Manajemen rawa-terpadu

2,752 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
2,752
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
8
Actions
Shares
0
Downloads
175
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Manajemen rawa-terpadu

  1. 1. PENGELOLAAN DAERAH RAWA UNTUK MENDUKUNG PEMBANGUNAN PERTANIAN BERKELANJUTAN Dr. Robiyanto H. Susanto, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian Seminar kenaikan ke Guru Besar pada UNIVERSITAS SRIWIJAYA Indralaya - OI, Sumsel, Indonesia – 6 September 2010
  2. 2. I. PENDAHULUAN 1.1. GAMBARAN UMUM – LATAR BELAKANG 1.2. PENGEMBANGAN RAWA MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN 1.3. PERMASALAHAN 1.4. TUJUAN
  3. 3. WORLD POPULATION http://en.wikipedia.org/wiki/Image:World_population.PNG
  4. 4. Indonesia Year 1950 1970 1990 2010 2030 2050 Production of Consumption P-C Population Paddy *2) of Paddy *3) (Million (Million) *1) (Million Ton) (Million Ton) Ton) 77.21 117.47 146.78 233.48 284.2 339.1 13.20 24.20 45.18 48.35 42.11 35.86 11.58 17.62 22.02 35.02 42.64 50.86 1.62 6.58 23.16 13.33 -0.53 -15.00 Export (Million Ton) 1.62 6.58 23.16 13.33 - Import (Million Ton) 0.53 15.00 *1) Source : http://www.indo-ank.org/socio-culture/bokletmaret2007.pdf *2) Source: BPS Last access June 2010 *3) Source : http://www.unctad.org/infocomm/anglais/rice/market.htm
  5. 5. Population - Paddy Production - Consumption
  6. 6. I. Gambaran Umum dan Latar Belakang Achievement Level of Predicted Self Food Sufficiency, 2006-2025 Assumption : increase area 0,37%, increase productivity 0,48% 70,000 60,000 50,000 40,000 30,000 20,000 10,000 (10,000) 2006 2010 2015 Harvested area(000 ha) Productivity (ton GKG/ha) Demand (eq. 000 ton GKG) 2020 2025 Deficit Yield (000 ton GKG) Balance (000 ton GKG) Source: Litbang Deptan, 2007
  7. 7. PENGELOLAAN DAN PENGEMBANGAN RAWA: PELESTARIAN LINGKUNGAN DAN KETAHANAN PANGAN Gambar 3. Peta Sebaran Rawa di Indonesia
  8. 8. Ekosistim Lahan Basah dan Keanekaragaman Hayati Hutan mangrove: ± 90.00 ha (estuarine mangrove, dengan lebih dari 20 sungai yang bermuara di wilayah ini Merupakan tempat persinggahan ribuan burung migran Merupakan habitat satwa liar, seperti Harimau Sumatera, Macan Dahan, Buaya Muara, dsb. Merupakan sumber perikanan di perairan sekitarnya
  9. 9. TAMAN NASIONAL SEMBILANG : SITUS RAMSAR
  10. 10. KONSERVASI HUTAN RAWA GAMBUT
  11. 11. Hot-spots in lowlands as recorded by sattellite
  12. 12. Tabel 1. Distribusi lahan rawa di Indonesia dan luas yang dikembangkan dengan bantuan pemerintah Total Lahan Rawa Secara Nasional Lokasi Total (Ha) Pasang Surut (Ha) Lebak (Ha) Total (Ha) 2.766.000 3.580.500 644.500 6.305.770 9.370.000 11.707.400 1.793.450 10.522.720 691.704 694.935 71.835 - 110.176 194.765 12.875 23.710 801.880 889.700 84.710 23.710 13.296.770 33.393.570 1.458.474 341.526 1.800.000 Pasang Surut (Ha) Lebak (Ha) 6.604.000 8.126.900 1.148.950 4.216.950 20.096.800 Sumatera Kalimantan Sulawesi Papua Total Lahan Yang Sudah Dikembangkan Sumber : Dit. Rawa dan Pantai, Ditjen Pengairan, Departemen PU, 2009 IP100 ………> IP200, IP300 ...…. mencapai 7 sampai 8 ton GKP /ha MTI Karena 3 pilar : a) Perbaikan infrastruktur pengelolaan air, b) Aplikasi teknologi pertanian, dan c) Pemberdayaan kelompok tani/ P3A untuk OP jaringan pengairan
  13. 13. 1.3. PERMASALAHAN  Pengurangan produksi pangan pada lahan-lahan irigasi khususnya di pulau Jawa 40-50.000 ha/ tahun  Belum terdapat visi yang sama tentang pengelolaan rawa untuk pembangunan pertanian berkelanjutan diantara para pelaku (stake-holder) yang terlibat dalam pengembangan dan pengelolaan lahan rawa.  Permasalahan lingkungan : kebakaran hutan dan lahan
  14. 14. 1.4. TUJUAN  Upaya pelestarian lingkungan , pemanasan global, perubahan iklim merupakan hal yang harus diperhatikan dalam pengelolaan rawa.  Menyampaikan p entingnya pengelolaan daerah rawa melalui optimalisasi lahan dan air untuk mendukung ketahanan pangan  Tahapan-tahapan kegiatan yang dilakukan untuk pengelolaan daerah rawa berkelanjutan serta strategi yang diperlukan akan dijelaskan dengan melihat aplikasi yang dilakukan di berbagai daerah rawa Indonesia sejak tahun 1993.  Pemahaman yang benar tentang pengelolaan rawa ini dirasakan perlu disebarluaskan ke tempat lain yang sesuai dan membutuhkan mengingat terdapat kurang lebih 150 kabupaten/ kota rawa di Indonesia
  15. 15. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. KARAKTERISTIK DAERAH RAWA DALAM SISTIM SUNGAI 2.2. PERENCANAAN PENGELOLAAN DAERAH RAWA DAN PESISIR 2.3. PENDAYAGUNAAN RAWA DENGAN PENDEKATAN ‘ADAPTASI’ DAN ‘MODIFIKASI LINGKUNGAN’ 2.4. KONTRIBUSI RAWA TERHADAP PRODUKSI PANGAN NASIONAL DAN BERBAGAI KENDALA PENGELOLAAN AIR DI DAERAH REKLAMASI RAWA PASANG SURUT UNTUK PANGAN
  16. 16. 2.1.1. Hidrologi dan Daerah Aliran Sungai serta Terbentuknya Rawa ( Lowlands)  Gambar . Tipe-tipe lahan basah/ daerah rawa menurut definisi Ramsar (Davies et al, 1995)
  17. 17. 2.1.2. Daerah Aliran Sungai dan Asosiasi Rawa Lebak r . Zonasi daerah rawa lebak berdasarkan tingkat ketergenangan Lahan (Ditjen Pengairan, DPU, 1996)
  18. 18. 2.1.3. Terbentuknya Delta dan Daerah Rawa Pasang Surut Gambar . Hidrotopografi lahan yang mendapat pengaruh pasang surut air laut : Kategori I (tipe A), Kategori II (Tipe B), Kategori III (Tipe C), dan kategori IV (Tipe D) (Ditjen Pengairan, Departemen Pekerjaan Umum, 1996).
  19. 19. 2.1.4. Tanah dan Kesesuaian Lahan      jenis tanah (liat, sulfat masam, bahan organik tinggi/ bergambut, gambut), kondisi lahan yang bereaksi masam sehingga dapat menyebabkan ketersediaan Al dan Fe yang tinggi. Sebaliknya, unsur-unsur hara makro seperti Nitrogen, Phosphor, dan Kalium yang sangat diperlukan tanaman menjadi kurang tersedia Dalam sistim klasifikasi tanah jenis tanah yang umum dijumpai diantaranya adalah : Histosol (Fibrists, Hemists, Saprits); Inceptisol (Sulfaquepts, …); Entisol (Sulfaquents, ….) (Buol et al, 1989) Hemists (Sulfohemists, Sulfihemists, …)
  20. 20. 2.1.5. Curah Hujan, Aliran Permukaan dan Pasang Surut  Ketersediaan air di daerah rawa sangat dipengaruhi oleh : – aliran permukaan dari daerah hulu dan sekitarnya (berkisar 1000 - 2500 mm/ tahun), – curah hujan yang turun di lokasi (2000 - 3500 mm/ tahun), – adanya interaksi antara curah hujan, aliran permukaan dan mekanisme pasang surut nya air laut di muara sungai. Pasang surut nya air dengan mekanisme ini dapat menyebabkan perbedaan tinggi muka air 4- 5 meter
  21. 21. 2.1.6. Jaringan Reklamasi dan Tata Air  Saluran, tanggul banjir dan pintu-pintu air sehingga lahan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, khususnya pertanian.  Saluran yang digali menghubungkan dua sungai besar lebih sering dikenal dengan saluran navigasi/ saluran primer (panjangnya dapat sampai 20-30 km).  Tegak lurus terhadap saluran primer ini dibuatlah saluran sekunder dengan jarak 800 – 1000 m dan panjang 1000 - 3500 m.  Blok sekunder (100 – 250 ha) yang biasanya dibatasi oleh saluran primer dan sekunder ini dibagi lagi menjadi petak-petak tersier (seluas 16, 24, 32 ha) melalui pembangunan saluran-saluran tersier.
  22. 22. 2.1.7. Pengelolaan Air sebagai Kunci Keberhasilan Pertanian Lebak dan Pasang Surut  Kondisi sungai, hujan dan pasang surut air yang tidak bisa dirubah memerlukan sistim usaha tani adaptif dengan kondisi air yang ada.  Sarana prasarana pengairan membuat petani mampu melakukan pengelolaan air - on farm water management.  Pengelolaan air di lahan usaha tani yang baik memerlukan pemahaman tentang tata air makro dan tata air mikro serta adanya saluran primer, sekunder, tersier, tanggul banjir dan pintu-pintu yang diperlukan.
  23. 23. 2.1.8. Sistim usaha tani, kondisi sosial budaya dan pemberdayaan petani/ kelompok   padi pada bulan Maret - Mei sampai Juli-Agustus di lahan lebak; Oktober – Nopember sampai Februari – Maret di pasang surut.  Untuk perioda tanam kedua bisa padi atau palawija tergantung kondisi di setiap lokasi.  sarana produksi pertanian seperti benih, pupuk, herbisida/ pestisida, tenaga kerja, alat mesin pertanian, dan harga jual hasil pertanian. Pemberdayaan petani dan kelompoknya harus mempertimbangkan hal-hal tersebut.  kegiatan-kegiatan ekonomi produktif lainnya seperti misalnya: pembuatan gula kelapa, pupuk organik, pemeliharaan unggas kecil, pemanfaatan lahan pekarangan untuk perikanan).
  24. 24.  2.1. 9. Monitoring, evaluasi, diseminasi, komunikasi  2.1.10. Data dan informasi untuk pengembangan rawa terpadu  2.1.11. Visi Pembangunan Daerah, Kepemimpinan, dan Kapasitas Kelembagaan
  25. 25. 2.2. PERENCANAAN PENGELOLAAN DAERAH RAWA DAN PESISIR 2.2.1. Konservasi Daerah Rawa dan Pesisir 2.2.2. Konservasi Daerah Rawa, Pendayagunaan dengan Teknologi Adaptasi, dan Pengembangan Rawa 2.2.3. Pengelolaan Rawa Berbasis Masyarakat ( community based development ) dan Berbasis Industri Pertanian ( agroindustry based development ) 2.2.4. Pengembangan Rawa sebagai Kawasan PembangunanTerpadu (Integrated lowland development and management)
  26. 26. 2.3. PENDAYAGUNAAN RAWA DENGAN PENDEKATAN ‘ADAPTASI’ DAN ‘MODIFIKASI LINGKUNGAN’ 2.3.1. Pemanfaatan Lahan Rawa dan Pesisir untuk Konservasi dan Ekowisata 2.3.2. Pemanfaatan Lahan Rawa untuk Pengembangan Tanaman Pangan dan Hortikultura 2.3.2.a. Rawa adaptasi lebak untuk tanaman pangan dan diversifikasi 2.3.2.b. Rawa reklamasi pasang surut untuk tanaman pangan 2.3.3. Pemanfaatan Lahan Rawa untuk Pengembangan Tanaman Perkebunan
  27. 27. 2.3.4. Pemanfaatan Lahan Rawa untuk Hutan Tanaman Industri 2.3.5. Pemanfaatan Lahan Rawa untuk Pengembangan Perikanan 2.3.6. Pemanfaatan Rawa untuk Peternakan (Kerbau Rawa, Itik Lokal) 2.3.7. Pemanfaatan dan Pengelolaan Lahan Rawa untuk Pemukiman dan Perkotaan 2.3.8. Pemanfaatan dan pengelolaan lahan rawa untuk kawasan industri dan pengelolaan limbah
  28. 28. 2.3.1. Pemanfaatan Lahan Rawa dan Pesisir untuk Konservasi dan Ekowisata  Untuk daerah Sumatera Selatan, misalnya Taman Nasional Sembilang (202.896 ha) yang terletak di Kabupaten Banyuasin, merupakan daerah konservasi yang unik. Di Taman Nasional Sembilang ini terdapat misalnya: harimau Sumatera, buaya, beruang, lebih dari 32 spesies burung air, 8 spesies ular, 48 spesies ikan meliputi 37 famili, dan mendukung kehidupan lebih dari 150.000 ekor burung-burung migran (Balai Taman Nsional Sembilang, 2009). Taman Nasional Sembilang ini berdekatan dengan daerah yang sudah dikembangkan untuk transmigrasi (Karang Agung Tengah dan Karang Agung Hilir) dan daerah hutan tanaman industri (PT SHP) di Sungai Sembilang. Potensi perikanan di kawasan ini sangat besar dan cukup banyak penduduk desa Sungsang, Sembilang, Ogan Komering Ilir, dan beberapa desa pesisir di Jawa yang menangkap ikan di perairan di sekitar kawasan ini.  Selain itu, kawasan mangrove yang ada di daerah pesisir juga merupakan daerah konservasi yang tetap perlu dijaga kelestariannya. Daerah konservasi rawa lainnya misalnya di Danau Sentarum, Kalimantan Barat dan di Sebangau, Kalimantan Tengah.
  29. 29. Ekosistim Lahan Basah dan Keanekaragaman Hayati Hutan mangrove: ± 90.00 ha (estuarine mangrove, dengan lebih dari 20 sungai yang bermuara di wilayah ini Merupakan tempat persinggahan ribuan burung migran Merupakan habitat satwa liar, seperti Harimau Sumatera, Macan Dahan, Buaya Muara, dsb. Merupakan sumber perikanan di perairan sekitarnya
  30. 30. 2.3.2. Pemanfaatan Lahan Rawa untuk Pengembangan Tanaman Pangan dan Hortikultura Tabel 2. Pengembangan Rawa dalam konteks kondisi pulau utama dan pulau pengembangan Pulau-pulau Utama Pulau Pengembangan Lokasi Jawa, Madura, Bali Sumatera, Jaya Konteks Tekanan penduduk, Urbanisasi, Kompetisi penggunaan air, permasalahan kompleks, Kehilangan lahan beririgasi 4050 ribu ha/ tahun Pemukiman spontan dan bantuan pemerintah, Investasi swasta, Sistem reklamasi rawa yang belum optimal penggunaannya. Tipologi Daerah irigasi yang terus Sistem reklamasi rawa pasang berkurang, Banjir di desa dan surut, daerah rawa lebak, pengendalian banjir di daerah irigasi perkotaan. Kalimantan, Irian
  31. 31. 2.3.2.a. Rawa adaptasi lebak untuk tanaman pangan dan diversifikasi
  32. 32. Kawasan Pantai Timur Sumatera Selatan
  33. 33. 2.3.2.b. Rawa reklamasi pasang surut untuk tanaman pangan Total luas areal yang telah direklamasi sampai tahun 2010 ini adalah 373.000 ha (BSWVIII, 2010), diantaranya di: Delta Upang (8.423 ha), Cinta Manis (6.084 ha), Delta Telang I (26.680 ha), Delta Telang II (13.800 ha), Delta Saleh (19.090 ha), Air Sugihan Kiri (50.470 ha), Air Sugihan Kanan (31.140 ha), Pulau Rimau (40.263 ha), Karang Agung Hulu (9.000 ha), Karang Agung Tengah (30.000 ha) dan Karang Agung Hilir (20.317 ha)
  34. 34. Sebaran kelembaban tanah pada kondisi muka air tanah tinggi dan permukaan lahan yang tidak rata (Skaggs, 1990a) Perkembangan akar tanaman pada kondisi muka air tanah dangkal (kiri, 30 cm dari permukaan tanah) dan muka air tanah dalam (kanan, 60 cm dari permukaan tanah) (Skaggs, 1990b)
  35. 35. Water balance components within the root zone
  36. 36. Water table profile under modified rooting zone condition (with surface or subsurface drainage systems) (Skaggs, 1990c) Consideration on topography and natural layout for the drainage systems development (contour) (Skaggs, 1990d)
  37. 37. Pola hutan tanaman industri
  38. 38. Kebakaran Hutan dan Lahan
  39. 39. Pola Perikanan Budidaya - Lebak
  40. 40. Pola Peternakan – di Lahan Rawa
  41. 41. Pola Penataan Ruang
  42. 42. 2.4. BERBAGAI KENDALA PENGELOLAAN AIR DI DAERAH REKLAMASI RAWA PASANG SURUT UNTUK PANGAN 2.4.1. Terbatasnya ketersediaan data primer dan sekunder yang terkini dan dapat diakses secara cepat 2.4.2. Pemahaman yang keliru karena ketidaktahuan dan kurangnya ilmu pengetahuan 2.4.3. Pemilihan Lokasi dan Program yang Tidak Tepat 2.4.4. Alih Fungsi Lahan Reklamasi Pertanian Pangan menjadi Perkebunan 2.4.5. Penggunaan satu fungsi (single use) dan multi guna (multiple uses) 2.4.6. Program Mendadak – Ego Sektoral 2.4.7. Koordinasi antar Sektor/ Departemen – Keberlanjutan program
  43. 43. 2.4.8. 2.4.9. 2.4.10. 2.4.11. 2.4.12. 2.1.13. 2.4.14. Transportasi dan Aksesibilitas Air Bersih untuk Rumah Tangga dan Sanitasi Lingkungan Isu Lingkungan dan Konservasi Sumberdaya Alam Penduduk Asli (lokal), Pendatang Spontan, dan Transmigran Pemerintah Pembiayaan (APBN, APBD, Dana Perusahaan Swasta,Dana Masyarakat, Hutang atau Hibah luar negeri) Ketersediaan Data dan Informasi serta Bantuan Teknis Kapasitas Kelembagaan Pemerintah Daerah
  44. 44. III. METODOLOGI 3.1. MEMAHAMI MASALAH DAN MENGKOMUNIKASIKANNYA 3.2. PENGEMBANGAN PERTANIAN TERPADU BERBASIS KAWASAN 3.3. PERAN PEMERINTAH (Kabupaten/Kota, Provinsi, Pusat) 3.4. PERAN DAN KETERLIBATAN PERGURUAN TINGGI 3.5. KETERLIBATAN PIHAK SWASTA, BUMN, DAN MASYARAKAT
  45. 45. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. PEMAHAMAN MASALAH YANG ADA 4.1.1. Pemetaan sebaran lahan rawa dan gambut; pemetaan dan pemahaman lahan potensial, potensial bersyarat, tidak potensial untuk usaha tani 4.1.2. Pertanian lahan basah dengan kelebihan air 4.1.3. Pemahaman kondisi iklim, hidrologi, tata air dan jaringan pengairan wilayah kajian 4.1.4. Fluktuasi muka air tanah dan jadwal tanam padi pada lahan hidrotopografi A/B: Blok sekunder P8-12 S, delta Telang I, desa Telang Karya, Kabupaten Banyuasin
  46. 46. 4.1. PEMAHAMAN MASALAH YANG ADA 4.1.5. Fluktuasi muka air tanah dan jadwal tanam padi pada lahan dengan hidrotopografi C/D: Studi Kasus di P10-2S, Delta Saleh desa Sri Mulyo, Kabupaten Banyuasin 4.1.6. Permasalahan usaha tani dan kondisi sarana prasarana 4.1.7. Pengelolaan muka air tanah, kebakaran hutan/ lahan, dan oksidasi lapisan sulfat masam 4.1.8. Pengelolaan muka air tanah/ saluran dan OperasiPemeliharaan jaringan/ Pemberdayaan petani/ kelompok/P3A
  47. 47. Provinsi Riau
  48. 48. Survai Tanah Mineral dan Gambut - Pemetaan Kondisi vegetasi rawa di lokasi Desa Pedamaran. Pengeboran di titik 77, vegetasi dominan pakis&perpat, kedalaman 3,5 m, karakteristik kematangan saprik-hemik Pengeboran dititik 47, vegetasi dominan kumpai&purun, kedalaman gambut 3,5 m, karakteristik kematangan saprik-hemik Lokasi survey yang ditanami padi sonor Kondisi lahan rawa yang terbakar Perkampungan nelayan Jungkal
  49. 49. Kedalaman Gambut Titik Pengeboran (500 m) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 0,00 -1,00 -3,00 -4,00 -5,00 -6,00 -7,00 Tanjung Serang – Talang Seridang Tujuh Titik Pengeboran (500 m) 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 0,00 -1,00 Ketebalan Gambut (m) Ketebalan Gambut (m) -2,00 -2,00 -3,00 -4,00 -5,00 -6,00 -7,00 -8,00 Pedamaran I – Jungkal
  50. 50. Pola Curah Hujan Bulanan dlm Setahun
  51. 51. Waktu (hari) Pasang Surut 7/1/2006 6/1/2006 5/1/2006 4/1/2006 3/1/2006 2/1/2006 1/1/2006 12/1/2005 11/1/2005 10/1/2005 9/1/2005 8/1/2005 7/1/2005 6/1/2005 5/1/2005 4/1/2005 3/1/2005 2/1/2005 1/1/2005 12/1/2004 11/1/2004 10/1/2004 9/1/2004 8/1/2004 Tinggi Muka Air (cm) Pasang Surut Sungai Musi Agustus 2004 - Juli 2006 4.0 3.5 3.0 2.5 2.0 1.5 1.0 0.5 0.0
  52. 52. Jaringan Reklamasi untuk Tata Air
  53. 53. Gambar. Lokasi pengamatan muka air tanah
  54. 54. jembatan, pintu, saluran di daerah reklamasi rawa sebelum di upgrade setelah di upgrade
  55. 55. Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober P8-12S -Telang I November Desember
  56. 56. Peralatan Monitoring Muka Air Tanah
  57. 57. kedalaman muka air ta M uk a air tanah di LU I pada pe tak te r s ie r 4, P10-2S pe r iode Agus tus 2004-Ok tobe r 2006 0. 800 0. 600 0. 400 0. 200 0. 000 1 31 61 91 1 1 2 1 51 1 1 8 21 1 24 27 30 33 36 39 42 45 48 51 1 54 571 60 63 66 69 72 75 1 78 81 1 -0.200 -0.400 -0.600 -0.800 -1.000 kedalaman muka air tanah -1.200 -1.400 Har i k e - M uk a air tanah di di LU II pada pe tak te r s ie r 12, P10-2S pe r iode Agus tus 2004-Ok tobe r 2006 0. 400 0. 200 0. 000 -0. 200 1 31 61 91 121 151 181 211 241 271 301 331 361 391 421 451 481 511 541 571 601 631 661 691 721 -0. 400 -0. 600 -0. 800 -1. 000 -1. 200 -1. 400 -1. 600 kedalaman muka air tanah H ar i k e - M uk a air tanah di lahan pe r alihan antar a LU I dan LU II pada pe tak te r s ie r 4, P10-2S pe r iode Agus tus 2004-Ok tobe r 2006 1.000 0.800 0.600 0.400 0.200 0.000 1 -0.200 -0.400 -0.600 -0.800 -1.000 Har i k e - 751 781 811
  58. 58. OT4.4 Waktu (hari) OT12.4 7/1/2006 6/1/2006 5/1/2006 4/1/2006 3/1/2006 2/1/2006 1/1/2006 12/1/2005 11/1/2005 10/1/2005 9/1/2005 8/1/2005 7/1/2005 6/1/2005 5/1/2005 4/1/2005 3/1/2005 2/1/2005 1/1/2005 12/1/2004 11/1/2004 10/1/2004 9/1/2004 8/1/2004 Kedalaman Muka Air Tanah (m) Fluktuasi Muka Air Tanah di P8-12S Delta Telang I Agustus 2004 - Juli 2006 0.400 0.200 0.000 -0.200 -0.400 -0.600 -0.800
  59. 59. OT4.4 Waktu (hari) OT12.4 7/1/2006 6/1/2006 5/1/2006 4/1/2006 3/1/2006 2/1/2006 1/1/2006 12/1/2005 11/1/2005 10/1/2005 9/1/2005 8/1/2005 7/1/2005 6/1/2005 5/1/2005 4/1/2005 3/1/2005 2/1/2005 1/1/2005 12/1/2004 11/1/2004 10/1/2004 9/1/2004 8/1/2004 Kedalaman Muka Air Tanah (m) Fluktuasi Muka Air Tanah di P10-2S Delta Saleh Agustus 2004 - Juli 2006 0.200 0.000 -0.200 -0.400 -0.600 -0.800 -1.000 -1.200 -1.400
  60. 60. Hidrotopografi lahan di Telang I, II dan Saleh
  61. 61. Lapangan Kerja di Sektor Pertanian Tanaman Pangan (Alat dan Mesin Pertanian – Alsintan)
  62. 62. Continuous Dryer milik UPGB Perum Bulog, di Desa Telang Karya Kegiatan pengolahan lahan II (garu), lokasi petak 7 Tc-07 P8-8S. Kondisi Tanaman MT II 2007 phase pematangan bulir Tc 07 P8-12S Kondisi tanaman jagung yang baik pertumbuhannya Petani yang sedang merontokkan gabah hasil panen singgang, di Petak 8 TC 9 P6-3N Ujicoba peralatan panen mekanis di P10-2S Perontokan padi dengan dikebut Olah tanah dengan traktor Kondisi tanaman pada Januari 2008 di Bintang Mas
  63. 63. Kondisi Lahan dan Tanaman Padi 7-8 ton/ha/Musim di Telang - Saleh – Tahun 2009 (Community based development)
  64. 64. 4.1.9. Kondisi sosial, budaya dan ekonomi masyarakat; pengembangan model usaha pertanian yang sesuai 4.1.10. Visi pembangunan daerah dan kelembagaan pendukung 4.1.11. Pengembangan model area untuk uji coba dan pemantauan; evaluasi, revisi model usaha pertanian dan pengembangan; pengumpulan data dan infromasi rawa 4.1.12. Forum komunikasi dan pembagian peran serta multipihak 4.1.13. Pemberdayaan petani dan kelompok; pengembangan sumberdaya manusia dan penguatan kapasitas kelembagaan petani, petugas, pemerintah 4.1.14. Penyusunan perencanaan partisipatif melalui komunikasi antar para pemangku kepentingan (stake holders) yang ada
  65. 65. Kunjungan/Temu Wicara di Tekarang, Sambas, Kalbar, 8 Juli dan 20 Nopember 2007
  66. 66. Pertemuan pembinaan P3A Sri Makmur oleh Tim Dep. PU dan Tim STLD di Blok Sekunder P6-3N. Pembangunan saluran tersier di Tekarang, Sambas. Gotong royong perbaikan dan pemeliharaan jalan usahatani di Blok Sekunder P6-3N. Diskusi dgn Martijn ke Bintang Mas Penyerahan akte P3A Tirta Guna Karya I oleh Bupati Banyuasin. Diskusi kelompok P3A dengan pak Haag di Bintang Mas. Koordinasi dengan Dinas PU Pengairan Kabupaten Banyuasin. Pelatihan Kelompok P3A di Bintang Mas, 13 Agustus 2007
  67. 67. Penggunaan IKONOS 1 m untuk Inventarisasi Kondisi Saluran
  68. 68. Tanaman Perkebunan
  69. 69. Transportasi
  70. 70. 4.2. PENGEMBANGAN PERTANIAN TERPADU BERBASIS KAWASAN (integrasi vertikal dan horizontal) Visi & Misi Kabupaten Banyuasin Rencana Strategis Kabupaten Banyuasin Sumberdaya Manusia Rencana Tata Ruang Data & Informasi Sumberdaya Buatan Program Utama Kabupaten Banyuasin Sumberdaya Alam IPTEK IMTAK Program 2003 - 2010 Sifat dan Ciri - Unggul Pendekatan Wilayah Teknologi Tepat Guna Partisipatif Berwawasan Lingkungan - Integral: Vertikal-Horizontal Berbasis Sumberdaya Alam Berorientasi Pasar Pemberdayaan Masyarakat Gambar . Contoh Mekanisme Pengembangan Program di Kabupaten Banyuasin pada tahun 2003 – 2010 Kebutuhan Masyarakat
  71. 71. Contoh Realisasi Pembangunan Pertanian Terpadu di Banyuasin Kemitraan PUSRI Darmaga Air Simpang PU Pilot Area IndonesiaBelanda 750 ha Darmaga Air di P8, Telang I Bank BRI Lumbung Desa Modern Deptan, P17 Telang II Puskesmas Terapung Perbaikan Tata Air UPGB Perum BulogRice Estate Peran Pupuk Organik Air Bersih & Sanitasi Darmaga Air di Gasing Agropolitan DepTrans di Muara Padang Kemitraan Swasta di P10- Telang I, 700 ha
  72. 72. INTEGRATED LOWLANDS MANAGEMENT APPROACH 1 2 Upland Land Water Air Types of Lowlands Characte -rization of Lowland s What is Lowland Dryland s Present Facts Lowlands non-tidal Degradation Estate/ Wood industry based Sustainability 1 1 Facts/ Character •Prosperity of People •Continuation on Lowland Dev + Man Proposed Activities 1 0 -Operation -Maintenance -Asesment -Monitoring -Evaluation -Replanning 9 PP Perda SK Laws Regulation Legal Aspects Tidal Condition Policies Institution Engineering Social Economic Distribution Tidal-Area Non-tidal Peat, non-peat Degraded/ rehabilitated Conservation Rice Coastal Fish Coconut Cor n Community Based Oil palm Coconut acacia 3 Existing Landuse/ activity Facts/ Character 4 Regional Planning (Integrated Planning & Management of Multi Sectors/ Multi Stakeholders) 6 5 7 Forest Ecotourism Conservation Fisheries (natural) Replanting Natural -Industry-Based • Wood industry • Oil-palm • Coconut • Fisheries/ Shrimp • Housing 4 Community Based •Transmigration •Food crops •Fisheries •Urban dev. •Housing INTEGRATED PLANNING Institution/ Infra Structures/ Finance/ Socio-Cultural (Road, Bridges, Jetties, Communication, Housing, Factories, Training Center, Bank, ................etc) 8
  73. 73. 4.3. PERAN PEMERINTAH (Pemerintah Kabupaten, Provinsi, Pusat)  Pemerintah daerah, khususnya Pemerintah Kabupaten/ Kota bersifat..merencanakan, menginisiasi, menggerakkan, mendukung, memantau, mengevaluasi program, melaksanakan program dan kegiatan di lapangan bersamasama dengan masyarakat.  Anggaran yang tersedia di Pemerintah Daerah pada umumnya lebih digunakan untuk mendukung kegiatan/ program kemasyarakatan/ sosial seperti pendidkan, pelayanan kesehatan.  Keterlibatan pihak swasta untuk mendukung kegiatan pembangunan melalui investasi langsung harus difasilitasi oleh Pemerintah Daerah.
  74. 74. DEGREE & NON DEGREE program collaboration National Planning Agency – Local Governments – Sriwijaya University NON – DEGREE pr ogr am: • Development Planning • Monitoring and Evaluation • Program and Project Management • Investment Planning • Management of Grant and Overseas Loan • Performance based Budget Planning • Planning of Coastal Areas DEGREE pr ogr am : MSi - MSc Double Degree on Integrated Lowland Development and Management
  75. 75. 4.4. PERAN DAN KETERLIBATAN PERGURUAN TINGGI
  76. 76. U N S R I F IR S T !! Y MEN A N UKA T P S TEN O I ME NUJ U V  ISI 202 0 SIVITAS AKADEM IKA, PEGAW AI & STAKEH OLDERS RENCANA STRATEGIS VISI, MISI dan TUJUAN PENGABDIAN PENELITIAN PENDIDIKAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
  77. 77. Pendampingan (1993-2013)  Task-Concept : Tim Pendamping terdiri dari tenaga ahli dan tenaga lapangan mengerjakan sendiri hal-hal yang dianggap perlu demi kelancaram kegiatan  Technical Assistance: Tim Pendamping memberikan bantuan teknis kepada pihak lain yang melakukan kegiatan terkait dengan usahatani padi terpadu  Dissemination of Info: Keterlibatan Tim pendamping pada kegiatan Lokal, Regional, Nasional, dan Internasional membantu penyebaran informasi
  78. 78. a) b) c) d) e) f) g) Kegiatan Pilot Monitoring Scheme (Guide Line Project): P6-3N, Telang,  Juni 2002- Mei 2004; Bantuan Teknis dan Pengembangan SDM Kabupaten Banyuasin dalam Perencanaan dan Pengembangan Daerah Rawa (2002 sampai sekarang); Rice Estate dan Unit Pengolahan Gabah dan Beras Perum Bulog (November 2002 sampai 2007); Panen Raya Rice Estate dan Kunjungan Presiden Republik Indonesia ke Telang I, Banyuasin (24 Maret 2003); Penyusunan Master Plan Sumatera Selatan Lumbung Pangan (2005); Land and Water Management Tidal Lowlands (LWMTL) Telang Saleh Juni 2004  Agustus 2006  (www.tidal-lowlands.org atau www.lowlands-info.org); Strengthening Tidal Lowlands Development di Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat Januari 2007 – Jun 2008; Lokakarya Sustainable Tidal Lowlands Development di Jakarta dan Delft, Belanda.
  79. 79. 1997-1998: Diseminasi, Promosi Penerjemahan buku Konservasi Tanah dan Air Penguatan kelompok keahlian, President YPF-INACID, Oxford, Inggris Pembentukan PPMAL LP Unsri , Penerjemahan buku Hidrologi Afro-Asian Regional Conf - IEC ICID, Bali 7th International Drainage Workshop, Malaysia
  80. 80. 4.4.1. Pengembangan Kualitas Pembelajaran (usaha dan dampak perubahan)    menyelesaikan pendidikan doktor (S3) dalam bidang Biological & Agricultural Engineeering (Water Management) di luar negeri pada tahun 1993, Staf Pengajar kembali mengajar di Jurusan/ Fakultas di Universitas Sriwijaya dan menangani laboratorium seperti laboratorium Fisika Tanah/ Konservasi Tanah dan Air. Selain itu, staf pengajar juga aktif menggerakkan kelompok kajian Manajemen Air dan Lahan yang terlibat dalam berbagai penelitian dan pengabdian masyakat khususnya di daerah rawa lebak dan pasang surut. Sambil mengajar, beberapa staf pengajar juga menterjemahkan beberapa buku teks berbahasa Inggris ke bahasa Indonesia (buku Fisika Tanah, Konservasi Tanah dan Air, dan Buku Hidrologi, Panduan Drainase) khususnya pada perioda 1993-1997. Selain itu, juga disiapkan beberapa panduan untuk pelaksanaan praktikum.
  81. 81. 2001-2002: Workshop Delta Mahakam Project Design Workshop on Swamp Management, CIDA ICID meeting, Seoul, Korea JICA – WUA Study di 2 propinsi Indonesia, Phase II: Setting the Action Plan Pelatnas Rawa I, April 2002 Workshop JICA KalBar, Mei Workshop Danau Sentarum, Kalbar, Juni ICID meeting, Montreal, Canada, Juli Workshop Drainage, Wageningen, Oktober Konsep Rice Estate diterima BULOG, November SEMI QUE I Pembentukan Kabupaten Banyuasin Plt. Ir. H. Amiruddin Inoed GWP ToolBox - IWRM,
  82. 82. Pengembangan Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia untuk Daerah Rawa ( Capacity Building & HRD on Lowlands ) Penelitian S1-S2-S3 Pelatihan dan Penyuluhan
  83. 83. Kegiatan mahasiswa
  84. 84. Dewan Riset Daerah Sumatera Selatan 2002-2004
  85. 85.  1997 : PPMAL Lembaga Penelitian Unsri,  “Young Professional dalam bidang Irrigation and Drainage” Komisi Internasional Irigasi dan Drainase di Cairo (1995), Inggris (1996) dan dipilih sebagai ‘President of the Young Professional Forum, International Commission on Irrigation and Drainage (ICID)” untuk perioda (1996-2000).  “Pusat Data dan Informasi Daerah Rawa dan Pesisir” mulai tahun 2000 yang bertepatan dengan Peringatan Hari Air sedunia, 23 Maret, 2000 - www.pusdatarawa.or.id  S1: Fisika tanah, Hidrologi, Irigasi dan Drainase, dan Pengelolaan Air (sejak tahun 1993) menjadi inti dalam bidang manajemen air dan lahan ; S2 di PPs Unsri: Kapita Selekta Pengelolaan Rawa, Pengelolaan Rawa dan Pesisir, Pengembangan Rawa Terpadu, Hidrologi Lahan Rawa (sejak tahun 2007) ; S3- Ekosistim Lahan Basah, Tata Air Daerah Rawa (sejak tahun 2007).  
  86. 86. 4.4.2 Pengembangan Keilmuan/ Keahlian Pokok (produktivitas dan makna karya ilmiah)      menerjemahkan buku ajar (Fisika Tanah, Konservasi Tanah & Air, Hidrologi, Petunjuk Drainase); pembuatan diktat (Pengukuran permeabilitas K - Tanah, Geohidrologi, Pengelolaan Lahan dan Air Rawa), penyampaian makalah pada berbagai Seminar Nasional dan Internasional tentang Rawa (di Jakarta, Kalbar, Kalsel, Kalteng, Jambi, Semarang, Surabaya; Utrecht, Wageningen, Belanda), berpartisipasi dalam Kongres Internasional Irigasi dan Drainase di berbagai negara sebagai anggota working group (Mesir, Inggris, Canada, Korea, Rusia, Spanyol, Malaysia) dan menulis di beberapa jurnal.
  87. 87. Delegasi Indonesia ke Moscow
  88. 88. 4.4.3. Peningkatan Kualitas Manajemen/ Pengelolaan Institusi (perubahan pengelolaan, implementasi kebijakan, dan dukungan institusi)  Kepala Laboratorium Fisika Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Unsri ( 1993-1996) pada saat yang sama adalah Kordinator Kelompok Kajian Manajemen Air dan Lahan di Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya.  Data dan informasi Daerah Rawa dan Pesisir mulai 1993 di Pusat Data dan Informasi Daerah Rawa dan Pesisir, thn 2000. Pusdatainfo Rawa ini dikelola oleh Kelompok Keilmuan Manajemen Air dan Lahan Rawa Universitas Sriwijaya bersama-sama dengan Dinas Instansi Pemerintah Daerah yang terkait (Dinas Pengairan, Dinas Pertanian, Proyek Pengembangan Daerah Rawa Sumatera Selatan).  Bagpro PKSDM) Dikti, Depdiknas: PPMAL Unsri - Pelatihan Nasional Rawa Dosen Perguruan Tinggi biaya Dikti, Depdiknas; 30 orang 2002 dan 32 orang 2003  Ditjen Pengairan, Departemen PU bekerjasama dengan Rijkwaterstaat dan Unesco-IHE, Belanda (tahun 2003) menyusun Panduan Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Rawa melalui Pengembangan dan Monitoring Daerah Reklamasi Rawa Pasang Surut,  Land and Water Managemenr Tidal Lowlands - 2004-2006  Strengthening Tidal Lowland Development 2007-2008
  89. 89. Tabel 7. Peserta Program Pelatihan Nasional Rawa untuk Pembangunan Berkelanjutan (kerjasama PPMAL-Unsri dengan Bagpro PKSDM DIKTI, Depdikbud) tahun 2002 dan 2003 Tahun Jumlah Peserta 2002 30 orang Univ. Syiahkuala, Univ. Andalas, IKIP Padang, Univ. Sumatera Utara), Univ. Jambi, Riau Univ. Riau, Univ. Bengkulu, Univ. Sriwijaya; Univ. Tridinanti, Univ. Lampung, Univ. Tanjung Pura, Univ. Lambung Mangkurat, Univ. Palangkaraya, Univ. Hasanuddin, Univ. Tadulako, Univ. Mataram 2003 32 orang Univ. Syiahkuala, Univ. Andalas, IKIP Padang, Univ. Sumatera Utara, Univ. Jambi, Univ. Riau, Univ. Bengkulu, Univ. Sriwijaya; Univ. Tridinanti, Univ. Lampung, Univ. Tanjung Pura, Univ. Lambung Mangkurat, Univ. Palangkaraya, Univ. Hasanuddin, Univ. Tadulako, Univ. Mataram Asal Peserta Keterangan Staf Peneliti/ Dosen dari Universitas Sriwijaya masih menjaga komunikasi dengan para peserta ini sampai saat ini. Seminar/ lokakarya/ pertemuan ilmiah/ email merupakan ajang komunikasi
  90. 90. Presiden RI Panen Raya di Telang I , Maret 2003 2003 – 2004 Pelatihan Rawa Nasional Angkatan II, Mei 2003
  91. 91. Penjelasan tentang Daerah Rawa, Telang I, Banyuasin, 24 Maret 2003 Presiden Republik Indonesia
  92. 92. Bantuan Teknis untuk Pemerintah Universitas Depdiknas PERUM BULOG Departemen Pertanian Dep. Kimpraswil Institut Pertanian Bogor
  93. 93. Mendampingi kunjungan Joint-Mission Belanda, 9 Okt 2003 – pra LWMTL & STLD
  94. 94. Hasil-hasil riset aksi dan pemberdayaan masyarakat pada kegiatan LWMTL ini di seminarkan dan didiskusikan di Jakarta, dengan diskusi akhir di di Delft, Belanda (27 Feb-3 Maret 2006). Kegiatan LWMTL ini kemudian direkomendasikan untuk dilanjutkan dan disebarkan juga di daerah lain, yaitu di Kabupaten Kubu Raya dan Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat, dalam bentuk kegiatan Strengthening Tidal Lowlands Develoment, STLD (Januari 2007 - Juni 2008) (www.tidal-lowlands.org/ www.lowlandsinfo.org).
  95. 95. Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut bersama TNI AD
  96. 96. Kalimantan Selatan – Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten Hulu Sungai Selatan
  97. 97. Foto-foto 2005-2006 – Golden Hope Malaysia
  98. 98. PROGRAM LINKAGE/ DOUBLE MASTER DEGREE INTEGRATED LOWLAND DEVELOPMENT DAN MANAGEMENT PLANNING (DDILDM)  Bappenas RI menetapkan program Double Master Degree Integrated Lowland Development and Management Plannning (DD-ILDM) oleh Universitas Sriwijaya bersama-sama dengan Unesco-IHE, Belanda.  Ada 17 program Double Degree Bappenas yang diselenggarakan di pulau Jawa (tahun 2007).  DD-ILDM satu-satunya program DD Bappenas RI yang diadakan di luar pulau Jawa.  Program Master DD-ILDM ini bertujuan untuk mendukung dan memperkuat kapasitas institusi perencanaan melalui peningkatan kompetensi tenaga perencana dalam bidang pengembangan dan perencanaan pengelolaan rawa terpadu ( Integrated Lowland Management ).
  99. 99. Pertemuan 3 pihak : Universitas Sriwijaya, Bappenas dan Netherland Education Center Palembang, 20 Juni 2006
  100. 100. Pertemuan antara Prof. Bart Schultz dengan Kapusdiklatren Bappenas; Direktur Pengairan dan Irigasi Bappenas Jakarta, 28 Agustus 2006
  101. 101. PENANDATANGANAN PROGRAM DD – ILDM UNIVERSITAS SRIWIJAYA–BAPPENAS–UNESCO-IHE JAKARTA 2006
  102. 102. Diploma Awarding the first 10 graduates on Integrated Lowland Development and Management Planning Delft, Netherlands, October 15, 2009
  103. 103. Tabel 8. Peserta Program S2 Linkage Integrated Lowland Development and Management, Universitas Sriwijaya, Unesco-IHE – Belanda, Bappenas, STUNED Angkatan Jumlah Peserta Asal Peserta Keterangan 2007/2009 12 Sumatera Barat (1), Sumsel (8), Jambi (1), Banten (1), Lampung (1) 10 org wisuda di Unesco-IHE, Belanda, 15 Okt 2009 12 org Wisuda di Unsri 2008/2010 10 Jakarta (2), Jawa Timur (1), Jawa Barat (2), Jawa Tengah (1), Lampung (1), Sumatera Selatan (2) 10 org sedang kuliah tahun kedua di Belanda sampai Februari 2011 2009/2011 11 Jakarta (4), Jawa Tengah (1), Jawa Timur (1), Lampung (1), Kepulauan Riau (1), Sumatera Selatan (3) 11 org kuliah di Unsri, dan akan ke Belanda, Oktober 2010 2010/2012 11 Jawa Timur (2), Jawa Tengah (1), Lampung (2), Kalimantan Barat (1), Sumatera Utara (1), Jambi (1), Sumatera Selatan (3) 11 orang akan mengikuti kursus bahasa Inggris (EAP) di Unsri, Juli 2010 – Januari 2011. Kuliah di Unsri Februari 2011. 2011/2013 10-15 dalam proses dalam proses penerimaan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding – MOU) antara Bappenas RI, Unsri, Unesco-IHE, dan MOU Unsri – Unesco-IHE untuk pendirian Linkage Program Integrated Lowland Development and Management Planning di Universitas Sriwijaya ditandatangani pada bulan Agustus 2006 di Bappenas RI Jakarta. Persiapan bahasa Inggris peserta angkatan pertama DD-ILDM dilakukan pada bulan April-Agustus 2007. Kuliah satu tahun pertama di Indonesia mulai bulan September 2007
  104. 104. Kunjungan ke India 28-31 Januari 2008 TERMINAL BATUBARA – POWER PLANT DENGAN REL KERETA API (Depo Peti Kemas & Batubara) SUMBER ENERGI BATUBARA Air Port PELABUHAN (Kapal; Cargo; Crane; Peti Kemas; Pipa Besi) MEETING (TAJ MAHAL & MUSEUM GANDHI)
  105. 105. REGIONAL REFRESHER SEMINAR climate change and coastal lowland development in (sub)-tropical environments Palembang, Indonesia, July 21-25, 2008 Tjg Api-Api P8-Telang I
  106. 106. Tabel 9. Peserta Regional Refresher Course on Climate Change and Coastal Lowlands Development in (sub) Tropical Environment , Universitas Sriwijaya, Palembang 21-25 July 2008 Pengajar/ peserta Jumlah Asal Keterangan Pengajar/ Panitia Teknis 12 orang Indonesia, Belanda, Amerika Serikat Pengajar adalah Dosen Unesco-IHE, Dosen Unsri, Staf Litbang PU Bandung Peserta Luar Negeri 18 orang Thailand, Vietnam, Philippine, Korea, Bangladesh, India, Staf/ Tenaga Ahli/ Pimpinan Lembaga berkaitan dengan Air di Negara Masing-masing Peserta Indonesia 11 orang Sumsel, Lampung, Bengkulu, Kalbar, Kalsel, Jawa Barat, DKI Jakarta, Mataram Staf Balai Besar/ Departemen Pekerjaan Umum Pengairan
  107. 107. REGIONAL REFRESHER SEMINAR climate change and coastal lowland development in (sub)-tropical environments Palembang, Indonesia, July 21-25, 2008 40 peserta Alumni IHE dr 9 negara Asia
  108. 108. Kunjungan ke PT Freeport Indonesia
  109. 109. PENANDATANGANAN KESEPAKATAN KERJASAMA ( COOPERATION AGREEMENT ) ANTARA PT FREEPORT INDONESIA DAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA DAN SEMINAR TENTANG PT FREEPORT INDONESIA Palembang, 23 Juli 2008
  110. 110. Kunjungan ke IRAN, 27 Mei 2008- 2 Juni 2008 KUNJUNGAN KE DEPUTI MENTERI ENERGI - IRAN KUNJUNGAN KE GILAN WATER RESOURCES COUNCIL IRAN, 28 MAY 2008 KUNJUNGAN KE UNIVERSITAS TEHRAN – IRAN, 27 MAY 2008 KUNJUNGAN KE PUSAT PENGEMBANGAN PERIKANAN IRAN KUNJUNGAN KE DAERAH LOWLANDSWETLANDS IRAN, 31 MAY 2008 SUASANA PERSAWAHAN PETANI PADI DI PROVINSI GILAN IRAN - 29 MEI 2008 BERSAMA DI KOTA LAHIJAN – DATARAN TINGGI IRAN IRAN, 29 MAY 2008 KUNJUNGAN KE GILAN UNIVERSITY – GILAN IRAN, 1 JUNE 2008 DISKUSI & SUASANA PERPISAHAN DI GILAN WATER RESOURCES COUNCIL IRAN, 2 JUNE 2008
  111. 111. Kunjungan Delegasi IRAN ke Palembang, Telang, 24-26 Agustus 2008
  112. 112. PROGRAM S3 – DOKTOR – ILMU-ILMU LINGKUNGAN (BKU Lingkungan Lahan Basah, BKU Agri-Industri-Energi, BKU Sosiologi Lingkungan) Tabel 10. Peserta Program Doktor Ilmu-ilmu Lingkungan pada Program Pascasarjana Universitas Sriwiijaya dan Gambaran Umum Penelitian Disertasi yang dilakukan Angkatan Jumlah Mahasiswa Kata Kunci Penelitian terkait Manejemen Rawa Asal Peserta Keterangan 2007/2009 11 orang - Tata Air dan Permodelan Pendaman karbon dan Hutan Tanaman Pengelolaan Limbah Kawasan Industri Penanganan Banjir Kota Adaptasi Arsitektur Bioremediasi lahan tercemar minyak bumi Keanekaragaman Hayati Suksesi alam pada pengendapan tambang Sumsel, sebagian besar mahasiswa sudah lulus ujian kualifikasi, proposal dan Penelitian; Rencana banyak yg dapat diwisuda pada akhir Tahun 2010 2008/2010 7 orang - Kesehatan Lingkungan Sedimentasi dan erosi Kerentanan Infrastruktur Bioenergi Pengelolaan limbah Aquaculture Sumsel, Sumbar 2009/2011 18 orang - Dalam proses penentuan penelitian disertasi dan penentuan Promotor – Co-promotor Sumsel, Bengkulu 2010/2012 24 orang diterima dari 36 orang - Sudah kuliah Smester I Sumsel, Jambi, Bengkulu, Medan
  113. 113. S3-Lingkungan PPs Unsri ke Telang
  114. 114. BEASISWA PROGRAM SANDWICH DIREKTORAT SUMBERDAYA MANUSIA - DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL No. Nama Lab/Universitas Tujuan 1 Bambang Yudono Unesco-IHE, Belanda 2 Setyo Nugroho Unesco-IHE, Belanda 3 Sumi Amariena Hamim Unesco-IHE, Belanda 4 Yuanita Windusari Unesco-IHE, Belanda 5 Satria Jaya Priatna UPM, Malaysia 6 Hasmawaty AR Curtin University of Technology, Australia 7 Yetty Hastiana Curtin University of Technology, Australia
  115. 115. Joint Educational Conference, Delft, Netherlands, June 28 – July 2, 2010  Addis Ababa Univ – Ethiopia, Ain Shams Univ – Egypt, AIT – Thailand, Bangladesh Univ. Eng. Tech, Bierzeit Univ. Palestine, Dundee Univ. Scotland, Egerton Univ. Kenya, Hohai Univ. Kenya, Kwame Nkrumah Univ. Scie. Tech. Ghana, Mondsee Inst. of Limnologi – Austria, Univ. of West Indies – Tobago Trinidad, Unesco-IHE Netherland, Univ. del Valle Colombia, Sriwijaya Univ. Indonesia, Univ. Dar es Salaam Tanzania, Univ. de Sao Paulo Brazil, Univ. of Zimbabwe, Water Resources Univ. Vietnam, Waternet Southern Africa
  116. 116. RENCANA KERJASAMA AKADEMIK DENGAN BERBAGAI UNIVERSITAS LUAR NEGERI dan EDUCATIONAL CONFERENCE on JOINT PROGRAM AT THE UNESCO-IHE, DELFT, NETHERLANDS, JUNE 28 - JULY 3, 2010
  117. 117. 4.4.4. Peningkatan Kualitas Kegiatan Mahasiswa (perubahan pengelolaan, implementasi kebijakan, dan dukungan institusi)    Wilayah Barat pada tahun 1997 dan 1999. Beberapa mahasiswa juga terlibat pada kegiatan pemberdayaan petani di laboratorium lapangan dan menjadi panitia ataupun peserta pada berbagai seminar dan lokakarya yang diselenggarakan. Mereka banyak belajar dan mengambil manfaat dari kegiatan-kegiatan ini. Lomba Penilaian Tanah Rawa untuk Mahasiswa S1 – Soil Judging Contest . Students Lowland Soil Judging Contest, dilakukan pada bulan Desember 2008, di Telang, Banyuasin, Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya menjadi tuan rumah dalam kegiatan ini. Berbagai kelompok mahasiswa ilmu tanah dari perguruan tinggi di Indonesia hadir dan berpartisipasi. Lima belas kelompok masingmasing terdiri dari 3 (tiga) mahasiswa dari UGM, IPB, Unpad, UNS, Unila, Unja, Usu, Unri, dan Unlam ikut berpartisipasi pada Lomba Penilaian Tanah Rawa.
  118. 118. 4.4.4. Peningkatan Kualitas Kegiatan Mahasiswa (perubahan pengelolaan, implementasi kebijakan, dan dukungan institusi) : Students Lowland Soil Judging Contest, Dec 2008, Telang, Banyuasin, South Sumatra 15 groups of 3 stdns from  UGM  IPB  Unpad  UNS  Unila  Unja  Usu  Unri  Unlam
  119. 119. 4.4.5. Peningkatan Pengabdian kepada Masyarakat (kegiatan dan implementasi perubahan, serta dukungan masyarakat)  Mulai tahun anggaran 2010 Universitas Sriwijaya mendapat kepercayaan dari Kementrian Pendidikan Nasional melalui Program Hibah Kompetisi Institusi (PHKI) Tema C untuk membantu Pemerintah Kabupaten Banyuasin melaksanakan pembangunan dan pengelolaan daerah rawa mendukung ketahanan pangan.  Program ini terdiri dari tiga pilar utama berupa: a) Pemantauan lahan rawa dan pengembangan sistim informasi, b) Pengembangan sarana prasarana mendukung pembangunan pertanian, dan c) Optimalisasi lahan rawa untuk pertanian pangan.
  120. 120. 4.5. Keterlibatan pihak BUMN/ BUMD, Swasta, dan Masyarakat  Penyediaan data dan informasi serta bantuan teknis untuk meningkatkan pemahaman berbagai pihak tentang daerah rawa ternyata bersifat sangat positif. Perum Bulog mendukung berdirinya Unit Pengolahan Gabah dan Beras (UPGB) di berbagai kawasan pertanian rawa, PT Pupuk Sriwijaya mendukung tersedianya pupuk bersubsidi, PT Pertani/ Sang Hyang Sri mendukung tersedianya benih berkualitas, BRI/ Bank Sumsel Babel berperan dalam menyediakan fasilitas keuangan untuk petani. Selain itu, berbagai fabrikan kimia pertanian dan obat-obatan juga secara mandiri terlibat dalam mendukung pengelolaan sistim usaha tani dalam bentuk penyediaan pupuk organik, herbisida, pestisida, dan berbagai hormon pertumbuhan tanaman
  121. 121. Batan Balit Padi Pemkab Banyuasin PERUM BULOG Komisi II DPR-RI Komisi III DPR-RI BPTP Sumsel- Deptan Australia & Korea Malaysia INS Dep. PU Universitas Sriwijaya Jepang Jerman PolyAgro Departemen Pertanian Institut Pertanian Bogor Belanda China Partisipasi Multi-pihak dalam Pengelolaan Rawa
  122. 122. Hari Air Sedunia – Maret 2010
  123. 123. V. KESIMPULAN DAN SARAN  Strategi pengelolaan rawa terpadu dan berkelanjutan untuk pertanian haruslah multidisplin lintas sektor dan bertahap.  Pengelolaan muka air tanah merupakan faktor kunci dalam keberhasilan pengelolaan daerah rawa untuk pertanian berkelanjutan.  Berbagai faktor terkait dengan pengelolaan air di tingkat lahan diantaranya adalah kondisi tanah, kondisi jaringan pengairan pada tingkat primer, sekunder dan tersier, sistim usaha tani yang dilakukan, keterlibatan petani dan kelompok, curah hujan, dan kondisi pasang surut air sungai di sekitar lokasi.  Penerapan integrasi ini cukup mampu meningkatkan produksi dari 3-4 ton GKP/ha/musim menjadi 7-8 ton GKP/ha/musim. Bahkan meningkatkan juga indeks pertanaman dari satu kali menjadi dua-tiga kali setahun. Prospek optimalisasi lahan seperti ini akan sangat menjanjikan untuk mendukung ketahanan pangan kalau dilakukan juga pada areal reklamasi rawa yang sudah ada di Indonesia (4.0 juta ha).
  124. 124. V. KESIMPULAN DAN SARAN  Pentingnya pengelolaan daerah rawa melalui optimalisasi lahan dan air untuk mendukung ketahanan pangan Indonesia melalui pengembangan dan pengelolaan lahan rawa secara terpadu sudah dapat dijelaskan dan digambarkan.  Selain itu, upaya pelestarian lingkungan lahan rawa juga merupakan hal yang harus diperhatikan dalam pengelolaan rawa.  Keberhasilan pembangunan pertanian lahan rawa tidak bisa hanya dilihat dari keberhasilan produksi (on farm) tetapi juga melihat kondisi penanganan panen, pasca panen, dan pemasaran (off farm) yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kesejahteraan petani  Untuk itu perlu dilakukan pengembangan dan pengelolaan rawa yang bersifat kawasan.
  125. 125. Teknologi Dana Data Pemkab Informasi Staf Teknis Model Area Model Area Pem Pusat SDM Swasta Center of Excellence RAWA : Pusdatainfo S. Pendukung Pemprov Program Masyarakat Program Model Area Masyarakat Dana SDM Tehnologi Lahan Air Kelembagaan ‘Center of Excellence’ Rawa sebagai penyedia data, informasi dan iptek bagi pelaku pengembangan dan pengelolaan daerah rawa (dilakukan sejak tahun 1999)
  126. 126. Dasar Teori Dasar Pengalaman Aspek-aspek Pembangunan -aspek sosial -aspek ekonomis -aspek teknis -aspek kelembagaan -……………….. Peran Universitas Sriwijaya Permasalahan dan Tantangan Konservasi & Pengembangan Lahan Rawa Kajian teoritis Kajian experimental ‘on farm-research’ ‘client oriented research’ Data, Hasil, Fenomena, Persepsi Interpretasi, Analisis, Evaluasi, Formulasi Ilmu, Teknologi, Seni dan Informasi Manajemen Sumberdaya Air dan Lahan Pengguna 1 Pengguna 2 Pengguna 3 Pengguna 4 Pengguna 5
  127. 127. Strategi perencanaan partisipatif dan pengelolaan sumberdaya rawa berbasis pertanian memerlukan:            a) pemetaan sebaran lahan rawa dan gambut, b) pemahaman kondisi iklim, hidrologi dan tata air; c) pemetaan lahan yang potensial dan potensial bersyarat untuk usaha tani; d) pemahaman kondisi sosial budaya masyarakat; e) gambaran permasalahan usaha tani dan kondisi sarana prasarana di setiap lokasi; f) pemahaman terhadap visi pembangunan daerah dan kelembagaan pemerintah pendukung; g) pengembangan model usaha pertanian; h) pengembangan model area untuk uji coba, i) evaluasi, revisi model dan pengembangan serta replikasi, j) pengumpulan data dan informasi yang ada dan membuatnya tersedia, k) menciptakan komunikasi dan pembagian peran serta multipihak, serta l) pengembangan sumberdaya
  128. 128. Perencanaan partisipatif dan tahapan-tahapan implementasi program ini perlu didiskusikan dan dikomunikasikan antar para pemangku kepentingan ( stake holders) yang ada melalui komunikasi personal, tatap muka, rapat, seminar, lokakarya, ataupun pertemuan lapang. Selain itu upaya pengembangan dan pengelolaan rawa untuk pertanian berkelanjutan dimaksud perlu memperhatikan tiga hal utama yaitu:    a) Adaptasi tanaman dan pola tanam dengan kondisi alam dan lingkungan; b) Rekayasa lingkungan agar sesuai kebutuhan tanaman; c) Kombinasi antara adaptasi tanaman dan rekayasa lingkungan. Sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk mendukung optimalisasi lahan rawa perlu dikaji dan dibuat peta kebutuhannya agar dapat juga dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan tersedianya anggaran.
  129. 129.  Untuk itu dirasakan perlu adanya pembangunan pertanian rawa terpadu berbasis kawasan secara berkelanjutan dengan keterlibatan masyarakat, pemerintah daerah, swasta, dan perguruan tinggi yang ada di masing-masing lokasi.  Keterpaduan ini hendaknya bersifat vertikal (tanam olah petik jual/ hulu tengah hilir) dan horizontal (antar sektor yang terlibat). Forum komunikasi berbagai pelaku pembangunan di lahan rawa perlu diciptakan berupa komunikasi personal, seminar, lokakarya, rakorbang, temu lapang, kuliah lapang.  Pemahaman tentang pengelolaan dan pengembangan lahan rawa yang baik dirasakan perlu untuk disebarluaskan ke tempat lain yang sesuai mengingat terdapat kurang lebih 150 kabupaten/ kota rawa di Indonesia
  130. 130. SARAN  Pendekatan Bottom-up dan Top-Down harus dikombinasikan  Keberlanjutan Program  Pendekatan Kawasan dalam Pengembangan dan Pengelolaan Daerah Rawa dan Gambut  Pendekatan Multi Fungsi lebih baik dari Pendekatan Satu Fungsi.  Kegiatan Panitia ‘ad-hoc’ atau Pokja dan ‘Kegiatan yang terinstitusionalisasi”
  131. 131. Perbandingan dua pola kerja : 1993 - 2010 ? thn 17 ? DOKTOR ? ? 15 12 9 S2 (3- 8 th) ? S2 (0-3 th) S1 (5-10 th) ? S1 (2-5 th) 6 3 S1 (0-1 th) 0 Mhs S1 Gambar 1. Filosofi mencari dalam Pengembangan Gambar 2. Filosofi Penguatan Internal
  132. 132. Universitas Sriwijaya pada dasawarsa Universitas Sriwijaya pada dasawarsa kedua abad ke 21: kedua abad ke 21: Visi 2020 Universitas Sriwijaya (statuta 2003) ••merupakanperguruan tinggi terkemuka merupakan perguruan tinggi terkemuka di Indonesia yang berbasis riset, di Indonesia yang berbasis riset, ••memiliki keunggulan di berbagai memiliki keunggulan di berbagai cabang ilmu, khususnya di bidang cabang ilmu, khususnya di bidang pengembangan sumber daya alam; pengembangan sumber daya alam; ••menghasilkan manusia yang menghasilkan manusia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkualitas, berakhlak tinggi, Esa, berkualitas, berakhlak tinggi, berbudaya, bersemangat ilmiah, dan berbudaya, bersemangat ilmiah, dan menguasai serta mampu menguasai serta mampu mempergunakan ilmu pengetahuan, mempergunakan ilmu pengetahuan, teknologi, informasi, dan kesenian teknologi, informasi, dan kesenian untuk meningkatkan kesejahteraan untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia. umat manusia.
  133. 133. Penutup “Dunia pendidikan asyik dengan dirinya sendiri. Dunia pendidikan seolah-olah menghadapi barang mati.   Padahal, yang dihadapinya itu punya jiwa dan ruh.   Belum tercipta komunikasi interaktif dalam dunia pendidikan.   Dunia pendidikan seolah memainkan perannya sendiri saja. Ketika produknya harus berkiprah di tengah masyarakat, menjadi canggung dan tak berdaya” (Prof. Dr. Malik Fajar, Republika, 6 November 2001)
  134. 134. Saat awal datang: Foto di Mess Pertiwi Plbg 1985

×