Your SlideShare is downloading. ×
  • Like
05110095
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×

Now you can save presentations on your phone or tablet

Available for both IPhone and Android

Text the download link to your phone

Standard text messaging rates apply
Published

;;

;;

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
972
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
24
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. PENDIDIKAN NILAI DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM (STUDI ANALISIS NOVEL LASKAR PELANGI) SKRIPSI diajukan oleh: Nurul Lahir Sari Ifa NIM: 05110095PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG April, 2009
  • 2. PENDIDIKAN NILAI DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM (STUDI ANALISIS NOVEL LASKAR PELANGI) SKRIPSIDiajukan Kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) diajukan oleh: Nurul Lahir Sari Ifa NIM: 05110095 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG April, 2009 ii
  • 3. Kupersembahkan Skripsi Ini Teruntuk: Allah Swt & Rasulullah Saw Ya Allah Engkaulah Dzat yang telah menciptakanKu, memberikan karunia nikmat yang takterhingga, melindungiku, membimbingku dan mengajariku dalam kehidupanku, Serta Wahai Engkau ya Rasulullah ya habiballah yang telah memberikanku pengetahuan akan ajaran Tuhanku dan membawaku dari jurang kejahilan menuju kehidupan yang terang benderang. Ayah dan Ibu Tercinta Yang telah berjuang dengan penuh keikhlasan, yang telah menorehkan segala kasih dan sayangnyadengan penuh rasa ketulusan yang tak kenal lelah dan batas waktu. Special FoR My Mam Engkaulah Inspirasiku di saat aku rapuh & ketika semangatku memudar. Bapak Trio Supriyatno, M. AgYang telah membimbing penulis sehingga dapat terselesaikan rangkaian skripsi ini dan semua dewan guru / dosen UIN Malang yang telah mengajari penulis dengan setiap jiwa yang dengan ilmunya penulis menjadi tahu. Andrea Hirata Yang dengan karyanya telah memberikan ispirasi ku untuk berkarya khususnya dalam pembuatanskripsi ini. Wahai karya sastra “novel laskar pelangi” wujudmu bagaikan dewa penolongku, tanpamumatilah imajinasiku, jiwaku haus untuk membacamu mesti larut menemaniku, namun ini tiada beban bagiku untuk mewududkan harapanku. Saudara-saudaraku TercintaMuhammad Nasihin (Kakak kandungku), Irawati, ida, Novi Erna Nofitasari, Nur Jannah, Ana Azkiya Nabila, Pak Agus & Mbak Rohmah, Nurus Saadah, Kak Ruri (yang setia dalam sebuah penantian), Keluarga Besar Bani Tasyim, Dan Keluarga Besar Pondok Pesantren Nurul Jadid. Teman-teman Seperjuangan:Genk’s Ardisia (Aminatus Saidah, Maria Ulfa, Nur Fitria, Iin Aisyah) dalam rangkuman persahabatan ini, segala pikiran, hasrat, dan keinginan terlahirkan bersama dengan sukacita yang utuh, pun tiadaterkirakan. Me2y & Ruro dua si joli dari Madura yang selalu dekat di hati sekalipun jauh hakikatnyakalian emang koncoku yang tokcer abis. Konco-konco Kertorejo 15 A (Al Fitriyah, Mbak Titin, Nida, Lulu, Icha, & yayik), Keluarga Besar HMJ, PMII Condro D, IMADE, HIMALAYA dan UKMPramuka , Serta semua Sahabat - sahabat yang telah dengan rela membantu hingga skripsi ini selesai, Thank’s For All…?!! Dari Nama-nama yang dimaksud di atas Mudah - mudahan amal baktinya diterima oleh Allah SWT, Amin amin…!!! iii
  • 4. MOTTOArtinya: Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. (QS. Al-A’raf: 199) (Diambil dari : Al Quran Dan Terjemahannya, Depag RI, 1974) iv
  • 5. Drs. Triyo Supriyatno, M. AgDosen Fakultas TarbiyahUniversitas Islam Negeri MalangNOTA DINAS PEMBIMBINGHal : Skripsi Nurul Lahir Sari Ifa Malang, 10 Maret 2009Lampiran : 4 (Empat) EksemplarKepada Yth.Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malangdi MalangAssalamualaikum Wr. Wb. Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan, baik dari segi isi, bahasamaupun teknik penulisan, dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut dibawah ini: Nama : Nurul Lahir Sari Ifa NIM : 05110095 Jurusan : Pendidikan Agama Islam Judul Skripsi : Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pendidikan Islam (Studi Analisis Novel Laskar Pelangi)Maka selaku Pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layakdiajukan untuk diujikan.Demikian, mohon dimaklumi adanya.Wassalamualaikum Wr. Wb. Pembimbing, Drs. Triyo Supriyatno, M. Ag NIP. 150 311 702 v
  • 6. HALAMAN PERSETUJUANPENDIDIKAN NILAI DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM (STUDI ANALISIS NOVEL LASKAR PELANGI) SKRIPSI Oleh: Nurul Lahir Sari Ifa Nim: 05110095 Telah Disetujui Pada Tanggal 10 Maret 2009 Oleh: Dosen Pembimbing: Drs. Triyo Supriyatno, M. Ag NIP. 150 311 702 Mengetahui, Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Drs. H. Moh. Padil, M. Pd NIP. 150 267 235 vi
  • 7. SURAT PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan, bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karyayang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruantinggi, dan sepanjang sepengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapatyang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulisdiacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Malang, 10 Maret 2009 Nurul Lahir Sari Ifa vii
  • 8. HALAMAN PENGESAHANPENDIDIKAN NILAI DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM (STUDI ANALISIS NOVEL LASKAR PELANGI) SKRIPSI Dipersiapkan dan Disusun Oleh Nurul Lahir Sari Ifa ( 05110095 ) Telah Dipertahankan di Depan Dewan Penguji Pada Tanggal 13 April 2009 dengan nilai A dan Telah Dinyatakan Diterima Sebagai Salah Satu Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) Pada Tanggal: 13 April 2009 Panitia Ujian Ketua Sidang, Sekretaris Sidang / Pembimbing, Muhammad Walid, MA M. Amin Nur, MA NIP. 150 310 896 NIP. 150 327 263 Pembimbing Penguji Utama Drs. Triyo Supriyatno, M. Ag Dr. H. Baharuddin, M. Pd. I NIP. 150 311 702 NIP. 150 215 385 Mengesahkan, Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang Prof. Dr. H. M. Djunaidi Ghony NIP. 150 042 031 viii
  • 9. KATA PENGANTAR Segala syukur penulis panjatkan kepada Rabbul Izzati yang telah mengaturroda kehidupan pada porosnya dengan keteraturannya, dan semoga hanya kepada-Nyalah kita menundukkan hati dengan mengokohkan keimanan dan Izzah kitadalam keridhoan-Nya. Karena berkat Rahman dan Rahim-Nya pula skripsi yangberjudul ”Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pendidikan Islam (StudiAnalisis Novel Laskar Pelangi” dapat terselesaikan dengan baik. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada sang pejuangsejati kita, yaitu Rasulullah Muhammad SAW, karena atas perjuangan beliau kitadapat merasakan kehidupan yang lebih bermartabat dengan kemajuan ilmupengetahuan yang didasarkan pada iman dan Islam. Dengan penuh ketulusan hati, penulis menyampaikan ucapan terima kasihyang sebesar–besarnya dan teriring do’a kepada semua pihak yang telahmembantu demi kelancaran penulisan skripsi ini. Secara khusus penulissampaikan kepada yang terhormat:1. Ayahanda dan Ibunda (Slamet Ahadun (Alm), Muhammad Suwono & Siti Julaikha) tercinta yang dengan sabar telah membimbing, mendo’akan, mengarahkan, memberi kepercayaan, kerja keras, dan keagungan doa serta pengorbanan materi maupun spiritual demi keberhasilan penulis dalam menyelesaikan studi di Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.2. Bapak Prof. Dr. H. Imam Suprayogo selaku Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Malang beserta stafnya yang telah memberikan fasilitas selama proses belajar mengajar3. Bapak Prof. Dr. H. M. Djunaidi Ghony selaku Dekan fakultas Tarbiyah ix
  • 10. 4. Bapak Drs. H. Moh. Padil M. Pd.I Selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam beserta stafnya atas bantuan yang selama ini diberikan kepada penulis dan kerja kerasnya dalam mengemban amanah.5. Bapak Drs. Triyo Supriyatno, M. Ag selaku dosen pembimbing skripsi atas kesabaran, ketelitian, motivasi, masukan, dan keikhlasan dalam meluangkan waktu, tenaga dan pikiran guna membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini dengan baik melalui media e-mail.6. Semua pihak yang telah membantu menyelesaikan skripsi ini baik secara spiritual, moril, maupun materiil. Semoga segala bantuan yang diberikan kepada penulis tercatat sebagaiamal shalih yang diterima oleh Allah SWT. Ada pepatah yang mengatakan tiada gading yang tak retak, begitu jugadengan karya tulis ini, tentu masih banyak kekurangan dan kelemahan. Olehkarena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif demikesempurnaan skripsi ini dan guna perbaikan penulis selanjutnya. Akhirnya, semoga Allah SWT memberikan manfaat bagi penulis dan bagisiapapun yang membacanya. Amin Ya Robbal’Alamin.... Malang, 10 Maret 2009 Penulis, Nurul Lahir Sari Ifa x
  • 11. DAFTAR TRANSLITERASI Dalam naskah skripsi ini dijumpai nama dan istilah teknis yang berasaldari bahasa Arab ditulis dengan huruf latin. Pedoman transliterasi yangdipergunakan untuk penulisan tersebut adalah sebagai berikut :A. Konsonan ‫ا‬ = tidak dilambangkan ‫ض‬ = dl ‫ب‬ = b ‫ط‬ = th ‫ت‬ = t ‫ظ‬ = dh ‫ث‬ = ts ‫ع‬ = ‘ (koma menghadap keatas) ‫ج‬ = j ‫غ‬ = gh ‫ح‬ = h ‫ف‬ = f ‫خ‬ = kh ‫ق‬ = q ‫د‬ = d ‫ك‬ = k ‫ذ‬ = dz ‫ل‬ = l ‫ر‬ = r ‫م‬ = m ‫ز‬ = z ‫ن‬ = n ‫س‬ = s ‫و‬ = w ‫ش‬ = sy ‫ئ‬ = h ‫ص‬ = sh ‫ي‬ = y xi
  • 12. Hamzah ( ‫ء‬ ) yang sering dilambangkan dengan alif, apabila terletakdiawal kata maka dalam transliterasinya mengikuti vokalnya, tidak dilambangkan,namun apabila terletak ditengah atau akhir kata maka dilambangkan dengan tandakoma diatas ( ’ ), berbalik dengan koma ( ‘ ), untuk penganti lambang “ ‫ع‬ ”.B. Vokal, panjang dan diftong Setiap penulisan bahasa Arab dalam bentuk tulisan latin vocal fathah ditulis dengan “a”, kasrah dengan “i”, dlommah dengan “u”, sedangkan bacaan panjang masing-masing ditulis dengan cara berikut ; Vocal (a) panjang = a^ Vocal (i) panjang = i^ Vocal (u) panjang = u^ Khusus untuk bacaan ya’ nisbat, maka tidak boleh digantikan dengan “i”, melainkan tetap ditulis dengan “iy” agar dapat menggambarkan ya’ nisbat diakhirnya. Begitu juga suara diftong, wawu dan ya’ setelah fathah ditulis dengan “aw” dan “ay”. Misalnya Qawlun dan khayrun.C. Ta’marbuthah ( ‫ة‬ ) Ta’marbuthah ditransliterasikan dengan “t” jika berada ditengah- tengah kalimat, akan tetapi apabila Ta’marbuthah tersebut berada diakhir kalimat, maka ditransliterasikan dengan menggunakan “h” misalnya al-risalat li al-mudarrisah, atau apabila berada ditengah-tengah kalimat yang terdiri dari susunan mudlaf dan mudlaf ilayh, maka ditransliterasikan dengan xii
  • 13. menggunakan "t" yang disambungkan dengan kalimat berikutnya, misalnya fi rahmatillah.D. Kata Sandang dan lafdh al-Jalalah Kata sandang berupa “al” ( ‫ ) ا ل‬ditulis dengan huruf kecil, kecuali terletak diawal kalimat, sedangkan “al” dalam lafdh jalalah yang berada ditengah-tengah kalimat yang disandarkan (idhafah) maka dihilangkan. Misalnya Al-Imam al-BukhariyE. Nama dan Kata Arab Terindonesiakan Pada prinsipnya setiap kata yang berasal dari bahasa Arab harus ditulis dengan menggunakan system Transliterasi ini, akan tetapi apabila kata tersebut merupakan nama Arab dari orang Indonesia atau bahasa Arab yang sudah terindonesiakan, maka tidak perlu ditulis dengan menggunakan system translitersi ini. Contoh: Abdurrahman Wahid, Salat, Nikah xiii
  • 14. DAFTAR TABELTabel I : Paparan Data Nilai-Nilai Yang Terdapat Dalam Novel Laskar Pelangi…………………………………………………………...84Tabel II : Paparan Data Metode Pengajaran Nilai Yang Terkandung Dalam Novel Laskar Pelangi…………………………………………...103Tabel III : Paparan Data Nilai-Nilai Yang Dapat Dikembangkan Dalam Pendidikan Islam……………………………………………….106 xiv
  • 15. DAFTAR GAMBARGambar I : Sepuluh Murid-murid Sekolah Muhammadiyah (Lintang, Ikal, Mahar, Trapani, Kucai, Sahara, Harun, Samson, A kiong, dan Syahdan).Gambar II : Ibu N.A. Muslimah Hafsari atau Bu Mus.Gambar III : Andrea Hirata (Pengarang Novel Laskar Pelangi) dan dalam novelnya digambarkan sebagai tokoh Ikal.Gambar IV : Cover Laskar Pelangi Edisi Lama (Kiri) dan Edisi Baru (Kanan) xv
  • 16. DAFTAR LAMPIRANLampiran 1 : Bukti KonsultasiLampiran 2 : Bukti Konsultasi Via E-mailLampiran 3 : Profile Andrea Hirata (Penulis Novel Laskar Pelangi)Lampiran 4 : Sinopsi Novel Laskar PelangiLampiran 5 : Novel Laskar Pelangi Karya Andrea HirataLampiran 6 : Daftar Riwayat Hidup xvi
  • 17. DAFTAR ISIHALAMAN SAMPUL......................................................................................iHALAMAN JUDUL .........................................................................................iiHALAMAN PERSEMBAHAN ......................................................................iiiHALAMAN MOTTO ......................................................................................ivHALAMAN NOTA DINAS..............................................................................vHALAMAN PERSETUJUAN ........................................................................viHALAMAN PERNYATAAN.........................................................................viiHALAMAN PENGESAHAN........................................................................viiiKATA PENGANTAR......................................................................................ixHALAMAN TRANSLITERASI ....................................................................xiDAFTAR TABEL ..........................................................................................xivDAFTAR GAMBAR.......................................................................................xvDAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................xviDAFTAR ISI..................................................................................................xviiHALAMAN ABSTRAK ................................................................................xxiBAB I PENDAHULUAN.................................................................................1 A. Latar Balakang .................................................................................1 B. Rumusan Masalah ............................................................................5 C. Tujuan Penelitian..............................................................................5 D. Manfaat Penelitian ...........................................................................6 E. Ruang Lingkup Penelitian ................................................................7 xvii
  • 18. F. Definisi Operasional .........................................................................8 G. Sistematika Pembahasan ..................................................................9BAB II KAJIAN PUSTAKA ..........................................................................11 A. Novel..............................................................................................11 1. Pengertian Novel ........................................................................11 2. Karakteristik Novel ....................................................................12 3. Ciri-ciri Novel ............................................................................14 4. Unsur-unsur Novel .....................................................................16 5. Bentuk-bentuk Tulisan Novel ....................................................23 6. Peran Novel ................................................................................26 B. Konsep Dasar Pendidikan Nilai .....................................................27 1. Definisi Dan Orientasi Pendidikan Nilai....................................27 2. Landasan Pendidikan Nilai ........................................................32 3. Klasifikasi Pendidikan Nilai ......................................................51 C. Pengembangan Pendidikan Islam...................................................56 1. Pengertian Pengembangan Pendidikan Islam............................56 2. Orientasi Pengembangan Pendidikan Islam ..............................59 D. Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pendidikan Islam...........61 1. Pendidikan Nilai Dalam Pendidikan Agama Islam ...................61 2. Pendidikan Nilai Dalam Bingkai Cerita dan Kisah Sebagai Bentuk Pengembangan Pendidikan Islam .................................63 3. Kontribusi Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pendidikan Islam .......................................................................65 xviii
  • 19. BAB III METODE PENELITIAN ................................................................67 A. Pendekatan Penelitian ..................................................................67 B. Data Dan Sumber Data ................................................................68 C. Teknik Pengumpulan Data...........................................................69 D. Instrumen Penelitian ....................................................................70 E. Analisis Data................................................................................71 F. Teknik Pemeriksaan Keabsahan data ..........................................74BAB IV HASIL PENELITIAN......................................................................76 A. Deskripsi Unsur-unsur Novel Laskar Pelangi .............................76 B. Deskripsi Nilai-nilai yang Terdapat dalam Novel Laskar Pelangi .........................................................................................83 C. Deskripsi Metode Pengajaran Nilai yang Terkandung dalam Novel Laskar Pelangi.................................................................102 D. Deskripsi Nilai-nilai yang Dapat Dikembangkan dalam Pendidikan Islam...........................................................................................105BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN.......................................114 A. Pembahasan Hasil Analisis Nilai-nilai yang Terdapat dalam Novel Laskar Pelangi............................................................................114 B. Pembahasan Hasil Analisis Metode Pengajaran Nilai yang Terkandung dalam Novel Laskar Pelangi..................................138 C. Pembahasan Hasil Analisis nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam .............................................................141 xix
  • 20. D. Pembahasan Hasil Analisis kontribusi Pendidikan Nilai dalam Novel Laskar Pelangi terhadap Pengembangan Pendidikan Islam ......158BAB VI PENUTUP ......................................................................................162 A. Kesimpulan ...............................................................................162 B. Saran ..........................................................................................165DAFTAR PUSTAKALAMPIRAN-LAMPIRAN xx
  • 21. ABSTRAKIfa, Nurul, Lahir Sari. Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pendidikan Islam(Studi Analisis Novel Laskar Pelangi). Skripsi. Jurusan Pendidikan Agama Islam,Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri Malang. Pembimbing Drs. TriyoSupriyatno, M. Ag. Rendahnya mutu Pendidikan Nasional disebabkan oleh kelemahanpendidikan dalam membekali kemampuan akademis kepada peserta didik. Lebihdari itu ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu kurangnya pendidikan nilaisecara bermakna. Hingga sekarang, dunia pendidikan masih diwarnai perilakusiswa membolos, berkelahi atau tawuran, mencuri dan menganiaya, hinggamengkonsumsi minuman keras dan narkotika. Bahkan sudah ada gejala peredaranadegan porno yang diperankan oleh para pelajar. Fenomena ini tentunya tidakakan terjadi apabila orang tua dan lembaga pendidikan berhasil mengajarkan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Novel Laskar Pelangi merupakan salah satu novel yang isi pesannyamengandung unsur pendidikan nilai. Disinilah, penulis tergugah ingin menelitidan menganalisis novel ini. Adapun judul penelitian ini adalah Pendidikan NilaiDalam Pengembangan Pedidikan Islam (Studi Analisis Novel Laskar Pelangi).Sedangkan rumusan masalahnya yaitu nilai-nilai apa saja yang terkandung dalamnovel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, bagaimana metode pengajaran nilaiyang terkandung dalam novel Laskar Pelangi, nilai-nilai apa saja terkandungdalam novel Laskar Pelangi yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam,dan apa kontribusi pendidikan nilai dalam novel Laskar Pelangi terhadappengembangan pendidikan Islam. Dalam prakteknya, penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptifkualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif yangberupa kata-kata tertulis dan bukan angka. Dengan demikian, laporan penelitianakan berisi kutipan-kutipan data untuk memberikan gambaran penyajian laporantersebut. Kutipan-kutipan data yang disajikan dalam penelitian ini ditegaskandalam bentuk lampiran tabel pemaparan data yang diperoleh dari pemahamanmakna yang terdapat pada setiap kata, kalimat, paragraf, teks. Dari pemahamanmakna secara keseluruhan, dilakukan penafsiran dan pengkategorian data yangterkandung dalam novel Laskar Pelangi. Penggumpulan data penelitian ini menggunakan metode denganmenggunakan analisis konten (Content Analysis). Maka kegiatan yang dilakukanadalah pemberian makna pada paparan bahasa berupa (1) paragraf-paragraf yangmengemban gagasan tentang Nilai-nilai yang terkandung dalam novel LaskarPelangi karya Andrea Hirata, (2) paragraf-paragraf yang mengandung gagasantentang metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel Laskar Pelangi, (3)paragraf-paragraf yang mengemban gagasan tentang nilai-nilai yang dapatdikembangkan dalam pendidikan Islam, dan (4) paragraf-paragraf yangmengemban gagasan tentang kontribusi pendidikan nilai dalam novel LaskarPelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam. Pemahaman dan analisis xxi
  • 22. tersebut dilakukan melalui kegiatan membaca, menganalisis dan merekonstruksi.Dalam melakukan pemaknaan data peneliti harus memiliki dasar pengetahuan danpengalaman tentang klasifikasi pendidikan nilai, metode ngajar pendidikan nilai,nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan Islam dan kontribusi pendidikannilai dalam pengembangan pendidikan Islam sesuai acuan teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai yang terdapat dalam novelLaskar Pelangi karya Andrea Hirata terbagi menjadi tiga kalsifikasi yaitu nilaipersonal, nilai sosial, dan nilai estetika. Sedangkan metode pengajaran nilai yangterkandung dalam novel Laskar Pelangi adalah metode bercerita dan kisah.Kemudian nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam yangterdapat dalam novel Laskar Pelangi adalah nilai aqidah, nilai syariah dan nilaiakahlak atau budi peketi. Dan kontribusi pendidikan nilai dalam novel LaskarPelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam adalah memberikan kontribusiberupa konstruksi ideologi nilai-nilai Islam. Adanya konstruksi idelogi nilai-nilaiIslam tersebut, juga merupakan salah satu sumbangsi dalam meningkatkankualitas layanan pendidikan Islam untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas,yang berbekal pengetahuan, pribadi yang Islami, dan kompentensi ungul yangdibangun oleh seluruh sinergi positif. Oleh karena itu, menurut hemat penulis, nilai-nilai yang terdapat novelLaskar Pelangi baik nilai personal, nilai sosial, nilai seni, nilai aqidah, nilaisyariah, nilai akahlak (budi pekerti) merupakan nilai-nilai yang dapat ditanamkanatau diajarkan di setiap lembaga pendidikan. Namun secara khusus untuk nilaiaqidah, syariah, dan akahlak (budi pekerti) lebih sesuai jika dikembangkan padaPendidikan Islam, karena ketiga nilai tersebut merupakan pokok ajaran dalamIslam. Maka dari itu, pendidikan Islam memiliki peranan penting dalammengembangkan nilai-nilai tersebut, sebagai upaya untuk memanifestasikan ataumengejawantahkan nilai-nilai Islam, baik nilai-nilai ketuhanan maupun nilai-nilaikemanusiaan, melalui kegiatan pendidikan sebagaimana tercakup dalam praktikpendidikan Islam. Dan hal ini akan dapat membantu pengembangan pendidikanIslam untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan.Kata kunci: Novel Laskar Pelangi, Pendidikan Nilai, PengembanganPendidikan Islam xxii
  • 23. BAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang Masalah Novel laskar pelangi merupakan sebuah produk karya sastra yang mencakup nilai-nilai karya cipta kreasi yang mengandung nilai-nilai keindahan. Nilai-nilai karya sastra tersebut bersumber dari kenyataan- kenyataan yang hidup dan selalu berkembang di masyarakat sebagai bentuk realitas yang objektif. Novel karya sastra yang ditulis oleh Andrea Hirata ini mengandung esensi yang didalamnya banyak memberikan representasi tentang pendidikan nilai. Dari representasi inilah, maka penulis merasa ingin melakukan penyelidikan (analisis) terhadap novel laskar pelangi. Adapun bagian isi novel yang menunjukkan hal itu adalah; Pak Harfan memberikan pelajaran pertama kepada sepuluh muridnya tentang keteguhan pendirian, tentang ketekunan, tentang keinginan kuat untuk mencapai cita-cita. Beliau meyakinkan sepuluh muridnya bahwa hidup bisa demikian bahagia dalam keterbatasan jika dimaknai dengan keikhlasan berkorban untuk sesama. Lalu beliau juga menyampaikan sebuah prinsip yang diam-diam menyelinap jauh ke dalam dada serta memberikan arah bagi murid-muridnya hingga dewasa, yaitu bahwa hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya1 Sejak kecil aku tertarik untuk menjadi pengamat kehidupan dan sekarang aku menemukan kenyataan yang mempesona dalam sosiologi lingkungan kami yang ironis. Disini ada sekolahku yang sederhana, para sahabatku yang melarat, orang Melayu yang terabaikan, juga ada orang staf dan sekolah PN yang glamor, serta PN Timah yang gemah rimpah dengan Gedong, tembok feodalistisnya. Semua elemen itu adalah perpustakaan berjalan yang memberiku pengetahuan baru setiap hari2 1 Andrea Hirata, Laskar Pelangi (Yogyakarta: PT Bentang Pustaka, 2005), hlm. 24 2 Ibid., hlm. 84 1
  • 24. 2 Kutipan cerita di atas merupakan sekelumit representasi dari novel lasakar pelangi yang patut diteladani bagi manusia khususnya para tenaga pendidik dalam dunia pendidikan. Kutipan cerita di atas mengisyaratkan bahwa seorang guru dalam proses pembelajaran memiliki peran dan fungsi bukan hanya sebagai mentranformasikan knowledge, tetapi sekaligus juga membimbing dan mengajarkan kepada peserta didik agar menyadari nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan, melalui proses pertimbangan nilai yang tepat dan pembiasaan yang bertindak konsisten. Bimbingan dan pengajaran nilai-nilai inilah yang disebut sebagai pendidikan nilai.3 Pendidikan nilai secara bermakna sangat penting dalam menunjang mutu pendidikan. Saat ini rendahnya mutu Pendidikan Nasional tidak hanya disebabkan oleh kelemahan pendidikan dalam membekali kemampuan akademis kepada peserta didik. Lebih dari itu ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu kurangnya pendidikan nilai secara bermakna. Mengapa pendidikan nilai sangat diperlukan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka perlu mengetahui masalah-masalah yang terjadi dalam pendidikan. Adapun masalah yang dihadapi oleh pendidikan saat ini, betapa sekolah umum atau lainnya telah merebaknya kasus VCD purno yang dilakukan oknum mahasiswa Itenas Bandung menambah panjang daftar asusila yang dilakukan peserta didik, lalu muncul kasus yang serupa yang dilakukan para yunior mereka di tingkat SMP dan SMU. Di Jawa Barat ada beberapa siswa dan siswi SMU Negeri yang berbuat tidak senonoh di dalam kelas dengan 3 Rokhmat Mulyana, Mengartikulasikan Pendidikan Nilai (Bandung: Alfabeta, 2004),hlm. 119
  • 25. 3 masih menggunakan seragam sekolah. Dalam kasus lain seorang anak SMP tega membunuh orang tuanya sendiri, di tempat lain seorang anak madrasah ibtidaiyah bunuh diri dengan alasan tidak sanggup membayar SPP, bahkan ada anak madrasah yang bunuh diri hanya karena baju seragam hari itu tidak bisa dipakai karena basah terkena hujan.4 Dalam kasus selanjutnya adalah praktik pendidikan sering dikesankan sebagai sederetan instruksi guru dan murid-muridnya. Apalagi dengan istilah yang sekarang sering digembar-gemborkan dalam dunia pendidikan yaitu sebagai pendidikan yang menciptakan manusia ”siap pakai”. Kata ini berarti menghasilakan tenaga-tenaga yang dibutuhkan dalam pengembangan dan persaingan bidang industri dan tegnologi. Memerhatikan secara kritis masalah ini, tampak bahwa manusia dipandang layaknya material atau komponen pendukung industri. Lembaga pendidikan sekedar mampu menjadi lembaga produksi penghasil material atau komponen dengan kualitas tertentu yang di tuntut pasar. Ironisnya, kenyataannya ini justru disambut antusias oleh banyak lembaga pendidikan.5 Saat sekarang ini, dunia pendidikan masih diwarnai perilaku siswa membolos, berkelahi atau tawuran, mencuri dan menganiaya, hingga mengkonsumsi minuman keras dan narkotika.6 4 Zaim Elmubarok, Membumikan Pendidikan Nilai Mengumpulkan yang Terserak,Menyambung yang Terputus, dan Menyatukan yang Tercerai (Bandung: Alfabeta, 2008), hlm.29 5 Ibid., hlm. 31 6 Tatik Rejeki, Konsep Pendidikan Nilai yang Menyenangkan (http:www.yahoo.com,diakses 26 Februari 2008)
  • 26. 4 Disinilah proses penanaman pendidikan nilai sangat dibutuhkan dilembaga pendidikan yang bertujuan untuk membantu peserta didik agarmemahami, menyadari, mengalami nilai-nilai serta mampu menempatkannyasecara integral dalam kehidupan. Pendidikan nilai sangat erat hubungannya dengan pendidikan Islam.Pendidikan Islam memiliki peranan penting dalam mengimplementasikanpendidikan nilai sebagai suatu tindakan pendidikan. Value Education(pendidikan nilai) dilibatkan dalam setiap tindakan pendidikan, baik dalammemilih maupun dalam memutuskan setiap hal untuk kebutuhan belajar.Melalui pendidikan nilai, guru dapat mengevaluasi siswa, demikian pulasebaliknya, siswa dapat mengukur kadar nilai yang disajikan guru dalamproses pembelajaran. Singkat kata, dalam bentuk persepsi, sikap, keyakinan,dan tindakan manusia dalam pendidikan, nilai selalu disertakan. Bahkanmelaui nilai itulah manusia dapat bersikap kritis terhadap dampak-dampakyang ditimbulkan pendidikan. Untuk itu, selain diposisikan sebagai muatanpendidikan, nilai juga dapat dijadikan sebagai media kritik bagi setiap orangyang berkepentingan dengan pendidikan dalam mengevaluasi proses dan hasilpendidikan. Dari penjelasan tersebut jelaslah bahwa dengan adanyapenanaman pendidikan nilai dalam lembaga Pendidikan Islam, maka akandapat membantu pengembangan pendidikan Islam khususnya dalam prosesdan tujuan pendidikan Islam yang dicita-citakan. Dari latar belakang di atas, maka penulis mengangkat skripsi yangberjudul ”Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pendidikan Islam
  • 27. 5 (Studi Analisis Novel Laskar Pelangi)”, dengan harapan novel ini mampu menjawab keterpurukan pendidikan Islam saat sekarang dan membawa pendidikan Islam kelevel yang lebih baik dan mampu memberikan kontribusi dalam pengembangan pendidikan Islam.B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas penulis formulasikan dalam rumusan masalah sebagai berikut: 1. Nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam novel laskar pelangi karya Andrea Hirata ? 2. Bagaimana metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi? 3. Nilai-nilai apa saja terkandung dalam novel laskar pelangi yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam ? 4. Apa kontribusi pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam?C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian di dalam karya ilmiah merupakan target yang hendak dicapai melalui serangkaian aktivitas penelitian, karena segala sesuatu yang diusahakan pasti mempunyai tujuan tertentu sesuai dengan permasalahannya. Sesuai dengan rumusan masalah yang telah disebutkan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk: 1. Mendiskripsikan nilai-nilai dalam novel laskar pelangi karya Andrea Hirata,
  • 28. 6 2. Mendiskripsikan metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi, 3. Mendiskripsikan nilai-nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam, dan 4. Mendiskripsikan kontribusi pendidikan nilai dalam novel ”laskar pelangi” tehadap Pengembangan Pendidikan Islam.D. Manfaat Penelitian Setiap kegiatan penelitian pasti mempunyai nilai kemanfaatan bagi peneliti maupun orang lain. Karena ini kegiatan ilmiah yang dilakukan secara logis dan sistematis, agar penulisan ini harapkan bermanfaat: 1. Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan untuk mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi, metode pengajaran nilai yang terkandung dalam laskar pelangi, nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam dan kontribusi pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam. 2. Secara praktis, hasil penelitian diharapkan bermanfaat bagi: a. Pendidikan Islam, diharapkan pendidikan nilai menjadi bahan rujukan dalam praktik sebagai pendukung dalam proses dan tujuan pengembangan pendidikan Islam. b. Guru Pendidikan Agama Islam (PAI), diharapkan guru dapat merealisasikan penanaman pendidikan nilai semisal guru bertugas bukan hanya mengajar, tetapi lebih utama sebagai pendidik yang di pundaknya digantungkan harapan untuk mencetak generasi bangsa
  • 29. 7 yang cerdas, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia. Dengan demikian, pendidikan nilai bukan hanya dapat mengembalikan filosofi dasar pendidikan Indonesia, namun juga karena Indonesia sebagai negara Pancasila, dapat kembali menumbuhkan nilai-nilai luhur yang menjadi ciri kepribadian bangsa kita, seperti keramahtamahan, kesopanan, gotong royong, tepa selira, dan lain-lain. Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya menyediakan manusia berintelektual tinggi, namun juga manusia yang merasa (peka) terhadap kondisi sekitarnya dan mampu mengatasi situasi krisis yang rumit sekali pun. c. Peserta didik, pendidikan nilai untuk membekali individu menjadi manusia yang professional yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, mandiri, cakap, dan menjadi seseorang yang bertanggung jawab. d. Bagi peneliti yang lain, untuk mengembangkan pengetahuan yang terkait dengan nilai dan sebagai bekal peneliti apabila sudah terjun di lapangan agar dapat membantu lembaga pendidikan Islam yang erat kaitannya dengan praktik pendidikan nilai.E. Ruang Lingkup Penelitian Pendidikan nilai merupakan masalah yang mendasar dan urgen dalam proses dan tujuan pembelajaran di dunia pendidikan, pembahasan masalah pendidikan nilai sangat kompleks sekali, maka dari itu untuk lebih mensistematiskan pembahasan masalah ini tidak melebar terlalu jauh dari
  • 30. 8 sasaran sehingga akan memudahkan pembahasan dan penyusunan laporan penelitian ini. Adapun ruang lingkup pembahasan pada penelitian ini adalah (1) Nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam novel laskar pelangi karya Andrea Hirata? (2) Bagaimana metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi? (3) Nilai-Nilai apa saja yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam dalam novel laskar pelangi? dan (4) Apa kontribusi pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam? Adapun dalam pembahasan apabila ada permasalahan diluar tersebut di atas maka sifatnya hanyalah sebagai penyempurna sehingga pembahasan ini sampai pada sasaran yang dituju.E. Definisi Oprasional Agar pembahasan lebih fokus, maka perlu dicantumkan penjelasan istilah dari skripsi berjudul: Pendidikan Nilai dalam Pengembangan Pendidikan Islam (Studi Analisis Novel Laskar Pelangi), yakni: 1. Analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan dan sebagainya) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya atau Kegiatan mengenali, mengidentifikasi, memberikan tanda-penanda dan sebagainya berdasarkan pemikiran yang mendalam pada sebuah teks atau keadaan, 2. Novel adalah karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang disekelilingnya dan menonjolkan sifat dan watak setiap pelaku,
  • 31. 9 3. Pendidikan Nilai adalah sebagai usaha untuk membimbing peserta didik dalam memahami, mengalami dan mengamalkan nilai-nilai ilmiah, kewarganegaraan dan sosial yang tidak secara khusus dipusatkan pada pandangan agama tertentu atau penanaman dan pengembangan nilai-nilai dalam diri seseorang, dan 4. Pengembangan Pendidikan Islam merupakan suatu proses, cara atau perbuatan mengembangkan pendidikan Islam melalui penanaman nilai- nilai religi, estetika, sosial dan personal dengan tujuan untuk mewujudkan perubahan tingkah laku peserta didik yang Islami, terampil, kreatif, berjiwa sosial, dan mandiri dengan bekal nilai personal.F. Sistematika Pembahasan Untuk mempermudah pembahasan dalam skripsi ini, penulis memperinci dalam sistematika pembahasan sebagai berikut: • BAB I : Pendahuluan, penulis membahas pokok-pokok pikiran untuk memberikan gambaran terhadap inti pembahasan, pokok pikiran tersebut masih bersifat global. Pada bab ini terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan istilah; • BAB II : Memaparkan tentang landasan teoritis yang berkaitan dengan novel, pendidikan nilai, dan pengembangan pendidikan Islam; • BAB III : Memaparkan tentang metode penelitian, yang meliputi tentang rancangan penelitian, data dan sumber data, teknik pengumpulan data, instrument penelitian dan analisis data;
  • 32. 10• BAB VI : Paparan data penelitian novel laskar pelangi yang meliputi; deskripsi nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam novel laskar pelangi karya Andrea Hirata, deskripsi metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi, deskripsi nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam, dan kontribusi pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam;• BAB V : Pembahasan hasil analisis penelitian yang meliputi nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam novel laskar pelangi karya Andrea Hirata, metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi, nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam, dan kontribusi pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam; • BAB VI : Penutup, pada bab ini berisikan tentang kesimpulan dari pembahasan dan saran.
  • 33. BAB II KAJIAN PUSTAKAA. Novel 1. Pengertian Novel Novel berasal dari bahasa Italia yaitu Novella, yang secara harfiah berarti sebuah barang baru yang kecil dan kemudian diartikan sebagai cerita pendek dalam bentuk prosa. Dalam The American Colage, dikatakan bahwa novel adalah suatu cerita fiksi dengan panjang tertentu, melukiskan para tokoh, gerak serta adegan kehidupan nyata representative dalam suatu alur atau suatu kehidupan yang agak kacau atau kusut.7 Sumardjo memberikan pengertian novel sebagai cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas, di sini berkaitan dengan fisik novel maupun unsur yang ada dalam novel tersebut, misalnya saja plot yang kompleks, keaneka ragaman karakter dan cerita yang beragam. Sedangkan menurut Husnan, novel adalah suatu karangan atau karya sastra yang lebih panjang daripada cerpen atau lebih pendek daripada roman dan kejadian-kejadian yang digambarkan melahirkan suatu konflik jiwa dan mengakibatkan suatu perubahan nasib.8 Viginia Woff mengatakan bahwa, suatu prosa atau novel adalah sebuah eksplorasi atau suatu kronik penghidupan, merenungkan dan 7 Rini Wiediastutik S, Analisis Nilai-Nilai Humanistik Tokoh dalam Novel Kuncup Berseri Karya NH. Dini, Skripsi, (FKIP UMM, 2005), hlm. 9 8 Ibid.. 11
  • 34. 12 melukiskan dalam bentuk yang tertentu, pengaruh, ikatan hasil, kehancuran, atau tercapainya gerak gerik manusia.9 Novel merupakan struktur yang bermakna. Novel tidak sekedar merupakan serangkaian tulisan yang menggairahkan ketika di baca, tetapi merupakan struktur pikiran yang tersusun dari unsur-unsur padu.10 Novel adalah sebuah cerita fiksi yang jumlah halamannya mencapai berpuluh-puluh, ratusan, atau beratus-ratus, seperti: serial Harry Potter, Load of The Ring, Eragon atau Ranggamorfosa Sang Penakhluk Istana.11 Novel merupakan menceritakan suatu peristiwa pada rentang waktu yang cukup panjang dengan beragam karakter yang diperankan oleh tokoh.12 Dari beberapa pengertian novel di atas, maka dapat disimpulkan bahwa novel adalah suatu cerita panjang dengan berbagai karakter yang mengisahkan kehidupan manusia, mulai dari konflik-konflik dan permasalahannya secara rinci, detail, dan kompleks dengan proses berfikir yang terstruktur. 2. Karakteristik Novel Menurut Watson, karakteristik novel Indonesia adalah novel-novel yang dimulai tahun 1920, yaitu novel yang diterbitkan oleh Balai Pustaka. Menurutnya novel Indonesia tidak muncul begitu saja, melainkan melalui 9 Hardjana, Cara Mudah Mengarang Cerita Anak-anak (Jakarta: PT Grasindo, 2006), hlm.13 10 Sugihastuti dan Suhartono, Kritik sastra Feminis Teori dan Aplikasinya (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2002), hlm. 43 11 Burhan Nurgiantoro, Sastra Anak Pengantar Pemahaman Dunia Anak (Yogyakarta:Gadjah Mada University Press, 2005), hlm. 287 12 Ameliawati, Analisis Instink Pada Tokoh Utama Novel Ronggeng Dukuh Paruk KaryaAhmad Tohari, Skripsi, (FKIP UMM, 2006), hlm. 16
  • 35. 13 proses panjang yang terjadi sebelumnya, yaitu sejak perkembangan komunikasi di Jawa dan Sumatera di pertengahan abad XIX.13 Karakteristik novel Indonesia ada sedikit perbedaan antara roman, novel dan cerpen. Ada juga yang disebut novellet. Dalam roman biasanya kisah berawal dari tokoh lahir sampai dewasa kemudian meninggal, roman biasanya mengikuti aliran romantik. Sedangkan novel berdasarkan realisme, dan di dalam novel penggambaran tokoh biasanya merupakan sebagian dari hidupnya yang dapat berubah dari keadaan sebelumnya.14 Berbeda dengan cerita pendek yang tidak berkepentingan pada kesempurnaan cerita atau keutuhan sebuah cerita, tetapi lebih berkepentingan pada impresi atau kesan. Karakteristik novel Indonesia meliputi empat periode: (1) Angkatan Balai Pustaka, (2) Angkatan Pujangga Baru, (3) Angkatan 45, dan (4) Angkatan Sesudah 45. 1. Angkatan Balai Pustaka, pujangga yang termasuk angkatan Balai Pustaka beserta karangannya: Marah Rusli dengan salah satu karyanya yang berjudul Siti Nurbaya, keinginan Marah Rusli terhadap novel ini adalah ia ingin merombak adat yang berlaku pada masa itu dan dianggap sebagai pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia.15 2. Angkatan Pujangga Baru, tokoh pujangga baru dan karyanya: Sutan Takdir Alisjahbana dengan salah satu karyanya yang berjudul Layar 13 Faruk, Pengantar Sosiologi Sastra, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), hlm. 87. 14 Yandianto, Apresiasi Karya Sastra dan Pujangga Indonesia (Bandung: M2S, 2004),hlm. 160. 15 Ibid., hlm. 17.
  • 36. 14 Terkembang, keinginan Sutan Takdir Alisjahbana terhadap novel ini adalah mendambakan pembaharuan pada corak kebudayaan bangsanya. 3. Angkatan 45, sastrawan dalam angkatan 45 dan karyanya yakni: Idrus dengan salah satu karyanya yang berjudul Aki, keinginan Idrus terhadap novelnya adalah ia berusaha menampilkan topik lain yang lebih luas dan mendasar daripada hanya soal cinta, usaha yang disertai keyakinan penuh akan menghasilkan apa yang dicita-citakan. 4. Angkatan Sesudah 45, setelah memulai proses yang cukup rumit akhirnya didapatkan satu nama sastrawan yang termasuk kelompok Angkatan Sesudah 45 atau Angkatan 66 ini yakni Montingo Busye dengan salah satu karyanya yang berjudul Hari Ini Tak Ada Cinta, keinginan pengarang terhadap novel ini adalah hendaknya kita bertanggung jawab akan merugikan orang lain.3. Ciri-ciri Novel Sebagai salah satu hasil karya sastra, novel memiliki ciri khas tersendiri bila dibandingkan dengan karya sastra yang lain. Dari segi jumlah kata ataupun kalimat, novel lebih mengandung banyak kata dan kalimat sehingga dalam proses pemaknaannya relative jauh lebih mudah daripada memaknai sebuah puisi yang cenderung mengandung beragam bahasa kias. Berkaitan dengan masalah tersebut, Sumardjo memberikan ciri-ciri novel sebagai berikut: (1) Plot sebuah novel berbentuk tubuh cerita, dirangkai dengan plot-plot kecil yang lain, karena struktur bentuk yang luas ini maka novel dapat bercerita panjang dengan persoalan yang luas, (2)
  • 37. 15Tema dalam sebuah novel terdapat tema utama dan pendukung, sehingganovel mencakup semua persoalan, (3) Dari segi karakter, dalam novelterdapat penggambaran karakter yang beragam dari tokoh-tokoh hinggaterjalin sebuah cerita yang menarik.16 Adapun menurut Tarigan ciri-ciri novel diklasifikasikan sebagaiberikut:a. Jumlah kata, novel jumlah katanya mencapai 35.000 buah;b. Jumlah halaman, novel mencapai maksimal 100 halaman kuarto;c. Jumlah waktu, waktu rata-rata yang digunakan untuk membaca novel paling pendek diperlukan sekitar 2 jam (120 menit);d. Novel bergantung pada pelaku dan mungkin lebih dari satu pelaku;e. Novel menyajikan lebih dari satu impresi (kesan);f. Novel menyajikan lebih dari satu efek;g. Novel meyajikan lebih dari satu emosi;h. Novel memiliki skala yang lebih luas;i. Seleksi pada novel lebih ketat;j. Kelajuan dalam novel lebih lambat;k. Dalam novel unsur-unsur kepadatan dan intensitas tidak begitu diutamakan.17 Selain mempunyai ciri-ciri, novel juga mempunyai beberapa nilaiyang terkandung di dalamnya, antara lain:1) Nilai moral yaitu nilai baik dan buruk yang terkandung dalam novel;16 Rini Wiediastutik S., op.cit., hlm. 1017 Ibid., hlm. 10-11
  • 38. 16 2) Nilai religius yaitu nilai yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan tokoh novel; 3) Nilai kemanusiaan yaitu nilai tentang tindakan tokoh dan kesesuaiannya dengan hak asasi manusia; 4) Nilai kultural yaitu nilai yang berkaitan dengan budaya dalam novel.18 4. Unsur-unsur Novel Unsur-unsur novel meliputi beberapa hal yaitu: (a) tokoh, (b) latar, (c) alur atau plot, dan (d) tema. a) Tokoh dan Penokohan 1) Tokoh Tokoh merupakan para pelaku yang terdapat dalam sebuah fiksi. Tokoh dalam fiksi ialah ciptaan pengarang, meskipun dapat juga merupakan gambaran dari orang-orang yang hidup di alam nyata. Oleh karena itu, dalam sebuah fiksi tokoh hendaknya dihadirkan secara ilmiah. Dalam arti tokoh-tokoh itu memiliki “kehidupan” atau berciri “hidup” atau memiliki derajat lifelikeness.19 Dalam buku “Pengantar Apresiasi Karya Sastra”, tokoh didefinisikan orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Karena peristiwa dalam karya sastra (novel) seperti halnya peristiwa dalam kehidupan sehari-hari, 18 Nurdjanah Kafrawi, dkk, Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia 3 (Jakarta: PTGrasindo, 2002), hlm. 46 19 Wiyatmi, Pengantar Kajian Sastra (Yogyakarta: Pustaka, 2006), hlm. 30
  • 39. 17 selalu diemban oleh tokoh atau pelaku-pelaku tertentu. Para tokoh yang terdapat dalam suatu cerita memiliki peranan yang berbeda-beda. Seorang tokoh yang memiliki peranan penting dalam suatu cerita disebut dengan tokoh utama. Sedangkan tokoh yang tidak memiliki peranan penting karena pemunculannya hanya melengkapi saja atau sebagai pendukung pelaku utama disebut tokoh pembantu.20 Seorang tokoh dalam karya sastra merupakan imaji penulis dalam membentuk personalitas tertentu dalam cerita. Berhasil tidaknya suatu penokohan akan mempengaruhi cerita si pembaca. Sebuah penokohan atau perwatakan harus menampilkan tokoh dengan karakter berkelakuan seperti dalam kehidupan sebenarnya. 2) Penokohan Penokohan sangat erat hubungannya dengan seorang tokoh dalam karya sastra. Penyajian watak dan penciptaan citra tokoh ini disebut penokohan. Cara paling sederhana dalam penampilan tokoh adalah pemberian nama. Setiap nama memiliki daya yang menghidupkan, menjiwai, dan mengindividualisasikan seorang tokoh. Aminuddin mengemukakan bahwa pengetahuan tentang teknik penampilan tokoh dalam sebuah proses fiksi berguna sebagai bekal menganalisis tokoh. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi tokoh-tokoh dalam cerita, yaitu melalui (1) tuturan pengarang terhadap karakteristik pelakunya, (2) gambaran yang 20 Aminuddin, Pengantar Apresiasi Karya Sastra (Bandung: PT. Sinar Baru Algensindo.2002), hlm. 80
  • 40. 18 diberikan pengarang terhadap lingkungan kehidupan pelaku maupun cara berpakaian, (3) cara berbicara tokoh tentang diri sendiri, (4) pelaku tokoh, (5) jalan pikiran tokoh, (6) bagaimana tokoh-tokoh lain membicarakannya, (7) bagaimana cara tokoh lain mereaksi tokoh, dan (8) bagaiamana cara tokoh mereaksi tokoh lain.21 Berdasarkan pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa dalam mengenali penokohan dalam suatu cerita pada karya sastra dapat dilakukan lewat pengenalan karakteristik tokoh, tingkah laku tokoh, jalan pikiran tokoh, maupun dialog-dialog yang terdapat dalam sebuah karya sastra (novel).b) Latar Karya fiksi pada hakekatnya berhadapan dengan sebuah dunia yang sudah dilengkapi dengan tokoh penghuni dan permasalahannya, sebagai halnya kehidupan manusia di dunia nyata. Dengan kata lain, sebuah dunia, di samping membutuhkan tokoh, cerita dan plot juga perlu latar, karena latar disebut juga sebagai landas tumpu, yang tertuju pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Sedangkan Leo Haliman dan Frederick menjelaskan bahwa setting dalam karya sastra (novel) bukan hanya tempat, waktu, peristiwa, suasana benda-benda dalam lingkungan tertentu, melainkan juga dapat berupa suasana yang berhubungan dengan sikap, jalan pikiran, prasangka, maupun gaya hidup21 Ameliawati, op.cit., hlm. 19-20
  • 41. 19 suatu masyarakat dalam menanggapi suatu permasalahan tertentu.22 Adapun hubungan latar dengan penokohan, misalnya pengarang mau menampilkan tokoh seorang petani yang sederhana dan buta huruf, maka tidak mungkin petani itu diberi setting kota Jakarta, perkantoran atau restoran, begitu juga seorang tokoh yang digambarkan berwatak alim tidak mungkin diberi setting kamar yang penuh dengan gambar botol minuman keras. Seperti yang telah dipaparkan di atas, latar juga mampu menuansakan suasana-suasana tertentu. Suasana tertentu akibat penataan setting oleh pengarangnya itu lebih lanjut juga akan berhubungan dengan suasana penuturan yang terdapat dalam suatu cerita. Latar dalam prosa atau fiksi dibedakan menjadi empat, yaitu: 1) Latar alam (geographic setting) adalah latar yang melukiskan tempat atau lokasi terjadinya peristiwa dalam alam mini, misalnya: di desa, di kota, di pegunungan, dll; 2) Latar waktu (temporal setting) adalah latar yang melukiskan kapan peristiwa itu terjadi, misalnya: tahun berapa, pada musim apa, senja hari, dan akhir bulan; 3) Latar sosial (social setting) adalah latar yang melukiskan dalam lingkungan mana peristiwa itu terjadi, misalnya: lingkungan pelayaran, lingkungan buruh pabrik, dll;22 Ibid., hlm. 17
  • 42. 20 4) Latar ruang yaitu latar yang melukiskan dalam ruang yang bagaimana peristiwa itu berlangsung, misalnya: dalam kamar, aula, toko, dan lain-lain.23 Berdasarkan pada pengertian latar di atas, tokoh dan setting merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Hal itu disebabkan karena tokoh dan latar dapat menentukan kelogisan dan diterimanya cerita oleh pembaca. Penataan setting yang tepat dan sesuai dengan kepribadian tokoh dan juga cerita disajikan akan menimbulkan kesan bahwa karya sastra tersebut adalah karya yang logis. c) Alur atau Plot Istilah alur sama dengan istilah plot atau struktur cerita. Alur atau plot adalah rangkaian peristiwa yang saling berhubungan dan membentuk kesatuan cerita.24 Aminuddin mengatakan bahwa alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh pelaku dalam suatu cerita. Menurut Adiwardoyo, alur dapat dibagi berdasarkan kategori kausal (sebab- akibat) dan kondisinya. Berdasarkan kausalnya alur dibagi menjadi tiga, yaitu: 1) Alur urutan (episodik), dikatakan alur urutan apabila peristiwa- peristiwa yang ada disusun berdasarkan urutan sebab-akibat, kronologis (sesuai dengan urutan waktu), tempat, dan hierarkis (berurut-urut); 23 Rini Wiediastutik S. op.cit., hlm. 14-15 24 Dawud, dkk, Bahasa dan Sastra Indonesia Jilid I untuk SMA Kelas X (Jakarta:Erlangga, 2004), hlm. 245
  • 43. 21 2) Alur mundur (flashback), sebuah cerita dikatakan beralur mundur apabila peristiwa-peristiwa yang ada disusun berdasarkan akibat- sebab, waktu kini ke waktu lampau; 3) Alur campuran, dikatakan sebuah cerita ber-alurkan campuran apabila peristiwa-peristiwa yang ada disusun secara campuran antara sebab akibat waktu kini ke waktu lampau atau waktu lampau ke waktu kini.25 Berdasarkan kondisinya, alur dibedakan menjadi empat, yaitu: 1) Alur buka yaitu rangkaian peristiwa yang dianggap sebagai kondisi mula yang akan dilanjutkan dengan kondisi berikutnya; 2) Alur tengah yaitu rangkaian peristiwa yang dianggap sebagai kondisi yang mulai bergerak ke arah kondisi puncak; 3) Alur puncak yaitu rangkaian peristiwa yang dianggap sebagai klimaks dari sekian banyak rangkaian peristiwa yang ada pada cerita itu; 4) Alur tutup yaitu rangkaian peristiwa yang dianggap sebagai kondisi yang mulai bergerak kea rah penyelesaian atau pemecahan dari kondisi klimaks.26d) Tema Tema merupakan ide, gagasan, pandangan hidup pengarang yang melatar belakangi ciptaan karya sastra. Karena sastra merupakan refleksi kehidupan masyarakat, maka tema yang diungkapkan dalam karya sastra bisa sangat beragam. Tema bisa berupa moral, etika, agama, nilai, social25 Rini Wiediastutik S. op.cit., hlm. 1326 Ibid., hlm. 14
  • 44. 22 budaya, teknologi, tradisi yang terkait erat dengan masyarakat kehidupan. Namun, tema bisa berupa pandangan pengarang, ide atau keinginan pengarang dalam menyiasati persoalan yang muncul.27 Tema juga merupakan gagasan pokok pikiran yang digunakan pengarang untuk mengembangkan cerita. Tema berkaitan dengan makna dan tujuan pemaparan karya fiksi oleh pengarangnya. Adiwardoyo mengatakan tema adalah gagasan sentral pengarang yang mendasari penyusunan suatu cerita dan sekaligus menjadi sasaran dari cerita itu.28 Menurut Nurgiyantoro, tema dibedakan menjadi dua bagian yaitu tema utama yang disebut tema mayor, yang artinya makna pokok yang menjadi dasar atau gagasan dasar umum karya itu. Tema mayor ditentukan dengan cara menentukan persoalan yang paling menonjol, yang paling banyak konflik dan waktu penceritaannya. Sedangkan tema tambahan disebut tema minor, merupakan tema yang kedua yaitu makna yang hanya terdapat pada bagian-bagian tertentu cerita dan diidentifikasikan sebagai makna bagian atau makna tambahan.29 Oleh sebab itu, dalam menentukan sebuah tema harus memahami terlebih dahulu bagian-bagian yang mendukung sebuah cerita, baik latar, tokoh dan penokohan, alur atau persoalan yang dibicarakan. Apabila pembaca karya sastra telah dapat menentukan dan menemukan tema dari 27 Zainuddin Fananie, Telaah Sastra (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2000),hlm. 84 28 Rini Wiediastutik S., op.cit., hlm. 15 29 Ibid..
  • 45. 23 sebuah karya sastra, maka pembaca tersebut telah mengetahui tujuan pengarang dalam sebuah cerita yang telah dibuatnya.5. Bentuk-bentuk Tulisan Novel Ada banyak bentuk-bentuk tulisan dalam sebuah cerita. Salah satunya dapat dilihat berdasarkan penggolongan dalam cara penyajian dan tujuan penyampaiannya. Dan bentuk tulisan sendiri meliputi, deskripsi, eksposisi, narasi, persuasi dan argumentasi. a. Deskripsi Deskripsi adalah bentuk tulisan yang bertujuan memperluas pengetahuan dan pengalaman pembaca dengan jalan melukiskan hakikat objek yang sebenarnya. Dalam tulisan deskripsi, penulis tidak boleh mencampuradukkan keadaan yang sebenarnya dengan interpretasinya sendiri. b. Eksposisi Di tinjau dari asal katanya, eksposisi berarti membuka dan memulai. Bahkan ada yang mengatakan eksposition means explanation (eksposisi adalah penjelasan). Ini berarti tulisan eksposisi berusaha untuk memberitahu, mengupas, menguraikan atau menerangkan sesuatu. Pada dasarnya eksposisi berusaha menjelaskan suatu prosedur atau proses, memberikan definisi, menerangkan, menjelaskan, menafsirkan gagasan, menerangkan bagan atau table, atau mengulas sesuatu. Biasanya, tulisan eksposisi sering ditemukan bersama-sama dengan bentuk tulisan deskripsi. Seorang yang menulis eksposisi berusaha
  • 46. 24 memberitahukan pembacanya agar pembaca semakin luas pengetahuannya tentang suatu hal.c. Narasi Narasi merupakan bentuk tulisan yang berusaha menciptakan, mengisahkan, merangkaikan tindak-tanduk perbuatan manusia dalam sebuah peristiwa secara kronologis atau yang berlangsung dalam suatu kesatuan waktu tertentu. Narasi biasanya ditulis berdasarkan rekaan atau imajinasi. Namun demikian, narasi yang ditulis juga bisa ditulis berdasarkan pengalaman pribadi penulis, pengamatan atau wawancara. Narasi pada umumnya merupakan himpunan peristiwa yang disusun berdasarkan urutan waktu atau urutan kejadian. Dalam tulisan narasi, selalu ada tokoh-tokoh yang terlibat dalam suatu atau berbagai peristiwa yang diceritakan. Meskipun berdasarkan fakta imajinasi penulis dalam bercerita tetap terkesan kuat sekali. Melalui narasi, seorang penulis memberitahukan orang lain dengan sebuah cerita. Sebab, narasi sering diartikan juga dengan cerita. Sebuah cerita adalah sebuah penulisan yang mempunyai karakter, setting, waktu, masalah, mencoba untuk memecahkan masalah dan memberi solusi dari masalah itu.d. Argumentasi Tulisan argumentasi biasanya bertujuan untuk meyakinkan pembaca, termasuk membuktikan pendapat atau pendirian dirinya bisa
  • 47. 25 juga membujuk pembaca agar pendapat penulis bisa diterima. Bentuk argumentasi dikembangkan untuk memberikan penjelasan dan fakta- fakta yang tepat terhadap apa yang dikemukakan yang sangat dibutuhkan dalam tulisan argumentatif adalah data penunjang yang cukup, logika yang baik dalam penulisan dan uaraian yang runtut. Berikut ini adalah tugas dari penulis argumentatif: 1. Harus mengandung kebenaran untuk mengubah sikap dan keyakinan orang mengenai topik yang akan diargumentasikan; 2. Berusaha untuk menghindari setiap istilah yang menimbulkan prasangka tertentu; 3. Penulis argumentatif berusaha untuk menghilangkan ketidaksepakatan; 4. Menetapkan secara tepat titik ketidaksamaan yang di argumentasikan.30e. Persuasi Pesuasi berarti membujuk atau meyakinkan. Goris Keraf pernah mengatakan, persuasi bertujuan meyakinkan seseorang agar melakukan sesuatu yang dikehendaki penulis. Mereka yang menerima persuasi harus dapat keyakinan, bahwa keputusan yang diambilnya merupakan keputusan yang benar, bijaksana dan dilakukan tanpa paksa. Melalui persuasi, seorang penulis mencoba mengubah pandangan pembaca tentang sebuah permasalahan tertentu. Penulis30 Nurudin, Dasar-dasar Penulisan (Malang : UMM Press, 2007), hlm. 79
  • 48. 26 mempersembahkan fakta dan opini yang bisa didapatkan pembacanya untuk mengerti menggapai sesuatu itu adalah benar, salah atau diantara keduanya. Di samping itu, penulis persuasi harus bisa menampilkan fakta- fakta agar apa yang diinginkannya diyakini pembaca, dan pembaca mau melakukan sesuai maksud penulis. Persuasi biasanya akan memberikan penekanan pada pemilihan kata yang berpengaruh kuat terhadap emosi atau perasaan orang lain.5. Peran Novel Setidak-tidaknya sudah seribu tahun sastra menduduki fungsinya yang penting dalam masyarakat Indonesia. Sastra dibaca oleh para raja dan bangsawan, serta kaum terpelajar pada zamannya. Sejak dahulu sastra menduduki fungsi intelektual dalam kehidupan masyarakat. Pentingnya kedudukan sastra dalam masyarakat Indonesia lama, disebabkan oleh fokus budaya mereka pada unsur agama dan seni. Sastra Jawa Kuno malah menduduki fungsi religio-magis, pada zaman Islam, sastra digunakan para raja untuk memberikan ajaran rohani kepada rakyatnya.31 Jadi, pada zaman dahulu sastra mempunyai fungsi yang sangat penting dalam masyarakat Indonesia. Akan tetapi, fungsi ini mulai tergeser dengan masuknya kebudayaan barat ke Indonesia.32 Beberapa fungsi sastra di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa peran novel dalam masyarakat juga sangat penting, karena novel bukan saja 31 Jakob Sumardjo, Sastra dan Masa (Bandung: ITB, 1995), hlm. 6 32 Ibid..
  • 49. 27 menampilkan sebuah wacana kepada masyarakat, akan tetapi novel juga sangat berperan terhadap perkembangan masyarakat, terlihat pada pesan dari seorang penulis atau sastrawan dapat dikatakan sebagai pejuang moral karena mereka berupaya agar pembaca dapat mengetahui dan memahami apa yang ada dalam alur cerita novel tersebut sehingga dapat menggugah perasaan si pembaca.B. Konsep Pendidikan Nilai 1. Pengertian Definisi dan Orientasi Pendidikan Nilai Pendidikan nilai dapat dimulai dari pemahaman tentang definisi dan tujuannya. Definisi dapat memberikan petunjuk pada pemaknaan istilah pendidikan nilai, sedangkan tujuan dapat memberikan kejelasan tentang cita-cita dan arah yang dituju oleh pendidikan nilai. a. Definisi Pendidikan Nilai Pada dasarnya, pendidikan nilai dirumuskan dari dua pengertian dasar yang terkandung dalam istilah pendidikan dan istilah nilai. Ketika kedua istilah itu disatukan, arti keduanya menyatu dalam definisi pendidikan nilai. Namun karena arti pendidikan dan arti nilai dapat dimaknai berbeda, definisi nilai pun dapat beragam, tergantung pada tekanan dan rumusan yang diberikan pada kedua istilah itu. Seperti dikemukakan oleh Sastrapratedja (Kaswardi, 1993), yang dimaksud dengan pendidikan nilai adalah penanaman dan pengembangan pada diri seseorang. Dalam pengertian yang hampir sama Mardiatmadja (1986) mendefinisikan pendidikan nilai sebagai bantuan terhadap peserta didik agar menyadari dan mengalami niali-nilai serta menempatkannya secara integral dalam keseluruhan hidupnya. Dua ahli Pendidikan nilai itu memiliki pendangan yang sama bahwa pendidikan nilai tidak hanya
  • 50. 28 merupakan program khusus yang diajarkan melalui sejumlah mata pelajaran, tetapi mencakup pula keseluruhan proses pendidikan33 Dan dalam pengertian lain, pendidikan nilai ialah penanaman dan pengembangan nilai-nilai dalam diri seseorang. Pendidikan nilai tidak harus merupakan satu program atau pelajaran khusus, seperti pelajaran menggambar atau bahasa inggris, tetapi lebih merupakan suatu dimensi dari seluruh usaha pendidikan34 Sementara itu, dalam laporan Nasional Recource Center For Value Education, pendidikan nilai di negara India didefinisikan sebagai usaha untuk membimbing peserta didik dalam memahami, mengalami dan mengamalkan nilai-nilai ilmiah, kewarganegaraan dan sosial yang tidak secara khusus dipusatkan pada pandangan agama tertentu (NRCVE, 2003). Dalam pengertian yang lebih oprasional David Aspin (2000) membuat definisi pendidikan nilai sebagai bantuan untuk mengembangkan dan mengartikulasikan kemampuan pertimbangan nilai atau keputusan moral yang dapat melembagakan kerangka tindakan manusia35 Sedangkan dalam buku dengan judul ”memanusiakan manusia muda tinjauan pendidikan humaniora”, menjelaskan bahwa pendidikan nilai adalah suati pandangan dasar seseorang terhadap alam, sesama manusia dan Tuhannya (yang akhir ini terjabar secara lebih terperinci dalam pandangan-pandangan keagamaannya) 36 Dari definisi di atas dapat ditarik suatu definisi pendidikan nilai yang mencakup keseluruhan aspek sebagai pengajaran atau bimbingan kepada peserta didik agar menyadari nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan, melalui proses pertimbangan nilai yang tepat dan pembiasaan bertindak yang konsisten. Definisi pendidikan nilai ini perlu dibedakan dari arti pendidikan nilai yang dimaknai secara fungsional dan situasional. 33 Rokhmat Mulyana, op.cit., hlm. 119 34 Kaswardi, E.M K., Pendidikan Nilai Memasuki Tahun 2000 (Jakarta: PT Grasindo,1993), hlm. 3 35 Rokhmat Mulyana, op.cit., hlm. 119 36 Dick Hartono, Menanusiakan Manusia Muda Tinjauan Pendidikan Humaniora (Jakarta: Kanisius, 1985), hlm. 33
  • 51. 29b. Orientasi Pendidikan Nilai Secara Umum, pendidikan nilai dimaksudkan untuk membantu peserta didik agar memahami, menyadari, mengalami nilai-nilai serta mampu menempatkannya secara integral dalam kehidupan. Untuk sampai pada tujuan yang dimaksud, tindakan-tindakan pendidikan yang mengarah pada perilaku baik dan benar perlu diperkenalkan oleh para pendidik. Dalam proses pendidikan nilai, tindakan-tindakan pendidikan yang lebih spesifik dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang lebih khusus. Seperti dikemukakan Komite APEID (Asia and the Pasific Programme of Educational Innovation for Defelopment), pendidikan nilai ditujukan secara khusus untuk: (a) menerapkan pembentukan nilai kepada anak, (b) menghasilkan sikap yang mencerminkan nilai-nilai yang diinginkan, dan (c) membimbing perilaku yang konsisten dengan nilai-nilai tersebut. Dengan demikian tujuan pendidikan nilai meliputi tindakan mendidik yang berlangsung mulai dari usaha penyadaran nilai sampai pada perwujudan perilaku-perilaku yang bernilai (UNESCO, 1994).37 Selain itu, tujuan pendidikan nilai disesuaikan pada konsep awal pendidikan nilai yang menyentuh filosofi tujuan pendidikan yaitu memanusiakan manusia, membangun manusia paripurna dan membentuk insan kamil atau manusia seutuhnya. Dari konsep awal pendidikan nilai yang menyentuh pada tujuan pendidikan inilah, maka muncul pertanyaan37 Rokhmat Mulyana, op. cit., hlm. 119-120
  • 52. 30mendasar apa yang membuat manusia berkembang menjadi manusiaseutuhnya? Jawabannya menurut N. Diyarkara adalah pengakuan danpenghargaan akan nilai-nilai kemanusiaan. Pengakuan dan penghargaanakan nilai-nilai kemanusiaan itu hanya akan timbul manakala ranahafektif dalam diri seseorang dihidupkan. Hal itu berarti proses belajarmengajar perkembangan prilaku anak dan pemahamannya mengenainilai-nilai moral seperti keadilan, kejujuran, rasa tanggung jawab sertakepedulian terhadap orang lain merupakan elemen yang tidak dapatdipisahkan dari unsur pendidikan. Kesadaran anak akan nilai humanitas pertama-tama muncul bukanmelalui teori atau konsep, melainkan melalui pengalaman konkrit yanglangsung dirasakannya di sekolah. Pengalaman itu meliputi sikap danperilaku guru yang baik, penilaian adil yang diterapkan, pergaulan yangmenyenangkan serta lingkungan yang sehat dengan penekanan sikappsitif seperti penghargaan terhadap keunikan serta perbedaan.Pengalaman seperti inilah bereperan membentuk emosi anak berkembangdengan baik. Selanjutnya Driyarkara mengindikasikan bahwa kesadaran moralmengarahkan anak untuk mampu membuat pertimbangan secara matangatas perilakunya dalam kehidupannya sehari-hari baik di sekolah maupundi masyarakat. Mark dan Terence mengatakan: Morality Is directed and constructed to perform a large range of independent funtions to prohibit destruction and harm, to promote harmony and stability, to develop what is best in us. It promotes the social and economoc conditions that sustain mutually benefisial
  • 53. 31 truth and cooperation, articulates ideals and excel lences, sets priorities among the activities that constitute our live38 Kymlicka menegaskan bahwa relevansi penanaman kesadaran moral pendidikan yaitu membentuk warga negara yang mempunyai rasa keadilan, kamampuan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mempunyai penghargaan akan hak-haka asasi manusia, bersikap toleran, dan memiliki rasa solider serta loyalitas terhadap yang lain39 Benang merah yang dapat ditarik dari konsep Driyarkara adalah perlunya keseimbangan antara dimensi kognitif dan afektif dalam proses pendidikan. Artinya untuk membentuk manusia seutuhnya tidak cukup hanya dengan mengembangkan kecerdasan berfikir atau IQ anak didik melalui segudang ilmu pengetahuan, melainkan juga harus dibarengi dengan pengembangan perilaku dan kesadaran moral. Karena dengan kombinasi seperti itulah peserta didik akan mampu menghargai nilai-nilai humanistik di dalam dirinya dan orang lain. Disinilah hakikat pendidikan nilai yang sebenarnya. Disisi lain pendidikan nilai bisa berarti educare yang berarti membimbing, menuntun, dan pemimpin. Filosofi pendidikan sebagai educare ini lebih mengutamakan proses pendidikan yang tidak terjebak pada banyaknya materi yang dipaksakan kepada peserta didik dan harus dikuasai. Proses pendidikan educare lebih merupakan aktivitas hidup untuk menyertai, mengantar, mendampingi, membimbing, memampukan peserta didik sehingga tumbuh berkembang sampai pada tujuan pendidikan yang dicita-citakan.38 Zaim Elmubarok, op cit., hlm. 1339 Ibid..
  • 54. 32 Di sini atmosfer pendidikan mendapat tekanan dan peserta didik di beri keleluasaan untuk mengesplorasi diri dan dunianya sehingga berkembang kreativitas, ide dan ketrampilan diri sebagai bagian dari masyarakatnya. Minat dan bakat peserta didik diperlukan sebagai sentral dan hal yang amat berharga. Peran pendidik melebihi dari posisi sebagai narasumber, pendorong, pemberi motivasi dan fasilitator bagi peserta didik. Karena itu, suatu usulan rumusan komprehensif menyeluruh yang terbuka kiranya jauh lebih menguntungkan untuk menyiapkan generasi masa depan. Usulan rumusan tersebut adalah pendidikan nilai bertujuan mendampingi dan mengantar peserta didik kepada kemandirian, kedewasaan, kecerdasan, agar menjadi manusia profesional (artinya memiliki ketrampilan (sklill), komitmen pada nilai-nilai dan semangat dasar pengabdian/pengorbanan) yang beriman dan bertanggungjawab akan kesejahteraan dan kemakmuran warga masyarakat, nusa dan bangsa Indonesia.402. Landasan Pendidikan Nilai Landasan pendidikan nilai yang akan diketengahkan terdiri atas enam bagian, yaitu: landasan filosofis, landasan spikologis, landasan sosiologis, landasan estetik, landasan yuridis dan landasan religi. Landasan filosofis mengetengahkan akar pemikiran tentang hakikat manusia dari perspektif filasat. Landasan psikologis menjelaskan aspek-aspek psikis manusia 40 Zaim Elmubarok, op.cit., hlm. 13-14
  • 55. 33sebagai individu. Landasan sosiologis meliputi prinsip-prinsippengembangan manusia sebagai anggota masyarakat. Landasan estetikmenguraikan kemampuan manusia dalam mempersepsi nilai keindahan.Adapun penjelasan landasan-landasan tersebut adalah sebagai berikut:a) Landasan Filosofis Pemahaman tentang hakikat manusia telah melahirkan beragam tafsiran yang mengkristal pada sejumlah aliran filsafat pendidikan dan disiplin ilmu. Banyak peneliti yang tertarik pada eksplorasi tentang hakikat manusia, tetapi tidak seorang pun dapat memonopoli pengetahuan tentang hakikat manusia. Perdebatan panjang yang cukup melelahkan tentang silang pendapat mengenai hakikat manusia telah berlangsung sejak zaman yunani kuno, namun manusia hingga kini tetap sebagai enigma (teka-teki) yang tak pernah tuntas atau dalam bahasa Alexis Carrel (Syari’ati, 1996) disebut I’homme cet iconnu (makhluk tak dikenal). Karena itu, pencarian alasan dalam memperdebatkan perbedaan sudut pandangan tentang hakikat manusia terkadang tidak lebih penting dari upaya pemanfaatan pandangan tersebut bagi upaya pendidikan. Sebagian besar filosof beranggapan bahwa hakikat manusia adalah hewan yang dapat dididik (animal educantum). Hakikat manusia ini didukung oleh hakikat lainnya yang dikenal dalam sejarah pemikiran Eropa Barat sebagai: homo sapies (manusia yang mengetahui dan dibekali dengan akal), homo ludens (manusia yang bermain-main),
  • 56. 34 homo recens (manusia yang membuat sejarah), homo faber (manusia teknis yang menggunakan alat-alat), homo simbolicum (manusia yang mengenal simbol-simbol bahasa), homo concors (manusia yang hidup seimbang antara dirinya dengan orang lain dan masyarakat sekitar), homo economicus (manusia sebagai makhluk ekonomi), dan animal rational (hewan yang rasional) (kartono, 1992). Selin itu, ada pula pihak yang beranggapan bahwa hakikat manusia justru terletak pada semangat spiritualnya dalam menjalin hubungan dengan Tuhan. Menurut pandangan ini manusia yang paling hakiki adalah manusia yang beragama. Untuk mengetahui perbedaan pandangan tadi, kita dapat memimjam kerangka analisis Phenix (1964) dalam bukunya Realms of Meaning. Ia menempuh dua langkah penting dalam mengungkapkan hakikat manusia, yaitu: Pertama, ia mengidentifikasi interpretasi wilayah kajian ilmu Kimia, Fisika, Biologi, Psikilogi, Sosiologi, Ekonomi, Politik, Antropologi, Linguistik, Seni, Moral, Sejarah Dan Teologi dalam menjelaskan hakikat manusia. Kedua, ia melakukan rekonstruksi pengertian tentang hakikat manusia berdasarkan sejumlah tafsiran yang diajukan ahli dari berbagai disiplin ilmu. Pada akhir analisisnya, ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa hakikat manusia terletak dalam dunia kehidupan makna.41 41 Krech, D. dan Crutchfield, R., Individual In Society (Tokyo: Mc Graw-Hill Kogakusha,1962), hlm. 279
  • 57. 35 Dengan asumsi bahwa makna memiliki kesejajaran arti dengan nilai, maka landasan filosofis pendidikan nilai yang dapat ditegakkan pada dua kemungkinan posisi, yaitu: 1) filsafat pendidikan nilai pada dasarnya tidak berpihak pada salah satu kebenaran tentang hakikat manusia yang dicapai oleh suatu aliran pemikiran, karena nilai adalah esensi hakikat manusia yang dapat mewakili semua pandangan. 2) filsafat pendidikan berlaku selektif terhadap kebenaran hakikat manusia juga menyangkut substansi kebenarannya yang dapat berlaku kontektual dan situasional.b) Landasan Psikologis Kehasan psikologi dalam menelaah manusia terletak pada pandangannya bahwa sebagai individu selalu tampil unik keunikan mansia dilihat dari sisi mental dan tingkah lakunya berimplikasi pada asumsi psikologis berikutnya bahwa pada hakikatnya tidak ada seorang pun anak manusia dengan anak manusia yang sama persis dengan anak manusia lainnya. Asumsi seperti ini memang dapat dikesani ekstrem karena dapat menfikan kebenaran generalisasi atau teori perkembangan dunia psikologis manusia. Walaupun demikian, psikologi mencoba untuk menarik batas kemiripan melalui kaedah-kaedah perkembangan mental manusia beserta ciri-ciri perilakunya. Keutuhan manusia sebagai organisme dijelaskan melalui aspek-aspek psikis yang berkembang secara dinamis. Demikian pula bebedaan individu ditarik pada prinsip-prinsip dasar
  • 58. 36 yang mewakili setiap fase pertumbuhan dan perkembangan manusia. Dengan berdasarkan pada kaidah-kaidah umum Psikologi seperti itu, landasan pendidikan nilai dapat dijelaskan. 1. Motivasi Setiap orang memiliki motivasi untuk bertindak sesuai dengan keinginan, minat dan kebutuhannya. Motivasi merupakan suatu usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar ia tergerak hatinya untuk bertidak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu. Karena itu dalam kajian psikologi, motivasi sering dipertimbangakan sebagai sutu tindakan diri seseorang. 42 Apabila dikaitkan dengan pendidikan nilai sebagai suatu upaya penyadaran nilai pada peserta didik, maka motivasi menjadi aspek penting yang perlu dipertimbangkan. Dari sejumlah kajian tentang motivasi menunjukkan bahwa dorongan-dorongan psikologis manusia bergerak secara dinamis dalam suatu kontinum yang menempatkan nilai pada ujung pertimbangan psikologis. Dalam teori sikap dari Newcomb misalnya, nilai ditempatkan di atas sikap dan keyakinan seseorang, demikian pula dalam teori kebutuhan dari Murray, nilai ditempatkan di atas kebutuhan psikogenetik individu”43 42 Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002),hlm. 71 43 Hall, C.S dan Linzey, G., Introduction to Personality Theory (New York: John Wileydan Sons, 1985), hlm. 316-318
  • 59. 37 Hal tersebut berimplikasi bahwa pendidikan nilai harus mampu membangkitkan motivasi peserta didik ke arah tindakan yang didasarkan pada pilihan kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Tindakan yang positif itu harus senantiasa dijaga ketahanannya agar berlangsung lama dan terinternalisasi pada diri peserta didik.2. Perbedaan Individu Pebedaan individu merupakan aspek lain yang menjadi landasan pengembangan pendidikan nilai secara psikologis. Seperti telah dikemukakan pada bagian sebelumnya, pebedaan individu mencerinkan adanya keunikan pada peserta didik. Tidak mungkin seorang siswa memiliki minat, keinginan, sifat, keyakinan dan nilai dalam frekuensi dan intensitas yang sama dengan apa yang dimiliki siswa lain. Demikian pula, secara fisik ia tidak mungkin memiliki bentuk fisik yang sama, meski dilahirkan sebagai saudara kembar. Perbedaan yang dimiliki individu baik secara fisik maupun mental dapat menjadi kekuatan atau kelemahan pada dirinya. Dalam fenomena pendidikan, misalnya ada siswa yang cerdas, rajin, tekun, shaleh atau gemuk, tetapi sebaliknya ada pula yang bodoh, malas, nakal, atau kurus. Satu atau lebih ciri berbedaan itu mungkin melekat pada diri seseorang dan menjadi kekuatan atau kelemahan pada dirinya. Perbedaan individu berimplikasi pada kurikulum pendidikan nilai dalam membimbing dang mengajarakan peserta didik ke arah
  • 60. 38 pilhan nilai kehidupan yang tepat, fungsional, kontektual, serta sesuai dengan kebutuhan kehidupan mereka. Seperti yang dihadapi pendidikan pada umumnya, masalah krusial pendidikan nilai terletak bagaimana pendidikan nilai dapat dilakukan secara adil. Adil dalam arti nilai diajarkan dengan tidak mengabaikan perkembangan nilai subjektif yang lahir secara perorangan dan juga tidak melupakan nilai objektif kelompok. Dengan kata lain, nilai subjektif dan nilai objektif keduanya harus dikembangkan secara seimbang. Persoalan ini memang tidak sederhana, karena konsep keadilan dalam belajar nilai pada akhirnya akan sampai pada pertanyaan tentang apa materinya dan bagaimana metodenya. Karena itu, untuk mengatasi kompleksitasperbedaan individu dalam belajar nilai pendidik sebaiknya memilih materi secara elektik sesuai dengan topik pembelajaran, kebutuahan siswa, dan kontek kehidupan.44 Pilihan secara eklektik jiga dapat dilakukan dalam menentukan metode atas dasar pertimbangan konteks pengembangan nilai secara mandiri pada peserta didik dan peran-peran penguatan secara imperatif artinya sifat pembelajaran yang menekankan atau mengharuskan peserta didik memiliki nilai atau moral yang baik.45 44 Power, E.J., Philosophy of Education; Studies in Philosoies, Schooling, and EducationalPolicies (New Jersey: Prentice-Hall Inc, 1982), hlm. 91 45 Tafsir, Ilmu Pendidikan Perspektif Islam (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1995),hlm. 45-48
  • 61. 39 3. Tahapan Belajar Nilai Dalam memahami nilai, anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan pengalamannya. Hal ini tidak berarti semua pengalaman anak berlangsung dalam suatu kejadian dan kesatuan yang utuh. Pengalaman pada diri anak pada umumnya merupakan petunjuk kearah perkembangan persepsi dan tindakan yang pada gilirannnya menuntut proses belajar untuk membangun pengalaman itu. Karena itu, strategi dasar yang harus dikembangkan oleh guru meliputi: (1) identifikasi nilai dan tujuan yang hendak dicapai oleh anak, (2) menyusun pengalaman kehidupan yang matang terhadap pengembangan nilai, dan (3) menyediakan sejumlah pengalaman yang memperluas kemampuan anak dalam membangun nilai secara mandiri. Untuk itu, pendidikan nilai pada anak perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan minat dan kepedulian anak terhadap nilai. Egan (UNESCO, 1991) menjelaskan bahwa perkembangan minat dan kepedulian anak terhadap nilai berlangsung dalam empat tahapan, yaitu: tahapan mitos, romantis, filosofis dan ironis. Keepat tahap perkembangan itu berlangsung seiring dengan pertumbuhan fisik anak yang semakin lama semakin dewasa. Secara rinci empat tahapan perkembangan itu dijelaskan pada bagan berikut ini.4646 Rokhmat Mulyana, op. cit., hlm. 129-130
  • 62. 40Tahapan /Usia Jenis Karakteristik Perkembangan Anak belajar melalui cara bermain dan berceritera. Mereka bahagia bermain dengan objek mainan yang melibatkan Tahap Mitos perasaan mereka. Pada tahap ini (5-10 tahun) nilai-moral merupakan perhatian utama yang dibedakan secara hitap putih seperti baik dan jelek, sayang dan benci, suka dan tidak suka, dan sebagainya. Pada rentang usia ini, anak berharap terhadap informasi yang dapat memberikan uraian Tahap Romantis tentang manusia, semangat (8-15 tahun) hidup, petualangan, pengembangan teknologi, olah raga, sampai pada persoalan yang asing bagi dirinya. Tahap ini didominasi oleh keinginan remaja untuk menyederhanakan urutan pengalaman melalui pengambilan kesimpulan yang Tahap Filosofis dibuat sendiri tau melalui tatanan (14-20 tahun) hukum dan peraturan yang sudah baku. Pada tahap ini pula biasanya anak merasa frustasi apabila ada perlakuan-perlakuan khusus atau ada pertentangan dalam penegakan hukum. Pada tahap ini, remaja akhir atau orang dewasa mencoba untuk mencari kesimpulan yang jelas berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya. Tetapi penarikan kesimpulan dan penjelasan, termasuk pada hal- Tahap Ironis hal yang kontradiktif dan (20 tahun ke atas) membingungkan, tidak saja dihargainya tetapi juga disenanginya. Pada tahap ini anak remaja akhir dan orang dewasa tidak lagi merasa frustasi dengan adanya sesuatu yang bertentangan atau berlawanan.
  • 63. 41 Selain model perkembangan di atas, masih ada model perkembangan lainnya yang dapat dirujuk sebagai dasar penyadaran nilai pada peserta didik. Tahap perkembangan moral tersebut adalah sebagai berikut: Menurut Lawrence Kohlberg ada tiga tahap perkembangan moral yaitu: ”pra oprasional, konkret oprasional, formal oprasional”.47 Dan menurut Jean Piaget atau tiga tingkat pertimbangan moral (prakonvensional, moralitas konvesional, moralitas konvesional”.48 Tahapan-tahapan perkembangan minat dan kepedulian anak terhadap nilai sebagaimana dikemukakan di atas memiliki implikasi luas bagi ”pendidikan nilai”. c) Landasan Sosial Manusia adalah makhluk sosial. Manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa adanya keterlibatan orang lain atau tanpa melibatkan diri dengan orang lain. Hubungan saling membutuhkan antar individu menandakan bahwa manusia tidak dapat hidup terisolasi dari dunia sekitar. Itulah sebabnya, manusia dalam sejarah pemikiran Eropa Barat disebut homo concors; yakni makhluk yang dituntut untuk hidup secara harmonis dalam lingkungan masyarakatnya. Adalah tidak mungkin bagi manusia untuk secara mutlak mementingkan dirinya sendiri (Absolute egoism), demikian pula manusia tidak akan mampu hidup sepenuhnya 47 Spilka, B., The Psychology of Religion; An Empirical Approch (New Jersey: Prentice-Hall, 1985), hlm. 62-72 48 Syah, M., Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru (Bandung: PT Rosdakarya,2000), hlm. 77-78
  • 64. 42hanya untuk mementingkan orang lain (absolute altruism). MenurutDurkheim, kedua karakteristik perilaku ekstrem tersebut merupakanbatas ideal yang tidak pernah dicapai dalam realitas kehidupan manusia. Eksistensi sosial manusia berada di antara dua kutub tersebut.Manusia memiliki keyakinan, sikap, dan tindakan sosial yang lahirkarena adanya kebebasan. Tetapi, pilihannya tidak dapat dilepaskansepenuhnya dari pengaruh-pengaruh dan kepentingan orang lain. Setiaptindakan sosial memiliki tindakan sosial memiliki tujuan dan caramencapai tujuan itu dilakukan melalui belajar dari pengalaman (trialand eror) dalam suatu proses sosial. Proses seperti ini dialami olehsetiap orang, dan semakin lama semakin mencapai kematangan. Sebagai jalinan kompleks, proses sosial melibatkan sentimenmoral yang berkadar kebaikan kepada orang lain dan sentimen yangmengarah pada pemenuhan keinginan pribadi. Sentimen moral dapatmenimbulkan aturan-aturan sosial yang mengarahkan kepentingan diri,mengendalikan sikap egois dan mendorong hati yang alamiah, sehinggamemungkinkan terwujudnya sebuah kehidupan sosial atas konsesusbersama. Prinsip moralitas sosial didasarkan pada asumsi bahwamanusia mengakui tindakan dan sikap orang lain apabila iamembayangkan dirinya sendiri berada dalam situasi orang lain. Dengankata lain ia mampu bersikap simpatik atau empatik pada orang lain. Keterikatan antara kebutuhan pribadi dengan kepentingan oranglain, berada dalam pola-pola tanggapan hubungan interpersonal. Pola
  • 65. 43 itu meliputi: pergerakan mendekati orang, menentang orang dan pergerakan menghindari orang. Kecendrungan mendekatkan diri pada orang lain mencerminkan bahwa manusia memilki kebutuhan hubungan akrab, kerelaan untuk menjalin persahabatan, pertimbangan suka-tidak suka orang lain terhadap dirinya. Kecendrungan menentang orang lain berarti keinginan untuk mengetahui kemampuan orang lain dan memperhitungkan andil orang lain bagi dirinya. Sedangkan menghindari orang lain menunjukkan adanya anggapan bahwa orang lain akan mengganggu dirinya. Pola-pola hubungan interpersonal seperti itu dalam psikologi-sosial, dirumuskan ke dalam sejumlah indikator yang lebih terinci, sehingga kecendrungan sosiometrik seseoarang dapat diidentivikasi dengan jelas. Teori psikologi sosial menjelaskan bahwa ikatan sosial diwujudkan dalam kontek hubungan interpersonal yang melibatkan stimulus, respon, dan tafsiran antar pribadi dalam pola-pola interaksi sosial. Hubungan menjadi bermakna karena didalamnya melibatkan sikap, keyakinan dan tindakan.49 Malim menjelaskan bahwa tindakan sosial individu merefleksikan sikap dan keyakinan seseorang terhadap objek sosial. Karena itu kognisi, perasaan, dan tindakan merupakan aspek-aspek yang saling berkaitan satu sama lainnya dan membentuk suatu sistem sikap, keyakinan dan nilai. Konteks hubungan sosial49 Hall, C.S dan Linzey, G., op.cit., hlm. 598
  • 66. 44 dibentuk dalam pola ikatan tertentu dengan menyertakan aspek-aspek psikologis individu dan kelompok. Pandangan-pandangan di atas memiliki implikasi penting bagi pengembangan pengembangan nilai. Sebagai proses penyadaran nilai pada peserta didik, pendidikan nilai perlu dirancang dengan mengangkat nilai-nilai kehidupan sosial yang aktual dan kontektual. Peserta didik perlu diberi kesempatan untuk memeriksa, mempertimbangkan, dan membuat keputusan atas isu-isu sosial serta bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya. Target utama pendidikan nilai secara sosial adalah membangun kesadaran-kesadaran interpersonal yang mendalam. Peserta didik dibimbing untuk mampu menjalin hubungan sosial secara harmonis dengan orang lain, berempati, suka menolong, jujur, bertanggungjawab, dan menghargai perbedaan pendapat. Semua sikap dan perilaku itu dapat membantu peserta didik untuk hidup secara sehat dan harmonis dalam lingkungan sosial yang dihuninya.d) Landasan Estetik Manusia adalah makhluk yang memiliki cinta rasa keindahan. Cita rasa keindahan (estetik) berkembang sesuai dengan potensi setiap individu dalam menilai obyek-obyek yang bernilai seni. Pada tingkatan tertentu cita rasa keindahan berkembang secara subyektif, dalam arti setiap orang dapat mengespresikan kualitas dan intensitas keindahan yang berbeda. Namun pada tingkatan yang lebih tinggi, cita rasa
  • 67. 45keindahan dapat sampai pada penemuan makna keindahan yang hakiki,sehingga ia berada pada wilayah yang obyektif, yakni suatu kebenarandan kebaikan estetik yang bernilai universal. Dalam proses perkembangannya, cita rasa keindahan melibatkansemua domain yang ada pada diri seseorang, meski yang paling domainadalah aspek perasaan. Proses ini berbeda dari verifikasi empirik dalammenguji kebenaran ilmu pengetahuan. Nilai-nilai estetik berkembangdan dibangun berdasarkan pada keindahan yang terdapat dalam obyekseni. Karena itu, seseorang yang hendak mengembangkan intuisiestetiknya, ia harus mampu mengelompokkan, menimbang, dan menilaifakta-fakta keindahan atau menciptakan bentuk-bentuk karaya seni. Cita rasa keindahan juga berkembang karena manusia memilikiindra. Manusia dapat memperoleh keindahan melalui penglihatan danpendengaran. Dalam teori estetika, cita rasa keindahan yang diperolehmelalui dua indra tersebut disebut pengalaman estetika tingkat tinggi,sedangkan cita rasa keindahan yang masuk melalui indra lain (hidung,kulit, lidah) merupakan pengalaman estetik tingkat rendah. Hirarkiestetik ini dibedakan oleh para ahli berdasarkan jarak antara nilaikeindahan dengan fungsi indra secara fisik. Maxine Grenee mengupas detail mengenai komponen estetikabeserta implikasinya terhadap pendidikan. Pada salah stu bagianpembahasannya ia menyatakan bahwa nilai estetika perlu dibelajarkankepada peserta didik agar mereka mengetahui bagaimana cara belajar
  • 68. 46 yang bermakna. Dalam pendidikan nilai ini baik guru maupun siswa melibatkan proses pemahaman rasa, pilihan pribadi, dan tatanan bentuk yang erat kaitannya dengan karakteristik estetika.50e) Landasan Yuridis Penyelenggaraan pendidikan nilai dalam konteks Pendidikan Nasional sebenarnya memilki landasan hukum yang kuat. Ideologi negara, undang-undang, dan GBHN merupakan ketentuan yuridis yang banyak mengandung pesan nilai. Karena itu, pendidikan nilai memiliki posisi yang sangat strategis dalam pendidikan nasional, walaupun istilah pendidikan nilai belum terdefinisikan secara tegas dalam kurikilum pendidikan formal. Kalau dilacak lebih jauh, landasan-landasan yuridis yang dapat dijadikan pijakan dalam mengembangkan pendidikan nilai meliputi empat landasan utama, yaitu: Pertama, pancasila sebagai landasan ideal bangsa. Sebagai kristalisasi nilai-nilai luhur bangsa, Pancasila kaya dengan pesan nilai, moral dan etika asli bangsa. Sebab itu, landasan ideal berbangsa dan bernegara ini dapat dijadikan landasan yang kuat bagi penyelenggaraan pendidikan nilai di sekolah, keluarga atau masyarakat. Secara hierarkis sila-sila yang terdapat dalam Pancasila dengan jelas menempatkan nilai ketuhanan sebagai bagian terpenting, yang kemudian diikuti oleh nilai kodrat kemanusiaan, dan kemudian nilai etis-filosofis persatuan,50 Rokhmat Mulyana, op.cit., hlm. 134-135
  • 69. 47kerakyatan, dan keadilan sosial. Semua nilai yang terkandung dalampancasila itu tentunya bukan sekedar simbol-simbol retorik saja, tetapimerupakan filsafat atau ideologi bangsa yang harus benar-benardirealisasikan dalam kehidupan berbangsa, berbangsa dan beragama. Kedua, Undang-undang Dasar tahun 1945 (UUD ’45) sebagailandasan konstitusional bangsa. Sebagaimana Pancasila, UUD ’45memiliki pesan nilai, moral dan norma bangsa. Pesan nilai itu tercerminbaik dalam bagian pembukaan maupun dalam batang tubuhnya. Nilaiketuhanan, kodrat kemanusiaan, etis-filosofis bangsa tampak dalambagian pembukaan, sedangkan pengoganisasian nilai yang terdapatdalam prinsip-prinsip filsafat, polotik, ekonomi etika dan agama bangsadapat ditemukan dalam batang tubuh UUD ’45. Karena itu, suatu upayapendidikan nilai memiliki dasar konstitusional yang jelas dan kuatdalam mengembangkan nilai-nilai kehidupan bangsa. Ketiga, Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1993sebagai landasan oprasional bangsa. Sebagai penjabaran dari norma-norma hukum yang terdapat dalam UUD ’45, GBHN dapat dijadikanrujukan yang jelas tentang tujuan pendidikan, utamannya pendidikannilai. Rumusan tujuan pendidikan nasional yang terdapat dalam GBHN1993 dengan jelas mengungkapkan lima dari tujuh karakter manusiaIndonesia yang bersifat aktif, yaitu: ketakwaan, budi pekerti,kepribadian, semangat bangsa, dan cinta tanah air. Pengembangan lima
  • 70. 48 aspek itu merupakan garapan utama pendidikan nilai, disamping membantu bangsa agar menjadi cerdas dan terampil. Keempat, Undang-undang Sistem Nasional (UUSPN) Nomor 20 tahun 2003 sebagai landasan operasional penyelenggaraan Pendidikan Nasional. Dengan ditetapkannnya UUSPN ini sebagai pengganti UUSPN Nomor 2 tahun 1989, maka status dan peran pendidikan nilai semakin kuat. Pengembangan aspek-aspek afektif dalam pendidikan formal yang semakin dituntut seimbang dengan dua aspek lainnya, yaitu kognitif dan psikomotorik, sekaligus memperkuat posisi Pendidikan Nilai dalam kontek pendidikan Nasional. Demikian pula, revitalisasi pendidikan agama disekolah mengandung arti bahwa Pendidikan Nilai yang diselenggarakan atas dasar keyakinan beragama perlu ditumbuhkan secara optimal dan unik sesuai dengan potensi-potensi umat beragama. Dengan demikian pendidikan nilai dalam misisnya sebagai penyadaran nilai-nilai humanistik maupun nilai-nilai religius berapa pada posisi yang kuat dan peranan yang tidak kalah pentingnya dari pada pendidikan akademis.51f) Landasan Religi Walaupun Indonesia bukan negara agama, bangsa Indonesia adalah bangsa yang beragama. Setiap pribadi bangsa memiliki keyakinan bahwa nilai ketuhanan adalah nilai tertinggi. Perwujudan51 Rokhmat Mulyana, op.cit., hlm. 152-153
  • 71. 49atas keyakinan yang dianut dicerminkan dalam beragam bentukritualitas peribadatan yang dilakukan oleh setiap komunitas beragama. Adanya perbedaan agama yang dianut bangsa Indonesia menuntutkehati-hatian dalam menafsirkan istilah iman dan taqwa. Iman dantaqwa yang digunakan sebagai indikator keyakinan beragama dalamPancasila, UUD 1945, GBHN 1993, dan UUSPN 2003 menunjukkanmakna tunggal ika, sedangkan pemberian isi yang berbeda dalam keduaistilah itu berarti bhineka. Dengan kata lain, secara literal terminologiiman dan takwa berlaku umum untuk semua agama, tetapi secarasubtansial hal itu dapat dimaknai berbeda. Pada pemaknaan seperti ini,penulis hendak mendudukan landasan religi pendidikan nilai dalamskripsi ini sebagai landasan agama yang dilihat dari perspektifpandangan Islam agar lebih fokus. Sebagai cara hidup (way of life), Islam telah mengajarkanberbagai aspek kehidupan kepada manusia agar hidup selamat danakhirat. Pemeliharaan dan pengembangan aspek-aspek kehidupa ituditempuh melalui proses pendidikan di sekolah, keluarga danmasyarakat. Dalam terminologi Islam, pendidikan memiliki padanan katabahasa arab yang beragam. Ta’lim, tarbiyah, dan ta’dib merupakan tigaistilah yang mengandung kesetaraan arti dengan pendidikan. Namun,kalau dikaji lebih jauh tiga istilah tadi memiliki tekanan pemaknaanpendidikan yang berbeda. Ahli pendidikan Islam tampaknya sepakat
  • 72. 50kalau ta’lim memiliki kesetaraan arti dengan pengajaran, tetapi ketikaberbicara tentang tarbiyah dan ta’dib, kedua istilah ini seringditafsirkan agak berbeda. Sebagai misal, untuk mewakili istilahpendidikan an-Nahlawi memilih kata tarbiyah, sedangkan Langgulungmemikih kata ta’dib. Keduanya memang memiliki alasan yang rasional. Terlepas dari perbedaan itu, pembelajaran nilai-nilai agamamemiliki landasan yang mendasar dalam Islam. Bahkan dapatdikatakan, landasan pendidikan nilai dalam perspektif Islam yangmengandung pesan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang diperlukanoleh umat manusia. Dengan demikian, dapat diasumsikan pula bahwasecara umum pendidikan nilai dalam perspektif Islam adalahpendidikan Islam itu sendiri. Adapun hal yang agak membedakannyahanya terletak pada hubungan fungsional antara keduanya. Pendidikannilai lebih berkarakter aktif dan berkeinginan untuk mengkonstruksicara-cara pembelajaran yang lebih bermakna bagi terciptanya praktik-praktik pendidikan Islam yang lebih bermutu. Selain itu landasan religi, yang menguatkan pentingnyapendidikan nilai dalam perspektif Islam dapat dilihat dari hakikat fithahsebagai potensi dasar yang positif. Fitrah adalah kekuatan intipencerahan batin manusia yang secar signifikan berbeda dari konseptabularasa. Namun, pada diri manusia terdapat fakultas akal, nafsu, danhati yang saling mengalahkan, potensi dasar ini bisa saja tidakberkembang, ia ditutup oleh nafsu yang melakukan pembangkangan
  • 73. 51 terhadap eksistensinya, sehingga ketajaman intuisi ketauhidan yang melekat pada dirinya menjadi tumpul dan kurang berkembang. Karenanya, dinamika ruhaniyah yang terjadi pada diri manusia perlu dibimbing ke arah kesadaran nilai dan tindakan yang bernilai melalui suatu upaya pendidikan nilai yang berbasis pada pendidikan moral beragama.523. Klasifikasi Pendidikan Nilai Pendidikan nilai merupakan penanaman dan pengembangan nilai-nilai pada diri seseorang. Untuk itu dalam skripsi ini akan menjelaskan klasifikasi nilai yang harus dikembangkan pada seseorang. Adapun klasifikasi pendidikan nilai tersebut adalah sebagai berikut: 1. Pendidikan Nilai Sosial Pendidikan nilai sosial adalah penanaman nilai-nilai yang mengandung unsur-unsur sosial. dalam dimensi ini terkait dengan interaksi sesama manusia mencakup berbagai norma baik kesusilaan, kesopanan dan segala macam produk hukum yang ditetapkan manusia. Misalnya: Gotong Royong, toleransi, kerjasama, ramah tamah, solidaritas, kasih sayang antar sesama, perasaan simpatik dan empatik terhadap orang lain, bersahabat dan sebagainya. 2. Pendidikan Nilai Religi Pendidikan nilai agama (religi) adalah penanaman nilai-nilai yang mengandung aspek agama. Nilai-nilai yang mengandung aspek agama di 52 Rokhmat Mulyana, op.cit., hlm. 153-155
  • 74. 52 sini dimaksudkan sebagai nilai-nilai yang mengandung unsur keislaman. Oleh karena itu, kajian penanaman nilai-nilai Islami di sini tidak mengupas aspek-aspek tersebut secara terperinci, namun dibatasi pada nilai-nilai pokok ajaran Islam. Nilai pokok ajaran Islam tersebut meliputi aqidah, syariah dan akhlaq. Berikut ini akan dibahas ketiga komponen pokok tersebut adalah sebagai berikut: a) Aqidah Aqidah adalah dimensi ideologi atau keyakinan dalam Islam. Ia merujuk kepada beberapa tingkat keimanan seseorang muslim terhadap kebenaran Islam, terutaman mengenai pokok-pokok keimanan Islam.53 Dalam hal ini, penanaman nilai-nilai mengenai pokok keimanan Islam, ketaqwaan, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Contoh pendidikan nilai dalam ranah ini adalah kewajiban manusia untuk senantiasa bertaqwa pada Allah dan bersyukur yang termuat dalam Surat Lukman ayat 12-13: ãä3ô±o„ $yϑΡÎ*sù öà6ô±tƒ tΒuρ 4 ¬! öä3ô©$# Èβr& sπyϑõ3tø:$# z≈yϑø)ä9 $oΨ÷s?#u™ ô‰s)s9uρ Ï ß≈yϑø)9 tΑ$s% øŒ)uρ ä Î ∩⊇⊄∪ Ó‰‹Ïϑym ;©Í_xî ©!$# ¨βÎ*sù tx x. tΒuρ ( ϵšø uΖÏ9 ÒΟŠÏàtã íΟù=às9 x8÷ŽÅe³9$# žχÎ) ( «!$$Î/ õ8Ύô³è@ ω ©o_ç6≈tƒ …çµÝàÏètƒ uθèδuρ ϵÏΖö/eω Ý Ÿ ¢ ∩⊇⊂∪ 53 Mawardi Lubis, Evaluasi Pendidikan Nilai: Perkembangan Moral KeagamaanMahasiswa PTAIN (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2008), hlm. 24
  • 75. 53 Artinya: 12. Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, Yaitu: Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. 13. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.54 Adapun target pendidikan nilai hubungannya dengan term aqidah adalah membangun keyakinan interpersonal yang mendalam terhadap kebenaran Islam dan pokok ajarannya. b) Syariah Syariah merupakan aturan atau undang-undang Allah SWT tentang pelaksanaan dan penyerahan diri secara total melalui proses ibadah secara langsung maupun tidak langsung dengan sesaman makhluk lain, baik dengan sesama manusia, maupun dengan alam sekitar. Atau menurut Imam Idris As-Sayafi’i mengemukakan bahwa syariat adalah peraturan-peraturan lahir bagi umat Islam yang bersumber pada wahyu Allah dan kesimpulan-kesimpulan (deducation) yang dapat ditarik dari wahyu Allah dan sebagainya. Peraturan lahir itu mengenai cara bagaimana manusia berhubungan dengan Allah dan sesama makhluk lain selain Allah. Disinilah fungsi penanaman nilai-nilai syariah bagi seseorang. Dengan penanaman nilai-nilai syariah sesorang dapat mengetahui cara bagaimana manusia berhubungan dengan Tuhan dan cara-cara54 Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Semarang: Menara Kudus, 1990), hlm. 412
  • 76. 54 beribadah (ittiqaddiyah) dan mengatur cara bagaimana manusia menyelenggarakan makhluk, yaitu antara manusia dengan manusia dan manusia dengan makhluk lain selain manusia.55 c) Akhlak Akhlak adalah bentuk plural dari khuluq yang artinya tabiat, budi pekerti, kebiasaan.56 Sedangkan Imam Al-Ghazali mengemukakan definisi akhlak sebagai berikut: ‫ل‬ ‫را‬ ‫را‬ ‫ا‬ ‫ه‬ ‫رة‬ ‫ا‬ ‫و رو‬ ‫إ‬ ‫و‬ Artinya: “Akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran (lebih dahulu)”.57 Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa akhlak adalah kebiasaan dan kehendak. Kebiasaan adalah perbuatan yang selalu diulang-ulang sehingga mudah untuk melaksanakannya, sedangkan kehendak adalah menangnya keinginan manusia setelah mengalami bimbingan. Dari uraian di atas, penulis mengasumsikan bahwa akhlak merupakan suatu bentuk nilai yang harus ditanamkan pada diri seseorang. Tujuan dari penanaman nilai akhlak pada diri seseorang yaitu agar seseorang dapat mengetahui batas mana yang baik dan 55 Mohd. Idris Ramulyo, Asas-asas Hukum Islam: Sejarah Timbul danBerkembangnyaKedudukan Hukum Islam dalam Sistem Hukum di Indonesia (Jakarta: SinarGrafika, 2004), hlm. 8 56 Mawardi Lubis, op.cit., hlm. 26. 57 Mustofa, Akhlak Tasawuf (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1999), hlm. 12
  • 77. 55 batas mana yang buruk. Juga dapat menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya. 3. Pendidikan Nilai Estetik Nilai estetik adalah nilai yang lebih menghasilkan pada penilaian pribadi seseorang yang bersifat subyektif. Selain itu nilai estetik melekat pada kualitas barang atau memiliki sifat indah. Kecendrungan orang yang memiliki jiwa keindahan biasanya memiliki jiwa yang kreatif, terampil dan inovatif. Dan nilai estetik ini biasanya banyak dimiliki oleh para seniman, seperti musisi, pelukis atau perancang model. Penanaman nilai-nilai yang mengandung unsur-unsur keindahan dan keragaman inilah disebut dengan pendidikan nilai estetik. Pendidikan nilai estetik ini mengarahkan bakat dan membekali seseorang menjadi orang yang ahli sesuai dengan keahliannya.58 4. Pendidikan Nilai Personal Nilai personal adalah nilai-nilai yang bersifat personal terjadi dan terkait secara pribadi atas dasar dorongan-dorongan yang lahir secara psikologi dalam diri seseorang. Misalnya nilai tanggungjawab, daya juang, bekerja keras, percaya diri, berprestasi, rajin, rendah hati, pandai. Selain itu dalam al-Qur’an, banyak dijelaskan contoh pendidikan nilai dalam ranah ini, yaitu: berlaku adil dan tidak mengumbar kebencian. 58 Diane Tillman, Living Value: An Educational Program “Living Value Activities ForChildren Ages 8-14” ( Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 2004), hlm. 13
  • 78. 56 Dalam surat Al-Maaidah ayat 8 diterangkan: Ÿωuρ ( ÅÝó¡É)ø9$$Î/ u™!#y‰pκà− ¬! šÏΒ≡§θs% (#θçΡθä. (#θãΨtΒ#u™ šÏ%©!$# $pκš‰r≈tƒ ( 3“uθø)−G=Ï9 Ü>tø%r& uθèδ (#θä9ωôã$# 4 #θä9ω÷ès? žωr& #’n?tã BΘöθs% ãβ$t↔oΨx© öΝà6¨ΖtΒ̍ôftƒ ( ∩∇∪ šχθè=yϑ÷ès? $yϑ/ 7ŽÎ6yz !$# žχÎ) 4 ©!$# (#θà)¨?$#uρ Î © Artinya: 8. Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.59 Nilai-nilai di atas perlu ditanamkan pada diri seseorang agar membangun pribadi-pribadi yang mandiri, tidak mudah goyah dan professional.60C. Pengembangan Pendidikan Islam 1. Pengertian Pengembangan Pendidikan Islam Pengembangan dalam kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai proses, cara, perbuatan mengembangkan.61 Pengembangan dalam pendidikan sangat luas cakupannya. Pada kajian skripsi ini hanya difokuskan pada pengembangan pendidikan Islam melalui penanaman nilai-nilai (pendidikan nilai). Tentunya agar penanaman nilai ini lebih dapat dicapainya, maka pendidikan sebenarnya merupakan sebuah proses tingkah laku peserta didik. 59 Al-Qur’an dan Terjemahannya, op.cit., hlm. 108 60 Rokhmat Mulyana, op.cit., hlm. 30 61 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 1989), hlm. 414
  • 79. 57 Dinyatakan pengertian pendidikan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah sebagai berikut: Pendidikan adalah usaha agar manusia dapat mengembangkan dirinya melalui proses pembelajaran dan/atau … Undang-Undang Dasar Negara Republika Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan dan ayat (3) menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.62 Batasan ini dengan sangat nyata bahwa pendidikan Islam memiliki peranan penting dalam menyelenggarakan sistem pendidikan nasional. Pendidikan Islam yang menurut Ahmad D. Marimba bermaksud untuk membimbing jasmani-rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.63 Sedangkan Zuhairini, dkk, Pendidikan Agama berarti usaha-usaha secara sistematis dan pragmatis dalam membantu anak didik agar supaya mereka hidup sesuai dengan ajaran Islam.64 Dan dalam buku “Wacana Pengembangan Pendidikan Islam” dijelaskan bahwa Pendidikan Islam adalah pendidikan yang didirikan dan diselenggarakan atas dasar hasrat, motivasi, dan semangat untuk memanifestasikan atau mengejawantahkan nilai-nilai Islam, baik nilai- 62 Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem PendidikanNasional (Bandung: Citra Umbara, 2003), hlm. 117 63 Ahmad D. Marimba, Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1989), hlm.23 64 Zuhairini, dkk, Methodik Khusus Pendidikan Agama (Malang: Biro Ilmiah FakultasTarbiyah, 1983), hlm. 27
  • 80. 58 nilai ketuhanan maupun nilai-nilai kemanusiaan, melalui kegiatan pendidikan sebagaimana tercakup dalam praktik pendidikan Islam.65 Disinilah pendidikan Islam memiliki perananan penting sebagai sebuah proses perubahan tingkah laku dalam menanamkan nilai-nilai luhur Islam. Penanaman nilai-nilai Islam ini juga membutuhkan peranan guru sebagai seorang pengajar. Guru bertanggungjawab untuk mengajarkan atau menanamkan nilai-nilai ajara-ajaran pokok Islam yang meliputi tiga kerangka dasar, yaitu: aqidah, syariah dan akhlah, kemudian membina peserta didik agar beriman dan bertakwa kepada Allah Swt., serta memiliki akhlak mulia. Penanaman nilai-nilai Islam pada peserta didik inilah yang disebut sebagai pendidikan nilai. Dan implementasi pendidikan nilai ini dapat mewujudkan suatu pengembangan pendidikan Islam khususnya dalam pengembangan moral, karakter, sikap peserta didik yang mengejawantahkan nilai luhur Islam yang sesuai dengan visi, misi dan tujuan Pendidikan Islam. Dari penjelasan di atas dapat ditarik suatu definisi bahwa pengembangan pendidikan Islam merupakan suatu proses, cara atau perbuatan mengembangkan pendidikan Islam melalui penanaman nilai- nilai Islami dengan tujuan untuk mewujudkan perubahan tingkah laku seseorang yang mengejawantahkan nilai-nilai Islam. 65 Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam (Surabaya: Pusat Studi Agama,Politik dan Masyarakat (PSAMP), 2003), hlm. 6
  • 81. 592. Orientasi Pengembangan Pendidikan Islam Pendidikan Islam adalah sistem pendidikan yang sengaja didirikan dan diselenggarakan dengan hasrat dan niat (rencana yang sungguh- sungguh) untuk mengejawantahkan ajaran dan nilai-nilai Islam, sebagaimana tertuang atau terkandung dalam visi, misi, tujuan program kegiatan maupun pada praktik pelaksanaan kependidikannya. Pengembangan pendidikan nilai merupakan salah satu perwujudan dari pengembangan pendidikan Islam. Aktivitas-aktivitas berdasarkan nilai-nilai dalam proses pembelajaran yang biasa disebut dengan value education ini dalam pengembangan pendidikan Islam berorientasi untuk: 1. Mengembangkan manusia yang setuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Pengembangan iman itu dapat ditempuh melalui pengasahan dan pengasuhan jiwa seseorang, pikiran diarahkan untuk menemukan argument baru yang menyangkut objek keimanan seseorang sampai menemukan ketenangan dan ketentraman, sambil beribadah kepada-Nya. Sikap seseorang terhadap Allah ini diaktualisasikan dalam wujud amal shaleh yakni menjalin hubungan dengan Allah dan sesama makhluknya. Aktualisasi dari iman itu menentukan derajat dan tingkat ketaqwaan seseorang;66 2. Dapat mengubah sikap, prilaku yang mengejawantahkan nilai Islami dan motivasi dalam belajar mengajar; 66 Ibid., hlm. 157
  • 82. 60 3. Memperkuat landasan etika moral. Landasan etika moral harus ditumbuh kembangkan sejak awal, dengan melakukan peningkatan kemampuan dalam pertimbangan moral terhadap setiap perilaku yang akan dipilih; 4. Mengembangkan komitmen seluruh SDM terlibat. Parameter komitmen adalah: jujur peduli, tanggung jawab dan lain-lain;67 5. Memotivasi murid dan mengajak mereka untuk memikirkan diri sendiri, orang lain, dan dunianya berdasarkan nilai-nilai keislaman; 6. Dalam prosesnya akan berkembang keterampilan pribadi, keterampilan komunikasi sosial yang positif, dan emosional, sejalan dengan keterampilan sosial yang damai dan penuh kerjasama dengan orang lain; 7. Mengajarkan penghargaan dan kehormatan tiap-tiap manusia. Belajar menikmati nilai ini menguatkan kesejahteraan tiap individu; 8. Setiap murid benar-benar memperhatikan nilai-nilai yang sesuai dengan pokok ajaran Islam dan mampu menciptakan dan belajar yang positif; 9. Murid-murid berjuang dalam suasana berdasarkan nilai keislaman dalam lingkungan yang positif, aman dengan sikap saling menghargai dan kasih sayang.68 67 A. Malik Fajar, dkk., Horizon Baru Pengembangan Pendidikan Islam: Upaya MeresponDinamika Masyarakat Global (Yogyakarta: Aditya Media Yogyakarta Bekerja Sama denganUIN Press, 2004), hlm. 10-11 68 Diane Tillman, op.cit., hlm. 13-14
  • 83. 61 Dari uraian tentang orientasi pengembangan pendidikan Islam di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dengan adanya penanaman nilai-nilai Islam akan membekali individu menjadi manusia yang professional yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, mandiri, cakap dan menjadi seseorang yang bertanggung jawab.D. Pendidikan Nilai dalam Pengembangan Pendidikan Islam 1. Pendidikan Nilai dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) Pendidikan Agama Islam (PAI) dapat dimaknai dari dua sisi: yaitu Pertama, ia dipandang sebuah mata pelajaran seperti dalam kurikulum sekolah umum (SD, SMP, SMA). Kedua, ia berlaku sebagai rumpun pelajaran yang terdiri atas mata pelajaran Aqidah, Akhlaq, Fiqh, Qur’an- Hadist, Sejarah Kebudayaan Islam, dan Bahasa Arab seperti yang diajarkan di madrasah (MI, MTs, dan MA). Pada bagian ini pendidikan nilai melalui PAI dimaksudkan pada pemaknaan yang pertama, walaupun dalam kerangka umum dapat mencakup keduannya. Sebagai mata pelajaran, Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peranan penting dalam menyadarkan nilai-nilai agama Islam kepada peserta didik. Muatan pelajaran yang mengandung nilai, moral dan etika agama menempatkan PAI pada posisi terdepan dalam pengembangan moral beragama siswa. Hal itu sekaligus berimplikasi pada tugas-tugas guru PAI yang kemudian dituntut lebih banyak perannya dalam penyadaran nilai-nilai keagamaan.
  • 84. 62 Beberapa karakter PAI sebagai mata pelajaran diungkapkan dalam buku pedoman khusus PAI (Depdiknas, 2002), sebagai berikut: 1. PAI merupakan mata pelajaran yang dikembangkan dari ajaran-ajaran pokok agama Islam, 2. PAI bertujuan membentuk peserta didik agar beriman dan bertakwa kepada Allah Swt., serta memiliki akhlak mulia, dan 3. PAI mencakup tiga kerangka dasar, yaitu: aqidah syariah dan akhlaq. Berdasarkan karakter di atas, PAI jelas berbeda dengan pelajaran lainnya. Muatan inti PAI adalah nilai-nilai kebenaran dan kebaikan (juga keindahan) yang berasal dari wahyu. Nilai-nilai itu tercakup dalam kerangka dasar PAI yang harus dikuasai oleh peserta didik. Apabila hal itu dikaitkan dengan pendidikan nilai, maka persoalan utama yang menjadi tanggungjawab guru PAI adalah bagaimana agar pengetahuan tentang tiga kerangka dasar itu menyatu dengan kesadaran yang optimal terhadap nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Walaupun mudah diprediksi bahwa belajar al-Qur’an dan as-Sunnah secara inherent melibatkan nilai, perlu dipikirkan cara-cara terbaik agar peserta didik, selain hafal dan mengerti, juga ia memiliki kesadaran yang tinggi untuk melakukannya. Oleh karenanya, kebiasaan mengajar yang terjadi selama ini memerlukan cara yang lebih eksploratif baik deduktif maupun induktif.6969 Rokhmat Mulyana, op.cit., hlm. 198-199
  • 85. 63 2. Pendidikan Nilai dalam Bingkai Cerita dan Kisah Sebagai Bentuk Pengembangan Pendidikan Islam Cerita atau kisah merupakan suatu metode mengajar dengan bentuk bercerita atau berkisah.70 Kegiatan cerita atau kisah merupakan salah satu cara yang ditempuh guru untuk memberi pengalaman belajar agar anak memperoleh penguasaan isi cerita yang disampaikan. Melalui cerita atau kisah diharapkan anak dapat menyerap pesan-pesan yang dituturkan melalui kegiatan bercerita.71 Pengenalan cerita dan kisah yang baik terhadap anak didik sebenarnya sudah sangat dikenal, baik oleh orang tua maupun kalangan pendidik. Akan tetapi dalam kenyataannya, masih saja ada bolong-bolong atau bahkan terdapat keteledoran. Cerita atau kisah, bagaimanapun lebih mudah untuk dipahami dibandingkan dengan wacana yang sering kali kaku dan keras untuk dicerna. Proses identifikasi antara seseorang dan tokoh tertentu sebenarnya bersifat alamiah karena setiap orang butuh untuk dituntun dalam mengarungi kehidupan dan menjalani dirinya sendiri. Bagaimanapun pembentukan karakter melalui tokoh yang baik sangat penting. Misalnya dalam guru PAI memberikan cerita atau tentang seorang tokoh Islam yaitu Nabi Muhammmad, atau Usman Bin Affan dan lain-lain. Oleh karena itulah, cerita atau kisah harusnya selalu ada, diciptakan dan dinikmati. 70 Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak dalam Interaksi Edukatif (Jakarta: PT RinekaCipta, 2000), hlm. 205 71 Moeslichatoen R, Metode Pengajaran di Taman Kanak-Kanan (Jakarta: PT. RinekaCipta, 2004), hlm. 170
  • 86. 64 Akan tetapi tentu saja sangat mengenaskan ketika di negeri ini cerita atau kisah yang layak konsumsi tidak terlalu diperhatikan dengan baik. Cerita atau kisah hubungannya dengan pendidikan nilai yaitu sesuai dengan misi pendidikan nilai adalah memuncakkan domain afektif dalam rangka memanusiakan manusia, maka cerita atau kisah yang ditampilkan mewakili kisi-kisi tentang kemanusiaan dan menjadi manusia. Diantara kisi-kisi itu adalah: menolong sesama, kebermanfaatan, empati, kejujuran, saling berbagi, kesejatian, hikmah (pelajaran berharga), kegigihan dan keuletan, toleransi, menghargai sesama, kesabaran, mengedepankan kebaikan dari pada keburukan, bahaya keburukan, dan kualitas amal. Di sini tidak akan dibahas tentang kebenaran dan alur cerita atau kisah, karena pembahasan yang sebenarnya adalah mengupas kulit, mengambil inti. Bagi sebagian orang, cerita mungkin tidak penting karena hanyalah bingkai untuk memperlihatkan isi yang sebenarnya, yaitu pesan dan nilai yang ada dalam cerita atau kisah. Namun sebagian yang lain cerita atau kisah itu sangat penting karena didalamnya dianggap sebagai frame yang membungkus nilai moral yang diembannya.72 Dari uraian di atas jelaslah bahwa cerita atau kisah sangat membantu dalam menanamkan pesan-pesan atau nilai pada peserta didik. Melalui metode mengajar cerita atau kisah ini, pendidikan nilai telah dimainkan peranannya. Pendidikan nilai dalam bingkai cerita dan kisah ini, sangat membantu perkembangan prilaku atau tingkah laku peserta didik baik72 Zaim Elmubarok, op.cit., hlm. 142-144
  • 87. 65 dalam ranah religi sosial, personal, maupun estetika. Aktivitas tersebut, jika dikaitkan dengan pendidikan Islam akan dapat membantu dalam proses pembelajaran yang nantinya dapat mewujudkan suatu pengembangan dalam pendidikan Islam. Disinilah peranan pendidikan nilai dalam bingkai cerita dan kisah dalam pengembangan pendidikan Islam. 3. Kontribusi Pendidikan Nilai dalam Pengembangan Pendidikan Islam Secara perspektif Islam pendidikan nilai diklasifikasikan ke dalam tiga komponen yaitu nilai aqidah, syariah dan akhlak. Nilai-nilai ini di dalam lembaga pendidikan Islam telah diakomodasikan dengan mengintegrasikan pendidikan nilai-nilai tersebut ke dalam pendidikan agama Islam. Sebagai realisasinya, tiga komponen tersebut merupakan materi Pendidikan Agama Islam (PAI) yang diajarkan. Kegiatan pendidikan nilai yang direalisasikan pada peserta didik merupakan suatu proses pembelajaran. Proses pembelajaran berarti memberikan para siswa secara terkondisi, mereka belajar dengan mendengar, menyimak, melihat, meniru apa-apa yang diinformasikan oleh guru atau fasilitator di depan kelas, dengan belajar seperti ini mereka memiliki perilaku sesuai dengan tujuan yang telah dirancang guru sebelumnya.73 Tercapainya perilaku yang dikehendaki merupakan keberhasilan pembelajaran. Apabila pengajaran nilai-nilai tersebut dapat merubah perilaku, sikap atau tindakan siswa, ini berarti proses 73 Martinis Yamin, Profesionalisme Guru dan Implementasi KTSP (Jakarta: Gaung PersadaPress, 2007), hlm. 72
  • 88. 66 pembelajaran yang dilakukan telah berhasil.74 Dan keberhasilan pembelajaran ini akan mempengarui terhadap mutu atau kualitas sumber daya manusia (SDM) yaitu peserta didik. Keberhasilan proses pembelajaran dan kualitas sumber daya manusia (SDM) ini sangat mempengaruhi terhadap pengembangan pendidikan. Pendidikan di sini dikhususkan pada pendidikan Islam. Perihal aktivitas pendidikan nilai yang dilakukan sebagai proses pembelajaran di lembaga pendidikan Islam dapat mempengaruhi serta mengembangkan kepribadian peserta didik menjadi manusia yang berakhlak mulia, baik, memiliki pengetahuan tentang nilai-nilai ajaran Islam, mandiri, menerapkan ilmu atau nilai yang telah diperolehnya. Ini berarti proses pendidikan nilai telah memberikan kontribusi yang berupa konstruksi ideologi nilai-nilai Islam terhadap pengembangan pendidikan Islam. Kontribusi pendidikan nilai dalam pengembangan pendidikan Islam ini yang akan menjadi acuan pembenaran atas sikap dan prilaku dalam menjalankan fungsi pelayanan pendidikan Islam. Sebagai konstruksi idelogi, nilai-nilai yang dibangun dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan Islam untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas dengan kompetensi ungul dibangun oleh seluruh sinergi positif.75 74 Ibid., hlm. 79 75 Direktorat Jenderal Pendidikan Non-Formal dan Informal, Kian Berat TantanganPendidikan Formal (http: www.pnfi.depdiknas.go.id, diakses 14 Februari 2009)
  • 89. BAB III METODE PENELITIANA. Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang berupa kata-kata tertulis dan bukan angka. Dengan demikian, laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberikan gambaran penyajian laporan tersebut. Kutipan-kutipan data yang disajikan dalam penelitian ini ditegaskan dalam bentuk lampiran tabel pemaparan data yang diperoleh dari pemahaman makna yang terdapat pada setiap kata, kalimat, paragraf, teks dan juga unsur pengembangan karya sastra seperti alur, tokoh, setting dan tema. Dari pemahaman makna secara keseluruhan, dilakukan penafsiran dan pengkategorian data yang terkandung dalam novel Laskar Pelangi. Dan selanjutnya data-data tersebut dianalisis berdasarkan pengkategoriannya. Karakteristik penelitian yang digunakan dalam penelitian kualitatif memiliki beberapa ciri, yaitu: latar ilmiah, manusia sebagai alat instrumen, metode kualitatif, analisis data secara induktif, grounded theory dan deskriptif.76 Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dua ciri, yaitu: manusia sebagai alat atau instrumen, maksudnya peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data utama dan ciri kedua, deskriptif, yakni data yang dikumpulkan berupa kata-kata. Berdasarkan kedua 76 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kuaitatif (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2002), hlm. 4 67
  • 90. 68 ciri tersebut analisis pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi sebagai pengembangan pendidikan Islam perlu dilakukan pembacaan dan telaah secara mendalam tentang makna kata-kata yang terdapat dalam dialog dan narasi cerita. Peneliti terlibat secara penuh dan aktif dalam mengapresiasi isi novel dan menemukan data-data utama yang menunjukkan pada permasalahan sesuai dengan rumusan masalah.B. Data dan Sumber Data Hubberman menegaskan data kualitatif merupakan sumber dari deskripsi yang luas dan berlandasan kokoh serta memuat penjelasan tentang proses-proses yang terjadi dalam lingkup setempat. Dengan demikian, data verbal dapat difahami baik melalui alur peristiwa secara kronologis, narasi, maupun dialog yang dituangkan Andrea Hirata dalam novelnya Laskar Pelangi harus disikapi sebagai kesatuan tutur yang lebih lengkap berupa kata, kalimat, serta paragraf sehingga membentuk suatu wacana yang utuh.77 Sumber data utama dalam penelitian ini adalah naskah novel karya Andrea Hirata yang berjudul Laskar Pelangi Karya ini memiliki latar belakang nilai pendidikan yang kuat pun juga penanaman pendidikan nilai yang direpresentasikan dalam novel ini memberikan suatu motivasi dan kontribusi yang luas biasa. Perolehan data tersebut dilakukan peneliti dengan cara mengidentifikasi data sesuai dengan arah permasalahan yang terurai dalam bab IV yakni hasil penelitian. 77 Michael Hubberman, A. Miles, Mattew B, Analisis Data Kualitatif ( Jakarta: Universitas Indonesia, 1992), hlm. 1
  • 91. 69C. Teknik Pengumpulan Data Beberapa teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut: (1) teknik observasi, (2) teknik komunikasi, (3) teknik pengukuran, (4) tekinik wawancara, dan (5) teknik telaah dokumen. Dari kelima teknik pengumpulan data tersebut, peneliti menggunakan teknik telaah dokumen atau biasa disebut dengan studi dokumentasi. Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Keuntungan telaah dokumen ini ialah bahwa bahan itu telah ada, telah tersedia dan siap pakai. Menggunakan bahan ini tidak memerlukan biaya, hanya memerlukan waktu untuk mempelajarinya. Banyak yang dapat ditimba pengetahuan dari bahan itu bila dianalisis dengan cermat yang berguna bagi penelitian yang dijalankan.78 Dalam melaksanakan studi dokumentasi ini peneliti memilih novel laskar pelangi sebagai bahan dalam pengumpulan data tersebut. Langkah-langkah yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data penelitian adalah sebagai berikut: 1. peneliti membaca secara komprehensif dan kritis yang dilanjutkan dengan mengamati, nilai-nilai dalam novel laskar pelangi, kemudian metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi, nilai-nilai apa saja yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam, dan kontribusi pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam. Dan dari kegiatan ini peneliti mengajukan pertanyaan- pertanyaan yang sesuai dengan rumusan masalah, 78 Rochajat Harun, Metode Penelitian Kualitatif untuk Pelatihan (Bandung: Mandar Maju, 2007), hlm. 70
  • 92. 70 2. peneliti mencatat paparan bahasa yang terdapat dalam dialog-dialog tokoh, prilaku tokoh, tuturan ekspresif maupun deskriptif dari peristiwa yang tersaji dalam novel, dan 3. peneliti mengidentifikasi, mengklasifikasi dan menganalisis novel sesuai dengan rumusan masalah. Dari langkah-langkah di atas diperoleh data verbal sebagai berikut: (1) data berupa paparan bahasa yang mengemban nilai-nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi karya Andrea Hirata, (2) data berupa paparan bahasa yang mengemban metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi (3) data berupa paparan bahasa yang mengemban nilai- nilai apa saja yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam, dan (4) data berupa paparan bahasa yang mengemban kontribusi pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam.D. Instrumen Penelitian Kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif adalah sebagai instrumen. Instrumen penelitian di sini dimaksudkan sebagai alat pengumpul data harus benar-benar dirancang dan dibuat sedemikian rupa sehingga menghasilkan data sebagaimana adanya.79 Di sini kedudukan peneliti sebagai isntrumen penelitian artinya dalam penelitian ini, peneliti sendiri yang melakukan penafsiran makna dan menemukan nilai-nilai tersebut. Peneliti 79 Margono, Metode Penelitian Pendidikan (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1997), hlm. 155
  • 93. 71 juga merupakan perencana, pelaksana pengumpulan data, analisis, penafsir data, dan pada akhirnya menjadi pelapor hasil penelitian.80 Kegiatan yang dilakukan peneliti sehubungan dengan pengambilan data yaitu, kegiatan membaca teks novel laskar pelangi dan peneliti bertindak sebagai pembaca yang aktif membaca, mengenali, mengidentifikasi satuan- satuan tutur yang merupakan penanda dalam satuan-satuan peristiwa yang di dalamnya terdapat gagasan-gagasan dan pokok pikiran hingga menjadi sebuah keutuhan makna.E. Analisis Data Analisis data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) mengidentifikasi nilai-nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi karya Andrea Hirata, (2) mengidentifikasi metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi, (3) mengidentifikasi nilai-nilai apa saja yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam, dan (4) mengidentifikasi kontribusi pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam. Dalam penelitian ini metode analisis yang digunakan adalah analisis konten. Analisis konten merupakan model kajian sastra yang tergolong baru. Analisis konten digunakan apabila si peneliti hendak mengungkap, memahami dan mengungkap pesan karya sastra.81 Dalam buku Content Analysis dan Focus Group Discussion dalam Penelitian Sosial bahwa Content Analysis adalah teknik penelitian untuk membuat inferensi-inferensi yang dapat ditiru 80 Lexy J. Moleong, op.cit., hlm. 168 81 Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Sastra (Yogyakarta: Pustaka Widyatama, 2003), hlm. 160
  • 94. 72 (replicabel), dan sahih data dengan memperhatikan konteksnya. Analisis isi berhubungan dengan komunikasi atau isi komunikasi.82 Content analysis dalam sastra mendasarkan pada tiga asumsi penting karya sastra adalah fenomena komunikasi pesan yang terselubung, didalamnya memuat isi yang berharga bagi pembaca. Kajian sastra semacam ini, secara epistemologis merupakan penelitian yang banyak menggunakan paham positifistik. Analisis harus mendasarkan pada prinsip obyektivitas, sistematis dan generalisasi. Objektivitas ditempuh melalui bangunan teoritik. Sistematis karena memanfaatkan langkah-langkah yang jelas. Generalisasi berdasarkan konteks karya secara menyeluruh untuk memperoleh inferensi. Komponen penting dalam analisis konten adalah adanya masalah yang dikonsultasikan lewat teori. Itulah sebabnya, karya sastra yang akan dibedah lewat content analysis harus memenuhi syarat-syarat: memuat nilai-nilai dan pesan yang jelas. Misalnya saja: memuat pesan pendidikan nilai sosial, religi dan budi pekerti dan sebagainya. Prosedur analisis konten dalam bidang sastra hendaknya memenuhi syarat-syarat: (a) teks sastra perlu diproses secara sistematis, menggunakan teori yang telah dirancang sebelumnya, (b) teks tersebut dicari unit-unit analisis dan dikategorikan sesuai acuan teori, (c) proses analisis harus mampu menyumbangkan ke pemahaman teori, (d) proses analisis mendasarkan pada deskripsi, dan (e) analisis dilakukan secara kualitatif.83 82 Burhan Bungin, Content Analysis dan Focus Group Discussion dalam Penelitian Sosial(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 172 83 Suwardi Endraswara, op.cit., hlm. 162
  • 95. 73 Menurut Noeng Muhadjir, secara teknis content analisis mencakup upaya: a. klasifikasi tanda-tanda yang dipakai dalam komunikasi, b. menggunakan kriteria sebagai dasar klasifikasi, dan c. menggunakan teknik analisis tertentu sebagai membuat prediksi. Kemudian para ahli mengemukakan beberapa syarat content analisis, yaitu: objektivitas, pendekatan sistematis, dan generalisasi.84 Menurut Patton, dalam metodologi penelitian kualitatif, istilah analisis menyangkut kegiatan (1) pengurutan data sesuai dengan tahap permasalahan yang akan dijawab, (2) pengorganisasian data dalam formalitas tertentu sesuai dengan urutan pilihan dan pengkategorian yang akan dihasilkan, dan (3) penafsiran makna sesuai dengan masalah yang harus dijawab.85 Sesuai dengan masalah yang digarap dalam penelitian ini, maka kegiatan yang dilakukan adalah pemberian makna pada paparan bahasa berupa (1) paragraf-paragraf yang mengemban gagasan tentang nilai-nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi karya Andrea Hirata, (2) paragraf- paragraf yang mengandung gagasan tentang metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi, (3) paragraf-paragraf yang mengemban gagasan tentang nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam, dan (4) paragraf-paragraf yang mengemban gagasan tentang kontribusi pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap 84 Soejono dan Abdurrahman, Metode Penelitian Suatu Pemikiran dan Penerapan ( Jakarta:Rineka Cipta, 1999), hlm. 14-15 85 Ibid., hlm. 103.
  • 96. 74 pengembangan pendidikan Islam. Pemahaman dan analisis tersebut dilakukan melalui kegiatan membaca, menganalisis dan merekonstruksi. Dalam melakukan pemaknaan data peneliti harus memiliki dasar pengetahuan dan pengalaman tentang klasifikasi pendidikan nilai, metode ngajar pendidikan nilai, nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan Islam dan kontribusi pendidikan nilai dalam pengembangan pendidikan Islam sesuai acuan teori.F. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data Sebagai upaya untuk memeriksa keabsahan data peneliti menggunakan beberapa teknik antara lain: 1. Teknik ketekunan pengamat, yakni peneliti secara tekun memusatkan diri pada latar penelitian untuk menemukan ciri-ciri dan unsur yang relevan dengan persoalan yang diteliti. Peneliti mengamati secara mendalam pada novel agar data yang ditemukan dapat dikelompokkan sesuai dengan kategori yang telah dibuat dengan tepat;86 2. Teknik berdiskusi dengan teman sejawat yang mengambil jurusan bahasa dan sastra;87 3. Berdiskusi dengan para pakar sastra, pakar pendidikan nilai dan pakar pendidikan Islam. Selain itu dalam pengumpulan data peneliti dipandu rambu-rambu yang berisi ketentuan studi dokumentasi tentang pendidikan nilai. Perolehan tersebut dilakukan peneliti dengan identifikasi data sesuai dengan arah permasalahan dalam penelitian. Adapun rambu-rambu tersebut antara lain: 86 Lexy J. Moleong, op.cit., hlm. 329-330 87 Hamidi, Metode Penelitian Kualitatif (Malang: Universitas Muhammadiyah Malang, 2004), hlm. 82
  • 97. 751. Dengan bekal pengetahuan, wawasan, kemampuan dan kepekaan yang dimiliki, peneliti membaca sumber data secara kritis cermat dan teliti. Peneliti membaca berulang-ulang untuk menghayati dan memahami secara kritis dan utuh terhadap sumber data;2. Dengan berbekal pengetahuan, wawasan, kemampuan dan kepekaan peneliti melakukan pembacaan sumber data secara berulang-ulang dan terus menerus secara berkesinambungan. Langkah ini diikuti kegiatan penandaan, pencatatan, dan pemberian kode (coding);3. Peneliti membaca dan menandai bagian dokumen, catatan, dan transkripsi data yang akan dianalisis lebih lanjut. Langkah ini dipandu dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian.
  • 98. BAB IV PAPARAN DATAA. Deskripsi Unsur-unsur Novel Laskar Pelangi Unsur-unsur yang terdapat dalam novel laskar pelangi meliputi beberapa hal: (1) tokoh atau penokohan, (2) latar, (3) alut atau plot, dan (4) tema. 1. Tokoh atau Penokohan yang Terdapat dalam Novel Laskar Pelangi Laskar Pelangi adalah novel pertama karya Andrea Hirata yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka pada tahun 2005. Novel ini bercerita tentang kehidupan 10 anak dari keluarga miskin yang bersekolah (SD dan SMP) di sebuah sekolah Muhammadiyah di pulau Belitong yang penuh dengan keterbatasan. Mereka adalah: 1. Ikal 2. Lintang; Lintang Samudra Basara bin Syahbani Maulana Basara 3. Sahara; N.A. Sahara Aulia Fadillah binti K.A. Muslim Ramdhani Fadillah 4. Mahar; Mahar Ahlan bin Jumadi Ahlan bin Zubair bin Awam 5. A Kiong (Chau Chin Kiong); Muhammad Jundullah Gufron Nur Zaman 6. Syahdan; Syahdan Noor Aziz bin Syahari Noor Aziz 7. Kucai; Mukharam Kucai Khairani 8. Borek aka Samson 76
  • 99. 779. Trapani; Trapani Ihsan Jamari bin Zainuddin Ilham Jamari10. Harun; Harun Ardhli Ramadhan bin Syamsul Hazana Ramadhan Mereka bersekolah dan belajar pada kelas yang sama dari kelas 1SD sampai kelas 3 SMP, dan menyebut diri mereka sebagai LaskarPelangi. Adapun tokoh-tokoh lainnya adalah sebagai berikut:1. Bu Muslimah : Bernama lengkap N.A. Muslimah Hafsari Hamid binti K.A. Abdul Hamid. Dia adalah Ibunda Guru bagi Laskar Pelangi. Wanita lembut ini adalah pengajar pertama Laskar Pelangi dan merupakan guru yang paling berharga bagi mereka.2. Pak Harfan : Nama lengkap K.A. Harfan Efendy Noor bin K.A. Fadillah Zein Noor. Kepala sekolah dari sekolah Muhammadiyah. Ia adalah orang yang sangat baik hati dan penyabar meski murid-murid awalnya takut melihatnya.3. Flo : Bernama asli adalah Floriana, seorang anak tomboi yang berasal dari keluarga kaya. Dia merupakan murid pindahan dari sekolah PN yang kaya dan sekaligus tokoh terakhir yang muncul sebagai bagian dari laskar pelangi. Awal pertama kali masuk sekolah, ia sempat membuat kekacauan dengan mengambil alih tempat duduk Trapani sehingga Trapani yang malang terpaksa tergusur. Ia melakukannya dengan alasan ingin duduk di sebelah Mahar dan tak mau didebat.
  • 100. 78 4. A Ling : Cinta pertama Ikal yang merupakan saudara sepupu A Kiong. A Ling yang cantik dan tegas ini terpaksa berpisah dengan Ikal karena harus menemani bibinya yang tinggal sendiri.2. Latar yang Terdapat dalam Novel Laskar Pelangi Awal penulis tertarik membaca novel yang berlatar belakang kehidupan anak-anak pada sebuah komunitas Melayu Belitong ini karena maraknya pembahasan novel ini di media massa. Novel ini mengangkat cerita tentang kehidupan anak-anak yang tinggal di daerah pesisir pulau Belitong selama menempuh pendidikan dasar di sekolah Muhammadiyah. Pada awal-awal novel, Andrea Hirata mencoba menggambarkan realita sosial yang terjadi pada masyarakat asli di sana, terutama komunitas Melayu Belitong yang kontradiktif dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Tampaknya isi cerita ini memberikan kesan yang menyentuh hati bagaimana sebelas anak-anak yang menjuluki diri mereka sebagai laskar pelangi ini memiliki motivasi tinggi berjuang memperbaiki nasib masyarakat Melayu Belitong yang masih jauh tertinggal. Mereka berjuang dengan cara mereka masing- masing. Terlihat dari keunikan masing-masing anak dibahas oleh Andrea Hirata setiap bab di novel ini. Selain itu, gaya bahasa yang digunakan penulis terkesan ilmiah sekali dengan banyaknya istilah-istilah ilmu eksak yang ditemukan setiap alur cerita. Namun hal ini tidak mengurangi sisi keindahan sebuah karya sastra yang digemari masyarakat awam ini, malah
  • 101. 79 menurut saya justru memperkaya khazanah berpikir sambil berimajinasi dalam membayangkan isi fiksi ini. Menurut penulis, setting latar cerita, sangat identik dengan tahun 80-an selain itu juga menggambarkan latar kehidupan salah satu komunitas di pulau Belitong dan sepatutnya kita dapat menangkap esensi dari cerita ini yang hendak disampaikan oleh Andrea Hirata. Memang tidak mudah menceritakan kejadian-kejadian yang dialami oleh seorang anak kecil apalagi masa-masa kecil kita dahulu yang penuh dengan idealisme untuk dijadikan sebuah pemacu semangat bagi orang-orang dewasa yang terlampau berpikir pragmatis dalam menilai hidup ini. Sampai umur berapa pun, setiap orang dapat mewujudkan cita-cita masa kecilnya dahulu yang masih tersimpan di memori. Oleh karena itulah, Andrea Hirata membuktikan hal tersebut dalam novelnya Laskar Pelangi ini. Oleh karena itu, saya cukup terkesan dalam membaca novel ini. Saya juga menyarankan novel ini sangat baik dibaca oleh berbagai kalangan yang peduli akan pendidikan di Indonesia. Sehingga suatu saat akan bermunculan generasi laskar pelangi yang memberikan perubahan terhadap nasib bangsa kita, Indonesia.3. Alur atau Plot yang Terdapat dalam Novel Laskar Pelangi Salah satu buku sastra paling populer beberapa tahun belakangan ini adalah novel Laskar Pelangi karya penulis Andrea Hirata. Ini merupakan buku pertama dari tetralogi di samping Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov. Penulis tidak akan membahas keempat buku
  • 102. 80tersebut secara bersamaan, karena pada tulisan ini penulis akan lebihbanyak mengungkap tentang buku best seller (sebenarnya rata-ratakeempatnya merupakan best seller) yakni Laskar Pelangi. Selain laris manis dalam bentuk buku (terbukti dari cetak ulangyang berkali-kali), Laskar Pelangi juga telah ditampilkan dalam bentuklayar lebar. Kisahnya menjadi lebih dramatis karena pembaca dapat bisasecara langsung melihat dengan jelas visualisasi dari novel tersebut. Selainmenyajikan pemandangan alam Belitung yang indah (yang masih belumbanyak terjamah tangan manusia). Membaca novel ini, sadar atau tidak,pembaca akan terhanyut pada kisah sederhana yang mengharu biru ini.Semua rasa menjadi satu, ada sedih, senang, suka, duka, lucu, penuh warnaseperti goresan pelangi. Buku Laskar Pelangi, sebenarnya bukan “murni” novel. Sepertiyang dijelaskan sendiri oleh penulisnya kalau Laskar Pelangi sebenarnyamerupakan sebuah memoar sebagian kisah hidup penulis beserta teman-temannya semasa kecil yang mereka namakan sebagai Laskar Pelangi.Namun, memoar tersebut disajikan alur (plot) bercerita, sehingga bolehlahkita sebut novel. Novel Laskar Pelangi merupakan sebuah novel yangterinspirasi dari kisah nyata (true story) penulisnya. Selain memiliki aluryang jelas, penggambaran tokoh dan setting disajikan oleh Andrea dengansangat baik. Selain itu, banyak juga pengetahuan-pengetahuan baru yangbisa diserap sewaktu membaca buku ini.
  • 103. 813. Tema yang Terdapat dalam Novel Laskar Pelangi Sebuah tema yang sudah jarang diangkat. Pentingnya arti menuntut ilmu, adalah makna sentral novel Laskar Pelangi. Ketika dihadapkan pada sebuah kondisi yang membuat miris, kita dikejutkan berkali-kali dengan gejolak muda para tokoh dalam cerita ini. Dihiasi dengan eksplorasi mendetail akan pulau bangka belitung (Belitong kala itu), semuanya disajikan dengan gaya bertutur yang menghibur. Adalah Ikal, tokoh sentral dalam novel ini. Kisah berjalan melalui sudut pandangnya dalam mencermati realita kehidupan. Saat ia menyaksikan satu persatu benturan-benturan ketimpangan hidup ini. Sebuah jalinan kisah suka dan duka, perputaran yang membuat pembaca mengalami gejolak perasaan naik dan turun, rasa miris akan ironi, gelak tawa akan kekonyolan para tokohnya, juga golakan perasaan pada saat sorak kemenangan. Laskar pelangi adalah 10 orang anak pulau Belitong yang disatukan saat hari pertama mereka masuk sekolah, di sekolah Muhammadiyah yang dilukiskan laksana gudang kopra. Mereka sangat miskin, tidak mampu bersekolah di sekolah negeri atau sekolah PN Timah (yang diceritakan sebagai sekolah elit khusus anak pegawai kelas tinggi PN Timah). Temui Lintang sang jenius, anak nelayan pedalaman yang mampu memcahkan soal-soal fisika yang rumit hanya dalam hitungan detik, Mahar yang seniman dengan bakat alam yang kerap membuat orang tercengang, Trapani yang tampan namun cinta ibu, Sahara, muslimah yang galak
  • 104. 82gemar mencakar, kucai yang merepresentasikan sosok politikus sejak lahir,A kiong yang polos namun figur sobat sejati, Samson yang perkasa, Harunyang 15 tahun lebih tua karena terbelakang, dan syahdan yang tidakmenonjol namun kelak paling sukses diantara mereka. Juga Flo,perempuan tomboi yang meninggalkan sekolah elitnya untuk bergabungdengan laskar pelangi. Lembaran demi lembaran membawa kita melintasi 9 tahun merekaberpetualang di sekolah itu hingga menjadi apa mereka disaat dewasakelak. Kadang membuat kita berdecak kagum melihat rentetan peristiwayang dialami anak-anak ini. Mahar dalam usianya yang belia telah mampumenjadi arranger sebuah komposisi musik yang rumit perpaduan antaratabla, sitar dan electone yang menghasilkan penyajian menggugah laguowner of the lonely heart-nya yess dan light my fire-nya the doors. Maharjuga mampu membuat koreografi kontemporer ala suku Masai afrika padasaat karnaval sekolah. Kemudian lintang, bocah ini adalah sosok jeniusyang menonjol dalam segala mata pelajaran. Ia mampu menguasaikalkulus sewaktu SD, dan teori fisika optik di bangku kelas dua SMP,mampu menyelesaikan hitung-hitungan matematika yang paling rumitdalam hitungan detik tanpa membuat coret-coretan. Dan sosok laskarpelangi lainnya dengan keunikannya masing-masing. Sebuah renungan dalam memandang pendidikan masyarakat kita diusia dini. Penulis menyajikan cerita ini dengan meluapkan kritik dankegundahannya pada setiap kejadian yang dialami para tokoh. Juga
  • 105. 83 disertakan kekuatan referensinya dalam membedah setiap detail keindahan pulau belitong. Meskipun dibeberapa bagian masih tampak berlebihan dan dipaksakan, namun pembaca menjadi jelas akan perbedaan kelas, ketimpangan sosial, dan kehidupan kalangan miskin di belitong kala itu. Juga pembaca akan tersenyum simpul dalam beberapa cerita, seperti cinta antar etnis sang tokoh dengan aling, bocah perempuan cina yang masih sensitif kala itu. Atau pertemuan dengan Tuk bayan tulla yang dukun misterius, atau dengan Bodenga sang pemuja Buaya yang dilukiskan seperti Bushman dalam film God Must Be Crazy.B. Deskripsi Nilai-nilai yang Terdapat dalam Novel Laskar Pelangi Pada bab empat ini, penulis akan mendeskripsikan nilai-nilai yang terdapat dalam novel laskar pelangi. Deskripsi nilai-nilai tersebut adalah hasil analisis penelitian penulis dengan menggunakan teori yang telah dirancang sebelumnya. Adapun nilai-nilai yang akan penulis deskripsikan yaitu mengenai nilai- nilai yang bersifat global, bukan nilai yang bersifat Islami. Nilai-nilai itu meliputi: (a) nilai personal, (b) nilai sosial, dan (c) nilai estetika. Nilai personal merupakan nilai-nilai yang perlu ditanamkan dan dimiliki seorang individu dalam kehidupannya. Nilai personal yang telah penulis temukan dalam teks novel Laskar Pelangi meliputi: nilai tanggung jawab, nilai keteguhan pendirian, nilai ketekunan, nilai keinginan kuat untuk mencapai cita-cita, nilai dermawan, nilai perjuangan, nilai kompetisi, nilai kecerdasan, nilai percaya diri, nilai keikhlasan, nilai kebahagiaan, nilai
  • 106. 84disiplin, nilai perjuangan menuntut ilmu, nilai sigap menghadapi masalah,nilai rendah hati, nilai ketangkasan, nilai gagah berani, nilai kerinduan, nilaiiba, dan nilai tekad untuk lebih baik. Nilai sosial adalah nilai-nilai yang berhubungan dengan kemanusiaan.Nilai-nilai dalam dimensi ini terkait dengan interaksi sesama manusiamencakup berbagai norma baik kesusilaan, kesopanan dan segala macamproduk hukum yang ditetapkan manusia. Nilai sosial yang terdapat dalamnovel Laskar Pelangi antara lain: nilai multikultural, nilai tolong menolong,nilai keharmonisan, nilai mutualisme, sopan santun, nilai partisipatif, nilaisportifitas, nilai dukungan pada seseorang, nilai kepedulian, nilai keakraban,nilai persahabatan. Dan nilai estetika yaitu nilai yang lebih menghasilkan pada penilaianpribadi seseorang yang bersifat subyektif. Selain itu nilai estetik melekat padakualitas barang atau memiliki sifat indah. Kecendrungan orang yang memilikijiwa keindahan biasanya memiliki jiwa yang kreatif, terampil dan inovatif.Dalam hal ini, nilai-nilai estetika yang terdapat pada novel Laskar Pelangiadalah sebagai berikut: nilai keindahan, nilai imajinatif, nilai seni drama, nilaiseni sastra, dan nilai kreatif atau originalitas.Table 1 Paparan Data Nilai-nilai yang Terdapat dalam Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata No Deskripsi Nilai-nilai Teks Dalam Novel Laskar Pelangi 1. Nilai tanggung jawab ”Pak Harfan tampak amat bahagia
  • 107. 85 menghadapi murid, tipikal guru yang sesungguhnya, seperti dalam lingua asalnya, india, yaitu orang yang tak hanya mentransfer sebuah pelajaran, tapi juga yang secara pribadi menjadi sahabat dan pembimbing spiritual bagi muridnya” (hlm. 23).2. Nilai perjuangan “Pak Harfan menceritakan semua itu dengan semangat perang Badar sekaligus setengah embusan angin pagi. Kami terpesona pada setiap pilihan kata dan gerak lakunya yang memikat. Ada semacam pengaruh yang lembut dan baik terpancar darinya. Ia mengesankan sebagai pria yang kenyang akan pahit getir perjuangan dan kesusahan hidup berpengetahuan seluas samudra, bijak berani, mengambil resiko, dan menikmati daya tarik dalam mencari-cari bagaimana cara menjelaskan sesuatu agar setiap orang mengerti” (hlm. 23).3. Nilai keteguhan pendirian, “Pak Harfan memberi kami pelajaran pertama tentang ketekunan, keinginan kuat keteguhan pendirian, tentang untuk mencapai cita-cita, dan ketekunan, tentang keinginan kuat dermawan. untuk mencapai cita-cita. Beliau meyakinkan kami bahwa hidup bisa
  • 108. 86 demikian bahagia dalam keterbatasan jika dimaknai dengan keikhlasan berkorban untuk sesama. Lalu beliau menyampaikan sebuah prinsip yang diam-diam menyelinap jauh ke dalam dadaku serta memberi arah bagiku hingga dewasa, yaitu bahwa hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak- banyaknya” (hlm. 24).4. Nilai multikultural “Jumlah orang Tionghoa di kampong kami sekitar sepertiga dari total populasi. Ada orang kek, ada orang Hokian, ada orang Tongsan, dan ada yang tak tahu asal usulnya” (hlm. 35).5. Nilai keindahan “Gedung-gedung sekolah PN didesain dengan arsitektur yang tak kalah indahnya dengan rumah bergaya Victoria disekitarnya. Ruangan kelasnya dicat warna- warni dengan tempelan gambar yang educative, poster operasi dasar matematika, table pemetaan unsur kimia, peta dunia, jam dinding, thermometer, foto para ilmuwan dan penjelajahan yang member inspirasi, dan ada kastok topi. Di setiap kelas ada patung anatomi tubuh yang
  • 109. 87 lengkap, globe yang besar, white board, dan alat peraga konstelasi planet-planet” (hlm 57-58).6. Nilai kompetisi “Di dalam kelas-kelas itu puluhan siswa PN brilian bersaing ketat dalam standar mutu yang sangat tinggi” (hlm. 58).7. Nilai pertolongan “Di setiap kelas ada kotak P3K berisi obat-obat pertolongan pertama. Kalau ada siswanya yang sakit maka ia akan langsung mendapatkan pertolongan cepat secara professional atau segera dijemput oleh mobil ambulans yang meraung-raung” (hlm. 58).8. Nilai keharmonisan “Demikian harmonisnya ekosistem yang terpusat pada sebatang pohon filicium anggota familia acacia ini. Seperti para guru yang mengabdi dibawahnya, pohon ini tak henti- hentinya menyokong kehidupan sekian banyak spesies. Pada musim hujan ia semakin semarak. Puluhan jenis kupu-kupu, belalang sembah, bunglon, lintah, jamur telur beracun, kumbang capung, ulat bulu dan ular daun saling berebutan tempat” (hlm. 66).9. Nilai seni ketrampilan “Aku mau ikut ke pasar, Cai,” Syahdan memohon kepada Kucai,
  • 110. 88 ketika kami dibagi kelompok dalam pelajaran pekerjaan tangan dan harus membeli kertas kajang di pasar” (hlm. 66).10. Nilai kebahagiaan dan “Sembilan teman sekelasku persahabatan. memberiku hari-hari yang lebih dari cukup untuk suatu ketika di masa depan nanti kuceritakan pada setiap orang bahwa masa kecilku amat bahagia. Kebahagiaan yang spesifik karena kami hidup dengan persepsi tentang kesenangan sekolah dan persahabatan yang kami terjemahkan sendiri” (hlm. 85).11. Nilai disiplin “Tapi lebih dari setengah perjalanan sudah, aku tak kan kembali pulang gara-gara buaya bodoh ini. Tak ada kata bolos dalam kamusku, dan hari ini ada tarikh Islam, mata pelajaran yang menarik. Ingin kudebatkan kisah ayat-ayat suci yang memastikan kemenangan Byzantium tujuh tahun sebelum kejadian. Sudah siang, aku maju sedikit, aku pasti terlambat tiba di sekolah” (hlm. 88).12. Nilai perjuangan dalam “Aku hanya sendirian. Jika ada menuntut ilmu orang lain aku berani lebih frontal. Tahukah hewan ini pentingnya pendidikan? Aku tak berani lebih
  • 111. 89 dekat. Ia menganga dan bersuara rendah, suara dari perut yang menggetarkan seperti sendawa seekor singa atau seperti suara orang menggeser sebuah lemari yang sangat besar. Aku diam menunggu. Tak ada jalur alternatif dan kekuatan jelas tak berimbang. Aku mulai frustasi. Suasana sunyi senyap. Yang ada hanya aku, seekor buaya ganas yang egois, dan intaian maut” (hlm. 88)13. Nilai pentingnya mencari ilmu “Lintang hanya dapat belajar setelah dan sigap menghadapi agak larut karena rumahnya gaduh, masalah sulit menemukan tempat kosong, dan karena harus berebut lampu minyak. Namun sekali ia memegang buku, terbanglah ia meninggalkan gubuk doyong berdinding kulit itu. Belajar adalah hiburan yang membuatnya lupa pada seluruh penat dan kesulitan hidup. Buku baginya adalah obat dan sumur kehidupan yang airnya selalu memberi kekuatan baru agar ia mampu mengayuh sepeda menantang angin setiap hari. Jika berhadapan dengan buku ia akan terisap oleh setiap kalimat ilmu yang dibacanya, ia tergoda oleh sayap-sayap kata yang diucapkan
  • 112. 90 oleh para cerdik cendekia, ia melirik maksud tersembunyi dari sebuah rumus, sesuatu yang mungkin tak kasat mata bagi orang lain” (hlm. 100-101).14. Nilai Rendah Hati “Jika kami kesulitan, ia mengajari kami dengan sabar dan selalu membesarkan hati kami. Keunggulannya tidak menimbulkan perasaan terancam bagi sekitarnya, kecemerlangannya tidak menerbitkan iri dengki, dan kehebatannya tidak sedikit pun mengisyaratkan sifat-sifat angkuh. Kami bangga dan jatuh hati padanya sebagai seorang sahabat dan sebagai seorang murid yang cerdas luar biasa. Lintang yang miskin duafa adalah mutiara, galena, kuarsa, dan topas yang paling berharga bagi kelas kami” (hlm. 109).15. Nilai keingintahuan “Lintang selalu terobsesi dengan hal-hal baru, setiap informasi adalah sumbu ilmu yang dapat meledakkan rasa ingin tahunya kapan saja. Kejadian ini terjadi ketika kami kelas lima, pada hari ketika ia diselamatkan oleh Bodenga” (109).16. Nilai kecerdasan dalam “Namun, sahabatku Lintang memiliki hampir semua dimensi geometri multidimensional
  • 113. 91 kecerdasan. Dia seperti toko serba ada kepandaian. Yang paling menonjol adalah kecerdasan spasialnya, sehingga ia sangat unggul dalam geometri multidimensional. Ia dengan cepat dapat membayangkan wajah sebuah konstruksi suatu fungsi jika digerak- gerakkan dalam variabel derajat. Ia mampu memecahkan kasus-kasus dekomposisi modern yang runyam dan mengajari kami teknik menghitung luas poligon dengan cara membongkar sisi-sisinya sesuai Dalil Geometri Euclidian. Ingin kukatakan bahwa ini sama sekali bukan perkara mudah” (hlm. 113- 114).17. Nilai kecerdasan secara “Lintang juga cerdas secara experiential yang membuatnya experiential piawai menghubungkan setiap informasi dengan konteks yang lebih luas. Dalam kaitan ini, ia memiliki kapasitas metadiscourse selayaknya orang-orang yang memang dilahirkan sebagai seorang genius. Artinya adalah jika dalam pelajaran biologi kami baru mempelajari fungsi-fungsi otot sebagai subkomponen yang membentuk sistem mekanik parsial
  • 114. 92 sepotong kaki maka Lintang telah memahami sistem mekanika seluruh tubuh dan ia mampu menjelaskan peran sepotong kaki itu dalam keseluruhan mekanika persendian dan otot-otot yang terintegrasi” (hlm. 114-115)18. Nilai kecerdasan lingustik “Kecerdasannya yang lain adalah kecerdasan linguistik. Ia mudah memahami bahasa, efektif dalam berkomunikasi, memiliki nalar verbal dan logika kualitatif. Ia juga mempunyai descriptive power, yakni suatu kemampuan menggambarkan sesuatu dan mengambil contoh yang tepat. Pengalamanku dengan pelajaran bahasa Inggris di hari-hari pertama kelas 2 SMP nanti membuktikan hal itu” (hlm. 115).19. Nilai seni suara “Dan di siang yang panas menggelegak ini, ketika pelajaran seni suara, di salah satu sudut kumuh perguran miskin Muhammadiyah, kami menjadi saksi bagaimana nasib menemukan bakat Mahar. Mulanya Bu Mus meminta A Kiong maju ke depan kelas untuk menyanyikan sebuah lagu, dan seperti diduga hal ini
  • 115. 93 sudah delapan belas kali terjadi ia akan membawakan lagu yang sama yaitu Berkibarlah Benderaku karya Ibu Sud. “…berkiballah bendelaku….” “…lambang suci gagah pelwila ….” (hlm. 129).20. Nilai Imajinatif “Mahar sangat imajinatif dan tak logis seseorang dengan bakat seni yang sangat besar. Sesuatu yang berasal dari Mahar selalu menerbitkan inspirasi, aneh, lucu, janggal, ganjil, dan menggoda keyakinan. Namun, mungkin karena otak sebelah kanannya benar-benar aktif maka ia menjadi pengkhayal luar biasa. Di sisi lain ia adalah magnet, simply irresistible!” (hlm. 143).21. Nilai seni drama “Mahar pula yang membentuk sekaligus menyutradarai grup teater kecil SD Muhammadiyah. Penapilan favorit kami adalah cerita perang Uhud dalam episode Siti Hindun. Dikisahkan bahwa wanita pemarah ini mengupah seorang budak untuk membunuh Hamzah sebagai balas dendam atas kematian suaminya. Setelah Hamzah mati wanita itu membelah dadanya dan
  • 116. 94 memakan hati panglima besar itu. A Kiong memerankan Hamzah, dan Sahara sangat menikmati perannya sebagai Siti Hindun. Juga karena inisiatif Mahar, akhirnya kami membentuk sebuah grup band. Alat- alat musik kami adalah electone yang dimainkan Sahara, standing bass yang dibetot tanpa ampun oleh Samson, sebuah drum, tiga buah tabla, serta dua buah rebana yang dipinjam dari badan amil Masjid Al- Hikmah” (hlm. 146).22. Nilai seni sastra/puisi “Aku Bermimpi Melihat Surga. Sungguh, malam ketiga di Pangkalan Punai aku mimpi melihat surge Ternyata surga tidak megah, hanya sebuah istana kecil di tengah hutan tidak ada bidadari seperti disebut di kitab-kitab suci aku meniti jembatan kecil Seorang wanita berwajah jernih menyambutku “inilah surga” katanya. Ia tersenyum, kerling matanya mengajakku menengadah. Seketika aku terkesiap oleh pantulan sinar matahari senja. Menyirami kubah-kubah istana Mengapa sinar matahari berwarna perak, jingga, dan biru? Sebuah keindahan yang asing. Di istana surge dahan-dahan
  • 117. 95 pohon ara menjalar ke dalam kamar-kamar sunyi yang bertingkat- tingkat. Gelas-gelas kristal berdenting dialiri air zamzam. Menebarkan rasa kesejukan. Bunga petunia ditanam di dalam pot-pot kayu. Pot-pot itu digantungkan pada kosen-kosen jendela tua berwarna biru. Di beranda, lampu-lampu kecil disembunyikan di balik tilam, indah sekali. Sinarnya memancarkan kedamaian. Tembus membelah perdu-perdu di halaman Surga begitu sepi, tapi aku ingin tetap di sini karena kuingat janjimu, Tuhan kalau aku datang dengan berjalan engkau akan menjemputku dengan berlari-lari” (hlm. 181-182).23. Nilai kompetisi “Karnaval 17 Agustus sangat potensial untuk meningkatkan gengsi sekolah, sebab ada penilaian serius di sana. Ada kategori busana terbaik, parade paling megah, peserta paling serasi, dan yang paling bergengsi: penampil seni terbaik. Gengsi ini juga tak terlepas dari integritas para juri yang dipimpin oleh seorang seniman senior yang sudah kondang, Mbah Suro namanya. Mbah Suro adalah orang Jawa, ia seniman Yogyakarta
  • 118. 96 yang hijrah ke Belitong karena idealisme berkeseniannya. Karena sangat idealis maka tentu saja Mbah Suro juga sangat melarat” (hlm. 215-216). “Kembali kami berada dalam sebuah situasi yang mempertahurkan reputasi. Lomba kecerdasan. Dan kami berkecil hati melihat murid-murid negeri dan sekolah PN membawa buku-buku teks yang belum pernah kami lihat. Tebal berkilat-kilat dengan sampul berwarna-warni, pasti buku-buku mahal. Sebagian manusia berteriak- teriak keras menghafalkan kantor berita” (hlm. 363).24. Nilai partisipatif “Kita harus karnaval! Apa pun yang terjadi! Dan biarlah tahun ini para guru tidak ikut campur, mari kita beri kesempatan kepada orang- orang muda berbakat seperti Mahar untuk menunjukkan kreativitasnya, tahukah kalian...dia adalah seniman yang genius!” (hlm. 222)25. Nilai dukungan “Tabahkan hati kalian, keluarkan seluruh kemampuan!” ledak Bu Mus memberi semangat kepada kami, para mamalia. Pak Harfan sudah tidak bisa bicara apa-apa.
  • 119. 97 Tangannya membekap dada seperti orang berdoa” (hlm. 239-240).26. Nilai sportifitas “Sekolah Muhammadiyah telah menciptakan daripada suatu arwah baru dalam karnaval ini. Maka dari itu mereka telah mencanangkan suatu daripada standar baru yang semakin kompetitif dari pada mutu festival seni ini. Mereka mendobrak dengan ide kreatif, tampil all out, dan berhasil menginterpretasikan dengan sempurna daripada sebuah tarian dan musik dari negeri yang jauh. Para penarinya tampil penuh penghayatan, dengan spontanitas dan totalitas yang mengagumkan sebagai suatu manifestasi daripada penghargaan daripada mereka terhadap seni pertunjukan itu sendiri.Penampilan Muhammadiyah tahun ini adalah daripada suatu puncak pencapaian seni yang gilang gemilang dan oleh karena itu dewan juri tak punya daripada pilihan lain selian daripada menganugerahkan penghargaan daripada penampila seni terbaik tahun ini kepada sekolah Muhammadiyah!” (hlm. 246-247).27. Nilai kreatif/originalitas “Buah-buah aren itu sungguh
  • 120. 98 merupakan sebuah rancangan kalung etnik properti adi busana koreografi yang bernilai seni, hasil perenungan Mahar berjam-jam sambil memandangi langit di bawah pohon filicium. Itulah sebuah perenungan tingkat tinggi yang membuat hatinya bergejolak sepanjang malam karena girang akan memberi kami pelajaran, sebuah perenungan pembalasan dendam yang telah ia rencanakan dengan rapi selama bertahun-tahun” (hlm. 248).28. Nilai berkeinginan keras “Syahdan vulgar dan sok tahu. Aku segera teringat pada A Kiong. Beberapa hari ini ia belajar di kelas sambil berdiri karena lima biji bisul padi bermunculan dipantatnya sehingga ia tak bisa duduk. Tapi ia berkeras ingin tetap sekolah” (hlm. 254).29. Nilai empati “Tabahlah, kawan, ambil semua resiko, begitulah hidup,” demikian barangkali maksudnya. Aku membalas dengan senyum kecut karena aku gelisah. Aku gelisah membayangkan apa yang ada di pikiran seorang wanita muda Tionghoa tentang laki-laki Melayu
  • 121. 99 kampung seperti aku. Dan berada di tengah lingkungan mereka membuat aku semakin ragu. Apa aku pulang saja? Tapi aku rindu. Dan rinduku telanjur berdarah-darah” (hlm. 265)30. Nilai mutualisme “Pembimbingnya menuntut Eryn menulis sesuatu yang baru, berbeda dan mampu membuat terobosan ilmiah karena ia adalah mahasiswa cerdas pemenang award. Aku setuju dengan pandangan itu. Erny sebenarnya telah memiliki konsep tentang sesuatu yang berbeda itu. Dari pembicaraannya yang meluap- luap aku menangkap bahwa ia telah mempelajari suatu gejala psikologi di mana seorang individu demikian tergantung pada individu lain sehingga tak bisa melakukan apapun tanpa pasangannya itu. Kemudian ia mengajukan tema tersebut, pembimbingnya setuju” (hlm. 444).31. Nilai percaya diri “Persoalan klasiknya adalah kepercayaan diri. Inilah problem utama jika berasal dari lingkungan marginal dan mencoba bersaing. Kami telah dipersiapkan dengan baik oleh Bu Mus. Beliau memang menaruh harapan besar pada lomba ini lebih dari beliau berharap waktu
  • 122. 100 karnaval dulu” (hlm. 364).32. Nilai ketangkasan “Lintang kembali menyambar tombol secepat kilat dan jawabannya serta merta memecah ruangan. “Integral batas 5 dan 0, 2x minus x kali dx, hasilnya dua belas koma lima!” (hlm. 370).33. Nilai rendah hati “Maafkan Bapak Guru Muda, atas nama dewan juri saya terpaksa mengatakan bahwa pengetahuan kami agaknya belum sampai kesana” (hlm. 379).34. Nilai pemberani “Bantahannya yang terakhir itu adalah pelecehan. Lintang tersengat harga dirinya, wajahnya merah padam, sorot matanya tak lagi jenaka. Lintang, yang baru sekali ini menginjak Tanjung Pandang, berdiri dengan gagah berani menghadapi guru PN yang arogan jebolan perguruan tinggi terkemuka itu” (hlm. 380-381).35. Nilai keadilan “Nilai Flo adalah yang paling parah. Matematika, Bahasa Inggris dan IPA hanya mendapat angka 2. Meskipun Bapaknya telah menyumbang papan tulis baru, lonceng, jam dinding dan pompa air untuk Muhammadiyah namun Bu Mus tak peduli, beliau tak
  • 123. 101 sedikitpunsungkan menganugrahkan angka-angka bebek berenang itu di rapor Flo karena memang itulah nilai anak Gedong itu” (hlm. 402)36. Nilai sopan santun “Nama saya Flo, Floriana,” kata Flo sambil berusaha menyalami Bu Frischa. Pria flamboyant itu menganguk santun dan melemparkan senyum termanisnya untuk Flo” (hlm. 403).37. Nilai pemberani “Nasib baik memihak para pemberani!” (hlm. 422)38. Nilai pendidikan “Inilah pesan Tuk Bayan Tula untuk kalian berdua, jika ingin lulus ujian: buka buku, belajar!!” (hlm. 424).39. Nilai kerinduan “Sekarang hari kamis, sudah empat hari Lintang tak muncul juga. Aku melamun memandangi tempat duduk disebelahku yang kosong. Aku sedih melihat dahan fisilium tempat ia bertengger jika kami memandangi pelangi. Ia tak ada di sana. Kami sangat kehilangan dan cemas. Aku rindu pada Lintang” (hlm. 429).40. Nilai tekad untuk lebih baik “Aku benar-benar bertekad mendapatkan beasiswa itu karena bagiku ia adalah tiket untuk meninggalkan hidupku yang terpuruk” (hlm. 460).
  • 124. 102 41. Nilai iba “Aku tak berkata apa-apa. Terlihat jelas ia kelelahan melawan nasib. Lengannya kaku seperti besi karena kerja rodi tapi tubuhnya kurus dan ringkih. Binar mata dan kepintaran dan senyum manis yang jenaka itu tak pernah hilang walaupun sekarang kulitnya kering berkilat dimakan minyak. Rambutnya merah awut-awutan. Lintang dan keseluruhan bangunan ini menimbulkan rasa iba, iba karena kecerdasan yang sia-sia terbuang” (hlm. 468). 42. Nilai kepedulian “Bagaimana kabarnya si Ikal itu, ibunda?” Tanya Mahar kepada ibu Ikal” (hlm. 492). 43. Nilai keakraban “Terakhir ia mengirimku sepucuk surat dan diselipkannya selembar foto dalam suratnya itu” (hlm. 493).C. Deskripsi Metode Pengajaran Nilai yang Terkandung dalam Novel Laskar Pelangi Metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Metode pengajaran nilai berarti suatu cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan penanaman nilai-nilai guna mencapai tujuan yang ditentukan. Dalam novel laskar pelangi metode pengajaran nilai yang
  • 125. 103digunakan adalah metode bercerita atau berkisah, dan metode menampilkangambar kemudian menceritakan hakikat makna yang tersirat pada gambartersebut.Tabel 2 Paparan Data Metode Pengajaran Nilai yang Terkandung dalam Novel Laskar Pelangi No Deskripsi Metode Pengajaran Teks Dalam Novel Laskar Pelangi Nilai 1. Metode pengajaran nilai dengan “Bapak yang jahitan kerah kemejanya telah lepas itu bercerita bercerita tentang perahu Nabi Nuh serta pasangan-pasangan binatang yang selamat dari banjir bandang”. “Mereka yang ingkar telah diingatkan bahwa air bah akan datang…,” demikian ceritanya dengan wajah penuh penghayatan”. “Namun, kesombongan membutakan mata dan menulikan telinga mereka, hingga mereka musnah dilamun ombak….” (hlm. 22). “Cerita selanjutnya sangat memukau. Sebuah cerita peperangan besar zaman Rasulullah di mana kekuatan dibentuk oleh iman bukan oleh jumlah tentara: perang Badar! Tiga ratus tiga belas tentara Islam mengalahkan ribuan
  • 126. 104 tentara Quraisy yang kalap dan bersenjata lengkap” (hlm. 22). “Ketahuilah wahai keluarga Ghudar, berangkatlah kalian ke tempat-tempat kematian kalian dalam masa tiga hari!” Demikian Pak Harfan berteriak lantang sambil menatap langit melalui jendela kelas kami. Beliau memekikkan firasat mimpi seorang penduduk Mekkah, firasat kehancuran Quraisy dalam kehebatan perang Badar. Mendengar teriakan itu rasanya aku ingin melonjak dari tempat duduk. Kami ternganga karena suara Pak Harfan yang berat menggetarkan benang-benang halus dalam kalbu kami. Kami menanti liku demi liku cerita dalam detik- detik menegangkan dengan dada berkobar-kobar ingin membela perjuangan para penegak Islam” (hlm. 22-23).2. Metode pengajaran nilai dengan “Lalu Pak Harfan mendinginkan suasana dengan berkisah tentang berkisah penderitaan dan tekanan yang dialami seorang pria bernama Zubair bin Awam. Dulu nun di tahun 1929 tokoh ini bersusah payah, seperti kesulitan Rasulullah ketika pertama tiba di Madinah,
  • 127. 105 mendirikan sekolah dari jerjak kayu bulat seperti kandang. Itulah sekolah pertama di Belitong. Kemudian muncul para tokoh seperti K.A. Abdul Hamid dan Ibrahim bin Zaidin yang berkorban habis-habisan melanjutkan sekolah kandang itu menjadi sekolah Muhammadiyah. Sekolah ini adalah sekolah Islam pertama di Belitong, bahkan mungkin di Sumatra Selatan” (hlm. 23). 3. Metode pengajaran nilai dengan “Beliau tak menanggapi keluhan itu tapi mengeluarkan sebuah buku menampilkan gambar kemudian berbahasa Belanda dan menceritakannya. memerplihatkan sebuah gambar. Gambar itu adalah sebuah ruangan yang sempit, dikelilingi tembok tebal yang suram, tinggi, gelap, dan berjeruji. Kesan di dalamnya begitu pengap, angker, penuh kekerasan dan kesedihan”. “Inilah sel Pak Karno di sebuah penjara di Bandung, di sini beliau menjalani hukuman dan setiap hari belajar, setiap waktu membaca buku. Beliau adalah salah satu orang tercerdas yang pernah dimiliki bangsa ini.” (hlm. 31).D. Deskripsi Nilai-nilai yang Dapat Dikembangkan dalam Pendidikan Islam
  • 128. 106 Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan Islam yang terdapatdalam novel Laskar Pelangi merupakan nilai-nilai yang bersifat Islami yangmeliputi: (1) nilai aqidah, (2) nilai syari’ah, dan nilai akhlaq (nilai budipekerti atau nilai moral). Nilai-nilai ini sangat penting untuk ditanamkan ataudikembangkan dalam pendidikan Islam guna mendukung proses pencapaiantujuan yang diinginkan.Tabel 3 Paparan Data Nilai-nilai yang Dapat Dikembangkan dalam Pendidikan Islam No Deskripsi Nilai-Nilai Teks Dalam Novel Laskar Pelangi 1. Nilai menebarkan salam “Pak Harfan berdiri di depan para orangtua, wajahnya muram. Beliau bersiap-siap memberikan pidato terakhir. Wajahnya tampak putus asa. Namun ketika beliau akan mengucapkan kata pertama Assalamu’alaikum seluruh hadirin terperanjat karena Tripani berteriak sambil menunjuk ke pinggir lapangan rumput luas halaman sekolah itu” (hlm. 6). 2. Nilai akhlak tentang amar ”Lalu persis di bawah mathari tadi tertera huruf-huruf arab gundul ma’ruf nahi mungkar yang nanti setelah kelas dua, setelah aku pandai membaca huruf arab, aku tahu bahwa tulisan itu berbunyi amar makruf nahi
  • 129. 107 mungkar artinya: menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar”. Itulah pedoman utama warga Muhammadiyah. Kata-kata itu melekat dalam kalbu kami sampai dewasa nanti. Kata-kata yang begitu kami kenal seperti kami mengenal bau alami ibu-ibu kami” (hlm. 19).3. Nilai keikhlasan “Pengetahuan terbesar terutama kudapat dari sekolahku, karena perguruan Muhammadiyah bukanlah center of excellence, tapi ia merupakan pusat marginalitas sehingga ia adalah sebuah universitas kehidupan. Di sekolah ini aku memahami arti keikhlasan, perjuangan, dan integritas. Lebih dari itu, perintis peruguran ini mewariskan pelajaran yang amat berharga tentang ide-ide besar Islam yang mulia, keberanian untuk merealisasi ide itu meskipun tak putus-putus dirundung kesulitan, dan konsep menjalani hidup dengan gagasan memberi manfaat sebesar-besarnya untuk orang lain melalui pengorbanan tanpa pamrih” (hlm. 84). “Pak Harfan telah puluhan tahun
  • 130. 108 mengabdi di sekolah Muhammadiyah nyaris tanpa imbalan apa pun demi motif syiar Islam. Beliau menghidupi keluarga dari sebidang kebun palawija di pekarangan rumahnya” (hlm. 21).4. Nilai syariah/ibadah “Shalatlah tepat waktu, biar dapat pahala lebih banyak,” demikian Bu Mus selalu menasihati kami” (hlm. 31).5. Nilai budi pekerti “Bu Mus adalah seorang guru yang pandai, karismatik, dan memiliki pandangan jauh ke depan. Beliau menyusun sendiri silabus pelajaran Budi Pekerti dan mengajarkan kepada kami sejak dini pandangan-pandangan dasar moral, demokrasi, hukum, keadilan, dan hak-hak asasi jauh hari sebelum orang-orang sekarang meributkan soal materialisme versus pembangunan spiritual dalam pendidikan. Dasar- dasar moral itu menuntun kami membuat konstruksi imajiner nilai-nilai integritas pribadi dalam konteks Islam. Kami diajarkan menggali nilai luhur di dalam diri sendiri agar berperilaku baik karena kesadaran pribadi. Materi
  • 131. 109 pelajaran Budi Pekerti yang hanya diajarkan di sekolah Muhammadiyah sama sekali tidak seperti kode perilaku formal yang ada dalam konteks legalitas institusional seperti sapta prasetya atau pedoman-pedoman pengalaman lainnya” (hlm. 30).6. Nilai akhlak tentang berbakti “Trapani sangat berbakti kepada orangtua, khususnya ibunya. pada orang tua Sebaliknya, ia juga diperhatikan ibunya layaknya anak emas. Mungkin karena ia satu-satunya laki-laki diantara lima saudara perempuan lainnya. Ayahnya adalah seorang operator vessel board di kantor telepon PN sekaligus tukang sirine. Meskipun rumahnya dekat dengan sekolah tapi sampai kelas tiga ia masih diantar jemput ibunya. Ibu adalah pusat gravitasi hidupnya” (hlm. 74).7. Nilai Kesabaran “Sebentar lagi Anakku, sebentar lagi…,” jawab Bu Mus sabar, berulang-ulang, puluhan kali, sepanjang tahun, lalu Harun pun bertepuk tangan” (hlm. 77).8. Nilai Jujur “Ketika ibuku bertanya tentang tanda itu aku tak berkutik, karena
  • 132. 110 pelajaran Budi Pekerti Kemuhammadiyahan setiap Jumat pagi tak membolehkan aku membohongi orangtua, apalagi ibu. Maka dengan amat sangat terpaksa kutelanjangi kebodohanku sendiri. Abang- abang dan ayahku tertawa sampai menggigil dan saat itulah untuk pertama kalinya aku mendengar teori canggih ibuku tentang penyakit gila” (hlm. 82)9. Nilai Syukur. “Maka sejak waktu virtual tercipta dalam definisi hipotesis manusia tatkala nebula mengeras dalam teori lubang hitam, di antara titik- titik kurunnya yang merentang panjang tak tahu akan berhenti sampai kapan, aku pada titik ini, di tempat ini, merasa bersyukur menjadi orang Melayu Belitong yang sempat menjadi murid Muhammadiyah” (hlm. 85).10. Nilai tauhid tentang zat-zat “Tempat di atas langit ketujuh, tempat kebodohan bersemanyam, Tuhan adalah metaphor dari suatu tempat di mana manusia tak bisa mempertanyakan zat-zat Allah. Setiap usaha mempertanyakannya hanya akan berujung dengan
  • 133. 111 kesimpulan yang mempertontonkan kemahatololan sang penanya sendiri. Maka semua jangkauan akal telah berakhir di langit ketujuh tadi. Di tempat asing tersebut, barangkali Arasy, di sana kembali metaphor kagungan Tuhan bertakhta. Di bawah takhta-Nya tergelar Lauhul Mahfuzh, muara dari segala cabang anak-anak sungai ilmu dan kebijakan, kitab yang telah mencatat setiap lembar daun yang akan jatuh. Ia juga menyimpan rahasia ke mana nasib akan membawa sepuluh siswa baru perguruan Muhammadiyah tahun ini. Karena takdir dan nasib termasuk dalam zat-Nya” (hlm. 105).11. Nilai syariah tentang menjaga “Kucai mengangkangi dahan aurat tertinggi, sedangkan Sahara, satu- satunya betina dalam kawanan itu, bersilang kaki di atas dahan terendah. Pengaturan semacam itu tentu bukan karena budaya patriarki begitu kental dalam komunitas Melayu, tapi semata- mata karena pakaian Sahara tidak memungkinkan ia berada di atas kami. Ia adalah muslimah yang
  • 134. 112 menjaga aurat rapat-rapat” (hlm. 159).12. Nilai Aqidah tentang Larangan ”Disambung berita penting: Syirik ”Klenik, ilmu ghaib, tahayul, paranormal, semuanya sangat dekat dengan pemberhalaan. Syirik adalah larangan tertinggi dalam Islam. Ke mana semua kebijakan dari pelajaran aqidah setiap selasa? Ke mana semua hikmah dari pengalaman jahiliyah masa lampau dalam pelajaran tarikh Islam? Ke mana etika kemuhammadiyahan?” (hlm. 350- 351).13. Nilai Taqwa ”Para anggota Societeit adalah orang-orang biasa, miskin dan kebanyakan, namun mereka kaya raya akan pengalaman batin dan petualangan penuh mara bahaya untuk mencari kebenaran hakiki. Mereka memastikan setiap kesangsian, membuktikan prasangka dan mitos-mitos, serta mengalami sendiri apa yang hanya bisa diduga-duga orang. Mereka memuaskan sifat dasar keingintahuan manusia sampai batas akhir yang menguji keyakinan. Mereka adalah orang-
  • 135. 113 orang yang menjeput hidayah dan tidak duduk termangu-mangu menunggunya. Kini mereka menjadi orang-oarang Islam yang taat yang menjauhkan diri dari syrik” (hlm. 474).14. Nilai Silaturrahmi ”Setelah acara peluncuran buku, aku, Nur Zaman, Mahar, dan Kucai mengunjungi ibu Ikal untuk bersilaturrahmi sekalian menanyakan kabar anaknya dirantau orang” (hlm. 491).
  • 136. BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIANA. Pembahasan Hasil Analisis Nilai-nilai yang Terdapat dalam Novel Laskar Pelangi Pada bab lima ini, penulis akan menafsirkan temuan nilai-nilai yang terdapat dalam novel laskar pelangi, kemudian pengintegrasian temuan penelitian ke dalam kumpulan pengetahuan yang sudah ada dilakukan dengan jalan menjelaskan temuan-temuan dalam konteks khasanah yang lebih luas. Adapaun nilai-nilai yang telah penulis deskripsikan pada bab empat di atas yaitu mengenai nilai-nilai yang bersifat global bukan nilai yang bersifat Islami. Nilai-nilai itu meliputi: (a) nilai personal, (b) nilai sosial, dan (c) nilai seni. Pertama, nilai personal yang telah penulis temukan dalam teks novel Laskar Pelangi sebagai hasil analisis penelitian adalah sebagai berikut: a. Nilai Tanggungjawab Nilai tanggungjawab, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi yaitu: ”Pak Harfan tampak amat bahagia menghadapi murid, tipikal guru yang sesungguhnya, seperti dalam lingua asalnya, india, yaitu orang yang tak hanya mentransfer sebuah pelajaran, tapi juga yang secara pribadi menjadi sahabat dan pembimbing spiritual bagi muridnya” (hlm. 23). Deskripsi penafsiran nilai tanggung jawab pada teks di atas adalah sikap dan prilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, 114
  • 137. 115 yang seharusnya ia lakukan terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial), negara, dan Tuhan Yang Maha Esa. Dalam hal ini, bahwasanya pak Harfan adalah tipe seorang yang memiliki sikap dan prilaku untuk menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai guru kepada muridnya untuk selalu membimbing dan mengarahkan muridnya baik dalam hal pengetahuan maupun spiritual.b. Nilai Perjuangan Nilai perjuangan, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah “Pak Harfan menceritakan semua itu dengan semangat perang Badar sekaligus setengah embusan angin pagi. Kami terpesona pada setiap pilihan kata dan gerak lakunya yang memikat. Ada semacam pengaruh yang lembut dan baik terpancar darinya. Ia mengesankan sebagai pria yang kenyang akan pahit getir perjuangan dan kesusahan hidup berpengetahuan seluas samudra, bijak berani, mengambil resiko, dan menikmati daya tarik dalam mencari-cari bagaimana cara menjelaskan sesuatu agar setiap orang mengerti” (hlm. 23). Deskripsi penafsiran nilai perjuangan pada teks di atas adalah sikap dan prilaku seseorang besunguh-sungguh berjuang dengan segenap jiwa dan raganya. Perjuangan pak Harfan terhadap dunia pendidikan begitu sangat besar, sekalipun hanya dengan sepuluh murid, beliau tetap berjuang untuk mencerdaskan atau memahamkan murid-muridnya dengan semangat, daya tarik sehingga dapat memikat perhatian muridnya. pak Harfan adalah tipikal guru yang patut diteladani oleh para pendidik lainnya. Saat ini, kebanyakan para pendidik memposisikan kedudukannya hanya sebagai profesi, akan tetapi tanggung jawab terhadap pekejaannya masih perlu dipertanyaan, apakah mereka sudah benar-benar berjuang
  • 138. 116 untuk mencerdaskan peserta didiknya untuk mencetak dan memelihara aset (generasi) yang lebih berkuatlitas dengan bekal pengetahuan dan psiritual yang tinggi? Tugas guru sabagai pengajar merupakan pekerjaan berat, mereka memeraskan otak, mental, dan fisik untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan hal tersebut, telah dilaksanakan oleh pak Harfani dalam membimbing, melatih dan mengajar sepuluh muridnya di sekolah Muhammadiyah.c. Nilai teguh pendirian, nilai ketekunan, nilai keinginan kuat untuk mencapai cita-cita, dan nilai dermawan Nilai teguh pendirian, nilai ketekunan, nilai keinginan kuat untuk mencapai cita-cita, dan nilai dermawan paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Pak Harfan memberi kami pelajaran pertama tentang keteguhan pendirian, tentang ketekunan, tentang keinginan kuat untuk mencapai cita-cita. Beliau meyakinkan kami bahwa hidup bisa demikian bahagia dalam keterbatasan jika dimaknai dengan keikhlasan berkorban untuk sesama. Lalu beliau menyampaikan sebuah prinsip prinsip yang diam-diam menyelinap jauh ke dalam dadaku serta member arah bagiku hingga dewasa, yaitu bahwa hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya” (hlm. 24). Deskripsi penafsiran nilai teguh pendirian yaitu sikap atau perilaku kokoh dan tidak mudah terombang-ambing. Seseorang yang memiliki sikap ini cenderung memiliki prinsip yang kuat serta tidak mudah goyah dalam segala hal. Sedangkan nilai ketekunan adalah sikap tidak menyerah pada rintangan atau hambatan yang dihadapi demi mencapai cita-cita atau tujuan. Kemudian nilai keinginan kuat untuk mencapai cita-cita dapat
  • 139. 117 ditafsirkan sebagai sikap atau perilaku seseorang yang bersungguh- sungguh dengan motivasi yang tinggi serta usaha yang tiada tara untuk mewujudkan harapan atau cita-cita. Dan adapun nilai dermawan merupakan tindakan seseorang yang mencintai sesama manusia sehingga menyumbangkan waktu uang dan tenaganya. Jika nilai-nilai tersebut diajarkan, maka akan dijadikan bekal seseorang dalam menjalani kehidupan dengan prinsip-prinsip yang teguh (tidak mudah ikut-ikutan), tekun, bersemangat untuk mengejar cita-cita dan selalu dermawan pada sesama manusia.d. Nilai Kompetisi Nilai kompetisi paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Di dalam kelas-kelas itu puluhan siswa PN brilian bersaing ketat dalam standar mutu yang sangat tinggi” (hlm. 58). Deskripsi penafsiran nilai kompetisi adalah sikap atau perilaku seseorang yang selalu ingin bersaing positif untuk merebutkan kejuaraan dalam lingkup dabungan perkumpulan. ”Fastabiqul Khairat” yang artinya berlomba-lombalah dalam kebaikan. Ini berarti Islam juga memberikan anjuran kepada manusia untuk selalu berkompetisi dalam hal-hal yang baik. Maka dari itu, nilai kompetisi ini perlu ditanamkan pada diri seseorang. Dengan adanya kompetisi akan membangun jiwa yang memiliki daya saing yang tinggi untuk terus maju.
  • 140. 118e. Nilai Kecerdasan Nilai kecerdasan, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Namun, sahabatku Lintang memiliki hampir semua dimensi kecerdasan. Dia seperti toko serba ada kepandaian. Yang paling menonjol adalah kecerdasan spasialnya, sehingga ia sangat unggul dalam geometri multidimensional. Ia dengan cepat dapat membayangkan wajah sebuah konstruksi suatu fungsi jika digerak- gerakkan dalam variabel derajat. Ia mampu memecahkan kasus- kasus dekomposisi modern yang runyam dan mengajari kami teknik menghitung luas poligon dengan cara membongkar sisisisinya sesuai Dalil Geometri Euclidian. Ingin kukatakan bahwa ini sama sekali bukan perkara mudah” (hlm. 113-114). “Lintang juga cerdas secara experiential yang membuyatnya piawai menghubungkan setiap informasi dengan konteks yang lebih luas. Dalam kaitan ini, ia memiliki kapasitas metadiscourse selayaknya orang-orang yang memang dilharikan sebagai seorang genius. Artinya adalah jika dalam pelajaran biologi kami baru mempelajari fungsi-fungsi otot sebagai subkomponen yang membentuk sistem mekanik parsial sepotong kaki maka Liontang telah memahami sistem mekanika seluruh tubuh dan ia mampu menjelaskan peran sepotong kaki itu dalam keseluruhan mekanika persendian dan otot-otot yang terintegrasi” (hlm. 114-115) “Kecerdasannya yang lain adalah kecerdasan linguistik. Ia mudah memahami bahasa, efektif dalam berkomunikasi, memiliki nalar verbal dan logika kualitatif. Ia juga mempunyai descriptive power, yakni suatu kemampuan menggambarkan sesuatu dan mengambil contoh yang tepat. Pengalamanku dengan pelajaran bahasa Inggris di harihari pertama kelas 2 SMP nanti membuktikan hal itu” (hlm. 115). Deskripsi penafsiran nilai kecerdasan yaitu kemampuan yang dimiliki seseorang yang diberikan oleh Tuhannya. Kemampuan itu akan terus berkembang, manakala orang tersebut selalu berusaha untuk terus mengembangkan kemampuannya dengan baik. Sebagaimana sosok Lintang, ia adalah anak yang cerdas, akan tetapi dengan kecerdasannya itu,
  • 141. 119 ia tetap untuk rajin membaca atau selalu haus untuk menuntut ilmu. Maka dari itu, Lintang menjadi anak yang multitalenta, sebagaimana yang terdapat dalam teks di atas Lintang memiliki kecerdasan spesial, experiental dan lingual.f. Nilai Percaya Diri Nilai percaya diri, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Persoalan klasiknya adalah kepercayaan diri. Inilah problem utama jika berasal dari lingkungan marginal dan mencoba bersaing. Kami telah dipersiapkan dengan baik oleh Bu Mus. Beliau memang menaruh harapan besar pada lomba ini lebih dari beliau berharap waktu karnaval dulu” (hlm. 364). Deskripsi penafsiran nilai percaya diri adalah sikap atau tingkah laku seseorang yang optimis dalam menghadapi sesuatu. Dengan adanya sikap percaya diri seseorang tidak mudah minder dalam segala hal. Percaya diri merupakan kunci kesuksesan “al-i’timadu alannafsi asasunnajah”.g. Nilai Disiplin Nilai disiplin, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Tapi lebih dari setengah perjalanan sudah, aku tak ‘kan kembali pulang gara-gara buaya bodoh ini. Tak ada kata bolos dalam kamusku, dan hari ini ada tarikh Islam, mata pelajaran yang menarik. Ingin kudebatkan kisah ayat-ayat suci yang memastikan kemenangan Byzantium tujuh tahun sebelum kejadian. Sudah siang, aku maju sedikit, aku pasti terlambat tiba di sekolah” (hlm. 88).
  • 142. 120 Deskripsi nilai disiplin adalah sikap dan perilaku seseorang yang berniat untuk menaati dan mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan. Berkaitan dengan teks di atas, konteks disiplin telah diterapkan oleh Lintang. Sekalipun dalam suatu perjalan ada halangan yang dapat mengancam nyawanya, namun Lintang tetap tidak ingin terlambat. Ini berarti, Lintang memiliki sikap atau prilaku yang berniat untuk menaati dan mengikuti peraturan yang ada di sekolah Muhammadiyah.h. Nilai Perjuangan Menuntut Ilmu Nilai perjuangan menuntut ilmu, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Aku hanya sendirian. Jika ada orang lain aku berani lebih frontal. Tahukah hewan ini pentingnya pendidikan? Aku tak berani lebih dekat. Ia menganga dan bersuara rendah, suara dari perut yang menggetarkan seperti sendawa seekor singa atau seperti suara orang menggeser sebuah lemari yang sangat besar. Aku diam menunggu. Tak ada jalur alternatif dan kekuatan jelas tak berimbang. Aku mulai frustasi. Suasana sunyi senyap. Yang ada hanya aku, seekor buaya ganas yang egois, dan intaian maut” (hlm. 88). Deskripsi penafsiran nilai perjuangan menuntut ilmu adalah sikap dan tingkah laku seseorang dalam berjuang dengan sungguh-sungguh dalam mencari ilmu demi bekal hidupnya. Ilmu adalah petunjuk bagi manusia, ilmu juga sebagai alat pengotrol manusia. Berjuang dalam menuntut ilmu akan dirasakannya setelah seseorang benar-benar menjalankan ilmu yang telah diperolehnya. Lintang adalah tokoh yang sangat peduli terhadap pendidikan. Perjuangannya dalam menuntut ilmu penuh dengan pengorbanan. Daya juang dan semangatnya begitu tinggi.
  • 143. 121 Sebagai generasi penerus banggsa, maka kita harus meniru sosok Lintang dalam memperjuangkan pendidikan.i. Nilai Sigap Menghadapi Masalah Nilai sigap menghadapi masalah, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Lintang hanya dapat belajar setelah agak larut karena rumahnya gaduh, sulit menemukan tempat kosong, dan karena harus berebut lampu minyak. Namun sekali ia memegang buku, terbanglah ia meninggalkan gubuk doyong berdinding kulit itu. Belajar adalah hiburan yang membuatnya lupa pada seluruh penat dan kesulitan hidup. Buku baginya adalah obat dan sumur kehidupan yang airnya selalu memberi kekuatan baru agar ia mampu mengayuh sepeda menantang angin setiap hari. Jika berhdapan dengan buku ia akan terisap oleh setiap kalimat ilmu yang dibacanya, ia tergoda oleh sayap-sayap kata yang diucapkan oleh para cerdik cendekia, ia melirik maksud tersembunyi dari sebuah rumus, sesuatu yang mungkin tak kasat mata bagi orang lain” (hlm. 100-101). Deskripsi penafsiran nilai sigap menghadapi masalah adalah sikap tegas dan tegar dalam menghadapi masalah yang dihadapinya. Pribadi yang tegas dan tegar dalam menghadapi masalah ini berarti segala urusan akan mudah terselesaikan. Seperti halnya Lintang, ia hanya menyempatkan diri belajar pada waktu malam hari, karena rumahnya gaduh dan ia sulit menemukan tempat kosong. Begitu hebatnya Lintang, ia tidak pernah mengeluh pada orang tuanya. Oleh karenanya, sebagai manusia yang telah diberikan nikmat yang lebih baik seharusnya kita juga harus bersikap seperti halnya Lintang. Belajar dan selalu haus membaca demi mendapatkan pengetahuan.
  • 144. 122j. Nilai Rendah Hati Nilai rendah hati, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Jika kami kesulitan, Lintang mengajari kami dengan sabar dan selalu membesarkan hati kami. Keunggulannya tidak menimbulkan perasaan terancam bagi sekitarnya, kecemerlangannya tidak menerbitkan iri dengki, dan kehebatannya tidak sedikit pun mengisyaratkan sifat-sifat angkuh. Kami bangga dan jatuh hati padanya sebagai seorang sahabat dan sebagai seorang murid yang cerdas luar biasa. Lintang yang miskin duafa adalah mutiara, galena, kuarsa, dan topas yang paling berharga bagi kelas kami” (hlm. 109). Deskripsi nilai rendah hati adalah sikap atau prilaku tidak sombong dengan apa yang dimiliki, serta tidak angkuh dengan apa yang diperbutanya. Rendah hati termasuk suatu cara untuk mendapatkan kemuliaan. Orang yang rendah hati seperti jurang yang didalamnya berhimpun air hujan dan air hujan lainnya, sedangkan orang yang sombong seperti bukit yang tidak menetap didalanya air hujan dan air hujan yang lain. Di sinilah sosok lintang yang selalu rendah hati, tidak pernah sombong sekalipun ia menjadi manusia super cerdas.k. Nilai Ketangkasan Nilai ketangkasan paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Lintang kembali menyambar tombol secepat kilat dan jawabannya serta merta memecah ruangan. “Integral batas 5 dan 0, 2x minus x kali dx, hasilnya dua belas koma lima!” (hlm. 370). Deskripsi penafsiran nilai ketangkasan adalah sikap atau prilaku cekatan dalam menjalankan sesuatu. Tangkas di sini bukanlah sikap atau
  • 145. 123 prilaku terburu-buru. Ketangkasan yang dimaksudkan ini yaitu ketangkasan yang memiliki stategi dalam mengambil tindakan. Misalnya saja dalam suatu perlombaan yang diikuti oleh Lintang, Ikal dan Mahar adalah perlombaan yang amat berat, karena mereka menghadapi lawan yang tngguh. Namun ketika perlombaan dimulai dan pertanyaan telah dibacakan oleh juri Lintang, Ikal dan Mahar mencoba tenang, bersikap percaya diri dan menjawab pertanyaan dengan penuh strategi yang matang.l. Nilai Gagah Berani Nilai gagah berani, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Bantahannya yang terakhir itu adalah pelecehan. Lintang tersengat harga dirinya, wajahnya merah padam, sorot matanya tak lagi jenaka. Lintang, yang baru sekali ini menginjak Tanjung Pandang, berdiri dengan gagah berani menghadapi guru PN yang arogan jebolan perguruan tinggi terkemuka itu” (hlm. 380-381). Deskripsi penafsiran gagah berani yaitu sikap atau prilaku tangguh dan berani dalam membela kebenaran. Sikap atau prilaku berani karena benar ini disebut al-jurah. Seseorang yang memiliki sikap al-jurah atau berani karena benar, tidak akan perna lekang dengan kebenaran dan tidak mudah ditundukkan. Hal ini begitu menonjol pada pribadi Lintang seorang murid Muhammadiyah yang mana ia begitu gagah berani dalam menyangkal jawaban guru PN yang jawabannya memang benar-benar salah. Di sinilah Lintang mulai menjelaskan jawabannya dengan sangat rasional dan sikap yang bijak. Ia berani demi kebenaran, ia tidak peduli
  • 146. 124 siapa yang dihadapinya, yang terpenting ia telah mempertahankan suatu kebenaran dengan sikap yang baik.m. Nilai Kerinduan Nilai kerinduan, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Sekarang hari kamis, sudah empat hari Lintang tak muncul juga. Aku melamun memandangi tempat duduk disebelahku yang kososng. Aku sedih melihat dahan fisilium tempat ia bertengger jika kami memandangi pelangi. Ia tak ada di sana. Kami sangat kehilangan dan cemas. Aku rindu pada Lintang” (hlm. 429). Deskripsi penafsiran nilai kerinduan merupakan sikap atau prilaku yang dirasakan seseorang karena rindu atau kangen pada orang lain. Kerinduan ini berasal dari kata ash-shabwah bermakna condong, sebagaimana dikatakan as-shaba ila kadza maksudnya ia condong kepada sesuatu. Kaitan nilai kerinduan dengan teks di atas yaitu perasaan yang penuh kerinduan dan condong pada seseorang yang selama ini tidak pernah hadir dan tampak secara kasat mata. Ia adalah Lintang yang kini harus berhenti sekolah demi menghidupi keluarganya sebagai pengganti ayahnya yang telah meninggal dunia. Seluruh kawan-kawan lintang merasakan kerinduan yang mendalam pada Lintang karena orang yang dianggap super cerdas kini harus putus sekolah.n. Nilai Iba Nilai iba, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Aku tak berkata apa-apa. Terlihat jelas ia kelelahan melawan nasib. Lengannya kaku seperti besi karena kerja rodi tapi tubuhnya
  • 147. 125 kurus dan ringkih. Binar mata dan kepintaran dan senyum manis yang jenaka itu tak pernah hilang walaupun sekarang kulitnya kering berkilat dimakan minyak. Rambutnya merah awut-awutan. Lintang dan keseluruhan bangunan ini menimbulkan rasa iba, iba karena kecerdasan yang sia-sia terbuang” (hlm. 468). Deskripsi penafsiran nilai iba adalah sikap atau prilaku seseorang yang yang merasakan kepedihan yang sedang dihadapi orang lain, akan tetapi kepekaan rasa itu tidak dapat membantu bebannya hanya dapat memberikan solusi nasehat atau pesan. Rasa iba ini dirasakan oleh para murid Muhammadiyah yang telah kehilangan Lintang, mereka merasakan iba karena kecerdasan Lintang yang terbuang sia-sia.o. Dan Nilai Tekad Untuk Lebih Baik Nilai tekad untuk lebih baik, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Aku benar-benar bertekad mendapatkan beasiswa itu karena bagiku ia adalah tiket untuk meninggalkan hidupku yang terpuruk” (hlm. 460). Deskripsi penafsiran nilai tekad untuk lebih baik yaitu kekuatan jiwa yang tinggi untuk merubah kehidupan menjadi lebih baik. Individu yang memiliki sikap atau prilaku demikian berarti ia memiliki harapan di masa depan. Dengan sikap tekad, maka individu akan terus berusaha dengan sekuat tenaga dan dengan kesungguhan untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Hal ini dialami oleh Ikal yang ia benar-benar bertekad mendapatkan beasiswa, karena baginya itu merupakan tiket untuk menggalkan kehidupan yang terpuruk.
  • 148. 126 Kedua, nilai sosial adalah nilai-nilai yang berhubungan dengankemanusiaan. Nilai-nilai dalam dimensi ini terkait dengan interaksi sesamamanusia mencakup berbagai norma baik kesusilaan, kesopanan dan segalamacam produk hukum yang ditetapkan manusia. Nilai sosial yang terdapatdalam novel Laskar Pelangi antara lain:a. Nilai Multikultural Nilai multikultural, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Jumlah orang Tionghoa di kampong kami sekitar sepertiga dari total populasi. Ada orang kek, ada orang Hokian, ada orang Tongsan, dan ada yang tak tahu asal usulnya” (hlm. 35). Deskripsi penafsiran nilai multicultural adalah pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap realitas keagamaan yang plural dan multicultural yang ada dalam kehidupan masyarakat. Nilai multicultural ini telah ditanamkan pada masyarakat Belitong, namun sekalipun mereka hidup berdampingan dengan suku atau agama yang berbeda namun kerukunan dan keharmonisan tetap terjalin romantis.b. Nilai Pertolongan Nilai pertolongan, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Di setiap kelas ada kotak P3K berisi obat-obat pertolongan pertama. Kalau ada siswanya yang sakit maka ia akan langsung mendapatkan pertolongan cepat secara professional atau segera dijemput oleh mobil ambulans yang meraung-raung” (hlm. 58).
  • 149. 127 Deskripsi penafsiran nilai pertolongan adalah sikap dan prilaku seseorang yang mencerminkan adanya kesadaran dan kemauan untuk saling membantu atau menolong tanpa pamrih. Nilai pertolongan ini telah diajarkan dan dipraktikan oleh sekolah PN, ini terbukti dengan diadakannya kotak P3K berisikan obat-obat pertolongan pertama. Dengan adanya P3K murid-murid PN belajar untuk memahami makna pertolongan.c. Nilai Keharmonisan Nilai keharmonisan, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Demikian harmonisnya ekosistem yang terpusat pada sebatang pohon filicium anggota familia acacia ini. Seperti para guru yang mengabdi dibawahnya, pohon ini tak henti-hentinya menyokong kehidupan sekian banyak spesies. Pada musim hujan ia semakin semarak. Puluhan jenis kupu-kupu, belalang sembah, bunglon, lintah, jamur telur beracun, kumbang capung, ulat bulu dan ular daun saling berebutan tempat” (hlm. 66). Deskripsi penafsiran nilai keharmonisan merupakan sikap atau prilaku seseorang yang mencerminkan keserasian, keselarasan baik dengan sesama manusia atau dengan makhluk lainnya. Selanjutnya nilai keharmonisan ini terjalin begitu harmonisnya antara anak-anak sekolah Muhammadiyah dengan makhluk hidup lainnya. Mereka tidak pernah merusak atau mengganggu makhluk lainnya, mereka juga melaksanakan prose pembelajaran kadangkala dibawah pohon filicium deangan ditemani puluhan jenis kupu-kupu, belalang sembah dan lain-lain.
  • 150. 128d. Nilai Empati Nilai empati, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Tabahlah, kawan, ambil semua resiko, begitulah hidup,” demikian barangkali maksudnya. Aku membalas dengan senyum kecut karena aku gelisah. Aku gelisah membayangkan apa yang ada di pikiran seorang wanita muda Tionghoa tentang laki-laki Melayu kampung seperti aku. Dan berada di tengah lingkungan mereka membuat aku semakin ragu. Apa aku pulang saja? Tapi aku rindu. Dan rinduku telanjur berdarah-darah” (hlm. 265). Deskripsi penafsiran nilai empati adalah kemampuan individu dalam membaca psikologis dan emosi orang lain. Empati mencerminkan seberapa individu mengenali keadaan psikologis dan kebutuhan emosi orang lain. Individu yang berempati mampu mendengarkan dan memahami orang lain sehingga ia pun mendatangkan reaksi positif dengan lingkungan. Rasa empati ini dirasakan oleh A Kiong, yang mana ia merasakan kegundahan, kerinduan Ikal pada A Ling, A kiong merasakan bahwa Ikal juga takut bahwa ragu akan perbedaan kepercayaan antara Ikal dan A Ling. Dengan berempati itulah, akhirnya A Kiong membantu Ikal untuk mempertemukannya dengan A Ling. Inilah nilai empati yang diekspresikan oleh A King.e. Nilai Mutualisme Nilai Mutualisme, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Pembimbingnya menuntut Eryn menulis sesuatu yang baru, berbeda dan mampu membuat terobosan ilmiah karena ia adalah mahasiswa cerdas pemenang award. Aku setuju dengan pandangan itu. Erny sebenarnya telah memiliki konsep tentang sesuatu yang
  • 151. 129 berbeda itu. Dari pembicaraannya yang meluap-luap aku menangkap bahwa ia telah mempelajari suatu gejala psikologi di mana seorang individu demikian tergantung pada individu lain sehingga tak bisa melakukan apapun tanpa pasangannya itu. Kemudian ia mengajukan tema tersebut, pembimbingnya setuju” (hlm. 444). Deskripsi penafsiran nilai mutualisme adalah sikap atau prilaku seseorang yang mencerminkan adanya unsur sosial, di mana seorang individu demikian tergantung pada individu lain. Nilai ini harus difahami oleh setiap individu, karena dengan kesadaran bahwa individu merupakan makhluk sosial, maka akan memiliki pribadi atau sikap yang tinggi terhadap kepentingan umum.f. Nilai Sopan Santun Nilai sopan santun, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Nama saya Flo, Floriana,”kata Flo sambil berusaha menyalami Bu Frischa. Pria flamboyant itu menganguk santun dan melemparkan senyum termanisnya untuk Flo” (hlm. 403). Deskripsi penafsiran nilai sopan santun merupakan sikap dan prilaku sopan santun dalam bertindak dan bertutur kata terhadap orang tanpa menyinggung atau menyakiti serta menghargai tata cara yang berlaku sesuai dengan norma, budaya, dan adat istiadat.g. Nilai Partisipatif Nilai partisipatif, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Kita harus karnaval! Apa pun yang terjadi! Dan biarlah tahun ini para guru tidak ikut campur, mari kita beri kesempatan kepada orang-orang muda berbakat seperti Mahar untuk menunjukkan
  • 152. 130 kreativitasnya, tahukah kalian ... dia adalah seniman yang genius!” (hlm. 222). Deskripsi penafsiran nilai partisipasi adalah sikap atau prikalu seseorang yang mengikutsertakan diri bergabung dengan pihak lain. Dalam peningkatan partisipasi tersebut setidaknya dapat dan harus mampu meningkatkan rasa harga diri dan ikut memiliki. Selain itu, peningkatan partisipasi lebih ditekankan pada segi psikologis dari pada materi, di mana dengan melibatkan seseorang didalamnya, maka orang tersebut akan merasa ikut bertanggung jawab. Nilai partisipasi ini dicerminkan oleh seluruh komponen warga Muhammadiyah yang ikut serta dalam karnaval dalam memperingati 17 agustus.h. Nilai Dukungan Pada Seseorang Nilai dukungan pada seseorang, paragraf yang mengandung nilai mtersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Tabahkan hati kalian, keluarkan seluruh kemampuan!” ledak Bu Mus memberi semangat kepada kami, para mamalia. Pak Harfan sudah tidak bisa bicara apa-apa. Tangannya membekap dada seperti orang berdoa”. Deskripsi penafsiran nilai dukungan pada seseorang adalah sikap atau prilaku seseorang yang memberikan motivasi atau dukungan pada orang lain untuk lebih optimis, produktif dalam segala hal. Seperti halnya bu Muslimah yang memberikan dukungan pada Lintang, Ikal dan Mahar ketika mengikuti perlombaan cerdas-cermat. Bu Muslimah begitu tulus memberikan dukungan agar muridnya tetap optimis untuk bersaing dalam kebaikan.
  • 153. 131i. Nilai Kepedulian Nilai kepedulian, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Sebulan yang lalu seluruh kampong heboh karena Flo hilang. Anak Bengal penduduk Gedung itu memisahkan diri rombongan teman-teman kelasnya ketika hiking di Gunung Selumar. Polisi, tim SAR, anjing pelacak, anjing kampong, kelompok pecinta alam, para pendaki professional dan amatir, para petualang, para penduduk yang berpengalaman di hutan, para pengangguran yang bosan tak melakukan apa-apa, dan ratusan orang kampong tumpah ruah mencarinya ditengah hutan lebat ribuan hectare yang melingkupi lereng gunung itu. Kami sekelas termasuk didalamnya” (hlm. 308-309). Deskripsi penafsiran nilai kepedulian adalah sikap atau prilaku seseorang yang peka dan proaktif untuk mewujudkan rasa solidaritas dengan membantu orang lain. Teks di atas mendeskripsikan tentang kepedulian semua orang pada Flo yang hilang. Dan rasa kepedulian itu, mereka wujudkan dalam bentuk tindakan yaitu mencari Flo di tengah hutan belantara. Rasa solidaritas pada Flo inilah yang dinamakan nilai kepedulian.j. Nilai Keakraban Nilai keakraban, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Terakhir ia mengirimku sepucuk surat dan diselipkannya selembar foto dalam suratnya itu” (hlm. 493). Deskripsi penafsiran nilai keakraban adalah sikap atau prilaku yang mencerminkan sikap atau prilaku seseorang mampu bersosialisasi dengan orang lain dengan baik, ceria, tidak mau menang sendiri, mau menerima
  • 154. 132 saran serta kritik dari orang lain dan tidak mau memutuskan hubungan persaudaraan. Dan adapun yang dimaksud pada teks di atas tentang perealisasian nilai keakraban adalah Ikal, di mana ia adalah sosok orang yang tidak mau memutuskan hubungan persaudaraan atau persahabatan dengan teman-temannya, terbukti sekalipun ia jauh, Ikal tetap mengirimkan surat pada Mahar, dengan maksud ia tetap menjalin keakraban dengan teman-temannya walaupun jauh di mata, akan tetapi harus tetap dekat dihati.k. Nilai Persahabatan Nilai persahabatan, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: ”Kami menuju ke sebuah gubuk pencuri timah di wilayah maut pinggiran Sungai Buta hanya untuk menemani Mahar, menemani ia memuaskan egonya, membuktikan padanya bahwa insting tidak harus selalu benar, dan melindunginya dari ketololannya sendiri. Walaupun kami benci pada kefanatikannya tapi ia tetap teman kami, anggota laskar pelangi, kami tak ingi kehilangan dia, kadang- kadang persahabatansangat menuntut dan menyebalkan” (hlm. 326). Deskripsi penafsiran nilai persahabatan adalah menggambarkan prilaku kerjasama dan saling mendukung antara dua atau lebih entitas sosial atau suatu hubungan yang melibatkan pengetahuan, penghargaan dan mereka menikmati kegiatan-kegiatan yang mereka sukai. Nilai yang terdapat dalam persahabatan secara konsisten cenderung untuk menginginkan apa yang terbaik antara satu sama lain, kemudian, simpati- empati, saling pengertian dan lain-lain. Nilai-nilai tersebut tergambar pada teks di atas.
  • 155. 133 Ketiga, nilai estetika yaitu nilai yang lebih menghasilkan pada penilaianpribadi seseorang yang bersifat subyektif. Selain itu nilai estetik melekat padakualitas barang atau memiliki sifat indah. Kecendrungan orang yang memilikijiwa keindahan biasanya memiliki jiwa yang kreatif, terampil dan inovatif.Dalam hal ini, nilai-nilai seni yang terdapat pada novel Laskar Pelangi adalahsebagai berikut:a. Nilai Keindahan Nilai keindahan, paragraf yang mengandung tersebut dalam novel lascar pelangi adalah sebagai berikut: “Gedung-gedung sekolah PN didesain dengan arsitektur yang tak kalah indahnya dengan rumah bergaya Victoria disekitarnya. Ruangan kelasnya dicat warna-warni dengan tempelan gambar yang educative, poster operasi dasar matematika, table pemetaan unsure kimia, peta dunia, jam dinding, thermometer, foto para ilmuwan dan penjelajahan yang member inspirasi, dan ada kastok topi. Disetiap kelas ada patung anatomi tubuh yang lengkap, globe yang besar, white board, dan alat peraga konstelasi planet-planet” (hlm 57-58). Deskripsi penafsiran nilai keindahan yaitu suatu pikiran yang timbul dari rasa individu. Keindahan ketika dikaitkan dengan seni mengundang suatu persoalan pemikiran yang membedakan keindahan sebagai rasa (sense) dan keindahan sebagai fenomena (kecantikan, keserasian, kondisi liris) yang menimbulkan suatu rasa. Seperti halnya pada teks di atas penulis menganggap bahwa teks di atas mengandung unsur nilai keindahan karena ini adalah persoalan rasa, penulis rasa suatu gedung sekolah PN yang didesain dengan arsitektur yang indah, kemudian ruangan dicat warna-warni dengan tempelan gambar, poster dan
  • 156. 134 sebagainya, ini akan menciptakan suatu keindahan. Inilah persoalan rasa yang memiliki perbedaan bagi masing-masing individu dalam memaknai suatu keindahan.b. Nilai Imajinatif Nilai imajinatif, paragraf yang mengandung tersebut dalam novel lascar pelangi adalah sebagai berikut: “Mahar sangat imajinatif dan tak logis—seseorang dengan bakat seni yang sangat besar. Sesuatu yang berasal dari Mahar selalu menerbitkan inspirasi, aneh, lucu, janggal, ganjil, dan menggoda keyakinan. Namun, mungkin karena otak sebelah kanannya benar- benar aktif maka ia menjadi pengkhayal luar biasa. Di sisi lain ia adalah magnet, simply irresistible!” (hlm. 143). Deskripsi penafsiran nilai imajinatif adalah sebuah proses menghayal dan berangan-angan tentang sesuatu. Imajinasi sangat diperlukan dalam berbagai hal guna memunculkan ide-ide baru. Setiap individu bebas untuk berimajinasi, seperti sosok Mahar, ia adalah seorang tokoh cilik yang patut diberi penghargaan, Mahar berhasil menciptakan ide-ide baru yang tidak dapat dijangkau oleh manusia lainnya. Imajinasi ini yang menghasilkan penemuan baru ini bisa berbentuk benda, berbentuk konsep, ide atau model. Dan Mahar adalah orang yang dapat menciptakan penemuan baru melalui imajinasinya dalam bentuk benda, konsep atau ide seperti mengkonsep tarian dengan buah aren pada kegiatan 17 Agustusan.c. Nilai Seni Suara Nilai seni suara, paragraf yang mengandung tersebut dalam novel lascar pelangi adalah sebagai berikut:
  • 157. 135 “Dan di siang yang panas menggelegak ini, ketika pelajaran seni suara, di salah satu sudut kumuh perguran miskin Muhammadiyah, kami menjadi saksi bagaimana nasib menemukan bakat Mahar. Mulanya Bu Mus meminta A Kiong maju ke depan kelas untuk menyanyikan sebuah lagu, dan seperti diduga, hal ini sudah delapan belas kali terjadi ia akan membawakan lagu yang sama yaitu Berkibarlah Benderaku karya Ibu Sud. “…berkiballah bendelaku….”, “…lambang suci gagah pelwila ….”, “… bergelak- bergelak! Selentak … selentak …!” (hlm. 129). Deskripsi penafsiran nilai seni suara adalah penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam jiwa manusia, dilahirkan dengan perantara alat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indra pendengar. Pada pelajaran seni suara ini, bu Muslimah mengetahui siapa yang berbakat pada bidang seni suara. Diantara sepuluh muridnya tersebut, ternyata Maharlah yang berbakat dalam bidang seni suara ini. Mahar begitu menghanyati ketika menyanikan lagu “….I was dancing with my darling to the tennesse waltz…” (hlm. 136). Berbeda dengan teman-teman lainnya seperti A Kiong yang diperintah oleh bu Muslimah untuk menyayikan lagu “berkibarlah benderaku”, ia menyanyi tanpa ada penghayatan sama sekali. Inilah tugas para pendidik untuk mengetahui bakat masing-masing muridnya serta mengembakan bakat mereka sesuai dengan kemampuannya.d. Nilai Seni Drama Nilai seni drama, paragraf yang mengandung tersebut dalam novel lascar pelangi adalah sebagai berikut: “Mahar pula yang membentuk sekaligus menyutradarai grup teater kecil SD Muhammadiyah. Penampilan favorit kami adalah cerita perang Uhud dalam episode Siti Hindun. Dikisahkan bahwa wanita pemarah ini mengupah seorang budak untuk membunuh Hamzah
  • 158. 136 sebagai balas dendam atas kematian suaminya. Setelah Hamzah mati wanita itu membelah dadanya dan memakan hati panglima besar itu. A Kiong memerankan Hamzah, dan Sahara sangat menikmati perannya sebagai Siti Hindun. Juga karena inisiatif Mahar, akhirnya kami membentuk sebuah grup band. Alat-alat music kami adalah electone yang dimainkan Sahara, standing bass yang dibetot tanpa ampun oleh Samson, sebuah drum, tiga buah tabla, serta dua buah rebana yang dipinjam dari badan amil Masjid Al-Hikmah” (hlm. 146). Deskripsi penafsiran seni drama yaitu jenis karangan yang ditunjukkan dalam bentuk tingkah laku, mimik dan perbuatan. Cerita perang Uhud dalam episode Siti Hindun yang diperankan oleh A Kiong dan Sahara merupakan seni drama yang dirangkai begitu indah oleh Mahar. Mahar adalah sutradara cilik yang penuh daya imajinatif yang sangat tinggi.e. Nilai Seni Sastra Nilai seni sastra, paragraf yang mengandung tersebut dalam novel lascar pelangi adalah sebagai berikut: “Aku Bermimpi Melihat Surga. Sungguh, malam ketiga di Pangkalan Punai aku mimpi melihat surge Ternyata surga tidak megah, hanya sebuah istana kecil di tengah hutan Tidak ada bidadari seperti disebut di kitab-kitab suci Aku meniti jembatan kecil Seorang wanita berwajah jernih menyambutku “Inilah surga” katanya. Ia tersenyum, kerling matanya mengajakku menengadah. Seketika aku terkesiap oleh pantulan sinar matahari senja Menyirami kubah-kubah istana Mengapa sinar matahari berwarna perak, jingga, dan biru? Sebuah keindahan yang asing Di istana surge. Dahan-dahan pohon ara menjalar ke dalam kamar-kamar sunyi yang bertingkattingkat. Gelas-gelas kristal berdenting dialiri air zamzam. Menebarkan rasa kesejukan. Bunga petunia ditanam di dalam pot-pot kayu. Pot-pot itu digantungkan pada kosen-kosen jendela tua berwarna biru Di beranda, lampu-lampu kecil disembunyikan di balik tilam, indah sekali Sinarnya memancarkan kedamaian Tembus membelah perdu-perdu di halaman Surga begitu sepi Tapi aku ingin tetap di sini Karena kuingat janjimu
  • 159. 137 Tuhan. Kalau aku datang dengan berjalan engkau akan menjemputku dengan berlari-lari” (hlm. 181-182). Deskripsi penafsiran seni sastra merupakan karangan atau tulisan yang mengandung nilai-nilai kebaikan yang ditulis dengan bahasa yang indah. Tulisan pada teks di atas merupakan sebuah tulisan atau karya yang mengandung suatu nilai keindahan. Nilai keindahan yang tertulis dalam sebuah karangan ini mengandung suatu nilai seni sastra.f. Nilai Kreatif atau Originalitas Nilai kreatif atau originalitas. paragraf yang mengandung tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Buah-buah aren itu sungguh merupakan sebuah rancangan kalung etnik properti adi busana koreografi yang bernilai seni, hasil perenungan Mahar berjamjam sambil memandangi langit di bawah pohon filicium. Itulah sebuah perenungan tingkat tinggi yang membuat hatinya bergejolak sepanjang malam karena girang akan memberi kami pelajaran, sebuah perenungan pembalasan dendam yang telah ia rencanakan dengan rapi selama bertahun-tahun” (hlm. 248). “Sekolah Muhammadiyah telah menciptakan daripada suatu arwah baru dalam karnaval ini. Maka dari itu mereka telah mencanangkan suatu daripada standar baru yang semakin kompetitif dari pada mutu festival seni ini. Mereka mendobrak dengan ide kreatif, tampil all out, dan berhasil menginterpretasikan dengan sempurna daripada sebuah tarian dan musik dari negeri yang jauh. Para penarinya tampil penuh penghayatan, dengan spontanitas dan totalitas yang mengagumkan sebagai suatu manifestasi daripada penghargaan daripada mereka terhadap seni pertunjukan itu sendiri. Penampilan Muhammadiyah tahun ini adalah daripada suatu puncak pencapaian seni yang gilang gemilang dan oleh karena itu dewan juri tak punya daripada pilihan lain selian daripada menganugerahkan penghargaan daripada penampila seni terbaik tahun ini kepada sekolah Muhammadiyah!” (hlm. 246-247). Deskripsi penafsiran nilai kreatif adalah kemampuan atau kecakapan yang ada pada diri seseorang, hal ini erat kaitannya dengan
  • 160. 138 bakat. Kreatifitas yang diciptakan oleh Mahar menghasilkan suatu yang gemilang hingga sekolah Muhammadiyah mendapatkan suatu penghargaan. Penghargaan itu dapat mengharumkan nama baik sekolah Muhammadiyah. Inilah suatu kreativitas yang harus selalu dikembangkan agar selalu lebih inovatif. Nilai-nilai di atas merupakan nilai-nilai yang terdapat dalam novel laskar pelangi, apabila nilai-nilai tersebut benar-benar diwujudkan dan diterapkan oleh semua lembaga pendidikan serta elemen anggota masyarakat di kehidupan nyata, maka akan tercipta suasana dunia pendidikan dan lingkungan yang harmonis, damai, aman, tentram dan sejahtera.B. Pembahasan Hasil Analisis Metode Pengajaran Nilai yang Terkandung dalam Novel Laskar Pelangi Dalam proses pembelajaran metode sangat penting guna untuk membantu tercapainya tujuan. Metode digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata. Keberhasilan implementasi kegiatan pembelajaran sangat tergantung pada cara guru menggunakan metode pembelajaran. Masing-masing guru memiliki cara yang berbeda-beda dalam menggunakan metode pembelajaran. Seperti halnya dalam novel laskar pelangi metode yang digunakan dalam mengajar nilai pada murid-muridnya yaitu menggunakan metode cerita dan kisah. Seperti dalam narasi berikut: a. Metode Pengajaran Nilai dengan Bercerita “Bapak yang jahitan kerah kemejanya telah lepas itu bercerita tentang perahu Nabi Nuh serta pasangan-pasangan binatang yang selamat dari banjir bandang”. “Mereka yang ingkar telah diingatkan bahwa air bah akan datang…,” demikian ceritanya dengan wajah penuh penghayatan”.
  • 161. 139 “Namun, kesombongan membutakan mata dan menulikan telinga mereka, hingga mereka musnah dilamun ombak…” (hlm. 22). “Cerita selanjutnya sangat memukau. Sebuah cerita peperangan besar zaman Rasulullah di mana kekuatan dibentuk oleh iman bukan oleh jumlah tentara: perang Badar! Tiga ratus tiga belas tentara Islam mengalahkan ribuan tentara Quraisy yang kalap dan bersenjata lengkap. (hlm. 22). “Ketahuilah wahai keluarga Ghudar, berangkatlah kalian ke tempat- tempat kematian kalian dalam masa tiga hari!” Demikian Pak Harfan berteriak lantang sambil menatap langit melalui jendela kelas kami. Beliau memekikkan firasat mimpi seorang penduduk Mekkah, firasat kehancuran Quraisy dalam kehebatan perang Badar. Mendengar teriakan itu rasanya aku ingin melonjak dari tempat duduk. Kami ternganga karena suara Pak Harfan yang berat menggetarkan benang- benang halus dalam kalbu kami. Kami menanti liku demi liku cerita dalam detik-detik menegangkan dengan dada berkobar-kobar ingin membela perjuangan para penegak Islam” (hlm. 22-23).b. Metode Pengajaran Nilai dengan Berkisah “Lalu Pak Harfan mendinginkan suasana dengan berkisah tentang penderitaan dan tekanan yang dialami seorang pria bernama Zubair bin Awam. Dulu nun di tahun 1929 tokoh ini bersusah payah, seperti kesulitan Rasulullah ketika pertama tiba di Madinah, mendirikan sekolah dari jerjak kayu bulat seperti kandang. Itulah sekolah pertama di Belitong. Kemudian muncul para tokoh seperti K.A. Abdul Hamid dan Ibrahim bin Zaidin yang berkorban habis-habisan melanjutkan sekolah kandang itu menjadi sekolah Muhammadiyah. Sekolah ini adalah sekolah Islam pertama di Belitong, bahkan mungkin di Sumatra Selatan” (hlm. 23).c. Metode Pengajaran Nilai dengan menampilkan gambar kemudian menceritakannya. “Beliau tak menanggapi keluhan itu tapi mengeluarkan sebuah buku berbahasa Belanda dan memerplihatkan sebuah gambar. Gambar itu adalah sebuah ruangan yang sempit, dikelilingi tembok tebal yang suram, tinggi, gelap, dan berjeruji. Kesan di dalamnya begitu pengap, angker, penuh kekerasan dan kesedihan” . “Inilah sel Pak Karno di sebuah penjara di Bandung, di sini beliau menjalani hukuman dan setiap hari belajar, setiap waktu membaca buku. Beliau adalah salah satu orang tercerdas yang pernah dimiliki bangsa ini.” (hlm. 31).
  • 162. 140 Cerita atau kisah dijadikan metode oleh para tenaga pengajar sekolahMuhammadiyah yaitu pak Harfan dan bu Muslimah sebagai alat untukmembantu menjelaskan suatu pemikiran, dan mengungkapkan suatu masalah.Cerita dan Kisah yang berasal dari Rasulullah SAW, Nabi, tokoh Islam, dantokoh-tokoh lainnya, selalu lengkap karena mengandung sekian banyakmanfaat dan terkait sekian masalah. Dengan kisah dan cerita itu beliaumenerangkan ketauhidan yaitu orang-orang yang ingkar pada Allah makaAllah akan memberikan cobaan, kemudian tentang keimanan dan perjuanganmenegakkan Islam, lalu mengenai perjuangan Zubair bin Awam mendirikansekolah dari jerjak kayu bulat seperti kandang dan cerita pak Karno yangmenjalani hukuman dan setiap hari belajar, setiap waktu membaca buku. Secara pedagogis, para guru dan pendidik harus yakin bahwakemampuan bercerita atau berkisah menjadi sebuah keniscayaan dalam setiapproses belajar mengajar. Kemampuan seorang guru dalam menarasikan setiapbahan ajar dengan proses bercerita yang menarik pasti akan mendapat responyang positif dari setiap siswa. Unsur-unsur virus pengganggu untukberprestasi sebagaimana disinggung tadi sangat mungkin terjadi, karenadongeng atau cerita merupakan salah satu alternatif media belajar di tengahhiruk pikuknya ragam tayangan dan games (permainan) yang membuat anak-anak terbius dan terpesona. Cerita atau kisah yang baik juga akan mampumenyampaikan pesan atau nilai secara langsung kepada seorang anak, selainalur ceritanya dapat membantu mengasah kemampuan emosional dan nalaranak-anak sekaligus. Belum lagi manfaat praktis dalam penguasaan kosa kata
  • 163. 141 anak dalam berbahasa juga merupakan keuntungan lain dari sebuah kisah atau cerita yang baik. Bahkan sebagai sebuah metode pembelajaran yang efektif, bercerita, mendongeng, atau story telling juga memiliki peran yang siginifikan bagi proses perekrutan guru. Dalam sebuah micro-teaching process, kemampuan bercerita atau mendongeng seorang guru merupakan indikator utama dari beberapa indikator kelulusan lainnya. Karena itu amatlah wajar jika otoritas pendidikan kita dapat mempertimbangkan kemampuan bercerita atau berkisah (story telling skills) sebagai salah satu syarat kelulusan seseorang untuk menjadi guru. Bahkan jika perlu kemampuan mendongeng ini juga dilatihkan kepada setiap guru pada masing-masing level, baik SD, SMP dan SMA yang ada sekarang ini.C. Pembahasan Hasil Analisis Nilai-nilai yang Dapat Dikembangkan dalam Pendidikan Islam Nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam yang terdapat dalam novel Laskar Pelangi merupakan nilai-nilai yang bersifat Islami meliputi: (1) nilai aqidah, (2) nilai syari’ah, dan (3) nilai akhlaq (nilai budi pekerti atau nilai moral). Adapun nilai tersebut antara lain sebagai berikut: Pertama, nilai aqidah yang telah penulis temukan dalam teks novel Laskar Pelangi sebagai hasil analisis penelitian adalah sebagai berikut:
  • 164. 142a. Nilai Ketauhidan tentang Zat Tuhan Nilai ketauhidan tentang Zat Tuhan, paragraf yang mengandung tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Tempat di atas langit ketujuh, tempat kebodohan bersemanyam, adalah metaphor dari suatu tempat di mana manusia tak bisa mempertanyakan zat-zat Allah. Setiap usaha mempertanyakannya hanya akan berujung dengan kesimpulan yang mempertontonkan kemahatololan sang penanya sendiri. Maka semua jangkauan akal telah berakhir di langit ketujuh tadi. Di tempat asing tersebut, barangkali Arasy, di sana kembali metaphor kagungan Tuhan bertakhta. Di bawah takhta-Nya tergelar Lauhul Mahfuzh, muara dari segala cabang anak-anak sungai ilmu dan kebijakan, kitab yang telah mencatat setiap lembar daun yang akan jatuh. Ia juga menyimpan rahasia ke mana nasib akan membawa sepuluh siswa baru perguruan Muhammadiyah tahun ini. Karena takdir dan nasib termasuk dalam zat-Nya” (hlm. 105). Deskripsi penafsiran, teks di atas menjelaskan tentang nilai ketauhidan khususnya mengenai Zat Allah. Kalau dikaji lebih dalam sesungguhnya Allah adalah nama zat dari Tuhan SWT yang diperkenalkan sendiri oleh-Nya. Selain sebagai nama bagi zat Tuhan swt, “Allah“ adalah juga tempat terkumpulnya atau terhimpunnya seluruh sifat yang dikandung zat-Nya, sehingga “Allah“ sebagai sebutan yang utama untuk Tuhan sudah meliputi Tuhan secara keseluruhan yang terdiri dari zat dan sifat-Nya. Adapun kaitan dengan teks di atas bahwa zat Allah ini tidak mungkin dapat dijangkau, direnungkan atau dipertanyakan, akan tetapi yang harus dijangkau, direnungkan dan dipertanyakan yaitu mengenai ciptaan- ciptaan-Nya. Nilai ini juga patut untuk diketahui bagi siapa saja, sebagai bekal keimanan kepada Tuhannya.
  • 165. 143b. Nilai Aqidah tentang Larangan Syirik Syirik merupakan suatu perbuatan yang dilarang, karena syirik merupakan perbuatan menyekutukan Allah. Melakukan syirik termasuk dosa besar yang tidak akan pernah diampuni dosanya oleh Allah. sebagaimana dicontohkan dalam narasi dibawah ini: ”Disambung berita penting: ”Klenik, ilmu ghaib, tahayul, paranormal, semuanya sangat dekat dengan pemberhalaan. Syirik adalah larangan tertinggi dalam Islam. Ke mana semua kebijakan dari pelajaran aqidah setiap selasa? Ke mana semua hikmah dari pengalaman jahiliyah masa lampau dalam pelajaran tarikh Islam? Ke mana etika kemuhammadiyahan?” (hlm. 350-351). Deskripsi penafsiran, dalam narasi di atas menggambarkan bahwa Mahar dan Flo termasuk murid Muhammadiyah yang berani melakukan perbuatan yang amat dibenci oleh Allah yaitu syirik. Kedua anak tersebut amat percaya pada klenik, ilmu ghaib, tahayul dan paranolmal. Melihat tindakan Mahar dan Flo yang semakin kelewatan, Ibu Muslimah akhirnya mengambil tindakan dan kebijakan untuk menasehati keduanya. Beliau memberikan pengarahan bahwa syirik itu termasuk larangan tertinggi dalam Islam. Ibu muslimahpun menanyakan pada Mahar dan Flo kemana semua kebijakan dari pelajaran aqidah setiap selasa? Ke mana semua hikmah dari pengalaman jahiliyah masa lampau dalam pelajaran tarikh Islam? Ke mana etika kemuhammadiyahan? Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa sekolah Muhammadiayah juga menanamkan dan mengajarkan nilai aqidah. Nilai ini sangat perlu ditanamkan agar seorang siswa memahami tentang hakikat pengetahuan tentang hal-hal yang menyangkut masalah pokok keimanan Islam yaitu keimanan, ketaqwaan,
  • 166. 144 melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Inilah manfaat penanaman nilai aqidah yang diterapkan pada sekolah.c. Nilai Ketaqwaan Ketaqwaan merupakan modal dasar dan paling besar yang harus dimiliki semua manusia. Kadar ketaqwaan bisa berkurang dan bertambah (yazid wa yankush) oleh karena itulah harus ada upaya-upaya untuk senantiasa meningkatkan ketaqwaan. Sebagaimana yang tertuang dalam narasi ini: ”Para anggota Societeit adalah orang-orang biasa, miskin dan kebanyakan, namun mereka kaya raya akan pengalaman batin dan petualangan penuh mara bahaya untuk mencari kebenaran hakiki. Mereka memastikan setiap kesangsian, membuktikan prasangka dan mitos-mitos, serta mengalami sendiri apa yang hanya bisa diduga-duga orang. Mereka memuaskan sifat dasar keingintahuan manusia sampai batas akhir yang menguji keyakinan. Mereka adalah orang-orang yang menjeput hidayah dan tidak duduk termangu-mangu menunggunya. Kini mereka menjadi orang-orang Islam yang taat yang menjauhkan diri dari syrik. Deskripsi penafsiran, dalam narasi di atas menunjukkan bahwa dalam rangka meningkatkan ketaqwaan diperlukan suatu pengalaman. Sebagaimana para anggota Sicieteit bahwasanya mereka adalah orang- orang yang mencari kebenaran hakiki, karena sebelum menjadi orang- orang taat pada Allah, mereka telah berpetualang menantang bahaya karena ingin meminta bantuan kepada Tuk Bayan Tula yang dianggap sebagai dukun. Karena usaha mereka tidak berhasil, mulai itulah mereka menyadari bahwa kekuatan Allah tidak ada yang membandinginya, Allahlah yang tepat untuk meminta. Namun dengan pengalaman itulah yang membuat ketakwaan mereka semakin tinggi dang kuat. Karean dari
  • 167. 145 kejadian itu mereka mendapatkan pengalaman batin dan memastikan setiap kesangsian, membuktikan prasangka dan mitos-mitos, serta mengalami sendiri apa yang hanya bisa diduga-duga orang. Dari penjelasan di atas bahwa pengalaman itu merupakan salah satu pendukung dalam meningkatkan ketakwaan atau ketaatan seseorang. Nilai-nilai tersebut merupakan nilai aqidah yang harus dikembangkanpada pendidikan Islam, dengan tujuan memberikan bekal peserta didik dalamkonteks aqidah yaitu keimanan kepada Allah, Rasul, Kitab, Malaikat, Qoda’Qadar, dan Hari Akhir. Selain itu, dengan nilai aqidah peserta didik akanmengerti dan memahami tentang larangan keesaan Allah, larangan berbuatsyirik, kewajiban melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya,dan lain sebagainya. Kedua, nilai syariah yang telah penulis temukan dalam teks novelLaskar Pelangi sebagai hasil analisis penelitian adalah sebagai berikut:a. Nilai Syariah tentang Menjaga Aurat Nilai syariah tentang menjaga aurat. paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Kucai mengangkangi dahan tertinggi, sedangkan Sahara, satu- satunya betina dalam kawanan itu, bersilang kaki di atas dahan terendah. Pengaturan semacam itu tentu bukan karena budaya patriarki begitu kental dalam komunitas Melayu, tapi semata-mata karena pakaian Sahara tidak memungkinkan ia berada di atas kami. Ia adalah muslimah yang menjaga aurat rapat-rapat” (hlm. 159). Deskripsi penafsiran, dalam narasi di atas menggambarkan bahwa sahara termasuk wanita muslimah yang selalu menjaga aurat. Dalam ajaran Islam menyarankan bahwa Allah dan Rasul-Nya mengajarkan kepada
  • 168. 146 Muslimah agar mengenakan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangan. Cara berpakaian yang diajarkan Islam merupakan salah satu bentuk dari peradaban tinggi yang perlu diajarkan kepada seluruh ummat manusia. Karena di dalamnya terdapat solusi dari banyak permasalahan yang muncul belakangan ini, baik di bidang kesehatan maupun moral kemasyarakatan. Di sinilah pentingnya pengajaran nilai syariah tentang masalah menjaga aurat wanita.b. Nilai Syariah Masalah Shalat Tepat Waktu Nilai Syariah masalah Shalat, paragraf yang mengandung tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Shalatlah tepat waktu, biar dapat pahala lebih banyak,” demikian Bu Mus selalu menasihati kami” (hlm. 31). Deskripsi penafsiran, dalam teks di atas menggambarkan suatu pesan tentang menjaga shalat tepat waktu. Shalat merupakan suatu ibadah yang harus dikerjakan bagi setiap muslim. Shalat merupakan suatu kewajiban yang harus dlakukan oleh setiap muslim. Shalat merupakan bentuk upaya setiap muslim untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Dan bagi setiap muslim yang melaksanakan shalat, apalagi selalu tetapat waktu maka ia termasuk muslim yang sudah menjalankan tanggungjawabnya kepada Allah. Shalat tepat waktu itu termasuk suatu perbuatan seseorang yang menjaga shalat dengan baik. Menjaga shalat itu juga dijelaskan dalam al-qur’an surat Al Baqoroh ayat 238 yakni: ∩⊄⊂∇∪ tÏFÏΨ≈s% ¬! (#θãΒθè%uρ 4‘sÜó™âθø9$# Íο4θn=¢Á9$#ρ ÏN≡uθn=¢Á9$# ’n?tã (#θÝàÏ ≈ym u
  • 169. 147 Artinya: “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa88. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu.” Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa menutup aurat dan shalat tepat waktu merupakan term syariah. Sebenarnya klasifikasi nilai syariah bukan hanya nilai yang telah penulis jelaskan di atas, akan tetapi masih banyak lagi. Namun dengan keterbatasan penulis, maka penulis hanya dapat menyebutkan dua nilai tersebut. Nilai menutup aurat dan shalat tepat waktu dikatakan nilai syariah, karena merupakan peraturan-peraturan lahir bagi umat Islam yang bersumber pada wahyu Allah. Nilai-nilai ini pun juga seharusnya dikembangkan oleh pendidikan Islam agar peserta didik dapat mengetahui cara bagaimana mereka berhubungan dengan Tuhan dan cara- cara bagaimana beribadah dan mengatur cara bagaimana mereka menyelenggarakan makhluk, baik antara manusia dengan manusia dan manusia dengan selain manusia. Ketiga, nilai akhlak yang telah penulis temukan dalam teks novel Laskar Pelangi sebagai hasil analisis penelitian adalah sebagai berikut: a. Nilai Menebarkan Salam Menebarkan salam merupakan sebuah etika yang didefinisikan dengan jelas, yang diperintahkan oleh AllahYang Maha Kuasa dalam kitab-Nya, dan tata cara serta peraturan mengenai salam ini diatur dalam sejumlah hadits. Allah juga memerintahkan setiap Muslim untuk saling 88 Shalat wusthaa ialah shalat yang di tengah-tengah dan yang paling utama. ada yangberpendapat, bahwa yang dimaksud dengan Shalat wusthaa ialah shalat Ashar. menurutkebanyakan ahli hadits, ayat Ini menekankan agar semua shalat itu dikerjakan dengan sebaik-baiknya.
  • 170. 148memberi salam dengan jelas dan orang yang mendengarkan salamberkewajiban membalas salam tersebut. Seperti yang terdapat dalam narasidi bawah ini: “Pak Harfan berdiri di depan para orangtua, wajahnya muram. Beliau bersiap-siap memberikan pidato terakhir. Wajahnya tampak putus asa. Namun ketika beliau akan mengucapkan kata pertama Assalamu’alaikum seluruh hadirin terperanjat karena Tripani berteriak sambil menunjuk ke pinggir lapangan rumput luas halaman sekolah itu” (hlm. 6). Deskripsi penafsiran, menebarkan salam sangat dianjurkan olehagama Islam, kepada setiap muslim dianjurkan untuk memberi salamkepada mereka yang dikenal maupun mereka yang belum kenal. Karenasalam merupakan salah satu dari tujuh hal yang Nabi SAW perintahkankepada shahabat dan umat muslim setelah mereka untuk mengikutinya.Sebagaimana hadits Nabi di bawah ini yang dicatat oleh Al-Bara’ ibn Azib(ra): “Rasulullah s.a.w memerintahkan kepada kita untuk melakukantujuh hal; untuk menjenguk orang sakit, menghadiri pemakaman,mendoakan orang yang bersin, membantu yang lemah, menyebarkansalam dan membantu orang yang memenuhi janjinya”. (Muttafaqun‘alaih) Allah sendiri memerintahkan setiap muslim untuk saling memberisalam dengan jelas. Sebagaimana firman-Nya dalam surat An-Nur ayat 27:(#θÝ¡ÎΣùtGó¡n@ 4_®Lym öΝà6Ï?θã‹ç/ uŽöxî $?θã‹ç/ (#θè=äzô‰s? ω (#θãΖtΒ#u™ tÏ%©!# $pκš‰r≈tƒ Ÿ $ ∩⊄∠∪ šχρ㍩.x‹s? öΝä3ª=yès9 öΝä3©9 Žöyz öΝ3Ï9≡sŒ 4 $yγ=÷δr& #’n?tã (#θßϑÏk=|¡è@uρ × ä Î Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamumemasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan
  • 171. 149 memberi salam kepada penghuninya. yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat”. Dan Allah memerintahkan kepada setiap muslim untuk membalas salam dengan sesuatu yang serupa atau sesuatu yang lebih baik, sehingga hal ini merupakan sebuah kewajiban bagi orang yang mendengar salam untuk membalasnya dan tidak mengabaikannya. Sebagaimana yang terdapat dalam Al Qur’an surat An Nisa’ ayat 86: >™ó©x« Èe≅ä. 4’n?tã tβ%x. ©!$# ¨βÎ) 3 !$yδρ–Šâ‘ ÷ρr& $κ÷]ÏΒ z|¡ômrÎ/ (#θ–Šyssù 7π¨ŠÅsFÎ/ ΛäŠÍh‹ãm #sŒÎ)uρ !p t ∩∇∉∪ $7ŠÅ¡ym Artinya: “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa)89. Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu”.b. Nilai Amar Ma’ruf Nahi Mungkar Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan dan kadang ia tidak atau belum menyadari kesalahannya. Karena itu, ia butuh saran dan kritik dari orang lain. Dan banyak orang belum mengetahui mana yang salah dan mana yang benar, mana yang patut dan tidak untuk dilakukan, karena itu ia butuh bimbingan, anjuran, mauidhoh hasanah terlebih uswatun hasanah. Kedua jenis kegiatan dalam rangka menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran inilah yang dikenal dengan istilah amar ma’ruf nahi munkar. Narasi di bawah ini akan memberikan gambaran yang lebih gamblang.89 penghormatan dalam Islam ialah: dengan mengucapkan Assalamualaikum
  • 172. 150 ”Lalu persis di bawah mathari tadi tertera huruf-huruf arab gundul yang nanti setelah kelas dua, setelah aku pandai membaca huruf arab, aku tahu bahwa tulisan itu berbunyi amar makruf nahi mungkar artinya :menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar”. Itulah pedoman utama warga Muhammadiyah. Kata-kata itu melekat dalam kalbu kami sampai dewasa nanti. Kata-kata yang begitu kami kenal seperti kami mengenal bau alami ibu-ibu kami” (hlm. 19). Deskripsi penafsiran, yang dimaksud amar ma’ruf nahi munkar yakni menyuruh pada kebaikan dan mencegah dari keburukan. Narasi di atas menunjukkan bahwa dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar diperlukan metode yang tepat. Dalam narasi di atas menggambarkan pendidikan Islam Muhammadiyah berpedoman pada amar ma’ruf nahi munkar. Allah SWT berfirman dalam surat Surat Luqman ayat 17: !$tΒ 4’n?tã ÷ŽÉ9ô¹$#uρ ̍s3Ζßϑø9$# Çtã tµ÷Ρ$#uρ Å∃ρã÷èyϑø9$$Î/ ãΒù&uρ nο4θn=¢Á9$# ÉΟ%r& ¢©_6≈tƒ ö Ï oç ∩⊇∠∪ ‘θãΒW{$# ÇΠ÷“tã ôΒ y79≡sŒ ¨β) ( y7t/$|¹r& Í Ï Ï Î Artinya: “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”.c. Nilai kesabaran Nilai kesabaran, paragraf yang mengandung nilai tersebut dalam novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: “Sebentar lagi Anakku, sebentar lagi …,” jawab Bu Mus sabar, berulang- ulang, puluhan kali, sepanjang tahun, lalu Harun pun bertepuk tangan”, (hlm. 77).
  • 173. 151 Deskripsi penafsiran nilai kesabaran adalah sikap tabah menerima cobaan atau ujian yang dihadapinya disertai usaha untuk mengubah atau memperbaikinya. Namun konteks sabar yang terdapat dalam novel laskar pelangi bukan demikian, akan tetapi sabar diartikan sebagai sikap atau tindakan seseorang dalam menahan dirinya untuk tetap sabar dalam membimbing dan menghadapi murid-muridnya. Dalam teks di atas bu Muslimah terlihat sabar menghadapi lintang yang tampak antusias dalam menanyakan mata pelajaran yang diikutinya. Kesabaran dalam membimbing peserta didik dalam proses pembelajaran sangat penting demi tercapainya tujuan yang diinginkan.d. Nilai Jujur Sikap jujur kepada orang lain akan membuat orang lain merasa nyaman. Karenanya, ini termasuk nilai yang mendidik dan sepatutnya dimiliki semua orang. Tanpanya, antara satu orang dan orang lainnya akan sangat berjarak, bahkan bisa menimbulkan permusuhan. Teks di bawah ini merupakan salah satu pesan yang mengandung nilai jujur, yaitu: “Ketika ibuku bertanya tentang tanda itu aku tak berkutik, karena pelajaran Budi Pekerti Kemuhammadiyahan setiap Jumat pagi tak membolehkan aku membohongi orangtua, apalagi ibu. Maka dengan amat sangat terpaksa kutelanjangi kebodohanku sendiri. Abang- abang dan ayahku tertawa sampai menggigil dan saat itulah untuk pertama kalinya aku mendengar teori canggih ibuku tentang penyakit gila” (hlm. 82). Deskripsi penafsiran nilai jujur yaitu sikap dan prilaku untuk bertindak dengan sesungguhnya dan apa adanya, tidak berbohong, tidak dibuat-buat, tidak ditambah, tidak dikurangi, serta tidak menyembunyikan
  • 174. 152 kejujuran. Tokoh yang berperan dalam menjalankan kejujuran pada teks di atas adalah ikal. Ikal adalah murid yang patut dicontoh, ia benar-benar melaksanakan pelajaran budi pekerti yang telah diajarkan oleh gurunya. Ini terbukti bahwa ia berkata jujur pada ibunya sekalipun abang dan ayahnya menertawakannya, hal itu tidak diperdulikannya. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al Anfaal ayat 58: =Ïtä† Ÿω ©!$# ¨β) 4 >™!#uθy™ 4’n?tã óΟÎγø‹s9Î) õ‹Î7/Ρ$$sù ZπΡ$uŠÅz BΘöθs% ÏΒ  ∅sù$sƒrB $¨ΒÎ)uρ Î t ∩∈∇∪ ÏΨÍ←!$ƒø:$# t s Artinya: “Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, Maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang- orang yang berkhianat”.e. Nilai Syukur Bersyukur merupakan sikap yang harus dilakukan oleh setiap manusia. Karena dengan bersyukur berarti kita mengakui bahwa Allah itu maha kuasa dan kepadaNyalah kembalinya segala urusan, sebagaimana dicontohkan dalam narasi dibawah ini : “Maka sejak waktu virtual tercipta dalam definisi hipotesis manusia tatkala nebula mengeras dalam teori lubang hitam, di antara titik-titik kurunnya yang merentang panjang tak tahu akan berhenti sampai kapan, aku pada titik ini, di tempat ini, merasa bersyukur menjadi orang Melayu Belitong yang sempat menjadi murid Muhammadiyah. Dan sembilan teman sekelasku memberiku hari-hari yang lebih dari cukup untuk suatu ketika di masa depan nanti kuceritakan pada setiap orang bahwa masa kecilku amat bahagia. Kebahagiaan yang spesifik karena kami hidup dengan persepsi tentang kesenangan sekolah dan persahabatan yang kami terjemahkan sendiri” (hlm. 85).
  • 175. 153 Deskripsi penafsiran Bersyukur dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik syukur dengan hati yaitu kepuasan batin atas anugrah-Nya, syukur dengan lidah yaitu dengan mengakui dan memuji anugrah-Nya, dan syukur dengan perbuatan yaitu dengan memanfaatkan anugrah yang diperoleh sesuai dengan penganugrahannya, syukur dengan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Adapun aku yang dimaksud pada teks di atas adalah Ikal, ia amat bahagia dan sangat bersyukur Tuhan telah memberikan lingkungan dan mempertemuka sahabat dan orang yang dapat memberikan pengalaman, pelajaran, dan makna kehidupan yang baik bagi dirinya. Sebagaimana ditegaskan dalam Al Qur’an surat Al Luqman ayat 12: ô u ãä3ô±o„ $yϑΡÎ*sù öà6ô±tƒ tΒuρ 4 ¬! öä3ô©$# Èβr& sπyϑõ3Ïtø:$# z≈yϑø)ä9 $oΨ÷s?#u™ ‰s)s9ρ ∩⊇⊄∪ Ó‰‹Ïϑym ;©Í_xî ©!$# ¨βÎ*sù tx x. tΒuρ ( ϵšø uΖÏ9 Artinya: “Dan Sesungguhnya Telah kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.f. Nilai Berbakti Pada Orang Tua Diantara kewajiban terpenting yang harus diindahkan oleh pendidik ialah memperkenalkan anak akan hak-hak kedua orang tu mereka, yaitu antara lain berbakti, taat, berbuat ikhlas, memelihara keduanya, memelihara pada masa tua, tidak boleh bersua apalagi menghardik
  • 176. 154 mereka, mendiakan mereka setelah wafat, dan sebagainya termasuk sopan santuk terhadap orang tua. Paragraf di bawah ini menunjukkan nilai anak yang berbakti pada orang tua, yaitu: “Trapani sangat berbakti kepada orangtua, khususnya ibunya. Sebaliknya, ia juga diperhatikan ibunya layaknya anak emas. Mungkin karena ia satu-satunya laki-laki diantara lima saudara perempuan lainnya. Ayahnya adalah seorang operator vessel board di kantor telepon PN sekaligus tukang sirine. Meskipun rumahnya dekat dengan sekolah tapi sampai kelas tiga ia masih diantar jemput ibunya. Ibu adalah pusat gravitasi hidupnya” (hlm. 74). Deskripsi penafsiran Teks di atas mendeskripsikan bahwa Trapaniadalah sosok anak yang patut dicontoh, karena ia adalah anak yang selalupatuh dan taat pada kedua orang tuannya. Sebagai seorang anak, Trapaniadalah seseorang yang telah menjalankan kewajibannya pada orangtuanya. Al-quranpun menganjurkan pada semua manusia untuk selaluberbuat baik kepada bapak dan ibu dengan sebaik-baiknya. Dalam surat AlIsro’ ayat 23 disebutkan:x8y‰ΨÏã £tóè=ö7tƒ $¨ΒÎ) 4 $Ζ≈|¡ômÎ) Èøt$Î!≡uθø9$$Î/uρ çν$−ƒ) HωÎ) #ÿρ߉ç7÷ès? žωr& y7•/u‘ 4©|Ós%uρ Î ($yϑßγ©9 ≅è%uρ $yϑèδöpκ÷]s? Ÿωuρ 7e∃é& $ϑçλ°; ≅à)s? Ÿξsù $yϑèδŸξÏ. ÷ρr& !$yϑèδ߉tnr& uŽy9Å6ø9$# !yÉb>§‘ ≅è%uρ Ïπyϑôm§9$# ÏΒ Α%!$# yy$uΖ_ $yϑßγs9 ôÙÏ ÷z$#uρ z Ée — y ∩⊄⊂∪ $VϑƒÌŸ2 Zωöθs% ∩⊄⊆∪ #ZŽÉó|¹ ’ÎΤ$u‹−/u‘ $yϑx. $yϑßγ÷Ηxqö‘$#Artinya: 23. ”Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu janganmenyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibubapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanyaatau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, makasekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah"dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada merekaperkataan yang mulia”.
  • 177. 155g. Nilai Silaturahmi Hubungan kekeluargaan dan silaturrahmi dengan saudara, kerabat, teman-teman serta sahabat orang tua haruslah tetap dijaga dengan baik. Paragraf yang menjelaskan tentang nilai silaturrahmi pada novel laskar pelangi adalah sebagai berikut: ”Setelah acara peluncuran buku, aku, Nur Zaman, Mahar, dan Kucai mengunjungi ibu Ikal untuk bersilaturrahmi sekalian menanyakan kabar anaknya dirantau orang” (hlm. 491). Deskripsi penafsiran, dari teks di atas menjelaskan bahwa Nur Zaman, Mahar, dan Kucai merupakan seseorang tidak mau memutuskan hubungan kekerabatan, sekalipun mereka sudah tidak ladi bersama mereka tetap saja untuk tetap menyambung silaturrahmi ke rumah ibu Ikal, sekalipun Ikal tidak ada keberadaannya. Ini menunjukkan bahwa merekan telah menanamkan nilai silaturrahmi, bagi seseorang yang selalu memelihara dengan baik hubungan kekerabatannya akan memberikan manfaat yaitu menunjukkan rasa cinta kepada mereka yang terkait dalam keluarga, memudahkan jala mencari rizki, sehingga dengan mudah bisa mengembangkan usahanya, dan tetap akan diingat oleh keluarga yang ditinggalkannya bila yang meninggal berlaku terhadap para kerabatnya. Rasulullah dalam hadistnya bersabda: ”Ajarkan nasab-nasab (silsilah) kamu yang dapat dipergunakan untuk menyambung kekeluargaanmu. Karena hubungan kekeluargaan adalah suatu hal yang dicintai dalam keluraga, memperkembangkan harta dan memperpanjang jejak (persaudaraan)” (HR. Ahmad, Hakim dan Tirmizi).
  • 178. 156h. Nilai Keikhlasan Nilai keikhlasan adalah sikap ketulusan hati, bersih dari mengharap selain Allah. Maksudnya aktivitas apapun yang dilakukan manusia itu adalah semata-mata karena Allah. Melaksanakan sesuatu atas dasar keikhlasan maka akan diterima dan diberkahi Allah. Oleh Karena itu, berupayalah untuk selalu menjaga keihlasan dalam menjalankan sesuatu, supaya amal perbuatan itu, diterima dan diberkahi Allah. Adapun paragraf yang menjelaskan tentang nilai keikhlasan adalah sebagai berikut: “Pengetahuan terbesar terutama kudapat dari sekolahku, karena perguruan Muhammadiyah bukanlah center of excellence, tapi ia merupakan pusat marginalitas sehingga ia adalah sebuah universitas kehidupan. Di sekolah ini aku memahami arti keikhlasan, dan integritas. Lebih dari itu, perintis peruguran ini mewariskan pelajaran yang amat berharga tentang ide-ide besar Islam yang mulia, keberanian untuk merealisasi ide itu meskipun tak putus-putus dirundung kesulitan, dan konsep menjalani hidup dengan gagasan memberi manfaat sebesar-besarnya untuk orang lain melalui pengorbanan tanpa pamrih” (hlm. 84). “Pak Harfan telah puluhan tahun mengabdi di sekolah Muhammadiyah nyaris tanpa imbalan apapun demi motif syiar Islam. Beliau menghidupi keluarga dari sebidang kebun palawija di pekaranagan rumahnya” (hlm. 21). Deskripsi penafsiran, teks ini menunjukkan bahwa sekolah Muhammadiayah selalu menanamkan nilai keikhlasan dan integritas. Seperti halnya Bapak guru (Pak Harfan) dalam karakternya beliau mempunyai hidup sederhana, boleh dibilang serba kekurangan. Namun pada kenyataannya beliau selalu mencoba untuk mengabdikan diri pada pendidikan, selalu melakukan sesuatu nyaris tanpa minta imbalan apaun. Perlu diketahui lagi, sekalipun hidup dalam lingkaran kekurangan Bapak
  • 179. 157 Harfan tidak pernah sibuk mengurus sertifikasi, apalagi melakukan aksi untuk menuntut dijadikan PNS, yang merupakan kepentingan dirinya sendiri seperti yang terjadi akhir-akhir ini, beliau selalu berfikir bagaimana murid-muridnya bisa belajar. Di sinilah konteks keikhlasan yang ditanamkan oleh Bapak Harfan seharusnya dijadikan barometer bagi tenaga pengajar lainnya.i. Nilai Budi Pekerti (Akhlak) Pendidikan budi pekerti adalah suatu proses pembentukan perilaku atau watak seseorang, sehingga dapat membedakan hal-hal yang baik dan yang buruk dan mampu menerapkannya dalam kehidupan. Pendidikan budi pekerti pada hakikatnya merupakan konsekuensi tanggung jawab seseorang untuk memenuhi suatu kewajiban. Di bawah ini adalah narasi tentang nilai budi pekerti atau akhlak, yaitu: “Bu Mus adalah seorang guru yang pandai, karismatik, dan memiliki pandangan jauh ke depan. Beliau menyusun sendiri silabus pelajaran Budi Pekerti dan mengajarkan kepada kami sejak dini pandangan-pandangan dasar moral, demokrasi, hukum, keadilan, dan hak-hak asasi jauh hari sebelum orang-orang sekarang meributkan soal materialisme versus pembangunan spiritual dalam pendidikan. Dasar-dasar moral itu menuntun kami membuat konstruksi imajiner nilai-nilai integritas pribadi dalam konteks Islam. Kami diajarkan menggali nilai luhur di dalam diri sendiri agar berperilaku baik karena kesadaran pribadi. Materi pelajaran Budi Pekerti yang hanya diajarkan di sekolah Muhammadiyah sama sekali tidak seperti kode perilaku formal yang ada dalam konteks legalitas institusional seperti sapta prasetya atau pedoman-pedoman pengalaman lainnya” (hlm. 30). Deskripsi penafsiran, pelaksanaan Budi pekerti yang disusun oleh Bu Muslimah merupakan suatu bentuk mata pelajaran yang dapat dijadikan dasar moral Bagi peserta didik. Dalam teks di atas dinyatakan
  • 180. 158 bahwa Pendidikan budi peketi yang ditanamkan oleh sekolah Muhammadiyah dapat membuat konstruksi imajiner nilai-nilai integritas pribadi peserta didik dalam konteks Islam. Pendidikan budi peketi yang direalisasikan sekolah Muhammadiyah dilihat dalam konteks pendidikan Islam ini dapat disamakan dengan akhlak. Dan akhlak merupakan bagian integral dari materi PAI yang memiliki peran sentral dalam rangka pembinaan moral anak didik. Muatan-muatan akhlak dalam PAI jika diterapkan melalui pembelajaran yang tepat, akan dapat menjadi sarana pendidikan budi pekerti. Dari uraian di atas, penulis mengasumsikan bahwa nilai aqidah, syariah, dan akhlak merupakan nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam. Karena ketiga nilai tersebut merupakan tiga kerangkan dasar pendidikan Islam yang harus dikejawantahkan untuk meningkatkan tujuan yang dicita-citakan.D. Kontribusi Pendidikan Nilai dalam Novel Laskar Pelangi Terhadap Pengembangan Pendidikan Islam Pada novel Laskar Pelangi penulis menemukan sebuah teks yang berbunyi sebagai berikut: Bagi kami Pak Harfan dan Bu Mus adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya. Merekalah mentor, penjaga, sahabat, pengajar, dan guru spiritual. Mereka yang pertama menjelaskan secara gamblang implikasi amar makruf nahi mungkar sebagai pegangan moral kami sepanjang hayat. Mereka mengajari kami membuat rumah-rumahan dari perdu apit-apit, mengusap luka-luka di kaki kami, membimbing kami cara mengambil wudu, melongok ke dalam sarung kami ketika kami disunat, mengajari kami doa sebelum tidur, memompa ban sepeda kami, dan kadang-kadang membuatkan kami air jeruk sambal” (hlm. 32).
  • 181. 159 Maka tak lama kemudian aku telah menjadi mahasiswa. Meskipun hanya langkah kecil aku merasa telah membuat sebuah kemajuan dan sekarang aku dapat menilai hidupku dari perspektif yang sama sekali berbeda. Aku lega terutama karena aku telah membayar utangku pada sekolah Muhammadiyah, Bu Mus, Pak Harfan, Lintang, Laskar Pelang, A Ling, Bahkan Herriot dan Edensor. Setiap titik yang aku singgahi dalam hidupku selalu memberikan pelajaran berharga. Sekolah Muhammadiyah dan persahabatan Laskar Pelangi telah membentuk karakterku. A Ling, Herriot dan Edensor telah mengajariku optimism dan menunjukkan bahwa jalinan nasib dapat menjadi begitu menakjubkan, (hlm. 462-463).. Dari teks di atas, membuktikan bahwa sekolah Muhammadiyah telah menjalankan proses pembelajaran nilai pada murid-muridnya. Proses pembelajaran pendidikan nilai yang diajarkan oleh pak Harfan dan bu Mus sangat memiliki arti penting bagi pembentukan karakter muridnya. Pembentukan karakter tersebut telah dirasakan oleh Ikal yang telah menjadi mahasiswa sukses. Hal ini membuktikan bahwa proses pembelajaran pendidikan nilai tersebut telah mencapai prilaku yang dikehendaki. Dan tercapainya perilaku yang dikehendaki merupakan keberhasilan pembelajaran. Dan dari pengajaran pendidikan nilai tersebut ternyata telah menghasilkan lulusan yang diharapkankan. Di sini jelaslah bahwa, proses pendidikan nilai yang direpresentasikan oleh novel laskar pelangi memberikan konstruksi ideologi nilai-nilai Islam. Dengan adanya konstruksi idelogi nilai-nilai Islam tersebut, juga merupakan salah satu sumbangsi dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan Islam untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas, yang berbekal pengetahuan, pribadi yang Islami, dan kompentensi ungul yang dibangun oleh seluruh sinergi positif.
  • 182. 160 Kontribusi kontruksi ideologi nilai-nilai Islam terhadap pengembanganpendidikan Islam ini telah dibuktikan oleh salah satu murid sekolahMuhammadiyah yaitu Andrea Hirata yang berperan sebagai Ikal cilik dalampenokohan novel Laskar Pelangi, kini ia menjadi mahasiswa yang suksessebagai penulis yang handal. Adapun salah satu karyanya yang telah banyakdiminati oleh masyarakat Indonesia pada khususnya yaitu novel Laskar Pelangidan masih bayak karya lainnya. Novel laskar pelangi merupakan novelpendidikan Islam yang dapat membangun citra pendidikan Islam, terbuktidengan adanya teks, paragraf dan dialog novel Laskar Pelangi yangmedeskripsikan pesan pengajaran yang bukan hanya mentransfer pengetahuansaja tetapi juga memberikan pesan nilai-nilai Islam yang berupa nilai syariah,aqidah, dan akhlak atau budi pekerti sebagai bekal atau pegangan moralmuridnya di masa depan. Dengan adanya pesan-pesan tentang nilai-nilai tersebut maka hal inidapat memberikan sumbangsi dan kontribusi bagi pendidikan Islam lainnyauntuk terus melakukan dan mengaplikasikan kontruksi ideologi nilai-nilaiIslam yang telah dipaparkan oleh Andrea Hirata dalam novel Laskar Pelangiyaitu nilai syariah, nilai aqidah dan nilai akhlak atau budi pekerti. Selain itu,novel ini juga sangat memberikan pesan bagi tenaga pendidik agar dalamdunia pendidikan menjadi guru yang profesional yaitu dapat menjadi gurumentor, penjaga, sahabat, pengajar, fasilitator, dan guru spiritual. Begitupulamemberikan kemanfaatan bagi peserta didik agar mereka meniru terhadapsemangat murid-murid Muhammadiayah dalam mengenyam pendidikan.
  • 183. 161Mereka bukanlah murid yang malas tetapi mereka adalah murid-murid yangmemiliki daya juang yang tinggi dalam menuntut ilmu. Dari uraian di atas penulis menyimpulkan bahwa pesan-pesan tentangpendidikan nilai yang terdapat pada novel Laskar Pelangi karaya AndreaHirata, yang telah ditanamkan atau diajarkan oleh pak Harfan dan bu Muslimahpada murid-muridnya baik berupa nilai aqidah, syariah, dan akhlak atau budipekerti telah memberikan kontribusi terhadap pendidikan Islam, pendidik,peserta didik berupa kontruksi ideologi dengan harapan agar pendidikan Islamdapat menghasilkan lulusan yang bekualitas dan berkompetisi unggul.
  • 184. BAB VI PENUTUPA. Kesimpulan Setelah pembahasan dan analisis pada bab-bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan, yakni: 1. Nilai-nilai yang terdapat dalam novel ”Laskar Pelang” karya Andrea Hirata terbagi menjadi tiga kalsifikasi antara lain: (a) Nilai personal, nilai personal merupakan nilai-nilai yang perlu ditanamkan dan dimiliki seorang individu dalam kehidupannya. Nilai personal yang telah penulis temukan dalam teks novel Laskar Pelangi meliputi: nilai tanggung jawab, nilai keteguhan pendirian, nilai ketekunan, nilai keinginan kuat untuk mencapai cita-cita, nilai dermawan, nilai perjuangan, nilai kompetisi, nilai kecerdasan, nilai percaya diri, nilai kebahagiaan, nilai disiplin, nilai perjuangan menuntut ilmu, nilai sigap menghadapi masalah, nilai rendah hati, nilai ketangkasan, nilai gagah berani, nilai kerinduan, nilai iba, dan nilai tekad untuk lebih baik. (b) Nilai sosial, nilai sosial adalah nilai-nilai yang berhubungan dengan kemanusiaan. Nilai-nilai dalam dimensi ini terkait dengan interaksi sesama manusia mencakup berbagai norma baik kesusilaan, kesopanan dan segala macam produk hukum yang ditetapkan manusia. Nilai sosial yang terdapat dalam novel Laskar Pelangi antara 162
  • 185. 163 lain: nilai multikultural, nilai tolong menolong, nilai keharmonisan, nilai mutualisme, sopan santun, nilai partisipatif, nilai sportifitas, nilai dukungan pada seseorang, nilai kepedulian, nilai keakraban, nilai persahabatan. (c) Dan nilai estetika, nilai estetika yaitu nilai yang lebih menghasilkan pada penilaian pribadi seseorang yang bersifat subyektif. Selain itu nilai estetik melekat pada kualitas barang atau memiliki sifat indah. Kecendrungan orang yang memiliki jiwa keindahan biasanya memiliki jiwa yang kreatif, terampil dan inovatif. Dalam hal ini, nilai- nilai estetika yang terdapat pada novel Laskar Pelangi adalah sebagai berikut: nilai keindahan, nilai imajinatif, nilai seni drama, nilai seni sastra, dan nilai kreatif atau originalitas.2. Metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel Laskar Pelangi adalah metode bercerita dan kisah. Cerita atau kisah dijadikan metode oleh para tenaga pengajar sekolah Muhammadiyah yaitu pak Harfan dan bu Muslimah sebagai alat untuk membantu menjelaskan suatu pemikiran, dan mengungkapkan suatu masalah. Cerita dan Kisah yang berasal dari Rasulullah SAW, Nabi, tokoh Islam, dan tokoh-tokoh lainnya, selalu lengkap karena mengandung sekian banyak manfaat dan terkait sekian masalah. Dengan kisah dan cerita itu beliau menerangkan ketauhidan yaitu orang-orang yang ingkar pada Allah maka Allah akan memberikan cobaan, kemudian tentang keimanan dan perjuangan menegakkan Islam, lalu mengenai perjuangan Zubair bin Awam mendirikan sekolah dari
  • 186. 164 jerjak kayu bulat seperti kandang dan cerita pak Karno yang menjalani hukuman dan setiap hari belajar, setiap waktu membaca buku. Cerita atau kisah yang baik akan mampu menyampaikan pesan atau nilai secara langsung kepada seorang anak, selain alur ceritanya dapat membantu mengasah kemampuan emosional dan nalar anak-anak sekaligus. Belum lagi manfaat praktis dalam penguasaan kosa kata anak dalam berbahasa juga merupakan keuntungan lain dari sebuah kisah atau cerita yang baik.3. Nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam yang terdapat dalam novel Laskar Pelangi terdiri dari 3 kalsifikasi, yakni: (a) Nilai aqidah, adalah dimensi ideology atau keyakinan dalam Islam. Ia merujuk kepada beberapa tingkat keimanan seseorang muslim terhadap kebenaran Islam, terutaman mengenai pokok-pokok keimanan Islam. Adapun nilai aqidah yang terdapat dalam novel Laskar Pelangi yaitu: (1) nilai ketauhidan tentan zat-zat Allah, (2) nilai larangan syirik, dan (3) nilai ketakwaan atau ketaantan. (b) Nilai syariah, merupakan aturan atau undang-undang Allah SWT tentang pelaksanaan dan penyerahan diri secara total melalui proses ibadah secara langsung maupun tidak langsung dengan sesaman makhluk lain, baik dengan sesama manusia, maupun dengan alam sekitar. Adapun nilai syariah yang terdapat dalam novel Laskar Pelangi yaitu: (1) nilai menjaga shalat tepat waktu, dan (2) nilai menjaga aurat wanita.
  • 187. 165 (c) Nilai akhlak (budi pekerti), suatu proses pembentukan perilaku atau watak seseorang, sehingga dapat membedakan hal-hal yang baik dan yang buruk dan mampu menerapkannya dalam kehidupan. Pendidikan budi pekerti (akhlak) pada hakikatnya merupakan konsekuensi tanggung jawab seseorang untuk memenuhi suatu kewajiban. Adapun nilai budi pekerti (akhlak) yang terdapat dalam novel Laskar Pelangi yaitu: (1) nilai menebarkan salam, (2) nilai amar ma’ruf nahi mungkar, (3) nilai keikhlasan, (4) nilai kesabaran, (5) nilai kejujuran, (6) nilai syukur, dan (7) nilai berbakti pada orang tua. 4. Kontribusi pendidikan nilai dalam novel Laskar Pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam adalah memberikan kontribusi berupa konsruksi ideologi nilai-nilai Islam. Adanya konstruksi idelogi nilai-nilai Islam tersebut, juga merupakan salah satu sumbangsi dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan Islam untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas, yang berbekal pengetahuan, pribadi yang Islami, dan kompentensi ungul yang dibangun oleh seluruh sinergi positif.B. Saran Berdasarkan hasil analisis terhadap pendidikan nilai dalam pengembangan pendidikan Islam, pada bagian ini penulis ingin ikut serta memberikan kontribusi berupa saran sebagai berikut: 1. Terkait dengan eksistensi novel, sudah sepatutnya novel maupun karya sastra lainnya, mempertimbangkan sisi edukatif yang bisa disumbangkan kepada masyarakat luas dan bukan hanya mempertimbangkan selera pasar,
  • 188. 166 trend, ataupun profit oriented. Karena, akhir-akhir ini banyak bermunculan karya sastra yang jauh dari unsur mendidik, mengeksplorasi seks tanpa tedeng aling-aling misalnya. Sebab bagaimanapun, karya sastra terutama novel adalah yang paling banyak diminati masyarakat di segala lapisan.2. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan oleh semua guru untuk dijadikan sebuah pengajaran nilai Islami dalam proses belajar mengajar di lembaga Pendidikan Islam, karena pada zaman sekarang buku yang berbau ilmiah kurang diminati untuk dibaca oleh anak didik, dan sebaliknya buku yang berbau sastra, seperti novel banyak diminati oleh peserta didik.
  • 189. DAFTAR PUSTAKAAmeliawati. 2006. Analisis Instink Pada Tokoh Utama Novel Ronggeng Dukuh Paruk” Karya Ahmad Tohari. Skripsi. FKIP UMM.Aminuddin. 2002. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. (Bandung: PT. Sinar Baru Algensindo.Al-Qur’an dan Terjemahannya. 1990 . Semarang: Menara Kudus.Burhan Bungin. 2003. Content Analysis dan Focus Group Discussion dalam Penelitian Sosial. Jakarta:Raja Grafindo Persada.Dawud, dkk. 2004. Bahasa dan Sastra Indonesia Jilid I untuk SMA Kelas X, Jakarta : Erlangga.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka.Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Guru dan Anak dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: PT Rineka Cipta.Direktorat Jenderal Pendidikan Non-Formal dan Informal. 2009. Kian Berat Tantangan Pendidikan Formal. Internet: (http: www.pnfi.depdiknas.go.idEndraswara Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.Elmubarok Zaim. 2008. Membumikan Pendidikan Nilai Mengumpulkan yang Terserak, Menyambung yang Terputus, dan Menyatukan yang Tercerai. Bandung: Alfabeta.Faruk. 2003. Pengantar Sosiologi Sastr. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Fananie Zainuddin. 2000. Telaah Sastra. Surakarta: Muhammadiyah University Press.Fajar, A. Malik, dkk. 2004. Horizon Baru Pengembangan Pendidikan Islam: Upaya Merespon Dinamika Masyarakat Global. Yogyakarta: Aditya Media Yogyakarta Bekerja Sama dengan UIN Press.Hirata Andrea. 2005. Novel Laskar Pelangi. Yogyakarta: PT Bentang Pustaka.
  • 190. Hardjana. 2006. Cara Mudah Mengarang Cerita Anak-anak. Jakarta: PT Grasindo.Hartono Dick. 1985. Menanusiakan Manusia Muda Tinjauan Pendidikan Humaniora . Jakarta: Kanisius.Hall, C.S dan Linzey, G. 1985. Introduction to Personality Theory. New York: John Wiley dan Sons.Hamidi. 2004. Metode Penelitian Kualitatif. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.Idris Ramulyo, Mohd. 2004. Asas-asas Hukum Islam: Sejarah Timbul dan BerkembangnyaKedudukan Hukum Islam dalam Sistem Hukum di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika.Jakob Sumardjo. 1995. Sastra dan Masa. Bandung: ITB.Kafrawi Nurdjanah, dkk. 2002. Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia 3. Jakarta: PT Grasindo.Kaswardi, E.M K. 1993. Pendidikan Nilai Memasuki Tahun 2000. Jakarta: PT Grasindo.Krech, D. dan Crutchfield, R. 1962. Individual In Society. Tokyo: Mc Graw- Hill Kogakusha.Lubis Mawardi. 2008. Evaluasi Pendidikan Nilai: Perkembangan Moral Keagamaan Mahasiswa PTAIN. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.Mulyana Rokhmat. 2004. Mengartikulasikan Pendidikan Nilai. Bandung: Alfabeta.Marimba, Ahmad D. 1989. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: PT. Al- Ma’arif.Muhaimin. 2003. Wacana Pengembangan Pendidikan Islam. Surabaya: Pusat Studi Agama, Politik dan Masyarakat (PSAMP).Mustofa. 1999. Akhlak Tasawuf . Bandung: CV. Pustaka Setia.Moleong, Lexy J. 2002. Metodologi Penelitian Kuaitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya.Moeslichatoen R. 2004. Metode Pengajaran di Taman Kanak-Kanan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
  • 191. Michael, Hubberman A. Miles. Mattew B. 1992. Analisis Data Kualitatif. Jakarta: Universitas Indonesia.Margono. 1997. Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.Nurgiantoro Burhan. 2005. Sastra Anak Pengantar Pemahaman Dunia Anak Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.Nurudin. 2007. Dasar-dasar Penulisan. Malang: UMM PressPurwanto Ngalim. 2002. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Power, E.J. 1982. Philosophy of Education; Studies in Philosoies, Schooling, and Educational Policies. New Jersey: Prentice-Hall Inc.Rejeki Tatik. diakses 26 Februari 2008. Konsep Pendidikan Nilai yang Menyenangkan. http:www.yahoo.com.Rochajat Harun. 2007. Metode Penelitian Kualitatif untuk Pelatihan Bandung: Mandar Maju.Sisdiknas. 2003. Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Citra Umbara.Sugihastuti dan Suhartono. 2002. Kritik sastra Feminis Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Spilka, B. 1985. The Psychology of Religion; An Empirical Approch. New Jersey: Prentice-HallSyah, M. 2000. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Rosdakarya.Soejono dan Abdurrahman. 1999. Metode Penelitian Suatu Pemikiran dan Penerapan. Jakarta: Rineka Cipta.Tafsir. 1995. Ilmu Pendidikan Perspektif Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Tillman Diane. 2004. Living Value: An Educational Program “Living Value Activities For Children Ages 8-14. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.Wiediastutik, Rini S. 2005. Analisis Nilai-Nilai Humanistik Tokoh dalam Novel Kuncup Berseri Karya NH. Dini. Skripsi. FKIP UMM.
  • 192. Wiyatmi, 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka.Yandianto. 2004. Apresiasi Karya Sastra dan Pujangga Indonesia, Bandung: M2S.Yamin Martinis. 2007. Profesionalisme Guru dan Implementasi KTSP. Jakarta: Gaung Persada PressZuhairini, dkk. 1983. Methodik Khusus Pendidikan Agama, Malang: Biro Ilmiah Fakultas Tarbiyah.
  • 193. DEPARTEMEN AGAMA RI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG FAKULTAS TARBIYAH Jl. Gajayana 50 Malang. Telp. (0341) 551354. Fax. (0341) 572533 BUKTI KONSULTASINama : Nurul Lahir Sari IfaNIM : 05110095Jurusan : Pendidikan Agama IslamPembimbing : Drs. Triyo Supriyatno, M. AgJudul : Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pendidikan Islam (Studi Analisis Novel Laskar Pelangi)No Hari/tanggal Materi Konsultasi Paraf01 Sabtu, 07-02-2009 Konsultasi BAB I02 Rabu, 11-02-2009 Revisi Rumusan Masalah03 Sabtu, 28-02-2009 Konsultasi BAB I, II, III, IV04 Kamis, 28-02-2009 Revisi BAB I, II, III, IV05 Selasa, 03-03-2009 BAB IV, V, VI dan Abstrak06 Kamis, 05-03-2009 Revisi BAB IV, V07 Sabtu, 07-03-2009 Revisi BAB VI, Abstrak Dan Lampiran08 Selasa, 10-03-2009 ACC BAB I, II, III, IV, V, VI dan Abstrak Malang, 10 Maret 2009 Dekan Fakultas Tarbiyah Prof. Dr. H.M. Djunaidi Ghony NIP. 150 042 031
  • 194. Lampiran-lampiranRe: Konsultasi Abstrak, Bab I, II, III, IV, V dan VISelasa, 10 Maret, 2009 21:48Dari:"triyo supriyatno" <trios70@yahoo.com>Kepada:"Ifho Ifho" <ifho_afi@yahoo.co.id>ok acc u ntuk ujian.selamat.tanyakan di jurusan kapan ada ujian skripsi. nanti email saya lagi ya.--- On Tue, 3/10/09, Ifho Ifho <ifho_afi@yahoo.co.id> wrote:From: Ifho Ifho <ifho_afi@yahoo.co.id>Subject: Konsultasi Abstrak, Bab I, II, III, IV, V dan VITo: trios70@yahoo.comCc: ifho_afi@yahoo.co.idDate: Tuesday, March 10, 2009, 7:02 PM--- Pada Sab, 28/2/09, triyo supriyatno <trios70@yahoo.com> menulis:Dari: triyo supriyatno <trios70@yahoo.com>Topik: Re: konsultasi bab I, II, III, IVKepada: "Ifho Ifho" <ifho_afi@yahoo.co.id>Tanggal: Sabtu, 28 Februari, 2009, 2:26 PMAssalam.................Bab IV diisi dengan jawaban rumusan masalah 1 dan 2bab V diisi dengan jawaban rumusan masalah 3 dan 4.OK.Selamat mengerjakan????????????????Wassalam.............Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik.Tambah lebih banyak teman ke Yahoo! Messenger sekarang!
  • 195. Lampiran-lampiranDari dosenmu yang jauh tapi dekatRabu, 11 Februari, 2009 18:14Dari:"triyo supriyatno" <trios70@yahoo.com>Kepada:ifho_afi@yahoo.co.idAss.Rumusan masalah kamu perlu dirubah.tadinya seperti ini ya... Berdasarkan uraian diatas penulis formulasikan dalam rumusan masalah sebagai berikut: 1. Apa saja Pendidikan nilai yang terkandung Dalam Novel ”Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata ? 2. Bagaimana Pendidikan Nilai Novel ”Laskar Pelangi” Dalam Proses dan Tujuan Pembelajaran Sebagai Pengembangan Pendidikan Islam? 3. Apa kontribusi Pendidikan Nilai dalam Novel ”Laskar Pelangi” Sebagai Pengembangan Pendidikan Islam?Untuk 1. Nilai-nilai apa saja yang terkandung dlm novel................?2. Bagaimana metodologi pengajaran nilai yang terkandung dalam novel ......?3.Nilai-nilai apa saja yang dapat dikembangkan ndalam Pendidikan Islam...........?4. Apa kontribusi pendidikan nilai dalam novel terhadap Pengembangan PI?Ya, teruskan. coba lihat skripsi punya munif ya. terus ketemu saya sampai babterakhir. outline ok.... selamat mengerjakan.Wass
  • 196. Lampiran-lampiranKonsultasi Kamis, 19 Maret, 2009 17:41Dari:"Ifho Ifho" <ifho_afi@yahoo.co.id>Kepada:trios70@yahoo.comCc:ifho_afi@yahoo.co.idAssalamualaikum........Bapak Mohon doanya ge...moga ujian kompre dan skripsi saya lancar dan sayabisa dengan mudah menjawab semua pertanyaan dari dosen penguji. Dan sayadoakan semoga bapak juga sukses ujiannya. Amien.....!!!!!!! Dan masalah dosenpenguji masih belum pasti pak, tapi seandainya nanti ada pengumuman, akannapak akan saya beritahukan.waalaikum..............--- Pada Sel, 17/3/09, triyo supriyatno <trios70@yahoo.com> menulis:Dari: triyo supriyatno <trios70@yahoo.com>Topik: Re: ujian skripsiKepada: "Ifho Ifho" <ifho_afi@yahoo.co.id>Tanggal: Selasa, 17 Maret, 2009, 3:16 PMAssalam............Tolong ke rumah untuk minta tanda tangan saya, biar istri saya yang tandatangan. saya usahakan bisa pulang. kalau tidak bisa, tolong beritahu pengujinyasiapa ke saya. nanti saya kontak dari sini. karena paspor saya belum jadi, dansaya bulan april juga ujian.Hadapi saja, tidak usah takut. bukti konsultasi dengan saya tunjukkan jikaditanyakan.semoga sukses.Wassalam...........Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik.Tambah lebih banyak teman ke Yahoo! Messenger sekarang!
  • 197. Lampiran-lampiranujian skripsiSelasa, 17 Maret, 2009 14:19Dari:"Ifho Ifho" <ifho_afi@yahoo.co.id>Kepada:trios70@yahoo.comCc:ifho_afi@yahoo.co.idAssalamualaikum Wr. Wb.(1) Bapak ujian skripsi telah diinformasikan bahwa ujian dilaksanakan padatangga 10 April 2009. Pak kami sangat mengharapkan kehadiran bapak untukmendampinngi kami dalam ujian skripsi. Kami memohon dengan sangat!!!!Selain itu, tanda tangan bapak sebagai bukti konsultasi juga kami butuhkan.Bapak datang ge pak.....biar ada yang membantu kalau ujian sripsi.(2) Bapak kami minta solusi bagaimana seharusnya nanti ketika kamimenghadapi ujian sripsi agar kami dapat meyakinkan dosen penguji kami??Kemudian bagaimana agara skripsi yang kami buat ini dapat menghasilkan hasilyang terbaik?? Terima kasih Pak,,,,Wassalamualaikum Wr. Wb.--- Pada Sel, 10/3/09, triyo supriyatno <trios70@yahoo.com> menulis:Dari: triyo supriyatno <trios70@yahoo.com>Topik: Re: Konsultasi Abstrak, Bab I, II, III, IV, V dan VIKepada: "Ifho Ifho" <ifho_afi@yahoo.co.id>Tanggal: Selasa, 10 Maret, 2009, 9:48 PMok acc u ntuk ujian.selamat.tanyakan di jurusan kapan ada ujian skripsi. nanti email saya lagi ya.--- On Tue, 3/10/09, Ifho Ifho <ifho_afi@yahoo.co.id> wrote:From: Ifho Ifho <ifho_afi@yahoo.co.id>Subject: Konsultasi Abstrak, Bab I, II, III, IV, V dan VI
  • 198. Lampiran-lampiranTo: trios70@yahoo.comCc: ifho_afi@yahoo.co.idDate: Tuesday, March 10, 2009, 7:02 PM--- Pada Sab, 28/2/09, triyo supriyatno <trios70@yahoo.com> menulis:Dari: triyo supriyatno <trios70@yahoo.com>Topik: Re: konsultasi bab I, II, III, IVKepada: "Ifho Ifho" <ifho_afi@yahoo.co.id>Tanggal: Sabtu, 28 Februari, 2009, 2:26 PMAssalam.................Bab IV diisi dengan jawaban rumusan masalah 1 dan 2bab V diisi dengan jawaban rumusan masalah 3 dan 4.OK.Selamat mengerjakan????????????????Wassalam.............Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik.Tambah lebih banyak teman ke Yahoo! Messenger sekarang!Pemanasan global? Apa sih itu?Temukan jawabannya di Yahoo! Answers!
  • 199. Daftar Gambar DAFTAR GAMBAR Keterangan Gambar: Sepuluh Murid-murid Sekolah Muhammadiyah (Lintang, Ikal, Mahar, Trapani, Kucai, Sahara, Harun, Samson, A kiong, dan Syahdan) . Keterangan Gambar: Ibu N.A. Muslimah Hafsari atau Bu Mus
  • 200. Daftar Gambar Keterangan Gambar: Andrea Hirata (Pengarang Novel Laskar Pelangi) dan dalam novelnya digambarkan sebagai tokoh Ikal. Keterangan Gambar: Cover Laskar Pelangi Edisi Lama (Kiri) dan Edisi Baru (Kanan)
  • 201. Lampiran-lampiran PROFILE ANDREA HIRATA (Penulis Novel Laskar Pelangi) Gender: male Place of Birth Indonesia Website http://sastrabelitong.multiply.com Genre: Literature & Fiction, Biographies & Memoirs Nama Andrea Hirata Seman Said Harun, atau yang lebih sering dikenaldengan Andrea Hirata. Andrea Hirata lahir di Belitong. Andrea Hirata, yang dalambuku itu dikisahkan sebagai Ikal, berasal dari keluarga kurang mampu. Ayahnya,Seman Said Harun Hirata (75), adalah pensiunan pegawai rendahan di PN Timah,sementara ibunya, Masturah (72), adalah ibu rumah tangga. Empat abang dan satuadiknya menekuni profesi seperti umumnya kaum marjinal di Belitong. Meskipunstudi mayornya ekonomi, ia amat menggemari sains--fisika, kimia, biologi,astronomi--dan tentu saja sastra. Buku Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpovmerupakan karya Andea Hirata Seman yang mencengangkan banyak orang di negeriini. Tiga buku, minus Maryamah Karpov, meledak di pasaran. Selain di Indonesia,Laskar Pelangi juga diterbitkan di Malaysia, Singapura, Spanyol, dan beberapanegara Eropa lainnya. Andrea lebih mengidentikkan dirinya sebagai seorang akademisi danbackpacker. Sekarang ia tengah mengejar mimpinya yang lain untuk tinggal di KyeGompa, desa tertinggi di dunia, di Himalaya. Andrea berpendidikan ekonomi dari
  • 202. Lampiran-lampiranUniversitas Indonesia. Ia mendapat beasiswa Uni Eropa untuk studi master of sciencedi Universite de Paris, Sorbonne, Prancis dan Sheffield Hallam University, UnitedKingdom. Tesis Andrea di bidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan darikedua universitas tersebut dan ia lulus cum laude. Tesis itu telah diadaptasi ke dalambahasa Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yangditulis oleh orang Indonesia. Buku itu telah beredar sebagai referensi ilmiah. Saat ini Andrea tinggal di Bandung dan masih bekerja di kantor pusat PTTelkom. Hobinya naik komidi putar. Itulah sekilas tentang profile Andrea Hirata yang penulis dapat dari mediainternet. Penulis berharap profile Andrea Hirata di atas, dapat dijadikan inspirasipemicu semangat bagi manusia untuk terus berkarya, berpendidikan dan bertekadtinggi untuk menggapai cita-cita.http://www.bukabuku.com/authorscorner/detail/1950/andrea-hirata.html
  • 203. Lampiran-lampiran SINOPSIS NOVEL LASKAR PELANGI *KARYA ANDREA HIRATA* Cerita terjadi di Desa Gantung, Kabupaten Gantung, Belitong Timur.Dimulai ketika sekolah Muhammadiyah terancam akan dibubarkan oleh DepdikbudSumsel jikalau jumlah siswa baru tidak sampai 10 anak. Ketika itu baru 9 anak yangmenghadiri upacara pembukaan, akan tetapi tepat ketika Pak Harfan, sang kepalasekolah, hendak berpidato menutup sekolah, Harun dan ibunya datang untukmendaftarkan diri di sekolah kecil itu. Mulai dari sanalah dimulai cerita mereka. Mulai dari penempatan tempatduduk, pertemuan mereka dengan Pak Harfan, perkenalan mereka yang luar biasa dimana A Kiong yang malah cengar-cengir ketika ditanyakan namanya oleh gurumereka, Bu Mus. Kejadian bodoh yang dilakukan oleh Borek, pemilihan ketua kelasyang diprotes keras oleh Kucai, kejadian ditemukannya bakat luar biasa Mahar,pengalaman cinta pertama Ikal, sampai pertaruhan nyawa Lintang yang mengayuhsepeda 80 km pulang pergi dari rumahnya ke sekolah! Mereka, Laskar Pelangi nama yang diberikan Bu Muslimah karenakesenangan mereka terhadap pelangi sempat mengharumkan nama sekolah denganberbagai cara. Misalnya pembalasan dendam Mahar yang selalu dipojokkan kawan-kawannya karena kesenangannya pada okultisme yang membuahkan kemenanganmanis pada karnaval 17 Agustus, dan kejeniusan luar biasa Lintang yang menantangdan mengalahkan Drs. Zulfikar, guru sekolah kaya PN yang berijazah dan terkenal,dan memenangkan lomba cerdas cermat. Laskar Pelangi mengarungi hari-hari
  • 204. Lampiran-lampiranmenyenangkan, tertawa dan menangis bersama. Kisah sepuluh kawanan ini berakhirdengan kematian ayah Lintang yang memaksa Einstein cilik itu putus sekolah dengansangat mengharukan, dan dilanjutkan dengan kejadian 12 tahun kemudian di manaIkal yang berjuang di luar pulau Belitong kembali ke kampungnya. Demikianlah cerita singkakat (sinopsis) novel Laskar Pelangi yang dapatpenulis ceritakan. Menurut penulis alur cerita Laskar Pelangi memang sangatinspiratif, novel ini mampu mengobarkan semangat mereka yang selalu dirudungkesulitan dalam menjalani blantika pendidikan di mana tokoh-tokoh didalamnyaadalah manusia sederhana, jujur, tulus, gigih, penuh dedikasi, ulet, tawakal dan takwayang dituturkan secara indah. Dalam kehidupan mereka, kejujuran pemikiran mereka,indahnya petualangan mereka yang telah diceritakan dalam novel ini dapat membuattertawa, menangis dan terseduh ketika penulis membaca setiap lembar bukunya.Ketika membacanya seolah menemukan Gabriel Garcia Marquez, Nicolai Gogal atauAlan Lighman ia seperti trance menulis “Laskar Pelangi” dengan kadar emosidemikian kental, bertabur metafora penuh pesona, deskripsi yang kuat, filmis ketikamemotret lanskep dan budaya yang dikerjakan dalam kurun waktu tiga pekan.
  • 205. Lampiran-lampiran DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama : Nurul Lahir Sari Ifa TTL : Lumajang, 21 Januari 1987 Jenis Kelamin : Female Agama : Islam Alamat Rumah : Pantai Purnama Banjar Babakan Sukawati Gianyar-Bali E-mail : E-mail ifho_afi@yahoo.co.id HP : 085735194691PENDIDIKAN FORMAL1993-1999 : SDN No. 7 Sukawati1999-2002 : MTs Nurul Jadid Probolinggo2002-2005 : MAN Nurul Jadid Probolinggo2005 : UIN MalangPENGALAMAN ORGANISASI2005-2006 : Pimpinan Redaksi Buletin Afsyana Ma’had Ibnu Sina2005 : Anggota JDFI Defisi Qiroah2005 : Anggota Jam’iyah Qura Wal Hufadz (JQH)2006-2007 : Kordinator Bidang Keagamaan Rayon Chondrodimuko PMII UIN Malang2006-2007 : Kordinator Bidang Penalaran Himpunan Mahasiswa Lumajang Jaya (HIMALAYA)2007 : Anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Universitas Brawijaya Malang2007-2008 : Pengurus Bidang Penerbitan HMJ PI UIN Malang2007-2008 : Pengurus Badan Pengaduan Ikatan Mahasiswa Pulau Dewata IMADE2008 : Anggota UKM Pramuka UIN MalangPENGALAMAN LAIN-LAIN2004 : The First Winner Has Followed The Activity “Scientific Room Contents”2007 : Peserta Lomba Pentas Cerpen Islami (PENCIL) di forkom FIA Universitas Brawijaya Malang2008 : Juara I Lomba Memasak antar Rayon PMII UIN Malang2008 : Penerima Beasiswa DIPA2005-2008 : Artikel dan Karya Seni Puisi Tersebar Di Buletin Kampus dan Oraganisasi EkstraABBILITYComputer :Windows. MS Office