Laporan ta

2,173 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
2,173
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
3
Actions
Shares
0
Downloads
55
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Laporan ta

  1. 1. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan ilmu dan teknologi dari tahun ke tahun semakin meningkat, di mana segala sesuatunya dibuat seefisien mungkin. Berbagai usaha peningkatan telah di lakukan pada bidang otomotif. Perkembangan teknologi pada bidang otomotif berperan besar terhadap kemajuan bidang- bidang lainnya. Oleh sebab itu perlu adanya tenaga-tenaga ahli dalam bidang otomotif. Untuk meghasilkan tenaga ahli dibidang otomotif, maka diperlukan fasilitas-fasilitas yang memadai sebagai bahan ajar. Salah satunya adalah fasilitas pada praktikum, dalam praktikum dibutuhkan alat yang mudah untuk dipahami dan dimengerti oleh praktikan. Untuk mempermuda mengerti dan memahami cara kerja suatu alat tidaklah cukup dengan teori saja, tetapi perlu adanya alat praktikum yang memperlihatkan langsung komponen dan cara kerja alat tersebut. Jenis kendaraan bermotor/mobil, merupakan peralatan yang sangat dibutuhkan dalam dunia industri sebagai alat trasportasi, sehingga dibutuhkan tenaga ahli yang mampu mengoperasikan, merawat, dan meperbaiki peralatan tersebut. Pada kendaraan bermotor/mobil zaman sekarang mempunyai banyak sistem yang sangat penting di antaranya sistem power steering. Power steering berfungsi sebagai alat untuk membantu memperlembut atau meringankan pengoperasian kemudi, saat mesin dalam keadaan hidup. Khususnya pada hidrolik Power steering bekerja dengan memanfaatkan
  2. 2. 2 tenaga tekan dari fluida cair, di mana fluida cair tersebut diberi tekanan oleh sebuah pompa. Pada kendaraan utuh komponen-komponen hidrolik power steering tidak nampak secara keseluruhan. Beberapa komponen terhalangi atau tertutupi oleh komponen yang lainnya, sehingga untuk mempelajarinya cukup sulit. Berdasarkan acuan di atas, maka kami akan mencoba membuat suatu alat peraga untuk mengatasi keterbatasan alat praktikum sistem hidrolik power steering. Kami akan mengangkat analisis rancang bangun alat peraga hidrolik power steering di mana power steering yang akan digunakan adalah hidrolik power steering milik Toyota Kijang. Diharapkan setelah alat ini selesai, dapat menjadi alat pembelajaran bagi mahasiswa yang lebih efektif, khususnya untuk mahasiswa program studi teknik mesin spesialisasi otomotif . 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang, berikut ini dikemukakan rumusan masalah dalam bentuk pernyataan atau pertanyaan: 1. Bagai mana cara untuk mengetahui besarnya tekanan pada silinder power steering. 2. Bagaimana mengetahui hubungan tekanan dan pembebanan pada hidrolik power steering. 3. Bagaimana cara untuk dapat melakukan penyetelan pembebanan pada alat peraga sistem hidrolik power steering.
  3. 3. 3 1.3 Tujuan Perancangan Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam perancangan peraga sistem power steering dengan berdasarkan rumusan di atas yaitu sebagai berikut : 1. Bagai mana cara untuk mengetahui besarnya tekanan pada silinder power steering. 2. Bagaimana mengetahui hubungan tekanan dan pembebanan pada hidrolik power steering. 3. Bagaimana cara untuk dapat melakukan penyetelan pembebanan pada alat peraga sistem hidrolik power steering. 1.4 Manfaat Perancangan Manfaat yang ingin diperoleh dari pembuatan/perancangan alat peraga power steering yaitu sebagai berikut : 1. Untuk dapat mengetahui besarnya tekanan pada silinder power steering. 2. Untuk dapat mengetahui hubungan tekanan dan pembebanan pada hidrolik power steering. 3. Untuk dapat melakukan penyetelan pembebanan pada alat peraga sistem hidrolik power steering. 1.5 Batasan Masalah Adapun batasan masalah yang akan dibahas pada laporan tugas akhir ini adalah : 1. Power steering yang digunakan adalah hidrolik power steering. 2. Penggunaan motor listrik sebagai pengganti putaran dari engine.
  4. 4. 4 3. Alat dirancang khusus diperuntukkan untuk alat pembelajaran mengenai hidrolik power steering. 4. Alat peraga hidrolik power steering dilengkapi dengan alat pembebanan yang dapat disetel dan juga preasure gauge sebagai indicator tekanan minyak hidrolik. 5. Konstruksi dibuat sederhana agar mudah dalam perawatan. 1.6 Sistematika Penulisan Untuk memudahkan pemahaman dari penulis laporan tugas akhir ini, maka penulis membagi penulisan ke dalam 6 (enam) bab pokok bahasan yang meliputi: BAB I PENDAHULUAN Bab ini menjelaskan tentang latar belakang permasalahan, rumusan masalah, tujuan dan manfaat, batasan masalah dan sistematika penulisan. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Bab ini membahas tentang berbagai macam teori termasuk defenisi alat, komponen-komponen yang digunakan dan dasar-dasar pembuatan rancang bangun Alat Peraga Hidrolik Power Steering. BAB III METODE PENELITIAN Pada bab ini penulis membahas lokasi pembuatan alat dan bahan, prosedur kerja dan teknik analisis data yang dijelaskan secara bertahap. BAB IV PERHITUNGAN DAN PEMBUATAN Bab ini membahas perhitungan komponen meliputi perhitungan perencanaan puli dan sabuk yang digunakan serta pembuatan komponen-komponen. BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Pada bab ini membahas tentang pengujian dan pengambilan data, serta perbandingan data yang diperoleh setelah pengujian. BAB VI PENUTUP Bab ini membahas tentang kesimpulan dan saran
  5. 5. 5 DAFTAR PUSTAKA Pada bagian ini memuat sumber-sumber yang dijadikan sebagai referensi dalam penulisan proposal yang sifatnya berupa tekstual.
  6. 6. 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Alat Peraga Power Steering Sistem Hidrolik Berdasarkan beberapa referensi yang ada, defenisi alat peraga power steering tidak didefinisikan secara langsung, tetapi didefenisikan secara terpisah antara alat peraga, power steering dan system hidrolik. Ada beberapa defenisi alat peraga, defenisi power steering dan system hidrolik. Salah satu definisi yang dikemukakan oleh Sudjana (2002: 59) bahwa “Alat peraga adalah alat dapat diserap oleh mata dan telinga dengan tujuan membantu guru agar proses belajar mengajar siswa lebih efektif dan efisien.” Sejalan dengan itu menurut Nasution dalam Nuruzzahri (1985: 100) mengemukakan bahwa “Alat peraga adalah alat pembantu dalam mengajar agar lebih efektif”. Menurut beberapa ahli di bidang teknik otomotif mendefinisikan power steering berdasarkan fungsi dan cara pengoperasiannnya. Salah satu definisi power steering yang dikemukaka pada Daihatsu Astra Motor (1990:36) bahwa “Power steering adalah salah satu bagian dari sistem kemudi tenaga yang berfungsi untuk membantu memberikan tenaga guna meringankan pengoperasian kemudi” Sejalan dengan itu Arisepa (2009:2) mengemukakan bahwa “Power steering merupakan sistem kemudi yang mempunyai tujuan untuk memperingan pengoperasian kemudi.” “Sistem hidrolik adalah teknologi yang memanfaatkan zat cair, biasanya oli, untuk melakukan suatu gerakan segaris atau putaran
  7. 7. 7 Dari definisi alat peraga, power steering dan sistem hidrolik di atas maka dapat disimpulkan bahwa alat peraga power steering sistem hidrolik adalah alat bantu praktikum yang dapat memperlihatkan secara langsung cara kerja komponen-komponen dimana pengoperasian kemudi sangat ringan yang merupakan teknologi yang memanfaatkan gerakan zat cair yakni oli. Defenisi yang di paparkan oleh Sudjana tentang alat peraga lebih lengkap dibandingkan oleh Nasution dan penjelasan pengertian sistem power steering yang dikemukakan pada Daihatsu Astra Motor lebih jelas, karena mendefinisikan sistem power steering disertai dengan fungsi dan kegunaan dari sistem power steering itu sendiri. Sedangkan menurut Arisepa mendefinisikan sistem power steering hanya berdasarkan pengoperasiannya. 2.2 Komponen – Komponen Hidrolik Power Steering Komponen merupakan bagian-bagian alat yang saling mendukung dalam suatu proses sehingga siklus kerja dapat tercapai.. Dari referensi yang ada, komponen – komponen sistem power steering salah satunya dikemukakan pada Daihatsu Astra Motor (1990:38) yaitu “ 1) Main shaft in steering column, 2) Vane pump, 3) Reservoir tank, 4) Control Valve, 5) Gear housing, 6) Power cylinder ” Selain itu, komponen sistem power steering dikemukakan oleh Arisepa (2009:3) yaitu “ 1) Poros utama kemudi, 2) Pompa hidrolik, 3) Tabung reservoir, 4) Gear housing, 5), Control valve, 6) silinder power steering.
  8. 8. 8 Dari uraian komponen power steering yang dikemukakan oleh kedua sumber di atas yaitu Daihatsu Astra Motor, perbedaannya terletak pada bahasa yang digunakan. Arisepa menggunakan beberapa bahasa Indonesia dalam penulisan komponen power steering dan Daihatsu Astra Motor menggunakan Bahasa Inggris. 2.3 Prinsip Kerja Sistem Hidrolik Power Steering Dari beberapa literatur yang membahas masalah otomotif, ditemukan prinsip kerja power steering yang dikemukakan di bawah ini. “Prinsip kerja hidrolik power steering adalah saat mendapat tenaga dari putaran mesin yang diteruskan menggunakan V-Belt ke vane pump melalui pulley. Putaran tersebut mendorong fluida ke piston dalam power steering. Sehingga apabila roda kemudi di putar (kiri atau kanan), maka fluida bertekanan ini akan mendorong piston sehingga putaran roda kemudi terasa ringan.” (Latif 2011:04). Prinsip kerja sistem hidrolik power steering yang lain dikemukakan di bawah ini. “Prinsip kerja Hidrolik Power Steering dari sistem kemudi yang menggunakan peralatan hidrolis adalah bekerja untuk meringankan pengemudian, adapun sumber tenaganya dari pompa yang menggunakan putaran mesin.” (Toyota Astra Motor, 1994 : 58) Kedua prinsip kerja hidrolik power steering di atas adalah prinsip kerja pada power steering sesungguhnya, sedangkan prinsip kerja alat peraga hidrolik power steering pada dasarnya sama dengan prinsip kerja sistem power steering yang dikemukakan di atas, hanya saja pada alat peraga power steering sumber putaran berasal dari motor lisrik sebagai pengganti putaran dari mesin. Namun kedua prinsip kerja yang dikemukakan diatas kurang jelas, karena belum menjelaskan prinsip kerja berdasarkan komponen-
  9. 9. 9 komponennya secara khusus. Selain dari itu, prinsip kerja yang dikemukakan oleh Hendrahadi lebih tepat dibandingkan dengan prinsip kerja yang dikemukakan pada Toyota Astra Motor. Karena prinsip kerja yang dikemukakan oleh Hendrahadi lebih terperinci.
  10. 10. 10 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Waktu penelitian dimulai dari minggu ketiga bulan Oktober sampai dengan minggu ketiga November 2011. Tugas akhir ini dilakukan di bengkel saudara Dayat dan finishing di lakukan di Bengkel Otomotif Teknik Mesin Politeknik Negeri Ujung Pandang pada bulan awal bulan Agustus hingga akhir September 2012. 3.2 Alat dan Bahan 3.2.1. Alat Alat yang digunakan dalam pembuatan alat peraga power steering terdiri dari : • Laptop/komputer (Autodesk Inventor professional 2013) • Mesin las listrik • Mesin gerinda • Mesin bor • Amplas • Mesin Bubut • Ragum • Gergaji besi • Kunci pas/ring no.12, no.14 & no.19 • Kuas cat/Spray Gun • Spidol marker
  11. 11. 11 3.2.2. Bahan Bahan yang digunakan dalam pembuatan alat peraga power steering terdiri dari: • 1 set Power Steering Toyota Kijang. • Roda/ban , Sock breaker, Batang kemudi/roda kemudi. • Motor listrik AC 3 phase dengan kecepatan putar 1500 rpm (2 HP). • MCB 200/400 Volt, 16A. • Steker listrik 3 phase, 4 terminal (16A). • Papan (tebal 10mm). • Cable ties. • Kabel 3 phase, 4 terminal 2.5mm. • Puli. • Sabuk. • Besi profil “L”. • Besi profil “U”. • Besi plat • Pipa kuningan diameter 6mm. • Sambungan pipa diameter 6mm (sambungan 3 line). • Presure gauge 350psi • Roda trolley 4 buah. • Cat minyak & tinner super (cat warna biru, hitam dan merah).
  12. 12. 12 3.3 Prosedur/Langkah Kerja 3.3.1 Langkah Perancangan Adapun kegiatan yang dilakukan dalam langkah perancangan alat peraga power steering yaitu sebagai berikut : • Membuat desain ( gambar kerja ) dari alat yang akan dibuat dengan menggunakan software Autodesk Inventor Professional pada komputer. • Merancang rangkaian kelistrikan pada motor listrik. • Merancang beberapa komponen-komponen lainnya, yaitu: • Rangka • Lengan penekan roda • Dudukan pompa hidrolik & motor listrik • Plat penekan roda • Pengikat silinder power steering • Sambungan saluran preasure gauge
  13. 13. 13 Diagram Alir Pembuatan 3.1 Gambar diagram alir Pengujian Alat Mulai Studi Kasus Gambar Sketsa Analisa Peracangan PERANCANGAN Rangka, Rangkaian listrik, Perancagan dudukan Pompa hidrolik dan dudukan motor listrik. Faktor Keamanan Evaluasi Perancangan Gambar Kerja Pembuatan dan Perakitan Berhenti Tidak Ya Ya Tidak
  14. 14. 14 3.3.2. Langkah Pembuatan Komponen Setelah proses perancangan selesai, proses selanjutnya yaitu proses pembuatan. Proses pembuatan alat peraga power steering dilakukan berdasarkan pengelompokan komponen-komponennya. Adapun langkah pembuatannya yaitu sebagai berikut: 1. Pembuatan Rangka Fungsi dari rangka adalah untuk menopang dan memberikan bentuk pada rangkaian sehingga komponen yang lain dapat terangkai dan melekat pada rangka. Rangka terbuat dari besi profil “L” yang tersusun sedemikian rupa hingga membentuk satu kesatuan. 2. Pembuatan Lengan Penekan Roda Lengan penekan roda terbuat dari plat dan besi profil “L” yang merupakan alat untuk menopang plat penekan roda secara vertikal ke atas guna untuk pemberian pembebanan. Besar kecilnya pembebanan dapat disetel dengan cara mengencangkan atau melonggarkan baut penyetel yang terdapat pada lengan penyetel. Untuk menambah pembebanan dilakukan dengan cara mengencangkan baut, dan sebaliknya untuk mengurangi atau menghilangkan pembebanan dilakukan dengan cara melonggarkan baut penyetel pembebanan. 3. Pembuatan Plat Penekan Roda Plat penekan roda terbuat dari besi plat dan besi profil “L”. Plat penekan roda berfungsi untuk menerima dorongan dari lengan penekan
  15. 15. 15 guna menekan roda vertikal ke atas dan juga sebagai landasan atau dudukan dari roda. 4. Pembuatan Dudukan Pompa Hidrolik dan Dudukan Motor Dudukan adalah tempat melekatnya komponen terhadap rangka dalam hal ini pompa hidrolik dan motor. Khusus pada dudukan motor dibuat berupa jalur agar supaya posisi motor dapat disetel maju dan mundur dan pada dudukan pompa hidrolik menggunakan pengikat yang dapat disetel yang terbuat dari plat besi. 5. Pembuatan Pengikat Silinder Power Steering Pengikat berfungsi untuk mengikat silinder pada rangka, yang terbuat dari plat yang dibentuk setengah lingkaran mengikuti ukuran dari silinder. Adapun komponen – komponen standar yang digunakan dalam perancangan dan pembuatan alat ini, yaitu : 1. Motor listrik 2. Silinder power steering 3. Pompa hidrolik power steering 4. Preasure gauge 5. Pegas roda depan Suzuki Carry 6. Roda/ban 7. Roda kemudi 8. Roda trolley 9. Sabuk
  16. 16. 16 10. Puli 11. Baut dan mur 12. Kabel 3 phase 3.3.3. Langkah Perakitan Langkah terahir dari tahap perancangan yaitu tahap perakitan. Urutan proses perakitan komponen-komponen alat peraga power steering yaitu sebagai berikut : 1. Melakukan pemasangan roda trolley pada keempat sudut bagian bawa rangka dengan menggunakan las listrik. 2. Melakukan pemasangan sock breker dan rooda pada rangka menggunakan las listrik dan lengan ayun sock breaker menggunakan baut dan mur. 3. Melakukan pemasangan lengan penekan menggunakan baut dan mur no.12. 4. Melakukan pemasangan plat penekan roda menggunakan baut dan mur no.12. 5. Melakukan pemasangan, silinder power steering. Menggunakan pengikat yang direkatkan pada rangka menggunakan baut dan mur no.12. 6. Melakukan pemasangan pompa hidrolik power steering menggunakan baut dan mur 7. Melakukan pemasangan preasure gauge pada silinder menggunakan kunci pas no.14 dan no.17
  17. 17. 17 8. Melakukan pemasangan house power steering menggunakan kunci pas no.17 dan no.19 9. Melakukan pemasangan stabilizer pada lengan ayun sock breaker dengan menggunakan las listrik dan pada rangka menggunakan mur. 10. Melakukan pemasangan motor listrik menggunakan baut no.12. 11. Melakukan pemasangan instalasi listrik (MCB, kabel) menggunakan obeng plus(+) 12. Melakukan pemasangan belt pada pompa hidrolik dan motor listrik 13. Melakukan pemasangan kemudi menggunakan mur no.24 14. Melakukan finishing. Dalam finising dilakukan pengecatan komponen-komponen. Setiap pemasangan komponen menggunakan baut dengan ukluran baut yang disesuaikan dengan kondisi yang memungkinkan dalam merekatkan komponen-komponen tersebut (baut/mur yang digunakan pada rangkaian no.12, no.14, no.17, no.19 dan no.24). 3.4 Prosedur Pengujian a. Sebelum MCB pada posisi ON, terlebih dahulu komponen – komponen alat peraga dipastikan telah terpasang dengan baik. b. Menghubungkan rangkaian motor pada sumber listrik AC 3 phase. c. Memposisikan MCB pada posisi ON sehingga motor listrik berputar, dan secara otomatis pompa hidrolik yang berhubungan dengan motor ikut berputar.
  18. 18. 18 d. Melakukan penyetelan pembebanan. Dalam hal ini penyetelan dilakukan dengan cara mengencangkan baut penyetel pada pembebanan yang ditentukan. e. Memutar roda kemudi berbalasan kekiri dan ke kanan (full). f. Mengamati perubahan tekanan hidrolik di dalam silinder melalui preasure gauge. g. Lakukan langkah d, e dan f sebanyak 5 kali dengan pemberian pembebanan yang berbeda. 3.5 Teknik Analisis Data Setelah melakukan proses pengujian, maka diperoleh data yang akan dianalisis secara deskriptif atau dengan menggunakan metode perbandingan menggunakan grafik ataupun tabel. Dimana data yang sudah terkumpul dianalisis dengan melihat alat apakah dapat berfungsi seperti pada sistem power steering yang semestinya
  19. 19. 19 BAB IV PERHITUNGAN DAN PEMBUATAN 4.1 Perhitungan Komponen 1. Perencanaan Puli Kecepatan putaran motor yang tersedia adalah 1500 Rpm dengan daya sebesar 2 HP. Untuk meringankan kerja motor maka puli pada beban dalam hal ini pompa hidrolik harus lebih besar dan juga untuk mempermudah pengadaan puli maka disesuaikan dengan persediaan ukuran puli yang tersedia di pasaran. Dengan pertimbangan demikian maka puli yang digunakan pada motor berdiameter 64 mm dan pada puli pompa 100 mm. Jika diketahui putaran motor 1500 Rpm maka putaran puli motor juga sama, sedangkan putaran puli pompa hidrolik belum diketahui. Untuk menghitung putaran puli dapat dicari menggunakan persamaan berikut (Dwi Arya, 2009) : 𝑛1 𝑛2 = 𝑑2 𝑑1 Di mana : 𝑛1 = putaran poros motor (Rpm) 𝑛2 = putaran poros pompa (Rpm) 𝑑1 = diameter puli motor (mm) 𝑑2 = diameter puli pompa (mm) Maka : 𝑛1 𝑛2 = 𝑑2 𝑑1
  20. 20. 20 1500 𝑛2 = 100 64 100. 𝑛2 = 96000 𝑛2 = 960 rpm 2. Perencanaan sabuk Untuk menghitung panjang sabuk yang digunakan, dipergunakan rumus berikut (Prajitno, 2001) : “L = 𝜋(r1 + r2) + 2(x) + (𝑟1+𝑟2)2 𝑥 ”  Jarak kedua sumbu poros (x) = 423 mm = 16.65 in  Diameter puli motor (d1) = 64 mm (r1 = 32mm = 1.26 in)  Diameter puli pompa (d2) = 100 mm (r2 = 50mm = 1.96 in) Maka panjang sabuk yang digunakan: L = 𝜋(r1 + r2) + 2(x) + (𝑟1+𝑟2)2 𝑥 = 3,14(1.26 + 1.96) + 2(16.65) + (1.26 +1.96)2 16.65 = 10.11+ 33.3 + 0.62 = 44.03 in Panjang sabuk yang tersedia yang paling mendekati 44.03in adalah 45 in 4.2. Pembuatan Komponen Adapun tahap-tahap pengerjaan tiap komponen adalah:
  21. 21. 21 1. Pembuatan Rangka Fungsi dari rangka adalah untuk menopang dan memberikan bentuk pada rangkaian sehingga komponen yang lain dapat terangkai dan melekat pada rangka. Rangka terbuat dari besi profil “L”, profil “U” dan besi plat yang tersusun sedemikian rupa hingga membentuk satu kesatuan. Rangka Bahan Alat Profil “L” Profil “U” Besi plat Cat minyak Spidol marker Mesin gerinda Mesin bor Mesin las Amplas Adapun proses pembuatan rangka dilakukan dengan cara :  Mengukur dan menandai besi profil “L”, profil “U” dan besi plat menggunakan spidol marker guna untuk pemotongan sesuai dengan ukuran gambar kerja.  Memotong besi profil “L”, profil “U” dan besi plat menggunakan mesin gerinda dengan bilah khusus untuk memotong.  Setelah memotong, proses selanjutnya adalah perakitan rangka dimulai dengan menyambung beberapa potongan sesuai dengan gambar menggunakan las listrik.  Melubangi rangka sesuai ukuran pada gambar menggunakan mesin bor guna untuk pemasangan komponen yang menggunakan baut dan mur.
  22. 22. 22  Merapikan hasil pengelasan pada rangka dengan menggunakan gerinda dan amplas.  Langka terahir melakukan pengecatan pada rangka agar terlihat lebih baik. 2. Pembuatan Plat Penekan Roda Plat penekan roda terbuat dari besi plat dan besi profil “U”. Plat penekan roda berfungsi untuk menerima dorongan dari lengan penekan guna menekan roda vertikal ke atas dan juga sebagai landasan atau dudukan dari roda. Rangka Bahan Alat Profil “U” Plat besi Cat minyak Spidol marker Mesin gerinda Mesin bor Mesin las Amplas Adapun proses pembuatan plat penekan roda dilakukan dengan cara :  Mengukur dan menandai besi profile “U” dan besi pelat menggunakan spidol marker guna untuk pemotongan sesuai dengan ukuran gambar kerja.  Memotong besi profile “U” dan besi plat menggunakan mesin gerinda dengan bilah khusus untuk memotong.
  23. 23. 23  Menggunaan las listrik, kemudian menyambungkannya ke besi plat sesuai dengan gambar.  Melubangi plat penekan roda menggunakan mesin bor untuk pemasangan baut dan mur  Merapikan hasil pengelasan pada plat penekan roda dengan menggunakan gerinda dan amplas.  Langka terahir melakukan pengecatan agar terlihat lebih baik. 3. Pembuatan Lengan Penekan Roda Lengan penekan roda terbuat dari besi plat dan profil “L” yang merupakan alat untuk menopang plat penekan roda secara vertikal ke atas guna untuk pemberian pembebanan. Besar kecilnya pembebanan dapat disetel dengan cara mengencangkan atau melonggarkan baut penyetel yang terdapat pada lengan penyetel. Untuk menambah pembebanan dilakukan dengan cara mengencangkan baut, dan sebaliknya untuk mengurangi atau menghilangkan pembebanan dilakukan dengan cara melonggarkan baut penyetel pembebanan. Rangka Bahan Alat Profil “L” dan besi plat Cat minyak Spidol marker Mesin gerinda Mesin bor Mesin las Amplas
  24. 24. 24 Adapun proses pembuatan lengan penekan roda dilakukan dengan cara :  Mengukur dan menandai besi profile “L”dan besi plat menggunakan spidol marker guna untuk pemotongan sesuai dengan ukuran gambar kerja.  Memotong besi profile “L” dan besi plat menggunakan mesin gerinda dengan bilah khusus untuk memotong.  Proses selanjutnya adalah menyambung besi profil “L” dan besi plat sesuai dengan gambar menggunakan las listrik.  Melubangi lengan penekan roda sesuai ukuran pada gambar menggunakan mesin bor guna untuk pemasangan komponen yang menggunakan baut dan mur.  Merapikan hasil pengelasan menggunakan gerinda dan amplas.  Langka terahir melakukan pengecatan. 4. Pembuatan Dudukan Pompa Hidrolik dan Dudukan Motor Dudukan adalah tempat melekatnya komponen terhadap rangka dalam hal ini pompa hidrolik dan motor. Khusus pada dudukan motor dibuat berupa jalur pada rangka agar supaya posisi motor dapat disetel maju dan mundur dan pada dudukan pompa hidrolik menggunakan pengikat yang dapat disetel yang terbuat dari plat besi. Adapun proses pembuatan lengan penekan roda dilakukan dengan cara :  Memotong rangka bagian bawa sesuai dengan gambar, guna untuk membuat jalur untuk melekatkan motor listrik terhadap rangka menggunakan baut dan mur.
  25. 25. 25  Memotong plat sesuai pada gambar dan melekatkannya dengan rangka bagian bawa menggunakan las listrik guna untuk melekatkan pompa hidrolik.  Merapikan hasil pengelasan menggunakan gerinda dan amplas.  Melakukan pengecatan. 5. Pembuatan Pengikat Silinder Power Steering Pengikat berfungsi untuk mengikat silinder pada rangka, yang terbuat dari plat yang dibentuk setengah lingkaran mengikuti ukuran dari silinder. Rangka Bahan Alat Besi plat Cat minyak Spidol marker Mesin gerinda Ragum Palu Mesin bor Amplas Adapun proses pembuatan pengikat silinder power steering dilakukan dengan cara :  Mengukur dan menandai besi plat menggunakan spidol marker guna untuk pemotongan sesuai dengan ukuran gambar kerja.  Memotong besi plat sesuai dengan ukuran  Membending plat menggunakan ragum dan palu. Plat dibentuk menjadi setengah lingkaran sesuai pada gambar.
  26. 26. 26  Melubangi pengikat silinder sesuai ukuran pada gambar menggunakan mesin bor.  Langka terahir melakukan pengecatan. 6. Pembuatan Batang Penyetel Sabuk Batang penyetel sabuk berfungsi untuk mengunci posisi puli/pompa terhadap tegangan sabuk. Rangka Bahan Alat Besi plat Cat minyak Spidol marker Mesin gerinda Ragum Palu Mesin bor Amplas Adapun cara pembuatannya:  Mengukur dan menandai besi plat menggunakan spidol marker guna untuk pemotongan sesuai dengan ukuran gambar kerja.  Memotong besi plat sesuai dengan ukuran.  Melubangi batang penyetel sesuai ukuran pada gambar menggunakan mesin bor.  Langka terahir melakukan pengecatan.
  27. 27. 27 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Proses pengujian ini dilakukan setelah proses perakitan selesai. Pengujian alat ini dilakukan sebanyak tiga kali percobaan untuk mengetahui apakah dapat berfungsi seperti pada power steering yang ada pada kendaraan utuh. Berikut ini adalah data yang diperoleh dari hasil pengujian : Percobaan I Besar Deformasi Pegas Roda Bagian Kiri & Kanan (cm) 0 1 2 3 4 5 Besar Tekanan pada Silinder Kemudi Diputar Perlahan (psi) 0 50 75 100 150 190 Kecepatan Putaran pada Puli Motor Listrik (rpm) 1500 1500 1500 1500 1490 1490 Kecepatan Putaran pada Puli Pompa Hidrolik (rpm) 960 960 960 960 950 950 Tabel 5.1 Hasil Percobaan I
  28. 28. 28 Percobaan II Besar Deformasi Pegas Roda Bagian Kiri & Kanan (cm) 0 1 2 3 4 5 Besar Tekanan pada Silinder Kemudi Diputar Perlahan (psi) 0 50 75 100 160 200 Kecepatan Putaran pada Puli Motor Listrik (rpm) 1500 1500 1500 1500 1490 1490 Kecepatan Putaran pada Puli Pompa Hidrolik (rpm) 960 960 960 960 950 940 Tabel 5.2 Hasil Percobaan II Percobaan III Besar Deformasi Pegas Roda Bagian Kiri & Kanan (cm) 0 1 2 3 4 5 Besar Tekanan pada Silinder Kemudi Diputar Perlahan (psi) 0 50 75 100 150 190 Kecepatan Putaran pada Puli Motor Listrik (rpm) 1500 1500 1500 1500 1490 1490 Kecepatan Putaran pada Puli Pompa Hidrolik (rpm) 960 960 960 960 950 950 Tabel 5.3 Hasil Percobaan III Tabel di atas menunjukkan perubahan tekanan pada silinder pada saat pegas diberi beban yang berbeda. Beban bertambah ditandai dengan adanya deformasi dari pada pegas yang semakin besar/panjang. Dari hasil pengujian tersebut diperoleh hasil yang cukup baik dimana tekanan pada silinder bertambah seiring dengan pertabahan pembebanan.
  29. 29. 29 5.2 Pembahasan Pada alat peraga ini digunakan motor listrik tiga phase 1500 rpm dengan daya 2HP untuk memutar pompa hidrolik sehingga pompa dapat meningkatkan tekanan cairan hidrolik. Cairan hidrolik bertekanan tersebut kemudian dimanfaatkan untuk membantu meringankan putaran roda kemudi saat diputar. Untuk menguji apakah alat ini berfungsi seperti power steering pada kendaran pada umumnya, maka alat ini dilengkapi dengan penyetelan pembebanan dan indikator tekanan minyak. Penyetelan pembebanan dilakukan dengan cara memutar mur penyetel dan untuk membaca tekanan minyak hidrolik dapat dilihat pada preasure gauge. Untuk menambah pembebanan dilakukan dengan cara memutar mur penyetel searah dengan arah jarum dan sebaliknya, memutar mur penyetel berlawanan arah jarum jam untuk mengurangi/menghilangkan pembebanan. Dari ketiga percobaan yang telah dilakukan didapatkan data-data yang menunjukkan tekanan cairan fluida meningkat dengan adanya pertabahan pembebanan. Dimana pertambahan pembebanan ditandai dengan bertambahnya deformasi pegas, semakin besar/panjangnya deformasi pegas maka beban pada roda semakin bertambah. Akibat dari pertambahan pembebanan membuat daya gesek pada roda bertambah. Dan hal inilah yang membuat roda kemudi terasa berat pada saat diputar sebelum pompa hidrolik belum diaktifkan. Untuk memastikan, berikut ini adalah grafik-grafik hasil pengujian :
  30. 30. 30 Grafik 5.4 Grafik Pembebanan VS Tekanan Rata-rata Pada grafik di atas dapat disimpulkan bahwa tekanan pada silinder bertambah seiring dengan bertambahnya besar/panjangnya deformasi pada pegas. Sumbu “y” merupakan tekanan rata-rata dari tiga kali percobaan dan sumbu “x” merupakan pembebanan yang diberikan, yakni dengan cara memutar baut penyetel pembebanan hingga pegas tertekan vertical ke atas sepanjang 1 cm dan seterusnya hingga 5 cm (pegas mengalami deformasi). Besarnya tekanan dari silinder dapat dilihat pada preasure gauge saat kemudi diputar perlahan hingga putaran maksimum. 1 2 3 4 5 Nilai rata-rata tekanan akibat deformasi pegas 50 75 100 150 193.3 0 50 100 150 200 250 Grafik Pembebanan vs Tekanan Keterangan : sumbu "y" = tekanan (psi) sumbu "x" = deformasi (cm)
  31. 31. 31 Grafik 5.5 Grafik Pembebanan VS Kecepatan Puli Motor Rata-rata Pada grafik di atas putaran puli motor berkurang saat deformasi pegas berada pada titik 4 cm yakni dari 1500 rpm menjadi 1490rpm. Hal ini disebabkan karena pompa hidrolik mengalami beban yang lebih berat sehingga putaran pada motor teredam. Grafik 5.6 Grafik Pembebanan VS Kecepatan Puli Pompa Rata-rata 1 2 3 4 5 Nilai rata-rata kecepatan puli motor akibat deformasi 1500 1500 1500 1490 1490 1484 1486 1488 1490 1492 1494 1496 1498 1500 1502 Grafik Pembebanan VS Kecepatan Puli Motor Keterangan : "y" = kecepatan (rpm) "x" = deformasi (cm) 1 2 3 4 5 Nilai rata-rata kecepatan puli motor akibat deformasi pegas 960 960 960 950 950 944 946 948 950 952 954 956 958 960 962 Grafik Pembebanan vs Kecepatan Puli Pompa Keterangan : "y" = kecepatan (rpm) "x" = deformasi (cm)
  32. 32. 32 Pada grafik di atas sama halnya dengan puli motor, pada titik deformasi 4 cm kecepatan putaran pada puli pompa berkurang yakni, dari 960 rpm menjadi 950 rpm. Pada ketiga percobaan, pada saat pembebanan maksimum, roda kemudi terasa berat untuk diputar. Setelah motor listrik dalam posisi “ON”, pompa hidrolik aktif maka roda kemudi akan terasa ringan untuk diputar. Pembebanan maksimum yang ditetapkan pada alat ini yakni pemberian beban pada pegas hingga besar deformasi mencapai 5 cm.
  33. 33. 33 BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan Setelah melakukan perancangan, pembuatan dan pengujian maka dapat disimpulkan bahwa : 1. Besarnya tekanan pada silinder power steering hingga pembebanan maksimum adalah 193.3 psi. 2. Semakin besar pembebanan maka tekanan pada silinder semakin bertambah dan sebaliknya, semakin rendah pembebanan maka tekanan pada silinder semakin berkurang. 3. Penyetelan dilakukan dengan cara memutar baut penyetel. Memutar baut penyetel searah jarum jam untuk menambah pembebanan dan sebaliknya memutar baut berlawanan arah jarum jam untuk mengurangi pembebanan. 4. Tekanan cairan hidrolik dalam silinder power steering akan meningkat hanya pada saat roda kemudi diputar dan bersamaan dengan itu ada pembebanan pada roda/pegas. 5. Putaran puli pada motor 1500 rpm dan pada saat pembebanan maksimum menjadi 1490 rpm. Maka dapat disimpulkan bahwa beban yang diberikan pada motor adalah beban yang kurang berpengaruh/berarti. 6.2 Saran Adapun saran-saran dari penulis untuk perbaikan dan perawatan mesin sangria antara lain:
  34. 34. 34 1. Melakukan pengecekan kelengkapan pada alat sebelum dan setelah pengoperasian. 2. Membersihkan sebelum dan setelah menggunakan peralatan. 3. Melakukan perawatan, pengecekan rutin terhadap alat minimal 3 bulan sekali. 4. Melakukan penggantian minyak hidrolik minimal tiga tahun sekali. 5. Tidak melakukan pembebanan berlebihan pada alat (pada pembebanan/deformasi, pegas tertekan vertical ke atas maksimal 5 cm). 6. Tidak memaksakan memutar kemudi, melepas kemudi pada saat tekanan pada preasure gauge menunjukkan tekanan maksimum untuk menghindari kerusakan preasure gauge (tekanan maksimum yang diijinkan 300 psi).

×