05110095

3,116 views
2,874 views

Published on

;;

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
3,116
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
36
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

05110095

  1. 1. PENDIDIKAN NILAI DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM (STUDI ANALISIS NOVEL LASKAR PELANGI) SKRIPSI diajukan oleh: Nurul Lahir Sari Ifa NIM: 05110095PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG April, 2009
  2. 2. PENDIDIKAN NILAI DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM (STUDI ANALISIS NOVEL LASKAR PELANGI) SKRIPSIDiajukan Kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) diajukan oleh: Nurul Lahir Sari Ifa NIM: 05110095 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG April, 2009 ii
  3. 3. Kupersembahkan Skripsi Ini Teruntuk: Allah Swt & Rasulullah Saw Ya Allah Engkaulah Dzat yang telah menciptakanKu, memberikan karunia nikmat yang takterhingga, melindungiku, membimbingku dan mengajariku dalam kehidupanku, Serta Wahai Engkau ya Rasulullah ya habiballah yang telah memberikanku pengetahuan akan ajaran Tuhanku dan membawaku dari jurang kejahilan menuju kehidupan yang terang benderang. Ayah dan Ibu Tercinta Yang telah berjuang dengan penuh keikhlasan, yang telah menorehkan segala kasih dan sayangnyadengan penuh rasa ketulusan yang tak kenal lelah dan batas waktu. Special FoR My Mam Engkaulah Inspirasiku di saat aku rapuh & ketika semangatku memudar. Bapak Trio Supriyatno, M. AgYang telah membimbing penulis sehingga dapat terselesaikan rangkaian skripsi ini dan semua dewan guru / dosen UIN Malang yang telah mengajari penulis dengan setiap jiwa yang dengan ilmunya penulis menjadi tahu. Andrea Hirata Yang dengan karyanya telah memberikan ispirasi ku untuk berkarya khususnya dalam pembuatanskripsi ini. Wahai karya sastra “novel laskar pelangi” wujudmu bagaikan dewa penolongku, tanpamumatilah imajinasiku, jiwaku haus untuk membacamu mesti larut menemaniku, namun ini tiada beban bagiku untuk mewududkan harapanku. Saudara-saudaraku TercintaMuhammad Nasihin (Kakak kandungku), Irawati, ida, Novi Erna Nofitasari, Nur Jannah, Ana Azkiya Nabila, Pak Agus & Mbak Rohmah, Nurus Saadah, Kak Ruri (yang setia dalam sebuah penantian), Keluarga Besar Bani Tasyim, Dan Keluarga Besar Pondok Pesantren Nurul Jadid. Teman-teman Seperjuangan:Genk’s Ardisia (Aminatus Saidah, Maria Ulfa, Nur Fitria, Iin Aisyah) dalam rangkuman persahabatan ini, segala pikiran, hasrat, dan keinginan terlahirkan bersama dengan sukacita yang utuh, pun tiadaterkirakan. Me2y & Ruro dua si joli dari Madura yang selalu dekat di hati sekalipun jauh hakikatnyakalian emang koncoku yang tokcer abis. Konco-konco Kertorejo 15 A (Al Fitriyah, Mbak Titin, Nida, Lulu, Icha, & yayik), Keluarga Besar HMJ, PMII Condro D, IMADE, HIMALAYA dan UKMPramuka , Serta semua Sahabat - sahabat yang telah dengan rela membantu hingga skripsi ini selesai, Thank’s For All…?!! Dari Nama-nama yang dimaksud di atas Mudah - mudahan amal baktinya diterima oleh Allah SWT, Amin amin…!!! iii
  4. 4. MOTTOArtinya: Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. (QS. Al-A’raf: 199) (Diambil dari : Al Quran Dan Terjemahannya, Depag RI, 1974) iv
  5. 5. Drs. Triyo Supriyatno, M. AgDosen Fakultas TarbiyahUniversitas Islam Negeri MalangNOTA DINAS PEMBIMBINGHal : Skripsi Nurul Lahir Sari Ifa Malang, 10 Maret 2009Lampiran : 4 (Empat) EksemplarKepada Yth.Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malangdi MalangAssalamualaikum Wr. Wb. Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan, baik dari segi isi, bahasamaupun teknik penulisan, dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut dibawah ini: Nama : Nurul Lahir Sari Ifa NIM : 05110095 Jurusan : Pendidikan Agama Islam Judul Skripsi : Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pendidikan Islam (Studi Analisis Novel Laskar Pelangi)Maka selaku Pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layakdiajukan untuk diujikan.Demikian, mohon dimaklumi adanya.Wassalamualaikum Wr. Wb. Pembimbing, Drs. Triyo Supriyatno, M. Ag NIP. 150 311 702 v
  6. 6. HALAMAN PERSETUJUANPENDIDIKAN NILAI DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM (STUDI ANALISIS NOVEL LASKAR PELANGI) SKRIPSI Oleh: Nurul Lahir Sari Ifa Nim: 05110095 Telah Disetujui Pada Tanggal 10 Maret 2009 Oleh: Dosen Pembimbing: Drs. Triyo Supriyatno, M. Ag NIP. 150 311 702 Mengetahui, Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Drs. H. Moh. Padil, M. Pd NIP. 150 267 235 vi
  7. 7. SURAT PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan, bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karyayang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruantinggi, dan sepanjang sepengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapatyang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulisdiacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Malang, 10 Maret 2009 Nurul Lahir Sari Ifa vii
  8. 8. HALAMAN PENGESAHANPENDIDIKAN NILAI DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM (STUDI ANALISIS NOVEL LASKAR PELANGI) SKRIPSI Dipersiapkan dan Disusun Oleh Nurul Lahir Sari Ifa ( 05110095 ) Telah Dipertahankan di Depan Dewan Penguji Pada Tanggal 13 April 2009 dengan nilai A dan Telah Dinyatakan Diterima Sebagai Salah Satu Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) Pada Tanggal: 13 April 2009 Panitia Ujian Ketua Sidang, Sekretaris Sidang / Pembimbing, Muhammad Walid, MA M. Amin Nur, MA NIP. 150 310 896 NIP. 150 327 263 Pembimbing Penguji Utama Drs. Triyo Supriyatno, M. Ag Dr. H. Baharuddin, M. Pd. I NIP. 150 311 702 NIP. 150 215 385 Mengesahkan, Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang Prof. Dr. H. M. Djunaidi Ghony NIP. 150 042 031 viii
  9. 9. KATA PENGANTAR Segala syukur penulis panjatkan kepada Rabbul Izzati yang telah mengaturroda kehidupan pada porosnya dengan keteraturannya, dan semoga hanya kepada-Nyalah kita menundukkan hati dengan mengokohkan keimanan dan Izzah kitadalam keridhoan-Nya. Karena berkat Rahman dan Rahim-Nya pula skripsi yangberjudul ”Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pendidikan Islam (StudiAnalisis Novel Laskar Pelangi” dapat terselesaikan dengan baik. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada sang pejuangsejati kita, yaitu Rasulullah Muhammad SAW, karena atas perjuangan beliau kitadapat merasakan kehidupan yang lebih bermartabat dengan kemajuan ilmupengetahuan yang didasarkan pada iman dan Islam. Dengan penuh ketulusan hati, penulis menyampaikan ucapan terima kasihyang sebesar–besarnya dan teriring do’a kepada semua pihak yang telahmembantu demi kelancaran penulisan skripsi ini. Secara khusus penulissampaikan kepada yang terhormat:1. Ayahanda dan Ibunda (Slamet Ahadun (Alm), Muhammad Suwono & Siti Julaikha) tercinta yang dengan sabar telah membimbing, mendo’akan, mengarahkan, memberi kepercayaan, kerja keras, dan keagungan doa serta pengorbanan materi maupun spiritual demi keberhasilan penulis dalam menyelesaikan studi di Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.2. Bapak Prof. Dr. H. Imam Suprayogo selaku Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Malang beserta stafnya yang telah memberikan fasilitas selama proses belajar mengajar3. Bapak Prof. Dr. H. M. Djunaidi Ghony selaku Dekan fakultas Tarbiyah ix
  10. 10. 4. Bapak Drs. H. Moh. Padil M. Pd.I Selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam beserta stafnya atas bantuan yang selama ini diberikan kepada penulis dan kerja kerasnya dalam mengemban amanah.5. Bapak Drs. Triyo Supriyatno, M. Ag selaku dosen pembimbing skripsi atas kesabaran, ketelitian, motivasi, masukan, dan keikhlasan dalam meluangkan waktu, tenaga dan pikiran guna membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini dengan baik melalui media e-mail.6. Semua pihak yang telah membantu menyelesaikan skripsi ini baik secara spiritual, moril, maupun materiil. Semoga segala bantuan yang diberikan kepada penulis tercatat sebagaiamal shalih yang diterima oleh Allah SWT. Ada pepatah yang mengatakan tiada gading yang tak retak, begitu jugadengan karya tulis ini, tentu masih banyak kekurangan dan kelemahan. Olehkarena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif demikesempurnaan skripsi ini dan guna perbaikan penulis selanjutnya. Akhirnya, semoga Allah SWT memberikan manfaat bagi penulis dan bagisiapapun yang membacanya. Amin Ya Robbal’Alamin.... Malang, 10 Maret 2009 Penulis, Nurul Lahir Sari Ifa x
  11. 11. DAFTAR TRANSLITERASI Dalam naskah skripsi ini dijumpai nama dan istilah teknis yang berasaldari bahasa Arab ditulis dengan huruf latin. Pedoman transliterasi yangdipergunakan untuk penulisan tersebut adalah sebagai berikut :A. Konsonan ‫ا‬ = tidak dilambangkan ‫ض‬ = dl ‫ب‬ = b ‫ط‬ = th ‫ت‬ = t ‫ظ‬ = dh ‫ث‬ = ts ‫ع‬ = ‘ (koma menghadap keatas) ‫ج‬ = j ‫غ‬ = gh ‫ح‬ = h ‫ف‬ = f ‫خ‬ = kh ‫ق‬ = q ‫د‬ = d ‫ك‬ = k ‫ذ‬ = dz ‫ل‬ = l ‫ر‬ = r ‫م‬ = m ‫ز‬ = z ‫ن‬ = n ‫س‬ = s ‫و‬ = w ‫ش‬ = sy ‫ئ‬ = h ‫ص‬ = sh ‫ي‬ = y xi
  12. 12. Hamzah ( ‫ء‬ ) yang sering dilambangkan dengan alif, apabila terletakdiawal kata maka dalam transliterasinya mengikuti vokalnya, tidak dilambangkan,namun apabila terletak ditengah atau akhir kata maka dilambangkan dengan tandakoma diatas ( ’ ), berbalik dengan koma ( ‘ ), untuk penganti lambang “ ‫ع‬ ”.B. Vokal, panjang dan diftong Setiap penulisan bahasa Arab dalam bentuk tulisan latin vocal fathah ditulis dengan “a”, kasrah dengan “i”, dlommah dengan “u”, sedangkan bacaan panjang masing-masing ditulis dengan cara berikut ; Vocal (a) panjang = a^ Vocal (i) panjang = i^ Vocal (u) panjang = u^ Khusus untuk bacaan ya’ nisbat, maka tidak boleh digantikan dengan “i”, melainkan tetap ditulis dengan “iy” agar dapat menggambarkan ya’ nisbat diakhirnya. Begitu juga suara diftong, wawu dan ya’ setelah fathah ditulis dengan “aw” dan “ay”. Misalnya Qawlun dan khayrun.C. Ta’marbuthah ( ‫ة‬ ) Ta’marbuthah ditransliterasikan dengan “t” jika berada ditengah- tengah kalimat, akan tetapi apabila Ta’marbuthah tersebut berada diakhir kalimat, maka ditransliterasikan dengan menggunakan “h” misalnya al-risalat li al-mudarrisah, atau apabila berada ditengah-tengah kalimat yang terdiri dari susunan mudlaf dan mudlaf ilayh, maka ditransliterasikan dengan xii
  13. 13. menggunakan "t" yang disambungkan dengan kalimat berikutnya, misalnya fi rahmatillah.D. Kata Sandang dan lafdh al-Jalalah Kata sandang berupa “al” ( ‫ ) ا ل‬ditulis dengan huruf kecil, kecuali terletak diawal kalimat, sedangkan “al” dalam lafdh jalalah yang berada ditengah-tengah kalimat yang disandarkan (idhafah) maka dihilangkan. Misalnya Al-Imam al-BukhariyE. Nama dan Kata Arab Terindonesiakan Pada prinsipnya setiap kata yang berasal dari bahasa Arab harus ditulis dengan menggunakan system Transliterasi ini, akan tetapi apabila kata tersebut merupakan nama Arab dari orang Indonesia atau bahasa Arab yang sudah terindonesiakan, maka tidak perlu ditulis dengan menggunakan system translitersi ini. Contoh: Abdurrahman Wahid, Salat, Nikah xiii
  14. 14. DAFTAR TABELTabel I : Paparan Data Nilai-Nilai Yang Terdapat Dalam Novel Laskar Pelangi…………………………………………………………...84Tabel II : Paparan Data Metode Pengajaran Nilai Yang Terkandung Dalam Novel Laskar Pelangi…………………………………………...103Tabel III : Paparan Data Nilai-Nilai Yang Dapat Dikembangkan Dalam Pendidikan Islam……………………………………………….106 xiv
  15. 15. DAFTAR GAMBARGambar I : Sepuluh Murid-murid Sekolah Muhammadiyah (Lintang, Ikal, Mahar, Trapani, Kucai, Sahara, Harun, Samson, A kiong, dan Syahdan).Gambar II : Ibu N.A. Muslimah Hafsari atau Bu Mus.Gambar III : Andrea Hirata (Pengarang Novel Laskar Pelangi) dan dalam novelnya digambarkan sebagai tokoh Ikal.Gambar IV : Cover Laskar Pelangi Edisi Lama (Kiri) dan Edisi Baru (Kanan) xv
  16. 16. DAFTAR LAMPIRANLampiran 1 : Bukti KonsultasiLampiran 2 : Bukti Konsultasi Via E-mailLampiran 3 : Profile Andrea Hirata (Penulis Novel Laskar Pelangi)Lampiran 4 : Sinopsi Novel Laskar PelangiLampiran 5 : Novel Laskar Pelangi Karya Andrea HirataLampiran 6 : Daftar Riwayat Hidup xvi
  17. 17. DAFTAR ISIHALAMAN SAMPUL......................................................................................iHALAMAN JUDUL .........................................................................................iiHALAMAN PERSEMBAHAN ......................................................................iiiHALAMAN MOTTO ......................................................................................ivHALAMAN NOTA DINAS..............................................................................vHALAMAN PERSETUJUAN ........................................................................viHALAMAN PERNYATAAN.........................................................................viiHALAMAN PENGESAHAN........................................................................viiiKATA PENGANTAR......................................................................................ixHALAMAN TRANSLITERASI ....................................................................xiDAFTAR TABEL ..........................................................................................xivDAFTAR GAMBAR.......................................................................................xvDAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................xviDAFTAR ISI..................................................................................................xviiHALAMAN ABSTRAK ................................................................................xxiBAB I PENDAHULUAN.................................................................................1 A. Latar Balakang .................................................................................1 B. Rumusan Masalah ............................................................................5 C. Tujuan Penelitian..............................................................................5 D. Manfaat Penelitian ...........................................................................6 E. Ruang Lingkup Penelitian ................................................................7 xvii
  18. 18. F. Definisi Operasional .........................................................................8 G. Sistematika Pembahasan ..................................................................9BAB II KAJIAN PUSTAKA ..........................................................................11 A. Novel..............................................................................................11 1. Pengertian Novel ........................................................................11 2. Karakteristik Novel ....................................................................12 3. Ciri-ciri Novel ............................................................................14 4. Unsur-unsur Novel .....................................................................16 5. Bentuk-bentuk Tulisan Novel ....................................................23 6. Peran Novel ................................................................................26 B. Konsep Dasar Pendidikan Nilai .....................................................27 1. Definisi Dan Orientasi Pendidikan Nilai....................................27 2. Landasan Pendidikan Nilai ........................................................32 3. Klasifikasi Pendidikan Nilai ......................................................51 C. Pengembangan Pendidikan Islam...................................................56 1. Pengertian Pengembangan Pendidikan Islam............................56 2. Orientasi Pengembangan Pendidikan Islam ..............................59 D. Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pendidikan Islam...........61 1. Pendidikan Nilai Dalam Pendidikan Agama Islam ...................61 2. Pendidikan Nilai Dalam Bingkai Cerita dan Kisah Sebagai Bentuk Pengembangan Pendidikan Islam .................................63 3. Kontribusi Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pendidikan Islam .......................................................................65 xviii
  19. 19. BAB III METODE PENELITIAN ................................................................67 A. Pendekatan Penelitian ..................................................................67 B. Data Dan Sumber Data ................................................................68 C. Teknik Pengumpulan Data...........................................................69 D. Instrumen Penelitian ....................................................................70 E. Analisis Data................................................................................71 F. Teknik Pemeriksaan Keabsahan data ..........................................74BAB IV HASIL PENELITIAN......................................................................76 A. Deskripsi Unsur-unsur Novel Laskar Pelangi .............................76 B. Deskripsi Nilai-nilai yang Terdapat dalam Novel Laskar Pelangi .........................................................................................83 C. Deskripsi Metode Pengajaran Nilai yang Terkandung dalam Novel Laskar Pelangi.................................................................102 D. Deskripsi Nilai-nilai yang Dapat Dikembangkan dalam Pendidikan Islam...........................................................................................105BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN.......................................114 A. Pembahasan Hasil Analisis Nilai-nilai yang Terdapat dalam Novel Laskar Pelangi............................................................................114 B. Pembahasan Hasil Analisis Metode Pengajaran Nilai yang Terkandung dalam Novel Laskar Pelangi..................................138 C. Pembahasan Hasil Analisis nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam .............................................................141 xix
  20. 20. D. Pembahasan Hasil Analisis kontribusi Pendidikan Nilai dalam Novel Laskar Pelangi terhadap Pengembangan Pendidikan Islam ......158BAB VI PENUTUP ......................................................................................162 A. Kesimpulan ...............................................................................162 B. Saran ..........................................................................................165DAFTAR PUSTAKALAMPIRAN-LAMPIRAN xx
  21. 21. ABSTRAKIfa, Nurul, Lahir Sari. Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pendidikan Islam(Studi Analisis Novel Laskar Pelangi). Skripsi. Jurusan Pendidikan Agama Islam,Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri Malang. Pembimbing Drs. TriyoSupriyatno, M. Ag. Rendahnya mutu Pendidikan Nasional disebabkan oleh kelemahanpendidikan dalam membekali kemampuan akademis kepada peserta didik. Lebihdari itu ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu kurangnya pendidikan nilaisecara bermakna. Hingga sekarang, dunia pendidikan masih diwarnai perilakusiswa membolos, berkelahi atau tawuran, mencuri dan menganiaya, hinggamengkonsumsi minuman keras dan narkotika. Bahkan sudah ada gejala peredaranadegan porno yang diperankan oleh para pelajar. Fenomena ini tentunya tidakakan terjadi apabila orang tua dan lembaga pendidikan berhasil mengajarkan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Novel Laskar Pelangi merupakan salah satu novel yang isi pesannyamengandung unsur pendidikan nilai. Disinilah, penulis tergugah ingin menelitidan menganalisis novel ini. Adapun judul penelitian ini adalah Pendidikan NilaiDalam Pengembangan Pedidikan Islam (Studi Analisis Novel Laskar Pelangi).Sedangkan rumusan masalahnya yaitu nilai-nilai apa saja yang terkandung dalamnovel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, bagaimana metode pengajaran nilaiyang terkandung dalam novel Laskar Pelangi, nilai-nilai apa saja terkandungdalam novel Laskar Pelangi yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam,dan apa kontribusi pendidikan nilai dalam novel Laskar Pelangi terhadappengembangan pendidikan Islam. Dalam prakteknya, penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptifkualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif yangberupa kata-kata tertulis dan bukan angka. Dengan demikian, laporan penelitianakan berisi kutipan-kutipan data untuk memberikan gambaran penyajian laporantersebut. Kutipan-kutipan data yang disajikan dalam penelitian ini ditegaskandalam bentuk lampiran tabel pemaparan data yang diperoleh dari pemahamanmakna yang terdapat pada setiap kata, kalimat, paragraf, teks. Dari pemahamanmakna secara keseluruhan, dilakukan penafsiran dan pengkategorian data yangterkandung dalam novel Laskar Pelangi. Penggumpulan data penelitian ini menggunakan metode denganmenggunakan analisis konten (Content Analysis). Maka kegiatan yang dilakukanadalah pemberian makna pada paparan bahasa berupa (1) paragraf-paragraf yangmengemban gagasan tentang Nilai-nilai yang terkandung dalam novel LaskarPelangi karya Andrea Hirata, (2) paragraf-paragraf yang mengandung gagasantentang metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel Laskar Pelangi, (3)paragraf-paragraf yang mengemban gagasan tentang nilai-nilai yang dapatdikembangkan dalam pendidikan Islam, dan (4) paragraf-paragraf yangmengemban gagasan tentang kontribusi pendidikan nilai dalam novel LaskarPelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam. Pemahaman dan analisis xxi
  22. 22. tersebut dilakukan melalui kegiatan membaca, menganalisis dan merekonstruksi.Dalam melakukan pemaknaan data peneliti harus memiliki dasar pengetahuan danpengalaman tentang klasifikasi pendidikan nilai, metode ngajar pendidikan nilai,nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan Islam dan kontribusi pendidikannilai dalam pengembangan pendidikan Islam sesuai acuan teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai yang terdapat dalam novelLaskar Pelangi karya Andrea Hirata terbagi menjadi tiga kalsifikasi yaitu nilaipersonal, nilai sosial, dan nilai estetika. Sedangkan metode pengajaran nilai yangterkandung dalam novel Laskar Pelangi adalah metode bercerita dan kisah.Kemudian nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam yangterdapat dalam novel Laskar Pelangi adalah nilai aqidah, nilai syariah dan nilaiakahlak atau budi peketi. Dan kontribusi pendidikan nilai dalam novel LaskarPelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam adalah memberikan kontribusiberupa konstruksi ideologi nilai-nilai Islam. Adanya konstruksi idelogi nilai-nilaiIslam tersebut, juga merupakan salah satu sumbangsi dalam meningkatkankualitas layanan pendidikan Islam untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas,yang berbekal pengetahuan, pribadi yang Islami, dan kompentensi ungul yangdibangun oleh seluruh sinergi positif. Oleh karena itu, menurut hemat penulis, nilai-nilai yang terdapat novelLaskar Pelangi baik nilai personal, nilai sosial, nilai seni, nilai aqidah, nilaisyariah, nilai akahlak (budi pekerti) merupakan nilai-nilai yang dapat ditanamkanatau diajarkan di setiap lembaga pendidikan. Namun secara khusus untuk nilaiaqidah, syariah, dan akahlak (budi pekerti) lebih sesuai jika dikembangkan padaPendidikan Islam, karena ketiga nilai tersebut merupakan pokok ajaran dalamIslam. Maka dari itu, pendidikan Islam memiliki peranan penting dalammengembangkan nilai-nilai tersebut, sebagai upaya untuk memanifestasikan ataumengejawantahkan nilai-nilai Islam, baik nilai-nilai ketuhanan maupun nilai-nilaikemanusiaan, melalui kegiatan pendidikan sebagaimana tercakup dalam praktikpendidikan Islam. Dan hal ini akan dapat membantu pengembangan pendidikanIslam untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan.Kata kunci: Novel Laskar Pelangi, Pendidikan Nilai, PengembanganPendidikan Islam xxii
  23. 23. BAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang Masalah Novel laskar pelangi merupakan sebuah produk karya sastra yang mencakup nilai-nilai karya cipta kreasi yang mengandung nilai-nilai keindahan. Nilai-nilai karya sastra tersebut bersumber dari kenyataan- kenyataan yang hidup dan selalu berkembang di masyarakat sebagai bentuk realitas yang objektif. Novel karya sastra yang ditulis oleh Andrea Hirata ini mengandung esensi yang didalamnya banyak memberikan representasi tentang pendidikan nilai. Dari representasi inilah, maka penulis merasa ingin melakukan penyelidikan (analisis) terhadap novel laskar pelangi. Adapun bagian isi novel yang menunjukkan hal itu adalah; Pak Harfan memberikan pelajaran pertama kepada sepuluh muridnya tentang keteguhan pendirian, tentang ketekunan, tentang keinginan kuat untuk mencapai cita-cita. Beliau meyakinkan sepuluh muridnya bahwa hidup bisa demikian bahagia dalam keterbatasan jika dimaknai dengan keikhlasan berkorban untuk sesama. Lalu beliau juga menyampaikan sebuah prinsip yang diam-diam menyelinap jauh ke dalam dada serta memberikan arah bagi murid-muridnya hingga dewasa, yaitu bahwa hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya1 Sejak kecil aku tertarik untuk menjadi pengamat kehidupan dan sekarang aku menemukan kenyataan yang mempesona dalam sosiologi lingkungan kami yang ironis. Disini ada sekolahku yang sederhana, para sahabatku yang melarat, orang Melayu yang terabaikan, juga ada orang staf dan sekolah PN yang glamor, serta PN Timah yang gemah rimpah dengan Gedong, tembok feodalistisnya. Semua elemen itu adalah perpustakaan berjalan yang memberiku pengetahuan baru setiap hari2 1 Andrea Hirata, Laskar Pelangi (Yogyakarta: PT Bentang Pustaka, 2005), hlm. 24 2 Ibid., hlm. 84 1
  24. 24. 2 Kutipan cerita di atas merupakan sekelumit representasi dari novel lasakar pelangi yang patut diteladani bagi manusia khususnya para tenaga pendidik dalam dunia pendidikan. Kutipan cerita di atas mengisyaratkan bahwa seorang guru dalam proses pembelajaran memiliki peran dan fungsi bukan hanya sebagai mentranformasikan knowledge, tetapi sekaligus juga membimbing dan mengajarkan kepada peserta didik agar menyadari nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan, melalui proses pertimbangan nilai yang tepat dan pembiasaan yang bertindak konsisten. Bimbingan dan pengajaran nilai-nilai inilah yang disebut sebagai pendidikan nilai.3 Pendidikan nilai secara bermakna sangat penting dalam menunjang mutu pendidikan. Saat ini rendahnya mutu Pendidikan Nasional tidak hanya disebabkan oleh kelemahan pendidikan dalam membekali kemampuan akademis kepada peserta didik. Lebih dari itu ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu kurangnya pendidikan nilai secara bermakna. Mengapa pendidikan nilai sangat diperlukan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka perlu mengetahui masalah-masalah yang terjadi dalam pendidikan. Adapun masalah yang dihadapi oleh pendidikan saat ini, betapa sekolah umum atau lainnya telah merebaknya kasus VCD purno yang dilakukan oknum mahasiswa Itenas Bandung menambah panjang daftar asusila yang dilakukan peserta didik, lalu muncul kasus yang serupa yang dilakukan para yunior mereka di tingkat SMP dan SMU. Di Jawa Barat ada beberapa siswa dan siswi SMU Negeri yang berbuat tidak senonoh di dalam kelas dengan 3 Rokhmat Mulyana, Mengartikulasikan Pendidikan Nilai (Bandung: Alfabeta, 2004),hlm. 119
  25. 25. 3 masih menggunakan seragam sekolah. Dalam kasus lain seorang anak SMP tega membunuh orang tuanya sendiri, di tempat lain seorang anak madrasah ibtidaiyah bunuh diri dengan alasan tidak sanggup membayar SPP, bahkan ada anak madrasah yang bunuh diri hanya karena baju seragam hari itu tidak bisa dipakai karena basah terkena hujan.4 Dalam kasus selanjutnya adalah praktik pendidikan sering dikesankan sebagai sederetan instruksi guru dan murid-muridnya. Apalagi dengan istilah yang sekarang sering digembar-gemborkan dalam dunia pendidikan yaitu sebagai pendidikan yang menciptakan manusia ”siap pakai”. Kata ini berarti menghasilakan tenaga-tenaga yang dibutuhkan dalam pengembangan dan persaingan bidang industri dan tegnologi. Memerhatikan secara kritis masalah ini, tampak bahwa manusia dipandang layaknya material atau komponen pendukung industri. Lembaga pendidikan sekedar mampu menjadi lembaga produksi penghasil material atau komponen dengan kualitas tertentu yang di tuntut pasar. Ironisnya, kenyataannya ini justru disambut antusias oleh banyak lembaga pendidikan.5 Saat sekarang ini, dunia pendidikan masih diwarnai perilaku siswa membolos, berkelahi atau tawuran, mencuri dan menganiaya, hingga mengkonsumsi minuman keras dan narkotika.6 4 Zaim Elmubarok, Membumikan Pendidikan Nilai Mengumpulkan yang Terserak,Menyambung yang Terputus, dan Menyatukan yang Tercerai (Bandung: Alfabeta, 2008), hlm.29 5 Ibid., hlm. 31 6 Tatik Rejeki, Konsep Pendidikan Nilai yang Menyenangkan (http:www.yahoo.com,diakses 26 Februari 2008)
  26. 26. 4 Disinilah proses penanaman pendidikan nilai sangat dibutuhkan dilembaga pendidikan yang bertujuan untuk membantu peserta didik agarmemahami, menyadari, mengalami nilai-nilai serta mampu menempatkannyasecara integral dalam kehidupan. Pendidikan nilai sangat erat hubungannya dengan pendidikan Islam.Pendidikan Islam memiliki peranan penting dalam mengimplementasikanpendidikan nilai sebagai suatu tindakan pendidikan. Value Education(pendidikan nilai) dilibatkan dalam setiap tindakan pendidikan, baik dalammemilih maupun dalam memutuskan setiap hal untuk kebutuhan belajar.Melalui pendidikan nilai, guru dapat mengevaluasi siswa, demikian pulasebaliknya, siswa dapat mengukur kadar nilai yang disajikan guru dalamproses pembelajaran. Singkat kata, dalam bentuk persepsi, sikap, keyakinan,dan tindakan manusia dalam pendidikan, nilai selalu disertakan. Bahkanmelaui nilai itulah manusia dapat bersikap kritis terhadap dampak-dampakyang ditimbulkan pendidikan. Untuk itu, selain diposisikan sebagai muatanpendidikan, nilai juga dapat dijadikan sebagai media kritik bagi setiap orangyang berkepentingan dengan pendidikan dalam mengevaluasi proses dan hasilpendidikan. Dari penjelasan tersebut jelaslah bahwa dengan adanyapenanaman pendidikan nilai dalam lembaga Pendidikan Islam, maka akandapat membantu pengembangan pendidikan Islam khususnya dalam prosesdan tujuan pendidikan Islam yang dicita-citakan. Dari latar belakang di atas, maka penulis mengangkat skripsi yangberjudul ”Pendidikan Nilai Dalam Pengembangan Pendidikan Islam
  27. 27. 5 (Studi Analisis Novel Laskar Pelangi)”, dengan harapan novel ini mampu menjawab keterpurukan pendidikan Islam saat sekarang dan membawa pendidikan Islam kelevel yang lebih baik dan mampu memberikan kontribusi dalam pengembangan pendidikan Islam.B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas penulis formulasikan dalam rumusan masalah sebagai berikut: 1. Nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam novel laskar pelangi karya Andrea Hirata ? 2. Bagaimana metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi? 3. Nilai-nilai apa saja terkandung dalam novel laskar pelangi yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam ? 4. Apa kontribusi pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam?C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian di dalam karya ilmiah merupakan target yang hendak dicapai melalui serangkaian aktivitas penelitian, karena segala sesuatu yang diusahakan pasti mempunyai tujuan tertentu sesuai dengan permasalahannya. Sesuai dengan rumusan masalah yang telah disebutkan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk: 1. Mendiskripsikan nilai-nilai dalam novel laskar pelangi karya Andrea Hirata,
  28. 28. 6 2. Mendiskripsikan metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi, 3. Mendiskripsikan nilai-nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam, dan 4. Mendiskripsikan kontribusi pendidikan nilai dalam novel ”laskar pelangi” tehadap Pengembangan Pendidikan Islam.D. Manfaat Penelitian Setiap kegiatan penelitian pasti mempunyai nilai kemanfaatan bagi peneliti maupun orang lain. Karena ini kegiatan ilmiah yang dilakukan secara logis dan sistematis, agar penulisan ini harapkan bermanfaat: 1. Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan untuk mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi, metode pengajaran nilai yang terkandung dalam laskar pelangi, nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam dan kontribusi pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam. 2. Secara praktis, hasil penelitian diharapkan bermanfaat bagi: a. Pendidikan Islam, diharapkan pendidikan nilai menjadi bahan rujukan dalam praktik sebagai pendukung dalam proses dan tujuan pengembangan pendidikan Islam. b. Guru Pendidikan Agama Islam (PAI), diharapkan guru dapat merealisasikan penanaman pendidikan nilai semisal guru bertugas bukan hanya mengajar, tetapi lebih utama sebagai pendidik yang di pundaknya digantungkan harapan untuk mencetak generasi bangsa
  29. 29. 7 yang cerdas, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia. Dengan demikian, pendidikan nilai bukan hanya dapat mengembalikan filosofi dasar pendidikan Indonesia, namun juga karena Indonesia sebagai negara Pancasila, dapat kembali menumbuhkan nilai-nilai luhur yang menjadi ciri kepribadian bangsa kita, seperti keramahtamahan, kesopanan, gotong royong, tepa selira, dan lain-lain. Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya menyediakan manusia berintelektual tinggi, namun juga manusia yang merasa (peka) terhadap kondisi sekitarnya dan mampu mengatasi situasi krisis yang rumit sekali pun. c. Peserta didik, pendidikan nilai untuk membekali individu menjadi manusia yang professional yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, mandiri, cakap, dan menjadi seseorang yang bertanggung jawab. d. Bagi peneliti yang lain, untuk mengembangkan pengetahuan yang terkait dengan nilai dan sebagai bekal peneliti apabila sudah terjun di lapangan agar dapat membantu lembaga pendidikan Islam yang erat kaitannya dengan praktik pendidikan nilai.E. Ruang Lingkup Penelitian Pendidikan nilai merupakan masalah yang mendasar dan urgen dalam proses dan tujuan pembelajaran di dunia pendidikan, pembahasan masalah pendidikan nilai sangat kompleks sekali, maka dari itu untuk lebih mensistematiskan pembahasan masalah ini tidak melebar terlalu jauh dari
  30. 30. 8 sasaran sehingga akan memudahkan pembahasan dan penyusunan laporan penelitian ini. Adapun ruang lingkup pembahasan pada penelitian ini adalah (1) Nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam novel laskar pelangi karya Andrea Hirata? (2) Bagaimana metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi? (3) Nilai-Nilai apa saja yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam dalam novel laskar pelangi? dan (4) Apa kontribusi pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam? Adapun dalam pembahasan apabila ada permasalahan diluar tersebut di atas maka sifatnya hanyalah sebagai penyempurna sehingga pembahasan ini sampai pada sasaran yang dituju.E. Definisi Oprasional Agar pembahasan lebih fokus, maka perlu dicantumkan penjelasan istilah dari skripsi berjudul: Pendidikan Nilai dalam Pengembangan Pendidikan Islam (Studi Analisis Novel Laskar Pelangi), yakni: 1. Analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan dan sebagainya) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya atau Kegiatan mengenali, mengidentifikasi, memberikan tanda-penanda dan sebagainya berdasarkan pemikiran yang mendalam pada sebuah teks atau keadaan, 2. Novel adalah karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang disekelilingnya dan menonjolkan sifat dan watak setiap pelaku,
  31. 31. 9 3. Pendidikan Nilai adalah sebagai usaha untuk membimbing peserta didik dalam memahami, mengalami dan mengamalkan nilai-nilai ilmiah, kewarganegaraan dan sosial yang tidak secara khusus dipusatkan pada pandangan agama tertentu atau penanaman dan pengembangan nilai-nilai dalam diri seseorang, dan 4. Pengembangan Pendidikan Islam merupakan suatu proses, cara atau perbuatan mengembangkan pendidikan Islam melalui penanaman nilai- nilai religi, estetika, sosial dan personal dengan tujuan untuk mewujudkan perubahan tingkah laku peserta didik yang Islami, terampil, kreatif, berjiwa sosial, dan mandiri dengan bekal nilai personal.F. Sistematika Pembahasan Untuk mempermudah pembahasan dalam skripsi ini, penulis memperinci dalam sistematika pembahasan sebagai berikut: • BAB I : Pendahuluan, penulis membahas pokok-pokok pikiran untuk memberikan gambaran terhadap inti pembahasan, pokok pikiran tersebut masih bersifat global. Pada bab ini terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan istilah; • BAB II : Memaparkan tentang landasan teoritis yang berkaitan dengan novel, pendidikan nilai, dan pengembangan pendidikan Islam; • BAB III : Memaparkan tentang metode penelitian, yang meliputi tentang rancangan penelitian, data dan sumber data, teknik pengumpulan data, instrument penelitian dan analisis data;
  32. 32. 10• BAB VI : Paparan data penelitian novel laskar pelangi yang meliputi; deskripsi nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam novel laskar pelangi karya Andrea Hirata, deskripsi metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi, deskripsi nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam, dan kontribusi pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam;• BAB V : Pembahasan hasil analisis penelitian yang meliputi nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam novel laskar pelangi karya Andrea Hirata, metode pengajaran nilai yang terkandung dalam novel laskar pelangi, nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam pendidikan Islam, dan kontribusi pendidikan nilai dalam novel laskar pelangi terhadap pengembangan pendidikan Islam; • BAB VI : Penutup, pada bab ini berisikan tentang kesimpulan dari pembahasan dan saran.
  33. 33. BAB II KAJIAN PUSTAKAA. Novel 1. Pengertian Novel Novel berasal dari bahasa Italia yaitu Novella, yang secara harfiah berarti sebuah barang baru yang kecil dan kemudian diartikan sebagai cerita pendek dalam bentuk prosa. Dalam The American Colage, dikatakan bahwa novel adalah suatu cerita fiksi dengan panjang tertentu, melukiskan para tokoh, gerak serta adegan kehidupan nyata representative dalam suatu alur atau suatu kehidupan yang agak kacau atau kusut.7 Sumardjo memberikan pengertian novel sebagai cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas, di sini berkaitan dengan fisik novel maupun unsur yang ada dalam novel tersebut, misalnya saja plot yang kompleks, keaneka ragaman karakter dan cerita yang beragam. Sedangkan menurut Husnan, novel adalah suatu karangan atau karya sastra yang lebih panjang daripada cerpen atau lebih pendek daripada roman dan kejadian-kejadian yang digambarkan melahirkan suatu konflik jiwa dan mengakibatkan suatu perubahan nasib.8 Viginia Woff mengatakan bahwa, suatu prosa atau novel adalah sebuah eksplorasi atau suatu kronik penghidupan, merenungkan dan 7 Rini Wiediastutik S, Analisis Nilai-Nilai Humanistik Tokoh dalam Novel Kuncup Berseri Karya NH. Dini, Skripsi, (FKIP UMM, 2005), hlm. 9 8 Ibid.. 11
  34. 34. 12 melukiskan dalam bentuk yang tertentu, pengaruh, ikatan hasil, kehancuran, atau tercapainya gerak gerik manusia.9 Novel merupakan struktur yang bermakna. Novel tidak sekedar merupakan serangkaian tulisan yang menggairahkan ketika di baca, tetapi merupakan struktur pikiran yang tersusun dari unsur-unsur padu.10 Novel adalah sebuah cerita fiksi yang jumlah halamannya mencapai berpuluh-puluh, ratusan, atau beratus-ratus, seperti: serial Harry Potter, Load of The Ring, Eragon atau Ranggamorfosa Sang Penakhluk Istana.11 Novel merupakan menceritakan suatu peristiwa pada rentang waktu yang cukup panjang dengan beragam karakter yang diperankan oleh tokoh.12 Dari beberapa pengertian novel di atas, maka dapat disimpulkan bahwa novel adalah suatu cerita panjang dengan berbagai karakter yang mengisahkan kehidupan manusia, mulai dari konflik-konflik dan permasalahannya secara rinci, detail, dan kompleks dengan proses berfikir yang terstruktur. 2. Karakteristik Novel Menurut Watson, karakteristik novel Indonesia adalah novel-novel yang dimulai tahun 1920, yaitu novel yang diterbitkan oleh Balai Pustaka. Menurutnya novel Indonesia tidak muncul begitu saja, melainkan melalui 9 Hardjana, Cara Mudah Mengarang Cerita Anak-anak (Jakarta: PT Grasindo, 2006), hlm.13 10 Sugihastuti dan Suhartono, Kritik sastra Feminis Teori dan Aplikasinya (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2002), hlm. 43 11 Burhan Nurgiantoro, Sastra Anak Pengantar Pemahaman Dunia Anak (Yogyakarta:Gadjah Mada University Press, 2005), hlm. 287 12 Ameliawati, Analisis Instink Pada Tokoh Utama Novel Ronggeng Dukuh Paruk KaryaAhmad Tohari, Skripsi, (FKIP UMM, 2006), hlm. 16
  35. 35. 13 proses panjang yang terjadi sebelumnya, yaitu sejak perkembangan komunikasi di Jawa dan Sumatera di pertengahan abad XIX.13 Karakteristik novel Indonesia ada sedikit perbedaan antara roman, novel dan cerpen. Ada juga yang disebut novellet. Dalam roman biasanya kisah berawal dari tokoh lahir sampai dewasa kemudian meninggal, roman biasanya mengikuti aliran romantik. Sedangkan novel berdasarkan realisme, dan di dalam novel penggambaran tokoh biasanya merupakan sebagian dari hidupnya yang dapat berubah dari keadaan sebelumnya.14 Berbeda dengan cerita pendek yang tidak berkepentingan pada kesempurnaan cerita atau keutuhan sebuah cerita, tetapi lebih berkepentingan pada impresi atau kesan. Karakteristik novel Indonesia meliputi empat periode: (1) Angkatan Balai Pustaka, (2) Angkatan Pujangga Baru, (3) Angkatan 45, dan (4) Angkatan Sesudah 45. 1. Angkatan Balai Pustaka, pujangga yang termasuk angkatan Balai Pustaka beserta karangannya: Marah Rusli dengan salah satu karyanya yang berjudul Siti Nurbaya, keinginan Marah Rusli terhadap novel ini adalah ia ingin merombak adat yang berlaku pada masa itu dan dianggap sebagai pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia.15 2. Angkatan Pujangga Baru, tokoh pujangga baru dan karyanya: Sutan Takdir Alisjahbana dengan salah satu karyanya yang berjudul Layar 13 Faruk, Pengantar Sosiologi Sastra, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), hlm. 87. 14 Yandianto, Apresiasi Karya Sastra dan Pujangga Indonesia (Bandung: M2S, 2004),hlm. 160. 15 Ibid., hlm. 17.
  36. 36. 14 Terkembang, keinginan Sutan Takdir Alisjahbana terhadap novel ini adalah mendambakan pembaharuan pada corak kebudayaan bangsanya. 3. Angkatan 45, sastrawan dalam angkatan 45 dan karyanya yakni: Idrus dengan salah satu karyanya yang berjudul Aki, keinginan Idrus terhadap novelnya adalah ia berusaha menampilkan topik lain yang lebih luas dan mendasar daripada hanya soal cinta, usaha yang disertai keyakinan penuh akan menghasilkan apa yang dicita-citakan. 4. Angkatan Sesudah 45, setelah memulai proses yang cukup rumit akhirnya didapatkan satu nama sastrawan yang termasuk kelompok Angkatan Sesudah 45 atau Angkatan 66 ini yakni Montingo Busye dengan salah satu karyanya yang berjudul Hari Ini Tak Ada Cinta, keinginan pengarang terhadap novel ini adalah hendaknya kita bertanggung jawab akan merugikan orang lain.3. Ciri-ciri Novel Sebagai salah satu hasil karya sastra, novel memiliki ciri khas tersendiri bila dibandingkan dengan karya sastra yang lain. Dari segi jumlah kata ataupun kalimat, novel lebih mengandung banyak kata dan kalimat sehingga dalam proses pemaknaannya relative jauh lebih mudah daripada memaknai sebuah puisi yang cenderung mengandung beragam bahasa kias. Berkaitan dengan masalah tersebut, Sumardjo memberikan ciri-ciri novel sebagai berikut: (1) Plot sebuah novel berbentuk tubuh cerita, dirangkai dengan plot-plot kecil yang lain, karena struktur bentuk yang luas ini maka novel dapat bercerita panjang dengan persoalan yang luas, (2)
  37. 37. 15Tema dalam sebuah novel terdapat tema utama dan pendukung, sehingganovel mencakup semua persoalan, (3) Dari segi karakter, dalam novelterdapat penggambaran karakter yang beragam dari tokoh-tokoh hinggaterjalin sebuah cerita yang menarik.16 Adapun menurut Tarigan ciri-ciri novel diklasifikasikan sebagaiberikut:a. Jumlah kata, novel jumlah katanya mencapai 35.000 buah;b. Jumlah halaman, novel mencapai maksimal 100 halaman kuarto;c. Jumlah waktu, waktu rata-rata yang digunakan untuk membaca novel paling pendek diperlukan sekitar 2 jam (120 menit);d. Novel bergantung pada pelaku dan mungkin lebih dari satu pelaku;e. Novel menyajikan lebih dari satu impresi (kesan);f. Novel menyajikan lebih dari satu efek;g. Novel meyajikan lebih dari satu emosi;h. Novel memiliki skala yang lebih luas;i. Seleksi pada novel lebih ketat;j. Kelajuan dalam novel lebih lambat;k. Dalam novel unsur-unsur kepadatan dan intensitas tidak begitu diutamakan.17 Selain mempunyai ciri-ciri, novel juga mempunyai beberapa nilaiyang terkandung di dalamnya, antara lain:1) Nilai moral yaitu nilai baik dan buruk yang terkandung dalam novel;16 Rini Wiediastutik S., op.cit., hlm. 1017 Ibid., hlm. 10-11
  38. 38. 16 2) Nilai religius yaitu nilai yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan tokoh novel; 3) Nilai kemanusiaan yaitu nilai tentang tindakan tokoh dan kesesuaiannya dengan hak asasi manusia; 4) Nilai kultural yaitu nilai yang berkaitan dengan budaya dalam novel.18 4. Unsur-unsur Novel Unsur-unsur novel meliputi beberapa hal yaitu: (a) tokoh, (b) latar, (c) alur atau plot, dan (d) tema. a) Tokoh dan Penokohan 1) Tokoh Tokoh merupakan para pelaku yang terdapat dalam sebuah fiksi. Tokoh dalam fiksi ialah ciptaan pengarang, meskipun dapat juga merupakan gambaran dari orang-orang yang hidup di alam nyata. Oleh karena itu, dalam sebuah fiksi tokoh hendaknya dihadirkan secara ilmiah. Dalam arti tokoh-tokoh itu memiliki “kehidupan” atau berciri “hidup” atau memiliki derajat lifelikeness.19 Dalam buku “Pengantar Apresiasi Karya Sastra”, tokoh didefinisikan orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Karena peristiwa dalam karya sastra (novel) seperti halnya peristiwa dalam kehidupan sehari-hari, 18 Nurdjanah Kafrawi, dkk, Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia 3 (Jakarta: PTGrasindo, 2002), hlm. 46 19 Wiyatmi, Pengantar Kajian Sastra (Yogyakarta: Pustaka, 2006), hlm. 30
  39. 39. 17 selalu diemban oleh tokoh atau pelaku-pelaku tertentu. Para tokoh yang terdapat dalam suatu cerita memiliki peranan yang berbeda-beda. Seorang tokoh yang memiliki peranan penting dalam suatu cerita disebut dengan tokoh utama. Sedangkan tokoh yang tidak memiliki peranan penting karena pemunculannya hanya melengkapi saja atau sebagai pendukung pelaku utama disebut tokoh pembantu.20 Seorang tokoh dalam karya sastra merupakan imaji penulis dalam membentuk personalitas tertentu dalam cerita. Berhasil tidaknya suatu penokohan akan mempengaruhi cerita si pembaca. Sebuah penokohan atau perwatakan harus menampilkan tokoh dengan karakter berkelakuan seperti dalam kehidupan sebenarnya. 2) Penokohan Penokohan sangat erat hubungannya dengan seorang tokoh dalam karya sastra. Penyajian watak dan penciptaan citra tokoh ini disebut penokohan. Cara paling sederhana dalam penampilan tokoh adalah pemberian nama. Setiap nama memiliki daya yang menghidupkan, menjiwai, dan mengindividualisasikan seorang tokoh. Aminuddin mengemukakan bahwa pengetahuan tentang teknik penampilan tokoh dalam sebuah proses fiksi berguna sebagai bekal menganalisis tokoh. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi tokoh-tokoh dalam cerita, yaitu melalui (1) tuturan pengarang terhadap karakteristik pelakunya, (2) gambaran yang 20 Aminuddin, Pengantar Apresiasi Karya Sastra (Bandung: PT. Sinar Baru Algensindo.2002), hlm. 80
  40. 40. 18 diberikan pengarang terhadap lingkungan kehidupan pelaku maupun cara berpakaian, (3) cara berbicara tokoh tentang diri sendiri, (4) pelaku tokoh, (5) jalan pikiran tokoh, (6) bagaimana tokoh-tokoh lain membicarakannya, (7) bagaimana cara tokoh lain mereaksi tokoh, dan (8) bagaiamana cara tokoh mereaksi tokoh lain.21 Berdasarkan pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa dalam mengenali penokohan dalam suatu cerita pada karya sastra dapat dilakukan lewat pengenalan karakteristik tokoh, tingkah laku tokoh, jalan pikiran tokoh, maupun dialog-dialog yang terdapat dalam sebuah karya sastra (novel).b) Latar Karya fiksi pada hakekatnya berhadapan dengan sebuah dunia yang sudah dilengkapi dengan tokoh penghuni dan permasalahannya, sebagai halnya kehidupan manusia di dunia nyata. Dengan kata lain, sebuah dunia, di samping membutuhkan tokoh, cerita dan plot juga perlu latar, karena latar disebut juga sebagai landas tumpu, yang tertuju pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Sedangkan Leo Haliman dan Frederick menjelaskan bahwa setting dalam karya sastra (novel) bukan hanya tempat, waktu, peristiwa, suasana benda-benda dalam lingkungan tertentu, melainkan juga dapat berupa suasana yang berhubungan dengan sikap, jalan pikiran, prasangka, maupun gaya hidup21 Ameliawati, op.cit., hlm. 19-20
  41. 41. 19 suatu masyarakat dalam menanggapi suatu permasalahan tertentu.22 Adapun hubungan latar dengan penokohan, misalnya pengarang mau menampilkan tokoh seorang petani yang sederhana dan buta huruf, maka tidak mungkin petani itu diberi setting kota Jakarta, perkantoran atau restoran, begitu juga seorang tokoh yang digambarkan berwatak alim tidak mungkin diberi setting kamar yang penuh dengan gambar botol minuman keras. Seperti yang telah dipaparkan di atas, latar juga mampu menuansakan suasana-suasana tertentu. Suasana tertentu akibat penataan setting oleh pengarangnya itu lebih lanjut juga akan berhubungan dengan suasana penuturan yang terdapat dalam suatu cerita. Latar dalam prosa atau fiksi dibedakan menjadi empat, yaitu: 1) Latar alam (geographic setting) adalah latar yang melukiskan tempat atau lokasi terjadinya peristiwa dalam alam mini, misalnya: di desa, di kota, di pegunungan, dll; 2) Latar waktu (temporal setting) adalah latar yang melukiskan kapan peristiwa itu terjadi, misalnya: tahun berapa, pada musim apa, senja hari, dan akhir bulan; 3) Latar sosial (social setting) adalah latar yang melukiskan dalam lingkungan mana peristiwa itu terjadi, misalnya: lingkungan pelayaran, lingkungan buruh pabrik, dll;22 Ibid., hlm. 17
  42. 42. 20 4) Latar ruang yaitu latar yang melukiskan dalam ruang yang bagaimana peristiwa itu berlangsung, misalnya: dalam kamar, aula, toko, dan lain-lain.23 Berdasarkan pada pengertian latar di atas, tokoh dan setting merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Hal itu disebabkan karena tokoh dan latar dapat menentukan kelogisan dan diterimanya cerita oleh pembaca. Penataan setting yang tepat dan sesuai dengan kepribadian tokoh dan juga cerita disajikan akan menimbulkan kesan bahwa karya sastra tersebut adalah karya yang logis. c) Alur atau Plot Istilah alur sama dengan istilah plot atau struktur cerita. Alur atau plot adalah rangkaian peristiwa yang saling berhubungan dan membentuk kesatuan cerita.24 Aminuddin mengatakan bahwa alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh pelaku dalam suatu cerita. Menurut Adiwardoyo, alur dapat dibagi berdasarkan kategori kausal (sebab- akibat) dan kondisinya. Berdasarkan kausalnya alur dibagi menjadi tiga, yaitu: 1) Alur urutan (episodik), dikatakan alur urutan apabila peristiwa- peristiwa yang ada disusun berdasarkan urutan sebab-akibat, kronologis (sesuai dengan urutan waktu), tempat, dan hierarkis (berurut-urut); 23 Rini Wiediastutik S. op.cit., hlm. 14-15 24 Dawud, dkk, Bahasa dan Sastra Indonesia Jilid I untuk SMA Kelas X (Jakarta:Erlangga, 2004), hlm. 245
  43. 43. 21 2) Alur mundur (flashback), sebuah cerita dikatakan beralur mundur apabila peristiwa-peristiwa yang ada disusun berdasarkan akibat- sebab, waktu kini ke waktu lampau; 3) Alur campuran, dikatakan sebuah cerita ber-alurkan campuran apabila peristiwa-peristiwa yang ada disusun secara campuran antara sebab akibat waktu kini ke waktu lampau atau waktu lampau ke waktu kini.25 Berdasarkan kondisinya, alur dibedakan menjadi empat, yaitu: 1) Alur buka yaitu rangkaian peristiwa yang dianggap sebagai kondisi mula yang akan dilanjutkan dengan kondisi berikutnya; 2) Alur tengah yaitu rangkaian peristiwa yang dianggap sebagai kondisi yang mulai bergerak ke arah kondisi puncak; 3) Alur puncak yaitu rangkaian peristiwa yang dianggap sebagai klimaks dari sekian banyak rangkaian peristiwa yang ada pada cerita itu; 4) Alur tutup yaitu rangkaian peristiwa yang dianggap sebagai kondisi yang mulai bergerak kea rah penyelesaian atau pemecahan dari kondisi klimaks.26d) Tema Tema merupakan ide, gagasan, pandangan hidup pengarang yang melatar belakangi ciptaan karya sastra. Karena sastra merupakan refleksi kehidupan masyarakat, maka tema yang diungkapkan dalam karya sastra bisa sangat beragam. Tema bisa berupa moral, etika, agama, nilai, social25 Rini Wiediastutik S. op.cit., hlm. 1326 Ibid., hlm. 14
  44. 44. 22 budaya, teknologi, tradisi yang terkait erat dengan masyarakat kehidupan. Namun, tema bisa berupa pandangan pengarang, ide atau keinginan pengarang dalam menyiasati persoalan yang muncul.27 Tema juga merupakan gagasan pokok pikiran yang digunakan pengarang untuk mengembangkan cerita. Tema berkaitan dengan makna dan tujuan pemaparan karya fiksi oleh pengarangnya. Adiwardoyo mengatakan tema adalah gagasan sentral pengarang yang mendasari penyusunan suatu cerita dan sekaligus menjadi sasaran dari cerita itu.28 Menurut Nurgiyantoro, tema dibedakan menjadi dua bagian yaitu tema utama yang disebut tema mayor, yang artinya makna pokok yang menjadi dasar atau gagasan dasar umum karya itu. Tema mayor ditentukan dengan cara menentukan persoalan yang paling menonjol, yang paling banyak konflik dan waktu penceritaannya. Sedangkan tema tambahan disebut tema minor, merupakan tema yang kedua yaitu makna yang hanya terdapat pada bagian-bagian tertentu cerita dan diidentifikasikan sebagai makna bagian atau makna tambahan.29 Oleh sebab itu, dalam menentukan sebuah tema harus memahami terlebih dahulu bagian-bagian yang mendukung sebuah cerita, baik latar, tokoh dan penokohan, alur atau persoalan yang dibicarakan. Apabila pembaca karya sastra telah dapat menentukan dan menemukan tema dari 27 Zainuddin Fananie, Telaah Sastra (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2000),hlm. 84 28 Rini Wiediastutik S., op.cit., hlm. 15 29 Ibid..
  45. 45. 23 sebuah karya sastra, maka pembaca tersebut telah mengetahui tujuan pengarang dalam sebuah cerita yang telah dibuatnya.5. Bentuk-bentuk Tulisan Novel Ada banyak bentuk-bentuk tulisan dalam sebuah cerita. Salah satunya dapat dilihat berdasarkan penggolongan dalam cara penyajian dan tujuan penyampaiannya. Dan bentuk tulisan sendiri meliputi, deskripsi, eksposisi, narasi, persuasi dan argumentasi. a. Deskripsi Deskripsi adalah bentuk tulisan yang bertujuan memperluas pengetahuan dan pengalaman pembaca dengan jalan melukiskan hakikat objek yang sebenarnya. Dalam tulisan deskripsi, penulis tidak boleh mencampuradukkan keadaan yang sebenarnya dengan interpretasinya sendiri. b. Eksposisi Di tinjau dari asal katanya, eksposisi berarti membuka dan memulai. Bahkan ada yang mengatakan eksposition means explanation (eksposisi adalah penjelasan). Ini berarti tulisan eksposisi berusaha untuk memberitahu, mengupas, menguraikan atau menerangkan sesuatu. Pada dasarnya eksposisi berusaha menjelaskan suatu prosedur atau proses, memberikan definisi, menerangkan, menjelaskan, menafsirkan gagasan, menerangkan bagan atau table, atau mengulas sesuatu. Biasanya, tulisan eksposisi sering ditemukan bersama-sama dengan bentuk tulisan deskripsi. Seorang yang menulis eksposisi berusaha
  46. 46. 24 memberitahukan pembacanya agar pembaca semakin luas pengetahuannya tentang suatu hal.c. Narasi Narasi merupakan bentuk tulisan yang berusaha menciptakan, mengisahkan, merangkaikan tindak-tanduk perbuatan manusia dalam sebuah peristiwa secara kronologis atau yang berlangsung dalam suatu kesatuan waktu tertentu. Narasi biasanya ditulis berdasarkan rekaan atau imajinasi. Namun demikian, narasi yang ditulis juga bisa ditulis berdasarkan pengalaman pribadi penulis, pengamatan atau wawancara. Narasi pada umumnya merupakan himpunan peristiwa yang disusun berdasarkan urutan waktu atau urutan kejadian. Dalam tulisan narasi, selalu ada tokoh-tokoh yang terlibat dalam suatu atau berbagai peristiwa yang diceritakan. Meskipun berdasarkan fakta imajinasi penulis dalam bercerita tetap terkesan kuat sekali. Melalui narasi, seorang penulis memberitahukan orang lain dengan sebuah cerita. Sebab, narasi sering diartikan juga dengan cerita. Sebuah cerita adalah sebuah penulisan yang mempunyai karakter, setting, waktu, masalah, mencoba untuk memecahkan masalah dan memberi solusi dari masalah itu.d. Argumentasi Tulisan argumentasi biasanya bertujuan untuk meyakinkan pembaca, termasuk membuktikan pendapat atau pendirian dirinya bisa
  47. 47. 25 juga membujuk pembaca agar pendapat penulis bisa diterima. Bentuk argumentasi dikembangkan untuk memberikan penjelasan dan fakta- fakta yang tepat terhadap apa yang dikemukakan yang sangat dibutuhkan dalam tulisan argumentatif adalah data penunjang yang cukup, logika yang baik dalam penulisan dan uaraian yang runtut. Berikut ini adalah tugas dari penulis argumentatif: 1. Harus mengandung kebenaran untuk mengubah sikap dan keyakinan orang mengenai topik yang akan diargumentasikan; 2. Berusaha untuk menghindari setiap istilah yang menimbulkan prasangka tertentu; 3. Penulis argumentatif berusaha untuk menghilangkan ketidaksepakatan; 4. Menetapkan secara tepat titik ketidaksamaan yang di argumentasikan.30e. Persuasi Pesuasi berarti membujuk atau meyakinkan. Goris Keraf pernah mengatakan, persuasi bertujuan meyakinkan seseorang agar melakukan sesuatu yang dikehendaki penulis. Mereka yang menerima persuasi harus dapat keyakinan, bahwa keputusan yang diambilnya merupakan keputusan yang benar, bijaksana dan dilakukan tanpa paksa. Melalui persuasi, seorang penulis mencoba mengubah pandangan pembaca tentang sebuah permasalahan tertentu. Penulis30 Nurudin, Dasar-dasar Penulisan (Malang : UMM Press, 2007), hlm. 79
  48. 48. 26 mempersembahkan fakta dan opini yang bisa didapatkan pembacanya untuk mengerti menggapai sesuatu itu adalah benar, salah atau diantara keduanya. Di samping itu, penulis persuasi harus bisa menampilkan fakta- fakta agar apa yang diinginkannya diyakini pembaca, dan pembaca mau melakukan sesuai maksud penulis. Persuasi biasanya akan memberikan penekanan pada pemilihan kata yang berpengaruh kuat terhadap emosi atau perasaan orang lain.5. Peran Novel Setidak-tidaknya sudah seribu tahun sastra menduduki fungsinya yang penting dalam masyarakat Indonesia. Sastra dibaca oleh para raja dan bangsawan, serta kaum terpelajar pada zamannya. Sejak dahulu sastra menduduki fungsi intelektual dalam kehidupan masyarakat. Pentingnya kedudukan sastra dalam masyarakat Indonesia lama, disebabkan oleh fokus budaya mereka pada unsur agama dan seni. Sastra Jawa Kuno malah menduduki fungsi religio-magis, pada zaman Islam, sastra digunakan para raja untuk memberikan ajaran rohani kepada rakyatnya.31 Jadi, pada zaman dahulu sastra mempunyai fungsi yang sangat penting dalam masyarakat Indonesia. Akan tetapi, fungsi ini mulai tergeser dengan masuknya kebudayaan barat ke Indonesia.32 Beberapa fungsi sastra di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa peran novel dalam masyarakat juga sangat penting, karena novel bukan saja 31 Jakob Sumardjo, Sastra dan Masa (Bandung: ITB, 1995), hlm. 6 32 Ibid..
  49. 49. 27 menampilkan sebuah wacana kepada masyarakat, akan tetapi novel juga sangat berperan terhadap perkembangan masyarakat, terlihat pada pesan dari seorang penulis atau sastrawan dapat dikatakan sebagai pejuang moral karena mereka berupaya agar pembaca dapat mengetahui dan memahami apa yang ada dalam alur cerita novel tersebut sehingga dapat menggugah perasaan si pembaca.B. Konsep Pendidikan Nilai 1. Pengertian Definisi dan Orientasi Pendidikan Nilai Pendidikan nilai dapat dimulai dari pemahaman tentang definisi dan tujuannya. Definisi dapat memberikan petunjuk pada pemaknaan istilah pendidikan nilai, sedangkan tujuan dapat memberikan kejelasan tentang cita-cita dan arah yang dituju oleh pendidikan nilai. a. Definisi Pendidikan Nilai Pada dasarnya, pendidikan nilai dirumuskan dari dua pengertian dasar yang terkandung dalam istilah pendidikan dan istilah nilai. Ketika kedua istilah itu disatukan, arti keduanya menyatu dalam definisi pendidikan nilai. Namun karena arti pendidikan dan arti nilai dapat dimaknai berbeda, definisi nilai pun dapat beragam, tergantung pada tekanan dan rumusan yang diberikan pada kedua istilah itu. Seperti dikemukakan oleh Sastrapratedja (Kaswardi, 1993), yang dimaksud dengan pendidikan nilai adalah penanaman dan pengembangan pada diri seseorang. Dalam pengertian yang hampir sama Mardiatmadja (1986) mendefinisikan pendidikan nilai sebagai bantuan terhadap peserta didik agar menyadari dan mengalami niali-nilai serta menempatkannya secara integral dalam keseluruhan hidupnya. Dua ahli Pendidikan nilai itu memiliki pendangan yang sama bahwa pendidikan nilai tidak hanya
  50. 50. 28 merupakan program khusus yang diajarkan melalui sejumlah mata pelajaran, tetapi mencakup pula keseluruhan proses pendidikan33 Dan dalam pengertian lain, pendidikan nilai ialah penanaman dan pengembangan nilai-nilai dalam diri seseorang. Pendidikan nilai tidak harus merupakan satu program atau pelajaran khusus, seperti pelajaran menggambar atau bahasa inggris, tetapi lebih merupakan suatu dimensi dari seluruh usaha pendidikan34 Sementara itu, dalam laporan Nasional Recource Center For Value Education, pendidikan nilai di negara India didefinisikan sebagai usaha untuk membimbing peserta didik dalam memahami, mengalami dan mengamalkan nilai-nilai ilmiah, kewarganegaraan dan sosial yang tidak secara khusus dipusatkan pada pandangan agama tertentu (NRCVE, 2003). Dalam pengertian yang lebih oprasional David Aspin (2000) membuat definisi pendidikan nilai sebagai bantuan untuk mengembangkan dan mengartikulasikan kemampuan pertimbangan nilai atau keputusan moral yang dapat melembagakan kerangka tindakan manusia35 Sedangkan dalam buku dengan judul ”memanusiakan manusia muda tinjauan pendidikan humaniora”, menjelaskan bahwa pendidikan nilai adalah suati pandangan dasar seseorang terhadap alam, sesama manusia dan Tuhannya (yang akhir ini terjabar secara lebih terperinci dalam pandangan-pandangan keagamaannya) 36 Dari definisi di atas dapat ditarik suatu definisi pendidikan nilai yang mencakup keseluruhan aspek sebagai pengajaran atau bimbingan kepada peserta didik agar menyadari nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan, melalui proses pertimbangan nilai yang tepat dan pembiasaan bertindak yang konsisten. Definisi pendidikan nilai ini perlu dibedakan dari arti pendidikan nilai yang dimaknai secara fungsional dan situasional. 33 Rokhmat Mulyana, op.cit., hlm. 119 34 Kaswardi, E.M K., Pendidikan Nilai Memasuki Tahun 2000 (Jakarta: PT Grasindo,1993), hlm. 3 35 Rokhmat Mulyana, op.cit., hlm. 119 36 Dick Hartono, Menanusiakan Manusia Muda Tinjauan Pendidikan Humaniora (Jakarta: Kanisius, 1985), hlm. 33
  51. 51. 29b. Orientasi Pendidikan Nilai Secara Umum, pendidikan nilai dimaksudkan untuk membantu peserta didik agar memahami, menyadari, mengalami nilai-nilai serta mampu menempatkannya secara integral dalam kehidupan. Untuk sampai pada tujuan yang dimaksud, tindakan-tindakan pendidikan yang mengarah pada perilaku baik dan benar perlu diperkenalkan oleh para pendidik. Dalam proses pendidikan nilai, tindakan-tindakan pendidikan yang lebih spesifik dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang lebih khusus. Seperti dikemukakan Komite APEID (Asia and the Pasific Programme of Educational Innovation for Defelopment), pendidikan nilai ditujukan secara khusus untuk: (a) menerapkan pembentukan nilai kepada anak, (b) menghasilkan sikap yang mencerminkan nilai-nilai yang diinginkan, dan (c) membimbing perilaku yang konsisten dengan nilai-nilai tersebut. Dengan demikian tujuan pendidikan nilai meliputi tindakan mendidik yang berlangsung mulai dari usaha penyadaran nilai sampai pada perwujudan perilaku-perilaku yang bernilai (UNESCO, 1994).37 Selain itu, tujuan pendidikan nilai disesuaikan pada konsep awal pendidikan nilai yang menyentuh filosofi tujuan pendidikan yaitu memanusiakan manusia, membangun manusia paripurna dan membentuk insan kamil atau manusia seutuhnya. Dari konsep awal pendidikan nilai yang menyentuh pada tujuan pendidikan inilah, maka muncul pertanyaan37 Rokhmat Mulyana, op. cit., hlm. 119-120
  52. 52. 30mendasar apa yang membuat manusia berkembang menjadi manusiaseutuhnya? Jawabannya menurut N. Diyarkara adalah pengakuan danpenghargaan akan nilai-nilai kemanusiaan. Pengakuan dan penghargaanakan nilai-nilai kemanusiaan itu hanya akan timbul manakala ranahafektif dalam diri seseorang dihidupkan. Hal itu berarti proses belajarmengajar perkembangan prilaku anak dan pemahamannya mengenainilai-nilai moral seperti keadilan, kejujuran, rasa tanggung jawab sertakepedulian terhadap orang lain merupakan elemen yang tidak dapatdipisahkan dari unsur pendidikan. Kesadaran anak akan nilai humanitas pertama-tama muncul bukanmelalui teori atau konsep, melainkan melalui pengalaman konkrit yanglangsung dirasakannya di sekolah. Pengalaman itu meliputi sikap danperilaku guru yang baik, penilaian adil yang diterapkan, pergaulan yangmenyenangkan serta lingkungan yang sehat dengan penekanan sikappsitif seperti penghargaan terhadap keunikan serta perbedaan.Pengalaman seperti inilah bereperan membentuk emosi anak berkembangdengan baik. Selanjutnya Driyarkara mengindikasikan bahwa kesadaran moralmengarahkan anak untuk mampu membuat pertimbangan secara matangatas perilakunya dalam kehidupannya sehari-hari baik di sekolah maupundi masyarakat. Mark dan Terence mengatakan: Morality Is directed and constructed to perform a large range of independent funtions to prohibit destruction and harm, to promote harmony and stability, to develop what is best in us. It promotes the social and economoc conditions that sustain mutually benefisial
  53. 53. 31 truth and cooperation, articulates ideals and excel lences, sets priorities among the activities that constitute our live38 Kymlicka menegaskan bahwa relevansi penanaman kesadaran moral pendidikan yaitu membentuk warga negara yang mempunyai rasa keadilan, kamampuan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mempunyai penghargaan akan hak-haka asasi manusia, bersikap toleran, dan memiliki rasa solider serta loyalitas terhadap yang lain39 Benang merah yang dapat ditarik dari konsep Driyarkara adalah perlunya keseimbangan antara dimensi kognitif dan afektif dalam proses pendidikan. Artinya untuk membentuk manusia seutuhnya tidak cukup hanya dengan mengembangkan kecerdasan berfikir atau IQ anak didik melalui segudang ilmu pengetahuan, melainkan juga harus dibarengi dengan pengembangan perilaku dan kesadaran moral. Karena dengan kombinasi seperti itulah peserta didik akan mampu menghargai nilai-nilai humanistik di dalam dirinya dan orang lain. Disinilah hakikat pendidikan nilai yang sebenarnya. Disisi lain pendidikan nilai bisa berarti educare yang berarti membimbing, menuntun, dan pemimpin. Filosofi pendidikan sebagai educare ini lebih mengutamakan proses pendidikan yang tidak terjebak pada banyaknya materi yang dipaksakan kepada peserta didik dan harus dikuasai. Proses pendidikan educare lebih merupakan aktivitas hidup untuk menyertai, mengantar, mendampingi, membimbing, memampukan peserta didik sehingga tumbuh berkembang sampai pada tujuan pendidikan yang dicita-citakan.38 Zaim Elmubarok, op cit., hlm. 1339 Ibid..
  54. 54. 32 Di sini atmosfer pendidikan mendapat tekanan dan peserta didik di beri keleluasaan untuk mengesplorasi diri dan dunianya sehingga berkembang kreativitas, ide dan ketrampilan diri sebagai bagian dari masyarakatnya. Minat dan bakat peserta didik diperlukan sebagai sentral dan hal yang amat berharga. Peran pendidik melebihi dari posisi sebagai narasumber, pendorong, pemberi motivasi dan fasilitator bagi peserta didik. Karena itu, suatu usulan rumusan komprehensif menyeluruh yang terbuka kiranya jauh lebih menguntungkan untuk menyiapkan generasi masa depan. Usulan rumusan tersebut adalah pendidikan nilai bertujuan mendampingi dan mengantar peserta didik kepada kemandirian, kedewasaan, kecerdasan, agar menjadi manusia profesional (artinya memiliki ketrampilan (sklill), komitmen pada nilai-nilai dan semangat dasar pengabdian/pengorbanan) yang beriman dan bertanggungjawab akan kesejahteraan dan kemakmuran warga masyarakat, nusa dan bangsa Indonesia.402. Landasan Pendidikan Nilai Landasan pendidikan nilai yang akan diketengahkan terdiri atas enam bagian, yaitu: landasan filosofis, landasan spikologis, landasan sosiologis, landasan estetik, landasan yuridis dan landasan religi. Landasan filosofis mengetengahkan akar pemikiran tentang hakikat manusia dari perspektif filasat. Landasan psikologis menjelaskan aspek-aspek psikis manusia 40 Zaim Elmubarok, op.cit., hlm. 13-14
  55. 55. 33sebagai individu. Landasan sosiologis meliputi prinsip-prinsippengembangan manusia sebagai anggota masyarakat. Landasan estetikmenguraikan kemampuan manusia dalam mempersepsi nilai keindahan.Adapun penjelasan landasan-landasan tersebut adalah sebagai berikut:a) Landasan Filosofis Pemahaman tentang hakikat manusia telah melahirkan beragam tafsiran yang mengkristal pada sejumlah aliran filsafat pendidikan dan disiplin ilmu. Banyak peneliti yang tertarik pada eksplorasi tentang hakikat manusia, tetapi tidak seorang pun dapat memonopoli pengetahuan tentang hakikat manusia. Perdebatan panjang yang cukup melelahkan tentang silang pendapat mengenai hakikat manusia telah berlangsung sejak zaman yunani kuno, namun manusia hingga kini tetap sebagai enigma (teka-teki) yang tak pernah tuntas atau dalam bahasa Alexis Carrel (Syari’ati, 1996) disebut I’homme cet iconnu (makhluk tak dikenal). Karena itu, pencarian alasan dalam memperdebatkan perbedaan sudut pandangan tentang hakikat manusia terkadang tidak lebih penting dari upaya pemanfaatan pandangan tersebut bagi upaya pendidikan. Sebagian besar filosof beranggapan bahwa hakikat manusia adalah hewan yang dapat dididik (animal educantum). Hakikat manusia ini didukung oleh hakikat lainnya yang dikenal dalam sejarah pemikiran Eropa Barat sebagai: homo sapies (manusia yang mengetahui dan dibekali dengan akal), homo ludens (manusia yang bermain-main),
  56. 56. 34 homo recens (manusia yang membuat sejarah), homo faber (manusia teknis yang menggunakan alat-alat), homo simbolicum (manusia yang mengenal simbol-simbol bahasa), homo concors (manusia yang hidup seimbang antara dirinya dengan orang lain dan masyarakat sekitar), homo economicus (manusia sebagai makhluk ekonomi), dan animal rational (hewan yang rasional) (kartono, 1992). Selin itu, ada pula pihak yang beranggapan bahwa hakikat manusia justru terletak pada semangat spiritualnya dalam menjalin hubungan dengan Tuhan. Menurut pandangan ini manusia yang paling hakiki adalah manusia yang beragama. Untuk mengetahui perbedaan pandangan tadi, kita dapat memimjam kerangka analisis Phenix (1964) dalam bukunya Realms of Meaning. Ia menempuh dua langkah penting dalam mengungkapkan hakikat manusia, yaitu: Pertama, ia mengidentifikasi interpretasi wilayah kajian ilmu Kimia, Fisika, Biologi, Psikilogi, Sosiologi, Ekonomi, Politik, Antropologi, Linguistik, Seni, Moral, Sejarah Dan Teologi dalam menjelaskan hakikat manusia. Kedua, ia melakukan rekonstruksi pengertian tentang hakikat manusia berdasarkan sejumlah tafsiran yang diajukan ahli dari berbagai disiplin ilmu. Pada akhir analisisnya, ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa hakikat manusia terletak dalam dunia kehidupan makna.41 41 Krech, D. dan Crutchfield, R., Individual In Society (Tokyo: Mc Graw-Hill Kogakusha,1962), hlm. 279
  57. 57. 35 Dengan asumsi bahwa makna memiliki kesejajaran arti dengan nilai, maka landasan filosofis pendidikan nilai yang dapat ditegakkan pada dua kemungkinan posisi, yaitu: 1) filsafat pendidikan nilai pada dasarnya tidak berpihak pada salah satu kebenaran tentang hakikat manusia yang dicapai oleh suatu aliran pemikiran, karena nilai adalah esensi hakikat manusia yang dapat mewakili semua pandangan. 2) filsafat pendidikan berlaku selektif terhadap kebenaran hakikat manusia juga menyangkut substansi kebenarannya yang dapat berlaku kontektual dan situasional.b) Landasan Psikologis Kehasan psikologi dalam menelaah manusia terletak pada pandangannya bahwa sebagai individu selalu tampil unik keunikan mansia dilihat dari sisi mental dan tingkah lakunya berimplikasi pada asumsi psikologis berikutnya bahwa pada hakikatnya tidak ada seorang pun anak manusia dengan anak manusia yang sama persis dengan anak manusia lainnya. Asumsi seperti ini memang dapat dikesani ekstrem karena dapat menfikan kebenaran generalisasi atau teori perkembangan dunia psikologis manusia. Walaupun demikian, psikologi mencoba untuk menarik batas kemiripan melalui kaedah-kaedah perkembangan mental manusia beserta ciri-ciri perilakunya. Keutuhan manusia sebagai organisme dijelaskan melalui aspek-aspek psikis yang berkembang secara dinamis. Demikian pula bebedaan individu ditarik pada prinsip-prinsip dasar
  58. 58. 36 yang mewakili setiap fase pertumbuhan dan perkembangan manusia. Dengan berdasarkan pada kaidah-kaidah umum Psikologi seperti itu, landasan pendidikan nilai dapat dijelaskan. 1. Motivasi Setiap orang memiliki motivasi untuk bertindak sesuai dengan keinginan, minat dan kebutuhannya. Motivasi merupakan suatu usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar ia tergerak hatinya untuk bertidak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu. Karena itu dalam kajian psikologi, motivasi sering dipertimbangakan sebagai sutu tindakan diri seseorang. 42 Apabila dikaitkan dengan pendidikan nilai sebagai suatu upaya penyadaran nilai pada peserta didik, maka motivasi menjadi aspek penting yang perlu dipertimbangkan. Dari sejumlah kajian tentang motivasi menunjukkan bahwa dorongan-dorongan psikologis manusia bergerak secara dinamis dalam suatu kontinum yang menempatkan nilai pada ujung pertimbangan psikologis. Dalam teori sikap dari Newcomb misalnya, nilai ditempatkan di atas sikap dan keyakinan seseorang, demikian pula dalam teori kebutuhan dari Murray, nilai ditempatkan di atas kebutuhan psikogenetik individu”43 42 Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002),hlm. 71 43 Hall, C.S dan Linzey, G., Introduction to Personality Theory (New York: John Wileydan Sons, 1985), hlm. 316-318
  59. 59. 37 Hal tersebut berimplikasi bahwa pendidikan nilai harus mampu membangkitkan motivasi peserta didik ke arah tindakan yang didasarkan pada pilihan kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Tindakan yang positif itu harus senantiasa dijaga ketahanannya agar berlangsung lama dan terinternalisasi pada diri peserta didik.2. Perbedaan Individu Pebedaan individu merupakan aspek lain yang menjadi landasan pengembangan pendidikan nilai secara psikologis. Seperti telah dikemukakan pada bagian sebelumnya, pebedaan individu mencerinkan adanya keunikan pada peserta didik. Tidak mungkin seorang siswa memiliki minat, keinginan, sifat, keyakinan dan nilai dalam frekuensi dan intensitas yang sama dengan apa yang dimiliki siswa lain. Demikian pula, secara fisik ia tidak mungkin memiliki bentuk fisik yang sama, meski dilahirkan sebagai saudara kembar. Perbedaan yang dimiliki individu baik secara fisik maupun mental dapat menjadi kekuatan atau kelemahan pada dirinya. Dalam fenomena pendidikan, misalnya ada siswa yang cerdas, rajin, tekun, shaleh atau gemuk, tetapi sebaliknya ada pula yang bodoh, malas, nakal, atau kurus. Satu atau lebih ciri berbedaan itu mungkin melekat pada diri seseorang dan menjadi kekuatan atau kelemahan pada dirinya. Perbedaan individu berimplikasi pada kurikulum pendidikan nilai dalam membimbing dang mengajarakan peserta didik ke arah
  60. 60. 38 pilhan nilai kehidupan yang tepat, fungsional, kontektual, serta sesuai dengan kebutuhan kehidupan mereka. Seperti yang dihadapi pendidikan pada umumnya, masalah krusial pendidikan nilai terletak bagaimana pendidikan nilai dapat dilakukan secara adil. Adil dalam arti nilai diajarkan dengan tidak mengabaikan perkembangan nilai subjektif yang lahir secara perorangan dan juga tidak melupakan nilai objektif kelompok. Dengan kata lain, nilai subjektif dan nilai objektif keduanya harus dikembangkan secara seimbang. Persoalan ini memang tidak sederhana, karena konsep keadilan dalam belajar nilai pada akhirnya akan sampai pada pertanyaan tentang apa materinya dan bagaimana metodenya. Karena itu, untuk mengatasi kompleksitasperbedaan individu dalam belajar nilai pendidik sebaiknya memilih materi secara elektik sesuai dengan topik pembelajaran, kebutuahan siswa, dan kontek kehidupan.44 Pilihan secara eklektik jiga dapat dilakukan dalam menentukan metode atas dasar pertimbangan konteks pengembangan nilai secara mandiri pada peserta didik dan peran-peran penguatan secara imperatif artinya sifat pembelajaran yang menekankan atau mengharuskan peserta didik memiliki nilai atau moral yang baik.45 44 Power, E.J., Philosophy of Education; Studies in Philosoies, Schooling, and EducationalPolicies (New Jersey: Prentice-Hall Inc, 1982), hlm. 91 45 Tafsir, Ilmu Pendidikan Perspektif Islam (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1995),hlm. 45-48
  61. 61. 39 3. Tahapan Belajar Nilai Dalam memahami nilai, anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan pengalamannya. Hal ini tidak berarti semua pengalaman anak berlangsung dalam suatu kejadian dan kesatuan yang utuh. Pengalaman pada diri anak pada umumnya merupakan petunjuk kearah perkembangan persepsi dan tindakan yang pada gilirannnya menuntut proses belajar untuk membangun pengalaman itu. Karena itu, strategi dasar yang harus dikembangkan oleh guru meliputi: (1) identifikasi nilai dan tujuan yang hendak dicapai oleh anak, (2) menyusun pengalaman kehidupan yang matang terhadap pengembangan nilai, dan (3) menyediakan sejumlah pengalaman yang memperluas kemampuan anak dalam membangun nilai secara mandiri. Untuk itu, pendidikan nilai pada anak perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan minat dan kepedulian anak terhadap nilai. Egan (UNESCO, 1991) menjelaskan bahwa perkembangan minat dan kepedulian anak terhadap nilai berlangsung dalam empat tahapan, yaitu: tahapan mitos, romantis, filosofis dan ironis. Keepat tahap perkembangan itu berlangsung seiring dengan pertumbuhan fisik anak yang semakin lama semakin dewasa. Secara rinci empat tahapan perkembangan itu dijelaskan pada bagan berikut ini.4646 Rokhmat Mulyana, op. cit., hlm. 129-130

×