatkan undanganmenjadi pembicara pada Konferensi Hak Asasi Manusia Lesbian, Gay,Biseksual, dan Transgender (LGBT) di Belanda. Seorang teman aktivisLGBT di Den Haag memberikan beberapa informasi mengenai kegiatanLGBT di negaranya. Salah satu topik obrolan yang paling menarikperhatianku adalah ketika dia menyebutkan sebuah nama organisasiorang tua LGBT. Tanpa pikir panjang aku meminta informasi agar bisamenemui mereka. Teman yang baik itu menawarkan diri menghubungimereka dan mengatur janji pertemuan. Di sela-sela waktu luang berkunjung ke negara pertama di duniayang melegalkan pernikahan sejenis itu, akhirnya aku bertemu selamabeberapa jam dengan seorang ibu rumah tangga yang aktif dalamkomunitas orang tua LGBT tersebut. Ibu berkulit putih, berambut pirang,dan berusia sekitar 60 tahun itu menceritakan proses membentuk 17
  • Kami Tidak Bisu komunitas itu. Rupanya komunitas tersebut dibentuk untuk menjadi wadah saling mendukung para orang tua yang masih kesulitan atau kebingungan dalam proses memahami dan menerima identitas anaknya sebagai homoseksual. Kegiatan itu mereka lakukan sambil minum teh di salah satu rumah anggota komunitas. Melalui obrolan santai itu mereka menumbuhkan peran orang tua yang ramah terhadap anak yang homoseksual. Komunitas ini tumbuh pada tahun 1970-an dan terus berlanjut hingga sekarang. Kami tidak bisa berbicara cukup lama, karena ibu itu memiliki kesibukan lain. Yang berkesan, sekaligus membuatku terharu, ibu itu mengatakan menyempatkan diri menemuiku ketika tahu aku datang dari organisasi lesbian di Indonesia. Ia teringat ibu kandungnya yang berdarah Indonesia, sehingga merasa ingin menemui anaknya yang datang dari Indonesia. Ia pun mengatakan akan menganggapku seperti anaknya sendiri di mana pun aku berada. Di Turki, negara perbatasan Asia dan Eropa yang mayoritas penduduknya muslim, ternyata ada komunitas serupa. Informasi itu kudapat ketika berkunjung ke Istanbul untuk mewawancarai beberapa aktivis LGBT di sana, sebagai bahan penulisan buku ini. Bahkan teman- teman di sana mengupayakan agar aku bertemu dengan komunitas orang tua pendukung LGBT di Istanbul. Sayang waktuku terlalu sempit sehingga tidak berhasil bertemu mereka.18
  • III Berterus Terang atau Menyimpannya? Cinta hadir untuk siapa pun Terbingkai manis di hati hati yang jujur Naz31P ilihan coming out atau tidak menjadi kegelisahan teman-temanlesbian sejak embrio pembentukan Kongkow Lez. Pada tahun 2005 ketikaInstitut Pelangi Perempuan mengusulkan pembentukan kelompokpendukung bagi komunitas lesbian muda, sebagian besar teman menolak.Saat itu kami sudah mempunyai kebiasaan nongkrong bareng di sebuahkafe atau tempat hiburan di Jakarta. Teman-teman merasa cukup nyamannongkrong di kafe dan khawatir jika menjadi komunitas lebih formal yangjustru membahayakan posisi kami. Teman-teman tidak ingin zona aman ini1 Perempuan Pelangi: Kumpulan Cerpen dan Puisi Lesbian Muda Indonesia (Institut Pelangi Perempuan, 2008) 19
  • Kami Tidak Bisu terganggu. Selain itu, yang dibayangkan teman-teman adalah kelompok pendukung, seperti organisasi pembela HAM yang biasa berdemonstrasi di Bundaran Hotel Indonesia, orasi di depan Istana Negara, atau berbicara kepada media massa dan menunjukkan identitas seksual kami kepada publik. Barangkali juga karena sebagian dari kami bekerja pada organisasi perempuan yang sering melakukan kegiatan seperti itu. Juga banyaknya berita di televisi dan surat kabar yang menggambarkan kegiatan demonstrasi dan berbicara kritis di depan publik. Ketertutupan kami selama ini bukan tanpa alasan. Membuka jalan hidup sebagai lesbian yang minoritas dan terpinggirkan memang dapat mengancam keamanan kami. Apalagi sebagian teman trauma akibat penolakan dari orang tua, teman dekat, dan lingkungan kerja. Ditambah lagi pemberitaan tentang perlakuan masyarakat yang homofobia terhadap lesbian, membuat teman-teman tidak percaya diri menghadapi situasi tersebut dan berusaha menutupinya. Intinya, semua pengalaman tersebut membuat teman-teman tidak mudah percaya kepada masyarakat heteroseksual. Institut Pelangi Perempuan berusaha menjelaskan kepada teman-teman bahwa berorganisasi tidak harus seperti yang mereka amati di media. Kelompok ini bisa memulai dengan sesuatu yang berbeda, misalnya pertemuan rutin membahas masalah keseharian hidup sebagai lesbian dan saling memberikan dukungan. Beberapa bulan kemudian muncul kesepakatan membuat pertemuan yang kami sebut Kongkow Lez. Undangan pun disebarkan melalui SMS, email, dan mailing list yang ditujukan terbatas kepada teman-teman yang kami kenal. Meskipun demikian, beberapa teman masih khawatir. Muncul pertanyaan dan kekhawatiran, apakah akan diliput media, apakah kegiatan diadakan di ruang terbuka untuk publik, siapa saja yang akan hadir. Institut Pelangi Perempuan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dan memastikan acara berlangsung tertutup dan aman. Berangkat dari sejarah itu, Kongkow Lez memfasilitasi bincang-bincang20
  • Berterus Terang atau Menyimpannya?santai terkait isu tersebut. Kongkow yang diselenggarakan pada 23 Februari2008 ini ditemani Danny Yatim, akademisi dan psikolog yang peduli isu HIV/AIDS. Danny memulai perbincangan dengan penjelasan coming out. Istilahitu muncul ketika beberapa gay dan lesbian di Amerika mulai capekmenyembunyikan orientasi diri. “Gue udah bosan nih sembunyi di lemari.Gue pingin keluar. Pintunya pingin gue buka. Gue pingin kasih tahu dunia,gue gay, gue lesbian....” Dari situasi itu muncul coming out dan kemudiandisingkat lagi menjadi “out” saja. “I am out”, I am not out”. Sedangkan sikaptertutup disebut in the closet. Menurut Danny, meski ada anggapan orang Barat lebih suka berbicaraterus terang, ternyata ada situasi yang membuat lesbian dan gay di sanabersembunyi. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam diri mereka dan ingindisampaikan kepada dunia. Situasi itu berlangsung pada tahun 1970-anketika gerakan gay dan lesbian muncul bersamaan dengan gerakan feminis.Masa itu kemudian dikenal sebagai gerakan gay liberalism. Barangkalisebagian orang Indonesia menganggap gay dan lesbian bersumber dariBarat yang sistem hidupnya sudah serba bebas. Namun, andai anggapanitu benar, berarti tidak akan ada gerakan gay dan lesbian? Tidak akan adaorang yang tergerak untuk coming out. “Nah, sekarang pertanyaannya, kalau kita mau coming out, kepadasiapa?” kata Danny. Dia juga menyampaikan, Dede Oetomo dari GayaNusantara menggunakan istilah “kita ini seperti menetas dari telur”. “Jadisebenarnya kita ini coming out kepada siapa?” Dila menjawab coming outkepada keluarga lebih dulu, sedangkan Nita memilih kepada diri sendiri dulusebelum kepada orang lain. Menurut Danny, ada enam tahapan coming out.Pertama kepada diri sendiri. “Berani mengaku kepada diri sendiri bahwa guelesbian, gue gay....” Berikutnya coming out kepada teman dekat. Setelah itucoming out kepada keluarga. Selanjutnya coming out kepada lingkunganpergaulan dan orang-orang yang ditemui sehari-hari. “Lalu ada coming outdi tempat kerja dan coming out kepada dunia. Minimal secara simbolis, I’m 21
  • Kami Tidak Bisu out, I’m telling the world. Saya katakan kepada dunia bahwa saya gay.” Menurut Danny, seorang lesbian atau gay juga dapat out kepada orang tertentu dan tertutup kepada orang yang lain. Sikap terbuka kepada orang tertentu dan tertutup kepada orang yang lain itu diakibatkan banyaknya stereotipe kepada gay dan lesbian. “Stereotipe itu kadang-kadang ada pada kita sendiri, pada awalnya. Kalau kita dibesarkan di dunia yang heteroseksual, seperti lagu, dongeng, cerita anak-anak, film. Semua orang diceritakan tentang Sleeping Beauty, Cinderella dan Prince Charming, Romeo and Juliet. Semua orang diperdengarkan lagu romantisme yang menanamkan si laki-laki pasti ketemu perempuan, si perempuan pasif, karena laki-laki yang pasti datang sebagai kesatria.” Ajaran itu, menurut Danny, menimbulkan pertanyaan kepada lesbian dan gay ketika dewasa. “Kenapa sih gue nggak dikasih petunjuk? Kenapa gue suka sesama perempuan?” Pada saat pertanyaan itu muncul, lalu orang merasa penting untuk coming out. Semakin banyak yang coming out, semakin menguntungkan, karena akhirnya orang tahu bahwa ada perempuan yang suka perempuan dan bukan ia satu-satunya di dunia. Santi mengatakan, kebutuhan untuk coming out tergantung pada situasi yang dihadapi. Menurut Danny, coming out itu full of surprises, dan itu bisa bersifat negatif atau positif. Misalnya, ada seseorang yang hubungannya sangat dekat dengan orang tua, tapi ketika berterus terang, ternyata orang tua tidak bisa menerima. Lalu apakah kita perlu atau tidak coming out? Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, apakah penting buat diri kita coming out? Apakah kita merasa nyaman dengan keputusan itu? Apakah kita siap dengan konsekuensinya? Walaupun ketika kita tidak coming out dan menimbulkan ketidaknyaman karena bersembunyi, itu juga jadi persoalan juga. “Banyak hal yang mesti kita pertanyakan terlebih dahulu kepada diri sendiri, apakah ingin membuka diri atau tidak? Lalu membuka dirinya kepada siapa? Kepada keluarga, teman, atau kepada teman-teman pergaulan, seperti teman kerja?”22
  • Berterus Terang atau Menyimpannya? Merespons penjelasan tersebut, Mita menuturkan pengalamannyacoming out pada diri sendiri. Aku sebenarnya sudah merasa lesbian sejakkelas V SD, tetapi baru tiga bulan ini berani coming out pada diri sendiri.Selama ini aku selalu menutupi dan mengatakan kepada diri sendiri, “No!Aku normal.” Selama tiga bulan terakhir ini aku mencoba jujur sama dirisendiri bahwa aku memang seperti ini. Tidak ada satu orang pun teman ataukeluarga yang tahu aku punya perasaan seperti ini. Karena umurku sudah 27tahun, jadi mungkin dalam waktu dekat aku akan berani coming out kepadamereka, karena aku juga sudah bisa mandiri. Aku juga pernah pacaran samacowok tetapi tetap nggak bisa. Keberanian untuk coming out ini juga tidakmuncul begitu saja. Aku bertemu teman lama sewaktu SMA. Lalu kamibareng selama tiga tahun hanya sebagai teman, walaupun perasaan sukasudah lama ada, karena aku terus menutupi dan berusaha bahwa “aku gakseperti itu kok”. Ternyata justru teman itu yang menyadarkan aku. Akutertawa mengingat saat teman menyadarkan aku dalam keadaan mabukseperti itu. Dan aku bilang, “Oh my God... selama ini aku berciuman dengancowok.” Jadi, aku tahu begitu berciuman dengan perempuan ternyatarasanya berbeda. “Inilah yang aku cari. Ini yang sebenarnya.” Tetapi yangbikin sakit hati, dia menganggap itu kesenangan saja. Dia juga mengatakan,“Ini salah dan kamu harus berubah.” Hal itu berlangsung selama enam bulan.Karena aku gila dugem, setiap weekend setelah pulang dugem, dalamkeadaan mabuk dia suka “sayang-sayang” seperti itu sama aku danbesoknya seperti tidak terjadi apa-apa. Jadi, dia menganggap itu hanyauntuk kesenangan. Begitu ada kesempatan, dalam kadaan sadar, akumencoba berbicara dengan dia. “Bagaimana? Aku sadar dan kamu jugasadar, jadi bagaimana?” Dia hanya menjawab, “Udah, ini salah, kamu nggakbisa.” Tetapi aku tetap berpikir bahwa ini tidak salah dan selama beberapatahun aku menahannya. Jadi, aku memilih jalanku dan dia memilih jalannya.Aku bilang sama dia, “One day, walaupun kita tidak sama seperti sekarang,mungkin aku akan dengan orang lain.” Jadi, sebenarnya dia juga membantumenyadarkan aku. Mungkin kalau tidak terjadi hal itu, sampai sekarang 23
  • Kami Tidak Bisu coming out sama diri sendiri saja mungkin tidak bisa. Tuntutan coming out juga bisa muncul dari orang lain, sebagaimana pengalaman Santi. “Dua tahun lalu saya mendadak harus ke rumah sakit pada pukul 12 malam. Saat itu saya diantar teman perempuan yang kebetulan sudah dicurigai orang rumah. HP saya tertinggal di rumah, akibatnya SMS-SMS dibaca keluarga. Begitu saya pulang dari rumah sakit, saya langsung ditanya. Saat itu saya tidak bisa berbuat apa-apa. Karena tidak bisa berpikir jernih, saya mengaku. Akibatnya saya disuruh keluar dari rumah dan saya hidup di luar rumah selama empat bulan. Saat saya pulang ke rumah, keadaan sudah mulai agak tenang. Tetapi tidak berapa lama kemudian keadaan menjadi panas lagi. Sampai-sampai orang tua sujud dan menangis meminta saya menjadi seorang hetero lagi.” Santi memilih coming out meskipun akibatnya tidak enak. Kini sikap dan kondisi orang tua bisa lebih tenang. Sedangkan pengalaman Ratih menunjukkan coming out-nya ditunggu- tunggu keluarga, tetapi ia masih berpikir coming out itu penting atau tidak. Ratih merasa keluarganya sudah tahu ia lesbian. “Adik saya pun sudah tahu, karena pernah memergoki ada beberapa foto dan video-video lesbian.” Ketika di kampus dan bertemu teman-teman, Ratih juga tidak bisa coming out. Pertimbangannya, orang tuanya bekerja di kampus yang sama. “Kemudian cara saya coming out ke teman-teman, karena dulu saya pernah fitnes dan mereka mengatakan, “Gila lu telanjang?!” Terus saya jawab, “Emang kenapa? Salah ya kalau cewek sama cewek telanjang? Lagian kalau lu telanjang gue belum tentu nafsu kok.” Saya juga mengatakan, “Ya nggak masalah, orang gue lesbian, tapi gue nggak nafsu ama lu.” Teman-teman jadi bertanya, “Emang lu lesbian, ya?” Saya jawab, ’nggak kok’ sambil tertawa, tetapi dalam hati mengatakan, ‘iya’. Jadi, saya berteriak-teriak di tempat itu seolah-olah menandakan antara iya dan tidak. Toh, sampai detik ini orang tua sebenarnya hanya tinggal menunggu pengakuan saya. Seperti bom waktu.24
  • Berterus Terang atau Menyimpannya? Merespons pengalaman Ratih, Danny mengatakan, jika kita tidaksanggup menghadapi risikonya, coming out bukan tidak perlu, tetapi belumperlu. “Butuh waktu yang banyak untuk kita pikirkan dulu, sampai kitamerasa nyaman untuk coming out dengan segala konsekuensinya.” Sedangkan Mita memilih bersikap hanya menjawab jika ada yangmenanyakan tentang orientasinya. “Mungkin untuk terbuka kepada orang,seperti kepada sahabat karib, aku belum. Tetapi kalau ditanya, aku akanjawab iya. Karena bagi aku itu bukan hal yang harus aku bilang ke semuaorang. Tapi kalau dia nanya, “ya, that’s me”. Lain lagi pengalaman Julia,yang mendapatkan respons di luar dugaan dari keluarganya. “Tidakdisangka aku ketahuan adikku bahwa I am Lesbian. Adikku orangnya openmind, tetapi tidak disangka dia sempat bilang, hanya satu kalimat, “Lukurang iman.” Aku jawab, “Ok.” Akhirnya kakak perempuanku juga tahu.Kakak perempuanku sangat konservatif. Bagi dia, perempuan harus manis,rapi, cantik, bisa masak, dan sebagainya. Aku justru sebaliknya. Namun,dia bertanya, “Pacar lu siapa? Ayo dong bawa ke rumah, kenalan ama gue.”Aku kaget. “Hah? Ya udah, kapan ketemu?” Di sini tidak terduganya, adikkuyang open mind tak pernah membahas lagi, sedangkan kakakku yangkupikir sangat konservatif dengan gayanya yang sangat ibu rumah tangga,justru lebih terbuka. Terkadang kakakku bilang, “Eh aku nitip film-filmlesbian dong, entar aku pinjem.” Ratih mengalami pengalaman berbeda, setelah menyampaikan bahwaia lesbian. “Pada waktu baru masuk kuliah, saya ngobrol-ngobrol denganteman yang sudah punya pacar dan dia bukan lesbian. Saya bilang samadia, sebenarnya saya lesbian. Tiba-tiba dia ngomong, ‘Oh, thank’s God’.Setelah itu teman jadi lebih dekat dan gelendotan ke saya. Saya risih, orangmengira saya ini cowok. Kejadian terulang sampai empat kali. Bahkan,pernah dengan seorang perempuan, ibu-ibu lagi, dan sudah punya anak.Kejadiannya sama, setelah saya bilang saya seorang lesbian, kami justrujadi lebih dekat. Pernah kami berjalan di suatu ruangan dengan 25
  • Kami Tidak Bisu bergandengan tangan. Tidak tahu kenapa, saya melihat sepertinya mereka merasa lebih nyaman. Namun, ada teman dekat, sampai detik ini, saya dengan dia tidak ada komunikasi lagi. Saya memusuhi dia karena saya nggak mau dia seperti saya. Sampai saya bilang sama dia, ‘Jangan sampe lu kaya gue. Nggak enak posisi seperti ini.’ Akhirnya kami sampai sekarang benar-benar musuhan. Nggak kontak-kontakan. Danny mengingatkan cara masyarakat membesarkan kita dengan bermacam-macam stereotipe, padahal tidak semua orang memiliki stereotipe itu. Seperti Ratih sampaikan ketika didekati perempuan, “ibu- ibu lagi”, memangnya ibu-ibu kenapa? Secara tidak sadar kita juga memiliki stereotipe bahwa “lesbian harus begini”. Orientasi seksual itu cair, tidak seperti mitos heteroseksual dan homoseksual. Di film Kinsey, seorang dokter tahun 1940-an yang menerima banyak pasien, mengatakan ada tujuh kelompok manusia ad. Ada yang 100 persen heteroseksual. Ada yang 100 persen homoseksual. Lalu banyak yang berada di tengah-tengahnya. Jadi, misalnya dari yang tujuh kelompok itu ada yang 100 persen homoseksual, dan enam kelompok lagi dominan homoseksual tetapi masih ada perasaan heteroseksual juga. Intinya, manusia bisa bermacam-macam orientasi seksualnya. Makanya ada istilah MSM (Men Who Have Sex With Men) atau laki-laki yang berhubungan dengan laki-laki (LSL). Saya juga agak heran kalau sekarang di pergerakan ada laki-laki bilang, “Saya sudah MSM.” Lalu saya bilang, jangan ngomong seperti itu, karena itu bukan identitas. Di Indonesia, laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) termasuk di dalamnya laki-laki gay, laki-laki yang mengaku dirinya gay, bisa juga laki- laki yang mengaku dirinya heteroseksual tetapi suka juga dengan laki-laki atau “main” dengan waria. Dan begitu bicara tentang identitas, lalu ini dijadikan satu istilah MSM. Makanya saya bilang, kita banyak dibesarkan dengan stereotipe, tetapi kita sulit keluar dari stereotipe itu. Kembali soal perlu tidaknya coming out, menurut Wati, tergantung situasi dan kondisi tiap-tiap individu. “Kalau aku melihat positifnya, coming26
  • Berterus Terang atau Menyimpannya?out itu menyehatkan diri juga. Sehat untuk psikologis diri. Karena kalau kitapendam, terlalu banyak energi yang kita habiskan untuk memikirkanmasalah ‘gue abnormal’, ‘gue berdosa’, dan sebagainya, yang sebenarnyakita normal juga. Padahal, energi kita bisa dipakai untuk berkarya,berprestasi, melakukan hal-hal yang lain.” Kalau memutuskan coming out,utamakan kepada orang yang kita percaya dan tidak harus orang tua. Temandekat bisa beragam, guru ngaji, sesama teman lesbian, dan yang lain.“Tetapi terkadang kita kecewa, ketika sudah percaya curhat sama teman,teman itu lantas bercerita ke orang lain. Jadi, buat aku penting banget untukbisa memilih dengan siapa kita akan coming out.” Wati juga mengajak untukmempertimbangkan apakah orang yang akan mendengarkan coming outitu kita yakini tidak akan bercerita kepada orang lain. Tidak akan melukaikita. “Karena ada juga yang langsung marah atau tidak suka.” Menurut Danny, coming out memang membuat perasaan lega dan“ternyata dunia gak kiamat kok, setelah saya kasih tahu bahwa saya gay”.Sebaliknya pada waktu masih tertutup, ada perasaan dunia sepi ini akanmenerkam kita, “entar gue dibilang lesbian, gue dibilang gay….” Penuhdengan ketakutan-ketakutan itu. Tetapi setelah coming out, ternyata tidakmenakutkan seperti yang dibayangkan. Danny berempati kepada teman-teman yang belum bisa coming out, karena pernah merasakan hal yangsama. Untuk bisa membuka diri dibutuhkan orang-orang yang sudahcoming out sebagai anutan dan meyakinkan bahwa “oh, ternyata ini tidakapa-apa”. Itulah mengapa dalam gerakan gay dan lesbian, coming outsangat diharapkan muncul. Walaupun tidak bisa juga menyamaratakankondisi semua orang untuk bisa melakukan itu. Contohnya Jodie Foster,bintang film Amerika. Cher, penyanyi, punya anak lesbian juga. Saatanaknya membuka diri, Cher marah. Belakangan dia memberikan alasanmengapa marah kepada anaknya. Ternyata dia marah karena sang anaktidak bercerita kepadanya, padahal dia ibunya. Tetapi mungkin sang anakjuga mempunyai banyak pertimbangan. Karena mungkin anaknya juga 27
  • Kami Tidak Bisu tidak tahu ibunya juga lesbian. Penting juga komunitas saling dukung agar tidak merasa sendirian di dunia. Kebanyakan orang tidak berani “keluar dari closet” itu, karena merasa dirinya satu-satunya di dunia ini. Namun, Wati khawatir terhadap teman-teman lesbian muda, yang menurut dia, memudahkan proses coming out. “Dia sebenarnya belum selesai dengan dirinya sendiri, tapi sudah berani coming out kepada teman- temannya, lalu masyarakat sekitarnya.” Berdasarkan pengalamannya, lebih baik tertutup dulu sampai bisa menyelesaikan kuliah. “Karena aku merasa, kalau kita sudah punya kekuatan ekonomi sendiri, itu juga bisa membantu membangun kepercayaan diri untuk coming out.” Kehawatiran serupa disampaikan Santi, yang juga masih kuliah. Merespons kekhawatiran Wati dan Santi, Julia meminta pendapat peserta Kongkow Lez apa yang dilakukan kepada lesbian muda yang telanjur coming out lalu mendapatkan penolakan dari orang tua dan itu membuat mereka terpuruk. Bahkan, ada seorang anak yang menulis semua masalahnya dalam sebuah buku, ketika orang tuanya mengetahui hal itu, anak itu diseret dan langsung dibunuh. “Karena di satu sisi mereka sudah ketahuan, mereka mendapatkan perlakuan buruk seperti nggak boleh keluar, ke mana-mana dibatasi, pulang sekolah harus langsung pulang. Di sisi lain, mereka juga ingin menunjukkan, ‘ini gue lho’. Kita juga tak bisa bilang ‘lu harus tahan’, karena setiap orang mempunyai kapasitas berbeda.” Menurut Danny, perlu mengadakan kegiatan bersama para orang tua. “Tetapi kalau untuk masing-masing individu, saya pun tidak bisa memberikan jawaban yang akurat untuk semuanya. Karena semua itu tergantung kondisi masing-masing.” Dia mengingatkan pentingnya keberadaan wadah untuk saling membantu agar tidak merasa sendirian. Sebenarnya 10 persen populasi di dunia gay dan lesbian. “Kita semua dibesarkan harus heteronormatif. Kalau jadi orang tua, cepat punya anak, nanti kalau sudah tua ada anak yang akan mengasuh dan mengurus kita. Itu semua sebenarnya hal-hal yang menimbulkan ketakutan untuk menjadi28
  • Berterus Terang atau Menyimpannya?gay dan lesbian. Jadi, bukan hanya masalah diterima atau tidak, tetapi jugakarena memikirkan tentang hidup yang sunyi, sepi. Dan masyarakat jugabelum mengakui pasangan homoseks. Orang yang sudah nyaman comingout bisa mengatakan ‘ini partner saya’. Tetapi tidak semua bisa begitu, kan?Dan ada saatnya kita ingin ‘go public’, memberi tahu bahwa ‘ini pasangansaya’. Tetapi saya juga tidak tahu, perlu tidak ‘go public’? Saya serahkankepada teman-teman.” Menyinggung sistem pernikahan, Nina menyampaikan sikapnya untuktidak coming out. “Maaf, saya hanya ingin menanggapi masalah lesbianyang menikah. Saya lesbian yang menikah dengan laki-laki, karena memilihmembahagiakan keluarga saya. Saya tidak coming out kepada mereka.Karena kebahagiaan mereka lebih penting daripada apa yang saya rasakan.Itu saja, terima kasih.” Danny merespons bahwa tidak ada yang bisa disalahkan dan dibenarkan.“Tiap-tiap orang mempunyai lingkungan yang berbeda. Kita tahu mana yangterbaik. Itu saja. Ada memang lesbian yang menikah, karena ingin punyaanak. Jadi, ada kerinduan ingin punya anak, tetapi tidak ingin punya suami.” Penolakan lingkungan setelah coming out juga kadang-kadangmenyudutkan melalui tuduhan yang tidak ada kaitan dengan orientasiseks, sebagaimana pengalaman Berti. “Ketika teman-teman tahu guelesbian, mereka nanya, ‘lu gak pikirin kalau lu bener-bener sakit, dan lu ituggak benar-lah’. Ada juga teman yang bilang, ‘kalau lu bilang diri lu belok,itu orang pedofilia, orang yang sukanya ama anak-anak kecil, lu gimanadong?’ Lalu aku jawab, ‘nggak dong, karena itu bukan aku ya, itu nafsu’.Setelah itu mereka mendiamkan aku.” Menurut Danny, anggapan homoseksual yang selalu dihubungkandengan pedofilia adalah keliru. Kenyataannya, banyak juga pedofilia yangheteroseksual. Pedofilia adalah suka berhubungan seks dengan anak-anak,tidak ada hubungan dengan orientasi seksual. Walaupun dalam pemberitaan 29
  • Kami Tidak Bisu kerap muncul pelaku laki-laki, yang menimbulkan anggapan bahwa itu perilaku para homoseksual. Itu stereotipe di masyarakat yang susah sekali diluruskan dan kita harus meluruskan itu. Sementara sebagian teman bergelut dengan pilihan coming out, sebagian lagi merasa “terdesak” untuk coming out oleh teman-temannya sendiri. Julia bertemu dengan beberapa teman yang bahkan menghindar untuk berkawan dengan teman yang sudah coming out. Mereka sulit berhadapan dengan desakan “ayo dong, kamu juga harus coming out. Kalau tertutup terus, gimana kita mau majuin pergerakan? Gimana kita mau membela kalau lu perhatian sama diri lu sendiri?” Situasi ini kadang mempersulit sebagian lesbian. “Mau coming out aja udah susah. Ditambah lagi tekanan dari teman-teman pergerakan.” Wati juga tidak setuju jika di pergerakan ada anggapan coming out segala-segalanya bagi pergerakan dan meminta teman-teman yang lain beramai-ramai coming out. Lalu sebagian bersikap sinis terhadap teman yang tidak atau belum coming out. Bahkan ada yang bilang, “Ah, si itu kan nggak coming out. Nggak selesai.” Wati pernah mengingatkan, “Lu sebagai aktivis berbicara seperti itu, tapi lu nggak ngerti proses coming out berbeda-beda pada setiap orang.” Dan mereka bilang, “Kalau lu mau diterima, ya lu coming out.” Sampai muncul istilah istilah heterofobia bagi lesbian yang takut kepada hetero. Namun, menurut Wati, itu bukan soal heterofobia. Ketakutan itu wajar, karena banyak contoh perlakuan buruk pada lesbian yang coming out. Menanggapi situasi seperti itu, Danny mengingatkan bahwa proses setiap individu berbeda-beda, tidak perlu memaksakan diri harus coming out. Dan waktu yang tepat seseorang untuk coming out juga tidak ada batasan usia. Ada yang bisa coming out pada usia 15 tahun, ada juga yang pada usia 50 tahun. Semua itu berpulang kepada diri masing-masing, karena pengalaman dan lingkungan setiap orang berbeda, juga penerimaan keluarga dan lingkungan terhadap tiap-tiap individu. Teman-teman yang memilih coming out agar dapat memahami situasi teman-teman yang belum coming out.30
  • Berterus Terang atau Menyimpannya? Wati menutup perbincangan dengan menyarankan teman-temanberpikir matang sebelum mengambil keputusan coming out, tidak perludipaksakan, ikut-ikutan tren, apalagi karena disuruh orang lain. “Karenasiap atau tidak, mana waktu yang tepat untuk coming out, teman-temansendiri yang tahu. Juga saran dari aku, pendidikan penting sehingga jikaterjadi apa-apa, paling tidak teman-teman bisa survive. Karena ketika kita‘out’ seperti Santi, saya alami itu dalam keluarga, ada menuntut kita untukmenjadi penyintas. Untuk menjadi penyintas kita perlu kematangan diri,kemapanan strategi ke depan seperti apa. Ibu Maggy sebelumnyamengingatkan perlunya memperkenalkan isu lesbian di tengah masyarakat.“Berikan bacaan-bacaan yang mendidik dan positif tentang homoseksualitaskepada keluarga, teman, dan orang sekitar, untuk membuat mereka mulaipaham.” Penting juga penerimaan diri sendiri sebelum coming out kepadaorang lain. Kelabilan penerimaan diri dapat membuat sulit untukmeyakinkan orang lain. ”Dan perlu memiliki kelompok pendukung sepertiInstitut Pelangi Perempuan. Jadi, ketika ditolak oleh keluarga, ada tempatuntuk bertumpu untuk tetap kuat. Selain itu, sebelumnya perlu jugamengumpulkan dan membagi literatur positif tentang homoseksualitas kekeluarga dan masyarakat.” Perayaan Harga Diri Catatan Perjalanan Penulis Pada tahun 2009 aku menghadiri undangan konferensi internasional organisasi LGBT muda dan remaja di Amsterdam, Belanda. Organisasi jaringan Internasional Gay Lesbian Youth Organization (IGLYO) memiliki anggota beberapa organisasi LGBT muda dan remaja yang sebagian besar berasal dari Eropa Barat. Konferensi yang dihadiri peserta dari benua Amerika, Eropa, Timur Tengah, Asia, Afrika, dan Pasifik ini merupakan juga perayaan ulang tahun ke-25 IGLYO. Jaringan oganisasi LGBT muda 31
  • Kami Tidak Bisu ini tumbuh sejak tahun 1984. Pertemuan ini menarik, karena membahas pengorganisasian komunitas LGBT muda dan remaja di tiap-tiap negara dengan konteks dan pengalaman yang beragam. Pengorganisasian teman-teman LGBT muda dan remaja di Eropa Barat dan Amerika Serikat tampak jauh lebih maju dibandingkan dengan teman-teman di Asia, Afrika, Eropa Timur, dan Timur Tengah. Bahkan beberapa organisasi LGBT muda dan remaja di Eropa Barat sudah mendapatkan dukungan dari pemerintah masing-masing. Setelah mempelajari sejarah pergerakan IGLYO, baik melalui pembicaraan dengan para pengurus maupun publikasi yang mereka terbitkan, aku menilai pada dasarnya masalah yang mereka hadapi sama dengan masalah LGBT muda dan remaja di Indonesia. Mereka menghadapi homofobia di sekolah, kampus, dan kesulitan berterus terang kepada keluarga. Berdasarkan alasan itulah mereka mulai mengorganisasi diri yang memusatkan pada pemberdayaan LGBT muda dan remaja. Seusai mengikuti konferensi IGLYO, aku mengikuti Canal Pride, pawai budaya kelompok LGBT di atas perahu dengan hiasan-hiasan unik dan menarik di sepanjang kanal-kanal di Amsterdam. Belanda yang dibangun di atas air, memiliki banyak dam yang mengelilingi kota-kota, kondisi ini membuat suasana berbeda pawai. Di negara lain, pawai Pride biasanya dilakukan di sepanjang jalan utama di kota-kota besar. Berkat bantuan seorang teman lesbian yang aktif pada salah satu partai politik yang mendukung hak asasi manusia LGBT, aku turut menaiki sebuah perahu pawai milik sebuah partai politik di Belanda. Bukan hal mudah mendapatkan kesempatan istimewa menaiki perahu peserta Canal Pride. Teman-teman LGBT di Belanda pun sulit mendaftarkan diri dan mendapat kesempatan tersebut. Aku sangat bahagia bisa menjadi diri sendiri sebagai lesbian di hadapan banyak orang. Aku juga terharu melihat masyarakat Amsterdam antusias mendukung, meramaikan, dan memadati kota, berdesak-desakan untuk menyaksikan Canal Pride dari pinggir kanal, atas jembatan kanal, jendela, atau balkon rumah. Banyak turis datang berpartisipasi dalam Canal Pride,32
  • Berterus Terang atau Menyimpannya?sehingga Canal Pride pun menjadi salah satu tujuan pariwisata yangdidukung pemerintah Belanda. Musik kencang dan ingar diputar di tiap-tiap perahu untuk meramaikansuasana. Lalu lintas pun macet, karena hampir seluruh pendudukAmsterdam berkumpul memadati sepanjang rute Canal Pride. Orang-orangmengenakan aneka kostum yang lucu dan meriah dengan atribut berwarnamerah muda dan pelangi untuk mengekpresikan hak atas kebebasan. Di antara perahu-perahu yang melintas terdapat sebuah perahu yangmenampilkan LGBT muda dan remaja berumur belasan tahun. Kehadiranmereka cukup kontroversial, karena masih sangat muda sehinggadianggap belum diperbolehkan memiliki hak memilih orientasi seksual.Namun para remaja itu sengaja menunjukkan kepada masyarakatbahwa mereka telah menyadari orientasi seksual sejak remaja dan inginmendapatkan kesetaraan hak serperti kelompok LGBT lainnya. Saya juga pernah menyaksikan Pride di Toronto, Kanada, pada tahun2010. Saat itu sejumlah polisi perempuan dan laki-laki ikut berparadedan secara terbuka menyatakan diri mereka sebagai gay dan lesbian.Meskipun instutisi tempat kerja mereka biasa dianggap penuh budayamaskulinitas, hal itu tidak membuat para polisi itu malu. Bahkan, sangatpercaya diri menyatakan identitas mereka. Hal itu mengingatkanku padaseorang polisi di Indonesia, Norman, yang video dirinya berjoget danbernyanyi layaknya artis India diunggah di situs youtube dan kemudianmendapatkan hukuman dari pimpinannya. Meskipun akhirnya saat ini diamenjadi terkenal dan mendapatkan tawaran rekaman lagu dan muncul dibanyak acara televisi di Indonesia bahkan mancanegara. Bagaimana jikaseorang polisi Indonesia memasang video di situs youtube dan mengakudia seorang gay? Di Turki yang mayoritas penduduknya muslim, ada Pride setiaptahun di pusat kota Istanbul, di sepanjang jalan Istiqlal, salah satupusat perbelanjaan dan kesibukan kota itu. Meski aku tidak pernahberpartisipasi, seorang teman aktivis transgender yang berpengalaman 33
  • Kami Tidak Bisu mengorganisasi Pride di Istanbul mengatakan, Pride tahun 2010 diikuti tak kurang 5.000 orang. Pawai Pride, yang berarti kebanggaan dan harga diri, bertujuan menunjukkan pentingnya kepercayaan diri bagi komunitas LGBT. Pride merupakan perayaan tiap tahun yang dimeriahkan dengan pertunjukan musik, pawai budaya, pameran-pameran terkait isu LGBT, dan lain-lain. Pawai Pride dilaksanakan pada musim panas sekitar bulan Juni atau Juli oleh komunitas LGBT di banyak negara yang telah melegalkan pernikahan homoseksual dan perlindungan hukum yang lain terhadap LGBT. Beberapa negara melakukan Pride, antara lain Kanada, Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Swedia, Jerman, Prancis, Australia, Turki, Taiwan, dan Srilanka. Biasanya Pride diadakan di beberapa kota saja, tidak di seluruh bagian negara. Pride sebagai bentuk kampanye HAM LBGT juga diadakan di beberapa negara yang belum melegalkan pernikahan homoseksual dan perlindungan hukum bagi LGBT. Bagiku, ketika mereka dapat melakukan pawai yang disaksikan banyak orang di ruang publik dengan aman dan lancar, itu sudah merupakan awalan untuk penghormatan HAM LGBT. Pengalaman-pengalaman tersebut membuat aku berefleksi dan memimpikan sebuah ruang untuk hak kebebasan berekspresi serta penghargaan dan penghormatan masyarakat akan keragaman orientasi seksual dan identitas gender. Situasi yang sangat berbeda dari kekhawatiran teman-teman lesbian ketika Institut Pelangi Perempuan menyampaikan ide untuk membangun kelompok pendukung bagi komunitas lesbian muda. Kita mesti terus menumbuhkan ruang kondusif itu di Indonesia.34
  • IV Sentul - Kantil, Butch - Femme, dan Andro Label tidak penting. Yang penting buat aku, perempuan yang mencintai perempuan. Dan yang penting lagi, bisa membuat aku nyaman. RatihM asyarakat di luar komunitas lesbian mungkin bertanya arti kata-kata yang menjadi judul topik kali ini. Di komunitas lesbian, kata-kata inibegitu akrab pada keseharian. Kami menggunakan kata-kata sentul, kantil,butch, femme, dan andro sebagai label-label untuk mengidentifikasikarakter dan sifat mereka. Sentul dan kantil dipergunakan para lesbianpada masa 1970-an sampai 1980-an. Sentul adalah label untuk perempuanlesbian yang berpenampilan maskulin dan kantil adalah label untuk 35
  • Kami Tidak Bisu perempuan lesbian yang feminin. Pengotakan lesbian yang berpenampilan maskulin dan feminin ini bagi sebagian besar teman dirasa sangat perlu, karena terkait ketertarikan mereka akan lesbian yang feminin atau maskulin. Pelabelan ini kemudian juga diidentikkan dengan pembagian peran antara maskulin dan feminin dalam hubungan pasangan lesbian, dalam sikap, gaya berpakaian, dan refleksi diri. Mereka menyadur kembali pola budaya patriarki, yang menganggap bahwa yang berperan maskulin identik dengan perempuan disamakan dengan posisi laki-laki dalam budaya patriarki, yang harus mencari nafkah di ruang publik, melindungi pasangan, kuat secara fisk, dan psikologis, misalnya tidak cengeng. Juga tidak melakukan pekerjan-pekerjaan rumah tangga, seperti mencuci baju atau piring, memasak atau membersihkan rumah. Perannya di wilayah domestik lebih dilayani. Sedangkan lesbian yang berpenampilan feminin diidentikkan dengan pekerjaan di ruang domestik. Komunitas lesbian muda dan remaja saat ini tidak lagi menggunakan istilah sentul dan kantil, tetapi butch, femme, dan andro. Butch dilabelkan pada lesbian yang berpenampilan maskulin dan femme untuk lesbian yang berpenampilan feminin. Sedangkan andro sebutan bagi lesbian yang berada di tengah-tengah posisi butch dan femme, yang berarti tidak terlalu maskulin ataupun feminin. Bahkan label andro pun dikelompokkaan lagi menjadi andro to butch yang dianggap condong ke sifat dan karakter maskulin dan sedikit feminin. Sedangkan andro to femme dianggap lebih memiliki banyak sifat dan karakter feminin dan sedikit maskulin. Kata femme sebenarnya menyadur dari bahasa Prancis femme yang berarti perempuan. Sedangkan butch yang diidentikkan sebagai butcher yang menyadur dari bahasa Inggris yang berarti tukang jagal yang diidentikkan dengan laki-laki yang kuat. Pola hubungan butch dan femme ini awalnya dipergunakan pada tahun 1910 - 1920 di Amerika Serikat. Pada waktu itu pola hubungan butch to butch atau femme to femme masih36
  • Sentul - Kantil, Butch - Femme, dan Androdianggap tabu. Andro disadur dari kata androgine dari bahas Yunani (androsberarti laki-laki dan gyne berarti perempuan). Pola hubungan butch to butch atau femme to femme masih seringdianggap tabu bagi sebagian besar lesbian muda dan remaja. Hal initerbukti ketika chatting di sebuah chat room komunitas lesbian pada tahun2005-an, ketika hendak berkenalan, pertama kali yang pasti dipertanyakanadalah label tersebut. Lawan bicara di chat room akan menanyakan apakahkita A, B, atau F yang berarti A untuk andro, B untuk butch, dan F untukfemme. Bisa dibilang tujuan utama mereka di chat room adalah untukmencari pacar atau pasangan. Ketika Institut Pelangi Perempuanbertanyamengapa penting sekali menanyakan label tersebut, mayoritas dari merekamenjawab karena berkaitan dengan selera untuk mencari pasangan yanglebih feminin, maskulin, atau androgine. Mayoritas dari mereka jika merasafemme pasti mencari seorang butch. Begitupun sebaliknya. Sedangkanlesbian andro bisa berpasangan dengan butch atau femme. Tidak pernahaku menemukan seorang butch mencari pacar butch atau femme mencaripacar femme. Dalam perkembangannya, sekitar tahun 2007, ketika Institut PelangiPerempuansemakin terlibat bergaul dengan komunitas lesbian muda danremaja di Jakarta, beberapa dari teman kami sudah mulai melakukan polahubungan femme to femme, walaupun untuk butch to butch sampai saat inimasih jarang. Namun, kami pernah bertemu pasangan lesbian butch tobutch yang sudah berusia sekitar 40 tahun dan 50 tahunan. Kamimengatakan demikian karena mereka sendiri yang mengidentifikasisebagai pasangan femme to femme atau butch to butch, bukan karenapenilaian pribadi. Sekitar tahun 2006 dan 2007, komunitas lesbian di Indonesia dihebohkanoleh serial drama televisi berjudul L Word yang menceritakan kehidupanlesbian di Los Angeles, Amerika Serikat. Serial drama yang selalu dinanti-nanti ini setiap serial barunya bisa dinikmati lesbian di Indonesia dengan 37
  • Kami Tidak Bisu membeli film bajakan atau mengunduh di internet. Lesbian yang mampu dapat membeli film originalnya melalui internet atau membeli di luar negeri. Serial drama ini sering menjadi topik pembicaraan ketika kami nongkrong bareng. Pola hubungan butch dan femme ini tidak bisa dimungkiri, juga merupakan sumber pola relasi yang tidak setara dan cenderung mengarah pada kekerasan. Seorang teman berusia sekitar 25 tahun menemui kami untuk curhat. Dia mengidentifikasi dirinya sebagai seorang butch. Dia kecewa karena pacarnya yang dianggap femme tidak bisa memasak atau membuat puding kesukaannya. Bagi kami, pola pikir patriarkis seperti ini yang membuat para butch merasa berperan ingin dilayani dan femme berperan melayani. Beberapa lesbian butch, karena ingin terlihat matang secara finansial di hadapan pasangan femme-nya, menjebak mereka pada hal-hal yang merugikan diri sendiri. Misalnya melakukan tindak kriminal hanya karena ingin merasa bertanggung jawab untuk memberi nafkah kepada femme-nya. Kami juga menemukan beberapa kasus lesbian butch terlibat kasus utang atau penipuan dalam urusan uang. Setelah ditelusuri, semua itu mereka lakukan karena ingin memenuhi kebutuhan finansial femme- nya. Beberapa teman lesbian femme juga mendapatkan kekerasan dari pasangan butch-nya, tapi tetap berusaha mempertahankan hubungan, karena tergantung secara ekonomi pada butch-nya. Tentu hal itu tidak terjadi pada setiap hubungan pasangan lesbian. Namun dari beberapa kasus yang pernah kami temui, menjadi pemikiran kami tentang pola relasi yang timpang di beberapa pasangan lesbian sehingga tidak setara satu sama lainnya. Jika merefleksi diri ketika masa remaja dan mempunyai seorang pacar pada masa SMU, aku pun sempat mengidentifikasi sebagai lesbian butch dan merasa selalu ingin dilayani oleh pacarku. Misalnya, sering kali minta disediakan air minum ketika haus dan enggan mengambil sendiri. Beruntung ketika masa kuliah, aku pernah menjadi relawan di organisasi perempuan yang memberikan training38
  • Sentul - Kantil, Butch - Femme, dan Androgender yang membangun kesadaran kritis tentang pentingnya kesetaraandalam hubungan tanpa membedakan peran maskulin dan feminin. Dalamartian bisa saling melayani dan memberi. Setelah mendapatkan prosespendidikan yang bermanfaat untuk mengubah pola pikir tersebut, akuberusaha menerapkannya terhadap pasanganku. Pelabelan pun saat initidak pernah aku terapkan dalam diri. Dan ketika orang bertanya label aku,jawaban aku adalah no label yang berarti aku menolak pola relasi butch danfemme. Begitu menguatnya pola relasi butch dan femme ini dalam kesehariankehidupan komunitas lesbian muda dan remaja. Suatu kali aku mencobamengangkat isu ini dalam sebuah mailing list yang dimoderatori InstitutPelangi Perempuanyang mengundang reaksi cukup keras dan tidak setujudari mereka yang sudah merasa nyaman dengan pola hubungan yangdijalani selama ini. Aku mendapatkan beberapa komentar kurang sedapdari mereka. Kejadian itu menjadi refleksi bagi aku bahwa isu ini harusterus-menerus diwacanakan demi perjuangan tentang pentingnyakesetaraan dalam hubungan lesbian. Institut Pelangi Perempuan lalu membawa topik ini pada Kongkow Lezpada 12 Juli 2008. Kongkow ditemani Ratri, penulis Perempuan di GarisPinggir, buku kumpulan cerpen isu lesbian terbitan tahun 2000, yang salahsatu cerpennya mengangkat isu butch dan femme. Dia juga feminis yangpernah aktif di sebuah organisasi perempuan di Jakarta. Seperti biasa kamimemutar film tentang lesbian yang terkait pada topik hari itu, yaitu MangoKiss. Film komedi produksi Amerika Serikat tahun 2004 ini menceritakansepasang lesbian yang hidup pada tahun 1900-an di San Francisco, yangterkadang mempraktikkan pola relasi maskulin dan feminin pada masa itu.Film ini kemudian yang menjadi bahan obrolan di sekretariat InstitutPelangi Perempuan, karena sejak awal tahun 2008 kami sudah bisamengumpulkan dana untuk menyewa sebuah rumah di wilayah JakartaPusat yang menjadi pusat kegiatan kami sampai saat ini. 39
  • Kami Tidak Bisu Ratih yang menjadi moderator, mengawali perbincangan dengan mengajak peserta mengamati film tersebut, bagaimana lesbian mengidentifikasi dirinya sebagai butch dan femme. Selanjutnya Ratih menanyakan apakah ada peserta yang tidak bisa mengidentifikasi dirinya sebagai butch atau femme. Seorang peserta mengidentifikasikan dirinya seorang femme, tetapi dengan sifat yang tidak terlalu lembut. Begitu menurut dia. Lalu moderator kembali bertanya kepada apakah label butch, femme, dan andro penting. Menurut Susi, hal itu tidak penting. Sedangkan Wati menjelaskan bahwa untuk pertama ia merasa sebagai cowok, dari penampilan yang lebih maskulin dibandingkan pasangannya. Dan karena posisi pasangan lebih feminm, jadi merasa harus mengantar - jemput dan mentraktir dia. “Begitu pula sebaliknya. Kalau aku mau minum minta tolong dia untuk diambilkan, kalau cape minta dipijit.” Tetapi Juwita dan pasangannya tidak terpengaruh label tersebut. “Misalnya aku mau nyuci, ya nyuci aja, walaupun aku kelihatan sebagai butch-nya. Dan kalau dia mau dipijit, ya aku pijit aja. Tidak jadi masalah. Yang penting kami berdua saling mengisi dan melengkapi aja. Seperti itu.” Sedangkan Erni menganggap label itu sebenarnya tidak penting. “Seperti yang Ratih bilang, aku pernah punya pasangan dengan label yang sama. Jadi, di satu sisi aku merasa harus menempatkan diri sebagai apa. Sebagai butch atau sebagai femme ketika berpacaran dengan butch. Banyak yang bilang aku andro, padahal aku tidak merasa diriku andro. Ada lagi yang bilang aku butch, tapi aku tidak sekuat butch. Kalau aku femme, kayaknya aku jauh dari sifat kelembutan. Tetapi ketika sama butch, aku merasa femme banget. Jadi, itu membuat aku bingung, label itu seperti apa. Makanya kalau ditanya labelku apa, aku jawab NL (no label), tergantung pasanganku siapa dan labelnya apa. Ratihmenuturkan, ia mengenal sentul, kantil, dan butch dari tukang ojek. Ternyata tukang ojek itu seorang lesbian yang melabelkan dirinya butch. “Pada waktu itu aku diajak ke satu tempat remang-remang, dengan musik dangdutan, dan juga sempat ditawarin cewek-cewek, yang40
  • Sentul - Kantil, Butch - Femme, dan Androtransaksinya di pinggir kali. Dari butch itu aku diajarin banyak istilah, tetapisaat itu aku masih ngeblur. Aku kenal istilah butch - femme pada tahun 1999.Bahwa butch harus begini-begitu. Dan ada yang bilang butch harusberpasangan dengan femme. Saat itu aku ngikut aja. Tetapi aku bukanbermaksud mengotak-ngotakkan ini butch, itu berarti femme. Ada lagiistilah yang aku dapat waktu itu, yaitu andro. Jadi, menurut mereka androadalah bancinya. Itu yang aku tangkap waktu itu.” Erni tidak sependapatdengan Ratih yang menyatakan andro adalah banci. Menurut Erni, androadalah biseksualnya dalam lesbian. Ratih juga setuju dengan pendapat itu,tetapi menurut dia, itu pengertian yang ditangkap dari teman-temannyasaat itu. Dari gaya berpakaian, andro semi-maskulin dan semi-feminin jadisatu. Sedangkan butch pasti dengan penampilan rambut pendek dan gayatomboy. Bahkan ada yang memakai stagen pada dadanya. Dan masihbanyak lagi penampilan mereka yang ingin menampakkan ke-butch-annya.“Tetapi suatu hari aku kok suka pada butch. Di situlah aku sadar, ternyatalabel tidak penting. Yang penting buat aku, perempuan yang mencintaiseorang perempuan. Dan yang penting lagi, bisa membuat aku nyaman,”tegas Ratih. Demikian juga menurut Santi. “Label itu sebenarnya tidakbegitu berpengaruh bagi aku. Mungkin orang yang baru pertama kenalaku, menilai aku feminin. Tapi pada kenyataannya pacar aku juga femininseperti aku. Jadi, label itu sangat tidak penting, menurut aku.” “Lalu bagaimana menurut kalian, posisi butch? Karena biasanya posisibutch ada yang overprotect pada femme-nya. Atau, mungkin di antarateman-teman ada yang merasa dirinya femme dan berpasangan denganbutch yang selalu mengatur? Dengan situasi seperti itu teman-temanmerasa tidak nyaman. Label itu sudah mengotak-ngotakkan kita. Dan,enak tidak dengan keadaan yang seperti itu? Menurut teman-temanpenting tidak label itu?” tanya Ratih. Menurut Rina, bukan masalah pentingatau tidak penting, melainkan melihat faktanya. “Seperti tadi, kita ditanyaoleh moderator, siapa yang merasa dirinya butch, siapa yang merasa dirinya 41
  • Kami Tidak Bisu femme. Atau paling tidak di antara teman-teman di sini ada beberapa yang kelihatannya butch. Aku melihat kenyataannya saja. Aku baru membaca tulisan Mbak Ratri ini sekilas dan memang pada saat aku hadir di dunia “L” (lesbian) sudah ada istilah-istilah itu. Mungkin aku merasa diriku butch, tetapi belum tentu orang lain yang melihat diriku ini butch. Jadi, semua itu mungkin tergantung persepsi masing-masing orangnya. Sekarang masalah seseorang menjadi B dengan B, F dengan F, B dengan F, atau yang lainnya itu adalah pilihan. Dan terkadang kalau kita chatting ditanya, ‘Kamu B, F, atau A (andro)?’. Kalau aku jelas menjawab diriku B. Tetapi sebenarnya menurut aku pertanyaan seperti itu tidak perlu dilontarkan, karena itu hak masing-masing orang, terserah orang itu ingin menjadi B, F, atau A. Itu sah- sah saja. Atau misalnya mereka merasa dirinya tidak perlu label. Aku juga tidak tahu kenapa kemudian muncul no label. Mungkin saja mereka bosan dengan label sebelumnya, maka muncul B dengan B atau F dengan F. Karena pasti setiap orang mengalami suatu proses dengan itu. Misalnya saja aku B dan mempunyai teman B juga, lalu kami dekat. Mungkin saja bisa terjadi hubungan B dengan B pada akhirnya. Mungkin karena aku bisa merasa B, karena mencari yang lebih feminin dari aku, makanya aku mencari F. Tetapi tidak semua orang seperti itu. Jadi, mungkin lebih baik tidak perlu dilontarkan pertanyaan “perlu atau tidak label itu?” Moderator mengucapkan terima kasih kepada pendapat temna-teman dan mempersilakan Ratri membahas “Relevankah Label Butch dan Femme?” Menurut Ratri, tiap-tiap karakter, apakah femme, andro, butch, atau no label, banyak variasinya. Seperti pendapat teman-teman, ada yang mengatakan itu tergantung dan bisa berubah pelan-pelan, tergantung mood, dan sebagainya. Tetapi enak sekali tidak jika kita diposisikan sebagai seorang femme, seorang butch, atau seorang andro. Atau bisa juga seperti yang tadi dikatakan teman-teman, “orang bilang sih aku femme, tapi aku tak merasa seperti itu”. Banyak yang bilang seperti itu. Ada juga pengalaman teman lain. Dulu ketika menjadi seorang butch, kerjanya antar-jemput dan42
  • Sentul - Kantil, Butch - Femme, dan Andromengurusi pasangannya yang femme. Lalu ada juga yang bilang “labeltidak berpengaruh meskipun aku butch”, tapi dia ragu-ragu, “butch gak yaaku?”. Dia juga mengatakan “tapi untuk masalah mencuci baju tidak adamasalah, meskipun aku melakukannya”. Jadi, tidak ada pembagian peran.Ada juga yang mengatakan, sebelumnya tidak paham, namun setelahmembaca tentang dunia lesbian yang baru diberikan, baru tahu adapengotak-ngotakan, kalau butch harus dengan femme. Kemudian ada jugayang menganggap andro ternyata penampilannya harus semi-feminin dansemi-maskulin. Jadi, ada pembagian penciptaan karakter seseorang ataspenampilan. Ada juga yang beranggapan butch rambutnya harus pendekdan tomboy. Kemudian ada juga yang sudah lebih berkembang, femmeternyata bisa juga pacaran dengan femme dan butch dengan butch jugabisa. Jadi, banyak sekali yang harus kita bisa pelajari sehari-hari. Sebelumnya juga ada pertanyaan tentang apa yang menjadi gambaranpelabelan dari dunia teman-teman lesbian sendiri. Mungkin makalah initerlalu teoretis. Aku berbicara seperti apa sejarahnya, karena inginmengetahui mengapa muncul istilah-istilah butch atau femme. Di Indonesiaistilah itu muncul tahun 2000-an. Aku tahu persis, karena tahun-tahunsebelumnya tidak ada istilah butch atau femme. Yang ada istilah sentul dankantil. Istilah ini kosakatanya lebih dikaitkan dengan istilah bunga.Digambar seperti palus, sentul, perempuan, dan femme. Kantil digambarkansebagai vas bunga. Menarik memang istilah-istilah itu, tetapi ini diIndonesia. Kemudian di Amerika, yang pertama kali menggunakan istilah-istilah itu kelompok-kelompok yang pergi ke bar dan lebih ekstrem. Dalamlesbian pertama kalinya itu ada dua. Ada butch dan femme. Ada aturanuntuk pembagian peran. Jadi, dalam kelompok lesbian itu seolah-olah adalaki-laki dan perempuan. Sejarahnya seperti itu. Namun dalam perkembangannya di Indonesia muncul istilah butch danfemme. Kalau kita amati, karena cepatnya teman-teman menggunakansarana internet untuk chatting, yang pertanyaan pertamanya adalah 43
  • Kami Tidak Bisu “identitas lesbian ini sebagai apa”. Karena bingung menyebutkan penampilan, apakah identik dengan identitas penampilan dan peran jika dijadikan satu, maka muncul istilah butch dan femme. Sedangkan istilah andro pada awalnya belum muncul. Satu tahun kemudian ada teman yang menganggap istilah-istilah itu norak sekali. Kemudian mereka bilang ini adalah andro. Lalu semakin lama ada yang tidak ingin memakai label-label itu, yang akhirnya menjadi no label saja. Itu semua penting atau tidak? Semua ada jawabannya, yaitu penting dan tidak penting. Privasi seseorang, hak pribadi seseorang, keputusan itu pilihan dari masing-masing individu, apakah mau memberikan dirinya label atau tidak. Dari wacana yang bisa kita pelajari bersama, sebenarnya aku tidak perlu lagi bertanya, dan label itu bukan sesuatu yang terlalu penting. Jadi, kita tidak perlu berantem menanggapi persoalan ini. Tetapi sering kali kita bertanya, kenapa ini sering dibicarakan juga. Hal itu untuk memunculkan kesadaran bahwa apa pun label kita, karena kita sama-sama perempuan, jadi soal pembagian peran yang harus kita pikirkan. Jangan sampai kita masih mengadopsi genre awal tahun 1950-an bahwa butch sama dengan laki-laki, bertugas sebagai pencari nafkah, lalu mengurusi pasangannya misal untuk antar-jemput, dan pekerjaan lain yang biasa dilakukan laki-laki. Sedangkan yang femme harus seperti mengurus rumah, masak, mencuci, dan sebagainya. Itu semua yang harus kita hindari. Jadi, tidak ada yang salah buat teman-teman yang masih menggunakan label, asal tidak mengadopsi pembagian peran dengan cara yang seperti itu. Karena jika menggunakan pembagian peran seperti itu, dipaksa seperti itu, bisa jadi akan muncul semacam perasaan dari salah satunya seperti, “aku emang femme tapi tak suka masak, mengurus rumah.” Tetapi pasangannya mengatakan itu tetap harus dilakukan. Yang terjadi adalah ketimpangan. Kalau aku, memang penampilan femme. Dan, aku tidak ada masalah dengan itu. Tetapi bermasalah jika aku dikelompokkan sebagai kategori femme harus masak, mengurus rumah, dan sebagainya. Karena aku tidak44
  • Sentul - Kantil, Butch - Femme, dan Androbisa masak, tidak suka mengurus rumah, dan lebih memilih memanjatmemperbaiki genteng yang rusak dan semacamnya, karena masih tinggalsendiri. Waktu sudah tinggal dengan pasangan, aku pernah bilang bahwaperan-peran yang sifatnya maskulin itu justru aku lebih siap, sepertimengurus mobil. Karena pasangan aku penampilannya femme, meskipunkadar maskulinnya cukup tinggi dibandingkan aku, dia suka masak, sukamengurus rumah, lebih pada pekerjaan yang bersifat feminin. Inilah yang menarik untuk kita kaji dan pelajari. Diharapkan dari teman-teman ada masukan dalam diskusi lain yang berkaitan dengan isu-isu ini.Sebenarnya pada saat berbagi cerita tadi, aku ingin semua teman di sinijujur dan mengaku. Tetapi tadi sudah ada beberapa ketakutan, mengaku,dan itu sebenarnya yang ingin kita dengar. Karena dari situlah kita bisasaling belajar. Ini bukan untuk membicarakan keadaan rumah tangga,melainkan lebih pada berbagi cerita. Misalnya aku dan pasangan tidakpernah menyebutkan kami suami-istri, tetapi kalau sedang bercandaterkadang seolah-olah ada pembagian peran, padahal dalam praktiknyatidak ada. Kami saling mandiri, masing-masing cari uang sendiri, mempunyaitabungan bersama. Lebih benar-benar melihat, karena sama-samaperempuan, jadi harus sama-sama berbagi hal secara berbeda. Hal lain yang menarik juga adalah urusan ranjang. Tadi belum sempatkita bahas. Film tadi juga menarik, karena ada yang membayangkanpasangannya sebagai seorang yang sangat maskulin, yaitu pelaut. Danpasangan yang feminin ini lebih merasa sebagai seorang putri yangdimanjakan oleh pasangannya. Seperti itu memang tidak ada salahnya.Tetapi yang menarik adalah jika berbicara tentang butch secara umum.Bahwa butch di ranjang harus aktif, lebih agresif, dan sebagainya. Benartidak seperti itu? Ada tidak perasaan seperti itu menghinggapi kita, femmeharus begini dan butch harus begitu? Peserta menjawab, “Ada.” MenurutRatri, hal-hal seperti itu sebenarnya tidak jadi masalah jika kedua pihaksama-sama enjoy. Tetapi aku punya pengalaman pribadi dengan beberapa 45
  • Kami Tidak Bisu sahabat, ternyata meskipun tenaganya sangat butch, dia tidak agresif sama sekali. Misalnya ketemu dengan perempuan lain, dia justru pendiam. Aku pernah bertanya kepada dia, “Di ranjang bagaimana? Kalau kamu diidolakan sebagai lady first secara fisik penampilannya, yang butch kalau di ranjang dipaksa tidak?” Dia mengaku itu menjadi hal yang sangat mengganggu dia, ketika ada teman yang ternyata masih menganggap seperti straight (heteroseksual), seorang butch harus lebih agresif. Sedangkan dia tidak bisa. Jadi, dia ada perasaan tidak nyaman ketika bertemu dengan seseorang, mulai semakin dekat, lalu mereka pacaran. Kemudian pasangannya yang mengaku femme menuntut dia lebih agresif. Dia merasa capek sekali karena tidak merasa seperti itu. Jadi, harus selalu kita bangun bersama bahwa tidak ada hubungan antara penampilan luar dan penampilan fisik, seperti rambut panjang dan rambut pendek. Aktivitas yang lebih panjang dan kegiatan sehari-hari dengan hal finansial (uang). Jadi, benar-benar baca pengalaman yang bisa dibagi, lalu kita saling tahu, saling belajar sehingga tidak bisa mengotak-ngotakkan dengan cara yang sangat kaku dan membuat orang lain tidak nyaman. Misalnya ada teman yang sebenarnya butch, ketika berpacaran dengan perempuan lain yang agak butch juga penampilannya, lalu teman-temannya bilang “kok jeruk makan jeruk”. Padahal, yang sebenarnya semua memang begitu, “jeruk jerat jeruk”, karena semuanya perempuan. Apa pun bentuknya, semua perempuan. Misalnya aku berpacaran dengan perempuan yang penampilannya butch pun, seharusnya sama jeruk makan jeruk. Karena sama-sama perempuan. Lalu teman aku itu bilang, “Ada masalah apa?” Dia curhat juga. Katanya agak terganggu oleh penerimaan teman-teman lain yang meledek. Aku jawab, itu mungkin persoalan penerimaan yang agak kaku, karena tidak semudah membalikkan telapak tangan ketika bercerita soal isu-isu sederetan penampilan. Banyak sekali yang bisa kita diskusikan tentang penampilan femme, butch, andro, dan no label.46
  • Sentul - Kantil, Butch - Femme, dan Andro Soal no label menarik. Istilah itu muncul karena orang sudah kesal(jenuh), setiap kali ditanya soal “labelnya”. Karena itu memutuskan “nolabel” saja. Seharusnya kalau memang ada yang bersikukuh dengankeputusan seperti itu, kita harus menghargai keputusan itu. Menurut aku,di dunia lesbian ini tak bisa memungkiri bahwa pelabelan itu masih ada.Tetapi kita jangan terjebak pada pembagian peran tersebut. Narasumber membagikan cerita temannya yang tidak pernahmengidentifikasi dirinya dengan satu label, tetapi lingkungan yangmemaksa dia untuk berlabel. Misalnya salah satu peserta Kongkow Leztidak memakai label femme, butch atau yang lainnya, tetapi teman-temannya mengatakan “kamu butch”. “Jadi, sikap apa yang harus kitaambil atas komentar yang seperti itu?” Ratri menjawabnya dengan kisahtemannya. Ada teman aku yang cukup ekstrem. Ketika ditanya soal label,dengan ketus dia bilang, ”Emang penting, ya?” Lebih ekstrem lagi diabilang, “Gua pengen gamparin orang yang bilang gua butch.” Memang, jikamood kita sedang tidak bagus, pasti bawaannya selalu kesal. Jadi, jika adaorang atau teman-teman yang memaksa kita untuk begini, begitu, apalagimemaksakan pelabelan pada diri kita, jalan satu-satunya menghindaridulu, jangan sampai terintimidasi. Buat saja suasana yang serius tapi santai,tetapi juga harus saling mengingatkan untuk tidak terjebak dalam polapembagian peran. Namun soal penampilan, mau tidak mau kita harusterima itu. Dulu pun aku suka kalau dikotak-kotakkan, tetapi kalau berlanjutke soal pembagian peran, aku berusaha terus mengingatkan bahwa itutidak ada gunanya. Dari hasil semua obrolan tersebut, dapat disimpulkan bahwa masih adabeberapa lesbian yang merasa nyaman dengan istilah butch, femme, danandro untuk mengidentifikasi dirinya. Tidak menjadi masalah. Yangterpenting mempraktikkan pola relasi setara dalam hubungannya. Namun,penting pula kita mulai menyebutkan istilah no label. Ini sebagai bentukpernyataan bahwa label butch dan femme adalah awal kita mulai 47
  • Kami Tidak Bisu mempraktikkan budaya patriarki dan mengotak-ngotakkan diri, yang berdampak pada praktik relasi yang tidak setara dalam komunitas lesbian.48
  • V Relasi yang Sehat Ideal bukan terletak pada apa yang menjadi perbedaan ataupun persamaan, melainkan seberapa potensi masing-masing dapat memberikan kenyamanan satu sama lain. Kongkow LezA pakah relasi sehat itu? Bagaimana menerapkannya dalam relasipasangan lesbian? Pertanyaan itu sering kali menggelisahkan lesbianmuda, karena ada anggapan relasi lesbian banyak dramanya. Karena itu,Kongkow Lez pada 27 Oktober 2007 mengangkat topik “Relasi yang Sehat”.Topik ini paling banyak diminati dan lahir dari permintaan teman-temanlesbian. Kami kadang menanyakan kepada teman-teman komunitasmelalui mailing list atau ketika mengumpulkan topik apa yang ingin merekaperbincangkan di Kongkow Lez. Ternyata topik mengenai relasi merupakansalah satu topik yang paling banyak diminta. 49
  • Kami Tidak Bisu Film yang dipilih pada pertemuan kali ini Pucinni for Beginners, drama komedi romantis produksi Amerika Serikat tahun 2006. Di film ini, kerumitan hubungan lesbian dan heteroseksual dituturkan dengan lucu. Misalnya, seorang perempuan baru putus cinta dari pasangan lesbian dan mencoba kencan dengan seorang pria. Di saat bersamaan, ia berusaha kencan dengan perempuan yang ternyata mantan pacar laki-laki tersebut. Hubungan segitiga ini pada akhirnya mereka ketahui. Kongkow Lez kali ini ditemani narasumber aktivis perempuan yang punya perhatian pada isu kekerasan terhadap lesbian. Narasumber membagi peserta menjadi kelompok kecil untuk mendiskusikan beberapa kasus mengenai relasi lesbian. Dominasi dan Harga Diri Dani, 25 tahun, profesi guru. Yuri pernah bekerja sebagai arsitek, tetapi sejak perusahaan tempat bekerja bangkrut, dua tahun lalu dan mem-PHK seluruh karyawan, Yuri belum mendapatkan pekerjaan baru. Mereka sudah berelasi selama 3,5 tahun dan tinggal bersama di rumah kontrakan. Setiap hari Dani berangkat kerja pada pukul 05.30 dan pulang pada pukul 14.00. Ketika Dani berangkat, Yuri belum bangun. Ketika pulang kerja, Dani kerap mendapati Yuri baru bangun dan belum makan. Alasan Yuri, menunggu Dani pulang kerja untuk memasak, sekalian membersihkan rumah. Dani sebenarnya kelelahan harus mengerjakan urusan rumah tangga sendirian, tetapi ia menyimpan perasaannya. Sebenarnya Dani pernah mengutarakan agar Yuri berpartisipasi dalam urusan rumah tangga mereka. Namun, perkataan Dani menyebabkan Yuri marah, bahkan hampir memukul Dani. Yuri mengatakan, mentang-mentang dalam relasi mereka penghasilan Dani lebih baik maka ingin mengatur dan menyuruh-nyuruh dirinya. Mereka sempat beradu argumen, bahkan bertengkar hebat karena hal itu. Akhirnya Dani mengalah dan memilih diam. Dani tidak ingin ada pertengkaran lagi dalam relasi mereka. Lebih dari itu, dia sangat khawatir Yuri meninggalkan50
  • Relasi yang Sehatdirinya jika terus meributkan hal itu. Rasanya terlalu sayang memutus relasiyang sudah terjalin selama 3,5 tahun. Terlalu sulit juga melepas orang yangsangat dicintai, apalagi Yuri tipe orang yang setia pada pasangan. Dari kisah itu, narasumber melontarkan pertanyaan kepada peserta.“Jika suatu saat Dani curhat ke Anda. Dia bilang, sebenarnya lelah lahirbatin melihat kelakuan Yuri. Menurut Anda, apa yang menjadi pokokpermasalahan kasus Dani? Apa yang harus diperbaiki dari relasi mereka? Apa yang akan Anda katakan, nasihatkan, anjurkan kepada mereka?” Menurut teman-teman, yang menjadi pokok permasalahanYuri menunggudilayani dan tetap merasa memiliki peran sebagai pemimpin walau tak lagiberpenghasilan. Akibatnya Dani merasa lelah lahir batin, sedangkan Yuritidak mempedulikannya. Ketika Dani mencoba mengomunikasikan masalahitu, Yuri merespons dengan kemarahan dan hampir terjadi pemukulan. Sikapini membuat Dani memilih diam karena takut kehilangan Yuri. Poin yangharus diperbaiki, pola pikir Yuri yang merasa berhak untuk tidak diatur dantidak perlu terlibat mengurus rumah tangga walau ia tak lagi berpenghasilan.Sikap ingin dilayani merupakan sikap yang lahir dari budaya patriarki.Sementara Dani yang memilih diam karena takut ditinggalkan, mengalamimasalah kepercayaan diri yang harus diperbaiki. Selain itu, terjadi pembagianperan yang timpang. Kondisi yang mereka jalani menunjukkan pembagianperan yang masih mengadopsi budaya patriarki yang tidak setara. Pada satupihak Yuri fokus menjadi kepala keluarga, sedangkan pihak lain Danimengurus rumah tangga. Hal lain yang harus diperbaiki adalah caraberkomunikasi yang dominan dan pendekatan kekerasan. Yuri yang tidakpeduli dan memilih mengekspresikan responsnya dengan kemarahan(kekerasan verbal dan psikis) dan hampir memukul (kekerasan fisik). Danimungkin saja memilih cara dan waktu yang kurang tepat dalammenyampaikan perasaannya sehingga memicu adu argumentasi. Dari analisis itu, dianjurkan mengembangkan pola pikir yang terbuka.Kalaupun dalam hubungan mereka memilih ada satu pihak yang lebih 51
  • Kami Tidak Bisu mendominasi, sebaiknya diikuti dengan kesadaran agar tidak saling merugikan dan memberatkan. Akan lebih baik bila Yuri menganggap pasangan sebagai mitra, bukan pelayan. Dani diharapkan lebih menghargai dirinya, dengan tidak terlampau takut kehilangan bila pasangan tidak mengapresiasinya dengan kepatutan. Karena tiap orang butuh untuk “saling” melengkapi dan berhak untuk dimengerti serta dihargai. Penting juga untuk meresapi bahwa kesetaraan individu bukan melulu harus persis sama, melainkan saling mengisi berdasarkan kesepakatan bersama. Ada baiknya Yuri ikut membantu mengurus rumah tangga, sembari mencari pekerjaan baru. Tak ada salahnya dan tak akan turun derajat bila kemudian peran dibalik untuk kebaikan bersama. Akan lebih baik bila keduanya saling memberikan pelayanan dan saling berkontribusi dalam keuangan bersama. Selain itu baik untuk mengembangkan komunikasi yang tepat dan tanpa kekerasan. Bila pola pikir telah terbuka, dan pembagian peran menjadi proporsional, maka akan terdorong cara berkomunikasi yang sehat, terbuka, dan jujur. Yuri akan mampu mendengar curahan hati Dani dan bukan menghakimi. Dani pun dalam menyampaikan keluh kesahnya menyesuaikan dengan tipikal Yuri, agar tidak cepat memicu adu argumentasi ataupun kekerasan. Kata maaf pun tidak lagi gengsi untuk diucapkan. Diskusi mereka akhirnya untuk mencari solusi yang adil agar relasi tetap awet. Yang Perempuan dan Yang Kurang Laki-laki Dewi, 27 tahun, bekerja sebagai staf HRD sebuah perusahaan negara di pusat kota Jakarta. Dewi berelasi dengan Lina, 20 tahun, mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta di kawasan Grogol. Mereka tidak tinggal bersama. Dewi tinggal di rumah yang sedang dicicilnya di Pondok Kopi, sedangkan Lina tinggal bersama orang tuanya di kawasan Kebun Jeruk. Mereka sudah berelasi selama 1,5 tahun. Dengan rambut lurus panjang sepunggung, paras tersaput kosmetik, pilihan busana yang mempesona, Dewi menilai dirinya feminin. Karena itu, pada awalnya Dewi heran melihat penampilan52
  • Relasi yang SehatLina yang dinilainya belum pas, karena kurang tomboy. Misalnya, Linamembiarkan rambutnya panjang dan koleksi bajunya kurang mencerminkananak laki-laki. Secara perlahan, Dewi memoles Lina agar tampil lebihmaskulin. “Biar orang lain yang lihat tidak bingung, Lin. Mana yang jadicewek, mana yang jadi cowok,” kata Dewi dengan suara serak-serak basah.Atas permintaan Dewi pula, Lina setiap sore menjemput Dewi di kantorlalu mengantarnya pulang. “Ya dong, masak tega biarin ceweknya pulangsendiri!” kata Dewi, yang dibalas anggukan oleh Lina. “Iya, itu udah tugasgue. Tanggung jawab gue juga. Gue nggak bisa memaafkan diri gue kalosampai Dewi ada apa-apa di jalan,” kata Lina. “Itu namanya cinta!” kataDewi sambil merangkul Lina. Setiap akhir pekan mereka jalan-jalan ke mal,makan, dan nongkrong di kafe. “Kadang-kadang saya yang bayarin.Kadang-kadang ya... bayar sendiri-sendiri. Tapi nanti kalo Lina udah luluskuliah, udah kerja, ya Lina dong yang bayarin. Masak ceweknya meluluyang bayarin. Malu dong,” kata Dewi. Bagaimana dengan urusan seks?“Ah, mau tau aja!” tukas Dewi sambil mengerling manja. “Ehhhm... Linaoke banget di ranjang!” lanjutnya sambil tertawa renyah. “Eh, kenapa?Saya ngapain aja? Ya nunggu aja sampai saya tuh... ya gitu deh. Ya iyalah,emang mau ngapain?” Selanjutnya Dewi bertutur bahwa dalamberhubungan seks, Lina yang harus aktif hingga Dewi terpuaskan. Jarangatau bahkan nyaris tidak pernah Dewi balas merayu dan merangsang Lina.Dari sisi Lina, ketika melihat Dewi puas, dia juga merasa puas. Narasumber menyampaikan beberapa pertanyaan terkait kisah ini.“Apakah menurut Anda, relasi Dewi dan Lina merupakan gambaran idealsebuah relasi lesbian? Jika ya, apa yang ideal menurut Anda? Jika tidak, apayang tidak ideal menurut Anda? Apakah ada yang harus diubah?“ Dilihat dari kondisi relasinya, menurut teman-teman, Lina dan Dewitergolong baru sebagai pasangan. Karena mereka tidak tinggal bersama,tidak terlihat gambaran keluhan Dewi yang mungkin akan menyiapkansegala sesuatu untuk Lina, ataupun mengurus rumah tangga. Umur yang 53
  • Kami Tidak Bisu terpaut jauh membuat Dewi merasa memiliki hak untuk membentuk Lina, yang kurang lelaki. Mulai dari cara berpenampilan mereka, agar tampak jelas perbedaan maskulin dan feminin; pengaturan keuangan di mana seharusnya femme (yang berperan perempuan) tak berkontribusi; pembagian peran di mana femme harus mendapat perlindungan setiap saat; hingga porsi hubungan seksual give without taking bagi butch (yang berperan laki-laki). Paradigma keduanya yang kontras dengan keharusan pembedaan, membuat Lina dengan senang hati mengiyakan perlakukan Dewi dan malah merasa itulah tugas dan tanggung jawabnya. Cara berpikir yang mengotakkan bagaimana pacar perempuan dan pacar lelaki bersikap serta yang lebih tua boleh membentuk karakter yang lebih muda, membuat hubungan mereka tidak ideal. Juga adopsi heteronormativitas, yaitu nilai-nilai yang dijalankan pasangan hetero, membuat pembedaan mana yang menjadi lelaki dan mana yang menjadi perempuan lengkap dengan atribut penanda si maskulin dan si feminin. Hal ini berdampak pada apa dan bagaimana yang seharusnya dilakukan oleh si butch dan si femme (pembagian peran). Keduanya secara biologis adalah perempuan, tetapi masih saja menganut cara-cara yang diterapkan relasi antara lelaki dan perempuan, diperburuk dengan pembagian peran berdasarkan jenis kelamin dan usia. Pasangan ini perlu melakukan beberapa perbaikan. Pertama, mengem- bangkan cara berpikir yang menghargai keinginan bebas. Bahwa dalam berpacaran tidak harus selalu ada perbedaan perempuan - laki-laki, yang memang sengaja dibuat untuk membedakan. Bahwa usia tidak melulu menjadi basis seharusnya apa dan bagaimana. Juga pembagian peran berdasarkan kesepakatan. Dua orang yang memiliki karakter dan cara sama persis pun, bisa saja menjadi ideal sekaligus awet, misalnya keduanya feminin ataupun keduanya maskulin. Orang boleh saja memiliki selera yang berbeda ataupun sama. Lebih kepada apakah si A tertarik kepada si B. Ini adalah masalah selera. Beneran! Jadi, ideal bukan terletak pada apa yang54
  • Relasi yang Sehatmenjadi perbedaan ataupun persamaan, melainkan apakah potensimasing-masing dapat saling memberikan kenyamanan. Pasangan jugatidak harus melulu mengadopsi budaya di mana ada yang penampilannyaharus murni maskulin dan murni feminin. Ada yang selalu membayar dandibayarin. Ada yang hanya menjaga dan hanya dijaga. Ada yang hanyamemuaskan sudah bahagia dan yang lain harus terpuaskan tanpa kewajibanmemuaskan. Hal seperti ini bisa disepakati tentang bagaimana merekaingin menjalani hubungan tersebut yang tentu saja tidak berat sebelah.Bagaimana jika dalam memberi lebih didasarkan pada keinginan untukmemberikan kenyamanan dan dalam menerima lebih ditekankan karenadatangnya dari si dia serta mengerti kondisi pasangan; bukan lagi kewajibanyang terkotakkan. Memberi itu melegakan, pun menerima bisa jadi salahsatu tanda kedewasaan sekaligus terasa menyenangkan. Usia juga tidakmenjadi patokan yang satu menjadi penuntun dan yang lain dituntun. Halini tidak pula mengharuskan yang lebih tua harus lebih dewasa dari yangmuda. Idealnya adalah sama-sama berupaya bersikap dewasa.Bertemu dan Berpisah Secara Baik-baik Rosa, 23 tahun, staf produksi di sebuah rumah produksi, sangat hati-hatidalam membuka identitas orientasi seksualnya kepada orang lain. Dia tidakingin mendapat kekerasan, diskriminasi, atau pelecehan akibat coming out.Apalagi di tempat kerjanya dia sama sekali tidak pernah membuka hal ituke rekan-rekannya. Rosa berelasi dengan Angel, 23 tahun, selama duatahun. Di awal hubungan mereka, Rosa mengingatkan Angel agar tidakmembicarakan hubungan mereka kepada teman-temannya. Angel berjanjitidak membuka hal tersebut. Angel yang ramah dan mudah bergaul bekerjasebagai fotografer di sebuah majalah wanita. Melihat cara bergaul danlingkungan kerjanya, Rosa khawatir Angel tertarik atau digoda oleh paramodel yang datang ke kantor majalah tersebut. Secara selintas memangAngel pernah berkata sering diajak makan siang oleh beberapa model. Dan 55
  • Kami Tidak Bisu secara diam-diam Rosa pernah mencek SMS inbox di HP Angel. Ada beberapa SMS dengan nada intim. Lama-lama Rosa tidak tahan, sewaktu Angel makin sering pulang terlambat dari kantor dengan alasan yang tidak jelas. Mereka bertengkar hebat. Rosa melarang Angel bergaul lagi. Angel yang merasa dikekang, balik marah dan menuduh Rosa gila. Sejak itu relasi mereka tidak dapat dipulihkan kembali. Hingga suatu hari, setelah bertengkar hebat, mereka akhirnya putus. Angel rupanya tidak terima putusnya hubungan mereka. Dia terus mengirimkan SMS dan email berisi kata-kata makian kepada Rosa. Puncaknya, Angel mendatangi tempat shooting di mana Rosa sedang bekerja. Di tengah-tengah kru produksi, Angel berteriak-teriak marah, mengatakan Rosa lesbian yang telah menghancurkan hidupnya. Narasumber melontarkan beberapa pertanyaan. “Menurut Anda, apa yang terjadi selama mereka berelasi, hingga setelah putus keadaan jadi begitu runyam? Jika Rosa meminta bantuan kepada Anda, saat kejadian di tempat shooting, apa yang akan Anda lakukan? Jika Angel yang meminta bantuan, apa yang akan Anda lakukan?” Penyebab kerunyaman relasi mereka adalah kekhawatiran Rosa yang berlebihan. Terlihat dari cara Rosa yang diam-diam melihat inbox Angel. Sikap itu juga merefleksikan kurangnya rasa percaya kepada pasangan. Sedangkan Angel kurang inisiatif memberikan penjelasan kepada Rosa. Sikap itu refleksi dari kurangnya pemahaman tentang perlunya memberikan rasa tenang kepada pasangan. Pelarangan Rosa kepada Angel agar tidak terlalu bergaul merupakan refleksi dari kurangnya memahami karakter pasangan. Sikap Angel yang ditunjukkan dengan kemarahan, makian dalam bentuk SMS dan email merupakan refleksi dari komunikasi yang kurang berkualitas. Tindakan Rosa yang memutuskan hubungan berdasarkan asumsi merupakan refleksi dari ketidakmatangan emosi. Angel yang berteriak untuk mempermalukan Rosa di tempat kerja merupakan refleksi dari belum mampu menghargai hak orang lain untuk coming out ataupun tidak.56
  • Relasi yang Sehat Beberapa tanggapan untuk Rosa. Terima kenyataan bahwa banyak rekankerja yang telah mendengar langsung berita bahwa di adalah lesbian, yangtelah menghancurkan hidup Angel. Tetaplah berkarya di bidang kerja dimana pun juga. Bila kemudian mendapatkan kekerasan, pelecehan, ataupundiskriminasi dari tempat kerjanya, berkonsultasi kepada pihak yang tepat.Bersiap pada kemungkinan terburuk. Misalnya, keluar dari tempat kerjayang melihat kita hanya dari orientasi seksual dan mengenyampingkanprestasi. Namun bila rekan-rekan kerja hanya shock sesaat, makabersyukurlah karena memang tidak melulu orang yang heteroseksual ituhomofobia, banyak juga yang ramah terhadap LGBT. Maafkanlah diri sendiridan maafkanlah Angel, karena manusia memang mungkin melakukankesalahan. Sampaikan pula maaf kepada Angel bila keputusan itu menyakitihatinya. Beri Angel pengertian bahwa keputusan tersebut untuk kebaikanbersama. Bersiap untuk kemungkinan terburuk bila Angel semakin menjadidan hubungi pihak yang tepat untuk membantu masalah ini. Ke depan, untuk menghindari hal serupa terulang, yang harus pertamakali ditumbuhkan adalah rasa percaya sebelum menjalani suatu hubungan.Supaya tidak kelewat waswas, sehingga ketenangan dapat dirasakan keduabelah pihak. Kenali karakter pasangan agar tahu bagaimana caramenyampaikan dan menyikapi sesuatu sehingga masing-masing merasamemiliki ruang yang cukup untuk bergerak dan dapat menjadi diri sendiri.Biasakan mengomunikasikan sesuatu yang masih asumsi pribadi, supayatidak berujung pada keputusan yang mengagetkan pasangan dan tidakterjadi kekerasan. Tanggapan untuk Angel.Terima kenyataan bahwa Rosa telah memutuskanhubungan dan hidup tidak berakhir sampai di situ. Bahwa sesuatu yangbermula pasti berakhir, bisa saja lama ataupun singkat. Namun, satu halyang pasti, proses akan selalu ada untuk bisa kita nikmati bila kita mau. Maafkanlah diri sendiri. Maafkanlah Rosa yang belum bisa memahamimuseperti yang kamu mau. Sampaikan pula maaf kepada Rosa karena telah 57
  • Kami Tidak Bisu mengingkari komitmenmu untuk tidak memberi tahu siapa pun tentang hubungan kalian. Tetaplah menjadi pribadi yang ramah dan mudah bergaul. Jadikan pengalaman ini untuk lebih mematangkan emosi sehingga terhindar dari kecerobohan yang dapat merusak masa depan, terlebih masa depan orang lain. Bila kamu pernah merasa terkekang, hal itu tidak lain karena kurangnya inisiatif untuk menjelaskan ketika kecurigaan menyelimuti pasangan. Komunikasikan dengan baik, yang tentunya bukan dengan kecenderungan merasa terintimidasi selalu. Coba untuk terlebih dahulu pahami apa yang ingin disampaikan pasangan dan apa pula alasan dari pesan tersebut. Mungkin lebih mudah bila dikatakan bahwa tidak hanya diri kita yang butuh dimengerti. Akan lebih bisa dinikmati bila hubungan diawali dengan baik, diikuti dengan proses yang baik pula, kalaupun harus berakhir tetap menyisakan kebaikan bagi bersama. Dari diksuksi kasus tersebut, Kongkow Lez menyimpulkan, ketika menumbuhkan sikap setara pada tiap-tiap individu akan mempermudah komunikasi berkualitas dengan pasangan. Komunikasi berkualitas dapat menghindarkan dari tindak kekerasan dan melahirkan relasi yang awet. Menggandeng Gerakan Perempuan Hetero Catatan Risa dan Aku Membicarakan relasi yang sehat, kuakui sampai saat ini pun aku merasa masih kurang untuk menjadi seorang partner ketika menghadapi masalah dalam sebuah hubungan. Menjalankan komunikasi yang tepat, pada waktu dan tempat yang tepat, untuk menemukan jalan keluar dari dalam setiap permasalahan relasi, bukanlah proses yang mudah. Walaupun sebenarnya problem-problem relasi yang rumit tidak hanya terjadi di komunitas lesbian, hal yang juga terjadi di kalangan58
  • Relasi yang Sehatheteroseksual. Perbedaannya, kalangan heteroseksual di Indonesia lebihbanyak memiliki bahan bacaan untuk menjadi sumber informasi dalammengelola hubungan dengan pasangan. Masalah mereka juga banyakdibahas pada artikel-artikel surat kabar dan majalah remaja ataupun orangdewasa. Tidak sedikit peminatnya, karena mereka menghadapi kesulitandalam relasi berpacaran atau perkawinan. Pasangan heteroseksual diIndonesia juga bisa mendapatkan konseling pasangan yang disediakanpara psikolog dengan pertemuan tatap muka atau konseling pada institusikantor urusan agama untuk umat muslim serta di beberapa gereja untukumat kristiani. Kebutuhan serupa bagi komunitas homoseksual di Indonesia belumsepenuhnya terpenuhi.Sampai saat ini aku belum pernah menemukan bukubacaan atau artikel di majalah dan surat kabar yang membahas tentangrelasi sehat untuk homoseksual (gay dan lesbian). Permasalahannyamemang tidak banyak rekomendasi atau bacaan tentang relasi sehathomoseksual untuk konteks Indonesia, meskipun bisa saja kita membacabuku-buku tentang relasi lesbian yang sehat terbitan komunitas lesbiandi negara lain seperti Kanada, Amerika Serikat, dan beberapa negara diEropa Barat. Namun, bacaan itu dalam bahasa Inggris yang tidak dapatdiakses oleh semua lesbian dan gay di Indonesia. Ditambah pula ada anggapan bahwa komunitas lesbian dan gaysangat posesif, dengan alasan sulit mendapatkan pacar atau pasangan dikomunitas homoseksual. Padahal, kasus seperti ini aku temukan banyakpula terjadi di kelompok heteroseksual. Pernah mendengar seorang pilotmemiliki istri seorang pramugari, kemudian melarang istrinya bekerjalagi karena cemburu berlebihan terhadap istrinya yang cantik dan seringmelakukan tugas perjalanan. Pelabelan negatif bahwa relasi homoseksual tidak sehat, tentumembuat banyak teman homoseksual tidak percaya diri akankeberlanjutan hubungan mereka. Hal seperti ini memang sering akudengar dari beberapa teman ketika nongkrong bareng dan curhat. Tidak 59
  • Kami Tidak Bisu tersedianya ruang sehat untuk berkonsultasi terkadang membuat mereka merasa sendiri dan tidak ada tempat untuk berbagi dan berusaha mencari solusi. Mungkin akan lebih mudah bagi teman-teman homoseksual yang hidup dalam komunitas untuk mencari teman berbagi. Sebaliknya, akan sulit bagi pasangan homoseksual yang memilih tidak berkomunitas atau mungkin memang tidak mengetahui adanya komunitas homoseksual di Indonesia, dan ini masih banyak kutemui. Bisa saja teman-teman homoseksual berbagi cerita terhadap teman heteroseksualnya yang sudah bisa memahami dan menerima keberadaan mereka. Aku memang lebih sering bercerita atau berkonsultasi kepada teman-teman heteroseksual yang sudah menerima aku apa adanya dan mengetahui banyak tentang kehidupan pribadiku. Namun, tidak semua homoseksual bisa mempunyai teman heteroseksual yang bisa mendengarkan permasalahan mereka. Aku juga terkadang berkonsultasi kepada seorang teman konselor yang bekerja pada lembaga konseling dan pelayanan korban kekerasan perempuan imigran ras Asia di San Francisco. Karena jarak Indonesia dan Amerika Serikat jauh, kami berkomunikasi melalui Skype atau email. Aku memilih lebih banyak berkonsultasi dengannya ketimbang dengan teman-teman di komunitas. Profesionalitas dia sebagai konselor membuatku merasa aman, karena kode etik konseling yang ia terapkan untuk tidak menceritakan permasalahan pribadiku kepada orang lain. Sebenarnya kesulitan di komunitas kami juga adalah mendapatkan orang yang bisa dipercaya untuk menceritakan permasalahan kami. Pada Maret 2011 aku berkunjung ke San Francisco untuk pertemuan internasional feminis. Di negara yang sejarah pergerakan LGBT-nya tumbuh sejak tahun 1970-an ini seorang teman merekomendasikan aku mengunjungi Community United Against Violence (CUAV) atau Komunitas Bersatu Melawan Kekerasan. Ketika sampai di pintu masuk kantor organisasi, yang memiliki program untuk relasi sehat bagi perempuan lesbian, aku disambut seorang lesbian muda berdarah Asia yang ternyata menjadi salah satu koordinator60
  • Relasi yang Sehatprogram tersebut. Perempuan usia sekitar 25 tahun itu menceritakankepadaku bagaimana dia menjalankan program pertemuan rutin bagipasangan lesbian untuk menjadi kelompok pendukung tentang relasisehat. Mereka juga memberikan pelayanan konseling melalui hotlineyang dapat dihubungi sewaktu-waktu. Dia juga menceritakan programkhusus untuk perempuan lesbian muda dan remaja di komunitasnya.Setelah ngobrol selama sekitar 1 jam, kami harus menyudahinya, karenaaku ada janji pertemuan lain. Dia memberikan beberapa lembar bahaninformasi dan bacaan tentang relasi sehat untuk lesbian. Seusai pertemuan itu aku berjalan kaki ke halte bus menuju tempatpertemuan lainnya. Selama perjalanan aku berpikir dan merenungkan jikasaja ada program khusus bagi pasangan lesbian seperti yang dilakukanCUAV di Indonesia. Untuk mewujudkan itu bukanlah proses yang mudah,karena pusat krisis bagi perempuan di Indonesia pun masih mengalamibanyak kendala, apalagi untuk perempuan lesbian. Namun kondisi itutidak menyurutkan semangat kami. Sejak Januari 2011 Institut Pelangi Perempuan mengirim seorangteman, Risa, untuk mengikuti pelatihan-pelatihan konseling perempuankorban kekerasan, dalam hal perempuan heteroseksual, yang diadakanRifka Annisa di Yogyakarta, organisasi perempuan yang sudah cukupterkenal sebagai pusat krisis perempuan. Dalam pelatihan-pelatihan itu Risa berusaha selalu aktif mengangkatperspektif kekerasan dalam rumah tangga dalam relasi lesbian.Terutama konteks kekerasan dalam rumah tangga dalam relasi lesbianyang pelakunya bukan laki-laki seperti yang sering dibicarakan dalampelatihan itu. Dalam konteks relasi lesbian dengan pelaku kekerasanadalah perempuan. Hal ini membuat peserta lain bingung dan mungkinbertanya-tanya bagaimana itu bisa terjadi sesama perempuan. Risa mengatakan, dalam pelatihan itu dia mendapatkan diskriminasidari peserta lain, seperti ketakutan untuk mendapatkan pelecehanseksual dari seorang lesbian. Sikap yang ditunjukkan adalah dengan 61
  • Kami Tidak Bisu selalu berusaha mengindar untuk berdekatan dengan Risa dan seperti menolak dan merasa kurang nyaman menjadi teman sekamar dengan Risa di tempat penginapan bagi peserta. Aku bisa mengerti dan berusaha paham bahwa memang membutuhkan proses dan waktu bagi seseorang untuk bisa mengenal, memahami, dan bersikap ramah terhadap lesbian. Begitu juga seorang aktivis perempuan yang belum pernah atau terbiasa dengan wacana seksualitas lesbian bagian dari pergerakan perempuan. Kami berusaha melihat sisi positifnya. Ini merupakan tantangan bagi kami, kelompok lesbian, untuk terus berusaha turut aktif mewacanakan dan melakukan kampanye antikekerasan dalam rumah tangga dalam relasi lesbian. Kami sebenarnya mengharapkan bisa berjalan bersama dengan teman-teman aktivis perempuan lainnya yang peduli pada isu kekerasan terhadap perempuan, termasuk lesbian. Kami respek kepada Rifka Annisa yang membuka dukungan dan bantuan kepada kami untuk terus berpartisipasi dalam pelatihan- pelatihan yang mengundang banyak aktivis perempuan dari berbagai daerah. Terbukti ketika temanku mengonsultasikan permasalahan diskriminasi yang dia hadapi dalam proses pelatihan, seorang teman Rifka Annisa meresponsnya dengan sangat positif dan kemudian membicarakan hal tersebut di tengah forum untuk mencari solusi. Sampai saat ini kami terus diundang Rifka Annisa untuk mengikuti pelatihan- pelatihan mereka. Ini memang merupakan kesempatan yang membantu kami untuk mewujudkan mimpi membangun pelayanan konseling bagi perempuan lesbian korban kekerasan.62
  • VI Kesehatan Reproduksi Perempuan Lesbian Anggapan tabu membicarakan tubuh perempuan dan seksualitas mengakibatkan perempuan tidak memahami kesehatan reproduksi mereka sendiri. Terutama bagi perempuan lesbian yang menghadapi masalah kesehatan yang lebih “khusus” dibandingkan perempuan heteroseksual. Kongkow LezK esehatan reproduksi perempuan semakin banyak diwacanakan diIndonesia. Film dokumenter mengenai kesehatan reproduksi perempuanmulai banyak diproduksi di negara dengan angka kematian ibu yang tinggiini. Pertaruhan (At Stake), misalnya. Film karya Nia Dinata ini membukatabu untuk membicarakan tubuh dan seksualitas perempuan. Film ini 63
  • Kami Tidak Bisu menggambarkan kesulitan perempuan yang belum bersuami untuk mendapatkan akses pelayanan pap smear. Pap smear adalah tes kesehatan dengan cara mengambil lendir di vagina untuk diperiksa di laboratorium untuk mendeteksi adanya kelainan sel yang bersifat prakanker di derah mulut rahim. Tujuannya untuk mendeteksi dan mencegah sejak dini gejala kanker leher rahim yang menjadi penyebab kematian ke-2 setelah kanker payudara bagi perempuan Indonesia. Film yang diputar keliling di beberapa kota ini menceritakan juga pelayanan pap smear yang sulit diakses perempuan lajang. Hal itu menunjukkan layanan yang diskriminatif terhadap perempuan muda dan remaja, padahal mereka termasuk kelompok seksual aktif. Potret layanan diskriminatif itu baru terpublikasikan untuk perempuan hetero. Bagaimana pelayanan untuk perempuan lesbian? Pada Kongkow Lez 14 April 2007, Institut Pelangi Perempuan kembali mengundang Ninuk Widyantoro, konsultan di Yayasan Kesehatan Perempuan, untuk menemani peserta berbincang-bincang mengenai kesehatan reproduksi perempuan lesbian. Kami mengawali dengan menonton film serial L Word. Kami memilih satu episode yang menceritakan isu kesehatan reproduksi perempuan di Los Angeles, Amerika Serikat, yang ternyata juga menghadapi tentangan dari beberapa pihak. Anggapan “tabu” selalu dilekatkan ketika berbicara tentang tubuh dan seksualitas, terutama bagi perempuan. Penabuan itu mengakibatkan perempuan tidak memahami kesehatan reproduksi mereka sendiri. Terutama bagi perempuan lesbian, yang menghadapi masalah kesehatan reproduksi yang lebih “khusus” dibandingkan perempuan heteroseksual. Perbincangan diawali pertanyaan moderator kepada peserta mengenai kaitan L Word dengan tema Kongkow Lez. Beberapa peserta memberikan jawaban. Seorang peserta, Jenny, memberikan jawaban yang paling mendekati, yaitu pembahasan tentang menopause. Ninuk Widyantoro mengungkapkan, masih banyak perempuan Indonesia tidak memahami64
  • Kesehatan Reproduksi Perempuan Lesbiankesehatan reproduksinya sendiri. Istilah reproduksi memang masihdianggap aneh dan baru dibicarakan sejak 15 tahun terakhir. Istilah inimengacu pada organ tubuh yang bisa mereproduksi, seperti organ tubuhuntuk hamil, melakukan hubungan seks, dan menyusui. Penjelasan inipenting disebarluaskan, karena selama ini masyarakat masih memahamikesehatan reproduksi sebatas program Keluarga Berencana (KB). Padahal,ruang lingkupan isu ini luas, termasuk isu kehamilan yang tidak diinginkan,infeksi penyakit menular seksual (IMS) dan HIV/AIDS. Pada penjelasan reproduksi perempuan, Ninuk dibantu peserta yangmengenakan celemek bergambar organ reproduksi perempuan yangdilekatkan pada tubuh sebagai model peraga. Pengenalan Alat Reproduksi Perempuan 1. Klitoris, yaitu organ kecil dan merupakan bagian yang sensitif untuk dirangsang. Klitoris merupakan organ yang penting bagi perempuan, sehingga jangan sampai terluka atau tersakiti. Pemotongan habis klitoris oleh dukun pada kasus sunat perempuan merupakan tindak kekerasan terhadap perempuan dan wajib diketahui untuk tidak dilakukan lagi. 2. Selaput darah, posisinya lebih dalam daripada klitoris dan terletak di mulut rahim. 3. Rahim, lebih dalam lagi dari selaput darah, bentuknya seperti buah pir. Terletak di dinding dalam sebelah kiri dan kanan. 4. Indung telur, terletak di bagian paling dalam dari organ reproduksi dan terbagi menjadi dua tempat: kiri dan kanan. Di dalam indung telur terdapat ribuan telur yang bisa menjadi matang karena adanya hormon estrogen. Apabila hormon sudah mampu mematangkan 65
  • Kami Tidak Bisu telur, maka setiap bulan telur akan keluar dari indung telur kanan atau kiri menuju rahim. Telur berjalan menuju rahim selama empat hari. Saat itu dinding rahim menebal untuk persiapan kehamilan. Selama empat hari itu, apabila telur bertemu sperma maka akan menyatukan diri, terjadi pembuahan dan keduanya berjalan menuju leher rahim yang kemudian terjadi kehamilan. Walau keduanya bisa juga berhenti di daerah indung telur dan terjadi perdarahan. Sebaliknya, apabila tidak terjadi pembuahan, maka dinding rahim yang sudah menebal itu rontok dan terjadi menstruasi. Seorang perempuan masih memungkinkan untuk bereproduksi walau indung telurnya diambil satu, karena masih ada indung telur lainnya. Perempuan mempunyai tiga saluran di seputar organ reproduksinya, yaitu lubang untuk mengelurkan air seni, lubang untuk bersenggama, dan dubur. Beberapa Hal Perlu Diperhatikan untuk Menjaga Kesehatan Organ Reproduksi Kebersihan organ reproduksi sangat penting untuk mencegah dari penyakit. Penyakit yang dapat menyerang organ reproduksi bermacam- macam, dari yang ringan seperti iritasi hingga infeksi yang fatal seperti kanker dan HIV/AIDS. Pada perempuan lesbian, kebersihan kuku menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan, karena ketika berhubungan seksual sering kali merangsang pasangannya dengan memainkan jari pada klitoris ataupun memasukkan tangan ke dalam vagina. Kuku panjang, apalagi yang tidak bersih, dapat menyebabkan luka pada leher rahim yang tidak dapat dideteksi dengan mudah. Luka kecil ini jika dibiarkan terbuka66
  • Kesehatan Reproduksi Perempuan Lesbianmemungkinkan kotoran masuk dan membawa bakteri atau virus. Apabilatidak segera diatasi, semakin lama luka dan infeksi bisa merambat sampaike rahim dan menyebabkan kanker rahim. Kebersihan kuku dapat dimulaidengan rajin memotong kuku dan merendam tangan pada larutan air dansabun bayi sambil disikat. Kerapihan rambut kelamin termasuk juga harus diperhatikan. Rambutharus rajin digunting, tetapi jangan sampai botak apalagi diwax karenadapat menyebabkan iritasi atau kanker pada kulit sekitarnya. Penggunanan celana yang ketat dari bahan yang tidak menyerapkeringat kurang baik bagi kesehatan, karena dapat melembapkanorgan kelamin dan sekitarnya. Ketika lembap, jamur dan bakteri dapatmuncul dan berkembang. Penggunaan pantyliner (pembalut tipis) setiaphari dapat menyebabkan jamur, karena vagina tidak dapat bernafas.Sebaiknya gunakan celana dalam yang nyaman misalnya terbuat daribahan katun sehingga cukup ada sirkulasi udara dan celana luar yangtidak terlalu ketat sehingga angin dapat masuk- keluar dengan baik. Terkait dengan penimbulan jamur dan bakteri pada alat reproduksi,hasil penelitian Dirjen Pengawasan Obat dan Makanan (POM) tentangpengaruh jamu tradisional terhadap kesehatan alat reproduksimenyatakan minuman jamu gendong, jamu daun sirih, kunyit, atau jamutradisional lainnya belum tentu menjamin kebersihan alat kelamin. Jikajamu tersebut tidak bersih, bisa menimbulkan bakteri dan jamur, yangpada akhirnya menjalar ke rahim. Memakai cairan pembersih alat kelaminyang beredar di supermarket juga belum tentu bagus. Kesimpulannya, upaya terbaik untuk menjaga kesehatan alatreproduksi adalah dengan menjaga kebersihan vagina dan sekitarnyasecara alami tanpa bantuan obat, jamu, dan sebagainya. Selain kebersihan, perlu juga memperlakukan alat kelamin denganlembut. Penggunaan sex toys seperti alat bantu vibrator atau dildo perlukehati-hatian. Jika bahannya tidak lembut dan terlalu keras, alat itu bisa 67
  • Kami Tidak Bisu melukai leher rahim. Pengguna disarankan memakai dildo atau vibrator yang terbuat dari silikon, karena dengan bahan lain dapat merusak vagina. Padahal, ketika vagina atau leher rahim luka, berpotensi menimbulkan berbagai jamur, virus, dan bakteri yang dapat menyebabkan penyakit kelamin atau kanker. Gejala-gejala yang Harus Diperhatikan Perempuan 1. Keputihan, adalah suatu reaksi tubuh yang normal, terutama terjadi sebelum dan sesudah menstruasi atau saat terangsang ketika melakukan hubungan seksual. Namun, apabila lendir keputihan berbau amis, kental, berwarna kekuningan, kehijauan, kecokelatan, atau bercampur darah dan gatal, itu pertanda adanya infeksi sehingga wajib dicek ke dokter atau melakukan pengecekan pap smear. 2. Payudara yang mengencang dan terasa agak sakit wajar terjadi ketika menjelang menstruasi, akibat bertambahnya hormon estrogen untuk memastikan tidak ada kecenderungan keganasan. Apabila hormon estrogen ini berlebihan, dapat menyebabkan kanker payudara. Karena itu, penggunaan hormon estrogen, baik yang disuntikkan maupun diminum, sangat tidak dianjurkan, karena berpotensi menyebabkan kanker payudara. Perkembangan teknologi terkait pil KB tidak lagi menjadi penyebab kanker payudara, karena kini kandungan hormon estrogennya sedikit. Penyakit Menular Seksual Seperti telah dijelaskan, pembicaraan tentang organ reproduksi perempuan, termasuk penyakit seksual, dianggap tabu. Padahal, sangat penting bagi perempuan untuk mengetahui hal itu agar lebih berhati-hati dalam berhubungan seks, baik dengan sejenis maupun lawan jenis.68
  • Kesehatan Reproduksi Perempuan Lesbian Penyakit menular seksual adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seks, termasuk melalui pengunaan tangan dan mulut. Penyakit tersebut dapat disebabkan oleh bakteri, jamur, akibat kondisi yang tidak bersih dan lembap, serta virus seperti HIV/ AIDS yang penularannya melalui interaksi cairan tubuh. Untuk pencegahan, sebaiknya setiap perempuan melakukan pemeriksaan pap smear secara rutin setahun sekali, untuk pengecekan lendir di dalam vagina. Lendir tersebut akan diteliti di laboratorium untuk melihat potensi penyakit menular, kanker, dan lainnya. Hal ini perlu dilakukan terutama untuk perempuan usia 30 tahun ke atas karena usia tersebut rawan pelapukan leher rahim. Pemeriksaan biasanya dilakukan sewaktu menstruasi hampir selesai atau hampir bersih. Penjelasan Ninuk Widyantoro tersebut memancing pertanyaan peserta,dari soal perawatan organ reproduksi, cara bercinta yang aman, hinggasoal HIV/AIDS. “Apakah pencukuran bulu ketiak dapat berpotensi menyebabkanpenyakit kanker payudara? Juga penggunaan deodoran di kulit yang barusaja dicukur,” tanya Aminah. Menurut Ninuk, masih diperlukan penelitianapakah penggunaan deodoran berpotensi menyebabkan kanker atautidak. Yang pasti dan penting dilakukan adalah ketika pencukuran buluketiak jangan sampai terluka. Cara terbaik mencukur bulu, baik bulu di kaki,tangan, atau ketiak adalah dengan membersihkan bidang yang mau dicukurterlebih dulu. Kemudian dikeringkan, ditaburkan bedak, lalu cukur perlahan.“Kondisi bersih ketika mencukur penting, karena apabila terjadi lukasetidaknya tidak timbul bakteri yang disebabkan kotoran masuk.” “Apakah mastrubasi dapat merusak bentuk atau lubang vagina? Kalauiya, apa tanda-tanda kerusakan vagina tersebut?” tanya Aisyah. Tidak ada 69
  • Kami Tidak Bisu kerusakan bentuk, selama masturbasi dilakukan dengan benar dan tidak kasar atau tidak menggunakan benda yang keras. Kerusakan biasanya terjadi akibat luka pada leher rahim. Peserta juga ingin mengetahui lebih banyak mengenai penularan penyakit seksual, khususnya terkait aktivitas seksual sesama perempuan. Rosa menanyakan potensi penularan penyakit jika berhubungan seks melalui pertemuan dua vagina. Menurut Ninuk, penularan dapat terjadi bila tersentuh cairannya dan berpindah tempat dari penderita ke pasangan hubungan seks. “Apakah penyakit herpes dapat menyerang vagina, penis, dan juga mulut? Bagaimana herpes dapat menular?” tanya Sita. Herpes disebabkan virus. Ia menyerang saraf. Herpes juga terjadi di mana-mana baik di vagina, penis, maupun mulut. Minum dari gelas yang sama juga dapat menularkan herpes. “Saran saya, setiap pasangan memeriksakan diri ke dokter untuk memastikan keduanya tidak terserang penyakit kanker atau kelamin apa pun. Apabila setelah diperiksa salah satu atau keduanya memiliki penyakit kelamin seksual, setidaknya sudah tahu bagaimana cara terbaik menghadapinya, terutama saat berhubungan seks,” saran Ninuk. “Apakah berciuman dengan penderita HIV/AIDS dapat menularkan virus?” tanya Rima. Ya, apabila salah satunya memiliki luka di mulut. Walaupun kecil dapat menularkan virus. Pastikan ketika berciuman keduanya tidak sedang sariawan atau ada luka di mulut. Tetapi yang paling aman adalah keduanya memeriksakan ke dokter dan pastikan keduanya bebas HIV/AIDS. “Apabila salah satu pasangan mengidap HIV/AIDS, apakah berhubungan seks dengan oral dapat menularkan virus? Bagaimana hubungan seks yang paling aman bagi penderita HIV/AIDS?” tanya Dina. “HIV/AIDS hidup di semua cairan tubuh, cairan vagina, sperma, dan juga air liur, walaupun sedikit. Sebaiknya hindari oral seks dengan penderita HIV/ AIDS, karena bisa jadi ada luka di dalam mulut dan virus dalam cairan vagina masuk ke dalam luka tersebut yang akhirnya bisa tertular. Salah70
  • Kesehatan Reproduksi Perempuan Lesbiansatu pencegahan yang paling aman adalah menggunakan kondom,” jawabNinuk. Wati pernah mendengar bahwa pengunaan sex toys yang dipakaiberbarengan atau bergantian juga rentan menularkan HIV. “Benarkahuntuk menghindari hal itu, sebelum menggunakannya, sex toys sebaiknyadirendam dalam air hangat untuk mematikan bakteri-bakteri yangmenempel hilang?” Menurut Ninuk, sex toys rentan menularkan HIV, jikasalah satu pemakainya telah terinfeksi HIV. “Untuk mematikan bakteriyang menempel, bukan lagi menggunakan air hangat, tetapi sangatdisarankan merendamnya dengan cairan khusus dari kedokteran untuksterilisasi.” Kongkow Lez hari itu diakhiri oleh catatan moderator yang menyampaikanpentingnya pendidikan kesehatan reproduksi untuk lesbian. Untukmempermudah proses pendidikan tersebut diperlukan pembentukankelompok pendidik sebaya agar makin memperluas jangkauan prosespendidikan tersebut. Pap Smear Sampai ke Toronto Catatan Perjalanan Penulis Aku pernah mengalami diskriminasi layanan di sebuah klinik kesehatan reproduksi sebuah lembaga sosial di Jakarta. Pada tahun 2009 itu aku ingin sekali melakukan tes HIV/AIDS dan pap smear. Aku memilih klinik pelayanan reproduksi di wilayah Jakarta Timur tersebut karena kudengar salah satu klinik yang cukup progresif dalam memberikan pelayanan kepada perempuan pekerja seks, laki-laki gay, dan waria. Aku ingin mendapatkan pelayanan klinik itu karena terdorong rasa tanggung jawab terhadap diri untuk melakukan tes kesehatan reproduksi. Di Indonesia dan di beberapa negara masih ada anggapan bahwa HIV/ AIDS rentan terjadi pada kelompok laki-laki gay. Terlebih untuk konteks 71
  • Kami Tidak Bisu Indonesia, virus HIV pernah ditemukan pada tahuan 1980-an pada laki-laki gay di Bali. Sejak itu isu HIV/AIDS memberikan lebih banyak pelayanan kepada laki-laki gay atau waria ketimbang untuk perempuan lesbian. Menurutku, lesbian juga rentan terkena HIV/AIDS, karena virus itu bisa tertular melalui jarum suntik yang digunakan secara bergantian oleh pengguna narkoba dan melalui hubungan seksual yang juga dijalani lesbian. Namun, banyak pemberi layanan tes HIV/AIDS mengganggap lesbian tidak rentan tertular HIV/AIDS. Padahal, banyak pula lesbian yang merupakan pengguna narkoba dan menikah dengan laki-laki karena tidak kuat menghadapi paksaan orang tua dan tekanan sosial. Banyak perempuan lesbian yang menjalani hubungan seksual dengan sesama perempuan, tapi status sosialnya menikah dengan laki-laki. Memang sulit memberikan pemahaman pada teman-teman yang peduli HIV/AIDS di Indonesia akan hal ini, mungkin karena mereka menganggap perilaku seks teman-teman lesbian tidak rentan akan penularan HIV/ AIDS. Terbukti ketika aku mendekati sebuah lembaga HIV/AIDS besar di Indonesia untuk mengajak bekerja sama mengenai isu lesbian dan HIV/ AIDS, respons mereka kurang begitu mendukung, karena terkait banyak lembaga donor di Indonesia untuk isu HIV/AIDS kurang memberikan bantuan khusus untuk teman-teman lesbian. Selain itu, aku ingin sekali mendapatkan pelayanan pap smear tanpa perlu menutupi identitas seksualku sebagai perempuan lesbian, karena pikirku, mereka sudah cukup baik melayani laki-laki gay dan waria. Sepengetahuanku, di klinik umum, perempuan tidak menikah sulit mendapatkan pelayanan tes pap smear. Aku berharap di klinik, yang memberikan pelayanan gratis tes HIV ini, akan mendapatkan pelayanan yang lebih baik. Pada suatu siang yang panas sekali, sekitar 30 derajat Celcius, aku mendatangi klinik itu mengendarai sepeda motor yang menghabiskan waktu lebih dari 30 menit dari rumahku. Aku ditemani seorang teman dekat, seorang aktivis laki-laki gay, tapi dia tidak mau melakukan tes HIV dengan alasan rasa takut dan tidak percaya72
  • Kesehatan Reproduksi Perempuan Lesbianpada kerahasiaan pasien terjaga di klinik itu. Meskipun aku berusahameyakinkannya tentang pentingnya tes HIV/AIDS untuk dirinya yangsecara seksual cukup aktif, tetap saja dia tidak mau melakukannya. Akutidak mau memaksanya lebih lanjut, walau aku cukup terkejut, betapaaktivis LGBT yang juga banyak melakukan kampanye hak kesehatanreproduksi bagi LGBT ternyata tidak punya keberanian dan kesadaranpentingnya tes HIV/AIDS. Ketika masuk klinik itu aku disambut dengan ramah dan melihat adabeberapa teman-teman laki-laki gay yang sedang mengantre untukmendapatkan pelayanan tes HIV. Sebelum mendapatkan pelayanankesehatan reproduksi, aku diminta melakukan pendaftaran dan konselingawal dengan para petugas di klinik itu. Ketika aku menyampaikan niatuntuk mendapatkan tes HIV dan pap smear, ternyata salah seorangpetugas mengenaliku sebagai orang yang aktif di organisasi lesbian danmengajak berbicara soal pentingnya palayanan tes bagi teman-temanlesbian. Respons positif itu tentu kusambut dengan sangat baik. Kamiberbicara selama beberapa menit untuk rencana kerja sama pemberianlayanan gratis HIV/AIDS bagi lesbian melalui klinik yang mendapatkanbantuan dari pemerintah dan donor asing itu. Tidak lama kemudian aku dipanggil seorang petugas. Karena saat ituyang akan melakukan tes HIV/AIDS cukup banyak, ia menyarankan akulebih dulu melakukan pelayanan tes pap smear. Senangnya aku, akhirnyaakan mendapatkan pelayanan yang tidak diskriminatif, karena sejakawal pendaftaran terlihat para petugas tidak begitu mempermasalahkanidentitas seksualku sebagai lesbian. Di ruang periksa yang berukurancukup kecil, dilapisi tripleks untuk membatasi dengan ruangan yanglain, seorang dokter perempuan sudah menunggu untuk memberikanpelayanan. Dia mengenakan jilbab dan berkaca mata, usianyaberkisar 40-an tahun. Dia menyambutku dengan senyum, kemudianmempersilakan aku duduk. Sebelum tes pap smear dilakukan ternyataharus konseling terlebih dahulu dengan dokter mengenai aktivitas 73
  • Kami Tidak Bisu seksualku. Karena merasa klinik ini ramah terhadap LGBT, aku ceritakan saja aktivitas seksual sesungguhnya, termasuk hubungan seksualku dengan perempuan biseksual, ibu rumah tangga atau yang sudah menikah dengan laki-laki, juga lesbian yang belum menikah. Setelah aku menceritakan semua pengalaman itu, raut wajah sang dokter yang semula banyak tersenyum lantas berubah. Mulailah dia merespons, dan sungguh mengejutkan, karena dia memberikan konseling homofobia terhadapku dan tidak bersedia memberikan pelayanan tes pap smear. Menurut dia, hubungan lesbian tidak pernah mengalami penetrasi penis, sehingga dianggap tidak rentan terhadap kanker leher rahim. Selain itu aku belum menikah dengan laki-laki. Sang dokter merasa tidak baik jika alat pap smear yang memasuki mulut vaginaku akan merusak keperawanan. Dia menunjukkan kepadaku alat bantu pap smear dan terkesan menakuti agar aku berpikir alat itu akan merusak keperawanan dan berpikir ulang untuk melakukannya. Selanjutnya dia bercerita bahwa dia memiliki seorang teman lesbian yang pada akhirnya memilih menikah dengan laki-laki untuk bertobat. Ia juga khawatir suatu saat aku memutuskan menikah dengan laki-laki, maka akan membuat aib terhadap keluarga dan calon suamiku jika mengetahui keperawananku telah rusak akibat alat pap smear. Aku terkejut mendengarkan semua ceramah dan konseling dari dokter yang kupikir tidak akan melakukan hal seperti itu. Pada awalnya aku mencoba mendengarkan semua perkataannya dan berusaha berdiskusi tentang seksualitas lesbian. Tak lama kemudian panas kupingku mendengar semua celotehnya dan juga tidak kunjung memberikan pelayanan tes pap smear. Lantas aku potong saja pembicaraannya dan menegaskan kepada dia bahwa aku tidak ingin mendapatkan konseling soal homoseksualitas, karena aku sudah merasa cukup percaya diri akan orientasi seksualku dan meminta dia memberikan pelayanan pap smear. Namun, dia tetap tidak ingin memberikannya dan menyarankan aku pergi ke klinik lain. Aku telanjur kesal atas perlakuan diskriminatif dia74
  • Kesehatan Reproduksi Perempuan Lesbiandan tidak ingin melanjutkan pembicaraan karena khawatir memancingemosi. Kuputuskan menyudahi pembicaraan yang membuat sakit hatiitu. Segera aku keluar meninggalkan ruang periksa itu. Aku mengucapkanterima kasih kepada sang dokter dan berusaha sopan. Sampai sekarangaku menyesal mengapa mesti berterima kasih kepada orang yanghomofobia. Keluar dari ruang periksa pap smear, aku mendapatkan panggilanuntuk mendapatkan pelayanan tes HIV/AIDS dan kali ini lancar saja.Beberapa waktu kemudian aku mendengar kisah yang hampir samadari seorang teman lesbian. Memang salah satu penyebab kerusakansel pada mulut rahim adalah sperma, tapi juga perempuan perokok dankurang mengonsumsi sayuran dan buah-buahan, dan aku yakin banyakperempuan lesbian perokok dan kurang peduli akan makanan bergizi,rentan juga terkena kanker jenis ini. Setelah itu, pada Juni 2010 aku menjalani program magang pelatihantinju bagi perempuan dan transgender bernama Shape Your Life diToronto, Kanada. Program ini diprioritaskan pada korban kekerasanuntuk pemulihan melalui konseling dan olah raga. Shape Your Life jugamelakukan kerja sama dengan klub tinju Institut Pelangi Perempuanbernama Kartini Sejati, klub tinju perempuan di Jakarta. Programmagang selama hampir dua bulan ini untuk pembelajaranku selakupelatih tinju sebaya dan koordinator di klub Kartini Sejati. Di sela-selaprogram magang tersebut aku ceritakan pelayanan pap smear sebagailesbian di Indonesia kepada pelatih tinju. Kanada terkenal sebagai negarayang sudah melegalkan pernikahan homoseksual sejak 20 Juli 2005 danmenjadi negara keempat di dunia dan pertama di Benua Amerika yangmengesahkan pernikahan sejenis. Tentu aku berpikir waktu itu Kanadalebih maju ketimbang Indonesia dilihat dari segi fasilitas pelayanankesehatan reproduksi bagi LGBT. Curhatku kepada teman yang juga sangat aktif di pergerakan LGBT di 75
  • Kami Tidak Bisu Toronto itu membuat dia terkejut. Kemudian dia memberikan informasi mengenai sebuah organisasi yang memberikan banyak informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi bagi perempuan lesbian. Dia juga menyarankan aku menghubungi sebuah klinik pelayanan kesehatan reproduksi khusus perempuan lesbian di Toronto. Aku tercengang mendengar informasi tersebut, karena terdengar sangat progresif dan menguntungkan bagi perempuan lesbian dan biseksual. Tak perlu menunggu lama aku pun menelusuri informai klinik yang dimaksud melalui internet. Senang sekali, akhirnya aku mendapat informasi tentang hak kesehatan reproduksi perempuan lesbian yang tidak kudapatkan di Indonesia. Selang beberapa hari kemudian temanku menginformasikan tentang sebuah acara peluncuran program kampanye pap smear bagi lesbian yang diselenggarakan organisasi tersebut dan aku menghadirinya dengan suka cita. Dimeriahkan beberapa pertunjukan seni oleh beberapa feminis lesbian di Toronto dan diskusi tentang pap smear bagi lesbian, semakin membangkitkan kesadaranku tentang pentingnya melakukan tes pap smear. Aku menghubungi klinik pelayanan kesehatan reproduksi yang dimaksud untuk segera mendapatkan pelayanan tes pap smear. Ternyata aku diharuskan membuat perjanjian terlebih dahulu melalui telepon, karena banyaknya pasien yang ingin mendapatkan pelayanan yang tidak memungut bayaran baik kepada penduduk lokal maupun turis dari negara lain seperti aku. Tibalah pada hari untuk melakukan tes pap smear di Hassle Free Clinic. Ketika memasuki ruangannya, aku melihat beberapa perempuan sudah antre menunggu giliran mendapatkan pelayanan. Terdapat sebuah loket tempat pasien melakukan konfirmasi perjanjian yang sudah dilakukan melalui telepon. Aku melihat mayoritas petugas klinik itu adalah lesbian. Itu sekedar dugaan, karena temanku bilang hampir semua petugas dan dokter yang bekerja atau aktif sebagai sukarelawan di klinik itu adalah lesbian. Kemudian petugas di loket klinik, seorang perempuan berwajah76
  • Kesehatan Reproduksi Perempuan Lesbianoriental Asia, berambut pendek, berkaca mata dan berpenampilanmaskulin memberikan pelayanan sangat ramah kepadaku. Ia memberikanformulir yang harus kuisi sebelum melakukan tes pap smear. Setelah kuisiformulir itu, kemudian dia menjelaskan beberapa hal untuk melakukantes pap smear. Salah satu hal utama yang dia informasikan kepadakusebagai turis adalah hasil tes akan diinformasikan melalui telepon atausurat elektronik (e-mail), yang membutuhkan waktu paling lama sebulanuntuk mengetahui hasil tes. Namun jika tidak ditemukan gejala apa pun,mereka tidak akan menghubungi pasien. Jika ditemukan sesuatu, barumereka akan menginformasikan secara langsung. Selesai berbicara dengan petugas di loket, aku menunggu beberapamenit untuk mendapatkan panggilan melakukan tes. Singkat ceritaakhirnya aku masuk ke ruangan periksa dan dilayanai seorang dokterperempuan berwajah keturunan India. Sangat cantik dan begitu ramahmemberikan informasi kepadaku mengenai pentingnya pap smear untuklesbian. Aku pun sempat menceritakan aktivitas seksual sebagaimanakusampaikan kepada dokter di Jakarta. Kali ini responsnya sangatberbeda. Dokter ini mendengarkan dan merespons serta menjawabsemua informasi yang kuinginkan dengan jelas. Setelah konselingbeberapa menit, dia pun mempersilakan aku berbaring di ranjangdan duduk mengangkang dengan membuka kedua belah paha danmengarahkan vagina saya dekat ke wajahnya, untuk melakukan tespap smear. Katanya aku terlihat cukup tegang. Sebab, ketika dia akanmelakukan tes, vaginaku terlihat tidak rileks, sehingga dia beberapakali harus berusaha menenangkan aku. Perasaan tegang timbul karenaaku pernah mendengar cerita seorang teman bahwa sakit yang amatketika menjalani tes pap smear. Setelah beberapa waktu, akhirnyadokter melakukannya, dan tidak lama kemudian selesai. Aku terkejutkarena tidak merasakan sakit sedikit pun. Dia memang dokter yanghebat dan mengagumkan! Satu bulan kutunggu, mereka tidak pernahmenghubungiku lewat surat elektronik. Masih kurang yakin, aku 77
  • Kami Tidak Bisu sempatkan menghubungi mereka melalui telepon untuk menanyakan hasil tes pap smearku. Mereka menjelaskan tidak ditemukan gejala apa pun. Sungguh pengalaman berharga dan membahagiakan.78
  • VII Safe Sex is Hot Sex Pertukaran cairan vagina merupakan salah satu media penularan HIV/AIDS. Kongkow LezS etelah bincang santai mengenai kesehatan reproduksi, Kongkow Lezdilanjutkan dengan topik “Safe Sex is Hot Sex”. Topik ini penting untukteman-teman lesbian, karena wacana seks aman lebih banyak untukkonteks pasangan heteroseksual dan laki-laki homoseksual. Sepertikampanye peduli HIV/AIDS yang lebih banyak dikaitkan dengan prosespenularan HIV/AIDS melalui pertukaran cairan antara penis dan vaginauntuk kalangan heteroseksual dan anal seks pada laki-laki homoseksual.Jarang sekali pembicaraan seks aman untuk lesbian, karena lesbiandianggap kelompok yang tidak rentan terkena HIV/AIDS. Anggapan sepertiini berakibat pada kurangnya sarana dan akses informasi untuk seks amanbagi lesbian. Berbeda dari seks aman untuk gay dan waria, yang banyak 79
  • Kami Tidak Bisu dibicarakan sejak tahun 1980-an, ketika ditemukan virus HIV/AIDS pada tahun 1980-an di Bali pada kelompok gay. Tidak akan mudah menemukan informasi mengenai seks aman untuk lesbian pada artikel atau literatur di Indonesia. Kongkow Lez yang diadakan pada 12 Januari 2008 tersebut difasilitasi oleh penulis. Aku mengawali perbincangan dengan memancing teman- teman peserta agar mengajukan pertanyaan seputar seks. Namun, teman- teman terlihat malu-malu untuk bertanya, sehingga aku berpikir keras bagaimana agar mereka tergerak untuk bertanya. Aku menjelaskan bahwa Kongkow Lez adalah sesi ngobrol santai. Jadi, teman-teman tak perlu takut bertanya, karena tidak ada pertanyaan yang salah atau benar. Aku juga mengerti kondisi teman-teman yang masih menganggap tabu untuk membicarakan seks. Namun, menurutku, justru karena penabuan inilah kita tidak mengerti atau mengetahui bagaimana melakukan seks yang aman. Misalnya bagaimana menghindari atau menangani penyakit infeksi menular seksual (IMS) seperti HIV/AIDS dan jenis penyakit lainnya. Tujuan mengangkat topik ini untuk mengajak teman-teman berpikir bahwa ketika berbicara masalah seks tidak hanya terbatas pada teknik-teknik melakukan hubungan seks, tetapi juga penting untuk menjadi sebuah ruang informasi mengenai kesehatan reproduksi bagi komunitas lesbian. Realitasnya banyak lesbian muda dan remaja yang belum yakin akan identitas seksualnya, kemudian berusaha melakukan hubungan seks dengan perempuan untuk meyakinkan dirinya. Hal itu kadang dilakukan tanpa dibekali pengetahuan seks yang memadai. Aku jika ingin lebih mengenal seorang perempuan, biasanya mengajak jalan bareng dan saling bercerita tentang diri masing-masing untuk membangun komunikasi. Terlebih ketika aku kurang tahu apakah dia perempuan lesbian, biseksual, atau heteroseksual. Ketika sudah beberapa kali dia menerima ajakan untuk jalan bareng, aku memberanikan diri untuk mengetahui ketertarikan dirinya kepadaku dengan berpelukan dan sekadar mencium pipi. Jika dia merasa80
  • Safe Sex is Hot Sexcukup nyaman dan tidak menolak, maka itu merupakan respons positif.Namun, ketika bahasa tubuhnya tidak merespons secara positif ataumenolak, berarti dia belum yakin untuk berdekatan denganku atau memanghanya ingin berteman tanpa ada relasi khusus. Hal-hal seperti itu justrudapat lebih membangun keyakinan diri dan membuatku tak ragu mendekatiperempuan yang kusukai. Akhirnya aku meminta pendapat pada teman-teman peserta mengenaiarti seks. Anita berpendapat, sebagai lesbian kita tidak ditekankan padahubungan seks saja dan ditekankan hanya pada satu waktu. Misalnya ketikakita jalan bareng, mungkin lama-kelamaan akan ada yang berkata “eh, lulesbian ya?”. Seperti itu, dan memang semua itu butuh proses. MenurutAnita, hubungan seks juga dapat diawali dengan rasa sayang atau cinta.“Misalnya kalau teman-teman sudah cinta pada orang lain, itu bisa sangatekspresif, bergandengan tangan, memeluk, mencium. Kemudian barulahke arah hubungan seks.” Anita juga menekankan perlunya pendidikan seksagar dapat menjalankan seks yang aman. Aku menyambung pendapat Anita. Jika kita berbicara tentang seksaman, bukan berarti sebatas bagaimana memakai kondom, harus amandari HIV/AIDS, dan lain-lain. Penting juga mengetahui cara membangunkomunikasi, bagaimana saling terbuka dengan pasangan atau pacar kita.Bagaimana memperlakukan pasangan kita, seperti bertanya apakahpasangan sudah benar-benar ingin melakukan hubungan seks atau bertanyaapakah dia tidak keberatan kalau kita menyentuhnya? Komunikasi sepertiitu merupakan bagian dari seks aman, karena seks aman tidak mungkinterjadi jika hanya menguntungkan satu pihak, harus kedua belah pihak.“Misalnya dalam satu relasi salah satu pihak merasa ingin sekali melakukanhubungan seks, tetapi pasangannya sedang dalam masa stres karenakehilangan pekerjaan atau memikirkan pekerjaan di kantor dan lain-lain,tentu hubungan seks akan sulit terjadi. Dan jika dipaksa terjadi akanmemberikan tekanan pada salah satu pihak. 81
  • Kami Tidak Bisu Di tengah perbincangan itu, Ana bertanya, “Sebenarnya apa arti seks?” Sebagian peserta menjawab seks adalah esek-esek. Ini adalah istilah yang dipergunakan sebagian orang untuk membicarakan hal yang berbau seks. Beti berpendapat bahwa seks sesuatu yang dapat melatih kesabaran kita. Pendapat itu berdasarkan kesabaran Beti menghadapi pasangannya yang menganggap seks sesuatu yang sakral. Karena itu, pasangannya juga tidak dapat melakukan seks dalam keadaan tertekan. Situasi itu membuat Beti belum pernah melakukan hubungan seks dengan pasangannya. Sedangkan Tina memaknai seks sebagai hubungan intim yang dilakukan pasangan kekasih. Sarah menjelaskan bahwa tidak semua hubungan seks menyenangkan, jika dilakukan secara paksa, ketika salah satu belum siap melakukannya. Nadia menambahkan, umum dipahami seks dilakukan karena cinta. Padahal, seks dapat juga diartikan sebagai kegiatan bermesraan atau sekadar berciuman. Misalnya saja ada pasangan melakukan ciuman, namun satu pihak merasa tidak puas, menurut dia bisa disebut seks juga. Mendengar pendapat teman-teman tersebut, Beti gelisah. “Apakah bergandengan tangan merupakan kegiatan seks?” tanyanya. Lina menjelaskan, termasuk kategori seks atau bukan tergantung pada tujuannya. “Misalnya saja bergandengan tangan yang tujuannya melindungi pasangan ketika berada di jalan, itu bukan seks. Seks itu lebih dari sekadar memegang tangan.” Ana yang melontarkan pertanyaan, belum puas atas jawaban teman- teman. Dia menginginkan jawaban yang lebih spesifik. Nadia kembali mengungkapkan pendapatnya tentang seks. Menurut dia, seks ada dua jenis: seks yang karena nafsu dan seks sebagai ungkapan kasih sayang kepada pasangan. “Seks yang karena kasih sayang itu bertahap, seperti mencium terlebih dahulu, setelah itu baru meraba ke yang lain. Sedangkan seks karena nafsu biasanya kasar, karena memang niatnya hanya untuk seks. Jadi langsung main raba sana raba sini.” Menurut dia, itu tidak sopan.82
  • Safe Sex is Hot Sex Sandri mengatakan, sebenarnya pada komunitas lesbian masih terjadikebingungan memaknai seks. Sementara dunia hetero mempunyai definisidan konsep yang jelas mengenai seks, yaitu persetubuhan antara laki-lakidan perempuan dan terjadi penetrasi. Kemudian Sandri menjelaskanpenetrasi adalah masuknya alat kelamin laki-laki atau penis ke dalam alatkelamin perempuan atau vagina. Konsep hubungan seks di dunia gay, jugalebih jelas, karena ada penetrasi penis pada anal. Lalu bagaimanamendefinisikan hubungan seks bagi komunitas lesbian? Sandri punmempertanyakan apakah sudah banyak literatur yang membahas konsepseks dalam relasi lesbian. Menanggapi pendapat teman-teman, aku membagikan informasipraktik-praktik seksual lesbian yang bersumber website seks aman bagilesbian. Kesulitanku, website tersebut dalam bahasa Inggris, dan bukankonteks Indonesia, jadi sebisa mungkin kuadaptasikan denganpengalamanku yang semoga konteksnya lebih dekat dengan teman-teman. Praktik-praktik seksual ini istilahnya masih dalam bahasa Inggrisdan aku belum tahu penerjemahan yang tepat dalam bahasa Indonesia.Tentu praktik seksual lesbian banyak macam dan gaya. Ini berdasarkanpengetahuanku dari pengalaman seks pribadiku dengan pasangan yangberbeda-beda, karena berbeda orang berbeda juga praktik seksual yangdisukainya. Beberapa informasi tentang praktik seksual juga pernah akudapatkan dari buku tentang seks lesbian. Namun hari itu aku hanyamenjelaskan cukup beberapa hal yang terkait dengan isu seks aman. Pertama kujelaskan tentang tribadism, yaitu menggesek-gesekkanvagina, terutama bagian klitoris pada bagian tubuh pasangan, misalnyapada vagina pasangan. Di komunitas lesbian, praktik ini disebut ‘dumek’akronim dari adu memek. Selain itu bisa juga menggesekkan vagina padabagian tubuh yang lain, seperti tulang ekor, perut, paha, yang penting kitadan pasangan merasa nyaman. Lebih penting lagi harus ada komunikasi agarkita mengetahui perlakuan seperti apa yang membuat nyaman pasangan. 83
  • Kami Tidak Bisu Kedua, licking atau menjilat bagian sensitif pasangan, seperti vagina atau klitoris. Klitoris merupakan bagian paling sensitif pada perempuan, karena di bagian itu terdapat sekitar empat puluh ribu lebih saraf. “Jadi, jika ingin merangsang pasangan, klitoris ini bagian paling sensitif untuk bisa dirangsang.” Kesulitannya adalah jika kita tidak mengetahui kapan pasangan merasa nyaman. Kita perlu menanyakan kepada pasangan terlebih dahulu apakah menyukainya atau tidak. Karena sebagian orang belum tentu menyukai licking. “Jangan karena kita menyukai licking, lalu memaksa pasangan untuk melakukannya. Yang seperti itu tidak benar.” Jika pasangan kita menyukainya, langkah-langkahnya adalah pertama kita sentuh tubuh pasangan dengan bibir dan posisi kita di atas pasangan. Lalu perlahan-lahan kita buka kedua pahanya, seperti membuka kedua sayap kupu-kupu. Kemudian kita bisa memulai mencium bagian vagina pasangan dan tepat pada klitorisnya. Ada bahasa-bahasa tubuh yang dapat kita baca, apakah pasangan merasa nyaman atau tidak. Kita tidak mungkin memperhatikan wajah pasangan, sementara kita berada di bawah tubuhnya dan tertutup oleh kedua pahanya. Bahasa tubuh itu seperti sikap pasangan yang memegang rambut kita atau mengeluarkan suara mendesah seperti “ough...”. Itu tandanya dia menikmati. Praktik seksual lainnya dikenal dengan istilah fingerfuck. Aku sengaja tidak langsung menjelaskan artinya, karena yakin teman-teman akrab dengan praktik ini. Dina menjelaskan fingerfuck adalah salah satu praktik hubungan seks lesbian menggunakan jari tangan untuk menyentuh klitoris. “Kita harus hati-hati. Bisa memulai dengan satu jari untuk mengetahui kenyamanan pasangan. Kemudian bisa berlanjut menambah beberapa jari jika pasangan makin terangsang dan memintanya.” Maksud Dina, untuk mengawalinya jangan langsung menggunakan banyak jari, karena dapat menimbulkan rasa sakit. Aku menambahkan, sangat penting menjaga kesterilan jari-jari dan tangan. Cara mensterilkannya dapat dibersihkan menggunakan air hangat-hangat kuku atau sabun cuci tangan. Dan jika84
  • Safe Sex is Hot Sex mau memasukkan jari ke liang vagina pasangan, minta dulu persetujuannya, karena tidak setiap orang suka melakukannya. Aku kemudian mengeluarkan beberapa alat seks aman yang dapat digunakan selama fingerfuck. Alat seks aman ini kudapatkan dari Lesben Beratung. Alat pertama yang kutunjukkan sarung tangan karet yang biasa dipakai dokter untuk operasi atau bidan ketika membantu ibu melahirkan. Alat kedua, kondom jari atau finger condom, terbuat dari lateks atau karet.Finger condom Sebagian perempuan memiliki vagina yang sangat sensitif, penggunaan bahan lateks bagi mereka dapat menimbulkan iritasi. Untuk situasi seperti itu, dianjurkan menggunakan bahan non-lateks. Hal lain yang perlu diperhatikan, ketika fingering atau fingerfuck, permukaan vagina harus basah oleh lendir akibat rangsangan. Hal itu untuk menghindari iritasi atau luka pada vagina. Sebagian vagina perempuan memproduksi cairan sangat produktif ketika terangsang. Namun jika vagina pasangan atau kita tidak produktif menghasilkan cairan, maka perlu menggunakan lubricant. Lubricant adalah cairan untuk membantu pelumasan. Lubricant bisa Lubricant 85
  • Kami Tidak Bisu dilumaskan pada permukaan vagina. Lubricant bisa kita dapatkan di apotek. Ada dua jenis lubricant, yaitu yang berbahan dasar air dan yang berbahan dasar minyak. Jika kita memakai kondom ataupun kondom tangan dari lateks, disarankan memakai lubricant yang water based (berbahan dasar air). Jangan yang oil based (berbahan dasar minyak), karena minyak dapat merusak lateks. Aku juga membagikan cairan lubricant kepada teman- teman agar dapat merasakan sendiri bagaimana cairan lubricant. Suasana menjadi ramai, karena sebagian teman baru pertama kali mengenali cairan tersebut. Usai penjelasan alat seks, Jenny berbagi pengetahuan mengenai fingerfuck dan licking, yang ia peroleh dari seorang seksolog. Jenny menyarankan pada saat ingin melakukan licking, pastikan mulut tidak ada sariawan. Mulut yang sariawan dapat menimbulkan kanker dan penyakit lain pada vagina. Dan jangan sampai melukai vagina, karena itu juga berbahaya sekali. Jika sedang flu atau batuk, disembuhkan dulu. “Karena ketika kita terkena flu atau batuk, virusnya akan ikut masuk ke vagina lalu ke organ reproduksi yang lebih dalam yang dapat merusak peranakan. Terkait fingering atau fingerfuck, kusarankan juga mengenakan kondom tangan atau sarung tangan lateks yang biasa dipakai dokter. Sebab, misalnya di jari tangan terdapat luka, ketika jari masuk ke vagina, luka tersebut akan membuka penularan dan virus dari luka tangan bercampur dengan cairan vagina. Selanjutnya aku membagikan pengalaman temanku yang yang bingung dan takut ketika pertama kali berhubungan seksual dengan perempuan. Ceritanya dia berusaha melakukan penetrasi ke vagina pasangannya menggunakan jari, tapi kemudian pasangannya berteriak kesakitan dan itu membuat dia ketakutan. Setelah kutelusuri bagaimana prosesnya, ternyata dia tidak berusaha merangsang pasangannya terlebih dahulu, akibatnya pasangan kaget dan kesakitan. Kisah ini bukan lelucon, tapi menjadi pembelajaran bagaimana akibatnya jika kita kekurangan informasi seks86
  • Safe Sex is Hot Sexaman bagi lesbian. Kurangnya informasi mengenai praktik seks amanlesbian membuat sebagian lesbian muda dan remaja “belajar” dari videoporno lesbian, yang tidak selalu memberikan informasi yang tepat.Sebaliknya, banyak film yangmempertontonkan praktik seks yangtidak aman. Misalnya video yangmenunjukkan aktrisnya mengenakankuteks kuku saat melakukan fingerfuck. Inibukanlah seks aman, karena bahan dasarkuteks kuku merupakan bahan kimia, yangtidak baik untuk kebersihan dan kesehatanvagina. Juga dalam video yang mayoritasproduk luar itu diperlihatkan bagaimanamereka bergantian menggunakan dildo, tanpa disterilkan sebelumbergantian dipakai pasangan seksnya. Praktik itu sangat rentanmenimbulkan penularan HIV/AIDS. Aku melanjutkan perbincangan mengenai lesbian dan HIV/AIDS denganmengajak teman-teman mendiskusikan beberapa gambar, secaraberkelompok. Gambar-gambar yang kuperoleh dari Lesben Beratungtersebut menunjukkan beberapa cara melakukan hubungan seksual danbeberapa aktivitas sehari-hari. Para peserta diminta menjelaskan apa yangmereka lihat dari gambar-gambar tersebut, kemudian membahas bersama-sama apakah aktivitas-aktivitas tersebut rentan terhadap penularan HIV/AIDS atau tidak. Setiap kelompok terdiri atas tiga orang dan tiap-tiapkelompok mempresentasikan satu gambar. Kelompok 1 menjelaskan mengenai praktik prostitusi yang rentanterkena HIV/AIDS, karena tidak ada informasi mengenai kebersihan dankesehatan pekerja seksnya. Penjelasan kelompok 1 disetujui peserta yanglain. Aku menambahkan, pekerja seks dan pelanggannya yang sering 87
  • Kami Tidak Bisu berganti-ganti pasangan rentan terkena HIV/AIDS, jika melakukannya tidak aman. Tidak dapat dipastikan semua pekerja seks mengidap HIV/AIDS, demikian juga semua pelanggannya. Jika salah satu mengidap HIV/AIDS dan tidak mau mengenakan kondom, dapat mengakibatkan terjadi penularan HIV/ AIDS. Sebagian peserta menambahkan, banyak pelanggan tidak bersedia mengenakan kondom, karena menurut mereka lebih enak tidak memakai kondom. Aku mengiyakan. Penelitian menunjukkan pekerja seks sering berhadapan dengan pelanggan yang sulit sekali memakai kondom. Alasan mereka antara lain “tidak enak” atau “alergi”. Menghadapi situasi itu, pekerja seks dapat mengenakan kondom perempuan. Memang kondom perempuan selain harganya sangat mahal juga penggunaannya tidak mudah. Di Indonesia kondom perempuan belum banyak diperjualbelikan dan banyak yang belum tahu. Kondom ini berbentuk seperti spot atau seperti tabung silinder, terbuat dari bahan karet dan dimasukkan ke dalam vagina, sebelum melakukan hubungan seks. Tetapi itu bukan satu-satunya solusi pencegahan HIV/AIDS. Kita mesti terus mendorong agar laki-laki bersedia memakai kondom. Salah seorang peserta bertanya, bagaimana jika laki-laki tahu si perempuan memakai kondom, dan keberatan. Jenny menjelaskan, kondom itu tidak akan terasa atau terlihat, karena letaknya sangat di dalam. Tepatnya, di vagina ada lorong dan pas pada ujungnya diletakkan, jadi penyampaian penis atau jari tidak akan sampai pada tempat itu. Kelompok 2 menjelaskan pemakaian alat jarum suntik pada pertolongan kecelakaan. Penggunaan jarum suntik bisa jadi rawan untuk penularan HIV/ AIDS jika digunakan lebih dari satu orang dan ada di antaranya yang mengidap HIV/AIDS. Aku menjelaskan bahwa yang mengakibatkan88
  • Safe Sex is Hot Sexpenularan HIV/AIDS adanya pertukaran cairan. Pertukaran cairan dapatmelalui empat cara, yaitu cairan ludah, cairan sperma, cairan vagina, danair susu ibu. “Jadi, jika terjadi kasus seperti itu, maka penularannya sangatrendah.” Yasinta juga membagi pengetahuannya bahwa daya tahan virusdi dalam dan di udara terbuka kurang dari 5 detik. Indah menambahkan,sebenarnya virus itu tidak mati, tetapimengkristal. Virus juga bervariasi,jumlahnya sangat banyak, bahkanberjuta-juta. Ketika terkena obat, virusmengkristal dan tidak akan mati.Mungkin saja orang terkena virus denganvarian yang lain, sehingga orang yangkekebalan tubuhnya tidak mampumenahan virus itu, maka virus itu akantimbul lagi. “Jadi, sebenarnya jika sudah pernah terkena jenis atau varianvirus, biasanya tidak akan terkena virus itu lagi. Tetapi bisa saja kita terkenavirus dengan varian yang lain.” Kelompok 3 menjelaskan gambar penggunaan jarum untuk tato. “Jadi, jika ada yang menyukai tato, disarankan lebih berhati-hati. Pastikan pergi ke tempat pembuatan tato yang steril dan harus mempunyai rekomendasi paling tidak dari teman yang lain. Kita bisa cek sendiri untuk mengetahui kredibilitas tato shop seperti itu.” Laksmi bertanya bagaimana dengan tato temporer yang tidak memakai jarum suntik, tetapi sebuah alat seperti lidi. Menurut aku, jika tato temporer tidakmenusuk ke dalam kulit dan tidak menimbulkan luka, sekadar dilukisdengan kuas dan alat-alat lain yang tidak menusuk, tidak menimbulkan 89
  • Kami Tidak Bisu kerentanan. Tetapi jika tato permanen, alatnya membuat luka. Karena menggores, sehingga bisa terjadi pertukaran cairan. Kelompok 4 menjelaskan gambar sepasang perempuan berciuman. Menurut kelompok ini, tidak akan terjadi penularan jika keduanya tidak mengidap HIV/AIDS. Jika mengidap pun, jika pada mulut atau bibirnya tidak ada luka sariawan, tidak akan tertular HIV/AIDS. Aku menambahkan, penularan terjadi jika salah satunya ada luka atau sariawan, lalu ada cairan yang mengidap HIV/AIDS masuk ke bagian luka atau sariawan. Kelompok 5 menjelaskan gambar pasangan lesbian melakukan oral seks, licking atau menjilat klitoris pada vagina pasangannya. Aktivitas ini berisiko menularkan HIV/AIDS. Aku menambah- kan, licking memang berisiko tinggi. Pada lesbian, licking menjadi salah satu penyebab HIV/AIDS, akibat masuknya cairan vagina ke mulut. Begitupun sebaliknya, cairan ludah masuk ke vagina. Karena itu, sangat dianjurkan melakukan seks aman dengan menggunakan dental dam, sambil kutunjukkan bentuknya. Dental dam ada juga yang diberi string agar merekat pada vagina. Jadi, ketika licking tidak repot memegangi dental dam. Di Indonesia, alat ini sangat sulit didapatkan. Di beberapa kota di Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Dental dam90
  • Safe Sex is Hot Sexdan Kanada ada sexshop yang biasamenjualnya danharganya sangatmahal. Sebenarnyaada cara lain yang bisa kita pakai, yang lebihmurah dan praktis. Kita bisa menggunakan kondom untuk laki-laki yangterbuat dari bahan lateks. Caranya, potong ujung kondom dan guntingsalah satu sisinya hingga terbelah dan berbentuk segi empat. Kondom inikita letakan di vagina, ketika melakukan licking untuk menghindari kontaklangsung cairan vagina pada lidah dan mulut. Pada komunitas lesbian, sering kali mengenal pasangan melalui internetatau bertemu di kafe, lalu langsung melakukan hubungan seks. Kita tidaktahu latar belakang pasangan seks, termasuk jika ternyata dia mengidapHIV/AIDS. Karena itu, disarankan sama-sama melakukan tes HIV/AIDS duakali dalam setahun. Sebab, biasanya pada pemeriksaan pertama hasilnyanegatif, tapi enam bulan kemudian bisa saja hasilnya positif. Virus HIV/AIDS menggerogoti daya tahan tubuh. Gejalanya bisa flu ataupenyakit sariawan yang tidak sembuh-sembuh. Juga bisa bermacam-macam. Yang mencolok, biasanya flu atau sariawan yang tidak sembuhsampai bertahun-tahun. Kelompok 6 menjelaskan gambar pasangan lesbian yang sedangmelakukan hubungan seks. Kegiatan itu kerentanannya cukup tinggi.Karena ada pertukaran cairan vagina, yangmerupakan salah satu media penularanHIV/AIDS. Aku menambahkan, gambar itumenunjukkan tribadism, yaitu meng-gesekkan vagina di bagian mana pun tubuhpasangan. Tetapi yang sangat rentan adalahketika saling menggesekkan vagina. 91
  • Kami Tidak Bisu Kelompok 7 menjelaskan gambar yang menunjukkan 1 laki-laki dan 2 perempuan sedang melakukan hubungan seksual, bergantian dari pasangan satu ke pasangan lain. Kegiatan ini rentan terkena HIV/AIDS karena berganti-ganti pasangan dan juga memasukkan penis ke liang anus atau anal seks. Aku menambahkan, kegiatan ini sangat rentan jika salah satunya mengidap HIV/AIDS, karena aktivitas seksual yang dilakukan 3 orang atau threesome dengan melakukan anal seks. Aktivitas penis masuk ke anus juga rentan untuk penularan, karena sperma bisa masuk ke dalam tubuh. Kelompok 8 menunjukkan gambar nyamuk. Menurut kelompok ini, nyamuk tidak dapat menularkan virus HIV/AIDS. Kelompok 9 menjelaskan pengguna narkoba yang menggunakan jarum suntik secara bergantian. Jadi, ini rentan terkena virus HIV AIDS. Kongkow Lez ditutup penjelasan Rani dari organisasi peduli HIV/AIDS, mengenai tersedianya test HIV/AIDS gratis untuk lesbian. Teman-teman senang sekali mendengar informasi tersebut. Semua bertepuk tangan untuk menutup acara pada hari itu. Pembelajaran dari kongkow kali ini perlunya membangun kesetaraan92
  • Safe Sex is Hot Sexakses alat-alat seks yang aman untuk lesbian. Lesbian banyak juga yangibu rumah tangga dan tetap melakukan hubungan seks dengan suamiakibat pernikahan paksa atau untuk menutupi identitas lesbiannya daripublik. Sebagian lesbian juga pengguna narkoba jarum suntik dan bekerjasebagai pekerja seks. Ketiga kelompok ini membutuhkan perhatian lebihserius untuk kesehatan reproduksinya. Dari Memalukan ke Perayaan Istana Vagina Catatan Perjalanan Penulis Membicarakan seks yang aman dan hot, aku punya pengalaman memalukan di Bangkok dan yang menyenangkan di Toronto. Ketika menghadiri pertemuan LGBT di Bangkok, pada malam terakhir setelah pertemuan usai, aku pergi ke sebuah gay bar, yang menurut teman- teman gay, terbesar di Asia Tenggara. Sudah kutebak, gay bar di negara mana pun akan lebih dipenuhi laki-laki gay daripada lesbian. Aku ditemani tiga teman yang semuanya laki-laki gay. Mereka berasal dari Srilanka, Taiwan, dan Mongolia. Sedang asik minum dan ngobrol, tiba-tiba aku melihat perempuan berkulit putih, berwajah manis, tinggi dan langsing, gayanya sangat funky, dan tersenyum kepadaku. Aku membalasnya dan beberapa kali kami kontak mata. Kemudian dia menghampiri dan mengajak berkenalan. Dia berasal dari Vancouver, Kanada, dan sedang menghabiskan masa liburan kuliahnya di beberapa negara di Asia. Dia pun menanyakan tentang diriku. Akhirnya dia mengetahui aku berasal dari Indonesia dan di Bangkok menghadiri pertemuan LGBT. Dia juga tahu aku bekerja pada sebuah organisasi lesbian di Jakarta. Setelah berbicara beberapa menit, kami memutuskan untuk berdansa dan mulai saling tertarik. Kami berpelukan dan berciuman di antara ingar- bingar musik. Kemudian kami memutuskan ke hotel tempatku menginap. 93
  • Kami Tidak Bisu Itu adalah tanda untuk melakukan hubungan seks lebih lanjut. Masuk ke kamar hotel, kami mulai berciuman. Dia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Kebetulan kami belum menanggalkan semua pakaian. Saya menanyakan alat apa yang dia keluarkan. Dia menjawab itu alat seks aman untuk lesbian. Kemudian dia menyindir aktivis lesbian mestinya paham dan juga menggunakannya sebagai bentuk tanggung jawab seks yang aman. Aku malu sekali, karena tidak memiliki alat untuk seks yang aman. Aku menjelaskan, tidak mudah mendapatkan alat itu di Indonesia. Dia mengerti dan kami melanjutkan hubungan seks menggunakan alat seks aman miliknya. Malam yang begitu menggairahkan dan aman. Beruntung aku kemudian mendapatkan kesempatan mengikuti workshop seks aman bagi lesbian di Jerman pada tahun 2007. Pada kesempatan yang sama aku juga mendapat program kunjungan untuk mempelajari pergerakan LGBTIQ di Jerman. Program tersebut dikoordinasi Mash, teman perempuan warga negara Jerman yang aku kenal. Aku dikenalkan oleh seorang teman nongkrong bareng, kelompok Punk bernama Marjinal di Jakarta. Perkenalan kami semakin dekat. Dia cukup aktif di pergerakan LGBTIQ di Berlin. Aku mendapat banyak informasi dan pencerahan dari dia. Selalu dia memberikan semangat dan motivasi ketika aku bicara tentang pengorganisasian komunitas lesbian muda di Jakarta. Workshop seks aman ini difasilitasi organisasi Lesben Beratung dan diikuti beberapa relawan dan aktivis perempuan queer di Berlin. Selama workshop mereka menggunakan beberapa alat bantu berupa gambar- gambar yang mereka buat sendiri tentang aktivitas-aktivitas yang harus dibahas. Workshop yang berlangsung kurang lebih selama dua jam itu kurekam dan kudokumentasikan dalam bentuk foto. Aku juga mencatat beberapa hal penting, agar bisa kuterapkan untuk teman- teman komunitas Institut Pelangi Perempuan ketika kembali ke Jakarta. Mereka juga menggunakan beberapa alat seks aman, seperti kondom perempuan, dental dam, kondom jari, lubricant berbasis air, dan lain-94
  • Safe Sex is Hot Sexlain sebagai alat peraga. Menurut fasilitator, alat seks aman tersebutsebenarnya masih sulit didapatkan di Jerman. Hanya bisa didapatkandi tempat-tempat tertentu. Karena itu, mereka menyediakan alat-alattersebut di organisasinya dan dikemas dalam paket kotak berwarna hijaumuda. Usai workshop, mereka memberiku beberapa kotak peralatan ituuntuk alat peraga pendidikan di Indonesia. Mereka juga memberikangambar-gambar alat bantu untuk bahan diskusi. Tiba kembali di Jakarta, aku mengusulkan kepada teman-temankomunitas untuk melakukan workshop seks aman bagi lesbian yang sayapelajari di Lesben Beratung. Sebenarnya saat itu aku kurang percaya diri,karena belum tahu banyak informasi mengenai seks aman secara umum.Pengetahuan ini biasanya lebih banyak diketahui para aktivis HIV/AIDS.Aku kurang aktif dalam pergerakan peduli HIV/AIDS. Namun, dibantubahan-bahan tentang seks lesbian yang kudapatkan di internet, akucoba gunakan sebagai tambahan informasi dari semua informasi yangkudapatkan di Lesben Beratung. Aku juga tidak akan melupakan kenangan menghadiri party PussyPalace yang artinya istana vagina. Party ini berlangsung di sebuah bathhouse atau tempat orang-orang melakukan sauna, di Toronto, Kanada.Bath house ini dilengkapi jacuzzi tub, sauna, shower, locker, beberaparuang privat dan kolam renang. Umumnya bath house digunakan laki-lakigay untuk melakukan hubungan seks dengan sesama konsumen, jarangsekali untuk perempuan, tapi Pussy Pallace ini diperuntukkan khususbagi perempuan queer dan transgender dari perempuan ke laki-laki. Bathhouse dipergunakan untuk melakukan hubungan seks sesama konsumentanpa adanya pembayaran. Mereka tidak menginginkan bahkan melarangadanya praktek prostitusi di situ. Dengan membayar tiket masuk 20 dolarKanada, pengunjung bisa menggunakan semua fasilitas tersebut. Akumasuk dengan gratis, karena salah satu temanku adalah DJ di party itu.Ketika masuk ke dalam bath house yang cukup gelap dan ramai denganmusik klub, aku melihat beberapa perempuan telanjang, sebagian hanya 95
  • Kami Tidak Bisu mengenakan celana dalam. Mereka berseliweran, sambil asyik bercumbu dengan pasangan seksnya. Sementara beberapa perempuan masih berpakaian lengkap, sibuk memesan minuman di bar, bermain biliar, atau asyik ngobrol di sofa. Yang lainnya berdansa sangat erotis di lantai dansa dengan pasangan masing-masing. Selang beberapa lama kemudian temanku mengajak aku mengeksplorasi bath house itu. Kami melalui beberapa lorong gelap yang panjang dan hanya cukup dilewati dua orang. Di sepanjang lorong itu aku melihat beberapa perempuan sedang asyik berhubungan seks atau ngobrol di sauna atau jacuzzi tub. Di beberapa pojok, di bagian atas lorong dipasang beberapa televisi yang menayangkan video porno. Masuk pada bagian lorong lainnya, aku melihat ruangan dilapisi kaca yang di dalamnya terdapat sepasang perempuan melakukan demonstrasi hubungan seks lesbian. Di sebelah ruangan kaca tersebut aku melihat sepasang lesbian sedang melakukan hubungan seks. Aku menghabiskan waktu beberapa saat di ruangan untuk memperhatikan teknik-teknik bercinta. Pada lorong terakhir, aku melihat beberapa kamar berukuran kurang lebih 3x3 meter yang disewakan seharga 20 dolar Kanada bagi yang ingin berhubungan seks. Jujur saja, pengalaman di Pussy Palace membuatku sempat terdiam dan tidak bisa komentar apa pun. Salah satu ruang tempat komunitas lesbian bisa mendapatkan pasangan seks atau pacar adalah lesbian party. Di Indonesia, lesbian party pertama kali aku hadiri ketika berumur sekitar 24 tahun, yaitu di sebuah klub malam di Jakarta. Saat itu aku melihat masih sangat jarang diadakan party khusus untuk komunitas lesbian. Tapi sejak tahun 2009 semakin sering diadakan lesbian party yang diorganisasi sekelompok teman lesbian. Bahkan sejak tahun 2010 lesbian party aku perhatikan diadakan dua kali dalam sebulan di beberapa klub malam di Jakarta, tapi masih terbatas di wilayah Jakarta saja. Berbeda dari gay party yang sangat sering diadakan di beberapa gay bar di Indonesia, dan selalu sangat ramai. Belum pernah ada lesbian bar96
  • Safe Sex is Hot Sexdi Indonesia sampai sekarang. Lesbian party menurutku tidak seramaigay party, meskipun sejak tahun 2010 aku perhatikan makin banyaklesbian yang datang. Lantai dansa gay party selalu terlihat sangat ramaidibandingkan lesbian party, yang menurutku lesbian masih banyak yangmalu-malu berdansa. Kalaupun mereka melakukannya, biasanya hanyasekitar meja tempat mereka berdiri dan tidak berpindah-pindah. Akusering harus menarik beberapa teman lesbian berdansa di lantai dansadan terlihat mereka enggan sekali. Jika ada yang mengiyakan ajakanku,biasanya berdansa sebentar sekali, lalu kembali ke tempat duduknya.Kalaupun mereka berpasangan, biasanya hanya duduk berpelukan, tidakberdansa. Sempat membuat aku berpikir, apa gunanya ke party jika hanyaduduk di sofa dan tidak menikmati suasana party. Meskipun demikian, itumerupakan hak tiap-tiap orang untuk melakukan apa pun yang disukai disebuah party. Banyak waktu teman lesbian dihabiskan dengan kontak mata satusama lain di sebuah party, tapi tidak ada yang melakukan pendekatan,walaupun kemungkinan saling suka. Tapi beberapa di antara merekaada juga asyik bercumbu dengan berpelukan dan berciuman denganpasangan di sofa. Hal ini berbeda jika saya perhatikan di gay party yangterlihat lebih ekspresif dan agresif satu sama lain, ditambah pengakuanbeberapa teman gay bagaimana mereka menemukan pasangan seks digay party. Gay party di Indonesia sering menghadirkan sexy dancer atau dikenalgogo boy dancer yang melakukan tari erotis sebagai hiburan untukpengunjung. Biasanya gogo boy dancer pada gay party adalah laki-lakiberutubuh sangat atletis, kekar, dan berwajah tampan atau manis.Mereka hanya menggunakan celana dalam dengan desain seksi danmeliuk-liukkan badan menari erotis di atas panggung atau meja bar.Lesbian party pun terkadang menampilkan sexy dancer perempuan yangbiasanya bertubuh langsing, berpakaian seksi, dan berambut panjang.Beberapa teman lesbian bilang itu bisa membangun rangsangan seksual. 97
  • Kami Tidak Bisu Tapi, entah mengapa, tidak untuk aku. Bahkan sempat justru aku merasa ill feel ketika melihat ada sexy dancer yang mengalami pelecehan seksual dari lesbian di atas panggung disaksikan banyak orang. Itu sempat membuat saya emosional. Bagi saya, seks yang hot adalah seks aman dan tanpa pelecehan.98
  • VIII Lesbian dan Tafsiran Agama Seharusnya keimanan kita kepada Tuhan membangun damai terhadap sesama. Bukan soal masuk surga atau neraka, karena iman seseorang yang masih takut dengan soal masuk surga atau neraka adalah keimanan yang masih dalam tahap kanak-kanak. Musdah MuliaK ongkow Lez pada 29 April 2007 paling ramai dihadiri teman-temanlesbian muda. Kehadiran lebih dari 50 peserta ini terkait dengan topik“Benarkah Lesbian Vs Agama?”. Kongkow kali ini tak hanya dihadirikomunitas lesbian, tetapi juga teman-teman laki-laki gay. Kami memangtidak menutup diri untuk teman-teman laki-laki datang ke acara kami,namun memang kami memberikan prioritas kepada teman-teman 99
  • Kami Tidak Bisu komunitas lesbian berusia muda. Meskipun topik kali ini sangat serius, Kongkow disajikan dengan santai diselingi humor agar membuat nyaman peserta yang sebagian besar masih menyalahkan dirinya. Hal itu karena tafsiran agama mengajarkan mereka sejak kecil bahwa homoseksual itu dosa dan seorang homoseks dianggap pendosa. Ajaran ini yang kadang membuat teman-teman melakukan hal- hal yang bertentangan dengan jati dirinya. Situasi ini sangat sulit dan tidak jarang membuat perasaan mereka tertekan. Sebagian teman dipaksa keluarganya untuk mendapatkan konseling agama. Bahkan, yang muslim dimasukkan ke pesantren atau sekolah agama dengan harapan proses itu dapat mengubah orientasi seksual mereka. Seorang teman lesbian muslim, berusia 23 tahun, mengalami gangguan jiwa, dengan menunjukkan gejala- gejala seperti tertawa dan berbicara sendiri tanpa alasan apa pun. Setelah kami telusuri penyebabnya, ternyata ia tidak kuat menghadapi tekanan orang tuanya, menjalani konseling agama Islam di sebuah pesantren milik keluarganya. Terbersit pemikiran tentang agama yang bertujuan untuk kebaikan hidup manusia, mengapa kemudian justru membuat hidup teman kami itu menjadi suram? Seperti biasa, Kongkow diawali pemutaran film dan kami duduk melingkar beralaskan tikar di sebuah ruang pertemuan di Jakarta Selatan. Kali ini kami ditemani Siti Musdah Mulia, feminis muslim, dan Pendeta Ester Mariani, pendeta Kristen Protestan. Keduanya tokoh agama yang memiliki pemikiran progresif tentang homoseksualitas, bahkan mendukung keberadaan homoseksual di Indonesia. Saat itu kami belum bisa menghadirkan tokoh dari agama lain, karena kesulitan mendapatkan informasi tentang tokoh yang kapabel terkait homoseksual. Siti Musdah Mulia biasanya sulit diundang menjadi pembicara atau narasumber, karena kesibukannya sangat padat. Jadi ini kesempatan yang sangat berharga bagi kami. Apresiasi yang setinggi-tingginya kami berikan atas perjuangan Musdah untuk berbicara mengenai dukungannya terhadap kelompok100
  • Lesbian dan Tafsiran Agamahomoseksual. Di Indonesia saat ini dukungan tersebut menimbulkan risikoterkait makin banyak kelompok Islam yang pro-kekerasan. Mereka pernahmengancam akan membunuh Musdah, karena dianggap mencoreng namabaik Islam. Padahal, menurut kami, Musdah sangat membantu memperbaikinama baik Islam di mata dunia dengan mewacanakan tentang Islam penuhcinta kasih sesama manusia dan bukan Islam yang penuh kekerasan sepertiyang mereka jalankan. Jutru kelompok Islam pro-kekerasan yang selalumenggunakan simbol-simbol agama untuk kepentingan politik dankekuasan, yang memberi cap buruk terhadap Islam. Kongkow Lez dibuka dengan pemutaran film Loving Annabelle yangmenceritakan hubungan percintaan seorang lesbian remaja berusia 17tahun dengan gurunya yang berusia 32 tahun di sebuah asrama Katholik diAmerika Serikat. Film yang banyak mengundang pertentangan ini kamipilih karena dirasa pas sekali untuk menjadi topik obrolan. Moderatormengawali perbincangan dengan mengajak peserta berbagi pengalaman. Hartoto, gay keturunan Jawa yang telah lama tinggal Aceh, membagikanpengalamannya. Cerita berawal ketika dia memutuskan hijrah ke Jakartauntuk penenangan diri, karena di tempat tinggal sebelumnya, Aceh, iabersama pasangan gaynya mengalami penyiksaan. Di Banda Aceh yangmempraktikkan pelembagaan syariat Islam sebagai landasan hukum untukketertiban masyarakat, Hartoyo bersama pasangannya mengalamipenyiksaan oleh massa dan beberapa oknum aparat Polri. Massa yangrupanya tetangga sekitar masuk ke rumah kontrakan Hartoyo denganmendobrak pintu. Mereka memukuli Hartoyo dan pasangannya. Massamembawa keduanya ke kantor polisi. Di kantor polisi, keduanya ditelanjangidan dipaksa melakukan oral seks sambil ditonton dan ditertawakan paraanggota Polri. Kemudian Hartoyo dan pasangannya ditahan selamabeberapa hari di kantor polisi tersebut. Kejadian itu membuat Hartoyo sakithati. Dia bisa keluar dari tahanan setelah dibantu para aktivis perempuan diAceh. Saat Kongkow Lez berlangsung, Hartoyo sedang dalam proses 101
  • Kami Tidak Bisu pengajuan keberatannya terhadap Polri atas perlakuan anggotanya tersebut. Dampak lain setelah peristiwa itu, banyak orang berpendapat bahwa perlakuan yang dialami Hartoyo dan pasangannya itu wajar, karena dia laki-laki gay yang hidup dalam lingkungan yang masyarakat yang sangat konservatif. Hal itu dianggap melanggar norma-norma dan dosa. Namun beberapa aktivis perempuan dan HAM terus membantu Hartoyo menempuh jalur hukum untuk mendapatkan keadilan. Peserta lain, Ani, 21 tahun, pernah diintimidasi kakaknya yang menganut Kristen Protestan dan sangat fanatik. Kakaknya pernah bilang kepadanya, “Manusia itu diciptakan seperti Tuhan dan Tuhan itu tidak ada yang lesbian ataupun gay. Suatu saat kamu akan berubah, kamu harus berubah.” Keluarga juga meminta Ani segera mencari laki-laki untuk dinikahi. Sedangkan Andini, mahasiswa yang bekerja pada usia 20 tahun, merasa diintimidasi dan dikucilkan oleh keluarganya yang Protestan kental. Dia tidak berani melanjutkan hubungan dengan pacarnya, karena merasa masih diintimidasi. Pendeta Ester Mariani merespons pengalaman teman-teman dengan membicarakan tafsiran ajaran Kristen Protestan terhadap homosekualitas. Terinspirasi “Oprah Winfrey Show” yang menceritakan pernikahan seorang gubernur yang homoseksual, dia pernah menikah dan mempunyai istri dan anak. Dia juga menikah karena nilai-nilai agama yang dianut sejak kecil bersama keluarganya yang cukup fanatik. Melihat bahwa persoalan cinta sesama jenis itu salah, sebagaimana pernah disampaikan oleh paman dan tantenya, dia berusaha menarik diri agar tidak dianggap salah. Melihat persoalan-persoalan teman-teman, ada dua cara pandang agama mengenai homoseksual, yaitu fundamentalis (konservatif) dan liberal. Tuhan tidak lesbian, gay, ataupun heteroseksual, kita tidak tahu. Tapi jelas dalam Alkitab ada. Tapi itu pun bagaimana cara kita membaca atau melihat Alkitab. Mereka menggunakan Alkitab Perjanjian Lama, yaitu peristiwa Sodom dan Gomora. Ayat itu sebenarnya bukan mengkritik cinta102
  • Lesbian dan Tafsiran Agamasesama jenis, melainkan tentang ketidakramahan kota itu kepada paramusafir. Konteks ayatnya, di Israel, Timur Tengah, sangat menjunjungtinggi keramahan terhadap musafir. Tetapi di Sodom, para musafir yangdatang tidak disambut dengan ramah, malah para musafir itu akandiperkosa. Oleh kelompok-kelompok fundamentalis, ayat ini digunakanuntuk mengkritik dan dikatakan ingin menghukum perbuatan mencintaisesama jenis. Ayat lain di Perjanjian Baru di Roma, mengatakan, ”Janganlah kamumengganti atau melakukan kesenangan, mengganti hubungan yangnormal (natural) itu dengan yang tidak normal.” Tetapi tidak secara secarajelas menyebutkan soal lesbian. Dan ada yang menggunakan ayat inisebagai kritikan terhadap homoseksual, dengan penafsiran natural itubahwa Tuhan menciptakan selalu dua, yaitu bulan-bintang, siang-malam,serta laki-laki dan perempuan. Maka dari itu, tidak ada laki-laki denganlaki-laki, atau perempuan dengan perempuan. Penafsiran ini berdampakpada penilaian bahwa lesbian atau gay itu dosa. Namun secara jelas dalamAlkitab, Tuhan Yesus tidak pernah mengatakan lesbian atau gay. Dan tidakada satu bagian pun dalam Alkitab yang mengatakan Yesus melaranghomoseksual. Walaupun Paulus menginterpretasikan ajaran Yesus, Yesussendiri dalam kitab Injil tidak mengatakan apa pun tentang lesbian. Pendeta Ester menambahkan, Alkitab diproduksi oleh masyarakat danbudaya patriarki yang sangat kuat. Dan di dalam budaya patriarki, hubunganseks hanya boleh terjadi antara perempuan dan laki-laki. Masyarakattersebut juga memerlukan anak dan anak itu didapat dari hubungan yangberlawanan jenis. Sehingga ketika ada hubungan yang tidak sesuai denganaturan atau melawan agama, itu dianggap tidak benar. Ajaran agama yangdiproduksi masyarakat patriarki ini berkembang dan mempengaruhipenerjemahan Alkitab yang juga semua diterjemahkan oleh laki-laki. Dariproses itu, hasilnya jadi sangat patriarkis, karena mereka menganggapperempuan sangat rendah atau tidak pantas menyiarkan agama di depan 103
  • Kami Tidak Bisu jemaat. Beberapa ajaran yang dikembangkan oleh masyarakat patriarki adalah perkawinan yang harus terjadi antara perempuan dan laki-laki, tidak ada seks di luar nikah, seks di luar nikah hina (dosa), dan seks hanya boleh terjadi satu kali (tidak boleh ganti-ganti pasangan). Menurut Pendeta Ester, lesbian atau gay tidak berdosa, justru yang berdosa jika manusia tidak menyayangi sesama. Karena yang diajarkan Yesus adalah cinta kasih terhadap sesama. Sedangkan dari perspektif Islam, Musdah Mulia menyampaikan beberapa hal. Pada komunitas Islam, apakah dalam masjid atau tempat lain, ia tidak pernah menemukan kelompok gay atau lesbian secara utuh. Melalui perdebatan yang sangat panjang mengenai apakah orang memiliki pilihan dalam seksual, mayoritas umat Islam mengatakan itu tidak bisa. Karena berdalih kepada ayat-ayat yang bicara tentang Nabi Luth yang menceritakan bahwa mereka (kaum gay dan lesbian) dikutuk dan dihancurkan. Jadi, mayoritas umat muslim berpendapat Tuhan tidak suka kepada orang yang memiliki orientasi seksual yang lain. Musdah dan beberapa ulama moderat tidak sependapat dengan interprestasi ayat seperti itu. Karena itu, mereka merasa penting untuk menyampaikan interprestasi mereka yang berbeda kepada masyarakat. Umumnya dalam masyarakat tidak ada interpretasi ayat yang alternatif, apa yang disampaikan manusia itu benar dan tidak punya pilihan lain, maka seolah- olah manusia itu sudah menjadi Tuhan. Mereka lupa bahwa mereka manusia, dengan berbagai cara menyampaikan ajaran. Jadi, yang menjadi sasaran di sini adalah bagaimana cara penyampaian. Islam adalah agama yang diturunkan Tuhan kepada manusia, yang diharapkan menjadi pedoman untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ajaran ini bertolak pada dua hal, yaitu ajaran-ajaran yang berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan dan ajaran-ajaran yang berbicara tentang hubungan manusia dengan selain Tuhan, yaitu manusia dengan alam sekitarnya dan manusia dengan manusia. Tapi umumnya umat Islam104
  • Lesbian dan Tafsiran Agamalebih terpaku pada ajaran yang berbicara tentang hubungan manusiadengan Tuhan. Jadi, mereka hanya sibuk mengurusi Tuhan, maksudnyabagaimana “menyenangkan” Tuhan dan sebagainya. Lebih fatal lagi, dalamgambaran imajinasi umat Islam, Tuhan seolah-olah seperti monster yangmengerikan atau polisi yang akan menangkap atau menghancurkan. Bukandalam imajinas bahwa Tuhan itu adalah dzat yang Maha Pencipta danterhadap kita Dia itu tidak butuh apa-apa. Dia Maha Sempurna, Dia luarbiasa, dan justru Tuhan itu ingin memanusiakan manusia, bukan untukTuhan, tapi untuk kemanusiaan. Ini yang sering dilupakan. Aspek hubungan antarmanusia inilah yang selalu dilupakan manusiadalam memahami keagamaan seseorang. Hal itu efek dari keyakinanbahwa Tuhan itu ada, seharusnya membekas dalam hubungan sesamamanusia dan hubungan manusia dengan alam semesta. Kalau kita yakinTuhan itu ada, pasti kita tidak akan melukai, menyakiti, atau menghancurkanciptaan-Nya. Seharusnya keimanan kita kepada Tuhan itu membangundamai terhadap sesama. Bukan soal masuk surga atau neraka, karena imanseseorang yang masih takut dengan soal masuk surga atau neraka adalahkeimanan yang masih dalam tahap kanak-kanak. Ini adalah dampakpendidikan agama yang diajarkan kepada murid yang sering ditakut-takutimasuk surga atau neraka dan berdasarkan sistem dagang. Maksudnya adasistem untung dan rugi. Jika melakukan sesuatu untung pahalanya sedikitatau banyak, ada pahalanya atau tidak. Seharusnya keimanan kita adalahpengabdian manusia kepada Sang Pencipta. Kembali kepada Al-Quran yang membicarakan soal lesbian atau gay.Setiap kali kita mendapatkan undangan perkawinan pasti ada saduran dariAl-Quran yang dalam terjemahan Indonesianya ”Sesungguhnya di antaratanda-tanda isyarat Allah dalam penciptaan langit dan bumi, kami ciptakandari jenis-jenis kamu pasangan, dan Allah menciptakannya, karena kamusemua, jasad kamu itu adalah kasih sayang”. Seharusnya ada kosakataIndonesia yang bisa menampung makna itu, dan menurut Musdah itu bisa 105
  • Kami Tidak Bisu diartikan sebagai “cinta yang tak bertepi”. Itu liberal sekali, karena Al-Quran mengatakan ”Kami ciptakan dari jenis-jenis kamu sendiri pasanganmu” itu bisa diartikan perkawinan dari jenisnya sendiri, manusia dengan manusia. Maka dari itu, Islam tidak membenarkan perkawinan manusia dengan hewan, manusia dengan jin, dan boleh jadi bisa diartikan perkawinan dari jenisnya sendiri atau sesamanya itu perempuan dengan perempuan, laki- laki dengan laki-laki. Namun tidak ada satu pun kalangan ulama yang mayoritas berpandangan demikian. Dan jika ada orang yang berpandangan liberal, selalu dianggap sebagai kafir. Demikian juga dengan Pendeta Ester, kalau di gereja, pasti dikatakan sebagai pendeta kafir. Soal kafir tidaknya golongan, sebenarnya bukan pada sasaran manusia. Dalam semua agama dikatakan “semua manusia dalam pandangan semua agama itu adalah setara. Semua manusia di hadapan Tuhan itu adalah sama”. Pada ajaran Islam, Surat Al Hujurat Ayat 13 mengatakan “manusia diciptakan dari berbagai dampak, berbagai jenis, yang semuanya itu pada akhirnya agar kamu semuanya saling menghargai, menghormati, dan tidak menyakiti satu sama lain”. Jadi, apa pun pilihan orientasi seksual kita, selama tidak ada pemaksaan kepada orang lain, tidak ada klaim kemutlakan, dan tidak ada menyakiti orang lain. Karena sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang bertakwa. Definisi “orang yang bertakwa” di sini luas sekali. Musdah menambahkan, dari yang dia pelajari, takwa itu berpulang kepada “hati nurani”. Apa yang dikatakan hati nurani itu benar, maka itu adalah benar. Untuk menilai bahwa perbuatan kita tidak benar adalah kalau kita merasa tidak nyaman. Berbicara soal nyaman atau tidak nyaman, itu tergantung pada referensi yang kita baca, referensi yang harus kita ketahui. Kalau referensi yang kita baca adalah pandangan yang menghidupkan pandangan- pandangan yang memikirkan kemanusiannya, kita akan merasa bersalah. Tapi referensi yang terdapat dalam ajaran agama tidak hanya satu pandangan, karena begitu banyak interpretasi.106
  • Lesbian dan Tafsiran Agama Yang menarik dalam Islam, tidak ada satu pun ulama, norma, komunitasyang bisa mengklaim bahwa pendapatnya benar. Yang terpenting adalahantara satu sama lain tidak saling memaksakan kehendak, mengklaim, danmembuat pendapatnya yang mutlak. Lalu bagaimana membangunketakwaan? Itu ada dalam diri kita masing-masing. Bagaimana kita tidakmembohongi orang lain, menipu, membunuh (dalam arti fisik ataupunnon-fisik), mengambil hak orang lain, dan sebagainya. Bagaimana cara kitaberhubungan dengan Tuhan? Itu urusan kita masing-masing, karena padadasarnya manusia tidak dalam posisi menilai, karena itu adalah hakprerogatif Tuhan. Begitu juga soal surga dan neraka, bukan ditentukan olehperbuatan manusia, tetapi yang menentukan adalah Tuhan. Pada intinya,kita jangan selalu dalam posisi menilai, melainkan harus selalu intropeksidiri, apakah yang sudah kita lakukan berguna untuk kemanusiaan? Danselalu memikirkan kebaikan-kebaikan Tuhan agar kita berguna sebagaimanusia. Dari pemaparan itu kami mengkritisi agama dapat menjadi alat bagiorang-orang tertentu untuk menyucikan diri sendiri di antara yang lain,dalam membuat interpretasi merasa yang paling benar, dan lain-lain.Padahal, sebenarnya agama tidak seperti itu. Agama mengajarkankemanusiaan dan cinta kasih terhadap sesama. Beberapa peserta mulai tergerak untuk melontarkan pertanyaan.Nurbaiti menceritakan, ia memilih lesbian sejak SMP. Sejak itu hinggakuliah ia terus mengkaji dan ingin mencari jawaban, “sebenarnya apa yangterjadi pada diri saya?”. Apakah agama itu dihadirkan dari kebudayaan danpikiran manusia? Apabila kita kaitkan dengan filsafat, Tuhan ada dalampikiran kita ketika kita memikirkan adanya Tuhan. Ketika kita tidakmemikirkan Tuhan, berarti Tuhan tidak ada. Apakah seperti itu? Bila agamadilahirkan berdasarkan kebudayaan, berarti suatu keyakinan bisa kita ubahsesuai dengan situasi zaman? Pada zaman Yunani kuno sudah ada kaumgay dan lesbian, dan kasus diskriminasi terhadap kaum gay atau lesbian 107
  • Kami Tidak Bisu berlangsung sampai sekarang. “Berdasarkan beberapa interprestasi pemikiran Islam, saya sangat kecewa terhadap cara pandang laki-laki dan cara pandang perempuan dari interpretasi laki-laki apa pun itu. Dan ternyata tidak ada dari sudut pandang perempuan, padahal agama itu dari dulu sudah ada. Ke manakah perempuan-perempuan itu?” Musdah memaparkan bahwa agama Islam berkembang setelah berlalunya masa nabi. Nabi datang kepada masyarakat, yang disebut masyarakat jahiliyah. Disebut masyarakat jahiliyah karena masyarakat itu tanpa norma. Jadi, seseorang bisa menikah dengan siapa saja, bisa bertukar istri, bisa bertukar anak. Betul-betul masyarakat yang tidak ada tempat untuk manusia, lebih bobrok dari kehidupan keluarga hewan. Misalnya, buaya kalau sudah kenyang tidak akan makan lagi sesuai batas kemampuan biologisnya. Tapi manusia, walaupun sudah kenyang masih mengambil lagi yang lain, tidak ada batasnya. Nafsu manusia hampir tidak ada batasnya. Kalau kita melihat film-film animasi tentang kehidupan hewan, mereka sangat menjaga anak-anaknya sedemikian rupa dan saling menghormati wilayah masing-masing, padahal mereka tidak pakai polisi. Tetapi manusia, walaupun ada polisi, polisi itu malah disogok. Dikatakan bahwa manusia makhluk yang posisinya bisa melebihi malaikat dan bisa lebih mulia dari malaikat. Karena malaikat tidak macam-macam, tidak punya unsur nafsu. Semua yang dilakukannya adalah kebaikan, karena tidak ada dorongan kebinatangan. Tapi binatang memang begitu, karena mereka tidak punya akal, tidak punya unsur nafsu. Itulah yang dikatakan ajaran sufi. Manusia, meskipun punya akal, kalau tidak punya hasrat untuk melihat kebenaran posisinya, akan jauh lebih hina dari binatang melata. Binatang seperti itu karena tidak punya akal, tidak punya hidayah berupa agama. Mereka tidak punya intuisi untuk melihat yang baik dan yang buruk. Tapi manusia punya, itulah bedanya. Jadi, manusia bisa terpuruk menjadi makhluk yang paling hina dan juga bisa menjadi makhluk yang paling mulia. “Terserah saja, sekarang Anda adalah manusia yang bebas.”108
  • Lesbian dan Tafsiran Agama Nabi datang dalam kondisi masyarakat seperti itu. Salah satu indikasidari masyarakat jahiliyah adalah tidak ada tempat untuk perempuan.Perempuan hanya diperlakukan sebagai objek seksual. Islam datangmengangkat, pertama mengangkat perempuan sebagai manusia sepertilaki-laki, karena itu kelahirannya lalu dirayakan. Karena itu kita harusmemahami bagaimana perempuan yang hidup dalam kehidupan primitifyang mengunggulkan kekuatan otot, maka dari itu tidak ada tempat untukperempuan. Lalu nabi membawa ajaran bahwa anak perempuan harusdiakikah sama dengan laki-laki. Akikah bentuk perayaan bahwa perempuanitu berharga. Lalu ajaran Islam datang mengajarkan bahwa anak perempuanjuga mendapatkan warisan. Sebelumnya, jangankan mendapatkan warisan,justru perempuan sebagian hartanya yang harus diwariskan, posisinyaadalah objek. Jika suami meninggal dunia, istri itu diwariskan kepada ahliwarisnya, kepada anaknya atau saudara-saudaranya. Kalau masih cantikdinikahi, tapi kalau sudah jelek jadi budak. Islam menjawab “Tidak! Kamuadalah manusia juga, kamu bukan objek, dan kamu mendapatkan hakwaris juga.” Setelah ayat ini turun, banyak sahabat Nabi bertanya-tanya apakahbenar perempuan mendapatkan warisan. Ini menjadi sebuah bentukpengakuan Islam terhadap perempuan bahwa perempuan adalah manusiajuga yang punya hak asasi. Salah satunya adalah hak properti dan warisanitu adalah salah satu bentuknya. Sebelum Islam, mahar hanya untuk parawali, untuk para orang tua. Tapi mahar di sini bukan seperti yang Andabayangkan mahar dalam tradisi Islam di Indonesia, dalam bentukseperangkat alat salat. Mahar dalam tradisi Arab itu satu rumah dengansegala isinya, sampai sekarang, dan itu bisa menjadi modal awal bagiseorang perempuan. Islam datang mengatakan, mahar adalah hak asasiseorang perempuan yang tidak boleh diganggu gugat oleh siapa pun. Jadi,ketika masa Nabi, perempuan diangkat posisinya sedemikian rupa. Tetapidengan berlalunya masa Nabi, perempuan kembali dieksploitasi, dikurung 109
  • Kami Tidak Bisu di rumah, dianggap sebagai pembawa malu, dan sebagainya. Akses pembawa Islam itu jadi tidak banyak tumbuh dalam kesadaran masyarakat Islam dan herannya itu yang dipahami banyak komunitas Islam bahwa perempuan hanya mengabdi, hidupnya hanya sebatas “kasur, sumur, dan dapur, dan terakhir kubur”. Mereka membaca pandangan Islam seperti itu. Islam seolah-olah tidak memberi tempat sedikit pun kepada perempuan. Bagaimana perempuan bisa ikut dalam penafsiran? Mereka tidak pernah punya akses untuk mendapatkan pengetahuan. Karena itu, setelah masa Nabi, perempuan tidak berguna. Jadi, untuk sementara, peraturan ini dibuat dan yang melakukan penafsiran atau menyusun kitab-kitab tafsir hanyalah laki-laki. Walaupun ditemukan beberapa data bahwa beberapa guru Imam Safii dan beberapa guru Imam Bukhari adalah perempuan, mereka tidak pernah diceritakan, tidak pernah diberi tempat dalam buku sejarah yang mainstream. Dan ditemukan data beberapa penulis perempuan pada masa awal Islam di Indonesia terpaksa harus mengubah nama mereka menjadi nama laki-laki. Seorang penulis buku-buku Islam di Kalimantan pada abad ke-19 bernama Jamaludin, setelah diteliti ternyata bernama Sakinah. Kenapa dia memakai nama laki-laki? Karena jika memakai nama perempuan tidak dianggap. Jadi, buku-buku yang muncul dalam khazanah keislaman hampir tidak ditemukan, semua judul buku penulisnya laki-laki. Bahkan seorang musafir di Mesir yang sangat terkenal, karena bapaknya seorang ulama besar, bernama Aisyah binti Abdurrahim, terpaksa menulis bukunya dengan nama samaran binti Safi, putri La’udin, yang dalam bahasa Arab artinya Putri Laut. Mengapa begitu? Karena kalau penulisnya memakai nama perempuan, maka buku itu tidak akan dibaca. Jadi, ke mana perempuan-perempuan itu? Karena mereka tidak pernah diberi tempat. Karena itu, saya bersama teman-teman sedang menyusun ide bagaimana memperjuangkan posisi perempuan ke wilayah utama, karena sudah terpinggirkan selama beberapa abad ini. Pertanyaan kemudian, masalah110
  • Lesbian dan Tafsiran Agamaperasaan yang selalu merasa ketakutan. Mengapa demikian? Karena polapikir yang terbangun dalam pikiran Anda adalah pola pikir yang masihterbelenggu pikiran-pikiran yang konservatif, pikiran-pikiran yangmembodohkan. Kalau Anda berani keluar dari pola pikir seperti itu, orangseperti saya tidak mudah keluar dari pola pikir yang ditanamkan mulai darigenerasi kakek saya, dari saya dibesarkan itu melalui perenungan yangpanjang, melalui pergulatan batin yang luar biasa. Karena apa yang sayasampaikan ini, kalau kedengaran ibu-ibu pengajian, saya tidak takut. Sayahanya takut kepada Tuhan, tidak ada urusan dengan manusia. Misal orangseperti saya diteror, saya tidak takut mati, karena mati soal tunggu waktu,dan tidak ada jasad yang tidak mati. Bagi saya, kematian itu pasti datang.Jadi, kita tidak perlu takut. Pernah ada orang menelepon saya, karenaketakutan dia lebih dulu mematikan teleponnya. Di sini saya inginmengajarkan kepada Anda semua, kalau Anda meyakini sesuatu, yakinilahdengan benar, jangan plin-plan. Kalau Anda meyakininya setengah-setengah, maka akan sengsara, tidak bisa hidup dengan nyaman.Yakinilahkeyakinan itu. Supaya yakin, Anda harus belajar dan berdoa, makaanuegrah itu akan datang kepada Anda, karena Tuhan Maha Adil, tidakpilih kasih. Lalu untuk mempertahankan argumen itu kepada keluarga,saya kira Anda tidak perlu perang dengan keluarga. Yang pentingtunjukkan saja bahwa Anda adalah manusia yang baik, yang perludihormati. Memang untuk menjadi manusia yang dihormati tidakgampang. Anda tunjukkan dulu kepada orang lain bahwa Anda layakmendapatkan penghormatan. Kita harus berbuat sesuatu dulu, sehinggaorang lain harus mengapresiasi kita. Lakukan apa saja. Bangun dalam diriAnda yang membuat orang lain hormat kepada Anda dan merasa Andamemang patut untuk dihormati. Karena kalau mau adu argumentasi,apalagi dengan orang yang sejak kecil sudah terdidik dengan pikiran-pikiranseperti itu, sulit akan berubah. Dalam perjalanan saya menyusunpandangan-pandangan yang humanis seperti ini, justru perlawanan yangsaya peroleh dari perempuan. Karena dari perempuan-perempuan yang 111
  • Kami Tidak Bisu sudah dihegemoni dengan pandangan-pandangan yang membodohkan seperti itu,muncul sifat maskulin yang lebih sadis dari laki-laki. Misalnya, ketika saya menyusun pandangan yang antipoligami justru ditentang perempuan. Dalam hati saya berkata, “Kok aneh ya?” Pembelaan untuk mereka ini malah dibilang pelecehan. Diah gelisah dengan gagasan pasangan berarti perempuan dan laki-laki dan bahwa firman Tuhan mengatakan lesbian itu perempuan sundal. “Dengan apa yang saya jalani ini, apa tanggung jawab saya kepada Tuhan?” Dewi mempertanyakan “apakah Tuhan menciptakan LGBT atau ini hanya bias keinginan dari individu manusia?” Menurut Pendeta Ester, dahulukan keyakinan bahwa Anda cinta Tuhan dan Anda cinta pacar Anda dan itu semua berasal dari Tuhan. Tidak pernah ada di dalam Alkitab mengatakan ”lesbian itu sundal”. Alkitab sama sekali tidak pernah mengatakan tentang lesbian, yang ada tentang hubungan laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan, tidak ada, karena yang menulis Alkitab adalah laki-laki, karena mereka tidak ingin ada rasa cinta di antara sesama perempuan. Jadi, tidak pernah ada dalam Alkitab yang mengatakan “lesbian itu perempuan sundal”, karena Tuhan Yesus pun sama sekali tidak pernah mengatakan itu. Tentang penciptaan lesbian dan gay, Pendeta Ester merespons ”iman saya mengatakan bahwa Tuhan menciptakan setiap orang itu unit. Di setiap tempat berbeda-beda. Tuhan menciptakan itu juga dengan cinta. Bagi saya, pengakuan bahwa Tuhan pencipta segala sesuatu, artinya Dia juga menciptakan cinta yang tulus yang ada di hati Anda semua, asalkan cinta itu memang benar-benar tulus. Musdah merepons bahwa Tuhan menciptakan ini semua sesuai dengan apa yang diinginkannya dan sesuai dengan kenyamanan manusia itu sendiri, bukan untuk Tuhan. Tuhan tidak perlu apa-apa. Begitu Tuhan menciptakan alam, Dia menyerahkan seluruhnya kepada mahkluk112
  • Lesbian dan Tafsiran Agamaciptaannya. Yang terpenting kita saling menjaga, saling respek, dan salingmenjaga status. Terakhir, bagaimana kita melihat penampilan? Agama ini sudah jelasmenurut saya. Nabi meninggalkan aturan itu jelas sekali. Itu adalah wahyuTuhan dan firman Tuhan yang tidak bisa diganggu gugat. Persoalannyasekarang, wahyu Tuhan ini abstrak yang harus dibaca, diinterpretasikan,diterjemahkan, serta bisa diinterpretasikan. Menariknya kalau kitamenggunakan aturan sering kali menggunakan bahasa yang bukan hanyamemiliki makna ganda, tetapi multi-ganda maknanya. Pertanyaannya,penafsiran siapa yang ingin kita pakai? Karena itu, kita saling menghargaisaja, yang penting kita tidak mengklaim bahwa pendapat kita adalah halyang benar. Bagaimana kita membangun rasa hormat terhadap manusiayang lain? Apa pun pendapat orang lain, kita harus saling menghormati.Dengan saling menghormati maka terbangun rasa saling pengertian.Karena dengan rasa saling mengerti bahwa kita sama-sama manusia,sama-sama makhluk ciptaan Tuhan, dan kita bertanggung jawab pada dirikita di hadapan Tuhan. Karena di hadapan Tuhan, kita tidak denganpasangan kita. Di hadapan Tuhan kita berdiri sendiri-sendiri secaraindividual. Kita manusia yang merdeka, diberikan pancaindra, intuisi, akal,dan diberikan agama untuk memilih dan memilah mana yang terbaik untukkita, karena itulah yang kita pertanggungjawabkan terhadap Tuhan. Pendesa Ester menyimpulkan apa yang teman-teman pertanyakanadalah bagaimana menjadi lesbian yang beragama. Bahwa yang kitarasakan sebagai lesbian, mencintai sesama perempuan bukan berarti kitakita tidak mencintai Tuhan. Karena Anda sering takut, “Kalau mau matibagaimana?” Tidak ada salahnya, yang menjadi masalah sebenarnyaadalah pergumulan, dan itu biasa. Pergumulan adalah bagaimana menjadilesbian yang beragama. Saya tidak pernah menyebut homoseksual, tetapihomophidia. Kata phidia artinya cinta kasih. Jadi, kasih terhadap sesama.Saya tidak bilang seksual. Karena ini yang mengajarnya adalah seorang 113
  • Kami Tidak Bisu hetero India. Yang pasti bukan seksnya. Seolah-olah kalau sudah menjadi gay atau lesbian yang menjadi fokusnya adalah seksnya, kemungkinan juga karena ada kata seksnya. Jadi, pikiran orang lain langsung menjadi negatif, bukan kasih di antara sesama. Menurut saya, kita bisa tetap menjadi lesbian sekaligus seorang religius, tanpa harus tidak ke gereja dan tidak salat ketika menjadi lesbian. Kalau seperti itu, menurut saya, berarti sama saja seperti menyentuh Tuhan dan menipu Tuhan. Kalau Tuhan saja ditipu, bagaimana dengan yang lainnya? Dan merasa bahwa Tuhan tidak menciptakan itu. Saya ingin katakan bahwa kasih itu dari Tuhan. Cinta yang ada didalam hati Anda adalah dari Tuhan. Yakinlah bahwa itu semua pemberian Tuhan. Sama seperti Tuhan mencintai kita. Cinta kasih yang kita berikan kepada orang lain itu bersumber dari Tuhan. Ketika kita sudah merasakan itu, kita akan merasa tenang dan tidak takut kepada Tuhan. Walaupun kita diminta pertanggungjawaban kepada Tuhan secara individu, secara individu pun kita bisa mempertanggung- jawabkan terhadap Tuhan bahwa cinta kita, kasih yang kita berikan kepada orang lain itu berasal dari Tuhan juga, dan semua itu tulus. Ini semua tidak masalah, asal kita bertanggung jawab. Sedangkan berdasarkan bacaan Hartoyo, agama justru menjadi politik untuk mencari umat. “Ketika tokoh-tokoh agama, khususnya ulama yang konservatif, melawan homoseksual, apakah karena politik agama itu homoseksual ditolak?” Menurut Musdah, gay atau lesbian ditolak, salah satu alasannya adalah karena agama memang sangat politis. Contohnya, pada waktu sedang melakukan pembelaan terhadap komunitas yang minoritas, di salah satu wilayah yang menganut agama kepercayaan. Menganut agama kepercayaan ini juga sebenarnya dalam masyarakat tidak pernah mendapatkan tempat yang layak. Karena pada awal kehidupan berbangsa dan bernegara, hanya mengakui lima agama besar. Baru tahun 2006 Konghucu masuk. Lalu di mana-mana mengatakan apakah negara ini perlu mengeluarkan surat edaran setiap tahun, untuk mengakomodasi114
  • Lesbian dan Tafsiran Agamapenganut-penganut agama lain yang jumlahnya sangat banyak, bahkanribuan, di dalam masyarakat? Tapi mengapa negara kita hanya melayaniagama yang resmi? Mengapa agama kepercayaan tidak dianggap agama?Mengapa? Siapa yang memutuskan agama? Siapa yang menyetujui agama?Mengapa mereka tidak dianggap agama? Lalu kenapa kita hanya mengklaimkita yang beragama. Dan kita tidak menganggap yang menganut agamakepercayaan atau penganut keyakinan yang mereka percayai itu sebagaibukan agama dan dianggap tidak beragama? Di salah satu daerah di Sulawesi Selatan ada sebuah kepercayaan yangsudah ada jauh sebelum agama-agama besar ini datang. Jauh sebelumKristen datang, jauh sebelum Islam datang. Nama kepercayaan itu adalahkepercayaan Tolotang. Kepercayaan ini mempunyai komunitas sekitar tigajuta orang. Di masa Orde Baru, agar mereka bisa tetap eksis, dalammengurus KTP, catatan sipil, mereka mencantumkan identitas dirinyadengan agama Hindu Tolotang. Karena jika mencantumkan denganidentitas agama Islam, nanti mereka disuruh salat, padahal mereka tidakada urusan dengan salat. Jika mencantumkan Kristen, nanti harus ke gereja.Karena Hindu rumah ibadahnya tidak begitu kelihatan, jadi itu untuk lebihamannya. Saya bertanya kepada pemuka agamanya, “Kenapa maumenyebut diri kalian sebagai Hindu Tolotang?” Jawabnya, “Karena sebagaiwarga negara di Indonesia ini, kalau tidak punya identitas agama, mengurussegala sesuatu susah, seperti membuat KTP, mengurus akta, sampaimengambil uang di bank pun susah. Jadi, itu hanya untuk kemudahandalam berwarga negara saja.” Setelah itu saya bertanya kepada DirjenHindu, “Kalian itu bagaimana sih? Kok mau mengklaim penganut Tolotangsebagai penganut agama Hindu, padahal tidak ada hubungannya denganHindu dan cara ritual mereka juga berbeda.” Jawabnya, “Ya paling tidak ituakan menambah jumlah statistik.” Terbayang dalam pikiran kita, hal itutidak ada urusannya dengan agama. Karena kalau jumlah penganut suatuagama itu bertambah, maka power-nya juga bertambah, posisinya juga 115
  • Kami Tidak Bisu bertambah dalam percaturan politik. Itulah maksud semuanya. Jadi, agama yang mengejewantah dalam kehidupan sosial kita, muncul dalam bentuk simbol-simbol, dalam bentuk rumah ibadah, jumlah penganut, itu penting. Ini yang membingungkan Anda semua. Anda mau di kategorikan ke mana? Kalau Anda jadi seorang lesbian, maka jumlah penganut agama tidak akan bertambah dan itu merugikan. Itulah persoalannya. Sangat politis. Pendeta Ester menambahkan, permasalahannnya sekarang adalah agama itu sendiri. Bagi saya, agama itu hasil konstruksi masyarakat. Begitu juga dengan seksualitas. Dan masyarakat sudah mengkonstruksi bahwa laki-laki harus ke perempuan. Melampiaskan agresi seksualnya itu kepada perempuan, bukan kepada sesama laki-laki. Dan perempuan juga terbentuk seperti itu. Jadi, menurut saya, semua ini merupakan konstruksi dari masyarakat. Dan kitab suci, ini bedanya Kristen dengan Islam, menurut saya, kitab suci itu dilihat sebagai kesaksian iman orang-orang terkaya tentang Tuhan yang mereka percayai. Jadi, kita belajar tentang Tuhan dan kitab dari kesaksian orang-orang itu. Orang-orang yang menulis Alkitab adalah orang-orang yang meresapi tentang imannya kepada Allah sebagai Tuhan. Dan kita yang membaca sekarang belajar, “oh itu, Tuhan yang orang itu percaya adalah Tuhan yang ingin saya ikuti jejak-jejaknya”. Sehingga tidak ada yang bilang bahwa Alkitab bisa kita tafsirkan secara literatur. Tidak bisa begitu. Karena Alkitab merupakan kesaksian iman orang-orang tentang imannya, Allah-nya, Tuhan-nya, yang mereka percayai. Kesaksian ini muncul di dalam konteks, bukan muncul di atas langit atau di dunia antah berantah, melainkan di dalam konteks masyarakat yang sangat patriarkis, yang melihat hubungan perkawinan yang baik adalah hubungan laki-laki dengan perempuan yang akan menghasilkan anak. Karena dalam Alkitab pun, orang yang mandul atau perempuan yang mandul dianggap negatif, karena tidak menghasilkan prokreasi. Jadi, di dalam kitan suci, tujuan utama perkawinan prokreas karena masyarakatnya116
  • Lesbian dan Tafsiran Agamaseperti itu. Sehingga perkawinan yang tidak menghasilkan anak dianggaptidak diberkati Allah. Ini iman mereka. Demikian juga dengan homofobia,yaitu ketakutan orang-orang terhadap kaum homoseksual. Ini sebenarnyaketakutan manusia terhadap dirinya sendiri. Dia takut dia juga begitu.Menurut saya, ketakutan homofobia itu ketakutan terhadap diri sendiri.Saya juga selalu bilang dalam pertemuan-pertemuan pendeta perempuan,“Kenapa kita takut dengan yang lesbian? Kenapa kita takut tidur denganlesbian? Memangnya lesbian bisa perkosa kamu? Tapi kenapa kalau tidurdengan laki-laki tidak takut? Padahal laki-laki bisa memperkosa.” Ini yangseharusnya kita buat, agar homofobia yang ada di lingkungan agama mulaisirna. Mulai juga dilihat bahwa itu sebagai bagian yang biasa, bahwa orangbisa jatuh cinta kepada siapa pun tanpa harus melihat jenis kelaminnya. Didalam Alkitab pun ada ayat-ayat yang menceritakan kisah percintaan duamanusia, yaitu kisah cinta Daud dan Yonathan yang terdapat di dalam ISamuel 18, ayat 1- 4: “Ketika Daud habis berbicara dengan Sahud berpadulahjiwa Yonathan dengan Daud.” Kata berpadu di sini dalam bahasa aslinya,bahasa Ibrani, yaitu seperti berpadunya jiwa antara laki-laki denganperempuan. “Berpadulah jiwa Yonathan dengan Daud dan akan mengasihidia seperti jiwanya sendiri. Yonathan mengikuti perjanjian dengan Daud,karena dia mengasihi seperti dia mengasihi dirinya sendiri.” Ada lagi kisah dalam Samuel 20 ayat 3 dan 4. Ayat 3: “Tetapi Daudmenjawab, katanya Ayah tahu benar bahwa engkau suka kepadaku, sebabitu pikirnya. Tidak boleh ingatan mengetahui hal ini nanti dia bersusah hati.Namun demi Tuhan yang hidup dan yang di hidupmu hanya satu langkahjaraknya antara aku dan waktu.” Ayat 4: “Yonathan berkata kepada Daud,apa pun kehendak hatimu, aku akan melakukannya bagimu. Makapulanglah budak itu, lalu tampillah Daud dari sebelah bukit batu, Ia sujuddengan mukanya ke tanah dan menyembah tiga kali. Mereka bercium-ciuman dan berpamit-pamitan, akhirnya Daud dapat menahan diri.” Di sinisaya ingin bicara bahwa cinta yang kita punya itu harus kita yakini dahulu, 117
  • Kami Tidak Bisu sebelum kita meyakinkan orang tua dan lainnya. Apakah cinta ini benar berasal dari Tuhan? Karena kalau kita sudah merasa cinta kita berasal dari Tuhan, ketika kita beragama pun, ke gereja atau sedang beribadah, kita tidak merasa takut, tidak merasa malu dengan orang yang Anda cintai. Kalau kita merasa malu dengan orang yang kita cintai, berarti itu bukan cinta, melainkan nafsu. Oleh sebab itu, selesaikan dahulu dengan dirimu sendiri, yakinkan bahwa itu cinta sejati, maka kepada Tuhan pun Anda tidak akan malu. Berikutnya ayat 25: “Betapa gugur para pahlawan di tengah-tengah pertempuran. Yonathan mati terbunuh di bukit-bukitMu.” Ayat 26: “Merasa resah aku karena engkau, saudaraku Yonathan. Engkau sangat ramah kepadaku, bagiku cintamu lebih ajaib daripada cinta perempuan.” Dari ayat-ayat itu kita bisa bisa melihat bahwa Daud begitu memuja Yonathan. Yonathan itu anak petani. Dari ayat ini bisa diambil kesimpulan bahwa keyakinan yang terpenting, yang harus kita tanamkan dalam diri kita dahulu bahwa tumbuh cinta yang kita miliki itu berasal dari Tuhan, dan cinta itu tulus. Tuhan Yesus pun tidak pernah sama sekali mengatakan di dalam Alkitab bahwa orang-orang yang lesbian dan gay itu berdosa. Justru yang berdosa itu orang-orang yang jahat, yang mengatakan kafir kepada sesamanya, dan tidak mengasihi sesamanya. Jadi, cinta tidak haram, dan di dalam Alkitab: “dalam cinta yang sempurna tidak ada ketakutan”. Jadi kalau Anda masih ketakutan, berarti belum mempunyai cinta yang sempurna. Pertanyaan ditutup Jeni yang meminta masukan bagaimana cara berbagi pemahaman terkait tafsiran agama dan homoseks kepada keluarga. Menurut Musdah, bagaimanapun keluarga harus tetap dihormati. Bapak dan ibu juga harus dihormati, meskipun mereka membenci kita, mengucilkan kita. Jangan pernah ada kebencian di hatimu terhadap sesamamu, apalagi terhadap orang tuamu. Biar orang lain membenci kita, tapi kita harus berusaha untuk tidak membencinya juga, apalagi sampai118
  • Lesbian dan Tafsiran Agamadendam. Karena dengan hidup selalu memaafkan, tidak ada kebencian dihati, itu akan terasa lebih tenteram. Memang itu tidak mudah, harus adaperjuangan. Karena hidup manusia adalah perjuangan. Hari ini kita bisalolos, esok hari belum tentu bisa. Tantangan hidup adalah jebakan.Sepanjangan hidup kita ini adalah perjuangan, sebuah pertarungan untukmemenangkan kebaikan. Dian kemudian bertanya, “Apakah benar buku kesaksian yang diceritakanibu saya, tentang kematian seorang perempuan pada saat mati suri disiksadi neraka karena dosanya. Setelah itu dia bangun lagi dari matinya agarbisa menceritakan kejadian selama dia mati suri?” Pendeta Ester menjawab dengan firman: “Aku sudah membentukengkau, masih di dalam rahim ibumu. Semua cinta itu dibentuk oleh-Nya”.Itu keyakinan iman. Apakah kita juga percaya orang yang sudah mati,menjadi satu sperma dan menjadi satu sel telur, itu pun Tuhan yangmempertemukan. Artinya, Tuhan yang membuat itu. Dan ketika itu juga,mungkin saja Tuhan telah membuat itu. Dan terjadilah hal-hal yang laindan itu juga menjadi suatu bagian. Kalau kita mengikuti hati kita dan inginberubah, itu tidak apa-apa. Yang terpenting adalah kita yakin bahwa Tuhanmencintai kita apa adanya. Dan aturan-aturan itu yang membuat manusiadan Tuhan tidak membatasi cinta. Di dalam kehidupan yang sempurna initidak ada ketakutan. Cinta membuat kita merasa bebas, merdeka,dibebaskan. Jadi, kalau kita dicintai, seharusnya kita juga merasadibebaskan. Memang ada kelompok orang yang menafsirkan Alkitabseperti itu. Mereka menakuti-nakuti orang lain dengan surga dan neraka.Kita juga bisa mempertanyakan legitimasi mereka dari mana? Kesaksianitu dari mana? Ini juga inti masalah keyakinan. Kita harus yakin bahwaTuhan tidak seperti itu. Iman saya mengatakan, Tuhan tidak sejahatmanusia. Ketika kita membuat orang lain tidak memiliki pilihan, artinyajustru kitalah yang menjadi penjahat. Dan orang yang menghakimi oranglain akan dipakai untuk menghakimi dirinya sendiri. Anda harus yakin, cinta 119
  • Kami Tidak Bisu Anda itu berasal dari Tuhan. Karena ketidakyakinan itulah yang membuat orang merasa takut, mudah dipengaruhi orang lain, ditakut-takuti, dan sebagainya. Di dalam Alkitab pun dikatakan, “apa pun engkau, Aku (Tuhan sang pencipta) mencintai engkau apa adanya engkau.” Ini benar-benar ada dalam Alkitab, bukan sumber yang berasal dari kesaksian seseorang atau yang lainnya. Perbincangan Kongkow Lez kali ini mencerahkan kami bahwa sebenarnya agama sangat indah. Dalam bahasa Indonesia agama berarti a = tidak dan gama = kacau. Jadi, tidak bertujuan untuk membuat kekacauan, tapi perdamaian. Mungkin selama ini kita sangat takut terhadap yang namanya agama. Tapi tiap agama mengajarkan mencintai sesama, kasih sayang, dan tidak ada satu pun agama yang mengajarkan umatnya untuk mendiskriminasikan sesama. Karena itu, ketika orientasi seksual kita sebagai homoseksual dipergunakan untuk saling mencintai sesama umat manusia, sesama perempuan, kita telah pula menjalankan ajaran agama tentang cinta kasih. Lesbian Muslim Mengelola Homofobia dan Islamfobia Catatan Perjalanan Penulis Aku dilahirkan dan dibesarkan di sebuah kota kecil kabupaten, sebelum menjadi kota madya saat ini. Sebelum menikmati masa pensiun, ayahku pegawai negeri sipil (PNS) yang memiliki posisi cukup penting. Ayahku juga aktif berorganisasi di partai politik besar. Itu berlangsung sejak aku kecil hingga remaja. Kedua orang tuaku melakukan ibadah haji sebagai salah satu rukun Islam yang diwajibkan jika mampu. Bagi sebagian masyarakat di Indonesia, gelar haji dan hajjah sering kali dikaitkan dengan kepentingan menjaga nama baik keluarga. Sebagaian besar muslim di Indonesia percaya bahwa setelah menunaikan ibadah haji berarti kembali120
  • Lesbian dan Tafsiran Agamasuci dan bersih dari dosa. Di masa pensiunnya, ayahku banyak menghabiskan waktu melakukanaktivitas di sebuah pesantren bersama para tokoh agama setempat. Akumemang tidak terlalu dekat dengan ayahku saat ini, tapi aku mendengardari keluarga bahwa saat ini ayahku banyak menghabiskan waktunyadi pesantren tempat dia beraktivitas. Karena itulah aku berusaha sekalimenjaga nama baik orang tua dengan tidak menunjukkan identitas dirikusebagai seorang lesbian ketika berada di kampung halaman. Semenjak kecil, ayah sangat disiplin mendidik ketiga anaknya untukmenjadi muslim. Setiap hari kami harus bangun pada pukul 4 pagi untukmenunaikan salat subuh, dilanjutkan dengan mengaji dan kemudianmempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah. Umat Islam diwajibkansalat lima waktu setiap hari pada waktu subuh, siang, sore, dan malam.Pada waktu maghrib sekitar pukul 6 sore, kami diharuskan mengajisetelah menunaikan salat maghrib, dengan bimbingan seorang gurumengaji. Kami juga harus belajar di malam hari untuk mempersiapkanmata pelajaran di sekolah esoknya, sebelum waktu tidur pada pukul 9malam. Semua aktivitas tersebut kulakukan sejak kecil hingga remaja. Aku ingat ketika masih di SMA, sekitar tahun 1999, pasca-reformasi,kakak perempuanku yang tertua sudah kuliah dan mulai aktif diorganisasi mahasiswa Islam di kampusnya. Padahal waktu di SMUkakakku berpenampilan cukup tomboy dan aktif dalam perkumpulanpencinta alam dan bela diri karate. Kemudian dia menjadi perempuanberjilbab dan berpakaian baju gamis setiap hari. Aku sering menemukanselebaran terbitan organisasi mahasiswa Islam di kamarnya. Perubahanpada dirinya menarik perhatian orang tua kami, terlebih ketika dia mulaitidak mau bersalaman bersentuhan tangan dengan lelaki, walaupundengan paman dan sepupu laki-laki. Meskipun keluarga kami semuanyamuslim, tidak pernah ada tradisi seperti itu. Kemudian kakakku makin sibuk dan cukup berjarak dengan keluarga.Pernah di kamarnya kutemukan selebaran yang menyatakan seorang 121
  • Kami Tidak Bisu perempuan akan masuk neraka jika penampilannya menyerupai laki- laki. Tidak lama kemudian dia memberikan selebaran itu kepadaku. Aku mengerti maksudnya. Ia ingin menyampaikan ketidaksetujuannya atas penampilanku yang tomboy. Namun aku tidak terlalu menggubrisnya dan tidak mau berkomentar. Karena aku tak mau kami berkonflik terus- menerus. Ayah kami tidak pernah mengomentari penampilanku yang tomboy. Bahkan dari dulu hingga sekarang dia bangga kepadaku, karena menganggap aku bisa menjaga diri sendiri dan terkesan tidak lemah. Ibu terkadang memperingatkanku untuk tidak terlalu sering menggunakan celana pendek atau celana panjang dan menyarankan memakai rok. Sering kami berdua berdebat ketika memilih baju baru untuk perayaan lebaran dan pesta ulang tahunku. Kakak laki-lakiku cenderung pendiam, rajin beribadah dan puasa sunah Senin dan Kamis, dari remaja hingga sekarang. Dulu kami sering berangkat sekolah bareng, diantar pembantu rumah tangga menggunakan sepeda motor. Saat itu aku terlihat sangat aktif, sementara dia duduk manis. Sejak di SMP aku sudah sering menjadi ketua kelas atau pemimpin upacara di sekolah. Sedangkan kakak laki- lakiku aktif di klub seni dan budaya yang membuatnya sering latihan tari dan bermain alat musik tradisional, setelah jam sekolah bersama teman- temannya. Perbedaan karakter aku dan kakak laki-lakiku itu sering menjadi bahan rumpian yang dianggap lucu oleh teman-teman ibu kami. Terutama ketika mereka berkumpul pada acara Dharma Wanita atau sosialita ibu-ibu istri PNS. Kakak laki-lakiku tidak pernah menghiraukan itu meskipun mengetahuinya. Hanya terkadang menyatakan rasa malu dan tidak sukanya kepadaku kalau melihat aku ikut bermain atau aktif bergaul dengan teman laki-laki di sekolah. Sejak di SMU aku sudah merasakan ketertarikan kepada perempuan. Saat itu aku aktif di klub softball yang mendekatkanku pada anggota perempuan klub yang sering menjadi juara umum di kotaku. Seorang adik kelas berwajah cantik dan berprofesi sebagai model. Dia disukai122
  • Lesbian dan Tafsiran Agamabanyak laki-laki di sekolah kami dan sekolah lain. Dia primadona di kotakami. Jadi, persaingan cukup ketat untuk merebut hatinya. Kedekatankudengannya sempat membuatku bingung. Sering kali setelah salat,aku berdoa kepada Tuhan untuk menenangkan hatiku dan diberikanpetunjuk. Harapanku, doa-doa tersebut mampu mempertemukanku denganjawaban jika ketertarikanku terhadap sesama jenis merupakan perbuatanharam dan dosa, maka aku ingin dibantu untuk menjauhi perasaantersebut. Tapi aku juga tidak lupa menyampaikan dalam doa-doa yangkulakukan cukup diam-diam dan takut terdengar keluargaku di rumah,untuk diberikan kemudahan dalam menjalaninya jika memang itu jalanhidupku. Sebab, aku tidak bisa memungkiri betapa bahagia jika bertemudengan perempuan itu. Momen itu sering kunikmati saat kami salatdzuhur bersama di masjid sekolah. Hubungan percintaan dengan pacar perempuanku terjalin sejakSMU hingga kami duduk di bangku kuliah. Beberapa teman di sekolahmengetahui hubungan percintaan kami. Mayoritas dari merekamenyatakan tidak setuju dan mulai bersikap homofobia denganmemberikan sindiran-sindiran sinis terhadap diriku yang dianggap tidaknormal. Terlebih mereka mengetahui posisiku sebagai Wakil KetuaOrganisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) pada waktu itu, yang menurutmereka seharusnya aku tidak melakukan perbuatan yang dianggapamoral dan harus memberikan tauladan yang baik bagi para siswa-siswi lainnya. Kemudian saat kuliah aku mendapatkan kesempatanmenjadi relawan di sebuah organisasi perempuan, tempat kemudianaku mendapatkan banyak informasi tentang hak-hak asasi perempuan,termasuk perempuan lesbian. Aku merasakan penerimaan dari teman-teman di organisasi itu dan membuatku cukup betah berlama-lamamenghabiskan waktu bersama mereka. Sikap mereka yang tidakmemandang negatif kepada diriku sebagai seorang lesbian merupakanpenguatan psikologis dan membuatku makin percaya diri. 123
  • Kami Tidak Bisu Hari menjelang wisuda kelulusan adalah momen aku pertama kali berterus terang kepada kedua kakakku tentang orientasi seksualku. Harapanku, dengan berterus terang kepada mereka, aku dapat berkonsultasi juga bagaimana baiknya membicarakan hal yang sama kepada orang tua. Respons mereka tidak keras dan mereka tidak menyarankan aku berterus terang kepada orang tua untuk menjaga perasaan orang tua. Namun, kakak perempuanku yang tertua kemudian menyarankan aku menjalani konseling agama pada seorang ustad yang sering ia temui, dengan harapan bisa mengubah orientasi seksualku. Sebenarnya itu membuatku sangat sedih dan bingung, karena aku pikir itu akan menjadi proses yang sangat sulit. Namun karena takut dan tidak mempunyai pilihan, maka aku mengikuti saja saran itu. Semakin bingung aku karena dalam konseling dengan ustad tersebut tidak banyak tentang agama yang dikatakan, tapi saran agar minum obat perangsang agar tertarik kepada laki-laki. Sungguh di luar dugaan. Setelah itu aku menyatakan kepada kakakku tidak mau menemui ustad itu lagi. Akhirnya kedua kakakku menyarankan aku tidak aktif lagi menjadi relawan di organisasi perempuan yang sudah seperti rumah aman buat aku. Alasan mereka, ideologi yang diajarkan organisasi perempuan itu membuat aku jadi membenci laki-laki. Selain itu, aku dilarang keluar rumah terlalu sering, karena dianggap menjadi lesbian akibat kenakalan remaja. Bahkan sempat telepon seluler pun dilarang, agar aku tidak terlalu sering komunikasi dengan teman-teman atau pacarku. Begitulah sepenggal pengalamanku waktu kecil hingga remaja ketika berbicara isu lesbian dikaitkan dengan agama. Saat ini telah terjadi penerimaan keluarga yang lebih baik terhadapku. Bahkan ayah terkadang mengunjungi Institut Pelangi Perempuan tempat aku bekerja. Dia memang berkarakter mudah dekat dengan orang-orang di sekitarnya, sehingga ketika berkunjung terkadang menghabiskan waktu bersama teman-teman komunitas untuk mengobrol, makan siang,124
  • Lesbian dan Tafsiran Agamaatau makan malam bersama. Ketika mulai aktif dalam pergerakan perempuan dan lesbian ditingkat nasional dan internasional, aku sering mendapatkan kesempatanmenghadiri forum-forum internasional LGBT dan feminisme di beberapanegara. Selalu aku menjadi presentator aktivis lesbian muda dariIndonesia. Sering kali aku mendapatkan pertanyaan dari peserta tentangbagaimana kehidupan yang dijalani sebagai perempuan muslim lesbianberusia muda di Indonesia yang memiliki populasi muslim terbesar didunia. Kehadiranku membuat mereka penasaran dan ingin banyak tahu,karena dalam wacana internasional, Islam adalah agama yang dianggappaling tidak toleran terhadap homoseksualitas. Isu kontroversial itumencuat ketika tersiar berita tentang dua remaja homoseksual dihukumgantung oleh pemerintah Iran dengan dakwaan telah melakukanperbuatan yang diharamkan agama Islam. Hidup sebagai seorang muslim di Indonesia merupakan sebuahkeuntungan bagiku karena mendapatkan hak-hak istimewa sebagaikelompok mayoritas. Pemerintah Indonesia tidak pernah menyatakanbahwa LGBT ilegal, tapi mulai dikriminalisasi dalam beberapa kebijakan.Perlu dicatat, Indonesia bukanlah negara Islam dan secara konstitusiadalah negara sekulerisme (ideologi yang menyatakan institusi negaraterpisah dari agama atau kepercayaan). Berbeda dari negara-negaradi Arab yang menggunakan hukum Islam sebagai ideologi negaranya.Terdapat berbagai macam agama yang diakui pemerintah Indonesiaselain Islam, yaitu Kristen Protestan dan Katholik, Hindu, Buddha, danterakhir Konghucu yang sempat dilarang pemerintah. Namun, PresidenAbdurrahman Wahid mencabut pelarangan tersebut melalui KeputusanPresiden Nomor 6 Tahun 2000. Sekulerisme juga menjunjung tinggikebebasan beragama dan kebebasan dari pemaksaan kepercayaantertentu yang telah dituangkan dalam UUD 1945 ayat 2. Meskipun saatini mulai dipertanyakan tentang ideologi sekulerisme di Indonesia, karenamulai banyak terjadi kasus kekerasan berdasarkan SARA dan beberapa 125
  • Kami Tidak Bisu kelompok tertentu mulai menggunakan agama Islam untuk kepentingan politik dan kekuasaan yang dituangkan dalam beberapa kebijakan dan peraturan pemerintah. Tapi buatku penting untuk terus mengatakan Indonesia adalah negara sekulerisme sebagai upaya mewujudkan perdamaian dan antikekerasan sesama umat manusia, di tengah-tengah banyaknya kasus kekerasan dan terorisme yang terjadi akhir-akhir ini. Pada Maret 2010 International Lesbian, Gay, Bisexual, Trans and Intersex Association (ILGA) tingkat regional Asia yang mengadakan konferensi internasional yang mengundang banyak aktivis LGBT dari beberapa negara Asia, mendapatkan ancaman dan teror dari kelompok fundamentalisme Islam bernama Forum Ulama Indonesia (FUI). Insiden itu menimbulkan kepanikan dan ketakutan banyak aktivis peserta konferensi di Surabaya, Jawa Timur, tersebut. Padahal Surabaya dianggap sebagai kota yang penuh toleransi akan isu seksualitas, karena memiliki sebuah lokalisasi prostitusi yang mendukung pendapatan daerah yang juga memiliki kelompok muslim moderat yang besar itu. Ternyata dugaan tersebut tidak benar dan situasi telah berbeda. Konferensi yang kami adakan mengundang reaksi penolakan dari kelompok fundamentalisme serta kelompok mahasiswa sebuah universitas Islam di Surabaya yang mengatasnamakan agama Islam dan moralitas. Kami diusir manajemen Hotel Mercure Surabaya karena mereka mendapatkan teguran dari kelompok fundamentalis Islam agar tidak memperbolehkan ILGA Asia melangsungkan konferensi di hotel itu. Ketika kami berusaha pindah ke hotel lain secara diam-diam untuk tetap melangsungkan konferensi di Hotel Oval Surabaya, sambutan manajemen hotel itu sangat ramah dan memahami situasi yang kami hadapi. Mereka memberikan dukungan atas berlangsungnya konferensi ILGA Asia dengan memperbolehkan kami memindahkan sebagian peserta dari Hotel Mercure dan menyiapkan beberapa ruang pertemuan untuk konferensi. Ternyata kelompok fundamentalis mencium gerakan kami dan kembali126
  • Lesbian dan Tafsiran Agamamendatangi Hotel Oval dengan beberapa pasukan berjumlah puluhanorang, seusai salat Jumat. Mereka mengancam panitia untuk segeramemulangkan semua peserta lokal dan internasional. Kami dianggapsebagai teroris moral yang telah merusak citra baik kota Surabaya.Ancaman mereka, jika kami tidak segera melaksanakan permintaannya,akan mendatangkan massa lebih besar dan bersenjata. Di manakahkeberadaan polisi sebagai aparat penegak hukum saat keamanan kamisebagai warga negara terancam? Sejak awal Kepolisian Daerah JawaTimur telah mengetahui insiden itu akan terjadi, tetapi mereka malahmenganjurkan panitia mengikuti kemauan kelompok fundamentalis.Beberapa oknum polisi meminta uang keamanan sekian juta rupiahkepada panitia jika ingin mendapatkan keamanan dari kepolisian. Ketika keadaan makin mendesak pada malam sebelum insiden, parapolisi tersebut meminta tambahan uang keamanan. Jika tidak salahingat, saya dengar dari seorang panitia, uang keamanan naik dari Rp 5juta menjadi Rp 25 juta. Namun setelah ditelusuri, oknum polisi yangmenerima “uang kemananan” itu tidak diketahui keberadaannya karenapenyerahan uang melalui transfer ATM dan tidak diketahui penerimanyasampai sekarang. Saya marah dan kecewa sekali atas ulah oknumkepolisian yang memanfaatkan situasi terpojok kami untuk mendapatkankeuntungan finansial. Mereka bekerja digaji dari hasil pembayaran pajakwarga negara dan sudah sepantasnya bertugas memberikan perlindungankeamanan bagi warga negara, tetapi justru memeras kami menggunakankekuasaannya. Pada malam yang sama ketika panitia kebingungan atas ulah oknumkepolisian yang bejat itu, diadakan pula pertemuan perwakilan panitiadengan para aktivis dari organisasi HAM dan kelompok perempuan.Kemudian muncul sebuah usulan untuk mengerahkan pasukan atau massabesar sebagai bala bantuan keamanan dari sebuah organisasi massa besardengan membayar uang jutaan rupiah. Barangkali aku yang baru terjunke dunia pergerakan tidak banyak paham dan mengerti situasi seperti 127
  • Kami Tidak Bisu itu. Namun, kebingunganku, bagaimana pada keadaan kondisi terdesak, banyak pihak yang membicarakan masalah uang? Sejujurnya dalam hati aku kurang setuju dengan keputusan panitia menuruti kemauan para oknum polisi tersebut untuk menyerahkan “uang keamanan”. Dan mengapa kekerasan yang dipergunakan kelompok ekstrem Islam tersebut harus pula dilawan dengan membayar sekelompok orang untuk melawan mereka yang sama saja dengan mafia atau premanisme? Waktu itu aku tidak memberikan banyak komentar, karena khawatir dianggap sok tahu. Aku berusaha mengikuti saja kemauan para panitia dan aktivis lainnya yang kuanggap lebih paham konteks lokal kota Surabaya. Di sisi lain, aku berusaha memahami bahwa dalam situasi terdesak, mengambil keputusan dan memikirkan stategi yang tepat tidaklah mudah. Setelah insiden di Surabaya, terjadi lagi beberapa penyerangan dan ancaman dari kelompok fundamentalis terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan kelompok LGBT di wilayah Jakarta, Jawa Barat,Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan. Kejadian itu berantai pada tahun 2010. Tersebar kabar bahwa kelompok fundamentalis itu juga menyerang klub-klub malam atau tempat hiburan di beberapa kota. Namun jika diberi uang, mereka akan menghentikan aksi. Semua kejadian dan informasi yang kudengar itu makin meyakinkan diriku bahwa uang dan politiklah yang menjadi tujuan beberapa kelompok itu dan mereka melakukan atas nama agama untuk mencapai tujuannya. Isu yang tersebar bahwa oknum kepolisian yang memberi tahu kelompok-kelompok fundamentalis tersebut jika ada kegiatan-kegiatan yang dianggap bertentangan dengan mereka. Isu yang kedua membuat kami memikirkan strategi agar tidak memberitahukan Polri dan media jika melakukan kegiatan. Atau memilih tempat kegiatan yang tidak memerlukan perizinan kepolisian, seperti sebuah klub gay di wilayah Jakarta yang sudah membayar pajak kepada pemerintah dan tentu juga “uang kemanan” kepada oknum kepolisian. Sampai saat ini strategi IPP yang digunakan cukup membuat aman. Kami sadar sebagai organisasi lesbian muda yang baru berdiri dan aktif, tidak128
  • Lesbian dan Tafsiran Agamamemiliki kekuatan yang cukup untuk bisa mengatasi jika ada ancamandan kekerasan serupa. Mungkin akan berbeda dengan organisasi LGBTbesar lainnya yang sudah lama aktif dan memiliki posisi yang lebih kuatuntuk menghadapi mereka. IPP memilih strategi yang berbeda, demikelanjutan aktivitas dan mengutamakan keamanan teman-teman dikomunitas kami. Bahkan sempat pada bulan April 2010, selama 1 bulanIPP memutuskan untuk pindah sekretariat sementara dikarenakan rasatrauma dan tidak nyaman dari para staf IPP setelah insiden ILGA diSurabaya. Pada April 2011 IPP bekerja sama dengan kelompok Bayt Al HikmahFahmina Institute (sebuah organisasi Islam) mengadakan diskusitentang homoseksualitas dari perspektif Islam. Diskusi berlangsungdi kota Cirebon yang dikenal sebagai kota santri dan memiliki banyakpesantren, tempat mayoritas orang muda menggunakaannya sebagairuang pendidikan. Diskusi melibatkan lesbian muda dan santri mudayang mulai diorganisasi kelompok Bayt Al Hikmah. Diskusi berlangsunglancar, serius, namun juga diselingi humor. Mayoritas peserta sangatramah terhadap kami. Pada waktu yang hampir bersamaan, terjadiledakan bom bunuh diri di masjid di kompleks Markas Polres Cirebonyang diduga dilakukan anak muda kelompok Islam garis keras. Insidenyang menewaskan pelaku dan melukai beberapa polisi yang sedang salatJumat itu membuat deg-degan dan khawatir atas keselamatan kami,karena saat itu kami membawa topik sensitif di acara diskusi yang seringmendapatkan tentangan kelompok fundamentalis di Indonesia. Sejak insiden bom bunuh diri itu semakin banyak berita tentang isukelompok ekstremis dan teroris yang mengatasnamakan Islam yangdianggap mengancam integrasi negara Indonesia. Diberitakan merekamulai melakukan pengorganisasian pada anak muda di beberapa wilayah,dengan memberikan doktrin-doktrin perlawanan terhadap pemerintah.Mereka lakukan itu untuk mencapai tujuan politiknya mengubah ideologinegara Indonesia dengan hukum Islam menurut tafsiran mereka. Hal ini 129
  • Kami Tidak Bisu mendorongku untuk terus melakukan kegiatan yang melibatkan banyak anak muda dan memberikan pemahaman antikekerasan, pluralisme, dan integrasi bangsa. Itulah yang menjadi salah satu motivasi kami untuk melakukan diskusi dengan kelompok santri muda di Cirebon. Seorang kiai yang menjadi narasumber pada diskusi itu membawakan perspektif Islam yang ramah terhadap homoseksualitas. Aku terkejut ketika di tengah diskusi dia mengungkapkan pengalamannya melakukan praktik mairil saat menjalani pendidikan di pesantren pada usia muda. Aku berkesempatan menjadi narasumber kedua untuk berbicara tentang isu LGBT di Indonesia. Ada 100 orang lebih yang mengikuti diskusi, lebih banyak dari perkiraan kami yang mentargetkan sekitar 50 peserta. Para santri muda terlihat sangat serius dan aktif bertanya tentang isu LGBT di Indonesia pada sesi tanya jawab. Tidak ada perdebatan sengit, semuanya berjalan dalam komunikasi yang dewasa tanpa kekerasan. Itu berbeda dari yang dilakukan kelompok ekstremis Islam yang selalu menggunakan kekerasan tanpa komunikasi. Saya pikir memang masalah utama para kelompok ekstremis Islam adalah kurang pandai berkomunikasi. Barangkali mereka harus menempuh pendidikan ilmu komunikasi atau melakukan konseling kepada psikolog agar menjadikan komunikasi untuk manajemen kemarahan mereka. Di Kanada, Amerika Serikat, dan Jerman, identitas LGBT muslim mungkin sama dengan LGBT muslim di Indonesia. Tapi mereka menghadapi isu yang berbeda. Sebagai kelompok minoritas secara agama, mereka sering mengalami diskriminasi karena Islamofobia (sifat ketidaksukaan atau pemikiran negatif terhadap umat Islam). Kita harus mengakui insiden 11 September 2001, pengeboman gedung WTC New York, yang diduga dilakukan jaringan teroris mengatasnamakan agama Islam dan menewaskan ribuan orang, telah mengubah pandangan dunia terhadap Islam. Banyak umat muslim di Amerika Serikat dan Eropa Barat mengalami diskriminasi setelah insiden 9/11. Kejadian itu menjadi pemicu kebencian sebagian warga di dunia terhadap umat Islam. Padahal, tidak130
  • Lesbian dan Tafsiran Agamapernah dibuktikan pula secara nyata pelaku adalah muslim. Banyak pulaumat Islam yang tidak setuju dengan cara kekerasan dan bahkan banyakpula umat Islam yang tewas pada insiden tersebut. Ada ribuan umat Islam di Amerika Serikat yang mengalami kekerasan,pelecehan, dan penghapusan hak-hak warga negara pada masa penyisiranwarga muslim. Di Belanda, ada seorang anggota parlemen, Geert Wilders,mengampanyekan anti-Islam di negaranya dan partai politik dia menangdi sebuah wilayah. Video berjudul Fitna yang dibuat dan disebarkan GeertWilders sempat dilarang diputar di Indonesia, karena dianggap menjelek-jelekkan Islam. Hal yang sama dilakukan pergerakan ekstremis Islam di Indonesia. Atasnama moral dan agama, mereka semakin agresif melakukan kekerasanterhadap kelompok minoritas agama dan LGBT. Semua tindakanmereka berdampak pada semakin menguatnya Islamofobia di beberapabelahan dunia, seperti di negara-negara Eropa Barat dan AmerikaSerikat, karena Islam dianggap telah melakukan tindakan-tindakankeji atau tidak manusiawi. Aku pikir tindakan kekerasan yang dilakukanbeberapa kelompok mengatasnamakan Islam tersebut tidak pernahpula mendapatkan pengakuan dari 1,5 miliar umat muslim sedunia, jikadibandingkan dengan jumlah mereka yang sedikit itu. Di Indonesia, akujuga sering mendengar komentar masyarakat yang tidak setuju terhadaptindak kekerasan yang dilakukan kelompok ekstremis Islam. Berangkat dari konteks itu, isu Islamofobia perlu diperbincangkan diinternal komunitas LGBT di Indonesia dan masyarakat dunia. Aku pernahmenghadiri konferensi ILGA Dunia pada tahun 2008 di Vienna, Austria.Pada sebuah panel, salah satu pembicara, aktivis lesbian muda cukupternama dari sebuah negara di Arab dan beragama Katholik, berbicaramengenai isu LGBT dan Islam, yang menurutku terkesan Islamofobia.Seorang aktivis LGBT dari Palestina dan aku keberatan Islamofobiayang dilontarkan pembicara tersebut. Ketika mendapatkan kesempatanuntuk merespons presentasinya pada sesi tanya jawab, aku sampaikan 131
  • Kami Tidak Bisu pentingnya bagi aktivis LGBT untuk bisa mengidentifikasi bahwa ada sekelompok orang menggunakan agama dan moral untuk kepentingan politik dan kekuasaan di beberapa negara yang disebut dengan fundamentalisme. Fundamentalisme ini tidak hanya terjadi dalam agama Islam, tetapi juga dalam agama Kristen Protestan, Katholik, dan Hindu di beberapa negara. Fundamentalisme memang menggunakan agama, tetapi jika kita identifikasi, mayoritas tujuan mereka adalah kebutuhan ekonomi, dalam arti lain politik dan uang, bukan untuk kepentingan agama tertentu.132
  • IX Persaudaran Feminis dan Lesbian Seorang feminis sadar akan keseluruhan hak-hak perempuan, termasuk hak atas tubuh yang diperjuangkan lesbian. Yeni RosaP ada 29 Maret 2008 Institut Pelangi Perempuan melanjutkan KongkowLez dengan topik “Lesbian = Feminis = Lesbian?”. Pemilihan topik ituberdasarkan obrolan di mailing list atau chatting yang memperbincangkanbahwa lesbian adalah feminis dan apakah feminis itu lesbian? Kamimengundang narasumber Yeni Rosa Damayanti, aktivis perempuan danHAM yang telah lama aktif dalam pergerakan hak asasai manusia dan hakasasi perempuan sejak zaman Orde Baru. Yeni merupakan teman konsultasidan memberikan banyak dukungan pada awal pembentukan organisasi ini, 133
  • Kami Tidak Bisu juga Monica Tanuhandaru, aktivis HAM dan konsultan yang banyak bekerja di isu migran dan perspektif gender dan hak asasi perempuan untuk Kepolisian Republik Indonesia. Selain itu, hadir pula Erliny Rosalinda, yang pernah aktif cukup lama di Suara Ibu Peduli (SIP), yang juga banyak memberikan konsultasi dalam bidang manajemen organisasi dari awal IPP berdiri hingga saat ini. Film yang diputar pada hari itu berjudul Fire, film India yang dirilis pada tahun 1998. Film ini menceritakan pasangan lesbian yang mendapatkan tentangan dari masyarakat, karena apa yang mereka jalani dianggap cinta terlarang yang bertentangan dengan budaya dan norma. Karena itu, saat film ini dirilis di India, mengundang protes dari berbagai pihak. Yeni Rosa mengawali perbincangan dengan melemparkan pertanyaan “apakah feminis itu?”. Berdasarkan diskusi kelompok, peserta memaknai feminis dari beberapa aspek. Kelompok 1 menyampaikan, feminis adalah seseorang, bisa perempuan atau laki-laki, yang terlibat dalam pergerakan untuk membela hak-hak perempuan. Kelompok 2 memahaminya sebagai setiap perempuan yang memperjuangkan hak-hak perempuan. Sedangkan kelompok 3 mendefinisikan feminisme sebagi pergerakan yang membela hak-hak perempuan dan feminis merujuk pada orang, yaitu aktivis perempuan yang peduli terhadap hak-hak perempuan dan mau berbuat sesuatu untuk membela hak-hak itu. Laki-laki bisa juga jadi feminis jika turut sebagai motor pergerakan. Kelompok 4 memaknainya sebagai pembela hak-hak kaum perempuan. Mereka adalah segolongan orang, bisa laki-laki atau perempuan, yang mau membela hak perempuan. Feminis tidak harus identik dengan lesbian. Yeni mengambil beberapa poin penting dari hasil obrolan kelompok itu. Yang pertama yaitu hak-hak perempuan, gerakan perjuangan dan pembelaan yang dilakukan aktivis laki-laki atau perempuan, women rule, sadar hak. Jadi, feminis adalah para perempuan yang bisa melihat bahwa perempuan hak-haknya tertindas, ada diskriminasi, ada ketidaksamaan,134
  • Persaudaraan Femini dan Lesbiandan mereka menyadari realitas itu, setelah itu ada keinginan untuk berbuat,dan setelah berbuat sesuatu, mereka disebut aktivis. Yeni melemparkan pertanyaan lagi. ”Apakah orang-orang yang sadarbahwa ada ketidakseimbangan antara hak laki-laki dan perempuan ituharus seorang perempuan?” Salah satu peserta menjawab “tidak”.“Sekarang kita akan kampanye, sebenarnya hak-hak apa sih yang kitabicarakan dari tadi? Memang apa sih hak-hak perempuan itu? Nah, salahsatu hak yang penting dari seorang perempuan adalah hak untuk dirinyasendiri atau akan seksualitasnya sendiri. Kalau zaman dulu yang palingsering terjadi dalam penindasan hak adalah kawin paksa. Jadi, ada salahsatu bagian penting dari hak-hak perempuan. Yaitu hak atas tubuh.” Yeni kemudian mempertanyakan apakah aktivis perempuan di Indonesiasudah mengakui dan berbuat apa yang ia yakini tentang feminisme danapakah tindakannya sejalan dengan yang ia pikirkan? Erliny Rosalindamembagikan pengalamannya. “Kalau dasar ibu-ibu komunitas di Suara IbuPeduli, belajar dulu bagaimana mereka menyampaikan bahwa sebagaiperempuan kita harus seperti apa? Tapi pada kenyataannya banyak halyang paling sederhana belum bisa dilakukan oleh gerakan perempuan itusendiri. Contoh, ibu rumah tangga, di dalam keseharian mereka sangattidak paham apa itu lesbian. Tapi ketika terlibat di organisasi kami, banyakperempuan yang datang, bergabung, dan melakukan sesuatu. Dengansendirinya mereka paham bahwa perjuangan itu tidak mereka lakukanberdasarkan berteriak, tapi mereka mampu mengajak teman-teman untukbergabung dan melakukan suatu pemberdayaan. Meski demikian, ketikaberjuang untuk umum, mereka mampu untuk melakukan tindakan, tapikalau terjadi peristiwa pada anak mereka, mereka sulit berbuat sesuatu.Padahal mereka mengerti bahwa harus menghargai apa yang dilakukansebagai perempuan, tapi mereka masih sulit mengerti untuk lebih dalam.” Yeni Rosa menambahkan, aktivis perempuan lebih percaya dirimengotak-atik soal hak politik, budaya, dan ekonomi, tapi giliran berbicara 135
  • Kami Tidak Bisu soal hak dasar tubuh, berani tidak? Lebih baik tidak dikasih makan, digampar, daripada disuruh seperti Siti Nurbaya yang diperkosa setiap malam, karena sudah tidak punya hak atas tubuhnya sendiri. Sekarang ini sedang dirancang Undang-undang Kesehatan yang mengatur antara lain aborsi. Nah, aktivis perempuan Indonesia mana sih yang ngomongin soal hak untuk aborsi? Yang di Amerika saja masih jarang. Justru yang paling dalam inilah yang paling susah dibongkar. Pada sebagian aktivis perempuan ada yang belum paham bahwa perempuan harus mengklaim bagiannya lagi. “Kita tidak punya hak sepenuhnya atas tubuh kita sendiri, karena yang mengatur adalah masyarakat dan keluarga. Sebagian ada yang paham, tapi tidak berani berbuat, karena takut dianggap terlalu radikal dan akan menghadapi banyak hambatan. Dia tidak paham bahwa sebetulnya perempuan punya hak atas tubuhnya. Dia paham, kesetaraan pendidikan, pulang malam diperbolehkan, tapi apakah paham kalau misalnya dia tidak mood, berhak menolak berhubungan dengan suaminya? Nah, ada yang tidak paham. Ada yang paham, tapi tidak berani. Dan yang gawat, dia paham tapi dia tidak setuju bahwa perempuan harusnya punya hak atas tubuhnya. Jadi, dia berpikir hak atas tubuh boleh, tapi tidak absolut pada segala-segalanya, ada norma-norma tertentu. Nah, di situlah terlihat adanya perbedaan yang sangat beragam di antara aktivis perempuan.” Lalu mengapa ada perempuan yang menyangkal hak atas tubuhnya? Seperti kita ketahui, banyak lesbian yang tidak berani mengungkapkan status dirinya bahwa dia seorang lesbian dan kebanyakan menurut kalau disuruh menikah. Itu karena banyak tekanan yang datang dari keluarga dan masyarakat. Jadi, kesemua itu saling terkait antara hak atas tubuh dan budaya yang mengaturnya. Kenapa mereka tidak berani? Karena keluarga dan masyarakat masih berpegang pada budaya patriarki, sehingga perempuan banyak yang tertindas. Patriaki asalnya dari patriak yang artinya laki-laki. Yaitu budaya yang ditentukan oleh laki-laki. Budaya itulah136
  • Persaudaraan Femini dan Lesbianyang disebut sebagai sumber penindasan bagi perempuan. Budaya itulahyang dilawan kaum feminis, karena inilah yang menindas hak-hakperempuan. Perbincangan itu mengingatkan Indah pada pengalamannya. “Sayaingat suatu kejadian, ketika ayah hendak mengajak ibu saya untukberhubungan dan ibu saya menolak. Saya dan adik yang juga perempuanhampir terkena imbasnya, dengan tamparan ayah. Hal itu sering terjadi.Berulang-ulang. Kebetulan teman ibu saya, seorang aktivis perempuan danibu sering bercerita kepadanya. Di situ mereka bersepakat, jika laki-lakiberbuat kasar, kita juga harus bisa, atau meminta pertolongan. Saat itusaya merasa bahwa saya juga bisa menjadi laki-laki dan perempuan dalamfisik yang sama. Maka dari itu hak atas tubuh perempuan memang sangatdiperlukan.” Sisilia menanyakan, sebenarnya apa visi misi gerakan perempuan? Yangdijawab oleh peserta sebagai pembelaan pada hak-hak kaum perempuanyang tertindas. Cynthia juga bertanya, ketika seorang perempuan dianggaplebih lemah daripada laki-laki dan memerlukan perlindungan, bagaimanamenyikapi pendapat seperti itu. Yeni balik bertanya kepada peserta.“Pikiran apa yang pertama kali muncul ketika membayangkan sosok laki-laki?“ Peserta memberikan jawaban, sifat-sifat egois, dominan, kuat,berkumis, dan berjenggot. “Lalu, apa yang pertama kali kita pikirkan ketikamemikirkan perempuan?” Lembut, cantik, manis, bawel, manja, anggun,dan berambut panjang. Menurut Yeni, dari pendapat teman-teman sepertiitulah banyak orang yang menyimpulkan bahwa perempuan lebih lemahdaripada laki-laki. Lalu Yeni bertanya balik, “Apakah sifat dan perilakudominan karena jenis kelamin?” Peserta menjawab “tidak”. Yenimelanjutkan, sebenarnya sifat perempuan dan laki-laki tidak ada bedanya,karena tiap individu pasti memiliki sifat-sifat tersebut. Yang membedakanhanyalah alat reproduksi. Hanyalah khayalan budaya yang mengatakanperempuan lebih lemah daripada laki-laki. Sebetulnya sifat ini sama saja. 137
  • Kami Tidak Bisu Juwita menyampaikan kegelisahannya. Ia selalu kalah pendapat dengan laki-laki jika terkait kesetaraan gender. Laki-laki beragumen bahwa perempuan lebih lemah fisiknya, misalnya ketika perempuan dan laki-laki diberi sanksi 30 kali push-up, yang perempuan mengeluh kok jumlah push- up-nya sama sih? Rani merespons, hal itu terjadi karena pihak perempuan maunya enak saja dan tidak mau disetarakan dengan laki-laki. Menurut Yeni, kita sekarang hidup di zaman otak, bukan otot. Otaklah yang menentukan kekuasaan. Mungkin dulu ada periode di mana otot yang menentukan kekuasaan seseorang. Kalau mau melihat apakah perempuan lebih lemah daripada laki-laki, maka harus dilihat dari kemampuan otaknya. Fisik tidaklah menjadi masalah. Tentu saja selain kemampuan otak, juga harus dilihat dari moral, nurani, misalnya tidak korupsi. Rima menanyakan apa yang dimaksud sadar gerakan. Apakah gerakan dalam organisasi atau juga dalam masyarakat? Yeni menjawab, gerakan yang dimaksud adalah berbuat sesuatu di luar dirinya. Contohnya menulis di buku harian, itu tidak termasuk sebuah gerakan, kecuali ikut aktif di milis. Gerakan juga bisa macam-macam. Dengan berdiskusi dan berbagi pengalaman kepada tiap organisasi sudah termasuk gerakan. Apakah feminis itu lesbian atau tidak? Feminis bisa perempuan atau laki-laki. Yang penting sadar ada ketidaksamaan hak antara perempuan dan laki-laki. “Dan pertanyaan terakhirnya yang akan kita bahas adalah ketika dalam masyarakat belum terjadi kesetaraan hak antara perempuan dan laki-laki, maka masyarakat yang ideal itu seperti apa? Nah, masyarakat yang ideal adalah masyarakat mempraktikkan kesederajatan antara perempuan dan laki-laki dan minimal woman rule. Salah satu prasyarat masyarakat yang ideal ini mempraktikkan penghormatan pada hak atas tubuh. Hak atas tubuh perempuan ini salah satu hak yang paling dasar. Seperti dicontohkan dalam film Siti Nurbaya, setiap malam telentang melayani nafsu Datuk Maringgih tanpa dilandasi perasaan apa pun. Dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena sudah tidak punya hak untuk tubuhnya138
  • Persaudaraan Femini dan Lesbiansendiri. Dari cerita ini dapat dipahami bagaimana perempuaan berpikirbahwa hak atas tubuh adalah hak yang paling dasar. Beberapa hakperempuan yang lainnya adalah hak berpendapat, hak bekerja, haktunjangan yang selama ini hanya diberikan untuk kaum laki-laki. Dari aspekbudaya, hak perempuan misalnya, bila perempuan pulang malam, masihbanyak yang kena omelan. Itu semua tidak lepas dari budaya yangmenganggap perempuan pulang malam adalah perempuan yang tidakbenar.” Jadi, sebenarnya bagaimana hubungan lesbian dan feminis? Feminis,orang yang menyadari akan hak-hak perempuan dan mau berbuat untukitu dan sadar akan haknya.Tentunya seorang feminis sadar akan keseluruhanhak-hak perempuan, termasuk hak atas tubuh. Karena hak atas tubuhbagian tidak terpisahkan dari seluruh hak perempuan, karena yangdiperjuangkan feminis keseluruhan hak perempuan, harusnyamemperjuangkan hak-hak lesbian. Karena lesbian mengalami pelanggaranhak yang paling mendasar, yaitu adalah hak atas tubuh. Feminis belumtentu lesbian. Tapi seorang feminis wajib mengakui hak atas tubuh danharus mengakui salah satu isu yang paling dilanggar dalam hak atas tubuhadalah hak-hak lesbian. Jadi, kalau aktivis perempuan tidak mengakui hak-hak kaum lesbian, dia bukan lagi seorang feminis dan aktivis perempuan,karena dia tidak mengakui hak paling dasar seorang perempuan, yaitu hakatas tubuhnya. Moderator menambahkan, membicarakan hak-hak atas tubuh berartimembicarakan pilihan untuk menentukan tubuhnya sendiri. Tetapi realitadi Indonesia, teman-teman lesbian yang sudah berada di dalam gerakansering kali mendapat penolakan dari teman-teman gerakan perempuan,karena dianggap memberikan citra buruk atau aib terhadap gerakanperempuan karena membawa isu lesbian. Padahal idealnya dapatmelakukan gerakan sosial bersama-sama. Bagaimana cara menghadapisituasi itu? Menurut Yeni, karena gerakan perempuan berhadapan sangat 139
  • Kami Tidak Bisu keras dengan masyarakat patriaki dan sebagainya. Akibatnya, saat bergerak sering kali memperhitungkan ancaman yang datang dari beberapa pihak. Yeni menyarankan sebaiknya teman-teman lesbian lebih berinteraksi dengan gerakan perempuan, masyarakat yang berbudaya patriaki, dan gerakan-gerakan lain di luar gerakan perempuan. Perbincangan lesbian dan gerakan perempuan itu mendorong Rianti bertanya, “Jika seorang lesbian mengakui dirinya lesbian, apakah itu bisa disebut sebagai feminis?” Yeni menanggapi, dengan meneruskan klaim atas tubuh, itu sudah termasuk dalam kategori feminis, daripada diam saja. Yang terpenting adalah berani berbuat sesuatu. Siti bertanya, mengapa sebagian orang berpendapat menjadi lesbian bisa disebut sebagai pilihan politik? Yeni menjelaskan, lesbian yang sudah berani menjadi aktivis dan melawan budaya patriaki itulah yang disebut pilihan dari politik. Tapi pilihan menjadi lesbian dan bukan menjadi aktivis, itu bukan untuk politik, tapi untuk mengklaim hak atas tubuh kita. Kalau kita berani mengklaim, berarti kita punya hak asasi. Pada saat seseorang sudah menyatakan bahwa dia lesbian dan akan memperjuangkannya dan sudah berani terbuka, maka dia sudah masuk arena politis. Mengklaim hak asasinya sendiri, apabila sudah dilakukan dan membicarakan di lingkungan terdekat, itu juga bisa disebut tindakan politis. Yang disebut tindakan politis adalah tindakan di mana kita mengambil keputusan-keputusan secara publik, termasuk di lingkungan keluarga. Yanti menanyakan, apakah agama masuk ke ranah budaya atau politik? Peserta menjawab beragam. Agama bukan budaya, melainkan keyakinan yang diadasari iman. Sedangkan budaya merupakan pemikiran. Agama juga sangat personal, karena terkait keyakinan tersebut. Sebagian peserta memahami agama adalah budaya, karena memiliki sifat seperti tradisi, yang diwariskan secara turun-temurun. Peserta yang lain mengatakan bahwa selain agama yang meyakini keberadaan Tuhan, ada juga agama yang dikreasi manusia, yang mencampurkan antara budaya dan keyakinan.140
  • Persaudaraan Femini dan LesbianMenurut Yeni, yang bisa disepakati antara agama dan budaya adalahhubungan yang saling terikat. Meskipun orang yang membicarakan agamabelum tentu mengerti soal agama. Mereka yang memahami agamabersumber dari Tuhan, meyakini juga bahwa Tuhan adalah cinta. Jadi,segala sesuatu yang berkaitan dengan agama harusnya penuh cinta kasih.Segala sesuatu yang bertentangan dengan cinta kasih tapimengatasnamakan agama, bukanlah agama, tapi sudah termasukbudaya. Perbincangan agama ini mendorong Nurul menanyakan apakah agamaberpengaruh pada hak-hak perempuan. Sebagaimana ajaran jika mintamelakukaan hubungan seks, istri harus selalu melayani, kalau tidak istri itudurhaka. Menurut Yeni, problem seperti itu sebenarnya lebih banyakbersumber dari budaya daripada keyakinan pada ketuhanan. Tuhan ituuniversal dengan kasihnya, baik Tuhan yang satu maupun Tuhan yangbanyak. Lalu bagaimana agama bisa memperlakukan perempuan sepertiitu? Karena agama produk dari kebudayaan, yang menganut budayapatriakis. Nina menyepakati pendapat Yeni. Dia menyampaikan, sebagianaktivis perempuan memahami agama bagian dari budaya, karena budayaitulah yang menciptakan tradisi-tradisi agama. 141
  • Kami Tidak Bisu Politics of Fun Catatan Perjalanan Penulis Aku mulai mengenal feminisme ketika menjadi relawan di organisasi perempuan di kampung halamanku pada tahun 2004. Saat itu aku berumur 22 tahun. Lembaga tempatku bekerja menjadi tempat pertama bagiku untuk mendengar dan mengenal tentang hak asasi perempuan. Dosen sosiologi di kampusku, yang juga relawan di organisasi itu, yang mengajak aku bergabung di organisasi perempuan tersebut. Ajakannya itu terkait dengan pekerjaan sampinganku waktu itu sebagai penerjemah untuk beberapa konsultan asing yang datang ke kotaku untuk melakukan penelitian. Setelah beberapa bulan menjadi relawan, aku mendapatkan kesempatan mengikuti training gender dan konseling untuk perempuan korban kekerasan. Fasilitator training Kristi Purwandari, pendiri Yayasan Pulih Jakarta (organisasi pemulihan untuk perempuan korban kekerasan), yang juga psikolog dan dosen Universitas Indonesia. Setelah training, aku melakukan konseling dengan Mbak Kristi mengenai orientasi seksualku sebagai lesbian. Tujuanku konseling, ingin mendapatkan ketenangan, setelah menyampaikan kepada seseorang secara jujur dan terbuka dan mencurahkan kebingungan akan identitas diriku sebagai lesbian. Apalagi mengingat dia psikolog ternama. Aku ingat betul betapa sulit mengungkapkan identitasku saat itu. Itu karena aku tidak pernah terbuka mengenai orientasi seksualku terhadap siapa pun, bahkan teman di organisasi perempuan tersebut. Selang beberapa menit, barulah aku bisa berbicara lancar dan menyenangkan. Pembicaraan dengan Mbak Kristi menjadi motivasi awal aku untuk bisa lebih percaya diri dan berusaha jujur terhadap diriku. Sampai saat ini aku masih berusaha berkomunikasi dengan Mbak Kristi, meskipun sangat jarang. Tidak lama setelah training, aku sangat terkejut ketika menemukan buku kumpulan cerpen lesbian berjudul Lines (Kumpulan Cerita142
  • Persaudaraan Femini dan LesbianPerempuan di Garis Pinggir) karya Ratri M di perpustakaan organisasitempatku jadi relawan. Senang, bahagia, campur bingung dan maluuntuk meminta izin meminjam buku itu kepada teman penanggungjawab perpustakaan. Khawatir jika dia mencurigai identitasku. Tapiaku memberanikan diri untuk menemuinya dan dia hanya senyum-senyum ketika melihat ekspresi wajahku yang sangat canggung. Setelahmembaca buku itu, aku pun paham bahwa organisasi perempuan ini jugamenyuarakan hak seksualitas lesbian. Hal itu membuat aku perlahan-lahan terbuka kepada teman-teman di organisasi ini dan beberapa darimereka meledek, “Sudah tau dari dulu...” Sebagai lesbian remaja yang masih kebingungan akan identitas diri, akumerasa sangat beruntung bisa menemukan organisasi yang membantuproses percaya diri dan pemahaman akan hak seksualitas lesbian. Teman-temanku juga sangat ramah dan mendukung diriku layaknya keluarga.Karena kami berada di kota yang tidak terlalu besar di Sumatera, padawaktu itu aku tidak tahu ke mana mencari teman berkonsultasi ataudukungan yang tidak akan menghakimi. Beruntung ada organisasiperempuan yang ramah terhadap lesbian di kampung halamanku. Pada tahun 2005 ayah memintaku menjadi pegawai negeri sipil dikotaku. Aku mengiyakan dan hanya bertahan dua bulan. Aku bosandan malu digosipkan soal korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) danketergantungan ekonomi terhadap orang tua, karena aku bekerja satukantor dengan ayahku. Kemudian aku memutuskan pindah ke Jakarta,mencari pengalaman dan pekerjaan. Tekanan dan penolakan dari keluargaketika mengetahui aku lesbian membuatku memutuskan meninggalkanrumah sementara waktu. Seorang aktivis perempuan, Vivi Widyawati,membantuku memberikan tumpangan tempat tinggal di Jakarta. Karenatidak mempunyai pekerjaan tetap, akhirnya aku memutuskan mengamendi beberapa wilayah di Jakarta untuk mempertahankan hidup. Beruntungaku bisa bermain gitar dan sedikit bernyanyi untuk bisa mengumpulkanuang. 143
  • Kami Tidak Bisu Sampai kemudian aku menghadiri peringatan Hari Perempuan Internasional yang dilakukan beberapa organisasi perempuan di Jakarta. Saat itu aku bertemu Mariana Ammiruddin dari Yayasan Jurnal Perempuan. Pertemanan kami berlanjut. Dia memberikan banyak dukungan dan bantuan kepadaku untuk bisa memberdayakan diri, membangun komunitas lesbian muda di Jakarta. Dia pun memotivasi aku untuk mulai menulis tentang isu lesbian. Akhirnya salah satu puisiku dimuat di edisi “Seksualitas” Jurnal Perempuan. Setelah tulisanku dimuat, aku mendapatkan tawaran bekerja sebagai jurnalis radio di Yayasan Jurnal Perempuan. Selama bekerja di yayasan itu aku makin banyak mendapatkan informasi dan pengetahuan tentang gender, seksualitas, dan hak asasi perempuan. Hal itu kudapat dari pekerjaanku mewawancarai orang-orang ternama dan hebat untuk program radio kami. Di Yayasan Jurnal Perempuan aku membuka identitasku sebagai lesbian dan teman- teman pun tidak mempermasalahkannya. Mengingat semua pengalaman dengan beberapa organisasi dan aktivis perempuan membuatku yakin akan adanya persaudaraan antara feminis dan lesbian. Ketika aku memutuskan untuk lebih fokus di Institut Pelangi Perempuan pada pertengahan tahun 2007, aku mendapatkan undangan untuk menghadiri pertemuan feminis muda Indonesia dan Timor Leste yang diorganisasi JASS Associate di Bogor, Jawa Barat. Aku merupakan satu- satunya peserta dari organisasi lesbian di antara organisasi perempuan lainnya. Ternyata kehadiranku menjadi bahan gosip peserta lain yang mungkin merasa kurang nyaman dan penuh tanda tanya tentang keberadaan lesbian di tengah mereka. Mereka lantas banyak bertanya kepada para fasilitator Nani Zulminarni dan Dina Lumbantobing, tidak kepadaku langsung. Kemudian fasilitator mendiskusikan hal itu kepadaku dan memberikan sesi khusus kepadaku untuk berbicara tentang isu lesbian kepada seluruh peserta. Aku pun mengiyakan permintaan fasilitator, selama satu jam, walaupun sebenarnya sesi itu tidak ada dalam agenda pertemuan. Pada pembukaan sesi aku mempersilakan teman-teman peserta bertanya apa pun kepadaku tanpa harus merasa akan menyakiti144
  • Persaudaraan Femini dan Lesbianatau melukai perasaanku. Aku pun berusaha membawakannya dengancara santai dan informal, seperti layaknya ngobrol santai antarteman.Sesekali aku menjawab pertanyaan mereka dengan nada humor, untukmencairkan suasana. Sesi yang direncanakan satu jam pada akhirnyatidak terasa berlangsung lebih dari tiga jam. Persaudaraan dan kedekatanpun makin terbangun seusai sesi ini. Sampai sekarang aku masih tetapberkomunikasi dengan beberapa peserta. Pertemanan baik kami berjalansampai saat ini. Pengalaman berbeda kualami saat menghadiri Forum Associationof Women’s Rights in Development, konferensi internasional untukfeminis dari seluruh dunia, di Cape Town, Afrika Selatan, tahun 2008.Aku menghadiri sebuah sesi tentang topik homofobia yang diorganisasibeberapa aktivis lesbian dari Afrika Selatan. Pada saat sesi berlangsungterjadi kericuhan antara aktivis lesbian dan feminis. Kericuhan berawalketika beberapa aktivis muslim dari negara-negara Arab mulaimelempar pertanyaan tentang kaitan homoseksualitas dan Islam.Diskusi ini membawa pada tafsiran Al-Quran yang sebagian menafsirkanhomoseksualitas itu berdosa. Hal itu membuat beberapa pembicara danpeserta sesi sangat emosional dan merespons pertanyaan dengan nadayang sangat kasar. Kericuhan dan konflik antara para feminis dan lesbianitu membuat saya terkejut dan cukup takut, karena khawatir mengarahpada kekerasan, melihat gaya bicara mereka yang emosional. Beruntungsang moderator dengan sangat cerdas kemudian bisa menenangkansituasi diskusi tenang kembali pada hari itu. Aku bisa mengerti kemarahanmereka, mungkin karena tersinggung atas pertanyaan yang dilontarkan.Namun, menurutku pertanyaan para feminis muslim itu disampaikandengan nada cukup baik dan tidak kasar, yang sepatutnya dijawabdengan baik pula. Mestinya ada pemahaman aktivis lesbian bahwa tidaksemua feminis paham isu seksualitas lesbian, sehingga para narasumberatau aktivis lesbian pada sesi itu bisa mengambil kesempatan untukmemberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada feminis lain.Sebenarnya pertanyaan yang sama pernah kudapatkan pada forum 145
  • Kami Tidak Bisu feminis muda Indonesia dan diskusi kami berjalan lancar-lancar saja tanpa konflik. Aku paham setiap orang memiliki hak untuk marah, namun jika kita ingin melakukan advokasi dan kampanye hak seksualitas lesbian, tidak bisa menggunakan kemarahan. Kita tidak bisa mengharapkan para feminis paham hak seksualitas lesbian, jika kita tidak mencoba proses komunikasi yang baik dengan mereka. Mereka mungkin tidak berniat menjadi homofobia. Ketidakpahaman membuat mereka memberikan pertanyaan-pertanyaan yang terkesan homofobia kepada kita. Beberapa kali aku menjadi narasumber untuk isu seksualitas lesbian di hadapan beberapa kelompok non LGBT. Hal yang selalu aku lakukan adalah mengatakan kepada peserta untuk menyampaikan pertanyaan apa pun tanpa harus merasa akan menyakiti perasaanku. Tujuanku untuk membangun jarak yang lebih dekat dengan mereka, sehingga terbangun komunikasi yang terbuka dan apa adanya. Tidak lupa selalu menyelipkan humor di sela-sela acara untuk mengurangi ketegangan atau kesenjangan antara aku dan mereka. Menurutku, politics of fun (politik untuk bersenang-senang). Ada kalanya kita sebagai aktivis perempuan atau feminis tidak selalu membicarakan hal-hal yang menyedihkan dan menyakitkan, meskipun banyak perempuan pernah mengalami kekerasan dan penderitaan. Karena di sisi lain hidup kita ada sisi kesenangan yang mungkin jarang kita bicarakan, sehingga kita lebih terpuruk pada rasa kecewa dan dendam yang mendominasi keseharian kita. Hal itu tidak baik, bukan? Apalah inti sebuah revolusi jika kita tidak bisa merasakan kesenangan?146
  • Bab X Lesbian Muda Bicara Hak Asasi Manusia Negara bersikap homofobia melalui pembuatan regulasi-regulasi yang memojokkan dan meminggirkan kelompok homoseksual. Tidak ada pilihan lain, kita harus berbuat sesuatu. Kongkow LezK ongkow Lez pada 16 Juni 2007 memutar film The Chinese Botanist’sDaughter. Film ini mengisahkan problematika sepasang lesbian di Chinakarena dianggap menjalani cinta terlarang, sehingga harus banyakmelakukan pengorbanan untuk kekasih yang dicintainya. Dari film initergambar bagaimana tekanan sosial membuat mereka sulit melanjutkanhubungan dan berakhir cukup tragis. Peserta Kongkow Lez kali ini cukupberagam, tidak hanya lesbian muda, tapi juga beberapa aktivis LGBT dan 147
  • Kami Tidak Bisu feminis. Topik bahasan isu lesbian dalam perspektif hukum dan hak asasi manusia di Indonesia. Kongkow ditemani Ratna Batara Mukti, yang sudah lebih dari 10 tahun bekerja di Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) di Jakarta. Ratna saat itu menjadi pengurus LBH APIK dan pengurus federasi LBH APIK se-Indonesia. LBH APIK memberikan pendampingan hukum pada kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan. Kasus-kasus itu seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan kekerasan seksual seperti pemerkosaan dan pencabulan. Selain itu, juga melakukan advokasi kebijakan, memantau pelaksanaan Undang-undang KDRT. Salah satu produk advokasinya amandemen undang-undang perkawinan dan trafficking. Kasus yang ditangani LBH APIK memang tidak banyak dan hampir juga tidak ada kasus yang terkait dengan lesbian. Namun Ratna menyatakan pernah menangani kasus lesbian. “Bukan berarti sama sekali tidak ada, karena sebelumnya kami pernah menangani kasus pembunuhan yang melibatkan salah satu teman kita dari sektor 15 di Koalisi Perempuan Indonesia (Sektor Lesbian). Kasusnya diangkat ke media dengan isu yang sangat memojokkan komunitas lesbian. Jadi, itu dianggap wajar dengan terbunuhnya dia, karena sudah menjadi lesbian. Kecaman oleh media sudah berlangsung pada waktu itu dan juga selama proses di pengadilan, nuansa memojokkan itu selalu ada. Hasil dari penanganan tersebut, sekarang pelakunya sudah dihukum.” Ratna Batara Munti juga memberikan perhatian pada isu lesbian karena ia juga presiden nasional di Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) yang memiliki sektor kepentingan perempuan lesbian, biseksual, transgender (LBT). Pada tahun 2007 Ratna menjadi salah satu kandidat anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), yang tulisannya mengangkat isu pemberdayaan perempuan dan seksual minoritas.148
  • Lesbian Muda Bicara Hak Asasi Manusia Perbincangan diawali pertanyaan Sandria. “Bagaimana hukum diIndonesia untuk kaum minoritas LGBT (lesbian, gay, biseksual, dantransgender)?” Ratna mengajak peserta mengingat adegan di film saatbapak si tokoh mengatakan bahwa anaknya mempunyai penyakit lesbian.“Itu masih berdasarkan asumsi saja. Namun menurut hukum, negara tidakboleh mengambil kemerdekaan setiap warga negaranya, kecuali ada alasandan harus berdasarkan undang-undang. Terkait hak untuk mengekspresikan(coming out), atau yang lebih jauh, seperti terbuka dengan keluarga, ituadalah hak. Saya yakin teman-teman pasti punya segala strategi atau caraapa pun yang bervariasi. Karena kita tahu persoalan pertamanya menyesali,di mana kita mengambil pilihan, sehingga itu menurut teman-teman adalahpilihan terbaik yang bisa dilakukan.” Sebenarnya apa itu HAM? HAM adalah hak dasar yang dimiliki oleh danmelekat pada diri setiap manusia secara intern serta kodrati dan merupakananugerah dari Tuhan Yang Maha Esa. Secara intern maksudnya sejak kitalahir, hak itu sudah melekat pada diri kita, yang bersifat fundamental danuniversal. Jadi, tidak pandang bulu orang itu asalnya dari mana, agamanyaapa, rasnya apa, dan orientasi seksualnya bagaimana. Tetap orang itu harusdilindungi. Fundamental berarti pelaksanaan HAM mutlak disalurkan, agarmanusia dapat berkembang sesuai dengan bakat, cita-cita, danmartabatnya. Universal artinya HAM yang dimiliki manusia tanpaperbedaan berdasarkan bangsa, gender, dan sebagainya. Ada tiga jenis HAM, yaitu hak sipil dan politik; hak ekonomi, sosial, danbudaya; serta hak lingkungan dan kompromi. Yang banyak kita kemukakansaat ini adalah yang berkaitan dengan hak sipil. Apakah hak sipil itu?Pertama, hak atas kehidupan, jadi setiap orang punya hak untuk hidup.Tidak boleh dibunuh atau disingkirkan, karena berhak untuk hidup. Kalaudia memilih atau memang memiliki orientasi seksual sebagai lesbian, diatidak boleh dibunuh karena lesbiannya. Hak itu bersifat fundamental danuniversal, dan berlaku bagi semua bangsa dan negara. Ada beberapa hak 149
  • Kami Tidak Bisu sipil, yaitu hak atas perlakuan yang sama dan bebas dari perlakuan tidak manusiawi. Hak atas perlakuan yang sama di depan hukum, seperti yang terjadi dalam film tadi tidak boleh, karena dia lesbian lalu dianggap penjahat. Itu sudah didiskriminasikan. Hak atas kebebasan keamanan pribadi. Kebebasan juga bisa untuk mencintai. Mencintai berdasarkan yang kita sukai, pilihan kita, dan kita aman dari mencintai itu. Jangan karena kita mencintai si A yang kebetulan orang yang jenis gendernya sama dengan kita atau mencintai seseorang yang dianggap orang lain salah, lalu kita diberi stigma, dianggap salah, dan dengan mencintai seperti itu kita dibuat merasa tidak aman, sampai harus sembunyi-sembunyi. Ini berarti kita belum merdeka dan belum bebas. Selanjutnya hak untuk memilih agama atau kepercayaan dan kesempatan beribadah. Hak bagi kaum minoritas untuk dijaga kewenangannya. Sebenarnya semua itu sudah berbicara tentang apa pun manusianya. Namun, karena kaum minoritas sering kali disingkirkan atau ditindas, perlu dijelaskan bahwa semua hal yang diatur, kaum minoritas juga perlu dapat mengakses, menikmati HAM itu. Kemudian hak untuk menikah dan berkeluarga, dengan persetujuan yang bebas dan penuh dari kedua belah pihak, serta tanggung jawab yang sama selama dalam perkawinan yang sah sampai perceraian. Jangan salah penafsiran, ini berlaku tidak hanya untuk laki-laki dan perempuan, tetapi juga untuk setiap pasangan. Jadi, siapa pun berhak mencintai dan berkeluarga, dengan prinsip keadilan dan kesetaraan. Jangan karena lesbian lalu bertindak semaunya, karena tidak ada undang-undang perkawinan untuk lesbian. Seperti menikah, karena tidak ada undang- undangnya, lalu menindas yang lain, akhirnya menikah lagi atau ganti pasangan. Jadi, di sini apa pun bentuk kesepakatannya, tidak harus menikah seperti ke penghulu atau pakai perayaan dan sebagainya, cukup komitmen dari kedua belah pihak, bahwa mereka sama-sama mengakui dan setuju sebagai pasangan. Dan bersepakat jangan pernah ada yang mendominasi, mengambil keuntungan, menindas, dan mengeksploitasi pasangan hidupnya. Kalau itu terjadi, juga melanggar HAM dan itu juga berlaku apa150
  • Lesbian Muda Bicara Hak Asasi Manusiapun bentuknya. Namun dari awal sudah dikatakan bahwa undang-undangperkawinan kita jelas diskriminatif, karena tidak ada pengakuan, hanyamengarah kepada satu bentuk yaitu bentuk heteroseksual, dan itusebenarnya melanggar hak sipil. Sekalipun ketiga hak-hak tadi, seperti hak sipil dan sebagainya yangdisebut dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM), sudahdisepakati berbagai bangsa dan negara di bawah kontrol PBB, bagikelompok perempuan itu tidak cukup. Sering kali DUHAM dimanfaatkanoleh kelompok-kelompok yang memiliki kekuatan, seperti laki-laki, orangkaya, apalagi kelompok-kelompok yang dominan. Oleh sebab itu, gerakanperempuan internasional mendefinisikan lagi, secara tegas, apa yangdisebut hak asasi perempuan. Jadi, di samping HAM, ditegaskan lagikekhususannya agar mencakup tubuh dan seksualitas perempuan. Karenaitu, gerakan perempuan internasional lalu menegaskan bahwa hak asasiperempuan mencakup hak perempuan untuk memiliki kontrol dankeputusan secara bebas dan bertanggung jawab atas persoalan-persoalanyang berkenaan dengan seksualitas perempuan. Misalnya, melahirkanuntuk penentuan reproduksi mereka, termasuk kesehatan reproduksi danseksual. Bukan hanya kesehatan reproduksi ketika mau bereproduksi,tetapi kita juga menginginkan kesehatan seksual. Misalnya kita inginkehidupan kita lebih rekreasi, bukan reproduksi. Itu sah-sah saja. Tetapi lagi-lagi Undang-undang Perkawinan kita tidak mengambil rekreasi,melainkan harus bereproduksi. Ini yang akhirnya terjadi poligami, karenaharus bereproduksi ke perempuan. Kemudian dengan relasi yang samaantara laki-laki dan perempuan, berkenaan dengan hubungan seksual danreproduksi, penghargaan dan persetujuan yang sama dan saling bertanggungjawab terhadap perilaku seksual serta konsekuensi-konsekuensinya. Selain DUHAM, sudah masuk juga di dalam konstitusi kita. Jadi, kitasebagai warga negara yang hidup di Indonesia dilindungi oleh konstitusiatau Undang-Undang Dasar 1945, yang menjadi referensi dari seluruh 151
  • Kami Tidak Bisu aturan undang-undang yang ada. Di dalamnya ada satu bab mengenai HAM, yang isinya termasuk hak sipil dan sebagainya. Dan sudah meratifikasi juga Konvensi tentang Hak Sipil dan Politik menjadi Undang-undang Nomor 12 Tahun 2005. Jadi, sebenarnya kita sudah kuat. Ada konstitusi, prinsipnya non- diskriminasi. Semua sudah masuk. Ada juga Undang-undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang ratifikasi Convention on Eliminaton of Discrimnation Against Women (CEDAW), yaitu konvensi penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Definisinya sangat tegas tentang “apa yang disebut diskriminasi terhadap perempuan”. Ada setiap pembedaan, pengucilan, pembatasan, yang mempunyai tujuan atau pengaruh. Misalnya kita membuat undang-undang yang tujuannya baik tapi pengaruhnya diskriminatif atau tujuannya netral tetapi pengaruhnya ada diskriminatifnya, itu berarti melanggar. Kita bisa berbicara soal peraturan daerah di Tangerang tentang antipelacuran. Mereka yang membuat perda itu mengatakan “kita tidak berbicara tentang perempuan, tidak ada diskriminasi”. Tetapi mengapa isi perda seperti ini, “setiap orang yang berjalan di malam hari, dan menimbulkan anggapan bahwa dia pelacur”. Memang, kata “setiap orang” bisa siapa saja. Tetapi jangan lupa, budaya di masyarakat kita, yang disebut “pelacur” pasti mengarah kepada perempuan. Karena pengaruhnya jelas diskriminatif, berarti undang-undang ini bisa disebut perda yang diskriminatif. Di dalam budaya masyarakat kita, status yang paling di agungkan adalah ibu. Karena, sekalipun statusnya sebagai istri, jika tidak mempunyai anak, tetap akan disingkirkan dalam keluarga besarnya. Selalu menjadi pembicaraan, diberi stigma bahwa dia mandul, dan sebagainya. Apalagi bagi perempuan yang belum menikah, pasti timbul pertanyaan “kapan menikah?” Ini merupakan pertanyaan yang bukan sekadar pertanyaan bagi kelompok mestinya, tapi sesuatu yang sangat menyesatkan. Bagaimana kita bisa mengungkapkan bahwa kita tidak berniat menikah dengan laki-152
  • Lesbian Muda Bicara Hak Asasi Manusialaki? Jadi, ini pertanyaan yang tidak mudah kita jawab, karena sanksinyasering kali lebih dahsyat ketimbang sanksi hukum, seperti pengucilan dandianggap gagal sebagai perempuan. Dianggap gagal karena masih lajang,belum menikah dengan laki-laki. Ada jaminan undang-undang yang isinya “Setiap orang wajibmenghormati HAM orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat,berbangsa, dan bernegara. Tiap orang berhak bebas dari perlakuan yangbersifat diskriminatif atas dasar apa pun, dan berhak mendapatkanperlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif. Setiap orangberhak atas perlindungan hak asasi manusia, dan kebebasan dasar manusiatanpa diskriminasi”. Selain kita mempunyai konstitusi yang sudahdiamandemen dan ada bab HAM di dalamnya, kita juga mempunyaieksplisit Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM. Sebenarnya secara payung hukum kita sudah tidak bermasalah. Yangmenjadi masalah manusianya sendiri, penguasanya sendiri. Perlu kita ketahuibahwa perempuan itu heterogen, bukan homogen, tetapi selalu dianggaphomogen. Misalnya, perempuan itu heteroseksual, hanya menyukai laki-laki,harus mempercantik diri untuk laki-laki. Hal itu karena heteroseksis, yaitupandangan bahwa yang satu-satunya yang berlaku di masyarakat hanyaheteroseksual. Perempuan yang dibicarakan juga perempuan dari kalanganmenengah. Tidak ada perempuan-perempuan, misalnya yang berjualan dipinggir jalan atau di gang-gang, yang diangkat dan dibicarakan mengenaiHAM-nya. Jadi, di dalam implementasinya masih ada manipulasi dan reduksi-reduksi. Sehingga kelompok perempuan yang terpinggirkan dan tidak pernahdibicarakan, tidak pernah dianggap punya masalah dengan HAM-nya.Sebenarnya jika tak ada diskriminasi, semua perempuan harus dilindungi,baik lesbian, pekerja seks, pekerja sektor informal, buruh perempuan,maupun pekerja rumah tangga. Mereka semua seharusnya bisa mengaksesHAM yang sudah ada di dalam undang-undang. Kewajiban pemerintah mengimplementasikan, membuat aturan-aturan 153
  • Kami Tidak Bisu khusus, untuk mempercepat keadilan bagi perempuan, mengubah pola tingkah laku sosial dan budaya, yang kita tahu di masyarakat sangat bias. Contoh dari bias itu standar ganda pemerintah pada prostutusi. Seperti perempuan harus menjaga kehormatannya, harus perawan, karena kalau tidak perawan menjadi masalah. Kita juga tidak yakin apakah laki-laki yang belum menikah apakah masih perjaka. Karena selama ini tidak ada bahasa kesalahan yang pernah mempertanyakan “apakah kamu masih perjaka?”. Aneh sekali memang. Yang ada selalu pertanyaan ”kamu masih perawan atau tidak?”. Itulah standar ganda. Dan jika seorang perempuan sudah tidak perawan, pasti dianggap sampah, pelacur, dan bukan perempuan baik-baik. Terkait perempuan lesbian, masih terjadi kekerasan terhadap lesbian, tapi negara membiarkannya dan tidak menganggap sebagai masalah. Namun, melalui kebijakan, misalnya banyak sekali perda yang sudah dilahirkan di berbagai daerah, tanpa adanya kontrol otonomi daerah, yang membuat pemerintah daerah sebagai raja-raja kecil. Misalnya dalam menangani pemerkosaan, mengatur begitu saja tanpa ada konsultasi publik dan melibatkan kelompok-kelompok lain. Sering kali mereka hanya legitimasi dan itu tetap saja pembuatannya tidak aspiratif. Mari kita lihat praktik-praktik perda yang mendiskriminasikan kelompok- kelompok lain. Contohnya kasus yang terkait langsung dengan isu lesbian adalah perda di Palembang yang mengatur wilayah Palembang di tingkat kota dan tingkat II. Isinya tidak jauh berbeda. Ini sebenarnya lebih dikarenakan korupsi. Dan korupsi itu bisa bermacam-macam, tidak harus yang langsung. Tapi anehnya, perda seperti itu mengapa bisa lolos? Ini justru tidak menjawab permasalahan di masyarakat, melainkan hanya ingin membuat perda. Isi perda itu secara eksplisit adalah “dilarang menjadi pelacur, menjadi lesbian, dan sejenisnya...”. Di tempat lain nafasnya juga sama, hal-hal yang terkait dengan kesusilaan, moralitas yang dipakai secara sempit. Jadi, yang disalahkan adalah pelacur. Padahal sebelumnya daerah ini menghasilkan undang-undang yang seharusnya bisa dijadikan payung154
  • Lesbian Muda Bicara Hak Asasi Manusiahukum. Dan sebenarnya yang bermasalah bukan pelacur. Konsumennyajuga harus dipersoalkan. Karena ini hanya stigma bahwa perempuan sumbermaksiat. Misalnya buka baju sedikit saja perempuan yang disalahkan. Jadiperda di Palembang isinya tentang pelacur ditambah dengan lesbian. Inisatu bentuk kekerasan oleh negara, karena dibuat dengan anggaran yangdialokasikan dari pajak rakyat yang ada di APBN dan APBD. Fitriyani bertanya apa usaha kita sebagai lesbian dalam memperjuangkanhak teman-teman kita di Palembang atas perda tersebut? Pertanyaankedua, “Karena di Jakarta tidak ada perda seperti yang ada di Palembang,tetapi jika tiba-tiba saja ada, dan misal kita sedang berada di bioskop ataudi mana saja bergandengan tangan dengan pasangan kita, tiba-tiba satpammenegur kita dengan cara yang keras, lalu apa yang harus kita lakukan?” Ratna menjawab, mungkin agenda selanjutnya menentukan advokasiteman-teman, termasuk pendampingan, memberikan dukungan. Mungkinharus ada jaringan dengan teman-teman yang menangani kekerasannegara, juga kekerasan terhadap perempuan. Kalau memang perda itusangat tidak realistis dan dibuat sekadar untuk menghabiskan biaya, seringkali juga tidak efektif. Intinya, teman-teman mungkin bisa membangunkerja sama dengan lembaga, individu, ataupun jaringan yang sudahmenangani masalah perda-perda diskriminatif dan kekerasan terhadapperempuan. Lesbian juga harus bersuara bahwa lesbian adalah perempuanyang juga bagian dari kekerasan terhadap perempuan. Kalau tidak begitu,biasanya tetap saja aktivis itu yang heteroseksis, karena tidak menganggapada masalah pada teman-teman lesbian. Padahal, jelas isunya adalahdiskriminasi terhadap perempuan. Kita perempuan dan ada kekerasanterhadap perempuan. Untuk menjawab pertanyaan kedua, kita bisahubungi teman-teman yang melakukan pendampingan. Diskusi seperti inisangat bagus dan bisa diturunkan ke dalam agenda lebih konkret. Satu lagi, selain perda-perda antimaksiat, secara keseluruhan perempuanakan kena, termasuk juga lesbian. Perda itu ada satu pasal yang menegaskan 155
  • Kami Tidak Bisu “...setiap orang di luar nikah yang berhubungan seksual atau hidup dalam satu rumah di luar perkawinan...”. Jadi, hidup bersama tidak harus ada hubungan seksual. Tetapi hidup bersama saja dalam satu rumah di luar perkawinan itu dilarang. Kita semua tahu definisi perkawinan adalah ikatan lahir batin seorang laki-laki dengan seorang perempuan dalam perkawinan yang tercatat, misal yang beragama Islam di kantor urusan agama dan yang non Islam di catatan sipil. Sehingga banyak sekali kelompok yang akan dikriminalkan melalui unsur itu.Tidak hanya lesbian, juga yang heteroseksual, yang mungkin sudah hidup bersama atau yang tidak tercatat. Seperti kasus lesbian di Jakarta yang muncul di media, yaitu seorang lesbian yang tinggal di tempat kos lalu digerebek oleh masyarakat sekitar. Kalau secara politik hukum pidana, ini sudah menyalahi aturan, karena sudah terlalu jauh mencampuri urusan pribadi. Dan sebenarnya ini bukan kejahatan terhadap publik, bukan suatu bentuk kejahatan pada intinya. Negara bisa merampas kemerdekaan kita, karena kita melakukan kejahatan, misalny penganiayan, pencabulan, dan bentuk kejahatan lainnya. Sebenarnya pencabulan termasuk isu di kalangan lesbian juga, karena di dalam rumusan KUHP ada pasal yang isinya “yang melakukan hubungan seksual di bawah umur 18 tahun dikategorikan pencabulan bagi yang non-heteroseksual....” Ini juga diskriminatif. Karena sampai sekarang dalam Undang-undang Perkawinan, heteroseksual boleh menikah dengan yang di bawah umur. Seperti kita ketahui batas usia orang dewasa mulai dari 18 tahu dan batas perkawinan bagi laki-laki mulai dari 19 tahun, sedangkan perempuan mulai dari 16 tahun. Tetapi untuk non-heteroseksual di dalam rumusan KUHP tidak hanya laki-laki lagi, tetapi juga homoseksual, akan berlaku juga bagi lesbian. Ini adalah isu yang harus digulirkan juga. Ada satu kasus yang sangat kontroversial di kalangan aktivis, yang beragam fokus, aktivis hak anak, aktivis hak perempuan, dan lesbian. Kasusnya, ada seorang perempuan yang pasangannya di bawah umur dan dianggap membawa kabur anak orang lain. Pada saat saya ke Thailand156
  • Lesbian Muda Bicara Hak Asasi Manusiauntuk menghadiri konferensi mengenai homoseksualitas, juga adaketegangan antara aktivis lesbian dan aktivis anak. Ini kiranya perludiwacanakan, yaitu “bagaimana?” atau “berapa umur kematanganseksual?”. Saya tidak setuju dengan bias heteroseksisnya, biasdiskriminasinya. Sebaiknya tidak hanya untuk yang non-heteroseksual,melainkan yang heteroseksual juga, karena ini sudah merupakanpencabulan, menikah dengan anak di bawah umur. Jadi, itu satu peluang dimana dia bisa membawa kasusnya ke pengadilan. Misalnya untuk yangberagama Islam ke pengadilan agama, di situ dia meminta wali hakim, danwali hakim ini dengan mudah mengesahkan karena pertimbangannya lagi-lagi tentang nilai budaya yang maskulin, yang agamanya sangat “moralis”yaitu “daripada nanti kebablasan, nanti hamil, dan sebagainya”. Sejarah gerakan perempuan di Indonesia selalu berjuang menghapuskanperkawinan anak-anak, karena perkawinan anak-anak lebih banyakmembawa kerugian bagi perempuan. Hal itu terjadi karena lembagaperkawinan sangat patriarki, laki-laki lebih dominan dan mengeksploitasiketidakdewasaan anak perempuan. Karena itu, perjuangan gerakanperempuan selain menghapus poligami, juga menghapus perkawinananak-anak. Di kalangan lesbian juga masih sering menjadi wacana sampaisejauh mana diperbolehkan misalnya dalam hubungan. Karena asumsinya“hubungan” selalu diartikan kepada hal reproduksi, padahal kenyataannyatidak berkonsekuensi reproduksi. Misalnya dalam hubungan percintaanbisa saja sejak kecil, namun tetap saja disebut “hubungan”. Tapi sepertinyasampai saat ini belum banyak pembahasan tentang ini. Selain perda, ada ancaman baru, yaitu RUU KUHP yang akan menjadipelindung perda-perda itu. Kita tahu, perda ini hanya berlaku bagi daerah.Tetapi KUHP bersifat nasional. Misalnya, di daerah Bali tidak ada perdaseperti itu, tetapi tetap berlaku KUHP. Hal lain, fundamentalisme dan konservatisme yang makin mengental.Dan para pejabat mengambil keuntungan dan pengayaan diri dari 157
  • Kami Tidak Bisu kelompok-kelompok itu, seperti kelompok agama, untuk mendapatkan kekuasaan. Pertanyaan diawali oleh moderator terkait perkawinan dan hukum, melihat negara-negara lain banyak yang sudah melegalkan pernikahan homoseksual. Teman-teman yang hidup di negara yang pernikahan homoseksualnya belum legal, sangat menginginkan pelegalan pernikahan tersebut. Tetapi, “apakah memang benar pelegalan pernikahan itu yang kita inginkan?”. Karena pelegalan pernikahan ini belum tentu menjawab atau akan menghapuskan diskriminasi terhadap homoseksual. Mungkin saja kita bisa dilegalkan melalui pernikahan di KUA atau catatan sipil. Tetapi diskriminasi masyarakat akan tetap terjadi jika mereka tahu, seperti digerebek, dicibir, diusir, bahkan mungkin di dalam keluarganya ada yang sampai dihapuskan ahli warisnya. Menurut Ratna, di satu sisi pelegalan pernikahan bisa juga suatu bentuk perlindungan ketika terjadi misalnya KDRT. Tetapi untuk komunitas di Indonesia agak berat, karena kultur. Tetapi jika masyarakat akan semakin memancing kekerasan baru, misalnya ancaman fundamentalis dan menjadi target kekerasan dari kelompok yang tidak suka terhadap keberadaan lesbian. Kiranya juga menjadi pertimbangan teman-teman yang “kenapa tidak coming out?”. Mungkin karena kekhawatiran adanya kekerasan. Di satu sisi, dengan adanya pengakuan, kita berharap hukum sebagai alat untuk melakukan perubahan di masyarakat, kita lebih diakui, dan tidak menjadi target kekerasan. Namun pertanyaannya, seberapa jauh perlindungan itu bisa mengubah masyarakat. Kalau bisa berubah masyarakatnya, itu bagus sekali. Namun, kalau nantinya malah berbalik, itu akan sangat mengkhawatirkan. Ada satu teman yang ingin curhat dan memang menjadi subjek penelitian juga. Ia berpesan agar lebih berhati-hati dalam bertindak. Jangan sampai tindakan kita membuat kekhawatiran yang bisa membuat mereka merasa terancam, karena hak mereka juga untuk tidak merasa158
  • Lesbian Muda Bicara Hak Asasi Manusiaterancam. Mungkin memang perlu adanya organisasi yang bisamengakomodasi pilihan-pilihan kepentingan, karena kalau tidak adaorganisasi, nanti atas nama siapa dan kita nanti bisa saja tidak merasakuat dan tidak adil. Tetapi misalnya ada organisasi yang besar atau kitabernaung di dalam federasi seperti Arus Pelangi, Institut PelangiPerempuan, Sektor 15 KPI, Yayasan Srikandi Sejati, dan masih banyak lagifederasi lain, kita pasti akan lebih kuat. Jika pada saat teman-temanmenuntut berkomitmen kesepakatan, dan teman-teman yang non-heteromisalnya akhirnya tahu bahwa itu adalah tuntutannya, tidak menjadimasalah. Karena jelas ada konstituennya, ada agendanya. Jadi, jelastuntutannya seperti apa, itulah tantangannya. Andriani merespons penjelasan Ratna dengan cara bersikap. Kalaumelihat konteksnya, banyak pandangan dari negara atau pihak-pihak lainyang negatif terhadap kaum minoritas, misalnya lesbian. Sebenarnya yangharus kita lihat diri kita juga. Sebagai seorang lesbian, di mana kita beradaharus membawa atau menjaga diri. Seperti terjadi pada sebuah kos-kosandi Matraman, Jakarta, yang penghuninya lesbian semua. Sehingga munculrumor bahwa mereka akan disergap oleh masyarakat. Setelah diteliti,ternyata penyebabnya adalah kurangnya mereka bersosialisasi denganlingkungan masyarakat sekitar. Penyebab lain, ada teman yang ketahuansedang berciuman di teras dan ada masyarakat yang melihatnya. Dari kisahitu kita bisa lihat bahwa sebaiknya kita harus bisa menjaga diri, di mana kitatinggal di situ kita harus bisa menempatkan diri agar tidak terjadi lagi halsemacam itu. Hartoyo menolak gagasan Andriani. Ia tidak setuju atau mempunyaicara pandang yang berbeda dengan kata-kata “pandai-pandai membawadiri”. Semua teman sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menutupiatau membawa diri. Ini adalah bagaimana negara melibatkan warganegaranya untuk masalah seperti ini. Saya mempunyai pengalamanmendapatkan penyiksaan yang sangat menyakitkan. Saya merasa sudah 159
  • Kami Tidak Bisu membawa diri, dengan tidak melakukannya di luar atau di mana saja, melainkan di rumah sendiri dan di dalam kamar sendiri, tetapi kenapa kekerasan dan tindakan itu tetap saja terjadi? Dari perbincangan itu moderator merangkum dua pendapat. Pendapat pertama, kita harus pandai-pandai menjaga diri. Pendapat kedua, pandai- pandai menjaga diri di ruang publik juga tidak menjamin. Dan kalau dilihat, mungkin konteksnya adalah “show up”, sehingga orang lain risih. Sekarang masalahnya adalah bagaimana dengan teman-teman yang selama ini tidak “show up” tapi tetap mendapatkan diskriminasi? Hartoyo menambahkan, mengapa misalnya ketika perempuan ber- pakaian minim atau ketat, lalu ada yang mengatakan jangan memakai pakaian seperti itu nanti bisa diperkosa. Dari contoh ini, kenapa perempuan yang harus dituntut? Moderator merespons bahwa apa yang dikatakan Hartoyo benar, kenapa perempuan yang dituntut untuk menjaga diri. Kita juga berhadapan dengan pandangan yang menganggap kejadian itu wajar saja, misal “wajar aja diperkosa, abis lo pakai rok mini segala macam...”. Kenyataannya, ada juga perempuan berjilbab yang diperkosa. Mungkin ini konteksnya juga sama dengan homoseksual, yaitu ketika show up lalu mengalami diskriminasi “wajar aja, loe show up”. Tetapi ada juga teman kita yang sangat menutup diri dengan segala macam cara, tetapi tetap mendapatkan kekerasan. Menurut Pendeta Ester Mariani, hal itu terjadi karena kita hidup di lingkungan masyaakat yang masih homofobia. Dan show up atau tidak itu juga diserahkan kepada teman-teman, merasa nyaman dengan yang mana. Jangan sampai merasa terpaksa “coming out” atau menyatakan kebenaran teman-teman. Teman-teman yang merasa aman dengan diam-diam, biarkan saja rasa itu. Begitu juga dengan teman- teman yang merasa aman setelah coming out. Itu semua adalah pilihan. Contoh lain terjadi di Satyawacana, suster di sana ada yang memiliki pasangan lesbian. Ke mana-mana selalu bersama-sama, mesra sekali. Mereka juga suka saling memberi ciuman di pipi, tetapi itu tidak membuat160
  • Lesbian Muda Bicara Hak Asasi Manusiaorang lain risih, mereka bersikap biasa saja. Nah, ini kita lihat konteks dimana kita. Tetapi ada juga masyarakat yang sangat homofobia, sehinggaketika ada perempuan dengan perempuan sedang duduk bersama pundihina. Atau ada perempuan dilihat potongan rambutnya seperti laki-lakilangsung diberi stigma macam-macam. Berikut kita juga harus memberikanpengertian kepada keluarga atau orang-orang di rumah. Pendeta Ester menambahkan pengalaman pribadinya. “Waktu itu adastaf datang ke rumah. Lalu saya bilang akan bahas tentang lesbian denganagama. Kami lalu mengakses internet dan saya memperlihatkanpandangan-pandangannya. Lalu kami berdiskusi. Pulang ke rumahnya, diajuga mendiskusikan hal itu dengan orang tuanya. Memberitahukan adaanak baik, dia homo ataupun lesbian, jangan dicibiri. Dia pun menerangkansampai membahas dengan menggunakan Alkitab. Jadi, di sini yang terjadi,walaupun dia bukan seorang lesbian, dia bisa memberi pengertian kepadaorang tuanya bagaimana pandangan kita seharusnya kepada kaumminoritas (LGBT). Akhirnya dia memberitahukan bahwa mamanya sudahmulai bersikap baik atau memandang baik terhadap kaum minoritas(LGBT). Dari pengalaman saya, kiranya kita dapat meniru, dengan tidakperlu bilang bahwa kita lesbian kepada orang tua atau teman, apalagisampai dengan cara seperti akan bertengkar, tetapi dengan cara memberipengertian kepada orang tua atau teman-teman. Namun ini bukan berartikita tidak mengaku terlebih dahulu, tetapi dengan pendekatan memberikenyataan soal HAM. Jadi, sikap seperti itu yang seharusnya kitakembangkan di masyarakat, sehingga mau ke mana pun dan di mana punkita berada masyarakat mengerti dan menganggap itu wajar-wajar saja,seperti di daerah Kupang atau di negara lain. Tetapi mungkin memanguntuk daerah Aceh, kita harus tahu bagaimana pendekatan yang baik agarmereka mengerti. Sebaiknya juga jangan isu yang menonjol untuk lesbianataupun homo dengan seksnya, tetapi ideologi di balik itu. Ideologi bahwalesbian adalah sikap politik untuk melawan patriarki. Ideologi bahwa 161
  • Kami Tidak Bisu dengan menjadi lesbian saya menguak seluruh infrastruktur patriarki, termasuk laki-lakinya. Itu yang seharusnya kita kemukakan dan kedepankan ketimbang soal hasrat seksual. Menanggapi hasrat seksual, Hartoyo mengatakan, homoseksual juga salah satu budaya Indonesia, karena misalnya ada yang memilih orientasi seksualnya menjadi lesbian, pasti dikatakan sebagai kebarat-baratan. Dan masyarakat seharusnya diberi pelajaran agar lebih dewasa cara berpikirnya. Kalau berbicara tentang budaya, Indonesia mempunyai budaya yang sangat homoseksual. Misalnya sejarah reog di Ponorogo, Bisu di Sulawesi Selatan, Seudati di Aceh, dan sebagainya itu kebudayaan Indonesia yang sangat homoerotika. Tetapi kenapa itu semua hilang, karena itu juga bisa dijadikan HAM. Soal homofobia, itu juga semakin langgeng, salah satunya dengan ilmu pengetahuan. Saya selalu keberatan jika menghadiri jumpa pers ketika ada pertanyaan “kapan kamu jadi gay?” atau “apakah kamu punya pengalaman buruk waktu kecil?” Saya tidak menjawab pertanyaan itu, tetapi menjadi marah dan balik bertanya, “kapan Anda jadi hetero?”. Mungkin teman-teman ada yang pernah ditanya dengan pertanyaan yang sama, dan itu menurut saya merupakan bentuk diskriminasi. Moderator mengajak peserta lainnya turut berbincang. Apakah setuju dengan konsep “kita harus pandai-pandai membawa diri sebagai lesbian”? Jika kita tidak pandai membawa diri, maka wajar kalau kita didiskriminasi? Briana merespons bawa mungkin konteksnya lain, kalau dilihat di mana kita berada. Misalnya saja di Aceh, itu mungkin saja perempuan dengan perempuan (partner) tidak bisa berdekatan. Tetapi di Bali, berdasarkan pengalamannya di sana, bermesraan bagaimanapun dengan partner di depan publik, sikap masyarakat biasa-biasa saja dan sepertinya tidak peduli dengan apa yang sedang kita lakukan. Moderator menambahkan, berdasarkan pengalamannya di Bali, berlibur dengan partner, sempat terpikir Bali surganya homoseksual. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Ketika berjalan sambil bergandengan tangan, ada sekelompok masyarakat162
  • Lesbian Muda Bicara Hak Asasi Manusiayang mengatakan “ih, lesbi”. Saat itu ada seorang laki-laki yang sengajamencolek partner saya sambil berkata “lesbi!”. Ini membuat saya marahbesar, karena merupakan pelecehan. Tapi mungkin memang beda kalaudibandingkan dengan Aceh. Di Bali ada beberapa gay bar yang cukupterbuka dan aman-aman saja sampai saat ini. Moderator menambahkan, mungkin juga ada kaitan dengan RUU APPyang mengkriminalkan homoerotika (waktu itu masih RUU dan sejakNovember 2009 dilegalkan menjadi UU Anti Pornografi). Kalau adatayangan atau adegan mesra seperti berciuman dalam film, tidak hanyauntuk lesbian, tetapi juga hetero, apakah juga dikriminalkan berkaitandengan RUU APP? Ratna menjawab itu berlaku untuk lesbian. Moderatormelanjutkan gagasannya, ketika memperlihatkan di depan publik bahwakita lesbian dengan cara berciuman, akan dikriminalkan. Tetapi tidak bolehshow up. Terkadang orang salah mengartikan, karena ciuman bisamerupakan ekspresi kasih sayang, tidak selalu soal nafsu, libido segalamacam. Ratna menambahkan, sebenarnya RUU APP bukan budayaIndonesia. Itu budaya campur tangan dari kelompok pendukung. Misalnyamasalah berciuman, tidak ada eksplisit berciuman seperti apa, tetapiciuman saja. Karena lagi-lagi itu sudah campur tangan asli dari masyarakatdan campur tangan dari partai-partai dan kepentingan-kepentingan yangmemanfaatkan simbol-simbol agama saja. Kalau kita simak, sepertidikatakan Hartoyo dan Pendeta Ester tadi, tentang budaya kita adasemacam hubungan intim antarperempuan. Dan itu sudah ada sejak kitakecil, misal kita habis bermain dengan perempuan, menyusui, dan tidakada yang memakai istilah lesbian. Menurut Ratna, mungkin jangan memandang semua masalahhomofobia, tetapi juga karena budaya patriarkinya. Budaya patriarki yangpertama mengonsumsi seksualitas perempuan untuk dipakai laki-laki. Jadi,secara keseluruhan perempuan dipermasalahkan tubuhnya sebagai sumbermaksiat, apalagi kita sebagai lesbian. Oleh karena itu, teman-teman gay 163
  • Kami Tidak Bisu lebih mudah mengekspresikan orietasinya, dan lebih berani dibandingkan laki-laki, sebab itu juga untuk kepentingan laki-laki. Jadi, kalau dalam feminis menjadi lesbian itu adalah satu ideologis, karena benar-benar mendekonstruksi wacana seperti patriarki dengan memberikan seluruh energi, cinta kasihnya, dan seluruh waktunya untuk perempuan. Sehingga itu menjadi agenda politik oleh salah satu agen feminis radikal, itu adalah feminis radikal lesbian. Jadi, itu bukan semata-mata soal bahwa kita kemudian senang dan cinta sesama perempuan. Karena kita berada dalam budaya patriarki, secara umum, dan budaya di Indonesia yang berkaitan dengan komunitas jelas sekali untuk etika yang paling standar, yaitu tidak melakukan hubungan seksual di depan publik. Ini berlaku dari Sabang sampai Merauke, karena persoalan etika, dan untuk siapa pun. Jangankan bagi yang lesbian atau gay, bagi yang heteroseksual pun menjadi masalah jika melakukan hubungan seksual di depan publik. Tetapi misalnya lesbian yang didiskriminasikan itu bukan lagi persoalan etika, tetapi sudah persoalan HAM. Ratna berpendapat, harus disesuaikan menurut konteksnya, dan kita harus bisa kritisi maksud konteks tersebut. Kalau “membawa diri” itu dalam koridor adalah hak kita, misalnya, dalam koridor secara standar memang semua orang mempunyai hak seperti itu, kata-kata “membawa diri” itu gara-gara kita juga. Hartoyo menambahkan, “membawa diri” definisinya sulit sekali dan sangat tidak jelas ukurannya. Moderator menimpali, jika “membawa diri” ukurannya “malu”, itu pun akan beda. Andriani mengingatkan konteks kasus di Matraman, yang terjadi di kos-kosan. Mereka digerebek saja sudah merupakan pelanggaran HAM, berbeda dari isu ada yang melihat mereka berciuman. Saya lebih memilih “membawa diri” itu, daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Memang tidak adil, karena itu merupakan hak asasi, tetapi budaya ataupun agama di masyarakat kita belum bisa menerima hal itu. Kenapa? Yang pasti, bagaimana kita bisa membawa diri. Contohnya, saya bersama teman satu164
  • Lesbian Muda Bicara Hak Asasi Manusiakos yang hetero. Mereka tidak masalah dan tetap berhubungan baikdengan saya. Dari contoh itu kita bisa melihat bahwa semuanya tergantungbagaimana kita bersosialisasi. Untuk konteks teman-teman kita yang kosdi Matraman, mereka tidak bersosialisasi dengan masyarakat sekitar,seperti menutup diri, sehingga muncul isu itu. Saat ini kasusnya sudahselesai, setelah kita mengadakan pendekatan dengan masyarakatsetempat. Hartoyo menegaskan kembali bahwa untuk masalah “kita harusbisa membawa diri” tidak menjamin akan terbebas dari kekerasan sepertipenyiksaan dan pelecehan dari masyarakat. Mungkin suatu saat teman-teman akan mengalaminya juga walaupun sudah “sangat menjaga diri”.Risa merespons bahwa maksud Andriani “kita bisa membawa diri” atau“tidak bisa membawa diri” mungkin suatu saat akan tetap mendapatkanperlakuan kekerasan, namun dengan “kita bisa membawa diri” mungkinjuga akan lebih mengurangi risiko kekerasan. Andriani menambahkan,bisa saja konteks LGBT akan lebih baik dipandang masyarakat, jadi tidakhanya seks yang dipandang. Menurut Ratna, masalah ranjang, masalah seks, adalah masalah yangintim. Mengapa kita mempermasalahkan itu? Karena justru akarnya didalam soal itu. Ada bahayanya juga kalau kita menyepelekan masalah itu,karena justru di situ kebebasan kita, pilihan kita. Pandangan seks jugahampir mempengaruhi semua kebudayaan kita, seperti ketika kitamengekspresikan untuk memilih pasangan lesbian atau sudah menjadiseorang lesbian, kesemuanya akan mempengaruhi cara berpikir, ekspresikita, dan itu sangat politis. Saya lebih memilih cara politis, misalnyaberkenalan, bergaul dengan masyarakat sekitar, untuk bisa lebih sedikitmendapatkan ruang bebas agar tidak dipermasalahkan. Jangan salah, kitadi sini bergantung pada kehadiran heteroseksual juga, yang eksis adalahheteroseksual dan kita tidak pernah membongkar hal itu. Untuk sementara,bisa saja beranggapan bahwa kita sudah aman. Tetapi sepanjang yangterjilid itu heteroseksual, dan kita tidak pernah diakui, sepanjang itu juga 165
  • Kami Tidak Bisu persoalan tidak akan selesai. Pasti karena kita berada di wilayah homofobia, wilayah laki-laki. Oleh sebab itu perlu ada teman yang mengungkap lebih strategis untuk yang lebih politis. Mereka yang memiliki prinsip, kita hanya di balik politis, bermain cantiklah istilahnya, karena tetap saja kita tidak ada yang setara. Privasi itu tergantung siapa yang memberikan. Kebebasan buat semua orang, tetapi di tempat lain belum tentu diberikan. Mungkin juga karena faktor keberuntungan. Misalnya ketika pasangan kita terlihat aneh karena butch atau lainnya. Masalah “etika dan membawa diri” itu memang kita harus lebih politis. Dan untuk di Indonesia, masalah ini masih belum terlindungi, masih rawan. Kalau dulu tidak diakui, masalahnya selesai. Kita juga bebas karena tidak ada, kita dianggap tidak kriminal, tidak diakui, dianggap tidak ada. Lain halnya dengan sekarang, sudah bergeser. Kita sudah dianggap ada, dikontrol, dan dikriminalkan. Kita sebagai lesbian jelas didiskriminasi. Andriani bertanya, bagaimana dengan perempuan-perempuan di dalam penjara yang kebanyakan atau hampir 100 persen adalah lesbian. Menurut Ratna, itu semua tergantung perlawanannya. Kalau mereka dianggap tidak ada, dibiarkan, berarti tidak ada diskriminasi. Karena diskriminatif itu intinya perbedaan, seperti pembedaan, dikucilkan. Misalnya semestinya dia mendapat jatah makan, tetapi karena dia lesbian akhirnya tidak mendapat jatah, itu diskriminasi. Terkait diskriminasi, Laila membagikan pengalamannya di kampus, teman-temannya sudah mengetahui ia lesbian. Mereka tidak mempermasalahkan itu. Namun ketika diadakan diskusi, terlihat pola pikir masing-masing, cara bicara mereka yang keras, dan pendapat mereka yang tidak menerima sepenuhnya orientasi seksual saya sebagai lesbian. Padahal, saya sepenuhnya sama dengan orang lain (heteroseksual) dan yang membedakan hanya orientasi seksual. Jenny bertanya, bagaimana dengan kasus anak yang dipukuli atau mendapatkan diskriminasi dari keluarganya. Kebetulan saya berasal dari166
  • Lesbian Muda Bicara Hak Asasi Manusiakeluarga Tionghoa dan menurut tradisi keluarga kami, anak akan dianggapanak sampai dia menikah. Batasan usia anak dianggap sebagai anak secarahukum, sampai bisa bilang “ini adalah hak saya” terlepas dari kekerasanyang dilakukan keluarga atau aparat dan lainnya. Karena kalau seperti itu,orang tuanya mungkin juga bisa saja mengatakan, “kamu masih anak saya,masih di bawah umur”. Sedangkan dari pihak si anak, khususnya teman-temannya, bilang dia sudah mempunyai hak untuk itu. Jadi, sebenarnyaada tidak batasan usia untuk masalah seperti ini? Menurut Ratna,berdasarkan Undang-undang Perlindungan Anak, yang disebut anak dibawah usia 18 tahun, jika sudah di atas usia 18 tahun sudah disebut dewasa.Tetapi kalau terkait dengan perkawinan, yaitu dalam Undang-undangPerkawinan Nomor 1 Tahun 1974, batasan usia anak hingga usia 21 tahun.Meskipun demikian, yang berlaku tidak hanya hukum tertulis, tetapi yanglebih efektif justru hukum agama, hukum budaya seperti dalam budayaTionghoa. Tetapi ini tidak hanya dalam budaya Tionghoa, tetapi juga dalambudaya daerah lain di Indonesia seperti di Jawa dan Sumatera. Saya berasaldari Sumatera, karena sampai saat ini belum menikah, tetap saja dianggapsebagai anak. Tetapi kita itu bisa menunjukkan dengan cara hidup mandiri,bisa memutuskan hidup kita sendiri, mempunyai penghasilan sendiri,membuat jarak seperti itu. Memang itu tidak mudah. Walau secara hukum batas usia masihdianggap anak adalah 21 tahun berdasarkan Undang-undang Perkawinan,kita harus melihat juga hukum yang berlaku di sini justru hukum budaya,hukum agama, dan kita ketahui penafsiran agama sangat mempengaruhicara keluarga merawat dan memperlakukan kita. Dalam budaya dan agamaseperti itu, sepanjang belum menikah, anak adalah otoritas keluarganya.Ini dikarenakan di dalam budaya patriarki itu sebagai simbol kekuasaanpatriarki. Dan ketika seseorang menikah, itu diserahkan pada kekuasaanpatriarki lagi, yaitu suami, dan simbolnya adalah mahar. Jenny menanyakan, bagaimana dengan lesbian usia di bawah 18 tahun 167
  • Kami Tidak Bisu dan memilih tidak menikah, lalu mendapat perlakuan kekerasan dari keluarga. Apakah IPP atau LBH APIK dapat membantu untuk anak tersebut? Menurut Ratna, untuk kasus seperti ini, LBH APIK belum menemukan jalan keluarnya, karena anak itu masih di bawah perwalian orang tuanya. Jadi, jika anak itu sampai kita bawa dengan maksud menyelamatkan dari perlakuan kekerasan oleh orang tuanya, bisa saja orang tuanya melaporkan kita membawa kabur anaknya. Walaupun di dalam KUHP sebenarnya laki- laki jika melakukan hubungan seksual dengan anak di bawah umur jelas akan dikenai hukum pidana. Tetapi lesbian bisa dikenai hukum pidana juga jika membawa kabur anak orang lain. Jadi, bukan karena lesbiannya, tetapi karena si anak masih di bawah perwalian orang tua. Jika si anak merasa sebagai korban kekerasan dari orang tua, berlaku Undang-undang Perlindungan Anak dan Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT), karena tidak hanya mempersoalkan relasi suami-istri, suami memukuli istri, tetapi juga orang tua terhadap anak, dan pekerja rumah tangga. Tetapi di dalam KUHP, usia 17 tahun sebenarnya sudah dianggap dewasa, karena di dalam pemilu usia 17 tahun sudah bisa menentukan pilihan politiknya. Secara hukum, batasan usia anak bermacam-macam. Hartoyo menambahkan, hak wali bisa dicabut, walaupun usia anak masih di bawah 18 tahun. Jika anak mendapat penganiayaan dari orang tuanya dan sudah merasa tidak nyaman dengan keluarganya, negara bisa mencabut hak wali agar anak bisa keluar, atas dasar perlindungan anak. Kongkow diakhiri dengan beberapa kesimpulan. Selama ini kita telah merasakan tindakan homofobia secara individu, baik dari teman kantor, teman kuliah, maupun teman sehari-hari. Ternyata negara juga turut mendiskriminasikan kelompok homoseksual. Negara juga homofobia dan telah membuat beberapa regulasi yang memojokkan atau meminggirkan kelompok homoseksual untuk tidak mempunyai pilihan. Melihat keadaan seperti ini, mau tidak mau kita harus berbuat sesuatu. Karena sikap diam kita dianggap tidak mau bersuara, membuat diri agar aman, tidak coming out, dan lain sebagainya, tidak juga menjawab permasalahan diskriminasi.168
  • Lesbian Muda Bicara Hak Asasi ManusiaKenyataannya, ketika kita diam, regulasi itu semakin menggila. Kita harusberbuat sesuatu dengan jaringan-jaringan yang ada, seperti LBH APIK,Koalisi Perempuan Indonesia, atau dengan jaringan advokasi homoseksualorganisasi LGBT di Indonesia. Itu sangat penting untuk kasus-kasus regulasiini. Komik Yogyakarta Principles: Dari Jakarta ke Komisi PBB Catatan Perjalanan Penulis Masih ada sebagian orang yang menganggap HAM merupakaan bawaan budaya Barat dan bukan berasal dari budaya Timur. Pernah suatu kali aku diwawancarai jurnalis media cetak, yang ingin membuat tulisan profil diriku untuk rubrik yang sering ditulisnya. Saat memasuki pembicaraan tentang HAM, sang jurnalis membuat pernyataan bahwa HAM merupakan bawaan budaya Barat dan tidak tepat untuk diterapkan dalam konteks Indonesia. Itu merupakan pembelajaran bagiku bahwa masih ada jurnalis yang beranggapan demikian dan mereka para aktor pembentuk opini publik dengan tulisan-tulisan di media massa. Bagi aku, HAM bukanlah pembicaraan antara budaya Barat dan Timur. HAM berbicara masalah kemanusiaan, yang tentunya juga ingin dirasakan masyarakat yang dianggap memiliki budaya Timur. Tentunya masalah kemanusiaan tidak hanya kebutuhan masyarakat yang hidup di budaya Barat. Kemanusiaan untuk semua, bukan hanya untuk orang tertentu, apakah mereka hidup di Eropa, Amerika, Timur Tengah, Asia, di mana pun mereka berada. HAM mengangkat wacana tentang pelarangan orang-orang untuk dipukul, disiksa, dibunuh, diperkosa, dihukum secara sembarangan, yang biasanya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan kepada orang yang memiliki posisi lemah. Pelanggran HAM juga sering dilakukan kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas, seperti LGBT di Indonesia yang akhir-akhir ini sering mendapatkan teror, ancaman, dan sudah mengarah pada kekerasan dari kelompok 169
  • Kami Tidak Bisu fundamentalis. Sedangkan pemerintah hingga saat ini tidak memberikan perlindungan pada LGBT dari hal-hal yang telah terjadi. Berarti terjadi pembiaran oleh pemerintah dan itu merupakan pelanggaran HAM. Pemerintah berkewajiban menegakkan HAM bagi warga negara sesuai dengan Deklarasi Hak Asasi Manusia yang telah diratifikasi pemerintah melalui Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999. Sebagai upaya untuk merespons segala bentuk kekerasan dan diskriminasi terhadap LGBT di seluruh penjuru dunia, pada tanggal 6-9 November 2006 beberapa pakar hukum dan HAM dari seluruh dunia yang berkumpul di Universitas Gadjah Mada merumuskan Yogyakarta Principles (Prinsip-prinsip Yogyakarta). Prinsip-prinsip ini terkait dengan hak asasi manusia yang berdasarkan atas pilihan orientasi seksual dan identitas gender sebagai upaya penegakan hak asasi manusia LGBT di seluruh dunia. Prinsip-prinsip sebanyak 29 ini merupakan rekomendasi untuk pemerintah, masyakarat sipil, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Yogyakarta Principles kemudian diterjemahkan ke banyak bahasa agar dapat dipergunakan dan diaplikasikan di tiap-tiap negara dalam kaitan upaya penegakan HAM LGBT. Indonesia pun salah satu negara yang sudah menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Namun, tantangan berikutnya bagi kami sebagai organisasi yang memberdayakan kelompok lesbian muda dan remaja adalah ketika berbicara HAM cukup sulit memberikan pemahaman kepada mereka, terutama dalam kaitan penjelasan tentang Yogyakarta Principles yang menggunakan bahasa hukum dan HAM. Salah satu pengalaman kami pada diskusi Kongkow Lez yang mengambil topik tentang HAM, mayoritas peserta diskusi adalah aktivis LGBT dan feminis. Para lesbian muda juga berpartisipasi, meski kurang aktif. Topik itu dirasa cukup berat untuk dicerna dan diikuti. Demikian pengakuan beberapa peserta seusai diskusi. Mendukung penegakan HAM LGBT, kami menyebarluaskanYogyakarta Principles dalam bentuk komik dan diluncurkan pada 29 Oktober 2010, juga sekaligus untuk peringatan Hari Sumpah Pemuda yang diperingati170
  • Lesbian Muda Bicara Hak Asasi Manusiasetiap tanggal 28 Oktober. Cerita dalam komik ini merupakan kumpulankisah nyata para lesbian muda dan remaja. Setiap potongan cerita tersebutkami kaitkan dengan penjelasan beberapa prinsip dalam YogyakartaPrinciples. Komik ini hasil kerja sama Insitut Pelangi Perempuan, KajianGender dan Seksualitas Universtitas Indonesia, dan aktivis HAM ini cukupmembantu mereka memahami Yogyakarta Principles. Komik ini kemudian kami perkenalkan ke beberapa komunitasLGBT muda dan HAM di beberapa kota mulai Januari 2011. Acaramemperkenalkan komik ini juga kami meriahkan dengan menampilkanbeberapa pertunjukan seni dan budaya karya LBGT muda yangtergabung dalam klub Anak Pelangi. Kami melakukan perjalanan kelilingke Bandung, Yogyakarta, dan terakhir Cirebon, kota yang saat ini dikenalmenjadi sarang kelompok teroris Islam. Sebenarnya perjalanan kelilingini cukup membuat saya khawatir atas keselamatan para relawan danstaf IPP yang terlibat aktif dalam program kampanye ini. Karena padamasa-masa itu kelompok LGBT sering mendapatkan ancaman dan terordari kelompok fundamentalis. Sehingga kami berupaya bekerja samadengan para aktivis HAM di tiap-tiap kota untuk mendapatkan dukungandalam proses perjalanannya. Ternyata dalam proses kami meminta dukungan, banyak pula aktivisHAM yang belum mengetahui Yogyakarta Principles. Perjalanan kami yangawalnya ingin memperkenalkan Yogyakarta Principles kepada kelompokLGBT muda di beberapa kota, akhirnya juga diinformasikan kepadabanyak aktivis HAM. Respons mereka sangat positif dan siap membantudalam proses hukum ketika kami membutuhkan. Pada tiap acara punmereka hadir dan memberikan pernyataan dukungan kepada komunitasLGBT. Kami pun mendapatkan undangan dari Bayt Al Hikmah, kelompoksantri muda Islam yang moderat, untuk mendiskusikan komik YogyakartaPrinciples. Mereka cukup terbuka dalam berbicara perspektif Islam danHAM LGBT dalam diskusi yang berlangsung selama hampir tiga jam. Kami pun tidak menyangka komik Yogyakarta Principles juga 171
  • Kami Tidak Bisu mengundang respons positif dari banyak jaringan kelompok feminis dan HAM di beberapa negara seperti Thailand, Taiwan, China, Mesir, Turki, Meksiko, Pakistan, Brasil, Argentina, Nigeria, dan Kamerun untuk menerjemahkan komik itu ke dalam bahasa mereka dan mempergunakannya untuk komunitas dampingan dalam upaya mempromosikan Yogyakarta Principles. Hal ini menjadi pemikiranku bahwa kemungkinan beberapa negara lain, tidak hanya Indonesia, menghadapi tantangan kesulitan memberikan pemahaman bahasa hukum dan HAM kepada anak muda, sehingga komik tersebut menjadi media yang membantu proses advokasi mereka. Terakhir komik ini mendapatkan kesempatan untuk dipresentasikan dalam sebuah pertemuan PBB Commission on the Status of Women (CSW) ke-55 di New York, Amerika Serikat, pada Februari 2011 sebagai salah satu contoh media pendidikan HAM LGBT untuk anak muda. Pengalamanku dalam mempresentasikan komik Yogyakarta Principles di tingkat PBB juga merupakan tantangan tersendiri. Pada saat presentasi, beberapa peserta yang merupakan perwakilan dari kelompok konservatif di PBB satu per satu meninggalkan ruangan. Dari perjalanan kami mempromosikan komik Yogyakarta Principles di tingkat komunitas lokal, nasional, dan internasional, membuktikan bahwa bahasa hukum dan HAM membutuhkan bahasa yang ramah terhadap anak muda. HAM memang masalah serius, tapi perlu strategi khusus untuk dapat membumikan bahasa hukum dan HAM. Jika ingin banyak pihak lebih paham dan ikut berpartisipasi dalam penegakan HAM, produk-produk hukum internasional harus bisa melibatkan partisipasi tingkat lokal dalam implementasinya, sesuai dengan semangat aktivisme Think Global Act Local.172
  • Lesbian Muda Bicara Hak Asasi Manusia PRINSIP-PRINSIP YOGYAKARTAPrinsip 1 : Hak untuk penikmatan HAM secara UniversalPrinsip 2 : Hak atas kesetaraan dan non diskriminasiPrinsip 3 : Hak atas pengakuan di mata hukumPrinsip 4 : Hak untuk hidupPrinsip 5 : Hak atas keamanan seseorangPrinsip 6 : Hak atas privasiPrinsip 7 : Hak atas kebebasan dari kesewenang-wenangan terhadap perampasan kebebasanPrinsip 8 : Hak atas pengadilan yang adilPrinsip 9 : Hak untuk mendapatkan perlakuan manusiawi selama dalam tahananPrinsip 10 : Hak atas kebebasan dari siksaan dan kekejaman, perlakuan atau hukuman yang tidak manusiawi atau merendahkanPrinsip 11 : Hak atas perlindungan dari semua bentuk eksploitasi, penjualan dan perdagangan manusiaPrinsip 12 : Hak untuk bekerjaPrinsip 13 : Hak atas keamanan sosial dan atas tindakan perlindungan sosial lainnyaPrinsip 14 : Hak untuk mendapatkan standar kehidupan yang layak 173
  • Kami Tidak Bisu Prinsip 15 : Hak atas perumahan yang layak Prinsip 16 : Hak atas pendidikan Prinsip 17 : Hak atas pencapaian tertinggi standar pendidikan Prinsip 18 : Hak Perlindungan atas kekerasan medis Prinsip 19 : Hak atas kebebasan berpendapat dan berekspresi Prinsip 20 : Hak atas kebebasan berkumpul dengan damai dan berasosiasi Prinsip 21 : Hak atas kebebasan berpikir, memiliki kesadaran dan agama Prinsip 22 : Hak atas kebebasan untuk berpindah Prinsip 23 : Hak untuk mencari perlindungan Prinsip 24 : Hak untuk menemukan keluarga Prinsip 25 : Hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan publik Prinsip 26 : Hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan budaya Prinsip 27 : Hak untuk memajukan HAM Prinsip 28 : Hak atas pemulihan dan ganti rugi yang efektif Prinsip 29 : Akuntabilitas174
  • XI Transgender, Transeksual, Drag Queen, Drag King, dan Interseks Sebutan perempuan atau laki-laki, bukan orang lain yang menentukan, tapi bagaimana diri kita sendiri menamai. NicoT opik Kongkow Lez kali ini dipilih berdasarkan banyaknya pertanyaandan kebutuhan informasi dari teman-teman komunitas yang inginmelakukan operasi kelamin atau mendapatkan hormon testosteron untukmengubah penampilan dari perempuan ke laki-laki (Female to Male – F toM). Saat itu Institut Pelangi Perempuan tidak memiliki banyak informasi 175
  • Kami Tidak Bisu mengenai hal itu, karena di Indonesia tidak banyak dibicarakan secara terbuka, baik di media massa maupun dalam kehidupan sehari-hari. Berbeda dari informasi terkait waria, sebutan bagi transgender laki-laki ke perempuan (atau disebut Male to Female – M to F), lebih mudah didapatkan karena eskpresi gender atau penampilan peran perempuannya lebih terlihat dan eksis dibandingkan dengan transgender perempuan ke laki- laki di Indonesia. Waria juga hadir pada kehidupan sehari-hari masyarakat, sebagai perias kecantikan di salon, pengamen jalanan, dalam tayangan televisi, juga film layar lebar. Situasi itu sangat berbeda dari transgender atau transeksual F to M. Bahkan, sebutan untuk mereka pun dalam istilah bahasa Indonesia belum ada. Sampai kemudian kami mendapat kabar dari seorang teman komunitas, yang mengenal seorang transeksual F to M bernama Nico. Kabar gembira itu kami tindak lanjuti dengan menghubungi Nico untuk menjadi narasumber pada acara Kongkow Lez. Nico menerima undangan kami, tanpa banyak pertimbangan dan pertanyaan. Nico pun sangat ramah dan antusias. Kesediaan dan dukungan Mas Nico, panggilan akrab kami, menambah semangat untuk melaksanakan Kongkow Lez pada 16 Agustus 2009, yang terakhir kali diadakan, dengan topik “Transgender dan Transeksual”. Kongkow Lez dibuka dengan pemutaran film berjudul Oben Ohne, yang dalam bahasa Indonesia berarti Telanjang Dada. Film dokumenter produksi Jerman ini menceritakan kehidupan beberapa transeksual (F to M) di negara itu. Film Oben Ohne dibeli di Jerman ketika penulis menghadiri peluncuran film yang menghadirkan tokoh utama pada sekitar tahun 2007. Seusai pemutaran film, moderator mengenalkan Nico sebagai narasumber kepada teman-teman, yang dilanjutkan perkenalan teman- teman dengan cara unik. Nama depan dipasangkan dengan nama belakang, dengan menggunakan kata yang unik dan disesuaikan dengan abjad huruf depan nama masing-masing. Kemudian moderator, Ino, memberikan176
  • Transgender, Transeksual, Drag Queen, Drag King, dan Intersekscontoh, “Namaku kan Ino, huruf depanku I, maka aku menggunakan istilahInterseks, karena sama-sama I. Nah, untuk teman-teman terserahdisesuaikan dengan huruf depannya saja.” Peserta mengikuti. Kiki Klitoris,Prita Pemmeh, Maria ML, Hesti Heteroseksual, Ria Rumpi, Lea Lesbian,Ros Rese, Riri Ramah, Leni Lekong, Andina Andro, Sandra Sekong, MilaMontok, Dian Dijamin Puas, Sarah Seksi, Vivi Vagina, Rina Resz, Elsa Esek-esek, Cynthia Cinta, Oni Orgasme, Susi Shane, Indri Imut, Vera Virgin, JuinJunkies, Anita Aaantuuk, Rosa Rempong, Rani Ranger, Ruly Rusak. Selainteman-teman yang sudah disebutkan, ada beberapa orang yang tidakmemperkenalkan diri. Kemudian Nico menawari menyebutkan nama sajatanpa mengulang nama teman-teman yang dari awal sudah berbicara. Moderator kemudian membuka bincang-bincang dengan menanyakantentang perbedaan transgender dan transeksual kepada peserta. Riamenjawab bahwa transgender adalah seseorang yang berperilaku sepertilaki-laki atau perempuan, tapi tidak sesuai dengan jenis kelaminnya.Sedangkan transeksual adalah seseorang yang sudah beroperasi kelaminF to M atau sebaliknya. Ino berpendapat, transeksual yang dia ketahuidari internet atau mesin pencari Google adalah orang-orang yang inginatau sudah menjadi seks atau gender yang berlawanan dari genderasalnya. Merespons pendapat teman-teman, Nico mengatakan, banyaksekali hal yang perlu diluruskan mengenai pemahaman kedua istilahtersebut, sehubungan dengan minimnya pengetahuan teman-temankomunitas LGBT mengenai isu transgender dan transeksual. Rujukanyang terdapat di Google, menurut Nico, tidak benar, karena yangmembuat bukan transeksual. Sedangkan film Oben Ohne (TelanjangDada) memang mengangkat isu transeksual, bukan transgender. Jadi,ketika membahas mengenai kedua hal itu kita harus kembali kepadaperistilahan. Dalam hal ini peristilahan bukanlah sekadar kata yang kitapakai, melainkan setiap kata yang membawa makna. Dan makna tersebutsangatlah penting, karena dengan menyebutkan makna itulah yang 177
  • Kami Tidak Bisu nantinya kita pakai selamanya. Nico menambahkan, kebanyakan teman LGBT memahami transeksual sebagai transgender, padahal gender tidak pernah trans. Trans berarti peralihan. Jadi, tidak ada gender di antara maskulin dan feminin, yang ada hanya maskulin dan feminin. Teman-teman memahami seorang transgender adalah seseorang yang belum operasi atau berperilaku seperti laki-laki atau perempuan, tapi tidak sesuai dengan jenis kelaminnya. Menurut Nico, seseorang yang mengklaim dirinya transgender sebenarnya berada dalam kondisi “saya bukan perempuan dan bukan laki-laki”. Padahal, berdasarkan pengertian gender dalam seluruh bangunan sosial, gender hanyalah maskulin dan feminin. Meskipun pada kenyataannya di dalam kehidupan lesbian pun ada seseorang yang berperan secara maskulin atau “laki-laki” dan itu tidak masalah. Sedangkan transeksual adalah orang yang secara tubuh berbeda dari gendernya. Jadi, meskipun seseorang belum operasi kelamin, tapi selalu mengklaim dirinya, contoh: sebagian orang M to F dari Yayasan Srikandi Sejati (organisasi waria di Indonesia), jika mengatakan bahwa mereka perempuan, maka mereka adalah perempuan, meskipun memiliki penis dan bertubuh laki-laki. Begitupun sebaliknya, jika ada teman yang bertubuh perempuan, tapi dari kecil dia sudah mengklaim dirinya laki-laki dan tidak meminta diperlakukan sebagai perempuan, dia laki-laki. Meskipun mendapat diskriminasi dari keluarga, sekolah, lingkungan, dan rumah sakit, dia akan tetap merasa sebagai seorang laki- laki. Kejadian seperti itulah yang disebut transeksual. Dan ketika dia sudah beroperasi, dia tidak lagi disebut transeksual. Seperti halnya yang dialami Dorce, salah satu selebritas di Indonesia. Dia seorang perempuan, sunguh- sungguh perempuan. Sama halnya dengan tokoh dalam film Oben Ohne, setelah dioperasi maka dia adalah seorang laki-laki. Pada tahun 2007 Nico pernah mengadakan seminar tentang transeksual, terutama F to M. Nico saat itu mengatakan dia adalah laki-laki, heteroseksual dengan kromosom XY. Namun pada saat Nico memperkenalkan diri, dia178
  • Transgender, Transeksual, Drag Queen, Drag King, dan Interseksmengatakan sebagai laki-laki non-genetik. Karena gen dia bukanlah XY,tapi laki-laki dengan gen XX. Nico mengklaim dirinya heteroseksual danmenyukai perempuan. Dia tidak menyukai laki-laki, karena menurut dia,dia bukan homoseksual. Karena itu, ketika transeksual sudah melakukanoperasi, maka dia sudah menjadi dirinya sendiri, antara gen dan gendersudah “klop”. Ketika belum “klop” maka dia disebut transeksual. Nico menambahkan, saat ini di Fakultas Psikologi Universitas Indonesiasudah ada sebutan di antara para dosennya dengan sangat baik, yaitusebutan cross gender. Sebutan tersebut untuk orang-orang yang merasalaki-laki tapi tidak sesuai dengan tubuhnya. Demikian pun sebaliknya. Padatahun 2005 sudah ada penggantian istilah, transeksual tidak lagi dimasukkandalam kelompok LGBT. T di dalam LGBT, mewakili transgender, kelompokyang berada di tengah-tengah. Karena itu, transeksual dimasukkankedalam golongan interseks. Di Belanda dan Amerika Serikat sudah adapenelitian bahwa kelompok transeksual bukanlah kelompok yang harusmemilih untuk menjadi ini atau itu. Pengertian interseks adalah orang-orang yang baru diketahui atau dikenal dengan kelamin yang tidak jelas.Sebagai klitoris terlalu besar, tetapi sebagai penis terlalu kecil. Itu adalahinterseks yang dari luar, biasanya kita kenal. Tetapi ada juga interseks yangtidak jelas di dalam alat reproduksinya. Dan untuk orang yang interseksnyadi dalam, bisa terjadi, orang dengan tubuh perempuan tapi di dalamtubuhnya tidak terdapat rahim tapi terdapat saluran laki-laki, dansebaliknya. Itu adalah hal yang jarang kita ketahui. Dokter sekalipun tidakakan tahu jika tidak memeriksa di dalamnya. Salah satu interseks yangbelum banyak diketahui adalah interseks di dalam otak. Jadi, otaknyamemerintahkan hal-hal yang berbeda dari tubuhnya. Misalnya, seseorangdengan tubuh laki-laki, tapi otak memerintahkan dia untuk melakukantindakan sebagai perempuan. Biasanya perilaku tersebut diketahui ketikasudah berumur dua atau tiga tahun. Kemudian Nico berbagi cerita tentang pentas seni malam 17 Agustus 179
  • Kami Tidak Bisu dalam perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia, misalnya wayang atau tarian. Transeksual biasanya diminta untuk menari sebagai Arjuna, Sembrada, dan lain-lain. Mereka diminta memakai pakaian tari, topeng dan lain-lain sampai waktu yang ditentukan habis. Mereka melepas pakaian tersebut dan kembali menjadi diri sendiri. Nah, seorang transeksual memakai pakaian “wayang” tersebut seumur hidupnya. Jika diibaratkan dia menggigit topeng, maka dia akan memakai topeng dan menggigit topeng tersebut di mana pun dia berada. Bisa dibayangkan betapa berat perjuangan mereka menghadapi stigma masyarakat yang mengatakan bahwa orang tersebut gila, karena memakai topeng tidak benar atau tidak pada tempatnya. Penjelasan tersebut menimbulkan pertanyaan dari seorang peserta yang masih bingung dengan istilah transgender yang dianggap tidak laki-laki atau perempuan. Dia juga menanyakan Nico berada di kategori yang mana. Nico menjawab, untuk sebutan seperti itu, bukan orang lain yang menentukan, tapi bagaimana diri kita sendiri menamai. Sama halnya dengan perjuangan Yuli yang berasal dari Papua dan saat ini berjuang dengan kelompok Forum Komunikasi Waria untuk mengupayakan adanya KTP dengan gender ketiga, yaitu waria. Beberapa waria merasa dirinya bukanlah laki-laki dan perempuan. Mereka nyaman dengan penampilan perempuan, tetapi juga nyaman dengan tubuh mereka yang laki-laki, dan tidak berkeinginan menghilangkan penis mereka. Jadi, menurut Nico, semua kembali kepada diri kita, mau menyebutnya sebagai apa. Entah kita sebagai lesbian, transgender, atau yang lain. Dan ketika sudah mengklaim diri kita, maka kita akan tahu bagaimana cara memperlakukan diri sendiri, bersikap kepada orang lain, dan tentunya kenyamanan terhadap diri kita. Kita juga tidak perlu mengikuti kata orang, contohnya menyuruh kita untuk operasi. Karena untuk operasi atau terapi hormon itu sangat rumit. Meskipun secara psikologis kita lolos, belum tentu secara fisik dan medis bisa. Hal tersebut yang terkadang membuat seorang transeksual tidak180
  • Transgender, Transeksual, Drag Queen, Drag King, dan Interseksmelakukan operasi. Untuk F to M, ada tiga tahap yang harus ditempuh,yaitu operasi luar, dalam, dan terakhir final membentuk penis. Faktor usiajuga mempengaruhi untuk terapi hormon, karena ketika mengonsumsinya,berarti menambah kolesterol. Konsekuensinya, mesti melakukan gayahidup sehat, olahraga, dan diet ketat. Larangan merokok juga berlakuuntuk terapi ini, karena jika sudah suntik, kemudian merokok, hasilnyaakan nol. Peserta yang lain, Juin, bertanya, “Kemudian bagaimana denganidentitas setelah seseorang menjalani F to M atau sebaliknya?” Nicomenceritakan bahwa dia mulai merasa dirinya berbeda ketika berumur tigatahun. Pada umur 14 tahun dia merasa dirinya transeksual dan inginmenjalani operasi saat berumur 18 tahun. Baru kesampaian setelah berumur36 tahun. Nico menunjukkan beberapa fotonya saat kecil dan remaja. Fotoketika berulang tahun, dia menjelaskan bagaimana menolak keras untukmemakai rok dan meminta memakai celana. Nico juga menunjukkanbeberapa foto saat dia kuliah, bersama teman-teman kerja, acarapernikahan, dan foto-foto sebelum mengikuti terapi hormon. Ternyata diasempat berhenti terapi hormon selama tiga tahun. Padahal terapi itu harusdilakukan seumur hidup, tepatnya sebulan dua kali. Dan jika sudahmengikuti terapi hormon, tidak akan bisa mengembalikan ke bentuk asliseperti semula. Pada proses dimasukkan hormon testosteron, kurang dariwaktu seminggu atau bahkan mungkin keesokan paginya akan merasakanpegal-pegal. Dan tidak sampai dua kali dalam sebulan itu juga akan merasasakit di setiap persendian, karena masa ototnya dan lemak menjadi hilang.Setelah suntik ketiga, rasa sakit itu semakin tidak tertahankan, dan itumengharuskan Nico melakukan latihan body building untuk melancarkan“oli engsel” dan membuat tubuh lebih bagus. Nico juga menunjukkanbeberapa catatan medis agar tahu apa yang terjadi di dalam tubuhnya,karena sadar resiko yang dihadapi sangatlah besar. Dian menanyakan efek samping yang dirasakan setelah menjalani terapi 181
  • Kami Tidak Bisu hormon. Nico menjawab, sesudah melakukan suntik, dorongan seksual meningkat. Selain itu, masa haid semakin tidak teratur dan tidak disertai tanda-tanda, tanpa gumpalan, dan berlangsung selama empat hari. Kolesterol menjadi tinggi dan harus melakukan diet secara ketat, serta mengonsumsi sayuran. Ia pernah mengalami diskriminasi dari dokter androloginya yang mengharuskan melakukan operasi terlebih dahulu sebelum dilakukan terapi hormon lanjutan. Nico menuturkan, di luar negeri pernah ada kejadian sepasang kekasih dari F to M dan M to F. Yang F to M merelakan dirinya hamil, karena tidak berkeinginan mengadopsi anak dan mau dihamili oleh istrinya. Nico juga menceritakan masyarakat di tempat tinggalnya yang menanyakan gendernya. Sebagian juga bertanya jika Nico seorang laki-laki, kenapa suaranya begitu kecil. Hal itu membuat Nico gusar, karena sering juga suaranya ketika berbicara melalui telepon terdengar seperti suara perempuan. Jika dicermati dari berbagai cerita Nico, sepertinya tidak terlalu banyak rintangan yang ia hadapi. Terbukti dari ketika dia masih balita dan meminta orang tuanya memakaikan celana saat hari ulang tahunnya tidak ada yang menolak. Tetapi sebenarnya banyak diskriminasi yang dialami, terutama dari kakek dan neneknya. Antara lain, karena tantenya bersekolah di sekolah perempuan, maka Nico harus sekolah juga di sekolah perempuan. Saat itu Nico tetap bertahan, karena dia berpikir, dengan pendidikan akan bisa mencari pekerjaan dan akan bisa memperbaiki hidupnya meskipun mempunyai masalah yang berat. Bahkan ketika keluarga mulai mengatakan bahwa yang dia lakukan dari dulu membuat keluarga merasa tidak nyaman, dia bisa menjawab bahwa hal tersebutlah yang justru membuat dirinya nyaman. Tidak hanya di lingkungan keluarga, diskriminasi juga dialami Nico di lingkungan sekolah. Ketika salah satu keluarga menemukan surat cintanya kepada seorang perempuan, Nico diserahkan kepada suster kepala asrama182
  • Transgender, Transeksual, Drag Queen, Drag King, dan Intersekstempatnya tinggal. Sejak saat itu Nico kerap sekali dipanggil ke ruangsuster kepala asrama dan menghadapi pastor yang menudingnya sebagaiseorang lesbian. Nico menjawab bahwa dia seorang laki-laki, hanyakebetulan disekolahkan di tempat perempuan. Pastor yang juga psikologmerasa hal tersebut tidak benar, karena itu seminggu sekali Nico diharuskanmelaporkan perkembangannya, seperti seorang pesakitan. Pastor tersebutpernah mengatakan bahwa Nico sakit jiwa. Sebenarnya justru pastortersebut yang sakit jiwa, karena sebagai psikolog dia tidak bisa menanganimasalah dengan cara yang baik. Diskriminasi di lingkungan kerja jugadialami. Ketika dia ingin menjadi dosen dan menyampaikan keinginannyamelalui temannya untuk memakai celana selama bekerja, hasilnya langsungtidak bisa diterima bekerja. Perjuangan untuk menjadi diri sendiri memang sangat rumit dan harusmelewati berbagai ujian. Kejadian yang benar-benar membuat Nico merasatersinggung adalah ketika berbelanja di sebuah supermarket dan membayardengan kartu ATM, tapi tidak ada foto dan nama yang belum berubah.Kasir tidak mempercayainya hingga akhirnya Nico mengeluarkan KTP.Sampai pada jenis kelamin, kasir tersebut terbelalak dan mengucapkan“Masya Allah!” berkali-kali dan setelah itu bersama teman-temannyamenertawakan Nico. Diskriminasi tersebut membuat Nico mengalamimasa-masa yang berat. Tapi saat ini KTP Nico sudah diubah menjadi namaseorang laki-laki. Karena KTP-nya berjenis kelamin laki-laki, maka surat-surat dokumen juga diubah sesuai dengan KTP. Akta kelahiran juga diubahdengan bantuan pengacara yang juga adik sepupunya. Beberapa peserta Kongkow Lez menanyakan apakah Nico sudahmelakukan operasi final. Nico pun menjawab hal tersebut belumtersampaikan. Jika nanti dilaksanakan, dia ingin melakukan di Thailand. DiIndonesia, Nico mempunyai teman yang sudah melakukan operasi final, iaberasal dari Solo dan saat ini tinggal di Selandia Baru. Operasi final diThailand diperkirakan memakan biaya sekitar Rp 120 juta. Setelah operasi 183
  • Kami Tidak Bisu final, Nico akan mempunyai penis sebagaimana laki-laki, namun tetap tidak akan mempunyai sperma. Nico menunjukkan beberapa foto orang yang sudah berhasil mengubah identitas diri F to M. Beberapa foto yang ditunjukkan memang hasil terapi hormon dan operasi final memperlihatkan mereka sebagai seorang laki- laki. Kemudian Nico menunjukkan beberapa alat medis yang digunakan untuk suntik hormon, berupa jarum suntik dan beberapa perangkat lainnya. Nico menjelaskan, suntik hormon bisa dilakukan sendiri atau meminta bantuan pasangannya. Namun, harus benar-benar paham letaknya, agar tidak terjadi kesalahan suntik. Dia pernah melakukan kesalahan yang menyebabkan keluarnya darah. Menurut dia, orang yang melakukan terapi tersebut sebaiknya sudah mampu secara finansial, agar dapat memenuhi biaya untuk membeli hormon yang tidak murah. Soal percintaan atau hubungan spesial dengan seseorang, Nico pernah hendak menikahi seorang perempuan muslim. Dia tidak keberatan dengan cara pernikahan secara Islam. Tapi dia menolak masuk agama Islam, karena agama yang dianutnya adalah eksistensi diri sebagai keyakinan atau penguat. Baginya, jika keyakinan tersebut runtuh, dia hanyalah daging yang bernyawa. Kata-kata Nico tadi menutup bincang-bincang Kongkow Lez hari itu. Menjadi Drag King di Amsterdam Catatan Perjalanan Penulis Sebagaimana disampaikan Nico, Indonesia memiliki seorang aktris bernama Dorce, yang mengubah jenis kelaminnya dari laki-laki menjadi perempuan. Penampilannya saat ini terlihat sebagai perempuan muslimah yang selalu mengenakan busana muslim. Dia merupakan aktris ternama dan dikenal masyarakat. Dorce sering muncul sebagai184
  • Transgender, Transeksual, Drag Queen, Drag King, dan Intersekspembawa acara di beberapa televisi swasta. Bahkan dia pernah memilikisebuah acara sendiri “Dorce Show”, layaknya “Oprah Winfrey Show”yang mengangkat isu sosial di masyarakat. Aku melihat para audiensi diacara “Dorce Show” mayoritas perempuan atau ibu rumah tangga dandia pernah mengundang komunitas ibu-ibu pengajian yang ngefans beratpada Dorce. Pada sekitar tahun 1989 ada film Dorce Sok Akrab yang tokohutamanya Dorce. Film ini dirilis dan ditayangkan di bioskop-bioskop diIndonesia. Aku ingat betul masa itu aku masih duduk di bangku SD danmenonton film itu di sebuah bioskop di kampung halamanku bersamakeluarga. Di keluarga besarku, aku memiliki paman yang sering disebut bencongoleh kerabat yang lain, meskipun mereka tidak memanggilnya demikianuntuk sapaan. Profesi sehari-harinya membuka salon kecantikan dan riaspengantin sebagai usaha bisnisnya. Beberapa kali rambutku dipotongolehnya. Dia juga sering menjadi perias pengantin jika ada keluarga yangmengadakan pesta pernikahan. Perilakunya sangat kocak dan keluargabesarku tampak menyukai dirinya, karena sikapnya juga ramah dansuka membantu kerabat. Ketika ibuku sakit keras, dia menawarkan danmenyempatkan diri menemani ibuku periksa ke dokter atau melayanikebutuhan-kebutuhan ibu. Pada waktu kecil aku tidak terlalu memperhatikan keberadaandirinya di tengah-tengah keluarga yang mayoritas berdarah JawaTengah dan Sulawesi Utara. Setelah aktif dalam pergerakan LGBT, akuberusaha mencari informasi tentang pamanku itu dari ibu atau kerabatyang lain. Kami memang tidak dekat, tapi aku sering perhatikan diasangat mengetahui diriku, selaku keponakannya, memiliki karakterseperti dirinya, meskipun secara kebalikan. Pernah ketika aku bertemuseorang teman aktivis gay di kampung halamanku, dia bercerita ternyatasangat mengenal pamanku itu lewat pertemanan “sesama banci salon”.Sungguh terkejut ketika mengetahui dari teman tadi bahwa pamankuyang bertubuh tinggi besar dan berkulit putih itu pernah menjadi ketua 185
  • Kami Tidak Bisu persatuan waria di kampung halamanku. Jadi, sebenarnya sejak kecil aku sudah mengenal transgender dalam keseharian, bukan dari buku-buku ilmiah, konferensi internasional, atau forum-forum diskusi seksualitas. Selain transgender dan transeksual, juga terdapat istilah Drag Queen dan Drag King yang biasanya dikenal dalam dunia hiburan dan pertunjukan di komunitas LGBT. Drag Queen adalah laki-laki yang berpakaian layaknya perempuan berikut aksesorisnya dan beraksi di panggung dengan menari dan lipsing lagu-lagu penyanyi perempuan ternama. Sedangkan Drag King adalah perempuan yang berpakaian laki- laki dan melakukan aksi panggung yang juga menari atau lipsing dengan gaya maskulin atau macho. Tentu sikap-sikap atau gaya itu merupakan stereotipe yang dilekatkan pada perempuan dan laki-laki pada umumnya. Sehingga Drag Queen dan Drag King biasanya menggunakan make up dan kostum layaknya penyanyi perempuan atau laki-laki terkenal yang ingin ditirunya. Aksi Drag Queen dan Drag King sering kali dipertunjukkan pada bar-bar gay dan lesbian atau pride di beberapa negara. Di Indonesia sudah banyak pertunjukan Drag Queen pada beberapa gay bar di kota-kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Bali, dan Makassar. Tapi aku belum pernah melihat pertunjukan Drag King di Indonesia. Kemudian pada Juli 2009 aku mengikuti kontes Drag King Betty di Amsterdam yang diikuti beberapa peserta dari Belanda, Amerika Serikat, Thailand, dan aku dari Indonesia. Sebelum kontes, semua peserta diberikan workshop Drag King oleh seorang artis yang sudah berpengalaman dalam dunia panggung dalam memerankan Drag King dan Drag Queen. Dalam workshop itu beberapa hal yang diajarkan adalah bagaimana memakai make up untuk membentuk kumis, jenggot, dan lain-lain layaknya laki-laki macho. Juga diberikan tips membuat penis imitasi dari stocking dan kapas yang dipasangkan di dalam celana yang dikenakan. Aksi panggung layaknya Drag King juga diajarkan oleh sang fasilitator. Setiap peserta diminta oleh fasilitator membuat nama panggung Drag King.186
  • Transgender, Transeksual, Drag Queen, Drag King, dan Interseks Setelah workshop, setiap peserta bersiap-siap beraksi di sebuah gaystreet di Amsterdam. Satu per satu peserta dipanggil untuk berjalan diatas karpet merah yang disiapkan sebagai panggung untuk beraksi.Musik-musik yang mengiringi peserta disesuaikan dengan karakter yangmereka tampilkan. Sebenarnya sebelum mengikuti kontes Drag King diAmsterdam, pada peringatan International Day Against Homophobiadan Transphobia (IDAHO) atau Hari Internasional Melawan Homofobiadan Transfobia pada Mei 2009, aku bersama dua teman melakukanpertunjukan Drag King meniru gaya boy band N’Sync dengan memilih lagu“Bye Bye Bye”. Koreografer kami seorang penari modern. Pada tahun2010 aku kembali melakukan pertunjukan Drag King layaknya AdamLambert, penyanyi pop terkenal Amerika Serikat. Aku memilih karakterAdam karena sangat mengagumi dirinya sebagai American Idol yangcoming out ke publik sebagai gay dan tetap eksis dengan kariernya. Selainitu, melalui pertunjukan aku ingin memperlihatkan karakter laki-lakitidaklah harus maskulin dan macho, tetapi laki-laki bisa juga berkaraktergay. Bagi saya melakukan pertunjukan Drag King tidak hanya hiburan,tetapi merupakan sebuah aksi kampanye kebebasan berekspresi melaluipertunjukan seni. Di antara Transgender, Transeksual,Drag Queen, dan Drag King ada pula Drag King: Kamilia Manaf 187
  • Kami Tidak Bisu istilah Interseks. Tapi aku belum pernah mendengar atau melihat secara langsung tentang interseks di Indonesia. Di pertemuan atau konferensi internasional aku sering mendengarnya, bahkan sempat bertemu dengan mereka. Sampai kemudian pada suatu malam di bulan Mei 2011, ketika menonton acara berita di sebuah stasiun televisi swasta lokal, ada pemberitaan tentang seorang remaja yang dulunya bernama Aminah kemudian menjadi Amin. Sejak lahir Amin dianggap orang tuanya berjenis kelamin perempuan, sampai kemudian saat menginjak usia SMP, alat kelaminnya berubah menjadi alat kelamin laki-laki dan mulai tumbuh jakun di lehernya. Sang ibu sebenarnya sudah mengetahui perubahan alat kelamin itu sejak Amin kelas III SD, bahkan sempat mengupayakan untuk melakukan operasi kelamin anaknya, karena dirasa terlihat tidak normal. Namun, menurut orang tua Amin, biaya sangat mahal dengan penghasilan pas-pasan sebagai pengumpul kayu bakar, maka operasi itu tidak pernah dilakukan. Saat ini alat kelamin Amin terlihat berbentuk sempurna penis laki-laki. Sebagai umat muslim, Amin dikhitan. Orang tua Aminah pun mengurus dokumen akta kelahiran anaknya, untuk mengubah nama dari Aminah menjadi Amin Wahyu Bahtiar di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, tempat tinggal saat ini. Dalam akta tersebut diberikan pula penjelasan jenis kelamin semula perempuan menjadi laki-laki. Pengurusan akta yang dilakukan orang tuanya ini kemudian menguak kisah Amin menjadi berita di televisi dan media cetak. Dalam tayangan berita itu pun diperlihatkan aktivitas Amin di sekolahnya pada sebuah MTs yang sudah mengenakan seragam sekolah laki-laki. Diperlihatkan ijazah dan rapor Amin saat SD yang masih menyebutkan jenis kelamin perempuan dan foto Amin masih mengenakan jilbab. Sepengetahuanku di beberapa negara di Amerika Utara dan Australia sudah cukup progresif mengangkat wacana interseks dengan memperjuangkan hak bagi sang anak untuk bisa memutuskan sendiri jenis kelamin yang diinginkan ketika dia beranjak dewasa, bukanlah188
  • Transgender, Transeksual, Drag Queen, Drag King, dan Interseksorang tua yang memutuskan. Selain itu bagi para orang tua dilaranguntuk melakukan operasi kelamin pasca kelahiran yang ditujukan untukmenentukan jenis kelamin sang anak. Dikhawatirkan nantinya akanberdampak terhadap psikologis sang anak ketika beranjak dewasa harusmenjalani kehidupan yang tidak sesuai dengan keinginannya. Aku tidakbisa memberikan banyak komentar mengenai interseks, karena kuranginformasi sehingga tidak menguasai. Bagaimana pendapat Anda? 189
  • Tentang Penulis Kami Tidak Bisu K amilia Manaf, feminis lesbian muda. Sejak usia 23 tahun terjun dan mendedikasikan hidupnya untuk gerakan feminis dan lesbian muda Indonesia. Salah satu pendiri Institut Pelangi Perempuan, organisasi perempuan lesbian, biseksual, dan transgender muda Indonesia. Pernah bekerja sebagai jurnalis radio di Yayasan Jurnal Perempuan. Puisi-puisi dan cerpennya dipublikasikan Jurnal Perempuan dan Pelangi Perempuan, kumpulan puisi dan cerpen lesbian muda Indonesia. Pada tahun 2008 terpilih sebagai anggota pengurus International LGBTI Association (ILGA) Asia untuk representasi anak muda LGBT di Asia. Komunitas website LGBT terbesar di Asia, Fridae, memilih Kamilia Manaf sebagai “LGBT People to Watch 2010”.190
  • I NSTITUT PELANGI PEREMPUAN (IPP) adalah sebuah organisasinon-pemerintahan sebagai pusat kegiatan dan informasi bagi kelompokperempuan Lesbian, Biseksual dan Transgender (LBT) muda di Indonesia.Didirikan pada tahun 2006 oleh beberapa aktivis HAM, Feminis, Senimandan lesbian muda di Indonesia. Dengan menggunakan strategi“Edufuntainment” (Education, Fun dan Entertainment), IPP kemudianmendirikan Anak Pelangi Club (Klub Seni dan Budaya LGBT muda danremaja), Klub Badminton dan Kartini Sejati (Klub Tinju Perempuan danTransgender Indonesia) sebagai metode pengorganisasian LGBT mudamelalui ruang seni, budaya serta olahraga. E-mail : pelangiperempuan@gmail.com Website : www.pelangiperempuan.or.id 191